<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>1980-1989 &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/1980-1989/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "1980-1989"</description>
	<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 12:45:54 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kisah Perjalanan Seorang Freddy Franciscus]]></title>
<link>http://aerospaceitb.wordpress.com/2009/11/30/kisah-perjalanan-seorang-freddy-franciscus/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 06:10:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>mukhlason</dc:creator>
<guid>http://aerospaceitb.wordpress.com/2009/11/30/kisah-perjalanan-seorang-freddy-franciscus/</guid>
<description><![CDATA[Saya dilahirkan tahun 1960 di pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di Tanjung Redeb Kabupaten Berau.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saya dilahirkan tahun 1960 di pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya di Tanjung Redeb Kabupaten Berau. Saya anak bungsu dari 7 bersaudara, almarhum ayah dan ibu saya mengelola warisan perkebunan kelapa seluas 40 ha di pulau Maratua yang masih kami kelola sampai saat ini.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Masa Kecil<br />
Saya tinggal di Tanjung Redeb sampai th 1969 (sampai kelas 4SD) dan saat itu jalan utama di sana masih belum diaspal, kendaraan roda dua / sepeda jumlahnya masih bisa dihitung tangan dan yang paling bagus sepeda belanda milik missionaries / suster yang setiap hari lalu lalang di depan rumah saya menuju hutan / pedalaman untuk menyebarkan agama. Kalau ada hujan, sekolahan bubar karena banjir dan ruangan banyak yang bocor. Satu hal yang berkesan terkait kenakalan saya waktu kecil di Tanjung Redeb, saya main petak umpet dan ngumpet di dalam rok Ibu Guru, betul-betul unbelievable. Tapi herannya saya nggak di peringatin, maklum murid kesayangan.</p>
<p>Akhir 1969 kelas 4 SD naik kelas 5 saya pindah dari Berau ke Balikpapan ikut kakak no 3 yang menikah dengan seorang tentara lulusan AMN 1965. Sejak itu sampai sebelum masuk ITB saya ikut terus dengan perpindahan kakak ipar sampai SMA di Malang. Di Balikpapan saya masuk SD kelas 5 di SD RK St Mikail dan setengah tahun pertama disana saya harus berjuang keras untuk menyesuaikan ketertinggalan pelajaran, setelah itu lancar saja seperti air mengalir.</p>
<p>Satu dua bulan pertama di kelas 5 tersebut kakak saya selaku wali (karena ayah dan ibu di Tanjung Redeb) terus menerus dipanggil karena nilai berhitung saya mengkhawatirkan. Waktu kelas 4 SD di Tanjung Redeb berhitung masih belajar tambah kurang sedang di kelas 5 di Balikpapan bukannya kali bagi tapi sudah jauh lebih advance dan kombinasi ke soal cerita. Saya seperti berada di dunia lain, yang tadinya nilai berhitung seratus terus eh satu dua bulan pertama di kelas 5 di SD RK Balikpapan nilai berhitung saya berkisar di angka 4-5-6. Tapi Alhamdulillah berkat kerja agak keras yang saya lakukan untuk mengejar ketertinggalan pelajaran akhirnya saya mulai bisa menyesuaikan dengan materi pelajaran berhitung dan akhirnya naik kelas 6 dan lulus SD RK St Mikail dengan nilai yang bagus untuk ukuran anak pedalaman yang mengejar ketertinggalan mutu/materi pelajaran.</p>
<p>Satu pelajaran berharga buat anak daerah terpencil, beruntung anak-anak bangsa saat ini dimana mutu sekolah sudah lebih merata di seluruh pelosok tanah air. Makanya UAN harus disikapi dengan positif dan harus terus dilanjutkan, karena lewat UAN seluruh sekolah di seantero nusantara akan memacu diri untuk punya kualitas yang bagus dan setara.</p>
<p>Menurut saya, kepindahan saya dari Tanjung Redeb, Berau ke Balikpapan adalah titik penting yang kemudian bisa membawa saya sekolah di kampus kebanggaan ITB. Kalau saja kakak saya tidak menikah dengan seorang tentara (almarhum) maka kemungkinan besar SD-SMA saya sekolah di pedalaman terus dan kemungkinan masuk ITB akan lebih kecil.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Meraih Mimpi : Tentang Hari Tjahjono]]></title>
<link>http://aerospaceitb.wordpress.com/2009/11/27/meraih-mimpi-tentang-hari-tjahjono/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 07:05:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>mukhlason</dc:creator>
<guid>http://aerospaceitb.wordpress.com/2009/11/27/meraih-mimpi-tentang-hari-tjahjono/</guid>
<description><![CDATA[Saya dilahirkan di sebuah kampung di Madiun, Jawa Timur. Ayah sudah meninggal ketika saya baru berus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saya dilahirkan di sebuah kampung di Madiun, Jawa Timur. Ayah sudah meninggal ketika saya baru berusia setahun. Sejak ditinggal sang ayah, saya tumbuh menjadi seorang anak yang tidak percaya diri. Ini didukung kenyataan bahwa secara fisik saya termasuk anak yang paling kecil dibanding teman sekelas dan teman sepermainan. Pernah ketika saya dipercaya memimpin lomba baris-berbaris tingkat SD, di sepanjang jalan orang tertawa terpingkal-pinkal melihat komandan barisan tingginya kurang dari sepundak pasukan yang dipimpinnya. Sehingga alih-alih memupuk rasa percaya diri, kepercayaan yang diberikan guru saya itu malah membuat saya semakin minder.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Rasa minder ini berlanjut dan malah semakin parah pada waktu SMP. Saya menjadi anak yang gagap! Walaupun nilai ujian saya hampir selalu yang terbaik di sekolah, tapi di kelas saya selalu deg-degan kalau disuruh guru menjawab pertanyaan-pertanyaan lisan. Waktu disuruh menjadi ketua kelas pun saya malah jatuh sakit. Alhasil, sampai lulus SMP saya menjadi pribadi yang selalu gamang dan tidak percaya diri. Akibatnya, sampai lulus SMP saya menjadi anak yang tidak punya mimpi-mimpi apapun. Makanya saya sering bingung sendiri kalau ditanya cita-cita. Jawaban saya biasanya sangat standard: kadang-kadang menjawab insinyur, kadang-kadang menjawab ingin jadi dokter.</p>
<p>Perubahan terjadi waktu saya masuk SMA dan membaca buku-buku tentang Soekarno seperti &#8220;Soekarno Penyambung Lidah Rakyat&#8221; karangan Cindy Adam. Barangkali karena tersihir karisma Bung Karno, tiba-tiba saja saya mempunyai mimpi yang menjulang di langit: ingin kuliah di ITB seperti Soekarno! Sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk anak desa seperti saya yang tinggal nun jauh di pelosok kabupaten Madiun. Bayangkan, sudah puluhan tahun berdiri, alumni SMA saya yang masuk ITB bisa dihitung dengan sebelah jari tangan saja. Rata-rata mereka takut nama besar ITB, walaupun hanya sekedar mendaftar! Paling banter teman-teman saya masuk ITS, Unair, UGM atau universitas-universitas lain di sekitar Jawa Timur.</p>
<p>Saya pun sebenarnya juga dihinggapi sindroma ITB. Walaupun selalu juara umum sejak kelas 1 SMA, tetap saja saya gamang mendaftar masuk perguruan tinggi prestisius di Bandung itu. Rupanya kegamangan saya ini dibaca oleh guru saya. Sehingga waktu ada pendaftaran masuk ITB tanpa tes, guru saya buru-buru mengisinya tanpa terlebih dahulu mendiskusikannya dengan saya secara mendalam. Rupanya beliau ingin sekali saya bisa masuk ITB seperti yang saya cita-citakan dengan malu-malu kucing.</p>
<p>Singkat cerita, saya diterima masuk ITB tanpa tes. Hari-hari pertama kuliah di ITB saya lalui dengan riang gembira. Seluruh kegiatan perkuliahan di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) saya lalui dengan lancar tanpa halangan berarti. Seluruh mata kuliah dapat saya selesaikan dengan baik dan saya lulus TPB tepat waktu. Saking senangnya, saya tidak sadar bahwa jebakan lebar telah terbentang menunggu di depan saya.</p>
<p>Salah Jurusan<br />
Begitu masuk jurusan, satu per satu masalah mulai muncul. Kalau sewaktu TPB semua mata kuliah dapat saya lalui dengan baik dan lancar, kini saya harus tertatih-tatih mengikuti perkuliahan jurusan. Kalau di TPB nilai-nilai saya lebih banyak A dibanding B, maka di jurusan saya harus ikut ujian ulangan hampir di semua mata kuliah yang saya ambil. Kalau waktu TPB saya menjadi rujukan bagi teman-teman yang kurang memahami materi kuliah, kini saya mesti terseok-seok untuk sekedar lulus ujian. Kalau waktu TPB saya jarang sekali tidur di atas jam 9 malam, kini hampir tiap hari saya mesti begadang sampai dini hari. Itupun hasilnya sangat mengecewakan: saya mesti ikut ujian ulangan hampir untuk semua mata kuliah yang saya ikuti.</p>
<p>Walaupun banyak dikelilingi bidadari-bidadari cantik, jurusan Farmasi ITB betul-betul menjadi neraka buat saya. Tetapi &#8220;neraka dunia&#8221; ini memberikan pelajaran yang sangat berharga: mengajarkan kepada saya bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Teman-teman saya yang waktu di TPB kedodoran mengikuti pelajaran matematika misalnya, bisa melenggang santai mengikuti mata kuliah morsitum (morfologi dan sistematika tumbuhan) dan sebagainya. Walaupun saya belum pernah tahu teori multiple-intelligence-nya Howard Gartner, waktu itu saya langsung bisa mengapresiasi berbagai jenis kecerdasan yang tidak melulu berkaitan dengan matematika dan sejenisnya. Alhasil, kesombongan saya karena selalu mendapat nilai A untuk mata kuliah matematika di TPB langsung runtuh.</p>
<p>Waktu di TPB, saya sering membatin &#8220;kok yang begitu saja nggak tahu sih?&#8221; ketika melihat mahasiswa/i tidak dapat menurunkan rumus matematika yang sederhana. Waktu itu saya sering tidak habis pikir kok ada mahasiswa ITB yang seperti itu. Kini, saya kena tuahnya. Untuk mata kuliah yang buat seorang mahasiswa/i sangat mudah, kini buat saya sulitnya minta ampun. Runtuh sudah perasaan menjadi putra-putri terbaik Indonesia.</p>
<p>Karena sudah tidak tahan lagi terus-terusan kena her, saya memberanikan diri izin pindah jurusan kepada ketua jurusan Farmasi ITB. Entah dengan pertimbangan apa, ibu ketua jurusan selalu menolak permintaan saya. Berkali-kali menghadap, berkali-kali pula saya mendapat jawaban yang sama, &#8220;Saudara pasti bisa kuliah di sini, silakan dicoba lagi dan belajar lebih keras lagi.&#8221; Barangkali ibu ketua jurusan yang baik itu terlalu silau dengan nilai-nilai TPB saya, dan lupa bahwa selama setahun terakhir ini mental saya hancur lebur karena mesti mengikuti ujian dua kali lebih banyak dibanding mahasiswa/i yang lain yang tidak perlu mengulang ujian.</p>
<p>Karena mentok menghadapi ketua jurusan yang &#8220;terlalu berprasangka baik&#8221; itu, akhirnya saya bertekad untuk bergerilya sendiri supaya bisa pindah jurusan at any cost. Akhirnya saya segera menghadap ketua jurusan matematika ITB. Kok ndilalah beliau tidak ada di tampat. Akhirnya saya mencoba keberuntungan menghadap ketua jurusan Mesin yang waktu itu dijabat Pak Djoko Suharto. Alhamdulillah beliau ada di tempat, dan alhamdulillah pula beliau bersedia menerima saya. Ealah, prosesnya kok jadi mudah sekali. Beliau hanya bertanya apakah benar saya serius pindah jurusan, dan apakah saya tahu konsekuensinya, bahwa kalau ada satu saja mata kuliah yang tidak lulus saya langsung out dari ITB. Dan ketika saya jawab ya, beliau langsung membuat persetujuan tertulis yang mengubah drastis jalan hidup saya di masa depan. Sejak saat itu saya menjadi mahasiswa percobaan dengan kode khusus 88. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Teknik Penerbangan ITB: Kawah Candradimuka<br />
Begitu pindah jurusan, semangat belajar saya kembali menggebu. Karena resiko sebagai mahasiswa percobaan begitu besar, saya memutuskan istirahat secara total dari unit kegiatan mahasiswa dan 100% fokus kuliah. Sebuah keputusan yang berat, karena waktu itu semangat saya untuk aktif berorganisasi begitu menggebu. Sejak menjadi Ketua OSIS di SMA, semangat saya untuk berorganisasi meluap-luap. Dan begitu masuk ITB, keinginan berorganisasi ini seperti menemukan ladang yang subur. Kenangan masa SMP yang selalu gamang dan tidak percaya diri sudah hilang ditelan bumi. Tapi demi tujuan yang lebih besar, saya rela istirahat sementara dari organisasi dan fokus kuliah saja. Kelak setelah selesai masa percobaan, saya kembali aktif berorganisasi sampai dipercaya menjadi ketua umum organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan anak-anak itu.</p>
<p>Pengalaman menjadi mahasiswa percobaan ternyata memberikan kenangan yang tidak pernah terlupakan. Menjadi mahasiswa percobaan seperti berjalan di atas seutas tali. Perasaan selalu was-was karena sekali gagal habislah sudah harapan untuk terus kuliah di ITB. Tetapi saya tidak boleh berhenti. Keputusan sudah saya ambil, dan tidak ada pilihan untuk mundur atau menyerah. Ketika rasa was-was itu muncul, sering juga muncul ketakutan yang luar biasa. Takut gagal, takut ketendang dari ITB. Tapi begitu mengingat perjuangan Ibu saya yang sendirian berjuang luar biasa keras menghidupi keempat anaknya, spirit itu tumbuh kembali. Kelak pengalaman mengelola rasa was-was dan tekad yang kuat untuk melangkah ini sangat berguna dalam mengarungi kehidupan yang keras ini.</p>
<p>Setelah berjuang selama setahun penuh, alhamdulillah tantangan sebagai mahasiswa percobaan akhirnya dapat saya lalui dengan baik. Ada perasaan lega luar biasa. Tapi godaan berikutnya muncul lagi. What&#8217;s next? Fokus kuliah atau fokus organisasi? Atau dua-duanya?</p>
<p>Karena keinginan berlatih berorganisasi masih menggebu, akhirnya saya aktif kembali di organisasi. Alhasil, kuliah dan organisasi mesti berjalan beriring. Masalahnya, tantangan di perkuliahan juga tidak ringan. Waktu itu saya mesti memilih subjurusan. Mau Teknik Mesin Konstruksi atau Teknik Mesin Penerbangan? Sebetulnya saya tidak punya preferensi khusus, konstruksi ok, penerbangan juga ok. Toh walaupun saya besar di Madiun yang terkenal dengan lapangan terbang militernya, saya tidak punya ikatan batin dengan dunia penerbangan. Akhirnya pertimbangan memilih subjurusan bukan karena ikatan emosional atau hobby, tapi lebih ke tantangan! Mana yang lebih sulit itu yang akan saya pilih. Looks very arogan, itu memang itulah pertimbangan saya memilih teknik penerbangan yang katanya susah lulus!</p>
<p>Akhirnya kuliah di subjurusan teknik penerbangan untuk tingkat sarjana muda bisa saya selesaikan tepat waktu. Walaupun nilainya tidak bagus-bagus amat, saya senang bisa menjalani kuliah beriringan dengan kegiatan organisasi.</p>
<p>Masalah mulai muncul di tahun berikutnya ketika beban organisasi semakin berat karena saya ditunjuk sebagai ketua umum organisasi yang saya tekuni. Praktis selama setahun itu saya hanya sekali-sekali saja datang ke kampus. Akibatnya, saya pernah diusir dosen keluar kelas karena tidak mengerjakan PR! Lebih cilaka lagi, saya gagal dalam ujian untuk mata kuliah itu. Tidak hanya kena her, saya harus mengulang di tahun berikutnya. Itulah satu-satunya pengalaman mengulang mata kuliah selama di ITB. Dan ternyata, pengalaman gagal itu justru sangat penting dalam mengarungi kehidupan yang serba tidak pasti ini. Alhamdulillah, saya pernah gagal! Jadi saya harus mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Pak Mardjono yang telah mengajarkan kepada saya bagaimana menghadapi sebuah kegagalan.</p>
<p>Nah. pengalaman berikutnya yang sangat challenging adalah menyelesaikan tugas perancangan pesawat dan tugas akhir. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa untuk lulus sebagai sarjana penerbangan ITB kita harus menyelesaikan tugas kuliah sekomprehensive perancangan pesawat. Teman-teman di luar penerbangan pada geleng-geleng kepala ketika tahu ada tugas perancangan pesawat ini. Bayangkan, untuk melakukan study pasar saja saya harus bolak-balik Bandung &#8211; Jakarta selama 3 bulan. Dan tujuannya &#8220;cuma&#8221; satu: menghitung berapa kapasitas pesawat yang dibutuhkan pasar Indonesia. Intellectual excercises yang terjadi di ruang asistensi bersama Pak Diran pun sangat berkesan sampai sekarang. Kalau boleh jujur, dari sekian banyak mata kuliah yang saya pelajari di ITB, yang tetap saya ingat sampai sekarang ya diskusi-diskusi hangat di ruang asistensi itu. Kadang saya sering geli sendiri mengingat argumentasi-argumentasi saya di ruang asistensi yang maksa-maksa. maksudnya maksa-maksa supaya cepet lulus. he-he-he.</p>
<p>Setelah lolos (catat: lolos, bukan lulus) dari tugas perancangan pesawat, tantangan berikutnya adalah menyelesaikan tugas akhir. Ini sebuah tantangan yang tidak ringan, makanya harus diatasi dengan upaya yang ekstra pula. Hampir selama 9 bulan penuh saya tidur di laboratorium! Pagi, siang, sore, dan malam tinggal di laboratorium, dan hanya pulang ke tempat kos untuk naruh baju kotor! What an unforgetable story! Kenapa mesti tinggal begitu lama di lab, barangkali juga karena cara kerja saya yang kurang sistematis. Tapi pengalaman kerja spartan seperti itu menyisakan kebanggaan tersendiri&#8230; he-he-he&#8230;</p>
<p>Kelak pengalaman menyelesaikan tugas perancangan dan tugas akhir ini seolah menjadi simulasi dari kehidupan yang sebenarnya. Betapa kita harus siap menghadapi komplikasi persoalan teknis dan non-teknis yang campur aduk menjadi satu. Kemampuan kita mengelola komplikasi masalah itulah yang sebenar-benarnya diajarkan dari kedua tugas kuliah itu. Saya bersyukur pernah melewati proses itu. Kalau tidak, belum tentu saya berani pindah kuadran di usia yang tidak muda lagi. Alhasil, teknik penerbangan ITB benar-benar menjadi kawah candradimuka bagi saya untuk berani manghadapi tantangan kehidupan dan mewujudkan mimpi-mimpi saya&#8230;</p>
<p>Membangun Karir<br />
Begitu selesai sidang sarjana, saya sempat terpikir untuk kerja di perusahaan besar dengan gaji besar. Layak sekali rasanya perjuangan saya selama 7 tahun kuliah di ITB dengan segala dinamikanya diganjar dengan gaji yang besar. Tujuh tahun kuliah mestinya setara dengan seorang doktor&#8230; he-he-he&#8230; Tapi dorongan untuk menjadi guru seperti Bapak dan Ibu saya juga besar sekali. Walaupun semasa kuliah saya pernah merintis &#8220;karir&#8221; di bidang entrepreneurship dengan menjadi tukang koran dan berjualan brem, entah mengapa keinginan menjadi entrepreneur sama sekali tidak tumbuh sewaktu saya menyelesaikan kuliah. Alhasil begitu selesai wisuda sarjana saya ngendon terus di lab penerbangan menjadi seorang calon dosen di almamater tercinta.</p>
<p>Setelah magang sebagai dosen selama sekitar 3 bulan, saya memutuskan hijrah ke Jakarta mencari tantangan baru. Bukan bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar seperti yang pernah saya impikan, saya terdampar membantu perusahaan seorang teman di bidang penerbitan. Saya langsung menggondol jabatan keren: manajer sirkulasi. Walaupun dengan jabatan manajer, jangan bayangkan saya mendapat gaji setara manajer, apalagi manajer perusahaan minyak. Gaji yang saya terima waktu itu hanya lebih besar sedikit dari gaji calon dosen ITB. Dengan gaji segitu dan hidup di Jakarta, kebayang sudah kesulitan yang saya hadapi. Mending tetap jadi dosen, karena masih dapat tunjangan dari IPTN&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lagi-lagi nasi sudah mejadi bubur. Keputusan sudah diambil dan pantang bagi saya untuk menyesali apalagi sambil merintih-rintih minta belas kasihan. Selama berbulan-bulan saya menjalani profesi yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia penerbangan. Tiap hari saya keliling Jakarta untuk mendistribusikan majalah yang diterbitkan perusahaan tempat saya bekerja. Ketika malam tiba, saya sering termenung atas langkah yang saya ambil ini. Am I doing the right thing? Sambil tiduran di kantor yang pengap, hampir setiap malam saya melakukan kilas balik atas perjuangan saya sejak SMA, kuliah di ITB selama 7 tahun, dan kini berlabuh di Jakarta di sebuah perusahaan penerbitan yang masa depannya tidak jelas mau kemana.</p>
<p>Di tengah kegundahan yang membuncah itu, Tuhan rupanya mengirim seorang dewa penolong. Tidak ada topan dan tidak ada angin, seorang sahabat datang ke kantor saya. Saya sudah lupa persisnya sang sahabat itu ngomong apa, tapi yang jelas ujung-ujungnya mengajak saya bergabung bersama beberapa alumni penerbangan yang lain untuk mendaftar kerja di PT Sempati Air. Siapakah sahabat dan sekaligus dewa penolong itu? Tidak lain dan tidak bukan dia adalah Pak Indar Atmoko, PN 83, atau saya biasa memanggilnya Mamo. Barangkali Pak Indar bisa cerita mengapa tiba-tiba datang ke kantor saya untuk mengajak saya kembali ke jalan yang benar&#8230; he-he-he&#8230;</p>
<p>Singkat cerita, saya bersama beberapa anggota rombongan sirkus cap gajah bekerja di Sempati sebagai seorang engineer muda. Walaupun tidak se-advance apa yang dipelajari di kampus, kami ber-enam alumni PN ITB tekun bekerja di bawah bimbingan Pak Eddy Prayitno, PN 72, yang waktu itu menjabat sebagai direktur teknik. Belum setahun bekerja di Sempati, saya dikirim Pak Eddy mengikuti training engine and airframe system pesawat F-100 di Fokker Aircraft BV, Belanda. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Dalam sebulan penuh saya mesti belajar sistem pesawat bersama para mekanik. Jelas posisi saya waktu itu adalah underdog, karena saya blank sama sekali bagaimana sistem seperti APU itu bekerja, bagaimana melakukan trouble shooting kalau ada masalah teknis yang terjadi, dsb.</p>
<p>Di situlah kemampuan survival saya diuji. Saya mesti melakukan segala daya upaya supaya bisa lulus. Saya harus lulus, karena kalau kalau tidak kredibilitas insinyur penerbangan di mata para mekanik Sempati bisa terancam. Dan karena pendekatan &#8220;teknis&#8221; saja tidak mencukupi, saya mesti melakukan pendekatan &#8220;non-teknis&#8221;, ialah membujuk teman mekanik saya untuk mau belajar bersama. Ini jauh lebih efektif karena dia seorang mekanik yang cukup berpengalaman yang tahu seluk beluk sistem pesawat, yang tentu saja bisa menjelaskan dengan lebih baik daripada hanya dengan membaca buku.</p>
<p>Perjuangan saya selama sebulan penuh akhirnya membuahkan hasil. Saya lulus ujian dengan nilai yang tidak mengecewakan Pak Eddy Prayitno yang mengirim saya, dan juga tidak mengecewakan sahabat saya mekanik yang mau tekun berbagi belajar bersama. Tapi tunggu, di hari terakhir training saya di Fokker saya menerima fax dari Jakarta. Isinya membuat saya terbengong-bengong. Betapa tidak, saya mendapat penugasan baru dari Pak Eddy untuk men-set up organisasi baru, Information System, di Direktorat Teknik PT Sempati Air. Belum juga ilmu yang saya pelajari sempat saya pakai, saya harus mengerjakan pekerjaan baru yang lain sama sekali. Boro-boro mau menerapkan ilmunya, wong waktu menerima fax saya masih belum pulang ke Jakarta. Saya masih anteng di Schiphol, Amsterdam! Rupanya Allah SWT meminjam tangan Pak Eddy untuk membelokkan karir saya. Sejak saat itu saya switch ke bidang IT sampai sekarang&#8230;</p>
<p>Lebih dari 5 tahun saya menekuni bidang IT ini di Sempati. Pengalaman yang sangat berharga sampai sekarang adalah memimpin tim pengembangan software IMAGES (Integrated Maintenance and Engineering System) bekerja sama dengan beberapa software houses termasuk tim dari PAU ITB. Sungguh pengalaman yang sangat berharga untuk belajar project management sebuah proyek IT.</p>
<p>Sekolah Lagi<br />
Salah satu proyek yang saya koordinasikan sewaktu kerja di Sempati adalah mengukur On-Time Performance berbagai tipe pesawat bersama-sama dengan Pak Diran dan Pak Mahardi Sadono, PN 85. Di sini Tuhan kembali menunjukkan kuasanya untuk &#8220;ikut campur&#8221; mewarnai perjalanan karir saya. Di tengah-tengah obrolan informal, Pak Diran menanyakan apakah saya tidak ingin sekolah lagi. Tidak mau berbasa-basi, saya langsung menyampaikan ke Pak Diran kalau saya tentu saja ingin sekolah lagi, tapi mesti di luar negeri. Beberapa hari kemudian Pak Diran menyodorkan formulir pendaftaran, dan saya langsung diterima sekolah MBA di Belanda, walaupun belum dites! What a surprising moment! Rupanya saya ini &#8220;korban&#8221; NKK, nolong kawan-kawan, karena ternyata Pak Diran adalah ketua tim seleksi yang surat referensinya sakti mandraguna.</p>
<p>Segeralah saya berangkat kembali ke Belanda untuk sekolah lagi. Rencana saya sekolah ke Belanda yang gagal karena saya tidak jadi dosen di Jurusan Penerbangan ITB akhirnya terbayar lunas. Terima kasih Pak Diran, saya tidak akan pernah melupakan jasa Bapak mengirim saya sekolah lagi ke Belanda. Pengalaman sekolah di Belanda mengajarkan banyak hal. Selain memaksa saya belajar membaca cepat karena setiap hari mesti membaca sekitar 80 halaman texbook, banyak hal positif yang dapat dipelajari di sana: cinta lingkungan dengan kemana-mana pergi bersepeda, budaya antri, dsb. Benar sekali pesan Pak Diran waktu saya pamit dari ITB: you mesti sekolah ke luar negeri, banyak hal yang dapat you pelajari di sana.</p>
<p>Pengalaman yang juga tidak akan saya lupakan adalah mencari tempat magang sebagai bagian dari program MBA ini. Setelah menyelesaikan teori selama setahun, mahasiswa didorong untuk mencari tempat magang sendiri. Walaupun kuliah saya disponsori Fokker, tetap saja saya harus mencari topik magang yang menantang. Nah, ketika itu Fokker baru saja membuka fasilitas perawatan pesawatnya di Singapore, Fokker Services Asia. Dugaan saya, karena fasilitas ini baru dibuka, maka mereka pasti membutuhkan studi yang cukup mendalam bagaimana merumuskan strategi pengembangan bisnisnya di Asia. Makanya saya langsung melakukan research kecil-kecilan untuk melihat peluang pekerjaan yang bisa dilakukan dengan skema magang. Dan setelah proposal itu siap, tidak tanggung-tanggung proposal itu langsung saya kirim ke President Director Fokker Services BV di kantor pusatnya. Belakangan saya geli sendiri dengan kenekatan saya ini. Wong hanya proposal magang saja kok dikirim sampai level presiden direktur! Tapi itulah berkah kuliah di PN ITB: selalu nekat!</p>
<p>Ternyata kultur Indonesia dan Belanda sangat berbeda. Apa yang saya pikir sebuah kenekatan, ternyata malah diapreasiasi dengan baik oleh direksi Fokker Services. Tidak saya duga-duga, saya dapat panggilan dari Fokker Services untuk mempresentasikan proposal saya di depan rapat direksi! Wow! Seorang mahasiswa inlander dipanggil direksi Fokker Services untuk presentasi di depan rapat direksi hanya untuk sebuah proposal magang! Sebuah pengalaman yang juga tidak terlupakan. Hati saya langsung berbunga-bunga, dan buru-buru saya naik kereta api dari Enschede ke Woensdrecht. Sepanjang jalan saya masih tidak percaya harus presentasi di depan sinyo-sinyo Belanda direksi Fokker Services. Hati saya semakin berbunga-bunga karena saya diinapkan di sebuah hotel, hotel terbaik yang pernah saya inapi selama di Eropa. Maklum waktu business trip di Sempati dulu biasanya saya menginap di hotel seadanya supaya dapat sisa untuk uang muka rumah&#8230; he-he-he&#8230;</p>
<p>Akhirnya proposal saya diterima, dan saya mulai mengerjakan tugas ini dengan melakukan studi pasar di Jakarta, Singapore, dan Kuala Lumpur. Rencana studi pasar di Shanghai dibatalkan karena Fokker takut program saya mengganggu hubungan kerja dengan partner mereka di China. Waktu mengerjakan studi pasar ini saya langsung ingat apa yang saya lakukan sewaktu tugas perancangan pesawat di kampus tercinta. Irama dan cara berpikirnya sama, yang membedakan hanya topiknya saja karena fokus saya sekarang merumuskan Strategic Business Development of Fokker Services in Asia.</p>
<p>Setelah menyelesaikan program teori dan magang hampir selama 2 tahun, saya dinyatakan lulus dan siap-siap pulang ke Indonesia&#8230; Indonesia, here I come&#8230;</p>
<p>Memilih Berbisnis atau Mencari Pekerjaan?<br />
Begitu pulang ke Indonesia, tantangan baru kembali menghadang. April 1999 tentulah bukan saat yang tepat untuk kembali ke Indonesia untuk mencari pekerjaan. PHK massal terjadi dimana-mana. Setiap hari koran dipenuhi berita PHK, penutupan bank dan penutupan pabrik dimana-mana. Sempati pun sudah kolaps diterjang krisis finansial dan krisis integritas. Saya kembali limbung dan tidak memiliki pegangan apa-apa. Bisakah saya melewati ini semua? Memang sih ada sedikit tabungan, tapi paling hanya bisa bertahan beberapa bulan saja. Jual rumah? Sayang ah, masak rumah pertama hasil ngumpulin sisa SPJ mesti dijual. Itu rumah perjuangan yang banyak nostalgianya, termasuk nostalgia menampung air hujan untuk mandi karena tidak ada air lagi&#8230; hi-hi-hi&#8230;</p>
<p>Hampir 2 bulan saya limbung tidak karuan. Setiap hari saya pergi ke sana ke mari mencari peluang tetapi hasilnya selalu nihil. Saya memang tetap menjaga semangat hidup dengan keluar rumah setiap hari untuk sekedar bisa bertahan hidup. Tidak terpikir cita-cita besar dan keinginan setinggi langit layaknya alumni ITB. Tujuan saya cuma satu, bisa memberi makan anak istri. Tapi hasilnya nihil. Akibatnya, hampir setiap hari saya terbangun di tengah malam ketika anak istri terlelap tidur. Saya sering menangis dan sedih melihat mereka yang sedang terlelap itu. Untungnya mereka tidak menyadari kegalauan dan ketakutan saya. Saya takut tidak bisa menjaga dan membawanya bertahan hidup walaupun hanya sekedar memmberi makan yang cukup!</p>
<p>Akhirnya peluang itu ada datang juga. Ada tawaran seorang sahabat lama untuk berbisnis menanam gambas dan lidah biaya, nun jauh di daerah Subang. Katanya propeknya bagus. Gambas diambil seratnya untuk spon mandi. Lidah buaya dibudidayakan untuk membuat jus lidah buaya dan bisa dipasarkan di hotel-hotel atau rumah makan. Barangkali karena panik dan tergopoh-gopoh, tawaran itu saya samber begitu saja tanpa melakukan feasibility study yang memadai. Selang 2 bulan kemudian, saya baru sadar bahwa itu bisnis yang tidak feasible saya lakukan saat itu. Akhirnya saya memutuskan berhenti sebelum kejeblos lebih dalam. Kebetulan saat itu ada tawaran dari senior mesin untuk membantu mengembangkan software maintenance management.</p>
<p>Tawaran itu segera menyadarkan saya bahwa dalam keadaan krisis pun ternyata lowongan pekerjaan tetap ada. Saya lalu rajin berburu lowongan pekerjaan di harian Kompas setiap hari Sabtu. Dua surat lamaran langsung saya kirimkan. Pertama ke DHL sebagai Project Manager, dan satu lagi ke Mincom sebagai Account Manager. Hanya Mincom yang memberi respon dan meminta saya mengikuti proses seleksi yang ketat: tes potensi akademik, tes bahasa inggris, transkrip nilai, dsb. Halah, saya mesti ikut seleksi yang bertele-tele, nggak bisa NKK lagi (nolong kawan-kawan) seperti waktu mau masuk Sempati dulu&#8230; he-he-he&#8230; Tetapi karena kepepet, ya sudah ikutin saja prosesnya. In short, saya diterima bekerja di perusahaan software dari Australia ini sebagai account manager. Ini sebetulnya profesi yang sama sekali baru, karena saya tidak pernah bekerja sebagai sales ataupun customer service. Pengalaman jadi tukang koran jelas tidak memadai untuk pekerjaan sebagai account manager. Tapi karena mereka memberi kepercayaan, ya sudah saya terima saja. Habis kepepet sih&#8230; he-he-he&#8230;</p>
<p>Waktu bekerja di Mincom itulah saya mengalami lonjakan gaji berlipat-lipat dibanding sebelumnya. Saya malah sempat mengalami culture shock sebagai seorang OKB, tentu dengan ukuran saya yang ndeso ini. Untungnya beberapa bulan berselang saya segera sadar dengan kekeliruan ini dan berniat mulai menabung. Bukan apa-apa, saya ingin mengumpulkan modal untuk membuka lapangan pekerjaan. Sebuah impian yang muncul begitu saja akibat pengalaman traumatis yang saya alami beberapa bulan tanpa pekerjaan dan tanpa gajian. Ada keinginan &#8220;balas dendam&#8221; menciptakan lapangan pekerjaan biar pengalaman buruk itu tidak terjadi pada orang lain. Tapi ternyata keinginan mengumpulkan modal itu tidak semudah yang dibayangkan.</p>
<p>Waktu di Mincom itulah saya mulai kenal SAP, karena mereka begitu agresif mendekati customer-customer saya untuk migrasi dari Mincom ke SAP. Sampai-sampai komentar salah satu customer yang sudah terpengaruh bisa sangat provokatif, &#8220;Hari, book value sistem Mincom saya sudah nol nih, sudah waktunya ganti sistem&#8221;. Wah, another challenge has come&#8230; Tentu saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya bertekad mempertahankan customer saya dari gempuran-gempuran itu at all cost. Saya membuat tulisan besar-besar di meja kerja saya: BEAT SAP! Bos saya senang sekali melihat semangat saya yang menggebu-gebu itu. Semangat khas mahasiswa PN ITB untuk menaklukkan tugas perancangan pesawat&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tetapi karena gempuran begitu hebat dan saya tidak punya cukup amunisi untuk bertahan, akhirnya saya &#8220;berpikir strategis ke depan&#8221;. Ups, ini hanya cara ngeles saja untuk tidak mau mengatakan menyerah&#8230; he-he-he&#8230; If you can not beat them, then join them! Mudah-mudahan ini tidak termasuk kategori berkhianat. Ada sih cara lain untuk ngeles, I never wrote down BEAT SAP. That was typo error. It should be BE AT SAP. Some day I will be at SAP. There is a space between BE and AT. he-he-he. just kidding.</p>
<p>Akhirnya saya memang bergabung bersama SAP. Tentu bukan karena typo error itu. Tetapi lebih karena serbuan SAP semakin agresif tidak saja mendekati customer-customer saya, tetapi malah membujuk saya untuk bergabung. Apalagi menurut perhitungan saya Mincom tidak bakal kuat menghadapi serbuan SAP yang dari berbagai aspek jauh lebih unggul. Dan dugaan saya benar, beberapa tahun kemudian PT Mincom Indoservices memang kolaps. Saya bersyukur memiliki sensitivitas seperti ini. Sensistivitas yang sama pernah saya tunjukkan sewaktu pamit dari Sempati. Banyak orang menyayangkan keputusan saya keluar dari Sempati ketika Sempati masih sangat jaya. But I had my own calculation that Sempati will soon be collapsed.</p>
<p>Bergabung dengan perusahaan raksasa semacam SAP awalnya memang berat. Malah sangat berat. Saya mesti set up organisasi Global Support di Indonesia dari nol, seperti yang saya lakukan sewaktu merintis organisasi Information System di Sempati. Selama 2 tahun pertama saya kerja sendirian. Betul-betul sendirian seperti mengerjakan tugas akhir saja. Tidak ada team member, tidak ada asisten. Dari a sampai z harus dikerjakan sendiri. Tetapi setelah melewati tahapan itu semuanya berubah drastis. Apalagi saya mempunyai kebebasan penuh untuk memilih team members yang terbaik. Alhasil, setelah tahun ke-3 di SAP, praktis saya tinggal ongkang-ongkang kaki saja. Semuanya sudah in place, saya bisa kerja dari mana saja dan kapan saja seperti coca cola karena infrastruktur yang hebat. Team members juga bisa lari sendirian dan hanya perlu dimonitor sesekali saja.</p>
<p>Banyaknya waktu luang itu membuat saya kembali teringat mimpi-mimpi yang belum terlaksana, yaitu menciptakan lapangan kerja. Bersama beberapa teman akhirnya saya mendirikan perusahaan consulting. Sempat mendapat satu proyek kecil, tetapi belum setahun perusahaan itu gulung tikar. Habis semuanya pada tidak mau full time. Mau berbisnis tetapi semuanya hanya berani bermain aman. No way. Alhamdulillah saya gagal lagi. Alhamdulillah dapat pelajaran berharga lagi. Belajar dari pengalaman itu, bersama teman-teman yang lain saya kembali mencoba membuka lapangan pekerjaan. Kali ini di bidang multimedia. Kali ini kita mempersyaratkan harus ada yang full time. Alhamdulillah perusahaan itu masih berdiri sampai sekarang dan mampu menghidupi lebih dari sepuluh karyawan.</p>
<p>Memutuskan Pindah Kuadran<br />
Semakin lama, bekerja di SAP semakin membosankan. Tidak ada tantangan baru. Hanya ongkang-ongkang kaki saja semuanya bisa datang sendiri. Brand SAP yang demikian kuat membuat para karyawannya dimanjakan comfort zone. Puncaknya saya alami pada April 2008 ketika saya mendapat Winner Circle Award dengan hadiah &#8220;honeymoon&#8221; bersama istri di kepulauan Maldives (Maladewa) yang eksotik itu. Selama seminggu kami diinapkan di resort yang sangat mahal (untuk ukuran saya) di tengah samudra hindia. Saya jadi berpikir sendiri, wong saya hanya ongkang-ongkang kaki kok dimanjakan seperti ini. Makanya begitu pulang dari Maldives saya bicara pada bos saya kalau saya perlu tantangan baru. Awalnya bingung juga mau ngomong apa, tapi akhirnya keluar juga keinginan yang looks very arogan itu. Untungnya bos saya bukan orang Jawa tapi orang Jerman yang tidak ada basa-basinya.</p>
<p>Tapi rupanya orang Jerman bisa salah interpretasi juga. Dikiranya saya pengin jabatan. Makanya saya ditawarin untuk pegang SAP Global Support di Pakistan! Ups, no sir. That&#8217;s not what I am looking for. Padahal kalau ditawari ke Jerman mungkin saya goyah juga&#8230; he-he-he. Akhirnya saya sampaikan bahwa itu bukan yang saya cari. Saya ingin keluar dari SAP, mencoba peruntungan sendiri, tetapi dengan satu syarat: diberi status SAP official partner. Itu harga mati buat saya karena saya tidak mau gambling terlalu besar. Saya masih memerlukan strong brand-nya SAP. Saya bukan orang yang terlalu nekat lagi dalam usia sekarang. Rupanya bos saya mengerti dan sebelum keluar dari SAP pun saya sudah mendapatkan previlige sebagai SAP partner yang bagi orang lain barangkali susahnya minta ampun.</p>
<p>Walaupun sudah dipersiapkan dengan sangat hati-hati, rupanya terjun bebas sebagai entrepreneur tetap saja menyisakan resiko yang tidak kecil. Sejak saat itu saya kembali memulai petualangan baru yang penuh tantangan. Ketika akhirnya memutuskan keluar dari SAP, saya sebenarnya sudah mempersiapkan diri untuk bisa bertahan selama 2 tahun tanpa gajian. Tetapi ternyata baru berjalan beberapa bulan, antisipasi 2 tahun sudah tidak mungkin tercapai lagi. Mendirikan usaha dari nol ternyata membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Alhasil, persiapan 2 tahun tanpa gajian mesti dikoreksi menjadi 1 tahun tanpa gajian, itupun dengan syarat ikat pinggang mesti diikat erat-erat.</p>
<p>Tiga bulan pertama adalah masa bulan madu. Saya begitu bersemangat bekerja, mendatangi prospek kesana-kemari, ikut tender sana-sini. Pada perioda bulan madu ini confident level masih tinggi sekali karena ada tender yang peluang menangnya sangat tinggi. Tiap malam saya tahajud, mohon dibukakan jalan supaya bisa menang tender sehingga bisa memperpanjang nafas perusahaan. Begitu intensifnya berdoa, sampai2 doa saya kebablasan, sampai memaksa-maksa Tuhan supaya saya bisa menang tender&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Manusia berusaha, tetapi Tuhan lah Sang Maha Penentu. Ternyata peluang tender perdana ini gagal! Secara teknis perusahaan kami memang nomor satu, tim evaluasi teknis malah sempat ketrucut mengatakan &#8220;jatuh cinta&#8221; pada solusi yang kami tawarkan. Tapi apa daya, sang Dirut tidak comfortable dengan perusahaan kami yang baru beberapa bulan berdiri. Alhasil, bank guarantee yang prosentasenya dinaikkan berlipat dan referensi dari customer-customer saya sebelumnya pun tidak bisa membantu. Alhasil, proyek diputuskan ditunda! Keputusan yang sangat aneh, karena ini tender resmi, mengundang banyak vendor, dan sudah mengikuti prosedur baku. Kok bisa2nya keputusan akhirnya ditunda&#8230; Saya sempat shocked! Betul2 shocked karena tidak menyangka bakal terjadi seperti ini. Berbagai upaya sempat saya lakukan supaya keputusan dramatis itu tidak terjadi. Tapi apa boleh buat, keputusan sudah diambil, terpaksa kami gigit jari&#8230;</p>
<p>Setelah tender resmi ditunda, saya mulai limbung. Rasa percaya diri mulai luntur, karena prospek2 berikutnya pun sering mempertanyakan status perusahaan saya yang baru berdiri. Ini berjalan beberapa lama, sehingga emosi saya mulai teraduk-aduk. ..</p>
<p>Tidak mau larut dalam kesedihan, saya akhirnya mulai menggarap prospek yang kecil-keciilll dengan harapan tidak ada handicap sebagai perusahaan baru. Akhirnya telor pertama pecah, dengan nilai sangat kecilll hanya seribu US dollar saja, yang untuk biaya operasional perusahaan selama sebulan saja tidak cukup. Tapi alhamdulillah, telor sudah pecah, walaupun baru telur burung emprit&#8230; Pelan-pelan telur burung emprit itu memberikan kepercayaan diri saya lagi. Alhamdulillah, telur yang agak gedean pecah lagi, yang bisa memperpanjang nafas perusahaan. Asap dapur keluarga pun bisa diperpanjang beberapa bulan lagi&#8230;</p>
<p>Berbekal proyek dengan durasi 6 bulan ini saya mulai confident lagi untuk terus mencari proyek-proyek berikutnya. Tiada hari tanpa cari proyek. Tiap hari saya pergi kesana kemari tanpa lelah untuk mengendus peluang bisnis. Alhamdulillah telor ketiga pecah lagi, yang membuat saya lebih pede lagi. Eh, hanya selang beberapa hari telor keempat kembali pecah&#8230; Maha suci Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ternyata kerja keras saya selama ini didengar olehNya. Ternyata kerja keras itu membuahkan hasil juga. Alhamdulillah, nafas perusahaan kembali bertambah panjang, dan mudah2an target saya sebelumnya untuk bisa survive tanpa gaji selama 2 tahun bisa tercapai. Target yang barangkali sangat sederhana, tetapi itu merupakan target yang tidak mudah dicapai untuk perusahaan yang baru berdiri.</p>
<p>Ada pengalaman yang sangat berkesan dalam mencari proyek tersebut yang alhamdulillan semuanya dengan perusahaan swasta (you know why I said so&#8230; he-he-he&#8230;) . Pada proyek terakhir yang kami dapatkan, semuanya berjalan begitu cepat dan tidak terduga. Saya datang pada saat-saat terakhir ketika perusahaan tersebut sudah mau memutuskan pemenang tender. Ceritanya, direktur perusahaan tersebut sering saya support waktu saya masih di SAP. Dan ketika saya iseng main ke kantornya, secara tidak sengaja kita ngobrol yang berkaitan dengan proyek yang akan dilakukan. Begitu tahu kalau saya bisa menyediakan service yang sama, dia buru-buru telpon ke bagian procurement supaya pengumuman pemenang tender ditunda karena ada perusahaan baru yang mau ikutan. In short, saya nyusul ikutan tender, dan menang! Ini dimungkinkan karena di perusahaan swasta asing prosedur tendernya tidak kaku seperti di BUMN. Dan Alhamdulillah semuanya berjalan dengan cleannnn&#8230;</p>
<p>Moral story dari cerita terakhir ini adalah pentingnya silaturahmi. Tentu saja silaturahmi yang berkualitas. Tidak mungkin direktur tersebut mau repot-repot menelpon bagian procurement supaya saya bisa nyusul ikut tender yang sudah sampai di ujung kalau diantara kami tidak ada past experience yang baik. Kebetulan waktu di SAP saya memang pernah mensupport dia ketika menghadapi situasi yang sangat kritikal ketika sistem SAP nya mati dan kerugian besar sudah membayangi perusahaan tersebut kalau sistemnya tidak segera up. Alhamdulillah waktu itu saya dan tim bisa membantunya sehingga kerugian besar itu bisa dihindari. Dugaan saya itulah satu-satunya alasan mengapa sang direktur mengizinkan saya nyusul ikutan tender yang berakhir dengan cerita yang sangat menggembirakan bagi perusahaan yang baru seumur jagung ini.</p>
<p>Mimpi Selanjutnya: Mendirikan Sekolah Entrepreneurhsip<br />
Pengalaman beberapa bulan sebagai entrepreneur semakin menambah kepercayaan diri saya untuk melanjutkan gagasan mendirikan sekolah entrepreneurship yang sudah saya rintis bersama teman-teman lebih dari 2 tahun yang lalu. Saya merasa sudah memiliki bekal pengetahuan, pengalaman, dan, ini yang sangat penting, bekal kredibilitas untuk mengajarkan entrepreneurship kepada mahasiswa-mahasiswa saya kelak. Pengalaman menantang resiko sudah saya tunjukkan sejak awal menjadi mahasiswa sampai sekarang. Pengalaman gagal berbisnis, saya punya. Jangan lupa, pengalaman gagal juga sangat penting asal kita tidak berhenti pada kegagalan itu sendiri. Pengalaman mempertahankan bisnis sendiri lebih dari 5 tahun juga saya miliki dengan perusahaan multimedia yang masih berjalan sampai sekarang. Pengalaman berani menjadi orang tidak gajian pun sudah saya buktikan. Paling tidak, pengalaman-pengalaman itu penting buat teman-teman saya yang barangkali ingin menintipkan anak-anaknya sekolah di Maestro School of Entrepreneurship untuk menjadi entrepreneur muda yang mandiri.</p>
<p>Mimpi mendirikan sekolah ini begitu penting buat saya karena sejak awal saya memang bercita-cita menjadi seorang guru seperti Ibu dan almarhum Ayah saya. Mudah-mudahan ini bisa mengobati kekeliruan saya sehingga gagal menjadi dosen di almamater tercinta, Tenik Penerbangan ITB. Semoga.</p>
<p>BSD City, 27 November 2009</p>
<p>Hari Tjahjono</p>
<p>PN ITB &#8216;84</p>
<p><a href="http://aerospaceitb.wordpress.com/files/2009/11/clip_image002.gif"><img src="http://aerospaceitb.wordpress.com/files/2009/11/clip_image002.gif" alt="" title="clip image002" width="200" height="147" class="alignnone size-full wp-image-19" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Meraih Mimpi : Tentang Seorang Hari Tjahjono]]></title>
<link>http://aerospaceitb.wordpress.com/2009/11/27/meraih-mimpi-tentang-seorang-hari-tjahjono/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 00:53:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>mukhlason</dc:creator>
<guid>http://aerospaceitb.wordpress.com/2009/11/27/meraih-mimpi-tentang-seorang-hari-tjahjono/</guid>
<description><![CDATA[Saya dilahirkan di sebuah kampung di Madiun, Jawa Timur. Ayah sudah meninggal ketika saya baru berus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Saya</strong> dilahirkan di sebuah kampung di Madiun, Jawa Timur. Ayah sudah meninggal ketika saya baru berusia setahun. Sejak ditinggal sang ayah, saya tumbuh menjadi seorang anak yang tidak percaya diri. Ini didukung kenyataan bahwa secara fisik saya termasuk anak yang paling kecil dibanding teman sekelas dan teman sepermainan. Pernah ketika saya dipercaya memimpin lomba baris-berbaris tingkat SD, di sepanjang jalan orang tertawa terpingkal-pinkal melihat komandan barisan tingginya kurang dari sepundak pasukan yang dipimpinnya. Sehingga alih-alih memupuk rasa percaya diri, kepercayaan yang diberikan guru saya itu malah membuat saya semakin minder.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Rasa minder ini berlanjut dan malah semakin parah pada waktu SMP. Saya menjadi anak yang gagap! Walaupun nilai ujian saya hampir selalu yang terbaik di sekolah, tapi di kelas saya selalu deg-degan kalau disuruh guru menjawab pertanyaan-pertanyaan lisan. Waktu disuruh menjadi ketua kelas pun saya malah jatuh sakit. Alhasil, sampai lulus SMP saya menjadi pribadi yang selalu gamang dan tidak percaya diri. Akibatnya, sampai lulus SMP saya menjadi anak yang tidak punya mimpi-mimpi apapun. Makanya saya sering bingung sendiri kalau ditanya cita-cita. Jawaban saya biasanya sangat standard: kadang-kadang menjawab insinyur, kadang-kadang menjawab ingin jadi dokter.</p>
<p>Perubahan terjadi waktu saya masuk SMA dan membaca buku-buku tentang Soekarno seperti &#8220;Soekarno Penyambung Lidah Rakyat&#8221; karangan Cindy Adam. Barangkali karena tersihir karisma Bung Karno, tiba-tiba saja saya mempunyai mimpi yang menjulang di langit: ingin kuliah di ITB seperti Soekarno! Sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk anak desa seperti saya yang tinggal nun jauh di pelosok kabupaten Madiun. Bayangkan, sudah puluhan tahun berdiri, alumni SMA saya yang masuk ITB bisa dihitung dengan sebelah jari tangan saja. Rata-rata mereka takut nama besar ITB, walaupun hanya sekedar mendaftar! Paling banter teman-teman saya masuk ITS, Unair, UGM atau universitas-universitas lain di sekitar Jawa Timur.</p>
<p>Saya pun sebenarnya juga dihinggapi sindroma ITB. Walaupun selalu juara umum sejak kelas 1 SMA, tetap saja saya gamang mendaftar masuk perguruan tinggi prestisius di Bandung itu. Rupanya kegamangan saya ini dibaca oleh guru saya. Sehingga waktu ada pendaftaran masuk ITB tanpa tes, guru saya buru-buru mengisinya tanpa terlebih dahulu mendiskusikannya dengan saya secara mendalam. Rupanya beliau ingin sekali saya bisa masuk ITB seperti yang saya cita-citakan dengan malu-malu kucing.</p>
<p>Singkat cerita, saya diterima masuk ITB tanpa tes. Hari-hari pertama kuliah di ITB saya lalui dengan riang gembira. Seluruh kegiatan perkuliahan di Tingkat Persiapan Bersama (TPB) saya lalui dengan lancar tanpa halangan berarti. Seluruh mata kuliah dapat saya selesaikan dengan baik dan saya lulus TPB tepat waktu. Saking senangnya, saya tidak sadar bahwa jebakan lebar telah terbentang menunggu di depan saya.</p>
<p>Salah jurusan<br />
Begitu masuk jurusan, satu per satu masalah mulai muncul. Kalau sewaktu TPB semua mata kuliah dapat saya lalui dengan baik dan lancar, kini saya harus tertatih-tatih mengikuti perkuliahan jurusan. Kalau di TPB nilai-nilai saya lebih banyak A dibanding B, maka di jurusan saya harus ikut ujian ulangan hampir di semua mata kuliah yang saya ambil. Kalau waktu TPB saya menjadi rujukan bagi teman-teman yang kurang memahami materi kuliah, kini saya mesti terseok-seok untuk sekedar lulus ujian. Kalau waktu TPB saya jarang sekali tidur di atas jam 9 malam, kini hampir tiap hari saya mesti begadang sampai dini hari. Itupun hasilnya sangat mengecewakan: saya mesti ikut ujian ulangan hampir untuk semua mata kuliah yang saya ikuti.</p>
<p>Walaupun banyak dikelilingi bidadari-bidadari cantik, jurusan Farmasi ITB betul-betul menjadi neraka buat saya. Tetapi &#8220;neraka dunia&#8221; ini memberikan pelajaran yang sangat berharga: mengajarkan kepada saya bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Teman-teman saya yang waktu di TPB kedodoran mengikuti pelajaran matematika misalnya, bisa melenggang santai mengikuti mata kuliah morsitum (morfologi dan sistematika tumbuhan) dan sebagainya. Walaupun saya belum pernah tahu teori multiple-intelligence-nya Howard Gartner, waktu itu saya langsung bisa mengapresiasi berbagai jenis kecerdasan yang tidak melulu berkaitan dengan matematika dan sejenisnya. Alhasil, kesombongan saya karena selalu mendapat nilai A untuk mata kuliah matematika di TPB langsung runtuh.</p>
<p>Waktu di TPB, saya sering membatin &#8220;kok yang begitu saja nggak tahu sih?&#8221; ketika melihat mahasiswa/i tidak dapat menurunkan rumus matematika yang sederhana. Waktu itu saya sering tidak habis pikir kok ada mahasiswa ITB yang seperti itu. Kini, saya kena tuahnya. Untuk mata kuliah yang buat seorang mahasiswa/i sangat mudah, kini buat saya sulitnya minta ampun. Runtuh sudah perasaan menjadi putra-putri terbaik Indonesia.</p>
<p>Karena sudah tidak tahan lagi terus-terusan kena her, saya memberanikan diri izin pindah jurusan kepada ketua jurusan Farmasi ITB. Entah dengan pertimbangan apa, ibu ketua jurusan selalu menolak permintaan saya. Berkali-kali menghadap, berkali-kali pula saya mendapat jawaban yang sama, &#8220;Saudara pasti bisa kuliah di sini, silakan dicoba lagi dan belajar lebih keras lagi.&#8221; Barangkali ibu ketua jurusan yang baik itu terlalu silau dengan nilai-nilai TPB saya, dan lupa bahwa selama setahun terakhir ini mental saya hancur lebur karena mesti mengikuti ujian dua kali lebih banyak dibanding mahasiswa/i yang lain yang tidak perlu mengulang ujian.</p>
<p>Karena mentok menghadapi ketua jurusan yang &#8220;terlalu berprasangka baik&#8221; itu, akhirnya saya bertekad untuk bergerilya sendiri supaya bisa pindah jurusan at any cost. Akhirnya saya segera menghadap ketua jurusan matematika ITB. Kok ndilalah beliau tidak ada di tampat. Akhirnya saya mencoba keberuntungan menghadap ketua jurusan Mesin yang waktu itu dijabat Pak Djoko Suharto. Alhamdulillah beliau ada di tempat, dan alhamdulillah pula beliau bersedia menerima saya. Ealah, prosesnya kok jadi mudah sekali. Beliau hanya bertanya apakah benar saya serius pindah jurusan, dan apakah saya tahu konsekuensinya, bahwa kalau ada satu saja mata kuliah yang tidak lulus saya langsung out dari ITB. Dan ketika saya jawab ya, beliau langsung membuat persetujuan tertulis yang mengubah drastis jalan hidup saya di masa depan. Sejak saat itu saya menjadi mahasiswa percobaan dengan kode khusus 88. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Teknik Penerbangan ITB: Kawah Candradimuka<br />
Begitu pindah jurusan, semangat belajar saya kembali menggebu. Karena resiko sebagai mahasiswa percobaan begitu besar, saya memutuskan istirahat secara total dari unit kegiatan mahasiswa dan 100% fokus kuliah. Sebuah keputusan yang berat, karena waktu itu semangat saya untuk aktif berorganisasi begitu menggebu. Sejak menjadi Ketua OSIS di SMA, semangat saya untuk berorganisasi meluap-luap. Dan begitu masuk ITB, keinginan berorganisasi ini seperti menemukan ladang yang subur. Kenangan masa SMP yang selalu gamang dan tidak percaya diri sudah hilang ditelan bumi. Tapi demi tujuan yang lebih besar, saya rela istirahat sementara dari organisasi dan fokus kuliah saja. Kelak setelah selesai masa percobaan, saya kembali aktif berorganisasi sampai dipercaya menjadi ketua umum organisasi yang bergerak dalam bidang pendidikan anak-anak itu.</p>
<p>Pengalaman menjadi mahasiswa percobaan ternyata memberikan kenangan yang tidak pernah terlupakan. Menjadi mahasiswa percobaan seperti berjalan di atas seutas tali. Perasaan selalu was-was karena sekali gagal habislah sudah harapan untuk terus kuliah di ITB. Tetapi saya tidak boleh berhenti. Keputusan sudah saya ambil, dan tidak ada pilihan untuk mundur atau menyerah. Ketika rasa was-was itu muncul, sering juga muncul ketakutan yang luar biasa. Takut gagal, takut ketendang dari ITB. Tapi begitu mengingat perjuangan Ibu saya yang sendirian berjuang luar biasa keras menghidupi keempat anaknya, spirit itu tumbuh kembali. Kelak pengalaman mengelola rasa was-was dan tekad yang kuat untuk melangkah ini sangat berguna dalam mengarungi kehidupan yang keras ini.</p>
<p>Setelah berjuang selama setahun penuh, alhamdulillah tantangan sebagai mahasiswa percobaan akhirnya dapat saya lalui dengan baik. Ada perasaan lega luar biasa. Tapi godaan berikutnya muncul lagi. What&#8217;s next? Fokus kuliah atau fokus organisasi? Atau dua-duanya?</p>
<p>Karena keinginan berlatih berorganisasi masih menggebu, akhirnya saya aktif kembali di organisasi. Alhasil, kuliah dan organisasi mesti berjalan beriring. Masalahnya, tantangan di perkuliahan juga tidak ringan. Waktu itu saya mesti memilih subjurusan. Mau Teknik Mesin Konstruksi atau Teknik Mesin Penerbangan? Sebetulnya saya tidak punya preferensi khusus, konstruksi ok, penerbangan juga ok. Toh walaupun saya besar di Madiun yang terkenal dengan lapangan terbang militernya, saya tidak punya ikatan batin dengan dunia penerbangan. Akhirnya pertimbangan memilih subjurusan bukan karena ikatan emosional atau hobby, tapi lebih ke tantangan! Mana yang lebih sulit itu yang akan saya pilih. Looks very arogan, itu memang itulah pertimbangan saya memilih teknik penerbangan yang katanya susah lulus!</p>
<p>Akhirnya kuliah di subjurusan teknik penerbangan untuk tingkat sarjana muda bisa saya selesaikan tepat waktu. Walaupun nilainya tidak bagus-bagus amat, saya senang bisa menjalani kuliah beriringan dengan kegiatan organisasi.</p>
<p>Masalah mulai muncul di tahun berikutnya ketika beban organisasi semakin berat karena saya ditunjuk sebagai ketua umum organisasi yang saya tekuni. Praktis selama setahun itu saya hanya sekali-sekali saja datang ke kampus. Akibatnya, saya pernah diusir dosen keluar kelas karena tidak mengerjakan PR! Lebih cilaka lagi, saya gagal dalam ujian untuk mata kuliah itu. Tidak hanya kena her, saya harus mengulang di tahun berikutnya. Itulah satu-satunya pengalaman mengulang mata kuliah selama di ITB. Dan ternyata, pengalaman gagal itu justru sangat penting dalam mengarungi kehidupan yang serba tidak pasti ini. Alhamdulillah, saya pernah gagal! Jadi saya harus mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada Pak Mardjono yang telah mengajarkan kepada saya bagaimana menghadapi sebuah kegagalan.</p>
<p>Nah. pengalaman berikutnya yang sangat challenging adalah menyelesaikan tugas perancangan pesawat dan tugas akhir. Tidak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa untuk lulus sebagai sarjana penerbangan ITB kita harus menyelesaikan tugas kuliah sekomprehensive perancangan pesawat. Teman-teman di luar penerbangan pada geleng-geleng kepala ketika tahu ada tugas perancangan pesawat ini. Bayangkan, untuk melakukan study pasar saja saya harus bolak-balik Bandung &#8211; Jakarta selama 3 bulan. Dan tujuannya &#8220;cuma&#8221; satu: menghitung berapa kapasitas pesawat yang dibutuhkan pasar Indonesia. Intellectual excercises yang terjadi di ruang asistensi bersama Pak Diran pun sangat berkesan sampai sekarang. Kalau boleh jujur, dari sekian banyak mata kuliah yang saya pelajari di ITB, yang tetap saya ingat sampai sekarang ya diskusi-diskusi hangat di ruang asistensi itu. Kadang saya sering geli sendiri mengingat argumentasi-argumentasi saya di ruang asistensi yang maksa-maksa. maksudnya maksa-maksa supaya cepet lulus. he-he-he.</p>
<p>Setelah lolos (catat: lolos, bukan lulus) dari tugas perancangan pesawat, tantangan berikutnya adalah menyelesaikan tugas akhir. Ini sebuah tantangan yang tidak ringan, makanya harus diatasi dengan upaya yang ekstra pula. Hampir selama 9 bulan penuh saya tidur di laboratorium! Pagi, siang, sore, dan malam tinggal di laboratorium, dan hanya pulang ke tempat kos untuk naruh baju kotor! What an unforgetable story! Kenapa mesti tinggal begitu lama di lab, barangkali juga karena cara kerja saya yang kurang sistematis. Tapi pengalaman kerja spartan seperti itu menyisakan kebanggaan tersendiri&#8230; he-he-he&#8230;</p>
<p>Kelak pengalaman menyelesaikan tugas perancangan dan tugas akhir ini seolah menjadi simulasi dari kehidupan yang sebenarnya. Betapa kita harus siap menghadapi komplikasi persoalan teknis dan non-teknis yang campur aduk menjadi satu. Kemampuan kita mengelola komplikasi masalah itulah yang sebenar-benarnya diajarkan dari kedua tugas kuliah itu. Saya bersyukur pernah melewati proses itu. Kalau tidak, belum tentu saya berani pindah kuadran di usia yang tidak muda lagi. Alhasil, teknik penerbangan ITB benar-benar menjadi kawah candradimuka bagi saya untuk berani manghadapi tantangan kehidupan dan mewujudkan mimpi-mimpi saya.</p>
<p>Membangun Karir<br />
Begitu selesai sidang sarjana, saya sempat terpikir untuk kerja di perusahaan besar dengan gaji besar. Layak sekali rasanya perjuangan saya selama 7 tahun kuliah di ITB dengan segala dinamikanya diganjar dengan gaji yang besar. Tujuh tahun kuliah mestinya setara dengan seorang doktor&#8230; he-he-he&#8230;</p>
<p>Tapi dorongan untuk menjadi guru seperti Bapak dan Ibu saya juga besar sekali. Walaupun semasa kuliah saya pernah merintis &#8220;karir&#8221; di bidang entrepreneurship dengan menjadi tukang koran dan berjualan brem, entah mengapa keinginan menjadi entrepreneur sama sekali tidak tumbuh sewaktu saya menyelesaikan kuliah. Alhasil begitu selesai wisuda sarjana saya ngendon terus di lab penerbangan menjadi seorang calon dosen di almamater tercinta.</p>
<p>Setelah magang sebagai dosen selama sekitar 3 bulan, saya memutuskan hijrah ke Jakarta mencari tantangan baru. Bukan bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar seperti yang pernah saya impikan, saya terdampar membantu perusahaan seorang teman di bidang penerbitan. Saya langsung menggondol jabatan keren: manajer sirkulasi. Walaupun dengan jabatan manajer, jangan bayangkan saya mendapat gaji setara manajer, apalagi manajer perusahaan minyak. Gaji yang saya terima waktu itu hanya lebih besar sedikit dari gaji calon dosen ITB. Dengan gaji segitu dan hidup di Jakarta, kebayang sudah kesulitan yang saya hadapi. Mending tetap jadi dosen, karena masih dapat tunjangan dari IPTN&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Lagi-lagi nasi sudah mejadi bubur. Keputusan sudah diambil dan pantang bagi saya untuk menyesali apalagi sambil merintih-rintih minta belas kasihan. Selama berbulan-bulan saya menjalani profesi yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia penerbangan. Tiap hari saya keliling Jakarta untuk mendistribusikan majalah yang diterbitkan perusahaan tempat saya bekerja. Ketika malam tiba, saya sering termenung atas langkah yang saya ambil ini. Am I doing the right thing? Sambil tiduran di kantor yang pengap, hampir setiap malam saya melakukan kilas balik atas perjuangan saya sejak SMA, kuliah di ITB selama 7 tahun, dan kini berlabuh di Jakarta di sebuah perusahaan penerbitan yang masa depannya tidak jelas mau kemana.</p>
<p>Di tengah kegundahan yang membuncah itu, Tuhan rupanya mengirim seorang dewa penolong. Tidak ada topan dan tidak ada angin, seorang sahabat datang ke kantor saya. Saya sudah lupa persisnya sang sahabat itu ngomong apa, tapi yang jelas ujung-ujungnya mengajak saya bergabung bersama beberapa alumni penerbangan yang lain untuk mendaftar kerja di PT Sempati Air. Siapakah sahabat dan sekaligus dewa penolong itu? Tidak lain dan tidak bukan dia adalah Pak Indar Atmoko, PN 83, atau saya biasa memanggilnya Mamo. Barangkali Pak Indar bisa cerita mengapa tiba-tiba datang ke kantor saya untuk mengajak saya kembali ke jalan yang benar&#8230; he-he-he&#8230;</p>
<p>Singkat cerita, saya bersama beberapa anggota rombongan sirkus cap gajah bekerja di Sempati sebagai seorang engineer muda. Walaupun tidak se-advance apa yang dipelajari di kampus, kami ber-enam alumni PN ITB tekun bekerja di bawah bimbingan Pak Eddy Prayitno, PN 72, yang waktu itu menjabat sebagai direktur teknik. Belum setahun bekerja di Sempati, saya dikirim Pak Eddy mengikuti training engine and airframe system pesawat F-100 di Fokker Aircraft BV, Belanda. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Dalam sebulan penuh saya mesti belajar sistem pesawat bersama para mekanik. Jelas posisi saya waktu itu adalah underdog, karena saya blank sama sekali bagaimana sistem seperti APU itu bekerja, bagaimana melakukan trouble shooting kalau ada masalah teknis yang terjadi, dsb.</p>
<p>Di situlah kemampuan survival saya diuji. Saya mesti melakukan segala daya upaya supaya bisa lulus. Saya harus lulus, karena kalau tidak kredibilitas insinyur penerbangan di mata para mekanik Sempati bisa terancam. Dan karena pendekatan &#8220;teknis&#8221; saja tidak mencukupi, saya mesti melakukan pendekatan &#8220;non-teknis&#8221;, ialah membujuk teman mekanik saya untuk mau belajar bersama. Ini jauh lebih efektif karena dia seorang mekanik yang cukup berpengalaman yang tahu seluk beluk sistem pesawat, yang tentu saja bisa menjelaskan dengan lebih baik daripada hanya dengan membaca buku.</p>
<p>Perjuangan saya selama sebulan penuh akhirnya membuahkan hasil. Saya lulus ujian dengan nilai yang tidak mengecewakan Pak Eddy Prayitno yang mengirim saya, dan juga tidak mengecewakan sahabat saya mekanik yang mau tekun berbagi belajar bersama. Tapi tunggu, di hari terakhir training saya di Fokker saya menerima fax dari Jakarta. Isinya membuat saya terbengong-bengong. Betapa tidak, saya mendapat penugasan baru dari Pak Eddy untuk men-set up organisasi baru, Information System, di Direktorat Teknik PT Sempati Air. Belum juga ilmu yang saya pelajari sempat saya pakai, saya harus mengerjakan pekerjaan baru yang lain sama sekali. Boro-boro mau menerapkan ilmunya, wong waktu menerima fax saya masih belum pulang ke Jakarta. Saya masih anteng di Schiphol, Amsterdam! Rupanya Allah SWT meminjam tangan Pak Eddy untuk membelokkan karir saya. Sejak saat itu saya switch ke bidang IT sampai sekarang&#8230;</p>
<p>Lebih dari 5 tahun saya menekuni bidang IT ini di Sempati. Pengalaman yang sangat berharga sampai sekarang adalah memimpin tim pengembangan software IMAGES (Integrated Maintenance and Engineering System) bekerja sama dengan beberapa software houses termasuk tim dari PAU ITB. Sungguh pengalaman yang sangat berharga untuk belajar project management sebuah proyek IT.</p>
<p>Sekolah Lagi<br />
Salah satu proyek yang saya koordinasikan sewaktu kerja di Sempati adalah mengukur On-Time Performance berbagai tipe pesawat bersama-sama dengan Pak Diran dan Pak Mahardi Sadono, PN 85. Di sini Tuhan kembali menunjukkan kuasanya untuk &#8220;ikut campur&#8221; mewarnai perjalanan karir saya. Di tengah-tengah obrolan informal, Pak Diran menanyakan apakah saya tidak ingin sekolah lagi. Tidak mau berbasa-basi, saya langsung menyampaikan ke Pak Diran kalau saya tentu saja ingin sekolah lagi, tapi mesti di luar negeri. Beberapa hari kemudian Pak Diran menyodorkan formulir pendaftaran, dan saya langsung diterima sekolah MBA di Belanda, walaupun belum dites! What a surprising moment! Rupanya saya ini &#8220;korban&#8221; NKK, nolong kawan-kawan, karena ternyata Pak Diran adalah ketua tim seleksi yang surat referensinya sakti mandraguna.</p>
<p>Segeralah saya berangkat kembali ke Belanda untuk sekolah lagi. Rencana saya sekolah ke Belanda yang gagal karena saya tidak jadi dosen di Jurusan Penerbangan ITB akhirnya terbayar lunas. Terima kasih Pak Diran, saya tidak akan pernah melupakan jasa Bapak mengirim saya sekolah lagi ke Belanda. Pengalaman sekolah di Belanda mengajarkan banyak hal. Selain memaksa saya belajar membaca cepat karena setiap hari mesti membaca sekitar 80 halaman texbook, banyak hal positif yang dapat dipelajari di sana: cinta lingkungan dengan kemana-mana pergi bersepeda, budaya antri, dsb. Benar sekali pesan Pak Diran waktu saya pamit dari ITB: &#8220;you mesti sekolah ke luar negeri, banyak hal yang dapat you pelajari di sana&#8221;.</p>
<p>Pengalaman yang juga tidak akan saya lupakan adalah mencari tempat magang sebagai bagian dari program MBA ini. Setelah menyelesaikan teori selama setahun, mahasiswa didorong untuk mencari tempat magang sendiri. Walaupun kuliah saya disponsori Fokker, tetap saja saya harus mencari topik magang yang menantang. Nah, ketika itu Fokker baru saja membuka fasilitas perawatan pesawatnya di Singapore, Fokker Services Asia. Dugaan saya, karena fasilitas ini baru dibuka, maka mereka pasti membutuhkan studi yang cukup mendalam bagaimana merumuskan strategi pengembangan bisnisnya di Asia. Makanya saya langsung melakukan research kecil-kecilan untuk melihat peluang pekerjaan yang bisa dilakukan dengan skema magang. Dan setelah proposal itu siap, tidak tanggung-tanggung proposal itu langsung saya kirim ke President Director Fokker Services BV di kantor pusatnya. Belakangan saya geli sendiri dengan kenekatan saya ini. Wong hanya proposal magang saja kok dikirim sampai level presiden direktur! Tapi itulah berkah kuliah di PN ITB: selalu nekat!</p>
<p>Ternyata kultur Indonesia dan Belanda sangat berbeda. Apa yang saya pikir sebuah kenekatan, ternyata malah diapreasiasi dengan baik oleh direksi Fokker Services. Tidak saya duga-duga, saya dapat panggilan dari Fokker Services untuk mempresentasikan proposal saya di depan rapat direksi! Wow! Seorang mahasiswa inlander dipanggil direksi Fokker Services untuk presentasi di depan rapat direksi hanya untuk sebuah proposal magang! Sebuah pengalaman yang juga tidak terlupakan. Hati saya langsung berbunga-bunga, dan buru-buru saya naik kereta api dari Enschede ke Woensdrecht. Sepanjang jalan saya masih tidak percaya harus presentasi di depan sinyo-sinyo Belanda direksi Fokker Services. Hati saya semakin berbunga-bunga karena saya diinapkan di sebuah hotel, hotel terbaik yang pernah saya inapi selama di Eropa. Maklum waktu business trip di Sempati dulu biasanya saya menginap di hotel seadanya supaya dapat sisa untuk uang muka rumah&#8230; he-he-he&#8230;</p>
<p>Akhirnya proposal saya diterima, dan saya mulai mengerjakan tugas ini dengan melakukan studi pasar di Jakarta, Singapore, dan Kuala Lumpur. Rencana studi pasar di Shanghai dibatalkan karena Fokker takut program saya mengganggu hubungan kerja dengan partner mereka di China. Waktu mengerjakan studi pasar ini saya langsung ingat apa yang saya lakukan sewaktu tugas perancangan pesawat di kampus tercinta. Irama dan cara berpikirnya sama, yang membedakan hanya topiknya saja karena fokus saya sekarang merumuskan Strategic Business Development of Fokker Services in Asia.</p>
<p>Setelah menyelesaikan program teori dan magang hampir selama 2 tahun, saya dinyatakan lulus dan siap-siap pulang ke Indonesia. Indonesia, here I come.</p>
<p>Banting Setir : Wiraswasta<br />
Sudah hampir 8 bulan saya menjadi &#8220;orang tidak gajian&#8221;, alias pindah kuadran dari seorang profesional menjadi entrepreneur. Pengalaman yang menarik, penuh duka dan suka, finally. he-he-he. Mudah2an pengalaman singkat ini bisa bermanfaat bagi temen2 yang ingin melakukan hal yang sama.</p>
<p>Ketika akhirnya memutuskan keluar dari SAP dan merintis usaha sendiri, saya sudah mempersiapkan diri untuk bisa bertahan selama 2 tahun tanpa gajian. Ternyata baru berjalan beberapa bulan, antisipasi 2 tahun sudah tidak mungkin tercapai, karena mendirikan usaha dari nol membutuhkan biaya tidak sedikit. Alhasil, persiapan 2 tahun tanpa gajian mesti dikoreksi menjadi 1 tahun tanpa gajian, itupun dengan syarat ikat pinggang mesti diikat erat2.</p>
<p>Tiga bulan pertama adalah masa bulan madu. Saya begitu bersemangat bekerja, mendatangi prospek kesana-kemari, ikut tender sana-sini. Pada perioda bulan madu ini confident level masih tinggi sekali karena ada tender yang peluang menangnya sangat tinggi. Tiap malam saya tahajud, mohon dibukakan jalan supaya bisa menang tender sehingga bisa memperpanjang nafas perusahaan. Begitu intensifnya berdoa, sampai2 doa saya kebablasan, sampai me-maksa2 Tuhan supaya saya bisa menang tender. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Manusia berusaha, tetapi Tuhan lah Sang Maha Penentu. Ternyata peluang tender perdana ini gagal! Secara teknis perusahaan kami memang nomor satu, tim evaluasi teknis malah sempat ketrucut mengatakan &#8220;jatuh cinta&#8221; pada solusi yang kami tawarkan. Tapi apa daya, sang Dirut tidak comfortable dengan perusahaan kami yang baru beberapa bulan berdiri. Alhasil, bank guarantee yang prosentasenya dinaikkan berlipat dan referensi dari customer2 saya sebelumnya pun tidak bisa membantu. Alhasil, proyek diputuskan ditunda! Keputusan yang sangat aneh, karena ini tender resmi, mengundang banyak vendor, dan sudah mengikuti prosedur baku. Kok bisa2nya keputusan akhirnya ditunda. Saya sempat shocked! Betul2 shocked karena tidak menyangka bakal terjadi seperti ini. Berbagai upaya sempat saya lakukan supaya keputusan dramatis itu tidak terjadi. Tapi apa boleh buat, keputusan sudah diambil, terpaksa kami gigit jari.</p>
<p>Setelah tender resmi ditunda, saya mulai limbung. Rasa percaya diri mulai luntur, karena prospek2 berikutnya pun sering mempertanyakan status perusahaan saya yang baru berdiri. Ini berjalan beberapa lama, sehingga emosi saya mulai teraduk-aduk. Tidak mau larut dalam kesedihan, saya akhirnya mulai menggarap prospek yang kecil-keciilll dengan harapan tidak ada handicap sebagai perusahaan baru. Akhirnya telor pertama pecah, dengan nilai sangat kecilll hanya seribu US dollar saja, yang untuk biaya operasional perusahaan selama sebulan saja tidak cukup. Tapi alhamdulillah, telor sudah pecah, walaupun baru telur burung emprit.</p>
<p>Pelan2 telur burung emprit itu memberikan kepercayaan diri saya lagi. Alhamdulillah, telur yang agak gedean pecah lagi, yang bisa memperpanjang nafas perusahaan. Asap dapur keluarga pun bisa diperpanjang beberapa bulan lagi.</p>
<p>Berbekal proyek dengan durasi 6 bulan ini saya mulai confident lagi untuk terus mencari proyek2 berikutnya. Tiada hari tanpa cari proyek. Tiap hari saya pergi kesana kemari tanpa lelah untuk mengendus peluang bisnis. Alhamdulillah telor ketiga pecah lagi, yang membuat saya lebih pede lagi. Eh, hanya selang beberapa hari telor keempat kembali pecah. Maha suci Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ternyata kerja keras saya selama ini didengar olehNya. Ternyata kerja keras itu membuahkan hasil juga. Alhamdulillah, nafas perusahaan kembali bertambah panjang, dan mudah2an target saya sebelumnya untuk bisa survive tanpa gaji selama 2 tahun bisa tercapai. Target yang barangkali sangat sederhana, tetapi itu merupakan target yang tidak mudah dicapai untuk perusahaan yang baru berdiri.</p>
<p>Ada pengalaman yang sangat berkesan dalam mencari proyek tersebut yang alhamdulillan semuanya dengan perusahaan swasta (you know why I said so. he-he-he.). Pada proyek terakhir yang kami dapatkan, semuanya berjalan begitu cepat dan tidak terduga. Saya datang pada saat2 terakhir ketika perusahaan tersebut sudah mau memutuskan pemenang tender. Ceritanya, direktur perusahaan tersebut sering saya support waktu saya masih di SAP. Dan ketika saya iseng main ke kantornya, secara tidak sengaja kita ngobrol yang berkaitan dengan proyek yang akan dilakukan. Begitu tahu kalau saya bisa menyediakan service yang sama, dia buru2 telpon ke bagian procurement supaya pengumuman pemenang tender ditunda karena ada perusahaan baru yang mau ikutan. In short, saya nyusul ikutan tender, dan menang! Ini dimungkinkan karena di perusahaan swasta asing prosedur tendernya tidak kaku seperti di BUMN. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan clean.</p>
<p>Moral story dari cerita terakhir ini adalah pentingnya silaturahmi. Tentu saja silaturahmi yang berkualitas. Tidak mungkin direktur tersebut mau repot2 menelpon bagian procurement supaya saya bisa nyusul ikut tender yang sudah sampai di ujung kalau diantara kami tidak ada past experience yang baik. Kebetulan waktu di SAP saya memang pernah mensupport dia ketika menghadapi situasi yang sangat kritikal ketika sistem SAP nya mati dan kerugian besar sudah membayangi perusahaan tersebut kalau sistemnya tidak segera up. Alhamdulillah waktu itu saya dan tim bisa membantunya sehingga kerugian besar itu bisa dihindari. Dugaan saya itulah satu2nya alasan mengapa sang direktur mengizinkan saya nyusul ikutan tender yang berakhir dengan cerita yang sangat menggembirakan bagi perusahaan yang baru seumur jagung ini.</p>
<p>Sangatlah benar kalau agama mengajarkan pentingnya silaturahmi, karena silaturahmi tidak saja memperpanjang umur tetapi juga membuka pintu rezeki. So, mari kita intensifkan tali silaturahmi diantara alumni PN ITB.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Reagan Diaries (The Reagan Letters) by Ronald Wilson Reagan]]></title>
<link>http://generaltzsoschickencoop.wordpress.com/2009/11/13/the-reagan-diaries-the-reagan-letters-by-ronald-wilson-reagan/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 02:50:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>General Tzso</dc:creator>
<guid>http://generaltzsoschickencoop.wordpress.com/2009/11/13/the-reagan-diaries-the-reagan-letters-by-ronald-wilson-reagan/</guid>
<description><![CDATA[11/13/09 I have been looking forward to buying and reading this book/memoir for a very long time. I ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[11/13/09 I have been looking forward to buying and reading this book/memoir for a very long time. I ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[EL TEMA D'AVUI - ULTRAVOX - HYMN]]></title>
<link>http://jmcorbalan.wordpress.com/2009/11/05/828/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 21:00:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>jmcorbalan</dc:creator>
<guid>http://jmcorbalan.wordpress.com/2009/11/05/828/</guid>
<description><![CDATA[Ultravox són un dels grups més importants dels anys 80, un grup que va marcar tendència en el tecno ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ultravox són un dels grups més importants dels anys 80, un grup que va marcar tendència en el tecno i la new wave, i que va gravar àlbums increibles com Vienna, Rage in Eden o Lament, i cançons tant conegudes com Vienna o The Voice.</p>
<p>La darrera actuació de la seva formació clàssica (Midge Ure, Chris Cross, Billy Currie i Warren Cann) va tenir lloc el 1985, poc després Warren Cann deixava el grup i la resta de membres gravàven un nou disc i es separaven també dos anys després, acabada una poc exitosa gira de presentació.</p>
<p>La sorpresa ens l&#8217;han donat el 2.008 quan anunciaven un inesperat retorn, amb una gira que ja ha viscut vàries dates a la Gran Bretanya durant aquest any, i que seguirà a partir de l&#8217;abril del 2.010 amb gira europea, que esperem que els porti al nostre país. De moment estan confirmats 6 concerts a Alemanya, 1 a Holanda i 1 a Suïssa.</p>
<p>Un dels temes que no pot faltar en aquesta gira és Hymn, pot ser menys conegut que els altres esmentats, però en absolut de menys qualitat, compareu la versió original, amb una en directe en la gira de presentació de Quartet, l&#8217;àlbum on la podem trobar, i una (malhauradament de no gran qualitat) gravada en la gira actual.</p>
<p>====================================================</p>
<p>Ultravox son uno de los grupos más importantes de los años 80, un grupo que marcó tendencia en el tecno y la New Wave, y que grabó álbumes tan increibles como Vienna, Rage in Eden o Lament, y canciones tan conocidas como Vienna o The Voice.</p>
<p>La última actuación de su formación clásica (Midge Ure, Chris Cross, Billy Currie y Warren Cann) tuvo lugar en 1.985, poco después Warren Cann dejaba el grupo y el resto del miembros gravaban un nuevo disco y se separaban también dos años después, terminada una poco exitosa gira de presentación.</p>
<p>La sorpresa nos la han dado en el 2.008 cuando anuncian un inesperado retorno, con una gira que ya ha vivido varias fechas en Gran Bretaña durante este año, y que seguirá a partir del mes de abril del 2.010 con una gira europea, que esperemos que les traiga hasta nuestro pais. De momento están confirmados 6 conciertos en Alemania, 1 en Holanda y 1 en Suiza.</p>
<p>Uno de los temas que no puede faltar en esta gira es Hymn, quizás menos conocido que los anteriormente mencionados, pero en absoluto de menos calidad, comparad la versión original, con una en directo en la gira de presentació de Quartet, el álbum al que pertenece, y una (desgraciadamente de no gran calidad) grabada en la gira actual.</p>
<p>=====================================================</p>
<p>ANY 1.982 &#8211; Versió original en estudi</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/mr7vWlRNR-o&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/mr7vWlRNR-o&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>ANY 1983 &#8211; En directe al Westfalenhalle de Dortmund</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/W_JN5cb2ptA&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/W_JN5cb2ptA&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>ANY 2009 &#8211; En directe al Edinburgh Playhouse</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/gNQPGOUCWxc&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/gNQPGOUCWxc&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<pre>Give us this day all that you showed me.
The power and the glory 'til thy kingdom come.

Chorus:

Give us this day all that you showed me,
The power and the glory 'til thy kingdom come.
Give me all the story book told me,
The faith and the glory 'til thy kingdom comes.

And they said that in our time,
All that's good will fall from grace.
Even saints would turn their face,
In our time.

And they told us that in our days,
Different words said in different ways,
Have other meaning from he who says,
In our time.

(Chorus)

And they said that in our time,
We would reap from their legacy,
We would learn from what they had seen,
In our time.

And they told us that in our days,
We would know what was high on high,
We would follow and not defy,
In our time.

(Chorus)

Faithless in faith.
We must behold the things we see.

(Chorus - Repeat 4 times and fade)</pre>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bouquet de nerfs]]></title>
<link>http://lamateur75.wordpress.com/2009/10/30/bouquet-de-nerfs/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 21:04:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>lamateur75</dc:creator>
<guid>http://lamateur75.wordpress.com/2009/10/30/bouquet-de-nerfs/</guid>
<description><![CDATA[The Feelies Crazy rhythms (1980, Stiff) &nbsp; Les Feelies se forment en 1977 à Hoboken, New Jersey,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>The Feelies <em>Crazy rhythms</em> (1980, Stiff)</strong><br />
<a href="http://s273.photobucket.com/albums/jj209/lamateur/?action=view&#38;current=41wy3Az6w-L_SL500_AA240_.jpg" target="_blank"><img src="http://i273.photobucket.com/albums/jj209/lamateur/41wy3Az6w-L_SL500_AA240_.jpg" border="0" alt="feelies" /></a></p>
<p>&#160;</p>
<p style="text-align:justify;">Les Feelies se forment en 1977 à Hoboken, New Jersey, banlieue tranquille qui donnera aussi naissance aux géniaux Yo La Tengo, confirmant ainsi l&#8217;adage comme quoi &#8220;c&#8217;est dans les banlieues calmes qu&#8217;on fait les meilleurs groupes&#8221;. Le quatuor (Glenn Mercer, Bill Million, Keith De Nunzio et Anton Fier) se construit peu à peu une réputation flatteuse en jouant dans les clubs de la ville puis de sa grande soeur new-yorkaise, et se retrouve propulsé en 1978 comme le &#8220;meilleur groupe underground&#8221; de New York par le magazine <em>Village Voice</em>. En 1980, le label Stiff leur permet de publier ce premier album tonitruant, <em>Crazy rhythms</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Avec ce disque proprement inouï, les Feelies creusent un nouveau sillon à partir des lignes de fuite tracées par leurs illustres aînés, du Velvet Underground aux Modern Lovers, en passant par leurs contemporains Talking Heads. En neuf morceaux comme autant de condensés d&#8217;énergie brute, le groupe crée un formidable tourbillon fascinant et galvanisant. Porté par une dynamique rythmique époustouflante, <em>Crazy rhythms</em> maintient tout du long une tension nerveuse sans pareille. Libres et farouches, les compositions du combo sonnent comme autant d&#8217;évasions, fuites en avant s&#8217;appuyant sur d&#8217;impressionnants entrelacs de guitares secs et hypnotiques, bouquet de nerfs cueillis à pleines mains par ces quatre jeunes gens au look d&#8217;étudiants sages.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Crazy rhythms</em> est un album extrêmement cohérent, et il est difficile d&#8217;en ressortir certains titres en particulier. On retiendra évidemment l&#8217;introductif &#8220;The boy with the perpetual nervousness&#8221;, hymne tout de violence contenue célébrant l&#8217;anticonformisme menaçant d&#8217;un adolescent de banlieue: &#8220;Well he&#8217;s not like the boys we used to have / Not like them at all / Those ones made their parents proud / This one beats &#8216;em all&#8221;. Impossible aussi de passer sous silence l&#8217;exceptionnel &#8220;Loveless love&#8221;, montée en puissance à couper le souffle. Le groupe aligne les chansons libres comme l&#8217;air, dévalant les pentes si vites que ses pieds semblent ne plus toucher terre, ces &#8220;Forces at work&#8221; ou &#8220;Crazy rhythms&#8221;. Les Feelies font montre également de leurs goûts pour les reprises iconoclastes et délivrent ainsi une version méconnaissable du &#8220;Everybody&#8217;s got something to hide except me and my monkey&#8221; des Beatles.</p>
<p style="text-align:justify;">Avec cet album, le groupe décrochera un réel succès critique et deviendra surtout une influence importante, ses airs épileptiques irradiant de REM à Clap Your Hands Say Yeah. Pourtant, les Feelies, vite en froid avec leur label, se sabordent une première fois de façon assez inattendue, chaque membre menant ses propres aventures au fil des années suivantes. Ils reviendront en 1986 avec <em>The good earth</em> puis ce sera <em>Only life</em> en 1988 et <em>Time for a witness</em> en 1991, dernier effort discographique répertorié. <em>Crazy rhythms</em> et <em>The good earth</em> viennent d&#8217;être réédités.</p>
<p><span style="display:block;width:425px;margin:left;"> <embed src='http://widgets.vodpod.com/w/video_embed/Groupvideo.3784536' type='application/x-shockwave-flash' AllowScriptAccess='always' pluginspage='http://www.macromedia.com/go/getflashplayer' wmode='transparent' flashvars='' /></span></p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AD29 - Ritchie / Vôo Do Coração (1983)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/10/22/ad29-ritchie-voo-do-coracao-1983/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 10:00:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/10/22/ad29-ritchie-voo-do-coracao-1983/</guid>
<description><![CDATA[AD29 &#8211; Ritchie / Vôo Do Coração (1983) Columbia -  Tracks: 10  Playing time: 37:30   1    No O]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-1238" title="AD29-Ritchie - Vôo Do Coração" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/09/ad29-ritchie-voo-do-coracao.jpg?w=300&#038;h=296" alt="AD29-Ritchie - Vôo Do Coração" width="300" height="296" />AD29 &#8211; Ritchie / Vôo Do Coração (1983)</strong></p>
<p>Columbia -  Tracks: 10  Playing time: 37:30</p>
<p> </p>
<p>1    No Olhar &#8211; Ritchie &#8211; (Bernardo Vilhena &#38; Ritchie) (4:01)</p>
<p>2    A Vida Tem Dessas Coisas &#8211; Ritchie &#8211; (Bernardo Vilhena &#38; Ritchie) (3:10)</p>
<p>3    Vôo De Coração &#8211; Ritchie &#8211; (Bernardo Vilhena &#38; Ritchie) (4:03)</p>
<p>4    Casanova &#8211; Ritchie &#8211; (Bernardo Vilhena &#38; Ritchie) (3:39)</p>
<p>5    Menina Veneno &#8211; Ritchie &#8211; (Bernardo Vilhena &#38; Ritchie) (4:44)</p>
<p>6    Preço Do Prazer &#8211; Ritchie &#8211; (Ritchie) (3:59)</p>
<p>7    Pelo Interfone &#8211; Ritchie &#8211; (Bernardo Vilhena &#38; Ritchie) (3:37)</p>
<p>8    A Carta (The Letter) &#8211; Ritchie &#8211; (Thompson) (2:11)</p>
<p>9    Parabéns Pra Você &#8211; Ritchie &#8211; (Bernardo Vilhena &#38; Ritchie) (3:50)</p>
<p>10   Tudo Que Eu Quero (Tranquilo) &#8211; Ritchie &#8211; (Bernardo Vilhena) (4:16)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://dennis-leo.blogspot.com/2008/10/ritchie-vo-de-corao.html">Dennis-Leo.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AD27 - Bacamarte / Depois Do Fim (1983)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/10/20/ad27-bacamarte-depois-do-fim-1983/</link>
<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 10:00:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/10/20/ad27-bacamarte-depois-do-fim-1983/</guid>
<description><![CDATA[AD27 &#8211; Bacamarte / Depois Do Fim (1983) Som-Arte -  Tracks: 9  Playing time: 44:25   1    UFO ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-1232" title="AD27-Bacamarte - Depois Do Fim" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/09/ad27-bacamarte-depois-do-fim.jpg?w=300&#038;h=298" alt="AD27-Bacamarte - Depois Do Fim" width="300" height="298" />AD27 &#8211; Bacamarte / Depois Do Fim (1983)</strong></p>
<p>Som-Arte -  Tracks: 9  Playing time: 44:25</p>
<p> </p>
<p>1    UFO &#8211; Bacamarte &#8211; (Mário Neto) (6:28)</p>
<p>2    Smog Alado &#8211; Bacamarte &#8211; (Mário Neto) (4:13)</p>
<p>3    Miragem &#8211; Bacamarte &#8211; (Mário Neto) (4:55)</p>
<p>4    Pássaro Da Paz &#8211; Bacamarte &#8211; (Mário Neto) (2:34)</p>
<p>5    Caño &#8211; Bacamarte &#8211; (Marcus Moura) (2:01)</p>
<p>6    Último Entardecer &#8211; Bacamarte &#8211; (Mário Neto &#38; Sergio Villarim) (9:31)</p>
<p>7    Controvérsia &#8211; Bacamarte &#8211; (Delto Simas &#38; Marco Veríssimo) (1:59)</p>
<p>8    Depois Do Fim &#8211; Bacamarte &#8211; (Mário Neto) (6:32)</p>
<p>9    Mirante Das Estrelas [Bonus] &#8211; Bacamarte &#8211; (Mário Neto) (6:12)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://loronix.blogspot.com/2007/10/bacamarte-depois-do-fim-1983.html">Loronix.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AD22 - Capital Inicial / Capital Inicial (1986)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/10/15/ad22-capital-inicial-capital-inicial-1986/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 11:00:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/10/15/ad22-capital-inicial-capital-inicial-1986/</guid>
<description><![CDATA[AD22 &#8211; Capital Inicial / Capital Inicial (1986) PolyGram -  Tracks: 11  Playing time: 36:23   ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-1217" title="AD22-Capital Inicial - Capital Inicial" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/09/ad22-capital-inicial-capital-inicial.jpg?w=300&#038;h=293" alt="AD22-Capital Inicial - Capital Inicial" width="300" height="293" />AD22 &#8211; Capital Inicial / Capital Inicial (1986)</strong></p>
<p>PolyGram -  Tracks: 11  Playing time: 36:23</p>
<p> </p>
<p>1    Música Urbana &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos, Fê Lemos, André Petrorios &#38; Renato Russo) (3:30)</p>
<p>2    No Cinema &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos, Fê Lemos &#38; Loro Jones) (2:56)</p>
<p>3    Psicopata &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos, Fê Lemos, Loro Jones &#38; Pedro Pimenta) (2:49)</p>
<p>4    Tudo Mal &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos, Rogério Lopes De Souza &#38; Loro Jones) (3:12)</p>
<p>5    Sob Controle &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos, Loro Jones &#38; Dinho) (3:31)</p>
<p>6    Veraneio Vascaina &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos &#38; Renato Russo) (2:15)</p>
<p>7    Gritos &#8211; Capital Inicial &#8211; (Dinho, Fê Lemos, Loro Jones &#38; Guta) (3:27)</p>
<p>8    Leve Desespero &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos, Fê Lemos, Loro Jones &#38; Dinho) (3:53)</p>
<p>9    Linhas Cruzadas &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos, Fê Lemos, Loro Jones &#38; Dinho) (3:36)</p>
<p>10   Cavalheiros &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos, Fê Lemos &#38; Dinho) (3:25)</p>
<p>11   Fátima &#8211; Capital Inicial &#8211; (Flávio Lemos &#38; Renato Russo) (3:49)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://brasilrockmp3.blogspot.com/2009/03/1986-capital-inicial.html">Brasil Rock MP3.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AD15 - Picassos Falsos / Supercarioca (1988)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/10/08/ad15-picassos-falsos-supercarioca-1988/</link>
<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 11:00:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/10/08/ad15-picassos-falsos-supercarioca-1988/</guid>
<description><![CDATA[AD15 &#8211; Picassos Falsos / Supercarioca (1988) RCA -  Tracks: 11  Playing time: 39:38 1    Retin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-1191" title="AD15-Picassos Falsos - Supercarioca" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/09/ad15-picassos-falsos-supercarioca.jpg?w=300&#038;h=300" alt="AD15-Picassos Falsos - Supercarioca" width="300" height="300" />AD15 &#8211; Picassos Falsos / Supercarioca (1988)</strong></p>
<p>RCA -  Tracks: 11  Playing time: 39:38</p>
<p>1    Retinas &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Abílio, Luiz Gustavo &#38; Humberto Effe) (3:15)</p>
<p>2    Bolero &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Humberto Effe) (3:50)</p>
<p>3    Marlene &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Luiz Henrique, Abilio, Luiz Gustavo &#38; Humberto Effe) (5:37)</p>
<p>4    Verões &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Humberto Effe) (2:38)</p>
<p>5    Wolverine &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Luiz Henrique, Abilio, Luiz Gustavo &#38; Humberto Effe) (3:46)</p>
<p>6    Sangue &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Luiz Henrique, Luiz Gustavo, José Henrique &#38; Humberto Effe) (4:13)</p>
<p>7    O Homem Que Não Vendeu Sua Alma &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Luiz Henrique, Abilio, Luiz Gustavo &#38; Humberto Effe) (2:32)</p>
<p>8    Fevereiro &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Luiz Gustavo &#38; Humberto Effe) (2:57)</p>
<p>9    Fevereiro II &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Luiz Henrique, Abílio, Luiz Gustavo &#38; Humberto Effe) (2:58)</p>
<p>10   Rio De Janeiro &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Luiz Gustavo &#38; Humberto Effe) (4:08)</p>
<p>11   Supercarioca &#8211; Picassos Falsos &#8211; (Humberto Effe) (3:44)</p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://cogumelomoonpoprock80brasil.blogspot.com/2006/02/1988-supercarioca.html#links">CogumeloMoon.</a> Outra opção é o <a href="http://rockistory.blogspot.com/2008/04/picassos-falsos.html">Rockistory</a>.  Caso necessário uma palavra chave para descompactar o arquivo, ela é  <a href="http://www.newbrasilmidia.blogspot.com">www.newbrasilmidia.blogspot.com</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AD12 - Leo Jaime / Phodas &quot;C&quot; (1983)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/10/05/ad12-leo-jaime-phodas-c-1983/</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 11:00:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/10/05/ad12-leo-jaime-phodas-c-1983/</guid>
<description><![CDATA[AD12 &#8211; Leo Jaime / Phodas &#8220;C&#8221; (1983) Columbia -  Tracks: 9  Playing time: 34:30   ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-1182" title="AD12-Leo Jaime - Phodas _C_" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/09/ad12-leo-jaime-phodas-_c_.jpg?w=297&#038;h=300" alt="AD12-Leo Jaime - Phodas _C_" width="297" height="300" />AD12 &#8211; Leo Jaime / Phodas &#8220;C&#8221; (1983)</strong></p>
<p>Columbia -  Tracks: 9  Playing time: 34:30</p>
<p> </p>
<p>1    Rock &#8216;n&#8217; Roll &#8211; Leo Jaime &#8211; (Chuck Berry &#38; Leo Jaime) (3:09)</p>
<p>2    Sem Ilusões &#8211; Leo Jaime &#8211; (Leo Jaime &#38; Jane Galvão) (3:21)</p>
<p>3    Ora Bolas ! &#8211; Leo Jaime &#8211; (Leo Jaime &#38; Leandro) (3:19)</p>
<p>4    Volta Pra Mim ! &#8211; Leo Jaime &#8211; (Leo Jaime &#38; Leandro) (4:36)</p>
<p>5    Vem Ficar Comigo &#8211; Leo Jaime &#8211; (Leo Jaime) (3:24)</p>
<p>6    É, Eu Sei &#8211; Leo Jaime &#8211; (Leo Jaime &#38; Leandro) (4:03)</p>
<p>7    Aids &#8211; Leo Jaime &#8211; (Leo Jaime &#38; Leandro) (4:30)</p>
<p>8    Sonia &#8211; Leo Jaime &#8211; (B. Hebb, Leo Jaime &#38; Leandro) (4:33)</p>
<p>9    Já Foi Papai &#8211; Leo Jaime &#8211; (Leo Jaime &#38; Tavinho Paes) (3:35)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://marinalimadiscografia.blogspot.com/2008/08/phoda-c.html">Marina Lima Discografia.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AD10 - Casseta &amp; Planeta / Preto Com Um Buraco No Meio (1989)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/10/03/ad10-casseta-planeta-preto-com-um-buraco-no-meio-1989/</link>
<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 11:00:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/10/03/ad10-casseta-planeta-preto-com-um-buraco-no-meio-1989/</guid>
<description><![CDATA[AD10 &#8211; Casseta &amp; Planeta / Preto Com Um Buraco No Meio (1989) WEA -  Tracks: 13  Playing t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-1175" title="AD10-Casseta &#38; Planeta - Preto Com Um Buraco No Meio" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/09/ad10-casseta-planeta-preto-com-um-buraco-no-meio.jpg?w=298&#038;h=300" alt="AD10-Casseta &#38; Planeta - Preto Com Um Buraco No Meio" width="298" height="300" />AD10 &#8211; Casseta &#38; Planeta / Preto Com Um Buraco No Meio (1989)</strong></p>
<p>WEA -  Tracks: 13  Playing time: 40:44</p>
<p> </p>
<p>1    Mãe É Mãe &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (4:30)</p>
<p>2    Diga &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (3:06)</p>
<p>3    Com Tanta Gente Passando Fome &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (3:02)</p>
<p>4    A Lambada &#8211; Casseta &#38; Planeta &#8211; (Não Exatamente Uma Faixa Musical, Mas Um Efeito Sonoro De Um Segundo De Duração)</p>
<p>5    Tributo a Bob Marley &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (5:13)</p>
<p>6    Herança Genética &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (4:17)</p>
<p>7    Tô Tristão &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (3:47)</p>
<p>8    Adolescente &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (2:51)</p>
<p>9    Rap Do Vagabundo &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (3:07)</p>
<p>10   Meu Bem &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (2:18)</p>
<p>11   Mobral &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (4:52)</p>
<p>12   Mama Áustria &#8211; Casseta &#38; Planeta -  (3:35)</p>
<p>13   Punheta &#8211; Casseta &#38; Planeta &#8211; (Faixa Inexistente, Atribuída No Encarte A &#8220;Cassandra Rios, Bussulivan E Brassadas&#8221;     Observação &#38; &#8220;O Departamento De Censura Da Polícia Federal Proibiu Tocar PUNHETA Em Todo O Território Nacional.&#8221;)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://framboesasom.blogspot.com/2008/06/casseta-planeta-preto-com-um-buraco-no.html">Blog Framboesas.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AD06 - Legião Urbana / As Quatro Estações (1989)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/09/29/ad06-legiao-urbana-as-quatro-estacoes-1989/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 11:00:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/09/29/ad06-legiao-urbana-as-quatro-estacoes-1989/</guid>
<description><![CDATA[AD06 &#8211; Legião Urbana / As Quatro Estações (1989) EMI -  Tracks: 11  Playing time: 46:22   1   ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-1162" title="AD06-Legião Urbana - As Quatro Estações" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/09/ad06-legiao-urbana-as-quatro-estacoes.jpg?w=300&#038;h=298" alt="AD06-Legião Urbana - As Quatro Estações" width="300" height="298" />AD06 &#8211; Legião Urbana / As Quatro Estações (1989)</strong></p>
<p>EMI -  Tracks: 11  Playing time: 46:22</p>
<p> </p>
<p>1    Há Tempos &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (3:18)</p>
<p>2    Pais E Filhos &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (5:09)</p>
<p>3    Feedback Song for a Dying Friend &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (5:25)</p>
<p>4    Quando O Sol Bater Na Janela Do Teu Quarto &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (3:</p>
<p>5    Eu Era Um Lobisomem Juvenil &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (6:44)</p>
<p>6    1965 (Duas Tribos) &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (3:43)</p>
<p>7    Monte Castelo &#8211; Legião Urbana &#8211; (Luiz De Camões &#38; Renato Russo) (3:51)</p>
<p>8    Mauricio &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (3:17)</p>
<p>9    Meninos E Meninas &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (3:23)</p>
<p>10   Sete Cidades &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (3:25)</p>
<p>11   Se Fiquei Esperando Meu Amor Passar &#8211; Legião Urbana &#8211; (Dado Villa Lobos, Renato Russo &#38; Marcelo Bonfá) (4:55)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://asseteartes.blogspot.com/2008/07/1989-legio-urbana-as-quatro-estaes.html">As Sete Artes</a>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AD04 - Harry / Fairy Tales (1988)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/09/27/ad04-harry-fairy-tales-1988/</link>
<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 11:00:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/09/27/ad04-harry-fairy-tales-1988/</guid>
<description><![CDATA[AD04 &#8211; Harry / Fairy Tales (1988) Wop Bop -  Tracks: 16  Playing time: 68:19   1    Sky Will B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-1151" title="AD04-Harry - Fairy Tales" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/09/ad04-harry-fairy-tales.jpg?w=300&#038;h=299" alt="AD04-Harry - Fairy Tales" width="300" height="299" />AD04 &#8211; Harry / Fairy Tales (1988)</strong></p>
<p>Wop Bop -  Tracks: 16  Playing time: 68:19</p>
<p> </p>
<p>1    Sky Will Be Grey &#8211; Harry &#8211; (Harry) (2:32)</p>
<p>2    Genebra &#8211; Harry &#8211; (Harry) (3:27)</p>
<p>3    Joseph in the Mirror &#8211; Harry &#8211; (Harry) (3:50)</p>
<p>4    You Have Gone Wrong &#8211; Harry &#8211; (Harry) (5:20)</p>
<p>5    Lycanthropia &#8211; Harry &#8211; (Harry) (5:01)</p>
<p>6    The Beast Inside &#8211; Harry &#8211; (Harry) (3:21)</p>
<p>7    Soldiers &#8211; Harry &#8211; (Harry) (3:48)</p>
<p>8    The Last Birthday &#8211; Harry &#8211; (Harry) (6:37)</p>
<p>9    Silent Telephone &#8211; Harry &#8211; (Harry) (3:13)</p>
<p>10   Death &#8211; Harry &#8211; (Harry) (2:17)</p>
<p>11   Sexorama [bonus] &#8211; Harry &#8211; (Harry) (4:38)</p>
<p>12   Fairy Tales [bonus] &#8211; Harry &#8211; (Harry) (9:52)</p>
<p>13   Chemical Archives 2 [bonus] &#8211; Harry &#8211; (Harry) (3:35)</p>
<p>14   Sky Will Be Grey (Lost Version)  [bonus] &#8211; Harry &#8211; (Harry) (2:16)</p>
<p>15   Soldiers (Bagpipe Mix)  [bonus] &#8211; Harry &#8211; (Harry) (4:25)</p>
<p>16   You Have Gone Wrong (T.Paludo Popcornmix)  [bonus] &#8211; Harry &#8211; (Harry) (4:07)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no<a href="http://ecosfantasmas.blogspot.com/2007/10/harry-fairy-tales.html">Ecos Fantasmas.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[EL TEMA D'AVUI - BERLIN - LIKE FLAMES]]></title>
<link>http://jmcorbalan.wordpress.com/2009/09/11/el-tema-davui-berlin-like-flames/</link>
<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 01:00:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>jmcorbalan</dc:creator>
<guid>http://jmcorbalan.wordpress.com/2009/09/11/el-tema-davui-berlin-like-flames/</guid>
<description><![CDATA[Tinc l&#8217;honor de tenir a la meva llista d&#8217;amics del Facebook la Terri Nunn, la cantant d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tinc l&#8217;honor de tenir a la meva llista d&#8217;amics del Facebook la Terri Nunn, la cantant d&#8217;una gran banda americana de Pop-Rock dels 80&#8217;s anomenada Berlin i que gràcies a l&#8217;energia i vitalitat de la Terri ha ressucitat fa un parell d&#8217;anys i torna a tenir l&#8217;agenda de concerts absolutament plena.</p>
<p>Espero que algun dia vingui al nostre país i poguem cantar amb ella algun dels seus grans hits, com aquest fantàstic Like Flames, un dels meus temes preferits, i que trobem al disc Count, Three and Pray.</p>
<p>===================================================</p>
<p>Tengo el honor de tener en mi lista de amigos del Facebook a Terri Nunn, la cantante de una gran banda americana de Pop-Rock de los 80&#8217;s llamada Berlin y que gracias a la energia y vitalidad de Terri ha resucitado hace un par de años y vuelve a tener la agenda de conciertos absolutamente llena.</p>
<p>Espero que algún dia venga a nuestro pais y podamos cantar con ella alguno de sus grandes hits, como este fantástico Like Flames, uno de mis temas preferidos, que encontramos en el disco Count, Three and Pray.</p>
<p>===================================================</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/5Ms8YBHhZ8A&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/5Ms8YBHhZ8A&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>Something you&#8217;ve heard<br />
somewhere you&#8217;ve seen<br />
too real to ignore<br />
you&#8217;ve chosen not to believe<br />
from the black of their pain<br />
to the white of their fear<br />
in the dust they die<br />
while eden lies near</p>
<p>the freedom bought,<br />
changed hands, was sold<br />
this heat of love has turned ice-cold</p>
<p>we just can&#8217;t escape it<br />
like flames reaching out from the sun<br />
we can&#8217;t defeat it<br />
like flames reaching out from the sun</p>
<p>from the garden of love,<br />
been banished too long<br />
and the balance will shift<br />
between the week and the strong<br />
once they would beg and they would plead<br />
but now they demand<br />
divided by those that need<br />
and those that command</p>
<p>the freedom bought,<br />
changed hands, was sold<br />
the heat of love has turned ice-cold and<br />
we never learn but we know too well<br />
heaven&#8217;s died and gone to hell</p>
<p>now you watch but you shoud have run<br />
like flames that leap from the base of the sun<br />
and you dream you&#8217;re free but you&#8217;ll awake<br />
too much too late, too much too late</p>
<p>Lletres extretes de la web <a href="http://www.songlyrics.com">www.songlyrics.com</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CC12 - Aquarela Carioca / Aquarela Carioca (1989)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/08/16/cc12-aquarela-carioca-aquarela-carioca-1989/</link>
<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 11:00:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/08/16/cc12-aquarela-carioca-aquarela-carioca-1989/</guid>
<description><![CDATA[CC12 &#8211; Aquarela Carioca / Aquarela Carioca (1989) Visom -  Tracks: 9  Playing time: 38:34   1 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-662" title="CC12-Aquarela Carioca - Aquarela Carioca" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/08/cc12-aquarela-carioca-aquarela-carioca.jpg?w=300&#038;h=262" alt="CC12-Aquarela Carioca - Aquarela Carioca" width="300" height="262" />CC12 &#8211; Aquarela Carioca / Aquarela Carioca (1989)</strong></p>
<p>Visom -  Tracks: 9  Playing time: 38:34</p>
<p> </p>
<p>1    Rua Japeri &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Papito) (4:45)</p>
<p>2    African Market Place &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Abdullah Ibrahin) (4:40)</p>
<p>3    Mantra &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Folclore Indiano) (6:16)</p>
<p>4    Cascavel &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Papito &#38; Paulo Muylaert) (4:01)</p>
<p>5    Top Ten/Baby &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Gregory Isaacs &#38; Caetano Veloso) (4:22)</p>
<p>6    Nao Adianta Chorar &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Mário Sève) (1:55)</p>
<p>7    Carnaval &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Paulo Steinberg) (2:41)</p>
<p>8    Patu &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Papito) (4:57)</p>
<p>9    Deus Xango &#8211; Aquarela Carioca &#8211; (Astor Piazzolla) (4:57)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://www.umquetenha.org/uqt/?p=3066">Um que Tenha.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[50. Violent Force - Malovent Creation of Tomorrow]]></title>
<link>http://dieformetal.wordpress.com/2009/07/30/50-violent-force-malovent-creation-of-tomorrow/</link>
<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 21:55:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>metalsport</dc:creator>
<guid>http://dieformetal.wordpress.com/2009/07/30/50-violent-force-malovent-creation-of-tomorrow/</guid>
<description><![CDATA[Ab sofort werden hier täglich 2 kleinere Artikel über meine 50 Lieblingsmetalalben erscheinen. Gleic]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ab sofort werden hier täglich 2 kleinere Artikel über meine 50 Lieblingsmetalalben erscheinen. Gleich gehts los mit Violent Force.<br />
Auf dem &#8220;letzten&#8221; Platz landet gleich mal ein echter Knaller der deutschen Thrash-Kunst. 1987 wurde dieses Biest aus der Hölle (damals auch Ruhrpott genannt, haha) entlassen und machte fortan die Erde unsicher. Nach 4 Demos gelang es nun Violent Force ein Album zu veröffentlichen. Unter Roadrunner wurde M.A.O.T. veröffentlicht und enthielt einige Thrashmeilensteine, darunter Dead City, Sign of Evil oder Soulbursting. Alle Songs bestachen durch typisch deutsche Trademarks: einfach gestricktes Riffing, simpel schnelles Drumming und hetzend-beißenden Gesang, ausser Sign of Evil, das ich schon fast &#8220;Epic Thrash Metal&#8221; nennen möchte, denn bei diesem Song läuft es mir einfach kalt den Rücken herunter. Violent Force sind übrigens wieder aktiv und arbeiten an einer neuen Veröffentlichung.</p>
<p>Das Album gibt es als Bootleg noch für faire 10 Euro in vielen Underground Mailordern oder bei Ebay. Für die Vinyl-Version muss man mit dem 4-6-fachen rechnen.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="Cover" src="http://4.bp.blogspot.com/_BJs8mlnXmKQ/SMvG0nJs81I/AAAAAAAARuU/o6JIPugw6kU/s320/Violent+Force-Malevolent+Assault+Of+Tomorrow+1987.jpg" alt="" width="135" height="126" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Creation of the Condominiums]]></title>
<link>http://scrapbook.highlandparkrochester.org/2009/07/20/creation-of-the-condominiums/</link>
<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 19:55:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Scrapbooker</dc:creator>
<guid>http://scrapbook.highlandparkrochester.org/2009/07/20/creation-of-the-condominiums/</guid>
<description><![CDATA[ by John Richter &#8211; Crawford Street A story from my experience here on Crawford Street. This st]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong></strong> <em><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman,Times New Roman;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman,Times New Roman;">by John Richter &#8211; Crawford Street</span></span></em></p>
<p>A story from my experience here on Crawford Street. This story concerns my experience with the creation of the condominiums.</p>
<p>Jan 1979: On New Year&#8217;s Day, we moved into our new home on Crawford Street. With two small children, ages 6 and 2, I was anxious to get out of my apartment and into a house of my own. I was a bit naive back then and didn&#8217;t realize <a href="http://highlandparkscrapbook.wordpress.com/files/2009/07/richtercondo1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-142" title="Ellwanger and Barry Condominiums" src="http://highlandparkscrapbook.wordpress.com/files/2009/07/richtercondo1.jpg?w=300" alt="Ellwanger and Barry Condominiums" width="300" height="225" /></a>what problems were in store for me as a result of living next to a school that had just closed. I now realize why the former owners, the McAllisters, had sold it. My first year initially seemed very quiet compared to Berkeley Street, but the problems soon began. Abandoned schools quickly attract kids, who like to loiter and vandalize, and there was plenty of that. Worst of all, there was a basketball hoop in the parking lot that attracted all-night parties, complete with loud music from portable boom-boxes. Even on Saturday mornings, we&#8217;d awake to the sound of thump, thump, brawang, as the ball bounced off the backboard. All the neighbors adjacent to the parking lot were on edge from all this constant commotion. There was no relief from this. The picture below shows our proximity to the parking lot.</p>
<p>At this time there were proposals circulating concerning the fate of the closed school. One concerned turning the school into a strip mall. This involved tearing down the kindergarten building, now Joan&#8217;s house, and extending the parking lot with egress onto Crawford Street. The other proposal was to turn the school into condominiums. There were several town meetings where these proposals were thoroughly discussed. I was dead-set against living next to a parking lot, so I advocated for the condos, although, surprisingly, there was a lot of opposition to it. Fortunately for me, the condo proposal prevailed and Lowell Colvin, a local developer, was hired to do the renovations. We knew of him from other projects in the East Ave. area and knew he had a reputation for high-end quality projects.</p>
<p>Meanwhile, back at the parking lot, the parties were continuing, even on weekdays. One day, as I was walking the kids back to my house, a beer bottle that had been blindly thrown over the fence, just missed us. My fuse was lit, and I chased the kids away, at least temporarily. They rode by my house a few days later, yelling obsenities at me. The battle was on! Police were called many times to break up the late-night gatherings.</p>
<p>The construction workers, who were working on the condo renovation, also got into the act of playing basketball during lunch hours. One day, when Lowell Colvin visited the site during lunch hour and caught his men playing ball, he immediately got out a cutting torch and cut down the basketball hoop, ending all of the misery that the neighbors had endured the past year. The silence was deafening! At last, the neighbors could smile again.</p>
<p>This was the single-most important event that happened in the 30 years that I&#8217;ve lived here. The condominium project was a huge success for the neighborhood. The condo units initially sold for $100K, when the homes in the area were going for $50K, so the values in the neighborhood soared. Best of all, the architectural nature of the school was preserved and peace and tranquility prevailed.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CG28 - Os Paralamas Do Sucesso / O Passo Do Lui (1984)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/07/04/cg28-os-paralamas-do-sucesso-o-passo-do-lui-1984/</link>
<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 11:00:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/07/04/cg28-os-paralamas-do-sucesso-o-passo-do-lui-1984/</guid>
<description><![CDATA[CG28 &#8211; Os Paralamas Do Sucesso / O Passo Do Lui (1984) EMI -  Tracks: 10  Playing time: 34:52 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-medium wp-image-427" title="CG28-Os Paralamas Do Sucesso - O Passo Do Lui" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/06/cg28-os-paralamas-do-sucesso-o-passo-do-lui.jpg?w=298&#038;h=300" alt="CG28-Os Paralamas Do Sucesso - O Passo Do Lui" width="298" height="300" />CG28 &#8211; Os Paralamas Do Sucesso / O Passo Do Lui (1984)</strong></p>
<p>EMI -  Tracks: 10  Playing time: 34:52</p>
<p> </p>
<p>1    Óculos &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna) (3:40)</p>
<p>2    Meu Erro &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna) (3:28)</p>
<p>3    Fui Eu &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna) (3:52)</p>
<p>4    Romance Ideal &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna &#38; Martim Cardoso) (4:10)</p>
<p>5    Ska &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna) (2:29)</p>
<p>6    Mensagem De Amor &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna) (4:18)</p>
<p>7    Me Liga &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna) (3:49)</p>
<p>8    Assaltaram a Gramática &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Lulu Santos &#38; Waly Salomão) (2:52)</p>
<p>9    Menino E Menina &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna) (3:55)</p>
<p>10   O Passo Do Lui &#8211; Os Paralamas Do Sucesso &#8211; (Herbert Vianna) (2:19)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://www.umquetenha.org/uqt/?p=3017">Um que tenha.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CG05 - João Penca E Seus Miquinhos Amestrados / Os Maiores Sucessos de João Penca e seus Miquinhos Amestrados (1983)]]></title>
<link>http://300discos.wordpress.com/2009/06/11/cg05-joao-penca-e-seus-miquinhos-amestrados-os-maiores-sucessos-de-joao-penca-e-seus-miquinhos-amestrados-1983/</link>
<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 11:05:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>300discos</dc:creator>
<guid>http://300discos.wordpress.com/2009/06/11/cg05-joao-penca-e-seus-miquinhos-amestrados-os-maiores-sucessos-de-joao-penca-e-seus-miquinhos-amestrados-1983/</guid>
<description><![CDATA[CG05 &#8211; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados / Os Maiores Sucessos de João Penca e seus Miqui]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-343" title="CG04-João Penca E Seus Miquinhos Amestrados - Os Maiores Sucessos de João Penca e seus Miquinhos Amestrados" src="http://300discos.files.wordpress.com/2009/06/cg04-joao-penca-e-seus-miquinhos-amestrados-os-maiores-sucessos-de-joao-penca-e-seus-miquinhos-amestrados.jpg?w=259&#038;h=267" alt="CG04-João Penca E Seus Miquinhos Amestrados - Os Maiores Sucessos de João Penca e seus Miquinhos Amestrados" width="259" height="267" />CG05 &#8211; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados / Os Maiores Sucessos de João Penca e seus Miquinhos Amestrados (1983)</strong></p>
<p>Barclay/Ariola -  Tracks: 10  Playing time: 30:04</p>
<p> </p>
<p>1    M -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (Leandro &#38; Léo Jaime) (4:37)</p>
<p>2    Você Roubou Meu Coração -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (Leandro &#38; Big Abreu) (2:09)</p>
<p>3    O Sincero -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (Leandro, Big Abreu &#38; Léo Jaime) (3:06)</p>
<p>4    Edmundo (In the Mood) -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (J. Garland) (2:36)</p>
<p>5    O Kaos (A Dança) -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (Leandro) (2:00)</p>
<p>6    Psicodelismo Em Ipanema -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (Leandro) (2:26)</p>
<p>7    O Ursinho (Teddy Bear) -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (K. Mann &#38; B. Loewe) (2:32)</p>
<p>8    Menina Fútil -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (Leandro &#38; Léo Jaime) (4:45)</p>
<p>9    Calúnias (Telma Eu Não Sou Gay &#8211; Tell Me Once Again) -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (Léo Jaime, Leandro, B.  Anderson &#38; Big Abreu) (3:36)</p>
<p>10   Keki Rolou -  &#38; João Penca E Seus Miquinhos Amestrados &#8211; (Tavinho Paes &#38; Léo Jaime) (2:17)</p>
<p> </p>
<p>Este disco pode ser buscado no <a href="http://fantasmasdounderground.blogspot.com/2008/12/joo-penca-e-seus-miquinhos-amestrados.html">Fantasmas do Underground.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[She said Yes!]]></title>
<link>http://scrapbook.highlandparkrochester.org/2009/05/27/she-said-yes/</link>
<pubDate>Wed, 27 May 2009 20:04:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Scrapbooker</dc:creator>
<guid>http://scrapbook.highlandparkrochester.org/2009/05/27/she-said-yes/</guid>
<description><![CDATA[By Michael Tomb Over there…next to the end of the Rhododendron trail. It is now close to 22 years ag]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>By Michael Tomb<img class="alignright size-medium wp-image-245" title="Marcia Gets Ring 1987" src="http://highlandparkscrapbook.wordpress.com/files/2009/07/marcia-get-ring-1987.jpg?w=208" alt="Marcia Gets Ring 1987" width="208" height="300" /></p>
<p><strong><span style="font-size:small;">Over there…next to the end of the Rhododendron trail. It is now close to 22 years ago. But every time I walk the path and every time I pass the spot, I always remember that time in 1987. And I remember how beautiful that day was, and how lovely the flowers were. But most of all, my heart still races a little, because I remember that she said &#8220;Yes&#8221;!</span></strong> <img class="alignleft size-full wp-image-247" title="Marcia with Ring" src="http://highlandparkscrapbook.wordpress.com/files/2009/07/marcia-with-ring1.jpg" alt="Marcia with Ring" width="302" height="218" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
