<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>adab-dan-akhlak &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/adab-dan-akhlak/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "adab-dan-akhlak"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 10:43:28 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Untukku &amp; Untukmu Wahai Adik - adikku...~]]></title>
<link>http://fitrahfitri.wordpress.com/2009/10/06/untukku-untukmu-wahai-adik-adikku/</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 17:07:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>l5155st™</dc:creator>
<guid>http://fitrahfitri.wordpress.com/2009/10/06/untukku-untukmu-wahai-adik-adikku/</guid>
<description><![CDATA[Telah lama saya tidak menulis lagi dalam sebuah rumah maya tempat saya tinggal ini. Karena sungguh s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#008000;">Telah lama saya tidak menulis lagi dalam sebuah rumah maya tempat saya tinggal ini. Karena sungguh saya tidak tau apa yang harus saya goreskan dalam tinta saya yang kini mulai mongering (karena terlalu sering dicoretkan untuk tugas akhir)…</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Menilik tentang kejadian tadi sore, ada tiga anak yang masih imut dan lucu. Mereka tiga orang kakak beradik yang dibesarkan dalam sebuah keluarga berada serta berkecukupan. Masing – masing dari mereka masih duduk di bangku SD. Melalui sebuah perkenalan sederhana, saya mengenal mereka. Dan kinipun mereka menjadi adik bombing saya dalam privat kursus, si sulung dan adiknya yang kedua. Mereka terlihat ceriaaa sekali. ^_^</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Terkadang, ketika belajar bersama mereka, saya terdiam menatap wajah dan perangai mereka yang masih lugu dan polos. Tentu, karena mereka masih anak – anak. Belum jelas di mata mereka, gambaran tentang perjalanan hidup yang panjang serta berliku ini…(Semoga Allah ta&#8217;ala memudahkan jalan mereka)</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Ada sebuah tanya dalam benak saya…</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Kemanakah mereka akan melangkah kelak…?</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Apa yang akan terukir dalam benak sang anak, untuk menjalani kehidupan berliku ini…?<!--more--></span></p>
<p><span style="color:#008000;">Sesaat diam itulah saya teringat akan sebuah kisah tentang Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri -rahimahullahu-. Sebuah kisah yang menunjukkan akan hausnya seorang anak akan ilmu serta dukungan yang kuat dari sang ibunda. Sufyan Ats-Tsauri sibuk menuntut ilmu sejak usia dini disebabkan dorongan, dan arahan ibunya agar Sufyan kecil mengambil manfaat dan pelajaran dari para ulama, baik berupa ilmu maupun pelajaran yang didapatkan dengan duduk bersama mereka, hingga ilmu yang diperolehnya akan memiliki pengaruh terhadap akhlak, adab, dan muamalahnya terhadap orang lain.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Ketika menyuruh putranya untuk hadir di halaqah-halaqah ilmu maupun majelis-majelis para ulama, ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, <em>“Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham. Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kaudapati hadits itu dapat merubah cara dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan menjadi musibah bagimu di hari kiamat!”</em> (dikutip dari buku Waratsatul Anbiya’, hal.36-37)</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Tak jauh beda dengan kisah ibunda Al-Imam Malik ibnu Anas –rahimahullahu-, beliau selalu memperhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar. Al-Imam Malik mengisahkan:</p>
<p>“Aku berkata kepada ibuku, <em>‘Aku akan pergi untuk belajar.</em></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><em>’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku.</em></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><em>‘Pakailah pakaian ilmu!’ </em></span></p>
<p><span style="color:#008000;">Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, <em>‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’</em> Dia juga pernah mengatakan, <em>‘Pergilah kepada Rabi’ah2! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’</em> (dikutip dari buku Waratsatul Anbiya’, hal. 39)</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Subhanallah…</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Perjuangan seorang ibunda yang ingin anak – anaknya menjadi berilmu…</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Perjuangan seorang ibunda yang ingin putra – putri mereka menjadi penyejuk pandang…</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Teringat dalam sebuah buku, Ibnul Anbari rahimahullahu mengatakan pula:</span></p>
<p><span style="color:#008000;"> </span>مَنْ أَدَّبَ ابْنَهُ صَغِيْرًا قَرَّتْ عَيْنُهُ كَبِيْرًا</p>
<p><span style="color:#008000;"><em><span style="color:#008000;"> </span>“Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya ketika si anak telah dewasa.”</em> (dikutip dari kitab Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, 1/306)</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Namun betapa mirisnya hati kita bila melihat anak-anak kaum muslimin sekarang ini. Dalam usia yang sama dengan para tokoh ini tadi, mereka tidak mempelajari ilmu agama ataupun memperbaiki kesungguhannya. Akankah ini kita biarkan…?</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Mari belajar adik – adikku…</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Belajarlah bersama kakak, bersama teman – teman, bersama kaum muslimin…</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Agar ayah bundamu senang…agar pandangan mereka tenang…agar jalanmu terang…</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Karena kini Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>juga telah menggariskan bahwa kita hidup di zaman penuh fitnah dan coba…beliau <em>Shallallahu ‘alaihi wa Salla berucap:</em></span></p>
<p dir="rtl"><span style="color:#008000;"><strong>فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتَلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><em><span style="color:#008000;">“Sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian (se</span>peninggalku), dia akan mendapati perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah para khulafa’ rasyidin sepeninggalku. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.”</em> <strong>(HR. Abu Dawud </strong>4607, <strong>At-</strong>Tirmidzi 2676. <em>Ash-Shahihah </em>no. 937<strong>)</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Belajarlah dik…</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Agar kita mampu dan mau, menggigit sebuah cahaya…</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Cahaya sunnah…</strong></span></p>
<p dir="rtl"><span style="color:#008000;"><strong>مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><em>Yaitu apa – apa yang aku berada di atasnya dan juga para shahabatku. </em><strong>(HR. At-Tirmidzi </strong>2641, <strong>Ath-Thabarani </strong>I/256. <em>Ash-Shahihah </em>203, 204<strong>)</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;">Semoga kelak aku, teman &#8211; teman serta adik &#8211; adikku mampu menjalani kehidupan yang berliku ini di tas bimbingan ilmu dan selamat hingga ke hadirat Rabb yang Mulia&#8230;</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Dan untukmu wahai orang tua kami, semoga kita sama &#8211; sama mengetahui bahwa mengajarkan kebaikan pada anak ibaratnya adalah mengukir di atas batu&#8230;sulit, namun masih bisa untuk dilakukan.</span></p>
<p><span style="color:#008000;">Namun jika mengajarkan kebaikan ketika seseorang itu telah dewasa, maka itu ibarat mengukir di atas air&#8230;</p>
<p></span></p>
<p><span style="color:#008000;">~____~____~</p>
<p></span></p>
<p><span style="color:#008000;"><strong>Ditulis oleh Abu ‘Abdirrazzaq al Fitrah di keheningan malam 17 Syawal 1430 H</strong></span></p>
<p><span style="color:#008000;"> </span></p>
<p><span style="color:#008000;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berhias dengan Akhlak Mulia, Bagian dari Prinsip Beragama]]></title>
<link>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/berhias-dengan-akhlak-mulia-bagian-dari-prinsip-beragama/</link>
<pubDate>Thu, 21 May 2009 06:27:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibn syam</dc:creator>
<guid>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/berhias-dengan-akhlak-mulia-bagian-dari-prinsip-beragama/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc Bila menelisik perjalanan sejarah umat manusia di masa jah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc Bila menelisik perjalanan sejarah umat manusia di masa jah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adab dalam Islam dan Perhatian Salaf Terhadapnya]]></title>
<link>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/adab-dalam-islam-dan-perhatian-salaf-terhadapnya/</link>
<pubDate>Thu, 21 May 2009 06:22:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibn syam</dc:creator>
<guid>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/adab-dalam-islam-dan-perhatian-salaf-terhadapnya/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Ba]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Meraih Ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Cinta-Nya dalam Hidup Bertetangga]]></title>
<link>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/meraih-ridha-allah-subhanahu-wa-ta%e2%80%99ala-dan-cinta-nya-dalam-hidup-bertetangga/</link>
<pubDate>Thu, 21 May 2009 06:19:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibn syam</dc:creator>
<guid>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/meraih-ridha-allah-subhanahu-wa-ta%e2%80%99ala-dan-cinta-nya-dalam-hidup-bertetangga/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَيْرُ الْأَص]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: خَيْرُ الْأَص]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adab Ketika Sakit]]></title>
<link>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/adab-ketika-sakit/</link>
<pubDate>Thu, 21 May 2009 06:12:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibn syam</dc:creator>
<guid>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/adab-ketika-sakit/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Abul &#8216;Abbas Muhammad Ihsan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat hikmah dan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Abul &#8216;Abbas Muhammad Ihsan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat hikmah dan ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menggapai Ridho ALLOH Melalui Orang Tua]]></title>
<link>http://yuliyanurtikayanti.wordpress.com/2009/04/16/menggapai-ridho-alloh-melalui-orang-tua/</link>
<pubDate>Thu, 16 Apr 2009 08:41:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>ummu auliya</dc:creator>
<guid>http://yuliyanurtikayanti.wordpress.com/2009/04/16/menggapai-ridho-alloh-melalui-orang-tua/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas Jalan yang haq dalam menggapai ridho ALLOH melalui orang tua a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas Jalan yang haq dalam menggapai ridho ALLOH melalui orang tua a]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adab Makan Yang Dilupakan]]></title>
<link>http://yuliyanurtikayanti.wordpress.com/2009/04/15/adab-makan-yang-dilupakan/</link>
<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 10:51:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>ummu auliya</dc:creator>
<guid>http://yuliyanurtikayanti.wordpress.com/2009/04/15/adab-makan-yang-dilupakan/</guid>
<description><![CDATA[Sudah menjadi keharusan seorang Muslim manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sudah menjadi keharusan seorang Muslim manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahk]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengutamakan Menikah dengan Wanita yang Shalihah dan Sebaliknya]]></title>
<link>http://almuslimah.wordpress.com/2009/02/27/mengutamakan-menikah-dengan-wanita-yang-shalihah-dan-sebaliknya/</link>
<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 02:35:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://almuslimah.wordpress.com/2009/02/27/mengutamakan-menikah-dengan-wanita-yang-shalihah-dan-sebaliknya/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ummu &#8216;Abdillâh Al-Wâdi&#8217;iyyah hafizhahallâhu Al-Bukhari rahimahullâh berkata (9/132]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Ummu &#8216;Abdillâh Al-Wâdi&#8217;iyyah hafizhahallâhu Al-Bukhari rahimahullâh berkata (9/132]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ucapan Salam selain Assalamualaikum]]></title>
<link>http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/02/18/ucapan-salam-selain-assalamualaikum/</link>
<pubDate>Wed, 18 Feb 2009 01:37:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
<guid>http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/02/18/ucapan-salam-selain-assalamualaikum/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Soal: Sebagian orang menggunakan ungkapan yang berm]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Soal: Sebagian orang menggunakan ungkapan yang berm]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Salafy yang Kasar (Pentingnya Berakhlaq Mulia dalam Dakwah)]]></title>
<link>http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/02/05/salafy-yang-kasar-pentingnya-berakhlaq-mulia-dalam-dakwah/</link>
<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 15:38:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Umar</dc:creator>
<guid>http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/02/05/salafy-yang-kasar-pentingnya-berakhlaq-mulia-dalam-dakwah/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Soal: Kami dapati beberapa orang salafy demikian kasar da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i Soal: Kami dapati beberapa orang salafy demikian kasar da]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Agar Dada Seorang Hamba menjadi Lapang dan Bersinar]]></title>
<link>http://maktabahsunnah.wordpress.com/2009/02/03/agar-dada-seorang-hamba-menjadi-lapang-dan-bersinar/</link>
<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 10:33:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>abu ihsan</dc:creator>
<guid>http://maktabahsunnah.wordpress.com/2009/02/03/agar-dada-seorang-hamba-menjadi-lapang-dan-bersinar/</guid>
<description><![CDATA[Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahirkan halangan dan tantangan yang mengantar seorang hamba kepada gundah gulana dan ketidaktenangan hati. Namun bagi seorang mukmin sejati, cahaya Al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam adalah penerang jalan menuju kepada kehidupan indah yang senantiasa membuat dadanya lapang dan bercahaya.<!--more--></p>
<p>Hidup dengan dada yang lapang adalah suatu nikmat yang sangat berharga dan dambaan setiap insan. Renungilah besarnya nikmat ini sehingga Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan Nabi-Nya terhadap karunia tersebut dalam firman-Nya,</p>
<p>“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS. Al-Insyirâh :1)</p>
<p>Dan Nabi Musa ‘alaissalâm setelah beliau dimuliakan menjadi seorang rasul, maka awal doa beliau kepada Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ,</p>
<p>“Berkata Musa: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku,”…” (QS. Thohâ :25)</p>
<p>Banyak hal dalam tuntunan syari’at kita yang diterangkan sebagai tumpuan-tumpuan berpijak bagi seorang hamba agar senantiasa berhati lapang dan bercahaya.</p>
<p>Berikut ini, beberapa pilar pelapang dada seorang hamba, kami simpulkan dari keterangan Ibnul Qayyim[1]dan selainnya :</p>
<p>1.      Memurnikan Tauhid.<br />
Memurnikan peribadatan kepada Allah Taqaddasa Dzikruhu adalah tonggak keselamatan, tujuan dari penciptaan manusia, misi dakwah setiap nabi yang diutus kepada makhluk dan itulah adalah hakikat dari Islam yang bermakna berserah diri, ikhlash dan tunduk kepada-Nya. Maka sangat wajar bila memurnikan tauhid adalah hal yang sangat melapangkan dada dan meneranginya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam Al-Qur’ân Al-Karîm,</p>
<p>“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar :22)</p>
<p>“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. Dan inilah jalan Rabbmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.” (QS. Al-An’âm :125-126)</p>
<p>Dan dengan memurnikan ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla manusia akan hidup di bawah teduhan keamanan dan kesejahteraan. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’âm :82)</p>
<p>Dan dalam Tanzil-Nya,</p>
<p>“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nûr : 55)</p>
<p>2.      Berpegang teguh terhadap Al-Qur’ân dan As-Sunnah.</p>
<p>Allah Jalla wa ‘Alâ menurunkan Al-Qur`ân sebagai rahmat dan kebahagian bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p>“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl : 89)</p>
<p>Dan Allah Ta’âlâ berfirman,</p>
<p>“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`ân suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`ân itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (QS. Al-Isrô` : 82)</p>
<p>Dan Nabi shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam menyatakan,</p>
<p>لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلِهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ بَعْدِيْ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ</p>
<p>“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas suatu yang sangat putih, malamnya sama dengan siangnya, tidaklah seorangpun menyimpang darinya setelahku kecuali akan binasa.” [2]</p>
<p>Maka sangatlah lumrah bagi siapa yang berpegang teguh terhadap tuntunan Al-Qur`ân dan As-Sunnah akan senantiasa membuat dadanya lapang dan bersinar penuh petunjuk dan kebahagian tanpa ada kesensaraan. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p>“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thôhâ : 123-124)</p>
<p>“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur`ân ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (QS. Thôhâ : 1-3)</p>
<p>3.      Berbekal Ilmu Syari’at.<br />
Tatkala seluruh kebaikan bagi manusia tercakup dalam ilmu syari’at maka segala kebahagian dan ketenangan, keberhasilan dan kebahagian manusia sangat bertumpu pada ilmu syari’at. Karena itu Allah Ta’âlâ tidak memerintah Nabi-Nya untuk meminta tambahan nikmat apapun selain dari tambahan ilmu. Allah Ta’âlâ berfirman,</p>
<p>“Dan katakanlah, “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”.” (QS. Thôhâ : 114)</p>
<p>Dan dengan ilmu syari’at itulah diraihnya berbagai derajat keutamaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p>“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujâdilah :11)</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim rahimahullâh, “Sesungguhnya ilmu itu melapangkan dada dan meluaskannya sehingga ia menjadi lebih luas dari dunia. Dan kejahilan akan mewariskan kesempitan, keterbatasan dan keterkurungan. Kapan ilmu seorang hamba semakin luas maka dadanya akan semakin lapang dan lebih meluas. Namun ini bukanlah pada setiap ilmu, bahkan hanya pada ilmu yang terwarisi dari Ar-Rasul shallallâhu ‘alaihi wa sallam yaitu ilmu yang bermanfaat. Orang-orang yang berilmu (merekalah) yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling indah akhlaknya dan paling baik kehidupannya.” [3]</p>
<p>4.      Kecintaan Kepada Allah.<br />
Salah satu sifat yang wajib dimiliki oleh seorang yang beriman bahwa kecintaannya kepada Allah adalah yang terbesar dan melebihi kecintaannya kepada seluruh makhluk. Allah berfirman,</p>
<p>“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah :165)</p>
<p>Kecintaannya kepada Allah tersebut akan mengantar seorang hamba menuju kehidupan yang sangat indah, kelapangan hati dan ketenangan jiwa karena rongga hatinya hanya terpenuhi oleh kecintaan kepada Allah dan ketergantungan kepada-Nya. Wajarlah bila Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,</p>
<p>ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءُ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ</p>
<p>“Tiga (sifat) yang tidaklah terdapat pada seseorang, pasti ia akan mendapatkan kelezatan iman; hendaknya Allah dan Rasul-Nya yang paling ia cintai melebihi selain keduanya, dan ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan hanya karena Allah, serta ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”  [4]</p>
<p>5.      Senantiasa bertaubat.<br />
Menyadari kekurangan, menyesali kesalahan dan bertaubat kepada Yang Maha Mencipta adalah diantara sifat-sifat yang memberikan berbagai keajaiban dalam kehidupan seorang hamba dan sangat menerangi hati serta melapangkan dadanya. Karena itu, sikap senantiasa bertaubat sangat ditekankan dalam tuntunan syari’at Islam yang mulia. Allah menjamin keberuntungan bagi orang-orang yang senatiasa bertaubat,</p>
<p>“Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (Q.S. An-Nûr :31)</p>
<p>Dari doa Nabi Ibrahim ‘alaissalâm untuk mengujudkan keamanan dan kesejahteraan pada negeri Mekkah yang dirintisnya,</p>
<p>“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan berilah taubat untuk kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah :128)</p>
<p>Dan sangatlah indah kehidupan orang-orang yang bertaubat tatkala sifat mulia mereka itu akan memberikan berbagai keutamaan dan kenikmatan sebagai hamba-hamba yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p>“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Q.S. Al-Baqarah :222)</p>
<p>6.      Dzikir.<br />
Dzikir adalah penyejuk hati dan penenang jiwa. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ berfirman,</p>
<p>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d :28)</p>
<p>Dengan dzikir seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dan pahala yang sangat besar,</p>
<p>“…dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Ahzâb :35)</p>
<p>Dan keberuntungan bagi orang-orang yang banyak berdzikir,</p>
<p>Dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.” (Q.S. Al-Jumu’ah :10)</p>
<p>Dan sungguh dzikir membuat hati seorang hamba menjadi lapang dan bersinar tanpa ada kerugian seperti yang terjadi pada orang-orang lalai,</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-Munâfiqûn :9)</p>
<p>7.      Berbuat baik kepada Makhluk.<br />
Memberi manfaat kepada makhluk dengan harta, badan, kedudukan dan selainnya dari berbagai bentuk perbuatan baik adalah hal yang sangat melapangkan dada seorang hamba dan meneranginya. Karena itu Allah ‘Azza wa Jalla memerintah dalam firman-Nya,</p>
<p>“Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (Q.S. An-Nahl :90)</p>
<p>Dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,</p>
<p>إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةِ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةِ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ</p>
<p>“Sesusngguhnya Allah telah menetapkan untuk berbuat kebajikan terhadap segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh perbaiklah cara membunuhnya, apabila kalian menyembelih perbaiklah cara menyembelihnya dan hendaknya salah seorang dari kalian mempertajam pisaunya dan membuat tenang sembelihannya.” [5]</p>
<p>Dan di akhirat kelak Allah menjanjikan,</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Adz-Dzâriyât :15-16)</p>
<p>Demikian beberapa pilar pelapang dada seorang mukmin. Dan perlu diketahui bahwa segala perkara yang bertentangan dengan apa yang disebutkan di atas pasti akan memberikan kesempitan, kesesakan dan gundah gulana. Karena itu, tidak seorang pun yang lebih sempit hatinya dari pelaku kesyirikan. Dan siapa yang berpaling dari Al-Qur`ân dan As-Sunnah maka ia akan senantiasa berada dalam berbagai kesengsaraan. Orang yang tidak memiliki ilmu syar’iy akan jauh dari makna ketenangan. Hati yang tergantung kepada selain Allah akan merasakan berbagai kepedihan dan kepahitan. Dan hati yang lalai dari dzikir kepada Allah bagaikan ikan yang dipisahkan dari air. Dan jeleknya hubungan dengan makhluk lain akan melahirkan berbagai problem dalam kehidupan. Dan demikianlah seterusnya.</p>
<p>Tentunya banyak tuntunan pelapang dada yang belum bisa diuraikan disini. Namun kami berharap keterangan-keterangan di atas bisa menjadi pencerahan dan penyenjuk bagi setiap muslim dan muslim dalam mempersiapkan bekal untuk menyonsong kehidupan kekal abadi di akhirat kelak. Waffaqallâhu Al-Jamî’ li mâ yuhibbihu wa yardhâhu.<br />
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.</p>
<p>[1] Dalam kitabnya Zâdul Ma’âd 2/22-26, cet. Ke-3 dari Mu`assah Ar-Risalah</p>
<p>[2] Diriwayatkan oleh Ahmad 4/126, Ibnu Mâjah no. 5, 43, Ibnu Abi ‘Âshim no. 48-49 dan Al-Hâkim 1/96 dari hadits Abu Dardâ` radhiyallâhu ‘anhu. Dan dishohihkan oleh Al-Albâny dalam Zhilâlul Jannah 1/27.</p>
<p>[3] Zâdul Ma’âd 2/23</p>
<p>[4] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu.</p>
<p>[5] Hadits Syaddâd bin Aus radhiyallâhu ‘anhu riwayat Muslim.</p>
<p>Judul :Agar Dada Seorang Hamba menjadi Lapang dan Bersinar<br />
Penulis : Ustadz Muhammad Dzulqarnain<br />
Sumber :www.an-nashihah.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasehat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf]]></title>
<link>http://maktabahsunnah.wordpress.com/2009/02/03/nasehat-berharga-dari-pengalaman-hidup-kaum-salaf/</link>
<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 10:23:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>abu ihsan</dc:creator>
<guid>http://maktabahsunnah.wordpress.com/2009/02/03/nasehat-berharga-dari-pengalaman-hidup-kaum-salaf/</guid>
<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullâh, bahwa beliau bertanya kepada muridnya Hatim, “Engka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Diriwayatkan dari Syaqiq Al-Bajaly rahimahullâh, bahwa beliau bertanya kepada muridnya Hatim, “Engkau telah menemaniku dalam kurung waktu (yang lama). Lalu apakah yang engkau telah pelajari dari ku?”</p>
<p>Hatim rahimahullâh menjawab: “(Saya telah mempelajari) delapan perkara :</p>
<p>Pertama : Saya melihat kepada makhluk, ternyata setiap orang memiliki kecintaan. Namun jika ia telah mencapai kuburnya maka kecintaannya akan berpisah dari nya. Maka saya pun menjadikan (amalan-amalan) kebaikanku sebagai kecintaanku agar ia senantiasa bersamaku di alam kubur.<br />
<!--more--><br />
Kedua : Saya melihat kepada Firman ALLAH Ta’âlâ, “(Dan orang-orang yang) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” [An-Nâzi’ât : 40], maka saya pun bersungguh-sungguh menolak hawa nafsu dari diriku sehingga senantiasa tetap di atas ketaatan kepada ALLAH Ta’âlâ.</p>
<p>Ketiga : Saya melihat setiap orang yang memiliki sesuatu yang berharga bagi nya, pasti ia akan senantiasa menjaganya. Kemudian saya memperhatikan Firman (ALLAH) Subhânahu wa Ta’âlâ, “Apa yang di sisimu akan sirna, dan apa yang ada di sisi ALLAH adalah kekal.” [An-Nahl :96], maka setiap kali saya memiliki sesuatu yang berharga, pasti saya hadapkan kepada-NYA agar ia kekal untukku di sisi-NYA.</p>
<p>Keempat : Saya melihat manusia kembali kepada harta, kedudukan dan kehormatan, sedangkan itu tidak (berarti) sedikit pun. Kemudian saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” [Al-Hujarât :13] maka saya pun beramal dengan ketakwaan agar saya menjadi mulia di sisi-NYA.</p>
<p>Kelima : Saya melihat manusia saling mendengki (hasad). Lalu saya memperhatikan Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “KAMI telah menentukan antara mereka penghidupan mereka.” [Az-Zukhruf :32], maka saya pun meninggalkan hasad.</p>
<p>Keenam : Saya melihat manusia saling bermusuhan. Kemudian saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Sesungguhnya syaithân itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh.” [Fâthir :6], maka saya pun meninggalkan permusuhan mereka dan saya jadikan syaithân sebagai musuh satu-satunya.</p>
<p>Ketujuh : Saya melihat mereka menghinakan diri-diri mereka dalam mencari rezki. Lalu saya mencermati Firman (ALLAH) Ta’âlâ, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan ALLAH-lah yang memberi rezkinya.” [Hûd :6], maka saya pun menyibukkan diriku dengan apa-apa yang merupakan hak ALLAH terhadapku dan saya tinggalkan apa yang untukku di sisi-NYA.</p>
<p>Kedelapan : Saya melihat mereka bergantung (tawakkal) pada pergangan, usaha dan kesehatan badan, maka saya pun bertawakkal hanya kepada ALLAH.</p>
<p>Judul : Nasehat Berharga dari Pengalaman Hidup Kaum Salaf<br />
Judul Asli : Bahjatul Majâlis Wa Anîsul Muqîm Wal Musâfir Juz II hal 12-13]<br />
Penyusun : Al-Ustadz Dzulqarnain</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Lupakan Adab Ketika Bercanda]]></title>
<link>http://maktabahsunnah.wordpress.com/2009/01/08/jangan-lupakan-adab-ketika-bercanda/</link>
<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 03:48:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>abu ihsan</dc:creator>
<guid>http://maktabahsunnah.wordpress.com/2009/01/08/jangan-lupakan-adab-ketika-bercanda/</guid>
<description><![CDATA[Bercanda merupakan salah satu hal yang digemari masyakat Indonesia, baik itu anak-anak maupun orang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bercanda merupakan salah satu hal yang digemari masyakat Indonesia, baik itu anak-anak maupun orang tua;laki-laki maupun wanita; penarik becak maupun pedagang; pelajar maupun pegawai. Pokoknya segala lapisan gemar canda.</p>
<p>Saking tersebarnya kegemaran dan hobbi canda ini di masyarakat Indonesia Raya, sampai dijadikan propesi oleh sebagian orang. Nah, muncullah disana badut- badut, grup-grup lawak dan banyolan, ludruk, kelompok musik humoris, pantomin, film-film humoris, promosi dan media massa yang dihiasi dengan humor.Bukan Cuma lewat media audio-visual, bahkan juga lewat karya tulis, dan buku-buku. Lebih ironisnya lagi kegemaran bercanda ini digunakan oleh sebagian kiai dan ustadz untuk menarik massa, pemanis retorika dalam berceramah dan berkhutbah sehingga menjadi ciri khas bagi dirinya. Tak heran jika disana ada sebagian pelawak dan artis jadi ustadz.<br />
<!--more--><br />
Para Pembaca yang budiman, disana terdapat beberapa canda yang diharamkan, karena melampaui batas syari’at, seperti berikut ini:<br />
Menyinggung Allah, Rasul-Nya, dan Syari’at-Nya.</p>
<p>Diantara musibah terbesar yang banyak melanda umat manusia, dari dulu sampai sekarang. Yaitu menghina dan menyinggung Allah, para Rasul-Nya, dan syari’at yang dibawa oleh mereka karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p>فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ</p>
<p>&#8220;Maka berkatalah pemimpin-pemimpin dari kaumnya:&#8221;Kami tidak melihat kamu , melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang yang hina-dina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apapun atas kami. Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta&#8221;. (QS. Huud : 27)</p>
<p>Ejekan seperti ini, sama dengan ejekan dan ocehan sebagian orang yang biasa mengejek orang-orang yang belajar agama seraya berkata, &#8220;Tak ada gunanya kamu belajar agama. Coba lihat orang yang belajar, tak ada di antara mereka yang kaya,semuanya kere dan miskin. Modelnya juga kayak orang kampungan dan bodoh-bodoh&#8221;.</p>
<p>Parahnya lagi, ketika mereka diajak melaksanakan sunnah Rasul r seperti memanjangkan jenggot sesuai perintah Nabi r , mereka ngomel, &#8220;Wah, ngapain panjangkan jenggot, mirip orang tua aja. Lagian jorok dan ketinggalan zaman&#8221;. Si miskin ini tak tahu, jika ia mencela masalah jenggot termasuk celaan terhadap Syari’at Islam sehingga membuat dirinya terancam kafir !!</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Baz-rahimahullah- berkata, &#8220;Barang siapa yang mengolok-olok suatu (ajaran) dari agama Rasul, atau pahalanya, atau siksaannya, maka sungguh ia telah kafir berdasarkan firman-Nya:</p>
<p>قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ . لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ</p>
<p>&#8220;Katakanlah :&#8221;Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok&#8221;. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (QS.At-Taubah : 65-66) &#8221; . [Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah (1/131)]</p>
<p>Saudari-saudari kita yang yang berjilbab dan bercadar sering mendapatkan olokan dari masyakat disebabkan mereka memakai jilbab yang menutupi seluruh tubuhnya, longgar, tebal dan berwarna hitam. Dimana-mana mereka mendapat olokan dari masyarakat. Digelarilah: Ninja, setan, kemah berjalan, Vampire, tukang copet dan kata-kata yang jorok lainnya.</p>
<p>Menanggapi masalah ini, Lajnah Da’imah berfatwa, &#8220;Barangsiapa yang mengolok-olok seorang wanita muslimah atau laki-laki muslim lantaran ia berpegang teguh dengan syari’at Islam, maka ia kafir. Sama saja apakah (olokan) itu karena berhijabnya seorang wanita muslimah dengan hijab syar’i atau karena masalah (syari’at) lainnya&#8221;. Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (2/14 -15)</p>
<p>Wahai pembaca yang budiman, anda telah melihat bahayanya menyinggung syari’at Allah ketika bercanda dan humor. Janganlah kalian mengolok mereka lantaran mereka memanjangkan jenggot atau memendekkan celananya di atas mata kaki. Sebaiknya kalian diam dan mendoakan mereka agar tetap teguh di atas sunnah.</p>
<p>Diantara perkara yang masuk dalam masalah ini adalah menjadikan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasululllah r sebagai bahan anekdot. Hindarilah karena ini berbahaya.<br />
Merendahkan Orang Lain</p>
<p>Bercanda merupakan suatu hal yang memang mengasyikkan. Namun hal ini kadang mengantarkan pelakunya merendahkan orang lain.</p>
<p>Kalian akan melihat ada sebagian orang yang meniru gaya jalan kawannya, dan cara ngomongnya dengan alasan humor. Sekelompok lagi, ada sebagian yang memberikan gelar-gelar kepada kawan dan saudaranya. Andaikan gelar itu diberikan kepadanya, niscaya hatinya akan jengkel. Bahkan ada diantara manusia yang tak berperasaan, saat bercanda ia memukul temannya. Semua ini mereka lakukan dengan alasan humor.</p>
<p>Semua ini merupakan perendahan terhadap martabat orang lain, apalagi ia muslim. Penyakit ini muncul disebabkan karena penyakit sombong dan hilangnya rasa malu di hati pelakunya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,</p>
<p>الْكِبْرُ: بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ</p>
<p>&#8220;Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain&#8221;. [HR.Muslim dalam Shohih-nya (91)]</p>
<p>Seseorang yang memiliki iman dan rasa malu di hadapan Allah, niscaya tak mungkin akan mengantarkan pemiliknya kepada sikap sombong dan merendahkan orang lain. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,</p>
<p>الْحَيَاءُ وَالْإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَإِذَا رَفَعَ أَحَدُهُمَا رَفَعَ الْآخَرُ</p>
<p>&#8220;Malu dan iman dikumpulkan bersama-sama. Jika yang satu hilang, maka yang lain pun akan hilang&#8221;. [HR.Al-Hakim (58) dan Al-Baihaqy dalam Asy-Syu’ab (7727), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (4/297). Lihat Jilbab Al-Mar’ah (hal.136)].</p>
<p>Ibnu Hajar Al-Haitamy-rahimahullah- memandang bahwa diantara dosa besar adalah mengejek para hamba Allah Ta’ala, tidak menghargai menghargai mereka, dan merendahkan mereka. Beliau berkata setelah itu, &#8220;Semua yang disebutkan tadi, prinsip dan dasarnya adalah keburukan akhlak dan rusaknya hati&#8221;. [Lihat Az-Zawajir (1/141-142)]</p>
<p>Seorang yang memperbanyak canda dan tawa, hatinya akan rusak dan mati dengan perlahan-lahan disebabkan ia tak terasa telah melakukan dosa dan kekufuran yang menodai hati. Nabi r bersabda:</p>
<p>لَا تُكْثِرُوْا الضَّحْكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحْكِ تُمِيْتُ الْقَلْبِ</p>
<p>&#8220;Janganlah kalian memperbanyak tertawa karena memperbanyak tertawa bisa mematikan hati&#8221;. [HR. At-Tirmidzy (2305), Ibnu Majah (4193). Lihat Shohih Al-Adab Al-Mufrod (253)]<br />
Berbicara Tentang Wanita</p>
<p>Berbicara tentang wanita merupakan salah satu bahan humoran bagi sebagian orang yang tipis imannya, dan rendah rasa malunya. Sampai kadang diantara mereka menjadikannya sebagai sebuah propesi dan adat kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Ironisnya lagi, jika kebiasaan ini menjangkit di kalangan agamawan. Karena pembicaraan tentang wanita dominannya mengarah kepada perkara tabu.</p>
<p>Seorang tabi’in, Al-Ahnaf bin Qois -rahimahullah- berkata, &#8220;Jauhkanlah majelis kita dari obrolan seputar wanita dan makanan karena aku benci seseorang yang suka membicarakan (masalah) farji dan perutnya&#8221;.[Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ (4/94)]</p>
<p>Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,</p>
<p>إِنَّ مِنْ أَشَرُّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ منزلة يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِيْ إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِيْ إِلَيْهِ ثُمَّ يُنْشِرُ سَرَّهَا</p>
<p>&#8220;Diantara manusia yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mendatangi istrinya, dan istrinyapun datang kepadanya, lalu ia menyebarkan rahasianya&#8221;. [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1437), dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (4870)]</p>
<p>Imam An-Nawawiy–rahimahullah- berkata, &#8220;Dalam hadits ini terdapat (faedah) diharamkannya seseorang menyebarkan sesuatu yang terjadi antara dia dengan istrinya berupa perkara jimak, serta menggambarkan hal itu secara rinci dan sesuatu yang terjadi pada wanita di dalamnya berupa ucapan, perbuatan, dan sejenisnya&#8221;. [Lihat Syarah Shohih Muslim (10/8)]</p>
<p>Seyogyanya seorang muslim -apalagi pelajar ilmu syar’i- selalu berusaha membersihkan lidahnya ketika ia berbicara di depan orang. Karena seorang yang mengotori mulutnya dengan kisah-kisah dan cerita tentang wanita yang bisa membangkitkan gejolak syahwat, akan merusak citra dirinya sendiri dan memberikan dampak buruk kepada teman duduknya .</p>
<p>Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhuma- berkata,</p>
<p>أَحَقُّ مَا طُهِّرَ الْعَبْدُ لِسَانَهُ</p>
<p>&#8220;Sesuatu yang paling pantas disucikan oleh seorang hamba adalah lisannya&#8221; . [HR.Ahmad dalam Az-Zuhd (26), Abu Dawud dalam Az-Zuhd (322),Ibnu Abi Ashim dalam Az-Zuhd (26),dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/307) dengan sanad yang shohih]</p>
<p>Para ulama kita melarang seseorang untuk berbicara tentang wanita, karena itu merupakan jalan tergelincirnya seseorang dan bisa mengantarkan untuk membicarakan perkara yang haram, berupa hal-hal yang berkaitan dengannya; entah itu dengan menggambarkan keelokan tubuh dan perangai seorang wanita, ataukah menyebarkan rahasia yang terjadi antara seorang suami dengan istrinya. Sedang ini merupakan seburuk-buruknya perbuatan yang diberikan ancaman keras bagi pelakunya sebagaimana dalam hadits di atas.<br />
Dusta Demi Canda</p>
<p>Ciri seorang mukmin adalah jujur dalam berbicara sebagaimana pribadi Nabi kita. Abu Hurairah berkata, &#8220;Ya Rasulullah, engkau bercanda dengan kami?&#8221; Beliau bersabda,</p>
<p>إِنِّيْ لّا أَقُوْلُ إِلَّا حَقًا</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya aku tak akan mengucapkan sesuatu kecuali itu benar&#8221; . At-Tirmidzy dalam As-Sunan (1990). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albany dalam Ash-Shohihah (1726)]</p>
<p>Satu bentuk kebiasaan buruk jika seseorang berusaha untuk membuat orang lain senang dan tertawa, namun ia mengucapkan sesuatu yang dusta sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pelawak, dan pemain sandiwara atau orang yang cari-cari muka.</p>
<p>Jauhilah dusta dalam bercanda sebab ini akan meluputkan kalian dari suatu fadhilah dan balasan yang agung di sisi Allah pada hari kemudian. Nabi bersabda:</p>
<p>أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ ربض الْجَنَّةِ لَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًا وَبِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ</p>
<p>&#8220;Aku akan memberikan jaminan sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun ia bercanda, serta rumah di bagian atas surga bagi orang yang akhlaknya bagus&#8221;. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4800). Lihat Ash-Shohihah (494)]</p>
<p>Inilah sebagian canda dan humor yang dilarang dalam Islam sengaja kami sampaikan di hadapan saudara-saudara sekalian agar kita bisa mengenal dan menjauhinya. Sebab berapa banyak orang masuk dalam neraka Cuma karena salah dalam mengucapkan sesuatu.</p>
<p>Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 25 Tahun I<br />
Pimpinan Redaksi : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc<br />
Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.<br />
Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Birrul Walidain]]></title>
<link>http://assamarindy.wordpress.com/2008/12/03/birrul-walidain/</link>
<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 14:21:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ibnu Dzulkifli As-Samarindy</dc:creator>
<guid>http://assamarindy.wordpress.com/2008/12/03/birrul-walidain/</guid>
<description><![CDATA[Berbakti kepada kedua orang tua, sebuah jihad yang terlalaikan. Oleh : Ibnu Dzulkifli As-Samarindy  ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;margin:0 0 2pt;" dir="ltr" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><strong>Berbakti kepada kedua orang tua, sebuah jihad yang terlalaikan.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:center;margin:0 0 2pt;" dir="ltr" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Oleh : Ibnu Dzulkifli As-Samarindy</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Telah berfirman Allah <em>ta&#8217;ala </em>:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:right;margin:0 0 2pt;" dir="ltr" align="right"><span class="a"><strong><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَوَصَّيْنَا الإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ المَصِيرُ</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : <em>&#8221; Dan telah kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tunanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepadaKulah kembalimu .&#8221;</em> <strong>(QS. Luqman : 14)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tidak butuh banyak kata-kata menafsirkan ayat ini, Insya Allah semua yang membaca akan paham tentang makna yang dikandungnya. Dalam ayat ini tergambar jelas perintah Allah kepada para hambanya untuk berbuat baik kepada kedua orang tua mereka. Suatu perkara yang pada zaman ini seakan-akan menjadi sesuatu yang sulit ditemui. Bahkan sebaliknya, sumpah serapah, kata-kata kasar bahkan kalimat-kalimat tidak pantas telah menjadi makanan sehari-hari para orang tua. Dan anehnya sebagian manusia terkadang lebih hormat dan tunduk kepada atasannya di kantor atau kepada guru mereka di sekolah dibandingkan dengan kepada orang tuanya yang telah mengandung dan merawatnya dengan susah payah. Bahkan samapai-sampai apabila berbicara kepada guru atau atasan di kantornya sampai badannya sedikit membungkuk dan kepala menunduk-nunduk. Aneh, sungguh aneh..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mari luangkan waktu kita sejenak wahai saudaraku untuk merenungi ayat, hadits dan ucapan para ulama tentang perkara penting ini, semoga setelah itu Allah memberikan hidayah dan taufiknya kepada kita untuk menjelma menjadi seorang manusia yang pandai bersyukur dan membalas budi kepada manusia-manusia yang paling berjasa di hidupnya.<!--more..baca lebih lengkap--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sungguh Allah telah memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua di beberapa tempat dalam Al Qur&#8217;an, diantaranya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:right;margin:0 0 2pt;" dir="ltr" align="right"><span class="a"><strong><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : <em>&#8221; Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah kecuali hanya kepadaNya, Dan agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah seorang atau keduanya berada dalam pemeliharaanmu sampai berumur lanjut, janganlah sekali-kali berkata kepada mereka &#8220;Uf&#8221; dan janganlah membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia&#8221;</em> <strong>(QS. Al-Isra&#8217; : 23-24)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan Allah ta&#8217;ala juga berfirman di dalam surat yang lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:right;margin:0 0 2pt;" dir="ltr" align="right"><span class="a"><strong><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya : <em>&#8220;Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan sesuatu apa pun bersamanya serta berbuat baiklah kepada kedua orang tua&#8221;</em> <strong>(QS. An-Nisa&#8217; : 36)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan berfirman di dalam surat yang lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:right;margin:0 0 2pt;" dir="ltr" align="right"><span class="a"><strong><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Artinya :<em> &#8221; Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil , Janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua&#8221;</em> <strong>(QS. Al-Baqarah : 83)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Ibnu Katsir tentang tafsir ayat ini : <em>&#8221; Dan inilah hak-hak yang paling tinggi dan paling besar, yaitu Hak Allah Tabarrak wa ta&#8217;ala untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya . Kemudian hak-hak makhluknya yang paling tinggi dan paling utama yaitu hak kedua orang tua. Untuk inilah Allah mennyandingkan hakNya daan hak kedua orang tua&#8221;</em> <strong>( Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Baqarah : <span> </span>83)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan sungguh wahai saudaraku, di dalam amalan berbakti kepada kedua orang tua terdapat keutamaan-keutamaan besar yang sebagian tidak terkandung pada amalan sholih lainnya , diantaranya adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">A. Termasuk dari amalan yang paling mulia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> , Beliau berkata : &#8221; Aku bertanya kepada Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</em> , <em>&#8220;amalan apakah yang paling dicintai Allah</em> ?&#8221;, beliau menjawab : : &#8220;<em>Sholat tepat pada waktunya</em>&#8221; kemudian aku bertanya lagi: <em>&#8221; Kemudian apalagi ? &#8220;</em> beliau menjawab : <em>&#8221; Berbakti kepada kedua orang tua&#8221;</em>. Kemudian aku bertanya lagi : <em>&#8221; Kemudian apalagi ?&#8221;</em> Beliau menjawab :<em>&#8221; Berjihad di jalan Allah&#8221;</em> <strong>(HR. Bukhori No. 5970 dan Muslim No. 85)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">B. Akan dihilangkannya kesulitan dan bala bencana .</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebagaimana kisah teantang tiga orang yang terperangkap di dalam gua karena pintu gua tertutup oleh batu besar, maka masing-masing dari mereka berdoa kepada Allah dengan amalan yang mereka anggap paling sholih. Dan salah satu dari mereka berdoa dengan amalannya berbakti kepada kedua orang tua. Maka Allah angkat marabahaya dari mereka dengan bergesernya batu di depan pintu gua. <strong>( Hadits Ibnu Umar Radhiyallahu &#8216;anhuma Riwayat Bukhori No. 2215 dan Muslim No. 2743)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">C. Sebab terkabulnya doa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Umar bin Khattab <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> , Beliau berkata : <em>&#8221; Aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam bersabda : &#8221; Akan datang kepada kalian Uways bin amir bersama penduduk Ahlu Yaman, berasal dari Murod dan kemudian dari Qorin. Dahulu dia pernah tertimpa penyakit kulit kemudian sembuh dari penyakit tersebut kecuali tinggal sebesar kepingan dirham. Dia memilki seorang ibu yang dia sangat berbakti kepadanya, seandainya saja dia meminta kepada Allah untuk menyembuhkan (sisa) penyakitnya tersebut <span> </span>maka akan disembuhkan baginya. Apabila engkau (Wahai Umar) mampu meminta dia untuk memohonkan ampun (kepada Allah) untukmu maka lakukanlah&#8221;</em> <strong>(HR. Muslim 2543)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">D.Sebab Masuk ke dalam surga</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Aisyah <em>Radhiyallahu &#8216;anha</em>, beliau berkata : &#8221; Telah bersabda Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</em> : <em>&#8221; Ketika aku sedang tertidur, maka aku melihat diriku berada di dalam surga kemudian aku mendengar seseorang membaca Al-Qur&#8217;an. Maka aku bertanya : &#8220;Siapa ini ?&#8221; Mereka mengatakan : &#8220;ini adalah Haritsah bin Nu&#8217;man&#8221; Maka Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam berkata kepada Aisyah Radhiyallahu &#8216;anha : &#8221; Begitulah balasan bagi orang yang berbakti kepada kedua orang tua , Begitulah balasan bagi orang yang berbakti kepada kedua orang tua (beliau mengulanginya dua kali.) dan dialah manusia yang paling berbakti kepada ibunya &#8220;</em> <strong>(HR. Ahmad 6/152, Al-Hakim dalam Al-Mustadrok 3/208. Dishohihkan Al-Albani dalam As-Shohihah No. 913)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Bersabda Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</em> : &#8220;<em> Sungguh celaka, Sungguh celaka, Sungguh celaka&#8221;</em> maka ada yang bertanya : <em>&#8221; Siapa dia wahai Rasulullah?&#8221; </em><span> </span>beliau menjawab : <em>&#8221; Barangsiapa yang menemui salah seorang atau kedua orang tuanya dalam keadaan tua, dan tidak menyebabkan dia masuk surga&#8221;</em> <strong>(HR. Muslim No. 9 dan Bukhori dalam <em>Adabul Mufrod</em> No. 16)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">E. Sebab keridhoan Allah adalah ridho orang tua</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Abdullah bin Amr&#8217; <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma</em> , Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wassalam bersabda</em> : <em>&#8220;Keridhoan Allah bersama Ridho orang tua dan kemurkaan Allah bersama murka orang tua</em>&#8221; <strong>(HR. Tirmidzi No.1899 dan Dishohihkan Al-Albani dalam Shohih Sunan Tirmidzi No. 1549)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">F. Termasuk amalan Jihad</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Abdullah bin Amr&#8217; <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, Beliau berkata : Seorang lak-laki bertanya kepada Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</em> : <em>&#8221; Bolehkah aku turut berjihad ?&#8221;</em> maka Rasulullah <em>Shalallahu &#8216;alaihi wassalam</em> bertanya : <em>&#8221; Apakah engkau masih memilliki kedua orang tua ?&#8221;</em> maka dia menjawab : <em>&#8220;Ya&#8221;</em> maka Rasulullah mengatakan : <em>&#8221; Maka kepada keduanyalah engkau berjihad &#8220;</em> <strong>(HR. Bukhori-Muslim)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selain perkara-perkara yang sudah disebutkan, ada perkara lain yang terkait dengan berbakti kepada kedua orang tua, yaitu : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berbakti kepada Ibu lebih didahulukan dibanding berbakti kepada ayah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> , Beliau berkata : &#8221; Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shalallahu &#8216;alaihi wassalam dan bertanya : <em>&#8221; Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik ?&#8221;</em> Beliau menjawab : <em>&#8221; Ibumu &#8220;</em> kemudian laki-laki itu bertanya lagi : <em>&#8221; Kemudian siapa ? &#8220;</em> beliau menjawab : <em>&#8221; Ibumu</em> &#8220;. kemudian laki-laki itu bertanya lagi : <em>&#8221; Kemudian siapa ? &#8220;</em> beliau menjawab : <em>&#8221; Ibumu &#8220;.</em> kemudian laki-laki itu bertanya lagi : <em>&#8221; Kemudian siapa ? &#8220;</em> Rasulullah menjawab : <em>&#8221; Kemudian ayahmu.&#8221;</em> <strong>(HR. Bukhori 5971 dan Muslim 2547)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan Al-Muhaasiy telah berpendapat dalam kitabya <em>Ar-Ri&#8217;ayah</em>, Bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah dengan tigaperempat kebaikan untuk ibu dan untuk ayah seperempatnya, berdasarkan pendalillan dari hadits Abu Hurairah <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Bolehnya berbakti kepada orang tua yang kafir apabila memungkinkan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 6pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Asma&#8217; bintu Abi Bakar <em>Radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, Beliau berkata :&#8221; Ketika zaman Rasulullah, Ibuku datang menjengukku (Ibu beliau kafir. Pen) maka aku bertanya kepada Rasulullah , Apakah aku boleh menyambung silaturahmi dengannya. Maka Rasulullah menjawab :<em>&#8221; ya&#8221;</em> <strong>(HR. Bukhari-Muslim)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan perhatikanlah bagaimana para ulama berbakti kepada kedua orang tuanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari Muhammad Al-Munkadir, beliau berkata : <em>&#8221; Saudaraku Umar menghabiskan malamnya dengan melakukan sholat dan aku menghabiskan malamku dengan memijat kaki ibuku. Dan tidaklah aku lebih mencintai malam saudaraku dibanding malamku sendiri &#8220;</em> <strong>(As-Siyar 5/359)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Abu Bakar bin Iyas, : <em>&#8221; Dahulu aku pernah duduk bersama Mansyur bin Mu&#8217;tamir di rumahnya, maka ibunya memanggilnya dengan keras dan beliau memang memiliki sifat <span> </span>keras. Ibunya berkata :&#8221; Ibnu Hubairoh menginginkan engkau untuk memutuskan suatu perkara, maka mengapa engkau tidak memenuhinya ?&#8221; dan Mansyur bin Mu&#8217;tamir menunduk menempelkan janggutnya dia atas dadanya, tidak berani mengangkat kepalanya memandang kepada ibunya&#8221;</em> <strong>(As-Siyar 5/405)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Saudaraku, setelah mengetahui tentang keutamaan-keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, maka harus diketahui tentang makna berbakti kepada kedua orang tua dan batasan ketaatan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Hasan Al-Bashri : <em>&#8221; Berbakti kepada kedua orang tua adalah mencurahkan seluruh apa-apa yang engkau miliki dan menaati apa-apa yang mereka perintahkan kecuali dalam perkara maksiat&#8221;</em> <strong>(Ad-Darul Mansyur 5/259)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Ibnul Jauzi : <em>&#8221; Berbakti kepada keduanya dengan menaati perintah keduanya selama bukan perkara yang terlarang, mendahulukan perintah keduanya diatas amalan-amalan Sunnah, menjauhi apa-apa yang mereka larang, menyantuni mereka, menunaikan keinginan mereka, bersungguh-sungguh dalam melayani mereka, beradab dan menyegani keduanya. Maka janganlah seorang anak mengangkat suaranya diatas suara kedua orang tuanya dan janganlah memanggil mereka dengan namanya. Apabila berjalan, berjalanlah di belakang mereka dan sabar atas apa-apa yang dibenci yang ada pada mereka&#8221;.</em> <strong>(Al-Biir Was Silah hal. 57)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun ketika orang tua memerintahkan sesuatu atau menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, maka boleh bagi kita untuk tidak menaatinya dalam perkara tersebut dan tetap menaatinya dalam perkara-perkara lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Imam Bukhori dalam <em>Shohih</em>nya : <em>&#8220;Bab berbakti kepada kedua orang tua di dalam perkara-perkara yang bukan maksiat&#8221;</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berkata Imam At-Thobari : <em>&#8221; Jadilah engkau di depan keduanya (orang tua) dengan merendahkan diri dan berikan kasih sayang darimu dengan menaati keduanya dengan apa-apa yang mereka perintahkan di dalam perkara-perkara yang bukan maksiat serta tidak meyelisihi mereka di dalam apa-apa yang mereka cintai&#8221;</em> <strong>(Tafsir At-Thobari 14/550)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan salah satu dalil tentang perkara ini adalah kisah Sa&#8217;ad bin Abi Waqash <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> , Beliau berkata : &#8221; <em>Sebab diturunkannya surat :</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:right;margin:0 0 2pt;" dir="ltr" align="right"><span class="a"><strong><span style="font-size:10pt;color:windowtext;font-family:Arial;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَوَصَّيْنَا الإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(Artinya : <em>&#8221; Dan telah kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan bersamaku sesuatu yang engkau tidak memilki pengetahuan tentangnya, maka janganlah kamu menaati keduanya. Hanya kepadaKulah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa-apa yang telah engkau kerjakan </em>&#8221; <strong>(QS. Al-Ankabut : 8 )</strong> Adalah berkaitan denganku. Dahulu aku sangat berbakti kepada ibuku, ketika aku telah masuk Islam, ibuku berkata kepadaku :<em>&#8221; Wahai Sa&#8217;ad agama apa ini ? agama yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Sungguh engkau harus meninggalkan agama ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku akan mati. Maka engkau akan dijuluki &#8220;Wahai orang yang telah membunuh ibunya&#8221;</em>. Maka aku berkata <em>&#8221; Jangan engkau melakukannya wahai ibuku, sesungguhnya aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku ini demi apa pun&#8221;</em> Maka berlalulah satu hari satu malam dalam keadaan ibuku tidak mau makan dan minum, maka ketika sudah melewati malam, maka sungguh ibuku mulai lemas. Ketika aku melihatnya seperti itu, maka aku berkata :<em> &#8221; Wahai ibuku. Ketahuilah. Demi Allah seandainya engkau memiliki seratus nyawa dan engkau keluarkan satu demi satu, sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku. Maka terserah engkau, apakah engkau mau makan atau tidak.&#8221; </em>Maka setelah melihat pendirianku, ibuku mau makan.&#8221; <strong>(As-Siyar 1/109)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Inilah saudaraku, <span> </span>sekelumit catatan ringkas tentang wajibnya berbakti kepada kedua orang tua, berbakti kepada dua manusia yang paling berjasa dalam hidup kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sumber Catatan : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tholabul Ilmi wa Birul Walidain</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, Kamal bin Tsabit Al-Adany</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">As-Shohih minal Atsar fi Khutobil Minbar</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, Faishol Al-Hasyidiy</span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"> </p>
<p class="MsoNormal" style="direction:ltr;unicode-bidi:embed;text-align:justify;margin:0 0 2pt;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Catatan Khusus : Untuk kedua orang tuaku yang sabar menunggu…</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
