<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>adat-istiadat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/adat-istiadat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "adat-istiadat"</description>
	<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 12:39:10 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Nama panggilan saya]]></title>
<link>http://hairulef.wordpress.com/2009/11/29/nama-panggilan-saya/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 20:49:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>hairulef</dc:creator>
<guid>http://hairulef.wordpress.com/2009/11/29/nama-panggilan-saya/</guid>
<description><![CDATA[Saya memiliki beberapa nama panggilan, diantaranya : Kiyai “Kiyai” berarti kakak, panggilan ini bias]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saya memiliki beberapa nama panggilan, diantaranya :</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kiyai</span></strong><br />
“Kiyai” berarti kakak, panggilan ini biasa digunakan oleh adik kandung dan adik sepupu dari pihak keluarga Ayah, juga oleh anak-anak di desaku yang umurnya masih dibawah saya.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Gusti</span></strong><br />
Sama seperti “Kiyai”, “Gusti” juga berari kakak. Panggilan ini biasa digunakan oleh adik sepupu dari pihak keluarga Ibu.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Ratu Asli</span></strong><br />
Ini adalah Adok/Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga Ayah. Adik ipar Ayah (biasanya perempuan), menggunkan Adok/Gelar ini sebagai nama untuk memanggil saya.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Kakak</span></strong><br />
Panggilan umum, yang biasanya diucapkan oleh adik kelas atau dalam pergaulan keseharian.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Abang</span></strong><br />
Nama panggilan ini saya sendiri yang meminta. Biasanya teman-teman kantor menggunakan panggilan “Abang”, untuk saya. Panggilan “Abang” ini adalah panggilan nasional yang saya suka.<!--more--></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Mas</span></strong><br />
Terkadang juga beberapa orang yang baru dikenal, memanggil saya dengan panggilan “Mas”. Biasanya saya akan meminta orang tersebut untuk tidak memanggil saya “Mas”, karena saya tidak mau dipanggil “Mas”.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Aa</span></strong><br />
Panggilan yang satu ini muncul ketika saya berada di Tangerang. Gak banyak sich… Paling cuma ada 2-3 orang yang memanggil saya dengan panggilan “Aa”.</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Suntan Tuan</span></strong><br />
Ini adalah Adok/Gelar yang diberikan oleh pihak keluarga Ibu. Adik ipar Ibu (biasanya perempuan), menggunkan Adok/Gelar ini sebagai nama untuk memanggil saya. Panggilan yang satu ini mulai sering saya dengar ketika berada ± 10 hari di desa Negeri Katon, Pesawaran – Lampung. Awalnya saya tidak tahu bahwa “Suntan Tuan” adalah Adok/Gelar saya di desa Negeri Katon, sebelum diberi tahu oleh bibi/tante. Saya sangat bangga dengan Adok/Gelar ini, karena dalam adat Lampung Pepadun Pubiyan, “Suntan” merupaka Adok/Gelar yang cukup tinggi derajatnya.</p>
<p>Saya sudah terbiasa dengan nama-nama panggilan saya tersebut, dan tidak canggung lagi dengan panggilan tersebut.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adat Melamar]]></title>
<link>http://rddholic.wordpress.com/2009/10/23/adat-melamar/</link>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 16:23:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>rddholic</dc:creator>
<guid>http://rddholic.wordpress.com/2009/10/23/adat-melamar/</guid>
<description><![CDATA[Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka biasanya keluarga perempua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Bapak dari anak laki-laki membuat surat lamaran, yang jika disetujui maka biasanya keluarga perempuan membalas surat sekaligus mengundang kedatangan keluarga laki-laki guna mematangkan pembicaraan mengenai lamaran dan jika perlu sekaligus merancang segala sesuatu tentang perkawinan.<br />
Setelah ditentukan hari kedatangan, keluarga laki-laki berkunjung ke keluarga perempuan dengan sekedar membawa peningset, tanda pengikat guna meresmikan adanya lamaran dimaksud. Sedangkan peningsetnya yaitu 6 (enam) kain batik halus bermotif lereng yang mana tiga buah berlatar hitam dan tiga buah sisanya berlatar putih, 6 (enam) potong bahan kebaya zijdelinnen dan voal berwarna dasar aneka, serta 6 (enam) selendang pelangi berbagai warna dan 2 (dua) cincin emas berinisial huruf depan panggilan calon pengantin berukuran jari pelamar dan yang dilamar (kelak dipakai pada hari perkawinan). Peningset diletakkan di atas nampan dengan barang-barang tersebut dalam kondisi tertutup.<br />
Orang yang pertama kali mengawinkan anak perempuannya dinamakan mantu sapisanan atau mbuka kawah, sedang mantu anak bungsu dinamakan mantu regil atau tumplak punjen.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sumber : http://semarasanta.wordpress.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rumah Adat]]></title>
<link>http://tulisannugroho.wordpress.com/2009/09/01/rumah-adat/</link>
<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 21:59:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nug</dc:creator>
<guid>http://tulisannugroho.wordpress.com/2009/09/01/rumah-adat/</guid>
<description><![CDATA[By: ASN, 1 September 2009 Rumah adat Tradisi yang kental sekali Refleksi budaya suatu bangsa Rumah A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[By: ASN, 1 September 2009 Rumah adat Tradisi yang kental sekali Refleksi budaya suatu bangsa Rumah A]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Celurit &amp; Carok, Sebuah Sejarah]]></title>
<link>http://infomadura.wordpress.com/2009/07/29/celurit-carok-sebuah-sejarah/</link>
<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 11:22:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>lunix96</dc:creator>
<guid>http://infomadura.wordpress.com/2009/07/29/celurit-carok-sebuah-sejarah/</guid>
<description><![CDATA[Letaknya yang berada di sebelah utara Pulau Jawa, Madura atau lebih dikenal dengan pulau garam, memp]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Letaknya yang berada di sebelah utara Pulau Jawa, <a href="http://1001-madura.com/sejarah-madura">Madura</a> atau lebih dikenal dengan pulau garam, mempunyai masyarakat sendiri, dalam arti, mempunyai corak, karakter dan sifat yang berbeda dengan masyarakat jawa. Masyarakatnya yang santun, membuat <a href="http://1001-madura.com/sejarah-madura">masyarakat Madura</a> disegani, dihormati bahkan “ditakuti” oleh masyarakat yang lain.</p>
<div id="attachment_49" class="wp-caption aligncenter" style="width: 285px"><img class="size-full wp-image-49" title="carok" src="http://infomadura.wordpress.com/files/2009/07/carok.jpg" alt="Celurit, Senjata Carok Khas Madura" width="275" height="200" /><p class="wp-caption-text">Celurit, Senjata Carok Khas Madura</p></div>
<p>Kebaikan yang diperoleh oleh masyarakat atau orang Madura akan dibalas dengan serupa atau lebih baik. Namun, jika dia disakiti atau diinjak harga dirinya, tidak menutup kemungkinan dia akan membalas dengan yang lebih kejam. Ada sebuah <a href="http://1001-madura.com/sejarah-madura">adagium</a> masyarakat Madura, yang sampai sekarang sudah mendarah daging, ” <em>lebbi baek pote tolang dari pada pote mata</em>“.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Banyak orang yang mengatakan bahwa masyarakat Madura itu unik, estetis dan agamis. Bahkan, ada yang mengenal masyarakat “pulau garam” ini adalah masyarakat santri, nan sopan tutur katanya dan kepribadiannya.</p>
<p>Kita mungkin mengenal <a href="http://1001-madura.com/sejarah-madura">CAROK</a> …. ? Carok dan celurit laksana dua sisi mata uang. Hal ini muncul di kalangan orang-orang Madura sejak zaman penjajahan Belanda abad 18 M. Carok merupakan simbol kesatria dalam memperjuangkan harga diri (kehormatan).</p>
<p>PADA zaman Cakraningrat, Joko Tole dan Panembahan Semolo di Madura, tidak mengenal budaya tersebut. Budaya yang ada waktu itu adalah membunuh orang secara kesatria dengan menggunakan pedang atau keris. Senjata celurit mulai muncul pada zaman legenda Pak Sakera. Bahkan pada masa pemerintahan Penembahan Semolo, putra dari Bindara Saud putra Sunan Kudus di abad ke-17 M tidak ada istilah carok.Munculnya <a href="http://1001-madura.com/sejarah-madura">budaya carok</a> di pulau Madura bermula pada zaman penjajahan Belanda, yaitu pada abad ke-18 M.</p>
<p>Setelah Pak Sakerah tertangkap dan dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur, orang-orang bawah mulai berani melakukan perlawanan pada penindas. Senjatanya adalah celurit. Karena provokasi Belanda itulah, golongan blater yang seringkali melakukan carok pada masa itu. Celurit digunakan Sakera sebagai simbol perlawanan rakyat jelata terhadap penjajah Belanda. Sedangkan bagi Belanda, celurit disimbolkan sebagai senjata para jagoan dan penjahat. Upaya Belanda tersebut rupanya berhasil merasuki sebagian masyarakat Madura dan menjadi filsafat hidupnya. Bahwa kalau ada persoalan, perselingkuhan, perebutan tanah, dan sebagainya selalu menggunakan kebijakan dengan jalan carok. Senjata yang digunakan selalu celurit.</p>
<p>Padahal sebenarnya tidak semua masyarakat Madura demikian. Masyarakat Madura yang memiliki sikap halus, tahu sopan santun, berkata lembut, tidak suka bercerai, tidak suka bertengkar, tanpa menggunakan senjata celurit, dan sebagainya adalah dari kalangan masyarakat santri. Mereka ini keturunan orang-orang yang zaman dahulu bertujuan melawan penjajah Belanda. Setelah sekian tahun penjajah Belanda meninggalkan pulau Madura, budaya carok dan menggunakan celurit untuk menghabisi lawannya masih tetap ada, baik itu di <a href="http://1001-madura.com/sejarah-madura">Bangkalan</a>, <a href="http://1001-madura.com/sejarah-madura">Sampang</a>, maupun <a href="http://1001-madura.com/sejarah-madura">Pamekasan</a>.</p>
<p>Sumber: http://1001-madura.com/adat-istiadat-madura</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nikmatnya Minum Tuak : Dayak Randau - Ketapang Kalbar]]></title>
<link>http://pendakigunung.wordpress.com/2009/06/21/nikmatnya-minum-tuak-dayak-randau-ketapang-kalbar/</link>
<pubDate>Sun, 21 Jun 2009 10:13:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Stanislaus Riyanta</dc:creator>
<guid>http://pendakigunung.wordpress.com/2009/06/21/nikmatnya-minum-tuak-dayak-randau-ketapang-kalbar/</guid>
<description><![CDATA[Tuak dan arak adalah dua jenis minuman khas suku Dayak. Tuak adalah minuman hasil fermentasi dari ni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tuak dan arak adalah dua jenis minuman khas suku Dayak. Tuak adalah minuman hasil fermentasi dari ni]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gurindam Pusako : Pasan Mamak (2) ]]></title>
<link>http://ariwidodoradarbute.wordpress.com/2009/06/14/gurindam-pusako-pasan-mamak-2/</link>
<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 17:11:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>ARI-RADAR BUTE</dc:creator>
<guid>http://ariwidodoradarbute.wordpress.com/2009/06/14/gurindam-pusako-pasan-mamak-2/</guid>
<description><![CDATA[Dunsanak, mancogok baliak ambo panyambuang nyambuang nan minggu lalu, bak undang mamak juo.. didulan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dunsanak,  mancogok baliak  ambo panyambuang nyambuang  nan minggu lalu, bak undang mamak juo.. didulang sadulang lai .pandulang ameh di bangko. di ulang sa ulang lai,  panjapuik  kaba minggu nan<br />
lamo..Kaba kok lai ka basimak, sajuak rasonyo dalam hati, tapi kok isi kurang rancak, toloang dek dunsanak pa elok i..</p>
<p>PASAN MAMAK II</p>
<p>Kamanakan kanduang gadih nan jombang<br />
 pamenan mato ayah  jo bundo<br />
Simakkan bana tarang tarang<br />
Surek mamak nan kaduo ko</p>
<p>Indak ka banyak nan mamak sabuik<br />
Untuang kok lai nan baguno<br />
Hanyo sakadar pandangan hiduik<br />
Pangalaman nan mamak baco<br />
Didalam surek nan dahulu<br />
Lah mamak cubo manjalehkan<br />
Sia bana kamanakantu<br />
Babagai contoh di ibaratkan</p>
<p>Umpamo tanaman suku<br />
Parak babateh bamintalak<br />
Cancang latiah  urang tuo dahulu<br />
Takalo tuga ka dihantak</p>
<p>Sabanyak bijo di kandang<br />
Di indang di tampi tareh<br />
Di piliah ka jadi tampang<br />
Di ambiak nan paliang  boneh</p>
<p>Bijo baiak nan baserakkan<br />
Balambuak jo kasiah sayang<br />
Kok lai elok ratak tangan<br />
Baputiak babungo kambang</p>
<p>Buah diambiak katiruan<br />
Bungo ka jadi pamenan mato<br />
Ba urek balimbago matan<br />
Batang gadang badahan gampo</p>
<p>Pucuak labek badaun rampak<br />
Barantiang  barih jo  balabeh<br />
Tampek basanda malapeh arak<br />
 disinan hauih dapek ureh</p>
<p>Ureknyo ka tampek baselo<br />
Daun ka tampek rang balinduang<br />
Umpamo baringin di tanagah koto<br />
Pidoman lalu urang dikampuang</p>
<p>Dek itu mamak  batutua<br />
Pandai pandai manjago diri<br />
Daun rogek putiak kok layua<br />
Sio sio musim baganti</p>
<p>Bukannyo ayah ma hituang jariah<br />
Kami indak mambilang jaso<br />
Kamanakan juo nan ka buliah<br />
Santano tumbuah samparono</p>
<p>Lah ka nasib dek tanaman<br />
Apolai kok sadang babungo<br />
Ba bagai bagai macam godaan<br />
Indak nan elok ciek juo</p>
<p>Umpamo ambacang jo  cubadak<br />
Tampuak kuniang tando lah mangka<br />
 dima sajo urang tagak<br />
Baun harum lah manyeba</p>
<p>Patuik bana kamanakan pahami<br />
 baa jariehnyo rang paladang<br />
Sajak limbago muloi jadi<br />
Sampai baputiak babungo kambang</p>
<p>Nympang  talambek hujan turun<br />
Tanam basiram patang jo pagi<br />
Muloi tumbuah sahalai daun<br />
Babagai ubek lah di cari</p>
<p>Pupuak urea pupuak kandang<br />
Racun hamo  lah tasadio<br />
Baa nak capek tanaman gadang<br />
Panek jo latiah indak di raso</p>
<p>Sampai lah tumbuah nan bak kini<br />
Lah babuah saparo masak<br />
Di lua sanang Allahurabbi<br />
Di bathin cameh bagajolak</p>
<p>Basangketo lahie jo bathin<br />
Babagai bagai gamang di raso<br />
Dicaliak parak urang lain<br />
Ba macam macam hamo manimpo</p>
<p> ado namonyo kutu lompek<br />
Ado nan wereang jo pianggang<br />
Baratuih macamnyo ulek<br />
Sakian pulo macamnyo kumbang</p>
<p>Babagai gaya jo caronyo<br />
Dari nan haluih sampai nan kasa<br />
Indak nan elok ciek juo<br />
Kasadonyo babuah sasa</p>
<p>Nan haluih masuak di urek<br />
Sampai ka putiaknyo manjala<br />
Di lua buah tampak bakilek<br />
Didalam busuak lah bata</p>
<p>Ado nan kasa tarang tarangan<br />
Basayok hamo nan hinggok<br />
Indak doh usak dari tandan<br />
Tapi lah tandeh kanai cotok</p>
<p>Nan paliang buruak kok di kaji<br />
Talengah ranggaek samalam sajo<br />
Talambek ayah ma awasi<br />
Isuak lah tingga  sajo tampuaknyo</p>
<p>Ayah baparak tapi labuah<br />
Iko bana mamak nan bedo<br />
Sadang mamajek urang lai namuah<br />
Koknon pulo tingga manjambo</p>
<p>Usah talalu picayo diri<br />
Walau tumbuah kalindungan<br />
Sadangkan lai dalam lamari<br />
Dek  mancik tandehnyo makan</p>
<p>Walau parak paga balingkuang<br />
Tinggi sulik ka urang  awai<br />
Sadangkan karambia batampuruang<br />
Cempoang dek gigi tupai</p>
<p>Itulah ibarat jo umpamo<br />
Bukanyo cameh balabiahan<br />
Mamak mancaliak lai  seso<br />
Konon lah ayah nan manggadangkan</p>
<p>Walau buah baru manguniang<br />
Indak mungkin ka urang makan<br />
Kalaulah dendeang mangaja  kuciang<br />
Basiso bana urang campakkan</p>
<p>Kini sadang mangka di tandan<br />
Elok elok paliharo diri<br />
Usah tadayo dek pinggalan<br />
Kana sasa kudian hari</p>
<p>Banyak hamo barabuik hinggok<br />
Jo ramo ramo nak sato pulo<br />
Kok kumbang mabuak manyasok<br />
Hamo ulek usah di baco</p>
<p>Dek awak tumbuah tapi jalan<br />
Indak baragan urang ma hampie<br />
Paga kok randah jambo jamboan<br />
Alamat ka tandeh kanai gutia</p>
<p>Buah gadang putiak talampau<br />
Lah mangka  mangko ka bedo<br />
Ibarat lapeh di muluik harimau<br />
Muluik buayo lah mangango</p>
<p>Kok siang di agah tupai<br />
Malam di intai kalilawa<br />
Sadangkan tinggi lai rang gagai<br />
Iko pulo tingga manyemba</p>
<p>Dek sabab karano itu<br />
Elok elok mamacik tampuak<br />
Jan tamakan bujuak jo rayu<br />
Bara bana urang manjuluak</p>
<p>Lah banyak contoh nan jaleh<br />
Dek  ulah kanai rayuan<br />
Tampuak  alun suko malapeh<br />
Badan lah jatuah dek pinggalan</p>
<p>Nak arok capek ka karanjang<br />
Tampuak bagatah batinggakan<br />
Lai bana dimakan urang<br />
Lah bagigik baru rang campakkan</p>
<p>Akhianyo jadi antimun bungkuak<br />
Manyasa urang mamakan<br />
Guno tak labiah ka panukuak<br />
Panambah nambah barek timbangan</p>
<p>Lah  abih dayo jo usaho<br />
Asa lai indak lupo jo diri<br />
Itulah takdir Nan Kuaso<br />
Sasa nan indak ado lai</p>
<p>Bamacam macam pituah rang tuo<br />
Nan kajadi contoh jo tauladan<br />
Banyak ragam jo tambiahannyo<br />
Disurek ka tigo mamak jalehkan&#8230;</p>
<p>Sampai kan salam mamak<br />
Kanenek jo anduang<br />
Walau dirantau mamak tagak<br />
 pangana tatap ka kampuang&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>(bersambuang)</p>
<p>Untuak dunsanak di  palanta<br />
Ambo bukanlah urang bijak<br />
Lupo sakadar mangana ngana<br />
Kamanakan tangguang jawab awak&#8230;</p>
<p>Kritik dan saran ambo tunggu<br />
Ka jadi tukuak jo tambahnyo<br />
Insyaallah satiok minggu<br />
Di Palantako kito basuo..</p>
<p>Wss Yanto Jambak<br />
(Yan Mj Basa).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Palanta Umum/Andi Jupardi ]]></title>
<link>http://ariwidodoradarbute.wordpress.com/2009/06/14/palanta-umumandi-jupardi/</link>
<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 17:10:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>ARI-RADAR BUTE</dc:creator>
<guid>http://ariwidodoradarbute.wordpress.com/2009/06/14/palanta-umumandi-jupardi/</guid>
<description><![CDATA[nan si Monen ko wakatu mudo di Padang yo suko Malala lo, indak sanang ikua e tingga di rumah kos-kos]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> nan si Monen ko wakatu mudo di Padang yo suko  Malala lo, indak sanang ikua e tingga di rumah kos-kosannyo di Padang, kok ndak dilapau duduak mangopi   maota  jo kawan-kawannyo  pai baalan-jalan ndak tantu arah, pokoknyo  kama kaki malangkah  inyo ikuik i sajo. Katiko inyo  bajalan-jalan pagi  abih minum teh talua Mak  aciak di Simpang Haru mandanga paluit kureta api Mak Itam ka barangkek ka Padang Panjang, timbua sakali pangananyo. </p>
<p>“Paruik lah kanyang jo katupek gulai paku Mak Aciak, utak lah tarang lo kanai tampa dek teh talua Mak Aciak nan kamek, haa..yo rancak  waden bajalan-jalan jo Mak Itam ko” Si Monen mambatin.<br />
Lah maloncek sajo si Monen ka gerbong Mak Itam nan ka barangkek ko, puta-kaputa didalam gerbong yo la panuh dek umaik nan ka barangkek ka Padang Panjang jo Mak Itam, tumpah ruah  urang di gerbong sampai duduak dilantai bagai  ado gai nan tagak basigantuang sambia mamacik pintu jandela garebong Mak Itam. Pandangan si Monen tatumbuak di kuris gerbong Mak Itam ado  apak paro baya sadang duduak, tapi disubalahnyo dilatakan tas jo karuang tampek barang-barang Apak ko</p>
<p>“Ndak iyo apak tu mah, lah jaleh bantuak iko umaik dalam gerbong Mak Itam, lamak sajo tas jo barang tu dilatakan dikurisi, bia lah waden duduak  disinan “ si Monen mambathin sambia ka kurisi Apak tu</p>
<p>Tibo dikurisi tu…inyo  caliak apak ko salayang tangguang nan sadang taakuak-akuak mangantuak dek lamaknyo tasanda (mungkin Apak ko ndak  lalok samalamam mah).</p>
<p>“Oppsss..pam..pam..”Apak Rano Karno ..Kok Nggak Mirip Ya.”.ruponyo nan duduak dikurisi ko..onde mandeh..sobok waden baliak jo Apak ko, ahhh..bia lah…nan pantiang waden dapek duduak” si Monen  mangecek ka dirinyo sorang sambia manurunkan tas jo barang “Apak Rano Karno tapi Kok Nggak Mirip ya”  ini</p>
<p>Lah bajalan Mak Itam ko,  manjalang masuak Lubuak Aluang tajago Apak ko, inyo caliaknyo disampiangnyo lah ado si Monen, sambia malengong tangguang inyo layangkan suduik matonyo ka Si Monen, sudah tu Apak ko lansuang sajo mambaliak badan, inyo  agiah bana ikua jo pungguangnyo ka si Monen. Nan si Monen lah tibo lo gata muluiknyo manggaduah apak ko</p>
<p>Monen : Pak..Pak…jaan lo co itu bana lupokan sajo lah Rano Karno tu maota lamak awak lah, kan batambah sero awak bajalan jo mak Itam ko, siapo tahu banyak ulemu nan den dapek dari Apak</p>
<p>Nan Apak ko samakin inyo pesong ikuanyo, yo madok ka dindiang Mak Itam bananyo, indak inyo horaukan si Monen maajak untuak ma  ota, lah diculiak lo pinggang apak ko dek si Monen</p>
<p>Monen : Pak.. dima Apak ka Turun…apo nan Apak baok ko dalam karuang, dima Apak tingga, dima kampuang Apak siapo tahu sakampuang awak, apo suku Apak., bara urang anak Apak, Apak hobi baburu ndak, Bara ikua Apak punyo  anjiang, ado sisamuik ndak namo anjiang paburu Apak.</p>
<p>Si Monen mulai agak malunak mangecek smbia mamanciang-manciang Apak ko untuak kawan maota, nan si Monen  pailang suntuak ko yo maota ubeknyo  , tapi nan Apak ko yo anok sajo saribu bahaso indak paduli si Monen nan gigiah maajak inyo maota. Si Monen yo paneh hatinyo di baok malengong sajo dek “Apak Rano Karno tapi kok nggak mirip ya” ko, lah ka sampai lo Mak Itam di Padang Panjang.</p>
<p>Monen : Apak yo sombong bananyo jadi urang,  ongeh bananyo nan waden ka lah elok-elok manyapo Apaknyo, ndak baitu do batanyo lah waden Pak elok-elok ka  bakeh Apak, Mak Itam kasampai lai di Stasiun Padang Panjang  lah pukua bara hari kini ko.</p>
<p>Nan Apak samanjak kanai dek si Monen masalah Rano Karno ko, yo agak panjang pamikirannyo kamuko kok basuo jo urang nan  alun dikenal apolai bantuak si Monen, ado-ado sajo kajinyo ka muko kok jampang maota jo urang nan alun dikenal. Tapi yo agak paneh hati Apak ko dek si Monen mangecek badan dirinyo sombong bin ongeh.</p>
<p>Baputa lah badannyo dikurisi sambia mancaliak si Monen nan duduak disampiangnyo</p>
<p>Apak : Oiii yuang sabalun den jawek pukua bara kini, nan waden bukan sombong jo ongeh do, kok den ladeni waang maota  beko waang suko lo ka waden</p>
<p>Monen : Ka de  a bananyo Pak..kan rancak tu,  awak iduik didunia ko kan yo untuak saliang kenal mangenal</p>
<p>Apak : Beko waden turun di Padang Panjang waang sato lo turun, ang ikuik-an lo waden beko,  dek waang suko jo Ota Den</p>
<p>Monen :  Ndak ado salahnyo kan  ambo ikuikan lo Apak..dek awak lah saliang mangenal</p>
<p>Apak : Sudah tu.. waang iringan lo langkah den ka rumah</p>
<p>Monen : Rancak bana mah Pak,  tajalin hubungan silahturahmi kito mah kan jadi bisa bakatawan ambo jo keluarga Apak, apak dima Padang Panjangnyo</p>
<p>Apak : Ndak paralu waang tahu dima rumah den di Padang Panjang,  beko ikuik lo waang karumah den, waden punyo anak gadih rancak dirumah suko lo waang beko ka anak gadih waden.</p>
<p>Monen : Apo juo salah nyo Pak, nan waden kan masih bujang alun babini lai, kok  lah co itu jalannyo  ambo suko jo anak gadih apak tu  baa juo lai, lah jodoh ambo mah diagiah dek nan kuaso ambo bisa batamu jo anak gadih apak tu.</p>
<p>Apak : Kok waang sajo nan suko jo anak gadih den ndak baa do, jampang kok tagilo lo anak gadih den nan rancak tu ka Waang yo agak  tabedo waden mah salaku urang gaek</p>
<p>Monen : Bato Pak kareh bana mah….</p>
<p>Apak  : Oiii Yuang kok yo suko anak gadih den ka waang…nan waden yo indak satuju do</p>
<p>Monen : Apo nan mabuek Apak ndak satuju </p>
<p>Apak : Dek….. Waang indak BA ARLOJI..!!!</p>
<p>Monen : Hahhh !!!!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adat Duduk Tahun : Dayak Tayap Hulu - Ketapang Kalbar]]></title>
<link>http://pendakigunung.wordpress.com/2009/06/03/adat-duduk-tahun-dayak-tayap-hulu-ketapang-kalbar/</link>
<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 07:40:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Stanislaus Riyanta</dc:creator>
<guid>http://pendakigunung.wordpress.com/2009/06/03/adat-duduk-tahun-dayak-tayap-hulu-ketapang-kalbar/</guid>
<description><![CDATA[Setelah dari mengunjungi masyarakat adat dayak pebantan atau dayak pangkalan suka, tanggal 3 Juni 20]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Setelah dari mengunjungi masyarakat adat dayak pebantan atau dayak pangkalan suka, tanggal 3 Juni 20]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adat Berayah : Dayak Pebantan - Ketapang Kalbar ]]></title>
<link>http://pendakigunung.wordpress.com/2009/06/03/dayak-pebantan-ketapang-kalbar/</link>
<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 06:42:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Stanislaus Riyanta</dc:creator>
<guid>http://pendakigunung.wordpress.com/2009/06/03/dayak-pebantan-ketapang-kalbar/</guid>
<description><![CDATA[Dayak Pebantan atau Dayak Pangkalan Suka adalah sebuah suku yang berada di desa Pangkalan Suka Kecam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dayak Pebantan atau Dayak Pangkalan Suka adalah sebuah suku yang berada di desa Pangkalan Suka Kecam]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pepaccokh/Paccokh]]></title>
<link>http://hairulef.wordpress.com/2009/05/28/pepaccokhpaccokh/</link>
<pubDate>Thu, 28 May 2009 07:47:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>hairulef</dc:creator>
<guid>http://hairulef.wordpress.com/2009/05/28/pepaccokhpaccokh/</guid>
<description><![CDATA[Pepaccokh/paccokh yang menurut wikipedia adalah puisi tradisi Lampung yang berisi nasihat atau pesan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><em>Pepaccokh/paccokh</em> yang menurut <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Lampung#Pepaccur.2Fpepaccogh.2Fwawancan">wikipedia</a> adalah puisi tradisi Lampung yang berisi nasihat atau pesan-pesan setelah pemberian adok (gelar adat) kepada bujang-gadis sebagai penghormatan/tanda telah berumah tangga dalam pesta pernikahan. Pemberian adok (gelar adat) dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah butetah atau istilah lainnnya, ngamai dan nginai adek, ngamai ghik ngini adok, dan kabaghan adok atau nguwaghko adok.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu juga dalam pesta adat <a href="http://hairulef.wordpress.com/2009/05/20/party-my-brother-part-2/">perkawinan adikku</a>. Salah satu acara adat yang dilakukan adalah pemberian gelar (adok) kepada kedua mempelai. Kali ini mempelai pria diberi gelar <em>Raja Sempurna</em>, sedangkan mempelai wanita diberi gelar <em>Raja Himpunan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Paccokh biasanya diberikan oleh tuan rumah dan saudara/family dekat. Berikut paccokh yang berasal dari tuan rumah/batangan.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="text-decoration:underline;">Siji pungini pungadok dianak mantu ni Ratu Marga Alm, tuju di inggoman ni Hamzah. Ya ini ya adok ni : Raja Himpunan</span></strong></p>
<p></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Raja himpunan / Ya adok ya kak ini / Nyanang di pulaminan / Ijin ulangan paksi</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Besyukur jama tuhan / Tuah najal di jakhi / Siji ampai kenahan / Bekal gantungan Mami</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bagian kham mak khawan / Anak lungkung ku lawi / Niku kukhuk jenganan / Papi mak tengan lagi</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ya kak munsa panggilan / Anjak sai Maha Suci / Sanak pak lom pangkuan / Telu khagah sai muli</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Siji kejuk wawasan / Tulung simak khik kaji / Dewasa kon pikekhan / Mak nyadang kham pungaji</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kiyai Hairul di huluan / Niku megung kemudi / Andan kuti pepenan / Titah Hana ngamuli</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dang ngedok pupilihan / Jama adik mu Hadi / Ya niku sai tutugan / Dang mak pandai mengaji</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kemaman khik keminan / Ti babang bakal budi / Tutuk hampang injak-an / Dang khedok ngabekam jari</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Khadu cukup sekian / Maaf kimbang peduli / Lebih kukhang karangan / Sai nyusun ni pungaji.</em></p>
<p style="text-align:justify;">==o==</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="text-decoration:underline;">Siji adok ni Hamzah : Raja Sempurna</span></strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Raja sempurna / Bukhak nampak di kedak / Tekhang di semekhega / Anjak doh anjak dakhak</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Jak khani kebiansa / Adok mu kak ti cacak / Pik kon masa remaja / Sanak disebut Bapak</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Niku kak jadi KK / Pedoman adik kakak / Pekhelu jadi sekena / Diwai kipak di dakhak</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Cuntu bidang usaha / Wajib bah langik handak / Awas-awas ti kena / Ngusung hamaan pudak</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Utama kon hulun tuha / Ganta tinggal sepihak / Anda kuti jejama / Semakkung hayat ni lihak</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Puwakhi khik wakhi khena / Mak nyadang lamon jamak / Dakkon laku sekakha / Halok way tungga minyak</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ku tutup pai antak ja / Kantu tawai ti kesak / Nawai Kiyayi Du&#8217;a / Leluba lamon ucak.</em></p>
<p style="text-align:justify;">==oo==</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rudat]]></title>
<link>http://hairulef.wordpress.com/2009/05/25/rudat/</link>
<pubDate>Mon, 25 May 2009 09:52:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>hairulef</dc:creator>
<guid>http://hairulef.wordpress.com/2009/05/25/rudat/</guid>
<description><![CDATA[Rudat&#8230;. Suatu tarian seni kebudayaan islam yang saya sendiri tidak tahu dari mana asalnya. Ada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Rudat&#8230;. Suatu tarian seni kebudayaan islam yang saya sendiri tidak tahu dari mana asalnya. Ada beberapa artikel daerah yang membahas soal Rudat  ini diantaranya : <a href="http://bowocribo.blogspot.com/2008/06/tari-rudat.html" target="_blank">Kuningan1</a>, <a href="http://identitasbangsa.wordpress.com/2009/02/05/seni-rudat-andalan-desa-timbang/" target="_blank">Kuningan2</a>, <a href="http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=1191" target="_blank">Banten</a>, <a href="http://melayuonline.com/article/?a=SGtSL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D=&#38;l=tari-rudat-jejak-masuknya-islam-di-lombok-timur" target="_blank">Lombok</a>. Sedangkan saya sendiri mengetahui Tarian Rudat dari kampung halaman saya di Lampung, dan kebetulan saya sendiri pernah menjadi salah satu penarinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rudat merupakan perpaduan Seni Tari dan Seni Suara. Tarian Rudat biasanya disajikan dalam acara khitanan. Para penari yang semuanya laki-laki menggunakan seragam dan sapu tangan. Sambil menari, mereka melantunkan syair-syair menggunakan bahasa Arab, diiringi oleh tabuhan Rebana, yang disesuiakan dengan syairnya. Biasanya selain Rudat, dalam suatu rombongan arak-arakan pengantin sunat, ada juga yang menyuguhkan Pencak Silat.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu desa, memiliki seseorang yang dipercaya sebagai ketua Rudat. Didesa kami, tarian Rudat biasanya dibawakan oleh anak-anak usia belasan. Sedangkan dibeberapa desa lain, dibawakan oleh pria dewasa. Dibeberapa desa di Lampung, tarian Rudat ini masih sering dan bisa kita nikmati bila ada acara Khitanan, dan harapan saya tarian Rudat ini tetap dipertahankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut sedikit syair-sayir yang dinyanyikan pada tarian Rudat.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah hu Allah&#8230; Allah hu Allah.. hu Allah..</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allah hu yaa hu&#8230;..</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Man un sil alaihi yahu&#8230; man un sil alaihi&#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Toha wayaa sin wa un sop&#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dst&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;">Maaf saya kurang hapal syairnya&#8230; saya akan terus coba cari tahu&#8230; dan mungkin ada para pembaca yang hapal syair Rudat versi Lampung&#8230;??</p>
<p style="text-align:justify;">Salam kemuakhian&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ini video Rudat yang berhasil saya upload ke YouTube.Com</p>
<p style="text-align:justify;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/otse2QEdZwE&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/otse2QEdZwE&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA['Urf]]></title>
<link>http://starawaji.wordpress.com/2009/05/17/urf/</link>
<pubDate>Sat, 16 May 2009 21:24:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>starawaji</dc:creator>
<guid>http://starawaji.wordpress.com/2009/05/17/urf/</guid>
<description><![CDATA[&#8216;Urf adalah sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan dikalangan mere]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8216;Urf adalah sesuatu yang telah dikenal oleh masyarakat dan merupakan kebiasaan dikalangan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. &#8216;Urf dapat dipandang sama dengan adat istiadat atau nilai-nilai tradisi yang berkembang dalam masyarakat, dan dapat digunakan sebagai pijakan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan pendidikan, asalkan adat istiadat tersebut tidak bertentangan dengan ketetapan Al-quran dan sunah serta tidak bertentangan dengan akal sehat atau dapat memunculkan mudharat bagi manusia secara umum.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tradisi Melempar Bayi di India]]></title>
<link>http://lelosusilo.wordpress.com/2009/05/13/tradisi-melempar-bayi-di-india/</link>
<pubDate>Wed, 13 May 2009 05:03:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>lelosusilo</dc:creator>
<guid>http://lelosusilo.wordpress.com/2009/05/13/tradisi-melempar-bayi-di-india/</guid>
<description><![CDATA[Pada setiap tahun di Solapur, Punjab, India, para orang tua berkumpul untuk menjatuhkan bayi mereka ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/vzorIBtk5EM&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/vzorIBtk5EM&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada setiap tahun di Solapur, Punjab, India, para orang tua berkumpul untuk menjatuhkan bayi mereka di atas menara setinggi 50 kaki. Bayi yang dilempar kemudian ditangkap menggunakan lembaran yang sudah disediakan dan dipegang oleh warga di lapangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Para orang tua ini  percaya bahwa dengan melakukan hal tersebut akan memberikan anak-anak mereka panjang umur dan hidup sehat. Tradisi ini dilakukan kebanyakan oleh umat Islam tetapi beberapa keluarga Hindu juga terlibat di dalamnya. Orang tua yang ikut biasanya orang-orang yang hamil setelah berdoa. Pihak yang berwenang memberikan jaminan untuk aktivitas ini walaupun sebenarnya pemerintah nasional tidak menganjurkan hal tersebut.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sungai dan Kehidupan Suku Asmat]]></title>
<link>http://chipmunkjumpink.wordpress.com/2009/05/01/sungai-dan-kehidupan-suku-asmat/</link>
<pubDate>Fri, 01 May 2009 11:52:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>puio</dc:creator>
<guid>http://chipmunkjumpink.wordpress.com/2009/05/01/sungai-dan-kehidupan-suku-asmat/</guid>
<description><![CDATA[Agats, Rawa dan sungai adalah kehidupan pesisir di Papua. Sungai yang bermuara ke Laut Arafura ibara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span class="content"><strong><img class="alignright size-full wp-image-119" title="suku-asmat-papua" src="http://chipmunkjumpink.wordpress.com/files/2009/05/suku-asmat-papua.jpg" alt="suku-asmat-papua" width="210" height="145" />Agats</strong>, Rawa dan sungai adalah kehidupan pesisir di Papua. Sungai yang bermuara ke Laut Arafura ibarat darah bagi penduduk di pedalaman, salah satunya Suku Asmat yang tinggal di Kampung Syuru, Distrik Agats, Kabupaten Asmat. Mereka sangat tergantung dengan Sungai Asewetsj.</span></p>
<p>Sungai Asewetsj adalah kehidupan bagi mereka. Saban hari, laki-laki dan perempuan dengan perkasa tegap berdiri di atas perahu lesung mengayunkan dayung, menyisir sungai untuk menangkap ikan. Ada pula yang memanfaatkan air pasang untuk pergi ke bivak (semacam kebun di dekat hutan sagu), atau mencari air di dusun tengah hutan.</p>
<p>Kehidupan di Kampung Syuru memang tampak keras. Tapi mereka hidup sederhana, tak serakah dan bersahabat dengan alam. Salah satu tetua adat Syuru, Felix Owom, meyakini Syuru sebagai dusun tertua atau tempat asal-muasal orang Asmat. Dari sana kemudian orang Asmat menyebar ke berbagai daerah.</p>
<p>Banyak cerita, salah satunya, konon, Fumeripits yang dikenal sebagai manusia pertama terdampar di Syuru ketika perahunya terbalik disapu badai. Fumeripits yang tampan lalu dihidupkan oleh burung elang. Lama-kelamaan Fumeripits kesepian tanpa teman. Dia kemudian membuat patung dari kayu pohon berwujud perempuan dan sebuah tifa.</p>
<p>Sambil menari, tifa dipukul kencang-kencang. Tiba-tiba patung perempuan itu ikut menari. Juga patung-patung lain yang dibuatnya. Barangkali itu sebabnya sebagian orang meyakini konon Asmat berasal dari sebutan asmat-ow yang berarti &#8220;kami manusia sejati&#8221; atau as-asmat, yakni &#8220;kami manusia pohon&#8221;.</p>
<p>Falsafah manusia sejati kemudian mereka wujudkan dalam kehidupan yang dekat serta menghargai alam. Mereka tak macam-macam. Saat musim kering berkepanjangan, setiap keluarga di sana hanya sibuk membuat perahu dari kayu Ci. Pembuatan perahu rata-rata membutuhkan waktu lebih dari sebulan dan setiap keluarga bisa membuat lebih dari dua perahu.</p>
<p>Selain sederhana, mereka pun sangat menghargai kebudayaan yang sudah turun temurun. Salah satunya adalah ritual menyambut panglima besar Suku Asmat yang juga Bupati Kabupaten Asmat. Upacara penyambutan biasanya dilakukan di tengah sungai.</p>
<p>Kala itu, mereka mendapat kabar sang panglima sudah sampai di Kampung Ewer, tetangga kampung terdekat dengan Kampung Syuru. Mereka pun segera menaiki sampan untuk menyambutnya di tengah Sungai Aswet yang melintasi Kampung Ewer.</p>
<p>Suku Asmat memang terpisah menjadi tujuh distrik dengan jumlah populasi sekitar 80 ribu jiwa. Setiap distrik dipisahkan oleh rawa dan sungai. Namun mereka biasa berkumpul dalam sebuah rumah besar sebelum acara penyambutan. Bentuk fisik arsitektur Suku Asmat digolongkan dalam dua tipe, yaitu Jew (rumah bujang) dan Tsjewi (rumah tempat tinggal keluarga batih). Jew memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Asmat.</p>
<p>Mereka berdandan layaknya prajurit yang siap melindungi keselamatan suku mereka. Mereka akan bergegas menuju perahu kala mendengar sang pemimpin sudah tiba. Sambil menyusuri Sungai Aswet, mereka berteriak ke penjuru desa sambil membentuk formasi perahu lesung yang masing-masing bisa berbobot empat kuintal dengan panjang hingga dua meter. Formasi adalah bentuk tarian perang yang kini menjadi ritual penting dalam menyambut tamu.</p>
<p>Selain budaya, penduduk Kampung Syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti Suku Asmat umumnya. Ukiran bagi Suku Asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. Di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran Suku Asmat.</p>
<p>Patung dan ukiran umumnya mereka buat tanpa sketsa. Bagi Suku Asmat kala mengukir patung adalah saat di mana mereka berkomunikasi dengan leluhur yang ada di alam lain. Itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia: Asmat ow Capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow Capinmi (alam persinggahan roh yang sudah meninggal), dan Safar (surga).</p>
<p>Mereka percaya sebelum memasuki dunia surga, arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. Gangguan bisa berupa penyakit, bencana bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta Patung Bis (Bispokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat sagu.</p>
<p>Konon patung Bis adalah bentuk patung yang paling sakral. Namun kini membuat patung bagi Suku Asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi. Sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat Pesta Ukiran. Mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah di luar Papua.</p>
<p>Namun penghargaan terhadap leluhur tidak hanya dalam bentuk u<span class="content">ki</span><span class="content">ran patung. Suku Asmat juga mempersembahkan tarian yang mereka</span><span class="content"> sebut jew bu atsj. Tarian menceritakan asal usul nenek moyang mereka. Se</span><span class="content">lain itu, mereka juga sering menarikan tari pirang, tari bakar batu dan ta</span><span class="content">ri jos panpacar dengan iringan alat musik tradisional yang disebut tifa.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Prosesi Pernikahan Adat Sunda]]></title>
<link>http://chipmunkjumpink.wordpress.com/2009/05/01/prosesi-pernikahan-adat-sunda/</link>
<pubDate>Fri, 01 May 2009 11:48:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>puio</dc:creator>
<guid>http://chipmunkjumpink.wordpress.com/2009/05/01/prosesi-pernikahan-adat-sunda/</guid>
<description><![CDATA[Upacara adat perkawinan Sunda merupakan tambahan dari acara pokoknya, yaitu ijab dan qobul sebagaima]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-83" title="2-161" src="http://chipmunkjumpink.wordpress.com/files/2009/05/2-161.jpg?w=240" alt="2-161" width="240" height="300" />Upacara adat perkawinan Sunda merupakan tambahan dari acara pokoknya, yaitu ijab dan qobul sebagaimana</p>
<p>yang telah disyariatkan oleh Agama Islam. Tambahan acara ini seringkali menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh yang hadir karena mengandung hal-hal yang bersifat humoris dan ada sesuatu yang dibagikan kepada hadirin. Namun demikian, acara adat tersebut tidaklah ada kaitannya dengan acara pokok akad nikah. Hal demikian itu, hanya sekedar hiburan sebagaimana halnya penyajian lagu-lagu, kasidahan atau orkes dangdut.<br />
Bagian-bagian acara adat yang biasa dilaksanakan meliputi; nincak endog (menginjak telur) yang maksudnya adalah bahwa si mempelai penganten itu akan memulai malam pertamanya dengan indah. Ketika melaksanakan malam pertama itu, si penganten harus benar-benar hati-hati dan tidak “grasa-grusu”, sehingga nantinya menghasilkan yang baik. Nincak elekan (menginjak semacam bamboo yang biasa dibuat suling) maksudnya hamper sama. Hanya saja ini disimbolkan kepada “wanita”, sedangkan telor, lebih disimbolkan kepada laki-laki.<br />
Selanjutnya, Meuleum Harupat (membakar segenggam yang berisi tujuh buah potongan lidi), maksudnya adalah membuang atau membakar sifat-sifat jelek yang ada pada diri manusia, seperti : iri, dengki, mudah tersinggung, pemarah, kikir, tamak dan sombong. Kemudian, Meupeuskeun kendi (memecahkan kendi), yang maknanya sama dengan akan melepasnya masa bujang dan gadis pada malam pertama.<br />
Sedangkan, Ngaleupaskeun Japati (melepaskan burung dara) dan Melempar kanjutkunang (melempar tas kecil terbuat dari kain) kepada yang hadir, adapt ini melambangkan/symbol, bahwa kedua orang tua melepas penganten yang terakhir di keluarganya. Jadi yang terdapat dikeluarhganya dihabiskan atau dibagikan sebagai ungkapan rasa kebahagiaan atau pula sebagai tanda bahwa orang tua tersebut mengawinkan anaknya yang terakhir.<br />
Setelah itu acara sawer, yaitu melemparkan barang-barang seperti, beras kuning, permen, dan uang recehan seraya dibarengi lagu-lagu yang berisi pepatah bagi pengantin. Beras kuning, permen dan uang recehan adalah symbol keduniaan yang harus dicari oleh khususnya pihak laki-laki dan dipelihara oleh pihak wanita (isteri).<br />
Setelah sawer kemudian dilakukan acara buka panto (buka pintu) yang dimaksudkan pembelajaran kepada pengantin dalam hal tata krama di rumah antara suami dan isteri.<br />
Akhir dari acara adat pengantin sunda adalah acara “huap lingkung” yang berisi saling menyuapi dengan air minum, nasi kuning dan pabetot-betot bakakak (saling menarik ayam panggang) bagi yang dapat bagian terbesar dari ayam tersebut adalah pertanda akan mendapat rezeki yang banyak (jikalau diusahakan dengan baik). Pada acara huap lingkung inipun, dilakukan huap deudeuh dan huap geugeut yang artinya saling memberi sebagai tanda kasih sayang.</p>
<p>Sehari sebelum acara perkawinan dimulai, dilakukan terlebih dahulu acara siraman terhadap kedua calon mempelai (secara terpisah) oleh kedua orang tua calon mempelai. Acara ini meliputi kegiatan; mandi kembang, berjalan diatas tujuh helai kain samping dan pengajian sebagai ugkapan permohonan keselamatan. Acara siraman ini dimaksudkan sebagai tanda kasih sayang orang tua yang terakhir khususnya dalam memandikannya karena setelah berkeluarga diserahkan kepada masing-masing. Acara sebelum hari pokok ini hampir sama untuk setiap daerahnya, baik acara Penganten jawa atau bahkan Sumatera.<br />
Mengenai Lamanya acara adat ini, biasanya sekitar dua jam dan dipandu oleh juru rias serta MC yang mengambil tempat biasanya di depan rumah (halaman depan) atau diselenggarakan secara khusus di gedung tempat resepsi dengan harapan dapat disaksikan oleh para tamu undangan.<br />
Tidak semua acara perkawinan diikuti acara adat. Mungkin bagi mereka yang ingin simple-simpel saja pasti tidak dilakukan, tapi bagi mereka keluarga yang masih memegang kuat adapt walaupun anak-anaknya tidak saja, apa boleh buat harus diikuti. Sekali lagi diingatkan, bahwa acara adat itu sekedar tambahan yang bersifat hiburan dan tidak mengandung makna ibadah langsung. Sekedar meramaikan. Dikerjakan boleh, tidakpun tidak apa-apa.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Tradisi dan Akhlak Islami]]></title>
<link>http://muwahiid.wordpress.com/2009/04/24/antara-tradisi-dan-akhlak-islami/</link>
<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 01:51:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>muwahiid</dc:creator>
<guid>http://muwahiid.wordpress.com/2009/04/24/antara-tradisi-dan-akhlak-islami/</guid>
<description><![CDATA[Antara Tradisi dan Akhlak Islami Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc Seiring dengan jau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Antara Tradisi dan Akhlak Islami Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc Seiring dengan jau]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peningkatan Pengamalan Agama dan Adat  dalam Kehidupan Bermasyarakat  di Kabupaten Agam, untuk penetapan arah kebijakan ke  dalam  lima perioritas pembangunan Kabupaten Agam, 2009 - 2010   ]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/13/peningkatan-pengamalan-agama-dan-adat-dalam-kehidupan-bermasyarakat-di-kabupaten-agam-untuk-penetapan-arah-kebijakan-ke-dalam-lima-perioritas-pembangunan-kabupaten-agam-2009-2010/</link>
<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 09:57:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/13/peningkatan-pengamalan-agama-dan-adat-dalam-kehidupan-bermasyarakat-di-kabupaten-agam-untuk-penetapan-arah-kebijakan-ke-dalam-lima-perioritas-pembangunan-kabupaten-agam-2009-2010/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin Disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Oleh : Buya H. Mas’oed Abidin</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:Agate-Normal;" lang="FR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">Disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Agam tahun 2009 di Lubuk Basung, 24 – 25 Maret 2009,<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">merajut masukan utama bagi pemutakhiran rancangan RKPD dan Renja-SKPD, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">untuk penetapan arah kebijakan ke <span> </span>dalam </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">lima perioritas pembangunan Kabupaten Agam,<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">a. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan bersih,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">b. Mewujudkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan berkelanjutan </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">yang berwawasan lingkungan,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">c. Percepatan pembangunan perkotaan,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">d. Peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berwasan masyarakat madani,</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">e. Mewujudkan masyarakat yang mengamalkan norma agama dan adat ….. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">dan plafond/pagu dana berdasarkan fungsi / SKPD.</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-size:9pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;color:#632423;" lang="FR"><img class="alignleft size-medium wp-image-416" title="pas-photo-buya" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/04/pas-photo-buya.jpg?w=244" alt="pas-photo-buya" width="244" height="300" />Pendahuluan</span></strong></p>
<p class="AyatBuku" style="margin-top:12pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku" style="line-height:115%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa (orang) memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8221;</span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">.</span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> </span><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;font-style:normal;" lang="FR">(Q.S. Al Hasyr : 18)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Kita mulai bahasan dalam upaya mewujudkan idea menjadi realita di dalam membangun pemerintahan dan daerah Kabupaten Agam berbasis masyarakat <strong>madani</strong> yang <strong>mandiri</strong> dan <strong>berprestasi</strong>, untuk <strong>merajut hari esok</strong> <strong>Kabupaten Agam yang lebih baik</strong>, dalam <em>jangka pendek untuk tahun 2010</em>, dan berkelanjutan ke masa-masa berikutnya.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Perlu disadari bahwa membangun hari esok itu, mestilah lebih baik dari hari kemarin. Artinya ada kewajiban moral dan program bahwa <strong>geliat pembangunan</strong> di tahun 2010, mesti lebih baik dari tahun 2009 yang sedang kita tempuh atau segera akan ditinggalkan.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Kewajiban moral ini terkait erat dengan perintah agama. Mempersiapkan masa depan yang lebih baik, seperti sinyal Al Qur’an Surat Al-Hasyar ayat 18 ini mengisyaratkan bahwa <strong>landasan berfikir</strong>, serta <strong>tempat bertolak</strong> (<em>starting point</em>) dari setiap gerak dan pentahapan pembangunan untuk mempersiapkan hari esok <strong>haruslah diisi dengan taqwa</strong>. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Ini bermakna, bahwa Kabupaten Agam salah satu keping dari bingkahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang masih kukuh dengan fondasi landasan UUD 45, yang meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan keadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat di Indonesia, sebagai filosofi hidup bernegara dan berbangsa, yang memberi warna pada setiap kebijakan pembangunan di segala bidang, dan di Kabupaten Agam telah diterjemahkan dalam satu visi <em>Agam Mandiri dan Berprestasi yang Madani</em>. Konsekwensinya adalah tetap menjaga secara utuh landasan berfikir serta tempat bertolak « <strong>beriman kepada Allah</strong> ». </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Dengan demikian Pemerintah daerah dengan seluruh stake holder serta seluruh masyarakat di Kabupaten Agam mesti mempunyai <em>langkah antisipatif</em> terhadap kemungkinan apa yang terjadi esok, dengan kemampuan memprediksi, merancang, mempersiapkan dan meraih hari esok Kabupaten Agam yang <strong><span style="text-decoration:underline;">lebih</span></strong> <strong>baik</strong>, <strong>dinamis</strong>, <strong>mapan</strong>, <strong>produktif, berprestasi</strong> dari hari ini. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Singkatnya mesti ada perbedaan dan peningkatan prestasi dari hari ke hari, dari tahun ke tahun yang terukur, sebagai konsekwensi dari keberlanjutan (sustainability) itu. Hari esok dapat berarti masa depan dalam kehidupan ini, di sini dan sekarang (here and now). Hari esok juga berarti yang hakiki yaitu akhirat. Tidak dapat tidak, wajib ada kemestian perencanaan, gerak dan perilaku pada seluruh sisi dan bidang yang mengarah kepada «<strong>Hari esok harus lebih baik dari hari ini.</strong>»</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Di dalam upaya <strong><em>peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berwawasan masyarakat madani</em></strong> di Kabupaten Agam, mestinya tumbuh <strong>sadar diri</strong> bahwa ada ikatan perjanjian dengan Allah SWT atau <strong><em>Mu’ahadah</em></strong> sebagai satu sikap pengakuan terhadap kekuasan Allah SWT (<em>tauhidic weltanschaung</em>).<em> Mu’ahadah</em> secara konkrit telah diikrarkan kepada Allah, yang terefleksi minimal 17 kali sehari dan semalam sebagai termaktub di dalam surat Al Fatihah ayat 5 yang berbunyi: “<strong><em>Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in</em></strong><em>”.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[1]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></span></a> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;font-variant:small-caps;color:#632423;" lang="SV">Masyarakat Madani Beradat Dan Beradab</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Kegiatan hidup masyarakat dipengaruhi oleh berbagai lingkungan tatanan (<em>”system”</em>) pada berbagai tataran (”<em>structural levels</em>”). Yang paling mendasar adalah tatanan nilai dan norma dasar sosial budaya berupa <strong>Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup</strong> (<em>PDPH</em>), yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat berupa sikap umum dan perilaku serta tata-cara pergaulan<span> </span>masyarakat.<span> </span>PDPH ini merupakan landasan pembentukan pranata sosial budaya yang melahirkan berbagai<span> </span>lembaga formal maupun informal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Pranata sosial budaya (”<em>social and cultural institution</em>”) adalah batasan-batasan perilaku manusia atas dasar kesepakatan bersama yang menjadi ”<strong>kesadaran kolektif</strong>” di dalam pergaulan masyarakat berupa seperangkat aturan main dalam menata kehidupan bersama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">PDPH merupakan pedoman serta petunjuk perilaku bagi setiap dan masing-masing anggota masyarakat di dalam kehidupan sendiri-sendiri<span> </span>maupun bersama-sama. PDPH memberikan <strong>ruang</strong> (dan sekaligus <strong>batasan-batasan</strong>) yang merupakan <strong>ladang</strong> bagi <strong>p</strong></span><strong><span style="font-family:&#34;">engembangan kreatif potensi manusiawi</span></strong><span style="font-family:&#34;"> dalam menghasilkan buah karya sosial, budaya dan ekonomi serta karya-karya pemikiran intelektual yang merupakan mesin perkembangan dan pertumbuhan masyarakat di segala bidang kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">PDPH masyarakat di Kabupaten Agam yang sejak dahulu telah melahirkan angkatan-angkatan “<strong>generasi emas</strong>” adalah “<em>Adat Basandi Syarak</em>, <em>Syarak Basandi Kitabullah</em>”(ABS-SBK).<span> </span>ABS-SBK adalah PDPH yang menata seluruh kehidupan masyarakat Minangkabau<span> </span>dalam arti kata dan kenyataan yang sesungguhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Dalam menghadapi berbagai tantangan perubahan, generasi Minangkabau dengan filosofi <em>adat basandi syarak syarak basandi Kitabullah</em> mampu berpegang pada sikap <em>istiqamah</em> (konsistensi). Fatwa adat menyebutkan, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“A<em>lang tukang tabuang kayu, </em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Alang cadiak binaso adat, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Alang alim rusak agamo, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Alang sapaham kacau nagari. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dek ribuik kuncang ilalang, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Katayo panjalin lantai, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Hiduik jan mangapalang, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Kok tak kayo barani pakai. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Baburu kapadang data, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dapeklah ruso balang kaki, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Baguru kapalang aja, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Bak bungo kambang tak jadi”. </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Kalangan terdidik (<em>el-fataa</em>) di Minangkabau khususnya selalu hidup dalam bimbingan agama Islam. Dengan bimbingan agama dalam kehidupan, maka ukhuwah persaudaraan (<em>ruh al ukhuwwah</em>) terjalin baik. Kekerabatan yang erat menjadi benteng kuat dalam menghadapi berbagai tantangan. Kekerabatan tidak akan wujud dengan meniadakan hak-hak individu orang banyak.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Tamak dan loba akan mempertajam permusuhan. Bakhil akan meruntuhkan persaudaraan dan perpaduan. Setiap Muslim wajib mengagungkan Allah dan menghargai nikmatNya yang menjadi sumber dari rezeki, kekuatan, kedamaian dan membimbing manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;text-indent:0;line-height:normal;margin:0 6.05pt 6pt 0;" align="right"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;color:black;" dir="rtl"><span> </span></span></strong><strong><span style="font-size:20pt;font-family:&#34;color:black;" dir="rtl" lang="AR-SA">اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ<span> </span>وَالَّذِينَ كَفَرُوا<span> </span>أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ<span> </span>يُخْرِجُونَهُمْ<span> </span>مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-indent:0;line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span> </span>Allah adalah pelindung bagi orang-orang yang beriman yang mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada nur(hidayah-Nya). Dan orang-orang kafir itu pelindung-pelindung mereka ialah taghut ( sandaran kekuatan selain Allah) yang mengeluarkan mereka daripada nur (hidayah Allah) kepada berbagai kegelapan.</span></em></strong><span style="font-family:&#34;color:black;"> <a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;">Tata</span><span style="font-family:&#34;" lang="SV">nan nilai dan norma dasar sosial budaya (</span><em><span style="font-family:&#34;">Meta-environment</span></em><span style="font-family:&#34;">)<span> yang dibentuk </span>ABS-SBK sebagai PDPH <span>membentuk lembaga pemerintahan ”</span><em>tigo tungku sajarangan</em><span>” yang menata kebijakan “</span><em>macro-level” (</em><span>dalam hal ini “</span><em>adat nan sabana adat, adat istiadat, dan adat nan taradat) </em><span>bagi pengaturan kegiatan kehidupan masyarakat untuk kemaslahatan “</span><em>anak nagari</em><span>”, begitu pula di dapati di Kabupaten Agam. Dengan demikian setiap dan masing-masing anggota pelaku kegiatan<span> </span>sosial, budaya dan ekonomi<span> </span>pada tingkat sektoral (</span><em>meso-level</em><span>) maupun tingkat perorangan (</span><em>micro-level</em><span>) dapat mengembangkan seluruh potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Kabupaten Agam yang unggul dan tercerahkan.<span> </span>Maka dapat dinyatakan bahwa Masyarakat Kabupaten Agam harus tampil menjadi salah satu contoh dari Masyarakat Madani Yang Beradat dan Beradab.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:0;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;font-variant:small-caps;color:#632423;">Masyarakat Ber-Adat Beradab Dilandasi <em>Kitabullah</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Pokok pikiran ”<em>alam takambang jadi guru</em>” menunjukkan bahwa para pemikir (filsuf) Adat Minangkabau (Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, menurut versi Tambo Alam Minangkabau) meletakkan landasan<span> </span>filosofis Adat Minangkabau atas dasar pemahaman yang mendalam tentang <strong>bagaimana bekerjanya alam semesta serta dunia ini termasuk manusia dan masyarakatnya</strong>. </span><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Mereka telah menjadikan alam semesta menjadi ”ayat dari <em>Nan Bana</em>” atau ayat kauniyah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Secara jujur, kita harus mengakui bahwa adat tidak mungkin lenyap, manakala<span> </span>orang Minangkabau memahami dan mengamalkan fatwa adatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“Kayu pulai di Koto alam, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">batangnyo sandi ba sandi, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">Jikok pandai kito di alam, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">patah tumbuah hilang baganti”.</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Secara alamiah (natuurwet) adat itu akan selalu ada dalam prinsip. Jika patah akan tumbuh (<strong>maknanya hidup dan dinamis</strong>), mengikuti perputaran masa yang tidak mengenal kosong. Setiap kekosongan akan selalu terisi, dengan dinamika akal dan kekuatan ilmu (raso jo pareso). Diperkuat sendi keyakinan, bahwa yang hilang akan berganti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Di sini kita menemui kearifan menangkap perubahan yang terjadi, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“sakali aie gadang, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">sakali tapian baralieh, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">sakali tahun baganti, </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">sakali musim bakisa”.</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Setiap perubahan tidak akan mengganti <em>sifat</em> adat. Penampilan adat di alam nyata mengikut zaman dan waktu. </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“Kalau d balun sabalun kuku, kalau dikambang saleba alam, walau sagadang biji labu, bumi jo langit ado di dalam”.</span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> <span> </span></span></strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Keistimewaan adat ada pada falsafah adat mencakup isi yang luas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Konsep </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="SV">”<span>Adaik basandi ka</span> mupakaik, mupakaik<span> </span>basandi ka alua, alua basandi ka patuik, patuik basandi ka Nan Bana, Nan Bana Badiri Sandirinyo”</span></em></strong><span style="font-family:&#34;" lang="SV"> menunjukkan bahwa sesungguhnya para filsuf dan pemikir yang merenda Adat Minangkabau telah <strong>mengakui keberadaan</strong> dan <strong>memahami </strong>”<em>Nan Bana, Nan Badiri Sandirinyo”.</em><span> Artinya, kekuasaan dan kebenaran hakiki ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. <strong>Ini dapat dimaknai sebagai landasan masyarakat bertauhid.</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Perputaran harmonis dalam </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“patah tumbuh hilang berganti”</span></em></strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR">, menjadi sempurna dalam </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">“adat di pakai baru, kain dipakai usang”.</span></em></strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="FR">Adat tidak mesti mengalah kepada yang tidak sejalan. </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:#632423;" lang="FR">Adat adalah aturan satu suku bangsa. Menjadi pagar keluhuran tata nilai yang dipusakai. Bertanggungjawab penuh menjaga diri dan masyarakat kini, jikalau tetap dipakai, dan akan mengawal generasi yang akan datang.</span></em></strong><span style="font-family:&#34;" lang="FR"> <span> </span></span><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Adat Minangkabau dibangun di<span> </span>atas ”Peta Realitas” yang dikonstruksikan secara kebahasaan (”<em>linguistic construction of realities</em>”)<span> </span>yang direkam terutama lewat bahasa lisan berupa pepatah, petatah petitih, mamang, bidal, pantun yang secara keseluruhan dikenal juga sebagai <strong>Kato Pusako</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Lewat berbagai upacara Adat serta kehidupan masyarakat<span> </span>se-hari-hari, Kato Pusako menjadi rujukan di dalam penerapan </span><span style="font-family:&#34;">PDPH di dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dan menjadi Peta Realitas sekaligus Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan Masyarakat Minangkabau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="SV">Sesudah ABS-SBK, terjadi semacam <strong>lompatan kuantum</strong> (”<em>quantum leap</em>”) di dalam budaya Minangkabau, dengan bertumbuh-kembangnya manusia-manusia unggul dan tercerahkan yang muncul menjadi tokoh-tokoh yang berperan penting dalam sejarah kawasan ini. </span><span style="font-family:&#34;">Dengan <em>Adat Basandi Syarak Syarak</em>, dan <em>Syarak Bansandi Kitabullah </em>(ABS-SBK) maka tali hubungan antara Adat Sebagai Pedoman serta Petunjuk Jalan Kehidupan itu dibuhul-eratkan dengan Kitabullah yakni Al Qur’an. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Al Qur’an adalah Petunjuk/Pedoman Hidup Bagi Manusia Dan Penjabaran Rinci Dan Jelas Dari Petunjuk/Pedoman Serta Tolok Ukur Kebenaram. (“<em>hudal linnaasi wa bayyinatin minal huda wal furqaan</em>” Q.S 2, Al-Baqarah Ayat 184). Penerapan Al-Qur’an yang merupakan Ajaran Allah dan menurut Teladan Nabi Muhammad SAW (<em>Sunnah Rasulullah</em>) telah mentransformasikan masyarakat menjadi Pembawa Obor Peradaban. Selama tidak kurang dari tujuh abad, kebudayaan dan peradaban yang ditegakkan atas Ajaran Al Qur’an telah mendominasi Dunia Beradab. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Itu pulalah yang tampaknya terjadi dengan Masyarakat Minangkabau ketika menerapkan ABS-SBK secara “murni dan konsekwen”. Walau berada dalam lingkungan nasional dan internasional yang sulit<span> </span>penuh tantangan, yaitu zaman kolonialisme<span> </span>dan perjuangan melawan penjajahan, budaya Minangkabau yang berazaskan ABS-SBK telah terbukti mampu menciptakan lingkungan yang menghasilkan jumlah yang signifikan tokoh-tokoh yang menjadi pembawa obor peradaban di kawasan ini. <span> </span>Rentang sejarah itu membuktikan bahwa penerapan ABS-SBK telah memberikan lingkungan sosial budaya yang subur bagi seluruh anggota masyarakat dalam <span>mengembangkan segenap potensi dan kreativitasnya sehingga terciptalah manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan.</span></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="text-indent:0;line-height:115%;"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;color:#632423;" lang="FR">Peningkatan kualitas sumberdaya manusia</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Sikap <strong><em>Mu’ahadah</em></strong><em> </em><span>yang mengikrarkan </span>janji yang mengandung ketinggian dan <strong>kemantapan aqidah</strong> bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah dan dimintai pertolongan, hanya Allah SWT semata. B<span>erlanjut </span>dengan ucapan, “<em>Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya kuperuntukkan (ku-abdikan) bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam.”</em> Artinya, di dalam menetapkan prioritas pembangunan sumberdaya manusia yang berwawasan masyarakat madani di Kabupaten Agam wajib ada <strong>program pendidikan berbasis akidah</strong> (tauhidic weltanschaung) itu. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Sadar sikap berakidah mesti di iringkan oleh <strong><em>Mujahadah </em></strong><span>yang </span>berarti bersungguh-sungguh dalam melaksanakan amal karya yang baik (shaleh) sebagai bagian dari ibadah. Konsekwensi logisnya dari sadar sikap ini sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT, sekaligus menjadi <strong>amanat</strong></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" dir="rtl" lang="FR"> </span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">serta <strong>tujuan</strong> di dalam pembinaan masyarakat hingga ke <strong>akar bawah di nagari-nagari</strong>. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Dengan mengedepankan nilai-nilai ibadah, masyarakat di Kabupaten Agam didorong secara sadar untuk merasakan dirinya sebagai ‘<em>abdun</em> (hamba) yang senantiasa memiliki kewajiban untuk <strong>berbakti, bekerja sama, gotong royong, melaksanakan dan menjaga hasil-hasil pembangunan, </strong>menjadi bagian dari mengabdi kepada <em>Ma’bud</em> (Allah SWT Sang Khaliq). </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Mujahadah</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> mesti digerakkan menjadi sarana menunjukkan <strong>ketaatan, kepatuhan hukum</strong> yang mesti dipunyai setiap hamba Allah sebagai perwujudan keimanan, ketaqwaan dan kesalehan beragama. Karena itu Allah SWT selalu memerintahkan kesalehan peribadi dan sosial kepada manusia untuk selalu <strong>berdedikasi</strong> dan <strong>berkarya secara optimal,</strong> seperti dijelaskan di dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat: 5, </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.”</span></em></strong></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Mujahadah dalam realisasi tampak dengan ibadah dan karya (amal) shaleh. Upaya ini terkait konsistensi pada jalan kebenaran menuju <strong><em>ridha</em></strong> Allah SWT dan <strong><em>hidayah </em>(petunjuk),</strong> <strong><em>rusyda </em><span>(kecerdasan), </span></strong>dan <strong>keistiqamahan </strong>(<em>sustainability</em>), tidak terpukau bujuk rayu nafsu dan syetan yang terus menggoda. Situasi batin terjaga selalu <strong><em>musyahadah</em></strong> (mengakui) keagungan Ilahi, sehingga tak ada kewajiban yang dilalaikan dan tidak ada larangan Allah yang dilanggar, wujud ciri utama masyarakat madani <strong><em>‘ala nafsihi wa jawarihihi</em></strong><span> (pada diri dan lingkungan)</span>.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Tidak dapat dibantah, bahwa “Barangsiapa menghias lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah.”<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Maka dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang berwawasan masyarakat madani ini, mau tidak mau harus dipahami bahwa, « <em>Jiwa mempunyai dua sifat yang sering menghalanginya dalam mencari kebaikan. Pertama, <strong>larut dalam mengikuti hawa nafsu</strong>, dan kedua <strong>ingkar terhadap ketaatan</strong>. » </em></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Karena itu, manakala jiwa telah ditunggangi oleh nafsu, maka yang dapat mengendalikannya hanyalah taqwa. Manakala jiwa bersikeras untuk tetap ingkar pada kehendak Tuhan, maka diperlukan upaya intensif mengembalikan dengan menolak keinginan hawa nafsunya. Manakala jiwa bangkit memberontak, maka untuk meredamnya hanya dengan ibadah. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Patutlah disadari, bahwa bertahan dalam lapar (puasa) dan bertanggang (bangun malam di perempat malam), adalah sesuatu yang mudah. Sedangkan membina akhlak dan membersihkan jiwa dari sesuatu yang mengotorinya sangatlah sulit. Maka program utama pendidikan di Kabupaten Agam mesti menjangkau <strong>pendidikan akhlaq</strong> dan <strong>budi pekerti</strong>.</span></em></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Keberhasilan pendidikan berbasis akhlak dan budi pekerti dan sadar jiwa dengan <strong><em>Muraqabah</em></strong></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> (merasa selalu diawasi oleh Allah SWT). Rasulullah SAW mengajarkan mengamalkan Muraqabah bahwa Allah SWT selalu menyaksikan segala yang diperbuat oleh hambanya. Artinya masyarakat selalu diarahkan kepada mawas diri (<em>Muraqabah</em>), yang dapat <strong>membentuk mental keperibadian</strong> menjadi <strong>manusia jujur</strong> dan <strong>ikhlas</strong> dalam melaksanakan segala sesuatu. Firman Allah SWT, </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang berada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan Tiada (pembicaraan antara) lima orang melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu.” </span></em></strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">(Q.S. Al Mujaadilah : 7)</span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> </span></span><a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><em></em></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:left;text-indent:0;margin:6pt -.15in .0001pt 0;" align="left"><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:Agate-Normal;color:#632423;">Mewujudkan Masyarakat mengamalkan norma agama dan adat dengan Kecerdasan Spritual</span></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:justify;text-indent:.2in;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لاَيَاتٍ لِأُولِي</span><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA"><span> </span>اْلأَلْبَاب ِ</span></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:justify;text-indent:.2in;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku" style="line-height:normal;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;" lang="FR">Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”</span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="FR"> <strong>(Q.S. Ali Imran: 190-191)</strong></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="margin-top:12pt;line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Berbagai macam perkembangan mengarah pada modernisasi bermunculan diiringi pula bercorak rintangan dan tantangan menjadi penghalang pencapaian cita-cita mulia, yakni : <em>Hasanah fiddunya wal akhirah.</em></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Setiap peribadi yang loyal terhadap komitmen tauhid bahwa « <em>Masa depan harus lebih baik dari masa ini » </em>mesti melihat berbagai rintangan dan cobaan yang menghadang sebagai ujian hidup yang menuntut kesabaran, agar semua yang ia lakukan akan bernilai ibadah di sisi Allah. Prinsip tauhid itu seringkali dibenturkan dengan kesulitan ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, kultur masyarakat yang mengalami degradasi moral, dan tantangan hidup lainnya.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Perlu ada “ <em>kecerdasan spritual ” </em><span>guna</span> menjawab problematika kehidupan yang terbentang menjadi suatu kenyataan dan keniscayaan yang harus dihadapi. Pada prinsipnya siapapun<span> </span>yang ingin meraih sukses , kata kuncinya adalah harus memiliki <em>kecerdasan spritual. </em>Menumbuh kembangkan kecerdasan spritual diperlukan formula-formula strategis, antara lain ;</span></p>
<p class="NormalBuku" style="margin-left:45pt;text-indent:-.25in;line-height:115%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Menjauhi Thaghut </span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">yang berarti menyembah selain Allah. <em>Thaghut</em><span> </span>merupakan kontra tauhid yang mesti dijauhi, karena dapat menimbulkan <em>‘split of personality’ </em>(pecah keperibadian) yang tidak akan mampu mengatasi suatu persoalan karena kehilangan asas yang akan menjadi tumpuan untuk berpijak. <em></em></span></p>
<p class="NormalBuku" style="margin-left:45pt;text-indent:-.25in;line-height:115%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Meningkatkan Pengetahuan. </span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Satu pendapat yang mesti dihilangkan di masa ini adalah <em>dikotomi</em> (pemisahan) dalam pembagian ilmu agama dan ilmu umum. <em>The second world Comfrence Muslim Education</em> sejak <span> </span>1980 merekomendasikan bahwa<span> </span>perencanaan pendidikan di dasarkan kepada dua kategori, yaitu <em>ilmu abadi</em> yang diwahyukan yang diambil dari Al Qur’an<span> </span>dan Sunnah dan ilmu yang diperoleh dari hasil karya dan pengalaman manusia. Ilmu memegang peran cukup menentukan bagi siapapun yang ingin meraih kebahagiaan. Ilmu pengetahuan merupakan potensi dan mempunyai andil yang sangat besar dalam menentukan tingkat <em>kecerdasan spritual.</em></span></p>
<p class="NormalBuku" style="margin-left:45pt;text-indent:-.25in;line-height:115%;"><!--[if !supportLists]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span>3.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></em><!--[endif]--><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Ittiba’ ahsanah. </span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Setiap peribadi madani yang berprestasi harus mengikis kebiasaan <em>taqlid</em></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> secara membabi buta. Semua masyarakat Kabupaten Agam semestinya mampu merespon seruan-seruan yang mengajak kepada kebaikan secara reflektif dan selalu pro-aktif untuk mencegah kemungkaran. Kebiasaan positif ini apabila berlaku secara benar akan menumbuh-kembangkan benih-benih <em>kecerdasan spritual. </em>Sebaliknya, kurang tanggap terhadap <em>Ittiba’ ahsanah</em> ini, akan membunuh benih-benih <em>kecerdasan spritual. </em>Dan jadilah masyarakat madani di Kabupaten Agam mangsa dari <span> </span>“<em>Syarrud Dawwah”</em><span> yakni ajakan kepada keburukan<em>. </em></span></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Agama dalam pandangan Islam adalah aturan-aturan yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia agar mereka dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Agama memberikan tuntunan yang jelas kepada manusia mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang harus dikerjakan dan mana pula yang harus ditinggalkan, mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan. Tuntunan agama memberikan arah yang benar yang harus ditempuh oleh manusia, baik urusan duniawi maupun untuk mempersiapkan diri menghadapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT di akhirat nanti.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Satu kesimpulan mewujudkan masyarakat mengamalkan norma agama dan adat istiadat di Kabupaten Agam dengan mengamati formula di atas, dapat membantu menggali<span> </span>potensi <em>kecerdasan spritual </em><span>di</span> lingkungan masyarakat Kabupaten Agam. Untuk mencapai <em>kecerdasan spritual</em>, diperlukan niat tulus, sikap istiqamah. Di samping sudah ada modal lain seperti ketersediaan <em>material, alam, </em><span>didukung <em>kecerdasan tekhnikal </em></span>untuk memecahkan serta mencari solusi problematika kehidupan. Perlu dikembangkan sikap sadar <em>Muhasabah </em>berarti introspeksi diri, baik amal ibadah <em>mahdhah</em> maupun kesalehan berkaitan kehidupan di masyarakat (interaksi sosial). </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Muhasabah</span></em><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> dilaksanakan dengan cara meningkatkan <em>ubudiyah</em> <strong>mengelola waktu </strong>dengan produktif. </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali ia berseru, “Wahai anak cucu Adam, aku ciptaan baru yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat”. </span></em></strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span>Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya. Allah SWT berkali-kali bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu, seperti <em><span> </span>Wa Al Lail </em>(demi malam)<em>, Wa An Nahr </em>(demi siang), dan lain-lain.<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan baik, waktu akan terus berlalu. Waktu tidak boleh berlalu begitu saja. Waktu adalah modal utama sebelum dapat memanfaatkan raw-materials dan capital akumulasi. Banyak sekali hadits Nabi SAW yang memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik mungkin. Namun banyak manusia yang lalai.</span></p>
<p class="AyatBuku" style="text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl" align="center"><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="AR-SA">نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا َكثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَ الفَرَاغُ</span></p>
<p class="ArtiAyatbuku" style="line-height:115%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” </span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">(H.R. bukhari melalui Ibnu Abbas r.a)</span></strong></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Masyarakat madani yang berprestasi adalah masyarakat yang pandai menjaga waktu. Memanfaatkan dan segera dapat melakukan <em>Muaqabah</em></span><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri, manakala melakukan kesalahan atau lalai yang berakibat diri berbuat dosa maka ia segera mnghapusnya dengan melaksanakan amal yang lebih utama meskipun terasa berat. Kesalahann maupun dosa adalah kesesatan. </span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Banyak program sederhana yang dapat dilaunching oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Agam sampai ke nagari-nagari, mendorong dan mengajar masyarakat menghargai waktu, dengan menggelar kursus-kursus keterampilan akan berdampak kepada <strong>peningkatan kecerdasan, peningkatan kemampuan, peningkatan sumber pendapatan</strong>, dan akhirnya berbuah kepada <strong>peningkatan keamanan</strong> dan <strong>kesejahteraan anak nagari</strong>.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="line-height:115%;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Program sederhana itu bertujuan agar anak nagari <strong>pandai mengaji </strong>(<em>murattal, qari</em>), <strong>pandai memasak</strong> (<em>kuliner</em>), <strong>pandai menjahit</strong> (<em>home industri, handy craft</em>), <strong>pandai berpidato</strong> (<em>persembahan, budaya, adat istiadat</em>), <strong>pandai bersilat</strong> (olah raga), <strong>pandai berdagang </strong>(<em>wiraswasta, entrepreneurships</em>), <strong>pandai menabung</strong> (<em>banking minded</em>) sesuai pepatah Minangkabau menyebutkan ; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:0;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Agate-Normal;font-variant:small-caps;color:#632423;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:0;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Agate-Normal;font-variant:small-caps;color:#632423;">Krisis Budaya Minangkabau Merupakan Miniatur Dari Krisis Peradaban Manusia Abad<span> </span>Mutakkhir</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Budaya Minangkabau memang mengalami krisis, karena lebih dari setengah abad terakhir ini tidak melahirkan tokoh-tokoh yang memiliki peran sentral di dalam berbagai segi kehidupan di tataran nasional apatah lagi di tataran kawasan dan tataran global. <strong>Budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Di sisi lainnya, manusia moderen sangat berbangga dengan berbagai <strong>isme</strong>-<strong>isme</strong> yang dikembangkannya serta <strong>meyakini kebenarannya</strong> di dalam memahami manusia serta mengatur kehidupan bersama di dalam masyarakat. Kapitalisme, liberalisme dan isme-isme lain telah menjadi semacam berhala yang dipuja serta diterapkan dalam kehidupan masyarakat di kebanyakan belahan Dunia. Hasil penerapan isme-isme itulah yang sekarang memicu berbagai krisis global di Alaf Ketiga ini.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Jika kita merujuk kepada <em>Kitabullah</em>, yaitu Al-Qur’an, kita akan menemukan gejala dan sebab-sebab dari Perubahan Iklim yang mendera Umat Manusia. Salah satu ayat Al-Qur’an menyatakan, “&#8230;..<em>Telah menyebar kerusakan di muka bumi akibat ulah manusia”. </em><span> </span><strong>Perilaku manusia-lah penyebab semua kerusakan itu</strong>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.9pt;line-height:normal;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:.9pt;line-height:normal;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-family:&#34;">Dan penyebab perilaku merusak manusia ialah <strong>penyembahan berhala</strong>, berupa <strong>ilmu </strong>ataupun <strong>isme-isme</strong> <strong>yang ternyata tidak memiliki hubungan satu-satu dengan kenyataan di alam semesta termasuk di dalam diri manusia dan masyarakat</strong>.<span> </span>Salah satu ayat dalam Al-Qur’an </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;text-indent:.9pt;line-height:normal;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-family:&#34;">Surat 12, Yusuf , Ayat 40,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:normal;text-align:left;">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:normal;"><span class="gen"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“<span>Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) <span>nama-nama</span> yang <span>kamu</span> dan <span>nenek moyangmu membuat-buatnya</span>. Allah tidak menurunkan suatu <span>keteranganpun</span> tentang <span>nama-nama</span> itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”</span></span></em></strong></span><span class="gen"><em><span style="font-family:&#34;"> </span></em></span><span class="gen"><span style="font-family:&#34;">(QS 12, Yusuf : 40).</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"><em><span style="font-family:&#34;"> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:31.5pt;"><span class="gen"><span style="font-family:&#34;">Keyakinan, yang tidak berdasar, akan kebenaran isme-isme itulah yang dapat digolongkan sebagai pemujaan manusia moderen. Manusia memiliki kemampuan terbatas untuk menguji kesebangunan antara apa yang ada dalam pikirannya dengan apa yang sesungguhnya ada dalam Realitas. Isme-isme itu serta keyakinan berlebihan akan keampuhan Ilmu hasil pemikiran manusia hanyalah sekadar ” nama-nama yang dibuat-buat saja” atau sama dengan <strong>khayalan manusia</strong> saja. Dan, disebutkan dalam Al-Quran bahwa jenis manusia yang demikian telah “mempertuhan diri dan hawa nafsunya” dan mereka sesat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0;line-height:normal;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“ …. dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. ” </span></em></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">(QS.28 : 50)<em></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Simpulannya, krisis global yang dihadapi manusia moderen disebabkan karena kebanyakan mereka mempercayai apa yang tidak layak diyakini berupa isme-isme karena mereka telah menuhankan diri dan nafsu mereka sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Kebanyakan manusia moderen telah menjauh dari agama langit, bahkan dari agama itu sendiri, dalam pikiran apalagi dalam perbuatan dan kegiatan mereka. Jika dikaitkan dengan kondisi dan situasi masyarakat Minangkabau di abad ke 21 ini, mungkin telah ada jarak yang cukup jauh antara <strong>ABS-SBK</strong> sebagai konsep PDPH (Pandangan Dunia dan Pandangan Hidup) dengan<span> </span>kenyataan kehidupan sehari-hari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;"><span style="font-family:&#34;">Asumsi atau dugaan ini menjadi penjelas serta alasan kenapa <span>budaya Minangkabau selama setengah abad terakhir ini gagal membentuk lingkungan sosial ekonomi yang subur bagi persemaian manusia serta masyarakat unggul dan tercerahkan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;">P<span style="color:black;">enerapan ABS-SBK mengharuskan kehidupan perorangan serta pergaulan masyarakat Minangkabau berakar dari dan berpedoman kepada Al-Quran serta Sunnah Rasullullah.<span> </span>Hanya dengan demikianlah, ABS-SBK dapat membentuk lingkungan sosial-budaya yang akan mampu menghasilkan manusia dan masyarakat Minangkabau yang unggul dan tercerahkan yang berintikan para “</span></span><em><span style="font-family:&#34;color:black;">ulul albaab” </span></em><span style="font-family:&#34;color:black;">sebagai tokoh dan pimpinan masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Manusia seperti itulah barangkali yang dimaksudkan oleh Kato Pusako </span><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;color:black;">“</span></em></strong><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">Nan Pandai Manapiak Mato Padang, Nan Indak Takuik Manantang Matoari, Nan Dapek Malawan Dunia Urang, Sarato Di<span> </span>Akhiraik Beko Masuak Sarugo“.<span> </span></span></em></strong></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&#34;"><span> </span><em>Imam as Syaukani</em> dalam kitab tafsirnya ‘Fathul Qadir’ dan <em>Syeikh Ali As Shabuni</em> dalam kitab tafsirnya ‘<em>Shafwatut Tafaasir’.</em></span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.25in;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;color:black;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;color:black;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;line-height:115%;color:black;"> Pepatah Arab menyebutkan, <span dir="rtl" lang="AR-SA">اخاك اخاك ان من لا اخا له-<span> </span>كساع الى الهيجا بغير سلاح</span><span lang="AR-SA"> </span></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:.25in;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="color:black;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;color:black;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="color:black;"> Al-Baqarah, 257</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&#34;"><span> </span>Ucapan <em>Syeikh Abu Ali Ad Daqqaq </em><span>dan juga </span>Imam Al Qusyairiy an-Naisaburi mengomentari tentang mujahadah di dalam kitab tasawufnya <strong>Risalatul Qusyairiyah</strong></span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-family:&#34;"><span> </span><strong>Syeikh Abdul Kadir </strong>memberikan nasehat di dalam kitab <em>Al Fathu Arrabbaani wa Al Faidh Ar Rahmaani, “</em><em>Berlaku jujurlah engkau dalam perkara sekecil apapun dan di manapun engkau berada. Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus engkau realisasikan dalam hidupmu. Ia akan bermanfaat bagi dirimu sendiri. Ikatlah perkataanmu, baik yang zhahir maupun yang batin, karena malaikat senantiasa mengontrolmu secara zhahir. Allah SWT yang mengontrol hal di dalam batin. Seharusnya engkau malu kepada Allah SWT dalam setiap kesempatan dan seyogyanya hukum Allah SWT menjadi pegangan dalam keseharianmu. Jangan engkau turuti hawa nafsu dan bisikan syetan, jangan sekali-kali engkau berbuat riya’ dan nifaq, karena hak itu adalah batil. Kalau engkau berbuat demikian maka engkau akan disiksa. Engkau berdusta, padahal Allah SWT mengetahui apa yang engkau rahasiakan. Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan yang terang-terangan, semuanya sama. Bertaubatlah engkau kepada-Nya dan dekatkanlah diri kepada-Nya (Bertaqarrub) dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.</em>” </span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="ParagraphBuku" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;line-height:115%;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"><span> </span><strong>Malik bin Nabi</strong> dalam bukunya <strong><em>Syuruth An Nahdhah</em></strong> menulis tentang peran waktu ini.</span></p>
<p class="ParagraphBuku" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;line-height:115%;"><span lang="FR"> </span></p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menghadapi Tantangan Budaya Global]]></title>
<link>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/13/menghadapi-tantangan-budaya-global/</link>
<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 09:07:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://blogminangkabau.wordpress.com/2009/04/13/menghadapi-tantangan-budaya-global/</guid>
<description><![CDATA[Membangun Program Strategis bersinergis Menghadapi Tantangan Budaya Global Di Abad ke Duapuluh Satu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoTitle" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:19pt;font-family:&#34;color:black;">Membangun Program Strategis bersinergis</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:19pt;font-family:&#34;color:black;">Menghadapi Tantangan Budaya Global </span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:19pt;font-family:&#34;color:black;">Di Abad ke Duapuluh Satu</span><strong><em> </em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;" lang="IN">oleh H. Mas&#8217;oed Abidin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Pendahuluan</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Zaman senantiasa mengalami perubahan Begitulah Sunatullah. Yang Kekal hanyalah Sunnatullah, aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, Maha pencipta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Memasuki <em>alaf ketiga </em>atau abad dua puluh satu, ditemui suatu kenya­taan, terjadinya lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Ditandai dengan lajunya teknologi komuni­kasi dan informasi (information technology</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><img class="alignleft size-full wp-image-412" title="buya-depan-masjid-nabawi-4" src="http://blogminangkabau.wordpress.com/files/2009/04/buya-depan-masjid-nabawi-4.jpg" alt="buya-depan-masjid-nabawi-4" width="211" height="279" /></span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Suatu gejala yang disebut‑sebut sebagai arus <strong>globalisasi</strong>, &#8220;perdagangan bebas, per­saingan yang tinggi dan tajam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Era globalisasi ak</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">an terjadi perubahan‑perubahan cepat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu penget</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">ahuan dan teknologi.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Perubahan oleh Arus globalisasi</span></strong><strong> </strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">1. Menggeser P</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">ola Hidup Masyarakat. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari agraris tradisional menjadi masyarakat industri modern. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari kehidupan</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> berasaskan kebersa­maan, kepada kehidupan individualis. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari lamban kepada serba cepat. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari berasas nilai sosial menjadi konsumeris materi­alis. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari tata kehidupan tergantung dari alam kepada kehi­dupan menguasai alam.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dari kepemimpi</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">nan formal kepada kepe­mimpinan kecakapan (profesional).</span></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;" lang="IN">2. Pertumbuhan Ekonomi. </span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Globalisasi menyangkut langsung kepentingan sosial masing‑masing negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Masing‑masing akan berjuang memelihara kepentingannya, dan cenderung tidak akan memperhatikan nasib </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">negara‑negara lain. Kecenderungan ini bisa melahirkan kembali &#8220;<strong>Social Darwinism</strong>&#8220;. </span><span style="font-family:&#34;color:black;">Dan ini kita rasakan kini dampaknya ketika dunia dilanda ambruknya sistim ekonomi kapitalis yang berbuah dengan krisis financial global.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kondisi ini mirip dengan kehidupan so</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">sial budaya masyarakat jahiliyah, antara lain mengagungkan materi (berhala), mengabaikan kaedah-kaedah halal-haram, memutus hubungan silaturrahim, berbuat anarkis dan kegaduhan terhadap masyarakat (tetangga, bangsa,negara), yang kuat m</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">enelan yang lemah.<a name="_ednref4" href="#_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="IN">[4]</span></span></span></span></span></a></span><a name="_ednref4" href="#_edn4"></a><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><a name="_ednref4" href="#_edn4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a></span></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></h2>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Dampak Globalisasi</span></h2>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Globalisasi membawa <strong>banyak tantangan</strong> (sosial, budaya, ekonomi, politik dan bahkan menyangkut setiap aspek kehidupan kemanusiaan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Globalisasi juga menjanjikan <strong>harapan‑harapan dan kemajuan</strong>.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Harapan dan kemajuan yang menjanjikan, adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat, sebagai alat untuk menciptakan kemakmuran masyarakat. Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Apa artinya semua ini?</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> Kita akan menjadi pasar raksasa yang akan diperebutkan oleh orang‑orang di sekeliling. Bangsa kita akan dihadapkan pada <strong><em>&#8220;Global Capitalism&#8221;</em></strong>. Kalau kita tidak hati‑hati keadaan akan bergeser menjadi <strong><em>&#8220;Capitalism Imperialism&#8221;</em></strong> </span><span style="font-family:&#34;color:black;">artinya </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">kita akan terjajah di negeri sendiri tanpa kehadiran fisik si penjajah.</span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">Globalisasi membawa <strong>perubahan perilaku</strong>, terutama pada generasi muda (para remaja). </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">3.1. Masalah Remaja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .9pt 6pt .5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Dunia remaja kita akhir-akhir ini digoncangkan oleh fenomena kurang menggembirakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Banyaknya <strong>tawuran pelajar</strong>, pergaulan <strong>a-susila</strong> dikalangan pelajar dan mahasiswa. Pornografi yang susah dibendung. Kalangan remaja dijangkiti kebiasaan <strong>bolos sekolah.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kesukaan terhadap<strong> minuman keras.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kecanduan terhadap<strong> ectasy (XTC), </strong><span> </span>menjadi <strong>budak kokain dan morfin. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kesukaan judi </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">dalam <strong>urban popular culture, </strong><em>musro, world-wide sing,</em> dan sejenisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Para remaja cenderung bergerak menjadi <strong>generasi buih</strong> terhempas dipantai menjadi <strong><em>dzurriyatan dhi’afan</em></strong><span> </span>suatu generasi yang bergerak menjadi “<strong>X-G</strong>” <em>the loses generation</em> dan tidak berani ikut serta didalam perlombaan ombak gelombang samudera globalisasi. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Penyimpangan perilaku menjadi ukuran atas kemunduran moral dan akhlak.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Hilangnya kendali para remaja, berakibat ketahanan bangsa akan lenyap dengan lemahnya remaja. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin-bottom:6pt;text-indent:.5in;"><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;">Apa </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Penyebab </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;">U</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">tama </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;">kesemuanya itu ?</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></em></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Kalau ingin dirinci, antara lain</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">rusaknya sistim, pola dan politik pendidikan</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">hilangnya tokoh panutan, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">berkembangnya kejahatan orang tua, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">luputnya tanggung jawab lingkungan masyarakat, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">impotensi dikalangan pemangku adat, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">hilangnya wibawa ulama, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi bisnis, </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">profesi guru dilecehkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .5in 6pt -.25in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .25in 6pt .5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span> </span>3.2. <strong>Perilaku Umat</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Terjadi</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> pula</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> <em><span lang="IN">interaksi</span></em><span lang="IN"> dan ekspansi<em> kebudayaan</em> secara meluas. Di tandai dengan semakin berkembangnya pengaruh budaya, </span></span></p>
<h2 style="margin-left:58.5pt;text-indent:-.25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">pengagungan materia secara berlebihan (materialistik),</span></h2>
<h2 style="margin-left:58.5pt;text-indent:-.25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">pemisahan kehidupan duniawi dari supremasi agama (sekularistik),</span></h2>
<h2 style="margin-left:58.5pt;text-indent:-.25in;"><span style="font-family:&#34;" lang="IN">pemujaan kesenangan indera mengejar kenikmatan badani (hedonistik). </span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Sebenarnya perilaku umat ini merupakan p</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">enyimpangan jauh dari budaya luhur</span><span style="font-family:&#34;color:black;">. Akibatnya dapat </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memunculkan ; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">a. <strong>Kriminalitas, </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">b. Sadisme, </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">c. Krisis moral </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">secara meluas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Terjadinya <strong>dis-equilibrium, (hilangnya keseimbangan moral),</strong> dalam tatanan kehidupan bermasyarakat menyebabkan lahir krisis-krisis, </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">krisis nilai, menyangkut <em>etika individu dan sosial</em> berubah drastik, pada mulanya berpandangan luhur bergeser kencang kearah tidak acuh, dan lebih parah mentolerir </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">krisis konsep pergeseran pandang (view) cara hidup, dan ukuran nilai jadi kabur. Sekolahan yang merupakan cerminan idealitas masyarakat tidak bisa dipertahankan. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">Krisis kridebilitas dengan <em>erosi kepercayaan.</em> Pergaulan orang tua, guru dan muballig dimimbar kehidupan<span> </span>mengalami <em>kegoncangan wibawa</em>. </span>K<span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">risis beban institusi pendidikan terlalu besar.Tuntutan tanggung jawab moral sosial kultural dikekang oleh sisitim dan aturan birokrasi. Kesudahannya, membelenggu<em> dinamika</em> institusi, akhirnya impoten memikul beban tanggung jawab. </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">Krisis relevansi program pendidikan yang mendukung kepentingan <em>elitis non-populis</em>, tidak demokratis. Orientasi pendidikan beranjak dari mempertahankan <em>prestasi</em> kepada<em> orientasi prestise, keijazahan.</em>  </span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="IN">Krisis solidaritas, dan membesarnya kesenjangan miskin kaya, dan kesempatan mendapatkan pendidikan tidak merata, kurangnya idealisme generasi<span> </span>remaja tentang peran dimasa datang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pergeseran budaya </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">d</span><span style="font-family:&#34;color:black;">engan </span><span style="font-family:&#34;color:black;"><span> </span><strong><span lang="IN">mengabaikan nilai-nilai agama</span></strong><span lang="IN"> </span></span><span style="font-family:&#34;color:black;">pastilah akan </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">melahirkan tatanan hidup </span><span style="font-family:&#34;color:black;">masyarakat dengan </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">penyakit sosial</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;"> (masyrakat) atau PEKAT yang</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> kronis,</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-family:&#34;color:black;">di antaranya akan meruyak menjadi ; </span>Keg<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">emaran berkorupsi. </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Aqidah</span><span style="font-family:&#34;color:black;">nya</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> bertauhid namun akhlaknya tidak mencerminkan akhlak Islami. </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Melalaikan ibadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .9pt 6pt 31.5pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">3.3. <strong>Perilaku kehidupan<span> </span>non-science</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Di antaranya tampak</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> pula pada perangai </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">; </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Sangat berminat terhadap kehidupan <strong>non-science,</strong>  </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">asyik mencari <strong>kekuatan gaib</strong> belajar <strong>sihir. </strong></span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Mencari jawaban <strong>paranormal, </strong></span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">menguasai <strong>kekuatan jin</strong>, bertapa ketempat <strong>angker. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Menyelami <strong>black-magic, </strong>mempercayai <strong>mistik.</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Tidak terkecuali menghinggapi juga para cendekiawan. Mencari dukungan melalui pedukunan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">P</span><span style="font-family:&#34;color:black;">erangai </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">sedemikian</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> ini telah</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> banyak melahirkan </span><span style="font-family:&#34;color:black;">peribadi yang terbelah (</span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">split personalities</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">)</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">,</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;"> dengan sikap </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">“too much science too little faith”, </span></strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">lebih banyak ilmu dengan tipisnya kepercayaan keyakinan agama, </span></em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">berkembangnya paham <strong>nihilisme</strong> budaya senang lenang (<strong>culture contenment</strong>)<em>.</em><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Keadaan di atas d</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">iperparah </span><span style="font-family:&#34;color:black;">lagi </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">oleh limbah budaya, antara lain; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">sensate-culture<a name="_ednref6" href="#_edn6"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-family:&#34;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="IN">[6]</span></strong></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a></span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> yang selalu bertalian dengan <em>hedonistik.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Orientasi hiburan berselera rendah, <em> </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">3-S tourisme</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> <em>sun-sea-sex. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Gaya hidup <em>konsumeristis, rakus, boros, cinta mode.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pergaulan <em>bebas sex,</em> <strong>ittiba’ syahawat</strong> (memperturutkan hobi nafsu syahawat). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kebebasan salah arah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>g.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Lepas dari kawalan agama dan adat luhur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .75in 6pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>h.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Tampil dengan sikap <strong>permissif</strong> dan <strong>anarkis</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pada hakekatnya semua perilaku a-moral tersebut lahir karena <strong><em>lepas kendali dari nilai-nilai agama</em></strong> dan <strong>menyimpang jauh </strong></span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">dan </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">keluar dari alur </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">akhlak mulia, </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;">atau menjauh dari adat istiadat warisan leluhur dan budaya bangsa</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">.</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kondisi seperti itu telah memb</span><span style="font-family:&#34;color:black;">awa perubahan </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">buruk terhadap </span><span style="font-family:&#34;color:black;">generasi bangsa dan menjadikan </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">dunia pendidikan pada umumnya</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> mendapat cercaan</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Jawaban untuk keluar dari problematika ini adalah ikatan sinerjitas antara Umarak dan Ulama</span></strong></p>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;"> </span></h2>
<h2 style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Membentuk Generasi Masa Depan</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Generasi muda akan menjadi <strong>aktor utama</strong> dalam pentas kesejagatan (millenium ketiga). Karena itu, generasi muda (remaja) harus dibina dengan budaya yang kuat berintikan <strong><em>nilai-nilai dinamik</em></strong> yang relevan dengan realiti kemajuan di era globalisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .9pt 6pt .5in;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Generasi<strong> masa depan</strong> (era globalisasi) yang diminta lahir dengan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">budaya luhur</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> (tamaddun),</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">berpaksikan tauhidik</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">kreatif</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> dan<strong> dinamik</strong>, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memiliki <strong>utilitarian ilmu</strong> berasaskan <strong>epistemologi Islam</strong> yang jelas, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">tasawwur</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> (world view) yang <strong>integratik</strong> dan <strong>ummatik</strong> sifatnya (bermanfaat untuk semua, terbuka dan <strong>transparan</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Perkembangan ke depan banyak ditentukan oleh peranan remaja sebagai generasi <strong>penerus</strong> dan <strong>pewaris</strong> dengan kepemilikan<span> </span>ruang interaksi yang jelas menjadi agen sosialisasi guna menggerakkan kelanjutan<span> </span><strong>survival</strong> kehidupan ke depan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kita memerlukan <strong>generasi yang handal</strong>, dengan beberapa sikap; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">daya kreatif dan inno­vatif, dipadukan dengan kerja sama berdisiplin, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">kritis dan dinamis, memiliki vitalitas tinggi, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">tidak mudah terbawa arus, sanggup menghadapi realita baru di era kesejagatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memahami nilai‑nilai budaya luhur, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">siap bersaing dalam knowledge based society, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">punya jati diri yang jelas, hakekatnya adalah generasi yang menjaga <strong>destiny</strong>, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>g.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">individu yang berakhlak berpegang pada nilai-nilai mulia iman dan taqwa,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>h.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">motivasi yang bergantung kepada Allah, yang patuh dan taat beragama akan berkembang secara pasti menjadi agen perubahan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>i.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual, yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Sangat dipahami, bahwa kekuatan hubungan<em> ruhaniyah spiritual emosional</em> dengan iman dan taqwa<em> akan </em>memberikan ketahanan bagi umat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Hubungan ruhaniyah ini akan <em>lebih lama bertahan daripada hubungan struktural fungsional.</em></span><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Generasi ke depan wajib digiring menjadi <strong>taat hukum.</strong></span><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Upaya ini dapat dilakukan dengan cara ; </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memulai dari</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> lembaga keluarga dan rumah tangga, memperkokoh peran orang tua, ibu bapak , </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">fungsionalisasi peranan ninik mamak dan unsur masyarakat secara efektif, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memperkaya warisan budaya dengan setia mengikuti dan mempertahankan, bertumpu kepada cita rasa <strong>patah tumbuh hilang berganti</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">menanamkan <strong>aqidah shahih (tauhid), dan</strong> <strong>istiqamah</strong> pada agama yang dianaut, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">menularkan ilmu pengetahuan yang segar dengan tradisi luhur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Apabila sains dipisah dari </span></em><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">aqidah syariah</span></strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> dan </span></em><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">akhlaq</span></strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> akan melahirkan saintis tak bermoral agama</span></em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">, konsekwensinya <strong>ilmu banyak dengan sedikit kepedulian</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>g.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Menanamkan kesadaran tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban asasi individu secara amanah, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>h.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">penyayang dan adil dalam memelihara hubungan harmonis dengan alam,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>i.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">teguh politik, kukuh ekonomi, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>j.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">melazimkan musyawarah dengan disiplin dan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>k.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">bijak memilih prioritas pada yang hak sebagai nilai puncak budaya Islam<span> </span>yang benar. <strong>Sesuatu akan selalu indah selama benar</strong>. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Budaya adalah wahana kebangkitan bangsa. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kekuatan budayanya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Generasi yang mampu mencipta akan menjadi syarat utama keunggulan. Keutuhan budaya bertumpu kepada individu dan masyarakat yang mampu mempersatukan seluruh potensi yang ada. </span></p>
<h3 style="text-indent:0;margin:0 .9pt 6pt .5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span></h3>
<h3 style="text-indent:0;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">M</span><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;">enghadapi Abad Keduapuluh satu</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Alaf </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Baru</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;">atau abad keduapuluh satu ini </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">ditandai oleh; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 63pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mobilitas serba cepat dan modern, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 63pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">persaingan keras dan kompetitif, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 63pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">komunikasi serba efektif, dunia tak ada jarak seakan global village, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 63pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">akan banyak ditemui limbah budaya kebaratan westernisasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Alaf baru itu<span> </span>diyakini bahwa kehadirannya tak bisa di cegah. Bahkan sudah berada didepan mata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pertanyaan yang perlu dijawab segera: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Sudahkah kita siap mengha­dapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Di antara jawabnya adalah, kita berkewajiban sesegeranya mem-per­siapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global terse­but. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Kita berkewajiban membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih berkecenderungan individual menjadi Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas &#8220;gotong royong&#8221;, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip <em>ta&#8217;awunitas</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Maka tidak dapat tidak, p</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">roses pembangunan SDM-SDU mesti ditempuh,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 31.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Tahap kesadaran </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">tinggi tentang perlunya perubahan dan dinamik yang futuristik. Langkah</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> ini</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> perlu dengan penggarapan secara sistematik dan pendekatan proaktif mendorong terbangunnya proses<span> </span>pengupayaan (<em>the process of empowerment</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 31.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Tahap perencanaan</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> dengan rangka kerja yang <strong>terarah</strong>, terencana mewujudkan <strong>keseimbangan</strong> dan minat (motivasi) dan gita kepada iptek, keterampilan dan pemantapan siyasah.</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Aspek pendidikan dan latihan adalah faktor utama dalam peng-upayaan. Konsep-konsep visi, misi, selalu terbentur dalam pen-capaian oleh karena lemahnya metodologi dalam operasional pencapaiannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 31.5pt;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">3. Tahap aktualisasi </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">secara sistematis<strong> </strong><em>(the level of actualization)</em><strong>. </strong>Bila pendidikan ingin </span><span style="font-family:&#34;color:black;">kita </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">jadikan <strong>modus operandus </strong>di</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">samping<strong> kurikulum ilmu terpadu dan holistik, </strong>sangat perlu pembentukan<strong> kualita pendidik </strong><em>(murabbi)</em><strong> </strong>yang sedari awal mendapatkan pembinaan<strong>. </strong>Pendekatan <strong>integratif</strong> dengan mempertimbangkan seluruh aspek <strong>metodologis</strong> berasas <strong>kokoh tamaddun</strong> yang <strong>holistik</strong> dan bukan utopis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt .5in;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;text-transform:uppercase;" lang="IN">Antisipasi Umat.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Umat mesti mengantisipasi dengan penyesuaian-penyesuaian agar tidak menjadi kalah. Dalam </span><span style="font-family:&#34;color:black;">menghadapi </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">persaingan beberapa upaya semestinya disejalankan dengan ;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Memantapkan watak terbuka, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pendidikan moral <strong>berpaksikan tauhid</strong>, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mengamalkan nilai-nilai amar makruf nahi munkar seperti tertera dalam <strong><em>QS.31, Lukman:13-17</em>.</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Integrasi moral</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> yang kuat, berakhlak dan memiliki penghormatan terhadap orang tua, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mempunyai adab percakapan ditengah pergaulan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">pendalaman ajaran agama <strong>tafaqquh fid-diin, </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>g.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">berpijak pada nilai-nilai ajaran Islam yang universal, <strong>tafaqquh fin-naas,</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>h.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">perhatian besar terhadap masalah sosial atau <strong>umatisasi</strong>, teguh memilih kepentingan bersama dengan ukuran moralitas taqwa,<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>i.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">responsif dan kritis terhadap perkembangan zaman, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>j.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mengenal kehidupan duniawi yang bertaraf perbedaan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>k.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">memacu penguasaan ilmu pengetahuan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>l.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">kaya dimensi dalam pergaulan <strong><em>rahmatan lil ‘alamin</em></strong> menampilkan kecerahan bagi seluruh alam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>m.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">iman dan ibadah, menjadi awal dari <strong>ketahanan bangsa</strong>.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Ketahanan umat bangsa terletak pada <strong>kekuatan ruhaniyah</strong> </span><span style="font-family:&#34;color:black;">dan </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">keyakinan agama</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> dengan <strong>iman taqwa</strong> dan <strong>siasah kebudayaan</strong>. </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Bila penduduk negeri beriman dan bertaqwa dibukakan untuk mereka <strong>keberkatan langit dan bumi</strong> (<em>QS.7,al-A’raf:96</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Ini juga dapat dicapai antara lain l</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">ewat pintu pendidikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pendidikan yang akan dikembangkan adalah pendidikan akhlak, budi pekerti.</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> Kita dapat memahami bahwa pendidikan </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Akhlak</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"> </span><span style="font-family:&#34;color:black;">adalah, </span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">jiwa pendidikan</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">, <strong>inti ajaran agama</strong></span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">, </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;">dan<strong> </strong></span><strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">buah dari keimanan</span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Maka akhlak karimah (budi pekerti sempurna) adalah tujuan sesungguhnya dari proses pendidikan, dan menjadi wadah diri dalam menerima ilmu-ilmu lainnya. <strong><em>Ilmu yang benar membimbing umat kearah amal karya, kreasi, inovasi, motivasi yang shaleh (baik).</em></strong></span><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Untuk itu, beberapa model perlu dikembangkan; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">pemurnian <strong>wawasan fikir disertai</strong><span> </span><strong>kekuatan zikir,</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">penajaman<strong> visi,</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>3.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">perubahan melalui <strong>ishlah atau perbaikan,</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>4.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">mengembangkan keteladanan <strong>uswah hasanah, </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>5.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">sabar, benar, dan memupuk rasa kasih sayang melalui pengamalan <strong>warisan spiritual religi. </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>6.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Menguatkan <strong>solidaritas </strong>beralaskan pijakan iman dan adat istiadat luhur, “<strong><em>nan kuriak kundi nan sirah sago, nan baik budi nan indah baso</em></strong>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.25in;margin:0 .9pt 6pt 58.5pt;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>7.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Intensif menjauhi kehidupan materialistis, “<strong><em>dahulu rabab nan batangkai kini langgundi nan babungo, dahulu adat nan bapakai kini pitih nan paguno</em></strong>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Mewujudkan model ini diperlukan sinerji antara Umarak dan Ulama. </span></strong><span style="font-family:&#34;color:black;">Setiap </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Muslim harus jeli (&#8216;arif) dalam menangkap setiap pergeser­an yang terjadi karena perubahan zaman ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;">Pemerintah dan Ulama Suluah Bendang di Sumatera Barat h</span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">arus mampu menjaring peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan. &#8220;<strong>Laa tansa nashibaka minaddunya</strong>&#8220;, artinya &#8220;jangan sampai kamu melupakan nasib/peranan dalam percaturan hidup dunia (Q.S. 28: 77).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Langkah-langkah ke depan</span><span style="font-family:&#34;color:black;"> dalam bentuk nyata dari sinerjitas Umarak dan Ulama itu dapat dilakukan antara lain </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>a.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">pembinaan <strong>human capital</strong> melalui keluasan ruang gerak mendapatkan pendidikan, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>b.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">pembinaan generasi muda yang akan mewarisi pimpinan <strong>berkualiti</strong>, <strong>memiliki jati diri</strong>, padu dan <strong>lasak</strong>, <strong>integreted</strong> inovatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>c.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Mengasaskan agama dan akhlak mulia sebagai dasar pembinaan generasi muda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>d.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Langkah drastik mencetak ilmuan Muslim yang benar-benar beriman taqwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>e.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Pembinaan minda wawasan generasi muda ke depan yang bersatu dengan akidah, budaya dan bahasa bangsa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-20.25pt;margin:0 .9pt 6pt .5in;">&#60;!&#8211;[if !supportLists]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN"><span>f.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;<span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Secara sungguh-sungguh mewujudkan <strong>masyarakat madani </strong>yang berteras kepada prinsip keadilan (equity) sosial yang terang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt .5in;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Sungguh suatu nikmat yang wajib disyukuri. <em>&#8220;Lain syakartum la adzidannakum</em>&#8220;, bila kamu mampu menjaga nikmat Allah (syukur), niscaya nikmat itu akan ditambah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;margin:0 .9pt 6pt 0;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Di sini peran yang amat crusial dari </span><span style="font-family:&#34;color:black;">Sinerjitas yang mesti terbangun antara Ulama dan Umarak didalam mengatasi kemelur penyakit masyarakat karena dampak Globalisasi ini dengan mengamalkan bimbingan </span><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Agama Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;"><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:right;" align="right"><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">Padang, </span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;">Jumadil awwal 1430 H / April 2009 M</span></em></strong><strong><em><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="IN">.</span></em></strong></p>
<div>&#60;!&#8211;[if !supportEndnotes]&#8211;&#62;</div>
<hr size="1" />&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</p>
<div id="edn1">
<h4 style="margin-bottom:4pt;"><a name="_edn1" href="#_ednref1"></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Catatan</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[1]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Perkembangan cyber space, internet, informasi elektronik dan digital, walaupun kenyataannya sering terlepas dari sistim nilai dan budaya sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang.</span></p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn2" href="#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[2]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya, <em>the act of process or policy making something worldwide in scope or application</em> menurut pengertian The American Heritage Dictionary.</span></p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn3" href="#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[3]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Dimana dalam persaingan bebas bentuk apapun, yang kuat akan bisa bertahan dan yang lemah akan mati sendiri (Wardiman, 1997).</span></p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn4" href="#_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[4]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Ungkapan Ja’far Bin Abi Thalib, lihat Al Islam Ruhul Madaniyah, Musthafa al Ghulayaini, terungkap sebagai berkiut,<span> </span>&#8220;<em>Kunna nahnu jahiliyyah, na’budul ashnam, wa na’kulul maitah, wa nuqat-ti’ul arham, wa nusi-ul-jiwaar, wa nakkul ul qawiyyu minna dha&#8217;ifun minna,</em>&#8220;<span> </span>artinya: &#8220;Kami masyarakat jahiliyyah, yang kuat dari kami berke­mampuan menelan yang lemah di antara kami.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">Kehidupan sosial jahiliyyah itu telah dapat diperbaiki dengan kekuatan Wahyu Allah, dengan aplikasi syari&#8217;at Islam berupa penerapan ajaran <em>tauhid ibadah</em> dan <em>tauhid sosial</em> (Tauhidic Wel­tanschaung). Ini suatu bukti <em>tamaddun</em> pendekatan historik yang merupakan keberhasilan masa lalu (the glory of the past), sesuai Firman Allah, <em>&#8220;Demikian itulah umat sebelum kamu. Bagi mereka amal usahanya, dan bagi kamu amal usahamu.&#8221; (Q.S. 2: 141)</em></span></p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn5" href="#_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!&#8211;[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[5]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Sebelum terjadinya krisis ekonomi, 1997-dampaknya masih terasa hingga hingga sekarang), dalam tiga dasawarsa (1967-1997) ini telah menikmati pertumbuhan ekonomi yang pesat. Bank Dunia menyebut sebagai &#8220;<em>The Eight East Asian Miracle&#8221;</em> yang berkembangan menjadi macan Asia bersama: Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, Thailand, Singapura, Malaysia.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;">Kini kita menghadap lagi Krisis Finansial Global, dampaknya lebih berbahaya dari krisis ekonomi 1997 itu, karena yang rusak adalah sistim ekonomi dunia, hilangnya kepercayaan dan kegunaan dari ekonomi kapilatalis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">Populasi Asean sekarang sejak tahun 2003 saat memasuki AFTA antara 350 – 500 juta (Ini perkiraan Adi Sasono, Cides, 1997). Bila pertumbuhan ekonomi ini dapat dipelihara, Insya Allah pada tahun 2019, saat skenario APEC,<span> </span>maka kawasan ini akan menguasai 50,7 % kekayaan dunia, Amerika dan Uni Eropa hanya 39,3% dan selebihnya 10 % dikuasai Afrika dan Amerika Latin (Data Deutsche Bank, 1994).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">Tetapi semua prediksi ini buyar oleh ambruknya sistim ekonomi ka[pitalis.</span></p>
</div>
<div id="edn6">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><a name="_edn6" href="#_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"><span>&#60;!--[if !supportFootnotes]&#8211;&#62;<span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">[6]</span></span>&#60;!&#8211;[endif]&#8211;&#62;</span></span></span></a><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> Budaya sensate memuja nilai rasa panca indera, menonjolkan keindahan sebatas yang di lihat (tonton), di dengar, dirasa, di sentuh, dicicipi, dengan tumpuan kepada sensual, erotik, seronok, kadang-kadang ganas, mengutamakan kesenangan badani (jasmani). Orientasinya hiburan melulu, terlepas dari kawalan agama, adat luhur, moral akhlak, ilmu dan filsafat, dan tercerabut dari budaya dan nilai-nilai normatif lainnya. Seni dibungkus selimut art for art’s sake, sensual, eksotik, erotik, horor, ganas, yang lazimnya melahirkan klub malam, night club, kasino dan panti pijat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4pt;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;">Budaya sensate ini dipertajam dampaknya dalam kehidupan remaja oleh budaya popular kekota (urban popular culture) yang hedonistik (mulai berkembang 1960), dan berkembang lagi US culture imperialisme (uncle Sam Culture) dan the globalization of lifestyle gaya hidup global, world wide sing (Madonna, Michael Jakson, dll) sejak tahun 1990 di pra kondisi globalisasi. </span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-bottom:4pt;"> </p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-bottom:4pt;"> </p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-bottom:4pt;"> </p>
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-bottom:4pt;"> </p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[INTIMITAS JIWA]]></title>
<link>http://jarmuka.wordpress.com/2009/04/05/intimitas-jiwa/</link>
<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 10:38:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Yohanes</dc:creator>
<guid>http://jarmuka.wordpress.com/2009/04/05/intimitas-jiwa/</guid>
<description><![CDATA[Menjadikan hidup ini lebih bermakna bila bisa menilaikan bahwa hidup ini sebagai hadia dan anugrah d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Menjadikan hidup ini lebih bermakna bila bisa menilaikan bahwa hidup ini sebagai hadia dan anugrah d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adat Sabuah Siampahar : Dayak Ahe / Kanayatn - Landak Kalbar]]></title>
<link>http://pendakigunung.wordpress.com/2009/03/29/adat-sabuah-siampahar-kab-landak-kalbar/</link>
<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 11:43:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Stanislaus Riyanta</dc:creator>
<guid>http://pendakigunung.wordpress.com/2009/03/29/adat-sabuah-siampahar-kab-landak-kalbar/</guid>
<description><![CDATA[Kali ini saya mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan di daerah Karangan, tepatnya desa Sailo kecamat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kali ini saya mempunyai kesempatan untuk jalan-jalan di daerah Karangan, tepatnya desa Sailo kecamat]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Suku Lom (Mapur), Pemegang Kemurnian Tradisi di Tengah Hutan Bangka]]></title>
<link>http://mancung64.wordpress.com/2009/03/24/suku-lom-mapur-pemegang-kemurnian-tradisi-di-tengah-hutan-bangka/</link>
<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 08:09:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>mancung64</dc:creator>
<guid>http://mancung64.wordpress.com/2009/03/24/suku-lom-mapur-pemegang-kemurnian-tradisi-di-tengah-hutan-bangka/</guid>
<description><![CDATA[“Hati-hati masuk ke daerah suku Lom. Niat hati harus bersih dan tulus. Kalau hati kotor, nanti bisa ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Hati-hati masuk ke daerah suku Lom. Niat hati harus bersih dan tulus. Kalau hati kotor, nanti bisa kena celaka, bisa-bisa malah tidak bisa keluar lagi.” Demikian pesan banyak orang kepada siapa pun yang akan mengunjungi suku Lom.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Suku Lom merupakan suku unik yang tinggal di Dusun Air Abik dan Dusun Pejam, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Mereka juga sering disebut sebagai suku Mapur karena mula-mula sebagian besar tinggal di Dusun Mapur. Suku tersebut dikenal sebagai salah satu komunitas yang masih kuat memegang kemurnian tradisi di tengah perubahan zaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebenarnya kawasan adat suku Lom hanya berjarak sekitar 13 kilometer dari kota Kecamatan Belinyu. Motor dan mobil masih bisa masuk ke daerah itu saat tidak turun hujan, meski harus menelusuri jalan menuju tanah di tengah hutan Gunung Muda dan Gunung Pelawan yang rusak dan berlubang-lubang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kemurnian tradisi suku Lom selama ini dibumbui berbagai mitos, misteri, atau legenda yang menakutkan sehingga sebagian masyarakat enggan menyinggahi kawasan itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Memasuki perkampungan suku Lom di Dusun Air Abik, tak ubahnya melihat perkampungan warga biasa di daerah lain. Rumah-rumah kampung berjajar rapi di kiri-kanan jalan. Sebagian bangunan rumah sudah permanen, semipermanen, dan sebagian lagi masih berupa rumah kayu sederhana dengan atap genting. Bahkan beberapa rumah dilengkapi parabola. Ada juga beberapa mobil dan sepeda motor.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Keunikan suku itu mulai terasa ketika mereka ditanya tentang agama. Kolom agama kartu tanda penduduk (KTP) pada sebagian suku itu dibiarkan kosong, sebagian ditulis ’agama Islam’ sekadar untuk formalitas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Saya tidak punya agama. Tetapi, saya menghargai orang lain yang beragama. Yang penting saya hidup baik-baik, bisa makan dan minum setiap hari, serta tidak menyakiti orang lain,” ucap Sli (42), warga suku Lom yang tinggal sendirian di daerah agak pedalaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebutan lom pada suku tersebut merujuk komunitas yang “belum” memeluk suatu agama.(<em>Red-dalam bhs Bangka, lom artinya belum</em>) Menurut sejumlah warga, sebutan itu mulai muncul sejak zaman kolonial Belanda yang berusaha mengidentifikasi penduduk berdasarkan agama yang dianut. Hingga sekarang, anggota suku yang masih memeluk adat disebut “Lom”, sedangkan yang telah memeluk agama formal tertentu berarti telah menjadi “bukan Lom”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kepala Dusun Air Abik, Tagtui, menjelaskan, dari 139 keluarga yang tercatat, sebanyak 62 orang tertulis beragama Islam, 13 Kristen, dan dua orang Buddha. Sebanyak 62 orang lagi memeluk kepercayaan adat atau masih murni “Lom”. Namun, sebagian besar warga yang secara formal telah memeluk agama juga masih memercayai adat yang dipatuhi sejak nenek moyang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sejak kecil saya tidak punya agama. Saya masuk Islam ketika menikah dengan istri yang Muslim tahun 1997. Tetapi, saya masih memercayai hukum-hukum adat sampai sekarang,” papar Tagtui.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurut penuturan tetua adat setempat, Mang Sikat (62), adat suku Lom dibangun dari keyakinan bahwa mereka dilahirkan dari alam semesta. Gunung, hutan, sungai, bumi, langit, dan hewan merupakan bagian dari alam semesta yang menyatu dengan nenek moyang sehingga harus dihargai. Dalam setiap perwujudan alam terdapat roh atau kekuatan yang selalu menjaga dan mengawasi manusia. Kutukan akan menimpa siapa pun yang melanggar kekuatan alam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Keyakinan akan kutukan itu diperkuat oleh mantra-mantra yang digunakan untuk setiap tindakan yang dimuati tujuan khusus. Ada mantra untuk jirat, yaitu semacam doa untuk menjaga ladang dari pencurian. Ada mantra untuk menghipnotis orang agar mengakui kejahatan yang dilakukan. Juga ada semacam gendam untuk menarik minat lawan jenis sehingga jatuh cinta atau untuk menjaga kelanggengan pernikahan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Berbagai mantra itu terutama dikuasai para dukun adat demi menjaga keamanan dari serangan luar, melestarikan tatanan sosial, sekaligus menempa kepercayaan diri setiap anggota suku. Meski digunakan dengan hati-hati untuk keperluan khusus, keampuhan mantra suku Lom acap jadi gunjingan khalayak luas sehingga masyarakat cenderung berhati-hati terhadap kekuatan magis suku itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Keyakinan itu melahirkan adat unik yang sebagian masih ditaati suku Lom hingga kini. Mayat anggota suku yang meninggal, misalnya, tidak boleh diantar ke kubur melalui pintu depan karena dia pergi untuk selamanya dan tidak kembali lagi. Mayat dibawa lewat pintu belakang, atau bila perlu menjebol dinding samping.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adat lain, wanita hamil dilarang duduk di tangga rumah karena tangga menjadi perlintasan roh-roh. Roh-roh itu bisa masuk dalam kandungan sehingga menghambat proses kelahiran. Bersiul di ladang juga dihindari karena akan mengusir roh kehidupan yang memasuki tanaman yang baru tumbuh, akibatnya bisa gagal panen.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Keterasingan menciptakan bahasa Lom yang unik. Kata- kata diucapkan dalam percakapan yang cepat dan penuh intonasi. Suku Lom menyebut ika untuk mereka, nampik untuk dekat, nen berarti ini, bu untuk nasi, dan maken air berarti minum. Bahasa itu berbeda dengan bahasa Melayu atau China yang terdapat di lingkungan di sekitar suku Lom.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hingg saat ini, suku Lom masih berusaha menjaga keyakinan adat. Para orang tua umumnya membebaskan anak untuk bersekolah, tetapi anak- anak biasanya tidak pernah menamatkan sekolah dasar. SD Negeri 24 di Dusun Air Abik yang berada di pinggir dusun hanya diikuti 48 siswa. Itu pun sebagian berasal dari lingkungan di luar suku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurut Kepala Sekolah SDN 24 Dusun Air Abik, M Bundiar, jumlah anak yang masuk sekolah bisa mencapai puluhan siswa. Tetapi, anak-anak suku Lom rata-rata berhenti sekolah saat menginjak kelas II, III, atau IV.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kesadaran terhadap pendidikan pada suku Lom masih sangat rendah. Banyak yang tidak sekolah. Kalau sudah masuk, ada saja anak yang putus sekolah setiap bulannya. Kadang ada yang minta izin bekerja membantu orangtua di hutan dan tidak pernah masuk lagi, atau tiba-tiba hilang begitu saja,” tuturnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beberapa warga suku Lom menganggap pendidikan hanya akan mengajarkan tabiat dunia luar yang dipenuhi kebohongan dan nafsu mengejar materi. Yudi (32), salah satu warga, mengaku tidak pernah sekolah sehingga tidak bisa membaca dan menulis. “Saya selalu ke ladang untuk memelihara 100 batang lada putih, buah-buahan, dan tanaman lain. Saya hanya butuh hidup dengan bahagia bersama warga di sini,” ujarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Suku Lom cenderung menghindari budaya asing yang bertentangan dengan tradisi. Puluhan tahun lalu adat masih melarang anggota suku untuk menggunakan sandal, jas, jaket, atau payung karena dianggap menyamai gaya dan perilaku para penjajah. Sekarang ikatan itu mulai mengendur seiring dengan perkembangan zaman, tetapi sikap kritis terhadap dunia luar masih tetap dipelihara. Dalam sejarahnya, belum pernah ada anggota suku yang tersangkut atau dipenjara karena melakukan tindakan kriminal. Suku Lom yang asli sering diibaratkan sebagai bayi yang baru lahir; masih murni dan polos.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sumber: AMCA</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rebo Wekasan / Shalat tolak bala]]></title>
<link>http://alqurandansunnah.wordpress.com/2009/02/25/rebo-wekasan-shalat-tolak-bala/</link>
<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 02:58:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>alqurandansunnah</dc:creator>
<guid>http://alqurandansunnah.wordpress.com/2009/02/25/rebo-wekasan-shalat-tolak-bala/</guid>
<description><![CDATA[10 March 2008 | Ahmad Buwaethy Sudah menjadi tradisi di kalangan sebagian umat Islam terutama di mas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[10 March 2008 | Ahmad Buwaethy Sudah menjadi tradisi di kalangan sebagian umat Islam terutama di mas]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DUKUN CILIK]]></title>
<link>http://baituzzakat.wordpress.com/2009/02/17/dukun-cilik/</link>
<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 09:25:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>baituzzakat</dc:creator>
<guid>http://baituzzakat.wordpress.com/2009/02/17/dukun-cilik/</guid>
<description><![CDATA[JERAT IBLIS DALAM JIMAT DAN TUAH Ponari, nama itu begitu tenar belakangan ini. Dengan batu ajaib yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:&#34;">JERAT IBLIS DALAM JIMAT DAN TUAH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Ponari, nama itu begitu tenar belakangan ini. Dengan batu ajaib yang didapatnya dari sambaran petir, Ponari berubah dari anak kelas 3 SD yang lugu menjadi seorang dukun cilik yang kesohor. Ribuan orang datang berbondong-bondong ke rumahnya di Jombang untuk meminta berkah dari jimat yang dimilikinya. Mereka tak peduli walaupun harus berdesak-desakan. Minat mereka untuk berobat bahkan tak surut meskipun telah terjadi kisruh yang menelan korban jiwa. Semua itu karena mereka percaya bahwa dengan meminum air yang telah dicelupi batu bertuah itu semua penyakit akan sembuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Fenomena ini telah menarik perhatian begitu besar dari masyarakat. Beragam tanggapan dilontarkan terhadap “keajaiban” Ponari dan batu bertuahnya. Tapi, sebagai muslim kita tak boleh percaya begitu saja pada isu yang terus memanas ini. Kita harus mensikapinya secara hati-hati dengan memerhatikan beberapa hal berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Islam melarang      pengobatan dengan jimat.</span></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:3.6pt;text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.3pt;">Islam adalah agama tauhid, yang menafikan adanya kekuatan di selain kekuatan Allah yang dapat memberi manfaat dan mudharat kepada manusia. Islam juga agama rasional, yang membebaskan manusia dari kepercayaan terhadap kebendaan yang tidak masuk akal. Oleh karenanya, segala bentuk pengobatan dengan jimat, isim, penangkal dan sejenisnya dilarang dalam Islam. Sabda Rasulullah saw, </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.5pt;">&#8220;Sesungguhnya jampi jampi, jimat jimat dan tiwalah (guna-guna yang dipakai wanita untuk menjadikan suaminya cinta kepadanya) adalah syirik.&#8221; </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.3pt;">(HR Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, dan Hakim) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:10.8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:-.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:10.8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:-.1pt;">Dalam sebuah riwayat diceritakan, ada satu rombongan yang terdiri dari sepuluh orang datang untuk berbai&#8217;at kepada Rasulullah, lalu beliau membai&#8217;at yang sembilan orang dan menahan yang seorang. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan hal itu, beliau menjawab, &#8220;Sesungguhnya di pundaknya terdapat jimat.&#8221; Kemudian laki-laki itu memasukkan tangannya ke dalam bajunya dan memotong jimatnya. Setelah itu, baru Rasulullah mem­bai&#8217;atnya seraya bersabda, </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">&#8220;Barangsiapa Yang menggantungkan jimat sesungguhnya dia telah melakukan perbuatan syirik.&#8221; </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:-.1pt;">(HR Ahmad, Al Hakim, dan Abu Ya&#8217;la)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:10.8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:-.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:10.8pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:-.1pt;">Imam Ahmad meriwayatkan dari Imran bin Hushein ra bahwa Nabi saw melihat gelang kuningan di pangkal lengan seseorang, lalu beliau bertanya dengan nada ingkar, &#8220;Apa ini?&#8221;. Orang itu menjawab, &#8220;Saya memakai ini karena terserang penyakit di pundak saya.&#8221; Kemudian beliau bersabda, </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.4pt;">&#8220;Ingatlah, sesungguhnya dia (jimat) itu hanya menambah lemah badanmu, karena itu buanglah segera! Sebab jika engkau mati, sedang jimat itu masih menempel di badanmu, engkau tidak akan beruntung sama sekali.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.2pt;text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:7.2pt;text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> sahabat dan tabi&#8217;in juga sangat membenci segala bentuk jimat. Sa&#8217;id bin Zubair juga pernah berkata, &#8220;Barangsiapa yang memutuskan satu jimat dari leher seseorang, (pahalanya) seperti memerdekakan se­orang budak.” Ketika Hudzaifah bin Al Yaman melihat seorang laki-laki yang menggantungkan benang sebagai jimat, ia membacakan ayat, ”</span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.4pt;">Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sem­bahan lain).&#8221; (QS 012/Yusuf: 106)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Demikianlah sikap yang telah diambil oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka bersikap tegas terhadap segala bentuk kemusyrikan yang timbul dari penggunaan jimat. Larangan ini pun bersikap mutlak, entah jimatnya dipakai di badan, seperti kalung, gelang, atau susuk, ataupun dengan cara lain seperti yang dilakukan dukun cilik Ponari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Jerat Syetan</span></strong></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Munculnya dukun cilik dan batu bertuahnya hanyalah satu dari sekian banyak fenomena syirik yang muncul belakangan ini, sebagaimana yang sering kita dengar dan saksikan dalam iklan-iklan di media massa. Fenomena-fenomena <span> </span>tersebut tentu tidak terjadi begitu saja, tapi merupakan upaya sistematis yang dijalankan Iblis dan antek-anteknya yang tak pernah berhenti menyesatkan manusia. Dengan berbagai cara, mereka berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kemunkaran, termasuk menipu manusia lewat benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan. Dan semua itu Iblis lakukan karena dengki kepada Adam dan keturunannya yang Allah jadikan makhluk paling mulia diantara seluruh makhluk yang lain. Firman Allah, </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS 007/16-17)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Jika melihat kenyataan sekarang, upaya Iblis ini tampaknya cukup berhasil. Hanya dengan sebuah batu, ribuan orang telah tergoda. Mereka tidak datang hanya dengan penyakit fisik, tapi lebih dari itu membawa penyakit hati, yakni lemahnya keyakinan kepada Allah. Hanya orang-orang tertentu yang selamat dari jerat Iblis itu, yaitu mereka yang <span> </span>telah mendapatkan taufiq untuk tetap taat terhadap Allah (mukhlash). Firman Allah, </span><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“… kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlash di antara mereka.” (QS 015/Al Hijr: 40)</span> <strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">2. Ujian keimanan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1"></ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Memang betul bahwa Iblislah yang berusaha menjerumuskan manusia ke dalam kemusyrikan. Namun, semua itu hanya bisa terjadi atas ijin Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Lalu, kenapa Allah mengijinkan? Jawabannya sudah jelas, yaitu untuk menguji keimanan para hamba-Nya. Mereka yang tidak terpengaruh dengan keajaiban bendawi itu dan berusaha mencari pengobatan dengan cara-cara yang syar’I dan rasional, seraya memohon kesembuhan kepada Allah SWT , adalah yang benar keimanannya. Sedangkan, mereka yang tergoda adalah orang-orang yang hatinya berpenyakit. Allah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: &#8220;Kami telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS 029/Al Ankabut: 2-3)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Demikianlah beberapa hal yang seyogyanya perlu kita fahami terkait jimat dan segala bentuk sihir lainnya. Kita tak perlu menyalahkan Ponari atas fenomena ini, karena ia<span> </span>hanyalah anak kecil yang belum lagi baligh. Mungkin ia sendiri tidak sadar terhadap apa Yang telah dilakukannya, atau bahkan sedang tertekan karena tingkah orang-orang yang mencari keuntungan pribadi dengan memanfaatkan dirinya. Yang perlu kita lakukan adalah tetap waspada dengan membentengi diri sendiri, keluarga, dan orang-orang di sekeliling kita agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan syirik walaupun bentuknya pengobatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;">Kalaupun kita membutuhkan pengobatan, maka carilah yang sesuai dengan tuntunan Islam. Sungguh, Rasulullah saw tidak menganjurkan pengobatan dengan jimat atau mantera, tetapi beliau menyebutkan hal-hal yang thabi’iyah (alami). Bisa melalui mulut (sepeerti madu), yang sekarang dapat juga berupa injeksi atau sejenisnya, berbekam (mengeluarkan darah) yang sekarang bisa diwujudkan dengan operasi, dan menempelkan besi panas pada bagian yang sakit, yang sekarang bisa dengan penyinaran. Dan kalau sakit, Rasulullah juga berobat dengan berbekam atau memenggil tabib. Demikian pula para sahabat dan generasi sesudahnya. Jadi, yang tebaik bagi kita adalah mengikuti sunnah Rasulullah saw dan menjauhi cara-cara yang tidak syar’I seperti jimat dan sebagainya, karena ia hanyalah kebohongan dari para penipu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Wallahu’alam bish-shawab.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">(Ditulis oleh : Al-Hafiz Ust. Ismail Prawira Kusuma S.Sos.i, Staff Pengajar Tahfidz Pesantren Adz-Dzikro)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;letter-spacing:.1pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:12.6pt;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 -36pt .0001pt -45pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:14.4pt;line-height:11.4pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
