<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>adi-sucipto &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/adi-sucipto/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "adi-sucipto"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 09:22:27 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Merunut Sejarah Dirgantara Nusantara]]></title>
<link>http://dewipuspasari.wordpress.com/2009/08/20/merunut-sejarah-dirgantara-nusantara/</link>
<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 01:39:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewipuspasari</dc:creator>
<guid>http://dewipuspasari.wordpress.com/2009/08/20/merunut-sejarah-dirgantara-nusantara/</guid>
<description><![CDATA[Lembar sejarah dirgantara Indonesia mulai tercipta awal abad 20 semasa penjajahan Belanda. Bertahun-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-592" title="dirgantara fair" src="http://dewipuspasari.wordpress.com/files/2009/08/dirgantara-fair.jpg?w=300" alt="dirgantara fair" width="300" height="225" /></p>
<p>Lembar sejarah dirgantara Indonesia mulai tercipta awal abad 20 semasa penjajahan Belanda. Bertahun-tahun kemudian, lahirlah pahlawan-pahlawan udara seperti Abdurrahman Saleh, Adi Sucipto dan Halim Perdana Kusumah. Para manusia terbang itu kemudian tercatat namanya sebagai nama bandara udara di berbagai kota di Indonesia<!--more--></p>
<p>Riwayat dirgantara tidak hanya berurusan dengan perjuangan melawan imperalisme dan menjaga kedaulatan bangsa. Di dalamnya terdapat misi sosial, seperti membawa bantuan obat-obatan, membantu korban bencana alam atau membawa dokter ke tempat-tempat terpencil. Selain itu adapula misi yang berkaitan dengan pencitraan dan pembuatan peta wilayah.</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-593" title="dirgantara fair2" src="http://dewipuspasari.wordpress.com/files/2009/08/dirgantara-fair2.jpg?w=300" alt="dirgantara fair2" width="300" height="225" /></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-594" title="dirgantara fair3" src="http://dewipuspasari.wordpress.com/files/2009/08/dirgantara-fair3.jpg?w=296" alt="dirgantara fair3" width="296" height="300" />Menjadi manusia angkasa itu tidaklah mudah. Mereka harus melalui latihan dan pendidikan yang cukup berat dan harus menguasai berbagai keahlian seperti navigasi, keahlian bertempur juga pengetahuan tentang teknologi satelit dan pencitraan.</p>
<p>Riwayat dan perkembangan kedirgantaraan nusantara ini terangkum di Dirgantara Fair yang diadakan 14-17 Agustus di Margo City. Beragam koleksi seperti seragam, perkakas, miniatur berbagai jenis pesawat, senjata, <em>flight simulator</em>, <em>radar mobile detections</em> dan buku-buku yang memuat tentang kerdigantaraan dipamerkan. termasuk juga <em>movie on screen</em> yang menggambarkan aktivitas dan sepak terjang AURI, <em>hovercraft show</em> dan <em>aero modeling show. </em></p>
<p><em><img class="aligncenter size-full wp-image-595" title="dirgantara fair4" src="http://dewipuspasari.wordpress.com/files/2009/08/dirgantara-fair4.jpg" alt="dirgantara fair4" width="300" height="225" /><br />
</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berawal dari Ngoto....]]></title>
<link>http://serdadu95.wordpress.com/2009/05/12/berawal-dari-ngoto/</link>
<pubDate>Tue, 12 May 2009 14:32:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>serdadu95</dc:creator>
<guid>http://serdadu95.wordpress.com/2009/05/12/berawal-dari-ngoto/</guid>
<description><![CDATA[Sudah hampir 17 tahun saya tidak ke tempat ini. Terakhir saya ke sana pada tahun 1992. Dan ketika be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Sudah hampir 17 tahun saya tidak ke tempat ini. Terakhir saya ke sana pada tahun 1992. Dan ketika beberapa waktu yang lalu saya ke sana, saya sedikit takjub, karena tempat itu benar-benar sudah berubah. Yang pasti, menjadi jauh lebih baik daripada waktu saya untuk pertama kalinya menginjakkan kaki saya di sana. Nah, kalau kemudian pada kesempatan ini saya mau menulis tentang hal tersebut, tidak lebih dan tidak kurang, semuanya itu karena&#8230; dari kejadian ditempat itulah muncul “tag” yang sangat terkenal dikalangan kami, Akabri 1995.</p>
<p style="text-align:justify;">Ingin tahu ceritanya?? Monggo, silakan dilanjut&#8230;.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Adalah Ngoto. Sebuah daerah yang berjarak 3 kilometer disebelah Tenggara Kota Yogyakarta. Bagi TNI Angkatan Udara, tempat ini memang sangat bersejarah. Ceritanya…, dulu saat Belanda, si Kumpeni sialan yang tidak rela melepaskan Indonesia sebagai lahan jajahannya, dengan dalih melakukan apa yang mereka namakan “<em><strong>Politionalle Actie</strong></em>” telah menyerang secara membabi-buta wilayah RI dari darat, laut dan udara.  Padahal sebelumnya, pada tanggal 25 Maret 1947 telah ditandatangi <strong><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perundingan_Linggarjati">Perjanjian Linggarjati</a></strong> antara kedua belah pihak (selengkapnya tentang Perjanjian Linggarjati, baca <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perundingan_Linggarjati">disini</a>).</p>
<p style="text-align:justify;">Pengkianatan secara sepihak atas perjanjian Linggarjati tersebut, yang kemudian terkenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947), membuat Indonesia tidak tinggal diam. Agresi milter yang sempat menghancurkan beberapa pangkalan udara Indonesia (seperti Pangkalan Udara Gorda, Jatiwangi, Pandanwangi sampai Bugis) dan beberapa buah pesawat yang dimiliki bangsa ini (pesawat pembom “Diponegoro”, pesawat intai strategis “Shinsitei dan pesawat buru “Hayabusa”), mendorong niat Angkatan Udara Indonesia untuk melakukan serangan balasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Singkatnya…, pada tanggal 29 Juli 1947 pukul 05.00 WIB dari Pangkalan Udara Maguwo (sekarang Adisutjipto-red) bertolaklah 3 buah pesawat, yang terdiri dari 2 pesawat latih “Cureng” dan 1 buah pesawat pembom Mitsubishi 98 “Guntai” untuk menyerang basisi-basis militer Belanda di kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang. Oleh KASAU Komodor Udara S. Suryadarma dan Pa Ops. Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma ketiga pesawat itu dilepas dengan masing-masing mendapat perintah operasi sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Kadet Penerbang Suharnoko Harbani      disertai penembak udara Kaput dengan pesawat “Cureng” menuju ke sasaran      Kota Ambarawa.</li>
<li>Kadet Penerbang Sutardjo Sigit      disertai penembak udara Sutadjo dengan pesawat “Cureng” menuju ke sasaran      Kota Salatiga.</li>
<li>Kadet Penerbang Muljono disertai      penembak udara Abdurrahman dengan pesawat pembom Mitsubishi 98 “Guntai” menuju      ke sasaran Kota Semarang.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Meskipun hasil dari penjatuhan bom-bom dari ketiga pesawat itu yang berat totalnya mencapai 400 kg itu tidak begitu berpengaruh terhadap kekuatan Belanda , tapi efek psikologisnya sangat besar, baik bagi Belanda maupun buat bangsa Indonesia sendiri. Bagi Belanda, sudah pasti ini membuktikan bahwa ternyata bangsa Indonesia masih ada dan tidak bias diremehkan begitu saja. Sedangkan buat bangsa Indonesia sendiri keberhasilan serangan ini bisa membangkitkan semangat kebangsaan dan kebanggaan tersendiri karena ternyata bangsa Indonesia yang masih muda ini bisa juga melakukan serangan udara.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya Belanda ngamuk. Maka diterbangkanlah 3 buah pesawat buru “Kittyhawk” untuk mengejar ketiga pesawat Indonesia yang melakukan serangan itu. Karena tidak mendapatkan yang dicari, Belanda terus ngawur.  Pesawat Dakota India VT-CLA yang membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya yang sore itu mau mendarat di Pangkalan Udara Maguwo ditembak.  Pesawat Dakota India VT-CLA yang tidak bersenjata itu akhirnya jatuh di daerah Ngoto.  Maka gugurlah putra-putra terbaik Angkatan Udara, putra-putra terbaik bangsa. Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof.Dr. Abdurrahman Saleh dan Opsir Udara Adisumarmo yang tercatat sebagai air crew di pesawat tersebut ikut menjadi korbannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sangat disayangkan memang. Kalau saja ketiga pioneer Angkatan Udara itu tidak gugur, mungkin Indonesia akan sangat diperhitungkan dalam dunia penerbangan dan banyak pesawat yang bisa kita perbaiki sendiri. Bahkan mungkin juga, bangsa ini tidak perlu membeli pesawat dari negara lain, karena bangsa ini sudah bisa membuat pesawat sendiri. Jadi tidak ada lagi istilah pesawat jatuh karena sudah uzur usianya, tidak bisa beli suku cadang-lah atau seribu macam alasan lain yang berhubungan dengan ketidakmapuan negara ini dalam menyediakan dana untuk pemeliharaan pesawat. Coba bayangkan, pada tahun 40-an saja beliau-beliau-nya itu telah berhasil menyulap barang rongsokan Jepang menjadi kendaraan tempur di udara yang mampu menjaga harga diri bangsa. Untung saja Pak Habiebie pada saat itu tidak ikut didalam pesawat VT-CLA [ infonya, saat itu Pak Habiebie belum jadi tukang insinyur <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  ], kalau sempat ikut juga maka angan-angan para pendahulu di bidang per-pesawatan itu akan tinggal cerita saja.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-968 aligncenter" title="ngoto2" src="http://serdadu95.wordpress.com/files/2009/05/ngoto2.gif" alt="ngoto2" width="434" height="512" /></p>
<p style="text-align:justify;">Maka ditempat jatuhnya pesawat Dakota India VT-CLA pun dibangunlah sebuah monomen sebagai pengingat bahwa bangsa ini pernah melahirkan tokoh-tokoh handal di bidang kedirgantaraan dan untuk menghargai jasa-jasanya. Dan di tempat itu pula-lah, beberapa waktu yang lalu, saat memperingati HUT ke-63 TNI Angkatan Udara saya ikut mengenang jasa-jasa beliau-beliau pada sebuah acara Ziarah Bersama di bulan April yang lalu.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-969" title="ngoto1" src="http://serdadu95.wordpress.com/files/2009/05/ngoto1.gif" alt="ngoto1" width="392" height="252" /></p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke paragraph awal.  Seperti yang saya sampaikan sebelumnya…, saya sangat takjub melihat monomen yang sudah 17 tahun tidak pernah saya kunjungi itu. Lhahh… lalu apa hubungannya dengan Akabri 1995 yang kebetulan saya menjadi salah satu alumnusnya?? Yahh, perlu diketahui aja bahwa “Berawal dari Ngoto …..”</p>
<p style="text-align:justify;">Arghh sudahlah…, nanti pada kesempatan lain akan saya ceritakan kisahnya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber</strong> :</p>
<p style="text-align:justify;">- Buku Profil Lanud Adisutjipto</p>
<p style="text-align:justify;">- Koleksi photo pribadi, yang diambil menggunakan kamera hp milik saya sendiri, bukan hp pinjaman. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Easternmost Itinerary]]></title>
<link>http://radioclinic.com/2008/05/16/easternmost-itinerary/</link>
<pubDate>Fri, 16 May 2008 12:55:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Alex Santosa</dc:creator>
<guid>http://radioclinic.com/2008/05/16/easternmost-itinerary/</guid>
<description><![CDATA[Untuk yang pertama kalinya saya akan mengunjungi kota di timur pulau Jawa, Banyuwangi, menengok sala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Untuk yang pertama kalinya saya akan mengunjungi kota di timur pulau Jawa, Banyuwangi, menengok sala]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
