<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>agnostisisme &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/agnostisisme/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "agnostisisme"</description>
	<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 02:35:43 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mengenal Agnostisisme]]></title>
<link>http://notanote.wordpress.com/2009/09/24/mengenal-agnostisisme/</link>
<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 14:27:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dije Doank</dc:creator>
<guid>http://notanote.wordpress.com/2009/09/24/mengenal-agnostisisme/</guid>
<description><![CDATA[Intro: Sebuah Perbincangan yang menjadi selingan dalam sebuah perjalanan, membuat saya mengulik kemb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Intro:<br />
Sebuah Perbincangan yang menjadi selingan dalam sebuah perjalanan, membuat saya mengulik kembali soal agnostisisme dan agnostik.<br />
Ini mungkin tak hanya pengalaman saya saja, bahwa ada di antara teman-teman kita yang menyatakan dirinya sebagai agnostik atau bahkan ateis. <em>“I’m done with religion”</em> begitu kata mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa sih sebenarnya, agnostisisme itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut <a href="http://en.wikipedia.org/"> Jeng Wiki</a>, Agnostisisme secara harfiah berarti, “tanpa mengetahui”. Berasal dari perkataan Yunani, <em>gnostein</em> (tahu) dan <em>a</em> (tanpa/ tidak). Seorang agnostik mengatakan bahwa adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui secara definitif pengetahuan tentang &#8220;Yang-Mutlak&#8221;; atau , dapat dikatakan juga, bahwa walaupun perasaan secara subyektif dimungkinkan, namun secara obyektif pada dasarnya mereka tidak memiliki informasi yang dapat diverifikasi.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang agnostik adalah yang berpikir bahwa keberadaan Tuhan tak dapat dibuktikan berdasarkan fakta-fakta yang ada sekarang, tapi tak mengingkari kemungkinan Tuhan itu ada. Yah, agnostik hanya selangkah dari ateis, yang berpikir tuhan tak ada. Jika keduanya (agonostik dan ateis) mendapati semak yang terbakar dan berbicara, &#8220;Aku adalah Aku&#8221;, si agnostik akan mencari tape rekorder yang mungkin saja tersembunyi sementara si ateis cuma mengangkat bahu pesimis lalu membakar <em>marshmallow</em>.<br />
Menurut Sidi Gazalba, Agnostisisme adalah kependekan dari anti-agnostisisme. Agnostisisme adalah paham yg mengingkari pengetahuan dalam tentang agama. Seorang agnostik bersikap percaya tidak kepada Tuhan, tidak percaya pun tidak. Karena itu ia beragama tidak, tidak beragama pun tidak. Ia tidak mengacuhkan Tuhan dan tidak menghiraukan agama. Kedudukan paham ini adalah antara teisme dan ateisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Maju selangkah lagi agnostisisme sampai kepada ateisme. Agnostisisme merupakan penyakit dunia modern, sebagai akibat perkembangan kehidupan kota (dengan kemajuan industri yang serbaterus dengan materialisme (dalam pengertian sehari-hari) yang meningkat terus dan pemikiran rasional, postif dan materialisme ilmiah). Dalam kehidupan batin masih ada warisan (pengaruh) teisme, tapi dalam kehidupan lahir materilah yang mempengaruhi. Terjadilah “pembelahan kepribadian”, karena tidak ada keseimbangan antara kemajuan material yang digerakkan oleh ilmu dan teknologi modern dengan perkembangan rohani yang menjadi tugas agama. Maka rusaklah aktivitas budi dan hati, antara pikiran dan rasa. Hati masih mengakui Tuhan dan agama, tapi budi mengakui materialisme. Dalam gereja mereka percaya soal penciptaan Adam, di ruang Universitas mereka percaya kepada Darwin.</p>
<p style="text-align:justify;">Istilah agnostisisme lebih banyak kita dengar sekarang daripada skeptisisme. Istilah ini mula-mula digunakan oleh <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Henry_Huxley"> Thomas Henry Huxley</a>, tapi biasanya dihubungkan dengan nama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Herbert_Spencer">Herbert Spencer</a>. Spencer percaya bahwa pengetahuan mutlak tidak mungkin ada. Semua pengetahuan adalah nisbi dan tak mungkin misalnya melewati batas fakta-fakta benda, gerak, tenaga, dan kesadaran. Dan semuanya itu tidak lain dari lambang-lambang atau bentuk-bentuk dari “<em>unknowable</em>”. Dengan demikian agnostisisme Spencer tidak lain suatu bentuk positivisme yang tidak se-ekstrim Comte.<br />
Berbeda dengan Spencer, Huxley mempergunakan istilah itu dalam lapangan yang lebih spesifik, yakni agama. Dengan istilah tersebut ia menunjukan kepada kepercayaan, bahwa sekalipun kita tahu kita tidak mungkin mengingkari adanya Tuhan, namun kita tidak tahu sedikit pun tentang sifat-Nya yang sesungguhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bertrand_Russell"> Bertrand Russell</a> mempergunakan istilah ini (agnotisisme) untuk menunjuk kepercayaan yang berada antara teis and ateis. Pemakaian Russell itu kita lanjutkan dengan memberikan pengertian sebagai berikut: Percaya tidak kepada Tuhan, tidak percaya pun tidak. Akibatnya: beragama tidak, tidak beragama pun tidak.<br />
Bila saya melihat dewasa ini ada perubahan pengertian  (Kesalahkaprahan) agnostisisme dan agnostik. Beberapa kaum urban begitu mudah menyatakan diri mereka agnostik. <em>He’s an agnostic, and therefore he’s cool!</em> Kedengarannya keren dan intelek. Atau setidaknya “kota banget”. Inilah sebuah fenomena ketika agnostik berubah menjadi sekedar gaya hidup yang ikut-ikutan. Apa iya orang yang menyatakan dirinya agnostik itu memahami makna agnostisisme. Atau jangan-jangan ini hanya sekedar: “Buat apa ambil pusing, apakah Tuhan ada atau tidak. Itu tidak penting, Sebab seandainya Tuhan itu “ada” maka akal budi tidak akan bisa mencerap sifatnya”.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kembali menyelami pandangan Russell, Percaya tidak kepada Tuhan, tidak percaya pun tidak. Akibatnya: beragama tidak, tidak beragama pun tidak. Untuk sampai pada kesimpulan yang seperti ini menurut saya butuh sebuah proses (yang tak sebentar). Sebuah proses pencarian akan Tuhan dan Kebenaran. Sebuah perjalanan yang melibatkan sikap kritis dan bahkan skeptik.<br />
Begitulah agnostik sejati, sebelum sampai pada posisinya (baca: sebagai agnostik), kerap melakukan sebuah perjalanan untuk menemukan jawaban akan kebenaran. Bahkan pada posisinya sekarang ini, mereka pun mungkin masih tetap mencari.</p>
<p style="text-align:justify;">Agaknya berbeda dengan kebanyakan agnostik disekitar kita (setidak2nya yang pernah saya amati). Mereka menjadi agnostik, bukan karena telah melalui tahap-tahap pembuktian tertentu untuk mencari kebenaran. Kebanyakan dari mereka menjadi agnostik justru karena pilihan pragmatis, bahkan melibatkan sikap pengecut, pemalas,dan bahkan hipokrit. Mereka menyadari bahwa ketika harus memilih (baca: menyembah) Tuhan tertentu (Allah, Jesus, Budha, Dewa-dewa, dll), itu berarti ada konsekuensi yang harus dijalankan. Ada syariat (baca: cara-cara beribadah) tertentu yang harus dikerjakan. Ada nilai moral tertentu yang harus dipatuhi. Hal-hal “memberatkan” macam itu yang coba mereka hindari. Akhirnya mereka memilih posisi sebagai agnostik (yang tentu saja agnostik yang <em>cupu</em>, agnostik <em>bo’ong-bo’ongan</em>). Untuk orang-orang semacam ini saya lebih senang menyebut mereka dengan sebutan munafik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan:<br />
Tidak semua dari mereka yang mengaku sebagai agnostik adalah agnostik sejati, yang telah sebelumnya melakukan berbagai usaha untuk mencapai kebenaran, yang karena suatu sebab dan lainnya mereka gagal menemukannya, sehingga mereka bertahan pada posisi mereka sebagai agnostik.</p>
<p style="text-align:justify;">Referensi:</p>
<p style="text-align:justify;">Gazalba, Sidi. &#8220;Sistematika Filsafat&#8221;, Jakarta: Bulan Bintang. Buku Pertama dan Buku Ketiga.</p>
<p>http://www.geocities.com/area51/dunes/5591/dic/agnostik.htm</p>
<p>http://gentole.wordpress.com/2008/01/14/anda-mengaku-agnostik/</p>
<p>http://en.wikipedia.org/wiki/Agnosticism</p>
<p>http://politikana.com/baca/2009/04/21/agnostik-ateis.html</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=101&#38;Itemid=54</p>
<p>http://insistnet.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=68&#38;Itemid=54</p>
<p>Gambar: http://farm4.static.flickr.com/3098/3137972457_7205bf3bc5.jpg</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Asumsi Kaum Ateis dan Problema Agnostisisme]]></title>
<link>http://godlessindonesian.wordpress.com/2009/08/29/asumsi-kaum-ateis-dan-problema-agnostisisme/</link>
<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 10:02:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Godless Indonesian</dc:creator>
<guid>http://godlessindonesian.wordpress.com/2009/08/29/asumsi-kaum-ateis-dan-problema-agnostisisme/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan yang sering diajukan kaum agnostik, dan seringpula dimanfaatkan oleh kaum teis untuk meny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignnone size-full wp-image-203" title="kn_93829873_hds" src="http://godlessindonesian.wordpress.com/files/2009/08/kn_93829873_hds.jpg" alt="kn_93829873_hds" width="300" height="357" /></p>
<p>Pertanyaan yang sering diajukan kaum agnostik, dan seringpula dimanfaatkan oleh kaum teis untuk menyerang balik argumen kaum ateis:</p>
<p><em>&#8220;Manusia tak mungkin bisa membuktikan keberadaan maupun ketiadaan Tuhan. Jadi sebenarnya posisi ateis pun sama kuat dan lemahnya dengan posisi kaum teis. Karena mustahil kita mengetahui perihal Tuhan secara empiris&#8221;<!--more--></em></p>
<p>Sebagaimana yang pernah saya tulis mengenai <a href="http://godlessindonesian.wordpress.com/2009/03/21/skala-dawkins/">Skala Dawkins</a>, posisi saya (sebagaimana posisi kebanyakan ateis pada umumnya) ada di nomer enam yaitu &#8220;mengakui bahwa saya tak bisa mengetahui secara PASTI mengenai Tuhan, tapi saya berpendapat bahwa kemungkinan adanya Tuhan sangat kecil, dan saya menjalani hidup dengan asumsi bahwa Tuhan tidak ada&#8221;, alias secara praktek dan <em>de-facto</em> saya memang ateis, tapi tetap membuka diri terhadap kemungkinan bahwa saya salah.</p>
<p>Sebagian besar (kalau tidak semua) kaum ateis yang saya kenal hidup dengan asumsi seperti ini, dan mereka dengan jujur mengakui bahwa <strong>asumsi mereka tak lain tetaplah sebuah asumsi</strong> yang didapat secara logis dan empiris, tidak seperti kaum fanatik yang menganggap klaim dari ajaran mereka bukan sebagai asumsi melainkan sebagai sebuah kepastian 100%.</p>
<p>Seorang agnostik mungkin akan bertanya: kenapa harus berasumsi? Tidakkah lebih jujur menyatakan diri tidak tahu? Toh selamanya umat manusia takkan mampu membuktikan kaberadaan maupun ketiadaan Tuhan, mengapa harus berasumsi apapun tentang keberadaannya? Sebuah pertanyaan yang menarik dan bernada bijaksana karena menyuruh kita rendah hati dan sadar akan keterbatasan nalar kita dalam menggapai hal-hal yang tidak terjangkau verifikasi (seperti Tuhan, akhirat, malaikat, dll). Tidakkah posisi yang paling baik adalah agnostisisme sebagai sebuah jalan tengah antara klaim teisme dan asumsi ateisme?</p>
<p>Tapi saya akan coba tunjukkan pada anda bahwa tidak selamanya yang disebut jalan tengah itu baik.</p>
<p>kalimat-kalimat berikut ini, mungkin bukan merupakan hal yang baru dan asing bagi telinga kita yang hidup ditengah masyarakat relijius:</p>
<blockquote>
<ol>
<li>Yesus dari Nazareth yang merupakan anak Tuhan, dihukum salib untuk menebus dosa umat manusia, kemudian pada hari ketiga ia dibangkitkan kembali dan tubuhnya naik ke ke surga.</li>
<li>Diciptakanlah Adam oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuk sedemikian rupa. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna. Awalnya Nabi Adam a.s. ditempatkan di surga, tetapi terkena tipu daya iblis kemudian diturunkan ke bumi bersama istrinya karena mengingkari ketentuan Allah.</li>
<li>Alam semesta beremanasi dari sebuah telur kosmik, Hiranyagarbha (secara harfiah berarti &#8216;embrio emas&#8217;). Prajapati lahir dari Hiranyagarbha, dan di dalam kitab Puranas ia diidentifikasi sebagai Brahma sang pencipta.</li>
</ol>
</blockquote>
<p>Dari tiga penjelasan diatas, kebanyakan agamawan mengklaimnya sebagai kebenaran (bila penjelasan itu berasal dari agamanya), kebanyakan ateis bersikap skeptis secara negatif, dan berasumsi itu tidak benar (jika penjelasan itu tidak bersifat ilmiah), dan umumnya agnostik akan bersikap skeptis secara moderat: <strong>tidak menolak maupun membenarkan, dan menganggap bahwa manusia tidak mungkin mengetahuinya, karena tidak bisa diverifikasi.</strong></p>
<p>Bagaimana kalau ada yang membuat pernyataan:</p>
<blockquote><p>Ada Jin berkepala dua di suatu tempat di alam semesta. Kita tak akan dapat melihatnya, tapi ia dapat melihat kita. Tiap minggu ia berkelana dari satu galaksi ke galaksi lainnya dengan kecepatan seratus kali kecepatan cahaya.</p></blockquote>
<p>Konyolkah pernyataan di atas? <em>Well</em>, bisakah anda membuktikan bila jin berkepala dua itu ada atau tiada? Bila tidak bisa, apakah kita mesti bersikap agnostik akan keberadaan jin super-cepat ini? Akan sangat sulit untuk mencari orang yang cukup <em>&#8216;open-minded&#8217;</em> untuk bersikap agnostik dan berkata &#8220;yah, karena saya tidak mungkin membuktikan bahwa jin berkepala dua itu tidak ada, sebaiknya saya menunda penilaian negatif saya mengenainya dan terbuka terhadap kemungkinan bahwa mahluk ini benar-benar ada&#8221;. Malahan hampir pasti orang yang mendengar pernyataan ini akan <strong>bersikap ateis (alias tidak percaya)</strong> terhadap keberadaan jin-berkepala-dua-super-cepat-dan-tak-kasat-mata ini.*</p>
<p><strong>Secara prinsip klaim-klaim relijius pada umumnya tidak ada bedanya dengan klaim jin-kepala-dua di atas</strong>. Tetapi mayoritas umat manusia lebih mengistimewakan yang disebut pertama, karena klaim-klaim itu sudah diwariskan turun-temurun dan sudah menjadi bagian dari budaya mereka, belum lagi ancaman <em>afterlife </em> (dan mungkin juga sanksi duniawi) yang menyertai klaim itu bagi yang menolak untuk mempercayainya.</p>
<blockquote><p>&#8220;When one person suffers from a delusion it is called insanity. When many people suffer from a delusion it is called religion.&#8221;<br />
-Robert Pirsig-</p></blockquote>
<p>Dan omong-omong soal ateisme, sebenarnya <strong>kita semua adalah ateis terhadap banyak Tuhan yang pernah disembah oleh umat manusia sepanjang zaman. </strong>Umat Islam ateis terhadap keberadaan Zeus, Wisynu, Syiwa,  dsb. Umat Hindu juga ateis terhadap keberadaan Amun-Ra, Yahweh, dsb. Dan seterusnya&#8230; Sedangkan kaum ateis pada umumnya hanya menambahkan satu Tuhan lagi untuk tidak dipercayai.</p>
<p>Terhadap semua klaim metafisik/relijius yang tidak dapat diverifikasi, kita tak perlu harus bersikap agnostik (dalam arti menunda penilaian benar maupun salah terhadap klaim tersebut). Tak ada salahnya bila kita menganalisanya  secara ilmiah dan empiris, dan bila hasil analisa  menunjukkan bahwa probabilitas klaim tersebut sangat kecil, asumsi negatif terhadapnya merupakan hal yang wajar. Tentu saja, kata <strong>&#8216;asumsi&#8217;</strong> disini perlu ditekankan, karena kita tak ingin terjebak dalam dogmatisme baru.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Catatan:</span><br />
<em>* Analogi yang bersifat satiris mengenai klaim-klaim teistik cukup banyak beredar, diantaranya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Flying_Spaghetti_Monster">monster spagetti terbang</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Invisible_Pink_Unicorn">unicorn jingga tak kasat mata</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Russell%27s_teapot">teko teh Russell</a>, dan sebagainya.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Agnostik]]></title>
<link>http://bangeda.wordpress.com/2009/03/01/agnostik/</link>
<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 22:45:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>riza</dc:creator>
<guid>http://bangeda.wordpress.com/2009/03/01/agnostik/</guid>
<description><![CDATA[Apakah orang agnostik itu Atheis?  Ngga. Seorang atheis, seperti halnya penganut agama laen, percaya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Apakah orang agnostik itu Atheis?  Ngga. Seorang atheis, seperti halnya penganut agama laen, percaya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Agnostiker er spild af tid]]></title>
<link>http://ateisme.wordpress.com/2009/02/08/agnostiker-er-spild-af-tid/</link>
<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 18:58:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Veulf</dc:creator>
<guid>http://ateisme.wordpress.com/2009/02/08/agnostiker-er-spild-af-tid/</guid>
<description><![CDATA[Nogle gange sker det, at man er enige med dem man mindst venter det af. Jeg har fundet en konklusion]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Nogle gange sker det, at man er enige med dem man mindst venter det af. Jeg har fundet en konklusion]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengatasi Agnostisisme Yang Tak Terelakkan  ]]></title>
<link>http://gentole.wordpress.com/2008/08/04/mengatasi-agnostisisme-yang-tak-terelakan/</link>
<pubDate>Mon, 04 Aug 2008 05:51:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gentole</dc:creator>
<guid>http://gentole.wordpress.com/2008/08/04/mengatasi-agnostisisme-yang-tak-terelakan/</guid>
<description><![CDATA[Hidup itu tak terelakkan, seperti waktu yang berlalu dan awan hitam yang menjanjikan hujan. Kata mer]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Hidup itu tak terelakkan, seperti waktu yang berlalu dan awan hitam yang menjanjikan hujan. Kata mereka, hidup itu untuk dijalani, bukan untuk direnungkan siang dan malam. Makan dan minum, itulah hidup. Sarapan pagi, berangkat kerja, makan siang di warung sebelah kantor, <em>ngegosipin</em> rekan sekantor, pulang ke kosan yang senyap, bergelut dengan nafsu di tengah maraknya penanda-penanda seksualitas, masturbasi; itulah hidup sebenarnya hidup. Hari itu akan berulang lagi esok, dan esoknya lagi, dan esoknya lagi. Niestzche menyebutnya perulangan abadi.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;"><span><img class="size-medium wp-image-167 alignleft" src="http://gentole.wordpress.com/files/2008/08/blindman.gif?w=173" alt="" width="218" height="205" /></span> </span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Pernahkah Anda berpikir tentang pola hidup Anda: rutinitas yang mendefinisikan Anda, yang bisa diukur dan dianalisa oleh pakar sosiologi dan psikologi? Apakah Anda merasa risih bila para pakar itu merasa lebih tahu tentang apa dan mengapa anda melakukan hal-hal yang anda telah, sedang dan akan lakukan daripada Anda sendiri? Memahami hidup dan menjalani hidup adalah dua hal yang sangat berbeda. Sedihnya, yang pertama jauh lebih sulit dilakukan ketimbang yang terakhir. </span></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">[basi] </span><span style="font-family:&#34;">Dunia ini panggung sandiwara, kata Nike Ardila. </span><span style="font-family:&#34;">[/basi] </span><span style="font-family:&#34;">Anda semua adalah Tom Hanks. Sedikit sekali, kalau bukan tidak ada, waktu yang kita punya untuk menjadi aktor yang buruk; melupakan dialog dan merusak jalannya pertunjukkan. Saya teringat Albert Camus, semua yang melupakan hidup dengan menjalani hidup yang lurus tanpa penghayatan, yakni menjadi aktor yang baik di depan mertua atau Istri/pacar tercinta, telah melakukan bunuh-diri filosofis. Kebahagiaan seperti itu semu adanya. Tawa Anda dan lolongan anjing di malam hari punya nilai yang sama bila penghayatan hidup dihilangkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Hidup itu tak terelakan, tetapi memahami hidup adalah pilihan, kawan.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Agnostisisme juga hadir sebagai sesuatu yang niscaya; kita tidak akan pernah mampu melihat segala sesuatu yang ‘berada’ di balik tembok. Waktu berlalu seperti ilusi, ruang menghampar bisu dalam ketakberhinggaan -– bayangkan sebuah galaksi yang jauhnya berjuta-juta tahun cahaya, dari </span><span style="font-family:&#34;">sana</span><span style="font-family:&#34;"> Anda masih akan melihat kekosongan yang megah di ufuk ‘Timur’. Ah, apalah artinya Timur atau Barat dalam ketakberhinggaan!? Tapi, atas nama sains, hanya yang bisa diukur, dilihat dan dirasakan yang bisa diketahui, dipastikan dan dikonfirmasikan sebagai benar. Di balik itu, hanya dugaan belaka. Spekulasi.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Pendeknya, agnostisisme adalah sebuah kondisi, demikian Sam Harris dan mereka yang tidak menyukai gagasan Tuhan. Saya tidak menyanggah pendapat ini. Secara epistemologis, atau dari perspektif falsafah pengetahuan, setiap orang dihadapkan pada kondisi itu; yakni ketidakmampuan, yang bersifat sementara atau pernanen, untuk mengetahui wujud Allah SWT. Apakah Dia Ada atau Tidak Ada? Satu Mutlak atau Tiga Dalam Satu, yang juga Mutlak? Jalaludin Rumi menyebutnya sebagai “kebutaan yang luar biasa.” Di mata seorang Nabi, alam adalah kebesaran Tuhan. Di mata seorang mistik, Tuhan berada di mana-mana. Bagi saya, seorang pekerja berusia 26 tahun<span> </span>yang hidup mengandalkan gaji bulanan, alam tampak sebagai satu-satunya kenyataan, puisi adalah kata-kata yang merepresentasikan dunia yang tidak nyata, Tuhan tidak lebih dari suatu gagasan atau konsep, sebuah jawab atas kehendak diri yang terus meminta-minta penjelasan. Laptop dan beberapa buku, bukan pengalaman spiritual di Gunung Sinai atau Gua Hira; hanya itu yang saya punya.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Agnostisisme itu nasib kita, Russel atau Rumi mengetahuinya dengan sangat baik. Semua orang pada dasarnya agnostik terhadap pertanyaan Tuhan, seperti halnya Anda agnostik terhadap cerita kuntilanak di pohon mangga pak haji atau tuyul-tuyul yang bikin para pengecut menjadi kaya. Anda hanya bisa menduga, percaya gak percaya, dan tidak bisa tidak untuk menjatuhkan diri pada keraguan, “katanya, sih, ada.” Dari sini, dari kondisi ini, kita dihadapkan pada suatu pilihan; merayakan kemenangan nalar/akal budi yang mengamini Ketiadaan Nilai dan mengabarkan kematian Tuhan (ateisme) beserta tahayul-tahayul lainnya, atau menerima kejatuhan nalar/akal budi yang tidak bisa dan tidak mau mengerti bahwa hidup, eksistensi, bakteri, Jupiter, bangkai tikus, supernova dan semua yang ada di semesta ini adalah sebuah kekonyolan yang luar biasa!</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Saya sadar, <a href="http://gentole.wordpress.com/2008/01/14/anda-mengaku-agnostik/">agnostisisme itu menggoda </a>selain niscaya, dan karenanya saya tidak merasa nyaman bergumul dengannya. Saya memilih kejatuhan nalar. Keyakinan bukanlah pengetahuan. Apabila jarak antara nol dan satu adalah ketakberhinggaan, apakah layak akal budi menolak keabadian, nama lain dari ketakberhinggaan? Tuhan adalah sesuatu yang diandaikan, kawan. Bagi saya, dalam kebutaan ini dan dengan payahnya akal-budi dalam upaya ambisiusnya untuk merasionalisasikan keberadaan alam semesta, Allah SWT itu tak terelakkan, seperti halnya hidup dan kematian itu sendiri.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">So, <em>bottomline</em> dari postingan ini adalah: </span><span style="font-family:&#34;">Agnostisisme itu niscaya, tetapi mengatasinya adalah pilihan. Pilihan inilah yang akan mendefinisikan Anda sebagai manusia, seorang pesimis atau optimis.</span><span style="font-family:&#34;"><span> </span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kado Maulid—Kritik atas Ulil Absar Ihwal Kemaksuman Nabi]]></title>
<link>http://hmibecak.wordpress.com/2008/04/06/kado-maulid%e2%80%94kritik-atas-ulil-absar-ihwal-kemaksuman-nabi/</link>
<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 02:20:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>hmibecak</dc:creator>
<guid>http://hmibecak.wordpress.com/2008/04/06/kado-maulid%e2%80%94kritik-atas-ulil-absar-ihwal-kemaksuman-nabi/</guid>
<description><![CDATA[Kado Maulid—Kritik atas Ulil Absar ihwal Kemaksuman Nabi Oleh: Musa Kazhim Saya sering tidak habis p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kado Maulid—Kritik atas Ulil Absar ihwal Kemaksuman Nabi Oleh: Musa Kazhim Saya sering tidak habis p]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Art of Believing]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/12/08/the-art-of-believing/</link>
<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 12:21:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/12/08/the-art-of-believing/</guid>
<description><![CDATA[It has been suggested, for countless of times, that the primary reason as for why the debates betwee]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><img src="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/12/ancientofdayswillblake.jpg"></p>
<p><!--moreDo not expect simplicity. »--></p>
<p align="justify">It has been suggested, for countless of times, that the primary reason as for why the debates between <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Freethinker">freethinkers</a> and <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Religionist">religious people</a> rarely ever come to a nonbelligerent end is that these two opposing sides hold a downright conflicting ideology. Religionists generally insist that human reason has its limits and therefore unable to reach the divine, implying directly that freethinkers are but a band of arrogant mugs that wander aimlessly without proper &#8216;guidance&#8217;, or so they say. On the other hand, freethinkers are almost viscerally convinced that religionists are trapped in the desert of circular reasoning, rejecting reason and stubbornly embracing illogical faith for eternity. To speak the truth, both sides (stereotypically) may as well be setting up <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Straw_man">straw mans</a> to refute their respective foes&#8217; claims.</p>
<p align="justify">As for the believers, most freethinkers are presumably aware of the false understandings religious apologists are fond of making; since most freethinkers started off inside the church. And it really is easy to spot several misconceptions; nevermind the complex distinction between <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Strong_and_weak_atheism">strong and weak atheism</a>, a typical religionist might not even comprehend that <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Agnosticism">agnosticism</a> is not meant as another word for <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Atheism">atheism</a>. Thus as it would be lengthy to explain the believers&#8217; &#8220;sins&#8221; towards freethinkers, it may be more intriguing to discuss what a freethinker might have misunderstood about a typical religionist.</p>
<p align="justify">So what exactly is this faith thing? Is it true that religion teaches its adherents to shun their reasoning potentiality, using doctrines of damnation as a tool to keep them under control? If it turns out to be otherwise, how did this trend surfaces? And, more importantly, how does this affect the spirit of intellectual liberty?</p>
<p align="justify">And it appears to me that the concept of &#8220;believing&#8221; is way more complex than it seems&#8230;</p>
<p><!--moreDo not expect simplicity. »--></p>
<p align="justify"><font size="4"><b>The Initial Conception of Faith</b></font></p>
<p align="justify">The concept of &#8220;faith&#8221; as &#8220;a belief that one holds despite of the abundance of evidences against such belief&#8221; might not be universal among believers after all. Grew up in the moderate Islamist environs of southeast Asia, I can tell that such stand is not even popular&#8212; let alone be universally accepted.</p>
<p align="justify">I hypothesize the following, regarding the mindset of believers surrounding me, which might be much more complex than popular freethought view;</p>
<p align="justify"><font size="4">One and the Same</font></p>
<p align="justify">Allow me to reiterate this popular freethinking sentiment; these allegedly <abbr title="Objectively speaking, this may partially be true.">gullible</abbr> believers embrace their doctrines out of <i>ignorance</i>, and refuse to employ their <i>reason</i> (which is the only way out) due to their conviction that one should not rely on it otherwise wanting to be misled by the devil.</p>
<p align="justify">This is (or may) not the case.</p>
<p align="justify">I lack the adequate familiarity with sample societies often used by mainstream freethought, say Christians; Moderate Islamists would be the religious circle I am most familiar with. And, growing up among them, I am able to judge that, to them, &#8220;faith&#8221; is not a term used to refer to &#8220;belief <abbr title="Or in the presence of a conflicting">without</abbr> evidence&#8221;. Nor is &#8220;reason&#8221; a &#8220;tool used by the devil to mislead humanity&#8221;. Instead, it seems perfectly evident to me that mainstream believers (at least the ones that I encountered) generally think of them as pretty similar things. Perhaps even one and the same. Instead of &#8220;have faith, suspend reason&#8221;, it is &#8220;think, therefore you believe&#8221;.</p>
<p align="justify">Let me remind you about the widely-quoted verse of the Bible; </p>
<blockquote><p>&#8220;The fool says in his heart; &#8216;There is no God.&#8217;&#8221;<br />
<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Psalms">Psalms 53:1</a></p></blockquote>
<p>This scriptural doctrine glorifies reason, as it dubs the atheists as &#8220;fools&#8221; as in &#8220;the ones that are deficient in intelligence&#8221;. And as we observe the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Quran">Quranic</a> teachings, we can see for ourselves that the Mohammedan scripture is in reality putting a very heavy emphasis on believers as sensible persons (i.e. reason-friendly);</p>
<blockquote><p>&#8220;Verily, in the creation of the heavens and of the earth, and the succession of night and day: and in the ships that speed through the sea with what is useful to man: and in the waters which God sends down from the sky, giving life thereby to the earth after it had been lifeless, and causing all manner of living creatures to multiply thereon: and in the change of the winds, and the clouds that run their appointed courses between sky and earth: [in all this] there are messages indeed for people who <b>use their reason</b>.&#8221;<br />
<a href="http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/002.qmt.html#002.164">The Cow: 164</a></p></blockquote>
<p>(Emphasis added)</p>
<p align="justify">Given the Quran&#8217;s poetic, rhyming nature, such ending in verses are pretty much common. That is, such claim that believing is the result of using reason is repeated over and over.</p>
<p align="justify">So it appears to me that actually reason is (or was) a much respected entity in religiosity. Think about it, aside of using the sword (which undeniably occured), the only tools available for religious expansionism were open debates and sermons. The gospels recount the story about Jesus preaching to the people, urging memorable doctrines such as the way-ahead-of-its-time &#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Turning_the_other_cheek">turning the other cheek</a>&#8221; practice. The Islamic sources&#8217; accounts are strikingly similar, tirelessly promote the image of Prophet Mohammed as mostly a preacher during his initial prophethood years in Mecca. Considering that preaching is persuasion that relies entirely on reason, one should get the idea that the concept of &#8220;faith&#8221; as some kind of suspension of disbelief actually <b>must have</b> come much much later.</p>
<p align="justify">Religions such as Christianity and Islam (along with its alleged previous forms like Abraham&#8217;s and Moses&#8217; religions) started off as a cult in a generally nontheistic societies&#8212; or so it is taught to religionists. Now, nevermind about the historical accuracy, what really counts is really what is being taught to the believers. So most Biblical (and Quranic) stories are retelling chronicles of a prophet (or the like) preaching morality and religious doctrines to a largely apathetic-ignorant societies. A minority of people later joined <abbr title="No 'his/her' here. Feminists please blame the Bible, not me.">his</abbr> cause despite the apparent hostilities from the governing majority, and the story tipically ends with the believing minority leaving town whilst God smiting the entire heathen population with his wrath, although latter prophets&#8217; stories ended with a relatively varied endings. One might wonder, why would the small minority be following the prophet (or so the scriptures are trying to suggest)? It is not likely that it is due to knowing the impending danger (yes, that; God and his bad hobby of smiting things). I would assume that religion is at this time employing, no less, reason. It is indoctrinated to children that believers believe, not because of fear, not because of the atheistic conception of &#8220;faith&#8221;, but because of <i>reason</i>. At least <b>initially</b>, reason is religion&#8217;s ally, not its adversary. Let us formulate this conception of a &#8220;classic&#8221; believer&#8217;s mind;</p>
<ul>
<li><b>Freethinkers:</b><br />
<i>instead of</i></p>
<blockquote><p>&#8220;The ones that used reason excessively, and went astray due to its usage.&#8221;</p></blockquote>
<p><i>would be</i></p>
<blockquote><p>&#8220;The ones that are ignorant; <u>does not use their reason</u> to see the clear evidences of the truth.&#8221;</p></blockquote>
</li>
<li><b>Believers:</b><br />
<i>instead of</i></p>
<blockquote><p>&#8220;The saved ones that have faith in God and religion, in spite of the opposing evidences.&#8221;</p></blockquote>
<p><i>would be</i></p>
<blockquote><p>&#8220;The ones that are enlightened; <u>use their reason</u> and saw the clear evidences of the truth.&#8221;</p></blockquote>
</li>
</ul>
<p>The conclusion? In the beginning, there was no such thing as suspending one&#8217;s reason to embrace religion. Reason was originally viewed as the path to God (or instead, to be blunt, religion), rather than the path <i>away</i> from it. It is pretty much understandable secularly, assuming that religion is but a manmade effort built in order to understand the divine, rather than a revealed holy sanction. During the time of its birth, it may as well be said that scriptural doctrines were in quite a harmony with reason.</p>
<p align="justify">I shall explain on how believers turn their backs on their trusted weapon, reason, and demonized it, in a later subchapter. For now, I would explicate how does this initial, unadultered concept of faith-reason marriage affect an average believer.</p>
<p align="justify"><font size="4">Not Necessarily a Numbskull</font></p>
<p align="justify">Hence the concept of reason as something whose usage must be limited in order to understand religion is, dare I say, alien to mainstream believers&#8212; where &#8220;mainstream believers&#8221; refers to believers that practice their religion but are not actively learning theology. People I encountered almost never thought of reason as something wicked, instead, a gift from God in order for us to reach him and his religion, a concept that is potentially amusing to nonbelievers. They would instead argue that they believe because of reason, and will be genuinely puzzled by the idea of restraining one&#8217;s reason in order to believe. Yes, they&#8217;re the kind that poke fun of atheists every now and then with aphorisms such as; <i>&#8220;Atheists are people who believe that once upon a time, boom, and everything came to be suddenly for no apparent reason at all.&#8221;</i>  (by the way, I do think that the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Primum_movens">primum movens</a> argument is really powerful).</p>
<p align="justify">In short, these people believe that instead of forgoing its use, they must use reason to counter criticisms against their respective faiths. To make it shorter, the doctrine is; all criticisms should be able to be answered logically. And indeed in practice, these people never abandon their reason and yet their beliefs were unshaken. How come? But of course, at this point one would wonder about their responses concerning litmus tests of religions such as scriptural consistency or scientific accuracy. Now that scriptural consistency is somehow unpopular, because it can be interpreted in such a way that evades repugnance, the latter was used exhaustively.</p>
<p align="justify">What do you want to start with? Whether their doctrines were compatible with modern cosmology? Or modern biology, macroevolution theories included? Somehow, these staunch believers managed to harmonize them with their scriptures. These, I see, were done by either of these following methods;</p>
<ol>
<li>The first is to deny that the scriptures contradict modern science. As we can see, the earth being round as a marble and revolving around the sun does not bother religionists much, despite several questionable scriptural contents that provoke the thought of religion teaching otherwise. In fact, nowadays there are claims that the Bible (or the Quran for that matter) actually contains modern concepts of cosmology&#8212; miraculously, of course, or so they say. Though one might then wonder why didn&#8217;t the ancient believers notice the peculiarity (<i>&#8220;This book says the earth is round! What the hell!?&#8221;</i>), most of the time their arguments are quite sound.
</li>
<li>The second is to deny modern science. While this might sound like suspending the usage of reason to you, it&#8217;s not exactly the case. Take the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Creation-Evolution_controversy">creation-evolution controversy</a> for an instance. Surely you aware of the abundance of the creationists&#8217; allegedly &#8220;scientific&#8221; rebuttals to the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Introduction_to_evolution">evolution theory</a>? Heck, they even erected a museum out of it! Now this seems quite real to them. They used their reason: they saw the creationism propaganda, and believed it. <i>No suspension of disbelief involved.</i> The abundance of evolutionary biologists to them is but a laughing matter. For them, according to the creationism propaganda, evolution is a bull. A hoax. Reason told them so. Period. Of course, one might protest that these people commited the double standard fallacy and didn&#8217;t cover both sides of the story&#8212; for, indeed evolutionary biologists have much more to say. But that is not the point. The point is, like I said, <i>no suspension of disbelief involved</i>. A huge Islamic <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sharia">sharia</a> website I visited even has this dismissal about the existence of dinosaurs; they claim that Rex and co. never existed, and are naught but the results of <abbr title="Why Hollywood anyways?">Hollywood</abbr>&#8217;s far-fetched imagination. They dismissed the idea so easily, just like that, without proper arguments.
</li>
<li>The third one would be akin to the one a teacher once said to me in a biology class; before proceeding to teach about evolution, he said some sort of disclaimer, stating that &#8220;<i>this is science&#8217;s viewpoint, the religious one might differ; both are possibly right</i>&#8220;. How the hell people can believe to conflicting thoughts such as that is, with all due respect, beyond my limited understanding.</li>
</ol>
<p>And as you can see, given such methods and (do forgive my rude remark) enough dose of ignorance, people actually <i>can</i> have a (non-liberal) faith in a particular religion without forgoing the use of their reason.</p>
<p align="justify">Additionally, perhaps it&#8217;s worth noting that several very liberal branch of Islam, such as <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Shabbir_Ahmed_(writer)">Dr. Shabbir Ahmed</a>&#8217;s and <a href="http://www.free-minds.org/">Free-Minds</a>&#8216; alternative Quran translations are almost completely in agreement with modern science; though in the process they discarded the entire concept of Islamic <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hadith">hadith</a> and consequently being labelled as heretics by the mainstream mosques (which disagreed with modern science, by the way).</p>
<p align="justify">This is one funny thing freethinkers must understand. Believers can think of freethinkers just in the same fashion freethinkers think of believers; ignorant. <i>Reason</i>-wise. Dear God.</p>
<p align="justify"><font size="4"><b>Suspension of disbelief: An evolution in religion</b></font></p>
<p align="justify">Speaking of life being the survival of the fittest, religion evolved, despite of its alleged disagreement with the concept. As aforementioned, the unadultered concept of &#8220;faith&#8221; actually never included the idea of limiting the use of reason. Rather, faith in God is rather meant just as faith in evolution. Or the fact that <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Holocaust">the Holocaust</a> occured and <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Greece_national_football_team">the Greeks</a> won the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Euro_2004">2004 European Cup</a>. Empirical evidence should be involved!</p>
<p align="justify">Then when did the devious change take place? Since when is &#8220;faith&#8221; be some kind of reason-restraining mechanism? When, and how? For the question &#8220;why&#8221;, though, I think we have the answer. Survival of the fittest. The religious concept of faith evolved because otherwise it will kick the bucket.</p>
<p align="justify"><font size="4">Discoveries kill</font></p>
<p align="justify">It is really quite easy to understand; the progress of science would be one of the most integral factors of the gradual ruination of religion. For an instance, religion, at the very least literally, suggests a very poor understanding of the cosmos. The account of <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Genesis">Genesis</a> may be aesthetically charming but is scientifically a bloody mess. Even if you can take it figuratively, one would have every right to object as for why God would deliberately obscure his message, presuming he really wanted to be heard. This is precisely why religion generally abandon reason; it&#8217;s kind of an eye for an eye, for reason had left them. Religion is a fixed thing, and when the tentative science actually flew higher than it, it can no longer afford to employ science (and hence, reason) as one of its instruments. And so the day came that reason can potentially provoke man to doubt religion instead&#8212; thus it&#8217;s perfectly understandable that religion, in self-defense, try to establish a belief that reason can be wrong. This was when the evolution take place.</p>
<p align="justify">I believe that it would be more comprehensible to explain how this phenomenon actually happen in a more zoomed-in scope. How did a believer learn to renounce and discredit reason?</p>
<p align="justify"><font size="4">Sayonara reason</font></p>
<p align="justify">Think about my hypothesis concerning about the reason-friendly (must I note, non-liberal) believers. How can they do so? How can they never doubt, when there&#8217;s every reason to doubt their suspicious (though not necessarily wrong) faiths? It is <i>ignorance</i> and their <i>lack of information</i>. Consider the first method; what if they hear about less popular scriptural contents that actually promote false cosmology? Some things are harder to justify than the others. Then they might wonder whether God deliberately used figurative speech excessively or they&#8217;re merely trying to justify something desperately. Or the second method; what would happen if they&#8217;re being exposed to the overwhelming evidences of things they&#8217;ve dismissed so easily solely on the basis of religious apologetics?</p>
<p align="justify">Below are several major foundations on which such virgin concept of &#8220;marriage of faith and reason&#8221; might finally be shaken. They keyword is <i>information</i>, as the believer dwell out of ignorance by receiving more knowlegde.</p>
<ol>
<li><b>Discovering powerful offensive arguments</b><br />
Welcome to the unpleasant state of <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cognitive_dissonance">cognitive dissonance</a>. A believer which holds the notion that reason would not contradict religious doctrines may then consider changing mind upon finding a powerful argument against the truth of his/her faith. Note that they might act apologetic instead when it comes to scriptural errors, insisting that the doctrines and reality are in complete harmony. Or alternatively, suggest that &#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/No_true_scotsman">real</a>&#8221; reason would not contradict reason, and the heathens and doubters should revise their thinking.</p>
<p>But nevertheless, in both ways they <i>do</i> suggest that this time around reason is potentially misleading. Though they&#8217;re not explicitly claiming that people should shun it instead, at this stage it would seem like recommend such &#8220;cowardice&#8221;. Now that reason can be misleading, their mindset would change; there are two safe passages to the truth&#8212; use reason very well (as in the <i>true Scotsman</i> fallacy thing), or shun it (and follow the doctrines) to be safe. Note that, at this stage, although they have yet to give up the concept of reason as a tool to reach God, they have already promoting the act of forgoing its use as an alternative, equally riskless, path.</p>
<p>Following this downfall of critical mindset, we might consider suggesting them about the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Omnipotence_paradox">omnipotence paradox</a>, which is a super-powerful litmus test. <i>Can an omnipotent God make a stone so heavy he himself couldn&#8217;t lift it?</i> It is highly likely that cases like this would be the turning point; in which a believer betray reason in order to save his/her faith. The response made to counter the omnipotence paradox would perhaps even be the first time a believer will mouth; <i>Our finite reason cannot comprehend the infinite</i>. Bang.</p>
<p>But of course, wiser believers can find a way out of this; such as redefining God&#8217;s omnipotence, much like what <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aquinas">Thomas Aquinas</a> did. Indeed, amongst staunch apologetics, sophisticated philosophies do exist. Thinkers such as <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Alvin_Plantinga">Alvin Plantinga</a> or <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Keith_Ward">Keith Ward</a> do offer liberal theories that science may find more pleasing. But pragmatically, I do not think freethinkers, strong atheists included, would have a problem with this. Religious liberalism typically (if not universally) embraces modern humanism, one thing the orthodoxy might dangerously lacks. The disagreement between liberal religionists and freethinkers is practically piffling, for this kind of believers do not have problems with issues such as free speech or proportional secularism. I.e., <i>this kind of believers do not denounce freethinkers</i>. This kind of believers are not bigots. Conversely, I believe that freethinkers ought to do the same, that is, to be liberalized. Freethinking is not an antonym for bigotry; one can be a bigoted freethinker. The problems humanist freethinkers have against religion should be concerning critical issues like religious terrorism, freedom of expression, or the repression of science&#8212; <b>not</b> because religion simply believes what freethinkers do not believe. Therefore, reason-friendly believers that argues well for their faith rather than escaping via the reason-has-its-limitations scenario should not bother the freedom of thinking.</p>
</li>
<li><b>Encountering religious fundamentalism</b><br />
Another common awakening mechanism would be the rise of fundamentalism. This issue would be rather universal; from the rise of American Christian fundamentalism <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sam_Harris">Sam Harris</a> so critically observed to the ultimate dystopia the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Taliban">Taliban</a> government had shown the world a couple years back. There&#8217;s a classic exit that religionists are very fond of using, that <i>it is but extremism</i>. Whenever a band of terrorists blow themselves up in the name of their respective religion, moderate believers would, almost always, claim that they have &#8220;misunderstood&#8221; the religion&#8217;s teachings. This may, and may not, be true. It may be, because it is the inherent nature of texts, holy texts included, to be ambiguous&#8212; after all, a saint like <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Rumi">Rumi</a> and a teenage antichrist like <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Osama_bin_Laden">bin Laden</a> gave heed to the very same book. It may not be, because the moderates often aren&#8217;t even aware of the extremists&#8217; motives, which often happened to be scripturally sound (at least at the first glance).</br><br />
<br />
One shining case study where there are much less ambiguities would be <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Polygamy_in_Islam">the allegedly Islamic practice of polygamy</a> amongst Islamists. Truly, it is almost intuitively against every sense of women rights to allow a man to possess four wives (and not the other way around, by the way), yet it is universally accepted among the clergical bodies that polygamy is permitted by the Quran. There are, of course, certain branch of Islamic liberalism that deny this notion, but considering their heretical label, their influence is infinitesimal.</p>
<p>It is arguable that all of the three monotheistic religions are inherently mysogynous by today&#8217;s standards&#8212; at the very least the <i>traditional</i> interpretations of their respective teachings. The polygyny issue is no different; it <i>is</i> tough even to the staunchest of believers to comprehend the reason why God would decreed the obvious injustice. Several apologetic justifications were made in order to harmonize the religious law with modern moralism (or, to be blunt, common sense); ranging from practical defenses like the male:female population ratio and cultural values to downright weirdness such as the pseudoscientific account of women being psychologically secure within a polygynous culture.</p>
<p>But what these apologists <b>cannot</b> do is to deny that, <i>by anyone&#8217;s snap, intuitive judgement</i>, polygyny is a conspicuous iniquity. A popular, widely-used apologetic line was the (allegedly) aphoristic &#8220;<i>Human reasoning has its limits; God knows what&#8217;s best for us. What we might see as bad, is in reality good, if seen by the ultimate wisdom; which, unfortunately, we cannot reach.</i>&#8220;</br><br />
<br />
And this sentiment is, surprisingly, scripturally sound for Muslims (which are previously being told to prioritize their reason);</p>
<blockquote><p>&#8220;Warfare is ordained for you, though it is hateful unto you; <b>but it may happen that ye hate a thing which is good for you, and it may happen that ye love a thing which is bad for you. Allah knoweth, ye know not.</b>&#8220;<br />
<a href="http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/002.qmt.html#002.216">The Cow: 216</a></p></blockquote>
<p>(Well, yes, that reads <i>warfare</i>. But nevermind the seemingly not-so-peaceful ideology behind this verse for now. Let us be fair and assume that the verse refers to self defense.)</p>
<p align="justify">While it bears a striking similarity with the aforementioned dilemma of &#8220;discovering powerful offensive arguments&#8221;, this second dilemma is in truth more powerful&#8212; because it allows no way out whatsoever. Esoteric understandings might work when it comes to denying religious doctrines&#8217; alleged scientific and logical weaknesses, but in this second case the believers would be forced to belittle the importance of reason (unless, of course, they take another shot of ignorance). When we&#8217;re talking about the omnipotence paradox, for example, we might redefine the concept to elude the paradox (a la Aquinas). When we&#8217;re talking about the scriptures&#8217; allegedly poor understanding of the cosmos, we might take the verses figuratively. But when it comes to the more difficult-to-counter criticisms such as an obsolete standard of morality, one cannot help but to &#8220;admit&#8221; the limitations of reason. Though, again, it must be noted that several ultra-liberal religionists actually survived by denying the universally accepted interpretation entirely. They survived, but it makes them so much heretical in the eyes of mainstream masses that perhaps they should be considered as freethinkers rather than religionists&#8212; therefore harmless. And they&#8217;re in no way of supporting the suppression of religious freedom, for they typically oppose this fundies idea just as much as <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Dawkins">Richard Dawkins</a> does. And nothing else matters.
</li>
</ol>
<p align="justify">But concerning the &#8220;<i>reason has its limitations, so shut the hell up</i>&#8221; notion, it should be noted, though, that this <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fideism">fideistic</a> premise suggested by these pessimists of the churches are not entirely implausible. Like <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Antony_Flew">Antony Flew</a> once wisely observed, it is entirely possible that the world (ours, at least), is governed by some kind of malevolent force that deliberately revealed <abbr title="Do forgive the patriarchal pronoun for the sake of simplicity.">his</abbr> words in a dopey fashion, whilst playing hide-and-seek with his subjects; along with a plan on throwing them to a fiery pit (namely, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hell">hell</a>) in case they failed to find him. That is, this childish deity would purposely mixed serious warnings pertaining to his silly little game with obscure verses that provoke thoughts of poor science and obsolete myths. Naturally then several educated people would opt to disbelieve the whole story, consequently falling to his cute little trap. And, of course, this he will savor.</p>
<p align="justify">Given that such heretical stand is true, it is, of course, easy to counter several <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arguments_against_the_existence_of_God">arguments against his existence</a> (particularly <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Epicurus">Epicurus</a>&#8216; naughty <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Problem_of_evil">objection</a>). The aforementioned omnipotence paradox, for an instance; is it not plausible that this wicked deity <i>really</i> did seal our reasoning capabilities? And, to broaden our horizons a bit, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Omnipotence_Paradox#Types_of_omnipotence">omnipotence does not necessarily linger amongst infinity</a>. As <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anselm_of_Canterbury">Anselm of Canterbury</a> proposed, surely the quality of being almighty (as in the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hulk_Hogan">Hulk Hogan</a> thing&#8212; he can&#8217;t make a burrito so hot he himself couldn&#8217;t swig it, but he can make a burrito out of you) would suffice for one to claim God-hood.</a></p>
<p align="justify">Nevertheless, it is perfectly reasonable to disparage such possibility. To quote Dawkins, &#8220;<i>We could all be wrong about the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Flying_Spaghetti_Monster">Flying Spaghetti Monster</a></i>&#8220;. Or rather, using the more diplomatical approach of <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tom_Paine">Tom Paine</a> in his revolutionary work <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Age_of_Reason">Age of Reason</a>, whenever we encounter an idea that&#8217;s not wholly plausible, we are &#8220;<i>not obliged to believe it</i>&#8220;.</p>
<p align="justify"><font size="4"></font></p>
<p align="justify"><font size="4"><b>The complex art of believing</b></font></p>
<p align="justify">To reiterate the conclusions so far; it seems pretty convincing to me that religions in their core doctrines pretty much respect reason as a critical aspect in faith. Believers are taught that faith is the result of using reason. This should practically be true as well; during the early periods of their developments, religions generally did not discourage the usage of reasoning, and even promote its utilization amongst their adherents. Because it must be understood that the roots of nowaday&#8217;s great religions were born in the past circumstances where their ideas were more acceptable than ever. They were far less peculiar, their claims made adequate sense, and there weren&#8217;t so much common knowledge around that can be utilized to doubt their truths.</p>
<p align="justify">Although, yes indeed, for freethought&#8217;s roots are just as ancient, religions <i>did</i> suffered from intellectual challenges from the doubters. But this trend has little influence&#8212; religious scriptures were still putting a heavy emphasis in reason. That is, <i>despite several (alleged) minor inconsistencies, pure religious teachings in the beginning did not consider reason as a believer&#8217;s adversary</i>. And then, over the time, as human understanding progresses, faith and reason clashed; resulting in a split which gave birth to religious mindsets. Faith evolved, and now exists in varied forms. The keyword is <i>evolution</i>.</p>
<p align="justify">There&#8217;s no fixed rule in formulating human mindset, therefore I have taken the liberty to use the question of <i>whether faith compatible with reason</i> as a litmus test. Several other parameters had taken my interest, but I finally settled in this one, for it covers other questions such as whether one should forgo the use of reason or not. In this circumstance, you see, &#8220;faith&#8221; would be defined as, for the sake of clarity, &#8220;what the commonly accepted edicts teach&#8221;. Whereas &#8220;reason&#8221; would be represented by the notion &#8220;what the current human understanding acknowledges as logical&#8221;. Additionally, to split up the results to further subdivisions, I divided each belief orientations based on their style of interpreting religious teachings. Here, a conservative would take the scriptural verses as words of warning (which must be understood perfectly) whereas a progressive would take them as words of advice (and is in favor of esoteric interpretations).</p>
<table border="1" width="100%" cellspacing="0" cellpadding="5">
<tr>
<th colspan="3" bgcolor="black"><font color="white">Belief Orientations</font></p>
<tr>
<th rowspan="2">&#8220;Is faith compatible with reason?&#8221;<br />
<font size="1"><i>(Both represented by mainstream religious edicts and modern science respectively.)</i></font></p>
<th colspan="2">Direction</p>
<tr>
<th>Conservative</p>
<th>Progressive</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Yes.</p>
<td>
<p align="center">Pragmatic Believers</p>
<td>
<p align="center">Intuitive Pluralists</p>
<tr>
<td>
<p align="center">No, and faith should adapt.</p>
<td>
<p align="center">Revolutionary Liberalists</p>
<td>
<p align="center">Outcast Adherents</p>
<tr>
<td>
<p align="center">No, and reason should adapt.</p>
<td>
<p align="center">Staunch Evangelists</p>
<td>
<p align="center">Miracle Seekers</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Don&#8217;t care.</p>
<td>
<p align="center">Resolute Fundamentalists</p>
<td>
<p align="center">De facto Apatheists</p>
</table>
<p align="justify">To elaborate;</p>
<ol>
<li><b>Pragmatic Believers</b><br />
<blockquote><p>&#8220;As far as I&#8217;m concerned, faith is reconcilable with reason. Nothing is wrong, and you don&#8217;t fix what ain&#8217;t broken.&#8221;</p></blockquote>
<p>Your everyday believers; they do not typically learn theology, and took for granted what&#8217;s given to them. Consequently, they are unaware of the clash between science and religion present nowadays (which is undoubtedly happening), for religious belief itself is not an integral part of their lives. They practice their religion, but more like a cultural meme rather than a divine sanction. They generally have respect for adherents of other religions (though sadly, not so much for freethinkers), lack evangelistic wills, and though are not all that passionate about their respective religions, cannot even think of leaving it. It&#8217;s conservativeness&#8212; let everything stay the way they were.</p>
<p>Using evolution-creationism controversy (again) as a sample case, a pragmatic believer may, or may not, believe in the evolution theory. Pragmatic as they are, one of them may believe in the evolution theory (believing that the account of Genesis is figurative), and another may believe in the &#8220;creation science&#8221; (believing in creationist propaganda that evolution is a hoax). They excel in self-deception, and hold that faith and reason is reconcilable&#8212; they would refuse any debates that would potentially render them to change that notion. Fortunately, they focus more in religion&#8217;s good nature, and do not linger in the realm of religious extremism (often dismissing the idea by accusing the extremists of &#8216;misunderstanding&#8217; religion). In short, they view religion as a practically insignificant, but resolutely inseparable, part of living.</p>
</li>
<li><b>Intuitive Pluralists</b><br />
<blockquote><p>&#8220;Faith wouldn&#8217;t contradict reason. Faith is reason. Reason is faith.&#8221;</p></blockquote>
<p>Intuitive pluralists are natural philosphers that happened to have a religion (and in good terms with it). They&#8217;re not well-informed about religions nor philosophy; so, they&#8217;re basically pragmatic believers that noticed religion&#8217;s (another disclaimer: at least its mainstream interpretation&#8217;s) strange values. One litmus test would be the notorious <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Problem_of_hell">problem of hell</a>. An intuitive pluralist would then use the moderate, pragmatic-believer-esque set of dogmas to ruminate about the case, and usually would agree that people of other religions should be permitted to enjoy the bliss of paradise.</p>
<p>The weakness of intuitive pluralists would be their lack of scriptural support in order to confirm their liberalized beliefs. Intuitive pluralists think independently, much like freethinkers do, but set boundaries around them on the basis of religion. They often clash with the fundies because their efforts to introduce humanist, liberalized religious values are often not scripturally sound. They typically accept (or, know) only the basics of religion, and later shape them with individual thinking. And it&#8217;s worth noting that intuitive pluralists (most of the time) do not reject any forms of modern science, firmly believing (albeit perhaps lacking in contemporary religious decrees and jurisprudences) that the scriptures would fit in.</p>
</li>
<li><b>Revolutionary Liberalists</b><br />
<blockquote><p>&#8220;The purest form of religion wouldn&#8217;t contradict reason, but the current clerical sentiments don&#8217;t necessarily represent that.&#8221;</p></blockquote>
<p>In a way, revolutionary liberalists are like the drunken intuitive pluralists splashed with cold water. This type of believers realized that the clergical bodies present in the world today mostly are not in favor of several issues regarding modern humanist and scientific values. They acknowledge this. And they&#8217;re assuming that instead of their religion being wrong, it was being wrongly interpreted (which is entirely plausible, of course). Revolutionary liberalists stress esoteric interpretations and promote the basic, universal values of religion.</p>
<p>A revolutionary liberalist assumes that while the gist of religious teachings should be timeless, at one time in the past, it was affected by external cultural values and therefore corrupted. So what they are calling is not exactly another evolution in religion, but rather a reinterpretation, or, in another way, the act of cleansing religious commandments from the dirts of cultural values. Unlike intuitive pluralists, the liberalists are <i>able</i> to debate with the fundamentalists with scriptural arguments, albeit from a different, more esoteric, standpoint. This particular belief orientation is arguably common amongst religious intellectuals that cared about the future of society&#8217;s religious life, yet didn&#8217;t affiliate themselves with conservative religious constitutions.</p>
</li>
<li><b>Outcast Adherents</b><br />
<blockquote><p>&#8220;True teachings are in harmony with reason, but most people misinterpreted them. Don&#8217;t trust the clergical edicts, for the scripture actually supports what secular science holds to be true.&#8221;</p></blockquote>
<p>Following religion&#8217;s long history, along with the feuds it has made with reason, groups of people demanding radical changes appeared. It is a trend that&#8217;s ineluctable, due to religion&#8217;s tendency to rely heavily in written scriptures. As it was said before, texts are inherently ambiguous&#8212; a single sentence can be interpreted to so many ways. Some people interpret it in a fashion that greatly differs from the mainstream understanding, resulting in small cults that&#8217;s practically new religions in their own rights.</p>
<p>By this notion I am not referring to the downright ridiculous, eccentric, and suicidal cults, for they&#8217;ll simply be fundamentalists with differing band of prophets&#8212; but rather to the cleverly liberal intellectual societies akin to the <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Society_of_Friends">Quakers</a>. A very rare minority, typically their understanding of religion is in agreement with the current zeitgeist&#8217; moral standards, and generally take a very figurative approach to the scriptures.</p>
</li>
<li><b>Staunch Evangelists</b><br />
<blockquote><p>&#8220;Faith may be illogical at times, but just believe them anyways. Science may have misunderstood the nature, and moreover, this might be one of God&#8217;s trials on humanity.&#8221;</p></blockquote>
<p>Here comes the first band that opted to limit their reasoning capabilities. They openly admit that modern science is incompatible with religious teachings; and concluded that science must be wrong. Typical staunch evangelists do not buy scientific evidences and simply dismissed the scientific hypothesis because the scripture says otherwise.</p>
<p>Unlike pragmatic believers or intuitive pluralists, they&#8217;re well-informed about their religion and understood about the existence of the science-religion conflicts. Due to their passion towards their respective religions, they usually attend extra religious clubs. It is in such clubs that they heard of the conflicts, in the form of the apologetic works made to counter the critics&#8212; which is why they&#8217;re pretty much biased. They fell in love with their faith, and would defend it at all cost. A typical trait shared by the believers of this type would be their doubt towards modern science&#8212; and their frequent affair with the realm of pseudoscientific apologetics.</p>
</li>
<li><b>Miracle Seekers</b><br />
<blockquote><p>&#8220;Science is tentative, therefore can be wrong. In the long run, science will eventually conform to what religion teaches.&#8221;</p></blockquote>
<p>Strikingly similar to the aforesaid staunch evangelists, only that their motive of keep believing leans more to the side of reason than blindfolded fear. They rely on miracles to confirm their belief&#8212; Miracles happened, therefore religion must be correct. Ergo, eventually what contradicts religion will turn out to be false. A notion that&#8217;s contrasting with the staunch evangelists who believe for no apparent reason at all.</p>
<p>Note that because an alleged miracle can confirm any kind of postulates, a miracle seeker&#8217;s stand may range from extremely conservative to extremely liberal. Though yes, the pricipal rule of &#8220;faith over reason&#8221; would remain intact. A miracle seeker is potentially very commited to his/her faith, and even rather bigoted.</p>
</li>
<li><b>Resolute Fundamentalists</b><br />
<blockquote><p>&#8220;It doesn&#8217;t matter what science or reason or whatever says. Just believe or go to hell.&#8221;</p></blockquote>
<p>You know these guys. Resolute fundamentalists hold that the scriptures are meant as commands; it is not meant to be questioned. Logically this is but a form of <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Begging_the_question">circular reasoning</a>, but that is enough for them. If their religion agreed with science, so be it. If it&#8217;s the other way around, so be it. Vamoose and don&#8217;t bother.</p>
</li>
<li><b>De facto Apatheists</b><br />
<blockquote><p>&#8220;I don&#8217;t know. Let&#8217;s talk about something else.&#8221;</p></blockquote>
<p>What to say, these people don&#8217;t care whether their religion contradicts science of not, and do not even attempt to conserve its practice. De facto Apatheist do not view religion as an integral part of their lives, and is indifferent towards its practices and teachings. They live their lives in a largely secular proportion, and though will admit being an adherent if asked, they rely mostly in purely instictive thinking that is virtually unaffected by religious values.</p>
</li>
</ol>
<p>And furthermore, to describe the principal differences between groups that share the same notion, but with differing scriptural approach;</p>
<table border="1" width="100%" cellspacing="0" cellpadding="5">
<tr>
<th colspan="3" bgcolor="black"><font color="white">Head-to-head comparisons</font></p>
<tr>
<th>
<p align="center">Orientations</p>
<th>
<p align="center">Compatibility</p>
<th>
<p align="center">Incompatibility</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Pragmatic Believers</p>
<td rowspan="2">
<p align="center">Mainstream religious values do not contradict modern science.</p>
<td>
<p align="center">Insists in the importance of conserving ritual practice and symbolic elements.</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Intuitive Pluralists</p>
<td>
<p align="center">Stresses universal moral values and implicit worships instead.</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Revolutionary Liberalists</p>
<td rowspan="2">
<p align="center">Religion should have been consistent with science, and the apparent inconsistencies came from the possibility of religion being misunderstood.</p>
<td>
<p align="center">Only desires to change rulings that are considered as obsolete; limited to nonspiritual edicts, even.</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Outcast Adherents</p>
<td>
<p align="center">Demands radical changes; even to the point of changing the whole disposition of religion.</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Staunch Evangelists</p>
<td rowspan="2">
<p align="center">Belief is more important than science, hence reason should be suspended if it&#8217;s incompatible with faith.</p>
<td>
<p align="center">&#8216;Condemns&#8217; scientific heresies altogether.</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Miracle Seekers</p>
<td>
<p align="center">Merely doubts the <i>current understanding</i> of modern science.</p>
<tr>
<td>
<p align="center">Resolute Fundamentalists</p>
<td rowspan="2">
<p align="center">Whatever happened, changing religious values would be irrelevant.</p>
<td>
<p align="center">Practices religion with perseverance.</p>
<tr>
<td>
<p align="center">De facto Apatheists</p>
<td>
<p align="center">Practically indifferent towards religious practices.</p>
</table>
<p align="justify">And as we can clearly observe, indeed there are a number of approaches that can be made to a certain conception.</p>
<p align="justify"><font size="4"><b>As the Dust Settles</b></font></p>
<p align="justify">Observing the fashion that is used by believers to hold their respective faiths, I am convinced that believing is in reality a complex resultant born from numerous gradual processes, involving several outside factors; ranging from personal experiences, educational backgrounds, personal philosophy, and, of course, the amount of information (and misinformation) received during one&#8217;s lifetime. When someone believes in the truth of a certain religious claim, s/he is not necessarily be restraining one&#8217;s reason. Believers may be ignorant about the centuries-long clash between scientists and the church, or even simply don&#8217;t care.</p>
<p align="justify">They can also being fed with false claims concerning scientific facts, ranging from pseudoscientific accounts to cleverly-built hoaxes. There are also alleged miracles, which oftentimes cannot be empirically verified. Whenever an objection about the truth of one religion be delivered, one might use an esoteric interpretation to render it somehow logical. Following this, the objector might even raise the question as for why the message of God be so obscure. The debate then continues, and one cannot help but wonder how would the conflict end. There are so many possibilities, so many options.</p>
<p align="justify">What about the truth claims of religion? Is religion true? How many of them? One? Two? Or perhaps more? Is Christianity true? Which understanding of Christianity? Or is it Islam? Which version? Even if they&#8217;re true, what then? What would the truth of a religion imply? The fate of all souls who ever lived, as in the heaven/hell scenario? Or will freethinking prevail? Assuming that it&#8217;s true, will that be of importance, had the conception of &#8220;souls&#8221; turn out to be false? We won&#8217;t be able to know the answers anyways. Is that a good thing? Or is that not?</p>
<p align="justify">Now, if religions are all false, how to get rid of all of them? Some people refused to talk about it. Some of those who refused are potentially dangerous to intelectual liberty. Some are not. What about them? And what about alternative interpretations? Do they make sense, or simply far-fetched ideas? If one religion is true, what would be used to confirm its truth?</p>
<p align="justify">Is religion an obsolete meme that survived through the ages because of the selfish nature in their doctrines?</p>
<p align="justify">Or is religion absolute truth, and freethinking is but a form of escapism?</p>
<p align="justify">If I were to answer that <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ultimate_Question">ultimate question</a>, I&#8217;ll be blunt; to quote <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Green_Ingersoll">Robert Ingersoll</a>, &#8220;<i>We can be as honest as we are ignorant. If we are, when asked what is beyond the horizon of the known, we must say that we do not know.</i>&#8220;</p>
<p><img BORDER="1" ALIGN="right" ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/06/thecoatofarms.jpg" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Don't Drag Me Down"...?]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/11/27/dont-drag-me-down/</link>
<pubDate>Tue, 27 Nov 2007 14:49:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/11/27/dont-drag-me-down/</guid>
<description><![CDATA[Kita lupakan sejenak perkara hegemoni intelektual MUI. Lupakan dulu egoisme kalangan mayoritas yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p ALIGN="justify">Kita lupakan sejenak perkara <a HREF="http://danalingga.wordpress.com/2007/11/23/mui-yang-kebablasan/">hegemoni intelektual MUI</a>. Lupakan dulu egoisme kalangan mayoritas yang memaksakan interpretasi versi mereka (atas teks yang memang bukannya tidak ambigu) pada kaum minoritas, sebuah tirani yang bisa jadi lebih berlandaskan tendensi konservativisme-autoritarian ketimbang pemahaman yang didedikasikan untuk mencari titik temu. Selain membuktikan kelemahan kadar sekularisme yang sedang diterapkan, memang insiden ini mencerminkan masih belum terjaminnya kebebasan tiap individu untuk menentukan apa yang semestinya ia percaya; menyedihkan, ketika butiran konsep <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Thoughtcrime">thoughtcrime</a> a la <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Nineteen_Eighty_Four">1984</a> berlaku secara resmi. Bagaimana tidak, toh distopia intelektual a la Iran (yang katanya <a HREF="http://www2.ttcn.ne.jp/~honkawa/9460.html">menganggap freethinking sebagai tindakan kriminal</a>) saja bisa dicap positif atas basis solidaritas religius murni.</p>
<p ALIGN="justify">Lupakan juga soal <a HREF="http://bolanews.com/ole_internasional/14621.php">kegagalan Inggris melenggang ke pentas Euro 2008</a>. Atau soal <a HREF="http://indcoup.blogspot.com/2007/11/tree-man-indonesia.html">manusia pohon</a>, <a HREF="http://clipmarks.com/clipmark/9A6363B1-F405-4C26-8552-506355FF7737/">reog a la Malaysia</a>, atau malah <a HREF="http://foto.detik.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/25/time/184456/idnews/857255/idkanal/431/id/1">kembennya Dewi Persik</a>. Lupakan semuanya.</p>
<p><!--moreSoalnya yang ini sedikit menarik... »--></p>
<p ALIGN="justify">Soalnya yang ini sedikit menarik&#8230;</p>
<p><font SIZE="4"><a HREF="http://hypnosis.home.netcom.com/iq_vs_religiosity.htm">Hubungan Agama dan Kecerdasan</a></font></p>
<p ALIGN="justify">Studi ini tergolong baru, hasil penelitian tahun 2006. Dengan sampel dari berbagai negara, meneliti hubungan antara level IQ dengan pandangan terhadap pentingnya agama. Hasilnya cukup unik, ternyata semakin tinggi kecenderungan suatu negara ber-IQ di atas rata-rata, semakin rendah apresiasinya terhadap agama. Misalnya, dari sampel survey asal Jepang yang rata-rata IQ-nya mencapai 105 poin, hanya 12% yang menganggap agama sebagai entitas integral dalam kehidupan. Masyarakat-masyarakat yang lebih terbiasa dengan iklim intelektual ternyata cenderung menafikan pentingnya agama; tanya kenapa? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p ALIGN="justify">Anda bisa mengecek survey tentang level prioritas pada agama tersebut di [<a HREF="http://pewglobal.org/reports/display.php?ReportID=167">sini</a>]. Namun kebetulan link tersebut tidak membahas hubungannya dengan IQ, melainkan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Per_capita_income">pendapatan per kapita</a>. Dan ya, negara yang miskin cenderung jauh lebih religius (atau, negara yang religius cenderung lebih miskin?).</p>
<p ALIGN="justify">Berikut grafik tentang hubungan IQ-religiusitas tersebut;</p>
<p ALIGN="left"><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/11/agamaviq.jpg" BORDER="1" /></p>
<p ALIGN="justify">Dan grafik tentang hubungan pendapatan per kapita-religiusitas;</p>
<p ALIGN="left"><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/11/agamavduit.jpg" BORDER="1" /></p>
<p ALIGN="justify">(Bisa diperhatikan, bahwa hubungan religiusitas dengan IQ lebih meyakinkan ketimbang dengan pendapatan per kapita.)</p>
<p ALIGN="justify">Berikut data lengkapnya&#8212; hanya tersedia untuk penelitian hubungan IQ dan religiusitas;</p>
<p ALIGN="center">&#160;</p>
<table BORDER="1" WIDTH="80%" CELLSPACING="0" CELLPADDING="5">
<tr>
<td WIDTH="33%">
<p ALIGN="center"><strong>Negara</strong></p>
</td>
<td WIDTH="33%">
<p ALIGN="center"><strong>Persentase menganggap agama sebagai elemen penting kehidupan (%)</strong></p>
</td>
<td WIDTH="34%">
<p ALIGN="center"><strong>Level IQ</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Afrika Selatan</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">87</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">72</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Amerika Serikat</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">59</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">98</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%">
<p ALIGN="center">Angola</p>
</td>
<td WIDTH="33%">
<p ALIGN="center">80</p>
</td>
<td WIDTH="34%">
<p ALIGN="center">69</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Argentina</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">39</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">96</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Bangladesh</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">88</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">81</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Bolivia</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">66</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">85</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Brazil</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">77</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">87</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Bulgaria</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">13</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">93</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Ceko, Republik</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">11</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">97</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Filipina</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">88</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">86</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Ghana</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">84</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">71</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Guatemala</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">80</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">79</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Honduras</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">72</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">84</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">India</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">92</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">81</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center"><strong>Indonesia</strong></td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">95</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">89</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Inggris, Kerajaan</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">33</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">100</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Italia</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">27</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">102</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Jepang</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">12</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">105</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Jerman</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">21</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">102</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Kanada</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">30</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">97</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Kenya</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">85</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">72</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Korea Selatan</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">25</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">106</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Mali</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">90</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">68</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Meksiko</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">57</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">87</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Nigeria</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">92</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">67</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Pakistan</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">91</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">81</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Pantai Gading</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">91</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">71</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Perancis</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">11</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">98</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Peru</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">69</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">90</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Polandia</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">36</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">99</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Rusia</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">14</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">96</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Senegal</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">97</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">64</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Slowakia</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">29</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">95</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Tanzania</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">83</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">72</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Turki</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">65</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">90</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Uganda</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">85</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">73</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Ukraina</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">35</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">96</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Uzbekistan</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">35</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">87</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Venezuela</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">61</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">88</td>
</tr>
<tr>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">Vietnam</td>
<td WIDTH="33%" ALIGN="center">24</td>
<td WIDTH="34%" ALIGN="center">96</td>
</tr>
</table>
<p ALIGN="justify">Kita lihat, memang benar, negara-negara yang rata-rata IQ-nya melebihi 95 poin, persentase apresiasi agamanya cenderung kurang dari 50%. Sementara negara-negara religius yang apresiasinya melebihi 90%, rata-rata IQ-nya tidak ada yang mencapai 90 poin.</p>
<p><font SIZE="4">Kesimpulan?</font></p>
<p ALIGN="justify">Lalu, apakah kesimpulannya? Yah, walau tentunya hasil survey di atas tidaklah sempurna, masih memiliki lubang, dan masih bisa dipertanyakan, namun tentunya tidak bijak juga langsung mengecapnya absurd (apalagi konspirasi Yahudi™). Selain sampel yang digunakan juga cukup luas, terdapat argumen-argumen bagus yang menyatakan bahwa konsep <em>thin-slicing</em> seperti ini akurasinya tidak bisa dianggap enteng (teori <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Malcolm_Gladwell">Malcolm Gladwell</a> misalnya).</p>
<p ALIGN="justify">&#160;</p>
<ol>
<li>Kesimpulan yang mungkin diambil #1:<br />
&#8220;Itu sebabnya, jangan mendewakan akal! Ini adalah pertanda akhir zaman; manusia mulai sombong dan meninggalkan Tuhannya. Kiamat sudah dekat&#8212; banyak orang yang merasa sudah pintar dan jumawa, lantas tidak mengakui adanya Tuhan. Jangan terpengaruh, segera pertebal iman, sebab dunia hanya sementara. Ingat akan adzab pedih yang akan ditimpakan oleh-Nya&#8221;.</li>
<li>Kesimpulan yang mungkin diambil #2:<br />
&#8220;Ini tentu pertanda bahwa masyarakat mulai mengalami pencerahan intelektual dan mulai melupakan mitologi-mitologi kuno yang masih berbekas. Jalan menuju kebenaran selalu bersifat progresif&#8212; kecuali yang berkaitan dengan agama. Kenapa Tuhan sengaja membuat agama bertentangan dengan berbagai aspek sains dan akal manusia? Supaya semakin susah dijangkau? Jadi akal itu adalah jebakan dari Tuhan?&#8221;</li>
</ol>
<p ALIGN="justify">Anda sendiri berpendapat bagaimana? Kesimpulan pertama, kedua, atau ada pandangan tersendiri? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p ALIGN="justify"><em>p.s. Kelompok penolak agama tersebut adalah kelompok <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Irreligion">irreligius</a>, dan bukan berarti penganut atheisme apatis. Banyak yang percaya akan eksistensi Tuhan; bahkan ada yang menganut agama, walaupun tergolong aliran <em>far left</em>.</em></p>
<p><img BORDER="1" ALIGN="right" ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/06/thecoatofarms.jpg" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tuhan Tidak Pernah Dicintai]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/11/06/tuhan-tidak-pernah-dicintai/</link>
<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 05:24:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/11/06/tuhan-tidak-pernah-dicintai/</guid>
<description><![CDATA[Suzumiya. One of the more pleasant conceptions of God. * * * Beberapa waktu yang lalu saya sempat me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p ALIGN="center"><img BORDER="1" SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/11/haruhi-beer.png" /></p>
<p ALIGN="center"><em>Suzumiya. One of the more pleasant conceptions of God.</em></p>
<p ALIGN="center">* * *</p>
<p ALIGN="justify">Beberapa waktu yang lalu saya sempat mengikuti sebuah diskusi yang diadakan di sebuah forum. Topik yang disediakan saat itu adalah tentang <a HREF="http://abasalma.wordpress.com/2007/11/03/sadarlah-pengikut-qiyadah/">Al-Qiyadah</a>, sebuah topik yang memang kurang familiar bagi saya; seseorang yang sedang berdomisili di luar Indonesia. Respon peserta-peserta diskusi sebenarnya senada dengan respon-respon yang saya temui di lain tempat, yaitu lebih mirip celaan dan tertawaan ketimbang keluhan dan rintihan.</p>
<p ALIGN="justify">Tapi ada yang menarik.</p>
<p ALIGN="justify"><!--moreAgama adalah egoisme. »--></p>
<p ALIGN="justify">Yang menarik adalah reaksi yang timbul setelah salah satu peserta membawa-bawa nama <a HREF="http://islamlib.com">Jaringan Islam Liberal (JIL)</a>. Menurut perserta tersebut, bukan hanya <em>cult</em> eksentrik semacam Al-Qiyadah yang mesti diwaspadai, namun juga gerakan-gerakan sayap kiri seperti JIL. Kebanyakan member yang ada memang mengamini sentimen tersebut&#8212; namun saya memilih untuk mempertanyakannya. Tentunya bukan persoalan setuju atau tidak setuju, melainkan jalan pemikiran yang cenderung sempit dan tidak menghargai perbedaan. Jadi, saya pun <em>nyeletuk</em>, mengapa tidak ada toleransi terhadap JIL? Bukankah kalau mereka memang sebegitu terkutuknya, Tuhan yang Maha Kuasa itu akan mengadili mereka nantinya?</p>
<p ALIGN="justify">Ternyata sambutan akan gagasan pluralis saya itu tidak terlalu bagus. Menurut kebanyakan member yang mengikuti diskusi, JIL terlalu &#8216;berbahaya&#8217;. Dalihnya adalah karena gerakan liberalisme a la JIL berpotensi &#8216;merusak Islam&#8217;. Ayat-ayat pun mulai berseliweran, dan bahasa yang dipergunakan pun semakin khas para saudagar agama&#8212; <em>fallacious</em> dan puitis (a la padang pasir tentunya). Tendensi fundamental yang menurut saya sangat mengejutkan untuk ditemui di sebuah forum yang berbasiskan <em>pop culture</em>.</p>
<p ALIGN="justify">Ada tiga pemikiran unik yang saya temui;</p>
<ol>
<li><em>&#8220;JIL &#8216;jelas-jelas&#8217; sudah menyalahi kitab suci.&#8221;</em><br />
Ini yang paling umum. Sebenarnya saya kurang begitu paham perkara apa yang &#8216;jelas&#8217; dalam belantara agama, namun demikianlah sentimen yang ada. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </li>
<li><em>&#8220;JIL adalah agen CIA yang dibentuk untuk menghancurkan Islam dari dalam.&#8221;<br />
</em><em>Oh please. <img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/11/vgilol.gif" /> </em></li>
<li><em>&#8220;JIL, atau Al-Qiyadah, sebaiknya jangan memakai nama Islam. Bikin saja agama sendiri.&#8221;<br />
</em>Sedikit mengingatkan saya pada tulisan <a HREF="http://muhshodiq.wordpress.com/">Pak Shodiq</a> di [<a HREF="http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/01/bolehkah-mendirikan-agama-baru-di-negara-berdasar-pancasila/">sini</a>]. Menurut mereka, Islam hanyalah milik mereka. Wujudnya sudah tetap, dan tidak boleh diganggu gugat.</li>
</ol>
<p ALIGN="justify">Ah, tapi saya tidak akan membicarakan JIL. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Yang menurut saya menarik adalah bahwa dengan diskusi singkat yang saya ikuti di atas, saya semakin berpikir bahwa pada hakikatnya Tuhan tidak pernah dicintai. Tuhan hanyalah suatu konsepsi imajiner yang dibentuk dan kemudian dieksploitasi. Saya tidak mengatakan bahwa Tuhan tidak wujud, namun <em>konsepsi</em> Tuhan selalu dibentuk secara mandiri oleh masing-masing individu. Hal ini menjadikan agama sebagai tidak lain proyek paling egois yang pernah ada. Tuhan tidak pernah dicintai. Ia hanya dieksploitasi.</p>
<p ALIGN="justify"><font SIZE="4"><strong>Pada Dasarnya, Kita Hanya Tidak Ingin Berubah</strong></font></p>
<p ALIGN="justify">Oke, agama dan sifat keras kepala memang terlalu sering berdampingan, tapi mungkin ada baiknya kita membahas ini lagi. <strong>Pertama</strong>, saya sangat kebingungan dengan bagaimana para peserta diskusi waktu itu menganggap Al-Qiyadah dan JIL sudah &#8216;jelas&#8217; sesat. Penggunaan konsep &#8216;jelas&#8217; di sini sangat membuat saya keberatan. Tidak pernahkah melihat dari sudut pandang lain? Ada alasan kenapa sebagian orang memilih berafiliasi dengan JIL atau Al-Qiyadah; apakah mereka dengan sengaja memasuki yang &#8216;jelas-jelas sesat&#8217;? Apa mereka dengan sengaja menyesatkan diri? Boleh saja menganggap orang lain sesat, nyaris semua orang di dunia melakukannya. Tapi tidak ada yang namanya &#8216;jelas-jelas sesat&#8217;. Oh, dan silakan coba baca <a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/11/05/a-pleasingly-heretical-paradise/">buku yang kemarin saya review</a>. Ada pelajaran tentang sudut pandang di sana, ketika Eddie Maintenance mengunjungi surga level pertama.</p>
<p ALIGN="justify"><strong>Kedua</strong>, selain kecenderungan menganggap remeh pendapat lain, saya melihat adanya kemampuan bertoleransi yang buruk. Ayolah, membubarkan suatu aliran secara paksa? :&#124; Seperti yang saya katakan, kalau kepercayaan mereka memang keliru, bukankah konon sudah tersedia hukuman? Dalih yang dipakai adalah &#8216;menjaga keaslian ajaran agama&#8217;. Oke, bisa saja niatnya memang semulia itu. Tapi, mungkinkah ada motif lain? Perlu kita ingat bahwa <em>bigotry</em> ini jauh lebih lemah apabila sudah berhadapan dengan agama resmi lain. Saya kira, umat Islam fundamental, misalnya, umumnya jauh lebih bisa bertoleransi dengan umat Kristiani ketimbang Islam liberal. Padahal, posisi keduanya sebenarnya tidaklah berbeda di mata sang pengamat; sesama penghuni neraka. Kenapa?</p>
<p ALIGN="justify">Di sinilah hipotesis saya bermula; alasannya sederhana. Karena pada dasarnya kita tidak ingin salah, dan tidak ingin berubah. Agama, yang biasanya bertindak sebagai agen <em>salvation</em>, secara otomatis menyuntikkan para penganutnya sebuah sikap negatif; yaitu kecenderungan untuk <em>bersikap defensif akan doktrin yang mereka anut.</em></p>
<p ALIGN="justify">Oleh sebab itulah penganut agama paling tidak bisa menerima ajaran yang mereka terima saat ini dipersalahkan. Keberadaan kaum liberal dan <em>cult</em> seperti Al-Qiyadah adalah embodimen adanya ketidaksetujuan itu. Di sinilah umat menjadi sangat defensif dan tidak toleran. Agama, terutama agama Abrahamik, adalah dikotomi raksasa antara benar dan salah; sebuah ideologi yang biasanya dipahami sebagai pemikiran tanpa area abu-abu. Dikotomi inilah yang menyebabkan pemahaman berbeda yang semakin &#8216;dekat&#8217;, semakin mengerikan. Sebab, seperti yang saya katakan, agama jarang menyisakan area abu-abu. Sikap kasar terhadap penganut agama yang nyeleneh seperti ini, menurut saya adalah refleksi sikap paranoid yang ada pada umat. Karena para minoritas yang eksentrik ini bisa dikatakan mewakili kemungkinan gagal yang lebih &#8216;nyaris mendekati keberhasilan&#8217;. Kegagalan yang lebih menyakitkan. Karena minoritas yang eksentrik ini mewakili komplikasi kepercayaan; entitas yang menambah rumit permainan Tuhan. Dengan memakai gagasan ini, keinginan supaya JIL dan Al-Qiyadah membentuk agama baru menjadi sangat bisa dipahami.</p>
<p ALIGN="justify"><font SIZE="4"><strong>Tuhan Tidak Pernah Dicintai</strong></font></p>
<p ALIGN="justify">Menariknya, sisi agama yang dipermasalahkan <em>sangat jarang bersangkutan dengan Tuhan</em>. Yang diributkan selalu tetek bengeknya; jilbab lah, masalah pacaran lah, tata cara ritual lah, tidak pernah bersangkutan langsung dengan Tuhan. Semuanya perkara yurisprudensi. Tandanya apa? Tuhan tidak pernah dipermasalahkan.</p>
<p ALIGN="justify">Kalau seandainya Tuhan adalah prioritas, tentunya yang seperti itu hanyalah permasalahan sepele. Yang penting rajin menyembah-nyembah Beliau, bagaimanapun caranya. Semestinya yang dijadikan parameter adalah cinta terhadap Tuhan; baik itu yang ada di masjid, gereja, atau apapun. Tapi kenyataanya Tuhan ternyata tidak pernah terlalu diperhitungkan. Di sini agama tereduksi sebagai hanya proyek menyelamatkan diri sendiri. Suatu egoisme dan kepengecutan manusia-manusia yang terkencing-kencing membayangkan suatu tempat yang bernama neraka.</p>
<p ALIGN="justify">Mengapa umat begitu terobsesi mengetahui jawaban <a HREF="http://kangtutur.wordpress.com/2007/09/24/pacaran-a-la-ustadz-mustika/">apakah pacaran itu dihalalkan atau tidak</a>? Mengapa begitu ingin tahu apakah <a HREF="http://suakahati.wordpress.com/2007/10/04/bunda-theresa-emang-kafir/">Bunda Teresa</a> layak masuk surga atau tidak? <strong>Karena sejak awal Tuhan bukanlah prioritas</strong>. Ia mungkin tidak pernah dicintai. Tuhan adalah komoditas yang paling menarik untuk diperkosa dan dieksploitasi. Saya kira pemahaman agama yang ada saat ini bukanlah tentang Tuhan. Hanyalah permasalahan halal-haram. Implikasinya, hanyalah masalah surga-neraka. Agama yang tersaji saat ini adalah proyek egoisme yang oportunis. Tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Tuhan atau kemanusiaan. Agama diikuti karena umatnya menginginkan keselamatan. Sesederhana itu. Tidak ada teologi kompleks a la <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Rumi">Rumi</a>. Hanya proyek demi kepentingan pribadi.</p>
<p ALIGN="justify">Saya jadi tertarik untuk menyorot <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Deism">Deisme</a>. Wujud (mainstream) Deisme bisa dikatakan merupakan wujud iman yang paling ikhlas dan humanis. Para penganutnya setahu saya umumnya tidak berdoa; dalam artian meminta pertolongan Tuhan. Mereka tidak merasa Tuhan punya kewajiban apapun untuk menolong organisme rendah seperti manusia. Namun mereka selalu memberi <em>homage</em> pada Tuhan&#8212; berterima kasih pada-Nya, dan menyebut nama-Nya. Mereka juga umumnya tidak percaya dengan konsep afterlife. Jadi, mereka boleh dikatakan tidak mengambil manfaat apapun secara langsung dari Tuhan. Tidak ada intervensi, tidak ada keabadian di surga. Kebalikan dari praktek agama oportunis yang ada.</p>
<p ALIGN="justify">Naah, saya pernah menyinggung tentang kebijakan &#8216;tanpa doa&#8217; deistik ini pada diskusi dalam forum yang saya sebutkan di atas. Hasilnya ide tersebut ditertawakan. <img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/11/vgilol.gif" /> <em>&#8220;That&#8217;s his job!&#8221;</em>, katanya. Nah, &#8216;kan. Jadi, jangan menyalahkan saya kalau saya akhirnya berkesimpulan kalau agama memang hanyalah proyek oportunis-egois. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img BORDER="1" ALIGN="right" ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/06/thecoatofarms.jpg" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Built-in Self Defense Mechanism]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/10/03/built-in-self-defense-mechanism/</link>
<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 02:23:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/10/03/built-in-self-defense-mechanism/</guid>
<description><![CDATA[Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Sayalah anjingnya, sayalah kafilahnya. Yup, yup, walaupun temp]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/09/19/faith-bomb/">Anjing menggonggong</a>, kafilah berlalu. Sayalah anjingnya, sayalah kafilahnya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Yup, yup, walaupun tempo hari saya sendiri yang ngedumel karena pembahasan tentang agama di blogosfer (dan di &#8216;rumah&#8217; saya sendiri) sudah overdosis, kali ini saya akan tetap menulis tentang hal yang sama. Saya memang sudah kecanduan, dan tidak ada yang bisa menghalangi saya <strike>kecuali pacar saya&#8230; Dan saya tidak punya pacar</strike>.</p>
<p ALIGN="center"><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/10/ranmapun.jpg" /></p>
<p>Oks, oks, kembali ke goa<sup>[1]</sup>.</p>
<blockquote><p>&#8220;Akal manusia ada batasnya. Tidak akan bisa meraih Tuhan dan agama. Oleh sebab itu, sebaiknya jangan berpikir terlalu jauh&#8212; sebab setan-setan akan dengan mudah membelokkan akal yang terbatas itu, dan menjebak kita untuk berpaling dari jalan yang benar.&#8221;</p></blockquote>
<p>Ho, jangan pura-pura tidak tahu. Anda pasti familiar dengan sentimen seperti itu. Atas nama sentimen yang sama pula blogosfer di sekitar sini sempat menjadi panas awal tahun ini. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sejatinya, doktrin di atas adalah embodimen dari paham <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Fideism">fideisme</a>. Paham bahwa akal tidak akan bisa dipakai untuk menjangkau Tuhan. Walaupun menurut saya pribadi konsep ini bisa saja sejalan dengan <em>freethought</em>, pada prakteknya memang sang konsep lebih sering diperbudak oleh dogma. Memang, dengan konsep seperti itu, se-absurd apapun dogmanya, umat memang akan tetap tunduk dan taat. Singkatnya sih, statemen di atas adalah <em>built-in self defense mechanism</em> pada kebanyakan agama. Kalau ada seorang kafir yang argumennya terlalu susah dipatahkan, tinggal pakai fungsi di atas. Habis perkara.</p>
<p>Nah, lucunya, menurut pengamatan saya, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Atheism">atheisme</a> sedikt banyak juga punya dogma seperti di atas.</p>
<p><!--moreAtheists and dogmatism in cahoots? »--></p>
<p><font SIZE="4">ep 1/2: Happy Hour</font></p>
<p>Pertama, mari berkenalan dulu dengan atheisme.</p>
<p>Setahu saya, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Weak_and_strong_atheism">ada dua macam atheisme</a>. Perbedaannya juga cukup mencolok. Pada dasarnya, <em>atheisme</em> tersusun dari kata-kata <em>a-the(os)-isme</em>; secara berurutan, bermakna kasar <em>tidak-tuhan-paham</em>. Dua jenis atheisme lewat sudut pandang saya bisa dipahami dari dua cara menggabungkan ketiga kata tersebut;</p>
<ol>
<li><em>A + the(os)isme</em><em>Tidak + theisme</em>. Bermakna sederhana; bukan seorang theis. <em>Weak atheism/negative atheism</em>. Menurut pemahaman saya, paham ini terombang-ambing di antara <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Agnosticism">agnostisisme</a>, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Apatheism">apatheisme</a>, dan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ignosticism">ignostisisme</a>.</li>
<li><em>Athe(os) + isme</em><br />
<em>Tidak tuhan + isme</em>. Yang ini paham ke-tidak-Tuhan-an. <em>Strong atheism/positive atheism</em>. Paham ini mendoktrin bahwa yang namanya Tuhan itu memang tidak ada.</li>
</ol>
<p>Perbedaannya adalah, atheisme pertama (<em>weak atheism/</em>atheisme lemah) adalah paham yang &#8220;tidak percaya bahwa Tuhan itu ada&#8221;, sedang yang kedua (<em>strong atheism</em>/atheisme kuat) adalah paham yang &#8220;percaya bahwa tuhan itu tidak ada&#8221;. Kedengarannya sih memang agak ambigu, tapi berbeda, lho. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Atheisme lemah hanyalah keadaan di mana kepercayaan akan eksistensi Tuhan itu tidak ada (yang tidak ada itu <em>kepercayaannya</em>). Atheism kuat adalah keadaan di mana yang ada adalah kepercayaan sebaliknya (i. e. Tuhan tidak eksis).</p>
<p>Kalau masih sulit membedakannya, ada baiknya kalau saya memberikan contoh. Nah, contoh seorang atheis lemah adalah bayi yang baru lahir. Contoh seorang atheis kuat adalah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Dawkins">Richard Dawkins</a>, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Sam_Harris">Sam Harris</a>, atau <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Christopher_Hitchens">Christopher Hitchens</a>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Sudah paham bedanya? Kalau <abbr TITLE="begini-begini saya mahasiswa TI, tho?">menggunakan logika komputer</abbr>, menurut saya bisa diumpamakan bahwa dalam konteks &#8216;percaya akan eksistensi Tuhan&#8217;, seorang theis memiliki variabel <em>true</em>, seorang atheis kuat memiliki variabel <em>false</em>, dan seorang atheis lemah memiliki variabel <em>NULL</em>.</p>
<p>Nah. Kenyataannya, menurut saya batas di antara dua macam atheisme ini seringkali terkaburkan. Perbedaannya bukan hanya pada <em>burden of proof</em><sup>[2]</sup>, namun juga pada basis. Yang satu berbasiskan agnostisisme, dan yang satunya berbasiskan dogma. Misalnya, mbah Dawkins sendiri sempat bersabda dengan sinis, ketika menyinggung masalah fanatisme fundamentalis agama;</p>
<blockquote><p>&#8220;&#8230;why would anyone go to war for the sake of an <em>absence</em> of a belief?&#8221;</p></blockquote>
<p>Ini adalah sentimen yang populer. Yang ditekankan adalah bahwa <em>kepercayaan</em>-lah yang mampu menjadi bahan bakar ekstremisme. <em>Absensi sebuah kepercayaan</em>, tidak memiliki bahaya seperti itu (yep, propaganda tentang imunitas atheisme terhadap ekstremisme). Ini adalah salah satu aspek yang sebenarnya saya kurang sukai dari beberapa penulis atheis&#8212; konsep &#8216;absensi sebuah kepercayaan&#8217; adalah atribut milik atheisme lemah. Atheisme kuat yang mendogma bahwa &#8220;Tuhan itu tidak ada&#8221;, tidak memiliki <em>privilege</em> itu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' />  Sebab, atheisme kuat juga merupakan bentuk kepercayaan. Kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak eksis. Dan memang benar, pernyataan itu merupakan salah satu blunder Dawkins. <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Josef_Stalin">Stalin</a> pernah bertempur atas nama atheisme&#8212; ia pernah membantai para biarawan di Rusia&#8230; Hanya karena mereka adalah biarawan. Protes ini sendiri diutarakan dengan cerdas oleh Andrew Brown.</p>
<p>Jadi, terdapat perbedaan-perbedaan substansial antara atheisme lemah dan atheisme kuat. Apabila kita perhatikan lebih dekat, atheisme lemah memiliki basis agnostik dan cenderung tidak dogmatik dalam memahami teologi. Corak ignostisisme dalam paham ini, misalnya, tidak memiliki kepercayaan theistik hanya karena adanya pemahaman bahwa kepercayaan akan Tuhan tidak membawa perubahan apa-apa (misalnya, kalaupun Tuhan ada, tidak ada afterlife, dst.). Atheisme kuat, di sisi lain, berlandaskan atas dogma. Dogma bahwa Tuhan itu tidak ada.</p>
<p>Perhatikan. Ada dogma. Dan di mana ada dogma&#8230; Maka ada&#8230;</p>
<p><em>Built-in self defense mechanism</em>! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><font SIZE="4">ep 2/2:Hangover</font></p>
<p>Saya kira atheisme yang paling <abbr TITLE="tidak berarti mayoritas...">stereotip</abbr> di saat ini adalah atheisme dogmatik dengan corak <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Materialism">materialis</a>. Berbasis sains. Atheisme jenis ini menganggap bahwa;</p>
<blockquote><p>&#8220;Konsep Tuhan muncul untuk membantu manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan sains (teori <em><a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/God_of_the_gaps">god of the gaps</a></em>). Dan seiring dengan perkembangan sains, maka <em>gap</em> yang ada akan hilang sama sekali. Teori evolusi berhasil menjadi <em>crane</em> untuk menjelaskan fenomena biologis, dan seterusnya mulai membahayakan teologi kultural. Selanjutnya tinggal menunggu <em>crane</em> yang mampu menjelaskan fenomena fisika, untuk memusnahkan sisanya (a.k.a. teologi natural). Sains pasti akan mampu mengungkapkan misteri <em>time zero</em>. Kalaupun masih ada <em>gap</em> yang menyisakan ruang untuk Tuhan, sains bisa dipastikan akan menutupnya, cepat atau lambat.&#8221;</p></blockquote>
<p>Oh?</p>
<p>Sebenarnya ironis sekali kalau atheisme yang terlahir dari oposisi terhadap dogma sampai harus bergantung pada dogma yang lain, dan bahkan mulai mengadopsi teknik <em>escape to the future</em>. Seperti halnya dengan agama, terlepas dari apakah paham yang dijual itu benar atau salah, bergantung pada dogma (dan <em>built-in self defense system</em>) adalah antiklimatik buat atheisme. Sejujurnya saya sedikit kecewa ketika membaca pembelaan mentah dan dogmatik Dawkins tentang <em>gap</em> yang masih ada pada sains. Sama kecewanya seperti ketika saya membaca <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Is%20Religion%20Dangerous?">karya apologis anti-Dawkins</a>-nya <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Keith_Ward">Keith Ward</a> (yang sama mentahnya) di awal Ramadhan ini.<sup>[3]</sup></p>
<p>Walau ironis, saya sebenarnya bisa mengerti. Semakin suatu paham mendekati <em>kepastian</em>, pasti akan semakin sulit untuk diterima. Sebab dunia tidaklah pasti. Saat itu, diperlukan sesuatu untuk menjaga dogma yang ada, dan <em>self defense mechanism</em> pun pastinya akan muncul. Pada akhirnya, atheisme positif tetaplah kepercayaan yang dogmatik. Apabila kita teliti dua sentimen populer berikut, dari seorang theis dan atheis yang sama-sama dogmatik, akan terlihat persamaannya;</p>
<blockquote><p>&#8220;Akal manusia terbatas. Walaupun menurut akal anda [<em>insert a religion here</em>] itu salah, tidak berarti anda benar. Akal anda saja yang tidak mampu mencapainya. Tahukah anda bahwa setan selalu berusaha menyesatkan manusia? Bisa jadi keraguan anda itu adalah hasil tipu muslihatnya.&#8221;</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Akal manusia tidak selamanya sejalan dengan fakta sains. Walaupun menurut akal anda atheisme itu salah, tidak berarti anda benar. Tahukah anda bahwa sebongkah marmer memiliki lebih banyak ruang kosong daripada ruang yang ada isinya? Sains terkadang melampaui akal manusia. Dan itu belum termasuk masalah fisika kuantum.&#8221;</p></blockquote>
<p><em>Now basically they&#8217;re just some classy ways to say; </em></p>
<blockquote><p>&#8220;If you think it&#8217;s not the way I told you it is, then, it&#8217;s just your imagination.&#8221;</p></blockquote>
<p><em>Even atheists can never escape skepticism! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif' alt=':twisted:' class='wp-smiley' />  </em></p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p><font SIZE="3"><strong>Footnotes:</strong></font><br />
<strong>[1]</strong> <em>Courtesy of the late (though seemingly reborn) <a HREF="http://wadehel.wordpress.com/">Wadehel</a></em>.<br />
<strong>[2]</strong> <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Burden_of_proof"><em>Burden of proof</em></a>. Atheis kuat memiliki kewajiban untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, namun tidak demikian halnya dengan atheis lemah.<br />
<strong>[3]</strong> Ekspresi mbak kasirnya (yang sepertinya lumayan religius itu) sewaktu saya menunjukkan buku yang saya beli, benar-benar <em>priceless</em>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img BORDER="1" ALIGN="right" ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." SRC="http://rosenqueencompany.wordpress.com/files/2007/06/thecoatofarms.jpg" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika Sebuah Zaman Didiskreditkan, pt. 2]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/09/18/ketika-sebuah-zaman-didiskreditkan-pt-2/</link>
<pubDate>Tue, 18 Sep 2007 06:12:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/09/18/ketika-sebuah-zaman-didiskreditkan-pt-2/</guid>
<description><![CDATA[Ada suatu sentilan menarik yang dituliskan oleh Richard Dawkins di bukunya The God Delusion&#8212; I]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ada suatu sentilan menarik yang dituliskan oleh <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Dawkins">Richard Dawkins</a> di bukunya <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/The_God_Delusion"><em>The God Delusion</em></a>&#8212; Ia menyatakan bahwa skriptur-skriptur suci, apakah itu <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Bible">Alkitab</a> atau <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Quran">Al-Qur&#8217;an</a> (atau <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Mormon">Book of Mormon</a>) adalah referensi ajaran moral yang sudah kadaluwarsa.</p>
<p>Sentimen itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru, sebab sudah sejak lama kandungan moral dari skriptur-skriptur itu dipertanyakan. Saya sendiri (seskeptis-skeptisnya seorang Kopral Geddoe) memiliki simpati terhadap skriptur-skriptur suci (terutama <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Old_Testament">Perjanjian Lama</a> yang bagi saya merupakan produk literatur yang <em>arresting</em>), sehingga saya seringkali bersikap apologis terhadap kritik-kritik terhadap kitab suci. <em>That is</em>, saya cenderung berusaha membela kitab-kitab suci tersebut dari kritik.</p>
<p ALIGN="center"><img BORDER="1" SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/09/zeitgeist.jpg" /></p>
<p>Namun kritik Dawkins yang ini, yang dibedah di bab ketujuh <em>The God Delusion</em>, &#8220;<em>The &#8216;Good&#8217; Book and the Changing Moral Zeitgeist</em>&#8220;, sedikit sulit untuk saya jawab. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Masalahnya, ia menyisipkan teori <em>moral <abbr TITLE="kasarnya, karakteristik dari suatu zaman">zeitgeist</abbr></em> yang solid di balik kritiknya. Menurut Dawkins, yang kebetulan selain tenar sebagai aktivis atheisme merupakan ahli biologi dan pendukung kuat teori evolusi, ternyata yang berevolusi dari manusia bukan hanya wujud fisiknya, melainkan juga unsur <em>psyche</em> seperti moral. Moral ternyata berevolusi. Walaupun tidak lantas linear, prinsip moral manusia terus dan terus berevolusi.</p>
<p>Menurut logika evolusi moral, ternyata moral modern lebih baik daripada moral zaman dahulu. Implikasinya jelas; otoritas skriptur kuno tadi menjadi lemah, karena toh mereka berasal dari zaman di mana standar moralnya lebih rendah daripada zaman kita. Tentunya pembahasan ini bersifat sekuler, dengan mengesampingkan terlebih dahulu apakah skriptur-skriptur tersebut memang berasal dari Tuhan ataukah hanya produk budaya biasa belaka.</p>
<p><!--moreBenarkan pelajaran moral kitab-kitab suci sudah outdated? »--></p>
<p><font SIZE="4">Moral Memang Terus Berevolusi?</font></p>
<p>Dulu saya pernah <a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/03/23/ketika-sebuah-zaman-didiskreditkan/">menulis</a>, bahwa pernyataan &#8216;<em>zaman sekarang, moral manusia sudah rusak</em>&#8216; adalah sebuah sentimen tidak berdasar. Saya lantas menuliskan contoh-contoh kebarbaran zaman dahulu kala, dan menyatakan bahwa <a HREF="http://arifkurniawan.wordpress.com/2007/08/13/budaya-seks-nusantara-hingga-1945/">tidak pernah terjadi sebuah degradasi yang substansial dalam moral masyarakat</a> (kecuali dalam <a HREF="http://mcduck.wordpress.com/2007/08/24/fitnah-lebih-kejam-daripada/">propaganda khutbah-khutbah tertentu</a> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  ). Mungkin tesis saya yang itu perlu sedikit diperbaiki; karena teori Dawkins justru secara ekstrim menyatakan bahwa moral tidak hanya &#8216;tidak turun&#8217;, melainkan justru <em>cenderung meningkat</em>! <em>Ergo</em>, kalau tadinya kita selalu memuja-muja peradaban kuno yang lebih &#8216;beradab&#8217;, &#8217;santun&#8217;, dan merupakan &#8216;<a HREF="http://antosalafy.wordpress.com/apa-itu-salaf/">generasi terbaik</a>&#8216; bisa jadi sekarang kita malah bisa berbusung dada, karena ternyata kita lebih beradab dari mereka.</p>
<p>Pertanyaan pertamanya tentu, benarkah moral kita berevolusi? Ataukah manusia generasi awal (entah itu Adam atau manusia Neanderthal) memiliki moral yang sama bagusnya dengan kita? Apakah tokoh-tokoh sentral agama yang nota bene berasal dari zaman Perunggu dan medieval justru memiliki fondasi moral yang lebih bobrok dari kita? Ternyata Dawkins mampu menyajikan bukti yang cukup lumayan <strike>dan membuat saya tambah pusing, ragu-ragu, dan stress</strike>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tidak tanggung-tanggung, Dawkins menyajikan pembuktian pergeseran <em>zeitgeist</em> dari kurun waktu yang super kilat. Ia memberikan hipotesis bahwa hanya dalam kurun waktu sekitar seratus tahun, (seperduapuluh usia Kristianitas dan seperempatbelas usia Islam) standar moral manusia sudah meningkat sedemikian signifikannya. Parameternya tangguh; <em>prinsip kesetaraan manusia</em>. Tolak ukur yang digunakan adalah feminisme dan, tentunya, rasisme. Bayangkan, seratus tahun. Kalau seratus tahun yang lalu saja rasisme adalah wajar secara moral, tentunya masuk akal kalau ternyata <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Jew">ras Yahudi</a> memang diberi tempat spesial oleh skriptur-skriptur suci tersebut, bukan?</p>
<p>Hipotesisnya sendiri didasarkan dengan cara yang meyakinkan, yaitu mencari celah-celah defisiensi moral dari sumber-sumber liberal pada masa seratus-dua ratus tahun yang lalu. Logika sederhana; kalau yang liberal saja berpikiran kolot dan apartheid, bagaimana dengan yang konservatif?</p>
<ol>
<li>Tidak main-main, contoh pertama adalah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Henry_Huxley">T. H. Huxley</a>, bapak paham <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Agnosticism">agnostisisme</a>.<br />
<blockquote><p>&#8220;No rational man, cognizant of the facts, believe that the average negro is the equal, still less superior, of the white man.&#8221;<sup>[1]</sup></p></blockquote>
</li>
<li>Bukti nyata kedua lebih dahsyat lagi, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Abraham_Lincoln">Abe Lincoln</a>, sang pembebas budak-budak kulit hitam. Kalau beliau yang ultraliberal itu saja saja masih rasis, bagaimana dengan yang lainnya?<br />
<blockquote><p>&#8220;&#8230;and I as much as any other man am in favor of having the superior position assigned to the white race.&#8221;<sup>[2]</sup></p></blockquote>
<p><em>Shocking</em>, kalau buat saya.</li>
</ol>
<p>Apakah mereka tidak bermoral? Apakah mereka kejam? Tidak. Hanya saja <em>zeitgeist</em> pada saat itu masih sangat rasis. Budaya pada zaman itu memang masih kejam. Itu bukan salah mereka. Singkatnya, kalau mereka terlahir di abad ke-21, maka <em>mereka akan lebih liberal lagi dari apa yang mereka capai di abad ke-19</em>. Sangat masuk akal. Di sinilah kekuatan tesis Dawkins.</p>
<p>Dawkins lebih lanjut mengelaborasi beberapa poin budaya yang sangat menarik;</p>
<ol>
<li>Perbudakan. Dari <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Avicenna">Ibnu Sina</a> sampai <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Jefferson">Thomas Jefferson</a>, semua memiliki budak. Perbudakan, alias memelihara dan memiliki manusia selayaknya binatang, adalah salah menurut <em>zeitgeist</em> yang ada saat ini. Itu sudah sangat jelas. Harap dicatat bahwa baik Ibnu Sina maupun Jefferson adalah pemikir-pemikir liberal&#8212; keduanya adalah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Deism">deis</a><sup>[3]</sup>.</li>
<li>Di novel-novel zaman Victoria, secara gamblang dan kasual orang-orang kaya (<em>white, presumably</em>) di Afrika digambarkan dengan santainya membunuh gajah, singa, dan antilop. Sebagai olahraga. Kesenangan belaka. Dan itu wajar. Dalam lingkup <em>zeitgeist</em> modern, justru yang seperti ini seringkali dihindari karena terus menerus dikecam. Kalaupun mau, konon harus membayar sangat mahal. <em>Boy, aren&#8217;t we civilized. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </em></li>
<li>Sekarang beralih ke dekade 1960-an. Pasca PDII, sangat terkini bukan? Dawkins mengutip potongan seksis dalam <em>Lady Chatterley&#8217;s Lover</em>;<br />
<blockquote><p>&#8220;&#8230;Would you approve of your young sons, young daughters&#8212;because girls can read as well as boys&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Itu dimaksudkan sebagai pertanyaan retoris. Membuat miris.</li>
<li>A. C. Bouquet, profesor agama di Cambridge pada tulisannya tentang Islam pada tahun 1941 menulis;<br />
<blockquote><p>&#8220;The Semite is not a natural monotheist, as was supposed about the middle of the nineteenth century. He is an animist.&#8221;</p></blockquote>
<p>Menurut standar sekarang, jelas itu bukanlah tulisan seorang profesor. Apakah kita semakin peka? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Kali ini dari <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/New_Republic"><em>New Republic</em></a>-nya <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/H. G. Wells">H. G. Wells</a>;<br />
<blockquote><p>&#8220;And how will the new republic treat the inferior races? How will it deal with the black? &#8230;the yellow man? &#8230;the Jew? &#8230; those swarms of black, and brown, and dirty-white, and yellow people, <strong>who do not come into the new needs of efficiency</strong>?&#8221;</p></blockquote>
<p><em>(cetak tebal dari saya, supaya lebih bersemangat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  )</em><br />
Ahem. <em>By today&#8217;s standards, that&#8217;s very <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ku_Klux_Klan">KKK</a> to me. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' />  </em></li>
</ol>
<p>Pada zamannya, sentimen seperti itu bukanlah sesuatu yang dianggap berlebih. Bahkan mungkin progresif, seperti karya Wells. Tentunya sekarang dapat dengan mudah dimengerti kenapa orang seperti <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Adolf_Hitler">Hitler</a> bisa dijadikan seorang pemimpin di Jerman. Pada zamannya, Hitler bukanlah seorang monster. Hanya seseorang yang sedikit nyeleneh.</p>
<p>Sampai pada poin itu, adanya evolusi moral adalah sesuatu yang nyata bagi saya. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><font SIZE="4">Defisiensi Moral dari Ajaran Agama: Tantangan Berat Para Antitheis</font></p>
<p>Tentunya sasaran selanjutnya adalah kitab suci. Apakah kita bisa mendasarkan pemahaman moral modern pada skriptur dari zaman pertengahan? Tentunya <em>zeitgeist</em> pada era ribuan tahun yang lalu lebih tidak peka lagi, bukan?</p>
<p>Kalau saya mau bernada apologis, tentunya arsenal pertama adalah premis bahwa skriptur ini datangnya dari Tuhan. Dari sang Maha Maha. Tentunya ada <em>pengecualian</em>. Namun ada lubang di sini, yaitu berpremis bahwa skriptur ini memang datang dari Beliau. <em>How do we proof that it came from Her?</em> Lha wong konon muatan moralnya sendiri cacat. Bukti apa lagi yang kita (penganut paham theistik) punya? Segala keajaiban internal kitab, dari ramalan, kandungan sains, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Bible_code">pesan kriptik</a>, sampai keajaiban matematis, semua konon sudah di-<em>debunk</em>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Namun Dawkins menurut saya memilih bersikap sekuler dan tidak menyerang kitab suci. Argumennya adalah; <em>moral baik yang ada pada saat ini, TIDAK berasal dari ajaran agama manapun</em>. Ya, terlepas dari apakah agama itu benar atau salah. Dan kali ini kitab suci memang terpojok;</p>
<ol>
<li><strong>Bagi penafsir literal</strong>, beberapa kandungan kitab suci jelas tidak cocok bagi humanisme modern. Berarti, kalau ada penafsir literal yang berbuat baik, ada kalanya mesti mengabaikan kitab suci. Apa artinya? Ada sumber eksternal yang sekuler.</li>
<li><strong>Bagi penafsir esoterik</strong>, pemrosesan alegori dalam kitab suci jelas menggunakan suatu tolak ukur. Tolak ukur tidak mungkin berasal dari dalam (sirkular). Apa artinya? Ada sumber eksternal yang sekuler.</li>
</ol>
<p><em>Catch 22.</em></p>
<p>Beberapa kisah dalam skriptur suci memang boleh dikatakan kontroversial secara moral. Misalkan kisah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Lot">Luth</a>. Di <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Genesis">Genesis 19</a> diceritakan bahwa Luth yang hidup di surga homoseksual itu suatu ketika rumahnya diserbu <em>mob</em> horny yang hendak meniduri dua tamu lelakinya. Berhubung meniduri sesama jenis konon adalah perbuatan yang dikutuk oleh Tuhan, Luth pun menolak memberikan izin. Tentunya perilaku homofobik di sini masih ada dalam batas kewajaran <em>zeitgeist</em> saat ini. Tapi yang patut dipertanyakan adalah tindakan Luth yang kemudian menawarkan dua putrinya yang masih perawan sebagai pengganti. Tindakan seorang ayah yang menjual keperawanan dua anak gadisnya pada segerombolan pria yang tidak jelas asal-usulnya, demi melindungi tamunya yang juga tidak jelas asal usulnya, saya akui adalah sesuatu yang sulit saya pahami. Kisah tersebut adalah <em>canon</em> bagi ketiga <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Abrahamic_religion">agama Abrahamik</a> (empat kalau menyertakan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Baha'i_Faith">Baha&#8217;i</a>). Untungnya, kemalangan tersebut tidak tercapai, sebab Tuhan pun turun tangan. Uniknya, kisah senada diulangi di <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Book_of_Judges">Judges 19</a> &#8212; seorang pendeta mengumpankan anak gadisnya (lagi-lagi demi menyelamatkan tamunya). Sialnya, kali ini gang-rape tersebut berhasil dilakukan. Moral ceritanya?</p>
<p>Atau, yang lebih legendaris, kisah penyembelihan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Isaac">Ishak</a>/<a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ishmael">Ismail</a>. Tuhan dikisahkan hendak menguji keimanan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Avraham">Ibrahim</a>, dengan parameter, sudikah ia membunuh anaknya sendiri demi Tuhan? Apakah tindakan Ibrahim tersebut sudah benar? Apakah ia pada waktu itu percaya Tuhan sejahat itu? Oke, memang <em>She was only joking after all, and then came the ram as an exchange</em>, tapi bisakah itu diterima dengan standar moral saat ini? Mungkin sebenarnya, dengan imajinasi saya yang terbatas, Ibrahim seharusnya dapat menolak Tuhan, lalu dengan berani menghadapi murka Tuhan. Tuhan, tentu kemudian akan memuji beliau dan menyatakan bahwa tesnya sudah usai. Intinya, Tuhan berharap bahwa Ibrahim akan mendahulukan humanismenya daripada mematuhi pengorbanan tidak berdasar itu. Apakah Ibrahim takut akan neraka? Cukup menarik untuk mengutip <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Mother_Teresa">Bunda Teresa</a> di sini, yang demi seluruh manusia, konon bersedia menderita selamanya di neraka<sup>[4]</sup>. Apa Bunda Teresa ternyata memiliki moral melebihi nabi<sup>[5]</sup>? Dan, lebih penting lagi, apa Tuhan sebengis itu?</p>
<p>Sebagai penganut agama, ada tiga posisi yang kita bisa tempuh;</p>
<ol>
<li>Menyerah. Ternyata <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Dystheism">Tuhan memang keji</a>.</li>
<li>Mengambil makna esoterik dan metaforik. Sayangnya, hal ini membutuhkan ideologi eksternal, yang semakin membenarkan teori Dawkins bahwa moral baik yang ada saat ini bersumber dari sesuatu yang sekuler.</li>
<li>Yang sedikit <em>tricky</em> adalah melepaskan keabsolutan kitab suci. Mungkin sudah terdistorsi? Kelemahannya adalah bahwa selain mengakui sumber moral sekuler, hal ini melepaskan sama sekali kesakralankitab suci.</li>
<li><a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Bad_faith_(existentialism)">Putar balik, berhenti baca, jangan bahas yang seperti ini lagi</a>. Bahaya.</li>
</ol>
<p>Saya sendiri masih bingung posisi saya di mana. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><font SIZE="4">Postulat</font></p>
<p>Gawatnya, Dawkins berhasil menyusun hipotesis bahwa kitab suci, dan pengkultuan <em>zeitgeist</em> kadaluwarsa. ternyata mengandung bahaya. Hal ini menanam postulat yang (katanya) kadaluwarsa pula pada <em>building block</em> ideologi generasi muda. Saya jadi teringat diskusi tentang <a HREF="http://bataknews.wordpress.com/2007/09/10/siapa-yang-berani-sebut-bunda-teresa-seorang-kafir/">apakah Bunda Teresa kafir dan pantas masuk neraka</a> di blognya <a HREF="http://bataknews.wordpress.com">Pak Jarar</a>. Di sini umat cenderung dengan santainya menerima hal yang mengerikan seperti dimasukkannya seseorang yang begitu baik ke neraka. Saya berteori bahwa postulat bahwa Abu Thalib (yang begitu menyayangi nabi Muhammad) akan dimasukkan ke neraka sangat mempengaruhi mindset umat pada kasus ini. Adanya premis-premis (sekali lagi, <em>premis</em>!) yang &#8216;kejam&#8217; seperti ini yang akhirnya membentuk moral yang sebenarnya produk <em>zeitgeist</em> kadaluwarsa.</p>
<p>Tidak tanggung-tanggung, sama membaca bahwa Dawkins sampai menyajikan hasil eksperimen, yang dilakukan oleh seorang psikolog *uhuk, uhuk* Israel, George Tamarin;</p>
<p>Tamarin mengadakan survey pada lebih dari seribu bocah Israel, berusia antara 8 sampai 14 tahun, tentang apa pendapat mereka tentang tindakan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Joshua">Joshua</a> pada perang <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Jericho">Jericho</a>&#8212; di mana Joshua membumihanguskan Jericho; membantai semua penduduk tanpa pandang bulu. Tua, muda, nenek-nenek, bayi, semua dibunuh. Sampai ternak-ternak pun dihabisi. Semua harta dijarah, dan kemudian Jericho dibakar.</p>
<p>Daaan&#8230; Survey membuktikan. Ahem, 66% setuju penuh akan tindakan Joshua, 26% tidak setuju, dan 8% ada di tengah-tengah. Bayangkan anak-anak kecil menyetujui sebuah genosida.</p>
<p>Cuap-cuap bocah tersebut antara lain (kali ini saya terjemahkan supaya, lagi, agak bersemangat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  );</p>
<p>Dari 66% yang menyetujui;</p>
<blockquote><p>&#8220;Menurut saya yang dilakukan Joshua dan orang Israel sudah benar, alasannya; Tuhan &#8216;kan menjanjikan mereka tanah itu, dan sudah mengizinkan mereka untuk menyerbunya. Kalau nggak begitu, bisa-bisa orang-orang Israel bercampur dengan para Goyim<sup>[6]</sup>.&#8221;</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Menurut saya Joshua melakukan yang benar, salah satu alasannya adalah, &#8216;kan disuruh oleh Tuhan, untuk membantai supaya orang Israel nggak bercampur dengan para Goyim dan menjadi jahat seperti mereka.&#8221;</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Joshua berbuat yang benar, soalnya orang di sana agamanya berbeda, dan dengan membantai mereka agama mereka jadi lenyap dari muka bumi.&#8221;</p></blockquote>
<p>Wah, sejujurnya, untuk anak kecil untuk berkata seperti itu, apalagi yang terakhir, saya jadi bergidik. :&#124;</p>
<p><em>Moving on</em>, anda tentunya berharap banyak dari 26% yang tidak setuju itu, bukan? Wah, sebenarnya, alasan mereka tidaklah sehumanis yang saya (dan mungkin anda) bayangkan&#8230;</p>
<blockquote><p>&#8220;Kayaknya Joshua nggak berbuat terlalu bijak, soalnya mestinya ternak-ternak jangan dibunuh, tapi diambil buat mereka.&#8221;</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Menurut saya Joshua berbuat kurang bijak, sebab dia semestinya jangan membumihanguskan Jericho; kota tersebut bisa dijadikan properti orang Israel.&#8221;</p></blockquote>
<blockquote><p>&#8220;Menurut saya itu jelek, yah, soalnya orang Arab itu kotor, dan kalau orang memasuki daerah yang kotor, mereka akan jadi kotor juga.&#8221;</p></blockquote>
<p>Mengerikan, anak-anak yang diindoktrinasi seperti itu&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Padahal ini bocah-bocah yang kemungkinan besar Yahudi, yang konon sudah yang cerdas-cerdas.</p>
<p>Survey ini ada kelanjutannya. Ceritanya diubah. Nama &#8216;Joshua&#8217; diubah menjadi &#8216;Jenderal Lin&#8217; dan settingnya dikonvert ke Tiongkok klasik. Hasilnya? Hohoho, hanya 7% yang setuju, dan 75% mengutuk tindakan tersebut. Kesimpulannya? Motif dan indoktrinasi religius ternyata mampu melunturkan moral (terlepas dari apakah doktrin tersebu benar dari Tuhan atau tidak). Saya akui saya terpukau dengan penelitian ini.</p>
<p><font SIZE="4">&#8230;And the Skepticism Goes On.</font></p>
<p>Saya sendiri mesti mundur dulu dari menjawab tantangan Dawkins ini. Apakah agama sudah tidak pantas lagi dijadikan kiblat moral manusia? <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Antony_Flew">Profesor Flew</a> memang berpendapat bahwa Tuhan adalah motivasi moral terbaik, tapi Tuhan bukanlah monopoli agama. Walaupun Tuhan dianggap sebagai konsep positif, agama tetap dapat dicap memiliki rapor buruk (sekadar catatan, Flew memang seorang deis). Jadi? Bingung. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Kemampuan intelektual saya belum sampai untuk membela agama pada saat ini. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tentunya, saya tidak akan lantas taklid buta pada Dawkins dan ideologinya. Skeptisisme mencakup segala bidang. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Tesis daur ulang tentang agama ini hanya dimaksudkan sebagai sarapan pikiran, tidak ada tendensi evangelistik apapun. Mengenai respon, tentunya saya sedikit mengharapkan respon apologis yang kuat. Bagaimanapun, biarpun nggak se-<em>religion-oriented</em> orang kebanyakan, saya memiliki kecenderungan theistik yang cukup kuat. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, ya, saya cuma berbagi stress saja. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Lagipula, ini &#8216;kan bulan puasa. Semoga dengan adanya tantangan Dawkins ini, umat yang percaya akan kitabnya, bisa mempelajari kitab tersebut dengan lebih serius, sehingga pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan beliau.</p>
<p>Terima kasih. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p ALIGN="center">* * *</p>
<p><strong>Footnotes::</strong></p>
<p><strong>[1]</strong> Huxley, as quoted in <em>The God Delusion</em> paperback edition ch. 7 pg 302.</p>
<p><strong>[2]</strong> Bisa dibaca selengkapnya di [<a HREF="http://www.classic-literature.co.uk/american-authors/19th-century/abraham-lincoln/the-writings-of-abraham-lincoln-04/">sini</a>].</p>
<p><strong>[3]</strong> Kalau Jefferson adalah seorang deis secara terang-terangan, pemahaman Ibnu Sina sebenarnya sedikit kabur. Walau secara publik ia dikenal sebagai seorang <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Shia">syi&#8217;ah</a>, pemikirannya sangat liberal. Ia tidak percaya akan keabadian roh dan dicap murtad oleh <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ghazali">Ghazali</a>. Berhubung definisi formal deisme adalah &#8216;kepercayaan theistik tanpa doktrin&#8217;, maka secara kasar saya rasa ia bisa digolongkan sebagai seorang deis.</p>
<p><strong>[4]</strong> Dikutip dari <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Time_(magazine)">TIME</a>, 3 September 2007, yang saya beli di minimart. <em>Come Be My Light</em>, sebuah biografi Bunda Teresa akan segera dirilis. Berisi surat-surat rahasia Bunda Teresa yang selama ini dirahasiakan. Bunda Teresa, ternyata adalah seorang agnostik.(<em>Yup, you heard me right.</em>)</p>
<p><strong>[5]</strong> Mungkin juga, sebab beliau sudah dipetisi untuk ditransformasi menjadi <em>Saint Teresa</em>.</p>
<p><strong>[6]</strong> <em>Goyim</em> adalah istilah peyoratif untuk yang bukan merupakan golongan Yahudi, i. e. bukan kaum terpilih.</p>
<p><strong>Kredit::</strong></p>
<p>Kerangka materi diambil dari <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/The_God_Delusion"><em>The God Delusion</em></a> oleh <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Dawkins">Richard Dawkins</a>, chapter 7.</p>
<p>Disusun sambil mendengarkan <em><a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Battle_of_Los_Angeles_%28album%29">The Battle of Los Angeles</a></em>-nya <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/RATM">Rage Against the Machine</a> dan <em><a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Let's_Go_(album)">Let&#8217;s Go</a></em>-nya <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Rancid_(band)">Rancid</a>.</p>
<p><img BORDER="1" ALIGN="right" ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/06/thecoatofarms.jpg" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rencana Sejuta Tahun ke Depan]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/08/11/rencana-sejuta-tahun-ke-depan/</link>
<pubDate>Sat, 11 Aug 2007 03:44:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/08/11/rencana-sejuta-tahun-ke-depan/</guid>
<description><![CDATA[Konon, dalam hidup dan kehidupan, dibutuhkan perencanaan. Mesti jelas, setahun ke depan, lima tahun ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/08/usamimi.jpg?w=121&#038;h=210" ALT="yuki-usa" WIDTH="121" HEIGHT="210" BORDER="1" VSPACE="10" HSPACE="30" ALIGN="left" /> Konon, dalam hidup dan kehidupan, dibutuhkan perencanaan. Mesti jelas, setahun ke depan, lima tahun ke depan, dan seterusnya, apa yang hendak diperbuat. Setahu saya, dari milyuner berwujud <em>tub of lard</em> yang mata duitan, ibu rumah tangga, sampai ustadz-ustadz yang gemar berlatih vokal di mimbar masjid sembari meninabobokan para jemaat, semuanya setuju dengan sentimen ini.</p>
<p>Apakah itu? Quick recap; perencanaan ke depan mesti ada.</p>
<p>Nah, setelah merenung sedikit, saya putuskan untuk menuliskan rencana saya sejuta tahun ke depan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Mungkin agak ngawur, tapi mungkin nggak ada salahnya anda renungi.</p>
<p><!--moreAnd sendiri sudah punya rencana belum? »--></p>
<p>Mau jadi apa saya sejuta tahun yang akan datang? Mari kita ukur dari berbagai kemungkinan yang bisa terjadi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Saya asumsikan saja bahwa sejuta tahun lagi saya sudah mati. Walau, ya, nggak tertutup kemungkinan bahwa sejuta tahun lagi, saya ternyata masih bergentayangan dalam wujud manusia di muka bumi ini. Barangkali saya menemukan ajian untuk hidup abadi, atau terjadi revolusi biologis yang menyebabkan saya bisa menjadi cyborg, atau kebetulan memang sistem metabolisme saya yang sakti mandraguna. Tapi, <em>for the sake of simplicity</em>, asumsikan saja saya sudah mati.</p>
<ul>
<li><strong><font SIZE="3">Kalau saya masuk surga.</font></strong><br />
Ah, happy ending? Mungkin. Memasuki tempat yang menyimpan kenikmatan infinit, siapa yang nggak mau? Anda juga berencana untuk masuk surga, &#8216;kan? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> <strong>Pre-requisites</strong>: Berhasil melobi dan menjilat pada Sang Maha Kuasa.<strong>Kelebihan</strong>: Bisa berbuat seenak udhel, makan makanan enak tanpa khawatir kolesterol, mengunjungi sungai-sungai susu dan anggur, minum cocktail beralkohol tanpa cemas dilumuri dosa, bercinta beramai-ramai dengan bidadari, dan masih banyak lagi. Dan itu semua tanpa batas&#8211; saya akan hidup seperti itu selama-lamanya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Intinya, segala keinginan duniawi manusia di sana akan tercapai.</p>
<p><strong>Kekurangan</strong>: Ahem, selain masalah <a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/07/13/surga-dan-kepekaan-sosial/">kepekaan</a>, saya sendiri mungkin nggak akan terlalu betah berada di surga melulu. Logikanya, saya juga nggak betah tinggal di hotel berbintang lima terus-terusan. Bosan. Lha, surga itu konon &#8216;kan statis. Nggak ada kesengsaraannya. Sedangkan bagi saya kesengsaraan itu mungkin diperlukan sebagai unsur penting dari kebahagiaan. Tapi nggak tahu juga, ya.</li>
<li><strong><font SIZE="3">Kalau saya masuk neraka, tapi sementara saja.</font></strong><br />
Ah, ini kalau rupanya Tuhan berniat untuk menggoreng saya untuk sementara waktu saja. <em>Purgatorio</em>.  Mungkin seratus tahun, seribu, atau 70,000 tahun. Semoga nggak lama-lama. Tapi setelah itu, beliau akan memasukkan saya ke surga <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> <strong>Pre-requisites</strong>: Tidak terlalu berhasil melobi dan menjilat pada Sang Maha Kuasa, walau belum bisa dibilang gagal.<strong>Kelebihan</strong>: Akan masuk surga. Apalagi, status saya berarti &#8216;kan <em>lulusan neraka</em>. Kesannya lebih jantan dibandingkan penghuni surga yang lain <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Kekurangan</strong>: Kekurangannya jelas, saya mesti dipanggang terlebih dahulu. Dipanggang, dicucuk telinganya, disetrika, dan seterusnya. Sakit, pastinya. Mungkin akan saya tahan saja. Atau, saya akan melihat perkembangan dulu di neraka; bagaimana caranya para sesama ahli neraka di sekitar menahan penderitaan. Atau, mungkin saya bisa berlatih sejak masih ada di dunia untuk meningkatkan tingkat toleransi tubuh terhadap panas.</li>
<li><strong><font SIZE="3">Kalau saya masuk neraka, selama-lamanya.</font></strong><br />
Nah, ini yang namanya siyal. Tidak terlepas kemungkinan kalau saya akan menyumpahi Tuhan di dalam sana. Ya namanya juga kalap? Dan efeknya pun sama saja, toh tidak bakal keluar-keluar.<strong>Pre-requisites</strong>: Gagal melobi dan menjilat pada Sang Maha Kuasa.<strong>Kelebihan</strong>: Banyak teman. Hanya sedikit orang hebat yang masuk surga. Makhluk-makhluk yang jenius semacam <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Isaac Newton">Newton</a>, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Galileo">Galileo</a>, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Voltaire">Voltaire</a>, dan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Tom Paine">Paine</a>, yang revolusioner seperti <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Mahatma Gandhi">Gandhi</a> dan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Kemal Attaturk">Attaturk</a>, yang selebritis layaknya <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Kurt Cobain">Cobain</a>, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Chris Cornell">Cornell</a>, dan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Trent Reznor">Reznor</a>, sampai yang bohai a la <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Rena Tanaka">Rena Tanaka</a>, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Yua Aida">Yua Aida</a>, dan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Sora Aoi">Sora Aoi</a>, semuanya kemungkinan besar ada di neraka <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Kekurangan</strong>: Yang ini tentunya fakta bahwa anda bakal digoreng di neraka dan disiksa selama-lamanya. Walau sebenarnya anda tidak perlu khawatir juga&#8211; penderitaan itu relatif. Kemampuan sensorik dan sensibilitas manusia akan selalu mencoba mencapai equilibrium. Setelah seratus, seribu, atau sejuta tahun disiksa, lama-kelamaan kita akan terbiasa. Mungkin kita akan mampu mengobrol sembari disiksa? Atau, mungkin, nggak akan merasakan apa-apa lagi. Pandangan pun akan menjadi kosong. Jadi boneka yang kehilangan kemampuan untuk merasakan apapun. Mirip-mirip budak-budak seks yang kerap dijumpai di serial-serial <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Hentai">hentai</a>, hanya menerima perlakuan yang ditimpakan dengan pandangan melompong <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </li>
<li><strong><font SIZE="3">Kalau tidak terjadi apa-apa.</font></strong><br />
Wah, Tuhan ternyata nggak ada, atau beliau ada, tapi nggak membikin sistem afterlife. Jadinya, mati ya mati saja, habis perkara.<strong>Pre-requisites</strong>: Tuhan tidak ada, pernah ada tapi sudah lenyap, atau tidak membikin sistem afterlife.<strong>Kelebihan</strong>: Nggak masuk neraka.</p>
<p><strong>Kekurangan</strong>: Nggak masuk surga.</p>
<p>Yah, pastinya, kita nggak bakal ada untuk menyesali kondisi di atas. Nggak perlu khawatir.</li>
<li><strong><font SIZE="3">Kalau saya hidup kembali.</font></strong><br />
Konsep ini agak luas. Mungkin <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Reincarnation">reinkarnasi</a>, mungkin melanjutkan hidup di dunia lain dengan wujud yang berbeda. Mungkin jadi hantu.<strong>Pre-requisites</strong>: Tuhan ada dan membikin sistem seperti ini, atau Tuhan tidak ada (baik pernah eksis ataupun tidak), dan sistem alamnya ternyata seperti ini.<strong>Kelebihan</strong>: Hidup lagi. Petualangan lagi. <em>Rage and love</em> lagi.</p>
<p><strong>Kekurangan</strong>: Hmm&#8230; Memang kita akan merasakan kesulitan seperti hidup di dunia lagi, tapi kayaknya itu bukan masalah besar.</p>
<p>Ah, saya ingin lahir kembali di tengah-tengah dunia fantasi medieval, atau dunia sci-fi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p>Hmm&#8230; Ada yang saya lewatkan?</p>
<p>Yang pasti, sekarang sudah agak aman; saya sudah menghitung kemungkinan yang ada, dan sudah menyiapkan antisipasi kemungkinan terburuk <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Anda bagaimana?</p>
<p>Wassalam&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." SRC="http://rosenqueencompany.wordpress.com/files/2007/06/thecoatofarms.jpg" BORDER="1" ALIGN="right" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Isramu, Isramu]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/07/25/isramu-isramu/</link>
<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 08:29:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/07/25/isramu-isramu/</guid>
<description><![CDATA[Get a grip, this would be rather blasphemous&#8230; &#8230;Or maybe not. But get a grip anyway, just]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p ALIGN="center"><em>Get a grip, this would be rather blasphemous&#8230;</em></p>
<p ALIGN="center"><em>&#8230;Or maybe not. But get a grip anyway, just to be safe.</em></p>
<p><img ALIGN="left" HSPACE="3" VSPACE="3" BORDER="1" ALT="baju lebaran" SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/07/lebaran.jpg" /></p>
<p>Berdasarkan pengamatan saya selama hampir delapan belas tahun dicap sebagai orang Islam (terkecuali oleh beberapa yang memberi label kafir, tapi itu kita abaikan saja dulu), saya, dan seharusnya anda juga, tentunya sadar bahwa kultur Islam sudah distereotipkan dengan kultur Arab.</p>
<p>Nilai-nilai &#8216;Islami&#8217; sendiri hanyalah campuran dari kebajikan universal dan kultur Arab. Ini tentunya berlaku pada semua agama. Kasih sedekah pakai sorban adalah spirit &#8216;Islami&#8217;. Kasih sedekah pakai <em>crucifix</em> adalah spirit &#8216;kasih Kristus&#8217;. Dan seterusnya, dan seterusnya.</p>
<p>Ujung-ujungnya, kebaikan yang dibawa oleh agama adalah universal. Klise dan monoton. Berbuat baik &#8212; itu saja. Sisanya adalah produk budaya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Manusia &#8216;kan butuh <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Identity_crisis_(psychology)">identitas</a>. Sedangkan sisi-sisi kebajikan universal adalah netral &#8212; relatif sama rata pada agama manapun, sehingga dengan memperkaya sisi ini &#8216;identitas&#8217; tidak akan didapat. Akan sama saja, tidak peduli apakah anda seorang sunni, syiah, katolik, protestan, buddhis, hindi, salafi, sufi, gnostik, kejawen, mormon, saksi Yehovah, sikh, agnostik, pantheis, deis, atheis, ataupun penyembah setan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, dari sinilah keinginan untuk mengeksploitasi sisi budaya dari agama muncul. Akhirnya mulailah jenggot dipanjangkan, celana dilipat, tanda salib dipajang di sekujur badan, dan seterusnya, dan seterusnya. Barulah kelihatan, kalau anda itu agamanya apa <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi saya tidak akan cuap-cuap mengenai itu. Saya bukan seorang penganut agama yang baik. Saya cuma akan menelaah dari kaca mata saya sebagai seorang seniman amatiran dan tukang khayal profesional <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pertanyaannya, kenapa Kristianitas jadi identik dengan katedral-katedral indah? Kenapa Islam jadi identik dengan budaya timur tengah? Sederhana, semuanya tergantung di mana agama-agama tersebut berkembang. Silakan anda bayangkan sendiri&#8211; kebudayaan setempat pun lama-lama terpatri dalam identitas agama itu sendiri.</p>
<p>Sudah cukup mukadimahnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Sekarang mari mulai berkhayal. Bagaimana kalau seandainya nabi Muhammad <abbr TITLE="konon ini tidak boleh disingkat, tapi saya tidak terlalu percaya...">SAW</abbr> tidak terlahir di timur tengah?</p>
<p>Bagaimana kalau dulu Tuhan memilih untuk menurunkan sang Rasul di Jepang?</p>
<p><!--moreArtikel ngawur. Anda sudah diperingatkan. »--></p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p>Berikut beberapa hipotesis, yang seterusnya bisa diupdate <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>*mulai mengkhayal*</p>
<ul>
<li>Umat Islam tidak akan menyapa sang Khalik dengan sebutan <em>Allah</em>&#8211; mungkin akan digantikan dengan nama <em>Kamisama</em>.</li>
<li>Rasulullah tentunya tidak akan bernama <em>Muhammad</em>. Bisa jadi namanya akan menjadi <em>Homeru</em>.</li>
<li>Nama <em>Islam</em> sendiri mungkin akan digantikan dengan nama&#8230; Hmm&#8230; <em>Koofuku</em>, mungkin? Atau <em>Isramu</em>?</li>
<li><em>Al-Qur&#8217;an</em> mungkin akan dikenal dengan nama <em>Dokusho</em>&#8211; tentunya tertulis dengan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/East_Asian_calligraphy">kaligrafi Jepang</a>. Mengaji pun, akan menggunakan bahasa Jepang <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Jangan mengharapkan kubah di masjid-masjid. Yang ada adalah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Torii">torii</a>, layaknya yang terdapat di <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Jinja_%28Shinto%29">jinja-jinja</a>.</li>
<li><a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Hajj">Ibadah haj</a>i akan diselenggarakan di sekitar <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Fujiyama">gunung Fuji</a>. Istilahnya akan menjadi <em>naik Fuji</em>, bukan <em>naik Haji</em>. Gelar yang didapat setelah melaksanakannya pun adalah <em>Fuji</em>. Guru-guru mengaji (dalam bahasa Jepang) pun akan dipanggil dengan sapaan <em>Pak Fuji</em> &#8212; Fuji Amir, Fuji Husin, dan seterusnya.</li>
<li>Baju kebesaran para ulama tentunya tidak lagi celana di atas mata kaki, jenggot berjuntai-juntai, serta sorban. Melainkan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Kimono">kimono</a> melar, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Waraji">waraji</a>, lengkap dengan kepala botak a la samurai.</li>
<li>Akan susah membedakan antara seorang <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Otaku">otaku</a> dengan kaum puritan Islam&#8211; namanya bakal sama-sama sok Jepang. Mas <a HREF="http://antosalafy.wordpress.com/">AntoSalafy</a> misalnya, mungkin akan memakai nama <a HREF="http://p4ndu3121990.wordpress.com/">Anto Asakura</a>.</li>
<li>Panganan buka puasa yang laris tentunya bukan kurma. Mungkin ibu kita akan membelikan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ohagi">botamochi</a> untuk buka puasa.</li>
<li>Baju lebaran pastinya bukan baju-baju a la baju kurung lagi. Jutaan umat Isramu akan memakai <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Kimono">kimono</a> untuk shalat ied.</li>
<li>Kaligrafi Jepang &#8220;Kamisama&#8221; dan &#8220;Homeru&#8221; bakal digantung di <strike>kuil-kuil Isramu</strike> masjid-masjid.</li>
<li>Istilah <em>masjid</em> sendiri mungkin akan diganti menjadi&#8230; *lihat-lihat etimologi*<br />
Ah, mungkin menjadi <em>hashira</em>.</li>
<li>Shalat (<em>inori</em>) sendiri tentunya bakal berbahasa Jepang.</li>
<li>Tukang bikin zina tidak akan dirajam. Melainkan disuruh <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Seppuku">seppuku</a>.</li>
<li>Terminologi <em>jihad</em> (versi peyoratifnya) tidak akan pernah populer. Yang ada adalah&#8230; <em>Kamikaze</em>, tentunya.</li>
<li>Kiblat akan diarahkan ke Asia timur. Entah dimana. Atau mungkin tidak. Entahlah. <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Tokyo%20Tower">Tokyo Tower</a> mungkin? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </li>
<li>Aksi kaum ekstrimis Isramu bakal lebih canggih, dibumbui ilmu-ilmu <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ninjutsu">ninjawi</a>.</li>
<li><a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Anime">Anime</a> bakal lebih merakyat. Pasalnya bocah-bocah penerus bangsa sudah lumayan mahir membaca aksara-aksara Jepang dan memahami bahasa negeri Sakura sejak kecil. Untuk apa? Mengaji tentunya. Membaca <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Quran"><strike>Al-Qur&#8217;an</strike>Dokusho</a>.</li>
<li><a HREF="http://antosalafy.wordpress.com/2007/03/04/fatwa-para-ulama-tentang-jamaah-tabligh-jamaah-komporjamaah-ndableg/">Jamaah Tabligh</a> akan terlihat seperti gerombolan klan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ronin">samurai tak bertuan</a>. Tentunya akan menarik simpati lebih banyak anak muda&#8230;</li>
<li>Mungkin, sudah banyak anime yang mengangkat tema <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Badr">perang Bad&#8217;r</a>. Poster <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Hamza_ibn_Abd_al-Muttalib">Hamzah ibn Abdul Muttalib</a> yang bertampang <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Bishonen">bishonen</a> akan banyak dijual di tepi-tepi jalan.</li>
<li>Tunggu, tentunya beliau tidak akan bernama Hamzah. Pokoknya nama Jepang <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' />  Perang Bad&#8217;r-nya juga&#8230; Mungkin jadi Perang <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Harima">Harima</a>.</li>
</ul>
<p>*terbangun*</p>
<p>Ah, kalau ada yang berniat, silakan menambahkan. Nanti akan saya update <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em><strong>p. s.</strong> Perlu dibikin versi Tiongkoknya? Versi Latin? Maya? Afrika? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Btw obrolan ini terinspirasi dari chat sama <a HREF="http://jejakpena.wordpress.com/">Mbak Hiruta</a>.</em></p>
<p><img ALIGN="right" ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." BORDER="1" SRC="http://rosenqueencompany.wordpress.com/files/2007/06/thecoatofarms.jpg" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Surga dan Kepekaan Sosial]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/07/13/surga-dan-kepekaan-sosial/</link>
<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 19:58:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/07/13/surga-dan-kepekaan-sosial/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Nah, katakanlah anda sudah mencapai surga, berikut 70,000 bidadari semok yang legendaris itu.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p ALIGN="center"><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/07/hevn.jpg" ALT="surga euy~" /></p>
<p ALIGN="center"><em>&#8220;Nah, katakanlah anda sudah mencapai surga,<br />
berikut 70,000 bidadari <a HREF="http://arifkurniawan.wordpress.com/2007/04/04/semok-seksi-montok/">semok</a> yang legendaris itu. Lalu?&#8221;</em></p>
<p>Saya mempunyai satu pertanyaan besar;</p>
<p>Surga akan dihuni oleh <a HREF="http://wadehel.wordpress.com/2007/05/19/ciri-ciri-lelaki-ahli-surga/">orang-orang</a> yang tidak peka.<br />
Orang-orang tidak peka tidak pantas masuk di surga.<br />
Jadi? Paradoks <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p><!--moreHe? Tidak peka? »--></p>
<p>Iya. Ketika anda, yang (insya Allah saya doakan deh) seorang ahli surga, sedang dibuai kenikmatan surgawi &#8212; dikelilingi nikmat di sisi Tuhan, akankah anda berpikir tentang nasib orang-orang yang sedang disiksa di neraka?</p>
<p>Kalau anda bisa tetap cuek menikmati surga, berarti anda tidak peka.<br />
Kalau anda tidak peka, kok anda bisa masuk surga? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Karena <a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/06/03/lotere-berhadiah-surga/">beruntung</a>? Atau karena Tuhan sendiri <a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/07/13/operation-deicide/">kurang bijak</a> memilih ahli-ahli surga?</p>
<p>Atau anda tetap merasa iba?</p>
<p>Lho, sekarang coba bayangkan anda ke surga cuma sendiri saja. Istri/suami anda ternyata dicemplungkan ke neraka. Orang tua anda juga. Anak anda juga. Teman-teman anda. Apa anda tidak jadi risih dan risau? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_confused.gif' alt=':?' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mending kalau ternyata mereka cuma <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Purgatory">sementara</a> saja di neraka (<em>temporary dip</em>). Kalau begitu, mungkin setelah beberapa ratus ribu tahun anda bisa lega &#8212; dapat menikmati surga bersama keluarga dan kerabat.</p>
<p>Kalau mereka kebagian jatah &#8216;menikmati&#8217; neraka dalam waktu yang tak terbatas?</p>
<p>Saya memikirkan ini sudah agak lama, tapi tertarik kembali belakangan setelah mendengar quote <em>John Persone</em>, seorang <em>bishop</em> Swedia &#8212; yang mempertanyakan hal yang sama;</p>
<blockquote><p>&#8220;If you love your neighbors as yourself, yes, even if you have just a little bit of human love and are not solely a selfish wretch, how could you have a single happy moment in heaven, knowing that contemporaneously with your blessed estate continues the endless torment and agony of innumerable millions of the accursed?</p>
<p>John Persone&#8221;</p></blockquote>
<p>Oke, mari dirangkum.</p>
<p>Intinya, apa anda tidak kepikiran akan nasib orang-orang di neraka? Tidak merasa kasihan?</p>
<ul>
<li>Kalau anda merasa kasihan, berarti anda akan merasa sedih. Berarti surga juga menyimpan kesedihan. Jadi, surga bukan kenikmatan murni.</li>
<li>Kalau anda tidak merasa kasihan, anda manusia macam apa, sih? Kok, bisa-bisanya masuk surga? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' /> </li>
</ul>
<p>Saya sendiri sejak saat itu mulai membayangkan kemungkinan kalau surga itu adalah dosis narkoba yang paling <em>ultimate</em>. Bentuk nge-fly paling sempurna. Seisi penghuni bakal merasa nikmat terus-menerus. Teler. Mabok. Cuma itu jalan yang bisa saya pikirkan untuk menghindari paradoks di atas <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif' alt=':lol:' class='wp-smiley' />  Konsep ini pernah saya adukan ke <a HREF="http://mcduck.wordpress.com">Pak Bebek</a>&#8230; Beliau cuma ketawa <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jadi, ada tanggapan lain? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." SRC="http://rosenqueencompany.wordpress.com/files/2007/06/thecoatofarms.jpg" BORDER="1" ALIGN="right" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Operation Deicide?]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/07/13/operation-deicide/</link>
<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 17:52:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/07/13/operation-deicide/</guid>
<description><![CDATA[Saudara-saudara, Kita akan membicarakan tentang kemungkinan perlunya membunuh Tuhan. Ya, membunuh Tu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saudara-saudara,</p>
<p>Kita akan membicarakan tentang kemungkinan perlunya membunuh Tuhan.</p>
<p>Ya, membunuh Tuhan yang Maha Esa itu.</p>
<p ALIGN="center"><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/07/foxhole.jpg" ALT="perang, demi kemanusiaan" /></p>
<p ALIGN="center"><em>&#8220;Boys! Defeat God, then we&#8217;ll dine in paradise!&#8221;</em></p>
<p ALIGN="center">*          *          *</p>
<p><a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Voltaire">Voltaire</a> pernah berkata, bahwa kalaupun Tuhan itu seandainya tidak ada, maka mesti segera diciptakan. Sebab Tuhan itu, menurut Voltaire, mutlak diperlukan oleh manusia dan segala isi dunia. Namun pada kondisi-kondisi tertentu, mungkin Tuhan justru perlu dihabisi.</p>
<p>Iya. Mungkin pada situasi tertentu, manusia mesti bahu membahu untuk membunuh Tuhan. Tuhan yang menciptakan mereka. Atas nama kemanusiaan.</p>
<p>Situasi seperti apa?</p>
<p><!--moreBetul. Seperti apa? »--></p>
<p>Situasi di mana ternyata keberadaan Tuhan justru membahayakan manusia.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p><strong><font SIZE="4">Bagian I : Sang Diktator</font></strong></p>
<p><strong>Sebuah sudut pandang</strong></p>
<p>Saya tidak pernah bertemu dengan Tuhan secara langsung. Oleh sebab itu, saya tidak tahu seperti apa wujud beliau, dan seperti apa kepribadian beliau. Saya hanya bisa mereka-reka saja. Tuhan itu seperti apa? Saya pun mulai bertanya dengan berbagai orang yang bisa saya tanyakan pendapatnya. Responnya <a HREF="http://wadehel.wordpress.com/2007/01/10/macam-macam-tuhan/">bermacam-macam</a>.</p>
<p>Salah satu jawaban yang saya terima, membuat saya menjadi sedikit paranoid.</p>
<p>Kalau Tuhan ternyata memang seperti yang digambarkan oleh pernyataan tersebut, boleh jadi kita mesti bersiap-siap untuk perang melawan Tuhan.</p>
<p><strong>Tuhan yang Maha Kejam</strong></p>
<p>Menurut gambaran yang ditarik berdasarkan pendapat berbagai pemahaman yang tersebar di seluruh penjuru dunia, Tuhan adalah <em>the ultimate dictator</em>. Manifestasi segala komponen megalomaniak yang ada. Pemimpin yang paling brutal. Monster yang paling haus darah.</p>
<p>Ia menciptakan manusia-manusia yang lemah hanya untuk dijadikan sebagai mainan saja. Dan Ia juga sadis &#8212; Ia memerintahkan para manusia-manusia lemah itu untuk melakukan apa-apa yang Ia inginkan. Berikut bentuk-bentuk penindasan yang Ia lakukan;</p>
<ol>
<li>Pertama, Ia memerintahkan mainan-mainan-Nya tersebut untuk mencari sendiri <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Religion">&#8216;aturan main&#8217; (baca: agama)</a> dari permainan sadis-Nya. Dan itu tidak mudah. Memilih mana yang benar di antara sekian banyak agama tersebut sangatlah sukar &#8212; manusia-manusia yang berotak cemerlang pun masih belum dapat merumuskan satu jawaban pasti agama mana yang sebenarnya diinginkan Tuhan. Beberapa memilih agama A, beberapa memilih agama B, dan seterusnya. Di sisi lain, beberapa orang bahkan tidak perlu berpikir &#8212; karena kebetulan terlahir di lingkungan yang telah <a HREF="http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/06/03/lotere-berhadiah-surga/">beruntung</a> memilih agama yang benar.</li>
<li> Lebih lanjut, setelah seseorang mampu meraih &#8216;jalan yang benar&#8217;, aturan yang diinginkan Tuhan untuk dilalui pun teramat terjal. Ia sengaja membuatkan hawa nafsu yang membara pada manusia-manusia bikinan-Nya dan memerintahkan mereka untuk tidak memenuhi hasratnya tersebut. Segalanya dilarang &#8212; ada saja yang salah. Maksudnya sendiri tidak jelas; mungkin supaya Ia lebih terhibur melihat penderitaan mereka.</li>
<li> Akhirnya, kalau mainan-mainan-Nya tersebut gagal memenuhi apa yang Ia inginkan dengan sempurna, maka Ia akan menyiksa mereka dengan hukuman yang amat sangat berat. Ia tidak akan ragu sama sekali dalam menyiksa &#8212; termasuk merebus hidup-hidup seorang nenek tua tak berdaya yang kebetulan sial memilih agama yang salah ketika hidup, selama-lamanya.</li>
</ol>
<p><strong>Analogi</strong></p>
<p>Mari berangkat lebih jauh.</p>
<p>Kebengisan Tuhan dalam gambaran beberapa kaum tertentu dapat dianalogikan menjadi seorang kaisar feudal yang keji dan barbar. Dalam skala yang lebih kecil, tentunya.</p>
<ol>
<li>Katakanlah sang kaisar memungut beberapa bocah-bocah budak tawanan perang yang sudah sekarat, lalu merawat mereka, dan memberikan mereka rumah dan pekerjaan. Ini adalah pekerjaan yang mulia &#8212; namun bukannya tanpa pamrih. Sang kaisar memerintahkan mereka untuk selalu memuji-mujinya setiap saat. Mereka harus tunduk dan patuh, kalau tidak, mereka akan disiksa oleh algojo-algojo kekaisaran. Jadi kalau misalnya mereka telat sedikit saja dalam upacara-upacara memuji-puja sang kaisar, mungkin jari mereka akan dipotong, atau mata mereka dicungkil keluar, atau dikastrasi, atau apalah.Hal ini mirip dengan sang Tuhan bengis. Ia menciptakan manusia, bukannya tanpa pamrih. Mereka harus melakukan apa yang ia inginkan, kalau tidak, akan disiksa&#8211; selama-lamanya di neraka. Tentunya jasa Tuhan lebih besar dari jasa sang kaisar, akan tetapi hukumannya juga lebih brutal. Namun makhluk-Nya yang percaya akan gambaran Tuhan yang semacam ini tetap bersikeras bahwa Ia telah berjasa besar dengan menciptakan mereka, dan tentunya mereka boleh diperlakukan-Nya semaunya. Mereka lupa, bahwa diciptakan untuk hidup di bawah permainan kejam seperti itu bukanlah suatu yang benar-benar bagus. Mungkin lebih bagus lagi kalau mereka tidak diciptakan.</li>
<li>Nah, terkadang, sang kaisar berhasil dilenakan oleh bujuk rayu salah satu budaknya. Mungkin budak yang satu ini begitu patuhnya, sehingga permintaan-permintaan sang budak pun dituruti. Mungkin seekor kuda, atau perhiasan emas, atau harta lainnya. Perlu diingat bahwa budak yang patuh pada sang kaisar belum tentu berbudi pekerti. Boleh jadi ia hanya mencari muka &#8212; lembut pada sang kaisar, namun bengis pada sesama budak.Sang Tuhan bengis pun demikian. Hamba-Nya yang tidak kenal letih memuja-Nya, walau tidak berbuat apa-apa bagi orang lain, akan dikabulkan permohonannya. Serupa dengan kasus sang kaisar, walaupun sang hamba tidaklah banyak berbuat baik pada sesama dibandingkan hamba yang lain. Implikasinya? Seseorang yang memilih agama yang salah, lalu mati demi menyelamatkan seorang anak kecil dari tabrakan, akan digoreng di neraka selamanya. Sedang yang mengikuti jalan-Nya, sekalipun hanya sibuk berkomat-kamit memuji-Nya sepanjang hidup dan hobi mempergunjingkan orang yang tidak seiman dengannya, akan menikmati surga yang kekal.
<p>Persamaannya? Baik sang kaisar maupun Tuhan versi bengis ini lebih menyukai hamba PENURUT daripada yang BERMORAL.</li>
<li>Yang paling berbau <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Paradox">paradoks</a> dan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Oxymoron">oksimoron</a> adalah bahwa sang kaisar masih menganggap dirinya sebagai pemimpin yang bijak dan pengasih.Sang Tuhan versi bengis? Hohoho, bahkan pakai atribut Maha-, padahal&#8230;</li>
</ol>
<p>Ketika kita menemui kaisar seperti itu, kita menyebutnya &#8216;kejam&#8217;.<br />
Namun untuk kasus Tuhan (versi yang bengis), kita menyebutnya &#8216;maha penyayang&#8217;.</p>
<p>Kenapa? Sudah terlanjur cinta? Mungkin tidak. Mungkin anda hanya takut.</p>
<p><strong>Is it love, or is it fear?</strong></p>
<p>Kalau anda tergolong yang menyembah Tuhan (yang katanya) seperti itu, ada baiknya mulai berpikir. Apa Tuhan seperti itu pantas dicintai? Jujur saja&#8230; Ditakuti, tentu. Dicintai? Nanti dulu.</p>
<p>Menyembah Tuhan yang seperti itu mirip dengan menjilat seorang kaisar yang barbar (seperti perumpamaan di atas) &#8212; kita memuja-muja dia supaya diberikan hadiah dan menghindari hukuman, dan terkadang (seringkali, bahkan) mengabaikan kompatriot-kompatriot kita demi keselamatan pribadi.</p>
<p>Dan, tentunya, berpura-pura dan membohongi diri sendiri bahwa Dia pantas dan patut diperlakukan demikian, karena merupakan sang Maha Pengasih. <em>Yeah, right&#8230;</em></p>
<p><strong><font SIZE="4">Bagian II : Pemberontakan</font></strong></p>
<blockquote><p><strong><a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Deicide">Deicide</a></strong> is the killing of a <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/God">god</a> or a divine being.</p>
<p>(Entry Wikipedia)</p></blockquote>
<p>Kalau memang seperti itu yang terjadi, maka Tuhan mesti <a HREF="http://kosongempatsembilan.wordpress.com/2007/07/12/ketika-tuhan-telah-mati/">dibunuh</a>.</p>
<p>Masuk akal, bukan?<br />
Logis, bukan?</p>
<p>Ah, memang rencananya cukup baik, namun pelaksanaannya akan sangat sulit. Membunuh Tuhan tidak mudah.</p>
<p>Bagaimana caranya saya tidak bisa berpikir. Mungkin ketika kita disiksa di neraka, kita menyusun plot kudeta, mempersuasi para malaikat neraka dan setan-setan untuk bekerja sama dengan kita, dan menyerbu surga. Para penghuni surga diharapkan dapat mengalihkan perhatian sang Maha Diktator, dan kita akan berperang.</p>
<p>Berperang, supaya tidak ada lagi nenek-nenek tua yang dibakar tanpa akhir.<br />
Berperang, supaya tidak ada lagi orang-orang kurang beruntung yang disiksa tanpa rasa kasihan.</p>
<p>Kalau kita kalah, mungkin kita akan lenyap. Atau dimasukkan ke neraka. Tapi kita tidak sendiri. Kalau kita menang, maka keadilan akan tegak.</p>
<p>Lalu kita tinggal mendirikan majelis <a HREF="http://antosalafy.wordpress.com/2007/06/08/demokrasi-itu-apa/">demokrasi</a> di surga. <em>New World Order</em>. Atau <em>New Afterlife Order</em>, atau apalah.</p>
<p>&#8230;Mungkin <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Nietzsche">Nietzsche</a> bisa menjadi presiden. Atau <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Robert G. Ingersoll">Ingersoll</a>, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Bertrand Russel">Russel</a>, atau <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Richard Dawkins">Dawkins</a>, atau malah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Adrian Mutu">Adrian Mutu</a> *ngaco*&#8230;</p>
<p><strong><font SIZE="4">Bagian III : Antiklimaks</font></strong></p>
<p>Ah, tapi mungkin perang itu tidak perlu.</p>
<p>Tidak. Perang demi membunuh Tuhan itu tidak akan diperlukan.</p>
<p>Kita tidak akan perlu memprotes Tuhan.</p>
<p><em>Karena bagi saya, Tuhan tidak seperti itu.</em></p>
<p>Yang menganggap Tuhan itu bengis seperti di atas, sudah keliru. Tuhan tidak seperti itu. Namun ia tidak akan turun meluruskan persoalan. Ia hanya akan menghadiahi kita apa yang kita pantas dapatkan nanti. <em>As you sow, so will you reap</em>. Ia tidak akan mengganggu manusia saat ini, Ia tidak ingin terjadi anomali dalam proses pemikiran manusia. Biarkan saja. Bagi saya, yang menyiksa diri karena Tuhan (akibat salah mengira Tuhan sebagai sang Maha Bengis) pantas dihadiahi hadiah yang berlipat.</p>
<p>Sebab mereka takut pada Tuhannya.</p>
<p>Dan Tuhan akan menghadiahi mereka, sebagaimana seorang ayah haru melihat seorang anaknya begitu patuh padanya sampai-sampai melupakan kebahagiannya sebagai seorang anak.</p>
<p>Tuhan yang kejam itu hanya ilusi. Fatamorgana.</p>
<p>Tuhan yang mabuk puja puji itu hanya ilusi. Fatamorgana.</p>
<p>Tuhan yang gemar mengutuk itu hanya ilusi. Fatamorgana.</p>
<p>Segala ilusi itu terjadi akibat usaha manusia-manusia yang tidaklah sempurna demi mengenal Tuhannya. Mereka terus berusaha, selama ribuan tahun. Sejak dari muara sungai Nil di Mesir ribuan tahun sebelum masehi sampai meja-meja filsuf di antara timbunan pencakar langit.</p>
<p>Dan saya entah kenapa memperoleh impresi bahwa <abbr TITLE="Meminjam istilahnya Mas Fertob.">Sang Maha Bijak</abbr> hanya terdiam saja. Ia tidak suka mempermasalahkan benar dan salah. Ia hanya suka melihat kelembutan di antara makhluk-makhluk-Nya.</p>
<p>Akhirnya dengan ini, saya pun mengurungkan niat saya menyusun strategi membajak neraka demi menyerbu surga di hari pembalasan nanti. Tidak perlu.</p>
<p><em>In God we trust.</em></p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<blockquote><p>&#8220;My God is not the one that you want to see.<br />
Your God is a mirage, a conspiracy.&#8221;</p>
<p>&#8220;Better hope you&#8217;ve been chosen to be saved,<br />
Because your empathy only goes so far today.<br />
Pay no mind to those in pain,<br />
They just want souls that are willing to pay.</p>
<p>&#8230;Your &#8216;God&#8217; is not for me.&#8221;</p>
<p>(<a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Pennywise (band)">Pennywise</a> &#8211; &#8220;My God&#8221;<br />
from the album <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Land_of_the_Free%3F">&#8220;Land of the Free?&#8221;</a> (2001).)</p></blockquote>
<p><img ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." BORDER="1" SRC="http://rosenqueencompany.wordpress.com/files/2007/06/thecoatofarms.jpg" ALIGN="right" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lotere Berhadiah Surga]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/06/03/lotere-berhadiah-surga/</link>
<pubDate>Sun, 03 Jun 2007 11:30:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/06/03/lotere-berhadiah-surga/</guid>
<description><![CDATA[Sepanjang hidup saya, sejauh apa yang saya pahami, saya rasa di dunia ini &#8212; dari kolong jembat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sepanjang hidup saya, sejauh apa yang saya pahami, saya rasa di dunia ini &#8212; dari kolong jembatan di Jakarta sampai kebun-kebun di Amerika Selatan, dari perapian-perapian di musim dingin yang menusuk di Eropa Utara sampai kuil-kuil antik di negeri Sakura, manusia saling mengajarkan bahwa surga adalah hadiah lotere.</p>
<p STYLE="text-align: center"><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/06/sowreap.jpg" ALT="you reap what you sow, or more, or else!" BORDER="1" /></p>
<p ALIGN="center"><em>&#8220;Dalam pemikiran saya, seseorang seharusnya menerima sesuai dengan apa yang dikerjakannya.<br />
Tidak bisa kurang, namun bisa saja lebih!&#8221;</em></p>
<p>Neraka pun demikian. Yang terlempar di neraka adalah orang-orang dengan nomor lotere yang kalah undian. Sedikit sekali nilai moral yang ada berperan dalam kasus penjeblosan seorang anak manusia ke kubangan neraka.</p>
<p><!--moreApakah benar demikian? » --></p>
<p>Sekitar sembilan tahun lalu, ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, kelas empat tepatnya, guru saya pernah menyebutkan bahwa agama di dunia ini ialah terdiri dari lima macam agama. Jelas sekali, bias iklim teologi di Indonesia. Saya yang masih ingusan waktu itu, memprotes dengan menyebutkan beberapa padanan agama lain, seingat saya waktu itu saya menyebutkan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Sikhism">Sikhisme</a>. Teman-teman saya, termasuk guru saya, terkesan bingung dan tidak menerima masukan saya tersebut. Respon dari guru saya adalah; bahwa Sikhisme adalah sebuah aliran. Saya hanya mengiyakan saja. Bertahun-tahun selanjutnya, saya akhirnya paham sepenuhnya kalau itu tidak benar. Sikhisme adalah agama seutuhnya.</p>
<p>Ketika saya mengingat kejadian itu lagi belakangan ini, saya kemudian mengerti bahwa suatu kepercayaan di mata masyarakat awam adalah suatu yang terkotak-kotak. Se-terkotak-kotak-nya.</p>
<p>Proses pengotakan itu sendiri, disponsori oleh budaya dan stereotip umum yang berlaku secara nyaris universal, bahkan memungkinkan untuk dibuatkan algoritmanya;</p>
<ol>
<li>Ketika seseorang percaya akan adanya Tuhan, ia akan dipaksakan untuk masuk ke dalam suatu golongan agama besar tertentu. Implikasi logisnya adalah bahwa apabila seseorang tidak termasuk pada golongan-golongan besar tersebut, maka ia adalah seorang atheis.</li>
<li>Ketika seseorang sudah berada dalam golongan besar, ia akan didoktrinkan bahwa dalam golongan tersebut hanya ada satu jalur saja. Implikasi logisnya, kalau seseorang mengaku sebagai muslim, namun pemahamannya berbeda dengan paham yang lebih mapan, maka ia akan tergolong pada satu pengotakan baru. &#8216;Sesat&#8217;.</li>
<li>Kesimpulannya? Jumlah &#8216;jenis&#8217; orientasi religius seseorang adalah <strong>Jumlah agama besar + 2</strong>. Jelasnya begini; misalnya di Indonesia, terdapat enam kepercayaan besar; Buddhisme, Hinduisme, Islam, Katolik, Konfusianisme, dan Protestanisme, maka seseorang di Indonesia hanya mungkin tergolong dari 6 + 2 = 8 jenis. Kalau dia bukan seorang Buddhis, Hindi, Muslim, Katolik, Konfusianis, atau Protestan, maka pastilah dia seorang Atheis atau orang yang sesat.</li>
</ol>
<p>Sampai beberapa tahun lalu, saya pun menganggap bahwa beragama adalah sesederhana itu. Konflik paling parah waktu itu hanyalah sekadar hari Idul Fitri versi Muhammadiyah dan NU yang berbeda satu hari. Soal yang pelik, seperti bagaimana agama Islam yang sudah pecah menjadi lebih dari 190 pemahaman besar, saya tidak tahu.</p>
<p ALIGN="center">*          *          *</p>
<p>Frontman <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Audioslave">Audioslave</a>, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Chris Cornell">Chris Cornell</a> pernah berkata, bahwa single kedua mereka, <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Like_a_Stone">&#8220;Like A Stone&#8221;</a>, terinspirasi dari pengalaman spiritualnya sewaktu mencari Tuhan dengan cara alternatif selain pendekatan agama-agama mainstream. Pada waktu itu saya berpikir, Cornell sudah gila. Atau mencari sensasi.</p>
<p>Atau, benarkah bahwa pendekatan religius semestinya tidak terkungkung pengotakan-pengotakan yang dibentuk oleh stereotip-stereotip sosial?</p>
<p>Saya punya sebuah contoh yang sempurna. Saya lupa di mana, tapi saya pernah mendengar sepotong pendapat yang sumbang dari seseorang di <a HREF="http://www.songmeanings.net/">SongMeanings.net</a>. Bunyinya kira-kira begini;</p>
<blockquote><p>&#8220;Agama-agama selalu bertengkar, berperang, dan menumpahkan darah satu sama lain. Karena itulah, saya adalah seorang atheis.&#8221;</p></blockquote>
<p><em>Sorry, sire, you&#8217;re either a poseur or just plain stupid.</em> Jadi, mungkin menurut mas/mbak yang berkomentar di atas, karena ia tidak cocok dengan interpretasi populer agama-agama besar, solusinya adalah menjadi seorang atheis. Saran saya, jangan berkomentar seperti itu di depan wajah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Voltaire">Voltaire</a> atau <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Albert Einstein">Einstein</a>, misalnya. Itu adalah <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/False dilemma">dikotomi palsu</a>!</p>
<p ALIGN="center">*          *          *</p>
<p>Jadi, posisi religius seseorang saya rasa sudah dibonsaikan. Sudah terkotak-kotak. Padahal, interpretasi dari teks-teks suci tentunya potensial (dan sangat mungkin) untuk berbeda. Belum lagi apabila dikaitkan dengan pemahaman <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Natural_Theology">teologi natural</a> seseorang.</p>
<p>Bagi masyarakat awam, saya rasa hanya ada dua jenis manusia; theis dan atheis &#8212; golongan pertama akan dijatah lewat agama. Bagaimana dengan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Agnosticism">agnostisisme</a>? <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Deism">Deisme</a>? Atau malah yang semacam <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Omnitheism">Omnitheisme</a> atau <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Dystheism">Distheisme</a>? Dan masih banyak lagi pendekatan religius lainnya. Semuanya bisa disintesiskan dengan masing-masing agama. Ini yang saya kira ideal. Theisme yang kritis.</p>
<p>Tapi manusia ingin berjalan bersama-sama. Memiliki pendirian teologi yang mandiri tentunya kerap kali dinilai terlalu beresiko. Konformitas? Yah, itu tidak sepenuhnya salah. Manusiawi.</p>
<p>Namun dengan hal itu, akan sedikit sulit untuk menyangkal bahwa surga adalah hadiah lotere. Orang yang terlahir di lingkungan agama yang &#8216;benar&#8217; sudah menarik lotere yang menang &#8212; kecuali kalau dia cukup bodoh untuk mengganti agamanya (baca: kehilangan kartu loterenya).</p>
<p ALIGN="center">*          *          *</p>
<p>Lalu di mana posisi saya saat ini?</p>
<p>Islam sunni? Islam moderat? Islam liberal? Islam Mu&#8217;tazili? Atau malah agnostik? Seorang sufi? Atau malah seorang deis?</p>
<p>Wallahualam &#8212; Untuk menjelaskan suatu posisi dalam pemahaman akan masalah teologi, diperlukan waktu yang lama &#8211; serta tulisan yang sangat panjang. Kalau ternyata dengan pemahaman saya ini saya bisa dimasukkan ke dalam surga, saya bersyukur. Kalau ke neraka, apa boleh dikata? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img ALIGN="right" BORDER="1" SRC="http://rosenqueencompany.wordpress.com/files/2007/06/thecoatofarms.jpg" ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Killing in the Name]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/06/02/killing-in-the-name/</link>
<pubDate>Sat, 02 Jun 2007 09:22:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/06/02/killing-in-the-name/</guid>
<description><![CDATA[Saya tidak terlalu ingat detil bagaimana caranya saya sampai ke link ini, yang pasti lumayan membuat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p ALIGN="justify"><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/06/avraham.jpg" HSPACE="3" VSPACE="3" BORDER="1" ALT="abraham dan isaac (atau ishmael dalam quran)" ALIGN="right" /> Saya tidak terlalu ingat detil bagaimana caranya saya sampai ke link <a HREF="http://www.courttv.com/trials/laney/033104_ctv.html">ini</a>, yang pasti lumayan membuat berpikir.</p>
<p>*          *          *</p>
<p ALIGN="justify">Texas, 2003 &#8212; Deanna Laney (39) mengendap keluar kamar tidur pada pukul 23:30 di malam hari, kemudian menghabisi nyawa anak-anaknya. Joshua (8) dan Luke (6) tewas setelah dipukuli dengan bongkah-bongkah batu; sedang Aaron (1!) berhasil selamat walau terluka parah. Setelah itu, Laney menghubungi 911 untuk mengaku dan bertanggung jawab.</p>
<p>Pertanyaannya jelas. Kenapa?</p>
<p ALIGN="justify">Nah, ini yang membuat miris. Laney yang memang terkenal religius, ternyata melakukannya juga atas nama Tuhan. Rupanya ia ini mengaku mendapat wahyu a la Ibrahim a.s. Menurutnya, Tuhan mewahyukan bahwa kiamat sudah dekat, dan sebagai &#8216;orang terpilih&#8217;, ia (dan seorang wanita lain bernama Andrea Yates) mesti &#8216;membuktikan kesetiaannya pada Tuhan dengan menghabisi nyawa anak-anaknya&#8217;.</p>
<p><!--moreWadepak? » --></p>
<p ALIGN="justify">Lebih jauh lagi, ia menganggap bahwa ia mesti menghabisi nyawa mereka dengan metode yang sadis. Jadi ia membatalkan rencananya menghabisi mereka dengan cara menikam atau mencekik &#8212; karena metode yang memungkinkan mereka untuk mati dengan merasakan sedikit rasa sakit berarti belum mematuhi Tuhan sepenuhnya.</p>
<p ALIGN="justify">Yang betul-betul membuat saya gemas tentunya adalah bahwa Laney menganggap bahwa ia BENAR. Itu saja. Laney sendiri menderita. Ia benar-benar tersiksa ketika membunuhi anaknya. Jadi siapa yang salah? Sebab tidak ada yang diuntungkan atas insiden ini!</p>
<p ALIGN="justify">Sebenarnya kasus ini akhirnya menjadi rumit karena pembelaan yang mempertanyakan masalah kejiwaan Laney, dan berbagai persoalan lain, tapi saya tidak tertarik membahasnya lebih jauh. Cukup sampai di sini saja, sebab yang membuat saya tertarik adalah atmosfer monastisisme yang pekat di sini. Monastisisme percaya bahwa penderitaan adalah simbol dari ketaatan. Itu sebabnya banyak sekte keagamaan di dunia yang menekankan penderitaan sebagai bagian dari keshalihan. Buddhisme misalnya, yang jelas-jelas mempromosikan hal seperti ini. Ingat kasus <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Ram_Bahadur_Bomjon">Ram Bahadur Bomjon</a>, sang Buddha baru? Bisa kita lihat betapa kurang gizinya bocah delapan belas tahun itu, bukan? Tentunya yang begini ini melebar ke paham asketisme &#8212; misalnya pengharaman seni pada berbagai aliran agama (setahu saya, contohnya adalah beberapa aliran Salafiyah dan kajian Deuteronomy pada Alkitab). Saya sendiri lebih tertarik pada pandangan <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Leopold%20Weiss">Leopold Weiss</a> bahwa Islam tidak mempromosikan asketisme. Mungkin karena inilah saya tidak sepenuhnya mendukung sufisme. Padahal sufisme minus monastisisme mungkin cukup ideal sebagai sumber referensi dan renungan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Sekarang mungkin saya masih berputar-putar di sekitar Islam, dengan suplemen Sufisme, Deisme, dan Omniteisme.</p>
<p>Ahem, kesimpulannya, kasus Bu Laney membuat saya miris. Titik <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p ALIGN="right"><em>&#8220;<a HREF="http://www.songmeanings.net/lyric.php?lid=3530822107858616013">In the afterlife, we&#8217;ll reap.</a>&#8220;<br />
&#8212;&#8212;&#8212; <a HREF="http://www.audioslave.com/">Audioslave</a>, &#8220;<a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Revelations_(song)">Revelations&#8221;</a></em></p>
<p><img ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." SRC="http://rosenqueencompany.wordpress.com/files/2007/06/thecoatofarms.jpg" BORDER="1" ALIGN="right" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Neraka : Sekadar Renungan]]></title>
<link>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/05/19/neraka-sekadar-renungan/</link>
<pubDate>Sat, 19 May 2007 06:19:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kgeddoe</dc:creator>
<guid>http://rosenqueencompany.wordpress.com/2007/05/19/neraka-sekadar-renungan/</guid>
<description><![CDATA[Nah, mari merenung sedikit. Mari mendengarkan ocehan ulama tentang neraka. &#8230; Oh, bukan, ulama ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Nah, mari merenung sedikit. Mari mendengarkan ocehan <em>ulama</em> tentang neraka.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Oh, bukan, <em>ulama</em> di sini adalah <em>ulama</em> secara bahasa. Maksudnya orang yang berilmu. Bukan sekadar orang yang berjanggut indah, dan&#8230; Yah, tahu sendirilah.</p>
<p ALIGN="center"><img SRC="http://rosenqueencompany.files.wordpress.com/2007/05/love2.jpg" ALT="mulutnya belepotan" BORDER="1" /><br />
<em>&#8220;At times, the thought of a brotherly love overcoming the omnibenevolent love is too paradoxical.&#8221;</em></p>
<p>Dan yang namanya belajar, anda juga sebaiknya tidak menelan mentah-mentah semua yang diucapkan para ulama di sini. Apalagi kebanyak dari mereka ini <strike>kafir</strike>(mungkin) kepercayaannya tidak sama dengan kita <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Mari dijadikan renungan saja. Sekadar buat merenung. Tidak berniat merenung? Tidak usah baca <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p><!--moreJadi, mari rela merenung. » --></p>
<p>Mulaai&#8230; *mukul-mukul panci*</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<blockquote><p>A civilized society looks with horror upon the abuse and torture of children or adults. Even where capital punishment is practiced, the aim is to implement it as mercifully as possible. Are we to believe then that a holy God &#8211; our heavenly Father &#8211; is less just than the courts of men?<br />
<em>(Sidney Hatch)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>According to Christianity, eternal suffering awaits anyone who questions God&#8217;s infinite love. That&#8217;s the message we&#8217;re brought up with: believe or die. &#8220;Thank you, forgiving Lord, for all those options.&#8221;<br />
<em>(Bill Hicks)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>And yet this same Deity says to me, &#8220;resist not evil; pray for those that despitefully use you; love your enemies, but I will eternally damn mine.&#8221; It seems to me that even gods should practice what they preach.<br />
<em>(Robert Ingersoll)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Eskimo: &#8220;If I did not know about God and sin, would I go to hell?&#8221;<br />
Priest: &#8220;No, not if you did not know.&#8221;<br />
Eskimo: &#8220;Then why did you tell me?&#8221;<br />
<em>(Annie Dillard)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>God says do what you wish, but make the wrong choice and you will be tortured for eternity in hell. That sir, is not free will. It would be akin to a man telling his girlfriend, do what you wish, but if you choose to leave me, I will track you down and blow your brains out. When a man says this we call him a psychopath and cry out for his imprisonment/execution. When god says the same we call him &#8220;loving&#8221; and build churches in his honor.<br />
<em>(William C. Easttom II)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>I do not consider it a sign of divine love to consign to hell people who live good lives but make an honest mistake in belief.<br />
<em>(Moshe Shulman)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>I have lately taken to read the New Testament which I assure you is a very good book; but there is one article to which I cannot accede; it is that of the eternity of punishment. I cannot comprehend how this eternity is compatible with the goodness of God!<br />
<em>(La Fontaine)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>I read in the Gospels that Jesus forgave the men who nailed him to the cross. He even promised &#8220;this day you shall be with me in paradise&#8221; to a thief crucified next to him &#8211; a thief who addressed Jesus simply as a &#8220;man&#8221; rather than as &#8220;the son of God.&#8221; Yet, today, this same Jesus cannot forgive my kindly old aunt and allow her to dwell in paradise, simply because her &#8220;beliefs&#8221; do not match Reverend So-and-So&#8217;s?<br />
<em>(Arthur Silver)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>If the fundamentalists are right, then all the cool people are in Hell!<br />
<em>(Jeffery Jay Lowder)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>If thinking freely for yourself is a sure ticket to hell, then the conversations in heaven must be awfully boring.<br />
<em>(Dr. Weirde)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>If you love your neighbors as yourself, yes, even if you have just a little bit of human love and are not solely a selfish wretch, how could you have a single happy moment in heaven, knowing that contemporaneously with your blessed estate continues the endless torment and agony of innumerable millions of the accursed?<br />
<em>(John Persone)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>It is Hell, of course, that makes priests powerful, not Heaven, for after thousands of years of so-called civilization fear remains the one common denominator of mankind.<br />
<em>(H. L. Mencken)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>There are no physicists in the hottest parts of hell, because the existence of a &#8220;hottest part&#8221; implies a temperature difference, and any marginally competent physicist would immediately use this to run a heat engine and make some other part of hell comfortably cool.<br />
<em>(Richard Davisson)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Why were a few, or a single one, made at all, if only to exist in order to be made eternally miserable, which is infinitely worse than non-existence?<br />
<em>(Immanuel Kant)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>Besides, as far as I can tell from studying the scriptures, all you do in heaven is pretty much just sit around all day and praise the Lord. I don&#8217;t know about you, but I think that after the first, oh, I don&#8217;t know, 50,000,000 years of that I&#8217;d start to get a little bored.<br />
<em>(Rick Reynolds)</em></p></blockquote>
<blockquote><p>I&#8217;m not against God. I&#8217;m against the Misuse of God.<br />
<em>(Marilyn Manson)</em></p></blockquote>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p ALIGN="center">.</p>
<p>Apakah berpikir seperti itu tergolong <em>blasphemy</em>? Saya kira tidak, sebab setahu saya <a HREF="http://en.wikipedia.org/wiki/Averroes">Ibnu Rushdi</a> pun ikut memikirkannya. Bukankah kita memang diperintahkan untuk berpikir? Nah, makanya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Oh, dan saya sendiri masih percaya dengan neraka, anda tidak usah khawatir. Hanya saja mungkin pandangan saya akan dalil-dalil tentang neraka adalah bahwa mereka bersifat alegori, tidak tekstual. Sebab kalau iya, agak susah menyanggah perkataan para atheis dan agnostik di atas&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Semoga bisa memperkaya renungan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><em>Semuanya cuma <a HREF="http://chaosregion.wordpress.com/2007/05/18/dengan-copy-paste-dunia-blogtaiment-makin-ramai/">kupipes</a> dari <a HREF="http://en.wikiquote.org/wiki">WikiQuote</a>. Nemu sewaktu lagi surfing.</em></p>
<p><img ALT="In God We Trust. RosenQueen, company." BORDER="1" SRC="http://rosenqueencompany.wordpress.com/files/2007/06/thecoatofarms.jpg" ALIGN="right" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
