<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ahlu-baiti &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/ahlu-baiti/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ahlu-baiti"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 08:33:35 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Jangan Marah dan Bagimu Surga]]></title>
<link>http://caktyk.wordpress.com/2007/09/05/jangan-marah-dan-bagimu-surga/</link>
<pubDate>Wed, 05 Sep 2007 02:37:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>caktyk</dc:creator>
<guid>http://caktyk.wordpress.com/2007/09/05/jangan-marah-dan-bagimu-surga/</guid>
<description><![CDATA[BismillahirRahmanirRahiim, Sahabatku, Maaf jika tulisan ini asal comot judul dari majalah OASE milik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>BismillahirRahmanirRahiim,</p>
<p>Sahabatku,<br />
Maaf jika tulisan ini asal comot judul dari majalah OASE milik <a href="http://lmi-amilzakat.com">LMI</a> yang ada di kolom Ust. Rofi&#8217; Munawar, Lc.</p>
<p>Sahabatku,<br />
Marah memang memiliki dimensi yang unik. Marah adalah satu dari beberapa ekspresi manusia yang bekerja layaknya pisau. Bisa baik, bisa buruk. Tergantung siapa, kapan dan bagaimana menggunakannya. Marah akan menjadi baik jika dengan marah itu akan ada manfaat yang lebih besar.</p>
<p>Yang perlu kita perhatikan adalah seruan Rasulullah kepada kita untuk tidak marah. Bahkan sampai 3x. Kira-kira kenapa ya ?</p>
<p>Dulu ada teman yang menemui saya dengan wajah sedih. Dia bercerita, suatu siang yang panas, dia bertengkar dengan istrinya mengenai masalah yang sebenarnya sepele. Dia tidak suka istrinya bicara dengan suara lebih keras dari suaranya. Pertama dia marah dengan membentak istrinya, maklum lagi panas hawanya. Karena tidak ada yang mau mengalah, bahkan istrinya ikut marah juga. Akhirnya, HP yang kebetulan ada di sampingnya dia lempar. Hancur. Tambah panas, karena melihat HP-nya hancur. Mau menyesal, malu. Akhirnya dia tambah marah hingga akhirnya dia melakukan satu hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, menampar istri !</p>
<p>Dia sangat menyesal. HP melayang. Istrinya minta dipulangkan. Dia kini sendirian menyesali kesalahannya. Dia marah.</p>
<p>Lain kali, ada teman yang datang ke saya. Dia mengeluhkan salah satu karyawan seniornya yang sekarang suka bermalas-malasan. Tugasnya jarang ada yang beres. Dia bertanya, bagaimana ya caranya agar karyawan itu tahu bahwa dia bersalah. Saya sarankan agar dia memarahi karyawan tersebut. Kira-kira sebulan kemudian, dia datang dengan wajah sumringah. Dia bilang kalo karyawannya sudah kembali &#8216;bersinar&#8217; seperti dahulu. Setelah dia tanyakan, karyawan tersebut sangat kaget karena belum pernah dimarahi bos-nya. Dia akhirnya introspeksi dan meningkatkan kinerjanya.</p>
<p>Sahabatku,<br />
saya tidak menyarankan anda untuk marah atau tidak marah. Saya menyarankan agar anda mengenali siapa &#8216;kemarahan&#8217; itu. Kendalikan dan manfaatkan !</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengakuan]]></title>
<link>http://caktyk.wordpress.com/2007/08/02/pengakuan/</link>
<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 07:31:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>caktyk</dc:creator>
<guid>http://caktyk.wordpress.com/2007/08/02/pengakuan/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah, Sahabat, Siang ini, salah seorang dosen menunjukkan nilai-nilai yang kami dapatkan dalam ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bismillah,</p>
<p>Sahabat,<br />
Siang ini, salah seorang dosen menunjukkan nilai-nilai yang kami dapatkan dalam satu semester ini, Alhamdulillah, saya termasuk yang mendapat nilai memuaskan. Jujur, saya sangat senang. Rasanya apa yang saya lakukan selama perkuliahan ini tidak percuma. Naif memang, karena kalo ditanya : emang kamu kuliah cari nilai apa ilmu ?, tentu saja ilmu itu yang ingin kita dapatkan, tapi manusiawi khan kalo nilai itu juga harus proporsional dengan ilmu yang didapatkan. Adalah menyakitkan jika nilai yang kita dapatkan ternyata lebih rendah dibandingkan teman kita yang secara empiris kurang mampu di bidang itu. Naif, yah&#8230; tapi manusiawi (hehehe&#8230; keluar egois-nya).<br />
<!--more--><br />
Lalu,<br />
jadi teringat istri tercinta di rumah&#8230; Ya Allah, iya yah&#8230; nilai yang cuman berupa angka tanpa rasa saja bisa membahagiakan seperti itu, apalagi pengakuan dan pujian dari kekasih hati atas apa yang telah dilakukan. Saya jadi ingat, bagaimana istri di rumah harus merawat kedua anak kami yang dalam tahap rewel-rewelnya (beserta segala kelucuannya, i luv you all), merawat rumah mungil kami, menyiapkan segala kebutuhan kami (hehehe, saya pemalas seh untuk masalah domestik ini :p) memberikan perhatian dan segalanya kepada kami, dan di sela-sela itu masih disempatkan melakukan dakwah dan kegiatan sosial. Belum lagi selama kuliah intensif ini, semua urusan usaha kami secara teknis saya serahkan kepadanya&#8230; duh, berat banget yah jadi istriku&#8230;</p>
<p>Meskipun begitu,<br />
Istriku jarang sekali mengeluh. Dia pernah bilang, kalo dia hanya mengeluh jika beban itu sudah tidak dapat ditanggungnya lagi. Subhanallah, istriku&#8230; Dan ajaibnya lagi, dia tidak terlalu menuntut masalah duniawi (meskipun dia tahu saya InsyaAllah bisa). Sekali waktu dia pernah bilang : Aa, melihat Aa senyum aja kelelahan ini langsung hilang. Aa mau makan masakan Dede&#8217; aja, semua beban rasanya melayang, dan mendengar Aa menanyakan kabar aja, Dede&#8217; rasanya menjadi wanita paling bahagia sedunia. Wow,&#8230;</p>
<p>Artinya,<br />
Yah, harusnya saya lebih bisa instropeksi. Senyum harus dimurahin dikit, makan di rumah harus jadi hobi dan paling tidak, lebih care ke istri. Yah, siapa lagi tempat berbagi kalo bukan dengan dia ? Yah, harusnya saya lebih bisa mengerti betapa pentingnya dia dalam hidup ini. betapa besar kontribusinya terhadap sejarah hidup ini, dan betapa besar cintanya dalam menghangatkan kehidupan ini. </p>
<p>Duh istriku, I love you&#8230; maafkan suamimu yang terlalu angkuh untuk selalu mengaku, betapa penting dirimu&#8230; Alhamdulillah ya Allah, terima kasih istriku !</p>
<p>Wallahu&#8217;alam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masa Kecil]]></title>
<link>http://caktyk.wordpress.com/2007/08/01/masa-kecil/</link>
<pubDate>Wed, 01 Aug 2007 08:23:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>caktyk</dc:creator>
<guid>http://caktyk.wordpress.com/2007/08/01/masa-kecil/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah, Sahabat, di awal-awal tahun kemunculan saya di bumi ini, saya merasakan hidup yang bahagi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bismillah,</p>
<p>Sahabat,<br />
di awal-awal tahun kemunculan saya di bumi ini, saya merasakan hidup yang bahagia. Paling tidak dari sudut pandang saya yang naive. Sepertinya, semua orang memberikan perhatian dan kasih sayang. Begitu saya nangis, huaaaa&#8230;., cepat-cepat saudara yang lain akan mencoba menenangkan dan mengalah&#8230;</p>
<p>Hingga tiba saatnya, adik saya terlahir ke dunia. Yah, sepertinya semua orang mencabut perhatian dan kasih sayang. Begitu saya nangis, hua&#8230;, cacian dan cubitan segera berhamburan mencoba menghentikan tangisan&#8230; ah, dunia !<br />
<!--more--><br />
Sahabat,<br />
seingat saya, di masa kecil saya melihat sesuatu dengan lebih proporsional. Pernah saya mendebat kakak saya yang hanya memberikan satu ikan ketika saya makan. Alasan saya gini : &#8220;nih coba hitung, nasi saya kan lebih dari seratus biji, harusnya saya ngambil seratus ikan, ini khan saya sudah ngalah cuman ngambil empat !&#8221;, dan tentu saja bukan pujian atas argumentasi saya yang cukup hebat itu yang saya dapatkan, tapi plakkk&#8230; yah, tamparan deh&#8230; tapi kalo ingat bahwa semua kakak saya cuman dapet separoh ikan, agak nyesel juga seh&#8230; hehehe</p>
<p>Sahabat,<br />
di antara teman-teman saya yang lain, saya dikenal sebagai anak pemberani, atau lebih tepatnya anak nekat lah. Ceritanya, waktu main petak umpet, hampir dipastikan tidak akan ada yang bisa menemukan saya, karena yang jadi pilihan tempat mengumpet adalah tempat yang paling seram dan gelap. Ceritanya lagi, waktu ada yang nyariin dan melihat saya, dia bilang kalo saya sedang berdiri dekat kepala sapi. Yah, kepalanya aja tanpa ada badannya&#8230; hih&#8230; untungnya saya ngga pernah ingat hal itu, jadi yah mesem-mesem saja kalo ada yang cerita mengenai &#8216;keberanian&#8217; saya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sahabat,<br />
di lain sisi, saya punya keterbatasan fisik yang signifikan. Tubuh saya mungil. Yah, hingga kelas 6, saya masih sering berdiri di barisan anak kelas 1 atau kelas 2, karena mereka dapat tempat yang teduh, tanpa kelihatan mencolok dari barisan para guru. Dan karena itu pula, dulu saya sempat jadi &#8216;korban tetap&#8217; pemerasan dari teman-teman yang lebih besar. Tapi yang lebih jadi korban lagi yah, bapak dan emak saya yang saya porotin lebih karena jatah normal saya ngga cukup untuk setor ke para pemeras. ih, kasihan deh aku&#8230;</p>
<p>Tapi,<br />
ada hikmahnya juga kok. Mulai kelas 5 SD dulu, saya dikaruniai nilai yang lebih bagus dari teman-teman lain. Singkat kata, saya termasuk sumber referensi jika ada PR atau ulangan, yah&#8230; jadi punya senjata untuk menangkis pemerasan (mengalihkan pemerasan, dari pemerasan harta ke pemerasan intelektual, uh, what&#8217;s life its pity me). Dan, katanya di kalangan guru-guru, saya dikenal sebagai &#8216;the new habibie&#8217; wah&#8230; dan konsisten lho sampai saya SMA (gr gpp khan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oke, segini dulu deh, lain kali insyaAllah dilanjut&#8230;. Wallahu&#8217;alam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KELUARGA]]></title>
<link>http://caktyk.wordpress.com/2007/07/12/keluarga/</link>
<pubDate>Thu, 12 Jul 2007 08:09:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>caktyk</dc:creator>
<guid>http://caktyk.wordpress.com/2007/07/12/keluarga/</guid>
<description><![CDATA[Mereka adalah keluarga saya, seorang lelaki yang ingin menjadi anak, suami dan ayah yang sholeh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Mereka adalah keluarga saya, seorang lelaki yang ingin menjadi anak, suami dan ayah yang sholeh&#8230; <a href="http://caktyk.blogspot.com">Mari berbagi !</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
