<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ahmadiyya &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/ahmadiyya/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ahmadiyya"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 08:41:39 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Religion and Politics]]></title>
<link>http://becausenooneasked.com/2009/10/23/religion-and-politics/</link>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 06:05:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Michele</dc:creator>
<guid>http://becausenooneasked.com/2009/10/23/religion-and-politics/</guid>
<description><![CDATA[Nasser Malik is running for Saskatoon Public School District trustee in Ward 8 and I&#8217;ve been b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Nasser Malik is running for Saskatoon Public School District trustee in Ward 8 and I&#8217;ve been bothered by something on the campaign flier placed in our mailbox.</p>
<p>His campaign slogan is:</p>
<p>&#8220;NATIONS CANNOT BE REFORMED WITHOUT THE REFORMATION OF ITS YOUTH&#8221;</p>
<p>My first question is &#8220;How does Canada need to be reformed?&#8221; and my second thought was about the source of the quote.</p>
<p>Google is my friend.</p>
<p>The quote comes from <a href="http://www.alislam.org/khilafat/fifth/" target="_blank">Hadhrat Mirza Masroor</a>, the fifth khalufa of Ahmadiyya Islam.  Why wasn&#8217;t this quote attributed to the proper source on the flyer?</p>
<p>I have a visceral reaction when religious beliefs come into play with politics and education.  I worry about the imposition of beliefs on others.   Morals and ethics and beliefs affect actions and decisions everyday whether those beliefs come from a religious source or not.  This isn&#8217;t wrong.  However, the quote above does disturb me because it is a call to action.  A call to reform a nation which doesn&#8217;t need reformation.  A call to action from a religious leader.</p>
<p>My children don&#8217;t need to be reformed, thanks.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Di Masjid Chino, Kaum Ahmadi bisa beribadah dengan leluasa..]]></title>
<link>http://denagis.wordpress.com/2009/10/13/di-masjid-chino-kaum-ahmadi-bisa-beribadah-dengan-leluasa/</link>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 04:27:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Deden</dc:creator>
<guid>http://denagis.wordpress.com/2009/10/13/di-masjid-chino-kaum-ahmadi-bisa-beribadah-dengan-leluasa/</guid>
<description><![CDATA[Laporan dari Chino - Selama hari-hari terakhir dibulan Ramadan, Ahmad Chaudhry Nuruddin mengurung di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Laporan dari Chino </strong>- Selama hari-hari terakhir dibulan Ramadan, Ahmad Chaudhry Nuruddin mengurung diri di dalam kamar kecil di Masjid Bait ul Hameed hanya dengan sebuah matras, sebuah kursi dan beberapa buku agama.</p>
<p>Untuk menyempurnakan isolasi dirinya, pria 79 tahun yang sedikit bungkuk ini, merangkaikan selembar kain putih diatas pintu masuk.<!--more--></p>
<p>Selama beberapa hari berikutnya, Nuruddin akan menjalankan  I’tikaf, suatu kebiasaan dalam Islam dimana para penganutnya menjalani semacam pertapaan, mengasingkan diri dari dunia dan fokus hanya pada Illahi.</p>
<p>&#8220;Anda menghabiskan waktu Anda dalam mengingat bahwa Allah SWT telah menciptakan dunia untuk kepentingan manusia,&#8221; katanya. &#8220;Dia menciptakan matahari, bulan, planet-planet, sayuran dan buah-buahan, dan ia mengirimkan air sehingga orang dapat menikmati buah-buahan itu.&#8221;</p>
<p>Berpendidikan, ramah dan berwawasan luas, Nuruddin  sangat tampak sebagai perwujudan dari orang yang religius.</p>
<p>Tapi ditanahairnya,  Pakistan, katanya, ia bahkan tidak bisa menyebut dirinya sebagai seorang Muslim tanpa takut masuk penjara, pelecehan atau kematian.</p>
<p>&#8220;Kami tidak diizinkan untuk menjalankan ibadah kami secara terbuka,&#8221; kata Nuruddin, yang baru saja kembali dari kunjungan ke Lahore. &#8220;Kami tidak boleh menyebut masjid  kami sebagai masjid.&#8221;</p>
<p>Masjid megah seluas 27.000 kaki persegi di Chino merupakan salah satu masjid terbesar di wilayah California Selatan  melayani sekitar 800 orang adalah milik komunitas Ahmadiyah.</p>
<p>Aliran ini telah menentang mainstream Islam di akhir abad ke-19 dengan menyatakan bahwa pendirinya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu ditakdirkan untuk menjadi &#8220;pembaharu zaman.&#8221;</p>
<p>Islam tadisional meyakini bahwa Muhammad adalah nabi terakhir.</p>
<p>Pada tahun 1974, parlemen Pakistan, atas bujukan  ulama ortodoks, menyatakan Ahmadiyah sebagai non-Muslim. Sepuluh tahun kemudian mengadopsi sebuah peraturan yang melarang mereka dari melakukan beberapa unsur yang paling mendasar dalam Islam termasuk panggilan salat, membaca Quran dan mengucapkan dua  Kalimah syahadat, frase yang mendefinisikan Islam, yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah nabiNya. Pelanggaran terhadap hal itu diancam dengan  tiga tahun penjara dan denda.</p>
<p>Amnesty International mengatakan Ahmadiyah telah dibunuhi di Pakistan atas dasar keyakinan mereka dengan sedikit atau tanpa upaya oleh pemerintah untuk melindungi mereka atau untuk menemukan para pembunuh.</p>
<p>Pemerintah Pakistan menyangkal hal ini, dan mengatakan bahwasanya para pelaku tindak kekerasan telah ditangkap dan yang tidak toleran terhadap agama minoritas tidak akan ditolerir.</p>
<p>&#8220;Keyakinan para Ahmadi  secara mutlak bertentangan dengan keyakinan  Muslim lainnya, tetapi setiap orang memiliki hak ibadah yang sama di Pakistan,&#8221; kata Nadeem Kiani, jurubicara Kedutaan Besar Pakistan di Washington. &#8220;Ada beberapa orang yang mencoba untuk menghasut kekerasan sektarian dari waktu ke waktu untuk melaksanakan agenda mereka sendiri, tetapi sejauh pemerintah dan 99% dari masyarakat umum yang bersangkutan, tidak ada masalah dengan Ahmadiyah.&#8221;</p>
<p>Dia mengatakan, bagaimanapun, bahwa anggota sekte ini  harus mengidentifikasi diri mereka sebagai Ahmadi dan bukan muslim.</p>
<p>Kaum Ahmadi mengatakan menyangkal identitas mereka seperti itu.</p>
<p>&#8220;Di negara ini, Anda memiliki kebebasan untuk beribadah,&#8221; kata Imam Shamshad Nasir, pemimpin spiritual dari  Masjid Chino. &#8220;Bagaimana kita bisa memiliki semua kebebasan ini di negara Kristen tapi tidak ada negara-negara Muslim menawarkan  jenis kebebasan yang sama ?&#8221;</p>
<p>Shamshad pernah menjabat sebagai mubaligh di Ghana dan Sierra Leone, selalu berbicara tentang keimannannya dengan penuh semangat. Ia banyak menulis untuk kolom-kolom disurat kabar berbahasa Inggris dan Urdu, berbicara pada pertemuan antar keyakinan dan memiliki acara radio mingguan. “Memahami Islam” yang mengudara setiap hari Selasa pukul 9.30 pagi di radio KCAA-AM (1050).</p>
<p>&#8220;Kami mewakili ajaran Islam bagi manusia modern &#8211;  teh lama dalam cangkir baru,&#8221; katanya, yang duduk di antara jejeran rapi buku-buku di kantornya.</p>
<p>Pendiri aliran kami menyatakan bahwasanya jihad adalah perjuangan untuk tujuan baik, bukan untuk membunuh orang-orang kafir,&#8221; katanya. &#8220;Kami percaya Anda harus setia kepada negara Anda, patuh kepada  pihak berwenang di manapun Anda berada. Anda harus menghormati umat manusia tanpa membedakan ras, warna kulit atau agama dan memperhatikan orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan kaum  miskin.&#8221;</p>
<p>Motto Ahmadi adalah  &#8220;Love for all, hate for none.&#8221;</p>
<p>Namun, orang-orang masih memprotes aliran ini.</p>
<p>Suatu kelompok Muslim di New York bahkan memasang iklan di sebuah Koran Pakistan yang mendesak ummat seagamanya untuk berjaga-jaga terhadap Shamsad dan “kolom-kolomnya”.</p>
<p>&#8220;Dia sedang menipu orang,&#8221; tulis mereka. &#8220;Dia adalah Ahmadiyah dan dia bukan seorang muslim&#8230;. Jangan pernah tanyakan pertanyaan kepadanya, dan abaikan jawaban-jawabannya.”</p>
<p>Tetapi para pemimpin agama setempat tidak bersedia untuk menyatakan anggota Ahmadiyah sebagai bukan Muslim.</p>
<p>Shakeel Syed, direktur eksekutif Dewan Syura Islam California Selatan, sebuah organisasi yang memayungi masjid-masjid diwilayah ini, mengatakan bahwa Ahmadiyah tidak boleh dianiaya.</p>
<p>&#8220;Jika mereka memiliki keyakinan yang sama seperti yang diyakini semua Muslim mengenai keesaan Allah dan finalitas Nabi Muhammad, maka mereka adalah muslim,&#8221; katanya. &#8220;Dan jika mereka tidak menganut hal itu, mereka berhak untuk terus untuk apa yang mereka yakini benar tetapi tidak dapat dianggap sebagai bagian dari mainstream masyarakat Muslim.&#8221;</p>
<p>Dia cepat-cepat memberi catatan bahwa: &#8220;saya tidak akan mengatakan bahwa mereka bukan muslim. Saya tidak akan menghakimi mereka atas apa yang mereka yakini dan apa yang mereka tidak yakini.&#8221;</p>
<p>Kaum Ahmadi cenderung berpendidikan tinggi. Mereka mengklaim 99% tingkat melek huruf mereka di Pakistan.</p>
<p>Pada salat Jumat di Chino baru-baru ini, sekitar 220 orang, termasuk dokter, insinyur, pengacara dan ilmuwan, memadati sebuah ruangan berkarpet mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Shamshad. (Para wanita, yang juga sama-sama kaum cerdik pandai, menempati ruangan yang terpisah secara ketat.)</p>
<p>Satu-satunya orang Pakistan pemenang Hadiah Nobel, fisikawan Abdus Salam, adalah seorang Ahmadi yang pindah ke Eropa. Menantunya, Dr Hamid Rahman, adalah anggota dari masjid Chino, seorang ahli bedah ortopedi.</p>
<p>Dia mengatakan setidaknya ada 3.000 Ahmadi di California.</p>
<p>Ketika sholat Jum’at berakhir, Naser Noor muncul untuk mengenakan sepatu.  Pemuda berusia 39 tahun,  seorang bankir  dari bank Rancho Cucamonga ini  berasal dari Peshawar, sebuah kota yang merupakan benteng kaum Islam militan.</p>
<p>&#8220;Anda tidak akan pernah bisa mengungkapkan keimanan anda atau itu bisa meledakan Anda,&#8221; katanya. &#8220;Ketika saya kembali pada tahun 2008, itu benar-benar menakutkan.&#8221;</p>
<p>Sebuah <a href="http://www.youtube.com/watch?v=jhz3qcGYiuQ">video diposting di YouTube</a> menunjukkan apa yang tampak dimana polisi berdiri disamping sekelompok orang yang dengan menggunakan pahat dan cat tengah menghapus kalimat dalam  bahasa Arab dan tulisan ayat-ayat Qur&#8217;an dari masjid Ahmadi di timur-pusat kota Faisalabad. Sementara, kaum Ahmadi berurai air mata didalam sujud dan doa mereka.</p>
<p>Peristiwa-peristiwa  semacam itu   telah menyebabkan  suatu perasaan keterasingan dari   tanah air mereka.</p>
<p>&#8220;Ketika saya mendengar tentang hukum yang menjadikan kami sebagai non-Muslim, saya merasa saya tidak lagi dari Pakistan,&#8221; kata Anwer Khan, sekretaris jenderal masjid. &#8220;saya tidak benci karena saya dari sana, tapi saya kehilangan cinta terhadap negara saya.&#8221;</p>
<p>Namun, katanya, dia masih memiliki harapan.</p>
<p>&#8220;Kami memiliki 15.500 masjid di seluruh dunia. Kami membuka masjid 123 tahun ini. Jadi, siapa yang menang?&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Kebencian selalu kalah. Cinta selalu menang.&#8221;</p>
<p>sumber: <a href="http://www.latimes.com/news/local/la-me-beliefs12-2009oct12,0,2005291,full.story">LOS ANGELES TIMES</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nabi &amp; Rasul (The Difference!)]]></title>
<link>http://ahmadiyya.wordpress.com/2009/10/02/nabi-rasul-the-difference/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 03:03:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmadiyya</dc:creator>
<guid>http://ahmadiyya.wordpress.com/2009/10/02/nabi-rasul-the-difference/</guid>
<description><![CDATA[&#8221; Nabi &amp; Rasul &#8220; NO DIFFERENCE ! Nabi &amp; Rasul both as bearers of glad tidings an]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center">
<p align="center"><strong><span style="font-size:25pt;font-family:Times New Roman;color:#ff0000;">&#8221; <span style="text-decoration:underline;">Nabi &#38;  Rasul</span> &#8220;</span></strong></p>
<p align="center">
<p align="center"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-family:Verdana;color:#0000ff;"> <span style="font-size:20pt;">NO DIFFERENCE</span></span><span style="font-family:Verdana;color:#0000ff;"><span style="font-size:20pt;"> !</span></span></span></p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center"><strong><span style="font-size:20pt;font-family:Arial;color:#000080;"> Nabi &#38; Rasul both as bearers of glad tidings and as warners</span></strong></p>
<p align="left"><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="color:green;">[2:214] </span></strong> Mankind were one community, then they differed among themselves, so Allah raised <strong>Prophets as bearers of glad tidings and as warners, </strong>and sent down with  them the book containing the truth that He might judge between the people  wherein they differed. But then they began to differ about the Book, and none  differed about it except those to whom it was given, after clear Signs had come  to them, out of envy towards one another. Now has Allah, by His command, guided  the believers to the truth in regard to which they (the unbelievers) differed;  and Allah guides whomsoever He pleases to the right path. </span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="color:green;">[6:49] </span></strong> And We sent not the <strong>Messengers but as bearers of glad tidings and as Warners.</strong> So those who believe and reform themselves, on them shall come no fear nor shall  they grieve. </span></p>
<p align="center"><strong><span style="font-size:20pt;font-family:Arial;color:#000080;"> Nabi &#38; Rasul both sent down with them the book</span></strong></p>
<p align="left"><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="color:green;">[2:214] </span></strong> Mankind were one community, then they differed among themselves, so Allah raised <strong>Prophets</strong> as bearers of glad tidings and as warners,<strong> </strong>and <strong>sent  down with them the book</strong> containing the truth that He might judge between the  people wherein they differed. But then they began to differ about the Book, and  none differed about it except those to whom it was given, after clear Signs had  come to them, out of envy towards one another. Now has Allah, by His command,  guided the believers to the truth in regard to which they (the unbelievers)  differed; and Allah guides whomsoever He pleases to the right path. </span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="color:green;">[57:26] </span></strong> Verily, We sent Our <strong>Messengers</strong> with manifest Signs and <strong>sent down with  them the Book</strong> and the Balance that people may act with justice; and We sent  down iron, wherein is material for violent warfare and diverse uses for mankind,  and that Allah may know those who help Him and His Messengers without having  seen Him. Surely, Allah is Powerful, Mighty. </span></p>
<p align="center"><strong><span style="font-size:20pt;font-family:Arial;color:#000080;"> Nabi &#38; Rasul both as a Witness without a new Book</span></strong></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Moses prayed to Allah, for Granting him Aaron (his  brother) as an <strong>assistant</strong>. <span style="color:green;"><strong>[20:30]</strong></span> But  Aaron did not bring a new book, he was shared with the <span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;"> <strong>Task of Moses</strong></span></span>.<span style="color:green;"><strong> [20:33]</strong></span> <span style="color:#0000ff;">(Means Aaron did not bring a new task!)</span> so thats why <span style="text-decoration:underline;">Moses and Aaron both were given the same book.</span><span style="color:green;"><strong> [37:118] </strong></span>And <span style="color:#ff0000;"><strong>Aaron was just a helper and a  bear <span style="text-decoration:underline;">witness to Moses</span></strong></span>.<span style="color:green;"><strong>[28:35] </strong> </span>Allah called him a <strong><span style="color:#ff0000;">nabi </span> <span style="color:green;">[19:54]</span></strong></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">If Every Nabi have must to bring a Book, then Aaron  should have to bring a <span style="text-decoration:underline;"><strong>new Book</strong></span> beside <strong>the book of Moses</strong>,  but it was not happen like this. </span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Allah has mentioned many times the book as <strong>the Book  of Moses</strong>. And <span style="color:#ff0000;">not as</span><strong> the Book of Moses and  Aaron</strong>. </span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">And remember when <strong>We gave Moses the Book</strong> and the  Discrimination, that you may be rightly guided. [2:54]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">And verily <strong>We gave Moses the Book. </strong>[2:88]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Say, &#8216;<strong>Who revealed the Book which Moses brought</strong>,  a light and a guidance for the people. [6:92]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><strong>We gave Moses the Book</strong> &#8211; completing the favour  upon him who did good, and an explanation of all necessary things, and a  guidance and a mercy &#8211; that they might believe in the meeting with their Lord.  [6:155]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Can he, then, who stands upon a clear proof from his  Lord, and to testify to whose truth a witness from Him shall follow him, and who  was preceded by the <strong>Book of Moses</strong>, a guide and a mercy, be an imposter?  Those who are the true followers of Moses believe therein, and whoever of the  opposing parties disbelieve in it, the Fire shall be his promised place. So be  not thou, O reader, in doubt about it. Surely, it is the truth from thy Lord;  but most men believe not. [11:18]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">And <strong>We certainly gave Moses the Book</strong>. [11:111]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">And <strong>We gave Moses the Book</strong> and We made it a  guidance for the Children of Israel, commanding, &#8216;Take ye no guardian beside ME.  [17:3]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">And <strong>We gave Moses the Book</strong>, that they might be  guided. [23:50]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><strong>We gave Moses the Book</strong>, and appointed with him  his brother <strong>Aaron as his assistant</strong>. [25:36]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><strong>And We gave Moses the Book.</strong> [28:44]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">And <strong>We indeed gave Moses the Book</strong> &#8211; be not,  therefore, in doubt about receiving a perfect Book thyself &#8211; and We made it a  guidance for the Children of Israel. [32:24]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">And indeed, <strong>We gave Moses the Book</strong>. [41:46]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;"><strong>And before it there was the  Book of Moses</strong></span></span>, a guide and a mercy; and <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;"> <strong>this is a Book in the Arabic language</strong>,</span></span> fulfilling previous  prophecies that it may warn those who do wrong, and give glad tidings to those  who do good. [46:13]</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">In most of the places Quran has mentioned the book as <strong> the Book of Moses</strong>. And <span style="text-decoration:underline;"><strong><span style="color:#ff0000;">not as </span>the Book of  Moses and Aaron</strong></span>! this is a very important point. <span style="text-decoration:underline;">If that Book was  revealed <strong><span style="color:#0000ff;">specifically</span></strong> for both (Aaron and  Moses) then it must have said &#8220;<span style="color:#0000ff;"><strong>the Book of Moses and  Aaron</strong></span>&#8220;, rather than </span><strong><span style="text-decoration:underline;">&#8220;<span style="color:#ff0000;">the Book of  Moses</span>&#8221; </span>!</strong> So, this clearly indicates that it was the Book of  Moses. And <strong>Aaron was shared to the task of Moses as an assistant, thats why  he was given the same Book</strong>. Quran has mentioned in two places that Aaron and  Moses were given the same book;</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="color:green;">[21:49] </span></strong>And <strong>We gave  Moses and Aaron the Discrimination and a Light and a Reminder for the righteous</strong>;</span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="color:green;">[37:118] </span></strong>And<strong> We  gave them the Book that made everything clear</strong>; </span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Now, it is clear that<span style="text-decoration:underline;"><strong><span style="color:#0000ff;"> Aaron  did not bring any new Book!</span></strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;">Aaron mentioned as a <strong><span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;">Nabi</span></span></strong> <span style="color:green;"><strong>[19:54] </strong>(</span></span><span style="font-family:Verdana;">without  a new book) <span style="color:#ff0000;"><strong>a bear <span style="text-decoration:underline;">witness to Moses</span></strong></span>.<span style="color:green;"><strong>[28:35]</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="color:green;">[3:82] </span></strong>And remember  the time when Allah took a covenant from the people through the Prophets,  saying, &#8216;Whatever I give you of the Book and Wisdom and then there comes to you  a <strong><span style="color:#ff0000;">Messenger, witnessing that <span style="text-decoration:underline;">which is with you</span></span>,</strong> you shall believe in him and help him.&#8217; And He said, &#8216;Do you agree, and do you  accept the responsibility which I lay upon you in this matter?&#8217; They said, &#8216;We  agree.&#8217; He said, &#8216;Then bear witness and I am with you among the witnesses.&#8217; </span></p>
<p align="center"><span style="font-size:20pt;font-family:Arial;color:#000080;"><strong> Prophets judging with One Book</strong></span></p>
<p align="left"><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="color:green;">[5:45] </span></strong> Surely, <strong>We sent down the Torah</strong> wherein was guidance and light. <strong>By it  did the <span style="text-decoration:underline;">Prophet</span><span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;">s</span></span>,</strong> who were  obedient to US,<strong> judge for the Jews,</strong> as did the godly people and those  learned in the Law, because they were required to preserve the Book of Allah,  and because they were guardians over it. Therefore fear not men but fear ME; and  barter not My signs for a paltry price. And whoso judges not by that which Allah  has sent down, these it is who are the disbelievers. </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Upaya Menghilangkan Persepsi Islam Agama Teroris ]]></title>
<link>http://denagis.wordpress.com/2009/08/26/menangani-mitos-tentang-islam/</link>
<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 07:19:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Deden</dc:creator>
<guid>http://denagis.wordpress.com/2009/08/26/menangani-mitos-tentang-islam/</guid>
<description><![CDATA[Sumber:Hartlepool Mail Seorang misionaris Muslim berharap untuk dapat mengubah persepsi masyarakat u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sumber:<a href="http://www.hartlepoolmail.co.uk/news/Tackling-myths-about-Islam.5581874.jp">Hartlepool Mail</a></p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-1006" title="TH1_248200948hm3409imam-1" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/08/th1_248200948hm3409imam-1.jpg" alt="TH1_248200948hm3409imam-1" width="200" height="400" />Seorang misionaris Muslim berharap untuk dapat mengubah persepsi masyarakat umum terhadap agama Islam.</p>
<p>Imam, Tahir Selby, yang baru saja tiba di Masjid Nasir di kota Hartlepool, mengakui bahwa banyak kalangan yang menghubungkan Islam dengan teroris dan pelaku bom bunuh diri dan ia berharap untuk dapat  menggambarkan arti sebenarnya dari imannya itu.</p>
<p>Ayah dari lima anak, yang adalah seorang mubaligh dari komunitas Muslim Ahmadiyah untuk wilayah yang membentang  dari perbatasan Skotlandia ke Yorkshire Barat, baru saja tiba di Hartlepool dan bertekad untuk menghilangkan mitos-mitos yang berkembang seperti itu.<br />
<!--more--><br />
Dalam pembicaraannya dengan  the Mail beliau mengungkapkan tentang  tujuan dibangunnya masjid Brougham Terrace, ia mengakui bahwa agamanya banyak difitnah dan menjadi cibiran publik akibat ulah beberapa golongan yang menggunakan agama sebagai kedok untuk  terorisme dan pengeboman.</p>
<p>Tahir Silbi, pria kelahiran London 50 tahun lalu,  menjadi Muslim Ahmadi pada tahun 1983 setelah mempelajari Islam selama hampir empat tahun, mengatakan kepada harian the Mail bahwa: &#8220;Banyak muslim tidak menggambarkan Islam sejati dan sangat sulit bagi suara moderat untuk didengar.</p>
<p>&#8220;Seluruh tujuan agama adalah untuk menemukan kedamaian dan mencintai orang lain</p>
<p>&#8220;Islam makna sejatinya adalah damai dan masyarakat perlu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang Islam karena apa yang umumnya digambarkan di media adalah gambaran yang salah.</p>
<p>&#8220;Islam adalah agama universal dan terbuka untuk semua orang.</p>
<p>&#8220;Apa yang kita coba dan mengatakan kepada masyarakat adalah bahwa orang harus mempraktekkan apa yang mereka khotbahkan, tapi banyak Muslim yang tidak menggambarkan Islam sejati.</p>
<p>&#8220;Anda tidak diperbolehkan untuk melakukan bunuh diri dan Anda tidak diizinkan untuk menciptakan teror, Islam adalah agama yang sangat damai dan penuh kasih sayang.&#8221;</p>
<p>Pak Selby, yang  hadir pada pertemuan tahunan Jamaah Muslim Ahmadiyah – dikenal sebagai Jalsah Salanah&#8211; di Pakistan pada tahun 1983, kemudian  belajar di Jamiah Ahmadiyah  di kota Rabwah, Pakistan, antara  tahun 1984 s/d 1988, dan meraih gelar Mubashir.</p>
<p>Ia kembali ke Inggris pada tahun 1988 dan menikah  dengan seorang wanita Inggris yang juga masuk Islam,  sekarang memiliki lima anak, termasuk tiga anak laki-laki dewasa dan dua anak perempuan yang sekarang  mulai bersekolah di Hartlepool.</p>
<p>Masjid ini digunakan sebagai pusat regional, dimana orang-orang yang datang dari daerah tetangga untuk shalat, lima waktu dalam sehari.</p>
<p>Pak Selby menambahkan: &#8220;Setiap orang bebas untuk datang ke masjid untuk belajar lebih banyak tentang Islam.</p>
<p>&#8220;Orang-orang dari keyakinan yang berbeda semua harus damai satu sama lain. Tidak ada alasan mengapa kita harus membenci satu sama lain.&#8221;</p>
<p>Pak Selby juga adalah  penyusun dan  administrator dari situs <a href="http://free-islamic-course.org/">www.free-islamic-course.org</a> suatu situs yang memberikan pengajaran tentang Islam secara online.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[New link to the forum]]></title>
<link>http://ahmadiyyamuslim.wordpress.com/2009/08/16/new-link-to-the-forum/</link>
<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 05:58:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmadiyyamuslim</dc:creator>
<guid>http://ahmadiyyamuslim.wordpress.com/2009/08/16/new-link-to-the-forum/</guid>
<description><![CDATA[The new link to the forum: http://comparative-religions.org]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The new link to the forum:</p>
<p><a href="http://z6.invisionfree.com/Comparative_Religion/index.php" target="_blank">http://comparative-religions.org</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pakistan celebrates 'Minorities' Day']]></title>
<link>http://emrun.wordpress.com/2009/08/12/pakistan-celebrates-minorities-day/</link>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 15:23:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>emrun</dc:creator>
<guid>http://emrun.wordpress.com/2009/08/12/pakistan-celebrates-minorities-day/</guid>
<description><![CDATA[Prime minister of Pakistan announced 11 August as a day for minorities. Read below to find out how P]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Prime minister of Pakistan announced 11 August as a day for minorities. Read below to find out how Pakistan marked the celebrations.</em></p>
<p>Faisalabad, Pakistan; Augu 10, 2009: Around 300 strong contingent of Police stormed a Mosque and 28 houses belonging to Ahmadiyya Muslim Community in village Lathianwala and removed Holy inscriptions, comprising Names of Allah and Kalima etc., for allegedly hurting feelings of Muslims.</p>
<div id="attachment_18" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-18" title="faisalabad police removing kalima from home in lathianwala 10 august 2009" src="http://emrun.wordpress.com/files/2009/08/faisalabad-police-removing-kalima-from-home-in-lathianwala-10-august-2009.jpg?w=300" alt="faisalabad police removing kalima from home in lathianwala 10 august 2009" width="300" height="169" /><p class="wp-caption-text">faisalabad police removing kalima from home in lathianwala 10 august 2009</p></div>
<p>Read full news from www.thepersecution.org</p>
<p><strong> Police sacrilege Ahmadiyya Mosque and houses in Lathianwala</strong> Faisalabad, Pakistan; Aug 10, 2009: Couple of days ago a case under anti-Ahmadiyya clauses (PPC 298) was registered by some activists of Sunni Tehreek against 32 Ahmadis accusing them of inscribing Holy scriptures at their houses and place of worship which allegedly hurt the feelings of complainants in village Lathianwala located some 25KM away from Faisalabad at Sheikhupura Road. Police at the behest of some bigots also added Blasphemy clause PPC 295-C (Use of derogatory remarks, etc; in respect of the Holy Prophet) to the FIR (First Information Report) which carries death penalty.  At this outrageous act of Police a three member delegation of Ahmadis approached high ranking police officials to get the Blasphemy charges dropped and settle the matter peacefully without unjustifiably hurting innocent Ahmadis implicated in the case.  In the morning of August 10, 2009 around 300 strong contingent of Police, gathered from whole district, stormed the Mosque and 28 houses belonging to Ahmadiyya Muslim Community and removed Holy inscriptions, comprising Names of Allah and Kalima (Muslim creed) etc. According to reliable sources the terror and frightful operation continued for 8 hours. Police sacrilege was led by Deputy Superintendent of Police Rai Muhammad Hussain and Station House Officer Mian Muuneer Ahmed of Police Station Khururianwala while the matter was still pending decision with high ranking police official Senior Superintendent of Police Kamran Yousuf. At the time of operation Ahmadiyya delegation was waiting for a meeting with Deputy Inspector General of Police.  Police used chisels, cement, paint etc to do this dreadful act of shameful sacrilege and removed every Arabic word they could find on Ahmadiyya Mosque and houses. It is worth noting that media was kept at distance thereby not allowing to cover this act. After what happened at Gojra and Mureedke last week; Police is still busy to appease the religious extremists and bigots. Religious minorities feel insecure and helpless in this hostile environment.  32 innocent Ahmadis still face the charges of anti-Ahmadiyya laws and Blasphemy, arrests and prosecution which may lead to from three years imprisonment to death.</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/VgR0eVw5gHc&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/VgR0eVw5gHc&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ahmadiyya Movement in Islam]]></title>
<link>http://ahmadiyyamuslim.wordpress.com/2009/08/09/ahmadiyya-movement-in-islam/</link>
<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 14:01:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmadiyyamuslim</dc:creator>
<guid>http://ahmadiyyamuslim.wordpress.com/2009/08/09/ahmadiyya-movement-in-islam/</guid>
<description><![CDATA[A a really good forum[discussion board] check this: http://z6.invisionfree.com/Comparative_Religion/]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>A a really good forum[discussion board] check this:</p>
<p>http://z6.invisionfree.com/Comparative_Religion/</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[OK Islamists, Please Just Leave the Rest of Us Alone]]></title>
<link>http://interissueforum.wordpress.com/2009/07/29/ok-islamists-please-just-leave-the-rest-of-us-alone/</link>
<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 03:19:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Patrick Mosolf</dc:creator>
<guid>http://interissueforum.wordpress.com/2009/07/29/ok-islamists-please-just-leave-the-rest-of-us-alone/</guid>
<description><![CDATA[The phenomenon of Islamist violence, which has already reached many parts of the globe, has now reac]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The phenomenon of Islamist violence, which has already reached many parts of the globe, has now reached Nigeria.  <a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/africa/8169966.stm" target="_blank">(Nigerian Islamist Attacks Spread)</a>.  According to this article, this particular Islamist group is against Western education; the name of one of the groups involved in the attack means &#8220;Education is Prohibited&#8221;.</p>
<p>Now, I&#8217;m a pretty open minded person.  If someone wants to present arguments about why they are against &#8220;Western&#8221; education, and can explain why it is UnIslamic, I may not agree with them, but I respect their right to share their views.</p>
<p>However, when such a person or group decides to violently attack the police and civilians because of these views, it crosses a red line and becomes a violation of normal people&#8217;s rights.  This kind of behavior must immediately stop, and must be branded by everyone as unacceptable.</p>
<p>In particular Muslims themselves must recognize how negative this behavior is, and condemn it from inside the religion.  The effect of condemnation from other Muslims would be more significant.</p>
<p>I have noted before how violent activities by Islamist groups leads to serious rights violations in the context of repression of Ahmadiyya in Indonesia.  <a href="http://interissueforum.wordpress.com/2008/06/18/suppression-of-ahmadiyya-by-extreme-muslims-violates-freedom-of-religion/" target="_blank">(Suppression of Ahmadiyya by Extreme Muslims Violates Freedom of Religion)</a></p>
<p>I may be totally unable to see clearly in this case, but it seems like Islam is going through a historical phase in which an increase in fundamentalism among some relatively small parts of the population is causing more violence and violation of the rights of minorities and ordinary people.  The world&#8217;s citizenry, both Muslim and non Muslim, must struggle to end these violations, as it will help to bring humanity to a greater degree of peace.</p>
<p>Hopefully, within 20 or 30 years, all this extremism will have faded away and Islamism will attract fewer followers.  This will result in less violence (at least from this source), and less intolerance of diversity and different choices of different people.  Until then, however, citizen activists need to struggle against these tendencies, just as fundamentalism in other religions, particularly in Christianity, must also be addressed.</p>
<p>A shortlist of countries with problems related to Islamism:</p>
<p>Nigeria</p>
<p>Indonesia- problems in various forms</p>
<p>Thailand- southern separatism</p>
<p>Somalia- the main rebel group for the last few years has been Islamist</p>
<p>Iran- ruled by an Islamist regime</p>
<p>Algeria</p>
<p>Afghanistan- Taliban insurgents</p>
<p>Pakistan- Taliban insurgents, Al Qaeda terror, repression of Ahmadiyya</p>
<p>Chechnya- Islamist involvement (among others) in the separatist struggle</p>
<p>Palestine- Hamas</p>
<p>Turkey- terrorist attacks (not all terrorist attacks in Turkey are from Islamists)</p>
<p>Saudi Arabia- terrorist attacks</p>
<p>Some readers may not condemn the Islamist role in all of these cases (a person may be symapthetic to the Algerian Islamists, for example, since they actually  previously won the elections.  Or a person may not feel critical of the Iranian regime, depending on one&#8217;s perspective.)  But looking at this list makes one realize the role that Islamism has played in so many different conflicts.  Just the blunt  numbers of problematic cases involving Islamism should lead one to be skeptical of this ideology.</p>
<p>Anyway, I&#8217;ll rest my case for now, and invite readers to leave their comments about whether they agree, disagree, hold some nuanced position in between, etc&#8230;.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hampir 1/2 Juta Orang Bergabung dengan Jamaah Muslim Ahmadiyah]]></title>
<link>http://denagis.wordpress.com/2009/07/27/hampir-12-juta-orang-bergabung-dengan-ahmadiyah/</link>
<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 12:04:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Deden</dc:creator>
<guid>http://denagis.wordpress.com/2009/07/27/hampir-12-juta-orang-bergabung-dengan-ahmadiyah/</guid>
<description><![CDATA[Bertempat di Hadeeqatul Mahdi, Alton, Jamaah Muslim Ahmadiyah UK telah sukses menyelenggarakan acara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-915" title="UKJalsaSalana0724200926" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/07/ukjalsasalana07242009261.jpg?w=150" alt="UKJalsaSalana0724200926" width="150" height="100" />Bertempat di Hadeeqatul Mahdi, Alton, Jamaah Muslim Ahmadiyah UK telah sukses menyelenggarakan acara pertemuan ruhani tahunan –dikenal sebagai Jalsa Salana&#8211;  yang berlangsung selama tiga hari, mulai hari Jumat  s/d Minggu, 24-26 Juli 2009.  Keseluruhan dari acaranya disiarkan secara langsung keseluruh dunia melalui siaran <a href="http://mta.tv/">Muslim Television Ahmadiyya</a> (MTA), dengan audio yang langsung di translate kedalam berbagai bahasa, sehingga pemirsanya dapat memilih bahasa yang dikuasainya, diantara bahasa-bahasa; Arab, Urdu, Inggris, Jerman, Prancis, Bangla dll.<!--more--></p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/4IpzfUSNOzg&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/4IpzfUSNOzg&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span><br />
Dihari kedua, Khalifah sebagai pimpinan tertinggi Jamaah ini telah menyampaikan laporan tahunan. Dalam laporan tersebut beliau menyampaikan bahwasanya di 12 bulan terakhir ini telah  bergabung sejumlah  416,010  (empat ratus enambelas ribu sepuluh) orang kedalam Jamaah Muslim Ahmadiyah,  berasal dari berbagai negera di seluruh dunia. <img class="aligncenter size-full wp-image-916" title="UKJalsaSalana0726200907" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/07/ukjalsasalana0726200907.jpg" alt="UKJalsaSalana0726200907" width="500" height="333" />Beliau juga menyampaikan bahwasanya Jamaah Muslim Ahmadiyah telah berkembang di dua Negara baru yaitu <strong>Serbia </strong>dan <strong>Lithuania</strong>.  Hal mana berarti bahwa sampai saat ini Jamaah Muslim Ahmadiyah  telah berdiri di 195 negara. Selanjutnya dalam setahun ini, diseluruh dunia telah berdiri 1321 Jamaah lokal baru. 399 Mesjid telah dibangun, dimana 164 bangunan  merupakan alih fungsi sementara 235 adalah bangunan baru.<img class="aligncenter size-full wp-image-918" title="UKJalsaSalana0724200917" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/07/ukjalsasalana0724200917.jpg" alt="UKJalsaSalana0724200917" width="500" height="333" /></p>
<p>Khalifah juga berbicara mengenai program Waqf-e-Nau yang didirikan pada tahun 1987. Dibawah skema ini para orang tua Ahmadi   mendedikasikan kehidupan anak-anak mereka dari sebelum anak-anak itu lahir,  untuk mengabdi pada Jamaah.  Target awalnya adalah sejumlah 5.000 anak akan tetapi data saat ini menunjukkan bahwa  jumlahnya telah mencapai 39.081 orang. Sekitar tahun ini sejumlah  1945 anak-anak  Waqf-e-Nau telah lahir.<br />
<img class="aligncenter size-full wp-image-922" title="UKJalsaSalana0726200917" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/07/ukjalsasalana0726200917.jpg" alt="UKJalsaSalana0726200917" width="500" height="333" /><br />
Hal lain dari laporan ini adalah komentar Khalifah atas keberhasilan <strong><a href="http://tahirheart.org/">Tahir Heart Institute</a></strong> yang didirikan Jamaah Muslim Ahmadiyah di Pakistan yang dengan cepat telah dikenal sebagai salah satu pusat perawatan penyakit jantung di Pakistan. Selama 18 bulan &#8211;dihitung dari saat mulai beroperasi—telah dirawat sejumlah 65.000 pasien, dengan lebih dari 7.500 orang diantaranya menjalani operasi dan 125 pasien menjalani operasi bypass jantung.<br />
<img class="aligncenter size-full wp-image-919" title="UKJalsaSalana0724200927" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/07/ukjalsasalana0724200927.jpg" alt="UKJalsaSalana0724200927" width="500" height="333" /><br />
Sementara itu di benua Afrika, Jamaah Muslim Ahmadiyah terus memberikan pelayannya. Disana saat ini terdapat 36 rumah sakit yang dibangun dan dijalankan oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah  dan juga banyak sekolah. Selain itu Khalifah juga melaporkan bahwa sampai saat ini Jamaah Muslim Ahmadiyah telah meng’install’ sebanyak  370 pompa air diberbagai wilayah yang kesulitan air di   Afrika. Sejumlah dana dalam jumlah besar telah dikumpulkan melalui badan amal milik Jamaah Muslim Ahmadiyah: <a href="http://humanityfirst.org/"><strong>Humanity First </strong></a>yang kemudian digunakan untuk proyek-proyek amal dan bantuan bencana di seluruh dunia.<img class="aligncenter size-full wp-image-924" title="Flags from around the world" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/07/flags-from-around-the-world.jpg" alt="Flags from around the world" width="500" height="333" /></p>
<p>Dalam pidato sebelumnya, Khalifah berbicara tentang pentingnya perempuan dalam Islam dan menghormati mereka. Beliau mengatakan bahwa salah satu aspek dari iman Islam adalah memakai hijab yang di beberapa negara di Eropa, terutama Perancis, hal ini dipersoalkan. Mengomentari hal ini beliau berkata:</p>
<p>&#8220;Baru baru ini seorang gadis <a href="http://alislam.org/">Ahmadi</a> mengikuti pelatihan untuk menjadi seorang wartawan. Ia menulis pada sebuah surat kabar dan mengatakan bahwa Eropa dan Negara-negara Barat mengklaim sebagai Negara  bebas dan liberal, namun di sisi lain mereka berusaha untuk melaksanakan langkah-langkah yang akan menghentikan saya dan muslim lainnya dari memakai Pardah yang kami lakukan tanpa paksaan dan dengan penuh rasa bangga. Lalu bagaimana hal ini bisa dikatakan sebagai suatu kebebasan? &#8220;<img class="aligncenter size-full wp-image-925" title="UKJalsaSalana0724200918" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/07/ukjalsasalana0724200918.jpg" alt="UKJalsaSalana0724200918" width="500" height="333" /></p>
<p>Khalifah kemudian mengatakan bahwa menurut sebuah hadits Rasulullah saw, surga itu terletak dibawah telapak kaki seorang ibu. Namun demikian beliau mengklarifikasi bahwa hal ini semata-mata hanya terjadi apabila memang si ibu telah mengajarkan hal baik dan buruk kepada anaknya dan ia sendiri telah menjadikan dirinya sebagai suri tauladan dan  contoh yang baik kepada anak. Maka ibu yang memenuhi kewajiban seperti inilah yang benar-benar bisa mewujudkan surga dibawah telapak kakinya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Stunde Des Islam - Zinsen]]></title>
<link>http://stundedesislam.wordpress.com/2009/07/25/20/</link>
<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 20:58:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>stundedesislam</dc:creator>
<guid>http://stundedesislam.wordpress.com/2009/07/25/20/</guid>
<description><![CDATA[Stunde Des Islam – Zinsen Ein Geldsystem, welches auf Zinsen basiert oder mit dem System von Zins un]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><strong>Stunde Des Islam – Zinsen</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Ein Geldsystem, welches auf Zinsen basiert oder mit dem System von Zins und Zinseszins zusammen arbeitet wird früher oder später Opfer des Verfalls. Dies hat die Welt durch die momentane Weltwirtschaftskrise erneut spüren müssen, hauptsächlich zu Lasten der Armen und Bedürftigen und zugunsten der Reichen und Mächtigen.</p>
<p>Diesen Sinn der Ungerechtigkeit, den das Zinssystem in sich birgt und überall dort verbreitet, wo es angewendet wird, haben die Religionen der Welt allesamt verurteilt. Allen voran der Islam, aber in früheren Zeiten auch Judentum und Christentum.</p>
<p>Heute ist es einzig der Islam, der diese Abneigung gegen die Ungerechtigkeit des Zinssystems am Leben erhält und weithin propagiert. Die Lehren des Islam kritisieren aber Zinsen nicht nur als ungerecht und sündhaft, sondern geben sogleich auch Hilfestellungen für Alternativen. Besonders die Zakat (Armenspende oder Almosenspende), zugleich eine der fünf Säulen der islamischen Glaubenslehre, sollte hier erwähnt werden. Des weiteren gibt es Bankensysteme, die sich an den Lehren des Islam und den Geboten und Verboten, die im Heiligen Koran erwähnt werden (Scharia), orientiert, das sogenannte Islamic Finance oder Islamic Banking.</p>
<p>Aber auch in der Praxis wurde die Wirksamkeit eines Finanzsystems ohne Zinsen bereits getestet. Das „Geldexperiment von Wörgl“, welches auf der Freigeldlehre von Silvio Gesell basierte erzielte dabei ein absolut erstaunliches Ergebnis…</p>
<p>In der Sendung <strong>Zinsen</strong> von <strong>Stunde Des Islam</strong> werden diese Aspekte vorgestellt und diskutiert.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Inhalt der Sendung:</strong></p>
<p>- Der Islam über Zinsen<br />
- Andere Religionen über Zinsen<br />
- Die Auswirkungen des Zinssystems<br />
- Das System der Zakat (Armenspende) &#8211; Die islamische Lösung!?<br />
- &#8220;Islamic Finance&#8221; und &#8220;Islamic Banking&#8221;<br />
- Silvio Gesell, Freigeld und das Geldexperiment von Wörgl</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/jIToMYeuwmY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/jIToMYeuwmY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;">Mehr Infos zur Sendung:</span></p>
<p align="center"><span style="color:#339966;"><strong>www.stundedesislam.de</strong></span></p>
<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Khilafah Wajib Adanya Bagi Muslimin]]></title>
<link>http://denagis.wordpress.com/2009/06/25/khilafah-wajib-adanya-bagi-muslimin/</link>
<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 05:25:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Deden</dc:creator>
<guid>http://denagis.wordpress.com/2009/06/25/khilafah-wajib-adanya-bagi-muslimin/</guid>
<description><![CDATA[Kehadiran Khilafah adalah wajib adanya bagi Muslimin. Hal ini disebabkan, al : Allah SWT, telah berj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kehadiran <em>Khilafah </em>adalah wajib adanya bagi Muslimin. Hal ini disebabkan, al :</p>
<ol>
<li>Allah SWT, telah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan Khalifah bagi mereka <em>(layastakhlifannahum), </em>sebagaimana Allah telah menjadikan Khalifah-Khalifah kepada orang-orang yang datang sebelum mereka <em>(An-Nur, </em><em>24:55). </em></li>
<li>Allah SWT, menyuruh orang-orang beriman agar berpegang teguh kepada tali Allah <em>(Nabi dan para Khalifah) </em>seutuhnya, dan melarang bercerai berai <em>(Ali-Imran, </em>3:103): hidup sendiri-sendiri, membuat golongan-golongan, dimana masing-masing bangga dengan kelompok atau golongannya, dan mengaku benarnya sendiri <em>(AI-Mu&#8217;minun, </em>23:51-54)</li>
<p><!--more--></p>
<li>Nabi Muhammad SAW., bersabda: •&#8230;&#8230;. <em>Talzamu jamaatal-Muslimiina wa imaamahum  &#8221; </em>&#8211; Tetaplah kamu pada Jama&#8217;ah Muslimin dan Imam mereka <em>(Bukhari. </em>Kitabul Fitan, Juz 4:225; <em>Muslim, </em>Kitabul Imamah, Juz 2:134-135) <em> </em></li>
<li>Nabi Muhammad SAW., bersabda: <em>&#8220;Man maata bilghoiri  imaamiin maata miitatan jaahiliyyah </em>- Barangsiapa mati tidak mempunyai imam, maka matinya laksana mati jahiliyyah <em>(HR. Ahmad dari </em><em>Mu</em><em>&#8216;awiyyah, </em>Musnad Ahmad, Juz 4:96)</li>
<li>Khalifah &#8216;Umar bin AI-Khatab ra., bersabda: <em>Innahu laa Islaama illa bijamaatin, wa laa jamaata illa biimaarotin,wa</em><em> </em><em>laa imaarota illa bithoo’atin”</em> Sesungguhnya tidak ada Islam tanpa Jamaah, dan tidak ada Jamaah tanpa Imamah <em>(Amir/Pimpinan), </em>dan tidak ada Imamah tanpa taat (Ad-Darimy)</li>
<li><em>Pembai&#8217;atan </em>Khalifah pertama Abu Bakar As-Shiddiq dilakukan lebih dahulu sebelum jenazah Rasulullah SAW., dikebumikan. begitu pula pada masa-masa penggantian kekhalifahan berikutnya, mengisyaratkan: <em>Imamah </em>itu harus ada dan berkesinambungan, tidak boleh terputus, sehingga   Muslimin terpelihara dalam Jamaah Muslimin  dan Imam mereka.</li>
<li>Bagaimana mungkin <em>Muslimin </em>dapat disebut sebagai <em>Ummat </em>kalau ditengah-tengah mereka tidak ada seorang <em>Imamah atauAmir </em>atau <em>Khalifah. </em>Sebab, tentu saja, tidak ada <em>ummat </em>tanpa <em>pimpinan </em>dan tidak ada <em>pimpinan </em>kalau dibelakangnya tidak ada <em>ummat. </em></li>
</ol>
<p>FirmanNya:<br />
وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَـيَسْتَخْلِفَـنَّهُمْ فِىْ الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِىْ ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَـيُبَدِّلَــنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا‌ؕ يَعْبُدُوْنَنِىْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِىْ شَيْـًٔـا‌ؕ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ</p>
<p>&#8220;Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal shaleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi, sebagaimana  Dia telah menjadikan khalifah kepada orang-orang yang sebelum mereka: dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka. yang telah Dia ridhai bagi mereka; dan niscaya Dia akan menggantikan mereka sesudah ketakutan mereka dengan kemanan. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka &#8220;(An-Nur, 24:55)</p>
<p>Rasulullah SAW-pun telah mengkhabarghaibkan bahwa  akan ada empat periode yang mewarnai kepemimpinan Muslimin sepanjang perjalanan sejarahnya, yaitu masing-masing adalah : Masa Kenabian, Masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian lalu Masa kerajaan dan manakala masa ­kerajaan berakhir, kepemimpinan Muslimin akan kembali memasuki Masa <em>Khilafah &#8216;Ala Minhajin Nubuwah</em>, Khilafah yang berpola/mengikuti jejak kenabian, sebagaimana yang dapat kita baca dari hadits berikut:</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-893" title="khalifah" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/06/khalifah1.jpg?w=300" alt="khalifah" width="442" height="145" /></p>
<p>&#8220;Dari Nu&#8217;man bin Basyir dari Hudzaifah bin al-Yaman r.a., berkata: Rasulullah SAW bersabda: Adalah masa Kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkalnya apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian (Khilafah <em>&#8216;</em><em>Ala</em><em> Minhajin Nubuwwah</em>), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabia Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menggigit (<em>Mulkan &#8216;Adhan</em>), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian adalah masa Kerajaan yang menyombong ((<em>Mulkan Jabariyyah</em>), adanya atas kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya, apabila Ia telah menghendaki untuk mengangkainya. Kemudian adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak Kenabian (<em>Khilafah &#8216;</em><em>Ala</em><em> Minhajin Nubuwwah</em>). Kemudian (Nabi), diam &#8220;.(Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 4:273).</p>
<p>Lalu seperti apakah sebenarnya bentuk dari kekhalifahan Islamiyah yang dimaksud Allah dan Rasulullah tersebut? Apakah  itu  suatu lembaga yang bercorak politis ataukah lembaga yang hanya bercorak agamis?</p>
<p>Pada kenyataannya memang  terjadi pemahaman dan penafsiran yang berbeda atas kedudukan Khilafah Islamiyah tersebut, dimana sebagian  memahami bahwa Khilafah itu adalah suatu lembaga yang bercorak politis, namun  sebagian lagi memahami bahwa itu hanya bercorak agamis semata. Namun apabila kita mengingat bahwa Khilafah yang harus berdiri itu adalah <em>Khilafah Ala Minhajin Nuhuwwah</em>, maka itu artinya ke khalifahan ini coraknya adalah agamis, bukan politis.</p>
<p>Bila kita perhatikan  maka semenjak ke-khilafahan Turki Usmani runtuh (1924), upaya untuk mendirikan kembali Khilafah banyak  dilakukan oleh para pemimpin dunia Islam, seperti misalnya:</p>
<p>Tahun 1926, di Kairo, Mesir, dan di Mekah, Saudi Arabia, berlangsung Kongres Islam Sedunia, atas prakarsa Ulama Al-Azhar dan Raja Ibnu Sa&#8217;ud. Mewakili Muslim Indonesia, hadir H.O.S. Tjokro Aminoto dari Syarikat Islam, K.H. Mas Mansur dari Muhamadiyah, dan H.A. Karim Amarullah. Tetapi, kongres ini tidak berhasil mewujudkan apa yang menjadi cita-cita.</p>
<p>Tahun 1974, di   Lahore, Pakistan, berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam, dihadiri 38 negara. Pesertanya terdiri atas Kepala Negara, Perdana Menteri, dan Menteri-Menteri Luar Negeri. Masalah Khilafah juga menjadi salah satu agenda pembahasan KTT. Tetapi, KTT tidak berhasil mewujudkan apa yang menjadi harapan dan cita-cita ummat Islam. KTT gagal mewujudkan Khilafah Islamiyah.</p>
<p>Hizbut Tahrir adalah satu diantara kelompok Islam yang tak pernah surut berjuang untuk menegakan kembali lembaga Khilafah. Hizbut Tahrir mengklaim sebagai partai politik idiologis dengan tujuan menjadikan idiologi Islam sebagai lampu penerang dalam kegelapan sekularistik yang membelenggu dunia saat ini. Tidak heran, jika ditengah krisis multi dimensi yang melanda dunia, termasuk melanda bangsa Indonesia saat ini, Hizbut Tahrir menawarkan sistim Khilafah Islamiyah, mengantikan sistim Demokrasi yang diusung Sekularisme dan Kapitalisme.</p>
<p><em>Lalu kenapa usaha-usaha untuk mendirikan kembali Khilafah Islamiyah selalu gagal? Bukankah Allah berjanji akan menjadikan Khilafah? Dan, bukankah dibawah panji Khilafah itu terletak kejayaan Islam dan umat Islam? </em></p>
<p>Adalah kelompok Muslim Ahmadiyah yang  meng-klaim bahwa sebenarnya <em>Khilafah &#8216;</em><em>Ala</em><em> Minhajin Nubuwwah</em> Itu telah berdiri, yang terwujud dalam  <em>Khilafah Ahmadiyah </em>Dimana silsilah Khilafah ini berdiri semata-mata hanya untuk melaksanakan tugas <em>Risalah An-Nubuwwah Muhammad Rasulullah SA</em><em>w., </em>yakni: <em>Liyud hirahu &#8216;alad-diini kullihi </em>- memenangkan agama (Islam) diatas semua agama <em>(Ash-Shqf; </em>6 1:9).</p>
<p>Selama 101 tahun masa ke-Khilafahan, telah 5 kali berganti Khilafah. dengan susunan nama dan masa ke-Khilafahan sbb: 1) AI-Haj Maulana Hakim Nuruddin. <em>Khalifatul Masih  I </em>(1908-1914).2) Al-Haj Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, <em>Khalifatul Masih  II </em><em>(</em>1914­-1965). 3) Al-Hafiz Mirza Nasir Ahmad, <em>Khalifalul Masih III </em>(1965-1982). 4) Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, <em>Khalifalul Masih </em>IV (1982-2003). 5) Hadhrat Mirza Masroor Ahmad. <em>Khalifatul Masih  V </em>(2003-Sekarang).</p>
<p>Proses berdirinya Khilafah ini, sama dengan proses <em>berdirinya Khilafah &#8216;</em><em>Ala</em><em> Minhajin Nubuwwah Al-Rasyidah </em>yang diawali dengan kebangkitan seorang Reformer. Hadhrat  Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908), yang atas perintah Ilahi, mengumumkan diri sebagai <em> Mujadid A&#8217;dham Abad XIV, Imam Mahdi-Masih Mau&#8217;ud.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ALLAH TIDAK MEMBEBANI SIAPAPUN DILUAR KEMAMPUANNYA]]></title>
<link>http://denagis.wordpress.com/2009/06/05/allah-tidak-membebani-siapapun-diluar-kemampuannya/</link>
<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 01:42:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Deden</dc:creator>
<guid>http://denagis.wordpress.com/2009/06/05/allah-tidak-membebani-siapapun-diluar-kemampuannya/</guid>
<description><![CDATA[بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ Khutbah Khalifah tanggal 29 Mei 2009 di Mesjid Baitul Futuh, Lo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p dir="rtl">
<p dir="rtl" align="center"><strong>بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ</strong></p>
<p>Khutbah Khalifah tanggal 29 Mei 2009 di Mesjid Baitul Futuh, London</p>
<p dir="rtl"><strong> </strong><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-886" title="khalifah" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/06/khalifah.jpg?w=244" alt="khalifah" width="244" height="300" /></strong></p>
<p dir="rtl"><strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا‌ لَهَا مَا كَسَبَتْ</strong><strong> </strong><strong>وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ‌ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ</strong><strong> </strong><strong>نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَاْنَا‌</strong><strong>ۚ</strong><strong> رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ</strong><strong> </strong><strong>اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَه عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا‌‌</strong><strong>ۚ</strong><strong>رَبَّنَا</strong><strong> </strong><strong>وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِه‌ </strong><strong>ۚ</strong><strong> وَاعْفُ عَنَّا</strong><strong> </strong><strong> </strong><strong>وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا</strong><strong> </strong><strong>اَنْتَ مَوْلٰنَا فَانصُرْنَا عَلَى</strong><strong> </strong><strong>الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>Artinya : “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.”</em> (Al Baqarah : 287)<br />
<!--more--><br />
Dipermulaan ayat ini Allah swt telah berfiman dengan jelas bahwa : <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> <em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya.</em> Jadi Allah swt tidak membebani hamba-hamba-Nya diluar batas kekuatannya atau kemampuannya. Perkataan <em>wus’a</em> (<strong>وُ<span style="text-decoration:underline;">سْع</span></strong>َ) jika dipergunakan untuk manusia artinya <em>kemampuan atau kekuatan</em> yang sangat terbatas. Seperti jelas dari firman-Nya ini, <strong> </strong><strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُ<span style="text-decoration:underline;">سْعَهَ</span>ا</strong> <em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan <span style="text-decoration:underline;">batas kemampuannya</span></em>.  Jika perkataan <em>wus’a</em> (<strong>وُ<span style="text-decoration:underline;">سْع</span></strong>َ) itu digunakan untuk Allah swt seperti didalam Khutbah yang lepas telah saya katakan <em>Wasi’</em> adalah nama sifat Allah swt yang artinya kemampuan atau kekekuatan Tuhan <em>sangat luas tanpa batas</em>. Bahkan Tuhan adalah<em> Jami’us sifaat </em> artinya kumpulan semua sifat-sifat dan Pemilik semua kekuatan dan kemampuan. Ilmu-Nya, Kekuatan-Nya dan Kemampuan-Nya demikian luasnya sehingga tidak mempunyai batas. Tidak ada pertanyaan bagaimana ruang-lingkup kekuasaan-Nya. Untuk lebih jelas pengertian ayat ini akan saya kemukakan beberapa contoh berbagai masa’alah berdasarkan penjelasan-penjelasan Hazrat Masih Mau’ud a.s. didalam tulisan-tulisan beliau. Bahwa manusia yang berbeda-beda dari segi kekuatan dan kemampuannya itu telah terikat dengan ketentuan tersebut sebab Allah swt tidak mengeluarkan perintah atau hukum-hukum-Nya kepada manusia diluar batas kekuatan dan kemampuannya. Jadi, manusia wajib berusaha untuk mengamalkan perintah-perintah-Nya itu. Apabila orang mukmin berusaha mengamalkannya dia akan menjadi penerima nikmat-nikmat yang telah Dia janjikan. Itulah keunggulan Agama Islam bahwa hukum-hukum-nya telah ditetapkan sesuai dengan kekuatan dan kemampuan manusia, dan setiap orang diwajibkan untuk mengamalkannya sesuai kemampuan dan kekuatannya itu sehingga dia akan menerima ganjaran bila dilaksanakan atau dia akan mendapat hukuman jika tidak dilaksanakannya. Dan Islam menampilkan peraturannya itu tidak bertentangan dengan akal manusia. Seperti umpamanya (orang-orang Kristen) menganggap mati (diatas palang salib) seorang Nabi yang maksum (suci tak berdosa) menjadi tebusan bagi orang-orang yang akan datang sampai hari Kiamat sekalipun terus-menerus melakukan kesalahan dan terus berbuat dosa, orang-orang yang malas melakukan ibadah kepada Allah swt sekalipun, mereka tidak mempunyai sebarang kekhawatiran sebab menurut keyakinan mereka Nabi yang maksum, Utusan Allah swt itu telah bersedia menerima maut yang dilaknat (diatas palang kayu salib). Sedangkan didalam Kitab Suci Alqur’an terdapat nasihat Allah swt yang sarat dengan kebijakan, bahwa hukum-hukum Allah swt telah ditetapkan sangat sesuai dengan kelemahan dan kemampuan manusia. Dan perbuatan amal saleh manusia-pun tidak menjadikannya suci bersih secara kesluruhan atau secara sempurna sekalipun berusaha untuk melakukannya. Sebab sebagaimana terdapat didalam Hadis Rasulullah saw bahwa Syaitan berjalan seperti darah mengalir didalam urat nadi manusia. Oleh sebab itu banyak sekali kesempatan timbul bagi manusia untuk berbuat dosa tanpa disengaja. Maka sebagai kewajibannya ia harus berusaha menyelamatkan diri dari padanya sambil banyak-banyak membaca istighfar dan berusaha untuk menjadi orang-orang baik dan soleh. Berusahalah untuk mengamalkan hukum-hukum yang telah Allah swt perintahkan mengamalkannya. Berusaha keraslah untuk menciptakan perobahan suci didalam diri pribadi, maka Allah swt Yang sangat luas rahmat dan kasih sayang-Nya dan sangat luas pengampunan-Nya itu akan sangat memperhatikan kalian dengan penuh kasih sayang. Demikianlah indahnya ajaran Alqur’an yang telah Dia berikan kepada kita. Untuk itu sama-sekali tidak diperlukan <em>kaffarah </em>atau tebusan.</p>
<p>Sabagaimana telah saya jelaskan sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. apa maksudnya  <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya</em>”) itu dan sampai dimana ruang lingkup ayat ini dan sampai dimana wawasannya. Dalam suasana serta situasi bagaimana saja manusia dianggap tidak mampu melakukan kewajibannya dan sampai dimana ia patut dibebaskan dari tuntutan atau hukuman.</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span></em> Allah swt tidak memberi kesulitan kepada siapapun diluar batas ilmu pengetahuannya. Sekalipun diketahui bahwa Allah swt tidak memberi beban kepada hamba-Nya diluar batas ilmu pengetahuannya nya namun demikian Allah swt menyruh membaca do’a ini:  <strong>رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا</strong><em>wahai Tuhanku tambahlah ilmu padaku !</em> Do’a ini diajarkan Tuhan kepada Hazrat Muhammad saw. Beliau dianugerahi ilmu pengetahuan yang berlaku sampai Hari Qiyamat. Ketika wahyu Al Qur’an tengah turun kepada beliau, Tuhan tahu pasti ilmu dan ‘irfan apa yang akan diturunkan kepada beliau. Pada waktu itu Allah swt berfirman, janganlah berlaku ingin cepat sehubungan turunnya Alqur’an kepada engkau, melainkan panjatkanlah do’a ini : <em>Wahai Tuhanku berilah kemajuan didalam ilmu pengetahuanku. </em>Supaya lautan ilmu dan irfan yang Allah swt telah ciptakan didalam dada beliau saw terus meningkat semakin luas lagi. Sekalipun Alqur’an sudah lengkap turun kepada beliau, namun beliau teruskan memanjatkan do’a itu. Jadi betapa pentingnya do’a ini untuk dibaca secara dawam dan terus-menerus oleh orang-orang mukmin, karena sangat perlu sekali usaha meningkatkan wawasan pengetahuan mereka. Sehingga Hazrat Rasulullah saw memberi nasihat kepada orang-orang mukmin untuk mencari ilmu pengetahuan yang lebih luas sekalipun mereka harus pergi kenegeri China, yakni berjuanglah keras menuntut ilmu pengetahuan sampai akhir hayat kalian.</p>
<p>Memang Allah swt berfirman bahwa Dia tidak memberi kesusahan kepada siapapun. Yakni Allah swt tidak memberi sesuatu beban kepada siapapun diluar kemampuannya. Dan Dia tidak meminta pertanggungan jawab dari siapapun selama dia tidak bisa menciptakan kemampuan dan keterampilan untuk melaksanakan kewajiban itu. Namun disamping itu Dia memerintahkan kepada orang-orang mukmin agar berusaha keras meningkatkan ilmu pengetahuan mereka dan sedapat mungkin menciptakan kemampauan pada diri mereka. Dan untuk itu mereka harus berusaha memanjatkan do’a sebanyak-banyaknya kepada Allah swt.</p>
<p>Salah satu macam ilmu pengetahuan yang harus dituntut adalah ilmu yang Allah swt anugerahkan kepada para Anbiya. Dan dari antara para Anbiya yang paling banyak dianugerahi ilmu pengetahuan adalah Hazrat Rasulullah saw. Namun demikian Allah swt telah mengajarkan do’a ini kepada beliau saw:  <strong>زِدْنِيْ عِلْمًا</strong> <strong>رَّبِّ</strong><em> (wahai Tuhanku tambahlah ilmu padaku!)</em> Macam ilmu yang kedua adalah ilmu ruhani dan duniawi kedua-duanya juga harus dituntut dengan usaha keras dan rajin disertai dengan banyak-banyak memanjatkan do’a kepada Allah swt. Jika untuk menuntut ilmu pengetahuan tidak diperlukan usaha keras dan rajin maka sabda Nabi Muhammad saw ini yakni, <em>carilah ilmu walaupun harus pergi kenegeri China</em> tidak mengandung arti apa-apa. Sedangkan untuk itu harus melakukan perjalanan sangat jauh. Akan tetapi didalam usaha  menuntut ilmu pengetahuan itu harus ada kemampuan, dan kemampuan itu tidak akan timbul tanpa pertolongan Allah swt. Oleh sebab itu Tuhan telah mengajarkan do’anya untuk itu. Dan manusia tidak boleh terlalu bertumpu kepada kemampuannya sendiri. Manusia harus meminta pertolongan kepada Allah swt sebanyak-banyaknya melalui do’a. Tentu manusia akan memperoleh ilmu pengetahuan itu sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya. Untuk itu Allah swt telah menanamkan kemampuan dan kebolehan tersendiri didalam diri hamba-hamba-Nya secara berbeda-beda. Kadang-kadang sistim tarbiyyat kanak-kanak dan masyarakat sekitarpun sangat  mempengaruhi manusia dimasa menuntut ilmu. Oleh sebab itu Allah swt mengingatkan manusia agar berusaha keras menuntut ilmu pengetahuan sesuai kemampuan dan keterampilan masing-masing agar diperoleh kelapangan ilmu pengetahuan pada diri masing-masing. Allah swt telah menetapkan derajat bagi manusia sesuai tingkatan masing-masing. Tidaklah sama kewajiban menuntut ilmu terha-dap orang-orang yang mempunyai kemampuan intelligensianya rendah disebabkan kurangnya ilmu atau disebabkan adanya kelemahan mental secara alami, sebagaimana kewajiban terhadap orang-orang yang mempunyai kemampuan daya pikir dan intelligensia tinggi dan mempunyai sarana-sarana cukup.</p>
<p>Jelaslah bahwa disebabkan luasnya ilmu pengetahuan yang tanpa batas itu Allah swt mengetahui semua keadaan. Oleh sebab itu apabila Dia menyerahkan suatu tugas kepada seseorang Dia perhatikan betul bagaimana kemampuan hamba-Nya itu tentang sesuatu yang akan dilakukannya. Jika manusia tidak menggunakan anugerah Tuhan berupa kemampuan intelligensia dan sarana-sarana lainnya semaksimal mungkin untuk menuntut ilmu pengetahuan, padahal untuk menuntutnya telah diperintahkan Allah swt sebelumnya maka dia akan bertanggung jawab dihadapan Tuhan. Disini sesuai firman-Nya : <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>”) dia tidak menggunakan bahkan mensia-siakan semua fasilitas yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Dan bagi orang yang menamakan dirinya muslim paling utama dia harus maju dalam ilmu pengetahuan agama dan dia harus berusaha untuk itu. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Seorang pencari kebenaran sapabila telah mencapai suatu kedudukan, sekali-kali ia jangan berhenti sampai disitu, jika tidak syaitan akan membawanya kearah lain. Dan sebagaimana air yang tergenang dia tidak bergerak dan tidak bertambah bahkan sebaliknya akan berkurang. Demikian juga orang mukmin yang tidak berusaha sepenuhnya untuk kemajuan ruhaninya maka kedudukannya akan jatuh. Maka kewajiban orang yang bernasib baik harus selalu berusaha mencari pengetahuan agama. Didunia ini tidak pernah ada orang ‘alim kamil dan mulia seperti Nabi Muhammad saw, namun demikian beliau selalu membaca do’a ini : <strong>رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا</strong> <em>(wahai Tuhanku tambahlah ilmu padaku !)</em> Dan siapakah yang merasa cukup dengan ilmu dan ma’rifatnya yang kamil lalu berhenti sampai disitu kemudian dia tidak menganggap perlu lagi untuk mendapat kemajuan lebih lanjut.</p>
<p>Jadi maksud dari pada : <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>”) adalah dengan menggunakan semua kekuatan dan kemampuannya berusaha untuk menuntut ilmu pengetahuan dan jika kita terus menuntut ilmu pengetahuan maka kita akan bisa meraih keridhaan Allah swt sebab berkat kelapangan ilmu pengetahuan itu kita mengenal Allah swt dan hati kita bertambah runduk dihadapan-Nya. Dan daya kemampuan kita untuk mengenal Tuhan semakin meningkat. Dan disebabkan telah berhasil pengenalan terhadap Tuhan itu manusia semakin runduk dihadapan Allah swt. Sebagaimana Allah swt berfirman didalam Alqur’anul  Karim : <strong>اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَؤُا اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ‏﻿﻿</strong><strong> </strong><em>Artinya : Dari antara hamba-hamba Allah hanya mereka yang dilimpahi ilmu saja yang takut kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun (Al Fatir : 29) </em></p>
<p align="center">
<p>Jadi, dengan bertambahnya ilmu pengetahuan timbullah rasa takut yang hakiki kepada Allah swt.</p>
<p>Yang dimaksud dengan ulama disini bukanlah mereka yang menamakan diri ulama yang sifatnya berang dan kasar, setelah memperoleh ilmu pengetahuan mereka berusaha untuk mengalahkan atau menguasai orang lain. Melainkan mereka yang dengan karunia Allah swt semakin ilmu mereka bertambah semakin dalam ma’rifat dan kecintaan mereka terhadap Tuhan. Mereka mempunyai kepahaman hakiki tentang Tuhan sehingga kearah mana mereka melayangkan pandangan disana mereka menjumpai Tuhan. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : <em>“ Kearah mana melayangkan pandangan disana kami nampak wajah Engkau !”</em> Inilah arti dan pemahaman yang hakiki, seorang ‘alim apabila sudah paham ia semakin bersujud dihadapan Tuhan dan ia berjalan diatas Taqwa. Inilah arti dan pemahaman hakiki firman Tuhan : <strong> </strong></p>
<p><strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong><strong> </strong>(<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>”).</p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;"> </span></em></p>
<p><em><span style="text-decoration:underline;">Masalah kedua</span></em>, yang saya kutip dari penjelasan Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahwa beliau bersabda :  <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>”) Allah swt menjelaskan bahwa Dia telah mempersembahkan akidah-Nya dan manusia telah diberi kekuatan dan kemampuan untuk memahaminya, supaya peraturan-peraturan-Nya atau hukum-hukum-Nya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak dapat diatasi oleh manusia. Yakni hukum-hukum-Nya tidak ada diluar batas kekuatan dan kemampuan hamba-hamba-Nya. Didalam ayat sebelumnya tentang akidah dan keimanan orang-orang mukmin Allah swt berfirman : <strong> </strong><strong>اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلَئِكَتِهِ وَكُـتُبِهِ وَرُسُله</strong><strong>ِ</strong>Artinya mereka beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Malaikat-Nya dan kepada Kitab-kitab-Nya dan kepada Rasul-rasul-Nya. Dan didalam ayat lain disebutkan mereka beriman kepada Hari Akhir juga. Tentang ini terdapat sebuah hadis juga yang diriwayatkan oleh Hazrat Umar r.a. katanya pada suatu ketika kami sedang duduk-duduk bersama Hazrat Rasulullah saw tiba-tiba seorang lelaki datang memakai pakain warna putih sekali. Dia duduk sambil merapatkan lututnya dengan lutut Rasulullah saw kemudian bertanya kepada Hazrat Rasulullah saw : Hai Muhammad (saw) apa yang disebut iman ? Nabi saw bersabda : Iman adalah kamu beriman kepada Allah, beriman kepada Malaikat-Malaikat-Nya, kepada Kitab-kitab-Nya kepada Rasul-rasul-Nya dan beriman kepada hari akhirat dan yakin kepada taqdir buruk dan baik. Perkara-perkara ini semua telah ditetapkan sesuai dengan kemampuan manusia dan tidak akan memberatkan yang tidak bisa dipikul. Jika fitrat seorang manusia baik dan ia tengah mencari Allah swt maka dengan melihat makhluk-makhluk-Nya yang ada diatas langit dan bumi keyakinannya akan meningkat. Sambil merenung betapa agung Nizam Semesta Alam karya Allah swt dan sambil melangkah diatas jalan yang telah Tuhan ajarkan manusia mulai merenungkan hakikat Malaikatullah, melihat dan merenungkan semua Alam Semesta bagaimana telah diciptakan dan bagaimana berjuta planet bergergerak diatas jalannya masing-masing didalam cosmos, sesudah itu orang mukmin memahami betul kedudukan para Malaikat sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan mereka masing-masing. Kemudian dengan penuh perhatian mereka memperhatikan Kitab-kitab yang telah diturunkan kepada para Anbiya. Dan sebagaimana kita semua maklum bahwa Al Qur’an adalah Kitab paling sempurna yang mengoreksi kekeliruan yang terkandung didalam kitab-kitab lain sebelumnya dan ajaran-ajaran yang terkandung didalam kitab-kitab itu telah disempurnakan didalam Kitab Suci Alqur’an. Dan Alqur’an sendiri telah menegaskan tidak ada sebarang perobahan atau kekeliruan didalam Kitab Suci Alqur’an, dan memang tidak akan pernah terjadi demikian. Hal itu semuanya telah diumumkan oleh Allah swt demi memperkuat keimanan dan keyakinan orang-orang mukmin. Dan telah diumumkan dengan tegas bahwa didalam Alqur’an tidak terdapat sebarang perintah ataupun ajaran yang tidak sesuai dengan kekuatan atau kemampuan insani. Sebab dari sejak zaman Hazrat Rasulullah saw sampai sekarang beribu-ribu juta manusia telah membuktikan pelaksanaan ajaran-ajaran itu dengan baik tanpa ada keluhan atau keberatan. Kemudian beriman kepada Rasul-rasul. Jika suatu kaum atau bangsa mengingkari Rasul-rasul ini maka hal itu merupakan nasib buruk bagi kaum atau bangsa itu. Akan tetapi ajaran dan da’wah para Rasul itu tidak pernah membuat seseorang manusia merasa susah. Setiap Rasul yang datang selalu memberitahukan <em>: “ Aku telah datang untuk mempertemukan kalian dengan Tuhan dan memberi ajaran yang membawa faedah bagi kalian. Dengan demikian aku tidak meminta sebarang balasan atau upah dari kalian. Upah atau ganjaran bagi-ku ada pada Tuhan. Kedatangan-ku bukan bermaksud untuk mendatangkan kesusahan bagi kalian melainkan semata-mata bagi kebaikan kalian semua. Oleh kerana itu yakinlah kalian kepada adanya Hari Akhirat dan hasilkanlah pembalasan dari Allah swt atas segala amal</em> <em>perbuatan baik kalian didunia ini. Agar kalian masuk kedalam Surga keridhaan-Nya.” </em>Pembalasan amal baik juga akan diperoleh berdasarkan sangat luasnya rahmat Tuhan yang tak terbatas. Dan hukuman terhadap dosa terbatas kepada dosa yang dilakukan. Sedangkan ganjaran atas kebaikan diberikan sepuluh kali lipat ganda kebaikan itu, bahkan Allah swt memberi lebih banyak lagi dari itu hingga tidak terbatas banyaknya.</p>
<p>Jadi, ajaran yang disampaikan Allah swt kepada manusia didunia melalui para Anbiya-Nya sesuai dengan kekuatan dan kemampuan mereka. Jika kemampuan pada bangsa atau kaum sebelumnya terdapat kekurangan atau kelemahan maka Tuhan menyampaikan ajaran-Nya itu kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka diwaktu itu. Jika kecerdasan fikiran kaum-kaum sebelumnya lemah maka Allah swt menetapkan ajaran-Nya sesuai dengan kemampuan mereka itu. Saya telah mnceritakan sebuah peristiwa ketika Jibrail hadir disebuah Majlis dan diwaktu itu menceritakan Rukun Islam. Beliau bertanya Rukun Islam itu apa ? Hazrat Rasulullah saw menjawab dengan membaca kalimah syahadah : Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah, kedua shalat, ketiga puasa pada bulan Ramadhan, membayar zakat dan ibadah Hajji ke Baitullah. Shalat adalah ibadah dan puasa juga adalah ibadah, perintah kedua ibadah ini tidak memberatkan siapapun, bahkan jika seseorang jatuh sakit, maka baginya diperbolehkan mengerjakan shalat sambil duduk atau sambil berbaring. Jika seseorang didalam perjalanan diizinkan baginya menjamak dan mengkasar shalatnya itu. Demikian juga tentang ibadah puasa, jika seseorang dalam keadaan musafir, maka diizinkan kepadanya untuk meninggalkan puasa itu namun ia harus menggantinya dihari lain setelah Ramadhan. Jika seseorang jatuh sakit diizinkan kepadanya untuk tidak berpuasa. Demikian juga kewajiban membayar zakat, diwajibkan hanya kepada mereka yang telah mencukupi nisab atau ukuran membayar zakat. Ibadah hajji juga diwajibkan kepada orang-orang yang mampu menyediakan sarana untuk biaya perjalanan dan dalam keadaan sehat dan keadaan aman. Pendeknya Allah swt menentukan hukum-hukumnya itu didalam batas jangkauan kekuatan dan kemampuan hamba-hamba-Nya. Sebagaimana telah saya katakan, semua perintah atau hukum itu telah diamalkan oleh setiap tingkatan dari beribu-ribu juta orang beriman sejak dahulu kala. Sekalipun banyak juga yang tidak mengamalkan hukum atau perintah-perintah itu namun tidak sedikit jumlahnya bahkan beribu-ribu juta orang-orang beriman telah melaksanakannya bahkan terus menerus melaksanakannya sesuai dengan ketentuan waktu-waktunya.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Masalah ketiga</span> yang dijelaskan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahwa, Allah swt berfirman : “Amal perbuatan Hazrat Rasulullah saw dan teladan beliau adalah uswah hasanah bagi kalian semua orang-orang beriman. Sebagaimana Allah swt berfirman : <strong>لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِىْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَة</strong><strong> </strong>Artinya : <em>Sesungguhnya kamu dapati suri teladan yang sebaik-baiknya dalam pribadi Rasulullah. (Ahzab : 22)</em>. Kita diperintah oleh Allah swt untuk mengikuti suri teladan Hazrat Rasulullah saw dalam mengamalkan semua hukum-hukum, dalam akhlaq, dalam ibadah kepada Allah swt dan dalam kehidupan sehari-hari. Jika Allah swt tidak memberi kekuatan didalam fitrat kita untuk meraih kamalaat (kesempurnaan) Hazrat Rasulullah saw secara bayangan maka tentu hukum atau perintah untuk mengkuti langkah Nabi yang mulia ini tidak akan diberikan Allah swt kepada kita sebab Allah swt tidak memberi kesulitan diluar batas kemampuan hamba-hamba-Nya. Sebagaimana Tuhan sendiri berfirman : <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>”) maka disini Dia berfirman : Ikutilah jejak langkah Nabi yang mulia ini !! Yang penjelasannya Hazrat Masih</p>
<p>Mau’ud a.s. bersabda : Kalian tidak akan bisa meraih martabat atau mutu secara sempurna yang telah dimiliki oleh Hazrat Rasulullah saw, melainkan kalin harus berusaha untuk mengamalkannya sesuai dengan kemampuan kalian masing-masing. Dan hal ini merupakan kewajiban setiap orang mukmin. Dan kemampuan serta kekuatan itu telah ditanamkan didalam fitrat orang-orang mukmin untuk mengamalkan kebaikan-kebaikan itu yang telah dcontohkan oleh Hazrat Rasulullah saw. Hanya dengan mengatakan begini: “Kerana aku tidak akan bisa mencapai martabah atau mutu seperti yang dimiliki oleh Rasululklah saw, maka aku tidak merasa perlu berusaha untuk itu.” Pikiran demikian tidak bisa dibenarkan, sebab orang-orang mukmin tidak bisa terlepas dari kewajiban-kewajiban yang telah diletakkan oleh Allah swt diatas pundak mereka. Dan didalam ummat telah dijelaskan bahwa beratus-ratus juta manusia telah berusaha menegakkan contoh uswah hasanah itu dan menampilkannya dihadapan masyarakat. Seorang mukmin biasa juga sesuai dengan kemampuannya bisa menegakkan dan menampilkan uswah hasanah (contoh-contoh baik) yang ditegakkan oleh Hazrat Rasulullah saw.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perkara keempat</span> tentang itu adalah, sesungguhnya Allah swt telah mengutus Hazrat Rasulullah saw untuk semua ummat manusia dan merupakan perintah kepada setiap orang untuk menerima ajaran yang telah beliau bawa itu. Dan sebagaimana telah saya jelaskan bahwa beriman kepada Allah swt dan kepada Rasul-Nya saw merupakan sarana untuk memperoleh <em>najaat </em>atau keselamatan dunia dan akhirat. Akan tetapi jika alasan tentang itu belum diberikan dengan dalil yang cukup kepada seseorang, maka Allah swt sama-sekali tidak memberatkan sesiapapun mengenai perkara apapun diluar batas kemampuannya. Oleh sebab itu seseorang tidak akan dikenakan sangsi atau hukuman sebelum ia menerima penjelasan sepenuhnya tentang itu. Sehubungan dengan itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa, jika dipandangan Tuhan orang itu belum cukup diberi penerangan secara sempurna, maka pada Hari Qiamat dia patut dima’afkan. Dan dipandangan Tuhan jika belum cukup diberi penerangan secara sempurna dan dia ingkar dan mendustakan utuasan Tuhan, walaupun menurut syari’at keadaan dia jelas sebagai orang kafir dan kita juga berdasarkan syari’at menganggap dia orang kafir maka disisi Tuhan berdasarkan ayat  <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>”) pada Hari Qiamat dia tidak patut ditangkap atau dihukum. Ya, kita tidak berani mengatakan bahwa sesuai dengan itu dia akan mendapat keselamatan pada hari pembalasan. Urusan sepenuhnya ada ditangan Tuhan, kita tidak bisa ikut campur dalam urusan itu. Disini kita harus ingat berkenaan dengan itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. juga bersabda : “ Mengenai hal itu hanya Tuhan Yang mengetahui, apakah dipandangan Tuhan dalil-dalil secara akal dan secara nyata dan ajaran yang indah dan tanda-tanda samawi sudah atau belum sampai kepadanya secara sempurna, kita tidak mengetahui keadaan hati seseorang. Dan jika dari segi dalil-dalil telah disampaikan kepadanya dan telah diperlihatkan tanda-tanda sesuai dengan peraturan Allah swt yang sejak dahulu terus berjalan bahwa dalil-dalil harus diterangkan secara sempurna kepada manusia dan dalam hal ini Tuhan juga selalu memperlihatkan pertolongan dan dukungan terhadap Nabi-Nabi-Nya dengan Tanda-tanda-Nya, maka siapapun juga yang mengaku bahwa saya belum menerima penerangan secara sempurna, maka dia akan bertanggung jawab penuh dihadapan Allah swt atas penolakannya itu. Sebagai saksi yang bertanggung jawab atas pernyataannya itu adalah batang lehernya sendiri. Dan dialah yang bertanggung jawab terhadap pengakuannya itu padahal dalil akal dan keterangan secara nyata serta ajaran yang indah dan tanda-tanda samawi serta setiap jenis bimbingan telah diberikan kepadanya. Mengapa sampai sa’at itu dia mengatakan belum diterima penerangan secara komplit dan sempurna? Sekalipun tanpa penerangan yang jelas dan sempurna Allah swt tidak memberatkan siapapun. Akan tetapi para penentang Islam dan para penentang Ahmadiyah harus berfikir, apakah penolakan ini dilakukan bukan kerana tipuan diri mereka sendiri sambil mengatakan : “</p>
<p>Kami belum menerima penerangan secara sempurna dan jelas?” Disegenap penjuru dunia kini tengah terjadi berbagai macam bala bencana dan musibah serta kerusuhan-kerusuhan tengah berkecamuk dimana-mana, apakah itu semua bukan tanda-tanda yang turun dari Allah swt sebagai bukti nyata tentang turunnya seorang Imam Zaman ? Sedangkan da’wa seorang Imam Zaman juga sudah lama berkumandang diatas dunia ini.”</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perkara kelima</span>, sehubungan dengan perkara diatas Allah swt tidak memaksa siapapun juga untuk mempercayai sesuatu yang bertentangan dengan akal. Itulah sebabnya Dia tidak menyatakannya sebagai orang yang dipaksa bertanggung jawab mengapa kamu tidak mau beriman. Perkataan <em>hakeem</em> terdapat diberbagai tempat didalam Alqur’an Karim. Artinya setiap perkataan mengandung penuh <em>hikmah</em>, Allah swt memerintah hamba-hamba-Nya dengan bijaksana untuk melaksanakan hukum-hukum-Nya. Hukum apapun yang Dia turunkan penuh dengan penjelasan yang mengandungi hikmah. Bahkan tatkala Tuhan mengutus Hazrat Rasulullah saw kedunia dan pekerjaan-perkajaan yang khas bagi beliau untuk menyebarkan hikmahnya juga satu pekerjaan terpisah bagi beliau. Bahkan do’a yang diajarkan kepada Hazrat Nabi Ibrahim a.s. tentang martabah beliau yang akan datang, didalamnya juga telah ditetapkan <em>hikmahnya </em>secara khas. Apa yang dimaksud dengan <em>hikmah (kebijaksanaan)</em> itu? Yaitu, apabila hendak menjalankan keadilan, atau hendak menyempurnakan pengetahuan dan hendak mengemukakan rahasia setiap perkara, apabila perintah atau larangan telah ditetapkan, maka sebab-sebab dilaksanakan atau jangan dilaksanakan perintah itu harus dijelaskan sesuai dengan tuntutan akal manusia. Misalnya jika arak dan judi dilarang, sesuai dengan firman Tuhan sebagai berikut :</p>
<p dir="rtl"><strong>يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ‌ قُلْ فِيْهِمَا</strong><strong>ٓ</strong><strong> اِثْمٌ</strong><strong> </strong><strong>کَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَاِثْمُهُمَا</strong><strong>ٓ</strong><strong> اَکْبَرُ مِنْ</strong><strong> </strong><strong>نَّفْعِهِمَا</strong><strong> </strong></p>
<p><em>Artinya : Mereka bertanya kepada engkau tentang arak dan judi. Katakanlah, didalam keduanya mengandungi dosa dan kerugian besar bagi manusia, dan dosa keduanya serta kerugiannya lebih besar dari pada manfa’atnya</em><em>.(Albaqarah : 220)</em>.</p>
<p>Mengapa minum arak dilarang? Sebab apabila manusia minum arak dan mabuk karenanya, maka ia tidak ingat lagi untuk menunaikan ibadah bahkan ia bisa merusak keamanan dan ketenteraman masyarakat. Dan telah ternyata dengan jelas buktinya bahwa apabila peminum arak selesai minum-minum arak itu beberapa cawan maka kesan dan akibatnya meradang keseluruh akal pikirannya. Itulah sebabnya minum arak telah dilarang oleh ajaran Islam. Demikianlah juga keadaan pemain-pemain judi. Pemain judi yang sudah keranjingan atau kecanduan dengan judi, akalnya menjadi sangat terganggu, dia lupa kepada ibadah, akalnya sudah tidak disinari lagi oleh kebenaran, ia berusaha menghasilkan wang dengan cara tidak halal. Ia membuang waktu dengan sia-sia. Ia tidak mau mengacuhkan kewajiban-kewajiban rumah tangganya. Akalnya tidak digunakan untuk memikirkan kebaikan, bahkan pikirannya selalu tertuju kearah minuman arak dan permainan judi yang menimbulkan berbagai jenis keburukan, sehingga tabi’atnya meradang dengan emosional sehingga ia merasa susah sekali menahan kemarahannya.</p>
<p>Akan tetapi dengan kadar sedikit saja alcohol dipergunakan juga didalam obat-obatan demi faedah manusia, dipergunakan untuk menyelamatkan jiwa manusia, misalnya dipergunakan untuk ramuan obat-obatan Homeuopathy dan untuk ramuan obat-obatan lainnya juga, kadarnya hanya sedikit saja sehingga tidak akan menimbulkan mabuk. Akan tetapi arak murni yang dipergunakan hanya untuk minum-minum sekalipun mikdarnya (quantity-nya) hanya sedikit bisa menimbulkan bahaya terhadap diri peminumnya. Lambat-laun adat-kebiasaannya itu semakin meningkat, sehingga peminum arak yang sudah terbiasa itu akan menanggung berbagai jenis bahaya penyakit mental maupun spiritual. Oleh sebab itu minum arak yang demikian walaupun kadarnya hanya sedikit telah dilarang oleh ajaran Islam.</p>
<p><em> </em>Demikian juga didalam Islam terdapat perintah mengerjakan puasa wajib didalam bulan Ramadhan yang didalamnya telah dijelaskan hikmah-hikmahnya. Jika manusia berfikir, Allah swt memberi perintah shalat dan perintah puasa itu semata-mata demi faedah dan kebaikan manusia dan untuk menimbulkan kesehatan dan keselesaan manusia, selain untuk menunaikan ibadah kepada Allah swt. Perintah atau hukum untuk melaksanakan dan tidak melaksanakannya juga mengandung hikmah dan faedah-faedah tertentu bagi manusia, yang diperlukan bagi kelestarian hidup manusia yang sehat. Pendeknya didalam setiap hukum atau perintah Allah swt, menyuruh atau melarang seseorang mengerjakan sesuatu mengandungi hikmah bukan tanpa hikmah. Allah swt tidak menurunkan suatu syari’at diluar batas kemampuan seseorang untuk melaksanakannya. Sebagaimana firmannya :</p>
<p align="center">
<p dir="rtl"><strong>اِنَّمَا</strong><strong> </strong><strong>حَرَّمَ عَلَيْکُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَا</strong><strong>ٓ</strong><strong> </strong><strong>اُهِلَّ بِه لِغَيْرِ اللّٰهِ‌</strong><strong>ۚ</strong><strong> فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلاَ</strong><strong> </strong><strong>عَادٍ فَلاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ‌ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْم‏ٌ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>Artinya : Sesungguhnya yang diharamkan bagi-mu hanya bangkai, darah dan daging babi, dan binatang yang disembelih dengan menyebut selain nama Allah. Tetapi, barangsiapa terpaksa, bukan melanggar peraturan dan tidak melampaui batas, maka tiada dosa atasnya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al Baqarah : 174)</em></p>
<p>Terdapat perintah didalam ayat tersebut yang selaras dengan akal manusia, mengandung banyak hikmah dan dari segi menahan kesabaran juga sangat baik bagi manusia. Jika nyawa dalam keadaan bahaya kalian diperbolehkan menggunakan barang-barang haram itu namun hanya untuk menyelamatkan jiwa kalian, hanya untuk menyambung nafas kalian. Sedapat mungkin usahakanlah untuk menjauhkan diri dari barang haram itu. Kalian harus bisa membedakan antara barang-barang halal dengan barang-barang haram.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perkara ketujuh</span> yang harus diingat adalah hukum-hukum Allah swt ada didalam batas kemampuan dan kekuatan manusia. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Didalam ayat ini dengan jelas disebutkan bahwa hukum-hukum Allah swt tidaklah menyusahkan manusia dalam melaksanakannya. Dan tidak pula Allah swt menurunkan syari’at dan hukum-hukum-Nya didunia ini untuk menzahirkan kebesaran-Nya, kefasihan dan kelebihan atau kebanggaan kekuatan hukum-hukum-Nya dan sebagainya. Memang sejak awal telah ditetapkan demikian kedaannya bahwa, sampai dimana manusia yang lemah mampu melaksanakannya dan bisa mendatangkan faedah baginya. Jadi Allah swt menetapkan hukum-hukum-Nya bukan untuk menyusahkan manusia. Tengoklah bagaimana hukum-hukum-Nya telah Dia tetapkan dengan sangat bijaksana sehingga  manusia lemah dan tak berdaya-pun mampu melaksanakan hukum-hukum-Nya itu. Kebijakan Allah swt lebih dari itu dan Maha Suci dari pekerjaan yang sia-sia tak berguna.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perkara kedelapan</span> yang terkandung didalam ayat itu, syarat-syarat hukum yang telah ditetapkan oleh Allah swt adalah sesuai dengan keadaan akal fikiran, keadaan fisik, keadaan ruhani, pengetahuan dan kemampuan lingkungan manusia. Dan juga sesuai dengan tingkatan pengetahuan, tingkatan akal dan fisik, ruhani manusia dan sesuai tingkatan sosial lingkungan masing-masing. Dari segi peraturan pelaksanaan hukum-hukum Allah swt patut diadakan tuntutan. Dan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah swt itu adalah wajib diatas setiap orang mukmin berdasarkan kemampuan masing-masing.</p>
<p>Terdapat riwayat didalam hadis, seorang telah datang dari sebuah kampung kepada Hazrat Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau tentang Islam. Ya Rasulallah, apa Islam itu? Beliau jawab, sehari semalam lima kali mengerjakan shalat. Bertanya lagi, ya Rasulallah, adakah shalat wajib lain selain dari pada yang lima ini? Tidak ada. Tapi, jika engkau ingin mengerjakan shalat nafal engkau boleh melaksanakannya. Kemudian Hazrat Rasulullah saw bersabda, berpuasa satu bulan dibulan Ramadhan. Dia bertanya lagi, selain puasa wajib ini adakah lagi puasa wajib lain ? Jawab Rasulullah saw, tidak ada. Tapi, jika engkau ingin mengerjakan puasa nafal engkau boleh melaksanakannya. Demikian juga beliau menjelaskan tentang kewajiban membayar zakat. Orang itu bertanya lagi, ya Rasulallah selain itu adakah lagi kewajiban membayar zakat bagi saya? Beliau jawab : “ Tidak ada. Tapi, jika engkau ingin memberi sadqah kepada fakir miskin engkau boleh memberinya.” Setelah mendengar itu semua orang itu pergi sambil berkata : “ Demi Allah !! Saya akan lakukan semua ini, tidak akan saya kurangi dan tidak akan pula saya tambah.” Hazrat Rasulullah saw bersabda kepada para sahabah yang sedang duduk bersama beliau pada waktu itu : “ Jika orang ini berkata benar maka anggaplah dia telah berhasil dan berjaya.” Jadi setiap orang berbuat sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Hazrat Rasulullah saw selalu menganjurkan melakukan ibadah-ibadah nafal juga.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perkara kesembilan</span> adalah, semua hukum-hukum Alqur’anul Karim bisa diamalkan. Tidak ada sebuah hukumpun yang dirasakan beban oleh manusia. Sebagaimana dari segi uswah hasanah Hazrat Rasulullah saw bahwa mukmin hakiki selalu mengikuti jejak langkah beliau dan berusaha untuk melangkah diatas jalan yang beliau tegakkan sebagai teladan. Dan telah dikatakan oleh Hazrat Aisyah r.a. bahwa akhlaq dan kehidupan Hazrat Rasulullah saw adalah merupakan gambaran dari pada ajaran Al Qur’an begitu juga amal perbuatan beliau sehari-hari merupakan penjelasan dari Kitab Suci Alqur’an. Jadi, telah diperintahkan kepada setiap orang beriman untuk melaksanakannya sesuai dengan kelayakan dan kemampuan masing-masing. Dan ini merupakan pengakuan Allah swt bahwa Dia tidak memberi kesusahan tanpa sebab kepada siapapun dari antara orang-orang mukmin. Hukum-hukum apapun yang telah diterapkan tidak melampaui batas kemampuan orang-orang mukmin.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perkara kesepuluh</span> adalah, Allah swt memperlihatkan mimpi yang benar kepada hamba-hamba-Nya, supaya mereka bisa memahami benar ilham atau wahyu yang turun kepada para Anbiya. Jika wahyu yang benar tidak pernah diperlihatkan maka manusia akan menganggap dusta kepada da’wa para Anbiya itu. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Nabi yang datang kedunia, untuk memahami kenabiannya, memahami wahyu dan ilham-ilhamnya Allah swt telah menanamkan  daya kekuatan didalam fitrat setiap orang. Dan daya kekuatan itu adalah mimpi yang benar. Jika seseorang tidak pernah melihat mimpi yang benar maka bagaimana ia bisa mempercayai wahyu atau ilham juga perkara yang berharga. Dan oleh kerana sifat Allah swt ini : <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>”) maka materi mimpi yang benar telah disimpan didalam fitrat manusia. Sekalipun manusia pencuri, perampok dan pelacur juga bisa melihat mimpi-mimpi.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perkara kesebelas</span> tentang ayat itu adalah, masa kanak-kanak dan masa sebelum meningkat dewasa, adalah masa kealpaan khabar-khabar. Demikian juga orang-orang yang sakit jiwa dan kurang akal, mereka tidak melaksanakan hukum-hukum syari’at atau mereka tidak patuh ta’at, mereka tidak patut mendapat tuntutan hukum. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Masa permulaan kehidupan adalah masa kealpaan, Allah swt tidak akan menuntut sesuatu dari perbuatan yang dilakukan mereka pada masa itu. Sebagaimana Tuhan sendiri telah berfirman : <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>”).”</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perkara kedua belas</span> adalah, Jika dalam masa kedewasaan yang penuh pengertian dan kecerdasan dan semua kekuatan dalam keadaan sehat tidak mengamalkan hukum-hukum Allah swt, maka hal ia akan dikenakan tuntutan. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Hanya satu masa yaitu masa muda-belia, masa kedewasaan, ketika seseorang manusia bisa berbuat sesuatu, sebab pada masa itu kemampuan dan kekuatan juga tengah tumbuh, itulah masa yang diliputi dengan nafsu amarah. Dan nafsu amarah itu melakukan serangan dari setiap penjuru dan dalam berbagai macam bentuk. Dan nafsu amarah bertujuan untuk menguasai akal manusia. Itulah masa dimana dilakukan tuntutan atas segala perbuatan manusia. Dan itulah masanya untuk menentukan <em>khatimah bil khair </em>(akhir kesudah yang baik) didalam semua amal perbuatan. Apabila manusia jatuh kedalam jurang keburukan, lalu dia tidak melakukan usaha keras untuk memperbaiki diri maka masa itu menjadi masa akhir yang membawa manusia kedalam jahannam dan membuat dia bernasib malang. Kecuali jika masa muda-belia itu dipergunakan dengan sangat baik dan dengan penuh berhati-hati maka dengan karunia Allah dan kasih-sayang-Nya mudah-mudahan masa itu menjadi <em>khatam bil khair</em> baginya. Jadi, sekalipun Allah swt tidak membebani sesuatu jiwa diluar batas kemampuannya, jika manusia tidak melaksanakan hukum-hukum-Nya sesuai dengan kemampuannya yang ada, sekalipun rahmat dan pengampunan Allah swt sangat luas namun dia tidak mengambil faedah dari padanya dan manusia memutuskan sendiri sesuai keinginannya dan dia membantah hukum-hukum Allah swt, maka Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Hal demikian menjadi sebab masuknya manusia kedalam jahannam.” Allah swt sendiri setelah berfirman :</p>
<p><strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>).”  dan diteruskan dengan firman-Nya :   <strong> </strong><strong> لَهَا مَا كَسَبتْ  وَعَلَيْها ما كَتَسَبَتْ</strong></p>
<p>artinya : <em>Baginya ganjaran untuk kebaikan yang diusahakannya</em> <em>dan baginya hukuman untuk keburukan yang telah dia lakukan.</em>” Untuk amal perbuatan baik dipergunakan perkataan  <strong>كَسَبَ</strong><strong> </strong>yang artinya, dengan mudah dapat dilaksanakan, jika memang ada keinginan untuk itu, sebab kebaikan dilakukan sesuai dengan keinginan. Akan tetapi disebabkan nasib malangnya itu, manusia sekalipun mempunyai kemampuan melakukan suatu kebaikan sebaliknya dia melakukan perbuatan yang buruk, tidak sesuai dengan fitrat manusia. Disebabkan menggunakan kekuatan akhlaqi tidak pada tempatnya manusia melangkah diatas jalan yang dianggapnya baik namun sesungguhnya tidak disukai oleh Allah swt. Dan dia merasa bahwa jalan itu mudah baginya. Namun tatkala ia terus-menerus melangkah diatas jalan perbuatan buruk dan dosa itu, barulah sadar bahwa ia sedang melangkah diatas jalan yang sangat menyusahkan dirinya. Hazrat Muslih Mau’ud r.a. menjelaskan suatu point tentang <em>iktisab</em> bahwa : “Amal buruk akan mendapat hukuman keburukan itu, kerana ia lakukan dengan sadar dan niyat untuk melakukannya. Dia tidak mau meninggalkan keburukan itu bahkan secara disengaja dilakukannya terus-menerus keburukan itu.” Allah swt tidak memikulkan suatu beban diatas pundak seseorang diluar batas kemampuannya. Dan tidak pula kepadanya diberi hukum-hukum yang menyusahkan. Melainkan Dia memberi perintah kepada manusia dengan penuh sayang dan pengampunan. Akan tetapi apabila seseorang terlibat didalam keburukan sehingga menimbulkan keberanian untuk terus-menerus berbuat keburukan itu maka kepadanya dijatuhkan hukuman berat. Oleh sebab itu Tuhan kita Yang Maha Penyayang telah mengajarkan do’a pada akhir ayat itu agar kita menaruh perhatian kearah amal perbuatan yang baik yang sesuai dengan fitrat dan untuk mengamalkannya ada didalam batas kemampuan manusia, sebagaimana Tuhan berfirman :</p>
<p dir="rtl"><strong>رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ</strong><strong> </strong><strong>نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَاْنَا‌</strong><strong>ۚ</strong><strong> رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ</strong><strong> </strong><strong>اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَه عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا‌‌</strong><strong>ۚ</strong><strong>رَبَّنَا</strong><strong> </strong><strong>وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِه‌ </strong><strong>ۚ</strong><strong> وَاعْفُ عَنَّا</strong><strong> </strong><strong> </strong><strong>وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا</strong><strong> </strong><strong>اَنْتَ مَوْلٰنَا فَانصُرْنَا عَلَى</strong><strong> </strong><strong>الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.”</em> (Al Baqarah : 287)  Maka do’a ini sangat perlu sekali untuk tazkiyahi nafs (pensucian jiwa) kita. Jadi apabila telah melakukan tazkiyahi nafs maka pengertian tentang ayat : <strong>لاَ يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا</strong> (<em>“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya</em>).”  akan betul-betul diperoleh dengan sebaik-baiknya dan manusia berdo’a dengan sangat merendahkan diri dihadapan Allah swt. Wahai Tuhan ! Janganlah Engkau menghukum kami disebabkan kami tidak melakukan amal-amal baik yang kami telah lupa untuk melaksanakannya. Janganlah Engkau berikan kepada kami seperti akibat buruk perbuatan mereka yang patut Engkau hukum. Perkataan : “ jangan memberi akibat buruk perbuatan mereka” bukanlah maksudnya kami pembuat kerusuhan atau pembuat pemberontakan yang melampaui batas. Atau kami bersifat acuh tak acuh terhadap hukum-hukum Tuhan. Melainkan disebabkan lupa atau lengah yang telah menjadi fitrat manusia, kami tidak mampu melakukannya. Oleh kerana itu jika kami telah lupa dan melakukan kesalahan, maka janganlah kami dimasukkan kedalam kelompok orang-orang yang pada zaman sekarang juga tengah melakukan perbuatan itu. Dan seorang mukmin memanjatkan do’a dengan sangat merendahkan diri dihadapan Allah swt : Wahai Tuhan janganlah Engkau hukum kami jika kami melakukan kesalahan tanpa disengaja, melainkan kami lakukan kerana telah terjadi salah paham pada kami. Dan janji yang telah Engkau ambil dari kami dan beban yang telah Engkau letakkan diatas kami, jangan disamakan keadaannya seperti kepada kaum sebelum kami. Bahkan berilah taufiq kepada kami untuk menyempurnakan janji-janji kami itu. Jika tidak kami juga akan termasuk golongan orang-orang yang sudah patut dihukum. Dan sekalipun Allah swt tidak membebani hamba-hamba-Nya diluar batas kemampuan dan kekuatan mereka, namun merupakan kwajiban orang mukmin dan orang-orang yang sungguh-sungguh telah beriman untuk menyatakan dengan sangat merendahkan diri memanjatkan do’a ini sambil mengutip firman-Nya : “ Wahai Tuhan janganlah aku dilibatkan kedalam sesuatu beban percobaan, melainkan perlakukanlah daku dengan kemurahan dan pengampunan Engkau. Selimutilah aku selalu dengan selimut maghfirah Engkau. Dan jadikanlah daku orang yang selalu mengambil bagian dalam kasih sayang Engkau. Taufiq yang telah Engkau berikan kepadaku untuk beriman, semoga aku tetap tegak diatas iman-ku. Dan semoga iman-ku terus-menerus meningkat. Kelemahan-kelemahanku jangan sampai membuat kesempatan bagi musuh untuk mensia-siakan imanku. Atau jangan sampai kerana kelemahan-kelemahanku itu mendatangkan kerugian terhadap Agama dan terhadap Jema’at.”</p>
<p>Kadangkala disebabkan kesalahan seseorang melibatkan Jema’at kedalam sebuah ujian atau percobaan yang merugikan. Oleh sebab itu saya dari segi Jema’at menghimbau setiap orang mukmin untuk saling mendo’akan satu sama lain. Supaya timbul kesan-kesan do’a itu secara menyeluruh. Dan supaya perhatian setiap anggauta Jema’at tercurah untuk memahami pentingnya mensucikan diri dan memikul tanggung jawab dan supaya Jema’at juga berdiri tegak diatas landasan yang kukuh kuat dan selamat dari setiap gangguan musuh yang ingin mencelakakannya. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita untuk mengamalkan semua hukum-hukum-Nya disertai dengan segala kemampuan kita. Dan semoga Tuhan meningkatkan terus kemampuan dan kemajuan kita semua. Semoga Allah swt mengabulkan do’a-do’a kita. Amin tsumma Amin !!!</p>
<p align="center">
<p align="center">&#60;&#60; HB &#62;&#62;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SUKARNO, PELOPOR PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL]]></title>
<link>http://denagis.wordpress.com/2009/06/01/sukarno-pelopor-pemikiran-islam-liberal/</link>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 01:51:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Deden</dc:creator>
<guid>http://denagis.wordpress.com/2009/06/01/sukarno-pelopor-pemikiran-islam-liberal/</guid>
<description><![CDATA[oleh: M Dawam Rahardjo Sukarno, yang disebut juga Putera Fajar itu, bukan dilahirkan di kalangan Mus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>oleh: <strong>M Dawam Rahardjo</strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-877" title="Soekarno" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/06/sukarno.jpeg" alt="Soekarno" width="78" height="126" />Sukarno, yang disebut juga Putera Fajar itu, bukan dilahirkan di kalangan Muslim santri, melainkan abangan, bahkan ibunya berasal dari Bali yang Hindu. Ia mulai berkenalan dengan Islam dari induk semangnya, seorang kader gerakan Islam modernis awal, Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan di Solo pada tahun 1011 oleh Haji Samanhudi. Omar Said sendiri, walaupun keturunan dari Yogyakarta Hadiningrat, Kyai Kasan Besari, bukan hasil didikan pesantren maupun madrasah, melainkan pendidikan umum. Bahkan pendidikan agama tidak ia peroleh melalui pengajian keluarga. Dengan demikian, Sukarno muda, langsung berkenalan dengan <em>high Islam </em>yang  rasional sistematis dan bukannya dengan <em>low Islam, </em>pendidikan Islam tradisional.<!--more--></p>
<p>Sukarno baru  tergerak untuk belajar sholat pada tahun 1934, ketika berumur 29 tahun, dalam pembuangannya di Endeh. Dalam pembuangannya itu ia menulis surat kepada A. Hassan, antara lain meminta dikirim buku penuntun sholat, di samping buku-buku berat lainnya tentang Islam. Tapi nampak ia sudah mengenal persoalan-persoalan sosial dalam masyarakat Islam, misalnya tentang kecenderungan pengkeramatan sesorang. Pada tahun 1960-an ia membahas kembali soal pengaruh kota keramat terhadap masyarakat penghuninya yang cenderung kolot dan tertutup dan bahkan berkecenderungan ke arah <em>hyper orthodoxy </em>dalam masyarakat Hindu di India maupun Islam di Jerussalam. Dengan begitu perhatiannya tidak hanya pada gejala agama Islam, melainkan kecendrungan agama-agama pada umumnya. Nampak juga dalam &#8220;Surat-surat Islam&#8221;nya, bahwa ia telah sangat memahami doktrin tauhid yang murni, dan dalam doktrin itulah ia tertarik pada Islam, yang memisahkan hal-hak yang profan dari yang <em>sacred. </em>Tauhid yang murni ia lihat sebagai kepercayaan yang membawa rasionalitas berflkir. Doktrin itu juga cenderung membedakan masalah yang suci dengan yang profan. Bahkan ia melihat terbukanya kesempatan untuk menggunakan rasio untuk memahami hal-hal yang sucipun, misalnya tentang wahyu, Islam juga membuka kebebasan berfikir, sebagaimana ditulis dalam al Qur&#8217;an sendiri dan dipraktekkan dalam aliran Mu&#8217;tazilah Bagdad di Abad Pertengahan dan sebagaimana tercermin dalam pemikir-pemikir Muslim Andalusia. Tidak sebagaimana murid A. Hassan yang lain, M. Natsir, ia kurang pengetahuannya mengenai pemikiran teologi, filsafat dan peradaban Islam Abad Pertengahan. Namun ia mengetahui tentang kebesaran Islam masa lalu dari tulisan-tulisan Natsir dalam bahasa Belanda yang sangat ia hargai itu.</p>
<p>Tapi dalam pembacaannya tentang Islam Sukarno agaknya bercermin dari kondisi di Turki, sebelum Revolusi Turki, melihat Islam di zaman modern sebagai kelanjutan Islam Abad Pertengahan, padahal menurut Takdir Alisyahbana, Islam di masa modern, termasuk yang dibawa ke Indonesia, adalah Islam yang telah mengalami kejatuhan dalam peradabannya.</p>
<p>Peradaban Islam pada zaman kejayaannya, baru diungkap kembali oleh Natsir pada tahun 1936, bertepatan dengan terbitnya artikel St. Takdir yang kontroversial dan memancing polemik kebudayaan dalam rentang waktu hingga 1939 itu. Adalah salah satu kecelakaan sejarah, bahwa antara Sokarno, Natsir dan Takdir Alisyahbana tidak terjadi interaksi intelektual. Sukarno sendiri juga tidak terlibat dalam polemik kebudayaan yang dipicu oleh sastrawan dan budayawan Pujangga Baru yang dipelopon oleh St. Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah dan Sanusi Pane itu, masing-masing mewakili kebudayaan Barat, Islam dan India.</p>
<p>Demikian pula, dari Tjokroaminoto, iapun tidak berkenalan dengan Islam dari arah Sunni, melainkan Islam Ahmadiyah. Tjokro muda juga memperdalam Islam dari literatur Inggris, terutama tulisan-tulisan Mohammad Ali, pendiri gerakan Ahmadiyah Lahore, yang tidak menganggap Mirza Gulam Ahmad sebagai Nabi, melainkan mujaddid biasa. Mohammad Ali sendiri sebenarnya adalah juga seorang mujadid yang tercatat, yang memiliki persepsi tersendiri mengenai Islam, sebagai nampak dalam buku Tafsir al Qur&#8217;annya, <em>&#8220;The Holy Qur&#8217;ar </em>buku teologinya <em>&#8220;The Religion of Islam&#8221; </em>dan buku lainnya yang juga terkenal, <em>Sejarah Mohammad, </em>dua karya terakhir itu, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Tokroaminoto. Karya-karya Mohmmad Ali yang sangat mengenal pemikiran orientalis Barat itu, dapat disebut mencerminkan pendekatan liberal tentang Islam, walaupun Ali juga banyak merujuk pada kitab-kitab klasik Islam. Hanya saja tekanan wacananya lebih mengarah pada teologi daripada fiqh, tetapi sangat terpengaruh pada pemikiran-pemikiran spiritual tasauf.</p>
<p>Selain dari Mohammad Ali, dari Ahmadiyah ia tertarik pada pemikiran Syaid Amer Ali, melalui bukunya <em>&#8220;The Spirit of Islam&#8221;. </em>Dari situlah ia menuliskan pemikirannya mengenai &#8220;Api Islam&#8221;. Suatu gambaran dari spirit sebagaimana dimaksud oleh Max Weber yang ikut bertanggung- jawab terhadap kebangkitan kapitalisme nasional di Eropa Barat. Faktor yang menjadikan Sukarno punya pemikiran yang berbeda adalah bacaan-bacaannya terhadap tulisan pemikir-pemikir Turki yang liberal dan sekuler, sehingga ia melampaui faham modernisme yang berasal dari Mesir itu.</p>
<p>Namun Sukarno, sebenarnya bukan sekedar berfikir dalam logika <em>high Islam, </em>yang dipahami sebagai pemikiran fiqih Aristotelian itu. Ia melampaui itu, karena ia mempelajari pula tulisan-tulisan keagamaan dari orientalis dan para pemikir Barat, termasuk Marx. Dalam pandangan keagamaannya, Sukarno mengikuti juga epistemologi Historis Materialisme, sebagaimana nampak kemudian dalam bukunya &#8220;Sarinah&#8221;. Paling tidak, pandangannya mengenai agama dipengaruhi oleh sudut pandangan sosiologis Comteian. Sukarno tidak hanya melihat Islam sebagai wahyu, melainkan sebuah gejala sosiologis. Inilah yang memungkinkan terbukanya pemikiran liberal pada Sukarno. Dalm konteks paham ortodoksi, pengetahuan Islam Sukarno dianggap dangkal, hanya karena ia membaca Islam dari literatur Barat. Padahal dari korespondensinya dengan A. Hassan, ia meminta kiriman buku-buku tentang Islam yang ditulis oleh pemikir Islam sendiri yang daftarnya diberikan oleh A. Hassan.</p>
<p>Absennya Sukarno dari Polemik Kabudayaan agaknya disebabkan perhatian Sukarno pada masalah-masalah politik sebagaimana nampak dalam tulisannya yang tersebar di berbagai majalah kebangsaan maupun Islam. Namun diam-diam, Sukarno punya perhatian yang serius terhadap agama, yang membuat banyak orang heran tetapi menyambut dengan hangat. Karena itu tidak ada alasan bahwa pengetahuan keagamaannya dangkal; Ia tahu benar masalah-masalah fiqih dan bahkan melakukan ulasan kritis mengenai ilmu keislaman tradisional itu, sehingga ia pernah berdebat dengan Natsir menagai hukum najis jilatan anjing.</p>
<p>Pandangan liberal Sukarno nampak dalam tulisannya &#8220;Memudakan Pengertian Islam&#8221; (Panji Islam, 1949) yang mendapat tanggapan sengit dari seorang tokoh ulama puritan, pendiri PERSIS (Persatuan Islam), Ustadz A. Hassan, yang punya andil juga<strong> </strong>dalam mengajarkan Islam pada Sukarno, ketika ia hidup dalam pembuangannya di Endeh, Flores. Maka iapun tidak asing dangan pandangan Islam yang ia kritik. Walaupun demikian ia tetap saja disindir sebagai memandang Islam secara dangkal dengan pemikiran-pemikiran yang ceroboh.</p>
<p>Dalam tulisan-tuliusannya , Sukarno memang membahas Islam sebagai gejala sosial. Ia mempelajari Islam bukan pada ajaran-ajarannya yang asli tetai tentang manifestasi kebudayaannya pada berbagai lingkungan masyarakat. Ia mempelajari corak-corak Islam di berbagai negara; Mesir, Palestina, India, Turki, Saudi Arabia. Ia mengenal dengan baik Wahabisme, yang memberikan gambaran mengenai Islam sebagai agama padang pasir yang keras dalam doktrin-doktrin teologi dan hukumnya. Ia melihat unsur yang tetap dan yang berubah sebagaimana dibahas secara kemudian secara mendalam oleh cendekiawan- sastrawan Syiria kontemporer, Adonis. Dari situ ia melihat Islam, bukan sebagai sesuatu Yang Tunggal melainkan sebagai gejala yang Warna-Warni. Sejalan dengan itu ia melihat pula gejala yang nampak pada generasi muda. Ia dengan cepat dapat menangkap isyarat yang dilontarkan oleh perkembangan Islam, karena ia juga membaca mengenai cetusan-cetusan kaum muda Muslim di berbagai negara Muslim. Dalam tulisannya menganai &#8220;Memudakan Pengerian Islam&#8221; ia melihat gejala pluralisme, baik eksternal maupun internal agama. Di satu pihak ia melihat pluralisme sosial sebagai penyebab sikap-sikap eksklusif, kembali kepada ortodoksi, kemurnian dan kekolotan. Tapi di lain pihak ia juga melihat Pluralisme sebagai pembuka pintu keterbukaan dan perubahan.</p>
<p>Islam ia lihat dari perspektif perkembangan dan perubahan terus menerus sesuai dengan kaedah Panta Rei Yunani yang ia kutip dalam tulisannya. Dalam kaitan ini ia memandang Islam secara positif. <em>&#8220;Islam is progress&#8221;, </em>tegasnya. Pemikirannya mengai <em>idea of progres </em>sudah ia tulis pada tahun 1935, jauh sebelum Nurcholish Madjid menampilkanya kembali pada tahun 1970 dalam pembaharuan pemikiran keagamaannya. Cuma ia melihat realitas tentang kejumudan Islam di tangan umatnya sendiri. Hal ini menurutnya disebabkan karena para ulama Islam tidak menafsirkan ajaran Islam dari kacamata ilmu pengetahuan modern, <em>modern science, </em>sebutnya. Dalam salah satu suratnya kepada A. Hassan ia menyabut berdirinya sebuah pesantren yang dibangun oleh ulama itu. Tapi ia menganjurkan agar pesantren mengajarkan pula <em>western science. </em>Sikapnya terhadap kebudayaan Barat itu sejalan dengan pandangan St. Takdir Alisyahbana.</p>
<p>Sukarno dalam pembacaannya terhadap Islam lewat tulisan Natsir dalam bahasa Belanda ia mengetahui gejala <em>&#8220;Islamic Glory&#8221;, </em>walaupun tidak sempat mengulas pemikiran filsafat dan ilmu pengatahuan yang dilahirkan oleh peradaban Islam Abad Pertengahan itu, sebagaimana dilakukan oleh Takdir. Namun Sukarno tidak suka dengan pengagungan masa lampau itu. Apalagi gagasan untuk kembali kepada sistem peradaban masa lampu itu, misalnya ingin mengembalikan sistem kekhalifahan. Dengan demikian. Ia menolak gagasan pembentukan kembali kekhalifahan Islam, sebagaimana diwacanakan dewasa ini oleh gerakan Hizbut Tahrir.</p>
<p>Namun dalam suratnya yang lain ia menyatakan sangat terkesan oleh sebuah buku mengenai Ibn Saud, pendiri negara Saudi Arabia. Walaupun tidak setuju terhadap sistem pemerintahan feodal negara itu, tapi ia sangat menghargai perjuangan Ibn Saud dalam membangun negara. Ia menolak faham Wahabisme yang keras itu, walaupn mengagumi rasionalitas pahamnya, tetepi ia melihat peranan Ibn Saud yang membawa modernisasi di<strong></strong>negeri padang pasir itu, walaupun Saudi Arabia hanya mengambil manfaat pada peradaban material, tetapi mengabaikan roh peradaban Barat itu sendiri. Tarhadap Islam sendiri, Sukarno lebih memperhatikan aspek roh atau spirit dalam Islam, yaitu roh <em>progress, </em>sebagaimana pernah dikemukakan lebih dahulu oleh pendiri Sarekat Dagang Islam, R.M. Tirtoadisuryo. Hanya saja umat Islam lebih tertarik perhatiannya pada abu Islam dari pada apinya, sehingga Islam tidak menjadi kekuatan perubahan.</p>
<p>Dalam ulasan-ulasannya, Sukarno nampak pemihakannya kepada epistemologi rasional atau akal merdaka dan angin perubahan yang dibawa oleh modernisasi. Di sini ia mencitrakan dirinya sebagai seorang pemikir liberal dan pemikir yang tercerahkan. Namun, cara pandangnya yang empiris-sosiologis menempatkan diri sebagai pemikir yang secara sadar mengacu kepada faham Islam yang modern dan liberal atau Islam yang progresif yang berorientasi pada perubahan sosial ke arah yang lebih maju. Ia sesungguhnya berdiri pada dua kaki, dilihat dari sudut epistemologi, yaitu pemikr liberal si satu pihak, dan pemikir progresif di lain pihak.</p>
<p>Faham liberal sudah dikenal oleh Sukarno sebagaimana tercermin dalam pengamatannya terhadap perkembangan faham Wahabisme ysang keras itu: &#8220;Kaum muda itu mau membawa Wahabisme ke dunia fikiran yang modern yang lebih liberal&#8221;. Nampak di situ bahwa Sukarno tidak memahami istilah &#8220;liberal&#8221; secara pejoratif. Bahkan ia secara sadar berhaluan liberal dalam pemikirannya mengenai Islam. Paham Islam liberal ini berbeda dengan pemikiran Islam modernis. Islam modernis nampak pada kebijaksanaan Raja Ibn Saud yang mengambil unsur-unsur material dari peradaban modern. Islam modernis lebih cerderung pada sikap utilitarian. Sedangkan Islam liberal lebih menitik-beratkan pada segi epistemologi kebudayaan modern. Sementara itu Islam-progresif lebih menitik-beratkan pada segi perubahan sosial. Menurut Takdir Alisyahbana, roh Islam itu menonjol pada nilai budaya ilmu pengatahuan dan ekonomi</p>
<p>Walaupun pandangan Sukarno cukup cenderung pada faham Islam-progresif, dengan kritik-kritiknya terhadap kedudukan perempuan dalam mmasyarakat umpamanya, namun ia, berbeda dengan Dr. Sutomo, pendiri Boedi Oetomo (1908) dan Perhimpunan Kebangsaan Indonesia (1933) umpanya, tidak langsung terjun dalam gerakan aksi-aksi sosial untuk perubahan masyarakat. K.H. Ahmad Dahlan umpannya jauh lebih profresif dari Sukarno, karena Sukarno lebih membatasi aktivitasnya dalam dunia wacana, walaupun di dunia politik, Sukarno dikenal sebagai seorang pemimpin pergerakan, tetapi di dunia politik, Sukarnopun juga lebih membatasi aktivitasnya di dunia wacana sebagaimana dicermiknkan dalam buku yang menghimpun karangan-karanganny a dengan judul &#8220;Di bawah Bendera Revolusi&#8221;. Sukarno sebenarnya lebih merupakan tokoh intelektual daripada pemimpin gerakan aksi sosial, semacam Tan Malaka, walaupun Tan Malaka adalah seorang pemikir besar pula yang perlu dikaji ulang pemikirannya menganai Islam dari pendekatan yang lebih radikal dari Sukarno sendiri.</p>
<p>Persepsi dan pandangan Sukarno mengenai Islam sebenatrnya mulai nampak latar belakang dan arahnya pada tulisan awalnya berjudul &#8220;Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme&#8221;, terbit pada tahun 1926 di malajah Soloeh Indomnesia Muda. Pengiriman artikel pada majalah itu bukan kebetulan, karena Sukarno memang mencitrakan diri sebagai pemikir generasi muda Indonesia. Dalam tulisan itu ia menyebutkan perihal &#8220;zaman muda:&#8221; atau zaman baru. Istilah &#8220;memudakan pengertian Islam&#8221; dalam konteks sekarang dapat diterjemahkan sebagai &#8220;pembaharuan&#8221; atau &#8220;penyegaran&#8221; paham-paham keagamaan yang diistilahkan oleh Nurcholish Madjid pada tahun 1970-qan dan Ulil<strong> </strong>Abshar Abdalla belakangan. Sukarno pada waktu itu juga mengelu-elukan lahimya pemikiran liberal dan progresif di kalangan muda yang diulang oleh Nurcjolish Madjid yang mengelu-elukan lahimya &#8220;kelompok muda liberal&#8221; di kalangan Islam. Harapan itu sekarang sudah terwujud, dengan lahimya kelompok-kerlompok liberal dan prograsif di kalngan muda Muhammadiyah maupun NU. Tapi berbagai penolakan, baik dari kalangan tua maupun muda Islam terjadi, sebagaimana telah terjadi pada diri Sukarno ketika itu, terutama sebagaimana tercermin dalam tulisan gurunya sendiri A. Hassan dalam tulisannya &#8220;Membudakkan Pengertian Islam&#8221;, suatu plesetan terhadap judul karangan Sokamo &#8220;Memudakan Pengertian Islam&#8217;.</p>
<p>Dalam tulisan ulama pendiri PERSIS yang berhaluan puritan itu, ia menuduh Sukarno sebagai ingin mengubah hukum-hukum agama untuk mengikuti kehendak Maha Dewi yang bemama <em>progress, </em>bahkan meninggalkan al Qur&#8217;an dan Hadist dan menjadikan yang haram menjadi halal. Padahal Sukarno menyadari ketentuan tentang tiadanya pembahan teks al Qur&#8217;an, walaupun harus meneliti Hadist yang meragukan. Yang dimaksudkan oleh Sukarno adalah melakukan interpretasi terhadap persepsi mengenai ajaran Islam, misalnya mengenai tabir, jilbab atau poligami. Ia berpendapat pula bahwa manusia tidak mempu memahami berbagai ayat-ayat tertentu yang hanya bisa dipahami dengan penjelasan ilmiah.</p>
<p>A. Hassan juga membantah pandangan Sukarno yang terkesan ingin menerapkan hukum-hukum buatan manusia atau bangsa dengan mengabaikan hukum-hukum Tuhan dan Nabi-Nya. Baginya negara harus&#8221;diatur menurut hukum-hukum Tuhan dan Rasul-Nya yang tidak bisda ditundukkan oleh kehendak bangsa. Bahkan, sebaliknya, kehendak bangsa hams ditundukkan kepada hukum-hukum Tuhan dan Rasul-Nya.</p>
<p>Masalahnya adalah, apa yang dimaksud dengan hukum-hukum Tuhan dan Rasulnya itu? Apa yang disebut hukum-hukum Tuhan dan Rasul-ya itu hanyalah interpretasi saja yang bisa berbeda dari orang ke orang. Sukarno pemah membaca tulisan penulis Turki, Asad Bey yang berpendapat bahwa Demokrasi Parlemen, yang notabene teori Barat itu, sebagai sistem pemerintahan Islam yang ideal. Padahal, walaupun Demokrasi Parlementer adalah teori politik Barat, namun Sukarno tidak menyetujuinya, karena menumtnya ada sistem lain yang lebih baik yang sesuai pula dengan ajaran Islam. Sukarno tidak mengandaikan prinsip kesesuaian dengan ajaran agama. Namun masalahnya adalah bagaimana menentukan suatu sistem pemerintahan itu lebih baik atau lebih buruk dari yang lain, tanpa mengukurnya dengan ilmu pengetahuan. Sukarno juga berpendapat tentang adanya berbagai versi kebenaran tergantung dari argumen ilmiahnya. Tafsir mengenai al Qur&#8217;an dan Hadistpun juga bisa berbeda dan tidak mungkin sepenuhnya disatukan, walaupun berbagai aspek bisa diijma&#8217;kan dalam konsensus-konsensus besar maupun kecil. Di Saudi Arabia paham pemerintahan Wahabi bisa dibenarkan, tetepi tidak bisa diterima di Mesir, Siria atau Turki.</p>
<p>Dalam kaitan ini Sukarno menyetujui paham, sekularisme Turki, yang tidak mau mengikuti pembentukan negara dan pemerintahan berdasarkan ajaran agama. Hukum kenegararaan dan pemerintahan yang disusun oleh rakyat negara yang bersangkutan tentu saja berdasarkan berbagai faktor dan masyarakat yang bersangkutan. Pandangan Sukarno ini ternyata lebih disetujui oleh masyarakat politik ketika konsep negara berdasarkan syari&#8217;at Islam ditolak oleh Konstituante tahun 1950-an. Sebalinya pandangan Sukarno mengenai Pancasila sebagai dasar negara disetujui dalam suatu konsensus besar hingga sekarang ini di Indonesia.</p>
<p>Namun, ketika Nurcholish Madjid mengajukan pandangan agar umat Islam meninggalkan ideologi Negara Islam atau negara berdasarkan syariat Islam, iapun mendapat penolakan keras. Nasib pandangnya sama dengan nasib pandangan Sukarno. Namun kini, hanya beberapa partai Islam saja yang masih memperjuangkan formalisasi hukum Islam sebagai hukum positif di semua bidang. Partai-partai berlatar belakang gerakan keagamaan lainnya sudah menjadi sekuler. Bahkan kinipun Partai Keadilan Sejahtera selalu membantah bahwa partai ini memiliki agenda formalisasi syari&#8217;at Islam.</p>
<p>Dalam masalah kebangsaan, Sukarno berpolemik dengan A. Hassan. Dan soal sekularisme ia berdebat dengan sesama murid&#8217;A. Hassan yang cemerlang, M. Natsir. Namun perlu dipahami juga bahwa pandangan Natsir inipun sebenarnya merespon pandangan Sukarno, bahwa Islam bukan hanya berurusan dengan masalah iman dan peribadatan, melainkan dengan berbagai masalah masyarakat. Ketika ia mengemukakan pandangan tentang konsep negara dalam Islam, ia sebenarnya berfikir positif dalam kerangka kebangsaan. Hanya saja ia tidak memikirkan bahwa menjadikan hukum agama yang suci itu mengandung masalah, yaitu bersifat sektarianisme yang personal. Padahal hukum negara harus bersifat impersonal yang berlaklu bagi semua warga negara tanpa melihat suku, ras maupun agama. Sedangkan hukum Islam hanya bisa diterima oleh yang meyakini Islam. Sedangkan yang lain tentu tidak akan mau tunduk, sebab jika tunduk mereka akan menjadi warga negara kelas dua sebagaimana terjadi di negara-negara Islam Abad Pertengahan. Bahkan di masa itu, ketika aliran Sunni ortodoks berkuasa, mereka melarang paham yang berbeda yaitu Mu&#8217;tazilah. Di tingkat kepartaian, umat Islam juga tidak mampu membentuk satu partai Islam saja yang mewadahi semua partai Islam. Bahkan MUI juga tidak mau mengakui keberadaan Ahmadiyah yang mengaku Islam.</p>
<p>Sukarno sendiri tidak menolak kehadiran partai Islam yang memperjuangkan berlakunya syari&#8217;at Islam. Ia bahkan menganjurkan agar partai-partai Islam bisa memperoleh suara yang sebanyak-banyaknya dalam parlemen. Namun intinya, konsep syari&#8217;at Islam itu harus melalui proses uji publik, tidak bisa didekritkan begitu saja melalui konstitusi.</p>
<p>Hukum Islam dan hukum-hukum agama apapun memang perlu ditundukkan kepada aspirasi dan kehendak rakyat. Bahkan uji ilmiah juga tidak cukup. Namun yang bisa dilakukan oleh agama adalah memberikan nalar moral <em>(moral reasoning), </em>tetapi harus tetap diimbangi dengan <em>public reasoning, </em>nalar publik yang memang kompleks. Karena itu maka hukum-hukum agamapun harus mempertimbangkan aspirasi dan kehendak publik.</p>
<p>Dalam bantahannya terhadap pandangan Sukarno mengenai Islam, A. Hassan sangat keberatan dengan pandangan Sukarno yang ditafsirkanya sebagai hendak menundukkan wahyu dan sunnah Rasul dengan akal dan ilmu pengetahuan. Pandangan A. Hassan itu memang mendapat dukungan dari gerakan maupun umat Islam pada umumnya. Namun masalah hubungan wahyu dan sunnah Nabi dengan ilmu pengetahuan, serta hubungan agama dan negara itu, ternyata tidak sederhana. Perlu dipahami pengertian mengenai wahyu, sunnah Nabi, interpretasi terhadap wahyu dan sunnah Nabi, agama sebagai suatu lembaga kemasyarakatan dan tentang realitas dalam kaitannya dengan idea atau norma-norma, Sukarno sangat memahami hubungan-hubungan itu dan pengertian masing-masing konsep itu. Tidak pada tempatnya, menuduhnya berfikir dangkal dan semboro. Jika ia mengkritik Islam, maka yang dikritiknya adalah persepsi<strong></strong>atau pengertian mengenai  Islam  dan  realitas masyarakat yang jumud,  kolot atau konservatif.</p>
<p>Di masa mudanya, Sukarno mengalami dua perdebatan besar, kedua-duanya dengan pemikir Islam. Pertama dengan A. Hassan. Dalam perdebatan dan pertukar-pikirannya itu cara Sukarno adalah memasukkan Islam ke dalam arus modernitas dan rasionalitas. Kedua adalah perdebatannya dengan M. Natsir. Di situ jasanya adalah mengarusutamakan Islam dalam jalan raya kebangsaan.</p>
<p>Namun dalam dua perbedabatan besar itu telah terjadi kecelakaan sejarah. Sukarno sebenarnya sangat hormat dan menganggap A. Hassan sebagai gurunya dalam urusan agama. Namu tanggapan A. Hassan ternyata jauh dari santun. Seharusnya ia bersikap arif dan bukan bersikap kasar dan antagonistis&#8217; terhadap muridnya itu, tetepi secara sabar membimbingnya dengan arif dan tidak emosional. Akibatnya A. Hassan kehilangan pemuda yang sangat potensial sebagai pemimpin bangsa yang ternyata tidak sedikit jasanya dalam mengembangkan spirit Islam dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.</p>
<p>Komunikasi intelektualnya dengan Natsir juga mengalami kecelakaan sejarah. Sukarno sebenarnya sangat respek kepada Natsir, antara lain karena kemampuannya menulis pemikiran ilmiah dalam bahasa Belanda. Ketika Sukarno menjadi Presiden RI, ia juga memilih Natsir menjadsi sekretarisnya yang sangat dipercaya. Namun Natsir tidak mampu menghargai niat baik Sukarno terhadap Islam dan umat Islam. Karena Natsir menjauhinya, maka posisi itu direbut oleh lawan-lawannya, Partai Komunis. Sebagai orang Sumatera Barat, ia tidak bisa menghargai kejawaan Sukarno. Padahal Sukarno tidak sangat Jawanya. Ia adalah juga Barat, sebagaimana St Takdir Alisyahbana yang juga orang Sumatera. Padahal kombinasi Jawa-Minang ini sangat dibutuhkan oleh Indoensia, sebagaimana terbukti pada gereakan Muhammadiyah yang didukung oleh poros Minang-Yogya itu, dua budaya yang kontras, tetapi saling melengkapi itu.</p>
<p>Perhatian dan kecintaan Sukarno terhadap Islam sebenarnya sangat mendalam. Ini dibuktikan dengan perhatiannya, bukan saja terhadap ajaran-ajaran Islam, terutama spiritnya, tetapi juga perhatian dan surveinya terhadap negara-negara Islam di Timur Tengah. Nama Sukarno sendiri sangat harum, misalnya di Pakistan, karena ia ikut mengirimkan angkatan udara Indonesia, membantu Negara Islam itu ketika berperang dengan India. Ia juga mengirimkan pasukan ke Aljazair, ketika rakyat negeri itu berjuang melawan penjajahan Prancis. Sehingga Pemerintah Aljazair mendirikan sebuah patung Sukarno. Ia juga bersahabat dengan Jamal Abdul Nasser dalam menggalang kekuatan Asia-Airika sebagai New Emerging Forces.</p>
<p>Ketika menjadi Presiden, Sukarno mendirikan masjid Baiturrahim di halaman Istana Merdeka. Ia bahkan mendirikan masjid terbesar di Asia Tenggara, masjid Istiqlal. Sukarno juga memulai tradisi peringatan hari-hari besar Islam di Istana Negara dan selalu memberikan ceramah dalam berbagai topik yang dulu pernah dipikirkannya di Endeh, misalnya mengeni makna Isra&#8217;-Mi&#8217;raj. Pandangannya bahwa shoalat adalah isyra&#8217; mijraj manusia biasa, sangat dikenal. Sukarno mulanya memang menjadi anggota SDI dan SI tapi kemudian keluar dan mendirikan partai politik sendiri. Tapi ia kemudian menjadi anggota Muhammadiyah dan mengeluarkan semboyan yang sangat terkenal hingga sekarang &#8220;Sekali Muhammadiyah, tetap Muhammadiyah&#8221; . Namun ia juga punya hubungan yang baik dengan ulama-ulama NU. Ia juga menghargai tokoh-tokoh Islam di masa perjuangan kemedekaan, Tjokroaminoto, Haji AgusSalim H., Fachruddin. Ia juga<strong> </strong>menghargai tokoh muda Islam di zamannya, yaitu A. Dahlan Ranuwihardja, seorang tokoh muda Islam yang mampu menangkap paham kebangsaan Sukarno, walaupun Dahlan juga cukup kritis terhadapnya. Sikap Dahlan itu bertolak belakang dengan sikap Natsir, mungkin karena Dahlan adalah seorang Jawa pesisiran yang lugas dan keponakan Moh. Roem.</p>
<p>Roem sendiri juga punya pandangan politik yang berbeda dengan Sukarno dan lebih cenderung mengikuti Natsir, walaupun ia adalah orang Jawa. Namun ketika nama Sukarno dicemari karena konon pernah melakukan tindakan rekalitulasi terhadap Belanda, karena ancaman, dalam tulisan Rosihan Anwar, adalah Roem yang membelanya, karena ia tidak rela melihat tokoh semacam Sukarno dituduh melakukan tindakan yang tidak patriotis. Roem, dengan tulisannya yang sangat argumentatif, ternyata mampu membersihkan nama Sukarno dari kecemaran sejarah.</p>
<p>Sekarang ini, generasi muda Islam, makin mampu menghargai pemikirannya, bahkan mengikutinya dalam jalan libereal dan progresif. Sukarno adalah seorang yang liberal, pluralis dan sekuler, tetapi tetap tegak berdiri dengan bangga sebagai seorang Muslim yang beriman, dengan pengertian tauhid yang tinggi.</p>
<p>Sukarno mungkin dikenang baik dalam kaitan dengan tindakannya yang membubarkan partai Islam modern terbesar, Masyumi. Di sini Sukarno ternyata tidak sejalan dengan modernisme Islam, tidak berselara dengan pandangan-pandangan apologetis Islam yang mengutamakan simbol daripada substansi. Malah ia terekesan lebih akrab dengan kelompok tradisionalis yang di masa muda dengan pedas dikritiknya. Sikapnya yang nampak kurang konsisten itu mungkin disebabkan karena NU pernah mendukung gagasan NASAKOM-nya, walaupun dengan dukungan mendua, karena NU-lah yang dengan sengit memerangi PKI. Mungkin juga NU dilihatnya lebih dekat dengan gerakan kebangsaan daripada Masyumi yang modernis yang lebih  dekat dengan gerakan sosialis Syahrir yang menjadi lawan politiknya.</p>
<p>Satu dan lain hal, semua itu menjelaskan bahwa posisi Sukarno bukanlah pada modernisme, walaupun ia sangat menghargai Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Posisi yang lebih tepat bagi Sukarno adalah di wilayah Neo-Modernisme, karena ia memang melakukan kritik, baik terhadap Islam ortodoks maupun Westemisme. Jika ia masih hidup mungkin ia akan sangat menyambut lahirnya gerakan Neo-Modernisme yang dipelopori oleh Nurcholish maupun tradisionalisme radikal yang dilepori oleh Abdurrahman Wahid. Sangat menarik untuk mempertimbahkan Sukarno sebagai model cendekiawan Muslim kontemporer garda depan, yang sederatan dengan Al-Jabiri dari Maroko yang nasionalis atapun Hassan Hanafi yang progresif-kiri.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daily Knowledge: Sunday May 10, 2009]]></title>
<link>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/10/sunday-may-10-2009/</link>
<pubDate>Sun, 10 May 2009 17:50:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>messageofpeace</dc:creator>
<guid>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/10/sunday-may-10-2009/</guid>
<description><![CDATA[Sunday May 10, 2009 Ayat of the Day The similitude of those who spend their wealth in the way of ALL]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Sunday May 10, 2009  </strong></p>
<p><font color="#0066CC"><strong>Ayat of the Day</strong></font><br />
The similitude of those who spend their wealth in the way of ALLAH is like the similitude of a grain of corn which grows seven ears, in each ear a hundred grains. And ALLAH multiplies it further for whomsoever HE pleases and ALLAH is Bountiful, All-Knowing. (2:262)</p>
<p><font color="#006600"><strong>Hadith of the Day</strong></font>y<br />
Abu Hurairah has related that the Holy Prophet (sa) said: Allah does not regard your bodies and looks, but looks at your hearts (Muslim)</p>
<p><font color="#993300"><strong>Quote of the Day</strong></font><br />
Expounding the concept of fidya, expiation for those who cannot fast, Hazur (aa) said that it should be made in accordance to one&#8217;s normal standard of living and that its objective is also to seek the capacity from Allah to be able to fast (Friday Sermon October 24, 2003 by Hazrat Khalifatul Masih V)</p>
<p><em>&#8220;Daily Knowledge&#8221; is a subscription email service provided by <a href="http://www.ahmadiyya.ca/daily.php">www.ahmadiyya.ca</a> (the official website for Ahmadiyya Movement in Islam, Canada). Each day, an email is sent to all the subscribers explaining different aspects of Islam and Ahmadiyyat.</em></p>
<p>An <font color="#0066CC"><strong>Ayat</strong></font> is a verse from the Holy Qur&#8217;an.</p>
<p>A <font color="#006600"><strong>Hadith</strong></font> is a saying of the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) that was initially passed down by Muslim families, and later compiled. That&#8217;s why most of them start out as &#8221; relates that&#8230;&#8221;.</p>
<p>A <font color="#993300"><strong>Quote</strong></font> is a quote from different sources, e.g., The Promised Messiah (May Allah be pleased with him).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daily Knowledge: Saturday May 9, 2009]]></title>
<link>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/09/daily-knowledge-saturday-may-9-2009/</link>
<pubDate>Sat, 09 May 2009 12:47:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>messageofpeace</dc:creator>
<guid>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/09/daily-knowledge-saturday-may-9-2009/</guid>
<description><![CDATA[Saturday May 9, 2009 Ayat of the Day Guide us in the right path &#8212; The path of those on whom Th]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Saturday May 9, 2009  </strong></p>
<p><font color="#0066CC"><strong>Ayat of the Day</strong></font><br />
Guide us in the right path &#8212; The path of those on whom Thou hast bestowed Thy blessings, those who have not incurred Thy displeasure, and those who have not gone astray. (1:6-7)</p>
<p><font color="#006600"><strong>Hadith of the Day</strong></font><br />
Umar ibn Khattab has related that he heard the Holy Prophet (sa) say: Motive determines the value of all conduct, and a person attains that which he desires. If the motive of one who emigrates is to attain to Allah and His Messenger, then that is the purpose of his migration; and he who migrates seeking the world attains to it, and he who migrates for the sake of a woman, marries her and thus his migration is for the purpose he has in mind (Bokhari and Muslim)</p>
<p><font color="#993300"><strong>Quote of the Day</strong></font><br />
During fasting one not only avoids food and drink but also shuns all things negative, especially verbal misuse. Thus one who fasts escapes wickedness and due to this severance from &#8216;worldliness&#8217; one&#8217;s spiritual insight is heightened. (Friday Sermon October 24, 2003 by Hazrat Khalifatul Masih V)</p>
<p><em>&#8220;Daily Knowledge&#8221; is a subscription email service provided by <a href="http://www.ahmadiyya.ca/daily.php">www.ahmadiyya.ca</a> (the official website for Ahmadiyya Movement in Islam, Canada). Each day, an email is sent to all the subscribers explaining different aspects of Islam and Ahmadiyyat.</em></p>
<p>An <font color="#0066CC"><strong>Ayat</strong></font> is a verse from the Holy Qur&#8217;an.</p>
<p>A <font color="#006600"><strong>Hadith</strong></font> is a saying of the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) that was initially passed down by Muslim families, and later compiled. That&#8217;s why most of them start out as &#8221; relates that&#8230;&#8221;.</p>
<p>A <font color="#993300"><strong>Quote</strong></font> is a quote from different sources, e.g., The Promised Messiah (May Allah be pleased with him).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Ahmadis]]></title>
<link>http://pakistanpoliticsjournal.wordpress.com/2009/05/09/the-ahmadis/</link>
<pubDate>Sat, 09 May 2009 02:16:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>writergooddoer</dc:creator>
<guid>http://pakistanpoliticsjournal.wordpress.com/2009/05/09/the-ahmadis/</guid>
<description><![CDATA[Ahmadis, if you know them personally, are just like us. Don&#8217;t know why the Pakistan government]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ahmadis, if you know them personally, are just like us. Don&#8217;t know why the Pakistan government has always hated them for their belief in another prophet. The Ahmadis we personally know don&#8217;t propagate their cult.</p>
<p> </p>
<p><a href="http://letusbuildpakistan.blogspot.com/2009/03/ahmadi-couple-found-dead-in-multan.html">http://letusbuildpakistan.blogspot.com/2009/03/ahmadi-couple-found-dead-in-multan.html</a></p>
<p>Tuesday, 17 March 2009</p>
<p>Ahmadi couple found dead in Multan<br />
 <br />
LAHORE: Blindfolded bodies of an Ahmadi couple were found from their house in Multan with hands tied behind their backs. The two were doctors by profession and had been murdered on March 14, a press statement by the Ahmadiyya community said on Monday. According to the statement, Dr Shiraz Ahmad Bajwa (37) and his wife Dr Noreen Bajwa (29) were killed in a brutal attack at their house in WAPDA Colony, Multan. It said the two doctors had been receiving threats for some time due to their religious beliefs. The housekeeper found the body of Dr Shiraz in the bedroom, with visible marks of strangulation, and Dr Noreen in the living room, the statement said. staff report</p>
<p><a href="http://dailytimes.com.pk/default.asp?page=20093\17\story_17-3-2009_pg7_10">http://dailytimes.com.pk/default.asp?page=20093\17\story_17-3-2009_pg7_10</a><br />
Ahmadi Physicians Murdered in Pakistan for their Faith</p>
<p>TORONTO, March 17 /CNW/ &#8211; On March 14, 2009, in Multan, Pakistan, bodiesof a prominent physician couple Dr. Shiraz Bajwa (37) and Dr. Noreen Bajwa(29), were found by their housekeeper in their home after they had beenbrutally murdered. Both had received numerous death threats lately fromreligious extremists because of their faith. Dr. Noreen was also pregnant withthe couple&#8217;s first child.Members of the Ahmadiyya Muslim Community are persecuted despite theirunblemished history as peace loving citizens. This spate of violence againstAhmadis in Pakistan has been unprecedented. Currently, despite condemnation byHuman Rights Organizations, four Ahmadi boys (aged 14 to 16) remain incustody, for the past seven weeks, due to their having been falsely chargedwith blasphemy.The murders of Dr. Shiraz and Dr. Noreen Bajwa mark the 99th and 100thassassination of the Ahmadis since 1984, the 3rd and 4th in 2009 so far.The body of Dr. Shiraz Bajwa was found in his bedroom with his hands tiedbehind his back, his mouth gagged and his eyes blindfolded. His body showedvisible signs of strangulation. The body of his wife, Dr. Noreen Bajwa, whowas five month pregnant at the time of her death, was found in their livingroom with her hands tied behind her back, her mouth gagged and her eyesblindfolded. Her nose had been bleeding.Dr. Shiraz Bajwa was an eye-specialist. He had served at the Fazl-e-UmarHospital (a hospital run by the Ahmadiyya Community in Rabwah, Pakistan) andwas working at the local hospital in Wapda Colony, Multan. Dr. Noreen Bajwaworked at the local children&#8217;s hospital.&#8221;What occurred in Multan yesterday was an act of such cruelty that it cannever be comprehended by decent and peace loving people. . . . Pakistan is acountry that is currently facing absolute ruin. Amongst this chaos, thehateful acts of religious extremists are ever-increasing to the extent thatloving, caring and innocent people are being murdered because they belong to acommunity whose motto is &#8216;Love for All, Hatred for None&#8217;,&#8221; said Abid Khan,Spokesperson for the Ahmadiyya Muslim Community.International media and human rights organizations are urged to call forthe protection of the rights and lives of the members of the Ahmadiyya MuslimCommunity in Pakistan.http://www.newswire.ca/en/releases/archive/March2009/17/c9460.html   <br />
 Ghalib<br />
The rose, with its redolent petals<br />
The water lily, with its robe of virgin white<br />
These have surely come to us in transmigration<br />
Of but a few of those<br />
Endowed with sublime beauty and grace.<br />
Some embrace death to sprout again<br />
But most, forever, in dust remain.</p>
<p> Dasht-e-tanhai main&#8230;<br />
 </p>
<p> <br />
The world is but an idle dream<br />
It shapes a film upon a stream<br />
If you would know reality<br />
Then listen carefully, mark and see<br />
That oneness is a mighty sea<br />
Where pluralism&#8217;s bubbles team<br />
(Khwaja Ghulam Farid, trans. H.R. Gardezi)<br />
 </p>
<p> Jab ishq sikhata hai adabe khud agahi</p>
<p>(Only) When love teaches the etiquette of self-knowledge,<br />
Are the Imperial Mysteries revealed to the slaves!<br />
Whether it be Attar or Rumi, Razi or Ghazali,<br />
Nothing comes to hand without supplication in the early dawn<br />
Do not lose hope in them, 0&#8242; wise guide!<br />
Even though the wayfarers are slow-moving,<br />
They are not without zeal (to reach the goal)!     (Iqbal)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Friday Sermon: Friday May 8th, 2009]]></title>
<link>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/08/friday-sermon-friday-may-8th-2009/</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 20:04:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>messageofpeace</dc:creator>
<guid>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/08/friday-sermon-friday-may-8th-2009/</guid>
<description><![CDATA[Divine attribute of Al Wasi (the Bountiful, the All-Embracing) Delivered by Hadhrat Mirza Masroor Ah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Divine attribute of Al Wasi (the Bountiful, the All-Embracing)<br />
Delivered by<a href="http://www.alislam.org/khilafat/fifth/index.html"> Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (at)</a>, the Head of the Ahmadiyya Muslim Community on Friday May 8th, 2009</strong></p>
<p><strong>English Summary:</strong><br />
<a href="http://www.alislam.org/archives/friday/FSS20090508-EN.html">http://www.alislam.org/archives/friday/FSS20090508-EN.html</a><br />
<strong><br />
Audio MP3</strong><br />
<a href="http://www.alislam.org/archives/2009/mp3/FSA20090508-UR.mp3">Urdu: Urdu: http://www.alislam.org/archives/2009/mp3/FSA20090508-UR.mp3</a></p>
<p><strong>Video (Urdu):</strong><br />
<a href="http://www.alislam.org/archives/2009/video/FSV20090508-UR.wmv">http://www.alislam.org/archives/2009/video/FSV20090508-UR.wmv</a></p>
<p><strong>More information about Friday Sermons:</strong><br />
<a href="http://www.alislam.org/archives">http://www.alislam.org/archives</a><br />
<a href="http://messageofpeace.wordpress.com/friday-sermons/">http://messageofpeace.wordpress.com/friday-sermons/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daily Knowledge: Friday May 8, 2009]]></title>
<link>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/08/daily-knowledge-friday-may-08-2009/</link>
<pubDate>Fri, 08 May 2009 11:28:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>messageofpeace</dc:creator>
<guid>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/08/daily-knowledge-friday-may-08-2009/</guid>
<description><![CDATA[Friday May 8, 2009 Ayat of the Day Know they not that ALLAH is HE Who accepts repentance from HIS se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Friday May 8, 2009</strong></p>
<p><font color="#0066CC"><strong>Ayat of the Day</strong></font><br />
Know they not that ALLAH is HE Who accepts repentance from HIS servants and take alms, and that ALLAH is HE Who is Oft-Returning with compassion, and is Merciful ? (9:104)</p>
<p><font color="#006600"><strong>Hadith of the Day</strong></font><br />
Abu Hurairah relates that the Holy Prophet (sa) said: Hasten to do good before you are overtaken by one of seven misfortunes: perplexing adversity, corrupting prosperity, disabling disease, babbling dotage, sudden death, the worst apprehended Anti-Christ, the Hour, and the Hour will be most grievous and most bitter (Tirmidhi).</p>
<p><font color="#993300"><strong>Quote of the Day</strong></font><br />
Hazur (aa) enjoined the blessings of eating of sehr and of being prompt in breaking the fast at the time of aftar and concluded on the prayer that may Allah enable us all to derive blessings and beneficence from Ramadan and may the month bring many blessings for us all. (Friday Sermon October 24, 2003 by Hazrat Khalifatul Masih V)</p>
<p><em>&#8220;Daily Knowledge&#8221; is a subscription email service provided by <a href="http://www.ahmadiyya.ca/daily.php">www.ahmadiyya.ca</a> (the official website for Ahmadiyya Movement in Islam, Canada). Each day, an email is sent to all the subscribers explaining different aspects of Islam and Ahmadiyyat.</em></p>
<p>An <font color="#0066CC"><strong>Ayat</strong></font> is a verse from the Holy Qur&#8217;an.</p>
<p>A <font color="#006600"><strong>Hadith</strong></font> is a saying of the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) that was initially passed down by Muslim families, and later compiled. That&#8217;s why most of them start out as &#8221; relates that&#8230;&#8221;.</p>
<p>A <font color="#993300"><strong>Quote</strong></font> is a quote from different sources, e.g., The Promised Messiah (May Allah be pleased with him).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daily Knowledge: Thursday May 7, 2009]]></title>
<link>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/07/daily-knowledge-thursday-may-7-2009/</link>
<pubDate>Thu, 07 May 2009 17:48:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>messageofpeace</dc:creator>
<guid>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/07/daily-knowledge-thursday-may-7-2009/</guid>
<description><![CDATA[Thursday May 7, 2009 Ayat of the Day Surely, WE sent it down during the Night of Decree. And what sh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Thursday May 7, 2009</strong></p>
<p><font color="#0066CC"><strong>Ayat of the Day</strong></font><br />
Surely, WE sent it down during the Night of Decree. And what shall make thee know what the Night of Decree is? The Night of Decree is better than a thousand months. Therein descend angels and the Spirit by the command of their Lord with Divine decree concerning every matter. It is all peace till the rising of the dawn. (97:2-6)</p>
<p><font color="#006600"><strong>Hadith of the Day</strong></font><br />
Utbah ibn Harith relates: I joined the afternoon Prayer led by the Holy Prophet (sa) in Medina. The moment he concluded the service he stood up quickly and proceeded to one of his chambers stepping across the shoulders of the worshippers. People were perplexed by such haste. When he came back he perceived that people were wondering what had called him away so urgently. So he said: I recalled that there was left with me a piece of silver (or gold) and this disturbed me. I have now arranged for its distribution (Bokhari).</p>
<p>Another version is:<br />
There was left with me a piece of silver (or gold) which was meant for charity. I was disturbed that it should remain with me overnight. 89. Jabir relates that one man asked the Holy Prophet (sa) on the day of Uhud: Tell me, where shall I be if I am killed in battle today? He answered: In Paradise. The man threw away the few dates he held in his hand, plunged into battle and fought on till he was killed (Muslim).</p>
<p><font color="#993300"><strong>Quote of the Day</strong></font><br />
Hazur (aa) cautioned about keeping fasts in Ramadan simply for the reason that everyone else is and said that Allah has declared that rewards and benefits of all other virtues to one side, the Being of Allah Himself is the reward of keeping fast. (Friday Sermon October 24, 2003 by Hazrat Khalifatul Masih V)</p>
<p><em>&#8220;Daily Knowledge&#8221; is a subscription email service provided by <a href="http://www.ahmadiyya.ca/daily.php">www.ahmadiyya.ca</a> (the official website for Ahmadiyya Movement in Islam, Canada). Each day, an email is sent to all the subscribers explaining different aspects of Islam and Ahmadiyyat.</em></p>
<p>An <font color="#0066CC"><strong>Ayat</strong></font> is a verse from the Holy Qur&#8217;an.</p>
<p>A <font color="#006600"><strong>Hadith</strong></font> is a saying of the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) that was initially passed down by Muslim families, and later compiled. That&#8217;s why most of them start out as &#8221; relates that&#8230;&#8221;.</p>
<p>A <font color="#993300"><strong>Quote</strong></font> is a quote from different sources, e.g., The Promised Messiah (May Allah be pleased with him)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Press Release: False Detention of Ahmadi Muslim Children]]></title>
<link>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/07/300/</link>
<pubDate>Thu, 07 May 2009 01:08:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>messageofpeace</dc:creator>
<guid>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/07/300/</guid>
<description><![CDATA[In the Name of Allah, Most Gracious, Ever Merciful International Press and Media Desk Ahmadiyya Musl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>In the Name of Allah, Most Gracious, Ever Merciful</strong></p>
<p>International Press and Media Desk<br />
Ahmadiyya Muslim Jamaat International<br />
22 Deer Park, London, SW19 3TL<br />
Tel / Fax (44) 020 8544 7613 Mobile (44) 077954 90682<br />
Email: <a href="mailto:press@ahmadiyya.org.uk">press@ahmadiyya.org.uk</a><br />
Web: <a href="http://www.alislam.org">Alislam.org</a></p>
<p>6 May 2009</p>
<p><strong>PRESS RELEASE:</strong></p>
<p><strong>FALSE DETENTION OF AHMADI CHILDREN IN DEGRADING CONDITIONS CONTINUES</strong></p>
<p>As reported previously four Ahmadi children and one adult were arrested on blasphemy charges in District Layyah Pakistan on 28th January 2009 (FIR No 46/09). Over three months later they continue to be falsely imprisoned in conditions that are unsanitary and inhumane.</p>
<p>The accused, Muhammad Irfan (14), Tahir Imran (16), Tahir Mehmood (14), Naseer Ahmad (14) and Mr Mubashar Ahmed (45) are accused of writing the name of the Prophet of Islam (peace be upon him) on the walls of a toilet at a local mosque. Despite the complete lack of any incriminating evidence they continue to be detained on ‘judicial remand’ which has been extended a number of times by a local judge on request from the police. </p>
<p><strong>Living Conditions</strong><br />
Although arrested in District Layyah the accused are all being held at a prison in the distant city of DG Khan. The authorities are making it extremely difficult for any of the children to be visited by members of their family and the fact that they are being held in DG Khan makes access even more problematic.<br />
The four children accused are being detained in one cell. The only adult Mr Mubashar Ahmed is being kept in a separate cell and the children are not allowed to see him. The children are kept in the cell continuously twenty four hours a day. Due to the hot weather the cells become extremely hot but there are no fans present or any other means of cooling. Muhammad Irfan is suffering with typhoid whilst Mr Mubashar Ahmed suffers with severe asthma.</p>
<p><strong>Education of children</strong><br />
It goes without saying that the education of the four children is gravely suffering. Muhammad Irfan has been expelled by his school on the basis of these charges without any internal investigation. The other children who were due sit their important Matriculation examinations had to prepare and indeed sit the exam whilst in prison. Their further educational and professional careers are dependent upon the results of these exams.</p>
<p><strong>Lack of due process</strong><br />
The arrest and detention of the accused have been conducted contrary to the very laws under which they are charged. According to the rules regulating section 295-C of the Pakistani Penal Code, police officials, not less in rank the a senior superintendent, are obligated to thoroughly investigate accusations of blasphemy before presenting criminal charges. However due to the pressure of extremist Muslim groups this process was completely ignored.</p>
<p>Sometime after the arrests were made the senior superintendent of police (SSP) of another district, Mr Pervez Rathore, was assigned to conduct an investigation into the matter. Following investigation the SSP found that charges were completely false and that the accused ought to be immediately released. This report was sent to the relevant authorities at the end of March 2009 yet it has been conveniently ignored as a result of pressure from Mullahs.</p>
<p><strong>External Reports</strong><br />
A number of respected organisations and individuals have highlighted the case of the Ahmadis arrested in District Layyah. The arrests have been condemned by the Human Rights Commission of Pakistan; Asma Jahangir the UN Special Rapporteur and the US Commission on International Religious Freedom.<br />
Furthermore the Asian Human Rights Commission earlier today issued an Urgent Appeal regarding the matter. Commenting upon the situation faced by the accused it states:</p>
<p><em><strong>“They are in dangerous health conditions in the jail and their parents are not allowed to visit them according to jail policy. One, Mohammad Irfan son of Mukhtar Ahmed, 15 years of age came down with typhoid fever due to the jail’s inhuman, unsanitary conditions. His health is in a precarious state with the jail authorities not allowing him to see a doctor. The detention of the four children has been proved illegal. The senior police officer has submitted a report to the government of Punjab province that the children are innocent and charges of blasphemy as arrested, accused persons are baseless. It is reported that the government of Punjab did not want to annoy Muslim fundamentalists, who are allies of the provincial government, as they will create problems for the government.”</strong></em></p>
<p>(Full report available at: <a href="http://www.ahrchk.net/ua/mainfile.php/2009/3150/">http://www.ahrchk.net/ua/mainfile.php/2009/3150/</a>)</p>
<p>The International Community is urged to take urgent action in an effort to secure the release of the five accused Ahmadi Muslims. The International Media is also urged to highlight the abuse of due legal process and of basic human rights that this case highlights.</p>
<p>End of Release</p>
<p>Further Info: Abid Khan (press @ ahmadiyya.org.uk / 07795490682)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Daily Knowledge: Wednesday May 6, 2009]]></title>
<link>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/06/daily-knowledge-wednesday-may-6-2009/</link>
<pubDate>Wed, 06 May 2009 13:53:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>messageofpeace</dc:creator>
<guid>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/06/daily-knowledge-wednesday-may-6-2009/</guid>
<description><![CDATA[Wednesday May 6, 2009 Ayat of the Day Who has created death and life that HE might try you -which of]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Wednesday May 6, 2009</strong></p>
<p><font color="#0066CC"><strong>Ayat of the Day</strong></font><br />
Who has created death and life that HE might try you -which of you is best in deeds; and HE is the Mighty, the Most Forgiving ; (67:3)</p>
<p><font color="#006600"><strong>Hadith of the Day</strong></font><br />
Abu Hurairah relates that the Holy Prophet (sa) said: Hasten to do good for soon there will be a succession of disorders like the chasing darknesses of night; a person will start the day believing and will end it disbelieving, or go to bed believing and get up in the morning disbelieving. He will be ready to sell his faith for a worldly advantage (Muslim).</p>
<p><font color="#993300"><strong>Quote of the Day</strong></font><br />
&#8220;God addressed me and said that I was to inform my community that those who have believed a belief that has no worldly adulteration, a belief that is not polluted with hypocrisy or cowardice and is a belief that is not deprived of any aspect of obedience, such people are God&#8217;s chosen and God declares that indeed their step is the step of Truth.&#8221; Revelation of the Promised Messiah (a.s.) </p>
<p><em>&#8220;Daily Knowledge&#8221; is a subscription email service provided by <a href="http://www.ahmadiyya.ca/daily.php">www.ahmadiyya.ca</a> (the official website for Ahmadiyya Movement in Islam, Canada). Each day, an email is sent to all the subscribers explaining different aspects of Islam and Ahmadiyyat.</em></p>
<p>An <font color="#0066CC"><strong>Ayat</strong></font> is a verse from the Holy Qur&#8217;an.</p>
<p>A <font color="#006600"><strong>Hadith</strong></font> is a saying of the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him) that was initially passed down by Muslim families, and later compiled. That&#8217;s why most of them start out as &#8221; relates that&#8230;&#8221;.</p>
<p>A <font color="#993300"><strong>Quote</strong></font> is a quote from different sources, e.g., The Promised Messiah (May Allah be pleased with him).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Re: Dajjal]]></title>
<link>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/06/re-dajjal/</link>
<pubDate>Wed, 06 May 2009 13:04:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>messageofpeace</dc:creator>
<guid>http://messageofpeace.wordpress.com/2009/05/06/re-dajjal/</guid>
<description><![CDATA[Did the Promised Messiah / Imam Mahdi Kill Dajjal? http://video.google.com/videoplay?docid=-83389771]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Did the Promised Messiah / Imam Mahdi Kill Dajjal?</strong><br />
<a href="http://video.google.com/videoplay?docid=-8338977148395413143">http://video.google.com/videoplay?docid=-8338977148395413143</a></p>
<p><strong>Concept of Dajjal:</strong><br />
Part 1: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=5tOLp2DoUv4">http://www.youtube.com/watch?v=5tOLp2DoUv4</a><br />
Part 2:<a href="http://www.youtube.com/watch?v=0AY9lgE21JY"> http://www.youtube.com/watch?v=0AY9lgE21JY</a></p>
<p><strong>Ahmadi Beliefs Regarding Hadhrat Isa (as)</strong><br />
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=y_WFbrjYBng">http://www.youtube.com/watch?v=y_WFbrjYBng</a></p>
<p><strong>A Discourse on Signs (Ayahs) of Allah Delivered on 01/11/2008 by: Delivered by Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (at)</strong> (discusses Dajjal&#8217;s plot against the Holy Quran)<br />
Transcript: <a href="http://www.alislam.org/archives/2008/summary/FSS20080111-EN.html">http://www.alislam.org/archives/2008/summary/FSS20080111-EN.html</a><br />
Englisht MP3: <a href="http://www.alislam.org/archives/2008/mp3/FS011108EN.mp3">http://www.alislam.org/archives/2008/mp3/FS011108EN.mp3</a></p>
<p><strong>Revival of Religion:</strong> (Dajjal discussed)<br />
<a href="http://www.alislam.org/books/revival/index.html">http://www.alislam.org/books/revival/index.html</a></p>
<p><strong>E-Book: With Love to the Muslims of the World</strong> (Discusses advent of the Promised Messiah, Imam Mahdi and the topic of Dajjal)<br />
<a href="http://www.alislam.org/library/books/muslims/with-love-to-Muslims.pdf">http://www.alislam.org/library/books/muslims/with-love-to-Muslims.pdf</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Khabar dari Amerika: Satu Mesjid  Telah Dibuka Kembali]]></title>
<link>http://denagis.wordpress.com/2009/10/20/khabar-dari-amerika-satu-mesjid-dibuka-kembali/</link>
<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 07:18:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Deden</dc:creator>
<guid>http://denagis.wordpress.com/2009/10/20/khabar-dari-amerika-satu-mesjid-dibuka-kembali/</guid>
<description><![CDATA[&#8212;&#8212;Salah satu keunggulan dari mesjid ini adalah bahwa mesjid ini telah menjalin hubungan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-medium wp-image-1199" title="mosque11adwb_2rl0zb7nw_400" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/10/mosque11adwb_2rl0zb7nw_4001.jpg?w=300" alt="mosque11adwb_2rl0zb7nw_400" width="124" height="84" />&#8212;&#8212;Salah satu keunggulan dari mesjid  ini adalah bahwa mesjid ini telah menjalin hubungan yang dekat dengan rumah ibadah lainnya. Rohaniwan dari agama-agama lain diharapkan hadir pada 24 Oktober  2009 dalam acara pembukaan kembali mesjid ini, demikian diungkapkan Anwer Khan yang adalah sekretaris umum dari  mesjid. Mesjidnya sendiri telah digunakan untuk kegiatan peribadatan  sejak bulan Agustus.&#8212;<!--more--></p>
<p><strong>tulisan selengkapnya:</strong></p>
<p>Salah satu dari hanya empat mesjid Muslim Ahmadi di California akan secara resmi dibuka kembali bulan ini di Chino, setelah enam tahun lalu kebakaran yang disebabkan oleh konsleting listrik telah merusak bangunan  tersebut.</p>
<p>Mesjid Baitul Hameed telah menjadi mercusuar untuk kaum Ahmadi sejak diresmikan pada tahun 1989 sebagai tempat ibadah kaum Ahmadi yang  pertama di California Selatan. Beberapa Ahmadi Muslim  pindah ke kawasan pedalaman ini agar dekat dengan mesjid.</p>
<p>Salah satunya adalah Wahid Hashmi dari Riverside. Dia dan anggota lain membantu dalam pembangunan mesjid. “Melihat mesjid ini terbakar kala itu sungguh sangat memilukan”, katanya.</p>
<p>&#8220;Itu sangat sulit,&#8221; kata Hashmi. &#8220;Rasanya seperti membangun rumah sendiri.&#8221;</p>
<p>Salah satu keunggulan dari mesjid  ini adalah bahwa mesjid ini telah menjalin hubungan yang dekat dengan rumah ibadah lainnya. Rohaniwan dari agama-agama lain diharapkan hadir pada 24 Oktober  2009 dalam acara pembukaan kembali mesjid ini, demikian diungkapkan Anwer Khan yang adalah sekretaris umum dari  mesjid. Mesjidnya sendiri telah digunakan untuk kegiatan peribadatan  sejak bulan Agustus.</p>
<p>Ahmadiyah didirikan pada tahun 1889 oleh Mirza Ghulam Ahmad, yang menyatakan dirinya sebagai &#8220;orang yang dijanjikan,&#8221; atau mesias, dari agama-agama monoteis. Kaum Ahmadi percaya bahwa ajaran-ajaran Ibrahim, Isa, Krishna, Musa, Buddha, Kong Hu Chu dan lain-lain berkumpul menjadi satu dalam &#8220;Islam yang benar.&#8221;<br />
<img class="aligncenter size-medium wp-image-1161" title="MOSQUE11Bdwb (10/9/2009, Chino)  METRO Imam Shamshad Nasir stands in front of Baitul Hameed Mosque in Chino.  The mosque is holding an open house on October 24 to celebrate its multi-million-dollar rebuilding and remodeling following a 2003 fire that severely damaged the building.  (David Bauman/The Press-Enterprise)" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/10/mosque11bdwb_2rl0zfaif_400.jpg?w=300" alt="MOSQUE11Bdwb (10/9/2009, Chino)  METRO Imam Shamshad Nasir stands in front of Baitul Hameed Mosque in Chino.  The mosque is holding an open house on October 24 to celebrate its multi-million-dollar rebuilding and remodeling following a 2003 fire that severely damaged the building.  (David Bauman/The Press-Enterprise)" width="450" height="306" /></p>
<p>Menurut markas pusatnya di London ada tercatat  puluhan juta warga Ahmadi di seluruh dunia.</p>
<p>Ahmadiyah dianggap sesat oleh beberapa kalangan Muslim. Pakistan pada tahun 1974 menyatakan golongan Ahmadi sebagai non-Muslim dan kemudian melarang mereka dari menyatakan secara terbuka  keimanan mereka itu, dilarang mengucapkan assalamu’alaikum dan dari membagikan literature.  Banyak kaum Ahmadi telah dibunuh dan diserang oleh pengikut muslim  dari kelompok lain dan mesjid-mesjid mereka telah dihancurkan. Polisi sering kali gagal untuk melindungi mereka. Serangan terhadap Ahmadiyah juga terjadi dengan kekebalan hukum di Negara-negara lain, termasuk Bangladesh dan Indonesia, demikian menurut laporan dua organisasi, Human Rights Watch dan Amnesti Internasional.</p>
<p>Beberapa orang dari anggota mesjid Chino adalah pelarian dari Pakistan. Mereka melarikan diri dari kampung halamannya untuk menghindari penganiayaan dari kaum  anti Ahmadi.  Misalnya seorang pria berusia 64 tahun yang bernama Dr Gulzar Ahmad, kini tinggal bersama keluarganya di Riverside, setelah rumahnya di Bahawalpur, Pakistan, diserang massa pada tahun 1973.</p>
<p>Kebencian terhadap warga Ahmadi tidaklah menyeluruh, demikian kata Ahmad. Ada juga pengikut Muslim Sunni dan Muslim Syi&#8217;ah yang baik kepadanya dan melindungi keluarganya. Namun dia takut dia dan keluarganya akhirnya akan disiksa atau dibunuh.</p>
<p>Imam mesjid, Shamshad Nasir, 67 tahun, mengatakan bahwa penindasan terhadap Ahmadiyah di Pakistan memburuk pada tahun 1970-an.  Saat muda dulu ia memililki teman-teman baik dari kalangan  Sunni dan Syiah.<br />
<img class="aligncenter size-medium wp-image-1162" title="MOSQUE11Adwb (10/9/2009, Chino)  METRO Muslim worshippers prayer at Baitul Hameed Mosque in Chino on Friday.  The mosque is holding an open house on October 24 to celebrate its multi-million-dollar rebuilding and remodeling following a 2003 fire that severely damaged the building.  (David Bauman/The Press-Enterprise)" src="http://denagis.wordpress.com/files/2009/10/mosque11adwb_2rl0zb7nw_400.jpg?w=300" alt="MOSQUE11Adwb (10/9/2009, Chino)  METRO Muslim worshippers prayer at Baitul Hameed Mosque in Chino on Friday.  The mosque is holding an open house on October 24 to celebrate its multi-million-dollar rebuilding and remodeling following a 2003 fire that severely damaged the building.  (David Bauman/The Press-Enterprise)" width="450" height="306" /></p>
<p>&#8220;Salah satu berkah dari negara ini adalah bahwa setiap orang bisa beribadah di sini,&#8221; katanya.</p>
<p>Penganiayaan telah membuat hubungan dalam  komunitas Ahmadi menjadi lebih erat.  Mesjid Ahmadi kedua di California  dibuka sekitar 10 tahun yang lalu di Hawthorne, Los Angeles selatan, namun beberapa anggotanya masih melakukan perjalanan jauh untuk beribadah di Chino. Sekitar setengah dari anggota mesjid tinggal di Riverside dan San Bernardino county, kata Khan.</p>
<p>Majid Khan, yang tidak ada hubungannya dengan Anwer Khan, tinggal di Newport Beach sejak tahun 1980 ketika ia dan Ahmadi lainnya mulai membicarakan untuk  membangun sebuah mesjid. Saat itu, mereka beribadah di rumah-rumah pribadi, dan menyewa aula untuk keperluan acara khusus. Demikian Khan, pria berusia 49 tahun.</p>
<p>Ia pindah ke Chino, dan kemudian ke Riverside, sehingga dia bisa beribadah lebih sering di mesjid ini.  Dalam sehari, setidaknya ia menjalankan dua kali  shalat berjamaah dan seringkali lebih.  Dia mengatakan itu membuat dirinya merasa damai.</p>
<p>&#8220;Sekitarnya sangat diberkati,&#8221; demikian kata Majid Khan. &#8220;Anda dapat beribadah di mana saja, karena Allah adalah di mana-mana, tetapi suasana membuat perbedaan besar.&#8221;</p>
<p>Mesjid baru seluas 27.000 kaki persegi, dengan dua lantai ini dua kali lebih besar dari ukuran mesjid yang lama. Sekitar 300-400 orang beribadah di sana untuk menjalankan shalat Jumat, demikian menurut Anwer Khan. Mesjid ini masih menggalang dana sebesar $ 1 juta yang diperlukan untuk membangun  lapangan basket, dapur umum ukuran industri dan rumah bagi Imam Nasir.</p>
<p>Meskipun sebagian besar  dari mesjid ini hancur pada kebakaran tahun 2003, namun ruang untuk sholat masih tetap utuh, sehingga para jamaah masih dapat menjalankan sholat diruangan itu untuk selama beberapa minggu. Untuk 3 ½ tahun pertama, terkumpul $ 3 juta untuk tahap pertama pembangunan kembali dan perluasan.</p>
<p>Pada bulan Oktober 2007, pekerjaan konstruksi memaksa mereka untuk pindah ke tempat lain, ke sebuah bangsal milik <strong>Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Akhir Zaman</strong>.  Di bangsal ini mereka menjalankan salat Jumat  selama 1 ½ tahun.</p>
<p>Undangan kepada kaum Ahmadi untuk menggunakan bangsal kaum Mormon ini datang  setelah selama bertahun-tahun diantara mereka telah terjalin persahabatan dan anggota kedua jemaat saling mengunjungi satu sama lain, demikian diungkapkan oleh Ken Rasmussen, direktur hubungan masyarakat Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Akhir Zaman, wilayah yang mencakup Chino.</p>
<p>Rasmussen mengatakan sebelumnya dia tidak mengetahui tentang adanya kesamaan sejarah antara kedua keyakinan yang mendapat penganiayaan dan disalahpahami, sampai beberapa bulan setelah anggota ke dua jemaat mulai menyelenggarakan acara makan malam bersama.</p>
<p>Sama seperti halnya sebagian ummat Muslim menganggap Ahmadi sebagai sesat, sebagian ummat Kristen  juga mengganggap Mormon sebagai sesat. Kaum Ahmadi percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Mesias; Mormon percaya bahwa Joseph Smith adalah seorang nabi. Smith dibunuh pada tahun 1844 pada era serangan dan penganiayaan kaum anti-Mormon sedang hebat-hebatnya di Amerika Serikat.</p>
<p>Rasmussen mengatakan bahwa setelah menghadiri lusinan pelayanan doa kaum Ahmadi, dia menyadari ada kemiripan lain juga: Ajaran untuk mencintai orang lain, menghormati keluarga Anda dan melayani Allah.</p>
<p>&#8220;Suatu berkat yang luar biasa bagi kami dapat berteman baik dengan mereka”  katanya.</p>
<p><strong>OPEN HOUSE </strong><br />
Mesjid  Baitul Hamed di Chino mengadakan open house pada tanggl 24 Oktober 2009. Open house akan termasuk sebuah tur dan makan malam.<br />
When: 4 to 6 p.m. Oct. 24.</p>
<p>Where: 11941 Ramona Ave.</p>
<p>RSVP: To RSVP, write to chinomosque@gmail.com with the number of people expected.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.pe.com/localnews/inland/stories/PE_News_Local_S_mosque11.44c8117.html">The Press-Enterprise</a></p>
<p>Ditulis oleh: DAVID OLSON, dolson@PE.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
