<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>akhlak-mulia &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/akhlak-mulia/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "akhlak-mulia"</description>
	<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 07:01:37 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[[art] Wallpaper Muslimah "Warnai dunia dengan akhlak mulia"]]></title>
<link>http://fsthevanie.wordpress.com/2009/11/18/art-wallpaper-muslimah-warnai-dunia-dengan-akhlak-mulia/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 00:32:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>sthevanie</dc:creator>
<guid>http://fsthevanie.wordpress.com/2009/11/18/art-wallpaper-muslimah-warnai-dunia-dengan-akhlak-mulia/</guid>
<description><![CDATA[Tanggal Pembuatan : 18 November 2009 &#8220;Warnai Dunia dengan Akhlak Mulia&#8221; Tools : Foto asl]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tanggal Pembuatan : 18 November 2009 &#8220;Warnai Dunia dengan Akhlak Mulia&#8221; Tools : Foto asl]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[JADILAH KUNCI KEBAIKAN]]></title>
<link>http://rincikembang.wordpress.com/2009/11/14/jadilah-kunci-kebaikan/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 03:27:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>rincikembang</dc:creator>
<guid>http://rincikembang.wordpress.com/2009/11/14/jadilah-kunci-kebaikan/</guid>
<description><![CDATA[Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersab]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://rincikembang.wordpress.com/files/2009/11/kebaikan2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-143" title="kebaikan" src="http://rincikembang.wordpress.com/files/2009/11/kebaikan2.jpg" alt="Hadits kebaikan" /></a></p>
<p style="text-align:center;">Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda : “Sesungguhnya diantara manusai ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Dan diantara manusia ada pula yang menjadi kunci-kunci pembuka keburukan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci-kunci kebaikan di tangannya dan celakalah bagi orang &#8211; orang yang Allah jadikan kunci-kunci keburukan di tangannya”. { Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (237) dan dihasankan oleh Al-Albany di Shohih Sunan Ibnu Majah (194)}</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:justify;">Barangsiapa yang ingin menjadi kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan , hendaklah ia memenuhi hal berikut ini :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Ikhlas      untuk Allah dalam perkataan dan perbuatan. </span></strong>Karena ikhlas adalah asas segala kebaikan dan      mata air segala keutamaan.</li>
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>Senantiasa      berdo’a kepada Allah memohon bimbingan untuk menjadi kunci kebaikan. </strong></span>Karena      do’a adalah kunci segala kebaikan. Allah tidak akan menolak hamba-Nya yang      berdo’a kepada-Nya serta tidak akan menyia-nyiakan seorang mukmin yang      menyeru-Nya.</li>
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>Bersemangat menuntut dan mendapatkan ilmu.</strong></span> Karena      ilmu mengajak kepada keutamaan dan akhlak yang mulia, serta penghalang      dari akhlak tercela dan perbuatan keji.</li>
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Menjalakan ‘ibadatullah terutama yang fardhu, dan      khususnya lagi sholat.</span></strong> Karena ia mencegah dari perbuatan keji dan munkar.</li>
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, serta      menjauh dari akhlak tercela.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Berteman      dengan orang-orang baik dan sholeh. </span></strong>Karena duduk bersama      orang-orang yang sholeh dinaungi malaikat dan diliputi rahmat. Serta      menjauhkan diri dari duduk di majelis orang-orang yang jahat dan tidak      baik, sesungguhnya itu adalah tempat singgah setan.</li>
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Menasehati manusia ketika bergaul dan berbaur      dengan mereka, dengan cara menyibukkan mereka dengan kebaikan dan      memalingkan mereka dari keburukan.</span></strong></li>
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Mengingat hari berbangkit dan sa’at berdiri di      hadapan Robbul ‘Alamiin. </span></strong>Ketika      Ia membalas orang yang baik dengan kebaikan dan orang yang jahat dengan      hukuman. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun,      niscaya dia akan melihat (balasan)nya Dan barangsiapa yang mengerjakan      kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”      ( Al-Zalzalah : 7-8 )</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dan pilar penyanggah semua itu adalah keinginan seorang hamba kepada kebaikan serta memberi manfaat kepada orang lain. Apabila keinginan seseorang kuat, niat dan tekad sudah bulat serta memohon pertolongan kepada Allah dalam melakukan itu, lalu melakukannya sesuai jalurnya. Maka dengan izin Allah akan menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. (Al-Fawaid Al-Mantsuroh (161-162) oleh Syaikh Dr. Abdurrozaq bin Abdu Muhsin Al-Badr) Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup keburukan. Amiin</p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Anda Tuhan? ]]></title>
<link>http://chillinaris.wordpress.com/2009/10/05/apakah-anda-tuhan/</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 17:02:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>chillinaris</dc:creator>
<guid>http://chillinaris.wordpress.com/2009/10/05/apakah-anda-tuhan/</guid>
<description><![CDATA[Epoch Times - Di suatu desa yang sepi di Brasil, pada suatu malam yang sedang dilanda hujan lebat, a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Epoch Times - Di suatu desa yang sepi di Brasil, pada suatu malam yang sedang dilanda hujan lebat, a]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum memanggil 'Wahai Anakku' padahal bukan anaknya]]></title>
<link>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/10/04/hukum-memanggil-wahai-anakku-padahal-bukan-anaknya/</link>
<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 17:23:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ari Wahyudi</dc:creator>
<guid>http://abu0mushlih.wordpress.com/2009/10/04/hukum-memanggil-wahai-anakku-padahal-bukan-anaknya/</guid>
<description><![CDATA[Teks riwayat hadits Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab al-Adab dalam Shahihnya, حَ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Teks riwayat hadits</strong><br />
Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab al-Adab dalam Shahihnya,</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْغُبَرِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِى عُثْمَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا بُنَىَّ ».</p>
<p>Muhammad bin Ubaid al-Ghubari menuturkan kepada kami. Dia berkata: Abu &#8216;Awanah menuturkan kepada kami dari Abu Utsman dari Anas bin Malik -radhiyallahu&#8217;anhu-, dia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah berkata kepadaku, “Wahai anakku.”</p>
<p><!--more--></p>
<p>Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab al-Adab dalam Shahihnya,</p>
<p style="text-align:right;">حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَابْنُ أَبِى عُمَرَ &#8211; وَاللَّفْظُ لاِبْنِ أَبِى عُمَرَ &#8211; قَالاَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِى خَالِدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِى حَازِمٍ عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ مَا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَحَدٌ عَنِ الدَّجَّالِ أَكْثَرَ مِمَّا سَأَلْتُهُ عَنْهُ فَقَالَ لِى « أَىْ بُنَىَّ وَمَا يُنْصِبُكَ مِنْهُ إِنَّهُ لَنْ يَضُرَّكَ ». قَالَ قُلْتُ إِنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنَّ مَعَهُ أَنْهَارَ الْمَاءِ وَجِبَالَ الْخُبْزِ. قَالَ « هُوَ أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ ذَلِكَ ».</p>
<p>Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Umar menuturkan kepada kami -sedangkan lafazhnya milik Ibnu Abi Umar-, mereka berdua berkata: Yazid bin Harun menuturkan kepada kami dari Isma&#8217;il bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari al-Mughirah bin Syu&#8217;bah -radhiyallahu&#8217;anhu- dia berkata: Tidak pernah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ditanya oleh seorang pun yang lebih banyak daripada apa yang pernah kutanyakan kepada beliau tentangnya (Dajjal). Maka beliau pun berkata kepadaku, “Wahai anakku, apa yang membuatmu capek-capek memikirkan dia (Dajjal). Sesungguhnya dia tidak akan bisa membahayakanmu.” Dia (al-Mughirah bin Syu&#8217;bah) berkata: Aku berkata: “Sesungguhnya mereka menganggap bahwa dia memiliki sungai-sungai yang penuh dengan air dan bukit-bukti dari roti.” Beliau menjawab, “Dia itu lebih ringan dalam pandangan Allah daripada apa yang mereka kira (tidak perlu dibesar-besarkan, pent).”</p>
<p><strong>Kandungan hukum</strong><br />
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan,</p>
<p style="text-align:right;">&#8230;وفى هذين الحديثين جواز قول الانسان لغير ابنه ممن هو أصغر سنا منه يا ابنى ويا بني مصغرا وياولدى ومعناه تلطف وانك عندى بمنزلة ولدى فى الشفقة&#8230;</p>
<p>“&#8230; Di dalam kedua hadits ini terkandung -hukum- diperbolehkannya ucapan seseorang kepada orang yang bukan anaknya sendiri yaitu kepada orang yang lebih kecil usianya daripada dirinya dengan panggilan &#8216;Wahai anakku&#8217;, &#8216;Wahai anak kecilku&#8217; dengan ungkapan pengecilan (isim tashghir, pent), atau &#8216;Wahai putraku&#8217; hal itu dalam rangka berlemah lembut dan menunjukkan bahwa kedudukanmu bagiku bagaikan kedudukan anakku sendiri yang sangat kusayangi&#8230;” (Syarh an-Nawawi &#8216;ala Muslim [14/129] software Maktabah asy-Syamilah)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menelisik Amalan Ramadhan, untuk bekal dalam perjalanan se tahun mendatang]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/09/22/menelisik-amalan-ramadhan-untuk-bekal-dalam-perjalanan-se-tahun-mendatang/</link>
<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 22:54:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/09/22/menelisik-amalan-ramadhan-untuk-bekal-dalam-perjalanan-se-tahun-mendatang/</guid>
<description><![CDATA[Mari kita telisi amalan Ramadhan kita, yang baru kita lepas beberapa hari yang lalu, dan menanyakan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em><strong>Mari kita telisi amalan Ramadhan kita, yang baru kita lepas beberapa hari yang lalu, dan menanyakan ke diri kita, mampukah kita menjaganya di dalam setahun mendatang ??? Semoga kita dapat melaksanakannya.</strong></em></p>
<p>Wassalam,</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-277" title="(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haram" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2009/09/jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram.jpeg" alt="(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haram" width="236" height="290" />Buya H. Masoed Abidin</p>
<p>وَ إِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيْبٌ<br />
أُجِيْبُ دَعْوََََة الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ<br />
فَلْيَسْتَجِيْبُوْالِى وَ لْيُؤْمِنُوْابِي<br />
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ.</p>
<p>Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat.<br />
Aku perkenankan setiap do’a dari orang yang berdo’a,<br />
apabila ia berdoa  (bermohon) kepada-Ku.<br />
Karena itu hendaklah mereka itu memenuhi segala permintaanku<br />
(hendaklah melaksanakan perintah-Ku dalam bermohon kepada-Ku),<br />
dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku,<br />
agar mereka selalu berada pada kebenaran.<br />
(QS,2 – al Baqarah : 186)</p>
<p>Peluang sangat besar disediakan oleh Allah SWT untuk umat manusia di bulan Ramadhan ini.<br />
Allah SWT telah membelenggu setan di bulan ini, sehingga memudahkan manusia meningkatkan amaliahnya.</p>
<p>Dengan berkah Allah pula, di bulan ini pintu neraka di tutup dan pintu kebaikan di buka.<br />
Di bulan Ramadhan tersedia rahmat, ampunan dan bebas dari azab Neraka.</p>
<p>وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَ أَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَ آخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ فِيْهِ غَفَرَ اللهُ وَ أَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ.   (رواه ابن حزيمة)</p>
<p>“ Bulan Ramadhan adalah bulan yang  permulaannya adalah rahmat, pertengahannya keampunan (maghfirah) dan akhirnya adalah pemerdekaan (pembebasan) dari azab neraka. (HR. Ibn Khuzaimah).</p>
<p>Ramadhan bulan penuh berkah.<br />
Apabila  manusia tahu besarnya rahmat tersimpan di bulan ini, niscaya manusia berharap kiranya Allah SWT menjadikan semua bulan sepanjang tahun bernilai sama dengan Ramadhan.</p>
<p>Manusia dicipta dengan lengkap.<br />
Diberi bekal keinginan dan dorongan hawa nafsu.<br />
Manusia di bimbing oleh akal (ratio) untuk beramal baik.<br />
Dalam mengharungi lautan kehidupan, manusia diberi pedoman yang lurus, Kitabullah yang lengkap.</p>
<p>Dengan semua nikmat Allah itu, manusia diuji  bermacam godaan, di antaranya dorongan beramal baik (shaleh) atau pancingan nafsu sendiri untuk berbuat salah.</p>
<p>Manusia dibekali petunjuk dan hidayah Allah.</p>
<p>وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْا</p>
<p>Maka apa yang diberikan oleh Rasul kepadamu terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, tinggalkanlah…,” (QS.59, al-Hasyr : 8).</p>
<p>Manusia wajib setia mengikutinya  agar kedamaian dan ketenteraman hidup dapat diujudkan.</p>
<p>Memanfaatkan fasilitas Allah ini, manusia di dorong untuk memenangkan pertempuran melawan godaan syaithaniyah.</p>
<p>Jalan menyucikan jiwa pada dasarnya adalah menundukkan ghaflah dengan memperbanyak  zikrullah, dan melawan  maksiat dengan bertaubat.<br />
Di antaranya niat yang ikhlas karena Allah, dan upaya konsisten (istiqamah) mencari redha Allah.<br />
Semua itu dapat diraih dengan berbagai latihan.<br />
Termasuk latihan Ramadhan.</p>
<p>Kemenangan akan diraih dengan kesungguhan diri (jihadun nafs) dan keteguhan (istiqamah)  iman yang mampu membedakan antara baik dan buruk.</p>
<p>Allah Maha Tahu dengan kelemahan manusia.<br />
Rahmat Allah menghadirkan bulan mulia untuk manusia.<br />
Agar manusia dapat kembali menyusun kekuatan dirinya.<br />
Semestinya bulan Ramadhan di jalani sepenuh hati.<br />
Melaksanakan ibadah dan taqarrub dengan teratur.</p>
<p>وَ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتْ الشَّيْاطِيْنُ.   (أخرجه مسلم)</p>
<p>“ Jika datang Ramadhan maka dibukakan pintu sorga dan di gembok pintu-pintu neraka serta dirantai syaithan-syaithan”<br />
(HR. Muslim dari Abi Hurairah RA).</p>
<p>MENJAGA  PERUT</p>
<p>Menjadikan perut sebagai tuan, bekerja keras pagi dan petang lantaran takut perut tak berisi, atau hidup di dunia ditakar dengan perut kenyang saja, rasanya  kurang  tepat dijadikan tujuan utama hidup ini.</p>
<p>مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِ عَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أَكَلاَتٌ  يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإ ِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَ ثُلُثٌ لِشِرَابِهِ، وَ ثُلُثٌ لِنَفْسِهِ.   (رواه أحمد و الترمذي و ابن ماجة و النسائي و ابن حبان)</p>
<p>“Tidak ada tempat yang paling buruk dari perut seorang yang dipenuhi oleh makanan. Cukuplah bagi anak Adam (manusia) beberapa makanan &#8211;(dan dalam satu riwayat beberapa suap)—untuk menegakkan tulang punggungnya. Dan sekiranya harus demikian, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk menumannya, dan sepertiga lagi untuk bernafas.” (HR.Ahmad, Tirmidzi).</p>
<p>Dalam kekenyangan sangat mudah digoda  malas.<br />
Susah mengendali syahwat.<br />
Sulit  merasakan nikmatnya ibadah.<br />
Di akhirat nanti, pasti akan sangat banyak pertanggungan jawab di hadapan Rabbun Jalil.</p>
<p>لَنْ تَزُوْلَ قَدَمًا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَسْأ َلَ عَنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، و عَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أِبْلاَهُ، و عَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، و فِيْمَا أَنْفَقَهُ، و عَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ (رواه الطبراني)</p>
<p>Pada hari kiamat seorang hamba (manusia) akan ditanya tentang empat perkara; tentang usianya, di pergunakan untuk apa; tentang masa mudanya, dengan apa di isi; tentang hartanya, dari mana di dapatkan dan kemana di belanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya. (HR.Thabrani)</p>
<p>JIHAD AKBAR</p>
<p>Baginda Rasulullah SAW berkata,<br />
&#8220;Seseorang tidak dikata mujahid karena melompati musuh di medan laga. Tetapi yang mujahid itu, adalah menahan diri (memiliki ke sabaran)&#8221;.<br />
Berani tanpa perhitungan, bukanlah kesabaran. Kesabaran  mendorong seseorang bertindak benar dan   menjadikan seseorang berani berjuang mempertahankan keyakinannya.. Kesabaran adalah mampu mengendalikan diri.</p>
<p>SABAR adalah khazanah kekayaan jiwa yang tidak dapat di ukur dengan harta benda belaka.<br />
Pengendalian diri, memiliki kesabaran sebelum bertindak adalah satu urusan besar dan berat.<br />
Baginda Rasulullah SAW menyebutnya &#8220;jihad akbar&#8221;,<br />
atau &#8220;perjuangan yang berat&#8221;.</p>
<p>Dengan modal jihad itu, Islam menembus seluruh permukaan bumi dengan kekuatan kesabaran dan jiwa yang terkendali.</p>
<p>لاَ يَبْقَى على ظَهْرِ الأرضِ بَيْتَ مَدَرٍ ولا وَبَرٍ، إلاَّ أَدْخَلَهُ الله الإسلام، بِعِزِّ عَزِيْزٍ، أو بِذُلِّ ذَلِيْلٍ &#8230; (رواه أحمد و الطبراني و ابن حبان و الحاكم)</p>
<p>Tidak ada rumah yang mewah maupun yang sederhana di muka bumi ini yang tidak akan dimasuki Islam. Dengan memuliakan orang yang mulia, atau dengan nebnghinakan orang yang hina. (HR.Ahmad dll).</p>
<p>Sepulang dari Perang Uhud yang terkenal dengan banyaknya syuhada berguguran, Baginda Rasulullah bekata, &#8220;Kita baru saja keluar dari jihad (perang) yang kecil saja. Kita akan memasuki jihad (perang) yang lebih besar lagi&#8221;. Pernyataan ini mengundang tanya sahabat setia &#8220;mana lagi perang (jihad) yang besar itu, wahai baginda Rasul?&#8221;. Sahabat merasa perang yang  baru lalu adalah paling besar yang mereka pernah alami. Rasulullah SAW menjawab, “jihadul akbar, jihadun nafsi&#8221;. (Al Hadist).</p>
<p>Memang mengalahkan nafsu adalah perang berat.<br />
Perang besar yang hanya dapat dimenangkan dengan perjalanan menuju Allah.<br />
Dan mempertahankan kebaikan tersebut terus menerus atau istiqamah di dalam melaksanakan  kewajiban ibadat yang ikhlas kepada Allah.</p>
<p>Hati yang bersih mampu menanggung beratnya jihad sepanjang masa.<br />
Jihadun nafs, latihannya adalah shaum atau ibadah puasa yang di awali dan di akhiri pengendalian diri sejak mulai menahan, sesudah sahur tatkala fajar datang menjelang.</p>
<p>وَ كُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطَ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ اَتِمُّوْا الصِّيَامَ إِلَى الَّليْلِ.</p>
<p>“…dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar…kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam (maghrib datang)…” (QS.2, al-Baqarah  ayat 187).</p>
<p>Tidak ada toleransi dalam ta’abudi kepada Allah SWT.<br />
Ibadah adalah disiplin tinggi.<br />
Makin tinggi nilai latihan, makin lama berbekas dalam diri.<br />
Manusia berkualitas memiliki disiplin tinggi dalam setiap kondisi.</p>
<p>Bangsa yang tangguh menghajatkan manusia yang rela menahan diri, berhemat.<br />
Memiliki rasa solidaritas (ukhuwah) yang mendalam.<br />
Semua tercipta dengan latihan terus menerus.</p>
<p>Ibadah Ramadhan tujuan utamanya  La&#8217;allakum Tattaquuna menjadi orang terlindungi.</p>
<p>Bangsa bertakwa, adalah bangsa yang mawas diri.</p>
<p>وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَ اتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ و اْلأَرْضِ</p>
<p>Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.</p>
<p>Sejak awal manusia di anugerahi “fithrah” yang bersih.<br />
Martabatnya dibina dengan ibadah jasmaniah  dan rohaniyah.<br />
Martabat pada kemampuan menahan amarah, memupuk kesabaran dan niat yang ikhlas merebut redha Allah.</p>
<p>إنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، و إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ ورَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللهِ ورَسُوْلِهِ، فَمَنْ كانَتْ هِجْرَتَهُ إلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَجَرَ إلَيْهِ.(رواه البخاري و مسلم)</p>
<p>Sesungguhnya setiap amal itu karena niatnya. Dan bagi setiap orang itu apa yang diniatkan. Maka barangsiapa  yang (niat) hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, berarti hijrahnya itu untuk (mendapatkan redha dan karena taat kepada) Allah dan Rasul-Nya. Dam barangsiapa yang hijrahnya karena kepentingan dunia yang dia kejar, atau karena seorang perempuan yang akan dia kawini. Maka jirahnya itu untuk apa yang dia niatkan itu.”<br />
(HR.Imam Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khattab RA)</p>
<p>Setiap insan yang memelihara fithrah kesucian jiwanya adalah pribadi kuat. Dijuluki &#8220;peribadi muttaqien&#8221;, jujur, tabah berdisiplin, mempunyai &#8220;harga diri&#8221;, pandai &#8220;berterima kasih&#8221;.<br />
Itulah &#8220;peribadi berwatak&#8221;.</p>
<p>Manusia yang menjaga fithrah memiliki hati nurani yang hidup,  peduli dengan &#8220;kaum dhu&#8217;afa&#8221; (kaum lemah).</p>
<p>Memiliki fithrah berarti punya rasa bahagia dalam kalbu.<br />
&#8220;Kebahagiaan dalam memberi&#8221;,<br />
menyiratkan rasa bahagia pada pemberi dan penerima.</p>
<p>Memberi dan menerima,<br />
sesuai martabat dihormati keberadaannya di tiap anggota masyarakat.<br />
&#8220;Memberi&#8221; bukan monopoli kalangan kaya saja.<br />
&#8220;Menerima&#8221; tidak pula milik kalangan &#8220;bernasib malang&#8221;.<br />
Si-pemberi  memikul kewajiban karena ditangannya ada yang wajib dia keluarkan.<br />
Si-penerima memiliki pula kewajiban untuk menerima haknya dari sipemberi.</p>
<p>Hakikatnya, si penerima yang dhu’afak telah menyelamatkan si pemberi yang kaya dari hukuman.<br />
Memberi kepada dhu’afak miskin,<br />
berarti menyelamatkan orang kaya dari menahan hak orang lain.</p>
<p>Maka, orang kaya seharusnya berterima kasih kepada masakin di sekitarnya, karena dhuafak miskin itu yang menyelamatkan orang kaya  tersebut.</p>
<p>Satu ketika kelak, akan datang masanya semua orang kaya ingin memberikan hartanya.<br />
Namun, tidak seorangpun yang mau menerima.<br />
Keadaan ini disebutkan Rasulullah SAW sebagai pertanda kiamat.</p>
<p>لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكْثُرُ فِيْكُمْ المَالَ فَيَفِيْضُ، حَتَّى يَهَمُّ رَبُّ المَالَ مَنْ يَقْبَلُ مِنْهُ صَدَقَتَهُ، و حَتَّى يُعْرِضَهُ فَيَقُوْلُ الَّذِي يُعْرِضُهُ عَلَيْهِ لاَ أَرَبَ لِي.     (متفق عليه)</p>
<p>Hari kiamat tidak akan terjadi hingga harta umat Islam demikian melimpah dan berlebihan, hingga orang yang mempunyai harta kesulitan mencari orang yang mau menerima sedekahnya, dan jika ia ingin memberikan hartanya kepada seseorang, orang yang akan di berikan harta tersebut berkata, ‘Aku tidak ingin’.<br />
(HR. Muttafaq ‘Alaih, al Lu’ Lu’ wal Marjan : 594.</p>
<p>Bila disimak hadist ini, pemberi dan penerima, sesungguhnya sama sama memiliki  &#8220;martabat&#8221; di sisi Allah.</p>
<p>Kedua kelompok, atas-bawah dan kaya-miskin,<br />
dapat  berperan mengisi kehidupan duniawi yang indah dan serasi.<br />
Mempertinggi makna kehidupan duniawi dengan harga  menghargai<br />
menurut kemampuan masing-masing pula.</p>
<p>Akan datang masanya,<br />
manusia tidak mau menerima pemberian manusia lain,<br />
karena merasa di balik pemberian tersimpan keinginan<br />
ingin membeli penerima.</p>
<p>Kesadaran memanfaatkan sesuatu<br />
yang berasal dari hasil karya dan keringat sendiri,<br />
self-help dengan mandiri,<br />
lebih utama dari menjadi beban orang lain.</p>
<p>Tatkala manusia sadar asas hidup duniawi,<br />
ketelatenan  menjadi peraih kebahagiaan.<br />
Dan kebahagiaan adalah milik bersama.</p>
<p>Tidak ada kebahagiaan kalau hidup sendiri.<br />
Maka tentulah semua orang ingin membantu.<br />
Tanpa harus lebih dahulu menunggu<br />
tangisan orang miskin minta dibantu.</p>
<p>Renungan hadist Rasulullah SAW menyatakan ;</p>
<p>لَيَأْتِيَنَّ عَلى النَّاسِ زَمَانٌ يَطُوْفُ الرَّجُلُ فِيْهِ بِالصَّدَقَةِ مِنَ الذَّهَبِ ثُمَّ لاَ يَجِدُ أَحَدًا يَأْخُذُهَا مِنْهُ. (متفق عليه)</p>
<p>Akan datang masa dimana seseorang akan berkeliling dengan membawa sedekah dari emas, namun ia tidak menemukan seorangpun yang mau menerimanya. (HR.Muttafaq ‘Alaih, Lu’ Lu’ wal Marjan : 593)</p>
<p>Mengatasi kesenjangan sosial,<br />
seorang Muslim yang berharta wajib &#8220;membayarkan zakat,<br />
mengeluarkan infaq, shadaqah” dalam rangka ibadah.</p>
<p>اُعْبُدُوْا الرَّحْمَنَ، و أطْعِمُوا الطَّعَامَ، و أفْشُوا السَّلاَمَ، تَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ         (رواه الترمذي و أحمد و البخاري)</p>
<p>Sembahlah Yang Maha Pengasih (Allah ‘Azza Wa Jalla), dan berilah makanan (kepada orang yang perlu diberi makan, yakni fuqarak wal masakin atau dhu’afak), dan sebarkanlah salam (kepada semua orang di dalam pergaulan kehidupan), niscaya kamu akan masuk sorga dengan salam (penuh keselamatan). (HR.Tirmidzi)</p>
<p>Jangan hendaknya para dhu’afak yang telah lemah<br />
menjadi lebih tak berdaya.<br />
Hanya menampung belas kasihan semata.<br />
Orang kaya harus tahu beban derita orang melarat di kelilingnya.<br />
Jangan dinanti mereka meminta.<br />
Ulurkan tangan di saat ada kemampuan.<br />
Inilah kepedulian menurut ajaran Agama Islam.</p>
<p>Fungsikan lembaga sosial yang ada.<br />
Giatkan pendistribusian kekayaan dengan teratur.<br />
Utamakan nilai manfaat.<br />
Iringkan dengan pendayagunaan Lembaga-lembaga Baitul Maal,<br />
atau Badan Amil Zakat.<br />
Perankan Masjid Masjid dengan sempurna.<br />
Buatkan segera data lengkap &#8220;kaum dhu&#8217;afa&#8221; (kalangan lemah)<br />
di lingkungan sendiri.<br />
Termasuk juga Anak Yatim.</p>
<p>مَنْ ضَمَّ يَتِيْمًا بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ فِى طَعَامِهِ و شَرَابِهِ، حَتَّى يَسْتَغْنَي عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةُ. (رواه أبو يعلى و أحمد)</p>
<p>“Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga”<br />
(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16).</p>
<p>Bagikan kepada yang &#8220;berhak&#8221;<br />
dengan amanah  jujur dan benar.<br />
Bila perlu, ketok pintu &#8220;kalangan tak berpunya&#8221;<br />
atau dhu’afak itu.<br />
Antarkan langsung ke rumah mereka,<br />
seperti dilakukan Khalifah Umar bin Khattab<br />
dalam upaya menyejahterakan kaum dhu’afak.</p>
<p>تَعْبُدُ الله ولا تُشْرِك بِهِ شَيْئًا، و تُقِيْمُ الصَّلاَةَ، و تُؤْتِي الزَّكَاةَ، و تَصِلُ الرَّحِمَ</p>
<p>Sembahlah Allah SWT dan jangan sekutukan Dia dengan apapun. Dirikanlah Shalat, keluarkan zakat, dan sambunglah tali silaturrahim.</p>
<p>Sediakan diri  &#8220;mengetok hati&#8221; kalangan berpunya.<br />
Ingatkan bahwa di tangan mereka ada hak orang lain,<br />
yang wajib di keluarkan.<br />
Sehingga kesenjangan sosial teratasi.<br />
Wa ila&#8217;ilahi turja&#8217;ul umuur.</p>
<p>TAHAN RASA DAN KATA</p>
<p>Sahabat Umar ibn Khattab berkata,<br />
“Tidaklah seseorang itu banyak berbicara<br />
melainkan banyak salahnya.<br />
Dan tidaklah banyak salahnya<br />
melainkan banyak dosanya.<br />
Dan tidaklah banyak dosanya<br />
melainkan masuk neraka”.</p>
<p>Banyak dosa ditimbulkan oleh lidah.<br />
Memfitnah, menggunjing,<br />
berdusta, memaki dan lain-lain.</p>
<p>مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ، وَ الْعَمَلَ بِهِ: فَلَيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فيِ أَنْ يَدَعْ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ.   (رواه البخاري)</p>
<p>“ Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan (tidak meninggalkan) perbuatan itu, maka sekiranya dia (dengan berpuasa)  meninggalkan makan dan minumnya, Allah tidak memperlukan itu”.<br />
(HR. Bukhari, dalam kitab as-Shaum dari Abu Hirairah).</p>
<p>Perintah Allah kepada umat untuk beribadah<br />
di bulan puasa dimaksudkan mencipta kemuliaan hidup.</p>
<p>Memelihara hubungan vertikal dengan Allah Yang Maha Esa<br />
atau hablum min Allah.</p>
<p>Membina hubungan serasi bermasyarakat<br />
atau hablum min an naasi secara horisontal.</p>
<p>Ibadah Ramadhan mengokohkan kedua hubungan  di maksud.</p>
<p>Shaum tidak  semata menahan rasa haus dan lapar.<br />
Shaum adalah pula menahan diri dari berkata yang tidak senonoh. Menghindar dari berkata cabul.</p>
<p>وَ الصِّيَامُ جَنَّةٌ وَ إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفَثْ، وَلاَ يَسْخَبْ.                    (متفق عليه اللفظ للبخاري)</p>
<p>Shiyam itu adalah junnatun, yakni perisai.<br />
Apabila satu ketika seorang dari kamu sedang berpuasa,<br />
hendaklah dia tidak berbuat cabul<br />
dan tidak pula berbantahan.<br />
(HR. Muttafaq ‘alaihi, menurut lafazd Imam Bukhari)</p>
<p>REBUT  YANG PASTI</p>
<p>Bila di simak hakikat ibadah dalam Islam<br />
tidak mengabaikan kegiatan rutin.<br />
Tidak pula penyendirian dalam ibadah.<br />
Hidup jamaah memiliki nilai lebih dibanding sendiri.<br />
Mengasingkan diri dan memisah dari lingkungan<br />
bukan ajaran Islam.</p>
<p>أنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ و أَخْشَاكُمْ لَهُ، و لَكِنِّي أَقُوْمُ و أَنَامُ، و أَصُوْمُ وأَفْطُرُ، و أَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي (متفق عليه)</p>
<p>Aku ini adalah orang yang paling tahu tentang siapa Allah<br />
dan paling takut kepada Nya,<br />
tapi aku ini bangun malam dan tidur.<br />
Aku juga berpuasa dan berbuka.<br />
Dan aku kawin dengan sejumlah perempuan.<br />
Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku,<br />
berarti dia bukan dari golonganku.<br />
(HR. Muttafaq ‘alaih).</p>
<p>Rasulullah SAW mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan,<br />
seiring taqarrub kepada Allah.<br />
Tujuan akhir adalah bahagia dunia dan di akhirat yang sama.</p>
<p>إنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، و إنَّ اللهَ تَعَالَى مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، و اتَّقُوا النِّسَاءَ!</p>
<p>Sesungguhnya dunia itu lezat dan menggiurkan.<br />
Dan sesungguhnya Allah SWT menjadikan kalian<br />
sebagai khalifah di atas bumi.<br />
Kemudian DIA melihat bagaimana kalian bekerja.<br />
Takutilah  dunia, dan berhati-hatilah<br />
dalam menjaga hak-hak kaum perempuan.</p>
<p>Dalam seruan shalat Jum&#8217;at,<br />
terlihat pula betapa ibadah berjamaah<br />
menjadi kewajiban masyarakat muslim.</p>
<p>يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلَوَات مِنْ يَوْمِ الْجُمْعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَ ذَرُوْا اْلبَيْعَ ذَالِكُمْ خَيْرَ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ</p>
<p>&#8220;Wahai orang yang beriman,<br />
apabila diseru untuk menunaikan shalat<br />
pada hari Jum&#8217;at,<br />
maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah<br />
dan tinggalkan jual beli.<br />
Yang demikian itu lebih baik bagimu<br />
jika kamu mengetahui.&#8221;</p>
<p>Perintah Allah ini mempunyai makna besar.</p>
<p>Pertama,<br />
shalat Jum&#8217;at lebih baik<br />
dari pekerjaan menghasilkan keuntungan (laba) materi.<br />
Melaksanakan shalat Jum&#8217;at<br />
untungnya lebih besar dari perdagangan (jual beli).</p>
<p>Kedua,<br />
kehidupan umat muslimin<br />
bergerak antara masjid (ibadah shalat)<br />
dan pasar (ibadah muamalah di tampat usaha).</p>
<p>Ayat ini menggambarkan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi.</p>
<p>Ketiga,<br />
selesai beribadah laksanakan tugas tugas rutin,<br />
mencari redha Allah.</p>
<p>Keempat,<br />
orang mukmin mesti berhitung  matematis.<br />
Ibadah shalat Jum&#8217;at<br />
waktu pelaksanaannya hanya beberapa puluh menit<br />
memberi  keuntungan ukhrawi berlipat kali.<br />
Perdagangan keuntungannya spekulatif.</p>
<p>Mukmin berilmu memilih hal yang pasti<br />
dan tidak mau spekulasi.</p>
<p>Keyakinan tauhidullah mendorong inovatif<br />
dengan pemahaman positif (positif thinking)<br />
bahwa tidak ada yang terbuang percuma di sisi Allah.</p>
<p>مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، إِلاَّ كاَنَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ، وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. (رواه مسلم)</p>
<p>Seorang Muslim yang menanam suatu tanamaan,<br />
maka jika hasil dari tanamannya itu<br />
dimakan oleh manusia,<br />
maka akan menjadi sedekah baginya;<br />
jika hasilnya dicuri orang,<br />
juga akan menjadi sedekah baginya,<br />
dan jika dicabut oleh orang lain,<br />
maka itu juga akan menjadi sedekah baginya<br />
hingga hari kiamat.<br />
(HR.Muslim).</p>
<p>Beribadah, motivasinya adalah mencari redha Allah.<br />
Redha Allah ini mutlak.<br />
Allah telah menyediakan segalanya untuk hidup<br />
dengan nilai nilai kemanusiaan.</p>
<p>Perlu diikat dengan ibadah kepada Khalik.<br />
Ibadah adalah perjalanan kepada Allah<br />
(rihlah ilaa Allah).</p>
<p>Kita perlu memahami pengertian berjalan menuju Allah,<br />
rukun dan titik tolaknya.<br />
Berjalan menuju Allah artinya<br />
berpindah dari jiwa yang tidak bersih (kotor)<br />
kepada jiwa yang bersih.</p>
<p>Berjalan menuju Allah adalah<br />
berpindah dari akal<br />
yang tidak mengikut syarak (tidak syar’i)<br />
kepada akal yang tunduk kepada syarak.</p>
<p>Berpindah dari hati yang kafir, munafiq, fasiq,<br />
sakit atau keras kepada hati yang tenang lagi selamat.</p>
<p>Berjalan  dari roh yang menyimpang dari pintu Allah,<br />
kepada roh yang mengenal Allah.</p>
<p>Perjalanan kepada Allah adalah<br />
dengan melaksanakan segala kewajiban peribadatan kepadaNya.<br />
Berjalan dari jasad yang tidak terkendali dengan  syarak<br />
kepada jasad yang terkendali secara sempurna<br />
oleh syariat Allah ‘Azza Wa Jalla.</p>
<p>Kesimpulannya:<br />
berjalan menuju Allah adalah berpindah<br />
dari zat yang kurang sempurna<br />
kepada zat yang lebih sempurna<br />
dalam kesalehan dan dalam mengikut Rasulullah SAW,<br />
baik dalam ucapan, perbuatan atau keadaan amalannya.”</p>
<p>Syarat-syarat perjalanan menuju Allah<br />
disebutkan  antara lain,<br />
ilmu dan zikir.</p>
<p>Tidak ada perjalanan  menuju Allah tanpa ilmu.<br />
Tidak ada perjalanan menuju Allah tanpa zikir.<br />
Ilmu adalah yang menerangi jalan.<br />
Zikir adalah bekal perjalanan dan sarana pendakian.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>قال عليه الصلاة والسلم:  &#8220;الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الأ ذكر الله وما واله أ و  عا لما ومتعلما&#8221;<br />
(رواه ابن ماجه وهو صحيح)</p>
<p>Dunia dilaknat,<br />
dilaknat apa yang ada di dalamnya,<br />
kecuali zikir kepada Allah dan apa yang menyertainya,<br />
– artinya orang yang senantiasa ingat<br />
dan mengerti bahwa semua yang ada ini<br />
adalah ciptaan Allah SWT<br />
yang mesti tunduk dan patuh kepada kehendak Allah itu saja,<br />
dengan satu gerakan ubudiyah pengabdian &#8211;,<br />
atau orang yang berilmu<br />
dan yang menpelajari ilmu”<br />
(Hadith sahih, diriwayat oleh Ibnu Majah).</p>
<p>Kita amat memerlukan ilmu<br />
yang membawa kita kepada mengenali<br />
segala perintah Allah.</p>
<p>Kita memerlukan ilmu<br />
untuk mengenali hikmatnya,<br />
agar dapat melaksanakan<br />
segala perintah Allah<br />
dan merealisasikan hikmatNya.</p>
<p>Kita berhajat kepada zikir.<br />
Agar supaya Allah selalu bersama kita<br />
dalam perjalanan menuju redhaNya.</p>
<p>Maka rukun berjalan menuju Allah<br />
adalah ilmu dan zikir.<br />
Tidak akan ada perjalanan<br />
melainkan dengan keduanya.</p>
<p>Menempuh jalan menuju Allah itu terbagi dua golongan.<br />
Satu di antaranya lebih banyak memperhatikan zikir.</p>
<p>Meskipun,<br />
mereka ambil zikir itu bersumber dari ilmu.<br />
Kelompok ini  kemampuannya untuk mencapai ilmu memang terbatas. Tetapi, kesanggupan beribadat, beramal dan berzikir adalah besar.</p>
<p>Jalan yang ditempuh tentulah memperbanyak zikir,<br />
dengan kemestian yang tidak boleh dilalaikan<br />
adalah menyertainya dengan ilmu.</p>
<p>Zikir ialah yang diwarisi<br />
atau yang dianjurkan<br />
dan yang termasuk ke dalam<br />
perintah Allah dan RasulNya SAW semata-mata jua adanya.</p>
<p>Golongan lain lebih banyak merperhatikan ilmu.<br />
Meskipun mereka mengambil ilmu<br />
dikembangkan kepada zikir.<br />
Pembahagian ini semata<br />
karena kecenderungan minat manusia.<br />
Ada yang condong minatnya kepada ilmu lebih besar<br />
dengan kemampuan mencapai ilmu  tersedia.</p>
<p>Maka jalan yang sesuai bagi kelompok ini<br />
adalah menuntut ilmu dibarengi zikir.<br />
Pada akhirnya,<br />
Insya Allah keduanya akan sampai<br />
pada tujuan mereka (wusul).</p>
<p>Tidak diragukan<br />
bahwa ilmu ialah ilmu tentang Alquran dan As-Sunnah<br />
serta yang diperlukan oleh salik dalam perjalanan zikirnya.<br />
Maka nilai ibadah lebih mahal<br />
dibandingkan dengan segala yang melekat<br />
pada peribadi seorang manusia.</p>
<p>Ibadah akan mengisi bilai kemanusian<br />
terutama faktor mental.</p>
<p>Karena itu,<br />
pengalaman yang diperdapat pada bulan Ramadhan<br />
seharusnya dijadikan pelajaran<br />
untuk mempersiapkan ibadah yang lebih baik.</p>
<p>Sehingga Ramadhan mampu memberi makna<br />
untuk diri masing-masing<br />
dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan<br />
kepada Allah SWT,</p>
<p>وَ لِكُلِّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوْا وَ مَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ</p>
<p>“Dan masing masing orang memperoleh derajat derajat<br />
yang seimbang dengan apa yang dikerjakannya.<br />
Dan, Tuhanmu Allah<br />
tidak pernah lengah<br />
dari apa apa yang mereka telah kerjakan “<br />
(QS. Al An&#8217;aam, 6 : 132).</p>
<p>Di dunia ini ibarat menanam.<br />
Di akhirat nanti menuai buahnya.<br />
&#8220;Ad dunya daar al-‘amal,<br />
wal akhirah daar ul-jazaa&#8221;.<br />
&#8220;Dunia ini tempatnya berbuat &#8216;amal (karya),<br />
akhirat tempat mendapatkan balasan<br />
(dari amalan semasa di dunia ini)&#8221;<br />
(Hadist).</p>
<p>Maka di bulan Ramadhan kita tanam amal ibadah.<br />
Keutamaan bulan Ramadhan adalah sarana<br />
bagi pertambahan nilai ibadah kita yang kurang selama ini.</p>
<p>Penekanannya terletak kepada &#8220;aktifitas&#8221;.<br />
Gerak untuk melaksanakan &#8216;amalan.</p>
<p>Nilai sebuah &#8216;amal (karya)<br />
tidak berarti jika tidak ada usaha merealisir amal (karya) itu.</p>
<p>شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهِرٍ جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَ قِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا. مِنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَالِ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ وَ هُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ</p>
<p>“Di bulan Ramadhan,<br />
terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan”.<br />
Seterusnya Rasulullah SAW. bersabda,<br />
&#8220;Mengerjakan puasa di siang harinya diwajibkan.<br />
Dan mendirikan malam harinya<br />
(dengan ibadah sunnah seperti tarawih, tadarus Alquran)<br />
menjadi penambah pahala dari amal puasa Ramadhan itu.”</p>
<p>Selanjutnya,<br />
“Amalan amalan yang wajib,<br />
seperti tujuh puluh kali<br />
lebih baik dari pada amalan serupa<br />
di luar bulan Ramadhan.<br />
Dan bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran”.<br />
(HR. Ibn Khuzaimah dari Salman al-Farisi).</p>
<p>Keutamaan Ramadhan  di dapat<br />
dengan dorongan yang tinggi dalam beribadah.<br />
Supaya manusia memiliki ethos kerja yang tinggi.</p>
<p>Ibadah sanggup membentuk watak pekerja yang tangguh<br />
berfikir realistis dalam mengkaji<br />
dan mensyukuri nikmat Allah.</p>
<p>Dari beberapa hadits di simpulkan<br />
ada amalan tertentu untuk lebih di perbanyak.</p>
<p>Khususnya di bulan Ramadhan,<br />
karena keutamaan sorga yang terbuka<br />
dan Pintu Neraka di tutup<br />
serta di rantai iblis dan Syaithan.</p>
<p>وَ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ وَ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَ صُفِّدَتْ الشَّيْاطِيْنُ.    (أخرجه مسلم)</p>
<p>Hadist dari Abi Hurairah RA,<br />
bahwa Rasulullah SAW bersabda,<br />
“ Apabila telah datang Ramadhan,<br />
maka dibukakan pintu-pintu sorga,<br />
dan dikunci pintu-pintu neraka,<br />
serta dibelenggu syaithan-syaithan.”<br />
(HR.Muslim).</p>
<p>Menghindar dari syaithan hanya dengan takwa<br />
dan menukar amalan buruk dengan yang baik<br />
di sepanjang waktu dan di masa datang.</p>
<p>اِتَّقِ الله حَيْثُمَا كُنْتَ، وَ أتْبِعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا،   و خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.</p>
<p>Takutlah kepada Allah dimanapun engkau berada.<br />
Ikutilah kesalahan oleh kebaikan,<br />
niscaya ia akan mengapus kesalahan itu,<br />
dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.<br />
(al Hadist).</p>
<p>Baginda Rasulullah menyebut Ramadhan Syahr al muwasah.<br />
Berlapang lapang adalah adat manusia yang beradat.<br />
Sifat terpuji ini hanya ada<br />
pada orang yang mau memperhatikan nasib<br />
dan keadaan orang lain.</p>
<p>Memberi makan kepada orang berbuka sangat di anjurkan.</p>
<p>عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضَىَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقَصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ. (رواه الترمذى و النسائي و ابن ماجة)</p>
<p>Dari Zaid bin Khalid RA, dari Nabi SAW,<br />
bahwa telah bersabda Rasulullah,<br />
“Barangsiapa memberi makanan  buka puasa<br />
(ifthar shaim) untuk orang yang berpuasa,<br />
maka dia akan mendapatkan pahala<br />
seperti pahala orang yang berpuasa itu,<br />
tanpa dikurangi sedikitpun<br />
dari pahala puasa orang yang berpuasa<br />
(yang diberi perbukaan itu).”<br />
(HR.Tirmidzi, Nasa’I dan Ibn Majah).</p>
<p>Lapang melapangi adalah sifat yang memiliki<br />
kepedulian sosial yang tinggi.<br />
Memiliki kepekaan sosial yang mendalam.</p>
<p>Kepedulian sosial tidak dimiliki<br />
oleh orang yang egoistis.<br />
Perangai yang hanya mau mementingkan diri sendiri<br />
akan menjadi  benalu dalam bermasyarakat.</p>
<p>Kepekaan sosial melahirkan hidup bertenggang rasa.<br />
Dan tercipta kehidupan masyarakat tolong menolong.</p>
<p>وَ تَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ و التَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِسْمِ و الْعُدْوَانِ وَ اتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ.</p>
<p>Ta&#8217;aawanuu &#8216;Alal birri wat takwa.<br />
Saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.<br />
Dan jangan bertolongan dalam<br />
berbuat ma’shiyat dan permusuhan.<br />
Sesungguhnya Allah itu keras iqab-Nya.</p>
<p>Sikap gotong royong<br />
adalah  modal utama<br />
penggerak pembangunan.<br />
Tumbuh dari kepedulian sosial yang tinggi.<br />
Rasa peduli,<br />
adalah hikmah lain dari shaum (puasa).</p>
<p>Baginda Rasulullah SAW<br />
menyebutkan dalam hadist<br />
dialog dengan sahabat-sahabat beliau,</p>
<p>قَالُوْا: يَارَسُوْلُ اللهِ لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يَفْطُرُ الصَّائِمُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِى اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى تَمْرَةٍ أَوْ عَلَى شُرْبَةِ مَاء أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ.</p>
<p>Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW,<br />
‘Ya Rasulullah!<br />
Bukankah tidak semua dari kita berkemampuan<br />
memberikan berbuka  (ifthar shaim)<br />
makan puasa  ini kepada orang yang berpuasa?’.</p>
<p>Rasulullah SAW menjawab,<br />
“Allah memberikan pahala  yang sama besarnya<br />
kepada orang yang memberikan perbukaan makan<br />
kepada orang yang berpuasa,<br />
walaupun pemberian itu<br />
karena ketidak mampuannya<br />
hanya sanggup memberikan sebutir korma,<br />
seteguk air atau hanya seteguk susu”.<br />
(HR.Ibn Khuzaimah)</p>
<p>Di bulan Ramadhan diperbanyak pahala puasa<br />
dengan &#8220;pemurah&#8221;,<br />
dicontohkan oleh Rasulullah SAW.</p>
<p>كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْهِ أَجْوَدَ بِا لْخَيْرِ مِنَ الرَّيْحِ الْمُرْسَلَةِ</p>
<p>Adalah Nabi SAW di bulan Ramadhan<br />
berada dalam penuh kebaikan (pemurah)<br />
melebihi angin sepoi-sepoi basah.<br />
(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibn. Majah).</p>
<p>Agama Islam,<br />
memulai pendekatan<br />
dari menumbuhkan rasa ni&#8217;mat dalam memberi.<br />
Menambah  rasa syukur dalam menerima.<br />
Al Yaadul &#8216;ulya. Khairun Minal Yadis Sufla&#8230;&#8221;,<br />
kata Baginda Rasulullah SAW.</p>
<p>Maknanya tiada lain adalah,<br />
“Tangan di atas (yang memberi),<br />
lebih baik dari tangan yang dibawah<br />
(yang hanya menerima)&#8221;.<br />
(Al Hadist).</p>
<p>Hikmahnya tegas sekali.<br />
Muslim harus menjadi umat terbaik<br />
Berkualitas mulia (khairin),<br />
menjadi umat bertangan di atas.<br />
Umat yang mampu memberi<br />
dengan kasih sayang sesama,<br />
sebagaimana kasih<br />
terhadap diri sendiri.</p>
<p>لا تُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ ِلأِخِيْهِ ما يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.  (متفق عليه)</p>
<p>Belum beriman seorang dari kalian<br />
sehingga mereka mencintai<br />
terhadap saudaranya (sesama beriman)<br />
layaknya mereka mencintai<br />
terhadap dirinya sendiri<br />
(HR.Muttafaq ‘Alaih).</p>
<p>Membentuk umat yang mampu memberi<br />
tidaklah mudah.<br />
Kemampuan memberi itu<br />
harus ditopang oleh adanya syarat dan rukun.<br />
Satu rukunnya adalah harus berpunya.<br />
Punya meteri untuk diberikan.<br />
Punya sikap suka memberi.<br />
Punya kualitas tidak senang menerima.<br />
Punya izzatun nafs<br />
atau harga diri yang tinggi.</p>
<p>Suka memberi didorong oleh sikap jiwa dari dalam.<br />
Memberi dengan ikhlas.<br />
Memberi yang berkualitas<br />
melahirkan rasa solidaritas (ukhuwah).</p>
<p>Menerima, mesti pula dijadikan<br />
&#8220;menerima&#8221; yang berkualitas.<br />
Pihak yang &#8220;memberi&#8221;<br />
dan yang &#8220;menerima&#8221;,<br />
memiliki derajat kemuliaan.</p>
<p>Ibadah shaum<br />
melahirkan keikhlasan yang tinggi.<br />
Yang memberi telah memberi dengan ikhlas.<br />
Yang menerima, juga menerima dengan ikhlas.<br />
La&#8217;allakum Tasykuruuma<br />
(supaya kamu bersyukur).</p>
<p>Bersyukur adalah pandai berterima kasih.<br />
Bersyukur tidak semata sebatas mengucapkan Alhamdulillah.</p>
<p>Bersyukur, bermakna memelihara apa yang ada.</p>
<p>إنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ يَوْمَ القِيَامَةِ: يَابْنَ آدَمَ! اسْتَطْعَمْتُكَ، فَلَمْ تُطْعِمْنِي! قَالَ: يَا رَبِّ! كَيْفَ أُطْعِمُكَ و أَنْتَ رَبُّ اْلعَالَمِيْنَ؟! قال: أَمَا عَلِمْتُ أَنَّهُ اسْتَطْعَمَكَ عَبْدِي فُلاَنٌ، فَلَمْ تُطْعِمْهُ؟ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتُ ذَلِكَ عِنْدِي؟  (رواه الطبراني)</p>
<p>“Sesungguhnya Allah SWT  ‘Azza  wa  Jalla,<br />
berfirman pada hari kiamat.<br />
‘ Hai anak cucu Adam!<br />
Aku minta makan kepadamu,<br />
tapi kamu tidak memberi-Ku makan.’<br />
Dia (anak Adam) berkata,<br />
‘Ya Rabb!<br />
Bagaimana aku mau memberi-Mu makan,<br />
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!’<br />
Allah berfirman,<br />
‘ Apa kau tidak tahu,<br />
bahwa si Fulan hamba-Ku itulah<br />
yang meminta kepadamu makan.<br />
Mengapa tidak kamu beri makan?<br />
Apa kau tidak tahu,<br />
kalau kau memberinya makan,<br />
maka kau akan mendapatkan (ganjaran)<br />
hal itu dari sisi-Ku?’</p>
<p>‘Hai anak Adam!<br />
Aku meminta kepadamu minum,<br />
tapi kau tidak memeberi-Ku minum!’<br />
Dia (hamba) berkata,<br />
‘Ya Rabb!<br />
Bagaimana aku mau memberi-Mu minum,<br />
sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!’<br />
Allah SWT  berfirman,<br />
‘ Hamba-Ku si Fulan meminta padamu minum,<br />
tapi tidak kau beri dia minum.<br />
Apa kau tidak tahu<br />
bahwa kalau kau memberinya minum,<br />
kau akan mendapatkan (pahala)<br />
hal itu dari sisi-Ku?’.”<br />
( HR.Muslim).</p>
<p>Menggunakan ni&#8217;mat<br />
menurut ketentuan pemberi ni&#8217;mat.</p>
<p>Bersedia memberikan hak Allah<br />
melalui makhluk-Nya.</p>
<p>Setiap ni’mat yang telah diterima manusia<br />
dalam hidup di dunia<br />
akan ditanya kemana dipergunakan.</p>
<p>اِغْتَنِم خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، و صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، و غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، و فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، و حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.    (رواه الحاكم)</p>
<p>Manfaatkanlah sebaik-baiknya lima macam kesempatan<br />
sebelum datang lima yang lainnya;<br />
masa mudamu sebelum datang masa tuamu,<br />
waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu,<br />
saat kayamu sebelum tiba saat miskinmu,<br />
waktu senggang – lapangmu – sebelum datang waktu sibukmu<br />
dan hidupmu sebelum matimu datang menjelang’.<br />
(HR.Hakim)</p>
<p>Nabi Muhammad SAW  selalu  berdoa kepada Allah<br />
agar tidak di perdaya oleh kekayaan dunia<br />
dan tidak hina karena kefakiran yang dimiliki.</p>
<p>اَللَّهُمَّ إَنِّى أَعُوْذَبِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى، اَللَّهُمَّ إَنِّى أَعُوْذَبِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الفَقْرِ.    (رواه البخاري)</p>
<p>Wahai Allah,<br />
sesungguhnya aku ini berlindung kepada MU<br />
dari jahatnya fitnah kekayaan.<br />
Ya Allah,<br />
sesungguhnya aku ini berlindung kepada MU<br />
dari buruknya fitnah kefakiran<br />
(HR. Bukhari Muslim)</p>
<p>Pemurah sesama manusia,<br />
terutama kepada dhu’afak,<br />
karena do’a fakir miskin<br />
sangat mustajab.</p>
<p>Yang tidak peduli nasib simiskin,<br />
sesungguhnya bukanlah golonganku,<br />
kata Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Manusia bukan objek dari alam.<br />
Tetapi sebaliknya,<br />
alam adalah objek bagi manusia.<br />
Alam dibuat untuk  kepentingan,<br />
keperluan manusia.</p>
<p>Manusia adalah subjek terhadap alam itu.<br />
Bila ilmu pengetahuan alam<br />
mengenal adanya geo-centris<br />
dimana bumi sebagai pusar<br />
kendali kehidupan alamiyah.</p>
<p>Maka Allah Yang Maha Pencipta<br />
telah menciptakan manusia<br />
sebagai titik sentral<br />
dari kehidupan di bumi<br />
yang alamiyah ini.</p>
<p>Bumi tidak akan menjadi pusat perhatian,<br />
bila ditakdirkan tidak dihuni oleh manusia.</p>
<p>Apabila masa sekarang planit-planit lain<br />
di keliling bumi mulai menjadi perhatian<br />
dan bahan penelitian,<br />
justeru karena adanya manusia penghuni  bumi.</p>
<p>QIYAMUL-LAIL, SHOLAT MALAM</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda;<br />
“Barangsiapa yang melaksanakan Qiyamul-Lail<br />
di Ramadhan atas dasar iman dan ikhlas<br />
pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”.<br />
(H.R. Bukhari Muslim).</p>
<p>Melakukan amalan baik,<br />
seperti shalatul-lail,<br />
serta menyeru orang lain<br />
untuk ikut melaksanakannya,<br />
niscaya  akan mendatangkan<br />
keuntungan besar.</p>
<p>مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا و أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ (رواه مسلم و أحمد و الترمذي و النسائي و ابن ماجة)</p>
<p>Barangsiapa yang menyunnahkan suatu sunnah<br />
yang baik di dalam Islam,<br />
maka dia mendapatkan pahalanya<br />
dan pahala orang yang mengamalkan sesudahnya,<br />
tanpa mengurangi sedikitpun<br />
dari pahala mereka.<br />
(HR.Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibnu Majah).</p>
<p>Seruan untuk setiap Mukmin<br />
agar berjihad memelihara kepatuhan<br />
terhadap Allah SWT<br />
dengan sujud dan rukuk yang teratur.</p>
<p>يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا ارْكَعُوْا وَ اسْجُدُوْا وَ اعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ<br />
تُفْلِحُوْنَ. وَ جَاهِدُوْا فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ قَبْلُ وَ فِي هَذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَ تَكُوْنُوْا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيْمُوْا الصَّلَوَاتَ وَ آتُوْا الزَّكَوَاتَ وَ اعْتَصِِمُوْا بِاللهِ هُوَ مَوْلاَكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَ نِعْمَ النَّصَيْرُ.</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman,<br />
ruku`lah kamu,<br />
sujudlah kamu,<br />
sembahlah Tuhanmu<br />
dan perbuatlah kebajikan,<br />
supaya kamu mendapat kemenangan.<br />
Dan berjihadlah kamu<br />
pada jalan Allah<br />
dengan jihad yang sebenar-benarnya.<br />
Dia telah memilih kamu<br />
dan Dia sekali-kali<br />
tidak menjadikan untuk kamu<br />
dalam agama suatu kesempitan.<br />
(Ikutilah)<br />
agama orang tuamu Ibrahim.<br />
Dia (Allah)<br />
telah menamai kamu sekalian<br />
orang-orang muslim dari dahulu,<br />
dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini,<br />
supaya Rasul itu<br />
menjadi saksi atas dirimu<br />
dan supaya kamu semua menjadi saksi<br />
atas segenap manusia,<br />
maka dirikanlah sembahyang,<br />
tunaikanlah zakat<br />
dan berpeganglah kamu pada tali Allah.<br />
Dia adalah Pelindungmu,<br />
maka Dialah sebaik-baik Pelindung<br />
dan sebaik-baik Penolong.”<br />
(QS.22, al-Hajj ayat 77-78).</p>
<p>Tanggung jawab muslim memelihara shalat mereka,<br />
dengan shalat di awal waktu.</p>
<p>Para Malikat  mengawasi umat manusia<br />
dan melaporkan setiap hari<br />
keadaan umat tersebut tentang shalatnya.</p>
<p>Hadist Nabi Muhammad SAW<br />
menceritakan kepada kita<br />
betapa malaikat bertimbang terima<br />
pada dua waktu shalat subuh dan ashar.</p>
<p>يَتَعَاقِبُوْنَ فِيْكُمْ: مَلاَئِكَةٌ بِالَّليْلِ، وَ مَلاَئِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَ يَجْتَمِعُوْنَ فِي صَلاَةِ الْفجْرِ، وَ صَلاَةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُوْنَ الَّذِيْنَ بَاتُوْا فِيْكُمْ،  فَيَسْأَلُهُمْ وَ هُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُوْلُوْنَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّوْنَ، وَ آتَيْنَاهُمْ وَ هُمْ يُصَلُّوْنَ.   (متفق عليه)</p>
<p>Malaikat akan saling bergiliran<br />
memperhatikan kalian.<br />
Ada malaikat yang bertugas pada malam hari<br />
dan ada malaikat yang bertugas pada siang hari.<br />
Mereka (kedua kelompok malaikat itu)<br />
berkumpul pada shalat Fajar dan shalat Ashar.<br />
Kemudian malaikat yang telah bertugas<br />
mengawasi kalian akan naik kelangit,<br />
dan Allah SWT menanyakan laporan mereka,<br />
dan Allah SWT lebih tahu dari mereka tentang itu,<br />
bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku<br />
saat kalian meninggalkan mereka?<br />
Mereka menjawab,<br />
“kami meninggalkan mereka sedang saat shalat,<br />
dan kami datang di saat mereka sedang shalat juga.<br />
(HR. Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>TADARUS ALQURAN</p>
<p>Bulan Ramadhan adalah bulan Nuzul Quran.</p>
<p>شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ القُرْآنَ هُدًى للنَّاسِ و بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى و الفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَ مَنْ كَانَ مَرِيْضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ. يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ و لِتُكْمِلُوْا العِدَّةَ و لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ  و لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ</p>
<p>(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,<br />
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran<br />
sebagai petunjuk bagi manusia<br />
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu<br />
dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).<br />
Karena itu,<br />
barangsiapa di antara kamu hadir<br />
(di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu,<br />
maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,<br />
dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan<br />
(lalu ia berbuka),<br />
maka (wajiblah baginya berpuasa),<br />
sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,<br />
pada hari-hari yang lain.<br />
Allah menghendaki kemudahan bagimu,<br />
dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.<br />
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya<br />
dan hendaklah kamu mengagungkan Allah<br />
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,<br />
supaya kamu bersyukur.<br />
(QS.2, al Baqarah : 185)</p>
<p>Mendalami Alquran<br />
sama halnya dengan menambah ilmu<br />
yang berguna untuk kehidupan manusia.</p>
<p>Dengan membaca dan menghafal Alquran<br />
sebenarnya seseorang melatih memori otaknya.</p>
<p>Melatih perekaman otak<br />
agar tidak cepat menjadi pelupa<br />
dan melatih kefasihan lidah.</p>
<p>Membaca Alquran dengan makhrij huruf yang benar<br />
sama dengan mengajar kefasihan lidah<br />
pada semua lahjah (intonasi)<br />
bahasa-bahasa dunia.</p>
<p>Rajin membaca Alquran<br />
berarti menambah ilmu pengetahuan.</p>
<p>Dan orang berilmu<br />
tampil dengan sikap teguh,<br />
kuat, dan istiqamah,<br />
yakni konsisten dalam bertindak<br />
atau berbuat kearah yang baik.</p>
<p>POLA QURANI.</p>
<p>Sebagai muslim ada kewajiban<br />
mewujudkan  masyarakat makmur<br />
berkeadilan ketenteraman<br />
yang menjadi idaman dalam hidup ini.</p>
<p>Berkeadilan sejati adalah makmur<br />
dan tenteram di bawah naungan<br />
Rahmat Allah Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Sebagai insan hamba Allah,<br />
tidak boleh kita  mengabaikan<br />
dimensi kultural dari bangsa ini.<br />
Lebih 85% umat ini memiliki<br />
nilai nilai khair umatin<br />
atau umat utama.<br />
Sebagai konsekwensi dari<br />
dinamika sosial<br />
bangsa yang berkemampuan tinggi.</p>
<p>Tepatnya,<br />
perlu di mulai<br />
dengan menerapkan Pola &#8220;Q&#8221;<br />
yang semestinya tidak ditolak<br />
oleh bagian terbesar<br />
generasi bangsa ini<br />
yang telah menerima Alquran<br />
sebagai hidayah.</p>
<p>&#8220;Pola Qurani&#8221; yang bermuatan hidayah<br />
mampu menjadi nilai dasar<br />
pembentukan kualitas manusia.</p>
<p>Muatan dasar pertama adalah imaniyah.<br />
Keyakinan kepada Kekuasaan Allah Yang Maha Esa.<br />
Dikenal dengan formula &#8220;tauhid&#8221;,<br />
yang memberikan motivasi kepada manusia<br />
menggerakkan aktivitas nyata.</p>
<p>Mengantisipasi perubahan cepat yang tengah berlaku.<br />
Suatu tatanan peradaban modern (maju)<br />
dapat di terima oleh umat,<br />
selama perubahan tersebut<br />
tidak harus berakibat tercerabutnya umat<br />
dari nilai dasar iman dan kepribadian Islami.</p>
<p>Formula tauhid,<br />
adalah kesadaran bahwa alam ini<br />
di cipta dengan kesiapan<br />
menerima setiap perubahan.</p>
<p>Setiap perubahan itu<br />
berada di dalam kerangka idealisme<br />
yang tetap utuh,<br />
yakni mencari redha Allah.</p>
<p>Muatan kedua adalah<br />
formula ukhuwwah.</p>
<p>Kesadaran pentingnya persaudaraan<br />
dan kekerabatan<br />
yang di ikat dengan tali keakraban<br />
(sebangsa dan setanah air).</p>
<p>Muatan ini mendorong terciptanya<br />
upaya upaya nyata dan serius<br />
mengaktualisasikan potensi yang di miliki<br />
guna di arahkan kepada kehidupan mandiri (self help)<br />
dalam upaya menciptakan tatanan bermasyarakat<br />
yang lebih baik (mutual help).</p>
<p>Pada akhirnya<br />
mampu melahirkan masyarakat yang hidup<br />
dan menghidupi (selfless help)<br />
sebagai uswah hasanah<br />
atau sosok ketauladanan.</p>
<p>Formula ukhuwwah,<br />
kekerabatan (kesaudaraan)<br />
berperan dalam memecahkan masalah kemiskinan<br />
dan kemelaratan umat,<br />
dengan meluruskan kesenjangan sosial<br />
atas prinsip ta&#8217;awunitas,<br />
yaitu kerjasama<br />
atas dasar sama sama bekerja.</p>
<p>Firman Allah dalam Al Qur^an menyebutkan,<br />
&#8220;I&#8217;maluu &#8216;alaa makanatikum, inni &#8216;amil&#8221;,<br />
artinya<br />
&#8220;kamu masing masing berbuat pada tempat (posisi) kamu,<br />
akupun berbuat pula<br />
(menurut kemampuan pada posisiku pula)&#8221;.</p>
<p>Makna lebih dalam ialah<br />
berkembangnya tatanan saling menghormati<br />
pada posisi sama sama terhormat.</p>
<p>Dan tertutupnya kesempatan<br />
exploitation de l&#8217;homme par l&#8217;homme<br />
seperti pada kehidupan kapitalistis.</p>
<p>Muatan ketiga adalah formula fii sabilillah,<br />
yang pada hakekatnya<br />
mengikat diri pada pemilihan<br />
hanya pada jalan Allah.</p>
<p>Maknanya,<br />
bahwa sumber pendapatan<br />
dan pembiayaan yang di lakukan<br />
terhindar dari kebocoran kebocoran<br />
(waste  atau mubazzir).</p>
<p>Menegakkan aturan normatif<br />
merupakan konsekwensi logis<br />
agar secara aktualita<br />
di dapati batas batas antara boleh dan tidak,<br />
antara suruhan dan larangan,<br />
antara halal dan haram,<br />
dan kepedulian yang tinggi<br />
terhadap perubahan perubahan<br />
dengan bimbingan akhlakul karimah.</p>
<p>Muatan keempat,<br />
adalah formula ukhrawi.</p>
<p>Karena antara keperluan dunia<br />
dan kepentingan akhirat<br />
sama sekali tidak terpisah.</p>
<p>Tidak berdiri sendiri sendiri<br />
tanpa ada ketergantungan satu sama lainnya.</p>
<p>Kepercayaan kepada hari akhir<br />
(kehidupan sesudah mati)<br />
sebenarnya keyakinan<br />
terhadap adanya kewajiban<br />
pertanggungan-jawab individual<br />
yang tidak bisa dimanipulasi datanya.</p>
<p>Keyakinan ini menempatkan<br />
pernilaian bahwa<br />
&#8220;hari akhir itu lebih baik<br />
dari hari sekarang (dunia) ini&#8221;.</p>
<p>Konsep kesejahteraan hari akhirat<br />
amat ditentukan oleh pemilihan yang amat tepat<br />
di masa kini (duniawi).</p>
<p>Konsep &#8220;ukhrawi&#8221;<br />
melahirkan sikap positif<br />
dalam bertindak dengan penuh kehati hatian.</p>
<p>Memilih amal yang tepat,<br />
disiplin yang tinggi,<br />
hemat, tidak takabbur,<br />
bahkan terjauh dari sikap perilaku tercela.</p>
<p>Akhirnya mampu membentuk<br />
kualitas manusia efektif dan konstruktif.</p>
<p>Kualitas itu ada pada semua proses pembangunan<br />
di seluruh segi kehidupan manusia<br />
di dalam mencipta kedamaian dunia.</p>
<p>Maka, formulasi &#8220;akhirat&#8221;<br />
membentengi umat dari gejolak faham sekularistik,<br />
yang muaranya adalah hedonistik,<br />
vandalisme, anarkis, sadisme dan a moral.</p>
<p>Kepercayaan atau keyakinan kepada kehidupan ukhrawi<br />
memposisikan manusia pada peranan strategis.</p>
<p>Muatan nilai-nilai yang dididikkan<br />
menciptakan sumber daya manusia seimbang.<br />
Dengan memiliki kehandalan intelektual,<br />
fisik, profesionalitas.<br />
Memiliki keimanan dan ketakwaan.<br />
Mempunyai kepribadian luhur, dan akhlak karimah,<br />
seperti yang diharapkan<br />
dalam format pembangunan manusia seutuhnya.</p>
<p>Muatan kelima,<br />
adalah formula ilmu dan hikmah.</p>
<p>Keperluan  terhadap ilmu,<br />
menjadi bahagian awal dari pemberitaan Alqurani,<br />
pada ayat ayat yang pertama di turunkan.</p>
<p>Ilmu tidak pernah berhenti,<br />
sampai dunia berakhir dengan kiamat.<br />
Allah SAW menyebutnya dalam Fiman Nya,</p>
<p>اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ.  خَلَقَ اْلإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اِقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ.  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ اْلإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.</p>
<p>&#8221; Bacalah,<br />
Dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah.<br />
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.<br />
Dia mengajarkan kepada manusia<br />
apa yang tidak diketahuinya&#8221;<br />
(Al &#8216;Alaq, QS.96 ayat 3 5).</p>
<p>Untuk mendapatkan ilmu<br />
perlu dicari guru yang ikhlas<br />
(syeikh atau  mursyid)<br />
yang dapat  memberikan ta’lim  pembelajaran,<br />
tarbiyah pendidikan,<br />
dan diiringi oleh tarqiyah  pembimbingan.</p>
<p>Kewajiban mendapatkan guru<br />
(belajar, menuntut ilmu) ini a<br />
dalah termasuk dalam kaedah usul fiqh<br />
yang menyebutkan,</p>
<p>ما لا يتم ا لواجب الا به فهو واجب</p>
<p>Sesuatu perkara<br />
yang menyebabkan sesuatu kewajiban<br />
tidak akan dapat disempurnakan<br />
kecuali dengannya<br />
maka perkara tersebut<br />
adalah wajib juga hukumnya.</p>
<p>Dengan kaedah ini dapat di pahami<br />
betapa pentingnya usaha-usaha pembentukan da’iya,<br />
imam khatib, para mu’allim dan tuangku<br />
di nagari-nagari pada saat kembali ke surau.<br />
Memberikan bekalan yang cukup<br />
melalui pelatihan dan pembekalan ilmu yang memadai.<br />
Membuatkan anggaran belanja yang memadai<br />
di daerah-daerah menjadi sangat penting<br />
di dalam mendukung satu usaha yang wajib.</p>
<p>Tidak syak lagi,<br />
merawat berbagai penyakit batin itu wajib.<br />
Siapapun yang dikuasai oleh penyakit batin<br />
wajib mencari guru<br />
yang dapat menjauhkan dari berbagai sifat jahat itu.</p>
<p>Merebut ilmu,<br />
sesuai dengan bimbingan Rasulullah SAW<br />
menjadi kewajiban bagi setiap Muslim<br />
(lelaki dan perempuan),<br />
(Al Hadist).</p>
<p>Tidak ada batas usia menuntut ilmu<br />
sebagaimana sabda Rasulullah SAW,<br />
&#8220;Tuntutulah ilmu itu dari ayunan<br />
hingga ke liang lahat (qubur)&#8221;<br />
(Al Hadist).</p>
<p>Tidak pula terbatas di satu wilayah<br />
seperti yang dianjurkan<br />
&#8220;Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina&#8221;.</p>
<p>Kenyataan tentang keberhasilan manusia<br />
di dalam ukuran universal<br />
hanyalah dengan penguasaan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Hal ini senyatanya amat sesuai<br />
dengan sabda Rasulullah SAW,<br />
&#8220;Siapa yang inginkan dunia<br />
dia harus peroleh dengan ilmu,<br />
siapa yang inginkan akhirat<br />
juga harus direbut dengan ilmu,<br />
dan sesiapa yang inginkan keberhasilan kedua duanya<br />
(dunia dan akhirat)<br />
maka keduanya harus direbut dengan ilmu&#8221;<br />
(Al Hadist).</p>
<p>Seorang yang ingin melakukan tazkiyah nafs<br />
mesti didukung oleh himmah (minat dan cita) yang kuat.</p>
<p>Himmah  diartikan cita-cita,<br />
tekad yang bulat dan kuat,<br />
yang di dorong oleh niat yang tulus,<br />
keyakinan yang benar,<br />
cara yang benar<br />
di dalam mencapai cita-cita itu.</p>
<p>Seorang yang memiliki himmah kuat<br />
didorong menjalani jalan Allah<br />
seumur hidupnya.</p>
<p>Himmah akan mendorongnya bersungguh-sungguh,<br />
tanpa lalai dan letih.<br />
Himmah tidak mengenal segan<br />
sampai kepada tercapainya tujuan perjalanan.</p>
<p>Untuk menjaga himmah ini<br />
maka hendaklah dibaca<br />
dan diingatkan selalu doa munajat :</p>
<p>الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي</p>
<p>Ya Allah, Ya Tuhanku!<br />
Engkaulah tujuan hidup dan matiku<br />
dan keredhaan-Mu adalah yang ku cari.</p>
<p>Redha adalah aplikasi utama dari nilai Alqurani<br />
yang di turunkan oleh Allah pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Salah satu keutamaan puasa Ramadhan<br />
dan membaca Alquran itu<br />
disebutkan dalam salah satu Sabda Rasulullah,<br />
”Puasa dan sholat malam<br />
membela si hamba pada hari kiamat.<br />
Puasa berkata,<br />
‘Ya robbi, saya halangi ia<br />
untuk makan dan minum disiang hari ’.</p>
<p>Alquran juga berkata,<br />
‘Aku rintangi ia untuk tidur di malam hari’.<br />
Maka jadikanlah kami penolongnya.”</p>
<p>Melakukan tazkiyah nafs<br />
menghendaki  adanya teman (ikhwan).<br />
Agar sama-sama ingat-mengingatkan<br />
dan bantu-membantu<br />
dalam berbagai masalah yang dihadapi.</p>
<p>Apabila tazkiyah nafs akan dicapai dengan sempurna,<br />
hindarilah untuk berdampingan<br />
dengan orang yang menyukai kejahatan.</p>
<p>Jauhilah bergaul dengan para pengikut hawa nafsu<br />
dan yang tidak beradab sopan.</p>
<p>Seiring pula dengan Firman Allah,</p>
<p>يُؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَآءُ وَ مَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُوْا اْلأَلْبَابِ</p>
<p>&#8221; Allah menganugrahkan al hikmah<br />
(kefahaman yang dalam tentang Alquran dan As Sunnah)<br />
kepada siapa yang Dia kehendaki.<br />
Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu,<br />
ia benar-benar telah dianugrahi<br />
karunia yang banyak.<br />
Dan hanya orang-orang yang berakallah<br />
yang dapat mengambil pelajaran<br />
(dari firman Allah). “<br />
(Al Baqarah, QS. 2 ayat 269).</p>
<p>Tazkiyah nafs<br />
memerlukan perawatan dari berbagai  penyakit nafs<br />
dengan menjaga dan menyuburkan jiwa itu.</p>
<p>Ketika roh suci ditiupkan kedalam tubuh manusia,<br />
semua hati manusia telah diperkenalkan kepada Allah<br />
dan musyahadah kepada-Nya.</p>
<p>Allah berfirman :</p>
<p>أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِد ْ نا</p>
<p>Bukankah Aku ini Tuhan kamu? (Para roh menjawab):<br />
Benarlah (Engkau Tuhan kami) Kami saksikan.</p>
<p>Setelah Allah memasukkan roh itu ke dalam jasad manusia,<br />
hati itu telah lupa  terhadap janji dan pengakuan tersebut.<br />
Hanya Rahmat Allah semata,<br />
dengan diturunkan  agama kepada para rasulNya.<br />
Dengan melaksanakan ajaran agama itu,<br />
roh manusia dikenalkan kembali kepada Allah SWT.</p>
<p>Roh manusia yang berada dalam jasad<br />
(Nafs al-Natiqah) itu<br />
mudah dikotori berbagai perkara.</p>
<p>Pengotoran yang sangat berbahaya<br />
ialah syirik atau menyekutukan Allah.</p>
<p>Karena itu, orang musyrikin  rohaninya najis.</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p>إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ</p>
<p>Bahawasanya orang-orang musyrikin itu najis.</p>
<p>Selain syirik,<br />
berbagai maksiat dan dosa-dosa<br />
besar maupun kecil<br />
juga mencemari jiwa dan hati manusia.</p>
<p>Jiwa yang telah tercemar berbagai maksiat<br />
akan mengandungi berbagai sifat tercela<br />
dan jauh dari sifat-sifat terpuji.</p>
<p>Hati akan mati, karena ghaflah yaitu lalai.</p>
<p>Langkah pertama ke arah tazkiyah nafs itu<br />
ialah menghidupkan jiwa<br />
atau hati yang mati karena ghaflah itu.<br />
Cara terbaik dengan zikrullah<br />
dan muraqabah<br />
atau tafakkur mengingati nikmat Allah.</p>
<p>Nabi SAW bersabda :</p>
<p>مثل الذي يذكر ربه والذي لايذكر ربه مثل الحي والميت</p>
<p>Umpama orang yang mengingati Tuhannya<br />
dan orang yang tidak ingatkan Tuhannya<br />
seumpama perbandingan orang yang hidup dengan yang mati.</p>
<p>Satu keniscayaan bahwa pergolakan kompetitif<br />
di era globalisasi didominasi oleh<br />
pemilik ilmu pengetahuan dan teknologi.<br />
Mereka berpeluang menguasai dunia global masa datang.<br />
Penguasaan ilmu pengetahuan (hikmah)<br />
adalah bagian integral dalam Pola Qurani (Pola Q).</p>
<p>Penguasaan ilmu pengetahuan bagi umat ini<br />
menjadi dorongan kuat<br />
dan akomodasi alternatif<br />
untuk memotivasi manusia (Muslim)<br />
mengantisipasi langkah zaman jauh kedepan.</p>
<p>Akan tetapi,<br />
dengan ilmu semata<br />
tanpa dikuatkan oleh hati yang bersih,<br />
akan di dapati satu susunan masyarakat<br />
yang berilmu banyak dengan keyakinan tipis.</p>
<p>Kalau umat Islam masih &#8220;mendua&#8221;<br />
menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup,<br />
maka selama itu pulalah umat Islam<br />
ditimpa berbagai macam kegelisahan<br />
dan penderitaan.</p>
<p>Umat Islam yang menderita itu,<br />
tidak bisa dilepaskan<br />
dari keingkaran pada kebenaran ayat ayat Alquran.<br />
Karena itu,<br />
mari kita benar benar menjadikan Alquran<br />
pedoman hidup yang membawa kesejahteraan<br />
secara keseluruhan.</p>
<p>Dengan mengembangkan kehidupan berpola Qurani<br />
sebagai salah satu pilihan tepat<br />
bermuatan hidayah Allah<br />
yang di percayai umat terbanyak<br />
dari generasi bangsa ini.</p>
<p>Pola Qurani yang diterapkan ini<br />
dapat menopang laju pembangunan negara tercinta<br />
dan menjanjikan langkah positif kedepan<br />
guna menatap perubahan zaman.</p>
<p>Semua langkah tersebut<br />
mestinya  di lakukan<br />
dengan mengharap redha Allah.</p>
<p>I’TIKAF DI MASJID</p>
<p>Maknanya berdiam di Masjid<br />
mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah padaNya.</p>
<p>إَنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ و أَقَامَ الصَّلَوَةَ وَ ءَاتَي الزَّكَوَةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ.</p>
<p>Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah<br />
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah<br />
dan hari kemudian,<br />
serta tetap mendirikan shalat,<br />
menunaikan zakat<br />
dan tidak takut (kepada siapapun)<br />
selain kepada Allah,<br />
maka merekalah<br />
orang-orang yang diharapkan<br />
termasuk golongan orang-orang<br />
yang mendapat petunjuk.<br />
(QS.at Taubah : 18)</p>
<p>Rasulullah selalu beri’tikaf<br />
terutama 10 malam terakhir Ramadhan.<br />
Para malikat di langit selalu bersujud<br />
dan tasbih kepada Tuhannya.<br />
Tidak sejengkalpun permukaan langit<br />
yang terluang dari tempat bersujudnya malaikat.</p>
<p>أَطتِ السَّمَاءُ، و يَحِقُّ لَهَا أنْ تَئِطَ. و الَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! ما ِفيْهَا مَوْضِعُ شِبْرٍ إلاَّ و فِيْهِ جَبْهَةُ مَلَكٍ سَاجِدٍ، يُسَبِّحُ الله بِحَمْدِهِ.       (رواه ابن مردوبه)</p>
<p>Langit tertutup,<br />
dan memang sepantasnya ia tertutup.<br />
Demi zat yang Yang Menguasai Diri Muhammad!<br />
Tidak ada satu tempat selebar satu jengkalpun,<br />
kecuali di sana ada kening malaikat<br />
yang sedang bersujud dan bertasbih<br />
kepada Allah<br />
dengan segala pujian-pujian.<br />
(HR.Ibnu Marduweih).</p>
<p>Sudah sewajarnya<br />
manusia menyediakan waktu<br />
untuk bersujud di masjid.</p>
<p>Ibadah I’tikaf di Masjid<br />
sangat disenangi oleh Rasulullah SAW,<br />
terutama di bulan Ramadhan.</p>
<p>“Masjid adalah rumah<br />
untuk setiap orang yang bertakwa<br />
dan Allah bertanggung jawab<br />
akan memberi rahmat<br />
kepada orang yang menjadikan masjid<br />
sebagai rumahnya,<br />
dan ia akan melewati jembatan<br />
keridhaan Allah SWT.”<br />
(HR.  Thabrani)</p>
<p>Setiap muslim hendaknya sadar<br />
bahwa yang akan membantu<br />
dalam hidup di dunia dan di Padang Mahsyar,<br />
semata hanya pertolongan dari Allah<br />
dan dari sesama yang bertauhid.</p>
<p>Pertolongan akan didapat<br />
dari mereka yang sama bersujud,<br />
termasuk para malaikat,<br />
dan dari mereka yang sama taat<br />
dan patuh kepada Allah SWT.</p>
<p>إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلَوَاتَ وَ يُؤْتُوْنَ الزَّكَوَاتَ وَ هُمْ رَاكِعُوْنَ.</p>
<p>“ Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah,<br />
Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman,<br />
yang mendirikan shalat<br />
dan menunaikan zakat,<br />
seraya mereka tunduk (kepada Allah).”<br />
(QS.5, al-Maidah, ayat 55).</p>
<p>Allahu Akbar wa Lillahi l-hamd</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memaknai Dzikrullah]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/08/05/memaknai-dzikrullah/</link>
<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 09:33:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/08/05/memaknai-dzikrullah/</guid>
<description><![CDATA[MEMAKNAI ZIKRULLAH &#8230;&#8230;. Menjelang Shalat Dhuha di pagi ini OLEH : H. MAS’OED ABIDIN يَاأَ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="right">
<p align="right">
<p style="text-align:left;">MEMAKNAI ZIKRULLAH &#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align:left;">Menjelang Shalat Dhuha di pagi ini</p>
<p style="text-align:left;">OLEH : H. MAS’OED ABIDIN</p>
<p>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا</p>
<p>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman,<br />
berzikirlah (dengan menyebut) Nama Allah,<br />
zikir dengan sebanyak-banyakya.&#8221;<br />
(Q.S. Al Ahzab: 41)</p>
<p>Salah satu wasilah atau cara agar selalu berkomunikasi dengan Allah<br />
adalah berzikir (Zikrullah).<br />
Zikir berasal dari akar kata dalam bahasa Arab; zakara, yazkuru, zikran.</p>
<p>Zikir secara harfiah berarti ingat dan sebut.<br />
Ingat adalah gerak hati, sedangkan sebut adalah gerak lisan.<br />
Zikrullah berarti mengingat Allah.</p>
<p>Dari sini dapat disimpulkan bahwa zikir<br />
mengandung dua pengertian yakni zikrul lafzhy dan zikrul ma’nawy.</p>
<p>Zikrul lafzhy adalah zikir yang mengandung puji-pujian kepada Allah,<br />
baik berupa tasbih, tahmid, tahlil<br />
yang dilafazkan dengan lisan.</p>
<p>Sedangkan zikrul ma’nawy adalah<br />
zikir dengan mengingat Allah dalam hati,<br />
baik ketika diberikan Allah nikmat atau sebaliknya.</p>
<p>Kedua bentuk zikir ini tidak dapat dipisahkan,<br />
ia saling berkaitan satu dengan lainnya.</p>
<p>Misalnya,<br />
ketika seorang mukmin mendapatkan suatu nikmat dalam hidupnya,<br />
maka ia akan langsung ingat kepada Allah,<br />
bahwa nikmat itu adalah pemberian-Nya,<br />
setelah itu ia akan mengucapkan puji-pujian kepada Allah<br />
sebagai tanda syukurnya.</p>
<p>Zikir terdiri dari empat bagian yang saling terikat,<br />
tidak terpisahkan,<br />
yaitu zikir lisan (ucapan),<br />
zikir qalbu (merasakan kehadiran Allah),<br />
zikir ‘aql (menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak alam),<br />
dan zikir amal (taqwa).</p>
<p>Idealnya zikir itu berangkat dari kekuatan hati<br />
ditangkap oleh akal,<br />
dan diucapkan dengan lisan,<br />
lalu dibuktikan dengan ketaqwaan;<br />
yang tampak di dalam amal nyata di dunia ini.</p>
<p>Zikir adalah perintah Allah kepada orang-orang yang beriman.<br />
Maka orang yang beriman adalah orang yang banyak berzikir.<br />
Kurang iman, kurang zikir.<br />
Tidak beriman tidak akan berzikir.<br />
Berzikir berarti taat kepada perintah Allah.</p>
<p>Prakteknya, zikir bisa dilakukan dalam keadaan berdiri,<br />
ketika duduk atau dalam keadaan berbaring.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ</p>
<p>“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu),<br />
ingatlah Allah (fazkurullaha) di waktu berdiri,<br />
di waktu duduk, dan diwaktu berbaring …”<br />
(Q.S. An Nisa’ : 103)</p>
<p>Zikir dapat pula dilakukan di mesjid, mushalla,<br />
di rumah, di kantor, di pasar,<br />
atau di jalan sekalipun,<br />
dan bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah (dalam majelis).</p>
<p>Tempat zikir berada di dalam hati,<br />
bukan hanya diujung lidah belaka.</p>
<p>Zikir dilakukan dengan qalbu menjadi khusyu’,<br />
khudhu’, tadharru’, tawadhu’,<br />
dan yang melahirkan rasa khauf dan raja’,<br />
dilakukan di setiap kesempatan,<br />
pagi dan petang, siang dan malam.</p>
<p>Allah SWT berfirman :</p>
<p>وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ<br />
بِالْغُدُوِّ وَاْلآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ</p>
<p>“Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu<br />
dengan merendahkan diri dan rasa takut,<br />
dan dengan tidak mengerasakan suara,<br />
di waktu pagi dan petang,<br />
dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”<br />
(Q.S. Al-A’raf: 205)</p>
<p>Zikir adalah pangkal ketentraman, ketenangan dan kedamaian.<br />
Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian.<br />
Maka untuk mencapai kedamaian dan ketenangan<br />
jalannya adalah mendatangi sumbernya<br />
dan membersamakan diri dengan-Nya.</p>
<p>Zikir itulah jalan pembersamaan (ma’rifatullah).</p>
<p>Firman Allah :</p>
<p>&#8230; أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ</p>
<p>“… Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku,<br />
niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…”<br />
(Q.S. Al Baqarah: 152).</p>
<p>الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ</p>
<p>“&#8230;&#8230; (Yaitu) orang-orang yang beriman<br />
dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.<br />
Ingatlah &#8230;.,<br />
hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram.”<br />
(Q.S. Ar Ra’d: 28)</p>
<p>Adapun orang yang meninggalkan zikrullah<br />
berarti ia telah membuka keleluasaan syetan untuk menguasainya.</p>
<p>Allah SWT berfirman:</p>
<p>اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ أُولَئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ<br />
أَلاَ إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ</p>
<p>“Syetan telah menguasai mereka<br />
dan menjadikan mereka lupa mengingat Allah (zikrullah);<br />
mereka itulah golongan syetan.<br />
Ketahuilah &#8230;..,<br />
bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah<br />
golongan yang merugi.”<br />
(Q.S. Mujadilah: 19)</p>
<p>Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam Ihya ‘Ulum Ad Din berkata:<br />
“Ketahuilah bahwa orang-orang yang memandang dengan cahaya bashirah<br />
mengetahui bahwa tidak ada keselamatan kecuali<br />
dalam pertemuan dengan Allah SWT.<br />
Dan tidak ada jalan untuk bertemu Allah kecuali<br />
dengan kematian hamba dalam keadaan menyintai Allah<br />
dan mengenal Allah (hubbullah dan ma’rifatullah).</p>
<p>Sesungguhnya cinta dan keakraban<br />
tidak akan tercapai<br />
kecuali dengan selalu mengingat yang dicintai.</p>
<p>Sesungguhnya pengenalan kepada-Nya<br />
tidak akan tercapai<br />
kecuali dengan senantiasa berfikir<br />
tentang berbagai penciptaan Allah,<br />
sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah Ta&#8217;ala&#8230;.</p>
<p>Hubbullah dan ma’rifatullah hanya dapat dicapai<br />
dengan mengoptimalkan waktu-waktu malam dan siang<br />
untuk bertafakkur dan berzikir. &#8220;</p>
<p>الحَمْدُ ِللهِ غَافِرِ الذَّنـْبِ وَ قَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ العِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ</p>
<p>َ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فيِ السَّموَاتِ وَ مَا فيِ الأَرْضِ<br />
لَهُ المُلْكُ وَ لَهُ الحَمْدُ، وَ هُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ</p>
<p>َ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، البَشِيْرُ النَّذِيْرُ، وَ السِّرَاجُ المُنِيْرُ</p>
<p>صَلَوَاتُ اللهِ وَ سَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَ عَلىَ آلِهِ وَ صَحْبِهِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ<br />
وَ عَزَّرُوْهُ وَ نَصَرُوْهُ وَ اتـَّبَعُوْا النُّوْرَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ<br />
وَ رَضِيَ اللهُ عَمَّنْ دَعَا بِدَعْوَتِهِ وَ اهْتَدَى بِسُنَّتِهِ، وِ جَاهَدَ جِهَادَهُ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنُِ</p>
<p>اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ</p>
<p>رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30249537&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=91531618819&#38;aid=-1&#38;oid=91531618819&#38;id=1402038180"></a></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/home.php">Report Note</a> ;</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Donna Savitri" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1286785591"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1286785591">Donna Savitri</a> at 12:29 on 15 June, Terimo kasih atas tausiahnya</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Sara Dewi Mangil" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1577365128"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1577365128">Sara Dewi Mangil</a> at 13:31 on 15 June, Alhamdulillah, tks buya</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Pepi Agum Widianti" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1672682062"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1672682062">Pepi Agum Widianti</a> at 14:55 on 15 June, Alhamdulillah, Buya terima kasih atas silaturrahim yang telah terpaut, subhanallah memberikan bgitu banyak manfaat. Terima kasih telah berbagi dan mengingatkan.</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Titin Anggraini" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1850045544"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1850045544">Titin Anggraini</a> at 15:40 on 15 June, Terima kasih buya masih mau mengingatkan kami yang sering lupa&#8230;. mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kami di dunia dan akhirat. Tin tunggu siraman rohani lainnya dari buya, thanks buy&#8230;.</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Alex Lincoln" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1526421232"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1526421232">Alex Lincoln</a> at 16:42 on 15 June, Ass Alhamdulillah&#8230; Semoga tulisan Buya ini akan menjadi manfaat bagi kami sekeluarga beserta saudara saudara kita seiman yang sempat membacanya dan sekaligus menjadi ilmu yang bermanfaat bagi Buya, Amiiiiiiiiiiiin&#8230;</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Susianti Annisa H" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1705255389"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1705255389">Susianti Annisa H</a> at 17:20 on 15 June, Syukran Buya tas tausiyahnya&#8230; Susi tunggu tausiyah brikutnya&#8230; Mg Buya slalu d lindungi oleh Allah&#8230;</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Dwi Mutia" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1772503880"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1772503880">Dwi Mutia</a> at 19:44 on 15 June, alhamdullillah, trima kasih byk tausiahnya buya..</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Rauf Jabbar" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1542285822"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1542285822">Rauf Jabbar</a> at 21:29 on 15 June, Alhamdullilah, semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat nya buat kita semua dan klg kt dgn slalu ingat kpd Nya, Amiiiiin</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Fitri Adona" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1772640836"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1772640836">Fitri Adona</a> at 10:00 on 16 June, Alhamdulillah. Terimakasih Buya. Saya akan ingat selalu.</p>
<p style="text-align:left;"><a title="Awenk Hasyim" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1075410390"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1075410390">Awenk Hasyim</a> at 16:18 on 17 June, Terima kasih buya&#8230;.Semoga ini dapat meningkatkan ibadah kami..Amiin.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=576696991"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=576696991">Abdul Hamid Damanik</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1680936801"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1680936801">Aristo Munandar</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1584259296"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1584259296">Auda Thariq</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1459036992"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1459036992">Rafika Dewi</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=811708432"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=811708432">Shofwan Karim</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1557281189"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1557281189">Nina Karmilawati</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1567923697"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1567923697">Dewi Mutiara</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1622414053"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1622414053">Roland Y. Mandailiang</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1330535479"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1330535479">Roni Patihan</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1244381912"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1244381912">&#8216;Ain Syams Al-Qohiroh</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1136901550"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1136901550">Haja Aini Addini</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1177669994"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1177669994">Rina Fajri Nuwarda</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1133151263"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1133151263">&#8216;Dewis&#8217; Is Sikumbang</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=754313563"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=754313563">Asnelly Dewiyanti</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1546263465"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1546263465">Dyan Eka Putri</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1488907903"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1488907903">Marlis Rahman</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1635406667"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1635406667">Lily Maria Yulis</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1179437923"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1179437923">Asraferi Sabri</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1284992923"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1284992923">Ivo Sabrina</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1363280817"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1363280817">Deri Manoppo</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000008946313"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000008946313">Deri Marta</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1039321981"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1039321981">Meidia Utami</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1610523957"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1610523957">Anita Kencanawati</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1564939965"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1564939965">Linda Gustaf</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1431665326"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1431665326">Rusli Zainal</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1391389792"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1391389792">Mambang Mit</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1427197701"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1427197701">Rika Mitaliani</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=720911273"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=720911273">Rachman Chalid</a></p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1264872287"></a> <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1264872287">Rainal Rais</a></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membina Rumah Tangga]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/07/23/membina-rumah-tangga/</link>
<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 16:06:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/07/23/membina-rumah-tangga/</guid>
<description><![CDATA[MEMBINA RUMAH TANGGA DAN MEMELIHARA NILAI-NILAI PERNIKAHAN SESUAI BIMBINGAN AGAMA ISLAM Oleh : H. Ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center">MEMBINA RUMAH TANGGA DAN MEMELIHARA NILAI-NILAI PERNIKAHAN SESUAI BIMBINGAN AGAMA ISLAM</p>
<h2>Oleh : H. Mas’oed Abidin</h2>
<p dir="rtl">الحَمْدُ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ تَعَالىَ مِنْ سُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مَنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ،  وَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَدَّى الأَمَانَةَ، وَ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَ نَصَحَ لِلأُمَّةِ، وَ جَاهَدَ فيِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّد، وَ عَلىَ آله وَصَحْبهِ. أَمَّا بَعْدُ.</p>
<p>Pernikahan Warisan Indah Sunnah Rasulullah</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-267" title="(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haram" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2009/07/jpeg-image-236c397290-pixelstangga-al-haram.jpeg" alt="(JPEG Image, 236×290 pixels)Tangga al Haram" width="236" height="290" />Sabda Rasulullah SAW, <strong><em>“an- nikahu sunnati, man raghiba ‘an sunnati falaisa minni”, </em></strong>artinya “nikah itu sunnahku, dan yang tidak mau mengikuti sunnahku, tidaklah termasuk umatku” (al Hadist).  Dengan menikah, dua orang yang sebelumnya masih asing, mengikat diri dalam satu <strong><em>aqad </em></strong>atau<strong> perjanjuan <em>nikah</em></strong> dan <strong><em>ijab-kabul</em></strong> dihadapan wali, saksi dan qadhi (penghulu), untuk saling <em>perhatian, kasih sayang, kepedulian, simpati, ketulusan,</em> dan <em> cinta </em>(mahabbah).</p>
<p><strong>Kriteria Memilih Isteri </strong></p>
<ol>
<li><strong>a.        </strong><strong>Beragama Islam dan shalehah</strong> (QS. Al-Nisâ’/4: 34)</li>
</ol>
<p>Rasul Allâh SAW bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat faktor: Pertama, karena harta; Kedua, karena kecantikan; Ketiga, kedudukan; dan Keempat, karena agamanya. Maka hendaklah engkau pilih yang taat beragama, engkau pasti bahagia.” (HR. Bukhâriy dan Muslim).</p>
<ol>
<li><strong>b.       </strong><strong>Berasal dari keturunan yang baik-baik</strong></li>
</ol>
<p>Rasul Allâh SAW bersabda, “Jauhilah oleh kamu sicantik yang beracun!, lalu sahabat bertanya: “Wahai Rasul Allâh, siapakah perempuan yang beracun itu? jawab Rasul Allâh,”Perempuan yang cantik tapi berada dalam lingkungan yang jahat.” (HR. Dâr al-Quthniy).</p>
<ol>
<li><strong>c.         </strong><strong>Masih perawan</strong></li>
</ol>
<p>Diriwayatkan dari Jabir,</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p align="center">84</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Rasul Allâh SAW bersabda, “Sesungguhnya Rasul Allâh telah berkata kepadanya, kata Beliau: “Hai Jabir, apakah engkau kawin dengan perawan atau dengan janda?” Jawab Jabir: “Saya kawin dengan janda”. Kata beliau: “Alangkah baiknya jika engkau kawin dengan perawan. Engkau dapat menjadi hiburan baginya dan diapun  menjadi hiburan bagimu.” (HR. Jama’ah).</p>
<ol>
<li><strong>d.       </strong><strong>Carilah perempuan yang Sehat atau tidak Mandul</strong></li>
</ol>
<p>Rasul Allâh SAW bersabda, “Dari Mu’qil bin Yasar, katanya telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW. Kata laki-laki itu, “Saya telah mendapat seorang perempuan yang bangsawan dan cantik tapi hanya dia tidak beranak (mandul). Baikkah saya kawin dengan dia ?”. Jawab Nabi SAW, “Jangan”, kemudian laki-laki itu datang untuk kedua kalinya dan Nabi tetap melarangnya. Kemudian pada kali ketiga laki-laki itu datang lagi. Nabi bersabda: “Kawinlah dengan yang dikasihi dan berkembang menghasilkan keturunan (subur)”. (HR. Abu Dâud dan Al-Nasâ’i).</p>
<ol>
<li>Beraklak mulia, sopan santun, bertutur kata baik.</li>
</ol>
<p>Kriteria Memilih Laki-Laki Calon Suami</p>
<ol>
<li><strong>Laki-laki yang beragama Islam dan shaleh</strong> (QS. Al-Nûr/24: 3 dan 26).</li>
<li><strong>Mempunyai kemampuan membiayai kehidupan Rumah Tangga</strong> (sesuai dengan hadits Mutafaqq `alaihi – “<em>yâ ma`syar al-syabâb</em>”).</li>
<li><strong>Cerdas dan Sehat</strong> (layak untuk berumah tangga, baik jasmani dan rohani). dan</li>
<li><strong>Cakap Hukum</strong> (<em>Baligh</em>).</li>
<li><strong>Berakhlak mulia, sopan santun, bertutur kata baik dan pandai bergaul di tengah keluarga.</strong></li>
</ol>
<h1>keluarga sakinah Sesudah Nikah</h1>
<p>Setelah akad nikah dilaksanakan, <strong>suami isteri mempunyai hak dan kewajiban</strong>, untuk mencapai tujuan perkawinan, <strong>membentuk keluarga bahagia</strong> dan <strong>kekal</strong> dalam aturan syari’at Islam, yang disebutkan dengan <strong>“Rumahku adalah syorgaku”.</strong></p>
<p><strong>A</strong>da berapa resep untuk mewujudkan keluarga sakinah dan bahagia.<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1">[1]</a> Di antaranya :</p>
<ol>
<li><strong>1.        </strong><strong>Saling Mengerti antara Suami-isteri</strong></li>
</ol>
<p>Seorang suami atau isteri harus tahu latar belakang pribadi masing-masing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing adalah sebagai dasar untuk menjalin komunikasi masing-masing. Dan dari sinilah seorang suami atau isteri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur, disebabkan oleh sifat egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan dengan keinginannya dan begitu pula isteri. Seorang suami atau isteri hendaklah mengetahui hal-hal sebagai berikut :</p>
<p>a)      Perjalanan hidup masing-masing,</p>
<p>b)      Adat istiadat daerah masing-masing (jika suami isteri berbeda suku dan atau daerah),</p>
<p>c)      Kebiasaan masing-masing,</p>
<p>d)      Selera, kesukaan atau hobi,</p>
<p>e)      Pendidikan,</p>
<p>f)       Karakter/sikap pribadi secara proporsional (baik dari masing-masing, maupun dari orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, teman ataupun saudaranya, dan yang relevan dengan ketentuan yang dibenarkan syari`at.</p>
<ol>
<li><strong>2.        </strong><strong>Saling Menerima</strong></li>
</ol>
<p>Suami isteri harus saling menerima satu sama lain. Suami isteri itu ibarat satu tubuh dua nyawa. Tidak salah kiranya suami suka warna merah, si isteri suka warna putih, tidak perlu ada penolakan. Dengan keredhaan dan saling pengertian, jika warna merah dicampur dengan warna putih, maka akan terlihat keindahannya.</p>
<ol>
<li><strong>3.        </strong><strong>Saling Menghargai</strong></li>
</ol>
<p>Seorang suami atau isteri hendaklah saling menghargai:</p>
<ol>
<li>Perkataan dan perasaan masing-masing
<ol>
<li>Bakat dan keinginan masing-masing
<ol>
<li>Menghargai keluarga masing-masing. Sikap saling menghargai adalah sebuah jembatan menuju terkaitnya perasaan suami-isteri.</li>
<li><strong>4.        </strong><strong>Saling Memercayai</strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Jika suami isteri saling mempercayai, maka kemerdekaan dan kemajuan meningkat, serta hal ini merupakan amanah Allâh.</p>
<ol>
<li><strong>5.        </strong><strong>Saling Mencintai</strong></li>
</ol>
<p>Suami isteri saling mencintai akan memunculkan beberapa hal seperti, lemah lembut dalam bicara, selalu menunjukkan perhatian, bijaksana dalam pergaulan, tidak mudah tersinggung, dan perasaan (batin) masing-masing akan selalu tenteram</p>
<p>Suami atau isteri harus selalu merawat dan memupuk <strong>lima saling</strong> di atas untuk mencapai keluarga bahagia dan kekal beradasarkan Syari’at Islam. Tidak ada kata lebih indah, tentang hubungan suami-isteri, selengkap Firman Allah,</p>
<p><strong><em>&#8220;Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.&#8221; </em></strong><strong>(QS. Al-Baqarah/2: 187).<em> </em></strong></p>
<p>Rasa damai dan tenteram hanya dicapai dengan saling mencintai. Maka rumah tangga muslim punya ciri khusus, yakni bersih lahir baathin, tenteram, damai dan penuh hiasan ibadah.</p>
<p dir="rtl">وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ<strong> </strong></p>
<p><strong><em>Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.</em></strong><strong> </strong><strong>(QS.ar-Rum : 21).</strong></p>
<p>Ayat ini memakai <em>dua kosa kata secara berurutan, </em>yakni <strong><em>mawaddah,</em></strong><em> </em>dan <strong><em>rahmah</em></strong><em>. </em>Kedua-duanya berarti <strong><em>cinta, kasih </em></strong>dan<em> <strong>sayang</strong></em>. <strong>M</strong><strong>awaddah</strong> artinya <em>cinta</em> dan <em>ghairah</em> ketika masih usia awal dan saling ketertarikan antara keduanya. <strong>R</strong><strong>ahmah</strong> adalah <em>cinta, kasih sayang,</em> <em>kepedulian </em>karena pengalaman dalam perjalanan waktu dalam wadah <em>ketenteraman</em> (sakinah).</p>
<p>Cinta kasih yang tulus, dapat wujud jika memiliki rasa thaat dan kesadaran mempertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Surat an-Nisa’ ayat 1 sudah cukup sebagai pegangan.</p>
<p dir="rtl">يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا<strong> </strong></p>
<p><strong><em>“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”</em></strong></p>
<p><strong>Dorongan Segera Menikah</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Menikah </strong>itu <em>separoh dari agama</em>, sebagaimana sabda Rasul <em>Allâh SAW,</em></p>
<p dir="rtl">اِذَا تَزَوَّجَ اْلعَبْدُ فَقَدِاْستَعْمَلَ نِصْفُ اْلدِّيْنُ فَاْليَتَّقِ اللهَ فِي اْلنِّصْفِ الْبَاقِي  . رَوَاهُ البَيْهَقِى.</p>
<p><strong><em>“Apabila telah nikah seseorang, maka ia benar-benar telah menyempurnakan seruan agama. Maka hendaklah ia takut kepada Allâh pada separoh yang tinggal” </em></strong><strong>(HR. Baihaqiy).</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-268" title="Undangan KMII Tokyo 088" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2009/07/undangan-kmii-tokyo-088.jpg?w=300" alt="Undangan KMII Tokyo 088" width="300" height="225" />Pernikahan adalah ibadah yang sakral. Mempunyai risiko hukum. Bimbingan agama menyebutkan, &#8220;Empat hal yang dibolehkan jika keempat hal itu diucapkan, yaitu : &#8220;Thalaq, Memerdekakan (hamba sahaya), Nikah dan Nadzar.&#8221; Maka, &#8220;Tidak ada gurauan dalam keempat hal itu.&#8221;, demikian Ali bin Abi Thalib RA dalam riwayat Umar RA.</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td>
<p align="center">52</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Hal yang terpenting dalam kehidupan di dunia ini adalah kebahagiaan, melalui &#8220;proses penyempurnaan&#8221; ke arah pencapaiannya. Di akhirat tidak lagi penyempurnaan, seperti yang dialami di dunia ini. Maka, &#8220;Dunia tempat beramal, dan akhirat adalah tempat menerima ganjarannya&#8221;.</p>
<p>Kehidupan di dunia menjadi indah dan bahagia karena dihiasi empat hal. sesuai hadits Rasulullah SAW,  </p>
<p dir="rtl">أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الْصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ الْحَنِيْءُ .وَأَرْبَعٌ مِنَ الشَّقَاءِ: الْجَارُ الْسُوءُ، وَالْمَرْأَةُ السُّوْءُ، وَالْمَرْكَبُ الْسُّوْءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيَّقُ.</p>
<p dir="rtl" align="right">(رَوَاهُ أَحْمَدٌ وَ إِبْنُ حِبَّانٌ).</p>
<p><strong><em>&#8220;Empat hal yang merupakan kebahagiaan, yaitu: perempuan shalehah, rumah yang luas, tetangga yang baik, kendaraan yang nyaman. Empat hal yang merupakan penderitaan, yaitu: tetangga yang jahat, isteri yang jahat, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit.&#8221;</em></strong><strong> (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban).  </strong></p>
<p>Hadist ini menjelaskan bahwa <strong>perempuan yang shalehah</strong> itu adalah <strong><em>perempuan yang patuh pada ajaran agama, setia pada suaminya, pandai menjaga hati suaminya, pandai menjaga kehormatan </em></strong>dan<strong><em> martabat </em></strong>serta <strong><em>keluarganya</em>. </strong>Kebahagiaan akan sirna ketika yang menjadi tetangga adalah orang jahat, dan hidup didampingi isteri yang tidak setia.<strong></strong></p>
<p>Pernikahan menjamin <strong>keseimbangan</strong> dalam kehidupan, dengan adaya pasangan <strong>suami-isteri</strong>.</p>
<p>Memilih calon isteri atau suami, tidak mesti dari  keluarga terdekat. Umar bin Khaththab RA. menganjurkan, <em>&#8220;<strong>Aghribu wa lâ tadhawwu</strong>&#8221; </em>(<em>carilah yang jauh/asing dan jangan kamu menjadi lemah</em>).</p>
<p>Pernikahan akan merekat tali persaudaraan semakin luas. Menunda pernikahan akan mengundang bahaya, sebagai dipaparkan Rasul Allâh SAW,<em></em></p>
<h3>أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ  (رَوَاهُ التُّرْ مُذِىوَإِبْنُ حِبَّانٌ فِى صَحِيْحِهِ)</h3>
<p><strong><em>&#8220;Yang paling banyak menjerumuskan manusia kedalam neraka adalah mulut dan kemaluannya.&#8221; </em></strong><strong>(HR. Al-Tirmidziy dan dia berkata hadits ini shahih).</strong></p>
<p>Sabda Rasul Allâh SAW mengingatkan, <em>&#8220;<strong>Ada tiga faktor yang membinasakan manusia yaitu </strong></em><strong><em>mengikuti hawa nafsu, kikir yang melampaui batas</em></strong><strong><em> dan</em></strong><strong><em> mengagumi diri sendiri </em></strong><strong>(‘ujub)<em>.&#8221; </em></strong>(HR. al-Tirmidziy).</p>
<p>Allâh SWT amat meridhai pernikahan, dan menjanjikan mudah jalan untuk melaksanakannya,</p>
<p dir="rtl">تزويج العسر, لقوله تعالى: &#8230; إِنْ يَّكُونُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ والله وَاسِعٌ عَلِيْمٌ.<strong><em> </em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>“Kesulitan dalam pelaksanaan nikah, sebagaimana firman Allâh: Yakinlah, jika kamu miskin Allâh akan memampukan kamu dengan karunia (rezki-Nya), dan Allâh Maha luas (pemberian-Nya).”</em></strong><strong> (HR. Buchariy).</strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Kandungan hadits <em>Bukhâriy, Jilid 3, Juz 7, halaman 8 </em>ini<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><strong><strong>[2]</strong></strong></a> <strong><em>mendorong segera menikah </em></strong>karena<strong><em> Pernikahan akan memelihara kehormatan diri. </em></strong></p>
<p>Nabi Muhammad SAW (570-632 H)<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3">[3]</a>, mendorong muda-mudi yang telah mampu, untuk melangsungkan pernikahan.</p>
<p dir="rtl">عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ لَنَارَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَائَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.  (رَوَاهُ مُتَفَقٌّ عَلَيْهِ)<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4">[4]</a></p>
<p><strong><em>&#8220;Rasul Allâh SAW bersabda : &#8220;Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu sudah mampu (lahir dan bathin) untuk berkeluarga, maka kawinlah. Sesungguhnya hal yang demikian lebih memelihara pandangan mata, memelihara kehormatan, dan siapa yang belum mampu untuk berkeluarga, dianjurkan baginya untuk berpuasa, karena hal itu akan menjadi pelindung dari segala perbuatan memperturutkan syahwat.&#8221; </em></strong><strong>(HR. Mutafaq</strong><strong>q</strong><strong> `alaihi)</strong><strong>.<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></strong></p>
<p><strong>Suami Isteri Seirama Membina Keluarga</strong></p>
<p>Suami dalam bahasa Alquran disebut <strong>zauj</strong>, berasal dari kata <strong><em>izdiwaj</em></strong> artinya: <strong><em>isytibah wat tawazun</em></strong> (serupa dan seirama). Suami-isteri atau <strong>zaujan</strong>, berarti dua orang yang <strong>serupa dan seirama</strong>, tidak bertolak belakang secara hukum syar&#8217;i ataupun secara ukuran manusiawi biasa. Di dalam tatanan adat Minangkabau seorang suami adalah “<strong><em>Yang akan dibawa menjadi kawan seiring, tegak akan dibawa beriya, duduk akan dibawa berunding”, </em></strong>tugas semenda di Minangkabau. <strong>Tidak dapat serasi, seirama, cinta sejati dan kasih-sayang, dua insan yang bertolak belakang perangainya.</strong> <strong><em> “ wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).”</em></strong> (QS.24, an-Nur: 26).</p>
<p>Ayat ini memberi tahu kita agar menjauhi fitnah. Rumah Tangga Sakinah itu sarat dengan nilai-nilai religius, saling amanah (memercayai), dan tidak melupakan perintah Allâh. Dalam kehidupan ini, perlu ada keyakinan bahwa hanya Allâh satu-satunya pembimbing keluarga. Rasa bahagia akan tercipta dengan kuatnya rasa saling pengertian antara kedua keluarga di dalam mencapai tujuan pernikahan.</p>
<p><strong>Jauhilah Bahaya Zina</strong><strong></strong></p>
<p>Yang dimaksud perempuan zina ialah perempuan-perempuan nakal yang pekerjaannya berzina (pelacur). Dan laki-laki pezina adalah kelompok pelaku dan pendukung zina.</p>
<p>Di akhir zaman, manusia mulai mengaggap enteng soal zina bahkan cenderung <strong>menghalalkan Zina </strong>atau<strong> mentolerir perbuatan zina </strong>sebagaimana peringatan Rasul Allâh <em>SAW,</em></p>
<p dir="rtl">لَيَكُوْنَنَّ فِى أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَ وَالْحَرِيْر َوَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِف  َ</p>
<p><strong>&#8220;<em>Pasti akan ada dari umatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khamar (segala yang dapat merusak akal), dan alat-alat musik !&#8221; </em>(HR. Al-Bukhâriy).<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></strong></p>
<p>Hadist Rasul Allâh SAW<em> </em>ini mengingatkan umat Islam membatasi diri dengan lain jenis, agar terjauh dari pornoaksi.</p>
<p dir="rtl">لاَيَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ (رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمْ)</p>
<p><strong><em>&#8220;Janganlah sekali-kali (di antara kalian) berduaan dengan perempuan, kecuali dengan mahramnya.&#8221; (HR. Al-Bukhâriy dan Muslim).</em></strong></p>
<p>Hadist Nabi SAW ini menjadi panduan agar tidak terjadi pelanggaran hukum, menjauhi yang haram, perlindungan hak-hak, menegakkan sendi kehidupan peribadi muslim, dan terpelihara hubungan dengan Sang Khaliq (<em>hablun minallah</em>), serta memberikan batasan <strong>syari`at</strong> (ketentuan agama Islam).</p>
<p>Hidup membujang membuka peluang berbuat serong, menimbulkan fitnah, dan mudah jatuh kelobang zina. <strong><em>Imam Ahmad</em> </strong>mengatakan, <strong><em>&#8220;Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa daripada zina&#8221;.</em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p>Dalam riwayat (<em>asbabun Nuzul</em>) diceriterakan seorang minta izin kepada Nabi untuk kawin dengan pelacur yang perhubungannya telah dimulai sejak masa jahiliah, namanya: <strong>Anaq.</strong> Nabi tidak menjawabnya sehingga turunlah ayat yang berbunyi:</p>
<p><strong><em> “ laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.</em></strong>“<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7">[7]</a> (QS. 24, an-Nur: 3)</p>
<p>Rasul SAW membacakan ayat ini dan berkata: &#8220;<strong><em>Jangan kamu kawin dengan dia</em></strong>.&#8221; (HR. Abu Daud, Nasa&#8217;i dan Tarmizi).</p>
<p>Allah SWT mengizinkan lelaki mukmin kawin dengan perempuan <strong><em>mu&#8217;minah</em></strong> yang <strong><em>muhshanah</em></strong> atau <strong>yang bersih</strong> dan <strong>terpelihara. Dan perempuan mukminah dengan lelaki muhshan, terlarang </strong>dengan seorang<strong> lelaki pezina.</strong></p>
<p><strong><em> “ dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki <a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8"><strong>[8]</strong></a> (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9"><strong>[9]</strong></a> (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan Tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10"><strong>[10]</strong></a>. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” </em></strong>(QS. 4, an-Nisa&#8217; : 24).</p>
<p>Barangsiapa tidak mau menepati ketetapan Allah SWT berdasarkan wahyu Alquran (QS.24, An Nur : 3), maka dia musyrik, dan tidak boleh dikawini kecuali oleh musyrik juga.<strong></strong></p>
<p><strong><em> “  perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”.</em></strong> (QS.24, an-Nur: 2)</p>
<p>Ketetapan Allah ini agar manusia tetap terjaga kebersihan jiwa dan badannya, supaya tidak terjatuh ke lembah zina. Pelaku zina mendapat hukuman fisik, yakni “<strong>dera</strong>”.</p>
<p>Dera ini adalah hukuman jasmani Larangan mengawininya adalah hukuman moral. Haram mengawini pelacur adalah memurnikan kehormatan dan menjaga sucinya garis turunan, selaras dengan fitrah manusia dan sesuai dengan akal yang sehat. Fitrah manusia menganggap jijik perbuatan pelacuran.</p>
<p>Keutamaan syariat Islam, mengharamkan kawin dengan pelacur sampai dia taubat dan mengosongkan rahimnya, paling sedikit haidh satu kali.  Zina dalam Islam termasuk satu dosa besar yang harus dijauhi oleh semua individu yang mengklaim dirinya muslim. Alquran, Surah Al Isra ayat 32, secara eksplisit menyatakan,</p>
<p><strong><em>“ dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan </em></strong><strong>(menuju banyak) kejahatan <em> yang buruk </em>lainnya<em>.” </em></strong></p>
<p>Berapa tafsir Alquran menyebut larangan keras atas perbuatan zina karena beberapa faktor.</p>
<p><strong><em>Pertama,</em></strong> zina tidak hanya perilaku yang sangat memalukan, tapi ia juga tidak konsisten dengan self-respect atau respek pada manusia lain.</p>
<p><strong><em>Kedua,</em></strong> zina membuka jalan pada banyak perbuatan jahat yang lain.</p>
<p><strong><em>Ketiga,</em></strong> zina menghancurkan fondasi dasar keluarga.</p>
<p><strong><em>Keempat,</em></strong> zina dapat menyebabkan penyakit, pembunuhan, permusuhan dan hilangnya reputasi dan harta benda pelakunya.<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong><em>Kelima,</em></strong> zina secara permanen melepaskan ikatan hubungan keluarga dan masyarakat.</p>
<p><strong><em>Keenam,</em></strong> apabila terjadi hamil, maka hal itu bertentangan dengan maslahat anak yang lahir atau yang akan lahir dari hubungan zina itu. Maknanya agama Islam memerintah perlunya kesucian diri, baik lelaki dan wanita, di segala waktu – sebelum menikah atau selama berumah tangga.</p>
<p>Apabila setiap individu muslim bertekad untuk menjalani setiap larangan besar dalam Islam, seperti larangan berzina, maka umat Islam akan menjadi pelopor penanggulangan penyakit HIV/AIDS di seluruh dunia. Itulah salah satu makna implisit keagungan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).</p>
<p>Perzinaan tidak akan berkembang bila kesopanan dijaga dengan baik, serta takut kepada iqab Allah.</p>
<p>Kesopanan lelaki dan perempuan di masa berinteraksi diperintah <strong>mengawal pandangan</strong> dan <strong>menjaga faraj</strong> mereka. Kaum perempuan memiliki kemuliaan khas dengan intensif menjaga auratnya.</p>
<p><strong><em> “ Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”</em></strong> (QS.24, an Nur : 31)</p>
<p>Diminta kepada kaum perempuan tidak menampakkan perhiasan atau aurat mereka kecuali kepada orang-orang yang rapat atau muhrim.</p>
<p>Kata <strong>perhiasan</strong> bermakna barang yang <strong>kemas dan terjaga dengan baik. </strong></p>
<p><strong>Perhiasan perempuan </strong><strong>adalah bahagian anggota tubuh yang amat menarik</strong> (<strong>seperti yang ada di dada</strong>) supaya ditutup dengan sempurna.</p>
<p>Maka, pakaian perempuan harus menutup bahagian dada mereka, atau dada ditutup sehelai kain lain yang disebut khumur.</p>
<p> <img class="aligncenter size-medium wp-image-269" title="Undangan KMII Tokyo 048" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2009/07/undangan-kmii-tokyo-048.jpg?w=300" alt="Undangan KMII Tokyo 048" width="300" height="225" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p align="center"><strong>Nasehat Pernikahan</strong></p>
<p>Mengucapkan <strong><em>Ijab Kabul</em></strong> artinya<strong> ikrar <em>timbang terima tanggung jawab</em> </strong>dari ayah bunda isteri kepada seorang lelaki yang akan menjadi suami atau yang akan menjadi <em>menantu-</em>nya.</p>
<p>Dalam istilah di Minangkabau di sebut bahwa menantu itu  “<strong><em>.. nan ka di-bao jadi kawan  sa-iriang, tagak  ka  di-bao  ba-iyo,  duduak  ka  di-bao  ba-rundiang </em></strong><em>= </em>yang akan di bawa jadi kawan seiring, tegak di bawa beriya bertidak, duduk untuk teman berunding.”</p>
<p>Sasaran pernikahan adalah mendapatkan <em>kedamaian, kenyamanan </em>dan <em>ketenangan. </em></p>
<p>Ketika manusia dalam keadaan lemah atau miskin sekalipun tidak terhalang baginya untuk melangsungkan pernikahan, karena Allâh SWT telah menjamin rizkinya.</p>
<p><strong><em>“ Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian –</em></strong><strong> yakni, hendaklah laki-laki yang belum kawin atau perempuan- perempuan yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin<em> &#8211;, di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.</em> Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya<em>. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nûr/24: 32). </em></strong></p>
<p>Sabda Nabi Muhammad SAW, menyebutkan<em>,</em> <strong><em>&#8220;Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain.&#8221;</em></strong><strong> </strong>(Hadits Qudsi).<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12">[12]</a><strong> </strong></p>
<p>Agama Islam <strong><em>sangat mengecam pola hidup membujang</em></strong><em> </em>(<strong>celibat</strong>) atau hidup tanpa ada ikatan perkawinan yang sah.</p>
<p>Agama Islam melarang <strong><em>celibat</em></strong> tersebut terjadi dalam kondisi ia mampu untuk nikah, kecuali ada alasan biologis, seperti <em>impoten</em><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13">[13]</a>.</p>
<ol>
<li><strong>I.    </strong><strong>Peran Suami Isteri</strong></li>
</ol>
<p>Allah SWT perintahkan setiap suami, <strong><em>wa ‘a-syiruu-hunna bil ma’ruf, </em></strong>artinya <strong><em>pergaulilah isterimu dengan dengan ma’ruf, lemah lembut,</em></strong> yang di ikrarkan dalam <em>sighat thalaq ta’lik. </em>Tanggung-jawab <strong>suami</strong> menurut Alquran sangat berat.  <strong>الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ</strong>  <strong><em>Lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan …</em></strong><strong> </strong>(QS. an-Nisa’:34), dan <strong><em>“menggauli isterinya dengan baik”</em></strong> (QS.an-Nisa’:19)<em>.</em></p>
<p><strong><em> “Hai orang-orang yang beriman, </em></strong><strong>tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa,<em> dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata, dan </em>bergaullah dengan mereka secara patut<em>. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” </em></strong>(QS.4, An-Nisa’ : 19).</p>
<p>Hak-hak hidup lelaki dan perempuan tidak ada berbeda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><strong><em>“ … dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma&#8217;ruf.</em></strong><strong><em>”</em></strong></p>
<p>Lelaki berkewajiban melindungi perempuan. Di sini tugas dan kehormatan laki-laki yang diberikan Allah SWT.</p>
<p><strong><em>Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</em></strong><strong> (QS.al-Baqarah:228).</strong></p>
<p>Betapa bijaksana Allah, memberikan tanggung jawab kepada lelaki memikul tugas menyeluruh membina rumah tangga. Ketahuilah bahwa suami adalah pemimpin di tengah rumah tangganya.</p>
<p>Rumah tangga wajib di bina. Masyarakat keliling mesti di tenggang. Keduanya wajib di jaga. Mancari kato mufakaik, ma-nukuak mano nan kurang, Mam-bilai mano nan senteng, ma-uleh sado nan singkek, Man-jinaki mano nan lia, ma-rapekkan mano nan ranggang, Ma-nyalasai mano nan kusuik, Ma-nyisik mano nan kurang, Ma-lantai mano nan lapuak,  mam-baharui mano nan usang.</p>
<p>Betapa agung Allah, yang mewajibkan suami  musyawarah dengan isteri, serta menggauli isteri lemah lembut setiap waktu.</p>
<p dir="rtl">مَا كَانَ الرِّفْقُ فيِ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ  <em>]</em><em>رواه الضياء عن أنس</em><em>[</em></p>
<p><strong><em>Lemah lembut dalam sesuatu (urusan) menyebabkan indahnya sesuatu dan jika lemah lembut itu telah dicabut dari sesuatu, niscaya yang akan tersisa adalah keburukan. </em></strong><strong>(Diriwayatkan oleh Dhia dari Anas).</strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, <strong>“</strong><strong><em>sebaik-baik kamu adalah yang paling baik pada keluarganya.”</em></strong> Nilai martabat terletak pada akhlak.   </p>
<p dir="rtl">أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنِ إِيْمَانا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا<strong>َ</strong> ]رواه الطبراني و أبو نعيم[</p>
<p><strong>“<em>Sebaik-baik mukmin seseorang adalah yang paling sempurna akhlaknya”.</em> </strong>(HR. Thabarany dan Abu Nu’aim).</p>
<p>Kewajiban suami, menjadi <strong>pelindung </strong>terhadap perempuan.<strong> </strong>Umar bin Khattab RA, menceritakan tentang bakti isterinya.</p>
<p> <strong><em>“Isteriku, benteng bagiku dari api neraka. Isteriku, orang yang paling  setia mendampingiku di saat senang dan susah. Isteriku yang membantu, menjaga, memelihara rumah dan hartaku. Isteriku adalah  ibu dari anak-anakku. Saya tahu betul, betapa berat tugas ibu, mengandung, melahirkan, menyusukan, dan menjaga  anak-anak. Selain itu, isteriku tanpa mengenal lelah, setiap hari mencuci pakaianku, dan memasakkan makanan untukku, dan anak-anakku. Karena itu, aku selalu memaafkannya. Mungkin banyak hak-haknya yang belum sempat aku penuhi.”</em></strong><strong><em> </em></strong>Kiat Umar ini mesti ditiru. <strong><em></em></strong></p>
<p>Kebahagiaan rumah tangga bisa di perdapat dengan saling pengertian dan musyawarah. Hindari sifat menang sendiri dan memaksakan kehendak. Bina rumah tangga dengan kasih sayang. Hindari sifat tertutup dan saling curiga. Hadapi masalah bersama. <strong><em>Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo, Panjang jo singkek pa uleh kan, mako sampai nan di cito.</em></strong></p>
<p>Kaedah hidup di Ranah Minang mengadatkan, <strong><em>”Handak kayo badikik-dikik, Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan  tali, Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.” </em></strong><strong><em> </em></strong>Suami dituntut berpendir­ian teguh, lembut hati, penyabar, dan melaksanakan suruhan Allah.</p>
<p dir="rtl">إِنَّ مِنْ أَخْلاَقِ المُؤْمِنِ قُوَّةً فيِ دِيْنٍ وَ حَزْمًا فيِ لِيْنٍ وَ إِيْمَانًا فيِ يَقِيْنٍ وَ حِرْصًا فيِ عِلْمٍ وَ شَفَقَةً فيِ مِقَةٍ وَ حِلْمًا فيِ عِلْمٍ وَ قَصْدًا فيِ غِنًى وَ تَجَمُّلاً فيِ فَاقَةٍ وَ تَحَرُّجًا عَنْ طَمَعٍ وَ كَسْبًا فيِ حَلاَلٍ وَ بِرًّا فيِ اسْتِقَامَةٍ وَ نَشَاطًا فيِ هُدًى وَ نَهْيًا عَنْ شَهْوَةٍ وَ رَحْمَةً لِلْمَجْهُوْدِ.</p>
<p><strong><em>Sesungguhnya, termasuk budi pekerti orang beriman ialah, kuat memegang agama, tegas bersikap, ramah lembut, beriman dengan keyakinan, merebut ilmu pengetahuan, membantu dengan kasih sayang, ramahtamah dalam berilmu, sederhana di waktu kaya, mampu bersahaja dikala miskin, memelihara diri dari tamak, berusaha di jalan yang halal, selalu berbuat baik, rajin menjalankan pimpinan yang benar, membatasi diri dari keinginan nafsu dan kasih sayang terhadap orang yang berkekurangan. </em></strong>Inilah profil suami ideal itu.</p>
<p>Suami yang berakhlak mulia akan mampu membentuk rumah tangga ideal (<strong><em>baiti jannati</em></strong>)</p>
<p dir="rtl">أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ المَرْءِ: أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَ أَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَ خُلَطَاؤُهُ صَالِحِيْنَ، وَ أَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ <strong><em></em></strong></p>
<p><strong><em>Empat kebahagiaan dalam hidup manusia: isterinya perempuan yang saleh, anak-anaknya orang baik-baik, teman sepergaulannya orang-orang yang saleh, dan rezekinya diperoleh di negerinya. </em></strong><strong>(Diriwayatkan oleh Dailami dari ‘Ali).</strong><strong></strong></p>
<p><strong>II.</strong><strong>Posisi Isteri dan Peran Kaum Perempuan</strong></p>
<p><strong>Islam sangat menghormati kedudukan perempuan, <em>"</em></strong><em>Sorga ditelapak kaki Ibu<strong>"</strong></em><strong>, artinya bahwa "</strong><em>Keridhaan Allâh terletak pada keridhaan kedua orang tua<strong> </strong></em><strong>(ayah dan ibu). Agama Islam dengan hadist Nabi Muhammad SAW telah meletakkan penghormatan kepada posisi kaum perempuan (ibu) dengan </strong><em>tiga banding satu</em><strong> dengan kaum lelaki (ayah). Selain itu, « </strong><em>perempuan adalah tiang negeri, rusak perempuan maka rusaklah negeri<strong> ». </strong></em><strong>Perempuan adalah ibu yang mendidik pertama dari generasi yang dilahirkannya. </strong></p>
<p>Agama Islam telah mengembalikan fitrah kaum perempuan dari rongrongan kebiasaan jahiliyah yang telah mengingkari kesucian kaum perempuan, dan menganggap kedudukan perempuan sangat rendah. Kaum perempuan dapat menghidupkan suasana hidup yang indah dan bahagia, bila dibimbing oleh nilai-nilai ajaran agama yang luhur <em>(Dinul Islam)</em>.</p>
<p>Di era globalisasi ini karena dorongan <strong>paham kebebasan</strong> (<em>liberalisme</em>), <strong>kebendaan</strong> (<em>materialisme</em>) dan mengutamakan <strong>kepentingan sendiri</strong> (<em>individualisme</em>), tanpa disadari kaum perempuan kembali menjadi obyek pemuasan nafsu rendah. Kaum perempuan jadi mangsa <em>porno aksi</em> dan <em>pornografi.</em> Kaum perempuan dianggap pemuas nafsu dan kreativitas seni semata. Di samping kaum perempuan tidak pula menjaga harkatnya dengan kukuh ketika berhadapan kenikmatan sensual dan erotik yang amat merusak moral.</p>
<p>Kaum perempuan semestinya tidak berpaling dari kodrat sebagai perempuan, yang mempunyai kelebihan dan memiliki keterbatasan-keterbatasan, sesuai kehendak Maha Pencipta. <strong>Kaum perempuan wajib mempersiapkan diri jadi <em>isteri shalehah</em>, </strong>sesuai sabda Rasul Allâh SAW,</p>
<p dir="rtl">حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ ثَلاَثٌ الطَّيِّبُ وَالنِّسَاءُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِى فِي الصَّلاَةِ.</p>
<p><strong><em>“Ada tiga hal yang sangat aku senangi di dunia ini, yaitu: Wangi-wangian, Isteri shalehah, dan ketenangan saat shalat.”</em></strong><strong>(Imam Nawawi, 2005, hal. 75).</strong></p>
<p>Kaum perempuan yang menjadi isteri shalehah dan amanah dalam kekayaannya, pasti mendapatkan dua pahala, satu <strong>pahala ibadah</strong> dan satu <strong>pahala sedekah</strong>, karena <strong><em>harta isteri adalah hak isteri</em></strong>.<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14">[14]</a> Umar bin al-Khatthab RA, berkata, </p>
<p dir="rtl">لَوْلاَ اْدِّعَاءُ الْغَيْبِ لَشَهِدْتُ عَلَى خَمْسِ نَفَرٍ أَنَّهُمْ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْفَقِيْرُ صَاحِبُ اْلعِيَالِ وَالْمَرْئَةُ الرَّاضِى عَنْهَازَوْجُهَاوَالْمُتَصَدِّقَةُ بِمَهْرِهَاعَلَىزَوْجِهَا وَالْرَّاضِى عَنْهُ اَبَوَاهُ وَالْتَّائِبُ مِنْ الذَّنْبِ.</p>
<p><strong><em>“Sekiranya tidak takut dituduh mengetahui yang ghaib, tentulah aku mau bersaksi bahwa kelima golongan manusia ini adalah termasuk ahli surga, yaitu: a. Orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya; b. perempuan yang suaminya ridha kepadanya; Isteri yang menshadaqahkan mahar/maskawinnya kepada suaminya; Anak yang kedua orang tuanya ridha kepada dirinya; dan Orang yang bertobat dari kesalahannya.” </em></strong></p>
<p>Agama Islam mengajar umatnya, untuk selalu bersikap <strong>ridha</strong> dan <strong>syukur</strong> atas apa yang telah ditakdirkan oleh Allâh. Sikap ini dapat merasakan indahnya kehidupan berkeluarga, dengan menjadikan <em>“<strong>rumahku adalah surgaku</strong>”, </em>dengan <strong><em>saling membutuhkan, saling memberi kemudahan, saling menjaga keutuhan rumah tangga</em>,</strong> sebagai kekuatan dalam berbagai persoalan hidup, sesuai perkembangan zaman.</p>
<p>Wahyu Alquran menempatkan perempuan dengan hak dan kewajiban seimbang. Perempuan, <strong>sumber sakinah</strong> (bahagia) dengan merajut kasih dan rahmah. Tenteram, dengan mawaddah kasih sayang.<strong> </strong>Citra perempuan Minangkabau sangat sempurna diperankan pada posisi sentral IBU =<strong> <em>Ikutan Bagi Ummat.</em></strong><em> </em>Ibu adalah inti <em>keluarga.</em> Perempuan adalah “<em>tiang negeri</em>” <strong>(al Hadist). Kaum perempuan wajib menjaga marwah </strong>(muruah)<strong> </strong>dengan menjaga “aurat”, sebagai ujud ciri-ciri feminim.<strong> </strong></p>
<p><strong><em>Sifat feminim yang merupakan sumber kasih sayang, kelembutan, keindahan, dan sumber cahaya Ilahi, mempunyai potensi untuk menyerap dan mengubah kekuatan kasar menjadi sensitivitas, mengubah rasionalitas menjadi intuisi, dan mendorong seksualitas menjadi spiritualitas, sehingga memiliki daya tahan terhadap kesakitan, penderitaan dan kegagalan</em></strong><strong>”. </strong>Hancurnya sebuah rumah tangga ideal akibat sikap isteri terlalu maskulin.<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15"><strong><strong>[15]</strong></strong></a></p>
<p><strong>III. </strong><strong>Isteri mesti Menjaga Diri dan Muruah</strong><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Pakaiannya <strong><em>menutup aurat. Mempunyai  malu dan sopan. </em></strong></li>
</ol>
<p><strong><em> “ Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: &#8220;Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em></strong><strong> (QS.33, al Ahzab : 59). </strong></p>
<p><strong>Jilbab</strong> (<a href="http://www.e-bacaan.com/bacaan033.htm#33:59">33:59</a>), adalah <strong>penudung</strong> atau <strong><em><a href="http://www.e-bacaan.com/soalan_lazim08.htm#khumur">khumur</a></em></strong> yang artinya juga adalah &#8220;<strong><em>pakaian luar; gaun panjang yang menutupi seluruh badan, atau mantel yang menutupi leher dan payudara</em></strong>&#8220;<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16">[16]</a>.<strong></strong></p>
<ol>
<li>Tidak berkata keras, apalagi bersikap kasar sombong, <strong><em>di kacak batih bak batih, di kacak langan bak langan, </em></strong>yang diarahkan kepada suami junjungan diri. <strong><em></em></strong>
<ol>
<li>Jangan menolak panggilan suami kepada yang baik. Jangan berpuasa sunat tanpa seizin suami (kecuali puasa yang wajib). Jangan meninggalkan rumah tanpa seizin suami. Jangan berhias berlebih-lebihan untuk dilihat orang lain. Jangan lupa berbenah diri ketika suami pulang ke rumah. Jangan menerima tamu laki-laki yang bukan muhrim, di saat suami tidak di rumah.</li>
<li>Simpan rahasia rumah tangga dengan baik.  Karena, suami isteri adalah ibarat pakaian yang saling melindungi, karena <strong><em> “.. mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka&#8230;”</em></strong><strong> (QS.2, al-Baqarah : 187). </strong></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Pesan Rasulullah SAW, <strong><em>“Seorang isteri yang taat melakukan shalat 5 waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga diri (kehormatan faraj-nya), setia kepada suaminya, &#8212; dia akan di masukkan ke dalam sorga dari pintu mana saja yang dia ingini”</em></strong>.<a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Alangkah mulia dan tingginya penghargaan Allah SWT bagi seorang isteri. Bila ia mau mengamalkannya.</p>
<p>Dengan bekal syariat Islam dan adat istiadat yang  baik  dapat dibina rumah tangga sakinah, <strong>“Baiti jannati”, </strong>yakni <strong>Rumah Tangga Sorga.</strong></p>
<p>Seorang ibu di rumah tangganya, sangat dituntut bersifat <strong><em>kreatif, ulet, tabah, sabar</em></strong> dan <strong><em>mampu menghidangkan keindahan</em></strong>, dan selalu hati-hati melangkah.  <strong><em> “ boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “</em></strong><strong> (QS.2, Al Baqarah : 216)<em></em></strong></p>
<p>Arif bahwa di balik sesuatu tersimpan sesuatu. Jangan terperdaya kepada yang tampak lahir semata. Arif melahirkan kewaspadaan dalam bertindak dan berperangai.</p>
<p><strong><em>Dalam awa akie mambayang,   Dalam baiak kanalah buruak,</em></strong></p>
<p><strong><em>Dalam galak tangih kok tibo,    Hati gadang utang kok tumbuah.</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Maknanya, sejak awal, diperhitungkan apa mudharat dan manfaat dari suatu. Hati-hati dalam bertindak.</p>
<p>Jangan perturutkan <em>hati gadang,</em> sehingga<em> </em>lupa nasehat orang tua-tua.</p>
<p>Di balik gembira, bisa menanti <em>duka membawa tangis</em>. Sia-sia hutang tumbuh, kurang awas nagari kalah.</p>
<p>A.  Tipe perempuan, tidak boleh ditiru</p>
<ol>
<li>Perempuan <em>kufur </em>dan<em> khianat </em>kepada suami, seperti isteri Nuh dan Luth, berakhir keneraka. Firman Allah, <em>“ Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan, bagi orang-orang kafir. Keduanya, berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh, di antara hamba-hamba kami. Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya): &#8220;Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk ( ke dalam jahannam itu)&#8221;.</em> (<span style="text-decoration:underline;">QS.66,at Tahrim :10</span>),  Nabi-nabi sekalipun, tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah,  apabila mereka menentang ajaran agama.</li>
<li>Perempuan yang <em>suka meninggalkan bengkalai </em>dan <em>merusak rajutan</em> ….<em> “ Dan janganlah kamu menjadi seperti seorang perempuan, yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Kamu menjadikan sumpah </em>(perjanjian)<em>-mu sebagai alat penipu di antaramu…,”</em> (<span style="text-decoration:underline;">QS.16, an-Nahl :92</span>).
<ol>
<li>Tipe Perempuan yang Perlu Ditiru   </li>
<li>Selalu menghindar dari kezaliman dan kemusyrikan. Senantiasa berharap sorga, seperti Asiyah isteri Fir’aun ; <em> “ Dan Allah membuat isteri Fir&#8217;aun, perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: &#8220;Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu, dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir&#8217;aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”</em> (<span style="text-decoration:underline;">QS.66 at-Tahrim : 11</span>).<em> </em>Sekalipun isteri seorang kafir, bila menganut ajaran Allah dengan taat, akhirnya masuk dalam jannah.</li>
<li>Selalu berupaya agar generasi yang dilahirkannya menjadi zurriyat yang memegang teguh amanah Allah. <em> “ Dan (ingatlah), ketika isteri &#8216;Imran berkata: &#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau, anak yang dalam kandunganku ini, menjadi hamba yang saleh, dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui&#8221;. </em> <em>Maka, tatkala isteri &#8216;Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: &#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan </em>(padahal)<em>, anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia Maryam, dan aku mohon perlindungan untuknya, serta anak-anak keturunannya, dengan (pemeliharaan) Engkau </em>(ya Allah)<em>,  daripada syaitan yang terkutuk.&#8221;</em> (<span style="text-decoration:underline;">QS.3, Ali Imran : 35-36</span>),</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Doa ibu muda ini makbul.</p>
<p>Maryam, melahirkan anak laki-laki yang sangat baik, mulia dan bermartabat, menjadi Nabi dan Rasul Allah untuk Bani Israil, yaitu Isa ibni Maryam.</p>
<ol>
<li>Selalu memelihara faraj, yakni Maryam itu sendiri. <em> “ Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang </em>(perempuan)<em> yang taat.” </em>(QS.66, Tahrim : 12)<em>.</em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<ol>
<li>perempuan di minangkabau  </li>
</ol>
<p><em>”Adapun yang disebut perempuan, memakai tertib dengan sopan. Mamakai baso jo basi. Tahu ereng dan gendeng. Memakai rasa dan periksa, malu dan sopan. Menjauhi sumbang dan salah. Mulut manis, tutur bahasa disenangi. </em>Kato baik kucindan murah, pandai bergaul  sama besar.<em> Hormat kapada ibu bapo. Khidmat kepada orang tua, patuh kepada suami, Takut kepada Allah, mengikut perintah sunnah Rasulullah. Tahu dengan Korong dan kampong. </em></p>
<p><em>Mengenal tumah tangga. Tahu  manyuri mangulindan. Takut budi akan terjual. Malu di paham akan tergadai. Tahu di mungkin dengan patut. Meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tahu tinggi dan rendah, bayang-bayang sepanjang badan. Boleh ditiru diteladani. Kan suri teladan kain, kan cupak teladan betung. Meleleh boleh dipalit, menetes dapat ditampung.Setitik dapat dilautkan, sekepal dapat digunungkan, oleh orang se nagari.”</em><em> </em>Inilah<em>, </em>harkat perempuan di Ranah Bundo, mulia dan bermartabat.</p>
<p>Perempuan Minang, <em>padu isi </em>dengan lima sifat utama; benar,  jujur, pandai, fasih terdidik, dan bersifat malu. <em>Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, Kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek. Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, Malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo </em>pareso.  Al hayak nisful iman = <em>malu adalah paruhan dari Iman</em>. </p>
<p>Dalam siklus ini generasi Minangkabau lahir <strong>bernasab ke ayahnya, bersuku ke ibunya, dan bersako ke mamak </strong>atau memperoleh gelar sako dan pusako dari mamaknya. <strong><em>Ketek banamo gadang bagala.</em></strong></p>
<p><strong>Perlu di Ingat !</strong></p>
<h1>1.       Jangan cepat berputus asa.</h1>
<p><strong><em>        </em></strong><strong><em>Riak jo galombang adalah permainan laut. Bergisir sampan dan pendayung adalah hal biasa.</em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>        </em></strong><strong><em>Jangan cepat berputus asa,</em></strong><strong><em> akan binasa jadinya rumah tangga. Minta selalu pertolongan dari Allah.</em></strong></p>
<p>Ingat pesan Rasulullah SAW,  <strong>“<em>Bila perlu perlindungan minta perlindungan kepada Allah. Bila engkau memerlukan pertolongan minta pertolongan dari Allah </em>“.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Jangan meminta kepada yang dikeramat-keramatkan, atau paranormal. Akibatnya bisa terseret kepada mensyarikatkan Allah, satu dosa besar, ujungnya doa tidak akan dikabulkan Allah.<strong></strong></li>
<li><strong>Shalat yang lima waktu jangan dilalaikan</strong> apalagi di tinggalkan. Doamu dinilai dari sini !!!.<strong></strong></li>
<li><strong>Pesan Rasulullah SAW, “ sinarilah rumah tangga kalian berdua, dengan shalat dan bacaan Alquran.” </strong></li>
</ol>
<p><strong><em>        <img class="aligncenter size-medium wp-image-266" title="Undangan KMII Tokyo 013" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2009/07/undangan-kmii-tokyo-013.jpg?w=300" alt="Undangan KMII Tokyo 013" width="300" height="225" /></em></strong></p>
<p>Martabat manusia ditentukan oleh akhlaknya. Pematangan sikap pribadi berawal dari rumah tangga. Menanamkan perangai yang jujur.</p>
<p>Membentuk perangai umat harus dimulai dengan menanam <em>sahsiah</em> pada keluarga. Pembinaan rohani anggota keluarga dilaksanakan dengan agama. Dimulai dengan menanamkan rasa ”Khauf”</p>
<p dir="rtl">تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ</p>
<p><strong>&#8220;Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan penuh rasa takut (khauf) dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka&#8221;</strong> <strong>(Q.S. As Sajadah: 16)</strong></p>
<p>Kata <em>khauf</em> yang berarti takut, telah disinggung di dalam Al Qur’an sebanyak 134 kali, dan sinonimnya yaitu kata “<em>Khasy-syah”</em> yang juga berarti takut terdapat sebanyak 84 kali. Allah SWT menjadikan kehidupan di dunia ini ibarat ruang ujian, yang harus ditempuh manusia. Firman Allah tentang hal tersebut:</p>
<p dir="rtl">الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ</p>
<p><strong>“Dialah Allah &#8212; Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”</strong> (QS. Al Mulk: 2)</p>
<p>Rasa takut (Khauf) merupakan sifat kejiwaan dan kecenderungan alami yang bersemayan dalamhati manusia, dan memiliki peran penting dalam kehidupan kejiwaan manusia. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: “<strong><em>Man khaafa Aamana</em></strong>”, barangsiapa yang takut, aman!” Kalau kita tidak takut hujan, kita tidak akan sedia payung, bila kita tidak takut sakit kita tidak berupaya meningkatkan kesehatan kita.</p>
<p>Islam tidak memandang rasa takut yang ada dalam diri manusia sebagai aib yang harus dihilangkan. Namun demikian, rasa takut akan menjadi sesuatu yang buruk apabila seseorang tidak mampu mengatur dan menyalurkan rasa takutnya, apalagi bila rasa takut itu jadi perintang kemajuan, kebebasan dan kehormatannya.</p>
<p>Ali bin Abi Thalib AS, menasehati kita: “<strong><em>Kalau anda bertekad melakukan sesuatu, maka arungilah. Karena bayangan bencana terlihat lebih besar dari yang sebenarnya</em>.”</strong> Jadi sesungguhnya menunggu datangnya bencana lebih buruk dari bencana itu sendiri. Karena lebih baik kita melakukan persiapan dan menyusun kekuatan bathin menghadapi sesuatu yang akan datang.</p>
<p>Al Qur’an telah menggambarkan rasa takut yang timbul pada jiwa para rasul dan hamba-hamba  Allah yang shaleh, meskipun mereka adalah manusia pilihan yang terkenal suci dan bersih. Allah SWT berfirman:</p>
<p dir="rtl">وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلاَ تَخَافِي وَلاَ تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ</p>
<p><strong>“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa: “Susukanlah dia, dan apabila kamu takut (khawatir) maka hanyutkanlah ia ke dalam sungat (Nil). Dan janganlah kamu takut dan (jangan pula) bersedih hati. Karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.&#8221; </strong>(Q.S. Al Qashash : 7)</p>
<p>Takut (<em>al khauf</em>) adalah masalah yang berkaitan dengan kejadian yang akan datang. Seseorang hanya merasa takut jika yang dibenci tiba yang dicinta sirna. <strong><em>Khauf </em>merupakan salah satu syarat iman dan melaksanakan hukum-hukumnya. </strong></p>
<p>Takut kepada Allah adalah rasa takut yang harus dimiliki setiap hamba. Karena rasa takut itu mendorong untuk meningkatkan amal kebaikan  dan bersegera dalam meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Rasa takut kepada Yang Maha Kuasa adalah salah satu pilar penyangga keimanan kepada-Nya. Dengan adanya rasa takut, timbul rasa harap (<strong><em>rajaa’</em></strong>) akan <strong><em>maghfirah</em></strong><em> </em>(ampunan), <strong><em>‘inayah</em></strong><em> </em>(pertolongan), serta rahmat Allah dan ridha-Nya. Sehingga hakikat &#8220;<strong><em>iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin</em></strong>&#8220;<em> </em> benar-benar  terpatri dalam qalbu seorang hamba.</p>
<p>Di saat manusia merasakan getaran rasa takutnya kepada Allah, maka saat itu berarti mereka memiliki rasa takut pula akan ancaman azab yang Allah sediakan bagi orang-orang yang durhaka kepada-Nya. <strong><em>Ma’rifah</em></strong> (pengetahuan) akan sifat Allah akan mengantarkan ke dalam pengetahuan tentang azab-Nya.</p>
<p>Seorang hamba yang shaleh, <em>berma’rifatullah, </em> dan merealisasikan hakikat kehambaannya dengan senantiasa mengamalkan perintah-Nya dan mengamalkan pula semua ajaran rasul-Nya, pasti akan memilki rasa takut yang mendalam terhadap azab yang mengancamnya. Sikap ini akan melahirkan selalu waspada, sehingga tidak ada amal atau prilaku yang mengarah kepada hal-hal yang menjadikan Allah murka dan menjadikan dirinya durhaka kepada Allah. Allah SWT berfirman:</p>
<p dir="rtl">قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ</p>
<p><strong>“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.”</strong> (Q.S. Az Zumar: 13)</p>
<p>Sesungguhnya rasa takut kepada Allah itu merupakan salah satu perangai yang diciptakan dalam diri manusia untuk memotivasi mereka dalam menyebarluaskan dan menjaga nilai-nilai Ilahy.</p>
<p>Orang yang benar dalam memposisikan rasa takutnya akan merasakan rahmat Allah, baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi.</p>
<p> </p>
<p><strong>IV. </strong><strong>DOA PENUTUP</strong></p>
<p dir="rtl">اللَّهُمَّ اصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا وَ اهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَ نَجَّنَا مِنَ الظُّلُمَاتَ إِلىَ النُّوْرِ وَ جَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ،</p>
<p dir="rtl">اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ أَسْمَاعِنَا و أَبْصَارِنَا وَ قُلُوْبِنَا وَ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَاتِنَا وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ، وَ اجْعَلْنَا شَاكِرِيْنَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِيْنَ ِبهَا قَابِلِيْنَ لَهَا وَ أَتِمَّهَا عَلَيْنَا.</p>
<p dir="rtl">اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ اْلعَفْوَ وَ العَافِيَةَ فيِ دِيْنِنَا وَ دُنْيَاناَ وَ أَهْلِيْنَا وَ أَمْوَالِنَا،</p>
<p dir="rtl">رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.</p>
<p align="right"><strong><em> </em></strong></p>
<p dir="rtl">اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ وَ المُسْلِمِيْنَ وَ اْلمُسْلِمَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ اْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَِلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيـْـمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فيِ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ.   </p>
<p> </p>
<p><strong><em>Tokyo,  25  Muharram  1430  H / 22  Januari  2009 M</em></strong></p>
<p> </p>
<hr size="1" /><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1">[1]</a> Prof. Dr. Zakiah Darajat dalam bukunya “Ketenangan dan Kebahagiaan Dalam Keluarga” memberikan 5 (lima) resep mewujudkan keluarga tenang dan bahagia</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2">[2]</a> (سُوْرَةُالنُّوْرِ/24:32) (رَوَاهُ الْبُخَارِى-كِتَابُ النِّكَاحِ-جِلِدْ 3, جُزْءٌ 7:8)</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3">[3]</a>  Muhammad <em>SAW, </em>adalah orang nomor satu dunia dalam sejarah peradaban manusia, beliau seorang pemimpin yang tangguh, tulen, dan efektif. Lihat Michail H. Hart, Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, (Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya, 1988), Cet. Ke-8. judul asli: The 100`s, a Ranking of The Most Influential Persons in History.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4">[4]</a>  Al-Bukhâriy, <em>Shahih al-Bukhâri, </em>(Bairut : Dâr al-Ihyâ&#8217; al-Turâts al-`Arabiy, [tth]), Juz 7, h. 3</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5">[5]</a>  Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari pada kitab al-Nikah, Jilid tiga, juz tujuh halaman tiga dan Shahih Muslim pada kitab al-Nikah, Juz  2, halaman 118-119.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6">[6]</a> صَحِيْحُ الْجَمْع/ِ 5466</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7">[7]</a> Maksud ayat ini Ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8">[8]</a> Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9">[9]</a> Ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa&#8217; ayat 23 dan 24.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10">[10]</a> Ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang telah ditetapkan.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11">[11]</a> HIV/AIDS hanyalah salah satu efek buruk perbuatan zina seperti disinggung dalam Surah Al Isra: 32 di atas. Tidak menutup kemungkinan efek-efek lain yang jauh lebih mengerikan dari AIDS akan menyusul apabila zina masih dianggap sebagai hal biasa tanpa sedikit pun mengindahkan larangan Sang Pencipta. Tidak ada obat pencegahan AIDS yang paling mujarab bagi umat Islam kecuali menjauhi zina dan tidak menikahi mereka yang pernah melakukan zina.</p>
<p> </p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12">[12]</a>  Menurut bahasa kata <em>Qudsi </em>adalah dinisbatkan pada lafazh &#8220;<em>al-Qudsu</em>&#8221; atau &#8220;<em>al</em>-<em>Qudusu</em>&#8220;. Artinya suci dan bersih. Disebut juga hadits <em>Ilahiy, </em>dinisbatkan pada lafazh &#8220;<em>al-Hilâhu&#8221;</em>. Atau disebut juga hadits <em>rabbaniy</em>, dinisbatkan pada lafazh &#8220;<em>al-Rabbu</em>&#8220;. Menurut istilah sesuatu yang didasarkan dan di-isnadkan oleh Nabi <em>SAW </em>kepada Allâh, tapi bukan al-Qur&#8217;ân.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13">[13]</a>  Ajaran Kristiani (Katolik) menganggap <strong>celibate</strong> mencerminkan kesempurnaan (seperti dialami Yesus hingga di salib dan Maryam yang tetap perawan), seperti tertera dlm Injil Matius 19: 12, 27-29; Korintus 7: 32-33 dan Surat Paulus, Rum 12: 1 yang isinya: “<em>karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allâh aku menasehati kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allâh; itu adalah ibadahmu yang sejati.</em>” (Jakarta, LAI, 1990, h. 203- PB), Yang menentang sikap menyendiri adalah Protestan. Ajaran agama islam tidak mengajarkan pola hidup yang egois ini.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14">[14]</a>   Kandungan Hadits Riwayat Bukhâriy dan Muslim, lihat dalam SAHID, No. 10/Tahun III/Februari 1991, hal. 41.</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15">[15]</a> Hani’ah, HISKI, UNP-1997, dan Armiyn Pane, “Belenggu”</p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16">[16]</a> [<em>The Holy Qur'an,</em> Abdullah Yusuf Ali (1946), halaman 1126, nota kaki 3765]. Ia bukan tudung kepala. (Tudung kepada yang kini dipakai oleh kaum wanita adalah &#8216;mandil&#8217; dalam bahasa Arab. Ia bermaksud <em>kerchief; handkerchief; head kerchief,</em> dalam bahasa Inggeris. Tetapi ia tidak terdapat di dalam al-Qur&#8217;an.)</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><a href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17">[17]</a>  Hadist dari Anas bin Malik.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wanita yang Disunnahkan untuk Dilamar ]]></title>
<link>http://irvanhabibali.wordpress.com/2009/06/26/wanita-yang-disunnahkan-untuk-dilamar/</link>
<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 06:50:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>irvandedy</dc:creator>
<guid>http://irvanhabibali.wordpress.com/2009/06/26/wanita-yang-disunnahkan-untuk-dilamar/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah…berakhir juga masa lajangku, dan kini aku memasuki dunia baru yang lebih indah, lebih ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Alhamdulillah…berakhir juga masa lajangku, dan kini aku memasuki dunia baru yang lebih indah, lebih banyak tantangan dan lebih banyak pahala yang akan aku raih. Ya Allah…Aku bersyukur mendapat kesempatan menjalani anugerah yang kau janjikan menutup setengah dienku…<!--more--></p>
<p>Itulah salah satu ungkapkan hati seorang pemuda yang baru saja melepas masa lajangnya. Merasakan akan memasuki suatu dunia baru bersama orang lain yang mungkin saja belum dikenalnya. Mengarungi kehidupan bersama wanita lain yang akan menemaninya siang dan malam, berbagi rasa suka maupun duka, menikmati indahnya dunia untuk meraih kekalnya keindahan surga yang dijanjikan Sang Pencipta.</p>
<p>Lalu bagaimana agar kita mendapatkan teman hidup ( dalam hal ini wanita ) yang kita idam-idamkan, tentu saja yang dapat membahagiakan kita baik lahir maupun batin. Selain berdoa memohon kepada Allah agar yang diberikan yang terbaik, tentu kita juga harus berusaha memperbaiki diri kita dan berusaha dengan tujuan baik agar mendapatkan wanita pilihan yang terbaik. Dalam melamar, seorang muslim dianjurkan untuk memperhatikan beberapa sifat yang ada pada wanita yang akan dilamar, diantaranya:</p>
<ol>
<li><strong>Wanita itu disunahkan seorang yang penuh cinta kasih</strong>. Maksudnya ia harus selalu menjaga kecintaan terhadap suaminya, sementara sang suami pun memiliki kecenderungan dan rasa cinta kepadanya.Selain itu, ia juga harus berusaha menjaga keridhaan suaminya, mengerjakan apa yang disukai suaminya, menjadikan suaminya merasa tentram hidup dengannya, senang berbincang dan berbagi kasih sayang dengannya. Dan hal itu jelas sejalan dengan firman Allah Ta&#8217;ala,
<p>Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia jadikan di antara kalian rasa kasih dan saying. (ar-Ruum:21).</li>
<li><strong>Disunahkan pula agar wanita yang dilamar itu seorang yang banyak memberikan keturunan</strong>, karena ketenangan, kebahagiaan dan keharmonisan keluarga akan terwujud dengan lahirnya anak-anak yang menjadi harapan setiap pasangan suami-istri.Berkenaan dengan hal tersebut, Allah Ta&#8217;ala berfirman,<br />
Dan orang-orang yang berkata, &#8216;Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa&#8217;. (al-Furqan:74).</p>
<p>Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,<br />
Menikahlah dengan wanita-wanita yang penuh cinta dan yang banyak melahirkan keturunan. Karena sesungguhnya aku merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat kelak. Demikian hadist yang diriwayatkan Abu Daud, Nasa&#8217;I, al-Hakim, dan ia mengatakan, Hadits tersebut sanadnya shahih.</li>
<li><strong>Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu seorang yang masih gadis dan masih muda</strong>. Hal itu sebagaimana yang ditegaskan dalam kitab Shahihain dan juga kiab-kitab lainnya dari hadits Jabir, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya kepadanya,Apakah kamu menikahi seorang gadis atau janda? dia menjawab,&#8221;Seorang janda.&#8221;Lalu beliau bersabda, Mengapa kamu tidak menikahi seorang gadis yang kamu dapat bercumbu dengannya dan ia pun dapat mencumbuimu?.
<p>Karena seorang gadis akan mengantarkan pada tujian pernikahan. Selain itu seorang gadis juga akan lebih menyenangkan dan membahagiakan, lebih menarik untuk dinikmati akan berperilaku lebih menyenangkan, lebih indah dan lebih menarik untuk dipandang, lebih lembut untuk disentuh dan lebih mudah bagi suaminya untuk membentuk dan membimbing akhlaknya.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri telah bersabda,</p>
<p>Hendaklah kalian menikahi wanita-wanita muda, karena mereka mempunyai mulut yang lebih segar, mempunyai rahim yang lebih subur dan mempunyai cumbuan yang lebih menghangatkan.</p>
<p>Demikian hadits yang diriwayatkan asy-Syirazi, dari Basyrah bin Ashim dari ayahnya, dari kakeknya. Dalam kitab Shahih al_Jami&#8217; ash_Shaghir, al-Albani mengatakan, &#8220;Hadits ini shahih.&#8221;</li>
<li><strong>Dianjurkan untuk tidak menikahi wanita yang masih termasuk keluarga dekat</strong>, karena Imam Syafi&#8217;I pernah mengatakan, &#8220;Jika seseorang menikahi wanita dari kalangan keluarganya sendiri, maka kemungkinan besar anaknnya mempunyai daya pikir yang lemah.&#8221;</li>
<li><strong>Disunahkan bagi seorang muslim untuk menikahi wanita yang mempunyai silsilah keturunan yang jelas dan terhormat,</strong> karena hal itu akan berpengaruh pada dirinya dan juga anak keturunannnya. Berkenaan dengan hal tersebut, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscahya kamu beruntung. (HR. Bukhari, Muslim dan juga yang lainnya).</li>
<li><strong>Hendaknya wanita yang akan dinikahi itu taat beragama dan berakhlak mulia</strong>. Karena ketaatan menjalankan agama dan akhlaknya yang mulia akan menjadikannya patner bagi suaminya dalam menjalankan agamanya, sekaligus akan menjadi pendidik yang baik bagi anak-anaknya, akan dapat bergaul dengan keluarga suaminya.Selain itu ia juga akan senantiasa mentaati suaminya jika ia akan menyuruh, ridha dan lapang dada jika suaminya memberi, serta menyenangkan suaminya berhubungan atau melihatnya. Wanita yang demikian adalah seperti yang difirmankan Allah Ta&#8217;ala,
<p>&#8220;Sebab itu, maka wanita-wanita yang shahih adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminyatidak berada di tempat, oleh karena Allah telah memelihara mereka&#8221;. (an-Nisa:34).</p>
<p>Sedangkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,<br />
&#8220;Dunia ini adalah kenikmatan, dan sebaik-baik kenikmatannya adalah wanita shalihah&#8221;. (HR. Muslim, Nasa&#8217;I dan Ibnu Majah).</li>
<li><strong>Selain itu, hendaklah wanita yang akan dinikahi adalah seorang yang cantik</strong>, karena kecantikan akan menjadi dambaan setiap insan dan selalu diinginkan oleh setiap orang yang akan menikah, dan kecantikan itu pula yang akan membantu menjaga kesucian dan kehormatan. Dan hal itu telah disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits tentang hal-hal yang disukai dari kaum wanita.Kecantikan itu bersifat relatif. Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang kecantikan ini sesuai dengan selera dan keinginannya. Sebagian orang ada yang melihat bahwa kecantikan itu terletak pada wanita yang pendek, sementara sebagian yang lain memandang ada pada wanita yang tinggi.
<p>Sedangkan sebagian lainnya memandang kecantikan terletak pada warna kulit, baik coklat, putih, kuning dan sebagainya. Sebagian lain memandang bahwa kecantikan itu terletak pada keindahan suara dan kelembutan ucapannya.</li>
</ol>
<p>Demikianlah, yang jelas disunahkan bagi setiap orang untuk menikahi wanita yang ia anggap cantik sehingga ia tidak tertarik dan tergoda pada wanita lain, sehingga tercapailah tujuan pernikahan, yaitu kesucian dan kehormatan bagi tiap-tiap pasangan.</p>
<p>SELAMAT MENCARI WANITA TERBAIK DAN HIDUPLAH DENGAN RASA SAYANG KARENA ALLAH&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Renungan "Menjelang Dhuha" ...... INGIN TAUBAT JANGAN DITUNDA-TUNDA ... SEGERAKAN BERSIH DIRI LAHIR BATHIN .. !!!]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/05/31/257/</link>
<pubDate>Sun, 31 May 2009 23:48:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/05/31/257/</guid>
<description><![CDATA[يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا</div>
<div>عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ<br />
وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ<br />
يَوْمَ لا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ<br />
وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ<br />
نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ<br />
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</div>
<p>“ Hai orang-orang yang beriman,<br />
bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya,<br />
mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian,<br />
dan memasukkan kalian ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,<br />
pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi<br />
dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia;<br />
sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka,<br />
sambil mereka mengatakan, “ Wahai Rabb kami,<br />
sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami,<br />
sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. ”<br />
(Q.S. At Thahrim : <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Setiap orang mukmin sangat memerlukan dua perkara,<br />
yaitu pengampunan dosa<br />
dan penghapusan kesalahan.<br />
Kenyataannya,<br />
tidak seorangpun yang terlepas dari dosa dan kesalahan.</p>
<p>Abu Tamam mengisyaratkan sebuah hadits Rasulullah SAW<br />
yang bersumber dari Anas bin Malik r.a:</p>
<p>“Setiap orang di antara kamu sekalian melakukan kesalahan,<br />
dan sebaik-baik orang<br />
yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.”<br />
(HR. Ahmad)</p>
<p>Dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh manusia<br />
akan mengotori hatinya,<br />
bagaikan noda hitam di atas kain putih,<br />
tiada yang dapat membersihkannya<br />
kecuali taubat.</p>
<p>Rasulullah SAW menyebut di dalam haditsnya<br />
yang diriwayatkan oleh Ahmad.<br />
Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>“Orang yang meminta ampun dari dosa<br />
seperti orang yang tidak berdosa”.<br />
(HR. Bukhari)</p>
<p>Dan Allah berfirman;<br />
“Sesungguhnya Allah<br />
menyukai orang-orang yang bertaubat<br />
dan menyukai<br />
orang-orang yang menyucikan diri.”<br />
(Q.S. Al Baqarah: 222)</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-259" title="Arnussa 1427 004" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2009/05/arnussa-1427-004.jpg" alt="Arnussa 1427 004" width="314" height="385" />Sebenarnya syetan telah menipu<br />
dan menjebak kita<br />
dan memenuhi kehidupan kita,<br />
dengan berbuat maksiat,<br />
sehingga menyesatkan kita dari jalan Allah,<br />
menjauhkan kita dari jalan keselamatan<br />
semua perdayaan syaitah itu,<br />
membukakan bagi kita pintu-pintu jahannam<br />
dan syaithan melakukan semua itu bujuk rayunya<br />
sehingga manusia terjerumus<br />
ke dalam jurang kemaksiatan<br />
hingga penuh berlumur dosa.  Seyogyanyalah kita untuk segera mengetuk pintu taubat mengharap maghfirah Allah.</p>
<p>Tidak ada kata putus asa<br />
tidak ada istilah terlambat ..<br />
dalam bertaubat<br />
untuk menuju kepada Allah<br />
meski dosa-dosa telah memenuhi kolong langit.</p>
<p>Allah adalah tuhan seluruh makhluk<br />
yang menciptakan semuanya&#8230;<br />
selalu menguji dan menyileksi amal<br />
dan perbuatan hamba-hamba Nya&#8230;.</p>
<p>Barangsiapa yang banyak dosanya<br />
dan ia ingin bertaubat<br />
maka pintu taubat selalu terbuka &#8230;.</p>
<p>Namun &#8230;<br />
ambil mengertilah dengan syarat taubat itu &#8230;</p>
<p>1. harus menghentikan maksiat &#8230;<br />
dan menyesali perbuatan yang telah terlanjur dilakukan.</p>
<p>2. harus berniat sungguh-sungguh&#8230;<br />
untuk tidak mengulanginya lagi.<br />
Dan, manakala dosa yang pernah ia lakukan itu<br />
adalah berhubungan dengan hak manusia &#8230;<br />
maka taubatnya ditambah dengan syarat yang ketiga ini &#8230;</p>
<p>3. harus menyelesaikannya dengan orang yang berhak<br />
dengan meminta maaf kepadanya,<br />
atau meminta kehalalan atau ridha&#8230;<br />
atau mengembalikan apa yang harus ia kembalikan.</p>
<p>Di antara keutamaan yang didapat<br />
oleh orang-orang yang bertaubat ialah &#8230;<br />
Allah menyibukkan para malaikat-Nya<br />
agar memintakan ampunan bagi mereka<br />
yang bertaubat itu &#8230;<br />
dan malaikat berdoa kepada Allah<br />
mengharapkan Allah melindungi mereka<br />
dari siksaan neraka jahannam,<br />
lalu memasukkan mereka yang bertaubat itu ..<br />
ke surga yang penuh dengan kenikmatan,<br />
dan mendinding mereka yang telah bertaubat itu<br />
dari kejahatan dan kesalahan.</p>
<p>Para malaikat yang membawa ‘Arsy di langit<br />
juga sibuk memintakan ampunan<br />
bagi orang-orang yang bertaubat &#8230;.</p>
<p>Allah berfirman:<br />
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy<br />
dan malaikat yang berada di sekelilingnya<br />
bertasbih memuji Rabbnya &#8230;<br />
dan mereka beriman kepada-Nya<br />
serta memintakan ampun<br />
bagi orang-orang yang beriman<br />
(seraya mengucapkan),<br />
Ya Rabb kami &#8230;,<br />
Rahmat dan Ilmu-Mu meliputi segala sesuatu,<br />
maka berilah ampunan &#8230;.<br />
kepada orang-orang yang bertaubat<br />
dan orang yang mengikuti jalan Engkau<br />
dan peliharalah mereka &#8230;<br />
dari siksaan neraka yang menyala-nyala.<br />
Ya Rabb kami &#8230;,<br />
dan masukkanlah mereka &#8230;<br />
ke dalam sorga ‘And<br />
yang telah Engkau janjikan kepada mereka<br />
dan telah Engkau janjikan pula<br />
untuk orang-orang yang shaleh<br />
di antara bapak-bapak mereka,<br />
dan istri-istri mereka,<br />
dan keturunan mereka semua.<br />
Sesungguhnya Engkaulah &#8230;<br />
yang Maha Perkasa<br />
lagi Maha bijaksana,<br />
dan peliharalah mereka<br />
dari (balasan) kejahatan …<br />
Dan&#8230;.,<br />
menjadi orang-orang yang Engkau pelihara<br />
dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu,<br />
maka sesungguhnya<br />
telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya<br />
dan itulah kemenangan yang besar. ”<br />
(Q.S. Al Mukmin: 7-9)</p>
<p>Cukup banyak ayat-ayat di dalam Kitab Allah<br />
yang mengabarkan diterimanya taubat<br />
orang-orang yang bertaubat,<br />
kalau memang taubat mereka itu tulus dan benar,<br />
yang tentunya dengan cara-cara tertentu<br />
yang telah diberikan tuntunan<br />
oleh Allah dan Rasulullah jua&#8230;</p>
<p>Penerimaan taubat ini dilandaskan kepada karunia,<br />
ampunan dan rahmat Allah,<br />
yang tidak akan menyempit<br />
karena keberadaan seseorang yang durhaka,<br />
seperti apapun kedurhakaannya itu.</p>
<p>Terlebih lagi &#8230;.<br />
orang yang bertaubat<br />
dan juga memperbaiki diri &#8230;<br />
serta beramal shaleh.</p>
<p>Tidak kurang dari sebelas tempat<br />
di dalam Al Qur’an,<br />
Allah mensifati diri-Nya<br />
dengan sebutan at Tawwab<br />
(Maha Menerima Taubat).</p>
<p>Kita akhiri pembahasan ini<br />
di pagi ini menjelang dhuha ..<br />
dengan firman Allah :<br />
“ Sesungguhnya taubat di sisi Allah<br />
hanyalah taubat bagi orang-orang<br />
yang melakukan kejahatan<br />
lantaran kejahilan,<br />
yang kemudian mereka bertaubat<br />
dengan segera &#8230;..<br />
Maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya.<br />
Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.<br />
Dan tidaklah taubat itu diterima Allah<br />
dari orang-orang yang melakukan kejahatan<br />
yang hingga apabila telah datang ajal kepada seseorang,<br />
barulah ia mengatakan,<br />
“ Sesungguhnya aku bertaubat sekarang ”.<br />
Dan tidak pula diterima taubat<br />
orang-orang yang mati<br />
sedang mereka dalam kekafiran.<br />
Bagi orang-orang itu<br />
telah Kami sediakan siksa yang pedih. ”<br />
(Q.S. An Nisaa’: 17-18)</p>
<p>Karena itu janganlah ada<br />
di antara kita yang menunda taubat<br />
hingga hari esok.<br />
Karena maut itu<br />
datang secara tiba-tiba.<br />
Bersegeralah untuk mensucikan jiwa<br />
di mana dan bila saja,<br />
waktunya ada&#8230;</p>
<p>Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Al Fawaid mengatakan :<br />
“Bila kau berpulang ke alam baqa,<br />
tidak membawa bekal taqwa,<br />
kau lihat orang-orang yang membawanya<br />
pada hari perhimpunan.<br />
Kau akan menyesal,<br />
karena kau tidak seperti mereka.<br />
Mereka mempunyai persiapan<br />
sedangkan kau tidak memilikinya.”</p>
<p>Allahu A’lam Bishshawab<br />
Wassalamu&#8217;alaikum Warahmatullahi wa barakatuh,<br />
Buya H. Masoed Abidin</p>
<div><img class="aligncenter size-full wp-image-258" title="Danau Cimpago Padang" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2009/05/danau-cimpago-padang.jpg" alt="Danau Cimpago Padang" width="450" height="292" /></div>
<div>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2098419">
<div><a title="Edi Erwin" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1735219482"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v223/1420/20/q1735219482_2738.jpg" alt="Edi Erwin" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2098419">
<div>
<div id="text_expose_id_4a2315251dc504f68923615">Semoga apa yg kita kerjakan, hendaknya diridhai oleh Allah Swt. Semoga buya sehat selalu dan bisa terus menyampaikan dakwahnya di fb ini&#8230; . FB tidak bersalah, tapi oknum2 yg berbuat tak senonoh yg merusak fb.. sehingga muncul fatwa haram. Lanjutkan terus buya&#8230;</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><span> </span><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1735219482">Edi Erwin</a><span> pada 31 Mei 9:30</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2098527">
<div><a title="Hendy Damanik" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1055646715"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v226/1793/102/q1055646715_9536.jpg" alt="Hendy Damanik" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2098527">
<div>
<div id="text_expose_id_4a2315251e53f5f92665614">Alhamdulillah, terima kasih Buya</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1055646715">Hendy Damanik</a><span> pada 31 Mei 9:41</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2100582">
<div><a title="Lisna Ova" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1018197593"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v224/388/0/q1018197593_9135.jpg" alt="Lisna Ova" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2100582">
<div>
<div id="text_expose_id_4a2315251ee077385020754">ASSALAMUALIKM BUYA&#8230;. SALM KENAL&#8230;.</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1018197593">Lisna Ova</a><span> pada 31 Mei 14:03</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2100649">
<div><a title="Anita Kencanawati" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1610523957"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v228/1832/95/q1610523957_6221.jpg" alt="Anita Kencanawati" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2100649">
<div>
<div id="text_expose_id_4a2315251f6aa8a99633164">Terimakasih tausiahnya Buya, semoga Buya senantiasa sehat walafiat dan kami bisa terus mendapatkan tausiah dari Buya&#8230;</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1610523957">Anita Kencanawati</a><span> pada 31 Mei 14:15</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2101741">
<div><a title="Nurlaila Zai" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1103423032"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v223/993/38/q1103423032_8523.jpg" alt="Nurlaila Zai" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2101741">
<div>
<div id="text_expose_id_4a2315251ff868226960591">Terima kasih buya atas pencerahannya.. mudaha-mudahan kita termasuk kedalam kelompok ummat yang selalu bertaubat, amiinn..</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1103423032">Nurlaila Zai</a><span> pada 31 Mei 17:05</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2103153">
<div><a title="Subardini Adek" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1381069439"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v230/1949/32/q1381069439_8410.jpg" alt="Subardini Adek" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2103153">
<div>
<div id="text_expose_id_4a2315252084b1b31778202">Terima kasih tausiahnya buya, semoga kita tetap menjadi umatNya yang senantiasa bertaubat memohon magfirahNya. Amiiiin.</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1381069439">Subardini Adek</a><span> pada 31 Mei 19:47</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2104333">
<div><a title="Razali Nazir" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=730678723"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v224/1155/63/q730678723_3260.jpg" alt="Razali Nazir" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2104333">
<div>
<div id="text_expose_id_4a231525210b88802373466">Terima kasih Buya atas dakwahnya. Manfaatkan terus Buya fasilas FB ini untuk berdakwah, sarana yang baik sekali tersedia untuk mengingatkan ummat yang selalu lupa bertobat, apalagi saat globalisasi sekarang, banyak orang melakukan hal yang tidak benar karena terdesak keadaan. Tanpa disadari sudah banyak berbuat kesalahan yang perlu diingatkan terus menerus. Semoga dakwah Buya ini dapat menyadarkan ummat yang sudah banyak melenceng. Amiiiin.</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=730678723">Razali Nazir</a><span> pada 31 Mei 21:34</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2104641">
<div><a title="Intan Munajat" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=549194613"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v224/986/67/q549194613_2300.jpg" alt="Intan Munajat" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2104641">
<div>
<div id="text_expose_id_4a231525218e44678878994">Terimakasih Buya, notesnya telah memberikan pencerahan kepada kalbu saya. Semoga kami2 semua menjadi insan yang selalu berusaha untuk membersihkan hati dan diri dan tidak lupa selalu bertobat&#8230;amin.<br />
Buya teruslah berdakwah melalui Fb ini seperti ajakan teman2, karena dalam kehidupan kami kadang kami lupa &#8230;terimaksih Buya, semoga Allah selalu mengaruniakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan untuk Buya dan keluarga. amiiin ya Gusti&#8230;wassalam.</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=549194613">Intan Munajat</a><span> pada 31 Mei 21:58</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2104646">
<div><a title="Intan Munajat" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=549194613"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v224/986/67/q549194613_2300.jpg" alt="Intan Munajat" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2104646">
<div>
<div id="text_expose_id_4a231525220b72167066728">potonya indah sekali, dimana itu Buya? terimakasih.</div>
</div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=549194613">Intan Munajat</a><span> pada 31 Mei 21:58</span></p>
<div id="comment_86396198819_86396198819_2105394">
<div><a title="Dyan Eka Putri" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1546263465"><span><img src="http://profile.ak.facebook.com/v226/951/35/q1546263465_7107.jpg" alt="Dyan Eka Putri" /><span> </span></span></a></div>
<div id="comment_box_86396198819_86396198819_2105394">
<div>
<div id="text_expose_id_4a231525228b05213096205">Terimakasih buya&#8230; Dyan sangat butuh penyejuk rohani seperti yang buya Tag kan ini&#8230;<br />
semoga Allah selalu membuka kan pintu maaf dan Ampunannya untuk umat yang lalai seperti ananda buya ini</div>
<p>Jazzakillah Khair buya</p></div>
</div>
</div>
<p><a title="Klik di sini untuk menghapus komentar ini"> </a><a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1546263465">Dyan Eka Putri</a><span> pada 31 Mei 22:55</span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berhias dengan Akhlak Mulia, Bagian dari Prinsip Beragama]]></title>
<link>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/berhias-dengan-akhlak-mulia-bagian-dari-prinsip-beragama/</link>
<pubDate>Thu, 21 May 2009 06:27:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>ibn syam</dc:creator>
<guid>http://ibnsyam.wordpress.com/2009/05/21/berhias-dengan-akhlak-mulia-bagian-dari-prinsip-beragama/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc Bila menelisik perjalanan sejarah umat manusia di masa jah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc Bila menelisik perjalanan sejarah umat manusia di masa jah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Misteri Harut dan Marut]]></title>
<link>http://inrasyad.wordpress.com/2009/04/10/misteri-harut-dan-marut/</link>
<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 16:53:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Akhi Ahya</dc:creator>
<guid>http://inrasyad.wordpress.com/2009/04/10/misteri-harut-dan-marut/</guid>
<description><![CDATA[Allah swt berfirman :  وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَف]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Allah swt berfirman :  وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَف]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mencontoh Sikap Tawadhu' Kaum Salaf (Audio)]]></title>
<link>http://problemamuslim.wordpress.com/2009/03/03/sikap-tawadhu/</link>
<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 17:00:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>problemamuslim</dc:creator>
<guid>http://problemamuslim.wordpress.com/2009/03/03/sikap-tawadhu/</guid>
<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Masjid Fatahillah, Depok Kitab Hilyah Tholibil Ilmi Karya Syaikh Bakr Abu Zai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Masjid Fatahillah, Depok Kitab Hilyah Tholibil Ilmi Karya Syaikh Bakr Abu Zai]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM ]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/02/25/memperingati-maulid-nabi-muhammad-shallallahu-%e2%80%98alaiyhi-wa-sallam/</link>
<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 07:27:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/02/25/memperingati-maulid-nabi-muhammad-shallallahu-%e2%80%98alaiyhi-wa-sallam/</guid>
<description><![CDATA[MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM Oleh: H.Mas’oed Abidin* http://www.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD  SHALLALLAHU ‘ALAIYHI WA SALLAM</p>
<p>Oleh: H.Mas’oed Abidin*</p>
<p>http://www.masoedabidin.multiply.com</p>
<p>Memperingati “maulid-rasul” sebenarnya menanamkan keinginan kuat mengikuti jejak langkah &#8212; sunnah Rasul &#8212; yang di wariskannya, sesuai Wahyu Allah tentang keutusan Muhammad Rasulullah SAW   menjadi “Rahmat bagi seluruh alam” ,  dan rela menjadikannya “uswah hasanah” , suri ketauladanan yang teramat sempurna dari “nabi terakhir”  yang telah melakukan perubahan (ishlah) menyeluruh terhadap berbagai prilaku kearah yang lebih baik dalam kehidupan manusia, dari kondisi dzulummat (kegelapan) kepada peradaban (civilisasi) yang terang benderang, transparan, an-nur atau kehidupan yang penuh cahaya.</p>
<p>Bila disadari sungguh-sungguh kehadiran manusia di permukaan bumi memikul dua beban utama untuk melakukan ishlah (perubahan, perbaikan, reform) dan untuk uswah (pencontohan) dalam peran kekhalifahan.  Tanpa kedua sikap ini sebenarnya tidak terdeteksi eksistensi manusia.</p>
<p>Perubahan yang di bawa Rasulullah SAW, berdasar bimbingan Wahyu Allah SWT, menuntun manusia kepada fithrahnya menjadi ummat bertuhan (tauhidic weltanschaung) dan berakhlaq budi pekerti.    Terbukti bahwa perubahan dimaksud tidak semata bertumpu kepada keinginan pribadi, tetapi selalu dengan bimbingan Khaliq Maha Pencipta.  Dan prilaku manusia yang terbimbing wahyu Allah dan sunnah Rasul ini, pasti terjauh dari pertentangan dalam kehidupan manusia. Inilah perbedaan mendasar dalam hal perubahan yang di lakukan reformer lainnya yang sering melahirkan pemaksaan kehendak, tindakan kekerasan bahkan anarkis.</p>
<p>Perubahan berdasar Sunnah Rasulullah SAW, bermuara kepada “syari’at Islam”, dan berintikan proses  perubahan dan perbaikan berbentuk tajdid (pemurnian) , Ishlah (penyempurnaan dan penyelesaian)  dan taghyir (perubahan sikap) .  Perubahan prilaku yang berperadaban kearah perbaikan prilaku tanpa merusak.</p>
<p>Ajaran Islam mengingatkan ummat untuk menghindari tindakan merusak (fasad=anarkis) dalam tatanan prilaku maupun idea (pemikiran) dengan berupaya menjauhi pemaksaan kehendak.</p>
<p>Agama Islam menghormati prinsip tidak ada paksaan dalam agama  . Kewajiban asasi melembagakan musyawarah dalam setiap urusan.   Teguh identitas (shibghah) dalam ujud amar ma’ruf (proaktif mengajak dan mengamalkan kebaikan-kebaikan) dan nahyun ‘anil munkar (taat asas menolak setiap kejahatan).</p>
<p>Gerakan amar makruf-nahiy munkar bertujuan melawan segala corak kemakshiyatan menyangkut tatanan dan hubungan pribadi, keluarga, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara. Tujuan utamanya menciptakan ummat berkualitas  “khaira ummah” atas dasar “iman” kepada Allah.  Intensitas tinggi berpacu dalam menggairahkan perlombaan kepada kebaikan “fastabiqul-khairat”.</p>
<p>Ajaran Islam terbukti dalam sejarah panjang peradaban manusia berhasil menciptakan suatu komunitas ummat yang kian hari bertambah jumlahnya sampai akhir zaman .</p>
<p>Risalah Rasulullah SAW, mencatat kegelapan perilaku kehidupan jahiliyah masa lalu, antara lain ;“Kami adalah orang jahiliyah, penyembah berhala (kepatuhan kepada selain Allah dengan pemberhalaan kedudukan, kekuasaan, harta kekayaan), pemakan bangkai (tidak mengenal halal-haram), memutus silaturrahim (dengan penidasan, anarkis,  intimidasi), berbuat bencana terhadap jiran tetangga, dan perbuatan keji (judi,rampok,korupsi,zina) , sehingga yang kuat menelan yang lemah (arogansi kekuasaan, pemupukan kekuatan golongan dan kelompok). Sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri, yakni Muhammad SAW yang sangat kami kenal nasab, kebenaran, kejujuran, amanah (tranparansi), dan baik pekertinya. Karena itu kami mempercayainya, dan kami benarkan risalahnya” (HR.Buchari, Abu Daud).</p>
<p>Hadist ini sebenarnya berisikan;</p>
<p>Pertama, Risalah Rasulullah SAW diterima karena kejujuran pembawanya (pribadi Muhammad Al-Amin).</p>
<p>Kedua, keutamaan Wahyu Allah mampu merombak tata prilaku kehidupan masyarakat secara kaffah (menyeluruh).</p>
<p>Ketiga, keteguhan ummat dengan tingkat konsistensi (istiqamah) yang tinggi dalam kerangka jihad fii sabilillah.</p>
<p>Keempat, teguh keyakinan kepada kehidupan ukhrawi, bahwa hidup tidak semata materil fisik.</p>
<p>Kelima, kecerdasan ummat melihat cerdas Agama Islam adalah konsep hidup terbaik.</p>
<p>Kelima faktor ini yang menjadi pembangkit utama harakah Islam sebagai kekuatan alternatif masa datang.   Ummat Islam hari ini di tuntut berperan aktif sebagai pengisi  konsep, pelaku penggerak kehidupan duniawi berkeadilan.</p>
<p>Agama Islam tidak hanya ibadah dalam arti sempit (puasa, shalat, zikir dan do’a), tetapi menata amalan nyata yang shalih dalam membentuk kualitas hidup “hasanah” di dunia dan di akhirat.</p>
<p>Ummat Islam mesti sadar bahwa Dakwah Ilaa Allah selalu berhadapan dengan kekuatan konsep fikrah (ghazwul fikriy) Yahudi dan Salibi , dalam penguasaan ekonomi tersistim kearah pemelaratan ummat yang kaya menjadi sangat tergantung kepada belas kasihan para pemodal sehingga lahirlah masyarakat yang miskin dari kekayaan.</p>
<p>Keadaan seperti ini, akhirnya diperparah oleh percaturan politik dengan bungkus demokratisasi, humanisasi, dan hak asasi yang pada dasarnya menjadi kemasan dari phobia terhadap Islam yang berujung dengan intimidasi terhadap ummatnya. Dalam rangka ini kita peringati Maulid Nabi.</p>
<p>Padang,  Rabi’ul Awwal 1430 H/ Maret 2009 M.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adab bertamu dan menerima tamu]]></title>
<link>http://yandarmadi.wordpress.com/2009/02/08/adab-bertamu-dan-menerima-tamu/</link>
<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 09:13:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>belajar dan berbagi</dc:creator>
<guid>http://yandarmadi.wordpress.com/2009/02/08/adab-bertamu-dan-menerima-tamu/</guid>
<description><![CDATA[Ringkasan adab-adab bertamu: Berniat yang baik Tidak memberatkan tuan rumah Memilih waktu berkunjung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ringkasan adab-adab bertamu:</p>
<ol>
<li>Berniat yang baik</li>
<li>Tidak memberatkan tuan rumah</li>
<li>Memilih waktu berkunjung yang tepat</li>
<li>Meminta ijin kepada tuan rumah terlebih dulu</li>
<li>Memperkenalkan diri (bila baru)</li>
<li>Menjelaskan keperluannya</li>
<li>Segera kembali setelah urusan selesai</li>
<li>Mendo&#8217;akan tuan rumah</li>
</ol>
<p>Ringkasan adab memuliakan tamu:</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Meraih Kesuksesan Sejati]]></title>
<link>http://imammujtaba.wordpress.com/2009/01/22/meraih-kesuksesan-sejati/</link>
<pubDate>Thu, 22 Jan 2009 13:56:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>altaf</dc:creator>
<guid>http://imammujtaba.wordpress.com/2009/01/22/meraih-kesuksesan-sejati/</guid>
<description><![CDATA[Ternyata, harta, pangkat, jabatan yang seringkali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Ternyata, harta, pangkat, jabatan yang seringkali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya seringkali menjerumuskan orang pada kesesatan.<br />
Semoga Allah Yang Mahaagung mengaruniakan kepada kita kehati-hatian atas kesuksesan, karena orang yang diuji dengan kegagalan ternyata lebih mudah berhasil dibandingkan mereka yang diuji dengan kesuksesan.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;"><!--more--></span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Banyak orang yang tahan menghadapi kesulitan, tapi sedikit orang yang tidak tahan ketika menghadapi kemudahan. Ada orang yang bersabar ketika tidak mempunyai harta, tapi banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri saat dikaruniai harta yang melimpah. Ternyata, harta, pangkat, jabatan yang seringkali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya seringkali menjerumuskan orang pada kesesatan.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Apa sebenarnya kesuksesan itu? Boleh jadi setiap orang memiliki paradigma berbeda mengenai kesuksesan. Namun secara sederhana, sukses bisa dikatakan sebagai keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan. Dalam pandangan Islam, kesuksesan tidak sekadar aspek dunia belaka, tapi menyentuh pula aspek akhirat.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Kesuksesan, setidaknya mencakup lima hal. Pertama, kalau aktivitas yang kita lakukan menjadi suatu amal. Apalah artinya kita banyak berbuat kalau tidak bernilai amal. Kedua, bila nama kita semakin baik. Apalah artinya kita mendapatkan uang, mendapatkan harta atau kedudukan kalau nama kita coreng-moreng. Ketiga, kalau kita terus bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Apalah artinya jika harta bertambah, tetapi ilmu dan pahala tidak bertambah. Bila ini yang terjadi, kita hanya akan terjebak oleh harta yang kita miliki.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Keempat, kita disebut sukses kalau kita dapat menjalin silaturahmi dengan orang lain, sehingga bertambah saudara. Apalah artinya mendapatkan uang dan kedudukan tetapi musuh kita bertambah banyak. Dengan terjalin silaturahmi, insya Allah akan semakin banyak orang yang mencintai kita. Bila orang sudah cinta, maka ia akan mengerahkan ilmunya untuk menambah ilmu kita, mencurahkan wawasannya untuk mengembangkan wawasan kita, serta memberikan tenaga dan hartanya untuk melindungi kita.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Kelima, kita disebut sukses bila pekerjaan yang kita lakukan dapat memberikan manfaat yang besar kepada orang lain. Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya”. Semakin banyak menjadi jalan kesuksesan bagi orang lain, maka semakin sukseslah diri kita.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Pada hakikatnya kesuksesan itu milik setiap orang. Yang menjadi masalah, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu. Setidaknya ada tujuh formula yang dapat kita lakukan untuk meriah kesuksesan tersebut. Saya menyebutnya dengan 7B. Ketujuh teknik ini harus ada semuanya, jika salah satu tidak ada maka, belum bisa dikatakan sebuah kesuksesan.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Pertama, beribadah dengan benar. Ibadah adalah fondasi dari niat, fondasi dari track yang akan kita buat. Siapapun yang ingin membangun kesuksesan, ia harus memperbaiki ibadahnya. Perbaiki, terus perbaiki ibadah. Siapa yang akan membimbing kita jika ibadah kita buruk? Siapa yang akan melindungi kita dari ketergelinciran kalau ibadah kita tidak jalan? Bukankah Allah Swt. berjanji akan menolong orang-orang yang ibadahnya baik. Intinya, ibadah adalah fondasi yang akan membuat kita agar senantiasa terjaga dalam jalur yang tepat.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Kedua, berakhlak baik. Akhlak yang baik adalah bukti dari ibadah yang benar. Apapun yang kita lakukan, kalau dilandasi akhlak yang buruk niscaya akan berakhir dengan kehancuran. Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu? Rumusnya sangat sederhana yaitu merespons segala sesuatu dengan sikap yang terbaik; merespons kesulitan, merespons kesenangan, pujian, ataupun penghinaan, merespons sehat, sakit, sukses, gagal dengan sikap terbaik.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Ketiga, belajar tiada henti. Karena itu, pertanyaan yang harus kita ajukan adalah apakah kita menyukai proses belajar? Setiap hari masalah kita terus bertambah, kebutuhan bertambah, dan situasi berubah. Bagaimana mungkin kita menyikapi situasi yang terus berubah dengan ilmu yang tidak bertambah!.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Keempat, bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas. Curahan keringat tak selalu identik dengan kesuksesan. Berpikir cerdas adalah merupakan bagian dari kerja keras. Pada prinsipnya, sebuah hasil yang maksimal akan diraih bila kita mampu mengaktualisasikan ibadah, akhlak, dan ilmu kita dalam pekerjaan yang berkualitas.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Kelima, bersahaja dalam hidup. Ini adalah poin yang sangat penting. Betapa banyak orang yang bekerja keras dan mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi dia tidak dapat mengendalikan dirinya. Bersahaja itu bukan sederhana, bersahaja itu bukan miskin, bersahaja adalah menggunakan sesuatu sesuai keperluan. Kenapa kita harus bersahaja? Dengan bersahaja kita akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tidak diperbudak keinginan.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Keenam, bantu sesama. Selalu membantu orang lain adalah tanda kesuksesan. Kalau kita memiliki rumah yang lapang, maka harus ada upaya untuk menampung orang lain, misalnya menampung anak-anak yatim. Kita harus gigih agar kelebihan yang kita miliki dapat menjadi nilai tambah bagi sesama.</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Ketujuh, bersihkan hati selalu. Bila hati kita berpenyakit, maka akan tumbuh rasa ujub, ria, sum’ah, takabur, dan lainnya. Kondisi ini akan membuat amal-amal kita tidak berarti; tidak indah lagi di dunia dan tidak berkah lagi untuk akhirat. Allah Swt. berfirman, Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (QS. Asy-Syu’ara: 88-89).</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">Andaikata formula ini kita lakukan dengan baik, Insya Allah akan berdampak untuk kesuksesan diri kita, berdampak pada lingkungan kita, dan pada saat yang sama berdampak pula pada kesuksesan di akhirat. Wallahu a’lam bishawab</span></span></span></h6>
<h6 style="margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Verdana;"><span style="font-size:xx-small;"><span style="color:#808080;">sumber : MQ media online</span></span></span></h6>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menggali Potensi Zakat, Menggerakkan Umat berbasis Kemampuan dan Kompetensi]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/01/05/menggali-potensi-zakat-menggerakkan-umat-berbasis-kemampuan-dan-kompetensi/</link>
<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 10:53:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2009/01/05/menggali-potensi-zakat-menggerakkan-umat-berbasis-kemampuan-dan-kompetensi/</guid>
<description><![CDATA[Menggali Potensi Zakat Menggerakkan Umat berbasis Kompetensi Oleh : H Mas’oed Abidin Sasaran akhir p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:blue;"><span style="font-size:large;"></span></span></p>
<h1 style="text-align:center;margin:0 0 3pt;"><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"><span style="color:#000000;"> </span></span></h1>
<h1 style="text-align:center;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"><span style="color:#000000;">Menggali Potensi Zakat</span></span></strong></h1>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"><span style="color:#000000;"><span>Menggerakkan Umat berbasis Kompetensi<br />
</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Times New Roman;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Times New Roman;">Oleh : H Mas’oed Abidin</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span><span style="color:#000000;">S<span style="font-size:small;">asaran akhir puasa Ramadhan adalah la’allakum tasykurun, artinya supaya kamu bersyukur.</span></span><a name="_ftnref1" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"> Tidak sempurna kehidupan bermasyarakat bila kegembiraan rasa syukur ini tidak di iringi dengan peduli kepada orang sekeliling, terutama kepada yang belum bernasib baik, <span>fuqarak wal masakin</span>.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"><span> </span></p>
<div id="attachment_236" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-236" title="arnussa-1427-038" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2009/01/arnussa-1427-038.jpg?w=300" alt="Bersama Pengurus BAZDA Sumbar dan BAZDA Kabupaten Merangin Jambi di Nurul Iman Padang" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Bersama Pengurus BAZDA Sumbar dan BAZDA Kabupaten Merangin Jambi di Nurul Iman Padang</p></div>
<p>Pembuktiannya adalah dengan mengeluarkan zakat fithrah bagi meringankan beban derita kaum tak berpunya. Satu bimbingan Islam dalam merasakan suatu kegembiraan secara bersama (ijtima’i). </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="font-family:&#34;">Zakat Fithrah, kewajibannya fardhu’ain bagi setiap Muslim. Apabila dia telah memasuki bulan Ramadhan dan memasuki Idul Fithri. Tidak peduli, apakah dirinya sudah akil baligh ataupun belum, berbadan besar ataupun kecil, berkeadaan sanggup ataupun tidak. Sebab seyoyanya dihari itu tidak ada yang mengatakan tidak sanggup. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Dibayarkan sebelum <em>salat</em> Idul Fithri. Bila dibayarkan sesudah Idul Fithri, nilainya sama seperti sedekah biasa. Boleh dibayarkan sejak awal Ramadhan. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Sebaiknya dengan makanan yang kita makan. Boleh dihitung dengan nilai uang sebesar harga makanan yang dikeluarkan (3 sha’, atau 5,5 kg = sepuluh tekong beras). </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Dibayarkan kepada fuqarak wal masakin. Tidak terbatas jumlah boleh menerima.<span> </span>Sesuai bimbingan Rasulullah <em>SAW,</em> <span>aghnuhum ‘anis-suaal fii hadzal yauma, artinya</span><em> kayakanlah mereka (orang-orang tak berpunya) itu dari masalah minta-meminta pada hari lebaran ini.</em></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:#000000;"><em><span style="font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;"> </span></span></span></em><span><span style="font-size:small;">Bila tidak dibayar, puasanya tergantung antara bumi dan langit </span>(al Hadist)</span><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:&#34;">Hakikatnya, “</span><em><span style="font-family:&#34;">zakat fithrah menjadi pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang tercela dan dari dosa, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin</span></em></span></span><span style="color:#000000;"><span><span style="font-size:small;">” </span>(HR.Abu Daud).</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Perintah agama sangat tegas. Kayakan mereka orang fakir miskin yang tidak sanggup itu, pada hari lebaran idul fithri ini. Bebaskan mereka dari bertawaf, berkeliling meminta-minta dihari besar yang mulai ini. Demikian inti ajaran Islam. Maksudnya supaya satu sama lain saling ringan meringankan. Berat sepikul ringan sejinjing. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Dihari lebaran terbuka pintu pendapatan insidentil dari setiap orang fuqarak dan masakin. Jangan mereka dihina dan dihardik. Semestinya setiap orang yang berpunya merasa malu dihadapan Allah, bila dikelilingnya berserak orang-orang miskin. Secara alamiah kondisi menjamurnya kemiskinan adalah penggambaran nyata dari kondisi kekayaan orang berada yang<span> </span>tidak banyak bermanfaat dalam mengurangi jumlah orang miskin dikelilingnya. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">Setiap diri yang berpunya, semestinya sanggup menyalahkan diri sendiri apabila banyak orang miskin disekililingnya. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">Mungkin sekali sebahagiannya disebabkan karena yang kaya kurang peduli, dan enggan berzakat secara terarah. Atau karena haknya dirampas dengan prilaku tak terpuji, seperti korupsi, manipulasi, dan sebagainya.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Pada sehari lebaran Idul Fithri diperintahkan mengeluarkan zakat fithrah untuk tu’matan lil masakin, atau memberi makan orang miskin. Selanjutnya, orang miskin yang dikayakan dihari itu mampu membantu diri dan keluarganya, mampu pula melaksanakan ajaran agamanya secara teguh dan bertanggung jawab. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Zakat fithrah tidak dimaksudkan penumpukan modal oleh lembaga keuangan tetapi bias menjadi sumber modal langsung bagi simiskin yang telah menerimanya tanpa ikatan suatu akad perjanjian. Maka yang diperlukan adalah kesadaran tinggi fuqarak wal masakin itu, agar disamping keperluan konsumptif lebaran, maka dapat dijadikan modal milik sendiri yang akan dikembangkan sebagai penupang peningkatan ekonomi keluarga.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Dengan kekayaan yang diterima oleh fakir dan miskin, mereka bisa berbelanja. Bisa membeli makanan dan minuman. Bisa membesarkan hari besar jamuan Allah. Mereka bisa pula membayarkan zakat fithrahnya sendiri. Dan pada hari ini semestinya secara ideal, tidak ada lagi orang fakir dan miskin, walaupun hanya dalam bilangan sehari. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Pada hari lebaran itu, tidak ada lagi orang yang menganggap bahwa dirinya berada diatas, dan orang lain yang tidak berpunya (fuqarak wal masakin) menjadi orang dibawah, atau golongan have not any, dan tidak diperhitungkan. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span> </span>Bila pada masa-masa yang panjang, yang bisa berzakat hanya si kaya, tetapi di hari Idul Fithri, yang miskin dan faqir juga ikut berzakat, dari pendapatan zakat yang mereka terima. Ini suatu gambaran masyarakat yang memiliki kekuatan ampuh, atau khaira ummah itu. Mudah-mudahan.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"><span style="font-size:small;">Membantu<span> </span>Ummat<span> </span>Yang<span> </span>Lemah</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Perangai taqwa dan syukur merupakan satu hal yang tidak terpisah. Saling mengokohkan, ibarat aur dengan tebing. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Taqwa selalu subur dengan syukur. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Syukur akan senantiasa berbuah karena taqwa. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nikmat yang sejati hanya ada pada diri yang selalu bertaqwa dan bersyukur itu. Nikmat seperti itu merupakan kebahagiaan hakiki, yang sanggup dirasakan sepanjang hari, dan menjadi dambaan Mukmin sejati. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Bagaimana mungkin kita akan dapat merasakan nikmatnya bahagia dan bahagianya nikmat anugerah Allah, pada hari seperti sekarang ini ??</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Akankah kita dapat merasakan nikmatnya bahagia, bila disaat-saat kita semua bergembira ria, kalau disamping kita ada orang yang menangis tersedu-sedu? Sedu sedannya, seakan jeritan tanpa suara.</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Padahal, mereka sedang menangis, memikirkan dan merasakan kehampaan hidup, karena tidak berpunya dan tidak punya apa-apa, kecuali<span> </span>nyawa berbungkus kulit …?</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Akan sirnalah semua kebahagiaan pada hari ini, jika masih ada di keliling kita orang<em> yang</em> <em>dengan nasib dan takdir yang ada padanya</em>, masih menengadahkan tangan mengharap sesuap nasi, untuk dimakan anak beranak, atau karena melihat anak-anak orang lain bergembira berpakaian baru…. Alangkah malangnya nasib badan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Padahal sebenarnya. Mereka hanya tidak memiliki kesempatan, belum berkemampuan untuk menggantinya, walau agak sepotong. Karena tidak ada sumber pendapatan, hilangnya lowongan pekerjaan, tak ada pula yang mau berbelas kasih. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:&#34;">Membiarkan kondisi ini, dan menganggapnya suatu hal biasa, agaknya kita akan digolongkan kepada orang-orang yang disebut-sebut, </span><span style="color:#000000;"><em><span style="font-family:&#34;">Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?</span></em><span style="font-family:&#34;"> <span> </span>Na’dzu billah .., Kita dianggap sebagai pendusta kebenaran agama, walau masih menyatakan diri pemeluk agama, tetapi sebenarnya sudah jauh tercampak dari ajaran agama.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">Itulah orang yang menghardik anak yatim, yang menyia-nyiakan hak anak yatim. Yang tidak peduli dengan pembinaan generasi. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">Yang melecehkan ratapan para dhu’afak. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;color:#000000;">Yang tidak membantu mengatasi problema kemiskinan. Akan tetapi naifnya, malah selalu berupaya mengintip-intip kesempatan …… mencari kaya dengan memiskinkan orang lain …berladang dipunggung orang<span> </span>dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. </span><a name="_ftnref2" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[2]</span></span></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:&#34;">Bahagia Dalam Memberi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Cobalah dibayangkan. Pada suasana lebaran seperti kita rasakan saat ini. Dipagi hari dikala Rasulullah <em>SAW</em> masih hidup, beliau keluar menuju tempat <em>salat</em> ibadah ‘Idul Fithri. Beliau lihat, seorang bocah termenung menyendiri. Dengan tatapan mata menerawang, dan disampingnya ada teman sebaya bergembira ria, berpakaian baru pembelian ayah. Ditangan temannya ada penganan enak buatan ibu. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dari jauh si bocah hanya bisa melihat, sambil menikmatinya dengan bermenung. Alangkah indahnya kegembiraan teman sebaya. Ditemani gelak tawa penuh bahagia. Dilihat diri, jauh berbeda. Dikala itu terasa badan tersisih. Kemana ayah tempat meminta.<span> </span>Kemana gerangan dicari ibu tempat mengadu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dalam situasi seperti itu, Rasulullah <em>SAW</em> lewat menghampiri. Meletakkan kedua telapak tangan Beliau dikepala si bocah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sambil bertanya Rasul berkata, “<em>Kenapa dikau wahai anak? Teman-temanmu gelak ketawa, dikau merana sedih menangis, gerangan apakah<span> </span>yang menyulitkan ?</em></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Andaikan ada pemimpin zaman sekarang, yang menolehkan pandang kepada silemah, yang tidak pernah mengenal rasa senang. Alangkah indahnya hidup ini ?.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dengan nada tersendat, kerongkongan tersumbat, menahan perasaan kekanakan sibocah lugu menjawab, <em>“Wahai Rasulullah, bagaimana diri tak akan sedih, melihat teman bergembira ria, pulang kerumah ada sanak saudara, lelah bermain ada ibu menghibur, duka dihati ada ayah yang menyahuti. </em></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><em><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sedang diriku wahai Nabi, terasa nian malangnya hidup ini, tiada ibu tempat mengadu, ayahpun sudahlah pergi, badan tinggal sebatang kara. Yatim piatu aku kini……..,”</span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Mendengar rintihan kalbu bocah yang bersih, yang mengharap belas kasih dengan tulus seketika, Rasulullah <em>SAW</em> berkata, “…maukah engkau wahai anak, jika rumah Rasulullah menjadi rumahmu, Ummul Mukminin menjadi ibumu …?”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Andaikan ada masa kini, pintu rumah terbuka bagi silemah, lapangan kerja tersedia bagi dhu’afak, tentulah merata bahagia ditengah bangsa ini. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Jawaban spontan Nabi, menjadikan wajah si bocah berseri-seri, walau yang didengar barulah ajakan, tetapi harapan hidup sudah terbuka. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Diri tidak sendiri lagi. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Ada pelindung pengganti bunda. Walaupun ibu dan ayah sudah tiada. Serta merta Nabi memangku si bocah. Mencium kedua pipi sianak yang sudah lama …,<span> </span>tidak pernah lagi dirasakannya. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Sirnalah air mata yang tadinya terurai lantaran sedih dan hampa. Berganti air mata gembira lantaran bahagia. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Demikianlah satu bukti sangat substansil dari sabda Nabi <em>SAW</em> disampaikan Beliau pada <em>Kotbah</em> Wada’ itu, “Aku dan orang-orang yang menanggung anak yatim, berada di sorga seperti ini <em>(lalu beliau mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya, seraya memberi jarak keduanya)”</em></span></span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:&#34;"> (HR.Bukhari, Abu Daud dan Tirmidzi, lihat Al-hadits As-Shahihah/Al-Bani:800).</span></strong></p>
<h2 style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">Membangun Jembatan Rasa</span></strong></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Membangun mawaddah fil qurba, mestilah bersih dari kedurhakaan dan kemunafikan. Jembatan rasa akan kokoh kuat, bila di ikat oleh hati dan jiwa dalam kemasan kalimat tauhid.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kesatuan hati dan hati menjadi sumber kekuatan yang ampuh dalam <em>ukhuwah</em> yang integrative. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kita tidak dapat membayangkan betapa rusaknya masyarakat yang berlabel <em>ukhuwah</em> tetapi hati mereka tidak mau bertemu. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Mempertemukan hati dengan hati hanya mungkin dengan kekuatan tauhid. Keyakinan kepada Allah SWT.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kekuatan kalimah tauhid, atau kalimatun thayyibah, dapat membentengi ummat dan mampu menjadi kekuatan dalam membina persaudaraan atas dasar <em>ukhuwah</em> imaniyah. Kalimah tauhid adalah seumpama pohon yang kokoh kuat dengan urat menghunjam bumi dan pucuk melembai awan. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:&#34;">Bentuk kerukunan ummat bertauhid digambarkan oleh Allah SWT..”</span><em><span style="font-family:&#34;">Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat</span></em></span></span><span style="color:#000000;"><span><span style="font-size:small;">”</span> (QS.14, Ibrahim : 24-25).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">Disaat yang mulia, dihari jamuan Allah ini, kita besarkan Asma Allah, agar kita tidak menjadi golongan yang melupakan Allah, yang telah menganugerahi kita nikmatNya. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:&#34;">Supaya kita tidak terjerembab kedalam kehidupan<span> </span>ummat yang lupa diri.</span><em><span style="font-family:&#34;">”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.</span></em></span></span><span><span style="color:#000000;"> (QS.59, Al Hasyr :19).</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Mudah-mudahan pada hari ini, kita semua dapat menciptakan suasana gembira dengan kesederhanaan, serta dapat pula menciptakan kebahagian disekitar lingkungan kita.<span> </span></span></span></strong></p>
<h4 style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">‘Izzatun-nafs, Martabat Bangsa</span></strong></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Ikhlas memberi mampu mengubah sedih menjadi gembira, sanggup mengubah duka menjadi bahagia. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span><span style="font-size:small;">Nabi Muhammad <em>SAW</em>. menyebutkan, “<em>Barang siapa yang menggabungkan (menanggung) anak yatim diantara kaum Muslimin, dalam makan dan minumnya, sampai mereka merasa cukup (kenyang) dari makan dan minum itu, maka ia (yang menanggung anak-anak yatim dan dhu’afak) itu pasti memperoleh sorga</em>” </span>(HR.Abu Ya’la dan Ahmad, dalam Al Munthaqa min At Targhib (1517) dan Majma’ Az Zawa-id (8/16).<span> </span></span><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hari ini berapa banyak jumlah anak yang bernasib serupa dikeliling kita. Mereka lemah miskin, karena telah dimiskinkan oleh suasana. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Diperlukan saling peduli (ta’awun), yang menjadi alas-dasar pembentukan masyarakat berkualitas, sebagai telah digambarkan dalam salah satu semboyan Nabi <em>SAW</em> “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Meujudkan masyarakat bertangan diatas, dimulai dengan menanam keyakinan akan rahmat Allah sebagai masyarakat berpunya, yang memiliki ‘izzah (harga diri), tidak menggantung nasib kepada keinginan orang lain. <span> </span>Harkat martabat bangsa amat ditentukan oleh kemandirian, self help bersikap kaya jiwa <em>(ghinan-nafs)</em> yang mampu berdiri dikaki sendiri. Bersedia membuka pintu hati mengulurkan tangan kepada orang lain dalam rangkaian mutual help<span> </span><em>(man a’thaa wat-taqaa) </em>dan selfless-help<em> (wa shaddaqa bil husnaa)</em>. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sikap budaya dalam adat di Ranah Minang, singkek uleh ma uleh, kok kurang tukuak manukuak. Senyatanya, inilah sebahagian modal dasar daerah kita dalam menghadapi UU Otoda No.22 dan 25/1999. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Satu pelajaran paling berharga, yang dapat kita ambil dari Sunnah Rasulullah <em>SAW</em> “<em>Orang yang paling disukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling disukai Allah adalah yang menyenangkan sesama orang Muslim (artinya janganlah ditaburkan kemaksiatan yang mengundang lahirnya bencana). Kamu hilangkanlah susahnya. Kamu lunasilah hutangnya. Kamu usirlah laparnya.<span> </span>Dan Aku, Muhammad SAW, lebih senang bersama saudaraku dalam satu keperluan yang diatasi secara bersama, daripada beri’tikaf dimasjidku ini, yakni Masjid Nabawi di Madinah, selama sebulan penuh</em>”.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span>Pesan Nabi <em>SAW</em> juga menegaskan, <em>“Sembahlah Allah Yang Maha Pengasih. Berilah makanan kepada orang yang lapar. Sebarkanlah salam kepada sesama manusia. Kalian akan masuk sorga dengan selamat”</em> (HR. Tirmidzi (1856), Ahmad (6587, Al Musnad) dan Bukhari (981, Al Adab al-Mufrad)</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:36pt;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Mari kita tumbuhkan kebahagiaan dalam memberi sebagai satu sikap jiwa (mental attitude) yang berguna mengubah dan memberi kecerahan dalam hidup. </span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:16pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;"> </span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:18pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">Membesarkan </span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:20pt;color:black;font-family:&#34;font-variant:small-caps;">Asma Allah</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:36pt;color:black;font-family:&#34;">B</span><em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">erbahagialah kiranya kita pada hari ini</span></em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">, dalam merayakan suatu kemenangan. Kemenangan dari satu perjuangan besar. Mengendalikan diri dan nafsu sebulan penuh di bulan Ramadhan. Kemenangan dalam merebut taqwa. “</span><span>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”, (QS.2, Al Baqarah : 183)</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Bersyukurlah kita kepada Allah Yang Maha Esa</span></em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">, yang mengaruniai kita sekalian dihari raya ini, suatu nikmat besar. Nikmat dapat melaksanakan perintah-perintah Nya. Kemudian dapat menikmati Idul Fithri. <span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Kembali kepada fithrah yang paling manusiawi. Yang menjadi idaman setiap Mukmin.</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Bergembiralah kita semua</span></em><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">, pada hari ini. Tatkala kita mampu menghidangkan suasana gembira. Tidak semata-mata teruntuk bagi orang yang telah melaksanakan puasa Ramadhan. Tetapi juga dapat dinikmati oleh orang-orang disekitar kita. Amatlah wajar, kalau kemeriahan hari ini diisi dengan saling bermaafan. Saling berjabat tangan, mengharap redha Allah. Saling memaafkan diantara kita. Dari anak kepada orang tuanya, dari yang kecil kepada yang besar. Dari antara teman sejawat, sekantor dan rekan sebaya. Dari murid terhadap gurunya. </span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Dari pemimpin terhadap rakyatnya.<span> </span>Secara timbal balik. Kepada setiap shaimin, yang baru meninggalkan Ramadhan beberapa jam yang lewat, kita ucapkan pula “minal ‘aidin wal faa izin, wa kullu ‘aamin wa antum bi khairin” …Berbahagialah siapa yang telah kembali dari perjuangan besar, jihadun-nafsi. </span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;"><span> </span>Semoga kemenangan itu selalu membawa kepada keadaan yang lebih baik dalam menanam kebaikan, ditahun-tahun mendatang. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Disamping kegembiraan itu, sepantasnya pula kita selalu mawas diri. Selalu berhati-hati terhadap kriteria yang disebut Rasulullah <em>SAW</em>, …berapa banyaknya orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang mereka peroleh, kecuali hanya lapar dan haus semata … Na’udzubillah. Mudah-mudahan kita terhindar dari apa yang telah di-gambarkan oleh Rasulullah <em>SAW</em> ini.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align:center;margin:0 0 3pt;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;text-transform:uppercase;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Do’a Penutup</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Allahumma Yaa Rabbana, Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami semua ummat Mu yang memiliki sibghah, memiliki jati diri. Mememiliki keteguhan ‘izzah nafsi, tahu akan martabat diri. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Yaa Allah, Ya Rabbana, </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Dengan hati yang bersih penuh harap, dengan kedua telapak tangan kami menengadah kepada MU, kami bermohon kepada MU ; Jangan Engkau jadikan kami menjadi ummat buih <em>(ghutsa-an ka ghutsa-as-sail)</em>, yang dipermainkan serta diperebutkan oleh orang-orang yang tengah kelaparan, seakan memperebutkan sepiring makanan dihadapan mereka.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Wahai Allah, Yaa Lathief, </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Hindarkan bangsa ini, bangsa Indonesia yang besar ini dari penyakit wahn, yakni penyakit hubbud-dunya, mencintai dunianya amat-sangat berlebihan sehingga mau menjual diri dan keyakinan mereka. Yaa ‘Aziiz, hindarkan bangsa ini dari penyakit karahiyatul-maut, penyakit enggan beramal dan berjihad dijalan MU.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Allahumma Yaa Ghaffar, </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;color:black;font-family:&#34;">Kami menyadari sudah banyak nikmat MU kepada kami. Namun terkadang kami selalu lupa mensyukurinya. Kami sadar telah banyak kesalahan dan kezaliman kami lakukan, sadar ataupun tidak, tapi kami lalai memohon ampun. Yaa Rahmanu Yaa ‘Aziizu, ampunilah kami semua. Ampunilah kedua orang tua kami. Bimbing kami dan pemimpin bangsa kami selalu beribadah kepada MU, </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Yaa Mujiibu, </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Jadikan kami hamba-hamba MU yang selalu beribadah kepada MU, sesuai maksud Engkau menciptakan kami. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">Allahumma, Yaa Rahiim, Yaa ‘Aziiz, Yaa Jabbar, Yaa badii’us-samawati wal ardhi, Hindarkan bangsa kami dari keruntuhan karena kelalaian orang-orang bodoh ditengah kami. Berikan kami kekuatan dan ketabahan dalam memikul setiap amanah menciptakan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi secara tauhidik, integralistik. Hindarkan kami wahai Rahman, dari perpecahan dan poergaduhan yang akan menyebabkan hilangnya semerbak kami.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:black;font-family:&#34;">Yaa Malikul Quddus, as Salamul Mukminul Muhaimin, </span><span style="font-family:&#34;"><span style="color:#000000;">Jadikan kami semua hamba yang mencintai <em>Alquran</em>, dan mampu mengamalkan <em>Alquran</em>. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span style="color:#000000;">Dengan <em>Alquran</em> ini, Yaa Allah, Engkau telah keluarkan ummat manusia dari kegelapan jahiliyah kealam terang benderang dengan bimbingan hidayah <em>Alquran</em>, </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:#000000;"><span><span style="font-size:small;">“<em>Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.</em> </span>(QS.14,Ibrahim:1)</span><span style="font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">. </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Tiada yang lain tempat kami meminta, hanyalah Engkau semata. Tiada yang lain yang kami sembah, kecuali hanyalah Engkau saja.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:black;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Times New Roman;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Times New Roman;"> </span></strong></p>
<div><strong><span style="font-size:small;color:#000000;font-family:Times New Roman;"></p>
<hr size="1" /></span></strong></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><strong><a name="_ftn1" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;color:#000000;font-family:Times New Roman;"> bacalah maksud dari firman Allah pada QS.2, al Baqarah: 185</span></strong></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><strong><a name="_ftn2" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">[2]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;color:#000000;font-family:Times New Roman;"> Lihatlah makna terkandung didalam Qs.107, al Maa’uun: 1-3.</span></strong></p>
</div>
</div>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;"></span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;"></span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:Book Antiqua;">Kemiskinan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sumatera Barat, dengan akar budaya Minangkabau, sangat intens (<em>basitungkin</em>) dalam mengantisipasi berkembangnya kemiskinan. Akan tetapi luas dan letak tanah di Minangkabau sebenarnya kurang bersahabat. </span><a name="_ftnref1" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:&#34;">[1]</span></span></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText3" style="margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Book Antiqua;"><span> </span>Perlulah pula dimaklumi, sebahagian dari luas lahan dimaksud, sudah didiami anak kemenakan warga transmigrasi. Sejak dari Pasaman, Sitiung, Lunang-Silaut, Solok Selatan. Sebahagiannya pula diolah oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, yang menyebar dari Pasaman hingga ke batas Mandailing (Tapsel). Dari Sijunjung hingga ke batas Jambi dan Riau. Begitu pula mendekat batas Bengkulu, di ujung Pesisir Selatan.</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Tanah yang tadinya berada dalam status tanah ulayat Nagari, atau dalam sako pusako tinggi, pelan-pelan berangsur tergeser. Mengiring gerak roda pengembangan wilayah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Secara keseluruhan tanah-tanah kosong tadinya, kini mulai ditanami. Pelan-pelan tetapi pasti, menjanjikan mutiara hijau di kepingan wilayah Sumatera Barat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Mulai dari tanaman sawit, karet, cokelat, lada/merica, kulit manis, hingga ketela pohon (ubi kayu).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Masa <em>doeloe</em> seketika tanah-tanah itu belum diolah, hanya dijadikan anak kemenakan sebagai hutan tempat mencari kayu api. Paling tinggi tempat simpanan kayu pembuat rumah atau untuk mencari akar-rotan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Persawahan atau perladangan anak nagari semasa itu, merupakan hasil taruko ninik-mamak. Sawah <em>bajanjang bapamatang</em> dan ladang <em>babiteh babentalak</em>. Dari mamak turun ke kemenakan. Begitulah seterusnya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Letaknyapun di sekeliling Dusun Taratak. Bahkan ada yang berada di keliling rumah tempat diam.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Perkembangan dusun menjadi desa, dan <em>nagari masuk lurah</em>, anak kemenakan ikut bertambah. Rumah kecil tak mampu lagi menampung jumlah cucu dan cicit. Bangunan barupun ditegakkan, tanah persawahan menjadi satu-satunya pilihan untuk <em>batagak</em> rumah baru.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span><em>Manaruko</em> hutan menjadi sawah, tidak lagi merupakan kebiasaan masa kini. Sebaliknya yang terjadi, mengurangi areal persawahan menjadi lokasi perumahan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Di sinilah ditemui kritisnya masalah peternakan jika dikaitkan dengan sumber pendapatan pertanian.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Akan tetapi, masyarakat Minangkabau, tidak dapat dikatakan miskin dan belum pula bisa dikatakan berada. Yang jelas, mereka tetap bisa hidup dan bertahan hidup, di areal yang makin terbatas itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Keadaan itu memungkinkan, karena adanya peran budaya Minang yang sedari awal intensif mengantisipasi gejala kemiskinan itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Antara lain, bunyi pantun.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Karatau madang di ulu,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">ba buwah ba bungo balun,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">marantau-lah buyuang dahulu,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">di rumah paguno balun.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Adanya kebiasaan merantau menjadikan pemuda-pemuda Minangkabau (Sumatera Barat), mencari hidup di lahan orang lain. Modalnya keyakinan, kemauan dan <em>tulang delapan karat</em>.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sementara itu, sang dara (gadis/remaja putri) Minangkabau, tidak pula dibiarkan hidup cengeng. Mereka diajar <em>bertani, merenda, menjahit, menyulam</em>, dan berbagai kepandaian puteri lainnya. Yang sungguhpun, dirasakan bahwa kepandaian-kepandaian semacam itu, kini mulai terasa langka.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kalaulah kemiskinan yang ada, tidak dirasakan sebagai bahaya, itu hanya disebabkan karena pandainya <em>batenggang</em>.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sesuai bunyi pantun;</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Alah bakarih samporono,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Bingkisan rajo majopaik,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">tuah basabab bakarano</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">pandai batenggang di nan rumik.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Selanjutnya, kepandaian batenggang itu digambarkan dalam pantun lainnya;</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Latiak-latiak tabang ka pinang,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">hinggok di pinang duo-duo,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">satitiak aie dalam piriang,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">di sinan ba main ikan rayo.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Falsafah budaya ini, bukannya menelorkan masyarakat yang statis. Sama sekali tidak. Bahkan melahirkan sikap jiwa yang digjaya. Satu iklim jiwa (<em>mentalclimate</em>) yang subur. Bila pandai menggunakannya dengan tepat, akan banyak membantu dalam usaha pembangunan sumber daya manusia di ranah ini.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sifat egoistis, memang kurang diminati dalam budaya Minangkabau. Membiarkan kemelaratan orang lain, dengan menyenangkan diri sendiri, mungkin merupakan sikap yang tak pernah diwariskan. Yang ada, hanyalah tenggang manenggang dan <em>raso jo pareso</em>. Menurut bahasa halusnya alur dan patut.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Mengatasi masalah kemiskinan ditengah kelembagaan masyarakat Minangkabau, terlihat dari usaha dan perhatian khusus terhadap kemakmuran lahiriyah (material).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ungkapan itu jelas tersimak dalam untaian pepatah yang menyibakkan arti kemakmuran itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Rumah Gadang gajah maharam</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Lumbuang baririk di halaman</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Rangkiang tujuah sa jaja</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sabuah si Bajau-bajau</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Panenggang anak dagang lalu</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sabuah si Tinjau Lauik</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Panenggang anak korong kampuang</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Birawari lumbuang nan banyak</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Makanan anak kamanakan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Manjilih di tapi aie</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Mardeso di paruik kanyang.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:&#34;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Berencana Berhemat</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Untuk mewujudkan terpeliharanya kondisi dimaksud, diingatkan sungguh pentingnya perencanaan dan penghematan. Perencanaan yang jauh jangkauannya ke depan, dengan pengkajian potensi yang tengah dimiliki. Penghematan dengan tujuan bisa memahami situasi, untuk mendukung berhasilnya sebuah program yang tengah dikembangkan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Perhatian yang dalam maknanya ini, terungkap di dalam kalimat-kalimat;</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Ingek sabalun kanai</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kulimek sabalun abih</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Ingek-ingek nan ka pai</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Agak-agak nan ka tingga.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Maka, melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur budaya ini, akan berarti satu kerugian. Membangun kesejahteraan sebagai upaya mengantisipasi kemiskinan, bertitik tolak pada pembinaan unsur sumber daya manusia.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Memulainya dengan cara sederhana. Dengan apa yang ada. Yaitu potensi alam yang terbatas, dan menggerakkan potensi yang terpendam di dalam sumber daya manusianya. Terutama di pedesaan-pedesaan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Mengembalikan kepada benih-benih kekuatan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Melalui usaha-usaha yang terpadu serta berkesinambungan. Dengan <em>mempertajam daya observasi, dan meningkatkan daya pikir masyarakat pedesaan</em> dimaksud.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Usaha itu berkelanjutan dengan mendinamisir daya gerak serta memperhalus daya rasa. Kemudian meningkat pengembangan daya cipta, dan menumbuh bangkitkan daya kemauan mereka.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Supaya dapat dikembalikan kepercayaan kepada diri sendiri. Dan ditumbuhkan kemauan untuk melaksanakan sikap mandiri (<em>self help</em>). Sesuai bimbingan Allah:</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 14.15pt 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">&#8220;Allah tidak akan memberikan perubahan terhadap apa-apa dengan satu kaum, sampai kaum itu berupaya melakukan perubahan (perbaikan) terhadap sikap jiwa (apa yang ada) dalam diri mereka sendiri.&#8221;. (Ar Ra&#8217;d, 13:11).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kita rasanya tidak perlu segan menyatakan bahwa wangsa Minangkabau hampir seratus persen penganut Islam. Sungguhpun, barangkali satu dua sudah ada yang berpindah keyakinan mereka, karena perpustakaan musim atau pergantian nilai-nilai kebudayaan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Begitu eratnya jalinan adat dan agama ini, melahirkan pilinan adatnya bersendi syara&#8217;, syara&#8217; bersendikan Kitabullah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Islam yang mengajarkan nilai-nilai ukhuwah terjalinlah <em>berkulindan</em> dengan kebiasaan luhur.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Senteng babilai/Kurang batukuak</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Batuka ba anjak/Barubah basapo.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sebagai pengalaman amar ma&#8217;ruf, nahi munkar dalam ajaran agama yang dianut.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Anggang jo kekek bari makan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Tabang ka pantai ka duo nyo</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Panjang jo singkek pa ulehkan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 14.2pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Makonyo sampai nan dicito.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Adat hidup, tolong manolong. Adat mati, <em>janguak manjanguak</em>. Adat <em>lai, bari mambari</em>. Adat <em>tidak, salang manyalang</em> (<em>basalang tenggang</em>).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Begitulah yang terjadi, sehingga dalam kehidupan seharian, terlihat nyata dalam perbuatan. <em>Karajo baik ba imbauan, Karajo buruak ba hambauan</em>.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kalau dalam perkembangan zaman, kebiasaan-kebiasaan lama ini mengalami proses pergeseran nilai-nilai budaya asing.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Akan tetapi tetap diyakini, bahwa nilai-nilai budaya Minang itu, tidak hilang dan tidak pula habis.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ini jelas merupakan sebuah potensi yang bisa digerakkan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dalam kaitannya dengan budaya merantau, terbentuklah pula ikatan-ikatan keluarga di perantauan. Sedari ikatan, dalam hubungan <em>saparuik hingga se taratak, dusun nagari</em>. Sampai kepada lingkungan wilayah yang luas, dari <em>Sikiliang air Bangih, dari ombak nan badabua, sampai ka durian di takuak rajo</em>. Artinya meliputi wilayah adat dan nilai budaya Minangkabau.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Tujuannya, pada mulanya sekedar <em>ba suo suo</em>. Mempererat hubungan kekeluargaan. Meningkatkan, kepada memikirkan kampuang halaman. Dan berakhir, kepada usaha membangun kampung halaman.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Belum terdata dengan akurat, berapa perbandingan jumlah orang Minang yang di rantau itu. Apakah jumlah mereka sama dengan jumlah yang tengah menetap di kampung. Atau barangkali beberapa kali lipat dari penghuni ranah sendiri.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Telah lama terjadi, bahwa orang kampung ikut menikmati hasil orang rantau. Malah sering <em>tersua</em>, sirkulasi hidup kampung ditentukan dari rantau. Mulai dari pembinaan pribadi keluarga, membangun rumah, menebus sawah, hingga membangun sarana umum milik nagari.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Perencanaan pembangunan nagari, sering tidak dapat dilaksanakan, tanpa diikut sertakan <em>dunsanak</em> yang tinggal di rantau. Begitulah kenyataan yang tersua.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Namun di dalamnya diakui merupakan satu potensi yang bisa dikembangkan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>KEKAYAAN orang rantau, mungkin tidak sebanding dengan modal yang tertanam di kampung (nagari). Karena rantau adalah lahan usaha. Umumnya bergerak dalam bidang usaha perniagaan. Sedikit yang menggarap usaha pertanian. Karena adanya ungkapan, kalau akan bertani juga, mungkin lebih baik mengolah lahan di kampung saja.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Lapangan usaha sebagai ambtenaar kata orang <em>saisuak</em>, sangat diminati orang Minang. Mulai berpalingnya kepada managemen perusahaan-perusahaan swasta. Bahkan dalam usaha mandiri, belakangan ini paling banyak digeluti.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Lapangan usaha itu, banyak menjanjikan pendapatan yang lumayan. Daripada menanti apa yang ditetapkan berbentuk gaji bulanan. Apalagi lapangan di kantor-kantor pemerintah makin hari makin sempit juga. Dan cepatnya gerak pembangunan bangsa, telah membuka lapangan kerja baru. Kejelian mengkaji kesempatan menyebabkan arus mobilitas horizontal menuju rantau, tak mudah di hempang.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kerasnya hidup di rantau, suatu tantangan yang berat. Diperlukan sikap jiwa yang matang. Di samping kemauan keras, dan tulang delapan karat, dibawa juga falsafah budaya untuk pedoman mengarungi <em>lautan kehidupan rantau</em>.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Falsafah hidup itu, disimak dalam kehidupan keseharian tanah rantau.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Panggiriak pisau si rauik,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Patunggkek batang lintabung,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Salodang ambiak ka nyiru.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Setitiak jadikan lauik,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sakapa (sekepal) jadikan gunuang,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Alam takambang jadi guru.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Belajar kepada alam, mengambil pelajaran dari perjalanan hidup yang tengah diarungi. Tidak lain adalah seiring bidal pantun;</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Biduak dikayuah manantang ombak</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Laia di kambang manantang angin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nangkodoh ingek kamudi</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">padoman nan usah dilupokan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pedoman dalam menempuh kehidupan itu, dikiatkan;</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak kayo, badikik-dikik<span> </span>(hemat)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak tuah, batanua urai<span> </span>(penyantun)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak mulia, tapek i janji<span> </span>(amanah)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak luruih, rantangkan tali<span> </span>(mematuhi peraturan)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak buliah, kuat mancari<span> </span>(etos kerja yang tinggi)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak namo, tinggakan jaso<span> </span>(berbudi daya)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hendak pandai, rajin belajar<span> </span>(rajin dan berinovasi)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dek sakato mangkonyo ada<span> </span>(kerukunandan partisipatif)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dek sakutu mangkonyo maju<span> </span>(memelihara mitra usaha)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 7.1pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dek ameh mangkonyo kameh<span> </span>(perencanaan masa depan)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-5cm;text-align:justify;margin:0 0 6pt 148.85pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dek padi mangkonyo manjadi<span> </span>(pemeliharaan sumber ekonomi)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Tidak mengherankan, bila tantangan berat di rantau mampu diatasi. Dan sesuatu yang paling menarik, bahwa perantau sanggup mengolah pekerjaan apa saja asal halal. Tidak memilih pekerjaan, dengan motivasi hidup yang tinggi. Kondisi ini membuka peluang kepada percepatan mobilitas <em>vertical</em> dalam bentuk peningkatan pendapatan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan gurun buek ka parak, Nan bancah jadikan sawah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan padek ka parumahan, Nan munggu pandam pakuburan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan gaung katabek ikan, Nan padang kapangimpauan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Nan lambah kubagan kabau, Nan rawang ranangan itiak.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Begitulah pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya alam, secara optimal, untuk kesejahteraan ummat manusia.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kekayaan nilai-nilai seperti itu, merupakan modal besar. Dan telah memberikan motivasi yang kuat, dalam upaya mengentaskan kemiskinan di ranah ini. Setidak-tidaknya berperan aktif memintasi, agar kemiskinan itu tidak meruyak. Sungguhpun kenyataan bahwa pengentasannya tidak berubah drastis.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Benteng Tawazunitas</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Perubahan tata kehidupan secara ekonomis, di tengah perkembangan iptek memang satu keharusan. Perubahan itu tidak bisa ditolak, dan dia akan bergerak terus. Karena diyakini, dunia itu berisi perubahan-perubahan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Jika manusia menjadi statis di tengah dinamika perkembangan, maka yang akan ditemui adalah penderitaan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Yang perlu dipertimbangkan di tengah perubahan-perubahan itu, obyektifitas-nya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Apakah manusia akan menjadi obyek dari perubahan itu? Ataukah, manusia akan berperan aktif memanfaatkan perubahan-perubahan itu, untuk peningkatan mutu kehidupannya. Baik dalam bidang material, ataupun emosional (kejiwaan).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Jawaban ini, akan banyak tergantung dari kesiapan watak, dari manusia yang menghadapi perubahan-perubahan dimaksud.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Yang paling tepat barangkali, adalah manusia memanfaatkan perubahan-perubahan, untuk diri mereka. Dan kurang manusiawi, jika manusia diperbudak oleh perubahan-perubahan itu. Yang lebih maknawi, bahwa manusia akan berusaha memilih dan memilah perubahan (inovasi) yang datang. Terapannya adalah, tepat guna dan bernilai guna.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ukurannya, dalam manfaat nilai lebih, tanpa mengorbankan nilai-nilai positif yang hakiki, yang sebelumnya telah dipunyai. Dalam kata lain bisa diungkapkan, bahwa perubahan-perubahan (kemajuan) iptek yang mendunia (globalisasi), tidak perlu mengorbankan nilai-nilai adat maupun keyakinan (agama), dari pengendali iptek (manusia) itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Peningkatan tingkat kehidupan (ekonomi), tidak perlu mengorbankan kegotong royongan, umpamanya. Sikap jiwa saling memuliakan, tidak perlu diganti dengan egoistis, (siapa lu, siapa gua). Sebagaimana pernah menjangkiti kehidupan masyarakat lainnya. Akhirnya bisa berkembang kepada hilangnya kepedulian sosial.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kita memerlukan benteng-benteng kejiwaan yang kuat. Di antaranya adalah pemeliharaan nilai keseimbangan atau disebut juga tawazunitas, menurut istilah agama.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Nilai budaya Minang mengingatkan, &#8220;sekali aie gadang sekali tapian barubah&#8221;. Yang berubah itu hanya tapian saja. Kebiasaan-kebiasaan ketepian, tapi berlaku sebagaimana biasa. Bukan berarti datangnya perubahan (aie gadang), lantas tepian pun ditinggalkan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Yang diajarkan adalah perubahan akan selalu ada. Bahkan, dalam menghadapi setiap invasi yang akan datang, selalu diingatkan. Jangan bertemu hendaknya, &#8220;Jalan dialih urang lalu. Tepian diasak urang mandi.&#8221;.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Untuk ini diperlukan keteguhan sikap dan pendirian.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kita tidak dapat membayangkan, bentuk masyarakat macam apa jadinya, kalau nilai-nilai (norma-norma) sudah menipis. Perlu dipertanyakan. Apakah generasi kini, atau yang akan datang masih dipersiapkan memiliki nilai-nilai budaya mereka? Masihkah nilai-nilai (norma) hukum mereka pertahankan?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Masihkah, norma-norma agama (nilai agama) mereka minati? Masihkah, nilai-nilai kebiasaan bermasyarakat menjadi kegandrungan untuk dipelihara? Bagaimana, hubungan riil yang terjadi?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kecemasan ini beralasan sekali. Karena berkembangnya kecenderungan kehidupan serba boleh (<em>permissive society</em>). Yang dipertahankan adalah hak. Dan melupakan pentingnya terlebih dahulu melaksanakan kewajiban. Nilai agama dan budaya, pada dasarnya berisikan &#8220;<em>Declaration of Human Duties</em>&#8221; itu. Berisikan piagam dasar kewajiban-kewajiban <em>asasi</em> manusia (masyarakat).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>SUNGGUHPUN ukuran kelayakan telah mengalami perubahan, beriring dengan kadar perkembangan. Akan tetapi, ukuran baik dan buruk, boleh dan tidak, acuan kepantasan (normatif, manusiawi, kemasyarakatan), harus tetap dipertahankan. Diantara ukuran yang kita miliki adalah alur dan patut.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Jiko mangaji dari alif, jiko babilang dari aso.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Jiko naik dari janjang, jiko turun dari tanggo.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Memulai dengan apa yang ada.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kita wajib bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta &#8216;ala, atas mulai meningkatnya taraf kemakmuran masyarakat, dengan ukuran materi. Tetapi kenaikan pendapatan masyarakat ini, menjadi tidak sebanding, dengan kebutuhan yang meningkat deras. Akibatnya pendapatan yang tadinya sebatas pemenuhan kebutuhan primer (pangan, sandang, papan), terserap oleh kebutuhan lainnya (<em>sekunder, prestise</em>).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pemilihan mana yang pokok menjadi kabur. Tersebab ukuran keseragaman kehidupan, mulai menjalar di tengah kelompok masyarakat (desa).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sering bertemu, kesalahan arah dalam menentukan pilihan. Kebutuhan mana yang didahulukan. Sering pula dikaburkan oleh dorongan bisa mendapatkan lebih mudah. Melalui hutang (kredit) tanpa jaminan, yang menjalar hingga ke pelosok-pelosok dusun.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Tanpa disadari, bahwa garis yang tadinya dibuat, mau tak mau terlintas. HIngga bayang-bayang tidak lagi sepanjang badan. Dan kemiskinan yang ditakuti itu, kian hari kian tinggi. Dan si miskin pun kian terperosok jauh ke dalam. Jumlahnya pun makin bertambah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Di antara lain, penyebabnya karena tidak adanya sumber penghasilan yang ketat. Kehidupan desa yang tadinya hanya mengandalkan hasil pertanian, besarnya tetap segitu gitu juga.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pengentasan hanya dimungkinkan, dengan terbukanya sumber pendapatan yang bervariasi.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Misalnya perkebunan atau peternakan. Bagi daerah-daerah tertentu, bisa dikembangkan pertukangan, kerajinan rumah tangga. Bahkan di pantai-pantai, dapat juga berbentuk nelayan, atau perikanan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Di beberapa daerah (wilayah), kesempatan membuka lahan usaha ini sudah mulai tampak Pasaman sebagai contoh, kini mulai bergerak ke arah perkebunan besar kelapa sawit. Ribuan hektar banyaknya. Perusahaan-perusahaan besar nasional telah lama mulai menggarapnya. Diperbanyak jumlahnya oleh perusahaan agribisnis yang ada di daerah sendiri.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Tanahnya tadi adalah tanah ulayat. Diserahkan sebagai konsesi melalui izin usaha. Bahkan ada yang langsung dialihkan dengan pemindahan hak melalui jual beli.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Begitu juga di Sitiung (Sijunjung) daerah transmigrasi. Sekarang mulai dilirik Lunang-Silaut (Pesisir Selatan).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Beberapa daerah lainnya, seperti Alahan Panjang, Bidar Alam, Sungai Kunyit (daerah Solok Selatan) yang berbatasan Jambi, telah pula berkembang ke arah perkebunan Sawit, Karet, Teh dan Cokelat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Daerah Limapuluh Kota misalnya, selain perkebunan teh Halaban, mulai pula ke Baruh Gunung, dan Suliki Gunung Emas. Kebun karet rakyat dan pengempaan gambir, mulai agak bernafas dengan leluasa.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Di kaki Gunung Sago dan Gunung talang, mulai bergerak perkebunan rakyat lainnya. Ada yang berbentuk kulit manis, murbei, markisa. Dan juga tanaman palawija, sedari lobak, kentang, bawang merah dan putih.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sebenarnya semua ini, adalah penghasilan yang lumayan, bisa berguna dalam mengentaskan kemiskinan masyarakat pedesaan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Idealnya, masyarakat pedesaan itu harus berani memulai. Memulai dengan apa yang ada. Karena yang ada itu sudah cukup untuk memulai. Potensi besar yang dimiliki, yang ada itu, adalah telapak tangan dan potensi alam anugerah Allah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dengan sedikit bimbingan pengetahuan, dan manajemen perusahaan, semua potensi yang potensial itu, niscaya kalau digerakkan akan merupakan potensi yang riil.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Maka seharusnya dan semestinya-lah perusahaan perkebunan besar di sentra-sentra tadi, mulai membangunkan untuk rakyat pedesaan warga setempat, perkebunan-perkebunan mini.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Secara selektif, dipilihkan masyarakat desa yang tidak berpunya. Hingga mereka menjadi orang berpunya, (dalam hal ini minimal sebidang perkebunan yang telah jadi).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ada sebuah gejala yang mulai terlihat mengenaskan. Yaitu, menurunnya tingkat penghidupan penduduk desa, di sekeliling daerah perkebunan atau daerah transmigrasi.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Penduduk desa yang tadinya memiliki ulayat, sekarang bahkan ada yang tidak mempunyai sekeping tanahpun, untuk diolah mereka sebagai lahan usaha. Kalaupun ada, modal pengolahan (materil dan pengetahuan) sangat minim sekali.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kehidupan masa depan mereka, jadinya kabur dan mungkin saja hilang.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>PROSES kemiskinan bergerak tumbuh lebih cepat dari tumbuhnya komoditas perkebunan yang ditanam.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Maka, mengutamakan “peserta” perkebunan, dengan mendahulukan penduduk desa sekelilingnya menjadi lebih mendesak. Hendaknya jangan timbul penduduk “desa siluman”, yang memetik hasil dari lingkungan desa, tetapi membiarkan penduduknya tetap merana. Program PIR yang sudah ada, hendaknya lebih selektif disasarkan kepada penduduk yang beul-betul miskin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Melalui program terpadu semacam ini, pengentasan kemiskinan niscaya bisa di-entaskan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Hal yang sama, bisa dikembangkan pula pada sentra lain-lain. Melalui periklanan, nelayan, pertukangan, <em>home industri</em>, atau usaha-usaha serupa.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sepanjang ranah pesisir, mulai dari Sikilang Air Bangis hingga mendekat Muko-Muko, bisa diperbaiki kehidupan nelayan. Warga nelayang yang miskin, secara berangsur-angsur bisa memiliki perahu-perahu pemukat, mesin tempel (motor boat), jaring-jaring pukat dan peralatan lainnya yang layak dimiliki oleh kehidupan para nelayan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Peralatan permodalan, berupa mesin jahit, pertukangan, untuk sentra “home industri”, disasarkan juga kepada kelompok miskin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sungguhpun usaha ini telah dilakukan pemerintah. Tetapi keikut sertaan seluruh unsur masyarakat desa dan rantau perlu lebih dipadukan. Peranan informal leader amat menentukan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Yang penting adalah, membuat kiat bagaimana kesejahteraan itu bermuara di desa.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Meningkatnya pendapat masyarakat desa, merupakan sumber pendapatan baru bagi masyarakt kota. Rumus ini tidak perlu diragukan lagi.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Membentuk desa binaan merupakan langkah awal yang perlu diwujudkan. Usaha ini seiring sungguh dengan garisan Allah Subhanahu wa Taala.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Berikanlah kepada karib kerabat (masyarakt keliling, sanak keluarga di kampung halaman) haknya. Begitu pula terhadap orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Janganlah kamu menjadi orang “mubadzdzir” (pemboros, dan melakukan tindakan yang tidak bermanfaat, membuang-buang kesempatan). Karena orang-orang pemboros adalah teman dari Syaithan. Dan syaithan itu sangat inkar kepada Tuhannya.”. (QS. Al Isra’, 17:26-27).</span></span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:Book Antiqua;">Bukakan Pintu Hati</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Kalau disadari, bahwa di keliling kita terserak sumber daya yang besar dari umat, yang sedang terpelanting dan menderita, ada berbagai kelompok dan kedudukan. Diantaranya, Pelajar dan Mahasiswa, bekas pegawai-pegawai Negeri Sipil, Militer, pegawai perusahaan-perusahaan swasta dan guru-guru sekolah partikulir (Madrasah-Madrasah), Masyarakat Tani, pedagang kecil dan buruh kecil. Semuanya adalah sumber daya manusia (SDM) yang besar kontribusinya. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Walaupun diantaranya ada yang invalid, atau yang di tinggalkan oleh yang telah gugur, ada yang menderita tekanan kehidupan, dhu’afak, kehilangan rumah atau pekerjaan. Kesemuanya merupakan kekuatan masyarakat yang perlu di bina untuk ikut berperan aktif dalam proses kehidupan bangsa ditengah bergulirnya roda<span> </span>pembangunan (development) itu. Untuk menghimpunnya, diperlukan usaha dengan berbagai upaya, baik yang bersifat psychologis<span> </span>ataupun technis. Langkah pertama, adalah buka kan “pintu hati” dan “pintu rumah” bagi mereka yang memerlukan bantuan dalam rangka pemulihan kehidupan. Tunjukkan minat kepada mereka dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Andaikata belum mampu memberikan bantuan sewaktu itu juga, sekurang-kurangnya sokongan moril harus diberikan. Hidupkan harapan mereka kepada kekuatan kerahiman Ilahi, suburkan kepercayaan mereka kepada kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri, dengan hati yang tulus ikhlas.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span>Hati yang lebih tulus dan pikiran yang jernih serta lega akan kembali mengisii harapan. Upaya ini niscaya akan menambah himmah (gita dan minat)<span> </span>untuk bekerja terus. Sekurang-kurangnya, akan menambah daya tahan umat untuk menghindarkan diri dari tindakan menyalahi hukum Syar’iy, maupun urusan duniawi. Sekali-kali jangan ditinggalkan umat dengan bermacam-macam perasaan tak tentu arah. Tanpa pegangan yang pasti, umat akan patah hati dan semangat untuk bisa menjumpai kita kembali.<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Kriteria untuk merebut suatu keberhasilan oleh seorang pemimpin, dalam semua level kedudukannya, adalah selalu berada ditangah umat yang di pimpinnya. <em>“TIAP-TIAP KAMU ADALAH PEMIMPIN, DAN TIAP-TIAP PEMIMPIN AKAN DIMINTA PERTANGGUNGAN JAWAB ATAS YANG DIPIMPINNYA”</em><em>(Al Hadist Riwayat Al Bukhary, dari Abdullah Ibn Umar) </em>Begitu peringatan Rasulullah SAW.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Pemikiran (ide) seorang pemimpin walaupun belum selalu komplet dan limitatif, menjadi tidak terbatas bila berpadu dengan pengalaman. Pengalaman disertai kearifan membaca kondisi keliling merupakan pelajaran sangat berharga sebagai penggugah dan pengantar pemikiran. Pengalaman serta daya pikir dan daya cipta, bila dipadukan akan sangat bermanfaat untuk menciptakan kesempurnaan dalam praktek.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span>Sambil berjalan kumpulkan data pengalaman sebanyak mungkin, karena tindakan seperti ini bukan barang lama, tidak pula ilmu baru. Syukurlah,<span> </span>bila ada kesadaran akan kenyataan bahwa semua hal baru dapat di kerjakan oleh semua orang, asal mau. Semua barang yang lama itu tetap akan baru, selama sesorang belum mengerjakannya. Yang terpenting selalu mencoba untuk membangkitkan kreativitas dalam berusaha. Sebagai upaya inovatif untuk tetap bersemangat dalam menjalani roda kehidupan ini.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span>Barangkali juga dirasakan, bahwa di antara hal-hal itu ada yang demikian barunya sehingga sukar, malah rasa-rasa tak mungkin dapat mencapainya. Semboyan amal itu seharusnya adalah; <em>“Yang mudah<span> </span>sudah dikerjakan orang, Yang sukar kita kerjakan sekarang, Yang “tak mungkin” dikerjakan besok”</em> Demikian diantara pesan Bapak DR.Mohamad Natsir (1961).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;">Dengan mengharapkan hidayat Ilahi, mari kita sahuti panggilan Allah SWT, <em>“Katakanlah : Wahai kaumku, berbuatlah kamu sehabis-habis kemampuan-mu, akupun berbuat”!</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Gerakkan Potensi Ummat</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Selalu saja menjadi pertanyaan yang agak sulit dijawab. Tentang darimana bisa diambilkan dana bagi pengentasan kemiskinan itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pertanyaan selanjutnya, siapa yang berkompeten melaksanakan usaha pengentasan kemiskinan tersebut?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Bagaimana memulainya? Dan apakah kira-kira usaha itu akan berhasil segera? Barangkali, banyak lagi pertanyaan lainya yang mungkin tumbuh sesudah itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Harus diakui secara sadar, bahwa “pengentasan kemiskinan” itu, bukanlah pekerjaan mudah. Tidak semudah mengucapkannya. Dan hasilnya, juga tidak bisa cepat, drastis dan sekali jalan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Secara berangsur-angsur, adalah pasti. Sesuai hukum alam, sebagai satu “sunnatullah” yang telah digariskan. Yaitu, “thabaqan ‘an thabaq”, atau “selangkah demi selangkah”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Jika tidak seluruhnya bisa berhasil, bukan berarti pula seluruhnya tidak dikerjakan. Kerjakan juga mana yang mungkin. Inilah dasar dari optimisme cita luhur itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pandangan ajaran Islam lebih tegas lagi. Setiap muslim, tidak dibebaskan membiarkan saudaranya (tetangganya) kelaparan di sampingnya. Sementara dia tidur kekenyangan. Begitu jelasnya ajaran Rasulullah, Shallallahu alaihi wa sallam.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Karena itu, tugas ini menjadi beban setiap Muslim yang berada. Fii amwalihim naqqun ma luum. Di dalam hartanya, ada hak orang lain. Hak itu berupa infaq, shadaqah dan zakat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Zakat sebagai sumber dana ummat (Islam), pernah berperan membiayai perjuangan kemerdekaan. Lihatlah, bagaimana gencarnya pengumpulan zakat, untuk pembeli senjata, pemberli pesawat udara (Seulawah satu). Dimasa kita berjuang mencapai kemerdekaan dimasa penjajahan kolonial Belanda dahulu (1945).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Jauh sebelumnya, bahkan hingga kini, zakat merupakan satu sumber pembangunan bidang pendidikan (agama). banyak Madrasah, pesantren, yang telah dibangun dengan “dana zakat” itu. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Masjid dan Mushalla, barangkali adalah pembuatan toko, kebun, kapal atau pabrik dengan uang zakat. Dan hasilnya diperuntukkan bagi kepentingan si miskin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Untuk melakukan studi banding, beberapa negeri tetangga telah lebih dahulu melakukannya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Mesir, sudah lebih dari seribu tahun mengelola uang zakat, untuk penguasaan tana-tanah produktif (pertanian), dan sarana-sarana ekonomi (perdagangan, dan pabrik-pabrik). Hasilnya samapai hari ii, menyantuni lembaga pendidikan tertua Al Azhar. Tidaklah berlebihan bila disebutkan bahwa Institut Al Azhar Mesir ini, merupakan institut terkaya, yang mengelola harta waqaf dan zakat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Bagaimana soalnya dengan kontraktor? Masihkah zakat dikeluarkan sebagai halnya petani? Sebahagiannya, ada yang mempersoalkan bahwa mereka terikat beban hutang dengan bank.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Bagaimana pula dengan bank-bank, yang sekarang telah menjadi perusahaan (PT)? Adakah mereka mengeluarkan zakat?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pertanyaan juga kepada para pegawai, yang jika dihitung, ada yang mendapatkan gaji, rendahnya Rp. 2,4 juta per tahung? Bahan ada yang lebih, hingga 50 sampai 100 juta? Atau yang yang menengah saja, sekitar Rp 12 juta setahun? Masihkah dipersoalkan, bahwa kami masih dihimpit hutang, karana pembelian mobil dan lain-lainnya, sampai dua atau tiga buah?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Secara sederhana, bisa dimulai menghitungnya. Berapa besar DIP yang diberikan pemerintah pusat untuk daerah Sumbar tahun ini. Semuanya jelas dikerjakan oleh kontraktor (perusahaan). Kalaulah 2,5 persen dikeluarkan dalam bentuk zakat, barangkali kita memiliki sumber dana sekian milyar rupiah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kalaulah 2,5 persen pula dari keuangan perusahaan besar seperti PT Semen Padang, PT Bank-bank, dan PT-PT lainnya, maka akan bertambah pula sekian ratus juta rupiah, pertahunnya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Menghitung, memang lebih mudah daripada memungut atau mengeluarkannya. Disinilah peluang kerja bagi BAZIS. Dan, seharusnya BAZIS itu, menjadi perencana, penghitung, pembagi, dan penggerak. Semacam badan perencanaan pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penyedia istimewa (sumber pendapatan) bagi orang-orang yang perlu diangkatkan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Begitulah angan-angan yang gerangan perlu dikembangkan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span><em>GEBU MINANG</em>, bisa juga berperan mulai dari rantau. Badan amal ini bisa bertindak sebagai penggerak pula, untuk mewujudkan <em>Desa-desa Binaan</em>. Mungkin dengan mengeluarkan obligasi dan mengajak pihak-pihak berpunya, untuk menanamkan modalnya bagi kesejahteraan anak kemenakan di kampung halaman.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Mungkin sekali, mengajak kerjasama “Bank Muamalat Indonesia”, dalam bentuk syarikat usaha. Berbagai hasil kelaknya, dengan mengawali pada berbagai tugas dan kerjaan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Masyarakat Minang terangnya adalah masyarakat muslim, yang bagi mereka adat dan agama Islam berjalin-berkelindan. Adatnya bersendi syara’ , dan syara’ bersendi Kitabullah (Al Quran).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Masjid dan Mushalla, serta Lembaga-lembaga Agama Islam, yang selama ini telah berperan sebagai ujung tombak “pengumpul zakat”. Bisa lebih difungsikan, dengan memberikan mutu dan kualitas ummat Islam sendiri.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Akhirnya, “mass-media”, bisa dimintakan partisipasinya pula. Terutama dalam pengumuman dan pelaporan setiap kegiatan pengumpulan dan pemanfaatan dana-dana ummat. Tentu secara berkala dan bertanggung jawab.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Apa yang bisa dilakukan di sini” adalah awal dari gagasan tulisan ini. Kalimat itu juga mengakhirinya. Terpulanglah kepada kita, darimana akan dimulai. Menggerakkan potensi ummat dengan mengharap ridha Allah, adalah tujuan utamanya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Allahumma zidha ‘ilman”. Wahai Allah, tambahlah ilmu kami. Ilmu yang bermanfaat yang bisa dikembangkan, bisa diaplikasikan menjadi kenyataan. Karena Engkau tela berfirman,”Sesiapa yang telah Engkau berikan hikmah (yakni ilmu yang bermanfaat, bisa diterapkan untuk menciptakan kemaslahatan ummat banya, atas dasar ridha Engkau). Berarti mereka telah Engkau anugerahkan kebaikan yang besar.”<span> </span>(Al Quran)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:&#34;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>PENGENTASAN kemiskinan, dengan pengertian usaha bersama-sama mengurangi tingkat kemiskinan perlu ditampilkan. Perlu dipentaskan. Karena usaha mengatasi kemisikinan di tengah kehidupan ummat, sesungguhnya merupakan usaha yang mulia.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Agama Islam, dengan mempedomani Al Quran dan Sunnah Rasulullah selalu memberikan perhatian yang besar serta berkesinambungan terhadap masalah sosial ini. Ajaran Al Quran amat memperhatikan usaha-usaha penanggulangan kemiskinan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Tidak diragukan lagi, ayat-ayat pertama dari Mashhaf Al Quran, memberikan ciri-ciri sifat dan sikap seorang Muttaqin (orang yang bertaqwa). Diantaranya, orang yang percaya kepada Yang Ghaib (Allah), mendirikan shalat serta membelanjakan sebahagian rezekinya (hartanya) untuk kemaslahatan ummat banyak. Artinya, memberikan perhatian penuh terhadap kehidupan orang-orang miskin. Seperti tertera dalam Wahyu Allah, Surat Al Baqarah, 2 : 3 (Al Quran).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Karena itu, seorang Muslim seyogyanya tidak perlu merasa sungkan dan segan, dalam berusaha mementaskan setiap usaha ke arah pengentasan kemiskinan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Al Quran yang menjadi pedoman setiap Muslim (jumlah kita diakui terbanyak di Dunia ini), seyogyanya mengambilkan pelajaran tentang cara-cara yang diajarkannya guna mengentaskan kemiskinan ummat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Karena sudah pasti, yang terbanyak di antara ummat yang berada di bawah garis kemiskinan itu, tentulah Muslim pula.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Al Quran menceritakan, di kala seorang kafir (yang menolak ajaran Allah), dimasukkan ke dalam neraka, mereka ditanya, Apa sebabnya mereka tercampak ke dalam kehinaan (Neraka) ini. Jawabnya karena, pertama, Kami bukanlah termasuk golongan orang-orang yang shalat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kedua, Kami tidak hendak memberi makan orang miskin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ketiga, Kami asyik membicarkan kebathilan. Tanpa berusaha sedikitpun menghapus kebathilan itu. Habis hari karena berbincang. Tak ada waktu tersisa untuk mengubah kepincangan-kepincangan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Keempat, Kami mendustakan hari pembalasan (hari akhirat). Keyakinan mereka hanya terpaut kepada hal-hal duniawiyah semata. Yang ada hanya pemikiran masa kini, di sini. Tidak ada sama sekali berpikir dan berbuat untuk hari esok. Hari yang pasti didatangi setiap diri. Nanti, setelah mati.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Keterangan tersebut jelas diterangkan Allah dalam Firman Nya, Al Quran Surah ke 74, Al Muddatsir ayat 40 &#8211; 47.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Yang menjadi titik perbincangan adalah <em>memberi makan orang miskin</em>.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ruang lingkungan luas. Termasuk memberi makan, juga adalah menyiapkan sumber atau lahan usaha bagi si miskin. Hingga setiap saat mempunyai harapan dari hasil garapannya. Mereka tidak lagi disibukkan mengumpulkan sesuap nasi atau setekong beras untuk makan gari ini. Tapi, sudah mempunyai sumber usaha yang menghasilkan makan setiap hari. Untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya pula. Jadi, usaha melahirkan kemandirian.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Secara konvensional, yang disebut miskin itu peminta-minta. Dia <em>tidak punya kerja</em>, kecuali hanya meminta-minta. Sungguhpun mereka punya hak untuk meminta-minta kepada orang yang berpunya (lihat Surat Adz Dzariyat, 51:19-20). Tapi sama-sama tidak bermartabat, membiarkan diri selalu menjadi peminta-minta. Atau juga tidak mulia tindakan si kaya yang memupuk terpeliharanya kebiasaan orang yang selalu meminta-minta.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dalam sebuah ajaran Rasululah Shallallahu ‘alaihi wassalam ditegaskan, “Mencari kayu api ke hutan, mengikatnya dan kemudian menjualnya, (berusaha dengan tangan sendiri, memeras keringat), kemudian hasilnya kamu terima, dan kamu makan berserta keluarga di rumah. Usaha demikian itu lebih bermartabat, daripada kamu berkeliling menengadahkan tangan meminta-minta, diberi ataupun tidak diberi oleh orang lain. Allah lebih senang kepada tangan yang di atas daripada tangan yang di bawah (peminta-minta).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Menelurkan Harga Diri.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Umar bin Khattab, memberikan arahan lebih keras. Tatkala dilihatnya seorang pemuda, duduk mendo’a menengadahkan tangan meminta rezeki. Tanpa berusaha meninggalkan pojok dinding Ka’bah. Sedari pagi hingga malam, hanya berseru dengan nada memelas.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Wahai Tuhan, berilah aku rezeki harta”. Begitulah yang didengar Umar bin Khattab, keluhan remaja yang memiliki tubuh sehat dan otot perkasa.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dengan nada keras, sembari mengancam dengan mata pedang, Umar mengingatkan,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Wahai pemuda. Janganlah sekali-kali kamu hanya pandai menengadahkan tangan, meminta-minta diturunkan rezeki harta. Kamu harus tahu, sejak langit berkembang, Allah tidak pernah menurunkan hujan emas dan perak. Gerakkan tanganmu! Allah akan beri kamu rezeki.”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Peringatan keras ini, memiliki ajaran dan pandangan yang sungguh dalam.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Larangan meminta-minta. Tumbuhkan sikap berusaha. Melahirkan etos kerja yang tinggi. Sebagai pembuka jalan bagi pintu rezeki.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Di sinilah terdapat salah satu kunci. Mengentaskan kemiskinan melalui “pemberian pelajaran”, menunbuhkan “harga diri”. Menumbuhkan “rasa malu” selalu menjadi beban orang lain. Jadi, harus ada program jelas untuk mengubah sikap kebiasaan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Orang miskin adalah orang yang serba kekurangan. Orang yang berkekurangan lantaran tidak mempunyai apa-apa. Tidak memiliki mata pencaharian. Tidak mempunyai kepandaian dalam mencari nafkah. Mereka perlu dibantu dan diangkatkan derajatnya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dicarikan baginya lahan dan lapangan pekerjaan. Dibuatkan untuk mereka sumber pengidupan. Dididik mereka untuk bisa berusaha untuk hidup. Ajarkan mereka arti dan makna “madiri” dalam bentuk perbuatan dan kenyataan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Lebih halus ta’rif atau definisi yang diberikan Rasul Shallallahu ‘alaihi wassalam, sebagaimana diriwatkan Bukhari Muslim dalam shahihnya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta (sebagai pemulung), agar diberikan kepadanya sesuap nasi atau sebuah dua biji korma. Tapi orang miskin itu, adalah mereka yang hidupnya tidak layak berkecukupan. Kemudian mereka diberi sedekah, dan sesudah itu mereka tidak pergi lagi meminta-minta kepada orang lainnya.”. (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih Insya Allah).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Hadist lainnya menyebutkan;</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Orang miskin itu, hanyalah orang yang menjaga kehormatannya.”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Mereka perlu mendapatkan perhatian. Terhadap nasib mereka perlu ditumbuhkan kepedulian yang tinggi.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Perangi Kemiskinan, </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kemelaratan dan Kebodohan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><em><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pelunturan kadar ummat Islam lebih banyak disebabkan berjangkitnya wabah &#8220;kemelaratan&#8221; dan &#8220;kebodohan&#8221;, pada sebahagian besar ummat alternatif ini.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Walaupun sebenarnya sinyal Al Quran menyebutkan bahwa posisi ummat itu berada pada papan atas, sesuai Firman Allah ; <em>“Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi, ta’muruuna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari, wa tu’minuuna billahi”,</em> artinya <span style="text-decoration:underline;">sebenarnya kamu adalah umat terbaik yang di tampilkan di tengah kehidupan manusia, karena kamu senantiasa mengajak kepada yang ma’ruf dan menegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.</span> (QS. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Shibghah (identitas) sebagai &#8220;umat terbaik&#8221; itu, tidak akan terwujud bila kadar ummat itu tersungkup oleh kemelaratan (baik secara fisik, materiil, dan keyakinan atau keimanan kepada Allah Yang Maha Esa). Kadar ummat itu pun akan luntur tersebab oleh kebodohan yang membelit seperti kebiasaan meniru apa yang ada pada orang lain tanpa memilih dan memilah bentuk yang akan ditiru itu (kerangka piki­ran, pandangan, dan polah tingkah), dalam fenomena kehid­upan aliran.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kemelaratan adalah musuh besar kemanusiaan, memelukan perlawanan gigih melenyapkannya, sesuai peringatan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi Wa Sallam &#8220;<em><span style="text-decoration:underline;">hampir saja kefakiran (kemelara­tan) itu yang membuka peluang untuk kufur (durhaka dan menolak kebenaran ajaran agama</span></em>&#8220;. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kemelaratan adalah hasil sikap perbuatan manusia, seperti dalam memenuhi kebutuhan melalui kredit dan riba, dan hilangnya ukuran kepantasan dan kepatutan. Kemelaran juga terlahir karena hilangnya etos kerja, serta berjangkitnya perangai malas dan lalai (syaithaniyah). Kemelaratan, berkembang menjadi wabah di tengah ummat tatkala berdampingan dengan kebodohan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kebodohan dalam membuat perhitungan serta pernilaian, terhadap urgensi, efisiensi, dan kurang teliti dalam melakukan pengukuran antara bayang‑bayang dan badan, atau antara pasak dengan tiang.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pada hakekatnya riba (kredit lunak berbunga besar), atau pinjaman yang salah penerapannya akan berakibat &#8220;meningkatnya harga barang yang normal menjadi sangat tinggi&#8221;, atau berpengaruh besar terhadap neraca pembayaran antar bangsa, kemudian berakibat melejitnya laju inflasi, akibatnya akan dirasakan pada semua orang pada semua tingkah penghidupan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Benih malas dominan mewarnai bangsa yang melarat dan bodoh, tumbuh subur pada generasi yang tidak memiliki kemampuan mengatur diri sendiri (mandiri) yang pada giliorannya terpaku pada konsepsi orang yang lebih kuat, membuka peluang eksploitasi manusia di tengah‑tengah manusia yang merdeka. Generasi yang malas dan bodoh mustahil diharap­kan memimpin bangsanya karena tidak memiliki aset apa‑apa (bernilai kosong) untuk dipersandingkan pada arena dunia kompetisi, <em>terutama pada abad dua puluh satu,</em> akan berpeluang dikutak‑katik‑kan orang lain, lantaran terlahir bermentalkan itik yang bisa dihalau hanya dengan sebilah ranting.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Inilah problema yang akan di hadapi di abad mendatang, di saat dunia akan digeluti oleh persaingan yang keras dan perlombaan yang tajam, pada era persaingan bebas. <span> </span>Kebodohan serta segala keterbelakangan yang mendera umat Islam diberbagai belahan dunia saat ini sangat wajar dipulangkan kepada umat Islam. Dia harus benar‑benar menjadikan ajaran Allah sebagai sumber keberkatan kehidu­pannya. Sebaliknya, umat Islam itu maupun sebagai aparat pemerintahan maupun sebagai rakyat biasa, sangat wajar berusaha terus‑menerus menimba ilmu pengetahuan yang ada dalam kitab suci Alquran. Serta menjadikan Alquran benar‑benar sebagai pedoman hidup untuk mencapai kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kajian menjadi sangat penting, bila kita sadari bahwa pelunturan kadar ummat Islam di negara ini, akan berakibat fatal bagi hilangnya kekuatan nasional, pada lebih dari 85 prosen penduduk negeri tercinta, Nusantara Indonesia, yang di awali dari hilangnya kesadaran berbangsa dan pudarnya semangat kebersamaan. Kalaulah umat Islam masih saja &#8220;mendua&#8221;, maksudnya tidak sepenuh hati menjadikan Alqur&#8217;an sebagai pedoman hidup, maka selama itu pulalah umat Islam akan ditimpa berbagai macam kegelisahan dengan berbagai bentuk penderitaan. Sebab, umat Islam yang menderita itu, tidak bisa dilepas­kan dari keingkarannya pada kebenaran ayat‑ayat Alqur&#8217;an. Oleh sebab itu, marilah kita benar‑benar menjadikan Alqur­&#8217;an sebagai pedoman hidup yang membawa kesejahteraan secara keseluruhan. Wallahu a’lamu bis-shawaab.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Fakir dan miskin, adalah bayangan kehidupan yang berbahaya. Bahayanya jelas digambarkan oleh Rasulullah. Beliau berkata, “<em>Hampir-hampir kefaqiran yang membawa kekufuran</em>”. Walaupun tidak selamanya orang kufur itu terdiri dari orang fakir. Atau sebaliknya tidak pula selamanya orang berpunya terjauh dari kekufuran.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Namun, dapat disimak terminologi sosialnya, bahwa kekufuran itu terbuka itu terbuka pada salah satu pintunya kefakiran.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Maka mengatasi kefakiran dan kemiskinan, bermakna menghambat peluang kearah kekufuran. Disini terletak satu peran utama setiap muslim yang mampu. Kewajiban asasi, dalam kaitannya dengan “hablum minan saasi” atau hubungan horizontal antara sesama manusia (Muslim).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dalam hubungan ini, Ali bin Abi thalib mengandaikan. “Andaikata, kefakiran atau kemiskinan mewujudkan dirinya dalam sosok tubuh seperti manusia, niscaya aku akan cabut pedangku. Aku tebas batang lehernya. Sehingga kemiskinan (kefakiran) itu tidak sempat hidup ditengah kehidupan manusia banyak.”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Demiakian Ali bin Abi Thalib, mengumumkan perang terhadap kemiskinan (kefakiran).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Akan tetapi Umar bin Khattab, langsung mementaskan di arena kekhalifahan beliau. Bagaimana beliau sendiri berperan langsung dalam mengentaskan kemiskinan di zamannya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Diantaranya tersebut kisah, bahwa Umar bin Khattab selalu melakukan perjalanan <em>incognito</em>, ke pelosok-pelosok desa, ke gubuk-gubuk reot. Melihat dan meneliti keadaan kehidupan masyarakat kalangan bawah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Di suatu malam, Umar bin Khattab mendengan suara tangisan anak-anak dari sebuah gubuk. Terdengar pula dendangan ibu menentramkan tangisan anak itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Setelah mendekat, Umar bin Khattab meminta izin kepada sang Ibu agar diperbolehkan masuk. Dalam dialog pendek, dari sang ibu didapat penjelasan, bahwa dia berusaha menenangkan tangisan anaknya yang tengah kelaparan. Untuk menghubur dan menenangkan anak menjelang tidur, ibu itu sengaja merebus batu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Umar bertanya kepadanya, “Wahai ibu, kenapa ibu tidak datang saja kepada Amirul Mukminin (Umar bin Khattab), untuk meminta pangan? Sehingga tidak perlu berbohong terhadap anakmu?”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sang Ibu menjawab, “Seharusnya Amirul Mukminin tahu tentang nasib rakyatnya.”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Umar segera bangkit dan pamit dengan wajah duka. Di dalam hatinya berkecamuk rasa iba dan tanggung jawab. Memang kewajibannya, membela rakyatnya yang miskin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dia kumpulkan gandum yang ada dirumahnya. Dimasukkannya ke dalam karung. Dipikulnya sendiri dengan pundaknya. Dibawanya juga di malam hari itu, ke rumah ibu yang merebus baru untuk anaknya yang kelaparan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dia masak sendiri gandum bawaannya hingga matang. Siap dihidangkan sebagai makanan yang layak. Dia berikan kepada anak yang tengah kelaparan itu. Diapun bergurau dengan anak itu sampai sang anak tertidur. Tidur bukan karena lapar. Tapi tidur dengan perut berisi.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Demikian salah satu bentuk adegan, bagaimana Umar bin Khattab “mementaskan” usaha-usaha mengentaskan kemisikinan di zamannya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Yang dapat dipetik dari pementasan itu, usaha-usaha pengentasan kemisikinan, perlu dilakukan secara nyata. Tidak sebatas keinginan dan teori belaka.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Umar bin Khattab menjadi orang yang pertama dalam banyak hal. Pertama mendirikan baitul-maal, (pembagian warisan). Juga pertama kali mengirimkan bahan makanan melalui Laut Merah dari Mesir ke Madinah. Menetapkan pengenaan zakat atas ternak kuda. Menyediakan gudang-gudang yang berisi gandum (bahan pangan) bagi orang-orang yang kehabisan bahan makanan (fakir miskin).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Zakat dan Prinsip</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>ZAKAT merupakan satu institusi yang dapat dipakai sebagai alternatif bagi pengentasan kemiskinan ummat. Minimal terbatas bagi kalangan Muslim. Di tengah kehidupan sesama muslim.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Atas dasar, “Saling bertolonganlah kamu atas kebaikan dan ketaqwaan”. (QS. Al Maidah, 5:2).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dengan demikian Al Quran, meletakkan prinsip ta‘awunitas atau partisipatif (saling tolong bertolongan untuk kebaikan dan ketaqwaan). Tidak ada prinsip ta’awunitas itu untuk keburukan maupun kema’shiyatan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Harus dibedakan, antara zakat dengan infaq dan shadaqah, dalam kaitannya sebagai perintah Allah. Walaupun diakui semuanya merupakan sumber dana ummat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>ZAKAT merupakan dana yang wajib dikeluarkan, wajib di-tagih, wajib di-pungut, dari pemegang dana.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>INFAK<span> </span>dan SHADAQAH lainnya (diluar zakat), harus digalakkan untuk dikeluarkan, sebagai alat untuk meningkatkan ukhuwwah (solidaritas) dan jihad ff sabiilillah (peningkatan amaliyah dalam meningkatkan dan mempertahankan aqidah dan kaedah di jalan Allah).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Zakat, sebagaiman halnya shalat, merupakan satu arkaan min arkaanil-Islam. Sendi-sendi dari Islam. Zakat merupakan rukun (sendi) Islam yang ke-empat, setelah syahadatain, shalat, dan shaum (puasa).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dalam Kitab suci Al Quranul Karim, selalu diseiringkan perintah shalat dan zakat ini. Hingga dapat dikatakan, zakat inilah yang membedakan apakah seseorang itu mukmin atau kafir (munafik).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Orang mukmin yang benar, selain mempercayai hari akhir, serta mengerjakan shalat, dan tidak mempersekutukan Allah, juga seorang pembayar zakat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Karena Al Quran selalu menghubungkan antara shalat dan zakat, maka para sahabat Rasulullah (salafus-shalih), selalu berperdapat, antara keduanya tidak boleh ada pemisahan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Al Quranul Karim juga menyebutkan zakat dengan kata-kata shadaqah. Bermakna shadaqah yang wajib. Sebagai pembuktian atas pembenaran perintah Allah, yang melekat pada harta benda seorang mukminin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Membayarkan zakat kewajiban muslim, sama halnya dengan kewajiban shalat. Maka memungut zakat dari seorang yang berkewajiban zakat merupakan perintah Allah pula. (At Taubah, 9:103). “Ambillah (pungutlah) dari sebahagian harta mereka sadaqah (zakat).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dalam pelaksanaan pemungutan zakat, harus ada satu badan. Bagi negara-negara Islam, perintah pemungutan datangnya dari Kepala Negara (Amirul Mukminin). Tentu melalui satu penegasan perundang-undangan, sesuai dengan Kitabullah. Untuk daerah kita, bisa dilakukan oleh Baitul Maal atau <em>BAZIS</em>.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Karena itu, dalam pandangan Al Quran (Islam), seorang belum dapat disetarakan dengan orang-orang yang bertaqwa, sebelum dia mengeluarkan sebahagian hartanya (berupa zakat). Tanpa zakat, seseorang terjauh dari rahmat Allah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Kewajiban <em>Asasi</em></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Tatkala Rasulullah mengirimkan utusan ke Yaman, bernama Mua’adz bin Jabal, Nabi menginstruksikan beberapa patokan yang harus dijalankannya. Antara lain, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahihnya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Kau akan berada di tengah ummat Ahli Kitab. Ajaklah mereka mengakui, tidak ada Tuhan selain Allah dan Saya (Muhammad) adalah Rasul-Nya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Bila mereka menerima (mengakui), beritahukanlah kepada mereka, bahwa mereka wajib melaksanakan shalat lima kali dalam sehari semalam.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Bila mereka telah menjalankannya, beritahukan pula, mereka diwajibkan mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang-orang kaya dan dikembalikan kepada orang-orang miskin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dan bila mereka menjalankannya (shalat dan zakat ), maka kau harus melindungi harta kekayaan mereka itu. Selanjutnya rasulullah menegaskan lagi . </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Dan takutlah kepada doa-doa orang yang teraniaya (diantaranya orang-orang miskin). Karena antara doa orang teraniaya dengan allah tidak ada batas (penghalang)“ (HR.Bukhari muslim, dari Anas Radhiallahu “anhu).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Aku diperintahkan memerangi manusia, kecuali bila meraka<span> </span>meng-ikrar0kan syahadat, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah (kemudian) mendirikan Shalat dan membayarkan zakat”. (HR.Bukhari Muslim).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Peringatan Rasullulah lainnya, berbunyi “Bila shadaqah<span> </span>(zakat) bercampur dengan kekayaan laian. Bila harta kekayaan tidak dikeluarkan<span> </span>zakatnya . Kekayaan itu akan binasa “ (HR Bazar dan Baihaqi , liaht Nailul Authar, jilid IV-126).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Jelaslah zakat itu bagi seseorang Mukmin yang memiliki harta kekayaan, memiliki beberapa fungsi ,</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 6pt 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">1.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Perintah Allah (tanda pembenaran syahadat da shalat)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 6pt 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">2.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pembesih harta kekayaan </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 6pt 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">3.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pengentasn Kemiskinan ummat, karena ditujukan kepada orang miskin.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 6pt 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">4.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sumber dana ummat, penggunaanya diarahkan kepada obyek tertentu (hasnaf delapan)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 6pt 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">5.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pembeda antara Mukmin &#38; Munafik</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kehidupan sehari-hari menberiakan bukti nyata “tidak ada orang yang melarat lantaran mengeluarkan zakat“. Bahkan sebaliknya yang sering bersua, orang kaya (Muslim), akhirnya tidak pernah mengenyan ketentraman , lantaran selalu menahan hak zakat..</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Zakat wajib dikelola dengan management yang benar. Sumbernya menjadi jelas, sebagai mana ditetapkan Al-qur’an. Setiap muslim yang mempunyao harta, wajib berzakat. Kewajiban demikian ditentukan berdasarkan batas (hisab) dari segi<span> </span>jumlahnya . Batas juga dari waktu (haul), dalam setahun. Dan batas besarnya kewajiban yang wajib dikeluarkan . Sedari tingkat 2,5 (dua setengah) persen, 5 persen, 10 persen, bahkan ada yang sampai 20 persen dari besarnya kekayaan (hisab).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Penerima zakat, juga dijelaskan dengan tegas. Antaranya Al Quran Surat At Taubah (IX) ayat 60. Ayat dari Firma Allah tersebut menjelaskan penerima<span> </span>zakat tersebut adalah “orang-orang”. Subjeknya kelompok perorangan. Terdiri dari (1) .orang fakir<span> </span>(2) . Orang Miskin<span> </span>(3). Orang (para) Amil (pengelola zakat ). (4). Orang (para) Muallaf yang dibujuik hatinya. (5). Mereka (orang) yang diperhamba (membebaskan perbudakan ). (6). Merka yang dililit hutang (mandi hutang). (7). Jihad dijalan Allah . (8). Dan orang yan gterlantar dalam perjalanan .</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>“Demikian diwajibkan Allah Maha Tahu Maha Bijaksana (QS 9 : 60).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Lima kelompok dari delapan asnaf ini adalah orang-orang yang amat memerlukan perhatian khusus. Karena mereka tengah berada ditepi jurang kemelaratan. Mereka adalah fakir,miskin, budak yang diperhamba, orang yang dililit hutang dan yang terlantar dalam perjalanan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dua kelompok tengah berhadapan<span> </span>dengan medan dakwah illallah . Ya’ni, Muallaf dan fisabilillah. Kelompok yang dengan kesadaran hati mereka menerima Islam, Problema yang dihadapi mereka bukan sedikit. Kadang-kadang berbentuk pengucilan dari kelompok (agama) anutan lamanya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Mereka cenderung tengah berproses kearah kemiskinan, jika tidak segera diantisipasi.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sebagaimana juga halnya “fisabilillah “. Merka tengah berjihad. Bisa sebagai pejuang di meda laga, karena mempertahankan aqidah Islamiah. Bisa juga mereka yang tengah berdakwah didaerah sulit.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ruang lingkup fisabilillah ini cukup luas. Bisa juga mereka yang tengah menuntut ilmu pengetahuan, kemudian berkewajiban kembali ke tengah ummatrnya, membina dan mencerdaskan kel;ingkungannya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pada hakekatnya, mereka bukanlah berjuang untuk diri sendiri, tetapi untuk kepentingan orang banyak . Atas redha Allah semata. Maka mereka perlu mendapatkan perhatian yang mendalam.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kesemua kelompok itu, mendapatkan porsi dari sumber zakat menurut prioritas secara kondisional dan situasional. Pengelolaanya adalah “amil” zakat. Untuk itu, mereka berhak mendapatkan bahagian. Intisarinya agar amanah untuk pihak-pihak yang diprioritaskan, tidak menyimpang kepada yang lainnya . Terciptanya keadilan dan pemerataan sesuai dengan program yang hendak dikembangkan. Amil zakat tetap akan menerima bahagian dari zakat itu, walau merka terdir dari orang-orang berpunya juga. Terserah apakah bahagian imerka akan mereka nikmati berbentuk materi, atau akan mereka kembalikan lagi dalam bentuk shadaqah. Semuanya ini lebih banyak ditentukan oleh kualitas pribadi para amail.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Bahkan ada kalanya orang-orang “berduit” yang diberi amanah sebagai “amil” zakat, bisa meniru aa yang dilakukan oleh Kaum Anshar (Madinah) terhadap kaum Muhajirin, dalm sejarah Hijrah<span> </span>Rasullullah Shallallahu a’alaihi Wa Salam..</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Mulianya sikap merka seperti diceritakan Allah di dalam Al Hasyr (QS.LIX) ayat -9 , antara lain mereka tunjukkan kasih sayang kepada orang berpindah ke kampung mereka, (Dewasa ini sebagai program Transmigrasi .Pen).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dan tidak meraka menaruh keinginan dalam<span> </span>hati<span> </span>terhadap apa yang diberikan kepada merka (yang berpindah itu). Bahkan mereka utamakan kawannya lebih dari diri mereka sendiri meskipun mereka dalam kesusahan (pula)..</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Begitu kira-kira bentuk-bentuk dari kualitas ummat, yang terbina karena iman mereka terhadap Allah. Hidup dalam kehidupan redha Allah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Harus dipungut</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Tidak pantas, zakat dihitung oleh pemilik harta kekayaan, menurut keinginan dan kepentingannya semata.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Zakat harus dipungut. Karena itu institusi “amil” perlu membagi dirinya menjadi pemungut (<em>collector</em>) dan pembagi zakat (<em>distributor</em>).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Demi memudahkan para pemungut (kolektor,amil) dalam menjalankan tugasnya maka kemajuan iptek sekarang ini, memungkinkan sekali untuk menyusun lebih dahulu kohir (formulir zakat) .</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Selengkapnya dapat berisikan cara-cara yang tepat dan mudah bagi pemilik harta kekayaan untuk menghidupkan semangat berzakat. Juga memudahkan menghitung berapa sesungguhnya besar zakat mereka yang semestinya dikeluarkan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Akan salah kiprah jadinya, kalau ditemuinya juga pembayar zakat hanya mengeluarkan berupa kain sarung tua, ampelop uang di akhir tahun . Sebagaimana biasanya di bulan-bulan Ramadhan . Kemudian membagikan secara merata kepada siapa saja yang menurutnya pantas . Karena mungkin sasarannya kurang tetap. Dampaknya bisa berakibat memperbanyak jumlah orang miskin. Pendistribusian zakat perlu dipandu oleh Amil Zakat. Hal ini akan mempermudah terlaksananya “pementasan “ dan “pemintasan” dari usaha-usaha ke arah “pengentasan kemiskinan” ummat..</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Zakat sesungguhnya bukanlah milik pembayar zakat. Zakat adalah “harta milik Allah”, yang diamanahkan untuk dibayarkan kepda orang-orang tertentu “ yang ditentukan oleh Allah. Mungkin saja terjadi,pemilik zakat menyerahkan kepada badan (amil) tertentu . Tersebab karena keragu-raguan hati semata. Apakah zakatnya sampai kesasaran atau tidak.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Maka dalam hal demikian itu menjadi tugas pokok dari amillah untuk mengumumkan pertanggung jawaban secara terbuka kepada ummat. Bisa sekali dengan memanfaatkan media massa yang ada dan menjangkau seluruh lapisan ummat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Pantas,pintas dan pentas</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Zakat sebagai penghapus kemiskinan telah dipentaskan sejak mas aRasullullah Shallalahu ‘alaihi Wassalam. Dalam sebuah hadist, sebagai mana diriwayatkan Bukhari Muslim, Rasullullah mengingatkan, “Meminta-minta tidak halal kecuali salah seorang dari tiga beban “. Pertama ,”orang yang menanggung beban berat (tidak mampu memikul sendiri ),maka baginya halal<span> </span>meminta “,Ketiga “orang yang dibalut kemiskinan maka baginya pun halal meminta sampai dia kembali tegak dan hidup secara wajar “.”Selain dari tersebut<span> </span>diatas haram baginya makan hasil meminta-minta.“. (HR.Bukhari Muslim, dari Qabishah al Hilali).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Batasan dan larangan Rasulullah ini, membuka peluang boleh meminta sampai terangakat kemiskinan dan di dalamnya terkandung makna berilah kepada seorang miskin sessuatu yang menyebabkan sesudahnya di a bisa hidup wajar (terangkat kembali dari garis kemiskinan).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Hidup layak, sebagai ukuran “kepantasan“, bervariasi sesuai kondisi kehidupan ummat dikala itu. Makanya kalangan miskin diangkat melalui pendidikan, pengajaran bagaimana membina hidup yang layak. Mengajarkan cara-cara mengolah kehidupan. Siap untuk membentuk hidup yang layak. Bisa melalui lapangan hidup pertanian, pertukangan, (nelayan) perikanan, perkebunan. Bahkan juga meniti usaha-usaha perniagaan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Untuk itu tentu perlu dikaji kesediaan “simiskin” untuk mengubah sikap jiwa. Dari menerima kemudian memakan .Menjadi penerima,pengolah, pemelihara dan baru memakan hasilnya, untuk dirinya dan keluarganya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Karena itu,tepat dan pantas jika kafir miskin diberi zakat hingga ia berkecukupan . Boleh dalam bentuk peralatan permodalan . Besarnya bantuan itu boleh disesuaikan dengan keperluan (untuk mengentaskan kemiskinan), agar dari usahanya diperoleh keuntungan. Meskipun jumlah permodalan itu besar (Imam Nawawi, Syarah Minhaj -VI/159).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Bahkan Imam Syafei menegaskan, ”Bantuan zakat bisa dalam bentuk memberikan sebuah pekerjaan. Malah kemudian bisa pula ditambah untu usaha-usaha lainnya hingga dapat memenuhi kebutuhan si-miskin” (Al Umm). Yang kemudian pendapat ini disepakati pula oleh Imam Ahmad,”orang miskin boleh mengambil zakat untuk seluruh kebutuhan hidup (berupa sumber usaha yang berketerusan)” (Al Inshaf,III/238).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Selanjutnya Ma’alim as Sunnah (II/239) menjelaskan pendapat Khattabi, ”Batas pemberian zakat adalah kecukupan (bagi simiskin yang diangkatkan derajatnya). Dengan zakat diciptakan kehidupan seseorang menjadi lebihj baik. Batas itu disesuaikan dengan kondisi serta tingakat kehidupan umum yang berlaku.Tentu akan berbeda pada tiap orang, sesuai dengan keadaaan mereka (bangsa)”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pendapat-pendapat itu merujuk kepada kebijaksanaan umum yang pernah dilakukan oleh Umar bin Khattab. ”Kalau memberikan bantuan hendaknya mencukupi.”. Umar mementaskan dalam masa pemerintahannya . Umar pernah memberikan bantuan (zakat) berupa tiga ekor unta kepada seorang laki-laki yang memerlukan bantuan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kemudian Umar pernah mengatakan niatnya yang teguh dalam “mengentaskan kenmiskinan “ di tengah rakyatnya .Akan aku ulangi pembagian zakat (sedekah) walaupun diantara mereka baru akan cukup dengan menyerahkan seratus ekor unta”.(Al Anwaal,565-566).</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ternyatalah ,institusi zakat dapat dipergunakan secara efektif. Dalam usaha meningkatkan taraf hidup sesama muslimin untuk menjadi keluarga yang mampu dan hidup penuh dengan kelayakan, dalam ukuran ekonomis. Entaskan kemiskinan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Ini pula yang menjadi paham dai Imam Al Ghazzali (Ihya,I/207, al Halabi), <em>”Hendaknya zakat dapat dipakai untuk pembeli tanah (diolah bagi keperluan orang miskin ) dan hasilnya cukup untuk seumur hidup”</em>.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Maka termasuk “pantas” mempergunakan zakat untuk usaha yang berkesinambungan mendatangkan hasil tetap.Pantas juga membuka perkebunan dan lahan-lahan pertanian . Sebagai jalan “pintas” untuk mengentaskan kemiskinan itu.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Yang perlu dijaga tujuan utamnyahanya untuk kepentingan peningakatan taraf hidup orang melarat. Tidak untuk kepentingan yang lain dari itu. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Disinilah peran <em>BAZIS</em>. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><strong><span style="color:blue;"><span style="font-size:large;"><span style="font-family:Book Antiqua;">Jangan Berpangku Tangan</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Dengan tidak mengurangi penghargaan terhadap apa yang tengah di lakukan untuk menyalurkan<span> </span><em>aspirasi umat</em>, yang selama ini terpelanting timbull pertanyaan, apakah kita boleh pasif dan berpangku tangan saja sambil menunggu-nunggu apa yang sedang terjadi dan akan dilaksanakan oleh “pihak yang berwajib” itu ?<span> </span>Jawabnya<span> </span>tentu tidak !</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Seorang “pemimpin” pemandu dan pembina umat, tidak boleh pasif dengan berpangku tangan. Pertanggungan jawab moral seorang tidak mengizinkannya untuk bertindak<span> </span>tidak acuh (pasif) terhadap keadaan umat yang di pimpinnya. Terutama semua yang oleh umum dianggap mempunyai kedudukan pemimpin tadinya, dalam seluruh strata kepemimpinan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Bencana akan menimpa umat, apabila golongan pemimpin, besar ataupun kecil, disaat seperti sekarang ini asyik merawati diri, lalu mendandani<span> </span>kehidupan masing-masing. Kemudian larut dan membiarkan umat tenggelam di dalam nasibnya tanpa pegangan yang pasti. Umat yang lebih lemah tidak boleh dibiarkan mencari nasib masing-masing tanpa pegangan dan arah yang pastiserta tanpa bimbingan dan panduan. Inilah beban seorang “pemimpin”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Timbul pertanyaan; Apakah yang dapat dilakukan sekarang ? Sementara, mungkin sekali pemimpin umat itu belum dan tidak mempunyai apa-apa?. Tidak mempunyai kapital, tidak pula mempunyai wewenang apa-apa. Memang ada bedanya, bagi yang sudah dianggap orang sebagai pemimpin dari orang ‘awam.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Makanya yang dianggap seorang pemimpin itu, ialah karena memiliki beberapa hal. Seharusnya, seorang pimimpin yang bijak wajib memiliki;<span> </span>(a). Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, (b). Daya-pikir dan daya-cipta, (c). Cara hidup yang bersih, (d). Akhlak dan budi pekerti yang baik, (e). Rasa cinta kepada Agama, Nusa dan Bangsa pada umumnya, (f). Rasa setia kawan yang telah pernah<span> </span>terhimpun dalam hubungan persaudaraan, sebagai pembawaan sejarah dan persamaan pandangan hidup khususnya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Yang dimiliki itu tidak dapat diukur dengan ukuran materiil atau kekuatan lahir. Akan tetapi tidak syak lagi, semua itu adalah modal dan tenaga pendorong. Di samping itu ada pula modal yang terdapat di luar kita, yakni pada diri umat yang bersangkutan sendiri, berupa <em>kemauan, kecakapan menurut bakat masing-masing, dan ketabahan hati menghadapi kesukaran</em>, yang sudah tidak asing lagi bagi kehidupan mereka selama ini.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:blue;font-family:&#34;">Disekeliling kita terbentang bumi Allah yang kaya raya. terkandung di dalamnya seribu satu macam sumber hidup bagi tiap-tiap seseorang yang sungguh-sungguh berkemauan menggali dan mempergunakannya.<span> </span>Semuanya merupakan modal yang cukup besar dan effektif apabila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dan akan diberkati oleh Allah Yang Maha Rahiem, bila dipergunakan dengan mengharapkan keredhaan Nya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:18pt;color:blue;font-family:&#34;">Pariwisata Luhak Agam</span></strong></p>
<h1 style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:large;">Antara Potensi dan Nilai-nilai</span></span></strong></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:18pt;color:blue;font-family:&#34;">Adat dan Agama</span></strong></p>
<h2 style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:large;">Oleh : H. Mas’oed Abidin</span></span></strong></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;"> </span></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:large;">Pendahuluan</span></span></strong></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;">Dari mana akan kita mulai ??? </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pertanyaan ini mengusik kita untuk mendahului. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Padahal sebelumnya, kita sudah berada didepan. Tapi tidak pernah mencapai garis finish.</span></span></strong></p>
<h4 style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;">Allah telah mentakdirkan kita sebagai satu kaum yang menempati dataran tinggi. Berbukit, berlurah, dihiasi tebing dan munggu. Sungainya mengalir melingkar membalut negeri, seperti </span><span style="color:blue;font-family:&#34;">Batang Sianok</span><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;"> diam &#8211; diam mengalir terus. Ditingkah gemercik air menimpa dedaunan dipagi hari. Bila hujan pun tidak turun, embun tetap menyuburkan tanah. Dikelilingnya didapati sawah berjenjang, ladang berbintalak. Diapit gunung menjulang tinggi, dikawal </span><span style="color:blue;font-family:&#34;">Singgalang</span><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;"> dan </span><span style="color:blue;font-family:&#34;">Merapi</span><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;">.<span> </span></span></span></strong></h4>
<h4 style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Danau Maninjau</span><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;"> airnya biru, tampak nan dari </span><span style="color:blue;font-family:&#34;">Embun Pagi.</span><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;">.</span></span></strong></h4>
<h4 style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sungguhpun risau sering mengganggu, kampung halaman selalu menanti.</span></span></strong></h4>
<h4 style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Indah sekali !!! </span></span></strong></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Alam yang indah karunia Ilahi ini, seakan “qith’ah minal jannah fid-dunya”, sepotong sorga tercampak kebumi. Mengundang </span><span style="color:blue;font-family:&#34;" lang="IN">orang</span><span style="color:blue;font-family:&#34;"> yang datang berdecak kagum. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Keindahan alam ini, bertambah cantik, karena ada pagar adat yang kuat dan agama yang kokoh. Tampak dalam tata pergaulan dan sikap laku sejak dahulu. Masyarakatnya ramah. Peduli dengan anak dagang.<span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pendidikannya maju. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dengan negeri ribuan dokter, dan para ahli. Hanya didataran tinggi ini, ditemui Parabek dan Canduang. Tempat bermukim para penuntut ilmu dari seluruh penjuru. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Bahkan dari Malaysia, Brunei, Thailand dan Pattani. Disamping dari seluruh Nusantara, bahkan dari Aceh, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Disini pula didapati satu-satunya Kwik School, sekolah guru, kata orang doeloe, yang melahirkan banyak pujangga dan pendidik. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dari halamannya tempat bermain para cendekiawan, Agus Salim, Hatta, Syahrir, Natsir, dan sederetan nama yang panjang, yang dikenal menjadi negarawan yang diakui. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dan ini adalah bahagian dari kaba itu. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Bila kaba ini ingin di lanjutkan pula. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Yang bersua adalah hidup anak negeri berpagarkan nilai-nilai.</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<h5 style="margin:6pt 0 0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;">Nilai-nilai Adat<span> </span></span></strong></h5>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Sebagai masyarakat beradat dengan pegangan adat bersendi syariat dan syariat yang bersendikan Kitabullah, maka kaedah-kaedah adat itu memberikan pula pelajaran-pelajaran antara lain:</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span style="font-size:small;">1).<span> </span>Bekerja: </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span><span style="font-size:small;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;">Ka lauik riak mahampeh. Ka karang rancam ma-aruih. Ka pantai ombak mamacah. Jiko mangauik kameh-kameh. Jiko mencancang, putuih – putuih. Lah salasai mangko-nyo sudah.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;">Artinya setiap yang dilakukan haruslah program oriented. Sama sekali bukanlah kemauan perseorangan (orientasi personal) semata. Sejak dari perencanaan hingga sasaran yang hendak dicapai terpolarisasi melalui persilangan pendapat masyarakat ditempat mana program itu akan dilaksanakan. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><em><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span style="font-size:small;">2).<span> </span>Caranya: <span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Senteng ba-bilai, Singkek ba-uleh, Ba-tuka ba-anjak, Barubah ba-sapo.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span>Artinya, ada kesamaan visi dan kesediaan kontrol. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Anggang jo kekek cari makan, Tabang ka pantai kaduo nyo,<span> </span>Panjang jo singkek pa uleh kan, mako nyo sampai nan di cito, </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 18pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Artinya, harus dihidupkan kerja sama, tidak hanya sebatas sama bekerja.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Adat hiduik tolong manolong, Adat mati janguak man janguak, Adat isi bari mam-bari, Adat tidak salang ma-nyalang,<span> </span>(basalang tenggang.). </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span>Maknanya, kesediaan investasi mensukseskan misi yang ada pada visi yang sama.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Karajo baiak ba-imbau-an,<span> </span>Karajo buruak bahambau-an. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 18pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Tiada lain yang diminta adalah terjalinnya network yang sempurna.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Panggiriak pisau sirauik, Patungkek batang lintabuang, Satitiak jadikan lauik, Sakapa jadikan gunuang, Alam takambang jadikan guru. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span>Dipastikan adanya satu<span> </span>kearifan, membaca setiap perubahan dalam membuat satu estimasi.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Jiko mangaji dari alif, Jiko babilang dari aso, Jiko naiak dari janjang, Jiko turun dari tanggo.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Adanya prinsip taat asas, dan terjaminnya law enforcement, pelaksanaan program pada koridor yang tepat.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Pawang biduak nak rang Tiku, Pandai mandayuang manalungkuik, Basilang kayu dalam tungku, Disinan api mangko hiduik </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Dituntut adanya kesepahaman akan adanya keberagaman usaha, yang satu sama lain terikat, terkait dan saling mendukung, serta sustainable.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Handak kayo badikik-dikik,<span> </span>Handak tuah batabua urai, Handak mulia tapek-i janji, Handak luruih rantangkan tali,<span> </span>Handak buliah kuat mancari, Handak namo tinggakan jaso, Handak pandai rajin balaja.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Kaedah ini tiada lain adalah penerapan dinamika kehidupan masyarakat yang inovatif, kreatif, yang sangat diperlukan untuk pengembangan daerah dalam menggali potensinya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Dek sakato mangkonyo ado, Dek sakutu mangkonyo maju, Dek ameh mangkonyo kameh,<span> </span>Dek padi mangkonyo manjadi. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Arti yang lebih menukik adalah kooperatif. Adalah wajar sekali, kalau bapak koperasi itu lahir dari putra Minangkabau.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Nan lorong tanami tabu, Nan tunggang tanami bambu, Nan gurun buek kaparak. Nan bancah jadikan sawah, Nan munggu pandam pakuburan, Nan gauang katabek ikan, Nan padang kubangan kabau, Nan rawang ranangan itiak. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:x-small;"><span> </span>Makna yang lebih dalam adalah berlakunya prinsip-prinsip ekonomi pembangunan secara makro dan mikro, dengan berwawasan lingkungan.<span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Alah bakarih samporono, Bingkisan rajo Majopahik, Tuah basabab bakarano, Pandai batenggang di nan rumik. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:x-small;"><span> </span>Modal utama untuk siap bersaing dan bertanding disaat AFTA-2003, persaingan global dan akan diterapkannya borderless-community system itu </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">Latiak-latiak tabang ka Pinang. Hinggok di Pinang duo-duo, Satitiak aie dalam piriang, Sinan bamain ikan rayo. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin:6pt 0 0 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:x-small;"><span> </span>Ada suatu unggulan yang sangat spesifik dan mendorong kepada optimisme yang tinggi. Lebih egaliter, tak pernah mau dikalahkan. Konsekwensinya, adalah siap tampil dengan keungulan. Tidak hanya semata tampil beda.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span style="font-size:small;">3).<span> </span>Kemakmuran : </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span><span style="font-size:small;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;">Rumah gadang gajah maharam, Lumbuang baririk di halaman, Rangkiang tujuah sajaja. Sabuah si bayau-bayau, Panenggang anak dagang lalu. Sabuah si Tinjau lauik,<span> </span>Birawati lumbuang nan banyak, Makanan anak kamanakan. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;">Makmur tidak milik satu orang. Kemakmuran akan terpelihara bila keamanan terjamin. Semua orang dapat menimati kemakmuran secara patut dan pantas dalam keserta-mertaan. Dalam pengembangan setiap usaha, sangat diperlukan pemerataan penghasilan. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span> </span>Manjilih ditapi aie,<span> </span>Mardeso di paruik kanyang.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;">4).<span> </span>Perhatian dengan penuh kehati-hatian sangatlah penting.</span><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span><span style="font-size:small;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;">Ingek sabalun kanai, Kulimek balun abih, </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span> </span>Ingek-ingek nan ka-pai. Agak-agak nan ka-tingga.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Teranglah sudah &#8230;., bagi setiap orang yang secara serius ingin berjuang di bidang pembangunan masyarakat lahir dan batin material dan spiritual pasti dia akan menemui disini satu iklim <span>mental climate</span> <em>yang subur.</em> Bila pandai menggunakannya dengan tepat akan banyak sekali membantunya dalam usaha membangun anak nagari dan kampung halaman.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Lah masak padi &#8216;rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo. Kabek sabalik buhua sontak, Jaranglah urang nan ma-ungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;letter-spacing:-.15pt;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Artinya diperlukan orang-orang yang ahli dibidangnya untuk menatap setiap peradaban yang tengah berlaku. Melupakan atau mengabaikan ini, lantaran menganggap sebagai barang kuno, yang harus dimasukkan kedalam museum, di zaman <em>modernisasi</em> sekarang, ini berarti <em>satu kerugian</em>. Sebab berarti <em>mengabaikan satu partner</em> &#8220;yang amat berguna&#8221; dalam pembangunan masyarakat dan negara.</span></span></strong></p>
<h6><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:large;">Nilai Agama<span> </span></span></span></strong></h6>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka ? (Pada hal), Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri mereka sendiri.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span>Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya” </span><span style="font-size:10pt;color:blue;font-family:&#34;">(QS.30, Ar-Rum, ayat 9-10).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Sekarang, kita tengah menyaksikan satu kondisi terjadinya pergeseran pandangan masyarakat dunia dewasa ini. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Maka masyarakat Minang, khususnya di Luhak Agam yang umatnya seratus prosen Islam wajib berperan aktif kedepan diabad XXI. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dengan upaya menjadikan firman Allah sebagai aturan kehidupan. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Melaksanakan secara murni konsep agama dalam setiap perubahan. Agar peradaban kembali gemerlapan. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Berpaling dari sumber kekuatan murni, Kitabullah dan Sunnah Rasul, dengan menanggalkan komitmen prinsip syar’i dan akhlak Islami akan berakibat fatal untuk umat Islam, bahkan penduduk bumi. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pada gilirannya umat Islam akan menjadi santapan konspirasi dari kekuatan asing. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Konsekwensinya adalah wilayah yang sudah terpecah akan sangat mudah untuk dikuasai</span><span style="color:blue;font-family:&#34;">.</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kembali kepada watak Islam<span> </span>tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bila kehidupan manusia ingin diperbaiki. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Tuntutan kedepan agar umat lahir kembali dengan iman dan amal nyata dalam ikatan budaya (tamaddun).</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 3pt 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Tatanan masyarakat harus dibangun diatas landasan persatuan (QS.al-Mukminun:52). </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 3pt 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Mayarakat mesti ditumbuhkan dibawah naungan ukhuwwah (QS.al-Hujurat:10). </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 3pt 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Anggota masyarakatnya didorong hidup dalam prinsip ta’awunitas (kerjasama) dalam al-birri (format kebaikan) dan ketakwaan (QS.al-Maidah:2). </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 3pt 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Hubungan bermasyarakat didasarkan atas ikatan mahabbah (cinta kasih), sesuai sabda Rasul: “Tidak beriman seorang kamu sebelum mencintai orang lain seperti menyayangi diri sendiri”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 3pt 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Setiap masalah diselesaikan dengan musyawarah</span><span style="color:blue;font-family:&#34;"> (QS.asy-Syura:38). </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:-18pt;margin:0 0 3pt 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Tujuan akhirnya, penjelmaan satu tatanan masyarakat yang pantang berpecah belah (QS.Ali Imran:103). </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;margin:0 0 3pt 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Rahasia keberhasilan adalah “tidak terburu-buru” (isti’jal) dalam bertindak. Tidak memetik sebelum ranum. Tidak membiarkan jatuh ketempat yang dicela. Kepastian amalan adanya husnu-dzan (sangka baik) sesama umat. Mengiringi semua itu adalah tawakkal kepada Allah. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Dalam tatanan berpemerintahan, kekuasaan akan berhasil jika menyentuh hati nurani rakyat banyak, sebelum kekuasaan itu menjejak bumi. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Ukurannya adalah adil dan tanggap terhadap aspirasi yang berkembang.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Takarannya adalah<span> </span>kemashlahatan umat banyak. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kemasannya adalah jujur secara transparan. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Kekuatan hati (dhamir) penduduk (rakyat) terletak pada ditanamkannya kecintaan yang tulus. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Menghidupkan energi ruhanik lebih didahulukan sebelum menggerakkan fisik umat. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Titik lemah umat karena hilangnya akhlaq, </span><span style="color:blue;font-family:&#34;">moralitas Islami. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:18pt;text-align:justify;margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Enggan memahami syari’at, berakibat hilangnya kecintaan (kesadaran) terhadap Islam. Lahirnya radikalisme, berlebihan dalam agama, menghapuskan watak Islam. </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Tidak menghormati hubungan antar manusia, merupakan kebodohan pengertian terhadap prinsip sunnah. </span><span style="font-weight:normal;color:blue;font-family:&#34;">Akibatnya adalah tindakan merusak (anarkis).</span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin:0 0 3pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;">Potensi Pariwisata Di Luhak Agam</span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">1.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Keindahan Alamnya</span><span style="color:blue;font-family:&#34;"> sangat potensial. Indah. Sangat indah. Menjadi alat promosi pariwisata internasional. Sudahkah dicatatkan sebagai trade mark ???</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">2.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Adatnya kokoh.</span><span style="color:blue;font-family:&#34;"> Masih tersimpan dalam prilaku empat jinih di nagari nan ampek kali ampek (IV Angkat Canduang, IV Koto, Tilatang Kamang, Sungai puar). Masihkah masyarakat Minang tahu di nan ampek ??? </span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">3.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Agamanya kuat</span><span style="color:blue;font-family:&#34;">. Banyak sekolah, madrasah yang bisa diangkat kualitasnya. Sebab promosinya sudah lama dikenal. Problematikanya, kenyataan bahwa jalinan ini mulai mengendur. Karena pergeseran nilai-nilai. Akibatnya, kita kehilangan salah satu asset yang amat potensial. Apa upaya mendudukkanny kembali ???</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">4.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Rakyatnya rajin</span><span style="color:blue;font-family:&#34;">. Bagaimana memelihara dan memacunya ???</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">5.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Setiap daerah memiliki keunggulan</span><span style="color:blue;font-family:&#34;">. Dari segi makanan, ada Rinuak Maninjau, Karak kaliang Sungai Jariang, Pisang di Jambak, Kampung Pisang dan Baso, Gulai Itiak Koto Gadang, Daun Kahwa dari Pagadih, Randang Koto Tuo, Kue Kacang dari Biaro, Sarang Balam dari Batagak, Bika dari Batu Palano, Kue Sangko dari Sungai Puar, Saka Lawang dan Sungai Landir, Nasi Kapau dari Tilkam. Banyak sekali potensi yang bisa dijual. Siapakah yang menjualnya sekarang ???</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 18pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">6.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Setiap desa ada produk.</span><span style="color:blue;font-family:&#34;"> Jauh sebelum Jepang menerapkan “one village one product”. Tenunan Pandai Sikek (Batagak), Kerajinan emas (Guguak Tinggi, Guguak Randah), Silver Work (Kotogadang), Konveksi (IV Angkat), Kerajinan Besi (Sungai Puar), Tarawang (IV Angkat), Suji (Kamang dan Tilatang). Tugas kedepan, adalah mebuat perubahan program dari memperdayakan kepada memberdayakan. Mampukah kita ???</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pariwisata, mengundang orang untuk melihat apa yang tidak ada pada mereka. </span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pariwisata yang berhasil adalah yang menyajikan produk wisata yang bisa mengasilkan pendapatan anak nagari. Mendorong mereka untuk hidup, dan memberi hidup.</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Pariwisata menyajikan produk yang belum atau tidak dimiliki orang lain (produk unggulan). Semuanya itu, memerlukan kesiapan-kesiapan antara lain ;</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;">1.</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Melibatkan seluruh unsur anak nagari berprilaku yang menarik.</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;"><span>2.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Melibatkan kembali semua anak nagari memakaikan adat dan agama yang terjalin erat dan rapi. Sehingga menjadi bahan penelitian bagi orang lain. Contoh dinegeri orang, seperti di Bali, Brunei, Malaysia, India, yang melaksanakan apa yang kita sebutkan “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan”, yaitu budaya dan tamaddun.</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;"><span>3.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Pariwisata yang akan lama bertahan dimasa mendatang, di abad keduapuluh satu, adalah wisata budaya, alam, spiritual, ilmu pengetahuan, disamping situs-situs peninggalan lama. Di Agam masih tersimpan semuanya itu. Lebih jauh, akan lahir dengan sendirinya para peneliti, kolektor potensi-potensi budaya tersebut.</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;"><span>4.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Latihan pemandu wisata, yang beradat dan beragama menjadi satu yang sangat utama sebagai pendukung pariwisata Luhak Agam.</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 36pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;"><span>5.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Event-event Internasional, </span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pertemuan pelukis sketsa Manca Negara dikaki Merapi,<span> </span>Singgalang,<span> </span>Embun Pagi Danau Maninjau dan sebagainya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Pencak Silat Harimau Campo Luhak Agam, </span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;"><strong><span style="color:blue;font-family:Symbol;"><span><span style="font-size:small;">·</span><span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Layang-layang seperti Jepang atau Thailand,</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:-18pt;text-align:justify;margin:0 0 0 54pt;"><strong><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:Symbol;"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:small;"><span style="color:blue;font-family:&#34;">Festival tari, folk-lore, dan sejenisnya. Dan banyak lagi yang bias digali secara kreatif. </span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Akhirulkalam, gagasan ini sesungguhnya bisa dikembangkan dalam scope yang lebih luas Minangkabau, sebagai asset pariwisata Sumatera Barat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;">Insya Allah.</span></span></strong></p>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"> </span></em></p>
<p class="MsoFooter" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"></span></em><em><span style="font-size:11pt;color:blue;font-family:&#34;"><br />
</span></em></p>
<p class="MsoFooter" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span><span style="font-size:small;"> </span></span></span><span style="font-size:14pt;color:blue;font-family:&#34;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoHeader" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:blue;font-family:&#34;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:blue;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<div><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"></p>
<hr size="1" /></span></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><a name="_ftn1" href="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;"> </span><span style="font-size:10pt;">Ada sinyalemen Prof. Emil Salim (pernah menjabat Menteri KLH, Kabinet Pembangunan V), tentang lahan Ranah Minang. Sebagai dikatakannya, tanah di Minangkabau, tidak (kurang) bersahabat. &#8220;<strong>Dari keseluruhan wilayah Sumatera Barat, hanya sekitar 14 persen saja yang kondisi tanahnya subur dan cocok untuk areal pertanian</strong>.&#8221;. Begitulah kira-kira, kesimpulan Prof. DR. Emil Salim, (sebagai diungkapkan Singgalang, Rabu, 7 Juli 1993, halaman pertama) dari <strong>Musyawarah Pola Dasar Pembangunan Sumbar</strong>.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><span><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membenahi Perjalanan Hidup]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2008/12/24/membenahi-perjalanan-hidup/</link>
<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 11:24:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2008/12/24/membenahi-perjalanan-hidup/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : H. Mas’oed Abidin Firman Allah Subhanahu wa ta’ala وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  IN X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                                 &#60;![endif]--> <strong></strong></p>
<h1 style="margin-top:6pt;text-align:center;"><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Oleh : <strong>H. Mas’oed Abidin</strong></span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:16pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Firman Allah <em>Subhanahu wa ta’ala </em></span></p>
<h2 style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:0;direction:rtl;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:21pt;font-family:&#34;color:black;font-weight:normal;" lang="AR-SA">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</span></em></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:16pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">“Dan orang-orang yang bekerja sungguh-sungguh pada (jalan) kami, sesungguhnya kami akan pimpin mereka di jalan-jalan kami: dan sesunggunya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”</span></em></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"> (QS. Al-Ankabut, ayat 69.). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:16pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Kebenaran terbuka bagi siapapun untuk mempelajarinya. Asal saja orang dapat merasakan nilai dan kepentingannya, mempunyai daya <em>inisiatif</em> dan <em>imagination</em> (daya cipta), tentu akan dapat mempergunakannya. <img class="alignleft size-full wp-image-224" title="dekat-piramida-kairo" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2008/12/dekat-piramida-kairo.jpg" alt="dekat-piramida-kairo" width="201" height="283" />Kepandaian-kepandaian betapapun sederhananya, seperti membuat tempe, tahu dan kecap, membibitkan buah-buahan, menanam sayur mayur, merangkai dan mengatur bunga, menganyam tikar di zaman jet supersonic dan satelit-satelit yang mengitari bumi seperti sekarang ini, tidak dapat dikatakan sesuatu yang tidak berarti. Disinilah letak <em>community development</em> yang sebenarnya. Begitulah proses mempertinggi kesejahteraan hidup, yang dinamakan proses pembangunan ekonomi itu. Procesnya dapat dipercepat, tetapi dia mempunyai <em>undang-undang baja</em> sendiri, yang tak dapat tidak, harus dijalani. Ini seringkali pada umumnya, dilupakan orang, dengan segala akibat-akibat yang mengecewakan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:16pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Daerah kita terkenal sebagai daerah yang kaya dengan sumber alam. Tetapi kecenderungan penduduknya, baru memindah-mindahkan barang-barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun menghasilkan barang belum mendapat perhatian<span> </span>mereka. Padahal <strong>sumber kemakmuran yang azasi adalah produksi</strong>, yakni menghasilkan barang.<span> </span>Ini seringkali “dilupakan” pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:16pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span> </span>Latar belakang<span> </span>usaha kedepan adalah <strong>merombak tradisi</strong> dengan membuka pikiran masyarakat dan membuka jalan baru, memulai dari urat masyarakat itu sendiri, dengan cara-cara yang praktis, melalui <em>amaliyah</em> yang sepadan dengan kekuatan mereka, <strong>serentak disertai dengan membangun jiwa dan<span> </span>pribadi mereka,</strong> sebagai satu umat yang mempunyai <em>wijhah</em>, falsafah dan tujuan hidup yang nyata, yang mempunyai shibgah, corak kepribadian yang terang, yang disebut dengan istilah yang semacam itu dinamakan orang; “<strong><em>satu aspek dari </em>Social Reform</strong>”. Inilah hakekat pembangunan masyarakat<span> </span>itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:16pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span> </span>Pekerjaan ini mempunyai aspek yang menafaskan jiwa lain, yakni berusaha menggerakkan <em>urat nadi</em> masyarakat. Menumbuhkan kekuatan yang terpendam dikalangan yang lemah. Karena ingin berhubungan dengan para dhu’afa tidak dalam bentuk menjadikan dhu’afak kita menjadi pengemis. Pembinaan dhu’afak didukung cita-cita hendak menjelmakan tata-cara hidup kemasyarakatan yang berdasarkan : </span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">hidup dan memberi hidup (<em>ta’awun</em>),      bukan falsafah berebut hidup,</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">menanamkan tanggung jawab tiap-tiap      anggota masyarakat atas kesejahteraan lahir batin dari masyarakat secara      timbal balik (<strong>takaful</strong> dan <strong>tadhamun</strong>)</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">mengajarkan<span> </span>keragaman dan ketertiban yang bersumber      kepada disiplin jiwa dari dalam, bukan hanya kepatuhan lantaran      penggembalaan dari luar;</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">menumbuhkan <strong>ukhuwwah</strong> yang ikhlas,      bersendikan Iman dan Taqwa, </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">mengajarkan <strong>hidup seimbang</strong> (<em>tawazun</em>)      antara <em>kecerdasan otak</em> dan <em>kecakapan tangan</em>, antara <em>ketajaman      akal</em> dan <em>ketinggian akhlak</em>, antara <em>amal </em>dan<em> ibadah</em>,      antara <em>ikhtiar </em>dan <em>do’a</em>;</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;text-indent:35.45pt;line-height:16pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">7Ini <em>wijhah</em> (wajah sasaran) yang hendak dituju, dan ini pula <em>shibgah</em> (jatidiri) yang hendak dipancangkan, terutama oleh community development itu. Tidak seorangpun yang berpikiran sehat di negeri ini yang akan keberatan terhadap penjelmaan masyarakat yang semacam itu. Suatu bentuk masyarakat dengan susunan hidup saling bertolongan (<em>jama’ah</em>) yang diredhai Allah sesuai dengan <em>Adat basandi Syara’ dan Syara’ nan basandi Kitabullah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:16pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span> </span>Untuk inilah sekarang kita merintis, merambah jalan guna menjelmakan hidup bermasyarakat saling menghargai dan menghormati yang belum kunjung terjelma di negeri<span> </span>ini, kecuali dalam khotbah alim-ulama, pepatah petitih ahli adat, dan pidato para cerdik cendekia. Tugas kita sekarang adalah mulai merintiskan dengan cara dan alat-alat sederhana tetapi dengan api cita-cita mendalam yang berkobar-kobar dalam dada masing-masing.</span><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:6pt 0 .0001pt;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA">وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُون<span> </span>َ<strong>(7)</strong></span></p>
<p class="MsoBlockText" style="margin:6pt 0 .0001pt;" dir="rtl"><span style="font-size:19pt;font-family:&#34;color:black;" lang="AR-SA"><strong></strong><span> </span>فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ<span> </span><strong>(8)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top:6pt;text-align:justify;line-height:16pt;"><strong><em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">…. tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan ni`mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.</span></em></strong><em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"> </span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">(QS. Al Hujurat, 7-8)</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">Ini nawaitu yang tertanam dari semula. Jagalah agar api nawaitu jangan padam atau berubah di tengah jalan.</span></p>
<p class="MsoBodyText3"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="text-align:right;" align="right"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">Padang, 25 Desember 2008</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:15pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menuju Baitul Atiq]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2008/12/24/menuju-baitul-atiq/</link>
<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 11:19:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2008/12/24/menuju-baitul-atiq/</guid>
<description><![CDATA[Menyahuti Panggilan tanah suci Oleh : H. Mas’oed Abidin Perjalanan ke Baiti el-‘Atiq Selamat Jalan H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0     false false false  IN X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;                                                                                                                                            &#60;![endif]--> <strong><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;text-transform:uppercase;" lang="EN-US">Menyahuti Panggilan tanah suci</span></strong></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:6pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoSubtitle" style="margin-bottom:6pt;text-align:center;"><em><span style="font-size:12pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">Oleh : H. Mas’oed Abidin </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Perjalanan ke <em>Baiti<span> </span>el-‘Atiq</em></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Selamat Jalan Haji Mabrur. Selamat Jalan Jamaah Haji.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"><img class="alignleft size-medium wp-image-221" title="di-gua-hira" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2008/12/di-gua-hira.jpg?w=265" alt="di-gua-hira" width="265" height="300" />Ibadah haji, Rukun Islam Kelima, dilakukan seorang muslim, dalam rangka memenuhi perintah Allah SWT. semata. Ibadah adalah bukti nyata dari<span> </span>ikrar (syahadat) yang telah diucapkan. </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span>Di dalam ibadah ini terpancang tiga </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">marhalah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (pentahapan perjalanan). </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Pertama</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> adalah </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">mahabbah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (kecintaan mendalam) kepada Allah dan Rasul. Kecintaan ini di simbulkan dengan seruan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">talbiyah. Labbaika, Allahumma labbaika, laa syarika laka labbaika,</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> hakikinya bermakna</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> “</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">aku datang wahai Allah, hanya memenuhi penggilanMU, karena kecintaanku semata kepadaMu, tidak ada syarikat bagiMu</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">”</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Kedua </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">adalah tonggak </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">ridha</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> atau kerelaan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">innal hamda wa an-ni’mata laka wa al mulka laa syariika laka, </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">hakikinya mengandung arti bahwa, sungguh semua nikmat yang kumiliki berasal dariMu dan semestinya dipergunakan untuk mematuhi printahMu saja, dan semua kerajaan, kepemilikan dan kekuasaan hanya milikMu semata, tidak ada syarikat bagiMu. </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Radhitu billahi rabban, wa bil-Islami Diinan, wa bi Muhammadin Nabiyyan wa Rasulan. </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Aku rela hanya Allah Rabb (tuhan)-ku, aku rela hanya Islam Din (Agama)-ku, aku rela kepada Muhammad SAW Nabi dan Rasul yang di utus kepadaku. Maka, ibadah </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Haji</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> atau </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">umrah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> adalah klimaks penyerahan diri seorang muslim secara total kepada Allah SWT. Belum lengkap ke-Islaman seseorang yang telah memiliki kemampuan (istitho’ah) bila dia belum menunaikan ibadah haji.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Ketiga </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">adalah marhalah </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">shibghah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> atau identitas Muslim </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">muttaqin</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Hati (</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">qalbu</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">)-nya dibuhul keyakinan tauhid. Lahir dari keimanannya itu </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">niat</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> atau motivasi </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">lillahi ta’ala.</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> Agaknya perlu<span> </span>dipahami bahwa haji adalah sarana untuk mencapai tujuan lebih mulia dari sikap taqwa kepada Allah. Pikiran (</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">aqal</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">)-nya dihiasi kejernihan fikrah Islami. Direfleksikan dalam pola berfikir, cara bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Fisik (</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">jasad</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">)-nya melakukan amal yang diperintahkan. Meniru kepada apa yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Semua pangkat dan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">emblem</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> duniawi tidak bernilai apapun di hadapan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Rabb el Alamin</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Tidak ada harganya kekayaan dunia, kecuali hanya selembar </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">ihram</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Karenanya, di dalam Al-Qur’an, pada semua ayat yang berkaitan dengan haji, selalu diakhiri oleh Allah SWT dengan pesan yang jelas, agar bertaqwa.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span>Barangkali bentuk haji yang seperti inilah yang disebut sebagai <strong>Haji Mabrur.</strong> Kemabruran lantaran makbulnya amalan haji menjadi idaman setiap calon jemaah. Bukti mabrur ada pada </span><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">haji yang mampu mendorong terjadinya perobahan orientasi, visi dan misi kearah peningkatan amal saleh, baik ritual maupun sosial</span></strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">,</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik dan lebih sesuai dengan ajaran Islam. Haji mabrur amat berguna untuk</span><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat</span></strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">. </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Karena itu, balasan paling pantas dan paling tinggi untuk </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">haji mabrur</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> hanyalah </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">jannah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (sorga) semata.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span>Jika dibandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya, haji mempunyai sifat dan karakteristik tersendiri, terutama jika dikaitkan dengan masalah waktu dan tempat pelaksanaan. Memang di dalam Islam ibadah formal (</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">mahdhah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">) ada tiga bentuk pelaksanaannya. </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Pertama</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">, waktu pelaksanaan ditentukan tetapi tempat pelaksanaan tidak ditentukan. </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Kedua,</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> tempat pelaksanaannya ditentukan dan<span> </span>boleh dikerjakan kapan saja. </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Ketiga</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">, waktu dan tempat pelaksanaannya diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:33.9pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Haji adalah ibadah katagori yang ketiga ini. Faktor inilah yang menetapkan kewajiban<span> </span>menunaikan haji diwajibkan Allah kepada Muslimin yang mampu hanya satu kali dalam seumur hidup. Dalam hadits riwayat </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Imam Muslim</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> dan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Nasa’i</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> dari </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Abu Hurairah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> diterangkan, ketika Nabi menyampaikan bahwa Allah telah mewajibkan kepada kaum muslimin melaksanakan ibadah haji, lalu ada yang bertanya; apakah kewajiban berhaji itu setiap tahun ya Rasulullah? Nabi diam dan tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan sampai tiga kali masalah ini ditanyakan. Kemudian Nabi menjawab: </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Kalau saya jawab ya, saya khawatir haji ini difardhukan Allah kepadamu setiap tahun, dan kamu pasti tidak akan sanggup melaksanakannya</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Karena haji waktunya ditentukan dan harus dilakukan di lokasi tertentu pula yaitu </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Masy’aril Haram</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (Makkah, Mina, Arafah dan Muzdalifah di Saudi Arabia), maka faktor </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">kemampuan </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">(istitha’ah) menjadi syarat utama pelaksanaan ibadah haji.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Seringkali </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">istitha’ah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> atau kemampuan hanya diartikan dari segi kemampuan finansial saja. Sehingga siapa yang dapat membayar ONH sudah dianggap mampu berhaji. Padahal konsep istitha’ah itu berkaitan pula dengan </span><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">kesehatan fisik, mental, ekonomi, keamanan, pemahaman ilmu-ilmu manasik dan bahkan kesempatan untuk menunaikannya</span></strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">.<span> </span></span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Dan terkait pula dengan masalah akomodasi selama disana (Saudi Arabia), walaupun ini bukanlah unsur utama, namun unsur ibadah lebih menjadi sasaran utamanya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Disini perlunya bimbingan diberikan kepada calon jema’ah haji. Diperlukan bimbingan yang berkesinambungan: sebelum melaksanakan ibadah haji, selama dalam pelak sanaan ibadah haji dan masa pasca haji (setelah<span> </span>kembali ke tanah air).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;font-style:normal;" lang="EN-US">Menyahuti </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;" lang="EN-US">Nida’</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;font-style:normal;" lang="EN-US"> (Seruan) Makkah</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Setiap orang yang melakukan haji akan selalu mendambakan haji mabrur. Hal ini sangat wajar. Di dalam sebuah hadits, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah SAW, bersabda : </span><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">“Satu umrah yang lainnya menghapus dosa diantara keduanya, sedangkan haji mabrur balasannya tidak lain adalah surga.” </span></strong><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">(HR. Bukhari dan Muslim)</span></strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"><span> </span></span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Yang perlu diperhatikan oleh para </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">penziarah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (haji) yang ingin melaksanakan ibadah haji seharusnya dan seyogyanya ia sudah dan telah menjalankan atau mengamalkan rukun-rukun Islam yang lainnya dengan baik dan benar. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Sering orang mengatakan bahwa dia belum mau pergi haji karena merasa belum mendapat panggilan, padahal baik dari segi ekonomi maupun fisik dia termasuk orang yang mampu. Pemahaman seperti ini sungguh satu pandangan <span> </span>yang tidak benar. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Tatkala seorang menyatakan dirinya </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Muslim</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (orang Islam) dan menerima agama Islam dengan di awali mengucapkan syahadat, ketika itu ia sudah dipanggil untuk melaksanakan ibadah haji. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Tergantung kepada usaha dan kesungguhan hati dan fisiknya merealisir persyaratan-persyaratan yang dituntut perlu dipersiapkan menyahuti </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">nida’</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (panggilan) berhaji ke Makkah el Mukarramah itu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Oleh karena itu, jika sudah mempunyai niat untuk menunaikan ibadah haji dan persyaratan telah terpenuhi, hendaklah segera melaksanakannya,. Jangan sampai ditunda-tunda lagi. Penundaan yang direncanakan apalagi yang direkayasa untuk tahun-tahun depan, padahal sudah ada kesempatan di tahun ini, dalam kenyataan biasanya menjadi beberapa tahun kemudian. Bahkan dapat tertunda untuk selama-lamanya karena sudah keburu mati. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Karena itu, bagi yang sudah mendapat panggilan ke hajji atau umrah ke rumah tua (Bait el ‘Atiq di Makkah) tunaikanlah segera dengan sebaik-baiknya. Berusahalah menjadikan ibadah haji dan umrahnya menjadi satu </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">perjalanan rohani</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> paling mengesankan. Jadikan menyahuti seruan Makkah ini menyenangkan. Di dalam perjalan itu akan di saksikan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">li yasy-haduu manafi’a lahum</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">, artinya banyak persaksian dan sarat dengan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">pengalaman spiritual</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> paling berharga. Akhirnya, akan terasakan manfaat besar, <span> </span>terhindar dari segala kesulitan dan kesusahan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;font-style:normal;" lang="EN-US">Persiapan Rohani</span></strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Dalam hal ini yang diperlukan adalah mempersiapkan kondisi batin dan rohani sebaik-baiknya. Semaksimal mungkin bersih dari cacat dan dosa. Tujuannya adalah agar kita bisa berangkat dalam keadaan sebersih dan sesuci mungkin. Terlepas dari segala beban yang memberatkan batin dan pikiran kita.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Agar perjalanan rohani ini bisa berlangsung dengan baik dan lancar, dan usaha meraih haji mabrur, maka setiap langkah wajib dijaga dan dipelihara.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Betulkan dan Luruskan niat.<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Ibadah haji adalah kewajiban setiap hamba kepada Allah SWT. Menjadi beban bagi setiap </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">mukmin</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> yang </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">mukallaf</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> dan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">mampu</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Langkah awal, betulkan dan luruskan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">nawaitu</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Di dahului memasang niat yang </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">ikhlas</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> untuk pergi haji ataupun umrah. Niat menunaikan ibadah haji hanya karena melaksanakan perintah Allah. Semata-mata <span> </span>untuk mengharapkan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">ridha</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">-Nya saja. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Kepergian ketanah suci bukan karena alasan-alasan lain. Hindarkan diri dari </span><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">perasaan ria, ingin dipuji, merasa hebat sendiri, takabur, sombong serta sifat-sifat lainnya</span></strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Berserah diri hanya kepada Allah. Perjalanan ini dilakukan dengan ikhlas semata. Sabda Rasulullah SAW , </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">“<strong>Barang siapa yang mengerjakan ibadah haji semata-mata ikhlas karena Allah dan tidak berbuat rafats serta tidak fasik, maka kembalilah ia seperti dilahirkan oleh ibunya.</strong>”</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (<strong>HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah</strong>).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Yang dimaksud </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">rafats</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> ialah cabul, bersetubuh, bercumbu-kata yang menimbulkan birahi, ungkapan keji dan omongan kotor. Sedangkan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">fasik</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> adalah melakukan kejahatan dan maksiat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Latih diri bersifat sabar dan tolong menolong. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Sifat sabar amat diperlukan dalam melaksanakan ibadah haji. Sabar sudah mulai di saat menetapkan keinginan untuk berangkat ke tanah suci. Terasa berat urusan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Kemudahan hanya dirasakan karena bantuan dari Allah SWT. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Semua urusan memerlukan sifat sabar. Kesabaran di saat pembayaran ONH, pemeriksaan kesehatan, pendaftaran, menunggu panggilan untuk keberangkatan dan lain-lainnya. Melatih<span> </span>sabar dalam menghadapi semua rintangan mempermudah diri meraih </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">haji mabrur</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Di tanah suci Makkah dan Madinah, berkumpul jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia. Berbagai sifat dan kebiasaan mereka. Sifat sabar sangat diperlukan disana..Segala macam hal bisa terjadi di tengah ramainya jamaah itu. Mulai dari sekedar kena senggol, kena dorong atau bahkan rebutan tempat, baik di Masjid maupun di tempat penginapan. Pertengkaran suami isteri dapat pula terjadi, jika<span> </span>sifat sabar dan sanggup mengendalikan diri tidak dipunyai. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Puncak ujian kesabaran dirasakan pada saat berpakaian </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">ihram</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Banyak yang di haramkan dan perlu di hindari. Setiap orang dilarang bermusuhan, mencaci dan bertengkar (termasuk perbuatan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">jidal</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">) sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT,<span> </span></span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">“ <strong>…..Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fasik dan berbuat jidal di saat mengerjakan haji…</strong>” </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">(<strong>Al-Baqarah: 197</strong>).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Selain sifat sabar, sifat tolong menolong amat perlu di tanah suci. Disana<span> </span>akan ditemui keadaan dimana orang lain sangat memerlukan pertolongan.<span> </span>Dalam keadaan demikian, jangan ragu memberikan pertolongan. Dengan pertolongan yang diberikan untuk orang lain, Insya Allah pertolongan dari Tuhan segera akan datang pula. Sudah terbukti, orang yang banyak menolong orang lain dengan ikhlas, segala urusannya akan berjalan dengan lancar. Dan akan terhindar dari kesulitan. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Perlu diingat, bahwa menolong itu hendaklah dengan penuh keikhlasan. Tanpa mengharapkan sesuatu. Kecuali hanya mencari ridha Allah semata.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;font-style:normal;" lang="EN-US">Berangkat dengan Harta yang Halal dan Baik</span></strong><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Mengerjakan haji dan umrah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Dalam melaksanakannya di tuntun dalam keadaan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">bersih</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> dan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">suci</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Begitu juga dengan harta yang akan kita gunakan untuk itu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Rasulullah Saw. menyatakan: “</span><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Apabila seseorang pergi melaksanakan ibadah haji dengan nafkah yang baik (halal) dan meletakan kakinya di atas kenderaannya, maka ketika dia berseru: Labbaik Allahumma labbaik,ia akan mendapat sambutan dengan seruan dari langit: Diterima panggilanmu dan berbahagialah engkau, karena bekalmu halal dan kenderaan yang engkau pakai halal, dan hajimu diterima, tidak ditolak.</span></strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">’(<strong>HR. Thabrani dari Abu Hurairah</strong>)</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Bersih dan sucikan diri. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Maksudnya adalah membersihkan dan mensucikan diri. Secara </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">rohaniah </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">dapat<span> </span>dilakukan dengan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah dari segala dosa. Dalam bertaubat hendaklah bertekad tidak akan kembali lagi kepada dosa. Selanjutnya, memohon maaf kepada orang tua, isteri/suami, anak, anak saudara, famili, tetangga serta para sahabat. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Dari sisi ibadah, membersihkan diri bermakna memperbaiki atau meningkatkan mutu shalat. Kalau masih sering tertinggal atau lalai di dalam mengerjakannya, maka berusahalah untuk lebih berdisiplin melaksanakan kewajiban shalat ini. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Kemudian diikuti dengan mengeluarkan zakat, bagiyang belum melakukannya. Zakat termasuk unsur “</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">pembersih</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">” diri dan harta, sehingga tidak bercampur dengan yang bukan hak kita. Usahakan sesering mungkin mengeluarkan infak, sadaqah, dan lain-lain sebagainya. Semua hal<span> </span>tersebut perlu dilakukan sebelum berangkat ketanah suci. Bersihnya diri, mudah-mudahan terhindar dari berbagai kesulitan yang mungkin datang menjadi peringatan<span> </span>Allah<span> </span>untuk kita.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Mempelajari tata cara pelaksanaan ibadah. </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Ibadah haji satu rangkaian yang terkait oleh waktu dan tempat. Di antara ibadah itu ada yang merupakan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">rukun haji</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">, yang kalau ditinggalkan berakibat batal (tidak sah) haji. Ada rangkaian ibadah </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">wajib haji</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> yang apabila tidak sempat melakukan tidak membatalkan haji, mesti <span> </span>ditebus dengan membayar denda atau dam. Ada pula bersifat </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">sunnat</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> haji. Ada pula larangan yang dapat merusak atau </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">membatalkan ibadah </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">haji.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Mempelajari tata cara pelaksaan haji dengan baik akan menjadikan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">manasik haji </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">terlaksana dengan sempurna.</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Pelajari sebaik-baiknya hal yang wajib, syarat rukun, sunnat dan lainnya yang mestinya dilakukan atau ditinggalkan. Mengerjakan hal-hal yang merusak ibadah haji, tidak sempurna rukun haji, akan berakibat membatalkan ibadah haji. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Setiap calon haji dan umrah hendaknya cermat menangkap </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">nilai hikmah </span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">yang terkandung dalam segala peragaan manasik haji.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Pelajari do’a-do’a dan bacaan ibadah.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Sebenarnya dalam melaksanakan ibadah haji, </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">do’a</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> dan bacaan dapat ditemui dan dibaca dari buku manasik sambil melakukan ibadah. Menghafalnya tentu lebih baik. Hafalan do’a manasik akan memperlancar pelaksanaan ibadah, tanpa harus bolak-balik melihat buku. Makna dan maksud dari do’a dan bacaan tersebut perlu juga dipelajari dan dimengerti. Supaya kita lebih bisa menghayati maksud dan kandungan dari do’a yang dibaca. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Semua do’a dalam pelaksanaan ibadah haji adalah do’a yang bagus. Intinya<span> </span>memohon kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. Seperti </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">do’a safar</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> sebagaimana diajarkan Nabi SAW. Apabila<span> </span>do’a-do’a itu dapat dihayati makna dan maksudnya, Insya Allah ibadah<span> </span>akan menjadi lebih khusyu’.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Menyelesaikan hutang piutang </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Segala hutang piutang yang<span> </span>memberatkan dan mengganggu ketenangan dalam menunaikan ibadah haji, sebaiknya dilunasi sebelum berangkat. Paling tidak menjelaskan masalahnya kepada keluarga yang ditinggal. Agar mereka mengetahui, dengan sebuah </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">wasiat</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Sehingga kalau terjadi sesuatu kehendak Allah dengan diri kita, mereka yang ditinggalkan dapat menyelesaikan hutang piutang itu dengan baik.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Menyiapkan bekal buat yang ditinggalkan</span></strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Selama meninggalkan rumah dan keluarga dalam perjalanan ke tanah suci, tanggung jawab terhadap orang yang ditinggalkan di tanah air harus dipenuhi. Seharusnya,<span> </span>sebelum berangkat ke tanah suci, hendaknya meninggalkan bekalan untuk mereka, dengan jumlah mencukupi keperluan kehidupan selama kita berada di tanah suci.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;font-variant:small-caps;font-style:normal;" lang="EN-US">Memahami Sejarah Perjuangan Nabi SAW</span></strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Selama berada di </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">tanah suci</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> tersedia kesempatan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">berziarah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> ketempat-tempat bersejarah di sekitar kita Makkah dan Madinah. Mengetahui riwayat dari tempat-tempat bersejarah di saat berziarah, akan mendatangkan kesan mendalam. Dapat memberikan gambaran sejarah perjuangan Islam yang lebih lengkap. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Mengetahui peristiwa bersejarah yang terjadi di tempat yang dikunjungi (ziarahi) yang berkaitan erat dengan perjuangan Nabi SAW dan para sahabatnya<span> </span>di dalam<span> </span>mempertahankan Islam, akan mempertebal keimanan kepada Allah. Selanjutnya akan menguatkan penghayatan terhadap nilai ajaran yang dibawa<span> </span>Rasulullah Saw.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Mempelajari cara shalat jenazah dan menghafal bacaannya</span></strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Pada musim haji, baik di Masjidil Haram maupun di Masjid Nabawi, hampir selalu shalat wajibnya di iringi dengan shalat jenazah. Ini terjadi karena memang banyak jamaah haji yang meninggal dunia di tanah suci itu. Mungkin cuaca dan medan yang berat. Atau karena kondisi jamaah yang lemah. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Karena itu bagi yang belum mengetahui tata cara pelaksanaan shalat jenazah atau belum hafal bacaannya, dianjurkan untuk mempelajari serta menghafalkannya sebelum berangkat ketanah suci. Sehingga pada saat melakukannya di tanah suci dapat melaksanakan dengan baik dan benar.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span><strong>Memantapkan Persiapan Jasmani </strong></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span></span></strong><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Persiapan jasmani<span> </span>khususnya<span> </span>kesehatan tentunya telah diberikan oleh dokter yang ahli. Namun, persiapan fisik<span> </span>perlu dijaga dengan teratur, di antaranya, Memelihara dan menjaga kondisi kesehatan tubuh sejak dari berangkat. Jika perlu melakukan general chek up kesehatan. Latihan-latihan senam, disesuaikan dengan dengan kondisi dan usia. Latihan berjalan di panas matahari. Sering-sering berkonsultasi dengan dokter.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Seperti dapat dibaca dalam buku manasik haji, ada beberapa cara melaksanakan ibadah haji, seperti, </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Tamattu’</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> ialah melaksanakan umrah terlebih dahulu di bulan-bulan haji, setelah itu baru mengerjakan haji. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Untuk pelaksanaan umrah haruslah Bersuci: mandi, berwudlu. Berpakaian ihram. Shalat sunnat ihram dua rakaat. Niat umrah dari miqat. Thawaf umrah. Sa’I umrah dan Tahallul. Untuk pelaksanaan haji, haruslah pula didahului dengan Bersuci; mandi, berwudlu. Berpakaian ihram. Shalat sunat ihram dua rakaat. Niat haji dari pemondokan masing-masing. Mabit di Mina untuk berangkat menuju Arafah (</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">8 Dzulhijjah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">). Wukuf di Arafah (</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">9 Dzulhijjah</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">). Menuju Mudzdalifah sehabis magrhib. Mengumpulkan batu di Mudzdalifah. Melontar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah), Jumrah Wustha dan Jumrah al-Ulaa di Mina (pada hari tasyrik). Thawaf<span> </span>di Masjidil Haram, Sa’i antara Safa dan Marwa, dan Tahallul. Semuanya dilakukan dengan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">tertib</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">, yang wajib di dahulukan secara beraturan. Tata cara pelaksanaannya<span> </span>telah ditunjukkan dengan baik di dalam buku petunjuk Manasik Haji. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Labbaika, Allahumma Labbaika. Laa syarika laka labbaika. Innal hamda wan-ni’mata laka wal mulka, laa syarika laka</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">. Dengan persiapan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">rohani</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> dan </span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">jasmani</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> (fisik) yang baik, Insya Allah para jamaah haji tahun ini menjadi “</span><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">hajjan mabruran, wa sa’yan masykuran, wa dzanban maghfuran, wa tijaratan lan taburan</span><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">”. Amin Ya Rabbal Bait al ‘Atiq.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US">Billahit taufiq wal hidayah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:90pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span></span><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US">Padang, Zulhijjah 1429 H</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;margin:0 0 6pt 117pt;"><span style="font-family:&#34;font-style:normal;" lang="EN-US"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Mengundang Musibah karena Lengah dengan Perintah Allah]]></title>
<link>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2008/12/20/jangan-mengundang-musibah-karena-lengah-dengan-perintah-allah/</link>
<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 14:10:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Buya Masoed Abidin</dc:creator>
<guid>http://buyamasoedabidin.wordpress.com/2008/12/20/jangan-mengundang-musibah-karena-lengah-dengan-perintah-allah/</guid>
<description><![CDATA[Musibah Datang karena lengah Oleh Buya H. Mas&#8217;oed Abidin Firman Allah, “ Katakanlah, sekali-ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:12pt -10.7pt .0001pt 0;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;text-transform:uppercase;" lang="FR">Musibah Datang karena lengah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">Oleh Buya H. Mas&#8217;oed Abidin</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Firman Allah, </span></strong><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">“ Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami musibah melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” </span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">(Q.S. At Taubah: 51). </span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Musibah adalah ujian yang datang dari Allah SWT. Pada hakikatnya setiap manusia tidak menginginkan datangnya musibah, baik musibah hilangnya harta benda, kecelakaan, ataupun kematian. Baik musibah itu berupa ujian besar maupun kecil belaka. Akan tetapi, maklumilah bahwa ujian itu senantiasa akan datang kepada semua manusia bimana waktu saja. Walau manusia berupaya lari daripada musibah itu, namun iapun akan tetap jua datang menghampirinya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><a href="http://buyamasoedabidin.files.wordpress.com/2008/09/di-depan-masjidil-haram.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-110" title="di-depan-masjidil-haram" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2008/09/di-depan-masjidil-haram.jpg" alt="" width="396" height="499" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span style="font-family:&#34;">Buya Di Depan Bab Fahd Masjidil Haram</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Ditinjau dari ketentuan dari Allah (taqdir), musibah terjadi atas izin dan ketentuan Allah semata. Tanpa izin dan ketentuan-Nya tidak mungkin musibah terjadi. Dipandang dari sisi kemanusiaan atau hukum kausalitas (sebab akibat), ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan Allah SWT mendatangkan musibah kepada makhluknya.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Pertama</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">, karena manusia kurang peduli. Tidak mau bersedekah karena terlalu sayang terhadap hartanya Berkembangnya kebiasaan hidup kikir. Bersedekah sesungguhnya akan membawa keberkahan, dan menyebabkan terhindar dari musibah. Tidak dapat dimungkiri bahwa seorang yang senang bersedekah  akan dicintai dan didukung oleh masyarakat kelilingnya. Seorang yang cekil kedekut atau kikir, dengan harta maupun dengan tenaga, akan dijauhi oleh lingkungannya. Kebakhilan akan membuka jalan bagi datangnya musibah. Berkaitan dengan anjuran bersedekah ini Rasulullah SAW bersabda: <em>“Sedekah itu akan menutup tujuh puluh pintu keburukan (musibah).” </em>(HR. Ath Thabrani). Allah SWT berfirman: “<em>Apa saja yang telah kalian nafkahkan (infaqkan) Allah akan menggantinya</em>”. (Q.S. As Saba’: 39)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Kedua,</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> kurangnya bersilaturrahim atau malas menyambung tali persaudaraan. Silaturrahim adalah amal yang diwajibkan dalam ajaran Islam. Silaturahim mesti masuk ke dalam agenda hidup Silaturahim menumbuhkan kasih sayang di antara ummat. Dengan kasih sayang persaudaraan dan persatuan dapat dibina. Kedengkian dan kebencian dapat diobati dengan silaturahim. Segala macam bencana dapat dihindari dengan kuatnya persaudaraan. Rasulullah SAW bersabda: <em>“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hubungkanlah tali silaturrahmi (persaudaraan).” </em></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">(HR. Bukhari dan Muslim).</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Ketiga,</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> musibah datang karena melupakan Allah dan lalai atas perintah-perintah-Nya. Melupakan Allah, cepat ataupun lambat akan mengundang datangnya musibah. Allah SWT berfirman <em>“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam dan berputus asa.” </em>(Q.S. Al An’am: 44) Na’udzubillah.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Keempat,</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR"> bencana terjadi karena ulah tangan manusia belaka, seperti berbuat kerusakan, seperti penebangan hutan dan lain-lain. Ulah tangan manusia jua akan mengundang banjir, tanah longsor, bumi runtuh, ozon menipis. Peringatan Allah SWT dalam Al Quran-ul Karim pada surat </span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Ar-Rum ayat 14 sedahlah jelas sekali. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://buyamasoedabidin.files.wordpress.com/2008/09/copy-of-dscn8088.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-109" title="copy-of-dscn8088" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2008/09/copy-of-dscn8088.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Di </span></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">dalam menghadapi musibah ini manusia terbagi kepada beberapa golongan. Ada <em><span> </span></em>golongan yang selalu dilindungi oleh Allah SWT. Golongan ini senantiasa berjalan lurus meniti jalan Allah, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Bahkan di setiap keadaan senantiasa berusaha bersama dengan Allah. Meyakini bahwa tiada daya dan upaya melainkan hanya dengan izin Allah SWT. Golongan ini akan mendapatkan perlindungan Allah dari semua musibah yang datang. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Ada kelompok yang manakala dalam keadaan sehat, senang dan lapang lupa kepada Allah. Ketika dikepung cobaan, mereka bersujud kembali bertaubat kepada Allah, dengan sadar, dengan memasrahkan diri bertaubat nashuha dan menyesali kelalaian mereka selama ini. Insya Allah akan mendapat keampunan dari Allah Azza wa Jalla.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Ada pula kelompok yang melupakan Allah SWT tatkala senang dan mengingatnya tatkala susah saja. Manakala kesusahan telah berlalu mereka kembali ke kesesatan. <span> </span>Melupakan sama sekali apa-apa yang pernah berlaku sebelumnya. Kelompok ini termasuk ke dalam orang-orang musyrik, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al Quran surat Yunus (10), ayat 22 dan 23. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Ada <em>kelompok paling buruk.</em> Hatinya mengeras seperti batu. Walaupun berbagai bencana dan musibah telah datang, namun mereka tidak hendak bermohon ampun kepada Tuhannya. Mereka malas berkata, “ <em>Wahai Rabb-ku !</em> ”. Mereka tidak mau mengambil pelajaran dari musibah yang ditimpakan. Mereka menganggap semuanya ini semata karena pergantian masa dan perputaran alam sahaja Mereka menganggap semua yang terjadi tidak ada campur tangan Allah padanya. Kelompok ini adalah orang kafir. </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong></strong></p>
<div id="attachment_217" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><strong><a href="http://Gempa"><img class="size-medium wp-image-217" title="dsc03739" src="http://buyamasoedabidin.wordpress.com/files/2008/12/dsc03739.jpg?w=300" alt="Gempa di Sumbar" width="300" height="225" /></a></strong><p class="wp-caption-text">Gempa di Sumbar</p></div>
<p><strong>Yakinilah bahwa musibah yang datang dapat menjadi teguran, dan bisa pula menjadi azab dari Allah. Musibah sebenarnya  untuk menyadarkan manusia akan kelalaiannya dan memberi ingat manusia agar kembali dan segera sadar ke jalan Allah. </strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Marilah kita senantiasa hindari semua musibah dengan mendekatkan diri dan taat kepada Allah SWT.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="EN-US">Bulan Ramadhan adalah bulan latihan bagi manusia beriman untuk mengamalkan keikhlasan di dalam mengendalikan nafsu syahwat, makan dan minum, semata-mata karena mengharapkan redha Allah saja. </span></strong><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Allahu a’lam bissawab</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh, </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:&#34;" lang="FR">Buya H. Mas’oed Abidin</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Renungan Untuk Para Istri]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2008/12/12/renungan-untuk-para-istri/</link>
<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 03:40:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>l5155st™</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2008/12/12/renungan-untuk-para-istri/</guid>
<description><![CDATA[Untuk Istri... Wahai sang Istri &#8230;. Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_312" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-312" title="Untuk Istri" src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2008/12/2.jpeg" alt="Untuk Istri" width="150" height="109" /><p class="wp-caption-text">Untuk Istri...</p></div>
<p>Wahai sang Istri &#8230;.</p>
<p>Apakah akan membahayakan dirimu, kalau anda menemui suamimu dengan wajah yang berseri, dihiasi senyum yang manis di saat dia masuk rumah.?</p>
<p>Apakah memberatkanmu, apabila anda menghapus debu dari wajahnya, kepala, dan baju serta mengecup pipinya.?!!</p>
<p>Apakah anda akan merasa sulit, jika anda menunggu sejenak di saat dia memasuki rumah, dan tetap berdiri sampai dia duduk.!!!</p>
<p>Mungkin tidak akan menyulitkanmu, jika anda berkata kepada suami : &#8220;Alhamdulillah atas keselamatan Kanda, kami sangat rindu kedatanganmu, selamat datang kekasihku&#8221;.<!--more--></p>
<p>Berdandanlah untuk suamimu -harapkanlah pahala dari Allah di waktu anda berdandan itu, karena Allah itu Indah dan mencintai keindahan- pakailah parfum, dan bermake up-lah, serta pakailah busana yang paling indah untuk menyambut suamimu.</p>
<p>Jauhi dan jauhilah bermuka asam dan cemberut.</p>
<p>Janganlah anda mendengar dan menghiraukan perusak dan pengacau yang akan merusak dan mengacaukan keharmonisanmu dengan suami.</p>
<p>Janganlah selalu tampak sedih dan gelisah, akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari rasa gelisah, sedih, malas dan lemah.</p>
<p>Janganlah berbicara terhadap laki-laki lain dengan lemah-lambut, sehingga menyebabkan orang yang di hatinya ada penyakit mendekatimu dan mengira hal-hal yang jelek terhadap dirimu.</p>
<p>Selalulah berada dalam keadaan lapang dada, hati tentram, dan ingat kepada Allah setiap saat.</p>
<p>Ringankanlah suamimu dari setiap keletihan, kepedihan dan musibah serta kesedihan yang menimpanya.</p>
<p>Suruhlah suamimu untuk berbakti kepada ibu bapaknya.</p>
<p>Didiklah anak-anakmu dengan baik. Isilah rumah dengan tasbih, tahlil, tahmid, dan takbir, perbanyaklah membaca Al-Quran terutama surat Al-Baqarah, karena surat itu dapat mengusir syeitan.</p>
<p>Hilangkanlah dari rumahmu foto-foto, alat-alat musik dan alat-alat yang bisa merusak agama.</p>
<p>Bangunkanlah suamimu untuk melaksanakan shalat malam, doronglah dia untuk melakukan puasa sunat, ingatkan dia akan keutamaan bersedekah, dan jangan anda menghalanginya untuk menjalin hubungan siraturrahim dengan karib kerabatnya.</p>
<p>Perbanyaklah beristighfar untuk dirimu, suamimu, serta kedua orang tua dan seluruh kaum muslimin. Berdoalah kepada Allah, agar dianugerahkan keturunan yang baik, niat yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah sesungguhnya Rabbmu Maha Mendengar doa dan mencintai orang yang nyinyir dalam meminta. Allah berfirman:&#8221;Dan Rabbmu berkata : serulah Aku niscaya Aku penuhi doamu&#8221; (Al-Ghafir : 60).</p>
<p>Diambil dari kitab &#8221; Fiqh pergaulan suami istri &#8221; oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Renungan untuk Para Suami]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2008/12/12/renungan-untuk-para-suami/</link>
<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 03:35:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>l5155st™</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2008/12/12/renungan-untuk-para-suami/</guid>
<description><![CDATA[Untuk Suami... Wahai sang suami &#8230;. Apakah membebanimu wahai hamba Allah, untuk tersenyum di ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="attachment_308" class="wp-caption alignleft" style="width: 133px"><img class="size-full wp-image-308" title="Untuk Suami" src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2008/12/1.jpeg" alt="Untuk Suami" width="123" height="123" /><p class="wp-caption-text">Untuk Suami...</p></div>
<p>Wahai sang suami &#8230;.</p>
<p>Apakah membebanimu wahai hamba Allah, untuk tersenyum di hadapan istrimu dikala anda masuk ketemu istri tercinta, agar anda meraih pahala dari Allah?!!</p>
<p>Apakah membebanimu untuk berwajah yang berseri-seri tatkala anda melihat anak dan istrimu?!!</p>
<p>Apakah menyulitkanmu wahai hamba Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup pipinya serta bercumbu disaat anda menghampiri dirinya?!!</p>
<p>Apakah memberatkanmu untuk mengangkat sesuap nasi dan meletakkannya di mulut sang istri, agar anda mendapat pahala?!!<!--more--></p>
<p>Apakah termasuk susuh, kalau anda masuk rumah sambil mengucapkan salam dengan lengkap : &#8220;Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullah Wabarakatuh&#8221; agar anda meraih 30 kebaikan?!!</p>
<p>Apa yang membebanimu, jika anda menuturkan untaian kata-kata yang baik yang disenangi kekasihmu, walaupun agak terpaksa, dan mengandung bohong yang dibolehkan?!!</p>
<p>Tanyalah keadaan istrimu di saat anda masuk rumah!!</p>
<p>Apakah memberatkanmu, jika anda menuturkan kepada istrimu di saat masuk rumah : &#8220;Duhai kekasihku, semenjak Kanda keluar dari sisimu, dari pagi sampai sekarang, serasa bagaikan setahun&#8221;.</p>
<p>Sesungguhnya, jika anda betul-betul mengharapkan pahala dari Allah walau anda letih dan lelah, anda mendekati sang istri tercinta dan menjimaknya, maka anda mendapatkan pahala dari Allah, karena Rasulullah bersabda :&#8221;Dan di air mani seseorang kalian ada sedekah&#8221;.</p>
<p>Apakah melelahkanmu wahai hamba Allah, jika anda berdoa dan berkata : Ya. Allah perbaikilah istriku dan berkatilah daku pada dirinya.</p>
<p>Ucapan baik adalah sedekah.</p>
<p>Wajah yang berseri dan senyum yang manis di hadapan istri adalah sedekah.</p>
<p>Mengucapkan salam mengandung beberapa kebaikan.</p>
<p>Berjabat tangan mengugurkan dosa-dosa.</p>
<p>Berhubungan badan mendapatkan pahala.</p>
<p>Diambil dari kitab &#8221; Fiqh pergaulan suami istri &#8221; oleh Syeikh Mushtofa Al Adawi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lebaran Idul Adha]]></title>
<link>http://muslihaziz.wordpress.com/2008/12/06/lebaran-idul-adha/</link>
<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 05:24:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>muslihaziz</dc:creator>
<guid>http://muslihaziz.wordpress.com/2008/12/06/lebaran-idul-adha/</guid>
<description><![CDATA[Pelaksanaan ibadah haji Ribuan saudara-saudara kita yang saat ini mendapatkan amanat Allah SWT sedan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pelaksanaan ibadah haji Ribuan saudara-saudara kita yang saat ini mendapatkan amanat Allah SWT sedan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengemis Buta dan Rasulullah]]></title>
<link>http://priendah.wordpress.com/2008/12/01/pengemis-buta-dan-rasulullah/</link>
<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 07:02:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>priendah</dc:creator>
<guid>http://priendah.wordpress.com/2008/12/01/pengemis-buta-dan-rasulullah/</guid>
<description><![CDATA[Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Islam Diterima Karena Akhlak Mulia ]]></title>
<link>http://diskusiagama.wordpress.com/2008/11/21/islam-diterima-karena-akhlak-mulia/</link>
<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 00:14:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>albak</dc:creator>
<guid>http://diskusiagama.wordpress.com/2008/11/21/islam-diterima-karena-akhlak-mulia/</guid>
<description><![CDATA[Kebiasaan hidup berpindah-pindah di kalangan kabilah Arab membuat jaminan keamanan sangat tipis. Tak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kebiasaan hidup berpindah-pindah di kalangan kabilah Arab membuat jaminan keamanan sangat tipis. Tak aneh bila kehidupan bangsa Arab selalu diwarnai konflik. Penyelesaian masalah-masalah antar kabilah sering diakhiri dengan perang agar kabilah tetap eksis dan berpengaruh. Meski mereka terbiasa berperang, mereka juga suka membuat perjanjian damai. Bagaimana posisi Rasulullah Saw dan mengapa beliau bisa diterima oleh kabilah-kabilah Arab? Berikut pandangan Nasir Abas, mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah yang baru-baru ini menerbitkan buku Melawan Pemikiran Aksi Bom Imam Samudra &#38; Noordin M. Top:</p>
<p>Bagaimana Anda melihat budaya masyarakat Arab sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul?<br />
Sebelum Muhammad Saw diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah, tanah Arab masih belum berbudaya. Budaya nomaden yang berlaku di tanah Arab tidak memberikan jaminan keamanan hidup bagi individu yang bermukim, Sistem hak kemanusiaan tergantung kepada adat istiadat atau hukum adat yang terdapat pada setiap kabilah dan suku beragama. Bahkan terkadang hak hidup anak perempuan tidak ada dan boleh ditanam secara hidup-hidup pada saat kelahirannya di muka burni ini. Pasalnya, hal demikian dibenarkan oleh adat kabilah tersebut yaitu Arab Quraish, bunuh-membunuh dan membalas dendam sering terjadi di kalangan bangsa Arab pada waktu itu.</p>
<p>Mengapa mereka cenderung terbiasa dengan peperangan?<br />
Peperangan antarkabilah adalah fenomena biasa di kalangan masyarakat Arab, karena membela nasib anggota kabilahnya yang teraniaya. Jaminan keamanan individu suatu kaum menjadi tergantung kepada kepala suku (pemimpin kabilah) masing-masing; pemimpin kaum itulah yang mengatur segala undang-undang adat dan keadilan sosial. Keadilan dalam hidup diatur oleh pemimpin kabilah dan juga hubungan damai yang dijalin dengan kabilah yang lain.</p>
<p>Selain bangsa Arab terbiasa dengan peperangan, mereka juga suka membuat perjanjian damai. Mengapa demikian?<br />
Perjanjian damai adalah budaya bangsa Arab untuk menjamin keamanan antar kabilah. Jika salah seorang anggota kabilah mereka dibunuh dan dianiaya, maka pemimpin kabilah akan mengambil tindakan membalas sebagai sikap pembelaan dan menghukum, serta menganggap kesepakatan perjanjian telah dikhianati.</p>
<p>Adakah kerjasama di antara kabilah-kabilah dalam rangka mengukuhkan eksistensinya?<br />
Jika kabilah merasa lemah untuk membalas, kabilah tersebut akan berusaha membuat kekuatan gabungan dengan kabilah yang lain guna membalas tindakan lawannya. Sebab, jika tidak dilakukan pembalasan maka pihak lawannya akan merasa bebas melakukan pembunuhan dan penganiayaan tanpa khawatir akan dihukum. Sudah menjadi hukum (aturan) di kalangan bangsa Arab (kabilah-kabilah) bahwa pihak yang dikhianati boleh melakukan penyerangan terhadap pihak yang mengkhianati perjanjian.</p>
<p>Bagaimana posisi Rasulullah Saw di tengah konflik antar kabilah-kabilah itu?<br />
Rasulullah Saw berposisi sebagai pemimpin kaum Muhajirin yang kemudian menjadi pemimpin Muhajirin dan Anshor. Selaku pemimpin kaum Muslimin di Madinah (Negara), Nabi Muhammad Saw memanfaatkan budaya Arab dengan melaksanakan perjanjian damai terhadap kabilah-kabilah yang berdekatan. Dengan perjanjian damai itu, Rasulullah dapat menjamin keamanan agama Islam, umat Islam, dan wilayah (Negara) di mana umat Islam berada, yaitu Madinah.</p>
<p>Apa manfaat yang bisa dirasakan dengan adanya perjanjian damai itu?<br />
Dengan ikatan perjanjian damai, kengerian perang antara kabilah dan kesadisan penyiksaan atau penganiayaan dapat dihindarkan. Dengan demikian, peristiwa pembunuhan, penyiksaan, dan ketidakadilan yang pernah terjadi di Mekah sebelum hijrah ketika kaum Muslimin masih berjumlah sedikit, tidak akan berulang lagi. Karena tidak ada hukum yang adil mengatur sistem jaminan hak dan keamanan untuk seluruh kabilah Arab, budaya kesepakatan perjanjian damai masih tetap diperlukan untuk menghindari terjadinya pertumpahan darah yang dilakukan dengan sewenang-wenangnya oleh kabilah-kabilah yang bermusuhan.</p>
<p>Dalam posisinya sebagai rasul, apakah Rasulullah dapat diterima oleh kabilah-kabilah Arab?<br />
Sikap serta akhlak karimah (mulia) Rasulullah Saw dalam menjaga hak perjanjian, hak di medan pertempuran, dan tidak sewenang-wenang membumihanguskan suatu kaum yang melanggar perjanjian damai itu, membuat seluruh anggota kabilah menerima Muhammad Saw sebagai Rasulullah dan Islam sebagai agama. Sikap menerima Islam itu bukan karena tindak kekerasan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan pasukan kaum Muslim, tetapi lebih disebabkan oleh akhlak Rasulullah Saw yang memberikan hak manusia sesuai dengan batas yang telah ditentukan oleh Allah Swt; inilah bagian dari dakwah Islam.</p>
<p>Dalam kondisi bagaimana suatu perjanjian damai tidak dibutuhkan lagi?<br />
Apabila seluruh kabilah sudah di bawah satu hukum dan pimpinan, tidak diperlukan lagi perjanjian damai antar kabilah, karena sudah ada aturan yang menjaga hak-hak individu, yaitu Islam. Kecuali pihak yang masih belum menerima Islam, maka perjanjian damai masih diperlukan guna menjamin keamanan Agama, Bangsa, dan Negara.(CMM)<br />
<a href="http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=5007_0_3_10_M16">http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=5007_0_3_10_M16</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[7 Akhlak Mulia Rasululloh SAW ]]></title>
<link>http://diskusiagama.wordpress.com/2008/11/21/7-akhlak-mulia-rasululloh-saw/</link>
<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 00:12:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>albak</dc:creator>
<guid>http://diskusiagama.wordpress.com/2008/11/21/7-akhlak-mulia-rasululloh-saw/</guid>
<description><![CDATA[Setidak nya ada tujuh ahlak mulia Rasululloh SAW SAW yang sesuai dengan pesan moral Al &#8211; Qur’a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Setidak nya ada tujuh ahlak mulia Rasululloh SAW SAW yang sesuai dengan pesan moral Al &#8211; Qur’an :</p>
<p>1. Pemaaf, mengajak pada kebaikan dan berpaling dari orang jahil (QS Al A’raaf(7):199)</p>
<p>2. Menegakan keadilan dan kebaikan serta mencegah perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan (QS An Nahl(16):90)</p>
<p>3. Berlaku sabar (QS Lukman(31):17)</p>
<p>4. Suka mema’afkan dan memberi kesempatan (QS Al Maaidah(5):13)</p>
<p>5. Membasmi kejahatan dengan cara yang baik (QS, Hamim Sajdah(41):34)</p>
<p>6. Tidak suka berburuk sangka, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak suka bergunjing atau membicarakan aib orang lain (QS Al Hujurat(49):12)</p>
<p>7. Tidak mudah marah dan lebih mendahulukan ma’af (QS Ali ‘Imran(3):134)</p>
<p>(Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
