<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>akhlak &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/akhlak/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "akhlak"</description>
	<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 11:04:08 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Menjaga Diri dan Keluarga]]></title>
<link>http://syafiiakrom.wordpress.com/2009/11/30/menjaga-diri-dan-keluarga/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 13:34:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>syafiiakrom</dc:creator>
<guid>http://syafiiakrom.wordpress.com/2009/11/30/menjaga-diri-dan-keluarga/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: H. Agus Hidayatulloh, Lc.* Allah swt. berfirman, &#8220;Wahai orang-orang yang beriman! Peliha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: H. Agus Hidayatulloh, Lc.* Allah swt. berfirman, &#8220;Wahai orang-orang yang beriman! Peliha]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Air Mata Cinta Pembersih Dosa]]></title>
<link>http://bookku.wordpress.com/2009/11/30/air-mata-cinta-pembersih-dosa/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 12:48:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bookku</dc:creator>
<guid>http://bookku.wordpress.com/2009/11/30/air-mata-cinta-pembersih-dosa/</guid>
<description><![CDATA[Author : Ibnul Jauzi Language : Indonesia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Author : Ibnul Jauzi Language : Indonesia]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ushulus Sunnah wa I'tiqad Dien]]></title>
<link>http://bookku.wordpress.com/2009/11/30/ushulus-sunnah-wa-itiqad-dien/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 12:45:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bookku</dc:creator>
<guid>http://bookku.wordpress.com/2009/11/30/ushulus-sunnah-wa-itiqad-dien/</guid>
<description><![CDATA[Author : Ibnu Abi Hatim Language : Indonesia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Author : Ibnu Abi Hatim Language : Indonesia]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[La Tahzan]]></title>
<link>http://bookku.wordpress.com/2009/11/30/la-tahzan/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 11:37:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Bookku</dc:creator>
<guid>http://bookku.wordpress.com/2009/11/30/la-tahzan/</guid>
<description><![CDATA[Author : Aidh al-Qarni Language : Indonesia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Author : Aidh al-Qarni Language : Indonesia]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SABAR dan SYUKUR dalam KEHIDUPAN]]></title>
<link>http://lu2walmarjan.wordpress.com/2009/11/30/sabar-dan-syukr-dalam-kehidupan/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 02:36:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>lu2walmarjan</dc:creator>
<guid>http://lu2walmarjan.wordpress.com/2009/11/30/sabar-dan-syukr-dalam-kehidupan/</guid>
<description><![CDATA[Pasang surut yang mewarnai kehidupan sebuah rumah tangga tak hanya dalam hal hubungan pribadi antara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pasang surut yang mewarnai kehidupan sebuah rumah tangga tak hanya dalam hal hubungan pribadi antara]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Segeralah Bertaubat]]></title>
<link>http://eddysetia.wordpress.com/2009/11/30/segeralah-bertaubat/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 17:03:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>eddysetia</dc:creator>
<guid>http://eddysetia.wordpress.com/2009/11/30/segeralah-bertaubat/</guid>
<description><![CDATA[Perintah dan ajuran taubat dalam Islam bersumber kepada Al-Qur’an dan sunnah. Menurut Al-Qur’an, ken]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Perintah dan ajuran taubat dalam Islam bersumber kepada Al-Qur’an dan sunnah. Menurut Al-Qur’an, kendatipun manuisa menurut fitrahnya suci dan baik, namun manusia tidak terlepas dari kecendrungan berbuat zalim, kafir, sombong, tergesa-gesa dan putus asa. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan dan menganjurkan kepada manusia untuk <strong>bertaubat dan meminta ampunan-Nya</strong>. Allah SWT akan menerima taubat dan mengampuni dosa dan kesalahan manusia, asalkan manusia mau <strong>bertaubat</strong> dan meminta ampun dengan sungguh-sungguh dan ikhlas.</p>
<p><strong>Taubat</strong> itu sendiri berarti kesadaran dan penyesalan akan dosa dan kesalahan yang diperbuat dan berniat akan memperbaikinya. Taubat juga berarti kembali kepada agama yang benar. Taubat adalah hak setiap manusia, baik berdosa ataupun tidak, yang menyelamatkan manusia dari kehancuran  setelah mereka melakukan perbuatan dosa dan maksiat.<br />
<!--more--><br />
<strong>Syarat-syarat Taubat</strong><br />
Agar taubat yang dilakukan oleh seseorang termasuk dalam kategori taubat sebenarnya (taubat nasuha) maka haruslah memenuhi ketentuan-ketentuan Islam.</p>
<ul>
<ol>1.Meyesali perbuatan dosa yang dilakukan.<br />
	Nabi Muhammad SAW bersabda : <em>&#8220;penyesalan itu adalah taubat”</em> (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Ma’qil)</ol>
<ol>2. Keinginan yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa.</ol>
<ol>3. Melakukan perbuatan baik terus menerus dan mengurangi perbuatan jahat dengan perbuatan baik<br />
Firman Allah : <em>“ Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”</em>. (QS. Hud : 114)</ol>
</ul>
<p>Satu hal yang harus diingat, jika dosa itu berkaitan dengan hak-hak manusia maka selain persyaratan di atas, orang yang bertaubat itu juga harus meminta maaf kepada orang yang disakiti. Selain itu juga harus mengembalikan milik orang tersebut jika ia mengambilnya.</p>
<p>Penyesalan yang benar dan ikhlas mendorong kita untuk memperbaiki diri, menebus perbuatan jahat dengan perbuatan baik, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta menimbulkan tekad dan niat untuk tidak berbuat maksiat dan dosa lagi selama-lamanya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cara Bersyukur Kepada Allah SWT]]></title>
<link>http://eddysetia.wordpress.com/2009/11/29/cara-bersyukur-kepada-allah-swt/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 16:36:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>eddysetia</dc:creator>
<guid>http://eddysetia.wordpress.com/2009/11/29/cara-bersyukur-kepada-allah-swt/</guid>
<description><![CDATA[Membahas tentang syukur maka terlebih dahulu diuraikan persoalan nikmat, sebab antara keduanya mempu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Membahas tentang <strong>syukur</strong> maka terlebih dahulu  diuraikan persoalan nikmat, sebab antara keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling keterkaiatan. Apa yang dimaksud dengan nikmat itu?. Imam Ghazali merumuskan “ setiap kebaikan, kelezatan, kebahagian, bahkan setiap keinginan yang terpenuhi, tapi nikmat yang sejati ialah kebahagian hidup ukhrawi, hari kemudian yang abadi”.</p>
<p>Nikmat yang diperoleh dan dirasakan dalam kehidupan ini ada dua,<br />
<em>Pertama</em>, nikmat yang bersifat fitri atau asasi, yaitu yang dibawa oleh manusia ketika lahir. Sebagaimana Firman Allah.  <em>&#8220;Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”</em> (QS. An-Nahl:78)<br />
<!--more--><br />
<em>Kedua,</em> nikmat yang mendatang, yang diterima dan yang dapat dirasakan sewaktu-waktu. Firman Allah :<em> “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan.Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”. </em>(QS.Yasin:33-35)</p>
<p>Nikmat yang diterima manusia sangatlah banyak , tidak dapat dihitung jumlahnya, tidak bisa dihitung beratnya. Sebagaimana Firman Allah <em>“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.</em>(QS. An-Nahl:18)</p>
<p>Coba kita renungkan tentang kejadian manusia yang diciptakan Tuhan, seperti anggota tubuh kaki, mulut, mata, telinga. Tak ubahnya laksana satu instrumen yang maha lengkap, otomatis, yang bisa bergerak dan berfungsi pada waktu yang sama. Sambil melihat, bisa bicara, berjalan dan lain-lain.Sudah sepantasnyalah manusia berterima kasih terhadap nikmat tuhan yang demikian banyak. Berterima kasih menurut istilah agama disebut <strong>syukur</strong></li>
</ul>
<p>.</p>
<p>Kebanyakan sifat manusia, baru akan menyadari nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya, apabila nikmat itu sudah hilang atau dicabut dari dirinya. Andaikan buta matanya sebelah atau kakinya terpotong, barulah merasa betapa nikmatnya mempunyai mata dan kaki sempurna. Jika sudah sakit, baru sadar betapa nikmatnya kesehatan. Oleh sebab itu setiap nikmat yang diperoleh haruslah disyukuri, berterima kasih kepada yang menganugerahkannya.</p>
<p>Lalu bagaimanakan <strong>cara bersyukur</strong> terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Setidaknya ada tiga cara yang harus kita lakukan :</p>
<ul>
<li>Bersyukur dengan hati, kita haruslah sadar bahwa nikmat yang kita peroleh datangnya dari Allah SWT, bukan dari selain Alllah SWT. Allah berfirman : <em>“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”</em>.(QS. An-Nahl:53)</li>
<li>Bersyukur dengan lisan, artinya dengam memperbanyak puji-pujian kepada Allah SWT yaitu membaca Hamdallah (Alhamdulillah). Firman Allah <em>“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan(menyebutnya)”.</em> (QS.Ad-Dhuhaa:11)</li>
<li>Bersyukur dengan semua naggota badan, yaitu dengan seluruh anggota badan haruslah mengerjalan perbuatan kebaikan yang diperintahkan Tuhan dan meninggalakan semua kemaksiatan yang dilarang-Nya.</li>
</ul>
<p>Dengan demikian cara bersyukur tidak cukup hanya dengan memuji-memuji Tuhan, tetapi haruslah sejalan dan seirama dengan pengakuan di hati dan diiringi pula dengan perbuatan-perbuatan nyata, mentaati perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Namaku ISLAM, aku sudah benar???"]]></title>
<link>http://drrazi.wordpress.com/2009/11/28/namaku-islam-aku-sudah-benar/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 16:14:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>drrazi</dc:creator>
<guid>http://drrazi.wordpress.com/2009/11/28/namaku-islam-aku-sudah-benar/</guid>
<description><![CDATA[Apalah erti sebuah nama, Jika kehadiranmu DIBENCI dan DICACI. Apalah erti sebuah nama, Jika kewujuda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Apalah erti sebuah nama, Jika kehadiranmu DIBENCI dan DICACI. Apalah erti sebuah nama, Jika kewujuda]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Khutbah AidilAdha 1430H: Mewujudkan Keturunan Dan Pemimpin Pelapis Yang Soleh]]></title>
<link>http://nowwhytwo.wordpress.com/2009/11/28/khutbah-aidiladha-1430h-mewujudkan-keturunan-dan-pemimpin-pelapis-yang-soleh/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 07:07:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>nowwhytwomoscow</dc:creator>
<guid>http://nowwhytwo.wordpress.com/2009/11/28/khutbah-aidiladha-1430h-mewujudkan-keturunan-dan-pemimpin-pelapis-yang-soleh/</guid>
<description><![CDATA[Muslimin Muslimat Yang Di Rahmati Allah, Syukur kepada Allah SWT pada pagi hari yang mulia ini kita ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Muslimin Muslimat Yang Di Rahmati Allah, Syukur kepada Allah SWT pada pagi hari yang mulia ini kita ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[<strong>MENEBAR FITNAH, MENUAI PETAKA</strong>]]></title>
<link>http://annashr.wordpress.com/2009/11/27/menebar-fitnah-menuai-petaka/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:42:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
<guid>http://annashr.wordpress.com/2009/11/27/menebar-fitnah-menuai-petaka/</guid>
<description><![CDATA[&#8216;Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu berkata: &#8220;Janganlah kalian terburu-buru dal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8216;Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu berkata: &#8220;Janganlah kalian terburu-buru dal]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[UNTUK KITA RENUNGKAN: KHUTBAH HAJI WIDA' RASULULLAH S.A.W.]]></title>
<link>http://aferiza.wordpress.com/2009/11/27/untuk-kita-renungkan-khutbah-haji-wida-rasulullah-s-a-w/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 10:38:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>aferiza</dc:creator>
<guid>http://aferiza.wordpress.com/2009/11/27/untuk-kita-renungkan-khutbah-haji-wida-rasulullah-s-a-w/</guid>
<description><![CDATA[oleh: http://kamal-azhari.blogspot.com Tarikh: 09 Zulhijjah 10H.- Hari Jumaat. Tempat: Namirah Di Pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>oleh: http://kamal-azhari.blogspot.com</p>
<p>Tarikh: 09 Zulhijjah 10H.- Hari Jumaat.</p>
<p>Tempat: Namirah Di Padang Arafah.</p>
<p>Masa: Sebelum Azan, Solat Jamak Zohor &#38; Asar.</p>
<p>Memuji Keagungan Allah Swt.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_5UwKupf5-4g/Sw5cLDK5_TI/AAAAAAAAANg/FlZ0uzpLkgU/s320/padang%2520arafah.jpg" alt="" /></p>
<p><strong>*Wahai sekalian manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak aku katakan, aku tidak mengetahui apakah aku akan dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu, dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah kepada orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.</strong></p>
<p><strong>*Wahai sekalian manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini, dan kota ini sebagai suci, maka anggaplah jiwa dan setiap harta orang muslim sebagai amanah yang suci. Kembalikanlah harta yang diamanahkan keatas kamu kepada pemiliknya yang berhak. Janganlah kamu sakiti sesiapa pun jua agar orang lain tidak menyakiti kamu pula. Ingatlah sesungguhnya kamu akan menemui TUHAN kamu, dan DIA pasti membuat perhitungan atas segala amalan kamu. ALLAH telah mengharamkan riba. Oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.</strong></p>
<p><strong>*Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu, dan (syaitan) tidak berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar, maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.</strong></p>
<p><strong>*Wahai sekalian manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas para isteri kamu, mereka juga mempunyai hak ke atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan tanggungjawab mereka kepada kamu, maka mereka berhak juga diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang. Layanilah isteri- isteri kamu dengan baik dan berlemah lembutlah terhadap mereka, kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu atas mereka adalah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumah kamu, dan dilarang melakukan zina.</strong></p>
<p><strong>*Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini, sembahlah ALLAH, dirikanlah solat 5 kali sehari, berpuasalah pada bulan ramadhan, tunaikan zakat daripada kejayaan kamu, dan kerjakanlah ibadat haji sekiranya kamu mampu. Ketahuilah bahawa setiap muslim adalah saudara kepada muslim yang lain. Kamu semua adalah sama, tiada seorang pun yang lebih mulia daripada yang lain kecuali dengan sebab taqwa dan beramal soleh.</strong></p>
<p><strong>*Ingatlah,bahawa kamu akan menghadap ALLAH pada suatu hari untuk dipertanggungjawab atas apa-apa yang telah kamu kerjakan. Oleh itu awasilah agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.</strong></p>
<p><strong>*Wahai sekalian manusia, tidak ada lagi nabi atau rasul yang datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, Iaitu Al-Quran dan Sunnahku.</strong></p>
<p><strong>*Hendaklah orang yang mendengar ucapanku menyampaikan pula kepada orang lain dan hendaklah orang lain itu menyampaikan kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku daripada mereka yang mendengar terus daripadaku. saksikanlah YA ALLAH bahawasanya telah aku sampaikan risalahMU kepada hamba-hambaMU.</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selamat Hari raya Idul Adha 1430 H]]></title>
<link>http://eddysetia.wordpress.com/2009/11/27/selamat-hari-raya-idul-adha-1430-h/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 03:37:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>eddysetia</dc:creator>
<guid>http://eddysetia.wordpress.com/2009/11/27/selamat-hari-raya-idul-adha-1430-h/</guid>
<description><![CDATA[Dengan semangat Idul Adha marilah kita siap untuk berkorban harta benda, waktu bahkan nyawa sekalipu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://eddysetia.wordpress.com/files/2009/11/kabah23.jpg"><img src="http://eddysetia.wordpress.com/files/2009/11/kabah23.jpg?w=297" alt="" title="Kartu Lebaran" width="297" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-70" /></a><br />
Dengan semangat <a href="http://mankualaenok.wordpress.com/2009/11/26/ucapan-lebaran-idul-adha/">Idul Adha</a> marilah kita siap untuk berkorban harta benda, waktu bahkan nyawa sekalipun untuk tetap bersama dengan yang kita cintai yakni Tuhan.  Kita buang sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita dan diisi dengan nilai-nilai kemanusian dan terutama sekali nilai-nilai ketuhanan</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[..itukah budaya..]]></title>
<link>http://ameerhariz181.wordpress.com/2009/11/25/itukah-budaya/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 16:47:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>ameerhariz181</dc:creator>
<guid>http://ameerhariz181.wordpress.com/2009/11/25/itukah-budaya/</guid>
<description><![CDATA[Malam ni tadi 25/11/2009 dah kat airport ( di Terminal LCC ) . Sebenarnya nak balik ke Limbang, Sara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Malam ni tadi 25/11/2009 dah kat airport ( di Terminal LCC ) . Sebenarnya nak balik ke Limbang, Sara]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memperbaiki Akhlak]]></title>
<link>http://eidariesky.wordpress.com/2009/11/25/memperbaiki-akhlak/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 17:15:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>eidariesky</dc:creator>
<guid>http://eidariesky.wordpress.com/2009/11/25/memperbaiki-akhlak/</guid>
<description><![CDATA[Akhlak, menurut para pemikir Muslim, menunjuk pada kondisi jiwa yang menimbulkan perbuatan atau peri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Akhlak, menurut para pemikir Muslim, menunjuk pada kondisi jiwa yang menimbulkan perbuatan atau peri]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengajarkan Bayi Tentang Adab-Adab Islami]]></title>
<link>http://fokarliska.wordpress.com/2009/11/24/mengajarkan-bayi-tentang-adab-adab-islami/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 13:24:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>FOKARLISKA SMA N 5 Surakarta</dc:creator>
<guid>http://fokarliska.wordpress.com/2009/11/24/mengajarkan-bayi-tentang-adab-adab-islami/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ummu Harun As Salafiyah Sudah menjadi kewajiban para orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Oleh: Ummu Harun As Salafiyah</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah menjadi kewajiban para orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang Islam dan mendidik untuk mengamalkannya sebagai bentuk realisasi dari firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا</p>
<p>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.&#8221; (QS. At Tahrim: 6)</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah bersabda:</p>
<p>كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ</p>
<p>“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiallahu &#8216;anhu)<br />
<!--more--></p>
<p>Mendidik anak untuk mengenal adab-adab Islami sudah bisa dilakukan (bahkan harus) diajarkan sejak usia bayi. Pada umumnya bayi usia 12 bulan atau mulai 14 bulan sudah mulai memperhatikan apa yang dilakukan orangtuanya dan sang bayi akan mencoba untuk mengikuti gerakannya. Bahkan cara bicara pun akan untuk diikuti. Naaah saat-saat inilah kesempatan bagi orangtua untuk memberikan contoh- contoh adab Islami dan menghindarkan dari segala perilaku dan perkataan yang buruk karena yang baik maupun buruk dari gerakan dan perkataan orangtua, bayi akan mencoba untuk mengikutinya.</p>
<p>Telah tsabit bahwasanya bayi memiliki hati dan perilaku yang baik semenjak dilahirkan. Maka peran orangtuanya lah yang menjadikannya kelak memiliki adab yang baik atau yang buruk.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ</p>
<p>“Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan di atas fitrah, kedua orangtuanyalah yang mengubahnya menjadi seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)</p>
<p>Sebagian kaum Muslimin yang memang masih awam pemahaman agamanya cenderung mengajari bayi mereka tentang hal yang mereka anggap baik padahal buruk di mata Allah Subhanahu wata&#8217;ala. Sehingga amat sangat disayangkan bayi yang masih polos diajarkan berjoget dan bernyanyi. Hingga ketika dikatakan, &#8220;gimana jogetnya?&#8221; ketika mendengar musik sang bayi spontan berjoget, atau mengucapkan, &#8220;kaciaaan dech lo!&#8221; sambil menggerakkan telunjuk dari atas ke bawah di depan hidung. Wallahul musta&#8217;an.</p>
<p>Di sini saya akan beri contoh sedikit dari perkara-perkara adab Islami yang bisa diajarkan kepada bayi meskipun hanya gerakan dan ucapan. Bertujuan agar bayi bangga dengan peradaban yang tinggi dari ajaran Islam dan tidak mengikuti tingkah laku orang-orang kuffar.</p>
<p>1. Adab memakai pakaian. Ajarkanlah sejak bayi untuk memulai mengenakan pakaian dari sebelah kanan.</p>
<p>Aisyah Radhiallaahu &#8216;anha di dalam haditsnya berkata: &#8220;Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dengan yang kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut dan bersuci&#8217;. (Muttafaq&#8217;-alaih).</p>
<p>Ajarkan pula untuk membiasakan pakaian Muslim, misal buatkan gamis atau jubah untuk bayi laku-laki dan celana di atas mata kaki Karena Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam telah bersabda : &#8220;Apa yang berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka&#8221; (HR. Al-Bukhari). Adapun untuk bayi perempuan adalah gamis plus jilbab agar mereka terbiasa berpakian Islami. Hindarkan dari pakaian bergambar makhluk hidup dan carikan motif kotak-kotak atau garis-garis atau kembang atau motif mobil-mobilan dan sebagainya selain manusia dan binatang.</p>
<p>2. Belajar adzan. Coba diajarkan agar bayi suka mendengar adzan dan ia tahu bahwa suara adzan adalah lafalnya seperti itu. Kita peragakan dengan gerakan menempelkan tangan di telinga. Maka jika sewaktu-waktu terdengar adzan dari masjid atau radio dengan serta merta gerakan reflek si bayi akan spontan menempelkan tangan ke telinga memberitahu kita bahwa ada yang adzan. Subhanallah.</p>
<p>3. Belajar sholat. Biasakan kita untuk sholat dalam keadaan sepengatahuan bayi. (Inilah hikmah dari rumah yang mungil..ihiks.) sehingga bayi sudah hapal gerakan sholat dari takbiratul ihram, bersedekap, ruku, sujud. Maka kalau kita katakan, &#8220;bagaimana sholatnya, sayang?&#8221; ketika kita ucapkan, &#8220;Allaahu akbar&#8221; dengan spontan bayi akan membuat gerakan takbir, bersedekap, lalu ruku, dan sujud. subhanallah.</p>
<p>4. Belajar berdoa. Hal ini bisa dilakukan dengan selalu berdoa dalam keadaan sepengatahuan bayi. Kita praktikkan berdoa dengan cara mengangkat kedua tangan dan menempelkan keduanya. Maka kalau kita katakan, &#8220;yuk kita berdoa, sayang?&#8221; maka dengan gerakan spontan bayi akan membuat gerakan berdoa. Subhanallah.</p>
<p>5. Ucapkan salam dan cium tangan. Perkara cium tangan (salim) adalah adat kebiasaan masyarakat untuk menghormati orangtua. Tidak mengapa dipraktikkan karena tidak menyalahi syariat dan sudah dipahami masyarakat untuk menghormati orang tua. Maka biasakan ketika abi mau kerja, abi mengucapkan salam dan umi menjawabnya lalu salim terlebih dahulu yang diikuti bayi, demikian pula ketika abi pulang kerja, ucapkan salam sebelum masuk rumah dan umi menjawabnya lalu salim terlebih dahulu yang diikuti bayi. Sehingga bayi akan terbiasa mendengarkan salam dan cium tangan kepada orangtua misal eyangnya, mbahnya, om, pakde, tante, atau bude dan selainnya. Allah Tabaroka wata&#8217;ala berfirman,</p>
<p>فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ</p>
<p>&#8220;Maka apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. An Nuur: 61)</p>
<p>6. Buang air. Naah ini perkara penting yang harus diajarkan sejak dini. Biasakan bayi pipis di kamar mandi, tidak boleh pipis dengan cara ngompol. Biasakan sebelum bayi bobo malam ajak dia ke kamar mandi untuk pipis, buka celananya dan ucapkan, &#8220;sss&#8230;sss&#8230;sss&#8221; insya Allah pipisnya akan keluar. Langsung dicebok ya, karena adab dalam Islam adalah cebok setelah pipis agar kemaluannya suci. Setelah itu biasakan bayi cuci tangan dan cuci kaki. Demikian juga ketika bangun bobo langsung kita bawa ke kamar mandi untuk pipis, buka celananya dan ucapkan, &#8220;sss&#8230;sss&#8230;sss&#8221; insya Allah pipisnya akan keluar, cebok, cuci tangan dan cuci kaki. Maka bayi ndak akan ngompol.</p>
<p>Ajarkan bayi doa masuk ke kamar mandi dengan kita mengeraskan bacaannya supaya ia mendengar,</p>
<p>بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ</p>
<p>“Dengan namamu, Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari godaan syaitan laki-laki dan perempuan”.</p>
<p>Dan doa keluar dari kamar mandi,</p>
<p>غُفْرَانَكَ</p>
<p>“Aku minta ampun kepadaMu”.</p>
<p>Dan dengan spontan akan tumbuh dengan sendirinya pemikiran bayi bahwa pipis harus di kamar mandi. Hingga ketika bayi merasakan akan pipis ia akan berceloteh (kan blm bisa ngomong) sambil menunjuk kemaluannya, ini menandakan ia mau pipis, dan segeralah kita bawa ke kamar mandi. Pola pikir seperti ini akan terus ada bila ziaroh ke rumah saudara-saudaranya yang lain. Subhanallah.</p>
<p>7. Adab maem dan mimik. Di sini bayi bisa kita biasakan untuk maem dan mimik dengan tangan kanan. Ini adalah sunnah untuk maem dan mimik dengan tangan kanan dan ancaman menyelisihinya.</p>
<p>Dari Salamah bin Al-Akwa&#8217;, bahwasanya seseorang pernah makan di sisi Rasulullah dengan tangan kirinya. Maka beliau berkata: &#8220;Makanlah dengan tangan kananmu!&#8221; Orang itu berkata: &#8220;Saya tidak bisa.&#8221; (Maka) beliau berkata: &#8220;Kamu tidak akan bisa.&#8221; Tidak ada yang menghalangi orang tersebut (untuk makan dengan tangan kanannya) melainkan hanya kesombongan.<br />
Berkata (Salamah bin Al-Akwa&#8217;): &#8220;Maka orang itu pun (akhirnya) tidak bisa mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya.&#8221; (HR. Muslim no.2021)</p>
<p>Jika terkadang bayi suka maem biscuit nya sendirian ia sudah terbiasa memegang biscuitnya dengan tangan kanan mungilnya. Subhanallah.</p>
<p>Kemudian, biasakan untuk mengucapkan &#8220;bismillah&#8221; ketika menyuapi bayi. Sehingga bayi sering mendengar kalimat tersebut dan suatu saat jika ia sudah bisa berbicara akan spontan mengucap &#8220;bismillah&#8221; sebelum maem dan mimik. Subhanallah.</p>
<p>8. Adab sebelum bobo dan bangun dari bobo. Hal ini bisa diajarkan ketika bayi mau bobo malam agar ia terbiasa mendengarkan lafal doa sebelum bobo dan suatu saat bisa cepat menghapalnya:</p>
<p>بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا.</p>
<p>“Dengan namaMu, ya Allah! Aku mati dan hidup.” Lalu meniup kedua telapak tangannya dan mengusapinya dari ujung kepala kepada sampai mata kaki.</p>
<p>Dan ketika bangun bobo baca doa:</p>
<p>اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ</p>
<p>“Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkanNya dan kepadaNya kami dibangitkan.”</p>
<p>Demikianlah contoh-contoh untuk mengajarkan adab Islami kepada bayi kita, dan di sana masih banyak lagi adab-adab Islami yang lainnya. Dan sering-seringlah memberikan pujian kepada bayi apabila ia mempraktikkan suatu gerakan yang baik dengan misalnya ucapan, &#8220;anak pintaaar&#8221; atau &#8220;anak shaaliiiih&#8221; dan semacamnya berupa doa-doa yang sering kita berikan sambil membelai rambutnya, &#8220;Baarokallaahu fiik&#8221; atau &#8220;Hadakallaah&#8221; atau &#8220;ashlahakallah&#8221;.</p>
<p>Oh ya, biasakan yach bayi bangun pagi sebelum jam 6.00 WIB dan langsung pakpung (mandi). karena sebagai pembelajaran nanti dia dewasa untuk sholat shubuh bersama abi di masjid. Kalau bayi pakpung siang maka akan membiasakan ia malas pakpung pagi. Dan tentu saja abi dan umi memberi teladan untuk mandi pagi sebelum sholat shubuh dan bagi abi sholat shubuh berjamaah di masjid.</p>
<p>Taklim rutin</p>
<p>Ajaklah bayi untuk menghadiri kajian rutin Ahlus Sunnah sehingga ia akan terbiasa mendengarkan kajian Islam dan bertemu dengan temen-temannya sesama bayi. Demikian pula setiap hari perdengarkanlah ia suara rekaman kajian via kaset atau mp3 agar ia sudah terbiasa mendengarkan kajian Islam, murottal (bacaan Al Quran) dan jauh darinya suara-suara musik seruling syaithan. Kan ada tuch mp3 Al Quran anak-anak, seperti si kecil Ahmad Saud, Muhammad Thoha Al Junayd, atau tadarus anak-anak bersama Al Minsyawi.</p>
<p>Yang perlu dipahami adalah bahwasanya usia bayi adalah usia pembelajaran yang siap untuk menerima segala pelajaran. Makanya inilah saatnya memberikan anak pemahaman yang benar tentang adab-adab Islami. Jangan pernah mengatakan, &#8220;jangan&#8221; atau &#8220;tidak&#8221; kepada anak karena hanya akan membentuk sebuah pola diktator. Namun berilah jawaban, &#8220;Sayang, kalau kamu melakukan ini akan berakibat ini dan itu, begini saja yach&#8221; Lalu berilah ia pengganti atau solusi yang benar.</p>
<p>Semoga Allah Subhanahu wata&#8217;ala menjadikan anak kita sebagai anak yang shalih, Aamiin.</p>
<p>رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ</p>
<p>Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau (Al Baqarah 128</p>
<p>رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ</p>
<p>Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa&#8221;. (Ali Imaran:38)</p>
<p>رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ</p>
<p>Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Ibrahim: 40)</p>
<p>رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا</p>
<p>Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Furqaan: 74)</p>
<p style="text-align:justify;">Wallahu a&#8217;lam</p>
<p style="text-align:justify;">http://sunniy.wordpress.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Amalan 10 hari di bulan dzulhijah (hari terbaik)]]></title>
<link>http://uminasafira.wordpress.com/2009/11/24/amalan-10-hari-di-bulan-dzulhijah-hari-terbaik/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 13:21:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>uminasafira</dc:creator>
<guid>http://uminasafira.wordpress.com/2009/11/24/amalan-10-hari-di-bulan-dzulhijah-hari-terbaik/</guid>
<description><![CDATA[Copypaste dr blog tetangga Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Copypaste dr blog tetangga</p>
<p>Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah. Berikut kami akan menjelasakan keutamaan beramal di awal bulan Dzulhijah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.</p>
<p>Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah</p>
<p>Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, &#8220;Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).&#8221; Para sahabat bertanya: &#8220;Tidak pula jihad di jalan Allah?&#8221; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: &#8220;Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.&#8221;[1]</p>
<p>Di dalam sepuluh hari bulan Dzulhijah terdapat hari Arofah dan hari an nahr (Idul Adha). Kedua hari tersebut adalah hari yang mulia sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Abdullah bin Qurth, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari an nahr (Idul Adha) kemudian yaumul qorr (hari setelah hari an nahr).”[2]</p>
<p>Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits Ibnu ‘Abbas di atas menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.”[3]</p>
<p>Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad.[4]</p>
<p>Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.”[5] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”[6]</p>
<p>Amalan di Awal Dzulhijah</p>
<p>Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu.[7] Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[8], &#8230;”[9]</p>
<p>Namun ada sebuah riwayat dari ‘Aisyah yang menyebutkan, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.”[10] Mengenai riwayat ini, Imam Ahmad menjelaskan bahwa yang dimenangkan adalah perkataan yang menetapkan adanya puasa sembilan hari Dzulhijah, yaitu hadits pertama. Namun dalam penjelasan lainnya, Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di mayoritas hari yang ada. Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya.[11]</p>
<p>Kesimpulan: Boleh berpuasa penuh selama sembilan hari bulan Dzulhijah (dari tanggal 1 sampai 9 Dzulhijah) atau berpuasa pada sebagian harinya.</p>
<p>Catatan: Kadang dalam hadits disebutkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Yang dimaksudkan adalah mayoritas dari sepuluh hari awal Dzulhijah, hari Idul Adha tidak termasuk di dalamnya dan tidak diperbolehkan berpuasa pada hari ‘Ied.[12]</p>
<p>Keutamaan Hari Arofah</p>
<p>Di antara keutamaan hari Arofah (9 Dzulhijah) disebutkan dalam hadits berikut, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”[13]</p>
<p>Keutamaan yang lainnya, hari arofah adalah waktu mustajabnya do’a. Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”[14] Maksudnya, inilah doa yang paling cepat dipenuhi atau terkabulkan.[15] Jadi hendaklah kaum muslimin memanfaatkan waktu ini untuk banyak berdoa pada Allah. Do’a ketika ini adalah do’a yang mustajab karena dilakukan pada waktu yang utama.</p>
<p>Jangan Tinggalkan Puasa Arofah</p>
<p>Bagi orang yang tidak berhaji dianjurkan untuk menunaikan puasa Arofah yaitu pada tanggal 9 Dzulhijah. Hal ini berdasarkan hadits Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.”[16] Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Arofah lebih utama daripada puasa ‘Asyuro. Di antara alasannya, Puasa Asyuro berasal dari Nabi Musa, sedangkan puasa Arofah berasal dari Nabi kita Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.[17] Keutamaan puasa Arofah adalah akan menghapuskan dosa selama dua tahun dan dosa yang dimaksudkan di sini adalah dosa-dosa kecil. Atau bisa pula yang dimaksudkan di sini adalah diringankannya dosa besar atau ditinggikannya derajat.[18]</p>
<p>Sedangkan untuk orang yang berhaji tidak dianjurkan melaksanakan puasa Arofah. Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.”[19]</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa beliau ditanya mengenai puasa hari Arofah di Arofah. Beliau mengatakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak menunaikan puasa pada hari Arofah. Aku pun pernah berhaji bersama Abu Bakr, beliau pun tidak berpuasa ketika itu. Begitu pula dengan ‘Utsman, beliau tidak berpuasa ketika itu. Aku pun tidak mengerjakan puasa Arofah ketika itu. Aku pun tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya. Aku pun tidak melarang jika ada yang melakukannya.”[20]</p>
<p>Dari sini, yang lebih utama bagi orang yang sedang berhaji adalah tidak berpuasa ketika hari Arofah di Arofah dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafa’ur Rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman), juga agar lebih menguatkan diri dalam berdo’a dan berdzikir ketika wukuf di Arofah. Inilah pendapat mayoritas ulama.[21]</p>
<p>Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzulhijah)</p>
<p>Ada riwayat yang menyebutkan, “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu.” Ibnul Jauzi[22], Asy Syaukani[23], dan Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).[24]</p>
<p>Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadisnya dha’if (lemah). Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.</p>
<p>Jika Tanggal 9 Dzulhijah di Saudi Arabia Berbeda dengan Indonesia</p>
<p>Jika wukuf di Arofah lebih dulu dari tanggal 9 Dzulhijah di Indonesia, manakah yang harus diikuti dalam berpuasa Arofah?</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Dalam puasa hari Arofah, engkau tetap mengikuti negerimu.”[25] Alasan beliau adalah kita tetap mengikuti hilal di negeri ini bukan mengikuti hilal Saudi Arabia. Jika kemunculan hilal Dzulhijjah di negara kita selang satu hari setelah ru’yah di Mekkah sehingga tanggal 9 Dzulhijjah di Mekkah itu baru tanggal 8 Dzulhijjah di negara kita, maka kita seharusnya kita berpuasa Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah meski hari tersebut bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah di Mekkah. Inilah pendapat yang paling kuat dalam masalah ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian melihat hilal Ramadhan hendaklah kalian berpuasa dan jika kalian melihat hilal Syawal hendaknya kalian berhari raya” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Semoga Allah memudahkan kita beramal sholih dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi-Nya.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel www.pengusahamuslim.com</p>
<p>[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.</p>
<p>[2] HR. Abu Daud no. 1765. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.</p>
<p>[3] Latho-if Al Ma’arif, hal. 456.</p>
<p>[4] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 457 dan 461.</p>
<p>[5] Idem</p>
<p>[6] Latho-if Al Ma’arif, hal. 458.</p>
<p>[7] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 116, 119-121, Dar Al Imam Ahmad.</p>
<p>[8] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi.</p>
<p>[9] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.</p>
<p>[10] HR. Muslim no. 1176, dari ‘Aisyah</p>
<p>[11] Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460.</p>
<p>[12] Lihat Fathul Bari, 3/390 dan Latho-if Al Ma’arif, hal. 460.</p>
<p>[13] HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah.</p>
<p>[14] HR. Tirmidzi no. 3585. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.</p>
<p>[15] Lihat Tuhfatul Ahwadziy, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Ala, 8/482, Mawqi’ Al Islam.</p>
<p>[16] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah.</p>
<p>[17] Lihat Fathul Bari, 6/286.</p>
<p>[18] Lihat Syarh Muslim, An Nawawi, 4/179, Mawqi’ Al Islam.</p>
<p>[19] HR. Tirmidzi no. 750. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih</p>
<p>[20] HR. Tirmidzi no. 751. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.</p>
<p>[21] Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 2/137, Al Maktabah At Taufiqiyah.</p>
<p>[22] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565, dinukil dari http://dorar.net</p>
<p>[23] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96, dinukil dari http://dorar.net</p>
<p>[24] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956.</p>
<p>[25] Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Ibnu ‘Utsaimin, 17/25,Asy Syamilah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akhlak Dan Displin Di Dalam Harakah Islamiah (PAS) ]]></title>
<link>http://kalamperantau.wordpress.com/2009/11/24/akhlak-dan-displin-di-dalam-harakah-islamiah-pas/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 05:00:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>kalamperantau</dc:creator>
<guid>http://kalamperantau.wordpress.com/2009/11/24/akhlak-dan-displin-di-dalam-harakah-islamiah-pas/</guid>
<description><![CDATA[Muqaddimah Kemantapan sebuah Harakah Islamiyah berhubung erat dengan keteguhan aqidah atau perinsip ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Muqaddimah<br />
</strong>Kemantapan sebuah Harakah Islamiyah berhubung erat dengan keteguhan aqidah atau perinsip perjuangannya dan keteguhan pegangannya ahlinya di semua peringkat terhadap aqidah dan prinsip itu sehingga membuahkan wala’ dan melengkapkan diri dengan akhlak dan displin</p>
<p>Perlu difahami bahawa tidak memadai sekadar hanya berdiri di atas dasar dan prinsip yang sebenarnya tanpa membina peribadi dengan akhlak berjama’ah, oleh itu di bawah ini dikemukakan bebrapa perkara yang menjadi sifat – sifat yang mesti dipunyai oleh perjuang pejuang islam untuk dijadikan perbincangan dan muhasabah kepada diri kita sendiri.</p>
<p><strong>Akhlak Berjama’ah</strong></p>
<p>Supaya perjuangan kita diterima, direstui oleh Allah SWT dan mendapat pertolongan daripadaNYa, maka kita mestilah melengkapkan diri dengan sifat – sifat berikut :</p>
<p>1. Ikhlas</p>
<p>Pejuang Islam mestilah ikhlas dengan mempunyai niat yang sebenar kerana Allah, menuntut keredhaanNya dengan menegakkan agamaNYa sehingga didaulatkan.</p>
<p>Firman Allah SWT : “<em>Dan tidaklah diperentah kepada mereka melainkan mereka mengabdikan diri kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan perintah agama dengan lurus</em>”.(alBayyinah,98:5)</p>
<p>Apabila mengikhlaskan niat kerana Allah semata – mata maka mestilah membersihkan hati dari sifat – sifat yang merosakkan niat seperti riya; ujub dan sum’ah.</p>
<p>2.Istiqamah</p>
<p>Mestilah berterusan di atas prinsip perjuangan dan beramal dengan segala tuntutannya dengan tidak berpaling dan cenderung ke arah yang lain, hanyut bersama arus, jauh sekali daripada melompat dan menyeleweng daripada perjuangan. Allah berfirman kepada Musa dan Harun yang menghadapi Firaun dalam menegakkan Islam di zamannya: “<em>Maka kamu mestilah istiqamah dan janganlah kamu mengikut orang – orang yang tidak tahu</em>,” (Yunus,10:89)</p>
<p>Para rasul dan sahabat adalah orang yang paling istiqamah, tetapi mereka diperintah juga supaya beristiqamah . Ini menunjukkan bahawa sifat istiqamah sangat penting dan mestilah berterusan, kerana ia adalah tonggak dan cara untuk mendapat pertolongan Allah, bahkan orang yang tidak istiqamah amalannya sia – sia.</p>
<p>Rasullah bersabda yang bermaksud:</p>
<p style="text-align:center;">“<em>Tiga perkara yang tidak memberi manfaat olehnya bersama sebarang amalan, iaitu menyekutukan Allah, menderhaka kepada kedua ibu bapa dan lari dari medan perjuangan</em>”.</p>
<p>3. Taat</p>
<p>Ketaatan lahir daripada sikap percaya menpercayai di antara pemimpin dan pengikutnya, apabila pemimpin mempunyai keikhlasan dan menyatakan pengorbanan yang sebenar dan menyatakan pengorbanan yang sebenar dan memberi perhatian kepada perjuangan dan pengikut – pengikutnya. Ketaatan itu mestilah dalam semua keadaan, di masa senang dan susah, di masa lapang dan susah, di masa lapang dan sempit dalam perkara yang tidak maksiat.</p>
<p>Firman Allah SWT:</p>
<p>“<em>Hai orang – orang yang beriman, taatlah kamu akan Allah, taatlah kamu akan Rasul dan Ulil Amri (pemimpin dikalangan kamu)</em>”.(al-Nisa,4:59)</p>
<p>Rasullah telah meneguhkan sifat ketaatan kepada para sahabatnya dengan melakukan bai’ah di antara Baitul ‘Aqabah yang terkenal sebelum melakukan hijrah.</p>
<p>Di dalam Bai’ah itu Rasullah bersabda: &#8220;<em>Berbai’ahlah kepadaku di atas kewajipan menyuruh yang baik dan mencegah dari kemungkaran, bangun menyatakan agama Allah tanpa terjejas walaupun dicela, sanggup menolong aku apabila aku tiba kepada kamu dan sanggup mempertahankan aku</em>.”</p>
<p>3.1 Ketaatan Yang Di Tuntut</p>
<p>a.Ketaatan itu membawa kepada menunaikan tugas mengikut arahan kepimpinan dan tidak bertindak sendiri tanpa pengetahuan sehingga menjadi kelam – kabut yang boleh menimbulkan adanya kumpulan dalam jama’ah atau parti yang mempunyai perancangan yang berbeza dan strategi yang berlainan yang boleh membawa perpecahan dan wujudnya kumpulan atau jama’ah dalam parti`.</p>
<p>b. Ketaatan itu membawa kepada penyelarasan yang baik dikalangan seluruh anggota dan sayap parti atau jama’ah dan melaksanakan amal jama’ie yang tidak boleh dijelaskan oleh pandangan individu yang berbeza lalu mengikut selera masing – masing sehingga jentera parti bercelaru dan tidak selaras antara satu sama lain.</p>
<p>c. Ketaatan juga dapat mengimbangkan di antara sikap yang berbagai – bagai di dalam parti, kerana ada orang yang terlalu ke depan (advance), ada orang yang terlalu lambat dan ada yang sederhana.</p>
<p>4. Wala’</p>
<p>Kita melihat betapa kumpulan yang tidak Islam mengalami kelemahan dan kepupusan termasuk yang pernah memerintah negara besar, begitu juga dengan pertubuhan yang meletakan nama Islam tetapi tidak mengambil Islam secara menyeluruh.</p>
<p>Oleh itu maka penekanan yang perlu diberi perhatian ialah peningkatan wala’ dan displin dalam jama’ah yang dapat memelihara ketaatan dan perjalanan secara istiqamah.</p>
<p>4.1. Wala’ dan hubungannya dengan Harakah Islamiah (PAS)<br />
Dalam aspek ini perlu dibahagiakan wala’ itu kepada beberapa aspek yang perlu diberikan penekanan.</p>
<p>a.Wala’ terhadap perjuangan :<br />
Sesungguhnya wali kamu ialah Allah dan RasulNya. Wala’ dalam aspek ini berkait erat dengan ketaatan secara mutlak kepada Allah dan RasulNya, wajiblah beriman bahawa tiada tuhan yang sebenarnya melainkan Allah dengan segala sifat ketuhanan yang Maha Suci dan juga beriman kepad rasul yang wajib dengan sifat- sifat kerasulannya.Terkandung di dalam mafhum ketaatan dan wala’ kepada Allah dan rasul secara mutlak kepada al Quran dan Harakah Islamiah , dan dalam konteks kita di Malaysia ini ialah Parti Islam SeMalaysia (PAS).</p>
<p>b.Wala’ kepada Jama’ah :<br />
Menurut rukum dan hukum haram berjama’ah haram kepada ahli yang telah memberi bai’ah kepada jama’ah tiba tiba memberi wala’ kepada kumpulan lain samada yang jelas menetang Islam atau kumpulan yang bernama Islam. Ini bercanggah dengan akhlak berjama’ah dan merosakkan perpaduan jama’ah, strategi dan jenteranya. Adapun wala’ kepada jama’ah itu bergantung kepada wala’ jama’ah terhadap aqidah perjuangan yang sebenarnya dan menjadi kewajipan kepada ahli mempertahankannya daripada menyeleweng.</p>
<p>c.Wala’ kepada pemimpin :<br />
Kepimpinan di semua peringkat merupakan salah satu daripda tonggak yang penting kepada jentera dan perjalanan jama’ah. Oleh yang demikian wala’ kepada pemimpin dalam pengertian kasih dan taat mestilah diberi di semua peringkat pemimpin. Ia juga bergantung kepada prinsip perjuangan parti atau jama’ah.</p>
<p>5. Displin</p>
<p>Firman Allah SWT : “<em>Wahai orang – orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaran kamu dan tetap bersedia dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu berjaya</em>”.(AL-Imran,3:200)</p>
<p>Perkara yang ditakrifkan dengan displin ialah sebagai mana berikut:</p>
<p>1. Tatatertib dan kelakuan</p>
<p>2. Peraturan yang ditetapkan untuk melatih seseorang berkelakuan baik<br />
3. Kepatuhan kepada peraturan &#8211; peraturan yang ditetapkan</p>
<p>4. Hukum atau denda kerana melanggar peraturan.</p>
<p>5. Harakah Islamiah (PAS) telah menetapkan perkara – perkara ini secara menetapkannya di dalam perlembagaan parti secara tegas. Di antaranya ialah menetapkan perkara yang dinamakan tatatertib:</p>
<p>a.Taat kepada hukum – hukum dan ajaran Islam yang menjadi dasar jama’ah.<br />
b.Patuh kepada perlembagaan parti serta aturan dan peraturannya<br />
c.Taat kepada arahan dan perintah jama’ah.<br />
d.Melaksanakan kewajipan – kewajipan yang ditugaskan oleh jama’ah sedaya upaya yang boleh<br />
e.Menjaga dengan cermat segala rahsia jama’ah.<br />
f.Beramal dengan akhlak Islam<br />
g.Mengawal diri supaya tidak melakukan sebarang tindakan yang menjalahi atau merugikan jama’ah.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Akhlak dan displin penting bagi setiap kebajikan jama’ah. Setiap ahli mestilah berdisplin dan melengkapakan diri dengan akhlak Islam bagi meningkatkan kejayaannya kepada sasaran dakwah dan matlamat kerana tindakan individu ahlinya menjadi contoh dan perhatian di samping dapat mewujudkan jentera dalaman yang baik bagi metadbir segala kegiatannya</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cuba Renungkan]]></title>
<link>http://aferiza.wordpress.com/2009/11/24/cuba-renungkan/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 02:13:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>aferiza</dc:creator>
<guid>http://aferiza.wordpress.com/2009/11/24/cuba-renungkan/</guid>
<description><![CDATA[Aferiza Arifin is a fan of UMCCED Create your Fan Badge]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/Z2eTtbrVHYs&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/Z2eTtbrVHYs&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p><!-- Facebook Fan Badge START -->
<div style="width:100%;">
<div style="background:#3B5998;padding:5px;"><img src="http://www.facebook.com/images/fb_logo_small.png"><img src="http://badge.facebook.com/badge/186927467673.1551324118.795871001.png" alt="" width="0"></div>
<div style="background:#EDEFF4;display:block;border-right:1px solid #D8DFEA;border-bottom:1px solid #D8DFEA;border-left:1px solid #D8DFEA;margin:0;padding:0 0 5px;">
<div style="background:#EDEFF4;display:block;padding:5px;">
<table cellspacing="0" cellpadding="0" border="0">
<tr>
<td valign="top"><img src="http://www.facebook.com/images/icons/fbpage.gif"></td>
<td valign="top">
<p style="color:#808080;font-family:verdana;font-size:11px;margin:0;padding:0 8px;"><a href="http://www.facebook.com/aferiza" title="Aferiza Arifin" target="_TOP" style="color:#3B5998;font-family:verdana;font-size:11px;font-weight:normal;text-decoration:none;margin:0;padding:0;">Aferiza Arifin</a> is a fan of</p>
</td>
</tr>
</table>
</div>
<div style="background:#FFFFFF;clear:both;display:block;overflow:hidden;margin:0;padding:5px;">
<table cellspacing="0" cellpadding="0" border="0">
<tr>
<td valign="middle"><a href="http://www.facebook.com/umcced" title="UMCCED" target="_TOP" style="border:0;color:#3B5998;font-family:verdana;font-size:12px;font-weight:bold;text-decoration:none;margin:0;padding:0;"><img src="http://www.facebook.com/profile/pic.php?oid=AAAAAQAQ-YkBIk4WLHuBHrJ0AXaVyAAAAAxi4nQNggp1AoVeBofJw4l_&#38;size=square" style="border:0;margin:0;padding:0;"></a></td>
<td valign="middle" style="padding:0 8px;"><a href="http://www.facebook.com/umcced" title="UMCCED" target="_TOP" style="border:0;color:#3B5998;font-family:verdana;font-size:12px;font-weight:bold;text-decoration:none;margin:0;padding:0;">UMCCED</a></td>
</tr>
</table>
</div>
</div>
<div style="display:block;float:right;margin:0;padding:4px 0 0;"><a href="http://www.facebook.com/facebook-widgets/fanbadges.php" title="Create your Fan Badge" target="_TOP" style="color:#3B5998;font-family:verdana;font-size:11px;font-weight:none;text-decoration:none;margin:0;padding:0;">Create your Fan Badge</a></div>
</div>
<p><!-- Facebook Fan Badge END --></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kehilangan segala-gala]]></title>
<link>http://permatakata.wordpress.com/2009/11/23/kehilangan-segala-gala/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 23:30:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>exzede</dc:creator>
<guid>http://permatakata.wordpress.com/2009/11/23/kehilangan-segala-gala/</guid>
<description><![CDATA[Jika anda kehilangan harta benda, anda tidak kehilangan sesuatu. Jika anda kehilangan semangat dan k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jika anda kehilangan harta benda, anda tidak kehilangan sesuatu.</p>
<p>Jika anda kehilangan semangat dan keberanian, berarti anda kehilangan banyak hal.</p>
<p>Dan jika anda kehilangan kemuliaan serta harga diri, berarti anda kehilangan segala-galanya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[<strong>MENJAGA DIRI DARI PERKARA SYUBHAT</strong>]]></title>
<link>http://annashr.wordpress.com/2009/11/23/menjaga-diri-dari-perkara-syubhat/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:44:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fadhl Ihsan</dc:creator>
<guid>http://annashr.wordpress.com/2009/11/23/menjaga-diri-dari-perkara-syubhat/</guid>
<description><![CDATA[RASULULLAH shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya yang halal itu jelas dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[RASULULLAH shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya yang halal itu jelas dan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keupayaan berdakwah secara maya masih terhad]]></title>
<link>http://aferiza.wordpress.com/2009/11/23/keupayaan-berdakwah-secara-maya-masih-terhad/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 05:18:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>aferiza</dc:creator>
<guid>http://aferiza.wordpress.com/2009/11/23/keupayaan-berdakwah-secara-maya-masih-terhad/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Najahudin Lateh Fobia kepada teknologi, kurang tenaga jejas usaha penyampaian ilmu Islam dalam ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h4>Oleh Najahudin Lateh</h4>
<p><strong>Fobia kepada teknologi, kurang tenaga jejas usaha penyampaian ilmu Islam dalam internet</strong></p>
<p>DAKWAH adalah usaha menyampai, mengajak atau menyeru manusia mengenali, menerima dan menghayati Islam yang dilaksanakan melalui kaedah, teknik dan pendekatan tertentu. Galakan untuk berdakwah terbuka kepada seluruh umat Islam. Begitu juga Islam sebagai agama yang fleksibel tidak mengehadkan pendakwah untuk menggunakan kaedah tertentu dalam proses dakwah. Malah, mereka digalakkan menggunakan medium terbaik sesuai pada sesuatu zaman dan tempat.</p>
<p>Dakwah talian terus online adalah kaedah dakwah secara tidak langsung, iaitu pendakwah tidak bertemu secara fizikal dengan mad&#8217;u. Dakwah ini biasanya berlaku melalui internet ataupun komunikasi lain seperti telefon bimbit. Dakwah kaedah ini tidak mensyaratkan seorang pendakwah itu mahir dalam komunikasi atau mempunyai ilmu Islam banyak. Malah, sesiapa saja boleh menjadi pendakwah. Yang penting dalam dakwah online adalah bahan dakwah bukannya siapa yang menyiarkannya.</p>
<p>Walaupun begitu, dakwah maya sebegini juga mempunyai pelbagai cabaran dan hambatan tertentu. Kita perlu mengakui internet sebagai lebuh raya maklumat berakar umbi di dunia Barat. Ia tidak terlepas daripada nilai, falsafah dan gaya hidup mereka di sana. Justeru, proses penyaringan input yang diperoleh perlu dibuat sebelum penyebarannya kepada umum. Kadang-kadang maklumat dan bahan yang terdapat dalam internet sebenarnya dihasilkan oleh orientalis, pengembang agama dan musuh Islam untuk mengelirukan dan memecahbelahkan umat. Kaedah asas dengan merujuk sumber primer dan sekunder seperti al-Quran, hadis dan karya ulama perlu dilakukan. Ini belum dikira hambatan luaran seperti kemunculan pelbagai fikrah, ideologi, dakyah palsu, sebaran fitnah, gambar atau video pornografi di alam maya.</p>
<p>Dari aspek pendakwah, sebenarnya ramai yang masih takut dan fobia kepada teknologi. Kekurangan tenaga ini sedikit sebanyak menjejaskan usaha penyampaian ilmu Islam di internet yang secara realitinya masih dikuasai dengan bahan yang tidak bermanfaat. Ini ditambah dengan kurangnya pendakwah yang boleh menguasai bahasa Inggeris menyebabkan dakwah kita terpinggir dan masih di kandang sesama kita. Lebih malang, anggapan bahawa dakwah kerja eksklusif ustaz serta ulama saja dan bukannya setiap individu Muslim masih wujud di sanubari umat Islam.</p>
<p>Ada pelbagai aplikasi boleh digunakan dalam dakwah online melalui internet. Antara yang popular adalah melalui e-mel (seperti Yahoo! Mail dan Gmail), laman sembang (seperti Yahoo! Messenger, ICQ dan Skype), diskusi kumpulan (seperti Yahoogroups dan Googlegroups) dan laman web. Selain itu, bahan ceramah, kuliah atau simulasi Islam boleh dikongsi dan disalurkan ke seluruh dunia secara audio atau video. Webtv sebagai contohnya begitu popular di kalangan remaja sekarang. Laman webtv seperti youtube.com, metacafe.com dan video.google.com sangat mudah digunakan dan yang penting ia boleh digunakan percuma.</p>
<p>Ada pelbagai bentuk laman web dakwah dalam internet. Ada berbentuk web portal dan forum perbincangan Islam, namun kebanyakannya dalam bentuk weblog. Di Malaysia, laman web dakwah agak berkurangan, terutama yang mengandungi kandungan isinya dalam Bahasa Inggeris. Secara umum, laman web dakwah di Malaysia biasanya diuruskan individu dan berbentuk weblog. Namun, kebanyakan weblog itu dibina di atas tapak web secara percuma seperti blogger.com (blogspot) dan wordpress.com. Hanya sedikit saja menggunakan tapak berbayar.</p>
<p>Realitinya, hasil penelitian melalui laman alexa.com menunjukkan tiada satu pun laman web berbentuk dakwah atau elemen Islam yang tersenarai dalam 100 laman web popular di Malaysia. Hanya lima laman web disenaraikan paling popular di Malaysia ialah iluvislam.com (kedudukan 373 di Malaysia), islam.gov.my (1,270), zaharuddin.net (1,254), saifulislam.com (1,386) dan halaqah.net (2,706). Malah, laman web Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) seharusnya dipuji kerana ia satu-satunya laman web di Malaysia, malah di dunia yang beroperasi dalam empat bahasa, iaitu Melayu, Inggeris, Arab dan Cina.</p>
<p>Hakikatnya, dakwah melalui internet dan secara online mempunyai potensi yang besar. Namun, keupayaan umat Islam di negara ini untuk memaksimumkan penggunaan medium ini masih kurang. Seharusnya mulai sekarang semua pendakwah Islam mempunyai laman web atau weblog sendiri yang beroperasi secara aktif, menarik dan mudah diakses. Institusi dakwah Islam juga mesti sentiasa kemas kini dengan maklumat dan interaksi kepada isu Islam semasa. Jika ini dibuat, nescaya aktiviti dakwah semakin maju dan meluas ke seluruh dunia.</p>
<p><strong>INTI PATI</strong></p>
<p>&#160;</p>
<li>Islam tidak mengehadkan pendakwah untuk menggunakan kaedah tertentu dalam proses dakwah. Malah, mereka digalakkan menggunakan medium terbaik sesuai pada sesuatu zaman dan tempat.</li>
<li>Dakwah melalui internet dan secara online mempunyai potensi yang besar, namun kekurangan tenaga ini sedikit sebanyak menjejaskan usaha penyampaian ilmu Islam di internet.
<p><strong>Penulis ialah pensyarah Pusat Pemikiran dan Kefahaman Islam (CITU), Universiti Teknologi Mara (UiTM), Shah Alam dan boleh dihubungi e-mel, najahudin@salam.uitm.edu.my</strong></li>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[whos.amung.us]]></title>
<link>http://zidaburika.wordpress.com/2009/11/23/whos-amung-us/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 03:03:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>abihasan</dc:creator>
<guid>http://zidaburika.wordpress.com/2009/11/23/whos-amung-us/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI1ODk3MDU1NDc*MSZwdD*xMjU4OTcwNjA4NDc2JnA9OTAzMDExJmQ9Jm49d29yZHByZXNzJmc9MSZvPWE1YWFjMGRlZTA2NzRiOGNhYzAyN2NlMTUxMTU*ZmNkJm9mPTA=.gif" /><a href="http://whos.amung.us/stats/iz693rd3q2f7/"><img src="http://whos.amung.us/swidget/iz693rd3q2f7.png" width="80" height="15" border="0" title="Click to see how many people are online" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kemana hilangnya...]]></title>
<link>http://annaziir.wordpress.com/2009/11/22/kemana-hilangnya/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 12:06:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>annaziir</dc:creator>
<guid>http://annaziir.wordpress.com/2009/11/22/kemana-hilangnya/</guid>
<description><![CDATA[SEORANG wanita melintas jalan. Dia cantik dan bergaya. Kulitnya mulus, pipinya gebu, bibirnya ‘ulas ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[SEORANG wanita melintas jalan. Dia cantik dan bergaya. Kulitnya mulus, pipinya gebu, bibirnya ‘ulas ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ilmu yang Bermanfaat]]></title>
<link>http://dimazgogon.wordpress.com/2009/11/22/ilmu-yang-bermanfaat/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 00:44:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>dimazgogon</dc:creator>
<guid>http://dimazgogon.wordpress.com/2009/11/22/ilmu-yang-bermanfaat/</guid>
<description><![CDATA[Perbaiki Amal, Ibadah dan Akhlak Assalamu &#8216;alaikum wr wb Salam sejahtera untuk kita semua, sem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2 style="text-align:justify;">Perbaiki Amal, Ibadah dan Akhlak</h2>
<h3 style="text-align:justify;"><em>Assalamu &#8216;alaikum wr wb</em></h3>
<p style="text-align:justify;"><a rel="attachment wp-att-172" href="http://dimazgogon.wordpress.com/2009/11/22/ilmu-yang-bermanfaat/sholat/"><img class="alignleft size-full wp-image-172" title="sholat" src="http://dimazgogon.wordpress.com/files/2009/11/sholat.jpeg" alt="" width="117" height="118" /></a>Salam sejahtera untuk kita semua, semoga kita sebagai Umat yang beragama selalu bersatu padu dan mempertebal Keimanan  kita, dan selalu ingat kepadaNya. Manusia diwajibkan berusaha dan tuhanlah penentu segalanya, tentu saja berusaha dengan jalan yang baik, bukan dengan jalan yang tidak diridlhoi Alloh swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu yang ada pada kita, tidak akan selamanya menyatu dengan diri kita, tetapi ilmu untuk Kesejahteraan Umat Manusia, dan Ilmu untuk ditularkan kepada sesama. Bukan untuk diperjual  belikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Sebagai umat kita diwajibkan untuk mempererat Silaturrohhim, dengan cara seperti itu selain kita mendapatkan banyak saudara dan teman, suatu saat kita akan menerima manfaat  dari Silaturohhim tersebut.  Buang rasa Iri dengki dalam diri kita, sesungguhnyalah itu adalah Iblis yang ingin meruntuhkan Iman kita. Berbicaralah dengan santun, karena salah &#8211; salah lidah kita bisa sebagai Racun yang amat sangat berbisa, melebihi bisa dari Ular Berbisa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu yang mereka peroleh, masih banyak disalah gunakan dengan cara menarik beaya yang tidak sedikit sebagai buntutnya obat yang dijualnya. Mereka bilang ilmu itu dari Alloh, tetapi menggunakannya dengan jalan yang tidak pantas dan tidak seharusnya mereka lakukan, jika hanya sekedarnya sich&#8230;tidak masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Yah&#8230;.marilah kita berhati &#8211; hati, dan berusaha berbuat sesuai apa yang sudah Alloh perintahkan kepada Umat Manusia, berbagilah ilmu demi kemaslahatan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu semuanya tidaklah ada artinya, jikalau kita manusia belum berbakti kepada ke 2 Orangtua kita, karena merekalah yang sudah membuat kita ada di Dunia. Marilah kita sama &#8211; sama mengingatkan, agar kita tidak terjerumus dalam Api Neraka.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini apa yang haram bisa diputar balikkan, dengan kata halal. Begitu pula dengan perbuatan Manusia, menyakiti orang lain dosa, apalagi membunuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Maarilah saat ini kita bersama &#8211; sama memperbaiki Akhlak dan Perilaku kita, semoga Alloh juga mengampuni dosa Ke 2 Orangtua dan Dosa kita. Dan semoga apa yang salah dalam diri kita, bukan menjadikan penyakit dalam diri kita masing &#8211; masing. Sesungguhnya penyakit itu ada karena perilaku kita yang tidak benar.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Wassalamu &#8216;alaikum wr wb</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penyejuk HATI | Agar Dada Seorang Hamba menjadi Lapang dan Bersinar]]></title>
<link>http://ahnaaf.wordpress.com/2009/11/21/penyejuk-hati-agar-dada-seorang-hamba-menjadi-lapang-dan-bersinar/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 07:40:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahnaf</dc:creator>
<guid>http://ahnaaf.wordpress.com/2009/11/21/penyejuk-hati-agar-dada-seorang-hamba-menjadi-lapang-dan-bersinar/</guid>
<description><![CDATA[Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahirkan halangan dan tantangan yang mengantar seorang hamba kepada gundah gulana dan ketidaktenangan hati. Namun bagi seorang mukmin sejati, cahaya Al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam</em> adalah penerang jalan menuju kepada kehidupan indah yang senantiasa membuat dadanya lapang dan bercahaya.<!--more--></p>
<p>Hidup dengan dada yang lapang adalah suatu nikmat yang sangat berharga dan dambaan setiap insan. Renungilah besarnya nikmat ini sehingga Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> mengingatkan Nabi-Nya terhadap karunia tersebut dalam firman-Nya,</p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”</em> (<strong>QS. Al-Insyirâh :1</strong>)</p>
<p>Dan Nabi Musa <em>‘alaissalâm</em> setelah beliau dimuliakan menjadi seorang rasul, maka awal doa beliau kepada Allah <em>Subhânahu Wa Ta’âlâ</em>,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Berkata Musa: “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku,”…”</em> (<strong>QS. Thohâ :25</strong>)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Banyak hal dalam tuntunan syari’at kita yang diterangkan sebagai tumpuan-tumpuan berpijak bagi seorang hamba agar senantiasa berhati lapang dan bercahaya.</p>
<p>Berikut ini, beberapa pilar pelapang dada seorang hamba, kami simpulkan dari keterangan Ibnul Qayyim<a href="http://an-nashihah.com/#_ftn1">[1]</a>dan selainnya :</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>1. </strong><strong>Memurnikan Tauhid.</strong></li>
</ol>
<p>Memurnikan peribadatan kepada Allah <em>Taqaddasa Dzikruhu</em> adalah tonggak keselamatan, tujuan dari penciptaan manusia, misi dakwah setiap nabi yang diutus kepada makhluk dan itulah adalah hakikat dari Islam yang bermakna berserah diri, ikhlash dan tunduk kepada-Nya. Maka sangat wajar bila memurnikan tauhid adalah hal yang sangat melapangkan dada dan meneranginya. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman dalam <em>Al-Qur’ân Al-Karîm</em>,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”</em> (<strong>QS. Az-Zumar :22</strong>)</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.</em> <em>Dan inilah jalan Rabbmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.”</em> (<strong>QS. Al-An’âm :125-126</strong>)</p>
<p>Dan dengan memurnikan ibadah kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> manusia akan hidup di bawah teduhan keamanan dan kesejahteraan. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”</em> (<strong>QS. Al-An’âm :82</strong>)</p>
<p>Dan dalam <em>Tanzil</em>-Nya,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. <strong>Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku</strong>. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”</em> (<strong>QS. An-Nûr : 55</strong>)</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>2. </strong><strong>Berpegang teguh terhadap Al-Qur’ân dan As-Sunnah.</strong></li>
</ol>
<p>Allah <em>Jalla wa ‘Alâ</em> menurunkan Al-Qur`ân sebagai rahmat dan kebahagian bagi orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”</em> (<strong>QS. An-Nahl : 89</strong>)</p>
<p>Dan Allah <em>Ta’âlâ</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`ân suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`ân itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.”</em> (<strong>QS. Al-Isrô` : 82</strong>)</p>
<p>Dan Nabi <em>shollallâhu ‘alaihi wa ‘alâ âlihi wa sallam</em> menyatakan,</p>
<p dir="rtl"><strong>لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلِهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ بَعْدِيْ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Sungguh saya telah meninggalkan kalian di atas suatu yang sangat putih, malamnya sama dengan siangnya, tidaklah seorangpun menyimpang darinya setelahku kecuali akan binasa.”</em> <a href="http://an-nashihah.com/#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Maka sangatlah lumrah bagi siapa yang berpegang teguh terhadap tuntunan Al-Qur`ân dan As-Sunnah akan senantiasa membuat dadanya lapang dan bersinar penuh petunjuk dan kebahagian tanpa ada kesensaraan. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.</em> <em>Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”</em> (<strong>QS. </strong><strong>Thôhâ : 123-124</strong>)</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Thaahaa.</em> <em>Kami tidak menurunkan Al-Qur`ân ini kepadamu agar kamu menjadi susah;</em> <em>tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).”</em> (<strong>QS. Thôhâ : 1-3</strong>)</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>3. </strong><strong>Berbekal Ilmu Syari’at.</strong></li>
</ol>
<p>Tatkala seluruh kebaikan bagi manusia tercakup dalam ilmu syari’at maka segala kebahagian dan ketenangan, keberhasilan dan kebahagian manusia sangat bertumpu pada ilmu syari’at. Karena itu Allah <em>Ta’âlâ</em> tidak memerintah Nabi-Nya untuk meminta tambahan nikmat apapun selain dari tambahan ilmu. Allah <em>Ta’âlâ </em>berfirman,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Dan katakanlah, “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”.”</em> (<strong>QS. Thôhâ : 114</strong>)</p>
<p>Dan dengan ilmu syari’at itulah diraihnya berbagai derajat keutamaan di dunia dan akhirat. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”</em> (<strong>QS. Al-Mujâdilah :11</strong>)</p>
<p>Berkata Ibnul Qayyim <em>rahimahullâh</em>, “Sesungguhnya ilmu itu melapangkan dada dan meluaskannya sehingga ia menjadi lebih luas dari dunia. Dan kejahilan akan mewariskan kesempitan, keterbatasan dan keterkurungan. Kapan ilmu seorang hamba semakin luas maka dadanya akan semakin lapang dan lebih meluas. Namun ini bukanlah pada setiap ilmu, bahkan hanya pada ilmu yang terwarisi dari Ar-Rasul <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> yaitu ilmu yang bermanfaat. Orang-orang yang berilmu (merekalah) yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling indah akhlaknya dan paling baik kehidupannya.” <a href="http://an-nashihah.com/#_ftn3">[3]</a></p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>4. </strong><strong>Kecintaan Kepada Allah.</strong></li>
</ol>
<p>Salah satu sifat yang wajib dimiliki oleh seorang yang beriman bahwa kecintaannya kepada Allah adalah yang terbesar dan melebihi kecintaannya kepada seluruh makhluk. Allah berfirman,</p>
<p dir="rtl"></p>
<p><em>“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.”</em> (<strong>QS. Al-Baqarah :165</strong>)</p>
<p>Kecintaannya kepada Allah tersebut akan mengantar seorang hamba menuju kehidupan yang sangat indah, kelapangan hati dan ketenangan jiwa karena rongga hatinya hanya terpenuhi oleh kecintaan kepada Allah dan ketergantungan kepada-Nya. Wajarlah bila Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءُ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Tiga (sifat) yang tidaklah terdapat pada seseorang, pasti ia akan mendapatkan kelezatan iman; hendaknya Allah dan Rasul-Nya yang paling ia cintai melebihi selain keduanya, dan ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan hanya karena Allah, serta ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.”</em> <a href="http://an-nashihah.com/#_ftn4">[4]</a></p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>5. </strong><strong>Senantiasa bertaubat.</strong></li>
</ol>
<p>Menyadari kekurangan, menyesali kesalahan dan bertaubat kepada Yang Maha Mencipta adalah diantara sifat-sifat yang memberikan berbagai keajaiban dalam kehidupan seorang hamba dan sangat menerangi hati serta melapangkan dadanya. Karena itu, sikap senantiasa bertaubat sangat ditekankan dalam tuntunan syari’at Islam yang mulia. Allah menjamin keberuntungan bagi orang-orang yang senatiasa bertaubat,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Dan bertaubatlah kalian sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.”</em> (<strong>Q.S. An-Nûr :31</strong>)</p>
<p>Dari doa Nabi Ibrahim <em>‘alaissalâm</em> untuk mengujudkan keamanan dan kesejahteraan pada negeri Mekkah yang dirintisnya,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan berilah taubat untuk kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”</em> (<strong>Q.S. Al-Baqarah :128</strong>)</p>
<p>Dan sangatlah indah kehidupan orang-orang yang bertaubat tatkala sifat mulia mereka itu akan memberikan berbagai keutamaan dan kenikmatan sebagai hamba-hamba yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”</em> (<strong>Q.S. Al-Baqarah :222</strong>)</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>6. </strong><strong>Dzikir.</strong></li>
</ol>
<p>Dzikir adalah penyejuk hati dan penenang jiwa. Allah <em>Subhânahu</em><em> Wa</em><em> Ta’âlâ</em> berfirman,</p>
<p dir="rtl">
<p><em>“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tenteram.”</em> (<strong>Q.S. Ar-Ra’d :28</strong>)</p>
<p>Dengan dzikir seorang hamba akan mendapatkan pengampunan dan pahala yang sangat besar,</p>
<p dir="rtl"></p>
<p><em>“…dan laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”</em> (<strong>Q.S. Al-Ahzâb :35</strong>)</p>
<p>Dan keberuntungan bagi orang-orang yang banyak berdzikir,</p>
<p><em>Dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian beruntung.”</em> (<strong>Q.S. Al-Jumu’ah :10</strong>)</p>
<p>Dan sungguh dzikir membuat hati seorang hamba menjadi lapang dan bersinar tanpa ada kerugian seperti yang terjadi pada orang-orang lalai,</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”</em> (<strong>Q.S. Al-Munâfiqûn :9</strong>)</p>
<p>&#160;</p>
<ol>
<li><strong>7. </strong><strong>Berbuat baik kepada Makhluk.</strong></li>
</ol>
<p>Memberi manfaat kepada makhluk dengan harta, badan, kedudukan dan selainnya dari berbagai bentuk perbuatan baik adalah hal yang sangat melapangkan dada seorang hamba dan meneranginya. Karena itu Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> memerintah dalam firman-Nya,</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menyuruh untuk berlaku adil, <strong>berbuat kebajikan</strong>, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.”</em> (<strong>Q.S. An-Nahl :90</strong>)</p>
<p>Dan Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl"><strong>إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةِ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةِ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ</strong></p>
<p><em>“Sesusngguhnya Allah telah menetapkan untuk berbuat kebajikan terhadap segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh perbaiklah cara membunuhnya, apabila kalian menyembelih perbaiklah cara menyembelihnya dan hendaknya salah seorang dari kalian mempertajam pisaunya dan membuat tenang sembelihannya.”</em> <a href="http://an-nashihah.com/#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Dan di akhirat kelak Allah menjanjikan,</p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air,</em> <em>sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik.”</em> (<strong>Q.S. Adz-Dzâriyât :15-16</strong>)</p>
<p>&#160;</p>
<p>Demikian beberapa pilar pelapang dada seorang mukmin. Dan perlu diketahui bahwa segala perkara yang bertentangan dengan apa yang disebutkan di atas pasti akan memberikan kesempitan, kesesakan dan gundah gulana. Karena itu, tidak seorang pun yang lebih sempit hatinya dari pelaku kesyirikan. Dan siapa yang berpaling dari Al-Qur`ân dan As-Sunnah maka ia akan senantiasa berada dalam berbagai kesengsaraan. Orang yang tidak memiliki ilmu syar’iy akan jauh dari makna ketenangan. Hati yang tergantung kepada selain Allah akan merasakan berbagai kepedihan dan kepahitan. Dan hati yang lalai dari dzikir kepada Allah bagaikan ikan yang dipisahkan dari air. Dan jeleknya hubungan dengan makhluk lain akan melahirkan berbagai problem dalam kehidupan. Dan demikianlah seterusnya.</p>
<p>Tentunya banyak tuntunan pelapang dada yang belum bisa diuraikan disini. Namun kami berharap keterangan-keterangan di atas bisa menjadi pencerahan dan penyenjuk bagi setiap muslim dan muslim dalam mempersiapkan bekal untuk menyonsong kehidupan kekal abadi di akhirat kelak. <em>Waffaqallâhu Al-Jamî’ li mâ yuhibbihu wa yardhâhu</em>.</p>
<p><strong>وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.</strong></p>
<hr size="1" /><a href="http://an-nashihah.com/#_ftnref1">[1]</a> Dalam kitabnya <strong><em>Zâdul Ma’âd</em></strong> 2/22-26, cet. Ke-3 dari Mu`assah Ar-Risalah</p>
<p><a href="http://an-nashihah.com/#_ftnref2">[2]</a> Diriwayatkan oleh Ahmad 4/126, Ibnu Mâjah no. 5, 43, Ibnu Abi ‘Âshim no. 48-49 dan Al-Hâkim 1/96 dari hadits Abu Dardâ` <em>radhiyallâhu ‘anhu</em>. Dan dishohihkan oleh Al-Albâny dalam <strong><em>Zhilâlul Jannah</em></strong> 1/27.</p>
<p><a href="http://an-nashihah.com/#_ftnref3">[3]</a> <strong><em>Zâdul Ma’âd</em></strong> 2/23</p>
<p><a href="http://an-nashihah.com/#_ftnref4">[4]</a> Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik <em>radhiyallâhu ‘anhu</em>.</p>
<p><a href="http://an-nashihah.com/#_ftnref5">[5]</a> Hadits Syaddâd bin Aus <em>radhiyallâhu ‘anhu</em> riwayat Muslim.</p>
<p><strong>Ust. Dzulqarnain Bin Muhammad Sanusi</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
