<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>akhlaq-muslim &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/akhlaq-muslim/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "akhlaq-muslim"</description>
	<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 18:11:02 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Indahnya Hidup Bersahaja, Indahnya Dunia]]></title>
<link>http://mediamuslim.wordpress.com/2009/10/25/indahnya-hidup-bersahaja-indahnya-dunia/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 00:28:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslim</dc:creator>
<guid>http://mediamuslim.wordpress.com/2009/10/25/indahnya-hidup-bersahaja-indahnya-dunia/</guid>
<description><![CDATA[Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kita tidak perlu bercita-cita membangun kota Jakarta, lebih baik kita bercita-cita tiap orang bisa membangun dirinya sendiri. Paling minimal punya daya tahan pribadi terlebih dahulu. Karenanya sebelum ia memperbaiki keluarga dan lingkungannya minimal dia mengetahui kekurangan dirinya. Jangan sampai kita tidak mengetahui kekurangan sendiri. Jangan sampai kita bersembunyi dibalik jas, dasi dan merk. Jangan sampai kita tidak mempunyai diri kita sendiri. Jadi target awal dari pertemuan kita adalah membuat kita berani jujur kepada diri sendiri. Mengapa demikian?</p>
<p>Sebab seorang bapak tidak bisa memperbaiki keluarganya, kalau ia tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan mengharap memperbaiki keluarga kalau memperbaiki diri sendiri saja tidak bisa. Bagaimana berani memperbaiki diri, jika tidak mengetahui apa yang mesti diperbaiki.<!--more--><br />
Kita harus mengawali segalanya dengan egois dahulu, sebab kita tidak bisa memperbaiki orang lain kalau diri sendiri saja tidak terperbaiki. Seorang ustad akan terkesan omong kosong, jika ia berbicara tentang orang lain agar memperbaiki diri sedang ia sendiri tidak benar. Dalam bahasa Al-Qur’an, &#8220;Sangat besar kemurkaan Allah terhadap orang berkata yang tidak diperbuatnya&#8221;.</p>
<p>Mudah-mudahan seorang ibu yang tersentuh mulai mengajak suaminya. Seorang anak mengajak orang tuanya, di kantor seorang bos yang berusaha memperbaiki diri diperhatikan oleh bawahannya dan membuat mereka tersentuh. Seorang kakek dilihat oleh cucunya kemudian tersentuh.</p>
<p>Mudah-mudahan dengan kegigihan memperbaiki diri nantinya daya tahan rumah mulai membaik. Kalau sudah daya tahan rumah membaik insyaAllah, kita bisa berbuat banyak untuk bangsa kita ini. Mudah-mudahan nanti setiap rumah tangga visinya tentang hidup ini menjadi baik.</p>
<p>Tahap selanjutnya adalah mau dibawa kemana rumah tangga kita ini, apakah mau bermewah-mewahan, mau pamer bangunan dan kendaraan atau rumah tangga kita ini adalah rumah tangga yang punya kepribadian yang nantinya akan menjadi nyaman. Jangan sampai rumah tangga kita ini menjadi rumah tangga yang hubuddunya, karena semua penyakit akarnya dari cinta dunia ini. Orang sekarang menyebutnya materialistis.</p>
<p>Bangsa ini roboh karena pecinta dunianya terlalu banyak. Acara tv membuat kita menjadi yakin bahwa dunia ini alat ukurnya adalah materi. Pelan tapi pasti kita harus mulai mengatakan dunia ini tidak ada apa-apanya. Di dunia ini kita hanya mampir. Dengan konsep yang kita kenal yaitu rumus ‘tukang parkir’. Yang tadinya bangga dengan merk menjadi malu dengan topeng yang dikenakannya. Nanti pelan-pelan akan<br />
menjadi begitu.</p>
<p>Bukannya kita harus hidup miskin. Nanti akan terjadi suasana di rumah tidak goyah, lebih sabar, melihat dunia menjadi tidak ada apa-apanya dan tidak sombong. Lihat kembali rumus ‘tukang parkir’<br />
, ia punya mobil tidak sombong, mobilnya ganti-ganti tidak takabur, diambil satu persatu sampai habis tidak sakit hati. Mengapa ? karena tukang parkir tidak merasa memiliki hanya tertitipi.</p>
<p>Ketika melihat orang kaya biasa saja karena sama saja cuma menumpang di dunia ini jadi tidak menjilat, kepada atasan tidak minder, suasana kantor yang iri dan dengki jadi minimal.<br />
<span style="font-weight:bold;"><br />
Saudara-saudaraku Sekalian,</span><br />
Jadi visi kita terhadap dunia ini akan berbeda. Kita tidak bergantung lagi kepada dunia, tidak tamak, tidak licik, tidak serakah. Hidup akan bersahaja dan proporsional.</p>
<p>Sekarang kita sedang krisis, masa ini dapat menjadi momentum karena dengan krisis harga-harga naik, kecemasan orang meningkat, ini kesempatan kita buat berdakwah.</p>
<p>Mau naik berapa saja harganya tidak apa-apa yang penting terbeli. Jika tidak terjangkau jangan beli, yang penting adalah kebutuhan standar tercukupi. Orang yang sengsara bukan tidak cukup tetapi karena kebutuhannya melampaui batas. Padahal Allah menciptakan kita lengkap dengan rezekinya.</p>
<p>Mulai dari buyut kita yang lahir ke dunia tidak punya apa-apa sampai akhir hayatnya masih makan dan dapat tempat berteduh terus. Orang tua kita lahir tidak membawa apa-apa sampai saat ini masih makan terus, berpakaian, dan berteduh. Begitu pula kita sampai hari ini. Hanya saja disaat krisis begini kita harus lebih kreatif. Mustahil Allah menciptakan manusia tanpa rezekinya kita akan bingung menghadapi hidup. Semua orang sudah ada rezekinya.</p>
<p>Dan barangsiapa yang hatinya akrab dengan Allah dan yakin segala sesuatu milik Allah, tiada yang punya selain Allah, kita milik Allah. Kita hanya mahluk dan yang membagi, menahan dan mengambil rezeki adalah Allah. Orang yang yakin seperti itu akan dicukupi oleh Allah.</p>
<p>Jadi kecukupan kita bukan banyak uang, tetapi kecukupan kita itu bergantung dengan keyakinan kita terhadap Allah dan berbanding lurus dengan tingkat tawakal. Allah berjanji &#8220;Aku adalah sesuai dengan prasangka hamba-Ku&#8221;. Jadi jangan panik. Allah penguasa semesta alam.</p>
<p>Ini kesempatan buat kita untuk mengevaluasi pola hidup kita. Yang membuat kita terjamin adalah ketawakalan. Jadi yang namanya musibah bukan kehilangan uang, bukan kena penyakit, musibah itu adalah hilangnya iman. Dan orang yang cacat adalah yang tidak punya iman, ia gagal dalam hidup karena tidak mengerti mau kemana.</p>
<p>Jadi kita tidak punya alasan untuk panik. Krisis seperti ini ada diman-mana, kita harus kemas agar berguna bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan yang terbaik terjadi pada diri kita, tapi kita bisa kemas agar menjadi yang terbaik bagi diri kita. Kita tidak bisa mengharapkan orang menghormati kita, tapi kita bisa membuat penghinaan orang menjadi yang terbaik bagi diri kita.</p>
<p>Hal pertama yang harus kita jadikan rahasia kecukupan kita adalah ketawakalan kita dan kedua adalah prasangka baik kepada Allah, yang ketiga adalah Lainsakartum laadziddanakum,&#8221;Barangsiapa yang pandai mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan membuka nikmat lainnya. Jadi jangan takut dengan belum ada, karena yang belum ada itu mesti ada kalau pandai mensyukuri yang telah ada.</p>
<p>Jadi dari pada kita sibuk memikirkan harga barang yang naik lebih baik memikirkan bagaimana mensyukuri yang ada. Karena dengan mensyukuri nikmat yang ada akan menarik nikmat yang lainnya. Jadi nikmat itu sudah tersedia. Jangan berpikir nikmat itu uang. Uang bisa jadi fitnah. Ada orang yang dititipi uang oleh Allah malah bisa sengsara, karena ia jadi mudah berbuat maksiat. Yang namanya nikmat itu adalah sesuatu yang dapat membuat kita dekat dengan Allah. Jadi jangan takut soal besok/lusa, takutlah jika yang ada tidak kita syukuri.</p>
<p>Satu contoh hal yang disebut kurang syukur dalam hidup itu adalah kalau hidup kita itu Ishro yaitu berlebihan, boros, dan bermewah-mewahan. Hati-hati yang suka hidup mewah, yang senang kepada merk itu adalah kufur nikmat. Mengapa? Karena setiap Allah memberi uang itu ada hitungannya. Mereka yang terbiasa glamour, hidup mewah, yang senang kepada merk termasuk yang akan menderita karena hidupnya akan biaya tinggi. Pasti merk itu akan berubah-ubah tidak akan terus sama dalam dua puluh tahun. Harus siap-siap menderita karena akan mengeluarkan uang banyak utnuk mengejar kemewahannya, untuk menjaganya dan untuk perawatannya.</p>
<p>Dia juga akan disiksa oleh kotor hati yaitu riya&#8217;. Makin mahal tingkat pamernya makin tinggi. Dan pamer itu membutuhkan pikiran lebih, lelah dan tegang karena rampok akan berminat. Inginnya diperlihatkan tapi takut dirampok jadinya pening. Makin tinggi keinginan pamer makin orang lain menjadi iri/dengki. Pokoknya kalau kita terbiasa hidup mewah resikonya tinggi. Ketentraman tidak terasa. Hal yang bagus itu adalah yang disebut syukur yaitu hidup bersahaja atau proporsional. Kalau Amirul Mukminin hidupnya sangat sederhana, kalau seperti kita ini hidup bersahaja saja, biaya dan perawatan akan murah.</p>
<p>Kalau kita terbiasa hidup bersahaja peluang riyanya kecil. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Bersahaja tidak membuat orang iri. Dan anehnya orang yang bersahaja itu punya daya pikat tersendiri. Pejabat yang bersahaja akan menjadi pembicaraan yang baik. Artis yang sholeh dan bersahaja selalu bikin decak kagum. Ulama yang bersahaja itu juga membuat simpati.</p>
<p>Juga harus hati-hati kita sudah capai-capai hidup glamor belum tentu dipuji bahkan saat sekarang ini akan dicurigai.Yang paling penting sekarang ini kita nikmati budaya syukur dengan hidup proporsional.</p>
<p>Jangan capai dengan gengsi, hal itu akan membuat kita binasa. Miliki kekayaan pada pribadi kita bukan pada topeng kita. Percayalah rekan-rekan sekalian kita akan menikmati hidup ini jika kita hidup proporsional.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW tidak memiliki singgasana, istana bahkan tanda jasa sekalipun hanya memakai surban Tetapi tidak berkurang kemuliaanya sedikitpun sampai sekarang. Ada orang kaya dapat mempergunakan kekayaannya. Dia bisa beruntung jika ia rendah hati dan dermawan. Tapi ia bisa menjadi hina gara-gara pelit dan sombong. Ada orang sederhana ingin kelihatan kaya inilah yang akan menderita. Segala sesuatu dikenakan, segalanya dicicil, dikredit. Ada juga orang sederhana tapi dia menjadi mulai karena tidak meminta-minta, jadi terjaga harga dirinya. Dan ada orang yang mampu dan ia menahan dirinya ini akan menjadi mulia.</p>
<p>Mulai sekarang tidak perlu tergiur untuk membeli yang mahal-mahal, yang bermerk. Supermarket, mal dan sebagainya itu sebenarnya tidak menjual barang-barang primer. Allah Maha Menyaksikan.</p>
<p>Apa yang dianjurkan Islam adalah jangan sampai mubadzir. Rasul SAW itu kalau makan sampai nasi yang terakhir juga dimakan, karena siapa tahu disitulah barokahnya. Kalau kita ke undangan pesta jangan mengambil makanan berlebihan. Ini sangat tidak islami. Memang kita enak saja rasanya tapi demi Allah itu pasti dituntut oleh Allah. Dan itu mempengaruhi struktur rezeki kita, karena kita sudah kufur nikmat. Kita harus bisa mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita karena tidak ada yang kecil dimata Allah. Tidak ada pemborosan karena semua dihitung oleh Allah.</p>
<p>Contohnya mandi, kalau bisa bersih dengan lima sampai tujuh gayung tapi mengapa harus dua puluh gayung. Kita mampu beli air tetapi bukan untuk boros. Ini penting kalau ingin barokah rezekinya, hematlah kuncinya.</p>
<p>Kalau merokok biaya yang kita keluarkan adalah besar hanya untuk membuang asap dari mulut kita. Jangan cari alasan. Seharusnya sudah saatnya berhenti merokok. Cobalah ingat ini uang milik Allah.</p>
<p>Kemudian sabun mandi, jangan memakai sesuka kita, takarlah atau kalau perlu pakai sabun batangan. Kenapa kalau kita bisa hemat tidak kita lakukan. Uang penghematan kita bisa gunakan untuk sedekah atau menolong orang yang lebih membutuhkan. Sedekah itu tidak akan mengurangi harta kita kecuali bertambah dan bertambah.</p>
<p>Ini pelajaran supaya hidup kita dijamin oleh Allah. Kita tidak bisa terjamin oleh harta/tabungan, kalau Allah ingin membuat penyakit seharga dua kali tabungan kita sangat gampang bagi Allah. Tidak ada yang dapat menjamin kita kecuali Allah oleh karena itu jangan merasa aman dengan punya tabungan, tanah, dan warisan. Dengan gampang Allah dapat mengambil itu semua tanpa terhalang. Aman itu justru kalau kita bisa dekat dengan Allah. Mati-matian kita jaga kesehatan, kalau Allah inginkan lain gampang saja. Semua harta tidak bisa kita nikmati, tetapi kalau Allah melindungi kita Insya Allah.</p>
<p>Marilah hidup hemat, tetapi hemat bukan berarti pelit. Proporsional atau adil adalah puncak dari ahlak Contohnya HP, kalau tidak terlalu perlu jual saja lagi. Janganlah dimiliki kalau hanya untuk gaya saja. Penghematan akan mengundang barokah inilah yang disebut syukur nikmat. Tujuan bukan mencari uangnya tetapi mempertanggung jawabkan setiap rupiah yang Allah titipkan.</p>
<p>Hal lain yang membuat barokah adalah jika kita dapat mendayagunakan semua barang-barang kita. Di gudang kita pasti banyak barang yang tidak kita pakai tetapi sayang untuk dibuang. Coba lihat lemari pakaian kita banyak baju-baju lama, begitu juga sepatu-sepatu lama kita. Keluarkanlah barang-barang yang tidak berharga tersebut.</p>
<p>Misalkan dirumah kita ada panci yang sudah rongsokan, jika kita keluarkan ternyata merupakan panci idaman bagi orang lain. Di rumah kita tidak terpakai tetapi jika dipakai orang lain dengan kelapangannya dan mengeluarkan doa bisa jadi itulah yang membuat kita terjamin.</p>
<p>Kalau kita ikhlas, demi Allah itu lebih menjamin rezeki kita daripada tidak terpakai di rumah. Setiap barang-barang yang tidak bermanfaat tetapi bermanfaat bagi orang lain itulah pengundang rezeki kita. Bersihkan rumah kita dari barang-barang yang tidak berguna. Lebih baik rusak digunakan orang lain daripada rusak dibiarkan di rumah, itu akan barokah rezekinya.</p>
<p>Ini kalau kita ingin terjamin, namanya teori barokah. Kita tidak akan terjamin dengan teori ekonomi manapun. Sudah berapa banyak sarjana ekonomi yang dihasilkan oleh universitas di negeri ini tetapi Indonesia masih saja babak belur.</p>
<p>Rumusnya pertama adalah bersahaja, kedua adalah total hemat, ketiga adalah keluarkan yang tidak bermanfaat, yang keempat adalah setiap kita mengeluarkan uang harus menolong orang lain atau manfaat.</p>
<p>Kalau mau belanja niatkan jangan hanya mencari barang tetapi juga menolong orang. Belilah barang di warung pengusaha kecil yang dapat menolong omzetnya. Hati-hati dengan menawar, pilihannya kalau itu merupakan hal yang adil. Jangan bangga kalau kita berhasil menawar. Nabi Muhammad SAW bahkan kalau beli barang dilebihkan uangnya dari harga barang yang sebenarnya. Tidak akan berkurang harta dengan menolong orang. Jangan memilih barang-barang yang bagus semua pilihlah yang jeleknya sebagian. Kita itu untung jika membuat sebanyak mungkin orang lain untung. Jangan jadi bangga ketika kita sendiri untung orang lain tidak.</p>
<p>Jika kita jadi pengusaha, kita jadi kaya ketika karyawannya diperas tenaganya, gajinya hanya pas buat makan, sedang kita berfoya-foya, demi Allah kita akan rugi. Pengusaha Islam sejati tidak akan berfoya-foya, ia akan menikmati karyawannya sejahtera. Sehingga tidak timbul iri, yang ada adalah cinta. Cinta membuat kinerja lebih bagus, perusahaan lebih sehat. Kalau kapitalis, pengusahanya bermewah-mewah ketika bawahannya menderita. Jadi timbul dendam dan iri setiap ada kesempatan akan marah seperti yang terjadi di Bandung kemarin. Tetapi kalau kita senang mensejahterakan mereka, anaknya kita sekolahkan. Dia merasa puas dan itulah namanya keuntungan.</p>
<p>Jadi mulai sekarang setiap membelanjakan uang harus menolong orang, membangun ekonomi umat. Jadi setiap keluar harus multi manfaat bukan hanya dapat barang. Dengan membeli barang di warung kecil mungkin uangnya untuk menyekolahkan anaknya, membeli sejadah, membeli mukena, Subhanallah.<br />
<span style="font-weight:bold;"><br />
Saudara-saudaraku Sekalian,</span><br />
Jadi krisis seperti ini akan berdampak positif kalau kita bisa mengemasnya dengan baik. Nantinya ketika strategi rumah kita sudah bersahaja, kehidupan kita jadi efisien, anak-anak terbiasa hidup hemat, kita di rumah tidak mempunyai beban dengan banyaknya barang.</p>
<p>Barang yang ada di rumah harus ada nilai tambahnya, bukan biaya tambah. Setiap blender harus ada nilai produktifnya misalnya untuk membuat jus kemudian dijual, pasti barokah. Bukannya membuat biaya tambah karena harus diurus, dirawat dan membutuhkan pengamanan, barang yang seperti ini tidak boleh ada di rumah kita. Rezeki kita pasti ada tinggal kita kreatif saja. Tidak perlu panik Allah Maha Kaya.</p>
<p>Sebagai amalan lainnya, dalam situasi sesulit apapun tetaplah menolong orang lain karena setiap kita menolong orang lain kita pasti ditolong oleh Allah. Jika makin pahit, makin getir harus makin produktif bagi orang lain. Baik sukses maupun tidak tetap lakukan dimanapun kita berada. Ketika kita sedang berjalan kaki, kemudian ada mobil yang hendak parkir bisa kita beri aba-aba. Ketika kita menyetir mobil ada yang mau menyebrang, dahulukan saja, kita tidak tahu apa yang akan menimpa kita esok hari. Ketika kita sedang mengantri ada orang yang memotong, berhentilah sebentar, dengan mengalah berhenti barang lima menit tetapi membuat banyak orang bahagia.</p>
<p>Jadi insya Allah kalau hati kita sudah berbenah baik, krisis ini akan lebih membuat hidup kita lurus. Hidup ini tidak akan kemana-mana kecuali menunggu mati. Latihlah supaya kita sadar bahwa kita pasti mati tidak membawa apa-apa. Kita hanya mampir sebentar di dunia ini.</p>
<p>Alhamdulilahirobil’alamin</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Etika Berbeda Pendapat]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/02/etika-berbeda-pendapat/</link>
<pubDate>Thu, 02 Aug 2007 11:30:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/08/02/etika-berbeda-pendapat/</guid>
<description><![CDATA[  MediaMuslim.Info &#8211; Di saat berbeda pendapat baik dalam suatu majelis atau bukan, sebagai seo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--StartFragment --> </p>
<table class="contentpaneopen">
<tr>
<td colSpan="2" vAlign="top">
<p align="justify"><span><span><span><span><span class="datasimp"><a target="_blank" href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span></span></span></span>Di saat berbeda pendapat baik dalam suatu majelis atau bukan, sebagai seorang muslim kita berupaya untuk ikhlas dan mencari yang haq serta melepaskan diri dari nafsu  dan juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan nafsu.<!--more--></p>
<p align="justify" class="MsoNormal">Seorang muslim haruslah mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab Al-Qur&#8217;an dan Sunnah. Karena Alloh <em>Subhaanahu wa Ta&#8217;ala</em> telah berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Kitab) dan Rasul&#8221;.</em> (QS: An-Nisa: 59).</p>
<p>Seorang muslim berupaya berbaik sangka kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita dan tidak menuduh buruk niatnya, mencela dan menganggapnya cacat. Sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperuncing perselisihan, yaitu dengan cara menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau yang dinisbatkan kepadanya dengan tafsiran yang baik.</p>
<p>Seorang muslim berusaha sebisa mungkin untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah penelitian yang dalam dan difikirkan secara matang. Berlapang dada di dalam menerima kritikan yang ditujukan kepada anda atau catatan-catatang yang dialamatkan kepada anda.</p>
<p>Sedapat mungkin menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah dan fitnah. Berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari perdebatan, bantah-membantah dan kasar menghadapi lawan.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari; Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan)</td>
</tr>
</table>
<p><span class="article_seperator"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BerAkhlaq Luhur]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/07/28/berakhlaq-luhur/</link>
<pubDate>Sat, 28 Jul 2007 03:00:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/07/28/berakhlaq-luhur/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Muslim yang benar selalu menampilkan budi yang baik, perangai yang lembut, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span><span><span><span><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span></span></span></span>Muslim yang benar selalu menampilkan budi yang baik, perangai yang lembut, perkataan yang lembut, perkataan yang halus dan ramah. Nabi  manusia yang harus dijadikan panutan dan idola kaum muslimin telah banyak mencontohkan perbuatan perbuatan yang mulia diatas untuk menuntun umatnya.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal" align="justify">Anas <em>Radiyallahu &#8216;anhu</em>, sahabat sekaligus  pembantu setia nabi <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em>, mengatakan bahwa beliau merupakan manusia yang paling baik ahlaknya. Anas <em>Radiyallahu &#8216;anhu</em> menceritakan: <em>&#8220;Aku telah membantu Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> <em>selama sepuluh tahun .selama itu pula tak pernah sekalipun meluncur dari lisan beliau kepadaku kata “ah”dan beliau tak pernah megatakan untuk suatu yang kerjakan mengapa engkau lakukan hal itu ?”tidak pula untuk suatu yang aku kerjakan “mengapa kamu tidak melakukannya?&#8221;</em> (HR: Muttafaq alaih).</p>
<p><span>Rasululloh <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> selalu menjauhi perbuatan maupun ucapan yang kotor. Abdullaah Bin Amru bin Ash <em>Radiyallahu &#8216;anhu</em> meriwayatkan bahwa nabi  <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> telah bersabda, yang artinya:<em> &#8220;S</em></span><span><em>esungguhnya yang termasuk insane piliha diantara kamu sekalian adalh yang terbaik ahlaqnya&#8221;</em> (HR: Muttafaq alaih).</p>
<p></span>Dalam riwayat lain, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari islam dan sesungguhnya sebaik-baiknya manusia keislamannya adalah yang baik ahlaqnya&#8221;</em> (HR: Thabrani ,Ahmad, Abu ya’la).</p>
<p>Dalam riwayat lain pula, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya yang aku cintai di antara kalian dan paling dekat kedudukannya dengan ku dihari kiamat adalah yang paling baik ahlaqnya. Dan yang paling benci dan jauh dariku dihari kiamat adalah yang banyak bicara dan berlagak sombong serta bertele tele dalam berbicara.”bertanya pera sahabat:”ya Rasululloh, kami tahu apa yang dinamakan “Ats tsartsaarun wal mutasyaddiqun (banyak bicara dan bertele-tele),lalu apakah arti mutafaihaiqun’?’”Rasululloh menjawab.”Almutakabbirun (sombong).&#8221; </em>(HR: Tirmidzi).</p>
<p>Semua sahabat Rasululloh <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam &#8211;</em>yang diridhoi Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala&#8211;</em>  selalu tekun mendengar dan mengikuti bimbingan ahlak yang mulia dari beliau. Mereka menyaksikan sendiri ketinggian akhlaq beliau. Mereka dengan penuh kesadaran dan semangat, berbuat sesuai deangan ajaran beliau, meneladani baliau, sehinga waktu itu tegaklah suatu masyarakat Islam yang indah, adil yang tidak bisa dilupakan didalam sejarah umat manusia.</p>
<p>Anas <em>Radiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: <em>&#8220;Nabi  penuh dengan sifat belas kasih, tak ada seorangpun mendatangi beliau kecuali beliau telah menjanjikan dan memenuhi janjinya jika telah berjanji jikatelah berjanji dengan saorang meskipun beliau sedang mendirikan shalat. Pernah datang saorang arab badui kepada beliau, lalu menarik baju beliau seraya berkata: sesungguhnya aku tetap akan melaksanakan hajatku  (sekarang juga), aku takut lupa, maka Nabi berdiri bersamanya sehingga ia menyelesaikan hajatnya kemudian beliau menghadap kiblat dan meneruskan Shalat&#8221; </em>(HR: Bukhari).</p>
<p>Tidak nampak pada diri Rasululloh <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam </em>rasa keberatan sedikitpun untuk mendengar orang arab itu dan menyelesaikan hajatnya, padahal beliau tengah mendirikan sholat. Tidaklah sempit dadanya mendapat perlakuan kasar laki-laki tersebut yang menarik bajunya, dan menunggu menyelesaikan hajatnya sebelum shalat. Beliau bersabar, lembut dalam membengun masyarakat yang tegak atas moral yang suci. Beliau mendidik kaum muslimin melalui perbuatan nyata, bagaimana seharusnya saorang muslim membantu sesama saudaranya. Dia telah menegakkkan suatu prinsip dan sendi-sendi akhlaq yang diperlukan bagi masyarakat muslim yang kokoh.</p>
<p>Jika kita lihat, kebajikan moral pada masyarakat bukan muslim selalu berpulang kepada kebaikan system pendidikan, dan hasil kerja ilmiah. Sedangkan pada masyarakat muslim, sebelum dikembalikan kepada unsur-unsur tersebut, terlebih dulu masalah-masalah itu kembalikan kepada agama yang menjadikan akhlaq sebagai tabiat asli kaum muslimin dan akhlak memproleh kedudukan yang tinggi dalam Islam, akhlaq memiliki berat bobot timbangan disisi Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Rasululloh <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> telah bersabda, yang artinya:<em> &#8221;Tiada sesuatu yang lebih berat timbanganya bagi saorang muslim dihari kiamat daripada keluhuran ahlaknya.dan allah membenci orang yang keji dalam ucapan ataupun perbuatannya&#8221;</em> (HR: Thabrani).</p>
<p><span>Rasululloh <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam </em>sangat menekankan pada perkara akhlaq ini. Semua beliau lakukan dengan berbagai acara baik dengan lisan maupun perbuatan nyata sehingga beliau berhasil meresapkan ajaran beliau kelubuk hati hati para sahabatnya sekaligus pengikutnya, mensucikan jiwa mereka dan memperindah akhlaq mereka.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Etika Berbeda Pendapat]]></title>
<link>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/07/19/etika-berbeda-pendapat/</link>
<pubDate>Thu, 19 Jul 2007 06:18:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslim</dc:creator>
<guid>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/07/19/etika-berbeda-pendapat/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Di saat berbeda pendapat baik dalam suatu majelis atau bukan, sebagai seora]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Di saat berbeda pendapat baik dalam suatu majelis atau bukan, sebagai seora]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BerAkhlaq Luhur]]></title>
<link>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/07/19/berakhlaq-luhur/</link>
<pubDate>Thu, 19 Jul 2007 06:17:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslim</dc:creator>
<guid>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/07/19/berakhlaq-luhur/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Muslim yang benar selalu menampilkan budi yang baik, perangai yang lembut, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Muslim yang benar selalu menampilkan budi yang baik, perangai yang lembut, ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Jujur, Salah Satu Akhlaq Muslim]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/07/10/jujur-salah-satu-akhlaq-muslim/</link>
<pubDate>Tue, 10 Jul 2007 10:33:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/07/10/jujur-salah-satu-akhlaq-muslim/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span><span><span><span><span><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span></span></span></span>Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku jujur hingga ia disebut shiddiq (orang yang senantiasa jujur). Sedang dusta mengantarkan kepada perilaku menyimpang (dzalim) darn perilaku menyimpang mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seseorang biasa berlaku dusta hingga ia disebut pendusta besar.</span><!--more--></p>
<p align="justify"><span>Untaian kata-kata diatas adalah hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>RadhiyAllohu &#8216;anhu </em>yang terhimpun dalam Kitab Hadits </span><span><span>Bukhari, Muslim dan Tirmidzi. </span><span>(HR Bukhari dalam shahihnya bab Adab subbab 69, jilid VII, hal 95. HR Muslim dalam shahihnya bab Al-Birr subbab 29, hadits nomor 104, jilid IV hal 2012-2013, dan HR Tirmidzi dalam sunannya bab Al-Birr subbab 46 hadits nomor 1971 jilid IV hal 347)</p>
<p></span><span>Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman, yang artinya:<em> &#8220;Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur&#8221;</em> (QS: At-Taubah: 119). </span><span>Dalam ayat lain, Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Jikalau mereka jujur kepada Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka&#8221;</em> (QS: Muhammad: 21)</p>
<p></span><span><strong>Jujur ialah kesesuaian ucapan dengan hati kecil dan kenyataan objek yang dikatakan</strong> (Fathul Baari, jilid X, hal 507).</p>
<p></span><span>Berkaitan dengan makna hadits di atas, ulama mengatakan bahwa sikap jujur dapat mengantarkan kepada amal shaleh yang murni dan selamat dari celaan. Sedang kata &#8220;al-birr&#8221; (kebaikan) adalah istilah yang mencakup seluruh kebaikan. Pendapat lain mengatakan bahwa &#8220;al-birr&#8221; berarti surga. sedangkan dusta dapat mengantarkan kepada perilaku menyimpang (kedzaliman).</p>
<p></span><span>Sikap jujur termasuk keharusan di antara sekian keharusan yang harus diterapkan oleh masyarakat, dia menjadi fundamen penting dalam membangun komunitas masyarakat. Tanpa sikap jujur, seluruh ikatan masyarakat akan terlepas. Karena tidak mungkin membentuk suatu komunitas masyarakat sedang mereka tidak berhubungan sesamanya dengan jujur.</p>
<p></span><span>Sikap jujur sebetulnya merupakan naluri setiap manusia. Cukup sebagai bukti bahwa anak kecil jika diceritakan tentang sosok seorang yang jujur di satu sisi dan di sisi lain diceritakan sosok seorang pendusta, engkau lihat, dia akan menyukai orang jujur dan membenci pendusta.</p>
<p></span><span>Al Marudzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal. &#8220;Dengan apakah seorang tokoh meraih reputasi hingga terus dikenang?&#8221;. Imam Ahmad menjawab singkat: &#8220;Dengan perilaku jujur&#8221;. Beliau melanjutkan bahwa &#8221;Sesungguhnya perilaku jujur terkait dengan sikap murah tangan (dermawan).&#8221; (Thabaqatul Habilah, jilid I, hal 58).</p>
<p></span><span>Imam Fudhail bin Iyadh berkata: &#8220;Seseorang tidak berhias dengan sesuatu yang lebih utama daripada kejujuran (Hilyatul Auliya, jilid VIII,hal 109).</p>
<p></span><span>Sahabat Bilal melamar wanita Quraisy (suku terhormat-red) untuk dinikahkan dengan saudaranya. Dia berkata kepada keluarga wanita Quraisy: &#8220;Kalian telah mengetahui keberadaan kami. Dahulu kami adalah para hamba sahaya lalu dimerdekakan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Kami dahulu adalah orang-orang tersesat lalu diberikan hidayah oleh Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Kami dulunya fakir lalu dijadikan kaya oleh-Nya. Kini akan melamar wanita fulanah ini untuk dijodohkan dengan saudaraku. Jika kalian menerimanya, maka segala puji bagi Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Dan bila kalian menolak, maka Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>Dzat Yang Maha Besar.</p>
<p></span><span>Anggota keluarga wanita itu tampak memandang satu dengan yang lainnya. Mereka lalu berkata: &#8220;Bilal termasuk orang yang kita kenal kepeloporan, kepahlawanan, dan kedudukannya di sisi Rasululloh <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Maka nikahkanlah saudara dengan puteri kita&#8221;. Mereka lalu menikahkan saudara Bilal dengan wanita Quraisy tersebut. Usai itu saudara Bilal berkata kepada Bilal: &#8220;Mudah-mudahan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> mengampuni. Apa engkau menuturkan kepeloporan dan kepahlawanan kami bersama dengan Rasululloh <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa Sallam</em>, sedang engkau tidak menuturkan hal-hal selain itu? </span><span>Bilal menjawab: &#8220;Diamlah saudaraku, kamu jujur, dan kejujuran itulah yang menjadikan kamu menikah dengannnya&#8221;. (Al Mustathraf, jilid I, hal 356).</p>
<p></span><span>Ismail bin Abdullah Al-Makhzumi berkata: &#8220;Khalifah Abdul Malik bin Marwan menyuruh aku mengajari anak-anaknya dengan kejujuran sebagaimana dia menyuruh aku membaca tulis Al-Qur&#8217;an serta menyuruh aku menghindarkan mereka dari dusta walaupun harus mati&#8221; (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 122, hal 27).</p>
<p></span><span>Rib&#8217;i bin Hirasy dikenal tidak pernah berdusta sama sekali. Suatu hari dua puteranya tiba dari Khurasan berkumpul dengannya., sedang keduanya adalah anak durhaka (nakal). Barangkali kedua anaknya menjadi pemberontak pemerintah. Seorang mata-mata lalu memberi kabar kepada Hajjaj. Katanya: &#8220;Wahai pimpinanku, masyarakat seluruhnya menganggap Rib&#8217;i bin Hirasy tidak pernah berdusta selamanya. Sementara saat ini kedua anaknya yang durhaka dan nakal datang dari Khurasan dan berkumpul dengannya&#8221;.</p>
<p></span><span>Hajjaj berkata: &#8220;Serahkan ia kepadaku&#8221;. Rib&#8217;i bin Hirasy lalu dibawa ke hadapan Hajjaj. Hajjaj bertanya: &#8220;Wahai orangtua&#8230;.&#8221;.<br />
</span><span>&#8220;Apa yang kau mau?&#8221; tanya Rib&#8217;i.</span></span><span><br />
</span><span><span>&#8220;Saat ini apakah yang dilakukan oleh kedua puteramu?&#8221; tanya Hajjaj dengan selidik.<br />
</span><span>Rib&#8217;i berkata jujur: &#8220;Tempat bermohon adalah Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Aku meninggalkan keduanya di rumah&#8221;.<br />
</span><span>&#8220;Tidak ada pidana. Demi Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, aku tidak menuduh buruk kepadamu mengenai dua anakmu. </span><span>Sekarang kedua anakmu terserah padamu. Keduanya bebas dari tuduhan pidana&#8221;. (Makarimul Akhlaq, hadits nomor 135, hal 29-30).</p>
<p>Semoga Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> memberikan<em> </em>kita kekuatan dan hidayah-Nya agar bisa sedikit demi sedikit memiliki sifat mulia ini dan mempertahankannya, baik dalam dakwah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Amin.</span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Sifat Malu "Yang Mulia"]]></title>
<link>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/05/21/sifat-malu-yang-mulia/</link>
<pubDate>Mon, 21 May 2007 06:18:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslim</dc:creator>
<guid>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/05/21/sifat-malu-yang-mulia/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info - Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MediaMuslim.Info - Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Sifat Malu "Yang Mulia"]]></title>
<link>http://mediamuslim.wordpress.com/2007/05/21/sifat-malu-yang-mulia/</link>
<pubDate>Mon, 21 May 2007 06:08:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslim</dc:creator>
<guid>http://mediamuslim.wordpress.com/2007/05/21/sifat-malu-yang-mulia/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info - Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--StartFragment --><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> - Manusia akan hidup dalam kebaikan selama rasa malu masih terpelihara, sebagaimana dahan akan tetap segar selama masih terbungkus kulitnya. Secara kodrat, kaum wanita sangat beruntung, dianugrahi fitrah penciptaannya  dengan rasa malu yang lebih dominan dibandingkan dengan pria. Namun, ironisnya, kini banyak sekali wanita yang justru merasa malu mempunyai sifat malu dan berusaha mencampakkan jauh-jauh sifat mulia dan terpuji itu. Sehingga, terlalu banyak kita jumpai saat ini kaum wanita yang lebih tidak tahu malu daripada laki-laki.<!--more--></p>
<p style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><strong>Malu adalah Iman<br />
</strong>Lunturnya sifat malu dalam masyarakat merupakan salah satu parameter degradasi iman. Sebab, rasa malu akan segera menyingkir dengan sendirinya tatkala iman sudah terkikis. Sebagaimana sabda Rasululloh <em>Shallallaahu alaihi wa Sallam</em>, yang artinya: <em>“Malu dan iman saling berpasangan. Bila salah satunya hilang, maka yang lain turut hilang.” </em>(HR: Hakim dalam kitab Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim dan Dzahabi menyepakatinya)</p>
<p>Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah melewati seorang laki-laki Anshar yang mencela sifat malu saudaranya. Maka Rasululloh <em>Shallallaahu alaihi wa Sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Tinggalkan dia. Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman.”</p>
<p></em>Dari Abi Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasululloh <em>Shallallaahu alaihi wa Sallam</em> bersabda, yang artinya:<em> “Iman itu ada tujuh puluh bagian. Yang paling tinggi adalah kalimat ‘la ilaha illallah’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri di jalan. Dan malu adalah bagian dari iman.”</em> (HR: Bukhari)</p>
<p><strong>Malu, Kunci Segala Kebaikan<br />
</strong>Malu merupakan penghalang seseorang untuk melakukan perbuatan dosa. Hasrat seseorang untuk berbuat dosa berbanding terbalik dengan rasa malu yang dimilikinya.</p>
<p>Abu Hatim berkata: “Bila manusia terbiasa malu, maka pada dirinya terdapat faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan. Sebaliknya orang yang tidak tahu malu dan terbiasa berbicara kotor maka pada dirinya tidak akan ada faktor-faktor yang mendorong pada kebaikan, yang ada hanya kejahatan.”</p>
<p>Muhammad Ibnu Abdullah Al-Baghdadi melantunkan syair sebagai berikut:<br />
<em>“Bila cahaya wajah berkurang,<br />
maka berkurang pula rasa malunya<br />
Tidak ada keindahan pada wajah,<br />
Bila cahayanya berkurang<br />
Rasa malumu peliharalah selalu,<br />
Sesungguhnya sesuatu yang menandakan kemuliaan seseorang,<br />
Adalah rasa malunya.”<br />
</em><br />
<em><strong>Bukannya Tidak Pede<br />
</strong></em>Mempunyai sifat malu <strong>bukan</strong> berarti menjadikan kita rendah diri, minder, atau nggak pede. Apalagi gara-gara ketidakpedean itu kita jadi urung melakukan kebaikan, amal shalih, dan menuntut ilmu. Jika hal itu terjadi pada diri kita, cobalah kita berintrospeksi, apakah sebenarnya malu yang kita rasakan itu karena Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>atau karena manusia. Misalnya saja kita malu memakai jilbab yang syar’I, malu menunjukkan jati diri sebagai seorang Pria Muslim atau malu pergi ke majelis ta’lim. Apakah malu yang demikian ini karena Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>atau hanya rasa malu, ketakutan dan kecemasan kita kepada selain-Nya? Padahal, malu kepada Alloh-lah yang seharusnya kita utamakan. Bukankah Alloh-lah yang paling berhak kita malui?</p>
<p>Al-Qurthubi <em>rahimahulloh</em> berkata: “Al-Musthafa (Nabi Muhammad) <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> adalah orang yang pemalu. Beliau menyuruh (umatnya) agar mempunyai sifat malu. Namun satu hal yang perlu diketahui bahwa malu tidak dapat merintangi kebenaran yang beliau katakan atau menghalangi urusan agama yang beliau jadikan pegangan sesuai dengan firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>“Dan Alloh tidak malu (menerangkan) yang benar”</em> (QS: Al-Ahzab: 53)”.</p>
<p>Sifat malu memang adakalanya harus disingkirkan, yaitu saat kita menuntut ilmu. Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah berkata: “Orang yang tidak tahu tidak selayaknya malu bertanya, dan orang yang ditanya tidak perlu malu bila tidak mengetahuinya untuk mengatakan: Saya tidak tahu”.</p>
<p>Imam Bukhari <em>rahimahulloh</em> berkata: “Orang yang pemalu dan sombong tidak akan bisa mempelajari ilmu.” Hal ini juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Ia berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu pada diri mereka tidak menghalangi mereka mendalami ilmu agama.” (Fathul Bari 1/229)</p>
<p><strong>Harus Ditumbuhkan<br />
</strong>Pengunjung Media Muslim INFO yang tercinta… sifat yang mulia ini selayaknyalah kita pupuk dengan baik dan kita jaga agar tidak musnah dari diri kita. Berbahagialah kita, jika kita terlahir sebagai sebagai seorang yang pemalu, yang berati kita telah mempunyai sifat dasar yang baik. Rasululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em> pernah bersabda kepada Asyaj dari bani Anshar, yang artinya: “Pada dirimu ada dua sifat yang Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>sukai.” Maka ia bertanya, “Apakah itu, wahai Rasululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam</em>?” Rasululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>menjawab; “Sabar dan malu”. Asyaj bertanya lagi, “Apakah kedua sifat itu sudah ada sejak dulu atau baru ada?”. Rasululloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa Sallam </em>menjawab, “Sejak dulu.” Asyaj berkata, “Puji syukur kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>yang telah memberiku dua sifat yang Allah sukai “ (HR: Ibnu Abi ‘Ashim).</p>
<p>Jika memang kita rasakan sifat itu kurang pada diri kita, maka tidak perlu khawatir karena sifat itu dapat ditumbuhkan. Dengan meningkatkan iman, <em>ma’rifatulloh</em>, dan pendekatan diri kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>sehingga dalam diri kita timbul kesadaran bahwa Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>senantiasa mengawasi, mengetahui segala sesuatu yang kita kerjakan dan yang kita simpan dalam hati maka akan tumbuhlah malu imani yang mampu mencegah seseorang berdosa karena takut pada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Wallahu a’lam.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Al-Qur&#8217;an, Fathul Bari, Hadits Bukhori dan Muslim dan berbagai sumber lainnya)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Menumbuhkan Cinta Kepada Rasululloh]]></title>
<link>http://mediamuslim.wordpress.com/2007/05/21/menumbuhkan-cinta-kepada-rasululloh/</link>
<pubDate>Mon, 21 May 2007 06:05:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslim</dc:creator>
<guid>http://mediamuslim.wordpress.com/2007/05/21/menumbuhkan-cinta-kepada-rasululloh/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Terkadang sebagian kita sulit namun ingin sekali bisa mencintai Rasululloh ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><tr>
<td colSpan="2" vAlign="top"></td>
<p align="justify"><span><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a target="_blank" href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Terkadang sebagian kita </span><span>sulit namun ingin sekali bisa mencintai Rasululloh <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> </span><span>tapi kenyataannya hampa. </span><span>Ada orang yang bilang tak kenal maka tak sayang, supaya jadi sayang maka ta’aruf (berkenalan). Tidak mungkin timbul rasa cinta tanpa mengenal yang dicintainya, sepakat tidak&#8230;?  membaca dan menghayati kisah-kisah Beliau </span><span>dalam Sirah Nabawiyah dapat menyuburkan taman hati dengan cinta kepada Rasululloh <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em></span><span>. Kehalusan tutur kata beliau, bagusnya akhlak beliau, sikap beliau terhadap keluarga, sahabat bahkan terhadap lawan, dan seabrek teladan lain yang beliau contohkan.<!--more--></span></p>
<p align="justify">Firman Alloh   <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: <em>“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari diri kalian sendiri, terasa berat olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (memberi manfaat dan mencegah bahaya) ununtuk kalian, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang beriman.”</em> (QS: At Taubah: 128)</p>
<p>Jangan lantas putus asa jika ternyata cinta kepada Rasululloh <em>shalallahu ‘alaihi wasalam </em>belum berbunga di hati kita. Tetaplah sabar mempelajari seluk beluk kehidupan beliau <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> sambil mencoba mengamalkan apa yang beliau ajarkan di dalam sunnahnya, misalnya buat yang kaum pria yaitu memelihara jenggot dan melaksanakan sholat lima waktu secara berjemaah di Masjid.</p>
<p>Perlahan tapi pasti, mengamalkan sunnah-sunnah Beliau <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> secara bertahap, mulai dari sejak bangun tidur sampai kembali tidur di malam hari. Mulai dari sunnah-sunnah yang dapat dengan mudah kita lakukan hingga sunnah-sunnah yang memerlukan pengorbanan ununtuk mengamalkannya.</p>
<p>Tidak ada orang yang bisa selamat hidupnya tanpa mengikuti sunnah Beliau <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em>. Dalam hadist Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> disebutkan, yang artinya:<em> “Aku telah meninggalkan kalian di atas agama yang terang nyata, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya, melainkan pasti binasa.” </em>(Shahihul Jami’: 58).</p>
<p>Orang yang mencintai kekasihnya akan berusaha melakukan segala perintah yang dicintainya. Bertingkah laku seperti yang dicintainya. Benci terhadap apa-apa yang tak disukai sang kekasih dan suka akan apa-apa yang disenanginya. Jadi, bukti cinta kepada Rasululloh <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> tidak lain dengan mentaati perintahnya dan menjauhi yang dilarangnya. Firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dalam Al-Qur&#8217;an, yang artinya:<em> &#8221;Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.&#8221; </em>(QS: Al-Hasyr: 7)</p>
<p>Kalo’ cinta seperti ini telah tumbuh berbunga, segala perintah dan larangan jadi terasa ringan dijalankan. Ketika Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dan RasulNya menyerukan suatu perintah, spontan kita sambut dan laksanakan. Firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya:<em> &#8221;Sesungguhnya jawaban orang-orang mu&#8217;min, bila mereka dipanggil kepada Alloh dan rasulNya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan &#8220;Kami mendengar, dan kami patuh.&#8221; Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.&#8221; </em>(QS: An-Nuur: 51)</p>
<p>Tidak membantah apalagi benci dan tidak pikir-pikir dulu soal untung-ruginya melaksanakan perintah. Dan jangan sampai separah ini, yaitu membuat aturan main sendiri yang tidak sesuai syari’at. Kalau sudah begini, cintanya masih tanda tanya doong&#8230;. coba simak firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu&#8217;min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu&#8217;min, apabila Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.&#8221;</em> (QS: Al-Ahzab: 36).</p>
<p>Kalo terpikir dalam benak kita, kenapa perintahnya terasa berat dan akal kita belum nyambung akan hikmah (manfaat) di balik perintah itu, kita jangan langsung tolak mentah-mentah. Akal manusia sangat terbatas, hanya Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang tahu hikmah itu semua, liat lagi firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.&#8221; </em>(QS: Al-Baqarah: 216).</p>
<p>Itulah pengorbanan yang sejati, bukti cinta kita kepada Rasululloh <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em>. Ringan memang jika dibaca doang dan berat terasa kalau tidak pernah coba untuk memulai. Jangan biarkan 5 huruf yang sangat dahsyat ini dipakai buat mencintai yang tidak layak dicintai. Semoga Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>berikan kita kemudahan untuk mencintai RasulNya dan mengamalkan sunnah-sunnahnya.</p>
<p>Ya Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sesungguhnya kami bersaksi bahwa kami mencintai Nabi kami Muhammad <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em>, para Sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan melaksanakan kebajikan. Ya Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sertakanlah kami dengan mereka, dan kumpulkanlah kami bersama golongan mereka, meskipun akhlak dan amal perbuatan kami tidak sepadan dengan akhlak dan amal perbuatan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Lagi Maha Mengabulkan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Tersenyumlah ...]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/05/11/tersenyumlah/</link>
<pubDate>Fri, 11 May 2007 08:28:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/05/11/tersenyumlah/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Tertawa sewajarnya merupakan obat kecemasan dan pelipur kesedihan. Dalam se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Tertawa sewajarnya merupakan obat kecemasan dan pelipur kesedihan. Dalam senyum terdapat kekuatan yang menakjubkan dalam menggembirakan jiwa dan menyenangkan hati, sehingga Abu darda berkata: &#8220;Sesungguhnya aku akan tertawa hingga hatiku akan terhibur.&#8221; Tertawa merupakan puncak keceriaan, kelegaan dan keriangan, asalkan tidak berlebihan, dengan sewajarnya, dan tidak di maksudkan mengejek atau mencemooh: &#8220;Jangan terlalu banyak tertawa, karena terlalu banyak tertawa akan mematikan hati.&#8221;<!--more--></p>
<p align="justify">Hakikatnya, Islam adalah agama yang dibangun atas dasar keseimbangan dan keadilan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak, maupun tingkah laku. Oleh karena itu, janganlah anda masamkan raut muka anda sehingga menakutkan orang yang melihat. Jangan pula anda tertawa terbahak – bahak. Akan tetapi, tampilkanlah wajah yang tenang, selalu berseri dan enak dipandang, sehingga menyenangkan orang yang memandang.</p>
<p>Kalau kita diminta memilih antara harta yang banyak atau jabatan terhormat dan jiwa yang tenang penuh keceriaan, tentu anda akan memilih yang kedua. Apa artinya harta jika jiwa penuh kemuraman? Apa artinya pangkat dan jabatan jika jiwa terkekang? Apa artinya kecantikan istri bila ia selalu cemberut dan menjadikan suasana rumah seperti neraka? Sungguh lebih baik seribu kali lipat istri yang tidak terlalu cantik tetapi mampu menciptakan suasana rumah seperti surga.</p>
<p>Senyum yang tampak secara lahir tidak akan bernilai bila muncul dengan pura – pura dan untuk menutupi seseorang yang berperangai menyimpang. Lihatlah bunga juga tersenyum; hutan tersenyum; dan lautan, sungai, langit, bintang, burung, semuanya tersenyum. Senyum mereka itulah senyum yang tulus.</p>
<p>Jiwa yang senantiasa tersenyum akan melihat kesulitan dengan nyaman sambil berusaha mengatasinya. Jika mereka melihat sebuah persoalan, mereka tersenyum dan tetap tersenyum ketika mampu mengatasinya. Sebaliknya, jiwa yang muram akan akan melihat kesulitan dengan kesedihan. Bila menemui kesulitan, ia akan meghindar atau  membesar-besarkannya, semangatnya melemah dan berandai andai dengan kata-kata &#8220;kalau&#8221;, &#8220;bila&#8221;, dan &#8220;jika&#8221;.</p>
<p>Betapa kita amat membutuhkan senyuman, keceriaan wajah, kelapangan dada, kemrahan hati, kelemahlembutan, dan keramahan. &#8220;Sesungguhnya Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>telah mewahyukan kepadaku (Rasululloh Muhammad <em>Shallallahu’alaihi wasallam</em>) agar kalian bersikap tawadhu&#8217; hingga tidak ada seorang pun yang berbuat zhalim terhadap orang lain.&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Doa-Doa Rasululloh]]></title>
<link>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/03/09/doa-doa-rasululloh/</link>
<pubDate>Fri, 09 Mar 2007 08:26:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslim</dc:creator>
<guid>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/03/09/doa-doa-rasululloh/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wa sallam seorang yang banyak berdoa, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wa sallam seorang yang banyak berdoa, ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Doa-Doa Rasululloh]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/03/03/doa-doa-rasululloh/</link>
<pubDate>Sat, 03 Mar 2007 13:14:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/03/03/doa-doa-rasululloh/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wa sallam seorang yang banyak berdoa, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> seorang yang banyak berdoa, memohon dan menunjukkan ketergantungan kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Beliau sangat menyukai kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna dan juga menyukai ucapan-ucapan doa.</p>
<p>Doa adalah ibadah yang sangat agung, yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Hakikat doa adalah menunjukkan ketergantungan kita kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan berlepas diri dari daya dan upaya makhluk. <span>Doa merupakan tanda Ubudiyah (penghambaan diri secara totalitas kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>). Doa juga merupakan lambang kelemahan manusia. Di dalam ibadah doa terkandung pujian terhadap Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</span><!--more--></p>
<p align="justify">Disamping itu terkandung juga sifat penyantun dan pemurah bagi Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Oleh sebab itu Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Doa itu adalah ibadah&#8221;</em> (HR: Tirmidzi)</p>
<p>Di antara doa Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> adalah, yang artinya: <em>&#8220;Ya Alloh, tolonglah daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elokkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.&#8221;</em> (HR: Muslim)</p>
<p>Di antara doa beliau adalah, yang artinya: <em>&#8220;Ya Alloh, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Ya Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku melakukan kejahatan terhadap diriku atau yang aku tujukan kepada seorang muslim lain.&#8221;</em> (HR: Abu Daud)</p>
<p>Demikian pula doa berikut ini: <em>&#8220;Ya Alloh, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal (supaya aku terhindar) dari yang haram, perkayalah aku dengan karunia-Mu (supaya aku tidak meminta) kepada selain-Mu.&#8221; </em>(HR: At-Tirmidzi)</p>
<p><span>Di antara permohonan beliau kepada Alloh<em> Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Ya Alloh, ampunilah dosaku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan temukanlah aku dengan teman yang tinggi derajatnya.&#8221; </em>(Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> senantiasa berdoa memohon kepada Rabb <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> baik pada waktu lapang maupun pada saat sempit. Pada peperangan Badar, beliau berdoa kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> hingga jatuh selendang beliau dari kedua pundaknya, memohon kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> agar menurunkan pertolongan bagi kaum muslimin dan menjatuhkan kekalahan atas kaum musyrikin. Beliau sering berdoa untuk dirinya sendiri, untuk keluarga dan ahli bait beliau, untuk sahabat-sahabat beliau bahkan untuk segenap kaum muslimin.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keberanian dan Ketabahan Rasululloh]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/16/keberanian-dan-ketabahan-rasululloh/</link>
<pubDate>Fri, 16 Feb 2007 02:37:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/16/keberanian-dan-ketabahan-rasululloh/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam mempunyai keberanian yang men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span>Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> mempunyai keberanian yang mengagumkan dan tiada tandingannya dalam membela agama dan menegakkan <em>kalimatullah Ta&#8217;ala</em>. Beliau mempergunakan nikmat-nikmat Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> yang dicurahkan atas beliau pada tempat yang semestinya. &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha telah mengungkapkan hal itu dalam sebuah hadits, yang artinya: <em>&#8220;Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorangpun kecuali dalam rangka berjihad di jalan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita.&#8221;</em> (HR: Muslim)</p>
<p align="justify">Di antara bukti keberanian beliau adalah kegigihan beliau dalam mendakwahkan agama Islam seorang diri menghadapi kaum kafir Quraisy dan pemuka-pemuka-nya. Demikian juga keteguhan beliau di atas keyakinan tersebut hingga Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>menurunkan pertolongan-Nya. Beliau tidak pernah mengeluh atau berkata: &#8220;Tidak ada yang sudi menyertaiku, sedangkan orang-orang semuanya memusuhiku.&#8221; Akan tetapi beliau bersandar serta bertawakkal kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dan tetap meneruskan perjuangan dakwah beliau. <!--more-->Beliau adalah seorang pemberani dan sangat teguh dalam memegang dan melaksanakan pendirian. Ketika orang-orang lari bercerai berai, beliau tetap teguh bagaikan karang.</p>
<p><span>Beliau mengasingkan diri untuk beribadah di gua Hira&#8217; selama beberapa tahun. Kala itu beliau belum merasakan gangguan dan orang-orang Quraisy pun belum memerangi beliau. Kaum kafir itu tidak menembakkan sebatang anak panah pun dari busurnya kecuali setelah beliau menyebarkan aqidah tauhid dan memerintahkan untuk memurnikan ibadah mereka kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> semata. Beliau sangat mengherankan ucapan kaum kafir sebagaimana yang difirmankan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan&#8221; Maka mereka menjawab:&#8221;Alloh&#8221;. Maka katakanlah: &#8220;Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?&#8221;</em> (QS: Yunus: 31)</p>
<p>Sementara itu mereka menjadikan berhala-berhala sebagai perantara antara mereka dengan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Sebagaimana yang Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>firmankan, yang artinya: <em>&#8220;Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): &#8220;Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya&#8221;. </em>(QS: Az-Zumar: 3)</p>
<p>Padahal mereka juga meyakini tauhid Rububiyah, sebagaimana yang diungkapkan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi?&#8221; mereka akan menjawab: &#8220;Alloh&#8221;.</p>
<p></em>Wahai saudaraku, lihatlah praktek-praktek syirik yang bertebaran di seantero negeri-negeri kaum muslimin, seperti memohon kepada orang yang sudah mati, bertawassul dengan perantaraan mereka, bernadzar karena mereka, takut serta mengharap kepada mereka. Sampai-sampai terputus hubungan antara mereka dengan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> disebabkan kemusyrikan yang mereka lakukan. Mereka telah menempatkan orang-orang yang sudah mati setara dengan kedudukan Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman, yang artinya:  <em>&#8220;Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (se-suatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.&#8221;</em> (QS: Al-Maidah: 72)</p>
<p>Sekarang kita beranjak dari rumah beliau menuju gunung yang berada di sebelah utara. Itulah gunung Uhud, disitulah terjadi peristiwa besar yang menunjukkan keperkasaan Rasululloh<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dan keteguhan serta kesabaran beliau atas luka yang diderita pada peperangan tersebut. Pada waktu itu wajah beliau yang mulia terluka dan beberapa gigi beliau patah serta kepala beliau terkoyak.</p>
<p>Sahal bin Sa&#8217;ad menceritakan kepada kita tentang luka yang diderita beliau . Ia berkata:<em> &#8220;Demi Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, aku benar-benar mengetahui siapakah yang mencuci luka Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam, siapakah yang menyiramkan airnya dan dengan apa luka itu diobati.&#8221; Ia melanjutkan: &#8220;Fathimah radhiyallahu &#8216;anha putri beliaulah yang mencuci luka tersebut, sementara Ali bin Abi Thalib Radhiallahu&#8217;anhu menyiramkan airnya dengan perisai. Namun ketika Fathimah radhiyallahu &#8216;anha melihat siraman air tersebut hanya menambah deras darah yang mengucur dari luka beliau, ia segera mengambil secarik tikar lalu membakarnya kemudian membungkus luka tersebut hingga darah berhenti mengucur. Pada peristiwa itu gigi beliau patah, wajah beliau terluka dan kepala beliau terkoyak lebar.&#8221;</em> (HR: Al-Bukhari)</p>
<p>Al-Abbas bin Abdul Muththalib<em> radhiallaahu anhu</em> menceritakan kepahlawanan Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dalam peperangan Hunain. Ia berkata: &#8220;Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> justru memacu bighalnya ke arah pasukan kaum kafir, sementara aku terus memegang tali kekang bighal tersebut supaya tidak melaju dengan cepat. </span>Saat itu beliau berkata: <em>&#8220;Aku adalah seorang nabi bukanlah pendusta. Aku adalah cucu Abdul Muththalib.&#8221;</em> (HR: Muslim)</p>
<p>Sementara itu, penunggang kuda yang gagah berani, yang sudah masyhur dan terkenal dengan kisah-kisah kepahlawanannya, yaitu Ali bin Abi Thalib <em>Radhiallahu&#8217;anhu</em> menceritakan keberanian Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sebagai berikut: &#8220;Apabila dua pasukan sudah saling bertemu dan peperangan sudah demikian sengit, kamipun berlindung di belakang Rasululloh<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>, tidak ada seorangpun yang paling dekat kepada musuh daripada beliau.&#8221; (HR. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah , silakan lihat di dalam Shahih Muslim III / no.1401)</p>
<p>Kesabaran Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dalam menyebarkan dakwah pantas dijadikan contoh dan teladan yang baik. Hingga akhirnya Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menegakkan pilar-pilar Islam dan melebarkan sayapnya di segenap pelosok jazirah Arab, negeri Syam dan negeri-negeri di seberang sungai Tigris. <span>Hingga tidak tersisa satu rumahpun kecuali telah dimasuki cahaya Islam.</p>
<p>Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya aku telah mendapat berbagai teror dan ancaman karena membela agama Alloh . Dan tidak ada seorangpun yang mendapat teror seperti itu. aku telah mendapat berbagai macam gangguan karena menegakkan agama Alloh . Dan tidak seorangpun yang mendapat gangguan seperti itu. Sehingga pernah kualami selama 30 hari 30 malam, aku dan Bilal tidak mempunyai sepotong makanan pun yang layak untuk dimakan manusia kecuali sedikit makanan yang hanya dapat dipergunakan untuk menutupi ketiak Bilal.&#8221;</em> (HR: At-Tirmidzi dan Ahmad)</p>
<p>Walaupun harta dan ghanimah serta perbenda-haraan dunia dari kemenangan yang diberikan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> kepada beliau terus mengalir, namun Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> tidak mewariskan sesuatupun kepada umatnya, tidak dinar maupun dirham, beliau hanya mewariskan ilmu. Itulah warisan nubuwat, barangsiapa yang ingin mengambilnya, maka silakan maju untuk mengambilnya dan selamat berbahagia menerima warisan yang agung itu.</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> menuturkan:<em> &#8220;Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak meninggalkan dinar, tidak pula dirham, tidak meninggalkan kambing, tidak pula unta. </em></span><em>Beliau tidak mewasiatkan harta apapun.&#8221;</em> (HR: Muslim)</p>
<p>(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keberanian dan Ketabahan Rasululloh]]></title>
<link>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/02/15/keberanian-dan-ketabahan-rasululloh/</link>
<pubDate>Thu, 15 Feb 2007 03:03:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Muslim</dc:creator>
<guid>http://akhlaqmuslim.wordpress.com/2007/02/15/keberanian-dan-ketabahan-rasululloh/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam mempunyai keberanian yang men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam mempunyai keberanian yang men]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menunaikan Hak]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/10/menunaikan-hak/</link>
<pubDate>Sat, 10 Feb 2007 03:06:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/10/menunaikan-hak/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Hak-hak yang wajib ditunaikan seorang insan sangat banyak. Disana ada hak A]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Hak-hak yang wajib ditunaikan seorang insan sangat banyak. Disana ada hak Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, hak kepada keluarga, hak untuk diri pribadi maupun hak untuk orang lain seperti tetangga dan lainnya. Tahukah kita bagaimana Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> membagi waktunya dalam sehari untuk menunaikan hak-hak tersebut? <!--more--></p>
<p align="justify">Anas bin Malik <em>radhiallaahu anhu</em> menuturkan, yang artinya: <em>&#8220;Tiga orang sahabat pernah datang ke rumah Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam untuk menanyakan ibadah yang beliau lakukan. Setelah diceritakan tentang ibadah beliau, mereka merasa ibadah yang mereka kerjakan terlalu sedikit dibandingkan dengan ibadah beliau. Mereka berkata: &#8220;Alangkah jauh kedudukan kita dari Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wa sallam! padahal telah diampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang. Seorang di antara mereka berkata: &#8220;Aku akan shalat malam selamanya.&#8221; </em><span><em>Yang lain berkata: &#8220;Sedangkan aku akan berpuasa terus menerus tanpa berbuka.&#8221; Seorang lagi berkata: &#8220;Adapun aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.&#8221; Kemudian Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam mendatangi mereka dan berkata: &#8220;Kaliankah yang mengatakan begini dan begini?! Demi Alloh, aku adalah orang yang paling takut kepada Alloh Subhanahu wata’ala dan yang paling bertakwa kepada-Nya dari pada kalian semua. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Dari hadist diatas terlihat bahwa seorang muslim harus hidup sebagaimana mestinya tanpa melakukan hal-hal yang melampaui batas. Kita harus memenuhi hak-hak atas tubuh kita ini yang membutuhkan makanan dan minuman serta kebutuhan batiniah berupa pernikahan dan keluarga. Kita harus memperhatikan dan membantu lingkungan kita mulai dari bermuamalah dengan masyarakat sampai dengan membersihkan lingkungan.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Persahabatan Yang Tulus]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/10/persahabatan-yang-tulus/</link>
<pubDate>Sat, 10 Feb 2007 03:06:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/10/persahabatan-yang-tulus/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha menuturkan bahwa setiap kali disampa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha menuturkan bahwa setiap kali disampaikan kepada Rasulloh <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sesuatu yang kurang berkenan dari seseorang, beliau tidak mengatakan: &#8220;Apa maunya si &#8216;Fulan&#8217; berkata demikian!&#8221; Namun beliau mengatakan: &#8220;Apa maunya &#8216;mereka&#8217; berkata demikian!&#8221; (HR: At-Tirmidzi)<!--more--></p>
<p align="justify">Anas bin Malik <em>radhiallaahu anhu</em> menceritakan bahwa pernah suatu kali seorang lelaki datang menemui Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dengan bekas celupan berwarna kuning pada pakaiannya (bekas za&#8217;faran). Biasanya Rasululloh<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> sangat jarang menegur sesuatu yang dibencinya pada seseorang di hadapannya langsung. Setelah lelaki itu pergi, beliau pun berkata, yang artinya: <em>&#8220;Alangkah bagusnya bila kalian perintahkan lelaki itu untuk menghilangkan bekas za&#8217;faran itu dari bajunya.&#8221;</em> (HR: Abu Daud &#38; Ahmad)</p>
<p>Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>Radhiallaahu anhu</em> berkata bahwa Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> pernah bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Inginkah aku kabarkan kepadamu oang yang diselamatkan dari api Neraka, atau dijauhkan api Neraka darinya? Yaitu setiap orang yang ramah, lemah lembut dan murah hati.&#8221;</em> (HR: At-Tirmidzi)</p>
<p>(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adab Membaca Al-Qur’an]]></title>
<link>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/10/adab-membaca-al-qur%e2%80%99an/</link>
<pubDate>Sat, 10 Feb 2007 03:05:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipmoslem.wordpress.com/2007/02/10/adab-membaca-al-qur%e2%80%99an/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang tidak mengan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, yang artinya: <em>“Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”</em> (HR: Bukhari)<!--more--></p>
<p align="justify">Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:</p>
<p><strong>Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.<br />
</strong>Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, <em>“Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.”</em> (<em>At-Tibyan</em>, hal. 58-59)</p>
<p><strong>Membacanya dengan pelan (<em>tartil</em>) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.<br />
</strong>Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, yang artinya:<em>“Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.”</em> (HR: Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)</p>
<p>Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR: Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.</p>
<p><strong>Membaca Al-Qur’an dengan <em>khusyu’</em>, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.<br />
</strong>Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, <em>“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”</em> (QS: Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.</p>
<p><strong>Membaguskan suara ketika membacanya.<br />
</strong>Sebagaimana sabda Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, yang artinya: <em>“Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.”</em> (HR: Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: <em>“Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.”</em> (HR: Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang <em>makhroj</em> hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.</p>
<p><strong>Membaca Al-Qur’an dimulai dengan <em>isti’adzah.<br />
</em></strong>Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman, yang artinya, <em>“Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.”</em> (QS: An-Nahl: 98)</p>
<p>Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara <em>khusyu’</em>.</p>
<p>Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihiwasallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).”</em> (HR: Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). <em>Wallohu a’lam.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adab Muslim dalam Berkomunikasi Melalui Telepon]]></title>
<link>http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/01/27/adab-muslim-dalam-berkomunikasi-melalui-telepon/</link>
<pubDate>Fri, 26 Jan 2007 22:27:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>thoriqandalusia</dc:creator>
<guid>http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/01/27/adab-muslim-dalam-berkomunikasi-melalui-telepon/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Dalam memanfaatkan teknologi yang ada sekarang ini, tentunya seorang muslim]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Dalam memanfaatkan teknologi yang ada sekarang ini, tentunya seorang muslim tetap merujuk pada tuntunan syariat Islam yang sempurna dan mulia. Salah satunya adalah dalam penggunaan media komunikasi seperti telepon rumah, handphone dan sebagainya. Dalam kesempatan ini kita mencoba menggali bagaimana adab seorang muslim dalam pemanfaatan media ini.</p>
<p class="MsoNormal" align="justify">Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon agar anda tidak mengganggu orang yang sedang tidur atau mengganggu orang yang sedang sakit atau merisaukan orang lain. Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan, dan mereka juga mempunyai waktu tidur dan istirahat, waktu makan dan bekerja.<!--more-->Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain.</p>
<p>hendaknya wanita tidak memperindah suara di saat ber-bicara (via telpon) dan tidak berbicara melantur dengan laki-laki. Alloh <em>‘Azza wa Jalla </em>berfirman, yang artinya: <em>“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”.</em> (QS: Al-Ahzab: 32).</p>
<p>Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan dan tidak melantur berbicara dengan lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut dan lain sebagainya.</p>
<p>Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dengan ucapan Assalamu`alaikum, karena dia adalah orang yang datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dengan salam dan juga menutupnya dengan salam.</p>
<p>Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya, dan itupun bila terpaksa.</p>
<p>Tidak merekam pembicaraan lawan bicara kecuali seizin darinya, apapun bentuk pembicaraannya. Karena hal tersebut merupakan tindakan pengkhianatan dan mengungkap rahasia orang lain, dan inilah tipu muslihat. Dan apabila rekaman itu kamu sebarluaskan maka itu berarti lebih fatal lagi dan merupakan penodaan terhadap amanah. Dan termasuk di dalam hal ini juga adalah merekam pembicaraan orang lain dan apa yang terjadi di antara mereka. Maka, ini haram hukumnya, tidak boleh dikerjakan!</p>
<p>Tidak menggunakan telepon untuk keperluan yang negatif, karena telepon pada hakikatnya adalah nikmat dari Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> yang Dia berikan kepada kita untuk kita gunakan demi memenuhi keperluan kita. Maka tidak selayaknya jika kita menjadikannya sebagai bencana, menggunakannya untuk mencari-cari kejelekan dan kesalahan orang lain dan mencemari kehormatan mereka, dan menyeret kaum wanita ke jurang kenistaan. Ini haram hukumnya, dan pelakunya layak dihukum.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kasih Sayang Rasulullah]]></title>
<link>http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/01/21/kasih-sayang-rasulullah/</link>
<pubDate>Sun, 21 Jan 2007 03:53:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>thoriqandalusia</dc:creator>
<guid>http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/01/21/kasih-sayang-rasulullah/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Orang-orang yang keras hati tidak akan mengenal kasih sayang. Tidak ada sed]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Orang-orang yang keras hati tidak akan mengenal kasih sayang. Tidak ada sedikitpun kelembutan pada diri mereka. Hati mereka keras bagaikan karang. Kaku tabiat, baik ketika memberi maupun menerima. Kurang peka perasaan, lagi tipis peri kemanusiannya. Berbeda halnya dengan orang yang dikaruniai Alloh <em>Ta&#8217;ala</em> hati yang lembut, penuh kasih sayang lagi penuh kemurahan. Dialah yang layak disebut pemilik hati yang agung penuh cinta. Hati yang diliputi dengan kasih sayang dan digerakkan oleh perasaan yang halus.<!--more--></p>
<p>Dari Anas bin Malik Radhiallaahu anhu ia berkata, yang artinya: <em>&#8220;Rasululloh Shalallaahu alaihi  wasalam pernah membawa putra beliau bernama Ibrahim, kemudian mengecup dan  menciumnya.&#8221;</em> (HR: Al-Bukhari)</p>
<p>Kasih sayang tersebut tidak hanya terkhusus bagi kerabat beliau saja, bahkan beliau curahkan juga bagi segenap anak-anak kaum muslimin. Asma&#8217; binti &#8216;Umeis <em>Radhiallaahu anha</em> –istri Ja&#8217;far bin  Abi Thalib- menuturkan, yang artinya: <em>&#8220;Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam datang menjengukku, beliau memanggil putra-putri Ja&#8217;far. Aku melihat beliau mencium mereka hingga menetes air mata beliau. Aku bertanya: &#8220;Wahai Rasululloh, apakah telah sampai kepadamu berita tentang Ja&#8217;far?&#8221; beliau menjawab: &#8220;Sudah, dia telah gugur pada hari ini!&#8221; Mendengar berita itu kamipun menangis. Kemudian beliau pergi sambil berkata: &#8220;Buatkanlah makanan bagi keluarga Ja&#8217;far, karena telah datang berita musibah yang memberatkan mereka.&#8221;</em> (HR: Ibnu Sa&#8217;ad, Tirmidzi dan  Ibnu Majah)</p>
<p>Ketika air mata Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em>  menetes menangisi gugurnya para syuhada&#8217; tersebut, Sa&#8217;ad bin &#8216;Ubadah  <em>Radhiallaahu anhu</em> bertanya: &#8220;Wahai Rasululloh, Anda menangis?&#8221; Rasululloh  <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> menjawab: <em>&#8220;Ini adalah rasa kasih sayang yang Alloh Ta&#8217;ala letakkan di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya hamba-hamba yang dikasihi Allah Ta&#8217;ala hanyalah hamba yang memiliki rasa kasih sayang.&#8221;</em> (HR:  Al-Bukhari)</p>
<p>Ketika air mata Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em>  menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin &#8216;Auf  <em>Radhiallaahu anhu</em> bertanya kepada beliau: &#8220;Apakah Anda juga menangis wahai  Rasulullah?&#8221; Rasululloh<em> Shalallaahu alaihi wasalam </em>menjawab: <em>&#8220;Wahai Ibnu &#8216;Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta&#8217;ala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.&#8221; </em>(HR: Al-Bukhari)</p>
<p>Akhlak  Rasululloh<em> Shalallaahu alaihi wasalam</em> yang begitu agung memotivasi kita untuk meneladaninya dan menapaki jejak langkah beliau. Pada zaman sekarang ini, curahan kasih sayang terhadap anak-anak serta menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya sangat langka kita temukan. Padahal mereka adalah calon pemimpin keluarga esok hari, mereka adalah cikal bakal tokoh masa depan dan cahaya fajar yang dinanti-nanti. Kejahilan dan keangkuhan, dangkalnya pemikiran serta sempitnya pandangan menyebabkan hilangnya kunci pembuka hati terhadap para bocah dan anak-anak. Sementara Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em>, kunci pembuka hati itu ada di tangan dan lisan  beliau. Cobalah lihat, Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> senantiasa membuat anak-anak senang kepada beliau, mereka menghormati dan memuliakan beliau. Hal itu tidaklah mengherankan, karena beliau menempatkan mereka pada kedudukan yang tinggi.</p>
<p>Setiap kali Anas bin Malik melewati sekumpulan anak-anak, ia pasti mengucapkan salam kepada mereka. Beliau berkata, yang artinya:<em> &#8220;Demikianlah yang  dilakukan Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam .&#8221; </em>(Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah,  namun Rasululloh<em> Shalallaahu alaihi wasalam</em> tidaklah marah, memukul, membentak dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.</p>
<p>Dari  &#8216;Aisyah <em>Radhiallaahu anha</em> ia berkata, yang artinya: <em>&#8220;Suatu kali pernah dibawa sekumpulan anak kecil ke hadapan Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam , lalu beliau mendoakan mereka, pernah juga di bawa kepada beliau seorang anak, lantas anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau segera meminta air lalu memer-cikkannya pada pakaian itu tanpa mencucinya.&#8221;</em> (HR:  Al-Bukhari)</p>
<p>Wahai pembaca yang mulia, engkau pasti mengetahui bahwa  duduk di rumah Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> merupakan sebuah kehormatan. Lalu, tidakkah terlintas di dalam lubuk hatimu? Bermain dan bercanda ria dengan si kecil, putra-putrimu? Mendengarkan tawa ria dan celoteh mereka yang lucu dan indah? Ayah dan ibuku sebagai tebusannya, Rasululloh<em> Shalallaahu  alaihi wasalam</em> selaku nabi umat ini, melakukan semua hal itu.</p>
<p>Abu  Hurairah <em>Radhiallaahu anhu </em>menceritakan: &#8220;Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wasalam  </em>pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali Radhiallaahu anhu. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.&#8221; (Lihat Silsilah Shahihah no.70)</p>
<p>Anas bin Malik  <em>Radhiallaahu anhu</em> menuturkan, yang artinya:<em> &#8220;Rasululloh sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Radhiallaahu anha, beliau memanggilnya dengan: &#8220;Ya Zuwainab, Ya Zuwainab, berulang kali.&#8221;</em> (Zuwainab artinya: Zainab kecil) (Lihat Silsilah  Hadits Shahih no.2141 dan Shahih Al-Jami&#8217; 5-25)</p>
<p>Kasih sayang beliau kepada anak tiada batas, meskipun beliau tengah mengerjakan ibadah yang sangat agung, yaitu shalat. Beliau pernah mengerjakan shalat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasululloh dari suaminya yang bernama Abul &#8216;Ash bin Ar-Rabi&#8217;. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Mahmud bin Ar-Rabi&#8217; <em>Radhiallaahu anhu</em> mengungkapkan, yang artinya:<em> &#8220;Aku masih ingat saat Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam menyemburkan air dari sebuah ember pada wajahku, air itu diambil dari sumur yang ada di rumah kami. Ketika itu aku baru berusia lima tahun.&#8221;</em> (HR: Muslim)</p>
<p>Rasululloh  <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> senantiasa memberikan pengajaran, baik kepada orang dewasa maupun anak-anak. Abdullah bin Abbas menuturkan: &#8220;Suatu hari aku berada di belakang Nabi <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em>, beliau bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: &#8220;Jagalah (perintah) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah) Alloh, pasti kamu selalu mendapatkan-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Alloh, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.&#8221; </em>(HR: At-Tirmidzi)</p>
<p>Telah kita saksikan bersama keutamaan akhlak dan keluhuran budi pekerti serta sejarah kehidupan yang agung. Semoga semua itu dapat menghidupkan hati kita dan dapat kita teladani dalam mengarungi bahtera kehidupan. Putra-putri yang menghiasi rumah kita, selalu membutuhkan kasih sayang seorang ayah serta kelembutan seorang ibu. Membutuhkan belaian yang membuat hati mereka bahagia. Sehingga mereka dapat tumbuh dengan pribadi yang luhur dan akhlak yang lurus. Siap untuk memimpin umat, sebagai buah karya dari para ibu dan bapak, tentu saja dengan taufik dari Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kehalusan, Kelemah lembutan dan Kesabaran Rasululloh]]></title>
<link>http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/01/05/kehalusan-kelemah-lembutan-dan-kesabaran-rasululloh/</link>
<pubDate>Fri, 05 Jan 2007 00:15:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>thoriqandalusia</dc:creator>
<guid>http://faktaandalusia.wordpress.com/2007/01/05/kehalusan-kelemah-lembutan-dan-kesabaran-rasululloh/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Merampas dan mengambil hak orang lain dengan paksa merupakan ciri orang-ora]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Merampas dan mengambil hak orang lain dengan paksa merupakan ciri orang-orang  zhalim dan jahat. Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> telah memancangkan pondasi-pondasi keadilan dan pembelaan bagi hak setiap orang agar mendapatkan dan mengambil haknya yang dirampas. Dan Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> telah menjalankan kaidah tersebut demi kebaikan dan semata-mata untuk jalan kebaikan dengan bimbingan karunia yang telah Alloh curahkan berupa perintah dan larangan. Kita tidak perlu takut adanya kezhaliman, perampasan, pengambilan dan pelanggaran hak di rumah beliau.<!--more--></p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> menuturkan: <em>&#8220;Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak pernah sama sekali memukul seorang pun dengan tangannya kecuali dalam rangka berjihad di jalan Allah. Beliau tidak pernah memukul pelayan dan kaum wanita. Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam tidak pernah membalas suatu aniaya yang ditimpakan orang atas dirinya. Selama orang itu tidak melanggar kehormatan Allah Namun, bila sedikit saja kehormatan Allah dilanggar orang, maka beliau akan membalasnya semata-mata karena Allah.&#8221;</em> (HR: Ahmad)</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> mengisahkan: <em>&#8220;Suatu kali aku berjalan bersama Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam, beliau mengenakan kain najran yang tebal pinggirannya. Kebetulan beliau berpapasan dengan seorang Arab badui, tiba-tiba si Arab badui tadi menarik dengan keras kain beliau itu, sehingga aku dapat melihat bekas tarikan itu pada leher beliau. ternyata tarikan tadi begitu keras sehingga ujung kain yang tebal itu membekas di leher beliau. Si Arab badui itu berkata: &#8220;Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian yang kamu miliki dari harta Alloh!&#8221; Beliau lantas menoleh kepadanya sambil tersenyum lalu mengabulkan permintaannya.&#8221; </em>(Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Ketika Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi  wasallam</em> baru kembali dari peperangan Hunain, beberapa orang Arab badui mengikuti beliau, mereka meminta bagian kepada beliau. Mereka terus meminta sampai-sampai beliau terdesak ke sebuah pohon, sehingga jatuhlah selendang beliau, ketika itu beliau berada di atas tunggangan. Beliau lantas berkata, yang artinya: <em>Kembalikanlah selendang itu kepadaku, Apakah kamu khawatir aku akan berlaku bakhil? Demi Alloh, seadainya aku memiliki unta-unta yang merah sebanyak pohon &#8216;Udhah ini, niscaya akan aku bagikan kepadamu, kemudian kalian pasti tidak akan mendapatiku sebagai seorang yang bakhil, penakut lagi pendusta.&#8221; </em>(HR: Al-Baghawi  di dalam kitab Syarhus Sunnah dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)</p>
<p>Merupakan bentuk tarbiyah dan ta&#8217;lim yang paling jitu dan indah adalah berlaku lemah lembut dalam segala perkara, dalam mengenal maslahat dan menolak mafsadat.</p>
<p>Kecemburuan yang dimiliki para sahabat telah mendorong mereka untuk menyanggah setiap melihat orang yang keliru dan tergelincir dalam kesalahan. Mereka memang berhak melakukan hal itu! Namun Rasululloh<em> shallallahu &#8216;alaihi  wasallam</em> yang lembut dan penyantun melarang mereka melakukan seperti itu, karena orang itu (pelaku kesalahan itu) jahil atau karena mudharat yang timbul dibalik itu lebih besar. Tentu saja, perilaku Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>  lebih utama untuk diteladani.</p>
<p>Abu Hurairah <em>radhiallahu anhu</em>  menceritakan:<em> &#8220;Suatu ketika, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid (tepatnya di sudut masjid). Orang-orang lantas berdiri untuk memukulinya. Namun Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam memerintahkan: &#8220;Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air. Sesungguhya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan bukan untuk membuat kesukaran.&#8221;</em> (HR: Al-Bukhari)</p>
<p>Kesabaran Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dalam menyebarkan dakwah layak menjadi motivasi bagi kita untuk meneladaninya. Kita wajib berjalan di atas manhaj (metode) beliau di dalam berdakwah semata-mata karena Allah tanpa membela kepentingan pribadi.</p>
<p>Aisyah radhiyallahu &#8216;anha pernah bertanya kepada  Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>: &#8220;Apakah ada hari yang engkau rasakan  lebih berat daripada hari peperangan Uhud?&#8221; beliau menjawab, yang artinya: <em>&#8220;Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaummu, yang paling berat kurasakan adalah pada hari &#8216;Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa&#8217;alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata Malaikat Jibril alaihissalam ada di sana. Lalu ia menyeruku: &#8220;Sesungguhnya Alloh Subhanahu wata’ala telah mendengar ucapan kaum-mu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu. Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata: &#8220;Wahai Muhammad, sesungguhnya Alloh Subhanahu wata’ala telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Alloh Subhanahu wata’ala telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki? jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Tidak, justru aku berharap semoga Alloh Subhanahu wata’ala mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Alloh Subhanahu wata’ala semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.&#8221; </em>(Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Pada hari ini, sering kita lihat sebagian orang yang bersikap terburu-buru dalam berdakwah. Berharap dapat segera memetik hasil. Hanya membela kepentingan pribadi yang justru hal itu merusak dakwah dan mengotori keikhlasan<strong>. Oleh sebab itu, berapa banyak kelompok-kelompok dakwah yang gagal karena individu-individunya tidak memiliki kesabaran dan ketabahan! </strong></p>
<p>Setelah  bersabar dan berjuang selama bertahun-tahun, barulah terwujud apa yang  dicita-citakan Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam.</em></p>
<p>Dalam sebuah syair disebutkan:<br />
<em>Bagaimanakah mungkin dapat diimbangi<br />
seorang insan terbaik yang hadir  di muka bumi.<br />
Semua orang yang terpandang tidak akan mampu mencapai  ketinggian derajatnya.<br />
Semua orang yang mulia tunduk di hadapannya.<br />
Para  penguasa Timur dan Barat rendah di sisi-nya.</p>
<p></em>Abdullah bin Mas&#8217;ud<em>  radhiallaahu anhu</em> mengungkapkan:<em> &#8220;Sampai sekarang masih terlintas dalam ingatanku saat Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam mengisahkan seorang Nabi yang dipukul kaumnya hingga berdarah. Nabi tersebut mengusap darah pada wajahnya seraya berdoa (yang artinya): &#8220;Ya Alloh, ampunilah kaumku! karena mereka kaum yang jahil.&#8221;</em>  (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Pada suatu hari ketika Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi  wasallam</em> tengah melayat satu jenazah, datanglah seorang Yahudi bernama Zaid bin Su&#8217;nah menemui beliau untuk menuntut utangnya. Yahudi itu menarik ujung gamis dan selendang beliau sambil memandang dengan wajah yang bengis. Dia berkata: &#8220;Ya Muhammad, lunaskanlah utangmu padaku!&#8221; dengan nada yang kasar. Melihat hal itu Umar<em> Radhiallahu&#8217;anhu</em> pun marah, ia menoleh ke arah Zaid si Yahudi sambil mendelikkan matanya seraya berkata: &#8220;Hai musuh Alloh, apakah engkau berani berkata dan berbuat tidak senonoh terhadap Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi  wasallam</em> di hadapanku!&#8221; Demi Dzat Yang telah mengutusnya dengan membawa Al-Haq, seandainya bukan karena menghindari teguran beliau, niscaya sudah kutebas engkau dengan pedangku!&#8221;</p>
<p>Sementara Rasululloh <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em>  memperhatikan reaksi Umar <em>radhiallaahu anhu</em> dengan tenang. Beliau berkata, yang artinya: <em>&#8220;Wahai Umar, saya dan dia lebih membutuhkan perkara yang lain (nasihat). Yaitu engkau anjurkan kepadaku untuk menunaikan utangnya dengan baik, dan engkau perintahkan dia untuk menuntut utangnya dengan cara yang baik pula. Wahai umar bawalah dia dan tunaikanlah haknya serta tambahlah dengan dua puluh sha&#8217; kurma.&#8221;</em></p>
<p>Melihat Umar<em> radhiallahu anhu</em> menambah dua puluh sha&#8217; kurma, Zaid si  Yahudi itu bertanya:<em> &#8220;Ya Umar, tambahan apakah ini? Umar radhiallahu anhu menjawab: &#8220;Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam memerintahkanku untuk menambahkannya sebagai ganti kemarahanmu!&#8221; Si Yahudi itu berkata: &#8220;Ya Umar, apakah engkau mengenalku?&#8221; &#8220;Tidak, lalu siapakah Anda?&#8221; Umar Radhiallahu&#8217;anhu balas bertanya. &#8220;Aku adalah Zaid bin Su&#8217;nah&#8221; jawabnya. &#8220;Apakah Zaid si pendeta itu?&#8221; tanya Umar lagi. &#8220;Benar!&#8221; sahutnya. Umar lantas berkata: &#8220;Apakah yang mendorongmu berbicara dan bertindak seperti itu terhadap Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam ? Zaid menjawab: &#8220;Ya Umar, tidak satupun tanda-tanda kenabian kecuali aku pasti mengenalinya melalui wajah beliau setiap kali aku memandangnya. Tinggal dua tanda yang belum aku buktikan, yaitu: apakah kesabarannya dapat memupus tindakan jahil, dan apakah tindakan jahil yang ditujukan kepadanya justru semakin menambah kemurahan hati-nya?&#8221; Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bersaksi kepadamu wahai Umar, bahwa aku rela Alloh Subhanahu wata’ala sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabiku. Dan Aku bersaksi kepadamu bahwa aku telah menyedekahkan sebagian hartaku untuk umat Muhammad . Umar berkata: &#8220;Ataukah untuk sebagian umat Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wasallam saja? sebab hartamu tidak akan cukup untuk dibagikan kepada seluruh umat Muhammad .&#8221; Zaid berkata: &#8220;Ya, untuk sebagian umat Muhammad . Zaid kemudian kembali menemui Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam dan menyatakan kalimat syahadat &#8220;Asyhadu al Laa Ilaaha Illallaahu, wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuuluhu&#8221;. Ia beriman dan membenarkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam .&#8221;</em> (HR: Al-Hakim dalam kitab Mustadrak dan  menshahihkannya).</p>
<p>Cobalah perhatikan dialog yang panjang tersebut, sebuah pendirian dan kesudahan yang mengesankan. Semoga kita dapat meneladani junjungan kita nabi besar Muhammad . Meneladani kesabaran beliau dalam menghadapi beraneka ragam manusia. Dan dalam mendakwahi mereka dengan lemah lembut dan santun. Memberikan motivasi bila mereka berlaku baik, serta menumbuhkan rasa optimisme di dalam diri mereka.</p>
<p>&#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha </em>menceritakan: <em>&#8220;Suatu kali aku pergi melaksanakan umrah bersama Rasululloh shallallahu &#8216;alaihi wasallam dari kota Madinah. Ketika tiba di kota Makkah, aku berkata: &#8220;Wahai Rasululloh </em><em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam, ayah dan ibuku sebagai tebusannya, engkau mengqasar shalat namun aku menyempurnakan-nya, engkau tidak berpuasa justru aku yang berpuasa?&#8221; beliau menjawab: &#8220;Bagus, wahai &#8216;Aisyah!&#8221; Beliau sama sekali tidak mencela diriku.&#8221;</em> (HR: An-Nasaai)</p>
<p>(Sumber Rujukan: Sehari Di Kediaman Rasululloh <em>Shallallahu&#8217;alaihi Wasallam</em>, Asy-Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
