<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>akhlaq &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/akhlaq/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "akhlaq"</description>
	<pubDate>Wed, 22 May 2013 13:58:09 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[001. Akhlaq Syllabus Class 1]]></title>
<link>http://jafarischoolofthought.wordpress.com/2013/02/24/001-akhlaq-syllabus-class-1/</link>
<pubDate>Sun, 24 Feb 2013 07:41:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gate of Knowledge</dc:creator>
<guid>http://jafarischoolofthought.wordpress.com/2013/02/24/001-akhlaq-syllabus-class-1/</guid>
<description><![CDATA[View this document on Scribd]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<iframe class="scribd_iframe_embed" src="http://www.scribd.com/embeds/126974089/content?start_page=1&view_mode=&access_key=key-11g90t8sfubwp5ofbs8r" data-auto-height="true" scrolling="no" id="scribd_126974089" width="100%" height="500" frameborder="0"></iframe>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%"><a href="http://www.scribd.com/doc/126974089">View this document on Scribd</a></div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dzikir, Ingat Nikmat dan Melihat ke Bawah]]></title>
<link>http://meilana.wordpress.com/2013/02/21/dzikir-ingat-nikmat-dan-melihat-ke-bawah/</link>
<pubDate>Thu, 21 Feb 2013 14:43:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>admin</dc:creator>
<guid>http://meilana.wordpress.com/2013/02/21/dzikir-ingat-nikmat-dan-melihat-ke-bawah/</guid>
<description><![CDATA[Termasuk faktor utama yang mendatangkan sikap lapang dada dan ketenangan adalah &#8220;Banyak berdzi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Termasuk faktor utama yang mendatangkan sikap lapang dada dan ketenangan adalah &#8220;Banyak berdzi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[QONA’AH]]></title>
<link>http://sufijember.wordpress.com/2013/02/19/qonaah/</link>
<pubDate>Tue, 19 Feb 2013 15:25:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>sufimuda84</dc:creator>
<guid>http://sufijember.wordpress.com/2013/02/19/qonaah/</guid>
<description><![CDATA[    Qona’ah Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3> </h3>
<div> </div>
<div>
<div align="center"><b>Qona’ah</b></div>
<div>Ketika seorang mukmin memahami nilai dunia dan hakikat kehidupan di dunia; ketika hati seorang mukmin digenangi oleh keimanan dan makrifat tentang Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; maka ketika itu; dari pemahaman dan keimanan itu, akan lahirlah karakter mental yang sungguh berharga, yaitu qona&#8217;ah. Itulah sebuah harta kekayaan yang tidak ada habisnya<a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftn1"><sup><sup>[1]</sup></sup></a>.</div>
<div>Pengertian Qanaah Menurut bahasa qanaah berarti merasa cukup, sedangkan menurut istilah qanaah berati perasaan cukup dan ridho menerima pemberian Allah ,sekalipun sedikit menurut pandangan orang lain<a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftn2">[2]</a>. sehingga mampu menjauhkan diri dari sikap tamak, dan sikap tidak puas yang berlebihan. Adapun pengertian dari K.H. Ahmad Rifa’i bahwa qona’ah itu hatinya tenang memilih ridho Allah mengambil keduniawian sekedar hajat yang diperkirakan dapat menolong untuk taat memenuhi kewajiban (syari’at) menjauhkan maksiat<a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftn3">[3]</a>.</div>
<div>Dari beberapa pengertian diatas dapat kita ketahui bahwa sifat Qanaah ini tidak menghindarkan kita dari terus berjaya dalam aspek kehidupan. Sekiranya seseorang itu tidak dapat apa yang dikehendaki, maka tidak pula muncul perasaan iri hati, dengki atau benci kepada orang lain yang diberikan rezeki dan nikmat daripada Allah Taala kepada mereka, akan tetapi sifat qona’ah menjadikan kita sebagai hamba yang lebih bersyukur, lebih menghargai segala yang diberikan Sabda Nabi Muhammad SAW :</div>
<div dir="RTL">عن فضالة عبيد انه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم  يقول طوبى لمن هدي الى الا سلام وكان عيشه كفافا وقنع</div>
<div>Artinya :</div>
<div><i>Dari Fadlolah bin Ubaid bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda : Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan hidayah Islam dan penghidupannya sederhana serta mau menerima apa adanya<a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftn4"><b>[4]</b></a>.</i></div>
<div>          Fokus dan matlamat masih utuh dan yakin bahawa Allah telah menetapkan rezeki tertentu untuk hamba-hambanya. Bukankah ini memperlihatkan Islam itu indah, maka tidak sepatutnya hari ini wujud sentimen umat Islam ini mundur dan tidak mampu maju<a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftn5">[5]</a>.</div>
<div>Berkenaan dengan sifat qona’ah ini baginda Rasulullah Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadist :</div>
<div> </div>
<div dir="RTL">عن ابى هريرة رضي الله عنه قال رسول الله صلّى الله عليه وسلم ليس الغنى عن كثرة العرض ولكنّ الغنى غنى النفس</div>
<div><i>“ dari Abu hurairah r.a bersabda nabi muhammad SAW : bukanlah kekayaan itu banyak harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati”<a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftn6"><b>[6]</b></a>.</i></div>
<div>          Karena hati seorang yang qona’ah maka dia selalu berlapang dada, tidak larut dalam keputusasaan jika hasil usahanya tidak sesuai harapan dan keinginannya. Hati dan jiwanya senantiasa tenteram dan terbebas dari keserakahan. Selalu merasa kaya dan berkecukupan. Tidak serakah untuk hidup berlebihan atau kaya dalam hal materi. Akan tetapi, jika hasil usahanya tidak sesuai dengan yang diharapkan ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah Swt.</div>
<div>Adapun cara membangun sifat qona’ah di antaranya :</div>
<div>Mensyukuri setiap nikmat yang dianugerahkan Allah</div>
<div>·        Dapat hidup sesuai dg kebutuhan.</div>
<div>·        Positive thinking terhadap ujian yang datang dari Alloh</div>
<div>·        Tidak merasa iri atas keberhasilan orang lain.</div>
<div>·         berusaha optimis tidak pesimis dan tidak putus asa.</div>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<div><a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftnref1">[1]</a> Al Atsari Abdul Hamid bin  Syaikh Abdullah.Qona&#8217;ah, Kekayaan Tiada Habisnya</div>
</div>
<div>
<div><a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftnref2">[2]</a> Ya’qub Hamzah.1977.Tingkat Ketenangan Dan Kebahagiaan Mu’min,Surabaya:Bina Ilmu,hal 245</div>
</div>
<div>
<div><a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftnref3">[3]</a> Pokja Akademik UIN sunan kalijaga Yogyakarta.2005.Akhlak/tasawuf,Yogyakarta, hal :113</div>
</div>
<div>
<div><a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftnref4">[4]</a> (HR. Tirmidzi).</div>
</div>
<div>
<div><a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftnref5">[5]</a> <a href="http://www.duniadeen.com/2008/10/qanaah-dalam-kehidupan.html">http://www.duniadeen.com/2008/10/qanaah-dalam-kehidupan.html</a></div>
</div>
<div>
<div><a title="" href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=7856965103473943026#_ftnref6">[6]</a> H.R. Bukhari dan Muslim</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TAUBAT]]></title>
<link>http://sufijember.wordpress.com/2013/02/18/taubat/</link>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2013 02:46:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>sufimuda84</dc:creator>
<guid>http://sufijember.wordpress.com/2013/02/18/taubat/</guid>
<description><![CDATA[Taubat Menurut Imam Ghazali   Taubat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya &#8220;Ihya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3><strong><a href="http://sufiroad.blogspot.com/2011/12/taubat-menurut-imam-ghazali.html">Taubat Menurut Imam Ghazali</a></strong></h3>
<div> </div>
<div>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/-zTkJhSJmlN4/Tvba00HwAWI/AAAAAAAAEpk/MfRHrfdyTZA/s1600/Al-Ghazali.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5689975780108403042" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-zTkJhSJmlN4/Tvba00HwAWI/AAAAAAAAEpk/MfRHrfdyTZA/s320/Al-Ghazali.jpg" border="0" /></a>Taubat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya &#8220;Ihya ulumuddin&#8221; adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur:ilmu, hal dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiga amal.</p>
<p>Ia berkata: yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga. Berlangsung sesuai dengan hukum (ketentuan) Allah SWT yang berlangsung dalam kerajaan dan malakut-Nya.</p>
<p>Ia berkata: &#8220;Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. Karena hati, ketika ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu. Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan. Jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang. Tindakan yang ia lakukan saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya.</p>
<p>Yang pertama adalah ilmu. Dialah pangkal pertama seluruh kebaikan ini. Yang aku maksudkan dengan ilmu ini adalah keimanan dan keyakinan. Karena iman bermakna pembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan. Sedangkan yakin adalah penegasan pembenaran ini, tidak meragukannya serta memenuhi hatinya. Maka cahaya iman dalam hati ini ketika bersinar akan membuahkan api penyesalan, sehingga hati merasakan kepedihan. Karena dengan cahaya iman itu ia dapat melihat bahwa saat ini, karena dosanya itu, ia terhalang dari yang dia cintai. Seperti orang yang diterangi cahaya matahari, ketika ia berada dalam kegelapan, maka cahaya itu menghilangkan penghalang penglihatannya sehingga ia dapat melihat yang dia cintai. Dan ketika ia menyadari ia hampir binasa, maka cahaya cinta dalam hatinya bergejolak, dan api ini membangkitkan kekuatannya untuk menyelamatkan dirinya serta mengejar yang dia cintai itu.</p>
<p>Ilmu dan penyesalan, serta tekad untuk meninggalkan perbuatan dosa saat ini dan masa akan datang, serta berusaha menutupi perbuatan masa lalu mempunyai tiga makna yang berkaitan dengan pencapaiannya itu. Secara keseluruhan dinamakan taubat. Banyak pula taubat itu disebut dengan makna penyesalan saja. Ilmu akan dosa itu dijadikan sebagai permulaan, sedangkan meninggalkan perbuatan dosa itu sebagai buah dan konsekwensi dari ilmu itu. Dari itu dapat dipahami sabda Rasulullah Saw : &#8221; Penyesalan adalah taubat&#8221; (Hafizh al &#8216;Iraqi dalam takhrij hadits-hadits Ihya Ulumuddin berkata: hadits ini ditakhrijkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim. Serta ia mensahihkan sanadnya dari hadits Ibnu Mas&#8217;ud. Dan diriwayakan pula oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim dari hadits Anas r.a. dan ia berkata: hadits ini sahih atas syarat Bukhari dan Muslim), karena penyesalan itu dapat terjadi dari ilmu yang mewajibkan serta membuahkan penyesalan itu, dan tekad untuk meninggalkan dosa sebagai konsekwensinya. Maka penyesalan itu dipelihara dengan dua cabangnya, yaitu buahnya dan apa yang membuahkannya.&#8221; (Ihya Ulumuddin (4: 3,4), cetakan: Darul Ma&#8217;rifah, Beirut).mudah2 han bermanfaat untuk diri sendiri khususnya dan pembaca pada umumnya&#8230;aamiin</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[jangan bergembira saat lapang*]]></title>
<link>http://sufijember.wordpress.com/2013/02/18/jangan-bergembira-saat-lapang/</link>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2013 02:38:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>sufimuda84</dc:creator>
<guid>http://sufijember.wordpress.com/2013/02/18/jangan-bergembira-saat-lapang/</guid>
<description><![CDATA[Al Hikam : Orang Ma&#8217;rifat Lebih Mengkhawatirkan Keadaan Lapang   &#8220;Orang-orang ma&#8217;r]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3><strong><a href="http://sufiroad.blogspot.com/2012/01/al-hikam-orang-marifat-lebih.html">Al Hikam : Orang Ma&#8217;rifat Lebih Mengkhawatirkan Keadaan Lapang</a></strong></h3>
<div> </div>
<div>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/-vadWmmzooeQ/TrevAGQ6IOI/AAAAAAAAEaY/0THZSWzkjFI/s1600/al-hikam%2BIbnu%2BAthoillah.jpg"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5672194671912820962" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-vadWmmzooeQ/TrevAGQ6IOI/AAAAAAAAEaY/0THZSWzkjFI/s320/al-hikam%2BIbnu%2BAthoillah.jpg" border="0" /></a>&#8220;Orang-orang ma&#8217;rifat jika merasa lapang lebih banyak khwatirnya<br />daripada jika mereka dalam keadaan kesempitan. Dan tidak dapat tetap<br />berdiri di atas batas-batas adab di dalam keadaan lapang kecuali<br />sedikit&#8221;.</p>
<p>Orang-orang ma&#8217;rifat lebih khawatir dalam keadaan lapang daripada<br />dalam keadaan kesempitan. Sebab keadaan lapang itu sesuai dengan hawa<br />nafsunya. Sehingga mereka khawatir kalau sampai tertarik ke dalam<br />ajakan hawa nafsu. Misalnya selalu memperbincangkan berbagai keadaan<br />yang wujud ini, dan berbagai kekeramatan. Kadang-kadang bahkan keluar<br />dari padanya ucapan yang tidak patut diucapkan di hadapan Allah.<br />Padahal bagi orang ma&#8217;rifat dia harus selalu menjaga kesopanan di<br />hadapan-Nya.</p>
<p>Lagi pula keadaan lapang itu bisa menggelincirkan orang. Sehingga menyebabkan orang harus tambah berhati-hati. Sebaliknya kesempitan lebih mendekatkan orang menuju keselamatan.</p>
<p>Sehubungan dengan keadaan lapang dan kesempitan itu, Syaikh Ahmad bin &#8220;Athaillah berkata :</p>
<p>&#8220;Dalam keadaan lapang nafsu ikut mengambil bagiannya dengan bergembira, sedang dalam keadaan kesempitan tidak ada bagian sama sekali bagi nafsu itu.&#8221;</p>
<p>Menjaga kesopanan kepada Allah di dalam masa lapang merupakan perkara yang sukar. Karena itu di dalam masa lapang itu hawa nafsu ikut mengambil bagiannya dengan bergembira ria. Tetapi kalau dalam kesempitan hawa nafsu tidak dapat mengambil bagiannya. Dengan demikian orang lebih aman dalam keadaan kesempitan daripada dalam<br />keadaan lapang. Dalam keadaan lapang hawa nafsu mudah memperdaya. Sedangkan dalam kesempitan nafsu tak dapat memperdaya. Karena demikian itulah orang-orang ma&#8217;rifat lebih senang dalam kesempitan.</p>
<p>Jarang sekali orang yang kesempitan dari keadaan lapang atau kesempitan. Antara lapang dan kesempitan itu silih berganti bagaikan pergantian siang dan malam. Namun Allah tetap menerima penghambaan seseorang dalam dua keadaan itu. Barang siapa waktunya dalam kesempitan, maka dia tidak lepas dari dua keadaan, yaitu mengetahui<br />sebab-sebabnya dan tidak mengetahui sama sekali. Adapun sebab-sebab kesempitan (kerisauan hati) itu ada tiga, yaitu :</p>
<p>1.Dosa yang dilakukan, maka dia harus bertaubat.<br />2.Kehilangan sesuatu yang berhubungan dengan masalah keduniaan, maka orang harus menyerah dan rela.<br />3. Hinaan atau disakiti orang dzalim, maka dia harus sabar dan betah menanggung.</p>
<p>&#8220;Kadang-kadang Allah memberi kepadamu sesuatu dari masalah keduniaan, maka Dia menolak memberikan pertolongan kepadamu. Dan kadang-kadang Dia menolak memberikan sesuatu kepadamu, maka Dia kemudian memberi pertolongan kepadamu&#8221;.</p>
<p>Bila Allah memberi atau mencegah sesuatu dari masalah keduniaan, maka janganlah dilihat hanya lahirnya saja dari pemberian atau pencegah itu. Tetapi yang harus diperhatikan adalah hakekat perkaranya. Sebab kadang-kadang Allah memberikan masalah keduniaan kepada seseorang, akan tetapi dibalik itu dia memberikan pertolongan untuk ta&#8217;at kepada- Nya. Begitu pula kadang-kadang Allah menolak memberikan sesuatu dari<br />masalah keduniaan kepada seseorang, namun dibalik itu pula Dia memberi pertolongan kepadanya untuk ta&#8217;at kepada-Nya. Dengan demikian sebaiknya orang itu tidak mengatur dan memilih sendiri, melainkan hanya menyerahkan segala perkaranya kepada Allah.</p>
<p>Kemudian Syaikh Ahmad bin &#8216;Athaillah berkata :</p>
<p>&#8220;Apabila Allah telah membukakan kepadamu pintu kepahaman didalam penolakan (Nya), maka kembalilah penolakan itu sebagai kenyataan pemberian(Nya)&#8221;.</p>
<p>Bilamana Allah menolak sesuatu kepada seseorang, kemudian orang itu memahami bahwa penolakan Allah kepadanya merupakan suatu rahmat dari pada-Nya, maka penolakan itu pada hakekatnya adalah pemberian juga</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HAkekat zuhud menurut Imam Ghozali]]></title>
<link>http://sufijember.wordpress.com/2013/02/18/64/</link>
<pubDate>Mon, 18 Feb 2013 02:22:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>sufimuda84</dc:creator>
<guid>http://sufijember.wordpress.com/2013/02/18/64/</guid>
<description><![CDATA[Hakikat Zuhud   *****Mutiara Ihya ulumuddin***** Yang dimaksud dengan hakikatnya zuhud adalah menola]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<h3><strong><a href="http://sufiroad.blogspot.com/2012/08/hakikat-zuhud.html">Hakikat Zuhud</a></strong></h3>
<div><strong> </strong></div>
<div>
<div style="text-align:left;"><em><b>*****Mutiara Ihya ulumuddin*****</b></em></div>
<p>Yang dimaksud dengan hakikatnya zuhud adalah menolak sesuatu serta mengandalkan yang lain. Maka barangsiapa yang meninggalkan kelebihan dunia serta menolaknya dan mengharapkan akhirat maka ia juga zuhud di dunia.</p>
<p>Sedangkan derajat zuhud yang tertinggi adalah jika ia tidak menginginkan segala sesuatu selain Allah SWT bahkan akhirat. Zuhud haruslah disertai pengetahuan bahwa akhirat itu lebih baik daripada dunia. Amalan yang timbul dari suatu keadaan ialah sebagai pelengkap dari suatu keinginan terhadap akhirat. Sedangkan segala amalnya bagaikan pembayaran harga dengan memelihara harta serta anggota tubuh dari segala yang. bertentangan dengan jualan ini. Sedangkan keutamaan zuhud ditunjukkan oleh ayat sebagai berikut:</p>
<p><i>Allah SWT. telah berfirman, &#8220;Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bwni sebagaiperhiasan baginya agar Kami dapat menguji mereka siapa yang terbaik perbuatannya di antara mereka&#8221;</i>. (QS. Al-Kahfi: 7)</p>
<p>Allah SWT. telah berfirman, &#8220;<i>Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan tersebut baginya, serta barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, maka akan Kami berikan kepada mereka sebagian keuntungan dunia serta tidak akan ada bagktya suatu bagian pun di akhirat&#8221;.</i> (QS. Asy-Syura: 20)</p>
<p>Rasulullah Saw. telah bersabda, <i>&#8220;Barang siapa yang menginginkan di dunia, maka Allah SWT. akan mencerai beraikan pikiran beserta harta bendanya dan sebagian besar kemiskinannya ada di depan matanya, sedangkan dunia tidak datang kepadanya melainkan yang ditetapkan baginya. Sedangkan barang siapa yang keinginannya adalah akhirat, maka Allah SWT. akan menyatukan pikiran serta memelihara harta bendanya dan menjadikannya semua kekayaan di dalam hatinya dan dunia pun akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk&#8221;</i>.</p>
<p>Rasulullah Saw. telah bersabda, &#8220;<i>Jikalau engkau telah melihat seseorang yang dikaruniai sifat tenang serta menjauhi dunia, maka dekatilah dia, sebab mereka bagimu akan memberi sebuah hikmah</i>&#8220;.</p>
<p>Rasulullah Saw. juga telah bersabda, <i>&#8220;Jikalau engkau ingin dicintai oleh Allah SWT. maka jauhilah keduniaan, niscaya Allah akan mencintaimu</i>&#8220;.</p>
<p>Pada saat haritsah berkata kepada Rasulullah Saw., &#8220;<i>Aku seorang mukmin yang benar</i>?&#8221; Rasulullah Saw. berkata, &#8220;Apakah yang engkau ketahui tentang hakikat imanmu? Maka Haritsa menjawab, &#8220;<i>Diriku telah menjauhi dunia sehingga batu serta emasnya ialah sama bagiku. Seakan-akan aku telah melihat surga dan neraka dan seakan-akan menyaksikan Arsy Tuhanku</i>&#8220;.</p>
<p>Maka Rasulullah Saw. telah berkata, &#8220;<i>Engkau telah mengetahuinyaj maka tetapkanlah. Inilah salah satu contoh hamba yang diterangi hatinya oleh Allah SWT. dengan iman</i>&#8220;. Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang penjelasan firman Allah SWT, &#8220;<i>Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allah SWT. hatinya untuk (menerima) agama Islam, kemudian ia mendapatkan cahaya dari Tuhannya (sama halnya seorang yang telah membantu hatinya&#8221;</i>. (QS. Az-Zumar:39),</p>
<p>Didalam Firman yang lain, &#8220;<i>Barang siapa yang Allah ingin memberinya sebuah petunjuk niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam&#8221;</i>. (QS. Al-An&#8217;am: 125).</p>
<p>Maka Rasulullah Saw. pun menjawab, &#8220;<i>Sesungguhnya cahaya tersebut jikalau masuk ke dalam hati, maka dada pun menjadi lapang dan terbuka</i>&#8220;.<br />
Ada seseorang yang telah berkata, &#8220;Y<i>a Rasulullah, apakah keadaan tersebut ada tandanya</i>?&#8221;<br />
Maka beliau menjawab, &#8220;Ya, dengan menjauhi sebuah negeri yang terdapat tipu daya (dunia) serta kembali ke negeri yang kekal (akhirat) dan akan siap untuk menghadapi kematian yang akan tiba&#8221;.<br />
Jabirra. telah berkata, &#8220;Sesungguhnya Rasulullah Saw. Berkhutbah kepada kami seraya berkata, &#8220;Barang siapa dengan kalimat Laa Ilaaha Illallah tanpa dicampuri dengan yang lainnya, maka ia pun akan masuk surga&#8221;.<br />
Lalu Ali ra. juga telah bersabda, &#8220;Ayah dan ibuku yang akan menjadi tebusanmu, ya Rasulullah, apa yang tidak bercampur dengannya, coba terangkan ia kepada kami&#8221;. Maka Rasulullah Saw. berkata, &#8220;Cinta dunia dengan mencari serta dengan mengikutinya. Orang-orang yang mengatakan perkataan Nabi-nabi serta mengamalkan perbuatan orang-orang yang sombong. Maka barang siapa yang datang membawa kalimat &#8220;Laa ilaha illallah &#8221; tanpa dicampuri sesuatupun dari ini, maka wajiblah surga baginya&#8221;. Di dalam suatu kabar telah disebutkan, &#8220;Kedermawanan itu termasuk serta keyakinan serta tidak masuk mereka orang yang yakin, sedangkan kekikirannya termasuk keraguan serta tidak masuk surga siapa yang ragu&#8221;.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><b>Diantara tiga macam derajat zuhud</b></span><br />
Yang pertama, memaksakan zuhud terhadap dunia serta memerangi nafsunya di dalam usaha meninggalkannya walaupun disukainya. Ini ialah orang yang memaksakan zuhud serta mudah-mudahan berlangsung terus sampai ia mencapai zuhud.</p>
<p>Yang kedua, ia bersifat zuhud terhadap duia dengan suka rela sebab meremehkannya disamping ada yang diharapkannya. Seperti halnya orang yang sedang meninggalkan satu dirham demi dua dirham serta ini tidaklah memberatkannya, akan tetapi ia harus memperhatikan keadaan dirinya. Ini juga telah mengandung sebuah keknrangan. Yang ketiga, zuhud yang paling tinggi, yakni jikalau seseorang bersifat zuhud dengan suka rela serta tidak pernah merasakan zuhudnya, sebab ia tidak menganggap bahwa ia telah meninggalkan sesuatu sebab ia tahu bahwa dunia bukan apa-apa.</p>
<p>Maka, ia bagaikan orang yang sedang meninggalkan tanah yang liat serta mengambil permata. Ia tidak pernah menganggap itu sebagai pengganti, sedangkan dunia sendiri kalau dibandingkan dengan akhirat maka tidak ada artinya.</p>
<p>Telah berkata Abu Zaid ra. kepada Abi Musa Abdurrahman, &#8216;Tentang apa anda berbicara&#8221;.<br />
Maka ia menjawab, &#8216;Tidak lain tentang zuhud&#8221;.<br />
Kemudian Abu Zaid berkata, &#8220;Zuhud terhadap apa?&#8221;<br />
Sedang Abu Musa menjawab, &#8216;Terhadap dunia&#8221;.<br />
Maka Abu Zaid telah membebaskan tangannya seraya berkata, &#8220;Aku sedang mengira bahwa ia berbicara tentang sesuatu bagian dunia, bukan sesuatu yang ia bersikap zuhud terhadapnya&#8221;.</p>
<p>Seperti orang yang sedang meninggalkan dunia untuk akhirat menurut ahli makrifat serta para pemilik hati yang dipenuhi penyaksian serta mukasyafat ialah bagaikan orang yang sedang dihalangi anjing yang sedang memasuki pintu seorang raja, lalu ia melemparkan sepotong roti kepadanya sehingga melalaikan anjing tersebut serta ia pun masuk pintu dan akan mendapatkan kedudukan di sisi raja hingga ia melaksanakan perintahnya di seluruh kerajaannya. Tidakkah engkau melihat telah mendapat di sisi raja dengan sepotong roti yang sedang dilemparkannya kepada anjing dengan imbalan tersebut?</p>
<p>Setan itu anjing di pintu raja, yakni Allah SWT. Ia mencegah manusia bisa masuk, sedangkan pintu terbuka dan tabir terangkat, sedangkan dunia tendiri bagaikan sepotong roti. Jikalau engkau sedang memakainya, maka kelezatannya hanya bersifat sementara serta akan habis ketika sudah ditelan, lalu tinggal berat di perut besar, lalu menjadi busuk, serta perlu dikeluarkan yang dalam bentuk kotoran. Maka barang siapa yang meninggalkannya hanya untuk memperoleh sebuah kedudukan di sisi seorang raja, bagaimana ia perlu memperhatikannya?</p>
<p>Sebagaimana perbandingan dunia yang bersih dengan akhirat lebih sedikit daripada sepotong roti terhadap raja dunia, sebab tidaklah bisa dibandingkan antara sesuatu yang habis derigan sesuatu yang amat dekat, walaupun sedang berlangsung sejuta tahun bersih dari berbagai kekeruhan. Maka akan menantikan kesudahannya dengan kemusnahan. Jikalau demikain halnya, maka ketahuilah bahwa derajat yang tertinggi ialah jikalau engkau jauhi segala sesuatu selain Allah SWT. demi mengharapkan ridla-Nya. Maka hal tersebut dilakukan dengan mengenal-Nya serta mengenal kedudukan-Nya yang amat tinggi. Maka janganlah mengandalkan makan, minum, nikah, tempat tinggal, serta segala kebutuhanmu, melainkan sekedar yang engkau perlukan saja tidak lebih untuk menegakkan badan serta menghidupi dirimu. Inilah zuhud yang hakiki (mutlak). Wallahu A&#8217;lam</p>
<p>&#160;</p>
</div>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[.:: Nasehat Emas Imam Asy-Syafi'i ::.]]></title>
<link>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/02/14/nasehat-emas-imam-asy-syafii/</link>
<pubDate>Thu, 14 Feb 2013 13:34:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif dwi prasetyo</dc:creator>
<guid>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/02/14/nasehat-emas-imam-asy-syafii/</guid>
<description><![CDATA[Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, &#8220;Aku melihat pemilik ilmu h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, &#8220;Aku melihat pemilik ilmu h]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[.:: Karena Cinta Kulakukan Segalanya ::.]]></title>
<link>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/02/12/karena-cinta-kulakukan-segalanya/</link>
<pubDate>Tue, 12 Feb 2013 13:15:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif dwi prasetyo</dc:creator>
<guid>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/02/12/karena-cinta-kulakukan-segalanya/</guid>
<description><![CDATA[Cinta, sebuah kata sederhana tapi sarat makna. Sebuah rasa yang mampu membangkitkan semangat jiwa, m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Cinta, sebuah kata sederhana tapi sarat makna. Sebuah rasa yang mampu membangkitkan semangat jiwa, m]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belajar Untuk Bersyukur]]></title>
<link>http://soeparyowonosobo.wordpress.com/2013/02/11/belajar-untuk-bersyukur/</link>
<pubDate>Mon, 11 Feb 2013 07:54:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>pakparyo</dc:creator>
<guid>http://soeparyowonosobo.wordpress.com/2013/02/11/belajar-untuk-bersyukur/</guid>
<description><![CDATA[Jangan butakan mata kita hanya karena satu atau dua keinginan yang tidak tercapai, lalu kita ,menjad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Jangan butakan mata kita hanya karena satu atau dua keinginan yang tidak tercapai, lalu kita ,menjadi manusia pengeluh yang terhambat sebab hanya terfokus pada kekurangan. Mata kita selalu terbiasa melihat kekurangan, Ini yang biasanya sering tejadi, selalu dan ingin selalu uang kita lihat hanyalah kekurangan saja. Padahal, Allah telah berfirman : <em>“ Dan janganlah engkau tujukan penglihatanmu kepada yang Kami beri kesenangan dengannya berbagai golongan dari mereka berupa perhiasan dunia, supaya Kami menguji mereka padanya, sedangkan rezeki Tuhanmu lebih baik dan kekal ( QS Thaahaa : 131 ).</em></p>
<p>Orang yang tinggi melihat bahwa ia kurus. Orang yang pendek melihat ia gemuk betapa enak nya bila bisa bertambah tinggi lagi. Yang punya kendaraan sepeda motor masih ingin membeli mobil, yang punya rumah ingin ladang, masih ingin terus menumpuk hartanya dan masih banyak lagi.</p>
<p>Tidak salah memang punya banyak keinginan, namanya juga manusia yang ada hanyalah kurang dan kurang tanpa bisa mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepadanya. Inilah yang mesti kita pertanyakan dalam diri kita sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang Allah beri, janganlah kita jadikan diri kita sebagai manusia yang tidak pernah terpuaskan dahaga keinginannya, Belajar untuk menerima dan mensyukuri atas apa yang ada tapi berusaha untuk tetap meraih sesuatu yang belum ada dalam hidup kita. Berusaha untuk lebih giat dan lebih cermat menangkap peluang dalam keinginan diri kita mungkin saja keinginan, harapan itu adalah sesuatu yang positif yang memberikan kita maslahat. Akan tetapi jika salah dalam penyalurannya, misal dengan mencari jalan pintas, maka bisa ditebak, keinginan tersebut menjebaknya pada situasi kehidupan yang bermasalah. Ibaratnya, ia berenang di kolam yang tak bertepi, yang tiada henti untuk mencarinya.</p>
<p>Jika kita renungkan kehidupan ini sebenarnya sangatlah indah kalau dijalani dengan rasa syukur. Apa yang di sekeliling kita yang kita dapatkan kita nikmati sebagai anugerah atau pemberian Allah Yang Maha Baik. Keinginan dipasang, tapi tidak menjadikan pasung yang mengharuskan diri kita untuk memenuhi semuanya dari yang setiap kita inginkan dengan membabi buta. Karena menjadi suatu dosa bagi manusia adalah jika dia menuruti semua apa yang dia inginkan karena keinginan manusia itu identik dikuasai oleh hawa nafsu dan hawa nasfu itu datangnya dari setan dan setan selalu berusaha menjerumuskan manusia kedalam dosa.</p>
<p>Berusaha untuk selalu berterima kasih kepada Allah atas segala karunia dan nikmat-NYA dengan segala kebaikannya. Pasti Allah akan berkenan memberikan tambahan nikmat rezeki kepada kita. Allah berfirman :<em> ” Jika kamu bersyukur, niscaya akan Ku tambahkan nikmat-KU padamu, tapi jika kamu mengingkarinya akan nikmat-Ku, sungguh adzab-Ku sangatlah pedih.” ( Q.S Ibrahim ; 7 ).</em></p>
<p>Dan salah satu cara berterima kasih kepada Allah adalah dengan menerima apa adanya dan mau berbagi. Seharusnya kita malu sebab kita hanya meminta-minta dan selalu meminta tanpa pernah mau memberi. Seharusnya kita malu, kita mohon dan selalu memohon, tanpa pernah mau beribadah kepada-NYA dengan baik. Dan seharusnya kita malu,, Allah memberi segala karunia-Nya, memberi segala kenikmatan dunia, akan tetapi kita menikmatinya dalam kesendirian dan bahkan masih selalu merasa kurang, terlebih-lebih kita masih sering melakukan segala dosa kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah.</p>
<p>Jika kita tidak sudi memberi dan masih selalu merasa kurang, kapan kita merasa diri kita bahagia, tenang dan berkecukupan, bisa jadi ini adalah siksaan batin bagi kita.</p>
<p>Kita harus tetap berusaha dan belajar untuk mensyukuri semua nikmat Allah kepada kita dan semoga Allah membuka mata kita untuk bisa melihat kelebihan yang Allah karuniakan yang Allah anugerahkan kepada kita, bukan kita terfokus hanya pada kekurangan saja. Bisa jadi dengan menemukan kelebihan, kita bisa memulai berbuat banyak tanpa harus banyak mengeluh kepada Allah, karena sudah menjadi fitrah manusia memiliki kelebihan dan kekurangan dalam dirinya, tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Allah, tapi dengan ketidak sempurnaan manusia itu kita belajar untuk bersyukur atas apa yang kita terima, karena semua itu adalah ujian bagi diri kita atas kadar keimanan kita kepada Allah, kekurangan bisa jadi ladang amal untuk kita jika kita mampu untuk mensyukurinya tapi kelebihan juga bisa jadi adzab jika kita tidak mampu untuk mensyukurinya. Sungguh ampunan Allah sangatlah dekat akan tetapi adzab Allah juga sangatlah pedih.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[.:: Mewangi Di Jingga ::.]]></title>
<link>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/02/06/mewangi-di-jingga/</link>
<pubDate>Wed, 06 Feb 2013 04:00:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif dwi prasetyo</dc:creator>
<guid>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/02/06/mewangi-di-jingga/</guid>
<description><![CDATA[Lihatlah awan di jingga&#8230; merebah hamparan kisah tentang dua manusia&#8230; yang bertaut mesra]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Lihatlah awan di jingga&#8230; merebah hamparan kisah tentang dua manusia&#8230; yang bertaut mesra]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nasihat Nabi Kepada Imam Ali]]></title>
<link>http://almuhaddis.wordpress.com/2013/02/05/nasihat-nabi-kepada-imam-ali/</link>
<pubDate>Tue, 05 Feb 2013 05:20:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>almuhaddis</dc:creator>
<guid>http://almuhaddis.wordpress.com/2013/02/05/nasihat-nabi-kepada-imam-ali/</guid>
<description><![CDATA[  مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ النُّعْمَانِ عَن]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p lang="en-US" style="text-align:center;"> <a href="http://almuhaddis.files.wordpress.com/2013/02/hadith.png"><img class="size-full wp-image-19 aligncenter" alt="Hadith" src="http://almuhaddis.files.wordpress.com/2013/02/hadith.png?w=250&#038;h=214" width="250" height="214" /></a></p>
<p>مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى عَنْ عَلِيِّ بْنِ النُّعْمَانِ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَمَّارٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ع يَقُولُ كَانَ فِي وَصِيَّةِ النَّبِيِّ ص لِعَلِيٍّ ع أَنْ قَالَ يَا عَلِيُّ أُوصِيكَ فِي نَفْسِكَ بِخِصَالٍ فَاحْفَظْهَا عَنِّي ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ أَعِنْهُ أَمَّا الْأُولَى فَالصِّدْقُ وَ لَا تَخْرُجَنَّ مِنْ فِيكَ كَذِبَةٌ أَبَداً وَ الثَّانِيَةُ الْوَرَعُ وَ لَا تَجْتَرِئْ عَلَى خِيَانَةٍ أَبَداً وَ الثَّالِثَةُ الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ ذِكْرُهُ كَأَنَّكَ تَرَاهُ وَ الرَّابِعَةُ كَثْرَةُ الْبُكَاءِ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ يُبْنَى لَكَ بِكُلِّ دَمْعَةٍ أَلْفُ بَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ وَ الْخَامِسَةُ بَذْلُكَ مَالَكَ وَ دَمَكَ دُونَ دِينِكَ وَ السَّادِسَةُ الْأَخْذُ بِسُنَّتِي فِي صَلَاتِي وَ صَوْمِي وَ صَدَقَتِي أَمَّا الصَّلَاةُ فَالْخَمْسُونَ رَكْعَةً وَ أَمَّا الصِّيَامُ فَثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فِي الشَّهْرِ- الْخَمِيسُ فِي أَوَّلِهِ وَ الْأَرْبِعَاءُ فِي وَسَطِهِ وَ الْخَمِيسُ فِي آخِرِهِ وَ أَمَّا الصَّدَقَةُ فَجُهْدَكَ حَتَّى تَقُولَ قَدْ أَسْرَفْتُ وَ لَمْ تُسْرِفْ وَ عَلَيْكَ بِصَلَاةِ اللَّيْلِ وَ عَلَيْكَ بِصَلَاةِ الزَّوَالِ وَ عَلَيْكَ بِصَلَاةِ الزَّوَالِ وَ عَلَيْكَ بِصَلَاةِ الزَّوَالِ وَ عَلَيْكَ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَ عَلَيْكَ بِرَفْعِ يَدَيْكَ فِي صَلَاتِكَ وَ تَقْلِيبِهِمَا وَ عَلَيْكَ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ وَ عَلَيْكَ بِمَحَاسِنِ الْأَخْلَاقِ فَارْكَبْهَا وَ مَسَاوِي الْأَخْلَاقِ فَاجْتَنِبْهَا فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَلَا تَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَكَ</p>
<p>Dari Mu`āwiyah bin `Ammār berkata, aku mendengar Abā `Abd Allāh (عليه السلام) bersabda: “Di dalam hadis Nabi(صلى الله عليه وآله وسلم)kepada`Alī (عليه السلام) bahawa baginda (صلى الله عليه وآله وسلم) bersabda: ‘Wahai `Alī, aku mengingatkan kamu tentang sifat diri yang perlu kamu perlu pelihara.’ Kemudian baginda (صلى الله عليه وآله وسلم) bersabda: ‘Ya Allāh, bantulah beliau.</p>
<p>1.     Berkatalah benar dan jangan biarkan sekalipun dusta keluar dari mu</p>
<p>2.     al-Wara` , Dan jangan membuat khianat.</p>
<p>3.     Takutlah Allah apabila menyebutnya, seperti kamu melihatnya.</p>
<p>4.     Banyaklah menangis kerana takutkan Allah, dan setiap air mata, seribu rumah akan dibina untuk mu di Jannah.</p>
<p>5.     Berikanlah kekayaan dan darahmu untuk agama</p>
<p>6.     Berpeganglah kepada Sunnah ku dalam Solatku, puasaku, sedekahku. Adapun untuk solat adalah 50 rakaat. Adapun untuk puasa adalah tiga hari dalam sebulan, khamis pertama, hari Rabu pertengahan dan Khamis terakhir. Adapun untuk sedekahku, ia adalah mengikut kemampuan mu, sehingga kamu mengatakan, &#8220;aku telah memberi lebih(dari kemampuan), namun ia tidak lebih.</p>
<p>7.     Dan ke atas kamu adalah solat malam. Dan ke atas kamu solat zawal(3x [pengulangan)</p>
<p>8.    Dan ke atas kamu adalah tilāwah  Qur’ān dalam setiap keadaan.</p>
<p>9.    Dan ke atas kamu mengangkat tangan dalam solat dan memusingkan mereka.</p>
<p>10.  Dan ke atas kamu adalah siwāk setiap kali wudū’</p>
<p>11.  Dan ke atas kamu adalah akhlaq yang baik dan punyailah ia, serta elakkan adab tidak baik.</p>
<p lang="en-US">Jika kamu tidak melakukan perkara ini, maka kamu tidak punya orang lain melainkan diri mu untuk disalahkan’”</p>
<p>Sumber:</p>
<p>1.     Al-Kulaynī, Al-Kāfī,  jil. 8, hal. 79, hadis # 33</p>
<p>Status:</p>
<p>1.     Al-Majlisī mengredkan hadis ini Ṣaḥīḥ ;Mir’āt Al-`Uqūl,  jil. 25, hal. 180</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hubungan Akhlaq dan Ibadah]]></title>
<link>http://uripsantoso.wordpress.com/2013/02/01/hubungan-akhlaq-dan-ibadah/</link>
<pubDate>Fri, 01 Feb 2013 00:00:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>uripsantoso</dc:creator>
<guid>http://uripsantoso.wordpress.com/2013/02/01/hubungan-akhlaq-dan-ibadah/</guid>
<description><![CDATA[Kalau kita amati kehidupan sehari-hari, banyak terjadi paradoks. Banyak orang rajin shalat ke masjid]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kalau kita amati kehidupan sehari-hari, banyak terjadi paradoks. Banyak orang rajin shalat ke masjid]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bersikap lembut-akhlaq da'i]]></title>
<link>http://yakutdanmarjan.wordpress.com/2013/01/29/bersikap-lembut-akhlaq-dai/</link>
<pubDate>Tue, 29 Jan 2013 00:48:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>الفقر إلى الله</dc:creator>
<guid>http://yakutdanmarjan.wordpress.com/2013/01/29/bersikap-lembut-akhlaq-dai/</guid>
<description><![CDATA[Dr.Fadhl Ilahi berkata: Dari Aisyah radhiyallahu &#8216;anha, rasulullah shallallahu alaihi wasallam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yakutdanmarjan.files.wordpress.com/2013/01/index.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-730" alt="index" src="http://yakutdanmarjan.files.wordpress.com/2013/01/index.jpg?w=284&#038;h=177" width="284" height="177" /></a></p>
<p>Dr.Fadhl Ilahi berkata:</p>
<p>Dari Aisyah radhiyallahu &#8216;anha, rasulullah shallallahu alaihi wasallam barsabda,&#8221;Ya Allah barangsiapa yang bersikap lembut kepada umatku maka berlaku lembutlah kepadanya dan barangsiapa yang menyusahkan umatku maka susahkanlah dia.&#8221;(Al Fathu Rabbani li tartibi musnad al imam ahmad bin hanbal , kitab akhlaq al hasanah,bab targhib fir rifq wa maa jaa bihi 19/85)</p>
<p>Maka seorang da&#8217;i adalah orang yang paling pantas untuk bersemangat dalam memperoleh do&#8217;a nabi yang mulia shallallahu &#8216;alaihi wasallam.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[.:: Hati-hati Bawa Hati ::.]]></title>
<link>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/01/25/hati-hati-bawa-hati/</link>
<pubDate>Fri, 25 Jan 2013 10:03:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif dwi prasetyo</dc:creator>
<guid>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/01/25/hati-hati-bawa-hati/</guid>
<description><![CDATA[aduh, susahnya punya hati letaknya tersembunyi, tapi geraknya tampak sekali (he hemm, malu juga diri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[aduh, susahnya punya hati letaknya tersembunyi, tapi geraknya tampak sekali (he hemm, malu juga diri]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The most beautiful part of our religion - Akhlaq]]></title>
<link>http://masturaat.wordpress.com/2013/01/24/good-etiquette/</link>
<pubDate>Thu, 24 Jan 2013 21:45:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>khaala ocean</dc:creator>
<guid>http://masturaat.wordpress.com/2013/01/24/good-etiquette/</guid>
<description><![CDATA[Good etiquette is the way to attain honor in this life and happiness in the next. It is related from]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Good etiquette is the way to attain honor in this life and happiness in the next. It is related from our beloved Prophet (sallallahu alaihi wa sallam) that the believer with the best character and etiquette is one with the most perfect faith. Remember that good etiquette is the best blessing after having accepted Islam.</p>
<p>The elders [masha’ikh] have mentioned ten signs of good etiquette:</p>
<blockquote><p><strong>(1) Meeting people with a cheerful attitude<br />
(2) Empathizing with others<br />
(3) Helping those in dire need<br />
(4) Not obstructing people’s good actions and intentions<br />
(5) Not speaking ill of people nor picking out and spreading faults of people<br />
(6) Noting one’s own faults and others’ good characteristics<br />
(7) Treating kindly those who wrong you<br />
(8) Accepting the apology of someone who has wronged you<br />
(9) Choosing moderation in everything<br />
(10) Staying away from worthless pursuits</strong></p></blockquote>
<p><a href="http://tasawwuf.org/writings/wisdom_seeker/wisdom_letter18.pdf" target="_blank">Read the full article here. &#8211; only 2 pages</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[.:: Sahabat terbaikku menampar dan menolongku ::.]]></title>
<link>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/01/23/sahabat-terbaikku-menampar-dan-menolongku/</link>
<pubDate>Wed, 23 Jan 2013 10:21:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif dwi prasetyo</dc:creator>
<guid>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/01/23/sahabat-terbaikku-menampar-dan-menolongku/</guid>
<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim Sahabatku yang dirahmati Allah, ketika engkau mendapatkan kebahagiaan atau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim Sahabatku yang dirahmati Allah, ketika engkau mendapatkan kebahagiaan atau]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Al Liin Dan Ar Rifq - akhlaq da'i]]></title>
<link>http://yakutdanmarjan.wordpress.com/2013/01/22/al-liin-dan-ar-rifq-akhlaq-dai/</link>
<pubDate>Tue, 22 Jan 2013 03:19:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>الفقر إلى الله</dc:creator>
<guid>http://yakutdanmarjan.wordpress.com/2013/01/22/al-liin-dan-ar-rifq-akhlaq-dai/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Al liin : Sifat lemah lembut,akhlaq yang baik,banyak memaafkan, tidak terburu-buru marah dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yakutdanmarjan.files.wordpress.com/2013/01/images1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-720" alt="images" src="http://yakutdanmarjan.files.wordpress.com/2013/01/images1.jpg?w=259&#038;h=194" width="259" height="194" /></a></p>
<p>&#160;</p>
<p>Al liin : Sifat lemah lembut,akhlaq yang baik,banyak memaafkan, tidak terburu-buru marah dan bersikap kasar jika muncul satu kesalahan dari kaum muslimin.</p>
<p>Ar Rifq: lawan dari kekasaran dan mengandung sikap lemah lembut,ucapan dan perbuatan yang halus serta  mengambil jalan yang paling mudah.</p>
<p>Dr. Fadhl Ilahi berkata:</p>
<p>&#8221; yang diinginkan dari al liin dan ar rifq adalah al mudaroh seperti dikatakan al aini,&#8221;itu adalah sikap lembut terhadap orang jahil yang sembunyi-sembunyi ketika melakukan kemaksiatan dan bersikap lunak dengannya sampai dia mengembalikan orang jahil itu dari keadaannya.&#8221;Ibnu Bathol berkata,&#8221;Mudaroh termasuk akhlaq orang-orang yang beriman yaitu rendah hati kepda manusia, lemah lembut dalam ucapan, dan tidak kasar terhdap merka. demikian ini termasuk sebab terbesar untuk mempersatukan hati.Sebagian mereka mengira bahwa mudaroh itu dianjurkan sedangkan mudahanah(basa-basi) diharamkan. Perbedaanya adalah bahwa mudahanah dari kata ad dihan yang artinya orang yang menampakkan sesuatu dan menyembunyikan batinnya. Dan Para ulama menafsirkan mudahanah ialah dia bergaul dengan orang fasiq dan menampakkan keridhoan dengan perbuatannya tanpa mengingkarinya. Sedangkan mudaroh adalah bersikap lemah lembut terhadap orang jahil dalam mengajarinya dan terhada orang fasiq dalam mencegah perbuatannya, tidak bersika kasar kepadanya ketika ia tidak menampakkan perbuatannya, serta mengingkarinya dengan perbuatan dan perkataan yang halus apalagi ketika dibutuhkan untuk membujuk hatinya.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[.:: Dibalik Cinta Dalam Diam ::.]]></title>
<link>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/01/21/dibalik-cinta-dalam-diam/</link>
<pubDate>Mon, 21 Jan 2013 04:28:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>arif dwi prasetyo</dc:creator>
<guid>http://arifdwipoenya.wordpress.com/2013/01/21/dibalik-cinta-dalam-diam/</guid>
<description><![CDATA[♥Dibalik cinta dalam diam, aku belajar mencintai dengan tulus, ikhlas, dan karena-Nya. ♥Dibalik cint]]></description>
<content:encoded><![CDATA[♥Dibalik cinta dalam diam, aku belajar mencintai dengan tulus, ikhlas, dan karena-Nya. ♥Dibalik cint]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ONANI DAN MASTURBASI APAKAH BOLEH?]]></title>
<link>http://seteteshidayah.wordpress.com/2013/01/16/onani-dan-masturbasi-apakah-boleh/</link>
<pubDate>Wed, 16 Jan 2013 08:58:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>seteteshidayah</dc:creator>
<guid>http://seteteshidayah.wordpress.com/2013/01/16/onani-dan-masturbasi-apakah-boleh/</guid>
<description><![CDATA[ONANI DAN MASTURBASI APAKAH BOLEH ?  Oleh : Abu Akmal Mubarok Telah sampai kepada kami salah satu pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>ONANI DAN MASTURBASI APAKAH BOLEH ?</strong></p>
<p style="text-align:center;"> Oleh : Abu Akmal Mubarok</p>
<p><a href="http://seteteshidayah.files.wordpress.com/2013/01/hand-splash.jpg"><img class="size-full wp-image aligncenter" id="i-590" alt="Image" src="http://seteteshidayah.files.wordpress.com/2013/01/hand-splash.jpg?w=188&#038;h=255" width="188" height="255" /></a></p>
<p>Telah sampai kepada kami salah satu pertanyaan yang sebagian orang menganggap tabu dan risih untuk ditanyakan. Namun salah seorang saudara kita berkeyakinan tak ada tabu atau malu dalam hal bertanya soal kebenaran, sekalipun hal itu menyangkut hal pribadi dan privacy. Sikap ini adalah sikap yang benar, sebagaimana dicontohkan oleh kalangan sahabat wanita pada jaman Rasulullah s.a.w. :</p>
<p>Ummu Sulaim r.a. datang kepada Nabi saw. lalu berkata: <i>Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah seorang wanita wajib mandi jika bermimpi? Rasulullah saw. bersabda: Ya, apabila ia melihat air man</i>i (H.R. Muslim No.471)</p>
<p>Bagi yang mungkin belum familiar dengan tema yang ditanyakan, onani dan masturbasi adalah merangsang kemaluannya sendiri untuk melepaskan desakan biologis / seksual. Istilah onani berasal dari cerita Onan dalam Bible Perjanjian Lama Kitab Kejadian 38:4-10, dimana Onan selalu membuang “air maninya”. Maka istilah onani itu lebih dikaitkan pada lelaki. Sedangkan masturbasi adalah perilaku serupa yang dilakukan wanita.</p>
<p>Kebanyakan ulama jika ditanya mengenai onani dan masturbasi akan serta mera mengatakan haram. Karena pada dasarnya seorang mukmin diminta untuk menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri atau budaknya.</p>
<p><i>“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela</i>.” (Q.S. Al Mu&#8217;minuun: 5 – 6)</p>
<p>Maka berdasarkan keumuman maksud dari ayat di atas, Imam Syafi’I dan Imam Malik serta ulama lainnya mengharamkan orang melakukan onani atau masturbasi baik pria maupun wanita. Karena hal itu dianggap sebagai menyalurkan pada  tempatnya yang sah.</p>
<p>Bagaimana dengan yang belum beristiri / bersuami? Rasulullah s.a.w. memberikan solusi agar menahan panadangan (gadhul bazhor), menghindari melihat hal-hal yang merangsang syahwat dan solusi kedua adalah berpuasa.</p>
<p>Dari Ibnu Mas’ud r.a. Nabi SAW bersabda: “<i>Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya</i>”. (H.R. Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400)</p>
<p>Ada juga yang melarang onani berdasarkan hadits ini :</p>
<p>“<i>Ada tujuh golongan yang Allah tidak akan memandang kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan membersihkan mereka (dari dosa-dosa) dan berkata kepada mereka: ‘Masuklah kalian ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya!’ (di antaranya): … dan orang yang menikahi tangannya (melakukan onani/masturbasi) (</i>H.R. Ibnu Bisyran)</p>
<p>Hadits di atas adalah hadits dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Abdullah bin Lahi’ah dan Abdurrahman bin Ziyad bin An’um Al-Ifriqi, keduanya dha’if (lemah) hafalannya. Al-Hafizh Ibnu Hajar Asqolani telah menjelaskan hal ini dalam At-Talkhish Al-Habir Hadits no. 1666. Demikian pula Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil no. 2401 serta As-Silsilah Adh-Dha’ifah no. 319.</p>
<p>Ada juga yang melarang onani dan masturbasi berdasarkan hadits ini :</p>
<p align="center">&#8220;<i>Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat</i>&#8220;  (H.R. Bukhari Muslim)</p>
<p>Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama mengatakan tak ada solusi lain selain dua solusi di atas. Mereka mencukupkan diri dengan ayat dan hadits di atas. Saya rasa, fatwa semacam ini kurang bijak dan tidak mempertimbangkan realita di lapangan, dan tidak memberikan solusi bagi sebagian orang yang memang menghadapi masalah yang serius dalam hal ini.</p>
<p>Istilah onani sendiri berasal dari cerita Onan dalam Taurat  (saat ini dibukukan oleh umat nasrani dinamakan Bible Perjanjian Lama. Dimana Onan dinikahkan dengan saudari sepupunya yang ia tidak cintai, maka Onan tidak bersedia memiliki keturunan dari istrinya itu, sehingga ia selalu membuang air maninya ke luar.</p>
<p>Namun pelarangan onani bukan monopoli syariat Islam. Agama Nasrani pun memiliki ayat yang isinya senada dengan hadits Rasulullah s.a.w. di atas. Dalam dalam Salinan Injil oleh Matius Pasal 5 ayat 28 dikatakan : “Setiap orang yang memandang wanita dan lalu menginginkannya, maka ia sudah berzina dalam hatinya”.</p>
<p>Namun demikian, perlu dipahami bahwa solusi permasalahan fiqih terkadang tidak bisa semata terpaku pada keumuman dalil sehingga dikatakan selamanya boleh atau selamanya haram. Juga tidak bisa dipukul rata pada semua kondisi. Demikian pula tidak bisa boleh bagi semua orang dalam semua kondisi, atau diharamkan bagi semua orang pada semua situasi. Keputusan fikih bisa berubah tergantung situasi dan zaman, juga bisa berbeda pada satu negeri dengan negeri lain. Demikian pula harus memahami dan meninjau realita zaman.</p>
<p>Pertama, Jika onani atau masturbasi itu dilakukan dalam lingkungan pernikhaan. Misalnya oleh pasangan suami istri dalam rangka memberikan rangsangan satu sama lain, maka jelas hal ini dibolehkan. Demikian pula jika suami atau istri masing-masing merangsang dirinya sendiri, di hadapan pasangannya sebagai persiapan menuju coitus (hubungan suami istri) atau jima’ maka hal itu adalah halal. Hal ini juga bisa menjadi solusi misalnya ketika istrinya sedang haid atau sedang nifas (pendaharan pasca melahirkan) dimana syariat memang melarang suami untuk berhubungan badan selama 40 hari. Maka untuk laki-laki yang tidak tahan dengan gejolak biologisnya, maka hal ini bisa menjadi solusi.</p>
<p>Kedua, jika yang bersangkutan belum menikah dan terdesak syahwat yang memuncak sehingga khawatir dirinya melakukan zina, maka onani atau masturbasi ini bisa haram bisa makruh bisa juga boleh, tergantung situasinya.</p>
<p>Ketiga, jika ia bukan tergolong orang yang memiliki kelebihan hormon, atau memiliki libido yang di atas normal, dan masih ada alternatif jalan untuk mengendurkan desakan syahwatnya dengan cara menghindari hal-hal yang merangsang syahwat. Maka ia wajib untuk berusaha menghindari hal-hal yang merangsang syahwat, seperti berlama-lama menatap wanita (atau jika wanita maka jangan menatap pria tampan lama-lama) karena ini semua akan membangkitkan syahwat.</p>
<p><i>&#8220;Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan dan memelihara kemaluannya&#8221; </i>(Q.S.<i> </i>An-Nuur : 30)</p>
<p>Yang dimaksud adalah jangan menatap lama-lama sehingga sampai timbul khayalan dan bayangan atau terbayang-bayang dalam pikiran</p>
<p><i>&#8220;Dari jarir bin Abdullah r.a. , ia berkata saya bertanya kepada Rasulullah s.a.w. mengenai melihat wanita secara mendadak, maka jawab Nabi : Palingkan pandanganmu !&#8221;              </i>(H.R. Muslim Abu Daud Tirmidzi dan Ahmad).</p>
<p>Dalam hadits lain dikatakan :</p>
<p><i>&#8220;Hal Ali ! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan yang lainnya, kamu hanya boleh pandangan yang pertama, padangan berikutnya tidak boleh</i>&#8221; (H.R. Abu Daud)<i></i></p>
<p>Ini semua dalam rangka meredam gejolak. Dan jangan sampai membuat syahwat memuncak.</p>
<p>Keempat, jika masih mampu, sebaiknya ia berusaha mengendalikan diri dengan cara berpuasa, atau berusaha menyalurkan kelebihan hormonnya dengan banyak berolah raga, maka hal ini lebih patut untuk dicoba. Sehingga pada situasi seperti ini onani dan masturbasi adalah makruh.</p>
<p>Dalam sebuah hadits Rasulullah s.a.w. bersabda :</p>
<p>“<i>Hai para pemuda barang siapa diantara kalian sudah mampu menikah maka hendaklah menikah sebab dengan cara ini ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya. Barang siapa belum diberi kemampuan untuk menikah hendaklah ia berpuasa, karena puasa baginya adalah perisai</i>” (H.R. Bukhari)</p>
<p>Kelima, jika ia tergolong orang yang memiliki kelebihan hormon, memiliki libido yang di atas rata-rata, dan ia telah mencoba berbagai cara termasuk berpuasa untuk meredakan gejolak syahwatnya namun tetap saja tidak tertanggulangi, sehingga khawatir terjerumus zina, atau bagi sebagian orang bisa mengalami pusing, demam, sulit konsentrasi dan beraktifitas secara normal,</p>
<p>Ulama Madzhab Hanafi dan Madzhab Dzahiri Ibnu Hazm membolehkan bagi orang seperti ini onani atau masturbasi boleh dilakukan hanya dalam keadaan sangat terpaksa yaitu takut zina dan tidak mampu kawain. Sedangkan Madzhab Imam Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa air mani itu ibarat daging lebih yang bila mana perlu (atau terdesak) boleh dipotong atau dibuang. Sedangkan Madzhab Syafi’i tetap mengharamkannya.</p>
<p>Orang yang mengalami kelebihan hormon dan daya seksual tinggi biasanya ditandai dengan terjadinya pubertas (akil baligh) yang terlalu dini, seperti misal umur 9 tahun sudah mimpi basah, sudah tumbuh jakun dan bulu kemaluan, atau sudah mengalami menstruasi bagi wanita. Atau bagi sebagian pria tandanya adalah sering keluar mazi (berbeda dengan mani) yaitu cairan encer pengantar air mani. Orang seperti ini sering kerepotan karena  testis nya memproduksi sperma dalam jumlah berlebih dibanding rata-rata lelaki lainnya, walaupun ia tidak melihat hal-hal yang merangsang. Hal ini pernah terjadi pada Ali bin Abi Thalib r.a. :</p>
<p align="left">Dari  Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata:  <i>Aku adalah lelaki yang sering keluar mazi dan aku malu bertanya kepada Nabi saw., karena posisi putri beliau. Lalu aku menyuruh Miqdad bin Aswad menanyakan hal itu. Miqdad lalu menanyakan hal itu kepada beliau. Dan beliau bersabda: Hendaknya ia membasuh kemaluannya (setiap keluar mazi) lalu berwudhu</i>. (H.R. Muslim No.456)</p>
<p>Keenam, sebagian ulama yang membolehkan onani atau masturbasi memberikan catatan bahwa orang tersebut harus terlebih dahulu menghindarkan diri dari hal-hal yang membangkitkan syahwat, kemudian andaipun tidak bisa juga ia terlebih dahulu berusaha meredam gejolaknya dengan cara berpuasa, berolah raga, mengalihkan perhatian pada hal hal bermanfaat dan menyalurkan energinya pada hal lain. Jika hal ini tidak bisa juga baru ditempuh jalan terakhir yang makruh.</p>
<p>Ketujuh, jika ia tidak termasuk pada golongan orang-orang yang terdesak karena kondisi diri yang melebihi orang lain, dan ia belum mencoba untuk melakukan usaha meredam gejolaknya, dan semata mata ia melakukan ini karena ingin merasakan kenikmatan dengan cara yang salah, maka hal ini adalah haram dan termasuk zina mata dan zina hati. Walaupun ia seorang suami yang telah memiliki istri, dan ia tidak mau menggauli istrinya malah ia lebih suka menyalurkan dengan cara onani dan masturbasi, sedangkan istrinya menunggu dan siap melayaninya, maka ini juga adalah cara yang haram.</p>
<p><strong>Pendapat Ulama Yang Mengharamkan Onani</strong></p>
<p>Imam Ghazali menukil sebuah riwayat dari Ibnu Abbas r.a. bahwa suatu ketika seorang pemuda bertanya kepada Ibnu Abbas r.a. : “Saya adalah seorang pemuda yang mengkhawatirkan diri saya kadang saya mengeluarkan mani dengan tangan saya (onani) maka apakah demikian itu termasuk maksiat?” Ibnu Abbas r.a. berkata : <i>cis, cis, kawin dengan wanita budak itu lebih baik daripada onani namun onani itu lebih baik daripada berzina</i> “(Ihya Ulumudiin Kitab bab Targhib fii Nikah Jilid 2 Hal 702)</p>
<p>Ibnu Taimiyyah berkata dalam Kitab Majmu Fatawa nya : Onani itu hukumnya haram menurut kebanyakan ulama dan ini adalah salah satu dari dua riwayat Imam Ahmad, bahkan dikatakan yang paling jelas. Sedangkan menurut satu riwayat (Imam Ahmad yang lain) hukumnya adalah makruh. Tetapi bila timbul guncangan dalam jiwa orang yang bersangkutan, misalnya ia khawatir terjatuh ke dalam perbuatan zina jika tidak melakukan onani, atau khawatir sakit (karena menahan mani) maka dalam hal ini terdapat dua macam pendapat ulama. Beberapa golongan ulama salaf dan khalaf memberikan keringanan )membolehkannya) sedang sebagian lainnya melarangnya (Majmu’ Fatawa Juz 34 Hal 230)</p>
<p>Ketiga, jika ia sengaja menjerumuskan dirinya dengan gemar melihat hal-hal yang merangsang syahwat lalu akhirnya tidak kuat menahan syahwat dan khawatir zina, maka orang seperti ini dibolehkan melakukan onani atau masturbasi daripada akhirnya berzina. Namun tindakannya menjerumuskan dirinya dengan gemar melihat hal-hal yang merangsang syahwat adalah terlarang.</p>
<p>Keempat, kita mengetahui realita pada jaman ini banyak negara yang suasana kehidupan masyarakatnya tidak islami, dimana wanita dibolehkan lalu lalang dengan pakaian seadanya di tempat umum, di mall, pasar, perkantoran, hanya mengenakan short pant (celana pendek), baju menerawang, bahkan mengenakan pakaian dalam saja di tempat tertentu (misal di pantai) maka situasi seperti ini jelas berpotensi merangsang syahwat. Hanya orang tidak normal dan pura-pura bodoh saja yang menuduh “lelaki berpikiran kotor” saja yang terangsang dengan hal ini. Kami mengatakan justru semua lelaki “normal” sewajarnya terangsang dengan hal seperti ini. Dan hal ini di luar, kendali individu, karena ini adalah kewajiban pemerintah untuk mengaturnya. Maka dengan situasi seperti ini, onani dan masturbasi adalah jalan darurot untuk membebaskan diri dari perangkap zina. Karena setelah desakan syahwat itu tersalurkan, manusia bisa bertindak lebih tenang, berfikir jernih dan tidak dikuasai hawa nafsu.</p>
<p>Ibnu Hajar Asqolani dalam Fathul Bari mengatakan : “<i>Segolongan ulama membolehkan onani, dan ini adalah pendapat golongan Hanabilah (Mazhab Hambali) dan sebagian ulama Hanafiyah (Mazhab Hanafi) karena untuk mengendurkan syahwat” </i> (Fathul Bari Juz 11 Hal 12)</p>
<p>Apalagi bagi mereka yang tinggal di negara kafir dan liberal yang menganut sex bebas, dimana sex shop dan video porno dijual bebas di depan gerbang sekolah, orang bercumbu bahkan melakukan hubungan layaknya suami istri di tempat umum dan tidak peduli dilihat orang banyak, maka pada situasi negeri seperti ini, onani dan masturbasi adalah dibolehkan daripada ia terseret arus sex bebas di negeri itu.</p>
<p>Keenam, jika orang tersebut sudah menjadi kecanduan onani atau masturbasi, sehingga onani dan masturbasi itu bukan lagi sebagai solusi darurat untuk mengendurkan syahwat melainkan malah berubah menjadi suatu cara untuk menikmati alat vitalnya sendiri atau kegemaran berkhayyal akan hal-hal maksiat, maka orang seperti ini haram melakukan onani atau masturbasi.</p>
<p>Ibnu Taimiyah berkata: “<i>Adapun melakukan onani untuk bernikmat-nikmat dengannya, menekuninya sebagai adat, atau untuk mengingat-ngingat (nikmatnya menggauli seorang wanita) dengan cara mengkhayalkan seorang wanita yang sedang digaulinya saat melakukan onani, maka yang seperti ini seluruhnya haram. Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengharamkannya, demikian pula yang selain beliau </i>(Majmu’ Fatawa Juz 10 Hal 574)</p>
<p>Perlu diketahui, dari hasil survei, anak muda lebih banyak melakukan kegiatan onani atau masturbasi ketimbang manusia dewasa. Tentu saja karena kelebihan hormon lebih sering terjadi. yang berlebihan akan membahayakan tubuh sekaligus meruntuhkan moral seseorang, baik itu pria maupun wanita.</p>
<p>Syaikh Ali Thanthowi mengatakan : Jika seseorang sengaja melakukan onani meskipun keburukannya paling kecil danmudharatnya paling ringan di antara tiga macam kehelekan tetapi jika melampaui  batas maka ia dapat menimbulkan kesedihan dalam hati, dan penyakit tubuh dan menjadikan pelakunya yang masih muda nampak tua, gundah, malas atau beringas yang menyebabkan orang lain lari dan takut padanya dan dia sendiri akan takut menghadapi kenyataan beban kehidupan (Shuwar wa Khawaathir Hal 167)</p>
<p>Wallahua&#8217;lam</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dosa Tanpa Taubat Hati Akan Hitam]]></title>
<link>http://wahyusejati4.wordpress.com/2013/01/15/dosa-tanpa-taubat-hati-akan-hitam/</link>
<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 02:30:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyusejatiempat</dc:creator>
<guid>http://wahyusejati4.wordpress.com/2013/01/15/dosa-tanpa-taubat-hati-akan-hitam/</guid>
<description><![CDATA[HATI adalah organ yang paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan oleh Allah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://wahyusejati4.files.wordpress.com/2013/01/ht-htm.jpeg" alt="Hitam Hati" /><br />
HATI adalah organ yang paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan oleh Allah. Hati menjadi tempat Allah membuat penilaian terhadap hamba-Nya. Pada hatilah letaknya niat seseorang. Niat yang ikhlas itu akan diberi pahala oleh Allah.</p>
<p>Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak rosak, sakit, buta, keras dan lebih-lebih lagi tidak mati. Sekiranya berlaku pada hati keadaan seperti ini, kesannya adalah membabitkan seluruh anggota tubuh badan manusia. Maka, akan lahirlah penyakit masyarakat berpunca dari hati yang sudah rosak itu.</p>
<p>Justeru, hati adalah amanah yang wajib dijaga sebagaimana kita diamanahkan untuk menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya daripada berbuat dosa dan maksiat. </p>
<p>Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana dosa. Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.</p>
<p>Perkara ini jelas digambarkan dalam hadis Rasulullah bermaksud: “Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya. </p>
<p>Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam.” (Hadis riwayat Ibn Majah).</p>
<p>Hadis ini selari dengan firman Allah yang bermaksud “Sebenarnya ayat-ayat Kami tidak ada cacatnya, bahkan mata hati mereka telah diseliputi kekotoran dosa dengan sebab perbuatan kufur dan maksiat yang mereka kerjakan.” (Surah al-Muthaffifiin, ayat 14).</p>
<p>Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelazatan beribadat tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.</p>
<p>Allah berfirman yang bermaksud “Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya.</p>
<p>“Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Baqarah, ayat 74).</p>
<p>Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan bahawa batu yang keras itu pun ada kalanya boleh mengalirkan air dan boleh terpecah kerana amat takutkan Allah. </p>
<p>Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak boleh menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah. </p>
<p>Perkara yang paling membimbangkan ialah apabila hati mati akan berlakulah kemusnahan yang amat besar terhadap manusia. </p>
<p>Matinya hati adalah bencana dan malapetaka besar yang bakal menghitamkan seluruh kehidupan. Inilah natijahnya apabila kita lalai dan cuai mengubati dan membersihkan hati kita. Kegagalan kita menghidupkan hati akan dipertanggungjawabkan oleh Allah pada akhirat kelak. </p>
<p>Persoalannya sekarang, kenapa hati mati? Hati itu mati disebabkan perkara berikut: </p>
<p>Pertama: Hati mati kerana tidak berfungsi mengikut perintah Allah iaitu tidak mengambil iktibar dan pengajaran daripada didikan dan ujian Allah. </p>
<p>Allah berfirman bermaksud “Maka kecelakaan besarlah bagi orang yang keras membatu hatinya daripada menerima peringatan yang diberi oleh Allah. Mereka yang demikian keadaannya adalah dalam kesesatan yang nyata.” (Surah al-Zumar, ayat 22).</p>
<p>Kedua: Hati juga mati jika tidak diberikan makanan dan santapan rohani sewajarnya. Kalau tubuh badan boleh mati kerana tuannya tidak makan dan tidak minum, begitulah juga hati. </p>
<p>Apabila ia tidak diberikan santapan dan tidak diubati, ia bukan saja akan sakit dan buta, malah akan mati akhirnya. </p>
<p>Santapan rohani yang dimaksudkan itu ialah zikrullah dan muhasabah diri. </p>
<p>Oleh itu, jaga dan peliharalah hati dengan sebaik-baiknya supaya tidak menjadi kotor, hitam, keras, sakit, buta dan mati. Gilap dan bersihkannya dengan cara banyak mengingati Allah (berzikir). </p>
<p>Firman Allah bermaksud “Iaitu orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah! Dengan mengingati Allah itu tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah al-Ra&#8217;d, ayat 28)</p>
<p>Firman-Nya lagi bermaksud “Hari yang padanya harta benda dan anak-anak tidak dapat memberikan sebarang pertolongan, kecuali harta benda dan anak-anak orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera daripada syirik dan munafik.” (Surah al-Syura, ayat 88 &#8211; 89)</p>
<p>Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :<br />
&#8220;Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan,<br />
Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu,<br />
Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu,<br />
..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu.&#8221; </p>
<p>&#8220;sampaikanlah walau satu ayat&#8221; al hadis</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Burung, Hikmah bagi Orang yang Berfikir]]></title>
<link>http://wahyusejati4.wordpress.com/2013/01/15/burung-hikmah-bagi-orang-yang-berfikir/</link>
<pubDate>Tue, 15 Jan 2013 02:11:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyusejatiempat</dc:creator>
<guid>http://wahyusejati4.wordpress.com/2013/01/15/burung-hikmah-bagi-orang-yang-berfikir/</guid>
<description><![CDATA[Jika kita perhatikan alam ciptaan Illahi ini, berbagai-bagai pengajaran dapat diteladani dari kejadi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://wahyusejati4.files.wordpress.com/2013/01/dgs.jpeg?w=259&#38;h=194&#38;crop=1" alt="Burung" /><br />
Jika kita perhatikan alam ciptaan Illahi ini, berbagai-bagai pengajaran dapat diteladani dari kejadian alam. Antara makhluk ciptaan Allah yang kita dapat perhatikan adalah burung.<br />
Burung jika diperhatikan dari kawasan yang bermusim dingin akan sentiasa berhijrah ke kawasan yang lebih panas. Memang sudah menjadi lumrah alam penghijrahan tersebut dilakukan secara berkumpulan. Dan dalam setiap perkumpulan tersebut pasti ada seorang ketua yang sentiasa berada di hadapan. Selain memiliki ketua, sekumpulan burung ini turut berhijrah mengikut formasi tertentu iaitu formasi berbentuk V. Secara saintifiknya formasi ini menghasilkan satu bentuk aero-dinamik yang membahagikan rintangan angin kepada setiap ahli burung yang sekaligus memudahkan penghijrahan jika dibandingkan dengan penghijrahan berseorangan. Maka untuk membentuk formasi tersebut amatlah penting akan wujudnya komponen perpaduan dan kerjasama di kalangan burung tersebut. Subhanallah, bertapa tingginya hikmah penciptaan burung itu. </p>
<p>Marilah kita melihat realiti hari ini. Keadaan umat Islam hari ini jelas sekali terumbang-ambing. Kita seolah-olah menjadi ‘pak turut’ terhadap segala apa ideologi yang dilaungkan oleh musuh-musuh kita. Sehinggakan isu-isu besar yang menyentuh soal agama sekalipun tidak diendahkan. Tiada lagi sensitiviti terhadap isu yang menimpa saudara-saudara sendiri sepertimana yang menimpa tanah Palestina. Tiada lagi kesepaduan di kalangan kita sepertimana yang ditonjolkan oleh sekumpulan burung tadi. Masing-masing mahu hidup ‘nafsi-nafsi, lu punya suka, gua punya suka’. Masing-masing tak mengendahkan apa yang menimpa orang lain asalkan hidup sendiri bahagia.<br />
Menyingkap kembali zaman kegemilangan Islam di kala dahulu, seluruh umat Islam di seluruh dunia disatukan di bawah satu pemerintahan dan ketaatan setiap rakyat ditujukan kepada satu khalifah. Kesepaduan di saat itu amatlah jelas kukuh dan semua umat Islam bagaikan anggota-anggota badan manusia. Jika tangan terluka seluruh tubuh merasai kesakitannya. Jika kaki dijangkiti kuman seluruh tubuh berkerjasama untuk menyembuhkannya. Alangkah indahnya saudara-saudara sekalian. Sifat seperti inilah yang difirmankan oleh Allah dalam kalam-Nya; Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya…(33:4). Dalam satu badan manusia hanya ada satu hati dan dalam satu umat juga hanya ada satu hati.</p>
<p>Ayuh semua. Di sini diri ini menyeru kepada diri sendiri dan kalian semua untuk bersama-sama kita membina kekuatan ukhuwwah di antara kita. Ukhuwwah yang didasarkan atas aqidah hanya kepada Allah Taala semata-mata. Sedarlah bahawa perselisihanlah yang menyebabkan kita berpecah-belah. Ingatlah perintah Allah dalam surah al-Hujuraat ayat 10: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. InsyaAllah Islam pastikan tertegak kelak.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Adab]]></title>
<link>http://wahyusejati4.wordpress.com/2013/01/14/adab/</link>
<pubDate>Mon, 14 Jan 2013 16:25:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyusejatiempat</dc:creator>
<guid>http://wahyusejati4.wordpress.com/2013/01/14/adab/</guid>
<description><![CDATA[Adab Berbicara, Berdebat dan Mendengar Pendapat ADAB BERBICARA 1. Semua pembicaraan harus kebaikan,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Adab Berbicara, Berdebat dan Mendengar Pendapat<br />
ADAB BERBICARA</strong><br />
<img src="http://wahyusejati4.files.wordpress.com/2013/01/adab-bicara.jpeg" alt="Adab bicara" /><br />
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:<br />
“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)</p>
<p>2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:<br />
“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)</p>
<p>3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi SAW:<br />
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)</p>
<p>4. Menghindari banyak berbicara, karena khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:<br />
Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)</p>
<p>6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:<br />
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)</p>
<p>7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:<br />
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)<br />
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:<br />
“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)</p>
<p>8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:<br />
“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)</p>
<p>9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:<br />
“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)</p>
<p>10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:<br />
“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)</p>
<p>11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:<br />
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)</p>
<p>12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:<br />
“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:<br />
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)<br />
Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)</p>
<p><strong>ADAB MENDENGAR</strong></p>
<p>1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)<br />
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan<br />
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)<br />
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.<br />
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara</p>
<p><strong>ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU</strong></p>
<p>1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian<br />
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal<br />
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara<br />
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih<br />
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit<br />
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah<br />
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat<br />
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi<br />
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya<br />
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.<br />
Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.</p>
<p>dipetik dari <a href="http://www.al-ikhwan.net/index.php" rel="nofollow">http://www.al-ikhwan.net/index.php</a>?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Duau ditambah Tigau]]></title>
<link>http://bebemignone.wordpress.com/2013/01/12/duau-ditambah-tigau/</link>
<pubDate>Sat, 12 Jan 2013 03:45:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Shaliha Hasim</dc:creator>
<guid>http://bebemignone.wordpress.com/2013/01/12/duau-ditambah-tigau/</guid>
<description><![CDATA[Shalat subuh kali ini imamnya Khadijah, karena aku masbuk kehilangan mukena. Demi mendukung hafalan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Shalat subuh kali ini imamnya Khadijah, karena aku masbuk kehilangan mukena. Demi mendukung hafalan]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
