<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>anak &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/anak/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "anak"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 18:19:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Berpikir lintas mata telinga (2/3)]]></title>
<link>http://tertiga.wordpress.com/2009/11/29/berpikir-lintas-mata-telinga-2/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 15:59:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Maren Kitatau</dc:creator>
<guid>http://tertiga.wordpress.com/2009/11/29/berpikir-lintas-mata-telinga-2/</guid>
<description><![CDATA[&lt;strong&gt;Konsumsi jiwa adalah nyata, Pencerna utamanya mata. Bagi jiwa: “See and believing”. Ko]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#60;strong&#62;Konsumsi jiwa adalah nyata,<a rel="attachment wp-att-1057" href="http://tertiga.wordpress.com/2009/11/29/berpikir-lintas-mata-telinga-2/berpikit-mata-telinga1-5/"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1057" title="Berpikit mata telinga1" src="http://tertiga.wordpress.com/files/2009/11/berpikit-mata-telinga14.jpg?w=150" alt="" width="150" height="147" /></a><br />
Pencerna utamanya mata.<br />
Bagi jiwa: “See and believing”.</p>
<p>Konsumsi roh adalah maya,<br />
Pencerna utamanya telinga.<br />
Bagi roh, “Believe and you will see”.&#60;/strong&#62;</p>
<p>Dulu ada kutengok penelitian klasik di TV, satu kelas anak-anak TK dibagi dua kelompok, satu kelompok Cingcau dan satu kelompok Cendol (sori, bukan bunga-bungaan). Anak kelompok Cingcau dibawa kesatu ruangan dan disajikan dongeng perkara-perkara sekitar tubuh, perkaitan alam, tumbuhan dan binatang. Mereka bagai belajar berpikir melalui suara Ibu Guru yg lembut masuk ke telinga dikonversi menjadi gambar-gambar di matanya. Mereka penuh riang penuh senyum penuh tawa bersama dlm mendengarkan apa-apa yg bersesuaian dgn peng-alam-an emosi harian mereka. Telinga itu telah menyerap pelajaran nyata dari gambar maya.</p>
<p>Murid kelompok Cendol dibawa ke ruang lain, disugukkan filem pendek bisu, lucu penuh tawa, karena di dalam filem itu ada Ibu Guru mereka yg sedang beraksi dgn raut wajah emosi thp sebuah boneka angin,  boneka besar setinggi mereka. Boneka itu ditonjok jengkang tapi bangun lagi, ditendang jengkang lalu bangun juga dan selalu bangun tegak berdiri seperti semula walau dicampakkan ke mana pun. Bisa demikian karena ada pemberat cembung di bagian dasar boneka itu. Mereka melihat bagai mana Ibu Gurunya beraksi kesal geleng-geleng kepala berekpresi lelah. Murid kelompok Cendol tertawa riang dan turut gemes ingin membantu. Mereka bagai belajar berpikir melalui gambar wajah Ibu Guru yg merengut. Gambar itu masuk melalui mata dikonversi menjadi jeritan suara di telinga mereka. Mata telah menyerap pelajaran nyata dari gambar nyata.</p>
<p>Tujuh menit kemudian ke dua kelompok tadi dibawa masuk ke ruang khusus bermain. Di ruang itu tersedia aneka macam mainan anak-anak. Nah, di sini langsung terlihat efek perlakuan yg baru saja diterima tadi. Murid kelompok Cingcau bermain dgn mainan mobil-mobilan atau kereta-keretaan atau boneka barbie dll. Beberapa boneka angin yg juga terdapat di situ hanya mereka sentuh sekedarnya dan ada yg  merabanya aja; Goyang, udah. Boneka itu terlalu besar, susah dimainkan, pikirnya kali.</p>
<p>Kontras dgn kelompok Cingcau, mayoritas anak kelompok Cendol langsung fokus kepada boneka-boneka angin itu. Mereka menonjok boneka itu hingga jengkang, lau menendangnya, merebahkannya,  dan ada yg mendudukinya mengeroyoknya dgn dua orang agar boneka tidak dapat berdiri lagi. Ada juga yg membantu  menggetok kepala boneka itu dgn palu plastic atau dgn mainan yg spontan terjangkau di sekitar boneka yg sedang didudukinya itu.  Ruar biasa, pikirku! Betapa dahsyat pembelajaran mata itu; Utamanya perkembang-biakan  agresifitas!</p>
<p>Begitulah kontrasnya perbedaan penyerapan pembelajaran antara pembelajaran  lintas telinga dan pembelajaran  lintas mata, yaitu pembelajaran maya dan pembelajaran nyata. Kurasa, pesan pelajaran itu bersumber  dan terpancar dari wajah Ibu Guru mereka. Wajah itu lah fokus pembelajaran mereka. Wajah itu lah sebagai data utama yg masuk lintas telinga atau masuk lintas mata menuju pikiran si anak.</p>
<p>Metoda ajar dapat saja dibalik. Misalnya, pembelajaran yg keras-keras pejal kaku itu dilakukan melalu suara spt sering ada pd khotbah-khotbah berang dgn wajah meringis dan melotot. Hasilnya mirip dgn aksi sobat-sobatku dulu ketika kanak. Dia menceriterakan siksa kubur kepadaku dgn bumbu-bumbu serem yg kebangetan. Ceritanya seolah mengada-ada dan tak terbantahkan. Kurasa ceritanya itu melebihi dari apa yg dia dengar dari Gurunya atau dari Kakaknya. Yg ginian ini diturun-temurun kayaknya dan dikembangbiakkan kadang hingga dewasa, baik secara sadar ataupun secara pingsan. Mungkin hal itu bertujuan utk segera menyolehkan si anak, kali. Aku pernah membaca cerita komiknya ttg siksa kubur itu sekali saja ketika kanak dan pernah melirik sinetronnya sekilas aja saat dewasa. Dalam hatiku, mubajir mengamatinya, pikiranku bisa mandul lama-lama!</p>
<p>Salam Damai!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penjara Bukan Tempat Aman Bagi Anak]]></title>
<link>http://kebonwaru.wordpress.com/2009/11/29/penjara-bukan-tempat-aman-bagi-anak/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 15:25:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>kalyanamandira</dc:creator>
<guid>http://kebonwaru.wordpress.com/2009/11/29/penjara-bukan-tempat-aman-bagi-anak/</guid>
<description><![CDATA[(Catatan pendampingan anak Rutan Kebonwaru, 26 November 2009) Hari ini, 26 November 2009, saya, Anit]]></description>
<content:encoded><![CDATA[(Catatan pendampingan anak Rutan Kebonwaru, 26 November 2009) Hari ini, 26 November 2009, saya, Anit]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anugerah Paling Indah  ]]></title>
<link>http://ruanghikmah.wordpress.com/2009/11/29/anugerah-paling-indah/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 15:13:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>ruanghikmah</dc:creator>
<guid>http://ruanghikmah.wordpress.com/2009/11/29/anugerah-paling-indah/</guid>
<description><![CDATA[Tiada satu pun manusia yang tidak menginginkan kebahagiaan hidup, ketika masih di dunia, apatah lagi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tiada satu pun manusia yang tidak menginginkan kebahagiaan hidup, ketika masih di dunia, apatah lagi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadkan pengambilan garam]]></title>
<link>http://rupacantik.wordpress.com/2009/11/29/hadkan-pengambilan-garam/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 02:11:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>kamarnurain</dc:creator>
<guid>http://rupacantik.wordpress.com/2009/11/29/hadkan-pengambilan-garam/</guid>
<description><![CDATA[sumber: berita harian Garam berlebihan bawa pelbagai penyakit TANPA garam makanan berasa tawar. Baga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[sumber: berita harian Garam berlebihan bawa pelbagai penyakit TANPA garam makanan berasa tawar. Baga]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Risiko pil perancang]]></title>
<link>http://rupacantik.wordpress.com/2009/11/29/risiko-pil-perancang/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 02:04:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>kamarnurain</dc:creator>
<guid>http://rupacantik.wordpress.com/2009/11/29/risiko-pil-perancang/</guid>
<description><![CDATA[sumber: berita harian bminggu@bharian.com.my SOALAN SAYA wanita berumur 23 tahun dan merancang untuk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[sumber: berita harian bminggu@bharian.com.my SOALAN SAYA wanita berumur 23 tahun dan merancang untuk]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Punca sakit leher]]></title>
<link>http://rupacantik.wordpress.com/2009/11/29/punca-sakit-leher/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 01:56:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>kamarnurain</dc:creator>
<guid>http://rupacantik.wordpress.com/2009/11/29/punca-sakit-leher/</guid>
<description><![CDATA[sumber: berita harian Oleh Suzan Ahmad suzan@bharian.com.my kurang aktif, aktiviti fizikal mengejut ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[sumber: berita harian Oleh Suzan Ahmad suzan@bharian.com.my kurang aktif, aktiviti fizikal mengejut ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tongkat Bagi Ibuku]]></title>
<link>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/29/tongkat-bagi-ibuku/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 23:51:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>reeleks</dc:creator>
<guid>http://reeleks.wordpress.com/2009/11/29/tongkat-bagi-ibuku/</guid>
<description><![CDATA[Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh ked]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div><img class="alignleft" title="Tongkat Ibuku" src="http://www.sahabatsurgawi.net/renungan_bermakna/images/makna_okt21.jpg" alt="" width="210" height="259" /> Hawa udara di Changchun , Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi&#8230;&#8230;.</div>
<p>Menurut laporan &#8220;City Evening Post&#8221;, di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.</p>
<p>Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.</p>
<p>Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah. Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.</p>
<p>Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.</p>
<p>Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana. Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.</p>
<p>Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.</p>
<p>Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.</p>
<p>Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.</p>
<p>&#8220;Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……&#8221; <em>(Dajiyuan/prm)</em></p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pornografi dan Kekerasan Naruto: Favorit Bagi Anak-Anak]]></title>
<link>http://hepyes.wordpress.com/2009/11/28/pornografi-dan-kekerasan-naruto-favorit-bagi-anak-anak/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 17:36:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>hepyes</dc:creator>
<guid>http://hepyes.wordpress.com/2009/11/28/pornografi-dan-kekerasan-naruto-favorit-bagi-anak-anak/</guid>
<description><![CDATA[Sekarang, ini anak-anak mana yang tak mengenal Naruto? Tokoh komik dan film animasi ini (bahasa Jepa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sekarang, ini anak-anak mana yang tak mengenal Naruto? Tokoh komik dan film animasi ini (bahasa Jepangnya manga dan anime) sangat populer di kalangan anak-anak. Mereka menggandrunginya, seperti halnya Shinchan beberapa waktu lalu.<!--more--></p>
<p>Namun sama seperti Shincan—dan notabene film dan novel asal Jepang lainnya, Naruto mengandung banyak sekali muatan pornografi dan kekerasan.</p>
<p>Jika situasi adegan menjadi benar-benar panas, para karakter di seri Naruto tidak jarang mengatakan “Damn!” (sialan, brengsek) dan “Bastard” (bajingan). Kedua kata ini memiliki makna yang kasar dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Kekerasan mungkin yang paling kuat tentang Naruto. Menimbang bahwa Naruto adalah sesuatu yang diperuntukkan bagi anak-anak, jumlah kekerasannya sangat mengejutkan. Walau memang seri Naruto bercerita tentang Ninja, sehingga ada penggunaan seni bela diri kiri dan kanan, namun tingkat kekerasannya sangat melimpah. Ada banyak perkelahian dengan senjata tajam, dan banyak darah. Perkelahian itu bahkan menakutkan, dan cukup intens. Jelas bukan sesuatu yang sehat untuk anak-anak.</p>
<p>Sedangkan adegan-adegan porno Naruto misalnya, dalam film kartun tersebut ada adegan Naruto sedang minum minuman keras, dikelilingi lima perempuan setengah telanjang. Lalu, Naruto yang sedang mabuk berkata; &#8220;Serasa di surga.&#8221; Kartun Naruto juga memuat adegan berciuman dan adegan ranjang. Dalam Naruto juga ada adegan ia tengah mandi dengan seorang perempuan seksi dengan hanya mengenakan baju mandi yang sangat mengundang.Yang memprihatinkan, komik Naruto menempati urutan teratas yang dikonsumsi anak-anak.</p>
<p>Jadi, hati-hati jika membiarkan anak Anda menonton atau membaca Naruto. Lebih baik, pikirkan seribu kali sebelum mengizinkan mereka mengonsumsinya</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DEGUE SYOK SINDROM (DSS)]]></title>
<link>http://yayanakhyar.wordpress.com/2009/11/28/degue-syok-sindrom-dss/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 16:02:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ya2N^_^</dc:creator>
<guid>http://yayanakhyar.wordpress.com/2009/11/28/degue-syok-sindrom-dss/</guid>
<description><![CDATA[Author : Hirawati, S.Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. 2009. &#8212;&#8211; Definisi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Author : Hirawati, S.Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. 2009. &#8212;&#8211; Definisi ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak Belajar Dari Kehidupannya]]></title>
<link>http://yogapermana75.wordpress.com/2009/11/28/anak-belajar-dari-kehidupannya/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 14:56:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>yogapermana75</dc:creator>
<guid>http://yogapermana75.wordpress.com/2009/11/28/anak-belajar-dari-kehidupannya/</guid>
<description><![CDATA[Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia be]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sekolahku (Mau) Tersingkir]]></title>
<link>http://aespee.wordpress.com/2009/11/28/sekolahku-mau-tersingkir/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 03:09:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>aespee</dc:creator>
<guid>http://aespee.wordpress.com/2009/11/28/sekolahku-mau-tersingkir/</guid>
<description><![CDATA[Kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 060902 di Jalan Mangkubumi, Medan, yang atapnya rusak, Jumat (27/]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 060902 di Jalan Mangkubumi, Medan, yang atapnya rusak, Jumat (27/]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Militerisasi Pendidikan dalam Keluarga]]></title>
<link>http://meetabied.wordpress.com/2009/11/28/militerisasi-pendidikan-dalam-keluarga/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 01:38:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abied</dc:creator>
<guid>http://meetabied.wordpress.com/2009/11/28/militerisasi-pendidikan-dalam-keluarga/</guid>
<description><![CDATA[Sungguh, iba rasanya senja tadi. Saya menyaksikan seorang anak kecil yang dibentak oleh kakeknya gar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://meetabied.wordpress.com/files/2009/11/22758_child-abuse1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-588" title="Child Abuse" src="http://meetabied.wordpress.com/files/2009/11/22758_child-abuse1.jpg?w=148" alt="" width="148" height="150" /></a>Sungguh, iba rasanya senja tadi. Saya menyaksikan seorang anak kecil yang dibentak oleh kakeknya gara-gara online di warnet untuk maen fesbuk tanpa pamit terlebih dahulu. Ia baru kelas 6 SD, usianya mungkin sekitar 10 tahun. Setelah kejadian itu, ia melangkah dengan sangat lesu dari skutermatic yang dikendarainya, dengan sesekali menekan starter tangan motor, sengaja membuat motornya tak lekas ‘menyala’. Sang kakek masih juga menegurnya dengan nada suara yang agak keras, saya yang berada di sampingnya saja merasa miris. <strong>Kalau saya berada dalam posisi anak itu, saya akan merasa sangat tertekan, nangis dalam hati, dan pasti akan pecah dalam kamar nanti.</strong> Orang tua sang anak sedang menjalankan ibadah haji, sejak 18 November kemarin, sekarang mungkin sedang berada di Mina untuk melontar jumrah. Dalam beberapa keluhan yang saya dengar dari sepupunya, Ia mengatakan bahwa kalau orang tuanya ada di rumah, pasti suasananya tidak akan seperti ini.</p>
<p><em>“Kalo Bapak di rumah, enak .. Sekarang saya dimana-mana dimarahi, di depan dimarahi, di belakang dimarahi …</em>” keluhnya. <!--more--></p>
<p><em>“Ah, kakek memang dah biasa begitu, kayak tidak tau saja”</em> kata sepupunya, sembari melanjutkan,<em> “Bentar lagi juga baikan. Kakek pernah bilang, katanya kalo sudah marah-marah kayak tadi, setelahnya akan menyesal”.</em></p>
<p><em>Tapi mengapa terulang kejadian yang sama?</em></p>
<p>Ini kisah nyata. Saya bingung mesti mengatakan apa. Sungguh, sebagai pria setengah dewasa yang sedang beranjak, saya sedang mencoba untuk belajar memahami anak kecil dengan dunianya. Pola pendidikan yang saya terima tentu berbeda dengan beberapa orang lain, anak kecil tadi misalnya.</p>
<p>Bagi seorang anak manusia, masa tiga tahun pertamanya adalah masa keemasan, dimana keseluruhan saraf di otaknya diajar untuk mengenal dan mengetahui segala jenis pengetahuan. Hingga usia enam tahun, dasar agama dan kepribadiannya akan dibentuk dan ditempa oleh lingkungan keluarga. Jika pada masa-masa kanak-kanak saja sudah terlalu sering dijejali dengan bentakan, teriakan, cacian, perasaan merendahkan, tanpa pernah bisa membela diri, bagaimana kepribadiannya di masa mendatang?</p>
<p>Ada tiga cara mendidik anak-anak yang paling sering saya amati : militer, pola hidup kerajaan dan campuran keduanya.</p>
<p>Yang militer ini yang ampun. Anak mesti siap mendapat hukuman, setiap saat. Hukuman bisa macam-macam : dibentak (seperti contoh di atas), diceramahi hingga telinga panas, dikurangi uang jajan, dikuncikan di dalam kamar, diberikan tugas nyuci piring, dilarang keluar rumah, atau yang paling parah adalah hukum gantung. Hehehe … Bukan. Anda pasti paham maksud saya. Pola didikan militer adalah pola pendidikan kaku, dimana <span style="text-decoration:line-through;">senior</span> orang tua tidak pernah bersalah, dan anak harus patuh pada orang tua. Tiap bantahan terhadap aturan orang tua adalah pengkhianatan yang pantas dihukum seberat-beratnya. Sebenarnya sakit karena hukuman yang terasa oleh tubuh fisik tak apa, tapi luka di hati siapa yang sangka? Bukankah tiap kali kita mendapat hukuman dari orang lain juga tetap ada luka dan dendam? Setiap hukuman akan memberikan dampak secara fisik dan psikologi. Mungkin dalam jangka pendek tidak, tapi dalam jangka panjang itu akan memberikan efek buruk berupa pola pikir yang kaku, stagnan dan tidak optimis.</p>
<p>Kelebihan pola didik ini mungkin dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepatuhan, tapi di sisi lain ia akan menimbulkan pertentangan hati, sifat pesimis dan ketidak kreatifan anak dalam berfikir. Tiap kali anak berfikir untuk berubah menjadi lebih baik, tiap kali itu pula ketakutan akan sindiran negatif dari orang tua terbayang di kepala. Akhirnya mereka akan menjadi begitu terkungkung dalam dunianya sendiri. Muncul berbagai kekhawatiran atas kekreatifan yang mereka pikirkan. Kasih sayang dari orang tua yang mestinya disampaikan dengan lemah lembut menjadi terasa begitu kaku bagi anak. Mereka akan berfikir bahwa orang tuanya tak sayang padanya, apalagi jika melihat teman-temannya dimanja.</p>
<p>Pola didikan yang kedua, pola hidup ala pangeran di kerajaan. Dimana sang anak adalah sang pangeran yang tiap keinginannya adalah sebuah keniscayaan, dan orang tua adalah raja yang bisa memerintahkan kepada para selir untuk memenuhi segala hajat pangeran kecilnya. Selir itu bisa jadi kakaknya, paman, tante, kakek, nenek atau anak tetangganya. Pengen makan enak, ada. Pengen maen, ada. Segala yang dibutuhkan adalah miliknya. Dan hanya dengan satu kali ‘klik’, semua akan ada di depan mata. Dalam pola hidup ala pangeran yang sangat ekstrem, banyak ketidakdewasaan muncul. Anak menjadi manja, sangat tergantung, tidak mampu berfikir sendiri. Terlalu memanja adalah kesalahan. Suatu saat anak-anak butuh untuk hidup tanpa kita, karenanya, ajari mereka untuk hidup mandiri, melakukan semuanya sendiri. Tapi dalam hal kasih sayang, pola ini akan menang.</p>
<p>Dalam banyak cerita, pola didik yang paling baik adalah perpaduan berbagai metode dan pendekatan. Sama seperti pembelajaran di sekolah, tak pernah ada model pembelajaran yang efektif pada tiap materi. Setiap materi pelajaran punya karakternya masing-masing, yang juga memerlukan metode yang pas untuk penyampaiannya. Membimbing anak-anak di rumah juga pasti begitu adanya. Setiap model perlu dicoba, perlu dilakukan. Anak yang dididik dengan pola militer selama bertahun-tahun mungkin sesekali ingin merasakan pola didik ala kerajaan, atau juga sebaliknya.</p>
<p>Mendidik anak masa kini memang lebih sulit dibanding kita dahulu, mungkin, atau bisa jadi pasti, saya sendiri belum merasakan mendidik anak sendiri. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  Anak-anak dihadapkan pada banyak masalah : dunia yang berkembang pesat, pergaulan yang makin bebas, sarana prasarana kehidupan yang makin ‘wah’, berbagai iming-iming dunia yang membuat mereka lupa dengan belajar. Tentunya, anak membutuhkan dukungan untuk berkembang bebas sesuai dengan kemampuan dan bakatnya dalam hidup. Hanya saja masalahnya, ada orang tua yang masih juga menggunakan cara lama yang mereka alami untuk mendidik, mengajari dan membimbing. Sulit. <em>Lha wong Tarzan kok disuruh masak dengan menggunakan kompor gas, mana bisa?</em></p>
<p><strong>Dan saya selalu tahu, setiap orang tua pasti menyayangi anak-anak mereka. Hanya saja kadang kala pesan itu tidak sampai karena media yang mereka gunakan untuk menyampaikan pesan sayang itu tidak pas. </strong></p>
<p><em>(tulisan ini saya buat sebagai salah satu cara saya belajar menulis. Belajar bijak menilai sebelum semuanya saya alami. Semoga setelah mengalaminya, saya bisa berbuat lebih baik bagi anak-anak saya. Huah?! Karenanya, andai ada ketidakpaduan kalimat dalam tulisan ini, mohon dimaklumi. Due tige kucing berlatih, sebelum sesudahnya terima kasih). </em>J</p>
<p>Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia … <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Tanyakan Kapan]]></title>
<link>http://dewira.wordpress.com/2009/11/27/i-shouldnt-sad/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 04:51:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>dewira</dc:creator>
<guid>http://dewira.wordpress.com/2009/11/27/i-shouldnt-sad/</guid>
<description><![CDATA[Idul adha, sehabis sholat Ied ada acara makan lontong sayur bersama di komplek. Karena sebagian ibu2]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Idul adha, sehabis sholat Ied ada acara makan lontong sayur bersama di komplek.</p>
<p>Karena sebagian ibu2 sudah mendengar berita kehamilan Evi (salah satu penghuni komplek yg belum lama menikah), mereka pun menanyakanku, &#8220;Kapan nyusul Mba?&#8221;</p>
<p>Aku menjawab pertanyaan itu dengan tersenyum, dan langsung menjauh. Aku tau mereka bermaksud baik dengan petanyaan itu., dan aku juga ga marah ataupun sakit hati. Mereka bermaksud memberi perhatian dan ingin  menyemangati, karena  dulu sebelum paham akan hal ini, aku juga kadang bertanya seperti itu.</p>
<p>Hanya saja ternyata pertanyaan itu membuat perasaan tidak nyaman dan agak sedih, memang apa yang harus dijawab jika pertanyaannya kapan?</p>
<p>Seandainya bisa, saya ingin menjawabnya sekarang. Detik ini juga saya ingin hamil dan punya keturunan. Tapi yang menentukan bukan saya, Tapi Tuhan yang satu-satunya bisa menentukan kapan saya mendapat anugerah itu. <em><strong>Kun Fayakun.</strong></em>Jika ia berkendak tak ada satupun yang bisa menghalangi.</p>
<p>So, janganlah tanyakan kapan, pada orang yg masih single, pada orang yang belum dianugrah keturunan, atau mungkin juga pada orang yang belum mendapatkan pekerjaan. Cukup doakan saja, atau jika agak repot harus berdoa untuk mereka cukup katakan saja ,<em><strong> semoga segera mendapatkan apa yang di harapkan</strong></em>, karena kalimat itu lebih menenangkan sekaligus memberikan semangat tanpa membuat perasaan orang yang ditanyai menjadi galau.</p>
<p>Selamat Iedul Adha .</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tips Kembangkan Hobi Anak]]></title>
<link>http://4antum.wordpress.com/2009/11/26/tips-kembangkan-hobi-anak/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 14:40:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>4antum</dc:creator>
<guid>http://4antum.wordpress.com/2009/11/26/tips-kembangkan-hobi-anak/</guid>
<description><![CDATA[Sepuluh tips berikut ini patut di coba untuk mengembangkan hobi anak : 1. Ajarkan anak untuk melihat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sepuluh tips berikut ini patut di coba untuk mengembangkan hobi anak : 1. Ajarkan anak untuk melihat]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[surat untuk mama...]]></title>
<link>http://fendhy.wordpress.com/2009/11/26/surat-untuk-mama/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 14:27:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>fendhy</dc:creator>
<guid>http://fendhy.wordpress.com/2009/11/26/surat-untuk-mama/</guid>
<description><![CDATA[Ma&#8230; apa kabarmu di sana&#8230;? semoga baik baik saja&#8230; Ma&#8230; taukah engkau disana ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ma&#8230; apa kabarmu di sana&#8230;? semoga baik baik saja&#8230; Ma&#8230; taukah engkau disana ba]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Orang muslim]]></title>
<link>http://pedas2cilipadi.wordpress.com/2009/11/26/orang-muslim/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 11:32:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>adikbongsu</dc:creator>
<guid>http://pedas2cilipadi.wordpress.com/2009/11/26/orang-muslim/</guid>
<description><![CDATA[Tanggal 26hb Nov 2009.  Mlm raya aidil adha &#8230;. waktu maghrib.  Terdengar azan berkumandang, ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tanggal 26hb Nov 2009.  Mlm raya aidil adha &#8230;. waktu maghrib.  Terdengar azan berkumandang, aku pon bersuara kat budak2 utk solat.  Wafa dgn secepat kilat, tutup TV dan sahut, &#8220;ibu, tunggu wafa &#8230; wafa nak sembahyang dengan ibu.&#8221;  Ku pon menjawab, &#8220;ok, cepat ambik wudhu&#8221;&#8221;.</p>
<p>Selepas berwudhu&#8217; dan sambil menyarung telekung, dia bercakap dgn ku, &#8220;ibu, wafa nak sembahyang dgn ibu. Wafa nak sembahyang &#8230; nak buat Allah hepi. Orang muslim mesti buat mcm orang muslim kan ibu kalo tak nanti kena api neraka bila mati.&#8221; </p>
<p>Subhanallah! &#8230;. Semoga anak2 ku diberi taufiq dan hidayah serta naungan Allah s.w.t. &#8230; di dunia dan akhirat.  Amin amin ya Rabb!</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ikhlas dan Sabar, continuous effort]]></title>
<link>http://aubreyade.wordpress.com/2009/11/26/ikhlas-dan-sabar-continuous-effort/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 06:31:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>aubreyade</dc:creator>
<guid>http://aubreyade.wordpress.com/2009/11/26/ikhlas-dan-sabar-continuous-effort/</guid>
<description><![CDATA[Hari ini, semua jemaah haji secara bertahap harus sudah tiba di Arafah, demi sah nya pelaksanaan iba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hari ini, semua jemaah haji secara bertahap harus sudah tiba di Arafah, demi sah nya pelaksanaan ibadah rukun kelima itu.</p>
<p>Melihat berita di tivi, dimana suhu udara yang tadinya 32 bisa mencapai 20 derajat celcius di siang hari dan bisa turun hingga 18 derajat di malam hari, membuat hati ini sedikit getir, sembari tak lupa saya panjatkan doa untuk saudara2  terkasih yang sedang berada disana, semoga mereka kuat, bermalam disana hanya di dalam sebuah tenda. Semoga mereka bisa sabar dan ikhlas menjalani perintah ibadah itu.</p>
<p>Apapun yang Allah perintahkan, saya yakin pasti akan selalu ada manfaatnya bagi kita. Meski sering semuanya tertutup oleh ketidaksabaran kita, ketidak ikhlasan kita. Segala sesuatu yang indah, biasanya lebih surprised, lebih bermakna indahnya, jika &#8220;dibungkus&#8221; dengan ketidak indahan, kesulitan, keperihan, perlakuan tidak adil, dan sebagainya yang tidak pernah satu manusia pun menginginkannya. Tapi coba kita bayangkan, sebentuk bungkusan kecil yang hanya dibungkus kertas koran lusuh, misalnya &#8211; tapi ternyata di dalamnya ada sekotak perhiasan kecil, berisi cincin emas putih bertahtahkan berlian indah berkilau. &#8220;Rasa&#8221; surprised nya tak terbayangkan, bukan.</p>
<p>Kata Sabar, apalagi Ikhlas, memang mudah sekali kita ucapkan. Namun pelaksanaannya, hanya kita dan Tuhan yang tahu, sudah benar2 sabar dan ikhlas kah, kita ? hanya Tuhan yang bisa mengukur, dan hanya hati kecil kita yang bisa menjawab, damaikah perasaan kita &#8230;. karena sabar dan ikhlas tidak mendatangkan penderitaan, namun justru ketenangan batin yang kita rasakan. Karena tak ada lagi beban rasa dari keinginan kita yang tak terpenuhi, &#8220;ingin&#8221; yang tak terwujud.</p>
<p>Namun, kadang saya merenung, bagaimana seandainya saya di posisi seorang ibu di jawa timur itu, ibu dari anak 6-7 thn yang kakinya sengaja dilindaskan di rel kereta api oleh ayah kandungnya sendiri&#8230;.bisa ikhlas kah saya jika menjadi ibunya&#8230;?</p>
<p>Sang ibu memprotes hakim yang HANYA menjatuhkan vonis 10 thn penjara buat suaminya. Dia merasa tidak adil, hanya dengan 10 tahun, sementara anaknya yang masih bocah, harus menanggung beban berat sepanjang hidupnya, bayangan suram masa depan anaknya mungkin sedang menari2 di benak sang ibu, dan dia berontak. Wajar. Manusiawi, saya kira, apalagi saya juga seorang ibu. Terlebih lagi, sang ayah melakukan hal itu dikarenakan sang istri menolak berhubungan badan , dan pada saat sang istri sedang bekerja atau sedang tertidur lelap (saya lupa kronologisnya, lumayan agak lama cerita ini) si ayah menggendong anaknya ke lintasan rel kereta, dan menidurkan anaknya disana, hingga akhirnya kereta menggilas kakinya. Biadab&#8230;atau sakit jiwa ?</p>
<p>Atau, cerita tentang seorang maling buah semangka, yang hanya mengambil 2 buah semangka, hanya untuk mengisi perutnya (bukan untuk dijual) karena kemiskinan yang mendera, namun malang tak dapat ditolak, sang pemilik kebun melaporkan sang pencuri dengan tuduhan pencurian. hakim menjatuhkan hukuman penjara LIMA tahun!!!<em> Can you imagine that </em>? Apa yang anda rasakan jika kita semua berada di posisi seperti mereka2&#8230;.makna ikhlas dan sabar menjadi begitu simpel namun tak kepalang beratnya, pedihnya. Meski saya masih yakin, bahwa sabar apalagi ikhlas (karena Allah semata) tak akan pernah melahirkan beban derita, namun kedamaian, ketenangan batin.</p>
<p>Kadang banyak pertanyaan pertanyaan yang tak mampu saya jawab, memang&#8230;Pun ketika anak2 saya yang sedang tumbuh bertanya tentang rasa empati seperti ini.</p>
<p>Anak saya yang besar<em> concern</em> terhadap masalah2 org dewasa cukup mengkhawatirkan saya, kadang2&#8230;. takut dewasa sebelum waktunya.  Dia lebih suka nonton metro tivi dan semua berita2 siang di tivi, selain spongebob. Meski ngawur, dia mengikuti kasus cicak (LOL) lucu banget liat dia kasih info ke ayahnya, ttg WW , A &#38; A adik kakak itu&#8230;gregetannya dia begitu tahu bahwa itu uang rakyat yang dikorup, dll&#8230;anak 9 thn, sdh bisa memaknai arti korupsi secara benar&#8230;salah gak ya, saya&#8230;.**bingung** habis, daripada mereka saya biarkan menonton tontonan tidak membumi spt shit****n itu.</p>
<p>Begitu juga dg kasus pencuri semangka itu. Dia protes, kenapa sih, pak hakim kok tega, menjatuhkan hukuman. gak adil, katanya. Adil ? hehe&#8230;.saya gak ngerti, bagaimana dia memaknai adil itu.</p>
<p>Yaaaaaah, saya jelaskan biar bagaimana pun, mencuri adlh perbuatan melanggar hukum , sekalipun itu untuk makan, mempertahankan hidup. Kita harus tetap sabar sembari ikhtiar, berusaha supaya tidak kelaparan, karena Allah menyebarkan rezeki buat kita di segala penjuru bumi ini, sepanjang siang dan malam. Tidak dibenarkan kita mencuri dan meminta2. hanya itu yang bisa saya jelaskan padanya. Sedang pertanyaan kenapa kok sampai lima tahun dihukumnya, saya tidak bisa jawab.</p>
<p>Saya hanya bisa mengembalikan solusinya ke &#8220;sabar&#8221; dan &#8220;ikhlas&#8221; atas apa yang sudah terjadi, karena semua terjadi pasti seijin Allah. Meski setelah mendapat penjelasan saya itu anak saya diam, tapi saya tahu, di kepalanya masih menyimpan tanya. Ah, anakku&#8230;bunda sendiri juga tidak bisa betul2 menjawab pertanyaanmu sebenarnya, jika bunda berada di posisi mereka2 yang tertindas, entahlah&#8230;.dan bunda tutup dengan kalimat : &#8220;gak baik berandai-andai&#8230;syukuri aja yang ada sekarang  dihadapan kita&#8221; dan, alhamdulillah, kamu mengambil air wudhu. Abis itu kita jalan ya, Ka&#8230;kan kita mau janjian ama ayah nanti sore&#8230;</p>
<p><em>Kamis siang with my two little fairy, kebetulan lagi libur sekolah 1 hari menjelang idul adha, dan kegiatan anak saya yang besar, apalagi kalo bukan nonton berita siang di tivi. Begitu liat berita tentang jemaah haji di mekkah, saya dan dia teringat kakak saya yang sedang menunaikan haji thn ini. Semoga semua jemaah haji disana diberikan kesabaran dan ikhlas dalam menjalani semuanya.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerita tentang Abg Chik]]></title>
<link>http://hanyaceritakehidupan.wordpress.com/2009/11/26/cerita-tentang-abg-chik/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 06:00:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>kSha</dc:creator>
<guid>http://hanyaceritakehidupan.wordpress.com/2009/11/26/cerita-tentang-abg-chik/</guid>
<description><![CDATA[Abg Chik, nama panggilan utk Muhammad Aqil Bin Abd Kadir. Sebut sahaja abg chik, orang akan tanya ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Abg Chik, nama panggilan utk Muhammad Aqil Bin Abd Kadir. Sebut sahaja abg chik, orang akan tanya kenapa. Emm, kenapa ye, adik pun belum ada, tapi saje, konon2 nak bagi nampak besar sikit, ye ke???</p>
<p>Umurpun dah 3 tahun 4 bulan, dah besar pun dia. Abg chik memang dah besar, pertuturan dah semakin lancar, walaupun kadang2 ada orang yang tak faham apa yang diperkatakan abg chik. Alhamdulillah, perkembangan abg chik memang baik, walaupun abg chik senang demam. Alhamdulillah, syukur padaMU ya ALLAH.</p>
<p>Aksi abg chik&#8230;<br />
<a href="http://www.youtube.com/watch?v=W25zqmYt0Hw">http://www.youtube.com/watch?v=W25zqmYt0Hw</a> <br />
seronok dengar dia bercakap, walaupun ibu tak faham sepenuhnya.</p>
<div id="attachment_94" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://hanyaceritakehidupan.wordpress.com/files/2009/11/dsc_0016.jpg"><img class="size-full wp-image-94  " title="DSC_0016" src="http://hanyaceritakehidupan.wordpress.com/files/2009/11/dsc_0016.jpg" alt="" width="450" height="677" /></a><p class="wp-caption-text">banana</p></div>
<p>Ape tu abg chik&#8230; &#8220;banana, ibu&#8221;&#8230; banana&#8230; emm, ada le rupa sikit2, boleh la tu&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak Anda ADD / ADHD ? ]]></title>
<link>http://ummukautsar.wordpress.com/2009/11/26/anak-anda-add-adhd/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:48:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ummu Kautsar</dc:creator>
<guid>http://ummukautsar.wordpress.com/2009/11/26/anak-anda-add-adhd/</guid>
<description><![CDATA[Anak Anda ADD / ADHD ? Sekarang banyak orang tua melihat Anak dari sudut kekurangannya. Ketika itu, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#ff0000;"><strong>Anak Anda ADD / ADHD ?</strong></span></p>
<p>Sekarang banyak orang tua melihat Anak dari sudut kekurangannya. Ketika itu, seorang anak dibawa orang tua ke tempat praktek seorang psikolog, dan psikolog itu melihat bahwa orang tua ini sungguh tidak mengenali anaknya. Mengapa psikolog itu berkata seperti itu ? Anaknya ternyata setelah psikolog tersebut asesmen, maka psikolog itu tegakkan diagnose saat itu juga bahwa anaknya tidak mengalami ADD maupun ADHD, anak itu hanyalah kurang perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya yang seringkali pergi ke luar kota sehingga anak bermain sendiri atau bersama dengan mbaknya (pembantunya). Lalu bagaimana ciri-ciri anak dengan gangguan ADD/ADHD ?</p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">ADD = kurang pemusatan perhatian + impulsivitas </span></strong><br />
<!--more-->Jadi apakah ADD (Attention Deficit Disorder) itu, dan apakah anak anda menyandangnya? ADD sering dikenali jika anak berperilaku buruk<br />
secara ekstrim dan konsisten. Orang tua menjadi was–was melihat bagaimana perilaku anak menyimpang dari perilaku anak – anak seusianya. Guru– guru melihat bagaimana perilakunya membuat mereka terpisah dari teman – teman sekelasnya.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>ADHD = kurang pemusatan perhatian + impulsivitas</strong></span></p>
<p>Seseorang dapat memenuhi kriteria ADHD, jika ia kurang perhatian (Inattention)<br />
atau Hiperaktifitas (tidak dapat tenang) &#38; Impulsif, atau keduanya.<br />
Kondisi ini terjadi selama periode paling tidak enam bulan, yang mana<br />
mengakibatkan pertumbuhan seseorang tersebut menjadi tidak sesuai<br />
dengan tingkat pertumbuhan usia normal.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Kapan seseorang dapat dikategorikan sebagai Inattention?</strong></span></p>
<p>1.	Jika ia minimal memenuhi 6 kriteria dibawah ini:<br />
a) Tidak teliti atau sering ceroboh dalam menyelesaikan tugas sekolah, pekerjaan      atau kegiatan lainnya.<br />
b)	Sulit mempertahankan konsentrasi untuk menyelesaikan tugas atau permainan.<br />
c)	Sering tidak mendengarkan pada saat diajak berbicara.<br />
d)	Cenderung tidak mengikuti instruksi dalam menyelaesaikan tugas sekolah atau     pekerjaan.<br />
e)	Mengalami masalah dalam mengatur atau mengorganisasi tugas atau kegiatan.<br />
f)	Tidak menyukai atau cenderung menghindar tugas yang memerlukan kemampuan mental dan konsentrasi yang panjang.<br />
g) Sering kehilangan barang – barang atau peralatan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Misalnya, buku, pensil, penghapus dan lain–lain.<br />
h)	Mudah terpecah konsentrasinya.<br />
i)	Pelupa.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Dan kapan seseorang dapat dikategorikan sebagai hiperaktifitas – Impulsif ?</strong></span></p>
<p>Jika ia memenuhi minimal 6 kriteria dibawah ini (dari gabungan Hiperaktifitas dan Impulsif).</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hiperaktif:</strong></span></p>
<p>a)	Tidak dapat duduk dengan tenang.<br />
b)	Sering meninggalkan bangku tanpa alas an yang jelas.<br />
c)	Berlari, memanjat tidak pada tempatnya (pada usia dewasa, lebih ditunjukkan       dengan sikap gelisah).<br />
d)	Kesulitan dalam menikmati kegiatan atau permainan yang tenang dan membawa relaksasi.<br />
e)	Berkeinginan untuk selalu bergerak aktif.<br />
f)	Cerewet, suka berbicara kadang tidak sesuai dengan konteks.<br />
<span style="color:#ff0000;"><strong><br />
Impulsif: </strong></span></p>
<p>a)	Sering memberikan jawaban sebelum pertanyaan yang ditanyakan selesai.<br />
b)	Mengalami masalah dalam menunggu giliran.<br />
c)	Sering memotong pembicaraan orang lain atau menyerobot.</p>
<p>2.	Gejala yang disebutkan di atas muncul pada saat seseorang berusia sebelum             tujuh tahun.<br />
3.	Gejala muncul pada paling tidak di dua situasi berbeda, misalnya di sekolah dan di rumah.<br />
4.	Gejala tersebut mengakibatkan gangguan pada kegiatan – kegiatan sekolah,  kegiatan social atau pekerjaan.<br />
5.	Gejala tersebut tidak terjadi semata – mata karena Pervasive<br />
Developmental         Disorder atau kelainan kejiwaan yang lainnya termasuk Schizophrenia.<br />
6.	Gejala tersebut tidak dapat dijelaskan lebih baik sehubungan dengan<br />
kelainan         yang diakibatkan oleh, perubahan perasaan (mood), ketakutan<br />
yang amat sangat     (anxiety), kebingungan (dissociative), atau kelainan<br />
kepribadian (personality         disorder).</p>
<p>Sumber : Super Parenting</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MEMBESARKAN TANPA KEKERASAN]]></title>
<link>http://kumahacarana.wordpress.com/2009/11/26/membesarkan-tanpa-kekerasan/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 00:46:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>kumahacarana</dc:creator>
<guid>http://kumahacarana.wordpress.com/2009/11/26/membesarkan-tanpa-kekerasan/</guid>
<description><![CDATA[Massa W , membesarkan anak tanpa kekerasan perlu bagi seluruh orang tua sukita dapat menerapkan mini]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Massa W , membesarkan anak tanpa kekerasan perlu bagi seluruh orang tua sukita dapat menerapkan minimal pada anak kita sendiri.  Kumahacarana , ini caranya :</p>
<p>- Berikan perhatian dan cinta. Setiap anak membutuhkan ikatan cinta yang kuat dengan orang tua atau orang dewasa lainnya agar mereka merasa aman dan bisa mengembangkan rasa percaya.</p>
<p>- Pastikan anak mendapat pengawasan yang tepat .</p>
<p>- Anak belajar dengan meniru . Jadilah teladan yang baik . Beri pujian bila anak bisa menyelesaikan masalah tanpa melibatkan kekerasan.</p>
<p>- Bersikaplah konsisten terhadap peraturan dan disiplin</p>
<p>- Tunjukkan bahwa Anda tidak menyetujui tindak kekerasan . Latih dan dukung anak untuk bersikap sama. Ajari mereka untukrespon tindak kekerasan yang terjadi dengan kata-kata yang baik tetapi tegas . Namun , ajari mereka pula untuk menilai situasi, kapan dan sebaiknya mereka tak ikut campur dan minta pertolongan pada orang yang lebih mampu</p>
<p>Sumber : Life healthy</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MA...AKU DIMANDIIN YA...]]></title>
<link>http://webee88.wordpress.com/2009/11/26/ma-aku-dimandiin-ya/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 17:20:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>webee88</dc:creator>
<guid>http://webee88.wordpress.com/2009/11/26/ma-aku-dimandiin-ya/</guid>
<description><![CDATA[Ide cerita ini dikirim oleh Ini Ntik Ndudh dan copas dari pak didik gunawan Saya Tini, seorang ibu r]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ide cerita ini dikirim oleh Ini Ntik Ndudh dan copas dari pak didik gunawan</p>
<p>Saya Tini, seorang ibu rumah tangga, menurutku kehidupan keluarga kami baik2 saja. Meskipun kami sering bertengkar, tapi setelah suamiku mulai mapan dalam pekerjaannya dan saya juga mulai bekerja sekedarnya di suatu perusahaan kecil, keluarga kami tampak lebih baik dan kehidupan ekonomi keluarga lumayan berkecukupan. Sekarang kami tidak lagi pernah bertengkar, kalau saling marah, maka suamiku akan menghindar dan pergi kekantornya bekerja tanpa henti di kantor, baru pulang ke rumah setelah suasana hati kembali normal, kemudian mandi, dan kami kembali berdamai seperti biasa. Apalagi setelah lahir buah hati kami, seorang bayi laki2 yang tampan dan gagah, maka kami menjadi semakin rukun. Ketika masih dalam masa “cuti melahirkan” aku sendiri sebenarnya bisa mengurus anakku dengan santai, Tapi setelah masa cuti saya habis, maka saya harus mulai lagi bekerja setiap harinya sampai jam 14., sementara suami selalu berangkat pagi2 sekali dan pulang selepas maghrib. Aku ga bisa meninggalkan bayiku sendirian di rumah, dan mulai saat itu kami mulai berfikir untuk mencari pembantu RT, kami mendapatkan seorang pembantu yang sangat baik namanya bibi Atun. Dia terlihat sangat sabar mengurus anak. Kehidupan keluarga kami berjalan dengan tanpa gangguan. Pagi anakku diasuh oleh pembantu, setelah aku pulang kerja, jam 2 saya langsung mengambil alih mengurusi anak pangeranku. Saya sangat mempercayakan pengurusan anakku kepada bi Atun, dia terlihat sayang terhadap anakku dan tampaknya bi Atun ini suka memberi pendidikan yang baik terhadap anakku. Komunikasi mereka berjalan dengan baik, anakku sangat familiar dengan bi Atun. Anakku bernama Roni. Setelah berjalan bbrp tahun kemudian, kami dikaruniai lagi seorang putri cantik, namanya Reni.<br />
Pada saat lahirnya Reni, aku pindah kerja ke sebuah perusahaan yang lebih besar dan menjadi sekretaris direksi. Sejak saat itu, maka jam kerjaku menjadi bertambah dan aku hanya bisa pulang sore hari sama dengan suamiku. Tapi aku merasa santai2 saja, karena urusan rumah sudah sepenuhnya ditangani oleh bi Atun. Setiap harinya aku bisa ketemu dengan Roni Reni malam hari, kadang2 juga ayahnya pulang agak awal ikut bergabung, dan kami merasa bahagia.<br />
Ketika Roni mulai masuk SD, aku merasakan adanya kejanggalan di perkembangan pertumbuhan Reni, umur 2 tahun dia memang pandai berceloteh, akan tetapi kemampuan motoriknya tidak berkembang, dia belum bisa miring, belum bisa tengkurap apalagi merangkak….dan tentu saja belum bisa berjalan, tidak sebagaimana anak2 lain seumur dia. Aku pernah memeriksakan ke dokter, katanya memang ada kelainan di sistem syaraf motoriknya. Dan untuk penyembuhannya diperlukan kepastian diagnosis, seperti misalnya berbagai cek kesehatan, dan juga meliputi banyak test yang membutuhkan waktu tidak sebentar. Aku menjadi masghul dan merasa tidak nyaman atas kebutuhan waktu untuk test yang lama itu. Aku berfikir bagaimana aku harus meninggalkan pekerjaan, maka setelah menimbang-nimbang, si anak ini saya bawa pulang, niatku akan ku-pikir2 dulu tentang saran dokter tadi dan akan saya bicarakan dengan suami saya, sementara dalam perjalanan pulang itu si Reni terus saja berceloteh tanya ini itu dan terlihat sangat menikmati perjalanan ke dokter itu. Di dalam gendonganku Reni sempat berceloteh : “Ma… aku pengin dimandikan mama..” Aku anggap celoteh ini wajar keluar dari seorang balita dan anak bungsu, dia pastinya manja dan kolokan ingin diperhatikan ibunya. Spontan saja aku berjanji akan memandikannya besok hari minggu pas libur. Sesampainya di rumah aku ingin urusan ini dibicarakan bersama suamiku nanti malam. Saat malam tiba, kita berunding tentang masalah itu dan suami menyarankan aku mengambil cuti dari kantor dan aku sepakat. Keesokan harinya aku mengajukan permohonan cuti kepada bosku….tapi ternyata untuk kali ini aku tidak diijinkan cuti, karena kerjaan kantor sedang naik daun, dan peranku sebagai sekretaris di kantor itu belum tergantikan oleh tenaga lain. Lagi2 aku tercenung dengan keadaan ini, segera aku telp ke suamiku dan memberitahukan penolakan bos ku itu, suamiku menyarankan supaya aku konsultasi ke dokter, minta penangguhan waktu pemeriksaan. Dokter ternyata bilang bahwa pemeriksaan itu tidak terlalu mendesak, bisa dilakukan kapan saja. Aku menjadi merasa lega dan urusan mengenai kondisi putriku ini bisa di pending untuk sementara. Hari minggu aku memenuhi janjiku memandikan Reni, aku lihat dia sangat merasa senang dan menikmatinya, matanya kulihat ber-binar2 penuh kebahagiaan dan ceria. Dia minta aku bisa memandikan dia terus setiap harinya, hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan, karena jadwal kantor yang sangat ketat. Aku hanya bisa memandikan pada hari2 libur….ternyata menurut bi Atun, Reni ini mulai menjadi rewel dan setiap hari selalu merengek minta dimandikan ibunya, dan sering menangis karena aku selalu saja tidak bisa memenuhi permintaannya. Aku menerima hal ini sebagai bagian yang wajar2 saja mengingat anakku bungsu ini manja dan suka minta perhatian dari orang2 di sekelilingnya. Aku suruh supaya bi Atun lebih meningkatkan kesabaran dalam menangani Reni.<br />
Dengan berjalannya waktu, kantorku semakin lama semakin berkembang maju sehingga menyeret aku pada kondisiku yang semakin sulit memikirkan RT-ku. Kadang2 di hari minggu pun aku harus bersiap diri dan melayani rekanan kantor seharian, sehingga kesempatan untuk bercengkarama dengan keluarga benar-benar semakin berkurang. Di rumahku sekarang, yang paling berperan mengurus RT ada pada bi Atun. Aku dan suamiku pada sibuk gila kerja, pulang ke rumah paling-paling hanya digunakan untuk tidur, tidak lagi terpikir bagaimana kondisi si anak2 dan tidak ada lagi komunikasi dengan mereka, kecuali sebentar ngomong dengan bi Atun memonitor situasi rumah seadanya dan mengarahkan ini itu. Setiap harinya sebelum matahari terbit, kami berdua telah ber-lumba2 bersiap diri berangkat ke kantor. Sementara bi Atun sendiri sudah jarang mengeluhkan kondisi Reni (mungkin karena maklum melihat kesibukan kami berdua), padahal ternyata sebenarnya Reni itu masih saja suka rewel dan menangis berkepanjangan minta perhatian. Pada suatu hari minggu, aku punya kesempatan libur dan ingin menebus janji2-ku sebelumnya untuk memperhatikan anak2-ku, akan tetapi Reni sepertinya ngambeg, tak mau lagi kupegang, dan dia terus2an menangis sehingga aku merasa jengkel dan tak nyaman. Setiap saat dia selalu berceloteh minta dimandikan mama, tapi asal kupegang hendak kumandikan, dia meronta2 dan menolak sambil menangis menjerit2. Sebetulnya situasi itu telah memunculkan sinyal ketidak-wajaran pada diri Reni, mengapa dia bersikap demikian, akan tetapi aku tidak menyadarinya. Aku masih bersikukuh bahwa sikapnya itu akibat karena dia sedang ngambeg, dasar anak manja.<br />
Suatu hari aku mendapat tugas kantor untuk pergi ke luar kota beberapa hari mendampingi Bos, tentang urusan RT ini, aku sudah atur semuanya kepada bi Atun dan aku pikir setiap saat nanti aku bisa telp ke rumah memonitor kondisi rumah.<br />
Hari ke 3 aku di luar kota, aku ditelpon bi Atun mengabarkan kalo Reni Demam, aku sarankan supaya diperiksakan ke dokter. Keesokan harinya aku dapat telpon lagi dari bi Atun, bahwa kondisi Reni semakin memburuk dan dia mondok di RS, aku diminta segera pulang. Kebetulan acaraku tinggal besok pagi dan aku besoknya bisa pulang. Aku telpon suamiku dan dia bilang dengan ringan, bahwa memang Reni mondok di RS, suamiku yang mengantar, aku diminta segera pulang. Aku janji besok aku pulang.<br />
Sesampai di rumah aku ngrasa situasi rumah terlihat tidak seperti biasanya, sangat lengang…sepi… dan tidak ada siapa2. Maka aku bergegas menuju ke RS tempat Reni dirawat.<br />
Disitu aku melihat Reni terbaring lemah ditunggui oleh bi Atun dan Roni, aku sangat terhenyak melihat keadannya yang ternyata sakitnya sedemikian parah. Tubuh Reni ditempeli berbagai peralatan medis pada di tubuhnya, badannya panas, di hidungnya tertancap selang oksigen dan selang untuk alat makan (Sonde), sementara di lengannya tertancap infus. Aku lihat dadanya ditempeli banyak kenop yang dihubungkan ke sebuah monitor yang memunculkan berbagai macam grafik berjalan dengan suara berirama. Aku juga melihat kateter muncul dari balik bajunya berisi cairan kekuningan. Kedua kaki dan tangannya terlihat kecil2, layu dan tak berdaya, mukanya pucat pasi dan tubuhnya panas. Kalau saja itu bukan sosok anakku, maka aku akan terkesan melihat sosok mainan boneka. Seketika itu juga aku segera tergopoh-gopoh mencari dokter untuk minta keterangan. Dokter menjelaskan bahwa kondisi Reni sebenarnya sangatlah jelek, boleh dikatakan dalam kondisi kritis. Kata dokter Reni menderita kelainan syaraf di otak yang mengakibatkan seluruh daya motoriknya tidak bekerja, bukan hanya anggota tubuh saja tapi juga reflek2 seperti kemampuan kencing, mengejan, BAB dan sejenisnya terganggu. Pikiran dan mentalnya juga terganggu dan menurut dokter ini Sebetulnya sudah terjadi agak lama dan tidak tertangani dengan semestinya. Hatiku langsung menangis mendengar kabar ini…ya Allah, sedemikian menderita anakku ini…. Aku langsung merasa bersalah telah menelantarkan anakku yang bungsu ini.<br />
Dokter bilang bahwa kemungkinannya untuk sembuh sangatlah tipis, kecuali ada mukjizat dari Allah. Dalam kegamangan pikiranku ini aku langsung menelpon suamiku, dan mengabarkan kondisi Reni sambil menangis, suamiku juga kaget setengah tidak percaya, karena hari pertama ketika dia mengantarkan ke RS, kondisi Reni terlihat baik2 saja, maka suamiku bilang akan segera meluncur ke RS.<br />
Sambil menunggu kedatangan suami, aku berdoa dengan se-khusyuk2nya, agar putriku ini diberi kesembuhan. Sekaligus minta ampun atas keteledoranku menelantarkan amanah yang telah diberikan Tuhan. Aku merasa bersalah dan merasa sangat menyesal, sambil meratap-ratap aku berdoa sampai keluar keringat dingin.<br />
Akhirnya suami datang dan kami berdua berunding panjang lebar untuk mengambil langkah yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan anakku Reni. Aku sendiri juga akhirnya telah mengambil keputusan untuk mengambil cuti dari kantor, demi untuk menjaga Reni. Tapi lagi2 si Bos kantor menolak dan tidak mengijinkannya sehingga mengakibatkan aku emosi dan kalap, sambil marah2 aku mengancam akan mengundurkan diri dari kantor. Karena si Bos tetap pada pendiriannya, maka aku segera membuat surat pengunduran diri…dan akhirnya sekarang aku sudah menjadi manusia bebas untuk sepenuhnya mengurusi Reni di RS.<br />
Di RS aku cerita ke Bi Atun tentang keputusan pengunduran diriku dari kantor, serta merta Bi Atun memelukku dengan perasaan yang tak bisa kuduga, ternyata dia merasa sangat lega mendengar keputusanku, mengingat dia tuh sebenarnya merasa sangat memelas melihat keadaan Reni yang terus2-an berceloteh minta dimandikan oleh mamanya. Aku ikut menangis jadinya, membayangkan betapa berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun, anak ini sebenarnya sangat mendambakan uluran perhatian dan kasih sayang dari ibu (atau orang tuanya). Kulirik Reni yang terbaring, dari raut mukanya sudah tidak ada lagi bekas keceriaan dimukanya seperti ketika pertama kali tak mandikan dulu. Kulihat wajahnya terkesan seperti kecewa sangat (mungkin ini hanya perasaanku saja)…duuuhh anakku, ibumu telah mendzolimi kamu, ampunkan ibu ya nak….. tapi dia hanya diam saja seperti orang tidur. Beberapa hari terakhir ini acara dokter terhadap anakku sangatlah padat, mulai dari pengambilan darah, skanner otak, rongent, USG sampai echocardiography. Semua dilakukan dengan serba cepat. Anakku digledheg mondar mandir dari satu kamar ke kamar lain.<br />
Pada hari besok paginya, kulihat anakku matanya seperti bergerak berkedip, aku langsung membisikinya :”ini ibu sayang….kamu minta apa naak?”…. aku lihat bibirnya seperti bergerak bilang dengan suara sangat lemah hampir tak terdengar : “ma aku pengin dimandiin…”…. Duuhhh…. Ya Allah ya Robbi….Aku serasa tersungkur mendengar permintaannya, hanya satu permintaan ini yang menjadi angan-angannya, dan itu telah menjadi dambaannya. Aku segera saja menjawab akan memandikannya nanti, dibibirnya seperti membentuk sedikit senyum dan aku mendengar monitor di sebelah tempat tidur anakku berbunyi lebih cepat : thit thit thit thit…..<br />
Disaat itu aku tidak juga nyadar kalo sebenarnya anakku ini mengalami “lelaku” proses menuju kematian…..aku lihat bi Atun membisikkan kata2 Allah…Allah…. Berkali2 ke telinga anakku. Beberapa saat kemudian bunyi thit…. itu tiba-tiba berhenti dan bi Atun mengucapkan “Innalillahi wa inailaihi rojiuun….” sambil memeluk Reni dan menangis…. baru aku nyadar bahwa anakku telah meninggal. Serentak aku menjerit dan protes…hu…hu…hu…. ya Allah mengapa Tuhan benar2 memanggilmu …. mengapa aku tidak diberi kesempatan untuk menebus kesalahanku kepadanya.<br />
Sambil menangis keras aku bermunajad : “Ya Allah, aku telah mempertaruhkan dan melepas semua karierku demi untuk menjaga anakku, mengapa Kamu tetap memanggil anakku…hu…hu…hu…. pikiranku sangat kalut dan tidak bisa menerima keadaan ini.<br />
Di rumah seharian dan semalaman aku menangis terus tanpa henti, menyesal dan sungguh benar2 menyesal, sampai akhirnya jenazah akan dimandikan. Aku secara khusus minta agar akulah yang menuang air pertama kali dalam ritual memandikan itu. Maka dengan menguatkan hati, kuambil air segayung dengan sepenuh perasaan yang amat sangat pilu, sambil gemetaran kutuang air itu ke jasad anakku dan semua menjadi gelap, ternyata (ceritanya) belum kesampaian aku menuang air, aku sudah keburu pingsan tidak kuat menahan perasaan.<br />
Jadilah itu niatku memandikan anakku untuk yang terakhir kalinya, tapi tetap saja tidak kesampaian … ya Allah, ampunilah hambaMu.<br />
Sebuah penyesalan yang tiada tara……</p>
<p>sumber: <a title="sumber" href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=189991279617" target="_blank">http://www.facebook.com/note.php?note_id=189991279617</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenali Organ Intim Wanita]]></title>
<link>http://rupacantik.wordpress.com/2009/11/25/kenali-organ-intim-wanita/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 13:42:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>kamarnurain</dc:creator>
<guid>http://rupacantik.wordpress.com/2009/11/25/kenali-organ-intim-wanita/</guid>
<description><![CDATA[sumber: majalah wanita TIDAK SEMUA WANITA MENGENALI ORGAN INTIM MILIK MEREKA. ADA RAMAI YANG MASIH B]]></description>
<content:encoded><![CDATA[sumber: majalah wanita TIDAK SEMUA WANITA MENGENALI ORGAN INTIM MILIK MEREKA. ADA RAMAI YANG MASIH B]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akupunktur Bikin Kehamilan Jadi Nyaman]]></title>
<link>http://apasajalah.wordpress.com/2009/11/25/akupunktur-bikin-kehamilan-jadi-nyaman/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 06:54:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>retdew</dc:creator>
<guid>http://apasajalah.wordpress.com/2009/11/25/akupunktur-bikin-kehamilan-jadi-nyaman/</guid>
<description><![CDATA[Kalau mendengar istilah akupunktur pasti Moms sudah tahu, kan? Tapi kalau akupunktur untuk ibu hamil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kalau mendengar istilah akupunktur pasti Moms sudah tahu, kan? Tapi kalau akupunktur untuk ibu hamil, apakah pernah mendengarnya? Atau mungkin, ada Moms yang sudah pernah mencobanya?</p>
<p>Ya, rupanya teknik tusuk jarum yang berasal dari negeri tirai bambu itu bisa digunakan untuk ibu hamil, loh! Duh, ngeri nggak ya kok lagi hamil ditusuk-tusuk? Eits, jangan dulu takut, soalnya banyak memberikan manfaat baik pada saat hamil ataupun ketika hendak persalinan.</p>
<p><!--more--><strong>Atasi mual muntah</strong></p>
<p>Mual muntah di pagi hari banyak dialami para ibu hamil pada trimester pertama. Untuk mengatasinya, Moms bisa mencoba teknik akupunktur khusus untuk ibu hamil. Cara ini alamiah dan bisa mengatasi segala keluhan.</p>
<p>Akupunktur sudah dikenal di negara asalnya Cina kurang lebih sejak 5.000 tahun lalu. Untuk di Indonesia terapi tusuk jarum untuk ibu hamil diperkenalkan bagi wanita hamil utamanya untuk menghilangkan masalah-masalah kehamilan seperti mual muntah. Namun di luar negeri, teknik ini sudah sangat popular bahkan dianggap sebagai salah satu pengobatan alternatif yang diakui oleh dunia medis.</p>
<p>Menurut National of Health (NIH) Amerika, pada tahun 1997 akupunktur sudah direkomendasikan untuk mengatasi rasa mual berlebih pada ibu hamil khususnya pada trimester pertama. Pengobatan tradisional Cina ini menerapkan prinsip keterkaitan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Teknik ini dilakukan dengan penekanan di beberapa titik pada bagian wajah, kaki, perut, dan punggung sehingga semua keluhan bisa teratasi. Metoda ini juga bermanfaat untuk si jabang bayi dalam hal pembentukan otak dan organ tubuh yang sempurna.</p>
<p><strong>Atasi rasa nyeri saat persalinan</strong></p>
<p>Selain mual, muntah, dan lesu, wanita hamil juga sering merasa nyeri pada bagian tubuh. Anggap saja ini &#8220;kenikmatan&#8221; saat hamil. Melalui teknik akupunktur rasa nyeri bisa berkurang karena saat jarum ditusukkan dapat menimbulkan hormon endorfin. Yaitu hormon yang menimbulkan rasa tenang, nyaman, dan bisa menghilangkan rasa sakit. Hormon endorfin akan meningkat selama kehamilan dan memuncak saat persalinan.</p>
<p>Untuk mengurangi rasa nyeri saat persalinan ini, tusuk jarum bisa dilakukan pada akhir trimester ketiga. Tujuannya ialah untuk membantu persiapan tubuh ibu hamil dalam bersalin, dengan fokus penekanan untuk mempersiapkan serviks dan tulang panggul guna melancarkan proses persalinan.</p>
<p>Selain mengurangi rasa nyeri saat persalinan, teknik akupunktur juga bisa digunakan untuk mengurangi rasa sakit pascacesar. Umumnya, bagian tubuh yang ditusuk dengan jarum akupunktur adalah perut, pantat, tangan dan kaki. Jarum ditusukkan dengan kemiringan 45 derajat dan ditempelkan pada kulit, sehingga tidak mengganggu proses persalinan. Walau bukan bersifat menghilangkan tapi akupunktur bisa mengurangi rasa nyeri sekitar 78 persen. Jarum ditusukkan dalam satu detik setelah itu jarum dapat dirangsang baik secara manual ataupun menggunakan listrik dengan daya yang sangat kecil.</p>
<p><strong>Ada syaratnya</strong></p>
<p>Jika Moms mau mencoba teknik akupunktur ada syaratnya yaitu, tekanan darah Moms harus dalam keadaan normal dan diperkirakan melahirkan secara normal. Bagi yang mempunyai tekanan darah tinggi sebaiknya tidak melakukan teknik akupunktur.</p>
<p>Selain itu, Moms yang memiliki alergi terhadap logam pun harap berhati-hati. Bisa-bisa saat melakukan akupunktur tiba-tiba terjadi kelainan. Jika terjadi, akupunktur pun harus dihentikan.</p>
<p>Hal penting dan tidak boleh terlewat yaitu penggunaan jarum haruslah jarum sekali pakai (disposible). Jarum akupunktur tidak menularkan penyakit, justru yang bisa menularkan penyakit adalah jarum suntik. Bagian dalam jarum suntik berongga sehingga ketika jarum disuntikkan lalu ditarik akan ada darah atau serum yang terbawa. Sedangkan jarum akupunktur dipastikan aman jika menggunakan jarum disposible atau sterilisasi yang akurat.</p>
<p><strong>Ukuran jarum</strong></p>
<p>Untuk ukuran jarum akupunktur dewasa, baik untuk yang sedang hamil atau tidak hamil sama saja. Memang ukurannya beragam, dari 1,3 cm sampai 10,2 cm. Diameter 0,24 mm sampai 0,45 mm. Ukuran paling panjang digunakan untuk bagian pantat. Ukuran yang lebih pendek untuk seluruh bagian tubuh. Dan yang paling pendek untuk tangan atau wajah. Jarum akupunktur terbuat dari logam yang berbeda-beda, namun hampir semua kini terbuat dari stainless steel. Namun ada juga jarum yang terbuat dari jarum perak dan emas, biasanya digunakan untuk kasus-kasus tertentu saja.<br />
(Mom&#38; Kiddie//tty)</p>
<p>Sumber: Okezone</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Baby Bracelet]]></title>
<link>http://perak925.wordpress.com/2009/11/25/baby-bracelet/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 06:38:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>perak925</dc:creator>
<guid>http://perak925.wordpress.com/2009/11/25/baby-bracelet/</guid>
<description><![CDATA[Code : GT-2 (Rp 93.500,-)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a href="http://ayni925.files.wordpress.com/2009/11/gt2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-591" title="GT2" src="http://ayni925.files.wordpress.com/2009/11/gt2.jpg?w=300&#038;h=230" alt="" width="300" height="230" /></a><strong>Code : GT-2 (Rp 93.500,-)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemerkosa Itu Ternyata Masih Anak SD.. Buseeett]]></title>
<link>http://jasadh.wordpress.com/2009/11/25/pemerkosa-itu-ternyata-masih-anak-sd-buseeett/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 03:58:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>jasadh</dc:creator>
<guid>http://jasadh.wordpress.com/2009/11/25/pemerkosa-itu-ternyata-masih-anak-sd-buseeett/</guid>
<description><![CDATA[Peristiwa ini mungkin bisa menjadi pelajaran bagi orangtua dalam hal mendidik anaknya. RU, bocah ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Peristiwa ini mungkin bisa menjadi pelajaran bagi orangtua dalam hal mendidik anaknya. RU, bocah berumur 12 tahun, dilaporkan kepada polisi gara-gara diduga memerkosa tetangganya yang juga masih bocah. Anak perempuan ini masih berusia tujuh tahun atau kelas I SD.<!--more--></p>
<p>Peristiwa tragis itu terjadi pada Jumat  di Kabupaten Malang. Didampingi kedua orangtuanya saat melapor ke Polsek Singosari, Selasa (24/11), Ai, yang menjadi korban pencabulan, dengan polos bercerita jika pada Jumat siang ia diminta bermain ke rumah RU yang saat itu kosong. Bocah ingusan itu mengatakan, ia diiming-iming uang Rp 1.000 agar bersedia bermain di sana.</p>
<p>Malang bagi Ai, bukan sebuah acara bermain bersama yang didapat. Bocah mungil ini justru mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya. RU yang tubuhnya tiga kali lebih besar mencabulinya. Ai yang takut tidak bisa berontak, berteriak pun tidak bisa karena mulutnya disumpal kain.</p>
<p>Aksi yang tidak semestinya dilakukan bocah seumuran RU terbongkar setelah beberapa warga yang sebelumnya melihat Ai bermain di rumah tersebut, tetapi hingga siang tidak juga keluar. Warga kemudian masuk rumah dan mendapati RU dan Ai yang busananya sudah tidak lengkap.</p>
<p>Tidak ingin berpolemik, warga memulangkan Ai ke rumah orangtuanya. Akan tetapi, orangtua Ai yang mendapatkan laporan dan mendengarkan cerita langsung dari Ai tidak terima dan melapor kepada polisi. Terlebih Ai terus menangis karena merasa sakit di kemaluannya. Yang mengejutkan, (maaf) di alat vital Ai ditemukan juga cairan hand and body lotion.</p>
<p>RU yang sempat menjalani pemeriksaan mengatakan, ia sama sekali tidak mengingat kejadian tersebut. RU merasa sedikit linglung seusai mandi di sebuah sumur dekat sekolahnya. “Saya cuma ingat dituntun seorang perempuan seusai mandi di sumur dan kemudian pulang,” ucapnya polos.</p>
<p>Kapolsek Singosari, Kabupaten Malang, AKP Agus Guntoro mengatakan, kasus ini dilimpahkan ke unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Malang, mengingat terlapor dan pelapor masih di bawah umur.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">kompas</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
