<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>angklung &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/angklung/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "angklung"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 06:42:17 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Angklung]]></title>
<link>http://wahyuariefceria.wordpress.com/2009/12/03/angklung/</link>
<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 03:35:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>wahyuariefceria</dc:creator>
<guid>http://wahyuariefceria.wordpress.com/2009/12/03/angklung/</guid>
<description><![CDATA[adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong></strong><!--more--> adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar <a title="Jawa Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat">Tanah Sunda</a><a href="http://wahyuariefceria.wordpress.com/files/2009/12/200px-angklung.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-10" title="200px-Angklung" src="http://wahyuariefceria.wordpress.com/files/2009/12/200px-angklung.jpg?w=150" alt="" width="150" height="99" /></a>, terbuat dari <a title="Bambu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bambu">bambu</a>, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi <a title="Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda">Sunda</a> kebanyakan adalah <a title="Salendro" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Salendro">salendro</a> dan <a title="Pelog" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pelog">pelog</a>.</p>
<table id="toc">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<h2>Asal-usul</h2>
<p>Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.</p>
<p>Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di <a title="Jasinga (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jasinga&#38;action=edit&#38;redlink=1">Jasinga</a>, <a title="Bogor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bogor">Bogor</a>, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat <a title="Dewi Sri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Sri">Dewi Sri</a> turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.</p>
<p>Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa <a title="Kerajaan Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda">kerajaan Sunda</a>, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah <a title="Hindia Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda">Hindia Belanda</a> sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.</p>
<p>Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai <a title="Sri Pohaci (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sri_Pohaci&#38;action=edit&#38;redlink=1">Sri Pohaci</a> sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).</p>
<p>Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:</p>
<dl>
<dd>
<dl>
<dd><em>Si Oyong-oyong</em></dd>
<dd><em>Sawahe si waru doyong</em></dd>
<dd><em>Sawahe ujuring eler</em></dd>
<dd><em>Sawahe ujuring etan</em></dd>
<dd><em>Solasi suling dami</em></dd>
<dd><em>Menyan putih pengundang dewa</em></dd>
<dd><em>Dewa-dewa widadari</em></dd>
<dd><em>Panurunan si patang puluh</em></dd>
</dl>
</dd>
</dl>
<p>Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap <a title="Dewi Sri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewi_Sri">Dewi Sri</a> tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di <a title="Jawa Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat">Jawa Barat</a> disebut ngaseuk.</p>
<p>Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.</p>
<p>Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada <a title="1908" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1908">1908</a> tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke <a title="Thailand" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Thailand">Thailand</a>, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.</p>
<p>Bahkan, sejak <a title="1966" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1966">1966</a>, <a title="Udjo Ngalagena" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Udjo_Ngalagena">Udjo Ngalagena</a> —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.</p>
<h2>Angklung Kanekes</h2>
<p>Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka <a title="Orang Kanekes" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Kanekes">orang Baduy</a>) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.</p>
<p>Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di <em>buruan</em> (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: <em>Lutung Kasarung</em>, <em>Yandu Bibi</em>, <em>Yandu Sala</em>, <em>Ceuk Arileu</em>, <em>Oray-orayan</em>, <em>Dengdang</em>, <em>Yari Gandang</em>, <em>Oyong-oyong Bangkong</em>, <em>Badan Kula</em>, <em>Kokoloyoran</em>, <em>Ayun-ayunan</em>, <em>Pileuleuyan</em>, <em>Gandrung Manggu</em>, <em>Rujak Gadung</em>, <em>Mulung Muncang</em>, <em>Giler</em>, <em>Ngaranggeong</em>, <em>Aceukna</em>, <em><a title="Marengo (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Marengo&#38;action=edit&#38;redlink=1">Marengo</a></em>, <em>Salak Sadapur</em>, <em>Rangda Ngendong</em>, <em>Celementre</em>, <em>Keupat Reundang</em>, <em>Papacangan</em>, dan <em>Culadi Dengdang</em>. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.</p>
<p>Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.</p>
<p>Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.</p>
<h2>Angklung Dogdog Lojor</h2>
<p>Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat <a title="Kasepuhan Pancer Pangawinan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kasepuhan_Pancer_Pangawinan&#38;action=edit&#38;redlink=1">Kasepuhan Pancer Pangawinan</a> atau kesatuan adat <a title="Banten Kidul (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Banten_Kidul&#38;action=edit&#38;redlink=1">Banten Kidul</a> yang tersebar di sekitar <a title="Gunung Halimun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Halimun">Gunung Halimun</a> (berbatasan dengan <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">jakarta</a>, <a title="Bogor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bogor">Bogor</a>, dan <a title="Lebak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lebak">Lebak</a>). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.</p>
<p>Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.</p>
<p>Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya <em>Bale Agung</em>, <em>Samping Hideung</em>, <em>Oleng-oleng Papanganten</em>, <em>Si Tunggul Kawung</em>, <em>Adulilang</em>, dan <em>Adu-aduan</em>. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.</p>
<h2>Angklung Gubrag</h2>
<p>Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).</p>
<p>Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.</p>
<h2>Angklung Badeng</h2>
<p>Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, <a title="Garut" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Garut">Garut</a>. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a>. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke <a title="Kerajaan Demak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Demak">kerajaan Demak</a>. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.</p>
<p>Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan <a title="Bahasa Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda">bahasa Sunda</a> yang bercampur dengan <a title="Bahasa Arab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab">bahasa Arab</a>. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula <a title="Bahasa Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia">bahasa Indonesia</a>. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.</p>
<p>Lagu-lagu badeng: <em>Lailahaileloh</em>, <em>Ya’ti</em>, <em>Kasreng</em>, <em>Yautike</em>, <em>Lilimbungan</em>, <em>Solaloh</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[from E2-502 with love]]></title>
<link>http://citraningrum.wordpress.com/2009/11/12/from-e2-502-with-love/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 13:47:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>citraningrum</dc:creator>
<guid>http://citraningrum.wordpress.com/2009/11/12/from-e2-502-with-love/</guid>
<description><![CDATA[It is true. Pain will go, not as swiftly as it came, but it will. And it is easier to share, even ju]]></description>
<content:encoded><![CDATA[It is true. Pain will go, not as swiftly as it came, but it will. And it is easier to share, even ju]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gemastik 2009 dan Angklung]]></title>
<link>http://septiarani.wordpress.com/2009/11/01/gemastik-2009-dan-angklung/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 08:22:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>ranystarry</dc:creator>
<guid>http://septiarani.wordpress.com/2009/11/01/gemastik-2009-dan-angklung/</guid>
<description><![CDATA[Gemastik (Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi) ke-2 menyisakan se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gemastik (Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi) ke-2 menyisakan se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengukuhan Angklung Oleh Unesco Masuki Verifikasi]]></title>
<link>http://ard1z.wordpress.com/2009/10/23/pengukuhan-angklung-oleh-unesco-masuki-verifikasi/</link>
<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 01:56:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ard1z</dc:creator>
<guid>http://ard1z.wordpress.com/2009/10/23/pengukuhan-angklung-oleh-unesco-masuki-verifikasi/</guid>
<description><![CDATA[Setelah batik mendapat pengakuan dari Unesco (Badan PBB yang membidangi Pendidikan Ilmu Pengetahuan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Setelah batik mendapat pengakuan dari Unesco (Badan PBB yang membidangi Pendidikan Ilmu Pengetahuan ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Batik ..... identitas bangsaku ..... MERDEKA ..!!!!!]]></title>
<link>http://brohenk.wordpress.com/2009/10/22/batik-identitas-bangsaku-merdeka/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 16:24:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>brohenk</dc:creator>
<guid>http://brohenk.wordpress.com/2009/10/22/batik-identitas-bangsaku-merdeka/</guid>
<description><![CDATA[Batik &#8230;.. akhir-akhir ini kita dikagetkan dengan pengakuan malaysia tentang Batik yang mereka ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Batik &#8230;.. akhir-akhir ini kita dikagetkan dengan pengakuan malaysia tentang Batik yang mereka ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[                        A LITTLE STORY OF SOLEMIO]]></title>
<link>http://firglobe.wordpress.com/2009/10/18/a-little-story-of-solemio/</link>
<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 15:22:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>firglobe</dc:creator>
<guid>http://firglobe.wordpress.com/2009/10/18/a-little-story-of-solemio/</guid>
<description><![CDATA[(pindahan jg dr blog lama-ku) ☼ Pertama kali aku rekaman&#8230;. ngebawain lagu Solemio, tanpa aku t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center">(pindahan jg dr blog lama-ku)</p>
<p align="center">☼</p>
<p align="center">
<p align="center">Pertama kali aku rekaman&#8230;.</p>
<p align="center">ngebawain lagu Solemio, tanpa aku tau kaya gimana lagu aslinya..</p>
<p align="center">Jadi pertama kali aku belajar lagu Solemio..</p>
<p align="center">dari selembar partitur&#8230;yang diberikan padaku..sehari sebelum rekaman!</p>
<p align="center">Parahnya, aku ga bisa baca partitur (paling bisa ketukannya aja).</p>
<p align="center">Alhasil, kuminta seorang teman yang bisa baca partitur dan suaranya ga fals&#8230;</p>
<p align="center">untuk nyanyiin isi partitur itu, terus aku ikutin.</p>
<p align="center">ironisnya, maagku sedang kumatL</p>
<p align="center">Jadi esoknya di studio&#8230;Cuma 1x latihan..&#38; 1x take.</p>
<p align="center">Kebayang kan hasilnya pas-pasan..</p>
<p align="center">Perhaps, at that time, they really don’t have any other choices but me..</p>
<p align="center">So they keep using my voice for the CD.</p>
<p align="center">
<p align="center">Later, i find out some different versions of O Sole Mio.</p>
<p align="center">&#38; i like the Gino Federicci’s one..versi gitar yang dipetik.</p>
<p align="center">Jam terbang dengan O Sole Mio pun makin tinggi..</p>
<p align="center">Sampai – sampai seseorang bilang&#8230;aku lebih bagus dari penyanyi di CD rekaman itu..</p>
<p align="center">Ha Ha Ha&#8230;&#8230;.penyanyi di CD itu kan aku juga!</p>
<p align="center">it’s amazing how singing with them can make my heart so warm&#8230;</p>
<p align="center">Mungkin karena energi dari lagunya ya..(Sole = Sun ; Mio = My)</p>
<p align="center">Whatever it was, from the deepest part of my heart,</p>
<p align="center">i send u a huge of thanks..</p>
<p align="center">untuk semua mimpi yang sempat terwujudkan..</p>
<p align="center">Long Live KPA-ITB!!</p>
<p><a href="http://firglobe.wordpress.com/files/2009/12/greencoat.jpg"><img src="http://firglobe.wordpress.com/files/2009/12/greencoat.jpg?w=300" alt="" title="kpa-itb" width="300" height="224" class="aligncenter size-medium wp-image-124" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puteri Indonesia 2009, Cengar-cengir Main Angklung]]></title>
<link>http://coexindie.wordpress.com/2009/10/12/puteri-indonesia-2009-cengar-cengir-main-angklung/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 07:17:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>coexindie</dc:creator>
<guid>http://coexindie.wordpress.com/2009/10/12/puteri-indonesia-2009-cengar-cengir-main-angklung/</guid>
<description><![CDATA[Puteri Indonesia 2009, Qory Sandioriva, Puteri Indonesia 2008 Zivanna Letisha Siregar dan Miss Unive]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://coexindie.wordpress.com/files/2009/10/qory_puteriina_285_fahmi.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-585" title="qory_puteriina_285_fahmi" src="http://coexindie.wordpress.com/files/2009/10/qory_puteriina_285_fahmi.jpg?w=147" alt="qory_puteriina_285_fahmi" width="147" height="150" /></a>Puteri Indonesia 2009, Qory Sandioriva, Puteri Indonesia 2008 Zivanna Letisha Siregar dan Miss Universe 2009, Stefania Fernandez, mendapat pengalaman istimewa. Ketiganya diberi kesempatan memainkan alat musik tradisional asal Jawa Barat, Angklung.</strong><br />
Ketiga perempuan cantik itu diundang dalam acara Yamaha Meet and Gathering with Miss Universe 2009 di Saung Angklung Mang Udjo, Bandung, Jawa Barat, Minggu (11/10/2009). Saat diminta naik ke panggung untuk bermain angklung,<!--more--><br />
 ketiganya terlihat antusias.</p>
<p>&#8220;Wow, bagaimana memegangnya yah,&#8221; tanya Stefania Fernandez kepada penerjemahya, Minggu (11/10/2009).</p>
<p>Qory, Zizi dan Stefania memang tidak memainkan alat musik yang dibuat dari bambu itu bertiga. Mereka didampingi sejumlah musisi angklung asal Bandung.</p>
<p>Mereka pun memainkan sejumlah lagu nasional dan luar negeri. Walau tak mahir, Qory, Zizi dan Stefania tetap bersemangat.</p>
<p>Qory yang paling sumringah. Gadis 18 tahun itu beberapa kali tersenyum lebar melihat kemampuan para musisi asal kota kembang.</p>
<p>detikhot</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis]]></title>
<link>http://kristenpost.wordpress.com/2009/10/10/mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis/</link>
<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 17:43:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kristenpost.wordpress.com/2009/10/10/mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis/</guid>
<description><![CDATA[10.10.09 12:13 Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis Mahasiswa Jurusan Sistem Kompute]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="colortbl2" style="float:left;width:80px;margin-right:7px;margin-bottom:2px;text-align:justify;padding:2px;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html"><img src="http://www.reformata.com/media882716/thumb/Mahasiswa%20Stikom%20Surabaya%20Ciptakan%20Angklung%20Otomatis.jpg" alt="Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis.jpg" title="Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis" border="0" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">           </div>
<div style="text-align:justify;" class="date1">10.10.09 12:13</div>
<div style="text-align:justify;">           </div>
<div style="padding-bottom:0;font-size:12px;font-weight:bold;text-align:justify;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html">Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis</a></div>
<div style="padding-top:0;padding-bottom:0;text-align:justify;">
<div style="list-style-type:disc;list-style-image:none;list-style-position:inside;"> Mahasiswa Jurusan Sistem Komputer (SK) di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya, Kadek Kertayasa, menciptakan Angklung Otomatis.</p>
<p>&#8220;Angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, sedang angklung otomatis merupakan karya tugas akhir Kadek yang mendapatkan nilai A,&#8221; kata dosen pembimbing Kadek, yakni Ihyauddin S.Kom, di Surabaya, Jumat.</p>
<p>Di sela-sela Halal bihalal STIKOM Surabaya bersama pers, ia menjelaskan cara kerja Angklung Otomatis terkait ihtiar pemerintah mendaftarkan angklung sebagai alat musik tradisional warisan budaya Indonesia ke UNESCO pasca pengakuan dunia terhadap wayang, keris, dan batik.</p></div>
<p>          Menurut Ihyauddin, Angklung Otomatis merupakan alat musik yang diberi memori pada bagian mikro kontroler untuk menyimpan lagu-lagu.</p></div>
<div style="text-align:justify;">                  </div>
<div class="gotoindex" style="float:right;text-align:justify;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html">&#60;!&#8211;<img src="more.gif" border="0" alt="" title="" />&#8211;&#62;        read more »</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis]]></title>
<link>http://kabargereja.wordpress.com/2009/10/10/mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis/</link>
<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 17:43:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kabargereja.wordpress.com/2009/10/10/mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis/</guid>
<description><![CDATA[10.10.09 12:13 Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis Mahasiswa Jurusan Sistem Kompute]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="colortbl2" style="float:left;width:80px;margin-right:7px;margin-bottom:2px;text-align:justify;padding:2px;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html"><img src="http://www.reformata.com/media882716/thumb/Mahasiswa%20Stikom%20Surabaya%20Ciptakan%20Angklung%20Otomatis.jpg" alt="Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis.jpg" title="Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis" border="0" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">           </div>
<div style="text-align:justify;" class="date1">10.10.09 12:13</div>
<div style="text-align:justify;">           </div>
<div style="padding-bottom:0;font-size:12px;font-weight:bold;text-align:justify;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html">Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis</a></div>
<div style="padding-top:0;padding-bottom:0;text-align:justify;">
<div style="list-style-type:disc;list-style-image:none;list-style-position:inside;"> Mahasiswa Jurusan Sistem Komputer (SK) di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya, Kadek Kertayasa, menciptakan Angklung Otomatis.</p>
<p>&#8220;Angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, sedang angklung otomatis merupakan karya tugas akhir Kadek yang mendapatkan nilai A,&#8221; kata dosen pembimbing Kadek, yakni Ihyauddin S.Kom, di Surabaya, Jumat.</p>
<p>Di sela-sela Halal bihalal STIKOM Surabaya bersama pers, ia menjelaskan cara kerja Angklung Otomatis terkait ihtiar pemerintah mendaftarkan angklung sebagai alat musik tradisional warisan budaya Indonesia ke UNESCO pasca pengakuan dunia terhadap wayang, keris, dan batik.</p></div>
<p>          Menurut Ihyauddin, Angklung Otomatis merupakan alat musik yang diberi memori pada bagian mikro kontroler untuk menyimpan lagu-lagu.</p></div>
<div style="text-align:justify;">                  </div>
<div class="gotoindex" style="float:right;text-align:justify;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html">&#60;!&#8211;<img src="more.gif" border="0" alt="" title="" />&#8211;&#62;        read more »</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis]]></title>
<link>http://newschristian.wordpress.com/2009/10/10/mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis/</link>
<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 17:43:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://newschristian.wordpress.com/2009/10/10/mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis/</guid>
<description><![CDATA[10.10.09 12:13 Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis Mahasiswa Jurusan Sistem Kompute]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="colortbl2" style="float:left;width:80px;margin-right:7px;margin-bottom:2px;text-align:justify;padding:2px;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html"><img src="http://www.reformata.com/media882716/thumb/Mahasiswa%20Stikom%20Surabaya%20Ciptakan%20Angklung%20Otomatis.jpg" alt="Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis.jpg" title="Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis" border="0" /></a></div>
<div style="text-align:justify;">           </div>
<div style="text-align:justify;" class="date1">10.10.09 12:13</div>
<div style="text-align:justify;">           </div>
<div style="padding-bottom:0;font-size:12px;font-weight:bold;text-align:justify;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html">Mahasiswa Stikom Surabaya Ciptakan Angklung Otomatis</a></div>
<div style="padding-top:0;padding-bottom:0;text-align:justify;">
<div style="list-style-type:disc;list-style-image:none;list-style-position:inside;"> Mahasiswa Jurusan Sistem Komputer (SK) di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STIKOM) Surabaya, Kadek Kertayasa, menciptakan Angklung Otomatis.</p>
<p>&#8220;Angklung merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, sedang angklung otomatis merupakan karya tugas akhir Kadek yang mendapatkan nilai A,&#8221; kata dosen pembimbing Kadek, yakni Ihyauddin S.Kom, di Surabaya, Jumat.</p>
<p>Di sela-sela Halal bihalal STIKOM Surabaya bersama pers, ia menjelaskan cara kerja Angklung Otomatis terkait ihtiar pemerintah mendaftarkan angklung sebagai alat musik tradisional warisan budaya Indonesia ke UNESCO pasca pengakuan dunia terhadap wayang, keris, dan batik.</p></div>
<p>          Menurut Ihyauddin, Angklung Otomatis merupakan alat musik yang diberi memori pada bagian mikro kontroler untuk menyimpan lagu-lagu.</p></div>
<div style="text-align:justify;">                  </div>
<div class="gotoindex" style="float:right;text-align:justify;"><a href="http://www.reformata.com/02829-mahasiswa-stikom-surabaya-ciptakan-angklung-otomatis.html">&#60;!&#8211;<img src="more.gif" border="0" alt="" title="" />&#8211;&#62;        read more »</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kalau Bule Main Angklung]]></title>
<link>http://ard1z.wordpress.com/2009/10/09/kalau-bule-main-angklung/</link>
<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 16:10:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ard1z</dc:creator>
<guid>http://ard1z.wordpress.com/2009/10/09/kalau-bule-main-angklung/</guid>
<description><![CDATA[Angklung sebagai alat musik tradisional Jawa Barat memiliki daya tarik bagi para wisatawan asing unt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Angklung sebagai alat musik tradisional Jawa Barat memiliki daya tarik bagi para wisatawan asing unt]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apa hak milik Indonesia, dan why so MAD?]]></title>
<link>http://hakimitis.wordpress.com/2009/10/09/apa-hak-milik-indonesia-dan-why-so-mad/</link>
<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 06:50:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>amankim</dc:creator>
<guid>http://hakimitis.wordpress.com/2009/10/09/apa-hak-milik-indonesia-dan-why-so-mad/</guid>
<description><![CDATA[1. Orang Indonesia cakap Malaysia curi bahasa Indonesia, lantas lahirlah bahasa Melayu.. Jawabnya : ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>1. Orang Indonesia cakap Malaysia curi bahasa Indonesia, lantas lahirlah bahasa Melayu..<br />
Jawabnya : Sebenarnya Bahasa Indonesia yang curi Bahasa Melayu. Bahasa Melayu telah digunakan meluas sejak Melaka lagi. Masa tu mana ada bahasa Indonesia? Bahasa Jawa, Bugis, Banjar, tu adalah. Jadi, siapa yang maling ?</p>
<p>2. Orang Indonesia marah sebab Malaysia claim budaya Jawa(wayang kulit, keris,barongan,rendang) sebagai budaya Indonesia.<br />
Hakikatnya : Tu semua budaya bangsa Jawa, Banjar, Bugis atau lain-lain. Bukan kat negara Indonesia je ade kaum tu. Malaysia pun ade. Jawa-jawa kat Malaysia da menetap sampai 10 keturunan dah, dan memang dah jadi warganegara Malaysia sejak nenek moyang. Jadi, kat mana salahnya Malaysia? Dah memang Malaysia ada bangsa Jawa, Bugis, tu semua kat sini sebagai warganegara. </p>
<p>Yang orang Indonesia tak sedar : Nyatakan sipa peribumi / penduduk asal di Indonesia? bangsa Indonesia terdiri dari kaum Jawa, Banajr, Bugis, Cina, India, Portugis, Sunda yang telah diasimilasikan oleh Sukarno sendiri. Maka, mereka semua telah mempunyai semangat nasionalis sebagai bangsa Indonesia. Tapi mereka tak sedar bahawa orang Jawa ke, orang Sunda ke, orang India ke semua ada kaki. Semua bebas nak tinggal kat mana-mana dan mengamalkan budaya bahasa adat mereka sendiri. Maka, orang Indonesia tak layak untuk marah kalau ada batik kat China, ada rendang kat Johor dan ada wayang kat Kelantan sebab yang berada di Malaysia dan tempat lain selain Indonesia adalah bukan BANGSA INDONESIA.</p>
<p>3. Orang Indonesia marah kepada Malaysia kerana Nordin Mat Top, Dr Azhari merupakan pengganas yang berada di Malaysia dan &#8216;mengganas&#8217; di Indonesia.<br />
Sebenarnya : Sedar atau tidak, kedua-dua tokoh itu dipengarui masuk oleh orang Indonesia juga. Sesiapa yang berada di Johor, mesti pernah dengar akan sebuat sekolah pondok yang mana kerap didatangi atau disyaki ditaja oleh seorang tokoh (tak perlu sebut namanya) dari Indonesia. Walaupun arwah Nordin dan Azhari berasal dari Malaysia, ihat pula kepada pengikut mereka. Eh? Rakyat Indonesia menjadi pengikut? Mengapa tidak dimarahi dan dicaci juga pengikut-pengikut mereka ni? Takde pula orang Indonesia pergi bakar atau bunuh Abu Bakar Bashir, ugut keluarga Mas Selamat dan lain-lain lagi.. Ini tindakan hipokrit ataupun munafiq?</p>
<p>4. Timbul kisah Manohara dicederekan suaminya, Yang Mulia Tengku Kelantan.<br />
Kisah di sebaliknya : Pergilaa Google nama Manohara tu. Tgk dan lihat bagaimana cara dia berpakaian dan bergaul sebelum dan selepas kahwin. Baca pula cerita bagaimana Manohara tinggalkan YM Tengku tanpa izin. Nauzubillah!</p>
<p>5. Marah sebab Kerajaan Malaysia memberhentikan sementara pengambilan pekerja Indo?<br />
Aduh&#8230; Berjuta-juta dah sampai sini dengan halal. Berjuta-juta yang sampai dengan haram. Mana nak tampung? Kalau terlebih masuh dan takde kerja macam mana? Kerja apa? Merompak, menyamun? Siapa yang maling sekarang?<br />
Diberi masuk halal, bekerja dan buat hal. Bila disentuh, marah. Bila didera, kata kita kejam. Tapi itu hukumannya! Cuba cari survey berapa ramai maid dari Indo yang masuk ke Malaysia, bekerja dan kemudiannya buat hal? Merompak, bawa bailk teman lelaki, mencuri, sabotaj anak-anak kecil, lari dll.. Sudahlah bekerja diberi tempat tinggal percuma, api, air percuma, makan ditampung pun masih tak cukup? Tolol amat mahu menaikkan gaji mereka&#8230;</p>
<p>Orang Indonesia pakai kain sarung, tapi origin kain sarung dari India.<br />
Orang Indonesia pakai songkok, tapi origin songkok pun dari keturunan Mahatma Gandhi.<br />
Mengapa tidak dicaci dimarah sahaj orang India kerana &#8216;mencuri&#8217; budaya Indonesia? Mengapa harus Malaysia?</p>
<p>Fikir-fikirkan..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fakta-Fakta Batik Indonesia (Gerakan Memakai Batik Tanggal 2 Oktober 2009)]]></title>
<link>http://dreamindonesia.wordpress.com/2009/09/30/fakta-fakta-batik-indonesia-gerakan-memakai-batik-tanggal-2-oktober-2009/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 09:52:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>pimpii</dc:creator>
<guid>http://dreamindonesia.wordpress.com/2009/09/30/fakta-fakta-batik-indonesia-gerakan-memakai-batik-tanggal-2-oktober-2009/</guid>
<description><![CDATA[Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan dunia atas batik sebagai warisan budaya asli Indone]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Perjuangan Indonesia untuk mendapatkan <strong>pengakuan dunia atas batik sebagai warisan budaya asli Indonesia</strong> tidak sia-sia. <strong>United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) </strong>DIPASTIKAN akan <strong>mengukuhkan</strong> tradisi batik sebagai salah satu budaya warisan dunia ASLI INDONESIA pada 2 Oktober 2009 mendatang di Perancis. Sebelumnya, wayang dan keris juga telah mendapat pengakuan yang sama dari UNESCO beberapa waktu lalu.</p>
<p>Dan untuk untuk menghormati dipatenkannya <strong>batik</strong> sebagai <strong>warisan budaya oleh Duni</strong>a, Presiden Bambang Yudhoyono mengharapkan masyarakat pada tanggal <strong>2 Oktober 2009</strong> untuk memakai Batik <strong>sebagai bentuk penghormatan</strong>.</p>
<p>Mengingat Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama, tidak ada salahnya jikia kita simak Fakta-fakta seputar Batik yang perlu diketahui berikut :</p>
<ul>
<li><strong>Batik</strong> (atau kata <em>Batik</em>) berasal dari bahasa <a title="Bahasa Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa">Jawa</a> yaitu: &#8220;amba&#8221; yang berarti <em>menulis</em> dan &#8220;nitik&#8221;.</li>
</ul>
<ul>
<li> Teknik pembuatan corak Batik &#8211; menggunakan canting atau cap &#8211; dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak &#8220;malam&#8221; (<em>wax</em>) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah <em>wax-resist dyeing</em>. <strong>Jadi kain batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li> Teknik Batik hanya bisa diterapkan di atas bahan yang terbuat dari serat alami seperti katun, sutra, wol dan <strong>tidak bisa diterapkan di atas kain dengan serat buatan (<em>polyester</em>)</strong>. Kain yang pembuatan corak dan pewarnaannya tidak menggunakan teknik ini dikenal dengan kain bercorak batik &#8211; biasanya dibuat dalam skala industri dengan teknik cetak (<em>print</em>) &#8211; <strong>adalah bukan kain batik</strong>.</li>
</ul>
<ul>
<li> Pekerjaan membatik lazimnya dilakukan oleh perempuan sehingga motif atau corak batik cenderung feminin.  Terkecuali beberapa daerah pesisir, batik  memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak &#8220;Mega Mendung&#8221;  pekerjaan membatik lazim dilakukan oleh kaum pria.</li>
</ul>
<ul>
<li> Teknik membatik telah dikenal sejak ribuan tahun yang silam. Tidak ada keterangan sejarah yang cukup jelas tentang asal usul batik. Ada yang menduga teknik ini berasal dari bangsa <a title="Sumeria" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumeria">Sumeria</a>, kemudian dikembangkan di <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a> setelah dibawa oleh para pedagang <a title="India" href="http://id.wikipedia.org/wiki/India">India</a>. Saat ini batik bisa ditemukan di banyak negara seperti <a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a>, <a title="Malaysia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaysia">Malaysia</a>, <a title="Thailand" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Thailand">Thailand</a>, <a title="India" href="http://id.wikipedia.org/wiki/India">India</a>, <a title="Sri Lanka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sri_Lanka">Sri Lanka</a>, dan <a title="Iran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Iran">Iran</a>. Selain di <a title="Asia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia">Asia</a>, batik juga sangat populer di beberapa negara di benua <a title="Afrika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika">Afrika</a>. Walaupun demikian, batik yang sangat terkenal di dunia adalah batik yang berasal dari Indonesia, terutama dari <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Batik tulis</strong> adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Batik cap</strong> adalah kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari <a title="Tembaga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga">tembaga</a>). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari</li>
</ul>
<ul>
<li> Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, <strong>sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu</strong>. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga <a title="Keraton" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton">keraton</a> <a title="Yogyakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta">Yogyakarta</a> dan <a title="Surakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surakarta">Surakarta</a>.</li>
</ul>
<ul>
<li> <strong>Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia dan dipopulerkan oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.</strong></li>
</ul>
<ul>
<li> Perlu waktu 3 (tiga) tahun bagi Indonesia untuk mendapatkan pengakuan terhadap budaya batik sebagai budaya MILIK INDONESIA setelah 6 (enam) negara perwakilan Unesco melakukan pengkajian dan verifikasi.</li>
</ul>
<ul>
<li> Perusahaan swasta produsen film dokumenter asal Malaysia, yakni KRU Sdn. Bhd. telah membuat film berjudul “Batik”. Di situ dijelaskan bahwa batik Malaysia BERASAL DARI BATIK JAWA yang telah didesain menurut kultur Melayu di Malaysia. Begitu pula sejarah datangnya batik Jawa ke negara Malaysia.</li>
</ul>
<ul>
<li> Ada satu hal lagi yang lebih penting: MALAYSIA TIDAK PERNAH MEMATENKAN BATIK, karena BATIK MILIK INDONESIA. Yang dipatenkan oleh Malaysia HANYA MOTIF DAN CORAK, BUKAN BATIKNYA&#8230;&#8230;</li>
</ul>
<p>Nah! Mari kita dukung Gerakan Memakai Batik Pada Tangal 2 Oktober 2009.  Mari sama-sama kita &#8216;Batik-kan&#8217; Indonesia.</p>
<p>Baca juga :</p>
<p><a href="http://news.okezone.com/read/2009/09/29/337/260981/337/gus-dur-pun-pakai-batik-pada-2-oktober">Gus Dur-pun Memakai Batik Pada Tangal 2 Oktober 2009</a></p>
<p><a href="http://news.okezone.com/read/2009/09/28/338/260511/338/pakai-batik-gratis-masuk-ragunan-ancol-50">Unik, Pakai Batik Gratis Masuk Ragunan &#38; Ancol 50%</a></p>
<p><a href="http://news.okezone.com/read/2007/12/31/1/71594/1/batik-seragam-baru-tahanan-poltabes-yogyakarta">Batik, Seragam Baru Tahanan Poltabes Yogyakarta</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Angklung &quot;Ikon&quot; Indonesia di Acara Mahasiswa Asean]]></title>
<link>http://ard1z.wordpress.com/2009/09/29/angklung-ikon-indonesia-di-acara-mahasiswa-asean/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 19:25:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ard1z</dc:creator>
<guid>http://ard1z.wordpress.com/2009/09/29/angklung-ikon-indonesia-di-acara-mahasiswa-asean/</guid>
<description><![CDATA[Komunitas mahasiswa Indonesia di Brisbane meneguhkan batik dan angklung sebagai dua &#8220;ikon]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Komunitas mahasiswa Indonesia di Brisbane meneguhkan batik dan angklung sebagai dua &#8220;ikon]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Angklung, a traditional musical instrument from West Java, Indonesia]]></title>
<link>http://lovelyrainbow1.wordpress.com/2009/09/29/angklung-a-traditional-musical-instrument-from-west-java-indonesia/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 16:44:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>lovelyrainbow1</dc:creator>
<guid>http://lovelyrainbow1.wordpress.com/2009/09/29/angklung-a-traditional-musical-instrument-from-west-java-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Angklung is a traditional musical instrument from West Java, Indonesia. This instrument is made of b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="aligncenter size-full wp-image-199" title="angklung" src="http://lovelyrainbow1.wordpress.com/files/2009/09/angklung-for-blog.jpg" alt="angklung" width="454" height="341" /></p>
<p>Angklung is a traditional musical instrument from West Java, Indonesia. This instrument is made of bamboo. One angklung instrument produces one tone, for example an F tone. Therefore, we need several angklung instruments to play a song. You have to shake the instrument to produce the tone. Usually angklung are played by a group of people to perform a song. Every player in that group cooperates with each other in order to produce a harmonious sound.</p>
<p>I remember when I played angklung back then when I was in university. I &#38; lots of people from all over Indonesia were performing several songs in the area of Presidential palace to celebrate 50th Indonesia Independence day. My group was playing certain part of the song &#38; several other groups were playing other parts of the song. So, all of these groups had to be united into one enormous group, in order to be able to play one complete song. Before all groups met in Jakarta to play one complete song, each group had been given only its part of the song. So, before we went to Jakarta, my group was only practicing our part of the song, in Bandung. Other groups were also only practicing their part of the song, in their cities. Then one day, all groups met in Jakarta to practice playing one complete song, for each song that we had to play in the area of Presidential palace several days later. It’s not easy to play a complete song in such an enormous group because each group had never heard and never practiced a complete song before that day. But finally we made it.</p>
<p>Angklung produces a very unique sound. Maybe you won’t believe it if you don’t hear and see it by yourself. Do you want to hear &#38; see angklung concert? Just click the videos below to hear &#38; see the angklung concert.</p>
<p><strong>video: Indonesian music</strong><br />
video source: youtube (by 40daysineurope)<br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/pZDZ7GuQcm4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/pZDZ7GuQcm4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p><strong>video: classical music</strong><br />
video source: youtube (by ikyuson)<br />
<span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/Gkx9IsOfJts&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/Gkx9IsOfJts&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>When you visit Bandung (West Java, Indonesia), you should go to saung angklung udjo to see the angklung concert &#38; other performing arts. Click <a href="http://www.angklung-udjo.co.id/sau/index.php" target="_blank">here </a> to visit the website of <a href="http://www.angklung-udjo.co.id/sau/index.php" target="_blank">saung angklung udjo</a>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shopping!]]></title>
<link>http://ayupratikto.wordpress.com/2009/09/15/shopping/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 12:05:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>meongijo</dc:creator>
<guid>http://ayupratikto.wordpress.com/2009/09/15/shopping/</guid>
<description><![CDATA[Tau-tau, minggu depan aku udah harus cabut ke Jepang. Uaaaargh. Mendadak panik. Mendadak sedih. Mend]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tau-tau, minggu depan aku udah harus cabut ke Jepang.</p>
<p>Uaaaargh.</p>
<p>Mendadak panik.</p>
<p>Mendadak sedih.</p>
<p>Mendadak&#8230; kenapa juga baru sekarang?</p>
<p>Yah akhirnya dari kemarin aku kerjaannya jalan-jalan sama yozzi cari souvenir dan perlengkapan buat dibawa kesana.</p>
<p>Nyari coat dari FO ke FO dan akhirnya dapat di The Uptown dengan harga Rp. 219.000 saja <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  whatever, pokoknya kata Jujun sama Yozzi itu yang bagus. &#60;&#60;dan sekadar tips kalo mo belanja di FO, comparing the price is a must! Kalo ga, bisa nyesel karena bisa beda harga 100 ribu di FO sebelah&#62;&#62;</p>
<p>Kalau mau pakaian musim dingin yang lengkap, memang paling lengkap dan paling oke ada di The Twig House di sebelah Paris Van Java. Cuma kata Tijo, Bapaknya pernah beli di sana dan quite heavy for your pocket <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Tapi kalau memang pengen nyari good service from top to toe, ya memang disitulah tempatnya. Penjaganya ga akan segan-segan untuk menjelaskan apa fungsi perlengkapannya dan sebaiknya yang mana (salah satu kelebihannya dan bisa dijadikan point of differentiation :D)</p>
<p>Terus nyari souvenir dari internet sampai akhirnya jatuh ke Saung Angklung Mang Udjo, aku percaya disitu yang paling murah dan semoga dia adalah first hand maker, bukan retailer. Dan yaaah, sejauh pengamatanku sih, untuk barang-barang kerajinan yang berbentuk angklung, berbahan dasar bambu, wayang-wayangan, serta patung-patungan paling murah di sana. Produk lainnya kayak kain batik, kipas-kipas, gantungan kunci, gelang-gelangan, tas, pasti ada tempat yang lebih murah karena bukan Mang Udjo yang bikin nampaknya.</p>
<p>Juga Pasar Baru, untuk nyari kerudung-kerudung dan produk garmen.</p>
<p>Oh dan ga ketinggalan BEC buat cari web cam, biar bisa video chat <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi masih belum lengkap <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Besok harus belanja lagi&#8230; Doh belum pergi aja udah ngabisin duit banyaaak&#8230;</p>
<p> </p>
<p>Huaah, tapi aku berterimakasih banget buat LSIK 06 dan Pritta yang akan membuat autumn-winterku bebas dingin <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Love the presents!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GERAKAN MEMAKAI BATIK PADA TANGGAL 2 OKTOBER 2009]]></title>
<link>http://alfaroby.wordpress.com/2009/09/14/gerakan-memakai-batik-pada-tanggal-2-oktober-2009/</link>
<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 06:40:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>alfaroby</dc:creator>
<guid>http://alfaroby.wordpress.com/2009/09/14/gerakan-memakai-batik-pada-tanggal-2-oktober-2009/</guid>
<description><![CDATA[Perdebatan dan proses yang panjang dalam mendapatkan pengakuan batik sebagai warisan budaya tak bend]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignnone" title="gerakan memakai batik" src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs237.snc1/8428_1197712337352_1064806225_30723452_7168643_n.jpg" alt="" width="501" height="243" /></p>
<p style="text-align:justify;">Perdebatan dan proses yang panjang dalam mendapatkan pengakuan batik sebagai warisan budaya tak benda milik Indonesia akhirnya menuju pada babak akhir. Pada tanggal 2 Oktober di Abu Dabi, UNESCO akan menetapkan pengakuan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">oleh karena itulah, untuk menghormati dipatenkannya batik sebagai warisan budaya tak benda oleh Dunia, Presiden Bambang Yudhoyono mengharapkan masayarakat pada tanggal 2 Oktober 2009 untuk memakai Batik <strong>sebagai penghormatan</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">dan menurut berita, ternyata Indonesia sudah mematenkan <!--more--><em>Wayang </em>dan <em>Keris </em>sebagai budaya yang berasal dari Indonesia. Semoga <em>Angklung </em>dan <em>Tari Pedet </em>serta yang lainnya akan dapat dijadikan sebagai warisan Budaya Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Jaya Terus Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">referensi dari Vivanews.com dan facebook.com</p>
<p style="text-align:justify;">NB: Bagi anda yang mendukung gerakan ini bisa bergabung dalam Facebook di http://www.facebook.com/group.php?gid=280672375226&#38;ref=mf</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Angklung History]]></title>
<link>http://worldangklungforum.wordpress.com/2009/09/05/angklung-history/</link>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 05:54:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>worldangklungforum</dc:creator>
<guid>http://worldangklungforum.wordpress.com/2009/09/05/angklung-history/</guid>
<description><![CDATA[Angklung is a musical instrument made out of two bamboo tubes attached to a bamboo frame. The tubes ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Angklung is a musical instrument made out of two bamboo tubes attached to a bamboo frame. The tubes are carved so that they have a resonant pitch when struck. The two tubes are tuned to octaves. The base of the frame is held with one hand while the other hand shakes the instrument rapidly from side to side. This causes a rapidly repeating note to sound. Thus each of three or more angklung performers in an ensemble will play just one note and together complete melodies are produced. Angklung is popular throughout Southeast Asia, but originated from Indonesia (used and played by the Sundanese since the ancient times).</p>
<p><strong>History</strong></p>
<p>The Angklung got more international attention when Daeng Soetigna, from Bandung, West Java, expanded the angklung notations not only to play traditional pélog or sléndro scales, but also diatonic scale in 1938. Since then, angklung is often played together with other western music instruments in an orchestra. One of the first well-known performances of angklung in an orchestra was during the Bandung Conference in 1955. A few years later, Udjo Ngalagena, a student of Daeng Soetigna, opened his &#8220;Saung Angklung&#8221; (House of Angklung) in 1966 as centre of its development.</p>
<p>In Hindu period and Padjajaran kingdom era, Sundanese people used the angklung to sign the time for prayer. Later, Padjajaran kingdom use this instrument as corps music in Bubat War (Perang Bubat).</p>
<p>Angklung functioned as building the peoples community spirit. It was still used by the Sundanese until the colonial era (Dutch East Indies, V.O.C). Because of the colonial times, the Dutch East Indies government tried to forbid people playing the angklung instrument.</p>
<p><strong>Gamelan Angklung</strong></p>
<p>In Bali, an ensemble of angklung is called gamelan angklung (anklung). While the ensemble gets its name from the bamboo shakers, these days most compositions for Gamelan Angklung do not use them. An ensemble of mostly bronze metallophones is used instead.</p>
<p>While the instrumentation of gamelan angklung is similar to gamelan gong kebyar, it has several critical differences. First, the instruments are tuned to a 5-tone slendro scale, though actually most ensembles use a four-tone mode of the five-tone scale (an exception would be five-tone angklung from the north of Bali.) Secondly, whereas many of the instruments in gong kebyar span multiple octaves of its pentatonic scale, gamelan angklung instruments only contain one octave, though some five-tone ensembles have roughly an octave and a half. The instruments are often considerably smaller, and hence more portable when used in cremation rituals. The musicians often play in a procession as the funeral bier is carried from the cemetery to the cremation site, in addition to playing music to accompany the ceremony.</p>
<p>The structure of the music is similar to gong kebyar. Jublag and jegog carry the basic melody, which is elaborated by gangsa, reyong, ceng-ceng, drum, and flute. A medium sized gong, called kempur, is generally used to punctuate a song&#8217;s major sections. And although most older compositions generally do not employ gong kebyar&#8217;s more ostentatious virtuosity and showmanship, many Balinese composers have created kebyar-style works for gamelan angklung, often featuring dance.</p>
<p><strong>Outside Indonesia</strong></p>
<p>In the early 20th century, the angklung was adopted in Thailand, where it is called angkalung (อังกะลุง). The Thai angklung are typically tuned in the Thai tuning system of seven equidistant steps per octave, and each angklung has three bamboo tubes tuned in three separate octaves rather than two, as is typical in Indonesia.</p>
<p>Angklung had also been adopted by its Austronesian neighbours, in particular by Malaysia and the Philippines, where they are rather played as part of bamboo xylophone orchestras. Formally introduced into Malaysia sometime after the end of confrontation, it found immediate popularity.[1] They are generally played using a pentatonic scale similar to the Indonesian slendro, although in the Philippines, sets also come in the diatric and minor scales used to perform various Spanish-influenced folk music.</p>
<p>At least one Sundanese angklung buncis ensemble exists in the United States. Angklung Buncis Sukahejo is an ensemble at The Evergreen State College, and includes eighteen double rattles (nine tuned pairs) and four dog-dog drums.<br />
Because it was forbidden to play angkung during this time, the popularity of the instrument decreased and it came to be played only by children in this era.</p>
<p>http://en.wikipedia.org/wiki/Angklung</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tourism Information Center of Ciamis Regency]]></title>
<link>http://wisataciamis.wordpress.com/2009/09/04/tourism-information-center-of-ciamis-regency-2/</link>
<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 20:35:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>pesonawisata</dc:creator>
<guid>http://wisataciamis.wordpress.com/2009/09/04/tourism-information-center-of-ciamis-regency-2/</guid>
<description><![CDATA[Come Visiting Truly Asia Melayu Tourism : Tahu Kan anda, objek Wisata Melayu, Indonesia, Belanda, Am]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a title="ciamis tourism" href="http://www.pesonawisataku.co.cc/"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-6" src="http://wisataciamis.wordpress.com/files/2008/08/ciamistourism2.jpg?w=128" alt="" width="128" height="62" /></a><a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">Come Visiting Truly Asia Melayu Tourism</span></a> :</p>
<p>Tahu Kan anda, objek Wisata Melayu, Indonesia, Belanda, Amerika, Asia, Eropa yang paling menarik dan terkenal? Temuakan semua data pada web site ini.</p>
<p>Fount it Tourist Destination, Vacation, Hotel List and General News Travel, Only This Site Get it Guy&#8217;s :<br />
<span class="fullpost"><br />
<a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata riau</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Pariwisata asia</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Parawisata indonesia</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Picnic</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Picnik</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Piknic</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Piknik</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Tur</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Tour</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Tourisme</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Touris</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">Turism</span>e</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Turis</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">tourist</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Perjalanan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Jalan-jalan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Bepergian</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Pergi</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Berlibur</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Liburan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Round</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Raun</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Raun-raun</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Vacancy</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Vacation</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Pakansi</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Cuti</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Kedai</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Souvenir</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Sovenir</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Sopenir</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Supenir</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Sufenir</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Melayu</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Malayu</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Malay</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Malayi</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Malais</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Malaische</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Melai</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Ma-layu</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">tiket wisata</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">paket wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">rencana wisata</a> &#124;<a href="http://www.wisataciamis.com/"> biaya wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">akomodasi wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">melancong</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">tamasya</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">destinasi</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">destination</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">info wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">holiday</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">vacancy</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">lancongan</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata bahari</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata pantai</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata sungai</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata danau</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata air terjun</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata hutan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata gunung</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata goa</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata pulau</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata taman nasional</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata sejarah</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata prasasti</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata candi</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata istana</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata benteng</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata makam</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata masjid</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata gereja</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata vihara</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata pura</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata kelenteng</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata museum</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">wisata monume</span>n</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata budaya</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata upacara adat</a><span style="font-weight:bold;"> </span>&#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata upacara ritual</a> &#124;<br />
<a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata seni pertunjukan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata religius</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata kuliner</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata masakan khas</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata minat khusus</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata kerajinan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata arsitektur khas</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata agro</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata desa</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata kota</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata pendidikan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata kebun binatang</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata spa</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata MICE</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata olahraga</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata olahraga tradisional</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata tradisional</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata olah raga moder</a><a href="http://www.wisataciamis.com/">n</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata modern</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata belanja</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata tradisional</a> &#124;  <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata pasar</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">wisata pasar tradisional</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata pasar modern</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata umum</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata taman mini indonesia indah</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata impian jaya ancol</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">pemandu wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">trend wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">trend baru wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">tujuan wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata kultural</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">eco wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata berkelanjutan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata murah</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata hotel</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">fasilitas wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">kendaraan wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">wisata masa depan</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">kunjungan wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">budget wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">anggaran wisata</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">dana wisata  melancong</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">pelancong</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">pariwisata</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">indnesia-tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">jakarta</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">riau</a> &#124;  <a href="http://www.wisataciamis.com/">kepri</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">vacation</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">natural tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">maritime tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">ecotourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">cultural</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">tuorism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">beach tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">river tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">lake tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">waterfall tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">forest tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">muntin tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">cave tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">island tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">national park tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">historical tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">inscription tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">temple tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">palace tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">fortress tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">graveyard tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">mosque tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">church tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">monastery tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">shrine tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">pagoda tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">museum tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">monument tourism</a> &#124;<br />
<a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">cultural turism</a><span style="font-weight:bold;"> </span>&#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">ritual ceremony tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">performing art tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">religious tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">culinary tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">local cuisine tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">special interest tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">handicraft tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">special architecture tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">agrotourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">vilage tour</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">city tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">education tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">zoo tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">spa sourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">MICE tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">sport tourism</a><span style="font-weight:bold;"> </span>&#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">traditional sport tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">modern sport tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">spopping tourism</a> &#124; t<a href="http://www.wisataciamis.com/">raditional market tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">modern market tourism</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">general tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">miniature park of beautiful indonesia tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">taman impian jaya ancol</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">dream park tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">park tourism</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">tour guide</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">tour package</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">tour acomodation</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">tour ticket</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">tour facilities</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">tour planer</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">around the world</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">visit indonesia</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">visit malay land</a><span style="font-weight:bold;"> </span>&#124;<span style="font-weight:bold;"> </span><a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">visit malay beutifu</span>l</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">tourist information centre</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">indonesia info</a> &#124;</span></p>
<p>See This Site : <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Tentang Wisata Kabupaten Ciamis</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Peta Wisata Ciamis</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Wisata Melayu</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Wisata Malaya</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Malaysia</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Indonesia</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Truly Asia</a> &#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Malaysia Truly Asia</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/">Malaya Truli Asia</a> &#124; <a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">Departement Kebudayaan dan Pariwisata</span></a> <span class="fullpost">&#124; <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Kebudayaan dan Pariwisata</a></span><span class="fullpost"> &#124;</span><span class="fullpost"> <a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">Budpar</span></a> </span><span class="fullpost">&#124;</span> <a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">Kabupaten</span></a> <span class="fullpost">&#124;</span> <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/"> Kota</a> <span class="fullpost">&#124;</span> <a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">Kecamatan</span></a> <span class="fullpost">&#124;</span> <a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">Regency</span></a> <span class="fullpost">&#124; </span> <a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Pantai</a> <span class="fullpost">&#124; </span><a style="font-weight:bold;" href="http://www.wisataciamis.com/">Beach</a> <a href="http://www.wisataciamis.com/"><span style="font-weight:bold;">Bali </span></a><span class="fullpost">&#124;</span><br />
<span class="fullpost"><a href="http://www.wisataciamis.com/">Selamat Menikmati Objek Wisata Kami</a>, Welcome and Enjoyed Our Tourist Destination.<br />
</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ulat bulu penyebab gatal-gatal]]></title>
<link>http://coretanpinggir.com/2009/09/01/ulat-bulu-penyebab-gatal-gatal/</link>
<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 16:34:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>coretanpinggir</dc:creator>
<guid>http://coretanpinggir.com/2009/09/01/ulat-bulu-penyebab-gatal-gatal/</guid>
<description><![CDATA[]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://coretanpinggir.wordpress.com/files/2009/09/ulat-bulu-bikin-gatal.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-1112" title="Ulat bulu bikin gatal" src="http://coretanpinggir.wordpress.com/files/2009/09/ulat-bulu-bikin-gatal.jpg" alt="Ulat bulu bikin gatal" width="460" height="440" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Sampai Komodo Juga Diklaim Malaysia!]]></title>
<link>http://kabariberita.wordpress.com/2009/09/01/jangan-sampai-komodo-juga-diklaim-malaysia/</link>
<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 08:47:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>kabariberita</dc:creator>
<guid>http://kabariberita.wordpress.com/2009/09/01/jangan-sampai-komodo-juga-diklaim-malaysia/</guid>
<description><![CDATA[Indonesia baru saja dikejutkan oleh ulah negara tetangga, Malaysia yang mengklaim tari Pendet, kesen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Indonesia baru saja dikejutkan oleh ulah negara tetangga, Malaysia yang mengklaim tari Pendet, kesen]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[conflicts w/ m'sia reminds me to this.]]></title>
<link>http://jalankita.wordpress.com/2009/09/01/conflicts-w-msia-reminds-me-to-this/</link>
<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 03:19:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>agn</dc:creator>
<guid>http://jalankita.wordpress.com/2009/09/01/conflicts-w-msia-reminds-me-to-this/</guid>
<description><![CDATA[This one was being used for Loedroek-ITB performance in 2007, when m&#8217;sia using &#8220;Raya Say]]></description>
<content:encoded><![CDATA[This one was being used for Loedroek-ITB performance in 2007, when m&#8217;sia using &#8220;Raya Say]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Asli maling Sia!]]></title>
<link>http://coretanpinggir.com/2009/08/30/asli-maling-sia/</link>
<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 16:34:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>coretanpinggir</dc:creator>
<guid>http://coretanpinggir.com/2009/08/30/asli-maling-sia/</guid>
<description><![CDATA[Bersambung pada posting berikutnya&#8230; Catatan: kata &#8220;sia&#8221; dalam Bahasa Sunda berarti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://coretanpinggir.wordpress.com/files/2009/08/asli-maling-siah.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-1105" title="Asli Maling siah" src="http://coretanpinggir.wordpress.com/files/2009/08/asli-maling-siah.jpg" alt="Asli Maling siah" width="460" height="603" /></a><br />
Bersambung pada posting berikutnya&#8230;</p>
<address>Catatan:<br />
kata &#8220;sia&#8221; dalam Bahasa Sunda berarti kamu namun kamu di sini berpredikat kasar.</address>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Malaysia, Sahabat atau Tukang Embat Sih?]]></title>
<link>http://agussr.wordpress.com/2009/08/30/malaysia-sahabat-atau-tukang-embat-sih/</link>
<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 05:19:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>agussr</dc:creator>
<guid>http://agussr.wordpress.com/2009/08/30/malaysia-sahabat-atau-tukang-embat-sih/</guid>
<description><![CDATA[Untuk kesekian kalinya Malaysia, negeri tetangga tersebut membuat ulah. setelah mengklaim bahwa reog]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Untuk kesekian kalinya Malaysia, negeri tetangga tersebut membuat ulah. setelah mengklaim bahwa reog]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Ketegangan Budaya Indonesia-Malaysia]]></title>
<link>http://adiwena.wordpress.com/2009/08/29/tentang-ketegangan-budaya-indonesia-malaysia/</link>
<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 22:51:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>adiwena</dc:creator>
<guid>http://adiwena.wordpress.com/2009/08/29/tentang-ketegangan-budaya-indonesia-malaysia/</guid>
<description><![CDATA[Hai Hai Oke, kamu dan saya sebenarnya orang yang sama… Jadi kenapa harus  pakai wawancara? Um, seben]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Hai</strong><br />
Hai<br />
<strong>Oke, kamu dan saya sebenarnya orang yang sama… Jadi kenapa harus  pakai wawancara?<br />
</strong>Um, sebenarnya saya mau nulis sedikit soal hak kekayaan intelektual Indonesia. Tapi berhubung saya bukan ahli masalah ini dan sukar meluangkan waktu membaca bahan di sela-sela menulis skripsi, saya pikir saya masukkan saja hasil corat-coret saya secara mentah di sini.<br />
Dan format tanya-jawab macam ini tampak ideal untuk tujuan itu. Kalau pake model ini, saya jadi punya alsan untuk menggunakan kalimat yang … “bebas”</p>
<p><strong>Uh&#8230; Jadi apa masalahnya?<br />
</strong>(ditanya begini… kok jadi inget skripsi ya?) err.. itu lho, masalah klaim kepemilikan hak kekayaan intelektual. Beberapa tahun belakangan kan sedang marak tuh, katanya Malaysia melakukan klaim terhadap—CMIIW—reog, angklung, batik, manohara, dan yang terakhir tari pendet. Oh ya, jangan lupa untuk penekanan pada kata “katanya”.  Soalnya saya belum nemu bukti otentik tentang beberapa klaim.<br />
<strong>Memangnya bukti apa yang diperlukan?<br />
</strong>Hmmm… sebelum itu,kayaknya sih mending kita perjelas dulu definisi klaim ini. Masalah definisi ini penting karena dari penggunaan kata ini di media, terutama internet, saya tangkap ada dua hal yang dimaksudkan. Pertama, klaim secara hukum dengan mengatakan artifak      X merupakan hak kekayaan intelektual negara A. Kedua, klaim yang hanya mengatakan bahwa artifak X adalah milik kita, warga negara A.</p>
<p>Saya pikir ada perbedaan penting yang harus dicermati di antara dua definisi barusan. Mereka yang menggunakan definisi pertama cenderung menganggap bahwa artifak kebudayaan memiliki aspek dagang tertentu. Contoh, saat negara A menempatkan klaim terhadap batik, maka batik hanya boleh diproduksi di negara A. Produksi di negara lain ilegal kecuali ada perjanjian sebelumnya. (saya pikir ini berkaitan dengan patents, copyrights, dan trade secrets).  Contoh kasus: klaim angklung oleh Malaysia yang katanya memperjuangkan kepemilikan angklung sebagai HAKI mereka. (<a href="http://budaya-indonesia.org/iaci/Alat_Musik_Angklung_oleh_Pemerintah_Malaysia">di sini</a> dan <a href="http://angklung-web-institute.com/content/view/368/2/lang,id/">di sini</a>) Tapi, pas saya coba cari di World Intellectual Property Organization, turunannya PBB yang ngurusi masalah ini, saya nggak nemu satupun entri tentang angklung, baik di patent (<a href="http://www.wipo.int/pctdb/en/">di sini</a>) maupun trademark (<a href="http://www.wipo.int/ipdl/en/search/madrid/search-struct.jsp">di sini</a>). Soal batik ada, tapi masuk ke entri tentang mesin atau cara pemrosesan tekstil.<br />
Lanjut ke definisi kedua. Kalau ngeributin masalah klaim pake definisi yang ini, kita bisa ribut secara lebih leluasa. Soalnya nggak usah capek-capek ke WIPO segala. Nyari bukti ‘klaim’ini juga gampang, kita tinggal cek stasiun televisi negara lain. Apa di sana artifak kebudayaan kita digunakan jadi promo iklan pariwisata negara? Kalau [kita pikir] iya, voila! Kita punya kasus sekarang. Tapi ingat, punya kasus bukan berarti kamu bisa memaki-maki negara lain seenakmu. [kecuali kalo makiannya lucu, itu sedikit bisa dimaafkan].</p>
<p><strong>Sudah nemu buktinya belum?<br />
</strong>Nggak banyak. Saya dibatasi oleh niat dan skripsi soalnya. Tapi, tadi saya sempat cari beberapa kasus yang saya pikir bisa jadi ilustrasi yang baik.  Saya ambil kasusnya dari situs ini, yang mendaftar beberapa ‘klaim’.</p>
<p>Kasus pertama soal klaim angklung yang tadi sempat saya singgung. Hasil temuan saya menunjukkan bahwa hingga saat ini angklung belum dipatenkan. Dan, perihal angklung yang katanya diklaim Malaysia sebagai kebudayaan mereka, saya menemukan satu cuplikan tentang angklung dalam situs tentang “<a href="http://www.musicmall-asia.com/malaysia/instruments/angklung.html">musical instrument of Malaysia</a>”.  Situs itu mengatakan bahwa angklung sering dimainkan oleh anak sekolahan di Malaysia dalam bentuk orkestra, atau menemani tarian Kuda Kepang.</p>
<p>Apakah itu bentuk klaim kebudayaan? Oho, tunggu dulu. Situs itu juga menyebutkan bahwa angklung berasal dari Indonesia. Di sini, saya simpulkan bahwa pemilik situs itu, karena mengatakan Malaysia masih terlalu prematur, menganggap bahwa angklung adalah seni musik yang berasal dari Indonesia dan mengalami akulturasi ke dalam kebudayaan Malaysia. (<a href="serupa dengan wayang kulit, yang memiliki varian tersendiri di Kelantan">serupa dengan wayang kulit, yang memiliki varian tersendiri di Kelantan</a>)</p>
<p>Kasus kedua tentang batik juga sempat saya singgung sebelumnya. Kasus ini menarik karena memang ada <a href="http://www.batikmalay.com/">batik Malaysia</a>, seperti halnya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Batik">di banyak negara lain termasuk di Afrika</a>. Dan, sepanjang pencarian saya, belum ada satupun negara yang mematenkan batik. (termasuk paten/trademark/copyright terhadap pola-pola tertentu) Klaim atas hak waris batik paling runcing, saya pikir, terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini bertetangga dan ada banyak waktu di masa lampau untuk terjadi pertukaran dan peririsan budaya. Terlebih lagi, artifak budaya tidak mengenal trend westphalian tentang pembuatan batas negara moderen. Jadi wajar saja kalau pola batik berbunga warna-warni yang biasa dipakai Sri Sultan Hamengkubuwono juga ada di Malaysia. [eh, tapi, walau saya ini keturunan Jogja, saya nggak terlalu masalah sama hal ini. Kecuali kalau ada yang bisa membuktikan kepada saya bahwa tidak seharusnya batik macam itu ada di Malaysia. I’m all ears.]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Uh, sebenarnya ada masalah nggak sih?</strong><br />
Pertanyaan yang sulit. Pertama-tama saya pikir kemarahan yang dari kemarin membakar ruang komentar di internet sebagian disebabkan dendam personal kebanyakan orang Indonesia terhadap Malaysia, bukan melulu masalah budaya. Di sana juga berperan kehilangan SIpadan-Ligitan, masalah TKI, dll. Kalau sudah begini, Malaysia telah terkonstruk dalam benak para komentator internet sebagai “musuh bersama bangsa”. Apapun minumannya, Malaysia akan senantiasa dipandang sebagai sebuah kebobrokan. [tentu saja ini cuma asumsi saya. dan saya belum nemu penelitian untuk pembuktiannya]</p>
<p>Lebih lanjut, klaim yang katanya dilakukan Malaysia itu, lagi-lagi menurut temuan prematur bin sontoloyo milik saya, kebanyakan bukan merupakan klaim secara eksplisit. Malaysia menggunakan irisan kebudayaan untuk menciptakan slogan pemasaran pariwisata “truly Asia”. Slogan ini menunjukkan bahwa Malaysia adalah gudangya Asia, di sana semua artifak kebudayaan Asiatik dapat ditemukan. Jenius, ngapain ke tempat lain kalau bisa ke Malaysia [setuju sama teman saya, mas Jawot, yang menunjukkan bahwa ini slogan arogan dan ignoran] Slogan ini juga menunjukkan dua hal, pertama mereka tidak benar-benar menyebut bahwa artifak-artifak itu milik mereka, kedua artifak memiliki nilai dagang tersendiri dalam promosi pariwisata.</p>
<p>Tapi ingat, tidak ada klaim resmi berbeda dengan tidak akan ada klaim sama sekali. Bisa jadi Malaysia hanya, meminjam bahasa geopolitik, testing the water untuk melihat reaksi tetangga. Kalau sepi berarti bisa diklaim, kalau ramai berarti tunggu nanti lagi. Ingat ini tidak, perilaku angkatan laut Malaysia yang sering patroli di dekat batas wilayah Indonesia?<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Ada solusi?<br />
</strong>Sebelum bicara solusi, saya harus mengatakan kalau saya tidak suka terhadap pematenan budaya kalau usaha itu akan membatasi pihak-pihak yang bisa menikmatinya. Alasan saya sederhana, kebudayaan seharusnya diwariskan dari manusia kepada manusia, bukan hanya dari orang Indonesia ke orang Indonesia. Di balik sebuah tarian, misalnya, seringkali ada cerita yang bisa dipetik pelajarannya. Dan pelajaran yang baik seharusnya disebarluaskan, bukan ditutup-tutupi. Kalau ditutupi terus, bagaimana bisa dunia memandang Indonesia sebagai negara beradab, saat mereka tidak tahu hasil peradaban Indonesia? (apapun maksudnya itu)<br />
Selama tidak ada klaim eksplisit, buat apa protes? Ngabisin tenaga, kalau ada waktu buat nulis “F*CK Malaysia” pasti ada waktu buat ngaji kan? [logika dari hong kong… uh, tanpa klaim eksplisit tapinya]  Kalau kita takut bangsa tetangga lebih ahli memainkan, katakanlah, angklung dan suatu saat cucu kita terpaksa pergi ke negeri tetangga untuk belajar angklung, solusinya sederhana ‘kan. Kita pelajari itu cara main angklung. Atau, minimal, kita cari jodoh orang yang bisa main angklung.Jadi kalau ada orang mempertanyakan kontribusi kita, minimal bisa kita jawab, ”saya selalu mendukung dia.”<br />
Kalau ada waktu lebih lagi, mending cari cara supaya kamu bisa ngajari saya soal intellectual property rights. Jadi kita bisa sama-sama cari solusi yang masuk akal. Saya sebagai mahasiswa HI merasa perlu menulis bahwa belajr Hubungan Internasional bukan hanya tentang menjelaskan apa yang terjadi, tapi juga memperbaiki kerusakan-kerusakan dalam kejadian (Cox, 2009 klo ngga salah). Kalo gitu enak tho? Asik tho? Haa haa haa. [eh?]</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Saya harus mengingatkan bahwa semua kesimpulan yang ditulis di sini masih prematur adanya. CMIIW. Tapi jangan ngamuk-ngamuk. Shoot the message, people, not this humble, kind, peace loving messenger.</p>
<p><strong>Akhirul kata?</strong><br />
Mana yang lebih bijaksana, carpe diem atau hakuna matata?</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:0;width:1px;height:1px;">Hai<br />
Hai<br />
Oke, kamu dan saya sebenarnya orang yang sama… Jadi kenapa harus  pakai wawancara?<br />
Um, sebenarnya saya mau nulis sedikit soal hak kekayaan intelektual Indonesia. Tapi berhubung saya bukan ahli masalah ini dan sukar meluangkan waktu membaca bahan di sela-sela menulis skripsi, saya pikir saya masukkan saja hasil corat-coret saya secara mentah di sini.<br />
Dan format tanya-jawab macam ini tampak ideal untuk tujuan itu. Kalau pake model ini, saya jadi punya alsan untuk menggunakan kalimat yang … “bebas”<br />
Uh&#8230; Jadi apa masalahnya?<br />
(ditanya begini… kok jadi inget skripsi ya?) err.. itu lho, masalah klaim kepemilikan hak kekayaan intelektual. Beberapa tahun belakangan kan sedang marak tuh, katanya Malaysia melakukan klaim terhadap—CMIIW—reog, angklung, batik, manohara, dan yang terakhir tari pendet. Oh ya, jangan lupa untuk penekanan pada kata “katanya”.  Soalnya saya belum nemu bukti otentik tentang beberapa klaim.<br />
Memangnya bukti apa yang diperlukan?<br />
Hmmm… sebelum itu,kayaknya sih mending kita perjelas dulu definisi klaim ini. Masalah definisi ini penting karena dari penggunaan kata ini di media, terutama internet, saya tangkap ada dua hal yang dimaksudkan. Pertama, klaim secara hukum dengan mengatakan artifak      X merupakan hak kekayaan intelektual negara A. Kedua, klaim yang hanya mengatakan bahwa artifak X adalah milik kita, warga negara A.<br />
Saya pikir ada perbedaan penting yang harus dicermati di antara dua definisi barusan. Mereka yang menggunakan definisi pertama cenderung menganggap bahwa artifak kebudayaan memiliki aspek dagang tertentu. Contoh, saat negara A menempatkan klaim terhadap batik, maka batik hanya boleh diproduksi di negara A. Produksi di negara lain ilegal kecuali ada perjanjian sebelumnya. (saya pikir ini berkaitan dengan patents, copyrights, dan trade secrets).  Contoh kasus: klaim angklung oleh Malaysia yang katanya memperjuangkan kepemilikan angklung sebagai HAKI mereka. (di sini dan di sini) Tapi, pas saya coba cari di World Intellectual Property Organization, turunannya PBB yang ngurusi masalah ini, saya nggak nemu satupun entri tentang angklung, baik di patent (di sini) maupun trademark (di sini). Soal batik ada, tapi masuk ke entri tentang mesin atau cara pemrosesan tekstil.<br />
Lanjut ke definisi kedua. Kalau ngeributin masalah klaim pake definisi yang ini, kita bisa ribut secara lebih leluasa. Soalnya nggak usah capek-capek ke WIPO segala. Nyari bukti ‘klaim’ini juga gampang, kita tinggal cek stasiun televisi negara lain. Apa di sana artifak kebudayaan kita digunakan jadi promo iklan pariwisata negara? Kalau [kita pikir] iya, voila! Kita punya kasus sekarang. Tapi ingat, punya kasus bukan berarti kamu bisa memaki-maki negara lain seenakmu. [kecuali kalo makiannya lucu, itu sedikit bisa dimaafkan].<br />
Sudah nemu buktinya belum?<br />
Nggak banyak. Saya dibatasi oleh niat dan skripsi soalnya. Tapi, tadi saya sempat cari beberapa kasus yang saya pikir bisa jadi ilustrasi yang baik.  Saya ambil kasusnya dari situs ini, yang mendaftar beberapa ‘klaim’.<br />
Kasus pertama soal klaim angklung yang tadi sempat saya singgung. Hasil temuan saya menunjukkan bahwa hingga saat ini angklung belum dipatenkan. Dan, perihal angklung yang katanya diklaim Malaysia sebagai kebudayaan mereka, saya menemukan satu cuplikan tentang angklung dalam situs tentang “musical instrument of Malaysia”.  Situs itu mengatakan bahwa angklung sering dimainkan oleh anak sekolahan di Malaysia dalam bentuk orkestra, atau menemani tarian Kuda Kepang.<br />
Apakah itu bentuk klaim kebudayaan? Oho, tunggu dulu. Situs itu juga menyebutkan bahwa angklung berasal dari Indonesia. Di sini, saya simpulkan bahwa pemilik situs itu, karena mengatakan Malaysia masih terlalu prematur, menganggap bahwa angklung adalah seni musik yang berasal dari Indonesia dan mengalami akulturasi ke dalam kebudayaan Malaysia. (serupa dengan wayang kulit, yang memiliki varian tersendiri di Kelantan)<br />
Kasus kedua tentang batik juga sempat saya singgung sebelumnya. Kasus ini menarik karena memang ada batik Malaysia, seperti halnya di banyak negara lain termasuk di Afrika. Dan, sepanjang pencarian saya, belum ada satupun negara yang mematenkan batik. (termasuk paten/trademark/copyright terhadap pola-pola tertentu) Klaim atas hak waris batik paling runcing, saya pikir, terjadi antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini bertetangga dan ada banyak waktu di masa lampau untuk terjadi pertukaran dan peririsan budaya. Terlebih lagi, artifak budaya tidak mengenal trend westphalian tentang pembuatan batas negara moderen. Jadi wajar saja kalau pola batik berbunga warna-warni yang biasa dipakai Sri Sultan Hamengkubuwono juga ada di Malaysia. [eh, tapi, walau saya ini keturunan Jogja, saya nggak terlalu masalah sama hal ini. Kecuali kalau ada yang bisa membuktikan kepada saya bahwa tidak seharusnya batik macam itu ada di Malaysia. I’m all ears.]<br />
Uh, sebenarnya ada masalah nggak sih?<br />
Pertanyaan yang sulit. Pertama-tama saya pikir kemarahan yang dari kemarin membakar ruang komentar di internet sebagian disebabkan dendam personal kebanyakan orang Indonesia terhadap Malaysia, bukan melulu masalah budaya. Di sana juga berperan kehilangan SIpadan-Ligitan, masalah TKI, dll. Kalau sudah begini, Malaysia telah terkonstruk dalam benak para komentator internet sebagai “musuh bersama bangsa”. Apapun minumannya, Malaysia akan senantiasa dipandang sebagai sebuah kebobrokan. [tentu saja ini cuma asumsi saya. dan saya belum nemu penelitian untuk pembuktiannya]<br />
Lebih lanjut, klaim yang katanya dilakukan Malaysia itu, lagi-lagi menurut temuan prematur bin sontoloyo milik saya, kebanyakan bukan merupakan klaim secara eksplisit. Malaysia menggunakan irisan kebudayaan untuk menciptakan slogan pemasaran pariwisata “truly Asia”. Slogan ini menunjukkan bahwa Malaysia adalah gudangya Asia, di sana semua artifak kebudayaan Asiatik dapat ditemukan. Jenius, ngapain ke tempat lain kalau bisa ke Malaysia [setuju sama mas Jawot, ngomong-ngomong, yang menunjukkan bahwa ini slogan arogan dan ignoran] Slogan ini juga menunjukkan dua hal, pertama mereka tidak benar-benar menyebut bahwa artifak-artifak itu milik mereka, kedua artifak memiliki nilai dagang tersendiri dalam promosi pariwisata.<br />
Tapi ingat, tidak ada klaim resmi berbeda dengan tidak akan ada klaim sama sekali. Bisa jadi Malaysia hanya, meminjam bahasa geopolitik, testing the water untuk melihat reaksi tetangga. Kalau sepi berarti bisa diklaim, kalau ramai berarti tunggu nanti lagi. Ingat ini tidak, perilaku angkatan laut Malaysia yang sering patroli di dekat batas wilayah Indonesia?<br />
Ada solusi?<br />
Sebelum bicara solusi, saya harus mengatakan kalau saya tidak suka terhadap pematenan budaya kalau usaha itu akan membatasi pihak-pihak yang bisa menikmatinya. Alasan saya sederhana, kebudayaan seharusnya diwariskan dari manusia kepada manusia, bukan hanya dari orang Indonesia ke orang Indonesia. Di balik sebuah tarian, misalnya, seringkali ada cerita yang bisa dipetik pelajarannya. Dan pelajaran yang baik seharusnya disebarluaskan, bukan ditutup-tutupi. Kalau ditutupi terus, bagaimana bisa dunia memandang Indonesia sebagai negara beradab, saat mereka tidak tahu hasil peradaban Indonesia? (apapun maksudnya itu)<br />
Selama tidak ada klaim eksplisit, buat apa protes? Ngabisin tenaga, kalau ada waktu buat nulis “F*CK Malaysia” pasti ada waktu buat ngaji kan? [logika dari hong kong… uh, tanpa klaim eksplisit tapinya]  Kalau kita takut bangsa tetangga lebih ahli memainkan, katakanlah, angklung dan suatu saat cucu kita terpaksa pergi ke negeri tetangga untuk belajar angklung, solusinya sederhana ‘kan. Kita pelajari itu cara main angklung. Atau, minimal, kita cari jodoh orang yang bisa main angklung.Jadi kalau ada orang mempertanyakan kontribusi kita, minimal bisa kita jawab, ”saya selalu mendukung dia.”<br />
Kalau ada waktu lebih lagi, mending cari cara supaya kamu bisa ngajari saya soal intellectual property rights. Jadi kita bisa sama-sama cari solusi yang masuk akal. Saya sebagai mahasiswa HI merasa perlu menulis bahwa belajr Hubungan Internasional bukan hanya tentang menjelaskan apa yang terjadi, tapi juga memperbaiki kerusakan-kerusakan dalam kejadian (Cox, 2009 klo ngga salah). Kalo gitu enak tho? Asik tho? Haa haa haa. [eh?]<br />
Penutup<br />
Saya harus mengingatkan bahwa semua kesimpulan yang ditulis di sini masih prematur adanya. CMIIW. Tapi jangan ngamuk-ngamuk. Shoot the message, people, not this humble, kind, peace loving messenger.<br />
Akhirul kata?<br />
Mana yang lebih bijaksana, carpe diem atau hakuna matata?</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
