<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>aqidah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/aqidah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "aqidah"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 09:24:19 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sensasi Dukun dan Perdukunan]]></title>
<link>http://fokarliska.wordpress.com/2009/11/30/sensasi-dukun-dan-perdukunan/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 09:14:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>FOKARLISKA SMA N 5 Surakarta</dc:creator>
<guid>http://fokarliska.wordpress.com/2009/11/30/sensasi-dukun-dan-perdukunan/</guid>
<description><![CDATA[Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama, bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا سَبِيلًا<br />
“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 51)</p>
<p style="text-align:justify;">Ath-Thabari rahimahullahu menyebutkan dalam Tafsirnya (2/7726), dengan sanadnya sendiri dari Sa’id bin Jubair, bahwa –berkenaan dengan ayat ini– ia mengatakan, yang dinamakan jibt dalam bahasa Habasyah adalah sahir (tukang sihir) sedangkan yang dimaksud dengan thaghut adalah kahin (dukun).</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more-->Kala itu, perdukunan benar-benar mendapat tempat di hati banyak orang. Karena mereka meyakini, para dukun mempunyai pengetahuan tentang ilmu ghaib. Orang-orang pun berduyun-duyun mendatanginya, mengadukan segala permasalahan yang dihadapinya untuk kemudian menjalankan petuah-petuahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Muslim rahimahullahu di dalam kitab Shahihnya, bab Tahrimul Kahanah wa Ityanul Kahin, meriwayatkan dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia menceritakan: Aku sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa hal yang pernah kami lakukan di masa jahiliah, yaitu bahwa kami biasa mendatangi para dukun. Beliau kemudian bersabda:<br />
فَلَا تَأْتُوا الْكُهَّانَ. قَالَ: قُلْتُ: كُنَّا نَتَطَيَّرُ. قَالَ: ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ<br />
“Jangan sekali-kali kalian mendatangi dukun-dukun itu.” Aku ceritakan lagi kepada beliau, “Kami biasa ber-tathayyur.” Beliau bersabda: “Itu hanyalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang di dalam dirinya. Maka, janganlah sampai hal itu menghalangi kalian.”</p>
<p style="text-align:justify;">Yang diistilahkan dukun itu sendiri adalah orang-orang yang mengabarkan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari, melalui bantuan setan yang mencuri-curi dengan berita dari langit. Maka, dukun adalah orang-orang yang mengaku dirinya mengetahui ilmu ghaib, sesuatu yang tidak tersingkap dalam pengetahuan banyak manusia.<br />
Padahal, di dalam Al-Qur’an disebutkan dengan jelas dan pasti, bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui yang ghaib, adapun selain-Nya tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:<br />
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ<br />
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)</p>
<p style="text-align:justify;">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا<br />
“(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.” (Al-Jin: 26)<br />
وَمَا كَانَ اللهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ<br />
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 179)</p>
<p style="text-align:justify;">وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ<br />
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)</p>
<p style="text-align:justify;">فَقُلْ إِنَّمَا الْغَيْبُ لِلَّهِ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ<br />
Maka katakanlah: “Sesungguhnya yang ghaib itu kepunyaan Allah, sebab itu tunggu (sajalah) olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu.” (Yunus: 20)</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Qadhi Iyadh rahimahullahu berkata: “Perdukunan yang dikenal di dunia Arab terbagi menjadi tiga jenis:<br />
<strong>Pertama:</strong> Seseorang mempunyai teman dari kalangan jin, yang memberi tahu kepadanya dari usaha mencuri-curi dengar berita langit. Jenis ini sudah lenyap1 sejak Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua:</strong> Setan mengabarkan kepadanya sesuatu yang terjadi di tempat-tempat lain yang tidak bisa diketahuinya secara langsung, baik dekat maupun jauh. Yang demikian tidaklah mustahil keberadaannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>: Ahli nujum. Untuk jenis ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan kekuatan tertentu pada diri sebagian manusia. Akan tetapi, kebohongan di dalamnya biasanya lebih dominan. Di antara jenis ilmu seperti itu, adalah ilmu ramal, pelakunya disebut peramal atau paranormal. Biasanya orangnya mengambil petunjuk dari premis-premis dan sebab-sebab tertentu untuk mengetahui persoalan-persoalan tertentu, serta didukung dengan perdukunan, perbintangan, atau sebab-sebab lain.<br />
Jenis-jenis seperti inilah yang disebut dengan perdukunan. Semuanya itu, dianggap dusta oleh syariat. Syariat juga melarang mendatangi dan membenarkan perkataan mereka.” (Syarh Shahih Muslim, 7/333)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Menjamurnya Dukun Atau Paranormal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kemajuan peradaban manusia, seringkali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktik-praktik berbau tahayul. Namun begitu, di zaman sekarang ini praktik perdukunan justru marak bak cendawan di musim penghujan.<br />
Penting diketahui, sebenarnya praktik perdukunan bukanlah khas masyarakat tribal (kesukuan) dan tradisional yang melambangkan keterbelakangan. Bangsa maju dan modern di Eropa dan Amerika yang mengagungkan rasionalitas juga punya sejarah perdukunan, berwujud santet (witchcraft).</p>
<p style="text-align:justify;">Di Indonesia, praktik perdukunan memiliki akar kuat dalam sejarah bangsa, bahkan dukun dan politik merupakan gejala sosial yang lazim. Kontestasi politik untuk merebut kekuasaan pada zaman kerajaan di Indonesia pramodern selalu ditopang kekuatan magis.<br />
Semuanya ini memberikan gambaran yang nyata, bahwa perdukunan memang sudah dikenal lama oleh masyarakat kita. Dan ilmu ini pun turun-menurun saling diwarisi oleh anak-anak bangsa, hingga saat ini para dukun masih mendapatkan tempat bukan saja di sisi masyarakat tradisional, tetapi juga di tengah lingkungan modern.</p>
<p style="text-align:justify;">Walhasil kini mereka yang pergi ke dukun kemudian percaya pada kekuatan magis dan menjalankan praktik perdukunan tak mengenal status sosial: kelas bawah, menengah bahkan atas. Sensasi para dukun itu mampu melampaui semua tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang datang ke dukun merupakan representasi orang-orang terpelajar yang berpikiran rasional.<br />
Sebenarnya, dukun atau paranormal tidak ada bedanya, karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengemukakan, bahwa paranormal adalah nama lain dari dukun dan ahli nujum (Fathul Majid, hal. 338). Maka, dukun atau paranormal adalah dua nama yang saling terkait, kadang salah satunya menjadi penanda bagi yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Belakangan, di tanah air kita, fenomena perdukunan dan ramalan semakin menggeliat seiring dengan suasana yang kondusif bagi para pelakunya untuk tampil berani tanpa ada beban. Berapa banyak iklan-iklan yang menawarkan jasa meramal cukup via SMS, yang dalam istilah mereka bermakna Supranatural Messages Service. Atau juga, praktik pengobatan alternatif yang sudah menjadi suguhan iklan harian di koran-koran dan tabloid.</p>
<p style="text-align:justify;">Berapa banyak sekarang ini penderita penyakit yang tidak terdeteksi penyakitnya sekalipun telah memanfaatkan kemajuan teknologi kedokteran. Usut punya usut, salah satu penyebabnya adalah karena penyakit tersebut merupakan penyakit “pesanan” yang dikirim oleh para dukun dengan menggunakan kekuatan ghaib bernama setan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bahaya Mendatangi Dukun dan Peramal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam kitab Shahih keduanya, meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata: Saya tanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, sesungguhnya para dukun itu mengatakan sesuatu kepada kami, dan ternyata apa yang dikatakannya itu benar terjadi.” Beliau kemudian bersabda:<br />
تِلْكَ الْكَلِمَةُ الْحَقُّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقْدِفُهَا فِى أُذُنِ وَلِيِّهِ، وَيَزِيْدُ فِيْهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ<br />
“Kata yang benar itu disambar oleh jin dan kemudian dibisikkan ke telinga pengikutnya. Tapi setiap satu kata yang benar itu dicampur dengan seratus kebohongan.” (HR. Al-Bukhari no. 5762, Muslim no. 2228)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam riwayat lainnya, yang dikemukakan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu, disebutkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebenaran para dukun.” Beliau menjawab: “Tidak ada apa-apanya.” Mereka lantas berkata: “Mereka itu (dukun) terkadang mengatakan sesuatu yang kemudian benar-benar terjadi.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:<br />
تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنَ الْجِنِّ يَخْطَفُهَا الْجِنِّيُّ فَيَقُرُّهَا فِى أُذُنِ وَلِيِّهِ قَرَّ الدَّجَاجَةِ فَيَخْلِطُوْنَ فِيْهَا أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ كَذْبَةٍ<br />
“Kalimat itu berasal dari kalangan jin yang disambar oleh salah seorang jin, lalu ia bisikkan ke dalam telinga pengikutnya seperti suara ayam betina, lalu mereka mencampurnya dengan lebih dari seratus kebohongan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:<br />
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم<br />
“Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu membenarkan perkataannya, berarti itu telah kufur kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya no. 9541)</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Atsir rahimahullahu menjelaskan, “Yang dimaksud dengan tukang ramal adalah ahli nujum atau orang pandai yang mengaku mengetahui ilmu ghaib, padahal hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui persoalan ghaib. Tukang ramal itu masuk dalam kategori dukun.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab Shahihnya, Al-Imam Muslim rahimahullahu mengutip hadits dari Nafi’, dari Shafiyyah, dari beberapa istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:<br />
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً<br />
“Siapa yang mendatangi arraf (tukang ramal) lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Imam Nawawi rahimahullahu menjelaskan, “Yang dimaksud dengan tidak diterima shalatnya adalah bahwa shalat yang dilakukannya itu tidak diberi pahala, sekalipun shalat yang dilakukannya itu sudah tentu tetap bisa menggugurkan kewajibannya sehingga tidak perlu diulang kembali. Para ulama sepakat bahwa hal itu tidak berarti menuntut orang yang mendatangi tukang ramal untuk mengulangi shalatnya selama empat puluh hari. Wallahu a‘lam.” (Syarh Shahih Muslim, 7/336)</p>
<p style="text-align:justify;">Bertolak dari dalil-dalil di atas, setidaknya ada dua bahaya yang mengancam orang-orang yang mendatangi dan menanyakan sesuatu kepada dukun atau paranormal:<br />
<strong>Pertama</strong>, kekafiran, jika meyakini kebenaran dukun dan meyakini tukang ramal itu sebagai orang yang mengetahui hal ghaib.<br />
<strong>Kedua</strong>, mendekati kekufuran, jika membenarkan berita yang disampaikannya dari hal yang ghaib. Dengan alasan, dukun dan paranormal menyampaikan hal yang ghaib dari informasi jin yang mencuri-curi dengar berita langit.<br />
Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lah kita memohon perlindungan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memperbanyak jumlah para pelayan-pelayan setan (dukun), serta membongkar kejahatan mereka.<br />
Wallahul musta’an.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat sudah lenyap, tidak ada lagi. Ada juga yang berpendapat masih terjadi. Di antara yang menguatkan pendapat kedua dari ulama masa kini adalah Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan Asy-Syaikh Shalih Alu Syaikh. (ed)</p>
<p style="text-align:justify;">Disalin dari majalah asy syariah</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TINJUAN SYAIKH AL MAQDISIY TERHADAP OPERASI JIHAD DENGAN MELEDAKKAN DIRI]]></title>
<link>http://millahibrahim.wordpress.com/2009/11/30/tinjuan-syaikh-al-maqdisiy-terhadap-operasi-jihad-dengan-meledakkan-diri/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:19:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>millahibrahim</dc:creator>
<guid>http://millahibrahim.wordpress.com/2009/11/30/tinjuan-syaikh-al-maqdisiy-terhadap-operasi-jihad-dengan-meledakkan-diri/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Syaikh Abu Muhammad &#8216;Ashim Al Maqdisiy hafidzahullah Dan Sebagian Orang Menamakannya “Op]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Syaikh Abu Muhammad &#8216;Ashim Al Maqdisiy hafidzahullah Dan Sebagian Orang Menamakannya “Op]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tafsir Salaf Shaleh dan Kaum Salafiyah (1)]]></title>
<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/30/tafsir-salaf-shaleh-dan-kaum-salafiyah-1/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 03:54:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
<guid>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/30/tafsir-salaf-shaleh-dan-kaum-salafiyah-1/</guid>
<description><![CDATA[Di antara slogan yang tak henti-hentinya dibanggakan kaum Salafi adalah bahwa akidah, pola pandang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Di antara slogan yang tak henti-hentinya dibanggakan kaum Salafi adalah bahwa akidah, pola pandang dan praktik keberagamaan mereka ditegakkan di atas pondasi Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para Salaf Shaleh! Untuk sementara ini, saya tidak bermaksud mengadili konsep di atas yang mengharuskan kita memformat pemahaman kita tentang nash-nash agama; Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. sesuai dengan pemahaman Salaf Shaleh yang tidak terlalu jelas batasan dan kriterianya…. Akan tetapi kali ini saya handak menguji sejauh mana ketulusan, kejujuran dan konsistensi mereka dalam memelihari konsep ini… darinya Anda dapat menyaksikan sendiri sejauh mana konsistensi mereka terhadapnya!<!--more--></p>
<p>Kali ini saya ajak kaum Salafi untuk menyelami makna beberapa ayat Al Qur’an yang telah ditafsirkan oleh para Salaf Shaleh dengan sejelas-jelasnya…. Sehingga kesamarran terusir dan mentari kejelasan terbit bersinar!</p>
<p>Ayat:</p>
<p><strong>يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ.</strong><strong> </strong><strong>رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ</strong><strong> </strong></p>
<p><em> “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (QS. Al Mâidah [5];67)</em></p>
<p>Tentang ayat di atas banyak hakikat yang mesti diungkap, tetapi kali ini saya hanya membatasi penelusuran apa yang dimaksud dengan firman: <em>apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu</em> saja. Tentang apa sebenarnya sesuatu/apa yang diturunkan yang jika beliau saw. tidak menyampaikan sesuatu tersebut itu sama artinya beliau tidak menyampaikan total Risalah Allah SWT?</p>
<p>Di sini sesuai dengan format keberagamaan dan akidah kaum Salafi, kita mesti berujuk kepada kaum Salaf Shaleh untuk mendengar keterangan mereka dan kemudian menyesuaikan pemahanann kita dengannya. Bukankah demikian model keberagamaan kaum Saafi?!</p>
<p>Nah sekarang, coba kita perhatikan apa kata Salaf Shaleh tentang ayat tersebut! Kapan ia turun? Dan terkait dengan masalah apa ia diturunkan?</p>
<p><strong>A) </strong><strong>Tafsirt Sahabat Abu Sa’id al Khudir:</strong></p>
<p><strong>1) </strong><strong>Riwayat Abu Nu’ainal Isfahâni<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>:</strong></p>
<p>Abu Nu’aim berkata:</p>
<p>حدّثنا أبو بكر ابن خلاّد، قال: حدّثنا محمّـد بن عثمان بن أبي شيبة، قال: حدّثنا إبراهيم بن محمّـد بن ميمون، قال: حدّثنا عليّ بن عابس، عن أبي الجَحّاف والاَعمش، عن عطية، عن أبي سعيد الخدري، قال: نزلت هذه الآية على رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم في عليّ بن أبي طالب عليه السلام: (<strong>يا أيّها الرسول بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك</strong>).</p>
<p>“….. dari Abu Siad al Khudri, ia berkata, “Ayat ini:</p>
<p><strong>يا أيّها الرسول بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك</strong></p>
<p>turun kepada Rasulullah saw. tentang Ali ibn Abi Thalib as.”</p>
<p><strong>2) </strong><strong>Riwayat </strong><strong>Riwayat Ibnu ‘Asâkir</strong></p>
<p>Ibnu Asâkir berkata:</p>
<p>أخبرنا أبو بكر وجيه بن طاهر، أنبأنا أبو حامد الاَزهري، أنبأنا أبو محمّـد المخلّدي الحلواني، أنبأنا الحسن بن حمّاد سجّادة، أنبأنا عليّ ابن عابس، عن الاَعمش وأبي الجَحّاف، عن عطية، عن أبي سعيد الخدري، قال: نزلت هذه الآية: (<strong>يا أيّها الرسول بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك</strong>) على رسول الله صلّى الله عليه [وآله] وسلّم يوم غدير خمّ في عليّ ابن أبي طالب.</p>
<p>“Abu Bakar Wajîh ibn Thâhir mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Hamid al Azhari mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Muhammad al Mukhallad al Hulwâni mengabarkan kepada kami, ia berkata, Hasan ibn Hammâd Sajjâdah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ali ibn Âbis mengabarkan kepada kami, dari A’masy dan Abu Jahhâf dari Athiyyah dari Abu Sa’id al Khudri, ia berkata, “Ayat ini:</p>
<p><strong>يا أيّها الرسول بلّغ ما أُنزل إليك من ربّك</strong></p>
<p>turun kepada Rasulullah saw. pada hari Ghadir Khum tentang Ali ibn Abi Thalib.” <a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Hadis di atas telah diabadikan oleh: Al Wâhidi, Ibnu ‘Asâkir dan as Suyuthi, asy Syaukâni, al ‘Aini dkk.<a href="#_ftn3">[3]</a> Dan selain dua riwayat tafsir di atas, masih banyak jalur lainnya yang menyebutkan tafsir Abu Sa’id al Khudri.</p>
<p>Mungkin bagi sebagian oramng keterangan sahabat Abu Sa’id di atas belum memberikan kejelasan tegas, tentang Ali ibn Abi Thalib itu tentang apa? Keutamaaan atau apa? Maka ketarangan sahabat Ibnu Mas’ud di bawah ini akan memperjelasnya.</p>
<p><strong>B) </strong><strong>Tafsir Ibnu Mas’ud</strong></p>
<p>Jalaluddin as Suyuthi dan asy Syaukani berkata: “Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata, “Kami membaca ayat ini di masa Nabi demikian:</p>
<p><strong>{يا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ ما أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ</strong><strong>}</strong><strong> </strong><strong><em>أنَّ علِيًّا مولَى الْمُؤمنين</em></strong><strong> {وَ إِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَما بَلَّغْتَ رِسالَتَهُ وَ اللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ}</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu,</em> bahwa Ali adalah pemimpin kaum Mukminin<em>. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.”<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em></p>
<p><strong>Ini Adalah Tafsir Para Tokoh Salaf Shaleh! </strong></p>
<p>Dalam ketarngannya, Fakhruddîn ar Râzi mengatakan bahwa tafsir di atas adalag tafsir para tokoh Salaf Shaleh. Ia berkata, “Ayat ini turun tentang keutamaan Ali ibn Abi Thalib. Dan ketika ayat itu turun, Nabi memegang tangan Ali dan bersabda: “Barang siapa aku maulanya maka Ali juga maulanya. Ya Allah bimbinglah yang menjadikan Ali sebagi pemimpinnya dan musuhi yang memusuhi Ali.” Lalu kemudian Umar menjumpai Ali dan ia berkata kepadanya, “Selamat hai putra Abu Thalib engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin setiap orang Mukmin dan Mukminah.”</p>
<p>Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Barâ’ ibn ‘Âzib dan Muhammad ibn Ali.”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p><strong>Ibnu Jakfari Berkata:</strong></p>
<p>Turunnya ayat tersebut dalam kaitan peristiwa pengangkatan Imam Ali as. sebagai maula/Imam/pemimpin sepeninggal Nabi saw. di Ghadir Khum telah diriwayatkan oleh para ulama dan pembesar ahli tafsir Ahlusunnah, di antara mereka adalah:</p>
<p>1)      Imam Ahli Tafsir Salaf, Ibnu Jarir ath Thabari (w.310H)</p>
<p>2)      Ibnu Abi Hatim Abdurrahman ibn Muhammad ibn Idris ar Râzi (w.327H)</p>
<p>3)      Abu Abdilllah  al Husin ibn Ismail al Mahâmili (w.330H)</p>
<p>4)      Abu Bakar Ahmad ibn Abdurrahman al Fârisi asy Syîrâzi (w.407 atau 411H)</p>
<p>5)      Abu Bakar Ahmad ibn Musa ibn Mardawaih al Isfahâni (w. 410H)</p>
<p>6)      Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdillah al Isfahâni (w.430H)</p>
<p>7)      Abul Hasan Ali ibn Ahmad al Wâhidi (w. 468 H)</p>
<p>8)      Abu Sa’id Maus’ud ibn Nâshir as Sijistâni (w. 477H)</p>
<p>9)      Abul Qâsim Abudullah ibn Abdillah al Hakim al Hiskâni.</p>
<p>10)  Abu Kabar Muhammad ibn Mukmin asy Syîrâzi (penulis buku<em> Mâ Nazala Fî Ali wa Ahlil Bait</em>.</p>
<p>11)  Abul Fath Muhammad ibn Ali ibn Ibrahim an Nathanzi (w.550 H)</p>
<p>12)  Ibnu ‘Asâkir; Abul Qâsim Ali ibn Husain (w 571 H)</p>
<p>13)  Abu Sâlim Muhammad ibn Thalhah an Nashîbi asy Syâfi’i (w652 H)</p>
<p>14)  Imam Fakhruddin ar Râzi (w.653 H)</p>
<p>15)  Nidzamuddin  Hasan ibn Muhammad an Nisâburi, penulis tafsir.</p>
<p>16)  Badruddin Mahmud ibn Ahmad al ‘Aini (w. 855 H)</p>
<p>17)  Jalaluddin as Suyuthi (w. 911 H)</p>
<p>18)  Syeikh Muhammd ibn Ali Asy Syawkani (w.1250 H)</p>
<p>19)  Sayyid Syihabuddin Al Alûsi (w.1270 H)</p>
<p>20)  Syeikh Sulaiman al Qandûzi al Hanafi (1293 H)</p>
<p>Dan selain merekamasih banyak nama-nama lain yang tidak mungkin saya sebutkan satu-satu persatu di sini.</p>
<p><strong>Setelah ini, semua kami hanya meminta kejujuran dan ketulusan kaum Salafi untuk mengimani haakikat yang nyata dari tafsir Para Salaf Shaleh ini!</strong></p>
<p><strong>Tetapi –bukan mendahului takdir-, terus terang banyak pihak yang meragukan kejujran para Salafiyyun yang mengaku sebagai representatif Salaf Shaleh! Mereka –seperti kebiasaannya- pasti akan keberatan dengan tafsir pasa sahabat Nabi mulia di atas, dengan satu alasan yang sederhana bahwaa tafsir itu ternyata tidak sesuai dengan Doqma Salafiyah yang telah mereka sembah! </strong></p>
<p><strong>Mereka –seperti kebiasaan yang ttidak mengagetkan para peneliti yang bijak- pasti akan mencari-cari seribu satu alasan untuk membatalkan dan membohongkannya! Pasti!! Kalau tidak percaya&#8230; Anda perhatikan komentar-komentar para pengikut Mazhab Salafi/Wahabi&#8230; mereka pasti akan membohongkan dan mengkufuri kenyataan ini!</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a>Khashâish al Wahyi al Mubîn, Ibnu Bithrîq (W.600 H): 53 dari Mâ Nazala Min al Qur’an Fî Ali; Al Hafidz Abu Nu’aim al Isfahâni.</p>
<p>&#160;</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Biodata Imam Ali as. pada kitab Tarikh Damasqus,2/86.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Asbâb an Nuzûl:204, ad Durr al Mantsûr,3/117, Tarikh Damasqus,42/37, Umdatu al Qâri,18/206, Fathu al Qadîr,2/60 dan al Fushûl al Muhimmah:42.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Ad Durr al Mantsûr,3/117 dan Fathu al Qadîr,2/60.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Tafsir ar Râzi</em>,12/50.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Imam Bukhari Mengandalkan Para Pembenci Imam Ali as. dalam Menimba Informasi Agama!! (1)]]></title>
<link>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/30/imam-bukhari-mengandalkan-para-pembenci-imam-ali-as-dalam-menimba-informasi-agama-1/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 03:48:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ibnu Jakfari</dc:creator>
<guid>http://jakfari.wordpress.com/2009/11/30/imam-bukhari-mengandalkan-para-pembenci-imam-ali-as-dalam-menimba-informasi-agama-1/</guid>
<description><![CDATA[Sikap damai lagi mesra terhadap para pembenci dan pencaci maki Imam Ali dan Ahlulbait serta berbangg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Sikap damai lagi mesra terhadap para pembenci dan pencaci maki Imam Ali dan Ahlulbait serta berbanggga dalam mengandalkan riwayat mereka oleh para ulama hadis Sunni juga dipragakan Bukhari –Imam Besar Hadis, bahkan mungkin diangap Imam teragung-. Dalam kitab Shahihnya yang diyakini keshahihan seluruh hadis di dalamnya oleh ulama Sunni sehingga menjadi pandangan resmi mazhab itu telah mengandalkan kaum Nawâshib yang sangat membenci Imam Ali as. dan juga mencaci maki dan menghina serta melaknati beliau as. sebagai sumber kepercayaan agamanya. Ia banyak meriwayatkan dari kaum Nawâshib.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam Mukaddimah Fathu al Bâri (kitab syarah terbesar atas Shahih Bukhari) menyebutkan daftar nama para perawi hadis yang diandalkan Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya yang dicacat para ulama. Di antara mereka adalah para perawi yang dicacat karena alasan kenashibian/kebencian kepada Ali dan Ahlulbait.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini –demi menyingkat waktu pembaca- langsung saja saya sebutkan nama-nama mereka beriktu keterangan singkatnya:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Tsaur ibn Yazîd ibn Ziyâd al Kilâ’I al Himshi asy Syâmi (w.153 H)</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari telah mengandalkannya dalam menyumbangkan lima riwayat dalam berbagai bab, di antaranya pada bab: <em>al</em> <em>Buyû’</em> (jual beli), <em>al Jihâd </em>dan <em>Kitab al Ath’imah</em> (makanan), bab <em>Mâa Yuqâlu Idzâ Faragha Min Tha’âmihi</em> (apa yang diucapkan jika selesai makan)<a href="#_ftn1">[1]</a>. Imam Bukhari menyebutkan jalur darinya demikian: Telah menyampaikan hadis kepada kami Ishaq ibn Yazîd ad Dimasyqi, ia berkata, telah menyampaikan hadis kepada kami Yahya ibn Hamzah, ia berkata telah menyampaikan hadis kepadaku Tsaur ibn Yazîd dari Khalid ibn Ma’dân ….<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tsuar Di Mata Ulama hadis Sunni</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yahya ibn Ma’in berkata, “Aku tidak menyaksikan seorang pun yang meragukan bahwa ia adalah seorang panganut faham Qadariyah.<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ahmad ibn Hanbal berkata, “Tsaur berfaham Qadariyah. Dan adalah penduduk kota Himsh mengusirnya dari kota mereka.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar berkata, “Ia datang ke kota madinah maka Malik melaraang orang-orang untuk duduk bersamanya. Ia dituduh berfaham nushb (membenci Imam Ali dan Ahlulbait as.).”</p>
<p style="text-align:justify;">Yahya ibn main berkata, “Ia (Tsaur) sering duduk-duduk bersama kaum yang mencaci maki Ali. <span style="text-decoration:underline;">Akan tetapi ia sendiri tidak mencaci makinya</span>.”<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pembelaan Yahya ibn Ma’in terhadap Tsuar di atas tidak benar sebab terbukti bahwa Tsaur tidak hanya gemar dan menikmati duduk bersma kaum yang menjadikan caci kami Imam Ali as. sebagai tema dan obyek pembicaraan… akan tetapi ia juga sangat gamas dalem kebenciannya terhadap Imam Ali as.; sahabat termulia dan khalifah keempat di kalangan Ahlusunuhhah, mennatu Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Al Ka’bi melaporkan dalam kitab Qabûl al Khbâr bahwa Tsaur setiap kali menyebut Imam Ali as. selalu berkata, <strong>“Aku tidak suka orang yang membunuh kakekku.</strong>”<a href="#_ftn5">[5]</a> Dan kakeknya terbunuh dalam peperangan Shiffîn di pihak Mu’awiyah yang disabdakan Nabi saw. (sesuai riwayat Imam Bukhari) sebagai pemimpin kelompok penganjur ke neraka jahannam.!!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pembelaan seperti itu biasa dilakukan terhadap para perawi pujaan mereka…. Karenanya tidak mengherankan jika Anda juga menemukan pujian dan penghargaan atasnya oleh sebagian ulama dan tokoh sentral Sunni, seperti Yahya al Qaththân, yang memujinya dengan: <strong>“Aku tidak pernah menyaksikan seorang penduduk kota Syâm yang lebih kokoh riwayatnya darinya.”</strong> Atau pembelaan Ibnu Hajar dengan kata-katanya, <strong>“Para ulama bersepakat akan ketepatan riwayatnya.”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anda berhak pertanya akan keseriusan para ulama Sunni dalam menyikapi para pembenci dan pencaci maki sahabat, yang dalam rancangan konsep mereka siapa pun yang membenci dan apalagi juga dilengkapi dengan mencaci-maki sahabat Nabi saw. mereka kecam sebagai <em>zindiq</em>, fasik, pembohong yang tidak halal didengar hadisnya!! Lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan mencai-maki Imam Ali as.? Apakah mereka akan berkonsekuen dalam mengetrapkannya? Atau mereka akan melakukan praktik “Tebang Pilih”! Jika seoraang perawi mencaci maki Mu’awiyah, ‘Amr ibn al ‘Âsh, Abu Hurairah, Utsman ibn ‘Affân, Umar ibn al Khathtab, atau Abu Bakar misalnya, hukuman itu ditegakkan! Jika yang dicaci dan dibenci saudara Rasulullah saw. dan menantu tercintanya; Ali ibn Abi Thalib as. maka seakan tidak terjadi apa-apa! Seakan yang sedang dicaci-maki hanya seorang Muslim biasa atau bisa jadi lebih rendah dari itu…. Pujian dan sanjungan tetap dilayangkan… kepercayaan terhadapnya tetap terpelihara… keimanannya tetap utuh… bahkan jangan-jangan bertambah karena mendapat pahala besar di sisi Allah kerenanya, sebab semua itu dilakukan di bawah bendera ijtihad dan keteguhan dalam berpegang dengan as Sunnah!!</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa kegarangan sikap dan ketegasan vonis itu hanyaa mereka tampakkan dan jatuhkan ketika yang dicaci-maki dan dibenci adalah sahabat selain Imam Ali as., betapapun ia seorang fasik berdasarkan nash Al Qur’an, seperti al Walîd ibn ‘Uqbah! Sementara jika Ali as. atau sahabat dekatnya seperti Ammar ibn Yasir, Salman al Farisi, Abu Darr ra. dkk. yang dicaci-maki dan dibenci serta dilecehkan semua seakan tuli dan bisu….</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang menjadikan pera peneliti menaruh kecurigaan akan ketulusan, kejujuran dan keseriusan para ulama Sunni dalam membela Ali dan keluarga; Ahlulbait Nabi yang suci dan disucikan Allah.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Ishâq ibn Suwaid ibn Hubairah at Tamîmi (w.131H)</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari telah mengandalkannya dalam menyumbangkan hadis dalam <em>Kitab ash Shaum </em>(puasa) digandeng dengan riwayat Khâlid al Hadzdzâ’.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Hadyu as Sâri</em>-nya, Ibnu Hajar menegaskan bahwa “Yahya ibn Ma’in, an Nasa’i dan al Ijli mentsiqahkannya, <strong>dan ia mengecam Ali ibn Abi Thalib</strong>.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar juga berkata dalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb, “Abu al ‘Arab ash Shaqali berkata dalam kitab adh Dhu’afâ’nya, ‘Ia sangat mengecam/membenci Ali. Ia berkata, ‘Aku tidak suka Ali. Ia tidak banyak hadisnya.’ Dan kemudian ia berkomentar, ‘Siapa yang tidak mencintai sahabat maka ia bukan seorang yang tsiqah/jujur terpercaya dan tidak ada kehormatan baginya.’”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibnu Jakfari berkata:</strong> Semoga Allah merahmati ash Shaqali dan membalasnya dengan kebaikan atas ketulusannya dalam membela kesucian Imam Ali as.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi yang disayangkan lagi mengherankan adalah sikap sebagian ulama hadis Sunni yang masih sudi mempercayai perawi fasiq dan munafik sepertinya sebagai sumber agama?!</p>
<p style="text-align:justify;">Tidakkah kebenciannya terhadap Imam Ali as. yang mana kecintaan dan kebencian kepadanya telah dijadikan barometer keimanan dan kemunafikan! Lalu mengapakah Imam Bukhari dan ahli hadis lainnya seperti Muslim, an Nasa’i dan Abu Daud mempercayainya sebagai penyambung lidah suci Rasulullah?</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapakah Imam Bukhari mempercayainya dan menjadikannya hujjah yang menyambungkan dirinya dengan Allah, sementara ia tidak sudi meriwayatkan dari putra teladan Ahlulbait; Imam Ja’far ash Shadiq as. dan meragukannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Adilkan sikap mereka itu?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mereka Bangkit Geram Jika Selain Ali as. Yang Dikecam!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Benar seudaraku –semoga Allah merahmati Anda- bahwa jika yang dikecam itu selain Imam Ali ibn Abi Thalib as. maka mereka tidak akan ragu-ragu untuk spontan menjatuhkan vonis garang atas pelakunya… Perhatikan caci-maki dan luapan kemarahan adz Dzahabi atas al Hafidz Ibnu Khirâsy –kendati tadinya ia mensifatinya dengan beragam pujian akademik seperti al Hâfidz/sanga hafidz yang dalam lagi luas pengetahuannya. Lalu setelanya ia menuduhnya sebagai penganut faham Syi’ah dan membuat-buat riwayat tentang kejelakekan Abu Bakar dan Umar… setelah itu semua ia mengalamatkan kecamanannya atas Ibnu Khirâsy dengan kata-kata, “Engkau adalah seorang Zindiq, penentang kebenaran/al Haq. Semoga Allah tidak pernah meridhaimu. Ibnu Khirâsy mati menuju selain raahmat Allah tahun 283 H.”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula dengan Ibnu Hajar dalam kitab <em>Tahdzîb at Tahdzîb</em> ketika menyebut biografi Janâb al Asadi, ia menyebutkan bahwa  ad Dûri menukil Yahya ibn Ma’in berkata tentangnya, “Ia (Janâb) adalah seorang yang jelek. Ia mencaci Utsman…</p>
<p style="text-align:justify;">Ahmad ibn Hanbal berkata, “Ia adalah seorang yang jelek pendapatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hibbân berkata, “Tidak halal meriwayatkan hadis darinya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ad Dâruquthni berkata, “Ia adalah seorang yang jelek, berfaham Syi’ah yang kental. Ia mencaci-maki Utsman.”</p>
<p style="text-align:justify;">Al Hakim berkata, “Yahya dan Abdurrahman meninggalkan meriwayatkan hadis darinya, dan keduanya telah berbuat baik, sebab ia mencaci-maki Utsman. Dan barang siapa mencaci seorang sahabat maka ia pantas untuk tidak diambil riwayatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, ada sebuah kenyataan yang lebih menyakitkan hati para pecinta Ahlulbait Nabi as… di mana mereka bermesraan dengan para pembenci Imam Ali as. dan mereka yang mencaci-makinya serta melaknatinya… Namun terhadap seorang parawi yang sekedar bersikap kurang menghormat kepada seorang ulama kebanggaan mereka –bukan seorang sahabat besar!- hanya seorang ulama! Mereka segera beramai-ramai mengecamnya! Bahkan melaknatinya!</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak contoh kasus dalam hal ini, akan tetapi saya hanya akan menyebutkan sekelumit saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar dalam kitab <em>Tahdzîb at Tahdzîb</em> ketika menyebut biografi Husain al Karâbisi, ia berkata, “Berkata al Khathib, ‘Hadisnya jarang sekali, sebab Ahmad ketika berbicara tentang masalah Lafadz (ucapan/bacaan) Al Qur’an (apakah ia qadim atau makhluq), al Karâbisi menyalahkan Ahmad, maka para ulama menjauhi dari mengambil riwayat darinya. Dan ketika sampai kepada Yahya ibn Ma’im berita bahwa ia berbicara menyalahkan Ahmad, ia melaknatinya. Dan ia berkata, ‘Alangkah laiknya ia untuk dicambuk.’”</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu mereka juga mengatakan bahwa keyakinan Husain al al Karâbisi dalam masalah ini adalah bahwa bacaan kita terhadap ayat-ayat Al Qur’an adalah hâdits/bukan Qadîm. Keyakinan itu sama persis dengan yang diyakini oleh banyak tokoh ulama hadis Sunni, seperti Imam Bukhari, Hârits al Muhâsibi, Muhammad ibn Nashr al Marwazi dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Subhanallah. Imam Ali dikecam, mereka terdiam! Sementara Ahmad ibn Hanbal disalahkan mereka bangkit melaknati yang menyalahkannya!!</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh kedua adalah pembelaan ulama Sunni terhadap Ibnu Mubârak. Ibnu Hajar dalam<em> Tahdzîb at Tahdzîb</em> berkata ketika menyebut bigrafi Ibnu Mubârak, “Aswad ibn Salim berkata, “Jika engkau melihat seorang menceloteh Ibnu Mubârak maka curigai kemurnian Islamya!.”</p>
<p style="text-align:justify;">Membongkal contoh-contoh kasus dalam masalah ini akan menjadi panjang pembicaraan kita… Maka kami cukupkan sampai di sini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(Bersambung Insya Allah)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> Shahih Bukari,7/106.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Mîzân al I’tidâl,1/374, biografi no.1406. Pernyataan Yahya di ataas juga disebutkan oleh Ibnu ‘Asâkir dalam Târîkh Damasqusnya,11/183/1058.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> Ibid.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> Hadyu as Sâri (Muqaddimah Fathu al Bâri),2/148. cet. Maktabah al Kulliyât al Azhâriyah-Kairo.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Qabûl al Khbâr,2/158, Thabaqât; Ibnu Sa’ad,7/467.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref6">[6]</a> Hadyu as Sâri,2/143.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref7">[7]</a> Baca juga Hadyu as Sâri,2/143</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="#_ftnref8">[8]</a> Baca Biografi al Hafidz Ibnu Khirâsy dalam kitab Tadzkiratul Huffâdz; adz Dzahabi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Si Kecil Menolak Ketulusan Hati Insan kerana Cukup Allah Baginya]]></title>
<link>http://ummuayman.wordpress.com/2009/11/30/si-kecil-menolak-ketulusan-hati-insan-kerana-cukup-allah-baginya/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 02:16:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ummuayman</dc:creator>
<guid>http://ummuayman.wordpress.com/2009/11/30/si-kecil-menolak-ketulusan-hati-insan-kerana-cukup-allah-baginya/</guid>
<description><![CDATA[Bila kudengar suara lolongan serigala Kurindu kepada serigala tetapi bila kudengar suara manusia aku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><address><strong><em><a rel="attachment wp-att-1583" href="http://ummuayman.wordpress.com/2009/11/30/si-kecil-menolak-ketulusan-hati-insan-kerana-cukup-allah-baginya/cinta-allah2/"><img class="alignleft size-full wp-image-1583" title="cinta Allah2" src="http://ummuayman.wordpress.com/files/2009/11/cinta-allah2.jpg" alt="" width="94" height="62" /></a><span style="color:#800000;">Bila kudengar suara lolongan serigala</span></em></strong></address>
<address><span style="color:#800000;"><strong><em>Kurindu kepada serigala</em></strong></span></address>
<address><span style="color:#800000;"><strong><em>tetapi bila kudengar suara manusia</em></strong></span></address>
<address><span style="color:#800000;"><strong><em>aku hampir sahaja kehilangan kesedaranku</em></strong></span></address>
<p><span style="color:#800000;"><em>Seorang lelaki memasuki sebuah masjid bukan pada waktu solat, lalu ia menjumpai seorang anak kecil yang berumur sepuluh tahun sedang melaksanakan solat dengan khusyuk. Ia menunggu sehingga anak kecil itu menyelesaikan solatnya. Kemudian orang itu mendekatinya dan bertanya: &#8220;Anak siapa wahai anakku?&#8221;. Anak kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menitiskan air mata dipipinya. Kemudian dia mengangkatkan kepalanya dan berkata: &#8220;Wahai pakcik, saya seorang anak yatim piatu.&#8217;</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Lelaki itu tersentuh sekali hatinya dan berkata: &#8220;Mahukah kamu menjadi anak angkatku?&#8221; Anak itu berkata: &#8221; Apakah jika aku lapar engkau memberiku makan?&#8221; Orang itu menjawab: &#8220;Ya!&#8221; Anak kecil itu bertanya lagi: &#8220;Apakah jika aku tidak mempunyai pakaian, engkau akan memberiku pakaian?&#8221; Orang itu mengangguk dan mengatakan &#8220;Ya!&#8221; Anak kecil itu bertanya lagi : &#8220;Apakah engkau akan menyembuhkanku jika aku sakit?&#8221; Orang itu menjawab: &#8220;Wahai anakku, aku tidak dapat melakukan itu?&#8221; Anak kecil itu bertanya lagi: &#8220;Apakah engkau akan menghidupkanku bila aku mati?&#8221; Orang itu menggelengkan kepala : &#8220;Aku juga tidak sangggup?&#8221;.</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Akhirnya anak kecil itu berkata:&#8221; Kalau demikian wahai pakcik, serahkanlah diriku kepada.</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em><a rel="attachment wp-att-1600" href="http://ummuayman.wordpress.com/2009/11/30/si-kecil-menolak-ketulusan-hati-insan-kerana-cukup-allah-baginya/26_079-82/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1600" title="26_079-82" src="http://ummuayman.wordpress.com/files/2009/11/26_079-82.gif" alt="" width="477" height="75" /></a>&#8220;Tuhan yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjukkan hidayah kepadaku, dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari qiamat&#8221;.  [ Surah Asy-Syu'ara': 78-82]</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em> </em><em><a rel="attachment wp-att-1597" href="http://ummuayman.wordpress.com/2009/11/30/si-kecil-menolak-ketulusan-hati-insan-kerana-cukup-allah-baginya/tawakkal/"><img class="alignright size-full wp-image-1597" title="tawakkal" src="http://ummuayman.wordpress.com/files/2009/11/tawakkal.jpg" alt="" width="134" height="81" /></a></em><em>Lelaki itupun diam dan pergi meneruskan urusannya, sedang anak kecil itu berkata: &#8220;Aku beriman kepada Allah. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kecukupan kepadanya.&#8221;</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em><br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em><strong><span style="text-decoration:underline;">Mindaku Berbicara</span></strong></em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Si kecil yang memiliki tawakkal yang tinggi kepada Allah. Cukuplah Allah baginya. Tidak mengharap manusia tapi hanya Allah semata. Mungkin ada yang berkata, betapa anak ini telah menolak rezeki yang Allah kirimkan untuknya&#8230;atau mungkin juga ada yang berkata, anak ini telah menolak ketulusan hati insan yang ingin mendapatkan ganjaran di sisi Allah..seharusnya si kecil ini menerima pelawaan dengan hati terbuka..</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Hakikatnya&#8230;insan kerdil ini telah melalui jerih derita yang hebat lantaran pemergian ayah dan ibu tercinta dan tinggallah dia sendiri..Di saat tiada sesiapa di sisinya..hanya Allah tempat pengharapan, pengaduan dan pemberi rezekinya..Insan kerdil ini telah merasakan akan kelazatan tawakkal dan iman yang tinggi kepada Allah. Merasakan manisnya berpaut hanya pada Allah..Merasakan nikmatnya apabila menancapkan dalam hatinya, Cukuplah Allah baginya&#8230;Pasti iman yang sekuat ini tidak akan menukarkannya dengan bergantung kepada insan, di saat dia telah merasakan segala kenikmatan sebagai seorang hamba Allah yang bergantung hanya pada Allah..</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em><strong><span style="text-decoration:underline;">Cerita Seorang Teman</span></strong></em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Suatu ketika dia sedang menghadapi masalah kewangan namun tidak diceritakan pada sesiapapun kerana terpahat kukuh dihatinya, Allah akan mencukupkannya dan Allah telah menetapkan rezeki untuknya..Tidak perlu baginya untuk mengharap ihsan manusia..Cukuplah Allah baginya..</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Namun, takdir Allah suatu ketika..ada sahabat akrabnya mengetahui situasinya yang agak berat itu dan dengan setulus hati menghulur tangan untuk membantu&#8230;Berkali-kali ditolaknya dengan mengatakan: &#8220;Tidak mengapa sahabatku, cukuplah Allah bagiku&#8230;kuhargai keikhlasanmu itu&#8221;.Tetapi temannya tetap mendesak dan akhirnya temanku itu akur apabila sahabatnya berkata: &#8221; Mengapakah dirimu tidak mahu kumendapatkan ganjaran pahala dengan membantumu&#8230;Aku juga ingin pahala di sisi Allah sahabatku&#8221;.</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Sehinggalah suatu hari, terjadi kesalahfahaman antara mereka. Temanku itu tidak bersalah dan sahabatnya juga tidak bersalah cuma suatu silap faham. Betapa sahabat temanku itu telah merobek hati nurani temanku itu apabila terlanjur berkata: &#8221; Bukankah dulu di saat dirimu susah aku yang menolongmu&#8230;sekarang lunasi segala halmu sendiri..&#8221;</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Merintih sepi temanku ini kepada RabbNya.. &#8221; Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui, bahawa dulu diriku pernah menolak bantuannya kerana diriku hanya ingin mengharap padaMu&#8230;sedangkan kumenerimanya kerana keinginannya mendapat ganjaran di sisiMu&#8230;Silapkah aku Ya Allah?&#8221;..</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em>Merintihnya sayu di dalam hati&#8230;&#8221; Sahabatku&#8230;mengapakah kau ungkiti setiap kebaikan yang pernah kau lakukan kepadaku. Bukankah dengan ungkitan itu telah menghilangkan segala ganjaran pahala yang kau harapkan dulu..Mungkin dirimu terlupa sahabatku lantaran amarahmu, mungkin dirimu telah terlupa akan firman Allah&#8221;</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em><a rel="attachment wp-att-1601" href="http://ummuayman.wordpress.com/2009/11/30/si-kecil-menolak-ketulusan-hati-insan-kerana-cukup-allah-baginya/2_264half/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1601" title="2_264half" src="http://ummuayman.wordpress.com/files/2009/11/2_264half.gif" alt="" width="387" height="44" /></a>&#8220;Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)&#8230;&#8221;                                                                                                 [Surah Al Baqarah: 264]</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em><a rel="attachment wp-att-1589" href="http://ummuayman.wordpress.com/2009/11/30/si-kecil-menolak-ketulusan-hati-insan-kerana-cukup-allah-baginya/cukuplah-allah-bagi/"><img class="alignleft size-full wp-image-1589" title="cukuplah Allah bagi" src="http://ummuayman.wordpress.com/files/2009/11/cukuplah-allah-bagi.jpg" alt="" width="118" height="118" /></a>Sejak itu, temanku sangat berhati-hati mendapatkan bantuan insan lain. Jika ada yang ingin membantu akan dikatakan kepada insan itu: &#8220;Sahabatku, cukuplah Allah bagiku untuk membantuku di saat susah dan senang. Izinkan aku memautkan diriku sepenuhnya kepada Rabbku..Sesungguhnya sahabatku, diriku amat mengasihimu dan ku tidak mahu amal kebaikan yang kau lakukan hari ini sia-sia kerana ungkitan pada masa akan datang. Jika benar kau ingin menolongku dan mendapatkan ganjaran pahala di sisi Allah semata-mata, mahukah kau menjamin satu perkara padaku?&#8230;Dapatkah kau menjamin bahawa walauapapun yang terjadi akan datang, sesekali dirimu tidak akan mengungkitnya..Jika dapat kau menjamin perkara ini akan kuterima seikhlas hati bantuanmu demi keinginan mu memperoleh ganjaran pahala tetapi jika tidak dapat kau menjamin perkara ini&#8230;izinkan aku mengharap pertolongan pada Rabbku..cukuplah Allah bagiku sahabatku&#8221;&#8230;.</em></span></p>
<p><span style="color:#800000;"><em><a rel="attachment wp-att-1588" href="http://ummuayman.wordpress.com/2009/11/30/si-kecil-menolak-ketulusan-hati-insan-kerana-cukup-allah-baginya/cinta_allahpenuhi-hati/"><img title="cinta_Allahpenuhi hati" src="../files/2009/11/cinta_allahpenuhi-hati.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></em></span></p>
<p><em><br />
</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[al-'Aqidah al-Islamiyyah wa Ususuha by Shaykh 'Abd al-Rahman Hasan Habannakah al-Maydani]]></title>
<link>http://attahawi.com/2009/11/30/al-aqidah-al-islamiyyah-wa-ususuha-by-shaykh-abd-al-rahman-hasan-habannakah-al-maydani/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 00:39:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>at-Tahawi</dc:creator>
<guid>http://attahawi.com/2009/11/30/al-aqidah-al-islamiyyah-wa-ususuha-by-shaykh-abd-al-rahman-hasan-habannakah-al-maydani/</guid>
<description><![CDATA[The following book is one of the more modern works on &#8216;aqidah, but also arguably one of the be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The following book is one of the more modern works on &#8216;aqidah, but also arguably one of the better ones. Like the recently uploaded <em>Kubra al-Yaqiniyyat al-Kawniyyah</em>, the book is organized very well and simplifies issues of creed usually considered very difficult to understand.</p>
<p><a href="http://attahawi.wordpress.com/files/2009/11/aqidah-islamiyyah-habannakah.pdf">al-&#8217;Aqidah al-Islamiyyah wa Ususuha </a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Answering Those Who Altered the Religion of Jesus Christ (Translation of al-Jawab al-Sahih li man Baddala Din al-Masih) by Hafiz Ibn Taymiyyah]]></title>
<link>http://attahawi.com/2009/11/30/answering-those-who-altered-the-religion-of-jesus-christ-translation-of-al-jawab-al-sahih-li-man-baddala-din-al-masih-by-hafiz-ibn-taymiyyah/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 00:27:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>at-Tahawi</dc:creator>
<guid>http://attahawi.com/2009/11/30/answering-those-who-altered-the-religion-of-jesus-christ-translation-of-al-jawab-al-sahih-li-man-baddala-din-al-masih-by-hafiz-ibn-taymiyyah/</guid>
<description><![CDATA[The attached book is a translation of one of Hafiz Ibn Taymiyyah&#8217;s several books written in re]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The attached book is a translation of one of Hafiz Ibn Taymiyyah&#8217;s several books written in response to Christian beliefs. The book was abridged by Ash-Shahhat Ahmad at-Tahhan and then later translated by Bayan Translation Services.</p>
<p><a href="http://attahawi.wordpress.com/files/2009/11/answering-those-who-altered-the-religion-of-jesus-christ-shaykh-al-islam-ibn-taymiyyah.pdf">Answering Those Who Altered the Religion of Jesus Christ</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kubra al-Yaqiniyyat al-Kawniyyah by Shaykh Muhammad Sa'id Ramadan al-Buti]]></title>
<link>http://attahawi.com/2009/11/30/kubra-al-yaqiniyyat-al-kawniyyah-by-shaykh-muhammad-said-ramadan-al-buti/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 00:09:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>at-Tahawi</dc:creator>
<guid>http://attahawi.com/2009/11/30/kubra-al-yaqiniyyat-al-kawniyyah-by-shaykh-muhammad-said-ramadan-al-buti/</guid>
<description><![CDATA[Here is Shaykh Muhammad Sa`id Ramadan al-Buti’s masterful work on Islamic creed, Kubra al-Yaqiniyyat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Here is Shaykh Muhammad Sa`id Ramadan al-Buti’s masterful work on Islamic creed, Kubra al-Yaqiniyyat al-Kawniyyah:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://seekerofthesacred.wordpress.com/files/2009/11/kubra-al-yaqiniyyat-al-kawniyyah.pdf"><a href="http://attahawi.wordpress.com/files/2009/11/kubra-al-yaqiniyyat-al-kawniyyah.pdf">Kubra al-Yaqiniyyat al-Kawniyyah</a></a></p>
<p>As well as a link to his audio explanation of the book:</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://naseemalsham.com/lessons.php?ID=171">Audio Lessons of the Book by Shaykh Buti<br />
</a><br />
Both were provided courtesy of SeekeroftheSacred</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengobati Penyakit Hati Dari Syetan]]></title>
<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2009/11/30/mengobati-penyakit-hati-dari-syetan/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 22:51:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
<guid>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2009/11/30/mengobati-penyakit-hati-dari-syetan/</guid>
<description><![CDATA[Ini adalah bab terpenting dan paling bermanfaat di antara bab-bab buku ini. Orang-orang  ahli suluk*]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ini adalah bab terpenting dan paling bermanfaat di antara bab-bab buku ini. Orang-orang  ahli suluk*)  tidak memperhatikannya sebagaimana perhatian mereka terhadap aib dan keburukan nafsu.Dalam bab tersebut mereka sangat mendalaminya, tetapi tidak dalam bab ini.</p>
<p>Orang yang merenungkan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah tentu akan mendapatkan bahwa penyebutan keduanya terhadap masalah syetan, tipu daya dan untuk memeranginya lebih banyak daripada penyebutan-nya kepada masalah nafsu. Nafsu madzmumah (yang buruk dan jahat) disebutkan dalam firman-Nya,</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.&#8221;</em> (Yusuf: 53).</p>
<p>Nafsu lawwamah (yang suka mencela) disebutkan dalam firman-Nya,</p>
<p><em>&#8220;Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).&#8221;</em> (Al-Qiyamah: 2).</p>
<p>Demikian juga nafsu madzmumah disebutkan dalam firman-Nya,</p>
<p><em>&#8220;Dan (ia) menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.&#8221; </em>(An-Nazi&#8217;at: 40).</p>
<p>Adapun masalah syetan, ia disebutkan dalam banyak tempat di dalam Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Peringatan Tuhan kepada hamba-Nya dari godaan dan tipu daya syetan lebih banyak daripada peringatan-Nya dari nafsu, dan itulah kelaziman yang sebenarnya. Sebab kejahatan dan rusaknya nafsu adalah karena godaannya. Maka godaan syetan itulah yang menjadi poros dan sumber kejahatan atau ketaatannya.</p>
<p>Allah memerintahkan hamba-Nya agar berlindung dari syetan saat membaca Al-Qur&#8217;an atau lainnya. Dan ini adalah karena betapa sangat diperlukannya berlindung diri dari syetan. Sebaliknya, Allah tidak memerintahkan, meski dalam satu ayat, agar kita berlindung dari nafsu.</p>
<p>Berlindung dari kejahatan nafsu hanya kita dapatkan dalam Khuthbatul Hajah dalam sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>&#8220;Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan nafsu kami dan dari keburukan-keburukan perbuatan kami.&#8221; Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menghimpun isti&#8217;adzah (permohonan perlindungan) dari kedua hal tersebut (syetan dan nafsu) dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, &#8220;Bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berkata, Wahai Rasulullah! Ajarilah aku sesuatu yang harus kukatakan jika aku berada pada pagi dan petang hari&#8217; Beliau meniawab. &#8216;Katakanlah. &#8220;Ya Allah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Pencipta segenap langit dan bumi, Tuhan dan pemilik segala sesuatu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan nafsuku dan dari kejahatan syetan serta sekutunya, (aku berlindung kepada-Mu) dari melakukan kejahatan terhadap nafsuku atau aku lakukannya kepada seorang Muslim.&#8221; Katakanlah hal ini jika engkau berada pada pagi dan petang hari dan saat engkau akan tidur. </em>(Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia men-shahih-kannya, Abu Daud, Ad-Darimi dengan sanad shahih).</p>
<p>Hadits di atas mengandung isti&#8217;adzah dari semua kejahatan, sebab-sebab serta tujuannya. Dan bahwa semua kejahatan itu tak akan keluar dari nafsu atau syetan. Adapun tujuannya, ia bisa kembali kepada yang melakukannya atau kepada saudaranya sesama Muslim. Jadi hadits di atas menjelaskan dua sumber kejahatan yang dari keduanya semua kejahatan berasal dan menjelaskan dua macam tujuan kejahatan itu menimpa..</p>
<p>(Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menanti Tanda-tanda Kekuasaan Allah di Akhir Zaman]]></title>
<link>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2009/11/29/menanti-tanda-tanda-kekuasaan-allah-di-akhir-zaman/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 03:50:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>shirotholmustaqim</dc:creator>
<guid>http://shirotholmustaqim.wordpress.com/2009/11/29/menanti-tanda-tanda-kekuasaan-allah-di-akhir-zaman/</guid>
<description><![CDATA[Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ ي]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi</p>
<p>يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُواْ إِنَّا مُنتَظِرُوْنَ</p>
<p>“Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah oleh kalian sesungguhnya kamipun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)</p>
<p>Penjelasan Makna Ayat<br />
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata:<br />
“Pada hari datangnya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Rabbmu, yang merupakan kejadian yang luar biasa, yang dengannya diketahui bahwa kehancuran telah demikian dekat, dan kiamat tidak lama lagi. Maka tidak bermanfaat keimanan dari satu jiwa yang sebelumnya tidak beriman atau yang belum membuahkan kebaikan dalam keimanannya, yakni apabila telah dijumpai sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak bermanfaat keimanan seorang yang kafir apabila dia hendak beriman. Tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin yang kurang beramal untuk semakin bertambah keimanannya setelah itu. Namun yang bermanfaat bagi dia adalah keimanan yang dia miliki sebelum itu serta kebaikan yang dia miliki yang diharapkan (bermanfaat) sebelum datangnya sebagian dari tanda-tanda tersebut. Dan hikmah dari semua itu jelas, di mana keimanan yang mendatangkan manfaat adalah keimanan terhadap perkara yang ghaib, dan merupakan pilihan dari seorang hamba (untuk beriman). Adapun bila tanda-tanda kekuasaan tersebut telah nampak, maka telah menjadi perkara yang disaksikan (bukan ghaib), sehingga keimanan tidak lagi berfaedah. Sebab, hal tersebut menyerupai keimanan yang terpaksa. Seperti keimanan orang yang tenggelam, yang terbakar, dan orang-orang semisalnya yang apabila telah melihat kematian, dia pun berusaha melepaskan apa yang dahulu dia yakini. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:<!--more--></p>
<p>فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِيْنَ. فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيْمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّةَ اللهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُوْنَ</p>
<p>“Maka tatkala mereka melihat adzab Kami, mereka berkata: ‘Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah.’ Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku atas hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu, binasalah orang-orang kafir.” (Ghafir: 84-85)<br />
Dan banyak hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa yang dimaksud dengan sebagian dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya. Dan di saat manusia melihatnya, maka mereka pun beriman. Namun keimanan mereka tidaklah bermanfaat dan telah tertutup pintu taubat atas mereka. Tatkala ini merupakan janji yang dinanti terhadap orang-orang yang mendustakan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka beserta para pengikutnya menantikan kehancuran dan musibah, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan: ‘Katakanlah: tunggulah (munculnya salah satu dari tanda tersebut), sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang menunggunya,’ sehingga kalian akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih berhak mendapatkan keselamatan.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)<br />
Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Para ulama berkata: ‘Tidak bermanfaatnya keimanan seseorang di kala terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, karena telah masuk ke dalam hati mereka perasaan takut yang melenyapkan setiap syahwat hawa nafsunya dan melemahkan setiap kekuatan dari kekuatan tubuhnya. Sehingga, manusia seluruhnya beriman karena mereka yakin akan dekatnya hari kiamat. Seperti keadaan orang yang mendekati kematian, yang memutuskannya dari berbagai dorongan melakukan perbuatan maksiat serta melemahkan tubuh-tubuh mereka. Barangsiapa bertaubat dalam keadaan seperti ini tidaklah diterima taubatnya, seperti tidak diterimanya taubat orang yang mendekati kematian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ</p>
<p>“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dihasankan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ no. 1903)<br />
Yaitu, selama ruhnya belum sampai ke ujung tenggorokan. Waktu itu merupakan saat di mana seseorang melihat secara langsung tempatnya di dalam surga atau neraka. Maka orang yang menyaksikan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya juga seperti itu (keadaannya). Oleh karenanya, sepantasnyalah setiap orang yang telah menyaksikan peristiwa tersebut atau yang memiliki hukum yang sama dengan yang menyaksikannya, taubatnya tertolak selama hidupnya. Sebab ilmunya tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta janji-janji-Nya telah menjadi sesuatu yang terpaksa.” (Tafsir Al-Qurthubi)<br />
Ibnu Katsir rahimahullahu juga mengatakan: “Jika seorang kafir menampakkan keimanannya pada saat itu, maka tidak diterima darinya. Adapun bila dia seorang mukmin sebelum hari itu, jika dia baik dalam beramal, maka dia dalam kebaikan yang besar. Namun jika dia mengotori (imannya), lalu dia bertaubat saat itu, maka tidak diterima taubatnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)</p>
<p><strong>Tertutupnya Pintu Taubat</strong><br />
Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang akan munculnya suatu waktu di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak lagi menerima taubat orang-orang yang hendak bertaubat di masa itu. Yaitu di kala terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, yang menandakan akan berakhirnya zaman dan bangkitnya hari kiamat. Di antara dalil-dalil yang menunjukkan tentang penafsiran sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa yang dimaksud adalah tanda-tanda hari kiamat yang besar tersebut, adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>ثَلاَثٌ إِذَا خَرَجْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا؛ طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَالدَّجَّالُ، وَدَابَّةُ اْلأَرْضِ</p>
<p>“Ada tiga perkara yang jika telah muncul maka tidak bermanfaat keimanan seseorang yang tidak beriman sebelum munculnya atau dalam keimanannya tidak membuahkan kebaikan; Terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, (munculnya) Dajjal, dan (keluarnya) daabbah (binatang melata yang berdialog dengan manusia dan memberitakan kepada mereka akan dekatnya hari kiamat).” (HR. Muslim, Kitabul Iman, Bab Az-Zaman Al-Ladzi la Yuqbalu fihi Al-Iman, 1/158)<br />
Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ آمَنَ مَنْ عَلَيْهَا فَذَاكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا</p>
<p>“Tidak tegak hari kiamat hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya. Apabila telah terbit demikian, dan manusia telah melihatnya maka merekapun beriman. Dan itu merupakan hari yang tidak bermanfaat keimanan bagi satu jiwa, yang dia tidak beriman sebelumnya atau tidak menghasilkan kebaikan pada keimanannya.” (HR. Al-Bukhari no. 4359 dan Muslim, 1/157)<br />
Diriwayatkan juga dari Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan:</p>
<p>أَنَّ اللهَ جَعَلَ بِالْمَغْرِبِ بَابًا عَرْضُهُ مَسِيْرَةُ سَبْعِيْنَ عَامًا لِلتَّوْبَةِ، لاَ يُغْلَقُ مَا لَمْ تَطْلُعِ الشَّمْسُ مِنْ قِبَلِهِ وَذَلِكَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: {يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا} اْلآيَةَ</p>
<p>“Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat sebuah pintu taubat di sebelah barat yang luasnya sejarak perjalanan 70 tahun, yang tidak akan ditutup selama matahari belum terbit dari tempat tersebut. Dan itulah maksud dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<p>يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا</p>
<p>‘Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman…’.”(HR. At-Tirmidzi no. 3536, dan beliau menshahihkannya serta dihasankan Al-Albani rahimahullahu)<br />
Al-Imam Muslim rahimahullahu juga meriwayatkan dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata: ‘Aku telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam satu hadits yang tidak aku lupakan. Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya tanda hari kiamat yang paling pertama keluar adalah terbitnya matahari dari tempat terbenamnya’.”<br />
Juga diriwayatkan dari hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada suatu hari: “Tahukah kalian ke mana perginya matahari ini?” Mereka (para sahabat) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau mengatakan: “Sesungguhnya dia pergi ke tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu dia merendahkan diri sambil sujud. Senantiasa dia dalam keadaan demikian hingga dikatakan kepadanya: ‘Terbitlah dari tempat yang engkau kehendaki.’ Dia pun terbit dari tempat biasanya terbit. Lalu dia terus berjalan, dalam keadaan manusia tidak terkejut sedikit pun akan hal itu. Sampai dia kembali berhenti lalu merendahkan diri sambil sujud di tempat menetapnya di bawah ‘Arsy. Dan manusia tidak terkejut sedikit pun dari hal itu. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Terbitlah dari tempat terbenammu!’ Lalu terbitlah dia dari tempat terbenamnya.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian hari apa itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau menjawab: “Itu adalah hari yang tidak bermanfaat keimanan bagi satu jiwa yang tidak beriman sebelumnya atau keimanan yang padanya tidak menghasilkan kebaikan.” (HR. Muslim, 1/159)<br />
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ini merupakan riwayat-riwayat yang saling menguatkan yang sepakat menunjukkan bahwa jika matahari terbit dari tempat terbenamnya, tertutuplah pintu taubat dan tidak terbuka lagi. Dan hal tersebut tidak dikhususkan pada saat hari terbitnya (dari tempat terbenamnya saja), namun terus berlanjut hingga hari kiamat.” (Fathul Bari, 11/354)</p>
<p><strong>Pengingkaran Ahlul Bid’ah tentang Kejadian Ini</strong></p>
<p>Seluruh riwayat ini menunjukkan bahwa kejadian ini pasti akan terjadi di akhir zaman. Dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali dari kalangan ahlul bid’ah, seperti Khawarij dan Mu’tazilah.<br />
Al-Qurthubi rahimahullahu berkata dalam Tafsir-nya setelah beliau menyebutkan hadits-hadits tentang tanda-tanda hari kiamat tersebut: “Ini semua telah didustakan oleh kaum Khawarij dan Mu’tazilah.” Lalu beliau menyebut atsar ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya rajam itu benar, maka janganlah kalian tertipu. Dan hujjah yang menunjukkan hal tersebut bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegakkan rajam, dan Abu Bakr pun telah merajam, dan sesungguhnya kami pun telah melaksanakan rajam setelah mereka berdua. Dan akan muncul satu kaum dari kalangan umat ini yang akan mendustakan rajam, mendustakan Dajjal, mendustakan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, mendustakan adanya siksa kubur, mendustakan syafaat, mendustakan kaum yang keluar dari neraka setelah mereka hangus terbakar.” (Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 7/13364, Ahmad, 1/23. Namun dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama ‘Ali bin Zaid bin Jud’an, dia lemah karena hafalannya yang buruk)<br />
Ibnu Abdil Barr rahimahullahu juga berkata dalam kitabnya At-Tamhid (23/98) setelah menyebutkan atsar ini: “Seluruh Khawarij dan Mu’tazilah mendustakan enam perkara ini. Sedangkan Ahlus Sunnah membenarkannya dan merekalah al-jamaah serta hujjah membantah orang-orang yang menyelisihi Ahlus Sunnah.”</p>
<p><strong>Pengingkaran Rasyid Ridha tentang Sujudnya Matahari di Bawah ‘Arsy</strong></p>
<p>Di antara orang-orang yang mengingkari perkara ini adalah Muhammad Rasyid Ridha. Dalam tafsirnya Al-Manar dia berkata setelah menyebutkan hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu tentang sujudnya matahari di bawah ‘Arsy: “Hadits ini diriwayatkan oleh dua Syaikh (Al-Bukhari dan Muslim) dari berbagai jalan dari Ibrahim bin Yazid bin Syarik, dari Abu Dzar. Dan dia –walaupun di-tsiqah-kan oleh segolongan orang– adalah mudallis. Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata: ‘Dia tidak bertemu Abu Dzar.’ Seperti yang dikatakan Ad-Daruquthni rahimahullahu: ‘Dia tidak mendengar dari Hafshah dan Aisyah, dan tidak menjumpai zaman keduanya.’ Dan seperti yang disebutkan oleh Ibnul Madini rahimahullahu: ‘Dia tidak mendengar dari ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Hal itu disebutkan dalam Tahdzib At-Tahdzib. Dan telah diriwayatkan selain riwayat ini dari para sahabat dengan cara ‘an’anah1, sehingga ada kemungkinan yang memberitakan kepadanya dari mereka adalah orang yang tidak terpercaya. Maka, jika pada sebagian riwayat Shahihain dan kitab-kitab Sunan berpenyakit seperti ini, ditambah lagi ada kemungkinan dimasuki kisah Israiliyat dan kekeliruan penukilan secara makna, lalu bagaimana lagi dengan riwayat-riwayat yang ditinggalkan oleh dua Syaikh (Al-Bukhari dan Muslim) dan yang ditinggalkan oleh periwayat kitab-kitab Sunan?”<br />
Inilah perkataannya. (Tafsir Al-Manar, 8/211-212. Lihat kitab Asyrath As-Sa’ah, karya Yusuf bin Abdillah Al-Wabil hal. 394)<br />
Dan ini merupakan perkataan yang batil, yang dijadikan senjata oleh ahlul bid’ah untuk menolak hadits-hadits yang shahih yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menolak apa yang telah menjadi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Adapun jawaban terhadap syubhat Rasyid Ridha adalah sebagai berikut:<br />
Pertama: dalam hadits tersebut tidak terdapat riwayat Ibrahim bin Yazid At-Taimi dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Namun yang benar adalah riwayat Ibrahim bin Yazid At-Taimi dari ayahnya dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Dan ayahnya bernama Yazid bin Syarik At-Taimi Al-Kufi. Beliau meriwayatkan hadits secara langsung dari para shahabat, di antaranya: ‘Umar bin Al-Khaththab, ‘Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar, Ibnu Mas’ud dan yang lainnya radhiyallahu ‘anhum. Beliau adalah seorang perawi yang tsiqah.<br />
Kedua: dalam riwayat tersebut, Ibrahim bin Yazid telah menyebutkan secara jelas bahwa beliau mendengarkan hadits secara langsung dari ayahnya tanpa perantara. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Muslim, dia mengatakan: “Dari Ibrahim bin Yazid At-Taimi bahwa dia mendengar –sebagaimana yang aku ketahui– dari ayahnya, dari Abu Dzar.” Maka hilanglah persangkaan tuduhan tadlis dalam riwayat tersebut.<br />
Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah terus menerima hadits ini tanpa ada penolakan dari mereka. Abu Sulaiman Al-Khaththabi rahimahullahu berkata ketika menjelaskan hadits Abu Dzar tersebut: “Pada perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Tempat menetapnya di bawah Arsy’, kita tidak mengingkari bahwa matahari memiliki tempat menetap di bawah ‘Arsy, dari sisi yang kita tidak mampu menjangkaunya, tidak bisa kita saksikan. Dan sesungguhnya bila kita dikabarkan tentang perkara ghaib, maka kita tidak mendustakannya dan tidak menanyakan bagaimana, sebab ilmu kita tidak mampu menjangkaunya.”</p>
<p>An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Adapun tentang sujudnya matahari, itu adalah sebuah jangkauan ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah ciptakan padanya.” (lihat Asyrath As-Sa’ah, karya Yusuf Al-Wabil hal. 385)<br />
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita sekalian dari penyimpangan yang menyesatkan. Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<p>1 Maksudnya adalah periwayatan dengan lafadz ‘an, yang berarti dari. Yakni dia tidak menjelaskan apakah dia mendengar langsung dari gurunya atau tidak.</p>
<p>(Sumber : http:/www.Asysyariah.com)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
