<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>arsip-nasehat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/arsip-nasehat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "arsip-nasehat"</description>
	<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 16:12:12 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[ Pelajaran Dari Siroh Nabi Musa 'Alaihis Salam]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/06/27/pelajaran-dari-siroh-nabi-musa-alaihis-salam-2/</link>
<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 12:52:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/06/27/pelajaran-dari-siroh-nabi-musa-alaihis-salam-2/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Musa &#8216;Alaihis Salam merupakan Nabi Bani Israil teragung. Syari’at dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;margin:0 0 0.0001pt;" class="MsoBodyTextIndent3"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em> merupakan Nabi Bani Israil teragung. Syari’at dan kitabnya, Taurat, merupakan rujukan seluruh nabi-nabi dari kalangan Bani Israil dan ulama mereka. Pengikut beliau, juga termasuk yang terbanyak setelah ummat Nabi Muhammad <em>Shallallaahu alaihi wa Sallam</em>. Beliau lahir saat Fir’aun melakukan penindasan yang sadis terhadap Bani Israil. Bayi laki-laki mereka yang baru lahir dibunuh dan kaum wanita ditindas dengan menjadikannya sebagai pengabdi kaum laki-laki dan sasaran penghinaan.<!--more--></p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Ketika lahir, ibunda beliau merasa was-was, khawatir anaknya jatuh ke tangan Fir’aun, sebab hal itu bukan mustahil terjadi, mengingat penguasa yang diktator ini banyak mengirim mata-matanya ke seluruh penjuru negeri, khususnya untuk menyelidiki aktivitas kaum wanita Bani Israil yang hamil dan jenis kelamin bayi-bayi mereka yang lahir. Dan apabila yang ditemukan adalah bayi laki-laki, maka  dibunuh.</p>
<p>Secara kebetulan, rumah keluarga beliau ditakdirkan Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala  </em>terletak di dataran yang menjorok ke Sungai Nil. Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>memberikan ilham kepada ibundanya, agar meletakkan sang anak ke dalam peti, lalu dihanyutkan ke laut, sembari mengikatnya dengan tali agar tidak dibawa oleh arus air yang deras. Tetapi, sebagai kasih sayang Allah terhadap ibundanya,  Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> mewahyukan kepadanya, yang artinya <em>“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ; “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguh-nya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.</em> (QS: Al-Qashash: 7)</p>
<p>Pada suatu hari, tatkala sang ibu menghayutkan peti yang berisi sang bayi tersayang ke laut, tiba-tiba tali pengikatnya lepas, sehingga terbawa oleh arus. Rupanya,  Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> menakdirkan peti tersebut jatuh ke tangan keluarga Fir’aun, kemudian diserahkan kepada isteri Fir’aun, Asiah.</p>
<p>Saat melihat rupa bayi tersebut, dia sangat senang sekali. Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> telah menumbuhkan rasa cinta di hati orang-orang terhadapnya, sehingga berita tentangnya pun tersiar ke seluruh pelosok negeri. Juga, tak ayal berita itu pun sampai ke telinga Fir’aun lalu dia mengirimkan bala tentara untuk menyelidiki dan membunuhnya. Namun, sang istri yang baik hati, memintanya agar tidak membunuh sang anak, sebab dia begitu menyenangkan dan siapa tahu kelak bisa berguna dan benar-benar menjadi anak mereka berdua. Karena bujukan sang istri, sang bayi itu pun  selamat dari pembunuhan.</p>
<p>Saat yang sama istri Fir’aun sendiri cepat tanggap dalam memberikan layanan terhadap sang bayi. Dia mengundang para penyusu bayi dari pelosok negeri dan meminta mereka mencoba untuk menyusui sang anak, tetapi tak satu pun dari mereka yang bisa melakukannya. Karena bingung, mereka membawanya ke luar untuk berjalan-jalan dan berharap  Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> mempertemukannya dengan seseorang yang tepat. Dan akhirnya, melalui saudara perempuan Nabi Musa <em> &#8216;Alaihis Salam </em>sendiri ia menemukan  penyusu yang (juga) tak lain adalah ibu kandung sang bayi.</p>
<p>Terkait dengan kisah Nabi Musa<em> &#8216;Alaihis Salam</em>, di sini akan dipaparkan lima belas pelajaran penting yang dapat dipetik dari sekian banyak pelajaran penting lainnya. Diantara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:</p>
<p align="justify">
<ol>
<li>Kasih sayang Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> terhadap ibu nabi Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em>. Di antara tanda-tanda kasih sayang tersebut: Pertama, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>      memberikan ilham kepada ibunda Nabi Musa, sehingga dengan cara itu Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyelamatkan anak kesayang-annya yang dibawa arus Sungai Nil. Kedua, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyampaikan berita gembira bahwa Dia      akan mengem-balikan sang anak ke pangkuan ibundanya lagi. Ketiga, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah mengharamkan air susu wanita-wanita penyusu lainnya masuk ke mulut anaknya yakni sang bayi, padahal dia sangat membutuhkan air susu tersebut.</li>
<li>Bahwa tanda-tanda yang diberikan oleh Allah dan pelajaran yang dapat diambil dari umat-umat terdahulu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang beriman, sebagaimana Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman, yang artinya: <em>“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman”.</em> (QS: Al-Qashash: 3)</li>
<li>Bahwa apabila Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>menghendaki sesuatu, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan      menyediakan sebab-sebabnya dan akan mendatang-kannya secara bertahap,      bukan sekaligus.</li>
<li>Umat yang lemah betapa pun kondisi lemahnya, tidak semestinya diliputi oleh kemalasan di dalam merebut kembali hak-haknya, apalagi sampai berputus asa untuk meraih hal yang lebih tinggi, khususnya bila kondisi mereka terzhalimi.</li>
<li>Bahwa selama umat ini terhina dan tertindas, namun tidak bergerak menuntutnya, maka tidak mungkin dapat menjalankan urusan agamanya secara bebas. Demikian pula dengan urusan duniawinya.</li>
<li>Bahwa ketakutan yang bersifat alami terhadap makhluk, tidak menafi-kan keimanan, apalagi menghilangkan-nya. Hal inilah yang terjadi terhadap Ibunda Musa dan Musa sendiri.</li>
<li>Bahwa iman bisa      bertambah dan berkurang berdasarkan firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: <em>“Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)” </em>(QS: Al-Qashash: 10)<br />
Yang dimaksud dengan iman di dalam ayat ini adalah bertambah      ketentramannya.</li>
<li>Di antara nikmat Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang paling besar terhadap seorang hamba adalah bersemayamnya kamantapan di dalam dirinya, saat menghadapi hal-hal yang merisaukan dan menakutkan, sebab keimanan dan pahala yang bertambah memungkinkannya untuk mengung-kapkan perkataan yang benar dan tindakan yang tepat, sehingga pandangan dan pikirannya semakin mantap.</li>
<li>Meskipun seorang hamba sudah mengetahui bahwa Qadha’ dan Taqdir Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> adalah haq dan janji-Nya pasti akan terjadi, namun dia tidak boleh mengecilkan arti sebuah usaha yang dapat berguna baginya dan bisa menjadi sebab keberhasilannya di dalam mencapai usaha tersebut. Usaha yang dilakukan ibu Nabi Musa adalah mengutus saudara perempuannya, agar mencari dimana keberadaan bayi Nabi Musa.</li>
<li>Kisah Nabi Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em> mengisyaratkan dibolehkannya wanita keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula, dibolehkan baginya berbicara dengan kaum lelaki bilamana tidak terdapat kendala dan bahaya. Hal ini pernah dilakukan oleh saudara perempuan Nabi Musa dan kedua anak perempuan Nabi Syu’aib<em> &#8216;Alaihis Salam.</em></li>
<li>Syari’at umat terdahulu juga berlaku terhadap ummat ini, manakala di dalam syari’at kita tidak ada yang menghapus hukumnya. Indikasinya, tindakan ibunda Musa mengambil upah menyusui anaknya sendiri dari keluarga Fir’aun. Tindakan ini dibolehkan juga dalam syari’at kita karena tidak ada dalil yang menghapus hukumnya.</li>
<li>Bahwa membunuh seorang kafir yang sudah memiliki ikatan dalam suatu perjanjian atau adat, adalah tidak boleh. Ini dapat dipahami dari penyesalan yang ditampakkan oleh Nabi Musa saat secara tidak disadari-nya telah membunuh seorang Qibthiy. Beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> atas perbuatannya tersebut.</li>
<li>Manakala khawatir diri akan binasa dengan cara sewenang-wenang (tanpa haq) bila menetap di suatu tempat, maka hendaknya tidak nekad tinggal di sana dan menyerah dengan kondisi tersebut.</li>
<li>Bila harus melakukan suatu pilihan terpahit antara dua hal yang sama-sama dapat menimbulkan kerusakan, maka wajib untuk melakukan hal yang lebih ringan dan aman di antara keduanya sehingga dengan begitu, dapat mencegah timbulnya hal yang paling fatal dan berbahaya dari salah satu yang lainnya. Di dalam hal ini, Nabi Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em> memilih melarikan diri menuju ke sebagian negeri yang amat jauh dan tidak pernah dilalui sebelumnya. Tentu, pilihan ini lebih menjanjikan dan selamat, meskipun pahit ketimbang tetap tinggal di Mesir.</li>
<li>Dalam kisah Nabi      Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em> terdapat suatu isyarat yang manis, terkait dengan seorang penuntut ilmu syar’i atau katakanlah seorang Mujtahid. Yakni, bahwa bila tidak dapat menentukan mana di antara dua pendapat yang lebih kuat padahal sudah berusaha semaksimal mungkin dan dengan niat yang ikhlas <em>lillahi ta’ala</em>, maka hendaknya meminta petunjuk kepada Rabb agar dibimbing dalam menentukan antara dua pendapat tersebut. Kondisi inilah yang dihadapi oleh Musa<em> &#8216;Alaihis Salam</em> tatkala sampai di kota Madyan dimana dia tidak dapat menentukan jalur mana yang harus dilaluinya. Beliau berdo’a melalui firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: <em>“Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”.</em> (QS: Al-Qashash:      22)</li>
</ol>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Demikian diantara pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Musa &#8216;Alaihis Salam di dalam surat al-Qashash khususnya, dan di dalam al-Qur’an umumnya.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Qashash Al-Anbiya; fushul fî dzikri ma qashsha-llahu ‘alaina fi kitabihi min Akhbar al-Anbiya’ maa Aqwamihim” , karya Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nashir as-Sa’diy, dengan sedikit perubahan dan tambahan)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Pelajaran Dari Siroh Nabi Musa 'Alaihis Salam]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/06/27/pelajaran-dari-siroh-nabi-musa-alaihis-salam/</link>
<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 12:52:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/06/27/pelajaran-dari-siroh-nabi-musa-alaihis-salam/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Musa &#8216;Alaihis Salam merupakan Nabi Bani Israil teragung. Syari’at dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;margin:0 0 0.0001pt;" class="MsoBodyTextIndent3"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em> merupakan Nabi Bani Israil teragung. Syari’at dan kitabnya, Taurat, merupakan rujukan seluruh nabi-nabi dari kalangan Bani Israil dan ulama mereka. Pengikut beliau, juga termasuk yang terbanyak setelah ummat Nabi Muhammad <em>Shallallaahu alaihi wa Sallam</em>. Beliau lahir saat Fir’aun melakukan penindasan yang sadis terhadap Bani Israil. Bayi laki-laki mereka yang baru lahir dibunuh dan kaum wanita ditindas dengan menjadikannya sebagai pengabdi kaum laki-laki dan sasaran penghinaan.<!--more--></p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Ketika lahir, ibunda beliau merasa was-was, khawatir anaknya jatuh ke tangan Fir’aun, sebab hal itu bukan mustahil terjadi, mengingat penguasa yang diktator ini banyak mengirim mata-matanya ke seluruh penjuru negeri, khususnya untuk menyelidiki aktivitas kaum wanita Bani Israil yang hamil dan jenis kelamin bayi-bayi mereka yang lahir. Dan apabila yang ditemukan adalah bayi laki-laki, maka  dibunuh.</p>
<p>Secara kebetulan, rumah keluarga beliau ditakdirkan Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala  </em>terletak di dataran yang menjorok ke Sungai Nil. Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>memberikan ilham kepada ibundanya, agar meletakkan sang anak ke dalam peti, lalu dihanyutkan ke laut, sembari mengikatnya dengan tali agar tidak dibawa oleh arus air yang deras. Tetapi, sebagai kasih sayang Allah terhadap ibundanya,  Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> mewahyukan kepadanya, yang artinya <em>“Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa ; “Susuilah dia dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguh-nya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.</em> (QS: Al-Qashash: 7)</p>
<p>Pada suatu hari, tatkala sang ibu menghayutkan peti yang berisi sang bayi tersayang ke laut, tiba-tiba tali pengikatnya lepas, sehingga terbawa oleh arus. Rupanya,  Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> menakdirkan peti tersebut jatuh ke tangan keluarga Fir’aun, kemudian diserahkan kepada isteri Fir’aun, Asiah.</p>
<p>Saat melihat rupa bayi tersebut, dia sangat senang sekali. Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> telah menumbuhkan rasa cinta di hati orang-orang terhadapnya, sehingga berita tentangnya pun tersiar ke seluruh pelosok negeri. Juga, tak ayal berita itu pun sampai ke telinga Fir’aun lalu dia mengirimkan bala tentara untuk menyelidiki dan membunuhnya. Namun, sang istri yang baik hati, memintanya agar tidak membunuh sang anak, sebab dia begitu menyenangkan dan siapa tahu kelak bisa berguna dan benar-benar menjadi anak mereka berdua. Karena bujukan sang istri, sang bayi itu pun  selamat dari pembunuhan.</p>
<p>Saat yang sama istri Fir’aun sendiri cepat tanggap dalam memberikan layanan terhadap sang bayi. Dia mengundang para penyusu bayi dari pelosok negeri dan meminta mereka mencoba untuk menyusui sang anak, tetapi tak satu pun dari mereka yang bisa melakukannya. Karena bingung, mereka membawanya ke luar untuk berjalan-jalan dan berharap  Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em> mempertemukannya dengan seseorang yang tepat. Dan akhirnya, melalui saudara perempuan Nabi Musa <em> &#8216;Alaihis Salam </em>sendiri ia menemukan  penyusu yang (juga) tak lain adalah ibu kandung sang bayi.</p>
<p>Terkait dengan kisah Nabi Musa<em> &#8216;Alaihis Salam</em>, di sini akan dipaparkan lima belas pelajaran penting yang dapat dipetik dari sekian banyak pelajaran penting lainnya. Diantara pelajaran-pelajaran tersebut adalah:</p>
<p align="justify">
<ol>
<li>Kasih sayang Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> terhadap ibu nabi Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em>. Di antara tanda-tanda kasih sayang tersebut: Pertama, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>      memberikan ilham kepada ibunda Nabi Musa, sehingga dengan cara itu Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyelamatkan anak kesayang-annya yang dibawa arus Sungai Nil. Kedua, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyampaikan berita gembira bahwa Dia      akan mengem-balikan sang anak ke pangkuan ibundanya lagi. Ketiga, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah mengharamkan air susu wanita-wanita penyusu lainnya masuk ke mulut anaknya yakni sang bayi, padahal dia sangat membutuhkan air susu tersebut.</li>
<li>Bahwa tanda-tanda yang diberikan oleh Allah dan pelajaran yang dapat diambil dari umat-umat terdahulu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang beriman, sebagaimana Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman, yang artinya: <em>“Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman”.</em> (QS: Al-Qashash: 3)</li>
<li>Bahwa apabila Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>menghendaki sesuatu, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> akan      menyediakan sebab-sebabnya dan akan mendatang-kannya secara bertahap,      bukan sekaligus.</li>
<li>Umat yang lemah betapa pun kondisi lemahnya, tidak semestinya diliputi oleh kemalasan di dalam merebut kembali hak-haknya, apalagi sampai berputus asa untuk meraih hal yang lebih tinggi, khususnya bila kondisi mereka terzhalimi.</li>
<li>Bahwa selama umat ini terhina dan tertindas, namun tidak bergerak menuntutnya, maka tidak mungkin dapat menjalankan urusan agamanya secara bebas. Demikian pula dengan urusan duniawinya.</li>
<li>Bahwa ketakutan yang bersifat alami terhadap makhluk, tidak menafi-kan keimanan, apalagi menghilangkan-nya. Hal inilah yang terjadi terhadap Ibunda Musa dan Musa sendiri.</li>
<li>Bahwa iman bisa      bertambah dan berkurang berdasarkan firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: <em>“Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)” </em>(QS: Al-Qashash: 10)<br />
Yang dimaksud dengan iman di dalam ayat ini adalah bertambah      ketentramannya.</li>
<li>Di antara nikmat Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> yang paling besar terhadap seorang hamba adalah bersemayamnya kamantapan di dalam dirinya, saat menghadapi hal-hal yang merisaukan dan menakutkan, sebab keimanan dan pahala yang bertambah memungkinkannya untuk mengung-kapkan perkataan yang benar dan tindakan yang tepat, sehingga pandangan dan pikirannya semakin mantap.</li>
<li>Meskipun seorang hamba sudah mengetahui bahwa Qadha’ dan Taqdir Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> adalah haq dan janji-Nya pasti akan terjadi, namun dia tidak boleh mengecilkan arti sebuah usaha yang dapat berguna baginya dan bisa menjadi sebab keberhasilannya di dalam mencapai usaha tersebut. Usaha yang dilakukan ibu Nabi Musa adalah mengutus saudara perempuannya, agar mencari dimana keberadaan bayi Nabi Musa.</li>
<li>Kisah Nabi Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em> mengisyaratkan dibolehkannya wanita keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula, dibolehkan baginya berbicara dengan kaum lelaki bilamana tidak terdapat kendala dan bahaya. Hal ini pernah dilakukan oleh saudara perempuan Nabi Musa dan kedua anak perempuan Nabi Syu’aib<em> &#8216;Alaihis Salam.</em></li>
<li>Syari’at umat terdahulu juga berlaku terhadap ummat ini, manakala di dalam syari’at kita tidak ada yang menghapus hukumnya. Indikasinya, tindakan ibunda Musa mengambil upah menyusui anaknya sendiri dari keluarga Fir’aun. Tindakan ini dibolehkan juga dalam syari’at kita karena tidak ada dalil yang menghapus hukumnya.</li>
<li>Bahwa membunuh seorang kafir yang sudah memiliki ikatan dalam suatu perjanjian atau adat, adalah tidak boleh. Ini dapat dipahami dari penyesalan yang ditampakkan oleh Nabi Musa saat secara tidak disadari-nya telah membunuh seorang Qibthiy. Beliau memohon ampun dan bertaubat kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> atas perbuatannya tersebut.</li>
<li>Manakala khawatir diri akan binasa dengan cara sewenang-wenang (tanpa haq) bila menetap di suatu tempat, maka hendaknya tidak nekad tinggal di sana dan menyerah dengan kondisi tersebut.</li>
<li>Bila harus melakukan suatu pilihan terpahit antara dua hal yang sama-sama dapat menimbulkan kerusakan, maka wajib untuk melakukan hal yang lebih ringan dan aman di antara keduanya sehingga dengan begitu, dapat mencegah timbulnya hal yang paling fatal dan berbahaya dari salah satu yang lainnya. Di dalam hal ini, Nabi Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em> memilih melarikan diri menuju ke sebagian negeri yang amat jauh dan tidak pernah dilalui sebelumnya. Tentu, pilihan ini lebih menjanjikan dan selamat, meskipun pahit ketimbang tetap tinggal di Mesir.</li>
<li>Dalam kisah Nabi      Musa <em>&#8216;Alaihis Salam</em> terdapat suatu isyarat yang manis, terkait dengan seorang penuntut ilmu syar’i atau katakanlah seorang Mujtahid. Yakni, bahwa bila tidak dapat menentukan mana di antara dua pendapat yang lebih kuat padahal sudah berusaha semaksimal mungkin dan dengan niat yang ikhlas <em>lillahi ta’ala</em>, maka hendaknya meminta petunjuk kepada Rabb agar dibimbing dalam menentukan antara dua pendapat tersebut. Kondisi inilah yang dihadapi oleh Musa<em> &#8216;Alaihis Salam</em> tatkala sampai di kota Madyan dimana dia tidak dapat menentukan jalur mana yang harus dilaluinya. Beliau berdo’a melalui firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: <em>“Mudah-mudahan Rabbku memimpinku ke jalan yang benar”.</em> (QS: Al-Qashash:      22)</li>
</ol>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Demikian diantara pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Musa &#8216;Alaihis Salam di dalam surat al-Qashash khususnya, dan di dalam al-Qur’an umumnya.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Qashash Al-Anbiya; fushul fî dzikri ma qashsha-llahu ‘alaina fi kitabihi min Akhbar al-Anbiya’ maa Aqwamihim” , karya Syaikh ‘Abdurrahmân bin Nashir as-Sa’diy, dengan sedikit perubahan dan tambahan)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengenal Sekilas Tentang Ta’ashub]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/03/08/mengenal-sekilas-tentang-ta%e2%80%99ashub/</link>
<pubDate>Thu, 08 Mar 2007 01:51:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/03/08/mengenal-sekilas-tentang-ta%e2%80%99ashub/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Ta&#8217;ashub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span><span><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Ta&#8217;ashub bukanlah sebuah kenikmatan ataupun sebuah keagungan melainkan sebuah penyakit yang secara sadar atau tidak sadar mampu menginfeksi siapa saja. Penyakit ini termasuk penyakit yang berbahaya dan memiliki kemampuan untuk merusak tatanan syariat Islam. Karena itu, sudah sewajarnya kita mencoba mengenal, mempelajari, memahami, mengintropeksi diri dan menjauhi hal ini serta memohon perlindungan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> agar kita selalu terlindungi darinya.</span></span></span><!--more--></p>
<p align="justify">Kata ta’ashub secara bahasa berasal dari kata Al-‘Ashabiyah yang berarti semangat golongan. Sedang kata Ta’ashaba berarti pengencangan pembalut, atau perkumpulan atau ikatan. Dan Ta’ashaba bi as-syai’ artinya radhiya bihi (rela terhadapnya).</p>
<p>Adapun secara istilah, sebagaimana dikatakan dalam kitab Wujub Luzum al-Jama’ah, menukil ucapan Asy-Syaukani, adalah: “Apabila engkau menjadikan apa yang datang dari seseorang yang berupa pendapat atau apa yang diriwayatkannya berupa ijtihad sebagai hujjah bagimu dan bagi semua orang.” Atau apa yang dikatakan oleh yang lainnya: “(Yaitu) kebiasaan dari kebiasaan-kebiasaan orang-orang yang lemah dan celah dari celah-celah kebodohan. Dimana jika seseorang tertimpa olehnya, akan membutakan mata dan akan merampas akalnya. Maka orang ini tidak bisa melihat kebaikan kecuali apa yang baik menurutnya, tidak bisa melihat kebenaran kecuali yang sesuai dengan madzhabnya atau orang-orang yang berta’ashub padanya.”</p>
<p>Dari pengertian di atas menunjukkan bahwa orang yang tertimpa ta’ashub golongan atau ta’ashub syakhshi (orang tertentu selain Nabi <em>Shallallaahu &#8216;Alaihi Wasallam</em>) akan tergelincir pada kesesatan dan enggan untuk mengikuti al-Haq/al-Huda. Sebagaimana Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>gambarkan dalam firman-Nya, yang artinya:<em> “Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami telah menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Rasul itu) berkata: Apakah kamu akan mengikuti juga sekalipun aku membawa untukmu agama yang lebih nyata memberi petunjuk dari pada apa yang kamu dapati dari bapak-bapakmu menganutnya ? Mereka menjawab: Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.”</em>(QS: Az-Zukhruf: 23-24)</p>
<p>As-Sa’di berkata dalam tafsirnya: “Ini adalah cara orang-orang musyrik yang sesat berargumentasi terhadap taqlidnya terhadap nenek moyang mereka yang sesat pula. Mereka tidak mempunyai maksud untuk mengikuti kebenaran dan petunjuk, tetapi yang mereka inginkan adalah ta’ashub (fanatisme), dan melestarikan kesesatan/kebathilan yang mereka anut selama ini.”</p>
<p>Dalam ayat ini Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>menggambarkan bahwa ta’ashub benar-benar bisa membutakan mata dan merampas akal sehat sehingga barang siapa yang ada padanya penyakit ini maka dia tidak bisa lagi melihat kebenaran dan petunjuk.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Wujub Luzum al-Jama’ah)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Amalan Paling Utama Setelah Amalan Wajib]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/03/08/amalan-paling-utama-setelah-amalan-wajib/</link>
<pubDate>Thu, 08 Mar 2007 01:50:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/03/08/amalan-paling-utama-setelah-amalan-wajib/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Amalan yang paling utama setelah amalan-amalan wajib adalah berbeda-beda da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span>Amalan yang paling utama setelah amalan-amalan wajib adalah berbeda-beda dan tergantung kepada perbedaan kemampuan dan situasi dengan waktu masing-masing individu, sehingga sangatlah luas dan mungkin tidak berkesudahan apabila kita membahas hal tersebut. Tetapi, satu hal yang hampir disepakati oleh para ulama yang mengenal Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dan perintah-Nya, bahwa amalan yang paling utama adalah senantiasa berdzikir mengingat Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</span><!--more--></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal" align="justify"><span>Secara umum, dzikir merupakan kesibukan yang paling utama untuk dikerjakan oleh seorang hamba. Yang menguatkan hal itu adalah hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim, yang artinya:  <em>”Sungguh telah menanglah mufaridun!” Para Sahabat bertanya: ”Ya Rasululloh, siapakah mufarridun itu?” Beliau menjawab: ”Orang-orang, laki-laki maupun perempuan yang banyak berdzikir kepada Alloh”</p>
<p></em></span><span>Juga dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Darda’ dari Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>yang bersabda, yang artinya:<em> ”Maukah kuberitahukan kepada kalian sebaik-baik amal kalian, sesuci-suci kekayaan kalian, setinggi-tinggi derajat kalian, dan apa yang lebih baik bagi kalian daripada menyedekahkan emas dan harta benda atau daripada kalian berjumpa dengan musuh lantas memenggal leher mereka atau mereka memenggal leher kalian?” Para sahabat menjawab: ”Baiklah, ya Rasululloh.” Beliau bersabda: ”Berdzikir kepada Alloh”</p>
<p></em></span><span>Banyak sekali dalil-dalil qur’ani dan imani mengenai hal itu, baik yang terlihat, diberitakan, maupun disaksikan. Paling tidak, seorang hamba haruslah konsisten dalam menjalankan dzikir-dzikir yang ma’tsur dari ”Sang Pengajar Kebaikan” dan ”Iman Orang-orang bertaqwa”, dzikir-dzikir yang ditetapkan waktunya pada pagi dan sore hari, menjelang tidur, ketika bangun tidur, seusai sholat, dan dzikir-dzikir muqoyad (terbatas/tertentu) seperti yang diucapkan ketika makan, minum, berpakaian, bersetubuh, masuk rumah, masjid, dan wc serta keluar darinya, ketika hujan turun, ketika terdengar suara petir dan sebagainya. Selalu menjalankan dzikir mutlaq (tiada terbatas) seperti mengucapkan dzikir yang paling utama yaitu: <em>”La ilaha illallah”</em> dan dalam keadaan tertentu melanjutkan dzikir ini dengan tambahan, seperti: <em>”Subhanalloh wal hamdulillah wallohu akbar wa la haula wa la quwwata illa billah”</em> menjadi lebih utama.</p>
<p></span><span>Kemudian, hendaklah kita mengetahui bahwa apapun yang diucapkan oleh lidah dan dipikirkan oleh hati, yang bisa mendekatkan kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, seperti aktivitas mempelajari dan mengajari ilmu, memerintahkan yang makruf dan mencegah kemungkaran merupakan bagian dari dzikir kepada Alloh. Karena itu, barangsiapa yang menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat setelah melaksanakan kewajiban atau duduk dalam sebuah majelis untuk mendalami atau mengajarkan syariat Islam, ini juga merupakan salah satu bentuk dzikir yang paling utama.</p>
<p></span><span>Karena itu jika kita perhatikan, kita tidak akan menemukan dari kalangan umat Islam terdahulu terdapat perbedaan pendapat yang mencolok mengenai amalan yang paling utama. Adapun apa yang masih dirasakan oleh seseorang sebagai keraguan, hendaklah ia ber-istikharah sebagaimana yang disyariatkan. Tidak akan pernah menyesal, InsyaAlloh, siapapun yang ber-istikharah. Hendaklah kita banyak melakukan ini, juga banyak berdoa, karena doa adalah pembuka setiap kebaikan. Janganlah kita tergesa-gesa dengan mengatakan: ”Aku telah berdoa tetapi belum juga dikabulkan”. Hendaklah kita bersabar dan selalu berdoa. Dan juga hendaklah memilih waktu-waktu yang utama seperti di akhir malam, seusai sholat wajib, ketika adzan, ketika turun hujan, dan sebaginya.</p>
<p></span><span>Semoga semua yang kita bahas kali ini memberikan manfaat bagi kita semua. Dan semoga Alloh  <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>memberikan kita hidayah dan lindunganNya dari segala bentuk kejahatan dan kedholiman.</p>
<p></span><span>(Sumber Rujukan: Washiyyatush Shugra)</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Metode Mengajar Yang Jitu]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/10/metode-mengajar-yang-jitu/</link>
<pubDate>Sat, 10 Feb 2007 03:11:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/10/metode-mengajar-yang-jitu/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Setiap Guru hendaknya menempuh metode pendidikan yang jitu sesuai dengan ap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Setiap Guru hendaknya menempuh metode pendidikan yang jitu sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al Qur&#8217;anul karim dan as Sunnah Nabawiyah, karena para guru ikut berpartisipasi dalam menyiapkan generasi muslim pada masa yang akan datang. Harapan kita adalah hadirnya generasi muslim yang dengan aqidah yang lurus, tangguh, berakhlaq mulia, yang bersih dan berani dalam rangka membela agama dan ummatnya.<!--more--></p>
<p align="justify">Adapun metode jitu yang InsyaAlloh dapat diupayakan oleh para guru dalam mendidik generasi muda muslim adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>Menanamkan Rasa Takut (khauf) dan berpengharapan (raja&#8217;)<br />
</strong>Para guru harus menanamkan rasa takut kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> ke dalam jiwa anak-anak didiknya sebab Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>sangat hebat siksanya kepada orang-orang yang durhaka kepadanya. Yaitu Orang-orang yang meninggalkan apa-apa yang diwajinkanNya. Sesungguhnya Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>telah memberikan ancaman terhadap orang-orang yang durhaka (maksiat), bahwa mereka akan dibakar didalam neraka pada hari kiamat, padahal neraka jauh lebih panas dari pada api di dunia.</p>
<p>Tetapi sebaliknya Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>telah menjanjikan kepada kaum mu&#8217;minin yang taat menjalankan kewajibannya, memenuhi hak-haknya Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dengan surga yang luas. Di dalamnya terdapat sungai-sungai, pohon-pohon, buah-buahan, bidadari-bidadari cantik dan berbagai kenikmatan di dalamnya.</p>
<p>Dalil bagi adanya keterpaduan antara rasa khauf (takut) dan raja&#8217; (pengharapan), serta rasa senang dan cemas.</p>
<p><strong>Kisah-Kisah<br />
</strong>Kisah mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiawa, maka seorang pendidik selayaknya memperbanyak kisah-kisah yang bermanfaat. Dan itu banyak sekali terdapat dalam Al Qur&#8217;an dan Sunnah yang suci. Diantaranya:</p>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<ul>
<li>
<p align="justify">Kisah Ashabul Kahfi (penghuni surga), bertujuan untuk membentuk generasi yang beriman kepada Allah, cinta kepada tauhid dan benci kepada kemusyrikan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kisah Nabi Isa , bertujuan unutk menjelaskan bahwa ia adalah hamba Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> dan bukan Anak Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>sebagaiman anggapan kaum nasrani.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Kisah Yusuf, diantara tujuannya adalah untuk mengingatkan agar jangan sampai terjadi pergaulan campur aduk antara laki-laki dan perempuan sebab akan memberi akibat yang sangat jelek</p>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li>
<p align="justify">Kisah Yunus, bertujuan agar kita selalu beristianah (meminta pertolongan) hanya kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> saja, lebih-lebih ketika di timpa musibah. Kisah orang-orang yang terperangkap dalam gua. Diambil hikmahnya yaitu agar kita hanya bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalehnya. Seperti membantu orang tua, menjauhi zina karena Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>,<em> </em>dll.</p>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p align="justify">Singkat kata , sebagai seorang guru harus mampu memberi teladan yang baik diantara dengan memberi kisah-kisah yang mulia dan jangan justru memberi kisah-kisah yang jelek yang memacu anak didik untuk berbuat tidak baik.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Agama Ibrahim Musuh Agama Liberal]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/agama-ibrahim-musuh-agama-liberal/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:52:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/agama-ibrahim-musuh-agama-liberal/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Dasar agama ibrahim yaitu islam, yaitu menyerahkan diri, patuh dan tunduk k]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Dasar agama ibrahim yaitu islam, yaitu menyerahkan diri, patuh dan tunduk kepada Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> dengan cara mentauhidkan-Nya, mentaati dan membebaskan diri dari kesyirikan dan ahli syirik. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar berlepas diri dari ajaran thagut yang disembah oleh orang-orang yang menyembahnya selain Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>. Alloh <em>‘Azza wa Jalla </em>memberi sifat kepada Ibrahim dengan sifat-sifat yang merupakan sifat tertinggi dalam tauhid. Dia adalah imam, yaitu menjadi suri teladan, pemimpin dan pendidik kebaikan. beliau senantiasa patuh kepada Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>. Beliau adalah orang yang ikhlas dan jujur dan jauh dari syirik. <strong>Agama Ibrohim Adalah Agama Tauhid.</strong><!--more--></p>
<p align="justify">Salah satu dalil yang menunjukkan bahwa tentang sifat dan perjuangan Tauhid Nabi Ibrahim adalah firman Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>, yang artinya: <em>“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang menjadi teladan, senantiasa patuh kepada Alloh dan hanif, dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang berbuat syirik (kepada Alloh).”</em> (QS: An-Nahl: 120).</p>
<p>Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman, yang artinya: <em>“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata pada kaumnya, ’Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kami permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja’.”</em> (QS: Al Mumtahanah: 4)</p>
<p>Orang yang mengikuti ajaran Ibrohim itulah orang yang mentauhidkan Alloh <em>‘Azza wa Jalla </em>dan menjauhi diri kesyirikan, dan mentaati syariat yang telah ditetapkan oleh Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>. Adapun orang menyelisihi ajaran Ibrohim itulah dia orang yang mempersekutukan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> dan terjerumus kepada perbuatan syirik, tidak mentaati apa yang telah ditetapkan oleh Alloh, bahkan menghalalkan yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan, sehingga mereka melanggar dan terjerumus dari perkara-perkara yang keluar dari tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> semata.</p>
<p><strong>Mereka Yang Menyimpang dari Agama Ibrohim<br />
</strong>Betapapun keterangan yang jelas dan gamblang telah ada, namun banyak orang sesat dan berusaha menyesatkan manusia dari millah Ibrohim yang lurus. Mereka lebih memilih prinsip liberalisme dalam beragama ketimbang jalan Ibrohim.</p>
<p>Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman, yang artinya: <em>“Tidaklah kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturnkan sebelummu? Mereka hendak berhakim kepada thagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thagut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka, ’Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Alloh telah turunkan dan kepada hukum rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafiq itu menghalangi (manusia) dari (mendekati) kamu dengan sekuat-kuatnya.”</em> (QS: An-Nisa’: 60-62).</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan bahwa di dalam ayat ini terdapat celaaan terhadap orang yang berpaling dari Al-Quran dan As-Sunnah. Dan berhukum kepada selain Al Quran dan As Sunnah adalah termasuk kesesatan, dan itulah yang dimaksud dengan <em>thagut</em> disini.</p>
<p><strong>Mendahulukan Akal dan Hawa Nafsu<br />
</strong>Itulah hakikat dari agama liberal, yang menjadikan akal-akal mereka di atas ketentuan syariat, tidak tunduk kepada hukum yang ditetapkan Alloh dan rasul-Nya. Adapun orang-orang yang menyerahkan diri kepada Alloh dan beriman kepada-Nya telah Alloh <em>‘Azza wa Jalla </em>jelaskan, yang artinya: “<em>Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Alloh dan rasul-Nya agar rasul mengukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan: ’Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”</em> (QS: An-Nuur : 51)</p>
<p>Itulah orang yang benar imannya, dimana ketika diperintahkan untuk menetapkan hukum sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka akan mengatakan <em>“Kami Mendengar dan kami taat”</em> walaupun tidak sesuai dengan akal mereka. Itulah orang yang mukmin, mereka selalu beriman terhadap semua perkara yang telah ditetapkan diantara mereka, dan tidak mendahulukan akal-akal mereka diatas syari’at Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p><strong>Kejahatan Menolak Hadits-Hadits Shahih<br />
</strong>Orang-orang sesat berpendapat bahwa hadits-hadits yang ada meskipun shahih masih perlu dikoreksi dan dikritisi. Sungguh aneh, dimanakah letak konsekuensi syahadat mereka. Di satu sisi mengaku bahwa Muhammad adalah Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, namun di lain sisi berkata demikian. Setiap muslim yang baik pasti segera yakin bahwa hal tersebut perintah Nabi yang bersumber dari wahyu Alloh. Bukankah Alloh <em>‘Azza wa Jalla </em>berfirman, yang artinya <em>“Dan tiadalah yang diucapkannya (muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”</em> (QS: An-Najm: 3-4)</p>
<p>Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman, yang artinya: <em>“Barangsiapa yang mentaati rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Alloh.”</em> (QS: An-Nisaa’: 80).</p>
<p>Siapa saja yang mentaati Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>dalam setiap perkara yang diperintahkan maupun yang dilarang, maka sungguh dia telah taat kepada Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>. Karena tidaklah beliau memerintah dan melarang kecuali diperintahkan oleh Alloh. Itulah syari’at Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>, wahyu-Nya, dan ketetapan-Nya. Sungguh, jika Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> tidak maksum dari setiap wahyu yang disampaikannya dari Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>, maka Alloh tidak akan memerintahkan manusia untuk mentaatinya.</p>
<p><strong>Kejahatan Mengolok-olok Alloh dan Rasul-Nya<br />
</strong>Di antara hal yang sangat berbahaya dalam prinsip liberal dalam beragama adalah suka mengolok-olok Alloh <em>‘Azza wa Jalla </em>dan Rosul-Nya, baik penghinaan secara langsung ataukah pelecehan terhadap hukum-hukum syariat. Padahal yang demikian itu adalah sifat orang-orang munafik. Alloh <em>‘Azza wa Jalla </em>berfirman, yang artinya: <em>“Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafiq (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ’Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ’Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu sudah kafir sesudah beriman…”</em> (QS: At-Taubah: 65-66)</p>
<p>Diriwayatkan bahwasannya ketika perang Tabuk ada seseorang yang berkata, <em>“Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Quran ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan.”</em> Yang ia maksud yaitu Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat yang ahli baca Al-Qur’an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya, <em>“Dusta kau, bahkan kamu adalah seorang munafiq, akan kuberitahukan kepada Rosululloh.”</em> Lalu pergilah Auf kepada Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> untuk memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Tetapi sebelum ia sampai, telah turun wahyu Alloh kepada Rosululloh. Ketika orang yagn mengolok-olok tadi datang kepada Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> dan beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki ontanya. Maka berkatalah dia kepada Rosululloh, <em>“Ya Rosululloh! Sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk pengisi waktu saja dalam perjalanan kami.”</em> Ibnu Umar berkata, <em>“Aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata, ’Sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Lalu Rosululloh berkata kepadanya, ‘Apakah dengan Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’”</p>
<p></em>Segenap pengunjung dan redaksi yang semoga dirohmati Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>, seorang yang masih lurus fitrohnya pasti akan segera tahu bahwa prinsip-prinsip liberalisme dalam beragama di atas jelas sekali kesesatannya. Tidak ada pilihan lagi bagi kita kecuali untuk meniti <em>millah</em> Nabi Ibrohim <em>‘alaihis salam</em> dan meninggalkan jalan-jalan kesesatan yang menyimpang dari agama beliau. Hal ini karena jalan Ibrohim adalah jalan tauhid dan keselamatan, dan itulah jalannya Nabi kita Muhammad <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[
Pernahkah Terpikirkan Atau Lupa ?]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/pernahkah-terpikirkan-atau-lupa/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:52:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/pernahkah-terpikirkan-atau-lupa/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Pernahkah antum berpikir bahwa antum diciptakan oleh Sesuatu Yang Maha Heba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Pernahkah antum berpikir bahwa antum diciptakan oleh Sesuatu Yang Maha Hebat? Pernahkah antum berpikir kita diciptakan dari tanah? Pernahkah antum berpikir bahwa kita adalah mahkluk yang lemah? Pernahkan antum berpikir kita hidup dan punya roh? Pernahkah antum berpikir kita pasti akan mati? Lupakah kita bahwa kita diciptakan untuk menjadi penghuni bumi? Lupakah kita bahwa di banyak orang di sekeliling kita? Lupakah kita perbuatan kita nanti bakal dipertanggungjawabkan? Lupakah kita kalau kita punya Tuhan?<!--more--></p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p class="MsoNormal" align="justify"> Pernahkah kita bersyukur atas Sesuatu Yang Maha Hebat tersebut? Pernahkan kita merasa kita diciptakan dari tanah (sesuatu yang rendah &#38; diinjak-injak)? Pernahkah kita merasa kita adalah sesuatu yang lemah dibanding ciptaan-ciptaan Sang Pencipta yang lain, seperti : Gunung, Laut, dll? (Apakah kita mampu mengatasi ketika gunung sedang meletus atau Gelombang Laut yang marah atau tsunami)? Pernahkan kita merasa sebenarnya kita hidup karena ada yang menghidupkan dan ada roh yang sewaktu-waktu hilang dari raga kita? Pernahkah anda merasa jasad kita akan mati, tidak berguna, dan ditanam dalam tanah?</p>
<p>Lupakah kita memang ditakdirkan untuk hidup di dunia yang fana&#8217; (rusak) yang penuh dengan dosa? Lupakah bahwa akan seumur hidup berada di lingkungan manusia yang saling membutuhkan? Lupakah kita segala perbuatan yang baik atau buruk yang pernah kita lakukan pada akhirnya ada pertanggung jawabannya? Lupakah kita bahwa kita memang punya Dzat segala-segalanya yaitu Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>, yang setiap saat  harus kita ingat?</p>
<p><strong>Pengirim: Ibnu Muhammad</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Pengunjung Terakhir Akan Datang]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/pengunjung-terakhir-akan-datang/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:51:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/pengunjung-terakhir-akan-datang/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!!  Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!<!--more--></p>
<p align="justify">
Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!</p>
<p>Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!</p>
<p>Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu! Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya!</p>
<p>ungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!! Alloh <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman,  yang artinya: <em>“Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” </em>(QS: As-Sajadah: 11)</p>
<p>Dan firman-Nya, yang artinya:<em> “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”</em> (QS: Al-An&#8217;am: 61)</p>
<p><strong>Kereta Usia</strong></p>
<p>Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti? Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan &#8216;kereta usia&#8217; sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?” <strong></p>
<p>Berhati-hatilah!</strong></p>
<p>Semoga anda tidak termasuk orang yang  Alloh <em>subhanahu wata’ala</em> sebutkan, artinya: <em>“Bagaimanakah (keadaan  mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka  dan punggung mereka?”</em> (QS: Muhammad: 27) Atau firman-Nya, yang artinya:  <em>“(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.”</em> (QS: An-Nahl: 28-29)</p>
<p>ahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?</p>
<p>Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka&#8217;at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?</p>
<p>‘Kontrak&#8217; amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu  perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!</p>
<p>Alloh  <em>subhanahu wata’ala </em>berfirman, yang artinya: <em>“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.”</em> (QS: Al-Mu&#8217;minun: 99-100)</p>
<p><strong>Persiapkan Dirimu!</p>
<p></strong>Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Alloh Al-Jabbar? Dari ‘Adi bin Hatim <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, Rasululloh <em>shallallahu ‘alihi  wasallam</em> bersabda, yang artinya:<em> “Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” </em>(Muttafaqun &#8216;alaih)</p>
<p><strong>Berhitunglah Atas  Dirimu!</p>
<p></strong>Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.</p>
<p>Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu!<br />
(Sumber Rujukan: Az-Zâ&#8217;ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih)<em><strong></p>
<p>Pengirim: Abu Zakaria</strong></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[
Keutamaan Menjenguk Orang Sakit]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/keutamaan-menjenguk-orang-sakit/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:51:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/keutamaan-menjenguk-orang-sakit/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Mengunjungi dan membesuk orang sakit merupakan kewajiban setiap muslim, uta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Mengunjungi dan membesuk orang sakit merupakan kewajiban setiap muslim, utamanya orang yang sangat jelas hubungannya dengan dirinya, seperti kerabat dekat, tetangga, saudara senasab, sahabat dan yang semisalnya. Menjenguk orang sakit adalah di antara amal shalih yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, kepada ampunan, rahmat dan SorgaNya.<!--more--></p>
<p align="justify">Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, di dalamnya terdapat keutamaan yang sangat agung, pahala yang sangat besar dan ia adalah salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya. (HR: Muslim).</p>
<p>Rasululloh  <em>shallAllohu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Apabila seorang laki-laki menjenguk saudara muslimnya (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Sorga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo&#8217;akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo&#8217;akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.&#8221;</em> (HR: At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan  sanad shahih).</p>
<p>Terakhir, hendaknya yang membesuk mendo&#8217;akan si sakit: <em>&#8220;Tidak mengapa,  semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Alloh.&#8221;</em> (HR:  Al-Bukhari).</p>
<p>(sumber Rujukan: <em>Al-Hadiqatul Yani&#8217;ah minal &#8216;Ulumin Nafi&#8217;ah</em>, Syaikh  Ibrahim bin Jarullah Al-Jarullah)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Yang Harus Diperhatikan Orang Sakit &amp; Do'a Untuk Orang Sakit]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/yang-harus-diperhatikan-orang-sakit-doa-untuk-orang-sakit/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:51:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/yang-harus-diperhatikan-orang-sakit-doa-untuk-orang-sakit/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya bersangka baik kepada Alloh Subh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya bersangka baik kepada Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, bahwa Alloh akan mengasihinya dan tidak menyiksanya. Rasululloh <em>shallAllohu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Jangan sekali-kali salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Alloh.&#8221;</em> (HR: Muslim). Berada antara takut dan penuh harap, takut pada siksa Alloh dan berharap pada keluasan rahmatNya, Rasululloh bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Tidaklah menyatu (rasa takut dan harapan) dalam hati seorang hamba pada saat seperti ini (sakit) kecuali Alloh mengabulkan harapannya dan memberikan kepadanya rasa aman dari apa yang ditakutkannya.&#8221; </em>(HR:At-Tirmidzi dengan sanad hasan).<!--more--></p>
<p align="justify">Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya juga tidak mengharapkan kematian meskipun penyakitnya sangat parah. Namun kalau terpaksa hendaknya berdo&#8217;a: <em>&#8220;Ya Alloh, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian lebih baik bagiku. Jadikanlah kehidupan sebagai penambah segala kebaikan bagiku dan kematian sebagai istirahatku dari segala keburuk-an.&#8221;</em> (Hadits Anas bin  Malik-HR: Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Jika ada hak-hak orang lain yang menjadi tanggungannya, baik berupa hutang, amanat atau lainnya hendak-nya bergegas mengembalikan atau menunaikannya. Dibenarkan untuk mewasiatkan sebagian hartanya untuk hal-hal yang baik, dan tidak dibenarkan lebih dari sepertiga. Rasululloh shallAllohu &#8216;alaihi wasallam bersabda tentang wasiat: <em>&#8220;Sepertiga, dan sepertiga itu  jumlah yang besar.&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;Alaih).</p>
<p>Wasiat yang dibuat tidak boleh bersifat merugikan, seperti berwasiat tidak memberikan harta peninggalannya kepada sebagian ahli warisnya, atau mewasiatkan sebagian hartanya kepada salah seorang ahli waris, karena tidak dibenarkan mewasiatkan harta kepada ahli waris, sebab masing-masing dari mereka telah mendapat bagian waris sebagaimana yang ditentukan syari&#8217;at.Hendaknya orang yang sakit selalu menjaga shalat, menghindarkan diri dari apa-apa yang najis dan bersabar dalam beratnya melakukan hal tersebut. Wajib bagi setiap muslim, terutama yang sedang sakit untuk bertobat kepada Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala </em>dari segala dosa.</p>
<p>Hendaknya memperbanyak membaca Al-Qur&#8217;an,dzikrullah, do&#8217;a,  istighfar, bertasbih dan bertahlil.<strong></p>
<p>Do&#8217;a-do&#8217;a Untuk Orang Sakit</strong></p>
<p>Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>  memerintahkan hamba-hambaNya senantiasa ber-do&#8217;a. Firman Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan  Tuhanmu berfirman: &#8220;Berdo&#8217;alah kepadaKu, niscaya akan Kuper-kenankan.&#8221;</em>  (QS: Al-Mukmin: 60).  <em>&#8220;Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku  .&#8221;</em> (QS: Asy- Syu&#8217;ara: 80).</p>
<p>Nabi <em>shallAllohu &#8216;alaihi wasallam </em>biasanya  meletakkan tangannya pada tubuh orang yang sakit seraya berdo&#8217;a, yang artinya: <em>&#8220;Ya Alloh Tuhan segenap manusia, hilangkanlah sakit dan sembuhkan-lah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali dengan penyembuhanMu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;Alaih).</p>
<p>Beliau juga  mengajarkan kepada sahabatnya yang sakit untuk berdo&#8217;a, seraya bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan: &#8216;Bismillah&#8217; Tiga kali, kemudian ucapkan &#8216;A&#8217;udzu bi &#8216;izzatillahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadzir&#8217;u (Aku berlindung kepada keagungan dan kekuasaan Alloh dari keburukan yang aku dapati dan aku takutkan) sebanyak tujuh kali.&#8221;</em>  (HR: Muslim). Sahabat tersebut berkata: &#8220;Maka aku lakukan (nasihat beliau) dan Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>   pun  menghilangkan penyakit yang selama ini aku derita&#8221;.</p>
<p>(sumber Rujukan: <em>Al-Hadiqatul Yani&#8217;ah minal &#8216;Ulumin Nafi&#8217;ah</em>, Syaikh  Ibrahim bin Jarullah Al-Jarullah)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Menghafal Al-Qur`an pentingkah itu?]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/menghafal-al-quran-pentingkah-itu/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:49:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/menghafal-al-quran-pentingkah-itu/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Sebagian para da`i mengatakan, “Sesungguhnya menghafal Al-Qur`an bukan perk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Sebagian para da`i mengatakan, “Sesungguhnya menghafal Al-Qur`an bukan perkara yang penting, karena yang penting adalah memahami, merenungkan dan mengamalkan yang apa menjadi tuntutan Al-Qur`an,” dan dia berdalil dalam pendapatnya itu dengan perbuatan Ibnu Umar <em>radhiyallahu `Anhu</em> bahwasanya beliau menghafal Surat Al-Baqarah selama 9 tahun karena beliau sibuk dengan tafsirnya, makna-maknanya dan mengamalkan kandungan surat tersebut. Maka benarkah pendapat ini  dan shohihkah atsar Ibnu Umar tersebut?.<!--more--></p>
<p align="justify"> Pertama, perkataan dia, “Bukan perkara penting” adalah tidak benar Alloh <em>Ta`ala</em> berfirman, yang artinya:<em> “Bahkan sesungguhnya Al-Qur`an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”</em> (QS: Al-Ankabut: 49)</p>
<p>Maka benar, Alloh telah memuji para Ulama karena sesungguhnya mereka menghafal ayat-ayat yang nyata. Dan demikian pula para qurro` ketika mereka terbunuh, bukankah para shahabat Nabi merasa khawatir akan sirnanya Al-Qur’an sehingga mereka diperintahkan untuk mengumpulkan mushaf. Dan Umar berkata <em>“Saya mendapatkan  pembunuhan telah menimpa para qurro`”</em> (Hadist Anas <em>radhiyallahu `anhu</em> Al-Bukhari [4987] dan ucapan tersebut dari Hudzaifah Ibnul Yaman <em>radhiyallahu`anhu</em>).</p>
<p>Mereka yang dibunuh adalah 70 orang dari para qurro`. Para shabat merasa khawatir dan merasakan hilangnya ilmu. Ketika itu Umar bin Khattob radhiyallahu `anhu memerintahkan orang untuk mengumpulkan lembaran-lembaran yang ada dijadikan dalam satu mushaf setelah beliau meninggal dunia mushaf tersebut ditangan Hafsoh <em>Radliyallahu ‘anha</em> (beliau mengisyaratkan kepada hadist Zaid bin Tsabit dalam Al-Bukahri [4986]). Kemudian setelah itu Ustman bin Affan <em>radhiyallahu `anhu </em>memerintahkan untuk mengumpulkan lembaran-lembaran tersebut dari Hafsoh <em>radhiyallahu `anha </em> dari seluruh tempat dan  beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit dan sebagian shahabat untuk mengumpulkan mushaf. Ini semua adalah termasuk perkara yang menunjukkan pentingya menghafal Al-Quran dan sesungguhnya ini adalah ilmu, maka hendaknya bersungguh-sungguh untuk meraihnya dan tidaklah akan meninggalkan kebaikan ini bagi mereka yang diberi taufiq Salah satu dalil yang menunjukkan pentingya hafalan adalah hadist dalam shohihain dari Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash, “Sesungguhnya Nabi <em>shallallahu `alaihi wa aalihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu ini sekaligus dengan mencabutnya dari dada-dada manusia”</em> (HR: Al-Bukhari 100 dan Muslim 2673) Maksudnya apabila ilmu tercabut dari dada penghafal dan hilang perkara ini (hafalan) maka hilanglah ilmu.</p>
<p>Ar Rahabi <em>rahimahullah</em> berkata:</p>
<p align="justify">Dan ketahuilah bahwa warisan ada dua<br />
Furudh dan ta’shib sesuai dengan bagiannya<br />
Adapun furudh di nash kitab ada enam<br />
Tidak ada furudh dalam warisan selainnya<br />
Setengah dan seperempat kemudian setengahnya seperempat<br />
Sepertiga dan seperenam dengan nash syariat<br />
Dua pertiga dan keduanya penyempurna<br />
Maka  hafalkanlah karena setiap penghafal adalah Imam<br />
Maka Alloh menjaga agama ini dengan pengahafal-penghafal kitab Allah. Dan termasuk perkara pertama yang hendaknya dihafal adalah Kitab Alloh Ta`ala, Allah berfirman, yang artinya:<em> “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah”</em> (QS: Shaad: 29)<br />
<em> “Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami telah menurunkan kepadamu Alkitab sedang dia dibacakan kepada mereka.” </em>(QS: Al-Ankabut: 51)</p>
<p>Kamu bisa berhujjah (argumen) dengan Al-Qur’an pada setiap apa yang kamu kehendaki dari ilmu syariat ini jika Allah memahamkanmu dalam Al-Qur’an  dan apabila Allah memahamkanmu  terhadap agama-Nya. Dan lihatlah buku-buku Syaihkhul Islam dan buku-buku murid beliau Ibnul Qayyim dan yang semisalnya dari Ahlu Sunnah bagaimana kamu lihat, mereka memperhatikan Al-Qur`an dari sisi pengambilan dalil, menghafal, membaca, memikirkan dari sisi tajwid dan lain sebagainya.</p>
<p>(Sumber: Al As’ilah Al Indonisiah, 26 Jumadist Tsaniyah 1424 H)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Rasa Aman, Dimanakah Engkau?]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/rasa-aman-dimanakah-engkau/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:48:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/rasa-aman-dimanakah-engkau/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Mayoritas manusia di zaman ini, khususnya di negeri ini, hidup dalam ketaku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Mayoritas manusia di zaman ini, khususnya di negeri ini, hidup dalam ketakutan, kecemasan, tak tenang, namun tak mengetahui sebabnya secara pasti. Hanya perasaan dalam diri yang tiada ujung pangkalnya. Terjadi di setiap tempat, di perjalanan, di rumah, tempat kerja, di saat istirahat dan sibuk.<!--more--></p>
<p class="farial" align="justify">Kalau diamati dengan pandangan yang lebih dalam, maka dapat diketahui bahwa sebab utama adalah jauhnya mereka dari rasa aman &#8211; tenggelam dalam kecemasan adalah jauhnya mereka dari hidayah dan menjauhnya dari komitmen terhadap hukum-hukum Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Keamanan dan hidayah adalah sebuah rangkaian yang tak terpisah. Apabila hilang sebagian maka akan hilang sebagian yang lain. Apabila yang satu lemah akan lemah yang lain. Keamanan yang hakiki adalah rasa aman dari ketakutan -adzab -kesedihan, dan mendapatkan petunjuk kepada shiratal mustaqiem.</p>
<p>Apabila seseorang tidak mencampuradukkan iman dengan kedhaliman secara utuh tidak dengan kesyirikan dan juga maksiat, maka akan membuahkan keamanan yang utuh dan petunjuk hidayah yang utuh pula. Namun bila ia tidak mencampur adukkan iman dengan kedhaliman secara parsial, ia meninggalkan syirik namun di sisi lain masih mengerjakan kemaksiatan, maka ia telah memperoleh pokok hidayah dan keamanan. Ia pun tak mendapatkan keamanan dan hidayah secara sempurna. Dan dipahami bahwa mereka yang tidak mendapatkan 2 perkara yaitu <strong>hidayah</strong> dan <strong>keamanan</strong> maka ia akan mendapatkan kesesatan dan kesedihan <em>(taisir karimir rahman)</p>
<p></em>Dan manakah dari dua golongan yang lebih pantas untuk mendapatkan keamanan jika kalian mengetahui Ahlu-hidayah atau mereka ahli maksiat dan wali orang musyrik atau orang yang berdosa atau orang-orang-orang munafik.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Mar'ah Dalam Islam]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/marah-dalam-islam/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:47:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/marah-dalam-islam/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Islam datang, mengangkat kedudukan orang-orang yang tertindas, menjadikan b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Islam datang, mengangkat kedudukan orang-orang yang tertindas, menjadikan budak-budak sahaya mempunyai hak seperti saudara-saudaranya yang merdeka, orang-orang fakir pun mendapat bagian memadai dari hartanya orang-orang kaya. Islam juga menyamakan kedudukan antara pria dan wanita pada awal mula penciptaannya. Umat Islam diajarkan dan dituntut mengenai sikap adil dan kasih sayang termasuk dengan lingkungan sekitarnya seperti hewan dan tumbuhan.<!--more-->Alloh Ta&#8217;ala berfirman, yang artinya: &#8220;Hai, sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, daripadanya Allah menciptakan istrinya.&#8221; (QS: An-Nisa&#8217;: 1)</p>
<p>Islam menyamakan keduanya untuk sama-sama melaksanakan kewajiban beribadah dan sama-sama mendapatkan balasan. Alloh Ta&#8217;ala berfirman, yang artinya: &#8220;Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.&#8221; (QS: An-Nahl: 97 )</p>
<p>Islam benar-benar memberikan perhatian mendalam kepada wanita dalam semua tingkat kehidupan mereka yang berbeda-beda.</p>
<p>KEPADA PARA WANITA, BERIKUT INI KAMI PERSEMBAHKAN CUPLIKAN KATA YANG DITULIS OLEH SEORANG KAUM HAWA SEBANGSAMU :<br />
&#8220;Wahai saudari muslimahku&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..wahai para mahasiswi&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;wahai para murabbiyah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;,wahai para ibu pendidik &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..Engkau adalah lembaga kaderisasi bagi para laki-laki. Engkau pencetus para pahlawan. Engkau merupakan ibu-ibu yang agung. Engkau adalah &#8221; madrasah &#8221; bagi para pemimpin. Engkau adalah kebanggaan zaman, asas bangunan dan fondasi masyarakat. Dan engkau, wahai sahabatku adalah harapan ummat. Pada kebaikanmu, bergantung kebaikan masyarakat dengan segenap keluarganya, dan menjadi berbahagialah seluruh generasi. Sebaliknya dengan penyimpanganmu,  (semoga Alloh melindungi), akan binasalah ummat beserta bangunannya. Engkau adalah tulang punggung bangunan yang di atasnya bertumpu tiang-tiang kebaikan. Namun bersamaan dengan itu, engkau adalah siksaan yang bisa meruntuhkan seluruh harapan besar, manakala kau menyimpang dari apa yang telah digariskan.</p>
<p>Sesungguhnya, mereka (musuh-musuh Islam) terus berteriak dan berseru agar engkau bersolek&#8230;&#8230;&#8230;.berdandan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;bergaul bebas&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..bercinta&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.bercantik-cantik&#8230;&#8230;&#8230;..berseni&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..berhias&#8230;&#8230;&#8230;..dan melakukan segala hal yang bisa mempertontonkan sifat keweanitaanmu. Semua itu adalah pelat-pelat keburukan, jaring-jaring yang bisa melepas kelembutanmu, melucuti rasa malumu, meluruhkan kemuliaanmu, mengotori harga dirimu, membunuh keperwiraanmu, mengguncangkan aqidahmu dan akhirnya melemparkanmu ke dalam lumpur-lumpur kehinaan, genangan-genangan dosa dan jurang-jurang kebinasaan.</p>
<p>Maka bangkitlah wahai sahabat muslimahku dan hati-hatilah ! Janganlah sekali-kali engkau terpedaya oleh racun-racun istilah kosong dan nama-nama glamour itu, karena engkau kelak akan menyesal ketika tidak ada lagi saat untuk menyesal. Dan kelak engkau akan berteriak manakala engkau tidak akan dapati orang yang mengulurkan tangan untuk menolongmu.</p>
<p>Majalah-majalah seronok yang berselera rendah, menampilkan model-model wanita dan bersampul hias gam,bar-gambar menggiurkan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Apa sebenarnya yang ia inginkan darimu ? Apa sebenranya yang dikehendaki oleh para pengasuhnya darimu ? Adakah mereka menginginkan kebaikan/kemaslahatan buatmu ? Adakah mereka ingin mendidik akhlak mulia dan sopan-santun kepadamu ? Adakah mereka ingin membimbingmu kepada Al-Haq ? Adakah mereka ingin memelihara serta menjaga diin (agama)mu supaya engkau bisa istiqomah ? Adakah mereka ingin mengingatkanmu pada firman Alloh Ta&#8217;ala , yang artinya: &#8220;Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu.&#8221; (QS: Al-Ahzab : 33) Sama sekali Tidak !<br />
Kaset-kaset dengan segala isinya, berupa racun-racun omong kosong dan suara-suara dusta yang ingin menyerang hatimu nan ramai dengan Dzikrullah, supaya berganti isinya penuh nanah-nanah menjijikkan, alangkah indahnya jika engkau ganti dengan Dzikrullah dan bacaan Al Qur&#8217;an yang merupakan obat serta rahmat bagi kaum mukminin.</p>
<p>Begitupun dengan cerita-cerita merusak yang ditulis oleh para penulis tidak bermoral atau disebarluaskan oleh orang-orang Yahudi beserta antek-anteknya&#8230;&#8230;&#8230;.Cerita-cerita yang akan membawamu terlena ke dalam buaian seni-seni hiburan lacut hingga pola pikirmu terjerat dan aqidahmu menjadi kacau&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.Adakah cerita-cerita ini menyimpan kebaikan ?</p>
<p>Kini tidakkah engkau perlu mempertanyakan tentang dirimu serta mawas diri sebelum datangnya hari dimana keimanan seseorang, yang sebelumnya belum pernah beriman atau belum sempat mengisi kebaikan bagi imannya, tidak akan bermanfaat ? Tidakkah engkau kembali kepada petunjuk dan bertekad untuk hidup di bawah naungan Al Qur&#8217;an dan As Sunnah ? Tidakkah engkau reguk sepuas-puasnya kelezatan sumber mata air (petunjuk &#8211; pen-) yang memancar dari keduanya ? Jadilah engkau sebagai qurrata&#8217;ain (penyejuk mata) bagi keluargamu, dan jadilah engkau sebagai qudwah (suri teladan) yang baik bagi teman-temanmu&#8230;&#8230;&#8230;.Ayolah, bertekadlah untuk memutuskan hubungan dengan dunia tontonan, dunia kaset-kaset haram dan majalah-majalah menyesatkan, agar engkau bisa membantu memimpin saudari-saudarimu menuju kebaikan dan kesentausaan. Inilah yang aku harap, semoga Alloh memberi taufik kepadamu dan kepadaku menuju kebaikan dan kebajikan.</p>
<p>Selanjutnya renungkanlah sabda Rasululloh Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Aalihi Wasallam berikut ini, yang artinya: &#8220;Dari Abu Hurairah, radliyallahu &#8216;anhu beliau berkata : Berkata Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Aalihi Wasallam : &#8221; Dua golongan yang termasuk ahli neraka yang aku belum pernah melihat (semisal) keduanya : Satu kaum yang ada pada mereka cemeti seperti ekor sapi, dengan cemeti itu mereka memukuli manusia. Dan kaum wanita yang berpakaian tetapi (seperti) telanjang, melenggang lenggok menggiurkan, seolah-olah dikepalanya seperti punggung unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya surga, padahal baunya surga itu tercium dari jarak sekian dan sekian. &#8221; (Shahih, Riwayat Muslim)</p>
<p>Karena itu marilah kita bersegera memohon ampunan dari Alloh Ta&#8217;ala. Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>(Sumber Rujukan: Al-Mar&#8217;ah, Madza ba&#8217;da As-Suquth, Badriyah A-&#8217;Azzaz, hal.22, At-Thalibah Al-Mu&#8217;minah hal 80 yang menukilnya dari Mukhtashar Shahih Muslim, hal.368)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Berlindung kepada Siapa?]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/berlindung-kepada-siapa/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:47:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/berlindung-kepada-siapa/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Aneh!!! Masyarakat modern ternyata masih hobi dengan klenik. Ini terjadi di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Aneh!!! Masyarakat modern ternyata masih hobi dengan klenik. Ini terjadi di negeri agresor terbesar Amerika. Sudah sangat masyhur kalau pengawalan pejabat negara di Amerika sangat kuat dan terorganisir, lebih-lebih di lingkungan kepresidenan, tidak hanya mengandalkan CIA dan FBI yang kondang heroik, bahkan masih punya pasukan khusus, yang berani &#8220;mati&#8221; demi presiden.<!--more--></p>
<p align="justify">Ternyata tak sebatas itu saja, konon presiden dan first lady Amerika punya pengawal khusus dari bangsa dukun. Yang dukun-dukun tadi tidak perlu lagi diragukan kehebatannya. Berkaliber nasional- bahkan internasional.</p>
<p>Indonesia tak kalah dengan Amerika dalam hal ini. Bahkan semenjak jaman mataram dulu, lingkungan keraton tak lepas dari sepak terjang para dukun keraton. Tak cukup dengan dukun, jin sekalipun dijadikan pengawal untuk mengamankan jabatan.Tak asing di telinga, kisah nyai Roro Kidul yang jadi pendamping raja-raja mataram.</p>
<p>Kisah pun terus berlanjut sampai sekarang. Orang yang mempunyai beking dari bangsa jin maupun dukun, masih sangat banyak, dari yang kelas elit maupun yang cuma kelas kampung.</p>
<p>Kasus cari beking dan perlindungan kepada jin maupun dukun inilah yang disebut dalam syariat kita dengan istiadzah. Istiadzah sendiri punya makna meminta perlindungan dari suatu bahaya yang mengancam. Dulunya di kalangan bangsa arab apabila ada yang melintas dan numpang di sebuah lembah maka mereka meminta perlindungan &#8216;biar tidak diganggu&#8217; kepada jin yang menguasai tempat tersebut. Jin yang diam di situ, sebenarnya punya rasa takut juga kepada manusia. Namun karena manusianya ketakutan dan minta perlindungan kepadanya, maka ia pun jadi sombong dan berani. Kebiasaan ini terus terjadi pada bangsa arab sampai kedatangan Islam. Kebiasaan yang jelek ini dilarang oleh agama Islam, bahkan dikategorikan dalam perbuatan syirik. Sebuah dosa yang tiada berampun, bila tak sempat taubat sebelum akhir hayat.</p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman, yang artinya:<em> &#8220;Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan&#8221;</em><span class="ref"> (QS: Al Jin: 6)</p>
<p></span>Ayat ini bisa memberikan petunjuk bahwa sebenarnya meminta perlindungan kepada selain Allah termasuk Jin dilarang dalam syariat Islam. Sama saja permintaan perlindungan itu, untuk menjaga dari gangguan, mengamankan bangunan atau jabatan. Islam mengajarkan untuk hanya berlindung kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>semata tidak kepada yang lain. Karena memang Alloh yang Maha Perkasa, hanya Dia yang berhak dimintai perlindungan. Berlindung dari segala hal yang membahayakan diri, harta maupun jiwa. Rasul pun memberikan contoh bagaimana cara ketika berada di sebuah tempat yang terkenal angker atau banyak setannya. Dengan membaca do&#8217;a yang artinya: <em>&#8220;Aku berlindung kepada kalimat Alloh yang sempurna dari bahaya makhluq.&#8221; </em><span class="ref">(HR: Muslim).</p>
<p></span>Disamping itu sikap besandar kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> harus selalu hadir dalam diri setiap muslim. Dengan sikap semacam, maka tiada lagi rasa ketakutan kepada segala sesuatu selain hanya kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Maka tidaklah perlu lagi takut diganggu oleh jin atau manusia. Tidak perlu juga takut kehilangan jabatan yang disandang.</p>
<p>Bila setiap muslim hanya berlindung kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dalam setiap masalahnya, maka sudah pasti segala praktik perdukunan akan berhenti. Karena tidak ada yang meramaikan transaksi yang bermuatan dosa tadi. Tak akan laku koran dan majalah perdukunan yang lagi ramai. Termasuk juga akan bangkrut mereka yang terbiasa melakukan transaksi jual beli jin. Semoga Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menghindarkan kaum muslimin dari bahaya kesyirikan ini. <em>Amin.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Risalah Kepada Orang Yang Sakit]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/risalah-kepada-orang-yang-sakit/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:46:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/risalah-kepada-orang-yang-sakit/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Wahai hamba-hamba Alloh yang sedang sakit&#8230;, Semoga Alloh Subhannahu w]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Wahai hamba-hamba Alloh yang sedang sakit&#8230;, Semoga Alloh Subhannahu wa Ta&#8217;ala menyembuhkan antum dan menjadikan antum sebagai kekasihNya, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Alloh Subhannahu wa Ta&#8217;ala melimpahkan nikmatNya kepada antum baik secara lahir maupun batin. Semoga pula antum termasuk golongan yang apabila mendapatkan kenikmatan bersyukur, apabila mendapat ujian bersabar, dan jika melakukan dosa segera beristighfar.<!--more--></p>
<p align="justify">Dalam kehidupan di dunia ini, setiap manusia tidak akan terlepas dari dua keadaan yaitu<strong> Nikmat dari Alloh</strong> <strong><em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala </em></strong>yang tidak terhitung banyaknya yang harus  dipertahankan dengan bersyukur. dan <strong>Ujian-ujian dari Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em></strong>,<strong> </strong>seperti sakit,  rasa takut lapar dan sebagainya. Dalam hal ini yang harus dilakukan adalah  bersabar.</p>
<p>Sabar adalah menahan diri dari rasa kesal terhadap takdir, menahan lisan dari mengeluh kepada sesama makhluk yang lemah, dan menahan anggota badan dari perbuatan maksiat, seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian dan sebagainya. <strong></p>
<p>Kewajiban Bersabar </strong></p>
<p>Setiap muslim wajib bersabar ketika tertimpa suatu musibah. Namun tidak mengapa bagi si sakit memberitahukan sakitnya tanpa mengeluhkannya kepada sesama makhluk. Lalu hendaknya ia mengatakan, yang artinya: <em>&#8220;Ini telah ditakdirkan oleh Alloh, dan Alloh melakukan apa yang dikehendakiNya. Segala puji bagi Alloh dalam segala keadaan. &#8220;Katakanlah: &#8216;Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditentukan oleh Alloh bagi kami&#8217;.&#8221;</em> (QS: At-Taubah: 51). <strong></p>
<p>Keutamaan  Bersabar<br />
</strong><br />
Banyak ayat Al-Qur&#8217;an dan hadits Nabi <em>shallAllohu &#8216;alaihi  wasallam </em>yang memerintahkan bersabar serta menerangkan keutamaan dan pahalanya.  Firman Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, &#8217;sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kepadaNya-lah kami kembali&#8217;, mereka itulah yang mendapat kesabaran yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.&#8221;</em> (QS: Al-Baqarah: 155-157). <em></p>
<p>Sesungguhnya  hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa  batas.&#8221;</em> (QS: Az-Zumar: 10).</p>
<p>Sabda Rasululloh <em>ShallAllohu &#8216;alaihi  wasallam</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan barangsiapa berusaha sabar, Alloh akan menjadikannya bersabar, dan tidak ada seorang pun yang mendapatkan karunia (dari Alloh) yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;Alaih).</p>
<p><em>&#8220;Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, semua urusannya baik baginya dan hal ini tidak dimiliki siapa pun kecuali orang mukmin, jika dia mendapatkan kebahagiaan bersyukur dan itu baik baginya, dan jika dia tertimpa musibah bersabar dan itu baik baginya&#8221;.</em> (HR: Muslim). <em></p>
<p>Tidaklah rasa lelah, sakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan dan duka yang menimpa seorang muslim hingga duri yang menusuknya kecuali Alloh menghapuskan dosa-dosanya karena hal-hal tersebut.&#8221;</em> (HR: Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p><em>&#8220;Apabila Alloh menghendaki kebaikan pada seorang hambaNya Dia menyegerakan hukuman baginya di dunia, dan apabila Alloh menghendaki keburukan pada seorang hambaNya maka Dia menangguhkan dosanya sampai Dia penuhi balasannya nanti di hari Kiamat.&#8221;</em> (HR: At-Tirmidzi dan di hasankannya).  <em></p>
<p>&#8220;Sungguh besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan-cobaan; dan sungguh Alloh Ta&#8217;ala apabila mencintai suatu kaum diujiNya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Alloh, sedang barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan dari Alloh.&#8221;</em> (HR: At-Tirmidzi  dan meng-hasan-kannya).</p>
<p>&#8220;Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin baik pada dirinya, anaknya ataupun hartanya sehingga dia memjumpai Alloh dalam keadaan bersih dari dosa.&#8221; <strong></p>
<p>Anjuran Berobat </strong></p>
<p>Orang yang sakit dianjurkan untuk berobat dengan  cara dan obat-obatan yang dibolehkan, Rasululloh <em>shallAllohu &#8216;alaihi wasallam</em>  bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Tidaklah Alloh menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan pula  penangkal (obatnya), maka berobatlah kalian.&#8221;</em> (HR: Al-Hakim dan Ibnu Hibban  dan men-shahih-kannya).</p>
<p>Tidak dibenarkan berobat dengan cara dan sesuatu yang haram, seperti berobat kepada dukun, atau berobat dengan arak, darah, ular, daging monyet ataupun hal-hal lain yang diharamkan dalam Islam. Rasululloh <em> shallAllohu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya Alloh tidak menjadikan  kesembuhanmu pada apa-apa yang diharamkan atasmu.&#8221;</em> (HR: Ath-Thabrani dengan  sanad shahih).</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) dengan wahyu yang diturunkan kepada Muhammad shallAllohu &#8216;alaihi wasallam.&#8221;</em> (HR: Abu  Dawud).</p>
<p>(sumber Rujukan: <em>Al-Hadiqatul Yani&#8217;ah minal &#8216;Ulumin Nafi&#8217;ah</em>, Syaikh  Ibrahim bin Jarullah Al-Jarullah)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Surat Terbuka Asy-Syaikh Rabi' kepada Paus Benedicktus]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/surat-terbuka-asy-syaikh-rabi-kepada-paus-benedicktus/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:43:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/surat-terbuka-asy-syaikh-rabi-kepada-paus-benedicktus/</guid>
<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم NASIHAT DAN SERUAN KEPADA PASTOR-PASTOR KRISTEN, MASUKLAH KALIAN KE DALAM ISL]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify">بسم الله الرحمن الرحيم<br />
NASIHAT DAN SERUAN KEPADA PASTOR-PASTOR KRISTEN,<br />
MASUKLAH KALIAN KE DALAM ISLAM!!<br />
Segala puji hanyalah milik Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasululloh <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>, keluarga, dan shahabatnya dan setiap orang yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du.<!--more--></p>
<p align="justify"><strong>Banyak tersebar dan disiarkan di berbagai media cetak dan elekteronik serta stasiun-stasiun parabola bahwa Paus Vatikan Benedicktus XVI telah mencela Islam dan Rasululloh Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>, dia menuduh beliau dan risalahnya jahat serta tidak rasional! Alangkah ajaibnya tuduhan seperti ini, sungguh sangat mengagetkan dan bertolak belakang dengan akal sehat serta hakikat ajaran Islam yang murni. Dengan Islam Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menyelamatkan manusia dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya, dan dari sikap eksterem ajaran-ajaran non Islam kepada keadilan Islam, yang mana ini semua diakui oleh mereka yang masih berakal dari musuh-musuh Islam sendiri.</strong></p>
<p>Di sini saya tidak akan berpanjang lebar dalam memaparkan keunggulan-keunggulan Islam dan Nabinya ummat Islam, sesungguhnya hakikat akan hal ini telah sampai ke segala penjuru dunia dan menghiasi banyak dari perpustakaan-perpustakaan. Maka dengan ringkas saya sampaikan:</p>
<p>Sesungguhnya Muhammad adalah benar-benar utusan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  utus beliau sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, mengajak ke jalan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> sebagai pelita yang terang benderang.</p>
<p>Beliau datang dengan ajaran yang menghormati para nabi dan kitab-kitab suci mereka, bahkan beliau datang dengan ajaran untuk mencintai mereka dan mengimani mereka sekaligus kitab-kitab suci mereka. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman, <em>“Rasul telah beriman kepada Alquran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), &#8220;Kami tidak membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”.</em> (QS: Al Baqarah: 285)</p>
<p>Dan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman memerintahkan Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam  </em>dan ummatnya, <em>“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), &#8220;Kami beriman kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma&#8217;il, Ishaq, Ya&#8217;qub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. </em>(QS: Al Baqarah: 136)</p>
<p>Dan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  juga berfirman,<em> “Katakanlah: &#8220;Kami beriman kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma&#8217;il, Ishaq, Ya&#8217;qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, &#8216;Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”.</em> (QS:. Ali Imran: 84)</p>
<p>Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>  datang membawa keadilan dan kebaikan, melarang dari perbuatan keji dan mungkar, dan perbuatan yang melampaui batas, <em>“Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.</em> (QS: An-Nahl: 90)</p>
<p>Beliau juga datang membawa ajaran jihad untuk meninggikan kalimat Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, dan menghilangkan kekufuran, kesyirikan dan kerusakan. Dan sebelumnya Musa dan nabi-nabi dari kalangan Bani Israil sudah lebih dahulu mengajak kepada ajaran yang sama.</p>
<p>Beliau <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> datang membawa syariat qishash dan hudud untuk melindungi keyakinan dan jiwa serta kehormatan dan harta. Dan sebelumnya Musa dan nabi-nabi dari kalangan Bani Israil sudah lebih dahulu mengajak kepada ajaran yang sama. Dan itu adalah kebaikan dan ihsan dan perlindungan terhadap kehormatan dan harta…dan guna menebarkan rasa aman dan ketentraman serta meraih kemaslahatan dan mengantisipasi kerusakan.</p>
<p>Dan tidak ada yang menuduh Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> dan risalahnya jahat kecuali seorang pendusta yang sangat kafir, yang telah mencela Musa dan risalahnya serta nabi-nabi yang datang setelahnya yang mana mereka semua menjalankan hukum Taurat.</p>
<p>Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman, <em>“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, maka mereka itu adalah orang-oang yang kafir. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasannya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan ( hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.</em> (QS: Al Maidah: 44-45).</p>
<p>Dan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman, <em>“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.</em> (QS: Al Maidah: 47)</p>
<p>Sungguh orang-orang Yahudi dan Nashrani telah kafir terhadap Taurat dan Injil, dan mereka tidak mengamalkan apa yang ada pada keduanya dari ajaran-ajaran akidah dan hukum-hukum. Dan mereka telah mendustakan Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> yang datang membenarkan para nabi dan kitab-kitab suci mereka, dan diantaranya Taurat dan Injil. Mereka telah kufur kepada Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> dan apa yang terkandung pada risalahnya berupa ajaran yang membenarkan para nabi seluruhnya, dan membenarkan apa yang dibawa oleh Taurat dan Injil dan apa yang ada pada keduanya berupa ajaran akidah dan hukum-hukum kecuali yang telah dihapus oleh Islam.</p>
<p>Mereka memeranginya dengan sengit. Dan terlebih lagi pada ulama dan rahib-rahib mereka serta pastor-pastor mereka, karena sombong, takabbur, hasad dan bersikap melampaui batas, setelah mereka selewengkan kitab-kitab suci mereka dan mempermainkan nash-nashnya dan merubah apa yang terdapat di dalamnya berupa ajaran akidah, tauhid dan iman kepada kesyirikan dan kekufuran, dan mereka menolak hukum-hukum yang terkandung di dalamnya!!</p>
<p>Maka apabila seperti ini sikap mereka terhadap kitab-kitab suci mereka sendiri yang mereka imani, maka tidak aneh kalau mereka kufur kepada Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sall</em>am  dan ajaran yang dibawa olehnya berupa Al Qur’an yang tidak mengandung kebatilan dari depan dan dari belakangnya.</p>
<p>Wahai ahli kitab bertaubatlah kalian kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dengan taubat yang sebenarnya dan ikutilah Muhammad yang kitab-kitab suci kalian memberitakan kabar gembira tentang kedatangannya dan juga Isa, ketika ia berkata<em>, “Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: &#8220;Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.</em> (QS: As-Shaff: 6).</p>
<p><em>“Kemudian jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan”. </em>(QS: Ali Imran: 63).</p>
<p><em>“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan antara yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui”.</em> (QS: Ali Imran: 71).<br />
<em>“Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan”. Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan”. </em>(QS: Ali Imran: 99)</p>
<p><strong>Wahai Paus Benedicktus pemimpin gereja Vatikan, masuklah kamu ke dalam Islam, kelak kamu akan selamat, dan Alloh<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> akan memberimu pahala dua kali lipat.</strong> Dan apabila kamu menolak maka kamu akan menanggung dosa orang-orang yang mengikutimu dari kalangan Nashara Eropa dan luar Eropa. Masuklah kamu ke dalam Islam agar pengikutmu selamat. Dan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala akan memasukkanmu ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang ia persiapkan untuk hamba-hamba-Nya yang bertakwa, para pengikut rasul-rasul yang benar.</p>
<p>Berimanlah kamu kepada Al Qur’an yang mulia ini, kitab suci yang menaungi setiap risalah dan datang membawa akidah yang benar serta hukum-hukum yang adil yang sesuai dengan akal sehat dan fitrah yang bersih.</p>
<p>Berimanlah anda dan pengikut anda kepada Al Qur’an ini, kitab suci yang merupakan mukjizat yang tak tertandingi. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> telah menantang jin dan manusia untuk membuat yang serupa dengannya dan mereka tidak ada yang mampu, bahkan mereka gagal untuk membuat sepuluh surat yang serupa dengan Al Qur’an, dan mereka tidak mampu membuat walau satu surat pun. Mereka tidak mampu meskipun mereka buat bersama-sama.</p>
<p>Dan pada kenyataan ini sendiri cukup menjadi ajakan kepada para pendeta dan pengikut mereka untuk beriman seandainya mereka masih memiliki akal dan mau berfikir dan bersikap adil.</p>
<p>Masuklah kalian kepada Islam agar kalian selamat dan raihlah surga seluas langit dan bumi. Dan apabila kalian menolak maka bersiap-siaplah merasakan adzab yang pedih lagi kekal berupa api yang Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> ancamkan untuk orang-orang kafir, api yang panasnya luar biasa dan neraka yang sangat dalam. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman di dalam Al Qur’an yang maha aqung dan bijaksana, <em>“Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala”.</em> (QS: Al Insan: 4).</p>
<p>Dan Dia juga berfirman, <em>“Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan”. </em>(QS: Al Muzammil: 11-14)</p>
<p>Wahai pastor-pastor jangan sekali-kali kalian diperdaya oleh dunia, dan jangan sekali-kali kalian diperdaya sehingga kalian meninggalkan agama Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Ketahuilah bahwa pendahulu-pendahulu kalian telah memanipulasi kitab-kitab suci kalian dan merusak agama kalian, dan menjadikan manusia sebagai tuhan selain Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, dan menobatkan Isa sebagai anak Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> atau satu dari yang tiga, Maha Suci Alloh<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>dari yang mereka tuduhkan. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman, <em>“Katakanlah, &#8220;Dialah Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, Yang Maha Esa. Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.</em> (QS: Al Ikhlas:1-3).</p>
<p>Dan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman di dalam kitabnya yang mulia, <em>“Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala Yang Maha Penurah mempunyai anak. Dan tidak layak lagi Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”.</em> (QS: Maryam: 89-95).</p>
<p>Wahai ahli kitab dan para pastor sekalian, semua rasul datang membawa ajaran tauhid, dan memerangi kesyirikan dan diantara mereka adalah Isa. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman, <em>“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: &#8220;Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: &#8220;Hai Bani Israil, sembahlah Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala Rabbku dan Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, maka pasti Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.</em> (QS: Al Maidah: 72).</p>
<p>Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  memerintahkan Isa untuk beribadah kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em> semata, dan Isa As menegaskan bahwa Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> adalah Rabbnya dan Rabb mereka, dan ia hanyalah seorang yang diutus oleh Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> kepada mereka. Dan bahwasanya orang yang menyekutukan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  maka Alloh<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> mengharamkan atasnya surga dan tempat kembalinya adalah neraka, Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfriman, <em>“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: &#8220;Bahwanya Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Ilah (yang kelak berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.</em> (QS: Al Maidah: 73)</p>
<p>Maka berhentilah kalian wahai kaum Nashrani dan para pastor dari apa yang telah Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  peringatkan kepada kalian yaitu mempertuhankan Isa dan makhluk-makhluk Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> yang lainnya, kalau tidak maka kalian di atas kekufuran dan kesyirikan, dan balasan atas perbuatan kalian Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> haramkan atas kalian surga dan Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala menjadikan tempat kembali kalian adalah neraka.</p>
<p>Jangan tertipu dengan ajaran bapak moyang kalian dan pastor-pastor kalian serta rahib-rahib kalian, sesungguhnya mereka –demi Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>- berada di atas kebatilan dan kekufuran. Mereka telah merobah isi Taurat dan Injil seperti yang telah saya sampaikan kapada kalian. Dan jangan mengira bahwa Isa As akan menolong kalian atau memasukkan kalian ke dalam surga dan menyelamatkan kalian dari neraka, karena perkara ini bukan wewenangnya. Dan juga karena kalian telah mendurhakainya dan meninggalkan akidahnya akidah tauhid dan kalian telah menobatkannya sebagai tuhan dan Isa mengingkari orang yang melakukan demikian dan dia akan berlepas diri dari kalian dan dari kesesatan-kesesatan kalian dan dari perbuatan kalian menuhankannya dan ibunya selain Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> .</p>
<p>Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman, <em>“Dan (ingatlah) ketika Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Hai &#8216;Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: &#8220;Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala”. &#8216;Isa menjawab: &#8220;Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engaku telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: &#8220;Sembahlah Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.</em>(QS: Al Maidah: 116-118)</p>
<p>Lihatlah bagaimana Isa berlepas diri dari akidah Nashrani dan keyakinan mereka yang batil tentangnya dan juga yang berkenaan dengan ibunya, bahwa mereka berdua adalah tuhan lain selain Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Isa menegaskan di hadapan Alloh<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>bahwa ia tidak pernah memerintahkan manusia kecuali dengan apa yang diperintahkan oleh Rabb-nya, “Beribadahlah kalian kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>Rabb ku dan Rabb kalian”. Alloh<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> adalah Rabbnya dan Rabb bagi sekalian manusia dan mustahil Isa menobatkan dirinya dan ibunya sebagai tuhan dan mengajak manusia untuk menyekutukan Alloh<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala .</em></p>
<p>Apabila kalian mendustakan apa yang terkandung di dalam tulisan ini, dari kenyataan-kenyataan dan kalian masih berdalih dan mendebatnya, maka saya mengajak kalian untuk mubahalah seperti yang Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  perintahkan kepada Nabinya yang benar dan ummi, Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>  berfirman, <em>“Siapa yang membantahmu tentang kisah &#8216;Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya):&#8221;Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan kita minta supaya laknat Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.</em> (QS: Ali Imran:61). Dan Muhammad <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>  adalah tauladan bagiku dan setiap ummat Islam.  Salam sejahtera kepada mereka yang mengikuti petunjuk.</p>
<p>Ditulis oleh:<br />
Asy-Syaikh Rab’ bin Hadi Umair Al Madkhali<br />
24 Sya’ban 1427 H<br />
Sumber: <em><a href="http://www.sahab.net/">www.sahab.net</a> dan </em><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Dongeng Dalam Pendidikan]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/dongeng-dalam-pendidikan/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:42:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/dongeng-dalam-pendidikan/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Bangsa koruptor, bangsa penipu, bangsa urakan, bangsa semau gue, bangsa tid]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Bangsa koruptor, bangsa penipu, bangsa urakan, bangsa semau gue, bangsa tidak tertib..dan berbagai sebutan lain yang ditujukan pada bangsa kita sendiri yaitu Indonesia yang katanya lebih kurang 185 juta penduduknya bergama ISLAM !!! Bagaimana ini bisa terjadi ??!! Mengapa ?!!!<!--more--></p>
<p align="justify">Jawabnya bisa banyak tapi&#8230;penulis membahas salah satunya saja yaitu : Pendidikan khususnya yang dilakukan oleh para ibu&#8230;ingatlah semboyan dari orang-orang arab Ibu adalah sekolah!</p>
<p>Ibu adalah sosok perempuan yang tabah dan sabar untuk tidak pernah menurunkan gendongannya anaknya hingga lebih dari sembilan bulan. ..Dia yang berani mati mengeluarkan kita dari rahimnya dengan taruhan nyawa&#8230;yang melahirkan kita semua ..Ibu adalah insan yang begitu banyak jasanya terhadap berhasilnya sang anak dalam kehidupannya tapi juga bisa sebaliknya ibu adalah manusia menjadi faktor terhadap hancurnya sang anak dalam kehidupannya, karena semua itu tak lepas dari peran ibu sebagai orang tuanya&#8230;Sebagaimana hadits Rasululloh <em>sallallahu&#8221;alaihi wa sallam</em> yang artinya: &#8220;<em>Setiap bayi terlahir dalam keadaan fithrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya, Yahudi, Nasrani ataupun Majusi..&#8221; </em>(HR: Bukhari)</p>
<p>Ulama mengartikan fitrah itu adalah rasa cinta kepada dienul Al-Islam, menerima, dan menginginkan kebenaran, dan mengakui adanya Robb yang merupakan bakat dari setiap anak, namun peran pendidikan orang tuanya-lah yang menjadikan dia menjadi beraqidah, beribadah, berahklaq selain Islam. Sekarang coba mari kita lihat salah satu bentuk pendidikan anak yang mudah dilakukan baik orang tuanya pembantu rumah tangga, buruh pabrik, petani, pegawai kantor, pedagang, menteri, bahkan presiden&#8230;Yaitu berkisah DONGENG.</p>
<p>Mendongeng adalah suatu aktivitas bercerita suatu kisah entah khayal atau nyata yang biasanya diceritakan pada masa kanak-kanak. Dan biasanya cerita dongeng itu masih teringat oleh kita hingga dewasa karena di sana kita masih kecil dan minat mendengar dongeng kuat sekali alias kemampuan belajar tentang sesuatu di luar kita cukup besar. Sebagaimana pepatah <em>Belajar di waktu muda seperti menulis di atas batu sedangkan belajar di waktu tua seperti menulis di permukaan air</em>.</p>
<p>Sekarang ada pertanyaan dari penulis untuk pembaca ..Pernahkah anda mendengar kisah akhir yang mengenaskan dari sang kancil&#8230;.tentu tidak pernah alias selalu lolos dari hukuman maut atas kecerdikannya (TIPUANNYA). Oleh karena itu perlu kami tengahkan nasehat Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu semoga Alloh <em>Ta&#8217;ala </em>merahmatinya tentang kisah-kisah.</p>
<p>Kisah mempunyai pengaruh yang kuat terhadap jiwa, maka seorang pendidik selayaknya memperbanyak kisah-kisa yang bermanfaaat. dan itu banyak sekali terdapat dalam Al-Quran Al Karim dan sunnah-sunnah yang suci diantaranya, <em><strong>Kisah Ashabul Kahfi (penghuni gua)</strong></em>, bertujuan untuk membentuk generasi yang beriman kepada Alloh, cinta kepada tauhid dan membenci kepada kemusyrikan. Kisah <em><strong>Isa alahi wasallam</strong></em>, bertujuan untuk menjelaskan bahwa beliau adalah hamba Allah dan bukan anak Allah sebagaimana anggapan kaum Nashrani, <em><strong>Kisah Yusuf alahi sallam</strong></em>, diantara tujuannya adalah untuk memperingatkan agar jangan sampai terjadi pergaulan campur aduk antara laki-laki dan perempuan, sebab akan membawa akibat yang sangat jelek, <em>Kisah Yunus alahi wasallam</em>, bertujuan untuk menekankan agar selalu ber-isti&#8221;anah (meminta pertolongan). Hanya kepada Allah saja lebih-lebih ketika ditimpa musibah.</p>
<p><em><strong>Kisah orang-orang yang terperangkap dalam gua</strong></em> yaitu kisah yang diceritakan oleh Nabi <em>sallallahu&#8221;alaihi wa sallam</em> untuk mengajarkan kepada para sahabatnya tentang bertawassul kepada Alloh dengan amal-amal sholeh seperti ridho kepada orang tua, memenuhi hak-hak pemiliknya, dan meninggalkan zina karena takut karena Alloh. Dan sunnah nabawiyah penuh dengan kisah-kisah yang bermanfaaat.</p>
<p>Singkat kata, maka hendaknya semua pengajar/pembina/pendidik memperbanyak kisah-kisah yang bermanfaat kepada anak didiknya, sebab kisah-kisah ini merupakan pembantu terbaik bagi pembinaan generasi. Disamping itu, hendaknya mereka harus berhati-hati, jangan sampai membawakan kisah-kisah jelek yang akan mendorong anak-anak didik mengambil pengalaman untuk melakukan pencurian, tindakan-tindakan keji, dan penyimpangan-penyimpangan tingkah laku.</p>
<p>Sekarang coba kita renungkan bagaimanakah kalau kisah seperti Teletubies yang tokoh-tokohnya tidak jelas karakter wanita- prianya juga pembimbingnya bukan bapak ibu tapi dewa matahari(si bayi) dan si penyedot debu &#8230; Sinchan dengan gaya tololnya dan kesukaan pada hal &#8221;ngeres&#8221;/porno apalagi bapaknya dan ibunya yang kejam&#8230;.Power Rangers, Ksatria Baja Hitam, dan semacamnya yang menggambarkan bahwa segala permasalahan hanya bisa dipecahkan dengan kekerasan/perkelahian&#8230;Doraemon dan tokoh-tokohnya yang pemalas (si Nobita), kejam (si Giant), licik dan sombong (si Tsuneo), penolong bak Dewa Serba Bisa (si Doraemon)..Tom &#38; Jery, Donal Bebek dan semacamnya dikisahkan pada anak-anak..yang penuh adegan kekerasan dan penipuan untuk menghancurkan musuh di ajarkan pada anak didik kita. BAGAIMANAKAH NASIB GENERASI PENGGEMAR KISAH-KISAH INI !!!.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Petunjuk Praktis bagi Pendidik Muslim ed 1, Muhammad bin Jamil Zainu, 1418 H)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Do'a Untuk Penguasa]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/doa-untuk-penguasa/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:42:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/doa-untuk-penguasa/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Di alam yang penuh fitnah sekarang ini, masing-masing manusia mencoba menga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Di alam yang penuh fitnah sekarang ini, masing-masing manusia mencoba mengatasinya dengan cara mereka sendiri terutama ketika menghadapi para penguasa yang dhalim atau dianggap dhalim oleh mereka. Sebagian berdemonstrasi dan berkoalisi dengan kelompok lain untuk menggulingkan penguasanya. Lainnya menggunakan ilmu politiknya. Masing-masing menganggap cara demikianlah yang paling tepat dan cepat untuk mengatasi penguasa dhalim. Padahal cara-cara demikian tidaklah pernah diajarkan oleh umat terdahulu yang sholeh, sedangkan mereka adalah sebaik-baik panutan dalam menjalani hidup ini (secara individu, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.<font color="#000000"> </font></p>
<p align="justify">Mendoakan kebaikan untuk penguasa adalah salah satu cara yang ditempuh umat terdahulu yang sholeh untuk mengatasi kedhaliman mereka. Karena dengan berdoa kepada Alloh &#8211;agar menyelamatkan rakyat dari kedhaliman penguasanya&#8211; memberikan kebaikan dan menyadarkan mereka untuk berbuat adil dan bijaksana. Hal ini juga merupakan pengamalan dari perintah Alloh <em>Ta’ala </em>di dalam firman-Nya, yang artinya: <em>“ … kemudian bila kamu ditimpa kemudlaratan maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.”</em> (QS. An Nahl: 53)<!--more--><br />
Dan sabda Rasululloh <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>, yang artinya: <em>“Sesungguhnya akan terjadi setelahku ‘atsarah’ dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka (para shahabat) bertanya : “Wahai Rasulullah, lalu apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab : “Tunaikanlah hak mereka yang diwajibkan atas kalian dan mintalah hak kalian kepada Alloh.”</em> (Muttafaqun ‘Alaihi)</p>
<p>Al Imam An Nawawi rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Di dalam (hadits) ini terdapat anjuran untuk mendengar dan taat kepada penguasa walaupun ia seorang yang dhalim dan bersikap sewenang-wenang. Berikanlah haknya (sebagai pemimpin) yaitu berupa ketaatan, tidak memberontak, dan tidak mengkudetanya, bahkan seharusnya dengan sungguh-sungguh memohon kepada Allah Ta’ala untuk menyingkirkan gangguannya, menolak kejahatannya, dan memperbaikinya.” (Syarah Shahih Muslim 12/183)</p>
<p>Mendoakan kebaikan untuk para penguasa adalah suatu perkara yang sangat dijunjung tinggi oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, hingga Al Imam Al Barbahari <em>rahimahulloh</em> menyatakan: “Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah). Dan jika engkau mendengar seseorang mendoakan kebaikan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah, Insya Alloh.” (Syarhus Sunnah halaman 116-117)</p>
<p>Fudlail bin ‘Iyyadl seorang Imam Ahlus Sunnah yang menetap di Makkah dan wafat pada tahun 187 H menyatakan: “Kalaulah aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan niscaya tidaklah aku peruntukkan kecuali untuk penguasa.”</p>
<p>Oleh karena itu kami diperintah mendoakan kebaikan dan tidak diperintah untuk mendoakan kejelekan bagi mereka walaupun mereka berbuat jahat dan dhalim. Karena kejahatan dan kedhaliman mereka (balasan akibatnya) untuk mereka sendiri sedangkan kebaikan mereka (balasannya) untuk diri mereka dan kaum Muslimin.”</p>
<p>Begitu tegas ucapan Fudlail bin ‘Iyyadl ini sehingga menjadi rujukan Ahlus Sunnah dalam menyikapi penguasa, pemerintah, dan pemimpin mereka yang berbuat kedhaliman dan ketidakadilan.</p>
<p>Adapun tentang lafadh doanya kita dapat melafadhkannya sesuai dengan kehendak kita, yang penting mengandung makna   yang baik dan permohonan kepada Allah agar memperbaiki dan meluruskan penguasa dari penyimpangan-penyimpangan yang selama ini mereka lakukan. Khusyu’-lah dalam berdoa dan pilihlah waktu-waktu yang maqbul untuk berdoa dan dengan cara yang sesuai tuntunan Rasululloh <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>.</p>
<p>Alloh<em> Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman, yang artinya: <em>“Berdoalah kalian kepadaku niscaya Aku akan mengabulkan doa kalian.” </em>(QS. Ghafir: 60)</p>
<p><em>“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.”</em> (QS. Al Anbiya&#8217;: 90)</p>
<p>Dan janganlah mendoakan kejelekan untuk penguasa. Karena yang demikian bukanlah akhlak Ahlus Sunnah. Ulama Ahlus Sunnah tidak senang jika mendengar seseorang yang   mendoakan kejelekan untuk penguasanya. Sebagaimana yang dikhabarkan bahwa Al Hasan Al Bashri mendengar seseorang mendoakan kejelekan untuk Al Hajjaj yang kekuasaannya terkenal dengan kedhaliman, penindasan, pertumpahan darah, pelanggaran terhadap apa yang diharamkan Allah, bahkan sampai ia membunuh Abdullah bin Zubair, lalu beliau (Al Hasan Al Bashri) menyatakan: “Janganlah engkau melakukannya!”</p>
<p>Dengan sikap Al Hasan Al Bashri ini bertambah jelas bagi kita bahwa hak penguasa adalah dimintakan kepada Allah agar memperbaiki mereka dan bukan mendoakan kejelekan untuk mereka.Dan hendaklah kita juga memperbaiki diri, menjauhi larangan Allah, dan mengamalkan perintah-Nya. Karena kedhaliman para penguasa juga disebabkan dosa-dosa rakyatnya.Wallahu A’lam.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Syarhus Sunnah. Al Imam Al Barbahari, Muamalatul Hukkam fi Dlauil Kitab was Sunnah. Abdus Salam Barjas, Syarah Shahih Muslim. Al Imam An Nawawi, Bahjatun Nadhirin Syarah Riyadlus Shalihin. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Jangan Sepelekan Dosa Kecil]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/jangan-sepelekan-dosa-kecil/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:42:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/jangan-sepelekan-dosa-kecil/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Sudah maklum dikalangan ulama dan kaum muslimin bahwa dosa itu terbagi menj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Sudah maklum dikalangan ulama dan kaum muslimin bahwa dosa itu terbagi menjadi dua macam; kabair (dosa-dosa besar) dan shaghair (dosa-dosa kecil). Walau demikian ada juga sebagian ulama yang tidak melihat adanya pembagian seperti ini, namun menganggap bahwa seluruh kemaksiatan dan penyelewangan dari jalan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> adalah dosa besar karena merupakan keberanian dan kelancangan dihadapan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>. Orang yang mengatakan demikian karena melihat betapa besarnya hak Alloh atas hamba-hamba-Nya.<!--more--></p>
<p align="justify">Ada diantara ulama yang mengatakan: ”Suatu dosa dianggap kecil hanya lantaran jika dibandingkan dengan dosa lain yang lebih besar, jika tidak tentulah semua dosa itu besar adanya. ”Namun pendapat ini lemah sebab Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> sendiri telah membagi dosa dalam dua bagian yaitu fawahisy/ kabair dan al lamam/shaghair sebagaimana firmanNya, yang berarti: <em>&#8220;(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil&#8221;</em> (QS: An Najm: 32)</p>
<p>Jadi pendapat yang benar -<em>wallohu a’lam</em>- adalah bahwa dosa itu terbagi menjadi dua; besar dan kecil. Dan kabair tidaklah terbatas dengan suatu bilangan tertentu namun apa saja yang dilarang oleh Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> dan disertai dengan ancaman Neraka, murka, laknat, adzab atau berhadapan dengan sanksi hadd (hukuman berat yang telah ditentukan jenisnya) di dunia maka itulah kabair, dan yang yang selain demikain maka tergolong shaghair (ithaf as saadah al muttaqin 10/ hal 615-616).</p>
<p><strong>Berubahnya dosa kecil menjadi dosa besar<br />
</strong>Imam Ibnul Qayyim pernah berkata: ”Dosa-dosa besar biasanya disertai dengan rasa malu dan takut serta anggapan besar atas dosa tersebut, sedang dosa kecil biasanya tidak demikian. Bahkan yang biasa adalah bahwa dosa kecil sering disertai dengan kurangnya rasa malu, tidak adanya perhatian dan rasa takut, serta anggapan remeh atas dosa yang dilakukan, padahal bisa jadi ini adalah tingkatan dosa yang tinggi (tahdzib madarij as salikin hal 185-186). Dengan demikian maka dosa kecil dapat berubah menjadi besar dengan adanya faktor-faktor yang memperbesarnya, yaitu:</p>
<p><strong><em>Terus-menerus dalam melakukannya</em></strong><br />
Hal ini karena pengaruh kerasnya jiwa dan adanya raan (bercak) didalam hati, maka dari sini ada qaul mengatakan: ”Tak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus dan tak ada dosa besar jika diiringi istighfar. ”Ucapan ini dinisbatkan kepada Ibnu Abbas Radhiallaahu &#8216;anhu berdasarkan atsar yang saling menguatkan satu dengan yang lain (ithaf as-sa’adah al-muttaqin 10/687).</p>
<p><em><strong>Anggapan remeh atas dosa tersebut<br />
</strong></em>Rasululloh <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> telah bersabda, yang artinya: <em>“Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya.” </em>(HR: Ahmad dan Thabrani dalam Al Awsath). Rijal dalam dua riwayat ini shahih semuanya kecuali Imran bin Dawir Al Qaththan namun dia dapat dipercaya, demikian kata Imam Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 10/192.</p>
<p>Ibnu Mas’ud <em>Radhiallaahu &#8216;anhu</em> pernah berkata: ”Seorang mukmin melihat suatu dosa seakan-akan ia duduk dibawah gunung dan takut jikalau gunung itu menimpanya dan orang fajir (pendosa) melihat dosa bagaikan lalat yang lewat didepan hidungnya seraya berkata “begini”, Ibnu Syihab menafsirkan: yakni berisyarat (mengebutkan) tangannya didepan hidung untuk mengusir lalat.</p>
<p>Suatu ketika shahabat Anas <em>Radhiallaahu &#8216;anhu </em>pernah berkata kepada sebagian tabi’in: ”Sesungguhnya kalian semua melakukan suatu perbuatan yang kalian pandang lebih kecil dari pada biji gandum padahal di masa Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> kami menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat membinasakan. ” (HR: Al Bukhari). Di sini bukan berarti Anas mengatakan bahwa dosa besar dimasa Rasululloh <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dihitung sebagai dosa kecil setelah beliau wafat, namun itu semata-mata karena pengetahuan para shahabat akan keagungan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> yang lebih sempurna. Makanya dosa kecil bagi mereka -jika sudah dikaitkan dengan kebesaran Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> - akan menjadi sangat besar. Dan dengan sebab ini pula maka suatu dosa akan dipandang lebih besar jika dilakukan orang alim dibandingkan jika pelakunya orang jahil, bahkan bagi orang awam boleh jadi suatu dosa dibiarkan begitu saja (dimaklumi) karena ketidaktahuannya yang mana itu tentu tidak berlaku bagi orang alim dan arif. Atau dengan kata lain bahwa besar kecilnya suatu dosa sangat berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan dan keilmuan pelakunya (ithaf as-sa’adah al-muttaqin 10/690).</p>
<p>Tapi meski bagaimanapun seseorang seharusnya dituntut untuk menganggap besar suatu dosa, sebab jika tidak demikian maka tidak akan lahir rasa penyesalan. Adapun jika menganggap besar atas suatu dosa maka ketika melakukannya akan disertai dengan rasa sesal. Ibarat orang yang menganggap uang receh tak bernilai, maka ketika kehilangan ia tak akan bersedih dan menyesalinya. Namun ketika yang hilang adalah dinar (koin emas) maka tentu ia akan sangat menyesal dan kehilangannya merupakan masalah yang besar.</p>
<p><strong>Perasaan menganggap besar terhadap dosa muncul karena tiga faktor: </strong></p>
<ul>
<li>
<p align="justify">Menganggap besar atas suatu perintah (apapun ia).</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Menganggap besar Dzat atau orang yang memerintah.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Keyakinan akan benarnya balasan.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Merasa senang dan bangga dengan dosa</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Seperti seorang pelaku dosa berkata: ”Andaikan saja engkau tahu bagaimana aku mempermalukan si fulan, dan bagaimana aku membuka aib dan keburukannya sehingga nampak jelas semua!” Atau misal yang lain: ”Seandainya kamu melihat bagaimana aku memukul dia dan menghinakannya!”</p>
<p>Orang ini sudah begitu lupa dengan kejelekan dosa sehingga malah senang tatkala dapat melampiaskan keinginan-nya yang terlarang. Dan perasaan senang terhadap suatu kemaksiatan menunjukkan adanya keinginan untuk melakukannya, sekaligus menunjukkan ketidaktahuannya dengan Dzat yang ia maksiati, buruknya akibat dan besarnya bahaya kemaksiatan. Rasa senang dengan dosa telah menutupi semua itu, dan senang dengan suatu dosa lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri. Sebab. orang yang berbuat suatu dosa namun sebenarnya tidak senang dengan perbuatan itu maka ia akan segera menghentikannya. Sedangkan rasa senang dengan dosa akan menimbulkan keinginan untuk terus melakukannya.</p>
<p>Jika kealpaan dan kelalaian semacam ini telah begitu parah maka akan menyeretnya untuk melakukan dosa tersebut secara terus menerus, merasa tenang dengan perbuatan salah dan bertekad untuk terus melakukannya. Dan ini adalah jenis lain dari dosa yang jauh lebih berbahaya daripada dosa yang ia lakukan sebelumnya.</p>
<p><strong>Meremehkan “tutup dosa” dan kesantunan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em><br />
</strong>Yaitu ketika pelaku dosa kecil terbuai dengan kemurahan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> dalam menutupi dosa. Ia tidak sadar bahwa itu adalah penangguhan dari Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> untuk-nya. Bahkan ia menyangka bahwa Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> sangat mengasihinya dan memberi perlakuan lain kepadanya, sebagaimana yang Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> kabarkan kepada kita tentang para pemuka agama kaum Yahudi yang berkata: “Kami adalah anak-anak Alloh dan kekasihnya.” Juga firman Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>, yang artinya: <em>“Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri: “Mengapa Alloh tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu” Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.”</em> (QS: Al-Mujadilah: <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Membongkar dan menceritakan dosa yang telah ditutupi oleh Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em><br />
</strong>Seseorang yang melakukan dosa kecil dan telah ditutupi oleh Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em> namun ia sendiri malah kemudian menampakkan dan menceritakannya maka dosa kecil itu justru menjadi berlipat karena telah tergabung beberapa dosa. Ia telah mengundang orang untuk mendengarkan dosa yang ia kerjakan, dan bisa jadi akan memancing orang yang mendengar untuk ikut melakukannya. Maka dosa yang tadinya kecil dengan sebab ini bisa berubah menjadi lebih besar.</p>
<p>Nabi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam</em>  telah bersabda, yang artinya: <em>“Seluruh umatku akan dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam dosa (al mujahirun), termasuk terang-terangan dalam dosa ialah seorang hamba yang melakukan dosa dimalam hari lalu Alloh menutupinya ketika pagi, namun ia berkata: ”Wahai fulan aku tadi malam telah melakukan perbuatan begini dan begini!”</em> (HR: Muslim, kitabuz zuhd)</p>
<p><strong>Jika pelakunya adalah orang alim yang jadi panutan atau dikenal keshalihannya<br />
</strong>Yang demikian apabila ia melakukan dosa itu dengan sengaja, disertai kesombongan atau dengan mempertentangkan antara nash yang satu dengan yang lain maka dosa kecilnya bisa berubah menjadi besar. Tetapi lain halnya jika melakukannya karena kesalahan dalam ijtihad, marah atau yang semisalnya maka tentunya itu dimaafkan.</p>
<p>(Sumber Rujukan: <em>Al-’Ibadat Al-Qalbiyah</em>, Dr. Muhammad bin Hasan bin Uqail Musa Asy-Syarif)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Jihad Nabi Di Bumi Palestina]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/jihad-nabi-di-bumi-palestina/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:42:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/jihad-nabi-di-bumi-palestina/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Palestina adalah bumi penuh berkah yang Alloh Ta&#8217;ala jadikan sebagai ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Palestina adalah bumi penuh berkah yang Alloh <em>Ta&#8217;ala </em>jadikan sebagai tempat turunnya risalah, tempat berhimpunnya kebudayaan dan sebagai tempat hijrah para nabi-Nya. Di dalamnya terdapat kiblat pertama dan tempat diisra’kannya Nabi <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em>, di dalamnya pula Dajjal akan binasa melalui tangan<em> al-Masih ‘alaihi salam</em> dan dibinasakannya Ya’juj dan Ma’juj. Serta di dalamnya pula, bebatuan dan pepohonan akan berkata, “wahai muslim! Wahai hamba Alloh! Ini ada Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!”, maka yahudipun akan binasa melalui tangan hamba-hamba Alloh <em>Ta&#8217;ala </em>yang shalih di bumi Palestina.<!--more-->Rasululloh  <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam </em>pernah mengimami seluruh Nabi di Masjid al-Aqsha, agar Imamah (kepemimpinan) dan siyadah (kekuasaan) di atas Masjidil Aqsha tetap langgeng, agar seluruh makhluk tunduk terhadap islam.</p>
<p align="justify">Selama perputaran sejarah, kerajaan-kerajaan dan negri-negeri saling bermusuhan untuk memperebutkannya, mereka saling membinasakan dan mengalahkan dalam rangka menguasainya dan mendudukinya. Dikarenakan Palestina adalah bumi Alloh <em>Ta&#8217;ala </em>terpilih (the choosen land) yang Alloh memilihnya sebagai tempat hijrah bagi khalil (kesayangan)-Nya Ibrahim dan Kalim-Nya (Kalim = Orang yang diajak bercakap) Musa, sebagai tempat kelahiran Isa dan tempat isra’nya Muhammad <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>Di saat kemunculan Islam, Palestina saat itu di bawah kekuasaan imperium Romawi yang salibis paganis. Maka merupakan keharusan mensucikan Palestina dari najis-najis mereka. Nabi telah menulis surat kepada Raja Romawi dan mengutus kepadanya beberapa utusan.</p>
<p>Nabi <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> pernah mengerahkan pasukan dalam jumlah besar, dan Palestina ketika itu termasuk salah satu begian negeri Syam. Belum pernah terjadi saat itu adanya pembatasan-pembatasan wilayah/area yang dipisahkan oleh perjanjian ‘Saikus baiku’ yang memilukan (seperti saat ini).</p>
<p><strong>Diantara pengutusan yang pernah dilakukan Nabi ke negeri Syam dan Palestina adalah :<br />
Pertama:</strong> Pengutusan Mu’tah yang terjadi pada bulan Jumadil Akhir di tahun kedelapan Hijriah, tatkala Nabi <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> mengutus para pembesarnya ke Mu’tah (Suatu tempat di Yordan sekarang yang dekat dengan kota Kurk), suatu desa di negeri Syam, dalam rangka menuntut balas atas pembunuhan kaum muslimin di sana. Maka, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk memberikan kepemimpinan kepada maula (mantan budak) beliau, Zaid bin Haritsah, sembari beliau bersabda : “Jika Zaid terbunuh maka Ja’far bin Abi Thalib sebagai penggantinya, jika Ja’far terbunuh, maka Abdullah bin Rawahah sebagai penggantinya”, mereka pun keluar dengan jumlah hampir 3000 pasukan, Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam juga turut keluar mengantarkan mereka di sebagian perjalanan mereka, kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di ‘Mi’aan’ (sebuah kota yang terkenal di selatan Yordan, sejauh 200 km dari Amman) lalu tersiar kabar bahwa Raja Romawi Heraklius telah keluar bersama seratus ribu pasukan, disertai sekutunya Malik bin Zufalah dengan seratus ribu pasukan lainnya, dari kaum nashrani arab, dari suku lakhum, judzam dan kabilah qudlo’ah dari suku bahra’, balla dan balqoin.</p>
<p>Lantas kaum muslimin bermusyawarah di sana, mereka berkata: “Kita tulis surat kepada Rasululloh <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> apakah beliau memerintahkan kita dengan perintahnya ataukah beliau menolong kita”, maka berkata Abdullah bin Rawahah <em>RadhiAllohu ‘anhu</em>: “Wahai kaum! Demi Alloh, sesungguhnya kalian keluar berjihad mengharapkan apa yang ada di depan kalian, yaitu syahid!!! Dan kalian tidaklah memerangi manusia karena kuantitas maupun kekuatan! Akan tetapi kita memerangi mereka hanyalah semata-mata karena agama ini, yang Alloh telah memuliakan kita dengannya&#8230; maka berangkatlah!!! Karena ada dua kebaikan menunggu di sana: yaitu kemenangan atau syahid!!!”. Para sahabatpun mensepakatinya, kemudian mereka bangkit. Ketika kaum muslimin sedang mendirikan tenda di balqo’, mereka bertemu dengan pasukan Romawi dalam jumlah besar, maka kaum muslimin berhenti di dekat Mu’tah dan pasukan Romawi berada di desa yang bernama Masyarif, akhirnya mereka bertemu dan saling berperang dengan peperangan yang dahsyat.</p>
<p>Di sela peperangan, Amirul Muslimin Zaid bin Haritsah <em>RadhiAllohu ‘anhu</em> terbunuh dan bendera saat itu berada di tangannya, lantas Ja’far mengambil bendera tersebut, dan beliau turun dari kuda perangnya yang berambut pirang dan menyembelihnya, kemudian beliau maju berperang hingga tangan kanannya terputus, diraihnya bendera dengan tangan satunya hingga tangan kirinya terputus pula. Akhirnya beliau memeluk bendera tersebut hingga akhirnya beliau RadhiAllohu ‘anhu gugur dalam usia 33 tahun menurut pendapat yang benar. Lalu, bendera diambil oleh Abdullah bin Rawahah al-Anshari <em>RadhiAllohu ‘anhu</em>, beliau termenung sesaat dan sejurus kemudian beliau memantapkan diri dan maju berperang hingga akhirnya turut terbunuh.</p>
<p>Ada pendapat mengatakan, Sesungguhnya Tsabit bin Arqom yang memegang bendera selanjutnya, dan kaum muslimin menghendaki beliau memimpin mereka, namun beliau enggan, maka Khalid bin Walid <em>RadhiAllohu ‘anhu</em> yang mengambil bendera, beliau mendorong kaum muslimin, kemudian beliau berlaku lembut hingga akhirnya beliau membebaskan kaum muslimin dari musuh mereka, dan Alloh menganugerahkan kemenangan melalui kedua tangannya, sebagaimana Rasululloh telah memberitakan hal ini seluruhnya ketika di Madinah hari itu, di saat beliau berdiri di atas mimbar, beliau mengumumkan gugurnya para pembesar sahabat satu persatu kepada mereka dan kedua air mata beliau <em>ShalAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> bercucuran air mata. Hadits ini terdapat dalam ‘ash-Shahih’, akhirnya malam hari tiba dan kaum kuffar berhenti berperang.</p>
<p>Melihat banyaknya jumlah musuh dan sedikitnya jumlah kaum muslimin dibandingkan mereka, namun tidak banyak korban dari kaum muslimin yang terbunuh menurut penuturan ahli sejarah, mereka tidak menyebutkan nama-nama korban kaum muslimin melainkan hanya sekitar sepuluh orang saja.</p>
<p>Kaum muslimin kembali untuk kesekian kalinya, dan Alloh senantiasa melindungi dari kejahatan kaum kafir, segala pujian dan sanjungan bagi Alloh, dimana peperangan ini mendasari peperangan melawan Romawi berikutnya dan penghancur muduh-musuh Alloh dan Rasul-Nya.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> pengutusan Usamah bin Zaid <em>RadhiAllohu ‘anhuma</em>. Pengutusan ini merupakan penyempurna pengutusan ayahnya, Zaid bin Haritsah sebelumnya, sekaligus membalas pasukan Romawi yang telah membunuh ayahnya di Mu’tah. Nabi ShalAllohu ‘alaihi wa Sallam yang memerintahkan pengutusan Usamah dan beliau saat itu berada di atas pembaringan kematian, dan pasukan Usamah saat itu berkumpul di Jarfi di saat wafatnya Rasululloh <em>ShalAllohu ‘alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>Termasuk petunjuk Nabi kita <em>ShalAllohu ‘alaihi wa Sallam</em> adalah, beliau tidak memulai memerangi seseorang sebelum menyampaikan dakwah dan mengajaknya kepada Alloh Ta’ala. Rasululloh benar-benar memegang manhaj ini sebagai pengejawantahan berpegang kepada perintah Alloh Ta’ala. Beliau berpegang kepada manhaj ini terhadap seluruh kaum yang memeranginya baik dari kabilah Arab ataupun raja-raja dan pembesar di zamannya. Beliau seru mereka kepada Alloh Ta’ala dan mengutus kepada mereka utusan serta mengirim surat-surat beliau yang mengajak kepada Alloh, tanpa terkecuali seorangpun dari mereka. Diantaranya adalah: Surat beliau kepada Raja Romawi Heraklius. Dari hadits Ibnu Abbas<em> RadhiAllohu ‘anhuma</em>: Bahwasanya Abu Sufyan mengabarkan: “Aku pernah bersama Rasululloh barang sesaat dan hanya ada aku dan beliau”, lantas Abu Sufyan berkata : “Tatkala aku di Syam, datang sebuah surat dari Rasululloh kepada Heraklius, yaitu pemimpin tertinggi Romawi”. Beliau melanjutkan, “Komandan pasukan Kalbi datang dengan surat tersebut, kemudian dia serahkan kepada Raja Bashra dan Raja Bashra menyerahkannya kepada Heraklius, yang isinya:</p>
<p>Dengan nama Alloh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad utusan Alloh kepada Raja Romawi Heraklius&#8230;</p>
<p>Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk&#8230;</p>
<p>Setelah itu :</p>
<p>Sesungguhnya aku menyerumu dengan seruan Islam, maka masuklah ke dalam agama Islam maka engkau akan selamat, dan niscaya Alloh akan membalasmu dengan ganjaran dua kali lipat. Jika engkau berpaling, maka sesungguhnya bagimu dosa seluruh pengikutmu&#8230;</p>
<p>Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Alloh dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Alloh.&#8221; Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: &#8220;Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Alloh).&#8221; (Ali Imran : 64)”</p>
<p align="justify">(Sumber: Majalah al-Asholah no 30 tahun ke-5, Oleh  Asy-Syaikh DR. Abu Anas Muhammad Musa Alu Nashr)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Sejenak...., Renungan Para Muslimah]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/sejenak-renungan-para-muslimah-2/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:37:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/sejenak-renungan-para-muslimah-2/</guid>
<description><![CDATA[Ukhti Al-Muslimah ….. ! Wahai wanita yang tunduk di depan kekafiran, berkata : “Kamu adalah wanita t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"></span></span>Ukhti Al-Muslimah ….. !<br />
Wahai wanita yang tunduk di depan kekafiran, berkata : “Kamu adalah wanita terpelajar. Diantara kami ada seorang dokter, ada sastrawati, ada wartawati, ada dosen yang mengajar di negeri kalian. Islam tak pernah melarang sedikitpun hal itu, tak ada perbedaan lagi antara laki-laki dan wanita. Senangkah anda pada kami ? Jawaban kami cukup menyitir Firman Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. ”</em> (QS. Al-Baqorah: 120). <!--more--></p>
<p>Mereka berkata: “Cukup bagi saya dengan<strong> keIslamanmu terbatas pada ibadat ritual semata. Adapun ilmu anda, moral, tingkah laku, pakaian, ide, dan seluruh urusan dunia anda, wajiblah kamu mengikuti cara kami (kaum kafir)”</strong></p>
<p align="justify">Sungguh telah nyata sabda Rasululah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>: <em>“Kamu akan mengikuti cara orang-orang sebelummu, sedikit demi sedikit, hingga andaikan mereka memasuki lobang biawak, kamu akan ikut masuk kedalamnya, kami berkata : Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani ?, jawab Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Siapa lagi kalau bukan mereka.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Ukhti Al-Muslimah ……. !<br />
<strong>Kamu seharusnya memperhatikan pakaianmu dan berbuat serta wajib memiliki kepribadian Islam sebagaimana apa yang kamu dengar, lihat dan baca (ajaran Islam).</strong></p>
<p>Sungguh sedikit orang yang berbuat dan mengajak kepada kebaikan, sebagaimana seruan seorang penyair Arab:<br />
<strong>“Wahai kamu yang selalu mengurusi badanmu. Betapa banyak usaha yang telah kamu lakukan. Apakah kamu mencari keuntungan dari sesuatu yang jelas rugi. Perhatikan jiwamu, sempurnakan keutamaannya, sebab kamu disebut manusia dengan jiwa, bukan karena tubuh jasadmu.”</strong></p>
<p>Ukhti Al-Muslimah …….. !<br />
Jadikan Khodijah, suri tauladan dan panutanmu dalam berjuang dengan harta dan jiwa.<br />
Jadikan Aisyah, tauladanmu dalam ilmu pengetahuan. Jadikan keluarga Yasir, suri tauladan anti dalam kesabaran dan berpegang teguh pada agama Allah.</p>
<p><strong>Wahai Ibu generasi mendatang</strong>, perhatikan perkataan seorang penyair Arab:<br />
“Ibu adalah madrasah, jika anda persiapkan, berarti anda mempersiapkan generasi yang harum namanya.</p>
<p>Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram, ia akan berdaun rindang. Ibu adalah ustadzah pertama, pengaruhnya sangat besar berbobot sepanjang masa.”</p>
<p>Ukhti Al-Muslimah …….. !<br />
Andai mereka melihat bentuk tubuhmu tidak menarik lagi atau ketika usiamu telah senja, tua renta, apakah mereka masih memajang fotomu, di sampul-sampul majalah, buku dan semisalnya, walaupun kamu orang yang terpelajar ?. Masihkah mereka memintamu bekerja sebagai pramugari di salah satu pesawat, dengan dalih penghargaanmu terhadap wanita ?. Masihkah kamu temui orang yang memperjuangkan sempitnya ruang lingkup belajarmu ?.</p>
<p>Sesungguhnya mereka hanya ingin menikmati kecantikan wajah dan kemolekkan tubuh serta merdunya suaramu. Bila hal itu hilang darimu, maka merekapun pasti meninggalkanmu, seakan-akan kamu adalah sebuah barang yang sudah habis masa pakainya ( kata pepatah : habis manis sepah dibuang).</p>
<p>Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus. Amiin. Wallahu &#8216;Alam</p>
<p align="justify">Sumber: <span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> </span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Menangisi Kematian Dalam Tinjauan Islam]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/menangisi-kematian-dalam-tinjauan-islam/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:36:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/menangisi-kematian-dalam-tinjauan-islam/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Dari Jabir bin Abdullah radhiallaahuanhu  ia pernah berkata: Pada peperanga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Dari Jabir bin Abdullah r<em>adhiallaahuanhu </em> ia pernah berkata: Pada peperangan Uhud ayahku terbunuh, akupun menyingkap kain dari wajahnya dan menangis. Orang-orang melarangku namun Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> tidak melarang, kemudian bibiku Fathimah ikut menangis lalu Nabi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Engkau tangisi atau tidak malaikat akan terus menaunginya dengan sayap-sayap mereka sampai kalian mengusungnya.&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;alaih).<!--more-->Kemudian dari Ibnu Umar <em>radhiallaahuanhu</em> diriwayatkan bahwa ia berkata: &#8220;Saad bin Ubadah pernah sakit keras. Nabi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> datang menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqash serta Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiallaahu anhu</em>. Ketika beliau masuk Saad sudah dikerubungi keluarganya, beliau lalu bertanya: <em>&#8220;Apakah ia sudah tiada?&#8221; mereka menjawab: &#8220;Belum wahai Rasululloh. &#8220;Maka beliaupun menangis dan ketika orang-orang melihat Nabi menangis merekapun menangis. Beliau bersabda, yang artinya: &#8220;Sesungguhnya Alloh itu tidak menyiksa karena tetesan air mata kesedihan hati, tetapi Allah hanya akan menyiksa karena ini, (beliau menunjuk kearah lidahnya) atau Allah akan mengampuninya.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p align="justify">Sementara itu shahabat Anas bin Malik <em>radhiallaahu anhu</em> juga pernah meriwayatkan ketika putra Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>, Ibrahim akan meninggal, ia datang menemui Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> sedangkan Ibrahim nafasnya sudah terengah-engah, maka kedua mata beliaupun berlinang air mata. Dalam riwayat lain disebutkan beliau mengambilnya dan meletakkannya di atas pangkuan sambil berkata: &#8220;Wahai anakku! Aku tidak memiliki hak kuasa apapun yang dapat kuberikan kepadamu di sisi Alloh&#8221;. Melihat Nabi <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> menangis, Abdurrahman bin Auf dan Anas lalu bertanya:<em> &#8220;Wahai Rasululloh mengapa Anda menangis? Bukankah Anda telah melarang menangis?&#8217; Beliau menjawab : &#8220;Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya tangisan itu adalah rahmat, dan barangsiapa tidak memiliki kasih sayang maka ia tidak mendapatkan kasih sayang&#8221;, kemudian beliau melanjutkan sabdanya: &#8221; Sesungguhnya mata bisa berlinang, hati juga bisa berduka namun kita hanya bisa mengucapkan yang diridhai Rabb kita. Wahai Ibrahim, sungguh kami sangat bermuram durja karena berpisah denganmu.&#8221; </em>(HR. Al-Bukhari dan Mus-lim)</p>
<p>Dalam riwayat lain Anas menutur-kan bahwa Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>pernah bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Zaid mengambil panji peperangan kaum muslimin kemudian ia terbunuh, lalu panji diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah dan iapun terbunuh, kemudian diambil alih lagi oleh Ja&#8217;far dan ia juga terbunuh.&#8221; Kedua mata Rasululloh Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam berlinang air mata. Setelah itu panji diambil alih oleh Khalid bin Walid tanpa adanya penyerahan sebelumnya, namun melalui tangannya Alloh Subhannahu wa Ta&#8217;ala memberi kemenangan.&#8221;</em> (HR Al Bukhari).</p>
<p>Dalam riwayat Ibnu Abbas <em>Radhiallaahu anhu </em>disebutkan bahwa ketika Zainab putri Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> wafat maka sebagian kaum wanita ada yang menangis, maka ketika Umar <em>radhiallaahu anhu </em>mau memukul para wanita itu dengan cemetinya, Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>mencegahnya kemudian beliau bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Sabar wahai Umar! Kemudian kalian semua para wanita hendaklah berhati-hati terhadap teriakan setan!&#8221; Beliau lalu melanjutkan sabda-nya, artinya: &#8220;Apabila hanya berasal dari mata dan hati maka itu dari Alloh dan merupakan rahmat, namun jika itu dari tangan dan mulut maka ia dari setan.&#8221;</em> (HR. Ahmad)</p>
<p>Aisyah <em>Radhiallaahu anha</em> pernah meriwayatkan bahwa ketika Sa&#8217;ad bin Muadz meninggal, Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em>, Abu Bakar dan Umar melayatnya. Aisyah berkata:<em> &#8220;Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku bisa membedakan antara tangisan Abu Bakar dengan tangisan Umar sementara aku berada di kamarku.&#8221;</em> (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad).</p>
<p>Ada riwayat lain tentang kisah meninggalnya putra Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam yang bernama Ibrahim, yakni sebagaimana disampaikan oleh Asma&#8217; binti Yazid Radhiallaahu anha, dia bercerita: &#8220;Ketika Ibrahim putra Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam wafat, beliau menangis. Kemudian Abu bakar -atau mungkin Umar- bertanya: &#8220;Wahai Rasulullah, Engkau adalah orang yang paling berhak untuk dimuliakan haknya oleh Allah.&#8221; Maka beliau bersabda: &#8220;Mata bisa menangis, hati boleh bersedih, namun kita hanya mengucapkan yang diridhai Ilahi. Kalaulah bukan janji yang benar, tempat kembali yang sempurna dan akherat yang pasti datang setelah berlalunya dunia, pasti kami sudah mendapatkan hal yang paling berat dengan kepergianmu. Sungguh kami amat berduka karenamu.&#8221; (HR. Ibnu Majah)</p>
<p>Dalil-dalil di atas merupakan alasan bagi mereka yang membolehkan menangis atas orang yang akan meninggal maupun yang telah meninggal. Demikian pendapat madzhab Ahmad bin Hambal dan Abu Hanifah. <strong>Sedangkan Imam Syafi&#8217;i dan banyak kalangan shahabat melarang menangisi mayit setelah meninggalnya, dan membolehkan menangis ketika belum meninggal. </strong>Alasan yang digunakan adalah riwayat Jabir bin Atik <em>radhiallaahu anhu</em>, ketika Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam </em>menjenguk Abdullah bin Tsabit Radhiallaahu anhu beliau mendapatinya sudah hampir meninggal dunia. Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> memanggilnya namun Abdullah sudah tidak menjawab lagi, kemudian beliau mengucap istirja&#8217;<em> (Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un) </em>seraya bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Kami terlambat mendatangimu wahai Abu Rabi.&#8221; Maka kalangan wanitapun menangis, dan Ibnu Atik berusaha untuk mendiamkan mereka, namun Rasululloh Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda, artinya: &#8220;Biarkan saja mereka. Apabila datang kepastian maka janganlah ada yang menangis lagi.&#8221; Ibnu Atik bertanya: &#8220;Apa kepastian itu wahai Rasulullah?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Kematian&#8221; </em>(HR. Ahmad dan Abu Dawud, hadits ini sesuai lafazh Abu Dawud). Ini menujukkan larangan menangisi orang yang telah meninggal dan kebolehannya sebelun meninggal. Larangan tersebut diperkuat dengan hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah Ibnu Umar, Rasulullah <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> bersabda, yang artinya: &#8220;<em>Sesungguhnya orang meninggal akan tersiksa oleh tangisan keluarganya.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Kata al-mayit di sini menunjukkan bahwa ia telah meninggal dunia karena orang yang belum meninggal tidak bisa dikatakan sebagai mayit.</p>
<p>Selain itu Ibnu Umar Radhiallaahu anhu juga meriwayatkan bahwa ketika Rasululloh <em>Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam</em> datang dari Uhud pernah mendengar kalangan wanita dari Bani Asyhal menangisi orang yang meninggal, maka beliau bersabda: <em>&#8220;Tetapi Hamzah tidak ada yang menangisinya.&#8221; Maka datanglah kalangan wanita dari Al-Anshar lalu menangisi Hamzah di sisi Nabi. Maka Rasululloh bangkit dan bersabda, artinya: &#8220;Celaka mereka, mengapa mereka menangis di sini, sungguh mereka telah membikin susah diri sendiri. Suruh mereka semua pulang kemudian janganlah mereka menangisi orang yang meninggal setelah hari ini.&#8221; </em>(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)</p>
<p><strong>Bagaimana kita menyikapi masalah ini?<br />
</strong>Kedua pendapat di atas sama-sama menyampaikan dalil dan alasan yang shahih, oleh karena itu kita tetap harus menerimanya tanpa menyalahkan pihak manapun. Mereka adalah para imam mujtahid yang sudah diakui kredibilitasnya. Yang terpenting kita bisa me-nempatkan masalah ini sesuai porsinya. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya menangisi orang yang meninggal tidaklah mengapa baik itu sebelum meninggal maupun setelahnya dengan syarat bahwa tangisan tersebut masih dalam batas-batas yang dibolehkan oleh syariat. Yaitu tidak disertai dengan teriakan-teriakan atau raungan, ratapan, memukul wajah, merobek pakaian dan sikap-sikap lain yang disebut oleh Nabi berasal dari syetan. Ia hanya sekedar ungkapan rasa sedih dalam hati kemudian diiringi tetesan air mata atau isakan yang tidak ada unsur tidak ridha atau menolak takdir Alloh. Adapun dalil tentang larangan menangis yang dikemukakan kita pahami sebagai larangan dari tangisan yang disertai ratapan serta sikap-sikap sebagaimana yang telah disebutkan. Hal ini juga diperkuat dengan riwayat lain yang menyebutkan bahwa sesungguhnya mayit itu akan tersiksa disebabkan ratapan keluarganya , di samping yang menggunakan lafazh tangisan.</p>
<p>Hanya saja perlu dicatat bahwa kesedihan itu tidaklah diperintahkan meski dibolehkan dan jika kesedihan itu menjurus kepada kelemahan hati dan menjauhkan dari melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya maka ia adalah tercela. Sebaliknya jika kesedihan itu diiringi dengan perbuatan-perbuatan terpuji yang mengandung pahala maka ia menjadi perbuatan terpuji, hanya saja pahala tersebut bukan disebabkan kesedihan itu namun karena perbuatan baik yang ia kerjakan. Dalam banyak ayat Alloh menyuruh kita agar jangan bersedih seperti dalam firman-Nya, yang artinya: <em>&#8220;Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya).&#8221; </em>(QS.Ali Imran: 139). Dan masih banyak ayat-ayat lain yang senada dengan ayat di atas. Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Shohih Bukhori, Musnad Imam Ahmad, dan lain-lain)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Malam yang Berbahaya]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/malam-yang-berbahaya/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:35:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/malam-yang-berbahaya/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, &#8220;Rasululloh shallallahu alaihi w]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, <em>&#8220;Rasululloh shallallahu alaihi wasalam bersabda: Matikanlah lampu-lampu itu pada malam hari ketika kalian tidur, tutuplah pintu-pintu, ikatlah mulut-mulut geriba, tutuplah makanan dan minuman.&#8221; Dalam riwayat yang lain ditambahkan, &#8220;Peluklah bayi-bayi kalian pada waktu sore karena jin pada waktu itu berkeliaran dan menyambar.&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
<!--more-->Dalam hadits ini Rasululloh <em>shallallahu alaihi wasalam</em> memerintahkan kita melakukan lima hal sebelum menutup hari dengan tidur. <strong>Ini adalah sebuah langkah antisipasi, dalam mewujudkan terjadinya kemaslahatan-kemaslahatan. Agar tidak ada musibah yang dapat menganggu kita, saat sedang tidur atau usai tidur.</strong></p>
<p align="justify"><strong>Pertama, padamkan lampu.</strong> Barangkali saja ada di antara kita yang senang tidur dengan suasana terang benderang. Bagi mereka, tidur dengan cara gelap, akan membuat suasana terasa tidak nyaman, dan sumpek. Tarikan napas tidak senormal biasanya. Namun alangkah baiknya bila tidak semua ruangan dalam kondisi &#8220;on&#8221;. Benderang ruangan akan membuat orang yang berniat jahat tambah tertarik setelah menyaksikan harta kekayaan Antum begitu menggoda.</p>
<p><strong>Kedua, tutup pintu.</strong> Sekalipun antum sudah sangat lelah dan ada anggota rumah lain atau pembantu yang biasa melakukan hal itu, periksalah ulang kunci pintu rumah antum. Barangkali sudah terkunci akan tetapi masih kurang rapat betul. Selain mengantisipasi datangnya orang-orang usil yang akan merugikan antum seperti tersebut di atas, juga menjaga kemungkinan masuknya binatang seperti ular.</p>
<p><strong>Ketiga dan keempat, menutup teko, mengikat geriba, atau menutup semua mangkuk yang berisi makanan dan minuman. </strong>Pada saat kita sedang tidur nyenyak, itu adalah kesempatan yang baik bagi para tikus, cecak, atau serangga lain untuk dengan bebas melakukan apa saja di dapur rumah. Karenanya, menjaga dari kemungkinan dihinggapi, dijilati, atau kejatuhan kotorannya adalah tindakan baik dalam berjaga-jaga. Mungkin antum punya kulkas atau alat pengaman lain, tetapi makanan atau minuman belum dimasukkan ke sana.</p>
<p><strong>Kelima, Lindungilah segenap keluarga antum dari bahayanya malam.</strong> Utamanya terhadap anak-anak kecil, tidaklah perlu diberi kebebasan sesuka hati pada mereka untuk menikmati malam hari dengan bebas berkeliaran ke sana kemari. Malam menyimpan banyak bahaya, sementara mereka masih belum mampu melihat adanya bahaya-bahaya itu, belum mampu menjaga diri. Bahaya nyata ada didepan mata, katakanlah mereka dapat saja terantuk batu, terpelosok lubang, digigit kalajengking atau digigit ular atau binatang yang lainnya.</p>
<p>Dalam sebuah hadits dijelaskan, baik jin maupun syetan itu berkeliaran pada malam hari. Jin maupun syetan bisa saja masuk melalui layar kaca (televisi) yang ada di rumah. Anak kita menjadi begitu sulit dan nakal karena pengaruh tayangan TV yang biasanya makin menarik di malam hari.</p>
<p>Semoga kita bisa menjalankan lima pesan Rasululloh<em> shallallahu alaihi wasalam </em>ini. InsyaAllah. <em>Wallahu A&#8217;lam</p>
<p></em>(Sumber Rujukan: Mukhtasor Shohih Bukhori)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Urgensi Bertanya]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/urgensi-bertanya/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:34:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/urgensi-bertanya/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Seorang Muslim sangat dituntut untuk mengetahui dan memahami banyak persoal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Seorang Muslim sangat dituntut untuk mengetahui dan memahami banyak persoalan dan ilmu pengetahuan. Semakin banyak ajaran Islam yang kita pahami, insyaAlloh semakin banyak pula yang bisa kita amalkan, karena <strong>mengamalkan ajaran Islam itu harus didahului dengan pemahaman</strong>, sementara semakin sedikit yang kita pahami dari ajaran Islam, makin sedikit pula yang bisa kita amalkan, apalagi belum tentu semua yang kita pahami dari ajaran Islam secara otomatis bisa kita amalkan dalam kehidupan ini. <!--more-->Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui dan memahami suatu persoalan, termasuk di dalamnya ajaran Islam. <strong>Salah satunya adalah dengan bertanya.</strong> Karena itu bertanya menjadi sesuatu yang amat penting. Bahkan pribahasa kita menyebutkan: Malu bertanya, sesat di jalan.</p>
<p align="justify">Untuk mengetahui kadar pengetahuan seseorang, kedewasaan pribadinya, bahkan pengalaman hidupnya bisa kita ketahui dari bagaimana seseorang itu mengajukan pertanyaan. Begitu pula halnya dengan ajaran Islam. Bobot pertanyaan, kedalaman jiwa dalam berIslam hingga apa sebenarnya yang dikehendakinya bisa terlihat dari pertanyaan para sahabat tentang berbagai persoalan kepada Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan ini erat kaitannya dengan turunnya suatu ayat atau surat di dalam Al-Qur&#8217;an. Ada banyak faktor yang menyebabkan turunnya suatu ayat atau surat, faktor-faktor inilah yang disebut dengan <em>asbaabun nuzul</em> (sebab-sebab turunnya) firman Alloh <em>Ta&#8217;ala</em>. Salah satu sebab dari turunnya ayat atau surat di dalam Al-Qur&#8217;an adalah adanya pertanyaan dari para sahabat tentang berbagai persoalan, karena itu ada banyak ayat yang dimulai dengan <em>yasaluunaka</em> (mereka bertanya kepadamu) atau<em> wa idza sa&#8217;alaka</em> (apabila kamu ditanya).</p>
<p><strong>DIBALIK PERTANYAAN.<br />
</strong>Memiliki semangat bertanya merupakan sesuatu yang amat penting bagi kaum muslimin, dengan bertanya apa yang belum diketahui menjadi mudah diketahui, apa yang belum jelas menjadi jelas dan apa yang diragukan menjadi tidak perlu diragukan lagi, bahkan dengan bertanya kita pula bisa mendapatkan jawaban atas penjelasan yang jauh lebih luas dari apa yang kita perkirakan. Ini semua menunjukkan bahwa para sahabat Nabi adalah orang-orang yang selalu ingin menyesuaikan diri dengan segala ketentuan Alloh <em>Ta&#8217;ala</em> sehingga untuk menghindari terjadinya penyimpangan atau mengambil kesimpulan sendiri secara salah, maka pertanyaan diajukan untuk mendapatkan petunjuk jalan yang benar.</p>
<p>Salah satu dari sekian banyak ayat yang turun dengan sebab adanya pertanyaan dari sahabat adalah firman Alloh <em>Ta&#8217;ala </em>yang artinya: <em>&#8220;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang mendo&#8217;a apabila ia berdo&#8217;a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran&#8221;</em> (QS. Al-Baqoroh:186).</p>
<p>Ayat tersebut turun karena ada sahabat yang bertanya tentang Alloh itu jauh atau dekat. Rasulullah <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> balik bertanya: &#8220;Mengapa engkau bertanya demikian?”. Sahabat menjawab: &#8220;Ya Rasul, kalau jawaban engkau bahwa Alloh itu jauh, saya akan berdo&#8217;a kepada-Nya dengan berteriak dan suara keras, tapi bila jawaban engkau bahwa Alloh itu dekat, saya akan berdo&#8217;a dengan suara yang datar atau rendah”. Maka turunlah ayat itu untuk menegaskan bahwa Alloh itu pada hakikatnya dekat dengan manusia.</p>
<p>Bentuk-bentuk pertanyaan dari para sahabat tidak hanya menyebabkan turunnya suatu ayat atau surat di dalam Al-Qur&#8217;an, tapi juga terungkapnya hadits dari Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang di dalam ilmu hadits disebut dengan <em>asbabul wurud</em>. Pertanyaan dari para sahabat membuat Rasulullah <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberikan jawaban-jawaban yang sangat berharga, tidak hanya bagi para sahabat pada masa itu, tapi juga kita semua pada masa sekarang. Diantara contoh hadits yang terkait dengan pertanyaan sahabat adalah yang artinya: <em>&#8220;Seorang Arab Badui bertanya: &#8220;Kapankah tiba hari kiamat?&#8217;. Nabi menjawab: &#8220;Apabila amanah telah diabaikan, maka tunggulah kiamat itu”. Orang itu bertanya lagi: &#8220;Bagaimanakah disia-siakannya amanah itu?”. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: &#8220;Apabila suatu perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat”. </em>(HR. Bukhari).</p>
<p><strong>METODE DIALOG<br />
</strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dari ayat dan hadits di atas serta dalil-dalil lain yang tidak sanggup kami tulis semua dalam akibat keterbatasan kami ini, kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga betapa para sahabat merupakan orang-orang yang suka bertanya dan Rasululloh <em><font face="Trebuchet MS">sholallahu ‘alaihi wa sallam</font></em> juga senang dengan pertanyaan para sahabat, ini berarti terbuka kesempatan berdialog yang begitu luas pada masa Rasululloh <em><font face="Trebuchet MS">sholallahu ‘alaihi wa sallam</font></em>, bahkan dialog itu memang menjadi salah satu metode dalam da&#8217;wah dan pendidikan. Sebagai pemimpin, Rasululloh <em><font face="Trebuchet MS">sholallahu ‘alaihi wa sallam</font></em> mengembangkan dialog sehingga dari sini Rasulullah <em><font face="Trebuchet MS">sholallahu ‘alaihi wa sallam</font></em> juga mendapatkan masukan-masukan atau ide-ide cemerlang yang sedemikian berharga dalam mensukseskan perjuangan. Salman Al Farisi, ketika mendengar penjelasan Rasululloh <em><font face="Trebuchet MS">sholallahu ‘alaihi wa sallam</font></em> bahwa strategi perang yang akan dilakukan adalah bertahan dengan menunggu serangan musuh untuk selanjutnya dihalau, maka beliau bertanya kepada Rasululloh: &#8220;Apakah strategi ini memang berdasarkan wahyu atau gagasan engkau secara pribadi?”. Rasul menjawab: &#8220;Ini bukan berdasar wahyu”. Maka Salman mengusulkan agar tidak sekedar menunggu serangan, tapi harus membuat perangkap berupa parit dan usul inipun disepakati sehingga digalilah parit sebagai perangkap yang membentengi kaum muslimin, maka perang inipun disebut dengan perang khandaq (parit).</p>
<p></span>Dalam mendidik anggota keluarga, menciptakan suasana yang dialogis merupakan sesuatu yang amat penting sehingga kesadaran melaksanakan sesuatu yang baik dan benar tumbuh dari dalam jiwa masing-masing anggota keluarga, bahkan kita bisa mengetahui tidak hanya kesadaran yang tinggi, tapi ada nilai plus yang sama sekali tidak kita duga, inilah yang pernah dialami oleh Nabi Ibrahim <em>‘alaihis sallam</em> ketika berdialog dengan anaknya, Ismail <em>‘alaihis sallam</em> dalam menyampaikan perintah Alloh <em>Ta&#8217;ala</em> untuk menyembelih sang anak kesayangan itu. Ismail ternyata bukan hanya mempersilahkan bapaknya untuk melaksanakan perintah Alloh, tapi nilai plus yang ditunjukkannya adalah bahwa kebaikan yang dilakukannya ini belumlah seberapa dibandingkan kebaikan generasi terdahulu, dalam hal ini adalah kesabaran, peristiwa yang mengagumkan ini difirmankan oleh Alloh yang artinya: <em>&#8220;Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim ‘alaihis sallam, Ibrahim ‘alaihis sallam berkata: &#8220;Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?”. Ia menjawab: Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Alloh kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”</em> (QS Ash Shaaffaat:102).</p>
<p>Dari penjelasan di atas, menjadi semakin jelas bagi kita betapa bertanya dan berdialog itu menjadi amat penting. Untuk memperbaiki diri kita masing-masing kita perlu memulai dengan bertanya dan berdialog kepada diri kita sendiri, inilah yang disebut dengan <em>muhasabah</em> (introspeksi diri). Pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri kita antara lain: darimana saya berasal, untuk apa saya hidup, kemana saya akan kembali, apa saja yang sudah saya lakukan, apakah lebih banyak keshalehan daripada kesalahan yang saya tunjukkan, apa yang semestinya saya lakukan, bagaimana seharusnya saya menjalani kehidupan dan seterusnya.</p>
<p>Akhirnya, menjadi keharusan bagi kita untuk mengembangkan suasana yang dialogis dan amat penting bagi kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanyaan dalam upaya meningkatkan kualitas perjalanan hidup yang singkat ini. wallahu a&#8217;lam<br />
<strong>ID PENULIS: Muslim Pejuang (Telah dikoreksi oleh Redaksi, <em>wallahu a&#8217;lam</em>)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Sesungguhnya Agama Itu Mudah]]></title>
<link>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/sesungguhnya-agama-itu-mudah/</link>
<pubDate>Fri, 02 Feb 2007 02:34:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>arsipmoslem</dc:creator>
<guid>http://arsipsiroh.wordpress.com/2007/02/02/sesungguhnya-agama-itu-mudah/</guid>
<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Kerap kali manusia mengulang-ulang perkataan ini (yaitu ucapan &#8220;Sesun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span><strong>Kerap kali manusia mengulang-ulang perkataan ini (yaitu ucapan &#8220;Sesungguhnya agama itu mudah&#8221;), akan tetapi (sebenarnya) mereka (tidak menginginkan) dengan ucapan itu, untuk tujuan memuji Islam, atau melunakkan hati (orang yang belum mengerti Islam) dan semisalnya. Yang diinginkan mereka adalah pembenaran terhadap perbuatan mereka yang menyelisihi syari&#8217;at. Bagi mereka kalimat itu adalah kalimat haq, namun yang diinginkan dengannya adalah sebuah kebatilan.</strong><!--more-->Ketika salah seorang diantara kita ingin memperbaiki perbuatan yang menyalahi syari&#8217;at, orang-orang yang menyalahi (syari&#8217;at itu) berhujjah dengan perkataan mereka: &#8220;Islam adalah agama yang mudah&#8221;. Mereka berusaha mengambil keringanan yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, dengan sangkaan bahwa mereka telah menegakkan hujjah bagi orang yang menasehati mereka agar mengikuti syariat yang sesuai dengan Al-Qur&#8217;an dan Sunnah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="justify"><strong>Orang-orang yang menyelisihi syariat itu hendaknya mengetahui bahwa Islam adalah agama yang mudah.</strong> (Akan tetapi maknanya adalah) dengan mengikuti keringanan-keringanan yang diberikan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  dan Rasul-Nya kepada kita.</p>
<p>Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  dan Rasul-Nya telah memberi keringanan bagi kita, ketika kita membutuhkan keringanan itu dan ketika adanya kesulitan dalam mengikuti (melaksanakan perintah) yang sebenarnya.</p>
<p>Asal dari ungkapan &#8221; Sesungguhnya agama itu mudah&#8221; adalah penggalan kalimat dari hadits Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Abu Hurairah dari Nabi<em> sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak mengurangi), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Alloh) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat&#8221;<br />
</em><br />
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan ungkapan &#8220;Sesungguhnya agama itu mudah&#8221; dalam kitabnya yang tiada banding (yang bernama): Fathul Baariy Syarh Shahih Al-Bukhari 1/116. Beliau berkata: &#8220;Islam itu adalah agama yang mudah, atau dinamakan agama itu mudah sebagai ungkapan lebih (mudah) dibanding dengan agama-agama sebelumnya. Karena Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  mengangkat dari umat ini beban (syariat) yang dipikulkan kepada umat-umat sebelumnya. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah (dalam masalah taubat), taubatnya umat terdahulu adalah dengan membunuh diri mereka sendiri. Sedangkan taubatnya umat ini adalah dengan meninggalkan (perbuatan dosa) dan berazam (berkemauan kuat) untuk tidak mengulangi.</p>
<p>Kalau kita melihat hadits ini secara teliti, dan melihat kalimat sesudah ungkapan &#8220;agama itu mudah&#8221;, kita dapati Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> memberi petunjuk kepada kita bahwa seorang muslim berkewajiban untuk tidak berlebih-lebihan dalam perkara ibadahnya, sehingga (karena berlebih-lebihan) ia akan melampui batas dalam agama, dengan membuat perkara bid&#8217;ah yang tidak ada asalnya dalam agama.</p>
<p>Sebagaimana keadaan tiga orang yang ingin membuat perkara baru (dalam agama). Salah seorang di antara mereka berkata: &#8220;Saya tidak akan menikahi perempuan&#8221;, yang lain berkata : &#8220;Saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak berbuka&#8221;, yang ketiga berkata : &#8220;Saya akan shalat malam semalam suntuk&#8221;. Maka Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang mereka dari hal itu semua, dan memberi pengarahan kepada mereka agar membaguskan amal mereka semampunya, dan hendaknya dalam mendekatkan diri kepada Alloh<em> ‘Azza wa Jalla</em>, (beribadah) dengan ibadah yang telah diwajibkan Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  kepada mereka.</p>
<p>Dan hendaknya mereka tidak membuat-buat perkara yang tidak ada asalnya dalam agama ini, karena mereka sekali-kali tidak akan mampu (mengamalkannya), (sebagaimana hadits Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em>) &#8221; Maka sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan&#8221;.</p>
<p>Maka ungkapan &#8220;Agama itu mudah&#8221; maknanya adalah: &#8220;Bahwa agama yang Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  turunkan ini semuanya mudah dalam hukum-hukum, syariat-syariatnya&#8221;. Dan kalaulah perkara (agama) diserahkan kepada manusia untuk membuatnya, niscaya seorangpun tidak akan mampu beribadah kepada Alloh<em> ‘Azza wa Jalla</em> .</p>
<p>Maka jika orang-orang yang menyelisihi syariat tidak mendapatkan &#8220;kekhususan&#8221; (tidak mendapat celah sebagai pembenaran atas perbuatan mereka) dengan hadits diatas, mereka akan lari kepada hadits-hadits lain, yang dengannya mereka berhujjah bagi perbuatan mereka yang menggampang-gampangkan dalam perkara agama.</p>
<p>Diantara hadits-hadits yang mereka jadikan alasan dalam masalah ini, adalah sabda Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang artinya: “Sesungguhnya Alloh menyukai keringanan-keringanannya diambil sebagaimana Dia membenci kemaksiatannya didatangi/dikerjakan&#8221;</p>
<p>Dalam riwayat lain:<em> &#8220;</em><em>Sebagaimana Alloh menyukai kewajiban-kewajibannya didatangi&#8221;</em><br />
Hadits lain adalah sabda beliau: <em>&#8220;Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan membikin manusia lari (dari kebenaran) dan saling membantulah (dalam melaksanakan tugas) dan jangan berselisih&#8221;</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadits yang ketiga: <em>&#8220;Mudahkanlah, janganlah mempersulit, dan berikanlah kabar gembira dan janganlah membikin manusia lari (dari kebenaran)&#8221;.</p>
<p></em>Adapun hadits yang pertama, wajib bagi kita untuk mengetahui bahwa keringanan-keringanan dalam agama Islam banyak sekali, diantaranya: berbukanya musafir ketika bepergian, orang yang tertinggal dalam shalat boleh mengqadha (mengganti), orang yang tertidur atau lupa boleh mengqadha shalat, orang yang tidak mendapatkan binatang sembelihan dalam haji tamattu boleh berpuasa, tayamum sebagai ganti wudhu ketika tidak ada air atau ketika tidak mampu untuk berwudhu &#8230; dan lainnya diantara keringanan yang banyak tidak diamalkan kecuali jika terdapat kesulitan dalam melaksanakan perintah yang sebenarnya.</p>
<p>Dan perlu kita perhatikan, bahwa keringanan-keringanan ini adalah syari&#8217;at Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  dan sunnah Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> (dengan izin Alloh<em> ‘Azza wa Jalla</em>). Dan tidak diperbolehkan seorang muslim manapun, untuk mendatangkan (mengada-ada) keringanan (dalam masalah agama) tanpa dalil, karena hal ini adalah termasuk mengadakan perkara baru dalam agama yang tidak berdasar.</p>
<p>Dan perhatikanlah wahai saudaraku sesama muslim (surat Al-Baqarah ayat 185), yang menceritakan tentang puasa dan keringanan berbuka bagi orang yang sakit atau bepergian, lalu firman Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  sesudah ayat itu, yang artinya: <em>&#8220;Alloh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah: 185)</p>
<p>Makna ini menerangkan makna mudah (menurut Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>), yang maknanya adalah keringanan itu datangnya dari sisi Alloh saja, tiada sekutu bagiNya. Atau (keringanan itu) dari syariat Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan wahyu dari Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>. Ayat ini juga menerangkan bahwa makna mudah itu dengan mengikuti hukum Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  (yang tiada sekutu bagiNya) dan mengikuti syariatNya. Inilah yang bekenaan dengan hadits yang pertama tadi.</p>
<p>Adapun hadits yang kedua dan tiga, maka pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang-orang yang mengikuti hawa nafsu serta menyelisihi syariat (dengan kedua hadits itu) adalah batil, dan termasuk merubah sabda Nabi <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari makna yang sebenarnya, dan keluar dari makna yang dimaksud.</p>
<p>Tafsir kedua hadits yang lalu berhubungan dengan para da&#8217;i yang menyeru kepada agama Islam. Dalam kedua hadits itu Rasululloh<em> sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> memantapkan kaidah penting dari kaidah-kaidah dasar dakwah kepada Alloh<em> ‘Azza wa Jalla</em>, yaitu berdakwah dengan lemah lembut dan tidak kasar. Maka dakwah para dai yang sepatutnya disampaikan pertama kali kepada orang-orang kafir adalah Syahadat, lalu Shalat, Puasa , Zakat. Kemudian (hendaknya) mereka menjelaskan kepada manusia tentang sunnah Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lalu menerangkan amal perbuatan yang wajib, yang sunnah dan yang makruh. Jika melihat suatu kesalahan yang disebabkan karena kebodohan atau lupa, maka hendaklah bersabar dan mendakwahi manusia dengan penuh kasih sayang dan kelembutan serta tidak kasar. Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  berfirman yang artinya: <em>“Maka disebabkan rahmat dari Alloh-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu&#8221;</em> ( QS. Ali Imran: 159)</p>
<p>Sesudah memahami hadits-hadits itu, dan penjelasan makna keringanan dan kemudahan. Maka saya berkata kepada orang-orang yang merubah dan mengganti makna-makna hadits-hadits tersebut (karena ingin mengenyangkan hawa nafsu mereka dengan perbuatan itu); &#8220;Bertaqwalah kepada Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  dan ikutilah apa yang diperintahkan kepada kalian, dan jauhilah laranganNya, dan tahanlah (diri kalian) dari merubah sunnah Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan takutilah suatu hari yang kalian dikembalikan kepada Alloh <em>‘Azza wa Jalla  lalu</em> setiap jiwa akan disempurnakan dengan apa yang ia usahakan. Dan takutlah kalian jangan sampai diharamkan dari mendatangi telaga Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam lantaran kalian mengganti agama Alloh<em> ‘Azza wa Jalla</em>  dan merubah sunnah Rasululloh <em>sholallahu ‘alaihi wa sallam</em> &#8220;.</p>
<p>Saya mengharapkan dari Alloh<em> ‘Azza wa Jalla</em>  yang Maha Hidup dan Maha Berdiri sendiri agar memberi petunjuk kepada kita dan kaum muslimin seluruhnya untuk mengikuti Al-Qur&#8217;an dan Sunnah NabiNya, dan agar Alloh <em>‘Azza wa Jalla</em>  mengajarkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, dan memberi manfaat dari apa yang Dia ajarkan, serta memelihara kita dari kejahatan perbuatan bid&#8217;ah dan penyelewengan, serta kejahatan mengubah dan mengganti (syariat Alloh).</p>
<p>(Disalin dan diterjemahkan dari: Majalah Al Ashalah edisi 15-16 hal 33-35)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
