<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>artikel-opini &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/artikel-opini/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "artikel-opini"</description>
	<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 05:49:09 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pokok-Pokok Pikiran Untuk  Menyikapi Bangsa ]]></title>
<link>http://budipraptono.wordpress.com/2009/12/25/pokok-pokok-pikiran-untuk-menyikapi-bangsa/</link>
<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 16:59:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>budipraptono</dc:creator>
<guid>http://budipraptono.wordpress.com/2009/12/25/pokok-pokok-pikiran-untuk-menyikapi-bangsa/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Budi Praptono Masalah Bangsa Diawali oleh prasangka baik, bahwa semua yang terjadi menimpa bang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Oleh Budi Praptono</strong></p>
<p><strong>Masalah Bangsa</strong></p>
<p>Diawali oleh prasangka baik, bahwa semua yang terjadi menimpa bangsa ini adalah  ujian, ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ujian yang harus kita selesaikan. Kalau melihat dan merasakan beratnya beban bangsa ini,  untuk perubahan lebih baik, sepertinya ujian bagi bangsa kita adalah ibarat ujian yang paling tinggi dalam pendidikan formal yaitu “S3”, akibat dari semakin “kronis”nya penyakit-penyakit yang diderita  bangsa kita.</p>
<p>Resiko yang paling berat  dari Ujian adalah  ketidak lulusan, apakah ketidak lulusan adalah otoritas kita sebagai manusia yang diuji? Tentu tidak, urusan lulus atau tidak lulus adalah urusan Tuhan yang menguji manusia. Manusia hanya wajib   berusaha melewati ujian dengan kerja keras dan penuh keyakinan kalau <strong>dia</strong> <strong>akan lulus</strong>!<strong> Kita dapat membayangkan kalau bangsa kita telah lulus “S3” kita tentu menjadi Negara maju dan menjadi pusat peradaban baru dunia! </strong> <strong> </strong>Bangsa Arab pada zaman Nabi, Amerika Serikat, Eropa  juga  tentu mengalami  ujian seperti kita, sebelum akhirnya menjadi Negara maju dan memimpin perdaban (intelektual)  dunia.</p>
<p>AS menjadi negara adidaya bukan tanpa <!--more-->sebab, tetapi melalui proses yang panjang, diturunkan dari sebuah mimpi besar, yang dijalankan dengan sistemik dan sungguh-sungguh, termasuk kegeniusan mereka untuk mengkodisikan negaranya menjadi kiblat peradaban dunia, dan akhirnya berhasil membuat masyarakat dunia baik disadari atau tidak, akhirnya menganggap AS adalah panutan.<br />
Sesungguhnya tepatkah kita menjadikan AS panutan?Atau bahkan menjadikan AS tempat bergantung? Tentu yang harus menjawab adalah keyakinan kita masing-masing yang hakiki! Bukankah manusia harus merdeka, mandiri? Hanya mau menggantungkan atau mengiblat kepada yang pantas digantungi? Siapa? Tentunya kepada Yang Maha Digantungi(Dikiblati).</p>
<p>Sekali lagi, AS bisa menjadi besar karena mimpi yang sungguh-sungguh, pertanyaannya Apakah Indonesia juga mampu? Terus mimpi kita apa?Jawabannya adalah Indonesia harus mampu menjadi Pusat Peradaban dunia!</p>
<p>Apakah seperti AS? Harus lebih lebih baik dan lebih manusiawi dari AS. Sebagai mana kita ketahui AS, membangun pusat peradaban yang berorientasi pada kemakmuran duniawi, yang sempat membuat dunia terkagum-kagum, walaupun akhirnya membuat dunia akhir-akhir ini menjadi ketar-ketir dengan pendekatan kemakmuran duniawi tersebut.</p>
<p>Menyikapi masalah-masalah bangsa kita saat ini, berikut beberapa hal pemikiran serta solusi yang relevan dengan kondisi bangsa saat ini, terutama ditinjau dari sisi manajemen dan pilosofi system dalam mengelola Negara.</p>
<p><strong>Korupsi  Menurut Bahasa Manajemen</strong></p>
<p>Ujian terberat  bangsa  kita dapat dilihat dan dirasakan  yang terjadi saat ini dari mulai masalah korupsi yang merajalela, tumpulnya penegakkan hukum dan keadilan, semakin lebarnya ketimpangan ekonomi, sosial masyarakat dan hilangnya  arah bangsa ini.</p>
<p>Membahas masalah korupsi, tidak terlepas dari mentalitas masyarakat, birokrat, elite yang buruk, serta semakin lebarnya ketimpangan (variansi)  ekonomi dan sosial antara kaum atas dan bawah.</p>
<p>Dalam bahasa manajemen dikenal istilah efektif dan efisien,korupsi bagian dari masalah efisiensi, secara akuntansi  satu orang digaji 2 juta, orang lain gaji gaji 1 juta tetapi korupsi 1 juta adalah sama. Artinya bisa jadi, kita tidak korupsi menurut hukum positip, karena aturannya sudah dibuat secara hukum adalah syah, tetapi bisa jadi secara rasa keadilan adalah salah.</p>
<p>Menurut penilaian penulis, Indonesia saat ini sudah kurang efektif dan kurang efisien, penyelesaian minimal efektif dulu! Reformasi birokrasi dan proses memperkecil variansi sangat diperlukan, selain membangun dan mengkampanyekan pentingnya hidup jujur dan bersih.</p>
<p>Sudahkah arah pembangunan kita termasuk kebijakan ekonomi yang dibangun memenuhi harapan atau minimal arahnya menuju cita-cita bangsa dan Negara kita, yakni yang tertuang dalam butir-butir pasal UUD’45? Rasanya, kalau mau jujur semakin jauh saja, apalagi kita terlalu terbuai dengan jargon-jargon globalisasi; memang usaha untuk memenuhi harapan tersebut  diusahakan, tetapi peranannya masih terlalu kecil dibanding yang seharusnya, apalagi nanti diperparah dengan dampak penerapan perdagangan bebas, yang kita tidak pernah serius mempersiapkannya.Yang tidak boleh lupa globalisasi adalah bukan tujuan, tujuan kita adalah tujuan yang ada dalam UUD’45, yakni bangsa Indonesia yang Adil dan Makmur khususnya, dunia pada umumnya. Sehingga kita berhasil yang utama dimata rakyatnya, dan di mata dunia; yang tidak boleh adalah dihargai di mata dunia, tetapi tidak dihargai di mata bangsanya sendiri, dan yang lebih parah tidak dihargai oleh dua-duanya.</p>
<p>Kita sepakat sangat setuju usaha untuk meningkatkan efisiensi, tetapi kalau tidak dalam rangka menuju menuju masyarakat Adil dan Makmur, termasuk nilai-nilai yang terkandung dalam UUD’45, rasanya tidak ada maknanya sama sekali. Hal ini mirip menebang hutan lindung dengan peralatan yang super efisien, sehigga sangat efisien untuk menggundulkan hutan yang seharusnya tidak boleh ditebang, bahkan harus dikembangkan kelestarian hutan tersebut.</p>
<p><strong> Tujuan Adil dan Makmur</strong></p>
<p>Adil dulu baru makmur?Kenapa, koq bukan Makmur dan Adil? Tentunya, ini punya makna di balik Tujuan Negara tercinta ini. Bukankah, Negara kita selama ini masih dikelola dengan semangat Makmur dan Adil, yakni dengan konsep “trickle down effect“, membuat pertumbuhan-pertumbuhan dulu, baru hasil pertumbuhan tersebut dibagi-bagi supaya adil.</p>
<p>Konsep ini, kelihatannya sangat bagus, sistematis, dan menjanjikan. Tetapi, sebenarnya baik secara konsep maupun secara pengalaman terbukti menjadikan hasil yang semakin lama semakin tidak adil. Hal ini dikarenakan masyarakat yang mendapatkan lebih, selalu kurang dan kurang, sehingga tidak ada dalam pikirannya untuk berbagi, sehingga yang terjadi adalah ketimpangan yang semakin hari semakin besar.</p>
<p>Adil, konkritnya apa? Jawabannya adalah bisa panjang lebar, tetapi saya punya model yang sederhana, tentunya namanya model tidak dapat mewakili secara utuh. Tetapi kira-kira adalah bahwa kue pembangunan yang dinikamti oleh masyarakat tidak boleh terlalu besar perbedaannya. Atau dalam bahasa statistik variansinya tidak boleh besar. Tetapi, tidak mungkin dibuat sama dengan nol baik secara filosofi maupun secara praxis. Perbedaanlah yang membuat sistem menjadi hidup, maupun secara proses pasti terjadi variansi, tetapi perbedaan yang terlalu besar, dinamika kehidupan akan menjadi tidak terkendali “chaos”, yang akhirnya ikatan akan menjadi lepas. Sehingga pengertian Adil adalah  representasi variansi yang kecil.</p>
<p>Fakta membuktikan, Negara mana pun di dunia yang masyarakatnya dianggap lebih maju dari Indonesia variansinya diusahakan kecil. Sebagai contoh gaji tertinggi dan gaji terendah perbandingannya maksimal sekitar 20 : 1, dan pajak kekayaan dan pajak keuntungan, semakin tinggi nilai kekayaan dan keuntungan. Pajaknya semakin besar. Bahkan di Negara-negara Skandinavia malah bisa mencapai 50%.</p>
<p>Indonesia? Sudah sangat jelas yang atas menyesuaikan sendiri “naik dengan pasti”, yang bawah yang sekedar menuntut UMR (Upah Minimum Regional) saja, harus demo yang bertele-tele. Bahkan sampai ada yang berdarah-darah yang belum tentu berhasil.</p>
<p><strong>Makmur</strong></p>
<p>Kuantitas dan Kualitas Kemakmuran</p>
<p>Banyak konsep yang telah kita ketahui tetapi ternyata yang kita ikuti adalah konsep hedonisme. Kenapa ini bisa terjadi? Ternyata, pendidikan yang kita terima sampai di perguruan tinggi, bahkan sering, semangat beragama adalah diturunkan dari nilai-nilai semangat hedonisme, semangat duniawi, begitu juga strategi pembangunan ekonomi, manajemen perusahaan, pemasaran, konsep kesejahteraan, dll..</p>
<p>Penjelasannya, bisa sangat panjang, tetapi ringkasnya sebagai contoh dalam strategi ekonomi, konsumsi didorong naik, agar perusahaan ada pasarnya. Dengan pasar naik maka perusahaan produksinya naik sehingga kesempatan kerja naik. Dengan demikian ada daya beli. Dengan daya beli naik maka konsumsi naik. Pertanyaannya adalah, Apakah lama-lama daya dukung alam masih mampu memenuhi keinginan manusia tersebut, yang makin lama, makin meningkat; sehingga akibatnya, <strong>alam berontak</strong>.</p>
<p>Berarti, konsepnya salah. Kenapa salah. Sesuatu yang sudah benar kalau dilaksanakan, alam semesta pasti akan mendukung. Apa, yang dimaksud makmur yang sesungguhnya? Apa, bukannya kenikmatan batin atau kemakmuran jiwa?</p>
<p>Untuk menjawab ini tentunya dengan jiwa yang tenang. Tidak dengan nafsu. Pasti seragam menjawab &#8220;setuju&#8221;.</p>
<p>Bukannya tukang becak, banyak yang dapat merasakan kebahagiaan, sebaliknya banyak pejabat tinggi, pengusaha sukses, banyak yang tidak nikmat hidupnya? Ini semua untuk meyakinkan kepada kita, bukan materi yang membuat bahagia, tetapi rasa syukur kita, kepatuhan kita sebagai umat manusia dalam menjalankan perintah Tuhan. Apakah, kita tidak perlu duniawi? Kita tidak akan bisa lepas dengan urusan duniawi, tetapi bukan menjadi tujuan. Tujuan kita adalah membangun kepatuhan jiwa terhadap tugas mulia dari Tuhan, dengan sarana dunia agar kehidupan kita bersama mendapatkan berkah.</p>
<p>Sehingga semangat yang dibangun adalah tidak sekedar mencari nikmat tetapi mencari berkah; karena nikmat belum tentu berkah, tetapi kalau berkah pasti nikmat &#8220;secara batin&#8221;. Sebagai contoh, orang korupsi bisa-bisa merasa nikmat, namun tidak berkah. Tetapi, menolong orang yang kesusahan adalah berkah dan nikmat secara &#8220;batin&#8221;.</p>
<p>Oleh karenanya, makmur  secara  kuantitas harus terkendali dan yang perlu didorong adalah peningkatan kualitasnya, bahkan lebih dari itu rasa syukur didorong selalu ditingkatkan.  Maka dari itu value dimasyarakat  oleh pemerintah bersama-sama komponen bangsa yang lain didorong naik,  disinilah  nilai agama, kearifan lokal dan nurani sangat berperan.</p>
<p>Berbicara kemakmuran, tidak akan lepas dari masalah keadilan, dengan kata lain tanpa keadilan,; dengan keadilan maka kemakmuran akan terwujud, setidak-tidaknya kemakmuran batiniah, yang pada akhirnya akan mendorong kemakmuran yang lainnya.Pada kenyataannya bangsa yang makmur “ukuran duniawipun” didunia ini, pasti dilandasi oleh tingkat keadilan yang  tinggi dalam komunitasnya.</p>
<p><strong>Keadilan ekonomi</strong></p>
<p>Proses keadilan ekonomi konkritnya adalah semangat  mendorong dan mefasilitasi pihak-pihak yang kurang atau tidak mampu untuk mempunyai kemampuan bersaing.</p>
<p>Pemerintah sebagai regulator ekonomi makro wajib meregulasi persaingan  yang terjadi diberbagai sektor ekonomi. Bantuan langsung  bagi ekonomi kecil menengah sangat  diperlukan. Implementasinya dibuat regulasi fiscal, dengan pajak  progresif dan kebijakan anggaran Pemerintah (APBN/APBD) dengan tujuan memperkecil variansi.</p>
<p>Berbicara keadilan ekonomi outputnya akan berdampak luas , baik ketahanan politik, ekonomi itu sendiri dan keadaan sosial.Tidak mungkin berbicara ketahanan politik tanpa berbicara ketahanan ekonomi atau kemajuan ekonomi atau keadaan sosial.</p>
<p>Jatuhnya sebuah Pemerintahan tidak hanya  karena masalah politik. Tetapi,kebanyakan berawal dari keterpurukan ekonomi yang kemudian berkembang menjadi masalah politik dan sosial. Namun, keadilan dan stabilitas ekonomi juga tidak akan terwujud jika keadilan politik dan sosial tidak berkembang dengan baik. Artinya bila sistim sosial terjadi ketidak adilan   yang besar, maka  akan hancur juga.</p>
<p><strong>Korupsi?</strong></p>
<p><strong>Korupsi</strong> (<em>corruption)</em> dari kata kerja <em>corrumpere(latin)</em> yang bermakna busuk, <a title="Rusak (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rusak&#38;action=edit&#38;redlink=1">rusak</a>, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/politisi maupun <a title="Pegawai negeri" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pegawai_negeri">pegawai negeri</a>, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.</p>
<p>Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadiatau golongan. Semua bentuk pemerintah/pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah <a title="Kleptokrasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kleptokrasi">kleptokrasi</a>, yang arti harafiahnya adalah <em>pemerintahan oleh para pencuri</em>, sehingga  kejujuran tidak ada sama sekali.</p>
<p>Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak; Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan <a title="Partai politik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Partai_politik">partai politik</a> ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.</p>
<p>Variansi Materi  Pendorong Korupsi?</p>
<p>Perlu diperhatikan variansi materi  yang besar adalah salah satu pendorong perilaku korupsi.Hal ini terjadi karena dengan perbedaan materi yang besar akan menjadi dorongan yang kuat orang untuk konsentrasi pada urusan materi tersebut, bukan pada urusan prestasi yang bisa diperbuat untuk kepentingan bersama. Dengan naluri nafsu kuat pada pemenuhan materi tersebut, maka masyarakat terdorong dengan berbagai cara ditempuh yang dengan korupsi, baik korupsi arti sempit maupun arti yang lebih luas, misalnya dengan merubah regulasi yang memberi keuntungan pada dirinya atau kelompoknya, yang kelihatannya tidak korupsi , tetapi hakekatnya juga korupsi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Moneter Policy</strong></p>
<p>Kebijakan Moneter (Moneter Policy) adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan. Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar.</p>
<p>Seperti kita ketahui ada dua Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu 1. Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary Expansive Policy), adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar.</p>
<p>2. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy, adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policu).</p>
<p>Instrumen kebijakan moneter, yang lazim di ikhtiarkan seperti: <em>Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)</em>,<em> Fasilitas Diskonto (Discount Rate), Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)</em>,<em>Himbauan Moral (Moral Persuasion), </em>namun dari instrument kebijakan diatas yang paling utama semangat dan tujuan dasarnya adalah  <em> m</em>endorong moneter policy yang dalam rangka untuk kemakmuran sebesar-besarnya bangsa Indonesia dan mendorong tumbuhnya ekonomi sektor riil masyarakat,  bukan untuk semata-mata para pelaku pasar moneter; sehingga hal-hal yang berdampak negatif bagi kepentingan masyarakat luas harus ditekan sebisa mungkin; misalnya  mengurangi kesenjangan, melindungi bisnis sector riil dan   <em>menekan (memperkcil) </em> tumbuhnya bisnis non riil. Konsepnya bukan perdagangan valas tapi pertukaran valas, dll. Diperlukan pula langkah strategis guna mengurangi dominasi dollar (mata uanga asing)  dengan cara barter.</p>
<p><strong>Bisnis Non Riil</strong></p>
<p>Seandainya kita bikin permainan ( game) yang tidak ada hubungannya dengan sektor riil, dengan gaji karyawan yang sangat tinggi, maka secara riil akan membuat yang lain akan jadi semakin miskin; Termasuk gaji yang sangat tinggi, yang tidak masuk akal disektor riil sekalipun. Mengapa?</p>
<p>Bisnis Non Rill awalnya adalah bisnis dalam sektor penunjang, jual beli saham, pertukaran mata uang (valas), dll. Sepintas, tidak ada yang salah system penunjang tersebut, memang secara konseptual diperlukan, tetapi dimana letak permasalahannya?</p>
<p>Pertama, sektor penunjang tersebut tidak konsisten berperan sebagai penunjang semata; tetapi yang lebih dominan mereka seolah-olah sistem terpisah, yang menjadi bisnis yang berdiri sendiri. Misalkan, jual beli saham yang bersifat spekulatif, perdagangan mata uang (valas), dll.</p>
<p>Kedua, sektor penunjang atau jasa, karena sesuatu hal, apakah karena regulasi, hukum supply-demand, dsb, cenderung mendapatkan bagian keuntungan yang berlebih dibanding sektor-sektor yang benar-benar menghasilkan produk riil.</p>
<p>Akibat dari masalah di atas, kesenjangan antara sektor riil dan non riil adalah sudah sangat besar, bahkan sekarang ini diperkirakan kapitalisasi dalam sektor riil hanya 1/10 dari sector non riil. Dampak selanjutnya adalah, bahwa sektor non riil akan mudah mendikte keberadaan sektor riil, yang pada akhirnya akan berdampak kepada stabilitas masyarakat termasuk Negara.</p>
<p>Data dari United Nation Development Programme(UNDP:1960-1995) menggambarkan dampak yang nyata dari permasalahan di atas yaitu berupa kesenjangan kekayaan dalam suatu Negara semakin lama semakin lebar, begitu juga kesenjangan antara Negara kaya dan miskin juga semakin melebar.</p>
<p>Kita lihat data sebagai berikut :</p>
<p>Pertama, perbedaan GNP (Gross National Product) antara Negara dengan kekayaan terbesar kelima di dunia dibanding Negara dengan kemiskinan terbesar kelima makin melebar yakni pada tahun 1960 adalah 30 : 1, tahun 1990 adalah 60 : 1 dan pada tahun 1995 adalah 74 : 1.</p>
<p>Kedua, masyarakat yang tinggal di Negara-negara dengan pendapatan tertinggi kelima memiliki 86% dari GDP dunia, sementara itu lapisan terbawah kelima hanya menerima 1%.</p>
<p>Ketiga, separuh dari penduduk dunia hidup dengan pendapatan kurang dari US$ 2 perhari.</p>
<p>Disamping itu, karakteristik sektor riil pada dasarnya menghendaki lingkungan yang cenderung stabil, tetapi sektor penunjang yang sudah berubah fungsi kearah spekulatif, bisa hidup kalau lingkungan yang tidak stabil.Pada awalnya mereka  bermain dalam ketidakstabilan, artinya mengikuti pergerakan dari perubahan-perubahan tersebut; tetapi patut dicurigai bahwa mereka terutama pemain utama “Sang Bandar”, ketidakstabilan itulah yang mereka berusaha untuk diaturnya.</p>
<p>Nah di sinilah letak benang kusutnya yan benar-benar khusut! Mengapa? Karena dalam permainan yang spekulatif seperti ini, ilmunya sederhana yakni beli pada saat harga rendah dan jual pada saat harga tinggi. Sehingga “sang Bandar “ akan berusaha mengendalikan kapan harga tinggi dan kapan harga rendah, sehingga dia akan mendapatkan keuntungan yang sangat tinggi.</p>
<p>Caranya, dengan memanfaatkan faktor-faktor termasuk pemainnya yang berfungsi menggerakan harga yang ke positip (naik) dan factor-faktor termasuk pemainnya yang berfungsi menggerakan harga yang ke negatif (turun). Bahkan, yang dimanfaatkan tersebut bisa-bisa tidak menyadari keberadaannya, kalau sedang dimanfaatkan dalam permainan “sang Bandar”.</p>
<p>Tidak tertutup kemungkinan, konflik atau perang dll, masuk dalam kendali perhitungan “Sang Bandar”, yang dimanfaatkan sebagai salah satu mesin penggerak permainan mereka. Nah, kalau sudah gamblang seperti ini, apa yang harus kita lakukan? Jelas kita harus kembali kepada bisnis dalam sektor rill.</p>
<p><strong>Mekanisme pasar vs Mekanisme Soial</strong></p>
<p>Dibukanya kran mekanisme pasar oleh Pemerintah, seiring dengan globalisasi dan perdagangan bebas, menimbulkan berbagai masalah, pertama :mekanisme pasar itu sendiri secara alamiah adalah persaingan, dan persaingan itu pada akhirnya akan menghasilkan kesenjangan. Kedua,diperparah dengan kondisi riil Negara kita yang kurang siap dengan globalisasi tersebut. Ketika mekanisme pasar menjadi kuat, maka rumusnya  harus dibarengi dengan mekanisme sosial ayang kuat, disamping itu dalam mekanisme pasar harus diregulasi secara ketat pula; bahkan di Negara kapitalis yang menganut ekonomi liberal sekalipun, pengaturan sangat kuat tentang pasar dan sosial, yang terkenal dengan “welfare state” atau dengan kata lain semakin kuat penerapan ekonomi pasar, maka harus semakin kuatlah peran Negara dalam menjaga kestabilan sosial masyarakatnya.</p>
<p>Oleh karenanya, perlu ada campur tangan  mekanisme sosial agar kehidupan masyarakat  menjadi layak untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Di sinilah perlu dirumuskan, apa saja yang menjadi kebutuhan dasar seorang manusia, khususnya keluarga, seperti sandang, pangan, papan, dan pendidikan, kesehatan, jaminan sosial lain, misalnya hari tua, dll.</p>
<p>Pertanyaannya siapa harus melakukan, yang pasti adalah pemerintah, lembaga-lembaga sosial, misalnya lembaga zakat, yayasan-yayasan sosial, dll. Dengan demikian, perlu didorong pelaku-pelaku yang menjalankan mekanisme sosial tersebut, untuk lebih efektif dan efisien dalam menjalankan perannya. Termasuk akuntabilitasnya, sehingga tidak hanya pemerintah saja yang dituntut profesional, lembaga-lembaga lain juga harus profesional.</p>
<p>Sudah barang tentu permasalahan  tidak hanya sampai di sini, yang masih perlu kita kembangkan lebih lanjut untuk mencari akar permasalahan kesenjangan  yang lebih tuntas. Dengan demikian, jalan keluar yang dirumuskan akan menjadi lebih tepat, tidak parsial, dan tuntas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Transaksi Ekonomi Kembali Ke Sektor Riil</strong></p>
<p>Saat ini 90%  transaksi ekonomi dunia (indonesia) bukan sektor riil, tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, dan perlu ada upaya untuk mengembalikan kekuatan ekonomi kepada sektor rill.</p>
<p>Sektor riil baik yang Informal dan Formal (prosedur akuntansi), sangatlah penting untuk diprioritaskan. Seperti kita ketahui,sektor informal, bagian dari ekonomi dimana transaksi terdiri dari perdagangan di jalanan, produksi petani skala kecil, pekerja di tingkat domestik untuk mempertahankan hidup sehari-hari, yang tidak dimasukan dalam metoda akuntasi secara resmi; sehingga tidak masuk dalam GNP/GDP. Sedangkan sektor formal, adalah dimana barang dan jasa diproduksi dan diperdagangkan, yang dibukukan dalam prosedur akuntasi resmi, merupakan bagian yang tampak dari ekonomi sektor riil, sehingga masuk dalam GNP/GDP.</p>
<p>Sektor riil-lah yang menggerakan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya, yang tidak manipulatif dan lebih fair terhadap para pelaku dan masyarakat pada umumnya. Tentu dalam menjalankan sektor riil tersebut, diperlukan sistem atau perangkat penunjang, sehingga mekanisme sektor riil tersebut dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Misalkan Sektor permodalan, perdagangan, dll.</p>
<p>Idealnya adalah  berusaha semaksimal mungkin menghindar untuk tidak masuk dalam permainan sector non-riil ini, yang seolah-olah sebagai penunjang, padahal lebih dominan berperan sebagai bisnis sendiri yang tidak riil dan menyerupai sektor rill. Memang berat, dikarenakan kita sudah termakan propaganda mereka bahwa negara yang mau maju harus ikut mereka, bahkan bisa jadi  elit-elit tertentu mendapatkan keuntungan besar dari permainan mereka. Beranikah dan bisakah kita untuk meminimalisasi pengaruh sector non-rill tersebut,yakni mencari jalan baru dengan semangat kemandirian dan kesederhanaan?</p>
<p>Sudah saatnya kita juga berani meninggalkan dominasi iklim  spekulatif. Jalan yang paling mungkian dan cerdas adalah  kembali menguatkan  sektor riil, kita tinggalkan dominasi model ekonomi yang bersifat “di atas kertas”, virtual dan “imaterial” yang oleh Tom Wolfe (1987) ditakdirkan akan hancur!</p>
<p>Bukankah dalam sistem ekonomi riil, dimana ada pihak memproduksi dan berdagang dengan jujur dengan tujuan untuk berkontribusi bagi kekayaan masyarakat (rakyat) secara keseluruhan. Dan secara sederhana sektor riil melakukan perputaran kekayaan yang dihasilkan dan diperdagangkan secara nyata, barang-barang dan layananan adalah nyata, dan dijual di pasar-pasar nyata dengan menggunakan mata uang nyata.</p>
<p>Produk sektor  non rill telah mengijinkan  sekelompok kecil manusia  didunia ini tidak lebih dari 0,0001% dari masyarakat didunia ini untuk  meiliki kekayaan  515 Triliun Dolar,  itu sama dengan  60 kali lipat PDB Amerika Serikat yang tertinggi di dunia, sama dengan 10 kali lipat dari PDB dunia, sama dengan 1000 kali lipat PDB Indonesia.</p>
<p>Dalam hal ini, semua pihak  terutama pemerintah tentu sangat bertanggungjawab dan wajib, untuk lebih memfokuskan  kepada  pergerakan ekonomi masyarakat  lewat sektor riil, agar dunia tidak terus menerus menjadi gersang!</p>
<p><strong>On Line System</strong></p>
<p><strong>Se</strong>makin berkembangnya  teknologi informasi (IT) seperti internet-banking, dll dan  masalah pencegahan pencucian uang (Money loundring) salah satu pemicu on-line system dunia (global) terhadap unsur-unsur keuangan, terlebih setelah kita  memasuki milenium  kedua (AFTA 2003 &#38; WTO 2010).</p>
<p>Betulkah internasionalisasi dan globalisasi jaringan perbankan dan keuangan  diseluruh dunia hanya karena beberapa hal diatas? Atau bukan karena yang lainnya?</p>
<p>Yang jelas semangatnya bukan hanya itu, yang perlu diwaspadai BI (Bank Sentral) dan Menteri keuangan, dan perbankan, sesungguhnya harus dalam kendali global,  khususnya BI harus mandiri tidak boleh diintervensi pemerintah, supaya mudah diintervensi global. Kita patut khawatir dengan semakin mengecilnya peran Negara, apalagi kepentingan globalisasi kerap ditunggangi kepentingan kaum kapitalis tertentu, bukan untuk kepentingan ketertiban dan keseimbangan ekonomi dan sosial dunia.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Ekonomi</strong></p>
<p><strong>Ekonomi</strong> secara garis besar diartikan sebagai &#8220;aturan rumah tangga&#8221; atau &#8220;manajemen rumah tangga. Inti dari masalah ekonomi yang dihadapi manusia adalah kenyataan bahwa <a title="Kebutuhan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kebutuhan">kebutuhan</a> manusia jumlahnya tidak terbatas, sedangkan <a title="Alat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alat">alat</a> pemuas kebutuhan manusia jumlahnya terbatas.  Melihat karakteristik ekonomi, apapun namanya pasti pro yang poitensial (nilai tambah), akibatnya pasti mengelompok ada yang mempunyai nilai tambah sangat positif, positip, dan negative<strong> (</strong>Prinsip ekonomi merupakan pedoman untuk melakukan tindakan ekonomi yang didalamnya terkandung <a title="Asas (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asas&#38;action=edit&#38;redlink=1">asas</a> dengan pengorbanan tertentu diperoleh hasil yang maksimal). Dengan demikian ekonomi sendiri menghasilkan kesenjangan.</p>
<p><strong>Ekonomi diperlukan?</strong></p>
<p>Diperlukan, karena untuk memenuhi masyarakat yang tata nilainya masih cenderung duniawi(kebanyakan orang/tengah-tengah), misalkan : orang lebih semangat, jujur, kalau diberi banyak, dll. Akibatnya selalu menghasilkan variansi, maka perlu mekanisme sosial, kalau tidak, rekatan menjadi taka ada, akibatnya essensi Negara menjadi tidak ada, maka untuk buabar menunggu waktu saja</p>
<p><strong>Mengurangi Variansi</strong></p>
<p>Ikhtiar mengurangi variansi sebaiknya  lebih kepada  pendekatan proses.<strong> </strong>Salah satu proses yang mendorong menuju variansi yang tidak besar, adaalah ketika  hasil “perasan”(kekayaan Negara) dipakai untuk membangun fasilitas umum, jaminan, pendidikan, kesehatan, kebutuhan pokok yang lain, yang tujuannya untuk mengurangi kesenjangan yang ada. Dari hasil yang terjadi harus diatur agar diratakan atau semangat persamaan (equality). <strong> </strong></p>
<p>Baik skala dunia, maupun di Indonesia, saat ini yang terjadi ketimpangan semakin melebar. Di tingkat dunia dan  di Indonesia tidak jauh berbeda, bahwa: 10% penduduk, menikmati sekitar 90% hasil pembangunan. 90% penduduk, hanya menikmati sekitar 10% hasil pembangunan.</p>
<p>Apa sih dampak dari ketimpangan yang sangat besar? Pertama, ternyata dengan variansi yang sangat lebar mendorong orang semakin terkonsentrasi pada materi yang dia terima; Bukan pada usaha meningkatkan prestasinya. Dan ini tidak hanya berlaku yang di bawah. Tetapi terjadi di semua level. Maka yang di bawah wajar menuntut tetapi yang di atas gajinya dibuat terus meningkat bisa sampai 250 juta per bulan, yang selalu kurang dan kurang.</p>
<p>Kenapa ini bisa terjadi. Ya tadi, orang tidak bangga terhadap prestasi. Tetapi bangga dengan penampilan yang berorentasi selalu pingin naik dan naik terus, pingin seperti yang di atasnya. Kalau di Indonesia tidak ada, ya cari benchmark penampilan dari luar negeri. Tidak sadar negeri kita ini bukan Singapura, Jepang, AS. Standar kita beda tetapi kalau pingin meniru kerja kerasnya, ya bagus, bahkan wajib.</p>
<p>Kedua, Kondisi yang timpang tersebut berdampak selain ketidakharmonisan di antara umat manusia dengan kerakusannya, berdampak pada kerusakan alam yang semakin parah, banjir di mana-mana, angin ribut, es kutub mencair, pemanasan global, pencemaran lingkungan, dll.. Inilah yang merupakan satu dari lima ketakutan PBB yakni masalah kondisi lingkungan yang menurun.</p>
<p><strong>Segitiga runcing</strong></p>
<p>Berkaitan dengan hal diatas penulis punya deskripsi segitiga runcing (tatanan variansi sangat  besar) yang mana Orang cenderung memotong segitiga tersebut tepat pada posisinya,sehingga mereka merasa golongan terbawah pada klasnya, sehingga merasa diperlakukan tidak adil, maka mereka cenderung akan mengejar untuk mengurangi kesenjangan diatasnya dengan berbagai cara, bahkan kalau perlu cara yang tidak halalpun dilakukan dan yang paling parah orientasi masyarakat pasti  cenderung hasil, bukan proses dan nilai. Oleh karenaya berbeda dengan segitiga pipih(tatanan variansi kecil), maka orang sudah tidak terlalu perduli perbedaan, sehingga orientasinya adalah makna dan proses.</p>
<p><strong>Hal-hal yang harius dijamin dalam keluarga (kebutuhan Dasar keluarga)</strong></p>
<p>Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan (Abraham Maslow -Teori Hierarki). Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen.  Setiap orang pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, akan tetapi karena budaya, maka kebutuhan tersebutpun ikut berbeda. Dalam memenuhi kebutuhan manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Lalu jika gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan berpikir lebih keras dan bergera untuk berusaha mendapatkannya.</p>
<p>Ada lima tingkat Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Abraham Maslow :<br />
1. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar, antara lain pemenuhan oksigen dan pertukaran gas, kebutuhan cairan (minuman), nutrisi (makanan), eliminasi, istirahat dan tidur, aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, dan seksual.<br />
2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan psikologis.<br />
a. Perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup seperti penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan dan sebagainya.<br />
b. Perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya, kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali, karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain dan sebagainya<br />
3. Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, antara lain memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, mendapat tempat dalam keluarga, kelompok sosial, dan sebagainya.<br />
4. Kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan ini terkait, dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain.<br />
5. Kebutuhan aktualiasasi diri merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain/lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya.</p>
<p>Sesungguhnya kebutuhan dasar keluarga (masyarakat) yang wajib mendapat campur tangan  pemerintah lewat mekanisme sosial adalah : Sandang,Pangan,Papan,Kesehatan dan pendidikan. Sebagai contoh, misalkan Pendidikan, seandainya dalam meknisme pasar, masyarakat tidak mampu memenuhi itu maka tugas pemerintah untuk  memenuhinya. Termasuk Pemerintah lebih berkonsentrasi mendorong dan memfasilitasi masyarakat untuk dapat berekspresi dalam segala bidang dalam menunjang kebutuhan dasar tersebut, misalkan olah raga dan kesenian,  jangan hanya jadi penonton, tetapi menjadi pemain dalam skala masing-masing; karena tanpa ada ruang berekspresi, hidup mereka menjadi kering, yang pada akhirnya akan mudah melakukan kekerasan. Sehingga tidak heran, kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini, akibat kurangnya sarana berekspresi mereka, sehingga bentrokan menjadi lahan berkekspresi mereka.</p>
<p>Dalam mewujudkan mimpi indah ini, sulit terwujud kalau yang mengatur Negara ini , masih dikuasai oleh nafsunya rendahan pada tingkatan maslow, yang sebenarnya secara duniawi sudah cukup, tetapi merasa tidak cukup; harusnya mereka berprientasi pada tingkatan maslow yang puncak, bahkan sudah pada posisi diatas tingkatan maslow, yakni tidak cinta dunia, hanya cinta kepada Tuhan saja.*****</p>
<p><em>Penulis Ketua Forum Komunikasi Sosial Merah Putih Bersatu (FKS MPB), Anggota PendiriForum Aktivis Bandung(FAB) dan Dosen Tetap Fakultas Rekayasa Industri IT Telkom.</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[  WORLD CLASS UNIVERSITIES (WCU) SEBUAH TANTANGAN DAN PERINGATAN]]></title>
<link>http://budipraptono.wordpress.com/2009/12/09/world-class-universities-wcu-sebuah-tantangan-dan-peringatan/</link>
<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 07:07:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>budipraptono</dc:creator>
<guid>http://budipraptono.wordpress.com/2009/12/09/world-class-universities-wcu-sebuah-tantangan-dan-peringatan/</guid>
<description><![CDATA[Tantangan : Pada dasarnya bahwa perguruan tinggi harus bermutu, yang pada akhirnya diperhitungkan pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tantangan :</p>
<p>Pada dasarnya bahwa perguruan tinggi harus bermutu, yang pada akhirnya diperhitungkan pada tingkat dunia. Sehingga dalam niatan ini, semua pihak tidak ada perbedaan pendapatan, semua pasti setuju, tetapi pada tataran yang lebih operasional dalam merealisasikan hal tersebut, masing-masing perguruan tinggi terjadi variansi-variansi yang pas, yang disesuaikan dengan kekhasannya masing-masing, terlebih kalau kita berbicara perguruan tinggi dalam kaitan dengan tujuan sebuah Negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Hal ini sangat penting untuk kita renungkan bersama, jangan sampai dalam mengembangkan perguruan tinggi mengikuti pola pihak lain yang kelihatannya sangat ideal tetapi belum tentu sesuai dengan tantangan perguruan tinggi tersebut, terlebih <!--more-->tantangan perguruan tinggi dalam sebuah tantangan bangsa dan Negara. Sehingga pola atau kriteria WCU yang dikembangkan pihak lain, baik lembaga-lembaga dan ahli-ahli dunia yang kredibel sekalipun dan strategi-strategi perguruan tinggi yang kita anggab kelas dunia sekalipun, adalah hanya sebuah referensi saja, selebihnya harus dirumuskan secara pas, berdasarkan ke khasan masing-masing perguruan tinggi dan yang tidak boleh lupa adalah keberadaan perguruan tinggi dalam kaitannya dengan tantangan dengan Negara NKRI.</p>
<p>Sebenarnya di lingkungan perguruan tinggi (kementrian pendidikan) sudah lama telah menetapkan kriteria umum sebagai sebuah perguruan tinggi yang baik, yakni terkenal dengan istilah Tri Dharma Perguruan tinggi :</p>
<p>   1. Terbaik dalam peengajaran<br />
   2. Terbaik dalam Riset, Pengembangan dan diseminasi Pengetahuan<br />
   3. Terbaik dalam aktivitas yang memberikan kontribusi pada masyarakat dalam hal budaya, ilmiah, dan kewarganegaraan.</p>
<p>Kalau kita renungkan secara arif, bahwa rumusan tersebut sebagai misi dasar perguruan tinggi adalah sudah ideal, hanya bagaimana caranya dan prioritasnya dalam merealisasikannya yang harus disesuaikan dengan kekhasan masing-masing dan dilakukan pentahapan-pentahapan yang harus dilakukan secara konsisten. Karena kalau tidak, kalau kita hanya mengikuti pola pihak lain atau kriteria-kriteria WCU yang dikembangkan pihak-pihak tertentu yang kredibel sekalipun, adalah belum tentu cocok 100% dengan tantangan perguruan tinggi tersebut, bisa jadi kita akan kesulitan dalam merealisasikannya, dan seandainya bisapun, pertanyaan selanjutnya manfaat apa yang bisa diberikan  bagi Negara dan bangsa kita? Terakhir inilah yang jauh lebih penting untuk kita pertanyakan bersama, dalam mengembangkan arah perguruan tinggi kita.</p>
<p>Banyak kriteria atau cirri-ciri WCU yang telah dikembangkan untuk mendorong perguruan tinggi agar menjadi bermutu pada skala dunia, yang sebenarnya harus diusahakan baik dari sisi input, proses, maupun dikembangkan target-target output yang lebih terukur :</p>
<p>Kkategori INPUT :</p>
<p>   1. Mendapatkan dan mempertahankan staf terbaik<br />
   2. Merekrut staf dan mahasiswa dari pasar internasional<br />
   3. Mendapatkan mahasiswa dengan porsi yang besar dari luar negeri<br />
   4. Mendapatkan sumbangan modal dan income yang besar<br />
   5. Memiliki berbagai sumber pendapatan</p>
<p>Kategori Proses :</p>
<p>   1. Memiliki  standarisasi proses belajar mengajar yang diakreditasi baik oleh badan Nasional maupun badan internasional<br />
   2. Membentuk group-group riset  yang focus<br />
   3. Membentuk group-group yang membantu mendayagunakan potensi yang dapat dihasilkan perguruan tinggi untuk dapat dinikamati masyarakat (Pemerintah, swasta, masyarakat umum)<br />
   4. Membentuk  lembaga kewirausahaan untuk mendorong dan menfasilitasi mahasiswa untuk menjadi wirausaha<br />
   5. Mendorong dan menfasilitasi keterlibatan mahasiswa secara aktif dalam kegiatan baik akademik maupun kegiatan penunjang (UKM, Himpunan dan Senat mahasiswa, Laboratorium, Group Riset, dll)</p>
<p>Target OutPut adalah bahwa</p>
<p>   1. Perguruan tinggi harus mendapatkan akreditasi terbaik dalam berbagai badan akreditasi (BAN-Dikti, ABET, AUN-QA (Asean University Network Quality Asurance).<br />
   2. Tingkat kelulusan yang tinggi<br />
   3. Masa tunggu lulusan terserap di dunia kerja atau masrakat yang semakin cepat<br />
   4. Banyak penghargaan yang di dapat baik mahasiswa, staff pengajar, maupun lembaga dari lembaga-lembaga yang kredibel<br />
   5. Makin banyaknya lembaga-lembaga lain baik kuantitas maupun kualitas yang berjasama dengan perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharmanya.<br />
   6. dll</p>
<p>Semua yang telah menjadi ketetapan tersebut, baik dari sisi input, proses maupun target hasil dari outputnya , selain tidak gampang untuk direalisasikan, juga sangatlah sulit untuk dicapai secara bersamaan; sehingga perguruan tinggi haruslah mengembangkan tahapan-tahapan yang disesuaikan dengan tujuan khas dari perguruan tinggi masing-masing. Tahapan-tahapan tersebut selain harus mengacu dari analisis SWOT, juga diperlukan kepemimpinan dan manajerial yang tangguh, yang dijalankan secara istiqomah untuk merealisasikan target yang telah ditetapkan dalam tahapan tersebut.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab dengan arif adalah :</p>
<p>Pertama, Apakah semua criteria WCU harus direspon sama oleh semua perguruan tinggi, misalkan kriteria riset, kriteria yang ada kaitannya dengan luar negeri,  dll?</p>
<p>Kedua, Bagaimana hubungan dan kontribusi WCU perguruan tinggi terhadap NKRI?</p>
<p>Khusus yang kedua, kita sebagai bangsa di buat bangga tetapi sekaligus dipermalukan , ternyata banyak bangsa kita yang hebat, tetapi kehebatannya dengan berbagai alas an, tidak sedikit yang tidak termanfaatkan oleh  NKRI,  bahkan pada acara Kick Andy tanggal 4 Desember 2009, banyak warga Indonesia yang berprestasi kaliber dunia tetapi bekerja di luar negeri, artinya manfaat terbesar dari kebesaran warga Negara Indonesia tersebut, dinikmati oleh pihak lain.</p>
<p>Dengan demikian mendorong perguruan tinggi menjadi hebat adalah wajib, tetapi kalau kehebatanya tidak dinikmati sebesar-besar oleh Negara dan bangsa Indonesia, tentunya akan kurang manfaatnya bahkan sia-sia.</p>
<p>Sehingga yang perlu dibangun adalah :</p>
<p>Pertama, yang utama adalah merumuskan dalam tahapan-tahapan bagaimana membangun Negara dan bangsa Indonesia yang merata dan berkelanjutan. Merata adalah perlu dilakukan mapping pengembangan industri yang terpadu dengan dukungan stakeholder di tiap regional yang disesuaikan dengan keunggulan masing-masing.  </p>
<p>Kedua, selanjutnya perguruan tinggi yang merupakan salah satu stakeholder komponen dalam mengembangkan Negara dan bangsa, maka perguruan tinggi dalam pengembangannya haruslah diintegrasikan dalam arah pembangunan NKRI.</p>
<p>Dengan demikian, kasus warga Negara Indonesia yang mengais-ngais rejeki di luar negeri baik yang sebagai pembantu, buruh, dll, menjadi tidak ada, termasuk kasus yang ditayangkan Kick Andy 4 Desember 2009, beberapa tokoh kaliber dunia yang warga Negara Indonesia tetapi dimanfaatkan oleh Negara lain, menjadi tidak ada; bahkan kalau perlu orang luar negeri antri pingin mengais rejeki dinegara kita. </p>
<p>Bandung, 9 Desember 2009 </p>
<p>Budi Praptono</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Mitos-mitos" Ujian Nasional?]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/30/mitos-mitos-ujian-nasional/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 11:15:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/30/mitos-mitos-ujian-nasional/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Mitos-mitos&#8221; Ujian Nasional? Elin Driana *) Gugatan 58 warga negara terkait kebijakan u]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8220;Mitos-mitos&#8221; Ujian Nasional? Elin Driana *) Gugatan 58 warga negara terkait kebijakan u]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Semangat Pahlawan (Baru) dalam Surabaya Juang 2009]]></title>
<link>http://ahmadmakki.wordpress.com/2009/11/28/semangat-pahlawan-baru-dalam-surabaya-juang-2009/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 14:09:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmadmakki</dc:creator>
<guid>http://ahmadmakki.wordpress.com/2009/11/28/semangat-pahlawan-baru-dalam-surabaya-juang-2009/</guid>
<description><![CDATA[(Refleksi Hari Pahlawan 10 Novermber) Oleh: Ahmad Makki Hasan*) “Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>(Refleksi Hari Pahlawan 10 Novermber)<br />
</strong><br />
<strong><em>Oleh:</em> Ahmad Makki Hasan*)</strong></p>
<p><em>“Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia<br />
disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih,<br />
tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris…”</p>
<p>“Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia:<br />
Hai Inggris, selama banteng-banteng,<br />
pemuda-pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah<br />
yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih,<br />
selama itu kita tidak akan menyerah…”</p>
<p>“Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda-pemuda Indonesia,<br />
kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini.<br />
Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak…”<br />
“Sekarang adalah saatnya kita rebut kemerdekaan kita.<br />
Kita bersemboyan: Kita Merdeka atau Mati.”</em></p>
<p>Pidato di atas tiada lain adalah bait kata-kata yang disampaikan oleh Sutomo atau lebih akrab dikenal dengan sebutan Bung Tomo. Sosok pejuang asal Surabaya (baru setahun dinobatkan dalam deretan pahlawan nasional di negeri ini) yang terkenal dengan semboyannya “rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas”. Ketika membakar semangat arek-arek Suroboyo pada peristiwa pertempuran heroik menghalau masuknya kembali kolonialisme di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Tak salah ketika bangsa ini selalu memperingati Hari Pahlawan pada tiap tanggal 10 November dan Surabaya sebagai ikon Kota Pahlawan bangsa Indonesia.</p>
<p>Namun, sangat disayangkan sikap nasionalisme bahkan patriotisme kini mulai pudar serasa tak tersisa sedikit pun. Terutama pada benak para pemuda penerus bangsa ini. Bahkan boleh dikatakan tidak lagi menyatu dalam jiwa dan raga anak bangsa yang dulu selalu bersemai dalam setiap dada rakyat di seantero nusantara pra dan pasca kemerdekaan. Ratusan tahun lamanya bangsa Indonesia diduduki oleh kolonialisme. Kekayaan bangsa pun dirampas habis. Sampai-sampai ribuan bahkan jutaan nyawa terenggut untuk membebaskan kita dari belenggu penjajahan. Akankah kita sebegitu mudah melupakan jasa-jasa besar mereka bagi bangsa kita Indonesia ini?<!--more--></p>
<p>Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November sesungguhnya bukan hanya milik warga kota Surabaya, melainkan milik bangsa Indonesia. Ketika kota Surabaya dikukuhkan sebagai Kota Pahlawan, maka hal itu menjadi suatu inspirasi bagi bangsa ini agar menjadi produktif menatap masa depan. Karena memang pahlawan atau pejuang sejati tidak membutuhkan penghargaan atau apresiasi. Tetapi sebagai bangsa yang beradab, seharusnya kita menghargai jasa-jasa para pahlawan secara proporsional. Ir. Soekarno mengatakan, &#8220;Pahlawan sejati tidak minta dipuji jasanya, bunga mawar tidak mempropagandakan harumnya, tetapi harumnya dengan sendiri semerbak ke kanan-kiri. Hanya bangsa yang tahu menghargai pahlawan-pahlawannya, dapat menjadi bangsa yang besar…&#8221;.</p>
<p>Kepahlawanan bukan hanya bermakna lepas dari penjajahan dan menjadi bangsa yang merdeka secara politis, namun juga harus dipahami dari perspektif ekonomi untuk mensejahterakan masyarakat yang memiliki relevansi bagi rakyat Indonesia secara keseluruhan. Hakekat kepahlawanan adalah semangat untuk memberi, berbakti dan berkorban atas kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih luas. Itu sebabnya semangat kepahlawanan harus terus menerus dikobarkan agar bangsa ini tidak terjebak dalam hedonisme, ego sektoral dan sikap-sikap yang lebih mementingkan diri sendiri.</p>
<p>Untuk itulah, Pemkot Surabaya menggelar pesta rakyat dan mengusung tema “Surabaya Juang” dalam memperingati Hari Pahlawan pada tahun ini. Guna menggungah semangat pemuda hari ini dengan berkaca pada semangat juang para pemuda saat itu. Semangat dari aktivitas gerakan yang dilandasi kecintaan terhadap negeri ini untuk menciptakan serta menjaga keutuhan dan persatuan bangsa Indonesia. Sebuah agenda pesta rakyat yang digelar sejak tanggal 1 November 2009 lalu dan berakhir pada tanggal 10 November 2009 ini diisi beragam kegiatan di pusat kota Surabaya..</p>
<p>Diantara beberapa kegiatan yang diselenggarakan adalah Parade Surabaya Juang, Konser Ludruk Juang, Performers Art 100 Patung, Festival Teater Rakyat, Seminar Kepahlawanan, Lomba Fotografi Kepahlawanan, Festival Film Pendek “Ayo Berjuang” dan kegiatan-kegiatan pendamping lainnya. Sebagai acara puncak, warga Kota Surabaya akan disuguhi pagelaran konser musik berkualitas bertajuk Simfoni untuk Bangsa dengan menampilkan grup band papan atas.</p>
<p>Pesta rakyat yang berkala tahunan ini sudah untuk yang kedua kalinya sejak digelar pertama kali pada tahun 2008 oleh Pemkot Surabaya. Gawe akbar ini tentu melibatkan seluruh elemen pada setiap lapisan masyarakat. Mulai dari yang berada di jajaran birokrasi pemerintah, aktivis LSM, seniman, pelajar dan mahasiswa hingga masyarakat kecil pun tak lepas ikut meramaikan kegiatan ini pula. Termasuk bagi mereka para perjuang veteran yang pernah turut andil menghantarkan bangsa ini kepada pintu gerbang kemerdekaan rakyat Indonesia dan mempertahankan keutuhan NKRI hingga detik ini.</p>
<p>Walaupun memang terkesan glamor dengan sedikit hura-hura di tengah kesengsaraan rakyat kecil saat ini, akan tetapi sepanjang kegiatan Surabaya Juang selama ini telah banyak mengundang perhatian masyarakat tidak hanya di daerah Surabaya dan sekitarnya namun juga seluruh rakyat di tanah air bahkan tidak sedikit para wisatawan asing menyempatkan diri untuk menghadiri deretan acara dalam Surabaya Juang 2009 ini. Perhelatan akbar yang dapat dijadikan sebuah wahana instropeksi diri mengenang peristiwa bersejarah 10 November 1945 di Surabaya. Momentum tepat dan pas guna membangkitkan semangat juang terutama di kalangan anak muda dalam memaknai arti sebuah kepahlawanan.</p>
<p>Serangkaian kegiatan Surabaya Juang 2009 seakan telah dapat membangkitkan kembali rasa nasionalisme para pemuda penerus bangsa terutama bagi arek-arek Suroboyo. Tentunya kita diharapkan tidak hanya untuk mengenang sejenak sebuah kisah perjuangan para pahlawan di masa lalu yang telah menghantarkan dan mempertahan kedaulatan NKRI. Tetapi juga bagimana kita semua dapat membangkitkan kembali rasa dan karsa nilai kepahlawanan dalam sanubari kita masing-masing yang selama ini sudah terkikis karena waktu terutama di era globalisasi seperti sekarang ini. Semoga!</p>
<p><strong>*) Ahmad Makki Hasan<br />
</strong><em>Alumnus Fak. Humaniora dan Budaya UIN Malang, Kini Guru SMAN 1 Kota Malang &#38; Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Malang</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memaknai Idul Adha]]></title>
<link>http://didijunaedihz.wordpress.com/2009/11/27/memaknai-idul-adha/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 17:30:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>didijunaedihz</dc:creator>
<guid>http://didijunaedihz.wordpress.com/2009/11/27/memaknai-idul-adha/</guid>
<description><![CDATA[Jumat pagi, 27 Nopember 2009, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1430 H. Hari ini, seluruh umat Muslim ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://didijunaedihz.wordpress.com/files/2009/11/wpaidul.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-500" title="wpaidul" src="http://didijunaedihz.wordpress.com/files/2009/11/wpaidul.jpg" alt="" width="313" height="313" /></a>Jumat pagi, 27 Nopember 2009, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1430 H. Hari ini, seluruh umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Adha atau sering disebut Hari Raya Kurban. Banyak orang, termasuk saya sendiri, selalu melewati rutinitas Hari Raya Idul Adha ini sebatas melaksanakan shalat ied, melihat prosesi penyembelihan hewan kurban, serta menikmati ‘menu wajib’ berupa sate dan gulai kambing, itu saja, tidak lebih, titik.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita sering melupakan esensi serta pesan moral dari ritual ibadah yang terdapat dalam Hari Raya Idul Adha tersebut. Sebetulnya, kalau kita mau melihat lebih jauh makna dari Idul Adha ini, akan kita jumpai hikmah serta nilai yang sangat tinggi sebagai bekal kehidupan kita di dunia ini dan di akhirat kelak.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Kita semua mafhum bahwa ada dua ibadah agung yang terdapat dalam Idul Adha, yaitu ibadah haji dan kurban. Kedua ibadah tersebut sarat dengan pesan moral serta hikmah bagi kehidupan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ibadah haji, misalnya, pemakaian kain ihram merupakan simbol peleburan ego manusia, pelepasan diri dari  segala bentuk nafsu jasadi-duniawi, sekaligus menegaskan pembebasan manusia dari penghambaan terhadap materi.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian halnya dengan ibadah kurban, yang disimbolkan dengan menyembelih hewan kurban, dapat dimaknai sebagai bukti ketaatan dan penyerahan diri secara total kepada sang Khalik, Allah Swt. Prosesi kurban mengajarkan kepada kita untuk memangkas semua bentuk egoisme, kesombongan serta keserakahan kita. Kurban menyeru kita untuk menundukkan diri, hati dan jiwa kita hanya kepada Allah Swt semata. Inilah inti ajaran tauhid yang sesungguhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibadah haji dan kurban merupakan simbol komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kepekaan sosial, empati  terhadap pelbagai persoalan yang menimpa orang lain, sehingga setiap individu ataupun kelompok sosial terjamin hak-haknya sebagai manusia yang merdeka  dan bermartabat. Singkatnya, ritual ibadah haji dan kurban mengajarkan kita untuk melakukan transendensi, merefleksi, mengapresiasi, sekaligus mentransformasikan nilai-nilai moral ilahi yang suci dan sangat mulia ini menuju nilai-nilai insani  dalam realitas sosial.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesadaran serta penghayatan yang dalam akan makna ibadah haji dan kurban ini pada gilirannya akan mengikis habis sikap<br />
<em>split integrity</em> (kepribadian terbelah) yang  kerap menghinggapi jiwa manusia. Gejala <em>split integrity </em>ini begitu mencolok dewasa ini, di satu sisi seseorang terlihat sebagai sosok yang saleh secara ritual, namun di sisi lain ia juga sosok manusia yang bobrok secara moral. Pelbagai kejahatan publik dilakukannya; korupsi, kolusi, penyalahgunaan wewenang serta sederet tindak kejahatan lainnya. Di sinilah, nilai ideal moral ibadah haji dan kurban memainkan perannya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ujian Nasional Dilarang BSNP: UN Penting untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/25/ujian-nasional-dilarang-bsnp-un-penting-untuk-tingkatkan-mutu-pendidikan/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 22:41:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/25/ujian-nasional-dilarang-bsnp-un-penting-untuk-tingkatkan-mutu-pendidikan/</guid>
<description><![CDATA[Ujian Nasional Dilarang BSNP: UN Penting untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan Indra Subagja &#8211; deti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ujian Nasional Dilarang BSNP: UN Penting untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan Indra Subagja &#8211; deti]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengorbanan]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2009/11/17/pengorbanan/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 15:26:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.wordpress.com/2009/11/17/pengorbanan/</guid>
<description><![CDATA[Oleh A Fatih Syuhud Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah Edisi November 2009 PP Alkhoirot Putri Saat Har]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh <a title="Blogger WordPress Tutorial " href="http://www.fatihsyuhud.com/blogger-tips/" target="_blank">A Fatih Syuhud</a><br />
Ditulis untuk <a href="http://alkhoirot.com/buletin-puteri/" target="_blank">Buletin El-Ukhuwah</a> Edisi November 2009<br />
PP Alkhoirot Putri</p>
<p>Saat Hari Raya Idul Adha tiba, ada satu hal yang memaksa kita untuk merenung: pengorbanan Nabi Ibrahim atas Nabi Ismail, salah satu putranya. Allah menganggap pengorbanan Nabi Ibrahim itu sangat penting sehingga Allah mengabadikan kisah itu dalam Al Qur’an Surah As Shaffat (37) ayat 100 sampai 113.</p>
<p>Pentingnya kisah pengorbanan Nabi Ibrahim and Nabi Ismail ini karena di dalamnya terkandung pelajaran yang tinggi akan nilai-nilai kebajikan universal yang berlaku sepanjang masa.<br />
<!--more--><br />
Pertama, kepercayaan mutlak (absolut) pada Allah, dan sebagai konsekuensinya rela melakukan apa saja yang diperintahkan olehNya, termasuk apabila perintah itu terkesan tidak menyenangkan (QS As Shaffat 37: 102-103).</p>
<p>Kedua, bahwa setiap pengorbanan yang benar tidak akan pernah sia-sia. Akan selalu ada balasan setimpal atas jerih payah kita  (QS As Shaffat 37:105 dan 107). Baik balasan untuk kebaikan diri sendiri maupun untuk orang lain; baik kita harapkan atau tidak.</p>
<p>Ketiga, pengorbanan itu identik dengan ujian (QS As Shaffat 37:106). Dan dalam proses menuju pendewasaan sikap sebagai persiapan menjadi seorang pemimpin yang matang, adanya ujian itu menjadi suatu keharusan yang tak terhindarkan. Besar kecilnya ujian dan pengorbanan  akan menentukan besar kecilnya perubahan perilaku kepemimpinan dan kearifan kita (QS As Shaffat 37:110).</p>
<p>Keempat, bahwa untuk menuju ke level yang lebih tinggi dalam kualitas keimanan dan kepribadian, diperlukan suatu proses yang harus dilalui. Sebagai contoh, untuk mencapai kelas enam SD, seorang siswa harus melalui proses melewati lima jenjang kelas di bawahnya. Selain itu, seorang siswa harus melewati beberapa ujian untuk menuju satu level keilmuan di atasnya. Proses-proses menuju naik kelas bagi siswa SD itu memerlukan pengorbanan waktu dan tenaga dan kesabaran dalam menghadapi ketidakenakan dan mungkin kejenuhan.</p>
<p>Seberapa besar pengorbanan yang diperlukan akan sangat ditentukan dari seberapa besar “kenaikanpangkat” yang diinginkan. Semakin tinggi tujuan yang kita capai, maka akan semakin besar pengorbanan yang diperlukan. Siswa yang sekedar ingin naik kelas tentu lebih kecil pengorbanannya dibanding siswa yang bertujuan tidak hanya naik kelas tapi juga ingin menjadi juara kelas atau bintang pelajar.</p>
<p>Hal yang sama juga berlaku dalam proses meningkatkan kualitas iman kepada Allah dan perilaku (akhlakul karimah) kepada sesama umat manusia. Ujian, pengorbanan, kesabaran dan keberanian dalam menghadapinya merupakan empat poin penting yang harus dilalui dan dilakukan oleh seorang muslim untuk menuju kualitas keimanan dan kepribadian yang par excellence (QS Al Qalam 68:4), suatu kepribadian yang akan memberi cahaya berkah tidak hanya pada sesama muslim, tapi juga bagi seluruh alam (QS Al Anbiya’ 21:107). Dan apabila itu terjadi, sudah wajar kalau orang tersebut mendapat predikat sebagai individu terbaik yang berhak untuk menjadi pemimpin ideal yang menyerukan kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah keburukan (nahi munkar) (QS Ali Imron 3:110).[]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KETAKUTAN]]></title>
<link>http://agoesman120.wordpress.com/2009/11/17/ketakutan/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 10:19:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>agoesman120</dc:creator>
<guid>http://agoesman120.wordpress.com/2009/11/17/ketakutan/</guid>
<description><![CDATA[Dalam Bukunya “ Tame Your Fears”, Carol Kent mendefinisakan 5 macam ketakutan yang dapat melumpuhkan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Dalam Bukunya “ Tame Your Fears”, Carol Kent mendefinisakan 5 macam ketakutan yang dapat melumpuhkan kehidupan seseorang :</span></p>
<address><span style="color:#008000;">The fear of things that haven’t happened yet ( Takut akan sesuatu yang belum terjadi ( Kuatir)) </span></address>
<address><span style="color:#008000;">The fear of being vulnerable ( Takut bila kita lemah/ Tidak berdaya) </span></address>
<address><span style="color:#008000;">The fear of abandonment ( Takut bila kita tidak diperhatikan/diabaikan) </span></address>
<address><span style="color:#008000;">The fear of truth ( Takut akan kebenaran) </span></address>
<address><span style="color:#008000;">The fear of making the wrong choices ( Takut membuat keputusan yang salah)<!--more--></span></address>
<p style="text-align:justify;">Apa sobat-sobat mempunyai Ketakutan-Ketakutan yang laen&#8230;.???. Silakan tambahkan di coment Anda..!!!! </p>
<p style="text-align:justify;">Jangan biarkan ketakutan menjadi monster yang menguasai hidup kita, tetapi jinakkanlah ketakutan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah pertama yang dapat kita lakukan yaitu temukanlah apa yang membuat kita takut dan yakin Allah mengetahui ketakutan kita  (Disarikan oleh Teno F)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yakin hanya UN? ]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/17/yakin-hanya-un/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 06:24:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/17/yakin-hanya-un/</guid>
<description><![CDATA[Yakin hanya UN ? Oleh: Herri Mulyono Herri Mulyono, Dosen Univ. Prof. DR. HAMKA dan Teacher Trainer ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Yakin hanya UN ? Oleh: Herri Mulyono Herri Mulyono, Dosen Univ. Prof. DR. HAMKA dan Teacher Trainer ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengukur Peringkat Pendidikan Berdasarkan Skor UN Sudah Kadaluwarsa ]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/16/mengukur-peringkat-pendidikan-berdasarkan-skor-un-sudah-kadaluwarsa/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 04:01:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/16/mengukur-peringkat-pendidikan-berdasarkan-skor-un-sudah-kadaluwarsa/</guid>
<description><![CDATA[Mengukur Peringkat Pendidikan Berdasarkan Skor UN Sudah Kadaluwarsa Oleh: Marjohan M.Pd. Guru SMAN 3]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mengukur Peringkat Pendidikan Berdasarkan Skor UN Sudah Kadaluwarsa Oleh: Marjohan M.Pd. Guru SMAN 3]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Meningkatkan Pangan &amp; Gizi Keluarga dgn Pemanfatan Lahan Pekarangan]]></title>
<link>http://agoesman120.wordpress.com/2009/11/14/meningkatkan-pangan-gizi-keluarga-dgn-pemanfatan-lahan-pekarangan/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 11:09:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>agoesman120</dc:creator>
<guid>http://agoesman120.wordpress.com/2009/11/14/meningkatkan-pangan-gizi-keluarga-dgn-pemanfatan-lahan-pekarangan/</guid>
<description><![CDATA[Dompu (2009). Cukup mudah mencapai Desa Adu, Kecamatan Uhu, Dompu. Perjalanan ke desa ini dapat dite]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-400" title="Belajar PHT" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/belajar-pht.jpg" alt="Belajar PHT" width="450" height="338" />Dompu (2009). Cukup mudah mencapai Desa Adu, Kecamatan Uhu, Dompu. Perjalanan ke desa ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat ataupun roda dua sejauh ± 20 km atau menempuh perjalanan ± 30 menit dari pusat kota Dompu. Jalan yang dilalui cukup baik dengan kondisi beraspal. Memasuki gerbang desa yang secara geografis dilingkupi oleh perbukitan ini, kita akan disambut dengan suasana desa yang tertata begitu rapi dengan semua rumah sudah dipagar kayu. Desa yang penduduknya didominasi oleh petani lahan kering ini bermukim di 3 dusun yaitu Woro, Adu dan Fanda. .</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun relatif dekat dengan ibukota kabupaten, gizi balita masih menjadi tantangan di Desa Adu. Sebanyak 19 dari 87 balita masih mengalami gizi kurang. Dalam studi yang dilakukan oleh salah satu International NGO bersama IPB, tantangan utama dalam pemenuhan hak anak terhadap ketahanan pangan terutama terletak pada ketersediaan, akses dan penggunaan pangan di tingkat rumah tangga, bukan di tingkat masyarakat.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-402" title="LP di Adu Dompu" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/lp-di-adu-dompu1.jpg" alt="LP di Adu Dompu" width="450" height="337" /></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai masyarakat yang tinggal di pedesaaan, seperti umumnya daerah pedesaan di Nusa Tenggara Barat (NTB), mereka mempunyai lahan yang cukup luas, baik lahan perkebunan ataupun lahan tersisa sekitar rumah mereka. Lahan sekitar rumah ini lebih dikenal sebagai Lahan Pekarangan, yaitu sebidang tanah di dekat rumah baik di depan, di samping maupun belakang. Hanya kurang dari 10 keluarga keluarga yang memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah mereka dengan menanam sayur dan kacang-kacangan. Lahan pekarangan di banyak keluarga di Desa Adu masih dibiarkan terbengkalai. Dalam diskusi partisipatif bersama masyarakat untuk mengatasi masalah pangan dan gizi desa, pemetaan sumber daya yang ada di masyarakat dilakukan. Salah satu sumber daya penting yang diidentifikasi adalah keberadaan lahan pekarangan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari diskusi bersama anggota masyarakat yang sudah mulai mengoptimalkan pekarangan, masyarakat menyadari bahwa ada banyak fungsi yang dapat dimanfaatkan dari lahan pekarangan sekitar rumah. Salah satu manfaat terpenting adalah untuk menyediakan kebutuhan Pangan dan Gizi Keluarga dengan cara ditanami berbagai jenis tanaman yang kemudian dapat dipakai dalam menigkatkan keragaman pangan di keluarga, terutama anak balita.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama kali pemanfaatan lahan pekarangan ini dilakukan oleh para kader posyandu (kader kesehatan desa) dan beberapa anggota masyarakat yang kemudian menjadi anggota Komite Ketahanan Pangan &#38; Gizi Desa Adu. Setelah beberapa bulan berjalan, sekarang ketertarikan masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan mereka semakin baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil pemantauan di lapangan, selang beberapa bulan, sudah sekitar 40% masyarakat di Desa Adu telah memanfaatkan lahan pekarangan ini. Mereka menanam berbagai tanaman pangan antara lain jagung, ubi rambat, ubi kayu, kangkung, kacang panjang, bayam, paria dan terong.</p>
<p style="text-align:justify;">Terjadinya perubahan tersebut tak terlepas dari usaha fasilitasi yang dilakukan oleh Satu International NGO yang bekerja di Dompu dan dukungan teknis dari Instansi terkait antara lain Bidan Desa, dan Petugas Gizi dari Dinas Kesehatan dan Penyuluh Pertanian Lapangan/PPL dari Dinas Pertanian, Aparat Desa, dan juga semangat yang tak pernah berhenti dari Komite Ketahanan Pangan dan Gizi Desa atau lebih dikenal sebagai Komite FNS Desa untuk menyebarluaskan pemanfaatan lahan pekarangan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Upaya peningkatan ketrampilan pun dilakukan sebagai pelengkap. Dari segi teknis budidaya, masyarakat juga dapat dukungan melalui pelatihan pemanfaatan lahan pekarangan yang dipandu oleh PPL dan Mitra LSM Lokal. Pada pelatihan tsb diajarkan bagaimana pengaturan lahan pekarangan, cara membuat pupuk organik (bokhasi), pengendalian hama dan penyakit secara organik dan kandungan gizi masing-masing tanaman, baik secara teori maupun praktek langsung di lapangan. Sedangkan untuk meningkatkan akses dan penggunaan pangan di tingkat rumah tangga, praktek menu lokal yang sehat dan bergizi serta pola asuh anak yang baik didiskusikan dan diterapkan melalui kegiatan pos gizi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pelajaran Berharga</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pengalaman di Desa Adu, pelajarannya adalah bahwa untuk mengajak masyarakat dan mengubah kebiasaan masyarakat agar mau memanfaatkan lahan pekarangan harus dilakukan dengan telaten dan harus dimulai oleh masyarakat itu sendiri melalui percontohan terlebih dahulu oleh tokoh-tokoh masyarakat atau masyarakat yang mau menerima perubahan. Setelah terlihat manfaatnya, maka masyarakat yang lain secara perlahan-lahan juga mau melakukan juga hal serupa.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang sudah umum bahwa karakter masyarakat itu dapat dibagi-bagi menjadi: 1). masyarakat yang mudah dan langsung menerima inovasi baru, 2). Masyarakat yang hanya menonton saja, kemudian bila dilihat ada hasil baru mau menerima inovasi baru, dan 3). Masyarakat penentang.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Desa Adu sendiri terlihat umumnya mereka termasuk kedalam kelompok masyarakat yang mudah dan dapat langsung menerima inovasi baru apalagi untuk berbaikan pangan &#38; gizi keluarga. Hal ini menjadi nilai tambah yang mempermudah implementasi program-program Ketahanan Pangan &#38; Gizi tsb.</p>
<p style="text-align:justify;">Umumnya mereka termotivasi karena dengan memanfaatkan lahan pekarangan, mereka dapat mencukupi kebutuhan pangan dari tanaman yang mereka tanam sendiri, walaupun saat ini masih terbatas pada jenis sayuran tertentu. Sekalipun tidak begitu intensif, tetapi paling tidak mereka sudah merasakan manfaatnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">&#8220;Saya tidak harus membeli lagi ke kios ataupun pedagang hanya untuk mendapatkan kangkung atau bayam, karena sudah ada di didepan, di samping ataupun di belakang rumah sendiri &#8221; ungkap salah seorang pengurus Komite FNS Desa</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat secara nasional sebenarnya pencanangan program pemanfaatan lahan pekarangan bukanlah hal yang baru. Beberapa dekade lalu sudah pernah diimplementasikan oleh pemerintah melalui program PKK dan Dasa Wisma, namun sempat ditinggalkan dan tidak dilirik lagi karena ketiadaan mekanisme pendampingan masyarakat demi menjaga keberlanjutan inisiatif tersebut. Melalui Program Ketahanan Pangan dan Gizi Terpadu ini yang di gagas oleh salah satu International NGO yang bekerja di NTT &#38; NTB berusaha kembali menggalakkan lagi pemanfaatan lahan pekarangan untuk mendukung ketersediaan pangan dan gizi di tingkat rumah tangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan intervensi sederhana yang mencakup perbaikan ketahanan pangan tingkat keluarga dengan pemanfaatan lahan pekarangan; serta memperbaiki pola asuh gizi balita melalui pos gizi, saat ini komite pangan gizi desa Adu dapat tersenyum lega, karena angka balita kurang gizi berhasil mereka hapuskan dari daftar masalah utama di desa mereka (Agoesman)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Merumuskan Kode Etik Guru]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/14/merumuskan-kode-etik-guru/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 05:49:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/14/merumuskan-kode-etik-guru/</guid>
<description><![CDATA[Merumuskan Kode Etik Guru Oleh: Darmaningtyas *) (Download Draft Kode Etik Guru, klik disini) SALAH ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Merumuskan Kode Etik Guru Oleh: Darmaningtyas *) (Download Draft Kode Etik Guru, klik disini) SALAH ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Memang Penting Mata Pelajaran Matematika dan  Sains itu ? ]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/12/apakah-memang-penting-mata-pelajaran-matematika-dan-sains-itu/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 03:17:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/12/apakah-memang-penting-mata-pelajaran-matematika-dan-sains-itu/</guid>
<description><![CDATA[Apakah Memang Penting Mata Pelajaran Matematika dan Sains itu ? Oleh: Marjohan, M.Pd Guru SMAN 3 Bat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Apakah Memang Penting Mata Pelajaran Matematika dan Sains itu ? Oleh: Marjohan, M.Pd Guru SMAN 3 Bat]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bukan Columbus, Tidak Pula Cheng Ho]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/10/bukan-columbus-tidak-pula-cheng-ho/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 22:59:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/10/bukan-columbus-tidak-pula-cheng-ho/</guid>
<description><![CDATA[Bukan Columbus, Tidak Pula Cheng Ho Oleh : Jalius HR. Jalius HR. Dosen FIP Univ. Negeri Padang Tulis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bukan Columbus, Tidak Pula Cheng Ho Oleh : Jalius HR. Jalius HR. Dosen FIP Univ. Negeri Padang Tulis]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Panggung Drama KPK vs Polri]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2009/11/07/panggung-drama-kpk-vs-polri/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 22:20:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.wordpress.com/2009/11/07/panggung-drama-kpk-vs-polri/</guid>
<description><![CDATA[Waktu saya dalam hari-hari belakangan ini banyak tersita untuk membaca atau menonton segala berita y]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://afatih.wordpress.com/files/2009/11/pa210021.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2063" title="Farzan" src="http://afatih.wordpress.com/files/2009/11/pa210021.jpg?w=112" alt="Farzan Esfandiar" width="112" height="150" /></a>Waktu saya dalam hari-hari belakangan ini banyak tersita untuk membaca atau menonton segala berita yang terkait dengan masalah perseteruan Cicak vs Buaya atau KPK vs Polri atau lebih khusus lagi Susno Duadji vs Bibit/Chandra yang lebih dikenal dengan istilah &#8220;kriminalisasi KPK&#8217;. Sampai-sampai, saya sekarang hobi membuka <a href="http://www.fatihsyuhud.com/google-news-indonesia/">Google Warta</a> dan media online seperti detik.com yang sebelumnya jarang saya kunjungi.<br />
<!--more--><br />
Ketertarikan itu mulai meningkat levelnya setelah Bibit &#38; Chandra Hamzah ditahan, demo meningkat dan Presiden Sby menunjuk <a href="http://www.fatihsyuhud.com/independent-team-on-bibit-samad-and-chandra-hamzah/">Tim Pencari Fakta (TPF) atau Tim 8.</a></p>
<p>Kita berharap seluruh drama ini akan berakhir dengan cepat dalam proses hukum yang transparan di pengadilan dengan Jaksa yang independen, dan hakim yang lebih independen lagi.</p>
<p>Dan tak kalah penting, semoga setelah drama cicak vs buaya ini usai, kejaksaan dan kepolisian betul-betul direformasi. Dalam hal ini, political will ada di tangan SBY. Gagal dan suksesnya, serius atau tidaknya semua ada di tangan SBY yang sudah berjanji untuk melakukannya. Semoga omongan SBY tidak hanya janji semata.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[UPAYA PEMBASMIAN KORUPSI DI NEGERI ENTAH-BERENTAH]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/06/upaya-pembasmian-korupsi-di-negeri-entah-berentah/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 03:51:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/06/upaya-pembasmian-korupsi-di-negeri-entah-berentah/</guid>
<description><![CDATA[UPAYA PEMBASMIAN KORUPSI DI NEGERI ENTAH-BERENTAH Oleh : Mochtar Naim *) Mochtar Naim I SEBUAH kunju]]></description>
<content:encoded><![CDATA[UPAYA PEMBASMIAN KORUPSI DI NEGERI ENTAH-BERENTAH Oleh : Mochtar Naim *) Mochtar Naim I SEBUAH kunju]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Inisiatif]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2009/11/05/inisiatif/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 09:54:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.wordpress.com/2009/11/05/inisiatif/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: A Fatih Syuhud Ditulis untuk Buletin Siswa, Edisi November 2009 Inisiatif berasal dari bahasa ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh: <a title="How to make money online" href="http://www.fatihsyuhud.com/money-makers/" target="_blank">A Fatih Syuhud</a><br />
Ditulis untuk <a title="Buletin Siswa Ponpes Alkhoirot" href="http://alkhoirot.com/buletin-siswa/" target="_blank">Buletin Siswa</a>, Edisi November 2009</p>
<p>Inisiatif berasal dari bahasa Inggris initiative yang memiliki cukup banyak makna antara lain “the power or ability to begin or to follow through energetically without prompting or direction from others; on one&#8217;s own” (kekuatan atau kemampuan untuk memulai atau meneruskan suatu perbuatan dengan penuh energi tanpa petunjuk dari yang lain; atau atas kehendak sendiri) .<br />
<!--more--><br />
Lebih jelasnya, seperti dikatakan Victor Hugo, inisiatif adalah melakukan hal yang benar tanpa diberitahu. Menurut Lyman L. Lemnitzer, inisiatif adalah penerjemahan imaginasi menjadi perbuatan (action).</p>
<p>Inisiatif merupakan salah satu karakter yang harus dimiliki seorang (calon) pemimpin. Semakin banyak inisiatif yang dimiliki seseorang, maka akan semakin besar, karismatik dan diakui kadar kepemimpinannya. Tentu, inisiatif bukan satu-satunya karakter kepemimpinan yang harus dimiliki. Namun, ia memiliki peran sangat signifikan dalam menentukan kadar kepemimpinan seseorang. Itulah mengapa, Michael H. Hart, seorang Yahudi Amerika dan pakar astrofisika, pada 1978 menulis buku kontroversial berjudul The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History dan menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan pertama dari 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah. Hal ini antara lain tak lepas dari kenyataan, bahwa Nabi Muhammad adalah sosok pemimpin dunia yang paling banyak memiliki inisiatif solusi baru untuk kemaslahatan dunia dan karena itu memiliki pengaruh besar bukan hanya pada umat Islam tapi pada umat manusia secara keseluruhan (QS Al Anbiya’ 21:107)</p>
<p>Inisiatif itu penting dan mutlak harus dimiliki dalam suatu kepemimpinan karena (a) seorang pemimpin bertugas memperbaiki situasi sosial yang dekaden (rusak); (b) seorang pemimpin tidak hanya mengemban amanah untuk melestarikan hal yang baik (al muhafadhoh alal qadim as sholih) tapi juga mampu mengadopsi hal baru (al akhdzu alal jadid al ashlah) yang lebih relevan dan bermanfaat; (c) seorang pemimpin, pada tahap tertentu, juga dituntut untuk memiliki ide sendiri tanpa tergantung pada pendapat orang lain. Ketiga faktor di atas mustahil dilakukan apabila seorang individu tidak memiliki inisiatif.</p>
<p>Bagaimana inisiatif dapat berkembang dan bagaimana cara mengambil inisiatif?</p>
<p>Pertama, jadilah pelopor (self-starter). Syukuri hal yang sudah berjalan baik, pada waktu yang sama ketahui permasalahan, pikirkan solusinya dan laksanakan segera.</p>
<p>Kedua, lakukan dengan cepat. Jangan menunggu waktu lebih lama. Begitu solusi yang Anda pikir sudah tepat, maka waktu pelaksaan yang perlu dilakukan adalah sekarang.</p>
<p>Ketiga, bayangkan hasil akhir. Kalau Anda merasa berat memikirkan bahwa proses untuk mengimplementasikan inisiatif tersebut begitu berat dan membutuhkan banyak pengorbanan, maka jangan pikirkan proses tersebut. Pikirkan hasil akhir yang menyenangkan apabila inisiatif Anda berjalan lancar.</p>
<p>Pada dasarnya, pemimpin yang berhasil cukup memiliki dua faktor yaitu inisiatif dan keberanian untuk melakukannya. Keberanian tanpa inisiatif hanya akan membuatnya jadi pesuruh; sementara inisiatif tanpa keberanian mengimplemantasikan hanya akan membuat seseorang menjadi pemikir.[]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ilmu ]]></title>
<link>http://afatih.wordpress.com/2009/11/05/ilmu/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 09:48:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Blogger Indonesia</dc:creator>
<guid>http://afatih.wordpress.com/2009/11/05/ilmu/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: A Fatih Syuhud Ditulis untuk Buletin Santri, Edisi November 2009 Salah satu tujuan Islam adala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh: <a href="http://www.fatihsyuhud.com/blogger-tips/">A Fatih Syuhud</a><br />
Ditulis untuk <a title="Buletin Santri PP Alkhoirot" href="http://alkhoirot.com/buletin-santri/" target="_blank">Buletin Santri,</a> Edisi November 2009</p>
<p>Salah satu tujuan Islam adalah untuk memberdayakan umat manusia supaya dapat mengoptimalkan potensi diri dan dengan demikian menjadi invidu terbaik di lingkungannya (QS Ali Imron 3:110). Menjadi seorang figur terbaik itu hampir mustahil dicapai apabila tanpa disertai dengan ilmu. Oleh karena itu, ilmu dan orang yang berilmu menempati posisi yang sangat tinggi dalam Islam yakni beberapa level di atas yang lain (QS Al Mujadalah 58:11).<br />
<!--more--><br />
Mengapa keilmuan sangat diagungkan dalam Islam, hal itu tidak lepas dari banyak faktor, antara lain internalisasi nilai-nilai ideal Islam.</p>
<p>Islam memerintahkan seorang individu muslim untuk mereformasi diri dalam rangka menuju kepribadian yang lebih dekat pada nilai-nilai ideal Islam (QS Al Balad 90:10-16). Untuk menuju ke arah ini, diperlukan setidaknya dua hal dalam diri seorang muslim.</p>
<p>Pertama, niat atau determinasi untuk mereformasi diri. Ahli psikologi sepakat bahwa keberhasilan apapun sangat tergantung pada niat atau kemauan kuat yang disertai dengan semangat (courage) dan kepercayaan diri (confidence) seseorang. Tanpa itu, sulit mencapai apapun yang dituju termasuk dalam mencapai internalisasi nilai-nilai ideal Islam. Karena pentinya niat ini, maka pakar fiqh (yurisprudensi Islam) sepakat bahwa niat menjadi faktor sah dan tidaknya suatu perbuatan ibadah seperti salat atau puasa. Hal ini berdasarkan sebuah Hadits sahih yang menyatakan bahwa “Sahnya suatu perbuatan itu tergantung pada niat.” (Innamal a’malu bin niyyat).</p>
<p>Kedua, ilmu. Setelah ada niat yang benar, maka ilmu menjadi sebuah keniscayaan untuk mencapai apa yang kita tuju termasuk dalam rangka menjadi pribadi muslim yang (mendekati) ideal. Dalam hal ini, ilmu agama dasar hendaknya menjadi prioritas utama sebagai sarana untuk mengenal apa yang halal dan haram, yang sunnah dan makruh dalam Islam. Pengetahuan dalam soal halal-haram ini penting dan akan menjadi koridor atau pagar minimal bagi kita dalam melangkah menempuh kehidupan keseharian.</p>
<p>Namun demikian, fungsi ilmu tidak hanya utnuk mereformasi kepribadian. Ia juga menjadi alat untuk mencapai tujuan apapun yang positif dan bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Ilmu semakin berkembang seiring perkembangan zaman. Islam tidak melarang seorang muslim untuk mempelajari dan mengkaji keilmuan apapun selagi untuk niat yang baik dan secara riil dapat bermanfaat.</p>
<p>Imam Abu Hamid Al Ghazali (Ihya Ulumuddin, Darul Kutub, Beirut, 2007, hlm. I/60) membagi ilmu menjadi tiga kategori. Pertama, ilmu yang tercela secara mutlak yakni ilmu yang tidak bermanfaat secara duniawi maupun ukhrowi. Kedua, ilmu yang terpuji secara mutlak yaitu ilmu agama terutama yang berkaitan dengan Allah, sifat-sifatNya dan segala ilmu yang dapat mendekatkan diri untuk mengenal-Nya. Ketiga, ilmu yang baik tapi tidak perlu berlebihan mempelajarinya yaitu yang berkaitan dengan ilmu fardhu kifayah.</p>
<p>.Poin terpenting adalah bahwa ilmu menjadi sarana penting untuk apapun yang kita tuju dalam kehidupan kita baik dalam mencapai kehidupan duniawi maupun spiritual.[]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru ]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/04/pentingnya-berjiwa-besar-bagi-guru/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 02:38:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/04/pentingnya-berjiwa-besar-bagi-guru/</guid>
<description><![CDATA[Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru Oleh: Marjohan M.Pd Guru SMA Negeri 3 Batusangkar Marjohan, M.Pd.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru Oleh: Marjohan M.Pd Guru SMA Negeri 3 Batusangkar Marjohan, M.Pd.]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kolaborasi Guru dan Dosen Dalam Penelitian]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/04/1789/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 00:57:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/04/1789/</guid>
<description><![CDATA[Kolaborasi Guru dan Dosen Dalam Penelitian Oleh : Wijaya Kusumah WIJAYA KUSUMAH, Motivator, Trainer,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kolaborasi Guru dan Dosen Dalam Penelitian Oleh : Wijaya Kusumah WIJAYA KUSUMAH, Motivator, Trainer,]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PULAU LEMBATA]]></title>
<link>http://agoesman120.wordpress.com/2009/11/02/pulau-lembata/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 10:39:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>agoesman120</dc:creator>
<guid>http://agoesman120.wordpress.com/2009/11/02/pulau-lembata/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah perjalanan ke “Surga Terakhir di Ujung Timur  NTT”   Lewoleba (2009). Suasana malam masih ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#0000ff;">Sebuah perjalanan ke “Surga Terakhir di Ujung Timur  NTT”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong><img class="aligncenter size-full wp-image-373" title="Sampan pelampung" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/sampan-pelampung.jpg" alt="Sampan pelampung" width="450" height="321" /></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lewoleba </strong>(2009). Suasana malam masih terasa, langit masih gelap, ketika aku meninggalkan rumah menuju Bandara El-Tari Kupang. Ini adalah awal perjalananku ke   P. Lembata &#8220;Surga terakhir di Ujung Timur NTT&#8221;.  Bukannya untuk menghindari rutinitas kerja di kota seramai Kupang, sehingga Aku putuskan untuk melakukan field supervision di Pulau Lembata nun jauh di sana. Tapi memang sudah jadwalnya untuk kesana. Teman-teman disana sangat mengharapkan adanya dukungan  teknis.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-376" title="Peta NTT" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/peta-ntt.jpg" alt="Peta NTT" width="450" height="239" /></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak 15 Oktber 1999 Lembata merupakan kabupaten sendiri, memisahkan diri dari Kabupaten Flores Timur sebagai kabupaten induk. Disahkan melalui UU Nomor 52/1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata. Inilah aspirasi warga Lembata yang muncul sejak 1954.  Kabupaten Lembata adalah Kabupaten yang terus menggeliat untuk memajukan diri dengan populasi pada tahun 2004 sekitar 98.114 jiwa. Posisi Kabupaten ini  diapit oleh dua kabupaten, yaitu wilayah Kabupaten Flores Timur di sebalah Barat dan Kabupaten Alor di sebelah Timur, sedangkan sebelah selatan Laut Sawu dan utara dibatasi oleh Laut Flores. Saat ini  ada  8 kecamatan, yakni Bayusari, Omesuri, Lebatukan, Ile Ape, Nubatukan, Atadei, Nagawatun dan Wulandoni, dengan luas wilayah 126.638 hektar. <em>Wah jadi nulis geogarfi nich&#8230;..eit stop dulu ach.. infonya</em>.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-366" title="Bersampan" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/bersampan.jpg" alt="Bersampan" width="364" height="547" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong><strong>Eksot</strong><strong>isme Lembata</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong></strong><img class="size-full wp-image-370 aligncenter" title="Senja di Lembata" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/senja-di-lembata.jpg" alt="Senja di Lembata" width="450" height="294" /></p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun seperti kebanyakan daerah di NTT, Lembata tergolong daerah kering dan gersang. Ini juga didukung oleh satu budaya sistem perladangan tebas-bakar dan berpindah-pindah, ditambah kejadian kebakaran yang melanda  sepanjang musim kemarau. Meski begitu, pertanian adalah tumpuan ekonomi warga.  Pada 2000, misalnya, dari nilai total kegiatan ekonomi setara dengan Rp 88,7 miliar, pertanian menyumbang  hingga 64 persen.  Produksi hasil pertanian belum mencukupi pemenuhan kebutuhan lokal. Sementara jambu mete dan kelapa berkontribusi hingga Rp 5 miliar. Bersama sektor peternakan dan perikanan, juga kerajinan tenun ikat akan menjadi tulang punggung perekonomian Lembata.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-378" title="Tenun Ikat" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/tenun-ikat.jpg" alt="Tenun Ikat" width="449" height="342" /></p>
<p style="text-align:justify;">Ada eksotisme yang potensi wisata yang belum digarap maksimal. Berburu Paus di Lamalera tepatnya di perairan Laut Sawu yang membentang disepanjang pantai selatan P.Lembata.. Potensi Pantai yang cukup indah, dan wisata laut lainnya.  Potensi Tambang Emas yang menurut infonya mempunyai kadar yang cukup tinggi, namun tidak bisa diekploitasi dikarenakan kendala relokasi penduduk dan penolakan masyarakat lokal</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-394" title="Berburu Paus" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/berburu-paus.jpg" alt="Berburu Paus" width="164" height="164" /></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-393" title="Pantai Desa Merdeka" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/pantai-desa-merdeka.jpg?w=300" alt="Pantai Desa Merdeka" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana mencapai</strong></p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-367" title="Merpati Airline" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/merpati-airline.jpg" alt="Merpati Airline" width="450" height="237" /></p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun ada beberapa alternative untuk bisa menginjakkan kaki di Pulau Lembata, namun saat ini belum sebanyak pilihan dan tidak segampang mencapai kabupaten lain yang ada di P.Floresh.  Hal yang paling penting adalah harus terlebih dahulu mengatahui skedul penerbangan ke sana bila mau langsung ke P.Lembata.  Untuk mengetahui info ini bisa melalui internet atau kontak langsung ke Perwakilan Merpati Air Line atau Travel Agent Terdekat. Karena satu-satunya “air line” yang melayani rute Kupang – Lembata hanya Merpati Air Line dengan skedul hari Selasa (1 kali perminggu), langsung pergi pulang di hari yang sama. Dari Kupang jam 09.00 Wita , untuk rute ini perjalanan dapat ditempuh hanya ± 45 menit. Setelah bongkar muat beberapa saat kemudian pesawat tsb kembali lagi ke Kupang. Jangan membayangkan naek Boing 747, tapi Twin Otterlah dengan baling-baling yang suaranya  merdulah yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-368" title="Boat" src="http://agoesman120.wordpress.com/files/2009/11/boat.jpg" alt="Boat" width="450" height="276" /></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi Anda yang suka berpetualang dengan perjalanan laut beserta alunan ombaknya. Bisa menumpang Kapal Feri dari Pelabuhan Bolok Kupang menuju P.Lembata, dapat ditempuh selama ± 8 &#8211; 12 jam dengan ongkos Rp 80.000&#8242;-. Ada lagi alternative perjalanan yang lebih komplet, seperti yang Aku pilih kali ini, karena ke Lembata tidak bertepatan dengan skedul Merpati. Dari Kupang naek pesawat Merpati ke Maumare, berangkat jam 6.00 WITA waktu tempuh ± 45 menit.  Setelah selesai mengambil bagasi, perjalanan dilanjutkan dengan Carter Taxi rute Maumare – Larantuka dengan biaya Rp 450.000,- tergantung kepiawaian bernegosiasi,- atau kalau mau irit lagi bisa naik bus reguler dengan ongkos yang lumayan murah. Umumnya pengertian taxi disini adalah mobil-mobil minibus (Kijang, Panther atau sejenisnya) yang disewakan dan masih berplat hitam. Dengan moda tranportasi ini  perjalanan ditempuh selama 4 jam sampai ke Larantuka. Perjalanan maseh dilanjutkan dengan Bus Laut isitilah penduduk lokal untuk menyebut Perahu Motor (Boat Kayu) yang melayani rute Larantuka – Lembata, cukup merogoh kocek Rp 30.000 dengan waktu tempuh ±  4 jam sampailah di “Surga Terakhir di Ujung Timur  NTT&#8221; ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada malam pertama di Lembata, Saya menginap disebuah hotel sederhana  “Hotel Puri”. Hotel ini terletak di salah satu sudut Kota Lewoleba ibukota Kabupaten Lembata. Walaupun masih sederhana tapi terasa ”<em>the realy lodging</em>” tempat benar-benar untuk beristirahat, tanpa kebisingan.  Bila tidak ada jemputan, untuk mencapai penginapan ini Anda bisa naek ojek dari pelabuhan Lewoleba,  cukup dengan membayar Rp 5000 saja.  Sampai saat ini belum ada Taxi khusus di kota kecil  ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sulitnya transportasi untuk masuk dan  keluar dari pulau ini tidak akan menjadi kendala berarti, bila tujuannya untuk menangkan diri dan jauh dari hingar-bingar kota di P.Lembata-lah tempatnya (agoesman).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em></em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saatnya Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan ]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/01/saatnya-belajar-dengan-cara-yang-menyenangkan/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 16:34:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/01/saatnya-belajar-dengan-cara-yang-menyenangkan/</guid>
<description><![CDATA[Saatnya Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan Oleh : Marjohan M.Pd Guru SMAN 3 Batusangkar Marjohan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Saatnya Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan Oleh : Marjohan M.Pd Guru SMAN 3 Batusangkar Marjohan ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mandiri Utopia Belaka]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/01/1769/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 16:29:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/11/01/1769/</guid>
<description><![CDATA[Mandiri Utopia Belaka Oleh Jalius HR Jalius HR, Dosen FIP UNP Bila saya membaca, menganalisa  dan me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mandiri Utopia Belaka Oleh Jalius HR Jalius HR, Dosen FIP UNP Bila saya membaca, menganalisa  dan me]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bila Bersekolah Hanya Untuk Untuk Mencari “Ranking Satu” ]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/10/31/bila-bersekolah-hanya-untuk-untuk-mencari-%e2%80%9cranking-satu%e2%80%9d/</link>
<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 08:10:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/10/31/bila-bersekolah-hanya-untuk-untuk-mencari-%e2%80%9cranking-satu%e2%80%9d/</guid>
<description><![CDATA[Bila Bersekolah Hanya Untuk Untuk Mencari “Ranking Satu” Oleh: Marjohan M.Pd Guru SMAN 3 Batusangkar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bila Bersekolah Hanya Untuk Untuk Mencari “Ranking Satu” Oleh: Marjohan M.Pd Guru SMAN 3 Batusangkar]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendidik dan Membina Karakter Anak Sejak Dini]]></title>
<link>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/10/30/mendidik-dan-membina-karakter-anak-sejak-dini/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 12:25:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>enewsletterdisdik</dc:creator>
<guid>http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2009/10/30/mendidik-dan-membina-karakter-anak-sejak-dini/</guid>
<description><![CDATA[Mendidik dan Membina Karakter Anak Sejak Dini Oleh: Marjohan M.Pd Guru SMAN 3 Batusangkar Marjohan M]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Mendidik dan Membina Karakter Anak Sejak Dini Oleh: Marjohan M.Pd Guru SMAN 3 Batusangkar Marjohan M]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
