<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>beda-pendapat &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/beda-pendapat/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "beda-pendapat"</description>
	<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 16:14:37 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Tentang Perbedaan Pendapat]]></title>
<link>http://wongiseng.wordpress.com/2009/09/06/tentang-perbedaan-pendapat/</link>
<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 10:12:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>wongiseng</dc:creator>
<guid>http://wongiseng.wordpress.com/2009/09/06/tentang-perbedaan-pendapat/</guid>
<description><![CDATA[Terus terang Simbah merasa agak bersalah belakangan ini. Merasa bersalah karena sepertinya Simbah ik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Terus terang Simbah merasa agak bersalah belakangan ini. Merasa bersalah karena sepertinya Simbah ikut berkontribusi membuat suasana di rumah yang hangat ini menjadi agak-agak tidak nyaman. Untuk itu saya mohon maaf ke warga ngerumpi sekalian.</p>
<p>Sejatinya saya percaya bahwa &#8220;Everyone is right, and no one is ever right&#8221;. &#160;Latar belakang setiap warga ngerumpi ini berbeda. Nilai yang dipegang pun sangat beragam. Persepsi yang dimiliki dalam melihat permasalahan yang sama, tentu saja berlainan. Sehingga saya percaya setiap orang berhak mempunya opini tersendiri, dan berhak untuk merasa benar dengan pendapatnya masing-masing.</p>
<p>Masalah bisa timbul pada saat orang-orang dengan kacamata yang berbeda ini bertemu. Dalam keadaan damai, bisa terjadi<em>&#160;</em>pertukaran ide, sharing, dan berbagi opini. Masing-masing mencoba memahami dan melihat dari sudut pandang yang berbeda, sehingga akhirnya wawasan kedua pihak-pihak yang bertemu menjadi bertambah.</p>
<p>Sayangnya pertukaran ide yang damai ini tidak selalu terjadi. Pada saat salah satu pihak merasa sangat yakin dengan kebenaran opininya, yang terjadi bukan lagi pertukaran opini, tapi pengadilan dengan terdakwa yang sudah divonis bersalah sebelum pengadilan dimulai, dan hakim yang memegang kebenaran absolut dengan dukungan publik penonton sidang.</p>
<p>Bisa jadi hakim tersebut memang sejatinya benar. Putusan-putusan yang disampaikan oleh hakim tersebut logis dan sesuai dengan opini mayoritas publik. Tapi cara penyampaian pendapat ala pengadilan seperti ini terasa tidak pas jika digunakan diluar ruang sidang. Misalnya saat dua orang sahabat bertemu kangen setelah lama tidak bertemu. Simbah yang kolot ini, merasa prihatin saat melihat modus pertukaran ide ala pengadilan digunakan di dalam suasana seperti itu.</p>
<p>Hal inilah yang sebenarnya simbah coba sampaikan saat pura-pura mengadu ke jeng Silly beberapa hari lalu. Simbah tidak ada masalah dengan opini yang permisif ataupun yang fundamentalis. Semua opini punya latar belakang nilai, pemikiran dan sesuai dengan konteks masing-masing. Perbedaan itu memang pasti akan ada, dan mestinya dilihat sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan. Bukan kesempatan untuk bersorak saat melihat hakim menjatuhkan putusan.</p>
<p>Sebenarnya simbah tidak ingin menulis artikel ini. Karena semua yang ingin disampaikan sudah disampaikan dalam pertemuan keluarga, antara Mertua, Mantu yang Baik dan Ganteng dan Nduk<em><span>&#160;Ayu</span> yang seneng bolak balik minta maaf padahal dia ndak salah apa-apa</em>. Tapi karena merasa bersalah sudah ikutan membuat suasana disini jadi tidak enak, akhirnya saya tulis artikel ini sebagai penjelasan dan sekaligus permohonan maaf kalau sudah mengganggu.</p>
<p>Semoga kehangatan keluarga Ngerumpi bisa terus terjaga di tengah perbedaan yang sejatinya berpotensi untuk menambah wawasan, bukan sekedar menciptakan jarak.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selisih pendapat]]></title>
<link>http://gideonidea.wordpress.com/2009/04/14/selisih-pendapat/</link>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 02:18:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>gideonidea</dc:creator>
<guid>http://gideonidea.wordpress.com/2009/04/14/selisih-pendapat/</guid>
<description><![CDATA[Selisih pendapat yang terjadi seharusnya jangan dijadikan senjata untuk menusuk tetapi dijadikan pen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Selisih pendapat yang terjadi seharusnya jangan dijadikan senjata untuk menusuk tetapi dijadikan pen]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[REFLEKSI: Persepsi Dapat Berbeda]]></title>
<link>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2008/12/05/refleksi-2/</link>
<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 05:01:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hejis</dc:creator>
<guid>http://kajiankomunikasi.wordpress.com/2008/12/05/refleksi-2/</guid>
<description><![CDATA[MEMBACA KOMEN DI BLOG Oleh Hejis Membaca komen-komen di blog selalu mengasyikkan. Tidak jarang komen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><strong>MEMBACA KOMEN DI BLOG</strong></h2>
<p><strong><br />
<h3>Oleh Hejis</h3>
<p></strong></p>
<p><a href="http://www.oss237.com/wp-content/uploads/2006/08/Reflection-T.jpg"><img alt="" src="http://www.oss237.com/wp-content/uploads/2006/08/Reflection-T.jpg" title="Refleksi" class="alignleft" width="180" height="265" /></a>Membaca komen-komen di blog selalu mengasyikkan. Tidak jarang komen-komen itu menjadi terapi untuk kondisi psikologis yang sedang sensi (senang sikut-sikutan) atau melow (melotot, wow!). Selain itu, juga menginformasikan kondisi psikologis komentatornya, bahkan mencerminkan karakter individualnya! Semuanya sah-sah saja. Tidak perlu dipermasalahkan, sebatas tidak sengaja untuk agresi. Lalu apa lagi yang perlu dibahas? Ya, banyak.</p>
<p>Misalnya, dan hanya misalnya, komen-komen itu saya jadikan bahan pelajaran untuk saya sendiri (sampeyan juga boleh ikut, koq). Di blog milik siapa pun saya mendapatkan inspirasi dan pelajaran termasuk semua komen di masing-masing blog yang saya baca (<em>teriring ucapan terima kasih kepada seluruh blogger yang telah berkorban membagi ilmunya</em>). Misalnya lagi, <!--more-->di post “Cerbung” saya jadikan projek percontohan. Di situ banyak komen yang lucu-lucu untuk mengomentari post yang katanya membuat teman-teman tertawa, bahkan sampai ngakak. Malah ada yang tertawa sambil terkentut-kentut (semoga tidak bolak-balik ganti pampers, saking kentutnya kebablasan ya… hihiy). Ada juga yang sedang sedih kemudian tersenyum setelah membacanya (alhamdulillah berarti tujuan menyenyumkan orang bisa tercapai). Tetapi, ada pula yang melihat bukan kelucuan ceritanya, melainkan keharuannya (sampai nangis kali ya. Keluar air mata bercucuran seperti cucuran Niagara Falls. Gak papa asal jangan air liur ikut-ikutan mengalir deras).</p>
<p>Semua itu berangkat dari persepsi individu terhadap stimuli. Kendati pun stimulinya sama, orang bisa berbeda persepsi. Mengapa demikian? Persepsi orang dipengaruhi oleh banyak hal. Bisa dari pengalaman, pendidikan, pergaulan, bacaan, fisiologis, tontonan, pola asuh di keluarga, deelel. Pokoknya banyak deh. Kalau diomongin bisa 100 tahun gak kelar. Lalu, jika persepsi orang berbeda-beda bagaimana mungkin terjadi interaksi sosial yang kohesif? Bukankah orang-orang yang berbeda persepsi itu ketika berinteraksi dengan orang lain dapat berakhir dengan konflik dan bahkan bentrok fisik? Itulah yang sekarang banyak terjadi.</p>
<p>Tengoklah media massa. Setiap hari kita melahap berita perseteruan, percekcokkan, tawuran. Hati jadi getir dan pilu menyaksikan semua itu. Padahal kita semua mengetahui tidaklah enak perasaan kita ketika terlibat dalam konflik yang tajam. Konflik memang sehat dalam batas optimum (ingat deh teori konflik). Demikian pula stres akibat konflik itu (ingatlah <em>eustress</em> *stres yang fungsional, stres yang membuat kita lebih maju*). Sayangnya kesadaran tentang ketidak-nyamanan sikut-sikutan tidaklah cukup. Kesadaran tinggal kesadaran, namun kelakuan masih tetap penuh dengan agresivitas, egoisme, dan mencari kemenangan sendiri. Siapa mereka itu? Ya kita, warga negara Indonesia sekarang ini.</p>
<p>Kembali ke laptop. Hubungan antara komen dan persepsi serta situasi hubungan sosial kita mesti dimaknai secara cerdas. Komen muncul berdasarkan persepsi. Persepsi orang berbeda. Persepsi yang berbeda itu diharmonikan agar kehidupan kita menjadi harmonis. Persuasi merupakan cara mengharmonikan yang cantik agar orang tidak dipermalukan. Ini kalau kedudukan orang-orang yang berinteraksi tidak setara, misalnya guru dan murid. Jika orang-orang setara mau menyelaraskan persepsi, maka perlu dialog, mungkin juga debat. Dialog bertujuan mengemukakan persepsi masing-masing yang diharapkan bermuara pada kesepakatan. Debat bertujuan memperjuangkan persepsi masing-masing pihak yang dilandasi dengan argumen rasional. Sayangnya untuk urusan debat kita masih kedodoran.</p>
<p>Debat di masyarakat kita sudah telanjur dikonotasikan buruk, debat kusir. Maknanya, perdebatan yang tidak akan mengarah pada solusi, melainkan okol-okolan, kuat-kuatan ngotot. Jadi senjata utama debat model ini adalah otot. Padahal debat yang baik bukan begitu. Debat yang baik mengedepankan argumentasi yang rasional, logis, dan manis. Jadi, debat yang baik akan berakhir pada pemilihan argumentasi yang rasional.</p>
<p>Kita semua perlu menyosialisasikan debat. Kata kaum konservatif, ”debat bukan budaya kita. Debat budaya asing yang merusak sendi-sendi sistem sosial kita. Berbahaya itu”, katanya sambil mengunyah spaghetti dan jari-jarinya lincah bermain di tuts-tuts communicatornya, yang notabene juga budaya asing. Lalu pendukung konservatisme itu mengeloyor ke bandara berangkat ke luar negeri untuk keperluan studi banding. Sebetulnya debat kita yang kebanyakan berakhir berantem jangan disimpulkan bahwa debat itu tabu. Namun karena kita tidak dibiasakan menghargai persepsi orang lain dengan cara yang rasional. Kita tidak pernah diberikan peluang untuk berlatih debat. Anak-anak kita dalam pola asuh rumah tangga Indonesia, dididik untuk manut apa kata orangtua. Kalau mereka membantah dianggap anak nakal atau tidak sopan. Tentu saja selalu ada perkecualian.</p>
<p>Jadi, apa yang mau saya katakan kali ini? Pelajarannya adalah persepsi orang wajib kita hargai sama halnya kita ingin orang lain menghargai persepsi kita. Jika ada persepsi yang salah, maka perlu dibenarkan dengan persuasi, dialog, dan perdebatan yang sehat. Kita mengaku sebagai makhluk mulia yang diciptakan Allah SWT. Oleh karena itu kita perlu mengedepankan anugerah Allah SWT yang berupa kemampuan berpikir dan berzikir. </p>
<p>Untuk mengakhiri tulisan ini (saya yang memulai maka saya yang mengakhiri pula), saya tambahkan puisi di bawah ini sebagai aksesoris. Seperti telah saya singgung di atas tentang persepsi. Puisi ini &#8220;nyambung&#8221; dengan debat ataukah tidak tergantung pada persepsi kita masing-masing. Dan, itu sah-sah saja. Begitu bukan? Entahlah&#8230;***</p>
<p><strong>DEBAT (dengarlah pesan batinmu)</strong></p>
<p>Api dengarlah sebagai api<br />
bila bijak, ia akan menghangatkanmu<br />
bukan senjata yang melumatmu<br />
Air dengarlah sebagai air<br />
bila rendah hati, ia akan menyegarkanmu<br />
bukan menenggelamkanmu<br />
Angin dengarlah sebagai angin<br />
bila mengerti, ia akan mengantarmu<br />
ke sarang kedamaian<br />
tempat ksatria melepas rindu pada tambatan hati<br />
dari pertempuran yang mengoyak nurani</p>
<p>Api, air, angin<br />
dengarlah satu demi satu<br />
lanjutkan perjalanan kepada batu<br />
pijakan di antara alun sungai berkedalaman<br />
tenggelam atau lolos<br />
hanya nuranimu yang mampu<br />
,,,,,,,,,, </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kontroversi asiabersama...]]></title>
<link>http://quantumeconomics.wordpress.com/2008/11/06/kontroversi-asiabersama/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 06:13:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>quantumeconomics</dc:creator>
<guid>http://quantumeconomics.wordpress.com/2008/11/06/kontroversi-asiabersama/</guid>
<description><![CDATA[Dalam hidup bermasyarakat senantiasa akan ada perbedaan pendapat. Begitu pula halnya dengan keberada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!-- AWAL BANNER APENTA --><br />
<a href='http://www.apenta.com/?ref=arie'><img src='http://www.apenta.com/afiliasi/banner/aff-banner-468-60-1.gif' border='0' alt='Web Hosting'></A><br />
<!-- AKHIR BANNER APENTA --></p>
<p><!-- AWAL BANNER APENTA --><br />
<a href='http://www.apenta.com/afiliasi/?ref=arie'><img src='http://www.apenta.com/afiliasi/banner/banner-afiliasi-blog.gif' border='0' alt='Web Hosting'></A><br />
<!-- AKHIR BANNER APENTA --></p>
<p><a href="http://www.asiabersama.com/ayahzaky">Dalam hidup bermasyarakat senantiasa akan ada perbedaan pendapat. Begitu pula halnya dengan keberadaan program asiabersama.com, ada yg bilang arisan berantai, ada yang bilang haram, ada yang bilang &#8230;&#8230;, ada yang bilang&#8230;&#8230;, namun ada juga yang ikutan, entah karena ikutan temen atau memang mengetahui dan paham secara benar akan program tersebut.</a></p>
<p><a href="http://www.asiabersama.com/ayahzaky">Saya sangat senang melihat komentar&#8221; teman pembaca, semoga walaupun nantinya saya bisa meraih kemapanan finansial melalui program ini saya tetap akan menghargai segala beda pendapat dan kontroversi yang ada. Seperti ucapan teman saya,&#8221; Kalo lu yakin ikuta aja, ikhlasin aja biar gak ngeberatin pikiran lu&#8221;. Semoga saya bisa ikhlas. Dan ternyata kalo ada pembaca yang akhirnya ikutan program ini dan berhasil melalui blog ini, saya ucapkan selamat dan jangan lupa untuk tetap saling berbagi terhadap sesama.</a></p>
<div class="storycontent">
<div class="snap_preview">
<p><a href="http://www.asiabersama.com/ayahzaky">Program yang ada dalam blog ini</a> l<a href="http://www.asiabersama.com/ayahzaky">uar biasa mendapat tanggapan yang beragam, saya sangat menghargai mereka yang mau menganalisanya dengan seksama, perkara ikut atau tidak bukan soal, namun wacana program ini patut didiskusikan, berikut saya copy komentar dari seorang pembaca blog ini, komentar yang terlontar dari seorang yang cerdas, dan saya copy pula tanggapan saya mengenai pendapat rekan tersebut. Terima kasih. Jazakumullah khoiron katsiro</a></p>
<ol class="snap_preview"></ol>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perbedaan Pendapat Dalam Islam]]></title>
<link>http://iemasen.wordpress.com/2008/09/29/perbedaan-pendapat-dalam-islam/</link>
<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 08:23:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>iemasen</dc:creator>
<guid>http://iemasen.wordpress.com/2008/09/29/perbedaan-pendapat-dalam-islam/</guid>
<description><![CDATA[Menyampaikan Pendapat PERBEDAAN PENDAPAT YANG DIBENARKAN Islam membenarkan perbedaan pendapat apabil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Menyampaikan Pendapat PERBEDAAN PENDAPAT YANG DIBENARKAN Islam membenarkan perbedaan pendapat apabil]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indahnya komik jadul]]></title>
<link>http://radioclinic.com/2008/07/02/indahnya-komik-jadul/</link>
<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 05:48:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Alex Santosa</dc:creator>
<guid>http://radioclinic.com/2008/07/02/indahnya-komik-jadul/</guid>
<description><![CDATA[Melihat situasi Indonesia saat ini dimana kemiskinan makin meningkat, rakyat Indonesia makin menderi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Melihat situasi Indonesia saat ini dimana kemiskinan makin meningkat, rakyat Indonesia makin menderi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Saat langit beda pendapat dengan langit diatasnya]]></title>
<link>http://radioclinic.com/2008/02/29/saat-langit-beda-pendapat-dengan-langit-diatasnya/</link>
<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 02:49:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Alex Santosa</dc:creator>
<guid>http://radioclinic.com/2008/02/29/saat-langit-beda-pendapat-dengan-langit-diatasnya/</guid>
<description><![CDATA[Perbedaan pendapat dengan atasan baru saja dialami oleh seorang rekan yang saat ini menjadi manager ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Perbedaan pendapat dengan atasan baru saja dialami oleh seorang rekan yang saat ini menjadi manager ]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
