<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>berbagi-cerita &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/berbagi-cerita/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "berbagi-cerita"</description>
	<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 19:31:12 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[MEBASE GENEP ADGI CHAPTER BALI MENAMPILKAN PAUL WHITEHEAD]]></title>
<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/12/23/mebase-genep-adgi-chapter-bali-menampilkan-paul-whitehead/</link>
<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 13:54:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>balcom</dc:creator>
<guid>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/12/23/mebase-genep-adgi-chapter-bali-menampilkan-paul-whitehead/</guid>
<description><![CDATA[Menyimak Perjalanan Seorang Paul Whitehead Paul Whitehead barangkali adalah satu dari sekian banyak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/mebase-genep-paul-whitehead.jpg?w=494&#38;h=1000"><img title="Mebase-Genep-Paul-Whitehead" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/mebase-genep-paul-whitehead.jpg?w=395&#038;h=800#38;h=1000" alt="" width="395" height="800" /></a></p>
<p><strong>Menyimak Perjalanan Seorang Paul Whitehead</strong></p>
<p>Paul Whitehead barangkali adalah satu dari sekian banyak artis dunia yang mendapat pencerahan dengan memutuskan menetap di Bali mengisi hari harinya saat ini. Tetap semangat bekerja dan melukis setelah 40 tahun perjalanannya mendedikasikan karya surrealis dan desainnya bagi grup dan musisi kenamaan dunia.<!--more--></p>
<p>Kiprah cemerlangnya menonjol tatkala Paul bergabung di Charisma Record, sebuah label lawas yang terkenal dengan icon “Mad Hatter” yang kelak mendapat sentuhan Paul pula sehingga menjadi lebih colorful.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/genesis-tresspass-1970.jpg?w=600&#38;h=262"><img title="Genesis-tresspass-(1970)" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/genesis-tresspass-1970.jpg?w=420&#038;h=183#38;h=262" alt="" width="420" height="183" /></a></p>
<p>Setelah pertemuannya dengan Anthony Philip dan diperkenalkan kepada Genesis, Paul mendapat kesempatan membuat desain untuk album Trespass yang dirilis tahun 1970 disaat usianya baru 26 tahun. Album Nursery &#38; Cryme (1971) lalu Foxtrot (1972) meluncur berturut-turut disertai karya seninya. Karyanya bagi album-album mashur Genesis ini diyakini banyak kalangan sangat lekat dengan musiknya sehingga keduanya larut saling menginspirasi. Penyuka Genesis menganggap masa ini sebagai yang terbaik dari perjalanan Genesis dimana Peter Gabriel banyak memberikan warna surealis pada musik Genesis senafas dengan nafas karya Paul.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/genesis-nursery-cryme-1971.jpg?w=600&#38;h=286"><img title="Genesis-Nursery-Cryme-(1971)" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/genesis-nursery-cryme-1971.jpg?w=420&#038;h=200#38;h=286" alt="" width="420" height="200" /></a></p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/genesis-foxtrot-1972.jpg?w=600&#38;h=293"><img title="Genesis-Foxtrot-(1972)" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/genesis-foxtrot-1972.jpg?w=420&#038;h=205#38;h=293" alt="" width="420" height="205" /></a></p>
<p>Ketika Tour Reuni Genesis “Turn It On Again” dilakukan pada 2007 setelah hampir 40 tahun kiprah Genesis dimulai, adalah Paul Whitehead yang diundang kembali menghadirkan reka ulang karya-karya visual yang pernah hadir dalam cover album Genesis menjadi karya baru dalam promo tour maupun aneka “collector’s item” yang artistik.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/genesis-reunion-turn-it-on.jpg?w=500&#38;h=400"><img title="Genesis-Reunion-Turn-it-On" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/genesis-reunion-turn-it-on.jpg?w=400&#038;h=320#38;h=400" alt="" width="400" height="320" /></a></p>
<p>Tidak hanya untuk Genesis, grup lainnya yang mendapat sentuhan artistic Paul pada cover albumnya adalah Van Der Graaf Generator, Peter Hammill, Le Orme, Rennaisance, dll.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/van_der_graaf_generator.jpg?w=500&#38;h=500"><img title="Van_Der_graaf_generator" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/van_der_graaf_generator.jpg?w=400&#038;h=400#38;h=500" alt="" width="400" height="400" /></a></p>
<p><img title="Fool%27s+Mate-Front1" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/fool27smate-front1.jpg?w=319&#038;h=320#38;h=320" alt="" width="319" height="320" /></p>
<p>Semenjak 15 bulan lalu Paul menentukan sebuah pilihan penting dalam hidupnya. Ia memilih Ubud sebagai ranah inspirasi sekaligus kehidupan sosial yang menyenangkan. Segera pengalaman batinnya yang baru ini tertuang dalam lukisan-lukisan surrealis dalam bingkai tema “Questions” dan pameran tunggalnya baru saja dibuka di Ganesha Gallery Four Seasons Resort Jimbaran. “Questions?” adalah sebuah refleksi perjalanan batin seorang Paul Whitehead yang kontemplatif.</p>
<p><a href="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/karma-smaller.jpg?w=600&#38;h=600"><img title="Karma smaller" src="http://desaingrafisindonesia.files.wordpress.com/2009/12/karma-smaller.jpg?w=420&#038;h=420#38;h=600" alt="" width="420" height="420" /></a></p>
<p>Tersirat dalam karya karya lukisnya itu semacam perenungannya terhadap perjalanan dan “nilai-nilai Timur” yang tengah dinikmatinya saat ini. Dalam pembukaan pamerannya, Ia menunjuk satu lukisan dimana digambarkan seseorang tengah mendorong batu pipih yang berdiri melingkar seperti penggambaran domino effect. “Ini lukisan terakhir yang saya selesaikan untuk pameran ini seminggu yang lalu” ujarnya menunjuk lukisan yang diberi judul “Karma?’ tersebut.</p>
<p>Sebelum pamerannya di Ganesha Gallery berakhir awal tahun 2010 nanti, Tanggal 25 Desember ini Paul akan membuat semacam art installation di ruang pameran di Ganesha Gallery menggunakan pasir laut membentuk Mandala. Semacam penggambaran dimensi lain dari nilai Christmas.</p>
<p>MEBASE GENEP ADGI BALI CHAPTER<br />
Paul, adalah seorang bersahaja yang terbuka. Ia dengan senang hati ingin berbagi soal kejadian yang dilakoninya selama 40 tahun berkarya dan intens dengan dunia musik. Adalah Adgi Bali Chapter lewat casual gatheringnya “Mebase Genep #8” mendapat kehormatan menampilkan tamu istimewa ini bagi publik untuk berbincang dan bertukar pikiran.</p>
<p>Acara Mebase Genep Adgi Bali Chapter yang ke 8 ini adalah edisi khusus dimana Adgi Bali Chapter berkolaborasi dengan One Dollar For Music –sebuah yayasan yang mengawal pendidikan musik bagi anak muda di Bali- dan Bali Creative Community serta Warung Tresni yang pemiliknya adalah salah satu biang Classic Rock di Bali. Sinergi antar lembaga ini dilakukan demi memperluas jejaring yang lebih memberikan manfaat bagi banyak kalangan.</p>
<p>Seperti halnya bumbu “Mebase Genep” yang komplit dan bercita rasa, perjalanan seorang Paul Whitehead patut “dicicipi” guna memperkaya khazanah kita. Jika tak ada aral melintang, ada extra live music memainkan beberapa lagu Genesis untuk menemani makan malam dan meutup acara Mebase Genep #8 nanti.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[OLEH OLEH DARI BUSINESS OF DESIGN WEEK 2009 HONG KONG]]></title>
<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/12/11/oleh-oleh-dari-business-of-design-week-2009-hong-kong/</link>
<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 07:35:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>balcom</dc:creator>
<guid>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/12/11/oleh-oleh-dari-business-of-design-week-2009-hong-kong/</guid>
<description><![CDATA[The Business Of Design Week was held on 3~5 Dec.09 at the Hongkong Convention and Exhibition Centre,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The Business Of Design Week was held on 3~5 Dec.09 at the Hongkong Convention and Exhibition Centre, Wanchai, Hongkong.<br />
I would like to share some of the work of these creative talents who presented their art pieces at the Fair.<br />
I thoroughly enjoyed the BODW! Mardiana Ika &#8211; Fashion Designer</p>

</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penipuan atau ......?]]></title>
<link>http://zeindralbesar.wordpress.com/2009/12/07/penipuan-atau/</link>
<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 15:38:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>zeinbiz</dc:creator>
<guid>http://zeindralbesar.wordpress.com/2009/12/07/penipuan-atau/</guid>
<description><![CDATA[Pada kesempatan ini saya ingin memaparkan bahwa teman saya barusaja menerima email seperti dibawah i]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada kesempatan ini saya ingin memaparkan bahwa teman saya barusaja menerima <strong>email seperti dibawah ini :</strong></p>
<p>Transfer Department<br /><!--more--><br />
Allied Irish Bank (GB)<br />
Mr. Craig Ashton<br />
Allied Irish Bank (GB)<br />
Operations Department<br />
Sovereign House,<br />
361 King Street,<br />
Hammersmith London,<br />
W6 9NA,United Kingdom<br />
Tel: +44 703 597 8925<br />
        +44 703 598 1654<br />
Fax: +44 707 570 7726</p>
<p>                                     Fund Release.<br />
Transfer Options for the Immediate Transfer of your Winnings of the Sum of 750,000GBP Pounds Sterling with Transfer Identification code: ELPC/MWT/0143 </p>
<p>Attention:&#8212;&#8212;*******&#8212;,</p>
<p>You are welcome to Allied Irish Bank (GB) an affiliate of the Irish National Lottery.We are pleased to be at your service.Allied Irish Bank (GB) is Regulated and Stipulated by the Financial Service Authority(FSA).,the financial institutions that Govern all Financial activities in the United Kingdom. </p>
<p>Below are the two options with their associated conditions.</p>
<p>Account Opening and On-line Swift Transfer Option:</p>
<p>In this option you will be given the proper guidelines on how you will directly and personally transfer your winning funds in liquid cash into any bank account you nominate through the Allied Irish Bank (GB) e-banking services.</p>
<p>But for this to be done,first your winning cheque in our custody have to be converted into liquid cash in the UK Cheque Clearing house because we Allied Irish Bank (GB) are allowed by the UK banking laws and policies to proceed with the swift transfer process of the winnings to you while the funds is still in cheque form.you will then have to open and activate an account with this bank with an opening balance/initial deposit of 610 Pounds Sterlings before we can officially and legally possess the legal right as your bank to cash your winning cheque on your behalf in the UK cheque clearing house(UKCCH).</p>
<p>Alternative Option (2) &#8220;Courier Cheque Transfer Option&#8221;:</p>
<p>In this option,your certified winning cheque along with the legal documents backing your winnings will be delivered to your address that you have provided within 72 hours.<br />
Below are the mandatory charges associated with the Courier Cheque Transfer Option via DHL that you are required to pay if you prefer this Courier Cheque Transfer Option.</p>
<p>Post Fee____________________40 Pounds sterling<br />
Vat_________________________250 Pounds sterling<br />
Insurance___________________220 Pounds sterling<br />
TOTAL_____________________  510 Pounds sterling</p>
<p>To avoid any delay you are to clearly state your perferred option.</p>
<p>We look forward to serving you better. </p>
<p>Treat with dispatch </p>
<p>Yours Faithfully<br />
Transfer Department<br />
Allied Irish Bank (GB)<br />
Mr. Craig Ashton<br />
Allied Irish Bank (GB).<br />
Sovereign House,<br />
361 King Street,<br />
Hammersmith London,<br />
W6 9NA,United Kingdom<br />
Regulated by the Financial Services Authority</p>
<p><strong>Kemudian yang berikutnya :</strong></p>
<p>Transfer Department<br />
Allied Irish Bank (GB)<br />
Mr. Craig Ashton<br />
Allied Irish Bank (GB).<br />
Operations Department<br />
Sovereign House<br />
361 King Street<br />
Hammersmith London,W6 9NA.<br />
Tel:   +44 703 597 8925<br />
         +44 703 598 1654<br />
Fax: +44 707 570 7726</p>
<p>                                 Fund Release.</p>
<p>Transfer Options for the Immediate Transfer of your Winnings of the Sum of 750,000 Pounds Sterling with Transfer Identification code: ELPC/MWT/0143</p>
<p>Attention:&#8212;****&#8212;</p>
<p>Sequel to your last email,you are to go over and make the payment for the courier delivery charges.Below are the guildlines and informations you are to use to send the required funds for your Courier delivery charges. </p>
<p>GUILDLINES:<br />
<strong>You are required to send the funds for your Courier delivery charges amounting to 510 Pounds sterling via any Western Union Money Transfer or MoneyGram Agent in your locality to our Account Officer with the informations below;</strong><em></p>
<p>Account Officer&#8217;s Name: Mrs. Kate Adams,<br />
Address: Sovereign House 361 King Street Hammersmith London, United Kingdom.</p>
<p>As soon as you send the funds,you are to send to this email address for your payment registration/confirmation the following details;</p>
<p>1: All the payment details which should include;</p>
<p>a) First Name of the sender:<br />
b) Last Name of the sender:<br />
c) Money Transfer Control Number(MTCN):<br />
d) Amount paid:<br />
e) City paid from:</p>
<p>2: The scanned copy of the western union or MoneyGram payment receipt. </p>
<p>And as soon as your Courier delivery charges is confirm/received here, Delivery of your winning parcel will immediately take effect and you are to expect your winning parcel within the next 48-72hours upon confirmation of your payment by our account officer. You will also have to include your delivery address along with the payment informations you will be sending to this office. Also kindly be aware that it is our strict policy not to deal with third parties, friends and families inclusive.</p>
<p>I await your reply soonest along with the funds transfer receipt and details. If you have any question or comments with regards to the transfer process, it will be our pleasure to address those issues for you. </p>
<p>We look forward to serving you better. </p>
<p>Treat with dispatch </p>
<p>Transfer Department<br />
Allied Irish Bank (GB)<br />
Mr. Craig Ashton<br />
Allied Irish Bank (GB)<br />
Operations Department<br />
London Drummonds<br />
49 Charing Cross<br />
GB &#8211; Admiralty Arch SW1A 2DX.<br />
Regulated by the Financial Services Authority </p>
<p>Jika anda, pembaca atau pengunjung halaman web ini juga menerima seperti ini, maka saya bertanya kepada anda, apa maksud semua ini. <strong>Penipuan </strong>atau memang mereka bermurah hati untuk membagi duit&#8230;, apa iya. anda pasti berkata : wele..wele&#8230;wele &#8230;<br />
Jika memang mau membagikan duit, kenapa penerima email tersebut diminta mentransfer sejumlah uang, What does it mean man?!!&#8230;</p>
<p>( If you, the readers or visitors of this web page also accepted like this, then I ask you, what does it all mean. <strong> Fraud </strong> or did they generously to divide money &#8230;, what yes. you must say: wele .. wele &#8230; wele &#8230;<br />
If it is willing to share money, why recipients were asked to transfer some money, What does it mean man ?!!&#8230;)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Once Upon a Rainy Day]]></title>
<link>http://gentole.wordpress.com/2009/12/07/once-upon-a-rainy-day/</link>
<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 03:56:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gentole</dc:creator>
<guid>http://gentole.wordpress.com/2009/12/07/once-upon-a-rainy-day/</guid>
<description><![CDATA[Only toads are happy with the rain. I remember the days when I was  only seven or eight when the toa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Only toads are happy with the rain. I remember the days when I was  only seven or eight when the toads were singing joyfully in the rain outside my classroom. They sounded so happy, as if every single drop of the rain was a blessing from the Gods. Amphibians. What do you expect, eh? They pray for the rain night and day. But I hate frogs and toads, especially the infamous kodok blentung. Kermit on Sesame Street is cute, but all the toads I have encountered are slimy and repulsive. Ah, yes, now I remember that giant, ugly toad who hid behind the banana tree near the warung at school. I believed he was stalking me. That thing, the toad, that brownish toad! Thank God school is over and my workplace is far from the swamps (You see, the field at my junior high school, a Muhammadiyah school, always turned into a swamp when the rainy season came). But as soon as I grew up, I began to forget the toads. Perhaps because I now live in the heavily urbanized Jakarta, where the singing toads are no longer heard. Where are they now? <span style="text-decoration:line-through;">Are they on Facebook too?</span> Or perhaps because the rain reminds of something else now, something fuzzy, something that I cannot tell what it is, no matter how hard I try to retrieve it. Is it first love? Is it God? Is it part of the past that wants to be remembered? I don’t know. It’s a longing without an object to long for. It’s a human thing. It’s something that science cannot explain. I call it melancholy.</p>
<p style="text-align:justify;">So the sky is dark and the roads are wet and slippery in Jakarta. Here’s a song by Jubing Kristianto. It’s called <em>Once Upon a Rainy Day</em>. I just learned to play it a few days ago. It’s actually one of his easy pieces, but amateurs are amateurs. My playing is far from clean. And as much as I want you to know that I know that we all know that I just want to show off my guitar playing here, do note that I dedicate this song to all of you who, like me, have a sort of a love affair with the rain.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/UldU16WcW80&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/UldU16WcW80&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>NB: The back sound was not the sound of the rain. It was actually the little fan in my room. But, anyway, lets just pretend it was really the sound of the pouring rain. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' />  </em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Investasi: Emas]]></title>
<link>http://techwithlowcost.wordpress.com/2009/11/30/investasi-emas/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 14:50:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>journey01</dc:creator>
<guid>http://techwithlowcost.wordpress.com/2009/11/30/investasi-emas/</guid>
<description><![CDATA[Pada zaman sekarang kata investasi bukan hal yang aneh lagi. Investasi, menurut wilkipedia indonesia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada zaman sekarang kata<strong> investasi</strong> bukan hal yang aneh lagi. Investasi, menurut wilkipedia indonesia, berarti pembelian (dan berarti juga produksi) dari <a title="Modal (ekonomi) (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Modal_%28ekonomi%29&#38;action=edit&#38;redlink=1">kapital/modal</a> barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (<a title="Barang produksi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Barang_produksi">barang produksi</a>). Singkat cerita kalau kita menginvestasikan sebesar Rp. 1.000,-  harapannya modal tersebut  akan berkembang misalnya menjadi Rp.1.300,-, namun ada kalanya modal kita menjadi tergerus, misalnya menjadi senilai Rp.900,-.</p>
<p>Kita mengenal banyak sekali cara un tuk berinvestasi. Orang zaman dulu misalnya mengajarkan kita untuk berinvestasi pada tanah, rumah, kontrakan, emas, dll. Untuk cara modern bisa membeli produk &#8211; produk investasi seperti saham, reksadana, deposito, dll.</p>
<p>Salah satu investasi yang saat ini menjadi tren adalah <strong>emas</strong>&#8230; benar&#8230; emas&#8230;.. mengapa?? karena harganya yang cenderung ( klo tidak boleh dikatakan selalu) bergerak naik.<strong> Sebenarnya bukan harga emaslah yang naik, melainka</strong><strong>n harga uanglah (<span style="text-decoration:line-through;">baca: rupiah</span>) yang makin murah</strong>. Emas berharga stabil sebagai alat tukar menukar barang. Contohnya emas sebanyak 100 gr cukup untuk ongkos naik haji pada tahun ini ( jika dirupiahkan sekitar 35 jutaan), maka insyaAllah 100 gr emas tetap cukup untuk membiayai haji lima tahun mendatang ( padahal ONHnya bisa naik misalnya mencapai 40 sd 45 jutaan)</p>
<p>Pertanya<a href="http://techwithlowcost.wordpress.com/files/2009/11/emas-batangan1.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-30" title="emas batangan" src="http://techwithlowcost.wordpress.com/files/2009/11/emas-batangan1.jpeg" alt="" width="116" height="127" /></a>an selanjutnya adalah bagaimana atau dimana kita bisa membeli emas?</p>
<p>Cara yang pernah saya lakukan adalah membeli emas berupa emas batangan. Mengapa emas batangan? karena nilainya tidak terpengaruh oleh bentuknya dimana jika emas berupa perhiasan ada nilai / value lainnya selain value emas sehingga harganya  lebih tinggi.</p>
<p>Pada saat ini harga emas pergramnya diatas Rp.360.000,-. Untuk mengecek harga setiap hari kerja, kita bisa mengeceknya di http://www.logammulia.com , disana dimuat harga harian emas mulai dengan 1 gra, 10 gram, 25 gram , 50 gram sd 1 kg.</p>
<p><!--more-->Untuk membeli emas  batangan tersebut, kita tidak perlu ke kantor pusat Antam, namun cukup ke Kantor Pegadaian Syariah terdekat ( harus dicek dulu karena setahu saya tidak semua kantornya menyediakan jasa tersebut, biasanya hanya kantor cabang utama), disana menyediakan pembelian sesuai harga yang dikeluarkan Antam pada hari itu. Kita bisa memilih melakukan pembayaran cash atau kredit ( utk kredit emas baru diberikan setelah lunas).Setelah kita melakukan pembayaran ( dulu hanya terima cash, konon mau ditingkatkan bisa dmenggunakan kartu debet ataupun ditransfer) ada proses beberapa hari dan jreng&#8230;&#8230; emas kita siap untuk diambil.</p>
<p>Merasa keberatan atau takut keamanan dalam penyimpanan emas?? tenang&#8230; karena pada saat ini ada jasa penyimpanan barang berharga di kantor pegadaian atau safe deposit box di bank &#8211; bank terkemuka. Kita  bisa browsing ke Bank besar seperti BNI, BII, dll, mereka menyediakan deposit box dengan harga kisaran Rp. 300.000 sampai dengan Rp.1.000.000 pertahunnya.</p>
<p>jadi&#8230;. selamat berinvestasi&#8230;. jangan ditunda lagi&#8230;.. karena mungkin besok harga emasnya sudah naik lagi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="/Documents%20and%20Settings/Journey_01/My%20Documents/My%20Pictures/emas%20batangan.jpeg" alt="" /><img src="/Documents%20and%20Settings/Journey_01/My%20Documents/My%20Pictures/emas%20batangan.jpeg" alt="" /><img src="/Documents%20and%20Settings/Journey_01/My%20Documents/My%20Pictures/emas%20batangan.jpeg" alt="" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Manusia Pipa &amp; Manusia Ember :)]]></title>
<link>http://kartikamayangsari.wordpress.com/2009/11/30/manusia-pipa-manusia-ember/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 08:55:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>kartikamayangsari</dc:creator>
<guid>http://kartikamayangsari.wordpress.com/2009/11/30/manusia-pipa-manusia-ember/</guid>
<description><![CDATA[Hai Kawan Pernah dengar cerita tentang manusia pipa dan manusia ember tidak? Jika belum simak baik-b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hai Kawan Pernah dengar cerita tentang manusia pipa dan manusia ember tidak? Jika belum simak baik-b]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Danau Singkarak, Unik, Indah dan Memprihatinkan]]></title>
<link>http://rieko.wordpress.com/2009/11/28/danau-singkarak-unik-indah-dan-memprihatinkan/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 11:57:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rieko Kristian</dc:creator>
<guid>http://rieko.wordpress.com/2009/11/28/danau-singkarak-unik-indah-dan-memprihatinkan/</guid>
<description><![CDATA[Siapa yang tidak kenal Danau Singkarak, sebuah danau vulkanik yang terletak di jantung Sumatera Bara]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Siapa yang tidak kenal Danau Singkarak, sebuah danau vulkanik yang terletak di jantung Sumatera Bara]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nymphetamine]]></title>
<link>http://rieko.wordpress.com/2009/11/28/nymphetamine/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 07:34:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rieko Kristian</dc:creator>
<guid>http://rieko.wordpress.com/2009/11/28/nymphetamine/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, temen gw ada yang bikin status di pesbug gini: &#8220;She is like heroin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, temen gw ada yang bikin status di pesbug gini: &#8220;She is like heroin]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ONE VILLAGE ONE PRODUCT: SEKSI KARENA SENTUHAN TREND]]></title>
<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/17/one-village-one-product-seksi-karena-sentuhan-trend/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 01:50:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>balcom</dc:creator>
<guid>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/17/one-village-one-product-seksi-karena-sentuhan-trend/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Andi S. Boediman OVOP-One Village One Product, merupakan salah satu langkah menuju klasterisas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3128940&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=172555044929&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=172555044929&#38;id=646044155"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs072.snc3/13946_180318359155_646044155_3128940_6000273_n.jpg" alt="" /></a></div>
<p><strong>Oleh: Andi S. Boediman</strong></p>
</div>
<div><strong>OVOP-One Village One Product</strong>, merupakan salah satu langkah menuju klasterisasi industri di sektor industri kecil menengah (IKM) bertujuan mengangkat produk-produk unggulan daerah agar dapat berkembang dan masuk ke pasar lebih luas. Dengan fokus pada satu produk unggulan daerah dan padat karya, OVOP juga akan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Mengutip istilah Dirjen IKM Depperin Fauzi Azis, inilah momentum revitalisasi pedesaan.<!--more-->
<p>&#160;</p>
<p>Departemen Perindustrian merealisasikan Gerakan OVOP mulai tahun 2008 berkolaborasi dengan banyak departemen lainnya. Usulan daerah yang ingin mengembangkan OVOP dilakukan secara bottom up yang kemudian dilakukan seleksi dengan kriteria keunikan khas budaya dan originalitas, mutu dan tampilan produk, potensi pasar yang terbuka di dalam dan di luar negeri, kontinuitas dan konsistensi produksi yang didukung sumber daya lokal.</p>
<p>Gerakan OVOP, dicetuskan Morihiko Hiramatsu saat menjabat Gubernur Prefektur Oita, Pulau Kyushu. Gerakan OVOP dari Morihiko, ditujukan mengembangkan produk yang diterima global dengan tetap memberikan keistimewaan pada invensi nilai tambah lokal dan mendorong semangat menciptakan kemandirian masyarakat. Dari sisi dampak pariwisata, kawasan Oita menjadi magnet bagi 10 juta wisatawan yang berkunjung per tahun.</p>
<p>Kini, Gerakan OVOP telah diadopsi di berbagai belahan dunia seperti One Factory One Product di China untuk Kerajinan kayu, One Barangay One Product [Philipina], Satu Kampung Satu Produk Movement [Malaysia], One Tambon One Product Movement [Thailand] untuk pengembangan hasil laut, One Village One Product a Day [USA], One Village One Product [Malawi] dengan produk utama jamur.</p>
<p>Konsultan brand dan desainer produk <strong>Irvan A. Noe’man</strong> menjadi motor yang memperkenalkan semangat baru OVOP. Dengan sentuhan trend warna, tekstur dan material yang menjadi trend masa depan, produk lokal ini menjadi relevan dengan tampilan kontemporer tanpa menghilangkan cita rasa lokal. Ini adalah yang disebut sebagai proses decoding. Para kreator produk diajak untuk memahami trend, untuk kemudian mentransformasi desain produk dengan mengombinasikan sentuhan trend baru ini.<br />
Setelah produk ini menjadi seksi, langkah berikutnya adalah menciptakan demand yang diciptakan melalui eksposur. Ecommerce menjadi solusi agar produk-produk Indonesia ini tampil tidak hanya sebagai objek budaya dan barang apresiasi saja. Model yang ingin saya ciptakan adalah mengangkat cerita dari kreator ini bagaimana kekayaan intelektual kita ini menjalani proses kreatif, mulai dari ide, produksi hingga finishing dan bisa muncul di Internet.</p>
<p><strong><em>The story of the creators and the products that make them beautiful!</em></strong></p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3128939&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=172555044929&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=172555044929&#38;id=646044155"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs052.snc3/13946_180318174155_646044155_3128939_3134429_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=3128940&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=172555044929&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=172555044929&#38;id=646044155"><br />
</a>Tulisan Lain:</div>
</div>
<div>ONE VILLAGE ONE PRODUCT JADI GERAKAN NASIONAL<br />
Media Indonesia<br />
Written by Sahnan
<p>&#160;</p>
<p>Pemerintah akan membantu kelancaran akses pemasaran dengan mengundang peritel besar.<br />
Program one village one product (OVOP) yang telah berhasil dikembangkan di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Taiwan kini dicanangkan sebagai gerakan nasional di Indonesia.Wakil Presiden Boediono telah mencanangkan gerakan OVOP, Sabtu (14/11) lalu di Nusa Dua, Bali.</p>
<p>Kekuatan ekonomi Indonesia yang selama ini banyak tersembunyi di perdesaan diharapkan bisa terangkat dengan program satu desa satu produk ini.</p>
<p>Boediono menyatakan saat ini masih diperlukan penelitian mendalam mengenai produk apa yang cocok untuk satu desa. &#8220;Apakah produksi kerajinan tangan atau agroindustri. Jangan sampai kita sudah bikin produk bagus, tapi tidak ada pasarnya,&#8221; ujar Boediono saat seminar internasional OVOP.</p>
<p>Program OVOP sendiri sebetulnya sudah mulai dilakukan Kementerian Negara Koperasi dan UKM sejak tahun lalu. Beberapa desa di Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Bali telah dijadikan daerah percontohan. Kementerian dalam halini memberikan pembinaan dan pendampingan mulai proses produksi hingga pemasaran dan distribusi.</p>
<p>&#8220;Kami sudah mulai mendorong penciptaan produk di tiap daerah yang bisa menjadi unggulan dalam percaturan global. Itu bisa dilakukan karena Indonesia sebetulnya punya sumber daya, talenta ekonomi, dan produk yang punya competitive advantage,&#8221; terang Menteri Negara Koperasi dan UKM Sy Jii I Hasan.</p>
<p>Syarif meyakini bila setiap daerah atau desa fokus mengembangkan produk yang memang benar-benar unggul, baik dari sisi kualitas maupun pemenuhan produksi, visi program OVOP untuk menciptakan produk lokal bereputasi global akan mudah dicapai.</p>
<p>OVOP yang mengandung semangat pemberdayaan masyarakat desa itu memang sangat mengandalkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi sebagai ujung tombak. Namun, seperti yang terjadi selama ini, UMKM kerap terhambat permasalahan klasik, yaitu adanya kesenjangan pemasaran. Produk yang sudah bagus sering kali tidak bisa dijual-atau kalaupun bisa terjual dihargai murah-karena para pengusaha kecil ini tidak mempunyai akses yang cukup untuk memasarkannya. Gubernur Bali I Made Mangku Pastika mengeluhkan hal itu.</p>
<p>Produk yang bisa dikategorikan unggulan saja, seperti kopi luwak yang dihasilkan koperasi serbausaha di Bangli, hanya mampu dijual dengan harga RpSOO ribu per kilogram. Padahal, di pasar luar negeri kopi luwak dihargai sangat tinggi. Bahkan, bila disajikan</p>
<p>dalam bentuk minuman bisa mencapai ratusan ribu rupiah per cangkir. &#8220;Itu bukti masih ada kesenjangan pemasaran untuk usaha koperasi,&#8221; tukas Pastika.</p>
<p>Syarif berjanji akan membantu kelancaran akses pemasaran dengan memperbanyak kegiatan promosi, termasuk mengundang peritel besar untuk mengunjungi koperasi yang memiliki produk unggulan.</p>
<p>Syarif mengingatkan kepada pelaku koperasi dan UKM bahwa tanpa kualitas dan tampilan {packaging) produk yang menarik, meskipun akses pemasaran sudah dibuka lebar, belum tentu produk itu akan langsung laku dan diminati pasar. Apalagi untuk masuk pasar internasional mereka harus bersaing dengan produk-produk luar yang bermutu tinggi.</p>
<p>Potensi besar Pelopor konsep OVOP di Jepang Mori-hiko Hiramatsu menyatakan Indo-<br />
neia mempunyai potensi yang besar sekali untuk pengembangan OVOP. &#8220;Produknya seperti buah-buahan, tanam.in lokal, dan banyak lagi,&#8221; kata Hir.imatsu.</p>
<p>Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan buah-buahan Indonesia terbukti memiliki daya saing tinggi dan sangat disukai di mancanegara. Hal ini bisa dilihat dari naiknya angka ekspor buah seiring meningkatnya produksi buah dalam kurun lima tahun ter-.lkhir ini.</p>
<p>Pada 2004 Indonesia mengekspor komoditas buah sebesar 171.823 ton, dengan nilai US$100,16 juta. Pada 2008, volume ekspor melambung hingga 323.889 ton dengan nilai USS234.</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PIDATO KEBUDAYAAN IGNAS KLEDEN: SENI DAN CIVIL SOCIETY]]></title>
<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/16/pidato-kebudayaan-ignas-kleden-seni-dan-civil-society/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 15:48:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>balcom</dc:creator>
<guid>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/16/pidato-kebudayaan-ignas-kleden-seni-dan-civil-society/</guid>
<description><![CDATA[(Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra) Oleh Ignas Kleden I Membicarakan kedudukan seni dala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>(Dengan Referensi Khusus Kepada Penyair Rendra)</p>
<p>Oleh Ignas Kleden</p>
<p><strong>I</strong></p>
<p>Membicarakan kedudukan seni dalam hubungannya dengan civil society merupakan suatu tantangan yang tidak mudah dijawab, juga pada kesempatan ini. Tantangan ini telah saya terima sebagai sebuah penugasan dari Dewan Kesenian Jakarta, meskipun saya tidak terlalu paham mengapa tema ini dijadikan pokok pidato kebudayaan pada hari ini. Tugas ini telah saya terima semata-mata karena pertimbangan bahwa kesenian sebagai suatu sektor penting dalam kebudayaan, dapat dijadikan contoh soal untuk melihat masalah yang lebih besar yaitu hubungan kebudayaan dan civil society.<!--more--></p>
<p>Sebagai titik-tolak dapatlah dikatakan begitu saja bahwa kesenian dan setiap ekspresi seni, pada dasarnya, adalah ekspresi pribadi seorang seniman, yang sangat personal sifatnya. Tentu saja seorang seniman menerima pengaruh dari lingkungan hidupnya, dan terlibat dalam pergaulan dengan berbagai pihak dalam suatu masyarakat. Tiap-tiap lingkungan mungkin saja memberikan pengaruh tertentu kepada seniman, dan dari pergaulannya dengan berbagai pihak muncul rangsang yang berbeda-beda yang menyentuh sensitivitas seniman tersebut. Namun demikian segala pengaruh dan bebagai rangsang itu mengalami proses pencernaan mental dalam diri seorang seniman, sehingga terhadap setiap pengaruh dan rangsang dari luar, seorang seniman dalam ekspresinya, selalu memberikan suatu respons yang personal dan unik. Patut ditambahkan, hal ini bukanlah sesuatu yang hanya terdapat pada diri para seniman. Setiap orang, setiap individu, akan memberikan respons yang bersifat pribadi kepada suatu stimulus dari luar. Namun yang khas pada seorang seniman ialah bahwa respons pribadi itu selalu merupakan sebuah respons yang artistik sifatnya, yang tidak selalu bisa diberikan oleh seorang yang bukan seniman.</p>
<p>Terhadap tekanan politik dan ancaman penjara, para aktivis yang berani bisa menyatakan perasaan tak takut atau sikap tak gentar. Tetapi tidak setiap orang bisa menyatakannya dengan artistik seperti yang dilakukan oleh Rendra ketika dia berkata:</p>
<p><em>Sebuah sangkar besi / tidak bisa mengubah seekor rajawali / menjadi seekor burung nuri.</em></p>
<p><em>Rajawali adalah pacar langit /dan di dalam sangkar besi / rajawali merasa pasti / bahwa langit akan selalu menanti </em></p>
<p><em>(kutipan dari “Sajak Rajawali”)</em> 1</p>
<p>Secara umum sebuah ekspresi artistik akan tergantung sekurang-kurangnya pada dua kondisi. Yaitu otentisitas pesan yang disampaikan, yang mempersyaratkan penghayatan pribadi secara intens terhadap suatu soal, dengan melibatkan berbagai seluruh kemampuan mental seseorang, lebih dari sekedar olah pikir atau olah rasa, sehingga sebuah pesan menjadi ungkapan seluruh kepribadian. Kedua, orisinalitas medium penyampaian, yaitu suatu cara penyampaikan yang unik, yang hampir tak mungkin diubah atau ditransposisikan ke dalam bentuk penyampaian lain atas cara yang sama indah dan sama kuatnya.</p>
<p>Dengan uraian pendahuluan ini saya ingin mengatakan bahwa seni pada dasarnya hidup dan berkembang dalam suatu ruang pribadi yang privat sifatnya, dan bukan produk suatu ruang publik. Muncul masalah di sini, bagaimana menghubungkan seni yang merupakan atribut ruang privat dengan civil society yang merupakan ruang publik? Atau dapatkah kita berpikir sebaliknya, bahwa ruang publik dapat menghasilkan suatu jenis kesenian yang lain dari yang kita kenal?</p>
<p>Dari satu segi ruang privat perlu dipertahankan dan dipelihara karena ruang ini merupakan tempat kebebasan pribadi digarap dan diolah, dan menjadi benteng yang melindungi kebebasan seseorang dari campurtangan yang berlebihan dari pihak negara mau pun intervensi lembaga-lembaga sosial. Dia merupakan tempat seseorang mengolah cita-cita hidup sesuai dengan impian, keinginan dan selera pribadinya. Para ahli mengatakan bahwa ruang privat menjawab pertanyaan tentang hidup yang baik atau <em>“the question of good life”</em>. Termasuk di sini keinginan yang berhubung dengan kehidupan cinta dan pandangan religius serta cita-cita spiritual, selera makan dan pandangan tentang kebersihan dan kesehatan, cara berpakaian, cita-cita tentang tempat tinggal, dan selera estetik dan apresiasi kesenian. Semua hal tersebut terdapat dalam ruang privat diatur dan diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai budaya.</p>
<p>Sebaliknya, ruang publik yang kita namakan civil society adalah tempat di mana keadilan dipertahankan dan dibela. Ruang ini hadir untuk menjawab pertanyaan yang berhubung dengan “<em>the question of justice”</em>, dan diatur oleh hukum negara. Hak dan kewajiban yang diatur oleh hukum mempunyai tujuan agar setiap orang memperoleh keadilan yang menjadi haknya, dengan kewajiban pada orang lain untuk menghormatinya. Keadilan menjadi faktor yang membuat masing-masing orang mendapat tempat dalam suatu kehidupan bersama, di mana kebebasan seseorang tidak melanggar atau mengorbankan kebebasan orang lain. 2</p>
<p>Dengan demikian, berlaku hemat dan menabung penting sekali untuk kehidupan yang aman secara ekonomis, tetapi tiap orang bebas untuk melakukan atau tidak melakukannya, tanpa mereka bisa dipaksa oleh negara. Akan tetapi membayar pajak adalah sesuatu yang berhubung dengan keadilan, berupa kewajiban kepada kehidupan umum, yang diatur oleh hukum positif, dan dapat dipaksakan oleh negara. Demikian pun mendidik anak dalam keluarga dengan disiplin dan kasih sayang, merupakan persiapan pertama untuk pembentukan warga negara yang matang, mandiri dan bertanggungjawab. Namun demikian, pendidikan anak adalah urusan domestik keluarga, dan termasuk dalam ruang privat. Negara atau lembaga sosial tidak dapat memaksa suatu keluarga mendidik anak-anaknya atas cara yang dipaksakan dari luar. Namun demikian, kekerasan kepada anak oleh orang tuanya, dapat menimbulkan reaksi publik dan campur tangan negara, karena di sana ada pelanggaran terhadap hak seorang anak untuk mendapatkan <em>protective security</em>. Pada titik inilah terdapat suatu perbedaan hakiki antara negara demokratis dan negara-negara totaliter yaitu bahwa demokrasi memberi ruang bagi ruang publik dan ruang privat, sementara sistem totaliter melindas ruang privat dan hanya mengakui ruang publik. 3</p>
<p>Seterusnya, dalam suatu ruang politik, kehidupan bersama diatur bukan saja oleh hukum tetapi oleh kekuasaan yang ada pada negara. Tidaklah mengherankan bahwa ahli sosiologi seperti Max Weber mengatakan bahwa negara ditandai oleh satu-satunya hak istimewa yang tidak ada pada lembaga lainnya, yaitu monopoli untuk mempergunakan kekerasan atas cara yang legal. 4 Di samping negara tidak ada lembaga lain mana pun yang dibenarkan menyelesaikan suatu soal dengan memakai kekerasan. Hak untuk memakai kekerasan ini ada pada negara agar dia dapat memaksakan ketundukan tiap orang terhadap hukum yang berlaku. 5</p>
<p>Secara tipologis kita bisa mengatakan bahwa dalam ruang privat seseorang mengembangkan dirinya menjadi individu, menjadi pribadi dan menjadi anggota suatu komunitas, dalam ruang publik dia mengembangkan dirinya menjadi warga suatu negara, dan dalam ruang politik dia menjelma menjadi rakyat suatu pemerintahan yang syah.<br />
Hubungan di antara ruang publik dan ruang politik atau di antara civil society dan negara bersifat regulatif, karena kekuasaan yang ada pada negara dan monopoli penggunaan kekerasaan yang dimiliki negara, harus tunduk kepada pengaturan dan pembatasan oleh hukum positif. Sebaliknya, hubungan di antara ruang politik dan ruang privat atau antara negara dan komunitas-komunitas budaya, bersifat subsidiair. Negara diijinkan masuk dalam ruang privat apabila dibutuhkan bantuannya. Kalau para seniman memerlukan sebuah pusat kesenian, negara dapat diminta bantuan untuk mengadakannya, tetapi negara tidak dibenarkan memaksakan pembangunan sebuah pusat kesenian karena kebetulan ada dana untuk itu, apalagi memaksa para seniman agar memanfaatkan gedung kesenian dan fasilitas yang telah disiapkan oleh negara, atas cara yang ditentukan oleh negara.</p>
<p>Adalah menarik bahwa hubungan di antara ruang privat dan ruang publik atau di antara komunitas-komunitas budaya dan civil society, bersifat sangat kreatif. Sudah jelas bahwa ruang publik diatur juga oleh nilai-nilai publik, seperti persamaan, keadilan, transparansi dan akuntabilitas. Namun demikian, munculnya ruang publik tidak dengan sendirinya, dan tidak harus menjadi saingan yang menggeser atau menggusur adanya ruang privat dalam komunitas-komunitas budaya. Hal ini dimungkinkan karena hampir semua nilai yang diterima dalam ruang publik dan kemudian berlaku di sana, diambil dari komunitas-komunitas budaya dan kemudian ditransformasikan menjadi nilai publik, setelah semua atribut dan nomenklatur yang bersifat komunal ditanggalkan, sambil substansi nilai itu tetap dipertahankan. Ini perlu dilakukan supaya suatu diskusi publik dapat dilakukan.</p>
<p>Sebuah analogi kiranya dapat menjelaskan hal ini. Bahasa Indonesia telah diresmikan sebagai bahasa nasional, sedangkan bahasa itu diambil dari bahasa Melayu Riau yang sejak berabad-abad berfungsi sebagai lingua franca. Kita tahu, suatu bahasa menjadi lingua franca kalau bahasa itu digunakan sebagai sarana komunikasi tetapi tidak berperan lagi sebagai penunjuk identitas suatu kelompok orang. Seseorang yang fasih berbahasa Inggris dewasa ini, tidak dengan sendirinya berasal dari San Fransisco atau Liverpool. Atau seorang profesor yang memberi kuliah dalam bahasa Spanyol tidak harus berasal dari Madrid. Inilah rupanya sebab yang jarang diungkapkan, mengapa bahasa Melayu dengan mudah diterima sebagai bahasa nasional karena bahasa itu tidak lagi menjadi representasi suatu identitas etnis tertentu, dan telah menjadi sarana komunikasi di antara berbagai kelompok etnis sejak ratusan tahun. Lain halnya kalau bahasa Jawa, bahasa Sunda atau bahasa Bugis diusulkan sebagai bahasa nasional. Mungkin timbul lebih banyak kontroversi dan pertentangan karena bahasa-bahasa besar itu menunjuk dan menjadi penanda suatu identitas etnis tertentu, yang mungkin sekali menimbulkan penolakan dari kelompok etnis lainnya.</p>
<p>Atas cara yang sama kita bisa berbicara tentang nilai-nilai publik. Apabila suatu komunitas budaya hendak menyumbangkan seperangkat nilai-nilainya ke dalam kehidupan publik, maka atribut-atribut dan nomenklatur komunal perlu dihilangkan (tanpa menghilangkan substansi nilai yang dikandungnya) agar supaya nilai tersebut dapat dipahami dan diterima oleh kelompok lainnya, karena nilai publik itu telah menjadi suatu nilai bersama meskipun nilai-nilai itu telah lahir dan dikembangkan dalam suatu komunitas budaya tertentu. Etos kapitan perahu yang secara tradisional berlaku di daerah-daerah pesisir di Sulawesi, dilegitimasi oleh nilai-nilai budaya setempat, dan legitimasi itu dilaksanakan karena alasan-alasan sosial atau kosmologis yang berhubung dengan kebudayaan setempat. 6 Namun demikian substansi etos itu dapat dibawa ke ruang publik, dan dapat diusulkan sebagai alternatif terhadap budaya politik Indonesia, yang umumnya diambil dari latarbelakang daerah pertanian. Kecenderungan kepada pola kepemimpinan feodal, atau hubungan patron klien dalam politik Indonesia, jelas berasal dari latar belakang masyarakat dan kerajaan-kerajaan yang berdasarkan pertanian.</p>
<p>Sebagai alternatif terhadap kecenderungan tersebut etos kapitan perahu dapat diusulkan ke dalam diskusi dalam ruang publik, setelah segala alasan budaya yang menjadi dasar dari etos tersebut dan setelah nomenklatur yang bersifat komunal ditanggalkan. Karena pada dasarnya substansi etos itu – sekali pun tanpa disertai alasan-alasan budaya yang bersifat komunal — dapat diterapkan dalam politik Indonesia, sebagai negara dengan sifat maritim yang kuat. Ahli sejarah maritim, Prof. Adrian B. Lapian, pernah mengeritik penamaan Indonesia sebagai negara kepulauan, karena nama itu tidak menunjukkan aspek laut yang merupakan bagian terbesar dari negeri ini. Istilah kepulauan masih memperlihatkan orientasi ke daratan, sedangkan istilah negara kelautan lebih tepat menunjukkan watak negeri ini sebagai kawasan maritim.</p>
<p>Istilah ‘negara kepulauan’ merupakan padanan dalam bahasa Indonesia dari pengertian <em>archipelagic state</em>. Jika kita menyimak arti sesungguhnya dari kata <em>archipelago</em>, maka (menurut kamus Oxford dan Webster) kata ini berasal dari bahasa Yunani yakni <em>arch</em> (besar, utama) dan <em>pelagos</em> (laut). Jadi <em>archipelagic state</em> sebenarnya harus diartikan sebagai ‘negara laut utama’ yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya. 7</p>
<p>Dalam kaitan dengan negara kelautan, maka etos kapitan perahu dapat menunjukkan orientasi baru dalam budaya politik Indonesia. Pertama, dalam etos kapitan perahu, seorang pemimpin perahu tidak mungkin didrop begitu saja dari atas, tetapi harus bertumbuh dari bawah dan mencapai pengetahuan dan kematangan tertentu yang dipersyaratkan. Dropping tentu saja bisa dilakukan, akan tetapi risikonya akan sangat tinggi, karena kapitan perahu yang tidak menguasai pengetahuan tentang navigasi, alur pelayanan, arah angin, tanda badai, cara menetapkan arah perahu dengan membaca letak bintang, tidak akan sanggup membawa perahu dan penumpangnya sampai ke tempat tujuan, atau perahunya segera menabrak karang dan tenggelam. Ibaratnya, dia harus membawa perahunya dari Surabaya ke Makasar, tetapi perahunya terdampar di Cilacap.<br />
Kedua, dalam etos ini diharuskan proses pengambilan keputusan yang cepat dan kemampuan mengoreksi keputusan dalam waktu singkat. Ketika menghadapi topan di tengah laut seorang kapitan perahu tidak bisa mengajak berunding para awak dalam musyarawarah selama dua tiga jam. Dia harus memutuskan dengan cepat, misalnya pada pukul 23.00 malam, dan kemudian kalau keputusannya terbukti keliru, dia harus mengoreksinya pada pk. 23.05. Keragu-raguan dalam mengambil keputusan, dan kelambanan atau keengganan untuk mengoreksi keputusan yang salah akan berakibat fatal bagi keselamatan perahunya dan hidup para penumpang perahu.</p>
<p>Ketiga, dalam menghadapi bahaya karamnya perahu maka seorang kapitan perahu akan menjadi orang terakhir yang meninggalkan perahu, setelah penumpang lain mendapat kesempatan menyelamatkan diri atau mendapat pertolongan yang semestinya. Secara tradisional dia dilarang meninggalkan perahunya apabila masih ada penumpang yang membutuhkan pertolongan. Tentu saja seorang kapitan perahu bisa juga ketakutan menghadapi bahaya dan dapat meluputkan dirinya sebelum penumpang lainnya selamat. Akan tetapi hal itu akan merupakan aib yang diceritakan turun-temurun di kampung halamannya, dan turunannya harus menanggung malu untuk waktu yang lama, karena ada kapitan perahu yang demikian pengecut menyelamatkan diri sambil meninggalkan penumpang perahu terkatung di tengah laut, dihempas ombak dan meninggal ditelan badai.<br />
Tentu saja lukisan tersebut lebih merupakan tipe ideal atau <em>ideal types</em> dalam pengertian Max Weber, yaitu suatu tipe yang dilukiskan dalam kesempurnaan logisnya, sebagai referensi normatif bagi apa yang sesungguhnya terdapat dalam kenyataan empiris. Jadi ada kapitan perahu yang sangat dekat dengan tipe ideal dan ada pula yang sangat jauh dari tipe ideal tersebut, tetapi kita mempunyai pegangan tentang bagaimana seorang kapitan perahu harus berlaku dan bertindak apabila dia berada dalam kondisi ideal untuk menjalankan tugasnya.</p>
<p>Apa yang dikemukakan di sini tentang etos kapitan perahu, dapat menjadi ilustrasi bahwa seperangkat nilai yang dikembangkan dalam suatu komunitas terbatas, dan dilegitimasi dengan alasan-alasan budaya dalam komunitas itu, dapat ditransfer dan diterapkan di ruang publik, asal saja segala alasan dan atribut yang bersifat komunal telah ditanggalkan (agar supaya dapat dipahami oleh publik yang lebih luas), sambil tetap dipertahankan substansi nilai yang dapat diterapkan juga di luar komunitas itu.<br />
Contoh lain yang mungkin lebih aktual bagi kita adalah masalah hak asasi manusia. Saya yakin bahwa tiap agama dapat mengajukan alasan yang diambil dari ajaran teologinya untuk membenarkan penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan kewajiban tiap orang membela hak tersebut. Akan tetapi dalam debat di DPR atau dalam proses di pengadilan tentang pelanggaran HAM orang tidak bisa lagi mengajukan alasan-alasan teologis dari agamanya masing-masing untuk membela pendapatnya. Karena alasan-alasan teologis termasuk dalam ruang privat tiap agama, sedangkan pengadilan negara mengharuskan suatu rujukan bersama kepada hukum positif.</p>
<p>Namun demikian pentingnya HAM dan sikap militan para aktivis HAM dalam membela hak ini dapat diterangkan dengan latarbelakang religius dari mana paham itu telah mendapat inspirasinya. 8 Untuk mengambil sebuah contoh, dalam tradisi kebudayaan Barat yang Kristen, ada teologi yang mengakar kuat bahwa tiap orang diciptakan seturut citra Allah, <em>imago Dei, das Bild Gottes</em>, atau <em>the image of God</em>. Dalam teologi ini dianut kepercayaan bahwa citra Tuhan itu adalah sesuatu yang suci yang tetap ada dalam diri seseorang, sekali pun dia seorang pencuri, pembunuh, atau seorang yang tidak percaya lagi kepada Tuhan. Kesucian citra ini dalam diri tiap orang tetap harus dihormati karena dua alasan. Pertama, citra itu diberikan oleh Tuhan sendiri dan bukan prestasi orang bersangkutan. Kedua, citra itu tetap hadir dalam diri tiap orang dengan seluruh kesuciannya, meskipun seseorang melakukan perbuatan kriminal yang ekstrim. Setelah mengalami proses sekularisasi yang panjang, konsep citra Tuhan ini tidak begitu kedengaran lagi di Barat, tetapi diganti oleh konsep martabat manusia, yang menjadi sumber segala hak asasi manusia. Nilai yang semula bersifat privat dalam suatu kelompok agama telah menjadi nilai publik dalam civil society.</p>
<p><strong>II</strong></p>
<p>Pandangan bahwa seni termasuk dalam ruang privat, mencapai puncaknya dalam paham dan slogan “seni untuk seni” (<em>art for art’s sake</em>). Paham ini telah muncul dalam kalangan seniman di Barat, dan harus dilihat kemunculannya dalam hubungan dengan perkembangan kebudayaan di Barat juga. Semenjak zaman pertengahan, kehidupan dalam masyarakat Barat praktis dikuasai oleh kendali teologi Kristen katolik, yang ada dalam monopoli gereja Roma katolik. Seni dalam pada itu berkembang sebagai sebuah bagian integral dari kehidupan keagamaan, dan mengabdi kepada keperluan-keperluan yang berhubung dengan pengembangan dan penyempurnaan ibadat. Kesenian, dan khususnya arsitektur Gotik misalnya menjadi dokumen visual tentang hubungan yang erat di antara teologi, kehidupan agama, dan seni. Gagasan tentang Tuhan yang transendental yang berada <em>in excelsis</em>, yaitu berada di tempat yang sangat tinggi, mendapatkan refleksinya secara arsitektural dalam garis-garis vertikal yang sangat dominan dalam arsitektur Gotik, sementara candi-candi katedral dibuat lancip dan runcing menusuk langit, dan mengesankan usaha menggapai sesuatu yang tak terjangkau dari bumi. 9</p>
<p>Ide tentang seni untuk seni adalah usaha pembebasan seni dari tugasnya sebagai kegiatan yang harus melayani tujuan lain di luar dirinya. Contoh tentang seni dan agama dalam abad pertengahan Eropa dan pembebasan dari fungsi keagamaan seni yang berlangsung semenjak renaisans, memperlihatkan kepada kita bahwa dua sektor yang berada dalam ruang privat (yaitu seni dan agama) dapat memperjuangkan otonominya masing-masing.</p>
<p>Persoalan yang menjadi perhatian kita hari ini adalah bagaimana hubungan yang wajar antara seni sebagai suatu sektor privat dengan masalah-masalah yang ada dalam ruang publik yang direpresentasikan dalam civil society. Pada titik ini pun seni dan khususnya sastra Indonesia memperlihatkan berbagai contoh yang menarik. Pertanyaan pertama adalah apakah suatu isu atau masalah publik harus menjadi rujukan dalam berkesenian? Tanpa perlu beragumentasi lebih panjang, dapatlah dikatakan begitu saja, bahwa paham ini jelas ditolak dalam kalangan seniman. Ketegangan dan bahkan permusuhan antara seniman bebas dan seniman Lekra pada tahun-tahun 1950-an hingga 1960-an patut dicatat sebagai pengalaman yang harus dipelajari dalam sejarah sastra Indonesia, bukannya dihapuskan dari memori kolektif bangsa kita.</p>
<p>Puisi misalnya tidak harus ditulis untuk mendorong peningkatan kesejahteraan rakyat atau perbaikan kesehatan ibu dan anak. Akan tetapi terhadap isu keadilan dan kemiskinan, sastrawan Indonesia memperlihatkan sikap yang berbeda. Penyair Rendra misalnya dengan tegas mengatakan bahwa sekalipun seni umumnya dan sastra khususnya, harus dikembangkan berdasarkan disiplin artistik, namun dalam pesan yang disampaikannya, seni dapat dan bahkan harus memberi respons kepada masalah keadilan, pemerintahan yang bersih, atau pendidikan nasional yang merupakan sektor-sektor publik. Pendapat ini mempunyai dasar dalam paham Rendra, bahwa seorang seniman bukanlah seorang yang cukup bermewah-mewah dengan segala yang indah, tetapi bertugas memberi kesaksian tentang zamannya. Atau dalam kata-kata Rendra sendiri:</p>
<p><em>Aku mendengar suara / jerit hewan yang terluka. / Ada orang memanah rembulan / ada burung terjatuh dari sarangnya. / Orang-orang harus dibangunkan. / Kesaksian harus diberikan / agar kehidupan bisa terjaga</em> 10</p>
<p>Meski pun demikian dalam memberikan kesaksian ini seniman tetap berpegang pada disiplin artistik yang dimungkinkan dalam dunia seni. Tentang keterlibatannya dalam masalah-masalah publik ini Rendra berkata dalam sebuah sajaknya:</p>
<p><em>Gunung-gunung menjulang / langit pesta warna di dalam senjakala / Dan aku melihat / protes-protes yang terpendam / terhimpit di bawah tilam.</em></p>
<p><em>Aku bertanya, / tetapi pertanyaanku / membentur jidat penyair-penyair salon,/ yang bersajak tentang anggur dan rembulan, / sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, / dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan / termangu-mangu di kaki dewi kesenian</em></p>
<p><em>(kutipan dari “Sajak Sebatang Lisong”)</em> 11</p>
<p>Apa yang dinamakan disiplin artistik rupanya mirip fungsinya dengan metode dalam berkesenian. Ini ada konsekuensinya yang berat buat seniman sendiri. Sebagai perbandingan, dalam ilmu-ilmu sosial berlaku asas bahwa tidak semua masalah sosial dapat diteliti dengan satu macam metode (misalnya statistik atau survei). Apa yang akan menentukan metode yang digunakan adalah masalah yang hendak diselidiki dalam suatu penelitian. Jadi bukan metode yang menentukan masalah yang diteliti, tetapi masalah penelitianlah yang menentukan metode apa yang sebaiknya dipergunakan, ibaratnya orang memukul paku dengan martil, tetapi mencabut paku dengan sebuah tang.</p>
<p>Asas ini diterapkan Rendra dalam konsepnya tentang disiplin artistik. Menurut dia. pekerjaan seorang penyair (atau seniman pada umumnya) menjadi berat, karena dia harus cukup sensitif menangkap masalah zamannya dan memberi kesaksian pribadi tentang masalah tersebut, dan sekaligus dituntut menguasai format artistik yang tepat dan sesuai dengan tuntutan pesannya. Demikianlah, untuk melukiskan pengalaman dan kepekaannya terhadap alam, Rendra merasa cukup memakai simbolisme dan imaji-imaji yang diambil dari tembang-tembang Jawa, yaitu sajak-sajak yang kemudian terhimpun dalam <em>Kakawin Kawin</em> dan <em>Masmur Mawar</em>. Tentang pengantinnya dia berkata:</p>
<p><em>Awan bergoyang, pohonan bergoyang / antara pohonan bergoyang malaikat membayang / dari jauh bunyi merdu lonceng loyang<br />
Sepi syahdu, / madu rindu, / candu rindu,/ gairah kelabu / rebahlah, sayang, rebahkan wajahmu ke dadaku</em></p>
<p><em>Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung / antara dedaunan lembayung bergantung hati yang ruyung / dalam hawa bergulung antara mantra dan tenung</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Nina Bobok Bagi Penganten”)</em> 12</p>
<p>Pada tahapan berikut, khususnya ketika berada di New York, Rendra merasa terpanggil untuk memberikan suatu tes kepada moral umum yang berlaku dalam masyarakat. Untuk keperluan ini dia merasa simbolisme tidak memadai lagi, dan dia harus mencari format artistik lain yang didukung oleh filsafat antropologi dan pengalaman mistik. Disiplin artistik pada tahap ini dikembangkan dari kombinasi dan tegangan antara misteri dan ambiguitas, yang tampil dalam metafor-metafor yang surealistis sebagaimana terlihat dalam kumpulan sajak <em>Blues Untuk Bonnie</em>. Tentang seorang Negro tua yang bernyanyi dengan gitar dalam sebuah café di kota Boston, sambil berkisah tentang gubuk-gubuk tua orang Negro di Georgia, Rendra berkata:</p>
<p><em>Georgia, / Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya / istrinya masih di sana / setia tapi merana / anak-anak Negro bermain di selokan, / tak krasan sekolah. / Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual / banyak hutangnya / Dan di hari Minggu mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro / Di sana bernyanyi / terpesona pada harapan akherat / karena di dunia mereka tak berdaya</em></p>
<p><em>Georgia. / Lumpur yang lekat di sepatu / </em></p>
<p><em>Gubuk-gubuk yang kurang jendela. / Duka dan dunia / sama-sama telah tua. / Sorga dan neraka / keduanya asing pula. / Dan Georgia? / Ya, Tuhan / Setelah begitu jauh melarikan diri / masih juga Georgia menguntitnya</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Blues Untuk Bonnie”)</em> 13</p>
<p>Seterusnya antara 1971 dan 1978, menurut pengakuannya sendiri, Rendra memusatkan perhatian pada soal-soal sosial-ekonomi dan sosial-politik, untuk memberikan suatu tes kepada relevansi politis dalam kehidupan publik. Dia menulis beberapa sajak sosial-politis yang kemudian dikumpulkan dalam kumpulan sajak Potret Pembangunan Dalam Puisi dan juga dalam Orang-Orang Rangkasbitung. Untuk keperluan ini dia merasa peralatan estetik dalam metafor-metafor surealistis tidak memadai lagi dan dia mencari format artistik baru melalui analisa struktural ilmu sosial, dan mencoba menggarap metafor-metafor yang lebih grafis dan plastis. 14 Dalam melukiskan perjuangan cinta antara Saijah dan Adinda, plastisitas itu tampil dalam format yang mendekati taraf ideal:</p>
<p><em>Adinda! Adinda! / Kemiskinan telah memisahkan kita / sepuluh tahun menahan dahaga asmara / alangkah sulit cinta di zaman edan, / di dalam hidup penuh ancaman. / Semua hak dianggap salah. / Tak punya apa-apa dianggap sampah / Alangkah hina orang yang kalah. / Meskipun miskin tanpa daya / aku toh harus berupaya / karena takut gila / dan dosa</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Nyanyian Saijah untuk Adinda”)</em> 15</p>
<p>Respons seni terhadap masalah publik tidak selalu mudah dilakukan karena ada tuntutan yang lebih tinggi kepada para seniman, untuk selalu mencari disiplin artistik dan format estetik yang dapat mendukung pesan yang hendak disampaikan. Kesulitan besar akan muncul kalau seorang penyair misalnya, hanya menguasai satu bentuk pengucapan, satu disiplin artistik, dan memaksakan disiplin tersebut sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai pesan yang berbeda wataknya. Dalam kasus Rendra, simbolisme yang berhasil mengungkapkan pergaulan penyair dengan alam, barangkali akan menjadi gagap kalau dipaksakan juga menjadi sarana untuk mengekspresikan kesadaran sosial atau kesadaran politis.</p>
<p>Kita bertanya: mengapa gerangan seorang penyair perlu melibatkan dirinya dalam masalah-masalah publik yang muncul dalam civil society dan masalah kekuasaan yang muncul dalam politik? Dalam paham Rendra, ini harus dilakukan karena perlu dilakukan dan dapat dilakukan oleh kesenian, meskipun dia tidak banyak menguraikan mengapa hal ini ini perlu dan dapat dilakukan.</p>
<p>Dalam pandangan saya, seni dapat memainkan peranan penting dalam memberi respons kepada isu-isu publik sekurang-kurangnya karena dua alasan. Pertama, kita mengetahui bahwa baik dalam ruang privat maupun dalam ruang publik selalu ada nilai-nilai yang menjadi pegangan. Namun demikian, realisasi nilai-nilai itu terlaksana melalui berbagai pranata yang melembagakan suatu nilai. Nilai-nilai demokrasi diwujudkan dalam lembaga-lembaga politik seperti Pemilu, DPR, dan kebebasan pers, atau nilai keadilan diwujudkan dalam lembaga-lembaga peradilan. Namun demikian, kesulitan selalu timbul karena hubungan di antara nilai dan lembaga yang mengejawantahkannya bersifat asimetris.</p>
<p>Maka nilai hanya dapat diwujudkan melalui suatu pranata (sebagaimana cinta lelaki perempuan diwujudkan dalam lembaga perkawinan), tetapi adanya suatu pranata tidak dengan sendirinya merealisasikan nilai yang direpresentasikannya (seperti juga tidak setiap perkawinan menjadi tempat penjelmaan cinta lelaki dan perempuan). Pemilu merepresentasikan hak rakyat untuk menentukan sistem pemerintahannya, tetapi pelaksanaan Pemilu tidak dengan sendirinya mewujudkan hak rakyat tersebut (misalnya karena penggunaan pemaksaan dalam pemberian suara, atau karena rakyat dipikat dengan sejumlah uang sogok untuk mendapatkan suara yang diinginkan). Lembaga pengadilan merepresentasikan nilai keadilan, tetapi tidak setiap lembaga pengadilan merealisasikan keadilan bagi para pencari keadilan sebagaimana mestinya, apalagi kalau lembaga-lembaga itu sudah dikuasai oleh semacam jaringan mafia peradilan.</p>
<p>Kedua, setiap orang yang menggunakan pengamatannya dengan cermat dapat melihat kesenjangan antara nilai dan lembaga yang mengejawantahkannya. Namun demikin, ketajaman dalam melihat dan merasakan kesenjangan itu ada secara khusus dalam diri para seniman, Ini bukan karena para seniman lebih saleh, lebih sadar hukum, atau lebih berkomitmen terhadap transparansi, tetapi karena dalam menciptakan karya-karya kreatif yang berhasil, para seniman harus memenuhi tuntutan otentisitas pesan yang hendak disampaikan , dan orisinalitas ekspresi dalam pengungkapan pikiran dan perasaan. Otentik berarti bahwa suatu pesan yang diungkapkan, merupakan hasil pergulatan pribadi yang intens dan total, dan bukan sekedar buah pikiran intelektual atau letupan entusiasme emosional.</p>
<p>Pesan yang otentik berbeda dari pesan yang benar, karena kebenaran pesan diukur berdasarkan kesesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang ditunjuk oleh oleh pesan bersangkutan, sedangkan otentisitas ditentukan oleh kesesuaian antara apa yang dikatakan dan keyakinan serta penghayatan orang yang mengatakannya. Demikian pun orisinalitas berarti bahwa cara mengungkapkan suatu pesan, mencerminkan hasil suatu perjuangan khusus untuk mendapatkan bentuk penyampaian yang unik. Keistimewaan sebuah karya seni ialah bahwa baik isi pesan maupun bentuk penyampaiannya sekaligus merupakan pancaran kepribadian seorang seniman yang memperlihatkan secara ideal keunikan tiap pribadi manusia dan kemampuan tiap pribadi menyampaikan satu aspek kenyataan hidup secara khas.</p>
<p>Tidak mengherankan bahwa para seniman akan sangat peka terhadap segala pesan, juga pesan dan pernyataan yang disampaikan dalam ruang publik dan bahkan dalam ruang politik (misalnya janji politik untuk lebih memperhatikan pendidikan atau pernyataan mengenai kesejahteraan rakyat). Pesan-pesan dan pernyataan tersebut akan diuji berdasarkan kriteria seniman dalam menilai sebuah karya seni, yaitu otentisitas peryataan, dan orisinalitas ekspresi. Sebuah pernyataan yang tidak otentik, hampir dengan sendirinya tidak mencerminkan pikiran dan perasaan orang yang mengucapkannya, mana pula komitmen pribadinya terhadap pernyataannya. Demikian pun sebuah pernyataan yang tanpa orisinalitas hanya merupakan replika ucapan orang lain, atau reproduksi slogan dan wacana umum, sehingga tidak mengesankan sebagai suatu ungkapan pribadi yang telah mengalami pergulatan dalam mencari bentuk ekspresi yang unik. Apa yang tidak otentik menjadi palsu, dan ekspresi yang tanpa orisinalitas menjadi kodian. Tentang kesenjangan ini penyair Rendra membuat semacam deklarasi dalam puisi:</p>
<p><em>Aku tulis pamplet ini / karena lembaga pendapat umum /ditutupi jaring laba-laba / Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk / dan ungkapan diri ditekan / menjadi peng-iya-an</em></p>
<p><em>Apa yang terpegang hari ini / bisa luput besok pagi / ketidakpastian merajalela / di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki / menjadi marabahaya / menjadi isi kebon binatang</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Aku Tulis Pamplet Ini”)</em> 16</p>
<p>Dan tentang otentisitas pernyataan dan orsinalitas ekspresi Rendra berkata:</p>
<p><em>Apakah artinya janji yang ditulis di pasir? / Apakah artinya pegangan yang hanyut di air? / Apakah artinya tata warna dari naluri rendah kekuasaan? / Apakah artinya kebudayaan plastik dan imitasi ini?</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Ketika Udara Bising”)</em> 17</p>
<p>Kesenjangan antara nilai dan wujud pengejawantahannya adalah jamak dalam kebudayaan. Akan tetapi seni tidak memberikan toleransi kepada diskrepansi ini karena otentisitas akan menuntut bahwa nilai harus dihayati secara total dan tuntas, dan diinternalisasi menjadi personal, sementara orisinalitas tidak berkompromi dengan imitasi, duplikasi, reproduksi dan pretensi. Semua ini tidak berhubung dengan moral umum, tetapi tetapi dengan moral pribadi, yaitu apa yang diyakini sebagai disiplin yang menjamin daya cipta. Namun demikian apa yang oleh kalangan seniman dikemukakan sebagai syarat estetik dapat menjadi referensi bagi kejujuran moral dan akuntabilitas politik.</p>
<p><strong>III</strong></p>
<p>Hubungan di antara ruang privat dan publik tidak selalu jelas, karena kedua bidang itu tidak merupakan dua medan yang terputus, tetapi bersambung secara dinamis. Hubungan itu menjadi kontroversi yang belum selesai sampai hari ini dalam bidang yang kita namakan ekonomi. Apakah ekonomi termasuk dalam ruang privat atau ruang publik?</p>
<p>Semenjak Adam Smith sudah dimaklumkan bahwa yang mengendalikan tingkahlaku ekonomi tidak lain dari kepentingan perorangan, kepentingan pribadi. Penjual roti membuka tokonya bukan untuk memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, tetapi untuk mendapat untung bagi dirinya. 18 Diandaikan bahwa bila setiap orang bekerja dan berjuang untuk kepentingan dirinya, maka ada tangan tersembunyi yang akan mengatur kepentingan-kepentingan pribadi itu sehingga menguntungkan semua orang. Campur tangan kebijakan publik apalagi intervensi politik dalam pasar, hanya akan mengakibatkan distorsi yang mengganggu kinerja <em>invisible hands</em>, dan pada giliran berikutnya mengganggu kepentingan bersama.</p>
<p>Untuk mempersingkat pembicaraan ini, dapat kita katakan bahwa ekonomi dapat dipandang sebagai ruang privat, tempat setiap orang mencari ikhtiar untuk menciptakan kehidupan yang baik, dan memberi jawaban kepada <em>the question of good life</em> yang menjadi tema dalam ruang privat. Namun demikian, dalam prakteknya impian Adam Smith tidak selalu menjadi kenyataan, karena kemakmuran suatu golongan acapkali tercipta karena golongan lain yang lebih besar disingkirkan dari akses ke sumber daya ekonomi. Pada saat itu muncul ketidakk-adilan, khususnya ketidak-adilan distributif, sehingga ekonomi menjadi persoalan keadilan, persoalan publik. Para ahli ekonomi sendiri sudah sejak lama mengakui bahwa apa yang dinamakan Pareto Optimal tidak pernah ada, yaitu keadaan di mana seorang mendapat keuntungan lebih banyak, tanpa menimbulkan kerugian pada pihak lain.</p>
<p>Dengan cara yang amat disederhanakan dapat dikatakan bahwa sejauh menyangkut kehidupan yang baik atau <em>good life</em> ekonomi termasuk dalam ruang privat, sedangkan sejauh menyangkut keadilan dan ketidak-adilan maka ekonomi masuk dalam ruang publik. Kita tahu, persoalan mengenai sifat privat dan publik dalam ekonomi sudah menjadi bahan perdebatan para ahli dari tahun ke tahun bahkan dari abad ke abad. Dalam negara-negara sosialis ekonomi seluruhnya menjadi masalah publik, sedangkan negara-negara demokrasi selalu berdebat tentang <em>trade-off</em> atau pergeseran antara ekonomi sebagai ruang privat dan ruang publik. Di Indonesia masalah itu menjelma menjadi debat tentang peran pasar dan peran negara dalam ekonomi, dan pilihan antara liberalisasi pasar sebagaimana diusulkan oleh Washington Consensus pada 1994 dan peran kebijakan publik dalam ekonomi. Sementara itu kalau kemiskinan belum menurun, lapangan kerja tetap sulit, dan harga barang terus naik, apakah hal ini harus dilihat sebagai kegagalan pasar atau kegagalan pemerintah?</p>
<p>Masalah ini berada di luar pokok pembicaraan hari ini, tetapi mempunyai implikasi tertentu terhadap persoalan seni dan civil society. Dari satu pihak sudah dikatakan bagaimana seni dapat merespons masalah-masalah dalam civil society. Masalah lain adalah apakah tema-tema kesenian mempunyai semacam akar sosial-ekonomi dan sosial politik, yang kemudian bertunas dan berkembang sebagai sebuah karya kreatif seni? Apakah seorang seniman, disengaja atau pun tidak, dinyatakan atau pun disembunyikan, memperlihatkan sesuatu yang menyangkut latarbelakang dan konteks konteks sosial-ekonomis dan sosial-politisnya, meski pun hubungan itu telah ditransformasi melalui sublimasi estetik dan sofistikasi artistik? Di antara pemikir-pemikir tersebut ada kesepakatan bahwa ada hubungan itu, ada semacam <em>social underpinnings</em> dari tiap karya seni. Masalahnya adalah bagaimana bentuk dan wujud hubungan tersebut? 19</p>
<p>Filosof Adorno misalnya beranggapan bahwa bukan hanya karya seni tetapi tiap teori ilmu pengetahuan harus dipandang pertama-tama sebagai teori tentang masyarakat di mana teori tersebut diproduksikan. Namun demikian, dalam hal seni, sebuah karya bukannya menjadi pantulan atau refleksi keadaan sosial ekonomi dan sosial politis masyarakat, melainkan lebih menjadi antitesa terhadapnya dan berada dalam tegangan dialektis dengan masyarakatnya. 20 Habermas dengan mengikuti rekannya Walter Benjamin berpendapat bahwa dalam masyarakat borjuis yang kapitalis banyak kebutuhan manusia yang berhubung dengan rasionalitas nilai (<em>Wertrationalitaet</em>) sudah tidak mendapat tempat yang pantas dan bahkan diperlakukan sebagai ilegal, karena tidak memenuhi tuntutan rasionalitas instrumental (<em>Zweckrationalitaet</em>) yang menjadi pedoman satu-satunya dunia industri yang kapitalis. Beberapa dari kebutuhan tersebut adalah pergaulan mimetis dengan alam, pergaulan dengan badan, keinginan untuk hidup solider dengan orang lain, serta keinginan untuk merasakan kebahagiaan menghayati pengalaman komunikasi yang tidak serba pragmatis. Semua ini kemudian tertampung dalam kesenian yang memberi tempat secara real atau secara virtual untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut. 21</p>
<p>Paham-paham filosofis dan sosiologis itu dapat ditarik implikasinya untuk kehidupan kesenian di Indonesia. Kalau setiap karya seni mempunyai semacam <em>social underpinnings</em> atau akar kemasyarakatan, maka kosekuensi apa yang dapat kita tarik dari sana?</p>
<p>Pertama, dapatkah dengan mendalami karya-karya seni di Indonesia, kita memperoleh suatu impresi bahkan pengetahuan mengenai perkembangan masyarakat kita, karena kesenian melalui sofistikasi estetis dan sublimasi artistik dapat mengungkapkan berbagai masalah sosial kita atas caranya sendiri, baik dengan menyatakannya maupun dengan menyembunyikannya? Kita tahu bahwa dalam simbolisme seseorang dapat menyatakan sesuatu dengan menyembunyikan, dan dapat menyembunyikan sesuatu dengan menyatakannya. Kedua, sekalipun karya seni dapat menjadi tempat konflik-konflik sosial ekonomi diungkapkan secara tersirat dan tersembunyi, apakah hal ini berarti bahwa seni dapat menjadi tempat seseorang menyembunyikan diri dan menghindari konflik-konflik sosial ekonomi, atau harus menjadi tempat orang mengungkapkan konflik-konflik tersebut sebagai bentuk tanggungjawabnya terhadap perkembangan yang ada dalam masyarakat?</p>
<p>Jawaban terhadap pertanyaan tersebut hanya dapat diberikan oleh para seniman sendiri berdasarkan opsi pribadi yang mereka tentukan sendiri, dan berdaarkan penguasaan mereka terhadap masalah masyarakatnya dan ketrampilan mereka dalam menggunakan format estetik dan disiplin artistik yang mendukung pesan yang hendak disampaikan. Kita dapat berbahagia bahwa ada seniman-seniman kita seperti penyair Rendra telah menyatakan sikapnya secara gamblang, tanpa keraguan:</p>
<p><em>Orang-orang miskin di jalan / yang tinggal di dalam selokan / yang kalah dalam pergulatan,/ yang diledek impian, / janganlah mereka ditinggalkan</em></p>
<p><em>(Dari sajak “Orang-Orang Miskin”) </em> 22</p>
<p>Pesan penyair ini tentu saja tidak hanya tertuju kepada rekan-rekannya para seniman, dan khususnya para penyair Indonesia, tetapi kepada semua kita sebagai penghuni yang sah dari civil society yang bernama Indonesia.</p>
<p><strong><em>Jakarta, 31 Oktober 2009</em></strong></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Catatan kaki:</p>
<p>1. Kutipan dari Rendra, <em>Perjalanan Bu Aminah</em> (kumpulan sajak), Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997 : 1.</p>
<p>2. Distingsi privat dan publik ini dibuat berdasarkan teori liberal sebagaimana diuraikan oleh Bruce Ackerman dalam bukunya <em>Social Justice in the Liberal State</em> (1980) yang dibahas oleh Seyla Benhabib “Models of Public Space: Hannah Arendt, the Liberal Tradition, and Juergen Habermas” dalam Craig Calhoun (ed.), <em>Habermas And The Public Sphere</em>, Cambridge – Massachusetts – London, The MIT Press, 1992 : 81 -85.</p>
<p>3. Peter Uwe Hohendahl, “The Public Sphere: Models and Boundaries”, dalam Craig Calhoun (ed.), op.cit.: 100 -101.</p>
<p>4. Max Weber menamakannya “das Monopol legitimer Gewaltsamkeit” atau monopoli penggunaan kekerasan secara legitim, sebagai hak istimewa negara di samping haknya menarik pajak. Lihat Max Weber, Wirtschaft und Gesellschaft, Tuebingen, J.C.B. Mohr, 1985 (1922) : 821 – 824.</p>
<p>5. Tentang pembagian ruang privat, ruang publik dan ruang politik lihat Juergen Habermas, <em>Strukturwandel der Oeffentllichkeit</em>, Darmstadt &#38; Neuwied, Luchterhand Verlag, 1980 : 42 – 46.</p>
<p>6. Konsep “kapitan perahu” dikemukakan oleh Prof. Mattulada berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukannya tentang budaya pesisir di Sulawesi.</p>
<p>7. Adrian B. Lapian, <em>Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX</em>, Jakarta, Komunitas Bambu, 2009 : 2.</p>
<p>8. T. S. Kuhn, seorang ahli sejarah ilmu pengetahuan, mengemukakan dalilnya bahwa suatu teori ilmu pengetahuan sering menimbulkan sikap militan dalam kalangan penganutnya untuk membelanya. Hal ini disebabkan karena selain isi empirisnya, ada semacam metaphysical underlay dalam setiap teori, yang berhubung dengan pandangan dunia dan pandangan hidup seseorang. Berubahnya sebuah teori ilmu pengetahuan dikuatirkan akan mengganggu pandangan dunia dan pandangan hidup seseorang. Lihat T. S. Kuhn, <em>The Structure of Scientifc Revolution</em>, Chicago, University of Chicago Press, 1962 : 58 -61.</p>
<p>9. Dr. Wendelin Rauch &#38; Dr. Jakob Hommes (ed.), <em>Lexikon des Katholischen Lebens</em>, Freiburg, Verlag Herder, 1952, sub voce “Kunst”.</p>
<p>10. Kutipan diambil dari wawancara Hardi dan Rendra “Rendra: Saya Punya Mental Juara”, dimuat dalam Edi Haryono (ed.), Ketika Rendra Baca Sajak, Kepel Press, 2004 : 133 – 134.</p>
<p>11. Rendra, <em>Potret Pembangunan Dalam Puisi</em>, Jakarta, Pustaka Jaya, 1993 : 34.</p>
<p>12. Rendra, <em>Empat Kumpulan Sajak</em>, Jakarta, Pustaka Jaya, 1994 : 44.</p>
<p>13. Rendra, <em>Blues Untuk Bonnie</em>, Jakarta, Burungmerak Press, 2008 : 18.</p>
<p>14. Tentang perkembangan disiplin artistik baca uraian Rendra dalam Rendra, <em>Mempertimbangkan Tradisi</em> (diedit oleh Pamusuk Eneste), Jakarta, Gramedia, 1984 : 61 -70.</p>
<p>15. Rendra, <em>Orang-Orang Rangkasbitung</em>, Depok, Rakit, 2001 : 32 – 33.</p>
<p>16. Rendra, <em>Potret Pembangunan Dalam Puisi</em> : 31</p>
<p>17. Rendra, <em>Perjalanan Bu Aminah</em>, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997 : 19.</p>
<p>18. Kutipan yang sangat terkenal dari Adam Smith berbunyi: <em>“It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. We address ourselves, not to their humanity but to their self-love, and never talk to them of our own necessities but of their advantages”</em>, Lihat Adam Smith, <em>The Wealth of Nations</em>, vol.I, London, J.M. Dent &#38; Sons Ltd, 1957 : 13.</p>
<p>19. Masalah ini telah saya bahas dalam tulisan saya yang lain tentang “Pergeseran Moral, Perkembangan Kesenian dan Perubahan Sosial”, dalam Ignas Kleden, <em>Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan</em>, Jakarta, Grafiti &#38; Freedom Institute, 2004 : 367 – 403.</p>
<p>20. Theodore W. Adorno, <em>Aesthetische Theorie</em>, Frankfurt a.M., Suhrkamp, 1977 : 19.</p>
<p>21. Juergen Habermas, <em>Kultur und Kritik</em>, Frankfurt a.M., Suhrkamp : 318.</p>
<p>22. Rendra, <em>Potret Pembangunan Dalam Puisi</em> : 82 82.</p>
<p><strong>PIDATO KEBUDAYAAN 2009</strong></p>
<p>MEMPERKUAT MASYARAKAT SIPIL DENGAN KESENIAN UNTUK MENGELOLA NEGARA DAN PASAR LEBIH BAIK: SENI DAN CIVIL SOCIETY</p>
<p>Oleh: DR. IGNAS KLEDEN</p>
<p>Selasa, 10 November 2009<br />
Pukul 19.30 WIB – selesai<br />
Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki<br />
Jl. Cikini Raya No. 73<br />
Jakarta Pusat</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Melancholy of Si Empit]]></title>
<link>http://gentole.wordpress.com/2009/11/14/the-melancholy-of-si-empit/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 05:04:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gentole</dc:creator>
<guid>http://gentole.wordpress.com/2009/11/14/the-melancholy-of-si-empit/</guid>
<description><![CDATA[Helm sudah. STNK sudah. Pakaian kotor sudah. Laptop sudah. Tugas kantor sudah (saya tunda). Akal seh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Helm sudah. STNK sudah. Pakaian kotor sudah. Laptop sudah. Tugas kantor sudah <span style="text-decoration:line-through;">(saya tunda)</span>. Akal sehat sudah. Kangen sudah. Semuanya sudah. Hari itu, Jumat, hari ke-13 pada bulan ke-11 tahun 2009, saya <em>ngebet </em>pulang ke Tangerang; ke rumah Mama, kepada mana saya pulang sekolah selama belasan tahun sebelum saya dikutuk menjadi Manusia Jakarta. Saya masih seromantik dulu, Bunda. Manakala rindu menyergap, saya tidak akan pernah mengelak. Hujan deras, banjir, macet, basah kuyup, jalan licin dan bahkan ancaman sakit kepala tidak akan menyurutkan niatan pulang yang sudah bulat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya kunci kamar. Jeglek. Kemudian saya buka lagi. Jeglek. Memastikan tidak ada yang ketinggalan. Kemudian, setelah pintunya saya jeglak-jeglek kembali untuk yang entah keberapa kalinya, saya menghampiri Si Empit dan mendapatinya berdiri di tempat parkir dan sigap menyapa: “Siap, Bos!”</p>
<div id="attachment_1260" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-1260" title="img_1350" src="http://gentole.wordpress.com/files/2009/11/img_1350.jpg" alt="img_1350" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Si Empit. Gambar diambil tahun lalu.</p></div>
<p style="text-align:justify;">Si Empit saya beli tahun 2005. Kredit, dan lunas tahun 2007. Dan selama ia menjadi budak saya, si Empit hampir tidak pernah mengecewakan saya, kecuali ketika ban belakangnya kempes di tengah jalan, yang sebenarnya bukan salah dia; karena itu jelas salah Jakarta, salahnya Ibu Kota! Di waktu hujan, si Empit adalah jagoan yang tidak mudah menyerah. Tidak kalah hebat dari Belalang Tempur Ksatria Baja Hitam. Tangkas. Cerdas.</p>
<p style="text-align:center;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/dk3S2c8ZWlw&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/dk3S2c8ZWlw&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p style="text-align:justify;">Langit Jakarta gelap. Lampu jalan bertugas lebih awal.</p>
<p style="text-align:justify;">Hujan dimulai di Rawa Belong. Saya kebetulan punya jas hujan, Mas SJ. Dan sebuah tas laptop yang dilengkapi pelindung hujan pula. Dan diam-diam saya gembira: Asyik! Bisa mandi hujan tanpa harus basah kuyup!! Jakarta tampak sedikit lebih jelita dari baik helm di kala hujan. Jalan lowong. Licin, tapi bersih.  Ada truk lewat, atau bus lewat, tidak berisik. Hujan. Deras. Saya lihat air mengalir segar di jemari; entah mengapa saat itu saya jadi merasa sangat hidup. Si Empit pun menarabas air langit dengan heroiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Joglo, setelah perumahan Kebon Jeruk dan tanah lapang yang banyak angin, jalan tidak lagi lowong. Saya lihat antrian kendaraan di sebelah kanan jalan. Dugaan Anda benar: jalan sudah menjadi sungai. Saya kesal. Saya ingat tiga tahun lalu. Waktu itu si Empit masih sangat muda, HP Nokia saya basah kena hujan. Dan wafat. Tapi Si Empit membuat saya bangga karena waktu itu dia berhasil melewati empat banjir buruk di Ciledug. Tapi kali ini saya ada ragu. Si Empit sudah tidak muda lagi. Bagaimana bila kali ini dia  gagal?</p>
<p style="text-align:justify;">Dua pengendara motor berhenti di pinggir banjir dan menatap kejauhan. Serius sekali. Mungkin keduanya sedang menghitung nasib; mencoba membagi jarak banjir dengan peluang mereka ketiban sial; satu variabel yang sulit sekali, kalau bukan tidak mungkin, diukur. Ada cemas di wajah mereka. Si Empit, seperti biasa, tidak banyak bicara; dan saya, seperti biasa juga, tidak mau berlama-lama mengambil keputusan. Jalan memutar saya sudah lupa, kecuali bahwa itu JAUH. Jadi, pilihannya nyasar atau mogok. Sebuah pilihan sulit tentu. Karena nyasar hujan-hujanan jelas tidak terdengar menyenangkan! Saya ganti gigi satu dan mencuri celah antrian kendaraan. Tidak berpikir lagi. Cemas dan doa datang silih berganti. Dan tiba-tiba saya sudah berada di tengah banjir. Air semakin deras. Laju kendaraan semakin lambat. Korban pun berjatuhan. Dua tiga motor mogok. Hati saya jadi ciut. Memucat. Matilah awak bila Si Empit mogok di tengah sungai dadakan ini. Saya tidak mau bernasib seperti orang-orang sial yang mesti menggandeng motornya melewati banjir itu!</p>
<p style="text-align:justify;">Hujan masih deras. Saya masih di Joglo. Air mengalir berisik; seperti kali tempat orang kampung mandi di pegunungan. Warnanya coklat seperti baju pramuka. Dijamin tidak higienis dan banyak penyakitnya. Si Empit berusaha bertahan untuk tetap sadar, meski jalanya sudah sangat payah. Mobil <em>pick up </em>di depan saya jalannya lelet sekali. Saya merasa mesin Si Empit sudah terendam. Panik. Dan ketika saya melihat banyak motor yang diparkir di pinggir jalan karena mogok, saya pun merasa lega. Air semakin dangkal dan tipis. Cipratan air merayakan keberhasilan motor saya. <em>Si Empit has done it again! </em>Saya merasa seperti baru saja memenangkan sesuatu; dengan bangga melewati mereka yang dipecundangi banjir dan kesialan. Haha! Dan saya pun melaju lebih kencang; menerjang dua banjir lagi: sebelum pasar Ciledug dan di dasar underpass menuju Cipondoh. Saya tahu Si Empit juga merasa bangga seperti saya. Dan kita pun menikmati air yang turun dari langit sore itu sebelum akhirnya sampai di rumah Mama. Ada sop hangat, ada gorengan. Ah, hidup ini&#8230;</p>
<p style="text-align:left;"><strong>&#8211; Sekian &#8211;</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FASHION + COLOR TRENDS 2010 HOSTED BY BEDO]]></title>
<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/14/fashion-color-trends-2010-hosted-by-bedo/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 02:38:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>balcom</dc:creator>
<guid>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/14/fashion-color-trends-2010-hosted-by-bedo/</guid>
<description><![CDATA[BEDO Monthly Meeting Invitation It is our pleasure to invite all of you to join our November BEDO me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/files/2009/11/bedo-sharing-nov1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1378" title="Bedo-sharing-nov" src="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/files/2009/11/bedo-sharing-nov1.jpg" alt="Bedo-sharing-nov" width="420" height="602" /></a></p>
<p>BEDO Monthly Meeting Invitation<br />
It is our pleasure to invite all of you to join our November BEDO meeting<br />
Time: 18:00<br />
Date: 24 Nov 2009<br />
Venue: Art Café, Jl. Sari Dewi 17<!--more--><br />
(map below)</p>
<p>Topics and Speakers:<br />
·  &#8220;Fashion trends for 2010&#8243; – by Niza, Surfer Girl<br />
·  &#8220;Colour trends for 2010&#8243; – by Magg, PT. Magg<br />
·  &#8220;How to conceptualise, develop and maintain a brand and image&#8221;<br />
– by Ato Hertianto, New Brain Design (brand expert / designer)<br />
· &#8220;EcO2 fumigation (environmentally friendly) used in export as an alternative to Methyl Bromide in relation to new European regulation&#8221;<br />
– by Eugene Verspoor, Export Service Centre</p>
<p>Free for members, Rp 50.000,- for non-member</p>
<p><a href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/files/2009/11/picture-1.png"><img class="alignnone size-full wp-image-1381" title="Picture 1" src="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/files/2009/11/picture-1.png" alt="Picture 1" width="217" height="178" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bernahkah KIAMAT 2012..????]]></title>
<link>http://emge1502.wordpress.com/2009/11/13/bernahkah-kiamat-2012/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 15:40:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>emge1502</dc:creator>
<guid>http://emge1502.wordpress.com/2009/11/13/bernahkah-kiamat-2012/</guid>
<description><![CDATA[Ntah itu bener apa salah&#8230; &#8230;g da yang tau sebenarnya kapan terjadi hari kiamat secara pas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ntah itu bener apa salah&#8230; &#8230;g da yang tau sebenarnya kapan terjadi hari kiamat secara pas]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[OBRAL MUNCUL LAGI DI BULAN NOVEMBER INI]]></title>
<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/08/obral-muncul-lagi-di-bulan-november-ini/</link>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 17:13:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>balcom</dc:creator>
<guid>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/11/08/obral-muncul-lagi-di-bulan-november-ini/</guid>
<description><![CDATA[Obrolan Rabu malam alias Obral muncul kembali Bulan November ini. Kali ini membawakan tema menarik p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/files/2009/11/obral.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1372" title="Obral" src="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/files/2009/11/obral.jpg" alt="Obral" width="420" height="322" /></a></p>
<p>Obrolan Rabu malam alias Obral muncul kembali Bulan November ini.<br />
Kali ini membawakan tema menarik perihal wirausaha kreatif (creative entrepreneurs) yaitu &#8220;Menjalankan Bisnis Kreatif dan Kemungkinan Pembiayaannya&#8221;<br />
Obral akan kedatangan tamu Bapak Feraldi L. dari BaliBiz Consulting dan Prabowo serta Mona dari Bank BRI.<!--more--></p>
<p>Acara ini akan berlangsung dengan casual di Laboratorium &#38; klinik PRODIA jalan Diponegoro 192 Denpasar mulai jam 19.00 Wita. Bagi kalian yang sedang bertimbang untuk buka bisnis sendiri saatnya memantapkan ide itu dengan datang dan ngobrol dengan santai bersama tamu Obral. Bagi yang mau datang plus menjual produk dan karya kreatif atau koleksinya silakan juga, atau kalu mau menyumbang kudapan monggo. Prodia sendiri akan menjadi tuan rumah dan tentunya menjamu kita semua.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Berdakwah Lewat Facebook, Mengapa Tidak?]]></title>
<link>http://sebuahhati.wordpress.com/2009/11/05/berdakwah-lewat-facebook-mengapa-tidak/</link>
<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 02:13:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>sebuahhati</dc:creator>
<guid>http://sebuahhati.wordpress.com/2009/11/05/berdakwah-lewat-facebook-mengapa-tidak/</guid>
<description><![CDATA[Setiap orang yang mengaku dirinya &#8220;update&#8221; dan &#8220;eksis&#8221; pasti mempunyai akun ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-85" title="frame-face" src="http://sebuahhati.wordpress.com/files/2009/11/frame-face.jpg" alt="frame-face" width="317" height="216" />Setiap orang yang mengaku dirinya &#8220;update&#8221; dan &#8220;eksis&#8221; pasti mempunyai akun di facebook. Ibaratnya, kalau tidak ikutan &#8220;numpang nampang&#8221; di facebook bisa dikatakan orang tersebut jauuuuuuuuuh dari peradaban dunia masa kini.. (hha.. berlebihan)..</p>
<p>Tapi itu nyata kawan.. coba perhatikan orang-orang di sekitar kita, mau ibu-ibu kek, bapak-bapak kek, om-om kek, tante-tante kek, nenek-kakek kek, bocah TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa semuanya pada facebook-an.. Sampai-sampai aku sempat kaget melihat anak kecil (melihat dari penampilannya, sepertinya kalau bukan anak TK dia itu anak SD) di dalam sebuah ruang guru sebuah SMA di bekasi, sedang online facebook. Wow! Suprise juga sih (apa sayanya yang norak ya? huehheee) ternyata ketika seorang bocah kecil sudah mengerti dan mampu mengoperasikan komputer dan internet, bukannya mengakses web-web yang bermanfaat, eh dia malah bikin facebook.. (haduh haduh haduh.. anak jaman sekarang).. Saya juga sempat terkaget-kaget begitu tahu guru-guru saya juga sering facebook-an. Benar-benar fenomena yang luar biasa!!<br />
<!--more--></p>
<p>Kadang-kadang saya berpikir, apa ya yang membuat facebook jadi barang wajib bagi setiap pengguna internet? Mengapa pas jaman-jamannya friendster, myspace,twitter hingar-bingarnya tidak sehingar-bingar facebook?? (soalnya saya ga bikin t<img class="alignright size-full wp-image-86" title="GenericFacebookProfile" src="http://sebuahhati.wordpress.com/files/2009/11/genericfacebookprofile.png" alt="GenericFacebookProfile" width="309" height="254" />witter hha.. peace!)</p>
<p>Dan, kecanggihan si facebook ini seharusnya menjadi ladang subur bagi kita nih, para da&#8217;i-da&#8217;iyah unuk menyebarkan virus-virus ISLAMI.</p>
<p>Eit,eit, tunggu dulu.. Apa tadi? Da&#8217;i-da&#8217;iyah?? Kan aku bukan pa ustadz! Aku hanyalah seorang mahasiswa-mahasiswi yang lugu dan polos (*dengan mata berkaca-kaca)..</p>
<p>Eeeh, siapa bilang kalau seorang da&#8217;i-da&#8217;iyah itu harus jadi ustadz-ustadzah dulu?? Begini, setiap manusia adalah da&#8217;i disamping kedudukan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Da&#8217;i adalah orang yang menyampaikan kebenaran, menyeru kepada kebaikan, dan mencegah adanya kemungkaran. Jadi tak ada ceritanya kalau mau menyampaikan kebaikan dan kebenaran harus jadi ulama dulu. Tak usah berpikir terlalu jauh, kita mulai dari hal-hal yang sepele dulu. Siapa yang pernah mengajak teman kita untuk sholat?? Siapa yang pernah mengingatkan teman kita kalau mereka melakukan kesalahan?? (ayo tunjuk jari!!)<br />
Pasti teman-teman semua pernah kan.. Nah, sekali lagi ditekankan disini, berdakwah itu adalah kewajiban setiap manusia karena kodrat dan naluri seorang manusia yang adil dan beradab adalah selalu mencegah seseorang kepada kejahatan dan mengajak seseorang kepada kebaikan.. (bagaimana, ada yang kurang jelas??)</p>
<p>Thoyyib, sekarang kita balik lagi ke urusan facebook tadi. Sedih sekali rasanya melihat beranda facebook-ku (aku pakai yang versi bahasa indonesia <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ) yang SEBAGIAN BESAR isi dari status teman-teman adalah hal-hal yang TIDAK PENTING.<br />
<img class="alignleft size-full wp-image-87" title="facebook" src="http://sebuahhati.wordpress.com/files/2009/11/facebook.jpg" alt="facebook" width="162" height="217" />Contohnya: &#8220;mles bgt w kul hr ni,, dosennx pd g dtg&#8221; atau &#8220;chayank.. Q kngen brad sma Qmuh.. cup cup muah..&#8221; atau &#8220;&#8230;laper..&#8221;</p>
<p>Haduh haduh.. Teman, tahu kan kalau setiap perkataan yang keluar dari lisan kita merupakan suatu doa? Seperti sabda Rasulullah, yang intinya kalau tidak ada suatu hal baik yang akan kita ucapkan, lebih baik diam saja. Silent is gold, begitulah kata orang barat. Daripada kita mengeluh, menulis hal yang tidak-tidak, lebih baik tuliskan hal-hal yang baik. Inilah maksudku berpanjang lebar soal berdakwah lewat facebook tadi. Akan lebih indah jika beranda facebook kita, kotak pesan kita, pesan dinding kita, penuh dengan hal-hal yang indah.</p>
<p>Facebook memang dibuat oleh orang Yahudi, tetapi mengapa banyak para pendakwah yang punya akun di facebook? Mungkin inilah alasannya teman.. Dengan memanfaatkan booming-nya facebook saat ini, kita jadikan facebook ini lebih islami. Kalau perlu, kita warnai facebook dengan warna-warna Islam (biar orang-orang Yahudinya kaget hhe.. lah, kok isinya Islam semua-kata orang Yahudinya.red)..</p>
<p>Memang banyak grup-grup Islam yang dibuat di facebook, tetapi aku pikir, apakah itu efektif? Maksudku, apakah grup itu dapat menarik minat khalayak umum yang menganut Islam? Mereka pasti lebih senang ikut grup-grup band idola mereka, ataupun film dan artis idaman mereka. Bagaimana caranya pesan-pesan islami yang selalu dikirimkan lewat grup-grup tersebut dapat sampai kepada mereka?</p>
<p>Ya, walau harus tertatih-tatih, perlahan-lahan aku lakukan apa yang aku bisa. Jika aku menemukan ayat-ayat Al Quran yang indah dan universal (kan ada teman yang non-Islam juga) dan hadist-hadist yang indah, aku tuliskan itu di statusku. Aku buat juga catatan-catatan islami dan aku tandai teman-temanku (tentunya yang isinya ringan dan mudah dicerna). Alhamdulillah, responnya sangat bagus sehingga aku semakin termotivasi untuk berdakwah lewat facebook (tapi masih copy-paste artikel sih <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  ).. Aku yakin, teman-teman yang belum begitu mendalami Islam, pasti mempunyai banyak pertanyaan di hati mereka tentang agamanya, namun mereka sungkan untuk mengutarakannya. Jadi gunakanlah &#8220;bola pancingan&#8221; untuk mereka, salah satunya lewat facebook ini. Soalnya kalau mengirim lewat email biasanya jarang dibaca (jangan-jangan dikira spam lagi). Kalau aku perhatikan, orang-orang yang sedang online di komputer maupun di handphone, pasti lebih sering buka facebook daripada email. Jadi, ayo teman-teman seperjuangan, kita jadikan teknologi masa kini sebagai senjata untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di seluruh dunia. Mungkin saat ini kita lakukan dengan facebook, di masa depan apa lagi? Ayo perbaharui terus jalan-jalan dakwah kita!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Telah Ditemukan Suntikan Anti Ngorok!]]></title>
<link>http://emge1502.wordpress.com/2009/11/05/telah-ditemukan-suntikan-anti-ngorok/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 19:59:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>emge1502</dc:creator>
<guid>http://emge1502.wordpress.com/2009/11/05/telah-ditemukan-suntikan-anti-ngorok/</guid>
<description><![CDATA[Telah Ditemukan Suntikan Anti Ngorok! London, Hanya butuh dua menit untuk menghentikan suara ngorok ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Telah Ditemukan Suntikan Anti Ngorok! London, Hanya butuh dua menit untuk menghentikan suara ngorok ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pacaran Islami...???]]></title>
<link>http://emge1502.wordpress.com/2009/10/25/pacaran-islami/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 12:51:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>emge1502</dc:creator>
<guid>http://emge1502.wordpress.com/2009/10/25/pacaran-islami/</guid>
<description><![CDATA[Halaman ini merupakan “bacaan wajib” bagi pembaca blog ini. Isinya berupa daftar link (taut), lengka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Halaman ini merupakan “bacaan wajib” bagi pembaca blog ini. Isinya berupa daftar link (taut), lengka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Setelah Kakek Tidak Ada Lagi]]></title>
<link>http://gentole.wordpress.com/2009/10/21/setelah-kakek-tidak-ada-lagi/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 09:28:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gentole</dc:creator>
<guid>http://gentole.wordpress.com/2009/10/21/setelah-kakek-tidak-ada-lagi/</guid>
<description><![CDATA[Kabar itu tidak mengejutkan saya, juga yang lainnya. Kejadiannya sudah diduga, dan bahkan diam-diam ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><em>Kabar itu tidak mengejutkan saya, juga yang lainnya. Kejadiannya sudah diduga, dan bahkan diam-diam diharapkan dalam doa dan eufemisme para kerabat yang datang menjenguk. Kakek saya, pada pukul empat Subuh tadi, akhirnya tutup usia, setelah lebih dua pekan berjuang melawan tubuhnya yang tua dan renta, yang tidak juga rela memberinya jeda barang sejenak dari nafasnya yang tinggal setengah. Hampir tidak ada tanda kehidupan beberapa jam sebelum beliau diproklamirkan “telah berpulang”. Matanya sayup. Bola matanya kelabu. Yang beliau butuhkan bukanlah jeda, tetapi satu helaan nafas yang bakal mengakhiri segala derita. </em></p>
<p style="text-align:center;"><em><img class="size-full wp-image-1197 aligncenter" title="jessicabracken1" src="http://gentole.wordpress.com/files/2009/10/jessicabracken1.jpg" alt="jessicabracken1" width="330" height="232" /><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Kakek saya mengajari saya banyak hal tentang hidup. Saya belajar dari berbagai nasehat yang beliau berikan, dan juga kesalahan yang kerap beliau buat selama hidupnya. Roti tawar kakek, demikian beliau memanggil saya dua puluh tahun silam. Waktu seperti baru saja di-<em>fast-forward</em>! Sepertinya baru kemarin saya pulang menginap dari rumah kakek, was-was meninggalkan kasur beliau yang kuyup karena ompol saya. Malu sekali. Saya sudah bukan bayi lagi waktu itu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Dan sekarang adalah hari beliau dikembalikan ke bumi – <em>bersama berbagai nasehat dan kesalahan yang beliau buat</em>. Ah, saya berdusta bila saya mengatakan kepada Anda bahwa saya sangat berduka atas kepergiannya. Saya merasa seperti Malraux dalam novel <em>The Stranger</em>-nya Albert Camus. Namun demikian, ada yang lain dari hidup saya setelah beliau tiada, dan ada banyak hal yang mesti dituliskan. Saya tidak tahu apakah saya benar-benar ingin melupakannya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Konon hanya saya dan beberapa orang lain saja yang bisa “menghidupkan” kakek di usianya yang sangat senja. Di atas 80, sangat tua. Tidak tahu persisnya berapa. Katanya, “Kakek ngobrolnya seru kalo le dateng.” Saya tidak tahu alasannya apa. Mungkin karena hanya saya  satu-satunya cucu beliau yang mau mendengarkannya bercerita tentang masa lalunya yang romantik. Karena, sebagai mahasiswa sejarah, hanya saya yang mengerti betapa “hebatnya” beliau dulu. Bagi yang lain, kakek mungkin tidak lebih dari seorang tua saja, atau bapak dari bapak-ibu mereka. Karena itu, kami pernah dekat sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu kakek saya adalah seorang pejuang Negara Islam Indonesia yang digagas Kartosuwiryo. Beliau adalah seorang Muslim militan yang dilatih secara militer untuk menjadi anggota Hisbullah, atau Tentara Islam Indonesia. Waktu itu beliau masih sangat muda. Katanya sih tampan. Nenek saya yang jelita pun dengan mudah ia pincut [Nenek saya, btw, sekarang sudah tidak bisa diajak berbicara. Hidupnya lebih banyak diisi tidur. Dan bergumam. Memanggil -manggil meraka yang sudah tiada]. Tentu saja menjadi anggota Hisbullah saja tidak menjadikannya seseorang yang konon berpengaruh – saya tidak bisa verifikasi klaim ini. Tetapi kakek saya memang bisa sedikit berbahasa Belanda dan beliau adalah seorang intelektual yang pandai berdebat. Maklum, mungkin setelah tahu NII sudah gagal-total, dan mengerti bahwa jalan pemberontakan militer tidak lah efektif, kakek saya menjadi aktifis Masyumi yang memuja Pak Natsir, dan konon beliau berada dalam daftar orang-orang yang akan dibunuh PKI sebilanya kudeta berhasil. Kakek saya tinggal di bilangan Setiabudi. Ini, sekali lagi, hanya klaim yang sulit diverifikasi. Seru sekali mendengar segala peristiwa sebelum Orde Baru dan &#8220;kekinian&#8221; dimulai dalam tuturan seorang &#8220;saksi&#8221; hidup. Kakek saya seorang pembaca koran, dan juga pendengar radio yang setia. Dia melek politik. Ada cerita, ada analisa. Ah, saya tidak ingat betul, tetapi sejarah politik Indonesia dalam tuturan kakek saya adalah sejarah pengkhianatan. Karena setiap kali perubahan politik terjadi, selalu didahului oleh analisa beliau bahwa si fulan dikhianati si fulan, atau si A tidak lagi memercayai si B.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kehangatan itu tidak berlangsung lama&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Saya lupa kapan persisnya dongeng-dongeng ringan tentang bagaimana beliau menjadikan nenek saya mabuk kepayang berubah menjadi perdebatan sengit antara kami berdua, yang kerap meninggalkan beberapa memar di hati kami masing-masing. Awalnya mungkin karena saya berani bicara; misalnya bahwa saya tidak setuju pendirian negara Islam. Kakek saya, tentu saja, hingga akhir hayatnya masih berkeras bahwa Negara Islam harus didirikan, dan bahwa negara sekuler peninggalan Sukarno adalah batil dan mesti digantikan oleh sebuah teokrasi yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist. Saya hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin kehampaan eksistensial yang menggelayuti kakek saya selama puluhan tahun setelah revolusi tidak juga menjadikannya sadar bahwa konsep negara Islam itu utopis dan tidak kompatibel dengan keseharian sebagian besar warga Indonsesia, termasuk anak-anaknya. Hampir semua anaknya, yakni om dan tante saya, tidak ada yang peduli ideologi beliau apa, apalagi celotehnya tentang Negara Islam. Ada dari mereka yang menjadi pemabuk, tatonya banyak, dan ada juga yang menjadi pekerja serabutan yang tidak terbersit sedikitpun sebuah pemikiran bahwa merubah dasar negara akan merubah nasibnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kakek saya membenci Sukarno ketika saya begitu terpukau oleh pemikiran pemimpin revolusi itu. Dia menganggap Cak Nur pengkhianat Natsir ketika saya dilanda sesal tidak pernah bertemu pemikir Islam kenamaan itu waktu masih kuliah di IAIN, hingga akhirnya beliau wafat. Dia melarang saya kuliah di Amerika agar saya tidak dicuci otaknya seperti Cak Nur, sementara saya sudah lama sekali bermimpi mengejar beasiswa Fulbright. Sudah lama saya tidak mendengarnya berdongeng. Dan sudah lama juga saya menghindari pembicaraan yang akan memicu perdebatan yang hanya akan membuatnya terluka. Itu sebabnya, kami sudah tidak sedekat dulu beberapa tahun sebelum hari ini. Saya tidak lagi mencari nasehat beliau di kala bimbang atau terpojok. Hingga akhirnya beliau wafat hari ini, beliau bahkan masih tidak tahu bahwa saya berencana menikahi seorang Kristen, yang dulu pernah memicu perdebatan yang mesti diakhiri oleh ibu saya atau siapa saya lupa. Sepuluh tahun lalu, saya adalah wujud dari mimpi-mimpinya yang musnah ditelan sejarah. Sekarang?</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, kakek, maaf kan &#8216;roti tawar&#8217; mu ini&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Setiabudi, 21 Oktober 2009</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gudeg Terakhir]]></title>
<link>http://melbakkara.wordpress.com/2009/10/21/gudeg-terakhir/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 00:35:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Melyan Bakara</dc:creator>
<guid>http://melbakkara.wordpress.com/2009/10/21/gudeg-terakhir/</guid>
<description><![CDATA[Satu kali makan saja ku telah bisa, cintai kamu di hatiku Namun bagiku, melupakanmu butuh waktuku se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Satu kali makan saja ku telah bisa, cintai kamu di hatiku Namun bagiku, melupakanmu butuh waktuku se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jadwal UTS Semester 7 (*Mayor)]]></title>
<link>http://boncoz35.wordpress.com/2009/10/20/jadwal-uts-semester-7-mayor/</link>
<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 09:49:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>bayusave</dc:creator>
<guid>http://boncoz35.wordpress.com/2009/10/20/jadwal-uts-semester-7-mayor/</guid>
<description><![CDATA[1. RABU, 27 OKTOBER 2009 ANALISIS ALGORITMA @RK 14 FAK 401 A 8.00 WIB 2. SENIN, 2NOVEMBER 2009 ANALI]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>1. RABU, 27 OKTOBER 2009 ANALISIS ALGORITMA @RK 14 FAK 401 A 8.00 WIB<br />
2. SENIN, 2NOVEMBER 2009 ANALISIS NUMERIK @RK 14 FAK 401 A 10.30 WIB<br />
2. SELASA, 3 NOVEMBERR 2009 PPCD @RK OFAC 3 B2 10.30 WIB<br />
3. KAMIS, 5 NOVEMBER 2009 NLP @RK 19 FAK 401 A 10.30 WIB<br />
4. MPTP *MASIH BELUM PASTI</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Karen dan Layla]]></title>
<link>http://gentole.wordpress.com/2009/10/19/karen-dan-layla/</link>
<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 02:37:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Gentole</dc:creator>
<guid>http://gentole.wordpress.com/2009/10/19/karen-dan-layla/</guid>
<description><![CDATA[Ibu Karen &#8212; maksudnya Karen Armstrong &#8212; mungkin tidak secantik Ratu Rania, tetapi saya l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Ibu Karen &#8212; maksudnya Karen Armstrong &#8212; mungkin tidak secantik <a href="http://middleeastblog.files.wordpress.com/2008/12/rania.jpg">Ratu Rania</a>, tetapi saya lebih suka Ibu Karen daripada Ratu Rania dari Yordania yang sepertinya sangat narsisistik itu (<em>I wonder why Lambrtz adores her so much</em>). Ibu Karen sepertinya orang yang baik hati dan pengertian. Ibu ini memang lebih cocok menjadi ustajah pengajian Kamisan atau Reboan ibu-ibu komplek perumahan ketimbang akademisi yang siap adu debat sama ilmuwan macam Sam Harris. Meski demikian, saudara-saudara pasti sudah dengar kabarnya, akhirnya si ibu itu menerbitkan juga buku yang konon ditulis untuk menangkis serangan Pak Harris dkk. Judulnya <em>The Case for God. </em>Sepertinya belum ada di Indonesia. Menyebalkan. Kudu pesan kalau mau beli. Saya sudah baca<em> review-</em>nya di jagad internet. Argumentasinya masih sama, cuma diparafrase saja. Masih tentang Tuhan yang tidak bisa dimengerti. Atau tentang agama yang tidak bisa dipahami hanya dengan mengandalkan logos/nalar dll. Tentang <em>rasa</em>, dan banyak hal lainnya yang memang tidak bisa diperdebatkan. Dan, ya, namanya juga apologi. Ujung-ujungnya <em>ngeles juga</em>. Atau, paling tidak, Ibu Karen hendak menunjukkan melalui buku barunya bahwa Bapak Dawkins dkk itu <em>salah sasaran</em>. Singkat kata, Ibu Karen menganggap Dawkins tidak tahu apa itu agama, dan yang pasti tidak tahu bagaimana orang beriman memandang Tuhan. Dari dulu sepertinya sudah begitu. Semua perdebatan antara pemikir bebas dan orang beriman itu seperti perdebatan orang tuli, atau perdebatan antara orang Cina yang tidak bisa berbahasa Arab dan orang Arab yang berfikir bahwa <em>all Chinese look the same</em>. Yang satu ke selatan, yang lain ke utara.</p>
<div id="attachment_1186" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-1186" title="karen armstrong cr" src="http://gentole.wordpress.com/files/2009/10/karen-armstrong-cr.jpg" alt="karen armstrong cr" width="300" height="462" /><p class="wp-caption-text">Tidak yakin sih. Tapi ini mungkin Ibu Karen waktu muda? Manis juga.</p></div>
<p style="text-align:justify;">Apakah bukunya Ibu Karen layak dibeli? Tentu saja masih. Hanya saja mungkin saya sudah tak lagi merasa perlu untuk mati-matian <em>pesen</em> di Aksara atau Kinokuniya dan bayar ongkos <em>shipping. </em>Toh, nanti jadi populer juga. Dan dijual dengan harga yang lebih murah di toko kecil macam Periplus. Nah, waktu <em>browsing </em>buku barunya Ibu Karen, saya malah nyasar ke situs  Richard Dawkins. Di situ saya bertemu lagi dengan Layla Nasreddin a.k.a Lisa Bauer, seorang perempuan &#8216;Barat&#8217; yang masuk Islam dan kemudian keluar lagi. Awal-awalnya sih, beberapa bulan lalu <em>lah</em>, saya rada terpesona <em>gituh </em>dengan <a href="http://richarddawkins.net/forum/viewtopic.php?f=14&#38;t=75591">komentar-komentarnya di forum Richarddawkins.Net.</a> Kesannya keren aja. Khas penulis internet yang sangat berbakat tetapi sepertinya tidak bakal terkenal karena..yah, begitu, internet <em>kan</em> negeri Mediokristan; sehebat apapun tulisan Anda, paling mentok jadi bloger seleb. Setelah r<span style="text-decoration:line-through;">evolusi</span>itu tidak ada lagi. <span style="text-decoration:line-through;">Palingan jadi pembuat film tentang artis film dewasa dari Jepang.</span> Nah, si Layla ini tidak suka sama Ibu Karen. Dicomotlah beberapa pernyataan Ibu Karen, dan kemudian dijadikan bahan tertawaan. <em>Internet sucks indeed. </em>Saya tidak menganggap Layla jahat, tetapi karena di Internet orang bisa <em>copy-paste</em> sembarangan, salah tafsir itu menjadi tak terhindarkan. Lah, wong, <em>we don&#8217;t actually communicate.</em> Kita hanya bermain-main saja dengan teks, dengan keyboard laptop/PC kita. Ah, maaf, jadi ngawur. Mari kembali ke Layla. Saya kira perempuan ini seperti siapa tuh penulis Infidel? *nanya Google* Oh, iya, Ayaan Hirsi Ali yang sepertinya sudah benci sekali sama Islam. Setaraf <em>lah</em> sama si Ibn Warraq itu. Tetapi ternyata tidak. Layla ini sepertinya masih menyisakan kekaguman pada Islam. Pada akun Goodreads-nya, beliau masih banyak membaca buku-buku tentang Islam, termasuk tentang arsitektur Islam yang di-<em>rate</em> lima bintang sama dia. Al-Qur&#8217;an terjemahan Mohammad Asad juga dia  <em>rate</em> lima bintang. Sayangnya satu hal ini mengganggu saya. Layla menulis kan cerita bagaimana dia tersiksa menjadi Muslim. Ini tentu sah-sah saja. Apalagi untuk intelektual sekaliber dia. Tetapi kok penuturannya rada <em>gimana</em> gituh &#8212; terlalu perempuan, tak sedingin kritiknya pada Armstrong. Ditambah lagi dengan <em>cove</em>r dan judul pres rilis dari tulisan dia<em>, Women Details Dramatic Encounter with Radical Islam, </em>yang diterbitkan majalah <em>Free Inquiry, </em>dengan gambar perempuan bercadar hitam. Klise. Setiap kali saya melihat gambar muslimah bercadar di majalah prestisius Barat, yang terbayang bukan para mullah dan imam-imam bajingan, tetapi orang-orang Barat yang <em>xenophobic</em>, rasis, bodoh, naif, penakut, brengsek dan menyebalkan! Ah, ya, tapi Layla belum tentu menyukai <em>cover</em> majalah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Karen dan Layla. Yang satu mantan Katolik, yang lain mantan Muslim. Yang satu masih membela agama, yang lain berada di kubu Dawkins. Ah, dunia ini ada-ada saja. Saya sih tidak begitu tertarik dengan argumentasi Layla tentang Tuhan, Islam dll. Yang menjadi perhatian saya itu cerita beliau bahwa dia merasa tidak cantik dan akhirnya jatuh ke tangan imam yang jahat dan gila perempuan. Halah. Huaneh. Kalau melihat avatarnya sih, si Layla ini cuantik. Kenapa kok malah jadi ribet hidupnya sampai menikah dengan si imam sial itu? Ibu Karen tidak menikah biasa saja, tuh? Doh, begitulah, hidup tidak terbuat dari argumentasi -argumentasi dan postulat-postulat anti-falasi dll.<em> Life is just that. It sucks. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>NB:</strong><br />
</em></p>
<div id="attachment_1187" class="wp-caption alignnone" style="width: 109px"><img class="size-full wp-image-1187" title="35977" src="http://gentole.wordpress.com/files/2009/10/35977.jpg" alt="35977" width="99" height="130" /><p class="wp-caption-text">Avatarnya Layla</p></div>
<p style="text-align:justify;">Di atas itu fotonya Layla atau Lisa. Saya tidak tahu apakah saya melanggar privasi orang dengan mengupload fotonya di blog saya. Entahlah. Kalo ada yang menyarankan saya untuk <em>remove</em> itu foto, akan saya <em>remove</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jilbab dan kaitannya dengan Sains Modern ]]></title>
<link>http://sebuahhati.wordpress.com/2009/10/12/jilbab-dan-kaitannya-dengan-sains-modern/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 00:56:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>sebuahhati</dc:creator>
<guid>http://sebuahhati.wordpress.com/2009/10/12/jilbab-dan-kaitannya-dengan-sains-modern/</guid>
<description><![CDATA[A. Mencegah dari penyakit kulit Jilbab mencegah berbagai penyakit kulit. Kulit kita terdiri dari epi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-76" title="1_381736537l" src="http://sebuahhati.wordpress.com/files/2009/10/1_381736537l1.jpg" alt="1_381736537l" width="133" height="143" />A. Mencegah dari penyakit kulit</p>
<p>Jilbab mencegah berbagai penyakit kulit. Kulit kita terdiri dari epidermis, dermis, dan subcotaneous layers. Banyaknya penyakit kulit di sebabkan oleh sinar matahari yang secara langsung terkena kulit terutama sinar UV. Apa lagi pada saat ini telah banyaknya lapisan ozon yang berkurang mengakibatkan semakin banyaknya sinar UV yang masuk ke bumi.</p>
<p>Lapisan ozon berfungsi menyerap semua sinar bergelombang pendek agar tidak mengenai bumi. Sinar UV adalah sinar tak nampak yang merupakan bagian dari energi yang dipancarkan matahari. Sinar ini memiliki 3 panjang gelombang yang berbeda, yaitu; A,B,C.</p>
<p>Panjang gelombang A berkisar 315-400 nm, gelombang jenis A menyebabkan kulit terbakar (sunburn) setelah terkena sinar matahari dalam waktu yang lama.</p>
<p>Panjang gelombang jenis B berkisar antara 280-315 nm, gelombang jenis B menyebabkan kanker kulit setelah terkena sinar matahari beberapa tahun.</p>
<p>Panjang gelombang C berkisar 150-280 nm, sinar jenis C adalah gelombang sinar yang paling berbahaya dan mematikan. Sinar UV jenis C biasa di gunakan dalam sterilisasi karena kemapuannya membunuh bakteri dan virus.</p>
<p>Sinar A dan B menyebabkan kanker kulit bagi manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sinar A menembus kulit lebih dalam dari pada B, akan tetapi daya rusaknya lebih rendah. Sinar A merusak sebagian sel yang di kemudian hari menyebabkan kanker kulit. Sinar B menyebabkan kanker kulit secara langsung, karena daya rusaknya lebih besar dari A, terutama bagi mereka yang terlalu sering terkena sinar matahari secara langsung.</p>
<p>Jilbab mencegah kontak lansung antara kulit dan cahaya matahari sehingga kulit terlindung dari bahaya terkena matahari secara langsung. Secara ilmiah terbukti bahhwa terkena sinar matahari secara langsung dapat menyebabkan berbagai macam penyakit kulit yang berbahaya bagi manusia. Diantaranya adalah:<br />
<!--more--></p>
<p>a) Sunburn (terbakar sinar matahari)<br />
Sunburn terjadi akibat sengatan matahari yang kadarnya melebihi daya tahan kulit terhadap UV. Seperti luka bakar karena api baik gejala maupun tingkatannya. Suburn terjadi pada orang berkulit cerah setelah terkena terik matahari kurang dari seperempat jam. Sedangkan orang berkulit coklat (gelap) mampu bertahan di bawah terik matahari yang sama selama 3-9 jam.<br />
Gejala sunburn tidak nampak seketika setelah terkena sinar matahari, akan tetapi setelah beberapa waktu.</p>
<p>Gejalanya bermula dari rasa perih dan muncul warna merah.<br />
Rasa perih akan mencapai puncaknya setelah 6-48 jam tersengat matahari. Umumnya terjadi pembengkakan kulit, terutama kulit kaki. Biasanya terik matahari di iringi hembusan hawa panas, dan hal ini kadang mengakibatkan demam.</p>
<p>b) Solar keratoses(peradangan kulit luar karena matahari)<br />
Bentuknya seperti sisik-sisik kasar yang nampak pada bagian kulit yang terbakar. Keadaan ini dapat berkembang menjadi kanker kulit yang menyerang sel gepeng squamous cell.<br />
Radang juga sering dijumpai pada tempat-tempat yang berulang kali terkena sengatan sinar matahari, terutama punggung tangan dan wajah. Bagian wajah yang sering radang adalah hidung, tonjolan pipi, bibir atas dan dahi.</p>
<p>Penyakit ini lebih sering terjadi pada orang yang bekerja di area terbuka dalam jangka waktu lama. Pencegahan dapat dilakukan dengan melindungi kulit dari radiasi sinar UV.</p>
<p>c) Solar urticaria(gatal-gatal karena matahari)<br />
Penyakit ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan, namun jarang terjadi. Kebanyakan kasus terjadi sebelum usia 40 tahun. Gejalanya langsung nampak seketika setelah terkena sengatan matahari. Penyakit ini biasa menyerang wajah dan punggung tangan. Kondisi ini akan semakin parah seiring dengan makin lamanya seseorang terkena sengatan matahari.</p>
<p>d) Photosensitivity(kulit sensitif terhadap matahari)<br />
Sifat sensitif pada cahaya terjadi akibat reaksi tak wajar, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, antara kulit dan cahaya. Yang paling umum di dapati ialah reaksi antara sinar UV jenis B dengan sel-sel kulit.</p>
<p>Efek yang timbul ialah kudis berwarna merah yang membengkak dan menimbulkan rasa nyeri. Hal ini dapat berlangsung dalam beberapa hari hingga berminggi-minggu.</p>
<p>e) Kanker kulit<br />
Semua jenis kanker kulit adalah akibat dari terkena sinar matahari, terutama saat terik matahari dari pukul 10 pagi hingga pukul 4 sore. Para ilmuan meyakini bahwa sinar UV dapat merusak DNA dalam sel-sel kulit dan mengubahnya menjadi tumor kanker. Adapun daerah yang paling potensial terkena kanker kulit ialah wajah, telapak tangan, lengan dan betis.<br />
Kulit-kulit yang terkena sunburn lebih potensial terkena kanker kulit. Seperti mereka yang menjemur tubuhnya dalam keadaan telanjang secara berkala (sunbath).<br />
Sinar-sinar tersebut dapat merusak atau minimal melemahkan sel-sel antibodi yang tersebar di permukaan kulit. Akibatnya, pertumbuhan tumor kanker pun semakin ganas. Sinar-sinar tersebut juga berpengaruh pada kesehatan kulit dan keindahannya.</p>
<p>f) Squamous cell carcinoma(kanker sel gepeng / sel squama)<br />
Penyakit ini tergolong kanker kulit yang paling luas penyebarannya. Penderitanya kebanyakan orang yang sensitif terhadap matahari.<br />
Penyakit ini di mulai dari peradangan kulit akibat terkena sinar matahari.</p>
<p>Penyakit ini di mulai dari timbulnya sisi-sisik kecil yang muncul di wajah, telinga, dan tangan orang kulit putih, yang selama bertahun-tahun berjemur sambil telanjang di bawah sinar matahari.</p>
<p>g) In situ squamous cell carcinoma(kanker sel gepeng yang terlokalisir)<br />
Juga dikenal dengan nama bonz. Sel-sel kankernya berkonsentrasi pada bagian luar kulit saja, luasnya berkisar antara satu hingga beberapa sentimeter. Penyebab utama dari kanker parsial ini adalah terkena sinar matahari yang mengandung UV.</p>
<p>h) Melanoma<br />
Penyakit kanker yang berbahaya yang dapat diobati jika diketahui sejak dini. Ia merupakan pertumbuhan sel-sel kromatin pada lapisan luar kulit dan lapisan di bawahnya secara tak terkendali. Seperti halnya kanker lainnya, jenis ini mulanya seperti penyakit kulit, kemudian menyebar ke tempat-tempat lainnya seperti mata, mulut, dan otak. Penyakit ini dapat menjakiti semua umur, namun kebanyakan yang berumur 50-70 tahun. Korban yang meninggal dunia karenanya mencapai ratusan tiap tahun. Penyebab utama penyakit ini karena sering terkena sinar matahari ketika kanak-kanak.</p>
<p>B. Mencegah penuaan dini<br />
Fungsi kulit pada tubuh wanita tidaklah sama dengan fungsi kulit pada tubuh laki-laki. Pada wanita kulit juga berfungsi sebagai kosmetik.<br />
Kulit terdiri dari dua lapisan utama yaitu lapisan epidermis dan lapisan dermis.</p>
<p>Lapisan epidermis merupakan lapisan tipis yang tersusun dari sel-sel kromatin. Sel epidermis juga menghasailkan pigmen, yaitu warna pada kulit manusia.<br />
Sel-sel yang terdapat pada epidermis, 90%-nya merupakan sel tanduk yang menghasilkan serabut-serabut protein yang disebut keratin, sel-sel tersebut bersifat melindungi kulit. lapisan permukaan ini memperbaharui diri secara otomatis setiap bulan.</p>
<p>Diantara sel-sel keratin terdapat sel kromatin yang tersebar. Sel ini menghasilkan zat berwarna gelap yang disebut melanin. Zat inilah yaang memberi warna pada kulit dan melindunginya dari radiasi sinar ultra violet (UV) yang berbahaya, yaitu dengan menyerap atau menghancurkannya. Bila sel-sel ini terkena sengatan matahari dalam jangka waktu lama, ia akan mengeluarkan melanin dalam jumlah besar. Sehingga mengakibatkan warna coklat, suatu warna yang kurang cerah yang terjadi sebagai bagian dari fenomena penuaan.</p>
<p>Lapisan kedua adalah lapisan dermis, Lapisan dermis lebih tebal dan lebih kuat dibandingkan dengan lapisan epidermis. Lapisan dermis tersusun dari anyaman jaringan ikat, pembuluh darah, saraf, kelenjar dan berbagai macam struktur, sepeti kelenjar lemak serta kelenjar keringat.</p>
<p>Kelenjar keringat berfungsi sebagai stabilisator suhu tubuh. Kelenjar keringat berfungsi mempekakan kulit terhadap pengamanan fisik dan psikis, serta menjaga agar keseimbangan susunan elektrolit dalam serum terpelihara.</p>
<p>Kelenjar lemak menghasilkan lemak yang melumasi kulit dan melindunginya dari sengatan matahari dan terpaan angin.</p>
<p>Kulit yang berlemak merupakan akibat dari produksi lemak oleh kelenjar lemak secara kontinu. Kulit kering disebabkan karena produksi lemak yang menurun atau terhenti sama sekali.</p>
<p>Di samping menghasilkan lemak dan keringat, dermis juga mengandung sistem limfe yang kompleks yang berfungsi menanggulangi infeksi. Sedangkan sistem saraf berfungsi menerima dan menghantarkan informasi atau impuls dari luar.</p>
<p>Dalam lapisan dermis juga terdapat bahan kimiawi yang disebut kolagen. Kolagen adalah protein yang merupakan komponen terbesar bagi lapisan dermis. Kolagen berfungsi menentukan peringkat kelenturan di kulit. Kolagen menjaga agar kelenturannya tetap optimal. Kolagen juga memelihara agar tekstur kulit tetap lembut.</p>
<p>Sinar matahari yang tampak (visible light,400-800 nm) tidak menimbulkan kerusakan, tapi di sebelahnya terdapat sinar infra merah (infra red=IR,1300-1700 nm) yang 40% bagiannya mencapai bumi dan berpengaruh terhadap proses photo aging (penuaan yang disebabkan sinar matahari).</p>
<p>Pengaruh sinar matahari menahun/kronik juga dapat menyebabkan kerusakan kulit akibat efek fotobiologik sinar UV yang menghasilakn radikal bebas, akan menimbulkan kerusakan protein dan asam amino yang merupakan struktur utama kalogen dan elastis, kerusakan pembuluh darah kulit dan menimbulkan kelainan pigmentasi kulit.</p>
<p>Usia secara berangsur-angsur akan menurunkan derajat kecantikan seorang wanita. Usia menyebabkan penumpukan pigmen di kulit tidak terdistribusi secara merata dan menyeluruh, melainkan timbul bercak-bercak. Semakin tinggi usia semakin cepat terjadinya akumulasi sel-sel mati di lapisan epidermis. Sehingga mengakibatkan perubahan pada kelenturan dan tekstur kulit yang mengakibatkan kekeringan, kekakuan, dan keriput-keriput di kulit.</p>
<p>Semua proses penuaan di atas dapat di percepat pada kulit yang sering terkena matahari secara langsung, termasuk polusi kiamiawi dalam atmosfer.<br />
Dengan berjilbab dapat mencegah penuaan secara dini karena melindungi kulit kita dari cahaya matahari, angin, polusi udara secara langsung.</p>
<p>C. Mencegah kanker nasofaring</p>
<p>Kanker nasofaring adalah kanker yang menyerang saluran antara hidung dan tenggorokan (nasopharyngeal carcinoma). Kanker nesofaring adalah kanker pada daerah tersembunyi di bagian belakang hidung berbentuk kubus. Bagian depan nesofaring berbatasan dengan rongga hidung, sementara bagian atas berbatasan dengan dasar tengkorak dan bagian bawah merupakan langit-langit dan rongga mulut.</p>
<p>Virus Epstein-Barr menaikkan resiko seseorang menderita penyakit kanker nesofaring. Virus yang hidup bebas di udara ini bisa masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di nesofaring tanpa menimbulkan gejala. Penyakit ini banyak di temukan di Asia, termasuk Indonesia.<br />
Gejala kanker ini adalah keliuarnya darah dari hidung, hidung mampet, sakit kepala, pusing, telinga berdengung dan terjadi pembesaran di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening, gejalanya mirip seperti penyakit flu biasa.</p>
<p>Terapi terhadap penderita kanker nasofaring bisa dilakukan dengan radiasi/kemoterapi. Namun bila kanker tersebut sudah menyebar hingga paru-paru, maka harapan hidupnya tinggal 2 tahun lagi. Sebab kemoterapi yang di lakukan sudah tidak sanggup menghentikan penyebarannya.</p>
<p>Salah satu cara untuk mencegah serangan kanker tipe ini adalah dengan tetap mengenakan penutup wajah</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Al-Qur’an dan terjemahan<br />
Baswedan, Sufyan Bin Fuad.2007. Lautan Mukjizat di Balik Balutan Jilbab. Wafa Press: Klaten<br />
Fachruddin, DR. Fuad Mohd. 1984. Aurat dan Jilbab dalam Pandangan Mata Islam. CV. Pedoman Ilmu Jaya: Jakarta.<br />
Shahab, Husein. 1986. Jilbab Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mizan: Bandung<br />
www.freewebs.com</p>
<p>http://cyberman.cbn.net.id</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lahir Kembali]]></title>
<link>http://desitie.wordpress.com/2009/10/03/lahir-kembali/</link>
<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 05:24:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>desitie</dc:creator>
<guid>http://desitie.wordpress.com/2009/10/03/lahir-kembali/</guid>
<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wr.wb.. Mohon Maaf Lahir Batin&#8230;.Atas kesalahan yang telah dilakukan, su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum wr.wb.. Mohon Maaf Lahir Batin&#8230;.Atas kesalahan yang telah dilakukan, su]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[heboh]]></title>
<link>http://aloner.wordpress.com/2009/10/01/heboh/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 06:26:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>neng_nong</dc:creator>
<guid>http://aloner.wordpress.com/2009/10/01/heboh/</guid>
<description><![CDATA[mau menghebohkan diri sendiri&#8230; TANYA KENAPA??? hmmmmmmmmmmm curhat&#8230; curhat&#8230; mulaii]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>mau menghebohkan diri sendiri&#8230;<br />
TANYA KENAPA???</p>
<p>hmmmmmmmmmmm<br />
curhat&#8230; curhat&#8230; mulaiiii&#8230;<br />
curhat di blog g boleh terlalu mmbuka aib&#8230; tp membuka hikmahnya aja.<br />
HHHHEEEEEEEEEEUUUUUUUUUU lebAY&#8230;</p>
<p>IH..IH..IH..  kemarin ada undangan dari kaka kelas angkatan 2006 yang ditempel di depan pintu kampus. teteh itu mau nikah&#8230; uuuhh so sweeet&#8230;<br />
nikahnya minggu ini.<br />
liat undangan itu, jadi berpikir&#8230;<br />
teteh itu sudah mengambil langkah besar dalam hidupnya. Berani. berani dalam mengambil resiko..<br />
Loh??<br />
nikah itu kan ibadah.<br />
tapi&#8230; yang dipikirin, teteh itu blum lulus. masih harus melanjutkan ke klinik setelahnya. masuk klinik butuh biaya besar. alat-alat yang gak cuma 1/2 biji&#8230; dengan biaya hanya dari suami&#8230; bagaimana ini?<br />
kok jadi saya yang pusing ya&#8230;<br />
bukankah rejeki itu udah ada yang mengatur??<br />
oke-oke.. kalau begitu&#8230; saya juga mau menikah. Loh??<br />
becanda&#8230; saya masih belum dewasa. dari fisik ataupun pikiran.<br />
bahkan seriiiing bgt orang orang nyangka saya masih SMA. itu sih masih mending. pernah ada yang nanya,<br />
&#8220;SMP mana?&#8221; loh???<br />
saya udah kuliah&#8230; KULIAH!! T_T</p>
<p>rasa-rasanya harus mulai mendewasakan diri&#8230;</p>
<p>oh ya&#8230; padang gempa ya?<br />
palembang kena?<br />
lampung?<br />
aceh?<br />
pekanbaru?<br />
bengkulu?<br />
yaa&#8230;. semua ajah&#8230;<br />
heuheu<br />
knapa ya, akhir2 ini jadi sering gempa. apakah bumi yang sudah tua, atau manusia-manusianya yang sudah mulai melupakanNya? antah.. semoga dengan adanya gempa, manusia-manusia ini seperti saya harus lebih mendeka padaNya, mengingatNya, mengingat pertemuan denganNya. jangan hanya meminta dan meminta tanpa ada timbal baliknya. hhh</p>
<p>trus..trus..</p>
<p> THE END</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MALAYU BERSATU DIAWALI LEWAT MUSIK]]></title>
<link>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/09/30/malayu-bersatu-diawali-lewat-musik/</link>
<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 18:45:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>balcom</dc:creator>
<guid>http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/09/30/malayu-bersatu-diawali-lewat-musik/</guid>
<description><![CDATA[Anti Konflik Indonesia – Malaysia Akhir-akhir ini kita terkompori oleh isu anti-Malaysia, yang belak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Anti Konflik Indonesia – Malaysia</strong></p>
<p>Akhir-akhir ini kita terkompori oleh isu anti-Malaysia, yang belakangan mencuat lagi lewat Tari Pendet (tari tradisional daerah Bali) yang dipakai oleh Discovery Channel untuk promo tourism Malaysia, lalu isu ini menjalar, mengupas luka-luka lama seperti kasus Reog Ponorogo, Batik, Ambalat, TKI, dll. Entah siapa yang menuangkan liquid Zippo ke dalam api tensi yang kerlap-kerlip ini menjadi api unggun yang riuh santer dibicarakan baik di internet hingga lesehan trotoar. Ada yang bikin militan club segala dengan aksi sweeping warga negara Malaysia di Jakarta, yang kalau dipikir-pikir sebagai aksi memalukan karena menebar imej bangsa ini adalah bangsa tukang berantem jaman pendekar golok naga. Nasionalisme sih penting, tapi sebaiknya diwujudkan dengan cara lain yang lebih cerdas, bukan melestarikan cara barbar!<!--more--></p>
<p>Jangan mencampur masalah politik dengan sikap prejudis terhadap masyarakat sipil.<br />
Hentikan main cap seenaknya. Ketidaksetujuan terhadap suatu kebijakan negara bukan berarti menyalahkan seluruh warga negaranya!</p>
<blockquote><p>Cobalah perbanyak introspeksi ketimbang sikap reaktif yang berlebihan…</p></blockquote>
<p>Dunia saat ini menghadapi masalah global yang lebih darurat daripada isu kecil tensi serumpun ini. Kita bersama menghadapi krisis nutrisi, pemanasan global, perubahan iklim, krisis energi, sampah, bencana alam, penyakit, dan lain-lain, yang membutuhkan kerjasama global seluruh umat manusia di dunia tanpa filter agama, warga negara, ras, dan latar belakang atau atribut apapun. Jangan biarkan isu tensi serumpun ini membuang-buang tenaga kalian yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kerjasama global. Dunia sekarang udah fucked up, saudara! Dengan kerjasama seluruh umat manusia di dunia, maka kemungkinan (saya ulangi, KEMUNGKINAN, karena kronisnya penyakit bumi kita tercinta ini) terbukanya pintu ke arah perbaikan akan terjadi. Kerjasama global ini hanya bisa terjadi dengan ‘lem super’ organik bernama CINTA. Mulailah dengan dirimu sendiri dan lingkungan di sekitarmu… act local, think global!</p>
<p><a rel="attachment wp-att-737" href="http://komunitaskreatifbali.wordpress.com/2009/03/25/tentang-nyepi/silent/"><img title="poster-MY-ID-web" src="http://www.naviculamusic.com/wp-content/uploads/2009/09/poster-MY-ID-web.jpg" alt="poster-MY-ID-web" width="448" height="632" /></a></p>
<p>Saya juga seorang seniman (musisi), yang mencoba mengambil perspektif dari bidangnya. Seniman sebagai penyunjung tinggi karya seni, yang mendedikasi hidupnya untuk pengembangan seni, sepantasnya berpikir ‘everyone deserves art’. Sadar kalau suatu produk seni/budaya yang bagus pasti akan ditiru banyak orang, dan menghargai fenomena itu dengan pikiran positif. Coba bayangkan: Orang barat menggugat kita karena kita pakai dasi dan jas, atau Cina menggugat kita karena pertunjukan Barong Sai yang kerap dipentaskan WNI etnis Tionghoa, atau orang India menggugat Bali karena banyak ikon seni yang menggunakan nama-nama tokoh mereka, atau menggugat Wayang karena memakai cerita Ramayana atau Mahabharata, atau Timur Tengah menggugat Indonesia karena banyak yang pakai jilbab, atau Seattle menggugat Navicula karena musiknya ‘Grunge’! Nggak asik kan?<br />
Sekali lagi… introspeksi!</p>
<p>Daripada jadi provokator tindak kekerasan, mari sama-sama jadi aktivis perdamaian global. Rock n’ Roll tercipta untuk kebebasan berpikir, anti-perang, cinta, dan kebersamaan.<br />
<strong>Peace, Love, and Rock N’ Roll!!</strong></p>
<p><em><strong>- Robi Navicula</strong><br />
(yang ‘meng-klaim’ ideologi John Lennon, lengkap dengan kaca mata bulatnya)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
