<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>berita-terpilih &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/berita-terpilih/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "berita-terpilih"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 15:42:11 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[K.H. Hasyim Muzadi menyatakan tidak mencalonkan lagi di Muktamar NU ke-32 di Makassar]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2009/08/12/k-h-hasyim-muzadi-menyatakan-tidak-mencalonkan-lagi-di-muktamar-nu-ke-32-di-makassar/</link>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 14:44:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2009/08/12/k-h-hasyim-muzadi-menyatakan-tidak-mencalonkan-lagi-di-muktamar-nu-ke-32-di-makassar/</guid>
<description><![CDATA[SEMARANG- Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyatakan diri untuk tidak akan maju dalam bursa pencalo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>SEMARANG- Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menyatakan diri untuk tidak akan maju dalam bursa pencalonan ketua umum pada Muktamar ke-32 NU pada Januari 2010 di Makassar. Pernyataan itu dilontarkannya di sela-sela acara Pra   Muskerwil di kantor PWNU Jateng Jl Dr Cipto, Semarang, kemarin.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Dia mengungkapkan, langkah tersebut ditempuh dalam rangka menciptkan equilibrium dalam tubuh NU sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Dengan demikian, kesempatan sangat terbuka bagi generasi muda untuk tampil memimpin NU.</p>
<p>’’Sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, perlu ada regenerasi. Dengan cara itulah, organisasi ini bisa mampu bertahan dan berkembang diri,’’ kata dia.<br />
Hasyim sendiri selama ini telah dua kali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Terakhir kali adalah saat Muktamar ke-31 NU di Solo. Sekarang ini sejumlah nama mulai menguat dalam bursa ketua umum seperti Muhamad Nuh, Said Agil Siradj, Ahmad Bagja, Masdar F Masudi, Nasruddin Umar, dan Hafidz Usman.</p>
<p>Menjadi topik sentral pada Muktamar 32 selain membahas kepemimpinan NU, juga membahas kemungkinan perubahan AD/ART NU, tafsir tentang Khittah 1926, dan persoalan hukum seperti virus meningitis, pengelolaan zakat dan hukum pemakaman umum.</p>
<p>Pada Pra Muskerwil tersebut, jajaran PWNU turut hadir seperti Ketua Tanfidz M Adnan, Rais Syuriah PWNU KH Masruri Mughni ditambah pengurus harian dan PCNU se-Jateng.<br />
Demokrasi Wakil Ketua PWNU Najahan Musyafak menganggap wajar dan lumrah soal mengemukanya sejumlah nama menjelang muktamar sebagai bentuk demokrasi di NU. ’’Perlu ditekankan, ketua terpilih harus memiliki kapabilitas dan akseptabilitas untuk mengurusi NU. Tugas ke depan tidak saja internal tapi soal ideologi, dakwah, pendidikan sampai masalah sosial,’’ katanya.</p>
<p>Sementara pengamat politik Undip Amirudin menyambut baik langkah tersebut. Dia memandang ada dua aspek dari keputusan itu yakni dari sisi kemaslahatan dan organisasi. Secara kemaslahatan, NU tetap harus memiliki peran pengembangan agama ke depan. NU di bawah Hasyim Muzadi telah mampu memfungsikan organisasinya tidak hanya dalam kancah tanah air tetapi sudah sampai internasional, terutama dengan mempromosikan nilai-nilai ahli sunnah wal jamaah dengan prinsip moderat.</p>
<p>’’Dari sisi keorganisasian, tentu membuka kran bagi kader-kader NU lainnya untuk berkembang. Diakui, Kiai Hasyim mampu melakukan kaderisasi sehingga memunculkan tokoh NU di berbagai institusi,’’ katanya. (H37,H3-46). Sumber: Suara Merdeka, 12 Agustus 2009, dengan judul &#8220;Hasyim MUzadi: Perlu Regenerasi di NU&#8221;.</p>
<h2></h2>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ISMAIL YUSANTO (Jubir HTI) SEORANG AGEN INTELIJEN (???)]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2009/05/28/ismail-yusanto-jubir-hti-seorang-agen-intelijen/</link>
<pubDate>Thu, 28 May 2009 14:12:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2009/05/28/ismail-yusanto-jubir-hti-seorang-agen-intelijen/</guid>
<description><![CDATA[Ada sebuah posting dari rhisy.blogsome.com tentang Ismail Yusanto sebagai agen intel, yang tulisanny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"> </span></strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Ada</span><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"> sebuah posting dari </span><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"> </span><a href="http://rhisy.blogsome.com/2008/02/01/agen-intelijen-bagian-3/"><span style="color:windowtext;">rhisy.blogsome.com</span></a><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"> tentang Ismail Yusanto sebagai agen intel, yang tulisannya panjang 3 seri. Seri 1-2 brbicara tentang kritik penulis terhadap amir HT, Abu Rashtah-Abu Yasin, yang menyebut Erdogan dan Gul di Turki sebagai agen AS. Pada seri 3 kemudian baru membahas tentang Ismail Yusanto dan HTI kaitannya dengan intel. Ismail Yusanto adalah jubir HTI. Warga NU jangan terprovkasi oleh HTI dan Islam-Islam lain yang menawarkan janji-janji kamuflase baru. Fokus saja ndandaani NU, baik yang di struktural, kultural, NGO, dan profesional lain. Selamat membaca:</span></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">***</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"><br />
<!--more--></span><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"> Pada bagian ke-2, telas diulas alasan <strong><em>pertama</em></strong> kenapa judul di atas adalah ‘Ismail Yusanto Seorang Agen Intelijen (???). Pada bagian terakhir ini, dijelaskan 2 hal lain yang menjadi latar belakang kenapa kata ‘agen intelijen’ itu muncul. Disamping itu, bagian ini juga akan menjadi pengantar tulisan berupa beberapa fakta sejarah yang patut menjadi bahan renungan semua pihak bagaimana sepak terjang operasi intelijen yang merugikan umat Islam Indonesia (akan ditulis pada artikel terpisah). Berikut adalah lanjutan ulasan terhadap ‘3 hal’ yang telah diawali di bagian sebelumnya.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Kedua, Kepergoknya Kader HTI di Sarang Intelijen</span></strong></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Medio 2007 lalu, salah seorang tokoh sekaligus petinggi sebuah Partai Islam di Indonesia yang diundang BIN untuk dimintai keterangan terkait ‘next plan’ seandainya Partai Islam tersebut berhasil memimpin negara Indonesia, memergoki salah seorang yang ia kenal betul sebagai aktivis dan kader HTI. Dengan kalimat lugas, petinggi Partai Islam itu menyapa &#8220;Antum di sini?&#8221; Dengan <em><span style="font-family:Arial;">rada</span></em> gugup orang tersebut merespon dengan basa-basi. Secara jujur penulis tidak cukup banyak data dan informasi akan detil dari berita ini, namun sumber yang terpercaya keamanahannya cukup menjadi jaminan bahwa kejadian itu benar adanya.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Mari kita coba mengkalkulasi kenapa seorang kader HTI itu bisa berada di sarang intelijen. Ada kepentingan apa dirinya berkeliaran di sana. Alangkah baiknya penulis mencoba mereka-reka dan membuka wacana, dan kemudian biarlah pihak HTI yang menyampaikan tabayun dan penjelasan atas ‘analisa krece’ tulisan ini. Penulis sangat berlapang dada jika ada pelurusan-pelurusan oleh pihak HTI dari ‘analisa bodoh’ yang penulis kemukakan.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Dunia intelijen merupakan dunia yang sangat confidential dan sangat sulit tersentuh kalangan sipil. Begitulah tabiat dunia intelijen baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Oleh karena itu, orang-orang yang bekerja di sana baik sebagai staff instansi ataupun keadministrasian harus melalui proses yang sangat selektif sekali. Kebanyakan masyarakat awam tidak begitu paham apa dan bagaimana menjadi pegawai di kantor BIN ini. Kondisi ini adalah kenyataan untuk meragukan bahwa kader HTI tersebut disana bekerja hanya sebagai pegawai biasa, bukan seorang agen. Akan tetapi semoga ia benar-benar hanya sebagai pegawai biasa di markas BIN tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Soalnya jika ia di sana bukan sebagai pegawai biasa, lantas apa yang ia lakukan sehingga ‘berkeliaran’ di sarang macan? Seorang petinggi Partai Islam saja datang ke situ untuk dimintai keterangan (bahasa lainnya di interogasi), terus apa yang dilakukannya kalau bukan ‘ngantor’ di situ? Kalo pun hanya sekedar singgah, kenapa harus di markas intelijen? Jika memata-matai intelijen jelas suatu hal yang tidak mungkin. Masa’ intel dimata-matai sipil, tidak kebalik tuh? Tapi jika dalam rangka ‘bersahabat’ maka hal itu adalah hal yang sangat mungkin. </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Persoalan berikutnya, apabila ternyata kondisi yang sebenarnya adalah bahwa kader HTI tersebut adalah seorang agen intelijen, maka masih menyisakan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya adalah, apakah keberadaan kader HTI yang berkeliaran di sarang intelijen itu diketahui oleh petinggi HTI dalam hal ini Jubir dan strukturnya? Jika tidak, maka informasi ini cukup positif untuk dijadikan warning agar jajarannya lebih berhati-hati dan mawas diri. Kondisi ini merupakan sebuah ancaman yang dapat memecah belah jalan di masa yang akan datang. Bahkan jika keberadaan penyusup ini tak terdeteksi maka lambat laun gerakan HTI akan terperangkap sesuai dengan design dan aksi sang agen intelijen. </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Namun jika jawabannya &#8220;Ya&#8221;, maka bisa diterka bahwa ada interaksi simbiosis mutualisme antara kedua belah pihak, HTI dengan BIN. Terlalu jauh menyimpulkan bahwa HTI adalah bentukan intelijen, namun bukan hal yang mustahil jika telah terjadi deal-deal tertentu yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Apa keuntungan bagi HTI? Yaitu ‘jaminan keamanan’ dalam menyampaikan syi’ar da’wahnya ’sekeras’ apa pun merivali ideologi yang dianut negara ini. Sementara keuntungan bagi intelijen, adalah jaminan terpantaunya bahwa gerakan HT di Indonesia tak akan merongrong ideologi yang menjadi pijakan negara Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Ditambah bahwa keberadaanya akan menjadi senjata untuk mengkonter kekuatan ideolagis lain yang pamornya semakin sulit dibendung dalam kancah perpolitikan nasional. Di beberapa tempat dan kesempatan, kekuatan ideologis ini banyak dikaji kelompok-kelompok nasionalis yang merasa masa depannya terancam dengan keberadaannya. Bahkan kalangan partai-partai besar orde baru yang mengaku nasionalis sudah menjadikannya <em><span style="font-family:Arial;">common enemy</span></em> demi mengganjal dan menghancurkan arus besar ideologis tersebut.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Hal ini bukan isapan jempol, mengingat berbagai fakta di lapangan gaya da’wah HTI terus saja ‘menyerang’ para aktivis da’wah yang berjuang di mimbar parlemen. Bahkan hampir di berbagai kesempatan shalat Jum’at para khatib yang berasal dari HTI acap kali ‘menyerang’ dan melontarkan wacana bahwa upaya aktivis da’wah yang berjibaku di panggung parlemen ‘terbukti’ sia-sia dan jauh dari rel Islam. Penulis menjadi saksi sendiri hal ini terjadi di berbagai kesempatan sholat Jum’at di beberapa masjid di Jakarta dan Banten. </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Fakta lain adalah, dalam pengkaderannya di berbagai perguruan tinggi di Indonesia tak bisa dipungkiri HTI membidik mereka yang menjadi simpatisan dan berafiliasi kepada Partai Islam berideologi kuat ini. Bahkan tak jarang dengan cara kotor mereka menjegal para kader dan simpatisan yang baru datang dari daerah dengan berpura-pura menjadi bagian dari Partai Islam tersebut. Memuji-muji tokohnya, mengajak mengkaji buku dan materi yang menjadi referensi. Kemudian pada masa yang sudah tertentu mereka (para aktivis HTI) menyatakan dirinya sebagai aktivis Hizbut Tahrir dan berbalik memojokkan Partai Islam itu sendiri serta mengaku-ngaku bahwa tokoh-tokoh yang pemikirannya banyak di adopsi oleh Partai Islam tersebut adalah tokoh Hizbut Tahrir. Lucu memang, tapi itulah kelicikan yang menjadi fakta. Kejadian ini di alami beberapa rekan dari penulis saat mereka kuliah di perguruan tinggi di Surabaya dan Bandung.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Dengan kata lain, langsung ataupun tidak langsung, penggerogotan ini cukup menguntungkan banyak kalangan terutama mereka kalangan yang ngaku-ngaku orang nasionalis yang haus akan kekuasaan nasional. Kalangan ini takut tergusur oleh gelombang ideologis yang cukup mengurat syaraf di masyarakat Indonesia secara umum. dan phobia serta tidak memahami Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan begitu sejalan dengan kerja BIN yang memang didominasi kalangan yang tak memiliki afiliasi dengan Islam. Bahkan sebaliknya.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Ketiga, Pelatihan Intelijen Aktivis HTI</span></strong></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Situs HTI www.khilafah1924H tertanggal 30 November 2005 menyebutkan bahwa Hizbut Tahrir menyelenggarakan Pelatihan Dasar-Dasar Intelijen bagi para aktivisnya di ’sebuah tempat di Indonesia’. Dalam kesempatan itu menghadirkan mantan Kapala BAKIN Letjend. ZA. Maulani (alm) sebagai narasumbernya. Dalam sisi positif, HTI bisa dibilang selangkah lebih maju dalam menyikapi eksistensi dunia intelijen. Jika kelompok atau gerakan Islam lain masih menjadi bidikan dan sasaran bulan-bulanan rekayasa operasi intelijen, HTI justru malah mengadakan pelatihan dasar-dasar intelijen bagi para aktivisnya. Patut di apresiasi.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Apalagi pelatihan tersebut dinarasumberi oleh mantan orang nomor1 di BAKIN pada masa pemerintahan BJ. Habibie. Alm Letjend ZA. Maulani memang dikenal dekat dengan kalangan Islam. Bahkan orang kepercayaan mantan presiden jenius ini adalah salah seorang yang cukup serius melawan isu Jamaah Islamiyah yang dihembuskan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Dan pembelaanya terhadap Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, yang disudutkan dan dipenjarakan atas pesanan negeri Paman Sam itu tak perlu diragukan lagi. Bahkan keberpihakannya terhadap umat Islam ditunjukkan dengan penterjemahan buku <em>Stranger Then Fiction: Independent Investigation of 9-11 and War on Terrorism</em> karya Dr. Albert D. Pastore, PhD. yang kemudian diberi judul <strong><span style="font-family:Arial;">&#8220;Fitnah Itu Akhirnya Terungkap&#8221;.</span></strong></span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Akan tetapi dunia intelijen tetaplah dunia intelijen. Dunia yang yang sulit dijangkau dan dipahami masyarakat sipil. Sebuah dunia yang dalam catatan sejarah sangat tidak bersahabat dengan umat Islam. Tidak dalam rangka menyangsikan keseriusan ZA. Maulani dalam membela Islam, namun biar bagaimanapun selama masa tugasnya sebagai Kepala BAKIN tercatat beliau juga bekerja untuk kepentingan penguasa pada waktu itu.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Bulan Juli-Agustus tahun 1999 sebagai Kepala BAKIN beliau memimpin operasi di Jawa Timur untuk kepentingan menggolkan kembali BJ. Habibie sebagai presiden RI. Seperti yang diungkap SiaR, beberapa pesantren besar seperti Ponpes Langitan (Tuban), Ponpes Sechona Cholil (Bangkalan), dan Ponpes Lirboyo didatangi ZA. Maulani. KH. Hasyim Muzadi yang pada saat itu masih menjabat sebagai ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur membenarkan operasi itu. Beliau mengatakan bahwa  pada bulan-bulan Juni-Juli tahun itu ZA. Maulani rajin mendatangi pesantren-pesantren NU untuk menggembosi suara PKB dan Gus Dur yang akan berpasangan dengan Megawati. &#8220;Bahkan setiap pamitan Maulani selalu memberi uang pada para kiai dengan alasan untuk transport,&#8221; ujar Hasyim Muzadi. </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Sementara itu Ketua Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren Madura KH. Nurudin A. Rachman juga membenarkan operasi ZA. Maulani di Jawa Timur, &#8220;Benar memang, sekitar Juni lalu pak Maulani rajin datang ke pesantren-pesantren. Dan setiap kali kunjungannya selalu didampingi pengurus Golkar Jatim.&#8221; ujarnya. Operasi tersebut tergolong sukses. Bahkan menurut Ketua DPW Jatim pada waktu itu, Choirul Anam (sekarang ketua PKNU), operasi yang dilakukan Maulani sudah dilakukan jauh-jauh hari. &#8220;Buktinya suara PKB kacau dikantong-kantong NU, tegas Anam. Sampai karena kegeramannya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua PBNU mengusulkan agar mengganti orang-orang BAKIN pada pemerintahan berikutnya. Dan terbukti, ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, ZA. Maulani disingkirkan.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Sekali lagi, uraian di atas bukan dalam rangka meragukan kedekatan dan keberpihakan ZA. Maulani kepada umat Islam. Penulis juga tidak dalam rangka mempermasalahkan isi pelatihan di atas dan berpositif thingking saja karena saat itu kampanye global perang terhadap terorisme yang digalang AS mencengkeram negara-negara berkembang layaknya Indonesia. </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Satu hal mengganjal yang patut menjadi pertanyaan adalah, apa kaitannya pelatihan di tahun 2005 itu dengan kejadian di sarang intelijen pertengahan tahun 2007 kemarin? Apakah setelah wafatnya ZA. Maulani dengan segala kelebihan dan kekurangannya (dan mungkin beliau tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini), para alumni pelatihan mengalami perkembangan kreativitas secara ‘mandiri’ sehingga dengan cepat bisa menerobos pintu istana intelijen?</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Penulis sangat senang sekali jika ada pihak-pihak yang menyampaikan penjelasan dan klarifikasi terkait kegundahan ini. Kenapa? Karena hingga saat ini Badan Intelijen Negara tidak pernah berhenti menggelar operasi-operasinya, baik operasi strategis maupun operasi taktis. Kasus meninggalnya aktivis HAM Munir, dan penyusupan intelijen di Majelis Mujahidin Indonesia beberapa masa lalu adalah bukti bahwa intelijen tidak pernah pensiun, dan terus bekerja dari satu operasi ke operasi intelijen berikutnya. Dan sejarah perjalanan umat Islam Indonesia sejak pasca kemerdekaan memiliki catatan sangat merah terhadap intelijen.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Ketiga hal inilah yang melandasi kenapa penulis menyandangkan kata agen intelijen pada judul di atas. Alasan ke-2 dan ke-3 hanyalah sebuah logika penambah yang perlu disingkap untuk lebih membuka mata, bagaimana seharusnya sang Amir Hizbut Tahrir melontarkan analisanya. Jangan asal menuduh aktivis di luar gerakannya dengan sebutan-sebutan yang buruk. Dengan kedua paparan di atas saja, penulis tidak terlalu tertarik untuk secara gegabah mengatakan bahwa Ismail Yusanto adalah seorang agen intelijen. Dalam konteks ini penulis lebih senang untuk berbaik sangka bahwa Ismail Yusanto adalah seorang yang baik. Dengan jalan ini penulis bermaksud menyadarkan kepada Syeikh Ata’ Abu Rashta agar tidak dzalim mengecap orang lain dengan tuduhan yang buruk. </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">(selesai)</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"><a href="http://rhisy.blogsome.com/2008/02/01/agen-intelijen-bagian-3/"><span style="color:windowtext;">http://rhisy.blogsome.com/2008/02/01/agen-intelijen-bagian-3/</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Protes para peneliti Ilusi Negara Islam]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2009/05/25/protes-para-peneliti-ilusi-negara-islam/</link>
<pubDate>Mon, 25 May 2009 09:55:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2009/05/25/protes-para-peneliti-ilusi-negara-islam/</guid>
<description><![CDATA[Redaksi nukhittah26, memperoleh siaran pers yang dikemukakan oleh beberapa peneliti “Ilusi Negara Is]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Redaksi nukhittah26, memperoleh siaran pers yang dikemukakan oleh beberapa peneliti “Ilusi Negara Islam” yang sudah dirilis ke media massa di Yogyakarta tanggal 25 Mei 2009. Mengingat pentingnya kontroversi buku ini, redaksi nukhittah26 merasa penting untuk melacak ke beberapa medi massa dan minta copi dari siaran pers itu. Silahkan di baca.</span></p>
<p><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Siaran Pers dan Pernyataan Sikap</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Berkaitan dengan terbitnya buku “Ilusi Negara Islam” yang mengundang kontroversi, dengan ini kami ingin memberikan klarifikasi sekaligus pernyataan terkait dengan substansi<span> </span>buku tersebut: </span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"><span>1.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Materi<span> </span>(isi) buku yang disajikan di dalamnya bukanlah hasil riset dan karya kami dan karena itu kami tidak mungkin mengakui sebagai hasil penelitian kami. Padahal di dalam buku tersebut kami disebut sebagai peneliti.</span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"><span>2.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Di dalam proses penerbitan buku tersebut, kami tidak pernah diajak dialog di dalam proses menganalisis data dan membuat laporan penelitian sampai penerbitan menjadi sebuah buku.</span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"><span>3.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Bahkan dalam proses pengumpulan data, beberapa nama yang di buku tersebut dicantumkan sebagai peneliti, jauh hari sudah mengundurkan diri, yakni saudara Nur Khalik Ridwan dan Abdur Rozaki,<span> </span>sehingga tidak terlibat lagi di dalam tahapan penelitian selajutnya, mulai dari pengumpulan data, analisis data, penulisan laporan sampai pada penerbitan buku.</span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"><span>4.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Kami melihat<span> </span>buku “ilusi Negara Islam” itu, tujuannya telah <span> </span>bergeser dari riset yang semula bertujuan akademik pada tujuan politis dengan cara tetap mencantumkan nama-nama peneliti yang sebelumnya sudah mengundurkan diri namun namanya tetap dicantumkan sebagai peneliti (dan menyimpang dari desain awal penelitian). </span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"><span>5.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Kondisi ini diperkuat oleh kesaksian hampir semua peneliti daerah yang namanya tercantum di dalam buku tersebut tidak pernah pula diajak untuk berdialog untuk menganalisis data temuan<span> </span>di lapangan dalam kerangka laporan hasil penelitian yang utuh. Para peneliti daerah namanya dicatut hanya sebagai legitimasi politis dari kepentingan pihak asing sebagaimana yang dilakukan oleh Holland Taylor dari Lib for All, Amerika Serikat yang begitu dominan bekerja di dalam kepentingan riset dan penerbitan buku ini.</span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"><span>6.<span style="font-family:&#34;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Kami menuntut kepada pihak Lib for All agar menarik peredaran buku tersebut jika tetap mencantumkan nama-nama kami. Kami menghimbau kepada para peneliti dan intelektual Indonesia untuk lebih berhati-hati <span> </span>dan tidak mudah diperalat dan dimanipulasi oleh kepentingan agen intelektual asing<span> </span>yang bekerja di Indonesia tercinta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Yogyakarta</span><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">, 25 Mei 2009</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Atas<span> </span>nama yang dicantumkan sebagai peneliti dalam buku “Ilusi Negara Islam”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Atas nama peneliti</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Dr. Zuli Qodir<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Abdur Rozaki,M.Si<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Laode Arham, S.S.<span> </span></span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;">Nur Khalik Ridwan, S.Ag</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;line-height:115%;font-family:Arial;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FPI Menebar Teror dan kekerasan Menolak Maulid Nabi  ]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2009/03/27/fpi-menebar-teror-dan-kekerasan-menolak-maulid-nabi/</link>
<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 16:03:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2009/03/27/fpi-menebar-teror-dan-kekerasan-menolak-maulid-nabi/</guid>
<description><![CDATA[Kamis, 26 Maret 2009 &#8211; 15:50 wib JAKARTA &#8211; Rencana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Kamis, 26 Maret 2009 &#8211; 15:50 wib</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">JAKARTA &#8211; Rencana peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Baladewa, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, pada 29 Maret 2009 yang menghadirkan Gus Dur dan Gus Nuril dilarang kelompok wahabi antimaulid Front Pembela Islam (FPI).</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Menurut Soleh, ketua panitia maulid nabi dari Pengajian Taman Hati Tanah Tinggi pimpinan Gus Nuril, massa FPI yang berjumlah 50 orang datang secara tiba-tiba dan masuk ke pemukiman warga sekira pukul 14.50 WIB, Kamis (26/3/2009). </span></p>
<p><!--more--></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Soleh mengatakan, mereka meminta warga agar kegiatan maulid yang menghadirkan Gus Dur itu tidak dilaksanakan. Dalam aksinya, massa FPI juga merusak poster dan spanduk peringatan maulid. &#8220;Mereka nyelonong masuk ke kampung-kampung dan meminta acara maulid dibatalkan,&#8221; ujar Soleh ketika dihubungi okezone.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Bahkan, aksi sweeping FPI tersebut sempat diwarnai bentrokan dengan warga setempat. Beruntung RT/RW dan tokoh masyarakar setempat segera menengahi sehingga aksi dapat dihentikan. Saat ini, kata Soleh, sebagian massa FPI masih berada di rumah ketua RT/RW setempat untuk menyelesaikan masalah ini. </span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Soleh mengaku keberatan dengan tindakan massa FPI yang demikian. Padahal, kata dia, pihak panitia sudah mendapatkan izin kegiatan dari kepolisian setempat dua hari yang lalu. &#8220;Kami sedang berkoordinasi dengan pihak RT/RW dan aparat kepolisian untuk membereskannya, &#8221; ujar Soleh dengan nada kesal.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Sebelum mendatangi warga, massa FPI berdemo di Mapolsek Johar Baru. Mereka menuntut Kapolsek agar tidak memberikan izin penyelenggaraan peringatan maulid nabi.</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Saat dikonfirmasi, Kapolsek Johar Baru, Bunda Theresia belum memberikan penjelasan lebih lanjut. &#8220;Maaf saya masih di jalan, nanti saja dihubungi lagi,&#8221; pungkasnya. (ram)</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Sumber: http://news. okezone.com/ index.php/ ReadStory/ 2009/03/26/ 1/205046/ massa-fpi- bentrok-dengan- warga-tanah- tinggi</span></p>
<p><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;">Judul asli di Okezone: Massa FPI Bentrok dengan Warga Tanah Tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gus Im: "PKS Mainan Baru Amerika" ]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/12/21/gus-im-pks-mainan-baru-amerika/</link>
<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 09:48:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/12/21/gus-im-pks-mainan-baru-amerika/</guid>
<description><![CDATA[Analisis menarik tentang fenomena PKS dikemukakan pengamat politik internasional KH Hasyim Wahid (Gu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;">Analisis menarik tentang fenomena PKS dikemukakan pengamat politik internasional KH Hasyim Wahid (Gus Iim). Gus Im menyatakan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu partai politik berbasis Islam yang mulai berkembang luas di Indonesia hanyalah mainan baru Amerika Serikat.</span></p>
<p><!--more--></p>
<p><span style="font-size:13pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span style="font-size:13pt;">Dikatakannya, keadaan dunia berubah pasca perang dingin. Dunia menjadi kawasan pasar bebas sehingga dikehendakilah masyarakat yang pro pasar. Sementara kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap terlalu nasionalis untuk bisa menyesuaikan diri dengan pasar bebas. ”Maka dimunculkanlah Islam baru yang namanya PKS, yang lebih sesuai dengan pasar global,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;">Gus Iim berbicara dalam acara refleksi akhir tahun bertajuk NU dalam Konstalasi Politik Nasional yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau IKA-PMII di aula gedung PBNU Jakarta, Kamis (18/12).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span style="font-size:13pt;"><br />
Menurut adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, sebagai organisasi yang berjenjang global, PKS terpolarisasi dalam beberapa kelompok. “Di dalamnya memang retak-retak. Yang satu berkiblat ke Departemen Luar Negeri Amerika, satu lagi terkait dengan DI/TII tapi semuanya Amerika juga,” katanya.</span></p>
<p><strong><br />
Tidak Ada Reformasi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;">Menurut Gus Iim, reformasi Indonesia sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah peristiwa penjatuhan Soeharto oleh Amerika Serikat. Menurutnya, pasca perang dingin Amerika sudah tidak perlu lagi “centeng” di beberapa negara, termasuk Soeharto.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;">&#8220;Gelombang demokratisasi itu sebenarnya tidak ada. yang ada adalah cerita bahwa Amerika sedang sibuk membawa pembaharuan pengelolaan ekonomi di negara kaya minyak dan mineral,” katanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span style="font-size:13pt;"><br />
Bersamaan dengan itu kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap sudah tidak dibutuhkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;">Dikatakannya, sebelumnya memang dimunculkan dikotomi Islam tradisionalis dan Islam modernis. Islam yang tradisionalis dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) disingkirkan. Kelompok yang identik dengan kaum sarungan ini dianggap tidak layak turut serta dalam pembangunan ekonomi sehingga dianggap tidak berhak mendapatkan akses.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:13pt;">Namun, lanjut Gus Iim, meski tak mendapat akses langsung, kelompok tradisionalis bergerak dan berkembang terus. Anak-anak dari kelompok sarungan ini belajar berbagai macam disiplin ilmu, selain ilmu keagamaan, sehingga bisa beraktifitas di mana-mana. (Alf/Diolah dari NUOnline)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;">Sumber: <a href="http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&#38;sub=14&#38;id=920">http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&#38;sub=14&#38;id=920</a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimana sejarah Hizbut Tahrir ke Indoneisia?  ]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/11/28/bagaimana-sejarah-hizbut-tahrir-ke-indoneisia/</link>
<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 12:47:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/11/28/bagaimana-sejarah-hizbut-tahrir-ke-indoneisia/</guid>
<description><![CDATA[Di Yordan, Organisasi Terlarang, Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir (1) NU belakangan ini mengaku d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--><strong><span style="font-size:13pt;">Di Yordan, Organisasi Terlarang, Meneropong Pergerakan Hizbut Tahrir (1)</span></strong></p>
<p><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">NU belakangan ini mengaku didatangi aktivis Hizbut Tahrir<br />
Indonesia (HTI). Para aktivis HTI itu selain membagikan brosur juga mengajak<br />
kiai masuk kelompok mereka. Diantara kiai itu adalah KH Ahmad Muhammad<br />
Alhammad, pengasuh pesantren Qomaruddin Bungah Gresik. “Saya katakan kepada mereka, saya ini NU, tak mungkin ikut paham sampean,” kata Yai Mad -<br />
panggilan kiai berparas teduh itu &#8211; kepada sejumlah tamunya suatu ketika. “<br />
Brosur-brosurnya ada tapi tidak saya baca,” tuturnya lagi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;"><span style="font-size:13pt;">Pengurus NU di berbagai daerah, termasuk PWNU Jawa Timur, juga mengaku<br />
sering mendapat pengaduan dari warga NU soal aktivis HTI yang berusaha<br />
mempengaruhi warga nahdliyin. Bahkan dalam Munas dan Mubes NU di Asrama Haji Sukolilo Surabaya tempo hari para aktvis HTI masuk ke kamar-kamar peserta<br />
membagikan selebaran. Jargon mereka &#8211; seperti biasa -khalifah sebagai<br />
solusi. Belum lagi beberapa masjid NU yang jadi sasaran mereka.<br />
Karuan saja banyak kiai penasaran. Gerakan apa sebenarnya HTI? Bagaimana<br />
asal-usulnya? </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;"><span style="font-size:13pt;">Berikut wawancara HARIAN BANGSA dengan KH Imam Ghazali Said,<br />
MA, cendekiawan muslim yang banyak mengamati gerakan Islam radikal. Pengasuh pesantren mahasiswa An-Nur Wonocolo ini memang sangat paham soal berbagai gerakan Islam, terutama yang berasal dari Timur Tengah. Ia selain banyak menulis dan mengoleksi leteratur Islam aliran keras juga bertahun-tahun<br />
studi di Timur Tengah. Ia mendapat gelar S-1- di Universitas Al-Azhar Mesir,<br />
sedang S-2 di Hartoum International Institute Sudan. Kemudian ia melanjutkan<br />
ke S-3 di Kairo University Mesir. Kini intelektual muslim ini aktif sebagai<br />
Rois Syuriah PCNU Surabaya dan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;"><!--[if gte vml 1]&#62;                  &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><!--more--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p style="text-align:justify;"><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p><!--more--></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;">Bisa Anda jelaskan bagaimana sejarah gerakan Islam aliran keras yang<br />
belakangan menjadi perhatian para kiai NU?</span></strong></p>
<p><span style="font-size:13pt;">Sebenarnya kelompok besarnya itu Ikhwanul Muslimin yang pusatnya di<br />
Ismailiah, Mesir. Organisasi ini berdiri pada 1928, dua tahun setelah NU<br />
berdiri, NU kan berdiri 1926. Pendiri Ikhwanul Muslimin Syaikh Hasan<br />
Al-Banna. Menurut saya, pemikiran Syaikh Hasan Al-Banna ini moderat. Dia<br />
berusaha mengakomodasi kelompok salafy yang wahabi, merangkul kelompok<br />
tradisional yang mungkin perilaku keagamaannya sama dengan NU dan juga<br />
merangkul kelompok pembaharu yang dipengaruhi oleh Muhammad Abduh. Syaikh<br />
Al-Banna menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin itu harkah islamiyah, sunniyah,<br />
salafiyah, jadi diakomodasi semua, sehingga ikhwanul muslimin menjadi besar.<br />
Dalam Ikhwanul Muslimin ada lembaga bernama Tandhimul Jihad. Yaitu institusi<br />
jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimin yang sangat rahasia. Kader yang<br />
berada dalam Tandhimul Jihad ini dilatih militer betul, doktrinnya pakai<br />
kesetiaan seperti tarikat kepada mursyid. Ini dibawah komando langsung<br />
Ikhwanul Muslimin. Para militer atau milisi ini menarik kelompok-kelompok<br />
sekuler yang ingin belajar tentang disiplin militer. Nasser (Gammal Nasser,<br />
red) dan Sadat (Anwar Sadat, red) juga belajar pada Tandhimul Jihad ini.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;">Apa Nasser dan Sadat yang kemudian jadi presiden Mesir itu bagian dari<br />
Ikhwanul Muslimin?</span></strong></p>
<p><span style="font-size:13pt;">Mereka bagian dari militernya, bukan dari ideologi Ikhwanul Muslimin. Jadi<br />
mereka belajar aspek militernya. Ketika pada 1948 Israel mempermaklumkan<br />
sebagai negara maka terjadi perang. Nah, Tandhimul Jihad ini ikut perang,<br />
dan kelompok ini yang punya prakarsa-prakarsa. Waktu itu Mesir kan masih<br />
dibawah kerajaan Raja Faruk dan sistemnya masih perdana menteri, Nugrasi.<br />
Tapi akhirnya Arab kalah dan Israel berdiri. Kemudian Tandhimul Jihad balik<br />
lagi ke Mesir. Nah, dalam kelompok ini ada Taqiuddin Nabhani yang kemudian<br />
mendirikan Hizbut Tahrir. Jadi Taqiuddin itu awalnya bagian dari Ikhwanul<br />
Muslimin. Namun antara Hasan Al-Banna dan Taqiuddin ini kemudian terjadi<br />
perbedaan. Hasan Al-Banna berprinsip kita terus melakukan perjuangan dan<br />
memperbaiki sumber daya manusia. Sedang Taqiuddin bersikukuh agar terus<br />
melakukan perjuangan bersenjata, militer. Taqiuddin berpendapat kekalahan<br />
Arab atau Islam karena dijajah oleh sistem politik demokrasi dan<br />
nasionalisme. Sedang Hasan Al-Banna berpendapat sebaliknya. Menurut dia,<br />
tidak masalah umat Islam menerima sistem demokrasi dan nasionalisme, yang<br />
penting kehidupan syariat Islam berjalan dalam suatu negara.<br />
Pada 1949 Hasan Al-Banna meninggal karena ditembak agen pemerintah dan<br />
dianggap syahid. Sedang Taqiuddin terus berkampanye di kelompoknya di Syria,<br />
Libanon dan Yordania.<br />
Kemudian Tandhimul Jihad diambil alih Sayid Qutub, ideolognya Ikhwanul<br />
Muslimin. Ia dikenal sebagai sastrawan dan penulis produktif, termasuk<br />
tafsir yang banyak dibaca oleh kita di Indonesia. Nah, Sayid Qutub ini<br />
mendatangi Taqiuddin agar secara ideologi tetap di Ikhwanul Muslimin. Tapi<br />
Taqiuddin tidak mau karena ia beranggapan bahwa Ikhwanul Muslimin sudah<br />
masuk lingkaran jahiliyah. Ya, itu menurut Taqiuddin hanya gara-gara<br />
Ikhwanul Muslimin menerima nasionalisme. Akhirnya Taqiuddin mendirikan<br />
Hizbut Tahrir. Artinya, partai pembebasan. Maksudnya, pembebasan kaum<br />
muslimin dari cengkraman Barat dan dalam jangka dekat membebaskan Palestina<br />
dari Israel. Itu pada mulanya.<br />
Ia mengonsep ideologi khilafah Islamiyah.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;">Lantas?</span></strong></p>
<p><span style="font-size:13pt;">Nah, karena ia berideologi khilafah Islamiyah, sementara di negaranya<br />
sendiri telah berdiri negara nasional, maka akhirnya berbeda dengan<br />
masyarakatnya. Di Lebanon, sudah berdiri negara nasionalis yang multi karena<br />
rakyatnya terdiri dari banyak agama, undang-undangnya sesuai jumlah<br />
penduduknya, misalnya, presidennya, harus orang Kristen Maronit, Perdana<br />
Menterinya harus orang Islam Sunni, ketua parlemennya harus orang Islam<br />
Syiah. Di Syiria juga telah menjadi negara sosialis, begitu juga Yordania<br />
telah berdiri sebagai negara sesuai kondisi masyarakatnya.<br />
Akhirnya Hizbut Tahrir itu menjadi organisasi terlarang (OT) di negara asal<br />
berdirinya. Karena ia menganggap nasionalisme itu sebagai jahiliah modern.<br />
Namun meski menjadi organisasi terlarang Hizbut Tahrir tetap bekerja dan<br />
menyusup ke tentara, ke berbagai organisasi profesi dan masuk juga ke<br />
parlemen. Hizbut Tahrir masuk ke partai politik dengan menyembunyikan<br />
identitasnya. Dari situlah kemudian terjadi upaya-upaya untuk melakukan<br />
kudeta terhadap pemerintah yang sah pada jaman Raja Husen. Sehingga sebagian<br />
anggota Hizbut Tahrir diajukan ke pengadilan dan dihukum mati. Sampai<br />
sekarang Hizbut Tahrir masih jadi organisasi terlarang di Yordania.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;">Bagaimana sejarahnya sampai ke Indonesia?</span></strong></p>
<p><span style="font-size:13pt;">Mereka mengembangkan ke sini melalui mahasiswa yang belajar di Mesir. Pola<br />
ikhwan dikembangkan, pola Salafy dan pola Hizbut Tahrir dikembangkan. Tapi<br />
antara Ikhwan, Salafy dan Hizbut Tahrir secara ideologi bertemu, ada<br />
kesamaan. Mereka sama-sama ingin menerapkan formalisasi syariat Islam. Hanya<br />
bedanya, kalau Salafy cenderung ke peribadatan, atau dalam bahasa lain<br />
mengislamkan orang Islam, karena dianggap belum Islam. Dan target utamanya<br />
NU karena dianggap sarangnya bid’ah.ha.ha. ha.. Bisa saja kelompok Salafy,<br />
Hizbut Tahrir dan Ikwanul Muslimin membantah, tapi saya tahu karena saya<br />
telah berkumpul dengan mereka.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;">Kalau Ikhwanul Muslimin?<br />
</span></strong><span style="font-size:13pt;">Sama. Kelompok Ikhwanul Muslimin, menjadikan NU sebagai target. Mereka<br />
bergerak lewat mahasiswanya yang dinamakan usrah (keluarga). Usrah ini<br />
minimal 7 orang, dan maksimal 10 orang. Ini ada amirnya dan amir inilah yang<br />
bertanggungjawab terhadap kelompok. Bagaimana mengatasi kebutuhan kehidupan<br />
sehari-hari terpenuhi, misalnya kalau ada anggota yang kesulitan bayar SPP.<br />
Jadi mereka tak hanya bergerak di bidang politik, tapi juga bidang-bidang<br />
lain. Nah, kelompok inilah yang kemudian menamakan diri sebagai Tarbiyah<br />
yang bermarkas di kampus-kampus seperti Unesa dan sebagainya. Kelompok<br />
Tarbiyah inilah yang menjadi cikal bakal PKS (Partai Keadilan Sejahtera).<br />
Mereka umumnya alumni Mesir, Syiria atau Saudi. Kelompok ini masih agak<br />
moderat karena masih mau menerima negara nasional. Tapi substansi perjuangan<br />
formalisasi syariat sama dengan Hizbut Tahrir atau Salafy.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;">Kalau dalam ideologi khilafah Islamiyah?</span></strong></p>
<p><span style="font-size:13pt;">Hizbut Tahrir katemu dengan Salafy dan Ikhwanul Muslimin dalam soal<br />
formalisasi syariat. Tapi dari segi sistem khilafahnya tidak ketemu. Sebab<br />
khilafah Islamiyah itu dianggap utopia. Misalnya bagaimana denganya sistem<br />
Syuronya, apakah meniru sistem Turki Utsmani yang diktator atau Umayah, itu<br />
masih problem. Tapi bagi Hizbut Tahrir yang penting khilafah Islamiyah.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;">Apa saja program Hizbut Tahrir?<br />
</span></strong><span style="font-size:13pt;">Mereka sampai kini punya konstitusi yang terdiri dari 187 pasal. Dalam<br />
konstitusi ini ada program-program jangka pendek. Yaitu dalam jangka 13<br />
tahun, menurut Taqiuddin, sejak berdiri 1953, Negara Arab itu sudah harus<br />
jadi sistem Islam dan sudah ada khalifah. Taqiuddin juga menarget, setelah<br />
30 tahun dunia Islam sudah harus punya khalifah. Tapi kalau kita hitung<br />
sejak tahun 1953 sampai sekarang kan tidak teralisir.he. .he..he.. Jadi<br />
utopia, tapi mereka masih semangat.</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;">Itu melalui orang Libanon. Namanya Abdurrahman Al-Baghdadi. Ia bermukim di<br />
Jakarta pada tahun 80-an. Kemudian juga dibawa Mustofa bin Abdullah bin Nuh.<br />
Inilah yang mendidik tokoh-tokoh HTI di Indonesia seperti Ismail Yusanto,<br />
tokoh-tokoh Hizbut Tahrir sekarang. Tapi sebenarnya diantara mereka ada<br />
friksi. Karena tokoh-tokoh HTI yang sekarang merasa dilangkahi oleh Ismail<br />
Yusanto ini.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;">Bagaimana gerakan mereka di Indonesia?<br />
</span></strong><span style="font-size:13pt;">Ini anehnya. Di Indonesia mereka terus terang menganggap Pancasila jahiliah.<br />
Nasionalisme bagi mereka jahiliah. Tapi reformasi kan memberi angin kepada<br />
kelompok-kelompok ini sehingga dibiarkan saja. Dan tidak ada dialog.<br />
Akhirnya mereka memanfaatkan institusi (seolah-olah) “mendukung” pemerintah<br />
untuk mempengaruhi MUI (Majelis Ulama Indonesia). Tapi mereka taqiah<br />
(menyembunyikan agenda perjuangan aslinya), sebab mereka menganggap<br />
Indonesia itu sebenarnya jahiliah. Taqiah itu ideologi Syiah tapi dipakai<br />
oleh mereka.<br />
Nah, bagaimana respon tokoh Hizbut Tahrir? Ikuti lanjutan serial ini besok<br />
dan seterusnya(bersambung)</span></p>
<h3><span style="font-size:13pt;">Sumber: <em>Harian Bangsa, tanggal belum terlacak</em>.</span></h3>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pidato Bung Tomo pada Peristiwa 10 November 1945]]></title>
<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/29/pidato-bung-tomo-pada-peristiwa-10-november-1945/</link>
<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 10:06:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>mazhida</dc:creator>
<guid>http://mazhida.wordpress.com/2008/10/29/pidato-bung-tomo-pada-peristiwa-10-november-1945/</guid>
<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim&#8230; Merdeka!!! Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em><a href="http://mazhida.wordpress.com/files/2008/10/bung-tomo.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-256" title="bung-tomo" src="http://mazhida.wordpress.com/files/2008/10/bung-tomo.jpg" alt="" width="90" height="152" /></a>Bismillahirrahmanirrahim&#8230;</em></p>
<p>Merdeka!!!</p>
<p>Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia, teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja.</p>
<p>Kita semoeanja telah mengetahoei bahwa hari ini tentara Inggris telah menjebarkan pamflet-pamflet jang memberikan soeatoe antjaman kepada kita semoea. Kita diwadjibkan oentoek <!--more-->dalam waktoe jang mereka tentoekan, menjerahkan sendjata-sendjata jang kita reboet dari tentara djepang.</p>
<p>Mereka telah minta supaja kita datang pada mereka itoe dengan mengangkat tangan. Mereka telah minta supaja kita semoea datang kepada mereka itoe dengan membawa bendera poetih tanda menjerah kepada mereka.</p>
<p>Saoedara-saoedara, didalam pertempoeran-pertempoeran jang lampaoe, kita sekalian telah menundjukkan bahwa ra’jat Indonesia di Soerabaja pemoeda-pemoeda jang berasal dari Maloekoe, pemoeda-pemoeda jang berasal dari Soelawesi, pemoeda pemoeda jang berasal dari Poelaoe Bali, pemoeda-pemoeda jang berasal dari Kalimantan, pemoeda-pemoeda dari seloeroeh Soematera, pemoeda Atjeh, pemoeda Tapanoeli &#38; seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini, di dalam pasoekan-pasoekan mereka masing-masing dengan pasoekan-pasoekan ra’jat jang dibentuk di kampoeng kampoeng, telah menoenjoekkan satoe pertahanan jang tidak bisa didjebol, telah menoenjoekkan satoe kekoeatan sehingga mereka itoe terdjepit di mana-mana.</p>
<p>Hanja karena taktik jang litjik daripada mereka itoe, saoedara-saoedara. Dengan mendatangkan presiden &#38; pemimpin-pemimpin lainnja ke Soerabaja ini, maka kita toendoek oentoek menghentikan pertempoeran. Tetapi pada masa itoe mereka telah memperkoeat diri, dan setelah koeat sekarang inilah keadaannja.</p>
<p>Saoedara-saoedara, kita semuanja, kita bangsa Indonesia jang ada di Soerabaja ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini. Dan kalaoe pimpinan tentara Inggris jang ada di Soerabaja ingin mendengarkan djawaban ra’jat Indonesia, ingin mendengarkan djawaban seloeroeh pemoeda Indonesia jang ada di Soerabaja ini. Dengarkanlah ini hai tentara Inggris, ini djawaban ra’jat Soerabaja ini djawaban pemoeda Indonesia kepada kaoe sekalian.</p>
<p>Hai tentara Inggris!, kaoe menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera poetih takloek kepadamoe, menjuruh kita mengangkat tangan datang kepadamoe, kaoe menjoeroeh kita membawa sendjata-sendjata jang kita rampas dari djepang oentoek diserahkan kepadamoe.</p>
<p>Toentoetan itoe walaoepoen kita tahoe bahwa kaoe sekalian akan mengantjam kita oentoek menggempoer kita dengan seloeroeh kekoeatan jang ada, Tetapi inilah djawaban kita: Selama banteng-banteng Indonesia masih mempoenjai darah merah jang dapat membikin setjarik kain poetih mendjadi merah &#38; putih, maka selama itoe tidak akan kita maoe menjerah kepada siapapoen djuga!</p>
<p>Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja, siaplah keadaan genting tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak, baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.</p>
<p>Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka. Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka. Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.</p>
<p>Dan kita jakin, saoedara-saoedara, pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian.</p>
<p>Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar!</p>
<p>MERDEKA!!!</p>
<p>Dikutip dari Radar Surabaya, 29 Oktober 2008</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mereka Memilih Islam]]></title>
<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/26/mereka-memilih-islam/</link>
<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 04:32:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>mazhida</dc:creator>
<guid>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/26/mereka-memilih-islam/</guid>
<description><![CDATA[London (ANTARA News) &#8211; Dalam ruang tamu teras rumah di London Utara, Islington, dengan terbata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>London (ANTARA News) &#8211; Dalam ruang tamu teras rumah di London Utara, Islington, dengan terbata-bata Tony, pria Inggris, belajar mengaji dengan metode <em>Iqro&#8217; </em>dibimbing Muhammad Hilaal Abubakar, pria kelahiran Singapura yang beribu asal Yogyakarta. <!--more--></p>
<p>Sore itu, di tengah hujan rintik-rintik, Tony yang baru masuk Islam beberapa bulan lalu bertekad untuk belajar dan mengetahui lebih banyak mengenai Islam.</p>
<p>Sejak kejadian pemboman di Kota London, 7 Juli 2005, dan gencarnya media massa memojokan Muslim dan Islam tidak menyurut keinginan masyarakat Inggris dan lainnya mencari tahu mengenai agama yang dianggap jahat dan teroris ini.</p>
<p>Di ruang tamu yang tidak terlalu luas itu, selain Tony dan Gaffar asal Inggris, juga ada Ciraan dan Cullan, keduanya dari Irlandia. Juga wanita semampai Aisya dari Ceko yang baru tamat belajar <em>Iqro&#8217;</em>, buku kecil metode belajar Al-Qur&#8217;an yang diterbitkan di Indonesia.</p>
<p>Buku <em>Iqro&#8217;</em> yang biasa digunakan mereka yang baru belajar membaca Al-Qur&#8217;an di tanah air itu digunakan Hilaal untuk mengenalkan dan membaca ayat-ayat suci Al-Qu&#8217;ran.</p>
<p>Ahli hukum itu mendirikan komunitas pengajian &#8220;Step to Allah&#8221;, yang khusus ditujukan bagi kaum muallaf dari berbagai negara dan warna untuk belajar dasar-dasar rukun agama Islam serta fondasi tauhid dan aqidah.</p>
<p>Banyak pria lain seperti Lukman, pria Inggris asal Lagos, dan James, yang kini menjadi Jamal, mengikuti pengajian dua mingguan di ruang tamu rumah Hilaal tersebut. Pengajian yang bermula dari acara minum kopi kelompok Laywers muda di perusahaan Advokasi di kawasan Euston, London.</p>
<p>Mereka adalah Mohammad Hilaal, Simon, Farhana, Yunus dan lainnya sering berkumpul untuk makan bersama atau sekedar minum kopi yang akhirnya membentuk kelompok pengajian.</p>
<p>Acara minum kopi memberikan inspirasi bagi Hilaal untuk membuat suatu pengajian kecil-kecilan yang kini berkembang dan bahkan mereka juga melakukan umroh bersama.</p>
<p>Pengajian yang dimulai ba`da Asyar, Hilaal yang sebelumnya tidak pernah belajar bagaimana berdakwah memberikan ceramah mengenai Islam dan melakukan shalat bersama dan diakhiri makan malam.</p>
<p>Meskipun ia bukan seorang pendakwah, Hilaal yang merupakan seorang ahli hukum yang dulunya adalah seorang dokter gigi dengan mahirnya menyampaikan ajaran Muhammad kepada muallaf Inggris.</p>
<p>Berkumpul bersama sambil mempelajari Islam dan yang telah melahirkan rasa persaudaraandan keakraban di antara mereka.<br />
<strong>Dari Hukum ke Agama</strong></p>
<p>Tidak pernah terfikir dibenak Hilaal di saat ia harus menterjemahkan bahasa agama dalam bahasa Inggris dari bahasa Melayu.</p>
<p>Menurutnya cukup pening mempelajari bahasa-bahasa hukum yang tengah ia geluti saat itu. Karenanya, tak pernah terlintas bahwa ia akan berhadapan dengan orang-orang atau teman-temannya yang bertanya dan minat tentang agama Islam.</p>
<p>Hilaal, seperti kebanyakan kaum muda yang hari-harinya sibuk bekerja membina karir, rasa-rasanya tak mungkin melakukan kegiatan ekstra di akhir pekan sampai pada suatu hari ia dituntut oleh suatu keadaan.</p>
<p>Simon teman seprofesi sering main ke rumah begitu tertarik tentang Islam. Buku-buku, leaflet, literature tentang Islam yang bertumpuk dirak buku atau meja kecil di ruang tamu itu menarik bagi Simon.</p>
<p>Konon Simon, pada saat itu tidak memiliki agama apapun, ia meminta ijin pada Hilaal untuk membawa pulang beberapa literatur agama Islam dan ia juga banyak bertanya karena begitu minatnya dengan Islam.</p>
<p>Hal ini membuat Hilaal terpaksa belajar istilah agama Islam dalam bahasa Inggris, yang membuatnya tertantang.</p>
<p>Selang beberapa pekan Simon begitu yakin dengan agama Islam, lalu ia meminta Hilaal untuk menemani dan mengantarnya untuk bersyahadat, pergilah mereka ke masjid besar Regent Park Mosque, di Park Road, London.</p>
<p>Usai bersyahadat Imam masjid menyarankan untuk bergabung dengan &#8220;Islamic Circle&#8221; mendengarkan ceramah yang berlangsung setiap hari Sabtu diselenggarakan di mesjid raya London itu.</p>
<p>Hilaal pun merasa bertanggung jawab mendampingi Simon yang berganti nama menjadi Syaiful. Ia mengajarinya bagaimana berwudhu, shalat, melafazkan surat-surat pendek saat shalat serta doa-doa yang mudah.</p>
<p>Di masjid, Hilaal banyak bertemu dengan para muallaf baik yang muda, setengah baya dan ia merasa banyak teman dan terasa bersaudaraan yang mendalam di antara mereka.</p>
<p>Seringnya mereka berteman dengan kelompok yang berjumlah enam orang ini, sambil berdiskusi dan belajar agama terbesitlah untuk membentuk sebuah peguyuban, &#8220;circle&#8221; atau pengajian untuk belajar agama.</p>
<p>Di kelompok itu tidak semua muallaf, bahkan ada yang lahir Muslim, namun tidak mempraktikkan shalat dan puasa dengan ikut pengajian mereka mulai shalat dan belajar agama Islam.</p>
<p>Datanglah James, Jason, Peter, Gavin, Stewart dan sebagainya yang kini namanya berubah. Jamal adalah nama yang paling banyak disukai muallaf Inggris yang kebanyakan berasal dari James.</p>
<p>Kelompok yang berjumlah enam orang membengkak dan kian membesar hingga mencapai 25-30 orang.</p>
<p>Akhirnya terbentuklah pengajian kecil yang diselenggarakan setiap hari Ahad atau Minggu yang juga kunjungan rutin ke masjid setiap hari Sabtu untuk mendengar ceramah dari para ustadz yang yang datang dari berbagai bangsa dan banyak memilki ilmu agama.</p>
<p>Menurut Nizma Agustjik yang dari awal pembentukan pengajian ikut membantu penuh mengatakan tadinya mereka tidak berminat untuk diberi nama untuk kelompok pengajian.<br />
<strong>Umroh Bersama </strong></p>
<p>Mereka juga sepakat untuk memberi nama kelompok pengajian dengan nama &#8220;Langkah Menuju Allah&#8221; atau &#8220;Steps to Allah&#8221; dan sekaligus mereka mendirikan mailing list terbentuk di pekan ketiga Mei 2006.</p>
<p>Saat ini menurut Nizma, &#8220;Steps to Allah&#8221; akan mencapai tiga tahun pada bulan Desember tahun ini dan anggotanya berjumlah 79 walaupun tidak selau datang semua.</p>
<p>&#8220;Saya tidak perlu kuantitas, jamaah yang banyak, namun kualitas adalah yang saya tekankan,&#8221; ujar Hilaal.</p>
<p>Keseharian Hilaal yang penuh dedikasi terhadap kegiatan dakwahnya yang cukup unik. Dia selalu berada di masjid usai bekerja untuk shalat maghrib lalu dilanjutkan mengajar Iqro dari buku Iqro Indonesia pada teman-teman muallaf hingga beberapa muridnya telah tamat dan bisa membaca Juz`ama.</p>
<p>Ramadhan tahun lalu Hilaal memimpin rombongan kecil sejumlah 12 orang untuk melakukan umrah pada 10 hari terakhir dan dirasakan bagaimana indahnya melakukan umrah bersama mereka.</p>
<p>Mereka begitu bersemangat melakukan ibadah dan berupaya berada di garis terdepan pada saat shalat, baik di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram, Mekkah. Yang lebih uniknya lagi di antara mereka ada yang baru pertama kali melakukan ibadah puasa.</p>
<p>Rombongan ini terdiri dari empat orang Inggeris, dua asal Filipina dan masing masing seorang dari Afrika, Malaysia dan Indonesia serta Bangladesh.</p>
<p>Pada bulan Ramadhan tahun ini merupakan penyelenggaraan umroh kedua yang berjumlah 14 orang yang dipimpinnya yang juga dilakukan pada sepuluh hari terakhir, di antaranya Miya, wanita Indonesia dengan sang suami muallaf, Amin asal Belgia. (*)</p>
<p>Laporan Zeynita Gibbons, kontributor Antara.</p>
<p>© 2008 ANTARA.</p>
<p>Sumber: <a href="http://news.antara.co.id/arc/2008/9/21/mereka-memilih-islam/">http://news.antara.co.id/arc/2008/9/21/mereka-memilih-islam/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dengarlah Al Quran di Perjalanan]]></title>
<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/24/dengarlah-al-quran-di-perjalanan/</link>
<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 04:35:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>mazhida</dc:creator>
<guid>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/24/dengarlah-al-quran-di-perjalanan/</guid>
<description><![CDATA[Sebentar lagi perjalanan mudik akan ditempuh jutaan orang ke berbagai penjuru. Dalam perjalanan panj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sebentar lagi perjalanan mudik akan ditempuh jutaan orang ke berbagai penjuru. Dalam perjalanan panjang itu, boleh jadi tubuh akan lelah dan pikiran terbelah. Saat mengalami itu, apa obat penawarnya?<!--more--></p>
<p>Dosen Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Yohan Kurniawan, menganjurkan pemudik mendengarkan Al Quran. &#8220;Banyak orang bertanya-tanya kenapa saya yang beragama Katolik dan mengajar di universitas Katolik ini menganjurkan itu,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebagai ilmuwan, ia tentu tidak asal menganjurkan. Jemaat Gereja Santa Maria Tak Bercela di kawasan Ngagel Surabaya ini punya setumpuk bukti ilmiah untuk menguatkan anjuran itu. &#8220;Semua saya kumpulkan saat menyelesaikan disertasi di Universiti Kebangsaan Malaysia,&#8221; katanya.</p>
<p>Sebenarnya ia dan rekan-rekannya di sana dikontrak untuk meneliti kelelahan pengemudi dan dampaknya. Dalam tim itu, ia kebagian tugas mencari terapi mengatasi kelelahan dan mempertahankan konsentrasi pengemudi. &#8220;Waktu mencari terapi, saya baca salah satu penelitian di Eropa,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Penelitian itu terfokus pada dampak penyebutan Allah pada orang-orang depresi. Pada obyek penelitian ditemukan efek ketenangan setiap kata itu disebut. Oleh karena itu, Yohan mengusulkan ini dipakai sebagai salah satu terapi.</p>
<p>Selain karena alasan penelitian itu, ia juga ingin menyesuaikan dengan kultur masyarakat tempat ia meneliti. Di Malaysia, kultur Islam amat kental sehingga penelitiannya akan lebih mudah.</p>
<p>Para subyek penelitiannya di Malaysia menunjukkan gejala sama. Dengan mendengarkan pembacaan Al Quran saat mengemudi, subyek cenderung lebih tenang. Dengan mendengar ayat-ayat Al Quran, pengemudi cenderung lebih tenang sehingga lebih bisa mengendalikan diri. Pengemudi yang tenang cenderung tidak cepat lelah dan lebih berkonsentrasi saat mengemudi.</p>
<p>Tidak seluruh surat dan ayat dipakai dalam penelitian itu. Ia hanya memperdengarkan pembacaan Al Fatihah, Al Baqarah, dan Yasin. &#8220;Efeknya nyaris sama. Semua memberikan efek ketenangan. Saya mencatat ada beberapa ayat yang memberikan efek penenang. Beberapa ayat lagi memberi efek penyemangat bagi pendengarnya,&#8221; ujarnya.</p>
<p><strong>Lebih Rileks</strong></p>
<p>Yohan mengungkapkan, sebenarnya ide penggunaan ayat itu tidak jauh berbeda dengan penggunaan musik. Mereka yang mendengarkan musik kesukaan bisa lebih rileks. &#8220;Orang yang tenang secara psikologis cenderung lebih lambat lelah daripada mereka yang cemas, tidak sabar, emosi tinggi. Luapan emosi amat menguras energi,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ketenangan itu penting karena saat mudik ada dua kondisi pemercepat orang lelah. Pertama, puasa membuat daya tahan tubuh menurun. Orang cenderung lebih mudah marah saat daya tahan tubuh menurun. Alasan kedua, perjalanan jauh sudah pasti melelahkan. &#8220;Nah, saat puasa juga dianjurkan membaca atau setidaknya mendengarkan pembacaan Al Quran. Hasilnya, ketenangan selama perjalanan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Karena itu, ia menganjurkan pengemudi jarak jauh seperti untuk mudik membawa beberapa kaset Al Quran. Selain kaset mengaji, bisa juga dipilih kaset lagu-lagu rohani. &#8220;Pada prinsipnya semua jenis lagu yang disenangi bisa menjadi penenang dalam perjalanan. Saya menyarankan lagu-lagu bertempo sedang hingga cepat untuk disetel dalam perjalanan,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ia juga menemukan, respons pengemudi terhadap fenomena di jalan menurun setelah mengemudi beberapa waktu. Dalam penelitian itu terungkap bahwa pengemudi baru merespons apa yang dilihatnya dalam waktu hingga 1,8 detik setelah mengemudi selama dua jam tanpa henti. &#8220;Semakin lama waktu respons, semakin tinggi risiko kecelakaan. Sebaiknya pengemudi beristirahat 15 menit setelah mengemudi selama dua jam,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Bagi mereka yang mengantuk, bisa diatasi dengan terapi bau. Untuk menghilangkan kantuk awalnya digunakan bau busuk selama 10 detik. Setelah itu pengemudi diciumkan bau-bauan yang wangi untuk menyegarkan kondisinya. Orang mengantuk segera waspada jika mencium bau busuk. Namun, kalau terus mencium bau busuk bisa mengganggu kesehatan. Karena itu perlu segera diberi bau wangi sebagai penyegar.</p>
<p>Jadi, bila Anda hendak mudik, jangan lupa membawa beberapa kaset berisi ayat Al Quran. Putarlah saat dalam perjalanan. Jiwa tenang dan insya Allah mendapatkan pahala serta perjalanan Anda diberkahi.</p>
<p> </p>
<p><strong>Mada, Kris Razianto</strong></p>
<p>Dapatkan artikel ini di URL:</p>
<p>http://entertainment.kompas.com/read/xml/2008/09/24/11011162/dengarlah.al.quran.di.perjalanan</p>
<p>RABU, 24 SEPTEMBER 2008 &#124; 11:01 WIB</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pondok Pesantren Tebuireng Berbenah Menjawab Tantangan Zaman]]></title>
<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/20/pondok-pesantren-tebuireng-berbenah-menjawab-tantangan-zaman/</link>
<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 12:55:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>mazhida</dc:creator>
<guid>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/20/pondok-pesantren-tebuireng-berbenah-menjawab-tantangan-zaman/</guid>
<description><![CDATA[Pondok Pesantren Tebuireng telah berumur lebih dari satu abad. Sejak didirikan Hadratus Syaikh Hasyi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pondok Pesantren Tebuireng telah berumur lebih dari satu abad. Sejak didirikan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pada 1899, Tebuireng telah melahirkan banyak tokoh yang memberi warna tersendiri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kini, di tangan generasi ketiga, pesantren ini berbenah menjawab tantangan zaman.</p>
<p><!--more-->Tebuireng hanyalah nama sebuah dusun. Lokasinya sekitar delapan kilometer arah selatan pusat kota Jombang. Dulunya, dusun yang bertetangga dengan Pabrik Gula Tjoekir ini dikenal sebagai sarang bromocorah, penjudi dan pelacur.</p>
<p>Perlahan tapi pasti, kondisi itu berubah sejak berdirinya pondok pesantren di dusun tersebut. Tebuireng pun identik dengan pondok pesantren ini. Kawasan yang semula dikenal sebagai sarang “dunia hitam” ini kemudian berubah menjadi salah satu sentrum dakwah Islam di Indonesia. Tidak sedikit ulama besar dan tokoh Nahdlatul Ulama yang pernah mengenyam pendidikan di tempat ini. Tebuireng tidak hanya dikenal luas di Indonesia, tapi sudah mendunia.</p>
<p>Hal itu tidak terlalu mengherankan. Sebab, KH Moh Hasyim Asy’ari, pendiri pondok pesantren ini, adalah salah satu penggagas dan rais syuriah pertama Nahdlatul Ulama. Bahkan, kiai yang dijuluki sebagai Hadratus Syaikh ini adalah satu-satunya rais syuriah yang mendapatkan gelar Rais Akbar Nahdlatul Ulama.</p>
<p><strong>Sempat Ditentang</strong></p>
<p>Didirikan pada 1899 M, pondok pesantren ini awalnya menempati lahan seluas 200 meter persegi. Di atas tanah yang dibeli dari seorang dalang terkenal tersebut, Kiai Hasyim mendirikan sebuah pondok berbentuk bujur sangkar yang disekat menjadi dua bagian. Bagian belakang ditempati Kiai Hasyim bersama keluarga, sedangkan bagian lainnya untuk tempat salat dan belajar santri yang berjumlah 28 orang.</p>
<p>Merasa terusik dengan kehadiran pondok pesantren ini, beberapa warga sekitar sempat menentang dan berusaha mengganggu ketenangan Kiai Hasyim dan santrinya. Dalam menghadapi gangguan warga yang dibantu oleh Belanda tersebut, Kiai Hasyim dibantu oleh Kiai Abbas dari Pesantren Buntet, Cirebon. Hasilnya, warga yang mengganggu akhirnya kapok. Pondok Pesantren Tebuireng pun mendapat pengakuan dari Pemerintah Hindia Belanda pada 16 Rabiul Awal 1324 H, bertepatan dengan 6 Februari 1899 M.</p>
<p>Sebagaimana lazimnya pesantren pada waktu itu, sistem pengajaran di Tebuireng pada awalnya juga menggunakan metode sorogan (santri membaca materi kitab kuning di hadapan guru/kiai) dan bandongan (guru/kiai membaca kitab dan santri memberi makna).</p>
<p>Seiring tuntutan zaman, pondok pesantren yang dihuni oleh sekitar 2000 santri ini juga mulai mengadopsi sistem madrasi atau klasikal. Pada 1919, Tebuireng mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah Syafi’iyah. Sistem pengajaran di madrasah ini dibagi menjadi dua tingkat, yaitu Shifir Awal dan Shifir Tsani.</p>
<p>Pada 1929, Tebuireng membuat gebrakan yang cukup revolusioner dengan memasukkan pelajaran umum ke dalam struktur kurikulumnya. Sebuah langkah yang belum pernah diambil oleh pesantren manapun pada saat itu.</p>
<p>Gebrakan ini kemudian diikuti dengan langkah-langkah pembaruan berikutnya. Pada 1933, didirikan Madrasah Nidhomiyah (setingkat madrasah tsanawiyah). Dua puluh tahun kemudian, madrasah ini berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah. Disusul dengan pendirian Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah pada 1962.</p>
<p>Kepeloporan Tebuireng tidak berhenti sampai di situ. Pada masa kepemimpinan KH Yusuf Hasyim, didirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang merujuk kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kedua jenjang pendidikan umum tersebut didirikan pada 1975.</p>
<p>Pada 2006, KH Yusuf Hasyim –biasa dipanggil Pak Ud— melontarkan gagasan perlunya mendirikan Ma’had Aly (jenjang pendidikan keagamaan setingkat S-1) di Tebuireng. Gagasan tersebut dilatarbelakangi oleh semakin menurunnya penguasaan kitab kuning di kalangan santri.</p>
<p><strong>Berbenah</strong></p>
<p>Secara akademis, Salahuddin Wahid adalah seorang insinyur. Ia belum pernah menjadi pendidik atau mengelola lembaga pendidikan. Apalagi menjadi pengasuh pesantren. Namun, Gus Sholah –demikian ia biasa dipanggil&#8211; akhirnya harus bersedia menerima amanat menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng. Pesantren yang didirikan oleh kakeknya, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari.</p>
<p>Adalah KH Yusuf Hasyim yang meminta adik kandung Gus Dur ini untuk menjadi pengasuh Tebuireng. Setelah meminta pendapat dari keluarga besar Bani Hasyim dan alumni, Pak Ud yang telah memimpin Tebuireng sejak 1965 menyerahkan tongkat estafet secara resmi kepada Gus Sholah pada akhir Juni  2006.</p>
<p>Sebelum menyerahkan tongkat estafet, Pak Ud memanggil Gus Sholah pada akhir Februari 2006. Kepada keponakannya itu, Pak Ud menyatakan bahwa dirinya sudah tidak kuat lagi meneruskan menjadi pengasuh dan harus diganti. Menurut Pak Ud, Gus Sholah adalah orang yang paling tepat untuk menggantikannya. “Kamu bukan yang paling baik, tetapi yang paling cocok”, ujar Pak Ud kala itu.</p>
<p>Setelah menyerahkan tongkat estafet, Pak Ud pun meninggalkan dalem kasepuhan, kediaman Hadratus Syaikh yang selama ini menjadi “rumah dinas” pengasuh. Hampir setahun kemudian, tokoh yang disegani kawan maupun lawan ini pun berpulang ke rahmatullah pada 14 Januari 2007.</p>
<p>Dalam perbincangan dengan Risalah NU, Gus Sholah menegaskan bahwa kondisi Tebuireng saat ini jauh berbeda dibandingkan masa Hadratus Syaikh. “Karena itu, tugas saya sebagai pengasuh adalah melakukan introspeksi dan berbenah, agar Tebuireng dapat menjadi salah satu yang terbaik seperti dulu”, tandasnya.</p>
<p>Menurut mantan Ketua PBNU ini, salah satu kondisi yang harus segera dibenahi adalah kemampuan membaca kitab kuning yang cenderung menurun. Untuk itu, langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mendirikan Ma’had Aly pada 2006.</p>
<p>Jenjang pendidikan setingkat perguruan tinggi ini menampung 30 mahasiswa hasil tes, tanpa dipungut biaya. Harapannya, alumni Ma’had Aly dapat menguasai kitab kuning dengan baik dan menjadi tenaga pengajar di Tebuireng. Sehingga, kemampuan baca kitab kuning santri akan meningkat kembali. Selain itu, pengajian kitab dengan metode sorogan juga akan diintensifkan kembali, secara <em>takhassus</em>.</p>
<p>Untuk keseharian santri, Gus Sholah menegaskan bahwa tutor atau pembina harus benar-benar dapat menggantikan fungsi orang tua. Karena itu, pembina harus menjauhkan diri dari pendekatan represif dalam menghadapi santri. Sebab, pendekatan represif tidak akan berhasil menumbuhkan kesadaran dari dalam diri santri.</p>
<p>Karena itu, seorang pembina harus memenuhi kriteria yang cukup ketat. Seperti disiplin, tanggung jawab, kompetensi akademis dan pengetahuan yang memadai tentang psikologi perkembangan. Dengan begitu, mereka dapat menghadapi santri dengan pendekatan yang pas. Ditambahkannya, model pembinaan santri yang digunakan pada tahun 60-an sudah tidak tepat lagi diterapkan saat ini.</p>
<p><strong>Tingkatkan Akuntabilitas </strong></p>
<p>Di bawah kepemimpinan Gus Sholah, Tebuireng akan terus berbenah. Selain pembenahan kurikulum dan manajemen pendidikan, juga akan dilakukan peningkatan akuntabilitas.</p>
<p>Caranya, laporan keuangan pondok pesantren akan diaudit secara periodik oleh akuntan publik. Tujuannya agar donatur mengetahui penggunaan dana yang disumbangkan. “Langkah kecil ini kami harapkan dapat menginspirasi perubahan yang lebih besar di lingkungan NU,” ujar mantan anggota Komnas HAM ini. Gus Sholah menambahkan, lemahnya akuntabilitas pesantren dapat dirasakan dampaknya pada lingkup kehidupan yang lebih luas. Padahal, pesantren seharusnya menjadi pelopor dalam hal ini.</p>
<p>“Coba cermati perilaku politisi kita. Adakah perbedaan perilaku antara sejumlah politisi lulusan pesantren dengan non-pesantren?”, ungkapnya dengan nada tanya. Pembentukan akhlak dan karakter anak didik adalah sesuatu yang lebih penting daripada penguasaan ilmu (kognitif). Harus dihasilkan lulusan yang percaya-diri, bertanggung jawab,  mau bekerja keras, punya etos kerja dan ingin menghasilkan karya  sebaik mungkin. Disadari bahwa tugas itu amat sulit. </p>
<p>Penetapan kepala unit pendidikan dilakukan melalui mekanisme <em>fit and proper test </em>yang diselenggarakan oleh konsultan pendidikan Konsorsium Pendidikan Islam. Dengan begitu, tidak ada lagi kepala unit pendidikan yang ditunjuk karena faktor kedekatan dengan pengasuh.</p>
<p>Selain itu, kepala unit pendidikan bersama guru juga diminta untuk menyusun <em>standard operating procedure</em> (SOP) dan manajemen mutu pendidikan. Pelatihan untuk semua guru akan dilakukan selama beberapa tahun kedepan. Pelatihan itu meliputi pembentukan sikap sebagai seorang guru yang baik dan penguasaan mata pelajaran yang diajarkan. Studi banding ke berbagai sekolah yang mencapai prseatsi akan dilakukan.</p>
<p>Targetnya, masing-masing unit pendidikan dapat menjadi salah satu lembaga pendidikan terbaik di Jombang dalam tiga tahun ke depan. “Jika target itu tercapai, tiga tahun berikutnya mereka harus menjadi salah satu yang terbaik di Jawa Timur”, ujarnya.</p>
<p>Nur Hidayat, Majalah Risalah NU, Juli 2007</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Umat Islam Australia Diserukan Undang Non-muslim Berbuka Puasa]]></title>
<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/07/umat-islam-australia-diserukan-undang-non-muslim-berbuka-puasa/</link>
<pubDate>Sun, 07 Sep 2008 08:46:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>mazhida</dc:creator>
<guid>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/07/umat-islam-australia-diserukan-undang-non-muslim-berbuka-puasa/</guid>
<description><![CDATA[Brisbane, (ANTARA News) &#8211; Presiden Federasi Dewan Islam Australia (AFIC), Ikebal Adam Patel, m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Brisbane, (ANTARA News) &#8211; Presiden Federasi Dewan Islam Australia (AFIC), Ikebal Adam Patel, meminta kaum Muslimin di negara itu mengundang non-Muslim untuk menghadiri acara berbuka bersama dan menjelaskan makna Ramadan kepada mereka.<!--more--></p>
<p>&#8220;Penting sekali menjelaskan kepada teman-teman non-Muslim kita bahwa umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa dari fajar hingga magrib. (Dengan berpuasa), mereka mencoba mereformasi hidup mereka sejalan dengan keinginan Tuhan Sang Maha Pencipta dan nilai kemanusiaan,&#8221; kata Patel dalam pesan Ramadhan yang diterima ANTARA di Brisbane, Minggu.</p>
<p>Lebih dari 340 ribu warga Muslim di Australia juga mulai berpuasa Ramadan 1429 Hijriah pada 1 September.</p>
<p>Awal Ramadhan di Australia itu ditetapkan oleh Dewan Imam Nasional Australia (ANIC) sesuai dengan hasil rukyat.</p>
<p>Umat Islam di negara bagian Queensland menyemarakkan Ramadhan dengan menyelenggarakan kuis Ramadhan. Sepanjang bulan Ramadhan, pengurus Masjid Holland Park menyediakan panganan berbuka (iftar) dan makan malam bagi para jamaah.</p>
<p>Salah satu masjid utama di Brisbane itu juga menggelar pengajian bersama Imam Uzair Akbar seusai shalat Tarawih. Pengurus masjid tersebut juga merencanakan khataman (tamat membaca) Al Qur`an pada malam ke-27 Ramadhan.</p>
<p>Selain dapat mengikuti acara berbuka bersama di Masjid Holland Park, umat Islam Queensland juga bisa mengikuti kegiatan yang sama setiap Sabtu dan Minggu di Masjid Bald Hills.</p>
<p>Bagi komunitas Muslim yang tidak jauh dari Masjid Darul-Uloom Buranda, mereka bisa mengikuti acara berbuka puasa bersama setiap hari.</p>
<p>Selama Ramadhan, Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia (IISB) juga menyelenggarakan kegiatan berbuka puasa bagi Muslim Indonesia dan mancanegara di musholla Universitas Queensland setiap Sabtu.</p>
<p>Acara berbuka puasa pertama IISB yang diikuti puluhan warga Indonesia dan mancanegara itu berlangsung 6 September. Selain itu, pada Minggu (7/9), pengurus IISB mengisi kegiatan Ramadannya dengan menfasilitasi penyelenggaraan pelatihan &#8220;Memetakan Hidup dan Meraih Sukses Hidup dengan Al Fatihah&#8221;.</p>
<p>Kegiatan pelatihan tentang strategi meraih sukses dengan inspirasi surat Al Fatihah itu disampaikan oleh Heru Sriwidodo Sari, penyusun buku &#8220;Inspiring Qur`an&#8221; dan pendiri Asosiasi Trainer Muslim Indonesia.</p>
<p>Di negara bagian Queensland, umat Islam tidak hanya dapat dijumpai di kota Brisbane dan sekitarnya, tetapi juga di kota-kota lain seperti Bundaberg, Cairns, Gold Coast, Ipswich, Mackay, Mount Isa, Noosa (Sunshine Coast), Toowoomba, dan Townsville.</p>
<p>Warga Muslim di Australia, termasuk mereka yang berasal dari Indonesia, juga dapat ditemui di negara-negara bagian lainnya, yakni Australian Capital Territory (ACT), Northern Territory (NT), New South Wales, Victoria, Australia Selatan, Australia Barat, dan Tasmania.(*)<br />
© 2008 ANTARA, <a href="http://news.antara.co.id">http://news.antara.co.id</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Santri se Jatim Desak Hasyim Muzadi Mundur  Jika Tetap Dukung Pasangan Cagub  ]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/09/02/santri-se-jatim-desak-hasyim-mundur-jika-tetap-dukung-pasangan-cagub/</link>
<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 07:59:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/09/02/santri-se-jatim-desak-hasyim-mundur-jika-tetap-dukung-pasangan-cagub/</guid>
<description><![CDATA[PANDAAN &#8211; Sebanyak 17 santri dan gus se Jawa Timur kemarin bertemu di RM Sri Pandaan. Mereka m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--> <span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><strong>PANDAAN &#8211; </strong>Sebanyak 17 santri dan gus se Jawa Timur kemarin bertemu di RM Sri Pandaan. Mereka menggelar pertemuan untuk menyikapi tindakan KH Hasyim Muzadi, ketua PBNU, yang dianggap mendukung salah satu pasangan calon gubernur (cagub) Jatim. Mereka pun mendesak agar Kiai Hasyim untuk mundur, jika tetap mendukung salah satu cagub tersebut.</span></p>
<p><!--more--><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Pertemuan yang mengatasnamakan Forum Santri Jawa Timur (FSJT) ini kemarin membuat empat resolusi. Pertama, mengimbau pada Kiai Hasyim Muzadi untuk menghormati kiai sepuh dengan tidak mendukung salah satu kandidat pasangan calon Gubernur.</span></p>
<p>Kedua, jika kiai Hasyim tetap ngotot untuk mendukung bahkan berniat menjadi jurkam, maka ia diminta untuk nonaktif atau mundur dari jabatan sebagai ketua PBNU. &#8220;Meskipun kiai Hasyim selalu mengatasnamakan pribadi dalam setiap pertemuan, namun ini terlalu samar. Ini sama artinya, NU identik dengan politik. Dan kami dari para santri jelas tidak menginginkan NU ditarik-tarik pada kepentingan politik,&#8221; ujar Gus Fahrurrozie, koordinator FSJT kemarin.</p>
<p>Selanjutnya, FSJT juga mengimbau pada seluruh cabang sampai ranting NU agar tetap netral. &#8220;Jangan membenturkan NU struktural dengan NU kultural. Kami dari para santri se Jatim tetap menginginkan NU sebagai <em>jamiyah ijtimaiyyah</em> yang patuh pada khittah NU,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Sebanyak 17 santri dan gus yang hadir kemarin, di antaranya berasal dari beberapa daerah. Misalnya, Ustad Abdulloh Faqih (Surabaya), Badri Syarif (Sampang Madura), Lora Rahbini (Bangkalan), Ustad Muslih (Sidoarjo), lalu Karim (Probolinggo). Kemudian, Ayatulloh (Kediri), Alaika Asrori Anshor (Tulungagung), Subhan (Mojokerto, Basith (Jombang), Nafiuddin (Gresik), Kholil (Bangil), Hamid (Banyuwangi), Ustad Muzakkir (Malang), Burhanuddin (Pasuruan kota), Abdurahman Ali dan Gus Fahrurrozie (Pasuruan).</p>
<p>Mereka kemarin sepakat membuat resolusi. Sambil membentangkan tangan, mereka juga siap untuk menyalurkan aspirasinya ini kepada PBNU, PWNU sampai ke ranting. &#8220;Mungkin besok pernyataan ini akan kami faks-kan ke PBNU. Tujuan kami hanya satu. Kami tidak ingin NU dibawa-bawa untuk kepentingan politik,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Soal eksistensi santri yang menyuarakan pada PBNU? Alaika Asrori menjawabnya. Menurut santri asal Tulungagung ini, santri adalah bagian yang tak terpisahkan oleh NU. &#8220;Justru dengan santri-santri inilah, NU akan menjadi organisasi yang besar. Suara kami yang ada di bawah juga seharusnya disikapi oleh pengurus NU pusat dengan lebih arif dan bijaksana,&#8221; tegas Asrori.</p>
<p>Seruan para santri dan gus ini dilakukan, karena melihat sepak terjang KH Hasyim Muzadi yang dinilai sudah terlalu. &#8220;Kami sempat membedakan antara NU pada zaman dijabat Gus Dur dengan Kiai Hasyim. Dulu waktu Gus Dur tidak pernah kami mendengar NU ditarik-tarik pada politik. Tapi, saat ini, sudah ada kesan, kalau NU ditarik-tarik. Ini yang tidak boleh,&#8221; cetus Gus Fahrur lagi.</p>
<p>Gus Fahrur juga membantah jika pertemuan dengan para santri se Jatim ini juga ada pesanan dari pihak tertentu. Menurutnya, semua yang dilakukan santri adalah murni demi meluruskan kaidah NU yang tidak berpolitik sesuai khittahnya. &#8220;Kami tidak punya afiliasi politik kemanapun. Kami juga meminta semua kalangan struktur NU untuk tetap netral pada pilgub putaran kedua. Pilihlah sesuai hati nurani,&#8221; tukasnya. <strong>(day)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Sumber: <em>Radar Bromo,</em> Sabtu, 16 Agustus 2008.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[“Zenso”, Otonomi Daerah di Jepang]]></title>
<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/01/%e2%80%9czenso%e2%80%9d-otonomi-daerah-di-jepang/</link>
<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 21:26:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>mazhida</dc:creator>
<guid>http://mazhida.wordpress.com/2008/09/01/%e2%80%9czenso%e2%80%9d-otonomi-daerah-di-jepang/</guid>
<description><![CDATA[Jakarta (ANTARA News) &#8211; Proses otonomi daerah yang tengah dilakukan negeri ini melalui Undang-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jakarta (ANTARA News) &#8211; Proses otonomi daerah yang tengah dilakukan negeri ini melalui Undang-Undang (UU) Otonomi Daerah) terbilang masih sangat muda dalam usia, pengalaman, ataupun kesiapan infrastruktur manusia, pengetahuan dan fisik.<!--more--></p>
<p>Sebagai bahan pembanding, Jepang yang juga negara kepulauan menyelenggarakan otonomi daerahnya melalui Zenso=Zenkoku Sogo Kaihatsu Keikaku/<em>Integrated National Physical Development Plan </em>(INDP). Hasil studi INDP untuk Indonesia pernah ditawarkan tahun 1995, sebagaimana laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada Mei 1995.</p>
<p>Otonomi Jepang bertolak dari keinginan pemerintah lokal dan ketulusan pemerintah pusat untuk menciptakan sekurangnya tiga tujuan pokok, yaitu pertama menciptakan kemandirian entitas publik lokal berdasarkan lokasi geografinya, kedua, mewujudkan konsep <em>citizens’ self government </em>oleh warga di daerah itu sendiri, dan ketiga, keinginan pemerintah pusat untuk menekan disparitas sosial ekonomi, lewat penyebaran kegiatan ekonomi yang tidak hanya terpusat pada satu kota tertentu saja.</p>
<p>Program pembangunan fisik Jepang ini dilakukan dengan tahapan-tahapan terpadu dengan tujuan akhir penghapusan kesenjangan sosial ekonomi (<em>rectification of disparities</em>) demi mencapai pemerataan Jepang (<em>balanced development of national land</em>).</p>
<p>Dalam pelaksanaan Zenso, tiga prinsip menjadi anutan. Pertama adanya pengakuan atas eksistensi organisasi pemerintah nasional sebagai organisasi yang berwenang di dalam mengatur strategi pembangunan nasional; Kedua, guna mengembangkan strategi pembangunan, dukungan data statistik yang akurat atas profil dan kondisi daerah masing-masing; Ketiga, proses pendelegasian (pelimpahan) wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.</p>
<p>Empat tahapan program pembangunan daerah Zenso I; Zenso II; Zenso III dan Zenso IV.<br />
Zenso I dengan periode 1962-1967 menekankan konsep pembangunan fisik pada penyebaran industri-industri yang semula banyak berlokasi di kota-kota metropolitan menuju ke kota-kota besar dengan pengembangan kota-kota Industri Baru, seperti Niigata, Central Hokkaido, Matsumoto Suwa) dan Lokasi Pembangunan Industri Khusus layaknya Kashima, Harima.</p>
<p>Zenso II perode 1969-1975, pembangunan difokuskan pada pengembangan jarngan kerja baru seperti telekomunikasi, transportasi udara, kereta ekspres (shinkansen), highways, pelabuhan laut dsbnya, serta pembangunan industri-industri berskala besar, khususnya di kota-kota industri.</p>
<p>Zenso III periode 1977-1985, penyebaran kegiatan-kegiatan industri (<em>industrial dispersion</em>) ke tingkat-tingkat daerah agar konsentrasi kegiatan industri pada kota-kota besar tertentu saja, seperti Osaka dan Nagoya.</p>
<p>Zenso IV periode 1987-2000, pembentukan kawasan yang lebih tersebar, mengingat eskalasi masalah-masalah sosial terutama di kota Tokyo cukup besar, disertai jaringan informasi canggih dan pembangunan infrastruktur di luar Tokyo menghindari konsentrasi pembangunan di satu area saja.</p>
<p>Upaya untuk lebih mempromosikan area-area rural dengan pembangunan industri-industri software, misalnya, menjadi satu agenda yang tengah dilakukan kini. Batasan waktu (<em>timeframe</em>) dari masing-masing Zenso di atas bukanlah &#8216;harga mati&#8217;.</p>
<p>Artinya, masing-masing Zenso tetap berjalan sesuai dengan programnya, sementara penetapan batas waktu tersebut hanya merupakan target formal yang ditetapkan pemerintah.</p>
<p>Sasaran utama program Zenso di atas berupa upaya pembangunan merata lewat pemberdayaan dan pengembangan potensi daerah masing-masing yang semuanya terjalin dalam satu konsep kawasan yang meluas.</p>
<p>Pembagian wilayah-wilayah berdasar konsep itu, terdiri atas kota sentral (<em>center city</em>); zona pertama (<em>primary zone</em>); zona kedua (<em>secondary zone</em>); dan zona ketiga (<em>tertiary zone</em>). Posisi itu kira-kira sama dengan bentuk karesidenan zaman Hindia Belanda dulu atau wilayah pembantu gubernur era Orde Baru.</p>
<p>Center city yang terbagi atas tujuh kota sentral:Sapporo, Sendai, Tokyo, Nagoya, Osaka, Hiroshima Fukuoka. Kota-kota pusat belakangan, yakni Asahikawa dan Morioka masuk dalam <em>center city </em>formasi pengembangan daerah semacam itu tidak berarti lepas sepenuhnya dari tangan pemerintah pusat.</p>
<p>Munculnya inisiatif dan kreativitas pengembangan masing-masing daerah diberi jalan sesuai dengan potensi daerahnya, sementara daerah juga tidak bisa menafikan kewenangan pusat dalam hal-hal tertentu, seperti pendidikan, keamanan, dan perencanaan kota. Dengan kata lain, pemerintah pusat lewat departemen-departemennya masih memiliki wewenang untuk turut campur dalam tugas-tugas tertentu di daerah.</p>
<p><em>The Institute of Development Assistance </em>(RIDA) bersama <em>The Overseas Economic Cooperation Fund </em>(OECF), Jepang, dalam laporannya bulan Mei 1995 pernah menyampaikan hasil studi pada pihak Bappenas. Penulis terlibat sebagai anggota counterpart mewakili LP3E Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.</p>
<p>&#8220;INPD plan&#8221; menawarkan satu konsep pengembangan potensi daerah di Indonesia dalam dua kategori, yaitu kota sentral utama (<em>primary cities</em>) dan kota pendukung kedua (<em>secondary cities</em>) dan pengembangan segitiga interaksi regional (<em>regional or international interaction triangle</em>).</p>
<p>Kota-kota sentral utama adalah kota-kota di propinsi dengan konsentrasi penduduk yang besar, dengan fungsi administratif; dengan akses transportasi memadai serta letak geografi yang membentuk koridor Laut Jawa, yakni kota industri, perdagangan dan pariwisata, sebut saja Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Makasar, Palembang, Medan masuk dalam kategori ini.</p>
<p>Untuk kota-kota pendukung kedua terdiri atas Banjarmasin, Balikpapan, Pontianak, Manado, Ambon, Kupang, dan salah satu kota Irian Jaya. Kota-kota ini dapat dipertimbangkan sebagai kota-kota sentral yang secara geografis berpotensi dalam mengembangkan wilayah segitiga interaksi regional maupun internasional.</p>
<p>Pontianak, misalnya, dapat mengembangkan satu interaksi segitiga dengan Pekanbaru dan Singapura dalam bentuk Pontianak-Pekanbaru-Singapura <em>interaction triangle</em>. Interaksi segitiga semacam ini bisa pula dibentuk di Kalimantan (KalBar, KalSel, KalTim) dengan Malaysia dan Brunei.</p>
<p>Makasar, Kupang dan Australia bisa dikembangkan sebagai area segitiga interaksi demi pengembangan potensi kerjasama ekonomi. Manado, Ambon dan Filipina. Semua itu mengacu pada kota-kota sentral utama sebagai koridor bagi pengembangan area segitiga interaksi ekonomi regional maupun internasional. Karena perannya sebagai koridor ini, maka tentunya kota-kota sentral utama hanya sebagai &#8220;pengantar&#8221; bagi pengembangan daerah-daerah khususnya di luar koridor tersebut.</p>
<p>Usulan &#8220;INPD plan: kepada Bappenas waktu itu berintikan saran-saran pembangunan fisik daerah, dan upaya pemberdayaan masyarakat lewat pemberian peluang lebih besar kepada pelaku bisnis swasta, usaha kecil-menengah di daerah-daerah.</p>
<p>Daerah-daerah di Indonesia, khususnya di luar koridor Jawa, memiliki kewenangan dalam pengembangan potensi ekonominya di bawah &#8220;payung&#8221; segitiga interaksi daerahnya dengan pihak ketiga (regional maupun internasional).</p>
<p>Usulan itu sudah sekitar satu dasawarsa lalu, namun agaknya bukan menjadi terlambat untuk menjadi contoh nyata di masa kini dan ke depan untuk mendukung UU Otda di negeri ini. (*)</p>
<p>*) Bob Widyahartono MA (<a href="mailto:bobwidya@cbn.net.id">bobwidya@cbn.net.id</a>) adalah Pengamat Ekonomi Studi Pembangunan, terutama masalah Asia Timur; Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar) Jakarta.</p>
<p>© 2008 ANTARA, 31/08/08 23:31</p>
<p>http://news.antara.co.id/print/?i=1220200280</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Arab Saudi Bebaskan Aktivis Pembaruan]]></title>
<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/08/29/arab-saudi-bebaskan-aktivis-pembaruan/</link>
<pubDate>Fri, 29 Aug 2008 12:17:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>mazhida</dc:creator>
<guid>http://mazhida.wordpress.com/2008/08/29/arab-saudi-bebaskan-aktivis-pembaruan/</guid>
<description><![CDATA[Riyadh (ANTARA News) &#8211; Pihak berwenang di Arab Saudi, pengekspor minyak terbesar dunia, telah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Riyadh (ANTARA News) &#8211; Pihak berwenang di Arab Saudi, pengekspor minyak terbesar dunia, telah membebaskan seorang aktivis pembaruan penting setelah ia menjalani hukuman penjara enam bulan, rekan-rekannya mengatakan Kamis.<!--more--></p>
<p>Abdullah al-Hamed, tokoh intelektual penting di antara pembaru Islam, dibebaskan Kamis pagi, khatib Mohsen al-Awajy dan aktivis hak asasi manusia Fawziya al-Oyouni mengatakan.</p>
<p>Hukuman Hamed secara luas dianggap sebagai hukuman untuk semua seruannya bagi pembaruan politik di monarki Islam konservatif, sekutu penting AS itu.</p>
<p>Ia dipenjarakan oleh pengadilan Saudi karena mendorong para isteri yang diduga militan Islam untuk memprotes secara terbuka penahanan tak tentu suami mereka.</p>
<p>&#8220;Saya mengharakan pembebasan Hamed akan menjadi awal bagi tahap baru dan bahwa ini akan menjadi pertanda baik berkaitan dengan status pembaru,&#8221; kata aktivis Islam Khaled al-Omair.</p>
<p>Inteletual Saudi pekan ini minta pemerintah untuk berbuat lebih banyak lagi untuk menghentikan penahanan dan pembatasan lainnya yang diterapkan pada tokoh, liberal dan Islamis, yang bekerja secara terbuka untuk mengubah monarki absolut menjadi demokrasi parlementer.</p>
<p>Kementerian dalam negeri telah menahan beberapa ribu orang sejak gerilyawan terkait-al Qaida melancarkan serangan kekerasan pada 2003 untuk membuat tidak stabil pemerintah keluarga Al Saud itu. Namun kritikus mengatakan tindakan keras itu telah diperluas ke pelobi bagi pembaruan damai, demikian Reuters.(*)</p>
<p>Sumber: Antara, 29/08/08 05:01</p>
<p>COPYRIGHT © 2008</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PKB Kubu Muhaimin dan Pengurus NU]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/08/28/pkb-kubu-muhaimin-dan-pengurus-nu/</link>
<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 04:01:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/08/28/pkb-kubu-muhaimin-dan-pengurus-nu/</guid>
<description><![CDATA[Di berbagai tempat saat ini kepengurusan PKB masih menjadi masalah, karena kubu Muhaimin memelintir ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p style="margin:3.7pt 0;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Di berbagai tempat saat ini kepengurusan PKB masih menjadi masalah, karena kubu Muhaimin memelintir keputusan MA, yang seharusnya PKB kembali ke Semarang, dan dengan demikian Gus Dur sebagai dewan syuro dan keputusan-keputusan PKB haruslah didasarkan pada hasil muktamar Semarang. Di daerah-daerah, Muhaimin dan Lukman Edi bisa mengangkat pengurus PKB baru, tanpa melibatkan Gus Dur lagi. <em>Wah pancen </em>hebat, iki <em>wis kebablasan. </em>Kata Kang Rozaq, wah paling juga bertahan seumur jagung, tergantung penguasa yang dukungnya.</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><!--[if gte vml 1]&#62;                  &#60;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="../wp-includes/js/tinymce-240/plugins/wordpress/img/trans.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" align="bottom" /><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]&#62;&#60;![endif]--><!--[if !vml]--><!--more--><!--[endif]--></span></p>
<p><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><!--[if gte vml 1]&#62;&#60;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="../wp-includes/js/tinymce-240/plugins/wordpress/img/trans.gif" border="0" alt="" width="1" height="1" align="bottom" /><!--[endif]--></span></p>
<p style="margin-top:0.13cm;margin-bottom:0.13cm;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Sudah memelintir kondisi di lapangan, kubu Muhaimin masih saja membawa-bawa NU struktural untuk mendukung PKB. Kubu Muhaimin mengulang kesalahan-kesalahan partai politik yang tidak mengandalkan <em>grass root, </em>tetapi hanya menyandarkan kepada tokoh dan penguasa, sementara pelibatan pengurus NU dalam dukungan partai politik, termasuk PKB betul-betul mencederai khittah NU.</span></p>
<p style="margin-top:0.13cm;margin-bottom:0.13cm;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Lihatlah berita di bawah ini, bagaimana kubu Muhaimin di Jatim mau menarik-narik NU:</span></p>
<p style="margin-top:0.13cm;margin-bottom:0.13cm;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">NU Seleksi Caleg PKB</span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Minggu, 27 Juli 2008 &#124; 12:55 WIB</span></p>
<p><strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">SURABAYA, MINGGU</span></strong><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> &#8211; DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur kubu Muhaimin Iskandar menggandeng Nahdlatul Ulama (NU) untuk menyeleksi calon anggota legislatif. Kebijakan itu untuk kembali melibatkan NU dalam pengembangan PKB.</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Ketua DPW PKB Jatim kubu Muhaimin, Imam Nachrawi, mengatakan, kebijakan itu seharusnya dilakukan sejak dulu. Pasalnya, NU melahirkan PKB. &#8220;Jadi, yang kami lakukan ini bukan untuk menarik dukungan ulama. Ini kebijakan yang seharusnya dilakukan sejak dulu,&#8221; ujarnya di Surabaya, Minggu (27/7).</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">PKB akan membentuk panitia seleksi caleg dari tingkat DPC atau pengurus kabupaten/kota. Panitia itu harus melibatkan pengurus NU kabupaten/kota sebagai anggota atau ketua. &#8220;Kami ingin mengembalikan PKB ke jalur seharusnya,&#8221; ujarnya.</span></p>
<p><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Dengan pelibatan itu, PKB berharap bisa dihasilkan caleg yang benar-benar diterima masyarakat. PKB juga berharap kebijakan itu bisa mewujudkan target perolehan suara 35 persen pada pemilu 2009.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Sumber:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/27/12550833/nu.seleksi.caleg.pkb">http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/27/12550833/nu.seleksi.caleg.pkb</a></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Tampaknya, dasar politisi, dulu ketika dia di PKB belum konflik juga sama, meninggalkan NU, giliran dia sedang berkonflik, mau bawa-bawa NU untuk mengesankan perluasan basis dukungan. Ya coba dites saja, besuk pemilu. Apakah PKB Muhaimin mendapat suara signifikan ataukah tidak. <em>Wong masyarakat </em>di bawah itu paham, dan warga NU tahu mereka yang membawa-bawa dan mendekat-dekat ke NU selama hanya memerah NU dan mengeksploitasinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak Penambal Ban Kalahkan Anak Jenderal Untuk Masuk Akpol]]></title>
<link>http://mazhida.wordpress.com/2008/08/26/anak-penambal-ban-kalahkan-anak-jenderal-untuk-masuk-akpol/</link>
<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 03:00:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>mazhida</dc:creator>
<guid>http://mazhida.wordpress.com/2008/08/26/anak-penambal-ban-kalahkan-anak-jenderal-untuk-masuk-akpol/</guid>
<description><![CDATA[Semarang, (ANTARA) &#8211; Punya ayah berpangkat jenderal ternyata bukan jaminan untuk bisa masuk Ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Semarang, (ANTARA) &#8211; Punya ayah berpangkat jenderal ternyata bukan jaminan untuk bisa masuk Akademi Kepolisian (Akpol). Seorang anak jenderal tidak berhasil masuk Akpol pada tahun ini sedangkan anak seorang penambal ban lulus tes dan jadi taruna.<!--more--></p>
<p>&#8220;Tahun ini anak Kapolda (berpangkat jenderal) tidak lulus, sedangkan anak seorang penambal ban di Cengkareng (Tangerang, Banten) lulus,&#8221; kata Deputi Sumber Daya Manusia Kapolri, Irjen Pol Bambang Hadiyono di Kampus Akpol, Kota Semarang, Senin.</p>
<p>Hadiyono mengatakan hal itu saat memimpin proses penghitungan nilai ujian akhir dalam sidang penerimaan taruna Akpol secara terbuka.</p>
<p>Menurut Hadiyono, proses seleksi taruna yang berlangsung secara terbuka itu akan memberikan kesempatan kepada semua warga negara tanpa memandang latar belakang orang tua.</p>
<p>Tahun 2007, katanya, keponakan Ketua Komisi III DPR Trimedya Panjaitan tidak lulus, padahal saat itu Trimedya hadir sebagai anggota DPR dan ikut mengawasi proses penghitungan nilai.</p>
<p>&#8220;Keponakan saya sendiri juga tidak lulus pada tahun 2007 lalu,&#8221; kata Hadiyono.</p>
<p>Ia menyatakan, proses seleksi taruna melibatkan pengawas eksternal antara lain dari Dinas Kependudukan, Dinas Pendidikan, Komisi Kepolisian Nasional, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), kalangan perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).</p>
<p>Nilai setiap tahapan ujian langsung diberikan kepada peserta seleksi dan mereka dapat mengadu ke panitia jika ada nilai yang berubah.</p>
<p>Untuk soal tes akademik tertulis, polisi membuat ratusan soal lalu dipilih 100 soal secara acak dan 100 soal itu disimpan oleh LSM dan provos.Soal ujian disimpan dalam brankas yang kuncinya dipegang oleh LSM dan provos.</p>
<p>&#8220;Kami tidak tahu, soal nomor satu itu apa. Nomor dua apa karena mereka yang menyimpan,&#8221; katanya.</p>
<p>Tes akademik tertulis di tingkat daerah juga sama yakni soal dibuat Mabes Polri lalu disimpan dalam CD yang diberi kata kunci (<em>password</em>) tidak diberikan ke panitia daerah.</p>
<p>&#8220;Satu hari sebelum tes akademik, kata kunci baru diberi lalu soal digandakan dengan pengawasan dari pihak luar,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Beberapa orang tua taruna mengaku tidak mengeluarkan uang sama sekali dalam seleksi taruna.</p>
<p>Sriyono, sopir bus &#8220;Sri Mulyo&#8221; jurusan Solo &#8211; Purwodadi menyatakan, dirinya tidak mengeluarkan uang agar anaknya Agus Santoso diterima sebagai taruna.</p>
<p>&#8220;Betul-betul tidak ada. Penghasilan saya kan hanya Rp60 ribu per hari,&#8221; katanya.</p>
<p>Pokorasmin, seorang penjual roti panggang asal Bandung mengaku tidak tahu menahu soal uang.&#8221;Tidak tahu soal itu. Dia (anak saya) daftar sendiri. Dia juga tidak pernah minta uang ke saya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Doni Agung, anak Komandan Pangkalan TNI AU Adisutjipto Yogyakarta, Marsekal Pertama TNI Hadi Mulyono juga masuk ke Akpol tanpa membayar.Doni datang ke Akpol bersama ibunya, Ny Hadi Mulyono.</p>
<p>Perasaan haru menyelimuti sebagian orang yang hadir ketika Bambang Hadiyono memanggil orang tua bernama I Wayan Ngatak sebab anaknya, I Gede Lula Duarta diterima sebagai taruna. Duarta mengaku bapaknya tidak bisa hadir di kampus Akpol karena tidak ada ongkos.Orang tuanya hanya buruh bangunan.(*)</p>
<p>COPYRIGHT © 2008</p>
<p>Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2008/8/25/anak-penambal-ban-kalahkan-anak-jenderal-untuk-masuk-akpol/</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Orang Dekat Ali Machsan Tersingkir dari Kepengurusan Baru PW NU Jatim]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/29/orang-dekat-ali-machsan-tersingkir-dari-kepengurusan-baru-pw-nu-jatim/</link>
<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 13:53:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/29/orang-dekat-ali-machsan-tersingkir-dari-kepengurusan-baru-pw-nu-jatim/</guid>
<description><![CDATA[SURABAYA &#8211; Hanya berselang dua minggu setelah konferwil istimewa, Rais Syuriah-Ketua Tanfidz t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--> <span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">SURABAYA &#8211; Hanya berselang dua minggu setelah konferwil istimewa, Rais Syuriah-Ketua Tanfidz terpilih, KH Miftakhul Akhyar-KH Mutawakkil Alallah, menetapkan struktur anyar kepengurusan PW NU Jatim periode 2008-2013.<br />
</span><!--more--><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"><br />
Struktur yang tertuang dalam surat PW NU Jatim bernomor 314/PW/A-I/VII/2008 itu sudah dikirimkan ke PB NU untuk mendapatkan persetujuan resmi dari Ketua PB NU Hasyim Muzadi.</span></p>
<p>Dalam kepengurusan itu, ternyata cukup banyak perombakan. Nama mantan Ketua Dewan Tanfidz Ali Maschan Moesa, misalnya, tidak tercantum di kepengurusan baru itu. Padahal, Ali yang maju sebagai cawagub Partai Golkar itu masih memiliki jaringan di kalangan pengurus cabang.</p>
<p>&#8220;Sudah, tim formatur sudah menuntaskan. Sekarang diajukan ke PB NU untuk mendapat pengesahan. Kami berharap kepengurusan ini bisa berjalan dengan baik,&#8221; kata Mutawakkil.</p>
<p>Dalam struktur baru, sejumlah nama lama bertahan. Di posisi wakil ketua, misalnya, tujuh nama adalah orang lawas. Tiga nama baru adalah M. Shidiq, Imam Masruchin, dan Fathurrozie.</p>
<p>Perombakan juga terjadi di jajaran sekretaris dan bendahara. Sekretaris lama Achmad Heri terpental dari jajaran kepengurusan. Dia digantikan oleh Masyhudi Muchtar yang sebelumnya ada di posisi wakil ketua. Demikian juga posisi bendahara yang sebelumnya diduduki A. Nadhim Amir ditempati oleh H Rosyidi.</p>
<p>Sementara itu, perubahan menarik terjadi pada jajaran mustasyar. Beberapa ulama sepuh masuk dalam jajaran itu. Mereka, antara lain, KH Abdullah Faqih dan KH Idris Marzuki. <strong>(ris)</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;">Pernah dimuat di <em>Jawa Pos</em>, Selasa, 29 Juli 2008, dengan judul <em>Orang Dekat Ali Machsan Tersingkir: Kepengurusan Baru PW NU Jatim<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><!--[endif]--></em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:13pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ali Maschan Dipecat PWNU Jatim]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/17/ali-maschan-dipecat-pwnu-jatim/</link>
<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 12:53:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/17/ali-maschan-dipecat-pwnu-jatim/</guid>
<description><![CDATA[INILAH.COM, Surabaya &#8211; Jajaran Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur meme]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>I<span style="font-family:Arial;color:black;">NILAH.COM, Surabaya &#8211; Jajaran Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memecat Ketua PWNU Jatim KH Ali Maschan Moesa. Ia dianggap melanggar kontrak jam&#8217;iyah dan tidak patuh kepada syuriah terkait keterlibatan dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim pada 23 Juli 2008. </span></p>
<p><!--more--></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">&#8220;Pak Ali dianggap berhalangan tetap. Karena itu beliau sudah diberhentikan. Tapi keputusan itu akan diumumkan Rois Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar yang sekarang sedang umroh dengan saya,&#8221; kata KH Mutawakkil Alallah, anggota Syuriah PWNU Jatim, saat dihubungi melalui telepon dari Mekkah.</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">Informasi dari sumber di PWNU Jatim menyebutkan, pemberhentian itu diputuskan dalam rapat yang dihadiri sepuluh anggota syuriah PWNU Jatim. Tapi sudah dikoordinasikan dengan KH Miftachul Akhyar dan KH Mutawakkil Alallah yang sedang umroh di Mekkah.</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">Rapat Syuriah dihadiri KH Agoes Ali Masyhuri (Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim/Sidoarjo) dan beberapa anggota syuriah. Di antaranya KH Abdurrahman Navis Lc (Surabaya), KH Anwar Manshur (Kediri), dan KH Husin Zuhri (Lumajang).</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">Selain itu, KH Zainuddin Djazuli (Ploso, Kediri), KH Mudatsir Badruddin (Pamekasan), KH Yasin Asmuni (Kediri), KH Abdul Matin (Tuban), KH Muin Arif (Tulungagung), dan KH Nuruddin A Rachman (Bangkalan).</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">Dalam keputusan itu, Ali Maschan Moesa dinilai berhalangan tetap. Sehingga dia tidak bisa menjabat sebagai Ketua PWNU Jatim dan kendali PWNU Jatim langsung diambil alih Syuriah PWNU Jatim.</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">Alasan pemberhentian itu, menurut sumber di PWNU Jatim, karena Ali Maschan dinilai melanggar kontrak jam&#8217;iyah (perjanjian tertulis di depan peserta konferensi wilayah NU Jatim di Probolinggo pada awal November 2007). Ia juga dianggap melanggar AD/ART NU serta keputusan Muktamar ke-27 di Situbondo (1984).</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">Menurut sumber itu, AD/ART NU yang dilanggar Ali Maschan Moesa dalah Bab VII pasal 11 ayat 3 dan 4 tentang kepengurusan bahwa tanfidziyah dapat diberhentikan syuriah bila syuriah berpendapat benar-benar telah terjadi pelanggaran terhadap jam&#8217;iyah (organisasi) dan agama.</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">&#8220;Karena itu, pak Ali nantinya tidak dapat menggunakan NU sebagai alat politik dalam kampanye dirinya sebagai cawagub dari pak Soenarjo (Wagub Jatim dan Ketua Golkar Jatim) dalam Pilgub Jatim mendatang,&#8221; kata sumber itu.</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">Secara terpisah, Wakil Rois Syuriah PWNU Jatim KH Agoes Ali Masyhuri yang juga hadir dalam rapat syuriah itu mengelak berkomentar.</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">&#8220;Saya nggak ngurus yang itu, saya tak mulang ngaji mawon (saya tidak mengurus politik, saya mengajar santri mengaji saja),&#8221; kata pengasuh Pesantren Bumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo itu.</span></p>
<p style="background:white none repeat scroll 0 50%;"><span style="font-family:Arial;color:black;">Hingga kini, kader NU yang meramaikan bursa Pilgub Jatim adalah Ketua PWNU Jatim Ali Maschan Moesa yang berpasangan dengan Soenarjo (Wagub Jatim/Ketua Golkar Jatim), Ketua Umum PP GP Ansor Saifullah Yusuf yang berpasangan dengan Soekarwo (Sekdaprov), dan Bupati Mojokerto Achmady (PKB).[*/R2]. (Sumber: http://www.inilah.com/berita/2008/03/22/18958/ali-maschan-dipecat-pwnu-jatim/).</span></p>
<p class="MsoNormal">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mbah Sahal: Tolak Masuk PWNU, Minta Klarifikasi Money Politics]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/17/mbah-sahal-tolak-masuk-pwnu-minta-klarifikasi-money-politics/</link>
<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 12:44:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/17/mbah-sahal-tolak-masuk-pwnu-minta-klarifikasi-money-politics/</guid>
<description><![CDATA[PATI- Rois Aam PBNU Dr KH MA Sahal Mahfudh secara tegas menolak namanya dicantumkan sebagai Mustasya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Georgia;color:#4c4c4c;">PATI</span></strong><span style="font-family:Georgia;color:#4c4c4c;">- Rois Aam PBNU Dr KH MA Sahal Mahfudh secara tegas menolak namanya dicantumkan sebagai Mustasyar dalam susunan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng periode 2008-2013.</span></p>
<p>”Tidak ada manfaatnya keberadaan saya di tempat itu. Saya tidak mau melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Untuk apa nama saya dipasang-pasang, tidak ada artinya,” tegasnya kepada wartawan, Rabu (16/7).</p>
<p><!--more--></p>
<p>Dia baru mengetahui namanya dimasukkan dalam jajaran Mustasyar PWNU dari koran. ”Sampai hari ini saya belum dihubungi siapa-siapa mengenai pencantuman nama saya. Tetapi nanti kalau ada yang datang memberi tahu, jawaban saya tetap sama menolak atau tidak bersedia,” tegasnya.</p>
<p><strong>Sikap Kecewa</strong></p>
<p>Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati itu mengaku kecewa dengan sikap Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) yang tidak memperhatikan saran dan pemikirannya menjelang Konferensi Wilayah (Konferwil) NU di Pesantren Al-Hikmah-2, Benda, Sirampog, Brebes 11-13 Juli lalu.</p>
<p>”Ya tetapi mau diapakan lagi wong pengurus cabangnya sudah seperti itu. Tidak ada lagi idealisme di NU, pikiranya pragmatis, kepentingan sesaat dan yang pasti berkaitan syahwat politik,” tegasnya.</p>
<p>Menjelang konferwil, Mbah Sahal menyampaikan pemikirannya di koran agar cabang-cabang memilih ketua yang bersih dari tarik-menarik kepentingan politik praktis, tawadhuk kepada kiai dan syahwat politiknya tidak terlalu besar.</p>
<p>Namun pernyataan itu tidak mendapat perhatian peserta konferwil. Bahkan muncul selebaran dengan kop ”Forum Nahdliyin Jawa Tengah” yang menilai Mbah Sahal melakukan politisasi media.</p>
<p>Kiai Sahal juga kecewa mendengar di tengah-tengah pelaksaan konferwil terjadi money politics (politik uang). ”Saya sudah menyampaikan peringatan jauh-jauh hari sebelum konferensi berlangsung akan adanya money politics ini.”</p>
<p>Dia minta para kiai terutama di jajaran Syuriyah untuk melakukan tabayun kepada cabang-cabang yang diduga menerima riswah (suap-Red) untuk memuluskan calon ketua yang didukungnya. ”Lakukan tabayun yang berlaku di lingkungan NU,” katanya.<br />
Terpisah, Ketua Rabithah Ma&#8217;ahid Islamiyah (RMI) Jateng KH Zaim Ahmad dan Katib Syuriyah PCNU Klaten KH Jazuli A Kasman mendukung pernyataan Rais Aam PBNU.</p>
<p>”Lakukan tabayun sesegera mungkin. Kami heran kok cabang-cabang tidak mendengarkan tausiyah Rais Aam,” kata Gus Jazuli, menantu Mbah Liem Klaten itu.<br />
Menurut Gus Jazuli, apabila Rais Aam PBNU kecewa terhadap hasil Konferwil NU Jateng, bisa saja Kiai Sahal tidak menandatangani SK pengesahan. Jika itu terjadi akan menjadi masalah serius. Tradisi di NU, menurutnya, surat-surat penting selalu ditandatangi Rais Aam dan Katib Aam PBNU dengan Ketua Umum dan Sekjen PBNU.</p>
<p>Sementara itu mantan Ketua PWNU Jateng Drs H Achmad mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan apakah tetap masuk struktur kepengurusan bersama Adnan atau tidak. Mantan Wagub Jateng itu dalam PWNU Periode 2008-2013 masuk di jajaran Mustasyar. ”Kami akan meminta saran dan pendapat Kiai Sahal dulu,” katanya. (Suara Merdeka, 17 Juli 2008).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[M. Adnan dan Ali Maschan Moesa]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/16/m-adnan-dan-ali-maschan-moesa/</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 11:35:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/16/m-adnan-dan-ali-maschan-moesa/</guid>
<description><![CDATA[Berita terbaru dari media massa (SM dan JP 13/7/2008) menyebutkan bahwa Ali Maschan Moesa dipecat da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">Berita terbaru dari media massa (SM dan JP 13/7/2008) menyebutkan bahwa Ali Maschan Moesa dipecat dari jabatnnya sebagai ketua tanfidz PWNU Jatim, karena dianggap mengingkari kontrak jam’iyah ketika ia dipilih agar tidak terjun ke politik praktis selagi masih menjabat sebagai ketua PWNU. Sedangkan M Adnan, diangkat kembali sebagai ketua PWNU dalam Konferwil di Brebes.</span></p>
<p><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">Kedua-duanya telah memberikan pengalaman bagi organisasi NU di Jateng dan Jatim. M. Adnan, kemarin merasa tidak puas di NU dan harus mendapat jabatan yang lebih, lalu dia mau dicalonkan menjadi cawagub, tetapi akhirnya kalah. Ali Maschan juga sama saja, tidak puas di NU dan maju sebagai cawagub. Kedua-duanya cawagubnya Golkar. Mashcan dianggap mengkhianati kontrak jam’iyah dan syuriyahnya berani tegas, akhirnya dipecat dari PWNU, berbeda dengan M. Adnan yang dipilih lagi. Pelajaran tentang ini, menjelaskan bahwa naluri politik praktis selalu muncul di kalangan elit NU. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">Sikap M. Adnan maju di pilwagub kemarin juga memberikan pelajaran bahwa tokoh ini memang memiliki keinginan untuk menekuni di dunia politik praktis. Mungkin saja bayangan untuk 2009 NU akan di bawa-bawa ke politik praktis, oleh peserta konferwil sudah tidak ada, dan karenanya ia dipilih lagi. Tetapi siapa yang bias menjamin pemilu 2009 tidak membuat ketua NU Jateng gonjang-ganjing lagi. Buktinya, ketua tanfidziyah PWNU Jatim yang sudah teken kontrak jam’iyah untuk tidak terjun ke politik praktis, akhirnya terjun juga, <em>ngiler</em> mendapatkan tawaran masuk di politik praktis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">Semoga saja ketua NU Jateng tidak mengulang kasus kemarin dan masih ada sedikit kepedulian elit NU Jateng untuk memikirkan umatnya, memberdayakan<span> </span>masyarakat bawah, daripada sekadar dukung mendukung Cagub yang hanya instant: kalah <em>ngisin-ngisini</em> NU, menang juga tidak membuat NU berwibawa karena dimusuhi oleh kalangan partai-parta berbasis Nahdliyin sendiri, dan yang terpenting hanya menjadikan jabatan di NU sebagai magang untuk menjadi politisi dadakan (a’wan majlis para masyayikh, Gunung Merapi).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[M. Adnan dan NU Jateng]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/10/m-adnan-dan-nu-jateng/</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 10:47:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/10/m-adnan-dan-nu-jateng/</guid>
<description><![CDATA[Dalam pilihan bulan Juni 2008 lalu, M. Adnan (ketua tanfidz PWNU Jateng) ternyata kalah dalam pilgub]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--> <span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dalam pilihan bulan Juni 2008 lalu, M. Adnan (ketua tanfidz PWNU Jateng) ternyata kalah dalam pilgub/pilwagub di Jawa Tengah. KPU Jateng mengumumkan bahwa yang menang adalah golput, lalu diikuti pasangan PDIP (Bibit Waluyo dan Rustriningsih). Bahkan pasangan NU di Jateng semua kalah, baik yang diusung PKB atau PPP.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span></span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Khusus tentang M. Adnan harus mendapatkan <em>takhdzir</em> sekeras-kerasnya, karena dia saat itu menjadi ketua PWNU, dan PWNU ditinggalkan untuk meraih jabatan kekuasaan, tanpa mau mengundurkan diri. Sikap seperti ini akan menghancurkan NU kalau diteruskan, karena NU hanya akan menjadi kuda tunggangan untuk meraih kekuasaan, dan NU hanya menjadi tempat magang Pilgub atau Pilbup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>M. Adnan kalah. Kenapa ini terjadi, karena: <strong><em>pertama</em></strong>, masyarakat NU di bawah muak dengan elit-elit NU yang mempolitisasi NU, dan M. Adnan dalam kasus ini hanya mempermainkan jabatan PWNU. Untunglah setelah itu ada Konferwil untuk mengevaluasi ini semua, dan dikabarkan salah seorang kiai di Jateng menangis tersedu-sedu karena perilaku dan kekalahan NU. <strong><em>Kedua</em></strong>, masyarakat bawah NU sudah terkotak ke partai-partai tertentu sehingga pilihannya bukan semua ke NU. <strong><em>Ketiga</em></strong>, Masyarakat bawah NU sudah cerdas, sehingga ia bebas sesuai nuranianya untuk memilih <span> </span>tokoh dalam jabatan politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Kasus M. Adnan mengulang kesalahan-kesalahan lalu, yaitu pencalonan KH. Hasyim Muzadi untuk cawapres yang terbukti juga kalah. NU Jateng harus tegas mau menegakkan khittah atau menjadi partai politik. Kalau ingin menjadi partai politik, ikutlah daftar di KPU, tetapi kalau tetap ingin menegakkan khittah, <em>takhdzir</em>-lah sekeras-kerasnya orang yang sudah dipercaya memangku jabatan ketua, malah seenaknya meninggalkan untuk meraih hasrat kekuasaan, tanpa mau mengundurkan diri, tanpa mau aktif di partai. Apakah tokoh-tokoh NU Jateng tidak ada yang berani tegas terhadap tokoh seperti itu? <em>(a&#8217;wan majlis para masyayikh)</em><br />
</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penguatan Basis NU Kota Makassar, Melawan Fundamentalisme Islam]]></title>
<link>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/10/penguatan-basis-nu-kota-makassar-melawan-fundamentalisme-islam/</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 09:33:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>nukhittah26</dc:creator>
<guid>http://nukhittah26.wordpress.com/2008/07/10/penguatan-basis-nu-kota-makassar-melawan-fundamentalisme-islam/</guid>
<description><![CDATA[Pada tanggal 3 Mei 2007 di MWC Bontoala, dimulailah langkah atau gerakan NU kota Makassar untuk memb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--> <span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pada tanggal 3 Mei 2007 di MWC Bontoala, dimulailah langkah atau gerakan NU kota Makassar untuk membendung gerakan fundamentalisme Islam di Makassar. Gerakan ini disebut dengan safari penguatan MWC. Dari judulnya sepintas terlihat bahwa kegiatan ini sekedar pembenahan organisasi NU kota Makassar. Hal tersebut pun diakui oleh salah satu pengurusnya, H. Aminuddin. Namun dalam safari pertama itu terungkap bahwa kegiatan ini tidak sekedar hanya menguatkan organisasi NU, tapi juga satu gerakan untuk membendung fundamentalisme Islam di Makassar dalam wujud gerakan neo-wahabi. </span></p>
<p><!--more--></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hal itu diungkapkan oleh Dr. Kadir Ahmad dalam sambutannya pada Lailatul Ijtima pertama di MWC Bontoala. Menurut Dr Kadir, Saat ini gerakan Islam Fundamentalis di Makassar mulai terasa lewat gerakan neo-wahabi. Mereka mulai merebut kantong-kantong NU. Di sana pertama-tama yang direbut adalah mesjid. Dari mesjid itulah kemudian disebarkan paham-paham wahabi. Mereka mulai mempengaruhi warga. Kelompok-kelompok ini juga giat mempengaruhi kebijakan penguasa. Mereka mendorong Perda-perda formalisasi agama. Karena itu lewat ajang safari ke MWC NU ini diharapkan kita kembali melakukan konsolidasi dan memikirkan agar kantong-kantong kita tidak direbut oleh mereka. Demikian Kadir Ahmad menjelaskan di depan ratusan jamaah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Setelah sambutan dari ketua tanfidz dilanjutkan dengan tausiah dari Rais Syuriah, dan tema-tema yang diangkat dalam tausiah yang dibawakan oleh K.H. Dr Baharuddin ini memang sengaja mengambil tema-tema pluralisme dan tema-tema yang berkaitan dengan tradisi NU, misalnya soal Qunut, Bid’ah dan lainnya. Tema-tema ini diangkat karena kelompok-kelompok Islam Wahabi/ Fundamentalis<span> </span>alergi dengan hal itu, dan kerap kali melakukan serangan lewat media-media mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Setiap Kegiatan ini digelar, ratusan warga NU terlibat aktif, hal ini misalnya terlihat di Kecamatan Bontoala. Hal ini menunjukkan bahwa warga NU mulai sadar dengan posisinya yang mulai terancam dengan gerakan Islam-Islam Fundamentalis dan gerakan wahabi di Makassar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Kegiatan safari tahap pertama ini berakhir pada tanggal 19 Agustus 2007 lalu. Namun dilanjutkan lagi dengan kegiatan lain yang berasal dari hasil rekomendasi pada lalilatul ijtima di tiap safari tersebut. Di antaranya adalah pengkaderan para imam mesjid, d</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">i mana kader-kader muda NU dilatih untuk menghafal al-Qur’an sekaligus didoktrin dengan idiologi ke-NU-an. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hal ini memang sengaja disiapkan untuk menghadapi<span> </span>kelompok Islam wahabi/fundamentalis yang mau merebut mesjid. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kegitan ini berlangsung sampai sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span> </span>Sekaitan dengan gerakan NU Makassar ini,. Qasim Mathar tokoh Islam Pluralis di Makassar dalam satu kesempatan menyatakan bahwa ”kelompok-kelompok fundamentalis semacam itu memang tidak bisa diberi hati atau hanya didiamkan saja. Dibiarkan tambah menjadi-jadi. Kita diam danggap setuju, padahal tidak,” ungkapnya dalam satu diskusi di kantor Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Makassar. Diambil dari milis programpluralisme@yahoo.gorups.com).</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
