<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>bersedih &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/bersedih/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "bersedih"</description>
	<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 10:20:56 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kau Yang Maha Melihat dan Pelindung..]]></title>
<link>http://tulisannugroho.wordpress.com/2009/10/02/kau-yang-maha-melihat-dan-pelindung/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 02:05:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Nug</dc:creator>
<guid>http://tulisannugroho.wordpress.com/2009/10/02/kau-yang-maha-melihat-dan-pelindung/</guid>
<description><![CDATA[By: ASN, Jakarta, 2 Oktober 2009 Tersentak.. tertunduk.. kesedihan yang dalam&#8230; Sangat prihatin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[By: ASN, Jakarta, 2 Oktober 2009 Tersentak.. tertunduk.. kesedihan yang dalam&#8230; Sangat prihatin]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yang Bersedih di Hari Raya]]></title>
<link>http://malaysiakuboleh.wordpress.com/2009/09/16/yang-bersedih-di-hari-raya/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 21:21:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>chips84</dc:creator>
<guid>http://malaysiakuboleh.wordpress.com/2009/09/16/yang-bersedih-di-hari-raya/</guid>
<description><![CDATA[Meski bukan baru, tetapi baju yang Salleh pakai masih terlihat seperti baru. Bersih dan rapi. Begitu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.klikjer.com/members/idevaffiliate.php?id=484_3_1_11" target="_blank"><img border="0" src="http://www.klikjer.com/members/banners/468x60.gif" width="468" height="60"></a></p>
<p><a href="http://www.klikjer.com/members/idevaffiliate.php?id=484_4_1_16" target="_blank"><img border="0" src="http://www.klikjer.com/members/banners/jbm468x60.gif" width="480" height="60"></a></p>
<p><a href="http://www.klikjer.com/members/idevaffiliate.php?id=484_2_1_6" target="_blank"><img border="0" src="http://www.klikjer.com/members/banners/468.gif" width="468" height="60"></a></p>
<p><a href="http://www.minisiteforwp.com/index.php?ref=mwordpress" target="_blank"><img src="http://www.minisiteforwp.com/images/banner125.gif"></a></p>
<p>Meski bukan baru, tetapi baju yang Salleh pakai masih terlihat seperti baru. Bersih dan rapi. Begitu juga yang dikenakan isteri dan anak-anak Salleh.</p>
<p>Tangis haru dan tawa gembira mewarnai suasana lebaran hari ini. Pulang dari sholat AidilFitri, anak-anak Salleh mendapatkan ayah dan ibu mereka, berpelukan dan mengucup lembut tangan dan pipi mereka. Salleh dan isteri membalasnya dengan kucupan terkasih. Sebelum berlalu, tidak lupa mereka meminta &#8216;habuan&#8217; wang lebaran. Setelah itu mereka berlari-larian mendapatkan nenek mereka untuk meminta cium.</p>
<p>Ada airmata yang menitis ketika Salleh menatap wajah tua di hadapannya. Terlalu lemah hati Salleh untuk menahan rasa yang begitu dalam terhadap ibu, sesosok anggun yang selalu ingin Salleh cium kakinya. Salleh memeluk kaki letihnya, menikmati wangi cintanya seraya berharap kelak mendapatkan syurganya dari sana. Lalu, mengalirlah doa dan kalimah penuh kasihnya untuk anak yang sering tak tahu membalas budi ini. Kemudian satu persatu adik beradik Salleh tersungkur di kakinya.</p>
<p>Aneka kuih khas hari raya yang sejak subuh telah tersedia di meja ruang tamu nampaknya tak sabar menanti untuk disentuh. Salleh dan isteri, tentu saja takkan melepaskan hidangan khas lebaran di rumah cinta itu, Nasi Beriani Hujan Panas, Lemang dan Rendang. Tidak hanya anak-anak ibu yang menikmati juadah masakan ibu, tetapi juga sahabat-sahabat Salleh yang sengaja datang untuk dua perkara; silaturrahim dan juadah masakan ibu Salleh!</p>
<p>Begitu indah dan harunya hari raya, hingga Salleh hampir terlupa akan sebuah janji jika sahaja tak diingatkan seorang sahabat. &#8220;Jadi kah kita kesana?&#8221;<br />
Salleh bersama keluarga dan empat orang sahabatnya memandu kereta menuju tempat yang sudah direncanakan untuk dikunjungi. Untuk sementara, Salleh tangguhkan rencana kunjungan silaturrahim ke beberapa rumah teman lama. Lebih kurang lima belas minit, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah yang dituju.</p>
<p>Sebaris senyuman ikhlas anak-anak dari halaman rumah menyambut salam tetamu yang baru tiba. Salah seorang dari mereka mempersilakan Salleh, keluarga dan teman-teman masuk.</p>
<p>Rumah kecil itu, dinding-dindingnya terlihat terkelupas di beberapa tempat. Tak ada satu pun anak yang mengenakan baju baru, sepatu baru, juga tak ada yang terlihat sedang menghitung-hitung wang hasil pemberian saudara-saudara mereka. Tak ada kuih khas hari raya. Tak tersedia ketupat lebaran, apalagi rendang daging atau lemang. Air yang tersedia untuk mereka pun hanya air tak berwarna, jelas, kerana mereka tak ada sirap.</p>
<p>Di rumah tumpangan anak yatim itu, hanya ada mata-mata kosong menanti huluran tangan para dermawan. Mereka tak pernah lagi menikmati saat-saat indah di hari raya dengan aneka hidangan, pakaian bagus, ciuman dan pelukan hangat dari orang-orang terkasih. Tak lagi mereka dapatkan tangan dan pipi untuk dikucup setelah pulang dari sholat AidilFitri, juga kaki-kaki mulia tempat mereka bersimpuh, bahkan sebahagian besar mereka pun tak pernah tahu wajah orang yang pernah melahirkannya.</p>
<p>Sebahagian mereka mengaku terus bertanya, kenapa Allah membiarkan mereka hidup tanpa orang tua? &#8220;Apakah Allah tak ingin melihat saya bermanja dengan ibu?&#8221; tanya Adi, salah seorang penghuni rumah tumpangan yang berusia delapan tahun. Tidak kurang juga dari mereka terus berharap Allah mengembalikan orang tua mereka agar mereka dapat merasakan menjadi anak, yang mendapatkan kasih sayang orang tua, agar ada tangan yang dikucup saat berangkat dan pulang sekolah, agar ada satu kesempatan bagi mereka untuk menikmati manisnya berbakti.</p>
<p>Mereka seolah-olah tak peduli dengan aneka makanan dan hadiah yang Salleh bawa. Bukan itu yang mereka rindui. Mereka mengaku sudah biasa hidup tanpa berlimpah makanan. Bersekolah tanpa wang jajan pun sudah mereka rasakan. Ada yang lebih mereka rindui di sepanjang hari, lebih-lebih di hari raya ini. Akhbar, anak kecil berusia enam tahun menghampiri dan berbisik di telinga anak perempuan Salleh, &#8221; Kak, bagaimana rasanya tidur ditemani mama?&#8221;</p>
<p>Gagal Salleh menahan airmatanya dari berguguran ..</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Balasan]]></title>
<link>http://rantsa.wordpress.com/2009/08/18/balasan/</link>
<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 02:07:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>rantsa</dc:creator>
<guid>http://rantsa.wordpress.com/2009/08/18/balasan/</guid>
<description><![CDATA[Jangan bersedih jika kebaikan kita tidak dihargai orang, karna yang kita cari adalah ridha Allah. Ja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Jangan bersedih jika kebaikan kita tidak dihargai orang, karna yang kita cari adalah ridha Allah. Ja]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Selalu sukacita]]></title>
<link>http://paulbolla.wordpress.com/2009/05/01/selalu-sukacita/</link>
<pubDate>Fri, 01 May 2009 15:09:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>paulbolla</dc:creator>
<guid>http://paulbolla.wordpress.com/2009/05/01/selalu-sukacita/</guid>
<description><![CDATA[“Aku selalu berdoa dengan sukacita” (Filipi 1:14). Apakah pergumulan dan penderitaan telah merebut s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>“Aku selalu berdoa dengan sukacita” (Filipi 1:14). Apakah pergumulan dan penderitaan telah merebut sebagian besar sukacita kita? Sehingga telah membuat kita anak-anak Tuhan yang lupa untuk tertawa? Pilihan untuk bersedih tidak akan membantu malahan akan membuat kita pesimis akan hidup kita. Mari kita mohon pertolongan Tuhan agar sukacita senantiasa bersama kita dalam keadaan apapun yang kita alami. Tuhan beserta kita. <span style="color:#3366ff;">(J. Lebe—26 April 2009 – 13:25:10)</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indahnya Ujian]]></title>
<link>http://write4think.wordpress.com/2009/03/31/indahnya-ujian/</link>
<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 06:53:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>indra</dc:creator>
<guid>http://write4think.wordpress.com/2009/03/31/indahnya-ujian/</guid>
<description><![CDATA[Kepahitan dan kesempitan yang memberatkan punggung, menusuk hati, menyesakan dada dan menguras air m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kepahitan dan kesempitan yang memberatkan punggung, menusuk hati, menyesakan dada dan menguras air mata adalah merupakan kepastian akan terjadi pada diri kita.</p>
<p>&#8220;Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buah&#8221;</p>
<p>Kenapa Allah menjanjikan akan memberikan sesuatu yang pahit dan sempit kepada kita? Mari kita analogikan seperti berikut:</p>
<p>Betapa banyak orang yang rela dan ridha menempuh jalan yang berat, pahit, sempit demi kebaikannya sendiri. Seorang pasien ridha untuk di tusuk jarum suntik, ridha menelan pil yang pahit, ridha mematuhi segala yang di perintahkan sang dokter yang menyempitkan : ridha untuk meninggalkan hal-hal yang dia sukai, ridha untuk tidak memakan makanan yang dia sukai.</p>
<p>Dia ridha dan ikhlas menjalani segala yang di anjurkan dokter sekalipun berat, pahit, sempit bagi dirinya. Kenapa? Karena dia paham bahwa sang dokter tidak mungkin berniat dzalim padanya, dia paham semua ini adalah demi kebaikannya.</p>
<p>Yakinkah kita bahwa Allah tidak mungkin mendzalimi kita?<br />
Ridha kah kita atas segala kesempitan dan kepahitan yang Dia berikan?<br />
Ridha kah kita untuk menjalani segala perintah-Nya?</p>
<p>Kita yakin bahwa Allah tidak mungkin mendzalimi, lalu kenapa kita berkeluh kesah dan tidak menerima pemberiannya? Apakah kita marah tidak terima ketika di suntik dokter sedang kita yakin sang dokter tidak mungkin dzalim dan justru yang dilakukannya demi kebaikan kita?</p>
<p>Kalau kita percaya kepada dokter, bahwa pasti yang di berikannya adalah demi kebaikan kita sekalipun pahit dan sempit. Lalu kenapa kita kurang yakin bahwa segala pemberian Allah adalah demi kebaikan diri kita sendiri?</p>
<p>Tidak ada alasan bagi kita untuk bersedih, berkeluh kesah, marah dan tidak menerima pemberian Allah. Semua ini adalah yang kita butuhkan, Semua ini adalah yang kita perlukan demi kebaikannya diri kita, sekalipun pahit, sekalipun sempit. Seharusnya kita senang dan cinta kepada Allah atas segala yang Dia berikan. Memang pahit memang sempit, tetapi inilah jalan kebaikan bagi kita.</p>
<p>Allah memberitakan yang demikian, yaitu bahwa pasti kita akan di timpa ujian adalah agar kita mempersiapkan diri dan tidak bersedih atas apa yang terjadi.</p>
<p>&#8220;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.&#8221;</p>
<p>&#8220;(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.&#8221; Al-Hadid 22-23</p>
<p>Hal ini seperti seorang guru yang memberitakan kepada muridnya bahwa dia akan memberikan ujian secara mendadak, dengan harapan agar murid senantiasa mempersiapkan diri. Murid yang mempersiapkan diri, ujian sesulit apapun akan menjadi mudah. Tetapi yang malas sudah pasti mengalami kegagalan.</p>
<p>Kalau kita merasa ujian yang di berikan terlalu berat, sesungguhnya bukan ujiannya yang berat tetapi kita yang kurang persiapan. Segala ujian telah di ukur oleh Allah sesuai dengan kesanggupan kita. Seperti anak SD tidak mungkin di berikan soal ujian SMP.</p>
<p>Persiapkanlah diri kita dengan ilmu, amalkan dan sampaikanlah. Dan ingat lah, ujian itu pun sebenarnya merupakan proses pembelajaran dari Allah.</p>
<p>Seperti dokter yang hanya memberikan obat dan aturan yang di butuhkan oleh pasien. Yang jika tidak kita penuhi justru itu akan berdampak buruk kepada kita. Kalau tidak di suntik kita bisa terkena virus, kalau tidak meminum obatnya kita tidak akan sembuh, kalau tidak mengikuti peraturannya penyakit kita semakin parah.</p>
<p>Maka begitu pun dengan Allah&#8230;</p>
<p>Wahai saudara ku, jika Allah tidak mungkin dzalim kepada kita maka sudah pasti apapun yang di berikannya, sekalipun pahit, sekalipun sempit, pasti itulah yang kita perlukan dan kita butuhkan demi kebaikan diri kita sendiri. Sekalipun musibah yang terjadi atas kesalahaan kita, tetap merupakan kasih sayang Allah agar kita bertaubat kepada-Nya.</p>
<p>Maka terimalah segala &#8220;obat&#8221; yang Dia berikan, sekalipun itu &#8220;pahit&#8221;. Laksanakan lah segala perintah-Nya meskipun itu &#8220;sempit&#8221;. Dia lah yang maha tahu apa yang baik buat kita. Jika kita ridha atas apa yang di kehendaki dan di perintahkan-Nya maka Dia pun ridha kepada kita. Dan hanya kepada-Nya lah kita semua akan kembali.</p>
<p>Misal kan Allah menjadikan dan mengizinkan orang lain mendzalimi kita. Maka katakanlah &#8220;Ya Allah&#8230; inilah yang aku butuhkan&#8230; inilah yang aku perlukan&#8230; kalau ini tidak terjadi, mungkin aku lupa untuk berlindung kepada-Mu&#8230; lupa memohon ampun kepada-Mu&#8230; Ya Allah&#8230; dengan inilah aku lebih giat ibadah kepada-Mu&#8230; lebih sering ingat kepada-Mu&#8230; lebih semangat mendekatkan diri kepada-Mu&#8230;. &#8220;</p>
<p>Kalau di renungkan mungkin hanya ada satu kasih sayang yaitu kasih sayang Allah kepada kita. Karena kalau kita menyayangi orang lain, itu hanya karena Allah menganugerahkan kita rasa kasih sayang. Orang tua sayang kepada kita , itu bisa terjadi hanya karena Allah yang menggerakan dan memfitrahkan seorang ibu amat sayang kepada anaknya.</p>
<p>Ya Allah&#8230; aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau&#8230; dan Nabi Muhamad SAW adalah utusan-Mu&#8230; Engkau lah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang&#8230; Sayangilah kami&#8230;. kami mahluk ciptaan-Mu&#8230; kami hamba-Mu&#8230; Jadikan lah kami hanya bergantung dan berharap kepada-Mu&#8230;</p>
<p>Wallahualam</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[aku butuh pagi]]></title>
<link>http://kiranadimas.wordpress.com/2008/11/06/aku-butuh-pagi/</link>
<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 08:20:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>kiranadimas</dc:creator>
<guid>http://kiranadimas.wordpress.com/2008/11/06/aku-butuh-pagi/</guid>
<description><![CDATA[Saya butuh teman tuk melalui dan kawan tuk berbagi Saya butuh bayangan tuk mengikuti dan mentari tuk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saya  butuh teman tuk melalui  dan  kawan tuk berbagi</p>
<p>Saya butuh bayangan tuk mengikuti dan  mentari tuk menerangi</p>
<p>Aku butuh air tuk menyirami dan Aku butuh pohon tuk meneduhi</p>
<p>Aku butuh pagi setelah gelap hari<br />
Aku butuh tempat untuk kudiami</p>
<p>Aku butuh tersenyum setelah bersedih<br />
Aku butuh hati untuk disayangi</p>
<p>Untuk itulah kuingin kau tetap disini<br />
Hingga kelak kujadikan seorang istri</p>
<p>Sponsor :</p>
<p><a href="http://korangua.wordpress.com/peluang-usaha-warnet-terinovatif/">Anda ingin kaya sekaligus bermanfaat bagi orang banyak? Yuk bisnis bersama</a></p>
<p>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hari Untuk Bersedih]]></title>
<link>http://syarafuddinsulaiman.wordpress.com/2008/10/25/hari-untuk-bersedih/</link>
<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 18:22:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>syarafuddinsulaiman</dc:creator>
<guid>http://syarafuddinsulaiman.wordpress.com/2008/10/25/hari-untuk-bersedih/</guid>
<description><![CDATA[ditulis pada: 16 Mei 2006 credit: ucumari Kita ada hari raya. Kita ada hari kemerdekaan. Kita ada ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>ditulis pada: 16 Mei 2006</p>
<div id="attachment_246" class="wp-caption alignleft" style="width: 130px"><a href="http://syarafuddinsulaiman.files.wordpress.com/2008/11/448815607_91eaebcc561.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-246" title="448815607_91eaebcc561" src="http://syarafuddinsulaiman.wordpress.com/files/2008/11/448815607_91eaebcc561.jpg?w=120" alt="ucumari" width="120" height="96" /></a><p class="wp-caption-text">credit: ucumari</p></div>
<p>Kita ada hari raya. Kita ada hari kemerdekaan. Kita ada hari jadi. Kita ada segala sesuatu hari dan waktu untuk bergembira dan ketawa.</p>
<p>Tapi kenapa kita tiada hari untuk berduka?</p>
<p><em>Kata awak pada saya: Kerana bersedih itu tidak elok (lazimnya awak akan tersenyum sekali)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kata saya pada awak: Rasanya sebab kita sedih hari-hari. (seperti biasa ia dipakejkan dengan senyum sinis)</em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Kita dilarang bersedih. Bersedih itu celaka. Bersedih itu bala. Bersedih itu jahat.</p>
<p>Kita disuruh bergembira. Bukan saja setiap hari, malah setiap detik, setiap saat. Jika sedih sekalipun, buat-buatlah gembira. Tahan dalam hati.</p>
<p>Jangan menangis, kalau awak menangis, awak lemah. Kalau lelaki,<br />
itu campur pondan dan mak nyah sekali. Bila awak tak menangis, awak ini kuat, tabah dan cekal hati.</p>
<p>Seperti biasa, betulkah?</p>
<p>&#8212;&#8212;-<br />
Sedih itu tidak salah. Mana mungkin sedih itu salah kerana sedih itu satu sifat wajib dalam diri manusia. Kita kena bersedih.</p>
<p>Apabila berlaku kemalangan, kita bersedih. Apabila berlaku sesuatu yang tak baik, kita bersedih.</p>
<p>Kata sesetengah orang, sedih itu satu pilihan. Kita boleh pilih samada hendak bersedih atau bergembira. Bila kereta langgar kita, kita boleh pilih nak meraung atau diam saja.</p>
<p>Ini soal pilihan.</p>
<p>Bagi saya, sedih itu fitrah. Bila berlaku sesuatu yang patut kita sedih, kita akan sedih. Kita tak mampu untuk tidak sedih. Kita tak mampu rasa gembira.</p>
<p>Yang boleh dipilih itu perihal luaran kita. Fizikalnya nampak macam mana. Nak nampak sedih atau nak nampak gembira. Memang bila kita sudah berlagak gembira, lama-lama kita akan jadi gembira juga.</p>
<p>Cuma asalnya memang kita sedih. Dan sedih itu bukan dosa.</p>
<p>Yang salahnya adalah bersedih sampai berhari-hari. Berminggu-minggu. Inipun bagi saya kerana kita tabik sangat sifat menyimpan perasaan dan suka benar berpura-pura.</p>
<p>Ini cadangan saya. Ia cuma cadangan, jadi jangan pula nak menyalahkan saya atas kesannya. Pilihan di tangan awak.</p>
<p>Berikan diri kita satu Hari Bersedih. Kalau perlu ambil cuti, ambil. Lagi jauh, lagi baik. Lagi tenang, lagi baik. Lagi kurang orang, lagi baik. (biasanya bila timbal-timbal semua termasuk kos, bilik sendiri adalah pilihan ideal).</p>
<p>Sedihlah puas-puas hari itu. Lepaskan dengan apa saja medium (amaran: jangan rosakkan harta benda orang. Kita tak mahu ada dua orang merayakan Hari Bersedih pada tarikh yang sama. Sungguh tak istimewa). Menangislah sampai bengkak mata. Renunglah, tenunglah. Cuma batas jangan pula dilampaui.</p>
<p>Tak salah jika ingin bersedih. Sedihlah pada satu hari yang kita rasa patut bersedih. Lepas itu jangan lagi bersedih atas hal yang sama. Ingat boleh, sedih jangan. Cukuplah kita mendedikasikan satu hari untuk bersedih. Nyawa kita terlalu pendek untuk hanya bersedih saja.</p>
<p>Cuma saya rasa alangkah tidak patut jika ada sesiapa mahu mewujudkan hari bersedih kerana kuku patah atau kerana Arsenal kalah. Dunia ini masih terlalu banyak benda untuk disedihkan. Ya,kan?</p>
<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[“La tahzan innallaha ma’ana” (jangan bersedih, Allah bersama kita)]]></title>
<link>http://maaini.wordpress.com/2008/05/14/%e2%80%9cla-tahzan-innallaha-ma%e2%80%99ana%e2%80%9d-jangan-bersedih-allah-bersama-kita/</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 02:02:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>yanti</dc:creator>
<guid>http://maaini.wordpress.com/2008/05/14/%e2%80%9cla-tahzan-innallaha-ma%e2%80%99ana%e2%80%9d-jangan-bersedih-allah-bersama-kita/</guid>
<description><![CDATA[1. Jangan bersedih&#8230; jika tidak ada seorangpun yang mau membantu anda Hmmm ketika banyak orang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><span style="color:#ff0000;"><strong>1. Jangan bersedih&#8230; jika tidak ada seorangpun yang mau membantu anda</strong></span></h2>
<p>Hmmm ketika banyak orang meminta pertolongan&#8230; (seperti saat ini&#8230; pertolongan tidak menaikkan BBM) seringkali&#8230; telinga-telinga tidak mendengar&#8230; hati membeku&#8230;tangan-tangan enggan terulur&#8230; mata tak lagi ada sorot kasih dan mulutpun lebih mudah menghujat.<br />
Apakah kita harus menyerah????<br />
Mungkin &#8230; memang ini adalah JalanNYA&#8230; mengajarkan kita untuk menahan diri tidak mengemis.. mencegah adanya pandangan hina terusap diwajah&#8230; Lalu&#8230; apakah kita harus bersedih???? Allah berniat mengasihi kita&#8230; dengan caraNYA&#8230; DIA mengajarkan hanya bergantung padaNYA, mengajarkan kesabaran yang panjang atas sebuah harapan dan memerintahkan kita untuk terus berdoa&#8230; meningkatkan keimanan kita.</p>
<h2><span style="color:#ff0000;"><strong>2.Jangan bersedih jika Dizalimi, Dilecehkan atau diHina orang lain</strong></span></h2>
<p>Islam mengajarkan untuk tidak mendendam dan membalas perlakuan yang tidak pada tempatnya pada kita, kenapa????? Hal itu akan merendahkan dan meletakkan posisi kita sama dengan orang-orang tersebut. Lalu&#8230; apakah kita harus diam??? Ada banyak cara untuk menyalurkan kemarahan&#8230; dari membalas dengan kebaikan&#8230; hingga melakukan marah yang ma&#8217;ruf&#8230;, yang tidak marah kepada orangnya tetapi marah pada perbuatannya. sehingga orang tersebut dapat tersadar&#8230;  Tergantung mana yang akan kita pilih&#8230;</p>
<h2><strong><span style="color:#ff0000;">3. Jangan bersedih, Jika Anda berhadapan dengan Masalah</span></strong></h2>
<p>Karena masalah menjadikan kita kuat&#8230; Masalah menjadikan kita dewasa&#8230; Masalah menjadikan kita makin beriman&#8230; Masalah akan menjadi sumber pahala, jika kita mampu mendampingi orang yang terkena masalah. Dan&#8230; dengan kita hanya menyibukkan diri melihat suatu masalah&#8230; dari sisi kesulitannya&#8230; kita tidak akan pernah bisa keluar dari masalah itu&#8230;. bahkan akan makin terpuruk dan terkurung</p>
<p><strong>&#8220;Dan Jangan kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.&#8221; QS Yusuf (12) : 87</strong></p>
<p>Terinspirasi dari &#8220;La-Tahzan&#8221; by DR &#8216;Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenapa mengeluh??]]></title>
<link>http://kamal87.wordpress.com/2007/11/26/kenapa-mengeluh/</link>
<pubDate>Mon, 26 Nov 2007 04:54:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>kamal87</dc:creator>
<guid>http://kamal87.wordpress.com/2007/11/26/kenapa-mengeluh/</guid>
<description><![CDATA[Setelah beberapa kali mengamati blog teman-teman semua. Saya melihat suatu kecenderungan yang ada pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Setelah beberapa kali mengamati blog teman-teman semua. Saya melihat suatu kecenderungan yang ada pada hampir semua blog teman saya. Kecenderungan apakah itu? yaitu kecenderungan untuk mengisi blog dengan keluh-kesah. Sebagian besar orang memanfaatkan isi blognya sebagai tempat curhat. Dan sayangnya, kebanyakan orang mencurahkan segala kegundahan hati dalam blognya. Coba saja tengok <a href="http://home.csui05.org" target="_blank">blog aggregator csui05</a>, blog aggregator untuk teman-teman saya di fasilkom angkatan 2005. Kalau diperhatikan sebagian besar judul tulisan yang ada disitu berupa judul-judul keluhan seperti:</p>
<ul>
<li>sial banget sih hari ini&#8230;</li>
<li>kesel banget gw</li>
<li>minggu yang menyebalkan</li>
<li>benci&#8230; benci&#8230; benci&#8230;</li>
<li>duuhh&#8230; gw bodoh banget sih&#8230;</li>
</ul>
<p>bahkan ada seorang sahabat saya yang seluruh isi blognya (dari awal dibuat sampe sekarang) berisi keluhan, coba cek *****************************(maap, atas permintaan seorang teman maka bagian ini di <strike>sensor</strike> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Seolah seluruh hidupnya itu cuma berisi penderitaan. Paling tidak itulah yang akan dilihat oleh orang yang mengunjungi blognya. Kasian banget kan ya&#8230;?!</p>
<p>Memang ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa tipe tulisan yang paling banyak ditulis oleh umat manusia adalah keluhan. Namun saya sendiri belum tahu apakah sudah ada penelitian tentang pengaruh dari menuliskan segala keluh kesah pada subjeknya. Namun, berdasarkan pengalaman saya, menuliskan keluh kesah itu tidak akan mengurahi kegundahan hati. Malah justru dengan menuliskan keluh kesah tersebut kita cenderung menyebarkan &#8216;aura-aura&#8217; negatif pada orang-orang yang membaca tulisan kita.</p>
<p>Saya sendiri pernah seperti itu sewaktu saya masih bergelut dengan blog yang lama <a href="http://51face.blogspot.com" target="_blank">51face.blogspot.com</a>, di blog tersebut saya pernah beberapa kali menuliskan keluh kesah saya, <a href="http://51face.blogspot.com/2006/08/begitu-sulitnya-memperbaiki-diri.html" target="_blank">ini dia salah satu tulisan keluh kesah saya</a>. Saya menulis keluh kesah tersebut ketika saya merasa putus asa karena belum juga bisa menjaga diri saya dari hal-hal buruk. Saya ketikkan tulisan itu dengan penuh emosi ( sampe-sampe tulisannya syahdu begitu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Dan setelah menumpahkan keluh kesah tersebut diblog, saya tidak merasakan perubahan yang berarti. Malah justru jadi banyak orang yang melihat saya sebagai orang dengan jiwa yang tidak bersemangat. Akhirnya pada suatu hari saya nyatakan dalam diri saya bahwa saya tidak akan lagi menuliskan semua keluh kesah tersebut di blog.</p>
<p>Lalu dimana lagi kita harus menumpahkan segala keluh kesah kita? Bukankah setiap manusia butuh tempat untuk mencurahkan segala perasaan hatinya. Ya, tentu saja. Namun menumpahkan segala perasaan hati di blog bukanlah cara yang paling baik. Tempat terbaik untuk menumpahkan segal keluh kesah adalah pada Allah SWT. Dzat yang paling tahu mana yang terbaik buat kita. Curhat yang paling efektif adalah ketika kita sendirian dimalam hari sehabis sholat malam trus bermunajat pada Allah SWT. Disana Allah pasti mendengar semua keluh kesah kita karena pada saat itu Allah langsung turun ke langit dunia untuk ngupingin hamba-hambanya yang lagi pada bermuhasabah. Dan Insya Allah, Allah akan memberi solusi terbaik buat kita.</p>
<p>Nah&#8230; buat kamu yang masih ngebet untuk menulis semua keluh kesahmu di blog. Saya punya sedikit tips supaya keluh kesah kita pun bisa bermanfaat buat orang yang membacanya. Tipsnya adalah:</p>
<p>Coba tuliskan keluh kesah kita itu dalam bentuk nasehat buat diri kita sendiri.</p>
<p>Contoh: <a href="http://51face.blogspot.com/2007/08/ketika-merasa-tidak-berguna.html">http://51face.blogspot.com/2007/08/ketika-merasa-tidak-berguna.html</a><br />
Disana saya menulis tentang betapa tidak enaknya menjadi free rider. Sebenarnya waktu itu saya mengeluhkan diri saya sendiri yang tidak bisa bermanfaat buat tim saya. Namun saya tulis dalam blog tersebut nasehat untuk diri saya sendiri. Jadi, mengeluhnya saya juga tetap dialihkan pada hal yang positif.</p>
<p><font color="#ff6600"><strong>So, sudahlah jangan mengeluh lagi! </strong></font></p>
<p><font color="#ff6600"><strong>Ayo kita isi jiwa kita dengan semangat.</strong></font></p>
<p><font color="#ff6600"><strong> always think positive, no matter how hard it is. </strong></font></p>
<p><font color="#ff6600"><strong>Never grouch again. </strong></font></p>
<p><font color="#ff6600"><strong>Laa Tahzan. </strong></font></p>
<p><strong><font color="#ff0000"><font color="#ff6600">Isi blog kita dengan sejuta manfaat.</font> </font></strong></p>
<p><strong><font color="#ff0000">Salam positif!!!</font></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KETIKA IBRAHIM MENANGIS]]></title>
<link>http://revuesuper.wordpress.com/2006/08/11/ketika-ibrahim-menangis/</link>
<pubDate>Fri, 11 Aug 2006 03:09:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>anak tanah</dc:creator>
<guid>http://revuesuper.wordpress.com/2006/08/11/ketika-ibrahim-menangis/</guid>
<description><![CDATA[Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemand]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemand]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
