<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>bertumbuh &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/bertumbuh/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "bertumbuh"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 15:10:56 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Seimbang Sperti Yesus]]></title>
<link>http://ayatpemulihan.wordpress.com/2010/02/10/seimbang-sperti-yesus/</link>
<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 03:11:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>kristiantimaharani</dc:creator>
<guid>http://ayatpemulihan.wordpress.com/2010/02/10/seimbang-sperti-yesus/</guid>
<description><![CDATA[Manusia yang sehat adalah manusia yang bertumbuh seimbang-anonim Sehat tidaknya kita terlihat dari s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote>
<p><big><b>Manusia yang sehat adalah manusia yang bertumbuh seimbang-anonim</b></big></p>
</blockquote>
<p><big>Sehat tidaknya kita terlihat dari seberapa seimbang pertumbuhan kita. Yesus adalah contoh manusia yang sehat. Ia bertumbuh secara fisik (bertambah besar), bertumbuh secara intelektual (bertambah hikmatNya), bertumbuh secara rohani (semakin dikasihi Allah), dan bertumbuh secara sosial dan emosi (semakin dikasihi manusia). </p>
<blockquote><p><strong>Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Lukas 2:52)  </strong></p></blockquote>
<p></big></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://kristenpost.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kristenpost.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://kompasblog.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kompasblog.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://gerejaindonesia.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://gerejaindonesia.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://kristianipost.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kristianipost.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://christianpost.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://christianpost.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://kabargereja.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://kabargereja.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://newschristian.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://newschristian.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://news100.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://news100.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://newsprograme.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung5704</dc:creator>
<guid>http://newsprograme.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://kedung.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung</dc:creator>
<guid>http://kedung.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://antiokhia.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung</dc:creator>
<guid>http://antiokhia.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bertumbuh dan Berubah]]></title>
<link>http://tabloidreformata.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</link>
<pubDate>Thu, 19 Nov 2009 04:30:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>kedung</dc:creator>
<guid>http://tabloidreformata.wordpress.com/2009/11/19/bertumbuh-dan-berubah/</guid>
<description><![CDATA[Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">         </div>
<div class="colortbl2" style="float:left;margin-right:5px;margin-bottom:5px;text-align:justify;padding:2px;"><img src="http://reformata.com/includes/image.php?m=news&#38;id=3272&#38;w=298" alt="Bertumbuh dan Berubah.png" title="Bertumbuh dan Berubah " border="0" /></div>
<div style="text-align:justify;">      Pdt. Robert R. Siahaan. M.Div.<br />Reformata.com &#8211; PERTUMBUHAN iman orang Kristen secara sederhana  dapat dikatakan sebagai perubahan, bertumbuh berarti ber-ubah dan jika tidak ada perubahan berarti tidak bertumbuh. Beberapa perubahan terjadi secara otomatis dalam diri orang Kristen ketika ia menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, seperti peru-bahan status sebagai anak Allah dan penerimaan warisan-warisan rohani yang diberikan Allah (Yoh 1:12; Roma 8; 1 Kor 12, dsb). Na-mun pengalaman perubahan hidup setelah menjadi orang Kristen dalam kualitas karakter, tingkah laku, perkataan atau kualitas seutuhnya sebagai orang Kristen seringkali hanya wacana, hanya mengalami sedikit sekali perubahan. <br />Jika dikaitkan  dengan proses pengudusan yang dijalankan orang Kristen, jarang sekali kita mene-mukan orang Kristen yang mampu menghidupi kekudusannya secara konsisten, kebanyakan mengalami pasang surut bahkan mandeg atau tenggelam dalam keberdosaannya. Mengapa keadaan seperti itu yang banyak terjadi? Pertama, secara tidak sadar orang Kristen salah pa-ham terhadap bagian-bagian ter-tentu dari Alkitab yang dibacanya, misalnya pemahaman terhadap Roma 12: 2 (“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini&#8230;”).<br /> Jika seseorang hanya fokus pada ayat ini saja seolah-olah peru-bahan dalam diri orang Kristen akan terjadi jika terjadi perubahan pada ranah intelektualnya. Seolah-olah dengan memiliki banyak pengeta-huan mengenai Firman Tuhan dan konsep-konsep kebenaran seorang Kristen secara otomatis akan me-ngalami pertumbuhan rohani (pe-rubahan) dalam hidupnya. Padahal realitanya sekalipun seorang telah memiliki banyak pemahaman akan kebenaran Firman Tuhan tidak serta-merta ia pasti menjadi orang Kristen yang lebih baik, karena antara pengenalan Firman Tuhan dan tindakan ketaatan merupakan proses yang berbeda. <a href="http://reformata.com/03272-bertumbuh-dan-berubah-.html">baca selengkapnya..</a></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CLEMENT]]></title>
<link>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/10/clement/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 22:14:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>emanuelprast</dc:creator>
<guid>http://ongoingformation.wordpress.com/2009/11/10/clement/</guid>
<description><![CDATA[“Selama aku di sini, kamu juga tinggal di sini, makan dan tidur di sini. Jangan khawatir! Oke?” Clem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>“Selama aku di sini, kamu juga tinggal di sini, makan dan tidur di sini. Jangan khawatir! Oke?”</p>
<p>Clement yang saat itu sedang duduk sambil makan di hadapanku hanya mengangguk menjawab pertanyaanku. Mulutnya sedang penuh oleh nasi. Dia lalu tersenyum menunjukkan giginya yang patah dan berlubang di sana-sini.<!--more--></p>
<p>Aku sejenak termenung mengamati tubuh kerempeng Clement di hadapanku. Aku jatuh oleh rasa iba yang tak terkira. Dalam usia sekitar 11 – 12 tahun, Clement hidup seperti tak punya rumah. Dia sebenarnya punya rumah. Tapi Clement tidak suka tinggal di rumah. Dia selalu berkeliaran ke sana ke mari tak menentu. Aku mencoba menghindari untuk bertanya, “Mengapa?” Clement tampaknya tak terlalu suka ditanyai soal ayah atau ibunya. Dengan gaya ala anak-anak, dia selalu menjawab ketus bila ditanyai orang soal mengapa dia tidak betah di rumah. “Malas!”, begitu jawabnya.</p>
<p>Clement bukan hanya tidak suka tinggal di rumah. Dia juga tidak betah di sekolah. Cukup sering dia bolos sekolah. Dia menghilang entah ke mana. Karena mau menghindari pertanyaan gurunya mengapa dia kerapkali bolos sekolah, akhirnya Clement malah tidak mau bersekolah sama sekali.</p>
<p>Di dekat tempatku tinggal di Tulagi, ada keluarga paman dan bibi Clement serta beberapa sanak familinya. Setiap kali aku bertanya soal Clement, ada nada jawaban yang selalu sama: “Dia anak nakal. Sudahlah, jangan diurusi! Percuma!” Bahkan beberapa orang nampak segan memberikan jawaban. Setelah beberapa kali mendapatkan tanggapan yang sama, aku akhirnya memilih berhenti bertanya soal Clement pada sanak familinya. Bagiku, pelbagai jawaban itu sudah cukup menunjukkan bahwa sanak familinya tidak mau peduli lagi pada Clement dan menganggapnya sebagai anak nakal.</p>
<p>Oleh karena itu, pada kesempatan tinggal selama dua minggu di Tulagi, aku memutuskan untuk “mengadopsi” Clement. Kuminta dia tinggal bersamaku. Beberapa anak muda yang juga tinggal bersamaku kuberi sedikit keterangan tentang maksudku menyuruh Clement tinggal bersama kami. Selama tinggal bersama-sama dengan kami, Clement sebenarnya cukup patuh. Pada hari-hari pertama, kusuruh dia mandi sehari dua kali, bahkan kadang-kadang agak kupaksa bila dia memang segan untuk mandi. Clement memang tidak terbiasa mandi berhari-hari sehingga badannya memang sangat bau. Dia juga kuminta mengganti baju sehabis mandi. Dia bilang tidak punya baju, maka kuberi dia beberapa helai kaos. Esok harinya, salah satu kaos itu kutemukan di kolong tempat tidur.</p>
<p>Ketika kutanya mengapa kaos itu ada di sana, dia bilang: “Panas. Malas pakai baju.”</p>
<p>“Okelah. Tapi yang penting kamu mandi”, jawabku.</p>
<p>Pernah selama dua hari Clement tidak ada bersama kami. Dia pergi entah ke mana. Setelah dua hari dia muncul lagi. Tubuhnya sudah bau lagi seperti semula. Tubuh kerempeng itu tidak berpakaian lagi, hitam legam, dan kotor lagi.</p>
<p>Kutanya dia dalam bahasa Pijin Solomon: “<em>Hai boy, yu go lo wea</em>?” (Hai bocah, ke mana saja kamu pergi?). Clement tidak menjawab. Hanya tertawa kanak-kanak.</p>
<p><em>“Hai, mi askem yu ya! </em><em>Yu go lo wea?” </em>(Aku sedang bertanya pada kamu ya. Ke mana saja kamu pergi?)</p>
<p><em>“Mi plei plei”</em>, jawab Clement seenaknya.</p>
<p><em>“Ai, yu plei plei olowe. </em><em>Yu mas stap lo hia, lanem staka samting ya. Yu go lo swim nao. Kuiktaem”</em> (Hah, kamu bermain-main terus-terusan. Kamu mesti tinggal di sini dan belajar banyak hal. Sekarang kamu mandi sana, cepat).</p>
<p>Mendengar nada hardikanku yang meninggi, Clement segera mengambil salah satu handuk di sampiran lalu menuju ke kamar mandi. Aku tahu, sebenarnya dia malas mandi. Tapi karena ada rasa takut padaku, dia toh berangkat mandi juga.</p>
<p>Siang itu sengaja kusempatkan duduk mengobrol dengan Clement di beranda depan rumah. Kebetulan anak-anak muda lainnya sedang tidak ada di rumah. Semua sedang pergi ke luar rumah dengan urusan masing-masing. Sambil iseng namun berhati-hati, aku mulai bertanya-tanya pada Clement tentang sanak saudaranya. Di rumahnya, Clement hidup dengan ayah dan ibu tirinya. Ibu kandungnya tinggal jauh di pulau Malaita. Dia tidak pernah menjenguk Clement. Clement tidak betah tinggal di rumah dengan ayah kandung dan ibu tirinya (wanita yang dinikahi ayahnya setelah meninggalkan ibu kandungnya). Ayahnya amat keras dan sering memukulnya bila Clement melakukan kesalahan. Ibu tirinya juga sering mengata-ngatainya. Clement juga tidak mau bermain dengan saudara-saudara tirinya. Itu semua membuat Clement memilih lari dari rumah dan berkeliaran sepanjang hari. Ke mana saja, asalkan tidak di rumah.</p>
<p>Mendengar ceritera dari mulut Clement, aku menjadi sangat iba. Dari dalam hatiku, aku bertekad untuk memberi perhatian lebih padanya. Clement menjadi “anak nakal” dan tidak mau mendengarkan nasehat bibi, paman, dan sanak familinya, karena ia memang mau menunjukkan eksistensinya. Ada perasaan “ditolak” ketika dia berhadapan dengan perlakuan ayah kandung dan ibu tirinya (bahkan mungkin juga oleh sikap ibu kandungnya yang tidak pernah mengunjunginya). Perlakuan demi perlakuan dirasakan Clement sebagai penolakan atas dirinya. Itulah yang membuatnya akhirnya “kehilangan rumah” yang membuatnya merasa <em>at home </em>dan “pulang”. Kenakalan Clement sesungguhnya adalah caranya untuk meminta perhatian dari orang dewasa. Dan ketika perhatian itu tidak dia dapatkan, semakin Clement menunjukkan bahwa dia memang “nakal”. Itulah setidaknya yang bisa kumaknai dari ceritera Clement siang itu.</p>
<p>Padahal, selama dia tinggal bersama kami, Clement masih mau bila kusuruh mencuci piring, membersihkan rumah, dan mandi sehari dua kali. Setidaknya, itu menjadi tanda bahwa Clement masih mau dan bisa dididik.</p>
<p>Ketika hari tiba bagiku untuk kembali ke Honiara, hatiku terasa pedih. Bukan oleh romantisme perpisahan dengan Clement, tapi oleh keprihatinanku pada Clement. Kami akan meninggalkan Clement selama sembilan bulan sebelum kami kembali lagi ke Tulagi. Selama waktu itu, aku berkeyakinan tidak ada orang dewasa yang mau mendampingi dan mendidik Clement. Aku punya firasat buruk. Ada kekhawatiran luar biasa dalam diriku terhadap “nasib” Clement.</p>
<p>Kini, aku kembali lagi ke Tulagi setelah masa sembilan bulan itu berlalu, dan kekhawatiranku sembilan bulan yang lalu cukup beralasan. Kini aku tidak bisa lagi “menemukan” Clement. Menurut orang-orang kampung, Clement sekarang adalah “juara termuda” di antara para pemabuk, penjudi, dan perokok.  Dia tidak pernah lagi berkumpul dengan teman-teman sepermainan. Dia selalu bergaul dengan anak-anak muda pengangguran yang memang cukup banyak di situ. Dia berada di bawah pengaruh kebiasaan buruk masyarakat setempat.</p>
<p>Hatiku kembali jatuh oleh rasa sedih dan keprihatinan yang luar biasa. Aku seperti kehilangan barang berharga yang semula kugenggam erat-erat, tapi kemudian lepas karena hanyut dibawa arus air deras. Dan hilang begitu saja. Apa boleh buat.</p>
<p>Clement bagiku adalah korban. Dia adalah korban dari situasi keluarga yang tidak bahagia dan <em>broken home</em>. Dia adalah korban dari masyarakat yang tidak sehat oleh kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah mengerak. Dia adalah korban dari penghakiman orang dewasa yang tidak memahami dunia kanak-kanak. Aku semakin menyadari betapa penting dan mendalamnya makna keluarga yang memberikan rasa <em>at home</em> dan yang memungkinkan anggota-anggotanya untuk “pulang”. Keluarga yang <em>home</em> akan menumbuhkan perasaan aman bagi anggota-anggotanya untuk tinggal di dalamnya dan mendapatkan kasih yang secukupnya untuk bertumbuh.</p>
<p>Clement kini benar-benar pergi mencari “<em>home</em>”, dengan apa atau dengan siapa dia menemukan makna untuk “pulang”.</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BERTUMBUH DAN BERTAMBAH  (KPR 1:12-14; 2:1-12; 2:37-42, 46-47; Kolose 2:6-7) oleh Pdt. Yarman Halawa  ]]></title>
<link>http://gracia4christ.wordpress.com/2009/11/07/bertumbuh-dan-bertambah-kpr-112-14-21-12-237-42-46-47-kolose-26-7-oleh-pdt-yarman-halawa/</link>
<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 05:06:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>graciacitra4christ</dc:creator>
<guid>http://gracia4christ.wordpress.com/2009/11/07/bertumbuh-dan-bertambah-kpr-112-14-21-12-237-42-46-47-kolose-26-7-oleh-pdt-yarman-halawa/</guid>
<description><![CDATA[Juan Carlos Ortiz adalah seorang Pendeta yang sangat terkenal di Argentina (termasuk di seantero Ame]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Juan Carlos Ortiz adalah seorang Pendeta yang sangat terkenal di Argentina (termasuk di seantero Amerika).  Ia melayani di sebuah gereja di ibukota Negara itu, Buenos Aires. Mula2 anggotanya 184 orang. Kemudian dalam beberapa tahun bertambah menjadi 600 anggota.  3x lipat! Ia juga rajin belajar, mengikuti seminar, mengambil studi dan mempraktekkan seluruh pengetahuan itu di gerejanya. Ia juga di undang kemana-mana dan memberi ceramah.  Apakah itu membuat Ortiz senang, bahagia. Ya! Tetapi ia memberi sebuah kesaksian yang ia tuliskan dalam bukunya bahwa “Ia sangat senang dan menikmati setiap kali ia memeras pikiran dalam merancang dan mempersiapkan program2 utama gereja, FT, ceramah, melayani konseling, memberi katekisasi, dan membuat tulisan2 rohani; tetapi ia selalu gelisah dan merasa tidak puas setiap kali ia sampai di rumah dan beristirahat.  Ia merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Perasaan ini sangat mengganggu dia selama beberapa waktu lamanya. Sampai akhirnya ia tidak tahan untuk mencari tahu ada apa sebenarnya, koq dia dihinggapi perasaan seperti itu. Ia mengambil waktu cuti selama 2 minggu ke tempat yang jauh dan sepi untuk berdoa dan merenung. Beberapa hari kemudian ketika ia sedang menulis tiba2 suatu kuasa dari RK berkata-kata dalam batinnya, ‘Ortiz, kalau beberapa waktu ini engkau selalu gelisah, penyebabnya adalah karena yang engkau layani itu bukan gereja tetapi bisnis. Engkau mempromosikan Injil seperti orang mempromosikan Coca-Cola. Engkau memakai semua kiat yang engkau pelajari, tetapi dimana Aku, dimana tangan-Ku di dalam semua yang engkau kerjakan itu?’ Ortiz terkejut dan berhenti menulis. Lalu kata2 dari pikiran dan batinnya itu kembali muncul, ‘Engkau menyangka bahwa gerejamu itu bertumbuh. Dari 184 orang menjadi 600 orang. Tetapi sebenarnya gerejamu itu tidak bertumbuh, hanya bertambah. Anggotanya betambah, itu benar, tetapi kualitas mereka tetap saja sama seperti sebelumnya. Dulu gerejamu memiliki 184 bayi rohani, sekarang bertambah menjadi 600 bayi rohani.’ Ortiz benar2 shock!! Selama ini ia merasa bangga telah menggembalakan jemaat yang besar, dan jemaatnya bangga karena mereka menjadi bagian dari gereja yang paling maju di antara gereja lainnya di kota Buenos Aires, Argentina. O….Ternyata di mata Tuhan lain sama sekali!</p>
<p>Apa yang di alami oleh Pdt. Ortiz dan jemaatnya bisa terjadi di mana-mana. Bisa terjadi pada saya dan pada saudara, pada kita semua. Gereja tidak bertumbuh tetapi cuma bertambah. Ini merupakan kondisi yang harus kita waspadai bersama. Kita patut selalu ingat peringatan yang disampaikan oleh Penulis surat Ibrani dalam 5:12-13, “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas2 pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.” Mestinya makan nasi tetapi masih makan bubur. Ini mengingatkan kita bahwa seseorang (termasuk saya dan saudara) bisa saja bertambah tua, bertambah besar, bertambah tinggi, tetapi sikap, cara berpikir, pola hidup, tingkah lakunya tetap seperti kanak-kanak. Gereja juga bisa seperti itu. Bisa tambah besar, tambah kaya, tambah megah, tambah banyak anggotanya, tetapi tidak bertumbuh alias tidak bertambah dewasa. Orang kristen bisa kelihatan bertambah besar, bertambah banyak dan bertambah tua, tetapi tidak bertumbuh alias tidak bertambah dewasa rohaninya alias tetap menjadi bayi rohani.</p>
<p>Pentakosta (peristiwa turunnya Roh Kudus) tidak hanya sekedar berbicara mengenai pertambahan jumlah orang percaya yang instant. Ia berbicara mengenai pertumbuhan kehidupan rohani orang percaya mula-mula yang kemudian menghasilkan pertambahan jumlah orang percaya mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi (termasuk kita pada hari ini). Mari kita selidiki melalui 3 pembacaan Alkitab tadi bagimana hal ini bisa terjadi. Apa rahasia pertumbuhan dan pertambahan dalam peristiwa Pentakosta?</p>
<p>Pertama, <strong>Pertobatan yang Sungguh-Sungguh kepada Yesus.</strong><br />
Dalam KPR 2:14 – siapa mereka? Orang-orang yang juga termasuk mereka yang pasti pernah melihat Yesus dan melihat para rasul sebelumnya, mendengar Injil dan pengajaran Yesus dan murid2-Nya, menyaksikan mujizat-Nya dan bahkan ikut Yesus dan menyaksikan kematian-Nya di atas salib Golgota, juga telah mendengar kabar kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga. Tetapi sampai pada hari Pentakosta itu mereka ini tetap masih belum percaya dan menerima Yesus dengan sungguh2. Hati mereka masih belum terbuka dengan sungguh2. Bahkan mungkin mereka termasuk di antara orang2 yang menganggap para rasul yang memberitakan Injil Tuhan itu sebagai orang2 yang mabuk bahkan mungkin gila karena dalam Pasal 2 iu dikatakan bahwa para rasul dapat berbicara dalam bahasa2 dari berbagai bangsa yang ada di bawah kolong langit ini. Tetapi puji Tuhan! Setelah FT yang begitu keras disampaikan dalam ayat 14-36; maka dikatakan dalam ayat 37-41 bahwa dengan hati yang terharu mereka bertobat, percaya dan memberi diri untuk dibaptiskan bagi Yesus.</p>
<p>Apakah kita termasuk seperti orang2 ini? Apakah kita termasuk orang2 yang telah mendengar Firman berpuluh2 kali, pergi ke gereja/persekutuan, bahkan telah turut terlibat dalam kegiatan pelayanan, namun sebenarnya masih belum bertobat dan percaya Yesus dengan sungguh2?! Ada begitu banyak orang yang sebenarnya sudah masuk kategori ‘kristen’ tetapi tidak bisa bertumbuh, tidak bisa berbuah bagi Tuhan karena ternyata masih hanya sebatas dengar Firman, masih hanya sebatas ikut2an tetapi sebenarnya belum bertobat dan percaya Yesus dengan sungguh2. Apa buktinya?  Suam rohani. Jadi orang kristen ala kadarnya. Hidup rohaninya hidup-mati, hidup mati mirip voltase listrik naik turun, dan tidak menghasilkan apa2 bagi kemajuan pekerjaan Tuhan di bumi. Maka, bila masih ada di antara kita pada hari ini yang termasuk seperti ini, maka demi kasih Kristus Yesus bagi Sdr, sekaranglah saatnya untuk bertobat, terimalah Dia sebagai Juruselamatmu, percayalah Dia dengan sungguh2 dan jadilah orang kristen yang sejati!!!</p>
<p>Kedua, <strong>Ketekunan dan Kesehatian di Dalam Doa </strong><br />
Pentakosta diawali dengan sebuah penantian: 50 hari setelah Paskah dan 10 hari setelah Kenaikan. Dalam KPR 1:12-14 kita menemukan para rasul dan orang2 percaya (termasuk Maria ibu Yesus) selama 10 hari sejak Kenaikan Kristus ke sorga menanti2 turunnya Roh Kudus. Apa yang mereka lakukan selama 10 hari menanti itu? Tidur? (a.14 ‘bertekun dan bersehati di dalam doa bersama2’). Dalam 1:15 disebutkan bahwa jumlah mereka saat itu 120 orang. Apakah artinya ini bagi kita? Artinya: bahwa pertumbuhan rohani itu selalu diawali dengan lutut semua orang percaya dihadapan Tuhan yang rindu ingin menyaksikan kuasa Tuhan dinyatakan.  Penginjil Inggris terkenal bernama Gipsy Smith ketika selesai memimpin sebuah acara KKR ditanya oleh majelis gereja setempat mengenai apa rahasianya supaya terjadi kebangunan rohani didalam gereja mereka.  Gipsy Smith menjawab, &#8220;Pulanglah kerumah, ambillah sebuah kapur tulis lalu masuklah kedalam kamar dan buatlah lingkaran dilantai setelah itu masuklah ketengah lingkaran itu dan mulailah berdoa hingga benar-benar terjadi kebangunan rohani yang Anda rindukan.&#8221;</p>
<p>Banyak orang kristen/gereja tidak bertumbuh rohaninya dengan baik karena menegarkan tengkuk (bersikap acuh tak acuh), tidak mau berlutut, berdoa, tunduk dihadapan Tuhan. Atau mungkin mau berlutut berdoa tetapi tujuannya semata2 untuk diri sendiri, untuk kepentingan diri sendiri bukan untuk kepentingan kemauan pekerjaan Tuhan di bumi. Kita perhatikan, ketika orang2 percaya mau bertekun dan bersehati di dalam doa maka kehidupan rohani mereka mengalami pertumbuhan  yang luarbiasa. Dan tidak hanya itu dalam pasal 2 dikatakan bahwa setelah 10 hari mereka bertekun dan bersehati dalam doa; maka, kuasa Roh Kudus dicurahkan dan terjadilah kebangunan rohani yang besar: Injil diberitakan dalam bahasa2 yang ada di dalam dunia (bukan bahasa Roh) dan 3000 orang menjadi percaya Yesus dan dibaptiskan. Ini luar biasa!  Saya percaya ini bukan sesuatu yang mustahil terjadi dalam kehidupan Sdr dan gereja kita di tempat ini.  Apabila kita siap dan mau menginvestasikan waktu terbaik bagi pekerjaan Tuhan melalui ketekunan dan kesehatian di dalam doa, maka kita pasti akan melihat hidup kita, gereja kita akan bertumbuh dan bertambah. Maukah kita? Siapkah kita?</p>
<p>Ketiga, <strong>Memelihara Semangat Kebersamaan Ibadah &#38; Persekutuan</strong><br />
Pentakosta diawali oleh 120 orang yang memelihara dan menjaga kebersamaan mereka selama 10 hari sebelum Roh Kudus dicurahkan (1:14, 15; 2:1). Dan setelah jumlah mereka menjadi lebih 3000 orang mereka tetap menjaga dan memelihara Semangat Kebersamaan ini. Kebersamaan seperti apa? Dikatakan kembali dalam KPR 2: 42, 46-47a bahwa mereka “bertekun dalam pengajaran, persekutuan, berdoa, belajar saling melayani, dan memuji Allah.” Hal2 ini mendatangkan berkat Tuhan atas pertambahan   jumlah mereka. Dikatakan dalam 47b, “…Dan tiap2 hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Ini berarti bahwa bila kita memang sungguh2 rindu mengharapkan pertumbuhan dan pertambahan terjadi dalam hidup kita, dalam gereja kita; maka peliharalah semangat kebersamaan dalam ketekunan pengajaran, persekutuan, doa, melayani dan memuji Allah. Dengan demikian orang luar akan melihat kita sebagai orang2 yang bertumbuh rohani dengan baik dan sehat, dan sekaligus menjadi kesaksian yang nyata yang mungkin pada kahirnya membawa mereka untuk bersama2 dengan kita di tempat ini.</p>
<p>Bagaimana supaya hal ini benar2 nyata dalam kehidupan pribadi dan gereja kita pada hari ini? Mari kita perhatikan Alkitab kita. Dalam 2:1 dikatakan bahwa orang2 percaya berada/berkumpul ‘di satu tempat.’ Jadi tidak sendiri2, tidak kumpul di tempat yang berbeda-beda, tidak kumpul sendiri2 sesuka hati, tidak kemana-mana, tapi kumpul di 1 tempat.   Pertanyaannya: Why harus di 1 tempat?  Jawabnya: Karena 1 itu mewakili 3 macam symbol: (1) kesatuan dan kesehatian, (2) kesungguhan untuk mencapai visi-misi yang sama, dan (3) kesetiaan terhadap pengajaran yang benar.</p>
<p>Sudahkah kita benar2 telah berada/berkumpul di 1 tempat yang sama pada saat ini?  Bila kita benar2 ingin merasakan pertumbuhan dan pertambahan mari pelihara kebersamaan ibadah dan persekutuan didalam gereja Tuhan.</p>
<p>Terakhir, <strong>Sedia Membayar Harga menjadi Saksi Tuhan</strong><br />
Setelah Pentakosta, orang2 kristen mengalami pertumbuhan rohani dan pertambahan  jumlah yang luarbiasa. Tetapi segera sesudah itu juga mulai ada tantangan, ancaman dan hambatan cf.  KPR 4-8. Tetapi puji Tuhan, kita melihat bahwa orang2 kristen yang percaya, berakar, di bangun, dan bertumbuh di dalam Kristus  sebagaimana Kolose 2:6-7  katakan tetap tangguh menghadapi tantangan, ancaman dan hambatan ini. Mereka tidak bertekuk lutut dan menyerah. Mereka justru sedia membayar harga baik waktu, tenaga, materi, dan bahkan nyawa mereka menjadi saksi Tuhan yang hidup. Bahkan kita melihat di dalam seluruh Kisah Para Rasul makin orang kristen dihambat semakin bertumbuh, makin di babat justru semakin merambat ke mana-mana, makin dihalangi malah semakin bertambah di mana2.</p>
<p>Iblis tidak suka orang2 kristen bertumbuh rohani dan tidak suka melihat gereja Tuhan makin dipenuhi dengan jumlah orang2 percaya. Ia akan berusaha sekuat tenaga memakai segala cara baik dari dalam maupun dari luar orang percaya dan gereja Tuhan tidak bertumbuh dan bertambah. Ia akan berusaha mencobai kita dengan keraguan, kekhawatiran, memecah belah orang2 percaya, menggunakan orang2 tertentu yang tidak bertumbuh rohaninya untuk mengacaukan pekerjaan Tuhan, menggunakan pergumulan2 hidup kita dan dosa-dosa yang masih kita pelihara untuk membuat kita undur, tidak setia dan meninggalkan kehidupan doa, ibadah, persekutuan dan pelayanan.  Bila ini akan, sedang  atau mulai engkau dan aku rasakan, maka waspadalah!  Mari tidak menyerah! Undur! Lemah! Taku! mudah dikacaukan! Ini justru bisa menjadi pertanda yang baik.  Orang kristen dan gereja yang bertumbuh rohani dengan kuat pasti akan menghadapi tantangan yang hebat.  Semakin bertumbuh rohani akan semakin hebat cobaannya.  Semakin engkau dan aku dipakai Tuhan menjadi saksi akan semakin besar juga hambatannya. Ibarat pohon makin tinggi maka angin yang menerpa juga akan semakin besar.  Kita tidak boleh bertekuk lutut dan menyerah.  Ingat!  Setiap orang percaya sejati telah diberi kuasa oleh Kristus untuk menjadi saksi cf. KPR 1:8! Ini berarti bahwa orang percaya yang sedia membayar harga akan senantiasa disertai, dikuatkan dan dihiburkan oleh Roh Kudus dalam menyaksikan akan Yesus kepada dunia.</p>
<p>Bersediakah kita membayar harga menjadi saksi Kristus?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jangan Menoleh Ke Belakang, Tiang Garam Akan Menyambutmu .......]]></title>
<link>http://teroponghati.wordpress.com/2009/10/24/bantu-aku-untuk-tinggalkan-masa-laluku/</link>
<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 03:48:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>Sarah J</dc:creator>
<guid>http://teroponghati.wordpress.com/2009/10/24/bantu-aku-untuk-tinggalkan-masa-laluku/</guid>
<description><![CDATA[Looking Back Banyak pertanyaanku mengendap di udara Mengapa aku seringkali gagal dalam beberapa masa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="wp-caption alignleft" style="width: 114px"><img title="Looking Back" src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:621zWiKfh4w8JM:http://www.portcityjava.com/images/secondaries/contact/looking_back.jpg" alt="Looking Back" width="104" height="135" /><p class="wp-caption-text">Looking Back</p></div>
<p>Banyak pertanyaanku mengendap di udara<br />
Mengapa aku seringkali gagal dalam beberapa masalahku ?<br />
Mengapa aku statis berjalan di tempat untuk sebagian kehidupanku ?<br />
Mengapa Tuhan membiarkan segala yang buruk merusak hidupku ?<br />
Mengapa Tuhan membiarkan kuasa gelap terus mengelilingku ?<br />
Mengapa aku tidak Kau biarkan bernafas menghirup udara segar dan tidak menekan ?<br />
Apakah Tuhan tidak memberkatiku ?<br />
Apakah aku tidak termasuk dalam sebagian orang yang mendapat berkat dari Mu?<br />
Tidak mungkin !!!</p>
<p>Aku sangat yakin, karena janji Tuhan berlaku bagi semua orang &#8230;..<br />
Lalu, apa yang menyebabkan semua terjadi padaku ?<br />
Aku mulai merenung dan mencoba mencari tahu<br />
Kisah Sodom dan Gomorah ternyata memberikan gambaran terang untukku<br />
Ternyata jelas aku melihat, apa yang terjadi sesungguhnya<br />
Karena aku terbelenggu akan masa laluku &#8230;..<!--more--></p>
<p>Dalam kisah Sodom dan Gomorah, istri Lot yang seharusnya dalam rencana penyelamatan Tuhan, ternyata berhenti dan menoleh ke belakang &#8230;..<br />
Dan dia berubah menjadi tiang garam &#8230;..<br />
Aku terus berpikir, mencoba merenung dalam diam<br />
Ternyata &#8220;menoleh ke belakang&#8221; adalah kata kuncinya<br />
Masa lalu menjadi hantu bagi kehidupan masa sekarang dan masa depanku<br />
Traumatis yang begitu mendalam menjadi belenggu masa laluku yang kelam</p>
<p>Beberapa masalahku yang kelam menjadikanku limbung, gamang dan takut untuk menghadapai hiudpku sekarang dan masa depanku &#8230;..<br />
Aku banyak mengalami hal hal buruk di masa laluku<br />
Aku banyak mengalami hal hal yang mengerikan dalam kehidupanku<br />
Aku banyak melakukan dosa, baik itu sengaja maupun tidak ingin kulakukan &#8230;..<br />
Aku banyak mengalami kepahitan akibat terlalu banyak disakiti oleh orang orang disekelilingku &#8230;..<br />
Kejadian kejadian buruk dan mengerikan beberapa kali memasuki ruang kehidupanku</p>
<p>Bayang bayang masa laluku selalu mengikuti&#8230;.<br />
Aku sungguh merasakan itu&#8230;..<br />
Aku sungguh terbelenggu dengan semua itu &#8230;..<br />
Aku merasakan, begitu sulit aku maju melangkah<br />
Aku merasa berjalan di tempat, tidak bertumbuh dan tidak berkembang<br />
Aku merasa seringkali makin merosot ke dalam belenggu masa laluku &#8230;..</p>
<p>Kisah istri Lot yang seharusnya dalam rencana penyelamatan Tuhan tetapi menoleh ke belakang,<br />
Adalah pilihan yang membawa konsekwensi fatal, karena ia berubah menjadi tiang garam &#8230;..<br />
<strong><em>&#8220;We have to start to move forward, we really have to do it now !!!&#8221;</em></strong><br />
Mungkin itu kalimat yang sangat pantas aku resapi dan lakukan &#8230;..</p>
<p>Kuasa gelap memang selalu berusaha menuduhku dengan segala hal dimasa laluku untuk memperlambatku dan membuat aku menoleh ke belakang<br />
Kuasa gelap selalu berusaha menghentikan langkahku dan memundurkan kehidupanku<br />
Kuasa gelap tidak ingin aku maju dan menjadi lebih dekat menuju Tuhanku<br />
<strong><em>&#8220;Yesus berkata : Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah &#8221; &#8230;&#8230; Lukas 9 : 61</em></strong></p>
<p>Tuhanku mau aku selalu maju<br />
Tuhanku rindu untuk mencurahkan semua berkat Nya untukku<br />
Tetapi bayang bayang masa lalu kerap kali membuat aku selalu menoleh ke belakang dan aku selalu gagal mencapai janji janji Tuhan &#8230;..</p>
<p>Aku terus berpikir dan merenung,<br />
Aku yakin dengan sangat kalau aku bisa maju<br />
Tapi aku akan tetap diam di tempat bila aku masih terbelenggu dengan masa laluku, apapun bentuknya<br />
Aku harus benar benar dibuat mengerti,<br />
Bahwa Tuhan memang sangat mengasihiku &#8230;..Tuhan tidak mau aku terus terikat dalam dosa, problema kehidupan maupun semua traumatis masa laluku<br />
Tuhan sudah menyerahkan anak Nya terkasih untukku, bukan ?<br />
Yesus Kristus sudah datang untuk menyelamatkanku &#8230;..</p>
<p>Tuhan sudah memerdekakan ku dari segala dosa, kutuk dan segala perhambaan masa laluku &#8230;..<br />
Tuhan mau aku berhenti menoleh ke belakang !!!!!<br />
Tuhan mau aku meraih janji janji Tuhan  yang penuh dengan rancangan damai sejahtera, hidup berkelimpahan dan penuh dengan berkat &#8230;&#8230;<br />
Tapi sungguh aku sangat bodoh &#8230;..</p>
<p>Aku masih terus mengingat ingat masa laluku &#8230;..<br />
Aku masih terus terbelenggu atas semuanya itu &#8230;..<br />
Padahal Tuhan sudah mencurahkan rahmat Nya yang baru setiap saat &#8230;</p>
<p>Ahhhhhh&#8230;&#8230;.<br />
Tuhan sudah menyediakan pengharapan baru bagiku<br />
Dia sudah menebusku, melalui anak Nya<br />
Dan aku bisa menatap masa depanku yang cerah dengan penuh harapan &#8230;&#8230;.</p>
<p>Aku menyadari semuanya sekarang,<br />
Dia mau aku melupakan semua traumatis masa laluku<br />
Dia mau aku membuka belenggu masa laluku yang menekanku<br />
Dan Dia mau, aku bersama sama dengan Dia menapak masa depan, bertumbuh dan selalu berkembang &#8230;&#8230;<br />
Aku akan terus berusaha dan melakukannya untuk Mu Tuhan &#8230;..<br />
Karena aku mencintai Mu &#8230;..</p>
<p><em>Today is time to let my past go . Let&#8217;s stop looking back to the past, let&#8217;s move forward. Let&#8217;s move on with all hope and glory &#8230;..</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sorry Sir !  I don’t know about It !]]></title>
<link>http://elindasari.wordpress.com/2009/06/12/sorry-sir-i-don%e2%80%99t-know-about-it/</link>
<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 10:35:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>elindasari</dc:creator>
<guid>http://elindasari.wordpress.com/2009/06/12/sorry-sir-i-don%e2%80%99t-know-about-it/</guid>
<description><![CDATA[Sorry Sir, I don't know about it! “Sorry Sir ! , I don’t about it !”. Yach, kalimat itulah yang akhi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sorry Sir, I don't know about it! “Sorry Sir ! , I don’t about it !”. Yach, kalimat itulah yang akhi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Talent]]></title>
<link>http://wilbertsitu.wordpress.com/2009/05/13/talent/</link>
<pubDate>Wed, 13 May 2009 05:02:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>wilbertsitu</dc:creator>
<guid>http://wilbertsitu.wordpress.com/2009/05/13/talent/</guid>
<description><![CDATA[Adalah seorang tuan yang mau bepergian ke luar negri, lalu ia memanggil hamba-hambanya dan mempercay]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Adalah seorang tuan yang mau bepergian ke luar negri, lalu ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang di berikan lima talent, yang seorang lagi di berikan dua dan seorang lagi diberikan  satu. Masing-masing menurut kesanggupannya lalu ia berangkat.</p>
<p>Segera pergilah hamba yang menerima lima talent itu, ia menjalankan uang itu(talent) yang diberikan kepadanya dan beroleh laba lima talent. Hamba yang menerima dua talent itu pun berbuat demikian dan berlaba dua talenta.</p>
<p>Tetapi hamba yang menerima satu talent itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang(talent) itu.</p>
<p>Beberapa lama kemudian pulanglah tuannya dan mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Hamba yang membawa lima talent itu menghadap tuannya dan berkata : &#8220;Tuan lima talent yang tuan percayakan kepadaku telah beroleh laba lima talent. Lalu tuannya berkata : baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia dalam perkara kecil aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab yang lebih besar.</p>
<p>Lalu datanglah hamba yang membawa dua talent dan berkata kepada tuannya : tuan, dua talenta yang dipercayakan kepadaku telah berlaba dua talent, lalu tuannya berkata, baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang baik dan setia engkau telah setia dalam perkara kecil aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab yang lebih besar.</p>
<p>Lalu datanglah juga hamba yang mendapat satu talent dan berkata, tuan karena saya tau tuan kejam saya menjadi takut dan menyembunyikan talent tuan itu ke dalam tanah dan mengembalikannya utuh satu talenta. Lalu tuannya berkata, hai kamu hamba yang malas talent yang ada padamu di ambil dan di berikan kepada yang mempunyai sepuluh talent.</p>
<p>Lalu tuannya memerintahkan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap disanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.</p>
<p>Masage yang dapat diambil dari cerita ini adalah bahwa Tuhan sudah memberikan kepada setiap orang minimal satu atau lebih  talent dan ini merupakan pondasi atau modal awal yang kita miliki dalam menjalani kehidupan ini untuk bertumbuh dan berkembang.</p>
<p>Yang menjadi masalah adalah talent yang dimiliki tidak diberdayakan dan dikembangkan sehingga talent itu mati suri (laten).</p>
<p>Kenali dirimu, cintai dirimu, temukan keunikan yang belum anda temukan, kenali sikapnya, nikmati pola pikirnya, ikuti atraksinya, telusuri keindahan hidupnya, seribu satu keragaman dimilikinya untuk membuat hidup lebih bermakna.</p>
<p>Temukan talent itu dan asah terus&#8230;.terus&#8230;..dan terus&#8230;&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perbesar Kapasitas Kita]]></title>
<link>http://ayatpemulihan.wordpress.com/2009/04/22/perbesar-kapasitas-kita/</link>
<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 08:19:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>victoryhg77</dc:creator>
<guid>http://ayatpemulihan.wordpress.com/2009/04/22/perbesar-kapasitas-kita/</guid>
<description><![CDATA[&quot; Berkatalah perempuan itu: &quot;Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><font face="Trebuchet MS" size="4"><strong></strong></font></p>
<blockquote>
<p><font face="Trebuchet MS" size="4"><strong>&#34; Berkatalah perempuan itu: &#34;Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.&#34; (II Raja-raja 4:2)</p>
</blockquote>
<p></strong></font></p>
<p><font face="Trebuchet MS">Melalui kisah dari ayat II Raja-raja 4:1-7, Elisa bertemu dengan janda istri seorang nabi, waktu itu ia sedang terlilit oleh jerat hutang. Kedua anaknya akan diambil menjadi budak oleh seorang penagih hutang. Maka bertanyalah Elisa kepada janda itu &#34;Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kau punya di rumah.&#34; Berkatalah perempuan itu: &#34;Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.&#34; <br />Saudaraku seringkali ketika kita menghadapi krisis, kita tidak dapat melihat apa yang masih tersisa dalam hidup kita yang dapat digunakan oleh Allah. Apalah arti sebuah buli-buli berisi minyak? Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang kreatif. Dia tidak pernah gagal untuk menolong umatNya. Janda itu melakukan seperti yang diperintahkan oleh Elisa. Ia meminjam banyak bejana dari tetangga-tetangga dan menuangkan minyak dari buli-buli minyak yang ia miliki. Keajaiban terjadi ketika ada proses ketaatan, ada langkah iman yang dilakukannya. Janda itu memperluas kapasitasnya untuk menampung pekerjaan besar Tuhan. Minyak tidak habis dituangkan sampai seluruh bejana-bejana terisi penuh. Sebuah buli-buli ketika di serahkan ketangan Allah maka akan mendatangkan mujizat besar. Kita perlu melihat ke dalam diri kita, bahwa selalu ada jalan untuk keluar dari krisis kehidupan. Pergunakan apa yang masih ada dalam diri kita, persiapkan itu. Ketika Tuhan buka jalan, maka kita siap menampungnya. Tuhan ingin bekerjasama dengan kita, ada bagian Tuhan dan ada bagian kita. Satu langkah yang kita buat membuat Tuhan bergerak beribu-ribu langkah untuk meyatakan kebesaranNya. Siapkan diri, perbesar kapasitas kita dan nantikan karya Tuhan dalam hidup Anda</font>. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menjaga Sikap Hati]]></title>
<link>http://ayatpemulihan.wordpress.com/2009/04/20/menjaga-sikap-hati/</link>
<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 08:54:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>kristiantimaharani</dc:creator>
<guid>http://ayatpemulihan.wordpress.com/2009/04/20/menjaga-sikap-hati/</guid>
<description><![CDATA[Untuk menumbuhkan benih-benih karakter, maka media yang tepat adalah dengan menjaga sikap hati-Jakoe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote><p><big><b>Untuk menumbuhkan benih-benih karakter, maka media yang tepat adalah dengan menjaga sikap hati-Jakoep Ezra <br /></b></big></p></blockquote>
<p>Karakter bertumbuh subur dengan media yang tepat. Karakter seperti apa yang kita rindukan berbuah dalam hidup kita? Karakter yang baik? atau sebaliknya? Ketika kita rindu memiliki karakter yang baik dan kudus, satu-satunya cara adalah dengan meneladani karakter Kristus. Karakter Kristus bertumbuh saat media hati kita siap diolah, diaduk-aduk sedemikian rupa, namun tidak kehilangan sarinya. Artinya, kita perlu menjaga kestabilan hati kita senantiasa, sehingga benih-benih karakter itu mendapat suplai yang cukup untuk bertumbuh. Jaga ph alami hati kita sehingga terus netral terhadap kemarahan, kebencian, kepahitan. Jaga setiap unsur hara hati kita agar kebaikan, kesetiaan, kekudusan, pengendalian diri dan sikap-sikap postif terus seimbang.</p>
<blockquote><p>Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan-Amsal 4:23</p></blockquote>
<div class="zemanta-pixie"><img class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/pixy.gif?x-id=a5e15b01-56cc-8cd0-8749-18e70259be04" /></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[12 hal yang biasa dilakukan oleh keluarga yang sehat]]></title>
<link>http://hikmatpembaharuan.wordpress.com/2009/04/11/12-hal-yang-biasa-dilakukan-oleh-keluarga-yang-sehat/</link>
<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 17:17:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>paulpla</dc:creator>
<guid>http://hikmatpembaharuan.wordpress.com/2009/04/11/12-hal-yang-biasa-dilakukan-oleh-keluarga-yang-sehat/</guid>
<description><![CDATA[Apa saja yang akan dilakukan oleh sebuah keluarga yang sehat? Daftar berikut akan memberikan beberap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Apa saja yang akan dilakukan oleh sebuah keluarga yang sehat? Daftar berikut akan memberikan beberapa indikator untuk melihat sesehat apa keluarga yang kita miliki.<br />&#160;<br />#1 Berkomunikasi  (Ef 4:31-32)  <br />#2 Menghargai dan Mendukung (1Tes 5:11)  <br />#3 Saling Menghormati (Ibrani 12:9)  <br />#4 Saling Mempercayai (Mazmur 20:7)  <br />#5 Berbagi Waktu bersama&#160; (Ulangan 11:19; Heb. 10:24-25)  <br />#6 Bertanggungjawab  (Roma 14:11-12)  <br />#7 Mengajarkan kebenaran  (Amsal 22:6)  <br />#8 Menikmati ritual dan tradisi keluarga (Imamat 23; Keluaran 12:26-27)  <br />#9 Bertumbuh dalam iman (Efesus 6:4; Ulangan 6:4-9)  <br />#10 Menghargai kemandirian (Matius 6:6)  <br />#11 Melayani satu sama lain (Kisah 20:35)  <br />#12 Mencari pertolongan dalam krisis (Yakobus 1:2-4)</p>
<p>Bagaimana menurut anda? Apakah ada hal lain yang perlu dimasukkan dalam daftar ini?</p>
<div class="zemanta-pixie"><img class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/pixy.gif?x-id=15484a62-0e7c-80a7-b374-c55438a1588e" /></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[7 Habits of Highly Defective People]]></title>
<link>http://hikmatpembaharuan.wordpress.com/2009/02/05/7-habits-of-highly-defective-people/</link>
<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 22:16:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>paulpla</dc:creator>
<guid>http://hikmatpembaharuan.wordpress.com/2009/02/05/7-habits-of-highly-defective-people/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah artikel yang bagus tentang 7 kebiasaan buruk yang sangat merusak. Berpikir pecundang - jika a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_my5CzhHdRB0/SYhtr69lkzI/AAAAAAAANzs/hd_qA3j4pB8/s1600-h/hdp.jpg"><img style="margin-top:10px;margin-bottom:10px;width:200px;height:134px;float:right;margin-left:10px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_my5CzhHdRB0/SYhtr69lkzI/AAAAAAAANzs/hd_qA3j4pB8/s200/hdp.jpg" border="0" /></a>Sebuah <a target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/%7Er/blogspot/cLZC/%7E3/530765100/7-habits-of-highly-defective-people.html">artikel</a> yang bagus tentang 7 kebiasaan buruk yang sangat merusak.</p>
<ol>
<li><b>Berpikir pecundang </b>- jika anda selalu berharap yang terjelek, hal itu juga yang sering anda dapatkan</li>
<li><b>Berhenti bertumbuh</b> &#8211; setiap hari adalah kesempatan dan tantangan untuk belajar, bertumbuh dan berubah. Jika anda masih sama saja dan tidak mengalami perubahan, artinya anda sedang tidak hidup..</li>
<li><b>Tanpa tujuan</b> &#8211; hidup hanya mengalir tanpa rencana atau tujuan</li>
<li><b>Tidak mau berubah</b> &#8211; perubahan adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam hidup ini</li>
<li><b>Rusak hubungan</b> &#8211; mereka yang tidak dapat berhubungan dengan baik tidak akan hidup dengan baik</li>
<li><b>Tidak mau membayar harga</b> &#8211; siapa yang ingin mendapat sesuatu yang berharga harus mau berkorban dan bekerja keras</li>
<li><b>Tidak mau mengambil resiko</b> &#8211; satu-satunya cara yang aman adalah tidak melakukan apapun, namun tidak akan membuat perubahan dan pertumbuhan.</li>
</ol>
<p>Adakah kebiasaan buruk di atas yang selama ini anda lakukan? Bagaimana cara mengubahnya? Adakah kebiasaan buruk lain yang perlu ditambah dalam daftar di atas?<br /><span><br /></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[COOL]]></title>
<link>http://youthkosambi.wordpress.com/2009/02/01/cool/</link>
<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 16:39:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>yobicom</dc:creator>
<guid>http://youthkosambi.wordpress.com/2009/02/01/cool/</guid>
<description><![CDATA[Mungkin kita pernah bertanya. “ngapain sih ikut COOL / komsel / FA, apa manfaaatnya??, apa bedanya d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Mungkin kita pernah bertanya. “ngapain sih ikut COOL / komsel / FA, apa manfaaatnya??, apa bedanya dengan Ibadah Raya?? Uraian dibawah ini semoga menjadi jawaban dari semua pertanyaan Anda mengenai COOL / komsel / FA dan mengapa pentingnya suatu persekutuan COOL / komsel / FA.</p>
<p><strong>APA KATA ALKITAB MENGENAI PERSEKUTUAN?</strong></p>
<p><em><strong>Kisah Para Rasul 2:42.</strong> Mengatakan mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memcahkan roti dan berdoa.</em></p>
<p><em><strong>Kisah Para Rasul 5:12.</strong> Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.</em></p>
<p><em><strong>1 Korintus 15:58.</strong> Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah slalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.</em></p>
<p>Dari ayat-ayat Firman Tuhan di atas, dapat kita simpulkan bahwa Tuhan menghendaki kita sebagai orang percaya untuk selalu berkumpul dalam pengajaran dan persekutuan yang erat dan salah satu sarananya adalah melalui COOL / komsel / FA.</p>
<p><strong>MANFAT COOL </strong></p>
<p>1. Berbeda dengan ibadah raya di COOL / komsel / FA bersifat komunikasi 2 arah. Bersifat kekeluargaan, kita belajar menjalin hubungan secara pribadu yang lebih akrab, dimana kita saling mengingatkan, menguatkan, menghormati, menolong dan menghargai dalam ketulusan hati dengan tidak memandang perbedaan status seseorang.</p>
<p>2. Setiap kita dilatih dan bersama-sama belajar mencari hadirat Tuhan melalui pujian, penyembahan, berdoa, membagikan Firman Tuhan, bersaksi, melayani, dan belajar untuk menjangkau jiwa-jiwa baru. Talenta, kemampuan melayani dan karuni-karunia kita bisa dikembangkan dan dimultiplikasikan di dalam COOL / komsel / FA.</p>
<p>3. Mengalami proses pendewasaan rohani dengan belajar beriman kepada Tuhan dalam segala aspek kehidupan, belajar mengenal kehendak Tuhan dan menjadi pelaku Firman Tuhan. Karakter seperti Kristus semakin diasah / dikembangkan antara laim: belas kasihan terhadap kesusahan dan pergumulan sesama, rendah hati, sabar terhadap orang-orang lain, setia mendampingi orang yang letih lesu dan terbeban berat, dll</p>
<p>Di  COOL / komsel / FA kita akan mendengar dan melihat berbagai problem kehidupan yang dialami masing-masing orang sehingga kita bisa belajar bagaimana cara menghindari dan mengatasi problem hidup yang ada secara benar dan dewasa dan menerima segala perbedaan dengan hati yang lapang, dimana pada akhirnya menuntun kita menjadi Kristen yang bertumbuh dan memiliki kedewasaan rohani.</p>
<p>4. Tempat untuk melahirkan dan mengembangkan orang-orang yang cakap memimpin, mengajar, dll</p>
<p>dikutip dari Lights On edisi 2, bulan Desember 2008</p>
<p>bacaan Alkitab, <em><strong>Kisah Para Rasul 2: 41-47</strong></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembelajaran 02 Belajar Transformatif: Penghalang]]></title>
<link>http://hikmatpembaharuan.wordpress.com/2008/12/16/pembelajaran-02-belajar-transformatif-penghalang/</link>
<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 20:49:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>paulpla</dc:creator>
<guid>http://hikmatpembaharuan.wordpress.com/2008/12/16/pembelajaran-02-belajar-transformatif-penghalang/</guid>
<description><![CDATA[Apabila kita sudah sungguh-sungguh berusaha untuk memahami suatu kebenaran dan juga berusaha untuk m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Apabila kita sudah sungguh-sungguh berusaha untuk memahami suatu kebenaran dan juga berusaha untuk mempraktekkannya, hal apakah yang menjadi kendala bagi kita untuk menjadikan kebenaran tersebut sebagai suatu gaya hidup dalam kehidupan kita? Mengapa sering lebih mudah bagi kita untuk memahami suatu kebenaran daripada mempraktekkan kebenaran tersebut? Bahkan terlebih sering lebih mudah kita untuk mengajarkan kebenaran tersebut namun gagal dalam melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. <em>Jarkoni, Iso Ngajar Ora Iso Ngelakon</em>i (Bisa mengajar namun tidak bisa mempraktekkan) adalah peribahasa Jawa yang mengekspresikan kesulitan tersebut.</p>
<p>Untuk itu mari kita melihat satu perikop dari Lukas 24:14-33, yaitu peristiwa di jalan ke Emaus. Dua orang murid Yesus bercakap-cakap sepanjang jalan Yerusalem-Emaus, membicarakan tentang kematian Tuhan mereka, sementara pada saat yang sama Yesus sendiri ada di samping mereka dan ikut berbincang-bincang dengan mereka, namun mereka tidak dapat mengenalinya, sehingga Yesus sendiri mengecam “Hai kamu orang bodoh, …lamban…tidak percaya”.</p>
<p><!--more--><br />
Perikop ini menarik karena Yesus mengecam murid-muridNya sendiri yang telah belajar dari sang Master Teacher selama kurang lebih tiga tahun, melihat dengan mata kepala sendiri apa yang dilakukan Yesus, dan mendengar dari mulutNya sendiri nubuatan-nubuatan tentang kematian dan kebangkitanNya. Namun ketika saatnya datang, mereka gagal untuk memahami apa yang harus terjadi pada Yesus dan mengalami tekanan dalam hidup mereka. Yesus sendiri kemudian menjelaskan kembali berdasarkan kitab suci apa yang sesungguhnya terjadi, dan barulah murid-murid itu mengerti dan terbuka mata mereka.</p>
<p>Apa yang dapat kita pelajari di sini? Tidak peduli berapa lama kita sudah belajar, tidak peduli pada tingkatan apa kita sedang belajar, tidak peduli dengan siapa kita belajar – masih mungkin ada penghalang-penghalang internal dalam diri kita sendiri yang menghalangi kita untuk Belajar. Hal ini menjelaskan mengapa sering kita sebagai orang yang sudah bertahun-tahun percaya sulit untuk menerapkan kebenaran Firman Tuhan. Wajar jika ada orang yang bertahun-tahun belajar teologia di perguruan tinggi sehingga mendapat banyak gelar, namun gagal dalam penerapan sederhana di kehidupan nyata. Tidak aneh bila hamba-hamba Tuhan yang sudah bertahun-tahun mengajar dan berkotbah namun ketika krisis datang tidak dapat mempraktekkan apa yang dikotbahkan tersebut.</p>
<p>Hal ini sangat nyata terlihat dalam pelayanan saya di ruang konseling dan juga kehidupan pribadi saya sendiri. Sebagian besar orang yang datang dengan membawa masalah untuk dipulihkan sudah mengetahui apa masalah mereka dan firman Tuhan berkenaan dengan masalah mereka tersebut. Banyak di antara mereka adalah orang-orang yang sudah bertahun-tahun lamanya lahir baru dan bertumbuh dalam pengajaran Firman Tuhan. Beberapa adalah hamba-hamba Tuhan yang setia yang sungguh-sungguh bergumul dengan masalah mereka. Umumnya mereka telah mengetahui kebenaran, namun tidak bisa mempraktekkan kebenaran tersebut. Dan saya tidak terkejut, karena bertahun-tahun saya pun hidup dalam kondisi yang sama. Bahkan sampai saat ini pun saya terus menemukan kelemahan dan ketidakmampuan saya untuk mempraktekkan hal-hal yang sudah saya percayai.</p>
<p>Hal apakah yang dapat menghalangi kita sungguh-sungguh Belajar? Kembali ke perikop di atas kita bisa melihat beberapa penghalang dari diri murid-murid Yesus:</p>
<p><em>Pengharapan yang salah</em> (ay. 21). Murid-murid Yesus berharap agar Yesus menjadi Raja mereka saat itu dan membebaskan Israel. Karenanya mereka sangat kecewa ketika tahu Yesus mati dan menggagalkan harapan mereka.Para murid sudah belajar banyak tentang nubuatan penderitaan Mesias, namun karena mereka memimpikan Mesias sebagai Pembebas, mereka tidak sungguh-sungguh memahami pengajaran Yesus. Sering terjadi pengharapan kita yang salah menghalangi kita untuk Belajar, karena pikiran kita akan dipengaruhi oleh pengharapan itu dan bukannya kebenaran.</p>
<p><em>Emosi Negatif </em>(ay. 17b). Pengharapan yang gagal membuat para murid menjadi kecewa dan sedih. Kesedihan tersebut menghalangi mereka untuk melihat bahwa Yesus sendiri ada di depan mereka. Emosi negatif membuat para murid lari tunggang langgang ketakutan dan meninggalkan Yesus. Emosi negatif membuat Petrus berbohong karena ia takut ditangkap. Perasaan-perasaan negatif akan menghalangi kita untuk sungguh-sungguh Belajar karena hati kita akan dikuasai oleh emosi yang negatif tersebut dan menghalangi kita untuk menyerap kebenaran itu dengan maksimal.</p>
<p><em>Pemahaman yang kurang lengkap</em> (ay. 18). Mulanya mereka menganggap diri mereka lebih tahu daripada Yesus karena mereka merasa memiliki informasi yang tidak diketahui oleh Yesus. Namun sebenarnya ini hanyalah sepenggal informasi yang belum lengkap. Barulah ketika Yesus melengkapi pemahaman mereka dengan pengajaran Musa dan para nabi, mereka pun mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Mesias mereka. Sering terjadi kita diberi informasi atau konsep yang belum cukup lengkap atau matang, sehingga kita tidak berhasil dalam mempraktekkannya.</p>
<p>Singkatnya, sering penghalang kita dalam Belajar Transformatif ini adalah kondisi internal kita sendiri, yang menghalangi kita untuk mendapatkan masukan baru, merenungkannya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
