<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>bioenergi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/bioenergi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "bioenergi"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 22:10:30 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[KULIAH PERTANIAN ORGANIK JADI TREN ]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/30/kuliah-pertanian-organik-jadi-tren/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 02:07:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/11/30/kuliah-pertanian-organik-jadi-tren/</guid>
<description><![CDATA[Perkuliahan pertanian organik kian diminati di perguruan tinggi luar negeri. Sejumlah perkuliahan ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/10kuliah-pertanian-organik-jadi-tren-01.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3389" title="10kuliah pertanian organik jadi tren 01" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/10kuliah-pertanian-organik-jadi-tren-01.jpg?w=150" alt="" width="150" height="143" /></a>Perkuliahan pertanian organik kian diminati di perguruan tinggi luar negeri. Sejumlah perkuliahan yang mengusung nama sistem pangan berkelanjutan, agrikultur organik, dan agroekologi menjamur di sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat.</p>
<p>Washington State University, misalnya, menciptakan mayor baru di bidang sistem agrikultur organik. Program itu memberikan kesempatan kepada mahasiswa mendapatkan pengalaman magang di pertanian yang kemudian menjadi salah satu daya tarik.</p>
<p>Salah seorang pendiri program tersebut di Washingtin State University, Reganold, mengungkapkan, ia kerap mendapat masukan dari para pengusaha yang menyatakan betapa pertanian organik semakin populer, tetapi masih sulit mencari staf yang memiliki pengetahuan tentang hal itu.</p>
<p>Sejumlah perusahaan makanan yang mengusung merek dagang organik juga menyatakan keluhan mereka. Umumnya, mereka mencari manajer pertanian organik dan staf penjualan, tetapi tenaga yang dibutuhkan itu sangat sulit didapatkan.</p>
<p>Damian Parr, seorang kandidat doktor di bidang pertanian organik dari Universitas California, pekan lalu mengatakan, semakin diminatinya program pangan bedengan menurunya berkelanjutan (sustainable food system) terkait erat dengan pertumbuhan pangsa pasar makanan organik. Pasar organik di Amerika Serikat bertumbuh sekitar 20 persen dalam setahun, walaupun dengan angka tersebut, makanan organik baru menguasai 2,8 persen dari total pasar.</p>
<p>Selain pertumbuhan pasar bahan makanan organik, program-program tersebut lahir seiring dengan naiknya minat para mahasiswa dengan hal-hal yang serva “hijau atau peduli lingkungan”, perubahan industri makanan, dan berkurangnya para peserta program agrikultur tradisional.</p>
<p>“Beberapa perubahan terjadi sangat cepat. Salah satunya menurunnya peminat program-program agronomi tradisional, “ ujar Michelle Schroeder-Moreno, asisten profesor dan koordinator Program Agroekologi di North Carolina State University. Program yang dikelolanya itu ditawarkan sebagai minor di universitas tersebut.</p>
<p><!--more--><a href="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/10kuliah-pertanian-organik-jadi-tren-02.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-3391" title="10kuliah pertanian organik jadi tren 02" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/11/10kuliah-pertanian-organik-jadi-tren-02.jpg?w=125" alt="" width="125" height="150" /></a>Menariknya, para peminat kuliah pertanian organik ialah orang-orang modern yang ingin melirik kembali ke agrikultur melalui agrikultur berkelanjutan dan agroekologi. Umumnya, mereka juga orang-orang yang tidak dibesarkan dengan latar belakang kultur pertanian.</p>
<p><strong>Sejak 1988</strong></p>
<p>University of Maine di Amerika Serikat sudah sejak tahun 1988 membuka program sarjana di bidang Agrikultur Berkelanjutan seiring dengan menurunya peminat Agrikultur Tradisional.</p>
<p>Marienne Sarrantonio, Koordinator Program Agrikultur Berkelanjutan di universitas itu, mengatakan, program tersebut berorientasi kepada ilmu pengetahuan agrikultural yang bersifat teknis dengan kurikulum inti antara lain adalah ilmu tumbuhan, ilmu tanah, sistem panen, ekologi hama, entomologi, dan manajemen.</p>
<p>Di University of Missouri Columbia, mayor agrikultur berkelanjutan mempunyai dua trek, yakni Produksi Pertanian, Peternakan dan Komunitas serta Sistem Pangan yang lebih berorientasi studi sosial.</p>
<p>Adapun di Montana State University, program sarjana Pangan Berkelanjutan dan Sistem Bioenergi termasuk baru. “Program tersebut memberikan peluang kerja sangat baik karena tidak semata soal produksi pertanian, tetapi juga terkait dengan implikasinya di bidang kesehatan dan ekonomi lokal,” ujar Mary Stein, Koordinator Program Pangan Berkelanjutand an Sistem Bioenergy di Montana State University.</p>
<p><strong>Melihat lapangan</strong></p>
<p>Mentransformasi kurikulum pertanian organik sendiri tidak mudah, bahkan cenderung lambat. Keterlambatan itu antara lain karena universitas harus melihat perkembangan di lapangan dan dampaknya. Mereka harus memerhatikan pemasaran yang nyata, lapangan pekerjaan, dan keseimbangan di dalam program-program tersebut.</p>
<p>“Ini barangkali yang menjadi kritik bahwa perguruan tinggi tradisional terlalu lambat dalam beradaptasi dengan perubahan. Padahal, adaptasi itu sangat membantu dalam berkompetisi di linggkungan yangbaru ini,” ujar Jerry DeWitt, Director of The Leopold Center for Sustainable Agriculture di Iowa.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Kuliah Pertanian Organik Jadi Tren &#124; Kompas, 15.09.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Halmenergi kan ge klimatneutralitet i växtodlingen..]]></title>
<link>http://greengard.wordpress.com/2009/11/26/halmenergi-kan-ge-klimatneutralitet-i-vaxtodlingen/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 22:30:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>greengard</dc:creator>
<guid>http://greengard.wordpress.com/2009/11/26/halmenergi-kan-ge-klimatneutralitet-i-vaxtodlingen/</guid>
<description><![CDATA[ Odling av bioenergigrödor konkurrerar med matproduktion och många frågar sig om vi i framtiden har ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> Odling av bioenergigrödor konkurrerar med matproduktion och många frågar sig om vi i framtiden har råd att använda jordbruksmark till ren energiproduktion. I dagens överskottsläge syns frågan inte aktuell, men det är ju framtiden vi talar om. Det må emellertid vara hur som helst med det – det finns bioenergi som inte konkurrerar med vanlig jordbruksproduktion: halm och andra restprodukter. Det är viktigt att använda dem fullt ut.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Men halmen kan behövas för mullbildning och man måste veta vad man gör. Mullhalten kan behöva underhållas. Det kan man dock göra med fånggrödor. På det viset får man många fördelar på en gång: behövlig markvård tillgodoses, i många fall skördeökningar, inkomster av att sälja halm, om halmen går till bioenergi och man räknar växthusgaser på helheten kan en bra växtodling bli klimatneutral.</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Seri Fisika Kesehatan__Usaha &amp; Energi]]></title>
<link>http://alifis.wordpress.com/2009/10/29/seri-fisika-kesehatan__usaha-energi/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 12:58:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>alifis</dc:creator>
<guid>http://alifis.wordpress.com/2009/10/29/seri-fisika-kesehatan__usaha-energi/</guid>
<description><![CDATA[USAHA (KERJA) DAN ENERGI Konsep fisika dalam dinamika yang juga dapat digunakan untuk mengetahui kea]]></description>
<content:encoded><![CDATA[USAHA (KERJA) DAN ENERGI Konsep fisika dalam dinamika yang juga dapat digunakan untuk mengetahui kea]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biogasol i overlevelseskamp]]></title>
<link>http://nykraft.wordpress.com/2009/10/21/biogasol-i-overlevelseskamp/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 12:33:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Edmund Jacobsen</dc:creator>
<guid>http://nykraft.wordpress.com/2009/10/21/biogasol-i-overlevelseskamp/</guid>
<description><![CDATA[Selskabet Biogasol, der har tilsagn om over 100 mio. kr. i offentlig støtte til et bioethanolprojekt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Selskabet Biogasol, der har tilsagn om over 100 mio. kr. i offentlig støtte til et bioethanolprojekt i Åkirkeby, kæmper for overlevelse.</p>
<p>Det skriver Berlingske Business.</p>
<p>Selskabet har fem måneder til at skaffe omkring 150 mio. kr. i privat finansiering, ellers mister selskabet tilsagnet om de mere end 100 mio. kr. til demonstrationsanlægget Bornbiofuel i Åkirkeby.</p>
<p>Det har ikke været muligt at få en kommentar fra Biogasols bestyrelsesformand Jens Chr. Mathiesen til selskabets kapitaljagt.</p>
<p>via<a href="http://www.bornholm.nu/?Id=26153">Bornholm.nu » Erhverv » Biogasol i overlevelseskamp</a>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[THE ULTIMATE AURA POWER]]></title>
<link>http://terapiaura.wordpress.com/2009/10/02/the-ultimate-aura-power/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 18:40:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>terapiaura</dc:creator>
<guid>http://terapiaura.wordpress.com/2009/10/02/the-ultimate-aura-power/</guid>
<description><![CDATA[The Ultimate Aura Power &#8211; Program Grand Master Ilmu Aura Quantum Esoterik HANYA Bagi Anda yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The Ultimate Aura Power &#8211; Program Grand Master Ilmu Aura Quantum Esoterik</p>
<p>HANYA Bagi Anda yang ingin meraih kebahagiaan lahir batin.<br />
The Ultimate Aura Power &#8211; Program Grand Master Ilmu Aura Quantum Esoterik adalah program guru, lanjutan atau spesialisasi dari Ilmu Aura yang diajarkan sepintas di lembaga/perguruan lainnya. Analoginya, ilmu Aura di lembaga/perguruan tenaga dalam lain merupakan program general atau istilah mudahnya dokter umum, sedangkan The Ultimate Aura Power Quantum Esoterik yang akan diberikan disini adalah program spesialisasinya. Program Grand Master Ilmu Aura Quantum Esoterik ini terbuka bagi siapa saja baik yang awam maupun yang pernah belajar/dibangkitkan Tenaga Dalam, Reiki, Prana, Psikotronika, Prima Energy, Tenaga Murni dan sejenisnya.</p>
<p>MANFAAT:<br />
- Menguasai semua Materi Pelatihan Master Aura Level III ditambah pendalaman tingkat lanjut.<br />
- Mendapatkan semua manfaat Aura secara MAKSIMAL. Menjadikan anda seorang yang Memiliki: kekayaan hati dan kekayaan harta tanpa batas, kesehatan jiwa dan raga yang prima, kesuksesan hidup sinambung, kecerdasan dan ilmu laduni tak terhingga, daya linuwih dan kekuatan metafisik tingkat tinggi, 24 jam terlindungi dari bahaya, mudah menyelami ilmu pengetahuan dan pemahaman agama, pesona kharismatik dan kewibawaan taraf teratas, Menembus dimensi ruang dan waktu tanpa batas, Memasuki gerbang spiritual Ma&#8217;rifatullah, dan Terbukanya hijab pembatas antara hamba (makhluk) dengan Tuhannya (Allah SWT) mencapai Insan Kamil RAHMATAN LIL ALAMIN.<br />
- Menguasai berbagai metode modern &#8211; tradisional, barat &#8211; timur, QUANTUM &#8211; ESOTERIK untuk penyembuhan, daya adikodrati, kesuksesan, kemujuran, rizki, cinta kasih, awet muda, dll sehingga dapat Membantu segala permasalahan pribadi diri sendiri, keluarga , maupun orang lain.</p>
<p>INGAT!<br />
THE ULTIMATE AURA POWER = ULTIMATE INNER POWER + ULTIMATE MIND POWER.<br />
Artinya, untuk mendapatkan kekuatan puncak aura, caranya dengan menyatukan daya adikodrati tingkat tinggi dengan ilmu kekuatan pikiran tercanggih.</p>
<p>ULTIMATE INNER POWER (TENAGA DALAM TINGKAT TINGGI)<br />
-  Mendapatkan RAHASIA DOA CAHAYA yang bermanfaat untuk: Bisa melihat Aura; mengaktifkan Aura Ilahiah; Aura Proteksi diri, orang lain &#38; tempat; Lancar rezeki, Melunasi hutang; Menyerap Energi Alam Semesta, Bela diri instan; Penyembuhan media telur; Penyembuhan trance/kesurupan; Menghancurkan makhluk halus pengganggu; Membungkam orang dzalim &#38; binatang buas; Menghilang dari pandangan musuh; Mengalihkan Hujan; Tarik ruh; Tarik harta karun; Kembalikan orang/barang yang hilang; Merukunkan pasangan; Penyembuhan Narkoba; Deteksi isi pusaka; Membuka mata batin, indera ke-6; dll<br />
- Menguasai MEDITASI &#38; AYAT-AYAT RAHASIA untuk mengaktifkan &#38; menyelaraskan diri dengan MALAIKAT PENJAGA/ GUARDIAN ANGELS/ HAFADZAH. Membentuk kepompong Aura untuk Proteksi maksimal, terhindar dari nasib buruk, sukses di segala bidang.<br />
- Menguasai berbagai aliran ilmu spiritual tingkat tinggi: cakra, tenaga dalam, bioenergi, meditasi, metafisika, kundalini, reiki, mahabah, kanuragan, ilmu hikmah, ilmu karomah, asmak, hizib, ilmu pamungkas, dll. Mengikuti satu program THE ULTIMATE AURA POWER QUANTUM ESOTERIK sama halnya anda belajar di belasan lembaga pelatihan/perguruan/padepokan.<br />
- Menguasai cara membuka cakra orang lain baik secara langsung atau lewat media.<br />
- Menguasai cara membuat media pemancar aura.<br />
- Menguasai cara membuat garam pembangkit segala keilmuan (Garam Bibit)<br />
- Menguasai berbagai cara membuat air penyembuh.<br />
- Menguasai puncak ilmu Aura Pesona.<br />
- Menguasai cara membuat media kecerdasan (Aura Prestasi).<br />
- Menguasai cara membuat media Aura Wibawa/ Kharisma.<br />
- Menguasai Berbagai Ilmu Esoterik Tingkat Tinggi: Ilmu Jubah Besi, Ilmu Nur Illahi, Ilmu Payung Allah, Lebur Wojo, Brojomusti, Asma&#8217; Malaikat, Asma&#8217; Yusuf, Asma&#8217; Sulaiman, dll Aura Proteksi para wali Allah. Multi Fungsi.<br />
- Menguasai Ilmu Qalam Langit Tingkat Lanjut. Sangat Komplit, Multi Fungsi.<br />
- Menguasai ilmu Gin Kang (meringankan tubuh, seenteng kapas)<br />
- Menguasai ilmu Totok Aura Wajah.<br />
- Menguasai Ilmu Totok Pelangsingan.<br />
- Menguasai Ilmu Totok Vagina.<br />
- Menguasai Ilmu Ruqyah Syariah.<br />
- Menguasai Ilmu Ruwatan Sengkolo tanpa kembang / pakai kembang.<br />
- Menguasai Ilmu Mandi Aura &#38; Mandi Pembangkit Daya Adikodrati<br />
- Menguasai Ilmu Awet Muda, agar anda/ orang lain tampak 10 tahun lebih muda.<br />
- Menguasai Ilmu membuat minyak Aura Bidadari (Ratunya Ilmu Asihan)<br />
- Menguasai Berbagai metode Anti Impotensi/ Ejakulasi Dini tanpa obat farmasi.<br />
- Menguasai Berbagai metode mendapat keturunan/anak tanpa obat farmasi.<br />
- Dan masih banyak manfaat lainnya yang kami rahasiakan.</p>
<p>ULTIMATE MIND POWER (KEKUATAN PIKIRAN TINGKAT TINGGI)<br />
- Praktik kekuatan pikiran tingkat lanjut. Pada tahap ini anda akan memahami dan mampu melakukan:<br />
@ Hipnotis Mind Power, dengan metode yang lebih mudah lain dari yang lain. Dilengkapi DOA KUNCI PEMBANGKIT DAYA HIPNOTIS. Diajarkan juga cara hipnotis modern hingga menuju tingkat tertinggi yaitu MetaHipnotis, untuk berbagai keperluan: Hipnotis Spontan, Self Hipnosis, Hipnoterapi, HipnoForensik, HipnoMarketing, HipnoSelling, Hipnosis Pendidikan (Merubah Perilaku Buruk) &#38; Hipnotis Jarak Jauh,<br />
@ Telepati<br />
@ Extra Sensory Perception/ESP (terawangan)<br />
@ Menembus Dimensi Ruang &#38; Waktu ( Out of Body Experience/OBE)<br />
@ Menjinakkan panas, tidak mempan api<br />
@ Bertemu Nur Sejati/Sedulur Papat<br />
@ ESOTERIC MIND POWER. Ilmu Langka asli warisan leluhur kami. Hanya dengan satu KALIMAT KUNCI berguna untuk mewujudkan segala niat (= sabdo dadi/ sacidu metu saucap nyata/ sabda alam manda).<br />
    Juga berguna untuk mentransfer seluruh daya kekuatan kemampuan ilmu ke orang lain tanpa mengurangi/kehilangan daya yang dimiliki.<br />
@ dan masih banyak manfaat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu</p>
<p>Dengan kata lain, anda Menguasai SEMUA KUNCI amalan, wirid, dzikir, pembangkitan, pensucian diri, aktivasi, attunement, dan pengisian ilmu diatas kepada orang lain/ siswa, dan …<br />
DAPAT MENURUNKAN ILMU-ILMU DIATAS KEPADA ORANG LAIN TANPA BATAS, sehingga anda …<br />
 MAMPU MANDIRI MENYELENGGARAKAN PELATIHAN SENDIRI, MEMBUKA PERGURUAN TENAGA DALAM / METAFISIKA, dan MENGANGKAT SISWA dengan biaya yang anda tentukan sendiri.</p>
<p>SUPER BONUS:<br />
- Rahasia merubah kamera biasa menjadi Kamera Penangkap Aura<br />
- Berbagai Pengetahuan sebagai bekal anda membuka praktik Konsultasi Spiritual, antara lain: membaca karakter dan nasib menurut Golongan Darah, Warna, Mimpi, Numerologi, Astrologi Cina, dll<br />
- Gratis Modul + Attunement Kundalini Reiki tingkat 1 &#8211; 9 (Master)</p>
<p>FASILITAS: Sertifikat Grand Master Aura (The Ultimate Aura Power Quantum Esoterik), Modul lengkap, CD, VCD peragaan totok, Media Pengisian level Grand Master, Transfer Langsung Energi Hayati, Garam Pembangkit Keilmuan &#38; Garam Ruqyah Nur Ijabah untuk bekal praktek seumur hidup, bisa diperbanyak.</p>
<p>INGAT! Belajar 1 (satu) point ilmu program guru seperti diatas di tempat lain harus keluar biaya jutaan. Dan Ingat lagi! Banyak praktisi spiritual yang sebetulnya hanya menguasai 1 (satu) point ilmu diatas berani buka praktek dan laris disebut sebagai Konsultan Spiritual, orang pintar, Eyang anu, Spesialis ini, Raja Ilmu itu, dll.<br />
SEKARANG KESEMPATAN ANDA UNTUK MENJADI LEBIH HEBAT DARI MEREKA DENGAN BIAYA LEBIH HEMAT !!!</p>
<p>Bisa PRIVAT &#38; JARAK JAUH</p>
<p>BIAYA HANYA Rp. 1.669ribu (sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh wilayah Indonesia)</p>
<p>Khusus Alumni Pelatihan Master Aura Biaya Upgrade Ilmu Lebih HEMAT<br />
dari Level I    hanya Rp. 800ribu<br />
dari Level II   hanya Rp. 600ribu<br />
dari Level III  hanya Rp. 400ribu</p>
<p>HUBUNGI:     GRAND  MASTER AURA PRABOWO Telp. 024-7064 5776<br />
FOUNDER YAYASAN AURA NUSANTARA/KLINIK AURA SEMARANG &#8211; PUSAT PELATIHAN &#38; TERAPI AURA<br />
JLN AMARTA No. 4<br />
KEL. CANGKIRAN, KEC. MIJEN, KOTA SEMARANG, INDONESIA 50216</p>
<p>PRIVAT DATANG LANGSUNG HANYA HARI SABTU/ MINGGU/ LIBUR.<br />
TEMPAT: DI SEKRETARIAT YAYASAN/ KESEPAKATAN<br />
HARAP DAFTAR DULU  PALING LAMBAT 3 HARI SEBELUMNYA VIA TELPON<br />
UNTUK PERSIAPAN MEDIA</p>
<p>Rekening: BCA Cab. Semarang 246 519 5612 a.n Dwi F. Asmarawati.<br />
BRI Unit Cangkiran Semarang Mura 7145-01-000338-53-9 a.n Prabowo Edhi K.<br />
Shar’E Muamalat  920-066-1899 a.n Prabowo Edhi K. (bisa transfer dari kantor pos terdekat)<br />
Luar Indonesia transfer via Western Union ke alamat diatas, tambah ongkos kirim Rp. 200.000,-<br />
Setelah transfer harap SMS nomer transaksi transfer, nama lengkap, alamat lengkap, nama orangtua dan program pilihan anda ke 024 7064 5776</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bioenergin ger nya möjligheter!]]></title>
<link>http://mojokii.wordpress.com/2009/08/30/bioenergin-ger-nya-mojligheter/</link>
<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 22:20:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>mojokii</dc:creator>
<guid>http://mojokii.wordpress.com/2009/08/30/bioenergin-ger-nya-mojligheter/</guid>
<description><![CDATA[Har ni tänkt på att de nyheter som man får höra ofta är dåliga nyheter? Därför försöker jag uppmärks]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Har ni tänkt på att de nyheter som man får höra ofta är dåliga nyheter? Därför försöker jag uppmärksamma och glädjas mer över de goda nyheterna istället. Den nyhet som jag kanske glatt mig mest åt är faktiskt den (nu ganska gamla nyheten) om att man kan göra bioenergi ur matavfall. Anledningen till detta är att jag ser så många möjligheter med det.</p>
<p>Våra bränslealternativ till bilarna har främst varit bensin, diesel och bioenergi av majs och sockerrör &#8211; som jag anser snarare borde få bli mat till människor än energi till bilar. Med det nya alternativet att göra bränsle till bilar genom gammal mat som folk har kastat sparar vi verkligen på miljön och gynnar ekonomin.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-458" href="http://mojokii.wordpress.com/2009/08/30/bioenergin-ger-nya-mojligheter/matavfall/"><img class="size-full wp-image-458 alignright" title="Matavfall - något med spännande alternativ" src="http://mojokii.wordpress.com/files/2009/08/matavfall.jpg" alt="Matavfall - något med spännande alternativ" width="220" height="220" /></a>Jag tycker att vi måste påverka till att använda detta underbara alternativ till sitt max. Idag har Lunds kommun (och säkert fler, jag vet inte vilka) insamling av slängd mat som del av återvinningssystemet. Detta behöver vi i många fler kommuner! Och inte ska vi stanna där. Vi ska inte bara rikta in oss på hushåll utan också skolor och arbetsplatser. Ha alltid en påse där man kastar endast mat, och gör bioenergi av detta. Kanske mataffärerna behöver kasta en del mat också. Då kanske de får ha en kontainer eller liknande att slänga gammal mat i. Jag ser också möjligheter i trädgårdsavfall. Som jag har förstått det så gör man om trädgårdsavfallet till kompost-jord, vilket också fungerar bra. Men såvitt inte efterfrågan av kompost-jord är väldigt stor så kan vi kanske hitta bra delar att göra bioenergi av också här.</p>
<p>Någon som känner till mer om detta eller har någon bra info? Jag tror säkert att dessa tankar redan har tänkts &#8211; detta kan man väl ändå inte ha missats? Det jag undrar mest är hur långt man har kommit inom detta och vilka fördelarna/nackdelarna är. Om jag hittar mera information kring detta så kommer jag att meddela mera på den här bloggen.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[JADILAH LUMBUNG PANGAN DUNIA !]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/27/jadilah-lumbung-pangan-dunia/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 03:31:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/27/jadilah-lumbung-pangan-dunia/</guid>
<description><![CDATA[Krisis pangan dunia yang dipicu lonjakan harga minyak mentah setahun berlalu. Harga pangan kembali s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2282" title="picz articlez" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/08/picz-articlez2.jpg?w=150" alt="picz articlez" width="150" height="137" />Krisis pangan dunia yang dipicu lonjakan harga minyak mentah setahun berlalu. Harga pangan kembali stabil meski tidak kembali ke tingkatan harga sebelum krisis berlangsung.</p>
<p>Peristiwa dramatis tahun 2007/2008 itu telah menyentakkan negara-negara di dunia untuk memberikan perhatian yang lebih pada ketahanan pangan bangsanya, terutama dari aspek ketersediaan pangan.</p>
<p>Negara-negara di dunia yang memiliki potensi sumber daya pertanian berlomba meningkatkan produksi pangan. Filipina yang selama ini terbuai oleh pasokan pangan, terutama beras impor, mulai membuat langkah-langkah penting dalam produksi pangan. Begitu juga dengan Malaysia. Cina dan India sudah lebih dulu.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia ? Dalam menjaga ketahanan pangan berbasis beras, Indonesia jauh dianggap lebih mampu. Organisasi Pangan Dunia (FAO) juga mengakuinya.</p>
<p>Lihat saja sepanjang tahun 2008 hampri tidak ada gejolak harga beras. Ketika harga beras dunia melonjak hingga 1.000 dollar AS per ton, setara dengan Rp 12.000 per kilogram untuk nilai tukar saat itu, pasar beras Indonesia mampu mengisolasi diri dengan menjaga harga beras untuk jenis beras yang sama pada posisi Rp 5.000 per kilogram. Selain keberhasilan peran Bulog, itu juga karena adanya peningkatan produksi beras yang fenomenal.</p>
<p><!--more-->Lantas bagaimana dengan pangan nonberas ? Stabilitas harga pangan nonberas, seperti gandum, kedelai, susu, gula dan daging sapi, memang terjadi.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2284" title="jadilah lumbung dunia 05a" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/08/jadilah-lumbung-dunia-05a.jpg" alt="jadilah lumbung dunia 05a" width="500" height="221" />Tetapi, itu lebih karena dampak melesunya ekonomi dunia yang menyebabkan jatuhnya harga minyak tanah hingga di bawah nilai keekonomian untuk memproduksi bioenergi.</p>
<p>Apakah Indonesia akan terus berada pada level aman ? Mungkinkah gejolak harga pangan tidak berulang ?</p>
<p><strong>El Nino dan kebangkitan ekonomi</strong></p>
<p>Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengisyaratkan adanya tantangan lebih besar di masa mendatang. Fenomena musim kemarau yang semakin panjang, baik karena dampak perubahan iklim global maupun karena fenomena iklim El Nino, bisa mengancam produksi pangan kapan saja.</p>
<p>Apalagi sepuluh tahun belakangan ini fenomena iklim El Nino semakin sering terjadi. Dalam waktu tiga tahun sampai tahun ini bahkan terjadi dua kali kemarau panjang sebagai dampak El Nino.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-2285" title="jadilah lumbung dunia 05b" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/08/jadilah-lumbung-dunia-05b.jpg" alt="jadilah lumbung dunia 05b" width="405" height="549" /></p>
<p>Faktor eksternal yang juga penting adalah harapan akan membaiknya perekonomian global pascakrisis keungan, yang diprediksi bakal mulai menunjukan gejala membaik pada tahun 2010.</p>
<p>Banyak kalangan melihat Cina akan memegang peranan penting dalam pemulihan ekonomi global, menyusul semakin berhantungnya Amerika Serikat sebagai negara adidaya pada perekonomian negeri tirai bambu itu.</p>
<p>Indikasinya defisit anggaran AS tahun 2009 melebihi 1,8 triliun dollar AS, dengan utang 12 triliun dollar AS. Dosen Ekonomi Politik Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Syamsul Hadi, menulis Cina diperkirakan mewakili 83 persen dari defisit perdagangan nonminyak AS.</p>
<p>Selain itu, defisit perdagangan AS justru ‘ditanggung’ Cina yang mengakumulasi pembelian surat berharga AS senilai 763,5 miliar dollar AS. Melihat indikasi tersebut, bukan tidak mungkin kebangkitan ekonomi global akan berawal dari Cina.</p>
<p>Jika kebangkitan ekonomi seperti yang diharapkan terjadi, bukan tidak mungkin membawa konsekuensi berupa menggeliatnya kembali sektor industri, yang tentunya akan menambah permintaan akan minyak dunia.</p>
<p>Hukum permintaan dan penawaran berlaku. Harga minyak akan kembali melambung, substitusi minyak bumi ke bioenergi yang bersumber dari komoditas biji-bijian pertanian bergairah dan harga pangan kembali bergejolak. Karena produksi komoditas pertanian akan banyak terserap untuk bioenergi guna menyubstitusi minyak bumi yang harganya melambung.</p>
<p>Semakin sulit diprediksi lagi karena komoditas pangan ekspor nyatanya masuk pasar komoditas. Naiknya harga minyak bisa segera memicu spekulan mengambil untung besar dari perdagangan komoditas pertanian di pasar berjangka.</p>
<p>Lampu kuning akan mulai menyala. Indonesia sulit menghindar dari dampak fluktuasi harga komoditas pertanian karena sebagian kebutuhan pangan bangsa kita dipenuhi dari impor, seperti gandum, kedelai, gula, daging sapi, susu, bahkan yang menyedihkan juga garam.</p>
<p>Pangan impor tersebut hampir 100 persen didatangkan dalam dalam bentuk komoditas primer. Gejolak harga yang terjadi akan langsung memengaruhi sendi-sendi perekonomian bangsa kita karena banyak industri dan usaha kecil menengah yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada komoditas itu.</p>
<p>Apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia kalah cepat dibandingkan dengan ekonomi kawasan maupun global, nilai tukar rupiah akan semakin rendah. Devisa negara yang akan digunakan untuk membeli produk pangan impor semakin ketat, menyusul semakin kompetitifnya produk Cina menghegemoni pasar dunia.</p>
<p>Bersambutnya ‘momentum’ kebangkitan ekonomi global dengan dampak fenomena iklim El Nino semakin memunculkan kewaspadaan akan ketersediaan pangan.</p>
<p><strong>Solusi yang tidak biasa</strong></p>
<p>Meski begitu, kita tidak perlu berkecil hati. Masih ada peluang untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi pangan, termasuk mimpi menjadi lumbung pangan dunia. Apalagi potensi lahan yang bisa dimanfaatkan untuk sektor pertanian, khususnya tanaman pangan, masih besar. Tinggal bagaimana mengelola potensi dengan baik sehingga produksi pangan bisa meningkat terus.</p>
<p>Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian Hilman Manan menyatakan perlunya bangsa Indonesia berpikir dan mencari solusi yang tidak biasa.</p>
<p>Selama ini mengatasi persoalan pangan selalu melalui pendekatan jangka pendek, yang biasa-biasa saja. Misalnya mengoptimalkan teknik budidaya pertanian serta melakukan penguatan ekonomi petani melalui permodalan dan kelembagaan.</p>
<p>Masalah itu memang penting. Tetapi, dalam jangka panjang, yang jauh lebih penting adalah memperbaiki daya dukung alam dalam bentuk lahan dan air sebagai jaminan memproduksi pangan yang berkelanjutan. Bagaimana penyusutan lahan pertanian ditekan, kesuburan lahan ditingkatkan, dan pasokan air untuk pertanian dipulihkan kembali.</p>
<p>Bangsa kita harus melakukan penataan sumber daya pertanian untuk memberikan jaminan ketersediaan lahan, air, infrastruktur terkait rantai pasokan, hingga adanya jaminan pasar dan harga. Jangan mengandalkan isi perut bangsa pada negara lain.</p>
<p>Peluang bagi bangsa Indonesia masih besar mengingat sumber daya alamnya yang bagus. Terkait El Nino atau La Nina, Hilman mengatakan, sesungguhnya Indonesia masih memiliki banyak cara untuk meredam dampak buruknya agar tidak banyak memengaruhi persediaan pangan dalam negeri.</p>
<p>Strateginya meredam persoalan global dengan pendekatan lokal. Ini dimungkinkan karena Indonesia bukanlah negara daratan yang lahan pertanian kebanyakan dalam bentuk hamparan seperti Australia dan AS. Indonesia adalah negara berpulau lengkap dengan pegunungan yang menjulang, dengan lahan pertanian tersebar dan ada di setiap pulau.</p>
<p>Topografi seperti ini memungkinkan bangsa kita mengelola alam secara lokal. Lihat saja kondisi alam hampir semua kawasan barat dari setiap pulau di Indonesia jauh lebih subur dibandingkan wilayah timur.</p>
<p>Jawa Barat lebih banyak hujan daripada Jawa Timur, begitu pula wilayah barat NTT lebih subur dari wilayah timur. Irian bagian barat lebih subur dibandingkan Irian bagian timur, begitu pula dengan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau lain. Wilayah-wilayah barat dari setiap kepulauan itulah yang seharusnya menjadi basis produksi pangan pokok.</p>
<p>Melihat fenomena itu, pengelolaan tata ruang yang propangan menjadi penting. Guru besar ilmu ekonomi Institut Pertanian Bogor, Hermanto Siregar, mengatakan, peningkatan produksi pangan bisa dilakukan dengan cepat manakala bangsa ini mau mengubah orientasi kebijakan pembangunan ekonomi ke industri berbasis pertanian.</p>
<p>Selama pertanian tidak menjadi prioritas, keinginan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia hanya akan menjadi isapan jempol.</p>
<p>Sumber  :</p>
<p>Jadilah Lumbung Pangan Dunia !, Hermas E Prabowo &#124; Kompas, 19.08.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bioenergy dan Masalahnya]]></title>
<link>http://budhisholeh.wordpress.com/2009/08/12/bioenergy_masalah/</link>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 15:18:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>Budhi Sholeh Wibowo</dc:creator>
<guid>http://budhisholeh.wordpress.com/2009/08/12/bioenergy_masalah/</guid>
<description><![CDATA[Tampaknya pemerintah Indonesia mulai memiliki kemauan yang kuat untuk menggali potensi energi terbar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tampaknya pemerintah Indonesia mulai memiliki kemauan yang kuat untuk menggali potensi energi terbar]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biomassa sebagai Energi Alternatif]]></title>
<link>http://budhisholeh.wordpress.com/2009/08/12/biomassa-sebagai-energi-alternatif/</link>
<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 09:16:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>Budhi Sholeh Wibowo</dc:creator>
<guid>http://budhisholeh.wordpress.com/2009/08/12/biomassa-sebagai-energi-alternatif/</guid>
<description><![CDATA[Krisis energi telah menjadi isu global yang diperbincangkan oleh banyak negara. Ketergantungan yang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Krisis energi telah menjadi isu global yang diperbincangkan oleh banyak negara. Ketergantungan yang ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vi städade skafferiet!]]></title>
<link>http://mojokii.wordpress.com/2009/07/18/stada-skafferiet/</link>
<pubDate>Sat, 18 Jul 2009 21:02:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>mojokii</dc:creator>
<guid>http://mojokii.wordpress.com/2009/07/18/stada-skafferiet/</guid>
<description><![CDATA[Igår rotade vi i skafferiet för att komma underfund med vad vi skulle laga för mat. Och när vi flytt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;">Igår rotade vi i skafferiet för att komma underfund med vad vi skulle laga för mat. Och när vi flyttade på några saker så såg vi snart att det låg en mängd <strong>mjölbaggar</strong> (små mörkbruna skalbaggar) på bottnen av skafferiet! Vi hade inget annat val än att börja städa skafferiet. </p>
<p style="text-align:left;">Vi började med att rensa diskbänken från saker så att vi skulle få plats att lägga skafferivarorna där. Sedan var det bara att titta igenom alla varor. Först kollade vi om det såg ut att ha blivit attackerat av de hemska mjölbaggarna och om det var bra så kollade vi datum. Mjölbaggar gillar främst sånt som är smått. Därför är det inte lika troligt att ni hittar dem bland pastan. Det de gillar bäst är alltså pulvriga varor. De gillar tyvärr också havre, vi tvingades kasta ett relativt nytt paket.</p>
<p>Vi var nogranna med att <strong>återvinna</strong> så mycket vi kunde. Vi samlade all mjukplast och kartong till återvinning. Och så lade vi all gammal mat till bioenergi-papperskorgen. I Lunds kommun har man en särskild papperskorg som man kastar mat i. Den maten förvandlas till bioenergi &#8211; som kan användas som bränsle till bland annat bilar.</p>
<p>Vi fick nästan rensa ut halva vårt skafferi. Tänk så mycket man hade slösat på resurserna om man inte återvunnit allt det. Nu har vi äntligen fräscha skafferiskåp och fräscha torrvaror i skåpen. Dessutom vet vi nu vad som står i skafferiet och kan bättre planera för att laga mat nästa gång. Idag använde vi bland annat en rispåse som skulle ta slut snart när vi lagade mat. Trots att arbetet var lite ohygieniskt så var det utan fråga värt det! Det känns så bra efteråt. Dessutom får det ju inte vara ohygieniskt var man har maten! Så<strong> titta i ditt skafferiskåp</strong>. Du kan exempelvis hitta mjölbaggar där, det kan till och med hända att det finns larver i den gamla skafferimaten. Även om du inte hittar något så tipsar jag dig om att rensa skafferiet direkt. Det går ju bara desto snabbare om du bara måste kolla om varorna har bra datum. Och då minskar du risken för att några äckliga små insekter ska festa på och i din skafferimat.</p>
<p style="text-align:left;">Ett stort problem med skafferier är att det som hamnar bakom och inte blir sett blir ofta bortglömt. Vi köper då kanske ytterligare en stor påse bönor trots att vi redan har detta. Eller mer kakao, som &#8211; om man bara tittar lite längre in i skafferiet &#8211; redan står där hemma. Och inte använder man väl kakao så himla ofta? Torrvaror håller länge, och det är tur, men det hjälper inte att de håller i 3 år om de inte blir sedda på 3 år. Därför tror jag att vi helt enkelt måste hålla våra skafferier lite tommare. Vi ska undvika att köpa dubbelt och då måste vi helt enkelt vara lite medvetna om vad vi har i våra skafferiet. Man får försöka lägga in det så att man kan se nästan allting i skafferiet.</p>
<p class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:left;">Jag kom idag på att den optimala formen på ett skafferi egentligen är ett avlångt skåp som inte är  för djupt och som sitter i huvudhöjd. Kanske behöver vi en ny form på skafferierna? Det är ju ganska ologiskt trots allt att ha så djupa skafferier. Det är ju inte så lätt att behöva hoppa in i skafferiet varenda gång man ska baka eller laga mat. Smartare kök kan vi nog allt skapa.</p>
<p style="text-align:center;"> <img class="size-full wp-image-219 aligncenter" title="Vårt skafferi efteråt!" src="http://mojokii.wordpress.com/files/2009/07/2009-07-maskapbriel-049.jpg" alt="Vårt skafferi efteråt!" width="423" height="563" /></p>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl class="wp-caption aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt">Detta är vårt skafferi efter att vi städat det! Jag tänkte tyvärr inte på att fota en före-bild. Det var iaf riktigt fullt innan det, saker t o m låg på varandra. Jag har ställt det så att det inte når väggen längst bak där uppe, eftersom det skulle vara lätt att nå och se. Så skönt att få ordning på det!</dt>
</dl>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Den stora plastnyheten!]]></title>
<link>http://mojokii.wordpress.com/2009/07/05/den-stora-plast-nyheten/</link>
<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 18:40:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>mojokii</dc:creator>
<guid>http://mojokii.wordpress.com/2009/07/05/den-stora-plast-nyheten/</guid>
<description><![CDATA[Detta är ett viktigt meddelande för alla inom Lunds kommun! Det handlar om en förändring inom Lunds ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="mceTemp">Detta är ett viktigt meddelande för alla inom <strong>Lunds kommun</strong>! Det handlar om en förändring inom Lunds kommuns nya fyrfacks-sortering. Producenterna har nu utvecklat en teknik som gör det ekonomiskt och miljömässigt fördelaktigt att materialåtervinna även de mjuka plastförpackningarna!</p>
<p>Hädanefter ska alltså även mjukplastförpackningar, exempelvis tandkrämstuber, plastfolie och chipspåsar, sorteras till samma behållare som hårdplasten. De mjuka plastförpackningarna måste dock läggas löst. Det går alltså inte att samla förpackningar i en påse för att sedan lägga hela påsen i behöllaren. Påsen måste tömmas och läggas löst i behållaren. Detta är viktigt då plastförpackningarna skickas till en automatiserad sorteringsanläggning där de mjuka plastförpackningarna skiljs från de hårda med hjälp av luft. Man blåser/suger bort mjukplasten. Materialet blir sedan till nya plastprodukter, vilket sparar massor med energi!</p>
<p>Egentligen är detta inte en helt ny nyhet, utan detta startade redan från november 2008. Men det behöver mer uppmärksamhet! Så berätta gärna för fler, det finns många som har missat denna strålande utveckling. Själv har jag sorterat mjukplast i snart ett halvår. Jag ställer en påse bredvid som jag samla alla mjukplastförpackningar i och strör sedan ut det i plastfacket på sopkontainern. Tyvärr är plastfacket ofta för litet för all plast, men Lunds renhållningssverk arbetar på detta problem. Se mer information kring sortering och om detta på: <a href="http://www.lund.se/templates/TwoColumnsWide____70601.aspx">www.lund.se/templates/TwoColumnsWide____70601.aspx</a></p>
<p>Glöm inte heller att kasta alla matrester till papperskassen som samlar till bioenergi! Visste ni att på 10 bananskal räcker till bioenergi för en nästan en kilometers bilsträcka? Bioenergin är det renaste alternativet till drivmedel!</p>
<p><img class="size-full wp-image-79" title="Mjukplast ska sorteras med hårdplast!" src="http://mojokii.wordpress.com/files/2009/07/plastnyheten.jpg" alt="Mjukplast ska sorteras med hårdplast!" width="470" height="261" /></p>
<div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignnone">
<dt class="wp-caption-dt"> <strong>Mjukplast ska numera sorteras med hårdplast!</strong></dt>
</dl>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Etanol – bra eller dåligt?]]></title>
<link>http://greengard.wordpress.com/2009/05/13/etanol-%e2%80%93-bra-eller-daligt/</link>
<pubDate>Tue, 12 May 2009 22:58:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>greengard</dc:creator>
<guid>http://greengard.wordpress.com/2009/05/13/etanol-%e2%80%93-bra-eller-daligt/</guid>
<description><![CDATA[En studie presenterad i Science 1 May ger dåliga siffror för majs-etanol. Budskapet togs upp av dags]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>En studie presenterad i Science 1 May ger dåliga siffror för majs-etanol. Budskapet togs upp av dagspressen , Sydsvenskan i alla fall, och man sammanfattade att etanolens saga som miljöbränsle nog var slut.</p>
<p>Men frågan tål att granskas. Det som avgör i studien är att man använder jordbruksmark vilket minskar matproduktionen och det leder till uppodling på andra håll och växthusgasutsläpp där. Visst är det så och det har diskuterats tidigare i denna blogg (etikett Klimat).</p>
<p>Men det skadar inte att vidga perspektivet något. Om man räknar så kommer en stor belastning också på ett mer lågproducerande ekologiskt jordbruk. Och där brukar man inte räkna in sådana sekundära effekter. Fast det borde man  göra. I så fall får den produktionen dåliga värden klimatmässigt.</p>
<p>Är det kanske  viktigare att se en mosaik av möjligheter? Etanol från jordbruksmark kan vara en viktig temporär vägröjare. Men det håller inte i längden att inte utnyttja jordbruksmark för effektiv produktion av livsmedel.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengupas Terapi Aura menurut ilmu Fisika]]></title>
<link>http://terapiaura.wordpress.com/2009/04/01/terapi-aura-menurut-ilmu-fisika/</link>
<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 15:37:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>terapiaura</dc:creator>
<guid>http://terapiaura.wordpress.com/2009/04/01/terapi-aura-menurut-ilmu-fisika/</guid>
<description><![CDATA[SEBAGIAN masyarakat umumnya masih memandang terapi yang memanfaatkan tenaga dalam/prana/bioenergi se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>SEBAGIAN masyarakat umumnya masih memandang terapi yang memanfaatkan tenaga dalam/prana/bioenergi seperti  Nampon, Satria Nusantara, Prana Sakti, Sinlamba, dan banyak perguruan sejenis lainnya yang tersebar di seluruh  pelosok Indonesia, sebagai ilmu yang sarat hal mistik dan di luar nalar manusia. Karena itu, keberanian Nampon  menyeminarkan fenomena tenaga prana dari sudut pandang ilmu fisika dan menghadirkan guru besar fisika teoretis ITB  Prof Pantur Silaban, merupakan hal yang amat positif.</p>
<p>NAMPON dan sejenisnya adalah salah satu kekayaan asli  budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan digali eksistensinya. Ilmu Nampon sendiri berkembang sejak 1932.  Tercatat nama besar seperti Bung Karno pernah belajar ilmu ini, saat menjadi mahasiswa THS (sekarang ITB) di  Bandung. Fenomena tenaga prana pada beberapa perguruan sering dikaitkan dengan terpentalnya si penyerang ketika  berusaha menyerang seseorang yang memiliki tenaga tersebut. Guru besar Satria Nusantara (SN) Maryanto (1990),  menjelaskan gejala tenaga prana dengan pendekatan teori medan Elektromagnetik (EM). Si penyerang memberikan  frekuensinya yang berbanding lurus dengan energi kepada yang diserang. Akibatnya, terjadi penguatan amplitudo yang  akan memperbesar energi balik ke penyerang dan menyebabkan gangguan kepada yang bersangkutan, sesuai  intensitas energi yang diaktifkan.</p>
<p>PENJELASAN tenaga prana dari sudut pandang ilmiah pada beberapa perguruan  sejenis di Indonesia umumnya mengikuti teori gelombang EM di atas, di mana mekanisme penjalaran tenaga prana  dijelaskan melalui interaksi berdasarkan jarak (action at distance) yang memerlukan pengertian medan (besaran fisis  yang mempunyai nilai di setiap titik dalam ruang) dan gelombang sebagai perantaranya. Untuk membuktikan kebenaran  teori EM, medan energi pada pelaku tenaga prana harus dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif.  Faktanya, sampai saat ini belum ada hasil ilmiah yang dapat menunjukkan kebenaran ide tersebut, walaupun  pendekatan dengan model EM adalah yang tertua dipikirkan manusia sejak dahulu (Cazzamalli, 1925). Kelemahan  penjelasan dengan mekanisme ini terletak pada proses rambatan gelombang EM yang memerlukan jeda waktu,  sedangkan fenomena tenaga prana sendiri pada praktiknya tidak terbatas oleh adanya ruang dan waktu. Dengan  demikian, perlu dicari mekanisme yang lebih representatif untuk menjelaskan fenomena tenaga prana. Beberapa ahli  fisika dan psikologi mengajukan beberapa konsep seperti Model Entropi dan Proses Acak (Gatlin, 1972), dan Model  Perwakilan Ruang Hiper (Feinberg, 1967, 1975). Bahkan ada yang lebih jauh lagi dengan model yang dinamakan  Kecerdikan Jagat Raya (Universal Intelligence). Model ini mengatakan bahwa eksistensi pikiran manusia melingkupi  semua ruang dan waktu. Apa yang ingin diwujudkan dalam ruang dan waktu dapat diprogram pikiran manusia.</p>
<p>DARI  semua model di atas, penulis tertarik dengan Model Holografik yang dikembangkan pakar fisika David Bohm dan pakar  psikologi Karl Pribram (1971,1975,1976). Mereka menyimpulkan bahwa informasi di alam ini bukan merupakan fungsi  ruang dan waktu, tetapi dalam bentuk &#8220;getaran&#8221; yang dalam ilmu Fisika diwakili dengan persamaan gelombang dengan  amplitudo dan frekuensi masing-masing. Kesadaran manusialah yang melakukan &#8220;Transformasi Fourier&#8221; (sebuah  konsep matematika yang dapat memetakan semua proses fisik di alam dalam bentuk frekuensi dan amplituda serta  kelipatannya) agar dapat mewujudkan informasi tersebut ke dalam ruang dan waktu. Penjabaran lebih lanjut model ini  adalah kesadaran manusia (pikiran) dapat mengambil semua getaran yang ada di alam. Kemudian melalui proses  transformasi tenaga prana, abstraksi dapat diwujudkan ke dalam ruang dan waktu. Dengan mengikuti perkembangan  model fisika di atas, pemahaman pada mekanisme tenaga prana tidak lagi terbatas pada dimensi yang sempit, hanya  sebatas ruang dan waktu, melainkan juga pada dimensi yang lebih luas yang menyangkut wilayah esoterik dan dimensi  kesadaran yang hanya dimiliki manusia. Oleh karena itu, diperlukan pengertian ilmu fisika dan cabang disiplin ilmu  lainnya yang lebih komprehensif. Dengan kata lain diperlukan sebuah konsep yang dapat menjelaskan segala sesuatu di  alam semesta berdasarkan teori tunggal. Teori tersebut dalam ilmu fisika dikenal sebagai A Theory of Everything.</p>
<p>ALBERT Einstein menghabiskan waktu lebih dari 30 tahun sisa hidupnya untuk membangun teori yang dapat  menggabungkan empat gaya dasar yang berlaku di alam semesta: gravitasi, elektromagnetik, dan dua buah gaya nuklir,  kuat dan lemah. Sebuah teori yang diharapkan dapat menjelaskan proses terjadinya &#8220;dentuman besar&#8221; (big bang) pada  awal evolusi, fisika dalam partikel atom dan semua hal-hal mikroskopik. Namun demikian, misi itu sampai akhir hayat  hidupnya bahkan sampai saat ini belum juga tercapai. Kompatriot Einstein berusaha menciptakan teori tersebut dengan  menggabungkan teori relativitas (untuk menjelaskan gravitasi) dan fisika kuantum (untuk gelombang elektromagnetik  dan 2 gaya nuklir, kuat dan lemah). Dua hal yang saling berlawanan, yang satu berkisar pada hal besar seperti galaksi,  quasar, dan yang satunya lagi hal kecil di dunia sub-atomik, hal yang diskrit seperti paket energi disebut kuanta, ternyata  gagal setelah 50 tahun berusaha mewujudkan A Theory of Everything.</p>
<p>DEWASA ini para pakar fisika berusaha  mendekatinya dengan pendekatan lain. Ada Stephen Wolfram dengan teori Automata Selular dan Michio Kaku dengan  pendekatan perwakilan ruang Hyperspace. Dalam kaitannya dengan pemahaman pada beberapa model yang telah  dipaparkan sebelumnya, mungkin buku Michio Kaku (1994) yang berjudul Hyperspace: A Scientific Odyssey Through  Parallel Universes, Time Warps and the Tenth Dimension, dapat menjelaskan mekanisme tenaga prana lebih baik lagi  dalam usaha perumusan teori di atas. Kaku mendapatkan idenya dari penemuan Einstein tahun 1915 yang mengatakan  bahwa alam semesta terdiri dari empat dimensi: ruang dan waktu yang berkembang. Kelengkungannya menyebabkan  &#8220;gaya&#8221; yang disebut &#8220;gravitasi&#8221;. Kemudian Theodore Kaluza pada tahun 1921 meneruskan riset Einstein tersebut dan  mengatakan bahwa riak pada dimensi ke &#8220;lima&#8221; dapat dilihat sebagai &#8220;cahaya&#8221;. Bagaimana dengan dimensi yang lebih  besar dari lima? Kaku memperkenalkan teori yang disebut &#8220;superstring&#8221;. Jadi kelengkungan yang terjadi pada ruang dan  menyebabkan gravitasi merupakan paket kecil dari &#8220;string yang &#8220;bergetar&#8221; dan &#8220;beresonansi&#8221;. Demikian juga cahaya  yang merupakan riak dari dimensi ke-5 adalah komponen &#8220;string&#8221; lainnya. Dengan begitu, empat gaya dasar tadi dapat  digabungkan dan peristiwa di dalamnya menjadi dimensi yang lebih besar: 10 dimensi. Dengan 10 dimensi itu Kaku  berhipotesis bahwa semua proses yang terjadi sehari-hari-termasuk fenomena tenaga prana-dapat dijelaskan.</p>
<p>PERKEMBANGAN ilmu fisika belakangan ini bahkan tidak berhenti hanya pada 10 dimensi, masih ada dimensi yang  lebih besar lainnya. Banyak konsep bermunculan, seperti pendekatan dengan teori membran dan sebagainya yang  semakin menuju pada hasil unifikasi gaya-gaya yang mengatur seluruh alam semesta. Semua penjelasan ilmiah yang  dibentangkan dalam artikel ini pada intinya adalah meyakinkan bahwa di luar panca indera yang terbatas, masih ada  dimensi yang lebih tinggi dan belum dieksplorasi dan dirasakan. Cara berpikir dan bekerja sensor manusia, terbiasa  dalam lingkup ruang dan waktu (empat dimensi). Pada kenyataannya, pikiran manusia tidak terbatas hanya pada ruang  dan waktu tersebut. Sudah saatnya ilmu pengetahuan dan teknologi mengarahkan risetnya pada hal-hal yang &#8220;esoterik&#8221;  yang dulu dikatakan sebagai &#8220;meta-rasional&#8221;, seperti adanya konsep aura, orbs, dan tenaga prana. Dengan demikian,  tenaga prana dan metoda penyembuhan yang menggunakan media ini serta segala aspek aplikasinya bisa dikuantifikasi  secara ilmiah bila A Theori  of Everything telah ditemukan. Pada saat itu, tenaga prana akan terbuka tabirnya dan bukan lagi merupakan hal mistik,  seperti anggapan sebagian masyarakat saat ini.</p>
<p>sumber: Fadli Syamsudin,  Praktisi dan pengamat perkembangan tenaga prana, staf peneliti TISDA-BPP</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[POTENSI SUMBER DAYA LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DI INDONESIA]]></title>
<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/potensi-sumber-daya-lahan-untuk-pengembangan-jarak-pagar-jatropha-curcas-l-di-indonesia/</link>
<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 13:31:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>plantus</dc:creator>
<guid>http://anekaplanta.wordpress.com/2009/01/27/potensi-sumber-daya-lahan-untuk-pengembangan-jarak-pagar-jatropha-curcas-l-di-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Anny Mulyani1, F. Agus1, dan David Allelorung2 1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya L]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="meta">
<div class="entry hentry">
<div class="meta"></div>
<div class="content">
<p><strong>Anny Mulyani1, F. Agus1, dan David Allelorung2</strong><br />
1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123<br />
2Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Jalan Tentara Pelajar No. 1, Bogor 16111</p>
<p><strong>ABSTRAK</strong><br />
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) akhir-akhir ini menjadi komoditas primadona karena berpotensi sebagai penghasil bahan bakar nabati (BBN). Selain jarak pagar, BBN juga dapat diperoleh dari kelapa sawit, kelapa, biji kapas,<br />
canola, dan rapeseed (untuk biodiesel), serta ubi kayu, tebu, dan sagu (untuk bioetanol). Jarak pagar sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai tanaman obat dan penghasil minyak. Saat ini banyak masyarakat dan<br />
investor yang tertarik untuk mengembangkan jarak pagar sehingga perlu diinformasikan wilayah-wilayah yang potensial baik ditinjau dari segi biofisik lahan, iklim maupun lingkungan. Untuk maksud tersebut telah disusun peta<br />
kesesuaian lahan untuk jarak pagar pada skala eksplorasi (1:1.000.000) berdasarkan Peta Sumberdaya Lahan dan Arahan Tata Ruang Pertanian, serta Peta Sumberdaya Iklim skala 1:1.000.000. Hasil evaluasi kesesuaian lahan<br />
menunjukkan bahwa lahan yang sesuai untuk jarak pagar seluas 49,50 juta ha. Lahan tersebut dapat dikelompokkan menjadi kelas sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3) dengan luas berturut-turut 14,30 juta<br />
ha, 5,50 juta ha, dan 29,70 juta ha. Untuk perencanaan pengembangan jarak pagar skala nasional, hasil evaluasi tersebut perlu ditumpangtepatkan (overlay) dengan data spasial penggunaan lahan terkini, karena sebagian besar<br />
lahan yang sesuai tersebut sudah digunakan untuk komoditas lain atau untuk sektor nonpertanian.</p>
<p>Potensi pengembangan jarak pagar yang paling besar adalah pada lahan yang sementara tidak diusahakan (lahan terlantar) yang luasnya mencapai 12,40 juta ha serta padang rumput 3,10 juta ha. Sekitar 1 juta ha lahan alang-alang yang<br />
tersebar di 13 provinsi telah diidentifikasi kesesuaiannya pada skala 1:50.000 untuk pengembangan pertanian.<br />
Informasi sumber daya lahan hasil identifikasi tersebut dapat digunakan untuk mempercepat delineasi lahan untuk tanaman jarak pagar pada skala yang lebih detail.<br />
<em>Kata kunci</em>: Jatropha curcas, sumber daya lahan, Indonesia<!--more--></p>
<p>Indonesia dengan luas daratan sekitar 188,20 juta ha memiliki sumber daya<br />
lahan (jenis tanah, bahan induk, fisiografi dan bentuk wilayah, ketinggian tempat dan<br />
iklim) yang sangat bervariasi. Kawasan barat umumnya beriklim basah dan<br />
sebaliknya kawasan timur beriklim lebih kering. Keragaman karakteristik sumber<br />
daya lahan dan iklim ini merupakan potensi untuk memproduksi komoditas pertanian unggulan di masing-masing daerah sesuai<br />
dengan kondisi agroekosistemnya. Data (informasi) sumber daya lahan<br />
sangat diperlukan untuk memberikan gambaran potensi sumber daya lahan dan<br />
kesesuaiannya untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian. Namun, data<br />
berupa peta atau informasi sumber daya lahan dan iklim yang mencakup seluruh<br />
kawasan Indonesia baru tersedia pada skala eksplorasi (1:1.000.000), yang<br />
meliputi Atlas Sumberdaya Lahan (Tanah) Eksplorasi (Pusat Penelitian Tanah dan<br />
Agroklimat 2000), Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian Nasional (Pusat Penelitian<br />
dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat 2001), Atlas Arahan Pewilayahan<br />
Komoditas Pertanian Unggulan Nasional (Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Tanah dan Agroklimat 2002), dan Atlas Sumberdaya Iklim Indonesia (Balai<br />
Penelitian Agroklimat dan Hidrologi 2003).<br />
Peta ini sangat bermanfaat untuk memberikan gambaran secara umum tentang potensi sumber daya lahan di Indonesia serta untuk mendukung perencanaan dan<br />
pembangunan pertanian secara nasional. Data yang lebih detail pada skala<br />
tinjau (skala 1:250.000) baru mencakup 60% dari seluruh wilayah Indonesia.<br />
Kawasan barat Indonesia (Sumatera dan Kalimantan) relatif lebih lengkap datanya<br />
dibandingkan kawasan timur. Peta pada skala tinjau ini bermanfaat untuk perencanaan dan pengembangan pertanian pada tingkat provinsi. Peta yang lebih<br />
detail yang bermanfaat untuk operasional di lapangan pada tingkat kabupaten atau<br />
kecamatan adalah pada skala semidetail<br />
atau tinjau mendalam (skala 1:50.000? 1:100.000). Data pada skala ini masih<br />
sangat terbatas (baru mencakup 15% dari luas daratan Indonesia) dan untuk luasan<br />
kecil dan terpencar-pencar.</p>
<p>Berdasarkan hasil evaluasi karakteristik sumber daya lahan dan iklim, dari<br />
luas daratan Indonesia 188,20 juta ha, lahan yang sesuai untuk pengembangan<br />
pertanian seluas 100,80 juta ha, baik untuk lahan basah (sawah, perikanan air payau<br />
atau tambak) maupun lahan kering (tanaman pangan, tanaman tahunan/<br />
perkebunan, dan padang penggembalaan ternak). Hasil evaluasi potensi sumber<br />
daya lahan tersebut dituangkan dalam Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian<br />
Nasional skala 1:1.000.000 (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan<br />
Agroklimat 2001).<br />
Seiring dengan gencarnya pengembangan jarak pagar sebagai sumber bahan<br />
bakar nabati (BBN), diperlukan informasi tentang kesesuaian lahan untuk tanaman<br />
tersebut. Selain jarak pagar, tanaman yang berpotensi sebagai penghasil BBN adalah<br />
kelapa sawit, kelapa, biji kapas, canola, dan rapeseed (untuk biodiesel), serta ubi kayu, tebu, dan sagu (untuk bioetanol).</p>
<p>Jarak pagar (Jatropha curcas L.) sudah lama dikenal masyarakat Indonesia<br />
sebagai tanaman obat dan penghasil minyak. Minyak jarak pagar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar serta untuk<br />
bahan pembuatan sabun dan kosmetik. Jarak pagar merupakan tanaman<br />
yang tahan kekeringan, mampu tumbuh dengan cepat, serta dapat digunakan<br />
sebagai sumber kayu bakar, mereklamasi lahan yang tererosi, dan sebagai pagar<br />
hidup di pekarangan atau pembatas lahan (Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Perkebunan 2006a).</p>
<p>Penanaman jarak pagar untuk bahan baku minyak sebaiknya<br />
menggunakan bahan tanaman hasil pembibitan dari biji, karena tanaman dapat<br />
hidup lebih lama dan produksinya lebih tinggi daripada tanaman asal setek. Untuk<br />
tanaman pagar dan pencegah erosi dapat digunakan bahan tanaman yang ditanam<br />
langsung dari biji maupun setek (Mahmud et al. 2006).<br />
Saat ini telah terjadi demam bertanam jarak pagar di kalangan masyarakat<br />
(termasuk swasta dan BUMN) maupun pemerintah tanpa disertai perencanaan<br />
yang matang. Banyak yang beranggapan bahwa jarak pagar adalah tanaman “serba<br />
super” yang dapat ditanam di mana saja tanpa pemeliharaan. Oleh karena itu, tidak<br />
mengherankan jika semua daerah memrogramkan pengembangan jarak pagar. Di<br />
satu sisi hal ini dapat memacu produksi biji jarak pagar, tetapi di sisi lain dapat<br />
menimbulkan kekecewaan karena produktivitas tanaman tidak sesuai dengan yang<br />
diinginkan akibat kesalahan dalam pemilihan lokasi. Untuk diketahui, produktivitas<br />
tanaman dipengaruhi oleh potensi genetik, kondisi lingkungan, dan teknologi<br />
(manajemen) pengelolaan. Meskipun jarak pagar dikenal dapat tumbuh di daerah<br />
beriklim kering dan lahan marginal, tanaman tetap membutuhkan air dan hara<br />
yang cukup untuk dapat berproduksi secara optimal (David et al. 2006). Makalah<br />
ini menyajikan dukungan data daninformasi tentang kesesuaian lahan untuk<br />
pengembangan jarak pagar di Indonesia.<br />
<strong>PENYEBARAN DAN SYARAT TUMBUH</strong><br />
<strong>Penyebaran</strong><br />
Jarak pagar diperkirakan berasal dari Amerika Tengah, khususnya Meksiko. Di<br />
daerah tersebut, tanaman tumbuh secara alami di kawasan hutan pinggiran pantai.<br />
Di Afrika dan Asia, jarak pagar hanya ditemukan sebagai tanaman pagar atau<br />
pembatas lahan pertanian (Heyne 1950; Heller 1996 ).<br />
Jarak pagar menyebar di Malaka setelah tahun 1700-an dan di Filipina<br />
sebelum tahun 1750 (Heller 1996). Di Malaka, jarak pagar disebut sebagai Dutch<br />
castor oil dan di Jawa sebagai Chinese castor oil. Di Afrika dan Asia, jarak pagar<br />
disebut sebagai castor oil plant yang menunjukkan bahwa tanaman ini dibawa<br />
dari daerah lain dan ditanam untuk diambil minyaknya. Selanjutnya jarak pagar<br />
dikenal luas sebagai hedge castor oil plant yang menunjukkan bahwa tanaman<br />
ini biasanya ditanam di pagar-pagar (Heyne 1950; Heller 1996; Fundora et al.<br />
2004).<br />
Penyebaran jarak pagar di Thailand terjadi lebih dari dua abad yang lalu oleh<br />
saudagar-saudagar Portugis. Terdapat lima spesies jarak di Thailand, yaitu J.<br />
curcas, J. gossypifolia, J. multifida, J. integrrima, dan J. podagrica. Menurut<br />
catatan setempat, orang Portugis menggunakan biji jarak untuk membuat sabun cuci<br />
dan lainnya (Sadakorn 1984).<br />
Di Indonesia tidak ada catatan yang<br />
pasti kapan jarak pagar masuk ke wilayah<br />
Nusantara, tetapi diperkirakan bersamaan<br />
dengan di Malaysia. Jarak pagar dapat<br />
ditemukan di berbagai tempat, namun<br />
umumnya tumbuh di pagar-pagar atau tepi<br />
jalan di pedesaan (Heyne 1950). Jarak pagar<br />
dikenal dengan berbagai nama daerah,<br />
antara lain nawaih nawas di Aceh, jarak<br />
wolanda di Manado, jirak di Minangkabau,<br />
jarak kosta di Jawa Barat, jarak budeg, jarak<br />
gundul, jarak iri, jarak pager, jarak cina,<br />
kaleke di Madura, jarak pageh di Bali,<br />
tangang-tangan kali kanjoh di Makassar,<br />
malate (hoti) di Seram Timur, bolacai di<br />
Halmahera Utara, dan balacai hisa di<br />
Tidore (Heyne 1950).<br />
Syarat Tumbuh<br />
Jarak pagar tersebar luas di daerah tropis<br />
dan subtropis. Kisaran curah hujan daerah<br />
penyebarannya bervariasi yaitu 200?2.000<br />
mm/tahun (Heller 1996), 480?2.380 mm/<br />
tahun (Jones dan Miller 1992), tetapi<br />
tanaman tumbuh baik pada curah hujan<br />
900?1.200 mm/tahun (Becker dan Makkar<br />
1999). Di Indonesia, jarak pagar dapat<br />
dijumpai di beberapa daerah dengan curah<br />
hujan lebih dari 3.000 mm/tahun, seperti<br />
di Bogor, Sumatera Barat, dan Minahasa.</p>
<p>Ketinggian tempat berkisar 0?1.700 m dpl,<br />
dengan suhu 11?38°C. Jarak pagar tidak<br />
tahan cuaca yang sangat dingin (frost) dan<br />
tidak sensitif terhadap panjang hari (daylength)<br />
karena tanaman berasal dari<br />
daerah tropis (Heller 1996).<br />
Menurut Henning (2004), jarak pagar<br />
membutuhkan curah hujan minimal 600<br />
mm/tahun. Jika curah hujan kurang dari<br />
600 mm/tahun maka tanaman tidak dapat<br />
tumbuh, kecuali dalam kondisi tertentu<br />
seperti di Kepulauan Cape Verde dengan<br />
curah hujan hanya 250 mm/tahun tetapi<br />
kelembapan udaranya sangat tinggi. Di<br />
daerah-daerah dengan kelengasan tanah<br />
bukan menjadi faktor pembatas (misalnya<br />
irigasi atau curah hujan cukup merata),<br />
jarak pagar dapat berproduksi sepanjang<br />
tahun, tetapi tidak dapat bertahan dalam<br />
kondisi tanah jenuh air. Iklim yang kering<br />
akan meningkatkan kadar minyak biji,<br />
tetapi kekeringan yang berkepanjangan<br />
menyebabkan tanaman menggugurkan<br />
daun sehingga pertumbuhan tanaman<br />
terhambat (Jones dan Miller 1992).<br />
Sebaliknya, pada daerah dengan curah<br />
hujan tinggi seperti di Bogor, tanaman<br />
memiliki pertumbuhan vegetatif yang lebat<br />
tetapi pembentukan bunga dan buah<br />
kurang. Arivin et al. (2006) melaporkan<br />
bahwa di Desa Cikeusik Malingping,<br />
Banten, dengan curah hujan 2.500?3.000<br />
mm/tahun, tanaman jarak pagar dapat<br />
berbunga dan berbuah, tetapi hal ini masih<br />
perlu diteliti apakah pembungaan tersebut<br />
berlangsung sepanjang tahun. Walaupun<br />
curah hujan daerah ini cukup tinggi, yang<br />
memungkinkan radiasi rendah, pembuahan<br />
cukup baik. Hal ini diduga merupakan<br />
hasil interaksi antara potensi genetik dan<br />
lingkungan seperti suhu yang selalu<br />
panas (±27°C) karena letaknya di tepi<br />
pantai, serta tekstur tanahnya berpasir<br />
yang menjamin drainase dan aerasi yang<br />
baik. Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Perkebunan (2006b) mengemukakan<br />
bahwa tipe iklim sangat berpengaruh<br />
terhadap pertumbuhan dan produksi jarak<br />
pagar. Jarak pagar tumbuh baik di lahan<br />
kering dataran rendah beriklim kering<br />
dengan ketinggian tempat &#60; 500 m dpl,<br />
curah hujan 300?1.000 mm/tahun, serta<br />
suhu &#62; 20°C.<br />
Jarak pagar dapat tumbuh pada<br />
semua jenis tanah, tetapi pertumbuhan<br />
yang baik dijumpai pada tanah-tanah<br />
ringan atau lahan dengan drainase dan<br />
aerasi yang baik (terbaik mengandung<br />
pasir 60?90%). Tanaman jarak pagar dapat<br />
beradaptasi di lahan marginal dan dapat<br />
tumbuh pada tanah berbatu, berpasir,<br />
berliat, dan pada lahan yang tererosi (Mal<br />
dan Joshi 1991). Tanaman ini dapat pula<br />
dijumpai di wilayah perbukitan atau<br />
sepanjang saluran air dan batas kebun<br />
(Heller 1996; Arivin et al. 2006). Menurut<br />
Okabe dan Somabhi (1989), jarak pagar<br />
yang ditanam pada tanah bertekstur<br />
lempung berpasir menghasilkan biji lebih<br />
tinggi daripada di tanah bertekstur lainnya.<br />
Selanjutnya Jones dan Miller (1992)<br />
mengemukakan bahwa meskipun jarak<br />
pagar dapat tumbuh dengan baik di tanah<br />
yang dangkal dan umumnya ditemukan<br />
tumbuh di tanah berkerikil, berpasir, dan<br />
berliat, pada tanah yang tererosi berat<br />
pertumbuhannya kerdil. Di daerah yang<br />
sangat kering, umumnya tinggi tanaman<br />
hanya 2?3 m.<br />
Jarak pagar dapat tumbuh pada tanah<br />
yang ketersediaan air dan unsur-unsur<br />
haranya terbatas atau lahan marginal,<br />
tetapi lahan yang berdrainase baik merupakan<br />
tempat yang sesuai bagi tanaman<br />
ini untuk tumbuh dan berproduksi secara<br />
optimal. Bila perakarannya sudah berkembang,<br />
jarak pagar toleran terhadap kondisi<br />
tanah masam atau alkalin (terbaik pada pH<br />
tanah 5,50?6,50) (Heller 1996; Arivin et al.<br />
2006). Jones dan Miller (1992) menyatakan<br />
untuk mendapatkan produksi yang tinggi<br />
pada tanah miskin hara dan alkalin,<br />
tanaman perlu dipupuk dengan pupuk<br />
anorganik maupun organik, yang mengandung<br />
sedikit kalsium, magnesium,<br />
dan sulfur. Pada daerah-daerah dengan<br />
kandungan fosfat rendah, penggunaan<br />
mikoriza dapat membantu pertumbuhan<br />
tanaman jarak.<br />
EVALUASI KESESUAIAN<br />
LAHAN<br />
Kriteria Kesesuaian Lahan<br />
Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan<br />
suatu bidang lahan untuk penggunaan<br />
tertentu. Kesesuaian lahan dapat<br />
dinilai untuk kondisi saat ini (present) atau<br />
setelah diadakan perbaikan (improvement).<br />
Secara spesifik, kesesuaian lahan<br />
untuk suatu komoditas dinilai berdasarkan<br />
sifat-sifat fisik lingkungan seperti tingkat<br />
kesuburan tanah, iklim, topografi (kelas<br />
lereng), hidrologi, dan drainase (Balai<br />
Penelitian Tanah 2003).<br />
Kriteria kesesuaian lahan untuk jarak<br />
pagar disusun berdasarkan ketersediaan<br />
data sumber daya lahan (tanah dan iklim),<br />
yaitu: 1) data (peta) sumber daya lahan<br />
(tanah) eksplorasi pada skala eksplorasi<br />
(skala 1:1.000.000) yang mencakup seluruh<br />
wilayah Indonesia (Pusat Penelitian<br />
Tanah dan Agroklimat 2000), 2) Peta<br />
Arahan Tata Ruang Pertanian Nasional<br />
skala 1:1.000.000 (Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat<br />
2001), dan 3) Peta Sumberdaya Iklim<br />
Pertanian Indonesia skala 1:1.000.000<br />
(Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi<br />
2003). Selain itu, evaluasi juga mengacu<br />
data syarat tumbuh tanaman jarak pagar<br />
yang dihimpun dari berbagai sumber<br />
(Heyne 1950; Jones dan Miller 1992; Heller<br />
1996; Henning 2004; Arivin et al. 2006).<br />
Kelas kesesuaian lahan digolongkan<br />
menjadi empat, yaitu sangat sesuai (S1),<br />
cukup sesuai (S2), kurang sesuai atau<br />
sesuai marginal (S3), dan tidak sesuai (N).<br />
S1 terdapat pada lahan dengan ketinggian<br />
tempat &#60; 400 m dpl, curah hujan tahunan<br />
1.000?2.000 mm dengan bulan kering 4?5<br />
bulan (tipe iklim II-B dan II-C) atau curah<br />
hujan tahunan 2.000?3.000 mm dengan<br />
bulan kering 5?6 bulan (tipe iklim III-A).<br />
S2 terdapat pada lahan dengan ketinggian<br />
tempat &#60; 400 m dpl, curah hujan tahunan<br />
1.000?2.000 mm dengan bulan kering 6?8<br />
bulan (tipe iklim II-A) atau curah hujan<br />
tahunan 2.000?3.000 mm dengan tipe iklim<br />
III-B. Lahan yang termasuk kelas S3<br />
terdapat pada ketinggian tempat &#60; 700 m<br />
dpl, curah hujan tahunan &#60; 1.000 mm<br />
dengan bulan kering &#62; 8 bulan (tipe iklim<br />
I-A, I-B, dan I-C), atau curah hujan tahunan<br />
2.000?3.000 mm dengan bulan kering 3?4<br />
bulan (tipe iklim III-C), atau curah hujan<br />
tahunan 3.000?4.000 mm dengan bulan<br />
kering 3 bulan (tipe iklim IV-C). Daerah yang<br />
tidak sesuai (N) terletak pada ketinggian<br />
tempat &#62; 700 m dpl, curah hujan tahunan<br />
3.000?4.000 mm dengan bulan kering 0?2<br />
bulan (tipe iklim IV-A, IV-B, dan IV-D), atau<br />
curah hujan tahunan &#62; 4.000 mm dengan<br />
tipe iklim V-A, B, C, D; VI-A, B, C, D). Kriteria<br />
selengkapnya disajikan pada Tabel 1.<br />
Meskipun demikian, tingkat akurasi<br />
peta ini masih rendah karena data yang<br />
tersedia masih sangat kasar. Sebagai<br />
gambaran tingkat akurasi peta, ketinggian<br />
tempat yang digunakan dalam peta sumber<br />
daya lahan terdiri atas dua kategori yaitu<br />
&#60; 700 dan &#62; 700 m dpl dan selang kategori<br />
curah hujan tahunan dalam peta sumber<br />
daya iklim 1.000 mm/tahun.</p>
<p>Tahapan Penilaian<br />
Tahap pertama penilaian kesesuaian lahan<br />
adalah melakukan pemilahan lahan dari<br />
data spasial arahan tata ruang pertanian.<br />
Lahan yang tidak sesuai dan tidak mungkin<br />
dapat dikembangkan tidak diperhitungkan,<br />
yang meliputi 1) lahan yang<br />
berada di dataran tinggi (&#62; 700 m dpl), 2)<br />
lahan sawah, rawa (gambut), tambak<br />
(perikanan air payau), danau dan kolam,<br />
3) kawasan hutan lindung, 4) kawasan<br />
perkebunan besar (kelapa sawit, karet, jati),<br />
dan 5) kawasan konservasi, yaitu lahan<br />
yang tidak sesuai dari segi biofisik dan<br />
lingkungan untuk pengembangan pertanian.<br />
Dari data spasial sumber daya iklim<br />
dipilah kawasan-kawasan yang mempunyai<br />
tipe iklim IV-A, IV-B, IV-D, serta<br />
semua tipe V dan VI karena mempunyai<br />
curah hujan tinggi dan tidak sesuai untuk<br />
pengembangan jarak pagar.<br />
Dari pemilahan tahap pertama tersebut,<br />
terpilih lahan yang sesuai untuk<br />
jarak pagar yaitu semua lahan kering yang<br />
berada di dataran rendah (&#60; 700 m dpl),<br />
bentuk wilayah datar sampai berbukit<br />
dengan lereng &#60; 30%. Dalam arahan tata<br />
ruang pertanian, lahan tersebut mempunyai<br />
simbol 1B2 (lahan kering beriklim<br />
basah untuk tanaman semusim), 1B3<br />
(lahan kering beriklim basah untuk<br />
tanaman tahunan), 1K2 (lahan kering<br />
beriklim kering untuk tanaman semusim),<br />
1K3 (lahan kering beriklim kering untuk<br />
tanaman tahunan), dan 1K4 (lahan untuk<br />
penggembalaan ternak).<br />
Pengelompokan tipe iklim didasarkan<br />
pada kriteria jumlah curah hujan serta<br />
jumlah bulan kering dan bulan basah<br />
yang tersedia dalam atlas sumber daya<br />
iklim pertanian Indonesia. Kriteria tipe iklim<br />
yang digunakan disajikan dalam Tabel 1,<br />
yaitu S1 (II-B, II-C, III-A), S2 (II- A, III-B),<br />
S3 (I-A, I- B, I- C, III- C, IV-C), dan N (IV-A,<br />
IV-B, IV-D, serta semua tipe V dan VI).<br />
Tahapan selanjutnya adalah tumpang<br />
tepat (overlay) antara lahan yang<br />
terpilih berdasarkan data spasial arahan<br />
tata ruang 1B2, 1B3, 1K2, 1K3, dan 1K4<br />
dengan data spasial tipe iklim sesuai<br />
dengan kriteria kelas kesesuaiannya. Dari<br />
tumpang tepat ini diperoleh lahan yang<br />
sesuai dari aspek iklim dan lahan untuk<br />
pengembangan jarak pagar. Seluruh<br />
proses ini menggunakan data spasial<br />
atau peta digital (GIS).<br />
Untuk melihat kaitan antara hasil<br />
evaluasi kesesuaian lahan dan ketersediaan<br />
lahan untuk pengembangannya,<br />
dilakukan pembandingan dengan penggunaan<br />
lahan saat ini (existing land use).<br />
Namun, data penggunaan lahan secara<br />
spasial tidak tersedia dan yang tersedia<br />
hanya data dari BPS (Badan Pusat Statistik<br />
2004).<br />
HASIL EVALUASI<br />
KESESUAIAN LAHAN<br />
Berdasarkan hasil evaluasi data spasial<br />
arahan tata ruang pertanian dan sumber<br />
daya iklim, sesuai kriteria yang tercantum<br />
dalam Tabel 1, diperoleh data luas dan<br />
penyebaran lahan yang sesuai untuk<br />
masing-masing kelas kesesuaian lahan,</p>
<p>yaitu sangat sesuai (S1), cukup sesuai<br />
(S2), dan sesuai marginal (S3) di setiap<br />
provinsi (Tabel 2). Lahan yang sesuai<br />
untuk pengembangan jarak pagar seluas<br />
49,53 juta ha, yang terdiri atas kelas sangat<br />
sesuai 14,28 juta ha, cukup sesuai 5,53 juta<br />
ha, dan sesuai marginal 29,72 juta ha. Data<br />
ini masih sangat kasar karena data sumber<br />
daya lahan dan iklim yang digunakan<br />
adalah skala eksplorasi (skala peta<br />
1:1.000.000). Namun demikian, data ini<br />
sangat bermanfaat untuk perencanaan<br />
secara nasional untuk menentukan arah<br />
pengembangan jarak pagar.<br />
Kelas lahan sangat sesuai (S1) terluas<br />
terdapat di Kalimantan yaitu 4,72 juta ha,<br />
(terluas di Kalimantan Timur), disusul<br />
Papua dan Maluku 2,56 juta ha (terluas di<br />
Papua dan Maluku Utara), dan Sulawesi<br />
(terluas di Sulawesi Tenggara). Untuk<br />
kelas cukup sesuai (S2), penyebaran<br />
terluas terdapat di Kalimantan yaitu 1,71<br />
juta ha (terluas di Kalimantan Barat) dan<br />
di Nusa Tenggara 1,26 juta ha (terluas di<br />
Nusa Tenggara Timur). Kelas sesuai<br />
marginal (S3) mempunyai penyebaran<br />
terluas di Sumatera yaitu 11,09 juta ha<br />
(terluas di Sumatera Selatan, Riau, dan<br />
Sumatera Utara), dan Kalimantan 11,03 juta<br />
ha (terluas di Kalimantan Barat, Kalimantan<br />
Tengah, dan Kalimantan Timur).<br />
Meskipun lahan yang sesuai sangat<br />
luas (49,53 juta ha), kenyataannya terdapat<br />
kelemahan dalam penilaian ini. Lahan yang<br />
dinilai adalah seluruh lahan yang berada<br />
pada ketinggian &#60; 700 m, padahal untuk<br />
kelas Sl dan S2, data ketinggian yang<br />
dikehendaki adalah &#60; 400 m dpl. Oleh<br />
karena itu, lahan yang termasuk kelas S1<br />
dan S2 kemungkinan ada yang terdapat<br />
pada ketinggian 400?700 m dpl yang<br />
seharusnya masuk pada kelas S3,<br />
sehingga luas lahan yang termasuk kelas<br />
S3 akan lebih besar dari 29,70 juta ha.<br />
Hasil evaluasi kesesuaian lahan juga<br />
baru mempertimbangkan kondisi biofisik<br />
lahan, iklim, dan lingkungannya sehingga<br />
sangat luas penyebarannya. Apabila ingin<br />
diketahui luas lahan yang tersedia untuk<br />
pengembangan jarak pagar di luar lahan<br />
kering yang telah dimanfaatkan untuk<br />
penggunaan lain, baik di sektor pertanian<br />
maupun nonpertanian, perlu dilakukan<br />
penilaian khusus.<br />
PENGGUNAAN LAHAN VS<br />
KESESUAIAN LAHAN<br />
Penggunaan Lahan<br />
Penggunaan lahan pertanian selama ini<br />
mengacu kepada data penggunaan lahan<br />
dari BPS (Badan Pusat Statistik 2004).<br />
Penggunaan lahan dikelompokkan menjadi<br />
delapan, yaitu sawah, pekarangan, ladang<br />
(huma dan tegalan), padang penggembalaan<br />
(rumput-rumputan), tambak dan<br />
kolam, lahan yang sementara tidak diusahakan,<br />
perkebunan, dan areal tanaman<br />
kayu-kayuan. Luas dan penyebaran<br />
penggunaan lahan tersebut disajikan pada<br />
Tabel 3.<br />
Berdasarkan data BPS pada Tabel 3,<br />
lahan yang telah digunakan sebagai lahan<br />
pertanian seluas 69,15 juta ha. Penggunaan<br />
lahan untuk perkebunan adalah yang<br />
terluas, sekitar 19,60 juta ha, terutama<br />
untuk perkebunan kelapa sawit, karet, dan<br />
kelapa (12,90 juta ha), sisanya untuk kopi,<br />
kakao, cengkih, lada, teh, kapas, tebu, dan<br />
tembakau. Lahan yang sementara tidak<br />
diusahakan (lahan terlantar) dan tegalan<br />
(ladang) masing-masing seluas 12,40 juta<br />
ha dan 10,60 juta ha. Lahan yang sementara<br />
tidak diusahakan termasuk dalam<br />
lahan pertanian, namun merupakan lahan<br />
terlantar yang berupa semak belukar.<br />
Demikian juga padang penggembalaan<br />
yang luasnya mencapai 3,10 juta ha.<br />
Untuk mengetahui lahan yang betulbetul<br />
sudah digunakan dan kaitannya<br />
untuk pengembangan jarak pagar, dapat<br />
digunakan dua skenario. Skenario I<br />
merupakan pengelompokan lahan yang<br />
mencakup seluruh lahan kering yang telah<br />
digunakan, yaitu lahan pekarangan,<br />
ladang (huma dan tegalan), padang<br />
penggembalaan, lahan yang sementara<br />
tidak diusahakan, perkebunan, dan areal<br />
kayu-kayuan. Secara ringkas, total luas<br />
penggunaan lahan kering adalah total<br />
penggunaan lahan (69,15 juta ha)<br />
dikurangi lahan sawah, kolam, dan tambak</p>
<p>(8,46 juta ha) yang hasilnya seluas 60,69<br />
juta ha (Tabel 3).<br />
Skenario II mencakup lahan kering<br />
yang betul-betul telah digunakan, yaitu<br />
lahan pekarangan, ladang (huma dan<br />
tegalan), perkebunan, dan kayu-kayuan.<br />
Total penggunaan lahan kering skenario<br />
II adalah total penggunaan lahan (69,15<br />
juta ha) dikurangi sawah dan kolam (8,46<br />
juta ha) dikurangi lahan yang sementara<br />
tidak diusahakan (12,42 juta ha) dikurangi<br />
padang penggembalaan (3,11 juta ha)<br />
yang hasilnya seluas 45,16 juta ha.<br />
Ketersediaan Lahan<br />
Lahan kering yang sesuai untuk jarak<br />
pagar cukup luas, sekitar 49,53 juta ha<br />
(Tabel 2). Namun, luas lahan yang tersedia<br />
untuk pengembangan jarak pagar belum<br />
diketahui secara pasti. Untuk mendapatkan<br />
data ini, dapat dilakukan tumpang<br />
tepat antara data spasial kesesuaian lahan<br />
dengan data spasial penggunaan lahan,<br />
sehingga diperoleh data luas dan penyebaran<br />
lahan yang sesuai dan belum<br />
dimanfaatkan untuk penggunaan lain.<br />
Namun, data spasial penggunaan lahan<br />
yang mencakup seluruh kawasan Indonesia<br />
saat ini belum tersedia, terutama<br />
untuk tegalan, pekarangan, dan kebun<br />
campuran yang biasanya tidak tergambar<br />
dalam peta penggunaan lahan.<br />
Untuk memprediksi lahan yang<br />
mungkin masih tersedia dan dapat digunakan<br />
untuk pengembangan jarak pagar<br />
dalam skala besar (perkebunan), digunakan<br />
pendekatan dengan mengurangi<br />
lahan yang sesuai dengan lahan yang telah<br />
digunakan dari data BPS (skenario I dan II<br />
pada Tabel 4). Berdasarkan skenario I,<br />
lahan yang sesuai untuk jarak pagar pada<br />
umumnya telah dimanfaatkan untuk<br />
penggunaan lain, yang ditandai dengan<br />
angka minus pada Tabel 4. Di seluruh<br />
Indonesia, lahan yang tersedia adalah<br />
minus 11,14 juta ha, kecuali di Provinsi<br />
Kepulauan Bangka Belitung (76.776 ha)<br />
dan NTB (10.059 ha) yang masih tersedia<br />
lahan untuk pengembangan jarak pagar.<br />
Di Maluku, Maluku Utara, dan Papua, data<br />
penggunaan lahan tidak tersedia sehingga<br />
lahan yang tersedia untuk pengembangan<br />
masih cukup luas yaitu 5,14 juta ha di<br />
Papua, 1,53 juta ha di Maluku Utara, dan<br />
1,25 juta ha di Maluku.<br />
Apabila menggunakan skenario II<br />
maka masih tersedia lahan yang dapat<br />
digunakan untuk pengembangan jarak<br />
pagar seluas 4,39 juta ha, yaitu pada lahan<br />
yang sementara diterlantarkan dan padang<br />
penggembalaan. Lahan tersebut terdapat<br />
di Sumatera Selatan, Bangka Belitung,<br />
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara<br />
Timur, Kalimantan, Sulawesi Tenggara,<br />
Gorontalo, Papua, Maluku, dan Maluku<br />
Utara.<br />
Berdasarkan kedua skenario tersebut,<br />
dapat disimpulkan bahwa pengembangan<br />
jarak pagar dalam skala luas atau perkebunan<br />
besar akan mengalami hambatan<br />
dalam penyediaan lahan. Lahan yang<br />
mungkin dapat dimanfaatkan adalah lahan<br />
terlantar karena masih cukup luas. Lahan<br />
ini pun, apabila status lahannya bukan<br />
lahan negara, akan sulit dideteksi.<br />
Alternatif Pengembangan<br />
Pada tahap awal, pengembangan jarak<br />
pagar diarahkan ke provinsi yang kondisi<br />
lahan dan iklimnya sesuai untuk jarak<br />
pagar, yaitu pada wilayah dengan kelas<br />
kesesuaian lahan sangat sesuai (S1).<br />
Lahan tersebut tersebar di Kalimantan<br />
Timur, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku<br />
Utara, Papua, Kalimantan Selatan, Jawa<br />
Timur, Lampung, Nusa Tenggara Timur,<br />
dan Sumatera Selatan (Tabel 2). Namun,<br />
dengan kondisi lahan yang terbatas<br />
seperti tersebut di atas, akan sulit apabila<br />
pengembangan jarak pagar secara besarbesaran<br />
dilakukan di lahan kering bukaan<br />
baru (ekstensifikasi), kecuali pada lahan<br />
terlantar atau lahan kawasan hutan<br />
konversi (lahan negara). Apabila lahan<br />
tersebut tidak tersedia, salah satu alternatif<br />
pengembangannya adalah secara diversifikasi<br />
dengan tanaman lain, baik dengan<br />
sistem tumpang sari, tanaman sela, tanaman<br />
pagar, atau rotasi.<br />
Lahan pekarangan di Indonesia yang<br />
luasnya 5,55 juta ha dapat pula dimanfaatkan<br />
untuk jarak pagar yang ditanam<br />
sebagai tanaman pagar atau tumpang sari.<br />
Demikian pula lahan tegalan (ladang dan<br />
huma) yang luasnya sekitar 10,59 juta ha;</p>
<p>apabila 5% dari tegalan ini dapat ditanami<br />
jarak pagar sebagai tanaman pagar atau<br />
pembatas kepemilikan lahan, atau tanaman<br />
rotasi (0,50 juta ha), maka akan dihasilkan<br />
biji jarak pagar sekitar 2,50 juta ton (asumsi<br />
hasil panen 2 kg/pohon, populasi 2.500<br />
pohon/ha) (Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Perkebunan 2006b). Lahan yang<br />
juga potensial adalah lahan terlantar dan<br />
semak belukar, termasuk lahan alangalang<br />
yang luasnya sekitar 12,42 juta ha.<br />
Berdasarkan ulasan di atas, potensi<br />
sumber daya lahan Indonesia sangat besar<br />
dan berpeluang untuk pengembangan<br />
jarak pagar. Meskipun demikian, permasalahan<br />
masih dijumpai baik secara teknis<br />
(budi daya, penyediaan benih, kualitas<br />
buah, kadar minyak, dan lain-lain) maupun<br />
sosial (status lahan, kemampuan masyarakat<br />
tani, pascapanen, dan pemasaran).<br />
Masalah penyediaan benih dapat diatasi<br />
dalam 4?5 tahun ke depan dengan tersedianya<br />
varietas unggul dan benih<br />
sumber dari Badan Litbang Pertanian yaitu<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan<br />
Perkebunan. Unit kerja tersebut akan<br />
menghasilkan tiga populasi komposit jarak<br />
pagar, yang dinamakan IP-1A, IP-1M, dan<br />
IP-1P yang berasal dari Asembagus,<br />
Muktihardjo, dan Pakuwon. Benih dalam<br />
bentuk biji sebanyak 6?7 ton tersedia pada<br />
September?Desember 2006 sehingga<br />
dapat mencukupi kebutuhan penanaman<br />
komersial seluas 5.000?6.000 ha pada<br />
tahun 2006?2007, dan akan menghasilkan<br />
minyak pada tahun 2008?2009 (Hasnam<br />
dan Hartati 2006).<br />
Pengembangan jarak pagar secara<br />
besar-besaran (perkebunan) dapat diarahkan<br />
ke lahan terlantar dan belum dimanfaatkan<br />
secara optimal, seperti lahan alangalang<br />
dan semak belukar. Di antara lahan<br />
terlantar tersebut, 1,08 juta ha sudah diidentifikasi<br />
kesesuaiannya untuk pengembangan<br />
lahan pertanian (Mulyani et al.<br />
2000) (Tabel 5).<br />
Penyebaran dan luas lahan alangalang<br />
di masing-masing provinsi disajikan<br />
pada peta skala 1:50.000, yang dapat<br />
digunakan untuk operasional di lapangan.<br />
Lahan alang-alang tersebut berada pada<br />
ketinggian &#60; 400 m dpl, dengan bentuk<br />
wilayah datar-bergelombang (lereng &#60;<br />
15%). Lahan alang-alang yang dapat<br />
dimanfaatkan untuk pengembangan jarak<br />
pagar mempunyai curah hujan &#60; 3.000 mm/<br />
tahun, sehingga sesuai dengan persyaratan<br />
tumbuh jarak pagar. Tabel 5 menunjukkan<br />
hampir seluruh areal yang diidentifikasi<br />
sesuai untuk jarak pagar.<br />
Sebagian lahan terlantar tersebut<br />
terdapat pada kawasan transmigrasi dan<br />
dimiliki oleh petani transmigran, seperti di<br />
di Kabupaten Banjar, Tanah Laut dan<br />
Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan), serta<br />
di Kabupaten Kendari, Buton, dan Kolaka<br />
(Sulawesi Tenggara) (Tabel 5). Namun,<br />
lahan terlantar tersebut diidentifikasi pada<br />
tahun 1998/1999, sehingga saat ini<br />
mungkin sudah dibuka dan dimanfaatkan<br />
untuk penggunaan lainnya.</p>
<p>KESIMPULAN DAN SARAN<br />
Hasil evaluasi kesesuaian lahan berdasarkan<br />
data pada peta skala eksplorasi menunjukkan<br />
bahwa lahan yang sesuai<br />
untuk jarak pagar seluas 49,53 juta ha, yang<br />
terdiri atas kelas sangat sesuai 14,28 juta<br />
ha, cukup sesuai 5,53 juta ha, dan sesuai<br />
marginal 29,72 juta ha. Namun, lahan yang<br />
tersedia hanya sekitar 4,39 juta ha yang<br />
tersebar di 12 provinsi.<br />
Pengembangan jarak pagar dapat<br />
diprioritaskan pada lahan yang sangat<br />
sesuai dan cukup sesuai, yang tersebar<br />
luas di Kalimantan Timur, Sulawesi Utara,<br />
Papua, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur,<br />
Kalimantan Selatan, Maluku, dan Maluku<br />
Utara. Karena pesatnya perubahan penggunaan<br />
lahan saat ini, data spasial kesesuaian<br />
lahan perlu ditumpangtepatkan<br />
dengan data spasial penggunaan lahan<br />
saat ini (paling tidak pada skala<br />
1:1.000.000), sehingga dapat diketahui luas<br />
lahan yang tersedia untuk pengembangan<br />
jarak pagar (ekstensifikasi).<br />
Alternatif lain untuk pengembangan<br />
jarak pagar adalah melalui diversifikasi<br />
dengan tanaman lain yang sudah ada<br />
(existing land use), baik dengan tumpang<br />
sari, sebagai tanaman sela, tanaman rotasi,<br />
atau tanaman pagar. Jarak pagar umumnya<br />
diusahakan sebagai tanaman pagar atau<br />
pembatas kepemilikan kebun atau tegalan.<br />
Pengembangan jarak pagar dalam<br />
skala luas (perkebunan besar) dapat<br />
diarahkan pada lahan terlantar atau tidak<br />
diusahakan (lahan alang-alang dan semak<br />
belukar) seluas 12,40 juta ha. Di antara lahan<br />
terlantar tersebut, sekitar 1 juta ha telah<br />
diidentifikasi kesesuaiannya pada skala<br />
1:50.000, yang memadai untuk operasional<br />
di tingkat kabupaten dan kecamatan.<br />
Namun, status dan kepemilikan lahan<br />
terlantar tersebut belum diketahui, kecuali<br />
untuk beberapa lokasi transmigrasi di<br />
Kalimantan Selatan dan Sulawesi Tenggara.<br />
DAFTAR PUSTAKA<br />
Arivin, A.R., D. Allorerung, Z. Mahmud, D.S.<br />
Effendi, Sumanto, dan F. Isa. 2006. Karakteristik<br />
fisik lingkungan daerah pertanaman<br />
jarak pagar (Jatropha curcas L.) di Cikeusik,<br />
Banten. Makalah disampaikan pada Lokakarya<br />
II Status Teknologi Tanaman Jarak<br />
Pagar. Hotel Pangrango, Bogor, 29 November<br />
2006.<br />
Badan Pusat Statistik. 2004. Indonesia dalam<br />
Angka 2004. Badan Pusat Statistik, Jakarta.<br />
www.bps.go.id (6 Juni 2006).<br />
Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. 2003.<br />
Atlas Sumberdaya Iklim Pertanian Indonesia<br />
Skala 1:1.000.000. Balai Penelitian Agroklimat<br />
dan Hidrologi, Bogor. 42 hlm.<br />
Balai Penelitian Tanah. 2003. Petunjuk Teknis<br />
Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian.<br />
Balai Penelitian Tanah, Bogor. 154 hlm.<br />
Becker, K. and H.P.S. Makkar. 1999. Jatropha<br />
and Moringa: Source of renewable energy<br />
for fuel, edible oil, animal feed and pharmaceutical<br />
products, ideal trees for increasing</p>
<p>cash income. Presented at Daimler Chrysler/<br />
The World Bank Environment Forum,<br />
Magdeburg. 3 pp<br />
David, A., Z. Mahmud, A.A. Rivaie, D.S. Effendi,<br />
dan A. Mulyani. 2006. Peta kesesuaian lahan<br />
dan iklim jarak pagar (Jatropha curcas L.).<br />
Makalah disampaikan pada Lokakarya Status<br />
Teknologi Budidaya Jarak Pagar (Jatropha<br />
curcas L.). Badan Penelitian dan Pengembangan<br />
Pertanian, Jakarta, 11?12 April<br />
2006. 14 hlm.<br />
Fundora-Mayor, L. Castineiras, T. Shagarodsky,<br />
V. Mareno, M. Garcia, C. Girandy, O. Barrios,<br />
L. Fernandes, G.R. Cristobal, V. Fuentes, A.<br />
Valiente, and T. Hernandez. 2004. Seed<br />
Systems and Genetic Diversity in Home<br />
Garden: a Cuban Approach. p 68?77. In<br />
Proceeding of Seed Systems and Crop Genetic<br />
Diversity on Farm. International Plant<br />
Genetic Resources Institute, Rome, Italy.<br />
Hasnam dan Rr. Sri Hartati. 2006. Penyediaan<br />
benih unggul harapan jarak pagar (Jatropha<br />
curcas L.). Makalah disampaikan pada<br />
Lokakarya Status Teknologi Budidaya Jarak<br />
Pagar (Jatropha curcas L.). Badan Penelitian<br />
dan Pengembangan Pertanian, Jakarta,<br />
11?12 April 2006. 13 hlm.<br />
Heller, J. 1996. Physic Nut (Jatropha curcas<br />
L.). Promoting the conservation and use of<br />
underutilised and neglected crops. 1. Institute<br />
of Plant Genetics and Crop Plant Research.<br />
Gatersleben/International Plant Genetic<br />
Resources Institute, Rome. 66 pp.<br />
Henning, R.K. 2004. The Jatropha System.<br />
Economy and dissemination strategy.<br />
International Conference of Renewable<br />
Energy. Bonn, Germany, 1?4 June 2004.<br />
Heyne, K. 1950. Tumbuhan Berguna Indonesia<br />
II. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta.<br />
Jones, N. and J.M. Miller. 1992. Jatropha curcas.<br />
A multipurpose species for problematic sites.<br />
The World Bank. Asia Technical Department,<br />
Agriculture Division. 11 pp.<br />
Mahmud, Z., A.A. Rivaie, dan D. Allorerung.<br />
2006. Kultur teknis jarak pagar. (Jatropha<br />
curcas L.). Makalah pada Lokakarya Status<br />
Teknologi Budidaya Jarak Pagar (Jatropha<br />
curcas L.). Badan Penelitian dan Pengembangan<br />
Pertanian, Jakarta, 11?12 April<br />
2006. 8 hlm.<br />
Mal, B. and V. Joshi. 1991. Underutilized plant<br />
resources. p 211?229. In R.S. Paronda and<br />
R.K. Arora (Eds.). Plant Genetic Resources<br />
- Conservation and Management. Malhotra<br />
Publishing House, New Delhi, India.<br />
Mulyani, A., Sukarman, dan D. Subardja. 2000.<br />
Evaluasi ketersediaan lahan untuk perluasan<br />
areal pertanian. Laporan Penelitian No. 15/<br />
Puslittanak/2000. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. 52 hlm.<br />
Okabe, T. and M. Somabhi. 1989. Ecophysiological<br />
studies on drought tolerant<br />
crops suited to the Northeast Thailand.<br />
Technical Paper No. 5. Agricultural Development<br />
Research Center in Northeast<br />
Thailand.<br />
Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000.<br />
Atlas Sumberdaya Lahan Eksplorasi Indonesia<br />
Skala 1:1.000.000. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. 41 hlm.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan<br />
Agroklimat. 2001. Atlas Arahan Tata Ruang<br />
Pertanian Indonesia Skala 1:1.000.000.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah<br />
dan Agroklimat, Bogor. 37 hlm.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan<br />
Agroklimat. 2002. Arahan Pewilayahan<br />
Komoditas Pertanian Unggulan Nasional<br />
Skala 1:1.000.000. Pusat Penelitian dan<br />
Pengembangan Tanah dan Agroklimat,<br />
Bogor. 43 hlm.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.<br />
2006a. Petunjuk Teknis Budidaya Jarak<br />
Pagar (Jatropha curcas L.) Edisi 2. Pusat<br />
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan,<br />
Bogor. 35 hlm.<br />
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.<br />
2006b. Panduan Umum Perbenihan Jarak<br />
Pagar (Jatropha curcas L.) Edisi 2. Pusat<br />
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan,<br />
Bogor. 25 hlm.<br />
Sadakorn, J. 1984. Physic nut (Jatropha curcas<br />
Linn.), a potential source of fuel oil from<br />
seeds for an alternative choice of energy.<br />
Thai. Agric. Res. J. 2: 67?72.</p>
<p>dari : pustaka-deptan.go.id</p></div>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Biogas I Tyskland – en utveckling med baksida?]]></title>
<link>http://greengard.wordpress.com/2008/12/19/biogas-i-tyskland-%e2%80%93-en-utveckling-med-baksida/</link>
<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 23:03:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>greengard</dc:creator>
<guid>http://greengard.wordpress.com/2008/12/19/biogas-i-tyskland-%e2%80%93-en-utveckling-med-baksida/</guid>
<description><![CDATA[Biogasutveckling har i Tyskland ett stort samhälleligt stöd, och utvecklingen har gått mycket bra. S]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Biogasutveckling har i Tyskland ett stort samhälleligt stöd, och utvecklingen har gått mycket bra. Så bra att det förändrat landskapet i vissa regioner. ”Där det förut varit varierande och omväxlande odling är det nu majs överallt.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Är det en sådan utveckling vi vill ha?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Svenska villkor för biogas är helt annorlunda, men det är viktigt att man inte styr utvecklingen fel med välmenande planer.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Stallgödsel ses som en bra källa till biogas, men dess energiinnehåll är lågt i förhållande till fodergrödorna själva.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[fornybar.no]]></title>
<link>http://lrtiller.wordpress.com/2008/12/08/fornybarno/</link>
<pubDate>Mon, 08 Dec 2008 21:11:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>atlehaga</dc:creator>
<guid>http://lrtiller.wordpress.com/2008/12/08/fornybarno/</guid>
<description><![CDATA[Nettsted med fokus på fornybar energi www.fornybar.no Hensikten med dette nettstedet er å presentere]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Nettsted med fokus på fornybar energi <a href="http://www.fornybar.no">www.fornybar.no</a></strong></p>
<p><a href="http://www.fornybar.no"><img class="aligncenter size-full wp-image-110" title="fornybar" src="http://lrtiller.wordpress.com/files/2008/12/fornybar.jpg" alt="fornybar" width="468" height="90" /></a></p>
<blockquote><p>Hensikten med dette nettstedet er å presentere en samlet oversikt over den teknologiske, økonomiske og markedsmessige utvikling innen fagfeltet fornybar energi. Nettstedet gir dessuten en kort omtale av dagens energibruk, rammebetingelser for utvikling av fornybare energikilder, samt utsikter når det gjelder fornybare energikilders rolle i et fremtidig energisystem.</p></blockquote>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Potensi, Kekurangan, dan Kelebihan Jarak Pagar ]]></title>
<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/potensi-kekurangan-dan-kelebihan-jarak-pagar/</link>
<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 12:09:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>plantus</dc:creator>
<guid>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/potensi-kekurangan-dan-kelebihan-jarak-pagar/</guid>
<description><![CDATA[Potensi Lahan Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering (LKDRIK) di Indonesia tersedia + 6 juta ha. T]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Potensi Lahan</strong></p>
<p>Lahan Kering Dataran Rendah Iklim Kering (LKDRIK) di Indonesia tersedia + 6 juta ha. Tersebar di Bali dan NTT seluas 2.616.895 ha, Sumatera 470.801 ha, Jawa 962.720 ha, Sulawesi 1.810.930 ha, Maluku dan Papua 582.815 ha. (Departemen Pertanian, 22/02/2006)</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Kekurangan Biodiesel dari Jarak</strong></p>
<ol>
<li>Produktivitas paling optimis 5 ton/ha/tahun. Diketahui 1 liter biodiesel membutuhkan 3-4 kg biji jarak kering. Bila harga biodiesel harus lebih rendah daripada minyak diesel (petrol-based), Rp 4300/liter, maka harga maksimum biji jarak adalah Rp 1000/kg. Atau harga per kg biji kering jarak pagar sekitar Rp 500 &#8211; Rp 800 (Basuki, 13/09/2006). Jadi potensi pendapatan maksimum adalah Rp 5jt/ha/tahun, dimana biaya bibit (Rp 3.5jt/ha), pupuk, tenaga kerja, biaya lahan, pun proses biodiesel, belum diperhitungkan (Kompas, 18/02/2006). Total biaya pengolahan (esterifikasi dsb) + total biaya produksi untuk menghasilkan minyak biodiesel per liternya adalah Rp 3500, karena dalam proses pengolahan minyak jarak menjadi minyak biodiesel diperlukan bahan baku lain misalnya Etanol dan Caustic Soda (NaOH) sebagai bagian dari proses esterifika (Basuki, 13/09/2006).</li>
<li>Belum ada bukti cukup keberhasilan monokultur jarak dalam luasan yang besar</li>
<li>Pengadaan bibit unggul jarak belum menunjukkan hasil yang memadai (agrobisnis besar memerlukan bibit unggul dalam jumlah besar)</li>
<li>Pada tingkat potensi produksi yang tinggi, penghasilan dari minyak jarak sangat tidak bersaing (bila anda memiliki berhektar-hektar lahan, apakah anda akan mengejar penghasilan Rp 5jt/tahun/hektar?)</li>
<li>Permainan jarak adalah permainan <span style="font-style:italic;">sampingan</span>, dan inilah ekonomi gerilya (ekonomi kerakyatan)<!--more--></li>
</ol>
<p><strong>Kelebihan Biodiesel dari Jarak</strong></p>
<p>Produk sampingan dari biodiesel adalah Glyserin, dimana zat ini adalah salah satu bahan kimia yang dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan seperti obat obatan dan bahan kosmetik (http://en.wikipedia.org/wiki/Glycerine)</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li>Pengembangan Jarak Untuk Biodiesel Nelayan Hanya Mematok Harga Rp 500/kg Biji Jarak, Kompas, 18/02/2006.</li>
<li>Penyediaan Bahan Baku Bahan Bakar Nabati (Biofuel) berbasis jarak Pagar, Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian, Jakarta, 22/02/2006</li>
<li>http://basuki1.blogdrive.com, 13/09/2006.</li>
<li>http://en.wikipedia.org/wiki/Glycerine.</li>
</ul>
<p>dari : kamase.org</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Penanaman Jarak di Nusa Penida Dipertanyakan]]></title>
<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/penanaman-jarak-di-nusa-penida-dipertanyakan/</link>
<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 12:07:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>plantus</dc:creator>
<guid>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/penanaman-jarak-di-nusa-penida-dipertanyakan/</guid>
<description><![CDATA[Kompas/Ahmad Arif Tanaman jarak memiliki prospek masa depan yang menjanjikan sebagai bahan bakar alt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="judulisiberita" style="margin:5px 0;"></div>
<div style="width:300px;float:left;margin-right:10px;">
<div style="width:298px;padding:0 0 5px;">
<div id="loadarea" style="margin-bottom:5px;width:298px;"><img src="http://kompas.co.id/data/photo/2008/01/17/170329p.JPG" border="0" alt="" width="298" /></div>
<div id="boxpoto" style="margin-bottom:0;text-align:right;font-family:arial;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:9px;line-height:normal;color:#666666;"><a href="http://kompas.co.id/read/xml/2008/05/21/22200721/penanaman.jarak.di.nusa.penida.dipertanyakan#">Kompas/Ahmad Arif</a></div>
<div id="boxtitle" style="margin-bottom:0;font-family:arial;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:11px;line-height:normal;color:#333333;">Tanaman jarak memiliki prospek masa depan yang menjanjikan sebagai bahan bakar alternatif untuk menggantikan minyak bumi.</div>
</div>
<p><!--- video --></div>
<div class="tanggal">Rabu, 21 Mei 2008 &#124; 22:20 WIB</div>
<p><strong>DENPASAR, RABU- </strong>Masyarakat Pulau Nusa Penida, Klungkung, Bali mempertanyakan keberlanjutan proyek penanaman jarak untuk biofuel. Alasannya, semenjak pelaksanaan proyek tahun 2007 hingga sekarang masyarakat belum pernah lagi mendapatkan penjelasan soal pemasaran buah jarak. Mereka masih sebatas menanam dan memelihara tanaman jarak yang jumlahnya ribuan pohon.</p>
<p>Nyoman Pidada, warga Desa Klumpu, Nusa Penida, Rabu (21/5), mengungkapkan, pohon jarak yang ditanam di kebunnya seluas dua hektar sudah berbuah awal tahun lalu. Namun, dia kebingungan untuk menjualnya, karena sama sekali tidak ada pembelinya. Sementara Camat Nusa Penida Wayan Sumarta berharap program penanaman jarak tidak berhenti tanpa ada keberlanjutan. Sebab, dia khawatir apabila tanpa didukung pemasaran yang memadai, program ini dapat dihentikan dengan sendirinya oleh warga setempat.</p>
<p>“Masyarakat menyambut baik jika penanaman jarak ini diperluas kedepannya, asal ada sistem pemasaran yang memadai. Jika tidak ada, untuk apa program ini dilanjutkan,” kata Sumarta.<br />
<strong>AYS,BEN</strong></p>
<p>dari : kompas.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membuat Biodiesel dari Tumbuhan Alga ]]></title>
<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/membuat-biodiesel-dari-tumbuhan-alga/</link>
<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 11:51:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>plantus</dc:creator>
<guid>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/membuat-biodiesel-dari-tumbuhan-alga/</guid>
<description><![CDATA[A. Habitat Hidup Alga Alga adalah salah satu organisme yang dapat tumbuh pada rentang kondisi yang l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify"><strong>A. Habitat Hidup Alga</strong><br />
Alga adalah salah satu organisme yang dapat tumbuh pada rentang kondisi yang luas di permukaan bumi. Alga biasanya ditemukan pada tempat-tempat yang lembab atau benda-benda yang sering terkena air dan banyak hidup pada lingkungan berair di permukaan bumi. Alga dapat hidup hampir di semua tempat yang memiliki cukup sinar matahari, air dan karbon-dioksida.</p>
<p align="justify"><strong>B. Potensi Alga Menghasilkan Biodiesel</strong><br />
Secara teoritis, produksi biodiesel dari alga dapat menjadi solusi yang realistik untuk mengganti solar. Hal ini karena tidak ada <em>feedstock</em> lain yang cukup memiliki banyak minyak sehingga mampu digunakan untuk memproduksi minyak dalam volume yang besar.</p>
<table style="height:163px;" border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" width="1" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Tumbuhan seperti kelapa sawit dan kacang-kacangan membutuhkan lahan yang sangat luas untuk dapat menghasilkan minyak supaya dapat mengganti kebutuhan solar dalam suatu negara. Hal ini tidak realistik dan akan mengalami kendala apabila diimplementasikan pada negara dengan luas wilayah yang kecil.<br />
Berdasarkan perhitungan, pengolahan alga pada lahan seluas 10 juta acre (1 acre = 0.4646 ha) mampu menghasilkan biodiesel yang akan dapat mengganti seluruh kebutuhan solar di Amerika Serikat (Oilgae.com, 26/12/2006). Luas lahan ini hanya 1% dari total lahan yang sekarang digunakan untuk lahan pertanian dan padang rumput (sekitar 1 milliar acre). Diperkirakan alga mampu menghasilkan minyak 200 kali lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan penghasil minyak (kelapa sawit, jarak pagar, dll) pada kondisi terbaiknya.<!--more--><br />
Semua jenis alga memiliki komposisi kimia sel yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak (<em>fatty acids</em>) dan <em>nucleic acids</em>. Prosentase keempat komponen tersebut bervariasi tergantung jenis alga. Ada jenis alga yang memiliki komponen <em>fatty acids</em> lebih dari 40%. Dari komponen <em>fatty acids</em> inilah yang akan diekstraksi dan diubah menjadi biodiesel. Dapat dilihat pada Tabel 1, komposisi kimia sel pada beberapa jenis alga:
</p>
<p align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><span lang="SV">Table 1 � Komposisi Kimia Alga Ditunjukkan dalam Zat Kering (%)</span></strong><span lang="SV"><br />
</span></span></span></p>
<p align="center">
<table border="1" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Komposisi Kimia<br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Protein<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Karbohidrat<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Lemak<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><em><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nucleic Acid<br />
</span></span></em></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Scenedesmus obliquus</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">50-56<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">10-17<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">12-14<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">3-6<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Scenedesmus quadricauda</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">47<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">1.9<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Scenedesmus dimorphus</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">8-18<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">21-52<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">16-40<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Chlamydomonas rheinhardii</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">48<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">17<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">21<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Chlorella vulgaris</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">51-58<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">12-17<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">14-22<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">4-5<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Chlorella pyrenoidosa</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">57<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">26<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">2<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Spirogyra sp.</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">6-20<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">33-64<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">11-21<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Dunaliella bioculata</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">49<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">4<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">8<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Dunaliella salina</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">57<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">32<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">6<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Euglena gracilis</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">39-61<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">14-18<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">14-20<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Prymnesium parvum</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">28-45<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">25-33<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">22-38<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">1-2<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Tetraselmis maculata</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">52<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">15<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">3<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Porphyridium cruentum</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">28-39<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">40-57<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">9-14<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Spirulina platensis</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">46-63<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">8-14<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">4–9<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">2-5<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Spirulina maxima</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">60-71<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">13-16<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">6-7<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">3-4.5<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Synechoccus sp.</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">63<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">15<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">11<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">5<br />
</span></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:191px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Anabaena cylindrica</em><br />
</span></span></td>
<td style="width:54px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">43-56<br />
</span></span></td>
<td style="width:85px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">25-30<br />
</span></span></td>
<td style="width:52px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">4-7<br />
</span></span></td>
<td style="width:89px;" valign="top"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">-<br />
</span></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="right"><em>Sumber: Becker, (1994)</em></p>
<p align="justify">Biodiesel dari alga hampir mirip dengan biodiesel yang diproduksi dari tumbuhan penghasil minyak (jarak pagar, sawit, dll) sebab semua biodiesel diproduksi menggunakan <em>triglycerides</em> (biasa disebut lemak) dari minyak nabati/alga.<br />
Alga memproduksi banyak <em>polyunsaturates</em>, dimana semakin tinggi kandungan lemak asam <em>polyunsaturates</em> akan mengurangi kestabilan biodiesel yang dihasilkan. Di lain pihak, <em>polyunsaturates</em> memiliki titik cair yang lebih rendah dibandingkan <em>monounsaturates</em> sehingga biodiesel alga akan lebih baik pada cuaca dingin dibandingkan jenis <em>bio-feedstock</em> yang lain. Diketahui kekurangan biodiesel adalah buruknya kinerja pada temperatur yang dingin sehingga biodiesel alga mungkin akan dapat mengatasi masalah ini.</p>
<p align="justify"><strong>C. Cara Penanaman Alga untuk Biodiesel</strong><br />
Sama seperti tumbuhan lainnya, alga juga memerlukan tiga komponen penting untuk tumbuh, yaitu sinar matahari, karbon dioksida dan air. Alga menggunakan sinar matahari untuk menjalankan proses fotosintesis. Fotosintesis merupakan proses biokimia penting pada tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri untuk mengubah energi matahari menjadi energi kimia. Energi kimia ini akan digunakan untuk menjalankan reaksi kimia, misalnya pembentukan senyawa gula, fiksasi nitrogen menjadi asam amino, dll. Alga menangkap energi dari sinar matahari selama proses fotosintesis dan menggunakaannya untuk mengubah substansi inorganik menjadi senyawa gula sederhana.<br />
Penanaman alga untuk menghasilkan biodiesel mungkin akan sedikit lebih sulit karena alga membutuhkan perawatan yang sangat baik dan mudah terkontaminasi oleh spesies lain yang tidak diinginkan.<br />
Alga dapat ditanam di kolam terbuka dan danau. Penggunaan sistem terbuka ini dapat membuat alga mudah diserang oleh kontaminasi spesies alga lain dan bakteri. Akan tetapi, saat ini telah berhasil dikembangkan beberapa spesies alga yang mampu ditanam pada lahan terbuka dan meminimalisir adanya kontaminasi spesies lain. Misalnya penanaman <em>spirulina</em> (salah satu jenis alga) pada suatu kolam terbuka dapat menghilangkan kemungkinan kontaminasi spesies lain secara luas karena spirulina bersifat agresif dan tumbuh pada lingkungan dengan pH yang sangat tinggi. Sistem terbuka juga memiliki sistem kontrol yang lemah, misalnya dalam mengatur temperatur air, konsentrasi karbon dioksida &#38; kondisi pencahayaan. Sedangkan keuntungan penggunaan sistem terbuka adalah metode ini merupakan cara yang murah untuk memproduksi alga karena hanya perlu dibuatkan sirkuit parit atau kolam.<br />
Kolam tempat pembudidayaan alga biasanya disebut “kolam sirkuit”. Dalam kolam ini, alga, air dan nutrisi disebarkan dalam kolam yang berbentuk seperti sirkuit. Aliran air dalam kolam sirkuit dibuat dengan pompa air. Kolam biasanya dibuat dangkal supaya alga tetap dapat memperoleh sinar matahari karena sinar matahari hanya dapat masuk pada kedalaman air yang terbatas.
</p>
<p style="text-align:center;"><img title="kolam-terbuka.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/01/kolam-terbuka.jpg" alt="kolam-terbuka.jpg" /></p>
<p align="center"><strong>Gambar 1. Kolam Sirkuit pada Sistem Terbuka</strong></p>
<p align="justify">Sebuah variasi kolam terbuka adalah dengan memberikan atap transparan (<em>greenhouse</em>) diatasnya untuk melindungi kerusakan alga dari percikan air hujan. Namun begitu, cara ini hanya dapat diaplikasikan pada kolam terbuka yang berukuran kecil dan tidak dapat mengatasi banyak masalah yang terjadi pada sistem terbuka.<br />
Alternatif lain cara pembudidayaan alga adalah dengan menanamnya pada struktur tertutup yang disebut <em>photobioreactor</em>, dimana kondisi lingkungan akan lebih terkontrol dibandingkan kolam terbuka. Sebuah <em>photobioreactor</em> adalah sebuah <em>bioreactor</em> dengan beberapa tipe sumber cahaya, seperti sinar matahari, lampu <em>fluorescent</em>, led. <em>Quasi-closed systems</em> (sebuah kolam yang ditutupi dengan bahan transparan (<em>greenhouse</em>) di semua bagian) dapat digolongkan sebagai <em>photobioreactor</em>. <em>Photobioreactor</em> juga memungkinkan dilakukannya peningkatan konsentrasi karbon dioksida di dalam sistem sehingga akan mempercepat pertumbuhan alga. Meskipun biaya investasi awal dan biaya operasional dari sebuah <em>photobioreactor</em> akan lebih tinggi dibandingkan kolam terbuka, akan tetapi efisiensi dan kemampuan menghasilkan minyak dari <em>photobioreactor</em> akan lebih tinggi dibandingkan dengan kolam terbuka. Hal ini akan membuat pengembalian biaya modal dan biaya operasional dengan cepat.</p>
<p align="justify"><strong>D. Cara Ekstraksi Minyak dari Alga</strong><br />
Pengambilan minyak dari alga masih merupakan proses yang mahal sehingga masih harus dipertimbangkan untuk menggunakan alga sebagai sumber biodiesel. Terdapat beberapa metode terkenal untuk mengambil minyak dari alga, antara lain:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Pengepresan (<em>Expeller/Press</em>)<br />
Pada metode ini alga yang sudah siap panen dipanaskan dulu untuk menghilangkan air yang masih terkandung di dalamnya. Kemudian alga dipres dengan alat pengepres untuk mengekstraksi minyak yang terkandung dalam alga. Dengan menggunakan alat pengepres ini, dapat diekstrasi sekitar 70 &#8211; 75% minyak yang terkandung dalam alga.</p>
</li>
<li>
<p align="justify"><em>Hexane solvent oil extraction</em><br />
Minyak dari alga dapat diambil dengan menggunakan larutan kimia, misalnya dengan menggunakan <em>benzena</em> dan <em>eter</em>. Namum begitu, penggunaan larutan kimia <em>heksana</em> lebih banyak digunakan sebab harganya yang tidak terlalu mahal.<br />
Larutan <em>heksana</em> dapat digunakan langsung untuk mengekstaksi minyak dari alga atau dikombinasikan dengan alat pengepres. Cara kerjanya sebagai berikut: setelah minyak berhasil dikeluarkan dari alga dengan menggunakan alat pengepres, kemudian ampas (<em>pulp</em>) alga dicampur dengan larutan <em>cyclo-hexane</em> untuk mengambil sisa minyak alga. Proses selanjutnya, ampas alga disaring dari larutan yang berisi minyak dan <em>cyclo-hexane</em>. Untuk memisahkan minyak dan <em>cyclo-hexane</em> dapat dilakukan proses distilasi. Kombinasi metode pengepresan dan larutan kimia dapat mengekstraksi lebih dari 95% minyak yang terkandung dalam alga.<br />
Sebagai catatan, penggunaan larutan kimia untuk mengekstraksi minyak dari tumbuhan sangat beresiko. Misalnya larutan <em>benzena</em> dapat menyebabkan penyakit kanker, dan beberapa larutan kimia juga mudah meledak.</p>
</li>
<li>
<p align="justify"><em>Supercritical Fluid Extraction</em><br />
Pada metode ini, CO2 dicairkan dibawah tekanan normal kemudian dipanaskan sampai mencapai titik kesetimbangan antara fase cair dan gas. Pencairan fluida inilah yang bertindak sebagai larutan yang akan mengekstraksi minyak dari alga.<br />
Metode ini dapat mengekstraksi hampir 100% minyak yang terkandung dalam alga. Namun begitu, metode ini memerlukan peralatan khusus untuk penahanan tekanan.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Beberapa metode yang kurang terkenal:</p>
<ol>
<li>
<p align="justify"><em>Osmotic Shock</em><br />
Dengan menggunakan <em>osmotic shock</em> maka tekanan osmotik dalam sel akan berkurang sehingga akan membuat sel pecah dan komponen di dalam sel akan keluar. Metode <em>osmotic shock</em> memang banyak digunakan untuk mengeluarkan komponen-komponen dalam sel, seperti minyak alga ini.</p>
</li>
<li>
<p align="justify"><em>Ultrasonic Extraction</em><br />
Pada reaktor ultrasonik, gelombang ultrasonik digunakan untuk membuat gelembung kavitasi (<em>cavitation bubbles</em>) pada material larutan. Ketika gelembung pecah dekat dengan dinding sel maka akan terbentuk gelombang kejut dan pancaran cairan (<em>liquid jets</em>) yang akan membuat dinding sel pecah. Pecahnya dinding sel akan membuat komponen di dalam sel keluar bercampur dengan larutan.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify"><strong>E. Kesimpulan</strong><br />
Secara umum, potensi alga untuk menghasilkan biodiesel sangat besar dan jauh lebih besar dibandingkan tumbuhan penghasil minyak (kelapa sawit, jarak pagar, dll). Hal ini akan memberikan peluang yang besar untuk dapat mengganti kebutuhan solar dalam suatu negara.</p>
<p><strong>F. Referensi</strong></p>
<ul>
<li><em>Algae Growth Environments</em>, www.oilgae.com/algae/sources/sources.html, 26/12/2006</li>
<li><em>Algae Oil Extraction</em>, www.oilgae.com/algae/oil/extract/extract.html, 26/12/2006</li>
<li><em>Algal Biodiesel Characteristics &#38; Properties</em>, www.oilgae.com/algae/oil/biod/char/char.html, 26/12/2006</li>
<li><em>Algal Chemical Composition</em>,  www.oilgae.com/algae/comp/comp.html, 26/12/2006</li>
<li><em>Cultivation of Algae Strains for Biodiesel</em>, www.oilgae.com/algae/oil/biod/cult/cult.html, 26/12/2006</li>
<li><em>Large-scale Biodiesel Production from Algae</em>, oilgae.com/algae/oil/biod/large_scale/large_scale.html, 26/12/2006</li>
<li><em>Oil from Algae!</em>, http://www.oilgae.com/, 26/12/2006</li>
</ul>
<p>Penulis: Thomas</p>
<p>dari : kamase.org</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Diversifikasi Sumber Biofuel ]]></title>
<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/diversifikasi-sumber-biofuel/</link>
<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 11:45:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>plantus</dc:creator>
<guid>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/diversifikasi-sumber-biofuel/</guid>
<description><![CDATA[Menerawang ke depan perkembangan penggunaan biofuel di dunia ini akan semakin meningkat seiring deng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="justify">Menerawang ke depan perkembangan penggunaan biofuel di dunia ini akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan ancaman pemanasan global yang sumber utamanya diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Selama 15 tahun terakhir pemanasan global telah meningkatkan suhu dan menyebabkan turunnya permukaan salju kutub utara dan es terapung di Laut Artik sehingga permukaan air laut mengalami kenaikan 14-20 cm selama satu abad terakhir.</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p align="justify"><img title="global-warming.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/04/global-warming.jpg" alt="global-warming.jpg" align="absmiddle" /></p>
<p align="justify">Tren pengembangan biofuel ini telah terlihat di Amerika Serikat, negara konsumen utama BBM di dunia ini kini telah memulai meningkatkan produksi etanol dari 6.464,2 miliar liter pertahun menjadi 17.029,32 miliar liter pertahun. Perkembangan ini diikuti oleh beberapa negara maju di dunia baik dari belahan Eropa (Perancis, Poladia, Jerman, Itali, dan Spanyol) maupun Asia ( China).<!--more--></p>
<p align="justify"><a title="lahan-jarak.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/04/lahan-jarak.jpg"><img title="lahan-jarak.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/04/lahan-jarak.thumbnail.jpg" alt="lahan-jarak.jpg" align="left" /></a>Babak baru penggunaan biofuel di dunia terus melaju dengan pesat, entah berawal dari isu krisis minyak bumi seperti di Amerika maupun isu lingkungan seperti di masyarakat Uni Eropa yang sangat peka terhadap isu pemanasan global akibat emisi rumah kaca yang tinggi. Dalam hal pemanasan global, Indonesia telah meratifikasi United Nation Framework Convention on Climate Change melalui Undang Undang No. 6 Tahun 1994, tentang Pengesahan United Nation Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) sehingga kemudian berbagai kebijakan pemerintah saat ini sangat berpihak kepada pengembangan bahan bakar terbarukan yang ramah lingkungan.</p>
<p align="justify"><a title="tanaman.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/04/tanaman.jpg"><img title="tanaman.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/04/tanaman.thumbnail.jpg" alt="tanaman.jpg" align="left" /></a>Arah perkembangan selanjutnya adalah penambangan minyak akan dialihkan dan memulai dengan menambang minyak di ladang-ladang, pemanfaatan penggunaan minyak nabati mulai ditingkatkan, karena minyak nabati (biofuel) lebih ramah terhadap lingkungan. Ada beberapa tanaman yang dapat menghasilkan minyak-lemak, diantaranya ; Jarak pagar, kopi, padi, jagung, kelapa sawit, dan karet. Beragamnya jenis tanaman yang bisa menghasilkan minyak lemak semakin membuka peluang Indonesia untuk menjadi produsen biofuel terbesar di dunia, sebagaimana kita ketahui bahwa sebagai negara tropis hampir keseluruhan jenis tanaman penghasil minyak-lemak tersebut dapat tumbuh di tanah air. (untuk informasi jenis tanaman penghasil minyak : http://en.wikipedia.org/wiki/Biodiesel).</p>
<p align="justify">Namun diantara berbagai sumber biofuel itu juga merupakan sumber pangan baik untuk manusia maupun untuk ternak., kita ambil contoh kelapa sawit produksinya saat ini masih digunakan sebagai minyak goreng, sedangkan padi merupakan makanan pokok masyarakat kita, dan jagung masih merupakan sumber makan utama ternak. Sementara itu fokus kesiapan pemerintah saat ini dalam memanfaatkan biofuel adalah kelapa sawit untuk biodiesel, disamping jarak pagar (<em>Jatropha curcas</em>) dan tebu untuk bioetanol. Padahal semua tanaman tadi adalah sumber pangan, kecuali jarak pagar yang bukan merupakan sumber pangan (<em>nonedible</em>). Oleh karena itu diharapkan pemanfaatan sumber-sumber biofuel tidak mengganggu suplai pangan manusia maupun ternak.</p>
<p align="justify">Diversifikasi sumber biofuel layak mendapatkan posisi utama pada saat ini mengingat belum siapnya Indonesia memanfaatkan sumber biofuel dari bahan <em>nonedible</em>, sebagaimana kita ketahui hanya kelapa sawit dan tebu yang saat ini benar-benar siap untuk dimanfaatkan, sedangkan sumber yang lain masih dalam tahap perencanaan dan wacana, termasuk pula jarak pagar yang sampai saat ini masih dalam taraf pengembangan massal dan belum mencapai taraf produksi massal. Dalam <strong>Kebijakan Umum Bidang Energi</strong> (KUBE) disebutkan bahwa “Diversifikasi energi diarahkan untuk penganekaragaman pemanfaatan energi, baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan, dalam rangka optimasi penyediaan energi nasional yang paling ekonomis dan untuk mengurangi laju pengurasan sumberdaya hidrokarbon untuk secara nasional mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya sehingga pembangunan berkelanjutan dapat terlaksana”.</p>
<p align="justify">Sebagai skenario terbaik yang harus disusun saat ini adalah melakukan diversifikasi sumber biofuel yang berasal dari sumber non pangan mengingat bila menggunakan jarak pagar belum tersedianya produksi secara massal, agar rencana pengurangan BBM pada 2025 mencapai 20% dengan pemanfaatan biofuel lebih dari 5 % skala nasional dapat tercapai. Diversifikasi ini dapat berupa pencampuran (<em>mixing</em>) beberapa sumber biofuel dari tanaman non pangan seperti biji karet, jarak pagar, kapok/randu, malapari, dan nimba.</p>
<p align="justify"><strong>Referensi :</strong></p>
<ol>
<li>
<p align="justify">Djajadiningrat, Surna. 2006. KEBIJAKSANAAN UMUM BIDANG ENERGI (KUBE). Jakarta.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Koneba. Pentingnya Perkembangan Konservasi Energi Di Indonesia. Makalah Indonesia Infrastructure 2006 “Menuju Pemanfaatan Energi yang Berkelanjutan”. Jakarta 1-3 November 2006.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Majalah Trubus. 2007. Minyak Nabati Penyelamat Jagad. Jakarta : edisi Maret 2006.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Soerawidjaja, Tatang. 2005. MEMBANGUN INDUSTRI BIODIESEL DI INDONESIA. Makalah, Bandung 16 Desember 2005.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">Wijaya, E. 2006. Biodiesel di Indonesia, Sejarah, dan Potensi Masa Depan. Jogjakarta.: Buletin Kabare Kamase, edisi Oktober 2006.</p>
</li>
<li>
<p align="justify">http://en.wikipedia.org/wiki/Biodiesel</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">dari : kamase.org</p>
<ol>
<li></li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bahan Bakar Nabati: at What, and Whose, Costs? ]]></title>
<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/bahan-bakar-nabati-at-what-and-whose-costs/</link>
<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 11:39:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>plantus</dc:creator>
<guid>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/bahan-bakar-nabati-at-what-and-whose-costs/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: R.Wisnu Ali Martono (Divisi Riset, Masyarakat Akuntansi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Indones]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh: R.Wisnu Ali Martono (Divisi Riset, Masyarakat Akuntansi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Indonesia &#8211; MASLI)</p>
<p><strong>Abstrak:</strong></p>
<p>Guna mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran, serta untuk mengurangi tekanan permintaan bahan bakar minyak, pemerintah mengeluarkan Keppres no 10 tahun 2006. Keppres ini menetapkan pembentukan Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran (kemudian dikenal sebagai Timnas BBN). Dengan argumentasinya, Timnas BBN menetapkan tanaman jarakpagar (<em>Jatropha Curcass L</em>) sebagai wahana paling tepat untuk mencapai tujuan Keppres no 10/2006, yaitu mengentaskan kemiskinan. Makalah ini mengupas masalah yang akan dihadapi Keppres no 10/2006 dalam mencapai tujuannya, terutama dari sisi keekonomian. Makalah menemukan bahwa Keppres mempunyai tujuan yang saling bertentangan, yaitu <strong>pengentasan kemiskinan dan produksi BBN (terjangkau), yang seyogyanya dipisahkan</strong>.</p>
<p>Katakunci:<br />
Keppres no 10/2006, <em>jatropha curcass L</em>, Keekonomian</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>PENDAHULUAN </strong></p>
<p>Menurut laporan Departemen Energi AS (DOE) [1] yang diterbitkan Oktober 2005, sejak tahun 2004 Indonesia sebenarnya sudah menjadi net-importer minyak bumi. Grafik 1.1. berikut menggambarkan keadaan ini. Ada dua sisi penting yang menyebabkan terjadinya situasi net-importer ini, yaitu sisi <em>demand</em> dan <em>supply</em>.</p>
<p align="center"><strong>Grafik 1.1. Produksi dan Konsumsi Minyak Indonesia</strong></p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/12/prodkons_minyak_indo.jpg" alt="prodkons_minyak_indo.jpg" /></p>
<p><!--more-->Dari sisi <em>demand</em>, salah satu penyebabnya adalah terlalu besarnya ketergantungan penyediaan energi Indonesia pada bahan bakar minyak. Selain itu, besarnya elastisitas energi (terhadap pembentukan GDP) ikut mempercepat peningkatan konsumsi energi Indonesia.</p>
<p>Dari sisi <em>supply</em> banyaknya sumur-sumur minyak tua dan semakin kurangnya kegiatan eksplorasi menyebabkan semakin berkurangnya produksi minyak Indonesia. Penurunan kapasitas produksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1995, dengan penurunan tercepat terjadi sekitar tahun 2002.</p>
<p>Ada upaya-upaya pemerintah untuk mengangkat kembali tingkat produksi minyak bumi yang semakin menurun ini, dengan berbagai kebijakan. Salah satunya adalah dengan mengupayakan kenaikan produksi [2] dengan beroperasinya 10 lapangan minyak pada tahun 2008. Ke 10 lapangan itu adalah North Duri, Kotabatak, Bekapai, Handil, Tunu 11A, Pulau Gading dan Sungai Kenawang, Fariz, Kuat, Singa, dan Tangguh.</p>
<p>Selain itu, upaya juga dilakukan di 12 lapangan lainnya sudah mulai produksi awal 2007, agar produksi tahun depan dapat ditingkatkan. Ke-12 lapangan itu adalah SW Betara, Tunu 12, TSB, Ujung Pangkah, Soka, Fariz, NE Aja, Balam South, KE-32, KE-38, KE-39, dan KE-54.</p>
<p>Selain mengupayakan peningkatan produksi minyak, pemerintah juga mengupayakan diversifikasi ke sumber energi fosil lain (batubara untuk kelistrikan, gas untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga). Langkah ini diharapkan akan memperkecil gap <em>supply-demand</em> bahan bakar minyak, sehingga memperkecil angka <em>net-import</em> minyak.</p>
<p><a title="skema_kepress.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/12/skema_kepress.jpg"><img title="skema_kepress.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/12/skema_kepress.thumbnail.jpg" alt="skema_kepress.jpg" hspace="5" align="left" /></a>Usaha lain dalam rangka semakin memperkecil <em>net-import</em> gap ini adalah dengan dikeluarkannya Keppres no 10 Tahun 2006 [3]. Pada intinya, Keppres ini dimaksudkan untuk mengentaskan kemiskinan, sekaligus memperlonggar gap <em>supply-demand</em> bahan bakar minyak. Selain dua tujuan tersebut, diharapkan juga penerapan Keppres ini akan mengurangi subsidi bahan bakar minyak yang harus dikeluarkan pemerintah, bahkan mendatangkan devisi yang cukup besar dengan adanya ekspor bahan bakar nabati yang dapat dilakukan.</p>
<p><strong>OPERASIONALISASI KEPPRES NO 10 TAHUN 2006</strong></p>
<p>Sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya, tim yang terbentuk oleh Keppres ini, kemudian dikenal sebagai Tim Nasional Bahan Bakar Nabati (atau Timnas BBN) membuat <em>Blueprint</em> kebijakan untuk ditindaklanjuti oleh pemerintah.</p>
<p><a title="keekonomianbbn.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/12/keekonomianbbn.jpg"><img title="keekonomianbbn.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/12/keekonomianbbn.thumbnail.jpg" alt="keekonomianbbn.jpg" hspace="5" align="left" /></a>Boleh dikata, Timnas BBN dipimpin oleh mereka yang sejak awal berpendapat bahwa tanaman jarak pagar (<em>jatropha curcass L</em>) adalah satu-satunya wahana yang paling tepat untuk mencapai tujuan yang terkandung dalam Keppres 10 tahun 2006 [4]. Tidak mengherankan jika kebijakan yang kemudian diajukan oleh Timnas BBN boleh dikata sangat <em>jatropha-sentris</em> [5]. Tabel 2.1.berikut adalah salah satu hitungan dalam situs www.jarakpagar.com  yang kemudian  sering dipergunakan untuk menunjukkan kelebihan jarakpagar dalam kaitan dengan Keppres no 10/2006.</p>
<p>Dari Tabel 2.1. di atas jelas dipersepsikan bahwa jarakpagar memang tanaman yang paling tepat untuk mencapai tujuan seperti yang dikandung dalam Keppres no 10 tahun 2006, yaitu mengentaskan kemiskinan. Perhitungan yang kemudian digunakan oleh Timnas BBN dalam sosialiasinya bahkan lebih menonjolkan lagi kelebihan jarakpagar untuk mengentaskan kemiskinan dengan mengasumsikan bahwa tiap petani dapat menanam sawit (2 ha/orang), singkong (2 ha/orang), tebu (0,5 ha/orang) dan jarak pagar (3 ha/orang). Dengan asumsi luasan seperti ini jelas (meskipun tidak membandingkan secara apple to apple) menanam jarakpagar paling menguntungkan dibanding tanaman sumber BBN lain. [6]</p>
<p>Dengan pola pemikiran seperti itu tidak mengherankan jika kebijakan yang disarankan kemudian juga <em>jatropha-sentris</em>. Selain alasan di atas, tanaman selain jarakpagar dianggap tidak cocok untuk digunakan sebagai wahana mempercepat pengurangan kemiskinan dengan alasan memerlukan modal yang lebih tinggi, atau tidak dapat dilakukan pemrosesan pada tingkat petani. Dengan kata lain, kesuksesan pelaksanaan Keppres no 10 tahun 2006 ada pada tanaman jarakpagar.</p>
<p><strong>MITOS DAN FAKTA JATROPHA</strong></p>
<p><strong>3.1.    Mitos Jatropha</strong></p>
<p>Di Indonesia, jarakpagar bukanlah tanaman baru, meski berdasar penelitian mereka bukan tanaman asli Indonesia. Walaupun bukan tanaman baru, boleh dikata tanaman ini tidak banyak diketahui secara ilmiah. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya manfaat tanaman ini dalam kehidupan sehari-hari, sebelum diketahui dapat digunakan sebagai bahan baku BBN.</p>
<p>Ketidaktahuan tentang tanaman ini sebenarnya juga terjadi di negara lain. Penyebabnya hampir sama, rendahnya manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari jatropha [7] menyebabkan tidak adanya minat untuk meneliti secara ilmiah. Rendahnya pengetahuan ilmiah tentang jarakpagar, ditambah dengan informasi yang tidak tepat, menyebabkan terjadinya banyak kekeliruan dalam sosialisasi tentang jarakpagar.</p>
<p>Pada awal sosialisasi jarakpagar, seringkali disebutkan bahwa tanaman ini mempunyai banyak sekali atribut positif, antara lain:</p>
<ul>
<li>Dapat ditanam di segala lahan, yang tidak dapat ditumbuhi tanaman lain</li>
<li>Tidak memerlukan perawatan khusus</li>
<li>Tidak memiliki hama</li>
<li>Mulai berproduksi pada bulan ke 6</li>
<li>Produksinya diatas 10 ton/ha/tahun</li>
<li>Rendemen minyak sampai 40%</li>
<li>Lebih menguntungkan untuk dibudidayakan dibanding dengan sawit atau tebu</li>
<li>Bila diproses menjadi biodiesel, harganya sangat murah</li>
<li>Selain dimanfaatkan minyaknya, juga dapat dipakai sebagai obat</li>
</ul>
<p>Apabila kesemua atribut di atas benar, adalah tidak salah menjadikan jarakpagar sebagai sarana untuk mengentaskan kemiskinan, menambah kesempatan kerja di pedesaan, mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi, sekaligus mengembalikan lahan terlantar atau lahan kritis menjadi lahan produktif. Tidak salah jika presiden menyebut Keppres no 10 tahun 2006 (notabene program jarakpagar) sebagai program yang bersifat <em>pro-jo</em>b, <em>pro-poor</em>, <em>pro-growth</em> dan <em>pro-planet</em>.</p>
<p><strong>3.2. Fakta Jatropha</strong></p>
<p><strong>3.2.1. <em>Yield</em></strong></p>
<p><em><strong>Y</strong>ield</em>, atau produktivitas per hektar, adalah satu faktor yang sangat menentukan terhadap keberhasilan pencapaian tujuan mulia dalam Keppres no 10 tahun 2006. Kekeliruan dalam mengasumsikan besarnya angka ini akan merusak seluruh program turunan yang dibuat berdasarkan amanat Keppres ini. Alih-alih mencapai tujuan sebagai <em>pro-job</em>, <em>pro-poor</em> dan <em>pro-growth</em>, rakyat miskin justru berpotensi menjadi kelompok lebih miskin apabila diikutkan dalam program penanaman jarakpagar.</p>
<p>Seperti diketahui, Timnas BBN (maupun cikal bakal Timnas) telah menjanjikan bahwa harga BBN (dalam hal ini biodiesel jarakpagar) akan jauh lebih murah dari bahan bakar solar bersubsidi. Pada awal tahun 2006 sering disebut angka Rp2500 hingga Rp3000/liter. Perhitungan harga ini didasarkan pada harga bahan baku biji jarakpagar sebesar <strong>Rp500/kg</strong>. Apabila tiap liter biodiesel jarak diperkirakan memerlukan 3 kg biji jarak, ditambah biaya proses dan sebagainya maksimal Rp 1000-1500/liter, angka perkiraan di atas memang nampak masuk akal bagi produsen biodiesel, maupun bagi konsumen (dalam hal ini Pertamina sebagai <em>standby buyer</em>).</p>
<p>Di sisi petani, dengan <em>yield</em> (paling tidak) 5 ton/hektar/tahun pada awal-awal penanaman dan kepemilikan lahan 3 hektar, diperkirakan mereka sudah dapat menikmati hasil paling tidak Rp7,5 juta/tahun. Jika dibandingkan dengan pendapatan garis kemiskinan tahun 2006 (Maret) sebesar Rp 152.000/kapita, penghasilan dari menanam jarak pagar ini memang sudah bagus.</p>
<p><a title="yieldjathopra.jpg" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/12/yieldjathopra.jpg"><img title="yieldjathopra.jpg" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2007/12/yieldjathopra.thumbnail.jpg" alt="yieldjathopra.jpg" hspace="5" align="left" /></a>Permasalahan baru timbul, ketika diketahui bahwa <em>yield</em> tanaman jatropha di lahan kritis atau lahan yang tidak produktif (seperti sasaran yang hendak dicapai) tidak sebesar itu. Data <em>yield</em> jarakpagar yang ada di dunia memang simpangsiur, seperti Tabel 2.2. berikut (Joachim Heller, 1996) [8].</p>
<p>Selain tidak menyebutkan umur, data di atas juga tidak menyebutkan jenis tanah dan perlakuan apa yang dilakukan terhadap tanaman. Di lain pihak, banyak juga pihak yang menyebutkan <em>yield</em> sampai belasan ton. Pada umumnya, mereka adalah pihak yang menawarkan bibit jarak.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, <strong>pihak Puslitbang Departemen Pertanian sedang melakukan penelitian untuk menemukan varian yang dapat menghasilkan <em>yield</em> 5 ton/ha/tahun pada berbagai kondisi</strong> [9]. Dengan kata lain, informasi bahwa <em>yield</em> jarakpagar adalah belasan ton/ha/tahun, apalagi cukup ditanam di sembarang lahan tanpa perlakukan khusus adalah sebuah MITOS.</p>
<p>Pada bulan Maret 2007  dilakukan  seminar oleh FACT (<em>Fuels from Agriculture in Communal Technology</em>) di Universitas Wageningen (Belanda).  FACT kemudian mengeluarkan <em>Position Paper on Jatropha Curcas: State of the Art, Small and Large Scale Project Development</em>, dimana disebutkan bahwa belum ada data tentang <em>yield</em> jarakpagar yang terdokumentasi dengan jelas. Data dari Nikaragua, pada lahan yang bagus, dihasilkan 4,5ton pada tahun ke 4. Sementara, dari Indonesia (menurut Robert Manurung) dapat dihasilkan hingga 5 ton/ha/th setelah tahun pertama penanaman. Diingatkan oleh <em>position paper</em> FACT bahwa <em>yield</em> hingga saat ini belum dapat diprediksi dengan akurasi yang tinggi. Biji jarakpagar yang berproduksi dengan baik di satu wilayah, belum tentu tumbuh dengan baik pula di tempat lain.</p>
<p><strong>3.2.2. Harga Biji</strong></p>
<p>Dengan angka <em>yield</em> belasan ton/ha/tahun pun, dengan harga beli biji jarak seperti disarankan oleh Timnas BBN pada awalnya [10], sebenarnya budidaya jarakpagar tidak mendatangkan keuntungan apapun bagi petani. Perhitungan oleh Wisnu Martono (2007) [11] memperkirakan biaya produksi biji jarak sebesar Rp1.220/kg, dengan asumsi yield 5 ton/ha/thn dan dijual dalam keadaan curah di lapangan [12]. Perhitungan Timnas BBN yang menyebutkan dengan asumsi harga jual biji jarak sebesar Rp500/kg petani sudah mendapat keuntungan agaknya diperoleh dengan mengasumsikan bahwa penanaman jarakpagar tidak terlalu rumit, dan oleh karenanya tidak memerlukan banyak biaya tambahan, dengan tingkat hasil yang tinggi pula.</p>
<p><strong>3.2.3. Pengurangan Subsidi BBM</strong></p>
<p>Jika dapat diperoleh <em>yield</em> tinggi dan petani sudah diuntungkan dengan harga patokan biji jarak yang disarankan Timnas BBN, maka akan dapat diproduksi BBN dengan harga lebih murah dari BBM bersudsidi. Dengan demikian, subsidi yang harus dibayar negara akan sangat jauh berkurang.</p>
<p>Masalahnya, asumsi <em>yield</em> maupun kegiatan yang harus dilakukan dalam budidaya jarak ternyata tidak tepat.Pilihan yang dihadapi adalah: terus memproduksi BBN dengan biaya produksi seperti yang dijanjikan menjelang dikeluarkannya Keppres no 10/2006 (sekitar Rp2500-3500/liter), atau dengan harga sewajarnya (jauh lebih mahal dari harga solar tanpa subsidi). Keduanya akan menghasilkan pengurangan subsidi [13].</p>
<p>Pilihan pertama, dengan basis hitungan Wisnu Martono (2007) petani harus menanggung kerugian Rp700 untuk setiap kg biji jarak yang mereka hasilkan. Jika pilihan ini yang ditempuh, Keppres no 10/2006 dapat dikata telah gagal mencapai tujuannya. Petani dan masyarakat miskin justru semakin dirugikan. Perhitungan yang dilakukan oleh Erina Mursanti (2007) [14] memperkirakan pada tahun 2009 petani peserta program penanaman jarakpagar akan dirugikan Rp 25 trilyun setahunnya, apabila harga jual biji jarak mengikuti saran Timnas BBN. Bisa saja, agar petani tidak dirugikan, keseluruhan kerugian itu ditutup oleh negara.</p>
<p>Pilihan kedua, agar petani tidak dirugikan, biji jarak dibeli dengan harga <strong>di atas Rp1.220/kg</strong>. Sebab, pada harga biji jarak sebesar ini, petani belum mendapatkan marjin keuntungan. Mereka hanya memperoleh hasil sebagai imbalan tenaga yang dikeluarkan. Sisanya digunakan untuk membayar faktor produksi lain, ditambah biaya pengepakan dan pengangkutan ke lokasi pembeli. Apabila diasumsikan petani juga memperoleh marjin keuntungan (agar tujuan mengentaskan mereka dari kemiskinan dapat tercapai), kemungkinan besar janji Timnas BBN bahwa harga biodiesel jarakpagar akan murah, jelas tidak tercapai.</p>
<p>Jadi, harus dipikirkan kembali, berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk meneruskan program BBN ini, dan siapa yang harus menanggung? Memaksa petani dan penganggur untuk membayar biaya produksi BBN (dengan menghargai biji jarak lebih murah dari biaya produksinya) jelas bukan maksud yang terkandung dalam Keppres no 10/2006. Kalaupun bukan petani, siapa? Negara lagikah?</p>
<p><strong>3.2.4. Karsinogenitas Ester Forbol</strong></p>
<p>Pada awalnya, petani hanya diharapkan untuk menanam jarakpagar untuk kemudian menjual bijinya kepada pemroses selanjutnya, untuk diproses menjadi biodiesel. Kemudian muncul ide untuk menggantikan minyaktanah dengan minyak jarak (biokerosin). Dalam hal ini muncul ide agar para petani dapat memproses sendiri biji jarak, di antaranya, untuk menjadi minyak pengganti minyak tanah [15].</p>
<p>Pemrosesan sendiri minyakjarak oleh petani berarti menyebabkan kemungkinan terjadinya kontak langsung petani dengan minyak jarak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mitsuru <em>Hiruta  et al</em> [16],  diketemukan bahwa <em>ester Forbol</em> yang terkandung dalam biji jarak pagar menyebabkan terjadinya kanker kulit pada tikus percobaan [17].</p>
<p><strong>BAHAN BAKAR NABATI ATAU TIDAK?</strong></p>
<p>Pada awalnya, dengan keterbatasan pengetahuan tentang berbagai tanaman yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan baku biofuel, terdapat harapan yang besar untuk menghasilkan bahan bakar yang ramah lingkungan dan terjangkau harganya.</p>
<p>Akan tetapi, kini terlihat bahwa banyak target yang tidak bisa terpenuhi. Salah satunya adalah target penanaman jarak pagar tahun 2007 yang hanya tercapai kurang dari 5% (dari 600.000 hektar target, hanya tercapai 25.000 hektar) [18]. Dari luasan tersebut, propinsi Lampung menduduki posisi tertinggi dengan jumlah tanaman mencapai 13.700 ha. Rendahnya capaian target ini, salah satunya, dikarenakan belum adanya kejelasan harga beli biji jarak. Kalaupun ada, dinilai cukup rendah (Rp 800/kg) [19] sehingga tidak mendorong petani untuk menanamnya. Banyak petani yang kemudian patah arang menanam jarakpagar karena janji pembelian dan jaminan harga yang semula dijanjikan tidak ditepati. [20] Kesemuanya itu berasal dari kesalahan memahami masalah budidaya jarakpagar.</p>
<p>Akan tetapi, saat ini mulai muncul keprihatinan bahwa sebenarnya secara keseluruhan proses produksi biofuel [21] tidak selalu ramah lingkungan [22] . Saat ini, paling tidak di negara Belanda, mulai muncul keinginan untuk menuntut sertifikasi atas impor biodiesel dari luar. Bahkan, PBB telah meminta agar dilakukan moratorium selama 5 tahun untuk program biodiesel, untuk memantau dampak buruk produksi bahan bakar nabati ini [23].</p>
<p>Di Indonesia sendiri, dengan berbagai permasalahan seperti disebutkan makalah ini, agaknya mulai perlu dilihat kembali apakah program BBN, terutama yang terkait dengan rencana pengentasan kemiskinan, perlu diteruskan atau direvisi. Kedua hal ini saling bertentangan sehingga saling mengganggu pencapaiannya.</p>
<p>1] Dalam www.eia.doe.gov, Country Analisys Brief: Indonesia</p>
<p>[2] Antara: Indonesia Andalkan Peningkatan Produksi Minyak dari 22 Lapangan, diakses 1 November 2007</p>
<p>[3]  Pembentukan Timnas BBN Untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Percepatan Pengurangan Pengangguran</p>
<p>[4] Lihat www.jarakpagar.com, sebuah situs yang gencar mendukung pemakaian jarakpagar sebagai bahan bakar alternatif, didirikan menjelang akhir tahun 2005. Situs ini banyak memuat tulisan oleh dan tentang orang-orang yang kemudian menjadi cikal bakal Timnas BBN.</p>
<p>[5] Walaupun situs www.jarakpagar.com secara formal tidak terkait dengan Timnas BBN, akan tetapi banyak tulisan di situs ini yang kemudian disebarkan oleh Timnas. Salah satunya adalah hitungan keekonomian yang menunjukkan keunggulan jarak pagar dibandingkan dengan sawit, tebu dan singkong, dalam rangka memproduksi BBN dan mengentaskan kemiskinan.</p>
<p>[6] Lihat, misalnya, dalam http://www.indobiofuel.com.</p>
<p>[7] Bahwa Jepang dalam Perang Dunia II pernah memaksa rakyat Indonesia untuk membudidayakan jarakpagar tidak dapat dianggap sebagai bukti manfaat ekonomi tanaman ini, mengingat Jepang melakukannya dalam keadaan terpaksa dan sama sekali tidak memperhitungkan imbalan bagi petani yang menanamnya</p>
<p>[8] Joachim Heller, <em>Physics Nut (Jatropha Curcas)</em>, The International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI),1996.</p>
<p>[9] Balitbang Pertanian &#8211; Departemen Pertanian, <em>Infotek Jarak Pagar Vol 1 No.5, Mei 2006 </em></p>
<p>[10] Rp500/kg, agar harga jual produk biodieselnya lebih murah dari solar fossil bersubsidi.</p>
<p>[11]  Wisnu Ali Martono, <em>Tinjauan Keekonomian dan Non-edibility Jarak Pagar</em>, makalah dalam Jurnal Ekonomi Lingkungan, 2007.</p>
<p>[12] Perhitungan akan menjadi lain lagi kalau asumsinya dijual dalam karung dan dibawa ke lokasi pembeli. Jelas akan menjadi semakin mahal, dan semakin besar lagi kerugiannya.</p>
<p>[13] Besarnya pengurangan subsidi ini akan bergantung pada ada tidaknya subsidi lain yang diberikan pemerintah dalam rangka penanaman jarakpagar, atau proses produksi selanjutnya, dalam rangka menghasilkan minyak jarak.</p>
<p>[14]   Erina Mursanti, <em>Perhitungan Keekonomian Program Jarak Pagar</em>, Skripsi FE-UI, 2007</p>
<p>[15] Misalnya dalam program Desa Mandiri Energi, di mana disarankan minyak jarak yang dihasilkan disarankan untuk dipakai sendiri.</p>
<p>[16] Mitsuru Hirota, A New Tumor Promoter from the Seed Oil of Jatropha curcas L., an Intramolecular Diester of 12-Deoxy-l 6-hydroxyphorbol1, (CANCER RESEARCH 48. 5800-5804. October 15. 1988].</p>
<p>[17] Di lain pihak, ada penelitian yang menyebutkan bahwa kandungan curcin dalam biji jarakpagar juga berpotensi untuk digunakan sebagai penangkal kanker.</p>
<p>[18] Antara: Sulit Capai Target Biofuel jadi Pengganti BBM, diakses 10 Oktober 2007</p>
<p>[19] Kompas, <em>OKU Timur Siap Menjadi Produsen Biodiesel</em>, 21 September 2007</p>
<p>[20] Kompas, <em>Jangan Jadi Program Mandul</em>, 16 Juni 2007.</p>
<p>[21] Untuk sementara, perdebatan apakah biofuel secara lingkungan lebih baik daripada minyak bumi masih terbatas pada bioethanol berbahanbaku jagung. Akan tetapi, keprihatinan ini juga mulai muncul terhadap biofuel lain (biodiesel).</p>
<p>[22] Kruger Times, <em>Biofuels: Friend or Foe?</em>.</p>
<p>[23] The Hindu, <em>UN Experts Seeks 5 yrs Moratorium on Bio-fuels</em>,</p>
<p>dari : kamase.org</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Texas Siap Memproduksi Biofuel dari Alga ]]></title>
<link>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/texas-siap-memproduksi-biofuel-dari-alga/</link>
<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 11:31:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>plantus</dc:creator>
<guid>http://anekaplanta.wordpress.com/2008/12/02/texas-siap-memproduksi-biofuel-dari-alga/</guid>
<description><![CDATA[Baru baru ini PetroSun mengumumkan bahwa Rio Hondo &#8211; sebuah lahan alga di Texas siap memproduk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a title="algae.PNG" rel="thumbnail" href="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/08/algae.PNG"><img title="algae.PNG" src="http://kamase.org/wp-content/uploads/2008/08/algae.PNG" alt="algae.PNG" width="266" height="201" align="left" /></a>Baru baru ini PetroSun mengumumkan bahwa Rio Hondo &#8211; sebuah lahan alga di Texas siap memproduksi alga. Ini adalah fasilitas pertama yang dimiliki PetroSun yang akan menyediakan bahan baku alga untuk memproduksi biofuel. Lahan tersebut berupa kolam air garam seluas 1.100 hektar, dan menurut PetroSun lahan ini akan mampu memproduksi sekitar 110 juta pound biomassa alga dan sekitar 4,4 juta gallon minyak alga per tahun.</p>
<table border="0" cellspacing="5" cellpadding="0" align="right">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Gordon LeBlanc Jr., CEO dari PetroSun mengatakan bahwa model bisnis sekarang yang menjadi kebijakan perusahaan tersebut adalah mendemonstrasikan kelayakan teknology biofuel dari alga kepada pasar. Apabila lahan alga ini berhasil, mereka juga berencana untuk mengembangkannya di Gulf Coast.</p>
<p>Mikroalga saat ini memiliki potensial besar untuk menjadi bahan baku untuk menghasilkan biodiesel dan ethanol, sebab mikroalga tidak mengganggu sumber daya air bersih dan tidak menjadi bahan pangan bagi manusia.</p>
<p>dari : kamase.org</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kolrelationer – biobränsle eller mull i marken? Vad är bäst?.]]></title>
<link>http://greengard.wordpress.com/2008/11/19/kolrelationer-%e2%80%93-biobransle-eller-mull-i-marken-vad-ar-bast/</link>
<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 23:03:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>greengard</dc:creator>
<guid>http://greengard.wordpress.com/2008/11/19/kolrelationer-%e2%80%93-biobransle-eller-mull-i-marken-vad-ar-bast/</guid>
<description><![CDATA[Mull i marken är kol i marken. En vanlig åkerjord innehåller kring 60 ton kol i matjordslagret. För ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mull i marken är kol i marken. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">En vanlig åkerjord innehåller kring 60 ton kol i matjordslagret. För 3 miljoner hektar blir det 180 miljoner ton kol. För att jämföra: svensk biltrafik totalt använder bränsle som innehåller ca 6 milj ton kol varje år.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">För att spara koldioxidutsläpp vill vi nu ersätta fossila bränslen med bl a bioenergi. Bioenergi kommer från växtmassa, och den har ett alternativt användningsområde: den kan bli mull i marken.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Vad betyder dessa alternativ för klimatfrågan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Vi räknar på ett ton växtmassa, torrsubstans. Vi använder den som bioenergi, och den kan ge ca 15 MJ per kilo. Vi får 15000 MJ som kan ersätta ca 380 l olja och därmed minska koldioxidutsläpp med ca 1100 kg CO2.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Om vi i stället låter växtmassan (som innehåller drygt 400 kg kol) återgå till marken kommer den att förmultna där. Men ca en femtedel blir<span>  </span>kvar som stabil mull., alltså 80 kg kol. Det betyder att vi bundit ca 300 kg koldioxid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Det är åtskilligt bättre att gå bioenergivägen. Men det är klart att det finns avbränningar, Det kostar att skörda, lagra och transportera, Och eventuellt ska det processas. Om summan av detta är mer än 70% av energiinnehållet från början vore det effektivare att plöja ned det i marken.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Men det finns ytterligare överväganden. Om markens mullhalt är låg producerar den effektivare om mullhalten ökas. Här ligger plusposter att ta hänsyn till.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">I det enskilda fallet, gården och fältet, går det att hitta avpassade lösningar för bästa kombination.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dijajaki Pengembangan Bio Energi Limbah Kayu]]></title>
<link>http://energilimbah.wordpress.com/2008/10/26/dijajaki-pengembangan-bio-energi-limbah-kayu/</link>
<pubDate>Sun, 26 Oct 2008 02:03:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Pak Tas</dc:creator>
<guid>http://energilimbah.wordpress.com/2008/10/26/dijajaki-pengembangan-bio-energi-limbah-kayu/</guid>
<description><![CDATA[By Republika Contributor Selasa, 14 Oktober 2008 pukul 13:50:00 JAKARTA &#8212; Forum Regional Asia ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>By Republika Contributor<br />
Selasa, 14 Oktober 2008 pukul 13:50:00</p>
<p>JAKARTA &#8212; Forum Regional Asia Pasifik yang terdiri atas 10 negara membahas kemungkinan pengembangan energi alternatif berupa bio energi yang berasal dari limbah kayu. &#8220;Semua negara di dunia mencoba mencari energi alternatif yang terbarukan. Saya harap hasil pertemuan forum ini dapat menghasilkan suatu rekomendasi atau formulasi signifikan untuk pengembangan bio energi berbasis kayu,&#8221; kata Menteri Kehutanan, MS Kaban, seusai membuka diskusi Forum Regional Asia Pasifik ini di Jakarta, Selasa.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Menurut dia, banyak kemungkinan energi alternatif terbarukan dapat diciptakan dari sektor kehutanan. Ini memang menjadi salah satu pilihan banyak negara di dunia untuk dikembangkan. Indonesia, ujar Kaban, memiliki berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan untuk energi alternatif, seperti nyamplung dan itu tersebar luas di Indonesia.</p>
<p>Keunggulan bio energi berbasis kayu, menurut Menhut,  cukup banyak, di antaranya dapat memperbaiki atau mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi biaya operasional, dan efisiensi energi dalam industri perkayuan.</p>
<p>Selain itu, dia mengatakan, penggunaan limbah kayu untuk penciptaan bio energi ini dapat mengurangi emisi gas-gas rumah kaca dan mendukung pencapaian menajemen hutan lestari.</p>
<p>Kaban menyakini bahwa harga energi alternatif dari limbah kayu suatu saat akan mampu bersaing dengan harga minyak bumi yang berasal dari fosil mengingat sumber energi fosil semakin menyusut volumenya. &#8220;Harga minyak pasti akan semakin mahal. Nanti harga bio energi dari kayu ini juga akan kompetitif menyaingi harga minyak dari fosil kan.&#8221;</p>
<p>Sementara itu, menurut Direktur Eksekutif International Tropical Timber Organization (ITTO), Emmanuel Ze Meka, pengembangan energi alternatif dari limbah kayu diyakini akan membuka lapangan kerja baru. Dari limbah industri kayu, menurut dia, dapat menciptakan industri baru yang membuat bio energi sehingga penyerapan tenaga kerja dapat dilakukan.</p>
<p>Diharapkan industri-industri ini akan dapat berkembang di daerah-daerah pedesaan dimana industri kayu berada, ujar dia. Sehingga selain dapat menggerakan perekonomian pedesaan, menyerap tenaga kerja, juga menciptakan energi baru bagi desa tersebut.</p>
<p>Kesepuluh negara yang ikut dalam Forum Regional Asia Pasifik adalah Kamboja, Fiji, India, Indonesia, Malaysia, Mianmar, Papua Nugini, Filipina, Thailand, Vanuatu, dan Nepal. ant/is</p>
<p>Sumber:</p>
<p><a href="http://republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/7584" target="blank">http://republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/7584</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
