<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>borobudur &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/borobudur/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "borobudur"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 05:01:34 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Fractals Ultimate ten: MAN-MADE WONDER]]></title>
<link>http://fractalshead.wordpress.com/2009/11/21/fractals-ultimate-ten-man-made-wonder/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 05:31:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>fractalshead</dc:creator>
<guid>http://fractalshead.wordpress.com/2009/11/21/fractals-ultimate-ten-man-made-wonder/</guid>
<description><![CDATA[1. GREAT WALL OF CHINA Ini adalah dinding atau tembok dengan lebar 10 kaki dan tinggi 20 kaki yang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. GREAT WALL OF CHINA</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/120px-greatwall_2004_summer_4.jpg"><img class="size-full wp-image-43 aligncenter" title="120px-GreatWall_2004_Summer_4" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/120px-greatwall_2004_summer_4.jpg" alt="" width="120" height="90" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah dinding atau tembok dengan lebar 10 kaki dan tinggi 20 kaki yang dirancang oleh kaisar China Chin Chiu Wo (Shih Huang Ti). Maksud pembangunan tembok yang panjang banget ini untuk menangkal serbuan mongol. Seperti kita tahu dari sejarah, bangsa Mongol dikenal suka sekali menjelajah dan menaklukkan daerah baru dengan alasan yang kurang begitu jelas dipandang dari kacamata Bent. Walaupun bangsa Mongol ini suka dibilang barbar, nyatanya bangsa China yang berbudaya tinggi dan punya wilayah segede itu gak cukup pede kalo harus menghadapi serangan mereka. Jadilah tembok raksasa itu dibangun walau harus mengorbankan tenaga dan juga nyawa ribuan pekerjanya. Proyek ambisius itu memang gak main-main, bangsa China menyelesaikannya dalam kurun waktu 4000 tahun! Kebayang deh kalo dibangun di masa sekarang, tuh tembok gak bakalan eksis karena banyak LSM dan aktivis HAM sekaligus serikat pekerja yang akan menghambat rencana pembangunannya kecuali kalo pemerintah China mau membayar mahal plus tunjangan dan asuransi kerja.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. THE GREAT PYRAMID</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/giza-pyramid.jpg"><img class="size-medium wp-image-50 aligncenter" title="Giza-Pyramid" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/giza-pyramid.jpg?w=300" alt="" width="300" height="300" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Piramid Khu-Fu (Cheops) mempunyai sisi 770 kaki dan tinggi 481 kaki. 2,3 juta balok batu diangkut dan disusun untuk membangunnya. Kalo kamu ke Mesir mampir deh ke Piramid, pasti baru terasa betapa besarnya bangunan itu. Jangan cuma liat di TV yang bikin tuh pyramid keliatan segede tumpeng mini doang. Sama seperti kebanyakan bangunan raksasa dari masa lalu lainnya, pyramid dibangun dengan tetesan keringat dan darah para pekerja yang konon gak dibayar. Ini yang bikin Lefty ogah berwisata ke sana, selain karena katanya itu adalah monument ‘kebiadaban manusia atas manusia lain’ juga pastinya karena Lefty gak punya duit buat ongkos ke luar negeri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. PETRA</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/petra11.jpg"><img class="size-medium wp-image-51 aligncenter" title="petra11" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/petra11.jpg?w=225" alt="" width="225" height="300" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Petra adalah sebuah situs arkeologi di Arabah, Jordania. Terletak di lereng gunung Hor di sebuah basin di antara pegunungan yang membentuk panggul timur Arabah (Wadi Araba), lembah besar yang melewati danau Laut Mati sampai teluk Aqaba. Petra terkenal karena arsitektur batunya, yaitu menyulap gunung karang jadi istana dan pemukiman. Kaum Nabatea membangunnya sebagai ibu kota mereka sekitar 100 tahun sebelum masehi. Tadinya situs ini tidak diketahui sampai seorang penjelajah asal Swiss, Johann Ludwig Burckhardt, menemukannya dan memperkenalkan Petra ke dunia barat. Dalam tradisi Arab, Petra merupakan titik dimana Nabi Musa memukul sebuah batu dengan tongkatnya dan airpun keluar. Di sini pula Nabi Harun dimakamkan, yaitu di gunung Hor yang kini dikenal sebagai Jabal Harun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. BOROBUDUR</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/borobudur11.jpg"><img class="size-medium wp-image-53 aligncenter" title="borobudur1" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/borobudur11.jpg?w=300" alt="" width="300" height="188" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Candi terpopuler ini pernah masuk 7 keajaiban dunia dan kemudian dikeluarin begitu aja dengan alasan yang agak dibuat-buat, menurut saya. Bangunan candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, ini menyerupai gunung mahameru atau semesta versi Hindu-Buddha. Diperkirakan Borobudur dibangun sekitar tahun 800-an masehi oleh raja Sriwijaya Samaratungga dari wangsa Syailendra. Pembangunan Borobudur konon memakan waktu setengah abad, bandingkan dengan yang dilakukan Bandung Bondowoso dalam membuat seribu candi yang katanya cuma butuh waktu semalam! Wah, rekor dunia tuh, bedah rumah aja gak cukup waktu segitu! Karena itu Borobudur baru selesai dibangun pada generasi berikutnya, yaitu pada masa puteri dari Samaratungga, Ratu Pramudawardhani.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. ANGKOR WAT</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/phnom-penh-angkor-7-daysphnom-penh-angkor-travel-phnom-penh-angkor-travel-phnom-penh-angkor-tour_29716275_angkor-wat1.jpg"><img class="size-medium wp-image-54 aligncenter" title="Phnom-Penh-Angkor-7-days,Phnom-Penh-Angkor-Travel-Phnom-Penh-Angkor-Travel-Phnom-Penh-Angkor-Tour_29716275_ANGKOR WAT1" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/phnom-penh-angkor-7-daysphnom-penh-angkor-travel-phnom-penh-angkor-travel-phnom-penh-angkor-tour_29716275_angkor-wat1.jpg?w=300" alt="" width="300" height="209" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Angkor Wat adalah suatu metropolis yang di dalamnya terdapat bangunan istana, rumah-rumah umum dan lebih dari 100 kuil. Angkor Wat dibangun sejak jaman Khmer Jayavarman (abad ke-8) selama 600 tahun. Sebagaimana candi Borobudur, Angkor Wat dibangun mengikuti pola ‘peta’ gunung Mahameru. (Tentang gunung Mahameru, baca artikel NASI TUMPENG SIMBOL GUNUNG MAHAMERU). Angkor Wat merepresentasikan salah satu pencapaian arsitektur yang menakjubkan dan juga bertahan lama. Dari Angkor raja-raja Khmer menguasai wilayah yang sangat luas yang menjangkau mulai dari Vietnam, Cina sampai ke teluk Benggala. Tadinya ‘istana’ ini gak diketahui keberadaannya, kemudian pada tahun 1860 Henry Mahout, seorang eksplorer asal Prancis, menemukannya di tengah hutan. Sejak saat itu Angkor Wat pun terkenal di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. PANAMA CANAL</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/800px-panama_canal_gatun_lo.jpg"><img class="size-medium wp-image-45 aligncenter" title="800px-Panama_Canal_Gatun_Lo" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/800px-panama_canal_gatun_lo.jpg?w=300" alt="" width="300" height="200" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kanal ini panjangnya 51 mil. Menghubungkan samudera atlantik dan pasifik. Karena tanahnya berbukit-bukit dan banyak pegunungan, terusan ini dibuat menjadi elevator air. Pencetus pembuatan kanal ini adalah Ferdinand de Lesseps (1879) dari Prancis. Tahu kan siapa dia? Bagi kamu yang suka pelajaran sejarah pasti kenal nama ini, ya, dia adalah pembuat terusan Suez di Mesir.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. TAJ MAHAL</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/taj-mahal.jpg"><img class="size-medium wp-image-46 aligncenter" title="taj-mahal" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/taj-mahal.jpg?w=300" alt="" width="300" height="236" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini adalah bangunan favorit Emo. Hampir semua cewek menyukai kisah cinta yang tragis di balik pembuatan monument ini, dan berharap pasangan mereka mau berbuat sama seperti Shah Jehan (hehe, ini matre namanya). Taj Mahal dibangun oleh Shah Jehan dari India pada abad ke-17 di Agra untuk istrinya Mumtaz Mahal. Selama 19 tahun masa perkawinannya sang istri melahirkan 14 anak. Pada tahun 1631 saat melahirkan anak ke 15, ia wafat. Raja patah hati dan membangun Taj Mahal yang memerlukan 17 tahun untuk membangunnya. Pada 1658 raja tersingkir oleh Aran Azibe puteranya sendiri dan dipenjarakan. Kelakuan anak ini sebaiknya jangan kamu tiru ya! Setelah 7 tahun dipenjara ia wafat dan dimakamkan di Taj Mahal bersama istrinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8. COLOSSEUM</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/colloseum.jpg"><img class="size-medium wp-image-55 aligncenter" title="colloseum" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/colloseum.jpg?w=300" alt="" width="300" height="207" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Inilah amphitheater atau gedung pertunjukan kolosal masa lalu, tempat para gladiator bertanding. Terletak di Roma, Italia, gedung ini dibangun oleh kaisar Vespasian dan diselesaikan oleh anaknya, Titus. Colosseum dibangun sekitar tahun 70-82 masehi dengan tinggi 48 m, panjang 188 m, lebar 156 m. Luas seluruh bangunan sekitar 2.5 <a title="Ha" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ha">hektar</a> membuat Colosseum terlihat begitu besar dan luas. Arenanya terbuat dari <a title="Kayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kayu">kayu</a> berukuran 86 m x 54 m, dan tertutup oleh pasir. Konon pasir itu berguna untuk menyerap darah supaya tidak menggenang. Stadium ini memang bukan lambang sportifitas. Sebaliknya lebih mirip pertunjukan kekejaman bagi penduduk roma kuno yang haus darah. Bagaimana suasana semacam itu, kamu bisa lihat dan bayangkan sendiri dengan menonton film Gladiator yang dibintangi Russel Crowe, walaupun menurut pengamatan Bent di film itu Colosseum jadi kelihatan kecil.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. MOUNT RUSHMORE</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/800px-mount_rushmore_national_memorial.jpg"><img class="size-medium wp-image-47 aligncenter" title="800px-Mount_Rushmore_National_Memorial" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/800px-mount_rushmore_national_memorial.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/hokage20mountain.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-48" title="Hokage%20Mountain" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/hokage20mountain.jpg?w=300" alt="" width="300" height="225" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi kamu yang belum tau mount Rushmore, coba deh baca komik Naruto. Di desa Konoha ada sebuah gunung yang dipahat wajah 4 hokage, nah gambar di komik itu terinspirasi tampilan Mount Rushmore. Terletak di South Dakota, ‘gunung’ yang menampilkan wajah 4 presiden AS: George Washington, Abe Lincoln, Ted Roosevelt dan Thomas Jefferson ini dibangun oleh Gutzom Borglum pada 1924 di tebing batu Black Hill. Jangan kira ia memahatnya cuma pake alat yang buat ngukir patung pada pelajaran seni rupa di sekolah, pak Borglum ini memahatnya dibantu pake dinamit. Kalo gak gitu pasti gak bakal kelar sampe 7 generasi. Gutzom Borglum sendiri wafat pada 1941 sebelum karyanya selesai. Lalu anaknya Lincoln yang meneruskan proyek bapaknya itu. Pernah satu kali Amadeus berencana bikin proyek semacam itu di tebing batu kapur di sebuah wilayah (yang sebaiknya gak usah disebutkan tepatnya di mana), tapi belum juga proposal sampe di tangan Pemda, ia didemo ratusan penduduk setempat!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10. TRANS-SIBERIAN RAILWAY</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/trans-siberian-express431.jpg"><img class="size-medium wp-image-49 aligncenter" title="trans-siberian-express431" src="http://fractalshead.wordpress.com/files/2009/11/trans-siberian-express431.jpg?w=300" alt="" width="300" height="243" /></a></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Trans-Siberian Railway memang cuma jalur kereta, tapi bukan jalur kereta biasa. Inilah jalur kereta terpanjang (Moskow-Beijing) yang pertama dibuat di dunia. Jalur ini seringkali dihubungkan dengan kereta Rusia antar benua yang menghubungkan ratusan kota besar maupun kecil di sebagian Eropa dan Asia yang masuk ke wilayah Rusia. Panjangnya 6000 mil, melewati ribuan mil wilayah Mongolia. Untuk menyelesaikan perjalanan melalui Trans Siberian memakan waktu beberapa hari dan melewati tujuh zona waktu. Pencetus pembuatan rel ini adalah Tsar Alexander III dan puteranya, Tsar Nicholas II. Dibangun pada 1891 dan selesai pada tahun 1916. Bagi yang suka perjalanan jauh via kereta dengan layanan satu kali jalan, ini adalah pilihan yang tepat. Kamu bisa menginap di kereta (suatu hal yang jarang dilakukan) selama beberapa hari sambil menikmati pemandangan berbagai kota dari Eropa sampe Asia. Bagi yang moody lebih baik pake pesawat saja, karena perjalanannya bisa bikin kamu mati kebosanan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[7 Keajaiban Cinta]]></title>
<link>http://pureliefde.wordpress.com/2009/11/16/7-keajaiban-cinta/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 13:45:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>pureliefde</dc:creator>
<guid>http://pureliefde.wordpress.com/2009/11/16/7-keajaiban-cinta/</guid>
<description><![CDATA[Cintamu sepanjang &#8221; Tembok Raksasa Cina&#8221; Tinggimu setinggi &#8220;Menara Eifel&#8221; Ru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><ol>
<li>
<h2>Cintamu sepanjang &#8221; Tembok Raksasa Cina&#8221;</h2>
</li>
<li>
<h2>Tinggimu setinggi &#8220;Menara Eifel&#8221;</h2>
</li>
<li>
<h2>Rumahmu setara &#8220;Taj Mahal&#8221;</h2>
</li>
<li>
<h2>Kekuatanmu  sekuat &#8220;Candi Borobudur&#8221;</h2>
</li>
<li>
<h2>Kesucianmu sesuci &#8220;Ka&#8217;bah&#8221;</h2>
</li>
<li>
<h2>Ketangguhanmu seetangguh &#8220;Coloseum Roma&#8221;</h2>
</li>
<li>
<h2>Namun otakmu semiring &#8220;Menara Pisa&#8221;</h2>
</li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GENIA FESTIVAL: Wisata Ke Borobudur]]></title>
<link>http://septiarani.wordpress.com/2009/11/15/genia-festival-wisata-ke-borobudur/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 07:27:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>ranystarry</dc:creator>
<guid>http://septiarani.wordpress.com/2009/11/15/genia-festival-wisata-ke-borobudur/</guid>
<description><![CDATA[Zaky-Deny-Faz-Tia-Icha &nbsp; Hari itu, aku bersama Icha, Deny, Zaky, dan Faz piknik ke Candi Borobu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Zaky-Deny-Faz-Tia-Icha &nbsp; Hari itu, aku bersama Icha, Deny, Zaky, dan Faz piknik ke Candi Borobu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Belezas e desastres naturais]]></title>
<link>http://saiporai.wordpress.com/2009/11/15/belezas-e-desastres-naturais/</link>
<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 07:21:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>saiporai</dc:creator>
<guid>http://saiporai.wordpress.com/2009/11/15/belezas-e-desastres-naturais/</guid>
<description><![CDATA[Existe aquela classica piada de que quando Deus criou o Brasil, fez tudo bonito, mas nao colocou nen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Existe aquela classica piada de que quando Deus criou o Brasil, fez tudo bonito, mas nao colocou nenhum desastre natural. Ja na Indonesia, a coisa foi diferente. Se recapitularmos so alguns incidentes vamos ver que teve o Tsunami em 2004, um terremoto em Nias 3 meses depois, outro em 2006 em Yogyacarta, e mais um tsunami em Java.  Em 2007, mais da metade de Jakarta (capital do pais, com 10 milhoes de habitantes) ficou debaixo da agua, devido a enchentes causadas por fortes chuvas. Poucos meses atras novo terremoto na ilha de Sumatra, que fez com que desistissemos desta regiao. Isto sem contar com os atentados a bomba em 2002 e 2005, que nao foram nada naturais. O problema de todos estes desastres naturais e que o pais e muito populoso (quarta maior populacao do mundo), e pobre (apesar de ter uma taxa de crescimento duas veses maior que a do Brasil). Um terremoto aqui tem consequencias muito mais graves que um no Japao, por exemplo.</p>
<p>A Indonesia era um pais que eu sempre quis visitar. Talvez fosse o lugar que eu iria caso tivesse que escolher so um pais.  Para conhecer a Indonesia, da forma que gostaria, precisaria de pelo menos uns 3 meses. O transporte fora da regiao turistica e lento, muitos ferris tem horarios alterados devido as condicoes climaticas, mas como na Africa, e tudo muito recompensador. As praias sao mundialmente famosas, pela belesa e por suas ondas. Existem vulcoes, montanhas, lagos, templos, muita cultura e diversas tribos e linguas. Tudo isto espalhado pelo maior arquipelogo do mundo, com suas mais de 13000 ilhas.</p>
<p>Como nao tinha tanto tempo disponivel so para ca, tivemos que adaptar o roteiro. Estariamos viajando tambem no inicio da temporada de chuvas, o que poderia complicar (ou nao, com tantas variacoes climaticas).</p>
<p>De Borneo viajamos para Jakarta, uma super metropole com tudo que uma cidade deste porte pode te oferecer, de bom e de ruim. Nao era bem o que nos interessava, portanto ja tinhamos um voo direto para Yogyacarta, algumas horas depois. Chegamos no aeroporto, pegamos uma pequena fila para o visto, que da para tirar na hora. Pagamos, fomos com o compravante no outro guiche para carimbar. O oficial pediu estranhamente 5 USD por passaporte, pois como era a primeira vez que entravamos no pais, tinham que colocar os dados no computador. So olhei para a Bibi, fui pegando o dinheiro mas ia pedir um recibo. Nisto apareceram outras pessoas no guiche, e eu fiz questao de mostrar bem o dinheiro. O oficial falou desesperadamente para eu ir embora, que tava tudo certo. Quase que ele perde o emprego. Na hora de carimbar a entrada, novamente o cidadao me pede uma “lembranca” do Brasil. Falei que nao tinha e ele pediu um dinheiro brasileiro. Nao tinhamos papel, mas oferecemos uma moeda. Ele olhou e falou que nao, queria dinheiro, ou podia ser USD, Euro&#8230; Eu ri, como se ele tivesse brincando e fomos saindo. Depois de pegar a bagagem, ao sair pelo portao de desembarque, fomos cercados por pessoas oferecendo taxi, hotel, troca de dinheiro&#8230; Confesso que o primeiro contato com o pais nao foi dos melhoeres.</p>
<p>Tinha um fuso horario de uma hora a menos, fato que nao estava marcado na nossa passagem. Ja estava  perto da maia noite, e como nosso check in era as 4 da manha, resolvemos ficar no aeroporto mesmo. Fomos ate o outro terminal, que ficava a poucos km de onde estavamos, e nos surpreendemos ao encontrar tudo fechado. Tinham alguns bancos que logo se transformaram em camas. Ja tava achando que em Borneo a Bibi tava entrando no esquema da viagem, mas agora tive certeza. Eu dei umas cochiladas, mas a Bibi capotou. Bem cedo estavamos aterrisando em Yogyakarta. Nao fomos para a conhecida regiao mochileira de Sosrowijayan mas para Prawirotaman, rua com pousadas um pouco melhorzinhas. Depois de uma noite no aeroporto, mereciamos um lugar melhor, e tinhamos uma boa indicacao. Pousada descolada, cheia de decoracao, piscina grande e um gostoso jardim com mesas para o cafe da manha. Claro que tudo isto so seria usufruido depois, pois precisavamos dormir.</p>
<div id="attachment_919" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0139_resize.jpg"><img class="size-medium wp-image-919" title="IMG_0139_resize" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0139_resize.jpg?w=224" alt="" width="224" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Hora de dormir</p></div>
<p>Saimos para comer alguma coisa e conhecer o Kraton, “casa” do sultao, que e so uma ficgra simbolica por aqui, sem muitos poderes, e veneracao apenas regional. Interessante o lugar, muitos objetos expostos, em pequenas salas-museu. Depois nos falaram de uma ala que tinha musica alem de outras coisas interessantes, mas quando perguntei falaram que estava em reforma, o que parece que nao era verdade. Ali tivemos nosso primeiro momento de “famosos” quando pediram para tirar fotos com a gente. Paramos para almocar propriamente e descobrimos que e possivem comer bem por menos de 1 USD por aqui. A simpatia do povo comecou a aparecer tambem, e batemos altos papos com o rapaz que nos atendeu no resturante. Ainda fomos para o Palacio das Aguas, antiga piscina do Sultao, e andamos pelas ruazinhas, curtindo o novo lugar. Paramos num lugar onde produzem marionetes de madeira ou de couro, muito famosos por aqui. A Bibi estava encantada com o lugar e de noite tomamos uma cerveja para brindar a chegada.</p>
<div id="attachment_920" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0151_resize.jpg"><img class="size-medium wp-image-920" title="IMG_0151_resize" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0151_resize.jpg?w=300" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Marionetes</p></div>
<p>Como o aluguel de uma scooter aqui e em torno de 2 USD por dia, nada de pegar onibus para visitar os templos, saimos cedo de moto! Borobudur, o maior templo Budista da indonesia, fica a uns 40 km de onde estavamos. Chegamos sem muita dificuldade, mas com muita cautela, pois sao centenas de motocicletas nas ruas. Ja mais perto do templo, aquele clima de regiao rural, com plantacoes e montanhas ao fundo, que dava todo um clima para o lugar.</p>
<p>Borobudur e impressionante. Sao 9 niveis, que representam o mundo mnaterial, espiritua e o nirvana. O templo deve ser percorrido no sentido horario, de forma ascendente. Muitas gravuras entalhadas na pedra vao contando a historia de Buda. Pegamos um guia para entender melhor os detalhes e valeu muito a pena. No nivel que representa o Nirvana nao existem gravuras, so estupas. E um “vazio”, muito bonito. Apesar de ser Budista, outras relegioes visitam o tempo, e alguns ate veneram, devido a forte energia do lugar. O calor era muito forte e o sol estava nos cozinhando. Gostariamos de ficar mais, mas era humanamente impossivel. A Bibi ate alugou uma sombrinha para se proteger do sol forte. A entrada custa para os estranjeiros 15 vezes mais caro que para os indonesios. Para nao ficar tao chato nos colocam numa sala vip, com ar condicionado, agua gelada e cafe.</p>
<div id="attachment_921" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0156_resize.jpg"><img class="size-medium wp-image-921" title="IMG_0156_resize" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0156_resize.jpg?w=300" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Borobudur!!</p></div>
<p><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0164_resize.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-922" title="IMG_0164_resize" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0164_resize.jpg?w=300" alt="Estupas" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Passamos num outro templo ali perto, e tinha um Buda bem grande, bonito, mas depois de Borobudur, muitos templos vao perder a graca.Voltamos para Yogya e pegamos o contorno da cidade, para ir no Prabanam, templo Hindu bem perto da cidade. Parada para abastecer ao lado da estrada, onde tem garrafas de vodka absolut com gasolina.</p>
<div id="attachment_929" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0183_resize1.jpg"><img class="size-medium wp-image-929" title="IMG_0183_resize" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0183_resize1.jpg?w=300" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Abastecendo a &#34;poderosa&#34;</p></div>
<p>O Prambanam tambem e imponente, mas infelizmente esta bem destruido, devido a terremotos. O ultimo deles, em 2006, foi logo apos uma restauracao. Das 240 torres existentes, hoje so existem 18. A principal delas e um templo de Shiva, com templos de Vishnu e Brahma ao lado, alem de seus veiculos de locomocao na frente. Mesmo na India sao pouquissimos templos de Brahma, Deus nao muito venerado. Nosso guia tinha bastante conhecimento, nao so da religiao Hindu, mas das tradicoes javanesas e de outras religioes. Ficamos discutindo varios assuntos e nossa visita se prolongou ate o final do dia. Novamente algumas pessoas pediram para tirar foto comigo e com a Bibi, tanto homens como mulheres. Sao pessoas que vem de cidades do interior e so viram ocidentais na tv. Lembro que quando estive no Tibet, no bairro budista, eu queria tirar fotos dos monges e eles de mim&#8230; O final de tarde com aquele ceu rosado e so a sombra do Prabanam, foi show. Voltamos para o centro, no meio das chamadas das iluminadas mesquitas. So tinha um mapa turistico, aqueles com desenhos, e foi facil de se perder. Tivemos que parar varias vezes para pedir informacao.</p>
<div id="attachment_923" class="wp-caption aligncenter" style="width: 234px"><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0168_resize.jpg"><img class="size-medium wp-image-923" title="IMG_0168_resize" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0168_resize.jpg?w=224" alt="" width="224" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Buda</p></div>
<div id="attachment_924" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0169_resize.jpg"><img class="size-medium wp-image-924" title="IMG_0169_resize" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0169_resize.jpg?w=300" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Prambanam</p></div>
<p>Chegando no hotel estavamos muito cansados para continuar fazendo coisas. Iamos numa apresentacao de danca tipica mas conversamos e decidimos ficar um dia a mais. Foi bom pois no outro dia deu para organizarmos melhor o roteiro do viagem, pegar uma piscina, rodar o centro e de noite ir no Balett Purawisata. Como choveu foi num lugar coberto. Todos os artistas com mascaras ou muito bem pintados, interpretando uma historia local. Movimentos rapidos e lentos, tudo com musica tipica tocada por um batalhao de pessoas. Normalmente nao sou muito deste tipo de apresentacao, mas esta estava muito bem montada e com certeza valeu a pena. Pra quem gosta, e imperdivel.</p>
<div id="attachment_925" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/yogya2_resize.jpg"><img class="size-medium wp-image-925" title="yogya2_resize" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/yogya2_resize.jpg?w=300" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Apresentacao Purawisata</p></div>
<p>De Yogya fomos para o leste de Java, sentido a Probolinggo. Viagem nao das mais agradaveis, pois tava muito quente. Metade da populacao da Indonesia mora em Java, e no trajeto deu para perceber, pois era uma cidade do lado da outra, quase nao tinha estrada, parecia uma megalopole. Conhecemos varios estrangeiros, que assim como nos iriam no vulcao Bromo, mas depois cada um tinha destinos diferentes. Tinha tudo que e tipo de gente, dos gente fina aos “ malas”. Paramos o microonibus e fomos divididos em vans. A medida que iamos se afastando da cidade e subindo a montanha ia torcendo para que o hotel fosse ok, para a Bibi nao reclamar. Nao era nada de especial, mas longe de ser ruim. Ja separamos as roupas de frio, pois como estavamos a ja alguma altitudo, e sairiamos de madrugada, tinhamos que nos preparar.</p>
<p>As 4 da manha ja estavamos indo de Jeep montanha acima. Decidimos ir no vulcao so depois, e um mirante seria nossa primeira parada.  Logo vimos que nao estariamos sozinhos. Dezenas de Jeepes de todas as cores, numa fila continua, parados dos dois lados da estradinha. Quando nao deu para ir mais de carro, fomos a pe, e vimos que alem de muitos turistas, tinham ainda mais indonesios. Chegamos a conclusao que era por causa do final do semana. No tal mirante, muito bonito, nao tinha espaco para ninguem. Tivemos que esperar as pessoas cansarem e sairem de seus lugares para podermos aproveitar. Ja tava claro, mas deu para ver o sol ainda bem baixo. O Vulcao Bromo ali na frente, saindo ate fumaca, com montanhas ao redor davam todo um clima para o lugar. Depois desta vista de cima, fomos ate a base, onde subimos o vulcao. A Bibi teve que fazer um esforco extra, mas ate que se saiu bem. Aquela fumaca tinha um cheiro forte de enxofre, e ficamos na beira da cratera. Fomos entrevistados por curiosos adolecentes e ficamos conversando ate chegar a hora de mais fotos. Contamos para eles que no Brasil existem lugares para sair a noite que se chamam Bali Hai e Warung, eles davam risada.</p>
<div id="attachment_926" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0208_resize_exposure.jpg"><img class="size-medium wp-image-926" title="IMG_0208_resize_exposure" src="http://saiporai.wordpress.com/files/2009/11/img_0208_resize_exposure.jpg?w=300" alt="" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Vulcao Bromo e sua &#34;fumacinha&#34;...</p></div>
<p>De volta a pousada deu tempo de tomar o famoso cafe javanes (nao tao bom quanto o etiope, mas saboroso), um banho quente, arrumar as coisa e pegar estrada. Um casal americano/alema pegou o mesmo onibus que agente e conversamos um pouco sobre a viagem e sobre como foi largar a rotina nos respectivos paises, coisa que tambem fizeram. Muitos Km depois estavamos no ferry que liga a Ilha de Java ate a Ilha de Bali.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[poseee..!!!!!]]></title>
<link>http://sandiviergo.wordpress.com/2009/11/13/poseee/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 16:45:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>sandiviergo</dc:creator>
<guid>http://sandiviergo.wordpress.com/2009/11/13/poseee/</guid>
<description><![CDATA[saya sempat heran relief ini menggambarkan remaja saat ini narsis suka foto.. dan yang saya bingung ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://sandiviergo.wordpress.com/files/2009/11/img_43852.jpg" alt="relief yang narsis.." title="relief yang narsis.." width="450" height="283" class="aligncenter size-full wp-image-10" /></p>
<p>saya sempat heran<br />
relief ini menggambarkan remaja saat ini<br />
narsis<br />
suka foto..<br />
dan yang saya bingung music metal sudah ada dri jaman dulu kala to?<br />
(tangan relief yang d bawah membentuk simbol metal..hahaha)</p>
<p>dan pose ce paling samping<br />
adalah pose narsis kamera hape para remaja putri saat ini<br />
(sambil mengankat sebelah tangan)<br />
hahahaha</p>
<p>so abadikan semua yang menyapa kita..<br />
sesuatu itu akan menjadi sebuh karya menarik, yang kadang anda sendiri<br />
tak menyangkanya</p>
<p>=)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wisata Budaya - Candi Borobudur (Magelang, Jawa Tengah)]]></title>
<link>http://fairuzelsaid.wordpress.com/2009/11/12/candi-borobudur/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 19:41:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fairuz El Said</dc:creator>
<guid>http://fairuzelsaid.wordpress.com/2009/11/12/candi-borobudur/</guid>
<description><![CDATA[Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;"><strong>Borobudur</strong> adalah nama sebuah <em>candi Buddha </em>yang terletak di Borobudur, <em>Magelang, Jawa Tengah. </em>Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-290" title="borobudur" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur.jpg" alt="borobudur" width="450" height="337" /></a></p>
<p><strong>Nama Borobudur</strong></p>
<p>Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata <em>Sambharabhudhara</em>, yaitu artinya &#8220;gunung&#8221; (<em>bhudara</em>) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata <em>borobudur</em> berasal dari ucapan &#8220;para Buddha&#8221; yang karena pergeseran bunyi menjadi <em>borobudur</em>. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata &#8220;bara&#8221; dan &#8220;beduhur&#8221;. Kata <em>bara</em> konon berasal dari kata <em>vihara</em>, sementara ada pula penjelasan lain di mana <em>bara</em> berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan <em>beduhur</em> artinya ialah &#8220;tinggi&#8221;, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti &#8220;di atas&#8221;. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.</p>
<p><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/260px-borobudur-perfect-buddha.jpg"><img class="size-full wp-image-298 alignleft" title="260px-Borobudur-perfect-buddha" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/260px-borobudur-perfect-buddha.jpg" alt="260px-Borobudur-perfect-buddha" width="260" height="299" /></a></p>
<p>Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja mataram dinasti Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.</p>
<p style="text-align:center;">
<p>Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.</p>
<p>Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.</p>
<p><!--more--></p>
<p><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur61.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-308" title="borobudur6" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur61.jpg" alt="borobudur6" width="450" height="276" /></a></p>
<p><strong>Arsitektur Candi borobudur<strong> </strong></strong></p>
<div id="attachment_601" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur.gif"><img class="size-full wp-image-601" title="arsitektur candi borobudur" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur.gif" alt="arsitektur candi borobudur" width="200" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Arsitektur Candi Borobudur</p></div>
<p>Candi Borobudur memiliki 10 tingkat yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Di setiap tingkat terdapat beberapa stupa. Seluruhnya terdapat 72 stupa selain stupa utama. Di setiap stupa terdapat patung Buddha. Sepuluh tingkat menggambarkan filsafat Buddha yaitu sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha di nirwana. Kesempurnaan ini dilambangkan oleh stupa utama di tingkat paling atas. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala yang menggambarkan kosmologi Buddha dan cara berpikir manusia.</p>
<p>Di keempat sisi candi terdapat pintu gerbang dan tangga ke tingkat di atasnya seperti sebuah piramida. Hal ini menggambarkan filosofi Buddha yaitu semua kehidupan berasal dari bebatuan. Batu kemudian menjadi pasir, lalu menjadi tumbuhan, lalu menjadi serangga, kemudian menjadi binatang liar, lalu binatang peliharaan, dan terakhir menjadi manusia. Proses ini disebut sebagai reinkarnasi. Proses terakhir adalah menjadi jiwa dan akhirnya masuk ke nirwana. Setiap tahapan pencerahan pada proses kehidupan ini berdasarkan filosofi Buddha digambarkan pada relief dan patung pada seluruh Candi Borobudur.</p>
<p>Bangunan raksasa ini hanya berupa tumpukan balok batu raksasa yang memiliki ketinggian total 42 meter. Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk. Bagian dasar Candi Borobudur berukuran sekitar 118 m pada setiap sisi. Batu-batu yang digunakan kira-kira sebanyak 55.000 meter kubik. Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar Candi Borobudur. Batu-batu ini dipotong lalu diangkut dan disambung dengan pola seperti permainan lego. Semuanya tanpa menggunakan perekat atau semen.</p>
<p>Sedangkan relief mulai dibuat setelah batu-batuan tersebut selesai ditumpuk dan disambung. Relief terdapat pada dinding candi. Candi Borobudur memiliki 2670 relief yang berbeda. Relief ini dibaca searah putaran jarum jam. Relief ini menggambarkan suatu cerita yang cara membacanya dimulai dan diakhiri pada pintu gerbang di sebelah timur. Hal ini menunjukkan bahwa pintu gerbang utama Candi Borobudur menghadap timur seperti umumnya candi Buddha lainnya.</p>
<p><strong>Struktur <strong>Candi borobudur</strong></strong></p>
<p>Bagian kaki Borobudur melambangkan <em>Kamadhatu</em>, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh <em>kama</em> atau &#8220;nafsu rendah&#8221;. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita <em>Kammawibhangga</em>. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.</p>
<p>Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan <em>Rupadhatu</em>. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari <em>nafsu</em>, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan <em>alam antara</em> yakni, antara <em>alam bawah</em> dan <em>alam atas</em>. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.</p>
<p><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur4.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-292" title="borobudur4" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur4.jpg" alt="borobudur4" width="450" height="313" /></a></p>
<p>Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan <em>Arupadhatu</em> (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan <em>alam atas</em>, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.</p>
<p>Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.</p>
<p>Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.</p>
<p>Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.</p>
<p>Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.</p>
<p><em>Struktur Candi Borobudur</em> tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem <em>interlock</em> yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-293" title="borobudur3" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur3.jpg" alt="borobudur3" width="450" height="311" /></a></p>
<p>Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :</p>
<p><strong>Karmawibhangga</strong></p>
<p style="text-align:left;">Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir &#8211; hidup &#8211; mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.</p>
<p>Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti &#8220;hukum&#8221;, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.</p>
<p><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-291" title="borobudur2" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur2.jpg" alt="borobudur2" width="450" height="337" /></a></p>
<p><strong>Jataka dan Awadana</strong></p>
<p>Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.</p>
<p>Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.</p>
<p><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-294" title="borobudur5" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur5.jpg" alt="borobudur5" width="450" height="337" /></a></p>
<p><strong>Gandawyuha</strong></p>
<p>Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.</p>
<p><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-296" title="borobudur7" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur7.jpg" alt="borobudur7" width="450" height="337" /></a></p>
<p><strong>Tahapan pembangunan Borobudur</strong></p>
<ul>
<li><em><strong>Tahap pertama</strong></em>, Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara <a title="750" href="http://id.wikipedia.org/wiki/750">750</a> dan <a title="850" href="http://id.wikipedia.org/wiki/850">850 M</a>). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.</li>
</ul>
<ul>
<li><em><strong>Tahap kedua</strong></em>, Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.</li>
</ul>
<ul>
<li><em><strong>Tahap ketiga</strong></em>, Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.</li>
</ul>
<ul>
<li><em><strong>Tahap keempat. </strong></em>Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.</li>
</ul>
<p><a href="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur8.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-297" title="borobudur8" src="http://fairuzelsaid.wordpress.com/files/2009/11/borobudur8.jpg" alt="borobudur8" width="450" height="337" /></a></p>
<p><strong>Kronologis Penemuan dan pemugaran Borobudur</strong></p>
<ul>
<li>
<div>1814 &#8211; Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.</div>
</li>
<li>
<div>1873 &#8211; monografi pertama tentang candi diterbitkan.</div>
</li>
<li>
<div>1900 &#8211; pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.</div>
</li>
<li>
<div>1907 &#8211; Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.</div>
</li>
<li>
<div>1926 &#8211; Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis <em>malaise</em> dan Perang Dunia II.</div>
</li>
<li>
<div>1956 &#8211; pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.</div>
</li>
<li>
<div>1963 &#8211; pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.</div>
</li>
<li>
<div>1968 &#8211; pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.</div>
</li>
<li>
<div>1971 &#8211; pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.</div>
</li>
<li>
<div>1972 &#8211; International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.</div>
</li>
<li>
<div>10 Agustus 1973 &#8211; Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984</div>
</li>
<li>
<div>21 Januari 1985 &#8211; terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali.</div>
</li>
<li>
<div>1991 &#8211; Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.</div>
</li>
</ul>
<p><strong>Misteri seputar Candi Borobudur</strong></p>
<p>Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan?. Gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmiah, terutama tentang ruang yang ditemukan pada stupa induk candi dan patung Budha, di pusat atau zenith candi dalam stupa terbesar, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha yang tidak sempurna yang hingga kini masih menjadi misteri.</p>
<p><strong>Perayaan Waisak di Borobudur</strong></p>
<p>Setiap tahun pada bulan purnama penuh pada bulan Mei (atau Juni pada tahun kabisat), umat Buddha di Indonesia memperingati Waisak di Candi Borobudur. Waisak diperingati sebagai hari kelahiran, kematian dan saat ketika Siddharta Gautama memperoleh kebijaksanaan tertinggi dengan menjadi Buddha Shakyamuni. Ketiga peristiwa ini disebut sebagai <strong>Trisuci Waisak</strong>. Upacara Waisak dipusatkan pada tiga buah candi Buddha dengan berjalan dari Candi Mendut ke Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur.</p>
<p>Pada malam Waisak, khususnya saat detik-detik puncak bulan purnama, penganut Buddha berkumpul mengelilingi Borobudur. Pada saat itu, Borobudur dipercayai sebagai tempat berkumpulnya kekuatan supranatural. Menurut kepercayaan, pada saat Waisak, Buddha akan muncul secara kelihatan pada puncak gunung di bagian selatan.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li>http://kumpulan.info/wisata/tempat-wisata/53-tempat-wisata/182-candi-borobudur.html</li>
<li>http://whencoih.blogspot.com/2009/02/candi-borobudur.html</li>
<li>http://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur</li>
<li>http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/candi/borobudur/</li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Borobudur Miniatur]]></title>
<link>http://perak925.wordpress.com/2009/11/10/borobudur-miniatur/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 12:05:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>perak925</dc:creator>
<guid>http://perak925.wordpress.com/2009/11/10/borobudur-miniatur/</guid>
<description><![CDATA[Code : M-6 (Rp 650.000,-)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://ayni925.files.wordpress.com/2009/11/borobudur2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-463" title="borobudur" src="http://ayni925.files.wordpress.com/2009/11/borobudur2.jpg?w=300&#038;h=232" alt="borobudur" width="300" height="232" /></a></p>
<p><strong>Code : M-6 (Rp 650.000,-)<br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Borobudur Miniatur]]></title>
<link>http://ayni925.wordpress.com/2009/11/10/borobudur-miniatur/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 05:05:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>ayni-silver</dc:creator>
<guid>http://ayni925.wordpress.com/2009/11/10/borobudur-miniatur/</guid>
<description><![CDATA[Code : M-6 (Rp 650.000,-)]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://ayni925.wordpress.com/files/2009/11/borobudur2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-463" title="borobudur" src="http://ayni925.wordpress.com/files/2009/11/borobudur2.jpg?w=300" alt="borobudur" width="300" height="232" /></a></p>
<p><strong>Code : M-6 (Rp 650.000,-)<br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[bumisegoro sebagai desa wisata]]></title>
<link>http://bumisegoro.wordpress.com/2009/11/10/bumisegoro-sebagai-desa-wisata/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 03:35:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>bumisegoro</dc:creator>
<guid>http://bumisegoro.wordpress.com/2009/11/10/bumisegoro-sebagai-desa-wisata/</guid>
<description><![CDATA[Berdasarkan informasi yang penulis terima, saat ini ada program pemerintah yang bernama PNPM mandiri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Berdasarkan informasi yang penulis terima, saat ini ada program pemerintah yang bernama PNPM mandiri]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[National Geographic menilai Borobudur]]></title>
<link>http://adasupriadi.wordpress.com/2009/11/07/national-geographic-menilai-borobudur/</link>
<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 16:06:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>adasupriadi</dc:creator>
<guid>http://adasupriadi.wordpress.com/2009/11/07/national-geographic-menilai-borobudur/</guid>
<description><![CDATA[National Geographic Traveler bulan ini mengumumkan hasil survey 133 obyek wisata di seluruh dunia, s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[National Geographic Traveler bulan ini mengumumkan hasil survey 133 obyek wisata di seluruh dunia, s]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Borobudur]]></title>
<link>http://libragals.wordpress.com/2009/11/02/borobudur/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 09:29:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>libragals</dc:creator>
<guid>http://libragals.wordpress.com/2009/11/02/borobudur/</guid>
<description><![CDATA[Lama sekali rasanya aku tidak berjalan-jalan lagi bersama teman-temanku. Beberapa tempat yang sempat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Lama sekali rasanya aku tidak berjalan-jalan lagi bersama teman-temanku. Beberapa tempat yang sempat aku kunjungi ketika semester-semester awal adalah ke Keraton, Taman sari, Benteng Vredeburg, Borobudur ya… paling tidak itulah yang aku ingat.Dari semuanya pengalaman yang paling ekstrem adalah ketika kita ke Borobudur. Ketika itu aku hanya pergi dengan enam orang temanku dan cewek semua dengan menaiki bis yang menuju ke Borobudur, bernama cemara tunggal, dari terminal Jombor.<br />
Sekitar pukul 8 pagi aku sudah berada di terminal Jombor, sendiri karena diantara kami hanya aku yang menempati rumah di daerah itu. Ku tunggu mereka di sebuah bangku abu-abu yang terbuat dari semen, mati gaya karena mereka tak kunjung datang juga. Hal yang membuat aku agak risih adalah karena ada seorang bapak-bapak yang mengajak aku ngobrol. Dari penampilannya dapat ku simpulkan bahwa orang itu agak mencurigakan, dengan memakai kaos yang agak lecek dan tampak tak bersih. Beberapa pertanyaan pun terlontar darinya, dia menanyakan namaku, profesiku, mau kemana, menunggu siapa dan beberapa pertanyaan lain yang cukup membuatku tak nyaman dengan obrolan itu. Huh pengen tahu aja bapak ini batinku, dengan agak menyamarkan namaku aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan sesingkat mungkin.<br />
Tampaknya agak aneh karena aku yang terbiasa melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada orang, karena profesi sebagai calon antropolog adalah meneliti, mencari tahu dan mewawancarai orang, merasa tak nyaman ketika orang yang sama sekali belum dikenal bertanya bermacam-macam hal. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Sudah pantaskah aku menjadi seorang calon antropolog jika ketika diwawancarai saja aku masih merasa tak nyaman. Pada akhirnya bapak itu mulai beranjah dari tempat duduknya yang bertempat disebelahku. Bapak itu sadar kali ya kalau aku ga nyaman dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku.<br />
Akhirnya setelah lama menunggu, “diwawancarai” orang, dan kemudian orang itu pergi, salah satu temanku sms dan mengatakan mereka sudah berada di terminal dan sedang berada di bawah pohon. Hanya ada dua orang di sana dan lainnya sedang menyantap sarapannya di sebuah warung kecil. Tak lama kemudian petualangan kami dimulai dengan menempati bangku-bangku kosong di dalam bis kecil jurusan Yogya-Borobudur.<br />
Sebelum sampai disana salah seorang temanku sempat mengobrol dengan salah satu penumpang laki-laki yang juga penduduk asli Borobudur. Dia lah yang menemani kami berjalan sampai ke candi terbesar itu. Saat sampai disana banyak sekali orang yang menghampiri bis kami dan menawari kami untuk naik andong atau dokar, tetapi kami memilih untuk berjalan kaki karena mas yang menemani kami bilang kalau jarak terminal ke candi Borobudur lumayan dekat. Disitu kami menolak dengan halus kemudian tiba-tiba ada salah satu orang yang ikut menghampiri bis kami langsung mengancam mas tadi (aku lupa namanya…) kami tetap pada pendirian kami untuk tetap berjalan kaki, sampai-sampai mas yang menemani kami disundut rokok orang tersebut. Setelah itu baku hantam hampir saja terjadi….dan akhirnya kami pun terbebas dari orang itu. Ternyata benar jarak candi Borobudur dari terminal lumayan dekat tidak seperti yang orang tadi bilang kalo untuk sampai kesana kami harus naik turun bukit. Tak sampai satu jam kami sudah bisa menikmati megahnya candi itu. Disana kebanyakan kami langsung menjadi banci kamera, selalu saja foto untuk mengabadikan momen-momen tersebut. Saat waktu sholat tiba kami langsung pergi ke musholla untuk sholat dan disana ketika kami membahas kejadian yang terjadi pada jam sebelumnya kami bertemu dengan mbah-mbah penjual gelang, gantungan kunci selain itu ada dua orang mas-mas yang mengobrol dengan mbah itu. Mbah merupakan warga asli Borobudur dan menjadi penjual gelang disana. Mbah itu ternyata bukan pedagang yang memiliki izin untuk berjualan disana tetapi dia nekat berjualan walaupun barangnya pernah disita sebelum mbah mendapatkan pembeli. Hal tersebut menunjukkan masih adanya pedagang ilegal yang berjualan di sekitaran bahkan di dalam kompleks candi itu.<br />
Dua mas-mas itu yang juga ikut mengobrol dengan kami ternyata merupakan salah satu teman preman yang menguasai terminal itu. Kami baru mengetahuinya ketika kami sampai dirumahku untuk beristirahat. Awalnya kami agak takut kembali ke terminal lagi untuk pulang ke magelang, rumahku. Tapi ternyata keadaaan lebih sepi dari awal kami datang dan hanya ada satu atau dua andong yang berada disitu atau tidak ada sama sekali ya?? Aku lupa….entah karena saat itu hari gerimis atau karena dua mas tadi tapi yang jelas kami lega bisa pulang dengan selamat. Sampai di rumah mas penolong itu meng-sms salah satu temanku dan menceritakan hal yang telah kami alami dan mengatakan bahwa beberapa orang yang menawari kami untuk naik andong adalah penguasa daerah itu.<br />
Kami merasa beruntung bisa mengenal teman preman itu, kalau saja salah satu teman kami tidak menanyakan kejadian waktu terjadi baku hantam mungkin kami tidak bisa selamat sampai rumah. Bisa saja di tengah jalan kami di hampiri preman-preman itu. Tapi untunglah kami bisa dibantu oleh orang yang baru pertama kali kami kenal.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[EloProgo Art House ]]></title>
<link>http://goremasternews.wordpress.com/2009/10/25/eloprogo-art-house/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 18:57:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>goremasterfx</dc:creator>
<guid>http://goremasternews.wordpress.com/2009/10/25/eloprogo-art-house/</guid>
<description><![CDATA[by Mark Gorelord My firend from Indonesia, Yasmi Setiawati told about EloProgo Art House and here is]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-6674" title="Eloprogo Art House" src="http://goremasternews.wordpress.com/files/2009/10/eloprogo-art-house.jpg" alt="Eloprogo Art House" width="200" height="186" />by Mark Gorelord</p>
<p>My firend from Indonesia, Yasmi Setiawati told about EloProgo Art House and here is the description:</p>
<p>EloProgo Art House is a space for an artists and everyone who wants to enjoy the art and nature at the same time. Surrounded by a beautiful views.. the rivers Elo and progo too tempting to be forgotten, stream from the Merbabu and Sumbing mountains and meet in the backyard of Eloprogo Art House. It is also close to the three amazing temples, Mendut, Pawon, and Borobudur. Here, nature offers beautiful scenery, while we offer a space for everyone..</p>
<p>Our missions are,<br />
-to give a space for the art workers and lovers to express and create the ideas from within -to use art as an approach to the society and invite them to gather in the joy of art</p>
<p>Eloprogo provides :<br />
-Four open stages<br />
-‘kedai apresiasi’ as café -‘small wall’ for small exhibition<br />
-Two guest house<br />
-Dormitory for artists in residence<br />
-One permanent gallery of sony santosa’s paintings<br />
-A heavenly park ‘batu dua’</p>
<p>FOR FURTHER INFORMATION PLEASE CONTACT ; Maya Abdi Manuputty &#8211; 081391785656 Putri Fitria &#8211; 085747052226 Ervin Ruhlelana &#8211; 085860421234</p>
<p>WHAT DID WE DO?<br />
- our annual event, art camp I, II , and III, have been running since 2007. this event are held every May, to appreciate Waisak celebration. And another annual events are poetry camp, ‘laluna a la Eloprogo’ (fullmoon celebration), ‘kuda lumping kontemporer’ festival, and Movie camp.<br />
- we held art exhibition for almost every kind of art – paintings, installations, photographs, sculptures, etc.<br />
- We held ‘pesta melukis’ (painting’s party), a painting course by an artist from Eloprogo, and some fun games. All for the kids, especially for them who live near eloprogo art house.</p>
<p>WHAT DO WE DO?<br />
-actualize art and culture workshop<br />
-reach the social dedication<br />
-environmental research and development<br />
-publishing an art and culture magazine (in process)</p>
<p>ELOPROGO ARTISTS :</p>
<div id="attachment_6709" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://www.amazon.com/b?_encoding=UTF8&#38;site-redirect=&#38;node=130&#38;tag=goremastercom-20&#38;linkCode=ur2&#38;camp=1789&#38;creative=9325"><img class="size-full wp-image-6709" title="amazon-dvd-bestsellers" src="http://goremasternews.wordpress.com/files/2009/10/amazon-dvd-bestsellers58.jpg" alt="amazon-dvd-bestsellers" width="300" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">Amazon Specials!</p></div>
<p>-Andrie Topo (Magelang, Art Performer)<br />
-Aning Purwaranti (Semarang, Art Performer)<br />
-Budi Suro (Sidoarjo, Poet)<br />
-Dhani (Magelang, actor and director performance)<br />
-Din Kandhihawa (Tegal, Art Performer)<br />
-Ervin Ruhlelana (Indonesia, Writer)<br />
-Ida (Muntilan, Musician)<br />
-Mario Rouv (Muntilan, Art Designer)<br />
-Miko Bima (Kotagede, Poet)<br />
-Nundang Rundagi (Indonesia, Poet)<br />
-Putri Fitria (Medan, Photographer)<br />
-Sony Santosa (Indonesia, Painter)<br />
-Tito Yoyo (Indonesia, Painter)<br />
-Yasmi Setiawati (Surabaya, Videographer)<br />
-Yayan Rozaq Triyansah (Semarang, Poet)</p>
<p><a href="http://www.goremaster.com/"><img class="aligncenter size-full wp-image-6672" title="www.goremaster.com_black" src="http://goremasternews.wordpress.com/files/2009/10/www-goremaster-com_black26.jpg" alt="www.goremaster.com_black" width="468" height="60" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[photo jadul]]></title>
<link>http://mylittlelolipop.wordpress.com/2009/10/25/photo-jadul/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 00:17:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>alwayslovecandy</dc:creator>
<guid>http://mylittlelolipop.wordpress.com/2009/10/25/photo-jadul/</guid>
<description><![CDATA[Pagi ini ngecek situs jejaring sosial saya (tempat dimana saya memenuhi kebutuhan sosialisasi), tent]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pagi ini ngecek situs jejaring sosial saya (tempat dimana saya memenuhi kebutuhan sosialisasi), tent]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Borobudur]]></title>
<link>http://cudaswiata.wordpress.com/2009/10/21/borobudur/</link>
<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 06:09:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Wojciech Pastuszka</dc:creator>
<guid>http://cudaswiata.wordpress.com/2009/10/21/borobudur/</guid>
<description><![CDATA[Świat jest pełen paradoksów. Jedna z najwspanialszych i najbardziej zadziwiających buddyjskich budow]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Świat jest pełen paradoksów. Jedna z najwspanialszych i najbardziej zadziwiających buddyjskich budow]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DAFTAR LAGU-LAGU BUDDHIST LAWAS]]></title>
<link>http://rochajiono.wordpress.com/2009/10/20/daftar-lagu-lagu-buddhist-lawas/</link>
<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 02:20:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>rochajiono</dc:creator>
<guid>http://rochajiono.wordpress.com/2009/10/20/daftar-lagu-lagu-buddhist-lawas/</guid>
<description><![CDATA[Berikut ini adalah koleksi lagu-lagu Buddhist edisi lawas sampai baru. Sangat cocok untuk ringtone H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Berikut ini adalah koleksi lagu-lagu Buddhist edisi lawas sampai baru. Sangat cocok untuk ringtone H]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puteri Indonesia Terpeleset]]></title>
<link>http://dwiyono17.wordpress.com/2009/10/15/puteri-indonesia-terpeleset/</link>
<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 11:56:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dwi Yono</dc:creator>
<guid>http://dwiyono17.wordpress.com/2009/10/15/puteri-indonesia-terpeleset/</guid>
<description><![CDATA[Puteri Indonesia terpeleset saat menaiki Candi Borobudur, apakah dia kualat atas kelakuannya atau pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Puteri Indonesia terpeleset saat menaiki Candi Borobudur, apakah dia kualat atas kelakuannya atau perkataannya yang perna dilontarkan bahwa dia melepas jilbab demi keindahan rambutnya.. berikut berita yg saya ambil dari <a href="http://www.detikhot.com/read/2009/10/15/183221/1222302/230/daki-candi-borobudur-puteri-indonesia-kepeleset?992205207" target="_blank">detik.com</a>:</p>
<p>Puteri Indonesia 2009 Qory Sandioriva mendampingi Miss Universe Stefania Fernandez mengunjungi Candi Borobudur. Ketika mencapai puncak, Qory malah kepeleset.</p>
<p>Qory berusaha merogoh Kunto Bimo yang terletak di dalam salah satu stupa di puncak Borobudur. Namun perempuan asal Aceh itu malah kepeleset.</p>
<p>Menurut pantauan detikhot, saat kunjungan, Kamis (15/10/2009) beruntung Qory tidak sampai terjatuh. Ia keburu dipegangi oleh salah seorang pengawal Stefania.</p>
<p>Penjagaan memang cukup ketat untuk rombongan Miss Universe. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta untuk menyaksikan pertunjukan legenda Roro Jonggrang di Pelataran Candi Prambanan, malam ini.</p>
<p><strong>(yla/yla)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Candi Borobudur]]></title>
<link>http://sitih.wordpress.com/2009/10/11/candi-borobudur/</link>
<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 08:31:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>sitih</dc:creator>
<guid>http://sitih.wordpress.com/2009/10/11/candi-borobudur/</guid>
<description><![CDATA[Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="alignnone size-full wp-image-61" title="260px-Borobudur-perfect-buddha" src="http://sitih.wordpress.com/files/2009/10/260px-borobudur-perfect-buddha.jpg" alt="260px-Borobudur-perfect-buddha" width="260" height="299" /></strong></p>
<p><strong>Borobudur</strong> adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.<!--more--></p>
<h2><span id="Nama_Borobudur">Nama Borobudur</span></h2>
<p>Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata <em>Sambharabhudhara</em>, yaitu artinya &#8220;gunung&#8221; (<em>bhudara</em>) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata <em>borobudur</em> berasal dari ucapan &#8220;para Buddha&#8221; yang karena pergeseran bunyi menjadi <em>borobudur</em>. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata &#8220;bara&#8221; dan &#8220;beduhur&#8221;. Kata <em>bara</em> konon berasal dari kata <em>vihara</em>, sementara ada pula penjelasan lain di mana <em>bara</em> berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan <em>beduhur</em> artinya ialah &#8220;tinggi&#8221;, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti &#8220;di atas&#8221;. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.</p>
<p>Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Sriwijaya dinasti Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.</p>
<h2><span id="Struktur_Borobudur">Struktur Borobudur</span></h2>
<div>
<div style="width:402px;"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/8c/Borobudur-Nothwest-view.jpg/400px-Borobudur-Nothwest-view.jpg" alt="" width="400" height="157" /></p>
<div>
<div><img src="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" alt="" width="15" height="11" /></div>
<p>Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut</p>
</div>
</div>
</div>
<p>Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.</p>
<p>Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.</p>
<p>Bagian kaki Borobudur melambangkan <em>Kamadhatu</em>, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh <em>kama</em> atau &#8220;nafsu rendah&#8221;. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita <em>Kammawibhangga</em>. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.</p>
<p>Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan <em>Rupadhatu</em>. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari <em>nafsu</em>, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan <em>alam antara</em> yakni, antara <em>alam bawah</em> dan <em>alam atas</em>. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.</p>
<p>Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan <em>Arupadhatu</em> (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan <em>alam atas</em>, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.</p>
<p>Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.</p>
<p>Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.</p>
<p>Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.</p>
<p>Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.</p>
<p>Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem <em>interlock</em> yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.</p>
<h2><span id="Relief">Relief</span></h2>
<p>Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut <em>mapradaksina</em> dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta <em>daksina</em> yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.</p>
<p>Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.</p>
<p>Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut.</p>
<table border="0" cellspacing="5">
<tbody>
<tr>
<th colspan="3" align="center">Bagan Relief</th>
</tr>
<tr>
<th>Tingkat</th>
<th>Posisi/letak</th>
<th>Cerita Relief</th>
<th>Jumlah Pigura</th>
</tr>
<tr>
<td>Kaki candi asli</td>
<td>- &#8212;&#8211;</td>
<td>Karmawibhangga</td>
<td>160 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>Tingkat I</td>
<td>- dinding</td>
<td>a. Lalitawistara</td>
<td>120 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>&#8212;&#8212;-</td>
<td>- &#8212;&#8211;</td>
<td>b. jataka/awadana</td>
<td>120 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>&#8212;&#8212;-</td>
<td>- langkan</td>
<td>a. jataka/awadana</td>
<td>372 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>&#8212;&#8212;-</td>
<td>- &#8212;&#8211;</td>
<td>b. jataka/awadana</td>
<td>128 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>Tingkat II</td>
<td>- dinding</td>
<td>Gandawyuha</td>
<td>128 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>&#8212;&#8212;&#8211;</td>
<td>- langkan</td>
<td>jataka/awadana</td>
<td>100 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>Tingkat III</td>
<td>- dinding</td>
<td>Gandawyuha</td>
<td>88 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>&#8212;&#8212;&#8211;</td>
<td>- langkan</td>
<td>Gandawyuha</td>
<td>88 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>Tingkat IV</td>
<td>- dinding</td>
<td>Gandawyuha</td>
<td>84 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>&#8212;&#8212;&#8211;</td>
<td>- langkan</td>
<td>Gandawyuha</td>
<td>72 pigura</td>
</tr>
<tr>
<td>&#8212;&#8212;&#8211;</td>
<td>Jumlah</td>
<td>&#8212;&#8212;&#8211;</td>
<td>1460 pigura</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :</p>
<p><strong>Karmawibhangga</strong></p>
<div>
<div style="width:182px;"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/1/1c/Karmawibhangga_Borobudur.jpg/180px-Karmawibhangga_Borobudur.jpg" alt="" width="180" height="135" /></p>
<div>
<div><img src="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" alt="" width="15" height="11" /></div>
<p>Salah satu ukiran Karmawibhangga di dinding candi Borobudur (lantai 0 sudut tenggara)</p>
</div>
</div>
</div>
<p>Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir &#8211; hidup &#8211; mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.</p>
<p><strong>Lalitawistara</strong></p>
<p>Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti &#8220;hukum&#8221;, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.</p>
<p><strong>Jataka dan Awadana</strong></p>
<p>Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.</p>
<p>Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.</p>
<p><strong>Gandawyuha</strong></p>
<p>Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.</p>
<h2><span id="Tahapan_pembangunan_Borobudur">Tahapan pembangunan Borobudur</span></h2>
<ul>
<li>Tahap pertama</li>
</ul>
<p>Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.</p>
<ul>
<li>Tahap kedua</li>
</ul>
<p>Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.</p>
<ul>
<li>Tahap ketiga</li>
</ul>
<p>Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.</p>
<ul>
<li>Tahap keempat</li>
</ul>
<p>Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.</p>
<h2><span id="Ikhtisar_waktu_proses_pemugaran_Candi_Borobudur">Ikhtisar waktu proses pemugaran Candi Borobudur</span></h2>
<div>
<div style="width:232px;"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a8/Borobudur_photograph_by_van_kinsbergen.jpg/230px-Borobudur_photograph_by_van_kinsbergen.jpg" alt="" width="230" height="176" /></p>
<div>
<div><img src="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" alt="" width="15" height="11" /></div>
<p>Foto pertama Borobudur dari tahun 1873. Bendera Belanda tampak pada stupa utama candi.</p>
</div>
</div>
</div>
<ul>
<li>1814 &#8211; Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.</li>
</ul>
<ul>
<li>1873 &#8211; monografi pertama tentang candi diterbitkan.</li>
</ul>
<ul>
<li>1900 &#8211; pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.</li>
</ul>
<ul>
<li>1907 &#8211; Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.</li>
</ul>
<ul>
<li>1926 &#8211; Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis <em>malaise</em> dan Perang Dunia II.</li>
</ul>
<ul>
<li>1956 &#8211; pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.</li>
</ul>
<ul>
<li>1963 &#8211; pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.</li>
</ul>
<ul>
<li>1968 &#8211; pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.</li>
</ul>
<ul>
<li>1971 &#8211; pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.</li>
</ul>
<div>
<div style="width:182px;"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/e/ed/Batu_peringatan_pemugaran_candi_Borobudur.JPG/180px-Batu_peringatan_pemugaran_candi_Borobudur.JPG" alt="" width="180" height="135" /></p>
<div>
<div><img src="http://id.wikipedia.org/skins-1.5/common/images/magnify-clip.png" alt="" width="15" height="11" /></div>
<p>Batu peringatan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan UNESCO</p>
</div>
</div>
</div>
<ul>
<li>1972 &#8211; International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.</li>
</ul>
<ul>
<li>10 Agustus 1973 &#8211; Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984</li>
</ul>
<ul>
<li>21 Januari 1985 &#8211; terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh kelompok Islam ekstrem yang dipimpin Habib Husein Ali Alhabsyi.</li>
</ul>
<ul>
<li>1991 &#8211; Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.</li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Foto van de week II]]></title>
<link>http://borisbraak.wordpress.com/2009/10/08/foto-van-de-week-ii/</link>
<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 10:18:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Boris Braak</dc:creator>
<guid>http://borisbraak.wordpress.com/2009/10/08/foto-van-de-week-ii/</guid>
<description><![CDATA[Wekelijks publiceer ik foto’s uit mijn eigen archief met bijbehorende informatie. Deze week is dat e]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Wekelijks publiceer ik foto’s uit mijn eigen archief met bijbehorende informatie. Deze week is dat e]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Charms of Central Java]]></title>
<link>http://wanderme.wordpress.com/2009/10/07/the-charms-of-central-java/</link>
<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 13:28:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>the wanderer</dc:creator>
<guid>http://wanderme.wordpress.com/2009/10/07/the-charms-of-central-java/</guid>
<description><![CDATA[Ever since I came home from Angkor Wat nearly 2 years ago, I&#8217;ve been dreaming of doing the maj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ever since I came home from Angkor Wat nearly 2 years ago, I&#8217;ve been dreaming of doing the major Southeast Asian temple circuit one day and visit Borobudur as well as Bagan. Well, dreams do take a long time to be fulfilled. I&#8217;ve yet to venture out into Burma and I&#8217;ve only been able to visit Borobudur last July. And the latter truly did not disappoint.</p>
<p>Good thing about this trip is that I had some friends who were also interested to go there. Well, they weren&#8217;t that keen at first! &#8220;Boro-whattt?&#8221; is what I heard in the beginning but after showing them some pictures of the place, it didn&#8217;t take much convincing! It was also a good thing that Air Asia started a direct service between Singapore and Yogyakarta just a few months back and the ticket prices were very reasonable. So there was really no way I would NOT go there under such circumstances!</p>
<div id="attachment_17" class="wp-caption aligncenter" style="width: 506px"><a rel="attachment wp-att-17" href="http://wanderme.wordpress.com/2009/10/07/the-charms-of-central-java/p1010868/"><img class="size-full wp-image-17" title="our lovely hotel" src="http://wanderme.wordpress.com/files/2009/10/p1010868.jpg" alt="our lovely hotel" width="496" height="372" /></a><p class="wp-caption-text">our lovely hotel</p></div>
<p>We took the two hour flight to Yogyakarta and arrived in the city at about noon. The queue in the immigration counter was very long, and each and everyone was subjected to the anti-H1N1 virus spray. After being cleansed by the spray and having our passports stamped, we boarded a taxi (fixed at IDR45,000) bound for Novotel, which was our accommodation for the trip. It was a good thing too that we got our room for only around US$55 &#8211; a steal for a hotel of its standard. After getting the keys, we basically just dropped our bags and went to have a late lunch in the mall next door. It started to rain a bit after, but that didn&#8217;t deter us from checking out the Kraton. The sultan&#8217;s palace, which is located in the central part of Yogyakarta, was a bit of a let-down. It didn&#8217;t look like a palace at all, and seemed a bit run-down. There was a tout who tried to persuade us to go to a batik showroom. We later learned that this was a common modus operandi in the area, so good thing we politely said goodbye to him when things looked suspicious.</p>
<div id="attachment_15" class="wp-caption aligncenter" style="width: 506px"><img class="size-full wp-image-15" title="Prambanan on a rainy afternoon" src="http://wanderme.wordpress.com/files/2009/10/p1010914.jpg" alt="Prambanan on a rainy afternoon" width="496" height="274" /><p class="wp-caption-text">Prambanan on a rainy afternoon</p></div>
<p>Later on, we took a 40-minute taxi ride to Prambanan. The complex reminded me a bit of Angkor, although Prambanan certainly looked more well-maintained. I could see more of the finely-chiseled carvings jutting out of the temple walls. It was an amazing sight, except that the rain spoiled our view and the sky was a dull grey. We took snapshots here and there and ended up being the last visitors to leave the complex. We had to walk a long distance until we found the bus that took us back to the city. But their buses are admittedly quite clean and modern &#8211; it is also cheap!</p>
<p>The next morning we woke up early to venture into Borobudur. We didn&#8217;t plan on going there for the sunrise but we wanted to be there early as we had a tight schedule that day. Our driver showed up with the Toyota Innova (IDR 500,000 for the day including gas) as agreed. The drive was quite pleasant. We passed by small towns and rice fields during the 1 hour trip to the temple complex.</p>
<div id="attachment_16" class="wp-caption aligncenter" style="width: 507px"><img class="size-full wp-image-16" title="view from the top" src="http://wanderme.wordpress.com/files/2009/10/p1020040.jpg" alt="view from the top (Borobudur)" width="497" height="279" /><p class="wp-caption-text">view from the top (Borobudur)</p></div>
<p>The first thing I noticed when I saw Borobudur was its massive size! For one single temple, it&#8217;s much larger than anything else I&#8217;ve seen. The bas reliefs were also quite detailed. Again, the temple looked more pleasing to me than the ones in Angkor. The monument has three levels &#8211; each symbolizing the 3 worlds (the world of desires, the world of forms and the formless world). It was a bit of a climb to the top, but the view was just marvelous. The highest level was filled with several stupas and one of them housed the &#8220;lucky buddha.&#8221; According to the locals, whoever could reach the buddha&#8217;s finger would be blessed with good luck. From the top, we could also see a bunch of volcanoes in the distance plus the ritzy Amanjiwo Hotel. It was a sight to behold and I could imagine what a relaxing place it could be if there were no crowds. Unfortunately, that was not the case during the time we went and almost every single corner of the monument was filled with people. It was a challenge just to take shots without anybody suddenly appearing in the corner.</p>
<div id="attachment_376" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-376" title="bas reliefs" src="http://wanderme.wordpress.com/files/2009/10/p1010987.jpg" alt="bas reliefs" width="500" height="304" /><p class="wp-caption-text">some of the bas reliefs around the complex</p></div>
<p>As we made our way to the exit, we were greeted by souvenir vendors who were probably the most persistent I&#8217;ve seen! They followed us all around and wouldn&#8217;t leave despite the many times I said that I wasn&#8217;t interested. My friends bought a few stuff. Come to think of it, maybe I should have brought something back, too. For what it&#8217;s worth, I was just so distracted then as my mind was occupied with the next place that we were going to.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["inspiration channel" with spiritual live program every Monday night]]></title>
<link>http://inspiringnews.wordpress.com/2009/10/05/inspiration-channel-with-spiritual-live-program-every-monday-night/</link>
<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 22:01:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kedar</dc:creator>
<guid>http://inspiringnews.wordpress.com/2009/10/05/inspiration-channel-with-spiritual-live-program-every-monday-night/</guid>
<description><![CDATA[On Monday nights at 10 pm CET (4 pm NY time) there is a regular spiritual LIVE program on the inspir]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://inspiringnews.wordpress.com/files/2009/10/sandin.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1803" title="Sandin" src="http://inspiringnews.wordpress.com/files/2009/10/sandin.jpg" alt="Sandin" width="795" height="446" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://inspiringnews.wordpress.com/files/2009/10/ashrita-borobudur.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-1804" title="Ashrita-Borobudur" src="http://inspiringnews.wordpress.com/files/2009/10/ashrita-borobudur.jpg" alt="Ashrita-Borobudur" width="400" height="300" /></a>On Monday nights at 10 pm CET (4 pm NY time) there is a regular spiritual LIVE program on the<strong> </strong><a href="http://www.livestream.com/srichinmoytv"><strong>inspiration channel</strong></a>. Today, October 5th, there will be an opening meditation with a Japanese Singing Bowl, followed by a recitation of spiritual poems from the book &#8220;Heart-Songs&#8221; , written by Sri Chinmoy, and a short report on a recent spiritual gathering in Baarlo, Holland. A 5-min video realized at the same place brings you peace and silence with pictures from the Kasteel De Berckt and its surroundings. <a href="http://www.ashrita.com">Ashrita Furman</a> from New York, the Guinness record holder with the most records, will be presented with an interview (from the series LIFE Voices) and a film from Java, where he set a new 1-mile record with a milk bottle on the head (7:47 min) in Borobudur. Another video features harp player Mandu Trummer from Austria, who is testing a selection of special concert harps in Cologne, Germany. The last item will be a video taken by Mandu from his musician friend from Linz, <em>Sandin,</em> who plays melodies on the sitar. So as you see there is a full program  as usual and you are cordially invited to be part of it and watch at 22:00 h (European Time) on the channel <a href="http://www.livestream.com/srichinmoytv">www.livestream.com/srichinmoytv.</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Global Voices in Borobudur]]></title>
<link>http://uwrf.wordpress.com/2009/10/03/global-voices-in-borobudur/</link>
<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 12:50:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>uwrf</dc:creator>
<guid>http://uwrf.wordpress.com/2009/10/03/global-voices-in-borobudur/</guid>
<description><![CDATA[“Global Voices in Borobudur” will bring ten writers from around the world and five Indonesian writer]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>“Global Voices in Borobudur” will bring ten writers from around the world and five Indonesian writers to the world’s largest Buddhist temple at Borobudur to present their work on October 13, 2009, as an extension of the 2009 Ubud Writers and Readers Festival. The readings and spoken word performances will commence at Manohara at 6:00 p.m., on the Borobudur temple grounds. The presentation will be free of charge and open to the public.</p>
<p>The writers’ performance at Borobudur marks the first time that the Ubud Writers and Readers Festival’s organisers have expanded this international literary festival’s events beyond Bali. Borobudur lies near Yogyakarta in Central Java, the neighboring island west of Bali. The theme of the Festival is Suka Duka: Solidarity and Compassion.</p>
<p>“It is a big leap and really exciting to extend the Ubud Writers Festival from Bali to Borobudur in Java,” said Festival founder Janet DeNeefe. “Buddha&#8217;s spirit of compassion and his timeless teachings can help us to navigate the many global problems we face today. It is fitting that the festival, with its theme of ‘Compassion &#38; Solidarity’ culminates at Borobudur.”</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-95" title="borobudur" src="http://uwrf.wordpress.com/files/2009/10/borobudur1.jpg" alt="borobudur" width="350" height="235" />Borobudur provides a stunning and relevant setting for these reading. The temple is located in Central Java and is a UNESCO World Heritage site with a 400-foot tall mountain of stone carved in the eighth century. The temple features reliefs depicting the Buddha’s life and teaching in concentric terraces, as well as 504 life-sized Buddha statues. Its beauty and grandeur has inspired millions of visitors and pilgrims since its full restoration was completed in 1982.</p>
<h3>Writers presenting their works at Borobudur include the following:</h3>
<p><strong>Fatima Bhutto</strong>, a journalist and writer, is from Pakistan. Her father was Murtaza Bhutto, who was killed by police in 1996 in Karachi during the premiership of his sister, Benazir Bhutto. Fatima’s third book, a history of the Bhutto family, will be published in the UK by Jonathan Cape in 2010.</p>
<p><strong>Michelle Cahill</strong> edited the transnational anthology <em>Poetry Without Borders</em> (Picaro, 2008). Her forthcoming collection Vishvarupa is themed around Hindu deities. Michelle has sojourned in monasteries and ashrams in Thailand, Laos, India, Nepal and Bali, to practice yoga and vipassana meditation.</p>
<p><strong>Andrew McMillan</strong> Andrew’s close contact with the people of East Arnhem Land has resulted in essential reading for those with an interest in Aboriginal history. His  award winning book <em>An Intruders Guide to East Arnhem Land</em> tells of a moving and exciting story of warfare, loss, social and cultural struggle, and renewal.</p>
<p><strong>Sophie Hackford</strong> is an academic, writer and consultant with a special interest in migration and diaspora.  She now works at the innovative James Martin School of the 21st Century at the University of Oxford.</p>
<p><strong>Angelo R. Lacuesta</strong> has won the Palanca, Philippine Graphic and NVM Gonzalez Awards for his short fiction. His first book <em>Life Before X and Other Stories</em> won the Madrigal-Gonzalez Best First Book Award and the National Book Award in 2000. His second collection <em>White Elephants: stories</em> won the National Book Award in 2005. He has recently published a third collection <em>Flames and other stories</em> and is at work on his first novel.</p>
<p><strong>Sosiawan Leak</strong> was born in Solo in 1967. His published poetry includes <em>Umpatan</em> (1995), <em>Cermin Buram</em> (1996), and <em>Dunia Bogambola</em> (2007). He is also playwright, director and performer. In 2006 and 2008, together with two other poets &#8211; Martin Jankowski from Berlin and Dorothea Rosa Helriany from Magelang &#8211; he has toured Indonesia giving poetry readings.</p>
<p><strong>Antony Loewenstein</strong>’s best-selling book on the Israel/Palestine conflict <em>My Israel Question</em> was short-listed for the 2007 NSW Premier’s Literary Award. His second book The Blogging Revolution on the Internet in repressive regimes, was released in 2008. He is the co-founder of advocacy group Independent Australian Jewish Voices and contributed to Amnesty International Australia’s 2008 campaign about Chinese Internet repression and the Beijing Olympic Games.</p>
<p><strong>Gunawan Maryanto</strong> was born in Jogya in 1976. He is director and writer in Garasi Theater, Jogja. His books include <em>Waktu Batu</em> (a play story written with Andre Nur Latif and Ugoran Prasad, 2004), <em>Bon Suwung</em> (an anthology of short stories, 2005), <em>Galigi</em> (an anthology of short stories, 2007), <em>Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya</em> (a poetry book, 2008) and <em>Usaha Menjadi Sakti</em> (an anthology of short stories, 2008). He won a “Sih” award in 2007 and a poetry award from Indonesia’s Education and Tourism Ministry in 2007.</p>
<p><strong>Dyah Merta</strong> was born in Ponorogo, East Java, in 1978. Her writing has won the Short Story Contest (Jakarta, 2003 and Lampung 2004). She has published two books &#8211; <em>Hetaira</em>, an anthology of short stories, in 2005 and <em>Peri Kecil di Sungai Nipah</em>, a novel, in 2007.</p>
<p><strong>Omar Musa</strong> was the 2008 Australian Poetry Slam champion, who has swum with piranhas and alligators in Bolivia and taught Aboriginal children in outback Australia. The 25-year-old Malaysian-Australian baritone has backpacked almost every continent and has a treasure-trove of stories to tell. Musa was a winner of the British Council’s Realise Your Dream award in 2007.</p>
<p><strong>Ugoran Prasad</strong> was born in Tanjungkarang, Sumatra, in 1978. He is coordinator at Garasi Theater in Jogya and manager of programs for the Indonesian Performing Art Society. In 2008 he was a visiting scholar in the Performance Studies Department, Tisch School of The Arts, New York University.</p>
<p><strong>Jeet Thayil</strong>, born in Kerala, India, is a poet, novelist and musician. He is one half of the experimental music duo Sridhar/Thayil. His four poetry collections include<em> These Errors Are Correct</em> (Tranquebar, 2008) and <em>English</em> (Penguin/Rattapallax, 2004), and he is the editor of <em>The Bloodaxe Book of Contemporary Indian Poets</em> (Bloodaxe, 2008) and <em>Divided Time: India and the End of Diaspora</em> (Routledge, 2006).</p>
<p><strong>Triyanto Triwikromo</strong> was born in Salatiga, Central Java, 1964. He is editor of  Suara Merdeka  daily and lecturer of Creative Writing at Universitas Diponegoro Semarang. His anthologies of short stories include <em> Rezim Seks</em> (1987), <em>Ragaula</em> (2002), <em>Sayap Anjing</em> (2003), <em>Anak-anak Mengasah Pisau-Children Sharpening the Knives</em> (bilingual, 2003), <em>Malam Sepasang Lampion</em> (2004) and <em>Ular Di Mangkuk Nabi</em> (2009).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Auction Houses Taking New Approaches In Asian Markets]]></title>
<link>http://chinaluxculturebiz.wordpress.com/2009/09/28/auction-houses-taking-new-approaches-in-asian-markets/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 21:03:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>chinaluxculturebiz</dc:creator>
<guid>http://chinaluxculturebiz.wordpress.com/2009/09/28/auction-houses-taking-new-approaches-in-asian-markets/</guid>
<description><![CDATA[Auction Houses Combining Popular Lots To Attract Even More New Chinese Collectors Up for auction nex]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2><em>Auction Houses Combining Popular Lots To Attract Even More New Chinese Collectors </em></h2>
<div id="attachment_1395" class="wp-caption alignleft" style="width: 143px"><img class="size-medium wp-image-1395" title="27" src="http://chinaluxculturebiz.wordpress.com/files/2009/09/27.jpg?w=133" alt="Up for auction next month at Borobudur's Singapore auction of contemporary Asian art and fine wine: Xu Bing's &#34;Free Bird&#34;" width="133" height="300" /><p class="wp-caption-text">Up for auction next month at Borobudur&#39;s Singapore auction of contemporary Asian art and fine wine: Xu Bing&#39;s &#34;Free Bird&#34;</p></div>
<p>With emerging bidders like the New Chinese Collectors, <a href="http://chinaluxculturebiz.wordpress.com/2009/09/24/rise-of-new-chinese-collector-continues-as-chinese-antiquities-remain-recession-proof/">seen in action at recent auctions of Chinese antiquities </a>(and by other auction attendees throughout the summer), taking the spotlight and garnering the attention of major auction houses like Sotheby&#8217;s, smaller auction houses have taken the buying trends of these new bidders to heart and retooled their Asia strategies to appeal to these buyers and drive growth in the region.</p>
<p>In recent auctions, Indonesian auction house <a href="http://www.borobudurauction.com/index.php">Borobudur </a>has combined two of the Chinese buyers&#8217; favorites &#8212; <a href="http://www.borobudurauction.com/lot_list.php?categ_id=32">contemporary art and fine wines </a>&#8211; into combination lots at their Singapore auctions. By undertaking this kind of Asia-centric initiative like combination auctions, Borobudur is likely to attract more mainland Chinese buyers, hoping to double up on good art and wine and bring back a decent-sized haul from Southeast Asia.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BUNUH DAN BAKAR OC KALIGIS CS DAN RUMAH MEREKA SEKALIAN!]]></title>
<link>http://sjutablogs.wordpress.com/2009/09/28/bunuh-dan-bakar-oc-kaligis-cs-dan-rumah-mereka-sekalian/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 16:25:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>sjutablogs</dc:creator>
<guid>http://sjutablogs.wordpress.com/2009/09/28/bunuh-dan-bakar-oc-kaligis-cs-dan-rumah-mereka-sekalian/</guid>
<description><![CDATA[BAGI PARA PEMBACA BLOG INI, KAMI DARI KLAMPIS IRENG, ADALAH ORANG-ORANG TERBUANG SEBELUMNYA, SEBAGIA]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>BAGI PARA PEMBACA BLOG INI,</p>
<p>KAMI DARI KLAMPIS IRENG, ADALAH ORANG-ORANG TERBUANG SEBELUMNYA, SEBAGIAN DARI KAMI ADALAH ALUMNUS PONPES TEBU IRENG, NAMUN KAMI MENJADI AKTIFIS DUNIA HITAM, SEBAB KEPICIKAN KAMI, NAMUN DEMI MENGETAHUI DAN MEMBACA BANYAK HAL DALAM WEBLOG MILIK KOMANDO PAYUNG RASUL INDONESIA, DAN MILIK SAUDARA LETKOL. BOBBYMEIDIANTO HASAN MADINAH [PANULARAN RT01 RW 07 LAWEYAN SOLO], MAKA KAMI MENJADI INSYAF DAN SADAR UNTUK MEMBENAHI DIRI KAMI DAN BERBUAT HAL YANG LEBIH BAIK, DAN KEMBALI KE HATI NURANI KAMI.  MASIH BELUM SEBERAPA, CACI MAKI DAN KEACUHAN MASYARAKAT SERTA PENDERITAAN KAMI DI SAAT LALU YANG MENURUT KAMI SUDAH BEGITU BERAT HINGGA KAMI MENINGGALKAN AJARAN YANG TELAH ALLAH SWT BERIKAN SAAT KAMI BERADA DI PONPES TSB.</p>
<p>HINGGA KAMI MEMUTUSKAN UNTUK MEMBANTU, SAUDARA BOBBY MEIDIANTO HASAN MADINAH TSB DIATAS DENGAN CARA KAMI, SEKALIPUN ITU ADALAH CARA YANG KOTOR YANG KAMI BISA, NAMUN BAGI, LETKOL. BOBBY TSB DIATAS,  TAK ADA JALAN LAIN, IA SENDIRI, SEKALIPUN SEBENARNYA BISA MEMENANGKAN PERTARUNGAN SENDIRIAN, NAMUN TAKKAN ADA ARTINYA BAGI LAWAN-LAWANNYA YANG NOTA BENE ADALAH ORANG-ORANG YANG BERDUIT DAN BERKUASA, UNTUK ITU, PERLULAH DIRINYA MENDAPATKAN SUATU BANTUAN, BERUPA DUKUNGAN DENGAN TINDAKAN YANG AMAT SANGAT EKSTRIM, YANG BISA MEMBUAT MELEK MATA LAWAN, DAN ITU TELAH KAMI PERBUAT, YAITU MEMPERKOSA ANISAH POHAN, PUAN MAHARANI, ROSITA BAHAR,LESTARI DLL YANG SEMUANYA ADALAH ORANG2 DEKAT PRESIDEN SBY, MEGAWATI , SURYA PALOH, DAN MEUTYA HAFID, DAN WIRANTO.</p>
<p>LIHATLAH BETAPA JANTANNYA LETKOL BOBBY MEIDIANTO YANG BERANI MENANTANG SEDIRIAN KEPADA JENDRAL-JENDRAL DAN PENGUASA YANG NAMA-NAMANYA KAMI SEBUTKAN DIBAWAH SEBAGAI TERSANGKA.   LIHATLAH BAHWA IA TIDAKLAH KEDER ATAU NGEPIR SETELAH KAMI BERITAHUKAN KEPADANYA MENGENAI PEMERKOSAAN ITU, DAN TIDAKLAH IA GENTAR TERHADAP PARA TERORIS YANG JUGA MENGINCARNYA.</p>
<p>UNTUK ITU, TIDAKKAH KALIAN KHUSUSNYA YANG BERASAL DARI KELOMPOK MUSLIM, JAMAAH DARUL MUHAJIRIN PRAYA LOMBOK TENGAH NTB, PONPES PARAKAN MAGELANG, PONPES GONTOR &#38; TEBU IRENG SERTA AL MUAYYAD, JUGA BANSER ANSHOR YANG SEMUA SEBENARNYA SELAMA INI SELALU DEKAT DENGAN LETKOL. BOBBY MEIDIANTO HASAN MADINAH INI YANG SAAT INI DALAM KEADAAN TERDZALIMI, TIDAKKAH KALIAN TERBERSIT KEINGINAN UNTUK JUGA MEMBANTU DENGAN MELAKUKAN PEMBALASAN KEPADA BAJINGAN-BAJINGAN KOTOR YANG TELAH MERAMPAS HAK KITA SELAMA INI YANG KEBETULAN JUGA SEDANG JADI LAWAN LETKOL. BOBBY MEIDIANTO HASAN MADINAH ITU?</p>
<p>BAKAR SAJA AVIAN TUMENGKOL DAN KELUARGANYA SERTA RUMAHNYA, HANCURKAN WIRANTO, DAN ANAK-ANAKNYA, BAKAR SAJA RUMAH WIRANTO, DAN BUBARKAN HANURA, BUNUH SAJA SUBAGYO HS DAN AGUS ISROK MIKROJ ANAKNYA ITU DAN BAKAR SEKALIAN RUMAH MEREKA DAN JUGA KITA PERBUAT HAL SEMIKIAN ITU KEPADA PARA TERSANGKA LAINNYA DI BAWAH INI.</p>
<p>KITA AJAK ANGGOTA-ANGGOTA TNI DAN KEPOLISIAN YANG MAU PRO DENGAN KITA DARI DETASEMEN LAIN DILUAR CAKRA BIRAWA, DAN JALA MANGKARA, UNTUK JUGA IKUT SERTA MELAWAN ORANG-ORANG YANG JADI TERSANGKA DI BAWAH INI.</p>
<p>CUKUP AKTU BEBERAPA BULAN INI UNTUK DATANG KE JAKARTA MENCARI MEREKA DAN MENGHANCURKAN MEREKA, DENGAN BAMBU RUNCING, DENGAN MOLOTOV, DENGAN BATU DAN KATAPEL, DENGAN PARANG DLSB.</p>
<p>BUNUH JUGA MEUTYA HAFID BILA IA KALIAN JUMPAI TELAH DALAM KEADAAN HAMIL BESAR, SETELAH IA MENIKAH DENGAN PRIA LAIN YANG BUKAN BOBBY MEIDIANTO HASAN MADINAH.  TAMBAH PERKERAS USAHA KITA BILA LETKOL BOBBY MASIH TETAP DI PERSALAHKAN DAN DI TANGKAP KEPOLISIAN OLEH SEBAB HAL INI.</p>
<p>BIARKAN MEUTYA HAFID, BILA IA MASIH SINGLE, DAN MASIH DI TERIMA OLEH LETKOL BOBBY MEIDIANTO HASAN MADINAH SUAMINYA ITU YANG TELAH MENIKAH SIRRI DENGANNYA, DAN KATAKAN KEPADA MEUTYA HAFID UNTUK SEGERA MENDATANGI LETKOL BOBBY MEIDIANTO SUAMINYA DAN BARULAH KITA PUTUSKAN APA YANG AKAN KITA PERBUAT PADANYA BILA IA BENAR-BENAR TELAH DI TENDANG DAN DIUSIR OLEH LETKOL BOBBY MEIDIANTO.</p>
<p>[UNTUK KETERANGAN LEBIH JELAS MENGENAI LETKOL BOBBY MEIDIANTO - MEUTYA HAFID &#38; PROBLEM YANG ADA PADA MEREKA BERDUA YANG TELAH MEMBUAT KAMI MENULIS WEBLOG INI, SILAKAN KUNJUNGI : HTTP://BLOGSCAFE.WORDPRES.COM, &#38; HTTP://BOBBYMEIDIANTO.WORDPRES.COM, MULAI  DARI ARSIP AWAL YAITU: FEBRUARI 2008].</p>
<p>DIBAWAH INILAH DAFTAR PARA TERSANGKA RESMI, PARA BAJINGAN2 LAKNAT BERDASI, PARA PENGEDAR2 NARKOBA, HAJI2 BAJINGAN [SEBAGIAN], KELOMPOK MAFIA, GERMO DAN PENJUAL VAGINA WANITA YG TERLIBAT, [MENURUT HASIL PENYELIDIKAN KOMANDO PAYUNG RASUL INDONESIA], YANG HARUS KITA MUSNAHKAN DAN KITA BASMI, SEKALIAN HARTA BENDANYA:</p>
<p>*PRESIDEN HAJI SBY, AGUS HARIMURTI, EDHIE BASKORO, HAJI WIRANTO,AGUNG WIRANTO, HAJI JUSUF KALLA, HAJI TAUFIK KIEMAS, SURYA PALOH, JENDRAL ERWIN + ANAK2NYA , JENDRAL PRAMONO + ANAK2NYA, SUBAGYO HS, AGUS ISROK MIKROJ, HENDRO PRIYONO,DENNY JA, WIDODO AS, SYAMSIR SIREGAR, SUADI MARASABESSY, SUTIYOSO, FAUZI BOWO, AULIA POHAN ,MEGAWATI, GURUH SOEKARNO, GUNTUR SOEKARNO, ANTASARI, SIGIT WIRANTO, SYAMSURIZAL ASSEGAF[INDOSIAR], HAJI QURAISY SHIHAB, HAJI ALAWWY SHIHAB, FERRY YULIANTONO, BOY NOVA, ANDRE SIAHAAN, LEONARD SAMOSIR, AM FATWA, RIKY SI HOMOSEK, WIMAR WITOELAR, C. SITUMORANG, MENLU HASAN WIRAJUDA,INDRAJAYA PIULANG , OC. KALIGIS CS, DA’I BACHTIAR, KPH. ROESDIHARJO, JENDRAL SUTANTO, KETUA DPRD SUMUT [DEATH], MARKUS [PASPAMPRES], MIZAN PEMILIK MIZAN PUBLISHING, ILHAM AKBAR, TAREK KEMAL, BOBBY SANDORA MUKSIN ALATAS, AVIAN TUMENGKOL, BUDIANTO, BUDI PUTRA, SAMUEL GINTING, DIAN KHRISNA, SRI BINTANG PAMUNGKAS , GI. JOE COMBATAN [dalam friendster.com], ARIFIN M. NOOR, CAK NUN [MH. AINUN NAJIB], THUKUL ARWANA, AGUM GUMELAR, AGUNG LAKSONO, GENDENG PAMUNGKAS, KEPONAKAN LAKI2 MEUTYA HAFID, NY METTY HAFID [IBU DARI MEUTYA HAFID], PERMADI SH, PIMPINAN DAN STAFF/KARYAWAN DPP HANURA, DPP PDI PERJUANGAN,DPC HANURA SOLO, DPC PDI PERJUANGAN SOLO, DPP GOLKAR, DPD GOLKAR SUMUT, DPC GOLKAR MEDAN, REDAKSI KOMPAS, SUARA MERDEKA, MEDIA INDONESIA, LAMPUNG POS, WASPADA.COM,WASPADA ONLINE.COM, FORUM.DETIK.COM, INDOSIAR, METRO TV, DETIK, PIKIRAN RAKYAT, SOLO POS, ANDI MALARANGGENG, ARIS MUNANDAR, BENCONG2 &#38; HOMOSEK2 SOLO DAN DKI JAKARTA, WEBMASTER &#38; ADMINISTRATOR MABES POLRI, SUMDAMAN PERS [EKO PRASETYO CS], HAJI JOKOWI &#38; RUDYATMO [Solo], NY. METTY HAFID, FRIHNI HAFID, FITRIA HAFID, PARA MAGICIAN &#38; PARANORMAL YG DI PAKAI OLEH METRO TV, INDOSIAR &#38; AN TV [DIANTARANYA MASUK DALAM SIARAN DARI AN TV, YG DI LIPUT SAAT BERADA DI BANYUWANGI, JUGA DIREKTUR, MANAJER &#38; STAFF &#38; KARYAWAN, KRUW &#38; KAMERAMEN AN TV, METRO TV, INDOSIAR, TERMASUK SATPAM2 METRO TV*.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Borobudur]]></title>
<link>http://eerenoon.wordpress.com/2009/09/28/borobudur/</link>
<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 16:22:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>eerenoon</dc:creator>
<guid>http://eerenoon.wordpress.com/2009/09/28/borobudur/</guid>
<description><![CDATA[Well actually before the Prambanan trip, I actually visited the Borobudur. It is a Mahayana Buddhist]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Well actually before the Prambanan trip, I actually visited the Borobudur. It is a Mahayana Buddhist monument near to Yogyakarta. It is located in Magelang, Central Java. The monument comprises six square platforms topped by three circular platforms, and is decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. A main dome, located at the center of the top platform, is surrounded by 72 Buddha statues seated inside perforated stupa.</p>
<p>Hayashi and I walked around Borobudur and it seems like some of the Buddha statues are without head. Some were stolen as collector&#8217;s items and others were believed to be damaged by the Muslims in Indonesia. I am not sure how true it is but that&#8217;s what I was told.</p>
<p>It is around 45 minutes &#8211; 1 hour journey from Jogja city to the site. Well it depends on the traffic and driver&#8217;s skill. Our driver was very good. Honk all they way and I felt like in a roller coaster. We arrived less than 45 minutes. Here, I managed to get the local entrance fee as I spoke Indonesian to the ticket officer. The foreigner ticket is way too expensive as in Prambanan. Our cameras need a fee too.</p>
<p>The view was very beautiful. Here&#8217;s tip to avoid annoying locals who wanted to sell their goods. After visiting everything, DO NOT follow the board which will lead you to the exit (next to the gate you came in). You will need to walk very far plus go through many of local sellers which are selling souvenirs. Just follow the way where you came in and it is much nearer with no local sellers. The souvenirs that they sell are a little too expensive. Just bargain and if they do not agree, try to walk away. They will agree with the price. I bought 3 Borobudur Ashtrays with 5000 Rupiah as souvenirs.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-28" title="borobudur5" src="http://eerenoon.wordpress.com/files/2009/09/borobudur52.jpg" alt="borobudur5" width="800" height="600" /><img class="aligncenter size-full wp-image-37" title="borobudur6" src="http://eerenoon.wordpress.com/files/2009/09/borobudur6.jpg" alt="borobudur6" width="800" height="600" /><img class="aligncenter size-full wp-image-36" title="boroudur4" src="http://eerenoon.wordpress.com/files/2009/09/boroudur41.jpg" alt="boroudur4" width="800" height="600" /><img class="aligncenter size-full wp-image-35" title="borobudur" src="http://eerenoon.wordpress.com/files/2009/09/borobudur.jpg" alt="borobudur" width="800" height="600" /><img class="aligncenter size-full wp-image-34" title="borobudur1" src="http://eerenoon.wordpress.com/files/2009/09/borobudur1.jpg" alt="borobudur1" width="800" height="600" /><img class="aligncenter size-full wp-image-33" title="borobudur2" src="http://eerenoon.wordpress.com/files/2009/09/borobudur2.jpg" alt="borobudur2" width="800" height="600" /><img class="aligncenter size-full wp-image-32" title="borobudur3" src="http://eerenoon.wordpress.com/files/2009/09/borobudur31.jpg" alt="borobudur3" width="800" height="600" /><img class="aligncenter size-full wp-image-30" title="borobudur4" src="http://eerenoon.wordpress.com/files/2009/09/borobudur4.jpg" alt="borobudur4" width="800" height="600" /></p>
<p>Borobudur is a must and should not be missed if you are visiting Java Island. To get to the site, we booked a taxi (Toyota Inova) at a taxi counter at the Jogja airport. Transfer to the hotel + Borobudur + Prambanan + a lunch stop at a restaurnt + Transfer back to the hotel only cost around 2500 Baht. So we shared and paid 1250 Baht per person. The amount is too big so I quoted it in Baht here.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
