<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>budaya &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/budaya/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "budaya"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 16:33:50 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Bacaan Lawas]]></title>
<link>http://kawulalemahcai.wordpress.com/2009/11/29/karatagan/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 14:55:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>dadangsadkar</dc:creator>
<guid>http://kawulalemahcai.wordpress.com/2009/11/29/karatagan/</guid>
<description><![CDATA[Ti Pangasuh: Di antara pangarang-pangarang Sunda jaman baheula, aya hiji pangarang nu kaasup produkt]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ti Pangasuh: Di antara pangarang-pangarang Sunda jaman baheula, aya hiji pangarang nu kaasup produkt]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[83. PAMONG SENI BUDAYA]]></title>
<link>http://sangnata.wordpress.com/2009/11/29/83-pamong-seni-budaya/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 14:32:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>sugiarno</dc:creator>
<guid>http://sangnata.wordpress.com/2009/11/29/83-pamong-seni-budaya/</guid>
<description><![CDATA[83. Pamong Seni Budaya Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendeskripsikan apa itu seni dan apa itu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>83. Pamong Seni Budaya</p>
<p>Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendeskripsikan apa itu seni dan apa itu budaya. Juga tidak akan membahas cabang-cabang seni dan budaya. Jadi harap maklum.<br />
&#8212;</p>
<p>Seni dan budaya tidak mudah untuk dipisahkan. Keduanya bagai api dengan panasnya. Yang satu menjadi ruh bagi yang lain. Yang satu menjadi badan bagi yang lain. Seni tanpa budaya akan liar. Budaya tanpa seni juga akan hambar. </p>
<p>Jika Anda sempat berkunjung ke Negeri Khayangan, maka pada jalur Rakyat Murni ada yang disebut sebagai Pamong Seni Budaya. Butir Seni Budaya diperuntukkan bagi rakyat Indonesia yang menyandarkan periuk nasinya pada bidang itu.</p>
<p>Pelaku seni budaya bisa muncul dari pengamen jalanan sampai dengan artis papan atas dengan jutaan penggemar. Mereka juga bisa muncul dari pelukis kelas pinggir jalan sampai bertaraf internasional. Mereka pun bisa muncul dari penari kuda lumping yang masuk kampung keluar kampung sampai dengan menghibur para tamu di istana negara. Pendek kata, para pelaku seni budaya meliputi semua lini yang bisa memberikan hiburan. </p>
<p><img src="http://sangnata.wordpress.com/files/2009/11/img_4988.jpg?w=168" alt="" title="IMG_4988" width="168" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-809" /></p>
<p>Identitas yang mereka miliki sudah jelas. Mereka bukan massa mengambang. Hanya saja, karena sudah suratan alam, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang mandiri dalam berusaha, namun ada juga yang berkolaborasi dengan sesamanya maka mereka pun memerlukan pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Mereka berdemokrasi di antara mereka sendiri. Dengan begitu, ada ikatan batin antara pemimpin dengan yang dipimpin. Pemimpin mereka inilah yang disebut sebagai Pamong Seni Budaya.</p>
<p>Pamong Seni Budaya mempunyai dua kewajiban utama. Pertama, kewajiban membimbing pelaku seni, melindungi mereka dari intervensi peri kehidupan lain, dan menyuarakan kepentingan mereka dalam tataran negara. Kedua, menjaga, melestarikan, dan mengembangkan seni budaya Nusantara.</p>
<p>Memang, untuk mempersatukan cara pandang yang ada dalam satu ikatan yang kuat membutuhkan waktu …<br />
Wallahualam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Demo Bayaran Dan Susno]]></title>
<link>http://ichwankalimasada.wordpress.com/2009/11/29/antara-demo-bayaran-dan-susno/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 14:26:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>InKa</dc:creator>
<guid>http://ichwankalimasada.wordpress.com/2009/11/29/antara-demo-bayaran-dan-susno/</guid>
<description><![CDATA[Sekitar 70 orang mencoba menggagalkan aksi Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) di Bundaran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sekitar 70 orang mencoba menggagalkan aksi Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) di Bundaran]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tembang Sunda]]></title>
<link>http://kawulalemahcai.wordpress.com/2009/11/29/tembang-sunda/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 12:28:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>dadangsadkar</dc:creator>
<guid>http://kawulalemahcai.wordpress.com/2009/11/29/tembang-sunda/</guid>
<description><![CDATA[“Voila! C’est de la musique classique, crois tu?” Mais oui, bien sur. De la bonne musique.” Tembang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Voila! C’est de la musique classique, crois tu?” Mais oui, bien sur. De la bonne musique.” Tembang ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag II)]]></title>
<link>http://novi471.wordpress.com/2009/11/29/mahalnya-harga-sebuah-memk-bag-ii/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 10:00:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>novi471</dc:creator>
<guid>http://novi471.wordpress.com/2009/11/29/mahalnya-harga-sebuah-memk-bag-ii/</guid>
<description><![CDATA[Siang itu kedua ayah dan anak pergi mengunjungi Bonbon (kebun binatang) Surabaya. Sang ayah sudah ti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Siang itu kedua ayah dan anak pergi mengunjungi Bonbon (kebun binatang) Surabaya. Sang ayah sudah tidak sabar untuk menunjukkan makna mem*k yang sebenarnya kepada anaknya.</p>
<p>Di depan kandang gajah, mereka berhenti. Sang ayah menunjukkan pada anaknya dengan menuding ke arah gajah.</p>
<p>&#8220;Nah, itu dia yang namanya mem*k!&#8221;</p>
<p>&#8220;Gajah itu mem*k,&#8221; Rikno garuk-garuk kepala, &#8220;wah besar sekaleeee&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Husy, bukan gajah, tapi ituuuu&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang mana yah&#8230;&#8221; Rikno berusaha menajamkan pengelihatannya. Tetap saja yang terlihat badan gajah yang besar.</p>
<p>&#8220;Ah, kamu ini gitu aja tidak tahu. Sudah jelas dari sini terlihat kok,&#8221; jawab ayahnya sedikit geram.</p>
<p>&#8220;Yang mana, apa yang panjang itu!&#8221; Seru Rikno.</p>
<p>&#8220;Kalau itu belalai namanya. Yang di belakang itu loh. Yang tepat di ekornya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, itu ya yang namanya mem*k. Iya yah aku tahu. Jadi mem*k itu fungsinya untuk nelek ya yah.&#8221; Sang ayah semakin frustasi dengan anaknya. Berkali-kali diberitahu tetap saja tidak tahu. Lelaki itu kehabisan ide.</p>
<p>&#8220;Ya sudah gini aja, kita lihat di sana lagi.&#8221; Dia menggandeng anaknya sembari menikmati kacang rebus.</p>
<p>Suasana hari itu cukup sejuk, mendung memayungi seisi penghuni Bonbin, sehingga tak ayal beberapa satwa pun memanfaatkan waktu untuk bercinta alias membuat anak.</p>
<p>Tak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat dua ekor kera sedang memadu kasih.</p>
<p>&#8220;Ah, ini dia,&#8221; celetuk sang ayah, &#8220;monyet adalah binatang yang menyerupai manusia. Jadi ini pasti mudah bagiku untuk menunjukkan mem*k kepada Rikno.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rik&#8230;Rik&#8230;sini cepat!&#8221; Seru ayahnya. Rikno berlari-lari kecil dan kemudian berdiri tepat di samping ayahnya.</p>
<p>&#8220;Kamu lihat kera yang sedang berciuman itu,&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa dengan mereka yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lihat saja dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya itu mem*k.&#8221; Sang ayah menyaksikan pemandangan dengan takjub. Dalam hatinya berkata, &#8220;hmm, rupanya kalau kera sedang bercinta juga mirip manusia. Jadi pengin nih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yah&#8230;yah&#8230;&#8221; Rikno menarik baju ayahnya, &#8220;Rikno masih belum paham. Yang mana mem*k?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh duasar anak guob&#8230;&#8221; buru-buru sang ayah meralat ucapannya, takut bila makian kasar itu justru akan mengganggu pendewasaan sang anak.</p>
<p>&#8220;Masak sudah jelas begitu kamu masih belum tahu.&#8221; Rikno menggeleng.</p>
<p>&#8220;Gini aja biar ayah jelaskan sedikit. Kamu tahu yang di atas itu.&#8221; Rikno mengangguk.</p>
<p>&#8220;Dia itu pejantannya. Nah, yang di bawah itu betinanya.&#8221; Rikno mengangguk paham.</p>
<p>&#8220;Kamu tahu apa yang sedang mereka lakukan?&#8221; Rikno menggeleng.</p>
<p>&#8220;Mereka sedang bercinta. Kamu lihat bagian bawah itu, apa yang dilakukan si jantan terhadap si betina. Lihat baik-baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah yah, jadi itu ya yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya nak, itu yang namanya mem*k.&#8221; Sahut ayahnya.</p>
<p>&#8220;Iya yah, sekarang Rikno sudah paham.&#8221; &#8220;Kalau kamu sudah paham, kamu dilarang bertanya lagi soal mem*k ke orang lain. Kamu paham yang ayah katakan ini.&#8221; Rikno kembali menggangguk, tetapi sebenarnya dia belum paham betul. Benaknya terus berkecamuk, &#8220;Apa benar mem*k itu kera yang saling tumpang tindih. Masak kalau sekedar binatang yang tumpang tinding nenek, ibu, dan ayah marah. Pasti aku sedang dibohongi oleh mereka. Aku tidak percaya dengan kata-kata orang dewasa. Cara ayah menjelaskan padaku juga tidak ikhlas begitu. Masa cuma binatang saja begitu sulit menjelaskan. Aku yakin yang namanya mem*k lebih dari itu.&#8221;</p>
<p>Setelah itu keduanya pulang ke rumah. Sang ayah langsung masuk kamar dan tidur. Ibu Rikno menyambut kepulangan mereka dengan hati riang. Sebelum masuk kamar sang ibu menegur suaminya.</p>
<p>&#8220;Gimana yah, apa Rikno sudah diberi penjelasan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah, kamu ga usah mikir itu lagi. Ayah mengantuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Syukurlah kalau begitu yah. Kalau anak itu tidak segera diberi tahu, dia bakal melunjak, berani kepada orang tua.&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Menjelang sore, keluarga Rikno kedatangan tamu, seorang pejabat lokal. Ceritanya sang pejabat sedang ada keperluan bisnis dengan ayah Rikno. Ayah Rikno saat itu sedang di kamar untuk berganti pakaian. Sementara ibunya berada di dapur membuatkan minuman untuk sang tamu. Si nenek keluar membeli makanan snack.</p>
<p>Di ruang tamu hanya ada sang pejabat yang sedang duduk santai sambil menikmati lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Rikno melihat keberadaan orang asing langsung menemui. Tanpa banyak cincong Rikno segera bertanya dengan tema yang masih sama.</p>
<p>&#8220;Bapak siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hei, anak kecil, kamu siapa juga?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, ditanya malah balik bertanya. Tidak sopan.&#8221; Celetuk Rikno dalam hati. &#8220;Bapak siapa kok?&#8221; Rikno bertanya merengek.</p>
<p>&#8220;Saya anggota dewan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa itu anggota dewan?&#8221; Rikno balik bertanya.</p>
<p>&#8220;Wakil rakyat.&#8221; Jawab sang pejabat singkat.</p>
<p>&#8220;Jadi bapak tahu segalanya.&#8221; Sang pejabat tersenyum memandang Rikno.</p>
<p>Dengan senyuman itu, Rikno menganggap sang pejabat seorang yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang baik. Pikirnya, ah, tidak ada salahnya bertanya soal mem*k kepada sang pejabat.</p>
<p>&#8220;Masa seorang wakil rakyat bisa marah, kan pertanyaanku juga bersangkutan dengan wakil rakyat, kan aku juga wakil rakyat yang suaranya perlu diwakili, perlu dijawab.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pak, boleh Rikno bertanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Silahkan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bapak jangan marah ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tergantung pokok pembahasannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho, masa cuma anak kecil seperti Rikno yang bertanya bapak bisa marah. Berarti bapak bukan wakil rakyat. Bapak bohong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak&#8230;tidak&#8230;kamu jangan salah sangka begitu. Oke, apa pertanyaanmu, Insya Allah jika bisa, bapak akan menjawabnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Begini pak, selama ini keluarga Rikno selalu membohongi Rikno. Padahal Rikno bertanyanya sopan. Tapi menurut mereka pertanyaan Rikno tidak sopan dan kurang ajar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, apakah itu?&#8221; Sang pejabat penasaran.</p>
<p>&#8220;Apa itu mem*k, Pak?&#8221; Sang pejabat kaget. Matanya kemudian melotot. Tak lama dia mengumpat dengan umpatan tidak mencerminkan seorang anggota dewan, yang katanya wakil rakyat itu.</p>
<p>&#8220;Diamput&#8230;dasar anak bebal. Siapa yang mengajari kamu berkata seperti itu. Mana bapakmu, mana ibumu? Pasti mereka orang tua tidak berbudi, tidak berakal sampai membiarkan anaknya berbuat kurang ajar begini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tuh kan bapak pasti marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana tidak marah, pertanyaanmu itu loh&#8230;akkhhh&#8230;panggil orang tuamu, cepat!&#8221; Sang pejabat marah dengan berkacak pinggang. Tak lama ayah Rikno dan istrinya keluar menemui tamunya. Tetapi mereka lantas disambut caci maki dan omelan.</p>
<p>&#8220;Apa kalian tidak pernah mengajarkan tata krama pada anak kalian. Bagaimana anak sekecil itu bisa berkata mem*k. Itu tidak sopan namanya. Bodoh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Maafkan kami pak. Sebenarnya Rikno sudah berkali-kali kami berikan penjelasan, tetapi rupanya hingga detik ini belum mengerti juga. Riknoooo&#8230;..&#8221; sang ayah memanggil dengan gusar.</p>
<p>Betapa lelaki itu tidak bisa menyembunyikan rasa malunya di hadapan tamu agung. Rikno datang tersenyum seolah tanpa dosa sambil menenteng mainannya. Wajar Rikno tidak tahu apa-apa karena memang anak sekecil belum waktunya mengerti. Dikarenakan pula orang tuanya dan orang-orang di sekelilingnya tidak pernah mengajarinya pengetahuan yang layak.</p>
<p>&#8220;Apa benar kamu bertanya pada pak pejabat soal mem*k?&#8221; Rikno mengangguk.</p>
<p>&#8220;Sudah berapa kali ayah bilang jangan bertanya soal itu lagi.&#8221; Ancam sang ayah. Dan&#8230;tiba-tiba plok! Sebuah tamparan mendarat di wajah Rikno. Pukulan yang akan diingat untuk selamanya. Tentu saja ini membuat Rikno bersedih. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang dewasa. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bertanya mengenai sesuatu yang tidak dipahami terus dilarang. Baginya ini tidak adil.</p>
<p>&#8220;Mulai sekarang kamu ayah usir. Kamu tidak boleh tinggal di sini lagi. Dan ayah tidak mau mengganggapmu sebagai anak. Mulai sekarang kamu tinggal saja di desa dengan bibimu.&#8221; Ancam ayahnya.</p>
<p>&#8220;Iya, kamu dasar anak tidak tahu balas budi. Mulai besok ayah akan mengantar kamu ke desa. Jangan lagi kamu berani kembali ke rumah ini. Awas ya!&#8221; Ancam ibunya.</p>
<p>(Bersambung lagi coy/novi)</p>
<p>NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indonesian Dimata Japang]]></title>
<link>http://triirawan.wordpress.com/2009/11/29/indonesian-dimata-japang/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 08:51:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>triirawan</dc:creator>
<guid>http://triirawan.wordpress.com/2009/11/29/indonesian-dimata-japang/</guid>
<description><![CDATA[Pas jalan-jalan di Kaskus dapat artikel yang cukup menarik tentang realiti kehidupan kita sehari-har]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://triirawan.wordpress.com/files/2009/11/i-luv-indonesia.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-291" title="I-Luv-Indonesia" src="http://triirawan.wordpress.com/files/2009/11/i-luv-indonesia.gif" alt="" width="130" height="50" /></a>Pas jalan-jalan di <a href="http://kaskus.us">Kaskus</a> dapat artikel yang cukup menarik tentang realiti kehidupan kita sehari-hari. Mungkin Agan-agan sudah tau tentang kebiasaan ini tetapi tetap saja kita lakukan. Langsung aja Gan, nih ceritanya. Selamat menikmati *kyk film aja*..</p>
<p style="text-align:justify;">Prof  Nagano, staf pengajar Nihon University memberikan kuliah intensive course dalam bidang Asian Agriculturedi IDEC Hiroshima University.  Beliau sering menjadi konsultan pertanian di negara-negara Asia termasuk Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa hal yang menggelitik yang beliau utarakan sewaktu membahas tentang Indonesia:<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.Orang Indonesia suka rapat dan membentuk panitia macam-macam.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap ada kegiatan selalu di rapatkan dulu, tentunya dengan konsumsinya sekalian. Setelah rapat perlu dibentuk panitia kemudian diskusi berulang kali,saling kritik, dan merasa idenya yang paling benar dan akhirnya pelaksanaan tertunda-tunda padahal tujuannya program tersebut sebetulnya baik.</p>
<p style="text-align:justify;"><img title="savitrifuck" src="http://triirawan.wordpress.com/files/2009/11/savitrifuck.gif" alt="" width="60" height="50" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Budaya Jam Karet</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selain dari beliau, saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang asing yang pernah ke Indonesia. Ketika saya tanya kebudayaan apa yang menurut anda terkenal dari Indonesia dengan spontan mereka jawab : Jam Karet! Saya tertawa tapi sebetulnya malu dalam hati.Sudah sebegitu parahkah disiplin kita?</p>
<p style="text-align:justify;"><img title="x3soiw_th" src="http://triirawan.wordpress.com/files/2009/11/x3soiw_th.gif" alt="" width="60" height="50" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Kalau bisa dikerjakan besok kenapa tidak (?)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau orang lain berprinsip kalau bisa dikerjakansekarang kenapa ditunda besok? Saya pernah malu juga oleh tudingan Sensei saya sendiri tentang orang Indonesia. Beliau mengatakan, Orang Indonesia mempunyai budaya menunda-nunda pekerjaan.</p>
<p style="text-align:justify;"><img title="gebuk" src="http://triirawan.wordpress.com/files/2009/11/gebuk.gif" alt="" width="85" height="85" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Umumnya tidak mau turun ke Lapangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau mencontohkan ketika dia mau memberikan pelatihan kepada para petani, pendampingnya dari direktorat pertanian datang dengan safari lengkap padahal beliau sudah datang dengan work wear beserta sepatu boot. Pejabat tersebut hanya memberikan petunjuk tanpa bisa turun ke lapang, kenapa? Karena mereka datangnya pakai safari dan ada yang berdasi. Begitulah beliau menggambarkan orang Indonesia yang hebat sekali dalam bicara dan memberikan instruksi tapi jarang yang mau turun langsung ke lapangan.</p>
<p style="text-align:justify;"><img title="nangis" src="http://triirawan.wordpress.com/files/2009/11/nangis.gif" alt="" width="55" height="70" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jangan lupa cendolnya ya Gan <img title="s_big_cendol" src="http://triirawan.wordpress.com/files/2009/11/s_big_cendol.gif" alt="" width="50" height="50" /> . Didapat dari <strong><a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?s=cb356a2eaeda5ceb92be90c0c24c9a8f&#38;t=2523501">Kaskus Gan&#8230;</a> </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tangerang dan saya]]></title>
<link>http://yadhinspire.wordpress.com/2009/11/29/tangerang-dan-saya/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 06:10:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>yadhinspire</dc:creator>
<guid>http://yadhinspire.wordpress.com/2009/11/29/tangerang-dan-saya/</guid>
<description><![CDATA[Beberapa hari ini saya kembali ke Tangerang, memang sangat dadakan, waktu itu hari rabu malam dan te]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Beberapa hari ini saya kembali ke Tangerang, memang sangat dadakan, waktu itu hari rabu malam dan ternyata kepulangan saya setelah menyelesaikan beberapa urusan tidak terlalu malam, waktu itu saya ingat kalau saya sudah berada di kosan lagi jam setengah tujuh malam.</p>
<p>Dengan tekad bulad, tidak ingin suntuk malam malam sendirian di kosan, saya memutuskan untuk segera packing dan menelepon taksi untuk mengantarkan saya ke stasiun tugu. Saya akan mencegat Kereta Taksaka Malam.</p>
<p>Singkat cerita sampailah saya di tangerang. Kota ini, memang sudah banyak berubah, jika kita memperbandingkanya dengan saat saat sebelum saya meninggalkan kota ini dan melanjutkan kuliah saya di jogja, namun beberapa hal yang saya lihat berubah dari kota ini meyakinkan saya kalau kota ini akan segera menjadi kota yang sanget besar, pusat perdagangan, namun beberapa perubahan juga dari kota ini yang sungguh membuat saya bersedih, mungkin hal ini ada hubungannya juga dengan perbandingan yang saya lakukan antara jogja dengan tangerang, saya terlampau nyaman tinggal di kota yang penduduknya ramah ramah, sesuatu yang tidak saya temui di tangerang&#8230;.</p>
<p>Oke, tinggalkan saja kekecewaan saya terhadap tangerang disana, sekarang lihat saja, bayangkan saja semua pembaca yang sekarang membaca blog ini, siapapun anda, apakah anda pernah tinggal di tangerang atau tidak, namun pernahkan anda mendengan tentang tengerang?</p>
<p>Kota ini, kota yang menjadi besar karena keberuntungan letak geografisnya yang berbatasan dengan ibukota Jakarta, sesuatu yang patut disyukuri karena faktor inilah, banyak industri berkembang di sini. Satu hal juga yang berkembang dengan pesat di tangerang adalah sektor properti, sebagai lahan yang berada di pinggir jakarta, mempunyai rumah di tangerang, merupakan kenyamanan buat beberapa orang yang menolak untuk tinggal di crowded city seperti Jakarta. Perkembangan perumahan, perkembangan komunitas masyarakan menjadi menengah keatas inilah yang mendorong majunya sektor perdagangan di tangerang, hal ini ditandai dengan menjulangnya mal mal mewah yang memanjakan kehidupan hedonisme ala perkotaan.</p>
<p>Yang menjadi pertanyaan buat kita semua adalah, dapatkah kita menjaga kekhasan, kultur asli wilayah ini, tanpa menonjolkan sisi hedonisme perkotaan dari tangerang itu sendiri, karena bila tidak, moral kota ini akan tergerus seiring dengan menghilangnya identitas wargaya sebagai sebuah warga dari kota yang dulu pernah mempunyai hal yang bisa diidentifikasikan sebagai TANGERANG.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ni Bukan Alphabetic Tool]]></title>
<link>http://khayalkhayal.wordpress.com/2009/11/29/ni-bukan-alphabetic-tool/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 04:35:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>Najwa Aiman</dc:creator>
<guid>http://khayalkhayal.wordpress.com/2009/11/29/ni-bukan-alphabetic-tool/</guid>
<description><![CDATA[Atas meja makan kat kampung ada lastik ni. Dah berkurun tak pegang benda ni. Rasa-rasanya Putera Put]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" src="http://lh5.ggpht.com/_58AHIvJGD4A/SxH1uj0F-rI/AAAAAAAAHSU/mUQ7oFFx5Kw/s288/lastik0269.jpg" alt="" width="157" height="288" />Atas meja makan kat kampung ada lastik ni. Dah berkurun tak pegang benda ni. Rasa-rasanya Putera Puteri aku tahu benda ni, tapi dia orang tak pernah gunakan kut? Pistol plastik tu biasalah kut? Bukan ke?</p>
<p style="text-align:justify;">Di istana beta depa panggil benda ni <em>&#8220;</em><em>teghebir&#8221;&#8230; Terbir</em>&#8230; eheks&#8230; Pelurunya? Ikut rasa brutal masing-masing laaa&#8230; Nak pakai ball bearing pun boleh! Hehehehehe&#8230; Nak guna biji gatal pun okey. Batu tu biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Target? Ekekekekeke&#8230; lagi mau tanya ke? Tu&#8230; target Si Yana masa dia bawa motor pepagi pergi kedai. Bestnya dapat pegang dia masa tolong dia bangkit dari jatuh motor tu kan? kan? Bukan ke? Ke?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Dodoi Si Dodoi" Ni Orang Atau Lagu?]]></title>
<link>http://khayalkhayal.wordpress.com/2009/11/29/dodoi-si-dodoi-ni-orang-atau-lagu/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 04:05:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Najwa Aiman</dc:creator>
<guid>http://khayalkhayal.wordpress.com/2009/11/29/dodoi-si-dodoi-ni-orang-atau-lagu/</guid>
<description><![CDATA[Sekian lama tak jejak kaki ke kampung banyak gak yang dah jadi transformer. Anak-anak sedara dah jad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="alignright" src="http://lh5.ggpht.com/_58AHIvJGD4A/SxHyeW9GHeI/AAAAAAAAHSQ/SCoHCJlwrrg/s800/stll_alarm_clock_snooze.jpg" alt="" width="317" height="281" />Sekian lama tak jejak kaki ke kampung banyak gak yang dah jadi transformer. Anak-anak sedara dah jadi anak-anak dara. Lawa-lawa dan manis-manis depa ni! Nasib baik aku balik kampung. Kalau tak, berlaga bahu dengan depa kat mana-mana pun silap-silap boleh stim sebab tak kenal depa tu anak sedara sendiri&#8230; ! Aiyaaarrrkkk&#8230;! Ya ampun!</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dulu single, sekarang dah beranak-pinak. Ramai betul bebudak. Meriah dengan irama dodoi anak masing-masing. Macam-macam irama, kan? Mesti ada macam-macam lirik gak tapi tak sejelas iramanya. Kebanyakannya irama dodoi ala-ala <em>Bawang Puth Bawang Merah</em> gitu&#8230; Kecuali satu yang aku dengar ni.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hang dodoi lagu <em>&#8216;Aku Bukan Superman&#8217;</em> ka?&#8221; aku tanya sebab dah berkali-kali aku dengar memang sungguh mirip irama lagu bebudak Indo tu!</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Huh! Mengarut je hang ni! Ada pulak dodoi lagu tu!&#8221; dia marah.</p>
<p style="text-align:justify;">Hmmm&#8230; serius! Memang setiap kali dia dodoi, irama tu yang keluar! Tapi dalam nada sentimental dan lebih mederato dibuai melankolik&#8230; Hmmm&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SeNsOR.Cut!]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/2009/11/29/sensor-cut/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 03:54:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.wordpress.com/2009/11/29/sensor-cut/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Bercinta itu mengasyikkan, Dik.. Cumbu rayu tak menentu namun mendayu-dayu membuat degup jant]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Bercinta itu mengasyikkan, Dik.. Cumbu rayu tak menentu namun mendayu-dayu membuat degup jantung kita makin menggebu. Nafsu menderu. Bahkan bagiku bercinta termasuk cabang olah raga sekaligus rekreasi yang murah meriah..&#8221;.</p>
<p>Apakah tulisan seperti itu juga boleh disensor?</p>
<p>Sensor tentu saja bisa terjadi di mana saja. Terutama, yang paling mencemaskan adalah sensor atas nama negara. Buku, film, penampilan di layar kaca, program acara, dan semua hal yang dianggap mengancam dan berbahaya boleh diintervensi. Disunat. &#8220;Cekrisss&#8230; Auh, sakit!&#8221;</p>
<p>Terkadang sensor itu sifatnya ringan. Hanya dipotong sebagian, atau diganti namanya. Namun, untuk sensor kelas berat, total dilarang. Film dilarang ditayangkan, buku dilarang diedarkan, program acara tidak boleh diperpanjang masa tayangnya. Kolom surat kabar dihilangkan. Seperti kolom &#8220;asal-usul&#8221; harian kompas.</p>
<p>Sensor muncul dari perbedaan posisi tawar. Ada yang berkuasa dan di sisi lain ada yang bermohon. &#8220;Saya berkuasa, nah kamu mau apa?&#8221;</p>
<p>Ada sensor lainnya yang sebetulnya juga memangkas kreatifitas. Sensor ini dinamakan &#8220;kelayakan&#8221;.</p>
<p>Semua tulisan di surat kabar, baik kolom maupun pendapat sudah mengalami sensor ringan yang disebut layak dan tidak layak. Ini wajar. Surat kabar punya argumentasi bahwa kualitas tulisan mempengaruhi bobot dan kredibilitas surat kabar di mata pembaca.</p>
<p>Begitu juga dalam dunia hiburan misalnya panggung hiburan, tayangan sinetron, album musik, dan film.</p>
<p>Hanya saja uji kelayakan yang tidak tepat dan cenderung berbahaya adalah atas nama &#8220;pasar&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ini kurang komersil&#8221;. &#8220;Lagu kamu bakal tidak populer&#8221;. &#8220;Tulisan kamu terlalu nyastra, bikin pusing kepala&#8221;. Sensor jenis ini justru akan membelenggu para pembuat karya.</p>
<p>Semuanya akan diawali dengan perhitungan laba-rugi. Populer atau gagal. Rugi bandar atau membikin kita tajir melintir.<br />
Untunglah manusia kreatif ada dan makin banyak yang berpegang teguh pada kemurnian karya. Pada kemerdekaan berpendapat. Namun, tetap dengan rasa tanggung jawab dalam karya-karyanya.</p>
<p>Muncul kemudian apa yang dinamakan blog, band indie, penerbit buku rumahan, forum komunitas internet, milis dengan moderasi ringan.</p>
<p>Dengan adanya berbagai kanal media sebagai alternatif pengejawantahan karya, maka budaya manusia akan terus berkesinambungan. Semua tercatat, semua berpendapat.</p>
<p>Tentu saja arus informasi yang deras, karya kreatif yang membanjir, program acara televisi yang bertubi-tubi akan membawa dampak. Manfaat atau tidak bermanfaat. Damai atau membawa kekacauan.</p>
<p>Tapi bukankah itu asyiknya kehidupan dunia. Terus bergerak, berkecamuk, mengalir, membludak, adil-tidak adil, jahat-baik, kreatif atau menjiplak, untung atau rugi, sementara atau abadi.</p>
<p>Minimal, manusia menemukan jati dirinya, baik sebagai individu, maupun saling berinteraksi dengan individu lainnya, tanpa cemas, tanpa otak, lidah atau tangan yang kelu.</p>
<p>Karena sensor laksana salju. Dingin-dingin empuk yang dapat mematikan! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Indonesia, 10:52:00 AM, Sun, Nov 29, 2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://madyaindonesia.wordpress.com/2009/11/29/23/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 01:16:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>alwayslovecandy</dc:creator>
<guid>http://madyaindonesia.wordpress.com/2009/11/29/23/</guid>
<description><![CDATA[setelah datang ke lokasi site Mardiwuto JL.C.Simanjuntak,, kami menemukan bahwa site ini adalah sala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">setelah datang ke lokasi site Mardiwuto JL.C.Simanjuntak,, kami menemukan bahwa site ini adalah salah satu lahan hijau yang ada di kota. banyak sekali pohon pohon berumur nyaris atau bahkan mungkin lebih dari 100th. akar-akarnya yang besar, kekar, dan kuat sangat maskulin menghujam kedalam tanah. hal ini rupanya yang tetap menjaga air tanah daerah sekitar tetap ada dan berkualitas baik.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03594_resize.jpg"><img title="DSC03594_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03594_resize.jpg" alt="" width="418" height="277" /></a></p>
<p style="text-align:center;">(atas) salah satu pohon perindang di depan satu bangungan BCB yang akan di bongkar.<br />
melihat gambar diatas, bagi kami sangat menyejukkan hati. bayangkan loji itu sebagai hunian.<br />
dengan kursi dan meja kecil di teras. kita berkumpul dan menyeduh kopi bersama.<br />
rumput di sekitar menjadi hijau.</p>
<p style="text-align:center;">wow.<br />
ini ditengah kota.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03594_resize.jpg"></a><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03644_resize.jpg"><img title="DSC03644_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03644_resize.jpg" alt="" width="417" height="629" /></a></p>
<p style="text-align:center;">(atas) salah satu gugusan pepohonan rindang.<br />
(bawah) beberapa meter ke timur dari pohon tadi, berbatasan dengan rumah sakit secara langsung.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03643_resize.jpg"><img title="DSC03643_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03643_resize.jpg" alt="" width="417" height="629" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03643_resize.jpg"></a><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03640_resize.jpg"><img title="DSC03640_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03640_resize.jpg" alt="" width="417" height="629" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03640_resize.jpg"></a><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03611_resize1.jpg"><img title="DSC03611_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03611_resize1.jpg" alt="" width="418" height="277" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03606_resize.jpg"><img title="DSC03606_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03606_resize.jpg" alt="" width="417" height="629" /></a></p>
<p style="text-align:center;">(atas) pohon yang ini paling dekat dengan jalan. sepertinya ini yang paling besar.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03606_resize.jpg"></a><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03587_resize.jpg"><img title="DSC03587_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03587_resize.jpg" alt="" width="417" height="629" /></a></p>
<p style="text-align:center;">(atas) gedung dibelakang pohon ini adalah SMA N 6 Yogyakarta.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03583_resize.jpg"><img title="DSC03583_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03583_resize.jpg" alt="" width="417" height="629" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03583_resize.jpg"></a><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03581_resize.jpg"><img title="DSC03581_resize" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03581_resize.jpg" alt="" width="418" height="277" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03576.jpg"><img title="DSC03576" src="http://mylittlelolipop.wordpress.com/files/2009/11/dsc03576.jpg" alt="" width="418" height="277" /></a></p>
<p style="text-align:center;">pohon pohon ini sesegera mungkin akan diluluh lantahkan demi pembangunan sebuah pusat pertokoan.<br />
sebuah PERTOKOAN DR. YAP.</p>
<p style="text-align:center;">jika tidak berbuat sesuatu dengan segera untuk menyelamatkan pohon-pohon ini,<br />
kami rasa, tidak akan ada lagi kebanggaan menjadi warga jogja yang cinta dengan lingkungan.</p>
<p style="text-align:center;">Pohon adalah sumber kehidupan.<br />
Ia menyimpan air, menjadi peneduh, dan menghasilkan udara yang bersih bagi pecintanya.</p>
<p style="text-align:center;">Tuhan, Selamatkan Pohon Kami.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Niken Pamikatsih untuk MADYA<br />
(Masyarakat Advokasi Warisan Budaya)<br />
mohon meminta ijin jika akan repost <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p style="text-align:center;">-0-</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://mylittlelolipop.wordpress.com/2009/11/29/264/</link>
<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 01:00:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>alwayslovecandy</dc:creator>
<guid>http://mylittlelolipop.wordpress.com/2009/11/29/264/</guid>
<description><![CDATA[mohon meminta ijin jika ingin repost tulisan ataupun photo melalui alwayslovecandy@yahoo.com setelah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[mohon meminta ijin jika ingin repost tulisan ataupun photo melalui alwayslovecandy@yahoo.com setelah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Melahirkan Kembali Indonesia Raya]]></title>
<link>http://fassaad.wordpress.com/2009/11/28/melahirkan-kembali-indonesia-raya/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 12:49:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>FAS</dc:creator>
<guid>http://fassaad.wordpress.com/2009/11/28/melahirkan-kembali-indonesia-raya/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah puisi karya : Prof. Dr. Winarno Surakhmad. (Mantan Rektor IKIP Jakarta) Di kelahirannya Sampa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sebuah puisi karya : Prof. Dr. Winarno Surakhmad. (Mantan Rektor IKIP Jakarta) Di kelahirannya Sampa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jogja | Jogjakarta | Yogya | Yogyakarta: Bisa Saingi Bali sebagai Kota Pariwisata jika punya 'Lokalisasi Elit'!]]></title>
<link>http://mishbahulmunir.wordpress.com/2009/11/28/jogja-jogjakarta-yogya-yogyakarta-bisa-saingi-bali-sebagai-kota-pariwisata-jika-punya-lokalisasi-elit/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 08:53:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mishbahul Munir</dc:creator>
<guid>http://mishbahulmunir.wordpress.com/2009/11/28/jogja-jogjakarta-yogya-yogyakarta-bisa-saingi-bali-sebagai-kota-pariwisata-jika-punya-lokalisasi-elit/</guid>
<description><![CDATA[icon yang cukup menarik dari jogja &#8220;Jogja, Jogjakarta, Yogya, Yogyakarta or whatever name you ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="wp-caption alignnone" style="width: 501px"><img class="  " title="foto tugu jogja yogyakarta" src="http://cahyoherdian.files.wordpress.com/2008/11/header-copy.jpg?w=491&#038;h=150" alt="" width="491" height="150" /><p class="wp-caption-text">icon yang cukup menarik dari jogja</p></div>
<blockquote><p>&#8220;Jogja, Jogjakarta, Yogya, Yogyakarta or whatever name you call it, is a beautiful city with thousand tourist attractions. That’s also the reason why people always come and come again to Jogja.&#8221;</p></blockquote>
<p>Begitulah papar salah satu website yang mengurai berbagai hal mengenai Jogja. Kota ini sangat eksotis dalam berbagai hal. Mulai dari wisatanya, pendidikannya, terutama budaya masyarakatnya. Kota yang berbasis kebudayaan Jawa ini memiliki pemerintahan yang berbeda dengan kota lain di Indonesia. Kraton Ngayogyokarto masih menjadi kiblat masyarakatnya dalam berbagai hal.</p>
<p>Selain itu, bagi para fotografer, Jogja adalah <!--more-->salah satu kota yang menawarkan banyak objek untuk di eksplore. Jogja merupakan kota budaya, syurganya para fotografer.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 330px"><img class="  " title="foto keindahan alami gunung merapi" src="http://farm3.static.flickr.com/2650/4030963421_e7ee7f4d36.jpg" alt="" width="320" height="236" /><p class="wp-caption-text">foto keindahan dan eksotisme gunung merapi</p></div>
<p>Jogja, memiliki keindahan alam yang lengkap! Mulai dari yang paling tinggi berbentuk Gunung yaitu Gunung Merapi, yang hingga saat ini masih menawan untuk menjadi obyek kunjungan para wisatawan manca. Apalagi lokal, gunung ini masih merupakan sebuah misteri besar yang selalu memancing orang untuk menengoknya.</p>
<p>Jogja juga memiliki bantaran pantai yang cukup memesona. Mulai dari Kulonprogo hingga di timur Gunung Kidul. Bagi para fotografer, keindahannya juga menawan untuk di abadikan.</p>
<p>Jogja memiliki tempat dan peninggalan budaya dari para nenek moyangnya yang juga memukai para penikmat keindahan <em>culture</em>, museum, candi, dan lain sebagainya. Bahkan, para pelaku budaya, baik yang ada di dalam lingkaran kraton maupun yang di luarnya juga mantab untuk dipelajari. Ini adalah artifak yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.</p>
<p>Satu lagi, Jogja punya potensi besar akan mahasiswanya. Jika boleh jujur, para pemilik duit berlebih, ketika maen, melancong, atau sekedar mampir di Jogja, mahasiswa (atau, mahasiswi, lebih tepatnya) adalah penarik minat tertinggi bagi mereka. Nyicipi atau jajan &#8216;ayam kampus&#8217;, itulah istilah tepatnya.</p>
<p>Sudah banyak literatur, penelitian, atau bahkan selentingan lebih populernya, yang menyebutkan perihal ini. Bahkan, ketika saya menemani ngobrol ringan di salah satu cafe hotel di Yogya, bersama seorang petinggi dan salah satu orang kaya di Indonesia, beliau mengatakan begini:</p>
<blockquote><p>&#8220;Jogja itu, jika ingin menjadikan dirinya kota pariwisata dan bisa menyaingi kota pariwisata sekaliber Bali, syaratnya satu saja, yaitu Jogja harus punya lokalisasi elit yang berisikan ayam kampus terpilih. Ini bisa saja jadi program pemerintah daerah atau pengusaha swasta,&#8221;</p></blockquote>
<p>Itu tuturnya enteng sambil gelak tawa menyeruak dari kami yang mendengarnya. Setelah tak pikir-pikir, &#8220;iya juga ya&#8221;, begitu gumamku menyetujui ide gila itu. Ha ha ha&#8230;</p>
<p>Hah! pikiran gila itu, dan sangat edan, mungkin!</p>
<p>Diluar itu semua, walaupun tak ada &#8216;lokalisasi elit&#8217;, Jogja merupakan kota eksotis bagi para fotografer dan Anda semua pastinya! Bagaimana menurut Anda? <strong>&#8211;Misbah Munir&#8211;</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perbedaan itu..]]></title>
<link>http://akusukamenulis.wordpress.com/2009/11/28/perbedaan-itu/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 06:40:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>akusukamenulis</dc:creator>
<guid>http://akusukamenulis.wordpress.com/2009/11/28/perbedaan-itu/</guid>
<description><![CDATA[sent at 3:59 pm on thursday &#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;&#8230;&#8230;. hvz : bc sblm km nikah, n]]></description>
<content:encoded><![CDATA[sent at 3:59 pm on thursday &#8230;&#8230;&#8230;.. &#8230;&#8230;&#8230;. hvz : bc sblm km nikah, n]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[GLOBALISASI DAN TINJAUAN ANALISIS TERHADAP IMPLIKASINYA BAGI NEGARA BERKEMBANG]]></title>
<link>http://17hari.wordpress.com/2009/11/27/globalisasi-dan-tinjauan-analisis-terhadap-implikasinya-bagi-negara-berkembang/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 18:34:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>17hari</dc:creator>
<guid>http://17hari.wordpress.com/2009/11/27/globalisasi-dan-tinjauan-analisis-terhadap-implikasinya-bagi-negara-berkembang/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis oleh : Abdul Rokhim Pendahuluan Globalisasi, mungkin kata itu sering kita dengarkan di telev]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ditulis oleh : Abdul Rokhim</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Globalisasi, mungkin kata itu sering kita dengarkan di televisi, radio, surat kabar ataupun percakapan sehari-hari. Kata globalisasi sendiri muncul pada dekade akhir abad ke-20. Globalisasi telah menjadikan pertukaran barang dan jasa dengan mudah terjadi melewati batas-batas territorial Negara. Globalisasi menjadikan dunia seperti Global Village. Dengan adanya Globalisasi, negara-negara dapat dengan mudah melakukan suatu interaksi, bahkan individu dalam suatu negara dengan individu di negara lain dapat dengan mudah melakukan suatu interaksi, baik dalam hal komunikasi, pertukaran komoditi, pertukaran informasi, dll. Hal tersebut menjadikan globalisasi sebagai arah baru bagi perkembangan negara-negara selanjutnya. Tapi apakah globalisasi benar-benar sesuai dengan yang selalu digembar-gemborkannya?<br />
Sejak berakhirnya perang dingin, dunia dilanda oleh suatu arus perubahan<br />
yang bersifat global. Pada mulanya wujud daripada perubahan tersebut terutama sekali terlihat dalam perkembangan sistem informasi dan transportasi dengan fenomena yang mempersingkat jarak didalam hubungan antara negara atau antara wilayah, baik dalam arti ruang maupun waktu. Jelas sekali bahwa perkembangan yang demikian telah dimungkinkan oleh terjadinya kemajuankemajuan yang menakjubkan dalam bidang Iptek. Tentu saja kemajuan-kemajuan Iptek tersebut telah tercapai berkat adanya kemampuan ekonomi untuk mendukungnya Adanya keterkaitan antara kedua faktor ini menimbulkan peruhahan-perubahan yang luar biasa didalam masyarakat.<br />
Sekarang ini keterbukaan semakin kuat berembus, dengan dipayungi oleh globalisasi yang berarti menjadikan segala sesuatunya global, meraksasa menjangkau seluruh dunia, keterbukaan dan globalisasi sepertinya menjadi pasangan yang sangat ideal, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Globalisasi kemungkinan besar tidak akan ada bila keterbukaan tidak muncul dan begitu sebaliknya. Seluruh entitas yang mewarnai kehidupan masyarakat dunia tidak ada lagi yang tidak terpengaruh oleh sihir globalisasi. Produk, teknologi, kebudayaan sampai informasi merasuk jauh pada kehidupan masyarakat, tidak hanya di negara asalnya tetapi sampai ke seluruh negeri.</p>
<p><strong>Implikasi Globalisasi terhadap negara berkembang</strong></p>
<p>Era globalisasi adalah sebuah era di mana proses integrasi dalam bidang ekonomi demikian jelas sehingga sistem ekonomi nasional harus mengintegrasikan diri dengan sistem ekonomi global berdasarkan keyakinan pada perdagangan bebas yang telah dicanangkan pada era sebelumnya, baik era kolonialisme maupun neo-kolonialisme. Dengan masuknya era global seperti itu, yang terjadi kemudian adalah adanya dominasi global atas Negara-negara Selatan (khususnya) seperti Indonesia pada sistem ekonomi, politik, dan budaya. Negara-negara Utara sebagai Negara pemberi utang. Ideologi TNCs (Trans National Corporations) adalah buah paling mutakhir dari sistem global ekonomi dunia, sehingga pasar bebas menjadi ideologi tunggalnya.<br />
Efek langsung dari globalisasi adalah bidang ekonomi. Ekonomi suatu negara akan diintegrasikan kedalam sistem ekonomi global. Barang-barang luar negeri akan dengan sangat mudah masuk ke dalam suatu negara (tidak ada intervensi negara dalam pasar karena pasar sudah ter-integrasi kedalam pasar global). Melalui berbagai perjanjian internasional dan adanya organisasi internasional yang mengatur kebijakan ekonomi dunia (IMF dan World Bank), dominasi negara dalam pasar terus-menerus digerus oleh berbagai kebijakan-kebijakan IMF dan World Bank. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia karena ekonomi Indonesia belum siap untuk menghadapi arus Globalisasi. Jika Indonesia memaksakan diri, maka kemungkinan produk-produk local akan disingkirkan oleh produk luar negeri dan menjadikan negara ini sebagai negara konsumen. Jika hal itu terjadi maka efek domino terhadap kondisi social-politik di Indonesia akan terjadi. Jika produk-produk Indonesia tidak bisa bersaing maka perusahaan local dapat mengalami kerugian dan mengadakan PHK terhadap karyawannya.<br />
Imbas dari globalisasi bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan ekonomi, tetapi masuk kedalam bidang social. Globalisasi membuat arus masuk informasi menjadi tanpa batas, termasuk pornografi, pelecehan seksual dan kekerasan yang dapat mempengaruhi generasi muda bangsa. Dengan adanya televisi, internet, email dan layanan komunikasi lainnya yang merupakan imbas dari globalisasi membuat informasi bagi remaja dan anak-anak tidak terkontrol.<br />
Globalisasi berimbas juga pada masalah lingkungan. Dengan masuknya modal tanpa batas, perusahaan pertambangan asing akan berlomba untuk mengeksploitasi alam Indonesia. Dengan masuknya perusahaan tambang asing, maka pencemaran lingkungan pasti tidak akan bisa dihindarkan. Kebijakan pemerintah mengizinkan operasi pertambangan pada kawasan hutan lindung dan konservasi, sudah pasti akan mempercepat lenyapnya hutan Indonesia. “Industri keruk” tambang akan mengubah hamparan hutan hijau Indonesia menjadi padang pasir kekuningan dengan lubang-lubang beracun didalamnya. Saat ini saja terdapat 150 perusahaan yang telah mengantongi izin Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mrmbuka tambang. Mereka akan beroperasi pada kawasan hutan seluas 11.441.852 hektar. Tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Pada dasarnya  segala hal yang diciptakan manusia mempunyai efek baik dan buruk bagi manusia itu sendiri. Globalisasi juga mempunyai sifat seperti itu. Globalisasi disatu sisi menawarkan kebaikan tapi disisi lain juga kita akan terjebak pada keterpurukan jika tidak mewaspadainya. Pengaruh globalisasi juga harus dilihat dari ‘siapa yang memprakarsainya’ yaitu negara-negara Barat. Hal ini patut diwaspadai karena sumber daya alam kita yang melimpah dan bukan tidak mungkin negara-negara tersebut juga mengincarnya dengan mempengaruhi masyarakat kita tentang ‘betapa baiknya globalisasi’. Rakyat (elit penguasa dan rakyat biasa) harus meng-counter efek buruk dari globalisasi. Jika hanya rakyat biasa saja yang mencoba meng-counter-nya maka hal itu hanya akan sia-sia. Apapun taktik dan strategi yang akan dipakai untuk meng-counter efek buruk dari globalisasi akan sia-sia jika tidak ada dukungan  elit penguasa dan rakyat biasa.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Buku<br />
Abrahamsen, Rita. 2004, ‘Sudut Gelap Kemajuan Relasi Kuasa Dalam Wacana Pembangunan’,   Lafadl Pustaka, Jogjakarta.</p>
<p>Dwi Putro, Widodo dan Farid Tolomundu. 2006, ‘Menolak Takluk<br />
Newmont versus Hati Nurani’ Titik Koma, Mataram.</p>
<p>Website<br />
http://www.walhi.or.id/kampanye/energi/050714_glob-psrbbs-bbm_cu/</p>
<p>http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1995/10/25/0003.html</p>
<p>http://ekisonline.com/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=22&#38;Itemid=28</p>
<p>http://arsip.info/kriminal/penjajahan/baru/globalisasi/ekonomi/08_07_05_001543.html</p>
<p>Jurnal<br />
Susanto, Joko, “Kajian Teoritik tentang Pengaruh Globalisasi terhadap Proses Demokratisasi,” Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, Th XIII, No 2, April 2000</p>
<p>Qodir, Zuly, ‘Globalisasi, Neoliberalisme dan the New Sosial Movement <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> engalaman Muhammadiyah’, Jurnal Mandatory Edisi 4/Tahun 4/2008 © Institute for Research and Empowerment (IRE), Yogyakarta</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perjalanan Ini Sungguh Sangat Mengasyikkan........Sayang ...Engkau ]]></title>
<link>http://imbalo.wordpress.com/2009/11/28/perjalanan-ini-sungguh-sangat-mengasyikkan-sayang-engkau/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 18:11:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>imbalo</dc:creator>
<guid>http://imbalo.wordpress.com/2009/11/28/perjalanan-ini-sungguh-sangat-mengasyikkan-sayang-engkau/</guid>
<description><![CDATA[“Pak Ambalo datang ya” ujar syaikh Husein saat dia datang  ke Batam mengadiri Seminar100 tahun Muham]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Pak Ambalo datang ya” ujar syaikh Husein saat dia datang  ke Batam mengadiri Seminar100 tahun Muham]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mahalnya Harga Sebuah Mem*k (Bag I)]]></title>
<link>http://novi471.wordpress.com/2009/11/27/mahalnya-harga-sebuah-memk-bag-i/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 17:27:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>novi471</dc:creator>
<guid>http://novi471.wordpress.com/2009/11/27/mahalnya-harga-sebuah-memk-bag-i/</guid>
<description><![CDATA[Rikno, anak TK yang lugu, keras, pantang menyerah, dan memiliki rasa keingintahuan sangat tinggi. Su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rikno, anak TK yang lugu, keras, pantang menyerah, dan memiliki rasa keingintahuan sangat tinggi. Suatu hari Rikno mendatangi neneknya dan bertanya sesuatu hal yang selama ini telah membelenggu otaknya.<br />
&#8220;Nenek, boleh ngga Rikno tanya sesuatu?&#8221;<br />
&#8220;Mau tanya apa toh, Cu!&#8221; Seru sang nenek penasaran.<br />
&#8220;Anu nek, itu loh, Rikno mo nanya sebenarnya mem*k itu apa?&#8221;<br />
&#8220;Apa???&#8221; Si nenek kaget bukan alang kepalang. Ia naik pitam, &#8220;dasar anak guoblok. Anak cecunguk. Dungu. Tidak tahu aturan. Siapa yang mengajari kamu berbicara tidak sopan begitu, hah, ayo jawab?&#8221;<br />
Rikno diam saja.<br />
Si nenek semakin tidak bisa menahan emosinya. Berkali-kali Rikno mendapat cubitan dan makian. Tetapi Rikno tetap diam, dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan neneknya. Sampailah kesabaran si nenek memuncak.<br />
&#8220;Riri&#8230;Riri&#8230;kemari kamu nak. Ini anakmu telah berbuat kurang ajar pada orang tua.&#8221; Si nenek memanggil anaknya, yang juga ibu Rikno.<br />
Riri yang berada di dapur merasa telinganya kepanasan, dia buru-buru menghampiri ibunya yang berada di ruang tengah.<br />
&#8220;Ya ampun bu, ada apa toh kok teriak-teriak, malu tuh didengar tetangga.&#8221;<br />
&#8220;Biar saja, ini lho anakmu sudah kurang aja sama orang tua.&#8221;<br />
&#8220;Ada apa toh tole?&#8221; Tanya Riri mendekati Rikno yang sedang bersedih.<br />
&#8220;Ndak kok bu&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ayo jangan bohong kamu, tadi kamu bilang apa sama nenek.&#8221; Si nenek mendesak Rikno sambil mencubit-cubit pahanya.<br />
Dengan terbata-bata Rikno menjawab lirih:<br />
&#8220;Rikno&#8230;Rikno&#8230;cuma pengin tahu&#8230;.ah, ga jadi ah, nanti ibu juga marah!&#8221;<br />
&#8220;Sudahlah kamu bilang saja sama ibu, ibu ga akan marah kok!&#8221;<br />
&#8220;Rikno cuma ingin tahu mem*k itu apa?&#8221;<br />
&#8220;Hah,&#8221; plok, seketika itu tamparan Riri melesat di pipi anaknya, &#8220;dasar anak tidak tahu diri. Nih rasakan lagi,&#8221; plok! plok!<br />
Seketika itu Rikno menangis sejadi-jadinya.<br />
&#8220;Hua&#8230;.hua&#8230;hua&#8230;&#8221;<br />
Murka sang ibu rupanya melebihi murka sang nenek.<br />
&#8220;Biar saja, ayo nangis yang keras, biar sekalian ditambah pukulan oleh ayahmu.&#8221;<br />
Tak lama sang ayah yang merasa terusik tidurnya terbangun dan menunjukkan raut muka merah padam.<br />
&#8220;Ada apa ini. Apa kalian tidak tahu kalau ada orang tidur?&#8221;<br />
&#8220;Ini yah, anakmu sudah mulai kurang ajar. Kecil-kecil sudah mikir pornografi. Siapa yang mengajarimu, hah, ayo jawab.&#8221; Jawab Riri geram.<br />
Rikno yang mendengar kata &#8220;pornografi&#8221; semakin tidak paham. Kemana arah orang tuanya berbicara. Masa cuma bertanya arti kata mem**k saja tidak boleh, batin Rikno berkata.<br />
&#8220;Apa yang telah dilakukan anak kita, bu?&#8221; Tanya ayahnya.<br />
&#8220;Itu yah, dia sudah berani bertanya soal mem*k. Pasti yang ngajarin ayah ya?&#8221; Tuding Riri.<br />
&#8220;Ah, kamu bu bisa-bisa aja, apa benar yang dikatakan ibumu itu Rik?&#8221;<br />
Rikno tidak berani menjawab. Sebab setiap pertanyaan yang keluar selalu membuat orang naik pitam. Lebih baik aku diam, gumamnya dalam hati.<br />
&#8220;Ayo jawab dong, apa benar yang dikatakan ibumu itu!&#8221; Sang ayah terus mendesak.<br />
Rikno malah menggeleng.<br />
&#8220;Jangan bohong ya, atau ayah bisa marah nih. Katakan saja, ayah tidak akan marah kok.&#8221;<br />
&#8220;Itu yang nenek dan ibu katakan sebelumnya. Tidak akan marah, tapi buktinya&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Jadi kamu sudah tidak percaya dengan ayahmu lagi ya.&#8221;<br />
&#8220;Percaya kok yah.&#8221;<br />
&#8220;Kalau begitu bilang ke ayah apa masalahmu?&#8221;<br />
&#8220;Rikno tadi cuma tanya mem*k itu apa?&#8221;<br />
&#8220;Hmm&#8230;jadi itu yang kamu tanyakan.&#8221; Untuk sesaat sang ayah berpikir. Menurut sang ayah memang tidak salah seorang anak bertanya sesuatu yang belum diketahui, apalagi yang bersangkutan dengan yang namanya mem*k. Ini adalah tugas orang tua untuk menunjukkan kapasitasnya kepada orang tua. Tetapi untuk yang demikian ini, memang berat. Bagaimana cara untuk menunjukkan mem*k pada Rikno, sang ayah berpikir dengan keras.<br />
&#8220;Kamu tahu Rik, darimana kamu keluar?&#8221;<br />
Rikno menggeleng.<br />
&#8220;Ya, dari mem*k itu.&#8221; Jawab ayahnya.<br />
Rikno tetap menggelang bahkan posisi tubuhnya diatur untuk mendengarkan wejangan sang ayah.<br />
&#8220;Bagaimana kamu sudah paham?&#8221; Tanya ayahnya yang sudah tidak sabar ingin melanjutkan tidur siangnya.<br />
&#8220;Belum yah. Masih bingung. Emang mem*k itu tempatnya dimana?&#8221; Rikno balik bertanya.<br />
&#8220;Hmmm&#8230;gitu ya. Kamu yakin pengin tahu mem*k?&#8221;<br />
Rikno mengangguk.<br />
&#8220;Ya udah sana kamu ganti baju dulu, trus ikut ayah. Akan ayah tunjukkan dimana mem*k itu.&#8221;<br />
Betapa senang hati Rikno karena ternyata ayahnya seorang pengertian. Sebentar lagi rasa penasarannya segera terobati sebab ayah akan menunjukkan kepada Rikno apa itu mem*k. (bersambung coy/novi)</p>
<p>NB: Ide cerita saya ambil saat mendengarkan monolog Putu Wijaya beberapa tahun silam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Qory Putri Indonesia 2009 Menuju Miss Universe 2010]]></title>
<link>http://ichwankalimasada.wordpress.com/2009/11/27/qory-putri-indonesia-2009-menuju-miss-universe-2010/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 16:44:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>InKa</dc:creator>
<guid>http://ichwankalimasada.wordpress.com/2009/11/27/qory-putri-indonesia-2009-menuju-miss-universe-2010/</guid>
<description><![CDATA[Qory (foto waspadaonline) Penobatan Qory Sandioriva sebagai Puteri Indonesia 2009, sekaligus merupak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Qory (foto waspadaonline) Penobatan Qory Sandioriva sebagai Puteri Indonesia 2009, sekaligus merupak]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bahasa Melayu Logat Thailand]]></title>
<link>http://imbalo.wordpress.com/2009/11/27/bahasa-melayu-logat-thailand/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 16:26:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>imbalo</dc:creator>
<guid>http://imbalo.wordpress.com/2009/11/27/bahasa-melayu-logat-thailand/</guid>
<description><![CDATA[Ustadz Hasan Pha Yao, begitu nama yang tertera dalam senarai nama di hand phone ku. Tahun ini 1430 H]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ustadz Hasan Pha Yao, begitu nama yang tertera dalam senarai nama di hand phone ku. Tahun ini 1430 H]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Definisi-definisi Budaya dan Kebudayaan]]></title>
<link>http://manshurzikri.wordpress.com/2009/11/27/definisi-definisi-budaya-dan-kebudayaan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 14:21:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>manshurzikri</dc:creator>
<guid>http://manshurzikri.wordpress.com/2009/11/27/definisi-definisi-budaya-dan-kebudayaan/</guid>
<description><![CDATA[Menurut para pakar antropologi dan kebudayaan EB Taylor, 1832 –1917 Kebudayaan adalah keseluruhan ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Menurut para pakar antropologi dan kebudayaan EB Taylor, 1832 –1917 Kebudayaan adalah keseluruhan ya]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keris]]></title>
<link>http://josichan.wordpress.com/2009/11/27/keris/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 08:30:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>josichan</dc:creator>
<guid>http://josichan.wordpress.com/2009/11/27/keris/</guid>
<description><![CDATA[Keris  itu merupakan salah  satu  karya  seni  budaya asli dari Indonesia yang  bernilai  tinggi. Ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Keris  itu merupakan salah  satu  karya  seni  budaya asli dari Indonesia yang  bernilai  tinggi. Keris  dulunya dipakai sebagai  senjata  tradisional  Jawa,  sekaligus pelambang estetika yang tinggi, juga punya arti seremonial dan teknologi metalurgi unggul, di samping juga sebenarnya merupakan benda antik yang sangat berharga.</p>
<p>Keris adalah karya agung warisan kebudayaan Indonesia yang dihargai banget dan sanggup memukau  masyarakat  dunia.  Keris  juga  udah diakui oleh World  Heritage dan memperoleh penghargaan Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Huminity dari UNESCO. Ini merupakan bukti pengakuan dunia kalao keris itu sebagai karya agung warisan Indonesia.</p>
<p><a href="http://josichan.wordpress.com/files/2009/11/foto10.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-61" title="foto10" src="http://josichan.wordpress.com/files/2009/11/foto10.jpg?w=241" alt="" width="241" height="300" /></a></p>
<p>Keris  yang  dikenal  saat ini merupakan tinggalan  budaya  dari masa  lalu.  Terus fungsinya juga berkembang dari masa ke masa loh. Fungsi keris bisa dibedakan secara fisik, simbolik, spiritual,  terus juga menurut  peran sampingannya.  Berbagai perkembangan  itu bukan cuma menyangkut bilah kerisnya aja, tapi juga pelengkap bilahnya; misalnya jejeran, mendhak, selut, warangka, dan pendhok.</p>
<p>Udah dari lama kalau pembuatan  keris  itu masih teka-teki  bagi  orang  awam.  Karena  pengetahuan  itu  diperlakukan  sebagai  kawruh  ingkang  sinengker  (ilmu yang  harus  dirahasiakan).  Biasanya  Cuma keluarga  dekat  para  empu  serta  bangsawan tinggi  di  Kraton  aja  yang  boleh  tau cara membuatnya. Hmm.. Gimana cara bikinnya yah?</p>
<p>Mangkanya muncul  banyak mitos tentang  keris  dalam  masyarakat.  Buat contoh,  berikut  ini  ada kutipan  dari  buku  Sejarah  Empu karya Pangeran Wijil III dari Kadilangu, Demak.</p>
<p><em>“pan dariji kang kinarya supit</em></p>
<p><em>brama medal saking tutukira</em></p>
<p><em>mangka kikir panuduhe</em></p>
<p><em>garinda jempolipun</em></p>
<p><em>pepacale kuku kinardi</em></p>
<p><em>sesepuhira lidhah</em></p>
<p><em>pacobane idu</em></p>
<p><em>pangasah pek-epekira</em></p>
<p><em>besalene ana satengahing margi</em></p>
<p><em>dhukuh Medhang Kamulan &#8230; (pupuh Dhandhang Gula)”</em></p>
<p>&#160;</p>
<p>Yang artinya:</p>
<p>“Dengan jari-jemari sebagai penjepit,</p>
<p>nyala api menyembur dari mulutnya,</p>
<p>Sebagai kikir adalah jari telunjuknya,</p>
<p>dan ibu jari sebagai gerinda,</p>
<p>Dipahat dengan kuku,</p>
<p>kemudian disepuh memakai lidah,</p>
<p>dan didinginkan dengan air ludah,lalu diasah di telapak tangannya.</p>
<p>Tempat kerjanya di jalanan</p>
<p>wilayah Medang Kamulan &#8230;”</p>
<p> <a href="http://josichan.wordpress.com/files/2009/11/pembuatan-keris3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-62" title="pembuatan-keris3" src="http://josichan.wordpress.com/files/2009/11/pembuatan-keris3.jpg?w=300" alt="" width="300" height="232" /></a></p>
<p>Pada  umumnya  orang  Jawa  di awal  abad  ke-21 ini  lagi berubah  statusnya dari  masyarakat  peralihan  jadi  masyarakat  modern.  Oleh karena  itu,  dalam beberapa aspeknya, sikap mereka udah menuju ke pemikiran modern. Dalam bidang perkerisan juga ada loh, misalnya sikap peralihan tersebut terlihat antara lain, bahwa sebagian orang Jawa masih tetep membudayakan  keris  sebagai  kelengkapan  busana  adat  atau  pusaka;  tetapi sebagian lain sudah mulai memandangnya sebagai benda seni, cinderamata, atau bahkan menjadi  barang komersil.  Tapi demikian  masih  banyak  kok kalangan masyarakat yang masih percaya pada tuah atau isi atau sisi magis dari sebilah keris.  Karena bagaimanapun  dan  apapun  bentuk  dan  anggapan orang-orang mengenai  keris,  yang  jelas  keris  adalah  sebuah  peninggalan budaya  yang  patut  untuk dilestarikan keberadaanya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Karakteristik Kebudayaan]]></title>
<link>http://manshurzikri.wordpress.com/2009/11/27/karakteristik-kebudayaan/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 00:59:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>manshurzikri</dc:creator>
<guid>http://manshurzikri.wordpress.com/2009/11/27/karakteristik-kebudayaan/</guid>
<description><![CDATA[Pengertian Karakteristik dan Kebudayaan Karakteristik secara etimologis berasal dari bahasa Inggris,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pengertian Karakteristik dan Kebudayaan Karakteristik secara etimologis berasal dari bahasa Inggris,]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[R.M. Tirto Adhi Soerjo &gt;&gt; Tokoh Minke dalam tetralogi Pram sekaligus Bapak Pers Nasional]]></title>
<link>http://novi471.wordpress.com/2009/11/26/r-m-tirto-adhi-soerjo-tokoh-minke-dalam-tetralogi-pram-sekaligus-bapak-pers-nasional/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 14:23:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>novi471</dc:creator>
<guid>http://novi471.wordpress.com/2009/11/26/r-m-tirto-adhi-soerjo-tokoh-minke-dalam-tetralogi-pram-sekaligus-bapak-pers-nasional/</guid>
<description><![CDATA[Pada peringatan hari Pahlawan 10 November lalu, Presiden menganugerahkan 8 Pahlawan Nasional kepada ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://novi471.wordpress.com/files/2009/11/6133_1028412488284_1764495556_60031_4955310_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-234" title="6133_1028412488284_1764495556_60031_4955310_n" src="http://novi471.wordpress.com/files/2009/11/6133_1028412488284_1764495556_60031_4955310_n.jpg?w=208" alt="" width="208" height="300" /></a>Pada peringatan hari Pahlawan 10 November lalu, Presiden menganugerahkan 8 Pahlawan Nasional kepada 9 tokoh sejarah dari berbagai daerah. Salah satu gerakan perjuangan kemerdekaan adalah penerbitan koran pribumi di awal abad ke-20. R.M. Tirto Adhi Soerjo (TAS) diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena aktivitasnya sebagai pelopor pers nasional pribumi pertama di tahun 1907, di Bandung. Anugerah ini diusulkan oleh warga Jawa Barat.</p>
<p>Alm. R.M. Tirto Adhi Soerjo (1875 – 1918)<br />
R.M. Tirto Adhi Soerjo melakukan perjuangan melalui surat kabar yang dipimpinnya, Soenda Berita, pers pertama yang terbit di Cianjur. Beliau adalah pioner pers pribumi. Melalui surat kabar Medan Prijaji, pemikiran beliau menjadi cikal bakal nasionalisme dengan memperkenalkan istilah Anak Hindia. Beliau juga menyadarkan masyarakat Indonesia tentang hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial. Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh Dewan Pers RI. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.</p>
<p>TAHUN 2006 Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PPKK) Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran (Lemlit Unpad) mempelajari tiga calon pahlawan nasional dari Jawa Barat yaitu R. Soepriadinata, R.M. Tirto Adhi Soerjo, dan K.H. Noer Ali.</p>
<p>“TAS pelopor pers nasional. Dia mendirikan surat kabar Medan Priyayi pada 1 Januari 1907. Melalui surat kabar tersebut, dia berkiprah di Jabar hingga akhir hayatnya. Bahkan makamnya pun berada di Bogor.” [Nina H. Lubis]</p>
<p>Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora tahun 1880. TAS yang tak menyelesaikan sekolahnya di STOVIA Batavia pindah ke Bandung dan menikah. Di Bandung TAS menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Sebelum menerbitkan “Medan Prijaji”, Januari 1904 TAS mendirikan dulu badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften Medan Prijaji. Medan Prijaji beralamat di jalan Naripan Bandung yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK). Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Selain di bidang pers, TAS juga aktif dalam pergerakan nasional, ia mendirikan Sarikat Dagang Islam di Jakarta yang kelak berubah menjadi Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto, .</p>
<p>Pada tahun 1909, TAS membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir Purworejo, A. Simon. Delik pers pun terjadi, TAS dituduh menghina pejabat Belanda, terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun TAS memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat, keturunan Bupati Bojonegoro) ia dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan.</p>
<p>Pada pertengahan kedua tahun 1910, Medan Prijaji diubah menjadi harian ditambah edisi Mingguan, dan dicetak di percetakan Nix yang beralamat di Jalan Naripan No 1 Bandung. Inilah harian pertama yang benar-benar milik pribumi. Masa kejayaan Medan Prijaji antara 1909-1911 dengan tiras sebanyak 2000 eksemplar.</p>
<p>Pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji sering dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Di tahun 1912 Medan Prijaji terkena delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini) menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan, wilayah Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.</p>
<p>Sekembali dari Ambon, TAS tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Antara tahun 1914-1918, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973. Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia, Layaklah ia disebut sebagai Bapak Pers Nasional.</p>
<p>Kisah perjuangan TAS diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer (PAT) selepas keluarnya dari pembuangan pulau Buru awal tahun 1980-an. Ditulis dengan nama Minke dalam buku Tetralogi Buru, empat buku tebal yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain Tetralogi PAT pun menulis kekagumannya atas TAS dalam buku Sang Pemula. Entah alasan pemerintah saat itu apa sehingga karya Tetralogi PAT dilarang terbit dan beredar. Sejak reformasi bergulir buku-buku PAT banyak dicetak ulang, bahkan hendak diangkat ke film layar lebar.</p>
<p>Karya PAT tentang Minke sebagai Tirto Adhi Surjo ini sudah banyak diterjemahkan di luar negeri, hingga 33 bahasa, diakui internasional di berbagai negara sebagai sebuah karya sejarah yang apik. Selain berlatar belakang sejarah yang tentunya lebih menarik sebagai referensi pelajaran sejarah di sekolah, PAT menggambarkan manusia Indonesia dengan keadaan feodal dan sistem kolonialnya. Tak hanya kronologi era Kebangkitan Nasional Indonesia dipaparkan lebih membumi dengan bahasa yang sederhana, PAT juga menggambarkan kisah cinta seorang manusia yang sederhana, tidak muluk-muluk, saat Minke bertemu dengan Annelies, sang Bunga Akhir Abad. Kabarnya Garin Nugroho akan menyutradai dan tokoh Annelies Melemma akan diperankan oleh Mariana Renata.</p>
<p>“Kita kalah, Ma,” bisikku.<br />
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”<br />
[Dialog di dalam buku Bumi Manusia]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesaksian Spiritual Haji]]></title>
<link>http://adioecoep.wordpress.com/2009/11/26/kesaksian-spiritual-haji/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 07:14:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>adi setiawan</dc:creator>
<guid>http://adioecoep.wordpress.com/2009/11/26/kesaksian-spiritual-haji/</guid>
<description><![CDATA[Kesaksian Spiritual Haji Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kesaksian Spiritual Haji Tiba-tiba kurasakan tangannya tersentak hingga jabat tangan kami terlepas. ]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
