<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>buku-buku-sejarah &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/buku-buku-sejarah/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "buku-buku-sejarah"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 18:41:27 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Didalam gudang sejarah]]></title>
<link>http://cacatotak.wordpress.com/2008/04/12/didalam-gudang-sejarah/</link>
<pubDate>Sat, 12 Apr 2008 04:04:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>otakkiri</dc:creator>
<guid>http://cacatotak.wordpress.com/2008/04/12/didalam-gudang-sejarah/</guid>
<description><![CDATA[11 April, 2008 Untuk yang kedua kali, saya terdampar di tempat itu lagi. Sebuah tempat penyimpanan l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>11 April, 2008</p>
<p>Untuk yang kedua kali, saya terdampar di tempat itu lagi. Sebuah tempat penyimpanan literatur-literatur, buku-buku, dan kumpulan tulisan-tulisan kuno. Kembali ke tempat tersebut rasanya menyenangkan. Waktu terasa berhenti, sesat. Dan ruh saya pun, serasa dilempar kedalam sejarah-sejarah masa lalu. Waktu berhenti, dan mundur secara cepat.</p>
<p>Agenda saya untuk kemarin itu, hanyalah untuk menziarahi 2 tempat saja. Yakni Jln Veteran &#8211;Tempat perpustakaan tersebut&#8211; Dan TIM. Di TIM ada kenduri cinta, pimpinan dari budayawan kondang : cak nun itu. Tapi saya sekarang ini sudah malas untuk menonton acara tersebut. Sudah basi, dan terlalu monoton buat saya. Yang dibahas selalu yang ituitu saja, selalu mengeluh tentang indonesia yang bla bla, tentang kepemimpinan yang bla bla, tapi minim dengan suatu tindakan yang real. Menjemukan.</p>
<p>Perpustakaan itu adalah milik seorang budayawan, Taufik rahzen. Saya selalu mentakzimi sepak-terjang beliau dalam berbagai hal, baik itu seni, budaya, dan humanisme beliau yang tinggi. Mendengar cerita-cerita orang tentang sejarah dirinya, membuat bulu kuduk saya berdiri ngeri. Ngeri, sekaligus terpesona. Betapa manusia seperti dia itu ternyata masih ada di bumi ini, dan di jakarta gilanya !.</p>
<p>Tentang Taufik Rahzen,</p>
<p>Anak-anak veteran disana memanggil beliau dengan sebuah panggilan kesayangan sekaligus kehormatan, cukup menyingkat inisialnya saja. TR. Unik bagi saya.</p>
<p>TR adalah sebuah saksi hidup dari indonesia, tentang sebuah seni perang teluk di irak. Bersama dengan 2 orang dari indonesia (Salah satu yang saya ingat adalah adik dari andi malarangeng, yakni Rizal Mallarangeng) Mereka ke irak untuk rela dijadikan &#8220;Human shield&#8221;. Perisai manusia. Gila. Mungkin pengalaman dari dia yang menarik untuk saya, salah satunya adalah ketika sebuah cruise missile mendarat tepat di sebelah kanan kamp dia. Hahaha. Dan untungnya, waktu itu dia selamat.</p>
<p>Mendengarkan cerita-cerita dari beberapa orang yang mengenal baik dengan TR, sangat menarik. Bagai sebuah dongeng dengan cerita-cerita tentang sebuah petualangan layaknya novel-novel seperti Tom Sawyer, Lima Sekawan. Ah, sungguh mengasyikan.</p>
<p>Syahdan, TR ini dulu pernah sesumbar. Apabila nanti ia selamat dari perang teluk kelak, ia ingin pulang melalui jalur darat. Gilanya, jalur darat yang ia maui itu adalah dengan jalan kaki. Ya !, jalan kaki, dari irak ke indonesia. Rute yang ia tempuh melalui india, lalu indonesia. Entah berapa daerah dan negara yang sudah ia tempuh dengan berjalan, saya kurang mengetahuinya. Konon butuh 2 tahun, untuk melakukan perjalanan tersebut.</p>
<p>TR, terlahir di sumbawa.</p>
<p>Di masa kecilnya dulu buku adalah sesuatu yang sangat sekali berharga, dan harus melalui suatu proses perjuangan dulu untuk bisa mendapatkan dan membacanya. Ia harus berjalan jauh, untuk bisa menebus sebuah buku saja. Kelak, inilah yang membuatnya sangat mencintai buku, Dan saking cintanya, sekarang ini TR sudah mengkoleksi ber-ton2 buku yang tersebar mulai dari jogja-jakarta-bandung, dan kota-kota lainnya yang belum saya ketahui.</p>
<p>Dan bagi saya, buku memang sesuatu yang sangat berharga. Saya bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan sebuah buku yang kita cintai itu. Waktu itu kostan tempat saya tinggal kebanjiran. Saya lupa, bahwa buku kesayangan saya, saya simpan di laci bawah rak meja. Saya sedang tidak ada dikostan waktu itu, dan kamar saya kunci. Air sudah masuk kedalam kamar, dan dengan mulus, satu laci kerendam air.</p>
<p>Sejak itulah, saya mulai berhati-hati sekali dalam hal penyimpanan buku.</p>
<p>12 April, 2008</p>
<p>Sekarang ini jam 11. Tepat 3 jam pantat saya telah tertempel di kursi kantor. Semalam baru sempat tertidur jam 4, itupun karena kecapekan. Sungguh, saya capek seharian itu. Kemarin, bersama dengan para anggota geng veteran itu, kami angkat2 buku perpustakaan. Kalau dihitung secara total, mungkin ada sekitar 2 ton lebih. Rencananya oleh pak TR, buku tersebut akan di pindahkan ke perpustakaan beliau yang ada di jogja. Mungkin untuk bahan riset sejarah lagi.</p>
<p>Hari ini baru saja kelar menyelesaikan kerjaan kantor,  seperti biasa menghadapi client besar (lagi) di hari libur : coca-cola, dan essar.  Duh, sial banget hari ini. Yah seperti biasa, troubleshooting aplikasi proxy mereka yang lagi ngadat. Belum selesai satu, yang lainnya nambah lagi. Selang beberapa menit, ada email dari pihak ritz calton bali, tentang mail server kali ini.</p>
<p>Sial, kenapa di hari libur seperti ini banyak trouble yah ?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
