<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>buletin-bashiroh &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/buletin-bashiroh/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "buletin-bashiroh"</description>
	<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 13:13:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Dahsyatnya Syirik]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/10/dahsyatnya-syirik/</link>
<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 05:31:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/10/dahsyatnya-syirik/</guid>
<description><![CDATA[            Setiap muslim pasti mengetahui bahwa syirik hukumnya adalah haram. Namun apakah kita tel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/santet.jpg" title="santet.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/santet.thumbnail.jpg" alt="santet.jpg" align="right" /></a></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Setiap muslim pasti mengetahui bahwa syirik hukumnya adalah haram. Namun apakah kita telah mengetahui hakikat syirik serta seberapa besar tingkat keharaman dan bahayanya?. Boleh jadi ada yang berkata, &#8220;Syirik itu haram, harus ditinggalkan!&#8221;, namun dalam kesehariannya justru bergelimang dalam amalan kesyirikan sedangkan ia tidak menyadarinya. Oleh karena itu ada baiknya kita kupas permasalahan ini agar tidak terjadi kerancuan di dalamnya.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Makna syirik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Alloh memberitakan bahwa tujuan penciptaan kita tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Alloh, &#8220;<span class="gen"><em>Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.</em></span><em>&#8220;</em> (Adz Dzariyat: 56). Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Alloh baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Ibadah disini meliputi do&#8217;a, sholat, nadzar, kurban, rasa takut, <em>istighatsah</em> (minta pertolongan) dan sebagainya. Ibadah ini harus ditujukan hanya kepada Alloh tidak kepada selain-Nya, sebagaimana firman Alloh <em>Ta&#8217;ala</em>, &#8220;<em>Hanya kepadaMu lah kami beribadah dan hanya kepadaMu lah kami minta pertolongan</em>.&#8221; (Al Fatihah: 5).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Barangsiapa yang menujukan salah satu ibadah tersebut kepada selain Alloh maka inilah kesyirikan dan pelakunya disebut musyrik<em>.</em> Misalnya seorang berdo&#8217;a kepada orang yang sudah mati, berkurban (menyembelih hewan) untuk jin, takut memakai baju berwarna hijau tatkala pergi ke pantai selatan dengan keyakinan ia pasti akan ditelan ombak akibat kemarahan Nyi Roro Kidul dan sebagainya. Ini semua termasuk kesyirikan dan ia telah menjadikan orang yang sudah mati dan jin itu sebagai sekutu bagi Alloh <em>subhanahu wa ta&#8217;ala</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kedudukan Syirik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>rodhiyallohu ta’ala ‘anhu</em> berkata: Aku pernah bertanya kepada Rosululloh, &#8220;<em>Dosa apakah yang paling besar di sisi Alloh?</em>&#8221; Beliau <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, &#8220;<em>Engkau menjadikan sekutu bagi Alloh, padahal Dialah yang telah menciptakanmu</em>.&#8221; (HR. Bukhori, Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Maka sudah selayaknya bagi kita untuk berhati-hati jangan sampai ibadah kita tercampuri dengan kesyirikan sedikit pun, dengan jalan mempelajari ilmu agama yang benar agar kita mengetahui mana yang termasuk syirik dan mana yang bukan syirik. Hendaklah kita merasa takut terjerumus ke dalam kesyirikan, karena samarnya permasalahan ini sebagaimana sabda Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, &#8220;<em>Wahai umat manusia, takutlah kalian terhadap kesyirikan, karena syirik itu lebih samar dari (jejak) langkah semut</em>.&#8221; (HR. Ahmad)</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Syirik menggugurkan seluruh amal.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Orang yang dalam hidupnya banyak melakukan amal sholeh seperti sholat, puasa, shodaqoh dan lainnya, namun apabila dalam hidupnya ia berbuat syirik akbar dan belum bertaubat sebelum matinya, maka seluruh amalnya akan terhapus. Alloh<em> Ta&#8217;ala </em>berfirman yang artinya, &#8220;<em>Dan jika seandainya mereka menyekutukan Alloh, maka sungguh akan hapuslah amal yang telah mereka kerjakan</em>.&#8221; (Al- An&#8217;am: 88)</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Begitu besarnya urusan ini, hingga Alloh <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman kepada Nabi-Nya <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, &#8220;<span class="gen"><em>Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu Jika kamu mempersekutukan Alloh, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi</em></span>.&#8221; (Az Zumar: 65). Para Nabi saja yang begitu banyak amalan mereka diperingatkan oleh Alloh terhadap bahaya syirik, yang apabila menimpa pada diri mereka maka akan menghapuskan seluruh amalnya, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa aman dari bahaya kesyirikan?</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Oleh karena itu beruntunglah orang-orang yang menyibukkan diri dalam mempelajari masalah tauhid (lawan dari syirik) dan syirik agar bisa terhindar sejauh-jauhnya, serta merugilah orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam masalah-masalah yang lain atau bahkan menghalang-halangi dakwah tauhid!!</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Pelaku syirik akbar kekal di neraka dan dosanya tidak akan diampuni oleh Alloh <em>Ta&#8217;ala</em>.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Alloh <em>Ta’ala</em> berfirman yang artinya, &#8220;<em>Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.</em>&#8221; (An-Nisa&#8217;: 48). Juga firman-Nya yang artinya, &#8220;<em>Barangsiapa yang mensekutukan Alloh, pasti Alloh haramkan atasnya untuk masuk surga. Dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang dhalim ini seorang penolongpun</em>.&#8221; (Al-Ma&#8217;idah: 72).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Orang musyrik haram dinikahi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Hal ini berdasarkan firman Alloh yang artinya, &#8220;<span class="gen"><em>Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. </em></span></span><span class="gen"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mereka mengajak ke neraka, sedang Alloh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran</span></em></span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">.&#8221;</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">(Al-Baqarah: 221)</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sembelihan orang-orang musyrik haram dimakan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Alloh <em>Ta’ala</em> </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">berfirman</span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">, &#8220;<span class="gen"><em>Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Alloh ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.</em></span>(Al-An&#8217;am: 121)</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Begitu besarnya bahaya syirik, maka sudah selayaknya bagi setiap orang untuk takut terjerumus dalam dosa ini yang akan menyebabkan ia merugi di dunia dan di akhirat. Bagaimana mungkin kita tidak takut padahal Nabi<em> shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>saja takut terhadap masalah ini? Sampai-sampai beliau <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>berdoa supaya dijauhkan dari perbuatan syirik. Beliau mengajarkan sebuah do&#8217;a yang artinya, <em>&#8220;Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari mempersekutukan-Mu padahal aku mengetahui bahwa itu syirik. Dan ampunilah aku terhadap dosa yang tidak aku ketahui&#8221;</em> (HR. Ahmad)</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Semoga Alloh <em>Ta’ala </em>menjaga kita semua dari kesyirikan. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita<em> shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat..<strong> </strong></span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">[Ibnu Ali]</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>                   </span><span>                                                                                                                      </span><span>                                                                                            </span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beribadah di Kubur  Wali ??]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/10/beribadah-di-kubur-wali/</link>
<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 05:22:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/10/beribadah-di-kubur-wali/</guid>
<description><![CDATA[Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah hanya kepada Alloh semata, hal ini sebagaimana firm]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span dir="ltr" style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span> <a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/bonang1.gif" title="bonang1.gif"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/bonang1.thumbnail.gif" alt="bonang1.gif" align="left" /></a><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah hanya kepada Alloh semata, hal ini sebagaimana firman-Nya <span class="gen"><em>&#8220;Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.</em></span><em>&#8220;</em> (Adz-Dzariyat : 56). Namun sayang banyak umat Islam sekarang ini telah menyimpang dari tujuan penciptaan mereka. Sebagian di antara mereka beribadah kepada wali-wali yang dianggap saleh. Atau mereka memiliki keyakinan bahwa beribadah di dekat kubur orang sholeh adalah suatu hal yang utama.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Penyimpangan dalam peribadahan di kubur wali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Beribadah di kubur wali merupakan suatu penyimpangan yang sangat besar. Sebagai contoh, orang yang melakukan sholat di kubur wali. Meskipun dia meniatkan sholat tersebut ikhlas untuk Alloh semata, namun dia telah melakukan pelanggaran syariat karena Rosululloh telah melarang hal tersebut, sebagaimana sabdanya <em>&#8220;Janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal tersebut&#8221;</em> (HR Muslim). Orang yang melakukan sholat di kubur wali maka pada kenyataaannya dia telah menjadikan kubur wali itu sebagai masjid (Lihat Tahdzirus Sajid karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani). Selain itu, orang yang melakukan sholat di kubur wali telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh. Selama hidupnya, Rosululloh tidak pernah sholat di kubur kecuali sholat jenazah bagi jenazah yang belum disholatkan. Sehingga dengan demikian, orang yang melakukan sholat di kubur wali maka sholatnya itu tidak diterima oleh Alloh. Karena hal itu tidak sesuai dengan tuntunan rosululloh, meskipun dilakukan dengan ikhlas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Lebih parah lagi jika orang yang melakukan sholat itu memaksudkan sholatnya untuk para wali, maka ia telah melakukan syirik besar yang dapat mengeluarkannya dari Islam. Karena dia telah meniatkan ibadah yang seharusnya untuk Alloh tapi dimaksudkan untuk selainNya. Padahal dosa syirik merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Alloh (kecuali bertaubat), sebagaimana firman-Nya, <span class="gen"><em>&#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.</em></span><em>&#8220;</em> (An-Nisa : 48). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ibadah-ibadah yang dilarang dilakukan di pekuburan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Sholat bukanlah satu-satunya ibadah yang dilarang untuk dilakukan di makam wali. Ibadah-ibadah lainnya yang hanya boleh diperuntukkan untuk Alloh, jika dilakukan di kubur wali maka hal ini juga terlarang. Semisal menyembelih di kubur wali, thowaf, berdoa di kubur wali dan<span>  </span>sebagainya. Jika semua ibadah tersebut dilakukan di kubur wali dengan niat untuk Alloh semata, namun dilakukan di kubur wali karena tempat tersebut dianggap lebih afdhol, maka ini adalah <span> </span>ibadah yang tidak ada contohnya dari Rosululloh, dan di samping Rosululloh juga telah melarang untuk beribadah di pekuburan, Rosululloh juga<span>  </span>tidak pernah menjelaskan bahwa kubur adalah tempat yang berkah dan afdhol untuk beribadah. Oleh karena itu, barangsiapa yang melakukan hal tersebut maka dia telah berdosa dan melakukan suatu hal yang haram.. Namun, jika dia ibadah itu ditujukan untuk sang wali di dalam kubur, maka dia telah melakukan syirik besar yang dapat mengeluarkan dari Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kubur, tempat mengingat kematian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Jika kita tidak boleh melakukan berbagai bentuk ibadah di kubur, lalu apakah fungsi kubur di dalam syariat Islam ? Jawabannya adalah, Alloh menjadikan kubur sebagai pengingat kematian. Setiap manusia, bagaimanapun keadaannya, kaya, miskin, cantik, jelek, pintar, ataupun bodoh pasti akan mengalami kematian. Meskipun dia masih muda belia atau pun tua renta maka pasti akan mati juga. Alloh berfirman yang artinya, <span class="gen"><em>&#8220;Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.&#8221;</em> (Al Jumu&#8217;ah : 8). </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Kematian merupakan awal dari kehidupan kita yang hakiki, yaitu kehidupan akhirat yang tidak ada akhirnya. Barangsiapa yang melakukan kebaikan ataupun kejahatan sekecil apapun maka ia pasti akan melihatnya di akhirat kelak, sebagaimana firman Alloh yannng artinyas, <em>&#8220;Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya.&#8221;</em> (Al-Mujaadilah : 6)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span class="gen"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Semoga Alloh senantiasa meneguhkan kita di atas Islam dan mematikan kita di atas sunnah. <em>Wallahu &#8216;alam </em>( Boris Tanesia Abu &#8216;Uzair Al-Jakarty)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="rtl"><span dir="ltr" style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Untaian Jilbab Muslimah]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/10/untaian-jilbab-muslimah/</link>
<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 05:16:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/12/10/untaian-jilbab-muslimah/</guid>
<description><![CDATA[Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Alloh Dzat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/ml0063.jpg" title="ml0063.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/12/ml0063.thumbnail.jpg" alt="ml0063.jpg" align="right" /></a> <span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai cara berpakaianpun dibimbing oleh Alloh Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justeru jelek menurut Alloh. Alloh berfirman, <em><span style="font-family:Arial;">“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allohlah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui” (Al Baqoroh : 216).</span></em> Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.<br />
</span><!--more--><br />
<span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> <strong><span style="font-family:Arial;">Perintah dari atas langit</span></strong><br />
Alloh Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk berjilbab sesuai syari’at. Alloh berfirman, <em><span style="font-family:Arial;">“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. </span></em></span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (Al Ahzab : 59). </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ketentuan jilbab menurut syari’at</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
Berikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrom <em><span style="font-family:Arial;">(</span></em><strong><em><span style="font-family:Arial;">bukan ‘muhrim’</span></em></strong><em><span style="font-family:Arial;">, karena muhrim berarti orang yang berihrom)</span></em> yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh penyimpangannya, semoga Alloh memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar ketentuan Robbul ‘alamiin. </span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">1.</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan <em><span style="font-family:Arial;">(lihat Al Ahzab : 59, An Nuur : 31).</span></em> Selain keduanya seperti leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">2.</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
Bukan busana perhiasan yang justeru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik !!! ; ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin. Sadarlah wahai kaum muslimin…</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">3.</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">4.</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, <em><span style="font-family:Arial;">“Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian” (HR. Muslim).</span></em> Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita yang pergi ke kampus-kampus, ke pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis kota dengan parfum yang menusuk hidung ?!. Wallohul musta’an.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">5.</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki <em><span style="font-family:Arial;">(HR. Bukhori)</span></em>.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">6.</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. Nabi senantiasa memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">7.</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
Bukan untuk mencari popularitas. Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku ? Apakah kalian ingin terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan ummat ini?. Wallohul muwaffiq. </span></p>
<p><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"><br />
<em><span style="font-family:Arial;">(Diambil dari kitab Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al Albani).</span></em></span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tiga Pertanyaan Kubur]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/11/21/tiga-pertanyaan-kubur/</link>
<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 09:30:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/11/21/tiga-pertanyaan-kubur/</guid>
<description><![CDATA[Sesungguhnya alam kubur adalah benar adanya. Alloh berfirman, &#8220;Alloh meneguhkan orang-orang ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" align="center"><a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/11/180px-a04_1705.jpg" title="180px-a04_1705.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/11/180px-a04_1705.thumbnail.jpg" alt="180px-a04_1705.jpg" align="right" /></a></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Sesungguhnya alam kubur adalah benar adanya. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Alloh berfirman, <em>&#8220;Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat..&#8221;</em> (Ibrohim : 27). Setelah membawakan ayat ini di dalam kitab tafsirnya Al Imam Ibnu Katsir <em>rohimahulloh</em> menyebutkan sekian banyak hadits shohih yang diriwayatkan oleh para Sahabat tentang kejadian di alam kubur.</span><!--more--><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ketegaran di dunia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mengomentari ayat dalam surat Ibrohim di atas Syaikh As Sa&#8217;di <em>rohimahulloh </em>berkata di dalam kitab tafsirnya, &#8220;Alloh <em>Ta&#8217;ala</em> memberitakan bahwasanya Dia akan memberikan ketegaran kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, yaitu orang-orang yang melaksanakan kewajiban mereka dengan keyakinan yang sempurna di dalam hatinya, sehingga keyakinan itu menuntut dan membuahkan amal perbuatan anggota badan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Maka Alloh pun menganugerahkan keteguhan kepada mereka di dalam kehidupan dunia tatkala harus berhadapan dengan serangan syubhat (kerancuan dan keraguan) yakni dengan petunjuk (dari-Nya) supaya tetap teguh di atas keyakinan begitu pula tatkala harus berhadapan dengan godaan syahwat (keinginan berbuat keji) maka Alloh pun menganugerahkan kepadanya keinginan yang sangat kuat untuk tetap mengedepankan apa yang dicintai Alloh di atas hawa nafsu dan keinginan-keinginan pribadinya&#8221; (<em>Taisir karimirrohman</em> hlm. 425).</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Dengan demikian orang yang tidak melaksanakan kewajiban imannya dengan sempurna tidak akan mendapatkan ketegaran yang sempurna pula ketika hidup di dunia, karena balasan itu setimpal sesaui dengan perbuatan yang dilakukan hamba.<span>   </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ketegaran di akhirat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Orang-orang yang beriman mendapatkan ketegaran tidak hanya di dunia tetapi lebih dari itu mereka juga memperoleh ketegaran di akhirat kelak. Syaikh As Sa&#8217;di melanjutkan, &#8220;Dan di akhirat (nanti) Alloh akan memberikan keteguhan kepada mereka tatkala ajal tiba yaitu dengan tetap teguh memeluk agama Islam serta <em>husnul khotimah</em> (akhir hidup yang baik) begitu pula ketika berada di alam kubur dapat menjawab pertanyaan dengan benar, apabila mayit itu ditanyai &#8220;Siapakah Robbmu?, Apakah agamamu?, dan Siapa Nabimu ?&#8221; saat itu Alloh menganugerahkan kepada mereka (orang yang beriman dengan benar) keteguhan dalam memberikan jawaban dengan benar, sehingga orang mu&#8217;min akan menjawab &#8220;Alloh adalah Robbku, Islam agamaku dan Muhammad adalah Nabiku&#8221; (<em>Taisir karimirrohman</em> hlm. 426). </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Itulah tiga pertanyaan kubur yang menjadi pembeda siapakah yang beriman dan siapakah yang ragu-ragu, munafiq atau kafir. Sehingga nantinya akan tampak siapa yang disiksa dan siapa yang bahagia. Maka siapakah yang tidak takut dari adzab kubur ?</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mohonlah perlindungan dari siksa kubur !</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Suatu saat tatkala mengikuti acara penguburan jenazah salah seorang sahabat Anshor Rosul mengetuk-ngetukkan tongkat kayu di atas tanah sambil mengangkat kepalanya dan bersabda, <em>&#8220;Mintalah perlindungan kepada Alloh dari siksa kubur&#8221;</em> beliau mengulangi ucapannya sampai 2 atau 3 kali&#8221; (HR. Ahmad). Begitu pula beliau mengajarkan kepada kita agar berlindung kepada Alloh dari adzab kubur di akhir sholat, ini semua menunjukkan bahwa adzab kubur bukan barang sepele. Lalu siapakah yang berani menjamin dirinya selamat dari siksaan itu ?!. </span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mempersiapkan bekal semenjak dini</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Orang beriman yang mengetahui bahwa adzab kubur iu benar, pertanyaan kubur itu benar tentunya tidak ingin dirinya termasuk orang yang tersiksa. Dia akan berusaha membentengi diri dari siksa dengan cara apa saja yang bisa ditempuhnya. Di dalam hadits tersebut kita telah mengetahui bahwa orang yang bisa sukses tatkala menghadapi pertanyaan kubur adalah orang yang keimanannya benar, yang sanggup menjawab &#8220;Alloh adalah Robbku, Islam agamaku dan Muhammad adalah Nabiku&#8221;. Ini artinya cara untuk menyelamatkan diri dari siksa kubur ialah dengan mengenal Alloh, memahami Islam dan mengenal Nabi Muhammad dengan sebenar-benarnya. Bukan sekedar menghafalkan jawabannya (&#8220;Alloh adalah Robbku, Islam agamaku dan Muhammad adalah Nabiku&#8221;) tapi harus mengimani, mengamalkan dan mendakwahkannya <span> </span>serta bersabar di atasnya itulah kunci kesuksesan.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mengenal Alloh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Yang dimaksud mengenal Alloh adalah mengenali Alloh dengan keyakinan hati bahwa Dia-lah yang<span>  </span>berhak disembah <span> </span>sehingga melahirkan sikap pasrah dan tunduk terhadap syari&#8217;at-Nya, menentukan keputusan sesuai dengan syari&#8217;at Rosul-Nya (lihat <em>Syarah Tsalatsatil Ushul</em>, Syaikh Al Utsaimin). Kebanyakan orang menganggap bahwa mengenal Alloh itu cukup dengan meyakini Dia sebagai pencipta, pemberi rizki, penguasa jagad raya <span> </span>dan semacamnya. Ini adalah anggapan yang sangat keliru. Karena seandainya pengetahuan itu sudah bisa menyelamatkan dari siksa, tentulah Abu Jahal dan Abu Lahab adalah orang yang selamat dari siksa karena mereka sebagaimana kaum musyrikin di jamannya meyakini bahwa Alloh-lah penguasa segalanya. Padahal Alloh <em>Ta&#8217;ala</em> sudah menegaskan betapa celakanya Abu Lahab dalam sebuah surat khusus di dalam Al Qur&#8217;an (yaitu surat Al Lahab).<span>     </span></span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mengenal Rosululloh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Nabi Muhammad adalah utusan Alloh bukan pendusta, bukan tukang sihir dan bukan orang gila. Seorang utusan dari Dzat yang telah menciptakan alam semesta Dzat yang paling tahu tentang apa yang baik dan apa yang buruk bagi ciptaan-Nya, maka sudah seharusnya kita mengenali beliau, menjadikan beliau sebagai satu-satunya manusia yang tidak boleh ditolak perkataannya. Hal itu disebabkan beliau tidak berbicara menuruti kehendak hawa nafsunya tetapi beliau berbicara di bawah bimbingan wahyu dari Alloh <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>. Sehingga beritanya kita terima dengan penuh yakin, perintahnya kita laksanakan, larangannya wajib kita tinggalkan dan kita beribadah hanya dengan cara yang diajarkannya, bukan dengan cara-cara baru yang tidak dikenal oleh agama : itulah bid&#8217;ah yang semakin ditekuni akan semakin mengundang murka, susah payah beramal tapi tidak diterima.</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Mengenal Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Orang Islam tapi tidak kenal Islam, sungguh aneh tapi nyata. </span><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Betapa malangnya orang seperti ini, seorang penyair berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila, </span></em></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">akan tetapi si Laila tidak mengakui ucapan mereka</span></em></p>
<p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align:justify;text-indent:36pt;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Arial;">Ini adalah kenyataan yang kita saksikan hampir setiap hari, orang-orang yang mengaku muslim, berdakwah melalui televisi dan berbagai media dan diagungkan oleh para pengikutnya dengan julukan cendekiawan dan wali tapi ternyata tidak paham hakikat Islam. Ketahuilah saudaraku -semoga Alloh menjagamu- Islam tidak akan tegak kecuali dengan tiga pilar utama yaitu tauhid, ketaatan dan permusuhan terhadap musuh Alloh dan Rosul-Nya. Kita cintai apa yang dicintai Alloh dan Rosul-Nya dan kita benci apa yang dibenci Alloh dan Rosul-Nya.<em> Wallohu a&#8217;lam bish showaab</em>. (Ari Abu Mushlih).<span>        </span><span>    </span><span> </span><span>  </span><span>  </span><span>  </span><span>    </span><span>    </span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENDATANGI PELAYAN SETAN]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/11/21/mendatangi-pelayan-setan/</link>
<pubDate>Wed, 21 Nov 2007 03:56:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/11/21/mendatangi-pelayan-setan/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Kebutuhan kita untuk mengerti tentang tauhid harus dibarengi pula dengan mengenal manakah jal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p> 	 	 	 	 	 	 	 	<!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">&#160;</p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="left"><a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/11/250906_shadow.jpg" title="250906_shadow.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/11/250906_shadow.thumbnail.jpg" alt="250906_shadow.jpg" align="left" /></a>Kebutuhan kita untuk mengerti tentang tauhid harus dibarengi pula dengan mengenal manakah jalan-jalan kesyirikan. Sebab, dengan mengetahui lawan dari sesuatu maka kita dapat mengetahui sesuatu tersebut. Kita dapat memahami tentang tauhid jika kita paham tentang syirik. Maka tujuan kita untuk mengetahui syirik supaya kita tidak terjatuh kepada perbuatan syirik tersebut. Hal ini selaras dengan perkataan Hudzaifah bin al Yaman rodhiyallohu ‘anhu, <em>&#8220;Orang-orang bertanya kepada Rosululloh tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepada rosululloh tentang keburukan, karena aku takut keburukan tersebut menimpaku .&#8221; </em>(HR. Bukhori).<!--more--></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="left">Musibah yang menimpa umat ini salah satunya adalah kejahilan tentang hakekat tauhid dan syirik. Sehingga sangat dimungkinkan umat ini akan terjerumus kedalam perbutan syirik tanpa sadar bahwa dia telah melakukan perbutan yang merupaqkan larangan Alloh yang terbesar tersebut. Maka sungguh sangat penting bagi kita untuk mempelajari tauhid dan rinciannya dan mempelajari syirik dan rinciannya supaya kita selamat dari musibah tersebut.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">&#160;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong>Menjamurnya Dukun alias Paranormal</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">	Kemajuan peradaban manusia seringkali diukur dengan kemajuan teknologi dan semakin lepasnya masyarakat dari praktek-praktek berbau tahayul. Namun begitu, di jaman sekarang ini praktek perdukunan benar-benar menjamur bak cendawan di musim penghujan. Padahal hal ini merupakan salah satu dampak ketidaktahuan terhadap syirik dan perinciannya.</p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="left">Dunia perdukunan, dunia paranormal, dunia tukang ramal dan yang semisalnya sangat digemari dinegeri kita ini. Sehingga kita lihat banyak sekali orang yang berprofesi sebagai paranormal atau tukang ramal. Kacaunya banyak masyarakat kita yang mepercayai mereka, tak peduli tua atau muda dan tidak melihat kaya atau miskin.</p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="left">Mereka yang aktif mendatangi dukun ternyata bukan cuma orang yang mencari pesugihan. Kita sering menjumpai apabila seseorang hendak menikahkan anaknya, maka ia akan datang kepada dukun dan bertanya kapankah hari pernikahan yang cocok. Contoh lainnya, jika mau membangun rumah atau bangunan mesti mendatangkan dukun. Orang yang mau tes ke perguruan tinggi datangnya juga kepada dukun, orang yang mau tes masuk jadi polisi datang kepada dukun bahkan orang yang mau mencalonkan diri jadi pejabatpun tak mau kalah datang ke dukun. Ketika ada orang yang kehilangan barang maka datangnya kepada dukun. Padahal semua perbuatan tersebut menjadikan seseorang bergantung kepada selain Alloh yang hal tersebut mengurangi ketauhidan, seseorang bahkan dapat menjadikan seseorang melakukan syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">	Jika ada yang bertanya, “<em>Kenapa disamakan antara dukun dan paranormal, bukankah istilah paranormal itu berbeda dengan dukun?</em>” Maka dijawab : Hakekat keduanya sama, dan perubahan nama tidak akan merubah hakekat. Seperti halnya khomr, maka walaupun namanya diubah menjadi minuman penyegar atau minuman kenikmatan, bir, wiski atau kemasan nama halus yang lain maka kita tetap menganggapnya haram, karena hakekatnya adalah khomr.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong>Hanya Alloh yang tahu segala sesuatu yang ghoib.</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"> 	Tukang ramal atau paranormal biasanya mengaku tahu sesuatu yang ghaib, padahal Alloh menjelaskan bahwa yang mengetahuinya hanya Dia. Alloh berfirman yang artinya, “<em>Dia adalah Rabb yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang</em> <em>ghaib tersebut.&#8221;</em> (Al Jin : 26). Dan Alloh hanya memberitahukan ilmu ghaib tersebut hanya kepada orang-orang yang diridhoi-Nya yaitu para Rosul, sebagaimana firman Alloh yang artinya, <em>&#8221; Ilmu tentang yang ghaib tidak ditmpakkan kepada seorangpun kecuali orang-orang yang Alloh ridhoi diantara para rosul .&#8221; </em>(Al Jin : 27).  Pada ayat di atas dapat diketahui bahwa hanya para Rosul sajalah yang diberi tahu oleh Alloh tentang ilmu ghaib. Dan itupun hanya sebagian yang amat kecil saja dari seluruh Ilmu Alloh. Maka barang siapa yang mengaku dia mengetahui perkara yang ghaib maka dia telah mendustakan al Qur&#8217;an dan barang siapa mendustakan al Qur&#8217;an meskipun hanya satu ayat saja maka dia telah kafir kepada Alloh. Tukang ramal, dukun dan paranormal mendapat berita dari setan yang mencuri berita dari langit kemudian dibumbui dengan banyak kedustaan. Dan tidaklah para dukun tersebut mendapatkan berita dari setan kecuali jika mereka bertakarrub kepada setan dan menjadi budak setan dan hal ini merupakan syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">&#160;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong>Memasukkan Dukun kedalam Rumah ?!</strong></p>
<p style="text-indent:0.38in;margin-bottom:0;" align="left">Alhamdulillah, tentunya di kalangan kaum muslimin masih ada yang sadar akan hal ini dan tidak mau mendatangi dukun.<strong> </strong>Namun begitu masih banyak pula yang bukan hanya datang ke dukun, tetapi malah mendatangkan dukun sementara mereka tidak sadar. Kini lihatlah koran-koran atau majalah-majalah. Banyak sekali –atau kalau tidak mau dikatakan sebagian besar- dihiasi dengan rubrik ramalan bintang. Maka bagi yang mengerti tauhid dengan benar, mereka dapat mengetahui bahwa hal ini termasuk syirik dan menjauhinya. Namun jika tidak, maka seperti kebanyakan kaum muslimin yang secara tidak sadar bahwa telah memasukkan dukun dalam bentuk ramalan bintang kedalam rumah-rumah mereka. Maka hukumnya sama sebagaimana jika seseorang mendatangi ke dukun.</p>
<p style="text-indent:0.38in;margin-bottom:0;" align="left">Bahkan bahaya ini lebih besar bagi umat ini, karena keluarga kita jika membaca tentang ramalan bintang kemudian mempercayainya maka kita telah menjerumuskan keluarga kita kedalam salah satu bentuk kesyirikan. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita yang sadar akan kebobrokan besar ini berusaha untuk memperbaiki umat ini dengan mendakwahkan tauhid dan memperingatkan umat dari bahaya kesyirikan. Dan dakwah terhadap tauhid ini merupakan dakwahnya semua rosul, sebagaimana firman Alloh yang artinya, <em>&#8220;Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap kaum seorang rosul yang menyerukan kepada mereka &#8220;Sembahlah Alloh dan jauhilah thogut. &#8221; </em>(An Nahl : 36). Maka jika kita ingin meniru Rosululloh, maka tentunya kita akan memulai dakwah dengan tauhid dan menjelaskan segala bentuk kesyirikan kepada manusia.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">&#160;</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left"><strong>Hukum Bertanya Kepada Dukun</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">	Bertanya kepada dukun berbeda hukumnya sesuai dengan tujuannya, yaitu :</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Bertanya dengan maksud 	iseng maka haram. Meski dia tidak membenarkan jawabannya.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Bertanya dengan maksud 	ingin membenarkan jawabannya maka hukumnya haram dan tidak diterima 	sholatnya selama 40 hari. Rosululloh bersabda &#8220;<em>Barang siapa 	mendatangi tukang ramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu 	perkara dan dia mempercayainya, maka sholatnya tidak di terima 	selama 40 hari .</em>&#8221; (HR Muslim)</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Bertanya karena 	memiliki keyakinan bahwa dukun mengetahui ilmu ghaib secara mutlak 	maka hukumnya kufur akbar.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Bertanya untuk 	mengujinya apakah dia orang yang jujur atau pendusta bukan untuk 	mengambil jawabannya, hukumnya boleh.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">Bertanya dalam rangka 	menunjukkan kedustaannya, ketidakmampuannya, dan mengingkarinya, 	maka hal tersebut dituntut atau bahkan wajib.</p>
</li>
</ol>
<p style="margin-left:0.25in;margin-bottom:0;" align="left">Oleh karena itulah kita memohon kepada Alloh agar kita di berikan ilmu yang dapat menghalangi kita dari terjerumus kedalam kesyirikan. [ Didik Abul 'abbas]</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="left">&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesempurnaan Islam]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/11/01/kesempurnaan-islam/</link>
<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 01:31:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/11/01/kesempurnaan-islam/</guid>
<description><![CDATA[Saat itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam sedang melaksanakan haji Wada’ (perpisahan), yaitu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/11/sakura.jpg" title="sakura.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/11/sakura.thumbnail.jpg" alt="sakura.jpg" align="right" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>    </span>Saat itu Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em><span> </span>sedang melaksanakan haji Wada’ (perpisahan), yaitu haji pertama dan terakhir yang dilakukan oleh Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>. Pada waktu itu Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em>mewasiatkan, “<em>Ambilllah manasik haji dariku”</em>. Ini menunjukkan tanda-tanda perpisahan antara Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em><span> </span>dengan para sahabatnya.<!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Hal itu lebih dikuatkan lagi dengan turunnya ayat terakhir dari Al Qur`an di mana Alloh berfirman, &#8220;<em>Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu Dien (agama/jalan hidup)-mu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Aku ridhoi Islam sebagai <span> </span>dien-mu</em>.” (Al Maidah: 3)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Makna kesempurnaan Islam</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Al Imam Al Hafidz Ibnu Katsir <em>rohimahulloh</em> berkata, “Ini merupakan nikmat Alloh terbesar atas ummat ini di mana Alloh telah menyempurnakan Islam bagi mereka. Sehingga tidak membutuhkan agama selain Islam dan tidak membutuhkan nabi selain Nabi mereka -semoga Alloh melimpahkan sholawat dan salam kepadanya-. Dan karena itulah Alloh menjadikan Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir dan mengutusnya kepada seluruh manusia dan jin. Tidak ada yang halal kecuali yang dihalalkan oleh Rosululloh dan tidak ada yang haram kecuali yang diharamkannya. Pelaksanaan agama tidak diakui kecuali dengan apa yang telah disyari’atkannya. Setiap berita yang berasal darinya adalah kebenaran yang wajib dibenarkan, tidak boleh didustakan dan ditentang.” (<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’dy berkata, “<em>Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu Dien-mu …</em>dengan pertolongan yang sempurna, dan penyempurnaan syari’at baik dhohir maupun batin, masalah <em>ushul</em> (pokok)<em> </em>maupun <em>furu’</em> (cabang). Dengan demikian cukuplah Al Qur`an dan As Sunnah sebagai pedoman dan petunjuk untuk setiap permasalahan agama ini. Maka anggapan orang yang berlebih-lebihan dalam beragama yang menyangka bahwa manusia sekarang ini harus mempelajari ilmu-ilmu kalam dan ilmu selain Al Qur`an dan As Sunnah -untuk memahami aqidah dan hukum-hukum agama mereka- merupakan suatu kebodohan dan kebatilan. Terlebih lagi ketika mereka menyangka bahwa agama ini tidak akan sempurna tanpa ilmu kalam dan yang sejenisnya, sungguh ini adalah kejahatan dan pembodohan terhadap Alloh dan Rosul-Nya.” (<em>Taisir<span>  </span>Karim Ar Rahman</em>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Thoriq bin Syihab berkata : “Seorang Yahudi datang kepada ‘Umar bin Khaththab dan berkata : “Wahai Amirul Mukminin, kalian membaca satu ayat dalam kitab kalian yang kalau ayat itu turun kepada kaum Yahudi, maka kami akan menjadikan hari tersebut sebagai hari raya.” ‘Umar berkata: “Ayat yang manakah itu?” Si Yahudi menjawab: “<em>Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian…” </em>Maka ‘Umar berkata: “Demi Alloh! Sungguh aku lebih mengetahui hari dan saat ketika ayat itu diturunkan kepada Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>. Yaitu pada sore hari ‘Arofah di hari Jum’at. (<em>Shohih Bukhori</em>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Mensyukuri nikmat Islam</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Jelaslah bahwa ini merupakan nikmat yang besar dan wajib disyukuri. Alloh berfirman: <em>“Sungguh jika kalian bersyukur (terhadap nikmat-Ku) niscaya Aku menambah (nikmat-Ku) kepadamu, dan jika kalian <span> </span>kufur (terhadap nikmat-Ku), niscaya azab-Ku sangat <span> </span>pedih.”</em> (Ibrohim 7). Mensyukuri nikmat Islam yaitu dengan mempelajari, mengamalkan dan mendakwahkan Islam yang murni sebagaimana diajarkan oleh Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Konsekuensi dari ayat yang agung ini adalah bahwa <em>bid’ah </em>tidaklah mendapatkan tempat sedikitpun dalam urusan agama yang suci ini. <em>Bid’ah</em> adalah perkataan atau perbuatan yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh dan para sahabatnya dalam masalah agama. Contohnya : mengatakan bahwa Alloh tidak punya sifat, atau mengkhususkan bacaan surat Yasin untuk orang yang sudah meninggal, dan banyak lagi yang lainnya. (Lihat <em>Risalah Bid’ah</em> oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Dikatakan demikian karena kebid’ahan yang timbul dalam agama ini merupakan penolakan terhadap kesempurnaan Islam. Apa artinya Firman Alloh tentang kesempurnaan Islam jika ternyata di kemudian hari (zaman sekarang) kita masih perlu mengerjakan suatu ibadah yang tidak ada contohnya dari Nabi <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>? Kalau memang benar Islam belum sempurna mengapa Rosululloh <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam </em><span> </span>diwafatkan? Bukankah tidak ada Nabi dan Rosul lagi setelah Nabi Muhammad <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>? Lantas apa yang mendorong orang berbuat bid’ah?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Islam adalah agama yang sempurna. Masalah apapun yang ada didalam kehidupan makhluk, Islam telah memberikan solusinya. Misalkan saja kehidupan manusia, dari bangun tidur sampai akan tidur kembali, dari keluar rumah sampai masuk kembali, dari masuk wc sampai keluar wc, semua<span>  </span>diatur dalam Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Meraih kebahagiaan dunia akhirat dengan iman dan takwa</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Jika demikian maka sungguh sangat rugi orang-orang yang berpaling dari syari’at Islam, keseluruhan maupun sebagian dan sungguh beruntung orang-orang yang senantiasa menjalani kehidupannya dengan menyesuaikan terhadap aturan-aturan syari’at. Keberuntungan yang akan diraih oleh orang-orang yang senantiasa berada dalam bingkai syari’at bukan hanya kelak di akhirat, bahkan di dunia pun Alloh menjanjikannya. Sebagaimana firman-Nya :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“<em>Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” </em>(Al A’raf: 96)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>            </span>Syaikh As Sa&#8217;dy berkata dalam kitab tafsirnya, …Seandainya para penduduk negeri itu mau beriman dengan hati-hati mereka kemudian amal mereka membenarkannya, mereka melaksanakan ketakwaan kepada Alloh secara lahir maupun batin dengan meninggalkan seluruh perkara yang diharamkan Alloh maka niscaya Alloh akan membukakan bagi mereka barokah dari langit dan bumi….(<em>Taisir Karim Ar Rahman</em>)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Masuklah ke dalam Islam secara <em>kaffah</em><span>     </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span>            </span>Maka kesimpulannya adalah marilah kita mensyukuri nikmat yang agung ini dengan cara masuk ke dalam Islam secara <em>kaffah</em> (menyeluruh), bukan <em>juz&#8217;iyyah </em>(sebagian saja) karena itu merupakan tipu daya setan. Alloh <em>Ta&#8217;ala </em><span> </span>berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“<em>Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah kalian mengikuti jejak langkah setan. Sesungguhnya setan itu adalah<span>  </span>musuhmu yang nyata.”</em>(Al Baqarah: 208). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span><span>            </span></span></em><span>Syaikh As Sa&#8217;dy berkata dalam kitab tafsirnya, …Inilah perintah dari Alloh agar orang-orang yang beriman masuk ke dalam Islam secara <span>menyeluruh yakni keseluruhan syari&#8217;at agama tanpa meninggalkan sedikitpun darinya, dan supaya mereka tidak termasuk orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan. Sehingga apabila syari&#8217;at itu sesuai dengan hawa nafsunya maka dilakukannya, sedangkan apabila syari&#8217;at tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka ditinggalkannya. Tetapi yang wajib ialah menundukkan hawa nafsu untuk mengikuti aturan agama…</span>(<em>Taisir Karim Ar Rahman</em>)<span>. </span></span><em>Wallohu A’lam bish showaab</em>. [Abu Yazid]</p>
<p class="MsoHeader" align="right"><span style="font-size:7pt;"><span> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Haettenschweiler;">Edisi II/Syawal 1428 H/Oktober 2007</span><span style="font-size:10pt;font-family:Haettenschweiler;"></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puasa Enam Hari di Bulan Syawal]]></title>
<link>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/11/01/puasa-enam-hari-di-bulan-syawal/</link>
<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 01:16:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>bashiroh</dc:creator>
<guid>http://assunnahsurabaya.wordpress.com/2007/11/01/puasa-enam-hari-di-bulan-syawal/</guid>
<description><![CDATA[Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa-puasa sunnah. Sebagaimana yang disabdaka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/11/masjid1.jpg" title="masjid1.jpg"><img src="http://assunnahsurabaya.wordpress.com/files/2007/11/masjid1.thumbnail.jpg" alt="masjid1.jpg" align="left" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="color:blue;"> </span>Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa-puasa sunnah. Sebagaimana yang disabdakan Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> : “<em>Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan?; Puasa adalah perisai, …</em>” (Hadits <strong>hasan shohih</strong>, riwayat Tirmidzi). Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan, “<em>Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.</em>” (HR. Bukhori : 6502).<!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Puasa seperti setahun penuh</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Salah satu puasa yang dianjurkan/disunnahkan setelah berpuasa di bulan Romadhon adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rosululloh bersabda, “<em>Barangsiapa yang berpuasa Romadhon kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” </em>(HR. Muslim no. 1164). Dari Tsauban, Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.”</em> (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Al Albani dalam <em>Irwa’ul Gholil</em>). Imam Nawawi <em>rohimahulloh</em> mengatakan dalam Syarh Shohih Muslim 8/138, “<em>Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya yaitu puasa enam hari di bulan Syawal adalah suatu hal yang dianjurkan.</em>”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Dilakukan setelah Iedul Fithri</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Puasa Syawal dilakukan setelah Iedul Fthri, tidak boleh dilakukan di hari raya Iedul Fithri. Hal ini berdasarkan larangan Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> yang diriwayatkan dari Umar bin Khothob, beliau berkata, “<em>Ini adalah dua hari raya yang Rosululloh melarang berpuasa di hari tersebut : hari raya Iedul Fithri setelah kalian berpuasa dan hari lainnya tatkala kalian makan daging korban kalian (Iedul Adha)</em>”. (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Apakah harus berurutan ?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Imam Nawawi <em>rohimahulloh</em> menjawab dalam Syarh Shohih Muslim 8/328 : “<em>Afdhol</em>nya (lebih utama) adalah berpuasa enam hari berturut-turut langsung setelah Iedul Fithri. Namun jika ada orang yang berpuasa Syawal dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, maka dia masih mendapatkan keuatamaan puasa Syawal berdasarkan konteks hadits ini”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Inilah pendapat yang benar. Jadi, boleh berpuasa secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, di tengah, maupun di akhir bulan Syawal. Sekalipun yang lebih utama adalah <strong>bersegera</strong> melakukannya berdasarkan dalil-dalil yang berisi tentang anjuran bersegera dalam beramal sholih. Sebagaimana Allah berfirman, “<em>Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.</em>” (Al Maidah : 48). Dan juga dalam hadits tersebut terdapat lafadz <em>ba’da fithri </em>(setelah hari raya Iedul Fithri), yang menunjukkan <span>selang waktu yang tidak lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Mendahulukan puasa qodho’</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Apabila seseorang mempunyai tanggungan puasa (qodho’) sedangkan ia ingin berpuasa Syawal juga, manakah yang didahulukan? Pendapat yang benar adalah mendahulukan puasa qodho’. Sebab mendahulukan sesuatu yang wajib daripada sunnah itu lebih melepaskan diri dari beban kewajiban. Ibnu Rojab <em>rohimahulloh</em> berkata dalam <em>Lathiiful Ma’arif,</em> “<em>Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Romadhon, hendaklah ia mendahulukan qodho’nya terlebih dahulu karena hal tersebut lebih melepaskan dirinya dari beban kewajiban dan hal itu (qodho’) lebih baik daripada puasa sunnah Syawal</em>”. Pendapat ini juga disetujui oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam <em>Syarh Mumthi’</em>. Pendapat ini sesuai dengan makna eksplisit hadits Abu Ayyub di atas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Semoga kebahagiaan selalu mengiringi orang-orang yang menghidupkan sunnah Nabi Muhammad <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>. <em>Wallohu a’lam bish showab.</em> [<em>Abu Isma’il</em> Muhammad Abduh Tuasikal]</p>
<p align="right"> <span style="font-size:10pt;font-family:Haettenschweiler;">Edisi II/Syawal 1428 H/Oktober 2007</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">&#160;</p>
<p class="MsoNormal">&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
