<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>bumahai &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/bumahai/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "bumahai"</description>
	<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 03:09:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan]]></title>
<link>http://yiskandar.wordpress.com/2008/04/07/ketika-pasutri-bugis-dan-manado-membuka-rumah-makan/</link>
<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 06:08:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://yiskandar.wordpress.com/2008/04/07/ketika-pasutri-bugis-dan-manado-membuka-rumah-makan/</guid>
<description><![CDATA[Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-ist]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-istri itu menyapa masyarakat Balikpapan dengan &#8220;Hai&#8221;. Maka, jadilah rumah makan &#8220;Bumahai&#8221;.</p>
<p>Sesederhana itu. Mulanya rumah makan ikan bakar yang terletak di jalan Marsma R. Iswahyudi itu mau diberi nama &#8220;Sepinggan&#8221;, karena lokasinya memang berada di jalan utama menuju bandara Sepinggan, Balikpapan. Kurang dari sepuluh menitan dari bandara. Tapi mengingat kata sepinggan bisa berarti sepiring, Pak dan Bu Tahir ini ciut juga nyalinya. Jangan-jangan nanti pelanggannya hanya memesan sepiring dua saja lalu pergi. Akhirnya ditemukanlah judul &#8220;Bumahai&#8221; itu.</p>
<p>Apalah artinya sebuah nama. Tapi pilihan nama memang perlu karena dia adalah <em>brand image</em>, dan selalu ada harapan atau filosofi di baliknya. Perkara maknanya pas atau plesetan, itu soal lain.</p>
<p>***</p>
<p>Restoran yang menyediakan menu masakan Bugis dan Manado dengan bahan dasar ikan ini memang layak untuk disambangi. Sejak berdiri 12 tahun yang lalu ketika masih berada di pinggir jalan, hingga kini pindah agak masuk di belakang pertokoan dan menempati area yang lebih longgar, rumah makan ini banyak dan sering dikunjungi para pengudap dan penikmat makan. Racikan bumbu dan olahan setiap menunya tergolong <em>huenak</em> dan pas di lidah siapa saja. Bukan saja penggemar menu Bugis atau Manado.</p>
<p>Sebut saja aneka ikan baronang, terkulu, bawal, kakap, patin, kerapu, udang, cumi dan kawan-kawannya dari laut yang diolah menjadi menu gorengan atau bakaran. Salah satu menunya adalah woku belanga, yaitu ikan dimasak kuah ditambah dengan asam dan sedikit kunyit. Coba dan rasakan <em>sruputan</em> pertama kuahnya. <em>Wuih&#8230;.cesss&#8230;.</em>, kuah agak bening kekuningan mengalir di tenggorokan dengan <em>taste</em> yang khas.</p>
<p>Juga ikan bakar atau goreng dengan bumbu kuning, rica atau goreng biasa, rasa gurihnya terasa tidak berlebihan dan proporsional. Oseng kangkungnya divariasi dengan bunga pepaya (biasanya dari jenis pohon pepaya laki-laki, dan entah kenapa pohon pepaya perempuan <em>kok</em> tidak keluar bunganya sebanyak pepaya laki-laki), dengan ramuan bumbu khas Manado yang pas benar pedasnya. Sehingga bagi lidah Jogja yang terbiasa dengan rasa manis pun tidak terasa terganggu.</p>
<p>Daun ubi dicampur dengan daun pepaya rebus, dipadu dengan sambal tomat dan irisan bawang merah, memaksa saya menambah pesanan sepiring lagi. Perkedel jagungnya juga beda dari yang biasa saya jumpai di Jawa. Perkedel dengan <em>prithilan</em> jagungnya dibiarkan utuh, tidak diparut atau di-<em>ulek</em> (dihaluskan), dicampur dengan adonan tepung sehingga menyelaputi tipis saja. Tapi tetap terasa renyah, empuk dan butir jagungnya tidak menggangu kerja gigi untuk mengunyahnya.</p>
<p>Rasanya pantas kalau rumah makan &#8220;Bumahai&#8221; ini pada tahun 2001 pernah dianugerahi <em>ASEAN Social and Economic Cooperation Golden Award</em>, khusus bidang <em>Food and Service</em>. Hingga kini rumah makan &#8220;Bumahai&#8221; tetap ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam-jam makan siang. Buka seharian hingga malam, kecuali kalau hari Minggu, sore hari sudah tutup.</p>
<p>Demi menjaga kualitas sajiannya, Bu Jetty turun tangan sendiri untuk masalah <em>quality control</em> terhadap bumbu dan cita rasa. Agaknya unit usaha rumah makan ini tetap menjadi andalan bagi keluarga Pak Tahir, kendati tetap menekuni bidang-bidang bisnis lainnya.</p>
<p>Harga yang mesti dibayar untuk kepuasan urusan selera lidah dan perut ini termasuk wajar untuk ukuran biaya hidup di Balikpapan yang rata-rata lebih tinggi dibanding kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pelayanannya pun cukup memuaskan. Kalau ada kesempatan dibayari, rasanya saya tidak akan menolak untuk diajak mampir ke &#8220;Bumahai&#8221; lagi. Namanya juga <em>dibayarin&#8230;, enggak</em> ada ruginya&#8230;.</p>
<p>Cengkareng, 9 Januari 2008<br />
Yusuf Iskandar</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan]]></title>
<link>http://madurejo.wordpress.com/2008/01/09/ketika-pasutri-bugis-dan-manado-membuka-rumah-makan/</link>
<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 16:30:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>madurejo</dc:creator>
<guid>http://madurejo.wordpress.com/2008/01/09/ketika-pasutri-bugis-dan-manado-membuka-rumah-makan/</guid>
<description><![CDATA[Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-ist]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-ist]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
