<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>bus-kota &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/bus-kota/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "bus-kota"</description>
	<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 08:28:15 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[PAK...BU...YA...!]]></title>
<link>http://gerrilya.wordpress.com/2009/11/30/pak-bu-ya/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 11:03:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>geRrilyawan</dc:creator>
<guid>http://gerrilya.wordpress.com/2009/11/30/pak-bu-ya/</guid>
<description><![CDATA[DI DALAM BUS KOTA&#8230; (1) “Iya&#8230;Selamat siang Pak..Bu..ya. Di sini kami meminta waktu anda s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[DI DALAM BUS KOTA&#8230; (1) “Iya&#8230;Selamat siang Pak..Bu..ya. Di sini kami meminta waktu anda s]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[O Bus Kota nasibmu kini]]></title>
<link>http://ahaoke.wordpress.com/2009/10/14/140/</link>
<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 05:00:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahaoke</dc:creator>
<guid>http://ahaoke.wordpress.com/2009/10/14/140/</guid>
<description><![CDATA[Membaca artikel tentang Bus Kota di kompas.com : Rabu, 14 Oktober 2009 | 10:13 WIB JAKARTA, KOMPAS.C]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Membaca artikel tentang Bus Kota di kompas.com :</p>
<div>Rabu, 14 Oktober 2009 &#124; 10:13 WIB</div>
<p><strong>JAKARTA, KOMPAS.COM &#8211; </strong>Meskipun Dinas Perhubungan (Dishub) DKI menggelar razia dan mengandangkan bus kota tidak laik jalan, di jalanan masih banyak kendaraan umum terutama bus besar dan bus sedang yang kondisinya memprihatinkan.</p>
<p>selengkapnya ada di <a href="http://adf.ly/hVk" target="_blank">kompas.com</a></p>
<p>Memang sedih bagi penumpang bus di Jakarta. Sejak saya kuliah (1992), bus kota (metromini, mikrolet, bus ppd, mayasari, kopaja, dan sejenisnya) makin lama makin tidak terawat. Sudah tidak terawat, malah beberapa rute yang hilang. Seperti rute B2 Grogol &#8211; Senen yang menggunakan BBG. Bus yang katanya diimpor dari Hongaria, saya tumpangi kira-kira di tahun 1998, dari Slipi ke Salemba. Busnya nyaman, ber AC dan jok duduknya ergonomis. Selain itu, saya dulu sering sekali naik bus tingkat dari Blok M ke Harmoni dengan nomor 70. Naek di lantai atas, duduk di pojok depan. Serasa jadi sopir bus tapi ga megang setir hehehe &#8230;</p>
<p>Naik BusWay pun juga engga nyaman. Tempat duduknya sedikit. Waktu kedatangannya pun engga bisa diprediksi.</p>
<p>Jujur saja, <a href="http://ahaoke.wordpress.com/2009/09/24/lalu-lintas-ideal-jakarta/" target="_self">saya lebih suka naik bus daripada kendaraan pribadi</a>. Namun kalo sudah bayar mahal, tidak nyaman, tidak duduk, dan tidak lancar &#8230; ya susah juga &#8230; mendingan engga kemana-mana kalau engga perlu.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-141" title="bus_tingkat_70_blokm-kota" src="http://ahaoke.wordpress.com/files/2009/10/bus_tingkat_70.jpg" alt="bus_tingkat_70" width="443" height="291" /></p>
<p>Heloo bus mayasari 107 blok m &#8211; kampung melayu, 300 blok m &#8211; pulogadung, Bianglala senen &#8211; ciledug, pada kemana yaa .. oo ternyata sudah punah. Semakin banyak penduduk jakarta yang mempunyai motor dan mobil, semakin enggan naik bus. Padahal dulu naik bus bisa ngirit, sekarang arghh malah jadi sakit : asap rokok, macet di jalan, ngetem dengan waktu lama, jadi sarden deh.</p>
<p>Namun bila pembaca ingin tahu rute bus di jakarta saat ini <a href="http://adf.ly/hVo" target="_blank">silakan klik di sini</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TERSADAR DI KALENDER]]></title>
<link>http://sorikmarapi.wordpress.com/2009/10/13/tersadar-di-kalender/</link>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 10:54:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>ashartanjung</dc:creator>
<guid>http://sorikmarapi.wordpress.com/2009/10/13/tersadar-di-kalender/</guid>
<description><![CDATA[Ketika berangkat dari Bintara Jaya Bekasi Barat, saya menaiki bus kota berwana merah dengan nomor 20]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ketika berangkat dari Bintara Jaya Bekasi Barat, saya menaiki bus kota berwana merah dengan nomor 20 tujuan Pondok Kopi. Ketika kutanya pengemudi bus kota itu, rupanya trayek yang dilalui bus merah bernomor 20 itu adalah Sumber Arta ke Kalender dan dari Kalender ke Sumber Arta.<br />
Berarti saya menyetop bus ini di Bintara Jaya beberapa menit setelah bus merah 20 ini berangkat dari tempat mangkalnya di Sumber Arta.<br />
Di dalam bus ini, saya merasa tenang tenang saja. Tak begitu kuhiraukan apakah saya sudah sampai ke Pondok Kopi atau belum, sebab saya merasa sudah merasa terbiasa menaiki bus ini. Lalu apa jadinya? Ketika saya tersadar, rupanya saya sudah sampai ke Kalender. Begitulah kadang kadang yang terjadi di kota Jakarta bila kita belum mengenal lokasi secara benar benar. Seperti saya dalam cerita yang saya tulis ini. Kebetulan memang saya sedang ada di Jakarta pada dua bulan yang lalu.<br />
Dalam cerita ini saya hanya menceritakan ketika saya lengah di dalam bis kota, ternyata saya sudah tiba di Kalender. Sepintas lalu pekerjaan ini hanya iseng saja. Hanya buat pengisi waktu di saat senggang. Tapi saya yakin tulisan ini akan ada gunanya bagi orang orang yang baru tiba di Jakarta dan kebetulan berjada di Bekasi Barat. Apalagi dia ingin cari info tentang bus dari Bekasi Barat tujuan Pondok Kopi atau Kalender. Dalam blog ini akan anda ketahui jawabnya yaitu mobil angkut merah nomor 20. Semoga blog ini berguna buat anda.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ditampar Copet..]]></title>
<link>http://celoteh4ti.wordpress.com/2009/08/19/ditampar-copet/</link>
<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 05:18:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>yustha tt</dc:creator>
<guid>http://celoteh4ti.wordpress.com/2009/08/19/ditampar-copet/</guid>
<description><![CDATA[Baca postingan kurotsuchi tentang copet, bikin aku inget kejadian sekitar 6 tahun yang lalu waktu du]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Baca postingan kurotsuchi tentang copet, bikin aku inget kejadian sekitar 6 tahun yang lalu waktu du]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rosalinda]]></title>
<link>http://storitie.wordpress.com/2009/07/07/rosalinda/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 15:54:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>storitie</dc:creator>
<guid>http://storitie.wordpress.com/2009/07/07/rosalinda/</guid>
<description><![CDATA[Panggil dia Rosalinda,, Rosalinda bukan nama aslinya,,karena Pertama,,gw ga tau nama aslinya,, Kedua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Panggil dia Rosalinda,,</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-939" title="Rosalindda" src="http://storitie.wordpress.com/files/2009/07/rosalindda1.jpg" alt="Rosalindda" width="240" height="320" /></p>
<p>Rosalinda bukan nama aslinya,,karena</p>
<p><strong>Pertama,,</strong>gw ga tau nama aslinya,,</p>
<p><strong>Kedua,,</strong>dia perempuan,,</p>
<p><strong>Ketiga,,</strong>rosalinda ngegambarin seorang cewe penghibur (**iya ga c?gw aga ngarang nih hehehe**)</p>
<p><strong>Siapa dia?</strong></p>
<p>Dia adalah pengamen cilik di bus kota,,</p>
<p>Waktu gw pulang naek bus kota,,gw ngga sadar kapan dia naik,,tiba2 ada suara melengking cadel khas anak kecil di sebelah gw,,suaranya ngga merdu,,dia cadel,,lagu yang dinyanyiinnya ngga ada nada khas anak kecil yang sedang bernyanyi,,dan gw perhatiin lebih detil,walo potongan rambutnya pendek, ternyata dia perempuan,,tingginya dibawah pinggang gw,,dialah <strong>Rosalinda </strong>(bukan nama sebenernya-red)</p>
<p>Dia ngga seharusnya ada dsana dengan semua kepolosan yang dia punya,,</p>
<p>Dia seharusnya masih bermain2 bersama teman2 kecilnya,,memainkan permainan khas anak2,,</p>
<p>Tapi kenapa dia ada di bus ini menyenandungkan lagu2 dewasa?</p>
<p>Betapa mirisnya pemandangan ini,,smoga dia bisa menikmati masa kecilnya dan akan mengecap pendidikan sebagaimana layaknya anak2 pada umumnya,,</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tolak Bus Kota, Sopir Angkot Ngeluruk Dishub]]></title>
<link>http://mujibanwar.wordpress.com/2009/06/30/tolak-bus-kota-sopir-angkot-ngeluruk-dishub/</link>
<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 14:13:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>mujib anwar</dc:creator>
<guid>http://mujibanwar.wordpress.com/2009/06/30/tolak-bus-kota-sopir-angkot-ngeluruk-dishub/</guid>
<description><![CDATA[Sabtu, 27 Juni 2009 SURABAYA &#8211; SURYA Seratus lebih sopir angkot di Surabaya, Jumat (26/6) sore]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sabtu, 27 Juni 2009 SURABAYA &#8211; SURYA Seratus lebih sopir angkot di Surabaya, Jumat (26/6) sore]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Digagas, Bus Kota Perumahan]]></title>
<link>http://mujibanwar.wordpress.com/2009/06/30/digagas-bus-kota-perumahan/</link>
<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 14:10:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>mujib anwar</dc:creator>
<guid>http://mujibanwar.wordpress.com/2009/06/30/digagas-bus-kota-perumahan/</guid>
<description><![CDATA[* Lewat Perkantoran, Kampus, dan Pusat Perbelanjaan Sabtu, 27 Juni 2009 SURABAYA &#8211; SURYA Kemac]]></description>
<content:encoded><![CDATA[* Lewat Perkantoran, Kampus, dan Pusat Perbelanjaan Sabtu, 27 Juni 2009 SURABAYA &#8211; SURYA Kemac]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[No Body Care About Her]]></title>
<link>http://masbay09.wordpress.com/2009/06/25/no-body-care-about-her/</link>
<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 07:31:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>masbay09</dc:creator>
<guid>http://masbay09.wordpress.com/2009/06/25/no-body-care-about-her/</guid>
<description><![CDATA[Seperti biasa, malam itu saya sedang duduk dengan nyaman di atas sebuah bus ukuran ¾ jurusan Depok T]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Seperti biasa, malam itu saya sedang duduk dengan nyaman di atas sebuah bus ukuran ¾ jurusan Depok Timur. Kali ini saya cukup beruntung karena mendapat bus yang masih baru dan lumayan bagus dan nyaman dengan ruang antartempat duduk yang lega, biasanya bus-bus jurusan depok timur-kp rambutan diisi oleh jajaran bus tua berbentuk kotak sabun yang kurang layak ditumpangi.</p>
<p>Saya naik bus ini di daerah Pasar Rebo di saat bus masih kosong belum terisi banyak orang. Bus ini biasanya akan ngetem di halte dekat fly over Pasar Rebo ke arah Cijantung dan baru akan jalan setelah bus terisi penuh penumpang.</p>
<p>Saya sengaja memilih tempat duduk di deretan kanan baris ketiga di pojok dekat jendela dan duduk dengan nyaman di sana. Karena masih kosong, saya punya banyak pilihan dan kebetulan posisi ini adalah favorit saya, di pojok dekat jendela. Posisi ini favorit karena saya bisa “bebas dari gangguan” yang sewaktu-waktu bisa saja datang (Saya berharap tidak ada ibu-ibu membawa anak, nenek-nenek, atau wanita hamil yang akan naik).</p>
<p>“Depok Timur, Cisalak, Simpangan” terdengar teriakan calo di halte.</p>
<p>Satu per satu penumpang naik mengisi tempat duduk yang masih kosong. Seorang bapak-bapak duduk di sebelah saya, dan langsung menutup jendela yang sebelumnya memang sengaja saya buka lebar-lebar. Jendela ini memang sengaja saya buka lebar biar udara segar di luar yang habis tersiram hujan bisa masuk, AC alam gitu loh. Dalam hati saya bergumam, “ngga sopan nih orang ngga boleh orang senang ya.” Tapi, saya diam aja sambil berpikir positif, mungkin saja orang ini sedang kurang enak badan.</p>
<p>“Depok Timur, kosong kosong langsung berangkat yang mau cepat,” terdengar lagi teriakan sang calo tanpa melihat bahwa bus sudah terisi penuh tanpa ada bangku kosong.</p>
<p>Bus pun melaju setelah terisi penuh penumpang. Saya pun menyandarkan kepala dengan nyaman dan mencoba memejamkan mata. Mumpung busnya nyaman, saya mencoba menikmati perjalanan ini dengan sejenak memejamkan mata melepas lelah.</p>
<p>Mata saya sedang setengah terpejam saat secara samar-samar saya melihat seorang ibu sambil menggendong anak naik ke atas bus yang sedang saya tumpangi. Wah, akhirnya kekhawatiran gue terjadi juga. Apakah saya akan meninggalkan kenyamanan ini dan memberikan tempat duduk saya kepada ibu yang baru naik ini? dalam hati saya bimbang.</p>
<p>Meskipun ibu ini terlihat cukup kuat dan tabah, saya merasa kasihan juga. Saya mencoba membela diri, saya juga membawa tas yang cukup berat, jadi saya berhak dengan tempat duduk ini. saya menunggu reaksi penumpang lain, siapa tahu ada yang berbaik hati memberikan tempat duduknya yang nyaman kepada ibu yang sedang menggendong anak ini. tapi, saya hanya bisa berharap.</p>
<p>Saya melihat penumpang yang duduk, kebanyakan mereka duduk dengan mata terpejam (atau sengaja memejamkan mata walaupun sebenarnya ngga ngantuk).</p>
<p>Saya benar-benar ngga tega. Akhirnya, saya pun berdiri sambil mencolek pundak ibu itu seraya memberikan tempat duduk yang sebelumnya saya duduki tanpa melihat ke belakang. Tapi, tanpa diduga dari belakang saya datang ibu yang lain langsung menyerobot duduk di tempat yang akan saya berikan kepada ibu yang menggendong anak tadi.</p>
<p>Saya benar-benar ngga menduga kejadian ini. ibu yang menggendong anak pun terlihat terkejut tapi ngga bisa berbuat apa-apa. Ibu itu tetap berdiri dengan tegar sambil menggendong anaknya yang mulai terlelap pulas. Sejenak saya bingung, ngga bisa berpikir. Saya juga melihat penumpang lain, sama sekali ngga ada perhatian. Seolah-olah ngga terjadi apa-apa.</p>
<p>Entah apa yang ada di kepala ibu yang menyerobot duduk ataupun ibu yang menggendong anak. Ibu yang menggendong anak tampaknya sebel tapi ngga bisa berbuat apa-apa. Ibu yang menyerobot duduk tenang-tenang saja di tempat duduknya tanpa merasa bersalah.</p>
<p>Penumpang yang lain pun tampak ngga peduli, tetap di bangkunya yang nyaman. Aneh, apa mereka ngga malu dengan dirinya sendiri membiarkan seorang ibu berdiri dengan menggendong anak? Apa mereka ngga berpikir, bagaimana kalo yang berdiri itu istrinya sendiri, ibunya yang sewaktu muda menggendong dirinya saat masih kecil, atau dirinya sendiri menggendong anaknya?</p>
<p>No body care about her …</p>
<p>Saya masih bingung dengan keadaan ini. udah tujuan saya memberi tempat duduk kepada ibu itu ngga tercapai, sekarang saya pun harus susah payah berdiri dengan memikul tas ransel saya yang lumayan berat.</p>
<p>Cukup lama saya berada dalam kebingungan dengan pikiran yang agak kacau, sampai akhirnya saya memberanikan diri berbicara kepada ibu yang menyerobot itu yang masih duduk dengan tenang.</p>
<p>“Maaf bu, tadi maksud saya mau memberikan tempat duduk ini untuk ibu itu,” ujar saya dengan hati-hati sambil menunjuk kepada ibu yang berdiri menggendong anak.</p>
<p>“oh begitu,” jawab ibu yang duduk itu seraya berdiri dan mulai menyadari maksud saya tadi. Saya pun kembali menawarkan tempat duduk ini yang sudah kosong kepada ibu yang menggendong anak tadi.</p>
<p>“maaf, Mas. Ngga apa-apa saya berdiri aja,” ujarnya dengan tegas cenderung ketus tanpa menengok dengan nada datar yang dicoba untuk tegar dan sabar yang terasa bagai cubitan pada kulit saya.</p>
<p>Tampaknya memang terlambat buat saya untuk membuatnya menerima kebaikan hati saya. Tampaknya dia sudah menetapkan, saya bisa kok berdiri tanpa perlu bantuan tempat duduk dari anda. Hatinya sudah bulat untuk tetap berdiri dan tegar tanpa perlu bantuan dari kami yang sombong ini. sikap tegasnya ini saya pikir bukan ditujukan kepada saya semata melainkan untuk sikap cuek dan ngga peduli semua penumpang bus ini dan terlebih kepada ibu yang telah menyerobot tempat duduk tadi.</p>
<p>Perasaan saya ngga menentu, ada rasa iba, jengkel, kesel, dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu.</p>
<p>Saya mencoba memahami keadaan ini. penumpang bus yang nyaman dengan tempat duduknya tanpa peduli dengan orang lain sampai-sampai membiarkan seorang ibu yang menggendong anak berdiri dengan susah payah. Seorang ibu yang lain yang tanpa merasa bersalah menyerobot tempat duduk yang bukan untuknya. Seorang ibu yang mencoba tegar dan tidak bergantung kepada kebaikan orang lain. Saya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.</p>
<p>Sebuah pelajaran berharga yang saya dapat malam itu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CINTA KALISTA DI ATAS BUS KOTA]]></title>
<link>http://cerpenkeren.wordpress.com/2009/06/23/cinta-kalista-di-atas-bus-kota/</link>
<pubDate>Tue, 23 Jun 2009 09:32:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>raneehoney</dc:creator>
<guid>http://cerpenkeren.wordpress.com/2009/06/23/cinta-kalista-di-atas-bus-kota/</guid>
<description><![CDATA[Sudah sebulan Kalista belajar naik bus kota dari rumahnya di bilangan Buah Batu, Bandung, menuju kam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sudah sebulan Kalista belajar naik bus kota dari rumahnya di bilangan Buah Batu, Bandung, menuju kam]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sopir Angkot Tolak Bus Kota Surabaya – Madura]]></title>
<link>http://mujibanwar.wordpress.com/2009/06/18/sopir-angkot-tolak-bus-kota-surabaya-%e2%80%93-madura/</link>
<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 10:27:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>mujib anwar</dc:creator>
<guid>http://mujibanwar.wordpress.com/2009/06/18/sopir-angkot-tolak-bus-kota-surabaya-%e2%80%93-madura/</guid>
<description><![CDATA[Kamis, 18 Juni 2009 SURABAYA – SURYA Takut penghasilannya turun drastis, paguyuban sopir angkutan ko]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kamis, 18 Juni 2009 SURABAYA – SURYA Takut penghasilannya turun drastis, paguyuban sopir angkutan ko]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bus Kota dan Rahasia-Rahasia yang Terungkap]]></title>
<link>http://babyphut.wordpress.com/2009/06/02/bus-kota-dan-rahasia-rahasia-yang-terungkap/</link>
<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 12:56:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>babyphut</dc:creator>
<guid>http://babyphut.wordpress.com/2009/06/02/bus-kota-dan-rahasia-rahasia-yang-terungkap/</guid>
<description><![CDATA[Posting ini di tulis di awal bulan Juni ini, tanggal 1, tapi saya memilih menyimpannya dalam draft t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Posting ini di tulis di awal bulan Juni ini, tanggal 1, tapi saya memilih menyimpannya dalam draft t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jalur Bus Kota DAMRI]]></title>
<link>http://bandungkuring.wordpress.com/2009/05/10/jalur-bus-kota-damri/</link>
<pubDate>Sat, 09 May 2009 22:52:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>awaluna</dc:creator>
<guid>http://bandungkuring.wordpress.com/2009/05/10/jalur-bus-kota-damri/</guid>
<description><![CDATA[Leuwi Panjang » Dipatiukur (PP) »» Kopo &#8211; Pasir Koja &#8211; Astana Anyar &#8211; Kebon Jati -]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Leuwi Panjang » Dipatiukur (PP) »» Kopo &#8211; Pasir Koja &#8211; Astana Anyar &#8211; Kebon Jati -]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bus Kota]]></title>
<link>http://armantjandrawidjaja.wordpress.com/2009/04/17/bus-kota/</link>
<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 18:14:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arman</dc:creator>
<guid>http://armantjandrawidjaja.wordpress.com/2009/04/17/bus-kota/</guid>
<description><![CDATA[Pindah kemari emang jadi banyak hal-hal baru dalam hidup gua. Salah satunya adalah gua jadi harus be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pindah kemari emang jadi banyak hal-hal baru dalam hidup gua. Salah satunya adalah gua jadi harus belajar naik bus untuk pergi dan pulang kantor. Gak tiap hari sih, cuma 2-3 kali seminggu, waktu mobilnya dipake Esther.</p>
<p>Sekarang gua jadi paham duka-dukanya (gak ada sukanya kan ya? hehe) sebagai penumpang bus. Tau gimana keselnya nungguin bus yang telat dateng (plus kedinginan kalo pas lagi musim dingin)&#8230; Tau gimana deg-deg-annya pas kita udah liat bus nya udah mau nyampe halte padahal kitanya masih rada jauh dari sono, jadi mesti lari-lari takut ditinggal bus&#8230; Tau gimana sedihnya pas ketinggalan bus, padahal udah bela-belain lari, eh telat beberapa detik doang&#8230; Tau gimana bosennya bengong-bengong di dalem bus kalo pas jalanan lagi macet!</p>
<p>Nah untuk yang terakhir nih, untung ada <a href="http://armantjandrawidjaja.wordpress.com/2009/02/04/blackberry/" target="_blank">blackberry</a> ya, jadi masih bisa <em>chatting</em> atau <em>bw.</em> Tapi kadang gak bisa juga, karena kalo kelamaan baca di bus kok jadi mabok ya. Hahaha. Udah gitu gak selalu ada yang bisa dibaca pas jam-jam gua di bus.</p>
<p>Nah kalo udah mati gaya gitu, paling asik ya ngeliat-ngeliatin penumpang lain di bus, ya gak?? Hehehe. Emang sih kebanyakan penumpang bus ya orang kantoran yang biasa-biasa aja, tapi suka ada juga lho penumpang yang &#8216;gak biasa&#8217;.</p>
<p><strong>1. Orang gila.</strong><br />
Ini sih gua udah pernah cerita ya dulu. Nah selain <a href="http://armantjandrawidjaja.wordpress.com/2008/10/07/ironi-dalam-bus-kota/" target="_blank">orang gila yang gua udah pernah ceritain waktu itu</a>, pernah sekali pas lagi nunggu bus, ada 1 nenek-nenek. Pertamanya sih dia nanya apa bener bus ini bakal lewat <em>Social Security Office.</em> Trus gua bilang bener. Eh trus dia nerusin obrolannya. Dia bilang dia abis kecopetan, jadi dompetnya ilang termasuk kartu <em>Social Security Number</em> nya. Dia udah lapor polisi dan sekarang harus ke <em>SS office</em> untuk ngurusin supaya gak sampe identitasnya disalahgunain ama si pencuri. Eh gak brenti ceritanya, dia trus nanya gua kerja dimana, asal mana. Trus dia cerita anaknya juga kerja IT, tapi tinggal di San Francisco. Udah gitu trus juga cerita menantunya yang gak suka masak lah, ini lah, itu lah. Yah orangnya sih keliatannya baik jadi ya gua dengerin aja ceritanya. Sampe pas naik bus pun dia tanya lagi ama supirnya bener bakal lewat <em>SS office</em> gak. Trus ya udah di bus gua gak duduk sebelah dia. Tapi gua liat dia beneran turun pas bus nya brenti di <em>SS office.</em></p>
<p>Setelah beberapa bulan berikutnya, gua ngeliat dia lagi di bus. Gua duduk bukan di sebelahnya tapi di belakangnya, jadi gua bisa denger dia ngomong apa. Ternyata dia lagi tanya ama yang duduk di sebelahnya apa bener bus ini bakal lewat <em>SS office</em>. Trus dia cerita gimana dia abis kecopetan dan lain-lain, sama persis ama cerita yang dia dulu ceritain ke gua! Huehehehe. Aneh gak tuh&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Gua gak tau apa sebenernya si nenek ini gak waras atau pikun ya.  Gak ngerti juga sih, tapi setelah itu belum ketemu ama si nenek ini lagi, gak tau kalo dia naik bus yang jam nya beda-beda. Hehehe.</p>
<p><strong>2. Orang yang dandanannya aneh-aneh.</strong><br />
Nah kalo ini terutama biasanya anak-anak sekolahan, terutama lagi orang-orang Jepang. Hehehe. Mereka emang berani-berani kalo dandan. Gak cowok gak cewek. Aneh-aneh. Pernah ada cewek yang atasnya pake jaket tertutup (emang lagi dingin waktu itu) tapi pake celana pendek yang super pendek! Trus dia duduknya di barisan paling depan pula. Nah setelah kursi barisan paling depan itu ada lagi kursi-kursi yang duduknya ngadep samping. Pas di kursi yang ngadep samping itu ada cowok yang duduk. Ini yang lucu, gua perhatiin aja tuh cowok gelisah mulu. Kepalanya muter-muter, ngeliat ke depan ke belakang ke depan ke belakang. Hahaha. Mungkin dia pengen ngeliat tuh cewek tapi takut terlalu <em>obvious</em> ya.</p>
<p>Trus lagi, gua gak tau ya di Indo gimana, tapi disini tuh anak-anak cowok suka banget pake celana yang melorot sampe di paha gitu, trus keliatan boxer nya kotak-kotak. Yah kalo yang pake anak ABG sih masih gak apa ya (walaupun tetep menurut gua gak ada keren-kerennya pake celana model begitu), nah tapi gua perhatiin ada 1 bapak-bapak (bule sekitar 40-an tahun lah) yang selalu pake celananya juga begitu lho! Gile banget gak sih, gak cocok banget ama tampangnya. Hahahaha. Mau sok muda kali ya tuh bapak&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>3. Orang norak.</strong><br />
Pernah sekali pas pulang kantor gua liat di bus ada 1 cowok yang keren banget. Beneran keren lho dari ujung rambut sampe ujung kaki, model kayak <em>rocker</em> gitu gayanya. Tadinya gua pikir jangan-jangan artis, tapi masa artis naik bus ya? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Pas kebetulan waktu itu bus nya brenti rada lama karena kena lampu merah, eh si <em>&#8216;rocker</em>&#8216; ini trus berdiri ke depan (sebelah supir) trus ngeluarin kamera, trus motret-motret logo MTV di gedung kantor gua! Sampe ama supirnya diomelin disuruh duduk. Huahahaha. Ternyata &#8216;<em>rocker&#8217; </em>kampung! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Gak sampe disitu, ini orang bener-bener kampungan, soalnya abis duduk, dia pasang <em>earphone</em> yang lagunya kenceng banget sampe semua orang bisa denger! Entah dia nya budeg atau <em>earphone</em>nya merk nya Sunny atau Sonie kali ya jadi gak kedap suara gitu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Sampe orang-orang pada sebel ngeliatin ini orang dan dia nya ya cuek aja gitu sambil ngeliat-ngeliat peta. Oooo turis ternyata. Tapi perasaan, sekampung-kampungnya gua, pas pertama kali dateng kemari juga gak sampe motret-motret logo MTV atau logo lainnya di gedung-gedung kantor dah. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Kayak dulu pas gua pindah ke Jakarta dari Surabaya, juga gua gak sampe motret logo RCTI pas lewat gedung kantornya. Hehehe.</p>
<p><strong>4. Orang sakit.</strong><br />
Nah ini nih yang baru belakangan gua perhatiin. Banyak bener orang sakit di dalam bus ya! Sakit dalam arti sesungguhnya. Ya pilek, ya batuk, ya bersin. Ampun dah!</p>
<p>Dan sekarang, gua lagi menderita batuk parah sampe suara ilang. Belum pernah lho gua seumur-umur batuk tuh sampe suara ilang. Dulu gua kalo ngeliat orang yang suaranya ilang karena batuk suka berasa aneh. Masa iya sih beneran bisa ilang gitu suaranya? Hehehe. Nah sekarang gua baru ngalamin dah. Gile tenggorokannya sakit banget pula. Ampun dah!!!</p>
<p>Doaken semoga gua cepet sembuh ya! Kemaren mau makan KFC jadi gak boleh deh ama Esther&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>5. Orang cakep.</strong><br />
Lho itu mah gua dong ya? Hahahaha.</p>
<p><em>PS.</em> Ada yang juga pernah ketemu orang aneh bin ajaib gak di dalem bus?? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Serba-Serbi Kuliah di Jogja]]></title>
<link>http://creatifitas.wordpress.com/2009/03/06/serba-serbi-kuliah-di-jogja/</link>
<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 09:10:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>creatifitas</dc:creator>
<guid>http://creatifitas.wordpress.com/2009/03/06/serba-serbi-kuliah-di-jogja/</guid>
<description><![CDATA[Siswa SMA/SMK kelas XII yang akan melanjutkan kuliah. Sekarang pasti sedang memilih-milih dimana aka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --></p>
<p><!--[if gte mso 10]&#62; &#60;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]-->Siswa SMA/SMK kelas XII yang akan melanjutkan kuliah. Sekarang pasti sedang memilih-milih dimana akan kuliah. Untuk kamu yang ingin mengetahui seperti apa kuliah di Yogyakarta, kamu dapat mengakses situs-situs Perguruan Tinggi di Yogyakarta seperti : <!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if gte mso 9]&#62;   &#60;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]&#62; &#60;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--><a href="http://www.upnyk.ac.id/">http://www.upnyk.ac.id</a>, <a href="http://www.fp-upnvyk.com/">http://www.fp-upnvyk.com </a>dan alamat lain di <a href="http://creatifitas.wordpress.com/files/2009/03/umb-pts.doc">Web PT</a> Mengenai Informasi Perjalanan, Informasi Pondokan dan Asrama/Kost Mahasiswa, Telepon penting di Yogyakarta secara lengkap lihat di: <a href="http://creatifitas.wordpress.com/files/2009/03/informasi-perjalanan-dan-asrama-kost-jogja.pdf">Informasi Lengkap Jogja</a> Apabila ingin bertanya lebih banyak informasi seputar kuliah di Yogya bisa bertanya melalui kontak person.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengapa Ojek Tumbuh Subur di Kota Serang (Part II)]]></title>
<link>http://robbicahyadi.wordpress.com/2009/03/01/mengapa-ojek-tumbuh-subur-di-kota-serang-part-ii/</link>
<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 12:21:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>robbicahyadi</dc:creator>
<guid>http://robbicahyadi.wordpress.com/2009/03/01/mengapa-ojek-tumbuh-subur-di-kota-serang-part-ii/</guid>
<description><![CDATA[Ide saya adalah dengan mengkonversi Angkutan Kota yang sekarang beroperasi menjadi Bus ¾. Konversi d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ide saya adalah dengan mengkonversi Angkutan Kota yang sekarang beroperasi menjadi Bus ¾. Konversi d]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[pesan pendek dan menunggu ]]></title>
<link>http://masmpep.wordpress.com/2009/02/26/pesan-pendek-dan-menunggu/</link>
<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 05:41:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>masmpep</dc:creator>
<guid>http://masmpep.wordpress.com/2009/02/26/pesan-pendek-dan-menunggu/</guid>
<description><![CDATA[Apakah anda termasuk orang yang sering menunggu. Tepatnya tak berdaya, sehingga menjadi orang yang m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-129" title="pesan-pendek" src="http://masmpep.wordpress.com/files/2009/02/pesan-pendek.jpg?w=128" alt="pesan-pendek" width="204" height="153" />Apakah anda termasuk orang yang sering menunggu. Tepatnya tak berdaya, sehingga menjadi orang yang menunggu, bukan ditunggu. Tak perlu khawatir, menunggu merupakan jenis momentum yang jamak terjadi di negara berkembang seperti republik  ini. Semua harus melalui proses menunggu. Lalu, apa yang menarik? Ada, tentu saja.<!--more--></p>
<p>Menunggu itu menyebalkan? Ya, ya. Tapi tunggu dulu. Saya kira menyebalkan, menyenangkan, membahagiakan, atau dinanti-nantikan adalah soal bagaimana memperlakukan momentum ini. Berapa banyak kejadian daur-hidup kita sejak dari kandungan hingga dilahirkan berikut prosesi pemberian nama, turun ke tanah pertama kali (<em>tedak siti</em>), memasuki masa sekolah, mulai bekerja, menikah, memiliki anak, hingga meninggal. Sejatinya semua adalah proses menunggu. Orang tua kita menunggu-nunggu kelahiran kita. Kita menunggu-nunggu dapat mahir bersepeda ketika beranjak bocah. Pacar kita menunggu-nunggu kesediaan kita untuk bersama mengaruhi bahtera perkawinan. Bawahan kita menunggu-nunggu kita pensiun agar ia menggantikan kita. Kita kemudian menunggu-nunggu waktu kembali kepadaNya. Malaikat maut juga menunggu-nunggu waktu yang tepat mencabut nyawa. Bangsa kita menunggu-nunggu kapan sejahtera.</p>
<p>Karena menunggu merupakan keniscayaan, makanya tak perlu ada ungkapan ‘menunggu itu menyebalkan’. Prinsipnya, bagaimana kita tak dijajah momentum menunggu. Dan bagaimana kita berbuat sesuatu selagi menunggu.</p>
<p>Menunggu angkutan umum bisa jadi merupakan pekerjaan paling menyebalkan. Apalagi di negara berkembang macam Indonesia. Kereta api, pesawat terbang (yang ini katanya, karena belum pernah mencoba), bus, angkot, bahkan <em>dokar</em>. Tak peduli angkutan telah penuh sesak. Semua hanya boleh menunggu agar pengemudi memiliki <em>mood</em> untuk <em>mau</em> memulai perjalanan. Tak perlu protes, karena pengemudi cukup demokratis: mau menunggu silakan duduk manis. Tak mau menunggu silakan naik angkutan berikut, yang berarti menunggu angkutan yang menunggu. Menunggu dengan menunggu memang menyebalkan.</p>
<p>Mengapa tidak menunggu dengan melakukan aktivitas lain? Saya punya kebiasaan saat menunggu. Membuka telepon genggam—yang murah saja dan fiturnya tak rumit tetapi selalu ada pulsanya. Mulai mengirim pesan pendek ke sejumlah teman. Lama dan baru. Yang tak sempat saya sms bila sedang tak ada kesibukan. Karena ‘tak ada kesibukan’ biasanya saya isi dengan membaca, menonton gosip di televisi, tidur, makan siang, ngobrol, atau jalan-jalan. Hampir tak ada waktu khusus bagi saya untuk sengaja mengirim pesan pendek via telepon seluler, kepada banyak kawan. Sekedar <em>say hello</em>, atau silaturahmi tanpa keperluan khusus.</p>
<p>Menunggu bagi saya adalah momentum. Untuk bersilaturahmi dengan teman-teman yang tersebar di banyak kota, mengejar mimpi-mimpinya. Menunggu bagi saya menjadi produktif, karena saya kemudian berbalas pesan pendek. Memanfaatkan fasilitas layanan pesan pendek yang sudah sangat murah kini, tapi kita masih tak sempat juga. Saya urutkan teman-teman sejak teman kampus, teman semasa di kos dulu, teman satu organisasi, teman dari tanah kelahiran, teman bertemu dalam momen khusus, teman kantor. Saya biasa mengirimkan pesan pendek secara personal. Maksudnya bukan pesan pendek yang ditulis untuk dikirim pada banyak orang sekaligus. Seperti pesan pendek saat hari raya yang semakin tak kreatif, dan kering. Saya membiasakan diri mengirim pesan pendek saat hari raya secara personal. Lebih intim. Meskipun  saya mengirim pesan pendek yang ada pertanyaan di dalamnya tetap dikirim-balik pesan pendek ‘jenis borongan’ itu: &#8216;Saat beduk telah bertalu. Takbir telah dilantunkan.  Ketupat mulai dijerang di atas kompor. Saya sekeluarga mengucapkan selamat hari raya. Tak komunikatif!</p>
<p>Bertanya kabar. Guyon. Mencoba menyesuaikan karakter masing-masing teman. Ada yang biasa menggunakan bahasa daerah, bahasa nasional-baku, bahasa <em>pisuhan</em>, bahasa <em>prokem</em>. Ada yang gemar mengirim pesan sangat pendek. ‘Ya’. ‘Tdk’. ‘D mn’. ‘Kpn’. Satu kata sekali kirim. Ada yang suka curhat. Ada yang suka menyingkat karakter dan saya kesulitan membacanya:<br />
Teman: ‘Ass. Sbb <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Aq lom nah k kmps lg? mang km mo kul ap? ktm d sn j y. tq’.<br />
Saya: bertanya dalam hati (apa maksud huruf-huruf ini?)</p>
<p>Maksudnya:<br />
“Assalamualaikum. Sori baru bales. Aku belum pernah ke kampus lagi. Emang kamu mau kuliah apa. Ketemu di sana/sini saja ya. Terimakasih’. Karakter ‘Tq’, ‘nuwun’, atau ‘trims’ maupun ‘thanks’ adalah kalimat pemenggal pesan. Maksudnya, sebagian rekan mengetik karakter ‘tq’ yang berarti: cukup sekian (jangan sms lagi). Jangan coba-coba mengirimkan pesan pendek lagi. Karena jawabannya biasanya satu kata: ‘blm tau. tq’. Kawan model ini suka yang praktis-praktis saja. Tak suka model pesan curhat. Dan mendekati menyebalkan.</p>
<p>Seorang kawan gemas bila dikirimi pesan yang diakhiri dengan: ‘bls. gpl’. Saya tahu pesan apa yang perlu saya balas atau tidak, termasuk yang harus saya balas segera atau kapan-kapan, kawan saya itu menggeram kepada saya padahal bukan saya yang mengirim pesan itu. Dalam hati saya menyetujui kawan saya itu. Sepanjang pengalaman saya mengirim pesan pendek saya memang tak pernah mengakhiri pesan dengan karakter jenis itu. Seorang kawan pernah mengirimi saya pesan dan ia membutuhkan ‘balasan segera’. Ia menulis di akhir pesannya: ‘harap segera memberi respons’. Saya mengangguk-angguk, mengakui kualifikasi kesantunan kawan saya itu yang di atas rata-rata. Saya kira mengirim pesan pendek dengan santun menunjukkan berada pada kelas apa kita dapat digolongkan. Seorang rekan semasa kuliah dulu saat satu pesan dihargai Rp. 350 mengirim pesan yang ‘intimidatif’: ‘klo gak di bls berarti iya’. Saya masih memakluminya, saat itu perusahaan penyedia jasa telekomunikasi memang menetapkan tarif layanan yang benar-benar ‘menciderai rasa keadilan’.</p>
<p>Ada lagi rekan yang suka mengirim pesan pendek bertele-tele. Saya, misalnya sedapat mungkin mengirim pesan pendek secara ringkas, dan jelas. Misalnya mengajak jalan bersama saya akan mengirim sms: ‘Bro, bsk sabtu mlm pkl 19.30 nongkrong di alun2 gmn? Ktm di rmhmu’. Bandingkan dengan rekan yang suka basa-basi, tak praktis, dan bertele-tele:<br />
Teman: ‘sbtu ke alun2 yuk.’<br />
kawan: ‘sbtu kpn. sbtu ini apa sbtu dpn?’.<br />
Teman: ‘ya sbtu ini. gmn?’.<br />
Kawan: ‘ok. jam brp?’<br />
Teman: ‘enaknya jam brp?’<br />
Kawan: ‘jam 8 gmn?’<br />
Teman: ‘8 pagi apa mlm?’<br />
Kawan: ‘mlm. Ktm d mn?’<br />
Teman: &#8216;d sn j&#8217;<br />
Kawan: &#8217;sn itu sana ap sini?&#8217;<br />
Teman: &#8217;sana&#8217;<br />
Kawan: ‘alun2 sblh mn.’<br />
Teman: ‘shelter dpn smp’.<br />
Kawan: ‘ok. Ak d jmput y’.<br />
Teman: ‘astaghfirullah, bocaaahh’.<br />
(dalam hati sambil membanting foto sahabatnya itu saat dulu berlibur di Parang Tritis).</p>
<p>Menunggu. Kadang saya memanfaatkannya dengan membaca koran lama. Majalah bekas yang ada di sekitar itu. Meskipun lama, selalu ada informasi yang tak basi. Mengisi waktu. Kadang bila tahu pasti menunggu saya menyiapkan sebuah buku untuk dibaca. Bila sedang berminat, saya mengajak berbincang rekan di sebelah bangku. Bercerita apa saja. Menunggu waktu. Atau anda gemar bermain game? Silakan saja. Namun saya tak berminat karena tak menyukainya.</p>
<p>Saat ini sering saya berharap pada momen menunggu. Rekan-rekan saya di Solo, di Pekalongan, di Lampung, di Jogja, di Gorontalo, di Tegal, di Kebumen, di Tuban, di Jakarta, di Malang, di Magelang, di Purwokerto, di Semarang, di, di, kapan lagi akan saya kirim pesan pendek bila tak ada momentum ini?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[kondektur atau gubernur?]]></title>
<link>http://iamthebilly.wordpress.com/2009/02/25/kondektur-atau-gubernur/</link>
<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 00:31:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Billy Koesoemadinata</dc:creator>
<guid>http://iamthebilly.wordpress.com/2009/02/25/kondektur-atau-gubernur/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;bil, kalo mau ke monas naek apa? ada ga yang langsung dari depok? kalo ganti angkutan, musti ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8220;bil, kalo mau ke monas naek apa? ada ga yang langsung dari depok? kalo ganti angkutan, musti ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bobroknya (Pengelolaan) Bus Kota Kita]]></title>
<link>http://anggundewara.wordpress.com/2008/12/01/bobroknya-pengelolaan-bus-kota-kita/</link>
<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 01:27:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>anggundewara</dc:creator>
<guid>http://anggundewara.wordpress.com/2008/12/01/bobroknya-pengelolaan-bus-kota-kita/</guid>
<description><![CDATA[Tidak sedikit dari kita yang enggan naik bus kota. Barangkali alasannya adalah belum tentu mendapatk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tidak sedikit dari kita yang enggan naik bus kota. Barangkali alasannya adalah belum tentu mendapatk]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Si supir Besi]]></title>
<link>http://crookz.wordpress.com/2008/11/08/si-supir-besi/</link>
<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 14:34:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>crookz</dc:creator>
<guid>http://crookz.wordpress.com/2008/11/08/si-supir-besi/</guid>
<description><![CDATA[Si Supir besi,,,yupz,,begitulah gw menyebutnya&#8230; gw menyebut ini buat para supir2 angkot dan su]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Si Supir besi,,,yupz,,begitulah gw menyebutnya&#8230; gw menyebut ini buat para supir2 angkot dan su]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bus kota tolak trayek baru Trans Jogja ]]></title>
<link>http://rizkibeo.wordpress.com/2008/10/17/bus-kota-tolak-trayek-baru-trans-jogja/</link>
<pubDate>Fri, 17 Oct 2008 02:03:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>rizkibeo</dc:creator>
<guid>http://rizkibeo.wordpress.com/2008/10/17/bus-kota-tolak-trayek-baru-trans-jogja/</guid>
<description><![CDATA[Kamis, 16 Oktober 2008 10:56 WIB, Harian Jogja DANUREJAN: Sedkitar 30 pemilik bus yang tergabung dal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kamis, 16 Oktober 2008 10:56 WIB, Harian Jogja DANUREJAN: Sedkitar 30 pemilik bus yang tergabung dal]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengatasi Bus Kota di Jakarta]]></title>
<link>http://wartawangoblog.wordpress.com/2008/08/20/mengatasi-bus-kota-di-jakarta/</link>
<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 02:14:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>jutix</dc:creator>
<guid>http://wartawangoblog.wordpress.com/2008/08/20/mengatasi-bus-kota-di-jakarta/</guid>
<description><![CDATA[(Episode Memberi Solusi Bagi Penguasa Negeri) Kemacetan Jakarta Sebanyak 13 ribu lebih jumlah Bus Ko]]></description>
<content:encoded><![CDATA[(Episode Memberi Solusi Bagi Penguasa Negeri) Kemacetan Jakarta Sebanyak 13 ribu lebih jumlah Bus Ko]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bus Biang Kemacetan]]></title>
<link>http://infokito.wordpress.com/2008/07/30/bus-biang-kemacetan/</link>
<pubDate>Wed, 30 Jul 2008 16:19:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>infokito™</dc:creator>
<guid>http://infokito.wordpress.com/2008/07/30/bus-biang-kemacetan/</guid>
<description><![CDATA[Kondisi bus kota di Palembang sudah mengalami titik jenuh. Ini terlihat dari adanya ketidakseimbanga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kondisi bus kota di Palembang sudah mengalami titik jenuh. Ini terlihat dari adanya ketidakseimbanga]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jurang]]></title>
<link>http://jojodesain.wordpress.com/2008/07/10/jurang/</link>
<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 01:34:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>jojodesain</dc:creator>
<guid>http://jojodesain.wordpress.com/2008/07/10/jurang/</guid>
<description><![CDATA[Malam ini terasa seperti malam-malam sebelumnya, gerah dan pengap oleh asap pekat bercampur hawa pan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="left"><a href="http://3.bp.blogspot.com/_WMguXd4WDKg/SHXnNnUVRwI/AAAAAAAAABo/yjdjHRtH7YM/s1600-h/jurang.jpg"><img style="display:block;cursor:hand;text-align:left;margin:0 auto 10px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_WMguXd4WDKg/SHXnNnUVRwI/AAAAAAAAABo/yjdjHRtH7YM/s400/jurang.jpg" border="0" /></a></p>
<p><span style="font-size:85%;">Malam ini terasa seperti malam-malam sebelumnya, gerah dan pengap oleh asap pekat bercampur hawa panas dari knalpot bis-bis yang silih berganti datang dan pergi di terminal antar kota yang kian menua ini.<br />&#8220;Masih kurang berapa orang lagi Jan?&#8221;tanyaku pada kenek bernama Januar itu.<br />&#8220;Masih kurang banyak kang&#8230;&#8221;keluh si Januar.<br />&#8220;Yo wis lah&#8230;5 lima menit lagi kita narik..&#8221;tukasku sambil menyeruput kopi panas yang tinggal separuh.<br />Beginilah nasib seorang sopir bis antar kota seperti aku dalam menjalani malam demi malam yang tidak jelas. Jumlah penumpang selalu saja berkurang setiap harinya sehingga membuat pendapatan harian juga menurun hari demi hari.<br />Teringat lagi aku oleh istri yang mengeluh dengan uang belanja yang mulai berkurang, &#8220;Mas..tolong usahakan uang belanja ya&#8230;malu aku sama warung&#8230;sudah sebulan ini utang belanja ditagih terus&#8230;&#8221;<br />Istriku masih menatapku yang berbaring kelelahan di sisi tubuhnya. Dia membalikkan tubuhnya dan membelakangiku, mataku masih terpejam mencoba menuju alam tidur namun sayup-sayup terdengar isak tangis istriku.<br />&#8220;Kenapa menangis ma..?&#8221;tanyaku seraya melihat tubuh istriku yang menghadap tembok kamar.<br />&#8220;kenapa hidup kita tidak berubah sedikitpun mas?kenapa?&#8221;tanya istriku dalam isak tangisnya.<br />&#8220;Sudah 4 tahun ini sejak kamu di-PHK, kita hidup seperti ini terus&#8230;&#8221;<br />&#8220;Bersabarlah ma&#8230;aku juga tak mau hidup seperti ini terus..&#8221;jawabku.<br />&#8220;Kamu tidak harus jadi sopir bis antar kota kan?pengalaman kerjamu bisa membuatmu dapat pekerjaan lebih dari itu..&#8221;kata istriku lirih.<br />Memang banyak orang yang menyayangkan pekerjaanku sebagai seorang sopir, sebelumnya aku adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta yang akhirnya mem-PHK beberapa ratus karyawannya termasuk aku. Orang boleh saja berkomentar dengan pekerjaanku sekarang ini, tentunya mereka hanya bisa berkomentar tanpa pernah tahu betapa susahnya aku mencari pekerjaan pengganti setelah di-PHK.<br />Menjadi seorang sopir sebenarnya bukan pilihanku, aku sendiri tak begitu ingat awalnya aku mendapat pekerjaan ini. Seorang teman masa kecilku secara kebetulan bertemu denganku di bis kota yang aku tumpangi, ketika aku hendak mendatangi interview di sebuah perusahaan garmen. Tak disangka dia adalah sopir bis kota itu, kamipun terlibat perbincangan dan ujung-ujungnya dialah yang menawariku bekerja sebagai seorang sopir bis.<br />&#8220;Kang&#8230;bisnya udah lumayan, tinggal 5 kursi lagi&#8230;&#8221;tegur Januar membuyarkan lamunanku.<br />&#8220;Yo wis&#8230;kita berangkat sekarang..&#8221;aku segera beranjak dari bangku warung kopi yang biasa dijadikan tempat nongkrong para sopir bis seperti aku.<br />Sejurus kemudian aku telah menaiki kendaraan yang besar itu, segera setelah duduk di kursi kemudi aku menyalakan mesin bis. Sekilas dari kaca spion yang ada diatasku aku melihat wajah-wajah kelelahan sekaligus lega karena bis akan segera melaju.<br />&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />Bis yang aku kemudikan berjalan merambat di belakang bis lain sebelum akhirnya harus meninggalkan gerbang terminal. Sama seperti malam sebelumnya, calon penumpang tak begitu banyak mengunjungi terminal tua ini. Suara-suara lantang para calo mulai melirih, aku melihat beberapa diantara mereka menyudut sambil menghitung setiap lembar uang ribuan dan recehan dari saku celananya. Ada sedikit kelegaan terpancar di wajah mereka, rejeki hari ini sedikit seret tapi tak apalah masih ada uang yang bisa dibawa pulang.<br />Yah&#8230;mereka sama seperti aku, menjadi orang-orang jalanan yang mengais rejeki di terminal antar kota yang kian merenta ini. Apakah ini pilihan hidup? aku meragukannya, sebab mana mungkin mereka memilih bergelut dengan asap bis-bis dan terkadang harus berkelahi hanya untuk memperebutkan seorang penumpang, bahkan seringkali beberapa diantara mereka harus meregang nyawa hanya untuk berebut beberapa lembar uang seribuan.<br />Apakah sedemikian murahnya nyawa orang-orang jalanan? Tentu ini bukanlah pilihan hidup mereka. Semua manusia pastinya menginginkan kemapanan dalam hidupnya, memiliki sebuah pekerjaan yang menjamin hari tua, punya banyak waktu untuk menikmati hidup dan bersenang-senang dan juga… ahh apakah semua itu hanya mimpi yang takkan pernah terwujud nyata?<br />Barangkali inilah yang disebut jalan hidup, jalan yang harus kita tempuh tanpa pernah tahu akan berujung kemana, jalan yang terkadang terasa menyenangkan dan juga jalan yang seringkali dipenuhi lubang dan kerikil tajam yang memaksa kita berjuang lebih keras dari biasanya. Inilah jalan yang harus aku hadapi sekarang, siapa yang akan menyangka seorang karyawan swasta tiba-tiba menjadi seorang sopir bis antar kota, tapi mengeluh sekarangpun takkan ada gunanya, karena apapun yang terjadi aku masih memiliki anak dan istri yang menjadi tanggungjawabku.<br />Tak mungkin aku menyerah pada hidup yang semakin terasa berat ini., harus tetap ada nasi di rumahku dan harus tetap ada uang untuk membayar sekolah anakku yang kini masih di bangku taman kanak-kanak. Meskipun seringkali aku merasa skeptis pada pendidikan di negeri ini, karena ternyata pendidikan tinggi tak menjamin akan mendapatkan pekerjaan yang mapan. Sesal terkadang menghampiriku, mengapa dulu aku harus berjuang mempertahankan kuliahku demi mendapatkan gelar Diploma III politeknik jika akhirnya pekerjaan yang aku dapatkan kini tak sebanding dengan titel Ahli Madya-ku.<br />Apakah ada yang salah dengan negeri ini? ataukah malah aku yang salah? Seperti istriku yang selalu menyalahkanku bahwa aku kurang berusaha, kurang tekun mengajukan surat lamaran ke banyak perusahaan dan lebih memilih menjadi seorang sopir.<br />Bukan, bukan aku yang salah, karena kenyataannya sudah terlalu banyak surat lamaran yang aku kirimkan, ada beberapa yang mengundang wawacara, tapi ternyata ujung-ujungnya bukan aku yang diterima karja. Jika aku belum direkrut menjadi karyawan apakah aku harus protes pada perusahaan-perusahaan itu? Merekalah yang punya kuasa, merekalah yang mempunyai kekuatan memilih, jika aku bukan pilihan mereka lalu aku bisa berbuat apa?<br />“Yang turun terminal Kediri..!!persiapan..!!”suara lantang Januar kembali membuyarkan lamunanku, ternyata sudah seperempat perjalanan aku mengemudikan bis antar kota ini. Beberapa menit bis berhenti di terminal Kediri, aku menyempatkan membasuh keringat diwajahku dengan selembar handuk kecil basah, ahh..terasa sedikit berkurang kepenatan yang aku rasakan. Ada beberapa penumpang yang turun dari bis namun bangku yang kosong segera terisi kembali oleh penumpang dari terminal ini.<br />“Wah, lumayan bang!penumpangnya nambah 6 orang!!”kata Januar kegirangan.<br />“Ya begitulah yang namanya rejeki Jan, sudah diatur Yang Diatas..”tukasku pada Januar dan dia terlihat senang.<br />Tak berapa lama transit di terminal Kediri, aku segera menginjak pedal gas dan bis antar kota yang aku kemudikan pun segera melaju melanjutkan perjalanan.<br />Sekilas aku menatap kaca spion diatasku, terlihat mukaku yang semakin tirus dan berminyak saja. Padahal sewaktu masih menjadi karyawan swasta penampilanku tidak sekumuh ini, setiap berangkat kerja aku selalu mengenakan kemeja rapi dan licin. Kini kemeja-kemeja itu masih aku pakai, tapi tentu saja karena terlalu sering bermandikan keringat, kemeja-kemeja tersebut sudah terlihat sangat lusuh dan warnanyapun telah memudar.<br />Ah..sekarang bagiku tidak terlalu penting memperhatikan penampilan, toh aku sudah memiliki seorang istri dan dua orang anak yang lucu-lucu. Yang terpenting bagiku adalah bagaimana bisa pulang ke rumah dengan membawa uang sehingga istriku bisa membayar utang di warung, aku pun bisa memeluk anak-anakku dan ikut bermain bersama mereka.<br />Memang bagi seorang lelaki yang sudah menikah, dekat dengan anak istri selalu terasa begitu menyenangkan dan membuat hati tentram. Lupa sudah segala kelelahan menyupir bis antar kota, lupa pula kesedihan karena penumpang yang sepi. Haha…lucu juga jika membandingkan aku yang dulu dan aku yang sekarang, dulu semuanya terasa sangat mudah terbeli. Ketika menjadi karyawan aku selalu punya waktu untuk merawat diri di salon meskipun sekedar potong rambut dan perawatan muka, tak mengherankan jika aku punya kepercayaan diri yang besar untuk merayu para gadis di kantorku, dan yang membanggakan ternyata sebagian besar dari mereka terpikat rayuanku. Salah satunya adalah Asih yang kini menjadi istriku dan kamipun menikah lima tahun yang lalu. Namun kebijakan perusahaan melarang suami istri bekerja dalam satu kantor, sehingga akhirnya istriku lebih memilih mengundurkan diri dan menjadi ibu rumah tangga.<br />Ternyata keberuntungan tidak menghinggapi keluarga baruku, satu tahun setelah menikah, perusahaan tempatku bekerja mengurangi jumlah karyawannya dan akupun masuk daftar karyawan yang di-PHK, aku tak bisa berbuat banyak dengan keputusan sepihak ini. Seperti biasa, pihak perusahaan selalu menggunakan kebijakan manajemen sebagai senjata mereka.<br />Aku mendapat pesangon yang tak seberapa besar dan berharap uang itu dapat menopang hidup keluargaku untuk beberapa saat, namun tetap saja kondisi ekonomi keluarga baruku tidak semakin baik dan sejak saat itulah hidupku berubah 180 derajat. Uang terasa sangat susah didapat, bahkan sering kali pula selama beberapa hari aku tak punya sepeser uangpun untuk kuberikan pada istriku, saldo tabunganku pun akhirnya tak bersisa lagi.<br />Di saat aku berpikir jalan telah benar-benar buntu, tawaran menjadi sopir bis dari teman masa kecil tak aku sia-siakan dan jadilah aku seperti sekarang ini.<br />&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />Bis yang aku kendarai terus melaju menembus malam yang semakin pekat. Ahh..sungguh melelahkan pekerjaan ini, sesekali aku menguap karena rasa kantuk yang mulai menyerang. Aneh…mengapa malam ini terasa kurang mengenakkan bagiku? Padahal aku sudah menyeruput segelas penuh kopi kental ditambah lagi minuman energi yang seharusnya membuatku terjaga sepanjang malam hingga pagi menjelang.<br />Mataku terasa memberat, seakan-akan bulu-bulu mataku digantungi bandul besi 1 kilogram. Aku melirik pada kenekku si Januar, ternyata dia juga terlihat terkantuk-kantuk, aku merasa geli sendiri melihat kepalanya yang pelahan-lahan menunduk kemudian tiba-tiba tegak kembali sementara kedua matanya setengah terpejam, hahaha… seringkali pula kepalanya hampir terantuk kaca depan bis.<br />“Hahahaha…malam masih panjang Jan! Jangan molor duluan&#8230;ntar aku potong bayaran kau!” tegurku sambil tertawa.<br />”Ehh uh&#8230;abisnya ngantuk buanget kang, mata ini kayaknya gak mau diajak kerjasama!” sanggah Januar membela diri, tangannya kemudian meraih botol air mineral dan diteguknya air itu agar kantuk menghilang.<br />”Hoy, jangan kau habiskan sendiri air itu, aku juga butuh..”sergahku dan sejurus kemudian botol air mineral itu telah berpindah di tanganku. Terasa segar tenggorokan ini terbasuh air dingin, untuk sesaat aku bisa mengusir kantukku.<br />Aku kembali berkonsentrasi menyetir bis kota dengan kecepatan stabil. Rute yang aku lalui selalu sama sejak empat tahun yang lalu dan aku sudah sangat hapal dengan jalan raya ini. Jalan yang sama yang dilalui ratusan bahkan ribuan kendaraan setiap harinya, semua melaju membawa urusan mereka masing-masing, semuanya seolah berlomba dengan waktu dan semuanya mencari penghidupan, sama seperti aku.<br />Kantuk kembali menyergapku membabi-buta, aneh tak biasanya aku sengantuk ini, apa mungkin kopi yang aku minum sewaktu di warung terminal tadi bukan kopi murni?<br />Bodoh! Kenapa aku mengharapkan kopi murni dari segelas kopi seharga seribuan? Apalagi sekarang sembako naik harga gila-gilaan, bisa bangkrut ibu pemilik warung kalau terus menjual kopi murni kepada sopir semacam aku ini. Aku berusaha melawan kantuk yang makin membuat mataku terasa berat, konsentrasi menyetirku semakin membuyar, aku juga merasa sesekali aku menginjak gas terlalu dalam sehingga bus melaju lebih kencang dari sebelumnya.<br />”Deeggg!!!” jantungku seolah meloncat dari dada saat tiba-tiba seorang anak kecil berlari menyeberangi jalan raya, anak kecil berbaju putih itu berjarak teramat dekat dengan moncong bus yang aku kemudikan.<br />Tak ayal kejadian yang sangat tiba-tiba itu memaksaku mengerem dan membanting stir sekuat-kuatnya agar anak kecil itu tak terlindas bus, namun&#8230;<br />”ciiiiitttt&#8230;ciiittt!!! braaaaakkk!!!”bus yang aku kemudikan menikung sangat tajam membuat badan bus hilang keseimbangan.<br />”Ya Tuhan!!!apa yang telah aku lakukan!!!” aku sangat panik saat menyadari dunia berjungkir balik berkali-kali.Sekilas aku menoleh ke arah para penumpang dan melihat kepanikan mereka, beberapa dari mereka berteriak histeris sambil menyebut nama Tuhan. Aku mendapati banyak penumpang yang tubuhnya terlempar karena hentakan bus yang telah kehilangan keseimbangannya.<br />Bus yang aku kemudikan terguling beberapa kali hingga akhirnya terseret beberapa meter jauhnya, sebelum akhirnya menjebol pagar baja pembatas hingga bus berisi 40 manusia itu jatuh ke dalam jurang!!<br />Bus kembali terguling berkali-kali, ”Praaanggg&#8230;!” kaca depan bus dan kaca-kaca samping telah hancur berderai menjadi kepingan-kepingan kecil.<br />”Kang!! Bagaimana ini!!!mati aku!!!” Januar yang sedari tadi panik menjadi semakin panik, tapi aku tak dapat berbuat apa-apa, kekuatan gravitasi jauh melebihi kemampuanku sebagai manusia biasa.<br />Tebing jurang yang sangat curam membuat bus yang telah ringsek itu terus berguling menuju ke dasar jurang. Aku masih ingin hidup!!aku tak mau mati disini! Secara reflek aku mencoba mencari peluang agar bertahan hidup. Jendela depan bus telah menganga lebar tak lagi dilindungi kaca tebal, aku melihat Januar berpikiran sama denganku, kami memang memiliki peluang hidup lebih besar dibandingkan penumpang bus lainnya. Seketika itu juga dalam waktu hampir bersamaan aku dan Januar melompati jendela depan bus dan keluar dari dalam bus yang mulai memercikkan bunga api akibat korsleting.<br />Saat badanku menyentuh tanah aku tak tahu telah terguling berapa kali, berkali-kali pula kulit badanku tergores bebatuan yang muncul dari permukaan tebing, beberapa bagian tubuhku tersayat cukup dalam hingga mengucurkan darah segar yang lumayan deras.<br />Aku tak peduli dengan luka-luka sayatan bebatuan itu, yang terpikir dalam benakku saat ini adalah bagaimana agar tetap hidup.<br />”Uuuugghhh!!!” perutku terasa bagaikan dihujam tinju seorang petinju kelas berat saat tubuhku menghantam sebuah batu besar di permukaan tebing. Sakit sekali rasanya tubuh ini, aku juga merasakan beberapa tulang rusukku patah akibat hantaman batu besar itu. Sesaat kemudian aku berusaha bangkit dan mencoba memulihkan kesadaranku, kepalaku terasa sangat pusing dan berat.<br />&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />Malam yang semakin pekat untuk beberapa saat berubah menjadi terang benderang dan hawa panas menyelimuti udara di sekitarku. Aku terdiam mematung dengan mata yang menatap nanar bus yang berkobar terlalap lautan api. Bus itu telah jatuh ke dasar jurang dan aku berada 5 meter diatasnya, namun aku tak dapat berbuat apa-apa. Terdengar jeritan-jeritan para penumpang yang tak dapat menyelamatkan diri dari bis yang dipenuhi kobaran api. Mereka terpanggang hidup-hidup di dalam bis yang aku kendarai, aku mencium bau anyir daging terbakar disertai asap gelap pekat yang membumbung menuju langit malam.<br />Januar yang berdiri tak jauh dari tempatku terlihat tertegun dan mematung sama seperti aku. Sekujur tubuhnya dibaluti lumpur kecoklatan sementara pelipisnya tak henti-hentinya mengalirkan darah segar.<br />Awan mendung yang sedari tadi menggelayut di langit seolah murka dengan kebodohanku.”Jdaaarrrrrr!!!” petir berkelebat dari langit seperti ingin menampar mukaku dengan sangat kerasnya, diiringi gemuruh guntur yang seakan mencercaku berkali-kali&#8230;<br />Tak beberapa lama kemudian hujan turun dari langit, semakin lama semakin deras seolah menangisi jiwa-jiwa para penumpang yang melayang menuju alam baka akibat kebodohanku.<br />Lumpur dan darah yang membaluti tubuhku perlahan-lahan meluntur terbasuh air hujan, Tubuh Januar yang hampir menyerupai manusia lumpur mulai bergerak mendekatiku, wajahnya yang tersamarkan lumpur dan darah tak begitu jelas memperlihatkan ekspresi. Lumpur dan darah di wajahnya terus terguyur air hujan yang menderas, makin sadarlah aku bahwa raut muka bocah remaja putus SMP itu memperlihatkan kemarahan, kecemasan dan ketakutan yang bercampur baur.<br />”Plakkk!!!” mendadak sekali Januar menampar mukaku, aku terkesiap dan mematung beberapa detik namun segera tergantikan amarah yang mendidih.<br />Remaja tanggung ini dengan kurang ajar menampar harga diriku, ”Apa-apaan kau Jan!!” teriakku penuh kegeraman seraya tubuhku menerkam badan kecil Januar.<br />”Bukk!!bukkk!!!” meskipun ada beberapa tinjuku berhasil ditangkisnya, namun ada juga beberapa tinjuku menghujam perutnya dengan sangat keras hingga membuat Januar jatuh tersungkur.<br />Aku kembali menerkam tubuh Januar, kami bergumul di tengah lumpur dan hujan deras. Tubuhku dan tubuh Januar berguling-guling hingga ke dasar jurang dan sangat dekat dengan bangkai bus yang masih diselimuti api.<br />Aku berhasil mencengkeram tubuh Januar yang terkapar hampir pingsan, tangan kananku meraih batu terdekat sedangkan tangan kiriku masih mencengkeram lehernya.<br />”Ayo bunuh aku juga kang!biar tidak ada saksi!!ayo!!ayo!!” tantang Januar ditengah ketidakberdayaannya, air matanya mengalir bercampur air hujan yang belum juga mereda.<br />Mendengar tantangan tersebut aku tertegun dan tersadar dari amarah yang membabi buta. Aku mengurungkan niat mengeksekusi Januar. Bagaimanapun juga aku masih punya hati nurani, tak mungkin aku membunuh seseorang hanya karena emosi sesaat. Batu dalam genggamanku terjatuh, kulepas cengkeraman tanganku dari leher Januar. Aku terduduk lesu di sebelah tubuh Januar yang masih terkapar.<br />Kulihat Januar berusaha bangkit dengan susah payah, matanya terus menatap bangkai bus dengan penuh kecemasan. ”Kenapa hari ini apes sekali kang??”ratapnya, sementara tubuhnya mulai menggigil entah karena kedinginan atau dicekam ketakutan yang luar biasa.<br />Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku berharap kecelakaan tragis ini hanya mimpi belaka, namun kecelakaan ini benar-benar nyata. Aku benar-benar telah membunuh 40 orang hanya dalam hitungan menit, buluk kudukku meremang saat menyadari bahwa peristiwa maut ini adalah akibat kecerobohanku.<br />Aku merasakan tubuhku dialiri ketakutan luar biasa, bahkan mungkin ketakutan yang aku rasakan saat ini jauh melebihi yang dirasakan Januar. Untuk saat ini aku tak mampu berpikir jernih, otakku terlalu banyak dijejali kecemasan dan ketakutan akan bayangan dosa yang telah aku lakukan malam ini.<br />Hujan masih deras mengguyur bumi, kelelahan luar biasa menerpaku hingga memaksaku untuk merebahkan diri di tanah basah dan berlumpur. Untuk sementara aku tak menghiraukan tubuhku yang basah kuyub, seharusnya tubuhku menggigil kedinginan, namun yang kurasakan adalah panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Rasa panas karena takut yang menggemuruh dan mengalir ke seluruh pembuluh darahku, sungguh sangat tidak nyaman&#8230;.<br />Kulihat Januar telah berhasil menenangkan dirinya, dia juga mulai menyadari bahwa musibah ini bukan kesengajaanku. Matanya menatapku dengan iba, mungkin di dalam benaknya aku adalah sosok yang paling patut dikasihani.<br />&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />”Kenapa tadi kang Wahyu ngerem mendadak sampe bis terguling?”tanya Januar pelahan, kemudian dia ikut merebahkan tubuhnya di tanah berlumpur dan membiarkan tubuhnya terguyur hujan.<br />”Kamu tadi liat anak kecil menyeberang jalan gak?”tanyaku pada Januar, sementara mataku masih menatap awan pekat yang rata menyelimuti permukaan langit. Hujan sudah tidak terlalu deras membasuh tubuh kelelahan kami.<br />Januar terperanjat mendengar pertanyaanku,”Benar kang Wahyu melihat anak kecil menyeberang jalan?”<br />”Iya benar! Makanya aku ngerem sekuat-kuatnya sampai bis terguling&#8230;”tegasku.<br />”Sumpah bang aku gak liat ada anak kecil menyeberang jalan&#8230;”jawab Januar.<br />Aku terkesiap mendengar jawaban Januar, jika tidak ada anak kecil menyeberang jalan lalu apa yang aku liat itu? Apakah anak kecil yang aku lihat sekilas itu tidak nyata? Apakah itu hanya halusinasiku saja? Ataukah anak kecil itu adalah makhluk halus yang sengaja menjadi penyebab kecelakaan maut ini?<br />Aku berusaha mengingat kembali alur kecelakaan yang membuat bis jatuh ke jurang dan terbakar. Bulu kudukku meremang begitu menyadari bahwa tak mungkin di tempat terpencil seperti ini ada anak kecil keluyuran malam hari. Jika anak kecil itu benar-benar nyata tentu tidak mungkin selamat dari hantaman bis. Jika anak itu memang manusia, pasti mayatnya sekarang sudah terkapar di jalan raya.<br />”Bang! Kita liat aja apakah anak kecil itu benar-benar ketabrak bis atau enggak!”ajak Januar tiba-tiba.<br />”Aku juga berpikiran sama dengan kau Jan&#8230;.” jawabku lirih.<br />Kemudian aku mengumpulkan tenaga yang masih tersisa, aku berusaha bangkit. Hujan tinggal rintik-rintik , langit malam hari mulai tersingkap karena awan-awan berangsur menipis. Bulan tergantung separuh di langit, memberi sedikit cahaya ke dasar jurang. Kepalaku mendongak sementara mataku berusaha mencari puncak jurang.<br />”Ya Tuhan, ternyata jurang ini sangat dalam” gumamku, secara samar aku dapat melihat dinding jurang yang curam ini dipenuhi batu-batu tajam, kecil kemungkinan nyawa manusia bisa selamat jika jatuh di jurang ini, kecuali keajaiban yang menyelamatkannya.<br />Beruntung nyawaku berhasil selamat dari jurang yang mengerikan, tapi sialnya kenapa harus aku yang mengalami kejadian tragis ini. Kenyataan ini menggelitik benakku, karena baru kali ini aku merasa menjadi orang paling beruntung sekaligus paling sial di saat bersamaan.<br />”Kita jangan lama-lama disini kang..”kata Januar, meskipun sepertinya tenaganya telah habis, Januar terus berusaha mendaki tebing jurang. Tubuhnya yang ceking terlihat lihai bergerak menuju pucak jurang, sementara aku masih berusaha mengumpulkan tenaga dan menyusul Januar mendaki tebing.<br />”Ayo kang!keburu pagi!!”teriak Januar yang telah berada 5 meter diatasku.<br />”Tunggu Jan!” aku balas berteriak kepada Januar. Ternyata tidak mudah mendaki tebing yang terjal ini, hujan deras membuat tanah pijakan menjadi sangat licin karena lumpur yang melumer.<br />Sangat susah payah aku mencoba mendaki tebing sementara tubuh lincah Januar telah hampir sampai di puncak jurang. ”Ayo kang! Lebih cepet lagi!!”seru Januar sambil kepalanya melongok melihat keadaanku yang kesulitan mencari medan yang lebih mudah.<br />”Sialan!” aku mengumpat saat lumpur menciprat mataku. Ternyata aku baru menyadari bahwa staminaku sangat jauh menurun jika dibandingkan saat masih kuliah sepuluh tahun silam.<br />Meskipun tenagaku telah hampir terkuras karena pendakian ini, aku sedikit merasakan kelegaan karena tinggal beberapa meter lagi pendakian yang sangat melelahkan ini segera berakhir.<br />”Jangan nyerah kang!tinggal dikit lagi!”teriak Januar memberi semangat. Cukup memalukan rasanya kalah stamina dengan bocah umur belasan tahun, telah beberapa kali aku berhenti mendaki hanya untuk mengatur nafasku yang terengah-engah kelelahan. Perutku terasa mual disertai pandangan yang berkunang-kunang, menandakan bahwa tubuhku menyerah karena tak ada lagi tenaga yang tersisa. Tapi saat aku memandang ke bawah jurang dan mendapati bangkai bus dan puluhan mayat yang hangus, naluriku tergugah untuk segera melarikan diri.<br />”Sini kang!”kata Januar sambil mengulurkan lengan kanannya saat aku hampir menyentuh ujung jurang. Aku segera meraih lengan kurusnya itu dan tubuhku serta-merta mendapat dorongan tenaga yang membuatku kini telah berada di tepi jalan raya.<br />Pandangan mataku berkeliling mengamati keadaan jalan raya. Aku mendapati serpihan kaca bus yang tak terhitung jumlahnya tercecer di tengah jalan raya, aku berjalan cepat untuk mencermati jalur kecelakaan yang telah aku buat. Malam ini lalu lintas jalan raya teramat sepi, tak kudapati sesosokpun mayat anak kecil yang tergeletak di jalan raya. Bahkan ceceran darah tak setetespun tersimbah di permukaan aspal.<br />Aku lemas seolah tubuhku tak lagi bertulang, ternyata benar kekhawatiranku bahwa aku hanya melihat bayangan, aku hanya berhalusinasi melihat anak kecil menyeberangi jalan raya. Tapi mungkin mungkin juga kekhwawatiranku yang kedua juga benar, bahwa anak kecil kecil berbaju putih itu memang benar-benar menyeberangi jalan raya, meskipun dia bukan dari dunia ini tapi dari dunia lain yang tak terlihat mata.<br />Malam ini lalu lintas teramat sepi, yah&#8230;meskipun ada beberapa kendaraan yang melintas, takkan mungkin mereka menyempatkan diri untuk berhenti dan peduli pada kecelakaan di jalan raya ini.<br />Aku tertegun dan terdiam mematung seperti juga Januar yang terlihat lesu seolah tanpa darah. Tubuh kami terlalu lelah untuk beranjak dari tempat kami bersandar. Lari dari kenyataan pun rasanya tak ada gunanya lagi, para polisi terlalu cerdik untuk mengungkap kasus kecil semacam ini.<br />Biarlah pagi hari menjemput tubuh lelah kami dan memberi kabar kepada kantor polisi untuk segera menjemput kami menuju jeruji penjara. Entah apa yang harus kukatakan kepada istriku saat melihat suaminya meringkuk di penjara untuk waktu yang lama. Entah bagaimana nantinya aku menyelamatkan pernikahan kami&#8230;.(joko suwono)</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rebutan Penumpang, Sopir Tusuk Sesama Sopir]]></title>
<link>http://beritamaya.wordpress.com/2008/04/30/rebutan-penumpang-sopir-tusuk-sesama-sopir/</link>
<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 16:35:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>sanjisan</dc:creator>
<guid>http://beritamaya.wordpress.com/2008/04/30/rebutan-penumpang-sopir-tusuk-sesama-sopir/</guid>
<description><![CDATA[indosiar.com, Palembang - Hanya lantaran rebutan penumpang, seorang sopir dan kernet bus kota di Pal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><a href="http://news.indosiar.com/news_read.htm?id=66717" target="_blank">indosiar.com</a>, Palembang -</strong> Hanya lantaran rebutan penumpang, seorang sopir dan kernet bus kota di Palembang tega menusuk sesama rekannya. Beruntung polisi yang melihat kejadian ini langsung menangkap tersangka yang masih dalam keadaan mabuk.</p>
<p>Tersangka Hendrik (25) dan Dedi (21) yang berprofesi sebagai sopir dan kernet bis kota ini diamankan oleh polisi Satuan Lalu Lintas Poltabes Palembang. Keduanya ditangkap sesaat setelah melakukan penusukan terhadap Arifin, sesama sopir bus kota.</p>
<p>Kedua warga Sukarame, Palembang ini saat diamankan masih dalam keadaan mabuk minuman keras. Keduanya pun sempat menyangkal telah melakukan penusukan terhadap korban. Dengan tangan terborgol kedua tersangka ini langsung dibawa polisi ke Mapolsek Ilir Timur Satu Palembang guna pemeriksaan lebih lanjut.</p>
<p>Korban Arifin saat ini harus mendapatkan perawatan tim medis Rumah Sakit Caritas Palembang. Korban mengalami tiga luka tusuk di sekujur tubuhnya. Menurut korban, dirinya tiba-tiba langsung dikeroyok dan ditusuk oleh kedua tersangka saat berada diperempatan lampu merah Caritas.</p>
<p>Diduga peristiwa ini dipicu persoalan rebutan penumpang bus kota. Sementara kasus ini langsung ditangani oleh pihak kepolisian dari Polsek Ilir Timur Satu Palembang. (<strong>Dedi Irfansyah/Sup)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
