<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cara-mendidik &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/cara-mendidik/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cara-mendidik"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 00:36:39 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Mendidik Dengan Sepuluh Sentuhan]]></title>
<link>http://amidi.wordpress.com/2009/05/16/mendidik-dengan-sepuluh-sentuhan/</link>
<pubDate>Sat, 16 May 2009 03:33:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>marsudi</dc:creator>
<guid>http://amidi.wordpress.com/2009/05/16/mendidik-dengan-sepuluh-sentuhan/</guid>
<description><![CDATA[Mendidik Dengan Sepuluh Sentuhan Dr. Thariq M. As Suwaidan dalam bukunya  “Sukses Tanpa Batas” menaw]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Mendidik Dengan Sepuluh Sentuhan</strong></p>
<p>Dr. Thariq M. As Suwaidan dalam bukunya  “Sukses Tanpa Batas” menawarkan  10 sentuhan untuk membangkitkan  potensi diri anak  dengan rumus HUMANTOUCH. Menariknya  10 sentuhan  tersebut diurai satu demi satu  dari huruf yang tersusun  dalam kata  HUMANTOUCH  itu sendiri</p>
<p><!--more--></p>
<ul>
<li><strong>Hear Him (Dengarkan Pendapatnya) </strong></li>
</ul>
<p>Inilah sentuhan  pertama yang harus kita lakukan. Kenapa kita harus mendenangarkan mereka? Karena pendapat  mereka patut di dengar Pada dasarnya anak didik kita  bukan pribadi yang bodoh. Sungguh mereka  adalah hamba yang dilahirkan  fitrah dan  hanif. Jadilah pendengar yang baik bagi mereka. Bila kita mau mendengar  maka mereka akan berani dan percaya diri. Nantinya mereka akan  mau mendengar orang lain</p>
<ul>
<li><strong>Understand His Feeling (Pahamilah Perasaannya) </strong></li>
</ul>
<p>Setelah kita mendengarkan pendapat, keluhan, dan masalah yang dihadapinya, kemudian pahamilah perasaannya. Dengan memahami perasaan mereka, kita akan  melangkahkan  masuk ke ruang hati mereka. Sebuah tahapan  di mana kita  menjadi bagian penting  dalam kehidupan mereka. Mereka akan dapat merasakan simpati  dan empati kita.  Mereka akan merasa nyaman dan merindukan  kita. Kelak, mereka akan menjadi  pribadi yang berupaya  memahami orang lain.</p>
<ul>
<li><strong>Motivate His Desire (Doronglah Semangatnya)</strong></li>
</ul>
<p>Setelah memahami  perasaannya, barulah kita bisa  memotivasi semangat  hidupnya, terutama ketika menghadapi  problem hidup. Memberikan motivasi  hanya bisa kita lakukan  ketika kita dianggap  sebagai bagian yang sangat penting  dalam hidupnya. Tugas mulia kita menjadi  motivator. Membangkitkan  semangat yang lemah, menguatkan keinginan yang pudar,  membangun kepercayaan diri yang runtuh. Beruntunglah orang  yang kehadirannya dinantikan, kepergiannya dirindukaan dan perkataannya diharapkan.</p>
<ul>
<li><strong>Appreciate His Effort (Hargailah Usahanya)</strong></li>
</ul>
<p>Menghargai  adalah pekerjaan  berat dan mulia. Tidak setiap  orang mampu  menghargai kelebihan dan prestasi orang lain. Kecenderungan manusia  adalah  ingin dihargai dan dipuja. Sungguh berat  untuk memuji orang lain, apalagi secara struktural  dan fungsional berada di bawah atau setara. Kita harus fair  memberikan apresiasi terhadap  hasil kerja mereka sekecil apapun. Kita harus belajar menghargai, agar kelak mereka  bisa menghargai  orang lain.</p>
<ul>
<li><strong>News Him (Beritakan dan Ceritakanlah Tentangnya)</strong>.</li>
</ul>
<p>Anak akan  bangga ketika prestasinya  diinformasikan  kepada khalayak. Menjadi  kehormatan  tersendiri, apabila kebaikan dan prestasi  yang diraih diumumkan. Nilainya berbeda, melebihi iklan  di media massa. Kita harus belajar  memberitahukan  hasil karya  mereka kepada masyarakat  dengan membanggakan, jangan memberitakan  kelemahannya dengan mengabaikan keberhasilannya.  Beritakanlah kebaikan  mereka  niscaya  mereka akan  belajar memberitakan  kebaikan kita. *Namun semuanya harus dengan menimbang maslahat dan madharat dalam pemberitaan tersebut. Karena dengan pemberitaan tersebut bisa menimbulkan efek anak menjadi sombong atau bangga diri maka pemberitaan tersebut perlu kita tinjau kembali.</p>
<ul>
<li><strong>Train Him (Latihlah dia).</strong></li>
</ul>
<p>Setelah memberitakan  keberhasilannnya, kita tidak lalai  untuk terus melatih  dan mengasah kemampuan mereka. Mungkin saja prestasi yang diraih  menyebabkan lupa diri dan terlena  untuk terus memacu diri. Kita sebagai guru  dan orang tua  harus tampil  sebagai pendamping  yang mengingatkan mereka  untuk terus meningkatkan  kemampuan diri. Termasuk kita,  mungkin juga mulai  lengah  karena  merasa puas  dengan hasil  yang didapatkan. Meskipun prestasi telah diraih, tapi tiada  waktu yang boleh  terbuang sia-sia, kecuali di dalamnya penuh dengan aktifitas latihan dan latihan.</p>
<ul>
<li><strong>Open  His      Eyes (Buka Pandangan dan Wawasannya).</strong></li>
</ul>
<p>Tugas besar selanjutnya dari seorang  Guru dan Orangtua  adalah membuka wawasan tentang lingkungan sekitarnya. Kita tidak boleh menjadikan mereka laksana “Katak dalam tempurung” merasa hebat di rumah sendiri. Dengan prestasi yang mereka  peroleh, latihan  yang berkesinambungan  lalu bawa mereka  berjalan menelusuri  belahan  dunia  lain yang lebih maju. Anak-anak sangat senang  melihat sesuatu  yang baru dan menantang.</p>
<ul>
<li><strong>Understand His Uniqueness (Pahamilah  Keunikannya).</strong></li>
</ul>
<p>Sentuhan ini membutuhkan  kelapangan dan kebesaran hati, Allah telah melahirkan setiap  insan sebagai  pribadi istemewa. Setiap orang memiliki  keunikan masing-masing yang menjadi kekuatan  dan kelebihan dirinya. Setiap anak  hadir dengan  potensi diri  yang luar biasa yang berbeda  dengan yang lain. Perlakuan yang sama  pada setiap  pribadi  yang berbeda  adalah menafikan  keunikan. Maka, kenali dan pahamilah keunikannya, niscaya mereka  akan tumbuh pesat  menjadi pribadi  istemewa.</p>
<ol>
<li><strong>Contact Him (Jalinlah Komunikasi  Dengannya). </strong></li>
</ol>
<p>Sentuhan ini menghendaki  kita untuk  selalu membangun silaturahmi  intensif  dan spesial dengan mereka. Jalinan komunikasi  yang mesra  antara Guru  dan orang tua  dengan anak  akan melahirkan  pribadi  yang hangat. Pada dasarnya  setiap anak  membutuhkan  perhatian khusus. Jangan biarkan  mereka  menunggu  terlalu lama  hanya untuk mendengarkan  suara kita  yang lembut dan akrab. Sapaan kita  sungguh berharga bagi mereka.</p>
<ul>
<li><strong>Honour Him (Hormatilah Ia).</strong></li>
</ul>
<p>Puncak  dari mendidik  dengan sentuhan hati adalah  penghormatan.  Menghormati hanya  dapat dilakukan  oleh orang-orang  terhormat. Menghormati anak akan  menjadikan mereka  pribadi terhormat  dan menghormati orang lain. Tujuan akhir  dari pendidikan  adalah mencetak  generasi  shaleh dan  berakhlak karimah. Mereka itulah  manusia mulia, insan kamil. Jika kita  jarang mendapat  penghormatan, itu pertanda  kita jarang  memberikan penghormatan  kepada mereka.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENDIDIK ANAK]]></title>
<link>http://listrikmekanik2009.wordpress.com/2009/04/04/mendidik-anak/</link>
<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 08:57:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Taufik Hidayat</dc:creator>
<guid>http://listrikmekanik2009.wordpress.com/2009/04/04/mendidik-anak/</guid>
<description><![CDATA[Hah, mendidik anak??? gayanya tengil banget, kaya yang udah pengalaman aja ya&#8230; no matter, yg m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hah, mendidik anak??? gayanya tengil banget, kaya yang udah pengalaman aja ya&#8230; no matter, yg matter gue mau nulis aja dulu, biar ga sepi.. kenapa ya gue nulis dengan judul itu? karena sekarang gue udah punya anak, laki2 cute kaya ayahnya, hehe&#8230;namanya FADHIL DZULHANNAN DZIYAT,,bener ga ya ejaannya.. ntar deh gue liat dulu aktenya, kalo salah gue ralat.. back to topic.. gini lho mas/mba/om/tante..mendidik anak tuh ga semudah yang dibayangkan ya.. ternyata, ya susah juga..nah mumpung anak masih kecil, tanamin yg baik2, istilah kate puun (baca:pohon) kalo benihnya bagus, meliharanya bagus, hasilnya pun juga bagus, insyaAllah.. sekarang anak gue 17 bulan, kalo kata tukang peneliti mah, umur 1 ampe 3 taon, masa keemasan anak, percaya ga? ga tau, kan gue orang teknik..tapi terlepas dari itu semua gue ambil positifnya aja.. katanya umur segitu anak mudah meniru dan mempelajari hal2 disekitarnya..nah loh, makanya didepan anak berbuatlah yang baik dan benar sesuai SOP..apa tuh SOP? standar operation peranakan, hehe..nyambung kan dikit.. kemaren bini gue baca buku, dia bilang kalo anak kejedot, nyublek atau nyungsep trus nangis, jangan berusaha menengkan dengan cara pura2 marahi tembok/lantai tempat kejadian apalagi memukulnya..kenapa? karena hal itu tanpa disadari akan menamamkan pola pikir bahwa kalau kita melakukan suatu kesalahan, harus mencari kambing hitam, tul ga? trus kan menanamkan nilai untuk harus balas dendam.. iya juga sih, trus apa hubungannya dengan contoh diatas??? gini, anak kejedot, nyublek atau nyungsep kan bukan salah tembok/lantai tempat kejadian, tapi karena dianya yang kurang hati2, jadi nenanginnya jgn dengan memarahi temboknya, tapi diarahkan anak kita untuk lebih hati2, gichu cuiy.. nah, kadang ditempat kerja pola itu sudah terjadi, kenapa&#8230;? ya karena hal diatas.. kita hasil dari pola pendidikan yang seperti itu dari jaman dulu.. trus salah dong orang tua kita..mmhhh gimana ya, jawab ndiri dah.. tapi harus diakui, menurut gue ya salah, tapi cara didiknya, bukan orang tua kita.. trus gimana dong sekarang? ya udah, yang udah biarkan berlalu, karena kita hidup untuk masa depan.. yesterday is a history, tomorrow is a secret and today is a gift.. jadi mulai dari sekarang marilah kita ubah cara mendidik anak kita, bagi yang udah punya anak&#8230; gitu dulu dah, dah jam sembilan, gue janjinya balik jam sembilan ama bini gue.. ntar kalo telat, dia tidurnya tengkurep lagi, hehe.. cu next posting..<!--more--></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mendidik Cara Mendidik]]></title>
<link>http://ahmadasen.wordpress.com/2009/02/07/mendidik-cara-mendidik/</link>
<pubDate>Sat, 07 Feb 2009 16:01:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>ahmadasen</dc:creator>
<guid>http://ahmadasen.wordpress.com/2009/02/07/mendidik-cara-mendidik/</guid>
<description><![CDATA[Pendidikan merupakan proses yang terus mengalir dan tidak statis, pendidikan berjalan dari zaman ke ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pendidikan merupakan proses yang terus mengalir dan tidak statis, pendidikan berjalan dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi. Sebagian berpendapat pendidikan merupakan penurunan nilai-nilai dan pengetahuan dari generasi sebelumnya kepada generasi selanjutnya. <!--more-->Kemudian generasi baru tersebut mengadakan inovasi-novasi yang dapat membuahkan hasil serta mampu menciptakan sesuatu yang baru sebagai hasil peningkatan dari penemuan sebelumnya. Dengan demikian agar tidak terjadi keterputusan ilmu pengetahuan pada suatu generasi diperlukan pendidikan. Pendidikan tersebut dapat dilaksanakan dalam lingkungan pendidikan formal dan pendidikan non formal.<br />
Keluarga merupakan lembaga pendidikan non formal yang  pertama dan utama bagi generasi yang terlahir didalamnya, baik secara langsung maupun tidak langsung anak akan memulai belajar dan mengawali pendidikannya dengan melihat, mengamati dan melakukan apa saja yang dilakukan oleh anggota keluarga dewasa, inilah proses pendidikan baik secara sadar maupun tidak sadar akan mempengaruhi pengetahuan anak pada masa mendatang.<br />
Pendidikan pada masa kanak-kanak mempunyai peran yang besar bagi pembentukan kepribadian manusia. Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama, dalam hal ini adalah orang tua terutama ibu yang mempunyai peluang besar sebagai pendidik dalam keluarga , maka perlu diadakan pendidikan bagaimana cara mendidik anak, sebab mendidik anak tidak dapat dilakukan dengan sembarangan dan asal-asalan. Oleh karena itu pengetahuan tentang cara-cara mendidik anak harus dimiliki oleh orang tua, agar dalam mendidik anaknya dapat dilakukan dengan benar. Dengan demikian maka perlu adanya kurikulum yang masuk dalam mata pelajaran tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik.</p>
<p>Pengetahuan orang tua tentang mendidik anak sangat penting agar tidak terjadi kesalahan dalam mendidik dimasa kanak-kakak. Sehingga semua kemajuan yang ada sekarang ini adalah hasil dari transfer turun-temurun dari generasi ke generasi yang tidak teputus. Selanjutnya generasi baru selalu mengadakan inovasi-inovasi</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[10 Hal Paling Nakutin Dalam Mengasuh Anak]]></title>
<link>http://nenyok.wordpress.com/2008/05/10/10-hal-paling-nakutin-dalam-mengasuh-anak/</link>
<pubDate>Sat, 10 May 2008 13:19:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>nenyok</dc:creator>
<guid>http://nenyok.wordpress.com/2008/05/10/10-hal-paling-nakutin-dalam-mengasuh-anak/</guid>
<description><![CDATA[Zaman sekarang jadi orang tua tuh kayaknya lebih berat ya, secara anak2 sekarang juga makin pinter2 ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Zaman sekarang jadi orang tua tuh kayaknya lebih berat ya, secara anak2 sekarang juga makin pinter2 so orang tua mesti berhati2 dalam mendidik dan mengasuh anak, kalau soal tujuannya semua pasti sama, maunya punya anak yang baik, salih wah pokoknya yang baik2 deh cuma kadang kepentok soal cara kalau soal keras atau lembut itu cuma soal gaya jadi bukan suatu masalah.</p>
<p>So menjadi orang tua itu adalah pekerjaan terbaik sekaligus mengerikan. saat si kecil mulai hadir berarti tambah tugas dan tanggung jawab hingga orangtua mulai menjalani siklus yang terdiri dari mengawasi, cemas, dan terbangun dengan rasa takut.</p>
<p>Berikut 10 hal paling menakutkan tentang menjadi ibu atau ayah:<!--more--></p>
<ol>
<li><strong>Takut anak mewarisi sikap buruk</strong>. Ini terjadi karena sedari awal jutru para orangtua yang merasa takut menjadi seperti orangtua mereka sebelumnya hingga secara ga sadar menciptakan kecemasan jika anak-anaknya kelak seperti mereka juga, Ini biasanya terjadi pada anak yang merupakan korban perceraian, hingga takut anaknya kelak menghadapi persoalan yang sama.</li>
<li><strong>Takut Penyakit</strong>, biasanya ketakutan ini setelah mendengar berita tentang penyakit mengerikan pada anak atau melihat penderitaan orangtua yang memilki anak yang sakit hingga mungkin hati kita selalu was2 terkena pada anak-anak. tapi kenyataannnya jumlah anak yang sehat lebih banyak dari yang sakit kok</li>
<li><strong>Takut kecelakaan di rumah</strong>, Sebelumnya kita tak menyadari bahwa barang2 yang biasa yang kita menurut kita aman biasanya jadi sumber bahaya untuk anak2 misalnya kursi malas, rak buku, kursi dll, tapi itu bukan alasan untuk mengekang anak2 bermain, ga ingin juga kan punya anak yang hanya duduk manis menonton TV sepanjang hari</li>
<li><strong>Takut Tak bisa menjawab pertanyaan anak</strong>. Ya rasa ingin tahu anak memang kadang di sampaikan dengan berbagi pertanyaan yang kadang lucu, menggelikan, aneh dan beruntun, dan orangtua kadang2 bosan dan kesal, inget aja bahwa rasa ingin tahu adalah tanda pertumbuhan, begitu menginjak usia remaja, tirai kebisuan akan diturunkan sang anak, so jangan lewatin masa ini.</li>
<li><strong>Siapa Yang menentukan</strong>. Sebagai orang tua, kita berusaha jadi orang tua yang baik, ideal namun jangan lupa orangtualah  yang pegang kendali karena anak pada dasarnya perlu batasan2 sehingga dia bisa lebih disiplin dan diatur meski sekali2 ada keputusan2 yang akan meminta peritmbangan anak.</li>
<li><strong>Menyamaratakan</strong>, Setiap anak dilahirkan dengan keunikan masing2 bahkan sesama saudara kandung sekalipun bisa berbeda kebiasaan dan pola tingkah laku, misalnya jika anak tetangga usia 2 tahun sudah ga ngompol maka jangan khawatir jika anak anda yang sudah 4 tahun masih ngompol. Toh orang dewasa di sekeliling kita juga tak ada yang sempurna kan?</li>
<li><strong>Marah</strong>, kadang kita menemui si kecil yang marah hanya karena acara kesukaannya habis,  si kecil sampai menangis berguling-guling, dan sbg orangtua kita malah ikut2an marah karena berharap bisa mengendalikan tangisannya. Tapi kenyataannya sulit, jangan terlalu cemas toh tak pernah seorangpun menyaksikan lulusan minimal SMU menangis berguling-guling dilantai.</li>
<li><strong>Krisis Keuangan</strong>. duh zaman sekarang semua serba mahal, dari mulai soal perut hingga pendidikan, trus bagaimana nanti mungkin itu pikiran para orangtua hingga ada yang kemudian me-leskan anak dengan berbagai macam keterampilan dengan harapan kalaupun tak ada biaya kelak, sang anak masih berkesempatan sekolah dengan beasiswa. cara itu tak salah sama sekali tapi yang jelas mumpung anak masih kecil kita masih punya waktu untuk menyiapkan rencana biaya pendidikan untuk masa depan anak.</li>
<li><strong>Menjadi orang tua sampai tua</strong>, ya biasanya berlaku pada orang yang berprinsip banyak anak banyak rezeki.</li>
<li><strong>Pertimbangan terpenting</strong>. Sebenarnya kecemasan orangtua adalah berapa besar kasih sayang yang bisa diberikan terhadap anak, merasa kita tak bisa hidup tanpa mereka, ya itu memang benar maka nikmatilah menjadi orang tua.</li>
</ol>
<p>Src: disadur bebas dari <strong><em>AURA </em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
