<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>catatan-buruh-migran &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/catatan-buruh-migran/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "catatan-buruh-migran"</description>
	<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 07:42:43 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Pindahke www.lawangbagjacom]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/12/17/pindahke-wwwlawangbagjacom/</link>
<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 12:39:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/12/17/pindahke-wwwlawangbagjacom/</guid>
<description><![CDATA[Pemberitahuan.. Tertanggal 18 Desember 2008 kami pindah ke &#8216;rumah baru&#8217; yaitu : www.lawa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pemberitahuan..<br />
Tertanggal 18 Desember 2008 kami pindah ke &#8216;rumah baru&#8217; yaitu : www.lawangbagja.com<br />
Silahkan para tetamu yang kami hormati untuk singgah ke sana..</p>
<p>salam,<br />
lawangbagja</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rub alKhali, Awal Desember 2008]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/12/04/rub-alkhali-awal-desember-2008/</link>
<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 09:37:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/12/04/rub-alkhali-awal-desember-2008/</guid>
<description><![CDATA[Angin dari utara mengubah dengan cepat atmosfir tepian teluk Persia. Jika di bulan Agustus, Rub al K]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>Angin dari utara mengubah dengan cepat atmosfir tepian teluk Persia. Jika di bulan Agustus, <span class="yshortcuts">Rub al Khali</span>/ <span class="yshortcuts">empty quarter</span> mengepul seperti amarah yang muncrat sampai ke ubun-ubun maka memasuki awal Desember dan beberapa bulan ke depan berubah seperti pengantin baru yang ditinggal sendiri kesepian, dingin. Kami mungkin manusia-manusia yang sudah terlanjur nekat menjalani hidup yang katanya singkat ini. Betapa tidak, tinggal di kota kecil bak miniatur kota tuan raja di cerita 1001 <!--more-->malam yang lokasinya di depan membentang teluk Persia, sementara di belakang lahan kosong menghampar kurang lebih 500 ribu kilometer persegi yang dikenal dengan nama Rub al Khali atau zona empty quarter.</div>
<div> </div>
<div><span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Lahan</span></span> kosong yang berisikan pasir berton-ton kubik dan hanya di huni segelintir <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">makhluk asing</span></span> sebangsa &#8216;aqrab (scorpionnya gurun), rattle, dan putra mahkota <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;"><span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">padang pasir</span></span>, tidak lain dan tidak bukan unta. Selebihnya sekelompok kecil manusia, mereka memiliki trah keturunan sampai ke Ismail bin Ibrahim bin Syam bin Nuh dan selalu setia menapak tilas jejak para leluhur mereka dan menjaga keaslian tradisi serta keyakinan yang sampai hari ini ikut ikut terancam punah digilas zaman, mereka adalah bedu atau bedouin.</div>
<div> </div>
<div>Bedu atau Bedouin adalah putra-putri keturunan Syam bin Nuh yang terbagi dalam dua kelompok besar yaitu Kahtan dan Ibrahim. Kahtan melahirkan tribal bedu yang mendiami negeri Yaman. Sementara trah Ibrahim menyebar ke wilayah utara seperti Jordan, Sinai sampai afrika utara. Ibrahim sendiri meretas perjalanan ke bumi Hijaz dan membangun rumah Allah bersama putranya Ismail. Pada masa itulah konon unta berpunduk dua mulai dikenal di dataran Hijaz karena umumnya unta di kawasan ini hanya memiliki punduk satu (one humped). Unta dan bedu seperti sepasang sahabat yang sudah terikat perjanjian untuk meniti hidup bersama. Jika ada unta maka ada bedu, begitu pun sebaliknya.  </div>
<div> </div>
<div>Kami bukan bedu apalagi memiliki hubungan darah atau kekerabatan dengan mereka. Kami adalah manusia yang &#8216;tersesat&#8217; seperti kerbau gunung yang main di pinggiran pantai. Dari daerah hijau royo-royo tinggal di wilayah daratan coklat pudar. Udara dingin mulai merambat ke dinding-dinding kamar dan seluruh ruangan. Tak perlu AC seperti di musim panas yang dinyalakan terus-menerus 24 jam. Justru saat ini kami mencari kehangatan, sembunyi di balik selimut tebal yang baru di cuci setelah musim dingin usai. Dinginnya udara memaksa tabung merkuri mentok ke angka dibawah 10 derajat celcius. Mungkin tahun-tahun ke depan skala itu akan turun seiring semakin kacaunya lingkungan kita. Tak ada yang perlu dilakukan memang karena katanya dunia sudah meminta resign dari peredarannya , begitu si pecundang membatin.</div>
<div> </div>
<div>Desember awal bagi emiraty adalah hari-hari istimewa. Konon seorang bedu dibantu penjajah &#8216;baik hati&#8217; namun culas, <em>the great britain</em> mendeklarasikan terbebas dari pengaruh dua kekuasaan besar, kerajaan Hijaz dan kasultanan oman. Berbagi kawasan kosong rub al khali yang penuh misteri. <span class="yshortcuts">Misteri</span> yang membuat rakyat miskin di negeri berkembang lintang pukang karena dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari dan harganya tidak mau turun-turun, yaitu bensin dan minyak tanah. Misteri rub al khali seperti misteri hilangnya sebuah peradaban yang tenggelam ke dasar bumi. Mungkin ada kobakan besar di dalam sana yang menyimpan harta karunnya para ali baba.</div>
<div> </div>
<div>Tanggal 2 Desember kemarin, para keturunan bedu berpesta di pinggiran corniche. Kawasan elit memanjang di pinggir pantai tempat dulu mencari mutiara ini memang indah. Di depannya Lulu Island bersolek. Konon kawasan itu untuk para keturunan babi dan monyet yng doyan bertelanjang bulat di sepanjang pantai. Sayang, saat pesta malam 3 Desember buruhmigren, seorang gembel dari jawadwipa belum sempat menyaksikan ke sana. Maklum, pekerjaan shift yang bergantian siang dan malam sudah menjadikan kami seperti bagian dari mesin extruder yang hanya berhenti saat trip saja. Namun konon pula, pesta di depan corniche diramaikan dengan pesta kembang api, dari bisik-bisik surat kabar <em>sih </em>terbesar sedunia. Sekali lagi terbesar sedunia!. Selama kurang lebih 45 menit dirham-dirham tersebut dibakar menjadi cahaya-cahaya terang warna-warni gemerlapan. Menghanyutkan para ribuan pasang mata. Tuan-tuan itu seolah berteriak pongah, lihatlah dari kerja keras kalian cahaya kembang api dengan aneka bentuk kami persembahkan, dari keringat para kuli kasar bangunan, dari para pencari kehidupan hanya untuk sekedar makan. Kami akan terus tebarkan mimpi dan dirham ini begitu indah bukan?!.</div>
<div> </div>
<div>Abu dhabi kota yang semula tampak teratur menjadi padat merayap. Para pemuda dan pemudinya bersuka cita merayakan kebahagiaan hari pembebasan. Kebut-kebutan kendaraan mewah aneka merek sudah lumrah. Apakah ada yang perlu dibanggakan? tidak ada penjajahan apalagi pertumpahan darah namun di masa awal berdirinya negara ini ketegangan tetap ada. Tegang hanya karena berebut lahan kosong yang bernama, rub al khali. Dataran sepi dan kosong seolah bosan dengan hiruk pikuk manusia yang bebal dan selalu berulang membuat kerusakan dan berbuat kesombongan. Dari tidak ada sampai kemudian mampu membangun gedung-gedung pencakar langit setelah itu lupa bagaimana sepatutnya berperilaku.</div>
<div> </div>
<div>Dari tepian Rub al Khali, udara dingin kembali menyapa. Dan malam kembali hitam pekat. Sebuah pesan terakhir menggantung di langit-langit bumi. Konjugasi bulan Venus, yupter dan bulan membentuk senyuman. Entah senyuman tanda kebahagiaan atau senyuman perpisahan. Tak ada yang tahu. Dari tepian rub al khali, kututup tirai jendela. Menyapa bulan dan gemintang, selamat malam. Semoga kita selamat sampai &#8216;tujuan&#8217;. Di <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">akhir zaman</span>, di tepian rub al khali, aku semakin waswas dengan jalannya hidup. Allah..tsabbit qalbi &#8216;al diinik..!(tetapkan aku dalam agama-Mu).</div>
<div> </div>
<div>Salam dari tepian teluk Persia, Rub al khali.</div>
<div>buruhmigren</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Safety Shoes di Anniversary 63 th Indonesia]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/11/10/safety-shoes-di-anniversary-63-th-indonesia/</link>
<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 05:50:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/11/10/safety-shoes-di-anniversary-63-th-indonesia/</guid>
<description><![CDATA[Semalam bersama beberapa rekan di Ruwais, kami mendapatkan undangan untuk menghadiri acara peringata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2007/04/jejak1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-43" title="jejak1.jpg" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2007/04/jejak1.jpg?w=128" alt="jejak1.jpg" width="128" height="91" /></a>Semalam bersama beberapa rekan di Ruwais, kami mendapatkan undangan untuk menghadiri acara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di hotel Intercontinental Abu Dhabi. Saya tidak tahu kalau acara ini sekaligus sebagai media perkenalan dubes baru kita untuk PEA (persatuan Emirat Arab),<!--more--> <!--more-->Pak Wahid Supriyadi. Pria atau lebih tepatnya lelaki asal Kebumen yang diberi kehormatan untukmenjadi perwakilan negara besar zambrut khatulistiwa, Indonesia. Seorang pujangga memilah makna pria dan lelaki dalam sebuah kategori bahwa pria lebih lembut lebih tepatnya lemah sementara lelaki lebih jantan dan &#8216;dibanting tahan&#8217;.</p>
<p><strong>Sekilas Tentang Pak Wahid dan Kiprahnya</strong></p>
<p>Duta besar Indonesia yang baru ini sebelumnya bertugas di Konjen Melbourne, Australia. Beliau meninggaalkan jejak yang mengharumkan nama bangsa dengan membangun kanal bagi seni gamelan sehingga lewat usahanya inilah terbentuk 40 grup gamelan&#8217;ers yang semua pemainnya adalah warga Australia. Diharapkan dari kanal ini mengalir jauh sampai ke laut rasa kecurigaan bangsa Australia terhadap Indonesia yang dalam doktrin keamanannya menganggap Indonesia adalah &#8216;musuh&#8217; yang harus diwaspadai. Kesuksesan lainnya adalah Festival Indonesia yang digelar (setiap) bulan September yang mengundang daya tarik 97 ribu pengunjung. Semua menjadikan Australia khususnya warga Melbourne begitu dekat dengan Indonesia. Apalagi kota ini termasuk kota penting di Australia sebagai kota pendidikan, tempat mukimnya para akademisi.</p>
<p>Pak Wahid memang dikenal sebagai &#8216;down to earth&#8217; ambasador. Pendekatannya kepada warga Indonesia di perantauan begitu merakyat. Konsep &#8216;People to People&#8217; diplomacy yang diajarkan Hasan Wirayudha menempatkan setiap warga dan wakil pemeritah setara. Mengutip dari Forum, Paradigma feodal para diplomat senior pada era orde baru memang menjadikan &#8216;gap vertikal&#8217; rakyat dan wakil pemerintah di perantauan. Seperti halnya sewaktu menjabat konjen di melbourne, beliau tidak menunggu disowani. Tidak lama setelah bertugas di Abu Dhabi beliau langsung &#8216;merapat&#8217; kepada masyarakat. Beberapa bulan lalu beliau sengaja datang ke Ruwais (250 km dari Abu Dhabi) untuk bermain badminton bersama para warga Indonesia. Tentunya misi utama adalah sosialisasi PPLN dan silturahim dengan para warga Indonesia dalam rangka memperkenalkan duta besar yang baru bertugas dan sekaligus memberikan donasi bagi komunitas Indonesia di Ruwais.</p>
<p><strong>&#8220;Safety Shoes&#8221; Behind the Scene</strong></p>
<p>Undangan untuk menghadiri ceremonial di atas sudah diterima jauh-jauh hari. Saya sempat ragu bisa atau tidak menghadiri acara di seremonial tersebut. Masalahnya kebetulan jadual masuk kerja, sementara jatah cuti sudah habis. Mendekati ke hari H, konfirmasi untuk hadir akhirnya disampaikan. Rencananya sepulng kerja pukul 16:30 kami meluncur ke Abu Dhabi. Saya harus minta izin dahulu untuk pulang lebih awal. Bersama Pak Heri, Pak Ade dan Pak Syaiful lepas pukul 16:45 akhirnya meluncur dari Ruwais.</p>
<p>Berangkat dari tempat kerja masih menggunakan baju &#8216;fire retardant&#8217; abu-abu. Saya cek titipan salin ternyata ada yang kurang. Saya lupa menyampaikan ke ajudan untuk membawakan juga sepatu. Di dalam mobil saya lihat ke bawah. Sepatu safety masih saya kenakan. Tidak ada waktu lagi untuk balik ke Ruwais sekedar mengambil sepasang sepatu. Show must go on. Saya sempat berharap acarany tidak terlalu formal dan seperti acara-acara sebelumnya diramaikan warga Indonesia. Di Tarif, kami berhenti untuk solat Maghrib-jama Isya sekaligus salin. Beres semua ketika akan berangkat, pak Heri melihat ada yang aneh ke bawah.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>Dialognya saya sensor. Isinya bukan konsumsi publik. Namun isinya kira-kira mempertawakan saya yang msih pakai safety shoes. Bukan safety shoesnya  yang tidak safe tapi safety shoesnya sudah babak belur nabrak batu, pasir, alat-alat berat di plant. Jadilah safety shoes ini seperti veteran perang yang penuh cabikan musuh. Alamaaaakkk&#8230;! sampai di lokasi ternyata acaranya formal. banyak tamu undangan duta besar negara sahabat. Masuk ke balairung acar disambut deretan anak-anaak Indonesia dengan aneka pakaian adat. Kamera video dan photo di sana-sini. Di pintu masuk pk Dubes bersama ibu dan staff berdiri berjejer menyambut kehadiran para undangan. Dalam hati &#8220;kok jadi gini..?!, ane balik lagi lah nunggu di mobil&#8221;. Gara-gara safety shoes harus rela jalan paling belakang karena pak heri melarang jalan di depan. &#8220;Apa kata dunia..?!&#8221;. &#8220;Moga-moga gak yang merhatiin ke bawah atau meriksain sepatu para pengunjung&#8221;, gitu batin buruhmigren.  Anyway, acara berjalan lancar tanpa ada yang saling berbisik soal sepatu kaca eh..sepatu safety. Hanya Pak Heri dan kawan-kawan lainnya yang mesam-mesem&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rub al Khali]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/11/07/rub-al-khali/</link>
<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 17:23:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/11/07/rub-al-khali/</guid>
<description><![CDATA[Bagi Wilfred Thesiger, seorang kebangsaan Inggris, ex-veteran perang dunia kedua dengan pangkat tera]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/11/desert.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-602" title="desert" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/11/desert.jpg?w=63" alt="desert" width="63" height="95" /></a>Bagi Wilfred Thesiger, seorang kebangsaan Inggris, ex-veteran perang dunia kedua dengan pangkat terakhir Mayor tidak ada kesan yang paling mendalam dalam perjalanan hidupnya selain menaklukan <em>Rub al Khali</em> bersama para Bedu. Rekor ini Sekaligus mencatat ia sebagai orang ke tiga &#8216;green horn&#8217; (meminjam istilah Karl May) setelah Betram Thomas (1931) dan St. John Philby (1932). Jika dalam&#8217; Winnetou&#8217; Karl May menyebut &#8216;green horn&#8217; untuk para western yang hidup di padang prairie maka untuk tulisan ini istilah &#8216;green horn&#8217; untuk para western yang mencoba menaklukan <em>rub al khali</em> atau dikenal dengan <em>empty quarter</em>.<!--more--></p>
<p><strong>Rub Al Khali</strong></p>
<p>Jika membaca peta bumi maka kita akan mendapatkan minimal 2 wilayah ekstrim untuk kategori tempat yang tidak layak dihuni oleh manusia. Alasannya tempat tersebut tidak menjanjikan <a href="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/11/bedouin.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-603" title="bedouin" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/11/bedouin.jpg?w=65" alt="bedouin" width="65" height="96" /></a>kemudahan bagi manusia untuk tinggal di atasnya. Contoh yang pertama Antartika dengan temperatur ekstrim minus jauh dibawah nol derajat celcius, dengan siklus siang dan malamnya yang <em>nyeleneh</em> karena matahari tidak hadir seperti di wilayah khatulistiwa 12 jam perharinya. Tidak ada <em>summer discount</em> seperti di Dubai atau juga pantai yang menyediakan para turis untuk berjemur seperti di Kuta, Bali.  Tempat ekstrim kedua adalah <em>Rub al Khali</em> atau <em>Empty Quarter</em>. Wilayah gurun pasir yang membentang seluas 650,000  kilometer persegi atau 250,000 mil persegi yang membentang dari Saudi Arabia (saat ini) sampai meliputi wilayah Yaman, Oman, dan UAE.  Jika memakai GPS ada di posisi antaraa  longitud 44°30′–56°30′ timur, dan latitud 16°30′–23°00′ utara.  Sepadan dengan luas daratan Nederland, Belgia, Francis  plus ditambahin wilayah Texas kemudian digabungkan jadi satu.</p>
<p><a href="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/11/rub.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-604" title="rub" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/11/rub.jpg?w=128" alt="rub" width="128" height="83" /></a>Di namakan <em>Rub al Khali</em> atau <em>empty quarter</em> karena daratan kosong ini memang wilayah tidak berpenghuni. Jangan berpikir ada pasar, mall apalagi restoran karena jalan saja tidak ada. Mungkin sekilas <em>Rub Al Khali</em> seperti <em>dead sea</em> atau laut mati bagi satwa air. Inilah padang pasir terbesar di dunia dengan kondisi alam yang kejam. Ketinggian pasir dan bukit cadasnya bisa sampai setinggi menara Eifel 330 meter, dengan <em>extraordinary</em> suhu udara dengan penunjukan skala raksa (Hg) 55-60 derajat celcius, tidak ada air kecuali hanya di beberapa titik tertentu saja di sekitar wadi/lembah gurun berupa oasis. Kekejaman medannya jika ingin mengarungi<em> Rub Al Khali</em> tanpa persiapan memadai lengkap dengan GPS sama dengan kita mengarungi samudera atlantis hanya dengan <em>gedebong </em>pisang.</p>
<p>Seorang keturunan Bedu mengabari saya bahwa beberapa bulan lalu empat pemuda ditemukan mati di dalam mobil land cruissernya saat mencoba melintas Rub al Khali tanpa GPS serta bekal memadai. Para pemuda nekat ini berpikir dengan bermodal Land Cruisser bisa mengarungi 1000 km Rub al Khali hanya dengan 4 jam. Bagi mobil sekelas Land Cruisser 200 km/jam adalah hal biasa di jalan raya Gulf namun di <em>Rub al Khali</em> mereka terkena batunya. Konon di satu lokasi mobil mereka nyangkut di Bukit Pasir setinggi menara Eiffel tadi tidak bisa digerakkan. Tanpa GPS mengarungi <em>Rub al Khali</em> seperti berjalan mundur tak tentu arah. Jadilah mereka merana di &#8217;samudera&#8217; padang pasir yang tak bertepi.</p>
<p>Dahulu tidak ada yang peduli dengan <em>Rub al Khali</em>. Ini bukan wilayah yang diminati karena sama sekali tidak ada keuntungannya. Para penguasa dari dinasti ke dinasti membiarkan tempat ini dikusai oleh para Bedu. Bedu atau Bedouin, satu-satunya jenis manusia yang bersahabat dengan <em>Rub al Khali</em>. Dari wilayah inilah konon para Bedu itu menyebar sampai ke Afrika utara. Dalam sejarah Bedu dikenal juga para pasukannya yang handal dan trampil seperti pasukan Gurkha di Nepal. Suku Juhayna adalah salah satu tribalnya Bedouin yang disewa kerajaan Saudi untuk menjaga dua kota suci Makkah dan Madinah. Keistimewaan Bedu juga menguasai medan Rub al Khali tanpa peta atau GPS sekalipun. Mereka mampu bertahan hidup di tengah gurun serta bisa membaca kondisi alam dengan baik sehingga tahu tanda-tanda kapan akan terjadi badai pasir,  dlsb.</p>
<p><em>Rub al Khali</em> sebenarnya bukan hadir tanpa kisah. Konon di bawah timbunan padang pasir di wilayah <em>Rub al Khali</em> inilah terdapat  <em>the lost city</em> alias kota yang hilang. Kota ini dikenal dengan nama <em>Iram of the Pillars</em> atau <em>Iram dzat al Imad</em> dikenal kota seribu tiang. Kota ini pernah mencapai puncak peradaban manusia pada 3000 tahun sebelum masehi dan menghubungkan dua peradaban besar timur dan barat. Namun akhirnya kota ini tenggelam dan hilang tak berbekas. Dalam Al-Qur&#8217;an surat <em>Al-Fajr</em> ayat 6-13, disebutkan sebagai kotanya kaum &#8216;Ad. Ditenggelamkan ke dalam tanah disebabkan Raja Shaddad penguasa &#8216;Ad tidak mau mematuhi ajakan Nabi Hud A.S untuk menyembah Allah SWT.</p>
<p>Seiring waktu dan perkembangan teknologi akhirnya semua mata terbuka lebar. Rub al Khali wilayah tak bertuan, tandus, kering dan sunyi menjadi wilayah perebutan beberapa negara di jazirah Arab. Dilhat pada peta dunia sekarang ini <em>Rub al Khali</em> terletak diantara negara-negara teluk yaitu Saudi, Oman, Yaman, dan UAE. Saudi dengan kekuatan yang lebih dominan dibanding ketiga negara tetangganya menguasai hampir 6o persen wilayah <em>Rub al Khali</em>. Sementara para negara tetangganya mendapat sisanya. Wajar saja Saudi begitu bernafsu karena di <em>Rub al Khali</em> inilah kandungan  minyak dan gas sangat tinggi.</p>
<p>Para ahli geology mengungkapkan <em>Rub al Khali</em> adalah wilayah paling kaya minyak di dunia. Salah satunya yang terbesar saat ini adalah ladang <em>Ghawwar</em> di Saudi Arabia yang memproduksi minyak jenis <em>light crude oil</em> terletak di wilayah <em>Rub al Khali</em>. Di wilayah UAE sendiri beberapa eksplorasi gas dan oil terletak masih disekitar <em>Rub al Khali</em>, misalnya kawasan industri Habshan. Bahkan Ruwais sendiri masih termasuk wilayah <em>Rub al Khali</em> namun karena perkembangan industri menjadi sebuah wilayah pemukiman modern. Ke depan akan banyak wilayah <em>Rub al Khali</em> yang mulai ramai seiring terjadi perubahan gaya hidup dari para Bedu menjadi para pengusaha maju dan berkendaraan Mobil mewah. Untuk melihat padang pasir yang menghampar tak bertepi hanya butuh beberapa menit saja menuju timur laut untuk menuju tepian <em>Rub al Khali</em>. Pemerintah UAE sendiri sudah membangun jalan lingkar dari mulai kota Tarif, Medinat Zayed meliwati Liwa, kota asal dari klan <em>An-Nahyan</em> (pendiri negara UAE) sampai Ghayathi tempat pemukiman Bedu dari klan <em>Al mansoori</em>.  Maka sejak eksploitasi itu dimulai orang-orang di Gulf mulai memplesetkan <em>Rub al Khali</em> (empty quarter) menjadi <em>Rub al Ghali </em>( value quarter). Dari semula wilayah yang dipandang sebelah mata menjadi wilayah yang sangat bernilai (ghali) dan tambang duit.  Maha suci Allah yang menjadikan segala sesuatu ada keistimewaannya. Wallahu a&#8217;lam</p>
<p>Ruwais, Dzulqa&#8217;dah 1429 H</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mozaik Gulf 1; Soal India]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/10/22/mozaik-gulf-1-soal-india/</link>
<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 18:40:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/10/22/mozaik-gulf-1-soal-india/</guid>
<description><![CDATA[Masih sedang berupaya mengumpulkan serpihan mozaik kehidupan di Gulf. Saya ingin memulainya dari yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Masih sedang berupaya mengumpulkan serpihan mozaik kehidupan di Gulf. Saya ingin memulainya dari yang ringan-ringan saja. Sebenarnya sesuatu yang tampak kasat mata di depan kita. Jadi bukan sesuatu hal yang istimewa. Hanya saja saat hal itu saya ceritakan pada teman, famili, dan sahabat yang kebetulan hanya bertemu lewat rangkaian kata menjadi sesuatu hal yang baru dan semoga menambah khasanah perbendaharaan hidup mereka. Saya akan mulai cerita soal India pertama kali.</p>
<p><strong>Soal India: Indonesia=India?</strong></p>
<p>Pengetahuan saya soal Gulf sama sekali blank, Nol besar!. Saat menginjakkan kaki di Abu Dhabi yang terpikir masih sebuah pertanyaan,&#8221;Apakah saya akan betah tinggal di negeri yang saat musim panas berubah menjadi wajan raksasa yang siap &#8216;menggoreng&#8217; makhluk yang ada?&#8221;. Sekalipun berusaha mencari berbagai jawaban dan beragam pikiran saya kemukakan dalam bentuk intra communication,<!--more-->namun tetap saja jawabannya satu; &#8220;Saya Butuh! betah..itu lain persoalan dan lain cerita&#8221;. Maka tidak ada itu dalam benak mencari data soal siapa saja yang menghuni Gulf, bagaimana adat isitadat, makanannya apa dlsb. Jadilah saya tidak begitu banyak mempersoalkan dengan siapa saya nanti berhadapan.</p>
<p>Oh ya.., sebelum ke Gulf saya mesti cerita dulu soal film India. India bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Apalagi yang dulu punya kebiasaan <em>Hanging Out</em> depan TPI alias Televisi <em>Pelem</em> India. Saking banyaknya memutarkan film-film dari tanah hindustan ini sampai-sampai TPI dipelesetkan menjadi ikon India banget!. Wajar jika film-film India menghiasi layar kaca kita apalagi saat jam tayang <em>non primetime</em>. Untuk membuat acara sendiri budgetnya <em>gede</em>. Maka jadilah film-film India rajin menyapa kita karena murah meriah dan katakanlah cukup menghibur masyarakat kelas bawah.</p>
<p>Dalam film India masyarakat kecil menemukan kemiripan dengan realitas kehidupan.  Ada tuan Takur sosok yang kaya, jahat, congkak dan licik. Ada polisi culas dan penipu rakyat. Ada pemuda <em>Raj/Raja</em> si miskin yang ingin bahagia dan mencintai Rani,  si jelita yang kaya. Ada politisi korup yang kongkalikong dengan Tuan Takur. Wah serulah! Namun dari semua itu yang paling disukai oleh masyarakat bawah cuma satu sebenarnya. Tuan Takur beserta para konconya PASTI akan KALAH!. Hal yang jarang mereka temukan dalam film Holywood juga pada sinetron-sinetron yang menjual kewahan dan gaya hidup. Hasrat batin para wong cilik akhirnya dapat terpuaskan oleh film-film India yang terasa keberpihakannya pada mereka. Kita seperti sedang menertawakan kehidupan kita sendiri rupanya. India saat itu yang dalam pandangan saya pribadi sendiri dekat di mata juga dekat di hati. Dekat di mata karena saya amati ada yang sampai berulang-ulang film India dengan judul yang sama diputar sampai lecek di salah satu stasiun televisi kita. Saya sampai bertanya mungkin bagian <em>programmer </em>acaranya sudah mengidap Imsonia alias gejala lupa ingatan sementara sampai harus memutar-mutar film itu-itu juga. Dekat di hati karena saya kadung jatuh hati dengan Kajol, lawan main Sakh rukh Khan dalam Kuch-Kuch Hota Hai. Kerlingan sudut matanya bisa membuat saya terpeleset jatuh bangun jadinya.</p>
<p><strong>Soal India: Gulf yang sudah Terwarnai</strong></p>
<p>Sesampainya di Gulf saya mulai tersadar. Saat saya amati tatapan mata, tipikal wajah, gelengan kepala, bahasa yang saya dengar, makanan yang saya temui lengkap dengan kue bola-bolanya, ada sindhu di belahan tengah rambutnya, titik merah di jidat, kalung hitam di leher, gelang tali merah di tangan kiri, dan masih banyak lagi sesuatu yang tidak asing bagi Saya. Gulf adalah negeri pertama yang saya injak selain Indonesia, jadi harus asing buat saya tapi realitasnya berbeda dengan yang dirasakan .</p>
<p>Mengenal India tidak terlalu sulit. Karena secara budaya kita pun sudah banyak mengadopsi cara hidup mereka. Dulu nenek moyang kita menganut agama Hindu dan Budha yang memang berasal dari negeri Hindustan. Saat Islam datang, tidak serta merta hilang 100 persen. Sisa-sisa India masih begitu kuat menempel. Misalnya dari nama-nama orang Indonesia, ada Indra, Wisnu, Jaya, Dewi, Dewa, dlsb. Soal seni dangdut; yang sudah seperti nafasnya masyarakat Indonesia dari mulai diskotek sampai warung kopi,  juga menginduk ke lagu-lagu India. Masakan kari ayam atau <em>chicken curry</em> pun konon berasal dari India. Apakah mungkin ini bisa jadi alasan Indonesia sudah meng- India.</p>
<p>Ternyata bukan hanya Indonesia saja yang terwarnai oleh India tetapi di Gulf pun India aroma India sudah begitu menyengat. Bisa dikatakan denyut nadi Gulf lebih banyak ditentukan oleh ritme gendang para imigran India. Saat winter menjelang dan kebetulan berdekatan dengan pesta Divapali-Diwali, lazimnya mereka menyebutnya sebagai pesta cahaya. Dari toko grosir sampai mall menawarkan aneka produk. Di beberapa zona area perdagangan deretan kain-kain sari dengan aneka corak dan motif dipajang. Toko-toko emas dan berlian biasanya ramai dikunjungi. Motif yang ditawarkan pun sebisa mungkin selaras dengan kain sari yang nanti akan dikenakan. Mereka yang tidak bisa merayakannya di kampung halaman biasanya merayakan pesta Divapali di kota besar seperti Dubai. Tentu hal itu hanya mungkin bagi para imigran India dengan posisi tertentu saja.</p>
<p><strong>Soal India: Lingkup Pergaulan</strong></p>
<p>Dominasi kelompok tertentu akan membawa efek tertentu. Bisa dibilang stereotip terhadap sesuatu yang dominan akan cukup kental. Begitupun dengan imigran India. Wajar saja menurut saya, populasi mereka yang banyak sehingga segala sesuatu lebih mencuat ke permukaan. Di UAE saja, dari sekitar 4 juta penduduk, 1 juta pribumi, 1 juta India, sisanya warga dunia lainnya. Dalam catatan Institut Buruh Migran, India negara kedua terbesar di dunia dalam hal <em>remittance</em> atau penerimaan devisa dari para buruh migrannya. Sampai detik ini saya harus mengacungkan jempol bagi para lelaki India yang rela bekerja jauh ke negeri sebrang, bekerja kasar di tengah sengatan matahari 49 derajat dengan bau yang khas dan dibayar dengan upah yang cukup beli pulsa satu bulan.</p>
<p>Bagi komunitas Indonesia, punya sebutan khas bagi mereka, yaitu; orang bawang. Entah siapa yang memulai. pemberian nama ini bisa jadi karena mereka suka sekali makan bawang dalam resep masakan mereka. Konon bawang adalah pengganti unsur nafsu hewani yang berasal dari tumbuhan. Bagi orang India yang beragama Hindu, mereka adalah vegetarian. Protein hewani salah satu fungsinya adalah memicu &#8216;nafsu hewan&#8217; manusia. Nafsu hewan ini sebenarnya juga dibutuhkan untuk sex. Nah fungsi bawang itulah pengganti protein hewani agar sex mereka juga tetap <em>tune in</em>.  Maka sejak itulah orang Indonesia menyebut &#8216;kata sandi&#8217; orang bawang untuk orang India.</p>
<p>Jika hati tidak suka memang akan banyak alasan.  Begitu juga di tempat kerja. Saya harus melihat lebih bijaksana dalam memandang hidup. Mungkin itulah dibalik hikmah sekarang saya berada di tengah-tengah lingkungan kerja dengan aneka suku bangsa dan juga India  salah satunya. Masing-masing membawa karakter sendiri-sendiri. Baik menurut pandangan kita belum tentu baik menurut pandangan bangsa lain, begitu pula sebaliknya. Gesekan sebuah hal yang lumrah dalam sebuah lingkup pergaulan, tinggal bagaimana kita bisa menjadi seorang pemenang. Pemenang dalam hal menaklukan emosi dan ego kita sendiri, dan itulah sejatinya sebuah pergaulan.  </p>
<p>Hal lainnya saya melihat mereka cukup agresif dalam berbagai hal. Kecakapan berbicara dan punya mental yang cukup kuat. Agresif bagi masyarakat Indonesia sesuatu yang kurang bisa diterima. Budaya kita lebih banyak kesandung dengan urusan perasaan. Inilah rootcausenya. saya bisa ambil contoh dalam pemilihan ketua RT. Untuk mencari siapa yang mau jadi ketua itu akan butuh berhari-hari. KIta lebih memilih sebagai save player dengan kursi yang empuk dan nyaman. Saya pernah ikut dalam sebuah training team building. waktu itu setiap kelompok diminta menentukan siapa yang akan jadi leadernya. Belum sempat kita berbicara dan baru mulai salaing pandang, teman saya yang India sudah mengacungkan jari. &#8220;Saya saja leadernya!&#8221;</p>
<p>Saya tidak ingin mengajak berpikir negatif untuk hal ini. Mengeneralisasi persoalan untuk menggalang opini negatif hanya melahirkan bola salju yang membesar dan menggelinding menghancurkan siapa saja yang ada di hadapan. Jadi urusan suka dan tidak suka buat saya itu personal.  Lebih baik saya menulis bagaimana kegagapan saya berkomunikasi bahasa tubuh dengan mereka.</p>
<p><strong>Soal India: Bahasa Tubuh</strong></p>
<p>Anda tahukan orang India mempunyai gelengan kepala yang khas? Ya! ini masalah pertama yang saya rasakan dari <em>Inter personal communication</em>. Lazimnya orang akan menganggukkan kepala jika setuju dan menggelengkannya jika tidak. Question; Bagaimana jika setuju dan tidak setuju gelengan kepalanya sama? gelengan kepala India yang khas dengan cara menggoyangkan kepala seperti ada <em>per</em> (spring) di leher kita. Suatu hari saya bertanya kepada rekan kerja. Jawabannya simpel hanya ya atau tidak dengan isyarat tubuh juga boleh. Namun ia menjawab dengan menggelengkan kepala. Saya tanya sampai beberapa kali, tetap saja jawabannya sama, menggelengkan kepala. Saat memesan makanan ke kafetaria, bertanya pada petugas kebersihan, bertemu dengan pegawai bank, mencarter supir taksi, semua sama menggelengkan kepala untuk jawaban ya atau tidak.</p>
<p>Akhir dari semua itu adalah saya temukan kuncinya. Jika ya..ia mengeleng sekali. Jika tidak ia menggeleng dua sampi tiga kali. Jika bingung alias ia sendiri tidak tahu maka ia menggeleng sampai sepuluh kali. Sudahlah, saya harus mempunyai rumus sendiri daripada saya dibiarkan tersesat di belantara kebingungan. Saya persilahkan anda untuk mencobanya menggelengkn kepala saat teman anda bertanya sesuatu yang sebenarnya jawabannya simpel, ya atau tidak!.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Indonesian Corner dan membangun Mimpi]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/10/14/indonesian-corner-dan-membangun-mimpi/</link>
<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 17:05:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/10/14/indonesian-corner-dan-membangun-mimpi/</guid>
<description><![CDATA[Sudah beberapa kali saya menikmati kesunyian di perpustakaan Ruwais. Letaknya menyatu dengan recreat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="font-size:12pt;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">
<p><span style="font-size:x-small;"><a href="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2007/04/maen-game.jpg"></a><a href="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2007/04/maen-game.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-63" title="maen-game.jpg" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2007/04/maen-game.jpg?w=128" alt="" width="128" height="95" /></a>Sudah beberapa kali saya menikmati kesunyian di perpustakaan Ruwais. Letaknya menyatu dengan recreation center. Satu lorong dengan cinema Ruwais. Saya tidak tahu dalamnya cinema seperti apa karena tidak pernah masuk ke dalam sekali juga. Setiap masuk perpustakaan satu hal yang paling saya sukai adalah <em>tagging</em> pengumuman yang selalu ada di setiap perpustakaan. &#8220;Quite please, you are in the library&#8221;, kalau di perpustakaan <span class="yshortcuts" style="background:none transparent scroll repeat 0 0;cursor:hand;border-bottom:medium none;">LIPI</span> bunyinya, &#8220;Dilarang berisik, Anda sedang di perpustakaan&#8221; . Entah kalo di Europa, seperti apa bunyinya. Tapi saya yakin pasti ada larangan untuk membuat kekacauan dan keributan. Seolah perpustakaan sangat sakral dan tempat yang paling sunyi setelah kuburan.<!--more--></span></p>
<p>  <strong><span style="font-size:x-small;">Perpustakaan dan Membangun Peradaban</span></strong></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;">Namun inilah salah satu daya tarik bagi saya untuk mengunjungi perpustakaan publik. Ruangan besar dengan dinding bergema. Jika berbicara sesama pengujung setengah berbisik. &#8220;ada di sebelah mana raknya?&#8221; &#8220;was wes..wos..&#8221; hampir tidak terdengar sesama pengunjung berbicara. Berada di dalam atmosfir ruangan penuh buku memang mengasyikkan. Saya seperti berada di dalam ruangan penuh <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">harta karun</span>. Jutaan kata yang tertulis mewakili setiap masa. Seperti ada gambar audio visual yang berseliweran di dalam ruangan yang setiap harinya sepi ini. Ada gambar berisi peperangan, oh..mungkin itu dari buku sejarah. Ada gambar jenis macam hewan, oh ya..itu mungkin dari buku biologi. Ada gambar orang sedang beracting, mungkin itu dari buku sastra. Terkadang buku-buku yang tersimpan di dalam lemari tadi seperti berjingkrak- jingkrak membuat gaduh. Seolah berteriak, &#8220;jamah aku-jamah aku..hehe bukan begitu!,maksudnya baca aku!..baca aku!&#8221;. Saking girangnya  menyambut pengunjung yang datang.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;">Bukannya sok tahu dengan sejarah. Dulu, kekhalifahan Islam di Bagdad punya perpustakaan yang terbesar di dunia pada zamannya. Dinasti <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Bani Umayyah</span> dengan Sultan Harun Al Rasyid memang sukses menjadikan Bagdad sebagai pusat <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">ilmu pengetahuan</span>. Alih bahasa Latin ke arab ternyata membantu percepatan kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa. Membaca, menulis, membangun perpustakaan adalah bagian dari pondasi membangun peradaban. Maka, tatkala pasukan Jenghis Khan datang, Tartar the Destroyer melumatkan buku-buku itu. Dibakar jadi abu dan dimusnahkan di sungai Eufrat. Konon sampai sungai Eufrat terbendung oleh buku-buku yang dibenamkan. Tinggalah sejarah Islam memasuki masa kelam. </span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;">Tingkatan budaya berbahasa itu dimulai dari bercakap-cakap, mendengar, kemudian menulis dan membaca. Jika segala sesuatu hanya cukup dibicarakan maka jadilah ia angin lalu. Seberapa kuat ingatan kita menyimpan informasi?. <span class="yshortcuts">Jadi</span> semua harus dituliskan. Begitu juga dengan Al-Qur&#8217;an, Muhammad yang mulia memerintahkan Ibnu Mas&#8217;ud untuk menulis setiap wahyu. Bangsa Arab memang kuat hafalannya,tetapi saat banyak penghapal Qur&#8217;an gugur menjadi syahid maka di masa Khalifah Utsman bin Affan Qur&#8217;an dimushafkan (dibukukan). Seperti sekarang, Jadi hanya ada satu mushaf saja, yaitu mushaf Utsmany. Cetakaannya boleh banyak, isinya sama. Bisa kita bayangkan saat wahyu tidak segera dibukukan entah seperti apa jadinya.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;">Begitulah, budaya menulis, membaca dan serta ketersediaan perpustakaan diibaratkan membangun sebuah peradaban. Di dalamnya menjadi rujukan ilmu pengetahuan. Teman saya sempat protes, tidak perlu perpustakaan fisik saat ini. Semua ada di internet. Tinggal klik dan search saja. Saya tidak menyanggah, namun seperti halnya administrasi ada yang softcopy mesti ada juga yang hardcopy. Saling mem <em>back up</em> satu sama lain. Bukan menghilangkan satu sama lain. Namun bagi saya tetap saja aroma perpustakaan membuat saya bahagia. Kedamaian seolah tercipta diantara buah pemikiran yang brilian. Dari perjalanan panjang anak manusia yang entah sampai kapan.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><strong><span style="font-size:x-small;">Indonesian Corner dan membangun Mimpi</span></strong></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;">Bagian pilihan hidup saya untuk menemukan kedamaian di antara buku-buku. Maka saat di Ruwais ada perpustakaan saya bahagia. Sayangnya setiap kali masuk masih didominasi buku-buku dengan bahasa Arab. Inilah adegan tragisnya. Saya harus memilah buku-buku <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">bahasa Inggris</span> untuk mencoba meresapi isinya. Bahasa Arab buat saya terlalu berat karena tidak ada <em>fathah, kasroh </em>dan<em> domahnya</em>. Kalau pun saya ambil yang berbahasa Arab paling tidak majalah bulanan. Sayangnya isinya gambar-gambar cantik. Membuat saya alergi jadinya. Bukannya tidak suka, saya jadi ingin memiliki.  Begitulah endingnya, saya hanya menikmati gambar saja. Jika buku berbahasa Inggris masih <em>oke</em> lah!. Mungkin ini juga yang menjadi alasan orang Indonesia di Ruwais jarang mampir ke perpustakaan. Saya bertanya tiada henti..</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;">Satu kesempatan saya bertanya pada petugas <em>librarian</em>. &#8220;Saya lihat masih banyak rak-rak kosong. Bolehkah saya nyumbang buku? Ia menjawab, &#8220;Dengan senang hati menerimanya&#8221; . Saya jelaskan bukunya berbahasa Indonesia. Ia juga meyakinkan saya itu bukan masalah. Maka saya curahkan mimpi saya padanya agar satu hari kelak ada <em>Indonesian corner</em> di perpustakaan Ruwais. Eh..ia bahkan menyambutnya dengan berbinar-binar seolah saya sedang mengungkapkan kata cinta padanya. Maka selepas mengunjungi perpustakaan siang itu isi kepala saya muter-muter. Saya harus beli buku dari Indonesia, terus saya kirim ke sini, harga buku dan biaya kirim pasti lebih mahal biaya kirim. Muter lagi..sampai pusing dibuatnya. </span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;">Maka saya pecahkan pusingnya saat ini dengan menulis. Saya bermimpi ada <em>Indonesia Corner</em> di perpustakaan Ruwais. DI PEA (persatuan emirat arab), Negara yang kaya duit sampai trilyunan dollar tidak punya satu pun perpustakaan kelas dunia. Kalau hotel dan mall kelas dunia banyak. Di sini memang jagonya. Saya sering sedih saat mengajak anak main ke Abu Dhabi. <span class="yshortcuts">Hanya</span> Mall yang dituju. Apa yang terjangkar dalam pikirannya saat besar nanti. Satu-satunya jalan mampir ke toko buku. Tetap saja menurut saya kondisi masih minim dan kurang seimbang. Sadarlah saya, saya terperangkap dalam dunia kapitalis. Seolah, yang terjadi di sini adalah siapa yang mengeksploitasi siapa. Para migran yang datang juga tak mau berpikir soal buku, pokoknya number one is dirham. Saat saya tanya ke penduduk asli dimana perpustakaan yang besar di Abu Dhabi, jawabnya &#8220;a..e..o..!&#8221; kata dia, &#8221;jangan tanya itu, mall saja!&#8221;.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;"> </span><span style="font-size:x-small;">Saya sedang membangun mimpi sendirian. Di perpustakaan Ruwais ada Indonesia Corner, berjejal buku-buku dari indonesia. Bisa bahasa Inggris juga <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">bahasa Indonesia</span>. Pilihan menurut saya tepat. Jika membangun perpustakaan di rumah aksesnya sangat terbatas. Lagi pula masalah privacy tidak bisa diabaikan. Jika perpustakaan publik sudah jelas fungsinya. Dan saya kira sudah saatnya kita membiasakan diri mengunjungi perpustakaan bersama keluarga, putra dan putri kita. Di perpustakaan Ruwais di dinding sebelah timur sudah ada ruangan yang memang dikhususkan untuk anak-anak. Diberi pintu tersendiri, jadi jika anak-anak ribut tidak mengganggu pengunjung lainnya. Ketika kedua anak saya dibawa mereka bisa menikmatinya. Sayangnya, buku-buku anaknya masih berbahasa Arab. Butuh waktu cukup lama atau mungkin sangat lama untuk membiasakannya. </span></p>
<p> <span style="font-size:x-small;">Saat ini saya masih memilih buku-buku di flat saya yang akan diboyo ng ke perpustakaan di Ruwais. Jika Allah berkehendak saya juga ingin membeli buku-buku dari Indonesia dan mengaturnya untuk bisa dikirim ke sini. Saya juga bicarakan satu persatu pada orang-orang yang tepat dan kira-kira mempunyai visi yang sama. Tidak mudah menemukannya memang karena sepertinya kita sudah terlalu sibuk dengan urusan yang lain dan soal buku serta perpustakaan bukan sesuatu hal yang menarik. Jadi soal Indonesian corner di perpustakaan di Ruwais masih sedang tahap perjuangan untuk mewujudkannya. Ini bagian dari kampanye literasi di salah satu pesolok, remote area istilahnya. Atau perlukah John wood, si pendiri 1000 perpustakaan di dunia untuk didatangkan kemari untuk mewujudkan Indonesia corner? Sudahlah tidak perlu!. Kata SBY, bersama kita bisa!.</span></p>
<p><span style="font-size:x-small;">     </span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sahabat]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/10/12/sahabat/</link>
<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 16:41:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/10/12/sahabat/</guid>
<description><![CDATA[Bagi sebagian orang percaya dunia penuh kepalsuan. Apalagi jika diukur dengan urusan materi. Ikatan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bagi sebagian orang percaya dunia penuh kepalsuan. Apalagi jika diukur dengan urusan materi. Ikatan persaudaraan pun akan cerai berai. Bagi mereka tak ada saudara jika sudah menyangkut duit. Begitu kerasnyaa kehidupan saat ini memang. Iklan aneka produk di layar kaca, revolusi industri media yang menjadi trend setter gaya hidup mengubah cara berpikir manusia. Semua membawa kita pada arus materialisme. Dunia memang menjadi rata dan sempit oleh teknologi. Kearifan lokal akan dibenturkan dengan ujian terberat yaitu budaya permisif.<!--more--></p>
<p>Terlalu berat saya berpikir di paragraf pertama. Toh sebenarnya saya ingin mengajak ingatan kita tentang seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan kita selama kurun perjalanan hidup. Seseorang yang akan menjadi tangan, saat kita terjatuh dan mengulurkannya untuk mengangkat kita bangkit dan terus berjalan. Ia menjadi dua biji mata saat pandangan kita kabur dan salah arah dalam melangkah dan menuntun kembali ke arah yang sebenarnya. Pendeknya, ia adalah seorang sahabat sejati.</p>
<p>Betapa manusia seperti ini kehadirannya hanya sesaat saja. Seolah ia sedang menunggu dipersimpangan jalan. Mungkin ia tahu saat itu kita akan salah arah dan dengan sabar ia menunjukan jalan yang sebenarnya. Jalan yang terjal menjadi begitu indah saat dilalui bersama seorang sahabat sejati. Tak banyak kenangan yaang tersimpan selain senyumannya yang membasahi kembali semangat kita yang hampir kering. Ia bahkan rela hanya sekedar menjadi &#8216;keranjang sampah&#8217; dari setumpuk persoalan kita yang dihadapi. Ah..betapa saya rindu bertemu kembali dengannya.</p>
<p>Di tepian waktu saya sering menyempatkan diri mengenang para manusia berlian yang menjadi bagian dari oase kehidupaan saya. Di mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa, mereka memang sempat hadir dalam kehidupan saya. Ah sekarang entah ada dimana mereka. Setiap kali melintas gurun pasir yang menghampar, ingin sekali kerongkongan saya mengeluarkan teriakan sampai tercekik terasa. Hanya sekedar memanggil namamu sahabat. Melepas kerinduan untuk mendengar tawa kalian saat saya berbuat tolol dalam kehidupan.</p>
<p>Di pojok sebuah ruangan tanpa jendela, di atas karpet hijau yang sudah mulai kumal, saya pandang wajah-wajah lusuh. Mereka bukan sahabat atau orang yang saya kenal sebelumnya. Namun ada satu hal yang mempertemukan mereka dengan saya di sini. Kita memang terdiam. Pandangan kita yang akhirnya berbicara. Kau, Kalian dan aku sudah merasakan kejenuhan. KIta muak dengan kasta terselebung yang memilah manusia dari ukuran materi belaka. Pandangan kita sama-sama merindukan sahabat di tempat asal kita masing-masing.  Saat kebahagian begitu mudah diterjemahkan ke dalam kata-kata. Kita sama-sama merindukan sahabat yang pernah hadir di perjalanan hidup kita.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Euforia Lebaran Masa Jadul]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/09/29/euforia-lebaran-masa-jadul/</link>
<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 10:56:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/09/29/euforia-lebaran-masa-jadul/</guid>
<description><![CDATA[Lebaran tinggal 2 hari lagi. Sudah kebayang betapa sibuknya di pasar-pasar tradisional dan mal-mal d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Lebaran tinggal 2 hari lagi. Sudah kebayang betapa sibuknya di pasar-pasar tradisional dan mal-mal di Indonesia. Dulu saat kecil di Bogor, pasar Anyar sampai jembatan Merah tumpah ruah oleh pedagang kaki lima. Kawasan pavorite untuk para uda, saudara kita dari Padang menggelar barang jualan. Saat itu, lalu lintas sudah tidak karuan jalurnya. Angkot yang antre dan tidak henti-hentinya menyembunyikan klakson, Becak yang sama-sama tidak sabar menyerobot setiap celah diantara hiruk- pikuknya manusia berjubel yang kesulitan untuk melangkah. Mungkin ini bagian cerita yang paling menarik menjelang idul fitri selain dari reportase mudik. <!--more--></p>
<p>Jika ada hadist nabi yang memberikan tuntunan bahwa saat solat Ied sebaiknya menggunakan pakaian yang bersih/suci dan berwarna putih (Semoga saya tidak salah) maka bukan berarti membeli baju baru menjadi sebuah kewajiban. Salah kaprah pemahaman masyarakat kita sudah terlalu banyak. Ditambah yang satu ini, membeli baju baru buat lebaran!. Saya sendiri bukan bermaksud nyinyir tidak suka pada pedagang yang tajir besar saat musim Lebaran tiba, apalagi menghujat tuntunan Nabi namun sekali lagi kita salah memahami kontek sebuah aturan. Mana yang wajib dan mana yang sunnah. Apa maksudnya wajib dan apa artinya sunnah?. Semua harus kembali pada hukum asal, lagi pula Rasul hanya menganjurkan itupun pakaiannya yang bersih dan putih bukan baju-baju baru dengan model kekurangan bahan alias bujal muncrat kemana-mana.</p>
<p>Saya bersyukur pada Allah yang telah menempa kehidupan saya dari miskin hingga sekarang masih tetap miskin <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .  Saya tidak mau menyatakan kaya soal harta apalagi memang tidak punya apa-apa, tapi soal kaya hati, Insya Allah in progress!. Semoga selalu dekat dengan taufik hidayah-Nya. Sebagai salah satu keluarga prajurit yang pangkatnya hampir gak pernah naik-naik. Kami sudah terbiasa ditinggal tugas hingga 2 sampai 3 bulan. Jika para eksptariat yang saat ini bekerja di PEA dengan gaji berpuluh-puluh juta ditinggal 3 bulan pun tidak masalah. Tetapi itu menjadi masalah buat kami. gaji prajurit macet yang sudah dipotong oleh pinjaman koperasi, dana pensiun, dll menjadi tidak seberapa jumlahnya. Toh! kami tetap menjalankan puasa dengan buka alakadarnya, tetap Alhamdulillah!.</p>
<p>Bagaimana dengan lebaran? sejak kecil dengan kondisi seperti itu terus terang lebaran menjadi mimpi buruk bagi saya. Buruk dalam arti sebagai anak-anak lazimnya sudah barang tentu banyak berharap. Apalagi tetangga depan, sebelah, belakang sampai teman-teman di sekolah sudah pamer baju lebaran. Alamaak! saya hanya bisa gigit jari dan tersenyum kecut mengagumi baju-baju baru yang mereka punyai. Mulai dari sepatu, sepatu sandal, kaos kaki, celana kodoray, kaos, kemeja, sampai dompet semua baru!. Bahkan mereka yang orang tuanya mampu sudah membelikannya sebelum puasa tiba.</p>
<p>Walhasil saya memilih tinggal di rumah bersama bunda yang baik hati. Biasanya beliau bercerita tentang baju lebarannya yang di wantek berulang kali sama emak. Diwantek itu diwarnai dengan cara bahan baju direbus bersama pewarna. Sayangnya warna yang jadi bisa jauh dari keinginan. Apalagi jika warna sebelumnya warna tua. Cerita itu memang sengaja diceritakan berulang-ulang agar dengan maksud saya tidak terlalu sedih.  Bahasa vulgarnya, biasa aja seehh..tradisi miskin sudah dari sananya. Pokoknya yang penting puasa &#8216;khatam&#8217; satu bulan dan tidak bocor!. Namun tak urung saya selalu gundah dan menanyakan kapan bapak datang dan membawa baju baru.</p>
<p>Keluarga kami waktu itu ketitipan beberapa anak yatim dari kakak Bapak (uwa) yang sudah meninggal. Jika lebaran akan tiba mereka adalah orang yang paling dicari. undangan santunan anak yatim digelar dimana-mana. Dan posisinya ajaib!, mereka justru lebih siap menghadapi lebaran dibanding saya yang masih punya bapak. Saya sempat protes hal itu sama ibu (saya memanggilnya umi), &#8220;Mi (umi)..! Jadi bapak statusnya ada atau tidak sih? dibilang ada tidak pulang-pulang! dibilang tidak ada belum ada kuburannya!&#8221; . Saya protes karena minimal status saya jelas waktu itu. Kalau yatim maka, hehe..saya dapat baju baru.  Seperti itulah anak-anak dengan pemahaman polosnya.</p>
<p>Entah sampai kapan suasana lebaran di Indonesia bisa berubah. Bagaimanapun efek dominonya sangat luar biasa. Masyarakat menjadi membabi buta mengejar setoran untuk lebaran. seolah-olah lebaran tanpa baju baru menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan! lebih sakit dari cerita siti Nurbaya. Coba saja perhatikan, ibadah di masjid semakin mengendur. Jika Rasul ajarkan kencangkan ikat pinggang untuk beribadah alias konsentrasi full beribadah, ini malahan sibuk bulak-balik ke pasar. Menghitung apa saja yang belum dibeli. Parahnya catatan kreditan makin bertambah. Semua terkondisikan oleh euforia materialisme. Entah kemana nilai-nilai Ramadhan, yang ada tingkat kejahatan semakin meningkat. Lahaula..Illa billah!.</p>
<p>Sekarang saya sudah terbiasa dengan lebaran tanpa baju baru. Serpihan mozaik kehidupan menjadi lampu kristal yang berpendar warna-warni. Semua episode selalu ada akhirnya. kasih sayang Allah pada semua hamba tiada pernah terputus. Dan selalu jangan pernah melewatkan satu waktu pun menghujat atas keputusan-Nya. Saat sahur di penghujung Ramadhan, saya selalu berbagi cerita dengan isteri tentang kisah-kisah lucu menjelang lebaran saat kecil. Semua terasa manis saat saya harus bercerita sampai berlinang airmata karena tertawa tiada habisnya. Wallahu a&#8217;lam</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pelangi Kecil Kehidupan Saya]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/09/15/pelangi-kecil-kehidupan-saya/</link>
<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 03:51:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/09/15/pelangi-kecil-kehidupan-saya/</guid>
<description><![CDATA[Menjadi seorang bapak ternyata tidak mudah. Apalagi seperti saya seorang bapak yang pendidikannya pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/09/tutup.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-494" title="tutup" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/09/tutup.jpg?w=128" alt="" width="128" height="84" /></a>Menjadi seorang bapak ternyata tidak mudah. Apalagi seperti saya seorang bapak yang pendidikannya pas-pasan, pekerjaannya buruh di negeri orang dengan lingkungan &#8216;closed community&#8217;. Tidak ada kursus atau jenjang strata 1 yang menyiapkan calon bapak yang baik dan mampu mendidik anak serta mumpuni menjawab perkembangan anak. Anak-anak kita memang seperti anak panah yang melesat dari busur. Rasanya baru saja saya kemarin menimangnya dengan tangis yang membahana dan tahu-tahu ia sudah berlari pergi meninggalkan kita.<!--more--></span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Sebagai bapak yang kadar ilmu dan pengetahuannya minim saya terseok-seok mengejar mereka yang berlari begitu cepat. Mereka tidak mau berhenti menunggu barang sejenak bapaknya yang tertatih-tatih mengikuti di belakang. &#8221; Nak, tunggu bapak!&#8221;. Namun ia terus berlari dan hanya menoleh saja sesaat. Anak-anak kita adalah milik kehidupan yang akan datang. Ia memang lahir dari rahim ibunya, dari bibit ayahnya, tetapi kita hanya seperangkat busur saja. Saat anak panah melesat busur terkulai dan hanya memandang dari kejauhan.</span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><strong><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Pelangi Kecil</span></strong></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Satu hari saya temukan anak saya yang tiba-tiba begitu mudah berselancar di dunia maya. Ia tahu bagaimana bermain game online, membuat email, mencari video kesukaannya, chatting, dan lain sebagainya. Pada saat yang sama, seumur dia saya hanya tahu kali Cisadane yang kebetulan tidak jauh dari rumah dan yang ada di pikiran saya saat itu adalah &#8216;ngojai&#8217; berenang dari &#8220;leuwi ke leuwi&#8221; (setiap tempat di sekitar sungai). Saya baru tersadar, anak panah telah meninggalkan busur dan terus akan menjauh. Sementara penggunaan internet tidak selalu bisa dibatasi apalagi dikekang. Sekalipun riskan, mereka..anak- anak kita tidak akan bisa dibendung. Sekali lagi karena mereka anak-anak masa depan sementara kita hanya bonggol pohon yang siap menjemput kematian.</span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Kehidupan memang terus &#8216;meneror&#8217; kita dengan segala perubahan. Inilah sunnah kehidupaan, &#8220;Change!, that We Believe in&#8221; begitu Obama (bukan Osama) membuat tagline kampanyenya. Sama dengan anak-anak kita dan internet mereka adalah pasangan yang satu saat akan bermesraan. Selanjutnya otak kanan saya diteror untuk menjawab tuntutan ke depan. Senyum ke dua anak saya seperti pelangi kehidupan. Selagi mereka kecil seperti kembang yang berbunga di rumah kita. Tanpa mereka, hidup saya akan menjadi buram tanpa warna. Mereka adalah &#8216;pelangi kecil&#8217; kehidupan saya.</span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Saya percaya dengan pakar yang menyatakan anak-anak golden age (berusia 0-15 tahun) adalah masa emas yang sangat menentukan akan menjadi siapa dan apa nanti mereka ke depan. Mereka berpikir selayaknya seperti seorang dewasa, sekalipun otaknya dalam masa perkembangan. Jika orang dewasa membutuhkan aktualisasi lewat blog, jejaring massa/ social engine seperti face book, tagged, multiply, friendster, maka kenapa anak-anak tidak? Selama ini mereka memendam hasrat ingin melakukan hal yang sama namun terpaksa harus menunggu genap usianya 17 tahun baru bisa dikenal di komunitas. &#8220;<em>Waaks! hari gene hrus nunggu 17 tahun?!&#8221;</em> batin mereka berteriak. Maka lahirlah </span><a rel="nofollow" href="http://www.pelangikecil.com/" target="_blank"><span style="font-size:small;color:#003399;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">www.pelangikecil. com</span></a><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> sebagai jejaring massa pertama! untuk anak-anak. </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Seperti anak panah maka saya pun harus bisa berbuat mengikuti anak saya yang berlari kencang. Saya harus bisa mensejajarkan diri. &#8220;<em>Aku ingin mengiringimu Nak!&#8221;</em> berbagi suka dan menikmati derai tawa yang mengisi ceruk batin saya yang selalu dahaga dengan pertanyaannya tentang kehidupan.  Jejaring massa </span><a rel="nofollow" href="http://www.pelangikecil.com/" target="_blank"><span style="font-size:small;color:#003399;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">www.pelangikecil. com</span></a><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> memang masih prematur kelihatannya saat ini. Kehadirannya seperti ide megalomania, kebesaran tanpa isi. Namun tunggu saja sesaat lagi hal ini menjadi sangat TIDAK asing lagi bagi anak-anak kita!. mereka anak panah dan kita para orang tua adalah busur maka jangan hanya  bisa melihat! Ayo Berbuat! berlari kencang bersama mereka!.</span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Howgh!, </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Ruwais, Ramadhan 1429 H.</span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Penulis adalah pendiri </span><a rel="nofollow" href="http://www.pelangikecil.com/" target="_blank"><span style="color:#003399;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">www.pelangikecil. com</span></a><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">        </span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramadhan di Gulf]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/09/02/ramadhan-di-gulf/</link>
<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 22:18:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/09/02/ramadhan-di-gulf/</guid>
<description><![CDATA[  Summer memang belum usai. Suhu udara masih diatas 47 derajat celcius dan sesekali menembus angka 5]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div id="yiv416194171">
<div> </div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"><a href="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/09/foto4.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-488" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/09/foto4.jpg" alt="" width="165" height="112" /></a>Summer memang belum usai. Suhu udara masih diatas 47 derajat celcius dan sesekali menembus angka 52. Namun tetap saja Ramadhan disambut dengan suka cita oleh para migran. Bukan hanya oleh mereka yang muslim tetapi non muslim pun ikut merasakan &#8216;keberkahan&#8217; bulan Ramadhan di gulf.</span></div>
<div> </div>
<div><strong><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> Kerja di Bulan Ramadhan</span></strong></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Ada kebiasaan yang lazim saat bulan Ramadhan. Jarum jam kesibukan tiba-tiba melambat. Semua menjadi lebih relax bin santai. Di kantor-kantor pemerintahan, jam kerja hanya 5 jam saja. Buka jam 9:00 tutup jam 14:00. Bagi kalangan swasta, jam kerja didiskon 2 jam. Untuk mereka yang bekerja shift mereka mendapatkan overtime minimal 2 jam setiap harinya. Bagi para buruh <!--more-->migran seperti ini , makan sahur dan iftar (buka puasa) disediakan gratis. </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Untuk tahun-tahun ke depan, Ramadhan memang akan jatuh pada saat summer. Di mana langit seperti merajang para penghuni di gulf. Namun dengan kebijakan pengurangan jam kerja serta tensi kesibukan yang melambat diharapkan para buruhmigran tetap bisa menjalankan ibadah puasa dengan nikmat.</span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Awal Ramadhan kali ini juga bertepatan dengan awal tahun ajaran baru bagi kurang lebih 500 ribu siswa di UAE. Semula ada pro kontra soal dimulainya tahun ajaran baru saat bulan Ramadhan. sebagian orang tua menginginkan tahun ajaran baru diundur sampai Ramadhan selesai, begitu yang dilansir oleh surat kabar setempat. Namun bukan hanya jam kerja saja yang dikurangi jam belajar anak-anak sekolah bisa lebih cepat. Biasanya sekolah-sekolah International menerapkan jam belajar dari 08:00 hingga 15:00. Di bulan Ramadhan anak-anak pulang lebih cepat dari 08:30 sampai pukul 13:00. </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Umumnya senada pendapat dari para migran yang menanggapi jam kerjanya menjadi berkurang. Hal ini tentu memberikan kesempatan pada para migran untuk pulang lebih cepat dan bisa berkumpul dengan keluarga menikmati hidangan berbuka puasa. Suasana keakraban saat Ramadhan memang terasa kental. Di UAE sudah menjadi kebiasaan saat Ramadhan banyak tenda-tenda didirikan. Ada yang di taman, lahan publik, beranda kantor hingga rumah. Tak tertinggal di dusun Ruwais pun (250 km dari Abu Dhabi) tenda-tenda Ramadhan bisa djumpai. Tenda-tenda yang tersebar itu menyediakan penganan untuk berbuka puasa dan juga gahweh (kopi) setelah sholat Taraweh. Sepertinya keutamaan bulan Ramadhan yang memberikan balasan kebaikan berkali lipat dimanfaatkan betul oleh para Tuan di gulf ini.</span></div>
<div> </div>
<div><span style="font-family:Verdana;"><strong>Hidangan Di Bulan Ramadhan</strong></span></div>
<div><span style="font-family:Verdana;">Seperti umumnya di kampung-kampung warga dunia dari Dakkar hingga ke Merauke selalu ada penganan khas saat Ramadhan tiba. Di sini umumnya bagi para penduduk sekitar lebih sering mencicipi tamar hindi dan Jallab. Tamar hindi atau Indian date (kurmanya orang India) atau dikenal juga oleh kita dengan nama asam jawa. Dengan campuran zaitun dkk dihidangkan menjadi penganan khas saat Ramadhan. Sedangkan Jallab syrup yang dibuat dari kurma, cinnamon dan water rose. </span></div>
<div><span style="font-family:Verdana;">Ramadhan kali ini juga masih menyisakan kurma-kurma segar yang baru dipetik dari pohon. Saya sendiri suka kurma setengah matang. Yang buahnya baru matang sebagian. Ada rasa kesat, kriuk-kriuk dan manisnya yummy..yummy..!. Kurma ini masih asli belum sempat diproses macam-macam. Di pasar central Ruwais bisa dibeli seharga 15-20 dirham satu box lengkap dengan ranting yang masih menempel (sekitar 50-an ribu rupiah). Bagi yang ingin memetik kurma di sekitar pinggiran jalan di Ruwais memang tidak dilarang. Gratis, asal mau panjat dan siap-siap bawa gunting untuk potong rantingnya plus bawa karung (hi..hi..) asal siap makannya.</span></div>
<div><span style="font-family:Verdana;">Bagi para warga Indonesia, Ramadhan memang dimanfaatkan untuk buka bersama keliling setiap hari. Dimulai dengan tadarusan (baca qur&#8217;an) secara bergantian sampai menunggu waktu magrib. Kehangatan suasananya insya Allah cukup meredam kangennya suasana Ramadhan di Tanah air. Apalagi menu yang disajikan tidak jauh dari bala-bala (bakwan) dan tempe mendoan juga aneka penganan khas kampung kita lainnya. Walhasil, dimana pun kita berada, jangan lupa agar Ramadhan senantiasa bisa mendekatkan kita pada nilai  kemanusiaan seutuhnya.</span></div>
<div> </div>
<div><span style="font-family:Verdana;">Ruwais, Ramadhan 3 rd.</span></div>
<div> </div>
<div> </div>
<div> </div>
<div> </div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ramadhan dan Toa Masjid Kampung]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/08/24/ramadhan-dan-toa-masjid-kampung/</link>
<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 21:05:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/08/24/ramadhan-dan-toa-masjid-kampung/</guid>
<description><![CDATA[Ramadhan sudah dekat. Entah kenapa saya selalu teringat lintasan-lintasan peristiwa sepanjang hidup ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-481" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/08/foto.jpg" alt="" width="195" height="229" />Ramadhan sudah dekat. Entah kenapa saya selalu teringat lintasan-lintasan peristiwa sepanjang hidup dan semua terjadi saat Ramadhan. Menjadikannya begitu spesial lengkap dengan pernak-pernik kehidupan. Seperti penggalan kisah <strong>Ramadhan dan Toa Masjid</strong> <strong>Kampung </strong>di bawah ini:</p>
<p> <strong>Ramadhan dan Toa Masjid Kampung</strong></p>
<p>Bagi saya, Ramadhan seperti sebuah jangkar (anchor) yang memutar kembali ingatan saya dan mengumpulkan pecahan-pecahan mozaik kehidupan yang selama ini berserak di putaran roda waktu. Setiap Ramadhan tiba maka saat itulah kenangan itu berputar dan terasa hangat di dada. Bagaimana saya masih ingat betul detil suara bariton bapak yang setia<em><strong><span style="font-size:small;"> on air</span></strong></em> lewat toa masjid kampung depan rumah tepat jam 3 dini hari!. Kebiasaan disiplin militer bagi pensiunan memang masih berbekas. <!--more--></p>
<p>Almarhum bapak memang sudah inten di kegiatan masjid saat usinya menginjak sekitar 40 tahun. Operasi militer di Irian Barat, Sulawesi Selatan, Sepanjang deretan di pegunungan Jawa Barat, dan lainnya sudah dilewati. Sepertinya beliau ingin  menghabiskan sisa hidupnya di seputaran masjid. Keinginannya tentu disambut hangat warga kampung jika ada yang ingin bertobat bukankah harus difasilitasi? Maka jadilah beliau pengisi acara spesial di bulan Ramadhan khusus untuk acara &#8221; Bangun Sahur bersama Bang Kholid&#8221;.</p>
<p>Acara ini diberikan cuma-cuma tanpa saingan setelah melihat kriteria suara almarhum bapak yang memang cocok untuk bangunkan orang kampung sahur. Dimulai dari pukul 3:00 dini hari siaran bangun sahur sudah dimulai. Isi siarannya macam-macam. Mulai dari shalawatan dua bahasa, arab dan Indonesia, sampai ke soal mengabsen warga kampung agar tidak lupa sholat shubuh nanti berjamaah. Sayangnya acara bangun sahur ini tidak terima telepon hanya suara alamrhum bapak saja yang mengawang-awang dia angkasa.</p>
<p>bagi saya semua tidak masalah. Karena sudah kesepakatan warga semoga ini jadi ibadah dan warga ikhlas diganggu tidurnya oleh bapak. Masalahnya corong masjid tepat menghadap ke rumah kami menjadi &#8217;siksaan&#8217; pada waktu itu buat saya karena suara bapak yang lantang (maklum saja mantan babinsa) menghancurkan kenikmatan tidur saya.</p>
<p><strong><span style="font-size:small;">&#8216;Sahuuuurrr&#8230;!&#8221;</span></strong> teriak bapak waktu itu percis teriakan komandan pada anak buahnya waktu apel siaga.</p>
<p>Sampai satu ketika kenakalan saya kambuh. Sebelum jam 3 pagi, saya sudah menyelusup ke dalam masjid. Tanpa diketahui oleh siapapun, saya ubah chanel toa/ speaker. Karena di masjid kami ada 2 channel speaker. Satu untuk di dalam ruangan satu untuk di luar ruangan. Biasanya di dalam hanya dipakai saat sholat jumat. Pagi itu, channel toa saya hubungkan khusus ke channel dalam masjid. Selesai melakukan misi, saya pulang ke rumah dan kembali bobo sambil menunggu waktu injury time untuk sahur. Karena sunnah sahur di akhir-akhir menjelang fajar datang. Misi yang semula impossible sudah kelar dilaksanakan tanpa harus meminta bantuan timnya Tom Cruise segala.</p>
<p> </p>
<p>Pukul 3 sudah lewat 15 menit! saya meringkuk di atas dipan sambil mencoba untuk tidur. Suara yang biasanya menggelegar oleh shalawatan dan teriakan sahur hampir tidak terdengar. Misi saya sukses!. Saya menyeringai senang karena semua berjalan lancar. Tinggal siap-siap berlayar ke pulau kapuk sambil nunggu waktu sahur karena biasanya umi (ibu) pasti dengan sabar membangunkan.</p>
<p> </p>
<p>Saat kapal sudah siap-siap berlayar, tiba-tiba saya mendengar teriakan yang memanggil nama saya. Spontan saya loncat dan langsung tiarap. Wah gawat..! dari suaranya sudah bukan mirip suara bapak asli tapi sudah berubah mirip komandan peleton kopasus. Sesaat saya coba mengingat-ngingat apakah sidik jari saya tertinggal belum dibersihkan. <em>Ah..sepertinya tidak</em>. Semua sudah dilakukan sesuai skenario.  &#8220;aduuh..!&#8221; baru ingat ada yang tertinggal satu!.</p>
<p>Satu-satunya orang yang tahu tempat menyimpan kunci ruangan speaker masjid selain bapak cuma saya&#8230;</p>
<p>Sepertinya beliau berang karena tahu ada yang merubah channel speaker. Suara bariton mirip komandan peleton meraung-raung di dalam masjid bergema dan memantul dan berputar-putar di dalam ruangan masjid. Mungkin setelah 15 menit, beliau baru tersadar ada yang tidak beres.</p>
<p>(memori Ramadhan)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Musim Ruthubah]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/08/06/musim-ruthubah/</link>
<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 18:46:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/08/06/musim-ruthubah/</guid>
<description><![CDATA[catatan buruhmigrant   Udara memang begitu terasa berat dan basah saat ini di Ruwais. Percis seperti]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div><span style="font-size:x-small;"><a href="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2007/04/capek-belajar.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-74" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2007/04/capek-belajar.jpg?w=300" alt="" width="300" height="223" /></a></span></div>
<div><span style="font-size:x-small;font-family:Verdana;">catatan buruhmigrant</span></div>
<div><span style="font-family:Verdana;"> </span></div>
<div><span style="font-size:x-small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Udara memang begitu terasa berat dan basah saat ini di Ruwais. Percis seperti mandi sauna. Maklum saja karena humidity bisa mencapai 70-80 persen!. Orang sini bilang &#8216;musim ruthubah (wet session). Bagi para operator lapangan kondisi seperti ini memang tidak nyaman karena selalu bermandikan keringat ditambah lagi udara yang berat menyebabkan badan cepat terasa lelah. Mungkin oksigen juga ikut terlarut dalam uap air. Ini memang paket ujian sebagai buruh migran. <!--more--></span></div>
<div> <span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Hidup berarti memilih. Memilih jalan kebahagiaan dengan jumlah pilihan amat teramat banyak. Sebanyak makhluk tuhan yang diciptakan. Semua pilihan sudah tersedia lengkap dengan bahan cerita dari derai airmata sampai gelak tawa. Sama halnya dengan buruh migran. Jangan hanya berpikir anda akan menerima gaji besar dan bisa membeli apa yang sebelumnya tidak bisa, tapi pikirkan juga hal-hal lainnya seperti tinggal di negeri orang dan memulai hidup baru dengan aneka ragam tantangan, jauh dari sanak keluarga, dan lain sebagainya. Terkadang ekstase sesaat bisa melupakan segalanya. Satu hal yang membuat miris dalam hati saya adalah pandangan hidup masyarakat kita yang sudah berubah. Segalanya diukur dengan materi. Penghargaan masyarakat akan dilihat pada status sosial ekonomi. Banyak pengalaman menunjukan bahwa pembicaraan anda akan didengar saat anda dianggap mapan. Ini juga gampang dilihat pada pelayanan publik dari sekolah sampai rumah sakit. Sesak dada saya jika bicara soal ini. </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"><span style="font-size:x-small;"><span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Saya bersyukur pada Allah yang telah menghantarkan saya pada episode saat ini. Universitas kehidupan memang mengajarkan kita segudang ilmu. Semua bisa kita pelajari tanpa harus dipusingkan harus registrasi ulang setiap tahun. Di universitas kehidupan ini pula saya mengamati perjuangan anak manusia untuk meraih kebahagiaan. Sekalipun udara begitu panas dan berat. Saya</span> memang kebetulan bekerja di dalam ruangan, laboratory area. Sembunyi diantara gelas kimia dan biuret.  Melihat para teman seperjuangan bermandikan keringat dan harus gonta-ganti kaos dalam, saya berikan apresiasi pujian bahwa mereka memang para pejuang tangguh bagi keluarga minimalnya. Bagi yang keluarganya masih di <span class="yshortcuts">Indonesia</span> mungkin tidak terbayang seberapa beratnya udara di gulf saat ini. Biarkan peluh yang membasahi setiap pori-pori menjadi saksi kebaikan dan memohonkan ampunan sehingga tubuh bisa terselamatkan dari api jahannam. </span><span style="font-size:x-small;">Begitu Sang baginda, Muhammad SAW melihat pekerjaan  atau amal adalah buah iman dan taqwa karena dalam agama yang saya anut bekerja adalah ibadah!. Itu pemahaman yang dasar. </span></span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
<div><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"><em>Musim</em> Ruthubah di gulf mengingatkan saya pada keringat para petani kita yang membanjir di segala musim. Mari kita menengok negeri katulistiwa barang sejenak, Agustus seperti sekarang ini memang diharapkan segera berlalu. Siklus 6 bulanan diharapkan cepat selesai karena diharapkan awal September musim penghujan segera datang. Itu pun jika tidak ngaret..! Mudah-mudahan kebiasaan orang indo yang ngaret tidak berdampak pada musim penghujan yang ikut-ikutan ngaret. Bagi para karyawan pabrik sepatu, baju, sampai ke buruh di petrokimia memang tidak begitu ambil pusing dengan bulan Agustus karena udara so far sogud..Oksigen tersedia cukup. Namun untuk para petani mungkin saat ini sedang gelisah menunggu September, awal dari musim penghujan. Saat dunia seperti glass box dimana harapan dan doa akan saling memantulkan maka saya pun menyampaikan hal yang sama. Semoga kebaikan serta karunia-Nya melimpahi kita semua.</span></span></div>
<div><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"> </span></div>
</div>
<div><span style="font-size:x-small;">Jika tuhan menyediakan akherat negeri abadi yang di sanalah kita bisa menikmati &#8216;bayaran&#8217; dari jerih payah kita maka dunia negeri tempat kita bekerja dan beramal. Siapapun hamba Tuhan, entah ia buruh migran, karyawan, petani semua akan memetik hasilnya nanti. So, selamat berjuang! pastikan selamat sampai tujuan!..</span></div>
<div> </div>
<div><span style="font-size:x-small;">Ruwais, Agustus 2008</span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerita Sais Tua Pedati, Lalu lah ditiup Angin]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/07/31/cerita-petani-lalu-lah-ditiup-angin/</link>
<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 04:53:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/07/31/cerita-petani-lalu-lah-ditiup-angin/</guid>
<description><![CDATA[Dari sekian banyak pilihan selepas mengundi nasib menjadi buruh migran kelak, profesi yang ingin sek]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Dari sekian banyak pilihan selepas mengundi nasib menjadi buruh migran kelak, profesi yang ingin sekali aku jalani adalah menjadi seorang PETANI. Bukan karena ikut-ikutan Prabowo Subianto yang sedang asik di HKTI, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. Sekalipun baru melukis di angan-angan namun empati yang terus membuncah memaksa asaku untuk bisa mewujudkannya kelak. <!--more--></span></p>
<p><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Saat bulan kemarin singgah untuk sowan ke bumi para Sultan, Serang. Sepanjang jalan tol Jakarta - Merak, pematang sawah yang membentang seperti tengah meradang menunggu hujan yang belum kunjung datang. Belum genap waktu panen tiba ribuan hektar pematang sawah terancam puso. Di sepanjang jalan tol Jakarta-Merak sendiri sebagian pematang sudah mulai berubah warna tak karun antara hijau dan kuning tua, bercampur warna coklat muda. Kontras sekali dengan lagu Sais Tua Pedatinya Iwan Fals.</span></p>
<p><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Nasi di periuk yang setiap hari selalu berlebihan dan terbuang sia-sia di resto-resto, kafe, warteg, sampai ke amigos (agak minggir got sedikit) tidak menyisakan ingatan kita sedikitpun betapa payahnya menanam padi sampai menguning sempurna dan akhirnya sampai di magic jar kita. Peluh serta keluh kesah para petani kita dalam balutan kulit yang melegam mungkin bukan porsi yang layak bagi sebagian kita untuk diperhatikan. Padahal tanpa harus berteriak dan mengaku-ngaku berjasa di aneka iklan atau deretan poster digital print para petani kita tetap pahlawan kehidupan. Mereka yang masih jauh dari sejahtera karena harga gabahnya masih jauh dari memuaskan harus terus bersabar dan berkorban untuk kita yang khawatir di tengah isu rawan pangan global. Isu itu memang berbuah manis bagi para petani Thailand yang harga berasnya menjadi patokan standar dunia.</span></p>
<p><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Sama seperti perjalanan sebelumnya hanya saja berbeda tempat. Sepanjang highway Abu Dhabi &#8211; Ruwais aku menelan bosan yang selalu disuguhi hamparan pasir coklat membentang. Tak ada pematang lengkap dengan orang-orangan sawah dan riuhnya bunyi kelotak kaleng bekas yang diikat dengan tali yang malang melintang di atasnya. Paradoksnya kehidupan yang menyediakan kesejahteraan dan nikmat pulennya beras terbaik padahal di tanah mereka, di sini tak ada sebatang padi pun bisa tumbuh dalam hitungan hari. Lalu kemana cerita para petani kita yang kembang kempis bertahan hidup. </span></p>
<p><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Lalu lah ditiup angin.. </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Debu dan Negeri 1001 Malam ]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/06/19/debu-dan-negeri-1001-malam/</link>
<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 02:20:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/06/19/debu-dan-negeri-1001-malam/</guid>
<description><![CDATA[Sudah sepekan lebih atmosfir negeri para migran menjadi buram. Buram karena debu yang menelenggelamk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="snap_preview">
<p><span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"><span style="font-size:small;">Sudah sepekan lebih atmosfir negeri para migran menjadi buram. Buram karena debu yang menelenggelamkan semua yang ada. Tak mungkin berlama-lama berdiri di udara terbuka karena bisa seret rasanya tenggorokan . Menurut berita yang dilansir dari prakiraan cuaca setempat, debu ini menyelimuti sebagian laut arabia juga termasuk negara tetangga diantaranya Kuwait, Qatar, Bahrain, juga sebagian wilayah Saudi. Saking tebalnya, debu ini pun juga mampu memaksa sinar matahari ikut buram karenanya. Wajar jika suhu udara sempat anjlok di kisaran 40-43 derajat celcius. Di beberapa wilayah malah sempat ke 37 der. celcius. Biasanya pada saat summer seperti ini m<em>ercury</em> menyentuh 47-49 derajat celcius.<!--more--></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Dari mana datangnya debu ini? Mengapa betah menggantung di langit-langit udara kita hingga seminggu lebih? Seorang buruh migrant berseloroh “mungkin terlalu banyak project kali.. sampai harus angkut-angkut pasir <em>ke sana dimari</em>?”. Debu kali ini tak ada hubungannya dengan galian pasir ataupun ribuan project yang mungkin hampir bersamaan sedang digarap di gulf ini. Ah..ada sesuatu yang aneh dari debu-debu ini. Dan ternyata..</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Setelah berfikir, mungkin debu ini cara Allah mengingatkan warga dunia seantero gulf tentang nasib saudara tetangganya yang saat ini sedang dilingkupi langit hitam. Penjajahan atas nama demokrasi demi merubah sebuah rezim otoriter dengan cara licik yang berbuah kekacauan sampai hari ini. Seperti kerja iblis yang menebar teror dan kesengsaraan. Ranjau, bom mobil, sniper, hingga perang terbuka sesama anak manusia yang saat ini sedang terjadi di negeri 1001 malam.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Ya!, debu yang menyelimuti dan mulai menyesakkan semua rongga paru para syaikh, raja, yang mulia dan entah gelar kebangsawanan apalagi yang ada memang berasal dari Irak. Bersama jutaan para migran ikut merasakan debu yang betapa paru mulai terasa terhimpit jadinya. Mungkin seperti itu tentunya nasib saudara-saudara kita di sana. Negeri 1001 malam yang dulu pernah berdiri sebuah peradaban tinggi yang melintasi beberapa zaman dimulai dari era mesopotamia hingga kekhalifahan Harun Al Rasyid yang melegenda dengan dongeng aladdinnya.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Bukan hanya badai kemanusiaan yang menghempas Irak, badai kali ini menghantarkan debu ke negara sekitar. Seperti menghaturkan ’salam kangen’ bagi para saudara mereka. Seolah menyampaikan pesan bahwa mereka, saudara-saudara kita di Irak masih terhimpit parunya karena masih ada Iblis yang betah bercokol di sana.  Iblis yang sedang menari di atas jeritan dan tangis pertikaian suni dan syiah, yang diam-diam menjarah emas hitam bergallon-gallon banyaknya, yang mengelupasi helai demi helai kehormatan perempuannya, yang mewariskan dendam bagi generasi berikutnya, itupun jika masih tersisa!. Masa depan mereka memang sedang dirampok! dan saya, anda, juga kita semua serta tak lupa  para tuan besar para majikan yang harta dan senjatanya menumpuk di gudang-gudangnya qorun  masih tahan berdiam diri.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Debu bukan semata  kangen  menyambangi para tuan dan syeikh serta jutaan migran di gulf. Debu bukan seperti kita yang hilir mudik sesuka hati melangkah. Debu adalah piranti alam yang bekerja atas kehendak Sang Khalik.  Hanya seringkali kita tak mampu berpikir dari mana dan pesan apa yang ingin disampaikan. Debu yang menggantung awet di langit-langit gulf yang kesehariannya angin selalu bertiup kencang. Saat ini, tak ada angin yang mampu mengusir. Bahkan <em>weatherman</em> hanya mampu berharap beberapa hari ke depan angin dari tenggara segera datang dan mengusir semua debu yang ada. Jika tidak?  Kuasa Sang Pencipta yang mengatur segalanya. Sama seperti halnya nasib  warga Irak yang menggantung dan hanya berharap dalam diam.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Semoga doa kita saling terkait wahai para penghuni negeri 1001 malam. Jika paru mu sudah begitu menyempit karena Iblis masih bercokol di sana. Lewat debu yang Allah kirimkan aku pun sedikit bisa mendapat gambaran betapa sulitnya bernapas saat udara yang tidak ada alasan untuk tidak menghirupnya di aduk-aduk oleh <em>sesuatu yang asing</em>. Maka dengan doa pula kita berharap langit dan udara kita jernih dan segar kembali. amien..</span></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kamus Gaul di Teluk]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/06/18/kamus-gaul-di-teluk/</link>
<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 14:45:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/06/18/kamus-gaul-di-teluk/</guid>
<description><![CDATA[Buat masukan para new comers yang sudah berdatangan. Berikut beberapa arti dari istilah yang sering ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>Buat masukan para <strong>new comers yang sudah berdatangan.</strong> Berikut beberapa arti dari istilah yang sering digunakan di gulf ini, terutama UAE. (Tidak bermaksud mengeneralisir hanya yang sering terjadi seperti ini)</div>
<div> </div>
<div>1. <strong>One second, please</strong> = Silahkan tunggu kalau bisa sambil jalan-jalan dulu baru balik lagi kalo udah bosen.<!--more--></div>
<div>2. <strong>Ok, One minutes please&#8230;(</strong>artinya) saya sendiri gak yakin bisa gaknya. Cuma mungkin Anda sebaiknya bersabar. Bisa juga datang atau telepon lagi lain waktu.</div>
<div>3. <strong>Insha Allah, only three days</strong> = Sebenarnya anda perlu menunggu antara 10 sampai 15 hari. Santai saja relax. jangan terburu-buru. Kalau waktunya tiba anda mungkin telat juga diberitahu.</div>
<div>4. <strong>Don&#8217;t worry everything will be allright, Insha Allah</strong> = Sebiknya anda mulai siap-siap mengantisipasi stress dari urusan yang sedang anda coba selesaikan. Tidak ada jaminan semua berjalan sesuai keinginan. Singkatnyamulailah belajar bersabar.</div>
<div>5. <strong>Kaifa haalak</strong> =  apa kabar? kata yang paling sering diucapkan di jazirah ini. Di tempat kerja atau di mana saja anda berada. Anda sebaiknya tidak jenuh mendengar kata ini diucapkan berulang-rulang oleh orang yang sama. Saat berpapasan di jalan, di toilet, di gang, di tempat makan, di ruang duduk, dlsb. </div>
<div>6. <strong>Syu hadza!? =</strong>  (whats this!?) Jika ke kantor polisi, ke bank, ke <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Imigrasi</span>, atau dimana saja tempaat <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">pelayanan publik</span> anda akan sering mendengar kata ini. Jika ditujukan ke anda jangan kaget karena biasanya menggunakan intonasi yang tinggi. Biasa saja..anggap saja seng jatuh dari langit. Kata ini akan keluar saat anda dianggap melkukaan sedikit kesalahan atau kelihatan linglung kayak orang dusun <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</div>
<div>7. <strong>Wallah..!</strong> = di Indonesia dirtikan demi Allah. Umumnya dipakai untuk kata sumpah untuk urusan yang besar. Di gulf, kata Wallah (demi Allah) berbeda maksudnya.  Umumnya dipakai untuk penekanan atau sebagai penmbah bobot saja. Namun bukan berarti kata ini bermakna sangat valid terutama ketika membuat janji.   </div>
<div>8. <strong>Wallahil&#8217;adzim </strong>=  (demi Allah yang Maha Agung) nah kalau sudah ada kataa &#8216;adzim ini baru serius.</div>
<div>9. <strong>Halla..!</strong> = hallo atau Hai..!  sama fugsinya saat kita bilang hai ! te orang yang dijumpai. Sekedar ekspresi menarik perhatian.</div>
<div>10. <strong>Thayyib..! Zein..! Quwais..!=</strong> Fine..! baik-baik saja. Umumnya Quwais jarang dipakai kecuali di Saudi. DI sering di pakai Zain/ Thayyib. <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">Jawaban</span> saat ditanya ap kabarnya.</div>
<div>11. <strong>Wallah, Kharban</strong>= Sungguh rusak/brengsek..! jangan mau dibilang seperti ini. kalau ada yang bilang seperti ini sama anda mestinya anda boleh tersinggung. Anda boleh menanyakan apa maksudnya lawan bicara seperti itu.</div>
<div>12. <strong>Syu kalam </strong>= ngomong apa loe?  buat mengkonfirmasi maksud perkataan lawan bicara</div>
<div>13. <strong>Syu Tabghi </strong>= Apa kamu mau? Setiap mendengar kata syu artinya =apa (syu= atau shu dicupkan seperti mengucapkan huruf syin besar dalam hijaiyyah)</div>
<div>14. <strong>Ma fiih</strong> = tidak ada.</div>
<div>15. <strong>Ma adri</strong> = gak tahu</div>
<div>16. (tambahan) Insya Allah Bukraa = secara harfiah artinya, Insya Allah besok. Di lapangan artinya, Gak janji dech!</div>
<div> </div>
<div> </div>
<div>Untuk sementara 15 dulu. Buat para senior, sesepuh yang sudah lama tinggal di sini silahkan ditambah atau dikoreksi. Ini hanya iseng2 beramal semoga bermanfaat.</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[16 Tipe Visa ke UAE (aturan baru)]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/06/08/16-tipe-visa-ke-uae-aturan-baru/</link>
<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 13:42:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/06/08/16-tipe-visa-ke-uae-aturan-baru/</guid>
<description><![CDATA[Tak bisa disangkal UAE memang salah satu negeri kunjungan para warga dunia. Konon ada lebih dari 130]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><table id="article_edit" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td class="Heading">Tak bisa disangkal UAE memang salah satu negeri kunjungan para warga dunia. Konon ada lebih dari 130 warga negara asing yang tumplek blek di negara ini. Aturan baru tentang visa ini dikutip dari gulf news.</p>
<h3>Visit visa to the UAE will cost Dh500 from August</h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p class="para" align="left">By Rayeesa Absal, Staff Reporter<br />
<span style="color:#cc0000;">Last updated: June 08, 2008, 16:55</span></td>
</tr>
<tr>
<td class="ArticleBody">
<p class="para" align="left">
<div class="para"><span style="font-size:x-small;color:#000000;font-family:Verdana;"><!--maxlength:6597-->Abu Dhabi: Visit visas to enter the UAE will cost Dh500 across all the emirates from August 1, senior officials said.</span></div>
<p><span style="font-size:x-small;color:#000000;font-family:Verdana;">The change in fee structure comes following a recent cabinet decision. New types of visit visas have been introduced specifying the reason for visit, such as education, treatment, or for participating in an exhibition or conference.<!--more--></p>
<p>16 types of visit visas were announced on Sunday by the Federal Naturalisation and Residency department (FNRD).</p>
<p>Announcing the details, Lieutenant General Mohammad Salem Al Khaili, the Director-General of FNRD, said: &#8220;Visit visas valid for 30 days will cost Dh500. This cannot be renewed. A person wishing to stay for an extended period must obtain a visit visa valid for 90 days that costs Dh1,000.</p>
<div id="banner_inline" style="display:block;"><!-- BEGIN ADVERTPRO CODE BLOCK --><!-- NOT VISIBLE CONTENT --><!-- END ADVERTPRO CODE BLOCK --></div>
<p>&#8220;A new type of visit visa permitting multiple entries has been introduced. This visa is valid for six months from date of issuance and a person can stay in the country for 14 days at a stretch.&#8221;The new types of visit visas are being introduced so that we are able to go hand-in-hand with the fast paced development of the country.&#8221;</p>
<p>Student visit visas will cost Dh1,000. To obtain this, a person must be registered in one of the universities in the UAE and must obtain health insurance. Additionally a refundable deposit of Dh1000 must be paid.</p>
<p>Those wishing to undergo treatment must take visit visa for treatment purpose that costs Dh1,000 for 90 day duration.<br />
This can be renewed for a similar period at Dh500.</p>
<p>Those visiting to attend conferences or exhibitions can obtain a visa for this purpose at Dh100.</p>
<p>One-month long tourist visas will cost Dh100, as before. This may be renewed only once. Transit visas will cost Dh100 while mission visas will cost Dh200.</p>
<p>Apart from the 16 new types of visas, complimentary visit visas could be issued by all government departments free of cost to delegates, dignitaries and others.</p>
<table border="0" cellspacing="1" cellpadding="1" width="280">
<tbody>
<tr bgcolor="#798873">
<td class="style3" colspan="2"><span class="style1">VISA FEES </span></td>
</tr>
<tr bgcolor="#7ea674">
<td class="style3"><span class="style15">Type of visa </span></td>
<td class="style3">
<div class="style15">Fees in Dhs</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Short Entry (visit) Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">500 (1 month)</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Long Entry (visit) Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">1,000 (3 months)</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Multiple Entry Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">2,000</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Entry Visa for Study</td>
<td class="style3">
<div class="style16">1,000</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Renewal of Study Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">500</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Entry Visa for Medical Treatment</td>
<td class="style3">
<div class="style16">1,000</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Renewal of Medical Treatment Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">500</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Entry Visa for Expos and Conferences</td>
<td class="style3">
<div class="style16">100</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Tourism Entry Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">100</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Renewal of Tourism Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">500</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Entry Visa for GCC State Residents</td>
<td class="style3">
<div class="style16">100</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Renewal of GCC State Resident’s Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">500</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Entry Visa for GCC State Resident’s Companions</td>
<td class="style3">
<div class="style16">100</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Renewal of GCC State Residents Companions’ Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">200</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Mission Entry Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">200</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style16">Transit Entry Visa</td>
<td class="style3">
<div class="style16">100</div>
</td>
</tr>
<tr bgcolor="#e9e9d4">
<td class="style4" colspan="2" bgcolor="#7ea674"> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p> </p>
<p></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ruwais Menggeliat]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/06/05/ruwais-menggeliat/</link>
<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 19:00:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/06/05/ruwais-menggeliat/</guid>
<description><![CDATA[Ruwais menggeliat. Kota kecil yang memiliki nilai strategis bagi negara bagian Abu Dhabi khususnya d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"><strong><span style="font-size:medium;">Ruwais menggeliat</span></strong>. Kota kecil yang memiliki nilai strategis bagi negara bagian Abu Dhabi khususnya dan umumnya bagi UAE ini dan sangat penting baik dalam geopolitik karena berdekatan dengan border negara tetangga Saudi sedang menggeliat. Dalam hal ekonomi Ruwais juga bisa dibilang salah satu ”sumur duit”nya UAE karena memiliki area industri diantaranya oil refinery, industri pupuk, serta industri gas dan polymer. Semua itu merupakan ‘milestone’ bagi negara ini. Wajar jika tidak jauh dari Ruwais terdapat juga kawasan militer yang salah satu fungsinya menjaga kawasan vital tersebut.<!--more--></span></p>
<p> <span style="font-family:verdana, helvetica, sans-serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Menyongsong 2020</strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Persaingan bisnis kimia di era 2020 akan semakin ketat. Semua pemilik modal di kawasan gulf sudah memprojeksikan posisi mereka masing-masing. Seperti berbagi kue, makin cepat tangan terampil memegang ‘pisau pemotong’ maka makin besar porsi kue yang didapat. Begitu pula dengan persaingan bisnis kimia. Semua pemilik modal saat ini sedang adu cepat membangun dan memperbesar kemampuan kapasitas produksi ‘mesin uangnya’. Jauh-jauh hari mereka sudah ‘membajak’ para tenaga terampil dari kawasan lain untuk menjadi ‘mesin pemotong kue’. Mungkin ini satu-satunya pembajak yang disukai. Kelihatannya hampir di semua kantong industri di sepanjang Gulf saat ini sedang berbenah. Termasuk di kawasan industri Ruwais salah satunya semakin dijejali para buruh migran.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Summer kali ini terlihat seperti tidak begitu dihiraukan. Bukan karena temperaturnya sudah turun tetapi karena kesibukan para pekerja mengejar deadline projek mereka segera selesai. Hilir mudik alat-alat berat, ribuan kaki yang mengantri panjang di pintu-pintu pemeriksaaan, wajah-wajah asing yang sepertinya tidak kenal lelah berbalut baju kumal dan penutup kepala lusuh yang entah sudah berapa lama tidak pernah dicuci. Menarik sesungguhnya pemandangan ini sambil membayangkan andai saja kejadian ini terjadi di tanah air tercinta, oh..alangkah indahnya..!. Kita semua disibukkan bekerja dan bekerja, membangun, meraih mimpi akan masa depan sampai tidak ada waktu tersisa untuk ‘demo sambel’ yang menguras emosi dan keributan yang tak ada pangkal ujungnya. Capek deh!</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;"><strong></strong></span> <span style="font-size:small;font-family:Verdana;"><strong>Wellcome To Ruwais</strong></span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Infrastruktur pendukung perlahan-lahan mulai banyak berdiri. Flat untuk para pekerja baru sudah banyak yang hampir selesai tinggal proses finishing. Sebagian masih dalam tahap pembangunan. Tentu kebutuhan sarana flat bagi tempat tinggal para buruh migran ini begitu penting untuk segera diselesaikan. Mengingat para tenaga terampil sudah mulai banyak mengisi kamp sementara. Jika tidak segera dipindahkan khawatir tidak betah. Namun umumnya perusahaan di Ruwais biasanya memberikn “disturbance allowance” sambil menunggu flat jadi.</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Ke depan tidak tertutup kemungkinan akan banyak lagi fasilitas publik didirikan. Sejauh ini keberadaan beberapa supermarket, pasar, sekolah, klinik, dll masih baru dikatakan cukup. Namun lambat laun mulai terasa sesak. Hal mana terjadi di supermarket salah satunya terutama saat jam-jam tertentu. Menurut harian Gulf ke depan bukan hanya sebatas supermarket tapi Mall yang kabarnya akan segera bisa dinikmati sekitar 2009-2010. Saat ini memang para pekerja sendiri masih banyak yang memanfaatkan waktu liburnya ke kota Abu Dhabi. Jauh-jauh menyusuri 250 km hanya sebatas menghabiskan waktu di mall-mal yang berjubel di kota “bunga teluk Persia”, Abu Dhabi ini. Selebihnya tinggal cuci mata menikmati aneka ras warga dunia yang konon berasal dari 130 an ras anak Adam dan Hawa tumplek di UAE ini. </span></p>
<p> <span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Begitulah Ruwais yang sedang menggeliat. Komplek perumahan  ternyata bukan hanya Ruwais Housing saja. Di sebelah timur komplek Ruwais juga sudah banyak berdiri komplek-komplek kecil. Biasanya di bangun oleh perusahaan kontraktor yang mensupport kelancaran industri di kawasan Ruwais. Mirip komplek perumahan mini cluster di Serdang. Jika Ruwais dulu tampak lenggang sekarang sudah mulai terasa hiruk-pikuknya. Banyaknya warga dunia yang baru berdatangan semoga menambah hangat suasana. Hal yang menjadi faktor utama adalah keamanan. Tidak jauh dari gate utama terdapat kantor polisi semacam polseknya Ruwais. Sejauh ini kondisi aman terkendali. Tidak seperti bayangan sebelumnya. Tingkat kriminalitas relatif sangat kecil. Sekalipun begitu, waspada dan menjaga diri tidak bisa diabaikan. </span></p>
<p> <span style="font-size:small;font-family:verdana, helvetica, sans-serif;">Komunitas Indonesia memang cukup banyak di Ruwais. Dari perusahaan Gasco dan Borouge saja ada sekitar 200 an orang pekerja. Mungkin akan terus bertambah. Belum semua memang membawa keluarga  karena menunggu kesediaan flat yang sedang dibangun. Sebagian masih tinggal di kamp-kamp yang bertebaran di sekitar komplek Ruwais. Mereka yng tinggal di kamp-kamp mendapatkan fasilitas makan dan laudry gratis. bahkan akses internet dan telepon. Beberapa area kamp sudah dilengkapi dengan fasilitas olah raga dan kolam renang. Mudah-mudahan semua berjalan lancar seperti yang diidamkan semua warga dunia. Semoga Ruwais akan menjadi salah satu kota modern di Sebelah barat UAE yang hijau, asri, aman dan nyaman serta dengan multi ras tentunya .</span>  <strong>Wellcome to Ruwais!</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pete dan Santri]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/05/08/pete-dan-santri/</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 13:57:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/05/08/pete-dan-santri/</guid>
<description><![CDATA[Jika bete menyerang maka lawanlah ia dengan pete. Kenapa? karena reaksi bete dengan pete akan menimb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jika bete menyerang maka lawanlah ia dengan pete. Kenapa? karena reaksi bete dengan pete akan menimbulkan energi eksotermis dengan ciri anda menjadi lebih aktif untuk gosok gigi dan multiply siram air setelah <em>pepsi</em>. Bete akut berindikasi susah bangun dari tempat duduk atau berbaring seperti ikan duyung.<!--more--></p>
<p>Soal pete, jangan berpikir di gulf tidak ada pete. Pete sudah masuk item barang ekspor kebanggaan Indonesia. Perbiji pete bisa sampai 500 rupiah. Namanya juga pete impor tentu serba mahal karena kemasannya saja sudah <em><span style="text-decoration:line-through;">quality passed</span></em>. Pete ini sekalipun bau dan hanya bisa jengkol yang mampu menandinginya mampu menjadi obat dahaga pulang kampung. Soalnya jika kamar mandi bau pete pasti suasana tiba-tiba berubah. Pete mampu menjangkar ingatan tentang kamar mandi umum dekat mushola yang cuit..cuiit&#8230;<em>breng ngambreng</em> aroma pete yang menusuk hidung.</p>
<p>Saat bermemoria lewat aroma pete terjadi, maka saat itulah dahaga kerinduan menjadi cair, meleleh dan trus mengalir pergi entah kemana alias gak ah! kapok masuk ke kamar mandi itu lagi. Saya jadi kebayang waktu dulu nyantri. Dulu kalau ketahuan kirim surat cintrong ke santri putri Pak Kyai kasih <em>punismentnya</em> dengan bersihin kamar mandi umum para santri yang beraroma pete itu. Maklum aja pete bagi para santri seperti kratingdaeng atau redbull penjaga stamina saat paceklik akhir bulan tiba.  Lawannya pete ya.. ikan asin peda plus cabe rawit yang diulek apa adanya. <em>Sehah</em>..! keringetan tidak menjadikan semangat bertempur makan nasi liwet jadi kendur justru makin tancap gas&#8230;ndruut..! (kok suara mobilnya kayak gini?).</p>
<p>Dulu saat mondok di salah satu pesantren salafiah di Bogor hikayat pete dan santri percis seperti romeo dan juliet. Hmm..mungkin lebih mudah digambarkan seperti lagunya duetnya Dewi Yull dan Broery Pesolima. Judulnya apa tuh..yang ada liriknya &#8220;<em><strong>semua terserah padamu.., aku begini adanya</strong></em>&#8230;&#8221; Nah seperti itu!. Yaa, romantis daun pisang lah! dangdut <em>beeng</em> dech pokoknya!. Kami para santri dari kecil sudah diajari survival. Saya sendiri dapat bekal dari orang tua paling cuma <em>go ceng</em> sampai <em>ce ban</em> untuk satu bulan. Termasuk <em>meal allowance, leisure allowance, happy allowance, bete allowance</em>, pokoknya paket spesial hemat!. Biar pun semua serba cekak, toh bukan berarti otak kami jadi cekak!. Banyak teman-teman seangkatan yang hapal 30 juz Alquran! subhanallah..! itu baru dari energi pete, ikan asin peda, sambel cabe rawit ulek, that all!. Gimana kalau dikasih martabak shanghai, zucchini brownies, atau sambal goreng pengantin,..wuiih..! (jadi laper).</p>
<p>Walhasil..selera pete memang selera nusantara bukan hanya santri saja yang doyan, artis Ida Iasha juga kabarnya suka?. semangat survival para santri di pondok saya dulu menjadi bukti bahwa krisis picis alias duit tidak menjadikan kami narsis alias memikirkan diri sendiri <em>2 much</em>!. Makan ala arab dengan satu nampan bertujuh sudah biasa bagi kami. Barokah kalau orang gulf bilang. Rata-rata minimal jebolan pesantren yang offgrade bisa hapal sampai 6-7 juz. Alhamdulillah..! Sekalipun setiap pagi usai solat subuh jamaah terjadi rebutan untuk sampai ke halaman rumah ustad agar bisa duduk di paling depan. Suara <em>gedebag gedebug</em> saat subuh bagi para warga yang tinggal di sekitar pondok sudah biasa. Mungkin mereka pikir reaksi pete yang dimakan kemarin sore baru terasa. Bikin santri blingsatan, ngebut..sprint! sambil tangan kanan memegang qur&#8217;an, tangan kiri mangangkat sarung. Tarik daak!..</p>
<p>Sayang..pete jadi barang mahal sekarang. Apalagi di UAE!. Mungkin santri sekarang sudah tidak makan pete lagi karena kelewat mahal atau sudah gak ada..alias gak ada yang minat jadi santri??</p>
<p> </p>
<p> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dibawah Kaki Multazam, Hanya Bermodalkan Doa..]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/05/02/bermodal-doa-saja/</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 19:21:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/05/02/bermodal-doa-saja/</guid>
<description><![CDATA[oleh: Kafilah cinta Saya masih ingin berbagi cerita tentang perjalanan umroh (lewat darat menembus b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>oleh: Kafilah cinta</p>
<p><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/05/bersama-anak-isteri.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-424" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/05/bersama-anak-isteri.jpg?w=128" alt="" width="128" height="95" /></a>Saya masih ingin berbagi cerita tentang perjalanan umroh (lewat darat menembus border) yang pertama dalam hidup saya. perjalanan ini adalah sebuah &#8216;keajaiban&#8217; bagi saya.  Ajaib karena 2 tahun dan tahun-tahun sebelumnya logika saya masih menghitung bahwa kesempatan berziarah ke Baitullah dan raudhah adalah sebuah mimpi atau angan-angan kosong. Gaji buruh yang saya terima setiap bulannya di salah satu pabrik di Cilegon, ditambah sambilan saya sebagai tukang edit dan juru shooting amatiran pernikahan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setiap bulannya.<!--more--></p>
<p>Tanggal 1 sampai 30 adalah <em>life time</em> kehidupan saya. Belanja dapur, bayar listrik, bayar pam, bayaran dan jajan sekolah anak (padahal masih TK), ongkos, dan masih banyak lagi kebutuhan lainnya yang setiap bulan begitu rakus melahap gaji yang saya terima tanpa sisa. Saya sendiri tidak bisa membayangkan waktu itu kalau tiba-tiba perusahaan mangkir menggaji saya satu bulan saja, wah! alangkah repotnya!. Realitas yang membentang dihadapan begitu terjal, keras, dan menyengat. Seberapa mampu diri kita memandang jauh ke depan adalah pertanyaan yang sering meneror hati kita kala hendak memejamkan mata di waktu hari sudah gelap. </p>
<p><strong>Hanya Bermodalkan Doa</strong></p>
<p>Hidup yang dilakoni dari waktu ke waktu menjadi bising dan asing. Semua ongkos hidup harus dibayar dengan mahal. Hal itu menjadikan hidup yang pendek ini seperti sebuah permainan yang menyisakan satu pilihan, yaitu; kita harus menang!. Kondisi seperti inilah yang membuat sudut pandang kita bergeser dalam memahami alam dunia. Asesoris dan segala yang berbau prestis adalah simbol kemenangan. Hati kita pun akhirnya menjadi tumpul, kering dan kusam. Semua sering berakibat pada kita menjadi tidak percaya lagi pada kekuatan doa, harapan, dan &#8216;mimpi&#8217;. Padahal untuk melanjutkan hidup dan memenangkannya bukan hanya berasal dari gemerlapnya hiasan materi atau segala tektek bengek asesoris yang menghiasi kehidupan kita tetapi juga kekuatan yang berasal dari dalam, dari hati!. hati kita adalah inti yang menggerakkan kemana arah kaki melangkah, apa yang mesti dipikirkan, diucapkan, dilakukan dlsb. Maka tidak ada pilihan lain untuk bisa melawan teror yang menggerogoti hati kita. Satu hal yang mampu menghadang teror cemas, khawatir, pesimis, dan takut adalah saat hati kita dekat dengan Sang Pencipta.</p>
<p>Nah, perjalanan darat menembus border menuju rumah Allah bagi saya adalah sebuah pelajaran yang Allah berikan kepada saya bahwa doa yang dipanjatkan akan didengar, disimpan, dan suatu hari akan diberikan. Jika tidak hari ini, maka esok, atau bisa saja lusa atau tentu nanti di akherat kelak. Tentu kita pernah merasakan kegalauan yang luar biasa saat doa yang kita panjatkan seperti meminta bintang jatuh dihadapan. Rasanya permintaan ini seperti mengada-ada atau mungkin kita yang sudah keblinger. Mengunjungi rumah Allah dan Raudhah sekalipun hanya diberikan kesempatan solat 2 rakaat di dalamnya sudah begitu sangat didambakan tetapi sayang (dulu) saya mengangap itu semua tidak mungkin (secara logika). Singkatnya seringkali logika kita mengejek harapan yang terpatri di dalam hati kita.</p>
<p> Sepanjang perjalanan 4000 km!, dari Ruwais ke Madinah kemudian ke Makkah dan balik lagi ke Ruwais menghanyutkan segala keraguan saya bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seperti mengurai rahasia benag kusut kehidupan. Jawabannya: &#8221;Kita hanya bermodal doa saja sebenarnya dalam hidup ini&#8221;. Dan doa yang paling kencang kumandangnya di &#8216;arasy tentu doa ayah-ibu, serta orang-orang yang ada di sekitar kita. Doa mereka akan mengalir deras seperti &#8217;sayembara&#8217; KDI yang saling dukung-mendukung dengan mengirimkan ribuan sms. Semakin banyak sms yang dikirim oleh &#8216;orang-orang dekat kita&#8217; atau mereka yang bersimpati kepada kita maka semakin besar peluang kita.</p>
<p><strong>Dibawah Kaki Multazam</strong></p>
<p>Sekali lagi saya ingin menggaris bawahi bahwa kita hanya bermodal doa saja dalam hidup ini. Segala rentetan usaha dan hasil yang kita terima merupakan jawaban dari doa yang kita panjatkan. Doa yang kita sampaikan lewat desiran hati, 2/3 malam, di waktu dhuha, atau setiap saat adalah mata air yang mengairi sungai perjalanan hidup kita. Tentu membutuhkan mata air yang sangat melimpah agar getek yang kita tumpangi bisa terus meluncur sampai ke hilir. Di situlah rahasia seberapa kualitas dan kuantitasnya doa-doa yang kita panjatkan. Dan seperti yang saya tulis diatas, kita pun ternyata membutuhkan doa orang lain agar mata air sungai kehidupan kita semakin melimpah. </p>
<p>Di bawah multazam, puji dan syukur saya latunkan kehadirat <strong>Allah</strong> &#8216;<em>azzawajalla</em>. Saya memang lelaki yang hanya berbekal doa ibu saja dalam hidup ini. Dari doa ibu yang tamatan SR (sekolah rakdjat) yang doa-doanya tak pernah kering mengairi anak sungai kehidupan saya yang menjadikan <em>getek</em>  (perahu bambu) ini sampai di bawah kaki Multazam. Semoga Allah membalas bagi kedua orang tua saya dengan membanjiri keduanya dengan ampunan serta kasih sayang-Nya di alam baqa sana. Semoga, ziarah ini bukan perjumpaan terakhir. Tetapi awal perjumpaan untuk merajut kehidupan baru untuk episode berikutnya. amien..</p>
<p> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Masih ada yang jujur]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/28/masih-ada-yang-jujur/</link>
<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 03:33:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/28/masih-ada-yang-jujur/</guid>
<description><![CDATA[Diantara berita tentang keculasan, kedengkian, penipuan, yang sering menemaani sarapan pagi kita ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><table id="article_edit" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td class="Heading">
<h3>Diantara berita tentang keculasan, kedengkian, penipuan, yang sering menemaani sarapan pagi kita ternyata ada juga berita yang menyentuh hati. Dubai adalah negeri dimna materi sering kali menjajah nurani. Saya berbahagia membaca berita ini dan alhamdulillah maasih ada manusia yang bersinar seperti mutiara.</h3>
<h3>Mall workers return Dh2.1m found in food court to owner</h3>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<p class="para" align="left">Staff Report<br />
<span style="color:#b3b3b3;">Published: April 27, 2008, 18:05</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td class="ArticleBody">
<p class="para" align="left"><span style="font-size:x-small;color:#000000;font-family:Verdana;"><!--maxlength:1339-->Dubai: They were people in need of money, but when they found Dh2,100,000 in the food court of the shopping centre they worked for, they never thought twice before handing it over to the police.<!--more-->Twenty-one-year-old Reddolla Das and 24-year-old Hamid Raza Abbasi have been working with Ajman City Centre for 11 and four months respectively, but they never had a day quite like April 16.</p>
<p>Reddolla came across a bag while cleaning tables at the mall’s food court. Without a second thought, he handed it over to Hamid, the security guard on duty, who then opened the bag and discovered the money: Dh400,000 in cash and Dh1,700,000 worth of blank cheques.</p>
<p>Hamid, as advised by the mall management, passed the bag on to the police who returned it to its relieved owner, a Pakistani national.</p>
<div id="hr_1" style="display:none;">
<hr /></div>
<div id="banner_inline" style="display:block;"><!-- BEGIN ADVERTPRO CODE BLOCK --><!-- NOT VISIBLE CONTENT --><!-- END ADVERTPRO CODE BLOCK --></div>
<div id="hr_2" style="display:none;">
<hr /></div>
<p>&#8220;We are all incredibly proud and grateful for Reddolla and Hamid’s honesty and humility,&#8221; said Jassim Al Khaja, General Manager, Ajman City Centre. &#8220;We at Ajman City Centre endeavour to return every lost item found on our premises. The amount discovered is huge and some people might have been tempted by this.&#8221;</p>
<p><span style="font-size:x-small;color:#000000;font-family:Verdana;">Redolla and Hamid’s sincere act was recognised by the Ajman City Centre management, which rewarded them each with Dh1,500 in CityCash vouchers.</p>
<p></span></span></p>
<p> </td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Shalawat dan Raudhah]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/22/shalawat-dan-raudhah/</link>
<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 18:25:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/22/shalawat-dan-raudhah/</guid>
<description><![CDATA[Dahulu saat di Indonesia rasanya kurang afdol jika belum baca shalawat di depan pembaringan abadinya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/05/masjid-quba.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-425" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/05/masjid-quba.jpg?w=128" alt="" width="128" height="95" /></a>Dahulu saat di Indonesia rasanya kurang afdol jika belum baca shalawat di depan pembaringan abadinya Rasulullah. Mestinya itu menjadi puncak dari pengalaman para pencari yang setiap waktunya dihabiskan dengan membaca shalawat. Beberapa aliran thoriqoh dalam sufi ada yang menekankan zikir dengan shalawat tertentu sebagai bagian dari amalan sehari-hari. Shalawat bagi pengikut thoriqoh ini menjadi pembuka jalan menuju tingkatan yang mesti dilalui oleh para salik.<!--more--></p>
<p>Bicara shalawat, saya yang besar di lingkungan NU diajari macam-macam shalawat oleh uwa (paman), nini (nenek), aki, kakak, dan masih banyak lagi. Shalawat dulu sering kami kumandangkan di waktu-waktu sebelum atau setelah azan. Tujuannya sambil menunggu iqamah atau waktu solat juga sekalian menunggu jama&#8217;ah agar mau memenuhi undangan ke mesjid.  Diantara solawat yang populer yaitu sholawat nariyah. Ada lagam khusus jika dikumandangkan di mesjid. Yang pernah saya dengar, keutamaaan membaca sholawat sangat banyak terutama agar hati menjadi lembut. Memang semua zikir ditujukan bagi pelapalnya  untuk memperbaiki &#8216;kontur&#8217; dan &#8216;karakter&#8217; hati.</p>
<p>Ceritanya saat di Raudhah, Masjid Nabawi dengan tumpukan orang yang berebut mendapatkan tempat sekedar untuk solat dan berzikir saya ada diantara kaki manusia yang berjejalan. Sepertinya semua ingin mendapatkan keutamaan tempat itu. Meskipun begitu, nikmat di Raudhah adalah karunia yang begitu berharga. Saya memanfaatkan dengan menghaturkan salam. Dari macam-macam shalawat yang pernah diajarkan waktu kecil saya putar kembali. Seperti seseorang yang hendak membuka jalur komunikasi dari sekian milyaran chanel yang terhubung ke Rasulullah.</p>
<p>Saya sadar, saya bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang manusia yang ingin diakui sebagai ummat Muhammad. Bukan seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, apalagi Ali <em>Radhiallahuanhum wakarramallahuwajhah</em>. Saya <em>seonggok</em> manusia yang sudah sangat merasa terhormat sudah diberi kesempatan duduk dan bershalawat di depan pembaringan abadi Muhammad. dari mulut yang penuh dusta, semoga shalawat yang saya haturkan berkenan &#8216;<em>diterima&#8217;</em> dan &#8216;<em>dijawab&#8217;</em> oleh Allah SWT.</p>
<p>Saya teringat nun di suatu masa, lewat corong toa dari masjid buyut yang sudah berusia tua seorang bocah ingusan melagamkan shalawat yang hampir dipastikan seperti suara gaduh yang mengganggu orang tidur. Jika rahmat-Mu turun karena kemuliaan nabi-Mu yang pada hari ini akhirnya aku diundang untuk menjenguk Nabi-Mu maka itu semua adalah bagian dari keluasan Rahmaat-Mu ya Allah.</p>
<p>Dari semua yng berkecamuk di alam pikiran dan batin saya hanya mendaptkan kesimpulan bahwa bershalawat di depan makam Nabi atau di tempat yang jauh di pinggiran gunung semua mempunyai tempat yang sama jika kita membacakannya penuh khusyu dan takzim. Seperti layaknya kita berhadapan dengan rasul yaang mulia di Raudhahnya.</p>
<p> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Emirat yang Risau]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/21/emirat-yang-risau/</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 14:49:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/21/emirat-yang-risau/</guid>
<description><![CDATA[Emirat sedang risau. Ya!, risau akan masa depan yang menunggu di depan. Sepertinya ada lubang yang m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Emirat sedang risau. Ya!, risau akan masa depan yang menunggu di depan. Sepertinya ada lubang yang menganga sudah siap menanti mereka. Lubang besar yang siap menjebloskan mereka ke dalam kegamangan adalah identitas atau jati diri emirat sebagai entitas yang mampu tetap melestarikan nilai-nilai luhur yang mereka yakini kebenarannya. Setelah kemajuan yang begitu cepat mereka capai hari ini, setelah semua impian diraih, setelah kesejahteraan diwujudkan, setelah taraf hidup masyarakatnya melejit, setelah semua orang di dunia mulai berpaling dan berdecak kagum yang akhirnya mendorong jutaan turis berkunjung dan tinggal di negeri &#8216;ajaib&#8217; ini. Emirat menjadi risau tentang hari esok.<!--more--></p>
<p>Lewat konfrensi National Identity yang digelar di emirat Palace  di pertengahan bulan April 2008 ini dengan mendatangkan pakar serta konsultan international guna membahas persoalan identitas Nasional di tengah peluang dan tantangan di masa depan. Apa yang dirisaukan Emirat memang beralasan. Mereka mulai gelisah. Para pemimpin yang mumpuni mewujudkan semua kesejahteraan akhirnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran mereka akan nasib negeri syaikhdom ini. Setelah mereka mampu berdiri tegak di atas buruj arab dan mampu menyulap gurun menjadi taman-taman bunga berwarna-warni, tenda-tenda bedouin menjadi hotel-hotel bintang lima yang menjadi mercusuar tampak indah gemerlapan bahkan terlihat sampai belahan eropa sana. Perlahan namun pasti kesadaran akan identitas mereka mulai dipertanyakan.</p>
<p>Emirat adalah negeri yang semula miskin. Rakyatnya dulu hanya mengais mutiara di laut persia. Sebagian hanya petani kurma dan bedouin pada umumnya. Saat era emas hitam ditemukan, perlahan mereka mengejar ketertinggalan. Untuk mewujudkan gurun kering menjadi taman-taman hijau membutuhkan pemimpin yang kuat dan visioner. Hadirlah Syeikh Zayed Al- Nahyan -Allahu yarhamuh di Abu dhabi dan Syeikh Muhammad Al Maktoum di Dubai. Dalam kurun 36 tahun emirat akhirnya menjadi tempat pertemuan orang-orang yang ingin mewujudkan mimpinya. Abu Dhabi menjadi basis pemrintahan dan ibu kota negara. Kandungan emas hitam di Abu Dhabi mampu menjadikannya dalam posisi terdepan di banding negara bagian lainnya dalam pemerintahan. Sedangkan Dubai menjadi objek pariwisata serta kawasan bisnis yang prestis.</p>
<p>Untuk mewujudkan semua dengan cepat perlu uang atau dana. Minyak pada mulanya menjadi penggerak dalam roda pembangunan namun ketergantungan terhadap emas hitam perlahan ditinggalkan. UAE mampu mendongkrak peranan non migas dalam pertumbuhan ekonominya meliputi real estate, keuangan dan infrastuktur. Dalam urusan duit, sepertinya bukan urusan yang sulit bagi mereka.</p>
<p>Perlu juga orang-orang yang terdidik yang bisa menggerakkan roda besar ini, sayang mereka sendiri  belum siap maka didatangkan para pekerja dari hampir 30 ras warga dunia. Karena semua ingin cepat diwujudkan maka butuh jumlah manusia yang sangat banyak. Lagi-lagi karena jumlah mereka sangat terbatas, hanya ratusan ribu saja maka didatangkan jumlah warga dunia yang jumlahnya menjadi 4 kali lebih banyak dari jumlah mereka. Konsultan, arsitek, dokter, insinyur, engineer, analyst, akuntan, koki, mekanik, montir,supir dlsb dari berbagai profesi datang ke tempat ini. Terciptalah ekosistem warga dunia kalau boleh saya menyebutnya seperti deja vu perbudakan modern dengan uang sebagai tuannya.</p>
<p>Negeri mungil yang luasnya sekepulauan Maluku ini salah satu negara kaya di timur tengah dengan pendapatan perkapitanya 36 ribu US dollar dengan GDP pada tahun 2007 mencapai 191 miliar dollar. Semuanya aman, nyaman, dan tampak perfect maka perlahan kesadaran mereka pun pulih. Siapa yang akan mewarisi negeri ini setelah semua dibangun? mampukah populasi lokal yang minoritas dan ternyata masih banyak belajar untuk menjadi pekerja yang efektif dan modern ini mengelola warga dunia yang diposisikan selamanya sebagai bawahan atau pekerja mereka. Mampukah mereka mengisi dan menjalankan pos yang suatu saat bisa saja ditinggalkan?, mampukah mereka menjadi bangsa yang utuh dan mandiri pada suatu hari kelak tanpa dukungan dari para pendatang?.</p>
<p>Kekhwatiran mereka semakin menjadi saat anak-anak mereka, pewaris masa depan tumbuh dan besar dalam asuhan &#8216;orang asing&#8217; yang memiliki budaya yang berbeda, bahkan agama yang berbeda pula. Lagi-lagi merekaa menjadi khawatir saat anak-anak mereka dididik bukan dengan bahasa ibu, guru-guru mereka juga orang-orang asing yang menularkan cara berpikir dengan logika yang mungkin tidak lazim bagi anak-anak mereka. Selanjutnya TV satelit dan radio dengan hingar bingar acara dan musik &#8216;aneh&#8217; lainnya, Saat mereka keluar pintu rumah didapatinya manusia-manusia yang &#8216;berseliweran&#8217; dengan bahasa asing yang tidak dimengerti, saat mengunjungi mall dan pertokoan para pedagang sudah tidak melayani transaksi dengan bahasa ibu mereka, di kantor, di pabrik, di hotel, di semua tempat menjdi asing bagi mereka. Ada sesuatu yang &#8217;ganjil&#8217; terjadi di tanah mereka sendiri.  Ya.., emirat sedang risau akan hari esok.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hikayat Unta dan Bedouin (1)]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/16/hikayat-unta-dan-bedouin/</link>
<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 09:23:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/16/hikayat-unta-dan-bedouin/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Anugerah Tuhan untuk Bedouin&#8221;, begitulah kalimat yang sering diucapkan tentang unta di ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/04/camel7a.jpg"></a><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/04/camel7a1.jpg"></a><a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/04/names1.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-402" style="float:left;margin:3px;" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/04/names1.gif?w=128" alt="" width="128" height="60" /></a>&#8220;Anugerah Tuhan untuk Bedouin&#8221;, begitulah kalimat yang sering diucapkan tentang unta di jazirah arabia.  Cerita tentang unta dan suku Bedouin memang tidak bisa dipisahkan ibaratnya seperti api dan panas. Seperti halnya suku pedalaman yang memegang kuat tradisi dan budaya suku begitu pula dengan Bedouin deengan untanya. Jika suku pedalaman di Sumatra tinggal di hutan-hutan belantara maka suku Bedouin tinggal di gurun. Bagi mereka gurun seperti samudera yang menghampar luas tak bertepi dan butuh kapal yang mampu mengarungi sekaligus menaklukannya. Maka sebutan unta pun lazim dikenal sebagai &#8216;kapalnya gurun pasir&#8221;.<!--more--></p>
<p>Cerita unta menarik untuk disimak. Sejak kapan binatang ini hadir sebagai pilihan tepat untuk mengarungi samudera gurun pasir menjadi pertanyaan menggelitik. Menggelitik Karena karakterisitik unta yang kemampuannya sudah didesign sedemikian rupa sehingga bisa bertahan hidup di daerah yang sangat minim dengan air. Tidak ada hewan yang mampu bertahan hidup tanpa minum air seelama 10 hari! bahkan manusia sekalipun. Itu adalah kemampun luar biasa dari seekor unta.</p>
<p><strong>Hikayat Unta </strong></p>
<p>&#8220;<em>Hitti, Jurji, and Jabbur</em>,<em> History of the Arabs</em> page 22&#8243; mengatakan bahwa unta sebenarnya bukan berasal dari jazirah Arab. Paling tidak para Zoologist mengemukakan pendapat berdasarkan temuan <a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/04/camel7a.jpg"></a>fosil unta yang ditemukan di benua Amerika. Selain itu, fosil unta pun ditemukan di India, Kashmir, <a href="http://rumahduniadubai.files.wordpress.com/2008/04/camel7a1.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-410" style="float:right;margin:2px;" src="http://rumahduniadubai.wordpress.com/files/2008/04/camel7a1.jpg?w=67" alt="" width="67" height="96" /></a>dan Algeria. Unta-unta yang sekarang beranak pinak di jazirah Arabia kemungkinan besar berasal dari Afrika Utara. <em>( Arthur G. Leonard, The Camel, London and New York, 1894, page 2).</em></p>
<p>Temuan lain menyebutkan bahwa unta sudah dikenal sejak zaman batu di jazirah arab. Hal ini berdasarkan potongan gambar-gambar (carving) di daerah Kilwa, Jabal tubayq dekat daerah perbatasan Jordan. Dalam gambar tersebut tampak dengan jelas gambar unta dengan satu benjolan (humped) yang lazim dikenal di jazirah Arab. (Hitti, <em>History of Syria</em>, page 52).  Selain itu dalam catatan berbagai manuskrip yang umurnya 1800-1200 sebelum masehi, nama unta dalam bahasa <em>Asyyirian</em> ternyata banyak ditemukan. Menurut sebuah sumber, Nabi Ibrahim dalam hijrahnya ke jazirah Arabia atas perintah Allah SWT juga membawa unta. Kelihatannya perjalanan unta yang berasal dari jazirah arab ini bermula dari afrika utara kemudian ke Mesir, dari Mesir menyebrang ke jazirah Arab.</p>
<p>Konon, dahulu kala bedouin hanya mengenal kuda . Sementara komunitas yahudi yang tinggal di gunung-gunung justru menggunakan unta dalam memenuhi. Sampai suatu ketika para Bedouin ini tertantang untuk menaklukan pegunungan di sekitar gurun. Pegunungan di sekitar gurun biasanya tinggi dan terjal. Mereka, para Bedouin hanya jago di medan lapang saja. Wajar jika mereka akhirnya tersesat. Singkat cerita mereka menemukan unta-unta milik para Yahudi. Semenjak itulah cerita antara unta dan Bedouin dimulai. Agar tampak beda, para Bedouin ini mewarnai unta-untanya dengan warna hitam.  Semenjak saat itu selain unta putih dan coklat, maka saat ini di jazirah Arabia juga dikenal unta hitam.</p>
<p>Seperti itulah catatan usang masa lalu tentang unta dan suku Bedouin. Suku Bedouin begitu memuja unta, menghiasinya, memberinya nama-nama, menjadi simbol kebanggaan sekaligus amat dihormati. Sampai sekarang pun unta masih &#8217;sakral&#8217;. Konon, jika ada unta tertabrak mobil dan mati maka dendanya sangat besar bisa lebih besar dari manusia yang juga mati tertabrak.</p>
<p>Suku Bedouin biasanya memberikan nama-nama yang khusus untuk setiap bagian dari unta. Misalnya:</p>
<table class="MsoNormalTable" style="width:209.25pt;" border="0" cellpadding="0" width="279">
<tbody>
<tr style="height:17.25pt;">
<td style="width:27%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="27%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;">sanaam</span></span></p>
</td>
<td style="width:73%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="73%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> benjolan (tampak seperti gunung) </span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:17.25pt;">
<td style="width:27%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="27%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> sulb</span></span></p>
</td>
<td style="width:73%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="73%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> bagian belakang</span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:17.25pt;">
<td style="width:27%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="27%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> ghaarib</span></span></p>
</td>
<td style="width:73%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="73%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;">pundak</span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:17.25pt;">
<td style="width:27%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="27%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> &#8217;adud</span></span></p>
</td>
<td style="width:73%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="73%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> Kaki depan diatas lutut</span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:17.25pt;">
<td style="width:27%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="27%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> farsam</span></span></p>
</td>
<td style="width:73%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="73%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> kaki unta</span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:17.25pt;">
<td style="width:27%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="27%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> khuff</span></span></p>
</td>
<td style="width:73%;height:17.25pt;background-color:transparent;border:#bbbbbb 1pt dashed;padding:0;" width="73%">
<p class="MsoNormal" style="margin:4.6pt;"><span style="font-size:6pt;color:#000000;font-family:Verdana;"><span style="color:#000000;"> telapak kaki unta</span></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Bedouin juga memanfatkan unta untuk berbagai kepentingan selain alat transportasi yang utama, juga susu dan daging untuk dikonsumsi serta kulitnya yang berguna sebagai sandang yang melindungi dari panas dan dingin.</p>
<p><strong>to be continue</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Teori Bandit]]></title>
<link>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/11/teori-bandit/</link>
<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 03:27:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Jejak-Jejak</dc:creator>
<guid>http://rumahduniadubai.wordpress.com/2008/04/11/teori-bandit/</guid>
<description><![CDATA[Rasanya gatel untuk kasih komentar dari berita yang dikutip dari harian Republika soal perilaku poli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rasanya gatel untuk kasih komentar dari berita yang dikutip dari harian Republika soal perilaku politisi Indonesia. Di sini aturan moral tidak berlaku. Lebih anehnya lagi mereka malah naik haji, umroh, nyumbang mesjid, bahkan juga berperilaku santun tapi soal urusan darimana duit yg mereka makan halal gaknya, mendompleng jabatan untuk kepentingan pribadi tidak masuk aturan  yang mesti dijaga.  Kayak gini sepertinya sudah lama terjadi..Solusinya?</p>
<p>Politik Masih Dianggap Lahan Cari Penghidupan</p>
<p><span class="deskripsi">Keputusan politikus untuk terjun ke dunia politik banyak didasari pada perjuangan untuk kepentingan pribadi dan kepentingan kelompok. Demikian diungkapkan Didik J Rachbini, dalam diskusi sekaligus peluncuran bukunya bertajuk <em>Teori Bandit</em> di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (10/4). &#8221;Ini fenomena yang terjadi di Indonesia, yang masih dalam masa transisi dengan distorsi perilaku yang meluas. Politik masih dianggap sebagai tempat untuk mencari penghidupan, sehingga kepentingan pribadi jauh lebih menonjol dari pada kepentingan publik yang lebih luas,&#8221; papar Didik yang juga ketua Yayasan Paramadina.<!--more--><font>Menurut Didik, anggaran yang terdapat pada APBN adalah barang publik, yang ada di dalam pertukaran dan pasar politik. Seharusnya, kata dia, digunakan untuk kemanfaatan publik seluas mungkin. &#8221;Namun, fakta di lapangan terjadi banyak sekali distorsi proses politik dalam kebijakan anggaran. Di mana anggaran yang seharusnya diberitahukan dan dilaporkan secara transparan, berubah menjadi proses politik yang tertutup di bawah tanah. Akhirnya, muncul pasar gelap politik yang memberi manfaat hanya terhadap pelaku-pelaku pasar tersebut,&#8221; papar Didik.</p>
<p>Dikatakan Didik, pada masa Orde Baru, korupsi dan kolusi terjadi di antara kekuasaan pemerintah dengan swasta. Hal itu yang menghasilkan kesenjangan ekonomi antara kelompok kecil yang menguasai aset dalam jumlah sangat besar, dengan golongan masyarakat bawah yang tingkat kesejahteraannya masih rendah. &#8221;Korupsi dan kolusi yang terjadi pada saat ini, bergeser ke arah parlemen yang kini dianggap sebagai lembaga dengan kekuatan kekuasaan baru. Tidak ada lembaga yang cukup kuat menandingi parlemen, kecuali Presiden, yang dapat mengontrol distorsi peran yang kolusif tersebut,&#8221; kata Didik yang juga anggota DPR.</p>
<p>Menurut Didik, praktik mencuri oleh penguasa di dalam masa pemerintahan yang anarki secara teoretis dianalogikan sebagai bandit bergerak atau <em>roving bandit</em>. &#8221;Setelah peradaban memasuki fase menetap, muncul tatanan kelembagaan pemerintahan meski masih otoriter. Perilaku mengambil sumber daya yang ada pada fase ini dianalogikan sebagai bandit menetap atau <em>stationary bandit</em>.</p>
<p>Pada kesempatan yang sama, Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, yang juga tampil sebagai pembicara mengungkapkan, desain yang diberikan saat ini memang memberikan ruang begitu besar untuk memikirkan kepentingan diri atau pribadi. &#8221;Kepentingan kelompok, partai, daerah, pertemanan, dan sebagainya. Peluang yang diberikan untuk itu memang cukup besar,&#8221; papar Anies.</p>
<p>Anies juga menegaskan pentingnya publik yang tidak sekadar memiliki rasionalitas, namun juga memiliki <em>well inform</em>. &#8221;Dengan demikian, publik tidak sekadar menggunakan rasionalitas, namun juga memiliki <em>rank of preference</em>,&#8221; tambahnya. Menurutnya, di Indonesia, ketika publik dihadapkan pada pilihan, belum pada tingkatan <em>rank of preference</em>,&#8221; kata Anies.</p>
<p>Ditambahkan Anies, pada masa Orde Baru, lebih mudah untuk mengidentifikasikan siapa-siapa yang bisa dikategorikan sebagai bandit-banditnya. &#8221;Kalau sekarang susah, kita tidak bisa menuding pada satu tempat saja. Ada begitu banyak pemain, ada ratusan pemerintahan kabupaten/kota. Ada 24 parpol peserta pemilu lalu dan sebagainya,&#8221; ucap Anies.</p>
<p></font></span></p>
<p> </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
