<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>catatan-perjalanan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/catatan-perjalanan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "catatan-perjalanan"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 08:07:29 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Karya-karya Komunitas Aleut!]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/09/karya-karya-komunitas-aleut/</link>
<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 06:51:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/09/karya-karya-komunitas-aleut/</guid>
<description><![CDATA[Aleut nggak hanya bisa jalan2, nonton film, baca buku, dll. di komunitas ini, setiap anggota juga di]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Aleut nggak hanya bisa jalan2, nonton film, baca buku, dll. di komunitas ini, setiap anggota juga disunahkan untuk menulis laporan kegiatan.. baik dari jalan2, dari nonton film, maupun kegiatan2 lainnya.,,</p>
<p><strong>Tulisan2</strong> itu bisa temen-temen baca di <a href="http://www.aleut.wordpress.com" target="_self">site ini</a></p>
<p>juga di</p>
<p><a href="http://www.aleut.multiply.com" target="_self">http://www.aleut.multiply.com</a></p>
<p>serta</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/home.php#!/profile.php?id=1220483143&#38;ref=ts" target="_self">FB : Komunitas Aleut</a></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/notes.php?subj=1220483143">Notes tentang Aleut</a></p>
<p>untuk <strong>album foto</strong> ada di :</p>
<p><a href="http://www.facebook.com/photos.php?id=1220483143#!/profile.php?v=photos&#38;id=1220483143" target="_self">Album foto Komunitas Aleut</a> 1</p>
<p><a href="http://aleut.multiply.com/photos" target="_self">Album foto Komunitas Aleut 2</a></p>
<p>Aleut juga telah menghasilkan sebuah karya yang sudah go national, yaitu sebuah guide wisata &#8220;tidak biasa&#8221; untuk Kota Bandung dengan bekerjasama dengan tim dari majalah Intisari</p>
<p><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30097975&#38;id=1220483143"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14734_1157977789202_1220483143_30399766_2569311_n.jpg" alt="" /></a></p>
<p>what are you waiting for?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Journey Across The River (Artinya : Ngaleut Cikapundung) ]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/the-journey-across-the-river-artinya-ngaleut-cikapundung/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:42:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/the-journey-across-the-river-artinya-ngaleut-cikapundung/</guid>
<description><![CDATA[By : M.Ryzki Wiryawan &#8220;Perjalanan ini&#8230; terasa sangat menyedihkan&#8230; Sayang kau tak d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : M.Ryzki Wiryawan</div>
<div></div>
<div style="text-align:left;"></div>
<div><em>&#8220;Perjalanan ini&#8230; terasa sangat menyedihkan&#8230; Sayang kau tak duduk, di sisiku kawan..&#8221;</em></p>
<p><em>Itulah sepenggal lirik gubahan Ebiet G. Ade yang sangat tepat menggambarkan kondisi perjalanan Aleut kali ini. Tapi yang lebih tepat adalah lagu gubahan Papa T. Bob yang dinyanyikan oleh Joshua :</em></p>
<p><em>&#8220;Diobok-obok airnya diobok-obok&#8230;&#8221;</em></p>
<p><em>Kira-kira anda tahu sendiri lah kenapa saya memilih ungkapan dua lagu di atas&#8230;</em></p>
<p><strong>Perjalanan Dimulai</strong></p>
<p>Malam itu suasana hening,, tapi saya tak kuasa memejamkan mata karena satu alasan : Teu ngantuk ! Akhirnya saya memutuskan untuk begadang, siapa tahu begadang ini akan menghasilkan suatu manfaat di kemudian hari&#8230;</p>
<p>Pagi2nya entah kenapa datanglah satu-persatu orang ke rumahku, hingga akhirnya mencapai jumlah 27 orang-an, saat saya tanya mereka ternyata mereka hendak melakukan perjalanan ke Cikapundung. Dalam hati saya berpikir &#8220;Apakah yang ada di benak orang2 ini sehingga tertarik untuk menyusuri sungai kotor bin rujit yang bernama Cikapundung ?&#8221; tapi setelah saya tanya lagi dari komunitas mana mereka berasal, mereka menjawab dari &#8220;Klab Aleut&#8221;, saya langsung memaklumi tindakan aneh mereka&#8230; Klab ini memang paling suka melakukan perjalanan yang di luar batas nalar manusia normal&#8230; Saya pun memutuskan untuk gabung&#8230;</p>
<p>Titik perhentian pertama adalah sebuah Toko serba ada yang bernama &#8220;Circle K&#8221;, didirikan di sekitar tahun 2007-2008, dengan arsitek yang tidak diketahui, dan lokasinya menempel pada sebuah rumah bergaya kolonial &#8220;Boekittinggi&#8221; yang gayanya khas. Di sini peserta dapat melengkapi barang2nya untuk melanjutkan perjalanannya&#8230;</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30183275&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=84587446033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=84587446033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs036.snc1/4331_1081912682593_1069614412_30183275_3966443_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Titik pemberangkatan, &#8220;K&#8221; di sana melambangkan singkatan Klab Aleut&#8230;</div>
</div>
<div>
<p>Di kawasan yang disebut &#8220;Angker&#8221; oleh paranormal &#8220;Pak Leo&#8221;, kami menuruni jalan menuju aliran sungai cikapundung di daerah siliwangi. Perlu diketahui bahwa sungai Cikapundung ini dikenal sebagai sungai terpanjang di dunia karena membelah Asia-Afrika, terutama di daerah alun-alun Bandung.</p>
<p>Kami menuruni jalan yang terjal, kemudian naik lagi, kemudian turun lagi, dan begitulah kondisinya berulang hingga mencapa Curug Dago nanti. tetapi yang membuat seru adalah, dalam perjalanan ini kita melewati tidak hanya alam, melainkan juga perkampungan urban sisi sungai yang bisa kita amati kondisi sosialnya. Bagaimana keadaan sanitasi mereka, penataan raung mereka hingga aktivitas sosial mereka. Cukup bagus untuk melatih kepekaan sosial kita. Bahkan seorang anggota Klab Aleut tak kuasa menahan rasa penasarannya untuk mengetahui isi MCK di perkampungan tersebut. Padahal isinya gak akan jauh2 amat dari suatu aktivitas rutin manusia,,,</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30183282&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=84587446033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=84587446033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs036.snc1/4331_1081915282658_1069614412_30183282_1688692_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Rasa penasaran membawa bencana, jangan ditiru !</div>
</div>
<div>
<p>Sampailah kita di suatu lorong buatan Belanda bernama Terowongan Cibarani. Lorong ini lurus menembus sebuah bukit, dengan tinggi kira-kira 1,5 meter, dan ketinggian air di dalamnya selutut. Tidak ada yang menempati gua ini kecuali laba-laba, dan memang tidak ada maksud untuk ditempati siapapun, karena tujuan pembuatan gua ini adalah sebagai saluran air semata.</p>
<p>Kami melalui terowongan ini dengan tertatih-tatih, dengan suasana pengap dan gelap, entah apa yang menanti kita di dalam, beberapa teman dan saya yang tidak memakai sendal cukup khawatir dengan serpihan beling yang mungkin terserak di dalam terowongan. Tetapi kekhawatiran tersebut terbukti tidak terjadi. Kami dapat melalui gua dengan selamat sentausa. (Punten fotonya ngmbil dari koleksi orang..)</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30183288&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=84587446033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=84587446033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs036.snc1/4331_1081917282708_1069614412_30183288_6125772_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Para penghuni terowongan  Cibarani</div>
</div>
<div>
<p><strong>&#8220;Sueger Tenan !&#8221;&#8230;</strong></p>
<p>Dari sini kita melanjutkan perjalanan ke sebuah Pintu Air buatan belanda bernama Watervang Cilimus. Pintu air ini tidak lagi berfungsi, tetapi bagi kami tetap saja bangunan ini berfungsi sebagai objek berfoto yang cukup menarik.</p>
<p>Tanpa banyak menghabiskan waktu, para Pegiat Aleut bergegas melanjutkan perjalanan, &#8220;CaaaP CUuuuuSSss !&#8221;</p>
<p>Kali ini kita sampai di sebuah PLTA Tanggulan, yang lagi-lagi dibangun Belanda. Di tempat inilah, kami harus melewati sebuah jembatan yang dibuat dari tong-tong bekas. Sungguh mengharukan&#8230;</p>
<p>Kami harus menyebrangi aliran air keluaran dari PLTA tadi. Beberapa rekan : Adi, Yanto dan Budi&#8221; langsung sigap menyiapkan tali guna membantu peserta menyebrangi aliran sungai. Hingga tibalah saatnya bagi saya untuk menyebrangi aliran air tersebut. Entah apa yang ada di benak saya, sehingga saat tiba di tengah-tengah aliran, mungkin akibat pengaruh begadang dan kesalahan teknis, tubuh ini kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Alhasil, sepatu, celana dan baju saya ikut terendam bersama isi-isinya&#8230; PEristiwa ini menjadi pemandangan yang cukup menarik bagi para pegiat , sayangnya tidak ada siaran ulang, hahaha&#8230;. Untunglah dompet dan hp saya selamat, walau celana basah hingga ke dalam-dalam. Setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil :</p>
<p>1. Jangan begadang sebelum perjalanan jauh, karena akan mempengarhui kondisi psikhis anda.</p>
<p>2. Bawalah pakaian ganti di setiap perjalanan alam, karena tidak ada factory Outlet yang buka di kawasan ini.</p>
<p>3. Jagalah keselamatan anda, hati-hati, jangan maceuh ! Bahkan saya yang cukup berpengalaman ngaleut selama bertahun-tahun bisa saja mengalami insiden tersebut. Intinya : Tidak ada manusia yang sempurna, yang sempurna cuma Tuhan dan Rokok.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30183299&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=84587446033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=84587446033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs036.snc1/4331_1081924002876_1069614412_30183299_6997535_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>CihuYYYyy !!</div>
</div>
<div>
<p>Dengan kebasahan yang amat sangat, saya melanjutkan perjalanan ke Curug Dago, dengan singgah sejenak di warung awi, sekalian menjemur celana supaya tidak masuk angin.</p>
<p>Mengenai curug dago ini, sudah saya bahas dalam karya saya sebelumnya yang membahas survey aleut menyusuri sungai Cikapundung (hehehe, bilang aja males nulis)<br />
Sayangnya aliran curug ini tidak sederas terakhir kami ke sini, mungkin akibat pengaruh cuaca.</p>
<p>Yah, di tengah hari ini mulai terdengar suara demonstrasi dari dalam perut, pertanda cacing2 tengah protes menuntut pemenuhan konsumsi. Baiklah, saya dan pegiat lain mulai membuka bekal masing2, ada pula yang belanja di tempat. Terlihat beberapa pegiat menyuapi pegiat yang lain, sungguh romantis tetapi miris bagi pegiat lain, hahaha</p>
<p><strong>KISAH ARI &#8211; ARI SANGKURIANG</strong></p>
<p>Di tengah2 perjalanan pulang, di suatu warung yang lalu, saudara Taufanny terpikat oleh seorang wanita kembang desa bernama Bu Euis,, tanpa banyak tanya, ia langsung melakukan pendekatan dengan menanyakan &#8220;Bu, nami kampung ieu teh naon?&#8221;. gayung bersambut, pertanyaan tersebut menuai penjelasan panjang lebar mengenai asal nama kawasan tersebut &#8220;sanghiang santen&#8221; , ternyata berasal dari eksistensi situs bebatuan yang dipercaya sebagai titisan ari-ari sangkuriang yang legendaris.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30183499&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=84587446033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=84587446033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs036.snc1/4331_1082090887048_1069614412_30183499_5974797_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Sang Kembang desa tengah berkisah</div>
</div>
<div>
<p>Tidak banyak yang mengetahui sejarah batu-batu mistik ini, bahkan penduduk sekitar. Kurangnya kepekaan sejarah membuat situs ini tidak terpelihara, sebuah batu bahkan ditimpa meja, dan lainnya ditembok serta dikeramik, memang kreaif, tetapi tidak solutif&#8230;</p>
<p>Setelah cukup lama menginterogasi Ibu Euis, para pegiat pun melanjutkan perjalanan pulang, dengan melalui jalanan yang menanjak sekitar 45 derajat. Buset !</p>
<p>Ahh,, akhirnya tiba di sumur bandung 4, setelah melakukan sharing singkat, para pegiat pun pulang ke rumah masing-masing,, Beberapa pegiat meluangkan waktu untuk jajan batagor bersama. Anehnya, tepat setelah matahari terbenam, entah kenapa saya tiba2 tidak sadarkan diri,, semuanya gelap&#8230;</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30183276&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=84587446033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=84587446033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs036.snc1/4331_1081913842622_1069614412_30183276_3354733_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Potret Kondisi Perkampungan Urban</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyusuri Cikapundung Part I (03.05.09)]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/menyusuri-cikapundung-part-i-03-05-09/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:41:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/menyusuri-cikapundung-part-i-03-05-09/</guid>
<description><![CDATA[By : Natasha Dilla A Wijayabrata “Malam ini aku harus tidur cepat”, pikirku setelah menunaikan ibada]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div></div>
<div>By : Natasha Dilla A Wijayabrata</div>
<div></div>
<div>“Malam ini aku harus tidur cepat”, pikirku setelah menunaikan ibadah solat isya. Terdengar ketukan seseorang di pintu kamarku. Ternyata ibuku. “Mau dibikinin apa buat besok?”, tanya beliau. “Emm.. apa aja lah!”, jawabku sekenanya. Tiba-tiba ibuku mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya, “Nih, beli makanan kecil atu jig di Alfa buat besok!”. Segera aku melompat dan menyambar lembaran uang kertas tersebut dari tangannya.</p>
<p>Air mineral, sebotol Love Juice, keripik Lays, kue kesukaan widi (kebetulan aku juga suka), dan permen adalah beberapa item yang kubeli untuk perjalanan aleut besok. Besok, kami akan menyusuri Sungai Cikapundung, mulai dari Babakan Siliwangi sampai Curug Dago.</p>
<p>Setelah menyetel alarm di hape, aku segera memejamkan mata.</p>
<p>Terdengar alunan musik ”Dew” dari hapeku. Aku bangun dari tempat tidur dan hendak memasak air panas untuk mandi. Sesampainya di dapur, aku melihat ada seseorang yang telah mendahului niatku itu. Ibuku yang melakukan hal itu rupanya. Tanpa basa-basi, aku segera kembali ke kamar, tidur lagi&#8230;. Zzzzz.</p>
<p>Pukul lima subuh, aku mandi. Setelah sarapan ala kadarnya, aku berangkat menuju Sumur Bandung Straße Nummer vier. Di depan jalan, terlihat chaching sudah menungguku ditemani ayahnya. Setelah berbasa-basi mengenai keterlambatanku, kami segera menyetop angkot menuju kediaman sang koordiantor aleut.</p>
<p>Terlihat sekumpulan orang memenuhi halaman kediaman sang koordinator. ”Assalammualaikum.” teriakku ketika sampai di dekat kerumunan tersebut. ”Dik, dari Unpad ya?” kelakar Bang Ridwan, salah seorang dari kerumunan tersebut. ”heheh.. iya, Pak” jawabku singkat.</p>
<p>Kami dikumpulkan dalam sebuah lingkaran kecil di halaman rumah Ayan, koordinator Aleut. Berdoa adalah hal yang wajib dilakukan sebelum mengerjakan sesuatu. Kamipun berangkat menuju tujuan pertama, ”Circle K”. Bagi teman-teman yang hendak membeli perbekalan, sekaranglah saatnya. Setelah sempat berfoto di depan halaman ”Circle K”, kamipun capcus melanjutkan perjalanan kami.</p>
<p>Tiba di jembatan Babakan Siliwangi, sempat kami berhenti untuk memilih jalan mana yang akan kami tempuh. Jalur kanan sungai adalah jalur yang kami pilih saat itu. Dalam penglihatanku, jalan itu terlihat agak licin. Aku membiarkan Mete jalan di depanku agar bisa ”membimbing”ku ke ”jalan yang benar”. Sesekali aku menyibakkan dedaunan yang menghalangi jalanku. Di depan kami, jalan turunan menghadang. Wah ”ujian pertama”, pikirku dalam hati. Sempat terlintas pikiran untuk ”menyerah” di dalam benakku. Untunglah pikiran tersebut tidak bertahan lama di benakku (maenya we karek ge sakieu geus menyerah, heu). Segera aku menyambut tangan Mete yang sudah menjulur sedari tadi hendak membantuku menuruni turunan tersebut. ”Pake dua tangan ahh!” pintaku padanya seraya menjulurkan kedua tanganku. HAP! Aku meloncat sekuat tenaga. Aku mendarat dengan sukses di dataran tanah basah yang agak licin. Kemudian satu-persatu, pegiat aleut yang lainnya melakukan hal yang sama. Aku tidak menyangka masih ada pemandangan seperti ini di kota besar seperti Bandung. Sawah-sawah, kolam kecil, WC yang hanya ditutupi karung. Pokoknya desa banget deh!</p>
<p>Sampailah kami di sebuah sungai dengan aliran kecil, Sungai Cibarani, begitulah sungai itu disebut. Setelah mendengar sedikit penjelasan tentang sungai tersebut (sebenarnya aku ga ngedenger, da ga kedengeran, hehe), Bang Ridwan memberi pilihan kepada kami semua. Apakah kami akan melanjutkan perjalanan melalui jalanan kering, atau berjalan kukucuplakan, nganclum di sungai yang memiliki terowongan, lebih tepatnya saluran air berupa terowongan mirip gua kecil. Kami semua sangat tertarik untuk melewati terowongan tentu saja. Selain penasaran, manusia kan paling suka maen aer ato ga maen api. Aku sangat ingin kukucuplakan, tapi aku sempat dihinggapi ketakutan kacugak beling, karena perjalanan melalui terowongan air ini, mengharuskanku membuka sepatu, karena aku embung sepatu aku kebasahan. Setelah diyakinkan oleh Bang Ridwan bahwa di sungai ini tidak mungkin ada beling, akupun yakin untuk kukucuplakan. ”Bismillah.” Ternyata kekhawatiranku memang tak menjadi kenyataan. Aku berhasil sampai di ujung terowongan dengan selamat. ”Alhamdulillah.” aku memuji Allah SWT. Di ujung terowongan, aku sempat berfoto untuk bukti bahwa aku pernah melewati terowongan saluran air Sungai Cibarani. Mungkin penghuni tunggal terowongan tersebut sempat mengeluh karena sarangnya agak rusak oleh kami. Yup! Spider webs melintang di sepanjang langit-langit terowongan tersebut.</p>
<p>Perjalanan kami lanjutkan di sisi kiri sungai Cikapundung. Banyak lumpur juga ternyata. Kakiku terjerembab ke dalam lumpur yang untungnya tidak terlalu dalam. Tapi sepatu dan kaos kakiku menjadi korban dari lumpur tersebut, KOTOR! (untung kaos kakinya murah, dapet beli di Paun, hehe). Walaupun begitu, kotor tidak menjadi masalah buatku. Akhirnya sampailah kami di pintu air Limoes ya kalo ga salah. Setelah sempat berfoto-foto, satu-persatu dari kami menaiki tanjakan dengan bantuan seutas tali yang telah dipersiapkan oleh salah seorang dari kami. Sesampainya di atas, kami tak kapok untuk berfoto kembali (iraha deui). Persawahan menyambut kami kembali, setelah sebelumnya kami melewati komplek perumahan yang lumayan bagus. Aku sempat bingung bagaimana cara mereka menembus jalan raya dari sini, karena melihat track yang tadi kami lalui, rasanya sangat mustahil jika mereka melewati track yang kami lalui jika ingin ke kota (kabayang!). Tapi ternyata, ada jalan keluar masuk yang bisa dilalui kendaraan. Oohhh&#8230;.</p>
<p>Setelah melewati sengkedan-sengkedan, kami bertemu kembali dengan Sungai Cikapundung, kali ini kami melewati jalur disebelah kanannya. Beberapa puluh meter kemudian, kami diharuskan menyebrangi jembatan yang dibuat dari drum-drum minyak bekas (sungguh memprihatinkan). Dilanjutkan dengan melawan arus sungai dibantu dengan seutas tali yang akan membantu menjaga keseimbangan kita. Satu-persatu dari kami melewatinya dengan sukses. Giliranku tiba. Yeay Yippie suksess!! Tetapi hal itu berbanding terbalik dengan teman yang berada tepat di belakangku. Sungguh ironis. Dia tigujubar ke sungai. Entah apa yang membuatnya tigujubar. Air sungai menenggelamkan tubuhnya, dan hanya menyisakan kepalanya. Semua yang dipakai dan dibawanya basah kuyup. Gelak tawa semua pegiat aleut yang melihat kejadian tersebut berhamburan, seakan tak peduli dengan kemalangan yang menimpa salah seorang dari rekan mereka. Tetapi sesungguhnya aku sedih (sedih atau terhibur? Yah, beda-beda tipislah, peace!). Mengapa dia harus mengalami hal yang malang untuk kedua kalinya, heuheu. Untung hape-nya ga rusak lagi. Tak perlu kusebut siapa orangnya. Karena semua sudah tau bukan siapa orangnya. Bahkan malaikat juga tau.</p>
<p>Sampailah kami di warung, yang jika dihitung, itu adalah warung yang ke&#8230;. berapa ya? Aku lupa. Beristirahat sejenak dan jajan adalah tujuan utama kami berhenti di warung tersebut. Beberapa dari kami ada yang duduk selonjoran, jajan, minum, ngopi, dan ada juga yang moé awak dan baju yang basah akibat tigujubar di walungan. Perjalanan dilanjutkan&#8230;.</p>
<p>Singkat cerita, sampailah kami di Curug Dago. Ada pemandangan yang tidak enak buatku ketika sampai disana. Para remaja SMP, istilah sekarang sih ABG, terlihat duduk-duduk di sebuah Gazeebo, asumsiku sih mereka lagi bobogohan. Miris uy ngeliatnya. Mereka kan belum cukup umur untuk bobogohan. Yang lelaki merangkul perempuan di sebelahnya. Ga enak deh ngeliatnya. Males. Yasudlah.</p>
<p>Untuk mencapai curug ini, kami harus menuruni dan menaiki berpuluh-puluh tangga. Kondisinya sangat buruk. Licin, tidak ada pegangan, sangat tidak aman bagi siapapun yang menggunakannya. Di anak tangga terakhir, kami disambut oleh prasasti batu yang bertuliskan aksara Thailand di atasnya. Konon, tempat ini pernah disinggahi oleh Raja Chulalonkorn (Rama V) dan Pangeran Prajathipok Paramintara (Rama VII) dari Thailand. Prasasti ini lumayan terawat, karena dibangun bangunan beratap mirip Gazeebo dan kaca sebagai dinding di sekelilingnya. Di salah satu sisi kacanya, terdapat tulisan yang memberitahukan bahwa tempat itu pernah disinggahi oleh raja dan pangeran Thailand. Ada tiga bahasa kalo ga salah, bahasa Thailand, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Sayang sekali, suasana yang didapat kurang begitu dramatis. Curug Dago berkesan biasa saja. Padahal menurut beberapa pegiat aleut yang sebelumnya pernah kesini, ketika itu mereka disuguhi kabut dan embun di sekeliling Curug Dago. Mungkin karena pada perjalanan kali ini, kami ditemani udara yang cukup panas, maka suasana dramatis yang kuharapkan tak muncul pada saat itu. Debit air yang jatuh dari ataspun terlihat kecil.</p>
<p>Saatnya membuka bekal. Waktu makan telah tiba. Tempat yang dipilih untuk makan siang cukup unik, yaitu di pinggiran sungai yang kering. Kabayang mun ada air bah, bisa-bisa kami semua tersapu oleh derasnya air bah, tapi moal mungkin. Sebagian dari kami yang tidak membawa bekal dari rumah, dengan terpaksa membeli makanan yang ada di warung yang tak jauh dari tempat kami makan. Tempatnya PW kata aku mah. Jadi betah diem lama-lama disitu. Tapi kami tak bisa berlama-lama. Segera setelah santap siang dan sedikit ngaso, kami semua beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, pemandangan yang disuguhkan tidak jauh berbeda dari pemandangan-pemandangan sebelumnya. Suasana pedesaan masih setia menemani kami. Rumah-rumah penduduk yang sangat padat kembali menyambut penglihatan kami. Ada kisah unik pada saat perjalanan pulang. Kami menemukan sebuah batu, sebenarnya ada tiga buah, yang dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai jelmaan dari bali Sangkuriang (”bali” dalam bahasa Indonesia berarti tali pusar). Kondisi situs itu sangat memprihatinkan. Terdapat di dalam rumah warga. Salah satu batunyapun sudah raib tertimbun ubin rumah. Bahkan sang empunya rumah tersebut tidak mengetahui kisah dibalik batu-batu tersebut. Merupakan kisah yang mungkin tidak banyak orang yang tau.</p>
<p>Tibalah kami di Jalan Kiputih, daerah Ciumbuleuit. Dari situ, kami menyewa angkot untuk kembali ke kediaman koordiantor aleut di Jalan Sumur Bandung Nomor 4. Dua angkot sewaan segera meluncur menuju Sumur Bandung. Tiba disana, kami berbagi kesan-kesan selama perjalanan.</p>
<p>Akhirnya sampai juga di rumah tercinta. Cape. Pengen mandi aer anget. Setelah mandi, kusempatkan diri untuk menyembah Sang penguasa alam. Setelah itu, aku tak sadarkan diri di kasur. Saat kubuka mata, waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Linglung. Aku pikir sudah pagi.</p>
<p>Sungguh perjalanan yang mengesankan&#8230;.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30165735&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=78201238923&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=78201238923&#38;id=1414686465"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v3767/12/16/1414686465/n1414686465_30165735_3861729.jpg" alt="" width="434" height="244" /></a></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ngatjaproek ekspedisi tjikapundung]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/ngatjaproek-ekspedisi-tjikapundung/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:38:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/ngatjaproek-ekspedisi-tjikapundung/</guid>
<description><![CDATA[By : Elgy Adrian 38 jam-30 menit-54 detik sebelum ekspedisi cikapundung II ………………… Gumpalan awan men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : Elgy Adrian</div>
<div></div>
<div></div>
<div>38 jam-30 menit-54 detik sebelum ekspedisi cikapundung II</p>
<p>………………… Gumpalan awan mendung diiringi cahaya kilat dan suara menggelegar serta ribuan butiran H2O yang menyerang permukaan bumi tidak menyurutkan aku dalam melaksanakan tugas suci yang harus ku emban hari ini. Jam menunjukan pukul empat lewat seperempat, akhirnya kusiapkan tekad untuk menjalankan misi ini dengan penuh semangat…….. Cayoooo….</p>
<p>Kulirik jam dinding berbentuk kotak dengan dominan warna putih serta sedikit warna emas yang menghiasi ke empat sudutnya, tak terasa waktu telah menunjukan 04.50 pm. Ini merupakan waktu yang tepat untuk melaksanakan misi suci memburu pendekar pedang dari negeri antah berantah yang dalam misi sebelumnya aku dipecundangi oleh dia secara brutal dan tidak bernurani….Aaaaaggghhh…. Dia merupakan pendekar pedang yang berdarah dingin, menebas habis semua musuhnya dengan hanya satu jurus…entah jurus apa itu….aku juga tidak mengerti…dalam jarak sekitar 3 m dia dapat mencederaiku sebegitu parahnya…apalagi bila ia telah melakukan kontak fisik secara langsung aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa….yang ada hanya kepasrahan…kehampaan…ketidakmampuan…dan akhirnya inalillahi T_T……….dengan kemampuan yang sebegitu dahsyatnya kunamai pendekar tersebut Axe si tukang jagal.</p>
<p>Dengan pengalaman yang telah aku dapat sebelumnya tentang Axe si tukang jagal, kusiapkan beberapa doping penting yang harus menyertaiku dalam perjalanan ini….secangkir minuman dengan warna hitam pekat yang dapat meningkatkan adrenalin serta sebungkus besar makanan ringan dengan logo macan tutul bergaya dengan kaca mata hitamnya yang dapat meningkatkan energy…….<br />
Jumat pahing, 05.00 pm. Aku sudah berada di new world 6.59 AI plus 1.52 Rev 01. w3x. Dengan penuh semangat dan dendam membara kuselusuri semak belukar…hutan-hutan serta daratan tandus untuk menemui Axe si tukang jagal….kuhancurkan semua antek-antek yang bersekutu dengannya tanpa sisa……tiba-tiba….terdengar bunyi yang tidak asing dan mengusik perhatinku….kudekati sumber bunyi tersebut dan kucoba cari tau ada info apakah gerangan……</p>
<p>From : +628562027XXX<br />
“ Menyusuri Cikapundung#2 : telusuri kampung urban kota mulai dari bbkn siliwangi-wastukencana-braga. Minggu , 10 mei @sumur bdg no 4, Jm 06.55, bw pralatn hujan&#38;mkn+mnum”<br />
Wah ternyata ada misi level hokage yang harus kukerjakan pada hari minggu ini, sebagai pegiat aleut yang penuh motivasi tinggi akhirnya kuputuskan akan mengikuti ekspedisi cikapundung II tersebut…..cihuuuuiii ulin deui uy.</p>
<p>O iya untuk pertarungan ku dengan Axe si tukang jagal tentunya kini kemenangan ada di tanganku…..hahahaha (Sumringah pisan padahal mah karek meunang sakali)</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435415&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146630300380_1066227173_435415_2088349_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Dota Allstar game online terfavorit 2007-2008</p>
<p>1 Jam-55 menit-30 detik sebelum ekspedisi cikapundung II</p>
<p>Minggu kliwon, 05.35 am. …….Kuparkirkan macan merah tersayang dibawah sebuah pohon rindang dan tidak lupa mengkunci ganda di bagian piringan cakramnya. Akupun bergegas dengan impun (Asep Nendi) menuju sebuah pintu kamar dengan arsitektur kolonial yang sudah cukup tua….<br />
Tok..tok..tok….si impun mengetuk dengan kencang pintu kamar tersebut sedangkan aku mencoba mengintip kedalam melalui celah kaca pintu, apa sang penunggu rumah terebut berada di dalam kamar….tiba-tiba munculah sesosok wujud yang kukenal sejak semester satu aku kuliah, seseorang dengan wajah lusuh…rambut acak-acakan…dan tidak lupa kaca mata minus yang menempel diwajahnya….ku panggil dia Sodara (M.Rizki) nama trend dia di kampus tercinta, adapun sejarah pemberian nama tersebut sangatlah panjang dan sangat berliku, tetapi yang pasti akulah salah satu dari empat genkgonk yang berkonspirasi menjuluki dia dengan nama tersebut…hahahaha.<br />
Kembali ke dalam cerita, kami pun akhirnya memasuki kamar yang sudah tidak asing lagi yang juga merupakan base camp klub aleut selama ini. Kamar yang dipenuhi dengan berbagai persenjataan lengkap bagi para pengunjung dalam mendapatkan informasi….dari informasi mengenai Holoucous (sory mun penulisanna teu bener) sampai informasi mengenai maria ozawa….hehehe teu ketang eta mah……………………………………………………………….</p>
<p>“ Ki ngilu mandi nya” tiba-tiba ci impun dengan wajah pikaseubeuleun dan dengan senyum khasnya meminta izin sang penunggu rumah untuk ikut numpang mandi. O iya kami berdua memang tidak berangkat dari rumah masing-masing akan tetapi baru saja mengikuti pertemuan LKMM, singkat kata merupakan sebuah program HIMA di kampus kami, berupa pelatihan bagi angkatan baru yang diselenggarakan di daerah lembang.</p>
<p>Minggu, 06.55 am ……waktu sudah menunjukan pukul tujuh kurang lima menit….dan kawan-kawan pegiat aleut lain belum berdatangan….akhirnya aku memutuskan untuk sedikit berselancar di dunia maya mencari informasi yang sangat bermanfaat bagiku…..informasi yang sangat penting dan selalu memberi kepuasan batin melebihi kenikmatan saat seseorang sedang PUB di kamar mandi pagi-pagi….set..set.set…kuketik secepat kilat www.mangashare.com tak lama kemudian aku pun login dan mendapatkan sederet informasi yang sangat berharga…..akhirnya kugeser mouse ke arah link download naruto chapter 446….dan kupencet enter.</p>
<p>Sebari menunggu proses download yang masih setengah jalan ci impun mencoba ikut nimbrung dan mencoba ngetag sebuah foto yang akan menjadi berita besar di kampus kami…..yang akan mengagetkan beberapa pihak dan bahkan pejabat kampus kami…..sebuah gossip yang akan mengalahkan kasus cinta segitiga Antasari Azhar yang begitu hangat dibicarakan di layar kaca akhir-akhir ini. Dan kami pun berkonspirasi membangun opini publik atas foto fenomenal tersebut…..hahahaha (devil mode: on)….(foto fenomenal tersebut bisa dilihat di foto wall ci impun teangan we nu rea koment na.)</p>
<p>Menjelang keberangkatan Ekspedisi Cikapundung II</p>
<p>Minggu, 07.15 am setelah menunggu beberapa lama akhirnya para pegiat pun berdatangan, ada beberapa yang kukenal dan ada beberapa pula yang tidak kukenal sepertinya mereka baru kali ini mengikuti kegiatan ngaleuut ini…….Tak lama kemudian sang koor Sodara pun memimpin breafing sebelum keberangkatan, dengan dimulai kata bijaknya yang sangat terkenal “Baiklah…”</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435498&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146674821493_1066227173_435498_3537259_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Minggu, 07.30 am Kami pun mulai bergerak menuju CK sebuah franchisee shop yang buka 24 jam yang berada tidak jauh dari base camp saat kita berkumpul….beberapa pegiat membeli perbekalan untuk perjalanan ngaleut ini…aku pun membeli beberapa item disana….ya lumayan lah buat ganjel-ganjel perut selama perjalanan.</p>
<p>Minggu, 07.45 am Rombongan aleut mulai bergerak menuju Babakan Siliwangi….itu merupakan tempat awal kami melakukan ekspedisi…tetapi untuk saat ini kami mengambil arah kiri menuju arah cihampelas-wastukencana-braga.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435413&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146630220378_1066227173_435413_3966391_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Minggu, 07.55 am Kami kini telah berada di Babakan Siliwangi…..terlihat kejauhan perumahan padat penduduk yang tidak karuan dengan arsitektur apa adanya di sepanjang bantaran sungai cikapundung……aku pun terus berjalan menuju bibir tebing&#8230;.eh lain tebing, naonnya….bibir bukit mereun…da lumayan curam oge…untuk melihat secara jelas ada apa gerangan di bawah sana…tiba-tiba beberapa pegiat aleut cekikikan mengganggu nalarku saat menerawang fenomena yang ada di depan mata ini……Wae ketang…..ouw..ouw setelah bertanya apa yang membuat mereka begitu senangnya ternyata..eh ternyata……auuuw<br />
beut,..beut…beut tanpa pikir panjang langsung ku keluarkan benda hitam berbentuk kotak dan berlensa dari tasku kemudian kuarahkan menuju objek yang membuat sebagian pegiat aleut tergelitik, ku zoom semaksimal mungkin….. dan akhirnya kudapatkan obyeknya…hahaha</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435501&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146676301530_1066227173_435501_1247663_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435503&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146676541536_1066227173_435503_1722388_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Dari kedua gambar diatas ada beberapa hal yang bisa kita petik : pertama, jam 7-8 am merupakan waktu yang tepat untuk memberi makan ikan di sungai cikapundung. Kedua, tidak jauh berbeda dengan masyarakat perkotaan waktu-waktu seperti ini merupakan kondisi yang sempurna untuk mengeluarkan energy berlebih di dalam tubuh. Ketiga, berbeda dengan masyarakat perkotaan yang lebih suka di dalam ruangan sempit, masyarakat disini lebih memilih tempat terbuka dengan alasan sirkulasi udara lebih lancar sehingga memudahkan proses pelepasan energy……..^_^ v</p>
<p>Minggu, Sekitar 08.15 am Saat ini kami telah memasuki pemukiman warga yang sangat padat…kami berjalan melalui lorong-lorong sempit…naik-turun….turun naik….nyerong kiri….kadang-kadang nyerong kanan…jalan begitu kecil sehingga kami harus berhati-hati….apalagi bila melewati warga yang kebetulan sedang berada di luar rumah…kita harus bersikap santun dan sebisa mungkin tidak mencolok….akan tetapi karena pegiat yang mengikuti perjalanan ini cukup banyak yaitu lebih dari 20 orang…angger we jadi pusat perhatian warga sekitar. Seperti warga pribumi berikut ini yang merasa tertarik terhadap para pegiat aleut yang melewati rumah mereka dalam hal ini terutama para pegiat wanita.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435448&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659221103_1066227173_435448_5945832_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Gambar di bawah ini menunjukan betapa semrawutnya bangunan rumah yang ada di wilayah bantaran sungai cikapundung….kalo kata Mr. Be-eR sebagian besar bangunan yang ada di sekitar bantaran Sungai Cikapundung ini tidak memiliki surat izin mendirikan bangunan….yang menjadi pertanyaan naha bisa aya bangunan didinya? sok mangga lah engke dibuka forum diskusina di grup klub aleut wae nya……………..</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435414&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146630260379_1066227173_435414_3840273_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>O iya sebelumnya ada hal lain yang membuatku tertarik….yaitu ada beberapa warga yang memanfaat kan sungai cikapundung untuk media perkembangbiakan gold fish…dengan membangun semacam keramba yang terbuat dari bambu maupun kayu yang dirancang sedemikian rupa sehingga ikan dapat hidup didalamnya….berikut ini fotona….mangga</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435447&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659181102_1066227173_435447_8308802_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>minggu, Sekitar 09.05 am …………setelah cukup lama berjalan melalui lorong-lorong sempit dan berliku….tiba-tiba dari kejauhan terlihat sebuah bangunan dengan cat warna-warni yang cukup mencolok…akan tetapi setelah semakin mendekat dan terus mendekat yang terlihat hanya seperti onggokan bangunan tua yang tidak terawat bahkan telah di bongkar. Begitu banyak sekali bongkahan-bongkahan gedung berserakan dimana-mana ditambah alang-alang yang menghiasi gedung semakin membuat gedung tersebut terasa tidak memiliki nilai….padahal setelah mendengar cerita dari Mr. Be-eR, ini merupakan tempat pelesiran zaman baheula kanggo bule-bule walanda dan memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi lho. Tapi naha di bongkar nya…lainna dilestarikeun wae….ah dasar Da2 Rose da teu baleg…..(mencoba mencari kambing hitam)</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435450&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659301105_1066227173_435450_826114_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Tidak jauh dari tempat aku motret-motret gedung tua ini, terlihat sosok seorang paruh baya yang sedang sibuk mengumpulkan bongkahan gedung , entah untuk apa dia mengumpulkan bongkahan tersebut…tapi yang pasti para pegiat aleut mencoba mencari tahu apakah sang pangeran paruh baya tersebut memiliki informasi berharga yang dapat menghapuskan dahaga para pegiat aleut mengenai sejarah…. Namanya bapak Endang, merupakan warga yang tinggal di sekitar komplek pemandian Tjihampelas (bahasa keren na kolam renang cihampelas),… dengan perawakan yang masih cukup kekar ini dia sedikit bercerita mengenai gedung tua tersebut….yang intinya mah teu jauh beda jeunk kata-kata Mr. Be-eR…….bahwa pemandian ini merupakan pemandian tertua di kota bandung yang telah lama berdiri sejak jaman walanda…. Hmmm cerita pemandian ini cukup mengusik benakku yang semakin mumet karena penasaran….akhirnya akupun berniat mencari tahu, naon wae nilai sejarah yang terkandung di dalam gedung pemandian tjihampelas ieu …….</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435449&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659261104_1066227173_435449_6713300_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>23 jam-34 menit-20 detik setelah ekspedisi cikapundung II</p>
<p>Senin, 01.30 pm aku berada di kampus tercinta, aku duduk berdua bersama temanku dan bersender pada dinding tebal gedung DEKANAT….gemericik hujan menambah suasana romantis hari itu….tapi ada hal yang sangat salah dalam konteks cerita ini…yang menemaniku adalah babon (Eki) padahal yang kuharapkan dalam suasana seperti ini, seharusnya aku bersama bidadari cantik dari khayangan…hiks…hiks T_T…nasib…nasib…tetapi apa daya…kembali ke cerita….teringat perjalanan kemarin bersama klub aleut, ada hal yang membuatku sedikit penasaran mengenai Pemandian Tjihampelas…bagaimana sih sejarahnya pemandian tersebut….aku masih belum banyak tau,..maklum lah kan ga punya basic sejarah dan baca buku2 sejarahpun terbilang sangat jarang….hhmmm berhubung di kampus ada hot spot yang lumayan kenceng….akhirnya ku keluarkan sahabat terbaiku yang selalu menemani di saat suka maupun duka…dia merupakan benda yang selalu memberiku informasi dan membantuku dalam penyusunan skripsi serta yang selalu menyokongku di saat aku berada dalam kenestapaan hidup….dialah Mr acer.</p>
<p>…… kini aku telah berada di dunia maya yang penuh akan informasi….aku pun segera mencari tahu informasi mengenai Pemandian Tjihampelas….hmmm ternyata hanya ada sedikit saja artikel yang membahas pemandian ini…tapi gpp lah cukup lumayan memuaskan dahagaku….thanks a lot to google. Dari hasil penelusuranku di google diketahui bahwa kompleks pemandian ini dulunya bernama Eropa Zwembad dimana kolam renang ini menjadi tempat berkumpulnya warga eropa dan walanda pada masa penjajahan. Adapun sejarah penamaan kompleks pemandian tersebut berawal dari nama pohon hampelas yang tumbuh subur di daerah tersebut sehingga disebut cihampelas. Pohon ampelas ini pada zaman baheula berkumpul di dekat mata air, namun pada tahun 1898 air yang melimpah tersebut dijadikan sumber air bagi kolam renang yang kemudian dikenal Eropa Zwembad. Pada zaman kejayaannya pemandian tjihampelas ini sangat eksklusif karena hanya diperuntukan bagi bangsa eropa dan walanda, sedangkan penduduk pribumi dilarang memasuki kawasan tersebut coz mereka menganggap pribumi nista seperti hewan dan tidak layak untuk bergabung bersama mereka….haseum ahh</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435416&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146630340381_1066227173_435416_4354866_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435505&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146679221603_1066227173_435505_5922403_n.jpg" alt="" width="437" height="248" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Gambar bagian atas merupakan wajah pemandian tjihampelas pada tahun 1904, sedangkan gambar di sebelah bawah adalah wajah pemandian tjihampelas pada saat aku menjalankan misi bersama klub aleut. Dari hasil surfing di dunia maya diketahui juga bahwa pemandian ini semula dimilki oleh warga belanda yaitu Ny Homann, istri pemilik Hotel Savoy Homann. Ada tiga unit kolam di pemandian yang dibangun tahun 1902 ini. Kolam pertama berukuran standar internasional, 25 x 50 meter, dengan kedalaman yang bervariasi mulai 1,2 hingga 2 meter. Kolam kedua berukuran 12 x 12 meter, berkedalaman 1,1 meter. Kolam ketiga berukuran 8 x 3 meter, berkedalaman 80 cm, khusus diperuntukkan bagi anak-anak.</p>
<p>Kembali pada saat perjalanan ekspedisi cikapundung II</p>
<p>Minggu,sekitar 09.15 am Yupz aku masih berada di kawasan Pemandian Tjihampelas…lumayan lah ada sesi pemotretan disini…lagian para pegiat masih betah berdiam dan moto-moto hal-hal yang mereka anggap menarik. O iyah ini beberapa hasil jepretan sayah di kawasan pemandian tersebut , mangga…..</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435451&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659341106_1066227173_435451_2048791_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435452&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659381107_1066227173_435452_3922770_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>serupa tapi tak sama ….coba anda cari perbedaan yang mencolok dari kedua gambar diatas, dan kirimkan jawaban anda ke jln sumur bandung no 4…..hadiahnya menarik…so pasti bngt</p>
<p>Minggu, sekitar 10.20 am …..kami kembali memasuki lorong-lorong sempit pemukiman padat penduduk ….berbeda dengan masyarakat sebelumnya…masyarakat disini memiliki budaya yang sedikit berbeda dengan masyarakat yang ada di babakan siliwangi-cihampelas…mereka sedikit cuek dan bahkan rada kurang suka meureunnya saat para pegiat aleut melewati daerah mereka…tapi ga papa lah….da teu ngaruh oge ka barudak…..haseuuum. Huuuooohhhh akhirnya kita memasuki jalan besar juga …..hmmm sekarang kita beristirahat di sebuah tempat yang bernama jalan merdeka lio….disini Mr. Be-eR sedikit bercerita mengenai sejarah penamaan jalan tersebut….tapi berhubung aku sedikit tidak berkonsentrasi jadi we teu pati ngarti nu dijelaskeun ku Mr Be-eR maklum lah semalaman suntuk belom tidur…kondisi tubuh jadi rada terganggu…hehehe (mencari pembenaran…padahal mah teu merhatikeun). Kalau ga salah sih pemberian kata merdeka tu gara-gara masyarakat disini dibebaskan dari pajak….sedangkan kata lio …..engke…engke poho deui yeuh….urang tanyakeun heula ka ci Sodara nya….ouuhh lio berarti genting…jadi zaman dahulu kala di daerah tersebut terdapat komunitas pembuat genting meureunnya….da ci pak Koor teu jelas mere infona yeuh….engke nanya deui..aahh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Minggu, sekitar 11.15 am ……kami pun melanjutkan misi aleut menuju tempat tujuan awal yaitu braga…dengan semangat yang masih sedikit tersisa, kupaksakan kaki ini melangkah dan terus melangkah…kami pun melewati gang-gang padat penduduk yang tertata lebih rapih dibandingkan dengan pemukiman padat penduduk di bantaran sungai cikapundung…ada pula beberapa rumah yang masih berarsitekturkan tempoe doloe dan sesekali kami berhenti untuk memotretnya…..huuuftt akhirnya terlihat jalan besar di depan….aku pun bergegas dan mempercepat langkah….tap..tap…tap</p>
<p>Minggu, sekitar 11.55 am….ouuyy sekarang aku sudah berada di daerah gedung bersejarah Indonesia Menggugat…. aku bersama pegiat lain memasuki gedung tersebut dan mencoba mencari sesuatu yang menarik untuk diabadikan…..gedung yang cukup tua tersebut menyambut kami dengan beberapa buku dan artikel…maupun foto-foto yang diselimuti oleh pigura dan di pajang di setiap sudut dinding…selanjutnya aku masuk kedalam sebuah ruangan yang sepertinya ruang seminar gitu …yang di bagian depannya terpampang peta Negara Indonesia tercinta….o iya gedung ini merupakan saksi bisu Ir soekarno berkonteplasi dalam menyusun sebuah buku berjudul Indonesia menggugat….(mun aya nu salah mohon dikoreksi we nya)……….dan pada akhirnya seperti biasa kita pun melakukan sesi pemotretan disana……………………mangga</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435455&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659501110_1066227173_435455_1616830_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435458&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659621113_1066227173_435458_572303_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=435456&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=87090356986&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=87090356986&#38;id=1066227173"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs017.snc1/4226_1146659541111_1066227173_435456_1469369_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Minggu, Sekitar 12.15 pm…… cuaca bandung terasa panas saat itu…sepertinya terik sang mentari semakin tidak bersahabat kepada kami….kami terus berjalan melewati jalan-jalan besar kota bandung…melewati beberapa pedagang kaki lima…beberapa warga yang asoy geboy nongkrong di alun-alun….dan segerombolan satpol PP nu eweuh gawe cicing dina truk……dan akhirnya kami nyampe juga di jalan braga…….dan Mr Be-eR mengajak kami memasuki sebuah rumah makan yang namanya aku lupa lagi….rumah makan tersebut memiliki arsitektur yang menarik…beda pokonya mah….kemudian tanpa pikir panjang aku memesan menu ayam seuhah plus tahu tempe dan lalapan yang aku kira akan memberi kenikmatan saat aku memakannya…..akan tetapi ternyata Blunder no El egistiano…. seum… pedes banget makanannya….aahhh siial….sebenernya udah males makannya si…tp kumaha deui tos ka peser jeunk rada awiss deui..terpaksa we di emam….sedangkan sambel super pedes saya limpahkan kepada Mr. Be-eR….karena sudah tidak sanggup untuk mencicipinya….ayamnya aja udah pedes…ditambah sambel super pedes…..seuuummm……….<br />
Selesai makan pak Koor mengevaluasi misi yang telah dijalankan sekaligus memperkenalkan anggota baru aleut dan dua cw anak planologi yang sedang melakukan riset…….yup setelah selesai evaluasi dan perkenalan…..seperti biasa…poto keluargaaa………</p>
<p>Minggu, Sekitar 13.45 pm….aku, abud, Sodara, Yanto dan Impun memisahkan diri dari rombongan pegiat aleut…acara pada saat itu resmi telah selesai dan para pegiat bebas melakukan perjalanan selanjutnya….kami berniat langsung menuju base camp di sumur bandung karena ada beberapa kepentingan lain yang menunggu….tak lama kemudian kami pun menaiki angkot berwarna ungu menuju arah dago….Aaaahhh akhirnya sampai juga di base camp…setelah beristirahat sejenak dan melaksanakan kewajiban 5 waktu…aku pun segera melanjutkan perjalanan ke pulau kapuk… ….Zzzz</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Catatan Perjalanan Pemula: Cikapundung Walk... ]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/catatan-perjalanan-pemula-cikapundung-walk/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:35:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/catatan-perjalanan-pemula-cikapundung-walk/</guid>
<description><![CDATA[By : Kristanti Dwi Putri Whew, kali ini aku si penulis amatir mencoba mendokumentasikan sebuah perja]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : Kristanti Dwi Putri</div>
<div>Whew, kali ini aku si penulis amatir mencoba mendokumentasikan sebuah perjalanan&#8230;</p>
<p>Minggu,10 Mei 2009<br />
7:33<br />
Ngaleut menyusuri aliran Sungai Cikapundung bagian 2 ini diikuti 28 orang pegiat yang sebagian besar masih &#8217;segar&#8217; alias pendatang baru. Seperti biasa, kami memulai perjalanan dari Markas Besar aleut alias Sumur Bandung 4, dan seperti biasa juga ada beberapa pegiat yang mampir ke Circle-K untuk beli perbekalan. Sebenarnya kunjungan ini inisiatif Bang Ridwan (a.k.a Paman Mooi) untuk beli MIZONE, eh ga taunya teman-teman yang lain jadi ikutan ;p (pesan: kalo mau sehat dan kuat kayak BR, perbanyaklah konsumsi MIZONE setiap hari&#8230;)<br />
Oiya, rute kali ini tidak se-ekstrim ngaleut Cikapundung bagian 1 karena sekarang kita mencoba menelusuri daerah pemukiman kota Bandung, bukan menelusuri pesawahan dengan tanjakan dan turunannya yang menyengsarakan itu ;( Rute singkatnya; Pemukiman daerah Babakan Siliwangi &#8211; Wastukancana &#8211; Braga. Pemandunya? Yup, seperti biasa lagi, kita selalu berpedoman pada yang lebih tua jadi siapa lagi kalau bukan BR&#8230; hihi.<br />
Seperti apakah perjalanan kita hari ini?? Hehe, just enjoy and see!</p>
<p>7:36<br />
Kami berjalan memasuki pemukiman melewati jalan pinggir Sasana Budaya Ganesha, dan berhenti sebentar di atas jembatan untuk mengamati sebuah pintu air dan sungai yang (!@#$%^&#38;*). Di atas sungai berdiri rumah-rumah sederhana yang dibangun dengan bahan seadanya; seng, triplek, atau bilik. Teman-teman yang membawa kamera langsung memanfaatkan momen untuk mengabadikan pemandangan unik tersebut. Begitu turun ke pemukiman, kami berhenti lagi di sebuah jembatan dan menyaksikan pemandangan yang sama. Di pinggir sungai saya melihat ada sebuah tambak, dan otak saya langsung berputar; sungai sekotor ini ternyata masih menyimpan potensi, hahaha&#8230; kata BR sih itu tambak ikan mas. Waduh2. Setelah itu kita langsung berhadapan dengan perkampungan penduduk yang sempit nauzubilah, yang gang-gangnya cuma muat untuk lewat satu orang dan gelap banget. Suasananya mirip perkampungan kumuh India seperti yang digambarkan di film Children of Heaven dengan tangga-tangga sempit dan susunan rumah-rumahnya yang terkesan tumpang tindih. Karena nggak ada orang yang nggak suka difoto, sepanjang perjalanan kami tidak pernah melewatkan sesi foto bersama ;p Yang saya rasakan lagi di sini adalah suasana perkampungannya yang sangat kental, di mana terdapat para ibu berdaster yang sedang &#8216;bersocieteit&#8217; di teras rumah sambil mengerjakan pekerjaan dapur seperti memarut, mengiris, dsb. Hiruk-pikuk anak-anak kecil yang sedang berkejar-kejaran juga mewarnai perkampungan ini. Supaya tidak tersesat dan keluar dengan selamat kami mengandalkan informasi dari warga yang umumnya ramah-ramah.</p>
<p>-Memasuki Pemandian Cihampelas d/h Bandoeng Badplaats-<br />
Waduh saya lupa lihat jam. Kami muncul dari belakang gedung Cihampelas Walk dan disambut pohon-pohon bambu. Kami menemukan reruntuhan bangunan yang ternyata adalah bekas bangunan Pemandian Cihampelas. Ugh, sepertinya para investor dan pemerintah kita memang tidak pernah tertarik pada pelajaran sejarah semasa sekolahnya, makanya mereka tidak pernah bisa menghargai sejarah dan cagar sejarah seperti ini main dibabat saja. Kali ini kami mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam pemandian berkat bantuan A Yanto si pemanjat ulung hehe. Banyak hal menarik yang saya temukan di sini. Di antaranya tulisan-tulisan dengan ejaan lama seperti &#8216;Bagian Pria &#8211; Pasti hilang &#8211; Djangan meninggalkan barang-barang di kamar pakaian&#8217;,'Djagalah Kebersihan&#8217;. Dilihat dari ejaannya mungkin itu ditulis sekitar tahun 50an. Juga ada plakat merah besar berbunyi &#8216;Pemandian Tjihampelas&#8217; di atas dinding kolam. Nah yang paling menarik ada sebuah patung besar berwujud Dewa Neptunus sambil menuang air dari gentong yang dipegangnya. Beberapa pegiat langsung mengabadikan dirinya lewat kamera dengan berdiri di samping sang dewa (pasti buat dipajang di Facebook.. haha..) Di pemandian ini terdapat 3 buah kolam. Kolam pertama yaitu kolam tempat patung tersebut berada, kolam kedua dibuat khusus untuk anak-anak karena ada papan luncur pelangi-nya, dan kolam ketiga kolam besar yang dipakai untuk pertandingan. Menurut sejarah, pemandian ini adalah pemandian pertama di Hindia Belanda, dirintis oleh istri pendiri Hotel Savoy Homann pada tahun 1902. Dulu pemandian ini bentuknya masih sederhana, berbentuk empang dan belum ada pagar pembatas hingga kodok dan ular pun bisa masuk dan ikut berenang, hii.. ( Wajah Bandoeng Tempo Doeleoe, Haryoto Kunto )<br />
Teruuss, pemandian ini juga yang dijadikan tempat tes berenang untuk para calon anggota Heiho alias tentara Jepang. Jadi kalo kamu mau jadi Heiho harus lulus tes berenang di Pemandian Tjihampelas dulu… Terus lagi, tempat ini masih dipergunakan sebagai tempat perlombaan waktu masih jaman-jamannya PON (Pekan Olahraga Nasional). Itulah sedikit kenangan masa keemasan Pemandian Cihampelas… hiks.</p>
<p>-Pohon besar, Jalan Pelesiran, dan Kampung Bongkaran-<br />
Hehe saya mulai mengacuhkan waktu entah karena capek, malas, atau keasyikan dengan perjalanan. Keluar dari pemandian kami langsung disambut oleh jembatan yang lagi-lagi ada tambak ikan masnya dan sekumpulan ibu-ibu yang sedang mencuci perabot. Sampai di jalan masuk kampung &#8211;err.. saya nggak catat namanya&#8211; kami terpesona oleh sebuah pohon yang sangat sangat besar. Tapi sayang dahannya banyak yang ditebang karena menghalangi rumah- rumah yang dibangun di pinggirnya. Dan tidak hanya satu, tetapi ada 2 lagi pohon serupa yang berdiri tak jauh dari pohon pertama. Ternyata pohon-pohon ini sengaja ditanam oleh orang Belanda sebagai penyerap dan penyimpan cadangan air. O iya ada satu pemandangan unik yang saya lihat di pemukiman ini. Ada warga yang sempat-sempatnya memelihara kambing di samping rumahnya&#8230; Kasihan si Kambing, dikurung di kandang yang cuma muat sebadan-badan plus di atas sungai pula.. kalo jatuh terus keseret arus gimana ya? hiks…<br />
Keluar dari sini kami menembus jalan Pelesiran, yang ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan lokalisasi pelacuran atau &#8216;pelesir&#8217;. Keluar dari jalan Pelesiran kami sampai di Kampung Bongkaran yang letaknya persis di bawah jembatan layang Pasupati. Kabarnya penduduk sini nggak rela kampungnya digusur buat dibangun jembatan. bahkan ada warga yang ngancam mau bunuh diri segala&#8230; Tapi kan mereka juga nggak punya izin bangunan dari pemerintah tuh, jadi ya terima risiko saja deh…</p>
<p>-Jalan Lingga Wastu &#8212; Merdeka Lio &#8211;<br />
Dari sepanjang perjalanan inilah objek yang paling saya senangi karena di sini masih banyak terdapat rumah-rumah peninggalan Belanda dengan ciri jendela-jendela tingginya yang khas. Dari lingga wastu kami berhenti untuk beristirahat di muka jalan Merdeka Lio. Hm, nama yang unik untuk sebuah jalan. Lio, dalam bahasa Cina berarti genteng. Merdekanya? Dulu, penduduk yang tinggal di sini dibebaskan dari pajak oleh pemerintah karena mereka membuat perabot dari tanah liat dan bahan-bahan bangunan termasuk genteng untuk pembangunan komplek Pangdam. Jadi para penduduk itu &#8216;merdeka&#8217; dari pajak berkat si Lio ini ^^</p>
<p>-Kebon Sirih &#8212; Babakan Ciamis &#8212; Landraad-<br />
Ke pemukiman lagi! Kalau di sini rumahnya lebih &#8216;koeno&#8217; lagi. Kami menemukan beberapa rumah gaya abad 19 yang kata BR &#8216;wah mantap sekali rumahnya&#8217;. Memang mantap sih, rumah-rumah itu sederhana, mungil, tapi asri. Ada yang temboknya sudah pakai bata tapi ada juga yang masih pakai bilik. Di sini juga kami merasakan suasana &#8216;hari minggu banget&#8217; saat melihat beberapa orang tua yang sedang bercengkrama di teras rumah tua dan dirindangi pohon, wihh asyik banget kayaknya. Daaann setelah berjalan berpuluh langkah lagi sampailah kami ke perkotaan, tepatnya di samping Landraad alias Gedung Indonesia Menggugat. Di sini kami duduk-duduk melepas lelah dan rupanya para pegiat baru yang belum pernah berkunjung ke sini memanfaatkan kesempatan untuk melihat-lihat isi gedung di mana Soekarno pernah diadili ini.</p>
<p>-Suniaraja-<br />
Lanjut! Lewat Viaduct, kami berjalan menuju sebuah pemukiman yang diharapkan akan membawa kami ke gang Afandi. Suasana di pemukiman ini terasa berbeda dengan pemukiman-pemukiman sebelumnya karena penduduknya yang kurang ramah dan terkesan acuh tak acuh menanggapi kami. Mungkin karena mereka sudah terbiasa melihat turis-turis atau orang-orang dari pemerintahan yang hanya datang ke sana untuk meninjau tanpa memberi kontribusi buat kesejahteraan mereka. Atau mungkin juga karena mereka sudah antipati terhadap &#8216;orang kota&#8217; yang terkesan sombong dan seenaknya (gara-gara pembangunan hotel di braga city walk).<br />
Hal itu membuat kami kesulitan dalam menemukan jalan keluar, dan yang semula berencana ingin muncul dari gang affandi eh malah keluar lewat banceuy u_u</p>
<p>-Pendopo &#8212; Braga-<br />
Haha.. untuk menuju ke alun-alun tentu kita harus menyebrang. Karena tidak ada zebra cross dan lalu lintas yang ramai kami terpaksa menyebrang menggunakan sang jembatan legendaris: jembatan pesing! yang tentunya beraroma.. hm.. nice..nice! Turun dari jembatan beraroma saya harus berhadapan matahari yang mulai terik dan errgh… rasanya pengen pingsan… mudah-mudahan bisa diobati oleh Oom Adi humas andalan kita yang memperoleh izin masuk ke pendopo. Tapi sayang beribu sayang karena hari libur pak penjaga tidak mengizinkan kami masuk… Yah, nggak apa-apa deh, masih ada lain waktu…<br />
Kami terus berjalan menuju Braga dan berhenti di Majestic alias AACC. Tapi berhubung tempatnya tidak kondusif untuk diadakan evaluasi akhirnya kita pindah ke Braga Café untuk sekalian makan siang.</p>
<p>Hmmp, tentunya dari perjalanan yang tidak begitu panjang (kalo dibandingin sama yang kemarin) ini saya harus mendapatkan sesuatu bukan hanya capek atau panasnya saja. Yap, banyak hal yang saya dapat, di antaranya saya baru tahu kalau ternyata penduduk Bandung itu banyak-banyak-banyak sekaliii… Yang nggak habis pikir (tentunya dari sudut pandang saya sebagai warga yang tinggal di pusat kota) bagaimana bisa penduduk sebanyak itu hidup di lingkungan yang sempit, dengan sanitasi yang buruk pula, plus jalannya yang bikin pusing kayak labirin.. (terutama yang di gang suniaraja) waduh kalo saya tinggal di sana kayaknya nggak akan sanggup ngapalin jalan masuk sama keluar dari sana ;p<br />
Oiya selama perjalanan kami juga tidak hanya foto-foto, bercanda, dan bercerita saja tetapi belajar Biologi juga, haha.. dan A Yanto serta BR lah yang banyak berperan di sini. Misalnya soal pohon besar yang tadi diceritakan, sempat terjadi perdebatan apakah itu pohon Ki Hujan atau pohon Loa? atau pohon Asem? Haha.. Juga banyak tanaman-tanaman yang sebenarnya sering lihat tapi nggak tahu namanya, jadi tahu juga akhirnya.<br />
Kesimpulan yang bisa saya ambil, sungai Cikapundung yang merupakan sumber daya alam milik kota Bandung seharusnya menjadi sesuatu yang menjadi tanggung jawab bersama, tanggungan semua kalangan masyarakat bukan hanya dari pemerintah saja, bukan dari masyarakat sekitar bantaran sungai saja, atau bukan dari kita saja sebagai generasi muda. Harapannya, teman-teman yang mengikuti perjalanan ini bisa menjadi lebih sensitif terhadap isu apapun yang menyangkut lingkungan kita, karena itu yang akan merangsang kita untuk berbuat sesuatu yang berarti untuk lingkungan kita.<br />
Jangan sampai Cikapundung yang dulu menjadi kebanggaan Bandung malah menjadi senjata makan tuan bagi kita semua… Ok&#8230; Bersama Kita Bisa!! (kayak iklan caleg????)</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=271609&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=80647912978&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=80647912978&#38;id=1552549162"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs005.snc1/4420_1115491498140_1552549162_271609_1300483_n.jpg" alt="" width="458" height="259" /></a></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyusuri Cikapundung Part II (10.05.09)]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/menyusuri-cikapundung-part-ii-10-05-09/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:29:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/menyusuri-cikapundung-part-ii-10-05-09/</guid>
<description><![CDATA[By : Natasha Dilla A. Wijayabrata Minggu itu, tanggal 10 Mei 2009, saya dan para pegiat Klab Aleut h]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>By : Natasha Dilla A. Wijayabrata</p>
<p>Minggu itu, tanggal 10 Mei 2009, saya dan para pegiat Klab Aleut hendak mengadakan perjalanan menyusuri Sungai Cikapundung, salah satu sungai utama yang mengaliri Kota Bandung. Sebenarnya ini adalah track kedua setelah sebelumnya kami menyusuri Sungai Cikapundung dari Babakan Siliwangi sampai ke Curug Dago. Kali ini kami menyusuri Sungai Cikapundung dari Babakan Siliwangi ke arah hilir hingga tembus di Jalan Wastukencana dan Jalan Braga.</p>
<p>Seperti perjalanan-perjalanan Klab Aleut sebelumnya, kami berkumpul di halaman kediaman sang koordinator Aleut.</p>
<p>Keadaan Sungai Cikapundung sungguh sangat menyedihkan.. Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai tidak menjaga kebersihan di tempat mereka tinggal. Semua orang menyadari bahwa air merupakan sumber penting dalam kehidupan. Tetapi mereka tidak menghargai dan menghormati sumber penting itu. Hal itu dapat dilihat dari ketidaksadaran mereka terhadap kebersihan. Beberapa kali saya melihat beberapa warga yang sedang membuang sampah dan limbah rumah tangganya ke dalam sungai.</p>
<p>Setelah beberapa ratus meter berjalan menyusuri gang-gang sempit yang dihiasi rumah-rumah petak yang sangat pengap, sampailah kami di reruntuhan bangunan yang pada masanya sangat berjaya, Pemandian Tjihampelas. Bangunan yang semula bernama Eropa Zwembad ini merupakan salah satu ikon di Jalan Cihampelas. Bagaimana tidak, kolam renang ini menjadi tempat berkumpulnya warga Belanda dan Eropa lainnya di masa penjajahan. Pemandian Tjihampelas merupakan salah satu kolam renang tertua di Kota Bandung. Tempat ini sangat eksklusif karena hanya diperuntukkan bagi bangsa Belanda dan Eropa lainnya. Penduduk pribumi, jangankan mandi, masuk saja tidak boleh. Mereka menganggap nista dan menyamakan pribumi dengan binatang. &#8220;Terbukti dengan papan peringatan: &#8216;Anjing dan pribumi dilarang masuk!&#8217;,&#8221; (Kutipan tulisan wartawan senior Her Suganda, dalam bukunya Jendela Bandung). Baru setelah Belanda kalah bertekuk lutut pada Jepang, pengumuman itu tidak berlaku lagi. Kepemilikan pemandian ini beralih ke tangan pribumi setelah kemerdekaan. Kolam ini dimiliki R Tjandra Prawira sejak 1948. Pengelolaannya ada di bawah PT Pemandian Tjihampelas. Sejak itu, Pemandian Tjihampelas menjadi kolam renang yang dapat digunakan semua kalangan. Bahkan, Pemandian Tjihampelas juga menjadi tempat para siswa sekolah yang berlatih renang sebagai bagian dari pendidikan olahraga. Kondisi kolam pemandian menurun sejak Tjandra Prawira meninggal dunia pada 2006. Kini, bangunan bersejarah itu hanya tinggal puing-puing. Ini bukti dari ketidakpedulian Pemerintah Kota Bandung terhadap bangunan-bangunan penting dan bersejarah di Kota Bandung.</p>
<p>Hal ini hanya salah satu dari sekian banyak kasus serupa di Kota Bandung. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung mengaku kesulitan dalam menjaga aset bersejarah yang menjadi milik perseorangan. Mereka berdalih tidak ada payung hukum untuk melakukan pengawasan terhadap aset bersejarah di Kota Bandung. Hal tersebut disebabkan pula oleh faktor ekonomis pemilik aset perseorangan yang tidak mampu dalam hal perawatan, sehingga bangunan tersebut beralih fungsi menjadi bangunan komersil karena letaknya yang strategis di area pusat kota.</p>
<p>Sebenarnya, kawasan Cikapundung ini merupakan kawasan yang banyak dipengaruhi oleh keberadaan Sungai Cikapundung. Dimulai dari daerah aliran sungai bagian utara yang masih hijau, lalu kebagian tengah yang berada di pusat Kota Bandung, sampai ke bagian selatan. Setiap daerah tersebut mempunyai ciri yang berlainan. Di dalam rencana tata kota lama, kawasan bantaran Sungai Cikapundung mulai daerah Wastukancana ke utara harus dijadikan kawasan hijau yang berperan sebagai paru-paru kota, berperan untuk pendidikan alam, rekreasi atau wisata. Dengan pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dewasa ini, seharusnya kita tidak hanya menerapkan konsep lama ini, bahkan seharusnya kita meningkatkan standar kualitas lingkungan tersebut.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyusuri Taman-Taman dan Perumahan Tempo Doeloe di Kota Bandung]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/menyusuri-taman-taman-dan-perumahan-tempo-doeloe-di-kota-bandung/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:26:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/menyusuri-taman-taman-dan-perumahan-tempo-doeloe-di-kota-bandung/</guid>
<description><![CDATA[By : Asri &#8216;Cici&#8217; Mustikaati BANDUNG THE GARDEN CITY. Lagi-lagi julukan yang diberikan bu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>By : <a href="http://www.facebook.com/ciciasri">Asri &#8216;Cici&#8217; Mustikaati</a></p>
<p>BANDUNG THE GARDEN CITY. Lagi-lagi julukan yang diberikan buat kota Bandung. Bandung punya taman? Ya! Bandung punya banyak sekali taman yang tersebar baik di jantung maupun penjuru kotanya. Taman apa aja sih yang dipunyai kota Bandung? Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, saya dan teman-teman Klab Aleut pada hari minggu (07/06/09) berwisata taman yang diberi judul ‘Menyusuri Taman-Taman dan Perumahan Tempo Doeloe di Kota Bandung’.</p>
<p>Menurut jadwal, jam 07.07 pagi kami sudah harus berkumpul di sekretariat Klab Aleut , jalan Sumur Bandung no.4. Niatnya sih dateng tepat waktu. Tapi karena saya salah naik angkot, saya jadi telat kumpul deh (padahal emang sering telat dateng. Hehe malu .. ). Jam 08.00 pagi kami mulai perjalanan diawali dengan sedikit cerita dari Bang Ridwan tentang Bandung yang diberi julukan ‘Bandung Kota Bunga di Hindia Belanda’. Wuiiiih ….</p>
<p>Titik henti pertama kami yaitu taman kecil tanpa nama, berbentuk segitiga, agak panas karena pohonnya sedikit, letaknya di dekat kampus ITB sebelah utara. Di taman ini Bang Ridwan bercerita Jubileumpark. Dalam bahasa Belanda, Jubileum berarti lima puluh tahun. Taman ini memang dibangun dalam rangka memperingati 50 tahun ratu Wilhelmina, pada tahun 1923. Wilayah Jubileumpark ini dimulai dari kolam renang Sabuga sampai dengan jalan taman hewan. Tahun 1950-an Jubileumpark menjadi kebun binatang.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan dengan memasuki area kampus ITB. Dulu namanya Technische Hoogeschool (THS). Cuaca yang cerah ditambah lingkungan yang asri (ehm!) bikin jalan-jalan pagi kali ini terasa nyamaaan banget. Tampak beberapa orang sedang berolahraga pagi : jogging, badminton, bersepeda. Juga beberapa kelompok yang sedang berdiskusi. Hmmm udara bersih, lingkungan sehat. Jadi betah … Berjalan-jalan di kampus ITB yang sedang sepi, tidak kami sia-sikan kesempatan ini. Mengamati arsitektur bangunan ITB yang unik, melihat plakat-plakat yang tersebar di tiap fakultas, melihat laboratorium Bosscha. Sayang kami tidak bisa masuk ruangan ini karena dikunci. Katanya sih ruang kelasnya masih bergaya khas eropa .. (penasaran banget!). Yang pasti dan patut dibanggakan, THS ini adalah perguruan tinggi pertama bukan saja di Bandung tapi di Hindia Belanda!! Wow … !!</p>
<p>Taman kedua yang kami singgahi yaitu Ijzermanpark atau sekarang namanya Taman Ganesha. Ijzerman adalah seorang yang telah berjasa dalam pendirian THS. Taman ini dibangun sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Di bagian depan taman, terdapat patung yang mengalami beberapa kali pergantian. Patung pertama yaitu sebuah patung dada Ijzerman, lalu diganti dengan patung Ganesha dan sekarang patung (kayaknya bukan patung deh) berbentuk tiga buah susunan kubus. Yang paling buat saya takjub, ternyata di tembok setengah lingkaran (bagian depan taman) terdapat plat-plat penunjuk gunung-gunung yang mengelilingi kota Bandung!! Quel unique! Très magnifique! (kemana aja saya selama ini?)<br />
Info kurang penting mengenai taman Ganesha : salah satu tempat favorit saya mengisi waktu, bertukar fikiran, dan berbagi cerita sambil minum susu murni rasa strawberry atau mocca dengan seseorang .. hihi .. ^^</p>
<p>Yup! Lanjut susuri taman! Sampailah kami di taman Badak Singa. Letaknya tepat di belakang SMAK Dago. Sebelum dipindahkan ke Gasibu, warga Bandung (bangsa eropa) bermain sepak bola di taman ini. Kayaknya dulu tamannya gak seperti sekarang ini ya (pastinya lahh).. Tamannya gak begitu besar dan di sekelilingnya dibatasi pagar.</p>
<p>Dari Taman Badak Singa, tadinya kami hendak bertolak ke Taman Cikapayang. Tapi karena tidak memungkinkan untuk bercerita langsung disana, kami memilih tempat yang tidak jauh dari Taman Badak Singa untuk bercerita, di ujung jalan mundinglaya. Lokasi yang sekarang menjadi Taman Cikapayang, sebelumnya ditempati pom bensin, yang memang sebelumnya juga merupakan sebuah taman. Huff beruntung sekali difungsikan menjadi taman kembali. Taman yang dibangun dengan perencanaan yang sangat matang jalur pengairannya oleh Martanagara, bupati Bandung saat itu. Sekarang Taman Cikapayang sering dijadikan tempat bermain skateboard dan tempat berkumpul komunitas-komunitas sepeda.</p>
<p>Dari jalan mundinglaya, kami menyebrang ke gedung rektorat ITB. Dapet pengetahuan baru mengenai Balubur yang merupakan kampung tertua di Bandung, asal muasal adanya nama jalan kebon bibit yang ternyata dulunya adalah kompleks khusus tempat pembibitan tanaman. Bibit-bibitnya mungkin untuk ditanam di seluruh taman di kota Bandung, agar terus terjaga keindahan dan keasriannya. Hebat banget ya pemerintah Hindia Belanda merancang kota kita ini. Sangat terencana.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan ke ranggamalela. Melihat rumah Wolff Schoemaker yang sekarang ditempati OCBC NISP. Sempat dibongkar pada bagian belakang, tapi sudah dibangun kembali seperti bentuk aslinya. Huff hampir aja kita kehilangan satu cagar sejarah … Tepat di depan sekolah Pribadi, ada satu taman yang sekarang namanya Taman flexi. Sebelum ada flexi, namanya Taman Rangga Gading. Dulu waktu saya les bahasa inggris di daerah ini, banyak anak muda yang nongkrong-nongkrong. Sekarang masih banyak juga ya? Jarang lewat .. ^^</p>
<p>Mulailah kami menelusuri perumahan tempo doeloe, daerah jalan sultan tirtayasa. Melewati ruas jalan ini rasanya adem bener (n_n). Banyak pepohonan yang tumbuh di kiri-kanan jalannya. Rumah – rumahnya masih bergaya tempo doeloe. Perumahan di jalan sultan tirtayasa ini merupakan kompleks perumahan yang sangat terencana. Mulai dari jalan, penanaman pohon, pengairan, dll. Hal unik yang baru saya ketahui, di persimpangan jalan (daerah tertentu) biasanya terdapat rumah kembar. Termasuk di persimpangan jalan ini (jalan Sultan Tirtayasa, jalan Trunojoyo, jalan Maulana Yusuf). Rumah di persimpangan ini kembar empat lho!!</p>
<p>Tembus ke Gempol, istirahat dulu sejenak sambil makan kupat tahu Gempol. Selain kupat tahu, masakan-masakan yang dijual disini enak-enak lho! Sate maranggi-nya juga boleh dicoba! Tapi berhubung hari minggu, yang masak pada libur. Coba lain waktu aja yaa! Di daerah ini juga ada toko roti. Namanya Toko Roti Gempol. Kurang dikenal memang, tapi kata Bang Ridwan, turis Belanda suka beli roti di toko ini. Pengetahuan yang saya dapat mengenai Gempol, merupakan salah satu kampung verbetering (nulisnya bener gak bang?). Kampung yang mengalami banyak perbaikan lingkungan seperti pengerasan jalan, pemugaran rumah, saluran pembuangan limbah, saluran got, sumur, sampai listrik. Hanya ada satu gerbang sebagai akses jalan keluar-masuk dan dua brandgang sebagai jalan evakuasi jika terjadi kebakaran.</p>
<p>Lewati brandgang, keluarlah kami di jalan Banda. Menelusuri sedikit ruas jalan Riau yang merupakan kompleks perumahan mewah di tahun 1910. Masih dapat kita temukan rumah-rumah tempo doeloe seperti Heritage Factory Outlet, Dakken Coffee, Gudeg Bengawan Solo, Goethe Institue, de Coral Factory Outlet dan masih banyak lagi.</p>
<p>Berjalanlah kami ke jalan Saparua. Cerita sekilas tentang S. Albanus, gereja katholik bebas yang dibangun tahun 1908. Bangunannya masih asli tapi kurang terawat. Sudah tidak dipakai sebagai gereja, namun di dalamnya terdapat perpustakaan dan tempat kursus bahasa belanda yang masih digunakan. Di seberang gereja Albanus adalah GOR Saparua, lapangan tertua di Bandung. Selain digunakan untuk berolahraga, dulu juga dijadikan tempat latihan militer.<br />
Di seberang GOR Saparua ruas jalan aceh adalah Jaarbeurs. Gedung tempat diadakannya bursa dagang tahunan di Bandung. Dibagun tahun 1920-an, terkenal sekali dengan tiga patung Torso-nya. Kenapa ada patung Torso ya? Kata Pa Goer, patung Torso itu simbol perdagangan di Romawi. Hmm bener ga ya?</p>
<p>Taman Maluku dulu namanya Molukkenpark. Dari taman-taman yang telah saya lewati tadi, inilah taman yang menurut saya paling rimbun, indah dan asri (ehm lagi!). Terdapat patung pastor Verbraak yang terbuat dari perunggu. Verbraak adalah seorang yang berpengaruh bagi militer di Bandung. Sepertinya menyenangkan sekali bila dapat menikmati suasana Molukkenpark dari dalam. Pohon-pohonnya yang rimbun, segarnya udara dan kanal-kanal indah yang hanya bisa kita temukan di taman ini. Sayang sekali kami terhalang pagar tinggi yang mengelilinginya dan gerbang taman yang terkunci (nampaknya memang selalu terkunci).</p>
<p>Voilà! Akhirnya sampai juga kami di titik akhir perjalanan yaitu Taman Bali atau Taman PLN sebelah gedung SMAN 5. Seperti biasa, di akhir perjalanan, pegiat Aleut saling berbagi pengalaman apa saja yang didapat sepanjang perjalanan yang sudah ditempuh. Banyak sekali kekecewaan yang dirasakan teman-teman melihat kondisi taman-taman kota di Bandung. Kecewa terhadap kurangnya perhatian dan pemeliharaan oleh pemerintah terhadap taman-taman kota. Sampai burung-burung pun tidak ada yang betah bermain di taman-taman ini (burung juga ikutan sharing. Hehe).</p>
<p>Sebenarnya masih banyak taman-taman yang belum sempat kami telusuri. Ada Taman Pramuka, Taman Balai Kota, Taman Cibeunying, Taman Cilaki (Taman Lansia), Taman Ciujung, Taman Karang Setra, Taman Viaduct, Taman jalan Palasari, Taman Hutan Raya, Taman Irene dan Taman Citarum yang sekarang sudah hilang, juga Insulindepark atau Taman Lalu Lintas (TLL) dimana di taman ini terdapat satu jenis pohon langka. Namanya pohon Samolo. Adanya cuma di taman ini lho! Jumlahnya hanya dua pohon ! Di pojok kanan dan kiri gerbang masuk TLL. Sudah dua tahun tidak berbuah karena kemungkinan pohon ini amat sensitif terhadap polusi. Padahal seharusnya pohon Samolo berbuah setahun sekali di sekitar bulan Juli-Agustus. Yah .. semoga tahun ini berbuah ..</p>
<p>Rupanya julukan Bandung The Garden City hanya berlaku di tahun 1930-an. Karena sekarang taman-taman di Bandung sudah tidak seindah dulu. Taman yang masih bertahan sampai saat ini semoga tidak bernasib malang seperti taman-taman lainnya yang hilang dan berubah fungsi menjadi mall atau pom bensin ( hiks! Sedih!). Ayo bantu saya menjaga dan mempertahankan taman-taman di Bandung ! Dengan tidak merusak dan mencemarinya, agar taman tidak lagi berpagar dan kita dapat dengan bebas menikmati taman-taman indah di kota Bandung !</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<div>&#8212;&#8212;-</p>
<p>Mau ngucapin bon travaille! buat dua sejoli kita, Chandra and the Beybone yang udah bikin jalur ini. Ditunggu jalur-jalur bagus lainnya yaa! Madadayo .. ! ^^</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Catatan seorang pelajar ITH tahun 30'an...]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/catatan-seorang-pelajar-ith-tahun-30an/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:23:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/catatan-seorang-pelajar-ith-tahun-30an/</guid>
<description><![CDATA[By : Muhammad Ryzki Wiryawan Perkenalkan, nama saya Moehammad Hassan Windoedipoero. Hari ini, tangga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : Muhammad Ryzki Wiryawan</div>
<div></div>
<div>Perkenalkan, nama saya Moehammad Hassan Windoedipoero. Hari ini, tanggal 07-06-09 saya akan mengulangi masa-masa muda semasa masih menjadi pelajar di Indische Technische Hoogeschool melalui perjalanan yang diadakan Klab Aleut&#8230;</p>
<p>Perjalanan ini cukup berat bagi orang seusia saya, tetapi gairah yang terpancar dari mata para pemuda-pemudi Klab Aleut untuk mengapresiasi sejarah dapat memulihkan kekuatan masa muda saya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila ada data yang salah, karena ingatan saya yang sudah cukup memudar seiring waktu.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30214409&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=95663051033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=95663051033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs008.snc1/4444_1094702722336_1069614412_30214409_2591249_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Saya (tengah) bersama Mas Kusumo (Kiri) dan Karman (Kanan)</div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30215214&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=95663051033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=95663051033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs048.snc1/4444_1094918407728_1069614412_30215214_5371833_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Saya dan Saidi, membelakangi kampus ITH</div>
</div>
<div>
Baiklah, pertama-tama Klab Aleut mengajak saya mengunjungi tempat saya kuliah dahulu. Indische Technische Hoogeschool pertama kali dibuka tahun 1921 oleh prakarsa dari para pengusaha-pengusaha Belanda yang sukses serta perkembangan Kota Bandung yang menuntut ahli-ahli tehnik dan arsitektur. Sebelumnya, arsitek-arsitek kolonial hanya dihasilkan dari Sekolah Tinggi Tekhnik di Delft Belanda. Hingga kemudian kritik2 bermunculan bahwa lulusan dari sekolah tinggi tersebut memiliki pengetahuan yang sangat sedikit tentang kondisi lingkungan dan budaya tropis di hindia belanda, oleh karena itulah perlu dibangun sekolah khusus teknik dan cabang2 ilmunya di hindia Belanda ini. Bandung patut bangga karena Kota ini dianggap cukup layak untuk ditempati komplek sekolah bergengsi ini.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30214410&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=95663051033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=95663051033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs048.snc1/4444_1094708642484_1069614412_30214410_647015_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Kampus ITH 1930&#8242;an</div>
</div>
<div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30215188&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=95663051033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=95663051033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs008.snc1/4444_1094901287300_1069614412_30215188_6206863_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Rancangan Komplek ITH oleh Maclaine Pont</div>
</div>
<div>
<p>Kalau membicarakan ITH, mau tidak mau kita akan membicarakan peran Henry Manclaine Pont (1879-1955) yang merancang bangunan-bangunan di ITH ini. Detail2 yang mencolok dalam proses pembangunan ITH menyangkut peran dua guru Maclaine Pont , yaitu Klopper dan Klinkhamer. Prof.Ir. J. Klopper adalah direktur utama ITH saat itu, saya ingat sekali pernah berpapasan dengannya sesekali kala berangkat kuliah. Kemudian saya baru tahu kalau tuan Klinkhammer adalah keponakan dari K.A.R. Boscha, seorang humanis dan pengusaha perkebunan teh terkenal di Priangan.</p>
<p>Beberapa Anak Aleut memperhatikan sebuah plakat yang berisi nama-nama donatur pembangunan ITH. Ya, benar sekali, sekolah ini dibangun atas dana swasta, karena permintaan masyarakat luas akan insinyur-insinyur handal di hindia belanda. Baru 4 tahun kemudian ITH beralih ke tangan pemerintah Hindia Belanda. Sampai saat didirikannya Sekolah Tinggi Teknik ini, jarang ada perhatian terhadap perancangan arsitektural. Baru kemudian muncullah diskusi-diskusi dan perdebatan mengenai bentuk arsitektur yang cocok untuk kawasan tropis hindia Belanda.</p>
<p>Suasana perdebatan ini sangat santer terasa apabila anda sempat merasakan masa muda yang saya alami sebagai mahasiswa di sekolah teknik ini. Jurnal-jurnal yang diterbitkan saat itu banyak membahas perseteruan antara dua guru besar kampus ini, yang tidak lain adalah Tuan Schoemaker dan tuan Maclaine Pont. Keduanya sama-sama lahir di nusantara, Schoemaker lahir di Banyu Biru, sedangkan Pont di jatinegara, boleh dibilang keduanya memiliki latar belakang budaya yang hampir sama, tetapi pandangan arsitekturnya cukup berlawanan.</p>
<p>Menurut tuan Schoemaker, langgam arsitektur Indo-eropa harus tetap berhaluan pada arsitektur Eropa modern dan tidak banyak mengadopsi arsitektur lokal. Itulah sebabnya rancangan-rancangan beliau tampak kagok dalam menempatkan unsur-unsur lokal dalam karyanya. Lihatlah toko buku Van Dorp dan Societet Concordia. Unsur lokal hanya dijadikan ornamen tanpa arti. Saya lebih menyukai pandangan Maclaine Pont yang berani mengadopsi gaya arsitektur lokal, tetapi dipadukan dengan teknik arsitektur modern. Contohnya adalah bangunan kampus ITH ini, walau dikenal sebagai bangunan bergaya Indo-eropa pertama di hindia Belanda, muncul banyak kritik bahwa Maclaine Pont tidak tepat dalam menempatkan bangunan bergaya Minangkabau dalam lingkungan sunda. Di luar itu, perhatian besar maclane Pont terhadap arsitektur dan budaa lokal patut diapresiasi. Dalam satu jurnal, Wolff Schoemaker pernah mengomentari gedung2 sekolah tinggi teknik bandung sebagai berikut <em>,&#8221;Sekolah Tinggi Teknik dirancang dengan pemakaian contoh dari beberapa ciri khas bangunan Minangkabau, yang di Jawa berada di tanah asing&#8221;.</em></p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30215046&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=95663051033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=95663051033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs008.snc1/4444_1094891927066_1069614412_30215046_5840655_n.jpg" alt="" width="468" height="248" /></a></div>
<div>Rancangan Aula Barat ITB oleh Maclaine Pont</div>
</div>
<div>
<p>Ada satu hal yang menarik, Tuan Wolff Schoemaker sehari-harinya mau tidak mau harus berada dalam gedung rancangan Maclaine Pont saingannya. Dalam beberapa kuliahnya yang saya alami, beliau menjuluki rancangan Maclaine Pont ini sebagai,<em>&#8220;Peniruan bentuk yang dibuat-buat&#8221;</em> serta meragukan kegunaan <em>&#8220;suatu peniruan bentuk atap Sumatera, yang mengakibatkan kobocoran serius?.</em></p>
<p>Baiklah, kita lupakan dulu segala perdebatan ini dan beralih kepada taman Indah yang berada di poros selatan Kampus ITH. Dahulu saya kerap bersepeda bersama teman-teman mengelilingi taman ini. Saya ingat sekali, jalan yang sekarang bernama jalan ganesha, dulunya bernama Hoogeschoolweg, sedangkan di sebelah selatan taman ini, yang sekarang bernama jalan Gelapnyawang dulunya bernama MaclainePont Weg. saya dan teman kadang berkelakar bahwa tuan Schoemaker tidak akan pernah bersedia untuk melewati jalan bernama saingannya ini.</p>
<p>Taman indah ini didedikasikan untuk Tuan Yzerman, karyawan pegawai staats spoorwegen-SS (Jawatan Kereta Api Negara) dan merupakan salah seorang penggagas pendirian ITH. Dahulu di ujung taman ini terdapat patung dada beliau. Sayangnya patung ini ditebas di masa kemerdekaan Indonesia. Sungguh disesalkan&#8230;</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30214412&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=95663051033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=95663051033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs048.snc1/4444_1094710402528_1069614412_30214412_8315414_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Saya, Kusumo dan Kardi bergaya di depan patung Yzerman</div>
</div>
<div>
<p>Muda-mudi ITH kerap beristirahat dan bercengkrama di taman yang asri ini (kalau tidak salah ada juga salah satu pegiat aleut yang bernama Asri) Ya, Kalau dilihat dari angkasa, jalur di taman ini akan membentuk huruf &#8220;Y&#8221;, dari inisial Yzerman. Di taman ini pula terdapat dua kolam berbentuk lingkaran, salah satunya memancarkan air. Ada juga peneduh-peneduh berbalur daun yang diatur dengan sangat apik. Kemudian kalau anda perhatikan di belakang patung ini, terdapat plakat-plakat yang menunjukan lokasi gunung-gunung yang memunggungi Bandung dari arah selatan beserta ketinggiannya. Dahulu saya masih bisa melihat jelas lekuk-lekuk gunung ini dari taman ini, sayangnya sekarang sudah tidak bisa.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30214414&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=95663051033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=95663051033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs008.snc1/4444_1094711402553_1069614412_30214414_4990244_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Landscape taman Yzerman</div>
</div>
<div>
<p>Taman ini dibangun agar bisa merekam kondisi taman-taman di Eropa, sebagaimana kawasan Bandung utara memang diatur berdasarkan konsep tuinstaad atau Kota taman. Anda tidak perlu jauh-jauh ke negeri Belanda untuk merasakan nuansa Eropa, dahulu anda cukup untuk mengunjungi taman Yzerman ini. Jangan lupa membawa sebuah buku menarik serta sekeranjang roti dan sebotol susu.</p>
<p>Klab Aleut ini memang keterlaluan, tanpa melihat usia saya yang renta, mereka terus mengajak saya untuk mengunjungi lokasi lainnya,, baiklah akan saya turuti kemauan pemuda-pemudi gagah ini&#8230; Semoga pengalaman yang pernah saya alami dapat menjadi pelajaran bagi anak-anak muda ini&#8230;<br />
(bersambung)</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30214430&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=95663051033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=95663051033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs048.snc1/4444_1094734563132_1069614412_30214430_5503782_n.jpg" alt="" width="462" height="296" /></a></div>
<div>Brievenkart berlatar taman Yzerman</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[TAMAN = TAk nyaMAN]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/taman-tak-nyaman/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:21:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/taman-tak-nyaman/</guid>
<description><![CDATA[By : Candra Asmara jangan terlebih dahulu mengambil kesimpulan bahwa semua taman itu tak nyaman, say]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>By : Candra Asmara</p>
<p>jangan terlebih dahulu mengambil kesimpulan bahwa semua taman itu tak nyaman, saya hanya mengambil beberapa taman di bandung yang sempat saya dan teman-teman lalui beberapa hari lalu&#8230;dan yang langsung terlintas adalah sebuah akronim dari kata TAMAN itu sendiri..ya, itu&#8230;. seperti judul coretan ini&#8230;</p>
<p>bandung kota taman, itu yang dahulu opa-opa belanda canangkan demi pembangunan kota ini, kota yang banyak mendapat pujian, kota yang tak pernah surut menjadi buah bibir orang-orang karena keindahannya, kota yang disamakan dengan paris, kota yang memiliki tata kota yang nyaris sempurna, kota dengan udara yang bersahabat, kota yang&#8230;kota yang&#8230;kota yang&#8230;.tentu saja saya berbicara tentang masa lalu dalam paragraf ini, karena yang saya utarakan di atas,,,hmmm,jauh dari rupa bandung saat ini&#8230;</p>
<p>taman, menurut &#8220;kamus sakarep urang sorangan&#8221;, berarti sebuah tempat replika dari imajinasi manusia tentang surga, disana terdapat pohon, kolam, rumput, bidadari(beberapa tahun lalu masih beredar di sekitar molukken park,,&#8221;bidadari bertongkat &#8221; namanya&#8230;),tempat duduk yang nyaman, anak-anak kecil yang tertawa lepas,sebagian orang menjadikan taman sebagai tempat pelarian untuk melepas penat,sebagian lagi memilih taman untuk hanya sekedar membunuh rasa kesendirian, sebagian lagi untuk membunuh rasa rindu dengan bertemu sang kekasih, sebagian lagi&#8230;sebagian lagi&#8230;sebagian lagi&#8230;tentu saja saya kembali mengutarakan tentang masa lalu di paragraf ini, karena yang saya paparkan di atas adalah saat dimana taman-taman di kota ini &#8220;menawarkan kehidupan&#8221; bagi orang-orang&#8230;bukan &#8220;kematian&#8221;.</p>
<p>cukup tentang masa lalu, karena yang saya hadapi saat beberapa hari lalu adalah cerminan saat ini, kenyataan yang harus saya lihat dari sahabat-sahabat penduduk kota ini sejak dulu, sahabat-sahabat yang tersingkirkan zaman dan degradasi moral manusia, sahabat-sahabat yang letih, ingin berteriak, namun yang keluar hanya teriakan kering, sama seperti nadi-nadi mereka yang dibiarkan mengering, sampah menyumbat mulut mereka dengan paksa, mereka diisolasi, bahkan ada seorang sahabat yang dipenjara,,mari saya kenalkan dengan sahabat-sahabat kita yang terlupakan itu&#8230;</p>
<p>1. sahabatku ijzerman(maaf man, kalo saya salah nulis nama kamu, kita udah lama ga ketemu..sejak    tahun 60an)<br />
sahabat yang satu ini, dialah yang mendirikan sebuah sekolah yang dahulu bernama Technische Hogeshool, atau yang sekarang kita kenal dengan nama ITB&#8230;nah, maman (panggilan akrab,) inilah salah seorang yang sangat berjasa dalam memajukan kota bandung sebagai kota pendidikan saat itu, oleh karena jasa-jasa dan sumbangsihnya kepada kota ini, dibangunlah sebuah taman yang dinamakan ijzerman park, dan di depan pintu masuk taman, didirikanlah sebuah patung dada(bukan dada rosada) ijzerman yang gagah dan tampan itu. namun patung dada maman tak lagi tampak, sempat berganti menjadi patung ganesha, gajah kecil berbelalai pendek,,lalu sekarang berganti menjadi patung berbentuk kubus yang tak jelas nilai historisnya. sekarang entah dimana patung dada ijzerman berada&#8230;kamu dimana, man? dan satu lagi yang menarik tak jauh dari patung dada ijzerman berada (dulu), terdapat beberapa penunjuk arah berbentuk plakat yang menunjukkan arah gunung beserta ketinggiannya yang langsung berhadapan dengan ijzerman park dari arah selatan&#8230;mengejutkan, kagum, dan menyadari bahwa saya belum mengenal ijzerman dari hati ke hati&#8230;</p>
<p>2. sahabatku molukken<br />
sahabat yang kini terpasung, sendirian di masa tuanya, tampaknya sedang merenungi pengalaman2 hidupnya di kala muda,,saat saya melihat molmol(panggilan akrab) beberapa hari yang lalu, keadaannya cukup bersih, cukup tertata, air mancurnya terlihat meliuk-liuk menari di tengah, kanal2nya pun mengalir, meskipun tetap saja ada sampah disana-sini,,saat saya dan teman-teman yang lain ingin menyapanya, berpelukan, saling bercerita tentang masa lalu, jeruji penjara menghalangi saya, jeruji yang memasung molmol untuk dipaksa tak bersentuhan dengan dunia luar&#8230;saya hanya bisa melihat patung pastor versbraak diluar jeruji, patung yang tampak tak terawat, yang berdiri di tempat pastor versbraak menghadap titik akhir usianya. versbraak diantar pesawat yang jatuh di molukken park untuk sampai titik terakhir nafasnya.</p>
<p>begitulah, dua orang sahabat diantara banyak sahabat yang lain yang bisa saya ceritakan. marilah kita kunjungi sahabat2 yang lainnya, sapa, berikan bantuan jika ia perlu bantuan. jika kita mendengarkan keluhan dan mengulurkan bantuan bagi sahabat2 kita itu, niscaya judul coretan saya di atas akan salah. mari bersahabat!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ngaleut Taman Episode 1]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/ngaleut-taman-episode-1/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:18:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/ngaleut-taman-episode-1/</guid>
<description><![CDATA[By : Adri teguh Bey Haqqi Bandung, Minggu 07 Juni 2009. INFO ALEUT : ayo kita jelajahi taman kota da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : Adri teguh Bey Haqqi</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Bandung, Minggu 07 Juni 2009.</p>
<p>INFO ALEUT : ayo kita jelajahi taman kota dan rumah kolonial.kumpul di jalan sumur bandung no.4 hari minggu 070609 jam 07.07 pagi.<br />
Seperti itu pesan yang saya terima dari seorang pegiat aleut pada hari sabtu tanggal 060609.*isi singkatnya.</p>
<p>berhubung suka telat jadi aku saya adri teguh bey haqqi berencana akan menginap di rumah pa koordinator jalan sumur bandung no.4 supaya dibesok hari tidak akan telat berkumpul dan bisa mengikuti brieving bersama.<br />
saya mengajak pegiat aleut yang lainnya tetapi yang mau diajak saya cuma ica ama caca.tak apalah daripada ga ada teman.</p></div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=265893&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=94436223449&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=94436223449&#38;id=1639190943"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs106.snc1/4785_1110647139922_1639190943_265893_2812230_n.jpg" alt="" width="440" height="329" /></a></div>
<div>ica ma caca lg tidur.</div>
</div>
<div>
<p>ternyata tidur di rumah orang lain juga sama saja, bangun telat. baru bangun pukul 07.00 wib lebih dikit lah. itu juga bangun gara gara denger suara yang parau serak serak basah ciri khas om bang br ridwan.<br />
langsung ajah melakukan ritual trus mandi dulu. eh beres mandi ada bala bala satu keresek penuh ternyata teh widi yang bawa. alhamdulillah rezeki mah dateng darimana wae. terima kasih teh widi.<br />
beres mandi dll tuh jam 07.30 am dan masih banyak pegiat yang belum tiba di sumur bandung no.4 ini.</p>
<p>pukul 08.00 wib semua pegiat yang akan ikut ngaleut telah datang semua. ada bang ridwan,om adhi,a ayan,ibu budi,kang asep,teh cici,teh dila,teh widi,teh uti,teh dinda,teh uni,a ajay,a candra,a indra,teh adinda,a yanto,a elgy.<br />
setelah melakukan briping mengenai jalur yang akan dilewati dan berdoa bersama demi keselamatan semua akhirnya kita pun melangkahkan kaki menuju taman pertama yang akan di lewati.</p></div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=265905&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=94436223449&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=94436223449&#38;id=1639190943"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs106.snc1/4785_1110652700061_1639190943_265905_703939_n.jpg" alt="" width="435" height="326" /></a></div>
<div>brivingan..</div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=270258&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=94436223449&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=94436223449&#38;id=1639190943"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs118.snc1/5184_1111914931616_1639190943_270258_4775432_n.jpg" alt="" width="433" height="324" /></a></div>
<div>serius..</div>
</div>
<div>
<p>tidak jauh dari sumur bandung no.4 kita telah tiba di sebuah taman segitiga di belakang itb simpang tiga gitu.<br />
padahal baru jam 8an tapi si cahaya matahari terik sangat panas sekali menyengat kulit kita.<br />
di simpang tiga ini bang ridwan menerangkan mengenai suasana sekitar siliwangi pada zaman dulu dan kemudian menjelaskan sebuah park yang dulunya itu jubileum park dan sekarang sudah menjadi kebun binatang bandung.<br />
ternyata dulu itu sebagian besar taman sari dari taman sari sampai lebak siliwangi adalah jubileum park. pada tahun 1923 taman ini diresmikan untuk memperingati jubileum ratu wilhelmina dari Belanda.<br />
dulu di bagian selatan jubileum park ada prasasti jubileumpark. sampai tahun 50-an masih bisa dilihat, tetapi setelahnya tidak tahu ada dimana.<br />
<a rel="nofollow" href="http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/jubileumpark.html" target="_blank"><br />
</a></div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=270259&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=94436223449&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=94436223449&#38;id=1639190943"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs118.snc1/5184_1111915291625_1639190943_270259_5501350_n.jpg" alt="" width="471" height="353" /></a></div>
<div>di simpang tiga.br menjelaskan jubileum park</div>
</div>
<div>
<p>kemudian kita melanjutkan kembali perjalanan memasuki kawasan kampus itb.<br />
itb merupakan kampus pertama yang ada di hindia-belanda. dulunya Technische Hoogeschool (THS) yang diresmikan pada tahun 1920.<br />
para pegiat berjalan-jalan di dalam kampus itb yang udaranya sejuk, damai, aman, tenang, tentram, sedikit kendaraan yang melintas, dan sesekali terlihat para mahasiswa yang sedang melakukan joging atau berlatih taekwondo dan karate juga mahasiswa yang sedang berdiskusi.*beda banget lah ama unpad nangor mah komo deui upi jauh!!hehe..<br />
kita dikejutkan oleh sebuah cerita dari BR kalau di THS ada gedung yang kayak gedung kuliah di harvard gitu. kita berharap bisa masuk ke gedung Fisika itu, namun sayang di gembok. kita hanya bisa mengintip dari sebuah lubang kecil.*bari jeung teu kaciri.<br />
di dalam itb saya menemukan beberapa plakat yang masih menempel di dinding-dinding gedung.banyak plakat yang ada nama boscha nya. opa boscha ini adalah salah seorang donatur pendiri ths.<br />
dari yang saya lihat gedung gedung itb bentuknya unik. gedungnya beratap gaya minangkabau tapi pondasi bergaya eropa.keren!!<br />
oh ternyata gedung nya itu karya Ir. Hendri Maclaine Pont.</p></div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=270260&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=94436223449&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=94436223449&#38;id=1639190943"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs118.snc1/5184_1111915731636_1639190943_270260_1808945_n.jpg" alt="" width="389" height="291" /></a></div>
<div>para sesepuh..</div>
</div>
<p>keluar dari THS kita sudah disuguhi oleh sebuah taman lagi.nama tamanya itu ijzerman park.sebagai tanda terima kasih buat bapak Dr.Ir.J.W.Ijzerman yang sangat berjasa besar dalam pendirian THS, maka pada tahun 1919 dibangun sebuah taman yang sangat indah,rapih,artistik sehingga apabila kita lihat dari udara akan terlihat seperti huruf Y.<br />
kata BR tahun 80an si taman ini masih asri (bukan cici) terus ada air mancur kursi taman terowongan dari pohon merambat gitu, terusterus ada di belakang patung kubus ga jelas yang tembok setengah lingkaran ada nama-nama gunung yang mengelilingi Bandung.HEBAT!!<br />
selain itu juga di pintu masuk taman bagian utara didirikan sebuah patung dada Dr.Ir.J.W.Izjerman. tahun 60-an patungnya diganti jadi patung ganesha. patung ganesha diganti dengan patung yang katanya artistik terbuat dari logam anti karat sampai sekarang.<br />
katanya patung dada Dr.Ir.J.W.Izjerman tersimpan di dalam gedung rektor itb di simpang tiga sulanjana taman sari. tapi tidak tahu juga, karena saya sendiri belum melihat.<br />
sekarang tuh nama tamannya berubah jadi taman ganesha.<br />
<a rel="nofollow" href="http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/izjermanpark.html" target="_blank"></a></p>
<p>Referensi :</p>
<p><a rel="nofollow" href="http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/izjermanpark.html" target="_blank">http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/izjermanpark.html</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/jubileumpark.html" target="_blank">http://bandungtempodulu.com/taman_dan_lahan_kota/jubileumpark.html</a></p>
<p><a rel="nofollow" href="http://bandungtempodulu.com/gedung_arsitektur_belanda/gedung_sekolah/technische_hoogeschool.html" target="_blank">http://bandungtempodulu.com/gedung_arsitektur_belanda/gedung_sekolah/technische_hoogeschool.html</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Naik-naik ke Puncak Gunung Geulis]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/naik-naik-ke-puncak-gunung-geulis/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:10:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/naik-naik-ke-puncak-gunung-geulis/</guid>
<description><![CDATA[By : Asri &#8220;Cici&#8221; Mustikaati Spontan. Salah satu sifat yang khas sekali yang dimiliki Kla]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>By : Asri &#8220;Cici&#8221; Mustikaati</p>
<p>Spontan. Salah satu sifat yang khas sekali yang dimiliki Klab Aleut. Spontan dalam melakukan perjalanan, spontan menentukan jalan mana yang akan ditempuh, spontan dalam mengubah tujuan perjalanan. Ya ! Itu yang terjadi pada Klab Aleut di hari Minggu (28/06/09).</p>
<p>Pukul 8 pagi para pegiat yang berjumlah 13 orang sudah berkumpul di depan Dunkin Donuts samping ITC Kebon Kalapa. Rencananya kami akan melakukan pejalanan kota dengan judul Melihat Pemukiman Kolonial di Bandung Selatan. Perjalanan kota ini sudah kami rencanakan jauh hari dan Bey, Chandra, Elgy, BR sudah melakukan survey jalur pada hari sebelumnya. Namun apa yang terjadi, kami ubah haluan perjalanan kami dengan tujuan puncak Gunung Geulis. Weks !!</p>
<p>Tanpa persiapan dan perbekalan, kami langsung bertolak ke Jatinangor. Naik satu kali angkot ke arah tol Moh. Toha, dan dilanjutkan dengan menaiki bus Damri jurusan Tanjung Sari.</p>
<p>Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, sampailah kami di Jatinangor. Udara sejuk dan dingin dalam bis Damri ber-AC itu diganti dengan udara Jatinangor yang super panas, penuh debu dan polusi. Mulailah kami berjalan menyusuri kampus Unpad. Melewati pasar minggu pagi Jatinangor, gedung perkuliahan Unpad, melewati jembatan Cincin &#8211; jembatan kereta api yang dibangun tahun 1800-an oleh pemerintah Hindia Belanda (jembatannya bagus banget dan masih kokoh &#8211; katanya sih sudut yang paling bagus buat liat jembatan ini, liatnya dari gedung Fikom-Unpad), melewati pesawahan, perumahan warga, dan sampailah kami di Cisaladah.</p>
<p>Untuk menuju Gunung Geulis, masih harus melewati satu tahapan lagi. Naik angkutan umum menuju Jatiroke. Sesampainya di Jatiroke, saya harus lebih mempersiapkan mental dan fisik saya untuk mencapai puncak Gunung Geulis. Begitu juga dengan Endey yang harus berjuang dengan sendal tarumpahnya, Shela dengan sepatu yang udah pasti bikin kaki lecet-lecet, dan Budi dengan empat buah skripsinya &#8230; (hiks! Turut berduka Bud .. ^^)</p>
<p>Pukul 11 kami mulai menaiki kaki Gunung Geulis. Walaupun panas matahari sangat menyengat, kami tidak patah semangat. Allez !! Bon courage, mes amis !! Perjalanan kami memang penuh perjuangan. Walaupun sudah berada di gunung, pepohonan di Gunung Geulis ini sangat kering. Begitu juga dengan udaranya, kering dan panas. Fisik jadi cepat lelah, cepat dehidrasi padahal persediaan air minum terbatas. Tanah di jalan setapak yang kami lewati sangat berpasir sehingga harus ekstra hati-hati melewatinya. Apalagi sepatu yang saya pakai sepatu yang karetnya sudah tipiiis sekali. Hufff harus ekstra hati-hati kuadrat kali tiga deh jadinya. Perjalanan lumayan terhibur dengan sorak sorai nyanyian &#8216; dadang .. dadang .. &#8216; oleh Budi, Bey, Chandra ..</p>
<p>Satu setengah jam perjalanan kami lewati dengan penuh suka cita. Sampailah kami di puncak Gunung Cici .. eh salah .. Gunung Geulis !! Senangnyaaaa &#8230;.</p>
<p>Di puncak gunung ternyata ada satu bangunan permanen dan dua kuburan tidak dikenal yang sudah ditembok! Wah wah .. mengingat perjalanan kami tadi, jadi terbayang bagaimana mereka membangun bangunan ini. Ke puncak gunung dengan membawa semen, bata, pasir,dan bahan bangunan lainnya. Wuihhh &#8230;</p>
<p>Kami beristirahat di tugu Gunung Geulis sekitar satu jam. Tidak ada bekal, tidak ada air. Satu-satunya penyelamat kami adalah nasi kuning gigih dan ayam kecap-nya Achie, juga satu botol sedang air minumnya Fian (temen Achie). One for all &#8230; And all for one ..<br />
Dari puncak gunung ini, dapat kami lihat dengan jelas pemandangan daerah Jatinangor, Rancaekek, Cileunyi, dan sekitarnya.</p>
<p>Turun gunung memang lebih sulit. Harus lebih konsentrasi, tidak boleh lengah, siap minta tolong orang yang di belakang untuk menarik badan guna mengurangi kecepatan dan orang yang di depan untuk menahan badan karena sulit menghentikan langkah. Lutut kaki sudah seperti getaran stick playstation saking curamnya turunan.</p>
<p>Pukul lima sore perut kami masih kosong. Tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung dengan perut keroncongan begini. Untunglah ada Babang Mufti. Kami makan malam (sekaligus pagi, siang dan sore) di rumah babang Mufti di Cicalengka. Nasi liwet, ikan mas goreng, tahu, sambel dan lalap sangat cukup untuk mengisi perut yang sejak pagi hingga sore kami siksa karena belum diisi makanan apapun. Merci beaucoup ya mon cher &#8230;</p>
<p>Sampai di Bandung pukul 9 malam. Badan sudah terasa pegal-pegal, betis nyut-nyutan. Enak banget kalo dilanjutkan dengan berendam air panas. Dan perjalanan kali ini emang bikin tidur saya lebih nyenyak!<br />
What a great trip !!!</p>
<p>Ngomong-ngomong tentang gunung Geulis, ada yang tau gak kenapa disebut Gunung Geulis ?</p>
<p>&#8212;&#8211; cici &#8212;&#8211;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ngaleut Kareumbi-Citengah (sumedang)]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/ngaleut-kareumbi-citengah-sumedang/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:06:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/ngaleut-kareumbi-citengah-sumedang/</guid>
<description><![CDATA[By : Asep Nendi R. Minggu, 19 Juli 2009 Ngaleut kali ini terasa berbeda karena dipastikan akan menem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : Asep Nendi R.</div>
<div>Minggu, 19 Juli 2009</p>
<p>Ngaleut kali ini terasa berbeda karena dipastikan akan menemui beberapa sarana transportasi baru bagi Klab Aleut (sok tau nya, bae ah)&#8230;..</p>
<p>Bukan tanpa perencanaan, tapi, ngaleut kali ini memang dilakukan tanpa survei, tapi tidak juga tanpa persiapan yang matang tentunya&#8230; butuh waktu 1 bulan untuk merealisasikan perjalanan ini&#8230;</p>
<p>akhirnya,,, perjalanan ini&#8230;..</p>
<p>06.15<br />
di depan stasiun Bandung sebalah utara, telah berkumpul 3 orang pegiat (ebi, candra, elgi) semuanya nampak berseri-seri menyambut perjalanan ini&#8230;.</p>
<p>beberapa menit kemudian muncul ayan dan yanto,, kemudian adi, opik, BR,,,<br />
setelah berkumpul 9 orang kami mulai menghubungi beberapa pegiat yang semalam konfirm untuk ikut tapi belum juga datang,,, teu baleg!!!!<br />
di stasiun beberapa bule mulai berangkat ke Jakarta untuk kemudian pulang ke negaranya masing2, yah kejadian bom membuat negara2 asal pengunjung mulai menarik pulang warganya&#8230;</p>
<p>setelah membeli tiket, kami pun berangkat menuju cicalengka menggunakan kereta KRD ekonomi,,, padat bung,,, tapi inilah kesenangannya, belajar bersosialisasi cenah&#8230;<br />
kereta yang kami tumpangi akan berangkat pukul 07.51, tapi setelah menunggu 10 menit barulah kereta berangkat&#8230; maklum Indonesia, eh Kareta Api ketang&#8230;<br />
tarif Rp. 1000 per orang murah bukan&#8230;?</p>
<p>08.10<br />
kereta berangkat, walau padat berdesakan, perjalanan tetap menyenangkan&#8230;<br />
sampai 3 kali perhentian, hanya Bang BR saja yang kebagian duduk&#8230; yang lainnya berdiri, maklum mengalah pada yang tua&#8230; sampai pemberhentian gede bage semuanya duduk kecuali saya&#8230;</p>
<p>jangan tanyakan kondisi di dalam kereta, karena semua yang kita bayangkan benar2 terjadi&#8230; dari mulai penyanyi dangdut, penjual dvd, jeruk, pengamen, semuanya berlomba mengais rejeki di atas gerbong kereta&#8230;</p>
<p>09.30<br />
kami tiba di stasiun cicalengka, dan mulai mencari2 angkot untuk dicarter, tapi&#8230;.<br />
dengan pertimbangan biaya dan tantangan, kami menaiki coolback (kol buntung) menuju kareumbi dengan tarif Rp. 5000 per orang..<br />
jalur yang berbelok2, dengan jumlah penumpang yang membludak (lebay) membuat perjalanan jauh dari kesan nyaman&#8230;. sebenarnya angkutan tersebut khusus untuk mengangkut penumpang menuju Curug CInulang&#8230;</p>
<p>akhirnya kami tiba di ujung aspal, dan berjalan kaki memasuki jalanan koral menuju starting point perjalanan (wisata buru masigit kareumbi)..</p>
<p>10.20<br />
dulunya kawasan kareumbi merupakan kawasan Wisata Buru Masigit Kareumbi (aneh karena letak Gn. Masigit yang jauh dari kareumbi).. kawasan ini konon, dikuasai Panglima Ibrahim Adjie&#8230;(diabadikan sbg jalan Kircon) memasuki tahun 1990an hewan disini mulai berkurang..<br />
puncaknya pada tahun 2000an terjadi illegal logging, yang membuat kawasan ini tidak lagi tertutup..<br />
beberapa fasilitas pun nampak hancur sampai pada tahun 2007an,, padahal kawasan ini dibawah BKSDA (balai besar konservasi sumber daya alam) Jabar.<br />
dalam kawasan ini terdapat 2 desa yaitu, Cigumentong dan Cimulu&#8230; di sekitar karembi teradapat beberapa tempat yang layak dikunjungi, selain dua desa tersebut&#8230;<br />
1. Batara Guru, kawasan hutan yang masih tertutup rapat (berkanopi) didalamnya bermacam2 hewan buas masih hidup&#8230;<br />
2. Jalur Cimulu-Limbangan</p>
<p>untungnya pada akhir 2008, dan awal tahun 2009 wanadri mulai mengelola tempat ini dan mulai merekonstruksi beberapa bangunan dan beberapa kelengkapannya&#8230; mudah2an ini upaya baik untuk mengkonservasi kawasan kareumbi dan sekitarnya&#8230;</p>
<p>10.30<br />
di kawasan kareumbi,<br />
kami makan pagi untuk sekedar mengisi kekosongan perut, karena perjalanan ke depan tidak akan ditemui warung ataupun perkampungan&#8230;. mie rebus dan roti merupakan menu ideal bagi petualang aleut (pegiat)&#8230;.</p>
<p>11.00<br />
perjalanan dimulai,</p>
<p>dipersimpangan jalan menuu cigumentong kami menyempatkan membeli buah tomat dari petani yang sedang menimbang tomat&#8230;<br />
Rp 5000 sakeresek, loba pisan jaba amis, sumpah&#8230;.!</p>
<p>tujuan pertama adalah makam tuan blok (jansen) di desa Cigumentong&#8230; konon, beliau adalah pemilik kawasan ini pada jaman kolonial,,, makamnya sendiri baru ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2006an, padahal keluarganya sempat melakukan pencarian pada tahun sebelumnya, tapi tidak berhasil..<br />
beliau dikubur bersama hartanya, yang sekarang entah dimana keberadaannya&#8230;<br />
Desa Cigumentong sendiri terdapat 14 keluarga, yang ajaib desa ini sudah menggunakan panel surya untuk keperluan pemenuhan energi listriknya&#8230;</p>
<p>tidak lama dari Cigumentong, kami langsung melanjutkan perjalanan&#8230;<br />
kesan pertama takut dan ragu, karena kita memasuki hutan yang masih tertutup rapat&#8230;.<br />
kami mulai menyusuri jalanan setapak yang ada, setelah sempat mengisi air di mata air yang mengalir jernih&#8230;<br />
tawa dan canda merupakan hiburan tersendiri di tengah sunyinya hutan&#8230;.<br />
setelah lama berjalan kami beristirahat untuk berfoto dan mengganjal perut&#8230; perjalanan pun dilanjutkan, diiringi musik alam yang merdu, perpaduan teriakan binatang rimba dan riuhnya pepohonan&#8230;</p>
<p>13.38<br />
kami istirahat kembali, untuk makan siang&#8230;<br />
tapi hanya opik dan yanto yang membawa bekal, sementara yang lainnya hanya merokok dan ngemil tomat yang kami beli di jalan menuju CIgumentong&#8230; amiissss&#8230;<br />
saat beristirahat kami dikelilingi burung elang yang berteriak histeris seolah memberi tanda pada kawanan yang lainnya, serem juga&#8230;</p>
<p>13.55<br />
perjalanan dilanjutkan kembali, rute yang ditempuh didominasi turunan&#8230;. sehingga kami tidak kesulitan atau keletihan&#8230; letak citengah yang dibawah hutan kareumbi&#8230;<br />
tidak terasa salah satu lembahan yang kita susuri adalah Gunung Gelung, dan pesawahan pun telah nampak dari kejauhan&#8230; tanpa ragu kami mulai menambah kecepatan menuju daerah pesawahan&#8230;</p>
<p>disana terdapat salah satu rumah, yang menurut informasi menjual lahang, tapi sayang penjualnya sedang tidak ada&#8230; untuk mengobati rasa dahaga kami menuju Curug Kancana mengikuti jalan yang telah ditunjukkan oleh warga yang sedang melintas&#8230;</p>
<p>setelah puas berfoto di curug kami melanjutkan perjalanan menuju CItengah&#8230;&#8230;</p>
<p>16.04<br />
kami tiba di Kampung Cijolang Desa Citengah, mulai tampak peradaban&#8230; lega&#8230;.</p>
<p>16.35<br />
menaiki angdes Citengah-Sumedang tarif Rp. 3000</p>
<p>setelah berkelilingdi sekitar alun2 sumedang, kami mulai berjalan (lagi) menuju pusat perbelanjaan tahu&#8230;</p>
<p>17.46<br />
kami sampai di pusat pertahuan, namun tahunya sudah habis dari sore&#8230;.parah&#8230;<br />
beberapa tempat jualan tahu yang punya nama tutup, akhirnya kami ngemil tahu di pinggiran jalan, tapi tetep enak da,,,</p>
<p>kami menaiki angkot dengan tarif Rp. 2000 menuju polres&#8230; tempat nantinya kami akan memberhentikan bis (jiga supermen nya)</p>
<p>18.37<br />
kami pulang ke Bandung (cicaheum) menggunakan bis Bandung-Cikijing dengan tarif Rp. 8000<br />
dalam bis nampak kondisi pegiat yang mulai keletihan&#8230; sampai di terminal cicaheum, kami berpencar..<br />
salut buat ebi (satu2nya pegiat perempuan yang ikut)</p>
<p>dengan tetap senyum, gambar keindahan hutan yang takkan bisa dilupakan&#8230;<br />
sebuah memori petualangan yang penuh dengan kesan dan pesan&#8230;.<br />
pesan akan pentingnya bersinergi dengan alam, dan menjaga alam&#8230;</p>
<p>&#8220;Sebuah negara tidak pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering bertualang di hutan, gunung dan lautan&#8221;<br />
-sir henry dunant-</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305270&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127217512038_1575196128_30305270_3558301_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305271&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127217672042_1575196128_30305271_1792933_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305273&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127218352059_1575196128_30305273_4347178_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305274&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs165.snc1/6168_1127218472062_1575196128_30305274_3846639_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305275&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs165.snc1/6168_1127218552064_1575196128_30305275_5307340_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305277&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs165.snc1/6168_1127218792070_1575196128_30305277_7550216_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305278&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127220072102_1575196128_30305278_3652597_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305279&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127220312108_1575196128_30305279_2601709_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305280&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs165.snc1/6168_1127221032126_1575196128_30305280_365772_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305281&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs165.snc1/6168_1127221472137_1575196128_30305281_7700291_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305282&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs165.snc1/6168_1127221632141_1575196128_30305282_6742983_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305283&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs165.snc1/6168_1127221832146_1575196128_30305283_1153552_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305284&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127222032151_1575196128_30305284_6739115_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305285&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110706556331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110706556331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127222112153_1575196128_30305285_8342854_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jelajah Alam Sukawana - Tangkuban Parahu ]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/jelajah-alam-sukawana-tangkuban-parahu/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 15:03:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/jelajah-alam-sukawana-tangkuban-parahu/</guid>
<description><![CDATA[By : Yanstri M. (12/07/09) Ini adalah kali kedua aku ke Tangkuban Parahu di bulan Juli 2009 tetapi d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div></div>
<div></div>
<div>By : Yanstri M.</div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div></div>
<div>(12/07/09)</p>
<p>Ini adalah kali kedua aku ke Tangkuban Parahu di bulan Juli 2009 tetapi dengan jalur dan teman-teman yang berbeda. Kali ini aku dan teman-teman Aleut menuju Tangkuban Parahu melalui Villa Istana Bunga (VIB), Ciwangun Indah Camp (CIC), Sukawana, Pasir Ipis.</p>
<p>Jam 8:15 aku mulai menunggu di angkot yang akan membawaku ke Terminal Parongpong tempat aku berjanji untuk bertemu dengan teman-teman Aleut. Setelah lama menunggu, angkot yang aku naiki mulai berjalan. 25 menit kemudian aku sudah terdampar dengan selamat di Terminal Parongpong.</p></div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309130&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125003297255_1592333069_30309130_935694_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Karena belum ada yang datang, akhirnya aku putuskan untuk menikmati semangkuk mie untuk mengisi bahan bakar dan mengusir rasa dingin yang cukup menggigit. Tepat pada suapan terakhir di kejauhan aku lihat satu angkot yang disesaki oleh wajah-wajah yang tampak familiar buatku. Yup, akhirnya datang juga teman-teman Aleut yang lain. Mereka bersesakan di dalam angkot yang biasanya hanya diisi oleh maksimal 16 orang, tetapi kali ini diisi oleh 22 orang. Sungguh perjuangan yang tidak mudah untuk bertahan di dalam angkot yang penuh sesak dan harus melalui jalanan yang menanjak dan terkadang tidak rata. Tetapi itulah hebatnya anak-anak Aleut. Mampu bertahan di segala situasi (padahal kpaksa ya hehehehe).</p>
<p>Tepat pukul 8:30 setelah briefing dan melakukan doa bersama kami mulai berjalan melalui VIB. Rencana awal kami akan menuju CIC melalui pintu belakang VIB. Tetapi baru setengah perjalanan ada yang mengusulkan jalan lain melalui jalan setapak di pinggiran kebun penduduk.</p></div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309108&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125000817193_1592333069_30309108_1109086_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Karena bukan Aleut namanya kalau tidak melalui jalan yang aneh bin ajaib. Kami melalui ladang penduduk. Jalan yang kami lalui cukup sempit dan licin di beberapa bagian. Terkadang di sebelahnya terdapat jurang. Kami harus terus berkonsentrasi agar tidak tergelincir.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309138&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125004297280_1592333069_30309138_3444406_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309141&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125004737291_1592333069_30309141_7512386_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Setelah sempat salah jalan beberapa kali, sampailah kami di jalanan beraspal sekitar 25m dari pintu belakang VIB. Kami terus menyusuri jalanan beraspal yang menanjak melalui samping CIC kemudian berbelok ke jalanan dari tanah melalui rumah penduduk dan keluar di daerah Sukawana.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309147&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125007337356_1592333069_30309147_5700672_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309156&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125010497435_1592333069_30309156_6781342_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Mulai tercium bau yang familiar dan menenangkan yang ternyata berasal dari daun teh yang sedang diolah. Kami berkesempatan berkunjung ke pabrik pengolahan teh milik PTPN VIII. Di sana kami melihat proses pembuatan teh. Sebenarnya ada 6 tahap proses pembuatan teh mulai dari proses pelayuan sampai yang terakhir proses pengepakan. Sayangnya, karena keterbatasan waktu kami hanya bisa melihat 2 dari 6 proses tersebut, yaitu proses pelayuan dan proses penggilingan.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309148&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125007617363_1592333069_30309148_4312964_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309149&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125007937371_1592333069_30309149_899012_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Puas berkunjung ke pabrik teh, kami melanjutkan perjalanan menyusuri perkebunan teh. Di tengah kebun teh, mendadak Bang Ridwan meminta kami berhenti sebentar untuk menjelaskan mengenai danau bandung purba. Memandang ke arah selatan kami dapat menikmati pemandangan daerah Batu Jajar. Di sana juga terdapat bukit Lagadar yang menyimpan keunikan tersendiri. Bukit tersebut menghasilkan bebatuan yang apabila kita pecahkan akan berbentuk seperti kristal bersegi delapan.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30299579&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs136.snc1/5820_1122128625390_1592333069_30299579_1103480_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30299580&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs156.snc1/5820_1122128705392_1592333069_30299580_7974141_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309166&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125011777467_1592333069_30309166_8006904_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Perjalanan dilanjutkan menyusuri lahan milik Perhutani, melewati jalan dari tanah dan berbatu yang rusak di beberapa bagian dan membuat kami harus ekstra hati-hati melangkah agar tidak terperosok. Di kanan kiri jalan kita bisa melihat deretan pohon pinus yang tumbuh menjulang. Menciptakan sedikit kesejukan.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30299581&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs156.snc1/5820_1122128745393_1592333069_30299581_132764_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309167&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125012297480_1592333069_30309167_6962621_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan beberapa pengendara sepeda gunung dan motor trail serta penduduk setempat yang sedang mengumpulkan semak-semak untuk pakan ternak.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30299583&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs156.snc1/5820_1122128865396_1592333069_30299583_302965_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30299596&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs156.snc1/5820_1122133305507_1592333069_30299596_4619172_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309169&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125012697490_1592333069_30309169_7794138_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Untuk mencapai benteng yang ada di Pasir Ipis kami mulai menyusuri hutan, terkadang harus menerobos semak-semak. Setelah sempat berputar-putar akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Sayangnya sebagian besar benteng tersebut tertutup semak-semak. Hanya sebagian kecil bagian benteng yang terlihat.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309170&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125013137501_1592333069_30309170_6546605_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309172&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125013737516_1592333069_30309172_7237921_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Benteng Pasir Ipis<br />
(taken by Galih)</div>
</div>
<div>
Tuntutan dari cacing di perut yang sudah tidak bisa diajak kompromi membuat kami memutuskan beristirahat tidak jauh dari benteng sambil menyantap makan siang yang kami bawa. Sayangnya kenyamanan kami bersantap sempat terganggu oleh tawon yang berputar-putar tanpa henti di sekeliling kami.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309173&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125014457534_1592333069_30309173_3120754_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Puas bersantap, kami kembali berjuang untuk mencapai Tangkuban Parahu. Jalanan yang tadinya datar mulai menanjak. Membuat kami harus mulai mengatur napas. Mendadak dari belakang terdengar seseorang berdendang:</p>
<p>Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi arahnya<br />
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi arahnya<br />
Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat nanjaknya<br />
Ingat, aku ingat ingat, cuman ingat nanjaknya</p>
<p>Yup, itulah lagu yang dengan semangat 45 dinyanyikan oleh Eki ketika teman-teman yang lain sudah mulai kelelahan menghadapi jalanan menanjak yang seakan tidak bertepi. Entah baterai apa yang Eki pakai hingga bisa terus semangat disegala kondisi?</p></div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309175&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125014897545_1592333069_30309175_1593217_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309176&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125015057549_1592333069_30309176_2097969_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Rasanya kaki sudah siap-siap lepas dari engselnya. Andai saja ada Mbah Surip, alangkah enaknya. Aku bisa minta gendong. Yang ajaib, di jalanan yang sempit, menanjak dan terkadang terhalang pohon tumbang kami bertemu kembali dengan pengendara motor trail. Tidak terbayang sulitnya mengendarai motor di jalanan seperti itu. Aku saja yang berjalan kaki terkadang kewalahan mengatur langkah agar tidak tergelincir.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309177&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125015697565_1592333069_30309177_1665083_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309178&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125016617588_1592333069_30309178_7788399_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Kami sempat melemaskan kaki sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak bukit di mana kami bisa memandang Kawah Ratu dan Kawah Upas di kejauhan. Keindahan pemandangan dari puncak bukit tersebut menghapus rasa lelah yang mendera kami akibat tanjakan yang tidak berkesudahan. Di kejauhan aku melihat seseorang yang tampaknya tak asing bagiku. Tetapi aku masih ragu untuk menyapanya. Yuhui, ternyata dia memang teman lamaku. Aku tidak menyangka bisa bertemu teman lama di atas bukit yang baru pertama kali aku datangi.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309179&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125017257604_1592333069_30309179_5080109_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30299631&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs156.snc1/5820_1122143385759_1592333069_30299631_7368627_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30299649&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs136.snc1/5820_1122149785919_1592333069_30299649_2237610_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Satu Jam menikmati keindahan kawah, perjalanan dilanjutkan menuju pelataran parkir Tangkuban Parahu. Ternyata perjuangan kami belum berakhir. Untuk menuju ke sana, kami harus menuruni jalan menggunakan bantuan tali dan melewati bebatuan besar yang bisa membuat kami terluka apabila tidak berhati-hati melangkah. Tetapi, pemandangan yang tersaji dikejauhan sungguh mengagumkan.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309180&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125017977622_1592333069_30309180_4890334_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309181&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125018417633_1592333069_30309181_4659432_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309182&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125018777642_1592333069_30309182_8156477_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309183&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs142.snc1/5260_1125019217653_1592333069_30309183_1569452_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Dengan menggunakan elf sewaan dengan tarif Rp 15.000,- per orang kami menuju Alfamart Sersan Bajuri. Perjalanan pulang berlangsung cukup singkat berkat hiburan dari Asep dan Ekoy yang sibuk merayu Unie dengan berbagai banyolan-banyolan yang sukses membuatku tak bisa berhenti tertawa. Untungnya, Eki sudah tewas kehabisan baterai jadi berkurang satu orang pembanyol (piss ach!). Kalau tidak, bisa-bisa turun dari elf perutku bakal sakit akibat terlalu banyak tertawa. Ternyata baterainya baru akan terisi kalau di alam terbuka karena menggunakan tenaga surya.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309186&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125019857669_1592333069_30309186_6762267_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
Akhirnya, selesailah perjalanan hari ini. Sampai jumpa di acara Aleut berikutnya.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309184&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125019337656_1592333069_30309184_1982925_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div style="text-align:left;"><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30309185&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=216306015231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=216306015231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs122.snc1/5260_1125019577662_1592333069_30309185_7668422_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CATPER.... Sukawana-Pasir Ipis Fort-Tangkuban Parahu Share]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/catper-sukawana-pasir-ipis-fort-tangkuban-parahu-share/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 14:59:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/catper-sukawana-pasir-ipis-fort-tangkuban-parahu-share/</guid>
<description><![CDATA[CATPER&#8230;. Sukawana-Pasir Ipis Fort-Tangkuban Parahu By : Asep Nendi R. Sabtu, 110709 Sehari men]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>CATPER&#8230;.<br />
Sukawana-Pasir Ipis Fort-Tangkuban Parahu</div>
<div>By : Asep Nendi R.</div>
<div>Sabtu, 110709<br />
Sehari menjelang perjalanan bersama Klab Aleut menyusuri kawasan utara Kota Bandung, persiapan fisik sepertinya terabaikan padahal sudah lama sekali aya tidak berolahraga. Yang menjadi perhatian adalah sepatu trekker saya yang sudah tidak nyaman lagi, karena alasnya yang sudah tipis. Akhirnya sepetu itu saya bawa ke tempat sol di sekitaran rumah, hasilnya sepatu kembali nyaman&#8230;.</p>
<p>Minggu, 120709<br />
06.00<br />
Pagi buta tanpa sarapan nasi terlebih dahulu, tidak seperti biasanya, saya langsung mandi. Sereal dan susu cukup membuatku kenyangg pagi itu.</p>
<p>06.45<br />
Saya berangkat dari rumah berjalan kaki menuju Sirnagalih, untuk kemudian menggunakan angkot St. Hall-Lembang menuju Ledeng.</p>
<p>07.15<br />
Tiba di seberang terminal Ledeng saya berjalan kaki sedikit menuju meeting point di Indomart Ledeng, persis di sebrang Puskesmas Ledeng. Di sana sudah ada tiga orang yang menunggu (Ayan, Adi, Eko). Sambil menunggu pegiat lain datang, saya membeli sedikit bekal untuk perjalanan nanti ; 2 botol minuman elektrolit dan sebungkus roti.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305216&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110699156331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110699156331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs165.snc1/6168_1127183911198_1575196128_30305216_7535181_n.jpg" alt="" width="454" height="340" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Setelah sekian lama menunggu, akhirnya 22 orang pegiat mulai bersiap berangkat. 22 orang dalam satu angkot, Yup Amazing&#8230;.<br />
Semua pegiat terlihat menikmati situasi berdesak-desakan di dalam angkot, saya sendiri beruntung karena hanya menggantung di pintu, berdua bersama Yanto. Udara segar menjadi milik saya kala itu, meskipun sedikit pegal karena harus terus bergantungan.<br />
Starting point perjalanan di terminal Parongpong tepat di gerbang masuk Vila Istana Bunga, disana menunggu satu pegiat lain (Yanstri), setelah berdoa dan briefing, perjalanan dimulai.<br />
Pimpinan rombongan hari itu Adi Nugraha, tapi dengan sok tahunya saya merubah jalur awal perjalanan, idenya muncul karena malas berjalan di atas aspal berpanoramakan bangunan mewah.</p>
<p>Alhasil, meskipun agak bingung, kita sampai di Ciwangun, tepat di pinntu wanawisata Curug Tilu Leuwi Opat. Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam 10 menit, molor jadi 30 menit. Pegiat pun mulai berkeringat&#8230;..<br />
Tapa diduga di pintu Curug Tilu Leuwi Opat saya bertemu pelatih tari Lises berserta istrinya.<br />
Setelah sejenak bertegur sapa, perjalanan dilanjutkan.<br />
Akhirnya perjalanan menanjak mulai merongrong, pemanasan, sampai tiba di area desa Ciwangun, sejenak berfoto di areal rumah panggung (khas jaman dulu). Perjalanan berlanjut, sampai tiba di Pabrik Pengolahan/Produksi teh di Sukawana, yang menurut Bapak BR, produksinya yang nomor 1 dijual ke Inggris (Lipton), dan kualitas rendahnya di pasarkan di Indonesia. Aroma teh yang menyengat membuat kepala saya agak pusing, sehingga saya hanya memperhatikan dari kejauhan&#8230;.</p>
<p>Perjalanan berlanjut, melalui kebun teh yang mirip lingkar labirin. Panas terik mentari mengiringi perjalanan itu, hingga sampai di sebuah tempat yang agak lapang dan cukup luas. Pemandangan kota Bandung dari atas terlihat sangat jelas, dilingkung gunung heurin ku tangtung, Bandung benar-benar padat, meskipun dari atas. Di sana Bapak Ridwan menunjukkan bekas Danau Purba Bandung yang mencekung agak ke arah Barat, kemudian ditunjukkan deretan perbukitan/gunung yang membelah Danau Bandung menjadi dua bagian, yaitu Danau Timur dan Danau Barat.<br />
Dijelaskan rangkaian perbukitan atau gunung tersebut merupakan pematang tengah, yang berupa gunung api tua, dengan batuan intrusif yang muncul pada zaman tersier. Bahkan beberapa daerah menghasilkan batuan yang nilainya sangat berharga (mis: garnet). Beberapa gunung tersebut sedang dalam proses penghancuran, penambangan pasir dan batu dilakukan sudah sejak lama, demi kebutuhan perumahan di kawasan Bandung. Kawasan yang memanjang tersebut diantaranya terdapat ; Gunung Selacau, Gunung Lagadar, Pasir Kamuning, sampai ke pegunungan/perbukitan di Selatan Cimahi.<br />
Terik mentari tidak menghalangi minat kami untuk mengira-ngira bentuk dari Danau Bandung Purba dan seperti apa Bandung kala itu&#8230;..</p>
<p>Matahari mulai naik ke atas kepala kami, dan perjalanan pun dilanjutkan. Tujuan berikutnya adalah Benteng Pasir Ipis, saya sendiri baru mendengar nama itu. Memasuki kaki Gunung Tangkuban Parahu, meskipun tidak menanjak, debu dan tanah yang kering menjadi musuh kami&#8230; tidak hanya debu, kami pun disajikan hidangan asap pekat knalpot yang penuh CO2 dari para kroser yang melewati, juga tanpa sopan santun. Sepertinya masa kecil mereka terkekang, tidak boleh main kotor apalagi keluar masuk hutan, sehingga masa kecil mereka kurang bahagia dan sudah tua kurang ajar&#8230;..!!!<br />
Setelah berhenti sejenak untuk menghindari kepulan asap knalpot, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi Benteng, meskipun awalnya kami dibuat bingung oleh Bapak Ridwan mengenai keberadaan Benteng tersebut. Konon, Benteng Pasir Ipis merupakan benteng pertahanan Belanda pada Perang Dunia I (sekitar 1930an). Peralatan yang kami bawa tidak memadai (golok), sehingga ilalang dan semak belukar menjadi sulit untuk dikalahkan. Berfoto sejenak cukup mengobati rasa keingin tahuan kami, sepertinya&#8230;<br />
Makan siang pun menjadi agenda selanjutnya, dan terima kasih pada Saudara Cici yang telah menawari saya bekalnya, tanpa rasa malu.. HAJAR&#8230;!</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan, lagi-lagi Bapak Ridwan bertanya mengenai jalur (ngetes jigana mah), tanpa ragu saya bersama Eko langsung menunjukkan jalur pendakian yang bukan memutar untuk masuk ke kawasan wisata&#8230; Nanjak&#8230;.<br />
Nanjak&#8230;..</p>
<p>Masih Nanjak&#8230;.<br />
Terus Nanjak&#8230;.</p>
<p>Senyum miris pegiat lain mulai menghantui, seiring tanya yang sama yang terus mereka lontarkan&#8230; “masih jauh?” dan “masih lama?’<br />
Hingga akhirnya kami terpaksa beberapa kali berhenti, selain karena lelah, lagi-lagi karena kroser yang tidak mau mengalah.</p>
<p>15.00an<br />
Tibalah kami di puncak, tepat di muka kawah Upas (katanya)&#8230; Mantaph&#8230;.<br />
Disana kami bertemu para kroser yang dengan bangganya berkata&#8230;<br />
“dulu jalan ini menanjak, namun setelah dibuka jalur jadi tidak berbahaya lagi, salah satu jalur klasik&#8230;”<br />
Saya yang tak mau kalah bersombong ria menjawab, “saya mah resep mapah ka gunung mah, soalna tiasa balap lumpat bari ucing sumput”<br />
Klab Aleut 1 vs 0 Kroser</p>
<p>16.00an<br />
Setelah berfoto dan beristirahat, perjalanan turun dimulai. Menuju terminal di atas Gunung Tangkuban Parahu.<br />
Terjal, bahkan satu jalur dibuat safety lines dengan 4 webbing dan 1 rope&#8230;<br />
Perjalanan turun pun diselang beberapa kali istirahat, untuk sekedar berfoto dan jajan. Misalnya di warung dekat Tower (lupa namanya).<br />
Ketika seorang teman bersandar di tugu batu yang tinggi, seorang pemilik warung menunjukkan kalau itu adalah makam 3 orang Belanda, tugu batu yang sudah dipenuhi vandalisme itu anonim, tapi rangka baja sepertinya agak menandakan itu tugu Belanda&#8230;..</p>
<p>17.15<br />
Setelah berfoto bersama, kami pulang menuju meeting point menggunakan angkot dengan tarif Rp. 15,000 per orang.<br />
Perjalanan pulang terasa lebih cepat, karena tidak memilih jalur utama (setiabudhi-lembang). Tepat beberapa saat setelah adzan Magrib kami tiba, dan setelah penutupan kami mulai membubarkan diri. Saya sendiri berjalan kaki bersama Galih dan Yanstri sampai tepat di Gerbang Utama UPI. Disana kami berpisah, karena mereka sholat.<br />
Niat jalan kaki sampai Gerlong pun diurungkan, karena saya naik angkot di sekitaran Panorama.<br />
Maklum, takut digodain&#8230; dan futsal teu jadi&#8230;!!!</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305218&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110699156331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110699156331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127185951249_1575196128_30305218_1442687_n.jpg" alt="" width="377" height="282" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30305227&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=110699156331&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=110699156331&#38;id=1575196128"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs185.snc1/6168_1127189231331_1575196128_30305227_6114091_n.jpg" alt="" width="375" height="281" /></a></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jajal Geotrek II : Pangalengan]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/jajal-geotrek-ii-pangalengan/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 14:49:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/jajal-geotrek-ii-pangalengan/</guid>
<description><![CDATA[By : Ridwan Hutagalung Truedee (Truedee Pustaka Sejati) pada hari Sabtu lalu (28 November 2009) meny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : Ridwan Hutagalung</p>
<p>Truedee (Truedee Pustaka Sejati) pada hari Sabtu lalu (28 November 2009) menyelenggarakan Jajal Geotrek II ke Pangalengan dengan jumlah peserta sekitar 60 orang (mungkin dikurangi oleh beberapa orang yang batal ikut). Para penjajal ini berangkat dari halaman kampus ITB sekitar jam 7 pagi dengan<br />
menggunakan dua buah bis. Jajal Geotrek II hanya mengambil sebagian kecil saja rute Geotrek 9 yang terdapat dalam buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, yaitu beberapa stop (atau spot) di sekitar Pangalengan. Walaupun hanya sebagian kecil, namun waktu yang dibutuhkan untuk menjalani rute ini ternyata mencapai satu hari penuh.</p>
<p>Saya berada di bis pertama dengan interpreter T. Bachtiar (TB), geograf berenergi tinggi yang selalu terlihat antusias dalam membangkitkan kesadaran masyarakat agar lebih mencintai Kota bandung. Sementara di bis kedua ada geolog Budi Brahmantyo (BB) sebagai interpreter. BB yang lebih kalem ini tak kurang energinya bila sudah bercerita tentang lingkungan dan proses-proses geologi yang terjadi di sekitar kita. Sungguh beruntung seluruh peserta Jajal Geotrek II ini karena didampingi langsung oleh dua interpreter yang andal dalam berbicara mengenai lingkungan Bandung.</p>
<p>Stop pertama di Gunung Puntang. BB menjelaskan beberapa tipe gunung api (dan sungai) yang disambung oleh TB dengan topik toponimi (dan etimologi) Malabar. Di sini seluruh peserta dapat menyaksikan peninggalan sejarah berupa puing-puing bangunan bekas kompleks stasiun pemancar pertama di Hindia Belanda. Kegiatan dilanjutkan dengan susur sungai Cigeureuh ke arah hulu. Perjalanan di tengah arus sungai ini adalah yang paling mengesankan. Di ruang yang lebih terbuka, Masih di atas badan sungai, di ruang yang lebih terbuka, BB bercerita tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kompleks Pegungungan Malabar sambil menjawab beberapa pertanyaan dari peserta. Saya yakin kuliah di atas sungai ini akan menjadi kuliah paling menarik bagi kebanyakan peserta.</p>
<p>Stop kedua di Rumah Bosscha. Di stop ini acara utamanya adalah makan siang yang enak. Soto Bandung dengan tempe, perkedel, telor rebus, dan sambal yang aneh karena tidak pedas. Sebelum makan BB sempat bercerita tentang peristiwa gempa bulan September lalu dan berbagai sebab yang menjelaskan kenapa daerah Pangalengan mengalami kerusakan cukup parah. Usai makan para peserta berkesempatan untuk melihat-lihat bagian dalam Rumah Bosscha yang tampak porak-poranda. Jamuan terakhir adalah tee dan kopi yang cawerang banget, hehe..</p>
<p>Stop ketiga di dekat kebun teh tua dari Assam, India, untuk menyaksikan dan bercerita tentang bentang alam Gunung Wayang-Windu serta proses-proses geothermal.</p>
<p>Stop keempat di kebun teh tua ternyata hanya berhasil mengusir pasangan yang sedang mojok di kerimbunan pepohonan teh yang tingginya mencapai 5-6 meter. Hujan yang menderas membatalkan kuliah di stop ini.</p>
<p>Stop kelima di tugu dan makam Bosscha diselingi insiden kecil tertabraknya seorang peserta oleh motoris yang tidak bertanggungjawab. Sungguh luar biasa, di bawah guyuran hujan semua peserta tampak terpesona oleh ceramah umum yang disampaikan bintang tamu of the day, Pak Upir, persis di depan makam Bosscha. Ceramah luar biasa ini berakhir antiklimaks saat Pak Upir bertanya, “sebentar, ini pesertanya ada berapa orang?.”</p>
<p>Stop keenam di sisi Situ Cileunca. Gerimis masih berlangsung intensif sehingga tidak banyak peserta yang turun ke tepi danau. Sebagian besar berdiri saja di sisi jalan mengamati bentangan alam yang tersaji di depan. Situ Cileunca sebetulnya merupakan danau kembar buatan di kawasan hutan belantara yang mulai dibuka pada tahun 1917. Kawasan hutan ini dimiliki secara pribadi oleh seorang Belanda bernama Kuhlan. Pembangunan danau seluas 390 hektare dan berkedalaman 17 meter ini berlangsung dari 1919 hingga 1926.</p>
<p>Stop ketujuh atau terakhir di Cukul Tea Estate berlangsung agak muram. Setelah iming-iming dan bayangan tentang keindahan Rumah Jerman (rumah dengan gaya tradisional Eropa), ternyata para peserta harus terhenyak menyadari bahwa rumah tersebut sudah tidak ada lagi. Yang tersisa di tempatnya hanyalah tumpukan berangkal dan gudang kecil yang sebelumnya merupakan bagian belakang rumah tersebut. Bangunan indah dan langka itu ternyata telah rata tanah akibat gempa. Kesedihan terlebih melanda sebagian peserta yang pernah menikmati keindahan rumah kayu itu dalam perjalanan Tambang Emas Cibaliung bersama Mahanagari pada bulan April lalu. Apa boleh buat …</p>
<p>Stop ketujuh sekaligus juga menutup seluruh rangkaian perjalanan Jajal Geotrek II dari truedee hari ini. Perjalanan dengan rute yang mungkin biasa saja namun saya yakin sudah mampu memberikan efek luar biasa bagi segenap pesertanya, termasuk saya sendiri yang relatif sudah sering aprak-aprakan di wilayah ini. Terimakasih untuk truedee, T. Bachtiar, dan Budi Brahmantyo. Semoga semua upaya ini betul-betul dapat menjadi inspirasi bagi semuanya dalam menumbuhkan kecintaan yang mendalam terhadap Kota Bandung. Kecintaan yang tidak berakhir di mulut, namun dalam perbuatan yang nyata.</p>
<p>Ridwan Hutagalung<br />
30 November 2009</p>
<p>Sedikit catatan tambahan (aspek sejarah populer saja) tentang objek yang disinggahi dalam Jajal Geotrek II.</p>
<p>1) Stasiun Radio Malabar / Gunung Puntang<br />
Kawasan wisata Gunung Puntang yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Malabar, terletak di Desa dan Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Kawasan ini sempat pusat perhatian dunia pada tahun 1923 karena saat itu pemerintah Hindia Belanda berhasil mendirikan stasiun radio pemancar yang pertama dan terbesar di Asia. Untuk memancarkan gelombang radio digunakan bentangan antena sepanjang 2 km antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun. Ketinggian antena dari dasar lembah rata-rata 350 meter. Kontur lembah di kawasan yang terpencil ini ternyata sangat mendukung efektivitas rambat gelombang yang mengarah langsung ke Nederland. Sebagai pendukung tenaga listriknya, dibangun pula sejumlah pembangkit listrik, di antaranya PLTA Dago dan PLTA Plengan dan Lamadjan (di Pangalengan) serta sebuah PLTU di Dayeuh Kolot.</p>
<p>Pada tahun 1923 dibangun pula sebuah kompleks hunian bagi para karyawan stasiun pemancar ini. Kompleks yang disebut sebagai Radiodorf (Kampung Radio) ini memiliki sejumlah fasilitas seperti rumah karyawan, gedung pemancar, lapangan tenis, kolam renang, dan konon juga sebuah bioskop. Sayang semuanya kini hanya tinggal puing berserakan saja. Di seantero kawasan ini bisa dengan mudah kita temui sisa-sisa bangunan, bekas-bekas fondasi yang sering tertutup semak, serta sisa-sisa antena yang masih tersebar di area pegunungan. Saat ini di reruntuhan bangunan yang tersisa dipasang plakat-plakat nama para pejabat yang pernah tinggal di situ.</p>
<p>Perintisan dan pembangungan Stasiun Radio Malabar dilakukan oleh seorang ahli teknik elektro Dr. Ir. C.J. de Groot sejak 1916. Pembangunan antena di Gunung Puntang sudah dilakukannya sejak 1917. Setelah mengalami kegagalan, de Groot akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya pada tahun 1923 (antena Telefunken yang diterima di Batavia pada 1919, baru selesai terpasang pada 1922). Stasiun Radio Malabar kemudian diresmikan oleh Gubernur Jenderal de Fock pada tanggal 5 Mei 1923.<br />
Dr. de Groot yang meninggal pada tahun 1927 kemudian hari dikenang melalui sebuah nama jalan di Bandung Utara, Dr. de Grootweg (sekarang menjadi Jalan Siliwangi), sedangkan peristiwa telekomunikasi pertama diperingati melalui pendirian sebuah monumen berbentuk dua orang anak telanjang yang sedang berkomunikasi mengapit sebuah bola dunia di Tjitaroemplein. Sayangnya monumen tersebut sudah tidak ada lagi sekarang. Di bekas lokasinya sekarang didirikan Mesjid Istiqomah.</p>
<p>Stasiun Radio Malabar mengakhiri masa jayanya pada tahun 1946 dengan terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Saat itu empat pemuda dari Angkatan Muda PTT yang bertugas menjaga Stasiun Radio Malabar menerima perintah dari Komandan Resimen yang sedang berada di Citere, Pangalengan. Isi perintahnya adalah penghancuran Stasiun Radio Malabar.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2731692&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=187862996486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=187862996486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_187927394089_519229089_2731692_10936_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Radiodorf dan Stasiun Radio Malabar</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2731693&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=187862996486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=187862996486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_187928194089_519229089_2731693_7283067_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Berbagai peralatan pemancar radio di Stasiun Radio Malabar</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2731751&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=187862996486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=187862996486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_187930974089_519229089_2731751_1625168_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Reruntuhan Radiodorf</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2731761&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=187862996486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=187862996486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_187932514089_519229089_2731761_4774703_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Sisa Kolam Cinta</p>
<p>2) Karl Albert Rudolf Bosscha<br />
Perkebunan Teh Malabar sudah dibuka sejak tahun 1890 oleh Preangerplanter bernama Kerkhoven yang sebelumnya sudah membuka perkebunan teh di daerah Gambung, Ciwidey. Namun popularitas kawasan Kebun Teh Malabar berkembang dan memuncak setelah Kerkhoven mengangkat sepupunya, Bosscha, untuk menjadi administratur perkebunan ini pada tahun 1896.</p>
<p>Selain perkebunan, sejumlah jejak Bosscha lainnya masih tersebar di kawasan ini. Di antaranya sebuah rumah tinggal yang saat ini sedang direnovasi akibat kerusakan yang cukup parah oleh gempa bumi pada bulan September lalu. Sebelum kerusakan ini, berbagai barang pribadi peninggalan Bosscha masih tersimpan dan tertata rapi di rumah ini. Saat ini barang-barang tersebut diungsikan ke sebuah gudang sampai renovasi selesai dilakukan. Salah satu spot favorit Bosscha di perkebunan ini adalah sebuah hutan kecil yang sekarang menjadi lokasi makam dan tugu Bosscha. Beberapa pohon besar (termasuk yang langka) memberikan keteduhan pada kompleks makam ini.</p>
<p>Tak jauh dari makam, terdapat suatu area dengan pohon-pohon teh yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Pohon-pohon teh yang mencapai tinggi hingga 6 meter ini berasal dari biji-biji teh Assam (India) yang ditanam pada tahun 1896. Biji teh dari Assam inilah yang kemudian menjadi bibit bagi perkebunan teh di sekitar Pangalengan. Di belakang pasar Malabar hingga saat ini masih dapat juga ditemui sebuah rumah panggung tempat tinggal para buruh perkebunan di masa Bosscha. Konon rumah panggung yang sekarang dikenal dengan nama Bumi Hideung ini didirikan pada tahun 1896, saat yang sama dengan berdirinya Perkebunan Teh Malabar.</p>
<p>Nama Bosscha sebenarnya tak dapat dipisahkan dari Kota Bandung. Sifatnya yang dermawan telah melibatkannya dalam berbagai perkembangan dan kemajuan Kota Bandung di masa lalu. Beberapa di antaranya : pembangunan Technische Hooge School (THS atau ITB sekarang) beserta fasilitas laboratoriumnya, Sterrenwacht (peneropongan bintang) Bosscha di Lembang, PLTA Cilaki di Gunung Sorong, serta berbagai sumbangan untuk Doofstommen Instituut (Lembaga Bisu Tuli) dan Blinden Instituut (Lembaga Buta) di Jln. Cicendo dan Jln. Pajajaran, Leger des Heils (Bala Keselamatan), dan beberapa rumah sakit di Bandung.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2731777&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=187862996486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=187862996486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_187933749089_519229089_2731777_7240171_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Pohon Teh Assam</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2731792&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=187862996486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=187862996486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_187934489089_519229089_2731792_7154936_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Perkebunan ini banyak berperan dalam pembangunan Kota Bandung pada masa Hindia Belanda.</p>
<p>Sumber tulisan :<br />
- Wisata Bumi Cekungan Bandung (Brahmantyo &#38; Bachtiar, Truedee Pustaka Sejati, Bandung, 2009)<br />
- Jendela Bandung (Her Suganda, Penerbit Buku Kompas, Bandung, 2007)<br />
- Radio Malabar – Herinneringen aan een Boiende Tijd 1914-1945 (Klaas Djikstra, pdf version)<br />
- Buklet Radio Station Malabar en Overige Stations op de Bandoengsche Hoogvlakte (Gouvernements Post-Telegraaf en Telefoondienst in Nederlandsch-Indie, 1928)<br />
- catatanide.multiply.com, ketjesuretje.multiply.com<br />
- Artikel-artikel koran PR dan Kompas.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Karst Citatah, Riwayatmu Kini ]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/karst-citatah-riwayatmu-kini/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 14:46:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/karst-citatah-riwayatmu-kini/</guid>
<description><![CDATA[By : Yanstri M. &lt;11 Oktober 2009&gt; Oahhmmm, rasanya mata ini masih ingin terpejam. Empuknya kas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : Yanstri M.</div>
<div>&#60;11 Oktober 2009&#62;</p>
<p>Oahhmmm, rasanya mata ini masih ingin terpejam. Empuknya kasur dan hangatnya selimut masih melenakanku, tapi aku harus segera bangun. Ya, pagi ini Aleut akan mulai penjelajahan lagi. Kali ini Pegiat Aleut akan berkunjung kembali ke Gua Pawon untuk kedua kalinya di tahun ini. Hanya saja kali ini kami tidak berkunjung ke Gunung Hawu dahulu seperti perjalanan di bulan Maret, langsung menuju Pasir Pawon dan Gua Pawon. Gua Pawon terletak di Kawasan Karst Citatah, Jl. Raya Gn. Masigit, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Dengan kepala yang masih terasa sedikit pusing akibat kurang tidur, aku bergegas menuju ke Gedung Merdeka tempat <em>meeting point</em> kami. Kala itu waktu menunjukkan pukul 07:10. Baru ada beberapa Pegiat Aleut dan rombongan penggemar sepeda onthel yang berkumpul di depan Gedung Merdeka. Sambil menunggu pegiat yang lain, kami menikmati aktivitas yang ada di sekitar Gedung Merdeka. Beberapa kali mataku sempat terpejam, tak kuat menahan kantuk.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30509563&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198038883099_1592333069_30509563_3213422_a.jpg" alt="" width="395" height="296" /></a></div>
</div>
<div>Kami masih menunggu satu orang teman yang masih dalam perjalanan. Akhirnya, sekitar pukul 8 kami mulai perjalanan dengan menggunakan Bis Damri jurusan Alun-Alun – Ciburuy. Kali ini kami memilih menggunakan bus AC supaya pegiat yang ingin beristirahat (tidur) sebelum memulai petualangan bisa merasa nyaman. Karena kami terbiasa menggunakan bis Non AC, beberapa teman bergegas menggunakan jaket untuk menahan hawa dingin yang cukup menggigit. Entah karena AC-nya memang kencang atau karena hanya ada sedikit penumpang yang bersama kami kala itu sehingga dinginnya cukup terasa.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30509565&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198038963101_1592333069_30509565_397704_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, tibalah kami di pemberhentian terakhir bus yaitu di Situ Ciburuy. Beberapa teman yang tidak membawa bekal makan siang bergegas mampir ke warung makan yang ada di sekitar situ (kata BR sayur buncisnya yahud, patut dicoba tuch!). Lainnya berkunjung ke Alfamart untuk membeli minuman. Ternyata ada yang berbeda dari terakhir kali ketika aku berkunjung ke sana. Dahulu di depan Situ Ciburuy belum berdiri gerai Alfamart. Setelah semua pegiat berkumpul kembali, perjalanan dilanjutkan menggunakan angkutan umum bertarif Rp. 1.500,-/orang.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30509566&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198039003102_1592333069_30509566_542606_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div><strong>Taman Batu (Stone Garden) </strong><br />
Pemberhentian kami selanjutnya adalah mesjid yang berada di dekat jalan yang menuju Taman Batu. Jalanan berbatu mulai menanjak. Melewati sebuah pabrik dan perkebunan singkong penduduk di sisi kiri dan pohon cemara di sisi kanan. Jalanan semakin terjal, melewati gugusan batu-batu kapur, kami terus naik menuju puncak Taman Batu.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30512195&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs042.snc3/12944_1199319315109_1592333069_30512195_6956572_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30509572&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198040563141_1592333069_30509572_5394523_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30512193&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs042.snc3/12944_1199316915049_1592333069_30512193_4400198_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Terasa sekali perbedaan suasana di sekitar Taman Batu. Saat kami berkunjung ke sana di bulan Maret masih terdapat banyak batu-batu besar yang membuat kami agak kesulitan untuk menuju puncak Taman Batu. Saat ini, sebagian batu besar tersebut sudah hilang digantikan dengan ladang penduduk. Selain itu, terlihat saung-saung tempat peladang beristirahat. Kami sempat ditegur oleh penduduk setempat akibat menginjak ladang mereka yang baru dicangkul.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30512211&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs042.snc3/12944_1199333675468_1592333069_30512211_7725137_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30512199&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs042.snc3/12944_1199320515139_1592333069_30512199_4515691_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Di Taman Batu kami sempat melihat sebuah kuburan yang menurut keterangan BR baru ada di sana setelah Kemerdekaan Republik Indonesia. Di sana BR juga sempat memberi sedikit penjelasan mengenai proses terbentuknya kawasan Pasir Pawon dan mengenai guratan-guratan yang terdapat di batu-batuan yang ternyata berasal dari sisa-sisa plankton. Ternyata kawasan Pawon dahulu merupakan bagian dari Danau Bandung Purba.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511026&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198688659343_1592333069_30511026_2741767_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Puas berfoto-foto kami turun melalui samping ladang penduduk. Kami sempat melewati pabrik pengolahan batu gamping dan melewati tempat pembakaran karet yang asapnya sangat pekat membuat kami harus menutup hidung agar tidak terlalu banyak menghirup asap tersebut. Di kanan terlihat bukit kapur terjal yang mulai hilang sebagian sisinya akibat terus diambil oleh pelaku industri. Hal tersebut bisa terlihat dari perbedaan warna bukit tersebut. Bukit yang masih asli, belum terjamah tangan manusia, berwarna kehitaman. Sedangkan bukit yang sudah dikeruk oleh manusia berwarna coklat kemerahan. Malang nian nasib karst citatah. Perlahan tetapi pasti menuju kepunahannya.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30512200&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs042.snc3/12944_1199321875173_1592333069_30512200_2197905_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30512203&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs042.snc3/12944_1199323555215_1592333069_30512203_4067563_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30512210&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs042.snc3/12944_1199332035427_1592333069_30512210_1118242_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Perjalanan diteruskan menuruni “tanjakan frustasi”. Kondisi menuju tanjakan tersebut juga sudah berubah. Sepertinya ada truk yang pernah melewati jalur tersebut terlihat dari bekas-bekas ban dan hilangnya sebagian gundukan tanah di pinggir jalan menuju tanjakan frustasi. Kami juga sempat mencari bibit pohon yang pernah kami tanam. Ternyata sebagian besar bibit tersebut sudah tidak ada wujudnya.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511052&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198691979426_1592333069_30511052_2183742_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511055&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198692739445_1592333069_30511055_4563232_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Akhirnya, tibalah kami di saung yang terletak di bawah gua pawon. Situasi di sini pun sudah berbeda. Dahulu di sini ada 2 buah saung, sekarang hanya tertinggal satu buah. Ada pemandangan baru yang cukup menarik, di sana terdapat satu buah pendopo yang seingat saya belum ada ketika saya berkunjung ke sana pertama kali. Selain itu, terdapat 2 buah sarana wc umum yang sayangnya dalam keadaan terkunci sehingga kami sebagai pengunjung Gua Pawon tidak dapat memanfaatkan sarana tersebut. Setelah berisitirahat sejenak sambil mengisi perut yang mulai keroncongan, kami melanjutkan perjalanan menuju Gua Pawon.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511082&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198698139580_1592333069_30511082_6160384_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511078&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198697059553_1592333069_30511078_6992819_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511056&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198692859448_1592333069_30511056_6145321_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div><strong>Gua Pawon</strong><br />
Baru mulai menapaki tanjakan menuju Gua Pawon kami sudah disambut bau tidak sedap yang berasal dari guano (kotoran kelelawar) yang membuat perut saya terasa mual. Bergegas saya mencari ruang terbuka di sisi Gua Pawon. Berjalan sedikit ke dalam, di sebuah ceruk kita bisa menikmati sekumpulan kelelawar yang asyik berputar tiada henti.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511057&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198693139455_1592333069_30511057_2167709_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Untuk masuk lebih dalam kami harus melewati ceruk yang cukup rendah, yang membuat kami terpaksa membungkuk dan memanjat untuk melewatinya. Di dalam gua kami menemukan pagar besi yang di dalamnya terdapat replika manusia pawon. Menurut keterangan yang saya baca di salah satu blog, manusia Pawon kemungkinan adalah manusia tertua di Bandung.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30512208&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs042.snc3/12944_1199329075353_1592333069_30512208_1370045_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Tempat ditemukannya Manusia Pawon</div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511067&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198694219482_1592333069_30511067_1465782_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Replika Manusia Pawon</div>
</div>
<div>Kami terus turun ke Bawah. Di sana kami bertemu dengan sekelompok pencinta alam yang sedang bersiap-siap untuk mendaki tebing di dalam Gua Pawon. Dari jendela yang ada di Gua Pawon kita bisa memandangi kawasan Cibukur. Pemandangan dari puncak tersebut sangat indah. Tapi kita harus berhati-hati agar tidak tergelincir yang bisa berakibat fatal.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511069&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198694619492_1592333069_30511069_4639462_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511071&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198695059503_1592333069_30511071_4373253_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511059&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198693739470_1592333069_30511059_1935742_a.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Pemandangan Lembah Cibukur dilihat dari atas Gua Pawon</div>
</div>
<div>Puas berfoto ala manusia Pawon, kami menuju warung yang ada di sekitar rumah penduduk. Untuk mencapai warung tersebut kita harus melalui jalanan menurun di samping pendopo. Kami berhenti sejenak untuk melepas dahaga dengan minuman dingin yang menyegarkan. Beberapa peserta berdoa semoga turun hujan, karena suhu udara saat itu cukup panas, matahari bersinar sangat terik. Sayangnya doa tersebut tidak terkabul. Sehingga kami tetap harus berjalan dalam naungan teriknya sang surya.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511080&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198697459563_1592333069_30511080_7880232_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Perjalanan pulang dilanjutkan melintasi rumah penduduk dan sawah-sawah. Seorang peserta sempat ketakutan ketika kami melewati kandang kambing yang ada di sebelah rumah penduduk. Usut punya usut ternyata dia trauma dengan kambing.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511083&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198698299584_1592333069_30511083_1649837_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511086&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198698779596_1592333069_30511086_4721355_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Setelah melewati sawah, kami masuk ke kebun jambu biji. Buahnya sangat menggoda kami, seakan memanggil-manggil untuk dipetik.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511089&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198699259608_1592333069_30511089_2904194_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511091&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198699859623_1592333069_30511091_3627388_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Kami terus berjalan melewati rumah penduduk, melalui jalanan berbatu yang mulai menanjak. Rasanya energi benar-benar terkuras. Kami masih harus berjalan sekitar 500m untuk mencapai jalan raya.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511092&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198700139630_1592333069_30511092_314226_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511094&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs097.snc3/16433_1198700579641_1592333069_30511094_6136840_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Akhirnya, sampai juga kami di tepi jalan raya dengan perasaan lega. Perjalanan pulang menggunakan rute yang sama dengan saat berangkat. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30511047&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=302954125231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=302954125231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs117.snc3/16433_1198690219382_1592333069_30511047_7065535_a.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Sayang sekali keindahan alam yang terbentuk jutaan tahun yang lalu musnah hanya dalam sekejap mata. Tak bolehkah generasi masa depan menikmati keindahan tersebut. Tak bolehkah mereka merasakan apa yang bisa kita nikmati sekarang. Apakah di masa depan mereka hanya dapat melihat bentuk batu kapur dari selembar foto, dari sebongkah batu yang tersimpan di museum. Atau mereka harus pergi ke negeri orang hanya untuk merasakan dan melihat rupa batu kapur. Tegakah kita membiarkan mereka hanya mengenal yang namanya hutan beton tanpa pernah merasakan nikmatnya berpetualang sambil menikmati keindahan alam?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ngaleut Ka Jaya Giri]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/ngaleut-ka-jaya-giri/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 11:44:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/07/ngaleut-ka-jaya-giri/</guid>
<description><![CDATA[By : Yanstri M. Minggu (06-11-2009) saya dan 7 (tujuh) Pegiat Aleut lainnya berkumpul di depan Museu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>By : Yanstri M.</div>
<div>Minggu (06-11-2009) saya dan 7 (tujuh) Pegiat Aleut lainnya berkumpul di depan Museum Sri Baduga. Pada awalnya kami berencana akan berkunjung ke Gn. Puntang. Tetapi karena jumlah pegiat yang hadir hanya sedikit, membuat kami merubah haluan. Akhirnya diputuskan untuk menelusuri Wana Wisata Jaya Giri dan sebagian jalur Geotrek 1 dari Buku Wisata Bumi Cekungan Bandung.</p>
<p>Titik awal perjalanan kami adalah Pasar Lembang melalui jalur yang menuju Taman Junghuhn. Kami sempat berkunjung ke taman tersebut. Ini merupakan kali kedua saya berkunjung ke sana. Tidak jauh dari Tugu Jughuhn, yang juga merupakan makam dari Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, kami menemukan sebuah makam lain yang menurut dugaan kami merupakan makan sahabat Junghuhn. Junghuhn merupakan pelopor budidaya kina di Jawa Barat. Beliau lahir di Mansfield/Magdeburg pada 26 Oktober 1809 dan wafat di Lembang pada 24 April 1864. Sejak tahun 1856 hingga akhir hayatnya, Franz Wilhelm Junghuhn bertugas mengelola perkebunan kina pertama di Jawa Barat.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558529&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs106.snc3/15340_1218518155068_1592333069_30558529_2105634_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558536&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs106.snc3/15340_1218520795134_1592333069_30558536_2736256_n.jpg" alt="" width="427" height="367" /></a></div>
</div>
<div>Perjalanan pun berlanjut. Kami sempat terpikir untuk berkunjung ke Benteng Gn. Putri, tetapi karena perjalanan ke sana terlalu jauh maka diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Wana Wisata Jaya Giri. Untuk masuk ke wana wisata tersebut pengunjung harus membayar retribusi sebesar Rp 4.000,- dan sumbangan PMI Rp 500,-. Jalanan terus menanjak membuat saya mulai terengah-engah. Saya merasa ada perbedaan dengan jalan yang kami lalui. Seingat saya, sewaktu pertama kali berkunjung pada bulan Juli 2009 jalanan yang kami lalui tidak terlalu lebar. Tetapi sekarang jalanan tersebut lebih lebar dan lebih landai. Sehingga kami tiba di lapangan yang merupakan titik pemberhentian pertama dalam waktu ± 1 jam. Di perjalanan kami bertemu dengan masyarakat sekitar yang sedang mengangkut kayu bakar dan sekelompok pencinta alam yang juga akan menuju ke Obyek Wisata Gn. Tangkubanparahu.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558537&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs106.snc3/15340_1218521115142_1592333069_30558537_5801344_n.jpg" alt="" width="453" height="389" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558538&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs086.snc3/15340_1218521475151_1592333069_30558538_5287915_n.jpg" alt="" width="400" height="344" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558539&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs086.snc3/15340_1218522955188_1592333069_30558539_4784996_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558540&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs106.snc3/15340_1218523555203_1592333069_30558540_4020246_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Kami sempat berdebat mengenai rute yang akan kami lalui selanjutnya karena ada beberapa alternatif jalan. Akhirnya kami mengambil rute yang menuju parkiran Jaya Giri. Di jalan yang kami lalui terdapat 2 (dua) buah pipa air yang membentuk seperti rel kereta api dan salah satunya berujung ke dam air. Lokasi ini cukup bagus untuk digunakan sebagai tempat foto pre wedding menggantikan rel kereta api. Hujan dan kabut menyambut kedatangan kami selewat parkiran Jaya Giri. Perjalanan yang akan dilanjutkan ke Kawah Domas terpaksa dihentikan sementara karena hujan semakin lebat. Udara dingin membuat cacing-cacing perut kami berteriak lagi minta diisi. Padahal belum terlalu lama kami “berpiknik” di Wana Wisata Jaya Giri.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558541&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs106.snc3/15340_1218524075216_1592333069_30558541_701051_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Warung Ibu Kartini merupakan tujuan kami untuk memenuhi tuntutan perut. Beberapa pegiat termasuk saya tanpa ragu langsung memesan semangkuk mie rebus ditambah cabai rawit. Pegiat lainnya cukup puas mengisi perut dengan gorengan. Untuk semangkuk mie rebus+telur kami harus mengeluarkan uang sebesar Rp 7.000,-. Harga yang cukup mahal bila dibandingkan dengan harga mie rebus di warung kopi. Yah, harap dimaklumi, namanya juga tempat wisata. Tak apalah daripada kami harus menahan lapar.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558542&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs106.snc3/15340_1218524395224_1592333069_30558542_1876365_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Aroma belerang mulai memanggil kami untuk menyapa Kawah Domas. Jalanan yang kami lalui sempat menurun. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Kami harus sedikit melalui jalanan menanjak. Sekitar 300 m dari Kawah Domas kami sempat beristirahat sejenak untuk menikmati keindahan alam. Hamparan kawah yang berwarna putih dan kebun teh nan hijau di kejauhan benar-benar membawa kedamaian. Perjalanan dilanjutkan menuruni tangga yang cukup curam dan licin. Tangga tersebut sangat lebar dan terkadang jarak antara tangga yang satu dengan yang lainnya bisa mencapai 25cm, yang dengan sukses membuat kaki saya kram. Beberapa meter sebelum mencapai Kawah Domas terdapat papan peringatan bergambar kaki dengan tulisan “kade tisoledat” (bahasa Sunda : awas tergelincir) yang memperingatkan pengunjung agar berhati-hati melangkah supaya tidak tergelincir.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558543&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs106.snc3/15340_1218525075241_1592333069_30558543_2227518_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Kepulan asap dan kolam-kolam air panas menyambut kami. Ada satu kolam yang airnya menggelegak. Pengunjung bisa merebus telur di sana, tetapi tidak disarankan untuk memasukkan anggota badan kecuali Anda memang berniat untuk membuat kaki rebus. Pengunjung yang ingin merendam kaki bisa memanfaatkan kolam-kolam kecil lainnya. Tak sedikit pengunjung yang menggunakan lumpur dari kolam tersebut untuk melulur kakinya, karena lumpur tersebut dipercaya bisa menghilangkan penyakit kulit seperti gatal-gatal. Jika ingin mengenal Kawah Domas lebih dalam bisa membaca papan informasi yang tersedia tidak jauh dari pintu masuk Kawah Domas.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558544&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs086.snc3/15340_1218525555253_1592333069_30558544_4444140_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>Hari beranjak semakin sore. Hujan rintik-rintik mulai turun lagi. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan langkah kami untuk melanjutkan perjalanan ke hamparan kebun teh yang sempat kami nikmati dari atas Kawah Domas. Melalui jalan setapak di belakang Kawah Domas kami mulai melangkah. Semakin ke dalam ilalang semakin rimbun. Beberapa kali kami harus menerobos terowongan ilalang. Pandan hutan berduri terkadang menggores lengan apabila kami tidak berhati-hati. Di kanan kiri jalan rimbunan pohon suplir mengiringi langkah kami.</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30558551&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=344773535231&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=344773535231&#38;id=1592333069"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs086.snc3/15340_1218531435400_1592333069_30558551_3543932_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Di tengah perjalanan kami dihadang hujan deras yang memaksa kami untuk segera menggunakan jas hujan. Langit semakin gelap, tetapi kebun teh yang kami tuju belum juga kelihatan. BR sempat berucap, “nanti kalau sampai kebun teh kita nyanyi bukit berbunga, ya”. Nyatanya begitu sampai kebun teh kami sudah lupa akan nyanyian apapun. Mata begitu terkesima akan pemandangan yang tersaji. Hamparan kebun teh dengan latar belakang pegunungan berselimut kabut membuat saya tak bisa berkata-kata. Mudah-mudahan masih bisa dinikmati juga oleh generasi masa depan.</p>
<p>Sayang kami tidak bisa berlama-lama menikmati keindahan itu. Hujan deras, udara dingin dan langit senja memaksa kami bergegas menuju jalan raya. Kaki saya mulai terasa kram lagi. Terseok-seok saya paksakan diri melangkah. Akhirnya, tibalah kami ke Jalan Raya Bandung-Subang. Tetapi perjuangan kami belum berakhir. Kami harus segera mencari warung tempat berteduh dan segelas teh manis hangat untuk mengusir dinginnya senja. Perjalanan kali ini ditutup dengan berdesak-desakan di dalam elf yang membawa kami ke kota Bandung tercinta.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Touring Jalur Pantai Selatan Jawa Bagian Barat : Ujung Genteng – Pamengpeuk. #2-2 ]]></title>
<link>http://imamarkan.wordpress.com/2010/02/07/touring-jalur-pantai-selatan-jawa-bagian-barat-ujung-genteng-%e2%80%93-pamengpeuk-2-2/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 01:22:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>imamarkan</dc:creator>
<guid>http://imamarkan.wordpress.com/2010/02/07/touring-jalur-pantai-selatan-jawa-bagian-barat-ujung-genteng-%e2%80%93-pamengpeuk-2-2/</guid>
<description><![CDATA[Tantangan dimulai deh, motor jalannya ajrut-ajrutan nggak bisa milih jalan, stamina terkuras karena ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tantangan dimulai deh, motor jalannya ajrut-ajrutan nggak bisa milih jalan, stamina terkuras karena harus konsen dan menjaga keseimbangan, tapi sambil ngeliat pemandangan juga hehehe…..; kira-kira dua kilo jalan gak ada perubahan malah makin parah, jadi sempet ragu juga bener nggak sih ini jalannya. Tanya lagi ke penduduk, dijawab bener. Nanya lagi “ini jalannya kayak gini terus ya sampai di Agra Binta?” dijawab “oh nggak pak nanti ada yang bagusnya juga selang seling deh” katanya.</p>
<div>
Bagus deh ada harapan jalan bagus, soalnya di pal kilometer tadi disebutkan Agra Binta 34km…..kan kalo 34km ajrut-ajrutan gini bakalan gempor juga kita.<br />
Perjalanan dilanjutkan dengan pelan-pelan saja paling gigi 1 atau gigi 2 aja, akhirny sekitar 20 km dari Agra Binta jalanan membaik – wuih lega rasanya.</div>
<div>
Sepanjang perjalanan Tegal beleud – Agra Binta kontur alam masih sama, perbukitan dan banyak kebun kelapa, jarak antar kampong berjauhan kendaraan yang melintas hanya truck ¾ dan pickup yang mengangkut hasil bumi, angkutan umum tidak terlihat, sepi banget. Lumayan runyam kalo motor ada trouble di ruas ini. Motor sang suhu aja sil shockbrekernya jadi bocor…..tapi masih sanggup melanjutkan perjalanan.</div>
<div>
Akhirnya kami tiba di Agra Binta sekitar jam 11.15, kami lanjutkan perjalanan menuju sindang barang yang berjarak 15km dari Agra Binta, kali ini jalanan sudah lebih baik dan terlihat angkutan umum berupa minibus Elf. Namun walaupun jalanan sudah lebih baik untuk mencapai Sindang Barang kami harus melalui 2 buah jembatan darurat, berupa jembatan baley yang lantainya berupa balok papan kayu……</div>
<div>
Bener-bener deh kami seperti habis menembus daerah terisolir saja….padahal ini dipulau jawa lho.</div>
<div>
Adzan dzuhur terdengar ketika kami memasuki Sindang Barang – dan ternyata tidak ada pom bensin di Sindang Barang ini padahal kota ini termasuk kota yang cukup ramai. Bro Arif terpaksa mengisi bensin eceran untuk bisa melanjutkan perjalanan, sedangkan bensin mat item masih cukup untuk mencapai pamengpeuk.</div>
<div>
Saya sudah lega bisa mencapai Sindang Barang ini dengan selamat, karena dari Sindang Barang ke arah Pamengpeuk sebagaian besar saya sudah pernah lewati, tinggal sepotong saja yaitu dari Cidaun/Cijayanti ke Ranca Buaya itu saja yang belum saya lewati. Artinya rute selanjutnya saya sudah familiar.</div>
<div>
Kami lanjutkan perjalanan menuju Cidaun (sekitar 25km dari Sindang Barang) – saya pernah ke Cidaun Maret 2009 kemarin bersama bro Djafron dan bro Wawan, kali ini saya lihat disamping jembatan darurat yang menuju cidaun sudah dibangun jembatan baru……baguslah sudah ada perbaikan, juga sebagian lubang saya liat sudah ditambal.</div>
<div>
Dicidaun ini kami mampir dulu ke pantai Cijayanti – buat santap siang dan istirahat saat itu jam sudah menunjukan pukul 13.00. Santap siangnya nikmat banget pake ikan bawal bakar yang masih seger dan daging semua (bawal fillet?) sampai nggak abis tuh ikan bakarnya udah kekenyangan….yummy banget bo.</div>
<div>
Menjelang jam 15 perjalanan kami lanjutkan dalam cuaca hujan, antara Cijayanti – Rancabuaya (15km) ini ada ruas yang masih rusak kira-kira sepanjang 2 kilo meter adanya selepas Cijayanti selanjutnya jalanan bagus.</div>
<div>
Sayangnya saat itu hujan lebat, kalo tidak kami akan lebih bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan alam kepada kita, kami berada diperbukitan dimana disebelah kanan ada persawahan hijau yang membentang dan berbatasan dengan laut/pantai, disebelah kiri kami perbukitan terbuka yang digunakan berladang oleh penduduk. Sangat indah – ditempat-tempat yang tidak digarap manusia perbukitannya masih berupa hutan2 kecil penuh pepohonan.</div>
<div>
Setibanya di persilangan jalan Ranca Buaya, hujan semakin deras kami putuskan untuk lanjut ke Pamengpeuk dan tidak mampir ke pantai Ranca Buaya. Jarak Ranca Buaya – Pamengpeuk sekitar 33km sekitar tiga kilometer selepas persilangan jalan tadi…..hujan semakin menggila, kini disertai angin kencang sementara kami berada diperbukitan yang terbuka, akhirnya ketika kami melihat ada sebuah masjid cantik di kanan jalan kami putuskan berhenti.</div>
<div>
Mesjid ini cantik karena terletak diatas perbukitan, dari teras disebelah kanan kami bisa melihat hamparan sawah dan tepi laut. Bangunan mesjid ini masih baru dan arsitekturnyapun modern, jadinya betah deh nunggu hujan disini. Kami sholat dzuhur dan ashar terus istirahat, selain kami juga ada pengendara2 lain yang berteduh disini.</div>
<div>
Sekitar pukul 16.30 hujan reda dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju pamengpeuk, sepanjang jalan kami masih disuguhi pemandangan indah sampai akhirnya kami tiba disatu-satunya pom bensin di Pamengpeuk pada pukul 17.50 setelah sempet mampir ke depan gerbang pusat peluncuran roket LAPAN untuk ngambil foto bro Arif sebagai bukti sudah nyampe Pamengpeuk.</div>
<div>
Pom bensin ini ternyata tidak buka 24 jam, jam 18.00 dia akan tutup jadi kami termasuk pelanggan terakhir hari ini, di pom bensin ini kami lepas jas hujan dan bersih2 terus sholat magrib sekalian. Tadinya kami ingin lanjut ke Garut (90km dari pamengpeuk) tapi melihat mendung mulai datang dan badan sudah lelah akhirnya kami putuskan untuk menginap di Pamengpeuk saja……</div>
<div>
Setelah makan malam kami langsung istirahat di penginapan dan langsung tertidur kelelahan, sepertinya semua makanan yang kita makan hari itu tidak ada yang tersisa jadi daging deh, semua terkonversi menjadi energy yang kita pake hari itu…..hehehehe</div>
<div>
Minggu, 27 Desember 2009<br />
Etappe III : Pamengpeuk – Garut – Cijapati – Bandung – Cianjur – Puncak – Bogor – Jakarta = 329km<br />
Udara cerah Pamengpeuk di minggu pagi ini mengiringi kami di etappe terakhir touring kami, kami start dari penginapan sekitar pukul 07.00 dan langsung menuju ke arah Cikajang – Garut. Ruas Pemengpeuk – Cikajang – Garut ini buat saya sudah cukup familiar karena saya sudah tiga kali melalui rute ini.</div>
<div>
Kondisi rute ini jalanannya baik, beberapa kilometer bahkan sudah ada yang baru diaspal dengan hotmix, tidak terlalu lebar dan intensitas kendaraannya cukup ramai. Sedangkan konturnya sendiri berada didaerah perbukitan sehingga kadang dijumpai tanjakan dan turunan. Kelokan-kelokan banyak sekali karena jalan ini mengikuti atau melipir di pinggang bukit, sehingga biasanya disalah satu sisi adalah dinding bukit dan disebelahnya lembah atau jurang.<br />
Pemandangannya yang jelas cantik dan tidak membosankan, ada perkebunan teh yang menutupi perbukitan seperti karpet hijau tebal, ada bukit batu yg menjulang, pokoknya enak dilihat deh.</div>
<div>
Perjalanan sangat lancar karena hari masih pagi, kami juga sering berpapasan dengan mobil bak terbuka yang mengangkut orang yang kelihatannya akan rekreasi ke pantai-pantai yang ada di Pamengpeuk.</div>
<div>
Menjelang pukul 09.30 kami sudah tiba di Garut, bro Asep mampir sebentar ke tempat penjualan oleh2. Digarut inilah baru kami bertemu dengan biker2 lain yang sedang turing – maklum garut juga salah satu daerah tujuan turing……hehehe berbeda banget dengan saat kami melintas di rute Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang, tidak satupun rombongan biker yg berpapasan….hihihi (kayaknya sih emang kita yang nyeleneh cari rutenya hahahaha).</div>
<div>
Dari Garut kita lanjut ke arah Bandung, tapi kali ini kita tidak lewat Nagrek, tapi mencoba jalur alternative lewat Cijapati. Ternyata jalur alternative ini memang menantang, tanjakannya gila-gilaan hehehe……dan pemandangannya pun cukup indah. Sayang di ujungnya (Majalaya – Dayeuhkolot) masih sering macet.</div>
<div>
Lepas dari Bandung kami sempat makan siang di Cimahi, di Padalarang rante motor sang suhu putus – untung deket bengkel jadi bisa langsung ganti rante.</div>
<div>
Selanjutnya perjalanan lancar di Cianjur hujan lebat, Puncak lancar karena satu arah dan kering(saat itu jam 16.00), tapi di Cibulan hujan lagi terus sampai Bogor dan lalulintas menjadi padat merayap untungnya motor masih bisa nyelap nyelip diantara celah mobil yang ada……</div>
<div>
Depok kami lewati dan kami berpisah di bawah flyover TB Simatupang bro Arif lurus ke arah pancoran sedangkan saya berbelok ke kanan menuju Poltangan. Saya tiba dihalaman rumah pukul 19.10 hari minggu tangga 27 Desember 2009 dengan selamat setelah menempuh total 730km.</div>
<div>
Alhamdulillah selesai juga selusur jalur pantai Selatan ini di tahun 2009, Alhamdulillah sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk menyelusuri jalan mulai dari Muara Binangeun sampai Pangandaran.</div>
<p>Sampai jumpa dalam catatan perjalan saya yang lain.<br />
Imam arkananto<br />
Samudera Indonesia Motor Community (SIMC) – 018<br />
Mailing List Yamaha Scorpio (MiLYS) – 170<br />
Skywave Owner Club (SOC) &#8211; 157<br />
Data angka :<br />
total kilometer 730km<br />
total biaya bensin Rp 102.500,- (full to full)<br />
konsumsi bensin = 1 : 32km<br />
Penginapan di Ujung Genteng = Rp 250.000,-<br />
Penginapan di Pamengpeuk = Rp 100.000</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Touring Jalur Pantai Selatan Jawa Bagian Barat : Ujung Genteng - Pamengpeuk #1-2 ]]></title>
<link>http://imamarkan.wordpress.com/2010/02/07/touring-jalur-pantai-selatan-jawa-bagian-barat-ujung-genteng-pamengpeuk-1-2/</link>
<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 01:18:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>imamarkan</dc:creator>
<guid>http://imamarkan.wordpress.com/2010/02/07/touring-jalur-pantai-selatan-jawa-bagian-barat-ujung-genteng-pamengpeuk-1-2/</guid>
<description><![CDATA[Memang tidak mudah mencari teman untuk diajak turing dengan motor khususnya untuk menjelajah rute-ru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div>Memang tidak mudah mencari teman untuk diajak turing dengan motor khususnya untuk menjelajah rute-rute yang tidak lazim dilalui biker. Tapi orang sering lupa dari perjalanan ke tempat2 tidak lazim inilah tempat-tempat indah penuh potensi wisata ditemukan dan kemudian dipopulerkan.</div>
<div>Mungkin empat atau lima tahun lalu orang tidak banyak tau tentang ujung genteng ataupun sawarna misalnya, karena prasarana jalannya yang masih jelek, medannya yang menguras tenaga ataupun akomodasinya yg terbatas dlsbnya pokoknya lebih banyak tantangannya sehingga orang berpikir dua kali untuk mengunjunginya. Kini setelah banyak orang berkunjung ke sana dan bercerita tentang keindahan atau keunikan tempat tersebut, maka tempat itu sekarang menjadi populer. Saat ini hampir semua komunitas biker mungkin mencita-citakan untuk bisa mengunjungi kedua tempat ini, dengan kata lain kedua tempat ini kini menjadi target tujuan turing.</div>
<div>Demikian juga ketika saya mencari teman untuk diajak turing menuntaskan obsesi saya untuk menyelusuri jalur pantai selatan Jawa Barat ini, cukup sulit untuk mendapatkannya sebagian karena memang sudah ada jadwal sendiri, sebagian lagi karena berpikir dua kali dengan medan yang akan dihadapi.</div>
<div>Untungnya H-2 menjelang keberangkatan seorang teman bersedia ikut – teman ini satu angkatan saat kami kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dulu (stan angkatan 82), dan secara kualifikasi dia ini levelnya termasuk suhu secara tahun 1984 dia sudah solo turing Jakarta – Surabaya naik vespa, sekarang ini hobbynya adalah miara motor-motor Honda lawas. Honda CB200, Honda XL, Honda Astrea Prima th89 adalah sejumlah koleksinya.<br />
Bro Arif Septiadi – kita singkat jadi bro Asep demikian nama teman saya tsb dan kali ini dia akan turing dengan Honda astrea prima tahun 1989 nya. Nah kebayangkan saya turing pakai Yamaha Scorpio 225 cc tahun 2005 sementara Bro Asep dgn Astrea Prima 100cc th 1989 so pasti saya yang harus menyesuaikan irama dan kecepatan dalam turing kali ini</div>
<div>Jalur pantai selatan jawa bagian barat yang saya maksud adalah jalan yang membentang mulai dari Muara Binangeun di Banten Selatan sampai Pangandaran di Selatan Ciamis kira-kira jarak totalnya adalah 566km.</div>
<div>Karena jaraknya yang cukup jauh saya tidak menyelesaikannya dalam satu kali perjalanan, tetapi saya penggal dalam empat ruas utama, dan pelaksanaannya pun mengikuti hari libur ataupun cuti yang tersedia.</div>
<div>Apalagi saya selalu menempatkan rute yg belum saya kenal harus dilalui pada siang hari, sehingga lama perjalanan yang dibutuhkan menjadi lebih panjang.</div>
<div>Adapun ke empat ruas utama tersebut adalah sebagai berikut :<br />
1. Muara Binangeun – Bayah – Sawarna – Cisolok – Pelabuhan Ratu = 114km<br />
2. Pelabuhan Ratu – Kiara Dua – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng = 103 km<br />
3. Ujung Genteng – Surade – Tegal Beleud – Arga Binta – Sindang Barang – Pamengpeuk = 188 km<br />
4. Pamengpeuk – Cipatujah – Cikalong – Cijulang – Pangandaran = 161 km</div>
<div>Dari keempat rute tersebut tinggal yang nomor 3 yang belum saya selesaikan rute yang lainnya sudah saya selesaikan dalam waktu yang berbeda-beda bahkan ada yg sampai lebih dari satu kali saya kunjungi, rute pertama diselesaikan agustus 2007 dan oktober 2009, rute nomor dua Maret 2006, Ferbuari 2008 dan Maret 2008, rute nomor empat Agustus 2009.<br />
Rute no 3 baru kesampaian Desember ini tepatnya tanggal 25,26,27 Desember 2009.</div>
<div>Berikut ini ceritanya.</div>
<div>Jum’at 25 Desember 2009<br />
Etappe I : Jakarta – Bogor – Cikidang – Plb Ratu – Kiara Dua – Surade – Ujung Genteng = 213km</div>
<div>Kami start dari halaman rumah saya di Poltangan jam 07.00 perjalanan lumayan lancar, sampai dengan pertigaan cikidang saya memimpin didepan, namun selanjutnya saya persilahkan suhu Asep memimpin sesuai aturan turing yang lazim motor dengan CC lebih kecil, ataupun yg berboncengan berada di depan…….</div>
<div>Sejak saat itu mat item (Yamaha scorpioku) yang biasanya beringas harus belajar kalem dan santai, menyesuaikan dengan kecepatan motor sang suhu yang di maintain di 50 – 60 kpj. Sebenernya motor sang suhu bisa aja lari sampai 80kpj tapi keliatannya beliau nggak pengen mesin motor kesayangannya rontok hehehe (maklum sdh berumur 20 tahun). Tapi sisi positifnya konsumsi bensin mat item jadi irit 1 lt : 32 km padahal dah pake karbu pe28 biasanya dalem kota Cuma dapet 1 : 26/27.</div>
<div>Sesekali kalo saya pengen merasakan beringasnya mat item…..maka saya jauhkan jarak dengan sang suhu….baru deh digeber mendekat lagi dibelakang motor suhu.</div>
<div>Kondisi jalan Jakarta sampai Pelabuhan Ratu cukup baik, masih bumpy tapi lubang2 sudah berkurang, trek cikidang juga kondisi bagus dan masih menantang untuk dilibas sama yang doyan tikungan2 buat rebahan.</div>
<div>Pukul 09.30 kami sudah tiba di pertigaan Pelabuhan Ratu selanjutnya belok ke kiri mengarah ke jalan raya Sukabumi – Pelabuhan Ratu, Disini sempet berhenti isi perut dulu dan baru lanjut lagi sekitar jam 10.30.</div>
<div>Menjelang masuk kiara dua hujan gerimis mulai turun – tapi karena mendung terlihat tidak merata kami tetep lanjutkan perjalanan tanpa mengenakan jas hujan, sambil kita cari-cari masjid untuk sholat jum’at.</div>
<div>Untunglah ketemu mesjid tepat pukul 11.55 saat hujan semakin deras, jadi sholat jum’at sekalian berteduh. Sholat Jum’at nya rada unik, setelah Adzan jam 12, khotbah disampaikan dalam bahasa Arab singkat dan padat (dan saya gak ngert hehehe) sholat jum’atnya selesai jam 12.15 (cepet banget kan). Terus bilal berdiri dan qamat lagi – imam dan jemaah berdiri dan kemudian sholat 4 rakaat dipimpin imam seperti sholat Dzuhur &#8211; unik saya baru tau yg seperti ini……(saya dan bro asep tidak ikut sholat tsb – kita sholat ashar jama taqdim). Sisi baiknya sholat nya cepet sehingga jam 12.30 kita sudah bisa lanjut start lagi hehehe….</div>
<div>Jas hujan terpaksa kami kenakan juga menjelang Jampang Kulon, dikarenakan hujan deras turun dengan lebatnya – saya bersyukur pake sepatu AP boot sehingga kaki dijamin tetep kering…..</div>
<div>Kondisi jalan Kiara Dua – Surade – Ujung Genteng, cukup baik dalam artian sudah banyak lubang yang ditambal sehingga perjalanan bisa berlangsung cukup lancar tanpa harus meliuk-liuk menghindari lubang.</div>
<div>Di Surade sekarang ini sudah ada 3 buah SPBU, padaha sewaktu kunjungan saya terakhir disini (Maret 2008) baru ada satu SPBU dan itupun sedang dibangun/belum dioperasikan. Pesat sekali perkembangan daerah ini.</div>
<div>Jam 14.00 kami sudah tiba di Ujung Genteng yang saat itu suasananya crowded……meriah, banyak sekali pengunjungnya….hiks ujung genteng tidak seperti dulu lagi, dulu saya senang dengan ketenangannya, sunyi, sepi alami – sekarang terlihat lebih komersial banyak pondok/saung didirikan di tepi pantai.</div>
<div>Bahkan ketika saya mengarahkan motor menuju pantai Cibuaya melalui jalanan tanah (sekarang sudah ada jembatan beton lho – dulu masih batang kelapa, atau malah bisa pilih nyeberang sungai; nggak seru lagi ah sekarang), ternyata di Cibuaya pun ramai bukan main secara ada kemah baksos pramuka se kabupaten sukabumi…….waaks ramai banget, nggak nyaman deh.</div>
<div>Setelah muter2 akhirnya dapet tempat nginep disebuah kamar seadanya dipinggir pantai ujung genteng, sorenya setelah unpacking barang-barang mulai deh saya sounding dan cari info mengenai jalur yang besok harus saya lalui, selain tentunya mempelajari peta yang saya bawa.</div>
<div>Satu info berharga saya peroleh dari tukang ojeg yang tadinya nawarin kita untuk lihat penyu di pangumbahan. Dia pernah naik motor dari Ujung Genteng sampai di Cidaun untuk beli perahu disana, menurut dia jalannya sudah baik, kalo kita berangkat pagi-pagi jam 7 sampai disana sekitar tengah hari sekitar jam 13 an</div>
<div>Info yg berharga; setidaknya saya tau rute tsb bisa ditembus dengan motor, butuh waktu 6 – 7 jam untuk sampai cidaun. Kalo masalah jalannya dia bilang sudah baik saya tidak perhitungkan, karena baik menurut ukuran dia mungkin sekali beda dengan baik menurut kita…..</div>
<div>Malam itu ujung genteng mati lampu…….setelah santap malam….sekitar jam 10. an kami pergi tidur mengumpulkan tenaga kembali untuk perjalanan besok……..</p>
<p>Sabtu, 26 Desember 2009<br />
Etappe II : Ujg Genteng – Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang – Pamengpeuk = 188km</p></div>
<div>Pagi hari sekitar jam 07.00 lebih sedikit diiringi hujan gerimis kami start dari Ujung Genteng untuk melanjutkan etappe II yang merupakan jalur baru atau jalur yang sebagian besar belum saya kenal sama sekali (kecuali mulai Sindang Barang kea rah Pamengpeuk sudah pernah saya lewati).</div>
<div>Untunglah cuaca berpihak pada kami, belum lagi jauh meninggalkan Ujung Genteng, cuaca menjadi cerah, matahari memperlihatkan wajahnya – udara menjadi segar….gabungan antara sisa dinginnya malam dan hangatnya mentari pagi…….Jas Hujan kami lepas dan kami simpan kembali perjalanan dilanjutkan menuju Surade dalam udara yang segar tanpa polusi….</div>
<div>Di Surade kami mengisi bensin full tank, karena tidak tahu apakah dijalan nanti masih ada SPBU lagi, dan ternyata memang benar SPBU baru ada di Pamengpeuk.</div>
<div>Begitu sampai di pertigaan yang ada rambu penunjuk arah Tegal Beleud, Cikaso belok ke kiri, maka kamipun membelok ke kiri mengikuti petunjuk rambu tersebut.</div>
<div>Lebar jalannya sendiri sama seperti lebar jalan Surade – Ujung Genteng, jadi tidak terlalu lebar namun kondisinya lebih jelek 10 km pertama banyak lubang2 walaupun tidak besar dan masih mudah dihindari, barulah setelah memasuki perkebunan Cikaso, jalanan lebih baik berupa hotmix mulus.</div>
<div>Di Cikaso kami melihat ada rombongan orang yang siap-siap hendak berburu, dengan kendaraan jip 4&#215;4 yang diatas atapnya ada kursi tempat sang pemburu membidik buruannya.</div>
<div>Selepas Cikaso suasana jalannya semakin sepi belum tentu lima menit sekali kita papasan dengan kendaraan dari arah berlawanan, demikian juga angkutan umum saya perhatikan tidak ada yang berpapasan.</div>
<div>Pemandangannya sendiri top markotop deh, kami melewati perkebunan karet, hutan jati dan ladang2 penduduk, kontur alamnya berbukit-bukit, di beberapa tempat dimana kami berada dipunggung bukit yang terbuka kami bisa melihat lembah2 dan bukit2 hijau – cantik sekali.</div>
<div>Setelah sarapan disebuah warung sate beberapa kilometer sebelum Tegal Beleud, akhirnya kami sampai di Tegal Beleud sekitar jam 10.00 setelah berjalan sekitar 39km dari Surade, kami langsung lanjut dan sempet bingung karena rambu penunjuk arah menyebut Agra Binta sebagai kota kecamatan berikutnya…..lho padahal dari kedua peta yang jadi pedoman saya tidak mencantumkan Agra Binta sama sekali, yang ada adalah Rawa Uncal, Ciagra.</div>
<div>Daripada nyasar mendingan tanya penduduk saja, dan memang menurut dia untuk ke sindang barang memang lewat Agra Binta, jadi memang arahnya sudah benar.</div>
<div>Ok, lanjut kalo begitu…. Selepas Tegal Beleud ternyata jalanan semakin parah, sekarang jalanan berupa jalanan aspal yang sudah terkelupas yang tersisa adalah batu-batu fondasi jalan….itupun masih ditambah bergelombang permukaannya….hehehe</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ngaleut! Puntang - Curug Gentong]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-curug-gentong/</link>
<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 23:30:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-curug-gentong/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis oleh : Cici Asri Mustika Peristiwa telekomunikasi ini terjadi berkat adanya stasiun Radio Ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/goal.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-113" title="goal" src="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/goal.jpg?w=300&#038;h=160" alt="" width="300" height="160" /></a></p>
<p>Ditulis oleh : Cici Asri Mustika</p>
<p>Peristiwa telekomunikasi ini terjadi berkat adanya stasiun Radio Malabar. Singkat cerita, hari Minggu kemarin (13/12/09) komunitas Aleut mengajak pegiat-pegiatnya untuk menjelajahi sisa-sisa kolonial di Puntang &#8211; Malabar. Semangat ? Sudah pasti ! Karena saya penasaran sekali dengan keberadaan Radio Malabar ini dan sudah sejak lama ingin melihat langsung sisa-sisa bangunannya. Berangkatlah saya dan 15 orang teman di minggu pagi itu. Oya, informasi lengkap mengenai stasiun Radio Malabar, bisa lihat catatan teman saya &#8211; Ayan &#8211; dan catatan teman saya juga &#8211; Bang Ridwan.</p>
<p>Kami berkumpul jam 8 pagi di seberang museum Sribaduga – Tegallega. Jam 9 lebih, kami mulai berangkat menggunakan angkutan umum langsung menuju Puntang. Untung Elgy gak ditinggalin (^^). Ongkosnya murah, Rp 6000.- saja. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, sampailah kami di gerbang gunung Puntang. Untuk memasuki wilayah ini, dikenakan biaya tiket masuk sebesar Rp 5000.- Tidak lama kami berjalan, sudah terlihat sisa-sisa kolonial berupa alas/peyangga pipa air yang terbuat dari batu, ukurannya besar-besar. Pipa besinya sendiri sudah tidak bersisa karena mungkin sudah diambil warga. Tidak jauh dari situ, dapat kita lihat kolam bekas penampungan air yang digunakan untuk pembangkit tenaga listrik. Jalan ke atas sedikit, dapat kita jumpai bangunan bekas rumah tinggal para pegawai radio Malabar, disebut Radio Dorf atau Kampung Radio. Dinding bangunan-bangunan ini terbuat dari batu dan sekarang tinggal puing-puingnya saja yang sudah tertutupi lumut dan tanaman liar. Kata Ayan, di salah satu sudut bangunannya ada plakat bertuliskan nama-nama orang yang ikut membangun kompleks Radio Dorf. Tapi gak berhasil nemu. Padahal penasaran banget bentuknya kayak gimana ..</p>
<p>Hari sudah siang tetapi perjalanan baru saja dimulai. Agar tetap bertenaga dan tidak kelaparan, istirahatlah kami di sebuah warung yang letaknya tidak jauh dari puing-puing bangunan tadi. Bala-bala masih menjadi makanan favorit di tiap perjalanan. (^^) Teh Ana, Yanstri, Eby dan Dimas lahap sekali menyantap baso kuah panas pedas a la Puntang.</p>
<p><a href="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/punt2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-115" title="Punt2" src="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/punt2.jpg?w=300&#038;h=285" alt="" width="300" height="285" /></a></p>
<p>Sambil mengisi perut dan mengumpulkan tenaga, Bang Ridwan mengobrol dengan pemilik warung. Saya ikut-ikutan nguping aja, siapa tahu dapat informasi menarik mengenai Radio Malabar ini. Beruntunglah kami mengobrol dengan Pa Edi. Kami dapat cerita lumayan banyak. Mengenai gua, ada yang bilang bahwa gua yang sekarang bernama Gua Jepang itu adalah tempat persembunyian. Tetapi Pa Edi bercerita, sejak awal, gua tersebut dibuat untuk pemancar radio. Mengenai kolam cinta yang terkenal dengan mitosnya itu, dahulu adalah kolam hias biasa saja sebagai bagian dari halaman depan kantor pusat Radio Malabar. Disebut kolam cinta mungkin karena bentuk kolamnya yang menyerupai hati. Dan mengenai hancurnya Radio Malabar, bukan karena pengeboman yang dilakukan oleh pihak Jepang, tetapi karena dihancurkan oleh warga Bandung sendiri. “Ieu sadaya direksak ku bangsa urang, ngarah Belanda henteu uih deui ka dieu” cerita Pa Edi. Bahkan jembatan Citarum &#8211; Dayeuh Kolot pun sengaja dirusak agar tidak ada yang bisa masuk ke wilayah ini. Pa Edi mendapatkan cerita ini langsung dari ayahnya yang merupakan salah satu pegawai Radio Malabar pada waktu itu.<br />
Hmm .. Cerita yang menarik dan makin menambah rasa ingin tahu. Tapi apa daya, cerita harus dilanjutkan di lain waktu karena hari sudah terlalu siang dan kami masih ingin melanjutkan satu perjalanan lagi ke Curug Gentong.</p>
<p>Perjalanan yang jauh dan lumayan bikin paha pegel-pegel. Sebelum benar-benar mendaki, kami masih mendapati puing-puing bangunan kolonial di kiri-kanan jalan setapak. Keadaannya sama, hampir rata dengan tanah dan tertutup banyak tanaman liar. Kami dapati juga beberapa pasangan anak muda yang sedang berdua-duaan duduk di semak yang sepi dan terpecil (hihi .. uyuhan ga ararateul kena ulet dan hewan ateul lainnya^^).</p>
<p>Setelah melewati jembatan dan kolam cinta, mulailah kami menapaki jalan menuju curug. Ini kali pertama Aleut minta ditemani guide. Ya, khawatir tersesat dan kami belum begitu mengenal medan yang satu ini. Kami ditemani oleh tiga orang guide. Setengah jam perjalanan, tiga perempat jam perjalanan, satu jam perjalanan, masih aman-aman saja. Setelah kira-kira satu jam lebih perjalanan, kami mulai kelelahan. Istirahat sejenak, minum air jeruk dan makan sepotong coklat. Seperti biasa, jangan khawatir kelaparan kalau ada A Yanto dan Teh Ana. Memang sudah jadi kakaknya Aleut, gak pernah lupa bawa makanan banyak buat adik-adiknya. Hehe. Jeruk, mangga, duku, sampai ubi rebus pun gak ketinggalan. “A Yanto memang sahabat alam” kalo kata Ayan mah. Perjalanan sudah sejauh ini, dan saya yakin pasti sebentar lagi sampai ! “Masih satu jam lagi, Teh .. “ kata Akang guide. Wuaduuhh … Bujubuset dah ndroo … Kirain udah mau di akhir .. Ternyata masih setengah perjalanan. Huff.. Ayo semangat ! Jalan terus !!</p>
<p>Ada yang berbeda dalam perjalanan kali ini. Tanjakannya memang tidak begitu ekstrim, tapi kok saya merasa horror ya. Jalan yang kami lewati rimbuuun sekali seperti di hutan. Akang guide yang berada di depan saya sering sekali menebaskan goloknya. Syaatt .. syaatt .. syaatt .. (suara golok teh begini bukan ya? ^^) memangkas tanaman dan pepohonan liar di kiri-kanan jalan setapak, dibantu Adi yang pada waktu itu membawa golok juga. Ternyata, belum pernah ada yang melewati jalan ini sebelumnya, bahkan ke-dua guide kami sekalipun! Aleut yang pertama membuka jalur ini !! Waaw Amazing .. “Berarti jalurnya masih perawan!” kata Naluri. Lebih horror lagi karena sepanjang jalan kami harus ekstra hati-hati dengan pohon berduri. Jangankan pohon, daunnya pun berduri tajam dan bikin efek setruman (istilah Budhie) yang luar biasa! Hiii … Semakin liar saja perjalanan kami.</p>
<p>Untuk mencapai Curug Gentong, kami harus menyeberangi tiga sungai kecil dan – yang paling seru – mengikuti jalur air. Kukurusukan ? Pastinya .. ! Bukan Aleut namanya kalo ga pake kukurusuk.. ^^ Suara gemuruh air sebenarnya sudah terdengar, tapi kok belum sampai-sampai juga ? Tapi tidak menyurutkan semangat donk! Hajar teruss!!</p>
<p><a href="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/curgen.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-114" title="curgen" src="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/curgen.jpg?w=211&#038;h=300" alt="" width="211" height="300" /></a></p>
<p>Kurang lebih jam 3 sore, akhirnya sampai juga kami di Curug Gentong!! HWAAA .. Saya langsung bersuka cita dan berpelukan dengan Icha, setelah sebelumya melewati Shocking Bridge (Dimas, Bey dan Mpiw jangan bilang siapa-siapa yaa. Cuma kalian kan yang tau?^^). Lelah dan pegal yang kami rasakan digantikan dengan pemandangan curug dimana tumpahan-tumpahan airnya membuat mata dan badan menjadi segar seketika. Setelah itu kami mulai membuka bekal masing-masing. Baru kali ini saya merasakan nikmatnya makan mie goreng delapan jam (mie goreng yang dimasak delapan jam yang lalu. Heu2). Oh ya, curug ini mempunyai ketinggian 25 meter. Dinamakan Curug Gentong karena ketika surut, curug ini katanya terlihat seperti gentong. Lanjut makan-makan .. Biar tambah segar, jangan lupa mencicipi menu wajibnya Dilla, Nutrijel coklat! Selagi mengisi perut, tiba-tiba kabut turun! Indahnyaa … Walaupun tidak setebal kabut di Tangkuban kemarin, saya selalu suka melihat kabut! Selalu suka berada di dalam kabut! Saya sentuh-sentuh kabut itu, ingin sekali rasanya dibawa pulang .. ^^<br />
Hari semakin sore dan kami harus segera turun, khawatir kemalaman di tengah jalan (padahal masih seneng main-main sama kabut). Tidak banyak kendala dalam perjalanan pulang, tetapi masih harus hati-hati dengan tanaman berduri dan harus lebih cepat melangkah karena hari mulai gelap. Kaki saya sudah lemas …</p>
<p>Untunglah kami sudah sampai di bawah tepat saat langit benar-benar gelap. Kami beristirahat kembali di warung yang pertama kami datangi tadi. Segelas susu panas cukup untuk menenangkan dan menghangatkan tubuh saya. Setelah beberapa lama, akhirnya angkot yang kami tunggu datang juga. Kami pulang naik angkot sampai Kebon Kalapa. Bikin lelah .. Tapi terbayar dengan bukti-bukti sejarah radio Malabar dan kabut indah .. (^^)<br />
Mau kesana lagi ??</p>
<p><a href="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/collectie_tropenmuseum_malabar_totaalaanzicht_van_het_radiostation_met_omgeving_tmnr_10006812.jpg"><img title="COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Malabar_totaalaanzicht_van_het_Radiostation_met_omgeving_TMnr_10006812" src="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/collectie_tropenmuseum_malabar_totaalaanzicht_van_het_radiostation_met_omgeving_tmnr_10006812.jpg?w=222&#038;h=300" alt="" width="222" height="300" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gunung Puntang, nanti aku kembali]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/gunung-puntang-nanti-aku-kembali/</link>
<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 21:41:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/gunung-puntang-nanti-aku-kembali/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis oleh : Febya Stevaria Tangahu Minggu pagi tanggal 13 Desember 2009, aku dibangunin sama ibu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/lost-in.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-111" title="Lost in" src="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/lost-in.jpg?w=450&#038;h=600" alt="" width="450" height="600" /></a></p>
<p>Ditulis oleh : Febya Stevaria Tangahu</p>
<p>Minggu pagi tanggal 13 Desember 2009, aku dibangunin sama ibu buat pergi ngaleut. Jam setengah 7 aku sudah siap berangkat di anter ibu, di perjalanan aku heran ko hari ini sepi ya jalan? Aku check sms di hp dan kubaca ternyata ngaleutnya jam 8! sial sudah buru-buru eh gataunya kecepetean.</p>
<p>Kami semua berkumpul di Tegalega depan Musium Sribaduga, karena aku sampe kesana jam 06.50 aku sms bey aja biar dateng cepet. Ga lama kemudian yang dateng bukan bey malah a adi. tapi ga lama kemudian juga yang lain pada dateng.</p>
<p>Langsung di Gunung Puntang.<br />
Sesampainya di sana kita kukumpul uang buat bayar masuknya, biayanya kemaren tuh sekitar 5000/orang. Kita berjalan masuk ke sana, tapi terhenti karena para ibu2 ditambah elgy dan dimas pergi ke kamar kecil dan goloknya ketinggalan di angkot. Udah pada kumpul kita jalan ke atas cari warung soalny apada laper, nanjak banget jalan motongnya. Diperjalanan motong kita melihat ada pipa saluran air dari sungai cigeureuh ke kolam penampungan dan ada rumah tempat para pegawai Radio Malabar.</p>
<p>Sesampainya di warung kita makan-makan ada tukang baso ya udah kita panggil aja kebutulan baso adalah makanan kegemaran ayan. Sesudahnya makan kita bersenda gurau sejenak menunggu Guide. Guide datang kami pun berjalan ke Gua Belanda.</p>
<p>Di Gua Belanda kami masuk dan anehnya Gua Belanda itu mempunyai sekitar 150cm yang tidak sepadan dengan badan orang Belanda, tapi ada sebagian tempat yang lebih tinggi juga tidak setinggi 150cm. Panjang Gua Belanda itu kurang lebih 200m dengan beberapa lorong. Ada yang bikin aku heran ini gua udah lama tapi ko kaya yang baru di benerin ga tau emang betonnya bagus atau abis di renovasi.</p>
<p>Keluar dari Gua Belanda kami langsung jalan menuju Curug Gentong, katanya sih mau ke Curug Siliwangi tapi medannya lebih curam dan jauh dan &#8220;katanya&#8221; wisatawan juga belum ada yg kesana. Diperjalanan kami melihat ada Kolam Cinta. Kolam itu dinamakan Kolam Cinta karena berbentuk hati dan berada di depan kantor.</p>
<p>Kolam Cinta sudah kami lewati kami pun terus berjalan menuju Curug Gentong yang jaraknya 3.5m dari Kolam Cinta. Karena Curug Gentong belu banyak yang ngedatengin jalan yang kami tempuh aga sedikit tertutup untung Guide kita menebang pohon yang nutupin jalan. Tapi hati-hati ada daun berduri kalau kena kulit akan perih dan lama-lama jadi gatel aku aja kena beberapa kali di kaki perih banget, terus banyak juga batang yang durinya gede-gede kakiku sampe baret-baret. Kata Guidenya daun itu juga bakal tembus ke baju durinya, kalo mau cepet ilang gatelnya yang kena daunnya digosok-gosok pake tanah.</p>
<p>Kami menemukan 2 jalan yang curam sampe-sampe harus pake tali turunnya, kaya climbing, hampir 90 derajat medannya. Akhirnya kita sampai di Curug Gentong dalem Curug Gentong sampai 3m dan airnya dingin seperti air kulkas. Akupun senang akhirnya sampai disana walaupun tempatnya itu sempit.</p>
<p>Perjalanan pulang dari Curug Gentong kami tempuh selama 2.5 jam. Sampai di warung kamipun istirahat dan ada yang makan dan ada yang ngobrol rame sambil nunggu angkot pulang ke Bandung.</p>
<p>12/18/2009;02:52</p>
<p><a href="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/12.jpg"><img title="12" src="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/12.jpg?w=196&#038;h=300" alt="" width="196" height="300" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-malabar-with-geotrek-ii/</link>
<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 08:14:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/ngaleut-puntang-malabar-with-geotrek-ii/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis Oleh : M. Ryzki W. Again,,, Perjalanan dengan Pak Bachtiar / Pak Budi selalu memberi wawasan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30467199&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1191604024808_1069614412_30467199_4336018_n.jpg" alt="" width="417" height="331" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Ditulis Oleh : M. Ryzki W.</p>
<p>Again,,, Perjalanan dengan Pak Bachtiar / Pak Budi selalu memberi wawasan dan pengalaman baru bagi saya, kali ini temanya adalah Geotrek II “Menguak Kabut Gunung Malabar dan Gunung Wayang, Kab. Bandung” Punten kalo judulnya salah, maklum saya masih terpesona dengan pengalaman kemarin,, hahaha</p>
<p>Seperti biasa di pagi2 buta, peserta sudah dikumpulkan di Itzerman Park – Taman Ganesha, di lokasi ini, apabila kita mau ngamprak sedikit, ada sebuah plakat buatan jaman Belanda yang menunjukan lokasi Pegunungan Malabar, yang dahulu konon masih terlihat dari taman ini, sekarang mah tertutup kabut polusi made by human,,,</p>
<p>Sejak pertama datang, saya disajikan dengan wajah2 asing yang tampak ramah, beberapa orang telah saya kenal seperti Pak Bachtiar, Ulu, Bang Ridwan, dan Yanstri, yang lainnya sepertinya perlu Taaruf dulu,,, Dalam perjalanan nanti, wajah2 ini akan selalu terkenang, walau nama2nya tidak bisa semuanya saya ingat karena keterbatasan memori otak saya.</p>
<p>Nah, dalam perjalanan kali ini kami menggunakan Bus ITB, yang sangat nyaman dibandingkan dengan Truk TNI yang pernah kami gunakan menuju lokasi tambang emas di Pangalengan dahulu kala,,, Insting saya membimbing saya kepada Bus 1, dan benar saja, kebetulan Pak Bachtiar juga menaiki Bus yang sama, jadi dalam beberapa kesempatan di perjalanan saya beruntung bisa mendapatkan joke2 segar dari beliau, selain materi2 tentunya,,,</p>
<p>Alhasil, tibalah kita di lokasi pertama, yaitu Gunung Puntang yang merupakan bagian dari pegunungan Malabar,,, Sesampainya di gerbang gunung ini, kami sudah disambut oleh segerombolan anak SMP yang sebenarnya memang tidak berniat menyambut rombongan kami. Setelah menghabiskan beberapa bala-bala tiis kami pun meneruskan perjalanan ke lokasi pemancar komunikasi Hindia Belanda yang terkenal itu.</p>
<p>Setelah tiba di gunung puntang, Pak Bachtiar menjelaskan mengenai asal muasal nama &#8220;Malabar&#8221; yang menurutnya berasal dari bahasa sunda yang artinya air yang membludak (tolong revisi kalau salah, pak,,) atau bisa juga mengacu pada kawasan di India, yang merupakan salah satu kawasan penghasil budak bagi VOC&#8230; Penggunaan nama malabar ini juga mungkin berhubungan dengan Edward Kerkhoven pengusaha perkebunan teh yang pernah mengepalai perkebunan teh di daerah Assam India. Selain itu kawasan ini mungkin pernah dijadikan perkebunan kopi asal Malabar India, yang diimpor ke Jawa tahun 1699 oleh VOC. Kata &#8220;Malabar&#8221; ini juga bisa jadi berasal dari bahasa Arab &#8220;Mal&#8221; artinya Uang dan &#8220;Abar&#8221; yang artinya Sumber, dan memang Malabar ini merupakan daerah yang sangat menghasilkan uang,,,,</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30467077&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1191527182887_1069614412_30467077_3814090_n.jpg" alt="" width="335" height="259" /></a></div>
<div>Peta Malabar, India</div>
</div>
<div>
<p>Lalu, konon dulunya di situs gunung Puntang ini berdiri kerajaan Nagara Puntang, beberapa peninggalannya pernah ditemukan. Tapi yang paling terkenal dari sini adalah pemancar radio kolonial , yang berdasarkan informasi dari situs PR, dibangun di masa pemerintahan hindia Belanda mulai tahun 1917-1929 oleh Dr. Ir. C.J. de Groot (de Groot artinya “Yang Besar/Agung”, suatu julukan baginya), beliau adalah seorang sarjana teknik lulusan Universitas Delft, Belanda.</p>
<p>Pemancar ini ditujukan sebagai sarana komunikasi utama dengan pemerintah pusat di Belanda, daripada sebelumnya yang menggunakan saluran kabel Laut milik Inggris di laut Aden yang rawan karena sedang terlibat perang dunia II.</p>
<p>Nah, Pemilihan gunung puntang dengan ketinggian 1300 mdpl sebagai lokasi pemancat ini, pertama dengan pertimbangan keamanan tempat ini cukup tersembunyi, selain itu struktur kawasan ini mendukung penguatan sinyal ke negara Belanda.</p>
<p>Ahh,, Mengunjungi lokasi ini seakan2 mengingatkan saya akan  kakek saya yang dahulu pernah juga mengunjungi tempat ini.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30465803&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs060.snc3/14750_1190944448319_1069614412_30465803_49180_n.jpg" alt="" width="416" height="284" /></a></div>
<div>Poto si Kakek dan kawan2 di depan kantor Stasiun radio malabar</div>
</div>
<div>
<p>Radio Malabar berdiri tanggal 5 Mei 1923 merupakan pemancar menggunakan teknologi arc transmitter yang terbesar di dunia. Stasiun pemancar Malabar ini memiliki antena pemancar sinyal sepanjang 2 Km, membentang hingga gunung halimun. Kebayang? Nah saya juga gak kebayang sebelum liat gambar berikut</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30465775&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1190939648199_1069614412_30465775_5862294_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>Sketsa bentuk antena</div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30465778&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs060.snc3/14750_1190940088210_1069614412_30465778_6286156_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Berikut adalah kutipan informasi dari situs Pikiran Rakyat :<br />
…Sementara untuk perangkat pemancar, Dr. Ir. C.J. de Groot menggunakan teknologi yang cukup kuno yaitu berupa poulsen (busur listrik) untuk membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20 km hingga 75 km.</p>
<p>Mereka yang bertugas menjalankan pemancar tersebut di antaranya Mr. Han Moo Key, Mr. Nelan, Mr. Vallaken, Mr. Bickman, Mr. Hodskey, Ir. Ong Keh Kong, serta masyarakat setempat, di antaranya Djukanda, Sudjono, dan Sopandi. Hal ini tertulis dari nama-nama yang tertera di dinding rumah yang kini hanya berupa puing-puing dinding batu….</p>
<p>Melalui pemancar ini jualah, terkenal frase “Halo Bandung” sebagai sign call dan pernah pula dipopulerkan lewt lagu oleh Willy Derby dan konon Ismail Marzuki. Dahulu, untuk bisa sekadar berkomunikasi lewat pemancar ini, biayanya sangat mahal, pokoknya untuk orang pribumi mah gak akan mampu dah, orang Belanda juga kudu nabung berbulan2 supaya bisa nelpon kerabatnya di negara asalnya. Makanya dalam lagu Halo Bandung yang versi asli, terlihat gambaran perasaan sang penelpon yang sangat terharu ketika bisa mendengar suara ibunya. Mantap dah,,,</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30465806&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1190946968382_1069614412_30465806_4342755_n.jpg" alt="" /></a></div>
<div>The Famous Halo Bandung</div>
</div>
<div>
<p>BTW, Puing2 bangunan yang sempat dijadikan lokasi pemotretan peserta tour dulunya adalah Kampung Radio (Radio Dorf), yang rumah2nya bergaya kolonial. Di lokasi ini juga terdapat fasilitas penunjang seperti kolam renang, lapangan olah raga (tenis), bahkan gedung bioskop. Kolam renangnya adalah yang dikenal sebagai kolam cinta, yang konon apabila kita pacaran disana, hubungan pacarannya akan langgeng, tapi tetep aja nikahnya mah sama orang lain,, hahaha</p>
<p>Nah, siapa pula yang menghancurkan bangunan2 disini, yang pasti adalah pihak yang anti Belanda, bisa jadi jepang atau pribumi,,, Tapi jangan lupa, lewat pemancar inilah teks proklamasi bisa menyebar ke seluruh dunia,,,</p>
<p><em>Nah sebagai bahan perenungan, bayangkanlah bahwa dahulu untuk sekadar menelpun orang di luar negeri, memerlukan sebuah kompleks bangunan dengan antena 2 kilometer yang ditenagai oleh 4 pembangkit listrik, sekarang cuma butuh sebuah handphone dan charger, dan pulsa tentunya,,, mari kita bersama2 mengucapkan Syukur Alhamdulillah,,,</em></p>
<p>Kemudian, sesuai tradisi, perjalanan dengan Pak Bachtiar atau Pak Budi seakan-akan belum lengkap apabila belum basah-basahan. Walaupun ada jalan tanah yang lumayan bagus, tetap saja peserta dibimbing menyusuri sungai Cigereuh (Tolong revisi kalo salah), yang meripuhkan banyak peserta kecuali saya, untung saja tidak ada peserta yang mengalami kesulitan berarti, semuanya berhasil melalui rintangan dengan selamat sentausa, semuanya bahagia kecuali pak Moro yang harus mengikhlaskan kamera digitalnya yang tercelup air,,, Pengen diganti tuh Pak,,</p>
<p>Setelah sampai di sisi sungai ini, Pak Budi langsung menjelaskan mengenai jenis batu-batuan serta penyebab parahnya efek gempa di tasikmalaya (2/09/09) di daerah Pangalengan, yang ternyata berada dalam satu sesar/jalur patahan, ditambah dengan konstuksi bangunan yang rapuh. Sumpah saya baru tahu, Pak,,,</p>
<p>Selanjutnya peserta digiring kembali ke tempat parkir Bus, tapi tetep aja banyak yang penasaran dengan kolam cinta, padahal pada gak bawa pacar, tapi saya pun tergoda dan mengikuti mereka juga,,, Peserta memanfaatkan keindahan suasana kolam ini dengan saling mengambil dokumentasi.</p>
<p>Tepat di belakang kolam ini, ialah stasiun pemancar radio tersebut, kini hanya tersisa puingnya yang terongok dengan kondisi yang menyedihkan, untuk mencapainya, saya dan Yanstri harus melewati ranting2 dan semak2 lebat terlebih dahulu,,, Tapi lumayanlah bisa popotoan di sini.</p>
<p>Sekembalinya ke Bus, ternyata sudah dipenuhi oleh para peserta yang kelaparan dan tampaknya sudah lumayan lama menunggu, untung saja ada peserta yang lebih telat datang, jadi saya dan Yanstri nggak terlalu malu,, haha</p>
<p>Kita melanjutkan perjalanan ke situs Boscha,,,</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30467144&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1191576944131_1069614412_30467144_5269716_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Mulai terasa hawa yang membuai dan pemandangan yang menyilaukan seperti kesan Penulis Louis Couperus saat mengunjungi kawasan pangalengan ini :</p>
<p><em>“Ya di alam yang indah dan lingkungan yang bersinar cerah, pria itu sekan-akan berada dalam rumahnya sendiri. Dia besar dan kuat seperti gunung berapi, dia pekat dan halus seperti kehijauan daun teh, sama sperti langit biru yang membentang”.</em></p>
<p>Kedatangan kami di tempat ini disambut oleh jamuan makan siang yang luar biasa, betapa tidak, Soto Bandung yang hangat di tengah hawa dingin pangalengan. Yummm,,, Tidak sempurna hidup seseorang sebelum merasakan moment tersebut&#8230; Sebelumnya pak Budi bercerita mengenai gempa bumi, mengingat kediaman boscha tempat kami bersantap ini juga merupakan salah satu korban gempa bumi yang tidak bertanggung jawab tersebut,,,</p>
<p>Kemudian pak Bachtiar menceritakan legenda Danau Cisanti (Hulu sungai citarum) yang membuai angan,,, Konon di masa lalu ada seorang pemuda gagah nan tampan yang memakai kemeja biru dan bertopi Kompas (hehe), yang ingin menikahi seorang wanita cantik di daerah lain. Nah, ketika pemuda ini asyik bertapa di Cisanti, ia melihat seorang wanita cantik jelita, lebih cantik dari Luna Maya,,, dan hatinya langsung terpikat,&#8221;Keleplek-klepek&#8221; kalau istilah Pak Bachtiar.</p>
<p>Sesuai dengan istilah &#8220;wajahnya mengalihkan duniaku&#8221;, pemuda ini sangat terobsesi dengan wanita cantik tersebut, bahkan usaha agrobisnisnyapun hingga terbengkalai. Alhasil, ketika sang pemuda ini hendak meminang wanita calon istrinya, dalam perjalanan menuju lokasi resepsi, ia berkata pada pengawalnya kalau ia pengen mampir dulu ke cisanti untuk bertapa,,, Benar saja sang wanita gaib pun muncul, kali ini sang pemuda pun penasaran mendekatinya dan berakhir mati tenggelam&#8230;.</p>
<p>Ternyata sang wanita gaib adalah arwah seorang wanita yang mati penasaran karena dikecewakan seorang pria tak bertanggung jawab, ia ingin memepringatkan pria lain agar tidak lengah,,, Dan ternyata terbukti kalau sejak dahulu pria itu tidak bisa dipercaya,,,</p>
<p>Nah, orang tua mempelai wanita yang menunggu kedatangan sang Pemuda sangat kecewa atas kematian calon menantunya, ia pun mengobrak-abrik gedung perkawinan dan melempar apapun yang ada di sana, seperangkat wayang yang ia tendang berubah menjadi gunung wayang, lainnya ada yang berubah menjadi gunung kendang, dan lain-lain&#8230;</p>
<p>Sungguh cerita yang menarik dan sangat bermuatan moral, intinya jadi cowok jangan jelalatan !</p>
<p>Setelah santap siang yang tidak terlupakan, saya menyempatkan diri untuk sekadar mendokumentasikan rumah sang Hoofdadministrateur Bosscha yang kemarin sempat terkena efek gempa. Nah, mumpung masih di rumah Bosscha, mari kita sekalian ngomongin beliau&#8230;</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30467125&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1191564783827_1069614412_30467125_355495_n.jpg" alt="" width="416" height="292" /></a></div>
<div>Interior Rumah bosscha</div>
</div>
<div>
<p>Ngutip Wikipedia sedikit, Bosscha lahir di Den Haag tanggal 15 Mei 1865. Ia adalah anak dari Johannes Bosscha, seorang profesor sekolah akademi militer di Breda sekaligus direktur Politeknik Delft. Nah, si Bosscha ini ternyata dari kecil memang sudah punya cacat di kaki, jadi harus selalu ditemani tongkat di usia lanjutnya.</p>
<p>Setelah menamatkan sekolah tinggi di Delft, ia berangkat ke Bandung untuk mengurus proyek pertamanya, yaitu pemrosesan teh dengan “ban berjalan” di pabrik teh di perkebunan Sinagar Cibadak yang dikelola oleh pamannya E.J. Kerkhoven. Beberapa tahun kemudian ia mendapat panggilan dari pamannya, R.E. Kerkhoven, seorang pengusaha teh yang pernah dimuat dalam novel Hella S. Haasse, Berjudul Heren van de Thee (1992). Bosscha ditugasi untuk mengelola lahan perkebunan teh baru di pangalengan yang memiliki ketinggian 1400-1700 mdpl. Mulai tahun 1986, perkebunan ini mulai digarap, dan menghasilkan perusahaan NV Assam Thee Onderneming yang sangat menguntungkan.</p>
<p>Tahun 1910 Ru Bosscha menjadi anggota pengurus harian Het Thee Expert Bureu. Tahun 1911 ia mendirikan Kebun Pembibitan Selecta di Garut. Sejak tahun 1917 Ru menjadi Kepala Persatuan Kebun Percobaan Teh. Tahun 1917-1920 an 1922-2923 menjadi pimpinan Persatuan Perkebunan Sukabumi (Soekaboemische Landbouw Vereneging). Ayahnya pada waktu di Eropa terkait denagn peraturan skala metrik (het metricsh stelsel), karena itu Ru Bosscha menerapkannya di Indonesia. Satuan ukuran tanah yang dahulunya adalah bahoe ( 1 bahu bangunan=500×500 Rijnlandse roeden=7096 m2) diganti dengan hektar. Sepanjang jalan dari Pengalengan ke Bandung dipancangi tonggak dalam jarak ukuran kilometer yang sebelumnya mepergunakan pal (1 pal = 1.5 kilometer). (Dikutip dari maulanusantara.wordpress.com)</p>
<p>Tidak seperti tokoh kolonial lainnya, Bosscha termasuk dalam kalangan Filantropis atau sahabat kemanusiaan, bahkan sejak dulu ia telah mengembangkan konsep Corporate Social Responsibity (CSR). Di perkebunannya ia turut mendirikan pusat kesehatan dan sekolah rakyat untuk para buruh dan keluarganya (sekarang bangunannya masih ada lho).</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30467112&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1191557183637_1069614412_30467112_4364115_n.jpg" alt="" width="433" height="433" /></a></div>
<div>Para petani teh mengantar hasil panen ke Pabrik,,,</div>
</div>
<div>
<p>Selain sebagai preanger planter, Bosscha juga merambah ke bidang-bidang lain, dan kalau membahas semuanya mungkin perlu sebuah buku tersendiri, silakan saja browsing di internet kalau mau tahu lebih banyak,,,</p>
<p>Nah tanggal 28 November kemarin saat kita mengunjungi makan Boscha sebenarnya mendekati masa 81 tahun sejak Bosscha meninggal tanggal 26 Nopember 1928 di Malabar. Ia meninggal beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung. Nah, saking sibuknya, Boscha belum sempat menikah sepanjang hidupnya, lagipula buat apa menikah kalau anda tinggal di tengah perkebunan teh dingin yang dihuni oleh banyak mojang2 yang geulis ?</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30467127&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs080.snc3/14750_1191566143861_1069614412_30467127_7462589_n.jpg" alt="" width="430" height="302" /></a></div>
<div>Makam Bosscha nih, pak Upin belum lahir pas poto ini dibuat,,,</div>
</div>
<div>
<p>Jenazahnya tidak dikirim ke Negara asalanya melainkan dikebumikan di area perkebunan ini sesuai amanatnya.</p>
<p>Peserta tour berkesempatan untuk mengunjungi makam Bosscha yang berbentuk observatorium Bosscha di Lembang, namun sang kuncen makam &#8220;kekeuh&#8221; kalau bentuk makam itu menyerupai topi yang biasa dikenakan oleh para Preanger Planters. Sang kuncen, kalau gak salah namanya Pak Upin, otomatis menceritakan segala yang ia ketahui mengenai Bosscha, mulai dari penyebab kematiannya karena tetanus, yang menurut sumber lain karena patah tulang akibat terjatuh dari kuda Putihnya (versi kedua ini lebih saya percaya,,,), kisah pohon teh tua gaib yang suka berpindah2 (yang menurut saya mitosnya sengaja diciptakan agar tidak ada yang mengganggu peohonan tersebut), kisah sepeda torpedo yang bisa mengantar Bosscha secepat kilat ke Lembang, hingga kisah turis pembakar jagung yang mendadak kaya setelah bertemu hantu Bosscha&#8230;</p>
<p>Pak Upin juga menceritakan legenda gunung Nini (diterjemahkan menjadi Gunung Nenek, hehe), yang di atasnya terdapat sebuah gazeebo tempat Tuan Bosscha mengamati kekayaan alamnya. Menurut Pak Upin, gunung ini didiami seorang nenek-nenek, yang kedapatan amanat menjaga perkebunan ini. Segala informasi ini cukup menghibur, sebanding dengan tarif Rp. 1000 yang dikenakan kepada setiap peserta yang mendengarkannya,,, hahaha</p>
<p>Entah soal kebenaran mitos2 mengenai Bosscha di atas, namun menurut saya Tuan Bosscha sangat memahami kultur masyarakat Indonesia yang serba mistis, sehingga dia menciptakan mitos-mitos tersebut untuk menjaga asetnya, dan usaha tersebut terbukti berhasil.</p>
<p>Oh ya, sebelum kelewat, Pak Budi Brahmantyo juga sempat menjelaskan mengenai proses penggunaan panas bumi (Geothermal) sebagai pembangkit listrik, yang menjadi sample dalam hal ini adalah PLTU Wayang Windu, yang tidak terlihat jelas karena sudah tertutupi kabut,,, Yang bisa saya simpulkan adalah bahwa teknologi geotermal ini cukup ramah lingkungan, namun sangat bergantung pada keadaan lingkungan sekitar&#8230;</p>
<p>Dari sini, kitapun melanjutkan perjalanan ke situ Cileunca, bus berhenti sebentar, memberi kesempatan kepada peserta yang ingin mengambil dokumentasi.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30467136&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs060.snc3/14750_1191571984007_1069614412_30467136_927949_n.jpg" alt="" width="413" height="290" /></a></div>
<div>Situ Cileunca Baheula</div>
</div>
<div>
<p>PLTA ini menggunakan aliran sungai Cisangkuy (atau Cileunca ya?&#8230;), pada awalnya ditujukan untuk memberi pasokan listrik bagi Stasiun Pemancar Radio Malabar. Pembangunan dilakukan selama 7 tahun (1919-1926), dan mitosnya saat menguruk lahan tersebut, penduduk tidak menggunakan pacul melainkan menggunakan halu.</p>
<p>Berdasarkan catatan Amoel (amoel.blogspot.com), Pembangunan situ tersebut, dikomandani dua orang pintar, yakni Juragan Arya dan Mahesti. Maka, tak heran, makam Mahesti dijadikan tempat keramat oleh masyarakat setempat. Selain itu konon ada dua siluman yang terkenal di Situ Cileunca. Lulun Samak dan Dongkol. Lulun Samak adalah “sesuatu” yang mematikan dengan cara menggulung mangsa. Sementara, Dongkol adalah “sesuatu” yang berwujud kepala kerbau.</p>
<p>Yah, di luar semua mitos tersebut,,, Pemandangan situ ini patut mendapat &#8220;Two Thumbs Up&#8221; dari Roeper dan Ebert&#8230;</p>
<p>Nah, kali ini perjalanan yang sangat tunggu2, mengunjungi rumah &#8220;Jerman&#8221; di daerah Cukul. Sepertihalnya makan soto Bandung di Rumah Bosscha, tidak sempurna pula hidup seseorang sebelum mengunjungi rumah luar biasa ini&#8230; Berangkkkaat !</p>
<p>Saat kita tiba di lokasi &#8220;Waaakwaww,,,!!!&#8221; Rumah ini telah rata dengan tanah, sayapun menangis tersedu-sedu melihat pemandangan ini, artinya hidup saya tidak sempurna,,, Lebay,,, Tetapi aslina, saya tetap sangat menyesali pembumirataan bangunan ini, yang menurut penjaganya disebabkan oleh gempa panalengan kemarin. Tapi katanya mau dibangun lagi, entah seperi bentuk aslinya atau berubah sama sekali,,, Di lokasi tersebut saya sempat menancapkan sebuah tongkat, dimana nantinya apabila saya mengunjungi lokasi tersebut diharapkan telah berdiri bangunan yang sama persis,,, (Meniru Daendles)</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30467183&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=192168066033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=192168066033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs060.snc3/14750_1191597464644_1069614412_30467183_1990589_n.jpg" alt="" width="288" height="344" /></a></div>
<div>The Ruins</div>
</div>
<p>Akhirnya Geotrek II pun ditutup dengan suasana yang sendu, tapi saya tetap bahagia dan sangat menikmati mengikuti perjalanan ini, sunggu tidak akan terlupakan sepanjang masa,, saya akan terus mengikuti geotrek selanjutnya selama masih sesuai dengan anggaran fiskal saya, baiklah, terima kasih untuk semua penyelengara, Wabilahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,,,</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA["Pemboman" Radio Malabar]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/pemboman-radio-malabar/</link>
<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 08:00:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/pemboman-radio-malabar/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis oleh : Ridwan Hutagalung J.C. Bijkerk dalam bukunya “Vaarwel tot Betere Tijd” menulis bahwa ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-87" title="1" src="http://aleut.files.wordpress.com/2010/02/1.jpg?w=442&#038;h=600" alt="" width="442" height="600" /></a></p>
<p>Ditulis oleh : Ridwan Hutagalung</p>
<p>J.C. Bijkerk dalam bukunya “Vaarwel tot Betere Tijd” menulis bahwa pada tanggal 6 Maret 1942 para pembesar Pemerintah Hindia Belanda (Jend. Ter Poorten, G.G. Tjarda, Maj. Bakkers, dan Gubernur Jabar Hogewind) mengadakan suatu pertemuan di rumah Residen Bandung, Tacoma. Pertemuan tersebut menghasilkan keputusan menjadikan Bandung sebagai kota terbuka dengan maksud agar Jepang dapat masuk Bandung tanpa harus terjadi peperangan.</p>
<p>Peristiwa ini tentu dapat dimaklumi mengingat sebelumnya Jepang telah memborbardir pertahanan sekutu Pearl Harbour di Lautan Pasifik (8 Desember 1941) yang dilanjutkan dengan siaran gencar radio propaganda Nippon yang dipancarkan dari Tokyo. Siaran dalam bahasa Indonesia ini berisi : &#8220;Sebentar lagi Tentara Dai Nippon akan tiba di Indonesia. Kami akan datang bukan sebagai musuh, tetapi bertujuan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.&#8221; Sebagai pembuai, siaran gombal dari Jepang ini selalu diakhiri dengan pemutaran lagu Indonesia Raya yang ternyata memang mampu membuai kebanyakan rakyat Indonesia.</p>
<p>Propaganda balik dari pihak Belanda dilakukan melalui radio-radio Nirom Surabaya dan Nirom Batavia, isinya agar rakyat Indonesia jangan memercayai siaran radio propaganda Jepang tersebut. Namun serangan balik ini sama sekali tidak berhasil karena tak lama kemudian Suarabaya, Malang, dan Madiun telah dibombardir angkatan udara Nippon.</p>
<p>Serangan berikutnya terjadi di Laut Jawa pada 27 Februari 1942. Jepang berhasil menenggelamkan kapal-kapal Exeter, Kortenaer, Java, dan Encouter milik sekutu yang disusul oleh dua kapal terakhir, Houston dan Perth.</p>
<p>Rangkaian peristiwa ini sudah membuat pihak Belanda kehilangan daya untuk melawan sehingga menyerah tanpa banyak perlawanan. Karena itulah pertemuan di Bandung seperti yang dikutipkan di atas dapat terjadi.</p>
<p>Setelah menduduki Bogor, pangkalan udara Kalijati, benteng Ciater, dan kemudian pangkalan udara Andir, maka sebagian besar Jawa Barat sudah ada di tangan Jepang. Penyerbuan ke wilayah pedalaman Jawa Barat pun tidak mendapatkan reaksi berarti.</p>
<p>Kemudian pada 8 Maret 1942, terjadi perundingan Kalijati antara pihak Belanda (Ter Poorten, dkk) dengan pihak Jepang (Jend. Imamura) yang intinya adalah gencatan senjata dan pernyataan penyerahan Belanda kepada Jepang.</p>
<p>Keesokan harinya di Hotel Homann, Jend. Imamura dan tentaranya melakukan upacara doa atas keberhasilannya menguasai Pulau Jawa dan segera dilanjutkan dengan sebuah pesta perayaan. Dengan ini resmilah Jepang menjadi penguasa baru Nusantara. Tanggal 8 Maret kemudian dijadikan Hari Kemenangan Perang Asia Timur Raya yang wajib dirayakan oleh bangsa Indonesia.</p>
<p>Menyusul pengalihan kekuasaan ini, Jepang melakukan penutupan seluruh stasiun penyiaran (juga media cetak). Selama beberapa waktu semua radio tidak menyelenggarakan siaran. Penyiar Bert Gerthoff dari Nirom Bandung pada tanggal 8 Maret 1942, jam 23.00 telah menyampaikan kata-kata perpisahannya yang terkenal : &#8220;Wij sluiten nu. Vaarwel tot betere tijden. Leve de Koningin&#8221; (Kami akhiri sekarang. Selamat tinggal, sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sri Ratu.)<br />
Beberapa bulan kemudian Jepang memasang radio-radio umum di tempat-tempat keramaian. Radio yang masih merupakan barang mewah tentu saja menarik perhatian dan segera disukai masyarakat kebanyakan. Nirom Bandung saat itu telah berubah nama menjadi Hooshoo Kanri kyoku atau Radio Propaganda Nippon yang memutarkan lagu-lagu hiburan (keroncong), musik pengiring senam taiso, siaran keagamaan (Islam), dll. Dan tentu saja siaran-siaran propaganda yang penuh dengan kegombalan itu…</p>
<p>Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya “Pemberontakan di Cileunca, Pangalengan, Bandung Selatan” (1996) menulis betapa Jepang memiliki kepentingan atas Radio Malabar sebagai media propaganda utamanya di P. Jawa. Melalui Radio Malabar pula Jepang melakukan kontak dengan Hooshoo Kyoku di berbagai daerah lainnya termasuk yang berada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara (halaman 200). Tanpa penguasaan media-media cetak, radio, dan transportasi, akan sangat sulit bagi Jepang untuk melakukan pembinaan teritorial (halaman 73).</p>
<p>Tentang pemboman beberapa lokasi di Bandung pada tanggal 3-9 Februari 1942, R.P.G.A. Voskuil dalam bukunya “Beeld van Een Stad” (Asia Maior, 1996) hanya mengatakan suatu penyerbuan udara ke beberapa kota di P. Jawa, termasuk di antaranya, Bandung. Serangan di Bandung ditujukan ke pangkalan udara Andir, namun tidak sampai meluluh lantakkan keseluruhan pangkalan. Pada tanggal 11 Februari masih terdapat 8 pesawat Glenn Martin yang secara intensif (antara 11-27 Februari 1942) melakukan penyerbuan ke pangkalan-pangkalan udara yang telah dikuasai Jepang (Palembang, Banjarmasin, dan Teluk Muntok).</p>
<p>Pada tanggal 7 Maret, saat Jepang sudah mendekati Lembang (sebelumnya sudah menduduki Kalijati, Subang) diakui ada sejumlah pesawat terbang Jepang yang berputar-putar di atas Lembang dan Bandung. Pesawat-pesawat ini menjatuhkan sejumlah bom, di antaranya di taman rumah residen, dan di sekitar Alun-alun. Tapi hanya itu saja, karena diakui juga bahwa saat itu memang tidak banyak dilakukan operasi militer di Bandung. Hanya fakta-fakta inilah yang ditulis oleh Voskuil saat mebicarakan secara detil masuknya Jepang ke Bandung melalui Kalijati dan Lembang.</p>
<p>Bukti lain tentang tidak adanya pemboman yang cukup berarti di wilayah Bandung adalah masih berdirinya berbagai bangunan lama bekas instansi-instansi militer Hindia Belanda sampai saat ini. Seluruh pusat perkantoran militer, Istana Komandan Perang, dan gudang-gudang yang berada di pusat kota Bandung sampai saat ini masih berdiri utuh (dari sekitar Taman Lalu-Lintas hingga sekitar Kosambi). Berbagai pemandangan ciri khas kota juga masih berlangsung sama seperti sebelum kedatangan Jepang (Villa Isola, Gedung Sate, Bank Indonesia, dll).</p>
<p>Voskuil juga memuat sebuah foto puing-puing Radio Malabar dengan keterangan yang menyatakan bahwa stasiun radio tersebut dirusak pada Masa Bersiap (1945 –1946).</p>
<p>Dengan ini saya hanya ingin mengatakan bahwa perebutan Bandung dari Hindia Belanda ke tangan Jepang sama sekali tidak memerlukan dilakukannya bombardir (ejaan Hindia Belanda) seperti yang sering dikatakan selama ini. Bahkan dengan pengalamannya melakukan propaganda internasional melalui siaran radio propaganda Nippon dari Tokyo, Jepang justru sangat membutuhkan keberadaan radio untuk melangsungkan janji-janji gombalnya kemudian hari di Nusantara.</p>
<p>Sekian dulu mungkin catatan yang berhasil saya kumpulkan seputar (pemboman) Radio Malabar. Semoga berguna…</p>
<p>Sumber Tulisan :<br />
1.“Bandoeng, Beeld van Een Stad”, (R.P.G.A. Voskuil, 1996)<br />
2.“Pemberontakan di Cileunca, Pangalengan, Bandung Selatan” (Ahmad Mansur Suryanegara, 1996)<br />
3.“Riwayat Radio Tempo Doeloe di Indonesia”, (Haryadi Suadi, 1998)<br />
4.“Riwayat Radio Republik Indonesia”, (Haryadi Suadi, 1998)<br />
5.“Vaarwel tot Betere Tijd” (J.C. Bijkerk ). Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Djambatan dengan judul “Selamat Berpisah; Sampai Berjumpa di Saat yang Lebih Baik” (1988). Buku ini banyak menceritakan detail peralihan penguasaan wilayah Indonesia dari Hindia Belanda ke pihak Jepang.</p>
<p>3 &#38; 4 adalah kumpulan tulisan yang total berjumlah 52 artikel dan dimuat secara mingguan dalam H.U. Pikiran Rakyat pada tahun 1998</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gunung Puntang, 13 Desember 2009 ]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/gunung-puntang-13-desember-2009/</link>
<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 06:09:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/06/gunung-puntang-13-desember-2009/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Ridwan Hutagalung &#8230;and then the journey.. 16 peserta : Adi, Budhi, Ceppy (mpiw), Ari Ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>Oleh : Ridwan Hutagalung</div>
<div>&#8230;and then the journey..</p>
<p>16 peserta :<br />
Adi, Budhi, Ceppy (mpiw), Ari Yanto, Anna, Icha(nya) Indra, Naluri, DIlla, Ayan, Dimas, Yanstri, Ebi, Cici, Bey, Elgy, dan saya sendiri, Minyak Sereh.</p>
<p>Perjalanan Gunung Puntang yang sudah sempat batal minggu sebelumnya, terlaksana juga hari ini. Dari sekitar 20 pendaftar, 16 saja yang hadir di tempat berkumpul di Tegallega. Adi dan Budhi berangkat secara terpisah menggunakan sepeda motor (untuk keperluan mobile) dan sisa rombongan menggunakan angkot jurusan Banjaran yang kami minta mengantarkan sampai gerbang Wanawisata Gunung Puntang.</p>
<p>Perjalanan Gunung Puntang semestinya adalah perjalanan yang cukup santai, namun seperti halnya perjalanan-perjalanan sebelumnya dari komunitas Aleut, perjalanan ini pun segera menjadi suatu petualangan seru yang tak terbayangkan sebelumnya.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808702&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203413679089_519229089_2808702_5064404_n.jpg" alt="" width="425" height="284" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Sementara rekan-rekan memanfaatkan waktu untuk berfoto, sarapan, dan mempersiapkan berbagai keperluan lainnya, saya bertemu dan berbincang dengan pengelola baru Wanawisata Gunung Puntang. Pembicaraan seputar beberapa program wisata yang ingin dikembangkan oleh pihak pengelola, kebutuhan pengembangan informasi sejarah kawasan, sampai objek-objek menarik yang belum banyak diketahui publik di kawasan Gunung Puntang.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808279&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203324454089_519229089_2808279_7767734_n.jpg" alt="" width="438" height="438" /></a></div>
<div>Pemandangan dan tatangkalan di sekitar eks stasiun radio Malabar</div>
</div>
<div>
<p>Yang juga sangat menarik, sesuai dengan salah satu tujuan ke Gunung Puntang kali ini, adalah ditemukannya sejumlah informasi seputar sejarah Radio Malabar dan berbagai peristiwa sekitar tahun 1942-1946. Informan yang berhasil saya temui adalah Pak Edi (57 tahun), warga asli Puntang, yang ayahnya dulu bekerja di Radio Malabar sampai tahun 1942 (kemudian pindah ke stasiun radio Palasari di Dayeuhkolot). Pak Edi juga memberikan dua nama lain yang masih dapat kami hubungi berkaitan dengan keadaan radio ini pada masa-masa terakhirnya, salah satunya adalah Cep Kandil (80an tahun). Tentang topik ini tentunya masih diperlukan sejumlah kunjungan lainnya.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808280&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203324479089_519229089_2808280_2641282_n.jpg" alt="" width="446" height="446" /></a></div>
<div>Bekas kompleks Radiodorf</div>
</div>
<div>
<p>Sekarang kita kembali ke “the journey” dulu..<br />
Sebagai upaya pendekatan kepada warga dan pengenalan medan yang lebih baik, kami sengaja menyewa 4 orang guide (termasuk 1 orang khusus pemandu gua) untuk membawa kami ke tujuan : Gua Belanda, Curug Siliwangi, menemukan puing-puing menara radio di lereng pegunungan.</p>
<p>Gua Belanda.<br />
Sebutan Gua Belanda sebenarnya kurang meyakinkan. Lorong yang sempit dengan ketinggian bervariasi antara 150-180 cm (perkiraan berdasarkan ketinggian badan saya saja) dan lebar sekitar 150 cm ini rasanya akan cukup menyulitkan untuk orang Belanda yang memiliki badan jauh lebih besar. Karakter dinding yang terlihat tidak rapi juga menunjukkan bahwa gua ini tidak dibuat dalam waktu yang cukup banyak (terburu-buru). Pada masa Hindia Belanda, pembuatan gua pertahanan dan perlindungan selalu dibuat dengan rapi seperti yang masih dapat kita lihat di benteng-benteng Gunung Kunci dan Gunung Palasari, Sumedang, atau gua bekas saluran air di THR Djuanda. Saya cenderung mengambil simpulan bahwa gua ini dibuat pada masa dan untuk keperluan Jepang. Walaupun begitu, bagian dalam gua ini cukup aneh juga karena cukup lebar dan memiliki lapisan beton pada dindingnya. Jadinya lebih mirip Gua Belanda… Nah, lieur kan? Beberapa teman yang memperhatikan bagian dinding gua malah meragukan keaslian dinding itu. Rasanya seperti lapisan beton yang dipasang kemudian. Tapi sang guide keukeuh mengatakan bahwa semua bagian beton itu masih asli peninggalan Belanda. Baiklah kami simpan saja pertanyaan-pertanyaan ini untuk kunjungan berikutnya…</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808705&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203416019089_519229089_2808705_1171641_n.jpg" alt="" width="440" height="440" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Oya, total panjang gua sekitar 200 meteran. Pada bagian tengah dibuat cabang yang saling berhubungan membentuk jalur segi empat.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808317&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203336334089_519229089_2808317_4401894_n.jpg" alt="" width="425" height="425" /></a></div>
<div>Kompleks perkantoran dan stasiun pemancarnya</div>
</div>
<div>
<p>Curug.<br />
Tujuan utama adalah Curug Siliwangi. Namun karena pertimbangan waktu dan jarak, kordinator guide kami menyarankan sebuah curug lain yaitu Curug Gentong yang konon belum pernah dikunjungi wisatawan. Kami setuju.<br />
Trek ini ternyata menjadi sangat menarik dan di luar bayangan kami sebelumnya. Setelah cukup saling mengenal, guide kami menyarankan untuk membuka jalur melalui sisi hutan. Kami setuju lagi.<br />
Saya ringkaskan saja beberapa hal dari trek curug ini :<br />
Jaraknya sekitar 3,5 km dari Kolam Cinta.<br />
Waktu tempuh dengan shortcut sambil membuka jalur jalan baru sekitar 3 jam sekali jalan.<br />
Hutan belukar yang kami lalui memiliki sangat banyak tumbuhan tereptep dan salah suatu jenis pulus yang sama-sama bikin ateul. Tereptep bila tersentuh kulit terasa seperti yang nyetrum. Untunglah guide dan salah seorang peserta kami membawa bedog yang segera merapikan jalan lebih dulu sebelum kami lalui dengan aman.<br />
Beberapa bagian trek ini memiliki kecuraman yang hampir vertikal (90 derajat) sehingga beberapa kali kami mesti pasang tali untuk naik-turun.<br />
Sebagian besar jalur jalan adalah tanah lembab yang licin dengan jurang vertikal juga di satu sisinya. Bagian berjurang ini umumnya tertutupi oleh belukar lebat sehingga kami harus berjalan dengan ekstra hati-hati agar tidak terperangkap dan terjerumus ke dalam rimbunan tereptep di dinding jurang.<br />
Ada banyak jenis jamur yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Sayang tidak semua yang terlihat dapat kami buat fotonya karena cahaya yang sangat kurang (tertutupi oleh pepohonan yang cukup tinggi) dan tidak banyaknya waktu tersedia untuk sesi foto dalam cahaya minim.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808318&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203336349089_519229089_2808318_7976407_n.jpg" alt="" width="438" height="438" /></a></div>
<div>Jalur Sungai Cigeureuh</div>
</div>
<div>
<p>Dalam trek ini kami menyusuri dan menyeberangi badan Sungai Cigeureuh total sebanyak 8 kali.<br />
Di beberapa titik dalam perjalanan ini kami juga menemukan puing-puing bekas bangunan yang kemungkinan berasal dari pondasi-pondasi bagi menara pemancar Radio Malabar dulu.<br />
Tikusruk, tisoledat, tijalikeuh, dan tikosewad menjadi salah satu menu utama perjalanan.<br />
Konon, selain sedikit orang dari kelompok-kelompok Pecinta Alam, belum pernah ada kunjungan wisatawan umum lainnya ke curug ini.</p>
<p>Tiba di depan curug masih menyisakan persoalan yang juga tidak mudah. Satu-satunya akses jalan mendekati curug bertingkat tiga ini hanyalah bentangan batang pohon yang sudah lumayan lapuk karena lembab. Di bawah bentangan batang pohon ini adalah bebatuan yang menjadi badan untuk curug ketiga. Semua peserta menyeberang dengan ekstra hati-hati sambil berpegangan pada bentangan tambang yang sudah dipasang oleh the guide.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808319&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203336374089_519229089_2808319_3332056_n.jpg" alt="" width="439" height="439" /></a></div>
<div>Curug Gentong yang sempit dan terpencil</div>
</div>
<div>
<p>Tiba di curug (dasar curug kedua) ternyata tempatnya sangat sempit, sehingga kami berenambelas agak berhimpitan duduk di bebatuan yang tidak terendam air. Sebatang pohon lain melintang di atas kolam curug juga kami pergunakan untuk tempat duduk. Saatnya murak bekel…<br />
Ini adalah botram yang mantap karena hampir semua perbekalan kami tamdaskan. Nasi rames, mie, kue-kue kering, kue-kue basah, agar-agar, kopi, air jeruk, air mineral, jeruk santang, mangga, coklat, dan entah apa lagi. Bila saja ada gula pasir, mungkin minyak kayu putih pun bakal digulaan…<br />
Kuliner fantastis di lokasi hang-out yang spektakuler…<br />
Suasana fantastis masih ditambah oleh turunnya kabut yang lumayan tebal..</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808320&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203336389089_519229089_2808320_6495921_n.jpg" alt="" width="438" height="438" /></a></div>
<div>Curug ini sempit sekali areanya, makanya diisi 16 orang saja sudah terasa sangat sempit. Kita menikmati suasana yang cukup langka ini sambil duduk saling mepet..</div>
</div>
<div>
<p>Dalam suasana berkabut kami putuskan untuk pulang, kuatir gelap segera turun dan perjalanan akan semakin sulit. Perjalanan pulang relatif lebih lancar walaupun masalah-masalah tijalikeuh tetap saja terjadi bergantian menimpa para peserta, apalagi dalam keadaan cahaya yang semakin berkurang. Yang cukup aneh adalah beberapa peserta perempuan kami yang sepanjang jalan pulang masih mampu menyanyikan puluhan lagu secara acak-acakan. Dalam perjalanan dengan medan yang sulit kami memang membutuhkan stamina dan kegilaan yang seperti ini. Salutlah buat Ebidilla Choir…</p>
<p>Perjalanan pulang kurang dari 3 jam. Kami tiba di kompleks warung sudah lewat jam 1900. Sasaran-sasaran impian langsung saja ditindaklanjuti, mie rebus, kopi, kurupuk, dan penganan sisa lainnya. Menunggu guide mencarikan angkot ternyata lebih dari 1 jam yang untungnya kami isi dengan obrolan riuh agak berguna seperti membicarakan karakter penyiaran berita TVOne, MetroTV, Tina Talissa, Ariel Peterpan, sampai gaya nyanyi dan kostum D’lloyd di tahun 1970an…</p>
<p>Dengan elf sewaan kami tiba di Kebon Kalapa sekitar jam 2100 dengan membawa kesan spektakuler dan berbagai luka kecil di sekujur badan yang baru terasa usai mandi…</p>
<p>Minyak Sereh.<br />
15 Desember 2009</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2808833&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=202972811486&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=202972811486&#38;id=519229089"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs034.snc3/12131_203433769089_519229089_2808833_1738052_n.jpg" alt="" width="432" height="289" /></a></div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Air mata terakhir pemandian Tjihampelas]]></title>
<link>http://aleut.wordpress.com/2010/02/05/air-mata-terakhir-pemandian-tjihampelas/</link>
<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 20:34:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>komunitasaleut</dc:creator>
<guid>http://aleut.wordpress.com/2010/02/05/air-mata-terakhir-pemandian-tjihampelas/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : M. Ryzki W. Di sebuah foto berusia 80 tahun itu terlihat keluarga Vrijburg tengah ”Picknick” ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30515637&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=235488966033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=235488966033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs223.snc3/21043_1215867311375_1069614412_30515637_151341_n.jpg" alt="" width="422" height="331" /></a></div>
</div>
<div></div>
<div>Oleh : M. Ryzki W.</div>
<div></div>
<div>Di sebuah foto berusia 80 tahun itu terlihat keluarga Vrijburg tengah ”Picknick” di kawasan Pemandian Cihampelas atau lebih dikenal sebagai Zwemband Tjihampelas pada masanya. Meisjes Vrijburg yang bersantap ria bersama anak-anaknya, sedangkan di foto yang lain terlihat sang ayah tengah berpose bersama team polo airnya di salah satu sisi pemandian Tjihampelas. Itulah sedikit dokumentasi yang memperlihatkan kejayaan pemandian cihampelas di masa lalu.</div>
<div>
<p>Beberapa tahun yang lalu, masih terlihat kemeriahan anak-anak muda yang mempraktikan materi pelajaran olahraga renangnya di sekolanya. Remaja-remaja nakal itu mencorat-coret dinding batu yang memagari pemandian tua ini, dengan harapan coretannya akan membekas abadi, menjadi tanda mata kenangan masa muda yang penuh dinamika.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30515643&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=235488966033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=235488966033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs223.snc3/21043_1215870591457_1069614412_30515643_1754091_n.jpg" alt="" width="421" height="315" /></a></div>
</div>
<div>Kini kondisinya lain, terlihat sebuah patung dewa Neptunus yang tampak muram namun masih setia mengucurkan airnya, dikelilingi reruntuhan batu yang merintih. Kondisinya bagai baru saja ditimpa sebuah bom. Jantungnya telah berhenti. Kolam tua ini telah menemui ajalnya di tangan anak cucunya yang tidak tahu malu.</p>
<p>Eugene Ruskin tahun 1898 pernah mengatakan ,”Membongkar bangunan kuno, apalagi yang bernilai sejarah, bukanlah dosa kecil…”. Dalam hal ini, Kota Bandung mungkin merupakan sebuah “Lokalisasi Pelacuran” besar, menyediakan godaan yang cukup banyak sehingga dosa besar tersebut dapat terjadi kapan saja, terutama apabila kota ini dikelola oleh seseorang bermoral rendah. Kini “Dosa Besar” tersebut terjadi lagi. Sebuah bangunan malang bernilai sejarah harus merelakan dirinya dilindas oleh suatu “kepentingan yang lebih besar”. Pemandian Tjihampelas yang legendaris akan digantikan oleh sebuah “Rusunami”.</p>
<p>Seperti biasa, sebuah dosa biasanya disertai dengan sebuah penyangkalan dari pelakunya. Ia yang meratakan bangunan bersejarah ini berkilah bahwa bangunan ini tidak memiliki nilai sejarah, “Pemandian itu tidak termasuk bangunan cagar budaya dari jumlah 99 yang nanti akan dibuat perdanya,&#8221; ujar walikota Bandung saat itu yang namanya saya lupa.</p>
<p>Pertama, dari aspek sejarah, bangunan ini merupakan kolam renang/pemandian pertama di Hindia Belanda, dibangun tahun 1902 atas prakarsa Ny. Homann, istri pemilik hotel Homann untuk melayani tamu-tamu Eropanya yang rindu dengan suasana kampung halaman mereka, setelah sebelumnya digunakan sebagai kolam ikan hias milik sang nyonya Homann. Tentunya orang-orang Eropa ini ogah bernenang di empang-empang yang biasa dipakai kaum pribumi. Jadilah kolam renang ini ekslusif untuk orang Eropa saja. Hotel Homann saat itu hingga bersedia menyediakan angkutan pedati yang akan mengantar tamunya yang ingin mandi di Cihampelas ini. Inilah yang salah satunya membuat turis-turis Eropa tertarik untuk mengunjungi Bandung.</p>
<p>Warga pribumi saat itu memang hanya dapat memandangi kemeriahan pemandian ini dari jauh. Kondisi ini merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dihapus dan akan menjadi pengingat akan kondisi sosial saat itu dimana perlakuan penjajah yang sangat diskriminatif terhadap pribumi. Menghilangkan kolam ini tidak akan serta merta menghilangkan kenyataan bahwa kondisi pahit tersebut pernah terjadi.</p>
<p>Kemudian dari sisi arsitektur, kolam ini dibangun dalam konteks arsitektur abad 19 yang contoh bangunannya tidak banyak di Bandung. Penggunaan bentuk atap khas dan dinding batu kali yang masiv menunjukan adopsi asitektur lokal yang menarik. Kolam ini terhitung cukup lengkap pada masanya, menyediakan 3 buah kolam dengan standar internasional, pertama berukurang 25 X 50meter berkedalaman 1,2 hingga 2 meter, kemudian kolam kedua berukuran 12 X 12 meter, berkedalaman 1,1 meter, sedangkan kolam ketiga berukuran 8 X 3 meter berkedalam 80 CM khusus untuk anak-anak.</p>
<p>Di masa kejayaanya, menurut Voskuil, pendirian Bandoengse Zwem Bond atau Perserikatan Renang Bandung tahun 1917 turut mewarnai sejarah pemandian ini. Perserikatan ini membawahi 7 perkumpulan, diantaranya club-club renang sekolah seperti OSVIA, MULO dan KWEEKSCHOOL. Pada tahun 1936 Di kolam renang i ni seorang Hindia Belanda bernama Pet Stam berhasil mencatat rekor 0:59.9 untuk 100 meter gaya bebas dan, berhasil dikirim untuk ambil bagian dalam Olimpiade Berlin atas nama negeri Belanda. Selain renang, pada masa tersebut olahraga polo air diadakan setiap hari minggu di tempat ini.</p>
<p>Pasca kemerdekaan, menurut bapak Sudarsono Katam, kolam renang ini ikut mewarnai perkembangan olahraga Jawa Barat. Kolam ini menjadi tempat berlatih klub renang Aquarius sejak 1952. Kolam ini pernah melahirkan atlet-atlet renang Jabar yang berhasil unjuk kemampuan di tingkat nasional dan internasional, seperti Susanti Wangsawiguna dan Wijaya Aulia.</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30515622&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=235488966033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=235488966033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs223.snc3/21043_1215862311250_1069614412_30515622_4907294_n.jpg" alt="" width="439" height="329" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30515631&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=235488966033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=235488966033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs203.snc3/21043_1215865111320_1069614412_30515631_2145347_n.jpg" alt="" width="434" height="324" /></a></div>
</div>
<div>
<p>Dari uraian di atas, kolam Pemandian Cihampelas ternyata telah memenuhi aspek-aspek bangunan bersejarah menurut Snyder dan Catanes (1979), yaitu : Kelangkaan (tidak dimiliki daerah lain), Kesejarahan (lokasi peristiwa bersejarah), Estetika, Superlativas (keunikan), Kejamakan(mewakili ragam arsitektur tertentu) hingga pengaruh terhadap social (meningkatkan citra lingkungan sekitar). Jadi tidak ada lagi alasan bahwa bangunan ini tidak bernilai sejarah.</p>
<p>Dari sebuah spanduk yang saya temukan di area Pemandian ini, terlihat bahwa warga menentang pembongkaran pemandian serta pembangunan Rusunami ini atasnya. Pertanyaanya, ide siapakah yang membangun suatu rusunami di tengah kawasan padat tengah kota, yang hanya bisa dilalui jalan kecil padahal secara konsep bangunan2 ini seharusnya dibangun di pinggir kota ? Serta sejak kapan pengembang Ciwalk melirik pembangunan Rusunami ? Dilihat dari namanya saja, rusunami (rumah susun sederhana milik) jelas-jelas ditujukan bagi warga mampu, bukan warga miskin yang hanya kuat untuk menyewa. Terakhir, Apa yang ada di benak penata kota ini untuk menambah keramaian pada Jalanan Cihampelas yang setiap hari dilalui kendaraan secara padat merayap? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang sangat logis ditanyakan kepada pemerintah kota sehingga begitu arogannya melepas bangunan cagar hanya untuk kepentingan pemodal yang hanya peduli pada profit semata sedangkan warga “pribumi” hanya bisa menonton, lalu apa bedanya mereka dengan penjajah?</p>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30515904&#38;op=1&#38;view=all&#38;subj=235488966033&#38;aid=-1&#38;auser=0&#38;oid=235488966033&#38;id=1069614412"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs223.snc3/21043_1215922472754_1069614412_30515904_4260055_n.jpg" alt="" width="402" height="301" /></a></div>
</div>
<p>Photographer : ATBH (Adri Teguh Bey Haqi)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
