<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cerita-anak &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/cerita-anak/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cerita-anak"</description>
	<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 05:38:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Catatan Seorang Adik]]></title>
<link>http://katashinta.wordpress.com/2009/11/24/catatan-seorang-adik/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 00:07:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>katashinta</dc:creator>
<guid>http://katashinta.wordpress.com/2009/11/24/catatan-seorang-adik/</guid>
<description><![CDATA[Minggu lalu, di sekolah, aku takjub sekali. Denis, teman sekelasku tiba-tiba mengenakan kerudung. Ia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://katashinta.wordpress.com/files/2009/11/merah-jambu333.jpg"><img src="http://katashinta.wordpress.com/files/2009/11/merah-jambu333.jpg?w=300" alt="" title="MeRaH JaMbU(333)" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-37" /></a>Minggu lalu, di sekolah, aku takjub sekali. Denis, teman sekelasku tiba-tiba mengenakan kerudung. Ia tampak manis dan anggun sekali.</p>
<p>Aku teringat Kakakku yang sering mengingatkanku untuk berkerudung, jika aku akil baligh nanti. Aku sering bertanya, &#8220;apa itu akil baligh?&#8221; Dan kemudian Kakak menjelaskan kepadaku panjang lebar apa itu akil baligh dan mengapa aku harus menutup aurat.</p>
<p>Jujur, inginnya sih aku sekarang seperti anak-anak lain di televisi. Punya baju tank top dan boleh pake rok mini. Tapi pasti kakak akan melotot dan tambah cerewet.</p>
<p>Kata kakak, sekarang aku latihan dulu pake baju panjang dan sopan. Sekalian menutupi tubuh mungilku.</p>
<p>Aku juga ingin berjilbab seperti Denis dan seperti kakak. Karena berjilbab, menutup aurat, berarti menjaga dan melindungi diriku sendiri. Menutup aurat juga melindungi kulitku dari terpaan sinar matahari yang panas.</p>
<p>Memang sih, kata Denis, berkerudung itu gerah awalnya. Tapi hanya awal-awalnya aja, setelah itu kita akan terbiasa, katanya. Lagipula, kata bu Diana, guru agamaku  panas di dunia itu tidak boleh dikeluhkan; karena neraka lebih panas.</p>
<p>Tapi, boleh tidak ya aku berkerudung sama Papa-Mama?</p>
<p>Hari Minggu kemarin, saat aku akan pergi makan bersama keluarga, kakak bertanya padaku, &#8220;Dek, mau pake kerudung, nggak?&#8221;</p>
<p>Aku mengangguk-angguk. Akhirnya kakak mengambilkan kerudung kecil yang hanya kupakai kalau aku TPA. Warnanya Pink, warna kesukaanku. Serasi juga sama baju panjang dan celana Winnie The Pooh merah jambu.</p>
<p>Aku dengan gembira memamerkannya pada Papa dan Mama. Berharap mereka senang dengan penampilanku.</p>
<p>Tapi, aku sedih sekali saat mereka malah marah dan mengatakan bahwa anak-anak berjilbab seperti anak kampung. Aku lebih sedih lagi karena kakak yang dimarahi habis-habisan.</p>
<p>Kata Mama, &#8220;kasihan, nanti rambutnya rontok&#8221;</p>
<p>Kata Papa, &#8220;nanti saja kalau akil baligh-lah. kalau dari kecil kaya anak kampung aja&#8221;</p>
<p>Aku dengar kakak bersuara, &#8220;kasihan terus&#8230; Sampai kapan mau dikasihani? Waktu mau dibangunin sholat shubuh, katanya kasihan. Terlalu pagi, nanti ngantuk di sekolah. Dibangunin sahur untuk puasa Ramadhan, kasihan juga, nanti kelaparan. Nanti kalau besar dia nggak sholat, nggak puasa, nggak mau pake jilbab, apa masih mau kasihan??&#8221;</p>
<p>Pasti tentang aku. Waktu bulan Ramadhan juga aku kadang tidak dibangunkan sahur, karena kata Papa kasihan nanti aku kelaparan jadinya tidak konsentrasi belajar.</p>
<p>Kasihan kakak. Aku tahu, dia sayang sekali sama aku. Ingin mengajariku beribadah. Tapi kenapa Papa sama Mama melarang aku melakukan semua itu ya? Kenapa harus mengasihaniku?</p>
<p>Aku ingin berjilbab, aku juga ingin sholat, aku ingin puasa. Sama seperti Papa, Mama, Kakak, dan orang-orang lainnya. </p>
<p>Aku juga ingin masuk surga, seperti cerita-cerita Kakak.</p>
<p>Aku ingin bertemu bidadari, juga seperti cerita-cerita Kakak.</p>
<p>Aku ingin bertemu nabi Muhammad. Dan aku juga ingin bertemu Allah di surga-Nya nanti.</p>
<p>Maka, Mama Papa, jangan kasihani aku. Sayangi aku karena aku pun ingin menjadi kupu-kupu di taman surga-Nya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[emas dan batu]]></title>
<link>http://alhikmah34preschool.wordpress.com/2009/11/16/emas-dan-batu/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 11:11:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>alhikmah34preschool</dc:creator>
<guid>http://alhikmah34preschool.wordpress.com/2009/11/16/emas-dan-batu/</guid>
<description><![CDATA[Berkat kerja keras dan selalu menabung, petani itu akhirnya kaya raya. Karena tak ingin tetangganya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berkat kerja keras dan selalu menabung, petani itu akhirnya kaya raya. Karena tak ingin tetangganya tahu mengenai kekayaannya, seluruh tabungannya dibelikan emas dan dikuburnya emas itu di sebuah lubang di belakang rumahnya. Seminggu sekali digalinya lubang itu, dikeluarkan emasnya, dan diciuminya dengan penuh kebanggaan. Setelah puas, ia kembali mengubur emasnya.</p>
<p>Pada suatu hari, seorang penjahat melihat perbuatan petani itu. Malam harinya, penjahat itu mencuri seluruh emas si petani.</p>
<p>Esok harinya petani itu menangis meraung-raung sehingga seluruh tetangga mengetahui apa yang terjadi. Tak seorang tetangga pun tahu siapa yang mencuri emasnya. Jangankan soal pencurian, tentang lubang berisi emas itu saja mereka baru tahu hari itu. Kalau tidak ada pencurian, tak ada yang tahu bahwa petani itu memiliki emas yang dikubur di belakang rumahnya. Sebagian orang ikut bersedih atas pencurian itu, sebagian yang lain mengejek dan menganggap petani itu bodoh.</p>
<p>“Salah sendiri menyimpan emas di rumah. Mengapa tidak dijual saja dan uangnya dipakai untuk membangun rumah. Biar rumahnya lebih bagus, tidak reot seperti sekarang. Itulah ganjaran orang kikir. Kalau dimintai sumbangan, selalu saja jawabannya tidak punya. Sekarang, rasakan sendiri!”</p>
<p>Tetapi tak seorang pun yang berani terus terang mengejek atau mengumpat petani yang ditimpa kemalangan itu. Semua ejekan dan umpatan hanya diucapkan di antara sesama mereka saja, tidak di hadapan si petani. Hanya seorang lelaki tua miskin yang berani bersikap jujur kepada petani itu. Lelaki tua itu tinggal tak jauh dari rumah si petani.</p>
<p>“Sudahlah, begini saja. Di lubang bekas emas itu kuburkanlah sebongkah batu atau apa saja dan berlakulah seperti sebelum kau kecurian.”</p>
<p>Mendengar itu, si petani marah.</p>
<p>“Apa maksudmu? Kau mengejekku, ya? Yang hilang itu emas, bukan batu. Kau sungguh tetangga yang jahat. Kau memang orang miskin yang cuma bisa mengubur batu. Aku bisa mengubur emas atau apa saja semauku. Kini aku kehilangan emas dan kau enak saja menyuruhku mengubur batu. Kau pikir batu sama dengan emas?!”</p>
<p>Suasana pun gaduh. Orang-orang melerai.</p>
<p>Dengan tenang lelaki tua itu menjawab:</p>
<p>“Apa bedanya emas dan batu? Kalau kau bisa mengubur emas, seharusnya kau juga bisa mengubur batu. Tahukah kau, dengan mengubur emas berarti kau telah menjadikan logam mulia itu sebagai barang yang tidak berharga. Lalu, apa salahnya kau mengubur batu dan berkhayal yang kau kubur itu adalah emas.”</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerita Untuk Anak]]></title>
<link>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/14/cerita-untuk-anak/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 15:10:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>abukautsar</dc:creator>
<guid>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/14/cerita-untuk-anak/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan: Ada sebagian cerita atau kisah yang ditujukan untuk anak, tujuannya untuk memberikan pen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p><em>Ada sebagian cerita atau kisah yang ditujukan untuk anak, tujuannya untuk memberikan pengajaran ataupun hiburan bagi anak. Yang menjadi tokoh dalam kisah tersebut adalah hewan, dimana digambarkan hewan-hewan tersebut dapat berbicara layaknya manusia (dongeng fabel). Untuk mengajarkan anak akibat jelek dari berdusta misalnya, dikisahkan ada seekor musang berpura-pura jadi dokter hingga ia dapat memperdaya seekor ayam. Kemudian si musang terperosok ke dalam lubang akibat perbuatan dustanya. Apa pendapat antum terhadap kisah seperti ini?</em></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Jawab: </strong></span></p>
<p><!--more-->Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjawab, &#8220;Tentang permasalahan seperti ini, saya tawaqquf (mendiamkan, belum bisa mengatakan boleh atau tidak).</p>
<p>Karena mengisahkan seperti itu berarti mengeluarkan si hewan dari keadaan asal penciptaannya. Dikatakan ia bisa berbicara, bisa mengobati / jadi dokter dan bisa mendapat hukuman atas perbuatannya.</p>
<p>Terkadang mungkin dikatakan bahwa ini hanya permisalan / perumpamaan. Namun wallahu a’lam, saya tawaqquf dalam perkara ini. Saya tidak mengatakan apapun dalam hal ini.”</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p><em>Ada bentuk lain dari cerita untuk anak. Seorang ibu terkadang bercerita kepada anaknya untuk memberikan pengajaran pada si anak dengan kisah yang memang mungkin terjadi, walaupun tidak mesti kisah itu telah terjadi. Misalnya si ibu berkata, “Ada seorang anak bernama Hasan. Anak ini suka mengganggu tetangganya. Suatu hari ia memanjat tembok rumah tetangganya. Tiba-tiba ia jatuh dan patah tangannya.” Yang menjadi pertanyaan kami, apa hukum cerita seperti itu, dimana memang tidak dapat dipungkiri anak yang mendengarnya terkadang beroleh pelajaran tentang perangai yang mulia lagi terpuji. Apakah cerita seperti ini termasuk dusta yang dilarang?</em></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah kembali menjawab, “Yang zhahir, bila si ibu menceritakannya hanya sebagai perumpamaan dengan misalnya ia mengatakan, “Di sana ada seorang anak…” tanpa menyebut nama tertentu dan kisahnya seakan benar terjadi, maka tidak apa-apa, karena di dalamnya ada faedah dan tidak ada madharat.”</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Fatwa-fatwa di atas diambil dari kitab Majmuah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, halaman 138-141</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Majalah “Asy-Syari’ah” vol. V/53/1430 H/2009 M<br />
Rubrik “Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah” halaman 87</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Untukmu Calon Bapak]]></title>
<link>http://rydenmas.wordpress.com/2009/11/13/untukmu-calon-bapak/</link>
<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 02:11:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>rydenmas</dc:creator>
<guid>http://rydenmas.wordpress.com/2009/11/13/untukmu-calon-bapak/</guid>
<description><![CDATA[Sore kemarin, saya liat wajah anak saya agak mendung. “Kenapa dek?” Oh, ternyata cincin plastiknya d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Sore kemarin, saya liat wajah anak saya agak mendung. “Kenapa dek?” Oh, ternyata cincin plastiknya diambil oleh ustadzahnya. Saya tanya kembali, kenapa diambil? Dia menjawab bahwa ketika di kelas, dia malah mainan cincin plastiknya itu.</p>
<p>Memang ahad lalu dia membeli cincin plastik yang lucu untuk dia dan adiknya. Saking senengnya, ia bawa cincin itu kemana mana. Adiknya juga sangat senang dengan dua cincin itu. Warnanya biru, dan merah.<!--more--></p>
<p>Hari itu anakku belajar bersedih. Ia mulai mengenal perasaan sedih, tapi ia mencoba menahan tangisnya. Subhanallah, saya liat wajahnya sayu. Seperti orang dewasa yang sedang kehilangan sesuatu yang sangat dia cintai. Saya sempet berpikir, ustadzahnya kok tega banget ya?</p>
<p>Tapi saya coba hibur dia sepanjang perjalanan pulang. Saya pengen membelikan cincin plastik lagi untuknnya. Tapi nampaknya langit Solo saat itu juga ikutan mendung. Akhirnya kita berdua hanya mampir di sebuah toko roti saja. Saya lihat wajahnya sedikit ceria, saat ia melihat toko roti favoritnya.</p>
<p>Saudaraku, kadang memang kita menemukan hal-hal kecil yang mungkin terkesan biasa. Anak kecil yang sedih, itu mungkin biasa saja. Ada yang mensikapinya dengan bentakan. “Jangan cengeng! Gitu aja sedih!” Tapi, bukankah lebih baik kalau kita membiarkan dia belajar mengapresiasi perasaannya? Menyelami rasa sedihnya, agar dia tahu bagaimana cara mengelola kesedihan itu? Sekaligus ini kesempatan bagi orang dewasa di sekitar dia agar mau belajar, bagaimana menghibur anak kecil yang sedih bersedih. Alhamdulillah…</p>
<p style="text-align:justify;">by burhanshodiq</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dimanakah ALLAH ?]]></title>
<link>http://desicandra.wordpress.com/2009/11/12/282/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 06:46:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>desicandra</dc:creator>
<guid>http://desicandra.wordpress.com/2009/11/12/282/</guid>
<description><![CDATA[Dimanakah ALLAH ? ALLAH berada di atas arsy Apakah arsy itu? Arsy adalah tempat yag sangat luas Dima]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2 style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-283" title="kaligrafi ALLAH" src="http://desicandra.wordpress.com/files/2009/11/kaligrafi-allah.jpeg" alt="kaligrafi ALLAH" width="145" height="144" /></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000080;"><!--more-->Dimanakah ALLAH ?</span></h2>
<h1 style="text-align:center;"><span style="color:#000080;">ALLAH berada di atas <strong>arsy</strong></span></h1>
<p><span style="color:#000080;"><strong><br />
</strong></span></p>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000080;"> </span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">Apakah arsy itu?</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">Arsy adalah tempat yag sangat luas</span></h2>
<p><span style="color:#800080;"><br />
</span></p>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000080;"> </span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000080;">Dimanakah arsy itu?</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000080;">Arsy berada di atas langit yang sangat tinggi</span></h2>
<p><span style="color:#000080;"><br />
</span></p>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000080;"> </span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">ALLAH mengawasi kita semua dari atas arsy</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">ALLAH tidak tidur dan juga tidak mengantuk</span></h2>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">ALLAH selalu menyayangi kita semua</span></h2>
<p style="text-align:center;">
<p>(Disadur dari  Majalah ababil edisi no. 3, Oktober 2009)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Carrot Cake - Cake Wortel]]></title>
<link>http://defidi.wordpress.com/2009/11/02/carrot-cake-cake-wortel/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 05:07:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>defidi</dc:creator>
<guid>http://defidi.wordpress.com/2009/11/02/carrot-cake-cake-wortel/</guid>
<description><![CDATA[cake wortel Cake wortel ide ini dapet ada temen yg bilang kalo aku buatkan sup, anakku cuma makan ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[cake wortel Cake wortel ide ini dapet ada temen yg bilang kalo aku buatkan sup, anakku cuma makan ke]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Sun and The Moon]]></title>
<link>http://thinkquantum.wordpress.com/2009/11/02/the-sun-and-the-moon/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 05:04:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quantum Enterprise</dc:creator>
<guid>http://thinkquantum.wordpress.com/2009/11/02/the-sun-and-the-moon/</guid>
<description><![CDATA[The Sun and The Moon Once, long ago, before the people came from beneath the earth the land was not ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[The Sun and The Moon Once, long ago, before the people came from beneath the earth the land was not ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tujuh Burung Gagak ]]></title>
<link>http://thinkquantum.wordpress.com/2009/11/02/tujuh-burung-gagak/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 04:56:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Quantum Enterprise</dc:creator>
<guid>http://thinkquantum.wordpress.com/2009/11/02/tujuh-burung-gagak/</guid>
<description><![CDATA[Tujuh Burung Gagak Dahulu, ada seorang laki-laki yang memiliki tujuh orang anak laki-laki, dan laki-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tujuh Burung Gagak Dahulu, ada seorang laki-laki yang memiliki tujuh orang anak laki-laki, dan laki-]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akal pak kusir yang bernama Joatos]]></title>
<link>http://komiocykid.wordpress.com/2009/11/01/akal-pak-kusir-yang-bernama-joatos/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 08:45:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>komiocy</dc:creator>
<guid>http://komiocykid.wordpress.com/2009/11/01/akal-pak-kusir-yang-bernama-joatos/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah kereta yang ditarik seekor kuda sedang melintas dijalanan desa.Di kereta yang tampak sarat mu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-85" title="aquarium" src="http://komiocykid.wordpress.com/files/2009/11/aquarium.gif" alt="foto : aquarium,gif(foto MS)" width="200" height="150" />Sebuah kereta yang ditarik seekor kuda sedang melintas dijalanan desa.Di kereta yang tampak sarat muatan itu, duduklah seorang kusir separuh baya. Udara di waktu itu sudah mulai memanas. Pak kusir tampak berkeringat. Tiba-tiba kudanya menghentikan langkah.Ia cuma mengangkatkan kakinya keatas dan menghentakkannya kembali ke bawah. Sehingga kereta itu tidak berjalan alias berhenti.Tampaknya si kuda lagi malas untuk menarik bebannya yang berat itu.</p>
<p>Kereta kuda itu mengangkut beberapa karung goni, berisikan tangkai-tangkai padi yang baru diketam di sawah. Maksudnya akan di bawa ke desa untuk dijemur dan dipisahkan padi dari tangkainya setelah kering nanti.</p>
<p>Sang kusir yang bernama Joatos itu sudah beberapa kali memukul kudanya dengan cambuk yang ada di tangannya, supaya mau melangkah dan berjalan lagi.Tapi tampaknya sang hewan sedang &#8216;ngambeg&#8217;, barangkali.<!--more--></p>
<p>&#8220;Apakah kuda ini sedang lapar ?&#8221; pikir pak Joatos, tapi dibantahnya sendiri.&#8221;Ah, tak mungkin pagi tadi sebelum berangkat ke sawah, dia sudah kenyang kuberi rumput. Dasar kudanya saja yang manja dan pemalas.&#8221;Pak Joatos menggerutu sendiri didalam hati.</p>
<p>Ia turun dari kereta kudanya lalu duduk mencangklong di pinggir jalan.Dikeluarkannya sebungkus rokok dari kantong bajunya. Dikeluarkannya sebatang, lalu di sulutnya dengan api. Ia mulai menghisap rokoknya .Pikirannya berputar mencari akal untuk memecahkan permasalahan kudanya ini.</p>
<p>&#8220;Kalau ku cambuk terus kuda ini, aku takut dia akan jatuh sakit, akibat cedera bekas  cambukanku. Kalau dia sakit, aku juga yang rugi tak dapat mengangkut padi.&#8221;</p>
<p>Ia bangkit dari duduknya dan kembali naik ke atas kereta pengangkut padi itu.Pak Joatos  terus mencari akal. &#8220;Apa yang harus kubuat agar dia mau melanjutkan perjalanan, ya?&#8221;</p>
<p>Pikirannya terus berputar, mencari cara yang tepat memecahkan masalahnya.Sesekali di embuskannya asap rokoknya keluar melalui mulutnya.Asap rokok itu melambung ke udara membentuk lingkaran lingkaran kecil di atas kepalanya.</p>
<p>Tiga perempat batang rokoknya sudah habis terbakar, ketika tiba-tiba terlintas di benaknya suatu cara yang jitu membuat kudanya mau berjalan kembali seperti sebelumnya.</p>
<p>Di hisapnya lagi rokoknya. Kali ini dengan tarikan yang  panjang. Kemudian di buangnya sisa rokokyang tinggal sedikit itu ketanah.</p>
<p>Ia turun dari kereta kudanya berjalan  ke arah belakang. Pak Jotaos, membuka ikatan salah satu karung berisi padi yang sedang diangkut keretanya. Dikeluarkannya beberapa tangkai yang penuh berisi bulir-bulir berwarna kuning keemasan itu. Kemudian diikatnya kembali karung goni  tersebut.</p>
<p>Lalu dengan padi di tangannya, Pak Joatos berjalan kesamping kudanya. Memegang tali kendali dan tali yang melingkari hidung kudanya. Satu persatu di selipkan nya tangkai penuh berisi padi itu di tali lingkaran  hidung sang kuda. Padinya menjuntai ke arah mulut kudanya.</p>
<p>Melihat padi yang masak dan menerbitkan selera itu, si kuda yang lagi &#8216;ngambeg&#8217; karena letih itu menjadi hilang kantuknya. Dengan penuh semangat ia menjulurkan kepalanya berusaha memakan padi-padi itu.Tentu saja ia tak berhasil. Karena setiap ia mendongakkan kepalanya, padi itu pun turut naik keatas mengikuti gerakan hidungnya.</p>
<p>Berkali-kali mulutnya mencoba menjemput sang padi , sedemikian pula sang padi menjauhinya. Akibatnya ia mulai terdorong maju. Karena tak sabar ia berlari mengejar sang padi yang menggoda seleranya itu.</p>
<p>Pak Joatos segera lompat ke atas keretanya dan mulai mengendalikan gerak sang kuda .Sekarang kereta itu sudah mulai berjalan kembali mengikuti gerakan lari sang kuda yang berusaha mengejar padi dimuka batang hidungnya.</p>
<p>&#8220;Yes, berhasil&#8221;, seru pak Joatos dalam hatinya. Ia tersenyum sendiri mengenang penemuan nya yang brilyan itu. &#8220;Ayo kejar terus kuda ku. Bila kita sudah sampai ke tujuan, akan kuberi hadiah engkau dengan padi-padi itu.&#8221;katanya sendiri.</p>
<p>Matahari semakin tinggi. Dan keringat semakin deras mengalir di leher si kuda yang berlari kencang.<strong>Selamat pak Joatos, sampai jumpa.</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sejarah Es Krim ]]></title>
<link>http://hendrarosani.wordpress.com/2009/10/30/sejarah-es-krim/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 15:35:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>hendrarosani</dc:creator>
<guid>http://hendrarosani.wordpress.com/2009/10/30/sejarah-es-krim/</guid>
<description><![CDATA[Sebelum adanya sistem pendingin yang modern, es krim adalah makanan yang mewah dan hanya dihidangkan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sebelum adanya sistem pendingin yang modern, es krim adalah makanan yang mewah dan hanya dihidangkan pada acara-acara yang spesial.</p>
<p>Dahulu, membuat es krim adalah hal yang sangat merepotkan. Untuk membuat es krim, Es didapatkan dari danau atau kolam yang membeku saat musim dingin, kemudian dipotong dan disimpan dalam tumpukan jerami, lubang di dalam tanah, atau tempat penyimpanan es yang terbuat dari kayu dan diberi jerami. Es disimpan untuk kemudian dipakai saat musim panas.</p>
<p>Saat musim panas. es krim kemudian dibuat secara tradisional dengan mengolah adonan didalam mangkuk besar yang ditaruh dalam sebuah tube yang diisi dengan campuran es yang telah dihancurkan dan garam, yang membuat adonan es krim itu membeku.</p>
<p>Sumber: CeritaAnak.org</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bintang Kebanggaan]]></title>
<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2009/10/29/bintang-kebanggaan/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 08:34:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
<guid>http://zasmiarel.wordpress.com/2009/10/29/bintang-kebanggaan/</guid>
<description><![CDATA[Papa&#8230; dede dapat bintang!!! Itulah teriakan si kecil ketika melihat saya memasuki rumah sepula]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Papa&#8230; dede dapat bintang!!! Itulah teriakan si kecil ketika melihat saya memasuki rumah sepulang dari kantor. Biar pun kondisi masih penat dan capek, saya harus merespon. Waaah&#8230;anak papa hebaaat, dapat bintangnya berapa?? Niih&#8230; ada satuuuu&#8230;.duaaaa&#8230;. tigaaaa&#8230;&#8230;.. ada tiga papa&#8230;. jelas si kecil sambil mengajukan punggung kedua tangannya. Waaaah hebaaaat, memang dede bisa apa kok dapat bintangnya banyak bangat? Saya balik bertanya. Mmm&#8230; dede bisa baca Al Fatehah, teruus bisa baca doaaa, teruus bisa baca iqraaa&#8230; a&#8230; ba&#8230; ta&#8230; tsa&#8230; ja&#8230; ha&#8230; ho&#8230; begituuuu. Wuiiiih, pokoknya anak papa hebat dan pintar. Lalu saya berikan pelukan dan ciuman sebelum kemudian minta izin ke si kecil untuk ganti pakaian.<!--more--></p>
<p>Begitulah kira-kira ekspresi si kecil ketika menunjukkan bintang yan diperolehnya dari ibu guru di sekolah. Ekspresi lucu dari seorang anak yang baru berusia dua setengah tahun. Mmm&#8230; waktu memang cepat sekali berlalu, tidak terasa si kecil kami sudah menginjak usia dua setengah tahun. Sekitar tiga bulan lalu kami memutuskan untuk mendaftarkannya pada taman bermain islam yang ada di sekitar komplek perumahan tempat kami tinggal. Yang mendaftar pun ternyata kebanyakan adalah anak-anak dari komplek perumahan kami juga.</p>
<p>Biarpun usianya terbilang masih batita dan paling muda diantara teman sekelasnya, namun kami mempunyai alasan yang kuat, utamanya agar si kecil mengenal arti bersosialisasi dan bertoleransi dari usia dini. Sebelum mendaftarkannya, yang pertama kami lakukan adalah menanyakan kepada si kecil apakah dia memang mau sekolah. Pertanyaan tersebut kami sampaikan pada tiga waktu yang berbeda. Dan setiap kali bertanya, si kecil menjawab dengan antusias bahwa ia ingin bersekolah. Namun  sebagai orang tua kami sadar dan membatasi diri untuk tidak terlalu memaksakan, maklum anak se usia itu masih susah ditebak. Hari ini mungkin bilang mau, besok lain lagi. Yang penting kami tetap berupaya menghargai dan merespon keinginannya tersebut dengan kalimat &#8220;kita coba dulu&#8221;.</p>
<p>Pertama kali datang mendaftar sebenarnya kelasnya sudah penuh. Satu kelas hanya menerima untuk tujuh sampai delapan anak. Waktu itu si kecil diantar oleh neneknya. Dengan sedikit rayuan si nenek, akhirnya si kecil kami pun bisa diterima dan bersekolah untuk kali pertama. Jadwal sekolahnya tiga kali dalam seminggu. Karena kami kerja, jika berangkat ke sekolah si kecil diantar dan ditemani oleh neneknya. Kadang ada perasaan bersalah juga, kenapa kami sebagai orang tuanya tidak bisa mengantar dan menungguinya. Beruntung si kecil tidak terlalu mempersoalkan masalah itu. Tapi dari pihak kami tak lupa senantiasa memberi pengertian bahwa orang tuanya kerja juga untuk si kecil. Lalu bagaimana asal muasal cerita tentang &#8220;bintang&#8221; di atas.</p>
<p>Para guru yang mendidik di taman bermain tersebut mempunyai cara tersendiri dalam memberikan penghargaan kepada anak didiknya, yaitu dengan pemberian cap bintang di punggung tangan. Penghargaan ini diberikan tentunya bagi murid yang bisa dan berani mengerjakan apa yang diperintahkan. Pada hari pertama bersekolah si kecil kami mendapatkan satu bintang, karena bisa menirukan menyebut angka nol. Dengan bangganya bintang tersebut dia tunjukkan ke saya. Waktu itu saya meresponnya dengan bersemangat dan menyatakan kalau dia hebat.</p>
<p>Pernah suatu ketika si kecil menunjukkan bintang yang diperolehnya dengan meloncat dan menari. Saya pun meresponnya dengan mengikuti gerakan dia sambil bertepuk tangan dan berteriak hore. Ternyata respon yang saya berikan dengan sangat ekspresif tersebut mungkin membekas dalam benaknya. Mungkin dia juga melihat ternyata orang tuanya juga ikut senang atas bintang yang diperolehnya.</p>
<p>Sejak saat itu setiap dapat bintang dia akan menunjukkan kepada kami dan dengan bangganya akan menceritakan mengapa ia bisa dapat bintang tersebut. Bintang kebanggaan bagi dia dan kebanggaan juga bagi kami.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[raja dan kura-kura]]></title>
<link>http://dipo70.wordpress.com/2009/10/27/raja-dan-kura-kura/</link>
<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:07:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>dipo70</dc:creator>
<guid>http://dipo70.wordpress.com/2009/10/27/raja-dan-kura-kura/</guid>
<description><![CDATA[Di Benares, India, hidup seorang raja yang sangat gemar berbicara. Apabila ia sudah mulai membuka mu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Di Benares, India, hidup seorang raja yang sangat gemar berbicara. Apabila ia sudah mulai membuka mulutnya, tak seorang pun diberi kesempatan menyela pembicaraannya. Hal ini sangat mengganggu menterinya. Sang menteri pun selalu memikirkan cara terbaik menghilangkan kebiasaan buruk rajanya itu.<br />
Pada suatu hari raja dan menterinya pergi berjalan-jalan di halaman istana. Tiba-tiba mereka melihat seekor kura-kura tergeletak di lantai. Tempurungnya terbelah menjadi dua. &#8220;Sungguh ajaib!&#8221; kata Sang Raja dengan heran. &#8220;Bagaimana hal ini dapat terjadi?&#8221; Lalu Raja mulai dengan dugaan-dugaannya. Dia terusmenerus membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan kura-kura itu.<br />
Sang Menteri hanya mengangguk-anggukkan kepala menunggu kesempatan berbicara. Kemudian dia merasa menemukan cara terbaik untuk menghilangkan kebiasaan buruk Sang Raja. Ketika Sang Raja menarik napas untuk berbicara lagi, Sang Menteri segera menukas dan berkata, &#8220;Paduka, saya tahu kejadian sebenarnya yang dialami kura-kura naas ini!&#8221; &#8220;Benarkah? Bila begitu, lekas katakan,&#8221; kata Raja penuh rasa ingin tahu. Dengan penuh keseriusan Sang Raja mendengarkan cerita menterinya. Sang Menteri pun mulai bercerita. Kura-kura itu awalnya tinggal di sebuah danau di dekat pegunungan Himalaya.<br />
Ebook Islam</p>
<p>Bagaimana kalau misalnya kita sehari berada dikediaman rasul? Dapatkan ebook gratisnya disini.<br />
Informasi untuk saudara Muslim<br />
Di sana terdapat juga dua ekor angsa yang selalu mencari makan di danau tersebut. Mereka pun akhirnya bersahabat. Pada suatu hari dua ekor angsa itu menemui kura-kura yang sedang berjemur di tepi danau. &#8220;Kura-kura, kami akan segera kembali ke tempat asal kami yang terletak di gua emas di kaki Gunung Tschittakura. Daerah tempat tinggal kami adalah daerah terindah di dunia. Tidakkah engkau ingin ikut kami ke sana?&#8221; tanya Sang Angsa. &#8220;Dengan senang hati aku akan turut denganmu,&#8221; sahut kura-kura riang. &#8220;Tetapi, sayangnya aku tak dapat terbang seperti kalian,&#8221; lanjutnya dengan wajah mendadak sedih. &#8220;Kami akan membantumu agar dapat turut bersama kami ke sana.<br />
Tapi selama dalam perjalanan kamu jangan berbicara karena akan membahayakan dirimu,&#8221; kata angsa. &#8220;Aku akan selalu mengingat laranganmu. Bawalah aku ke tempat kalian yang indah itu,&#8221; janji kura-kura. Lalu kedua angsa tersebut meminta kura-kura agar menggigit sepotong bambu. Kemudian kedua angsa tersebut menggigit ujung-ujung bambu dan mereka pun terbang ke angkasa. Ketika kedua angsa itu sudah terbang tinggi, beberapa orang di Benares melihat pemandangan unik tersebut.<br />
Ebook Islam</p>
<p>ebook tentang dasar-dasar memahami tauhid dalam Islam. Versi gratis dapatkan disini.<br />
Informasi untuk saudara Muslim<br />
Mereka pun tertawa terbahak-bahak sambil berteriak. &#8220;Coba, lihat! Sungguh lucu. Ada dua ekor angsa membawa kura-kura dengan sepotong bambu.&#8221; Kura-kura yang suka sekali bicara merasa tersinggung ditertawakan. Dia pun lupa pada larangan kedua sahabatnya. Dengan penuh kemarahan dia berkata, &#8220;Apa anehnya? Apakah manusia itu sedemikian bodohnya sehingga merasa aneh melihat hal seperti ini?&#8221; Ketika kura-kura membuka mulutnya untuk berbicara, dua ekor angsa itu sedang terbang di istana.<br />
Kura-kura pun terlepas dari bilah bambu yang digigitnya. Dia terjatuh tepat di sini dan tempurungnya terbelah dua. &#8220;Kalau saja kura-kura itu tidak suka berbicara berlebih-lebihan, tentu sekarang dia telah tiba di tempat sahabatnya,&#8221; kata Sang Menteri mengakhiri ceritanya sambil memandang Sang Raja. Pada saat bersamaan Raja pun memandang menterinya. &#8220;Sebuah cerita yang menarik,&#8221; sahut Sang Raja sambil tersenyum. Dia menyadari kemana arah pembicaraan menterinya. Sejak saat itu, Sang Raja mulai menghemat kata-katanya. Dia tidak lagi banyak bicara. Tentu saja Sang Menteri amat senang melihat kenyataan itu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anak Itik dan Induknya]]></title>
<link>http://komiocykid.wordpress.com/2009/10/26/anak-itik-dan-induknya/</link>
<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 07:31:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>komiocy</dc:creator>
<guid>http://komiocykid.wordpress.com/2009/10/26/anak-itik-dan-induknya/</guid>
<description><![CDATA[Seekor anak itik asyik berenang di pinggir sebuah kolam, di tepi sawah.Ia berteriak kegirangan,menik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'>
<p>Seekor anak itik asyik berenang di pinggir sebuah kolam, di tepi sawah.Ia berteriak kegirangan,menikmati dinginnya air. Sebentar-sebentar dibenamkannya  kepalanya yang kecil ke dalam air. Tak lama kemudian kepala kecil itu kembali muncul di permukaan.Sang anak itik tak tahan lama menahan nafasnya, agar tidak meminum air.</p>
<p>&#8220;Horee, sejuuk.Aku tidak kepanasan lagi&#8221;,teriaknya dengan gembira.</p>
<p>Sementara itu induknya sedang mengapung di tengah kolam, mengawasi kelima anaknya yang sedang bermain disekitarnya.</p>
<p>&#8220;Hm, namanya juga anak-anak.Bisanya cuma bermain dan bermain. Kalau sedang asyik bermain, tak kenal lapar dan lelah,&#8221; pikirnya di dalam hati.&#8221;Tunggu saja sebentar lagi, kalau sudah bosan dan lelah,mereka pasti merengek-rengek minta makan&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tapi aku dulu juga begitu,sama seperti mereka ketika masih kecil&#8221;. Sang induk tersenyum sendiri.</p>
<p>&#8220;Lebih baik aku mencari cacing,untuk mereka. Sementara mereka masih asyik bermain.&#8221;</p>
<p>Si induk itu berenang ketepian kolam dan mulai menyosorkan paruhnya ke tanah, mencari kalau-kalau ada cacing yang sedang nongol (muncul) kepalanya.<!--more--></p>
<p>&#8220;Huup, dapat&#8221;, ia berseru. Dengan sigap dan cepat paruhnya menarik seekor cacing yang lumayan juga besarnya keluar dari tanah. Cacing yang sedang kepanasan dan mencoba menyejukkan dirinya ke air itu, menggelepar di paruh sang itik.</p>
<p>&#8220;Anak-anak, kemarilah.Ini ada makanan. Kalian tentu sudah lapar, bukan?&#8221;Ia memanggil kelima anaknya.</p>
<p>Kelima anak itik yang sedang bercanda dan berkejar-kejaran di kolam, berhenti bermain dan memalingkan wajah nya ke arah sang induk.</p>
<p>&#8220;Eh, ada makanan. Aku lapar,&#8221;kata salah satu diantara mereka.</p>
<p>&#8220;Aku juga,&#8221;seru yang lain serempak.</p>
<p>Berhamburan mereka berenang ke arah induk nya di pinggir kolam.</p>
<p>Apa yang terjadi? Acara saling berebut makanan, tak dapat dihindari. Cacing di paruh sang induk direbut dan dilarikan oleh Ito anak itik yang palimg tua.Ia berenang masuk ke kolam dan berenang ke tengah.Diikuti oleh keempat adiknya yang ribut berteriak meminta bagian.</p>
<p>&#8220;Bagi dong kak,&#8221;kata Ita sang anak itik kedua.,&#8221;kami juga lapar,nih.&#8221;</p>
<p>Ito tidak perduli, dengan cepat ia berenang lagi ke pinggirkolam. Meletakkan cacing itu di tanah dan mulai mematukkan paruhnya.Sang cacing yang kesakitan menggeliat-geliat mencoba melarikan diri di tanah yang kesat.</p>
<p>Ita yang sudah sampai disana,menyerobot cacing itu dan melarikannya ketempat yang lain.</p>
<p>Lucu melihat mereka. Terjadi lagi balapan diantara anak itik itu. Ito, Iti, Itu dan Ite berturut-turut berlari di belakang Ita yang terbirit-birit menghindar, sambil tetap menggonggong cacing di paruhnya.</p>
<p>Mereka berkejaran sementara sang induk hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak-anaknya yang lucu-lucu itu.</p>
<p>&#8220;Jangan berebutan,ayo bagi bagi agar semua saling mendapat makan.&#8221;Ia memperingatkan.</p>
<p>Matahari mulai meninggi.Panasnya pun mulai terasa menyengat.Sang induk itik membawa anak-anaknya beristirahat di bawah pohon bambu yang terdapat di pinggir kolam.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Invisible Alligators]]></title>
<link>http://storitie.wordpress.com/2009/10/26/invisible-alligators/</link>
<pubDate>Sun, 25 Oct 2009 19:19:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>storitie</dc:creator>
<guid>http://storitie.wordpress.com/2009/10/26/invisible-alligators/</guid>
<description><![CDATA[Invisible Alligators by Hayes Roberts A young monkey named Sari woke up one morning and knew there w]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center">
<p align="center"><strong>Invisible Alligators</strong></p>
<p align="center">by Hayes Roberts</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">A young monkey named Sari woke up one morning and knew there was trouble.</p>
<p align="center">She hopped out of bed and found that the bridge on her favorite castle</p>
<p align="center">had been broken in the night, and it took her forever to fix it.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">Then she found her stairs covered in toys.</p>
<p align="center">She tripped on one and had to pick them all up.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">THEN she couldn&#8217;t ride her llama to school because the whole herd was running loose.</p>
<p align="center">It took her six tries to get them onto a pointy rock so they would calm down</p>
<p align="center">and quit trying to eat her homework.</p>
<p align="center"><!--more--></p>
<p align="center">
<p align="center">She was so late that she missed almost all of her favorite class, Algebra II.</p>
<p align="center">And her homework was covered in bites and hoof prints.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">She&#8217;d had enough.</p>
<p align="center">Tonight Sari would put a stop to this.</p>
<p align="center">That night she stayed awake long after bedtime.</p>
<p align="center">Long enough to hear the rustling of long tails under her bed.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">She flipped her bed over and found invisible alligators all over her room.</p>
<p align="center">&#8220;What&#8217;s going on here?&#8221; she demanded.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">&#8220;Sari, we&#8217;re the invisible alligators and we do this for everyone,&#8221;</p>
<p align="center">one alligator explained.</p>
<p align="center">&#8220;We&#8217;re just trying to help; let me show you.&#8221;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">So she followed him deep into the alligator catacombs.</p>
<p align="center">As they walked he explained, &#8220;You see, we cause trouble in all kinds of ways.&#8221;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">&#8220;In this house I&#8217;m hiding the remote control</p>
<p align="center">and this sheep will search his house for a week.&#8221;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">&#8220;And in this house we&#8217;re stealing the chocolate cake mix</p>
<p align="center">and putting out fresh broccoli instead.&#8221;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">&#8220;And in here we&#8217;re singing this hippo to sleep in the bath so he gets all pruney.&#8221;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">&#8220;I just don&#8217;t understand why you would do all of these things,&#8221; Sari said.</p>
<p align="center">&#8220;Why do we have to have so many things go wrong?</p>
<p align="center">Why can&#8217;t you just make everything right?&#8221;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">&#8220;Yes, good point,&#8221; the alligator sighed, &#8220;but let me show you one more thing,&#8221;</p>
<p align="center">and he took her into the invisible alligator main headquarters.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">&#8220;This is your book, Sari.</p>
<p align="center">All the things listed in this book are the troubles we&#8217;ve caused you&#8211;</p>
<p align="center">and all the things you&#8217;ve learned how to do in your whole life.&#8221;</p>
<p align="center">It was a big book.</p>
<p align="center">
<p align="center">He looked at her expectantly.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">&#8220;Nope. I don&#8217;t get it.&#8221; she said sadly, and left the alligators&#8217; lair</p>
<p align="center">so she could go back home and get in bed. &#8220;Bye.&#8221;</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">The stairs leading home were covered in rocks.</p>
<p align="center">Sari took a moment to pick them all up as she walked</p>
<p align="center">so no one would trip and fall.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">She came to a bridge that was snapped in two,</p>
<p align="center">
<p align="center">and a herd of wild blue goats which we all know are very dangerous</p>
<p align="center">unless someone knows how to herd them onto a pointy mountain top.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">Sari didn&#8217;t even have to think.</p>
<p align="center">She knew exactly what to do&#8211;fixed the bridge,</p>
<p align="center">herded the goats, piled the rocks out of the way in a safe place</p>
<p align="center">and was safely in bed in no time at all,</p>
<p align="center">fast asleep and dreaming about Algebra II.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">How did she do it?</p>
<p align="center">If you are lucky maybe the invisible alligators will visit you tonight</p>
<p align="center">and cause trouble for you.</p>
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center"><strong>2009</strong></p>
<p align="center">bluebison.net</p>
<p align="center">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CERITA ANAK (2) : AYUV BISA MEMBACA!]]></title>
<link>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/10/08/cerita-anak-2-ayuv-bisa-membaca/</link>
<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 09:14:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>HE. Benyamine</dc:creator>
<guid>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/10/08/cerita-anak-2-ayuv-bisa-membaca/</guid>
<description><![CDATA[Perkembangan Ayuv di Taman Kanak-Kanak terkadang membuat ayahnya khawatir, apalagi bila dia memperha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Perkembangan Ayuv di Taman Kanak-Kanak terkadang membuat ayahnya khawatir, apalagi bila dia memperha]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akibat Iseng Berbohong]]></title>
<link>http://bermenschool.wordpress.com/2009/10/07/akibat-iseng-berbohong/</link>
<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 11:36:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Asep Sofyan</dc:creator>
<guid>http://bermenschool.wordpress.com/2009/10/07/akibat-iseng-berbohong/</guid>
<description><![CDATA[Ada seorang anak gembala, sebut saja namanya Gembul. Dia menggembalakan kambing milik tuannya yang b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada seorang anak gembala, sebut saja namanya Gembul. Dia menggembalakan kambing milik tuannya yang b]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dongeng: Putri yang Sempurna (HC Andersen)]]></title>
<link>http://paskalina.wordpress.com/2009/09/29/dongeng-putri-yang-sempurna-hc-andersen/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 02:13:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>paskalina</dc:creator>
<guid>http://paskalina.wordpress.com/2009/09/29/dongeng-putri-yang-sempurna-hc-andersen/</guid>
<description><![CDATA[Putri yang Sempurna Hans Christian Andersen Dahulu kala, ada seorang pangeran yang menginginkan seor]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2 style="text-align:center;">Putri yang Sempurna</h2>
<h3 style="text-align:center;">Hans Christian Andersen</h3>
<div id="readerDisplay">
<p><img class="alignleft" title="Putri tidur diatas ranjang yang dilapis dengan dua puluh kasur" src="http://www.ceritakecil.com/images/illustration/cerita/0000/18-putri-yang-sempurna.jpg" alt="Putri dan dua puluh kasur" width="223" height="283" /></p>
<p>Dahulu kala, ada seorang pangeran yang menginginkan seorang Putri Raja, tetapi Putri tersebut haruslah sempurna. Dia kemudian melakukan perjalanan mengelilingin dunia hanya untuk mencari putri tersebut, tetapi dia selalu menemukan bahwa ada sesuatu yang tidak sempurna pada setiap Putri Raja yang ditemuinya. Dia menemukan banyak Putri Raja, tapi tak ada yang benar-benar dianggap sempurna oleh Pangeran itu. Dengan putus asa akhirnya dia pulang kembali ke istananya dan merasa sangat sedih karena tidak menemukan apa yang dicarinya.</p>
<p>Suatu malam, terjadi hujan badai yang sangat keras; dimana kilat dan guntur beserta hujan turun dengan deras sekali; malam itu sungguh menakutkan.</p>
<p>Ditengah-tengah badai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu istana, dan ayah Pangeran yang menjadi Raja waktu itu, sendiri keluar membuka pintu untuk tamu tersebut.</p>
<p>Seorang Putri yang sangat cantik berdiri di luar pintu, kedinginan dan basah kuyup karena badai pada malam itu. Air mengalir dari rambut dan pakaiannya yang masih basah; mengalir turun ke kaki dan sepatunya. Putri tersebut mengaku bahwa dia adalah Putri yang sempurna.</p>
<p>&#8220;Kita akan segera mengetahui apakah yang dikatakan oleh Putri tersebut benar atau tidak,&#8221; pikir sang Ratu, tetapi dia tidak berkata apa-apa. Dia masuk ke dalam kamar tidur, mengeluarkan seprei yang mengalas tempat tidur yang akan dipakai oleh sang Putri dan menaruh sebutir kacang polong di atas tempat tidur itu. Kemudian dia mengambil dua puluh kasur dan meletakkannya di atas sebutir kacang tersebut. Malam itu sang Putri tidur di atas ranjang tersebut. Di pagi hari, mereka menanyakan apakah sang Putri tidur nyenyak di malam itu.</p>
<p>&#8220;Oh saya sangat susah tidur!&#8221; kata sang Putri, &#8220;Saya sangat sulit untuk memejamkan mata sepanjang malam! Saya tidak tahu apa yang ada pada ranjang itu, saya merasa berbaring di atas sesuatu yang kasar, dan seluruh tubuh saya pegal-pegal dan memar di pagi ini, sungguh menakutkan!&#8221;</p>
<p>Raja dan Ratu langsung tahu bahwa sang Putri ini pastilah putri yang benar-benar sempurna, karena hanya putri yang sempurna dapat merasakan sebutir kacang yang ditempatkan di bawah dua puluh kasur an dilapisi dengan dua puluh selimut. Hanya putri yang benar-benar sempurna mempunyai kulit yang begitu halus.</p>
<p>Pangeran kemudian mengambilnya sebagai istri, dan sekarang dia telah menemukan putri yang selama ini dicarinya.</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Si Kecil Suka Mengulang Suku Kata]]></title>
<link>http://zasmiarel.wordpress.com/2009/09/25/si-kecil-suka-mengulang-suku-kata/</link>
<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 07:16:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>zasmiarel</dc:creator>
<guid>http://zasmiarel.wordpress.com/2009/09/25/si-kecil-suka-mengulang-suku-kata/</guid>
<description><![CDATA[Tidak terasa, si kecil kami sekarang sudah memasuki usia dua tahun lima bulan. Dari hari ke hari say]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tidak terasa, si kecil kami sekarang sudah memasuki usia dua tahun lima bulan. Dari hari ke hari saya perhatian tingkah lakunya semakin pintar dan menggemaskan. Kemampuan berbicaranya pun juga semakin lancar, dia sekarang sudah bisa merangkai kalimat dan juga bisa mengkritisi apa yang kita bicarakan. Bahkan tidak jarang pertanyaan yang disampaikannya diluar perkiraan kita. Dia pun sudah bisa mengungkapkan alasan atau penolakan atas jawaban atau penjelasan yang kita sampaikan terhadap suatu kondisi dengan alasannya sendiri. <!--more--></p>
<p>Misalnya, pernah suatu waktu saya melatih dia untuk mengenal perbandingan, seperti panjang pendek, tinggi rendah. Pada saat saya menunjukkan dua gambar gedung (satu tinggi satu rendah) saya tanyakan ke dia mana gedung yang tinggi, dia menunjuk objek/gambar gedung yang tinggi, saya kasih tepukan atas jawaban dia. Lalu saya tanyakan ke dia mana gedung yang rendah, lama dia berpikir tapi tidak menjawab. Karena dia tidak menjawab lalu saya pandu dengan menunjuk objek/gambar gedung yang rendah. Di luar dugaan dia protes, itukan gedungnya tinggi juga, kan semua gedung tinggi&#8230; begitu katanya. Atas protesnya tersebut saya tidak serta merta memaksakan jawaban saya, tapi sebaliknya, saya berpikir, benar juga&#8230; logikanya semua gedung adalah tinggi, nah hanya saja bagaimana kemudian kita harus menjelaskan kepada dia bahwa gedung yang satunya ternyata lebih rendah dibandingkan dengan gedung yang lain.</p>
<p>Terhadap kemampuan berbicara dan daya nalarnya ini kami patut bersyukur, karena tidak jarang anak-anak tetangga kami yang seusia dia bahkan lebih tua dari dia masih mempunyai hambatan atau keterbatasan dalam berbicara. Namun beberapa hari belakangan ini kami perhatikan dan kami temukan si kecil suka mengulang ulang suku kata pada waktu dia mengucapkan sebuah kalimat. Misalnya, dede ingin main sepeda di..di..di..luar rumah. Atau diwaktu dia menyanyi, dia akan berhenti pada satu kata sambil mengulang dan seperti berusaha untuk melanjutkkannya.</p>
<p>Tadinya kami beranggapan bahwa ini dibuat-buat oleh dia, karena sebelum ini dia lancar dalam mengucapkan kalimat atau menyanyikan sebuah lagu. Tapi kemudian anggapan kami tersebut mengerucut, manakala menemukan raut mukanya yang seolah berupaya untuk mengucapkan suatu kata yang dia ulang-ulang. Kami pun beranggapan kembali bahwa pada saat seperti itu kata-kata yang ada dalam benaknya sangat banyak, saking banyaknya maka terjadi ketidaksingkronan antara apa yang ingin diucapkan dengan perkataan yang keluar dari mulutnya.</p>
<p>Melihat kondisi seperti itu hal yang pertama saya lakukan adalah bersikap tenang dan berusaha memandu dia untuk mengucapkan kata-kata yang sebenarnya ingin dia ucapkan. Saya juga meminta istri dan mertua saya yang sehari-hari mengawal dia juga bersikap sama seperti yang saya lakukan, karena saya berpikir bahwa dengan perilaku tenang yang kita tunjukkan sebagai orang yang paling dekat dengan dia akan menimbulkan dampak psikologis yang positif bagi si kecil bahwa orang tuanya tidak panik dan mendukung upayanya untuk mengucapkan yang benar. Untungnya si kecil bisa diajak kerjasama sehingga ketika kami pandu supaya dia tenang dia pun bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya dengan lancar.</p>
<p>Namun perasaan khawatir sebagai orang tua tetap ada. Sebagai upaya menenangkan diri dan mencari dukungan, saya coba searching informasi mengenai kondisi yang terjadi pada si kecil. Kata yang pertama saya ketik adalah &#8220;gagap&#8221;. Dari beberapa literatur dan postingan yang saya temui, akhirnya bisa membuat perasaan khawatir saya memudar. Tidak semua kondisi yang seperti si kecil kami alami dikategorikan gagap. Kondisi tersebut adalah merupakan fase dari proses perkembangannya dalam mengasah kemampuannya untuk berbicara. Mereka bisa saja mengalami gagap pada saat-saat tertentu masa perkembangannya, biasanya saat usia prasekolah. Hal ini bisa terjadi oleh sebab yang tidak pasti, mungkin terlalu gembira, capek, atau terburu-buru bicara.</p>
<p>Beberapa pakar menyebutkan bahwa jika anak usia 2-6 tahun mengalamai periode ketidaklancaran bicara adalah lumrah. Hal ini ditegaskan dalam situs Tim Mackesey &#8212; speech language pathologist dari Atlanta, AS. Dijelaskan juga, ada beberapa pola ketidaklancaran bicara yang sifatnya &#8220;lebih tipikal&#8221;. Misalnya saja: keragu-raguan, pembunyian jeda (dengan &#8220;eee&#8221; atau  &#8220;emmm&#8221;),  pengulangan kata-kata atau penggalan kalimat, serta pembetulan-pembetulan. Pola-pola semacam ini dapat ditemukan pada semua pembicara, dan biasanya akan teratasi sendiri tanpa penanganan khusus. Oleh sebab itu, orangtua hanya perlu memantaunya sedikit saja.</p>
<p>Akan tetapi, ada juga pola-pola ketidaklancaran yang &#8220;kurang tipikal&#8221;. Seperti: pengulangan bunyi (p-p-pizza), pengulangan suku kata (pi-pi-pizza), pemanjangan bunyi/kata, speech blocks (berhenti bersuara) dan pengulangan kata. Pola-pola ini disebut juga pola-pola berisiko, dan merupakan indikasi ketidaklancaran yang terkait dengan kegagapan. Ehud Yairi, Ph.D. dari Department of Speech and Hearing Science, University of Illinois menyebutkan, berbagai penelitian membuktikan bahwa kegagapan – untuk sebagian besar kasus &#8212; memuncak selama periode prasekolah. Data program penelitian kegagapan di Universitas Illinois menunjukkan, menjelang usia 3 tahun, 65% anak mengalami kegagapan. Di usia 3,5 tahun angkanya meningkat jadi 85%. Selewat usia 4 tahun, risiko kegagapan relatif rendah.</p>
<p>Mengapa usia prasekolah jadi &#8220;periode kritis&#8221; kegagapan? Diduga, hal ini karena rentang usia prasekolah bersamaan waktunya dengan perkembangan cepat dan penting dalam anatomi sistem bicara, serta perkembangan kemampuan kompleks yang berhubungan dengan artikulasi dan bahasa. Fakta-tersebut “mengundang spekulasi bahwa gangguan dalam proses-proses pematangan tersebut ikut berperan dalam kegagapan,” ungkap Dr. Yairi, seperti dilansir situs The Stuttering Foundation of America.</p>
<p><strong>Ketidaklancaran Normal </strong></p>
<p>Pada usia 3 tahun, anak sudah bisa punya perbendaharaan sekitar 800-1000 kata, bisa mengucapkan kalimat terdiri dari 3-4 kata, sering bertanya dengan memakai kata &#8220;apa&#8221;, senang bicara tentang diri mereka, dan suka mengulang-ulang bunyi, kata atau frasa.</p>
<p>Pada usia 4 tahun, memiliki perbendaharaan 1000-1500 kata, bisa mengucapkan kalimat terdiri dari 4-6 kata, mulai memakai beberapa kata ganti dengan tepat, memakai kata-kata kerja sederhana ( &#8220;tinggal&#8221;, &#8220;pergi&#8221;, &#8220;melukis&#8221;), dan hampir semua ucapannya dapat dipahami oleh pendengar yang sudah biasa maupun yang belum terbiasa.</p>
<p>Jika anak seusia ini suka mengulang-ulang sukukata atau kata saat bicara, belum tentu mereka gagap. Ada yang menyebut &#8220;kebiasaan&#8221; itu duplikasi tak-lancar dalam bicara – sesuatu yang normal dalam perkembangan bunyi dan bahasa. Bahkan, anak yang kalau bicara tampak kesulitan atau cenderung ragu pun belum tentu punya masalah kegagapan. Mungkin anak itu sedang mengalami periode ketidaklancaran bicara yang normal, seperti kebanyakan anak yang sedang belajar bicara. Secara umum ciri-ciri anak mengalami ketidaklancaran berbicara yang normal diantaranya adalah:</p>
<ul>
<li>Anak kadang-kadang mengulang-ulang sukukata atau kata sekali atau dua kali, seperti i-i-ini.</li>
<li>Anak tampak ragu-ragu kalau bicara dan memakai kata-kata pengisi seperti &#8220;eeeee&#8221;, &#8220;ngggg&#8221; atau &#8220;mmmm&#8221;.</li>
<li>Terjadi antara usia 1-1,5 tahun sampai 5 tahun, dan cenderung hilang-timbul.</li>
</ul>
<p>Dalam situs The Stuttering Foundation of America disebutkan, semua ciri-ciri di atas adalah tanda-tanda anak sedang belajar memakai bahasa dengan cara-cara baru. Jika ketidaklancaran hilang beberapa minggu lalu muncul lagi, kemungkinan anak sedang melewati tahap pembelajaran yang lain. <strong></strong></p>
<p><strong>Kegagapan</strong> <!-- @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="font-weight:normal;">Lalu apa yang dimaksud dengan gagap? Gagap adalah suatu gangguan kelancaran berbicara. Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa anak usia 2 &#8211; 6 tahun sering mengulang-ulang kata-kata atau pada beberapa kasus bahkan mengulang seluruh kalimat yang diucapkan kepadanya (seperti orang latah). Sekali lagi hal ini dianggap normal bila terjadi pada anak yang masih belajar berbicara, mengingat anak pada usia tersebut masih dalam tahap mempelajari cara berbicara, mengembangkan kendali terhadap otot-otot berbicaranya, mempelajari kata-kata baru, menyusun kata-kata dalam suatu kalimat, dan mempelajari bagaimana cara bertanya serta mempelajari akibat dari kata-kata yang mereka ucapkan. Hal inilah yang kemudian menyebabkan anak di usia tersebut umumnya masih mengalami gangguan dalam berbicara.</p>
<p><!-- @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } --> <!-- @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->Umumnya tanda-tanda awal kegagapan terlihat pada usia dua tahun atau pada saat anak mulai belajar merangkai kata-kata menjadi suatu kalimat. Sering kali orang tua merasa jengkel dengan kegagapan anak, tetapi hal ini merupakan hal yang umum ditemui saat anak masih dalam tahap perkembangan berbicara. Kesabaran merupakan sikap terpenting yang harus dimiliki oleh orang tua selama anak berada dalam tahap ini. Seorang anak mungkin mengalami gangguan kelancaran berbicara selama beberapa minggu atau bulan dengan gejala yang hilang timbul. Sebagian besar anak akan lancar berbicara dan tidak akan gagap lagi bila kegagapannya itu dimulai pada usia kurang dari 5 tahun. Adapun ciri -ciri kegagapan ringan adalah sebagai berikut: (i) anak mengulang-ulang bunyi lebih dari dua kali, seperti i-i-i-ini, (ii) anak tampak tegang dan berjuang untuk bicara (tampak dari otot-otot wajah, terutama sekitar mulut), (iii) nada suara mungkin naik seiring pengulangan, (iv) kadang suara anak seperti tercekat – udara atau suara tertahan selama beberapa detik.</p>
<p>Lalu apa faktor penyebab kegagapan? Beberapa orang tua beranggapan bahwa kegagapan disebabkan oleh cara mendidik anak atau pola pengasuhan orang tua yang salah. Hal ini dibantah oleh para ahli, kenyataannya, sebagaimana yang dijelaskan diatas penyebab kegagapan sampai saat ini belum dapat dijelaskan secara pasti. Gagap merupakan suatu keadaan yang sangat rumit dan berkaitan dengan banyak hal. Anak laki-laki umumnya lebih banyak mengalami kegagapan dibandingkan anak perempuan, dengan perbandingan tiga banding satu. Psikolog dari RS Global Awal Bross Dian Wisnuwardhani S.Psi, M.Psi, dan Terapis Wicara dari RSAB Harapan Kita Rita Rahmawati, A. MdTW, S.Pd memaparkan beberapa faktor penyebab kegagapan. <em><strong></strong></em></p>
<p><em><strong>Trauma atau Masalah Emosional</strong></em>. Pada keadaan gagap yang terjadi setelah kondisi stroke, head trauma, atau karena brain injury, otak mengalami kesulitan dalam melakukan koordinasi komponen-komponen kata atau suku kata yang disebabkan pemberian sinyal antara otak dan syaraf atau otot mengalami gangguan. Gagap pun bisa terjadi karena masalah emosional. Misalnya anak mengalami gangguan emosi atau bersitegang dengan orangtua, orang sekitar atau lingkungan. Hal ini bisa memicu kelainan ritme atau gagap. Secara tak terkontrol, anak tiba-tiba bicara dengan sering mengulang-ulang. Bahkan kadang-kadang disertai ketegangan yang berlebihan pada muka serta timbul rasa takut selama bicara. <em><strong></strong></em></p>
<p><em><strong>Perkembangan dan Lingkungan</strong></em>. Faktor perkembangan juga memberikan kontribusi. Selama masa prasekolah, fisik, kognitif, sosial atau emosional, dan kemampuan bicara atau bahasa anak berkembang sangat pesat. Perkembangan yang pesat ini bisa menimbulkan kegagapan pada anak yang terpengaruh oleh hal ini. Makanya gagap biasa terjadi pada anak usia pra sekolah. Faktor lingkungan mencakup perilaku orang tua, teman-teman pergaulan juga orang sekitar, atau kejadian-kejadian yang menegangkan. Ini tidak berarti orangtua melakukan sesuatu yang salah.</p>
<p>Seringkali faktor-faktor ini tidak memengaruhi anak yang memang tidak gagap, tapi bisa menimbulkan gagap pada anak yang mempunyai kecenderungan untuk itu. Rasa takut dan kekhawatiran pada anak bisa menyebabkan hal ini berlanjut, bahkan memburuk.</p>
<p>Berikut yang bisa dilakukan orang tua atau kerabat dekat di rumah untuk penanganan dini kepada anak yang mengalami gagap atau timbul gejala gagap: <!-- @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<ol>
<li>Sabar dan siap menerima diri sebagai orangtua, di mana si kecil membutuhkan bantuan untuk mengatasi gagapnya.</li>
<li>Selalu memberikan rasa nyaman dan menularkan semangat kepada anak dengan tersenyum.</li>
<li>Gunakanlah waktu beberapa menit setiap hari untuk berbicara dengan anak dalam suasana rileks.</li>
<li>Cobalah untuk memberi sentuhan lembut, merangkulnya dengan tenang dan penuh perhatian saat buah hati ingin mengungkapkan sesuatu dalam kondisi terburu-buru &#8211; mungkin terlalu gembira atau terlalu capek.</li>
<li>Hentikan pekerjaan yang sedang Anda kerjakan dan dengarkan dirinya &#8220;dengan menggunakan mata Anda.&#8221; Jangan biarkan wajah Anda berkerut dan gunakan intonasi suara yang bersahabat.</li>
<li>Pastikan Anda mendengar apa yang dikatakan anak tanpa menginterupsi atau menyelesaikan kalimat untuknya. Adalah sangat penting anak tahu bahwa Anda mengerti apa yang dikatakannya.</li>
<li>Dengarkan dan lihat dengan cermat apa yang Anak ucapkan, jangan mempermasalahkan cara ia bicara. Semakin anak merasa takut akan semakin sulit bagi dia untuk berbicara. Sabarlah hingga anak menyelesaikan bicaranya, lakukanlah selalu kontak mata, agar anak juga selalu merasa diperhatikan.</li>
<li>Ketika anak berbicara, katakanlah secara jujur jika ada kata-kata yang kurang Anda pahami. Mintalah anak untuk mengulang kembali dengan perlahan dan santai.</li>
<li>Lakukanlah konsentrasi ketika anak mencoba mengatakan sesuatu. Ingat jangan membuat anak merasa takut.</li>
<li>Jangan sekali-kali mengatakan kepada anak, bahwa gagap adalah keadaan yang memalukan dan salah sehingga merugikan.</li>
<li>Jika berbicara dengan anak gagap, lakukanlah dengan perlahan, baik kecepatan dan artikulasi kata. Pastikan bahwa anak cukup dapat memahami, dan kemudian minta anak untuk mengulangi lagi.</li>
<li>Ketika Anda melihat sekiranya anak cukup siap menerima keadaannya, bicarakan apa yang membuat anak gagap, cobalah terus menggali ketakutan, kekesalan dan kecemasan dan kemungkinan juga rasa malu. Ketika ia berhasil menceritakan kepada Anda, akan lebih mudah untuk memahami si anak dan rasa saling percaya akan terjalin.</li>
<li>Selalu ciptakan suasana nyaman dan aman saat belajar bicara di mana saja dan kapan saja.</li>
<li>Jangan malu bertanya kepada terapis wicara, langkah-langkah apa yang harus dilakukan di rumah, sambil tetap melakukan terapi wicara bagi anak.</li>
<li>Anak-anak penderita gagap hendaknya dihindarkan dari situasi lingkungan yang menekan.</li>
<li>Semua anggota keluarga baik kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, pengasuh dan teman serta guru harus ikut mendukung dalam menangani anak dengan gangguan gagap. Mencegah orang lain (terutama saudaranya) mengejek atau meniru-niru cara bicara anak.</li>
<li>Menjadi contoh penutur yang baik: bicara jelas, perlahan, tidak memburu-buru diri sendiri.</li>
<li>Tidak memberi label apapun (&#8220;gagap&#8221;, &#8220;tidak lancar&#8221;, &#8220;seperti orang mengejan&#8221;) tentang cara bicara anak.</li>
<li>Tidak memberi perhatian khusus terhadap pengulangan-pengulangan yang dilakukan anak.</li>
<li>Tidak mengatakan &#8220;Pelan-pelan bicaranya, Sayang&#8221; atau &#8220;Tenang, Nak&#8230; Tenang&#8221; pada anak.</li>
</ol>
<p><em>Source: Beberapa literatur dan postingan</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hadiah Persahabatan]]></title>
<link>http://manuskripkesunyian.wordpress.com/2009/09/16/hadiah-persahabatan/</link>
<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 05:14:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Badru Tamam Mifka</dc:creator>
<guid>http://manuskripkesunyian.wordpress.com/2009/09/16/hadiah-persahabatan/</guid>
<description><![CDATA[Fabel buat Sepupu2ku: Nurma dan Diaz Ada seekor kambing, namanya Igot. Ia kambing yang pendiam dan p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Fabel buat Sepupu2ku: Nurma dan Diaz</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-2844" title="kambing" src="http://manuskripkesunyian.wordpress.com/files/2009/09/copy-of-kambing.gif?w=141" alt="kambing" width="200" height="150" />Ada seekor kambing</strong>, namanya Igot. Ia kambing yang pendiam dan penyendiri. Igot tinggal di desa seberang yang sepi. Karena di desanya tak ada kambing seusianya, setiap pagi ia sering menyempatkan diri bermain di lapangan desa domba, berharap bertemu teman bermain. Tapi ia sedih, tak ada yang mau menemaninya bermain di sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara di desa itu, ada seekor kambing kecil bernama Pico. Ia sedih ketika melihat Igot bermain sendirian. Dalam hatinya Pico tak setuju ketika Arabito, tetangganya, sering mengajak teman-temannya mengejek Igot.</p>
<p><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Melihat itu, Pico kemudian berlari menemui Mamanya di lapangan rumput, dan mulai menceritakan kesedihan dan kekesalannya. “Mama, kenapa tak ada yang mau menemani Igot bermain? Apa bedanya kambing dan domba, Mama?”</p>
<p style="text-align:justify;">Mama Pico melirik anaknya, dan tersenyum. “Pico, jika kamu bersedih melihat Igot sendirian, kamu temani saja dia bermain, yah.” Saran Mama Pico lembut.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lalu bedanya kambing sama domba, Ma?” Tanya Pico. Mama Pico mengkerutkan kening merasa heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maksud kamu sayang, beda gimana? Kambing dan domba sama kan, sama-sama makhluk hidup. Makanya bersaudaralah, jangan bermusuhan. Kalo dari fisik, memang ada bedanya&#8230; “</p>
<p style="text-align:justify;">“Bedanya apa, Mama?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Emm, apa aya…kalo kita itu lebih senang hidup berkelompok. Kalo kambing kayak Igot, biasanya menyendiri. Tapi bukan berarti Igot tak butuh teman…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Terus, Ma?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apalagi ya…Oh, kita hampir sama dengan hewan lainnya, ekor menggantung ke bawah. Sedangkan Igot ekornya tegak ke atas dan pendek. Terus, tanduk kita cenderung melingkar ke arah belakang, dan kadangkala ke arah dalam, nah tanduk kambing lebih mengarah ke atas dan melingkar ke arah depan…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Terus, Ma?” Tanya Pico lagi, masih penasaran. Mamanya hanya tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudahlah, Pico. Nanti Mama jelasin lagi jelang kamu tidur. Perbedaan fisik tak penting untuk menjalin persahabatan. Sekarang, ajak bermain Igot. Kasihan dia menunggu…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi temen-temen Pico melarang Pico bermain sama Igot, Mama…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kenapa?” Tanya Mama Pico</p>
<p style="text-align:justify;">“Katanya Igot itu jahat.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa Igot pernah berbuat jahat pada kamu, Pico? Apakah kamu sudah melihat Igot berbuat jahat pada teman-teman kamu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tak pernah, Mama. Belum, Mama…” jawab Pico pelan. Mamanya tersenyum lembut.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalo informasinya belum jelas, jangan mudah percaya. Kamu tanyakan dulu hal itu sama Igot. Kalaupun Igot jahat, kamu mesti tetap ramah padanya, mendekatinya, menasehatinya…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pico takut menyinggung perasaan Igot, Mama, kalo tanya sama Igot langsung…”</p>
<p style="text-align:justify;">Mama Pico tersenyum lagi. “Kalo begitu, ajak bermain Igot. Nanti juga kamu tau bagaimana sifatnya.” ucap Mama Pico, tersenyum penuh pengertian. Pico balas tersenyum, wajahnya ceria, dan ia mulai berlari menuju arah Igot yang sudah tampak berjalan pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Igot!” panggil Pico. Yang dipanggil tampak kaget. Ketika melihat siapa yang memanggilnya, Igot terheran-heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah, ada apa?” Tanya Igot agak gugup.</p>
<p style="text-align:justify;">“Namaku Pico, maukah kau berteman dan bermain denganku?” Pico bertanya sambil tersenyum ramah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Benarkah, Pico?! Tentu saja mau!” Igot tampak girang. Pico mengangguk ramah. Akhirnya mereka kembali ke lapang desa, bermain bersama, tertawa bergembira.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyaksikan itu, sifat buruk Arabito muncul lagi. Ia iri melihat Igot gembira. Akhirnya ia mengajak teman-temannya untuk memarahi Igot. Setengah ketakutan, teman-temannya mengikuti apa mau Igot.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hei Igot!” seru Arabito, “kenapa kamu bermain di sini! Ini wilayah bermainku! Pergi sana ke desa kambing!” bentak Arabito. Igot gugup. Tapi kemudian Pico membela Igot.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bito, kamu jahat sekali, “ucap Pico, “Igot bermain di sini karena aku mengajaknya. Igot itu baik, ia hanya ingin bermain.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi Igot sangat bersedih, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke desanya. Pico bingung. “Igoot! Tunggu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pico, ia itu jahat!” ucap Arabito, matanya tajam menatap Igot yang sudah mulai berjalan jauh.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa Igot pernah berbuat jahat pada kamu, Bito? Apakah kamu sudah melihat Igot berbuat jahat pada teman-teman kamu?” Tanya Pico menirukan ucapan Mamanya. “Kamu menganggap Igot jahat hanya kamu sudah benci dan dengki padanya. Padahal kebencian kamu mengada-ada, penuh prasangka buruk, salah paham. Kamu jangan jadi pembenci dan pemarah, Bito, kata Mama itu sifat buruk, tak baik bagi kesehatanmu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar perkataan Pico, kemarahan Arabito semakin memuncak. Ia terus marah-marah, hingga suaranya tak enak di dengar. Teman-temannya saling berpandangan, dan mulai menjauhi Arabito. Melihat teman-teman menjauhinya, marah Arabito semakin tak terkendali. Akhirnya ia pulang ke kandangnya, sambil terus marah-marah. Ia sendirian, tak punya teman.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjelang siang, Igot datang lagi ke desa domba. Ia datang membawa gerobak kecil dan cantik, yang dipenuhi sedikit makanan dan mainan yang unik. Igot menemui Pico dan teman-temannya yang masih duduk di bawah pohon besar dekat lapang desa. Melihat Igot datang lagi, Pico dan teman-teman bersorak gembira.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini hadiah persahabatan kita, aku dan ibuku yang bikin, spesial buat kalian. Aku ingin makan bareng kalian, bermain bersama.” Igot sumringah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Asyiiiik!” Pico dan teman-teman gembira.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi… di mana Bito?” Tanya Igot mencari-cari Arabito di kerumunan teman-teman barunya. Kemudian salah satu dari mereka bilang bahwa Arabito sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sakit?” Igot kaget, “kalau begitu mari kita dorong gerobak ini, kita ajak Bito makan dan bermain di tempatnya. Ini juga hadiah buat Bito, mudah-mudahan ia cepat sembuh.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, setuju!” ucap Pico dan teman-teman berbarengan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka pun menuju tempat tinggal Arabito. Arabito yang tengah berbaring sakit, sangat terkejut melihat kedatangan Igot dan yang lainnya. Tapi Igot cepat-cepat tersenyum dan bersikap ramah. Lalu ia menyerahkan sebuah makanan dan mainan yang cantik pada Arabito.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini hadiah persahabatanku buat kamu, Bito…”</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar itu, akhirnya Arabito pun tak kuasa menahan tangis.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ternyata hati kamu sangat baik, Igot. Aku menyesal telah berprasangka buruk sama kamu…Maafkan kesalahan aku selama ini, Igot.” Ucap Arabito dengan air mata yang mengalir deras.</p>
<p style="text-align:justify;">Persahabatan Igot dan Arabito membuat semua teman-temannya gembira. “Kalau begitu, ayo kita makan bareng untuk merayakan persahabatan kita!” ajak Pico.</p>
<p style="text-align:justify;">“Duh, aku tak bisa makan dan bermain, aku kan lagi sakit gigi, sakit kepala, dada panas, juga perut ini sakit nih…” keluh Arabito sambil meringis menahan gusi dan perutnya yang sakit.</p>
<p style="text-align:justify;">Pico tersenyum, “Nah, apa Mamaku bilang, marah-marah, emosi tak terkontrol, dan sifat mudah membenci teman itu, akan membuat kamu sakit.”</p>
<p style="text-align:justify;">Igot senyum-senyum malu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nanti aku bawa lagi makanan lezat buat kamu, Bito, makanya cepat sembuh ya&#8230;” Ucap Igot. Semuanya tersenyum. Maka, mulai hari itu, mereka mulai menjalin persahabatan dengan bahagia, untuk selamanya…</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ramadhan, 16 September 2009</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>[Badru Tamam Mifka]</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fmanuskripkesunyian.wordpress.com%2F2009%2F09%2F16%2Fhadiah-persahabatan%2F" target="_blank"><img src="http://agungfirmansyah.files.wordpress.com/2009/02/share-on-facebook1.jpg?w=167&#38;h=32" alt="" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Azmi Seorang Pemberani]]></title>
<link>http://loventhanks.wordpress.com/2009/09/05/azmi-seorang-pemberani/</link>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 16:14:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>nadiyarahmah</dc:creator>
<guid>http://loventhanks.wordpress.com/2009/09/05/azmi-seorang-pemberani/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Nadiya Rahmah Pagi ini matahari benar-benar luar biasa. Bulat, besar, dan dengan cahaya kekema]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center">Oleh: Nadiya Rahmah</p>
<p>Pagi ini matahari benar-benar luar biasa. Bulat, besar, dan dengan cahaya kekemasan yang agak menyilaukan menyelimutinya, ia muncul dari balik pegunungan gelap. Aku takjub. Sungguh. Kurasa memang sudah sangat lama aku tidak melihat alam seindah ini. Aku bahkan merasa hampir-hampir dunia ini tidak terlihat oleh pandanganku. Aku terlalu sibuk, sehingga tak sempat merenungkan apapun. Aku memang selalu melihat ke jalan di hadapanku ketika aku melangkah. Tapi aku tidak benar-benar memikirkan apapun. Pikiranku seolah mati tersihir oleh segala macam kesibukan. Aku memang berbicara dengan banyak orang seputar bisnis dan informasi aktual. Tapi jiwaku hampa, bahkan pikiran picik dan keji tidak jarang terlintas dalam pikiranku. Apakah aku sebegini rusaknya? Apakah aku memang telah terperosok terlalu jauh? Aku, sungguh, tidak bisa mengungkapnya, bahkan menyadarinya, hingga aku bertemu dengan bocah kecil itu suatu sore. Di tengah hujan lebat.</p>
<p>“Kak, mau pinjam payungku? Aku bawa dua kok,” ujar anak itu, sambil menyodorkan payung lipat berwarna biru yang sedari tadi diapitnya.</p>
<p><!--more-->Aku hanya memandangnya. Lalu dengan pikiran picik aku mendengus.</p>
<p>“Pinjam? Kau tukang sewa payung jalanan ‘kan?” aku menuduhnya dengan tajam.</p>
<p>“Iya, Kak,” jawabnya. “Tapi hari ini orang sudah memberiku banyak. Jadi Kakak tidak usah bayar. Aku pinjamkan deh. Kakak juga kelihatannya capek sekali. Pasti ingin cepat sampai di rumah ‘kan?” tanyanya dengan penuh perhatian.</p>
<p>Aku tidak menghiraukannya. <em>Paling-paling dia hanya pura-pura supaya aku mau memakai payungnya. Rupanya kecil-kecil sudah punya taktik bisnis</em>, pikirku. Tapi lalu anak laki-laki itu bersandar di dinding di sebelahku. Memandang ke langit, lamaaaa sekali. Aku heran kenapa ia tidak berbicara lagi. Jadi aku menoleh padanya, dan rupanya ia sedang menoleh padaku juga. Oh, anak itu ingin menguji ketertarikanku! Betapa bodohnya aku sampai terpengaruh oleh seorang bocah kecil di pinggir jalan.</p>
<p>Ia tersenyum padaku. Aku meringis.</p>
<p>“Langit hari ini tetap terlihat luar biasa ya, Kak? Biarpun tetutup oleh gulungan awan hitam yang gelap dan kelam, aku tetap dibuatnya takjub. Penciptanya pasti Maha Sempurna,” ujarnya.</p>
<p>Aku terdiam. Langit? Luar biasa? Apaaanya?</p>
<p>Namun akhirnya aku menengadah juga untuk melihat apa yang dimaksud anak itu. Aku terkejut. Baru kali ini aku melihat langit seluar-biasa yang dikatakan anak itu. Bahkan kalau dipikir-pikir, aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menengadahkan wajah sekedar untuk melihat langit. Mengapa anak itu bisa mempengaruhiku begini? Aku yakin dia anak kecil yang benar-benar berbeda.</p>
<p>Tanpa kusadari rupanya aku memandangi Si Bocah Kecil. Bahkan kurasa aku menunggunya bicara. Tapi dia juga hanya menatapku. Seolah dia juga sedang menungguku bicara. Kami terdiam cukup lama, hingga aku menyerah dan mengatakan sesuatu.</p>
<p>“Namamu?” tanyaku singkat.</p>
<p>Sial! Anak itu juga unggul dariku dalam hal menunggu. Kurasa itu memang salah satu kelemahanku. Merasa tak punya waktu, karena selalu dikejar-kejar oleh kesibukan. Tapi kini hujan sangat deras, dan menghentikan kesibukanku. Seharusnya aku tidak perlu merasa diburu waktu karena hujan pun belum berhenti. Apapun jadwalku saat ini, toh sudah terhalang oleh hujan. Ia masih menyisakan waktu agar aku tetap di sini. Seandainya aku sedikit lebih sabar, aku tidak perlu berbicara sepatah kata pun di sini.</p>
<p>Anak itu menatapku dengan polos. Lalu menunduk, dan berbicara pelan. “Tidak tahu,” katanya. “Tiap kali aku tanya orang-orang, mereka hanya manggeleng dan menjauhiku. Dulu Pak Kasli pernah mengasuhku dan memanggilku Ucil karena badanku kecil. Tapi aku tidak pernah benar-benar tahu namaku yang sebenarnya. Walaupun begitu, aku&#8230;. suka pada satu nama.” Ia mengucapkan kalimat terakhir dengan pelan sekali, lalu diam  untuk memancing kepenasaranku.</p>
<p>“Apa itu?” tanyaku pelan.</p>
<p>Anak itu memberi isyarat agar aku mendekat. Jadi aku membungkuk dan mendengarkan dengan seksama.</p>
<p>“Mm… aku suka nama Azmi,” ujarnya agak berahasia.</p>
<p>“Oh ya? Apa bagusnya?” tanyaku lagi dengan lebih pelan. Seolah-olah yang kami bicarakan ini sangat penting dan rahasia.</p>
<p>“Mm… itu nama untuk seorang pemberani,” jawabnya dengan nada yang sama misteriusnya. “Aku seorang pemberani,” katanya lagi.</p>
<p>Aku menatapnya. Agak aneh rasanya mengetahui ada seorang bocah yang tidak tahu namanya sendiri. Di mana orang tuanya kalau begitu? Apa mereka meninggalkan anak ini begitu saja di pinggir jalan? Keterlaluan sekali.</p>
<p>Tiba-tiba segaris rasa iba muncul dihatiku. Aku pun berkata pada bocah itu, “Kalau begitu aku akan memanggilmu Azmi.”</p>
<p>Sambil tersenyum padanya, aku menegakkan tubuh dan menatap hujan di luar yang  sudah mulai reda.</p>
<p>“Azmi,” panggilku pelan. “Apa kamu punya teman?” tanyaku.</p>
<p>“Ya, kurasa,” jawabnya. Kali ini suaranya kembali normal.</p>
<p>“Kalau begitu bagaimana mereka memanggilmu?” tanyaku.</p>
<p>“Yaaa…. Aku juga tidak tahu. Teman-teman tidak pernah menanyakan namaku. Kami sering bertemu di sini karena sama-sama menyewakan payung. Kami mengobrol, tapi kurasa belum ada yang benar-benar memanggilku dengan nama.”</p>
<p>Dahiku berkerut.</p>
<p>“Memangnya sejak kapan kau di sini?” tanyaku.</p>
<p>“Sejak umur tiga tahun,” jawabnya.</p>
<p>“Lalu siapa yang merawatmu  dan  mengasuhmu?” tanyaku lagi.</p>
<p>“Pak Kasli,” jawabnya. “Ia menemukanku diam di pinggir jalan ini. Persis di tempat kita berdiri saat ini, kukira. Soalnya waktu itu juga hujan lebat.”</p>
<p>“Sedang apa kamu diam di sini? Kenapa tidak bersama ibumu?” tanyaku.</p>
<p>Azmi menggeleng.</p>
<p>“Tidak tahu. Aku bahkan tidak ingat seperti apa saat itu. Yang barusan aku ceritakan pun, diberi tahu oleh Pak Kasli,” katanya pelan.</p>
<p>Tiba-tiba aku merasa kasihan padanya, bahkan mulai sayang. Betapa tega jika ada orang tua yang berani meninggalkan bocah kecil seperti Azmi di pinggir jalan ini. Dan betapa tega orang-orang yang berlalu-lalang tanpa memperhatikannya. Detik itu juga aku bersyukur karena ada orang seperti Pak Kasli di dunia ini. Dan detik itu juga aku sadar bahwa selama ini aku sama seperti orang yang berlalu-lalang tanpa peduli keadaan Azmi itu. Aku tidak peduli keadaan sekitar. Seolah dalam duniaku hanya ada aku seorang. Bukan hanya orang tua Azmi yang keterlaluan. Bukan hanya orang-orang yang berlalu-lalang itu saja. Tapi aku juga. Aku juga keterlaluan. Untunglah seperti kata Azmi, dia seorang pemberani.</p>
<p>Segera setelah hujan reda, aku beranjak meninggalkan teras toko tempat aku dan Azmi berteduh. Namun baru saja aku berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara mesin menderu dan decitan nyaring, yang sesaat kemudian diikuti bunyi tumbukan keras dan suara kaca yang pecah. Aku terlonjak.</p>
<p>A.. Azmi? Dia tadi berdiri di sana!</p>
<p>Segera aku berlari kembali menuju teras toko yang kini hancur lebur berantakan. Dengan panik aku memeriksa tumpukan rak kayu yang patah di antara pecahan kaca. Dadaku sesak sekali. Apa Azmi tidak apa-apa?</p>
<p>Sedetik kukira aku menemukan sesosok tubuh anak kecil. Aku langsung panik dan berusaha menggapai tubuh itu. Namun rupanya itu bukan Azmi. Hanya sebuah bantal yang rusak terkoyak. Azmi tidak ada di sana. Baik di toko itu, maupun di sekitar jalanan yang ramai oleh kerumunan orang. Kurasa Azmi sengaja bergegas, agar aku tidak lagi memandanginya dengan iba seperti tadi. Ya….kurasa karena ia memang pemberani. Dan kurasa aku percaya Sang Pencipta melindunginya.</p>
<p>Berkat pertemuanku dengan Azmi, aku mulai berubah. Tidak ada lagi pikiran kosong tak berguna dan obrolan yang dingin tanpa makna. Aku jadi lebih suka memandangi alam, tidak peduli betapa sibuknya aku saat itu. Terutama menengadah untuk sekedar melihat langit. Setiap kali aku melihat anak kecil di pinggir jalan, aku selalu ingin menjadi sosok Pak Kasli untuk mereka. Jadi aku akan menghampirinya, mengobrol atau bermain sedikit, dan sekali-kali menanyai kalau-kalau ada yang tahu di mana Azmi. Rupanya dia keren juga. Menghilang tiba-tiba seperti tokoh pengembara dalam novel. Azmi, seorang pemberani.</p>
<p align="right">
<p align="right">Bandung, Agustus 2005</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CERITA ANAK (1): AYUV ... NUMPANG TK]]></title>
<link>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/09/01/cerita-anak-1-ayuv-numpang-tk/</link>
<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 08:56:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>HE. Benyamine</dc:creator>
<guid>http://borneojarjua2008.wordpress.com/2009/09/01/cerita-anak-1-ayuv-numpang-tk/</guid>
<description><![CDATA[Rasanya seperti tiba-tiba saja. Ayuv sudah harus dibangunkan pagi-pagi, Taman Kanak-Kanan sudah menu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Rasanya seperti tiba-tiba saja. Ayuv sudah harus dibangunkan pagi-pagi, Taman Kanak-Kanan sudah menu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerita Anak English]]></title>
<link>http://binabakatmandiri.wordpress.com/2009/08/31/cerita-anak-english/</link>
<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 16:17:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>riosepta</dc:creator>
<guid>http://binabakatmandiri.wordpress.com/2009/08/31/cerita-anak-english/</guid>
<description><![CDATA[Cerita Anak-anak Free Download : The Ginger Bread Man The Three Little Pigs The Ugly Duckling]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><em>Cerita Anak-anak Free Download :</em></strong></p>
<p><a title="Ginger Bread Man" href="http://www.ziddu.com/download/6268074/TheGingerbreadMan.pdf.html" target="_blank">The Ginger Bread Man</a><br />
<a href="http://www.ziddu.com/download/6268173/THETHREELITTLEPIGS.pdf.html" target="_blank">The Three Little Pigs</a><br />
<a href="http://www.ziddu.com/download/6268196/TheUglyDuckling.pdf.html" target="_blank">The Ugly Duckling</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jika Adik Menangis Lagi  ]]></title>
<link>http://ikapunyaberita.wordpress.com/2009/08/24/jika-adik-menangis-lagi/</link>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 06:29:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>ika maya susanti</dc:creator>
<guid>http://ikapunyaberita.wordpress.com/2009/08/24/jika-adik-menangis-lagi/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ika Maya Susanti Aku sedang bingung, pusing, sedih, dan kesal. Lho, kenapa bisa campur aduk se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Ika Maya Susanti Aku sedang bingung, pusing, sedih, dan kesal. Lho, kenapa bisa campur aduk se]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kisah Pemuda dan Anjing Setia ]]></title>
<link>http://doerjatie.wordpress.com/2009/08/13/kisah-pemuda-dan-anjing-setia/</link>
<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 01:40:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>doerjatie</dc:creator>
<guid>http://doerjatie.wordpress.com/2009/08/13/kisah-pemuda-dan-anjing-setia/</guid>
<description><![CDATA[Hal : 1 Ilustrasi : Beberapa Pemuda tampan dengan latar belakang Bukit, Istana, Unta, dan Pohon-poho]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a rel="attachment wp-att-15" href="http://doerjatie.wordpress.com/2009/08/13/kisah-pemuda-dan-anjing-setia/colored-pencil/"><img class="alignright size-medium wp-image-15" title="colored pencil" src="http://doerjatie.wordpress.com/files/2009/08/colored-pencil.jpg?w=300" alt="colored pencil" width="300" height="225" /></a>Hal		:	1<br />
Ilustrasi	:	Beberapa Pemuda tampan dengan latar belakang Bukit, Istana, Unta, dan Pohon-pohon Kurma.<br />
Di suatu negeri dimasa lalu, hiduplah Beberapa Orang pemuda yang Shaleh. Pemuda-pemuda itu bernama : Abdur-Rahman, A-Aziz, A-Latif, A-Razzaq, dan A-Hafizh.   Mereka selalu taat beribadah, dan mengajak orang-orang untuk senantiasa menyembah Allah.<br />
Yah, kaum dinegeri itu banyak  yang menyembah raja .  Karena mereka takut pada ancaman raja Decius yang lalim, Bila tidak menyembah Raja, mereka akan dipancung. Hiyyyy, serem yah? Tapi A-Rahman dan kawan2nya  tidak takut, mereka hanya takut pada Allah,  dan terus menyeru pada orang-orang untuk menyembah Allah.</p>
<p>Hal		:	2<br />
Ilustrasi	:	Seorang Pemuda sedang sedang bicara (khotba), berdiri diatas batu agar posisinya lebih tinggi dari orang-orang sekitarnya, Latar belakang mereka berada dipasar.</p>
<p>Mereka berseru: “ Wahai, saudara-saudara…… Yang menghidupkan dan mematikan kita adalah Allah, Hanya Allah satu-satunya Tuhan. Jadi kenapa kalian menyembah raja? Raja hanya manusia seperti kita, Takutlah  hanya pada Allah saja, serahkan diri kalian pada Allah”.</p>
<p>Hal		:	3<br />
Ilustrasi	:	Seekor anjing kecil Lucu, sedang makan dengan lahap, ada pemuda yang duduk dekat anjing memperhatikan anjing yang sedang makan. sementara  pemuda yang lain sedang duduk, sebagian bersandar dipohon kurma, sebagian duduk di bangunan. Semua mata pemuda menuju anjing dengan wajah ceria dan tersenyum</p>
<p>Suatu ketika, disaat mereka sedang istirahat usai berda’wah, (mengajak Orang-orang berbuat kebaikan dan Taat pada Allah),  mereka melihat seekor anjing yang sedang menjilati mangkuk kosong.  Wah…. nampaknya anjing itu lapar sekali yah? Begitu fikir mereka. A-Razaq dan teman2-nya memang hamba Allah yang hatinya diliputi kasih sayang, bahkan pada hewan seperti anjing yang sedang mereka perhatikan saat itu. Karena rasa kasih , anjing itu diberi makan oleh mereka. Walaah!! Ternyata, anjing itu benar-benar lapar.!! Ia makan dengan lahap sekali. Nyam, nyam,nyam……</p>
<p>Hal		:	4<br />
Ilustrasi	:	Anjing berjalan, dibelakang para pemuda, dengan latar belakang pasar.<br />
Anjing itu sangat menyukai A-Hafizh dan kawan2-nya, sehingga kemanapun mereka pergi, dia selalu mengikuti. Mereka memberi nama  anjing tersebut Raqim  .</p>
<p>Hal		:	5<br />
Ilustrasi	:	Beberapa orang sedang melempar batu ke arah pemuda2, pose pemuda sedang menghindar  lemparan  batu dengan menggunakan tangan mereka dan anjing berdiri didepan para pemuda, dengan pose sedang menyalak. Latar belakang PAsar.</p>
<p>Suatu hari, ketika para pemuda itu sedang berda’wah, ada beberapa orang bodoh yang tidak menyukai  seruan mereka. Orang-orang bodoh itu, melempari batu ke  pemuda-pemuda  shaleh. Dan Raqim marah sekali, dia menyalak-nyalak, gouk…..gouk…….gouk………, berusaha menakuti dan mengusir orang-orang bodoh itu.  Mereka bukan saja bodoh, tapi tidak memiliki rasa kasih pada sesame,  juga pada binatang. Mereka terus melempari  rombongan penda’wah, sehingga terkena timpuklah si Raqim dikepalanya. Aduuuuh….. Raqim kesakitan,</p>
<p>Hal		:	6<br />
Ilustrasi	:	Anjing sedang berdiri dengan riang  dengan kepala dibalut kain, para pemuda sholeh Nampak senang dengan pose memperhatikan anjing. Latar belakang pepohonan, unta dan Bukit.<br />
Pemuda-pemuda sholeh itu lari  menyelamatkan diri bersama Raqim.<br />
Raqim sakit, dia demam dan lemah karena banyak keluar darah. A-Hafizh dan kawan-kawannya  membalut kepala dan merawat Raqim dengan kasih sayang. Raqimpun, bertambah sayang pada mereka. Begitulah anak-anak, kalau kita menyayangi, kita pasti akan disayang. Masih ingatkan hadist Rasul? “siapa yang tidak menyayangi tidak akan disayang”, artinya, kalau kita ingin disayang, kita harus menyayangi dulu, oke?&#8230;..<br />
Hal		:	7<br />
Ilustrasi	:	Raja, dengan pose sedang memerintah para pasukan, dengan ekspresi marah.<br />
Latar belakang didalam Istana.</p>
<p>Dengan kejadian buruk itu, A-Latif dan kawan2-nya, tidak jera untuk tetap berda’wah, bahkan mereka semakin giat mengajak orang-orang untuk menyembah Allah….. dan hal itu sampai juga ke telinga Raja. HHuuuuu Raja maRRRRahhhh sekaliii, dia langsung menyuruh prajurit-prajuritnya untuk menangkap dan membunuh pemuda-pemuda sholeh itu.</p>
<p>Hal		:	8<br />
Ilustrasi	:	pemuda lari, diikuti anjing…. Dikejar prajurit2, para pemuda lari menuju hutan</p>
<p>A-Hafizh, A-Rahman, A-Latif, A-Razaq dan A-Aziz lari menyelamatkan diri, dan Raqim-pun ikut lari mengikuti pemuda-pemuda sholeh. Mereka terus berlari menghindari Prajurit-prajurit Raja, …… huh huh huh huh….  Raqim berdo’a, Ya Allah, tolonglah  Hamba-hambaMu yang sholeh ini.</p>
<p>Hal		:	9<br />
Ilustrasi	:	Para pemuda berdiri didepan Gua  dengan pose,sedang  mendorong Batu besar yang menutupi mulut Gua. Anjing dibelakang pemuda dengan pose sedang menyalak. :;atar belakang Hutan.</p>
<p>Allah maha mendengar, dan selalu menolong hambanya yang berada dalam kesulitan.Allah menuntun para pemuda sholeh itu ke dalam hutan,  ke arah  Gua besar. Tapi, Gua itu tertutup batu yang  Be sssssarrrrrrrr sekaliiii.  A-Aziz, A-Hafizh, A-Rahman, A-Latif, dan A-Razaq, mendorong batu itu dengan membaca ‘Bismillahirrahmanirrahiim’………….,  dengan pertolongan Allah,  Perlahan-lahan Batu Besar itu terbuka.</p>
<p>Hal		:	10<br />
Ilustrasi	:	Prajurit2 berdiri didepan Gua dengan Batu besar menutup gua, dengan pose sedang berbicara dengan prajurit lain, latar belakang: Hutan</p>
<p>Kemudian, mereka menutup kembali batu besar itu, agar mereka bisa bersembunyi. Ketika para prajurit sampai di Gua, mereka yang jumlahnya puluhan orang tidak dapat menggeser Batu yang menutupi Gua tersebut, dan salah satu diantara mereka berkata: “ Kawan2, rasanya tidak mungkin pemuda-pemuda itu dapat menggeser BAtu Sebesar dan seberat ini”<br />
“ Kurasa benar, mungkin mereka berlari kearah sana”. Kata prajurit yan lain. Dan merekapun, berlari kearah yang salah.</p>
<p>Hal		:	11<br />
Ilustrasi	:	Para pemuda Tidur dengan berbantal batu dengan posisi miring, dan anjing tidur dengan mengunjurkan kedua lengannya dimuka pintu gua. Latar belakang : didalam gua.</p>
<p>Karena lelah…….. A-Razaq, A-Latif, A-Aziz, A-Rahman, dan A-Hafizh tertidur.</p>
<p>Hal		:	12<br />
Lustrasi		:	beberapa -kakek, dengan janggut panjang dan rambut panjang putih, pose bingung, dan beberapa kakek melihat kearah tulang anjing.</p>
<p>Ketika mereka bangun, Raqim     si Anjing setia telah menjadi tulang-belulang, dan mereka melihat rambut mereka telah memutih dan sangat panjang, dagu mereka ditumbuhi jenggot yang lebat. Para pemuda shaleh ini merasa bingung dan heran, apa gerangan yang terjadi???</p>
<p>Hal		:	13<br />
Ilustrasi	:	beberapa  kakek berada dipasar, sedang membelanjakan koin uangnya dengan penjual makanan. Terlihat beberapa wanita menggunakan jilbab sedang menggandeng anaknya atau berjalan bersama suaminya.</p>
<p>Lalu, mereka keluar gua dan terkejutlah para pemuda itu, mendapati negeri mereka telah berubah. Masyarakat disana telah beriman kepada Allah, dan  Raja Decius yang  Lalim telah mati.<br />
Allah menidurkan mereka salama 309 tahun…… Subhanallah, maha suci Allah, Allahuakbar…… betapa Allah maha kuasa berbuat apa saja yang dia kehendaki…..,<br />
Begitulah,  anak-anakku…… Allah senantiasa melindungi orang-orang yang beriman dan berjuang dalam keimanan mereka.<br />
Dan kisah Ashabul kahfi ini adalah sebagai bukti kecil bahwa, setelah  kita mati (tidur panjang), Allah akan membangunkan jasad dan jiwa kita di hari kiamat nanti.<br />
Alhamdulillah</p>
<p>NB:<br />
•	Nama-nama pemuda yang digunakan menggunakan asmaulhusna, berguna untuk mengenalkan nama-nama Allah. Tapi, anda dapat menggantinya dengan nama Anak-anak anda, agar mereka  merasa terlibat.<br />
•	 Penambahan dan pengurangan  cerita, tak lain untuk lebih menarik tanpa mengurangi arti maupun tujuan  kisah.<br />
•	Arti nama-nama pemuda :<br />
1.	AbdurRAhman	=	Hamba  Sang Maha Pengasih<br />
2.	AbdulLatief	=	Hamba Sang Maha Lembut<br />
3.	AbdulAzizez	=	Hamba Sang MAha Perkasa<br />
4.	AbdulHafizh	=	Hamba Sang Maha Penjaga<br />
5.	AbdulRazaq	=	Hamba Sang Maha Pemberi Rizqi<br />
•	Nama Anjing Raqim, berdasarkan Q.s 18:09<br />
•	Bilangan tahun 309, berdasarkan Q.s 18:25</p>
<p>Disadur dari kisah Ashabul kahfi Q.s !8:9-26</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
