<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cerita-porno &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/cerita-porno/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cerita-porno"</description>
	<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 10:16:28 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Cerita Dewasa : Gairah Panas Seorang Lelaki ]]></title>
<link>http://bungaliani.wordpress.com/2009/11/24/cerita-dewasa-gairah-panas-seorang-lelaki/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 05:17:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>omiyan</dc:creator>
<guid>http://bungaliani.wordpress.com/2009/11/24/cerita-dewasa-gairah-panas-seorang-lelaki/</guid>
<description><![CDATA[Gairah Panas Seorang Lelaki pernahkah anda menemukan tulisan seperti itu mungkin pernah karena saya ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gairah Panas Seorang Lelaki pernahkah anda menemukan tulisan seperti itu mungkin pernah karena saya ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PORN SITE (10)]]></title>
<link>http://t0mmys3ty4.wordpress.com/2009/11/02/porn-site-10/</link>
<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 01:03:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>TOMMY S N</dc:creator>
<guid>http://t0mmys3ty4.wordpress.com/2009/11/02/porn-site-10/</guid>
<description><![CDATA[(1) Kegemaran Anton akan sex memang mengagumkan. Apa saja di embat, asal bernafas ! Dia juga jago ng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>(1) Kegemaran Anton akan sex memang mengagumkan. Apa saja di embat, asal bernafas ! Dia juga jago ngibul. &#8221;Pas mati lampu tadi malam, gue main sama Viny.&#8221; Dia mengawali ceritanya. &#8221;Viny, anak pak Lurah ?&#8221;teman-temannya kagum. &#8221;Iya. Goyangannya, hot.&#8221; Anton membanggakan diri. Sementara itu, dari balik semak-semak, dua ekor kambing sedang mengintip mereka. Kambing betina bertanya pada si jantan. &#8221;Orang itu, siapa sih ?&#8221; Jawab kambing jantan, &#8221;Oh, itu Anton, playboy kampung, kenapa?&#8221; Si betina berbisik, &#8221;Pas mati lampu tadi malam, burit gue di pake sama dia.&#8221; Si jantan terhenyak, &#8221;Lalu?&#8221; Jawab si betina, &#8221;Anton pancen oyeee . . . &#8221; (2) Seorang waria lupa mengancingkan resleting celana. Seseorang mengingatkan,&#8221;Mbak, burungnya nongol.&#8221; Merasa diri perempuan, si waria pun meradang,&#8221;Enak aja. Ini anu (milik perempuan), bukan burung!&#8221;Orang tersebut merasa geli,&#8221;Tapi, kok menggantung?&#8217;Si waria beralasan, &#8221;Anu gue lagi ngisep cerutu . . .&#8221;(3)Seorang waria melakukan operasi kelamin. Dokter memutuskan mengganti anu nya dari kuda betina. Sejak itu, si waria pun berubah jadi perempuan tulen nan cantik menawan. Dia pun hidup bahagia bersama suami baru. Namun, mendadak suami nya minta cerai. Apa pasal ? Ternyata, istrinya buang hajat dan kencing dari tempat yang sama !(4)Seorang waria dikeroyok mahasiswa sebuah perguruan tinggi hingga babak belur. Maling jemuran-kah dia? Bukan. Maling ayam? Bukan juga. Jadi, kenapa para mahasiswa begitu marah padanya? Baiklah, mari kita baca, apa yang tertulis di burit si Mbak. Disana ada tulisan, MAAF ! DISCOUNT UNTUK MAHASISWA DITIADAKAN.(5) &#8221;Antoo. . ,fuck you . .!&#8221;ibu Anto histeris.Seperti biasa, Anto buru-buru ngumpet di kolong meja.&#8221;Sabun habis, ganti mentega.Besuk pakai apa lagi, hah!&#8221;Jeritan si ibu tak lain akibat hobby Anto, nyabun!&#8221;Kenapa sih, nyabun melulu, gak ada kegiatan lain?&#8221;Anto menjawab lugas,&#8221;Gue sengaja seleksi,Ma.Yang calon germo,pelacur, hombreng, Anto buang. Anto pengin punya anak pengusaha.&#8221; Si ibu makin senewen,&#8221; Tapi, kok sampai tiga kali sehari, kayak minum obat.&#8221; Jawab Anto,&#8221; Habis, banyak yang harus dibuang sih. Di dalam anu Anto khan, ada komplek pelacuran . . &#8221;  </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayu Kenalan Chating]]></title>
<link>http://agusyantono.wordpress.com/2009/10/30/ayu-kenalan-chating/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 07:53:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusyantono</dc:creator>
<guid>http://agusyantono.wordpress.com/2009/10/30/ayu-kenalan-chating/</guid>
<description><![CDATA[Ayu Kenalan Chating Kisah ini berlaku kira kira 2 bulan yang lepas, Ayu adalah kawan chat Yahoo! dan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Ayu Kenalan Chating</p>
<p>Kisah ini berlaku kira kira 2 bulan yang lepas, Ayu adalah kawan chat Yahoo! dan aku temui dia beberapa minggu sebelum itu di dalam room selangor. Dipendekkan kata, selepas puas mengayat Ayu, dia telah bersetuju mengikut aku ke dalam sebuah bilik di hotel summit subang dan berasmara denganku.</p>
<p>Setelah, check in, mandi dan berbual dan bermesra ala kadar, aku mula memuji kaki ayu yang putih melepak bagaikan bunting padi itu. Ayu hanya tersenyum dan aku membalas senyumannya dengan penuh makna, aku segera memegang kakinya yang diunjurkan di atas katil, sambil memandang dan mengusap-ngusap lembut kakinya. Perlahan-lahan, aku dekatkan mulutku pada hujung jari kakinya dan aku cium sedikit dengan penuh romantis. Ayu tersenyum lagi, terpesona dengan tindakan mesraku dalam cahaya samar, tambahan lagi dalam suasana kamar yang selesa dan dingin itu. Sambil meremas-remas dan mengusap-usap kakinya, aku mula mengucup pipi Ayu, dahinya dan bibirnya perlahan-lahan. Ayu memejamkan matanya, berserah dan menikmati sentuhan demi sentuhan dari bibir dan jemariku.</p>
<p>Perlahan-lahan aku memegang bahu Ayu dan membaringkan tubuhnya ke atas tilam yang empuk dan luas itu. Aku mengusap-usap rambutnya yang lurus dan lembut, sambil meneruskan kucupan demi kucupan yang romantis dan ringan. Ayu membalas kucupanku dan akhir lidah kami bertautan dan saling kulum mengulum. Kadangkala aku menyedut lidah Ayu dan Ayu membalasnya dengan sedutan dan kemutan pada lidahku dengan perlahan-lahan.</p>
<p>Perlahan-lahan, sambil memandang mata Ayu, aku mengerakkan tubuhku dan merapatkan kembali bibirku ke hukung tapak kaki Ayu. Dari hujung kaki Ayu yang putih mulus bagaikan kapas itu, aku mengucup dan membelai kedua belah kakinya. Seterusnya lidahku segera menjalar, mengucup dan sesekali menjilat perlahan betis Ayu putih melepak, lalu meliar di kawasan lutut dan akhirnya sampai kepada peha Ayu yang agak sedikit terbuka.</p>
<p>Aku tahu Ayu sudah tidak mampu menolak fitrahnya yang mahu dibelai dan disentuh olehku, dia cuma mampu mengeliat dan mengeluh kegelian dan terkadang melarikan kakinya seakan tidak mahu disentuh dan terkadang pula bagaikan menyuapkan aku bahagian tubuh yang mana ia mahu aku berikan sentuhan nafsuku. Aku teruskan tindakanku dengan menarik tali ikatan tuala yang dipakai Ayu secara perlahan-lahan, langsung menyelak dan mendedahkan seluruh tubuhnya yang putih gebu, harum, menghairahkan dan menggetarkan seluruh jiwa dan ragaku.</p>
<p>Nafsuku semakin bergelora dan tiada apa yang lain dalam fikiranku melainkan nafsu kejantanan dan keinginan untuk melayari lautan asmara bersama Ayu. Kehangatan semakin membara dan aku kian terpesona dengan lubuk permata Ayu yang semakin dipeluhi titik-titik keghairahan dek sentuhan-sentuhan intimku. Lidahku yang semakin hampir dengan lubuk itu semakin tidak terkawal dan mahu cepat sampai ke destinasi keramat.</p>
<p>Ayu makin laju mengeliat dan mengeluh kesah. Tangan Ayu mengusap kepalaku dan terkadang mencengkam rambutku sekuat hatinya. Aku tahu Ayu semakin tak tentu arah di dalam gelora taufan yang mengganas. Aku memperlahankan jilatan serakahku dan mula bermain-main dengan keinginan Ayu yang teratas. Dengan berhati-hati, aku menjilat perlahan-lahan kawasan sekitar lubuk permatanya. Sedikit-sedikit aku hembuskan nafas hangat kearah lubuk permatanya dan ku jilat sedikit kulit lubuk permata Ayu. Dia semakin mendesah-desah dan sedikit-sedikit mengangkat punggungnya.</p>
<p>Terpesona dengan segala keindahan di depan mataku, aku meneruskan jilatan keramatku pada lubuk permata Ayu dengan sepenuh hati. Aku dapat merasakan cairan mazi Ayu membanjiri mulutku dan menerbitkan rasa yang cukup indah dan enak pada deria rasa lidahku. Aku menikmati cairan tersebut dengan penuh ghairah. Aku semakin laju menjilat, Ayu pula semakin rancak mengeluh dan mendesah, tubuhnya semakin berombak dan bergegar.</p>
<p>Aku meneruskan perjuanganku dengan menghisap biji kelentitnya, dan kadangkala aku gunakan teknik double stroke iaitu dengan menggunakan lidah untuk menjilat dan menggetarkan bahagian bawah kelantit manakala jari-jemariku menggentel biji kelentit itu sendiri. Keadaan Ayu sudah tak ubah seperti kuda liar yang melonjak melonjak ingin dilepaskan dan keluhan nikmatnya sudah bertukar menjadi raungan dan kadangkala merayu dan meminta aku memasukkan zakarku ke dalam pantatnya yang kini banjir tak berkesudahan itu.</p>
<p>Selama hampir 10 minit aku memberikan Ayu kenikmatan yang tak terhingga hanya dengan menggunakan lidahku. Tanganku mula menjalar dan meramas kedua belah payudara Ayu dengan ganas dan liar. Kadangkala aku mengangkat punggung Ayu ke atas dan menolak Ayu kakinya supaya dia melipat badannya, ini membuatkan aku boleh memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dasar lubuk permatanya.</p>
<p>Ayu semakin tidak dapat mengawal dirinya. Tubuhnya menggila dan 10 minit kemudian, badan Ayu tiba-tiba terkejang dan menggigil sekejap-sekejap, aku dengan segera mengunci biji kelentit dan buah dada Ayu dengan kedua belah tangan dan mulut serta lidahku. Kedua belah kaki Ayu yang memang sedia terangkat, semakin kuat mengepit kepalaku yang berada betul-betul dikelengkangnya. Ayu meraung kenikmatan, bagaikan laut yang sudah sedia bergelora, tubuhnya menggeletek bagaikan dihempas ombak menggunung.</p>
<p>Setelah seminit, nafas Ayu mulai reda. Kepitan kedua belah kakinya sudah dilonggarkan dan matanya terpejam rapat. Aku melepaskan gripku pada tubuh Ayu dan berbaring di sebelahnya. Kucium bibirnya yang mungil dan comel dengan mulutku yang penuh dengan air mazinya dan aku jilat telinga dan lehernya. Selepas itu ku peluk rapat tubuhnya dan Ayu membalas pelukanku dengan sangat eratnya.</p>
<p>Setelah aku memberikan masa rehat lima minit kepada Ayu, aku kembali beraksi untuk menyempurnakan asmara kami. Aku tau Ayu seorang perempuan yang sangat submissive. Jadi aku perlu membuat apa yang perlu. Aku memegang rusuk Ayu dengan tapakku dan menggosok dengan perlahan. Selapas itu aku menjalarkan tangan kepada buah dada Ayu yang mekar dan pejal itu. Perlahan kugentel dan kucium putingnya yang kemerahan. Agak lama kemudian aku mula menghisap dan meramas kedua payudaranya secara berganti-ganti, kadangkala kugigit sedikit putingnya dan Ayu akan menjerit kecil kesedapan.</p>
<p>Setelah puas aku menghisap, aku meramas kuat payudara kanannya dengan kedua belah tangan, dan dengan rakus aku mengoyangkan lidahku ke atas dan ke bawah dengan sangat laju seperti sebuah vibrator, memberikan sensasi luarbiasa pada putingnya, Ayu mengeluh ksedapan dan mengeleng-gelengkan kepalanya sambil menarik-narik rambutku. Beberapa minit kemudian aku menukar pula kepada payudara kiri. Ayu benar-benar menikmati sensasi yang kuberikan, dengan mata terpejam rapat sambil mengeluh dan mengerang-ngerang kuat.</p>
<p>Selepas itu aku pula berbaring dan Ayu mula menjilat dan menghisap batangku yang hampir sebesar 3/4 dari diameter tin coke dan sepanjang ubat gigi darlie 250 g (paling besar), batangku memang western size, wanita-wanita yang pernah aku setubuhi kebanyakannya terperanjat dengan saiz batangku, tetapi sebenarnya aku lebih mementingkan teknik daripada bergantung pada saiz zakarku. Aku mengusap-usap ghairah rambut Ayu dan mengusap usap belakang tubuhnya. Mengikut pengalamanku, sesetengah wanita memang suka diusap pada bahagian belakang tubuhnya, mereka merasakan sentuhan pada kawasan itu memberi makna yang tersendiri dalam hubungan seks. Padaku, tiada apa yang lebih menyeronokkan selain melihat wanita yang aku setubuhi terdampar keletihan dan tersenyum puas selepas melakukan persetubuhan denganku. Dan aku suka memberikan pengalaman yang sangat romantis untuk mereka, agar mereka tidak dapat melupakan aku.</p>
<p>Setelah hampir 15 minit Ayu memberikan aku blowjob yang padaku hanya so-so, aku mula mengalihkan perhatian kepada lubuk pantatnya. Kubaringkan Ayu dan kukangkangkan kedua belah kakinya. Ayu merenung wajahku dengan penuh nafsu. Dengan perlahan-lahan, aku letakkan kepala zakarku menyentuh kelentit Ayu dan kugoyangkan perlahan-lahan ke atas dan ke bawah. Ayu kembali memejamkan matanya dan sesekali ternganga kesedapan.</p>
<p>Setelah aku rasakan agak basah kembali lubuk pantatnya itu, segera aku tolakkan sedikit ke dalam pantatnya, lebih kurang setengah inci dan berhenti. Perut Ayu terangkat dan tangannya memaut punggungku minta aku menolak lebih dalam. Bagaimanapun aku tidak menghiraukan isyarat Ayu sebaliknya perlahan lahan aku keluarkan sedikit zakarku. Gerakanku yang pertama ini amat perlahan, aku mahu merasakan sensasi sentuhan kulit zakarku dengan kulit pantatnya dan aku mahukan Ayu merasai nikmat yang sama. Aku juga mahu Ayu merasa betapa zakarku meneroka ruang pantatnya dengan gagah dan penuh kejantanan, dan paling penting, aku mahu bertahan lama.</p>
<p>Sedikit demi sedikit, aku sorongkan kepala zakarku kembali kedasar lubuk pantat Ayu. Kali ini aku masukkan lebih kurang satu inci. Masih ada 5 inci untuk disarungkan. Ayu mengeluh dan memandangku sambil merayu..</p>
<p>&#8220;Abang.., please.. Dalam lagi.. Please.. Sedap, besar.. Cepat sikit Bang.. Ayu nak dalam lagi&#8221;, tangannya kuat memaut pinggangku.</p>
<p>Aku senyum dan memandang tepat mata Ayu yang sangat kuyu itu. Aku menarik dan menyorong kembali zakarku laju sedikit, setelah beberapa kali sorongan, aku meneroka seinci lagi, menjadikan sudah dua inci batangku terbenam dalam lubuknya.</p>
<p>&#8220;Abang.. Sedap.. Lagi Bang.. Argghh aa.&#8221;<br />
&#8220;I love you sayang.. Ayu nak Abang?&#8221;<br />
&#8220;Abang.. Ayu nak sangat Abang. I love you very much.. Please.. Abang.. Jgn seksa Ayu.. Dalam lagi..&#8221;<br />
&#8220;Emm.. Sekejap sayang yer.. Abang sayang sangat kat Ayu.. Malam ni cuma milik kita berdua sayang, you can have me all night long&#8221;<br />
&#8220;Oh.. Abangg..&#8221;</p>
<p>Aku menyorong-tarik zakarku dengan kelajuan yang bertambah sedikit tapi masih tetap pada ke dalaman dua inci. Ayu mengerang semakin kuat, menyuarakan kenikmatan yang tak terhingga. Aku mencapai sebiji bantal dan aku letakkan di bawah bontot Ayu. Aku segera meneruskan semula permainan tadi dan meningkatkan kelajuan sorong tarik zakarku. Pantat Ayu semakin becak dan licin.</p>
<p>Aku menujah semakin dalam, kini 3 inci bahagian batangku yang sangat keras, besar dan bersemangat mengisi ruang pantat Ayu. Aku terus menujah tanpa henti selama hampir 10 minit sehinggalah terbukti tepat dugaanku, Ayu tidak dapat bertahan. Dadanya berombak dan tangannya kuat mencengkam lenganku. Matanya terpejam rapat. Mulutnya ternganga.., hanya perkataan &#8220;Aarghh&#8221; yang kedengaran dan diikuti keluhan nafas yang kencang. Seluruh tubuhnya kejang membeku. Aku menghentikan stroke sementara waktu.</p>
<p>Setelah cengkamannya jarinya reda. Aku teruskan stroke-ku, perlahan sedikit tetapi dengan daya tujahan yang lebih keras dan dalam. Ayu tak mampu menahan nikmat ghairah.. Dia hanya mampu menerima sahaja tujahan demi tujahan zakarku yang penuh rakus dan berkuasa. Aku sendiri sudah tidak mampu menahan permainan ini, aku tidak mahu menunggu dan aku cuma mahu zakarku melanyak pantat yang sangat basah dan benyek itu.</p>
<p>Beberapa minit selepas aku mengawal tujahan zakar, nafsuku sudak tidak terkawal lagi. Aku melipat kaki Ayu ke arah kepalanya dan menyuruh Ayu menahan kangkang begitu, aku sungguh bertuah kerana Ayu dikurniakan tubuh yang agak lentur dan dia boleh melipat badannya dengan sempurna sekali. Aku sudah tidak dapat bersabar lagi, Dengan satu stroke yang amat perlahan tetapi amat padu dan berkuasa, zakarku membolos dan menujah pantat Ayu sedalam-dalamnya. Mata Ayu tiba-tiba menjadi putih. Mulutnya ternganga luas, tangannya semakin kuat menarik kakinya supaya semakin rapat kepada badan. Dan aku pula kini bagaikan di awangan, syurga yang teramat indah, penuh cinta dan nikmat.</p>
<p>Aku mula menghenjut, mengayak dan melanyak pantat Ayu dengan penuh kekuatan dan kelajuan. Tenaga dari seluruh tubuhku aku pusatkan pada pinggangku, dan segala deria rasaku cuma terkumpul pada titik utama tubuhku iaitu pada zakarku. Aku cuma dapat merasakan kenikmatan pada zakarku dan menghayati setiap saat, sentuhan dan irama di dalam bilik itu. Aku dapat mendengar Ayu meraung-raung, mengerang dan menjerit-jerit tetapi aku sendiri tidak mampu memahami maknanya sedangkan aku sendiri tidak dapat mengawal keluhan dan raungan nikmat yang mulutku keluarkan. Aku sudah tidak peduli apa pun lagi.</p>
<p>Setelah 20 minit berhempas pulas, aku tidak dapat menahan zakarku lagi, Aku tau Ayu sudah klimax dan merayu meminta aku menghentikan henjutanku tetapi aku tidak menghiraukannya, setiap kali kakinya kendur, setiap kali itulah aku akan menguatkan lagi tujahanku. Dan kali ini, giliran aku pula merasakan puncaknya. Kuhenjut-henjut dan kuayak-ayak ganas zakarku, akhirnya.. dengan satu tujahan yang paling berkuasa dan muktamad, zakarku memuntahkan deras segala air mani yang pekat dan panas yang telah lama terpendam, aku segera menekan zakarku sekuat-kuatnya kedasar lubuk pantat Ayu yang panas dan dalam itu. Mindaku terlontar ke hujung dunia dan gelap dunia pada pandangan mataku. Kuayak-ayak lagi zakarku, cuba mengeluarkan semua titisan air maniku. Kucengkam bontot Ayu dengan keras, kucium Ayu dengan rakus dan kadangkala ku henyak lagi pantatnya dengan zakarku yang sekejap-kejap menegang dan mengendur. Hampir 5 minit lamanya. Aku kepuasan, langsung terbongkang di atas tubuh Ayu. Ayu mengendurkan dan meluruskan kakinya, matanya kuyu.</p>
<p>&#8220;Abang, thanks..&#8221;. Ayu bersuara lemah.<br />
&#8220;Anything for you baby..&#8221;, aku menjawab ringkas.</p>
<p>Kami berciuman, memandang kuyu mata masing-masing sambil tersenyum, berpelukan dan akhirnya tertidur keletihan.</p>
<p>*****</p>
<p>Kini Ayu sudah berpindah ke Johor tetapi kadangkala kami masih bertemu bila ada masa. Aku rasa amat gembira dapat menemui seorang gadis yang seperti Ayu. Pada mataku, Ayu seorang gadis yang hebat, dan aku terfikir, masih adakah gadis lain yang seperti Ayu.<br />
http://ceritaporno.thumblogger.com/home/log/2007/25/ayu-kenalan-chating.html</p>
<p>E N D</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Orgasme Dewi]]></title>
<link>http://agusyantono.wordpress.com/2009/10/30/orgasme-dewi/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 07:50:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusyantono</dc:creator>
<guid>http://agusyantono.wordpress.com/2009/10/30/orgasme-dewi/</guid>
<description><![CDATA[Orgasme Dewi Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat, Namun lam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Orgasme Dewi</p>
<p>Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat, Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan.</p>
<p>Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya.</p>
<p>Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya.</p>
<p>&#8220;Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Mungkin sekitar 10 menit&#8221; jawabnya pasti.<br />
&#8220;Gaya apa yang dipakai suami kamu?&#8221;<br />
&#8220;Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala&#8221;<br />
Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos.<br />
&#8220;Kira-kira berapa besar penis suami kamu?&#8221;<br />
&#8220;Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!&#8221; jawabnya bingung.<br />
Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal.<br />
&#8220;Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?&#8221;<br />
Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat.<br />
&#8220;Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!&#8221;<br />
Aku tak dapat menahan senyumku.<br />
&#8220;Maksud kamu, &#8216;helm&#8217;nya masih nongol?&#8221;<br />
&#8220;Ya!&#8221; Dewipun tersenyum juga.</p>
<p>Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum.<br />
&#8220;Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!&#8221;<br />
&#8220;Bagaimana dengan kekerasannya?&#8221; tanyaku lagi.<br />
&#8220;Keras sekali, Pak, seperti batu!&#8221;</p>
<p>Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya?</p>
<p>&#8220;Kok diam Pak?&#8221;<br />
&#8220;Aku lagi mikir penyebabnya.&#8221;<br />
&#8220;Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar&#8221; terangnya.<br />
Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya.<br />
&#8220;Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan.&#8221;<br />
Aku sedikit mengerti maksudnya,<br />
&#8220;Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Ya, betul, kenapa ya Pak?&#8221;<br />
Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis.<br />
&#8220;Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?&#8221;<br />
&#8220;Oke deh!&#8221; sahutnya riang sambil meninggalkan aku.</p>
<p>Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini.</p>
<p>Aku kirim SMS kepadanya, &#8220;Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak utk mengobrol?&#8221;<br />
5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya.<br />
&#8220;Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya&#8221;<br />
Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali,<br />
&#8220;Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang &#38; aku suami orang juga&#8221;</p>
<p>Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang, Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti.</p>
<p>&#8220;Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?&#8221;<br />
Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme.<br />
&#8220;Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!&#8221;<br />
&#8220;Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?&#8221;<br />
&#8220;Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping&#8221;<br />
&#8220;Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!&#8221; jawabku tegas.<br />
&#8220;Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!&#8221;<br />
Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot.</p>
<p>Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat, &#8220;Belum berhasil, Pak!&#8221;.<br />
Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya.<br />
Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya.<br />
&#8220;Memang kenapa?&#8221;<br />
Tak lama Dewi pun membalasnya.<br />
&#8220;Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak.&#8221;</p>
<p>Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku.<br />
&#8220;Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak&#8221;<br />
Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya.<br />
&#8220;Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?&#8221;<br />
Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku.<br />
Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya.</p>
<p>Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku,<br />
&#8220;Pak.&#8221; Hanya itu yang keluar dari mulutnya<br />
Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya,<br />
&#8220;Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?&#8221; suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.<br />
&#8220;Terserah Bapak deh&#8221; jawabnya manja sambil mencubit tanganku.</p>
<p>Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya,</p>
<p>Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,<br />
&#8220;Tubuh kamu bagus sekali, Wi!&#8221; Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.</p>
<p>Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat, Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme.</p>
<p>Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya,<br />
Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.<br />
&#8220;Terima kasih, Pak&#8221; ia mencium keningku.<br />
&#8220;Saya masih mau lagi&#8221; ucapnya serak.</p>
<p>Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri.</p>
<p>&#8220;Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?&#8221; sambil aku mempercepat kocokanku.<br />
&#8220;Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!&#8221; erangnya.<br />
Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi.<br />
Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.</p>
<p>Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi.</p>
<p>Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan..</p>
<p>E N D</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kumpulan Cerita Porno - Kisah Nyata]]></title>
<link>http://agusyantono.wordpress.com/2009/10/30/kumpulan-cerita-porno-kisah-nyata/</link>
<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 07:29:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusyantono</dc:creator>
<guid>http://agusyantono.wordpress.com/2009/10/30/kumpulan-cerita-porno-kisah-nyata/</guid>
<description><![CDATA[Diantara Bik Miatun dan Non Kristin Cerita ini terjadi ketika aku masih usia 14 tahun. Aku yang baru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Diantara Bik Miatun dan Non Kristin</p>
<p>Cerita ini terjadi ketika aku masih usia 14 tahun. Aku yang baru saja lulus SD bingung mau kemana, melanjutkan sekolah nggak mungkin sebab Bapakku sudah satu tahun yang lalu meninggal. Sedangkan Ibuku hanya penjual nasi bungkus di kampus dan kedua kakakku pergi entah bagaimana kabarnya. Sebab sejak pamitan mau merantau ke Pulau Bali nggak pernah ada kabar bahkan sampai Bapak meninggalpun juga nggak tahu. Adik perempuanku yang masih kelas dua SD juga membutuhkan biaya.</p>
<p>Akhirnya aku hanya bisa main-main saja sebab meski aku anak laki-laki satu-satunya aku mau kerja masih belum kuat dan takut untuk pergi merantau tanpa ada yang mengajak. Suatu ketika ada saudara Bapakku yang datang dengan seorang tamu laki-laki. Kata pamanku dia membutuhkan orang yang mau menjaga rumahnya dan merawat taman. Setelah aku berpikir panjang aku akhirnya mau dengan mempertimbangkan keadaan Ibuku.</p>
<p>Berangkatlah aku ke kota Jember tepatnya di perumahan daerah kampus. Aku terkagum-kagum dengan rumah juragan baruku ini, disamping rumahnya besar halamannya juga luas. Juraganku sebut saja namanya Pak Beni, Ia Jajaran direksi Bank ternama di kota Jember, Ia mempunya dua Anak Perempuan yang satu baru saja berkeluarga dan yang bungsu kelas 3 SMA namanya Kristin, usianya kira-kira 18 tahun. Sedangkan istrinya membuka usaha sebuah toko busana yang juga terbilang sukses di kota tersebut, dan masih ada satu pembantu perempuan Pak Beni namanya Bik Miatun usianya kira-kira 27 tahun.</p>
<p>Teman Kristin banyak sekali setiap malam minggu selalu datang kerumah kadang pulang sampai larut malam, hingga aku tak bisa tidur sebab harus nunggu teman Non Kristin pulang untuk mengunci gerbang, kadang juga bergadang sampai pukul 04.00. Mungkin kacapekan atau memang ngantuk usai bergadang malam minggu, yang jelas pagi itu kamar Non Kristin masih terkunci dari dalam. Aku nggak peduli sebab bagiku bukan tugasku untuk membuka kamar Non Kristin, aku hanya ditugasi jaga rumah ketika Pak Beni dan Istrinya Pergi kerja dan merawat tamannya saja.</p>
<p>Pagi itu Pak Beni dan Istrinya pamitan mau keluar kota, katanya baru pulang minggu malam sehingga dirumah itu tinggal aku, Bik Miatun dan Non Kristin. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 tapi Non Kristin masih belum bangun juga dan Bik Miatun sudah selesai memasak.<br />
&#8220;Jono, aku mau belanja tolong pintu gerbang dikunci.&#8221;<br />
&#8220;Iya Bik!&#8221; jawabku sambil menyiram tanaman didepan rumah. Setelah Bik Miatun pergi aku mengunci pintu gerbang.</p>
<p>Setelah selesai menyiram taman yang memang cukup luas aku bermaksud mematikan kran yang ada di belakang. Sesampai didepan kamar mandi aku mendengar ada suara air berkecipung kulihat kamar Non Kristin sedikit terbuka berarti yang mandi Non Kristin. Tiba-tiba timbul niat untuk mengintip. Aku mencoba mengintip dari lubang kunci, ternyata tubuh Non Kristin mulus dan susunya sangat kenyal, kuamati terus saat Non Kristin menyiramkan air ke tubuhnya, dengan perasaan berdegap aku masih belum beranjak dari tempatku semula. Baru pertama ini aku melihat tubuh perempuan tanpa tertutup sehelai benang. Sambil terus mengintip, tanganku juga memegangi penisku yang memang sudah tegang, kulihat Non Kristin membasuh sabun keseluruh badannya aku nggak melewatkan begitu saja sambil tanganku terus memegangi penis. Aku cepat-cepat pergi, sebab Non Kristin sudah selesai mandinya namun karena gugup aku langsung masuk ke kamar WC yang memang berada berdampingan dengan kamar mandi, disitu aku sembunyi sambil terus memegangi penisku yang dari tadi masih tegang.<br />
Cukup lama aku di dalam kamar WC sambil terus membayangkan yang baru saja kulihat, sambil terus merasakan nikmat aku tidak tahu kalau Bik Miatun berada didepanku. Aku baru sadar saat Bik Miatun menegurku,<br />
&#8220;Ayo.. ngapain kamu.&#8221;<br />
Aku terkejut cepat-cepat kututup resleting celanaku, betapa malunya aku.<br />
&#8220;Ng.. nggak Bik..&#8221; kataku sambil cepat-cepat keluat dari kamar WC. Sialan aku lupa ngunci pintunnya, gerutuku sambil cepat-cepat pergi.</p>
<p>Esoknya usai aku menyiram taman, aku bermaksud ke belakang untuk mematikan kran, tapi karena ada Bik Miatun mencuci kuurungkan niat itu.<br />
&#8220;Kenapa kok kembali?&#8221; tanya Bik Miatun.<br />
&#8220;Ah.. enggak Bik..&#8221; jawabku sambil terus ngeloyor pergi.<br />
&#8220;Lho kok nggak kenapa? Sini saja nemani Bibik mencuci, lagian kerjaanmu kan sudah selesai, bantu saya menyiramkan air ke baju yang akan dibilas,&#8221; pinta Bik Miatun.<br />
Akhirnya akupun menuruti permintaan Bik Miatun. Entah sengaja memancing atau memang kebiasaan Bik Miatun setiap mencuci baju selalu menaikkan jaritnya diatas lutut, melihat pemandangan seperti itu, jantungku berdegap begitu cepat<br />
&#8220;Begitu putihnya paha Bik Miatun ini&#8221; pikirku, lalu bayanganku mulai nakal dan berimajinasi untuk bisa mengelus-ngelus paha putih Bik Miatun.<br />
&#8220;Heh! kenapa melihat begitu!&#8221; pertanyaan Bik Miatun membuyarkan lamunanku<br />
&#8220;Eh.. ngg.. nggak Bik&#8221; jawabku dengan gugup.<br />
&#8220;Sebentar Bik, aku mau buang air besar&#8221; kataku, lalu aku segera masuk kedalam WC, tapi kali ini aku tak lupa untuk mengunci pintunya.</p>
<p>Didalam WC aku hanya bisa membayangkan paha mulus Bik Miatun sambil memegangi penisku yang memang sudah menegang cuma waktu itu aku nggak merasakan apa-apa, cuma penis ini tegang saja. Akhirnya aku keluar dan kulihat Bik Miatun masih asik dengan cucianya.<br />
&#8220;Ngapain kamu tadi didalam Jon?&#8221; tanya Bik Miatun.<br />
&#8220;Ah.. nggak Bik cuma buang air besar saja kok,&#8221; jawabku sambil menyiramkan air pada cuciannya Bik Miatun.<br />
&#8220;Ah yang bener? Aku tahu kok, aku tadi sempat menguntit kamu, aku penasaran jangan-jangan kamu melakukan seperti kemarin ee..nggak taunya benar,&#8221; kata Bik Miatun<br />
&#8220;Hah..? jadi Bibik mengintip aku?&#8221; tanyaku sambil menunduk malu.</p>
<p>Tanpa banyak bicara aku langsung pergi.<br />
&#8220;Lho.. kok pergi?, sini Jon belum selesai nyucinya, tenang saja Jon aku nggak akan cerita kepada siapa-siapa, kamu nggak usah malu sama Bibik &#8221; panggil Bik Biatun.<br />
Kuurungkan niatku untuk pergi.<br />
&#8220;Ngomong-ngomong gimana rasanya saat kamu melakukan seperti tadi Jon?&#8221; tanya Bik Miatun.<br />
&#8220;Ah nggak Bik,&#8221;jawabku sambil malu-malu.<br />
&#8220;Nggak gimana?&#8221; tanya Bik Miatun seolah-olah mau menyelidiki aku.<br />
&#8220;Nggak usah diteruskan Bik aku malu.&#8221;<br />
&#8220;Malu sama siapa? Lha wong disini cuma kamu sama aku kok, Non Kristin juga sekolah, Pak Beny kerja?&#8221; kata Bik Miatun.<br />
&#8220;Iya malu sama Bibik, sebab Bibik sudah tahu milikku,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Oalaah gitu aja kok malu, sebelum tahu milikmu aku sudah pernah tahu sebelumnya milik mantan suamiku dulu, enak ya?&#8221;<br />
&#8220;Apanya Bik?&#8221; tanyaku<br />
&#8220;Iya rasanya to..?&#8221; gurau Bik Miatun tanpa memperdulikan aku yang bingung dan malu padanya.<br />
&#8220;Sini kamu..&#8221; kata Bik Miatun sambil menyuruhku untuk mendekat, tiba-tiba tangan tangan Bik Miatun memegang penisku.<br />
&#8220;Jangan Bik..!!&#8221; sergahku sambil berusaha meronta, namun karena pegangannya kuat rasanya sakit kalau terus kupaksakan untuk meronta.</p>
<p>Akhirnya aku hanya diam saja ketika Bik Miatun memegangi penisku yang masih didalam celana pendekku. Pelan tapi pasti aku mulai menikmati pegangan tangan Bik Miatun pada penisku. Aku hanya bisa diam sambil terus melek merem merasakan nikmatnya pegangan tangan Bik Miatun. lalu Bik Miatun mulai melepas kancing celanaku dan melorotkanya kebawah. Penisku sudah mulai tegang dan tanpa rasa jijik Bik Miatun Jongkok dihadapanku dan menjilati penisku.<br />
&#8220;Ach.. Bik.. geli,&#8221; kataku sambil memegangi rambut Bik Miatun.</p>
<p>Bik Miatun nggak peduli dia terus saja mengulum penisku, Bik Miatun berdiri lalu membuka kancing bajunya sendiri tapi tidak semuanya, kulihat pemandangan yang menyembul didepanku yang masih terbungkus kain kutang dengan ragu-ragu kupegangi. Tanpa merasa malu, Bik Miatun membuka tali kutangnya dan membiarkan aku terus memegangi susu Bik Miatun, dia mendesah sambil tangannya terus memegangi penisku. Tanpa malu-malu kuemut pentil Bik Miatun.<br />
&#8220;Ach.. Jon.. terus Jon..&#8221;<br />
Aku masih terus melakukan perintah Bik Miatun, setelah itu Bik Miatun kembali memasukkan penisku kedalam mulutnya. aku hanya bisa mendesah sambil memegangi rambut Bik Miatun.<br />
&#8220;Bik aku seperti mau pipis,&#8221; lalu Bik Miatun segera melepaskan kulumannya dan menyingkapkan jaritnya yang basah, kulihat Bik Miatun nggak memakai celana dalam.<br />
&#8220;Sini Jon..,&#8221; Bik Miatun mengambil posis duduk, lalu aku mendekat.<br />
&#8220;Sini.. masukkan penismu kesini.&#8221; sambil tangannya menunjuk bagian selakangannya.</p>
<p>Dibimbingnya penisku untuk masuk ke dalam vagina Bik Miatun.<br />
&#8220;Terus Jon tarik, dan masukkan lagi ya..&#8221;<br />
&#8220;Iya Bik&#8221; kuturuti permintaan Bik Miatun, lalu aku merasakan seperti pipis, tapi rasanya nikmat sekali.<br />
Setelah itu aku menyandarkan tubuhku pada tembok.<br />
&#8220;Jon.. gimana, tahu kan rasanya sekarang?&#8221; tanya Bik Miatun sambil membetulkan tali kancingnya.<br />
&#8220;Iya Bik..&#8221;jawabku.</p>
<p>Esoknya setiap isi rumah menjalankan aktivitasnya, aku selalu melakukan adegan ini dengan Bik Miatun. Saat itu hari Sabtu, kami nggak nyangka kalau Non Kristin pulang pagi. Saat kami tengah asyik melakukan kuda-kudaan dengan Bik Miatun, Non Kristin memergoki kami.<br />
&#8221; Hah? Apa yang kalian lakukan! Kurang ajar! Awas nanti tak laporkan pada papa dan mama, kalian!&#8221;<br />
Melihat Non Kristin kami gugup bingung, &#8220;Jangan Non.. ampuni kami Non,&#8221; rengek Bik Miatun.<br />
&#8220;Jangan laporkan kami pada tuan, Non.&#8221;<br />
Akupun juga takut kalau sampai dipecat, akhirnya kami menangis di depan Non Kristin, mungkin Non Kristin iba juga melihat rengekan kami berdua.<br />
&#8220;Iya sudah jangan diulangi lagi Bik!!&#8221; bentak Non Kristin.<br />
&#8220;Iy.. iya Non,&#8221; jawab kami berdua.</p>
<p>Esoknya seperti biasa Non Kristin selalu bangun siang kalau hari minggu, saat itu Bik Miatun juga sedang belanja sedang Pak Beny dan Istrinya ke Gereja, saat aku meyirami taman, dari belakang kudengar Non Kristin memanggilku,<br />
&#8220;Joon!! Cepat sini!!&#8221; teriaknya.<br />
&#8220;Iya Non,&#8221; akupun bergegas kebelakang tapi aku tidak menemukan Non Kristin.<br />
&#8220;Non.. Non Kristin,&#8221; panggilku sambil mencari Non Kristin.<br />
&#8220;Tolong ambilkan handuk dikamarku! Aku tadi lupa nggak membawa,&#8221; teriak Non Kristin yang ternyata berada di dalam kamar mandi.<br />
&#8220;Iya Non.&#8221;<br />
Akupun pergi mengambilkan handuk dikamarnya, setelah kuambilkan handuknya &#8220;Ini Non handuknya,&#8221; kataku sambil menunggu diluar.<br />
&#8220;Mana cepat..&#8221;<br />
&#8220;Iya Non, tapi..&#8221;<br />
&#8220;Tapi apa!! Pintunya dikunci..&#8221;</p>
<p>Aku bingung gimana cara memberikan handuk ini pada Non Kristin yang ada didalam? Belum sempat aku berpikir, tiba-tiba kamar mandi terbuka. Aku terkejut hampir tidak percaya Non Kristin telanjang bulat didepanku.<br />
&#8220;Mana handuknya,&#8221; pinta Non Kristin.<br />
&#8220;I.. ini Non,&#8221; kuberikan handuk itu pada Non Kristin.<br />
&#8220;Kamu sudah mandi?&#8221; tanya Non Kristin sambil mengambil handuk yang kuberikan.<br />
&#8220;Be..belum Non.&#8221;<br />
&#8220;Kalau belum, ya.. sini sekalian mandi bareng sama aku,&#8221; kata Non Kristin.</p>
<p>Belum sempat aku terkejut akan ucapan Non Kristin, tiba-tiba aku sudah berada dalam satu kamar mandi dengan Non Kristin, aku hanya bengong ketika Non Kristin melucuti kancing bajuku dan membuka celanaku, aku baru sadar ketika Non Kristin memegang milikku yang berharga.<br />
&#8220;Non..,&#8221; sergahku.<br />
&#8220;Sudah ikuti saja perintahku, kalau tidak mau kulaporkan perbuatanmu dengan Bik Miatun pada papa,&#8221; ancamnya.</p>
<p>Aku nggak bisa berbuat banyak, sebagai lelaki normal tentu perbuatan Non Kristin mengundang birahiku, sambil tangan Non Kristin bergerilya di bawah perut, bibirnya mencium bibirku, akupun membalasnya dengan ciuman yang lembut. Lalu kuciumi buah dada Non Kristin yang singsat dan padat. Non Kristin mendesah, &#8220;Augh..&#8221;<br />
Kuciumi, lalu aku tertuju pada selakangan Non Kristin, kulihat bukit kecil diantara paha Non Kristin yang ditumbuhi bulu-bulu halus, belum begitu lebat aku coba untuk memegangnya. Non Kristin diam saja, lalu aku arahkan bibirku diantara selakangan Non Kristin.<br />
&#8220;Sebentar Jon..,&#8221; kata Non Kristin, lalu Non Kristin mengambil posisi duduk dilantai kamar mandi yang memang cukup luas dengan kaki dilebarkan, ternyata Non Kristin memberi kelaluasaan padaku untuk terus menciumi vaginanya.</p>
<p>Melihat kesempatan itu tak kusia-siakan, aku langsung melumat vaginanya kumainkan lidahku didalm vaginanya.<br />
&#8220;Augh.. Jon.. Jon,&#8221; erangan Non Kristin, aku merasakan ada cairan yang mengalir dari dalam vagina Non Kristin. Melihat erangan Non Kristin kulepaskan ciuman bibirku pada vagina Non Kristin, seperti yang diajarkan Bik Miatun kumasukkan jemari tanganku pada vagina Non Kristin. Non Kristin semakin mendesah, &#8220;Ugh Jon.. terus Jon..,&#8221; desah Non kristin. Lalu kuarahkan penisku pada vagina Non Kristin.<br />
Bless.. bless.. Batangku dengan mudah masuk kedalam vagina Non Kristin, ternyata Non Kristin sudah nggak perawan, kata Bik Miatun seorang dikatakan perawan kalau pertama kali melakukan hubungan intim dengan lelaki dari vaginanya mengeluarkan darah, sedang saat kumasukkan penisku ke dalam vagina Non Kristin tidak kutemukan darah.</p>
<p>Kutarik, kumasukkan lagi penisku seperti yang pernah kulakukan pada Bik Miatun sebelumnya. &#8220;Non.. aku.. mau keluar Non.&#8221;<br />
&#8220;Keluarkan saja didalam Jon..&#8221;<br />
&#8220;Aggh.. Non.&#8221;<br />
&#8220;Jon.. terus Jon..&#8221;<br />
Saat aku sudah mulai mau keluar, kubenamkan seluruh batang penisku kedalam vagina Non Kristin, lalu gerkkanku semakin cepat dan cepat.<br />
&#8220;Ough.. terus.. Jon..&#8221;<br />
Kulihat Non Kristin menikmati gerakanku sambil memegangi rambutku, tiba-tiba kurasakan ada cairan hangat menyemprot ke penisku saat itu juga aku juga merasakan ada yang keluar dari penisku nikmat rasanya. Kami berdua masih terus berangkulan keringat tubuh kami bersatu, lalu Non Kristin menciumku.<br />
&#8220;Terima kasih Jon kamu hebat,&#8221; bisik Non Kristin.<br />
&#8220;Tapi aku takut Non,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Apa yang kamu takutkan, aku puas, kamu jangan takut, aku nggak akan bilang sama papa&#8221; kata Non Kristin. Lalu kami mandi bersama-sama dengan tawa dan gurauan kepuasan.</p>
<p>Sejak saat itu setiap hari aku harus melayani dua wanita, kalau di rumah hanya ada aku dan Bik Miatun, maka aku melakukannya dengan Bik Miatun. Sedang setiap Minggu aku harus melayani Non Kristin, bahkan kalau malam hari semua sudah tidur, tak jarang Non Kristin mencariku di luar rumah tempat aku jaga dan di situ kami melakukannya.<br />
sumber =</p>
<p>http://ceritaporno.thumblogger.com/home/log/2007/25/diantara-bik-miatun-dan-no.html<br />
E N D</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pembantu Baruku]]></title>
<link>http://ceritaseksindonesia.wordpress.com/2009/10/07/pembantu-baruku/</link>
<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 07:40:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>fotocewekcantik</dc:creator>
<guid>http://ceritaseksindonesia.wordpress.com/2009/10/07/pembantu-baruku/</guid>
<description><![CDATA[Cerita Seks indonesia &#8211; Pagi itu, setelah bermain golf di Ciracas, badanku terasa gerah dan le]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Cerita Seks indonesia &#8211; Pagi itu, setelah bermain golf di Ciracas, badanku terasa gerah dan lelah sekali karena, aku menyelesaikan delapan belas hole, biasanya aku hanya sanggup bermain sembilan hole, tetapi karena Ryan memaksaku untuk meneruskan permainan, maka aku jadi kelelahan seperti sekarang ini. Kupanggil Marni pembantuku yang sudah biasa memijatku, aku benar-benar merasa lelah karena semalamnya aku sempat dua kali “bertempur” dengan kenalanku di Mandarin, pasti nikmat rasanya dipijat dan selanjutnya berendam di air panas, langsung aku membuka pakaianku hingga hanya tinggal celana dalam dan langsung berbaring di atas tempat tidurku. Namun agak lama juga Marni tak muncul di kamarku memenuhi panggilanku melalui interkom tadi, biasanya Marni sangat senang bila aku suruh memijat karena disamping persenan dariku besar, dia juga sering kupijat balik yang membuat dia juga dapat merasakan kenikmatan yang satu itu.</p>
<p>Ketika kudengar langkah memasuki kamarku, aku langsung berkata, “Kok lama sih Mar, apa masih sibuk ya, ayo pijat yang nikmat!”.<br />
Tiba-tiba kudengar suara perempuan lain, “Maaf Pak, Mbak Marni masih belum kembali, apa bisa saya saja yang memijat?”.<br />
Aku meloncat duduk dan menoleh ke arahnya, ternyata di depanku berdiri pembantu lain yang belum pernah kukenal. Kuperhatikan pembantu baru ini dengan seksama, wajahnya manis khas gadis desa, dengan bibir tipis yang merangsang sekali. Ia tersenyum gugup ketika melihat aku memperhatikannya dari atas ke bawah itu. Aku tak peduli, mataku jalang menatap belahan dasternya yang agak rendah sehingga menampakkan sebagian payudaranya yang montok itu.</p>
<p>Dengan pelan kutanyai siapa namanya dan kapan mulai bekerja. Ternyata dia adalah famili Marni dari Kerawang namanya Neneng dan dia ke Jakarta karena ingin bekerja seperti Marni. Aku hanya mengangguk-angguk saja, ketika kutanya apakah dia bisa memijat seperti Marni, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kuperintahkan dia untuk menutup pintu kamar, sebenarnya tidak perlu pintu kamar itu ditutup karena pasti tak ada seorangpun di rumah, isteriku juga sedang pergi entah ke mana dan pasti malam hari baru pulang, tujuanku hanyalah menguji Neneng, apakah dia takut dengan aku atau benar-benar berani. Kuambil cream untuk menggosok tubuhku dan kuberikan pada Neneng sambil berkata “Coba gosok dulu badanku dengan minyak ini, baru nanti dipijat ya!”.</p>
<p>Aku membuka celana dalamku dan langsung telungkup di tempat tidur, sengaja pada waktu berjalan aku menghadap Neneng sehingga Neneng dapat juga melihat penisku, ternyata dia diam saja. Ketika aku sudah berbaring, dia langsung membubuhkan lotion itu di punggungku dan menggosokannya ke punggungku. Sambil memejamkan mata menikmati elusan tangan Neneng yang halus, aku mengingatkan dia agar menggosoknya rata ke seluruh badanku. Sambil berbaring aku minta Neneng menceriterakan tentang dirinya.</p>
<p>Ternyata Neneng seorang janda yang belum mempunyai anak, suaminya lari dengan perempuan lain yang kaya raya dan meninggalkan dia. Karena itu dia lebih suka ke Jakarta karena malu.<br />
Aku berkata kepadanya, “Jangan kuatir, kalau begitu kapan-kapan kamu mesti kembali ke desamu dengan banyak uang supaya bekas suamimu tahu kalau kamu sekarang sudah kaya dan bisa membeli laki-laki untuk jadi suamimu!”. Neneng tertawa mendengar perkataanku itu. Ketika itu Neneng sudah mulai menggosok bagian pantatku dengan lotion, tangannya dengan lembut meratakan lotion tersebut ke seluruh pantatku bahkan juga di sela-sela pantatku diberinya lotion itu sehingga kadang-kadang tangannya menyenggol ujung pelirku. Aku jadi tegang dengan gosokan Neneng ini, tetapi aku diam saja namun akibatnya posisiku jadi tidak enak, karena posisiku yang tengkurap membuat penisku yang berdiri tegak itu jadi tertekan dan sakit sekali. Aku jadi gelisah karena penisku rasanya mengganjal. Neneng yang melihat aku gelisah itu bertanya apakah gosokannya kurang betul. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.</p>
<p>Ketika aku bertanya lagi apakah isteri baru suaminya itu cantik, Neneng hanya menjawab dengan tertawa katanya, “Cantik atau tidak yang penting uangnya banyak, kan suami saya bisa numpang nikmat!”, Ketika Neneng sudah menggosok badanku sampai ke kaki, dia bertanya, “Apa sekarang mulai dipijat pak?”. Aku langsung berbalik telentang sambil berkata, “Sekarang yang bagian depan juga diberi minyak ya!”. Aku sengaja memejamkan mata sehingga aku tak tahu bagaimana sikap Neneng melihat bagian depan tubuhku yang telanjang itu, apalagi penisku sudah berdiri penuh mendongak ke atas dengan ujungnya yang seperti jamur raksasa itu. Neneng tidak banyak berbicara, tetapi ia mulai menggosok bagian dadaku dengan lotion yang harum itu, ketika aku membuka mata, kulihat buah dadanya yang montok tepat berada di depan mataku, bahkan karena potongan dusternya rendah, aku bisa melihat celah buah dadanya yang terjepit diantara beha yang dipakainya.</p>
<p>Ketika gosokan Neneng sampai di selangkanganku, Neneng membubuhi sekitar bulu penisku dengan lotion tersebut, begitu juga dengan buah pelirku yang dengan lembut diberinya lotion tersebut. Saat itu Neneng berkata “maaf pak, apakah burungnya juga digosok?”. Aku tak menyahut tetapi aku hanya mengangguk saja. Tanpa ragu Neneng membubuhi ujung penisku dengan lotion tersebut, terasa dingin, kemudian Neneng mulai meratakannya ke seluruh batang penisku dengan lembut sekali, bahkan dia menarik kulit penisku sehingga lekukan di antara kepala dan batang kenikmatanku juga diberinya minyak.</p>
<p>Ketika itulah aku membuka mataku dan memandang Neneng, ketika dilihatnya aku memandangnya, Neneng tersenyum dan tertunduk sementara tangannya terus mengurut penisku itu. Aku sudah tak kuat lagi menahan keinginanku, kutahan tangannya dan kusuruh Neneng untuk membuka pakaiannya. Neneng yang sudah janda rupanya langsung paham dengan keinginanku, wajahnya memerah, tetapi ia langsung bangkit dan membuka dusternya. Aku duduk di tepi tempat tidur memperhatikan badan Neneng yang hanya dilapisi beha mini dan celana dalam mini yang kurasa pasti pemberian isteriku. Buah dadanya membusung keluar karena beha yang diberikan isteriku nampaknya kekecilan sehingga tak dapat menampung payudaranya yang montok itu.</p>
<p>Aku berdiri mendekati Neneng dan kupeluk dia serta kubuka pengait behanya, payudaranya yang montok dan kenyal itu tergantung bebas menampakkan garis merah bekas terjepit beha yang kekecilan itu, tetapi payudaranya sungguh kenyal dan gempal sama sekali tidak turun dengan putingnya yang mendongak ke atas. Ketika kurogoh celana dalamnya kurasakan bulu vaginanya cukup rimbun sementara ketika jariku menyentuh clitorisnya,,,,, kita lanjut<a href="http://cerita.modelperawan.com"> cerita dewasa</a>nya? lanjuuttt..</p>
<p>Neneng seperti terlonjak dan merapatkan badannya ke dadaku, kurasakan vagina Neneng kering sekali sama sekali tak berair. Kukecup puting susu Neneng sambil kedua tanganku menurunkan celana dalamnya itu. Ketika kutarik Neneng ke tempat tidur, Neneng meronta katanya, “Pak saya takut hamil!” Kujawab enteng, jangan kuatir, kalau hamil tanggung jawab Bapak!”. Mendengar hal ini barulah dia mau kubaringkan di atas tempat tidurku, sambil menutupi matanya dengan tangan. Kupuaskan mataku memandang kemolekan gadis desa ini, aku langsung menyerbu vaginanya yang ditutupi bulu yang cukup rimbun itu, kuciumi dan kugigit pelahan bukit cembung yang penuh bulu itu,</p>
<p>Neneng merintih pelan, apalagi ketika tanganku mulai mengembara menyentuh puting susunya. Neneng hanya menggigit bibir sementara tangannya tetap menutupi wajahnya, mungkin dia masih malu. Ketika aku berhasil menemukan clitorisnya, aku langsung menjilatinya begitu juga dengan bibir vaginanya kujadikan sasaran jilatan. Mungkin karena merasa geli yang tak tertahankan, tangan Neneng mendorong pundakku agar aku tak meneruskan gerakanku itu, begitu juga dengan pahanya yang terus akan dirapatkan, tetapi semua ikhtiar Neneng tak berhasil karena tanganku menahan agar kedua pahanya itu tak merapat. Akibatnya Neneng hanya bisa menggerak gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan menahan geli. Tetapi lama-kelamaan justru aku yang jadi tak tahan dengan semua ini, kuhentikan jilatanku dan segera kutindih Neneng sambil mengarahkan penisku ke liang vaginanya.</p>
<p>Melihat aku kesulitan memasukkan ujung penisku, Neneng dengan malu-malu menuntun penisku ke arah liangnya dan menepatkannya di ujung bibir vaginanya. Ketika itu dia berbisik, “Sudah pas pak”. Aku langsung mendorong pantatku agar supaya penisku bisa masuk yang disambut juga oleh Neneng dengan sedikit mengangkat pahanya sehingga.., sleep.., bles.., penisku terbenam seluruhnya di liang vagina Neneng yang seret itu, belum sempat aku menggerakkan penisku, Neneng sudah mulai memutar mutar pantatnya sehingga ujung penisku rasanya seperti dilumat oleh liang vagina Neneng itu. Aku mendengus keenakan, bibirku mencari puting susu Neneng dan mulai mengulumnya. Sambil mendesah desah Neneng berkata, “Ayo pak, digoyang, biar sama sama nikmat nya!”. Aku terkejut melihat keberanian Neneng menyuruh aku bekerja sama dalam permainan ini. Tetapi justru ini membuat aku makin terangsang, meskipun profesinya hanya pembantu, tetapi cara main Neneng benar benar memuaskan. Vaginanya tak henti henti meremas penisku membuat aku jadi ngilu, aku sudah paham bahwa orang desa secara naluri sudah mempunyai kemampuan seks yang hebat, jadi untuk aku kemampuan Neneng benar benar sulit dicari bandingannya.</p>
<p>Ketika kurasakan air maniku hampir memancar, aku berbisik pada Neneng agar berhenti menggoyang pantatnya supaya aku dapat lebih merasakan kenikmatan ini. Tetapi Neneng justru makin cepat menggoyangkan pantatnya serta meremas-remas penisku sehingga tanpa dapat ditahan lagi air maniku memancar dengan derasnya memenuhi vagina Neneng. Saat itu juga Neneng mencengkeram punggungku keras keras dan kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat sekali, matanya terbeliak sambil mendesis. Rupanya aku dan Neneng mencapai puncaknya pada saat yang bersamaan. Setelah beberapa menit diam, kurasakan Neneng pelan pelan mulai meremas-remas punggungku sambil menempelkan pipinya ke pipiku. Dengan tersipu-sipu dia bercerita kalau dia senang bisa mendapat rejeki ditiduri olehku, karena sejak di desa dulu dia memang nafsunya besar, sehingga suaminya sampai kerepotan melayani nafsunya yang luar biasa itu. Sekarang ini dia benar-benar baru merasakan puas yang sebenarnya setelah main denganku.</p>
<p>Aku terhanyut oleh caranya yang mesra itu, namun aku tak ingin main lagi saat itu karena aku tadinya benar-benar hanya mau pijat dan melemaskan ototku, kalau sampai harus seperti ini, semuanya hanya gara-gara ada vagina baru di rumah yang tentunya tak dapat aku biarkan. Setelah kuberi dia uang 200 ribu, kusuruh Neneng keluar, Neneng sangat terkejut melihat jumlah uang yang kuberikan, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan keluar dari kamarku. Sekeluarnya Neneng, aku kembali berbaring telanjang bulat diatas ranjangku sambil memejamkan mata, badanku terasa enteng karena terlalu banyak <a href="http://ceritaseksindonesia.wordpress.com/">seks</a>. sekian dulu cheersss&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
