<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cerita-sex &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/cerita-sex/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cerita-sex"</description>
	<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 09:03:29 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[http://baliwalk.wordpress.com/ pindah ke http://baliwalk.comze.com/]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/26/httpbaliwalk-wordpress-com-pindah-ke-httpbaliwalk-comze-com/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 06:13:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/26/httpbaliwalk-wordpress-com-pindah-ke-httpbaliwalk-comze-com/</guid>
<description><![CDATA[Bagi pembaca setia http://baliwalk.wordpress.com/ saya umumkan bahwa BLOG ini akan segera pindah ke ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bagi pembaca setia http://baliwalk.wordpress.com/ saya umumkan bahwa BLOG ini akan segera pindah ke ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perawanku Jebol Saat SMA]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/26/perawanku-jebol-saat-sma/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 05:57:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/26/perawanku-jebol-saat-sma/</guid>
<description><![CDATA[Karena aku sering baca cerita dewasa untuk membangkitkan gairah seksku, kini giliran aku berbagi pen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Karena aku sering baca cerita dewasa untuk membangkitkan gairah seksku, kini giliran aku berbagi pen]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ Friday The 13th]]></title>
<link>http://kombet.wordpress.com/2009/11/25/friday-the-13th/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 08:22:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>kombet</dc:creator>
<guid>http://kombet.wordpress.com/2009/11/25/friday-the-13th/</guid>
<description><![CDATA[Rumah kost di kawasan elit itu terlihat tak berbeda dengan rumah lain di blok yang sama. Bertingkat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rumah kost di kawasan elit itu terlihat tak berbeda dengan rumah lain di blok yang sama. Bertingkat dua, dengan beberapa kamar sewaan berkelas, dan garasi besar yang muat untuk beberapa mobil. Namun di dalamnya, sedikit agak berbeda. Meski tidak banyak yang tahu apa bedanya.</p>
<p>&#8220;Selamat pagi!&#8221; Seru seorang wanita muda yang sedang menuruni tangga putar dengan terburu-buru.<br />
&#8220;Pagi.&#8221; Jawab tiga orang lainnya yang sedang duduk mengelilingi meja makan.</p>
<p>Dengan masih terburu-buru wanita muda berambut coklat itu menarik salah satu kursi dan duduk menghadap ke segelas besar susu coklat dan dua butir telur rebus.</p>
<p>&#8220;Kok buru-buru, Dee?&#8221; Tanya seorang pria berkemeja hitam yang sejak tadi sudah sibuk dengan sarapan paginya.<br />
&#8220;Iya, nih, hampir telat.&#8221; Jawab wanita muda yang dipanggil Dee itu sembari mengetuk-ngetuk telur rebusnya dengan sebuah sendok kecil. Wajahnya yang manis masih tampak dipenuhi ekspresi gugup, khas orang yang sedang terlambat.<br />
&#8220;Emangnya ada apa?&#8221; Tanya seorang wanita jangkung berpakaian khas wanita karir yang juga sudah sejak tadi duduk di situ.<br />
&#8220;Ada kerjaan yang mesti aku selesaikan siang ini, Mbak.&#8221; Jawab Dee sambil mengupas telur rebusnya.<br />
&#8220;Emangnya kerjaan apa sih?&#8221; Tanya seorang bapak berkaos kuning yang duduk di sudut meja.<br />
&#8220;Eng, sebenarnya proyek lama sih, Pak.&#8221; Jawab Dee, &#8220;Cuman saya lupa mengerjakannya, eh, tahu-tahu udah deadline.&#8221;<br />
&#8220;Ooo, gitu.&#8221; Jawab yang lainnya menggumam dan meneruskan sarapan, seperti sudah terbiasa dengan tabiat Dee.<br />
Jam dinding berbentuk kepala kambing masih menunjukkan pukul enam pagi.</p>
<p>&#8220;Pagi semuanya!&#8221; Sapa suara seorang pria dengan nada malas dari atas tangga putar.<br />
Semua yang duduk mengelilingi meja makan mendongak ke arah tangga putar besar di sudut ruang makan itu dan balas menyapa.<br />
&#8220;Kok belum mandi, Ray?&#8221; Tanya bapak berkaos kuning yang rupanya adalah pemilik rumah kos itu, &#8220;Mabuk lagi, ya?&#8221;.<br />
Yang ditanya tidak segera menjawab. Pria itu menuruni tangga pelan-pelan, dari kusutnya rambut, wajah, dan kaos oblong yang dikenakannya, tampak jelas bahwa pria yang dipanggil Ray ini masih belum lama bangun dari tidurnya.</p>
<p>Ray duduk di samping wanita jangkung berpakaian kerja tadi, dan mencomot segelas air putih tidak dingin di depannya.<br />
&#8220;Eh, kok minum punya orang lain sih?&#8221; Seru si wanita itu dengan agak jengkel, &#8220;Udah bekas aku, tahu?&#8221;<br />
&#8220;Hehehe, justru itu!&#8221; Ujar si Ray, &#8220;Aku malah nyari yang ada bekas lipstiknya Mbak Sari.&#8221;<br />
&#8220;Kok nggak langsung aja sekalian?&#8221; Tanya pria berkemeja hitam yang duduk di sisi lain meja makan, &#8220;Rugi kalo cuman gelasnya.&#8221;<br />
&#8220;Alaa, bilang aja kalau elo juga pengen!&#8221; Jawab Ray sekenanya sambil ngeloyor pergi ke kamar mandi.</p>
<p>Wanita jangkung yang dipanggil Mbak Sari itu menyorotkan mata tajamnya pada si pria berkemeja hitam.<br />
&#8220;Eh, apa salahku? Kan dia yang ngomong!&#8221; Tanya pria itu dengan wajah innocent. Tapi Sari malah tersenyum.<br />
&#8220;Wah, aku udah terlanjur ge-er tadi, Neo.&#8221; Ujar Sari diikuti tawa kecil yang terdengar seperti tawa hantu.<br />
Pak Wir, bapak kost itu ikut tersenyum melihat wajah Neo yang kini pucat, kontras dengan kemeja hitamnya.</p>
<p>&#8220;OK, aku pergi dulu, dadaa semuanya!&#8221; Seru Dee sambil berdiri dengan terburu-buru dan berlari ke pintu keluar. Karena terburu-buru, ia tak menyadari kalau kaos ketatnya tersingkap, mempertontonkan sedikit kehalusan pinggang dan punggungnya.<br />
&#8220;Hati-hati di jalan.&#8221; Kata Pak Wir pada anak kostnya itu, tentu sambil melotot ke arah kaos yang tersingkap tadi.<br />
&#8220;Iya, hati-hati! Biar ntar malam tetap fit untuk Pak Wir!&#8221; Canda Sari keras-keras, yang disambut tawa terbahak oleh Neo dan wajah cemberut Pak Wir.<br />
&#8220;Kok tahu sih?&#8221; Bisik Pak Wir setelah Dee keluar dari ruangan.<br />
&#8220;Alaa, Pak Wir nggak usah sok deh!&#8221; Jawab Neo, &#8220;Siapa yang semalam ngintip Dee di kamar mandi?&#8221;<br />
&#8220;Enak aja! Bukan saya itu!&#8221; Seru Pak Wir membela diri.<br />
&#8220;Iya, Neo. Pak Wir bener kok, dia nggak ngintip Dee.&#8221; Jawab Sari dengan nada penuh pembelaan, &#8220;Yang dia intip itu aku!&#8221;<br />
Mengakhiri kalimatnya, Sari berdiri dan berjalan ke arah dispenser, mengambil air minum di gelas baru karena gelasnya yang tadi sudah dipakai oleh Ray. Pak Wir tampak tersipu sementara Neo tersenyum nakal mengejeknya.</p>
<p>&#8220;OK, aku pergi duluan yah!&#8221; Seru Sari sambil mengeringkan tangan setelah mencuci peralatan makannya di wastafel.<br />
Tubuh jangkung semampai yang tertutup blazer biru muda itu melenggang ke pintu keluar, rok span pendek yang membalut pinggulnya tampak bergoyang-goyang mengikuti gerakan kedua tungkainya yang jenjang terbungkus stocking transparan.<br />
&#8220;Ngeliat apa kalian?&#8221; Bentak Sari sambil tiba-tiba membalikkan badan.<br />
Pak Wir dan Neo yang sejak tadi memelototi wanita itu jadi salah tingkah dan pura-pura sibuk dengan sarapannya.<br />
Dengan tawa lepas, Sari meninggalkan ruangan.</p>
<p>&#8220;Lho, udah pada cabut semua nih, bidadari-bidadarinya?&#8221; Tanya Ray yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil membawa handuk, segumpal pakaian kotor, dan cangkir plastik kecil berisi sikat gigi. Meski sudah mandi bersih, jalannya tetap saja gontai karena pengaruh alkohol dan obat-obatan yang dipakainya tiap hari.<br />
&#8220;Masih ada yang satu lagi kan, Ray?&#8221; Jawab Pak Wir sambil membereskan peralatan makannya.<br />
&#8220;Iya, nih.&#8221; Sahut Neo, &#8220;Khristi kok belum bangun yah, udah enam seperempat.&#8221;<br />
&#8220;Wah, pasti kecapean semalam.&#8221; Kata Ray sambil berjalan naik lewat tangga putar.<br />
Pak Wir dan Neo berpandangan sejenak dengan wajah bingung.<br />
&#8220;Emangnya semalam dia tidur di kamar elo?&#8221; Seru Neo agak keras agar Ray yang berada di lantai dua bisa mendengarnya.<br />
&#8220;Iyaa!&#8221; Terdengar teriakan Ray dari lantai dua.<br />
Pak Wiro dan Neo kembali berpandangan dengan wajah bingung.</p>
<p>&#8220;Ah, nggak usah dipikirin deh Boss.&#8221; Ujar Neo, &#8220;Mendingan kita omongin rencana buat tanggal 13 nanti.&#8221;<br />
&#8220;Iya, yah. Bener juga.&#8221; Jawab Pak Wir sambil mengisi tembakau di pipanya dan mulai merokok ala Sherlock Holmes.<br />
&#8220;Sebenernya gimana rencana utamanya?&#8221; Tanya Neo sambil mencuci piringnya di wastafel.<br />
&#8220;Gini, tanggal 13 nanti kan Big Boss datang, nah, dia mau nginap di sini.&#8221; Pak Wir memulai ceritanya.<br />
&#8220;Nginap di sini?&#8221; Sahut Neo agak kaget, &#8220;Wah, kita mesti kasih sambutan dong?&#8221;<br />
&#8220;Ya justru itu yang aku pikirin.&#8221; Jawab Pak Wir sambil mengelus-elus rambut ubannya, &#8220;Kamu tahu apa yang dia inginkan, toh?&#8221;<br />
&#8220;Tahu sih,&#8221; Jawab Neo kembali ke kursinya, &#8220;Tapi apa anak-anak sini ada yang bisa?&#8221;<br />
&#8220;Itulah.&#8221; Jawab Pak Wir menghembuskan asap pipanya ke atas, &#8220;Sari dan Dee udah nggak mungkin, tadinya aku harap Khristi bisa, tapi kayaknya Ray udah mengacaukan rencana kita nih.&#8221;<br />
&#8220;Hmm&#8230;belum tentu juga sih.&#8221; Kata Neo sambil menyiapkan tas kerjanya di meja, &#8220;Apa Sari dan Dee udah jelas nggak bisa?&#8221;<br />
&#8220;Ya udah pasti.&#8221; Jawab Pak Wir sambil mengencangkan ikatan sarungnya, &#8220;Si Dee, sejak ketemu dengan segerombolan preman dulu, dia jadi hidup rada bebas sekarang, sementara si Sari&#8230;yah, kamu tahu reputasi dia lah.&#8221;<br />
&#8220;Ooh, si Big Boss itu mintanya yang masih ting-ting, yah?&#8221; Tebak Neo.<br />
&#8220;Begitulah.&#8221; Jawab Pak Wir, &#8220;Sulit nyarinya kan? Belum lagi yang secara sukarela mau menyerahkan diri pada dia.&#8221;<br />
&#8220;Apa harus sukarela?&#8221; Tanya Neo sambil menutup resleting tas kerjanya.<br />
&#8220;Nggak sih, ya cuman nggak tega aja melihat orang terpaksa.&#8221; Jawab Pak Wir dengan nada bijaksana.<br />
&#8220;Hmm.&#8221; Sebersit senyum dingin tampak di wajah Neo, &#8220;Aku sih malah lebih suka ngeliat yang kepaksa.&#8221;<br />
&#8220;Mending kita omongin lagi ntar malam deh.&#8221; Jawab Pak Wir, &#8220;Ntar kamu telat juga, lho.&#8221;<br />
Neo segera menenteng tas laptopnya dan meninggalkan ruangan.</p>
<p>&#8220;Pagi Pak Wir.&#8221; Sapa suara seorang wanita dari tangga putar. Pak Wir menengok ke arah situ.<br />
&#8220;Pagi, Khristi.&#8221; Jawab pria setengah baya itu sambil matanya berusaha mengamati gadis manis yang sedang menuruni tangga putar itu. Gadis itu berwajah manis dengan senyuman misterius dan cerdas, khas wanita yang lama tinggal di negeri orang. Cara berjalannya pun anggun, namun pagi ini Khristi tampak agak aneh berjalannya.<br />
&#8220;Khristi, kamu kenapa kok jalannya gitu?&#8221; Tanya Pak Wir tiba-tiba.<br />
&#8220;Eh&#8230;Engg&#8230;Nggak apa-apa kok, Pak.&#8221; Jawab Khristi sambil duduk di kursi makan.<br />
Pak Wir hanya diam, namun matanya meneliti tubuh gadis di hadapannya. Dilihatnya leher jenjang gadis itu putih bersih dan halus, namun agak di samping kiri tampak bekas merah, seperti bekas cupang, tertutup oleh rambut indahnya yang tergerai sebahu. Pasti ulah si Ray, pikir Pak Wir.<br />
&#8220;Semalam kamu tidur sama Ray?&#8221; Tanya Pak Wir tanpa tedeng aling-aling.<br />
&#8220;Iya.&#8221; Jawab Khristi sambil menyeruput secangkir kopi, tanpa tedeng aling-aling juga.<br />
&#8220;Gimana, gimana, gimana?&#8221; Tanya Pak Wir penuh semangat sambil mengeluarkan kertas dan bolpen dari saku kaos kuningnya.<br />
&#8220;Ahh, Pak Wir ini pengen tau aja!&#8221; Jawab Khristi tersenyum, &#8220;Mau ditulis di website yah?&#8221;<br />
&#8220;Hehehehe&#8230;&#8221; Pria gemuk itu tertawa renyah, &#8220;Siapa tahu ceritanya seru.&#8221;<br />
&#8220;Wah, seru sekali pokoknya!&#8221; Seru Ray yang ternyata sudah berada di tangga putar, &#8220;Dunia seperti milik berdua!&#8221;<br />
Khristi tampak tersipu ketika Ray duduk di sampingnya dan mengecup kening gadis manis itu.<br />
&#8220;Hmmm&#8230;&#8221; Khristi menggumam sambil memandangi langit-langit seolah berpikir-pikir, &#8220;Kalau sama Neo rasanya gimana yaaa?&#8221;<br />
Wajah Ray tampak memerah, sementara Pak Wiro terkekeh.<br />
&#8220;Kalau mo tanya tentang macam-macam rasa, tanya sama si Sari tuh!&#8221; Seloroh Pak Wir, &#8220;Dia tahu tempat memilih barang bagus, yang belum terkontaminasi obat dan tidak berbau alkohol.&#8221;<br />
Wajah Ray tampak makin memerah.</p>
<p>*****</p>
<p>Malam tiba, garasi rumah besar yang seharian kosong itu kembali terisi oleh beberapa mobil penghuninya. Plat-plat nomor polisi di mobil-mobil itu menunjukkan sikap posesif para pemiliknya, seperti N 30 SN, S 4 RI, W 1 RO, D 33 PE, atau R 4 Y.</p>
<p>&#8220;Masuk, nggak dikunci!&#8221; Seru Sari ketika mendengar ketukan di pintu kamarnya.<br />
Pintu terbuka, dan tampak Neo berdiri di situ.<br />
&#8220;Masuk aja.&#8221; Sari menyilakan, sambil tetap membersihkan make-up pada wajah tirusnya di depan cermin rias di sudut kamar.<br />
Neo melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Suara nafasnya terdengar agak keras karena situasi di kamar itu hening dan dingin oleh suhu AC. Pria itu memandang berkeliling, mendapati dinding dan langit-langit yang dicat hitam. Di sudut ruangan tampak sekantong pakaian kotor yang siap di-laundry, di sisi lain tampak sebuah meja rias panjang yang juga berfungsi sebagai meja kerja, dengan seperangkat palmtop, laptop, dan telepon seluler dihubung-hubungkan dengan beberapa kabel pendek.<br />
&#8220;Mau membuktikan omongan si Ray tadi pagi yah?&#8221; Cerocos Sari sambil tetap memandangi wajahnya sendiri di depan cermin.<br />
Neo tetap diam. Ia menatap tubuh wanita langsing itu dari belakang. Lingerie hitam nyaris transparan samar-samar menutupi keindahan tubuh pemakainya. Mata Neo terpaku pada sepasang tungkai jenjang yang telanjang bersilang, begitu halus dan bersih kedua paha itu. Pikiran pria itu segera melayang kesana kemari.</p>
<p>Sari berdiri dan membalikkan badannya menghadap ke Neo, hingga pria itu kini leluasa melihat segalanya, yang hanya terlapisi oleh lingerie hitam agak transparan. Namun sikap dan ekspresi wajah Sari tampak menganggap kondisi itu wajar saja.<br />
&#8220;Tumben main ke kamarku.&#8221; Ujar wanita itu sambil tersenyum dan melangkah mendekati Neo yang berdiri terpaku di depan pintu.<br />
Setelah keduanya berhadapan begitu dekat, Sari mencolek dagu Neo, membuat wajah pria itu terangkat agak ke atas hingga matanya bertatapan dengan mata Sari yang agak lebih tinggi.<br />
&#8220;Kamu keren pakai kaos hitam begini.&#8221; Puji Sari sekenanya, karena memang Neo tidak punya baju berwarna selain hitam.<br />
Neo tersenyum dingin, matanya menyorot tajam ke arah mata Sari yang juga tidak kalah tajam. Sari malah mendekatkan wajahnya dan makin tajam memelototi Neo.<br />
&#8220;Udah, nggak usah pakai ini segala!&#8221; Ujar Sari sambil merogoh kantong celana Neo dan mengeluarkan sebuah borgol.<br />
&#8220;Ini juga nggak usah dipakai!&#8221; Ujar wanita itu lagi sambil merampas cambuk dari tangan kanan Neo dan membuangnya ke lantai.<br />
&#8220;Duduk situ!&#8221; Sari menyuruh Neo seperti menyuruh anak kecil, &#8220;Mau ngomong apa kamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada yang pengen aku omongin.&#8221; Ujar Neo setelah duduk di sofa yang terhampar di sudut kamar Sari yang dindingnya dicat hitam itu.<br />
&#8220;Kok kayaknya serius amat sih?&#8221; Jawab Sari sambil melempar tubuh lencirnya ke atas springbed di samping sofa tempat Neo duduk.<br />
&#8220;Ya, emang serius.&#8221; Jawab Neo, &#8220;Pak Wir pengen ngomong sama kita.&#8221;<br />
&#8220;Lho, kan uang sewa udah aku bayar di muka untuk setahun?&#8221; Cerocos Sari dengan nada tidak terima.<br />
&#8220;Bukan tentang itu.&#8221; Jawab Neo lagi, &#8220;Tapi tentang Jumat malam.&#8221;<br />
Sari menjulurkan lengannya yang panjang ke meja rias meraih Palm IIIcnya yang tergeletak disitu.<br />
&#8220;Oh, iya yah, jatuh pas tanggal tigabelas.&#8221; Gumamnya setelah melihat kalender di komputer sakunya itu, &#8220;Emang apa bedanya dengan Jumat tanggal 13 yang tahun lalu?&#8221;<br />
&#8220;Bedanya adalah&#8230;&#8221; Neo menghela nafas panjang dan menyandarkan kepala di sandaran sofa, &#8220;Big Boss datang.&#8221;<br />
&#8220;Kan emang tiap Jumat tanggal 13 dia selalu datang?&#8221; Jawab Sari sambil mengembalikan Palm-nya ke meja rias.<br />
&#8220;Iya sih,&#8221; Jawab Neo lagi, &#8220;Kali ini dia mampir dan nginep disini.&#8221;<br />
Wajah Sari yang biasanya tampak tajam itu kini agak mengekspresikan kekhawatiran dan ketakutan, sesuatu yang jarang terpancar dari wajah tirusnya.</p>
<p>*******</p>
<p>Kamar mandi di lantai bawah. Agak terlalu besar untuk dijadikan hanya kamar mandi, memang. Itu sebabnya para penghuni rumah itu meletakkan mesin cuci di situ, dan menjadikannya ruang cuci, sekaligus kamar mandi darurat.</p>
<p>&#8220;Ehhh, Pak Wir genit amat sihhhh!&#8221; Desah Dee ketika Bapak kost itu menggelitik pinggangnya.<br />
&#8220;Hihihi.&#8221; Pak Wir terkekeh, &#8220;Abis kamu sih, masa nyuci baju aja mesti pakai kemeja ketat gitu.&#8221;<br />
Dee sedang membungkuk di depan mesin cuci yang berisi baju-bajunya. Tangannya yang masih dipenuhi busa deterjen itu membalas Pak Wir, menggelitik pinggang pria setengah baya itu.<br />
&#8220;Eits!&#8221; Seru Pak Wir sambil berkelit, namun kaos singletnya tetap terkena busa deterjen, &#8220;Yah, jadi basah nih.&#8221;<br />
&#8220;Hihihihi!&#8221; Dee tertawa nakal, &#8220;Nggak apa-apa kan, Pak! Biar keliatan transparan!&#8221;<br />
&#8220;Saya balas lho!&#8221; Seru Pak Wir sambil mencipratkan air dari mesin cuci ke arah Dee, membuat kemeja putih ketat yang dikenakan gadis itu jadi basah di bagian depannya.<br />
&#8220;Iiih! Dingin dong, Pak!&#8221; Seru Dee manja.<br />
&#8220;Kalau dingin, peluk saya doong!&#8221; Seru Pak Wir sambil tetap mencipratcipratkan air ke kemeja Dee hingga apa-apa yang di dalamnya kini tampak dari luar.<br />
&#8220;Iya deh!&#8221; Dee menubruk pria itu sambil memeluk erat-erat hingga keduanya jatuh berguling-guling di lantai porselin yang dingin. Keduanya basah kuyup dan tertawa-tawa.<br />
&#8220;Eh, pintunya dikunci dulu ya, Pak!&#8221; Ujar Dee yang tentu saja membuat Pak Wir mengangguk keras-keras.<br />
Dee berdiri untuk mengunci pintu, namun Pak Wir merengkuh pinggangnya dari belakang.<br />
Pria setengah baya bertubuh tambun itu mendekap erat Dee dari belakang dan menciumi tengkuk wanita muda itu. Tangannya pun tidak segan-segan meremas-remas pinggang Dee yang kini tertutup kemeja basah.<br />
&#8220;Ehh, sebentar doong&#8230;uhhh&#8230;kan pintunya mesti saya kunci dulu!&#8221; Ujar Dee sambil menggelinjang memberontak.<br />
&#8220;Iya deh, sana!&#8221; Pak Wir melepaskannya.<br />
Dee berlari menuju pintu, mengambil anak kunci, menutup pintu, dan mengunci dari luar.<br />
&#8220;Naah, sudah saya kunci ya pak!&#8221; Seru Dee sambil tertawa-tawa dari luar kamar mandi.<br />
&#8220;Eh, curang kamu yah!&#8221; Seru Pak Wir dengan nada tidak terima dan menyumpah-nyumpah.<br />
&#8220;Buka pintunya! Ada yang perlu saya omongin nih! Penting!&#8221; Teriak Pak Wir dari dalam kamar mandi.<br />
&#8220;Hihihi, tentang apa nih, Pak?&#8221; Jawab Dee sambil tertawa-tawa, &#8220;Kok kedengarannya serius? Hahahaha.&#8221;<br />
&#8220;Aku tidak ingin bercanda!&#8221; Jawab Pak Wir.<br />
Suasana mendadak hening. Pintu segera terbuka kembali, dan pria setengah baya itu tersenyum menatap apa yang dilihatnya di depan mata.<br />
Pintu tertutup dan kembali terkunci dengan sendirinya di belakang tubuh Dee yang kini tidak tertutupi selembar benangpun.<br />
&#8220;Naaah, kalau gini kan lebih enak ngomong-ngomongnya&#8221; Bisik Pak Wir di telinga Dee.</p>
<p>********</p>
<p>Kamar tidur besar berukuran 8 x 4 meter. Hitamnya cat pada dinding dan langit-langit memberikan kesan suram dan gelap pada kamar yang sebenarnya terang-benderang.</p>
<p>&#8220;Ooh, gitu toh maunya.&#8221; Ujar Sari setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Neo.<br />
&#8220;Iya, apa kira-kira kamu bisa bantu?&#8221; Tanya Neo sambil berdiri dari sofa, mengamati tubuh jangkung Sari yang tergeletak di tengah ranjang.<br />
&#8220;Hm&#8230;Mungkin bisa&#8230;mungkin juga enggak.&#8221; Jawab Sari menatap mata Neo tajam-tajam.<br />
&#8220;OK, ntar setelah selesai beres-beres turun yah?&#8221; Jawab Neo lagi, &#8220;Kita mungkin udah ditunggu sama Pak Wir.&#8221;<br />
Neo lalu melangkahkan kakinya ke pintu, namun langkahnya terhenti ketika bahunya terasa ditarik oleh jari-jari wanita. Pemuda itu membalikkan badan dan mendapati Sari masih setengah terbaring di tengah ranjang yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Mata wanita itu melirik ke arah pintu, anak kunci berputar, dan pintu terkunci.<br />
&#8220;Jangan keluar dulu, dong.&#8221; Ujar Sari datar. Wanita itu bangkit berdiri dan menarik lingerie hitamnya ke atas, dan melemparnya ke lantai, membiarkan Neo bisa melihat apa-apa yang ingin dilihatnya sejak tadi.</p>
<p>Secara refleks, Neo menarik kaosnya sendiri ke atas hingga terlepas, memamerkan otot-otot dadanya yang lumayan terlatih, dan melangkah mendekat. Sari kembali membaringkan tubuhnya di tengah ranjang, kedua tangannya merentang ke samping, kepalanya yang tak berbantal tampak menengadah ke atas, memejamkan mata seolah menyerahkan segalanya.<br />
&#8220;Biasanya tidak semudah ini.&#8221; Bisik Neo dalam hati.<br />
&#8220;Kali ini kamu beruntung.&#8221; Ujar Sari menjawab suara hati Neo, &#8220;Aku sedang capek dan ingin istirahat.&#8221;<br />
&#8220;Lantas?&#8221; Tanya Neo, masih di dalam hati.<br />
&#8220;Terserah kamu mau melakukan yang bagaimana.&#8221; Jawab Sari, sambil tetap dalam posisi semula.<br />
Neo membungkuk mengambil cambuk panjang tergulung rapi yang tadi dilemparkan oleh Sari, ia juga memungut borgol keemasan dari lantai. Diperlihatkannya kedua benda itu pada Sari, seolah meminta persetujuan, namun Sari tetap tak bergerak.</p>
<p>********</p>
<p>Lantai kamar mandi terasa dingin mengalasi punggung telanjang Dee. Wajah wanita muda itu mengekspresikan rasa nikmat tiada tara, bibirnya yang indah ternganga mendesahkan rintihan-rintihan memelas, kedua matanya setengah terbuka dan bola matanya agak terputar ke atas, menampakkan putihnya saja. Kedua buah dadanya yang kenyal sedang berada dalam kepalan tangan Pak Wir yang meremas-remas gemas. Pinggang gadis itu sedikit terangkat karena lutut-lututnya mengait leher pria setengah baya itu. Tubuh mereka bergoyang-goyang kencang mengikuti tusukan-tusukan cepat batang kejantanan yang kaku pada liang kewanitaan yang lembab basah.</p>
<p>&#8220;J-jadi&#8230;kamu sudah tahu r-rencana hari Jumat b-besokggh?&#8221; Seru Pak Wir sambil terus menggoyangkan badan menyodok-nyodokkan kejantanan pada tubuh mulus Dee.<br />
Sambil tetap meringis-ringis keenakan, wanita itu menganggukkan kepalanya. Gesekan-gesekan batang kokoh itu terasa begitu nikmatnya hingga mulut wanita itu tak mampu menyuarakan apa-apa selain erangan memelas.<br />
&#8220;K-kamu bisa p-pastikannn t-t-tidak ada&#8230;p-pengacau kannnn?&#8221; Seru Pak Wir lagi, sambil mempercepat goyangannya dan menjepit dua putik kecil di dada Dee dengan ibu jari dan telunjuknya.<br />
Dee makin liar merintih-rintih keras, gerakan badannya makin tak terkendali, menggeliat-geliat, kepalanya terbuang ke kiri dan kanan. Rambutnya yang basah oleh lantai kamar mandi terlihat begitu seksi menutupi sedikit dahinya.<br />
&#8220;B-B-Bisa nggakkkgh?&#8221; Tanya Pak Wir lagi, meyakinkan.<br />
&#8220;Uhhh&#8230;S-Saya b-b-bisaaaaahhh&#8230;&#8221; Rintih Dee sambil kedua tangannya memegangi punggung tangan Pak Wir yang meremas-remas buah dadanya yang ranum, &#8220;Oughhh&#8230;P-P-Pakkk&#8230;S-s-sayaa&#8230;aaaghhhhkkkk&#8230;&#8221;<br />
Bertepatan dengan rintihan panjang Dee, Pak Wir juga melolong panjang dan menyemprotkan isi kejantanannya ke dalam tubuh Dee, lalu keduanya mengejang sesaat.<br />
Dari luar ruangan terdengar suara seperti lolongan ****** yang menyayat kuping.</p>
<p>********</p>
<p>Dinginnya AC di kamar tidur itu tak lagi terasa oleh Sari. Wanita itu sedang terpejam-pejam menikmati perlakuan Neo padanya. Kedua tangan dan kakinya merentang ke sudut-sudut ranjang, terikat rapi oleh cambuk dan borgol milik Neo, membuatnya tak begitu leluasa menggeliatkan badan ketika rangsangan datang, ia hanya mampu mengerang dan memiringkan leher jenjangnya.</p>
<p>&#8220;Uhhhh&#8230;Neoooo&#8230;pleaseeee&#8230;&#8221; Rintih Sari dengan kening berkerut dan gigi menggeretak tak sabar.<br />
&#8220;Sabar dong, Non.&#8221; Jawab Neo santai, terdengar menjengkelkan, &#8220;Aku masih menikmati ini semua.&#8221;</p>
<p>Tangan pria itu memegang sebuah gelas sloki kosong, yang digerakkannya menelusuri tubuh telanjang Sari. Dinginnya kaki gelas yang merambati tubuhnya membuat Sari tergelinjang-gelinjang menahan geli, namun kaki dan tangannya yang terikat menghalangi geraknya. Entah sudah berapa kali kaki gelas itu merambati leher jenjangnya, menggelitik paha bagian dalamnya, atau berputar-putar di atas kedua puting susunya yang telah mengejang kaku. Butir-butir keringat dingin mulai menghiasi kulit halus wanita jangkung itu. Akhirnya, kaki gelas itu menuruni perutnya yang ramping, merambati rambut-rambut halus di selangkangannya, lalu turun lagi&#8230;turun lagi&#8230;lalu berhenti tepat di atas sebentuk bibir lunak yang melintang di tengah pangkal pahanya.</p>
<p>&#8220;Nggg&#8230;don&#8217;t stop there&#8230;pleaseee&#8230;&#8221; Terdengar kembali rintihan memelas dari bibir tipis Sari.<br />
&#8220;Hmm&#8230;tadinya sih mau terus turun, tapi aku tertarik dengan dua benda ini.&#8221; Jawab Neo sembari meletakkan gelas sloki itu di ranjang, membasahi jemarinya dengan keringat di pinggang Sari, lalu jemari kekar itu menjentik-jentikkan puting-puting susu Sari, membuat wajah pemiliknya kian memelas. Kedua alis wanita itu seperti mengumpul di keningnya, matanya terpejam rapat, giginya terkatup meski bibirnya ternganga. Kepalanya terbuang ke kiri kanan berusaha mati-matian menahan rangsangan rasa geli yang terasa begitu menyiksa karena tak mampu ditahan itu.</p>
<p>&#8220;Soo beautiful.&#8221; Ujar Neo sambil tersenyum menatap ekspresi &#8216;korban&#8217;-nya yang seperti perpaduan dari ekspresi kesakitan dan terangsang berat. Sesekali kuku tajam Neo menusuk puting-puting kecil itu. Rasa sakit yang sesekali muncul di tengah kenikmatan membuat wajah Sari kian merangsang, nafasnya tersentak-sentak, dan rintihannya tertahan-tahan. Neo menatap dengan nanar, pemandangan inilah yang dinantinantikannya sejak dulu.</p>
<p>Neo melepaskan kedua tonjolan kecil yang telah membengkak itu, memberi Sari kesempatan menarik nafas. Dada wanita itu naik turun mengikuti nafasnya yang terengah-engah agak lega ketika Neo menghentikan rangsangan mautnya. Namun wanita itu segera terjingkat-jingkat ketika Neo menyentuh-nyentuh bibir kewanitaannya dengan kaki gelas sloki tadi.<br />
Tubuh langsing yang terikat erat itu mengejang-ngejang menahan rangsangan yang semakin meledak-ledak. Wajahnya meringis menahan siksaan itu, jeritan-jeritan keras terdengar terpatah-patah tertahan. Kaki gelas sloki kecil itu bergerak melingkar-lingkar, menggesek, mengait-ngait bibir kewanitaan Sari, membuat tubuh pemiliknya mengejang-ngejang.<br />
Wanita itu tak lagi merasakan kenikmatan, melainkan rasa gatal yang amat geli yang membuatnya ingin segera mengatupkan kedua pahanya, namun ikatan di kakinya terlalu kuat. Perasaan dalam otaknya bercampur aduk, stress, gelisah, sekaligus amat sangat terangsang.</p>
<p>&#8220;Ohhh&#8230;Neoooo&#8230;pleaseee&#8230;stoppp&#8230;&#8221; Tanpa henti-hentinya bibir wanita itu menjerit-jerit histeris. Kadang-kadang giginya menggeretak keras, kadang-kadang matanya seperti melotot tajam dengan dua alisnya terangkat ke atas, kadang-kadang bola matanya berputar ke atas hingga hanya putihnya yang terlihat. Sekujur tubuh jangkung itu kini berkilat-kilat dibasahi keringat yang mengucur deras. Di selangkangan dan pangkal pahanya, bukan hanya keringat yang membasahi, cairan pelumas mengalir seperti membanjir dari liang kewanitaan yang bibirnya telah mengembang berdenyut-denyut oleh gesekan gelas itu.<br />
Sambil tersenyum, Neo mengambil sedikit leleran cairan kewanitaan Sari dengan jari dan menjilatnya. Lama kelamaan, pria itu mulai terangsang, celana hitamnya tak lagi mampu menyembunyikan tonjolan besar dari baliknya.<br />
Jeritan-jeritan Sari semakin tak terkontrol, berbagai sumpah serapah mengalir keluar dari bibir tipisnya di sela-sela erangan menyayat.</p>
<p>Tak ingin memperpanjang waktu, Neo melucuti pakaiannya sendiri. Ia berdiri mengamati tubuh korbannya yang terikat erat dengan kaki dan tangan merentang ke sudut-sudut ranjang. Tubuh indah dan ramping itu terbujur tegang, sesekali mengejang-ngejang seperti sekarat. Wajah yang tadinya begitu cantik kini tampak melotot mengekspresikan frustrasi yang amat sangat. Bibirnya komat-kamit menggumamkan sesuatu yang tak jelas terdengar.<br />
&#8220;Baik, permainan diakhiri.&#8221; Ujar Neo sambil merentangkan kedua tangannya ke udara.<br />
Borgol dan cambuk yang mengikat tangan dan kaki Sari terlepas. Diluar dugaan Neo, Sari segera melompat dari ranjang dan menerjang tubuh pria itu hingga jatuh terlentang di lantai. Seketika itu juga, wanita yang tampak kesetanan itu duduk di atas pinggul Neo, melesakkan tonggak kejantanan yang kaku itu pada liang berlumpur yang sedari tadi menunggu. Lalu dengan cepat dan terburu-buru, tubuh lencir yang dibasahi keringat itu bergerak naik turun sambil menjepit kejantanan Neo dengan otot-otot kewanitaannya. Tidak hanya itu, kedua telapak tangan wanita itu menutupi wajah Neo hingga ia tak dapat melihat apa yang terjadi, hanya merasakan otot kejantanannya seperti sedang diperas-peras oleh sesuatu yang lunak, kenyal, namun licin dan hangat. Terdengar juga oleh pria itu rintih dan erangan tertahan yang berangsur terdengar seperti lolongan panjang.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, Neo merasakan gerakan-gerakan cepat wanita itu terhenti tiba-tiba. Pada saat yang sama, ia menyemprotkan seluruh isi kejantanannya keluar. Membuatnya lemas sesaat.<br />
Ketika ia membuka mata, dadanya terasa perih. Garis-garis luka ringan menggores dadanya, mengalirkan sedikit darah. Ia memandang berkeliling, didapatinya Sari sudah berdiri di dekat pintu kamar dengan mengenakan kaos ketat putih dan celana pendek hitam tersenyum kepadanya.<br />
&#8220;Ayo, mungkin kita sudah ditunggu Pak Wir.&#8221; Seru Sari dengan datar, seolah tidak terjadi apa-apa barusan.</p>
<p>********</p>
<p>Meski malam hampir pagi, di ruang makan rumah besar itu lampu masih menyala terang benderang. Seandainya bisa berpikir, mungkin meja makan berbentuk elips itu kebingungan, untuk apa orang-orang mengelilinginya di waktu seperti ini.</p>
<p>&#8220;OK, aku rasa kalian sudah tahu masalahnya.&#8221; Pak Wiro angkat bicara sambil melangkah berkeliling ruangan, mengitari meja makan tempat di mana Neo, Sari, dan Dee duduk manis.<br />
&#8220;Hm&#8230;saya rasa gitu.&#8221; Jawab Neo, &#8220;Kita harus segera mencari hadiah untuk Boss itu kan?&#8221;<br />
&#8220;Benar!&#8221; Jawab Pak Wir keras, seraya meniupkan asap pipanya ke bawah, &#8220;Sebelum matahari terbenam.&#8221;<br />
&#8220;Kita masih punya waktu panjang.&#8221; Ujar Sari tenang, &#8220;Masih banyak yang bisa dilakukan.&#8221;<br />
&#8220;Tidak semudah itu!&#8221; Tukas Pak Wir, &#8220;Apalagi di jaman seperti sekarang ini.&#8221;<br />
&#8220;Engg&#8230;seandainya persembahan itu gagal diberikan, apa akibatnya?&#8221; Terdengar suara Dee bertanya.<br />
&#8220;Ia akan murka.&#8221; Sahut Neo, &#8220;Dunia akan kembali ke masa-masa yang tidak enak&#8230;sangat tidak enak, maksudku.&#8221;<br />
&#8220;Seberapa tidak enak?&#8221; Tanya Dee dengan wajah penuh perasaan ingin tahu.<br />
&#8220;Jauh lebih tidak enak dari yang kamu pernah bayangkan.&#8221; Ujar Sari lirih sambil matanya menerawang jauh ke langit-langit.<br />
&#8220;Apakah kita juga akan dirugikan karena kondisi tidak enak itu?&#8221; Tanya Dee ngotot.<br />
&#8220;Sebenarnya tidak.&#8221; Sahut Neo lagi.<br />
&#8220;Tapi orang-orang tak bersalah itu yang akan menanggung kemarahan Big Boss.&#8221; Sahut Pak Wir seperti menyambung omongan Neo.<br />
&#8220;Hm&#8230;Adakah pengganti persembahan itu?&#8221; Tanya Sari analitis, &#8220;Maksud saya, mungkin persembahan dalam bentuk selain kesucian dan kehormatan?&#8221;<br />
&#8220;Sebenarnya ada sih.&#8221; Jawab Neo ragu sambil menatap ke arah Pak Wir yang juga balik menatap ke arahnya.<br />
&#8220;Apa itu?&#8221; Tanya Dee tidak sabar.<br />
&#8220;Nyawa salah satu dari kita.&#8221; Jawab Pak Wir sambil menunduk lesu.<br />
Suasana kembali hening.</p>
<p>********</p>
<p>Matahari terbit, suasana di rumah besar itu tidak se-ceria pagi-pagi biasanya. Meja makan dikelilingi empat orang berwajah lesu dan tegang, yang duduk tanpa saling bicara.</p>
<p>&#8220;Selamat pagi!&#8221; Seru Khristi sambil berlari menuruni anak tangga di tangga putar.<br />
Keempat orang yang duduk mengelilingi meja makan itu melirik ke arahnya sambil hanya menyunggingkan sedikit senyum.<br />
&#8220;Ngg&#8230;aku salah omong ya?&#8221; Ujar Khristi merasa bersalah ketika mendapati wajah keempat orang yang dikenalnya itu seperti dipenuhi hawa yang aneh.<br />
&#8220;Nggak apa-apa kok, Khris.&#8221; Ujar Sari menghibur, &#8220;Cuman lagi omong-omong aja.&#8221;<br />
&#8220;Oh, diskusi toh?&#8221; Jawab Khristi sambil duduk di kursi makan dan mulai mengoleskan selai ke atas rotinya, &#8220;Tentang apa?&#8221;<br />
&#8220;Ngg, tentang perluasan rumah kost.&#8221; Jawab Dee sekenanya, berusaha menyembunyikan perkara. Sebagai yang paling junior di antara ketiga rekannya, ia merasa jeri juga dengan apa yang bakal terjadi malam nanti.<br />
&#8220;Waah, kebetulan dong!&#8221; Seru Khristi, yang disambut oleh tatapan bingung orang-orang lainnya, &#8220;Nanti malam akan ada beberapa teman kuliah yang menginap di sini mengerjakan tugas, siapa tahu mereka jadi tertarik kost di sini kalau sudah diperluas nantinya.&#8221;<br />
Serentak wajah-wajah keempat orang lainnya berubah menjadi ceria.</p>
<p>&#8220;Jam berapa mereka datang?&#8221; Tanya Sari.<br />
&#8220;Cowok apa cewek?&#8221; Tanya Dee.<br />
&#8220;Yang cewek, OK nggak orangnya?&#8221; Tanya Neo.<br />
&#8220;Kok pada rebutan ngomong sih?&#8221; Tanya Khristi balik, &#8220;Mereka datang ntar sore, dan mereka cewek semua, puas?&#8221;<br />
&#8220;Oh gitu, Khris.&#8221; Ujar Pak Wir dengan nada bijak, &#8220;Rencananya, kamu dan teman-teman nanti mau tidur di kamar mana?&#8221;<br />
&#8220;Oh, di kamar saya aja, Pak.&#8221; Jawab Khristi, &#8220;Nggak apa-apa kok dempet-dempetan.&#8221;<br />
&#8220;Pak Wir, mungkin ranjang-ranjang yang di gudang bisa dipindahin ke sini buat tidur teman-teman Khristi?&#8221; Tanya Sari dengan nada bersemangat, namun matanya melirik tajam, memberi isyarat pada teman lain.<br />
&#8220;Oh, ide bagus!&#8221; Jawab Pak Wir, &#8220;Gini saja, teman-temanmu boleh tidur di ruang makan kalau mereka mau, berapa orang sih?&#8221;<br />
&#8220;Aduh, nggak usah repot-repot.&#8221; Ujar Khristi sopan, &#8220;Cuman tiga orang kok, lagian cewek semua lagi. Kan takut tidur sendirian di ruang makan sebesar ini?&#8221;<br />
Mengakhiri kalimatnya itu, Khristi berpamitan dan segera berlari keluar meninggalkan rumah karena sudah hampir terlambat.<br />
&#8220;Gimana pendapat kalian?&#8221; Tanya Pak Wir sepeninggal Khristi.<br />
&#8220;Bisa diatur.&#8221; Ujar Neo singkat. Semuanya mengangguk-angguk tanda setuju.</p>
<p>&#8220;Hayooo! Apanya yang bisa diatur?&#8221; Terdengar suara Ray tiba-tiba.<br />
&#8220;Ray? Dari mana kamu?&#8221; Tanya Dee lugu.<br />
&#8220;Aku sedari tadi ada di kamar mandi, dan aku dengar semua yang kalian omongkan.&#8221; Jawab Ray merasa menang, &#8220;Kalian berencana ngerjain Khristi yaa?&#8221; Sambungnya dengan nafas yang beraroma alkohol.<br />
Semuanya hanya diam mendengar cerocosan Ray yang agak ngelantur itu.<br />
&#8220;Dan&#8230;perlu kalian ketahui juga,&#8221; Ray kembali angkat bicara, &#8220;Aku duduk di tangga semalaman, mendengar pembicaraan kalian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ooh, Well&#8230;&#8221; Kata Sari setelah semuanya diam sesaat, &#8220;Lalu apa pendapat kamu?&#8221;<br />
&#8220;Cerita yang menarik untuk dipublish di website!&#8221; Jawab Ray menyebalkan, &#8220;Gue ngga sabar nunggu komentar teman-teman kalau ini semua diceritakan, Hahahaha! Pasti seru deh!&#8221;<br />
&#8220;Hihihi, benar tuh!&#8221; Sahut Dee sambil berdiri mengemasi peralatan makannya dan berjalan ke wastafel, &#8220;Pasti seru!&#8221;<br />
&#8220;Gue juga akan cerita ke teman-teman gue yang polisi aah!&#8221; Cerocos Ray lagi.<br />
Sari, Neo, dan Pak Wir saling berpandangan. Kini di mata Ray, ketiga orang itu tampak begitu konyol dan menggelikan.<br />
&#8220;Gimana Boss?&#8221; Ray kembali berkata sambil menatap Pak Wir dengan pandangan tidak fokus, &#8220;Apa kira-kira sepuluh juta cukup untuk ongkos diem?&#8221;<br />
&#8220;Maumu apa, Ray?&#8221; Tanya Pak Wir setengah membentak.<br />
&#8220;Alaa, dia kan cuman cari tambahan ongkos untuk beli jamu-jamunya itu.&#8221; Tukas Sari dengan nada santai yang datar.<br />
&#8220;Enak aja jamu!&#8221; Sahut Ray tidak terima, &#8220;Ini barang mahal tauuu! Si Khristi aja sampai mabuk kepayang dibuatnya! Hahaha.&#8221;<br />
Neo hanya diam, mencibirkan bibir dan menggeleng-geleng menatap ke arah Ray yang masih agak teler.<br />
&#8220;Mau jadi apa elo ntar, Ray?&#8221; Ujar Neo seperti menasehati, &#8220;Ngga sayang duit elo?&#8221;<br />
&#8220;Lho! Jangan membelokkan arah pembicaraan!&#8221; Jawab Ray lagi, &#8220;Kalian akan memelihara adik kesayangan kalian ini kaan? Hehehe, seperti kata Mbak Sari, kalau tong sampahnya ngga ditutup, baunya akan kemana-mana! Hihihihi.&#8221;<br />
&#8220;Memangnya kamu tahu apa yang kami omongin?&#8221; Tanya Dee sambil mencuci peralatan makannya.<br />
&#8220;Hmm&#8230;honestly enggak sih.&#8221; Sahut Ray dengan nada dibuat-buat, &#8220;Tapi itu jelas rencana nggak baik kaan?&#8221;<br />
&#8220;Kalau aku cerita ke Khristi,&#8221; Lanjut Ray lagi, &#8220;Pasti teman-temannya nggak akan jadi nginep di sini, hingga boss kalian akan nggak senang, iya kan?&#8221;<br />
&#8220;Ah, si boss itu nggak peduli kok.&#8221; Jawab Pak Wir mencoba menutupnutupi.<br />
&#8220;Oh ya?&#8221; Goda Ray, &#8220;Berarti kalian nggak harus sediakan perawan-perawan gratisan buat dia dong?&#8221; Ray kembali terkekeh.<br />
&#8220;Tapi&#8230;nggak apa-apa deh.&#8221; Cerocos Ray lagi, &#8220;Mungkin gue bisa nonton adegan seru boss kalian itu dari atas tangga putar. Hahaha, pasti seru kaan? Eh, si Khristi boleh nggak ikutan ngeladenin boss itu? Dijamin barangnya OK deh!&#8221;</p>
<p>Sari, Neo, Pak Wir, dan Dee hanya menggelengkan kepala menyaksikan tingkah laku Ray. Remaja itu memang satu-satunya &#8216;orang biasa&#8217; yang tinggal di situ selain Khristi. Namun apa yang diketahuinya kini sudah terlalu jauh untuk ukuran orang biasa.<br />
Mereka tetap diam saja melihat Ray dengan perasaan menangnya kembali naik ke tangga putar, menuju kamarnya di lantai dua, tempat ia menghabiskan waktu (dan uang orang tuanya) setiap hari.</p>
<p>&#8220;Dee, tolong bereskan dia.&#8221; Ujar Pak Wir, yang disambut dengan anggukan setuju Neo dan Sari.<br />
&#8220;I&#8217;ll try my best.&#8221; Ujar Dee mantap.<br />
Berbeda dengan kamar-kamar lain di rumah itu, yang umumnya rapi dan bersih, kamar yang satu ini nuansanya lain. Dindingnya dipenuhi gambar-gambar wanita tanpa busana dari halaman tengah majalah impor yang tertempel tak teratur, hampir di semua sudut tampak onggokan pakaian kotor, di sisi lain berserak botol-botol minuman mahal. Di tengah kamar yang cukup luas itu tampak sebuah botol kecil berisi spiritus yang disumpal kain bekas, beberapa kertas timah, dan bungkus koran bekas yang tadinya dipakai untuk membungkus barang-barang konsumsi orang-orang terbuang. Aroma ruangan pun tak kalah jeleknya, dipenuhi dengan bau aneh yang memusingkan kepala. Aroma itu tidak pernah bisa keluar, karena jendela kamar tidak pernah dibuka dan AC ruangan selalu menyala.</p>
<p>&#8220;Ray.&#8221; Suara lembut seorang wanita membangunkan Ray dari tidur rutinnya pada jam sembilan pagi.<br />
&#8220;Eh&#8230;? Dee?&#8221; Ray terbangun dan mengenali sosok tubuh indah yang berdiri di hadapannya.<br />
Sosok tubuh wanita yang polos tanpa tertutup apa-apa. Lekuk liku tubuh indahnya tampak begitu jelas di mata Ray, kulit yang putih bersih, rambut-rambut halus di bawah perut, dada indah yang berhiaskan tonjolan-tonjolan cantik berwarna kecoklatan.<br />
Ray menggosok-gosok matanya, tak pernah khayalannya tampak begitu nyata.</p>
<p>&#8220;Ray&#8230;&#8221; Terdengar lagi suara Dee, kali ini seperti lebih merdu dan basah, &#8220;Ini nyata, bukan khayalanmu.&#8221;<br />
Pemuda kerempeng itu terduduk di ranjangnya, sejenak ia tampak terperangah, namun sorotan matanya yang agak kosong kembali tampak mengejek.<br />
&#8220;Ya jelas ini kenyataan.&#8221; Ejek Ray, &#8220;Kalau ini khayalan, bukan elo yang berdiri di situ.&#8221;<br />
Dee tersenyum kecut agak tersinggung. Tubuhnya yang amat indah itu tak sepantasnya mendapat pernyataan seperti itu, namun gadis itu tetap berusaha tenang.<br />
&#8220;Lalu siapa?&#8221; Tanya Dee, masih dengan suara manja, &#8220;Siapa yang kamu suka khayalin?&#8221;<br />
&#8220;Hmmm&#8230;.&#8221; Ray menggumam sambil menyalakan sebatang Marlboro, menambah pengap suasana, &#8220;Cameron Diaz, Vivian Chow, atau&#8230; paling enggak Mbak Sari deh.&#8221; Lanjutnya dengan nada mengejek.<br />
&#8220;Kalau aku?&#8221; Tanya Dee, pura-pura memasang wajah kecewa.<br />
&#8220;Kalau yang seperti elo mah, di pinggir jalan juga banyak.&#8221; Ejek Ray terus, &#8220;Paling-paling cepek ceng dapet dah.&#8221;<br />
Dee nyaris tak dapat menyembunyikan amarahnya, untung poninya cukup panjang untuk menutupi wajah manisnya yang kini mulai bersemu merah menahan jengkel.<br />
&#8220;Kalau Khristi?&#8221; Tanya Dee memancing, &#8220;Masa dia lebih OK dari aku?&#8221;<br />
&#8220;Hahahahaha!&#8221; Ray terbahak sambil mematikan puntung rokok di dinding, menambah kotor, &#8220;Dia mah cuman sampingan. Gratisan lagi! Hihihi, lumayan deh, dapet perawan gratis, seperti boss elo!&#8221;</p>
<p>**********</p>
<p>Sebuah gedung perkantoran di pusat kota. Tempat di mana orang-orang dengan &#8217;sense-of-urgency&#8217; tinggi berlalu lalang sibuk.<br />
Di salah satu koridor di lantai sebelas, tampak seorang wanita jangkung melangkah cepat dengan membawa beberapa lembar berkas kerja. Sesekali ia tersenyum ramah membalas sapaan orang-orang yang berpapasan dengannya.</p>
<p>Terdengar bunyi melodi dengan nada tinggi dari T-28 yang terselip di saku blazer wanita itu.<br />
&#8220;Halo, Dee. Ada apa?&#8221; Jawab Sari yang telah mengenali nomor ponsel Dee yang tampak di monitor T-28 nya.<br />
&#8220;Aduuh, lagi repot nih!&#8221; Seru Sari lagi, kali ini dengan wajah agak menahan jengkel. Orang-orang yang lalu lalang berpapasan dengannya tidak ada yang berani menyapa kalau wajahnya sudah seperti itu.<br />
&#8220;OK, aku balik deh, sekitar setengah jam lagi.&#8221; Seru Sari lagi, seraya menutup flip dan mengantongi T-28 nya kembali.</p>
<p>&#8220;Nova, tolong kamu cancel appointment-ku ntar sore yah?&#8221; Seru Sari setibanya di kamar kerja pribadinya.<br />
&#8220;Oh? Memangnya mau kemana, Mbak&#8230;eh, Bu?&#8221; Jawab asisten Sari yang juga teman dekatnya itu.<br />
&#8220;Urusan biasa lah.&#8221; Jawab Sari cuek, sambil memasang bando di kepala, agar poninya tidak menganggu pandangannya. Dengan kacamata kecil dan bando merah jambu itu, wajahnya tampak makin cantik dan menggemaskan tiap lawan jenis. Namun kali ini wajah menggemaskan itu tampaknya sedang tidak dalam mood untuk bersenang-senang.<br />
&#8220;Masa siang-siang gini mau hunting, Bu?&#8221; Tanya Nova si asisten, &#8220;Ngajak-ngajak doong.&#8221;<br />
Sari hanya tersenyum dingin sambil menatap tajam pada Nova, membuat si asisten itu mengerti bahwa atasannya sedang serius.<br />
Sejenak kemudian wanita itu telah meluncur cepat di atas Katana hijaunya.</p>
<p>**********</p>
<p>Cafe kecil di sudut sebuah plaza. Tempat dimana para yuppies makan siang, dan para pengusaha kelas teri membicarakan proyek-proyek imajiner, juga tempat sejumlah anak pejabat melobi para tukang pukulnya. Agak ke sudut, tampak tiga orang pria berpakaian rapi duduk mengelilingi sebuah meja bundar kecil dengan secangkir Espresso di hadapan masing-masing.</p>
<p>&#8220;Nah, jadi gimana proposalnya udah kamu bikin?&#8221; Tanya salah seorang pria itu pada temannya.<br />
&#8220;Udah, malah udah aku kirimkan.&#8221; Jawab temannya yang mengenakan kemeja hitam dan dasi putih.<br />
Deringan suara ponsel mengganggu keasyikan bicara mereka.</p>
<p>&#8220;Halo, Sari? Ada apa?&#8221; Tanya si kemeja hitam menjawab ponselnya, &#8220;Aku lagi repot nih.&#8221;<br />
&#8220;Eh&#8230;what?&#8221; Serunya lagi, &#8220;OK, OK, OK, Nggak usah marah-marah, aku akan balik sekarang juga.&#8221;<br />
Neo mematikan ponsel dan memandang ke arah dua rekan kerjanya itu.<br />
&#8220;Kenapa? Ada panggilan dari bini yah?&#8221; Tanya seorang pria yang lainnya.<br />
&#8220;Hahaha, Son!&#8221; Ujar yang satunya lagi, &#8220;Sejak kapan Neo punya bini?&#8221;<br />
&#8220;Eh, sorry yah.&#8221; Neo memotong gurauan kedua temannya, &#8220;Kevin, Sonny, aku mesti cabut nih, kita lanjut besok, OK?&#8221;<br />
Tanpa menunggu respon dari kedua temannya, Neo beranjak berdiri dan melangkah cepat meninggalkan cafe.</p>
<p>&#8220;Sejak pindah rumah itu, dia jadi aneh ya Son.&#8221; Ujar Kevin mengomentari Neo.<br />
&#8220;Yah&#8230;&#8221; Sonny mengangkat bahu, &#8220;Bukan dia kalau nggak aneh gitu.&#8221;</p>
<p>**********</p>
<p>Kembali ke rumah kost besar di awal cerita tadi. Saat matahari sudah mulai condong ke barat. Di ruang makan, empat orang gadis muda berpakaian trendy sedang mendiskusikan sesuatu yang tampaknya penting bagi mereka.</p>
<p>&#8220;Oh, ini teman-teman kamu, Khristi?&#8221; Ujar Pak Wir yang baru saja pulang.<br />
&#8220;Iya, Pak, kenalkan, Sweety, Tessa, dan Widya.&#8221; Sambut Khristi memperkenalkan teman-temannya.<br />
&#8220;Wah, cantik-cantik sekali teman kamu.&#8221; Ujar pria setengah baya itu sambil berpikiran macam-macam, &#8220;Saya jadi merasa terlalu cepat dilahirkan.&#8221;<br />
Keempat gadis itu tertawa mendengar gurauan si bapak kost.<br />
&#8220;Tapi Om dulu pasti keren deh.&#8221; Ujar Sweety.<br />
&#8220;Iya, sekarang aja juga masih keren lhooo.&#8221; Goda Widya menambahkan.<br />
Keempatnya lalu tertawa-tawa lagi.<br />
Diam-diam, dari tangga putar di sudut ruangan, bapak kost itu mengintai keempat anak itu dengan pandangan menganalisa. Keempatnya sama-sama muda, cantik, ceria, dan enerjik. Tapi yang namanya Tessa itu agak pendiam, dia tidak ikut menggoda aku tadi, pikir Pak Wir.</p>
<p>&#8220;Aku pulang!&#8221; Terdengar suara Sari ketika wanita itu muncul dari pintu masuk ke ruang makan.<br />
&#8220;Eh, Mbak Sari, tumben udah pulang?!&#8221; Ujar Khristi menyambut kedatangan &#8216;kakak kost&#8217;-nya itu, &#8220;Kenalin teman-temanku.&#8221;<br />
Sari berkenalan dengan ketiga teman Khristi, matanya meneliti satu per satu wajah ketiga gadis muda itu.<br />
&#8220;Mbak jangkung deh.&#8221; Ujar Tessa mengomentari tinggi badan Sari, &#8220;Dulu pernah jadi model yah?&#8221;<br />
&#8220;Model apaan?&#8221; Ujar Sari sok merendah, &#8220;Model iklan obat pelangsing?&#8221; Tambahnya seperti membanggakan bentuk tubuhnya.<br />
&#8220;Bukan!&#8221; Tukas Widya, &#8220;Model iklan alat peninggi badan di acara TV media!&#8221;<br />
Mereka tertawa-tawa mendengar gurauan itu.<br />
Di tengah keceriaan itu, mata tajam Sari melirik ke arah teman Khristi yang bernama Sweety. Gadis ini tampak hanya tersenyum kecil ketika teman-temannya terbahak. Hmm, gadis lugu berpikiran polos, ini yang kami cari, pikir Sari dalam hatinya.<br />
Wanita itu segera meninggalkan ruang makan, bergegas melangkahkan kaki panjangnya ke lantai dua.</p>
<p>&#8220;Brakk!&#8221; Terdengar pintu ruang makan terbuka dan ditutup dengan keras, tampak Neo baru saja datang.<br />
&#8220;Wow! Kereen!&#8221; Bisik Sweety pada Tessa.<br />
&#8220;Eh, makasih lho Dik!&#8221; Tukas Neo sambil menatap ke arah gadis-gadis itu dengan mata penuh selidik.<br />
&#8220;Hihihi, komentar kamu kedengeran!&#8221; Seru Tessa sambil mengejek Sweety. Khristi memperkenalkan Neo pada ketiga temannya, lalu dengan sangat sopan meminta Neo naik ke lantai dua agar konsentrasi kerja teman-temannya tidak terganggu oleh penampilan Neo yang seperti itu.</p>
<p>**********</p>
<p>Kamar tidur Sari. Jendela yang menghadap ke arah barat membuat panasnya sinar matahari memaksa AC untuk bekerja lebih keras mendinginkan ruangan. Neo duduk di sofa, Pak Wir meletakkan pantat di tepi ranjang, sementara Sari duduk di atas kursi di depan meja riasnya, menghadap ke tengah ruangan. Ketiganya masih berdebat seru tentang siapa dari ketiga teman Tessa yang memenuhi syarat untuk rencana mereka.</p>
<p>&#8220;Kita nggak boleh keliru!&#8221; Ujar Neo sengit, &#8220;Bisa fatal akibatnya!&#8221;<br />
&#8220;Tapi gimana coba?&#8221; Ujar Pak Wir tak kalah sengit, &#8220;Kita masing-masing berbeda pendapat.&#8221;<br />
&#8220;Kalau ketiga-tiganya dipakai?&#8221; Tanya Sari dengan nada netral.<br />
&#8220;Lantas gimana kalau ada salah satu atau dua dari mereka yang tidak memenuhi syarat?&#8221; Tukas Neo, &#8220;Tetap saja Boss akan marah.&#8221;<br />
Semuanya terdiam karena tidak ada solusi.</p>
<p>&#8220;Eh, omong-omong tadi kenapa kok kamu meminta aku segera pulang?&#8221; Tanya Neo pada Sari.<br />
&#8220;Ya ampun!&#8221; Sari beranjak berdiri, &#8220;Aku lupa! Dee tadi nelpon aku, katanya dia gagal ngurusin Ray!&#8221;<br />
Ketiganya segera beranjak keluar kamar dan melangkah cepat ke kamar Ray.</p>
<p>**********</p>
<p>Ikatan yang kuat di kedua pergelangan tangan dan kaki membuat pria itu tak dapat bergerak. Beberapa torehan panjang di dadanya mulai memancarkan darah segar. Namun semua rasa sakit dan frustrasi itu seperti berebutan muncul dengan birahi dan kehangatan yang juga membiasi pikirannya. Tidak ada erangan, teriakan, ataupun sumpah serapah, karena sebuah saputangan disumpalkan ke rongga mulutnya.</p>
<p>Ray merasakan sekali lagi batang kejantanannya seperti dielus-elus benda lunak dan hangat yang lembab. Benda itu bergerak-gerak mengelilingi kepala batang itu, mengolesi, menaburkan rasa hangat dan nikmat. Benda lunak itu lalu turun ke batangnya, meliuk-liuk melingkar-lingkar, hangat dan membakar. Otot kejantanan itu telah menegang, membuat tonggak itu tampak kokoh dan panjang. Beberapa detik terasa begitu nikmat, sebelum sebuah benda tajam kembali menggores kulit lengannya yang bertato itu.<br />
Terdengar jeritan pemuda itu tertahan oleh saputangan yang menyumpal mulutnya.</p>
<p>Dee menjulutkan lidahnya. Kali ini tak lagi pada kejantanan Ray yang terlentang terikat di hadapannya, melainkan ke kuku-kukunya sendiri, yang panjang dan berlumur sedikit darah. Dengan gerakan yang begitu indah, wanita itu meliukkan tubuh indahnya seolah begitu menikmati tetes demi tetes. Ia merangkak di atas ranjang, mengangkangi tubuh si korban yang terikat tanpa daya. Lidah panjangnya menyapu-nyapu sekujur dada Ray yang kini tergores-gores garis merah. Jilatan yang seharusnya terasa indah dan menyenangkan bagi pria itu, namun goresan menganga itu membuat rasa pedih lebih terasa. Dengan nakal kedua paha Dee yang halus mulus menghimpit kejantanan Ray, membiarkan batangan itu tergesek-gesek. Syaraf Ray seperti bingung, harus menyampaikan apa pada otaknya. Rasa sakit, ataukah kenikmatan?</p>
<p>Jemari Dee memaksa kedua mata Ray terbuka. Pemuda itu melihat seraut wajah di hadapannya begitu mengerikan, begitu dominan.<br />
Mata indah gadis itu berbingkaikan bulu-bulu mata yang lentik dan panjang, namun juga dikelilingi lingkaran kehitaman. Kulit wajah yang sehari-harinya kuning langsat bersih, kini tampak pucat agak membiru. Belum lagi bibirnya, yang biasanya agak cerewet kekanakan dan berwarna merah jambu itu kini terlihat gelap, hitam, dan sedikit terlumuri noda-noda merah.</p>
<p>&#8220;Hmm&#8230;sayang&#8230;make love to me&#8230;&#8221; Desah Dee lirih dengan suara yang begitu menghanyutkan, begitu menghipnotis.<br />
Ray tidak menjawab. Matanya hanya menatap kosong, dipenuhi ketakutan dan kengerian.<br />
&#8220;Make love to me!!!!&#8221; Teriak Dee lagi dengan nada membentak sambil kuku-kukunya yang kini panjang dan lancip mulai sedikit tertanam pada kulit wajah pria tak berdaya itu.<br />
Dengan wajah ketakutan dan berkeringat dingin, Ray mengangguk pelan.<br />
&#8220;Good!&#8221; Bisik Dee pada telinga kanan pria itu, yang diikuti dengan jilatan-jilatan mesra.</p>
<p>Sejenak kemudian, di tengah rasa sakit dan ketakutannya, Ray merasakan kejantanannya mulai memasuki rawa berlumpur hangat di selangkangan Dee. Wanita itu perlahan-lahan menurunkan pinggulnya hingga seluruh kejantanan Ray terbenam dalam tubuhnya.<br />
Ia duduk di atas tubuh Ray, dengan punggungnya menghadap ke wajah pemuda itu. Ray hanya dapat menyaksikan punggung indah di hadapannya seperti menari meliuk-liuk dengan indahnya. Semakin lama, semakin menggairahkan. Kejantanannya pun terasa seperti berada dalam remasan-remasan benda hangat dan lembut. Kewanitaan paling ketat dan lekat yang pernah dirasakannya. Pelan-pelan rasa sakit dan ketakutan Ray mulai Sirna, digantikan oleh kenikmatan dan keindahan luar biasa yang serasa memeras-meras kejantanannya. Kehalusan dan kemulusan kulit punggung Dee yang meliuk-liuk di hadapannya memperindah kenikmatan itu.</p>
<p>Sayang sekali, baru beberapa menit saja kejadian indah itu berlangsung, Ray sudah merasakan kejantanannya berdenyut-denyut. Seluruh energinya seperti mengumpul di sana, siap untuk meledak keluar. Dengan susah payah pemuda itu berusaha menahan nafas agar tidak segera mengakhiri permainan itu. Namun berat sekali, keindahan punggung Dee di hadapannya, rasa nikmat pada kejantanannya, benar-benar amat sulit dihindarkan. Segera tubuh kerempeng itu mengejang kuat, menghamburkan seluruh energinya keluar lewat pancaran-pancaran panas yang tersiram ke dalam liang kewanitaan Dee.</p>
<p>Ray, tak dapat berbuat banyak. Begitu cepat ia harus merasakan pedihnya kekecewaan Dee. Hanya sedetik rasanya ia melihat wanita itu membalikkan wajah menatap ke arahnya, dengan wajah yang menyeringai menakutkan, dengan mata yang merah melotot, sebaris gigi yang lebih menyerupai deretan pisau, dan gurat-gurat wajah yang tak lagi dapat dikenalinya sebagai Dee.<br />
Kini pun, dengan kaki dan tangannya yang terikat, ia hanya dapat bersikap pasrah, mematung, membiarkan rasa lelah dan ketakutan menguasai dirinya, membiarkan Dee menciumi lehernya. Tiba-tiba terasa dua tusukan benda kecil pada lehernya, sakit sekali. Ia hanya bisa pasrah, mengharapkan munculnya keajaiban Sang Pencipta, yang selama ini jarang diingatnya. Terasa kakinya mulai dirasuki hawa dingin dan kaku, naik ke lututnya, ke pahanya, di saat seperti inilah, di saat-saat menjelang akhir yang begitu menakutkan, pemuda itu berteriak dalam hati, memohon maaf dan ampun pada kedua orang tuanya, kekasih-kekasihnya, juga Sang Penguasa. Tak terasa air matanya mengalir keluar dari matanya yang mulai meredup, kosong.</p>
<p>*********</p>
<p>Dee terhenyak kaget ketika jari-jemari lentik namun kokoh menariknya keras-keras, menjauh dari tubuh korbannya.</p>
<p>&#8220;Apa yang kamu lakukan?&#8221; Bentak Sari sambil menatap tajam pada Dee yang terhempas ke lantai oleh tarikannya.<br />
Berangsur-angsur wajah mengerikan itu kehilangan gurat-guratnya. Mata yang besar melotot mengecil, bibir yang hitam kebiruan kini memerah, dan kulit yang pucat pasi kini menguning perlahan.<br />
&#8220;D-Dia&#8230;bikin aku sebel, Mbak!&#8221; Ucap Dee terbata-bata.<br />
Sari tidak terlalu menghiraukannya. Wanita itu menatap ke arah ranjang, dimana Neo dan Pak Wir sedang mengamati pemandangan mengerikan di sana.</p>
<p>Betapa tidak, tubuh kurus Ray terikat erat di ranjangnya sendiri, dengan kulit dada dan lengan seperti tercabik-cabik membanjirkan darah yang membasahi sprei, mata terpejam yang mulai membiru di sekitarnya mengalirkan air mata. Wajah yang biasanya tampak menyebalkan itu kini tampak seperti memelas dan memohon ditundanya saat-saat akhir.</p>
<p>&#8220;Gawat&#8230;&#8221; Ujar Pak Wir setelah meraba leher Ray yang kini berhiaskan dua buah lubang kecil berlumur darah segar.<br />
&#8220;Kenapa?&#8221; Tanya Neo dengan nada khawatir.<br />
&#8220;Kalian memiliki saudara baru.&#8221; Ujar Pak Wir datar, sambil melangkah mundur menjauhi ranjang, &#8220;Ia masih hidup.&#8221;</p>
<p>Semuanya terdiam, suasana di kamar berhiaskan poster-poster gadis telanjang itu terasa hening untuk beberapa saat. Neo, Sari, Pak Wir, dan Dee menatap gurat-gurat luka di dada Ray mulai menipis, menipis, kemudian menghilang. Bunyi petir yang menggelegar di langit yang mendadak menderaskan hujan membuat ketiganya tersadar dari lamunannya.</p>
<p>&#8220;Dia datang!&#8221; Pekik Pak Wir.</p>
<p>***********</p>
<p>Ruang makan utama, yang biasanya terang benderang, ceria dan menjadi tempat berkumpul para penghuni rumah saat bertukar canda di meja makan kini seperti berubah total. Hening, sepi, dan begitu mencekam. Suara canda tawa dari teman-teman Khristi yang baru saja terdengar ramai, kini tak lagi terdengar. Mereka tak lagi bersuara. Keempatnya berdiri tanpa busana, mematung dengan pandangan kosong. Berbaris berderet di tengah ruangan. Seperti tak sadarkan diri, meski mata terbuka dan tubuh berdiri tegak. Seseorang, atau sesuatu, tampak berdiri mondar mandir mengamati gadis-gadis itu. Sesuatu yang tidak jelas bentuknya, sesuatu yang besar, namun terlihat kabur. Mengerikan, namun juga terasa berkharisma. Gelap, namun sekaligus sejuk. Dingin, namun memancarkan hawa lembut yang merayu.</p>
<p>&#8220;Ah, servis yang mengecewakan!&#8221; Terdengar suara pria yang bernada rendah, bijak, namun menusuk telinga.</p>
<p>Pak Wir, Sari, Neo, dan Dee yang tergopoh-gopoh menuruni tangga putar kini duduk bersimpuh di lantai dengan kepala menunduk, pasrah dan siap menerima apa yang harus terjadi.</p>
<p>Pelan-pelan, sesuatu yang tampak tidak jelas tadi mulai menampakkan bentuknya. Agak lama kemudian, tampaklah wujud tamu yang dinanti-nanti kedatangannya itu. Seorang pria muda tanpa busana, berkulit kemerahan, berambut panjang berwajah tampan, dengan hidung mancung dan alis mata tebal serta sorot mata yang tajam dan dingin. Tubuhnya berkesan atletis dan berotot keras, namun juga anggun dan elegan dari sikapnya berdiri. Ketampanan dan kharisma yang dipancarkannya membuat tak satu wanita pun tidak melirik keindahan tubuh telanjangnya, dan tak satu pria pun yang tidak segan oleh tatapannya.</p>
<p>&#8220;Ratusan tahun, anakku.&#8221; Pria muda itu bicara pada Pak Wir, &#8220;Kamu selalu menyerahkan yang terbaik buatku. Tapi kali ini?&#8221;<br />
Pria itu berhenti sejenak dan mengacungkan telunjuknya pada keempat gadis yang kini berdiri mematung tanpa busana dengan tatapan mata kosong, &#8220;Mereka semua begitu busuk ternoda oleh pria-pria sebelum waktunya&#8230;apakah sulit menemukan yang bersih dan suci pada masa sekarang ini?&#8221;<br />
Pak Wir tetap terdiam dan menunduk.<br />
&#8220;Setelah sekian lama aku membiarkanmu hidup untuk mencari pengikut.&#8221; Ujar pria muda itu melanjutkan pidatonya, &#8220;Tapi mana? Hanya tiga orang inikah pengikut setiamu? Bagaimana bisa kita menguasai dunia dengan pasukan bau kencur seperti ini? Mana orang-orang berpengaruh yang kamu janjikan untuk bekerja sama dengan kita? Hah?&#8221;<br />
Semuanya tetap saja terdiam.</p>
<p>Pria itu lalu melangkahkan kakinya mendekati Pak Wir, Neo, Sari, dan Dee yang tetap bersimpuh gemetaran.</p>
<p>&#8220;Hm&#8230;Tapi kedua wanita ini&#8230;&#8221; Pria itu menggumam, &#8220;Rupanya kamu memilih mereka untuk kesenanganmu sendiri. Sayang sekali barang-barang bermutu tinggi seperti ini harus kamu pergunakan sendiri.&#8221;<br />
&#8220;Dan kamu!&#8221; Bentak pria tampan itu pada Neo yang bersimpuh paling ujung, &#8220;Kamu mengaku diri pendosa, tapi apa arti sebuah dosa bagi kamu?&#8221; Tatapan pria itu membuat dahi Neo berkeringat dingin, &#8220;Hanya sebuah permainan? Atau hanya bagian dari sebuah kesenangan? Memalukan!&#8221;<br />
&#8220;Malam ini&#8230;&#8221; Pria itu berkata lagi sambil membelakangi keempat penyembahnya, &#8220;Aku harus memanggil temanku, si pencabut nyawa, untuk memilih salah satu di antara kalian! Yang paling tak pantas menjadi anakku, agar menjadi peringatan bagi yang lain.&#8221;<br />
&#8220;DEATH!&#8221; Pria itu berteriak dengan suara menggelegar keras.</p>
<p>Sebentuk kepulan asap hitam, tiba-tiba bergulung-gulung muncul menyelimuti Sari. Tubuh lencir wanita itu seperti tenggelam di balik gulungan asap hitam pekat. Pria tampan yang dari tadi tampak angkuh itu seperti terkejut menyaksikan asap yang menyelimuti tubuh wanita itu menipis, menampakkan sesosok tubuh jangkung langsing, yang terselimuti oleh jubah hitam pekat. Sepasang tangan yang indah dan mulus tampak menggenggam sebilah kapak besar. Wajah Sari tampak tersenyum di balik tudung jubah besar yang dikenakannya.<br />
&#8220;Kamu memanggil aku, Evil?&#8221; Ujar sesuatu yang tadinya dikenal sebagai Sari itu.<br />
&#8220;K-Kamu&#8230;.&#8221; Pria tampan yang dipanggil Evil itu tergagap, &#8220;Untuk apa kamu ikut campur ini semua?&#8221;<br />
&#8220;Ya, ini aku.&#8221; Jawab &#8216;Sari&#8217; lagi dengan nada tenang, &#8220;Aku berada di sini untuk memenuhi permintaanmu.&#8221;<br />
&#8220;B-Baik!&#8221; Jawab Evil masih agak tergagap, &#8220;Bawa nyawa mahluk-mahluk tak berguna itu bersamamu!&#8221;<br />
&#8220;Tidak.&#8221; Jawab &#8216;Sari&#8217;, &#8220;Aku hanya memilih salah satu dari pengikutmu, sesuai perjanjian!&#8221;<br />
&#8220;Tapi mereka tidak berguna bagiku!&#8221; Bentak Evil menuding-nuding Pak Wir, Neo, dan Dee.<br />
&#8220;Kalau aku mengambil mereka semua,&#8221; Jawab Death dalam bentuk Sari itu dengan nada ceria, &#8220;Kamu akan memilih wakil yang lain lagi.&#8221; Lanjutnya sambil tersenyum dingin, &#8220;Tapi kalau aku memilih salah satu, mereka akan tetap menjalankan tugas suci mereka!&#8221;<br />
&#8220;T-Tugas suci?&#8221; Neo tiba-tiba nyeletuk tidak mengerti. Pak Wir dan Dee ikut berpandangan bengong.<br />
&#8220;Yap!&#8221; Jawab Death lagi, &#8220;Tugas suci untuk melindungi dunia dari ancaman Evil. Bukankah kalian telah susah payah menyediakan mangsa bagi Evil agar ia tak mampu menguasai dunia?&#8221;<br />
&#8220;Percayalah,&#8221; Ujar Death lagi, &#8220;Seiring dengan berjalannya waktu, tidak akan ada satupun manusia wanita yang memenuhi syaratnya. Pada waktu itulah Evil berencana menguasai dunia, menariknya kembali ke dalam kegelapan.&#8221;<br />
&#8220;Tapi kamu tetap harus memilih salah satu dari mereka!&#8221; Bentak Evil tidak sabar.<br />
&#8220;Tentu, aku akan mengambil salah satu pengikutmu!&#8221; Jawab Death.</p>
<p>Mengakhiri kalimatnya, &#8216;Sari&#8217; merentangkan tangannya ke atas, dan tiba-tiba sosok tubuh Ray sudah berada di tengah ruangan. Luka-luka di tubuhnya sudah bersih tak berbekas. Masih tampak ekspresinya memelas, memohon ampunan, dan menatap tanpa harapan pada si pencabut nyawa.</p>
<p>&#8220;Ia telah menyia-nyiakan hidupnya, dan tidak akan banyak berguna bagi orang lain.&#8221; Ujar Death sambil merentangkan jari-jari tangan kanannya, tempat sebilah sabit panjang tiba-tiba berada, &#8220;Dunia tidak akan keberatan jika aku mengambilnya malam ini.&#8221;<br />
Dengan tak terduga, sabit panjang itu terayun. Bahkan Ray sendiri tak sempat mengeluarkan kata-kata ataupun teriakan dari kerongkongannya yang segera terputus oleh sabetan itu.</p>
<p>***********</p>
<p>Matahari terbit, memancarkan sinarnya menerangi rumah kost besar di sudut sebuah kompleks elit. Tidak banyak yang tahu apa bedanya rumah itu dengan rumah-rumah lain yang bentuknya sama dalam kompleks itu.<br />
Si manis Khristi masih tidur pulas menikmati Sabtu pagi.<br />
Neo, Pak Wir, dan Dee mengelilingi meja makan. Masih ada keharuan, rasa bangga, rasa lega, sekaligus rasa tanggung jawab pada hati mereka masing-masing.</p>
<p>&#8220;Hmm&#8230;Sepi rasanya.&#8221; Ujar Neo sambil mennghirup kopi paginya, &#8220;Tidak ada Ray, tidak ada Sari.&#8221;<br />
&#8220;Yah&#8230;&#8221; Dee menghela nafas panjang, &#8220;Aku senang kita masih hidup, Thanks to Death. Sulit membayangkan kalau dia itu Sari.&#8221;<br />
&#8220;Iya, aku juga mikir begitu, &#8221; Tukas Pak Wir, &#8220;Kalau selama ini aku tahu dia siapa, dan apa tujuannya di sini, aku nggak akan sekuatir ini&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Begitulah&#8230;&#8221; Dee menjawab, &#8220;Selama ini aku suka sebel dengan sikapnya yang sok dewasa dan suka ngerjain aku.&#8221;<br />
&#8220;Lucky me&#8230;&#8221; Neo mencoba bercanda, &#8220;Aku sudah pernah bercinta dengan si pencabut nyawa!&#8221;<br />
&#8220;Hahaha, tapi ati-ati kalau milih teman kencan!&#8221; Jawab Pak Wir, &#8220;Bisa-bisa kamu yang dipilihnya semalam!&#8221;<br />
&#8220;Hahaha!&#8221; Neo balas tertawa, &#8220;Tapi jangan munafik ah! Pak Wir juga pengen kencan sama dia kan? Nyatanya ngintip dia mandi!&#8221;<br />
&#8220;Eh, jangan keras-keras lho!&#8221; Canda Khristi, &#8220;Bisa-bisa dia mendengar kita dari atas sana!&#8221;<br />
Semuanya tertawa-tawa dan melanjutkan sarapan di hari libur Sabtu pagi itu</p>
<p>&#8220;Gedubrak!&#8221; Terdengar pintu masuk terbanting, semua menatap ke arah pintu malang itu.<br />
&#8220;Dee, kenapa kamu nelpon aku di kantor? Kan masih jam kerja&#8230;&#8221; Ujar Sari yang baru masuk itu dengan bawel.<br />
&#8220;&#8230;Kenapa semua kok ngeliatin aku seperti itu?&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Tamat</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ ustazah montok, kene bantai, tapi sodap!]]></title>
<link>http://kombet.wordpress.com/2009/11/25/ustazah-montok-kene-bantai-tapi-sodap/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 08:14:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>kombet</dc:creator>
<guid>http://kombet.wordpress.com/2009/11/25/ustazah-montok-kene-bantai-tapi-sodap/</guid>
<description><![CDATA[Sayang Ustazah Sayang Pada suatu hari ustazah norzalina dan cikgu ali dikunjungi pak dollah. Pak dol]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sayang Ustazah Sayang</p>
<p>Pada suatu hari ustazah norzalina dan cikgu ali dikunjungi pak dollah.<br />
Pak dollah yang berumur 63 tahun adalah ayah mentua kepada ustazah norzalina.<br />
Suami isteri ini sangat gembira dengan kedatangan pak dollah. Pak dollah<br />
telah bercerai dengan isterinya 6 tahun yang lalu. Cikgu ali dan ustazah<br />
norzalina mengajar disebuah sekolah yang berhampiran dengan rumahnya. Pasangan<br />
ini baru berkahwin 4 bulan.<br />
Pada hari terakhir pak dollah dirumah anaknya, terjadilah satu titik hitam.<br />
Ianya bermula pada hari cuti pasangan itu. Namun hari tersebut suaminya</p>
<p>mempunyai satu kelas tambahan disekolah. Seperti biasa ustazah norzalina<br />
menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya dan pak dollah. Selepas menghantar<br />
suaminya ke muka pintu ustazah sempat berborak dengan pak dollah.</p>
<p>Selepas itu ustazah kebilik air membasuh baju. Pak dollah yang kebetulan<br />
ketandas terlihat sesuatu. Rupa-rupanya ustazah norzalina terlupa merapatkan<br />
pintu, ustazah norzalina yang leka memberus baju tidak menyedari sepasang<br />
mata sedang memerhatikannya. Seingat pak dollah, dia tidak pernah melihat<br />
keadaan seperti itu kerana menantunya terkenal dengan sifat sopan santun dan<br />
sangat menitikberatkan tentang soal penjagaan aurat.</p>
<p>Malahan didalam rumah sekalipun menantunya tidak pernah menanggalkan tudung<br />
melainkan ketika bersama suaminya sahaja. Kain kemban menantunya yang basah<br />
semasa membilas pakaian, membuatkan pak dollah semakin tak tahan. Ustazah<br />
norzalina yang merasakan kelibat orang diluar tergamam melihat bapa mentuanya<br />
sedang membuka daun pintu. Ustazah norzalina yang<br />
ketakutan terus bangun dan berusaha menutup pintu tetapi gagal.</p>
<p>Pak dollah terus masuk dan mengunci pintu dari dalam. Ayah buat apa ni?! Tanya<br />
ustazah norzalina dengan terketar-ketar. Pak dollah hanya tersenyum sinis<br />
sambil matanya meliar kesegenap tubuh menantunya. Pak dollah menanggalkan<br />
pakaiannya satu persatu. Kelihatan lah batang pak dollah yang hitam dan besar.<br />
Keadaan ini menakutkan lagi ustazah norzalina yang terus merayu supaya<br />
dilepaskan. Pak dollah mendekati menantunya, ustazah norzalina yang tidak rela<br />
diperlakukan begitu cuba menolak. Keadaan bertukar menjadi bertambah buruk<br />
apabila ikatan kain kemban ustazah norzalina telah ditarik pak dollah sehingga<br />
terburai ke lantai.</p>
<p>Terpampanglah tubuh ustazah norzalina yang hanya dibaluti colai dan seluar dalam.<br />
Ustazah norzalina yang pasrah dan malu tubuhnya ditatapi bapa mentuanya, hanya<br />
mampu memalingkan tubuh membelakangi pak dollah sambil menangis. Jangan buat<br />
saya macam ni!, teriak ustazah norzalina. Pak dollah yang telah lama tidak<br />
merasai kehangatan burid terus mendekati tubuh<br />
ustazah norzalina dari belakang lalu membuka cakuk colinya. Terlepaslah colai<br />
yang menutupi buah dada ustazah norzalina. Tersembul tetek ustazah norzalina<br />
yang merah putingnya. Lantas diraba pak dollah dari belakang. Kulit tangan<br />
bapa mentuanya yang kasar dapat dirasai ustazah norzalina ketika putingnya<br />
digentel serta diusap pak dollah.</p>
<p>Ustazah norzalina yang tidak berdaya mempertahankan tubuhnya dari pak dollah<br />
hanya mampu mengharapkan suaminya lekas pulang. Buah dada bersaiz 36b menantunya<br />
dinyonyot sehingga tegang putingnya. Kemudian pak dollah masukkan tangannya<br />
kedalam seluar dalam menantunya sambil mengusap-usap kelentit. Kemudian pak<br />
dollah menarik seluar dalam menantunya sehingga terkoyak. Ustazah norzalina<br />
hanya mampu memejamkan mata kerana tersangat malu diperlakukan begitu. Punggung<br />
dan kemaluan menantunya yang tembam dijilat-jilat sehingga ustazah norzalina<br />
merengek-rengek menahan kesedapan yang teramat sangat.</p>
<p>Pak dollah merebahkan ustazah norzalina, lalu mengangkangkan kakinya sambil<br />
menggenggam batangnya lalu ditekan ke dalam burid ustazah norzalina.</p>
<p>Jangan buat ina macam ni! Ina kan menantu ayah, tepis ustazah norzalina sambil<br />
menutup buah dada dan burid dengan tangannya. Ustazah norzalina takut kalau-kalau<br />
dia akan mengandungkan anak pak dollah jika batang pak mentuanya berjaya<br />
menguasai dirinya. Ustazah norzalina yang telah terlentang telah dipegang kedua<br />
belah tangannya secara paksa. Keadaan kaki ustazah norzalina yang terbuka<br />
memudahkan batang pak dollah memasuki buridnya. Sedikit demi sedikit batangnya<br />
disorong tarik dalam burid ustazah norzalina.</p>
<p>Lama kelamaan ustazah norzalina tidak mampu lagi menahan keghairahan yang telah<br />
menguasai dirinya lalu orgasme emmmm.. urrrghh.. aaahhhhhh, meleleh-leleh air<br />
buridnya. Pak dollah yang nafsunya masih tidak puas, memaksa ustazah norzalina<br />
berdiri dan menonggeng. Tangan pak dollah memegang sisi punggung menantunya<br />
lalu menekan batangnya ke dalam burid. Punggung ustazah norzalina yang besar<br />
dan putih membuatkan pak dollah semakin bernafsu. Sakkkiiitttt ahhh.., jerit<br />
ustazah norzalina bila buridnya dikasari dengan tujahan batang pak dollah. Ayakan<br />
pak dollah menjadi semakin laju sehingga batangnya merapati kemaluan ustazah norzalina.</p>
<p>Wajah ustazah norzalina kelihatan sangat bernafsu ketika didogy-style pak dollah.<br />
Ustazah norzalina yang merasakan pak dollah akan mencapai klimaks, telah menjerit<br />
’jangaannn lepaskan di dalam yahh’.</p>
<p>Baiklah ina tapi dengan satu syarat, kata pak dollah. Ina kena hisap batang ni<br />
sampai keluar air dan ina mesti minum setiap titik air tu, kalau tidak ayah<br />
akan lepaskan kat dalam rahim ina. Memang jamin ina mesti hamil sebab dah 6<br />
tahun benih ayah diperam. Baiklahhh, jawab ustazah norzalina.</p>
<p>Pak dollah sebenarnya hanya ingin memperdayakan menantunya. Untuk menjerat ina<br />
supaya akan berusaha lebih bersungguh semasa menghisap batang. Namun kalu pancut<br />
tu akan tetap gak kat dalam rahim ina. Bagi Pak Dollah kalau tak pancut kat<br />
dalam separuh kepuasan bersetubuh tu akan gagal dikecapi.</p>
<p>Pantas batangnya dihalakan ke mulut ustazah norzalina. Walaupun jijik dimata<br />
ustazah norzalina namun terpaksa dilakukannya juga. Kuluman demi kuluman hanya<br />
meletihkan ustazah norzalina, malah pak dollah belum menunjukkan tanda-tanda<br />
ingin memancutkan air maninya. Pak dollah terus meramas buah dada menantunya itu.<br />
Akhirnya ustazah norzalina kepenatan. Pak Dollah tersunyum. Dia berjaya menikmati<br />
kuluman hebat dan juga akan dapat memancutkan air mani ke dalam telaga zuriat<br />
memantunya yang sedang subur.</p>
<p>‘Jangan lepaskan kat dalam’, rayu menantunya. Pak dollah tersenyum sambil<br />
menonggengkan kembali tubuh ustazah norzalina lalu menjunamkan batangnya kedalam<br />
burid. Kan Ina dah engkar syarat&#8230; kejap lagi ayah akan hamilkan menantu ayah<br />
ni&#8230; Lantas Pak Dollah pun membuat ayakan-ayakan yang laju lalu melepaskan air<br />
maninya yang berhamburan ke permukaan rahim ustazah norzalina. Akhirnya pak<br />
dollah meninggalkan rumah dan terus pulang ke kampung. Ustazah norzalina yang<br />
malu telah merahsiakan kejadian itu daripada pengetahuan suaminya.</p>
<p>Dua bulan berlalu dan ustazah norzalina disahkan mengandung. Suaminya gembira<br />
mendapat berita itu tanpa mengetahui perkara sebenarnya. Dia mati mati sangkakan<br />
bahwa dialah yang telah berjaya menghamilkan norzalina. Selepas 7 bulan melahirkan<br />
anak ustazah norzalina hidup bahagia disamping cahaya mata dan suaminya.<br />
Sehinggalah pada malam yang malang, suaminya mendapat panggilan telefon daripada<br />
pak dollah yang on the way ke rumah mereka. Kebetulan pada malam itu isterinya tidur<br />
awal lebih kurang pukul 9. Suaminya yang tak sampai hati mengejutkan isterinya,<br />
terus keluar berseorangan menjemput pak dollah distesen bas.</p>
<p>Pak dollah bertanya, mana ina? Ina tidur awal malam ni, mungkin letih kot. Semasa<br />
sampai dirumah lebih kurang pukul 9.30, cikgu ali mendapat panggilan telefon dari<br />
kawan karibnya, yang ingin berjumpa direstoran yang terletak tidak berapa jauh<br />
dari rumahnya. Saya nak jumpa kawan. Kejap lagi saya balik, kata cikgu ali. Pak<br />
dollah hanya tersenyum.</p>
<p>Pak dollah meninjau bilik menantunya dengan berhati-hati. Pak dollah merasa sungguh<br />
berahi bila melihat menantunya sedang tidur dengan keadaan kain batiknya terselak<br />
sehingga menampakkan betisnya yang putih. Pak dollah menanggalkan pakaiannya dan<br />
memadamkan lampu. Pak dollah terus naik keatas katil dalam keadaan telanjang<br />
dan memeluk ustazah norzalina yang sedang tidur. Ustazah norzalina yang tersedar<br />
merasakan itu adalah suaminya. Pak dollah terus menanggalkan colai ustazah norzalina<br />
sambil meramas buah dadanya. Ustazah norzalina merasa sedikit hairan dengan<br />
perilaku suaminya yang menghalakan batang kemulutnya, terpaksalah ustazah<br />
norzalina mengulum batang suaminya yang dirasakan agak berbeza dari biasa.</p>
<p>Selepas itu pak dollah terus menyonyot teteknya kiri dan kanan sampai meleleh<br />
susu. Ustazah norzalina merengek kesedapan, ‘abannngg saya dah tak tahan ni..’<br />
pak dollah terus membuka ikatan kain batik menantunya, lalu dijilatnya kemaluan<br />
ustazah norzalina tanpa menanggalkan seluar dalam. Ustazah norzalina yang mencapai<br />
perasaan berahi yang tidak terperi telah<br />
mengalirkan air burid yang agak banyak.</p>
<p>Seluar dalam dilurutkan lalu batangnya menjelajahi bibir burid ustazah norzalina.<br />
yang telah mengemut tak henti-henti. Ayakan yang berterusan membuatkan ustazah<br />
norzalina mengerang kesedapan, ’ahhh ahhh aahhh laju lagi bannggg aahh’ seolah-olah<br />
dia sedang berasmara dengan suaminya sendiri.</p>
<p>Peluang itu dimanfaatkan pak dollah dengan mendukung ustazah norzalina sambil<br />
mengayak buridnya secara berdiri. Ini agak menyakitkan kemaluan ustazah norzalina,<br />
&#8220;sudahlah banggg sakittt&#8221;, rengeknya. Lalu ustazah norzalina ditonggengkan,<br />
ustazah norzalina bertanya, ‘abang tak pernah lakukan persetubuhan dengan cara<br />
begini?’ pak dollah tidak menjawab lalu mendogystyle ustazah norzalina dengan<br />
agak ganas. Ustazah norzalina yang mencapai tahap orgasme telah mengerang,<br />
‘abangggggggggggg, dah nak keluarrrrrrr niii&#8230;uhh..ahhhhh..aaahhh’.</p>
<p>Kemudian disusuli dengan lepasan air mani pak dollah yang mencurah ke dalam<br />
rahimnya. Mereka terbaring bersama selama 30 minit. Pak dollah yang kembali<br />
bernafsu mencium mulut ustazah norzalina sambil mengulum lidahnya. Kelainan yang<br />
dirasai ustazah norzalina membuatkan dia mengesyaki sesuatu lalu terus bangun<br />
sambil menutup tubuh dengan pakaian dan menyalakan<br />
lampu. Alangkah terkejutnya ustazah norzalina bila melihat pak dollah sedang<br />
mengurut batangnya yang kembali menegang. Ustazah norzalina menyangka tubuhnya<br />
disetubuhi suaminya tetapi yang nyata tubuhnya telah diperkosa bapa mertuanya<br />
untuk kali kedua.</p>
<p>Dua bulan selepas peristiwa tu&#8230; sekali lagi ustazah norzalina telah disahkan<br />
mengandong&#8230; Namun peristiwa itu tetap juga dirahsiakan daripada pengetahuan<br />
suaminya. Kegusaran pasti menghantui perasaannya apabila terbayangkan kemungkinan<br />
kali ke tiga dia akan dirogol dan juga dihamilkan sekali lagi oleh Pak Dollah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HOMBRENG (4)]]></title>
<link>http://t0mmys3ty4.wordpress.com/2009/11/24/hombreng-4/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 12:07:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>TOMMY S N</dc:creator>
<guid>http://t0mmys3ty4.wordpress.com/2009/11/24/hombreng-4/</guid>
<description><![CDATA[(1) Seorang suami gemar menggoyang si Inem, pembantu mereka. Istrinya cemburu. Ketika tidur, istriny]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>(1) Seorang suami gemar menggoyang si Inem, pembantu mereka. Istrinya cemburu. Ketika tidur, istrinya mengikat kakinya dengan kaki suaminya. Suatu malam, istrinya terjaga. Ia merasa berada di kamar lain. Benar saja, ia berpindah ke kamar si Inem. Astaga . . . suaminya nekad menggoyang si Inem dengan membawa dirinya serta ! (2) Seorang suami tidur mendengkur. Mendengar itu, istrinya merasa senang. Karena, itu berarti, suaminya tertidur pulas, dan tidak mungkin berbuat macam-macam dengan pembantu mereka. Suatu malam, istrinya terjaga. Seperti biasa, ia mendengar suaminya mendengkur. Tapi, suaminya tidak berada di sampingnya ! Ia pun mencari asal suara itu. Astaga ! Di kamar sebelah, suaminya menggoyang pembantu mereka sambil berpura-pura mendengkur ! (3) Seorang napi ketahuan nyabun dalam penjara. Sipir marah, &#8221;Kerjamu, tiap hari nyabun. Malah kemarin mengenai muka teman sekamarmu. Kenapa ?&#8221; Jawabnya, &#8221;Saya kangen  anak saya, pak.&#8221; Kata sipir, &#8221;Kangen anak, kok nyabun. Apa hubungannya ?&#8221; Jawabnya, &#8221;Masalahnya, kalau ingat wajah anak, saya jadi ingat &#8216;wajah&#8217; jalan lahirnya . . .&#8221; (4) Istri seorang dukun sakti, minta uang belanja. &#8221;Pa, minta uang belanja.&#8221; Lalu, suaminya merogoh sesuatu dari dalam celana. Ajaib ! Di tangan si dukun, terselip lembaran uang Rp. 50.000. Istrinya minta tambah, &#8221;Kurang. Bumbu dapur habis. Bawang merah, putih, ijo.&#8221; Jawab suaminya, &#8221;Uang yang ada tinggal itu. Kalau tak percaya, lihat saja sendiri.&#8221; Suaminya membuka celana. Anunya polos, tanpa bulu samasekali. &#8221;Yang itu.&#8221; Istrinya menunjuk selembar bulu yang masih tersisa. Jawab si dukun, &#8221;Yang ini, untuk bayar tagihan listrik . . &#8221; </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Paijo sialan]]></title>
<link>http://kombet.wordpress.com/2009/11/24/paijo-sialan/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 07:28:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>kombet</dc:creator>
<guid>http://kombet.wordpress.com/2009/11/24/paijo-sialan/</guid>
<description><![CDATA[Aku kembali ke depan dan kulihat Pak Paijo akan mengayuh becaknya meninggalkan lokasi rumahku. Malam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Aku kembali ke depan dan kulihat Pak Paijo akan mengayuh becaknya meninggalkan lokasi rumahku. Malam harinya adalah malam Minggu, istriku mengenakan daster batik bermotif bunga yang agak ketat sehingga perut istriku yang sudah tak begitu ramping tampak menonjol di depan sedangkan pantat bahenolnya membentuk menonjol ke belakang dan kedua payudara tak berBH tampak montok dengan kedua putingnya yang menonjol. Setelah makan malam tak seperti biasanya istriku berdandan seolah akan menghadiri pesta, entah mengapa aku diam dan hanya berkomentar kau tambah cantik, dik, mau kemana? �Tanyaku. Siapa tahu ada tamu, mas katanya santai Kok tamu? Tak kira aku..�kataku Tamu kan harus dihormati dan dilayani katanya Dilayani? aku bergumam bertanya tanya Aku kemudian menonton acara TV dan kuhidupkan lampu 5 watt sambil tiduran di kursi panjang didepan pintu kamarku, istriku menemaniku di kursi panjang menghadap ruang tamu. Mataku tak dapat bertahan dan aku tertidur entah berapa lama, sampai aku terbangun mendengar rintihan istriku aku tak dapat bergerak sama sekali ketika kulihat istriku tidur tertelentang pantat bahenolnya di pojok tempat tidur busa di kamar dengan kedua kaki terjuntai di lantai dan hah Pak Paijo tukang becak berumur 60 tahunan yag hanya mengenakan kaos singlet belel dan celana pendek komprang itu memeluk tubuh istriku dengan tangan kirinya dan menciumi wajah istriku. kau cantik Bu Yati..katanya berulang ulang Jangan paak Paijooo jangaaan paaaak Jooooo rintih istriku berusaha menahan Pak Paijo, tapi tangan kanan keriput itu meremas remas kedua payudara montok istriku yang hanya terbalut kain daster ketatnya. Kedua tangan istriku terangkat diatas kepalanya terkulai lemah sepertiku kepalanya bergoyang-goyang ingin melepas ciuman bernafsu pak Paijo di wajahnya. Paaaak Joooo �rintih istriku ketika jari-jari keriput pak Paijo menarik-narik dan memelintir putting susu istriku dengan kasarnya bergantian Tangan istriku yang lunglai terkepal dan kedua matanya tertutup rapat dan menggigit bibir merahnya merasakan ganasnya pak paijo memelintir kedua putting susunya bergantian. saakiiit paaak� rintihnya agak keras. Nanti akan semakin sakit kata pak Paijo dan kraak tangannya menarik daster atas istriku dan tersembullah payudara montok istriku dengan kedua putting susunya yang mengacung keras. pak Paijo duduk di selangkangan istriku yang terkangkang lebar Eeehh eeehh .eehhh.. rintih istriku berulang ulang ketika jari-jari pak Paijo memelintir dan menarik keras kedua putting susu istriku. sakit pak, sakit pak Jo istriku menghiba dikasihani tapi pak Paijo yang duduk di selangkanngan istriku mengesek ngesek dengan selangkangannya. Kini wajah pak paijo mendekati kedua payudara istriku dan mulut ompongnya menjelajahi kedua payudara montok istriku, rupanya pak paijo tak tahu kalau kedua putting susu istriku bila dijilat oleh lidahnya akan mengeluarkan air susu. Pak Paijo terus menyedot kedua payudara montok istriku hingga membekas merah hampir di semua permukaan kedua payudara montok istriku. Rupanya istriku terangsang hebat oleh ulah kasar Pak Paijo pada dirinya karena kedua putting susunya terlihat mengacung menegang dan tanpa sengaja setelah menjilati permukaan payudara montok istriku, lidahnya menyenggol putting susu istriku yang mengeras dan â€œseeer â€¦. seeerâ€� keluarlah air susu istriku dan â€œOooohh sedap ini,â€�kata Pak Paijo langsung melahap payudara istriku menyedot nyedot dengan kerasnya sehingga istriku merintih rintih kesakitan bercampur keenakkan, istriku menggigit bibirnya dan menggeleng ngelengkan kepalanya merasakan serangan ganas pak Paijo sampai â€œSudaaah paaak â€¦.air susuku haaabiiiiis â€¦.paaak Jooooâ€¦ssaaaakit eehhhâ€¦saaakiiiiiiiiitt paaaaaaaakâ€¦.â€�rintihnya tapi akhirnya â€œOooohhhh heeh heh heh geliiiii paaaaak ooooohhh gusiiiiimuuuu ooooohh paaaakkk Joooo.. akuuuuu keluaaaaaarâ€¦â€¦.â€� pantat istrikupun tersentak sentak ketika orgasme pertamanya keluar. Pak Paijo pun kini menghabiskan air susu kiri istriku sampai â€œOooooohhâ€¦..kaauuuu heebaaaaaat paaak Jooo.. bissaaaaa meraangsaaangkuuuu dariiii putiiiiiiiiiiiing kuuuuu oooooohhhhh akuuuu taaaaaak tahaaaaann â€¦.akuuuu keluaaaaaaarâ€¦..â€�Kembali istriku mengelinjang karena orgasme keduanya malam itu. Tangan Pak Paijo menyingkap daster istriku. â€œWah terlalu tebal jembutmu Bu Yati. Aku tak suka.â€�Pak paijo berdiri dan dari tempatku berdiri aku tak melihat menuju mana pak Paijo. Pak paijo ke tempat tidur lagi dan mengambil tiga bantal di letakkan untuk sandaran kepala istriku sehingga istriku kini dapat melihat selangkangannya dimana dasternya tersingkap memperlihatkan bulu-bulu kemaluannya yang lebat. Pak paijo mendekat selangkangannya dan rupanya dia mengambil silet cukur goal kepunyaanku dan â€œJangaaan paaaakâ€¦.â€�rintih istriku melihat Pak Paijo akan menggunduli jembutnya. â€œBiar terang,â€� kata Pak paijo dan kreek kreeek mulai lah pak paijo mencukur bulu kemaluan istriku. Se telah benar-benar bersih Pak Paijo mengambil cermin kecil dan menyuruh istriku melihat selnagkangannya. â€œLihatâ€¦..itilmu terlihat â€¦.kelentit Bu Yati terlihat â€¦â€�katanya sambil mengelus elus yang membuat istriku mendesis desis. â€œLebih gampang kan Bu Yati..â€�katanya. Pak paijo mengambil air dan sabun cair dari wastafel kamar dan mengosok selangkangan istriku sampai berbusa dan istriku terus mendesis desis karena perlakuan Pak paijo. Pak Paijo melepas kaos singletnya dan tampak dadanya yang bidang berbulu.dan Pak Paijo berlutut diantara kedua kaki istriku yang terkangkang lebar. Pak Paijo merapatkan dadanya yang berbulu pada selangkangan istriku yang gundul dan mulai menggerak gerakan tubuhnya sehingga dada berbulunya menggesek gesek bibir kemaluan dan kelentit istriku. â€œPaaaakkâ€¦â€¦heehâ€¦â€¦enaaaaakâ€¦.paaaaaakâ€�desis istriku keenakan dan semakin lama semakin cepat dada bidang berbulunya menggosok selangkangan istriku dan â€œPaaaaakâ€¦â€¦Joooooâ€¦.akuuuu .taaaaa .tahaaaaaaaanâ€¦â€¦.angngngngngâ€¦â€¦..dan pantat bahenol istriku tersentak untuk ketiga kalinya mencapai puncak orgasme. Kini Pak Paijo meletakkan tubuh istriku di tengah tempat tidur kepala istriku tetap bersandar ke tiga bantal dan pantat bahenolnya diletakkan di tepi tempat tidur, kedua tangan istriku yang lunglai di samping tubuh istriku dan kedua kakinya dikangkangkan Pak Paijo lebar lebar sehingga persis di tempat ku tidur di kursi panjang. Pak Paijo mengambil jepit jemuran pakaian dan â€œSakiiiiitâ€¦paaaaakâ€¦.â€�rintih istriku ketika Pak Paijo tanpa rasa kasihan menjepit kelentit istriku dengan penjepit jemuran. Rintihan istriku semakin keras tatkala Pak Paijo menarik narik penjepit itu â€œUuuuh..sssaaaakiiiiit ..paaaaaaakâ€¦ampuuuun â€¦paaaaakâ€¦ampuuunâ€¦jangan siksa sayaaa ..paaakâ€¦â€� Pak Paijo menghentikan permainannya dan kini sisir kawat istriku di tangan pak Paijo, setelah membuka lebar-lebar bibir vagina istriku, pak Paijo memasukkan gagang sisir ke dalam liang vagina istriku sampai kawat-kawatnya menempel pada bibir vagina istriku yang mengerang erang â€œAmpuuuun paaaakâ€¦saaaakiit..sudaaaah paaak jangaan sakiti sayaaa paaak â€¦.ampuuuunâ€¦â€� Rupanya pak Paijo senang menyakiti pasangan bersetubuhnya dan aku semakin tak berdaya melihat tangan pak Paijo membawa kalung manik-manik sebesar kelereng dan kulihat pak Paijo menekan kedua paha istriku yang terkangkang lebar itu ke perut istriku sehingga lubang anus istriku terlihat jelas. â€œAmpuuunâ€¦paaaaakâ€¦â€�erang istriku ketika manik-manik sebesar kelereng itu dimasukkan satu persatu ke lubang anus istriku hingga dari sekitar 15 manikmanik itu hanya dua yang tidak dimasukkan ke lubang anus istriku. â€œAyo bangun Bu Yatiâ€¦â€�perintah pak Paijo. Kulihat istriku dengan susah payah bangun dari ranjang. â€œHaa ..haaa..haaaâ€¦Bu Yati sekarang punya ekor di depan seperti bunga mekar â€¦. haa haa..haa.. waah ada antenenya di tengah dan ekor belakangnya ada dua bulatanâ€� pak Paijo tertawa terkekeh kekeh sambil menyalakan rokok klobotnya. â€œAyo dandan yang menor lonteâ€¦â€�katanya. Aku terkesiap ketika tukang becak tua itu mengatakan istriku lonte. â€œCepat pelacurâ€¦â€�bentaknya dan dengan tertatih tatih istriku menuju meja rias. Istriku sedang berdandan ketika Pak Paijo membuka almari pakaian. â€œHa ini dia.â€� rupanya Pak Paijo menemukan kain panjang istriku beserta kebaya tipisnya. â€œAyo cepat lonteâ€¦wah matanya kurang tebal, ginjumu kurang merah goblokâ€¦â€�bentaknya sambil menjambak rambut istriku hingga kepala istriku tengadah. Istriku meneruskan dandannya dan kulihat eye shadow tebal istriku dan bibirnya memakai lipstik merah menyala yang memang tak pudar walaupun tergesek. â€œPakai ini..â€�perintah pak Paijo. Istriku mengenakan kain panjang yang hanya dililitkan ke perutnya dan hanya ditali ujung-ujung kain panjangnya sehingga paha dan selangkangannya dengan satu sibakan akan tersingkap dan istriku mengenakan kebaya tipisnya sehingga kedua payudara montoknya yang penuh dengan bekas sedotan merah mulut pak Paijo tampak semakin menyenangkan pak paijo. Pak Paijo menyalakan lilin dan ditaruh di meja rias â€œberdiri lonteâ€¦â€�katanya, istriku berdiri dan pak Paijo yang duduk di kursi rias â€œSini tak pangku lonte..â€�kata Pak Paijo. Istriku duduk di pangkuan Pak paijo, kedua kaki istriku dikangkangkan Pak Paijo dan mulailah permainan Pak Paijo. â€œSakiiit..paaaaakâ€¦â€�ketika sisir kawat yang gagangnya masih di liang vagina istriku dikeluar masukkan dengan kasar, penjepit jemuran di lepas dari kelentit istriku dan tangan kiri Pak Paijo memeluk pinggang istriku dan jari-jari tangan kirinya mengelus-elus kelentit istriku.Enak Bu Yati �tanya pak paijo dan tangan kanan istriku memeluk pundak Pak Paijo dan eehh paaaak �desis istriku, rupanya pak Paijo ahli dalam permainan kelentit wanita, kulihat telapak kaki istriku mengejang. â€œSaakitâ€¦eeh â€¦enaakâ€¦ooohh akuu ooohhâ€¦â€¦sakitt Bu Yati enak terus sakit gimana sih.â€�tanya Pak Paijo. â€œEmbooh paaaakâ€¦.. Plaaaakâ€¦pak Paijo menampar pipi kiri istriku. â€œAku tanya lonte, jawab ngertiâ€™ Kulihat istriku berkaca-kaca â€œYang sakit eh eh â€¦tempikku pak dan torokku..â€�kata istriku terbata bata. â€œha ha haâ€¦.bu guru memang lonteâ€¦â€�kata pak Paijo â€œYang enak, apa Bu Yatiâ€� â€œItilku pakâ€¦â€�jawab istriku â€œBu Yati suka yang sakit apa yang enak.â€� tanya pak Paijo lagi Istriku diam sesaat dan â€œyang enak, pakâ€� jawab istriku â€œPaaakâ€¦â€�desah istriku, rupanya jari-jari besar pak paijo masuk ke liang vagina istriku setelah mencabut gagang sisir kawat. â€œBerapa tongkol laki-laki selain suamimu yang masuk liang vaginamu, buâ€� Istriku terdiam. â€œBerapa tongkol laki-laki selain suamimu yang pernah merasakan sempitnya liang vaginamu, buâ€� â€œPaakâ€¦.Jooooâ€¦eehâ€¦banyaaak paaaak lebih dari empatâ€¦..â€�istriku mengaku. â€œBu Yati lonte apa guru siihhâ€¦atau gurunya lonteâ€¦â€™tanya Pak Paijo terus memprmainkan jari-jarinya di dalam liang vagina istriku yang mulai menggelinjang. â€œPaaak eeeh akuuu ooohhhâ€¦..â€�telapak kaki istriku mengejang tangan kanannya memeluk tubuh tua gempal pak Paijo dan istriku menggesek ngesek payudara kanannya ke dada berebulu Pak Paijo dan â€œPaaakk Jooooooo akuuuuuu keluaaaaaaaarâ€¦..â€� istriku mengalami orgasme ke empat dan pak Paijo mendudukkan istriku di meja rias dan mengkangkangkan kedua kaki istriku lebar lebar. â€œPak Jo..pak Jo pak Jo ennaaaaaakkâ€¦.â€�rupanya pak Paijo melahap selangkangan istriku yang gundul melumat bibir vagina dan kelentit istriku bergantian menyedot menjilat dan â€œOoooh â€¦keluar satuâ€¦.ooooh enak pak Jooo akuuu oooohhh keluar satu lagiiâ€¦.ooooooohhhâ€¦akuuuuu keluar pak Jooooâ€¦â€¦.â€� Rupanya Pak Paijo memang jago menyenangkan wanita karena istriku selain dijilati dan dikempot bibir kemaluan dan kelentitnya juga lidahnya menyelajahi liang vagina istriku sambil menarik manik-manik dari lubang anus istriku hingga keluar satu persatu. â€œOoohh bibir vaginakuuu ooooohâ€¦itiiiiillkuâ€¦..torooooookkuuuuâ€¦..anuuussssooooh aku keluaaaaar â€¦â€�istriku orgasme yang keenam, ketujuh, ke delapan dan tubuh istriku lunglai dan Pak paijo menidurkan istriku di ranjang Pak Paijo masih menyisakan manik-manik di anus istriku dan pak paijo yang sudah terangsang itupun memelorotkan celana pendek komprangnya dan tampaklah tongkol pak Paijo yang panjang hampir 20 cm ngaceng berdiri tegak, tongkolnya tidak besar, tapi panjang dan kepala lemaluannya sangat besar hampir sebesar bola kasti dan yang menakutkan adalah banyaknya bulatan kecil hampir menyebar di seluruh batang kemaluan Pak Paijo. Pak Paijo mendekati istriku yang tergolek lemah ditempat tidur sambil tangan kanannya memegangi tongkolnya yang sudah ngaceng dan mengarahkan ke wajah istriku. â€œAyo kulum sundal..emut tongkolkuâ€¦â€�perinrthnya kepada istriku, istriku sempat memalingkan wajahnya dan dengan kasarnya tangan kirinya meraih tengkuk istriku dan dengan paksa memasukkan tongkol yang berbuntil-buntil ke dalam mulut istriku. Pak paijo meraih 2 bantal dan menandarkan kepala istriku dan kedua tangan gempalnya memegang belakang kepala istriku dan dengan kasarnya Pak Paijo memaju mundurkan pantatnya sehingga tongkolnya menyetubuhi mulut istriku. kedua tangan gempalnya memeju mundurkan kepala istriku hingga beberapa saat dan setelah puas, Pak Paijo melepas tongkolnya dari kuluman mulut istriku. dan tubuh Pak Paijo beralih turun ke bawah dan kedua tangannya mengkangkangkan kedua kaki istriku yang sudah tak berdaya. Kini ku dapat melihat dengan jelas kalau bintil-bintil ditongkol Pak Paijo adalah peloran klaker yang diselipkan diantara kulit ari dan kulit jangat tongkolnya. tongkol ngacengnya di arahkan ke liang vagina istriku dan kepala tongkolnya yang hampir sebesar bola kasti itu di tempelkan ke bibir vgaina istriku dan â€œHeeegâ€¦â€�istriku tersedak ketika dengan kerasnya Pak Paijo menusukan tongkolnya ke dalam liang vagina istriku. â€œPaaaakâ€¦.â€�desah lirih istrku ketika Pak Paijo mulai memasukkan tongkolnya yang berkepala besar dan peloran di batang tongkolnya. â€œEeehhâ€¦paaaaakâ€¦â€¦rasanyaaaa kok oooooohhhhâ€¦.akuuuuu keluaaaaaaarâ€¦.â€�rintih istriku mencapai orgasme yang ke sembilan pantat bahenol istrikupun tersentak-sentak dan hal ini dimanfaatkan oleh pak Paijo mengenjot pantatnya yang membuat istriku semakin mengerang-erang keenakakanâ€�oooh torokkku gateeeeelâ€¦paaaakâ€¦.enaaakkâ€¦oooooohhhhhâ€¦.aku keluaaaaarâ€¦..â€� rintih istriku pada orgasme ke sepuluhnya dan pak Paijo memiringkan tubuh istriku ke kanan dan mengangkat kaki kanan istriku dipundaknya dan semakin menancaplah tongkolnya ke dalam liang vagina istriku. Sambil terus memaju mundurkan pantatnya, pak Paijo benar-benar mengocok tongkolnya dengan buas ke dalam liang vagina istriku dan menarik keluar manik-manik dari anus istriku satu persatu dan kulihat wajah kuyu istriku meringis ringis dan mulutnya meracau â€œEnaakâ€¦oohh ..anuskuuu sakiiiitt enaaak tongkolmu paaaakâ€¦gateeeel torokkuuuu â€¦lelentitkuâ€¦.ooohh aku keluaaaarrâ€¦â€¦â€�Orgasme istriku ke sebelas. Pak paijo menarik tubuh istriku yang lunglai hingga pantat bahenolnya di pinggir tempat tidur dan tubuhnya tetap dimiringkan oleh Pak Paijo dan Pak paijo turun dari tempat tidur mengangkat kaki kanan istriku dan menancapkan kembali tongkolnya ke dalam liang vagina istriku dan dengan posisi setengah berdiri Pak paijo mengenjot pantatnya sehingga tongkolnya dengan cepat keluar masuk dan mengucek ucek liang vagina istriku. Kulihat istriku mengerutkan wajahnya dan menahan giginya dan bibir merahnya terkatup merasakan serangan brutal tongkol pak paijo di liang vaginanya. Rupanya Pak Paijo berusaha memepercepat klimaknya. â€œBu Yatiâ€¦Lontekuuuuâ€¦..dan genjotan pantatnya begitu cepat (aku tak pernah mengenjot pantatku seperti pak Paijo) dan aku pun terkesiap mendengar rintihan istriku â€œJuragaaanâ€¦.Paijooooâ€¦.lontemu. keluaar terussâ€¦..juragaaaaaaanâ€¦.â€� â€œOoooooooooohh lonteeeeekuuuuuuuuu Yatiiiiiiiiiiâ€¦â€¦â€� â€œIya juraganâ€¦ juragan paijoooooâ€¦aku lonteemuuâ€¦..â€� erang istriku â€œYatiiiiiiâ€¦â€¦lontekuuuuuuâ€¦akuuuâ€¦metuuuuuâ€¦.â€�dan pantat Pak Paijo tersentak sentak dan karena erangan gila istriku mengatakan Pak Paijo juragan alias majikannya membuat Pak Paijo klimaks dan menyemprotkan airmaninya ke dalam rahim istriku. Bersamaan dengan itu, aku beronani mengluarkan airmaniku di karpet. Aku bangun ksiangan hampir jam 1 siang, stelah mandi aku bergegas ke kamar. â€œSudah bangun, masâ€¦â€�kata istriku tampak gugup dan menarik sleimu tebalnya â€œSudah ,â€� kataku. â€œAku ngantuk mas..â€�katanya. â€œGantian ya Jeng Yatiang tidurâ€� Aku menyisir rambut dan mendekati istriku yang tidur berselimut rupanya istriku kelihatanya menutupi sesuatu di balik selimutnya. â€œYaâ€¦tidurlah aku mau beli rokok,â€�kataku sambil mengecup pipinya. Aku keluar dan menutup kamar untuk beli rokok di warung. Kuusahakan agak cepat setengah berlari sehingga aku cepat kembali ke rumah dan bertemu Pak paijo sedang mangkal di depan rumahku. Pak Paijo tersenyum-senyum padaku seolah menghina, aku hanya menyapa. Didalam hatinya Pak Paijo terbahak-bahak melihatku karena istriku telah disetubuhinya semalaman sekehendak hatinya tanpa aku dapat berkutik. Aku masuk dari pintu dapur di samping rumah yang memang sengaja tak kukunci dan aku masuk berusaha tak menimbulkan suara, lagi pula aku sering berlama-lama di warung rokok. Jeng Yatiang dari tadi curiga terhadap istriku yang tak biasanya berselimut di siang haripun mendengarkan rintihan istriku dari dalam kamar. Aku mengintip di lubang kunci dan â€œdeeerâ€� hatiku bergetar, ketika kulihat istriku dengan selimutnya tersingkap, kedua kakinya terkangkang lebar memeperlihatkan pangkal paha yang kini tak berambut lagi dan yang membuatku tercengang adalah jari-jari tangan kanan istriku menggosok-ngosok kelentit dan bibir vaginanya sehingga pantat bahenolnya terangkat angkat dan di lubang anusnya hanya tertinggal 5 manik-manik diluar. Rupanya istriku benarbenar terangsang kini tubunya memeluk guling besar dan kedua tangannya menekan guling ke arah selangkangannya sambil terus menggesek-ngesekkan pangkal pahanya yang gundul tak berambut itu dengan guling. Kini istriku menelungkupi guling itu dan tangan kanannya meraih manik-manik itu mengeluarkan satu per satu dan nafasnya tertahan â€œheeg..â€� setiap kali manik-manik itu keluar dari anusnya sampai sudah sebelas manik-manik yang ada diluar danâ€¦.. â€œJuragan Paijooooâ€¦.sodomiâ€¦.anuuuuskuuuâ€¦..â€�dan pantanya bergoyang maju mundur begitu cepat menggesek gesek pangkal pahanya ke guling yang dipeluknya, tangan kirinya menarik keluar manik-manik yang tersisa dan â€œJuragaaaaaaaan Paijoooooâ€¦.akuâ€¦.keluaaaaaaaarâ€¦..â€�tubuh istrukupun tersungkur. Kesokan harinya ketika istriku akan berangkat mengajar ke SMP â€œXâ€�, kulihat dibalik seragam gurunya istriku tak mengenakan celana dalamnya karena tanpa sengaja sewaktu mengajaknya berangkat kaki kanan istriku sedikit meregak seawaktu duduk. Aku pulang pukul 7.30 malam dan istriku belum datang. stelah menutup gordin ruang tamu dan menyalakan lampu kecil 5 watt dimeja kecil dan mentup selambu antara pintu tamu, aku merasakan kantuk sampai beberapa saat kudengar pagar terbuka dan bunyi kunci pintu depan berputar. Aku ingin menyambutnya, begitu pintu kamar ku buka, aku terhenyak mendengar rintihan istriku â€œJangan paaakâ€¦sudaahâ€¦paaaakâ€¦.nanti suamiku bangunâ€� bisik istriku sambil merintih. Karena raungan lainnya gelap dan hanya lampu 5 watt yang menyala di ruang tamu maka dengan jelas kulihat istriku dibekap dari belakang oleh Pak Paijo. Tangan kiri pak Paijo memegang kedua lengan istriku dari belakang, sedangkan tangan kirinya dengan kasarnya menyingkap rok rempel istriku dan pantat bahenolnya pun tampak. Tubuh istriku didorang hingga kepalanya bersandar pada sandaran kursi panjang ruang tamu dan kaki kanan Pak paijo mengangkat kaki kanan istriku ke atas kursi hingga istriku kini benar-benar menungging diatas kursi dan tangan kanannya menjemabak rambut pendek istriku sehingga kepalanya yang di bantalan kursi berpalaing ke kanan. Tangan pak paijo merogoh celanannya dan dikeluarkannya tongkol panjangnya yang permukaannya penuh dengan pelor. Tangannya menekan kepala istriku dan selangkakngannya di dekatkan ke wajah istriku dan tongkolnya yang ngaceng didekatkan ke mulut istriku dan dengan paksa Pak paijo memasukkan tongkolnya yang panjang dan kepala penisnya yang hampir sebesar bola kasti itu ke dalam mulut istriku yang tak berdaya dam dengan ganasnya pak Paijo mengeluar masukkan penisnya ke dalam mulut istriku yang gelagapan dan melotot saat ujung penis besarnya sampai ke tenggorokkan istriku. Kulihat ludah istriku keluar begitu banyakanya karena mulutnya tak mampu menampung besarnya tongkol Pak paijo yang seperti kalap itu. â€œHeeh gak usah sembunyi, pak ayo keluarâ€�kata pak paijo dan tubuhkupun merasakan sepuluh orang yang tak tampak memukuliku dan perlawananku rupanya sia-sia karena yang kulawan benar-benar tak tampak. Kurasakan tubuhku di lempar di kursi, kepalaku pening sekali oleh bogeman yang tak terlihat tapi terasa. Kurasakan kepalaku didongakkan untuk melihat bagaimana pak paijo memperlakukan istriku yang juga tak berdaya melawan sepertiku. â€œJangaaanâ€¦disituuu paaakkâ€¦.â€�rintih istriku dan kulihat pak paijo menekan nekan tongkolnya ke lubang anus istriku. â€œJangaan pakkâ€¦.â€™ istriku tak dapat bergerak kedua tangannya di bekuk ke belakang oleh pak Paijo sedangkan tubuhnya terdorong ke depan, kaki kirinya masih di lantai tatepi kai kanan istriku diletakkan di kursi sehingga kedua kakinya terkangkan lebar dan pantat ahenolnya semakin merangsang pak pijo karena dalam posisi menungging. â€œAmpuuuuuunâ€¦..paaaaakâ€¦â€¦sakiiiiiiiitâ€¦.jaangaaaaaaaann disssssiiiituuuuuu â€¦jaangaaaaaan anuuuusskuuuuâ€¦oooooh aampuuuuuunâ€¦.sakiiiiiiiitâ€¦â€¦â€¦.â€�kulihat Pak paijo terus berusaha dengan paksa memasukkan tongkolnya ke dubur istriku yang terus mengerang-erang. Tangan kanannya merogoh sakunya dan rupanya dia membawa minyak dan digigitnya plastik itu dan keluarlah minyak goreng diusap usapkan ke konotlnya dan mengosok-ngosok anus istriku dan kulihat jemari tangannnya mulai menusuk anusmya. Mulanya hanya jari telunjuk kemudian jari tengah dan jari manis pak paijo simasukkan ke anus istriku yang mengerang erangâ€¦aku tak tahu entah sakit hanyaâ€¦.â€�eeeehhhâ€¦.hhhuuuuuhhhâ€¦.ngngngngâ€¦..â€� Akhirnya tongkol pak Paijo berkepala besar dan batangnya berpelor itupun diarahkan ke anus istriku dan â€œPaaaakâ€¦.saaaakiiitâ€¦â€¦â€�Pak Paijo terus menusukkan tongkolnya dengan pelahan naumn pasti ke dalam anus istriku yang semakin menunging-nungging. Setelah semuanya masuk istrikupun diberdirikan oleh Pak paijo dan seperti sebuah wayang istriku menurut kemana pak paijo mendorong karena anus istriku sudah terjejali oleh tongkol pak paijo dan pak paijo mulai menndesak desakkan tongkolnya lebih dalam ke anus istriku yang hanya mendesis desis. Pak paijopun menyuruh istriku merangkak sedangkan pak paijo terus di belakang istriku dan begitu posisi istriku merangkak, maka pak paijo mulai mengenjot pantatnya maju mumdur dan tongkolnya mulai keluar masuk di anus istriku, â€œSaakiiit..paakk.. ammmpun paaaaak jangaaaan disodomiiii akuuu pakâ€¦ampunnn jangann anuuusskuuuuâ€¦.paaaaakâ€� istriku mengerang erang. Tapi Pak Paijo seperti kalap semakin cepat mengenjot pantatnya sehingga bunyi selangkakngannya dan pantat bahenol istriku semakin keras dan â€œOoooohhh paaaaaaakâ€¦.akuuuuuu ooooooohâ€¦.akuuuuâ€¦koook ..ennaaaaaaaaakâ€¦..akuuuuu ooohhhhhâ€¦enaaaaaaakâ€¦â€�tiba tiba istriku yang tadinya kesakitan kini meraskan keenakkan. â€œPaaaaaaaakkkk Jooooooooâ€¦â€¦â€�istriku semakin mengerang ketika tangan kanan Pak paijo menggosok kelentit dan bibir vagina istriku yang sudah gundul itu.. Semakin lama semakin gila saja genjotan panta pak paijo dan dengan jelas kulihat tongkol pak paijo keluar masuk di dubur istriku yang terus mengerang keenakan. â€œJuraaaaaagaaaaaaaanâ€¦.aakuuuu tak taaaaaahhhaaaaaaaaan juraaagaan Paijooooâ€¦â€� â€œYatiiii aku mau keluuuuaaaarâ€¦.â€�suara pak paijo serak â€œAyooooo juraagaaaan Paijoooo aaaku mauuu keluaaarrâ€¦.ooooohhhâ€� dan kilihat Pak paijo menempelkan pangkal pahanya ke pantat bahenol istriku ketika air maninya menyembur di liang anus istriku yang juga tersentak sentak karena orgasme. Kulihat keduanya tersungkur tubuh istriku di bawah tubuh Pak paijo. Begitu tengah malam Pak paijo keluar rumahku untuk meronda. Rupanya itu kejadian terakhir dengan pak paijo karena malamnya pak Paijo terbunuh waktu mengejar perampok di perumahan sebelah saat dia akan pulang, kudengar ada temannya nyeletuk kalau mungkin dia telah â€œmemakanâ€� istri orang sehingga dia tidak kebal lagi oleh bacokan perampok</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gara gara suami mabuk]]></title>
<link>http://kombet.wordpress.com/2009/11/24/gara-gara-suami-mabuk/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 07:22:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>kombet</dc:creator>
<guid>http://kombet.wordpress.com/2009/11/24/gara-gara-suami-mabuk/</guid>
<description><![CDATA[Berikut adalah cerita sex seorang istri yang memiliki suami kebetulan lebih tua darinya, namanya dew]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berikut adalah cerita sex seorang istri yang memiliki suami kebetulan lebih tua darinya, namanya dewi, mungkin tak pantas di panggil istri bejat, karena sebenarnya dia jauh dari kesan genit dan binal, hanya saja karena dia haus seks maka kita kategorikan sebagai istri bejat, Inilah cerita sex selengkapnya dimana dewi memanfaatkan rumah kosongnya untuk bercinta dengan karyawan suaminya&#8230;.</p>
<p>Malam itu Dewi terlihat sedang menonton TV diruangan keluarga dengan hanya mengenakan daster warna putih berbahan satin, Dewi terlihat cantik dan sexy mengenakan daster itu, belahan payudaranya yang putih dan mulus terlihat jelas sekali karena daster satu talinya itu berbentuk V, sementara dibalik dasternya Dewi tidak mengenakan BH dan CD, kedua putingnya yang berwana merah mudapun terlihat menonjol di dasternya itu sementara bayangan hitam yang tipis diselangkangannya terbayang dengan jelas.</p>
<p>Dewi memang masih muda umurnya sekarang ini baru 30tahun, dia menikah dengan suaminya pada saat ia berumur 20, sementara suaminya seorang duda beranak satu berumur 40 tahun. Anak tirinya Doni sekarang ini berumur 18 tahun. Sampai saat ini Dewi belum dapat memberikan keturunan kepada suaminya, mungkin ini yang membuat tubuh Dewi tetap sexy terutama kedua buah payudaranya yang masih kencang.</p>
<p>Hari ini suaminya memang pulang terlambat karena harus menjamu tamunya dan Doni sendiri menginap dirumah temannya, saat ini Dewi sendirian dirumah.</p>
<p>Malam semakin larut, hawa dingin karena hujan dan kesepian tanpa ada yang menemani ngobrol membuat Dewi mulai mengantuk, tanpa terasa Dewi mulai tertidur diatas sofa.</p>
<p>Jam didinding mulai menunjukkan tepat jam 1, sementara Dewi yang terlelap dalam tidurnya tidak menyadari daster yang menutupi tubuhnya sudah tidak menutupi tubuhnya secara sempurna, tali dasternya sudah tidak dipundaknya melainkan sudah berada ditangannya, ini membuat kedua payudaranya terlihat dengan jelas, sementara dibagian bawah sudah terangkat sehingga lembah kenikmatannya yang tertutupi oleh rambut hitampun terlihat dengan jelas.</p>
<p>Saat itu diluar Nampak sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Dewi, dari dalam mobil turun seorang pemuda berbadan atletis, pemuda ini kemudian membuka pintu belakang mobil, si pemudapun terlihat memasukkan setengah badannya kedalam mobil, selang tak lama si pemuda dengan agak setengah menyeret membantu keluar seorang pria setengah baya dalam kondisi mabuk sekali, setelah pria setengah baya itu berada diluar mobil, pemuda itu mulai memapah pria tersebut kearah pintu rumah Dewi sambil tak lupa menutup pintu mobil dan menguncinya.</p>
<p>Sampai didepan pintu, pemuda itu mengeluarkan kunci pintu dan membuka pintu itu sambil tetap memapah pria tersebut, sesampainya didalam pemuda itu tak lupa menutup pintu rumah dan menguncinya kembali, kemudian pemuda itu memapah pria tersebut menuju kamar tidur, saat berjalan menuju kamar tidur pemuda itu menghentikan langkahnya diruangan keluarga, matanya terbelalak melihat pemandangan yang membangkitkan birahi, dia melihat kedua payudara Dewi yang putih dan mulus juga lembah kenikmatannya yang tertutupi oleh rambut hitam, melihat itu semua sipemudapun menelan air liurnya berkali-kali sementara, bagian bawah tubuhnya perlahan-lahan mulai begrerak.</p>
<p>Tanpa membuang waktu lagi pemuda itu dengan cepat memapah tubuh bossnya yang mabuk berat kearah kamar tidur, yang memang tidak terlalu berjauhan dengan ruang keluarga, setelah merabhkan tubuh bossnya dan membuka sepatunya, pemuda itu keluar dari ruang tidur dan menutup pintunya, kemudian dia kembali menuju keruangan keluarga dimana Dewi masih terlelap dalam tidurnya, sesampainya didepan Dewi tanpa membuang waktu lagi pemuda itu mulai melepaskan baju, sepatu, celana dan celana dalamnya, sehingga tubuh atletisnya tidak mengenakan sehelai benangpun. Tampak tongkol pemuda itu sudah berdiri dengan tegak sekali.</p>
<p>Perlahan-lahan pemuda itu mulai duduk disamping Dewi, kedua tangannya mulai meremas-remas kedua payudara Dewi, dengan penuh nafsu pemuda itu mulai menjilati putting susu Dewi dan kadang-kadang ditimpali dengan hisapan-hisapan, mulut bekerja tanganpun tidak mau ketinggalan, tangan yang satu meremas-remas payudara Dewi, dan yang satunya mulai mengelus-elus lembah kenikmatan Dewi, saat tangannya mulai menyentuh vagina Dewi, dia merasakan Vagina Dewi sudah basah, nampaknya Dewi sedang bermimpi dient*t, kemudian pemuda itu mulai memasukkan jari tengahnya kedalam lubang Dewi yang sudah basah itu, dengan gerakan perlahan-lahan dikeluar masukkan jarinya itu dimemiaw Dewi. Seluruh aksinya itu membuat Dewi mulai mendesah keenakan, entah karena akibat aksi sipemuda atau karena dia sedang menikmati mimpinya.</p>
<p>Setelah merasakan memiaw Dewi semakin basah pemuda itu kemudian mengeluarkan jari tangannya, lalu ia mulai mengangkangkan kedua kaki Dewi dan mengarahkan tongkolnya kememiaw Dewi, dengan perlahan-lahan sipemuda mulai mendesakkan tongkolnya kelubang memiaw Dewi, sipemuda tidak mau terburu-buru memasukkan tongkolnya dia takut Dewi terbangun, perlahan-lahan batang tongkol sipemuda mulai masuk kedalam lubang memiaw Dewi, ia merasakan memiaw Dewi sangat sempit sekali, nampaknya memiaw Dewi jarang dipakai atau kemaluan suaminya kecil sehingga lubang memiaw Dewi masih sempit, sedikit demi sedikit tongkolnya mulai terbenam dilubang memiaw Dewi, dengan gerakan perlahan sipemuda mulai menurunkan tubuhnya sehingga posisinya mulai menindih tubuh Dewi dan kedua tangannya mulai diselipkan ketubuh Dewi.</p>
<p>Sambil memeluk tubuh Dewi dengan cukup erat dan bibirnya mulai mengulum bibir Dewi, sipemuda membenamkan tongkolnya dalam-dalam kedalam lubang memiaw Dewi, akibat gerakan itu Dewi tersentak dan terbangun dari tidurnya, matanya terbelalak saat melihat wajah sipemuda, tapi Dewi tidak bisa berteriak karena mulutnya sedang dilumat oleh sipemuda, Dewi merasakan bukan hanya mulutnya saja yand sedang dilumat tapi memiawnya pun sedang disumpal oleh tongkol sipemuda ini, dan Dewi mulai merasakan sipemuda menggerakkan tongkolnya dilubang memiawnya.</p>
<p>Bless…sleep…bleess…sleppp…bleess….sleeeppp..</p>
<p>Terlihat Mata Dewi yang tadinya terbelalak karena kaget perlahan-lahan mulai meredup sayu, nampaknya Dewi mulai merasakan kenikmatan dient*t oleh sipemuda, Dewi mengenali sipemuda sebagai Andi salah seorang bawahan suaminya, yang dia tidak mengerti bagaimana Andi bisa masuk kedalam rumahnya dan bagaimana Andi bisa dengan bebasnya memasukkan tongkolnya kedalam lubang memiawnya, tetapi Dewi tidak mau berpikir banyak tentang hal itu yang ada dalam benaknya sekarang ini adalah menikmati sodokan tongkol Andi.</p>
<p>“hmmhh….hhhmmmhhh….hhmmmhhhh” terdengar desahan dari mulut Dewi yang masih dilumat oleh Andi, karena AndI takut kalau ia lepaskan lumatannya Dewi akan berteriak.</p>
<p>Mata Dewi mulai merem melek menikmati sodokan-sodokan tongkol Andi yang besar kalau dibandingkan dengan suaminya, melihat Dewi mulai menikmati ent*tannya Andi mulai berani melepaskan lumatan dibibir Dewi dan mulai menjilati leher dan telinga Dewi, aksinya ini semakin membuat desahan-desahan Dewi semakin menjadi.</p>
<p>“Ouuhhh……ssshhhhh…..aaahhhhh….Annddiiii…..kontoool llmuuuu…eenaakk sekali dan besar sshhhh…aaahhhh…” Dewi mendesah kenikmatan menikmati ent*tan Andi.</p>
<p>“Hmmhhhh…..slrrppp…..hmmmm….memiaw ibu juga eenaaakkk…oohhhh….sslrrpppp….seempiitt sekali … ooohhhh….slllrrpppp…..” Andi melenguh keenakan merasakan memiaw Dewi yang masih sempit sambil tetap menghisap-hisap payudara Dewi.</p>
<p>Dewi merasakan kenikmatan duniawi yang belum pernah ia alami sebelumnya, selama pernikahannya dengan suaminya belum pernah dia merasakan nikmatnya dient*t, selama ini suaminya selalu mencapai kepuasan terlebih dahulu, sementara ia sendiri belum mencapai kepuasan, jangankan untuk mencapai klimaks, untuk merasakan keenakan saja Dewi belum pernah merasakannya, berbeda dengan saat ini saat memiawnya disodok-sodok oleh tongkol Andi yang memang dalam ukuran saja lebih besar dan lebih panjang dari punya suaminya, apalagi Andi masih muda.</p>
<p>Kedua insan ini sudah tidak ingat apa-apa lagi selain menikmati persetubuhan mereka yang semakin menggila, Andi semakin cepat mengeluar masukkan tongkolnya didalam lubang memiaw Dewi yang semakin basah, sementara Dewi sendiri dengan semangat 45 menggoyangkan pantatnya mengimbangi gerakan Andi, keringat sudah mengalir dari kedua tubuh mereka.</p>
<p>“Ouughhh … Andi ….teruussss….ooughhh… enaaakkkk….sekaalliii….oughhhh….tekaaaann yang dalam, Oughhh….puaskaannn…akuuuu…..yaaahhh,…aaaahhhh”. Lenguhan Dewi semakin menjadi.</p>
<p>Andi mengikuti kemauan Dewi dengan menekan lebih dalam tongkolnya dilubang memiaw Dewi, ia merasakan ujung kepala tongkolnya menyentuh bagian paling dalam memiaw Dewi.</p>
<p>“Aaagghhh…akuuu..sudah tidak tahan laaagiiii…ouugghhhh…Anddiiiiii……aku mau keluar…ough enaaaaakkkk sekali tongkollmuuuu…..aaaagghhhhhh…..Andi ….akuuu…keluaaarrrrr……… aaaaghhhhhhh.” Dewi mengerang.</p>
<p>Srrr…..cccreeet….ssssrrrrr…….. akhirnya Dewi mencapai puncak kenikmatannya, tubuhnya mengejang saat ia mencapai kepuasannya, vaginanya berdenyut-denyut saat mengeluarkan lahar kenikmatannya, Andi sendiri merasakan vagina Dewi seperti meremas-remas tongkolnya, Andipun lalu menekan lebih dalam tongkolnya dan membiarkan tongkolnya terbenam sebentar didalam lubang memiaw Dewi.</p>
<p>Dewi memeluk erat-erat Andi, sementara kakinya ia kaitkan dengan erat dibelakang pinggul Andi, sehingga tongkolnya Andi semakin terbenam dimemiawnya, beberapa saat kemudian Dewi melepaskan pelukan dan kaitan kakinya ditubuh Andi, sementara diwajahnya terpancar kepuasan.</p>
<p>“Andi kamu betul-betul hebat, selama ini belum pernah saya mengalami nikmatnya mengent*t,” Dewi berbisik ditelinga Andi.</p>
<p>“Saya juga merasa enak ngent*tt ibu, memiaw ibu sangat sempit. “ Andi menimpali bisikan Dewi, sambil dengan perlahan-lahan mulai memaju mundurkan lagi tongkolnya.</p>
<p>“Hmmm…aahh..kamu belum keluar.” Dewi bertanya, karena ia merasakan tongkol Andi masih keras. “Hmm..aku pikir kamu sudah selesai”.</p>
<p>“Belum, ibu masih mau lagi?” tanya Andi.</p>
<p>“Hmmm…memang kamu bisa buat aku puas lagi.” Dewi balik bertanya.</p>
<p>“He..he..kita coba saja, apa saya bisa buat ibu puas lagi atau tidak.” Jawab Andi sambil mulai mempercepat gerakannya, sementara tangannya mulai meremas-remas kedua bukit payudara Dewi.</p>
<p>“Kita tukar posisi, biar aku yang menggenjot tongkolmu, sekarang kamu duduk.” Dewi menimpalinya, karena ia sendiri tidak mau membuang kesempatan ini.</p>
<p>Andi kemudian menarik tubuh Dewi tanpa melepaskan tongkolnya dari lubang memiaw Dewi, dengan sedikit berputar Andipun lalu duduk disofa, sementara posisi Dewi sekarang sudah dipangkuannya, dengan posisi ini Andi lebih leluasa untuk bermain di susunya Dewi, kedua tangannya dengan penuh nafsu meremas-remas kedua bukit kembar Dewi, mulutnyapun ikutan beraksi, kedua putting susu Dewi bergiliran dijilati dan dikulum serta dihisap-hisap oleh Dewi, aksi Andi ini perlahan-lahan mulai membangkitkan kembali birahi Dewi, dengan perlahan-lahan Dewi mulai menaikturunkan pinggulnya, gesekan-gesekan tongkol Andi didinding memiawnya membuat birahinya kembali memuncak dengan cepat.</p>
<p>“Ouuughhh….Andiiiii……hiisaaaapppp….tteeeteeekkku…. .ooughhhh…yyaaachhh….begitu… aaaghhhh… tongkolmu enak sekaaaliii…” Dewi mengerang sambil mempercepat gerakan naik turunnya.</p>
<p>“Klo mau keluar kamuuuuu….kkassiih…tahuuu…yaachhhh…..” Dewi berbisik di telinga Andi.</p>
<p>“Hmmhhh…ssslllrpppp…..hhmmmmhh….ok…..aaaagghhhhh., …….” Andi menjawab sambil tetap menghisap-hisap tetek Dewi.</p>
<p>Sleeppp…..blesss…sleeppp….bleesss….slleeepppp….ble essss….. kon**l Andi terlihat keluar masuk dalam lubang memiaw Dewi dengan cepatnya, karena Dewi pinggul Dewi naik turun dengan cepat.</p>
<p>Dewi betul-betul menikmati persetubuhannya ini, gerakkannya semakin cepat dan semakin tak beraturan, lenguhan-lenguhan kenikmatan mereka berduapun semakin kerap terdengar, menikmati persetubuhan ini mereka berdua lupa dengan status mereka, dalam pikiran mereka hanya satu bagaimana mencapai kepuasan persetubuhan ini.</p>
<p>“Ouughhh…Andiiiiii……akkuuuu….mauuuuu,……keellluuaaa rrr…lagi…oooohhhhh….aaaagghhh enaaaakkkkk sssekkaaaaallliiii…..kon**lmuuuu…” Dewi mengerang saat ia merasa bahwa ia akan mencapai lagi puncak kenikmatannya.</p>
<p>Sementara itu Andi juga merasa bahwa ia akan mencapai puncak kenikmatannya, Andipun membantu Dewi yang akan mencapai puncak kenikmatannya dengan memegang pinggul Dewi dan membantu menggerakkan pinggul Dewi naik turun dengan cepat.</p>
<p>“Ouuughhhhh…Buuu….aaakkkuuuu jugaaa…mau kelluaaaarrr…..aaaagghhhhhh….. memiaw ibuuuu… enaaakkk sekaaalliiiii……ooougghhhh….buuuu…aku gak taaahhaaannn…laagi.” Andipun mengerang merasakan puncak orgasmenya yang sudah diujung kepala kon**lnya.</p>
<p>Creeetttt….creeeettt….sssrrr…..ccreeettt……..</p>
<p>tongkol Andi menyemprotkan airmaninya didalam lubang memiaw Dewi, berbarengan dengan memiaw Dewi menyemprotkan lahar kenikmatannya, Dewi merasakan hangatnya sperma Andi didinding lubang memiawnya, sementara Andi merasakan hangat dibatang tongkolnya karena disiram oleh lahar kenikmatan Dewi.</p>
<p>Keduanya berpelukan dengan erat menikmati saat-saat terakhir puncak kenikmatan dari persetubuhan mereka, kedua bibir mereka berpagutan dengan mesra, Dewi sendiri dengan perlahan-lahan menggoyangkan pinggulnya menikmati sisa-sisa kenikmatan dari tongkol Andi.</p>
<p>Tak lama berselang Dewi beranjak dari pangkuan Andi, dari lubang memiawnya terlihat cairan putih mulai mengalir perlahan, sementara tongkol Andi yang mulai mengkerut tampak mengkilat karena cairan kenikmatan Dewi, keduanya kemudian beranjak menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri.</p>
<p>Setelah membersihkan diri keduanya kembali keruangan keluarga dan mulai mengenakan pakaian mereka, lalu Andi berpamitan pulang, ditimpali oleh Dewi dengan kecupan mesra dibibirnya, dan bisikan mesra ditelinganya, “ Terimakasih yach, atas malam yang indah ini”</p>
<p>Dibalas oleh Andi dengan senyuman dan kata-kata yang menggoda,” Kalau ibu ingin kenikmatan lagi, hubungi saya saja”</p>
<p>Dewipun tersenyum atas godaan Andi ini,” Pasti, “</p>
<p>Setelah Andi pulang, Dewi menuju kamar tidurnya, malam ini Dewi tidur dengan lelap dimulutnya terukir senyum kepuasan.</p>
<p>Demikian kisah singkat cerita sex tante dewi dengan karyawannya yang membuat birahi memuncak hingga ke ubun2&#8230;.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Akhirnya Nafsuku Tersalurkan]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/akhirnya-nafsuku-tersalurkan/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 02:50:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/akhirnya-nafsuku-tersalurkan/</guid>
<description><![CDATA[Pak Vito adalah ketua RT di daerah tempat aku tinggal. Ia sering datang ke rumahku untuk keperluan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pak Vito adalah ketua RT di daerah tempat aku tinggal. Ia sering datang ke rumahku untuk keperluan m]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bibiku Korbanku]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/bibiku-korbanku/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 02:11:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/bibiku-korbanku/</guid>
<description><![CDATA[Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Surabaya di sana aku tinggal di rumah Pamanku]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Surabaya di sana aku tinggal di rumah Pamanku]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ani]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/ani/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 01:57:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/ani/</guid>
<description><![CDATA[Ani baru 17 hari tinggal bersama ibunya di Amerika. Untuk gadis yang baru beranjak dewasa ini sangat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ani baru 17 hari tinggal bersama ibunya di Amerika. Untuk gadis yang baru beranjak dewasa ini sangat]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sore, di Sungai itu...]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/sore-di-sungai-itu/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 01:49:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/sore-di-sungai-itu/</guid>
<description><![CDATA[Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan m]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perawanku.....]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/perawanku/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 01:23:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/perawanku/</guid>
<description><![CDATA[Saya ingin menceritakan pengalaman seks saya 8 tahun yang lalu, sekarang saya sudah berumur 22 tahun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Saya ingin menceritakan pengalaman seks saya 8 tahun yang lalu, sekarang saya sudah berumur 22 tahun]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Brownies (Brondong Manis)]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/brownies-brondong-manis/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 01:16:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/brownies-brondong-manis/</guid>
<description><![CDATA[Kisahku dengan Tante Mira terus berlanjut dengan gaya permainan cinta yang semakin seru karena baik ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kisahku dengan Tante Mira terus berlanjut dengan gaya permainan cinta yang semakin seru karena baik ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Putri Ibu Kostku ]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/putri-ibu-kostku/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 00:59:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/putri-ibu-kostku/</guid>
<description><![CDATA[Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di kota Bandung.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Waktu itu usiaku 23 tahun. Aku duduk di tingkat akhir suatu perguruan tinggi teknik di kota Bandung.]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pengalamanku di Kampung]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/pengalamanku-di-kampung/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 00:45:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/pengalamanku-di-kampung/</guid>
<description><![CDATA[Aku Linda, mahasiswi hukum Universitas Pajajaran. Semenjak dua tahun yang lalu, saat diterima kuliah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Aku Linda, mahasiswi hukum Universitas Pajajaran. Semenjak dua tahun yang lalu, saat diterima kuliah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kenangan Bersama Sopirku]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/kenangan-bersama-sopirku/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 00:42:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/23/kenangan-bersama-sopirku/</guid>
<description><![CDATA[Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cewek nakal jilbab mesum]]></title>
<link>http://indohotz.wordpress.com/2009/11/22/cewek-nakal-jilbab-mesum/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 15:16:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>indohotz</dc:creator>
<guid>http://indohotz.wordpress.com/2009/11/22/cewek-nakal-jilbab-mesum/</guid>
<description><![CDATA[Cewek nakal jilbab mesum . KLIK Pada Gambar untuk Memperbesar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h1>Cewek nakal jilbab mesum </h1>
<p>.</p>
<h2>KLIK Pada Gambar untuk Memperbesar</h2>
<p><a href="http://earnmoney4u.co.cc/about/Choosing-Online-Banking.html" target="_blank"><img src="http://img40.imagevenue.com/loc1070/th_61047_jilbab2_123_1070lo.jpg" alt="cerita pemerkosaan, cerita panas, cerita dewasa, cerita seks, cerita merangsang, cerita sexs, cerita sex, cerita setengah baya, cerita daun muda, artis bugil, abg bugil, cewek bugil, foto telanjang, artis telanjang, foto bugil, gambar bugil, cewek telanjang, koleksi foto bugil, gambar telanjang, 17 tahun, abg telanjang, mahasiswi bugil, smu bugil, gadis indonesia bugil, cewek cantik, tante girang, telanjang bugil, cerita lucah, gadis bogel, skandal melayu, aksi gadis bertudung, melayu boleh, melayboleh, gambar tante telanjang" width="160" height="120" border="2" /></a><a href="http://earnmoney4u.co.cc/about/Choosing-Online-Banking.html" target="_blank"><img src="http://img239.imagevenue.com/loc378/th_61052_jilbab3_123_378lo.jpg" alt="" width="160" height="120" border="2" /></a><a href="http://earnmoney4u.co.cc/about/Choosing-Online-Banking.html" target="_blank"><img src="http://img195.imagevenue.com/loc160/th_61042_jilbab1_123_160lo.jpg" alt="cerita pemerkosaan, cerita panas, cerita dewasa, cerita seks, cerita merangsang, cerita sexs, cerita sex, cerita setengah baya, cerita daun muda, artis bugil, abg bugil, cewek bugil, foto telanjang, artis telanjang, foto bugil, gambar bugil, cewek telanjang, koleksi foto bugil, gambar telanjang, 17 tahun, abg telanjang, mahasiswi bugil, smu bugil, gadis indonesia bugil, cewek cantik, tante girang, telanjang bugil, cerita lucah, gadis bogel, skandal melayu, aksi gadis bertudung, melayu boleh, melayboleh, gambar tante telanjang" width="160" height="120" border="2" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cewe nakal foto bugil]]></title>
<link>http://1001bugil.wordpress.com/2009/11/22/cewe-nakal-foto-bugil/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 15:06:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>duniabugil69</dc:creator>
<guid>http://1001bugil.wordpress.com/2009/11/22/cewe-nakal-foto-bugil/</guid>
<description><![CDATA[Cewe nakal foto bugil . KLIK Pada Gambar untuk Memperbesar]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h1>Cewe nakal foto bugil</h1>
<p>.</p>
<h2>KLIK Pada Gambar untuk Memperbesar</h2>
<p><a href="http://earnmoney4u.co.cc/about/Choosing-Online-Banking.html" target="_blank"><img src="http://img218.imagevenue.com/loc191/th_16252_s1_123_191lo.jpg" alt="cewe nakal foto bugil,&#160;pecun indonesia,&#160;cewek cewek bugil,&#160;cewek bogel,&#160;artis hot indonesia,&#160;video telanjang,&#160;siswi video,&#160;artis hamil,&#160;model telanjang,&#160;cipap basah yang sempit,&#160;video pantat anak dara,&#160;cerita gairah,&#160;kenalan malaysia,&#160;cina bugil" width="156" height="160" border="1" /></a> <a href="http://earnmoney4u.co.cc/about/Choosing-Online-Banking.html" target="_blank"><img src="http://img169.imagevenue.com/loc824/th_16253_s2_123_824lo.jpg" alt="" width="133" height="160" border="1" /></a></a> <a href="http://earnmoney4u.co.cc/about/Choosing-Online-Banking.html" target="_blank"><img src="http://img210.imagevenue.com/loc440/th_16255_s4_123_440lo.jpg" alt="" width="160" height="120" border="1" /></a> <a href="http://earnmoney4u.co.cc/about/Choosing-Online-Banking.html" target="_blank"><img src="http://img28.imagevenue.com/loc1096/th_16266_s5_123_1096lo.jpg" alt="cewe nakal foto bugil,&#160;pecun indonesia,&#160;cewek cewek bugil,&#160;cewek bogel,&#160;artis hot indonesia,&#160;video telanjang,&#160;siswi video,&#160;artis hamil,&#160;model telanjang,&#160;cipap basah yang sempit,&#160;video pantat anak dara,&#160;cerita gairah,&#160;kenalan malaysia,&#160;cina bugil" width="160" height="120" border="1" /></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Wanita Wanita Frustasi]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/21/wanita-wanita-frustasi/</link>
<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 06:07:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/21/wanita-wanita-frustasi/</guid>
<description><![CDATA[Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah pada semester ke empat. Aku ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu aku masih kuliah pada semester ke empat. Aku ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bercinta dengan Atasan]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/bercinta-dengan-atasan/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 08:24:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/bercinta-dengan-atasan/</guid>
<description><![CDATA[Namaku Ariel yah sebut saja begitu, umurku 23 tahun dan saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Namaku Ariel yah sebut saja begitu, umurku 23 tahun dan saat ini bekerja di sebuah perusahaan swasta]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Marah dan Kenikmatan Bercinta]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/antara-marah-dan-kenikmatan-bercinta/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 08:03:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/antara-marah-dan-kenikmatan-bercinta/</guid>
<description><![CDATA[Hari itu sudah jam 8 malam, dan Laudia masih sibuk mengetik proposal. Belakangan ini kantor konsulta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Hari itu sudah jam 8 malam, dan Laudia masih sibuk mengetik proposal. Belakangan ini kantor konsulta]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sex in Family ]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/sex-in-family/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 02:03:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/sex-in-family/</guid>
<description><![CDATA[Cerita ini merupakan kisah nyata yg terjadi dlm keluarga kami,tepatnya saat usiaku genap berusia 20t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Cerita ini merupakan kisah nyata yg terjadi dlm keluarga kami,tepatnya saat usiaku genap berusia 20t]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nikmatnya Sensasi Angel Dan Tante Susan ]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/nikmatnya-sensasi-angel-dan-tante-susan/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 01:47:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/nikmatnya-sensasi-angel-dan-tante-susan/</guid>
<description><![CDATA[Pada tahun baru yang lalu aku berkenalan sama cewek yang namanya Angelina yang biasa dipanggil Angel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Pada tahun baru yang lalu aku berkenalan sama cewek yang namanya Angelina yang biasa dipanggil Angel]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nikmatnya Bercinta]]></title>
<link>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/nikmatnya-bercinta/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 01:40:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>baliwalk</dc:creator>
<guid>http://baliwalk.wordpress.com/2009/11/20/nikmatnya-bercinta/</guid>
<description><![CDATA[Setelah sekian lama aku jalani hidup dengan dua orang suami disisiku dan telah banyak kenikmatan dun]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Setelah sekian lama aku jalani hidup dengan dua orang suami disisiku dan telah banyak kenikmatan dun]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
