<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cerpen-agus-noor &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/cerpen-agus-noor/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cerpen-agus-noor"</description>
	<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 05:40:35 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[- Sebutir Nasi untuk Pencuri]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/15/sebutir-nasi-untuk-pencuri/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 13:19:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/09/15/sebutir-nasi-untuk-pencuri/</guid>
<description><![CDATA[INI hari baik buat mencuri. Ia sudah menghitung tanggal, membaca sifat dan watak hari pasaran serta ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-420" title="Sebutir Nasi untuk Pencuri" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2009/09/sebutir-nasi-untuk-pencuri.jpg?w=300&#038;h=230" alt="Sebutir Nasi untuk Pencuri" width="300" height="230" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>INI</strong> hari baik buat mencuri. Ia sudah menghitung tanggal, membaca sifat dan watak hari pasaran serta <em>weton</em>-nya. Menambah, mengalikan dan membagi tanggal-tanggal itu, hingga sebagaimana dalam primbon, ketemu angka yang memperlihatkan hari keberuntungannya. Sebagai pencuri, ia memang percaya hari baik seperti itu. Hari yang akan memberinya keselamatan dan ketenangan ketika mencuri. Setidaknya, dengan memercayai perhitungan hari baik seperti itu, ia menjadi berhati-hati ketika memutuskan kapan ia mesti mencuri. Hingga bertahun-tahun menjadi pencuri, syukur alhamdulillah, semuanya lancar-lancar dan baik-baik saja saja.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Ia mengamati rumah yang hendak dimasukinya, sambil mengeluarkan dari sakunya, kalung tali hitam berbandul tulang kelingking bayi. Inilah jimat yang diperolehnya lewat <em>laku </em>membongkar kuburan bayi<em> </em>dan menggigit hingga putus kelingking mayat bayi itu dengan giginya<em>, </em>berpuluh tahun lalu, saat ia masih muda dan memulai kariernya sebagai pencuri. Ia pakai kalung itu, melingkari leher, kemudian merapal mantra agar kegelapan menyembunyikan tubuh dan bayangannya, agar udara menyimpan semua gerak dan langkahnya. Sesaat setelah selesai merapal mantra, ia mulai merasakan seluruh inderanya menjadi begitu peka. Kulitnya bisa merasakan gesekan dingin yang tipis dan pelan. Dari sudut jalan di mana ia sembunyi di sebalik tembok, ia bisa mendenar dengkur halus dari dalam rumah yang hendak dimasukinya itu. Membuatnya tahu, ada dua orang di dalam rumah itu. Bahkan ia bisa menduga dengan yakin di kamar sebelah mana dua orang itu tidur. Ia pun segera menghitung kemungkinan: pintu atau jendela mana yang mesti ia congkel, agar leluasa masuk dan tak membuat terbangun dua orang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi kenapa mendadak ia merasa ragu begini? Ia yakin telah menghitung dengan benar, ini hari baik baginya untuk mencuri. Jimat keberuntungan pun sudah ia kenakan. Namun kenapa ia masih saja tak bisa menentramnkan debar dalam hatinya yang berdenyut perlahan. Begitu pelan, tetapi bisa ia rasakan. Tak pernah ia merasakan keraguan seperti ini. Pengalamannya sebagai pencuri mengajarkan: saat-saat hendak memulai aksi memang situasi paling mendebarkan bagi seorang pencuri. Pada saat itulah, seorang pencuri yang baik akan dengan tepat memutuskan, apakah melanjutkan aksi atau segera menyelinap pergi. Keputusan yang tepat akan menentukan berhasil tidaknya seorang pencuri. Menentukan hidup mati seorang pencuri! Keraguan, sekecil apa pun, bisa menyebabkan keteledoran yang akan membuatnya ketahuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka ia pun menahan langkahnya. Mencoba menenangkan diri. Mencoba mencari tahu, apa yang membuatnya menjadi agak gugup begini.  Ia mengamati rumah yang hendak dimasukinya itu. Rumah sederhana yang sedikit tersembunyi di pinggir perkampungan. Ia sudah mengamati sejak tiga hari lalu. Ada jendela di sisi kiri, yang terlindung pohon rambutan di sampingnya. Dari jendela itulah ia akan masuk. Ia bahkan sudah menghitung, lewat pintu mana ia akan menyelinap pergi.  Karena pencuri yang baik tak hanya memikirkan bagaimana caranya masuk, tetapi juga mesti memperhitungkan bagaimana agar bisa keluar dengan selamat. Jalan mana yang aman buat menyelinap. Di mana ia bisa sembunyi, meninggalkan barang curian, dan mengambilnya kembali nanti setelah situasi benar-benar aman. Ia sudah memikirkan semua itu – ditambah perhitungan hari baik buat mencuri dan jimat keberuntungan – tapi kenapa masih saja begini gelisah?</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak mula, sesungguhnya ia ragu ketika memilih rumah yang akan ia masuki ini. Tapi di antara rumah-rumah lainnya, rumah inilah yang menurutnya paling memungkinkan. Agak jauh dari rumah lainnya, dan ada jalan kecil yang langsung menghubungkan rumah itu dengan sungai di bagian belakang – kira-kira tujuh puluh lima meter jaraknya – yang bisa ia gunakan untuk situasi darurat bila kepergok. Letak rumah yang menguntungkan bagi pencuri seperti dirinya. Tapi justru rumah itulah yang membuatnya ragu. Sebagai pencuri, sudah ratusan rumah ia masuki, tetapi baru kali inilah ia merasa kalau dirinya benar-benar hendak mencuri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia memang pencuri. Tapi tak pernah merasa mencuri. Karena selama ini ia hanya memilih memasuki rumah mewah milik orang-orang kaya. Itu memang prinsipnya, yang membuatnya bisa membenarkan bahwa apa yang dilakukannya tidaklah salah.  Sebab bila ia mengambil uang atau perhiasan orang-orang kaya, itu sekadar mengambil kembali hak dan rejekinya yang telah dicuri atau dikorupsi oleh mereka. Siapa sih orang kaya yang tidak mencuri dan tidak korupsi hari ini?! Tak apa-apa kan mengambil kembali apa yang telah mereka curi? Lagi pula ia hanya meminta –  dengan diam-diam tentu saja –  sedikit saja kemewahan mereka yang melimpah. Toh mereka tak akan jatuh miskin. Anggap saja apa yang ia curi itu sebagai sedikit sedekah yang mesti disumbangkan orang-orang kaya itu buat kaum miskin seperti dirinya. Itulah sebabnya, ia tak pernah merasa mencuri ketika ia mengambil barang atau uang atau perhiasan di rumah mewah orang-orang kaya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu ia merasa leluasa menyantroni rumah-rumah mewah, mengambil barang secukupnya, kemudian melenggang dengan tenang. Kadang ia malah suka berlama-lama di dalam rumah yang dimasukinya itu. Sementara penghuni rumah ia lelapkan dengan mantra, ia bisa dengan santai mencicipi kue yang ada di kulkas, duduk-duduk menikmati sisa hidangan malam di meja makan, sembari memandangi perabot-perabot mewah yang tak mungkin ia gondol. Guci-guci keramik, televisi plasma, lukisan, jam besar setinggi lemari. Semua barang mewah yang merepotkan bila ia curi. Ia lebih suka mengambil uang atau perhiasan. Lebih praktis dibawa kabur. Bertahun-tahun menjadi pencuri ia tahu, bahwa uang dan perhiasan adalah barang yang gampang didapatkan. Entah kenapa orang-orang kaya itu suka sekali menyimpan perhiasan dan uang tunai. Barangkali mereka beranggapan, perhiasan lebih mudah disembunyikan. Dan uang lebih aman disimpan tunai dalam rumah ketimbang didepositokan di bank – yang kini tak lagi aman karena gampang dilacak bila uang itu uang hasil korupsian.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja sekarang ini situasi makin sulit. Rumah-rumah mewah – apalagi yang ada di komplek perumahan elite – tak lagi gampang ia masuki. Selain berpagar tinggi, sekarang ini banyak yang dijaga <em>security</em>. Belum lagi kamera-kamera sembunyi, anjing penjaga,  juga alarm yang tak mampu ia atasi dengan jimat keberuntungan yang ia miliki. Tiga bulan lalu ia hampir saja mati konyol. Ia yakin sudah menyirep penghuni rumah, kemudian dengan tenang meloncat pagar. Tapi mendadak alarm meraung-raung membuatnya gugup dan buru-buru kabur. Anjing-anjing yang menjaga rumah-rumah mewah itu pun tak lagi bisa ditidurkan dengan mantra. Barangkali karena anjing-anjing itu bukan anjing kampung yang hanya bisa menggonggong setiap kali mengendus pencuri. Seorang kawannya mati mengenaskan dengan usus terburai dicabik-cabik empat anjing penjaga, sementara pemilik rumah hanya diam menyaksikan. Mungkin pemilik rumah itu menganggap, begitulah cara paling baik buat menghabisi pencuri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia selalu merasa demam setiap kali teringat peristiwa itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah-rumah mewah bukan lagi sasaran menyenangkan bagi pencuri seperti dirinya. Jimat dan mantra yang ia miliki seperti tak ada gunanya lagi. Barangkali zaman memang telah benar-benar berubah. Pencuri seperti dirinya menjadi ketinggalan zaman. Ketika rumah-rumah mewah dan apartemen banyak berdiri di pusat kota, ia malah makin terpinggirkan. Nasibnya kini seperti rumah-rumah kumuh di pinggiran kota. Dan mau tak mau, pencuri seperti dirinya hanya bisa berkeliaran menyantroni rumah-rumah kecil di pinggiran kota itu. Karena itulah, beberapa rekannya kini berhenti jadi pencuri. Mereka memilih jadi garong. Tapi ia mencoba bertahan jadi pencuri. Karena menurutnya lebih menyenangkan jadi pencuri. Menggarong hanya butuh keberanian, begitulah alasan yang ia katakan pada teman-temannya ketika ia menolak diajak merampok, sementara mencuri membutuhkan keahlian. “Makin kamu asah keahlianmu, makin hebat kamu sebagai pencuri. Makin hebat kamu sebagai pencuri, makin canggih kamu mengambil sesuatu tanpa diketahui. Itulah sebabnya, bagi saya, mencuri itu memiliki seni tersendiri. Seni mengambil tanpa diketahui. Orang bijak mengatakan, bila kamu ingin mengalahkan orang lain, kalahkanlah tanpa membuatnya merasa kalah. Begitu juga dalam hal mencuri. Curilah tanpa orang itu menyadari kalau ia telah kamu curi. Itulah seni mencuri. Bila kamu sudah sampai tingkat ini, berarti kamu sudah menjadi pencuri sejati! Ha ha ha…” Saat itu, ia tertawa sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi itu memang yang ia yakini. Membuatnya tetap memilih jalannya sendiri sebagai pencuri. Meski kini ia makin merasa sulit mencuri di rumah-rumah orang kaya. Sudah tiga kali ia mencoba, tetapi selalu gagal. Sebenarnya bisa saja karena ia sudah makin tua. Hanya ia tak mau mengakuinya. Mungkin sudah saatnya ia pensiun. Ah, tapi sekali saja kau merasakan nikmatnya mencuri, pasti kau akan ketagihan. Seperti kecanduan. Begitulah yang selalu ia rasakan. Ia selalu ingin menikmati saat-saat mendebarkan ketika ia mencongkel jendela atau pintu, merayap di atap, memasuki rumah tanpa membangunkan seorang pun penghuni yang mungkin sedang mimpi indah, mengendap dalam gelap mengambil barang-barang secukupnya, kemudian menyelinap pergi. Bertahun-tahun ia jalani hidupnya sebagai pencuri, ia makin menikmati ketegangan dan kecemasan yang menyenangkan pada saat beraksi seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, ia pun mencoba menentramkan diri. Mengamati rumah itu sekali lagi. Rumah sederhana pertama yang ia masuki. Rumah yang tak sepantasnya ia santroni. Tapi mau apalagi. Hanya rumah seperti inilah yang kini bisa ia masuki. Meski merasa terpaksa, ia pikir rumah-rumah kecil dan sederhana seperti inilah yang kini bisa memberi rejeki bagi pencuri seperti dirinya. Saat ia berhasil mencongkel jendela rumah itu, saat itulah ia merasa telah benar-benar menjadi pencuri. Pencuri yang memang hendak mencuri, bukan hendak mengambil kembali rejekinya yang telah dicuri sebagaimana yang selama ini menjadi alasannya setiap kali mencuri. Dan itu membuatnya sedikit gugup saat mengendap memasuki rumah itu. Ia melintasi pintu kamar tidur yang sedikit terbuka. Ia melihat suami istri yang tertidur nyaman. Meski terlihat keruh oleh usia tua, wajah keduanya terasa memancarkan ketentraman.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia memutuskan untuk tak langsung masuk ke dalam kamar itu. Ia akan menggeledah kamar sebelahnya lebih dulu. Matanya terbiasa dalam gelap. Pendengarannya bisa mengarahkan kemana ia mesti melangkah tanpa menimbulkan suara atau menyenggol benda-benda. Dengan tetap berusaha tenang ia terus membongkar laci dan lemari, mencari apa saja yang berharga yang bisa ia curi. Setumpuk pakaian lama, tasbih yang tergantung di tembok, sajadah lapuk di atas kasur apek, sisa ikan asin di piring, puntung rokok klobot, kecoa yang mati tergencet di lipatan pintu lemari, koin mata uang lama yang dipakai buat kerokan. Ia terus menggeledah sementara perasaannya yang gelisah tak kunjung mampu ia kuasai, sampai-sampai telapak kakinya berkeringat dan membuatnya tak dapat menahan keseimbangan dengan baik. Ia terpeleset, dan begitu kaget ketika tungkainya menabrak kaki kursi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mendengar pemilik rumah terbangun. Ia mencoba membungkuk sembunyi di pojok, sambil membabar <em>aji palamuran</em>, agar pandangan orang menjadi kabur dan dirinya tak kelihatan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pak…” Suara si istri membangunkan suaminya. “Ada pencuri…”</p>
<p style="text-align:justify;">Terdengar suara ranjang berderit ketika suami itu bangun. Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka ia menyaksikan perempuan itu hendak berteriak, tetapi suaminya menyuruhnya diam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sssstt…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pasti ada barang kita yang dicuri.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho, memangnya kita punya barang yang pantas dicuri?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, Bapak…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita tak punya apa-apa, kan? Karena itu tidak usah cemas, Bu. Bila pencuri itu menggeledah rumah ini dan tak menemukan satu pun barang yang pantas buat dicuri, pasti ia akan segera pergi.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Itu kan namanya Bapak membiarkan dia mencuri…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lho, mencuri kan kalau ada yang dicuri. Di rumah ini apa sih yang bisa dibawanya pergi? Apa ia akan mencuri gelas atau panci kita yang sudah peyot?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil menggigit bibirnya, ia terus berusaha menahan nafas mendengarkan percakapan suami istri itu. Saat tadi menggeledah rumah ini, ia memang tak menemukan satu pun barang berharga yang pastas dicurinya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mungkin anaknya lagi sakit. Mungkin ia benar-benar perlu uang buat makan…” Suami itu bercakap pelan. “Saya malah sedih, Bu, karena kita tak punya apa-apa buat membantunya. Andai saja di rumah ini ada sebutir nasi, biarlah sebutir nasi itu diambilnya. Mungkin sebutir nasi itu akan membuatnya bahagia karena bisa membawa pulang sesuatu buat keluarganya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bapak ini lho, pencuri kok malah dikasihani…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ia pasti benar-benar kepepet, Bu. Kalau tidak kepepet, kan ya tidak mungkin dia sampai nekat mencuri di rumah orang miskin seperti kita? Bagaimana kalau sampai ketahuan ronda? Sudah ndak dapat apa-apa, bisa mati digebugi dia… Kasihan kan, Bu?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil menyandarkan badan ia mendengarkan suami istri itu terus bercakap-cakap. Suara mereka menjelma ribuan silet yang mengapung dalam kegelapan, menyayatkan kepedihan dalam hatinya. Ia mendengar suara batuk-batuk pelan si suami yang kemudian dengan halus mengajak istrinya untuk kembali tidur. Kesunyian rumah itu seperti mencekik. Sudah ratusan rumah ia masuki. Sudah bergitu banyak uang dan barang ia curi, tapi tak pernah ia merasa sangat menyesal karena telah menjadi pencuri seperti saat ini. Ia bersijengkat melewati pintu yang sedikit terbuka, dan tak berani memasuki kamar di mana suami istri itu telah kembali tidur tentram.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia segera bergegas pergi, tak mengambil apa pun, karena di rumah yang baru saja dimasukinya itu ia memang tak menemukan sesuatu yang pantas dicuri. Rasanya baru kali ini, sebagai pencuri ia merasa menyesal telah menjadi pencuri, justru ketika ia tak mencuri.</p>
<p align="right"><strong>Jakarta, 2007</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- IA INGIN MATI DI BULAN RAMADHAN INI]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/19/ia-ingin-mati-di-bulan-ramadhan-ini/</link>
<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 19:02:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/19/ia-ingin-mati-di-bulan-ramadhan-ini/</guid>
<description><![CDATA[BETAPA menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;"><strong><img class="size-full wp-image-413 aligncenter" title="gambar" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2009/08/gambar.jpg?w=222&#038;h=284" alt="gambar" width="222" height="284" /></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BETAPA</strong> menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…</p>
<p style="text-align:justify;">Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Atau erang kesakitan leher digorok. Ia memejam, mengusir bayangan buruk itu. Bayangan kematian penuh darah. Ah, ia bisa mencium bau amis darah itu, seperti lengket di hidungnya.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Segera ia mandi, keramas. Menyisir rambut dan memotong kuku, sembari bersiul-siul kecil. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih, rapi, dan wangi. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Setiap menjelang Ramadhan, ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Saat Ramadhan kemarin, ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Dan tadi, ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Melipat selimut. Merapikan pakaian. Menyemprotkan pewangi ruangan. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia berdiri di ambang pintu, memandang langit siang yang terang, sembari terus bersiul- siul ringan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BEBERAPA</strong> tetangga—yang tengah duduk menggerombol – memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu, dan segera saling bisik. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti, mengerut menatap laki-laki itu. Langsung, seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia jarang berada di kamarnya. Seperti selalu menghilang. Berhari-hari. Kadang berbulan-bulan. Bila pulang, ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Sesekali, beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Bergegas. Memakai jaket kulit hitam. Menenteng koper besar, seperti kotak tempat menyimpan gitar. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Entahlah. Sebab, banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Mungkin ia rampok. Lihat saja tampang seramnya. Tato di lengan kanan. Parut luka seputar pundak, seperti bekas bacokan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan, seperti mengawasi. Mungkin intel. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Ia seperti tak mau dikenali. Menutup diri. Misterius. Aneh.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu, memandang entah apa. Rutin yang ganjil. Menjelang Ramadhan ia muncul. Beres-beres kamar. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Sering, ia terlihat merokok siang hari. Tiap sore ia keluar. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama, tapi pergi ke kuburan. Ini yang membuat kian penasaran. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki- laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita, betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput, menyapu, atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Dan orang-orang merinding mendengarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Para tetangga jadi gelisah. Barangkali ia dukun. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu…</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>MAYAT-MAYAT</strong> yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka, mereka mendengis bengis. Mengepungnya. Kulit wajah mayat- mayat itu meleleh, seperti lilin panas mencair. Ia mengerang, mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Wajah- wajah yang membuatnya mengerang panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tergeragap bangun. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Mati dengan tenang, di bulan Ramadhan. Meski ia tahu, sebagai seorang pembunuh bayaran, ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Mungkin, seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Ia terkapar, memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia pun suka menikmati saat- saat seperti itu. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan…</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia selalu ingin berada sangat dekat, setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Umur tujuh tahun, diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi, membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Kamu pantas jadi tentara, kata teman-temannya. Dan ia membusung bangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, ia suka membayangkan diri jadi tentara. Di kampungnya, orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir, saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Orang- orang mengerubung, tak ada yang berani menghentikan. Alangkah hebatnya jadi tentara, bisa memukuli orang sepuasnya. Ia pun mendaftar jadi tentara. Dikirim ke medan perang. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang, tertib, dan disiplin. Dan itu disukai komandannya.</p>
<p style="text-align:justify;">”Kamu punya bakat bagus. Percuma kalo cuma jadi tentara. Paling mentok jadi sersan,” kata komandannya. Lalu sepulang perang, ia diberinya pekerjaan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat, karena pejabat itu pingin kawin lagi. Lalu beberapa order ringan lainnya. Membunuh seorang pengusaha. Menghabisi seorang wartawan. Seorang hakim. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Benar kata komandannya. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan.</p>
<p style="text-align:justify;">Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Tempat menyembunyikan diri. Sumpek bau comberan. Tapi membuatnya merasa aman. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia akan tinggal di rumahnya, nanti bila sudah berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Beberapa mati dalam penjara. Beberapa menderita sakit jiwa.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>SAMPAI</strong> satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Dan ia mulai mengawasi. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Kulitnya yang coklat resik. Rahang terkesan pipih, membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Sorot matanya tenang. Bicaranya santun. Ia heran, kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Tugasnya hanya membunuh. Tanpa jejak. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan…</p>
<p style="text-align:justify;">Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia tak terlalu menyimak. Sepotong- sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Dan ia tersenyum. Mencibir. Getir. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan?</p>
<p style="text-align:justify;">Semua sudah sesuai rencana. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan, lalu mendorong mobil ke jurang.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang, ”Aku tahu, kamu mau membunuhku. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Karena itulah, aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Biar tak banyak korban. Kamu cukup membunuhku, tak perlu repot-repot membunuh yang lain…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak tahu, kenapa mobil perlahan berhenti. Ia tak mengeremnya!</p>
<p style="text-align:justify;">”Mari kita turun,” ajak Kiai Karnawi. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. Sayang kan, itu mobil mahal. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran.”</p>
<p style="text-align:justify;">Baru kali ini ia gemetar. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Tapi tolong, yang pelan. Jangan sampai aku kesakitan ya, hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Lalu menggelar sajadah. Ia meraba belati. Gemetar tak yakin. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia bisa menembaknya. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat, ia hanya berdiri gamang.</p>
<p style="text-align:justify;">”Sekarang, lakukan tugasmu. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. Kalau boleh memilih, aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Enggak usah merepotkan sampeyan…,” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia merasa senja meremang. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Terdengar letusan. Senyap. Kelebat bayang burung menyambar. Kemeresek daun jati jatuh. Pelan. Lengking gagak di kejauhan. Dengung jutaan serangga mengepung. Singup. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya, dan kini memburu kematiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mulai diusik gelisah. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Kematian di bulan Ramadhan. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan, kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia pun kemudian selalu berharap, diperkenankan mati di bulan Ramadhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan semoga saja, ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Amin.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong>Yogyakarta, 2005</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan: </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen saya, Potongan <em>Cerita di Kartu Pos</em>, yang diterbitkan oleh Penerbit Buku KOMPAS.  Saya baru saja mendapat pemberitahuan, kalau buku kumpulan tersebut mendapatkan Anugerah Sastra tahun 2009, dari Pusat Bahasa Jakarta.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- ASMARADANA]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/03/asmaradana/</link>
<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 04:55:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/08/03/asmaradana/</guid>
<description><![CDATA[INILAH malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-403 aligncenter" title="Asmarandana" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2009/08/asmarandana.jpg?w=286&#038;h=357" alt="Asmarandana" width="286" height="357" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>INILAH</strong> malam paling keparat yang akan selalu ibu ingat. Malam ketika ibu disergap dan diseret ke dalam gelap. Di antara tumpukan kayu pecahan peti, onggokan kardus apak dan lembab, ibu dilempar hingga terjerembab. Ia mencoba menjerit, tapi seketika mulutnya terbekap. Lima laki-laki itu menyeringai, mengepung, dan mulai menggagahinya. Sekuat tenaga ibu merentak menolak. Ia mencakar. Menendang. Kelima laki-laki itu malah terkekeh dengan liur meleleh. Cahaya yang samar berpendaran dari ujung lorong, membuat wajah lima laki-laki itu timbul tenggelam diaduk-aduk kengerian.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu mengejan, meronta, ketika kedua kakinya direntang, dan ia merasakan sesuatu yang runcing, melebihi mata lembing, menghunjam selangkang. Ibu hanya memerih merintih. Dan seperti ada yang mendidih, ketika ia merasakan cairan sekental dadih, mulai menggenangi rahimnya yang perih. Ia merasakan gatal yang begitu luar biasa di liang selangkangnya, seakan dipenuhi getah nira yang membuat kulitnya seketika terasa panas. Seluruh tubuh serasa abuh melepuh…</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah malam paling keparat, sejak ibu merasakan ada benih serigala mendekam dalam rahimnya.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak itu, ibu begitu jijik dengan tubuhnya sendiri. Sepanjang hari ibu selalu mengeram marah menggaruki selangkangnya hingga berdarah-darah. Sepanjang hari ibu melolong dan menjerit mencakari seluruh tubuhnya yang ia rasakan ditumbuhi bulu-bulu hitam gatal menjijikkan. Berkali-kali ibu menenggak bermacam pestisida, agar serigala dalam rahimnya segera binasa. Tetapi perut ibu malah kian tambah membengkak. Dan ibu terus-menerus menjerit dan berteriak mengutuki malam paling keparat itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai suatu malam, perut ibu seperti meledak, ketika petir berlecutan, dan ia hanya terkapar menyaksikan jabang bayi itu merangkak keluar dari rahimnya. Bayi itu melolong keras, seakan hendak mengatasi suara yang menggemuruh di puncak malam. Masih pucat, lemas, telinga berdengung dan pandangan berkunang-kunang, ibu memandangi jabang bayi itu, kemudian melenguh, “Benar, aku melahirkan serigala…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu melihat bayi itu perlahan-lahan merangkak mencari gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>AKULAH</strong> serigala itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil bersandar di dinding, kupandangi bayangan di cermin: makhluk bermata merah, dengan garis dan bentuk mulut menyerupai moncong, dengan lidah berjelijih merah terjulur. Aku bisa mengerti, kenapa seluruh keluarga begitu membenciku. Kakek segera melemparkan bakiak yang dipakainya begitu melihat aku mulai merangkak mendekatinya, “Pergi! Pergi! Menjijikkan!” Dan aku hanya mengeram, mengkerut, memandangi nenek yang duduk mematung di kursi goyang. Begitu melihatku, nenek segera membuang pandang sembari merutuk, “Kenapa aku punya keturunan begini menyedihkan…” Suara itu seakan keluar dari dadanya yang keropos oleh kedukaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat-saat seperti itu, yang kuinginkan adalah belaian ibu. Aku ingin meringkuk di pangkuan ibu. Tapi setiap kali aku dekati, ibu langsung menjeri-jerit. Ibu akan memukul kepalaku setiap kali aku merengek minta susu. “Tak akan pernah kubiarkan susuku dihisap serigala busuk macam kamu,” ibu mengejang, nanar menatapku. “Minumlah air comberan. Pergilah kau ke jalan, karena dari sana kamu berasal!”</p>
<p style="text-align:justify;">Sembab menahan isak, aku segera menyeret kesedihan. Dengan perasaan asing dan sunyi, aku pun segera berkeliaran di jalan. Aku menyukai rimbun belukar, gudang-gudang tua, gerbong kereta, gorong-gorong. Itulah tempat-tempat yang membuatku bisa sedikit merasa nyaman. Hingga mataku terbiasa dengan gelap. Dalam gelap, aku bisa melihat sayap kecoa yang tipis kecoklatan ketika binatang ia bekeredap merayap keluar selokan. Aku bisa melihat kaki-kaki tikus yang penuh kotoran merah kehitaman, bulu-bulunya yang kelabu, juga cericitnya yang menghilang ke dalam lubang. Dalam kegelapam aku menjadi peka terhadap suara-suara: desir angin, dengung serangga, batang-batang rumput yang bergesekan, juga desis ular di belukar.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat-saat seperti itulah, aku merasa begitu nyaman. Tidak seperti di rumah yang penuh makian. Aku bisa mendekam bermalam-malam, menikmati hasil buruan, sambil membayangkan wajah ibu yang membenciku. Kegelapan ini seakan-akan selimut yang membuatku selalu merasa hangat, hingga aku bisa membayangkan wajah ibu dengan penuh kerinduan. Aku suka raut ibu yang pucat. Bibirnya yang selalu gemetar. Aku merindukan puting susunya untuk kuhisap dan kujilat. Ibu, tidakkah kamu rindu menyusui anakmu? Kemudian aku mulai menyusun bayangan ibu. Aku membayangkan lengannya yang terkulai. Aku membayangkan pinggangnya yan mengkerut. Aku membayangkan rambutnya yang kelabu, telinganya yang meruncing dan gigi-giginya yang bertaring. Bila aku semakin rindu pada ibu, aku pun segera keluyuran ke tempat pembuangan sampah, memunguti plastik-plastik dan kaleng susu, remukan kardus dan kawat berkarat. Kususun kaleng-kaleng susu itu menjadi patung ibu. Kumahkotai rambutnya dengan plastik dan kertas. Kutandai puting susunya dengan arang. Itulah saat-saat yang membuatku bisa merasa nyaman dalam bayangan ibu. Kupeluk dan kubawa patung ibu dari kaleng-kaleng susu itu ke tempat persembunyianku. Dalam gelap kami jadi akrab. Ibu yang tersenyum kepadaku, memeluk dan mulai menjilati bulu-buluku. Lalu aku pun menggosok-gosokkan tubuhku ke tubuh ibu. Aku mulai menyurukkan moncongku ke ketiak ibu. Dan ibu menggelinjang senang ketika aku mulai membalas menjilatinya. Kami saling gosok dan saling jilat berbagi hangat. Hingga aku bisa merasakan kehadiran ibu yang mendekap semua kerisauanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara seperti itulah aku mencintai ibu, dan perlahan-lahan mulai memahami ibu. Sungguh ibu, aku mencintaimu, merindukanmu. Tidakkah engkau bangga punya anak yang begitu mencintaimu seperti aku?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>KADANG-KADANG</strong>, bila aku sembunyi dalam gerbong kereta, aku suka membuka celana kolorku, lalu bergerak merangkak sambil menggoyang-goyangkan pinggul, membayangkan ada ekor yang pelan-pelan tumbuh memanjang di sela pantatku. Ekor itu lembut, dengan bulu-bulu surai kemerahan, menjuntai bergoyang-goyang setiap kali aku melenggang.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku selalu kecewa, karena tak juga tumbuh ekor di sela pantatku. Yang tumbuh malah bulu-bulu halus di seputar kelaminku. Membuatku terkikik, setiap kali aku merasa geli ketika memain-mainkan kelaminku. Juga merasa lucu, membayangkan ibu akan terpekik senang menyaksikan bulu-bulu lembut di seputar kelaminku itu. Ya, kubayangkan: ibu pasti akan begitu girang menyaksikan serigala kecilnya kini sudah mulai dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah, sambil bernyanyi-nyanyi riang, aku segera berlari pulang. Sudah begitu lama aku tak pulang, aku berharap ibu mulai merindukanku, seperti selama ini aku merindukan ibu. Rumah sepi. Segera aku berteriak-teriak, “Ibu, ibu…, ini aku pulang!”</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kulihat ibu sudah berdiri di muka pintu. Lihatlah, ia melotot, tapi siap menyambutku. Maka segera kepelorotkan celana, dengan bangga kupamerkan kelaminku pada ibu. “Lihatlah ibu…, kelaminku mulai tumbuh bulu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Serigala busuk! Minggat kamu!!” Ibu melemparkan sapu ke arahku. “Cepat minggat, bangsat!!”</p>
<p style="text-align:justify;">Kupandangi ibu. Masih kutunjukan kelaminku pada ibu. Dan ibu segera melempariku dengan batu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>DAN</strong> aku kembali sembunyi dalam kegelapan. Kupandangi patung kaleng susuku, dan ia tersenyum dengan wajah ibu yang meneduhkanku. Aku percaya ibu mencintaiku. Ibu hanya tak tahu bagaimana meski bersikap kepadaku. Bagaimana pun aku anakku, meski aku sering mendengar gunjingan tetangga tentang kelahiranku. Tentang malam keparat itu. Aku pasti akan membalaskan dendammu, ibu. Bila aku sudah besar, dan cakar serta taringkku kian kuat dan runcing, pasti, pasti, akan kucabik-cabik mereka yang menyakitimu, ibu!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tumbuh dalam kelam, dalam bayang-bayang yang kian panjang. Aku menghabiskan malam demi malam dalam gudang, bermain-main dengan bayang-bayang yang bergerak-gerak di tembok. Permainan bayang-bayang itu membuatku merasa mempunyai seorang kawan bermain yang mengasyikkan. Setiap malam aku dan bayang-bayang itu selalu bermain-main, meloncat dan berkejaran. Kadang kami saling terkam, saling mengeram. Di antara semua permainan bayang-bayang, aku paling suka permainan seperti ini: aku membuka kolor, berjalan melenggang berkitaran menyaksikan bayang-bayangku yang tampak ramping dengan kelamin menyerupai ekor yang bergoyang-goyang. Aku menyukai permainan itu, karena aku bisa membayangkan kelamin itu perlahan-lahan memanjang, seperti ekor yang tumbuh di bagian depan. Hampir tiap malam aku bermain-main seperti itu. Menarik-narik ujung kelaminku agar cepat memanjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, suatu malam, saat aku bermain dengan bayang-bayang, kudengar tawa cekikik dari arah pintu gudang, “Ckckckck…” Lalu kulihat seorang perempuan, pucat tirus, tersenyum memandangku, merasa lucu, seakan-akan ia tengah menonton pertunjukan orang cebol di pasar malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku beringsut, mengeram meraih kolor.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jangan takut, serigala kecil yang manis…” Ia melangkah mendekat, kedua tangannya terentang, mengundang. Sejenak, aku hanya berdiri gamang. Aku sering melihat perempuan ini, berkeliaran di antara gerbong-gerbong kereta. Aku sering melihatnya berkelebat dalam gelap.  “Sini, manis, kuajari bagaimana menjadi serigala jantan.” Tangannya menyentuh pundakku, dan saat itu, aku seperti melihat kelebat bayangan ibu yang muncul bagai hantu. Aku memandanginya. Ia mengusap kepalaku. Dan aku, untuk pertama kali, merasakan usapan ibu. “Mari…” katanya, sambil menarik tubuhku, yang masih menggigil kaget dan tak menyangka akan merasakan hangat belaian seorang ibu. Aku gugup, juga tak bisa menyembunyikan malu. Apalagi ketika ia mulai menyentuh kelaminku. Ia remas kantung kelaminku, begitu lembut. Kemudian aku dibopongnya. Sambil terus terkikik, ia membaringkan aku di atas tumpukan peti. Ia terus meremas dan memain-mainkan kelaminku hingga mengeras panas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu serigala kecil paling lucu. Kamu bagus buat jamu… Tenanglah, akan kuhisap kemudaanmu…” Dan ia mulai menjulurkan lidah ke ujung kelaminku. Aku terperangah. Aku mendesah. Dan perempuan itu dengan rakus melumat kelamin kecilku, seperti melahap pisang sekali telan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat otot-ototku meregang, melayang, saat itulah, aku aku membayangkan ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>SEJAK</strong> itu, aku tak lagi hanya bermain-main dengan bayang-bayang. Karena aku jadi lebih sering bermain-main dengan perempuan itu. Ia menjadi ibu yang selama ini aku rindukan. Ia cekikikan senang setiap kali aku menggosok-gosokkan tubuhku ke tubuhnya. Ia bisa merasakan gairah rinduku pada ibu. Aku senang memandangi matanya yang kelabu. Aku merasa tentram bila ia dekap.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu benar-benar manja…” katanya, sambil mengusap rambutku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku haus ibu…”</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak menghardikku, seperti ibu dulu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu pingin <em>mimik cucu</em>?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu ia meraih kepalaku, menyurukkan kepalaku ke susunya yang kendur, dan membiarkan aku menjilat dan menghisap puting susu itu. Baunya apak dan sengak, tapi aku merasa enak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan bila ia terlelap, tengah malam aku sering terbangun, memandanginya dengan sendu. Ibu. Ibu. Betapa aku mencintaimu! Kemudian kuluapkan rinduku. Aku mulai menjilati tubuhnya, hingga ia menggeliat bangun. Ia tersenyum senang ketika melihat aku tengah menjilati tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu memang serigala yang pintar…” suaranya terdengar gemetar. Dan aku terus menjilati tubuhnya. Seperti menjilati harum kebahagiaanku. Ketika ia menyadari aku suka menjilati tubuhnya, ia pun selalu mengoleskan mentega ke selangkangnya. “Jilatlah, bila kau suka…”</p>
<p style="text-align:justify;">Bau langur dan gurih itu membuat lidahku tak bosan-bosan menjilati selangkangnya. Sementara ia hanya bersandar, mengelus-elus tengkukku dengan lembut, sambil sesekali menggumamkan tembang di antara erang yang mengambang. Itulah malam-malam paling damai, setelah segalanya usai, dan aku akan tertidur lelap dalam pelukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BAYANG-BAYANG</strong> ibu tak lagi menakutkanku. Aku seperti menemukan cara untuk bedamai dengan bayangan ibu, yang masih saja selalu mengusirku. Hanya sesekali aku pulang ke rumah, itu pun mengendap-endap tengah malam. Biasanya karena aku hendak mencuri sisa makanan. Akan aku embat sisa makanan di lemari dan meja, aku bungkus bergegas, kemudian kembali kabur. Aku akan menuju gerbong kereta, di mana perempuan itu menunggu. Setengah melompat aku menjejak bantalan rel kereta, riang bercanda dengan bayang-bayang tubuhku yang memanjang meliuk-liuk mendahului langkahku. Aku berlari, berkejaran dengan bayang-bayangku: siapa paling dulu ketemu ibu! Aku segera ketemu perempuan itu. Aku segera ketemu ibu. Kubawakan makanan untukmu, ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku terpana sebelum meloncat ke dalam gerbong. Cahaya bulan yang menerobos ke dalam gerbong membuat aku bisa melihat seorang laki-laki yang tengah menindih perempuan itu. Aku berdiri, gamang, gemetar. Kudengar lengking kereta, menggemuruh lewat, tetapi gemuruh dalam dadaku jauh lebih kuat. Desah nafas perempuan itu, juga lenguhnya yang tertahan, lebih bergema merasuki telinga. Lelaki itu terus menindih.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku teringat cerita malam paling keparat yang membuat ibu membenciku. Dan aku langsung meraung, meloncat dan menyerang dengan kalap. Laki-laki itu kaget. Ia kebingungan ketika aku berkali-kali menggigit dan mencakar tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bedebah!” Ditangkapnya tanganku, dipiting, kemudian ia lemparkan tubuhku ke dinding gerbong.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara perempuan itu terbelalak menatapku, mendengus kesal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu!” pekikku, mengeram menahan sakit, berharap ia segera melindungiku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi ia malah meludah, memakai kembali gaunnya yang melorot, lantas memaki, “Brengsek!” Kemudian bergegas pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ibu” teriakku, hendak mengejar. Tapi laki-laki itu sudah mencengkal lenganku. Aku hendak menggigit, tapi kepalaku keburu dihantamnya hingga berdengung. Laki-laki itu nanar menatapku. Kucium keringatnya yang kecut, bau tuak menghembus dari hidungnya. “Ah, serigala kecil…” ia menyeringai.</p>
<p style="text-align:justify;">Telingaku tegak berdiri, merasa sesuatu bakal terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu telah menggangu kesenanganku, serigala kecil… Hehehe…, tak apalah…karena aku pun suka serigala kecil macam kamu…” Dan dengan tangkas ia meringkusku. Aku meronta, mencakar, menggigit – tapi ia begitu kuat. Tubuhku ia lipat. Ia renggut celana kolorku. Aku menjerit, melolong panjang. Aku merasakan sesuatu seperti kaktus, dilesakkan ke dalam anus…</p>
<p style="text-align:justify;">Aku ingat ibu. Aku akan mengingat malam ini, seperti ibu mengingat malam paling keparat dalam hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>BERHARI-HARI</strong> bokongku merasa nyeri.  Aku selalu bergidik, membayangkan kaktus tumbuh dalam anusku. Membuatku selalu merasa gatal. Aku jadi mengerti, kenapa ibu – dulu – begitu jijik dan selalu menggaruki liang selangkangnya. Setiap kali aku mengingat malam keparat itu, aku selalu tersiksa dengan bayangan ibu, yang kadang menumbuhkan kebencian pada ibu. Kenapa ibu mengusirku ke jalan? Bukankah ibu merasakan sendiri, bagaimana jalanan menyimpan banyak kengerian? Di jalanan iblis-iblis gentayangan. Muncul dari balik lorong-lorong kelam, menyergap seseorang, menyeretnya ke rimbun kegelapan. Bagaimana pun aku anak ibu. Dan tak semestinya ibu membiarkan aku begitu saja berkeliaran di jalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu, ibu… Tiadakah kau tahu, betapa aku merindukanmu?</p>
<p style="text-align:justify;">Sesekali aku pulang rumah, mendapati suasana yang kian murung. Kakek sudah lama mati, tersiksa rasa malu. Sedang nenek telah lumpuh, tergolek di ranjang, menunggu maut mencekik lehernya. Ibu tetap saja membuang pandang, setiap kali melihatku pulang. Ibu tak lagi memukuliki dengan sapu atau melempariku dengan batu, hanya karena tubuhku kini lebih kuat dan sanggup melahapnya sekali terkam. Tak pernah ibu bicara denganku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apakah ibu jijik pada anak ibu sendiri?” kutentang mata ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu membisu. Hanya membisu. Terus membisu.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itulah, aku selalu kembali ke jalan, menyuruk-nyuruk malam. Aku mencari ketentraman, dengan dahaga kanak-kanak yang merindukan puting susu ibu. Kusihap puluhan susu perempuan yang kutemui di jalan-jalan. Merajuk seperti kanak-kanak yang ingin damai dalam pelukan ibu. Mendengus menghempaskan kerinduanku pada bau ibu. Gairah dan kerisauanku pada ibu, membuatku selalu ingin melolong-lolong memanggili ibu. Aku seperti makhluk terkutuk yang selalu galau dengan kebencian dan kerinduan yang sulit terdamaikan. Kuhisap susu setiap perempuan yang aku temui, agar sejenak reda gemuruh kerisauanku. Aku pemabuk yang sempoyongan mencari jalan pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Masih sore, Bang… Kok udah mau pulang?” beberapa perempuan terkikik, memandangiku yang sempoyongan.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menyeringai, menjulurkan lidahku yang kasar berbintil-bintil merah. Dan perempuan itu tertawa senang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lihat lidahnya!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Begitu merah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Begitu bergairah…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Pastilah dia jago jilmek!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jilmek? Apaan tuh jilmek?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Jilat memek, tau! Bego amat sih lu!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ha ha ha…”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pun tertawa. Menyeringai menatap mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo dong, Bang, sini mampir…”</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku lagi bokek. Aku juga begitu capai. Aku ingin pulang. Mengendap memasuki rumah yang menyebalkan. Bahkan aku harus bersikap seperti maling untuk masuk ke rumahku sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Di ruang tengah, kulihat ibu tertidur di sofa, mulutnya separo terbuka. Wajahnya begitu lembut tanpa kebencian. Baru kali ini aku melihat wajah ibu begitu lembut. Temaram cahaya lampu, membuat ibu tampak begitu pulas dan penuh kedamaian. Andai wajah ibu selalu begitu setiap kali melihatku. Ada  rindu yang perlahan tumbuh dalam darahku, seperti hawa panas yang menguap dari tungku. Betapa aku selama ini merindukan bisa melihat wajah ibu yang begini tentram. Tak menghadik penuh kebencian kepadaku. Aku menatap lekat, hangat. Mungkin inilah saat terbaik aku bisa berada dekat ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Terus kepandangi ibu. Dan kuingat wajah perempuan yang membiarkan aku menghisap dan menjilat susunya. Bayangan itu kian membuncahkan rinduku pada ibu. Bagaimana pun aku anakmu, ibu, yang berhak menghisap manis ranum puting susumu. Hidungku terasa panas, nafas tersengal, ketika kian lama aku pandangi ibu yang lelap: ibu telentang dengan kaki agak mengangkang. Bayangan betisnya yang pucat kecoklatan tampak padat, mengairahkan. Bertahun-tahun aku terbakar rindu hanya dengan membayangkan ibu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nanar kudekati ibu, bersijengkat mengendap-endap, seperti serigala yang siap menyergap….</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong>Yogyakarta, 1999-2003. </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- RENDEZVOUS]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/07/26/rendezvous/</link>
<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 06:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/07/26/rendezvous/</guid>
<description><![CDATA[SUATU malam aku terdampar di sebuah kafe. Ah, terdampar! Aku merasa pas dengan ungkapan itu. Aku ter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-397 aligncenter" title="rendevaouz" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2009/07/rendevaouz.jpg?w=300&#038;h=234" alt="rendevaouz" width="300" height="234" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>SUATU</strong> malam aku terdampar di sebuah kafe. Ah, terdampar! Aku merasa pas dengan ungkapan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku terapung terseret arus kesunyian cahaya yang menggenangi jalanan kota. Seperti bersampan, mobil meluncur pelan dan tenang. Kulihat malam menyepuhkan kelam, dan aku menikmatinya sebagaimana kelelawar terpesona pada kegelapan yang gaib. Begitulah, seperti biasanya, aku keluar rumah dengan gairah yang meruah, untuk menikmati gemerlap cahaya yang megah. Masih bisa kucium hangat senja menguap di kaca-kaca gedung-gedung yang berubah gemerlap, dan kusaksikan kota yang perlahan merekah dipulas gairah aneka warna cahaya. Aku meluncur pelan, dan kurasakan kesunyian perlahan-lahan mulai menghisap bias cahaya yang berpendaran, hingga suasana terasa keramat. Kota seperti penderita insomnia yang pucat dan mulai sekarat.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Memang, belakangan ini, kota terasa aneh. Ada ketakutan mengeram di jantungnya yang penuh baksil.  Kecemasan berhembus bersama angin busuk dari utara. Sesekali, seperti terdengar erang panjang, mengembang dan menggenang sepanjang jalan yang berkilatan karena sisa hujan yang belum terhapuskan. Hanya kesunyian yang tampak berjaga-jaga di tiap perempatan jalan. Hanya satu dua kendaraan sesekali melintas, dan pejalan kaki yang terlihat bergegas. Sisa-sisa kerusuhan yang menghanguskan kota memang masih menyebarkan hawa panas, juga cemas.</p>
<p style="text-align:justify;">Kukira itulah yang membuat tak banyak orang berkeliaran di jalan. Apalagi ketika banyak tempat hiburan malam berkali-kali diserbu gerombolan orang bertopeng dan berpedang. Berbondong-bondong mereka datang, berteriak-teriak penuh hujatan, memecahi kaca, menghancurkan kursi dan meja, dengan sumpah serapah mengutuki siapa pun yang dilabraknya sebagai para pendosa… “Enyahlah kalian ke neraka!!” teriak mereka berang, sambil terus menyerang. <em>Ah</em>, <em>seandainya neraka memang benar ada, betapa aku ingin sesekali pakansi ke sana</em>…</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah, kukira, yang membuat Wawan, Anang, Eko, Agung – kawan-kawan malamku – menolak  ketika aku menelpon mereka, mengajak menghabiskan malam seperti biasa. Bagai hantu-hantu yang terkurung di rumah tua penuh kutukan, mereka memilih mendekam dalam kamar, meski resah disesah gelisah. “<em>Yaah</em>, sesekali jadi suami yang baik <em>lah</em>…” desah Wawan ketika kutelepon. Aku pura-pura batuk. <em>Eghm</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi suami yang baik? Aku tahu: itu artinya suami yang menghabiskan malam hanya di tempat tidur bersama istri. Baiklah, baiklah. Selamat jadi suami-suami munafik! Ah, tetapi, barangkali itulah enaknya punya istri; ada kawan pengusir sepi. Sementara aku sendiri dicekam sunyi seperti ini. Sendiri meluncur hanyut terseret alun sungai cahaya yang gemerlapan, tetapi menderaskan kehampaan. O, hati yang tak mau berbagi, mampus kau dikoyak-koyak sepi! <a href="#_ftn1">1</a></p>
<p style="text-align:justify;">Aku meluncur dan mengapung, terus berpusaran timbul tenggelam dalam riam kehampaan sembari memandangi gedung-gedung yang tampak berkilauan terperciki tempias cahaya yang bergemericikaan bagai hujan. Kusaksikan betapa gedung-gedung cahaya itu bagai balok-balok es berkilatan yang perlahan-lahan mulai mencair  menggenangi jalanan kota yang menjelma menjadi sungai cahaya yang mengalir, terus mengalir, seperti air.<a href="#_ftn2">2</a> Dan aku hanyut meluncur entah ke mana seumpama pengembara dengan sampan melintasi lautan kesunyian yang tampak menakjubkan ketika tertimpa cahaya bulan. Hingga menampak keretap pecahan cahaya keperakan di permukaan air, bagaikan berjuta pecahan mutiara yang berkilauan terapung-apung ringan di permukaan kesunyian. Sementara cahaya terus meruap dan meluap, menenggelamkan gedung-gedung, menenggelamkan kota…</p>
<p style="text-align:justify;">Sedang aku terseret arus entah ke mana!</p>
<p style="text-align:justify;">SAMPAI kemudian – sebagaimana kubilang – aku terdampar di sebuah kafe! Seperti mimpi, semuanya begitu saja terjadi. Mungkin juga karena aku terlalu lelah, setengah tertidur setengah terjaga, entahlah. Samar aku lihat semburat cahaya keemasan di ufuk langit yang keruh dan tirus bagai lakmus. Ke arah cahaya itu aku meluncur – ah, tidak! Rasanya semburat cahaya keemasan itulah yang menghisap seluruh gerak yang berpusaran di sekitarnya. Seperti magnet yang menghisap biji-biji besi. Dan aku pun terhisap meluncur ke arah cahaya yang berkilauan keemasan itu…</p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata, cahaya itu berasal dari sebuah rumah tua yang sudah dipugar menjadi kafe. Sungguh, tak pernah kulihat kafe ini sebelumnya. Rasanya sudah kudatangi dan kunimati seluruh kafe dan tempat hiburan di kota ini, dan aku tak pernah melihat kafe ini sebelumnya. Kafe yang tenang, dengan pencahayaan ruang temaram. Tembok dan lantai yang cenderung kusam, sewarna tanah, tapi menciptakan suasana teduh dan ramah. Membuatku seperti pengembara yang lelah dan tiba-tiba menemukan rumah. Deretan potret kota tua, serakan koin kuno, beberapa setrikaan besi  berhias kepala jago, dan biji-biji kopi di baki seakan tergeletak begitu saja di atas meja jati. Sketsa-skeksa, dengan garis dan warna yang tak terlalu jelas tetapi terasa tegas, membuatku teringat kembali pada secuil demi secuil kenangan masa kecil. Segala terasa remang-remang, seakan masa silam yang tenang dan hendak selalu dikenang.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berasa betah dan nyaman. Kupesan Campari, untuk meredakan sepi yang mengilu hati. Kurindukan seorang kawan yang mau berbagi rasa sunyi. “Itulah kenapa kita memerlukan kafe, atau apalah namanya, agar kita punya kemungkinan menemukan seorang kawan…” kuingat kata-kata Wawan, “Malah, bagiku, kafe sudah menjadi rumah ibadah yang membebaskan kita dari seluruh perasaan susah. Terus terang, setiap kali aku ke kafe, aku seperti tengah melakukan pengakuan dosa! Ha-ha…”</p>
<p style="text-align:justify;">Kafe. Bualan. Kawan-kawan yang menyenangkan. Janji dan kencan. Semua itu telah menjadi ritus yang sedikit membebaskan kesumpekan. Barangkali itu semua yang membuat kita merasa tentram karena merasa memiliki kawan. Setidaknya bagi pecinta malam sepertiku. Malam selalu mempertemukan aku dengan yang bernama kawan. Malam membuatku bisa mengenal manusia dengan seluruh kerisauan dan kepedihannya. Fantasi dan mimpi yang membuat aku menemukan firdaus yang sering disebut dalam kitab suci.  Aku sering membayangkan, betapa Tuhan pastilah menciptakan firdaus pada malam hari. Kubayangkan, nun di mula waktu, Ia sendiri di langit sana, terkantuk-kantuk dan bosan menjaga segala yang belum bernama, diam memandangi kemahaluasan kelam. Sampai kemudian Ia ingin sesuatu yang menyenangkan, sekadar hiburan untuk mengusir rasa bosan. Maka Ia pun pun mengerjap, dan <em>kun</em> – jadilah firdaus yang penuh cahaya di tengah kemahalusan kelam. Begitulah, selalu kubayangkan, awal mula terciptanya surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah kenapa setiap kali orang melihat malam yang penuh gemerlap cahaya, dia akan teringat akan surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi surga itu kini telah diobrak-abrik segerombolan orang bertopeng dan berpedang. Mereka menghujat malam penuh maksiat. Mengusir semua orang untuk pergi. Hingga kini aku sendiri, bagai Adam yang khusyuk menghayati sepi. Adam yang merindukan kawan. Adam yang merindukan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia, hmm, manusia. Apakah yang masih berharga darinya? Kapan kita belajar memahami manusia sebagai kumpulan keinginan dan kesedihan? Bukan fosil atau gambar separuh badan sebagai sasaran tembakan?<a href="#_ftn3">3</a> Ah,…</p>
<p style="text-align:justify;">Kupesan Whisky Cola, seperti kupesan manusia yang mau berbagi suka duka.</p>
<p style="text-align:justify;">AGAK ke pojok, sedikit terhalang tiang, berseberang dua meja denganku, kulihat dua perempuan duduk berdekatan. Sementara di tengah-tengah ruangan, seorang pemusik mulai memainkan piano. Aku takjub memandangi pemusik itu. Rautnya bersih, dengan mata sebening kejora. Ia memakai jubah hitam, dengan dasi kupu-kupu warna ungu yang menyala redup, dan lihatlah  – ia punya sepasang sayap di punggungnya. Sepasang sayap yang begitu indah dengan helai-hela bulu lembut putih bersih, begitu mempesona di bawah temaram cahaya kekuningan. Sepasang sayap itu sesekali bergerak pelan, dan aku merasakan sehembus angin yang sejuk mengusap kepenatanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia mulai memainkan <em>Stranger In The Night</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti tersihir oleh denting piano itu, dua perempuan itu kian saling merapat, saling dekap, kemudian berciuman pelan. Bahu keduanya saling bersentuhan, berbincang perlahan, seakan tak ingin seorang pun mendengar apa yang tengah mereka percakapkan. Denting piano yang menghanyutkan, suasana yang terasa menentramkan, lamat percakapan yang terdengar begitu pelan…</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku selalu memikirkanmu,” desah yang bergaun biru, sambil mengelus punggung lengan yang satu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuamati mereka. Yang satu, yang bergaun biru, rambutnya ikal panjang mencapai bahu. Tatapannya sayu. Berkulit langsat, terlihat mengkilat. Ia memakai gelang perak, dan di lengan kirinya ada tato kupu-kupu. Sedangkan satunya, berambut lurus potong pendek, memperlihatkan tengkuknya yang indah dengan bulu-bulu halus yang dibiarkan tak tercukur. Memakai kaus ketat, ada bordir gambar hati di bagian dadanya – rasanya ia tak mengenakan beha – bersandar santai sambil mengisap rokok pelan-pelan dan menghembuskannya dengan bibir yang dibiarkan terbuka lama. Ah, perempuan-perempuan metropolitan. Perempuan-perempuan yang selalu muncul dalam iklan kecantikan. Adakah mereka juga merasa kesepian?</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayolah…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu mulai bosan denganku?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sejenak keduanya bertatapan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu tak perlu memutarbalikkan persoalan macam gitu. Apa kamu kira aku nggak tahu…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Laki-laki itu maksudmu?” sergah yang berambut sebahu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Syukurlah, aku tak perlu mengatakannya…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Laki-laki brengsek!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi kamu tidur dengannya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa-apaan sih, kamu?” Diraihnya tangan perempuan yang terus saja menghembuskan asap rokoknya, seakan mengekpresikan kekesalan. Lalu, lembut disentuhnya bibir yang merekah terbuka itu. “Laki-laki? Persetan dengan laki-laki!”</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara denting lembut piano, percakapan itu membuatku terkenang akan seorang perempuan yang pernah bertahun-tahun menjalin hubungan denganku. Suatu kali ia menuntut ketegasan, “Apa hubungan kita akan begini-begini terus?”</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu aku tertawa. “Lalu mau apa? Kawin dan beranak pinak seperti kucing? Terus terang, aku tak pernah membayangkan bisa hidup selamanya dengan hanya seorang perempuan. Itu bukan tipeku. Dan lagi, aku tidak pernah benar-benar bisa memahami perempuan…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bukan perempuan yang sulit difahami, tetapi laki-laki yang terlalu angkuh untuk berbagi…,” katanya, sembari mencibir, menamparku beberapa kali, dan pergi. Bagaimana kabarnya ia kini? Apakah ia kini juga masuk barisan pembenci laki-laki?</p>
<p style="text-align:justify;">Kulirik dua perempuan yang saling berpelukan itu. Adakah mereka berdua – pada mulanya – memang pembenci laki-laki? Mungkin tidak. Kudengar saat ini memang banyak perempuan memilih pacaran dengan perempuan. Laki-laki terlalu kolokan. Terlalu menuntut banyak pelayanan. Selalu ingin dinomorsatukan. Hidup bersama laki-laki sama saja menistakan diri menjadi abdi. Lebih baik mati menggorok leher sendiri. Sungguhkah seseorang menjadi lesbian karena benci laki-laki? Kuingat seorang kawan pernah bilang, menjadi lesbian bukanlah kelainan, tapi pilihan! Itu soal memilih jalan kebahagiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kutatap dua perempuan yang saling berpelukan itu, dan kudengar mereka saling bergumam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Katakanlah, kamu mencintaiku…”</p>
<p style="text-align:justify;">Hangat, lekat, keduanya berciuman, bagai memagut sejumput kebahagiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kudengar piano mengalunkan <em>Love Is A Many Splendored Thing</em>, seakan hendak menghadirkan kemegahan cinta lebih dari yang mampu terbayangkan. Sayap di punggung pemain piano itu mengembang, begitu anggun, berkepakan pelan, mengingatkan pada burung yang yang diluapi gairah terbang melintasi langit musim semi. Ada yang tak terkatakan melebihi cinta. Bunga-bunga seakan memenuhi ruangan. Dan sepasang sayap pemain piano itu terus berkepakan, membuat dua perempuan itu bertepuk, dengan wajah yang bagai senja bersemu merah. Pemain piano itu mengangguk takzim, seakan merestui kebahagiaan yang kini tengah direguk dua perempuan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, lihatlah, betapa perlahan-lahan tubuh pemain piano itu terangkat, mengambang, dan terbang melayang-layang berkitaran nyaris menyentuh lampu kristal yang tergantung di langit-langit ruangan. Sementara piano itu terus berdentingan, tutsnya turun naik, bagai ada tangan gaib yang memainkannya. Segala megah oleh cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Cinta. Bahagia. Apa maknanya bagi kita? Sungguhkah dua perempuan itu benar-benar bahagia dengan saling mengucapkan cinta seperti itu? Mungkin benar. Berbahagialah mereka yang percaya pada cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, aku jadi terkenang pada kawanku yang lain. Seorang laki-laki yang bersih dan tampan, yang suatu hari jatuh cinta pada seorang lelaki yang menurutnya paling indah di dunia.<a href="#_ftn4">4</a> Aku tak pernah bisa memahami, tetapi selalu merasa iri setiapkali menyaksikan kawanku mencurahkan perasaan cintanya pada lelaki itu. Begitu habis-habisan, mempertaruhkan seluruh kebahagiaan hidupnya hanya dengan dan demi lelaki itu. Lelaki paling indah yang pernah dijumpainya dalam hidupnya yang datar dan biasa-biasa saja. Sungguh percintaan yang dahsyat dan menggemparkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan seperti apakah kisah percintaan dua perempuan itu?!</p>
<p style="text-align:justify;">“Berjanjilah, kamu tak akan meninggalkanku…” kudengar yang berambut pendek berkata, sambil merengkuh pundak satunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bias cahaya lampu bertudung, wajah dua perempuan itu terlihat sedikit memucat. Ketika keduanya saling tatap, masing-masing seperti hendak meyakinkan diri, betapa semua yang mereka percakapkan, betapa semua pelukan dan ciuman, akan abadi dalam kenangan. Mungkin, suatu hari nanti, mereka diusik keraguan. Lantas dengan baik-baik mereka memutuskan untuk berpisah, karena yang satu (atau keduanya?) memilih menikah dengan seorang laki-laki yang tak pernah bisa sungguh-sungguh mereka cintai, tapi memberi sedikit rasa aman karena bisa melindungi mereka dari gunjingan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan rumah tangga yang membosankan, yang membuat mereka dari hari ke hari semakin asing, sedapat mungkin mereka pertahankan, mereka jalani rutin. Mereka biarkan suami mereka keluyuran mencari hiburan setiap malam. Sementara itu, sesekali waktu, diam-diam mereka bertemu dan bercinta mereguk kenangan lama. Itulah saat-saat paling menentramkan perasaan mereka, sebelum akhirnya mereka bergegas pulang ke rumah, kembali menjalani peran istri yang setia. Mereka sabar menunggu suami-suami mereka pulang, dengan ketulusan seorang istri yang penuh pengertian…</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin begitu. Mungkin juga kisah mereka berakhir bahagia. Setidaknya, tidak seperti aku. Mereka punya seseorang yang pantas dicintai sekaligus mencintai. Kuperhatikan keduanya tertawa bahagia, meski tanpa suara. Lalu kembali saling berciuman. Sementara pemain piano itu masih terbang melayang berputar-putar di atas mereka, sambil menaburkan kuntum-kuntum bunga.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku iri melihatnya. Kualihkan pandang ke jendela, kusimak malam bergerimis yang menggigilkan pepohonan, siluet gedung-gedung kota yang gotis. Ada yang tak kufahami di luar sana. Seperti ada yang tengah menyanyikan kesedihan dan kesepian.</p>
<p style="text-align:justify;">DUA perempuan itu bangkit, sambil terus berpelukan, berjalan, dan keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kupanggil pelayan. Ingin kutanyakan ihwal dua perempuan itu. Entah kenapa, aku ingin sedikit tahu tentang mereka. Barangkali keduanya sering mampir ke mari. Aku ingin kenal mereka. Ingin bertanya, apakah mereka bahagia? Aku ingin belajar mencintai, juga dicintai. Tidakkah keinginanku sangat sederhana sebenarnya?</p>
<p style="text-align:justify;">“Bisa saya bantu, Tuan?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ehm, bisa kasih tahu siapa dua perempuan yang tadi duduk di pojok itu?” kataku.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelayan itu menatapku. Lalu, menoleh ke arah yang aku tunjuk. “Perempuan?” tanyanya heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, dua perempuan yang barusan pergi.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, Tuan bercanda…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Bercanda?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sejak tadi cuma Tuan sendiri tamu di kafe ini…”</p>
<p style="text-align:justify;">Kurasakan entah apa. Cahaya terasa lesi. Kulihat gerimis masih saja nitis, membuat malam kian terasa miris.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p align="right"><strong>Jakarta-Yogyakarta, 2002.</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">1</a> Dikutip dari sajak “Sia-sia” Chairil Anwar.</p>
<p><a href="#_ftnref2">2</a> Terinspirasi cerpen “<em>Light is Like Water</em>” Gabriel Garcia Marquez.</p>
<p><a href="#_ftnref3">3</a> Dari sajak “Sebelum Makan Malam” Cecep Syamsul Hari.</p>
<p><a href="#_ftnref4">4</a> Lihat cerpen “Laki-laki Paling Indah di Dunia” Seno Gumira Ajidarma.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- 20 Keping Puzzle Cerita]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/29/20-keping-puzzle-cerita/</link>
<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 00:56:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2009/03/29/20-keping-puzzle-cerita/</guid>
<description><![CDATA[Ambulan yang Lewat Tengah Malam Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><img class="size-medium wp-image-384 aligncenter" title="puzzlejpeg1" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2009/03/puzzlejpeg1.gif?w=240&#038;h=300" alt="puzzlejpeg1" width="240" height="300" /></p>
<p><strong><span style="font-size:14pt;">Ambulan yang Lewat Tengah Malam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ambulan yang membawa jenazahmu berkali-kali oleng karena sopirnya ngantuk. “Aku tak mau mati kecelakaan lagi,” katamu. “Sini, biar saya setir.” Pak Sopir pun gantian istirahat di peti mati. Kulihat ambulan itu melintas pelan menuju rumahmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sirene</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kelak, sejak kematianmu itu, anak-anak di kampung kami selalu ketakutan bila mendengar sirene. Bila ada anak yang rewel, si ibu akan menakut-nakuti, “Nanti kau diculik ambulan…” Setiap ada sirene melintas, anak-anak yang tengah bermain gobag sodor atau petak umpet buru-buru berlarian masuk rumah. “Mereka selalu ngeri membayangkan ambulan yang disetiri mayatmu,” kataku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau tersenyum mendengar kisah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kucing Hitam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku ingat, saat para tetangga datang melayat. Banyak yang penasaran kenapa kau mati begitu mendadak. Mereka bercakap nyaris berbisik, menduga-duga – mungkin ada juga yang diam-diam menggunjingkanmu – sementara jenazahmu berbaring tenang. Bau kematian seperti mengedap dalam ruangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat itulah, mendadak, seseorang menjerit, ketika melihat seekor kucing hitam melompati jenazahmu. Beberapa pelayat yakin: saat itu melihat matamu berkedip-kedip.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><!--more--><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kasus Salah Tangkap</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sampai kini, kematianmu masih misteri bagi kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Beberapa orang meyakini, hari itu kau diciduk polisi. Kau tak pernah bisa mengerti, kenapa polisi menangkapmu. Mereka terus menginterogasi. Menggertak dan memukulmu berkali-kali. Memaksamu agar mengaku. Kau dituduh membunuh istrimu. Padahal istrimu masih hidup. Kaulah yang mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Misteri Mutilasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tetapi beberapa orang yang lain bilang, kalau kau sesungguhnya mati bunuh diri. “Kuperhatikan ia tampak murung belakangan ini,” seseorang berkata. “Aku yakin ia memotong-motong tubuhnya sendiri, dan untuk menghilangkan jejak, ia segera membuangnya ke pinggir kali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Itulah sebabnya, kata orang itu melanjutkan, polisi masih sibuk mencari pembunuhmu, sampai kini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tentang Seorang Perempuan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Seminggu setelah pemakamanmu, seorang perempuan muncul di kampung kami. Ia menggendong bayi mungil. Wajahnya gugup dan pucat, tetapi tak menghapus kecantikannya. Seolah takut ketahuan, perempuan itu menanyakan di mana rumahmu. Sikapnya membuat kami curiga: jangan-jangan ia istri kedua atau simpananmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu seorang warga menjelaskan, kalau kau sudah mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Mati?” ia terlihat tak percaya. “Barusan tadi pagi ia mampir ke rumahku…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Cerita Pelayan Kafe</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Seorang tetangga, yang bekerja sebagai pelayan kafe, satu malam menemuiku. Ia bilang, ia juga barusan melihatmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ia melihatmu duduk di sudut remang kafe tempatnya bekerja. Memesan minuman ringan dan kentang goreng. “Katanya ia janjian mau ketemu dengan sampeyan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tapi semalaman aku lembur di kantor, tegasku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Ya, ia memang terus sendirian, tapi seolah bercakap-cakap dengan sampeyan yang tak pernah datang.” Sampai kafe tutup. Namun para pelayan kafe masih melihatmu terus duduk di kursi itu. “Sebelum aku pulang, ia menitipkan ini padaku.” Ia menyodorkan sekeping koin. Dan aku segera mengenalinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Pada Sebuah Kuburan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dulu, semasa kanak, kita menemukan sekeping koin perak berkarat di pekuburan. Kita memang sering keluyuran ke pekuburan selatan kampung itu. Orang-orang bilang kuburan itu berhantu. Sering, bila tengah malam, terdengar suara yang terus melolong. Aku selalu ketakutan. Seperti kudengar suara lolong menyanyat orang sekarat. Tapi kau malah cekikikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kelak,” katamu, “aku akan mati menjerit kesakitan seperti itu. Aku akan mati terpotong-potong, dan dibuang ke kuburan ini…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kemenyan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Barangkali kamu memang tak pernah mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Para peronda sering melihatmu berkelebat pulang malam-malam. Mereka kadang juga samar-samar melihatmu duduk-duduk di beranda rumahmu –<span> </span>sesekali batuk-batuk kecil atau berdehem – sembari menikmati rokok kretek. Tapi para peronda itu mencium aroma kemenyan merebak di udara yang seketika terasa menjadi lembab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Para peronda juga sering melihat istrimu tengah malam berdiri di pintu menunggumu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Seusai Pemakaman</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku jadi ingat pada sore seusai pemakaman. Para pelayat baru saja menguburkanmu. Saat itu aku melintas depan rumahmu, dan kulihat kau seperti baru saja pulang. “Ayah pulang! Ayah pulang!” anak-anakmu berlarian riang menyambutmu. Bergelayutan manja pada lenganmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Di pintu, kusaksikan mata istrimu berlinang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Koin Hitam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kupandangi koin perak yang telah menghitam itu. Tergeletak di meja. Kau tahu, sejak dulu aku tak mau keping koin itu. Tapi tiap kali aku datang ke rumahmu hendak mengembalikannya, yang ada hanya istrimu. Senyumnya yang manis menyuruhku masuk, matanya yang gelisah melirik ke<span> </span>halaman, takut ada yang memergoki.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setelah kau mati, aku pun sudah berusaha membuang jauh-jauh koin itu berkali-kali. Membuangnya ke selokan. Membuangnya ke tempat sampah. Bahkan sampai jauh ke luar kota. Tapi koin itu selalu saja kembali. Begitu saja: tiba-tiba sudah tergeletak di meja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Kapak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Aku mengingat malam itu sebagai malam mengerikan dalam hidupku. Kau muncul dan berkata, “Kau punya kapak?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Apakah kau akan membelah kayu malam-malam begini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu kau bercerita. “Ada ular dalam kepala istriku. Ular itu datang setiap kali aku tak ada, menyelusup lewat telinga, dan kini mendekam dalam kepalanya. Mungkin kapak ini ada gunanya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tukang Ramal</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kita belum lagi genap tigabelas tahun ketika datang ke pasar malam itu. Keramaian dan lampu warna-warni seperti mimpi yang ganjil. Aku pingin gulali, tapi kau mengajakku ke tukang ramal bermata juling. Kau ingin tahu, bagaimana nanti kita mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tukang ramal itu menyeringai menatap kita “Kalian memang sahabat yang luar biasa,” katanya, “karena menyintai perempuan yang sama.” Kita masih saling bertatapan, ketika tukang ramal itu menarik tanganku. “Dan kau, kau akan mati karna tabrak lari.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Alibi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Cerita ini kudengar dari para tetangga, karena saat itu aku memang sudah menjauh dari hidupmu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mereka mendengar suara istrimu menjerit kesakitan. Itulah jerit kematian paling mengerikan. Pagi harinya, mereka menemukan istrimu mati dengan kepala pecah. Kapak itu tak pernah ditemukan. Meski para tetangga curiga, polisi tak bisa mendakwamu, karna saat itu kau tak ada di tempat kejadian. Kau juga sedang berada di tempat lain, ketika ketiga anakmu ditemukan mati mengenaskan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Dan para tetangga yang keheranan kemudian mengatakan: ketika mayatmu ditemukan, polisi pun tak bisa mendakwamu. Karna kau juga tak ada di tempat kejadian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat itu kupikir mereka terlalu melebih-lebihkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Anjing</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kawan-kawan sepermainan sering bilang, kita pasangan serasi. Mereka tak tahu kalau kau tak menyukaiku yang pendiam. “Kau terlihat mengerikan bila sedang diam,” katamu selalu. “Seperti ada seorang pembunuh yang diam-diam sedang menguasai tubuhmu. Kau mirip psikopat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Suatu hari kau marah karena nyaris digigit anjing tetanggamu. Aku hanya diam mendengar ceritamu. Dua hari kemudian kau mendapati anjing itu mati digorok dan digantung di pagar rumah tetanggamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau menatapku yang hanya diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Teka-teki Wajah Pembunuh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Inilah permainan yang kita sukai, menebak teka-teki: bila kelak kita mati terbunuh, seperti apakah wajah pembunuh itu? Kemudian kita masing-masing mengambil kertas dan pensil, membayangkan wajah itu, dan menggambarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kita melipat kertas itu setelah selesai. Memasukkannya ke amplop, lantas membakarnya, agar kita bisa terus penasaran dan menebak-nebak wajah siapakah yang kau gambar dan aku gambar. Menyimpan rahasia memang selalu mendebarkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku bisa menduga, wajah siapa yang kau gambar,” katamu, sambil memandangi api yang melahap kertas itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kubayangkan wajah itu hangus dalam api.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sumur Tua di Belakang Rumah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ada sumur tua di belakang rumah kakekmu. Konon, airnya selalu berwarna merah setiap purnama. Di jaman gestapu dulu, kakekmu dibantai dan dilempar ke sumur itu. Sejak itu, siapun tak berani mendekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tapi diam-diam kita suka ke sana, menjenguk ke dalamnya, berharap menyaksikan mayat kakekmu mengapung. Airnya memang begitu bening. Yang kita lihat justru bayangan mayat kita sendiri: memar, rusak dan berdarah karna kecelakaan. Meringkuk di dasar sumur itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Puisi Cinta Semasa Remaja</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau tahu aku suka puisi. Karna itu, ketika kau jatuh cinta, kau memintaku menulis puisi. Kau sebut nama gadis yang telah membuatmu jatuh cinta. Aku pun segera tahu: itulah puisi paling bagus yang bakal berhasil aku tulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau senang sekali dengan puisi itu. “Kamu benar-benar bisa melukiskan seluruh perasaanku,” katamu. Tidak, aku tak menuliskan perasaanmu, jawabku. Dalam diam tentu saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Mayat dalam Koper</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Setelah kau menikah, aku memilih pergi mengembara. Ketika tak ada kabar, kau sering membayangkanku sudah mati. Kemudian dari para tetangga aku mendengar, bila sedang ronda kau suka cerita, kalau aku tak lain psikopat yang dicari-cari polisi. “Suatu hari psikopat itu memotong-motong tubuhnya sendiri. Dan sebelum polisi tiba, ia bergegas mengemas koper yang berisi potongan tubuhnya sendiri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Mereka selalu tertawa mendengar cerita itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><br />
</span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;">Tabrak Lari</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu hari sebagaimana diramalkan itu tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Saat terburu berangkat kantor kau menabrak pejalan kaki. Tubuhnya terpelanting dan tergilas. Kau terus tancap gas. Malam harinya, istrimu begitu sedih setelah mendapat kabar kamu mati tertabrak ambulan yang langsung melarikan diri. Ambulan hantu, kata orang-orang. Ambulan yang disetiri mayat yang dibawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Kau menangis menceritakan semua kisah ini padaku yang tadi pagi mati karna tabrak lari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><strong><span>Jakarta, 2009.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><em><span>(Muncul di </span></em><span>Koran Tempo </span><em><span>Minggu, 29 Maret 2009)</span></em><strong><span><br />
</span></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- SETANGKAI SUNYI]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/25/setangkai-sunyi/</link>
<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 05:57:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/25/setangkai-sunyi/</guid>
<description><![CDATA[AKU tengah berfikir betapa hidup ini telah menjadi begitu hampa dan sia-sisa untuk dipertahankan ket]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"><strong><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/11/gambar16.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-277" title="gambar16" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/11/gambar16.jpg?w=291&#038;h=365" alt="gambar16" width="291" height="365" /></a>AKU</strong> tengah berfikir betapa hidup ini telah menjadi begitu hampa dan sia-sisa untuk dipertahankan ketika kusaksikan setangkai sunyi tumbuh di antara gerimbun bunga-bunga di halaman. Setangkai sunyi yang cemerlang dengan perpaduan warna-warna yang paling rahasia sehingga membuatku tergetar dan bertanya-tanya. Benarkah masih ada keindahan yang begitu menakjubkan di tengah dunia yang telah berubah menjadi tempat pembantaian?<!--more--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Di sela bunga-bunga mawar yang mekar dan di bawah gerimis yang membasahi senja, setangkai sunyi itu tampak begitu bening dalam kehindahannya. Seakan bunga keabadian yang tumbuh dari duka abadi. Seperti segala yang bermula dari sunyi, ia menjadi terlihat begitu berarti. Bukankah dunia ini juga sebermula dari sunyi? Entahlah. Aku tak mengerti. Aku tak terlalu memahami. Tetapi yang pasti, kini, di hadapanku telah tumbuh setangkai sunyi yang begitu cemerlang, basah dan murni. Memancarkan keredupan yang menentramkan hati. Segala yang kupandang seperti menjelma bentangan luas yang lembut dan segar. Langit bersih seperti permukaan agar-agar. Aku menyaksikan dunia yang selama ini hanya ada dalam harapan. Aku menyaksikan sekawanan burung merpati terbang meniti sepi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Aku memejam menyaksikan itu semua. Ini bukan dunia menyedihkan yang kukenal. Dan aku, tiba-tiba, menemukan diriku yang termangu di beranda, seperti luluh di bawah cahaya pucat rembulan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Tapi bayangan buruk itu berkeredap lagi. Bayangan yang tak ingin kau kekalkan dalam ingatan, tetapi selalu muncul seperti gedoran di tengah malam. Mengejutkan dan membuatnya tergeragap ketakutan. Aku menyaksikan darah menggenang di lantai…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Bayangan itu begitu jelas, meski aku bersikeras tak ingin mengingatnya lagi. Aku baru saja pulang menjelang tengah malam dengan keletihan. Aku bayangkan Asih, istriku yang bermata lembut, akan membukakan pintu dan segera menyiapkan secangkir kopi hanya untuk meneduhkan penat. Anak-anakku mungkin masih ada yang tengah belajar. Atau mungkin mereka malah masih nonton televise. Atau mungkin mereka sudah tertidur di kursi ruang keluarga, sementara televise masih saja menyala. Asih, barangkali juga terkantuk menunggu kepulanganku. Ia selalu ingin membukakan pintu untukku. “Agar aku selalu tahgu kau telah kembali,” katanya. Itulah kenapa ia tak suka bila aku bersikeras untuk menduplikat saja kunci pintu. “Kalau kau bawa kunci, kau jadi punya alasan untuk kembali lebih malam, atau malah pulang dini hari…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dan suami yang terbiasa pulang dini hari, akan tergoda untuk tidak pulang, dan lupa kalau ada yang tengah menunggu di rumah. Aku tersenyum setiap Asih mengatakan itu sambil lalu. Aku tahu kecemasannya, dan karenanya aku makin mencintainya. Ah, betapa menyenangkan membayangkan ada kehangatan yang menunggu di rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Tapi malam itu aku menemukan rumah begitu ganjil. Pintu setengah terbuka, dan darah berceceran di lantai. Perabotan terguling berantakan. Asih tertelungkup dengan kepala pecah. Ida, Renaldi, Inan dan Betita – anak-anakku tercinta – terkapar dengan mata terbelalak. Seakan ketakutan masih lekat di kelopak mata mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Benarkah<span> </span>semua itu sungguh-sungguh nyata? Benarkan darah, kekerasan dan pembantaian tidak cuma terjadi di televisi? Jadi, semua berita di koran-koran itu tidak mengada-ada? Perampokan terjadi di mana-mana. Pembunuhan setiap saat terjadi di mana-mana.<span> </span>Pembantaian di mana-mana. Dulu tiada hari tanpa olah raga, kini tiada hari tanpa pembunuhan. Dunia telah menjadi penuh kisah kekejaman. Kini aku bisa merasakan, betapa bukan kematian benar yang menakutkan, tetapi cara bagaimana kita matilah yang membuat kita ngeri. Cara istri dan anak-anakku mati, selalu membuatku merinding. Membuatku selalu bertanya, benarkan ini dunia yang diinginkan Tuhan ketika menciptakannya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"><strong>AKU</strong> masih termangu di beranda, menyaksikan setangkai sunyi itu tumbuh mekar dan makin mengesankan, sementara kegelapan mulai menampakkan diri bersama gerimis. Pagar dan pepohonan membasah, jalanan berkilat dan makin muram, sedang pohon-pohon tampak menggigil ganjil. Aku melihat setangkai sunyi itu bergoyang-goyang dijentikan angin. Ada suasana gaib yang ditimbulkannya. Seperti ada kesedihan yang diuntai jadi bunga keindahan. Atau semacam kesyahduan dan kerelaan yang tulus dalam duka tak berkesudahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Makin lama setangkai itu makan mekar membesar, dan aku semakin berdebar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Di jalanan, orang-orang masih saja lalu-lalang tanpa mempedulian gerimis. Apakah yang membuat mereka tidak mempedulikan gerimis? Kenapa tergesa-gesa? Apakah mereka juga menyimpan ketakutan ketika melintas gang remang atau jalan tampa penerangan? Kulihat seseorang melangkah bergegas. Mungkin tadi ia lama berdiri di halte, sementara rinai gerimis membuat sekelilingnya jadi tampak mengerikan: seperti ada rahang besar yang akan menelannya. Dan ia jadi gugup, lalu memutuskan untuk segera jalan kaki. Tak jauh dari halte itu, barangkai, ia melihat ada seseorang yang terbunuh ketika baru saja turun dari taksi. Pastilah banyak peristiwa terjadi di luar sana. Sepasang kekasih yang berjalan sambil bergandengan tangan tiba-tiba di hampiri segerombolan pemuda. <span> </span>Gadis itu panik. Tanpa babibu gerombolan itu memukuli kekasihnya hingga terkapar dalam got. Lalu gadis itu<span> </span>hanya bisa merasakan berate kerongkongannya kering dan segumpal jerit membuat lehernya sesak ketika gerombolan pemuda ity mulai menyeretnya masuk ke dalam bangunan kosong terbengkalai. Mungkin ada beberapa orang yang menyaksikannya. Tapi tak berani berbuat apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Banyak kisah disembunyikan kota namun kita tak tahu maknanya. Apa pentingnya semua itu bagi kita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Masih saja aku termangu di beranda dengan secangkir kopi yang telah dingin memandangi setangkai sunyi itu ketika kudengar teriakan riang memanggilku dari dalam rumah. Ah, suara itu! Terdengar penuh pengertian. Suara lembut Asih yang bagai selalu menawarkan kelembutan yang membuatku ingin berada di dekatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Masuklah. Nantu kau masuk angin…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Suara itu masih saja terdengar dalam ingatan. Sampai aku yakin ia memang masih hidup. Dan ia memang tetap hidup. Dalam ingatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Aku masih saja mendengar suara pertengkaran Ida dan renaldi memperebutkan lauk pauk ketika makan malam. Masih kudengar derai tawa mereka yang renyak ketika menonton televisi. Masih begitu jelas jeritan dan tawa mereka ketika saling kejar-kejaran sambil saling melempar bantal. Suara Inan bermain piano. Betita yang merengek minta dikelonin. Lalu kudengar suara Asin menyuruh Ida dan Renaldi belajar. Aku ingat pada mata si bungsu yang menatap manja. Sepasang mata itu mirip sekali dengan mata ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Ayo, kamu panggil Ayahmu masuk… Biar kamu dikelonin Ayah, ya…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Aku mendengar langkar ringan betika mendekati pintu. Kurasakan betika hati-hati mendekatiku. Aku menengok ke arah pintu itu. Tak ada siapa-siapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Tapi aku yakin Betita masih ada. Ia mungkin malu, sembunyi di balik pintu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Aku selalu measa semuanya ada dan nyata. Sebagaimana setiap kali aku bangun pagi dengan malas karena tak tahu harus melakukan apa dengan hidup yang makin hampa dan membosankan ini, kemudian mendapati kesibukan pagi ketika bayangan anak-anak berkelebatan ingin cepat berangkat sekolah.<span> </span>Aku mendengar celoteh mereka menikmati roti. Aku mendengar denting sendok di piring. Aku mencium harum kopi mengambang di udara pagi. Dan aku bejalan mendakati meja makan. Mendapati nasi goreng yang sedap. Terhidang sempurna. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dan aku termangu memandangnya. Mencoba meyakinkan betapa segalanya masih seperti semula. Anak-anak dan istriku tak pernah mai dengan cara mengerikan seperti yang kusaksikan. Ah, siapa yang bisa menghapus kenangan? Mereka tetap berkeliaran dalam rumah. Itu lebih baik, batinku. Dari pada mereka berlarian di luar rumah. Mereka bisa saja sewaktu-watu mati dengan cara mengerikan. Untuk kedua kali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Masuklah. Sudah malam. Nanti kamu masuk angin…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Suara itu kembali memanggil. Aku bangkit, dan menyempakan memetik setangkai sunyi yang tumbuh dalam rimbun kesepianku itu. Aku ingin memberikan setangkai sunyi itu buat istriku. Biarlah nanti ia akan menaruhnya di vas bunga di samping potret keluarga. Agar kami bisa selalu memandangi dan menikmatinya bersama-sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"><strong>SETIAP </strong>kali ada kenalan atau kerabat yang datang, mereka sangat terpukau dengan setangkai sunyi itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Benar-benar menakjubkan!” pekik mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Oh, ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Ya. Aku tak pernah membayangkan kalau ada sekuntum bunga yang begini indah. Saya bukanlah orang yang suka bunga, tetapi jujur, saya langsung jatuh cinta melihat bunga ini. Bunga apakah ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Itu bukan bunga,” kataku. “Itu kesunyian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Ah, aku tak mengerti maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">“Kalian memang tak bakal mengerti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Lantas aku mengajak mereka ke halaman, menunjukkan serimbun sunyi yang bermekaran. Mereka terpesona. Mereka dengan gembira memetik dan membawanya pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Dan aku, selalu, kembali merasa makin sepi setelah mereka pergi. Kembali disergap kehampaan ketika merasakan dunia yang makin tidak mempesona. Sendiri merawat<span> </span>kesunyian yang tumbuh di halaman. Begitulah. Aku rawat bunga sunyi itu hingga tumbuh subur. Aku tanam bunga sunyi itu di sekeliling pagar. Di bawah jendela kamar, agar setiap aku bangun pagi bisa kuhirup harum baunya yang menentramkan. Kutanam bunga sunyi itu di setiap pojok rumah dan juga lahan-lahan kenangan yang seringkali sayup-sayup membuatku menangis sendirian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Setangkai sunyi yang mula-mula aku temukan tumbuh di antara rerimbun bunga-bunga itu kini telah memenuhi halaman dan setiap bagiah rumah. Setangkai sunyi itu kini bermekaran di mana-mana. Setiap menghirup keharumannya aku seperti melayang dan mengapung. Kelopaknya selalu berkilat. Daun-daunnya selalu basah. Tangkainya selalu bergoyangan. Aku melihat anak-anakku berlarian riang seperti kupu-kupu yang beterbangan dari satu tangkai sunyi ke tangkai sunyi lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Setiap pagi aku selalu menyaksikan setangkai sunyi itu berbunga. Dan setiap kali itu pula aku masih merasakan keperihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;line-height:normal;" align="right"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">Tegal, 1994.</span></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- DUNIA SERENA]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/04/dunia-serena/</link>
<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 04:49:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/11/04/dunia-serena/</guid>
<description><![CDATA[GEMERINCING kereta membawa Serena ke Negri Hesperida. Dua belas kuda berbulu putih melesat menembus ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;"><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/11/gambar3.jpg"><img class="size-full wp-image-265 aligncenter" title="gambar3" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/11/gambar3.jpg?w=585&#038;h=320" alt="gambar3" width="585" height="320" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;">GEMERINCING</span></strong><span style="font-family:&#34;"> kereta membawa Serena ke Negri Hesperida. Dua belas kuda berbulu putih melesat menembus pilar-pilar cahaya matahari yang menyemburat celah-celah awan, meniti lengkung pelangi. Lalu, dari langit yang gemerlapan dan penuh nyanyian, muncullah peri-peri mungil bersayap bening, membawa keranjang penuh bunga aneka rupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Selamat datang, Serena&#8230; Selamat datang&#8230;.”<!--more--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Angin bau kesturi. Bunga-bunga berhamburan, membuat langit keemasan. Serena tertawa bahagia. Inilah tempat yang selalu ia kunjungi setiap kali merasa kesepian. Ia suka pada peri-peri mungil bersayap bening, yang sayapnya selalu berdengung mirip capung. Di sini ia bisa berlarian menyusuri padang rumput yang membentang hijau sampai ke ujung bumi. Ia bisa bermain dengan puluhan kelinci atau bernyanyi bersama tujuh kurcaci. Beterbangan bersama kupu-kupu dan lebah, dari satu bunga ke bunga lainnya. Di sini ia selalu merasa lepas dan menemukan banyak teman. Tidak seperti di rumah, yang meskipun banyak boneka pemberian Mama, juga puluhan mainan aneka rupa, tapi selalu saja Serena merasa tak menemukan siapa-siapa. Semua mainan di rumah hanyalah benta-benda, yang tak bisa membuat hatinya gembira. Ia ingin kawan yang bisa membuatnya selalu merasa nyaman dengan berbagi cerita dan tawa. Karena itulah ia selalu pergi ke Negri Hesperida, berkelana bersama Dewi-dewi Waktu yang menjaga keceriaan musim dengan lentik jarinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Lama kamu tak kemari, Serena?” tanya kelinci yang matanya menyimpan bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Mama sakit, saya mesti menjaganya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Kamu memang anak baik, Serena&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Ya, ya, ya, ia ingin jadi anak baik. Hanya anak baik yang disukai orang tua. Tapi Serena selalu heran, kenapa Mama dan Papa selalu saja membentak-bentak dan memarahinya, meski ia sudah nurut pada apa saja yang dikatakan mereka? Mama seperti tak pernah mau mendengar cerita-ceritanya. Selalu menganggapnya hanya berkhayal bila ia bercerita tentang Negri Hesperida. Sedang Papa tertalu sibuk dengan entah apa. Serena tak pernah bisa mengerti, kenapa Papa selalu pergi. Nyaris sepanjang hari Papa pergi. Pulang malam-malam, terkadang sempoyongan, kemudian meledak pertengkaran. Atau kalau di rumah, Papa selalu mendengkur dalam kamar, sementara Mama sepanjang hari membenamkan diri di depan televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Ya, ya, ya itulah sebabnya Serena lebih suka mengembara ke Negri Hesperida, memetik keceriaan musim, merangkai waktu menjadi kelopak-kelopak bunga. Di sini ia bisa tertawa sepuasnya. Di sini ia tak merasa ketakutan oleh bentakan Mama. Di sini Serena menemukan kawan bermain yang selalu mengerti dirinya. Kawan-kawan yang selalu memberinya bulan dan bintang, hingga ia tak takut pada malam. Bersama peri-peri mungil bersayap bening Serena sematkan bulan dan bintang-bintang, seperti ketelusan seorang ibu memasangkan kembali kancing baju anaknya yang lepas, membuat jubah malam jadi berkilauan. Lalu Serena bergelantungan sulur cahaya bulan, seperti dulu ia suka main ayunan di belakang rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Hati-hati, Serena!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Serena bergelayut manja. Sementara peri-peri mungil bersayap bening terbang berputaran mengitarinya sembari memainkan harpa, menyayikan lagu paling merdu yang pernah didengar Serena. Membuatnya terbuai, hangat. Serena menjelma bayi yang pulas dalam peraduan. Matanya yang bulat menyimpan kenangan, memejam, mencari ruang yang akan selalu membuatnya menjadi kanak-kanak abadi. Ia ingin menyimpan matahari dalam lemari, agar ia bisa terus pulas dan nyaman di sini. Tapi peri-peri mungil bersayap bening itu terus bernyanyi, dan gemanya pecah menjadi pagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Bangun Serena!” Mama menarik selimut. “Dasar pemalas! Ayo bangun, mandi, dan bikinkan Mama kopi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Di pinggir ranjang, Mama berkacak pinggang. Peri-peri mungil bersayap bening menghilang. Selimut terburai di lantai. Serena bersijengkat menghindari tatapan Mama. Ia tak ngantuk, tapi ia malas beranjak dari ranjang, karena berarti bertemu dengan mata Mama yang tak pernah ramah padanya. Seperti hendak membersihkan semua kesedihan, Serena mandi sembari bernyanyi. Membayangkan diri menjadi seorang Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Serena! Ayo, cepetan mandinya!” Teriakan Mama membuat Serena tergesa. “Sudah berapa kali Mama bilang, Serena, dilarang bernyanyi di kamar mandi. Apa kamu pingin menjadi seorang biduan?! Tidak, Mama tak akan mengijinkan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Serena merunduk. Mama memang tak pernah mengijinkan apa pun yang disukainya. Sepertinya, segala yang disukai Serena, selalu dibenci Mama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Sekarang buatkan Mama kopi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Serena menyeret kesedihan. Peri-peri mungil bersayap bening bergelantungan di ranting pepohonan. Saat itu Serena melihat Nirmala muncul membawa tongkat ajaibnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Jangan bersedih Serena. Terimalah tongkat ini, biar kamu bisa membuat kopi yang paling enak buat Mama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Dengan gembira Serena menerima. Ia memang paling suka pada Nirmala. Ia selalu berharap, pada suatu hari Nirmala akan meminjamkan tongkat ajaib kepadanya, biar ia bisa menyulap apa saja yang diinginkannya. Ia bisa menyulap batu menjadi roti, ia bisa menyulap kertas menjadi merpati. <em>Simsalabim</em>, dan ia pun bisa menciptakan sepatu kaca untuk pergi ke pesta. Mama pasti akan suka padanya, karena dengan tongkat ajaib ia akan bisa mengerjakan apa pun yang diperintahkan Mama dengan sekejap mata. Dengan tongkat ajaib Nirmala, <em>simsalabim</em>, Serena menyulap segelas kopi untuk Mama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Ini kopinya, Mama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Mama mencicipinya, tapi tersedak seketika, dan melotot pada Serena, “Ya, ampun, Serena! Apa yang kamu berikan pada Mama?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Bukankah Mama minta kopi?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Tapi ini tanah liat, Serena!” Mama langsung menyiramkannya ke muka Serena. “Kamu benar-benar tak berguna, Serena!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Serena menghambur, sesungukan. Kenapa Mama selalu menyalahkannya?<span> </span>Apakah karena ia sesungguhnya bukan anak Mama, seperti yang sering dibisik-bisikkan tetangga ? Ia hanya anak yang dipungut dari jalanan&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Serena tak percaya. Ia yakin ia anak Mama. Tapi kenepa Mama begitu membencinya? Mungkin Mama memang tak pernah menginginkannya. Kerena Serena sering mendengar omelan Mama bila bertengkar dengan Papa. Pertengkaran yang selalu membuat Serena gemetar. Di puncak kemarahan, Mama akan selalu berteriak, “Coba kamu urus anak itu! Bukankah dulu aku sudah bilang, kalau aku tak ingin punya anak. Anak hanya akan bikin kacau dan merepotkan. Membuat rumah ini berantakan dan tak nyaman. Tahu begini, sudah aku bunuh dia waktu masih dalam kandungan!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Mengingat itu, Serena kian sesungukan. Di bening kali Serena membuka diri, “Bisa jadi aku hanya merasa sepi karena tak dicintai&#8230;.” Katanya, sambil memandangi pantulan wajahnya di bening air, seakan tengah melayat mayat sendiri yang terpahat di dasar kali. Rasanya ia ingin menjadi batu di dasar kali, bebas dari pukulan angin dan keruntuhan.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Alangkah bahagianya berbaring di dasar kali, abadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Saat itulah, muncul seekor ikan, menyapa Serena. Membuatnya terpana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Jangan takut, Serena&#8230;” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Lalu ikan itu pun bercerita, siapa ia sesungguhnya. Ia seorang Pangeran tanpan yang dikutuk menjadi ikan oleh Nenek Sihir, karena tak mau dinikahkan dengan anak gadisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Mendengar itu, Serena teringat pada buku cerita yang pernah dibacanya. Ia lupa, siapa nama pengarangnya. Tapi ia masih ingat betapa ia pernah bertemu Pangeran itu dalam mimpi. Serena juga ingat, ia pernah menceritakan Pangeran tanpan itu pada Mama, tapi Mama malah menuduhnya berpikiran kotor, “Kamu masih kecil Serena, kenapa sudah mikir soal laki-laki tampan? Jangan-jangan kamu sudah tahu soal kondom segala!”<span> </span>Jadi Pangeran itu benar-benar telah dikutuk menjadi ikan? Alangkah jahatnya Nenek Sihir itu! Tiba-tiba saja Serenga ingat Mama: apakah Mama juga jahat seperti Nenek Sihir? Serena memang sering mendengar kisah soal Nenek Sihir yang jahat, tetapi ia tahu tidak semua Nenek Sihir jahat, seperti ia juga tahu tidak setiap Mama jahat. Tapi kenapa Nenek Sihir itu tega mengutuk Pangeran itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Sudah kukatakan, Serena, karena aku menolak dijodohkan dengan anak gadisnya. Kamu tahu, Serena, aku menolak pertunangan itu bukan karena lamaran tersebut datang dari Nenek Sihir yang jahat. Tetapi karena aku telah jatuh cinta kepadamu, Serena&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Serena tersipu. Ia lihat ikan itu menatapnya penuh kesungguhan. <em>Uh</em>, bahkan dalam wujud seekor ikan pun, ketampanan Pengeran itu tak berkurang. Sungguh seekor ikan yang rupawan. Kejahatan dan kebencian tak mampu menghapus ketampanan Pangeran. Ya, ya, ya, seorang yang tampan memang akan tetap saja tampan dalam wujud apa pun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Telah seribu tahun aku menunggumu, Serena&#8230;.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Sebagaimana telah dinujumkan, Pangeran itu akan kembali menjadi manusia, apabila bertemu dengan gadis yang dicintainya. Cinta membuka kutukan. Dan ketika Serena menepuk air kali tiga kali, seketika ikan itu menjelma Pangeran tanpan, berjubah merah, begitu gagah, dengan pedang melintang di pinggang. Dengan takzim Pangeran itu bersimpuh di hadapan Serena, mengulurkan tangan dan meraih jari Serena &#8212; mencium lembut. Dibimbingnya Serena menyusuri jalan setapak hutan pinus. Peri-peri mngil bersayap bening muncul dari balik belukar, bernyanyi dan memainkan harpa, hingga bunga-bunga membuka kelopaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Maukan kau menikah denganku, Serena?” mesra suara Pangeran di telinga Serena. Kemudian Pangeran itu menyematkan cincin di jari Serena, juga memberinya seuntai kalung mutiara. Serena lihat langit kuning emas, seperti warna hatinya. Siapa yang tak gembira dicintai seorang Pangeran rupawan? Serena menyimpan cincin dan kalung pemberian Pangeran itu di bawah bantal, agar setiap kali tidur ia bisa selalu bertemu Pangeran tampan itu dalam mimpinya. Serena menyimpan cincin dan kalung itu seperti ia menyimpan impian dan harapannya. Karena itu Serena tak habis mengerti ketika suatu hari Mama begitu marah saat menemukan cincin dan kalung yang ia simpan di bawah bantal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Hampir senewen Mama mencarinya, Serena! Kenapa kamu tak bilang Mama, kalau mau pakai kalung ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Itu kalung Serena!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Tentu saja, punya Mama juga kepunyaan Serena. Tapi alangkah baiknya kalau kamu bilang terlebih dulu apabila hendak mengambil sesuatu. Biar Mama tak kelabakan mencarinya. Atau jangan-jangan kamu sudah mulai belajar mencuri? Iya?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Kalung itu pemberian seorang Pangeran&#8230;.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Pangeran lagi! Pangeran lagi! Apa pangeranmu itu yang mengajari kamu mencuri? Kamu terlalu banyak berkhayal, Se.rena. Sudah berapa kali Mama bilang, kamu masih kecil, tak baik kamu mikir soal pacaran. Belajar saja yang rajin. Sekolah yang bener. Kalau kamu sudah jadi orang, Mama tak peduli apa pun yang kamu lakukan, meski sehari kamu tidur dengan tigapuluh laki-laki. Saat ini taik kucing dengan pangeranmu. Sudah! Cepat belajar! Jangan bikin rumah berantakan. Sekarang Mama pergi pesta, <em>tuh</em> sudah ditunggu Papa&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Kenapa, kenapa Mama menuduhnya mencuri? Mama selalu tak percaya padanya. Apakah ia anak yang menjengkelkan? Ia ingin manja pada Mama. Berlendotan, sembari bercerita apa saja. Ia juga ingin mendengar Mama mendongengkan tentang kancil, tentang Lana dan Simba, tentang nenek tua yang memintal benang di bulan, tentang bidadari-bidadari berselendang jelita. Alangkah bahagianya Serena bila Mama mau mendongengkan itu semua, sampai ia tidur pulas di pangkuan Mama. Tapi bila Serena mulai bersandar di lengan Mama, langsung saja Mama menepiskannya, “Jangan ganggu Mama, Serena. Ayo, kenapa kamu tak main saja dengan teman-temanmu, Serena. Pergilah ke mall, makan <em>burger</em>, donat, ayam goreng atau pizza.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Bulan ungu muncul dari balik bukit. Serena termangu di jendela. Angin sepoi. Di ruang tengah Mama lelap di depan televisi yang masih menyala. Tak ada bunga tumbuh dari televisi. Kesepian memanjang. Serena jadi ingat, betapa ia pernah ingin memberi Mama bunga. Bunga, ya, bunga. Saya kira Mama akan gembira bila aku memberinya bunga, batin Serena. Ya, kenapa ia tidak memberi Mama bunga? Segera Serena berlari ke hutan, memetik sekuntum bunga wijaya kusuma. Di bawah bulan, bunga itu anggun luar biasa. Mama pasti suka. Aku akan memberi Mama bunga, biar Mama tahu betapa aku mencintainya. Mama pasti akan menciumnya mesra, memujinya sebagai anak baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Dipetiknya bunga itu, kemudian Serena membangunkan Mama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Lihat Mama, ini bunga buat Mama,” sodor Serena.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Mama terbelalak, melomapt menjauhi Serena, panik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Ular! Ular! Ulaarr!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Ini bunga, Mama&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Ular! Ular! Ulaarr!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;">SEJAK</span></strong><span style="font-family:&#34;"> peristiwa itu, Papa mengurung Serena dalam kamar. “Anak macam apa kamu, Serena. Mama sendiri hendak kamu bikin celaka!” Sejak itu pula, Mama tak pernah mau mengajak bicara Serena. Mama akan melolong bila tampak Serena, seperti melihat raksasa berkepala lima. Karenanya Papa melarang Serena keluar kamar. Bila butuh apa-apa, Bik Ijah yang akan mengambilkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Serena duka, kemudian menutup diri dari segala. Dianggapnya Mama dan Papa sudah tak lagi menghendakinya. Maka dikuncinya pintu kamar. Tak ia pedulikan ketukan Bik Ijah mengantar makanan. Serena begitu kecewa, membuat seisi hutan ikut merana. Semua binatang sahabat Serena cemas, melihat Serena yang kian pucat, tergolek di ranjang. Tak ada denting harpa dari peri-peri mungil bersayap bening. Tujuh kurcaci dengan setia menjaga Serena. Embun kehilangan cahaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Bertahun-tahun pintu itu terkunci, membuat Papa bersedih hati. Papa tak pernah menyangka Serena akan mengunci diri begitu rupa Ia sering marah dan jengkel pada Serena, tapi bagaimana pun ia anaknya. Baru Papa sadari, betapa ia mencintai Serena. Papa telah menghiba, minta Serena membuka pintu, tapi sia-sia. Papa telah memanggil tukang kayu dan ahli kunci untuk membuka, mencongkel, menggergaji dan mendobrak pintu, tapi juga sia-sia. Pintu itu rapat terkunci. Tak bisa dibuka. Papa hanya bisa mendengar lenguh kesedihan dari dalam kamar. Bilakah Serena masih hidup?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Papa telah renta, memendam penyesalan, duduk di kursi goyang di depan pintu kamar Serena, mengharap suatu kali pintu itu akan terbuka dan Serena menghambur ke pelukannya. Sementara Mama telah lama meninggal dunia &#8212; menghibur diri sampai mati di depan televisi. Kesedihan membuat mata Papa berkabut. Di sofa, mayat Mama mulai membusuk, seperti bangkai sapi yang tengah nonton televisi. Papa tak pernah mau menguburkan Mama, karena ia takut hidup sendiri. Papa masih membuatkan Mama kopi, menyiapkan air hangat, merawat kuku Mama, mengganti pakaian Mama, mengajaknya bicara dan menyuntingkan bunga kamboja di telinga Mama, hingga di mata Papa mayat Mama masih saja berguna. Setidaknya mayat Mama membuat Papa punya kesibukan. Begitulah Papa menghabiskan hari-hari tuanya, sembari mengenang wajah Serena.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;"></span><strong><span style="font-family:&#34;">SAMPAI</span></strong><span style="font-family:&#34;"> suatu sore, datang seorang Pangeran berjubah merah, mengendarai kuda, memasuki halaman rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“<em>Spada</em>!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Papa terkejut oleh teriakan itu, dan terseok-seok membuka pintu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Saya Pangeran dari Negeri Langit,” jawab anak muda itu, sambil turun dari kuda, dan langsung sujud mencium kaki Papa. Membuat orang tua itu bertanya-tanya, siapakah gerangan anak muda ini? Apakah anak seorang kenalannya? Keponakannya? Kerabat yang selama ini tak pernah dikenalnya? Ataukah pegawainya dulu? Ataukah teman Serena? <em>Ah</em>, selama ini Papa tak pernah tahu kalau Serena punya kawan begini tampan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Bertahun-tahun saya mengembara, menjelajah semua benua, mencari Serena. Ia telah membebaskan saya dari kutukan Nenek Sihir.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Nenek Sihir?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Ya. Saya datang untuk melamarnya. Ijinkan saya, Papa. Akan kumahkotai Serena dengan kemuliaan dan kebahagiaan&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Papa geleng-geleng, beringsut mundur dan tak lagi peduli pada anak muda itu. Papa yakin, anak muda itu orang gila yang tersesat. Lagi pula, Papa benci pada semua yang diucapkan tadi, karena mengingatkan pada omong kosong yang dulu sering diucapkan Serena. Papa benci pada bualan itu! Bualan yang membuatnya tak pernah memahami Serena. Karena itu, Papa buru-buru menutup pintu, dan kembali duduk di samping mayat Mama, nonton televisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Terkantuk-kantuk, Papa menyaksikan Pemuda tampan berjubah merah tadi di televisi, masuk kamar Serena. Pemuda itu bersimpuh di sisi ranjang Serena, membelai pelan kening Serena, kemudian memercikan air bunga. “Bangunlah kekasihku,” Pemuda itu menggenggam tangan Serena. Maka ribuan serangga berdengung riang ketika Serena membuka mata, ribuan kupu-kupu membuat langit penuh warna. Selusin bidadari turun, membawa hidangan aneka rupa. Semua berpesta, menyambut pernikahan Pangeran dan Serena. Diiringi tujuh kurcaci, Pangeran membimbing Serena, berjalan menuju altar, untuk dikawinkan. Pesta tujuh hari-tujuh malam, membuat dunia penuh cinta. Sepanjang hari televisi menyanyikan lagu cinta, membuat Papa terheran-heran. Berkali-kali ia ganti <em>chanel</em>, tetapi selalu saja ia temui kemeriahan pesta penuh cinta &#8212; tak ada tembak-tembakan, tak ada perkelahian, tak ada gedung meledak, tak ada mobil terbakar. Karena itulah, Papa merasa ganjil, bagaimana mungkin semua saluran televisi menyiarkan kemeriahan pesta? “Mungkin Laporan Khusus,” batin Papa. Meski ia tetap saja heran, karena biasanya Laporan Khusus cuma berisi<span> </span>omongan yang menjemukan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Dan Papa kian heran ketika Serena bersama Pemuda berjubah merah itu muncul dari tabung televisi, kemudian bersimpuh mohon restu dihadapannya. Papa merasakan ciuman lembut pada jari kakinya, hangat. “Berkati pernikahan kami, Papa,” suara Serena membuat mata Papa berkaca-kaca. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&#34;">BERTAHUN-TAHUN</span></strong><span style="font-family:&#34;"> setelah itu, rumah Serena menjelma belukar sunyi. Ilalang dan perdu merimbun. Sulur-sulur akar berjuntaian. Tembok-temboknya berlumut dan dirambati cendawan, halaman penuh pepohonan, rumput menjalar dan bunga-bunga liar mekar. Di tengah rumah-rumah megah dan gedung menjulang, rumah Serena jadi mirip hutan lindung kecil yang tak terawat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Tak ada yang peduli dengan rumah itu, kecuali anak-anak yang biasanya main petak umpet di situ, mengejar kupu-kupu atau mencari belalang. Anak-anak itu membuat ayunan dan rumah pohon di sana, bernyanyi bersama peri-peri mungil bersayap jelita, berlarian bersama kelinci yang menyimpan bulan di matanya, seakan anak-anak itu tengah memasuki dunia mimpi, dunia yang membuat masa kanak-kanak mereka begitu terasa menyenangkan. Membuat mereka pingin berdiam selamanya di sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Lalu ketika pulang, anak-anak itu bercerita pada orang tua mereka, tentang semua yang dilihatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Kalian pasti bermimpi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Tidak, kami tidak bermimpi,” kata anak-anak itu. Kemudian mereka bercerita, betapa mereka baru saja bertemu dengan seorang gadis bernama Serena yang mengajak mereka naik kereta kencana menuju Negri Hesperida.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Pernahkah Mama ke sana? Kami naik kereta bersama Serena?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Serena?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“Ya, Serena. Ia putri yang jelita&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">“<em>Ah</em>, sudalah, sudah, jangan berisik! Jangan ganggu Mama nonton televisi! Ayo, duduk yang manis dan diam. Atau nanti Mama kurung dalam kamar,<em> he</em>?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;">Seperti Serena, anak-anak itu kemudian merasa tak diperhatikan, kemudian membangun impian. Mengembara di dunianya sendiri&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-family:&#34;"><span> </span><span> </span><strong>Yogyakarta, 1996-1997</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:right;" align="right"><span style="font-family:&#34;"><strong><em>(Dari Kumpulan Cerpen &#8220;MEMORABILIA&#8221;)</em><br />
</strong></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Dikutip dari sajak <em>Aku Ingin Menjadi Batu di Dasar Kali</em>, karya Kriapur.</p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- L’ABITUDINE]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/08/26/l%e2%80%99abitudine/</link>
<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 15:29:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/08/26/l%e2%80%99abitudine/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen Agus Noor SERINGKALI Andini membayangkan betapa suatu hari ia akan menjelma burung kolibri, t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:12pt;">Cerpen Agus Noor</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/08/gambar-utk-blog.jpg"><img class="size-full wp-image-244 aligncenter" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/08/gambar-utk-blog.jpg?w=325&#038;h=325" alt="" width="325" height="325" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">SERINGKALI</span></strong><span style="font-size:11pt;"> Andini membayangkan betapa suatu hari ia akan menjelma burung kolibri, terbang tinggi melintasi pelangi di tengah keranuman musim semi. Pada saat itulah ia akan merasakan warna-warna bunga menjadi lebih berkilauan dalam kesunyian, dan cahaya pagi terasa lebih hangat dari sebuah ciuman yang paling menentramkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Sungguh, Jos! Aku selalu membayangkan hari yang ajaib itu datang mengetuk jendela kamarku, bersama kabut dan dingin yang saling berebut cahaya. Aku akan bangkit dengan bergairah, membuka jendela, dan seketika aku menjelma burung kolibri…” Andini bicara sembari memegangi gelas <em>fruit punch</em> yang sedikit gemetar dalam gengamannya, kemudian mengarahkan pandangannya pada lembah yang terjamah basah, menghindari tatapan Joesephine. “Setidaknya aku ingin menjadi merpati.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Josephine, yang mendengarnya, hanya tertawa. “Kalau aku punya keinginan seperti kamu, aku pasti memilih berubah menjadi ular!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kenapa?”</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Biar aku bisa menyelesup masuk ke selangkanganmu. Aku akan mendekam dalam rahimmu. Atau mendekam dalam kepalamu. Biar aku mengetahui semua mimpi-mimpimu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Nggak lucu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Yap! Aku memang tidak sedang melucu.” Josephine sedikit mengangkat bahu. “Lagi pula kamu tidak membutuhkan aku untuk melucu. Kamu membutuhkanku untuk mendengarkanmu berkeluh-kesah soal perkawinanmu yang membosankan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Terimakasih, sudah jadi psikolog gratisan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Lalu Andini kembali membuang pandang ke arah perbukitan, pada hutan cemara yang samar dan meliuk-liuk letih di bawah rerepih gerimis yang bagaikan bertih-bertih beras putih berhamburan diterbangkan angin. Andini menyukai tempat ini. Kafe yang menghadirkan sunyi tetapi tidak menutup diri karena jendela-jendelanya yang besar dan lebar dibiarkan terbuka, sehingga temaram ruang yang kecoklatan seakan berkarib dengan keluasan perbukitan. Sesekali ia bisa merasakan angin dan dingin yang ringan seperti belaian. Ia memilih tempat ini bila ia menginginkan perhatian. Ia memilih tempat ini bila ingin ketemu dengan Josephine.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kupikir, kamu mesti berani jujur terhadap dirimu sendiri…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Andini hanya mendesah, terus memandang perbukitan itu, pada cuaca yang sendu, ketika segalanya perlahan-lahan menjelma bentangan kelabu, dan ia kian merasakan kebosanan itu. Ia sudah mencoba mengatasi, tetapi kian hari ia kian merasakan betapa perkawinannya semakin membenamkan dirinya dalam keasingan yang tak kunjung ia fahami. Sering ia tergeragap bangun di malam hari, berasa kebah disesah gelisah, dengan jerit yang tersekat di kerongkongan. Betapa ia inginkan pelukan yang membuatnya sedikit merasa nyaman.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kupikir kamu benar, mestinya aku tak menikah,” desah Andini, lebih kepada dirinya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tetapi – entahlah. Ia tak yakin benar, apakah ia salah telah memutuskan menikah dengan Gunawan. Ketika laki-laki yang sudah dikenalnya sejak remaja itu melamarnya, ia tak merasa perlu berfikir dua kali untuk menjawab iya. Waktu itu Andini yakin, pernikahan akan membuat dirinya kian nyaman. Karena ia merasa memang begitulah hidup yang mesti dilaluinya: masa remaja yang ceria, kuliah, kerja dan menikah. Ia selalu membayangkan hidupnya seperti sebuah kisah yang akan berakhir bahagia, dengan senyum paling lembut ketika kematian menjemput. Dulu Andini hanya tertawa setiap kali Josephine mengatakan hidupnya terlalu datar, steril dan licin bagai lantai porselin.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Dulu aku sudah bilang, perkawinan lebih menyedihkan dari kematian…” Josephine berkata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Itu karena kamu membenci perkawinan?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Jangan salah faham, An,” Josephine tertawa, renyah. “Aku sama sekali tak membenci perkawinan. Hanya merasa aneh saja. Kupikir, perkawinan itu produk kebudayaan paling dungu yang pernah dihasilkan manusia. Kamu tahu, bagiku, datang ke pesta perkawinan jauh lebih menyedihkan dari pada menghadiri prosesi kematian. Aku lebih bisa menerima kematian, karena kematian memang suatu keniscayaan. Tak perlu kesedihan untuk sebuah kematian. Ia harus kita terima dengan lapang dada, karena kita memang tak bisa menghindarinya, karena kematian memang konsekuensi yang mesti ditanggung manusia. Tapi perkawinan? Bukankah kita bisa menghindarinya?! Kita selalu punya pilihan untuk tidak menjalani perkawinan. Artinya kita punya pilihan yang bebas untuk menentukan apa yang kita pikir lebih baik buat hidup kita yang hambar dan sebentar. Kalau kita bisa bahagia tanpa perkawinan, lalu buat apa kita memilih perkawinan? Menyedihkan bukan, seseorang memilih perkawinan padahal tak ada jaminan hidupnya akan menjadi lebih bahagia setelah ia menjalani perkawinan? Kau tahu sendiri, Yesus dan Tuhan tidak menikah, dan mereka bahagia…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Andini mendelik, tapi Josephine malah terkikik. Seringkali Andini merasa iri dengan Josephine yang bisa dengan riang memandang setiap persoalan. Bagi Josephine hidup ini seakan-akan begitu gurih dan ringan seperti <em>popcorn</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Barangkali kamu perlu kejutan kecil untuk hidupmu yang membosankan itu. Kamu mesti melakukan sedikit variasi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Bercinta di kamar mandi? Sambil nungging atau berdiri? Enam sembilan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Tak cuma itu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Lalu apa? Mencoba gimana rasanya gituan ama kamu?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Sori, meski nggak percaya perkawinan aku masih seratus persen doyan laki-laki!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Sialan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sejenak saling diam, saling pandang, seakan mencoba saling mencari kepastian. Di mata Josephine, Andini terlihat seperti segulung tissu, lembut tetapi rapuh. Pada saat-saat seperti ini, Josephine jadi merasa bersalah karena seringkali ia diam-diam begitu iri pada Andini. Adakah Andini tahu betapa sesungguhnya ia seringkali ingin menyakitinya? Semasa kanak-kanak Josephine selalu ingin Andini bisa merasakan bagaimana sakitnya dicambuk berkali-kali oleh ayahnya yang pemarah. Tapi Andini menjalani masa kanak-kanak yang hangat. Juga masa remaja yang penuh pesta. Kemewahan yang melimpah, kemudian menikah. Semua itulah yang membuat Josephine diam-diam selalu merasa iri sekaligus juga mengagumi Andini. Ia iri karena selalu merasa tak bernasib baik seperti Andini, dan ia mengagumi karena selalu membayangkan betapa senangnya menjadi Andini. Selalu ada keinginan untuk menyakiti dan melindungi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Menurutmu, apakah aku mesti menyelamakan perkawinanku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku tahu, kamu – dan seluruh keluarga besarmu – tak pernah memikirkan perceraian sebagai penyelesaian. Tapi kalau kamu memang mesti menyelamatkan sesuatu, jangan hanya kamu selamatkan perkawinanmu, tetapi juga hidupmu. Gairah dan keinginanmu, mimpi-mimpimu. Jangan buat hidupmu jadi kian menyedihkan, bila perkawinan tak membuatmu merasa nyaman.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Tapi, barangkali perkawinanku memang sudah sedemikian menyedihkan, batin Andini. Hingga aku seringkali membayangkan betapa suatu hari aku menjelma burung kolibri, terbang tinggi melintasi pelangi di tengah keranuman musim semi…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">DAN</span></strong><span style="font-size:11pt;"> kesedihan itu kian ia rasakan, lebih cepat dari yang ia kira. Sesungguhnya Gunawan tetap punya perhatian, meski tak terlalu berlebihan. Kecupan-kecupan ringan, tetapi bukan lagi menjadi sesuatu yang tak terduga, melainkan lebih terasa sebagai kerutinan. Lalu aturan-aturan, bahwa seorang istri semestinya tak kelayapan selepas jam tujum malam. Sindiran-sindiran yang menyakitkan. Tak pantas seorang istri keluarga baik-baik berpakaian <em>sexy,</em> memperlihatkan belahan tetek dan pusernya. Ngapain juga pakai rok mini begitu! Pertengkaran dan hardikan yang membuatnya merasa terabaikan. Kemudian pencakapan antara mereka lebih banyak memerihkan duka. Duka yang bahkan terasa di bulu-bulu mata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Andini jadi merasa beruntung mengenal Josephine, yang selalu mau mendengar kesedihannya. Bagi Andini, Josephine adalah satu-satunya sahabat yang mau memahami dirinya. Karena itulah, Andini tak sungkan bercerita. Tak sungkan mengungkapkan perasaannya, ketika kesepian kian menyesakkan, ketika ia ingin terbang jauh melintasi pelangi, ketika ia merasa betapa dirinya perlahan-lahan berubah menjadi burung kolibri. Hari ajaib yang mengubah hidupnya, ketika Andini merasakan bulu-bulu lembut kebahagiaan membuatnya begitu ringan dan terbang melayang melintasi ketinggian. “Sungguh, Jos! Aku menjadi burung kolibri! Itulah hari paling menakjubkan. Begitu ringan, melayang-layang…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Josephine tertawa, sebagaimana biasanya, kedengaran renyah seperti menikmati <em>fried potatoes</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kamu nggak percaya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Percaya. Percaya…” Josephine masih menyimpan tawa, lebih berbinar dan kelihatan bahagia. “Aku percaya kamu lagi jatuh cinta! Selamat…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Andini menepis tangan Josephine, tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Sialan! Dia selalu bisa menerka perasaanku, rutuk Andini dalam hati.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;">“Kenapa mesti malu mengakui? Bukankah pernah kubilang, menyelamatkan hidupmu jauh penting ketimbang menyelamatkan perkawinanmu yang membosankan…” Josephine menarik kursi, lebih mendekat. “Ayolah, ceritakan, siapa laki-laki yang telah membuatmu menjadi burung kolibri…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Andini menatap senja yang bagai menyimpan rahasia. Pada senja seperti ini pula ia bertemu laki-laki itu. Saat itu senja hampir lengkap, dan langit begitu halus dengan beberapa gerimbun awan altocumulus. Ia tengah memandangi senja itu dengan sendu, ketika laki-laki itu muncul, seakan-akan dihantar melankoli alun Andrea Bocelli. <em>Tu, per quello che mi dai, quell’emozione in più, ad ogni tua parola…</em><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a><em> </em>Dia ringan seperti nyanyian. Dia memakai celana kurdorai dengan kemeja tanpa kerah berbahan katun, melangkah begitu santun.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;">Mereka bertatapan, sebentar. Hanya sebentar. Tapi Andini merasakan sesuatu yang begitu tergetar. Ada yang sulit diucapkan, tetapi laki-laki itu tampak lebih menakjubkan dalam diam. Rasanya seperti menikmati puisi, menghayati sunyi yang abadi, suasana tanpa kata-kata, suasana yang lama hilang dalam igauan dan mimpi-mimpinya. Saat itulah ia merasakan bulu-bulu lembut perlahan tumbuh disekujur tubuhnya. Membuat tubuhnya terasa hangat, seakan-akan seseorang yang paling dicintainya tengah memeluknya, mengecup tengkuknya dengan penuh kelembutan, hingga bulu-bulu halus lembut di seluruh tubuhnya meriap. Saat itulah Andini mendapati dirinya telah menjelma menjadi burung kolibri. Dan laki-laki itu menghampiri, tidak dengan kata-kata, tapi dengan sapaan yang lebih teduh dari nyanyian yang membuat ruangan terasa rindang, juga lebih terang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:90px;"><em><span style="font-size:11pt;">Perché la solitudine, che non sorride mai,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:90px;"><em><span style="font-size:11pt;">diventa l’abitudine, e non la scelta che tu fai</span></em><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Pertemuan demi pertemuan, selalu berulang dan kembali seperti gema yang kian lama kian panjang. Dan Andini tahu laki-laki itu, seorang penyair yang menciptakan keajaiban-keajaiban dengan kata-kata. Namanya Adam.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">“Kau tahu, Jos…” desah Andini, sedikit menunduk, mengakhiri cerita. “Pertama kali mendengar namanya, aku merasa berkenalan dengan awal mula dosa.” </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">“Hmm. Dosa. Aku kira itu akan membuatmu kian lengkap jadi manusia.”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">“Ini rahasia kita…”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Ah, rahasia. Josephine menyandarkan punggungnya ke kursi. Alangkah banyak rahasia antara kita, batinnya. Adakah kamu ingin tahu rahasia apa yang aku sembunyikan dari kamu? Biarlah masing-masing kita bahagia dengan rahasia kita.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">“</span><span style="font-size:11pt;">Please</span><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">, Jos, jangan sampai Gunawan tahu.”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Josephine diam, hanya tersenyum – seakan ingin menegaskan: aku jauh bisa menyimpan rahasia lebih dari yang kamu kira.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">“Lakukan, apa yang menurutmu mesti kamu lakukan. Selama kamu menikmati…” kata Josephine. “Dan kuharap kamu memang benar-benar menikmatinya. Karena aku tahu, seks itu seperti semangkup sup. Begitu kamu merasa enak saat pertama kali mencicipinya, kamu pasti akan ketagihan…”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Keduanya tertawa. Hidup memang terasa gurih dan renyah bersama Josephine. Senja jadi lebih megah, ketika perselinguhan terasa ringan. Sentuhan lembut di telinga, kecupan ringan di puting susunya, semuanya terasa menakjubkan dalam kenangan. </span><span style="font-size:11pt;">Si, adesso ci sei tu, nei sogni e nelle idee, nell’immaginazione…</span><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Lebih menghanyutkan dari suara Helena yang membuatnya terlena ketika laki-laki itu mulai memasukinya…</span><span style="font-size:11pt;"></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><strong><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">BERSAMA</span></strong><span style="font-size:11pt;font-style:normal;"> Adam, Andini selalu menjelma burung kolibri. Adam memahami mimpi-mimpinya, barangkali karena dia seorang penyair. Andini sering menyaksikan dari jemari Adam berhamburan kata-kata yang meletup pecah di udara menjelma kupu-kupu. Kadang menjelma kunang-kunang, menjelma setangkai melati. Kata-kata itu pula yang selalu mengubah Andini menjadi burung kolibri, terbang tinggi melintasi pelangi di tengah keranuman musim semi.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">“Setiap bersamamu, aku merasakan saat-saat paling rawan dan membahagiakan dalam hidupku…” katanya, dengan suara lirih seperti tengah membaca larik-larik sajak yang melankolis, sambil merentangkan tangan kanannya, menggapai udara, seakan memetik sesuatu dari kehampaan. Dan, </span><span style="font-size:11pt;">tass</span><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">, mendadak tangannya telah menggenggam sebutir apel. Merah. Ranum. Apel yang tercipta dari keajaiban kata-kata.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Andini melonjak bahagia ketika apel itu melayang-layang di hadapannya. Kemudian keduanya berdiri berhadapan, saling menyentuhkan tangan. Ah, betapa dari jarak begini dekat Andini mendapati tubuh laki-laki itu jauh lebih berkilat, berkeringat penuh hasrat. Struktur tulangnya tampak begitu nyata. Dadanya yang tak bidang, samar memperlihatkan garis-garis kosta. Tangannya pipih, begitu bersih. Terasa lebih menggairahkan ketika bercinta bukan semata kewajiban dan kerutinan. Andini kian terpesona ketika laki-laki itu bergerak, pelan, lamban tapi bertenaga, seperti menari…</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Lalu<span> </span>Andini rasakan desir yang perlahan-lahan mulai berpusaran. Ia mendengar desah kabut yang basah, melayah menyentuh permukaan tanah, Ada kesejukan yang membasah, menggetarkan gerimbun hijau daun. Gemericik air. Geletar sayap kupu-kupu yang terbang di kejauhan.<span> </span>Ia dengar tiupan flute yang lembut, menghamparkan padang rumput, juga harum lumut. Kemudian alunan piano, menghantarnya ke sebuah danau. Bunyi-bunyi perkusi yang menghadirkan berbagai imaji, hingga kelopak-kelopak bunga seketika terbuka. Andini dapat menangkap helai-helai cahaya yang berkeredap, bagaikan lembaran-lembaran kain yang berkibaran pelan membungkus tubuhnya. Ia merasakan tubuhnya perlahan-lahan terangkat, mengapung di arus waktu. Seakan-akan berada di keluasan cuaca tak bernama, dengan lengkung langit lembayung bagai payung, menahan lindap cahaya yang muncul dari punggung gunung. Kadang, seperti sebatang ilalang, tubuhnya melayang-layang melintasi keluasan padang. Namun seketika itu juga ia merasa berada di tengah telaga yang sejuk dan rimbun oleh gulma. Lalu ia serasa melintasi rerimbun pinus, tegak lurus, lembab humus. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Kamar terasa bergetar. Lagu paling merdu, merembes dari dinding. </span><span style="font-size:11pt;">E sono qui con te, e non ti lascerò, ti chiedo di fermarti qui, e stare insieme a te… </span><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">Dan lilin-lilin merah terangkat ke udara, melayang berkitaran. Andini mendesah. Merasakan tubuhnya membasah. Ada yang bersikeras membuncah, gairah yang sebentar lagi pecah! Aahhh…</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent:0;"><span style="font-size:11pt;font-style:normal;">“Ya, Tuhan…,” Andini menggigit bibirnya hingga berdarah. “Aku orgasme!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.5in;text-align:justify;text-indent:0.5in;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">PERTEMUAN</span></strong><span style="font-size:11pt;"> itu diakhiri dengan ciuman yang gugup, dan Andini segera menutup pintu, menghambur ke jalan sambil mencermati kancing dan merapikan kelim gaunnya. Ia langsung menyetop taksi yang pertama lewat. Bukan saat yang tepat untuk memilih-milih taksi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Cepat, Bang!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ya, ia mesti cepat pulang. Sebelum Gunawan sampai di rumah. Ia mesti mandi. Bau tubuh laki-laki itu terasa lekat dikulitnya. Ia ingin tak ada tilas, tak ada bekas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Bisa lebih cepat?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Macet, Bu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Andini mendengus. Waktu seakan mengincarnya dengan kutukan. Sedetik saja terlambat rumahnya akan berantakan. Keramik-keramik akan dibanting ke lantai. Dilempar ke arahnya. Lalu makian. Mungkin juga sekian tamparan. Lalu seluruh keluarganya tahu. Ia akan dipelototi sebagai pesakitan. Sebagai istri yang tak bisa menjaga perasaan suami. Andini meraih <em>handphone</em>-nya. Tak ada SMS masuk. Tak ada <em>missed call</em> dari Gunawan. Ia merasa sedikit nyaman. Ia tak merasa perlu mengarang alasan kenapa tak membalas SMS atau mengangkat <em>handphone</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11pt;">Tidak, ia tidak takut kehilangan Gunawan. Karena ia yakin laki-laki itu pun tak punya keberanian menceraikannya. Ia hanya takut disalahkan keluarga besarnya. Papa mamanya. Oom dan tantenya. Lagi pula ia memang tak pernah membayangkan atau punya keinginan menikah dengan Adam, meski dia membuatnya menjadi burung kolibri. Laki-laki itu memang memahami mimpi-mimpi dan fantasinya. Tapi ia merasa laki-laki itu akan cepat membosankan dalam sebuah perkawinan. Sepanjang ia tahu, penyair selalu romantis sebagai kekasih, tetapi merepotkan ketika menjadi seorang suami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Ia dapati rumah yang sunyi. Andini sedikit merasa lega. Ia berharap Gunawan pulang lebih terlambat. Semakin terlambat semakin ia bisa menata kerusuhan hatinya. Kini ia hanya perlu mandi, agar merasa segar. Tapi bagaimana kalau tadi Gunawan sudah menelpon rumah? Bertanya pada Bik Jamri, apakah ia di rumah? Bila Andini menanyakan hal itu pada Bik Jamri, malah akan membuat pembantu itu memanatapnya curiga. Ia selalu merasa betapa Bik Jamri selalu memata-matainya. Maklum, Bik Jamri masih kerabat jauh Gunawan yang dibawa dari desa. Mungkin Gunawan juga sudah menelpon Rahmat, supir pribadinya. Kemana Nyonya pergi? Kenapa tidak kamu anter? Itu hal biasa dilaukan Gunawan untuk mengecek keberadaannya. Ke mana ia pergi, urusan apa, dengan siapa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Sungguh, ia butuh dewa penyelamat! Dan Andini langsung ingat Josephine. Ia akan menjelaskan kalau tadi ia pergi dengan Josephine. Biarlah nanti Josephine yang mengarang kemana mereka pergi hingga ia pulang terlambat. Segera Andini menghubungi <em>handphone</em> Josephine.</span></p>
<h1><span style="font-size:11pt;">“Jos…”</span></h1>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Hai…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Mengganggu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Nggak. Ada apa…” terdengar suara Josephine yang pelan dan rendah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Aku mau minta tolong. Nanti kalau Gunawan telpon kamu, bilang kalau tadi seharian aku sama kamu…” Lalu Andini merasa lebih tenang. Ia percaya Josephine tahu maksudnya. Ia percaya Josephine memahaminya. “Oke, Jos? Makasih lho…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Andini meletakkan telepon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">DI </span></strong><span style="font-size:11pt;">kamar hotel yang temaram, Josephine duduk termangu di tepi tempat tidur. Hampir saja ia tak menguasai perasaannya. Sialan! Ia lupa mematikan <em>handphone</em>. Keteledoran kecil yang bisa berakibat fatal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Dari siapa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Josephine menatap laki-laki yang bertanya itu. Tatapannya mendamba, begitu manja. Seperti kucing anggora. Laki-laki memang seperti kucing anggora, ia akan selalu nurut dan manja bila kita bisa menaklukkan hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Kok diam?”</span></p>
<p class="MsoBodyText"><span style="font-size:11pt;">Josephine bergerak ke tengah ranjang, membiarkan selimut yang menutupi dadanya melorot.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Telepon dari siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Andini…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">“Apa dia mulai mencurigai kita?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;">Josephine tak menjawab. Ia hanya menyurukkan wajahnya ke dada Gunawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span style="font-size:12pt;"><span> </span><strong>Jakarta-Yogyakarta, 2003.</strong></span></p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&#34;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> Kutipan ini, dan seterusnya, merupakan lirik lagu <em>L’abitudine</em>, gubahan Pierpaolo Guerrini dan Giorgio Calabrese, yang dinyanyikan Andrea Bocelli dan Helena, (lihat albun Andrea Bocelli <em>Cieli di Toscana</em>).</p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- SERENADE KUNANG-KUNANG]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/20/serenade-kunang-kunang-2/</link>
<pubDate>Tue, 20 May 2008 10:50:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/20/serenade-kunang-kunang-2/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Serenade Kunang-kunang&#8221;-nya asyik. Mengingatkan aku pada apa ya? Pada sesuatu yg crispy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><blockquote>
<p style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;">&#8220;Serenade Kunang-kunang&#8221;-nya asyik. Mengingatkan aku pada apa ya? Pada sesuatu yg crispy, renyah dan manis. Namun selalu pengen nambah dan nambah lagi&#8230; </span><em>(SMS dari +6218026736XX)</em></p>
</blockquote>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/kunang-kunang12.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-142" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/kunang-kunang12.jpg?w=144&#038;h=182" alt="" width="144" height="182" /></a>Pesan singkat itu menyelusup ke hpku. Nomor asing yang belum ku-<em>save</em>. Ia, rupanya mengomentari cerpeku yang muncul di <em>Kompas</em> Minggu, 18 Mei 2008, lalu. Aku jadi ingat pada rencanaku membukukan beberapa cerpenku, yang disertai komentar-komentar pendek, renyah dan karib semacam itu. Seringkali, komentar-komentar kecil dan hangat memang bertandang ke emailku, juga selularku. Dan aku berfikir, kenapa komentar- komentar itu tidak aku munculkan dalam bukuku, kelak?</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, memang, aku mesti minta izin terlebih dulu, pada para pengirimnya. Maka, dengan niat semacam itu, aku pun membalas SMS yang masuk jam 12.43 pm itu (artinya, ini jam bangun tidurku, kecuali mesti terpaksa bangun pagi). Alangkah terkejut, sekaligus sumringah, ketika tahu bahwa pengirim itu tiada lain sahabat kentalku dulu. Ruangan dengan tumpukan majalah dan buku, tikar dan kasur ringkat dimana kami biasa menidurkan letih, sengkarut mimpi masa muda&#8230;., tiba-tiba berkelindan dalam kepala: menyusun kenangan yang mendadak menjadi begitu berharga karena langka. Tak mudah kutemui kembali kehangatan dan kegairahan semacam dulu dengannya, dengan karibku itu &#8211; yang baiklah, atas seizinnya, tak perlu aku ungkapkan namanya dulu. Misteri adalah waktu yang membuat kita betah menunggu. Dan kenangan-kenangan itu, serta-merta kembali berterbangan seperti kunang-kunang, ketika ia bicara di telepon. Seperti yang kutulis dalam cerpen <em>Serenade Kunang-kunang</em>, maka begitu mendengar suaranya aku &#8220;teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu SMS lain, dari nomor lain, muncul minta perhatian. &#8220;Aku br slesai bc cerpennya lo, mas..&#8221;, lalu ia cerita kalo 2 tahun lalu ia pun pernah jatuh cinta pada laki-laki, yang sudah beristri..</p>
<p style="text-align:justify;">Duh, kunang-kunang, kenapa belakangan ini aku begitu terobsesi dengannya. Ada 4 cerita yang kini tengah aku kerjakan, yang memakai metafora kunang-kunang. <em>Serenade Kunang-kunang</em> ini adalah salah satunya.<!--more--></p>
<p class="MsoNormalCxSpFirst" style="text-align:right;"><strong><span style="font-size:16pt;">SERENADE KUNANG-KUNANG</span></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p class="MsoNormalCxSpFirst" style="text-align:right;"><strong></strong></p>
<p style="text-align:right;"><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/untuk-kunang2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-144" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/untuk-kunang2.jpg?w=280&#038;h=275" alt="" width="280" height="275" /></a></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Cerpen Agus Noor</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A</strong><strong>KU</strong> suka matanya, seperti langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Kau akan melihat hamparan kesenduan dalam mata itu. Mata yang terlalu melankolis untuk seorang laki-laki yang selalu gugup dan tergesa-gesa ketika berciuman. Tapi sepasang mata itulah yang membuatku jatuh cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Sisa hujan masih terasa dingin di kaca saat aku bertemu dengannya di toko ikan hias. Aku tengah memandangi ikan-ikan dalam akuarium, ketika sepasang mata itu muncul dari sebalik kaca &#8211; membuatku terkejut. Di antara ikan-ikan kecil warna-warni, sepasang mata itu bagai mengambang. Sementara gelembung-gelembung udara dan serakan batu koral, membuat wajahnya seperti terpahat di air. Dan saat sepasang matanya mengerdip, aku teringat pada sepasang kunang-kunang yang melayang di atas kolam.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tak tahu bagaimana persisnya aku mulai mengajaknya bicara. Tetapi ketika ia menyebutkan namanya, aku seperti mendengar denting genta, bergemerincing dalam hatiku. Barangkali, seperti katamu, aku memang mengindap gangguan jiwa karena terlalu gampang jatuh cinta.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Atau jangan-jangan kamu hanya maniak seks yang takut kesepian. Kamu takut tidur sendirian&#8230;&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kamu mungkin tak percaya, kalau kukatakan betapa semua ini bukan semata-mata urusan ranjang. Memang, berganti pacar bagiku tak lebih seperti ganti baju: tinggal pilih mana yang cocok buat ke pesta, mana yang pantas buat dipakai makan malam, mana yang pas buat jalan-jalan, dan mana yang nyaman buat sekadar menghabiskan malam di ranjang.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan yang ini?&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kukatakan, aku suka matanya yang selalu mengingatkanku pada langit hampir malam yang dipenuhi kunang-kunang. Menatap matanya menjadi kehangatan tersendiri, seperti ketika kamu merasa rindu pada masa kanak-kanakmu yang paling menentramkan. Itulah yang membuatku betah berada di dekatnya. Aku suka ketika mendengar ia berbicara. Terdengar seperti lagu pop yang tak terlalu merdu tetapi dinyanyikan dengan sentimentil&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Laki-laki yang romantis rupanya!&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak. Ia tak pernah mengucapkan rayuan, yang paling gombal sekali pun, untuk sekadar membuatku tersenyum. Ia malah cenderung selalu gugup bila aku bermanja-manja memeluknya. Aku ingat, betapa jari-jari tangannya begitu gemetar ketika pertama kali menyentuh putingku yang ungu. Ia bercinta nyaris tanpa suara. Bahkan aku tak mendengar desah apa pun ketika ia orgasme. Kau tahu, bercinta dengannya seperti menikmati nasi goreng: rasanya standar dan bisa didapat di mana saja. Tapi &#8211; entah kenapa &#8211; aku selalu menyukainya. Mungkin karena aku merasa nyaman saja. Bersamanya aku tidak terobsesi untuk melakukan bermacam adegan dan posisi. Dan kupikir, kalau memang <em>kepingin</em> yang aneh-aneh begitu, aku kan bisa melakukannya dengan pacar-pacarku yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Busyet</em>!!<em>&#8220;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkinkah, kali ini, aku sungguh-sungguh jatuh cinta?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Gatal telingaku denger kamu ngomong soal cinta.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bila aku kangen, bayangannya seperti ketukan ganjil pada pintu saat tengah malam. Membuatku tergeragap. Lalu kuingat kunang-kunang di matanya, yang membuatku menyukai kemurungan dan kesenduannya. Dia bukan laki-laki seperti yang sering kamu lihat di iklan deodoran, yang membuatmu rela melakukan apa saja untuk sekadar mendapatkan perhatiannya. Sungguh, penampilannya lebih mirip <em>salesman</em> yang baru saja ditolak masuk rumah, dengan dasi yang selalu terlihat tak serasi dengan warna <em>sweater</em>-nya yang kelabu. Ada beberapa jerawat di wajahnya yang coklat. Sedikit berkumis, tipis, tak rapi. Dia agak pendek untuk ukuran kebayakan laki-laki. Keringatnya meruapkan aroma kamper yang akan membuatmu teringat pada baju yang menjadi apak karena terlalu lama disimpan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Bukan baju yang pantas buat ke pesta, kukira!&#8221; </em></p>
<p style="text-align:justify;">Lebih mirip seperti baju yang ingin selalu kamu sembunyikan dalam lemari. Bukan karena kamu tak suka, tapi karena kamu tak ingin orang lain tahu kamu memilikinya. Tapi &#8211; entahlah, aku begitu menyukainya. Seperti menyukai baju yang selalu ingin kukenakan diam-diam.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Anggap saja ini  cinta sejatimu. Dan ini kisah cintamu yang akan jadi dongeng menakjubkan! Ha ha&#8230;&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">Tidakkah kau tahu, terkadang sebuah kisah cinta bisa saja menakjubkan meski pun tidak seindah kisah cinta Cinderella dengan Pangeran tampannya? Sampai saat ini, aku sendiri masih heran, kenapa aku jatuh cinta padanya. Kadang aku menganggap semua ini tiada lebih dari kisah cinta yang ganjil dan bermasalah. Tapi, bukankah cinta memang ganjil dan penuh masalah?! Tapi&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Maaf, aku mesti pergi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Mau ke mana?&#8221; </em></p>
<p style="text-align:justify;">Kau lihat kunang-kunang itu? Setiap melihat kunang-kunang, aku selalu merasa dia tengah memikirkanku. Setiap melihat kunang-kunang, aku jadi ingin ketemu dia.</p>
<p align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;KAU </strong>suka kunang-kunang?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmm.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aku suka kunang-kunang&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmm.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aku suka matamu&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmm&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kok hmm..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmm.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Seperti ada kunang-kunang dalam matamu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmm&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, selalu tak mudah mengajaknya bercakap. Padahal, pada saat-saat seperti ini aku ingin sekali mengajaknya bercakap-cakap tentang kunang-kunang itu. Itulah kenapa aku mengajaknya ke mari. Aku ingin ia melihat sendiri bagaimana setiap bulan purnama ribuan kunang-kunang itu muncul dari bawah lembah sana, bagai gugusan cahaya kekuningan yang bangkit. Kemudian terbang mengikuti aliran sungai. Ribuan kunang-kunang itu terlihat bagaikan selendang kuning yang melayang-layang hanyut di riak air.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah pemandangan yang selalu kusaksikan sejak kecil di tempat ini. Ibu selalu mengajakku ke mari, setiap kali aku merasa rindu dengan ayah. Ibu selalu bercerita, bahwa ayah telah menjelma kunang-kunang. Salah satu dari ribuan kunang-kunang itu adalah ayahmu, kata ibu. Selalu, dengan mata yang layu, ibu bercerita bagaimana suatu malam ayahku diseret keluar rumah, di jaman gestapu dulu. Aku masih dalam kandungan ibu, saat itu. Ibu mendengar tubuh ayah di buang ke lembah itu, bersama ribuan tubuh lainnya. Seminggu setelah pembantaian, dari lembah itu muncul ribuan kunang-kunang. Membuat lembah itu menjadi berkilauan. Kunang-kunang itu adalah jelmaan roh-roh yang penasaran. Dan setiap malam purnama, ketika lembah itu menjadi bisu, dan angin yang membeku membuat pepohonan tertugur kelu, ribuan kunang-kunang itu selalu bangkit dan terbang melayang-layang menyusuri aliran sungai, kemudian gaib begitu saja dalam kesunyian yang mengelabu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kuajak ia kemari, agar ia menyaksikan kemunculan ribuan kunang-kunang itu. Agar ia mengerti kenapa aku suka kunang-kunang. Kenapa aku suka pada matanya yang bagai menyimpam kunang-kunang. Sejak kecil aku kerap bermimpi ayahku muncul dengan mata yang bagai sepasang kunang-kunang.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kau lihat kunang-kunang itu?!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hmm&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>INI </strong>pertemuan ke 43. Seperti yang sudah-sudah, ia langsung tidur setelah bercinta. Dia<strong> </strong>meringkuk dalam selimut, seperti sosis dalam setangkup roti. Bahkan kemurungan tak juga menguap dari wajahnya ketika ia terlelap. Dari jendela apartemen lantai sebelas, kota terlihat gemerlap ditangkup gelap yang pucat. Aku jadi teringat pada cerita seribu kunang-kunang yang menautkan kesepian dan kenangan. Rasanya aku pernah membaca cerita seperti itu &#8211; mungkin sewaktu SMA, aku lupa. Aku membayangkan jutaan kunang-kunang muncul dari kegelapan malam dan terbang berhamburan memenuhi kota&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Nggak tidur?&#8221; Ia menggeliat, memandangku yang duduk telanjang di sofa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia sungkan dan jengah. Ia masih saja tak terbiasa melihatku telanjang. Kemudian ia bangkit, meraih celana dan kemeja di sisi ranjang. Membelakangiku, dan tergesa mengenakan pakaian. Kurasakan kemurungan yang ganjil ketika ia mendekatiku. Tak ada pelukan untuk saat-saat seperti ini. Tak ada percakapan. Seolah ia menginginkan semua ini berlangsung tanpa percakapan yang akan menjadi terlalu sarat kenangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti jeritan yang teredam, <em>handphone</em> di atas meja bergetar tanpa suara. Ia meraih <em>handphone</em> itu, dan dengan gerakan pelan menjauhiku, berbicara setengah berbisik. Aku hanya memandang keluar jendela. Sampai ia mematikan <em>handphone</em> dan mendekatiku.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Aku mesti pergi&#8230;&#8221; suaranya pelan dan datar. &#8220;Anakku sakit &#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan sesuatu yang mengagetkan. Tapi aku tetap saja merasakan kemurungan yang makin membentang, seperti langit yang bertambah memucat di atas kota yang di penuhi kunang-kunang. Cahaya perlahan susut dan aus. Desah nafas waktu meruapkan basah pada kaca jendela. Kesunyian tak terpermanai. Dan dingin, seperti dalam sebuah puisi, tak tercatat pada termometer.</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali, seperti kerap kau katakan, aku memang wanita paling menyedihkan yang pernah kau kenal. Karena, selalu saja, aku gampang jatuh cinta pada laki-laki yang sudah beristri&#8230;</p>
<p align="right"><strong>Jakarta, 2005-2008.</strong></p>
<p align="right"><em>(Kado Nikah Buat Bona &#38; Weni)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- TELEGRAM]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/19/telegram/</link>
<pubDate>Mon, 19 May 2008 09:32:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/19/telegram/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen Agus Noor SETELAH bertahun-tahun mengembara, ia pulang ke kamar kontrakannya. Di lantai ia li]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/telegram.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-137" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/telegram.jpg?w=299&#038;h=165" alt="" width="299" height="165" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cerpen Agus Noor</strong></p>
<p style="text-align:justify;">SETELAH bertahun-tahun mengembara, ia pulang ke kamar kontrakannya. Di lantai ia lihat selembar telegram tergeletak, berdebu. Sepertinya telegram itu diselipkan begitu saja lewat celah bawah pintu. Dengan jengah ia raih telegram itu, menghempaskan tubuh ke kursi rotan reot, lantas menyobek dan membaca: <em>Telah meninggal dunia dengan tenang titik</em>. Ia mendesah. Hmm. Akhirnya mati juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa mandi dan ganti baju, segera ia raih kembali ranselnya, bergegas mengunci pintu. Tak hirau pandangan beberapa tetangga kamar yang memandanginya heran.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Pergi lagi, Bang?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak menjawab. Kenapa orang mesti peduli pada kepulangan dan kepergian? Mungkin karena setiap orang tak pernah terbebas dari bayangan kematian, sesuatu yang membuat orang-orang kemudian membayangkan tentang kepergian &#8211; pergi ke dunia lain. Dunia macam apa? Selama ini ia selalu pergi. Pergi dan pergi. Apakah ia sudah melihat dunia yang lain itu?<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bus yang meluncur tenang, ia mencoba mengingat tempat-tempat yang pernah disinggahinya sepanjang tahun-tahun petualangannya yang penuh kegalauan. Barangkali ia pernah sampai ke tempat penuh impian dan kedamaian itu, tempat yang menumbuhkan kenangan dan membuatnya percaya bahwa ia pernah sampai ke dunia lain itu, dunia yang membuatnya tak pernah lagi berfikir tentang pulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, kematian itu melambai-lambai, seperti tangan tua dan renta, penuh harap menanti kedatangannya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, wajah-wajah yang samar diingatnya, serpihan kenangan masa kecil di ladang dan pekarangan. Kenangan yang pernah membuatnya tak terlalu merasa sia-sia hidup di dunia yang begini hampa.</p>
<p style="text-align:justify;">Bus terus meluncur, sesekali meliuk, seperti menembus kekelaman yang penuh rahasia. Di sampingnya seorang perempuan tertidur lelap. Lalu ia memandang kekelaman di luar jendela. Ia seakan-akan melihat selembar telegram gaib yang melayang-layang di kehampaan malam yang tak sepenuhnya ia mengerti. Seperti ia dengar suara-suara yang sayup masih dikenalnya. Seperti tawa kanak-kanak di antara gemericik riak sungai memecah bebatuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Keriangan masa kanak-kanak itu berpijar dalam benaknya, ketika ia berenang di sungai bersama kawan-kawan sepermainannya berkejaran mengikut arus, hamparan sawah di mana ia selalu mengembalakan kerbaunya, hutan jati yang menyimpan gema tawanya ketika memburu belalang, bau ubi bakar meruap, dan bayangan rumah tua yang menyimpan mimpi-mimpi petualangannya. Itukah saat-saat ia sungguh merasa bahagia?</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, ia tak terlalu yakin apakah memang ia pernah bahagia. Mungkin saja ada saat-saat yang sungguh-sungguh membuatnya bahagia, tetapi ia tak bisa mengingatnya. Lalu ia ingat wajah itu: ibunya. Penuh kerut dan lunglai. Ia tak lupa rautnya yang kecewa, ketika suatu malam ia berpamitan, &#8220;Aku pergi, Bu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ke mana?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak bisa menjelaskan. Apakah memang mesti ada alasan untuk sebuah kepergian? Ia hanya ingin pergi. Ke mana, ia tak tahu. Hampir semua laki-laki dewasa di desanya pada akhirnya juga pergi ke kota. Tapi, ia sendiri tak yakin, apakah ia memang ingin pergi ke kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, ia selalu terpukau mendengar cerita tentang kota yang gemerlap mandi cahaya, dengan kemegahan yang tak mungkin terbayangkan oleh imajinasi kanak-kanaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Di sana, setiap hari adalah keajaiban,&#8221; kata orang-orang desanya, bila mereka pulang kampung saat lebaran. Tapi, rasanya, bukan itu semua yang mendorongnya ingin pergi. Karena ia sendiri tak yakin apakah ia memang ingin pergi ke kota. ia hanya ingin pergi. Entah ke mana. Mungkin ke tempat paling sunyi di dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia memang suka membayangkan tempat yang sunyi, seperti bila ia membawa kerbau-kerbaunya ke pinggir lembah selatan desa. Di sana ada tanah lapang yang hijau dan teduh. Di situlah ia selalu rebahan, bernaung di bawah pohon gayam, yang kata orang-orang didiami puluhan makhluk halus.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia kdang bersandar di batang besar pohon itu, sambil meniup seruling, menghembuskan seluruh gairahnya untuk mengembara ke tempat paling sunyi di dunia. Angin berhembus sepoi, melantunkan suara serulingnya yang merayap-rayap kesunyian lembah, seperti gelombang yang membawanya hanyut hingga jauh ke dunia lain yang dihuni puluhan makhluk yang tak pernah mengenal kematian. Ke tempat semacam itukah ia ingin pergi?</p>
<p style="text-align:justify;">Dan, pada malam berhujan itu pun, ia pamit pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bilakah kau pulang?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia menghindar tatapan ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Entahlah.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tak terlalu yakin, apakah suatu hari nanti ia memang akan pulang. Karena, saat itu, dalah benaknya hanya ada kepergian.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada awal kepergian, memang, ia masih rajin mengirim kabar meski ia tak yakin adakah cerita-cerita yang dituliskannya itu ada gunanya bagi ibunya. Sampai kemudian, kian lama semua itu jadi terasa sebagai basa-basi yang tak menggembirakan. Ia merasa bosan karena haus menulis dan mengulang kata-kata yang sama, <em>Ananda dalam keadaan baik, semoga demikian juga Ibu adanya. Ananda berdoa</em>&#8230; Dan ia kian merasa jengah, karena sesungguhnya ia tak pernah sekali pun mendoakan ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lantas ia pun jarang berkabar. Dan surat pun tak lagi ia terima. Membuatnya merasa bebas dari sesuatu entah apa. Membuatnya merasa lepas mengembara tanpa punya kewajiban mengisahkan semua yang dialaminya. Membuatnya tak pernah lagi peduli pada kepulangan. Seseorang akan benar-benar menikmati pengembaraan ketika ia telah benar-benar terbebas dari bayangan pulang. Ia tahu dan menikmati itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kini &#8211; astaga &#8211; ia pulang hanya karena telegram. <em>Telah meninggal dunia dengan tenang</em>. Apa anehnya? Setiap orang akan mati juga, kan?</p>
<p style="text-align:justify;">Ia dapati bendera putih di ujung jalan masuk menuju rumahnya. Begitu ia sampai pekarangan, beberapa orang menatapnya dengan tatapan aneh &#8211; mungkin mereka pangling karena perjalanan waktu. Sudah sedemikian berubahkah aku? Ia sendiri tak pernah tahu, seperti apa wajahnya kini. Ia tak suka, bahkah nyaris tak pernah berkaca selama kepergiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, beberapa orang segera menghambur ke arahnya, menyambut dan memeluknya hangat. Merangkul dan menepuk-nepuk punggungnya, seakan-akan itu bisa membuatnya membuatnya tak terlalu kehilangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Suasana perkabungan membuat siang jadi redup. Ia masuk, dan mendapati para kerabatnya duduk mengelilingi jenazah, yang diletakkan di atas amben di ruang tengah.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kami tak berani menguburkan, sebelum kamu datang.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia hanya mengangguk, meki ia sebenarnya ingin mengucapkan kata-kata terima kasih atas perhatian semua kerabatnya. Ingin juga ia bercakap-cakap agar kebekuan yang ia rasakan tak terlalu menyesak. Tapi, ia hanya diam. Berdiri di samping jenazah, menyandang ransel yang tak juga ia turunkan. Kemudian menyibak kain yang menutupi wajah jenazah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, wajah yang lamat ia ingat. Wajah yang selalu murung. Kini hitam dan mengisut. Tulang pipinya mencuat. Matanya yang cekung membuat wajah itu kian tampak kesepian. Otot bertonjolan di dahi dan leher, seperti jejalin anyaman bambu rumpang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah berapa lamakah jenazah ini dibaringkan? Lalu ia ingat telegram yang sudah berdebu itu. Mungkin sudah lama &#8211; bertahun-tahun lalu &#8211; dikirim. Dan selama itu pula mereka menunggu kepulangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara ia pergi mengembara dari kota ke kota, dari malam ke malam, dari sunyi ke sunyi, mereka terus menunggu kedatangannya. Jenazah itu terus dibaringkan di ruang tengah. Setiap hari para tetangga datang melayat. Duduk menggerombol dan mengobrol. Sedang ia, saat itu, mungkin sedang tidur dengan seorang pelacur di gudang pelabuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah setiap hari, mereka &#8211; para pelayat itu &#8211; menunggu kedatangannya. Setiap hari mereka mempersiapkan air buat memandikan jenazah. Menebang pohon pisang untuk bantalan. Sementara yang lain menggali kubur, menyiapkan nisan, memasang tenda, dan menata kursi di pelataran.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dapur, para perempuan merangkai bunga, mengiris daun pandan, juga memasak air buat minum para takziah yang terus berdatangan. Mereka duduk bergerombol mengobrol menantikan sat penguburan.</p>
<p style="text-align:justify;">Suara tangis yang terus mengisak membuat orang-orang bercakap-cakap dengan suara tertahan. Meski sesekali ada juga orang yang kelepasan tertawa, entah menertawakan apa. Tetapi segera orang itu menutup mulut, seperti hendak membunuh makhluk ganjil yang mendadak masuk ke dalam mulutnya. Kemudian mereka terus duduk menunggu, sampai senja meningkap atap, dan malam menebar gelap.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Belum juga pulang?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu mereka pamit. Beberapa orang masih bertahan ngobrol sampai lart malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Paginya, para tetangga kembali datang melayat. Menyiapkan kembali semua keperluan penguburan. Sementara ia entah di mana saat itu. Kadang ia memang seperti diusik firasat yang membuatnya tergeragap. Ada sesuatu yang menarik-nariknya untuk kembali ke rumah kontrakannya. Telegram itukah?</p>
<p style="text-align:justify;">Ia terus mengembara mencari entah apa (ataukah tak mencari apa-apa?), sementara para kerabatnya terus menunggu, dan para tetangga terus datang melayat. Dari dalam rumah, suara isak tangin membuat para pelayat bercakap dengan suara tertahan. Kian hari isak dan percakapan terasa kian lamat. Meski ada juga orang yang sesekali kelepasan tertawa &#8211; barangkali karena merasa betapa konyolnya semua ritual pelayatan yang terus mereka jalani berulang-ulang setiap hari. Tapi beberapa orang segera mendesis, memberi isyarat agar segera berhenti tertawa. Dan orang yang tertawa itu pun dengan gugup dan merasa bersalah segera membekap mulutnya, untuk kesekian kali. Begitulah, bertahun-tahun mereka melayat dan menunggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, begitu ia datang, mereka bergegas menyiapkan segalanya. Terdengar begitu banyak nafas dihembuskan lega. Seakan mereka terbebas dari kewajiban yang membuat mereka terbelenggu. Tanpa seorang pun berkata-kata, jenazah segera dimandikan. Doa dan sambutan yang diucapkan tergesa, semua lewat begitu saja di telinganya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu keranda bergerak, ia jalan menunduk di belakangnya. Semua berjalan dalam diam, membuat kuburan jadi rumah kesunyian yang mereka masuki dengan gemetar. Jenazah diturunkan ke liang lahat, dikubur tanpa percakapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika akhirnya tanah itu telah menggunduk, dan orang-orang pulang, ia masih berdiri dirajam sunyi; tak yakin pada prosesi yang barusan dijalani. Sampai kemudian ia berjongkok, menyentuh tanah yang masih basah. Dan meyakinkan sekali lagi, membaca nama di nisan itu. Benar. Itu namanya. Ia mengusap nisan itu, pelan dan gamang, tetapi juga merasa yakin dan tenang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika menjelang sore ia pulang, di ruang tamu sudah menunggu para kerabatnya, duduk mengelilingi perempuan renta: ibunya &#8211; yang tampak kian begitu sengsara. Lunglai di kursi, dengan kepala menyadar terkulai, mulutnya melompong, terbuka bagai kubur menganga.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kau tak ingin bicara apa pun dengan ibumu? Bertahun-tahun ia menunggu kepulanganmu,&#8221; seorang kerabatnya berkata, seakan tangan yang menahan langkahnya masuk kamar.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ia toh sudah tak bisa mendengar apa-apa.&#8221; Desahnya pelan, lalu bergegas masuk kamar, meraih ransel dan jaket.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kau hendak pergi lagi?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Ya.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tinggallah beberapa hari lagi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Terima kasih. Aku mesti pergi.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Kau akan kirim kabar pada kami, kan?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tentu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ia bergerak mendekati ibunya yang lunglai di kursi. Menggenggam tangan yang kurus kering itu, menciumnya. &#8220;Aku pamit, Bu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tak ada jawaban. Sebenarnya ia berharap ibunya akan memberinya nasehat, sedikit kata, atau sekadar bertanya seperti dulu pada saat kepergiannya yang pertama. Percakapan menjelang perpisahan seperti itu akan sangat menyenangkan setiap kali dikenang. Setiap patah kata &#8211; yang paling tak berharga sekali pun &#8211; akan terasa ada gunanya. Setidaknya kata-kata itu akan terngiang, menyelusup malam-malam panjang petualangan yang membosankan. Menjadi tembang pengantar tidur, yang bisa meneduhkan kelelahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia menunggu ibunya berkata, ta tak ada suara. Ibu sudah kehilangan suara dan tenaga, bahkan untuk mengelus kepalanya. Matanya putih berkabut. Tapi, ia yakin ibunya mendengar pamitnya &#8211; setidaknya merasa, betapa putra satu-satunya kini hendak kembali mengembara. Ia menatap mata ibunya yang putih keruh itu, seperti sebuah dunia yang terselimut kabut, menyimpan sesuatu yang abadi. Sesuatu yang tak kunjung ia fahami. Sesuatu yang mengingatkannya pada kuburan itu. Batu nisan itu. Dimana namanya tertulis dengan tegas dan jelas, seperti deretan kata dalam telegram. Telah wafat dengan tenang&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Bergegas menepis cemas, ia segera mencium tangan ibunya. Lalu, kepada kerabatnya, ia berkata, &#8220;Kirim telegram bila aku kembali meninggal.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian bergegas pergi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- HIKAYAT ANJING]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/14/hikayat-anjing/</link>
<pubDate>Wed, 14 May 2008 18:25:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/14/hikayat-anjing/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen Agus Noor IBU adalah anjing. Dengarlah, ia selalu mengeram dan menggonggong. “Ambilkan kutang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/hikayat-anjing.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-130" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/hikayat-anjing.jpg?w=219&#038;h=300" alt="" width="219" height="300" /></a></p>
<p><a title="Estetika Kekerasan Pada Cerpen Agus Noor" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/01/01/estetika-kekerasan-satu-periode-kepenulisan-agus-noor/" target="_blank"><strong><span style="font-size:12pt;">Cerpen Agus Noor</span></strong></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">IBU adalah anjing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dengarlah, ia selalu mengeram dan menggonggong. “Ambilkan kutang Ibu, anak anjing! Cepat!” Kau dengar, ia memanggilku ‘anak anjing’, selalu,<span> </span>sambil menyemprotkan ludahnya yang kental bacin ke mukaku. Kau pasti tahu, anak anjing dilahirkan anjing. <em>Yeah</em>, setidaknya aku tidak pernah dengar ada manusia beranak anjing. Jadi, kalau aku anjing, Ibu pasti juga anjing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pun lihatlah cara Ibu makan: kedua kakinya ngangkang di atas meja, mendengus nanar, kemudian menyorongkan mulutnya ke piring. Dalam sekejap, nasi basi itu tandas dijilat lidah merah panjang Ibu. Dan selalu, setelah itu, Ibu langsung kencing ke piring, dengan satu kaki terangkat nungging. Lantas, <em>glek glek glek</em>, lahap menenggak. Aku selalu terpukau oleh kesopanan itu. Sementara Ibu hanya menyeringai dengan sisa kencing menetes-netes di sela moncongnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ibu memang anjing. Hanya anjing yang berkelamin dengan sembarang laki-laki. Hampir setiap malam Ibu berkelamin dengan puluhan laki-laki, berganti-ganti. Dari tampang yang kucel berjambang dan mesum, semua laki-laki yang datang malam-malam ke kamar Ibu, pastilah anjing juga.<span> </span>Kalau <em>toh</em> mereka manusia, aku yakin, pada dahulu kala &#8212; sebelum bereinkarnasi jadi manusia &#8212; para laki-laki itu mestilah hidup sebagai anjing. Anjing kawin dengan anjing, kukira memang jamak.<!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kalau aku benci mereka, itu bukan karena mereka anjing. Karena bagaimana pun, aku <em>toh</em> anak anjing. Tetapi kelakuan mereka yang jorok dan tak senonoh, selalu membuatku mual. Semua laki-laki itu suka berteriak dan selalu mobok. Membuat rumah begitu riuh. Meja kursi berantakan. Mereka berak di sembarang tempat, persis seperti mereka membuang puntung rokok. Di lantai berserakan kulit kacang. Botol-botol kosong bergelimpangan. Juga dahak dan muntahan yang mengering. Benar-benar kandang anjing yang tak terawat. Busuk penuh lalat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apabila hari meremang, dan ada laki-laki datang, Ibu segera menghardikku, “Pergi sana!” Dan laki-laki itu akan memandangku dengan aneh, setengah menyeringai setengah terkekeh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sementara Ibu mendekam dalam kamar, aku berkitaran di halaman. Kadang aku cuma duduk atau rebahan di bangku bambu, memandangi kerlip bintang, membayangkan apa saja yang bisa membuatku tak terlalu merasa bosan. Sementara dari kamar Ibu, aku selalu mendengar suara lenguh dan desah, yang membuatku gelisah. Suara-suara itu membakar imajinasi. Membuatku selalu terdorong keinginan untuk tahu apa yang dilakukan Ibu. Suara itu, <em>ah</em>, suara itu&#8230;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>SUATU </strong>malam, lantaran tak tahan, aku mengintip lewat sela jendela. Dan betapa menakjubkan! Aku melihat dua ekor anjing saling bergumul bergelut, saling gigit, mengerang hingga bulu-bulunya meriap dan ekornya mengeras. Lebih menakjubkan lagi, aku melihat cahaya merah keemasan memancar dari selangkangan Ibu. Aku terpukau cahaya itu, begitu lembut, membuatku terhanyut. Saat itu aku membayangkan, cahaya itu tentulah bukan sembarang cahaya. Begitu mempesona. Pastilah itu cahaya sorga. Setidaknya itu cahaya yang menerangi jalan menuju sorga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Boleh jadi karena naluri anjingnya, Ibu tahu kelakuanku. “Dasar <em>kirik</em> tak tahu malu!” Ia menghajarku. Dihantamnya kaki kiriku dengan lonjoran kayu hingga sengkleh.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sejak itu, aku tak berani lagi mengintip kamar Ibu bila ada tamu. Apabila ada laki-laki datang, aku memilih pergi menjauhi rumah. Aku berjalan, terseok-seok dengan kaki kiri pincang, membisu menembus kelam dan udara basah, dengan kesedihan dan kemarahan. Kadang aku terisak, entah kenapa dan untuk apa. Aku berjalan, terus berjalan, kemana saja. Menyaksikan gang-gang gelap menganga bagai sarang ribuan ular beludak. Bila lelah, aku rebah di emperan toko. Kalau lapar, aku segera menuju tempat sampah. Kukais sisa tulang dan nasi lembek. Kadang kutemukan remah kepala bandeng atau gurami bakar. Aku suka kepala itu, karena selalu mengingatkan pada Ibu. Andai kepala itu kepala Ibu, ah, alangkah nikmat menggeramus dan memamahnya. Alangkah sedap melahap kepala Ibu. Aku dengar, kepala anjing bagus buat jamu. Di masak utuh hingga empuk, dijadikan tengkleng atau tongseng. Kaldunya dibikin kuah sop atau soto, sementara otaknya bisa diseruput buat nambah kejantanan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku tak pernah menduga, betapa Ibu akan mencium bau pikiranku itu. Saat aku pulang, Ibu mengangkang di depan pintu. Tanpa babibu, ia langsung menyerangku. Mencakar dan menggigit telingaku sampai putus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Hanya anjing yang punya pikiran hendak mencelakakan ibu yang telah melahirkannya!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ibu terung meraung. Para tetangga hanya menonton kami lewat celah pintu atau jendela yang sedikit terbuka. Hanya karena kelelahan, Ibu berhenti melumatku. Sungguh anjing yang terlatih. Bahkan pikiranku pun mampu diendusnya. Anjing pelacak paling baik pun aku kira tak akan mampu mengendus pikiran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah kejadian itu, sepanjang malam Ibu mendekam dalam kamar. Meski puluhan laki-laki mengetuk pintu, Ibu tetap mengunci. Aku mendengar suara isak tertahan, merembes dari kamar. Aku bersandar di dinding, sementara puluhan laki-laki itu terus mengetuk pintu kamar Ibu, sambil sesekali menatapku yang tak perduli. Sambil menyelonjorkan kakiku yang penat dan pegal, kutimang-timang daun telingaku yang putus digigit Ibu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kukira aku memang terlalu. Bagaimana pun aku tak boleh membenci ibu yang telah melahirkanku. Aku menyesal. Ingin kuketuk pintu kamar Ibu, dan berharap ia mau membukanya. Aku ingin sujud di hadapannya, menghirup wangi sorga di telapak kakinya, hingga aku tak lagi merasa berdosa. Mestinya begitu. Tapi aku begitu lelah. Begitu capai. Lunglai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku tertidur.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ada dekapan hangat, dan kurasakan tubuhku diangkat. Aku belum terlalu lelap, hingga aku tahu itu Ibu. Tapi aku tetap memejam, dan karenanya Ibu menyangka aku sudah pulas. Kurasakan tangan lembut Ibu membelai keningku; isak tertahan Ibu membuat jari-jarinya gemetar. Pelan menyisir rambutku yang berantakan. Nafas hangat Ibu menghembus pipiku. Bayangan wajah Ibu begitu dekat. Bisa kurasakan tatapan Ibu yang sebak air mata, membuatku terhanyut kelengangan yang dalam dan panjang. Isak Ibu mengambang. Dan sesekali, air matanya nitik ke wajahku. Hangat. Meresap mengusap jantungku. Lekat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>YA</strong>, Ibu memang anjing. Tapi kau pun tahu, anjing bisa juga sedih, menjilati anaknya dengan kasih. Aku tahu Ibu mencintaiku, sebagaimana galibnya seorang ibu mencintai anak yang lahir dari rahimnya; melindungi dari apa pun yang menggangunya. Tak pernah kulupa, betapa Ibu langsung meraung mengobrak-abrik rumah tetangga, ketika ia mendengar aku dimaki anak jadah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tak ada hak mereka mengata-ngatai kamu anak jadah, hanya karena kamu tak punya Ayah!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Mereka juga bilang aku anak sundal, Ibu!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Mereka mesti diberi pelajaran agar tak bicara seperti anjing!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ibu mengamuk. Hingga para tetangga gemetar pucat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Akan kubunuh siapa pun yang mengatakan aku <em>lonthe</em> dan anakku anak sundal. Kalian dengar!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Para tetangga bergegas menutup pintu. Sejak itu mereka jengah bila berpapasan denganku &#8212; seakan aku anjing berpenyakit rabies yang bisa serta merta menggigit dan mencederai mereka.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sesungguhnya Ibu anjing yang baik, batinku. Betapa pun ia sangat mencintaiku. Namun aku selalu saja merasa asing setiap kali dekat Ibu. Ia terus menggigit dan menyerangku, tanpa pernah aku tahu apa sebenarnya kesalahanku. Mesti mencintai, Ibu sepertinya ingin melumatku. <em>Ah</em>, cinta macam apakah itu? Bahkan Ibu nampak selalu memperlihatkan sikap memusuhiku &#8212; yang terasa sebagai upaya menutupi cintanya padaku. Apakah setiap ibu memang begitu? Mencintai dan mengasihi, siap melakukan apa pun untuk anaknya, sekaligus siap pula untuk menghabisinya? Aku belajar untuk tak membenci Ibu, karena aku tahu Ibu mencintaiku. <em>Kasih Ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa</em><a name="_ednref1" href="#_edn1"><span class="MsoEndnoteReference">1</span></a><em> </em>&#8230;.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Betapa aku mencitamu, Ibu, meski selalu saja aku merasa asing denganmu. Aku selalu ditangkup rindu, bila berhari-hari Ibu pergi bersama laki-laki. Rumah begitu sunyi tanpa Ibu. Aku kangen erang Ibu; ketika melengus, ketika mendesah, ketika melolong, ketika meradang. Kusadari betapa berartinya makian-makian Ibu bagiku. Tanpa itu aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari diriku. Jawaku ampang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Suatu kali, saking kangen aku pada Ibu, aku memberanikan diri masuk kamarnya. O, bau tubuh Ibu menyergap penciumanku, bersama sengak debu dan bau sperma kering &#8212; yang kulihat belepotan di bantal dan ranjang yang spreinya berantakan. Kamar Ibu begitu apek. Pengap dan lembab. Lalat mengerubung darah setengah kering di pembalut yang teronggok di atas meja rias yang pecah kacanya. Kuperhatikan sebuah foto tergantung di dinding: kusam, kecoklatan, memudar. Tapi masih membias bayangan wajah laki-laki bermata kelam, dengan alis melengkung dan dagu licin Di bawahnya, di antara lis putih foto dan bingkai hitam figura, aku baca tulisan spidol merah: KAMU BENAR-BENAR ANJING!!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Foto itu lebih kutatap cermat. Memang, samar-samar, raut yang tak jelas itu mengesankan sosok anjing. Tadinya, kukira itu foto Ayah. Nyatanya foto anjing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Anjing menyimpan gambar anjing, kukira tak ada yang istimewa. Sama wajarnya seperti Ibu setiap malam berkelamin dengan puluhan laki-laki. Hanya saja &#8212; entah kenapa &#8212; sejak melihat foto di kamar Ibu aku jadi lebih seksama memperhatikan wajah para laki-laki itu. Siapa tahu ada yang wajahnya mirip dengan raut anjing dalam foto itu. Sering aku membandingkan raut anjing itu dengan wajahku. Karena itukah aku jadi begitu berharap menemukan raut anjing itu pada puluhan laki-laki yang berkelamin dengan Ibu? <em>Yeah</em>, kalau memang ada yang mirip dengan raut anjing itu, lalu mau apa? Memanggilnya, “Ayah!” Begitu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ayah. Apakah setiap anak memang mesti punya Ayah. Memang aku selalu gamang, ada liang kesedihan menganga, setiap menyadari aku tak pernah melihat Ayah. Lalu sering kususun bayangan Ayah: bermoncong tajam, dengan taring melengkung dan lidah selalu terjulur. Sementara daun telinganya tegak lancip dengan bulu-bulu halus berwarna abu-abu. Ayah, alangkah gagahnya engkau. <em>Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari, kini kurus dan terbungkuk</em>.<a name="_ednref2" href="#_edn2"><span class="MsoEndnoteReference">2</span></a> Ah, Ayah. Ayah. Ayaahh.<em> </em>Kuigaui Ayah. Kucari engkau di stasiun dan terminal. Atau siapa tahu engkau meringkuk di pojok pasar, renta dan tua. Dimanakah engkau Ayah. <em>Dimana akan kucari, daku menangis seorang diri. Hatiku selalu ingin bertemu Untukmu, aku bernyanyi</em><a name="_ednref3" href="#_edn3"><span class="MsoEndnoteReference">3</span></a>&#8230;. Kusenandungkan letih pencarian. Kususur kepedihan. Sepanjang malam aku gentayangan mencari Ayah, menyusuri kota yang lelap dengan cahaya gemerlap. Kuperhatikan anjing-anjing yang berkeliaran. Aku jadi menyadari, betapa banyaknya anjing-anjing berkeliaran di kota ini bila malam. Mereka muncul dari rimbun kelam. Mereka melolong, berkejaran, kawin dan beranak dalam gelap. Sembari terus menyenandungkan kesedihan, kuamati anjing-anjing itu. Siapa tahu aku ketemu Ayah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>AKU </strong>berdiri di bawah lindap bayang dinding gedung menjulang, mengamati anjing-anjing yang berkeliaran itu. Tanpa pernah menyadari, ada seekor anjing menatap nyalang ke arahku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kuamati, beberapa malam ini dikau memandangi kami dengan sendu. Ada apakah gerangan, anak muda?” Tahu-tahu, seekor anjing tua telah berdiri di hadapanku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku mendesah. Adakah ini Ayah?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kukira dikau tak hendak membunuh salah satu di antara kami. Aku merasa dikau tengah mencari sesuatu.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ya. Aku mencari Ayah.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Apakah Ayahmu anjing?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Mungkin.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ya. Hanya anjing yang tak perduli pada anaknya.” Anjing itu melenguh. “Lalu apa yang akan dikau lakukan bilamana bertemu Ayahmu?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku membisu. <em>Uh</em>, apa yang akan kulakukan andai sudah bersua Ayah? Seperti adegan film, begitu? Dalam <em>slow motion</em> Ayah berlari menyongsongku yang tengah berteriak memanggil dan menghambur ke pelukannya, lalu kami saling peluk, erat. Aku bergelanyut di pundak ayah, berputaran setengah melayang sambil sesungukan, mencurahkan seluruh rindu dendam kami. Ataukah kami hanya akan saling diam berhadapan, bertatapan nanar, sementara pisau di sebalik pinggang siap untuk saling dihunjamkan. Dan, <em>srekk</em>, dengan cepat pisau membedah perut. Kami terhuyung, limbung, menyeringai dan terkekeh. Atau bisa jadi kami hanya saling pandang, membisu, berjam-jam. Sampai kemudian pergi begitu saja. Tanpa sapa. Tapa kata-kata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk semua itukah aku mencari Ayah? Atau sekadar ingin tahu, seperti apa rupa Ayah? Entahlah. Kadang aku sendiri ragu, apa perlunya mengetahui siapa Ayah. Ibu anjing, dan Ayah pastilah juga anjing.<span> </span>Adakah engkau pernah mendengar anjing kawin dengan manusia? Selama ini kucari Ayah, barangkali karena iseng saja. Sekadar usaha agar aku tak terlalu merasa hampa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kuelus kepala anjing itu. Matanya sayu, menatapku. Barangkali ia memang Ayah. Aku beringsut, dan kembali berjalan menembus malam yang temaram. Kusadari, langkahku yang gontai membuat pinggulku bergoyang-goyang, persis seekor anjing kelelahan berjalan. Kukira, aku memang anjing. Seperti Ibu dan Ayahku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span> </span><span> </span><span> </span><strong>Yogyakarta 1998-1999</strong></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn1" href="#_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference">1</span></a> Sebuah lagu anak-anak, yang terus terang, saya lupa penciptanya.</p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn2" href="#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference">2</span></a> Lirik lagu <em>Ayah, </em>karya Ebiet G Ade</p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoEndnoteText"><a name="_edn3" href="#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference">3</span></a> Kalau tidak salah, lagu <em>Ayah</em> ini dinyanyikan pertama kali oleh Edi Silitonga.</p>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- BOUQUET]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/07/bouquet/</link>
<pubDate>Wed, 07 May 2008 03:42:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/07/bouquet/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen Agus Noor BESOK Mona ulang tahun. Otok ingin memberinya hadiah istimewa. Sesuatu yang bisa me]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/bukutblog.gif"><img class="alignnone size-medium wp-image-120 aligncenter" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/bukutblog.gif?w=300&#038;h=196" alt="" width="300" height="196" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:14pt;">Cerpen Agus Noor</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>BESOK</strong> Mona ulang tahun. Otok ingin memberinya hadiah istimewa. Sesuatu yang bisa mengungkapkan betapa ia sangat mencintainya. Sudah sepuluh tahun mereka menikah, ditambah enam tahun masa pacaran, tetapi Otok selalu tak peduli pada tetek bengek perkara ulang tahun. Baik ulang tahun Mona, lebih-lebih ulang tahun dirinya. Bila diundang pesta ulang tahun, Otok bahkan mencibir: <em>ngapain</em> pakai pesta segala. Ia selalu tak habis pikir, kenapa orang mesti memperingati hari kelahirannya. Pakai pesta lagi. Bukahkah mestinya kita menyesali kelahiran kita di dunia yang begini celaka?!<!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi, entah kenapa, Otok kini ingin memberi sesuatu untuk ulang tahun Mona. Entahlah, kenapa keinginan itu begitu kuat. Mungkin karena usia Mona yang sudah berkepala tiga. Kata orang, itu usia matang seorang perempuan: Penuh gairah dan impian, seperti benua Amerika, di mana setiap orang ingin ke sana menikmatinya. Tapi mungkin karena ia merasa, betapa hubungannya dengan Mona mulai terasa berjarak. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Percakapan lebih terasa sebagai basa-basi untuk menghindari kebekuan. Belum lagi gosip-gosip yang membuat Otok tak betah. Ia rindu masa-masa pacaran. Ulang tahun mungkin bisa menghangatkan kembali hubungan mereka. Apalagi ketika Indra, kawan baiknya, menyarankan untuk lebih memperhatikan Mona. “Belum terlambat, Tok,” katanya, “dan kamu bisa gunakan momentum ulang tahun itu untuk memperbaiki hubunganmu dengan Mona. Tak banyak kok yang diharapkan perempuan dari laki-laki, Tok. Perhatian, cuma perhatian.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Otok merasa beruntung punya kawan sebaik Indra. Bila ada masalah, ia memang selalu menceritakannya pada Indra. Dan Indra, dengan penuh pengertian, akan mencarikan jalan keluar. “Sungguh beruntung punya kawan sebaik Indra,” batin Otok, sambil meyakinkan bahwa ia memang mesti memberi sesuatu yang istimewa buat Mona. Tapi apa?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Beri saja bunga,” kata Indra.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bunga?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Apa lagi? Orang kayak kita <em>kan</em> cuma bisa beli bunga. Apa pingin bikin pesta yang <em>wah</em> di hotel berbintang atau casino seperti para konglomerat itu? Kalau mereka <em>kan</em> memang kelebihan uang. <em>Nggak</em> penting uang itu hasil kerja keras atau korupsi atau dapat komisi seperti kasus Bank Bali. Atau kamu mau memberi Mona cincin permata? Kalau kamu punya uang <em>sih</em>, ya silahkan. Tapi dari pada kamu terus bingung, sudah, belikan saja bunga.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Otok manggut-manggut. Bunga<em>. </em>Ya, bunga. Rasanya memang bisa mewakili perasaannya yang kini kembali penuh cinta pada Mona. Ungkapkan perasaanmu dengan bunga, Otok pernah dengar kata-kata itu. Tak heran, bila seorang pecinta yang romantis macam Julio Iglesias menghabiskan lebih dari 50.000 dolar untuk membeli bunga bagi pacar-pacarnya. Lalu apakah ia mesti menghabiskan seluruh gajinya bulan ini untuk membeli bunga?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>KEPADA</strong> penjual bunga itu, Otok meminta dipilihkan bunga. “Pokoknya,<span> </span>pilihkan saja mana bunga yang menurut Bapak paling indah.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Yang mana?” penjual itu balik bertanya. “Ambil saja, mana yang Bapak suka.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terus terang, ia tak tahu soal bunga. Baginya semua bunga sama. Semua cemerlang. Semua indah. Semua mempesona. Karena itulah ia tak tahu, mana yang paling pas untuk mengungkapkan perasaannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Buat pacar, Pak?” Penjual bunga itu tersenyum, sambil memberi tekanan khusus ketika mengucapkan kata ‘pacar’. Otok tak terlalu peduli. “Kadang-kadang kita <em>emang</em> perlu variasi, kan Pak. Yah, namanya <em>ajah</em> hidup sekali. Kenapa <em>nggak</em> dipuas-puasin. Ya <em>nggak</em>, Pak?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ini buat istri saya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Istri muda kan&#8230;.”<span> </span>Penjual itu mengambil setangkai bunga. “Mungkin yang ini cocok, Pak. Ini begonia. Orang Brazil sangat suka. Atau yang ini, <em>hyasin. </em>Dulu para bangsawan Rusia sangat senang menyimpan di vas bunga di kamar tidur mereka. Kalau yang umum, ya macam-macam aster ini. Tapi itu tak spesifik, Pak. Atau Bapak lebih suka mawar saja. Atau azalea ini. Atau gradiol&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Otok malah tambah bingung. “Terus terang, saya tak mengerti bunga. Bagi saya, semua indah. Bapak pilihkan saja, mana yang kia-kira istimewa, yang bisa mengekspresikan gelora cinta saya.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sesuatu yang khusus, begitu? Kebetulan saya punya yang baru. Mungkin Bapak suka. Ini bukan sekedar bunga, Pak. Tapi bunga biji mata.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bunga biji mata?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kalau memang tertarik, bisa saya ambilkan.” Lalu penjual itu beranjak. Ketika kembali keluar dia sudah membawa rangkaian bunga yang agak aneh; bulat kehitaman berbalut warna putih dengan kelopak hijau cerah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bagaimana&#8230;.” Penjual itu menyorongkannya pada Otok. Dan saat itulah Otok tergeragap menyadari bulatan di tengah kelopak itu seperti biji mata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“A-apa-kah i-ni&#8230;.” Otok tergeragap.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ya. Ini biji mata. Biji mata sungguhan.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bapak mencungkil biji mata itu?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bukan. Bukan saya. Saya hanya dapat kiriman dari anak saya yang jadi tentara dan kini tengah bertempur di medan perang. Anak saya bilang, mereka suka mencungkil mata para pemberontak dan perusuh. Mula-mula iseng, sekedar membunuh waktu dan melepaskan ketegangan. Tapi kemudian jadi kebiasaan. Setiap orang yang mereka curigai sebagai perusuh, langsung mereka cukil matanya. Tak perduli anak-anak atau perempuan. Nah, anak saya suka <em>ngumpulin</em> biji mata itu. Juga beberapa kawannya. Ada yang dibuat jadi mata akik, jadi kalung atau bahkan jimat. Bila kebetulan pulang, anak saya suka membawa sebaskom biji-biji mata itu. Lalu saya fikir, dari pada tergeletak nganggur, ada baiknya biji-biji mata itu saya bikin jadi kuntum-kuntum bunga. Saya tinggal memberinya kelopak dan tangkai kawat. Lihatlah, indah sekali, kan?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Otok terpana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Di dalam masih banyak. Ketika saya katakan pada anak saya kalau biji mata itu bisa dibikin bunga, anak saya jadi kerap kirim. Begitu pun kawan-kawan sepasukannya. Malah lewat surat, anak saya bilang, kalau mereka bisa mencarikan sebanyak mungkin biji-biji mata itu. Sejak terjadi banyak kerusuhan, memang, kiriman biji mata jadi melimpah. Orang-orang kini jadi gampang main cukil mata orang yang dibencinya. Sebagai penjual bunga, tentu saja saya jadi memiliki peluang untuk mengembangkan usaha. Siapa tahu, bunga biji mata ini banyak yang suka. Saya malah sudah mencoba untuk mengekspornya juga. Bukankah ini bisa jadi sumber devisa. Ha ha ha&#8230;”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Otoktak tahu harus bagaimana menanggapinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Lihatlah, mata yang kelam ini, “ Penjual bunga itu memperlihatkan sebutir biji mata pada Otok. “Ini biji mata perempuan yang diperkosa&#8230;.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Otok merasa, betapa biji mata itu menatap tajam padanya. Seperti ada kepedihan membeku dalam biji mata itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bagaimana? Mau beli berapa?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>LAMA</strong> Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu. Ada sesuatu yang terus berpendaran dan berkilatan dalam biji-biji mata itu, yang membuat Otok kian terkesima. Terlihat aneh dan ganjil, tetapi Otok bisa merasakan ada gelora yang memancar dari mata itu. Aneh, karena baru kali ini Otok melihatnya. Ganjil, karena Otok tak habis mengerti kenapa ada orang tega mencukil biji mata kemudian dibuat jadi setangkai bunga? “Ah, lama-lama juga biasa,” batin Otok, saat ia meyakinkan diri betapa <em>bouquet</em> biji mata itu memang mengandung pesona yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Otok pulang dengan perasaan lega, karena pada akhirnya ia bisa memberi sesuatu yang istimewa untuk ulang tahun Mona.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sembari menunggu Mona pulang, Otok meletakkan <em>boequet</em> itu pada vas. Kian ia pandang kian ia rasakan betapa mata itu berkilat menatapnya. Mata yang bening, dengan bayangan langit jingga. Otok merasa ada banyak rahasia tersimpan di sana. Jam dinding berdentang. Hampir tengah malam, tapi Mona belum juga pulang. Akhir-akhir ini Mona memang sering telat pulang. “Lembur”, jawab perempuan itu datar, setiap Otok bertanya kenapa terlambat. Tapi sekilas, Otok merasa Mona menyembunyikan sesuatu &#8212; entah apa &#8212; dalam matanya. Ia memang dengar selentingan tentang Mona. Tapi Otok percaya, Mona masih mencintainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terkantuk-kantuk, Otok bertahan menunggu, sambil terus memandangi <em>bouquet</em> itu. Dalam keremangan, biji-biji mata itu seakan memancarkan sinar kepedihan. Mungkin mata itu teringat ketika tiba-tiba sepasukan tentara menyeretnya dan langsung mencungkil matanya. Ia sering mendengar bisik-bisik kekejaman seperti itu. Mungkin itu mata aktivis-mahasiswa yang diculik, disekap dan disiksa. Lantas mayatnya dibuang entah ke mana setelah kedua matanya dikerok dengan sendok. Ia pernah dengar juga bagaimana dalam sebuah kerusuhan, seorang wanita yang tengah hamil dijebol perutnya. Bayi dalam rahim wanita itu diambil, kemudian dipenggal kepalanya. Jangan-jangan mata bayi yang masih merah itu dicukilnya juga. Dari <em>bouquet</em> mata itu, Otok seperti mendengar lengking tangis, gemeretak rumah terbakar, teriakan-teriakan, rentetan senapan&#8230;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>“BELUM </strong>tidur?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Otok tergeragap. Mona sudah berdiri di pintu yang barusan dibukanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Aku menunggumu.” Kikuk, Otok membalas senyum Mona. Perempuan itu nampak kusut dan capai, membuat Otok merasa bersalah kenapa membiarkan Mona bekerja sampai larut begini. Tapi ia<span> </span>tak bisa apa-apa, karena gajinya <em>toh</em> tak seberapa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Selamat ulang tahun&#8230;.” Otok mendekati Mona,<span> </span>“Aku ada hadiah kecil untukmu. Semoga kamu suka.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Diberikannya <em>bouquet</em> itu.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Bagaimana?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mona terbelalak, setengah memekik. “Alangkah indahnya! Aku belum pernah melihat bunga seindah ini.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Itu biji mata.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Biji mata?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Ya, biji mata orang yang mati disiksa.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Terima kasih,” Mona tersenyum. “<em>Tumben</em> kamu ingat ulang tahunku?” Dikecupnya pipi Otok.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Maaf, kalau selama ini aku tak perduli.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tak apa. Aku <em>ngerti kok</em>.”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Kamu suka <em>bouquet</em> ini?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Tentu saja. Sangat suka!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mona memeluk Otok manja. Membuat Otok merasa begitu bahagia. Betapa pada akhirnya ia bisa membahagiakan Mona. Otok benar-benar merasa beruntung punya istri pengertian dan setia seperti Mona.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Malam itu Otok tidur nyenyak dan mimpi indah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sementara Mona tergolek di sampingnya, meringkuk dengan wajah merengut. “Dasar laki-laki tak tahu diri,” makinya dalam hati. “Masa ulang tahun dikasih bunga busuk macam begitu!”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lalu Mona teringat pada Indra yang diam-diam pacaran dengannya. Sejak sore tadi ia menghabiskan waktu di losmen bersama laki-laki itu. Mona ingat pada cincin yang diberikan Indra untuk ulang tahunnya. Untunglah, ia sudah menyimpannya.<span> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;"><span> </span><span> </span><span> </span><strong>Yogyakarta, 1999</strong></span></p>
<p>(<strong>Catatan</strong>: Cerpen ini diunggah dari buku kumpulan cerpen Agus Noor <em>Memorabilia</em>, Penerbit Yayasan Untuk Indonesia, 1999)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- KUPU-KUPU SERIBU PELURU]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/06/kupu-kupu-seribu-peluru/</link>
<pubDate>Tue, 06 May 2008 20:34:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/05/06/kupu-kupu-seribu-peluru/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen Agus Noor BAGAIMANAKAH kami mesti mengenang perempuan buta itu – yang liang selangkangnya ben]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<h2><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/gambar4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-118 alignright" style="float:right;" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/05/gambar4.jpg?w=300&#038;h=248" alt="" width="300" height="248" /></a><span style="font-size:14pt;">Cerpen Agus Noor</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">BAGAIMANAKAH kami mesti mengenang perempuan buta itu – yang liang selangkangnya bengkak karena dosa, dan sekujur tubuhnya bergetah nanah kena kusta! Adakah ia sundal ataukah santa?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">RASANYA belum lama lewat. Selepas hujan tengah malam, sebelum sulur cahaya fajar mekar, seorang peronda terkesiap gemetar: di dekat kandang kuda samping gereja, ia melihat gadis kecil menggigil, bugil, seperti peri mungil yang usil hendak menakut-nakutinya. <span>Segera ia tabuh kentongan yang dibawanya. Dan puluhan warga seketika terjaga, juga bapak pendeta. Setelah kepanikan mendengung bersahut-sahutan, perlahan-lahan suasana jadi tenang, dan mereka pun segera mendekati gadis kecil yang ketakutan serta kedinginan itu. Dengan lembut bapak pendeta menyelimutkan jubahnya ke tubuh gadis kecil itu, sembari berbisik perlahan, “Domba kecilku…” </span>Ia terpesona oleh mata bening si gadis kecil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ketika pagi yang lembut terasa seperti hosti, warga kota pun mulai mengerti: betapa kota mereka yang tenang seakan-akan telah terbekati. Gadis kecil itu telah dikirim dari langit untuk membuat hidup mereka yang tenang menjadi lebih riang. Kemudian, ketika duduk-duduk di kedai kopi, beberapa orang mulai bercerita perihal mimpi yang mendatangi mereka malam-malam sebelumnya. Seseorang mengatakan, kalau ia bermimpi melihat gugusan bintang cemerlang menaungi kota. Seorang lagi bercerita bahwa ia bermimpi melihat sekawanan bangau bersayap cahaya terbang melintasi kota mereka. Seseorang yang lain menceritakan pijar api biru yang dilihatnya meluncur dari langit menuju atap gereja. Yang lain menambahi, betapa ia sesungguhnya sudah merasakan tanda-tanda keajaban ini sebelumnya, ketika ia melihat bunga-bunga di halaman rumahnya bermekaran begitu indah melebihi biasanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Dan kau tahu…,” seseorang berkata penuh senyuman. “Aku bahkan sudah merasakan kehadirannya, ketika seluruh kudis di tubuhku tiba-tiba mengering dan mengelupas. Saat itu aku merasakan ada hembus lembut yang berkali-kali meniup-niup kulitku. Aku yakin, itulah nafas lembut bidadari kecil itu…” Wajahnya begitu cerah, seperti seseorang yang begitu percaya betapa Tuhan barusan mengampuni seluruh dosa-dosanya. Kemudian seseorang yang bermulut murung langsung menimbrung, “Ya, saya juga merasa, ketika tahu genjik saya yang baru lahir berkaki lima!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kisah-kisah ajaib bermekaran, membuat percakapan di kedai kopi yang biasanya berlangsung datar membosankan menjadi lebih bergairah. Para pembual dan tukang cerita seperti menemukan kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya.</span><!--more--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>TAPI, bagaimana pun, gadis kecil itu memang membuat kota kecil ini jadi menggeliat dan lebih hangat. Sudah begitu lama segalanya terasa lamban dan membosankan, karena semua hal nyaris sudah mereka percakapkan dan rasakan. Pantai yang putih, teluk yang jernih. Juga lorong-lorong kota yang begitu tertata bersih. Sudah lama semua itu enggan mereka percakapkan, karena terkesan jadi seperti menyombongkan. Sebab tanpa mereka percakapkan pun semua orang sudah tahu tentang kota mereka yang kecil dan indah, hingga banyak pelancong begitu terkesan dan kerasan. Bangunan-bangunan tua yang terawat, dimana setiap riwayat tergurat, seperti selalu mengisahkan kembali sejarah kota yang penuh kedamaian. Jembatan dan kanal, gereja dan dermaga, kedai-kedai kopi sepanjang jalan utama – ah, apalagi yang masih perlu dipercakapkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Keriangan gadis kecil itu membuat warga kota seperti menemukan kembali cahaya terang dalam pikiran mereka, seakan disadarkan dari ketenangan dan kelambanan yang selama ini justru telah terasa membosankan. Ketika gadis kecil itu meloncat-loncat riang mengikuti bapak pendeta yang berjalan keliling kota menenteng piskis, mereka jadi lebih antusias memerhatikan, dan terpesona pada keredap cahaya matahari yang memantul dari tepi nampan perak itu. Ketika gadis kecil itu bermain-main di alun-alun kota bersama kawanan merpati, orang-orang tak hanya melihat burung-burung yang berhamburan berebut remah roti sebagaimana yang selama ini mereka saksikan, tetapi juga bisa melihat bercak kecoklatan di kaki-kaki ramping burung merpati itu, alur dan galur garis-garis lembut dibulu-bulunya, juga pada jejak-jejak halus yang nyaris merata menutupi permukaan tanah yang tak terlalu basah. Mereka jadi bisa merasakan bau lembab rerumputan. Mereka seperti kembali menemukan kegembiraan ketika memandangi patung perempuan dari batu pualam yang mendekap jambangan.<span> </span>Sekarang bisa mereka lihat serat-serat coklat di leher patung itu, seperti gegurat urat pada selembar daun yang menua, lantaran cahaya terasa lebih cemerlang menerangi kota mereka. Kini mereka juga suka memerhatikan gemericik pancuran yang mengucur dari jambangan itu, ketika menyentuh permukaan kolam. Percik-percik air itu berloncatan seperti puluhan anak-belalang bertubuh terang. Ketika mereka selesai menikmati segelas kopi, mereka pun tak hanya melihat sisa ampas, tetapi juga liuk lekuk bekas bibir mereka di gigir gelas. Mereka bisa melihat dengan jelas oroma kelabu yang keluar dari mulut seseorang yang baru saja menikmati anggur. Segalanya seakan-akan menampakkan diri lebih jelas, dengan seluruh kelembutan dan pesona detail-detailnya. Hingga keheningan tak hanya terasa begitu dekat, namun juga pekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Semuanya tumbuh bersama gadis itu, yang membuat warga kota menjadi lebih giat mendatangi gereja. Mereka begitu senang setiapkali mendengar gadis kecil itu bernyanyi. Orang-orang bisa melihat halus pipi bocah itu bersemu kemerahan. Rambut kalongnya yang lembut, dan beberapa helai rambutnya yang karena keringat melekat di lehernya yang kuning mengkilat. Bulu matanya melengkung lentik, seakan menaungi sepasang matanya yang hening agar tak terkena guguran debu-debu dosa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Gadis itu tumbuh, seperti perasaan seorang beriman yang diberkahi kedamaian. Dan warga kota pun selalu teringat tanda-tanda yang menyertai kemunculannya, sebagaimana selama ini tak bosan-bosan terus-menerus mereka percakapkan: ia datang dari gugusan bintang cemerlang dibawa sekawanan bangau bersayap cahaya kemudian menjelma pijar api biru yang meluncur menuju atap gereja hingga bunga-bunga di halaman rumah bermekaran begitu indah melebihi biasanya dan membuat kulit penderita kudis seketika mengering serta seekor anak babi bisa terlahir dengan kaki lima…<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Bagaimana pun,” kata bapak pendeta, “kita seringkali melihat kemegahan cahaya yang menandai kedatangan mereka yang mulia. Atau terkadang ia terlahir di sebuah kandang…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dan orang-orang pun teringat, betapa gadis kecil itu ditemukan seorang peronda, meringkuk di dekat kandang kuda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>KEHIDUPAN di kota kecil itu pun tak lagi menggeliat lambat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Perlahan-lahan, meski pun segalanya masih terasa begitu khidmat, mereka mulai merasakan ada sesuatu yang menggeliat gawat. Mereka menyaksikan bocah cilik itu sudah menjadi gadis yang seranum buah murbai. Tawanya begitu bergerai, bergerak gemulai, dan ia melangkah amat semampai. Kemudian jalanan dipenuhi baju-baju aneka warna, karena anak-anak muda kini selalu berpakaian cerah. Ada sesuatu yang tumbuh, melebihi gairah pesta-pesta yang setiap malam seringkali digelar sepanjang trotoar. Sesuatu yang membuat anak-anak muda itu tertawa lebih keras, dan merasa tak perlu untuk cepat-cepat menutup mulut mereka dengan tangannya. Malam lebih panjang dengan keramaian, terompet dan nyanyian. Dan selalu, di puncak kemeriahan, terjadi perkelahian. Karena setiap pemuda berebut ingin berdansa dengan gadis paling jelita di kota. Karena setiap pemuda merasa paling berhak dan ingin menjadi penguasa satu-satunya. Sedangkan gadis-gadis lain menangis – juga histeris – karena merasa diabaikan, terhina dan diluapi kebencian. Fitnah dan hujah pun membuat gatal dan resah. Setiap gunjingan kemudian menudingkan jari telunjuknya ke arah gadis itu, yang selepas malam selalu terlihat bersama beberapa pemuda berkeliaran beramai-ramai sepanjang pesisir pantai…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Dan itu hanya dilakukan para lonte!” para perempuan mulai bergunjing, sambil memperhatikan tingkah lalu para lelaki yang belakangan ini memang lebih suka menghabiskan waktu di tepi pantai ketimbang duduk-duduk di kedai. Para istri mulai menajamkan mata, mengawasi suami-suami mereka. Tentu saja, para suami yang merasa tak dipercaya jadi gampang meluap marah. Nyaris, sepanjang hari, bila kini engkau berkunjung ke kota kecil itu, engkau akan mendengar suara pipi ditampar, teriak perempuan kalap mencakar-cakar, umpatan-umpatan kasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Tak mengherankan, apabila gadis cantik itu terlihat melintas, para perempuan buru-buru menghindar dengan gegas…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>MELEBIHI usia tua yang celaka, bapak pendeta mulai gelisah ketika dari hari ke hari kian sedikit warga kota yang berdoa bersamanya. Para perempuan enggan datang ke gereja, bila gadis itu ada di sana. Kaum lelaki, yang tak mau terlalu kelihatan memendam birahi, juga jadi sungkan mengikuti ekaristi. Bau sunyi mulai membuat gereja itu terlihat pasi setiap Minggu pagi. Bapak pendeta tak juga menemukan jalan bijaksana, bagaimana ia mesti mengatakan ini semua, tapi tak membuat hati gadis itu terluka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Saat bapak pendeta berdoa agar diberikan jalan keluar, ia mendengar kerekit pintu gereja terbuka, kemudian suara langkah kaki diseret pada lantai kayu yang kasap. Bulu-bulu tengkuknya seketika meremang, saat ia merasakan ada sehembus angin halus: seakan-akan ia merasakan kehadiran sesuatu yang kudus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Maafkan saya, Bapa…” terdengar suara yang begitu dikenalnya. “Saya telah menyusahkan Bapa. Biarlah saya yang tak lagi ke gereja. Saya akan kembali ke kandang kuda. Karena dari sanalah asal saya…” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Betapa terbelalak bapak pendeta, ketika menatap gadis yang berdiri hadapannya. Lihatlah mata gadis itu: matanya tak sebak air mata, tapi darah! Gadis itu telah mencongkel kedua biji matanya dengan jari-jarinya sendiri, karena tak mau lagi melihat dosa. Karena semua yang dilihatnya tiada lain ialah dusta. Bapak pendeta menunduk gemetar, tak tahan melihat darah yang masih basah terus merembes keluar dari liang mata gadis itu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kota kecil itu pun gemetar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>KETIKA dengan cepat kabar itu menyebar, orang-orang menyaksikan senja yang seolah bergetar, dan jantung mereka begitu berdebar. Seseorang bercerita, betapa selintas ia melihat liang mata gadis itu bengkak dan memar. Lalu seorang tukang sapu dikabarkan menemukan biji mata gadis itu, tergeletak di belukar belakang kandang kuda. Biji mata itu sudah mengisut digerumut semut. Tapi tukang sapu itu hanya menemukan satu biji mata. Sedang yang satunya, entah ke mana. Mungkin sudah digondol celurut. Orang-orang mendengarkan cerita itu dengan mulut asam dan kecut, serasa mengunyah cuka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Gadis itu tak lagi kelihatan di gereja. Berhari-hari gadis itu mendekam di kandang kuda, berdoa. Sejak itu, warga kota selalu mendengar gumam gema suara orang doa yang mengalun dari arah kandang kuda. Seperti laut yang mulai pasang, gema suara orang berdoa itu dari hari ke hari semakin membuat suasana seakan mengapung mengambang. Apabila engkau berjalan-jalan menyusuri kota, engkau bisa merasakan bagaimana cuaca mulai meredup dan semua suara mendadak susut, dan yang terdengar hanya gema doa yang membuatmu diluapi kesedihan yang asing. Dan engkau akan menyaksikan orang-orang yang berjalan dengan menundukkan kepala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Warga kota kini lebih banyak berdiam diri ketika duduk-duduk di kedai kopi. Mereka gampang terkejut, bahkan oleh denting paling pelan suara sendok yang menyentuh gelas. Apabila saat ini engkau berada di antara mereka, engkau bisa merasakan raut cemas yang menyelusup halus dalam senyum ramah mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Apalagi ketika mereka melihat gadis itu – yang kian terlihat begitu cepat tua – melintas di jalan, bila ia membutuhkan makanan. Orang-orang dengan bergegas akan menghindar, warung-warung akan segera menutup kerai dan pasar segera bubar. Karena ketika ia berjalan tidak terlihat menyedihkan, tapi mengerikan. Sementara gema doa bagai membungkus tubuhnya, ia terlihat tertatih-tatih dengan sepasang tangan yang seakan-akan selalu merabai punggung udara. Gaun etamin hitam yang serupa jubah, terjulai hingga bagian bawahnya menyapu tanah. Debu-debu halus berleduban setiap kali perempuan itu melangkah. Wajahnya selalu tertutup selendang usang, tapi orang-orang tetap saja bisa memandang sepasang liang matanya yang remang. Lebih-lebih bayangan wajahnya yang ledang. Bahkan orang-orang lebih ketakutan pada sepasang liang yang tak lagi berbiji mata itu, karena mereka percaya: justru setelah buta, perempuan itu mampu melihat semua yang kasat-mata. Ia bisa merasakan kebusukan yang dengan penuh kesopanan disembunyikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Ketika berlangsung pesta yang diadakan untuk membangkitkan kembali kenangan-kenangan bahagia yang pernah memulas kota dengan warna-warna keriangan – karena bagaimana pun kota ini mesti tak boleh terbenam dalam kemurungan – mendadak perempuan itu muncul. Ia sudah berdiri di dekat pancuran, menuding ke tangan-tangan warga yang tengah bersulang. “Yang kalian minum bukan anggur, tapi darah seorang pelacur…” Suaranya bagai muncul dari bawah tanah yang seketika bergetar seperti punggung orang yang terbatuk-batuk. Saat itu pula mereka mencium bau yang amis, serupa miasma yang menguap dari rawa-rawa. Beberapa hari kemudian, perempuan itu berdiri di tengah jalan menghentikan kereta walikota. Sementara para pengawal walikota hanya mematung tak berdaya, bagai tersihir, perempuan buta itu segera mendekati walikota dan langsung menepuk-nepuk punggungnya. Saat itulah orang-orang yang menyaksikan melihat puluhan ekor ular keluar dari lobang telinga walikota. Beberapa ekor juga keluar dari mulutnya, dari hidungnya, dari duburnya…<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pernah pula, perempuan buta itu mengatakan kepada beberapa gadis yang berpapasan di jalan, agar segera membuang lintah yang memenuhi perut mereka. Kepada seorang saudagar perempuan itu mengingatkan agar tak lagi makan belatung. Ia membuat malu seorang guru karena dikatakan suka menggauli anak kandungnya yang gagu. Dengan tegas ia menuding hidung seorang tentara yang dikatakannya gemar memperkosa. Ia mengucapkan semua itu semudah orang menyemburkan ludah. Kadang-kadang caranya berkata-kata seperti seseorang yang tengah menyumpah. Bahkan ia begitu kurang ajar mengatakan bapak pendeta tak cukup beriman untuk membimbing para jamaahnya!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Itulah yang membuat orang-orang dengan gemetar menghindar. Ia mengerikan karena telah menyerahkan jiwanya pada setan, hingga ia dapat melihat dalam kegelapan seperti makhluk malam. Setiap pintu rumah orang terhormat tak akan terbuka setiapkali ia mengetuknya. Setiap orang kemudian berdoa agar perempuan buta itu terkena lepra…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>KARENA tak diterima di kota, perempuan itu lebih sering terlihat memandangi laut, seakan seorang peramal yang mencari isyarat maut. Kadang sepanjang hari ia berdiri di tebing karang di kelilingi burung-burung camar, atau menyusuri pantai memunguti barai, kerang atau lengkitang. Ia menyeruput siput-siput itu langsung dari cangkangnya, membuat jijik siapa pun yang melihatnya. Kecuali pelacur-pelacur miskin yang menghuni gubug-gubug rumpang di sisi dermaga, yang segera meniru kelakuannya; karena menganggap perempuan itu mengajarkan kepada mereka satu cara mengatasi kelaparan. Karena itulah, setiap sore, para pelacur itu mengundangnya untuk bertandang ke gubug mereka. Dengan cepat ia menjadi dekat dengan para barua, mucikari, kecu, pencoleng, budak-budak pelabuhan, para begundal dan juru mudi kapal.Para pelacur selalu terhibur dengan kisah-kisah yang didongengkan oleh perempuan itu. Para mucikari melayani perempuan itu dengan setulus hati. Para budak menghormati perempuan itu karena mau menemani mereka tidur di geledak. Mereka memperlakukan perempuan itu begitu istimewa, karena menganggap perempuan itu santa pelindung kaum pendosa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sementara senja kian muram. Di kedai-kedai kopi orang-orang lebih banyak diam. Hanya sesekali mereka mengingat perempuan itu dengan pedih, dengan sesal yang tak berkesudahan. Kemudian kisah lama hadir, dengan suasana berbeda. Kenapa, dulu, tak kita buang saja gadis cilik itu ke laut? Ia pasti keturunan putri duyung yang suka menggoda dengan nista dan airmata, seseorang berkata. Atau dia memang anak jadah dari rahim seorang pelacur yang sengaja membuangnya, timpal yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Sejak pertama kali ia ditemukan, aku sesungguhnya sudah ingin mengingatkan, kalau sebelumnya aku bermimpi buruk: kota kita diserbu jutaan burung pelatuk. Aku ingin menceritakan mimpi itu, tapi aku takut kalian tak mempercayainya waktu itu…” kata seseorang sembari membuang pandang, seperti seorang munafik yang ingin menyelamatkan diri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Sesungguhnya aku berdusta soal mimpi burung bangau bersayap cahaya…”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kemudian setiap orang mengisahkan mimpi-mimpi lainnya, yang jauh berbeda dengan yang dulu mereka katakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kota kecil di tepi teluk itu seperti wajah orang tua yang mengantuk, sementara kecewaan kian lama kian menumpuk. Perempuan itu membuat kota mereka yang indah menjadi berbau nanah. Dari arah pelabuhan selalu terdengar suara pelacur-pelacur yang mengikik, lebih menyebalkan dari suara jangkerik. Para begundal mengerang dihisap mulut sundal. Mereka, kaum pendosa, membuat kota ini celaka. “Karena kepada para pelacur dan pencoleng yang menjadi kaumnya, perempuan buta itu selalu berbicara tentang sorga tapi membiarkan mereka saling remas kelamin di hadapannya,” kata seorang warga, sambil tangannya menunjuk arah dermaga. Terkutuklah perempuan itu! Dia najis, karena membiarkan puting susunya yang garing dihisap pengemis-pengemis kudis. Dia iblis, karena dengan lidahnya mau menjilati borok di selangkang pelacur yang terkena sipilis. Dia nista, karena melayani budak dan bromocorah dengan tubuhnya. Dia sundal, karena bersenggama dengan ratusan begundal…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dan perempuan buta itu sungguh-sungguh tak terampunkan, ketika perutnya bengkak oleh dosa, dan ia mengaku mengandung bayi buah cintanya dengan malaikat. Dari hari ke hari perut perempuan buta itu kian membengkak. Dan para pelacur sundal pencoleng begundal yang selalu mengelilinginya kian yakin kalau perempuan itu memang santa, karena mereka melihat dari rahimnya memancar cahaya. Apalagi ketika seorang dari begundal itu bercerita, betapa dia suatu malam melihat cahaya berkilauan turun dari surga. Itulah cahaya yang memancar dari sepasang sayap malaikat, yang segera menghampiri perempuan buta itu. Laut seperti memejam, ombak redam, ketika malaikat dan perempuan buta itu berciuman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Kalian dengar omong kosong para sundal dan begundal itu?” gelegak seorang warga yang tak lagi bisa menahan geram. “Bahkan mereka berani berdusta kalau malaikat mau bersenggama dengan seorang perempuan buta!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Di puncak kemarahan, puluhan warga kota segera mendatangi bapak pendeta. Bagaimana pun perempuan bidah itu mesti ditangkap, dirajah. Dengan bijaksana bapak pendeta menyerahkan semuanya kepada walikota. Maka segeralah dikirim bala tentara, mengobrak-abrik pelabuhan, mengusir pergi para sundal dan begundal. Dan perempuan buta itu diseret, dilecut punggungnya sepanjang perjalanan menuju penjara. Setiap warga melempari tubuh perempuan itu dengan batu, sambil menghujah marah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Bidah!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Penyihir!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Lonte!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kemudian perempuan itu dilemparkan ke ruang penjara bawah tanah. Di sel pengap sempit dengan ujung-ujung besi runcing yang saling jepit saling kait. Sel yang penuh ular keling dan kalajengking. Berhari-hari, berbulan-bulan, tanpa makanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>PADA bulan ke delapan, keputusan telah dimaklumatkan. Perempuan itu mesti mati sebelum bayi itu dilahirkan. Karena kota ini mesti dibebaskan dari rantai kutukan. Karena dosa mesti ditumpas sebelum sempat tumbuh lagi satu tunas. Dan seluruh warga kota yang mulia dan terhormat sepakat, perempuan itu mesti dirajam dengan tembakan. Setiap warga yang memiliki senapan boleh ambil bagian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Pistol-pistol tua yang selama ini tersimpan dalam peti atau lemari, dikeluarkan dan dibersihkan. Senapan berburu yang selama ini hanya jadi pajangan, segera diturunkan. Peluru-peluru disiapkan. Yang belum punya senapan, segera membeli di pasar loakan. Atau pinjam pada kenalan. Seluruh lelaki di kota itu telah menenteng senapan, berdiri di sepanjang jalan. Bahkan banyak juga perempuan yang dengan gembira mengacung-acungkan senapan. Sementara di alun-alun kota, dimana hukuman akan dilaksanakan, beratus-ratus bala tentara sudah siap dengan senapan di tangan yang siap ditembakkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dan inilah prosesi pembantaian yang paling dinantikan…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Langit bersih, siang itu, seperti merestui. Seluruh warga kota sudah memenuhi alun-alun, ketika perempuan buta itu diseret keluar dari penjara bawah tanah. Ia melangkah dengan kaki yang tak goyah. Perutnya bertambah besar. Liang matanya terlihat kian kelam. Rambutnya dipenuhi sindap, lengket bergempal-gempal bau apak. Tubuhnya penuh keranta, meruapkan aroma kematian. Tapi lihatlah, betapa ia tampak damai. Meski sekujur tubuhnya penuh koreng. Jari-jari tangannya menggeropeng, beberapa nyaris putung digerogoti kusta. Sikapnya seperti seorang perempuan yang bersikeras mempertahankan martabat. Di atas panggung hukuman, tepat di tengah alun-alun kota, ia berdiri memandangi langit dengan sepasang matanya yang buta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Dosa sebentar lagi dilenyapkan. Beratus-ratus lup senapan diarahkan. Ketika segalanya kiat dekat, keheningan kian terasa sempurna. Saat itu, bila engkau ada di sana menyaksikan itu semua, engkau akan bisa mendengar suara air mata yang bergulir dari keluk kelopak mata. Karena bagaimana pun segalanya terasa menyedihkan ketika engkau melihat ke arah perempuan butu itu. Ia terlihat sengsara, menjijikkan, tetapi memancarkan kedamaian…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kemudian detik seketika meledak. Sementara delap menguap dari tiap ujung senapan yang berkali-kali ditembakkan, beribu-ribu peluru menghambur menyerbu mengepung tubuh perempuan buta itu dari segala penjuru. Beribu-ribu peluru yang menderu, hingga engkau bisa mendengar suara peluru-peluru itu berdesing-desing membelah udara yang kering, dan kau lihat percik-percik cahaya memenuhi udara. Cahaya? Di bawah sinar matahari, beribu-ribu peluru itu memang terlihat bagai biji-biji cahaya yang berlesatan, membuat terkesima siapa pun yang melihatnya. Dan orang-orang kian terkesima: ketika senapan terus menerus ditembakkan hingga ribuan peluru terus berlesatan di udara, tapi pada saat itu juga, peluru-peluru itu saling bertubrukan dan pecah menjadi keping-keping cahaya bening yang terbang melayang-layang seperti kupu-kupu. Ya, kupu-kupu! Kami menyaksikan beribu-ribu peluru itu seketika menjelma kupu-kupu sebelum menyentuh tubuh perempuan buta itu…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Terdengar suara puluhan senapan terlepas berjatuhan, sementara setiap orang menyaksikan semuanya dengan penuh ketakjuban. Beribu-ribu kupu-kupu dengan sayap yang membiaskan cahaya lembut aneka warna, terbang melayang-layang, kemudian mulai hinggap di tubuh perempuan buta itu. Hinggap di kedua tangannya yang terentang, seakan-akan ia disalibkan. Hingga di kepalanya, seakan tengah memahkotainya. Hingga seluruh tubuh perempuan itu penuh kupu-kupu, dan berkilauan memancarkan cahaya. Lalu, bergitu pelan, beribu-ribu kubu-kupu itu mengangkat tubuh perempuan itu, hingga tampak seperti balon udara yang tengah mengangkasa. Terus membumbung. Berkilauan dalam kemegahan sayap-sayapnya, kemudian gaib ditelan langit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Kami terkesima memandanginya, tetapi kami juga merasa begitu hampa. Ada yang tak kunjung kami fahami, hingga kini. Bagaimanakah kami mesti mengenang perempuan buta itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right"><span><span> </span></span><strong>Jakarta, 2004.</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- INSENSATEZ]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/04/26/insensatez/</link>
<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 07:49:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/04/26/insensatez/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen Agus Noor MAYA telanjang, telentang di ranjang. Dan aku memandanginya gamang. Seperti ada kea]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><a href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/04/gambar72.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-115" src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/04/gambar72.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Insensatez" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:small;"><strong>Cerpen Agus Noor</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><strong>MAYA</strong> telanjang, telentang di ranjang. Dan aku memandanginya gamang. Seperti ada keasingan yang perlahan menggenang, memenuhi kamar. Cahaya kekuningan lampu kamar yang remang membuat kulitnya yang langsat seperti diluluri madu. Dia menggeliat, memberi isyarat agar aku segera mendekat. Tapi aku hanya duduk di sofa, memandanginya. Ada sesuatu yang tak kunjung aku fahami. Padahal dia sudah menyiapkan suasana yang begini romantis. Musik yang lembut, yang selalu diputarnya berulang-ulang bila kami bercinta. Harum opium yang menyebar dari asap aroma terapi begitu meneduhkan, dan membuatku melayang. Kenapa aku malah begini gelisah? Dia bangkit meraih selendang yang terkulai di lantai, kemudian menatapku. Lekuk susu dan bentuk putingnya  yang tegak, agak ganjil di antara silhuet kaki-gelas yang ramping. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Ada apa? Kau lagi sungkan bercinta?” Dia bangkit, bersijengkat mendekat.</span><!--more--></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Lihatlah caranya  berjalan yang seakan-akan melayang, bagai mambang keluar dari rerimbun petang. Jari-jarinya terasa lebih lentik ketika dia menenteng dan memain-mainkan selendang.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kau lagi tak selera?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Dia bersimpuh, merebahkan kepalanya di antara kedua pahaku yang berselonjor di sofa. Nafasnya hangat. Jejarinya dengan lembut mengurut bagian bawah perut, kemudian mengusap menelusup pelan di selangkang, menekan-nekan kerampang, hingga aku menggelinjang. Dia memang begitu hafal, bagaimana membangkitkan birahiku dengan cara sedikit nakal!</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tapi, untuk kesekian kali, aku merasakan sesuatu yang kian mengasingkanku.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kenapa? Kamu sudah mulai merasa bosan?” Ditekannya kepalaku ke sandaran sofa. “Katakanlah, apakah aku telah membuatmu bosan?” Suaranya seperti ciuman yang mengharapkan balasan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tidak. Aku tidak bosan. Aku hanya merasa ada yang tak kunjung aku fahami. Entahlah…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Aku ngerti, kamu mulai berfikir bagaimana caranya meninggalkan aku!” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku menggeleng.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kamu akan menyelinap pergi dari kehidupanku, seperti kamu menyelinap keluar dari kamar pelacur yang barusan kamu setubuhi!”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Dia mengangkat bahuku, hingga kami bertatapan begitu dekat. Ujung hidungnya menyentuh ujung hidungku. Dia mulai menciumi leherku, menjilati telingaku sambil mendesah, “Aku akan membuatmu tak mungkin meninggalkanku…” Lalu tangan kanannya bergerak pelan ke arah dadaku. Jari-jarinya mengembang, menyentuhkan ujung-ujung kukunya yang berkutek ungu, tepat di bagian ulu. Dia tersenyum. “Aku akan mengambil hatimu, bila perlu…” Lantas dengan tenang dia merancapkan kukunya ke dadaku, membuat sayatan, seperti pisau dokter yang melakukan pembedahan. Lalu dia benamkan telapak tangannya merogoh dadaku… Dan, dengan sekali sentak membetot hatiku. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Bagai ada yang tiba-tiba lepas, dan aku merasakan tubuhku seringan kapas.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Dia menyeringai, bergairah, seperti baru saja mendapatkan kegembiraan baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya. “Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar? Mungkin ini akan membuatmu sedikit terangsang…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku kian terbenam dalam keasingan yang memenuhi kamar, ketika menyaksikan dia mulai meliuk-liuk, menari, memain-mainkan hati yang terus menetes-neteskan darah itu. Dia menciumi dan menjilati hati itu, hingga darah belepotan di bibir dan pipinya. Dia menari meliuk-liuk mendesah menggesek-gesekkan hati itu ke seluruh bagian tubuhnya, seperti tengah bermain-main dengan sabun mandi. Hingga seluruh tubuhnya memerah belepotan darah. Kemudian ia berdiri mengangkangiku. Dan ia kian meliuk-liuk jalang, ketika aku mulai terangsang.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;">Rasa asing dan gamang yang tadi menggenang, seperti bau kamper yang menguap di udara. Aku nanar menatapnya yang terus meliuk menggelinjang. Bahkan aku tak pernah menyaksikan adegan </span><em>striptease</em><span style="font-style:normal;"> seperti ini. Aura yang memancarkan birahi purba seakan-akan keluar dari tubuhnya, seperti sulur-sulur akar. Saat itulah aku merasakan ada teluh yang menggemuruh dalam tubuh. Aku merasakan sulur-sulur akar bercecabang yang keluar dari tubuhnya itu mulai membelit dan melilit tubuhku. Hingga aku hanya bisa menjerit ketika sejulur akar dengan kasar membelit batang zakar, menghisap seluruh cairan dalam tubuh. Sampai kemudian aku terlempar dan terkapar, mendapati tubuhku telah gosong dan garing. Rasanya, tak ada lagi secuil pun sperma menetes dari ujung kelaminku yang kering.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Maya tersenyum puas, beringas. Dia menyodorkan tangannya yang berlepotan darah. “Lihatlah, hatimu akan kukunyah, kumamah.” Lalu sambil tersenyum riang ia menjauhiku yang tergolek di sofa. Ia melangkah gemulai menuju kamar mandi, sembari terus dengan penuh gairah mengunyah hati yang dikerkahnya pelan-pelan, seakan melahap sepotong semangka…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;text-align:center;">***</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><strong>AKU </strong>terbangun.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Segera kuraba dada. Tak ada luka. Masih ada degup. Sedikit gugup. Lalu aku mulai menyadari, seperti ada mimpi yang bersijengkat pergi. Tapi ini bukan mimpi. Semalam Maya memang berada di sini. Aku masih bisa mencium bau tubuhnya. Menguar dalam kamar. Dan di dekat bantal –  yang masih terasa hangat dan basah karena keringat – aku dapati dua helai rambut menelusup serat seprei. Seakan-akan Maya sengaja meninggalkannya untukku.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Aku terbaring, masih dengan perasaan asing. Maya selalu membuatku terpana, seperti kemunculannya. Dia datang dan pergi serupa misteri. Seakan-akan ada yang sengaja dia tutup-tutupi. “Seperti persetubuhan, sesuatu akan mengesankan bila ada yang tak terungkapkan,” katanya suatu kali. Dan memang, bersama Maya, selalu kurasakan tengah memasuki labirin rahasia. Ada sesuatu yang selalu ingin membuatku kembali, karena selalu saja kurasakan ada yang selalu tak tertuntaskan. Selalu kutemukan sesuatu yang tak terduga. Hingga kemudian aku kian faham, betapa kenikmatan seringkali bisa kita dapatkan pada saat dan tempat yang tak biasa.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Seperti ketika aku melihatnya pertama kali pada sebuah pesta… </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;">Saat itu aku mulai melayang karena dua butir </span><em>blue diamond</em><span style="font-style:normal;"> yang sekaligus kutenggak dengan sebotol air mineral. Saat itu aku mulai merasakan kabut dingin merayap naik menjalari kulit tubuhku. Telapak kakiku mulai berasa lembab dan basah, sehingga aku seakan-akan mengapung di atar permukaan air yang sejuk. Begitu enteng. Perlahan-lahan pula eksterna telingaku mulai termuka, seperti ada bunga yang pelan-pelan mekar dalam telingaku. Alangkah nyaman, dan aku mulai bisa merasakan harmoni dentaman </span><em>house music</em><span style="font-style:normal;"> yang menggetarkan membran dan koklea. Di antara gemuruh dan segala yang hingar-bingar, aku bisa mendengar gemeritik dan gemerincing bunyi-bunyian yang ajaib, bagaikan ada kereta kencana dengan kuda-kuda putih turun dari surga. Dan kabun dingin dalam tubuhku membuatku serasa begitu ringan mengambang melayang-layang di kesejukan semesta yang tak berbatas. Saat itulah, ditengah hingar bingar bermacam suara ketika beberapa orang mulai muntah tetapi masih saja terus tertawa-tawa, aku merasakan sepasang mata menatapku penuh gelora. Sepasang mata yang menggerayangi seluruh tubuhku, tanpa perlu menyentuh. Lalu ketika puluhan pasangan mulai bertumbangan terkapar setengah telanjang, kulihat dia duduk di atas meja bertelanjang dada dengan kedua tangan bersilang dan bersidekap, bagai pertapa yang abai pada keriuhan dunia. Dia seperti menyihirku dengan pesonanya. Dia seperti memahami gairah dan kesepianku. Caranya memandangiku, seolah-olah ia mempersembahkan hidupnya untuk kunikmati.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Sejak itulah, cara Maya tertawa atau merajuk mulai menjadi bagian kisah tersendiri dalam hidupku. Aku suka caranya tertawa. Seakan-akan dia ia bisa mengatasi semua persoalan, cukup hanya dengan tertawa. Aku juga suka pada caranya menikmati orgasme: seluruh tubuhnya meregang, hingga perutnya menjadi pipih dan mengencang, dan punggungnya melengkung seperti pelangi. Dan seperti kubilang, ia sering muncul begitu mengejutkan. Tahu-tahu ia sudah berdiri di sudut kamar mandi, memandangiku yang lagi masturbasi. Tiba-tiba desah suaranya muncul di telepon, menjilati daun telingaku. Atau terkadang aku begitu kaget mendapatinya sudah menggeliat di bawah selimut, mendesis-desis, kemudian mulai menghisap dan menjilatiku. Caranya bercinta selalu mengagetkan, seperti petasan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tetapi semua itulah yang barangkali sering membuatku tekejut, dan termangu setelahnya. Selalu aku merasakan kelengangan yang panjang, setelah ledakan petasan itu menghilang. Aku hanya mendengar suara langkahnya yang pelan, menjauh. Gema suara tawanya yang bagai tertanam dalam kaca, hingga aku sering melihatnya berkelebat di sana. Dan aku, seperti saat ini, hanya bisa berbaring diusik perasaan asing. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;">Aku kaget ketika </span><em>handphone</em><span style="font-style:normal;"> di meja berbunyi. Dari nada </span><em>ring tone</em><span style="font-style:normal;">-nya aku sudah tahu itu telepon dari siapa. Aku malas menerimanya. Tetapi </span><em>handphone</em><span style="font-style:normal;"> itu terus menjerit-jerit seperti kanak-kanak yang minta diperhatikan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Ada apa?” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Ada apa! Aku cuma mau ngingetin, nanti siang kamu mesti temenin Bettita. Ketemu di mall ajah langsung! Halo?! Halo! Kamu udah hidup kan? Dasar kampret. Pasti semalam kamu keluyuran. Jangan lupa nanti temenin Bettita!”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku menguap sebal. Itu telepon dari Dona, istriku.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;text-align:center;">***</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;"><strong> “PAPA!”</strong> riang teriakan Bettita menghambur ke arahku. Yap! Aku mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian menciuminya gemas. Inilah saat-saat aku merasakan hidup begitu berharga. Bettita diantar sopir dan ditemanin </span><em>baby sitter</em><span style="font-style:normal;">-nya. Aku malah suka, dari pada ia datang datang bersama mamanya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Puter-puter dulu atau langsung makan, sayang?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Makan ajah dulu. Betita udah laper.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;"> Bettita minta ke Izzy Pizza. Agar aku bisa lebih punya waktu bersama Bettita, </span><em>baby sitter</em><span style="font-style:normal;"> itu kusuruh pulang duluan sama sopir. “Biar nanti aku yang anter Betita ke rumah…”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Bettita selalu membuatku merasa masih memeiliki kebahagiaan. Keriangannya membuatku menyukai saat-saat bersamanya setiap akhir pekan seperti ini. Betapa pun, Bettita menjadi semacam ingatan, betapa aku pernah menikmati perkawinan yang menyenangkan, sebelum akhirnya aku cerai dengan Dona, dua tahun lalu.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;"> Aku tak pernah risau dengan perceraian itu. Karena aku sendiri menganggap perkawinan kami hanya menjadi semacam formalitas. Aku tak terlalu perduli, apakah Dona benar-benar menyintaiku atau tidak. Waktu itu, aku merasa perkawinan adalah salah satu jalan untuk menepis gunjingan. Seakan-akan aku hanya ingin membuktikan, bahwa aku bisa kawin, punya anak, dan </span><em>bla bla bla</em><span style="font-style:normal;">… Atau mungkin juga karena aku ingin mengingkari kenyataan – dan terlebih perasaanku – dengan cara memasuki perkawinan. Seperti seseorang yang ingin melupakan sesuatu yang selalu merisaukannya dengan cara menyibukkan diri. Dan perkawinan, kufikir, bisa menjadi semacam kesibukan untuk melupakan kerisauanku itu. Meski pun terkadang aku merasakannya lebih sebagai sebuah pengingkaran: seperti pecundang yang melarikan diri dari seseuatu yang tak mau diakuinya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Sampai pada akhirnya pecundang itu tak lagi bisa terus-menerus melarikan diri. Tak bisa terus-menerus menyembunyikan diri. Ia tersiksa menjadi seorang yang terus-terusan munafik. Hingga akhirnya ketahanannya meledak. Dan Dona hanya terbelalak ketika aku mengakuinya, bahwa aku tak pernah bisa benar-benar mencintainya. Bahwa perkawinan ini hanyalah tempat aku menyembunyikan diri.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Bagaimana mungkin kamu melakukan semua ini? Bahkan sampai kita punya Bettita?!” Dona gemetar tak percaya, saat aku mengatakan semuanya. Aku bisa merasakan tatapannya yang penuh kebencian, karena selama ini merasa dipermainkan. “Aku tak pernah menyangka kalau selama ini kamu menganggap perkawinan kita hanya seperti itu. Bagimu perkawinan ini menjadi tempat persembunyian, bagiku tak lebih lubang kehancuran…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Dan kami bercerai. Perceraian yang berlangsung lancar, dan baik, kurasa. Aku masih diijinkan bertemu Bettita setiap hari Minggu, bila aku atau Bettita pingin ketemu. Bagaimana pun aku berterimakasih, karena Dona mau memahami. Meski ia tetap tak bisa menghilangkan perasaan jijiknya padaku. Karena itulah, aku lebih suka bertemu Bettita, tanpa harus disertai mamanya. Hanya lebih karena tak ingin pertemuan kami berlangsung kaku, karena ekspresi Dona yang tak kunjung bisa menghadapiku tanpa perasaan sebal. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Perceraian, bagaimana pun selalu tak mengenakkan. Tapi bagiku terasa membebaskan. Membebaskan? Dari apa? Entahlah. Toh aku masih saja terus diusik kebimbangan. Merasakan saat-saat yang asing dan gamang, seperti ketika aku memandang Maya yang telentang telanjang di ranjang…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Maya datang memhampiri seluruh kerisauanku. Dia datang dengan segenap pesona dan keanggunannya. Dia muncul…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Hai…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Aku kaget disapa tiba-tiba. Maya! Nyaris aku tak bisa menguasai kegugupanku.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Lagi jalan-jalan?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;"> Aku tersenyum. Lalu melirik ke arah beberapa orang yang memandang ke arah maya. Maya memang akan jadi pusat perhatian, lebih-lebih di tempat keramaian seperti ini. Aku terkesan dengan penampilannya:  memakai setelan </span><em>two-pieces</em><span style="font-style:normal;">, perpaduan celana cokelat lembut berbahan </span><em>crepe</em><span style="font-style:normal;"> dan atasan model </span><em>blues</em><span style="font-style:normal;"> yang potongan kerahnya bergaya sabrina, tapi hanya sedikit terbuka, memperlihatkan satu bahunya yang bersih. Pertemuan yang mengejutkan. Pertemuan yang tak kusangka-sangka. Jujur saja, aku tak pernah membayangkan akan bertemu maya di keramaian seperti ini. Seperti ada yang ingin cepat-cepat aku sembunyikan…</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Saat itulah Bettita berlarian riang, muncul dari arah toilet. “Papa…” Dan anak itu seketika berdiri mematung memandangi Maya. Aku bisa menangkap kelebat keheranan dalam wajah Bettita. Begitu lama dia memandangi Maya, yang berdiri di hadapanku. Sedang aku mencoba menghindari tatapan Maya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Ini Bettita. Anakku…” Aku tarik Bettita mendekat. “Sini sayang… Beri salam ama Tante Maya…” Lidahku seperti terbelit, nyaris kegigit, ketika mengucapkan ‘Tante Maya’. Ganjil kedengarannya…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Cara Bettita menatap Maya, membuatku tak bisa mengatasi suasana. Aku tak tahu, apakah Bettita terpesona oleh penampilan Maya, atau ia merasa heran dengan sosoknya…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;text-align:center;">***</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><strong>KAMI </strong>terus diam, meluncur dalam hujan. Aku menyetir, dan Maya bersandar memandang ke arah jalanan yang terlihat aneh dengan cahaya lampu-lampu yang terlihat seperti meleleh. Sudah hampir tiga jam kami hanya berputar-putar. Dan aku makin gelisah melihat Maya terus diam.Kurasakan hujan seperti serpihan kepedihan, menyimpan galau yang tertahan. Seakan ada yang ingin dibangkitkan oleh hujan. Kami terus meluncur pelan dalam diam…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kamu marah?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Maya hanya menggeliat, terus menatap ke arah jalan. Apa yang ia lihat dalam kelambu hujan?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Boleh aku merokok?” Akhirnya ia bersuara.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Sikapnya yang formal dan penuh kesopanan malam membuatku kian merasa terpojokkan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:small;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;">Dan dia merokok, setelah sebelumnya memencet angka pada </span><em>tape</em><span style="font-style:normal;"> mobil, hingga nomor lembut </span><em>Insensatez</em></span><em><sup><span style="font-size:x-small;"><a class="sdfootnoteanc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></span></sup></em><span style="font-style:normal;"><span style="font-size:x-small;"> kembali mengalun. Terdengar bening dantara kucuran hujan, seakan ingin melintasi malam. Dia sangat suka komposisi lagu ini. Maya memang menyukai bossa nova. Aku selalu ingat pada apa yang pernah ia katakan, “Selalu kurasakan ketengan dalam kelembutannya…”. Dan ia pun bercerita, betapa dia selalu memimpikan hidupnya mengalir seperti sebuah bossa nova. Tak terlalu banyak kejutan, seperti jazz. Karena itulah, aku terkadang begitu heran, kenapa ia bisa begitu penuh fantasi ketika bercinta…</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;">Tidak seperti </span><em>bossa nova</em><span style="font-style:normal;"> yang aku bayangkan, ternyata kamu penuh kejutan…” dia mendesah, menghembuskan rokok, terus memandang ke depan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Maafkan soal Bettita…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Bukan itu soalnya.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Lantas?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Tapi bahwa kamu menikah…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;"><em>Pernah</em><span style="font-style:normal;"> menikah…”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Apa bedanya?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Setidaknya aku mencoba berani mengambil keputusan. Setidaknya aku telah berani mencoba untuk mengakui.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Mengakui apa?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku diam.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Hujan perlahan menyusut. Jalanan berkilatan di bawah luapan cahaya yang kini terlihat bening dan segar.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Bisakah kita tak usah bertengkar?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Apa aku kelihatan ingin bertengkar?” dia balik bertanya, kini menatapku. “Kamu menginginkan hubungan kita berjalan nyaman, begitu? Tidak! Yang kamu inginkan bukanlah perasaan nyaman, tapi sesuatu yang tersembunyi dengan aman. Kamu ingin hubungan kita berlangsung diam-diam. Karena kamu masih terus ingin sembunyi. Kamu tak pernah mengambil keputusan. Kamu tak pernah berani mengakui. Perceraian itu tidak membuktikan kamu telah melakukan apa-apa…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku melihat kesedihan yang pecah dalam matanya. Ada yang tak terucapkan, tetapi aku jadi kian memahami raut wajahnya yang kini murung. Garis alisnya yang rapi. Lipstik merah marun pada bibirnya yang gemetar. Dan selalu, aku merasakan selubung rahasia, yang tak pernah berani aku buka. Tak pernah dengan berani aku memasukinya, setidaknya hingga saat ini.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Aku memang tak pernah menginginkan kamu melakukan apa yang belum berani kamu lakukan. Meski aku selalu ingin membuktikan, betapa aku memang mencintaimu.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Aku juga mencintaimu…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Dia tersenyum.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Sungguh!”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Andai kamu mengucapkan itu hanya untuk merayuku, aku sudah merasa bahagia.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Tapi aku memang mencintaimu…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Sungguh?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Sungguh…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Cium aku…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku menciumnya. Ia tertawa tiba-tiba.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kenapa?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Aku bisa merasakan getaran bibirmu… Kamu tidak mencintaiku. Kamu bernafsu padaku…” Dia mengatakan itu, seakan-akan ia memang bisa merasakan gairah seseorang dari ciumannya. Ia terus tertawa, dan mulai membuka retsleting celanaku.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Maya…” aku mendesah gugup.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Masuk tol…” ia memerintah, tak ingin dibantah. “Ayo!”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Dan kami meluncur melintasi sisa hujan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Tetap di lajur pelan…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Cahaya yang gemerlapan berlintasan. Aku merasakan lembab yang menekan. Lalu hujan mendadak kembali mengucur dengan deras. Kami meluncur pelan, menembus kelam, menembus hujan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Jangan, Maya…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tapi dia sudah memelorotkan celanaku.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Keredap hujan, seperti mengetuk-ngetuk kesunyian. Kenapakah kita bisa begini merasa sunyi? Aku seperti terkurung bayangan malam yang dilapisi kaca yang sedikit berkabut. Andaikan hidup memang seperti bossa nova yang lembut…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Kemudian kami kembali diam. Dengan pelan Maya membersihkan mulutnya dengan tissue. Seperti ingin mengapus dusta dari mulutnya. Mobil terus menembus hujan dan kerisauan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Turunkan aku sekarang…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kita ke bar saja.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Tidak. Aku mau turun sekarang.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Hujan masih begini deras.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Tak apa. Kita pisah sekarang saja…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Maya…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Aku selalu menyiapkan diri untuk menghadapi saat-saat seperti ini. Karena aku yakin, semua orang yang aku cintai pada akhirnya memang akan pergi…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kamu salah, Maya…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Mungkin. Tapi aku selalu berani menghadapi pilihan yang salah sekali pun. Sekarang turunkan aku…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku ingin memaki ketololanku ketika akhirnya mobil berhenti. Maya tersenyum, dan mencium bibirku lembut. Masih kurasakan asin rasa sperma yang masih lengket di sela bibirnya. Dan dengan cepat ia keluar.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Hujan begitu deras. Dari balik kaca mobil yang gelap aku melihat bayangan Maya menjauh. Dia kemudian berhenti, menoleh ke arahku. Tubuhnya tampak pucat diguyur hujan dan cahaya lampu jalan. Aku ingin mengejar. Dan Maya seperti berdiri di bawah cahaya itu untuk menungguku keluar mobil, mengejarnya. Tapi aku hanya membenamkan tubuh dalam kebimbanganku. Lalu aku melihat tubuh maya yang pecat perlahan-lahan memudar. Dalam pendaran bening hujan karena sinar lampu jalan, tubuh Maya perlahan-lahan memudar, kemudian pecah seperti plasma cahaya..</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-style:normal;">PENYANYI itu menembangkan </span><em>Misty</em><span style="font-style:normal;">, sembari sesekali memandang ke arahku yang duduk di dekat bar. Sudah sebulan ini aku selalu datang ke bar ini, memesan lagu yang itu-itu juga, sambil berharap bertemu dengan Maya. Di bar ini Maya biasanya nongkrong. Dia pernah bilang, bar ini telah menjadi rumahnya. Tempat dia bisa bertemu teman-teman sehati. Tapi Maya tak pernah muncul, sejak malam berhujan itu, dan aku melihatnya lenyap menjelma plasma cahaya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><em> Loot at me,</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><em> I’m helpless as a kittet up a tree</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><em> An I feel like I’m clingin’ to a cloud,</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><em> I can’t understand</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><em> I get misty, just holding your hand</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku berharap menembut kabut keraguanku, aku berharap bertemu Maya. Bar masih sunyi – dan seperti akan terus sunyi dalam hatiku – hingga aku malah merasa seperti berada dalam musium tanpa pengunjung. Dan aku perlahan-lahan menjadi arca, masih saja tak bisa berdamai dengan riwayatnya. Hingga ia selalu tergegergap setiap kali berkaca mendapati gurat-gurat lelah yang selalu disembunyikannya. Mata yang kehilangan cahaya. Rahang yang kerontang. Lakrimal yang bagai ceruk dangkal. Dengan bayangan murun tentang rumah yang tenang dengan celoteh anak-anak yang riang. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Lagu itu selalu mengingatku pada Maya, karena di bar ini, suatu malam aku pernah terpesona ketika dia menyanyikannya. Aku mulai merasa betapa ada sesuatu yang memang lebih berharga ketimbang ciuman dan sentuhan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Andai aku berani mengakui. Andai aku bisa meyakinkan Maya. Tapi dia seakan-akan hilang ditelan hujan – dan setiap kali mengingat ini, aku menjadi kian merasa nestapa, karena kisah cintaku dengan Maya berakhir seperti sebaris lirik lagu pop murahan. Dan itu karena aku tak pernah berani mengakui mimpi-mimpiku. Sejak dulu. Sejak masa kanak-kanak. Aku berusaha mengingkarinya. Seperti ketika aku mengingkari mimpi-basah pertamaku. Aku masih selalu ingat, bagaimana aku tak pernah berani mengakui mimpi-basah pertamaku, ketika semua kawan bercerita tentang asyiknya mimpi-basah pertama mereka. Seorang kawan bercerita bagaimana dia bermimpi mencium teman sekelas yang diam-diam ditaksirnya Ada yang bercerita, ia mimpi mandi bersama Bu Guru mereka. Ada juga yang bermimpi didatangi bidadari, kemudian tergeragap bangun dengan rasa basah di celana. Aku lebih banyak diam mendengarkan. Tapi tak bisa mengelak ketika kawan-kawanku mendesak agar aku giliran bercerita. Sambil menunduk aku bercerita, kalau dalam mimpi basah pertamaku, aku bermimpi berciuman dengan seorang bintang film.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tentu saja, aku berdusta saat itu. Aku tak pernah berani bilang, kalau dalam mimpi basah pertamaku, aku bersenggama denga ayah…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Sejak itu, aku selalu risau untuk membunuh mimpi-mimpiku. Fantasiku. Aku tak kunjung berani mengakui orientasi seksualku. Sampai aku bertemu Maya, seorang waria yang benar-benar membuatku kasmaran dan jatuh cinta. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;font-style:normal;" align="right"><span style="font-size:small;"><strong>Yogyakarta, 2003-2004.</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify">
<div id="sdfootnote1">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><a class="sdfootnotesym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a> <em>Insensatez</em> atau (<em>How Insensitive),</em> judul<em> </em>satu 	komposisi berirama bossa nova<em> </em>yang dibuat oleh Antonio Carlos 	Jobin dan Vinicius de Moraes.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">(<strong>Catatan</strong>: cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen Agus Noor <em>Rendezvous </em>- <em>Kisah Cinta yang Tak Setia&#8230;</em>)</span></p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- AHMAD DHANI, MAIA, DAN CERPEN AGUS NOOR]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/ahmad-dhani-maia-dan-cerpen-agus-noor/</link>
<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 09:32:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/ahmad-dhani-maia-dan-cerpen-agus-noor/</guid>
<description><![CDATA[Ini waktu yang panjang untuk bermalas-malasan. Saya memutuskan untuk santai di de Click Kafe. Sekali]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Ini waktu yang panjang untuk bermalas-malasan. Saya memutuskan untuk santai di de Click Kafe. Sekalian berselancar gratisan dan liat-liat laman. Baru kemarin aku tiba, dan menyaksikan langit Yogyakarta yang tak terlalu ramah. Karena itu aku memerlukan sedikit gelak tawa dan omong kosong pembunuh sepi. Di de Click, saya kadang menemukan hal-hal yang lumayan mencerdaskan di antara berbagai bualan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Seperti bualan tentang artis, yang terasa menyedihkan di telinga. Lalu seseorang berkata, ketika gosip tentang Ahmad Dhani dan Maia merambat dari bibir merah televisi. “Aku jadi inget cerpenmu, Gus&#8230;” katanya. “Kamu seperti sudah meramalkan kisah perceraian mereka&#8230;”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Biasalah, lalu kami bicara bagaimana kini orang senang sekali pingin mengintip masa depan: ramal kartu tarot, bola kristal dan garis tangan, jadi gaya hidup. “Jangan-jangan penulis seperti kamu memang pinter menerawang masa depan juga? Cerpenmu itu kan kamu tulis sebelum ribut-ribut perceraian Dhani dan Maia ini&#8230;”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Adakah seorang pengarang berkehendak menuliskan masa depan, atau sekadar ingin menuliskan imajinasinya? Saya ingin berbagi, dan biarlah Anda membaca cerpen <a title="Potongan Cerita di Kartu Pos" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2007/12/20/potongan-cerita-di-kartu-pos/" target="_blank"><em>Potongan-potongan Cerita di Kartu Pos</em></a> itu sendiri&#8230;</span><!--more--></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-size:large;"><strong>POTONGAN-POTONGAN CERITA </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-size:large;"><strong>DI KARTU POS</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><a title="gambar7.jpg" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/03/gambar7.jpg"><img src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/03/gambar7.jpg" alt="gambar7.jpg" /></a><a title="gambar7.jpg" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/03/gambar7.jpg"></a></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-size:medium;">Cerpen Agus Noor</span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">SAYA mendapat beberapa kiriman kartu pos dari Agus Noor. Pada setiap kartu pos yang dikirimnya, ia menuliskan cerita &#8212; tepatnya potongan-potongan cerita &#8212; tentang Maiya. Berikut inilah cerita yang ditulisnya pada kartu pos-kartu pos itu:</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><br />
</span></p>
<div><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Pertama &#38; Kedua</strong></span></div>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">MAIYA terpesona melihat kemilau kalung manik-manik itu. Tak pernah Maiya melihat untaian kalung seindah itu. Pastilah dibuat oleh pengrajin yang teliti dan rapi. Ada juga anting-anting, bros dan gelang. Maiya menyangka semua perhiasan itu terbuat dari berlian. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Ini bukan berlian, Nyonya,” jelas perempuan itu. “Ini manik-manik airmata…” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Maiya memandangi perempuan yang duduk bersimpuh di hadapannya. Mungkin usianya sekitar 35 tahunan. Kulitnya kecoklatan. Bedak tipis sedikit memulas kelelahan di wajahnya. Memakai rok terusan kembang-kembang, terlihat kucel, dan malu-malu. Saat tadi muncul menenteng tas abu-abu, dan tak beralas kaki, Maiya menyangka perempuan itu hendak minta sumbangan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Sungguh, Nyonya. Ini butir-butir airmata yang mengeras. Kami menyebutnya biji-biji airmata. Seperti butiran beras kering berjatuhan dari kelopak mata…” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Perempuan itu pun terus bercerita, membuat Maiya makin terpesona.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Ketiga, Empat &#38; Lima </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">SAAT Maiya datang ke arisan memakai kalung manik-manik itu, semua terbelalak memuji penampilannya yang chic. Maiya melirik ke arah Andien yang muncul menenteng tas koleksi terbaru Hermés &#8212; tapi tak seorang pun memujinya. Semua perhatian tersedot kalung manik-manik yang dikenakan Maiya. Membuat Mulan yang memakai <em>bustier</em> dan rok <em>flouncy</em> Louis Vuitton hanya bersandar iri menyaksikan Maiya jadi pusat perhatian. Dengan penuh gaya Maiya bercerita soal kalung manik-manik yang dikenakannya. Dan semua berdecak mendengarnya. Begitulah yang dikatakan perempuan itu pada saya. Manik-manik ini berasal dari airmata. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Jadi itu manik-manik airmata?” tanya Mulan, terdengar sinis. “Jangan-jangan airmata buaya, ha ha…”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Andien ikut tertawa. Yang lain terus menyimak cerita Maiya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Lihat saja bentuknya, persis airmata yang menetes. Begitu halus. Bening. Berkilauan&#8230; Lebih indah kan ketimbang yang bermerek? Lagi pula gue emang nggak <em>brand minded,</em> kok!” Lalu Maiya melirik Mulan yang beringsut mengambil cocktail. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Dari jauh Andien dan Mulan memandangi Maiya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Ngapain juga mereka mau dengerin ceritanya yang nggak masuk akal itu,” cibir Mulan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Dia cuma cari perhatian, ujar Andien. Gue tahu kok, dia nggak bahagia. Sudah nggak lagi dapat perhatian. Dani mulai selingkuh&#8230;” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Mulan hanya mendengus.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Keenam </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">DANI hanya tertawa ketika Maiya memperlihatkan kalung manik-manik itu.<br />
“Di Tanah Abang juga banyak,” komentarnya pendek, sambil mematut diri di depan kaca, menyemprotkan parfum. Baru dua jam Dani balik ke rumah, kini hendak keluar lagi. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Ini beda. Lihat deh…” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Sorry, aku mesti pergi. Lembut Dani mencium kening Maiya. Maiya ingin menahan. Ingin bercerita, betapa sejak ia punya kalung itu ia selalu mendengar suara tangis yang entah dari mana datangnya. Suara tangis yang bagai merembes dari dalam mimpinya. Tangis yang selalu didengarnya setiap malam, saat ia tidur sendirian. Maiya ingin menceritakan itu semua, tapi Dani sudah tergesa keluar menutup pintu kamar. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Ketujuh </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">MOBIL meluncur pelan di bawah gemerlap malam. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Tadi gue iri ama Maiya. Dia pakai kalung manik-manik. Bagus banget. Katanya terbuat dari airmata.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Ha ha.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Kamu beliin, ya?” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Nggak.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Beli di mana?” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Aku nggak beliin!” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Kok aku nggak dibeliin?”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Masa kamu nggak percaya. Aku bener-bener nggak beliin!” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Mulan diam, memandang jalanan yang bermandi cahaya. Segalanya terlihat berkilauan. Kota seperti akuarium raksasa yang digenangi cahaya. Dan ia seperti mengapung kesepian di dalamnya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Apa Maiya ngerasa soal kita, ya?” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Dani hanya diam, melirik Mulan yang bersandar di sampingnya. Sementara mobil terus meluncur pelan di bawah gemerlap malam. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Kedelapan, Sembilan, Sepuluh &#38; Sebelas </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">SUARA tangis itu mengalir menggenangi mimpinya. Dari segala penjuru, airmata mengalir membanjir menenggelamkan kota. Maiya seperti berada di kota bawah laut. Mobil-mobil menjelma terumbu karang. Orang-orang terlihat seperti ganggang. Suara tangis terus merembes dari gedung-gedung yang penuh lumut. Suara tangis itu juga menjelma gelembung-gelembung air yang keluar dari selokan yang mampet. Maiya menyelam bagai putri duyung dalam dongeng. Ia melihat suaminya terapung seperti gabus. Ia melihat kedua anak kembarnya menjelma ubur-ubur. Airmata telah menenggelamkan kota! </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Dan di puncak Monas yang telah tenggelam dalam linangan airmata, Maiya melihat seorang penyair berdiri membaca puisi. Tanah airmata tanah tumpah dukaku. Mata air airmata kami. Airmata tanah air kami… Di sinilah kami berdiri, menyanyikan airmata kami… Kemana pun melangkah, kalian pijak airmata kami… Kalian sudah terkepung, takkan bisa mengelak, takkan bisa ke mana pergi. Menyerahlah pada kedalaman airmata kami&#8230;<a class="sdfootnoteanc" title="sdfootnote1anc" name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a> Suaranya perlahan meleleh dan mencair, menjelma gelombang airmata. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Saat tergeragap bangun, Maiya mendapati tubuhnya kebah. Suara tangis yang mengapung itu masih didengarnya. Maiya mengira itu tangis anaknya. Tapi ia mendapati Faizi dan Fauzi tertidur tenang di kamarnya. Tangis itu merembes dari balik dinding dan menggenangi ruangan. Maiya tercekat ketika memandangi kotak perhiasan di atas meja, di mana ia menyimpan kalung manik-maniknya. Tangis itu datang dari kotak perhiasan itu, seperti muncul dari gramafon tua. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Gemetar tak percaya, Maiya kembali naik ke tempat tidurnya. Lalu menyadari, tak ada Dani di ranjang. Perlahan ia mulai terisak. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Keduabelas, Tigabelas &#38; Empatbelas </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">HAMPIR setiap malam aku mendengar tangis itu,” Maiya bercerita sambil bersandar ke pundak Andien. “Mungkin itu memang airmata purba yang berabad-abad terpendam dan menjadi fosil. Menjadi batu granit. Lalu mereka membikinnya jadi kalung manik-manik.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Andien tersenyum, kemudian mengecup bibir Maiya pelan. Berciuman dengan Maiya seperti menikmati <em>mayonnaise</em> yang lembut dan gurih. Andien memandangi wajah Maiya yang mengingatkannya pada roti tawar yang diolesi mentega. Bertahun-tahun diam-diam menjalin hubungan dengan Maiya membuat Andien mengerti, saat ini Maiya membutuhkannya untuk menjadi seorang pendengar. Aroma chamomile yang menguar dalam kamar membuat Maiya perlahan lebih rileks. Andien tahu, Maiya belakangan makin terlihat rapuh. Mungkin karena perkawinannya dengan Dani yang sedang bermasalah, tapi berusaha ditutup-tutupi. Dan soal kalung manik-manik yang selalu dikatakannya terbuat dari airmata itu hanya kompensasi untuk menutupi kegelisahannya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Apa kamu juga nggak percaya?” Maiya menggeliat, menatap Andien. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Mungkin itu memang manik-manik airmata. Kenapa tak kau buktikan saja sendiri? Kamu bisa cari alamat perempuan itu.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Maiya mendekatkan kalung manik-manik itu ke telinga Andien, “Dengerin, deh..” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Andien merinding, ketika ada dingin yang mendesir, dan ia seperti mendengar isak tangis keluar dari kalung manik-manik yang berkilauan itu. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Kelimabelas &#38; Enambelas </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">INI perjalanan paling aneh, seperti mencari alamat yang tak ada dalam peta. Jalanan yang becek penuh lubang membuat mobil tak bisa masuk ke perkampungan itu. Bau kayu busuk dan tai kerbau membuat perut mual. Seseorang menunjuk arah yang ditanyakan Maiya dan Andien. Rumah itu reyot nyaris ambruk. Seperti semua rumah di perkampungan ini. Atap-atap rumbia yang melorot terlihat kelabu tertutup debu. Maiya meyakinkan diri, betapa ia tidak memasuki ruang dan waktu yang salah. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Sungguh, Maiya tak pernah menyangka bahwa ada tempat sebegini kumuh dan terbelakang. Ini dunia yang tak pernah ia lihat dalam majalah-majalah <em>life style</em> yang selalu dibacanya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Kita masih di Indonesia, kan?” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Andien nyaris tertawa mendengar perkataan Maiya. Tapi ia langsung menutup mulut ketika puluhan anak-anak kurus kumuh berperut buncit memandanginya dengan tatapan nanar. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Ketujuhbelas, Delapanbelas &#38; Sembilanbelas </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">MAIYA dan Andien duduk di bale-bale, mendengarkan laki-laki tua itu bercerita. Maiya segera tahu, laki-laki itu adalah yang dituakan di kampung ini. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Kalian lihat sendiri anak-anak di sini. Kurus karena busung lapar. Bayi-bayi lahir sekarat. Ibu-ibu tak lagi bisa menyusui. Susu mereka kering. Kelaparan mengeringkan semua yang kami miliki. Mengeringkan airmata kami. Sudah lama kami tak bisa lagi memangis. Buat apa menangis? Tak akan ada yang mendengar tangisan kami. Bahkan begitu lahir, bayi-bayi di sini tak lagi menangis. Kami terbiasa menyimpan tangis kami. Membiarkan tangis itu mengeras dalam kepahitan hidup kami. Mungkin karena itulah, perlahan-lahan tangisan kami mengristal jadi butiran airmata. Dan pada saat-saat kami menjadi begitu sedih, butir-butir airmata yang mengeras itu berjatuhan begitu saja dari kelopak mata kami. Laki-laki tua itu menarik nafas pelan. Kalian lihat sendiri&#8230;” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Maiya melihat ke pojok yang ditunjuk laki-laki tua itu. Di atas dipan tergolek bocah berperut busung. Tangan dan kakinya kurus pengkor. Mulutnya perot. Tulang-tulang iga bertonjolan. Matanya kering. Dan Maiya terpana ketika menyaksikan dari sepasang mata bocah itu keluar berbutir airmata. Seperti biji-biji jagung yang berjatuhan dari sudut kelopaknya yang bengkak. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Begitulah, kami mengumpulkan butian-butiran airmata kami. Kemudian kami menguntainya jadi bermacam kerajinan dan perhiasan. Dengan menjual manik-manik airmata itu kami bisa bertahan hidup.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Andien meremas tangan Maiya yang terdiam memandangi butir-butir airmata yang terus keluar dalam kelopak mata bocah itu. Terdengar bunyi <em>kletik… kletik</em>… ketika butir-butir airmata itu berjatuhan ke dalam baskom yang menampungnya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Keduapuluh </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">MALAM itu Maiya sendirian dalam kamar. Sudah dua hari Dani tak pulang. Rasanya ia ingin menangis. Tapi ia hanya berbaring gelisah di ranjang. Sesekali ia melirik ke meja riasnya, di mana tergeletak kalung manik-manik airmata itu. Ia kini mengerti, mengapa setiap malam ia mendengar suara tangis yang bagai menggenangi kamar. Setiap butir manik-manik airmata itu memang menyimpan tangisan yang ingin didengarkan. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Alangkah lega bila bisa menangis, desah Maiya sembari memejam mendengarkan lagu yang mengalun pelan dari stereo set yang ia putar berulang-ulang. Menangislah bila harus menangis&#8230;<a class="sdfootnoteanc" title="sdfootnote2anc" name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a> Sudah berapa lamakah ia tak lagi menangis? Mungkinkah bila ia terus menahan tangis, airmatanya juga akan membeku menjadi manik-manik airmata?</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;"><strong>Kartu Pos Terakhir </strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">KETIKA Maiya tertidur, ia merasakan ada bebutiran airmata perlahan jatuh bergulir dari pelupuk matanya yang membengkak…</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;">*** </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">TIGA bulan setelah menerima kartu pos terakhir, saya mendapat kiriman paket. Isinya kalung manik-manik yang begitu indah. Pada secarik kertas, Agus Noor menulis: <em>Ini kalung manik-manik airmata Maiya.</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Saya meremas surat itu, dan membuangnya. Saya pikir, setelah bercerai dengan Maiya, saya tak akan diganggu hal-hal konyol macam ini. Benarkah ini manik-manik airmata Maiya? Saya pandangi kalung manik-manik itu. Memang bentuknya seperti butiran airmata yang mengeras. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Mulan muncul dari dalam kamar, dan melihat kalung manik-manik yang tengah saya pandangi.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Apa tuh, Dan?” </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> “Ehmm&#8230;” Saya tersenyum, memeluk pinggang Mulan. “Ini aku beliin kalung buat kamu.”</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-size:x-small;"><strong>Jakarta, 2006</strong></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><strong>Catatan Kutipan:</strong></span></p>
<div>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><a class="sdfootnotesym" title="sdfootnote1sym" name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a>Dikutuip 	dari puisi “Tanah Airmata”, karya Sutardji Calzoum Bachri</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><a class="sdfootnotesym" title="sdfootnote2sym" name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a> Lagu “Airmata”, album <em>Cintailah Cinta </em>Dewa </span></p>
</div>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- TUKANG JAHIT]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/tukang-jahit/</link>
<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 08:02:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/03/22/tukang-jahit/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen Agus Noor Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Seolah muncul begitu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="margin-bottom:0;"><a title="lukisan2.jpg" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/03/lukisan2.jpg"><img src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/03/lukisan2.jpg" alt="lukisan2.jpg" /></a></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-size:medium;"><strong>Cerpen Agus Noor</strong></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tukang jahit itu selalu muncul setiap kali menjelang Lebaran. Seolah muncul begitu saja ke kota ini. Kata orang, ia tak hanya bisa menjahit pakaian. Ia juga bisa menjahit kebahagiaan. Tukang jahit itu punya jarum dan benang ajaib yang bisa menjahit hatimu yang sakit. Jarum dan benang, yang konon, diberikan Nabi Khidir dalam mimpinya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"> Ibu pernah bercerita, betapa dulu, setiap menjelang Lebaran, kota ini selalu didatangi banyak sekali tukang jahit. Kemunculan mereka selalu menjadi pemandangan yang menakjubkan, Nak. Ketika cahaya matahari pagi yang masih lembut kekuningan menyepuh perbukitan dan halimun perlahan-lahan menyingkap, kau bisa menyaksikan serombongan tukang jahit yang masing-masing memikul dua kotak kayu berbaris muncul dari balik lekuk bukit. Kanak-kanak akan berlarian senang menyambut kemunculan mereka, “Tukang jahit datang! Asyiik! Lebaran jadi datang!” Seakan-akan bila para tukang para jahit itu tak muncul maka Lebaran tidak jadi datang ke kota ini.</span><!--more--></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Di hari-hari menjelang Lebaran itulah, Nak, kota akan terlihat penuh tukang jahit yang berkeliling menawarkan menjahitkan pakaian. Mereka menggelar dasaran di trotoar, di pojokan jalan, di keteduhan pepohonan, di emper pertokoan. Mereka mengeluarkan mesin jahit lipat dari dalam kotak yang dibawanya; menata bundelan-bundelan benang, jarum dondom dan jarum pentul, gunting, silet, mangkuk-mangkuk berisi kancing warna-warni, meletakkannya di atas kotak kayu yang digunakan sebagai meja. Para penduduk antri menjahitkan pakaian dan hiruk dalam keramaian menyambut Lebaran. Anak-anak berceloteh riang tentang baju baru yang akan mereka kenakan.</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Selalu menyenangkan memperhatikan tukang jahit itu bekerja, Nak. Seperti menyaksikan tukang sulap, yang mampu mengubah kain-kain warna-warni menjadi baju-baju indah dalam sekejap. Mereka duduk bersila menggerakkan engkol mesin jahit dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya lincah dan cepat mengarahkan pola potongan kain yang dijahit. Kau akan mendengar gema mesin jahit yang terus bergemeretak hingga larut malam. Serasa ada gema burung pelatuk di mana-mana. Karena para tukang jahit itu mesti menyelesaikan semua jahitan sebelum hari Lebaran. Dan di malam takbiran, para tukang jahit itu tampak bergegas keluar kota. Seperti kemunculannya yang entah dari mana, para tukang jahit itu pun menghilang entah ke mana. Begitulah, Nak, selalu, dari tahun ke tahun, para tukang jahit itu muncut setiap kali menjelang Lebaran, dan menghilang di malam takbiran.</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tapi semakin lama kian menyusut tukang jahit yang muncul ke kota ini. Entahlah, Nak. Mungkin banyak dari tukang jahit itu yang mati. Mungkin juga mereka memilih berhenti jadi tukang jahit. Atau mereka tak mau lagi datang, karena makin lama makin banyak warga yang malas menjahitkan pakaian pada tukang jahit-tukang jahit itu. Sejak banyak toko <em>fashion</em>, <em>vactory outlet</em>, butik dan pusat perbelanjaan di kota ini, orang-orang lebih suka membeli pakaian jadi. Tak ada lagi keriuhan suara mesin jahit di kota ini setiap menjelang lebaran. Zaman, barangkali, memang mengubah selera, Nak. Maka, para tukang jahit yang masih muncul pun lebih banyak menghabiskan waktu mereka dengan melinting dan mengisap tembakau. Mereka hanya duduk-duduk tanpa mengerjakan jahitan, memandangi orang-orang yang lalu lalang keluar masuk pusat perbelanjaan menenteng tas-tas belanjaan berisi pakaian. Mungkin para tukang jahit itu merasa betapa kota ini tak lagi membutuhkan mereka, lalu mereka memilih mendatangi kota-kota lain yang masih mau menerima kedatangannya. Entahlah, Nak. Yang jelas sudah sejak lama, setiap menjelang Lebaran, tak ada lagi pemandangan menakjubkan arak-arakan serombongan tukang jahit yang muncul di kota ini. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tinggal tukang jahit itu, satu-satunya tukang jahit, yang masih muncul di kota ini. Ia seperti laskar terakhir prajurit yang terusir. Berjalan keliling kota menawarkan jahitan. Tapi ia lebih sering terlihat di sudut dekat gang kecil agak di pinggiran kota. Menisik dan menjahit. Perawakannya kurus, kulitnya seperti kulit mahoni yang menua, tak banyak bicara, dan wajahnya seperti rahasia yang tak mau dibuka. Memang tak banyak lagi orang yang mau menjahitkan pakaian padanya, Nak, tapi kau lihat, selalu saja ada orang yang datang padanya. Dan itu karena ia tak hanya pintar menjahit pakaian, tetapi juga kebahagiaan. Orang tak hanya menginginkan baju baru saat Lebaran, Nak. Tapi juga ingin bahagia di saat Lebaran. Bila ada orang sedih yang datang padanya, maka tukang jahit itu akan menjahit hati orang yang lagi sedih itu. Kau tahu, Nak, di tangan tukang jahit itu, kebahagiaan yang robek dan koyak menjadi seperti selembar kain lembut yang bisa dijahit kembali. Ia menjahitnya dengan rapi, halus, dan membuat orang-orang itu merasa tentram. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Ibu pernah menggendongmu datang ke tukang jahit itu, Nak. Delapan lebaran lampau. Kau masih empat tahun saat itu. Mungkin kau tak ingat. Saat itu Ayahmu baru meninggal, tiga bulan sebelum Lebaran. Ibu merasa kesepian dan sedih membayangkan Lebaran tanpa Ayahmu. Lalu diantar Pamanmu, Ibu mendatangi tukang jahit itu. Ia sempat mengelus rambutmu. Ia menjahit luka hati ibu, Nak. Di dada sebelah sini. Rabalah, begitu halus. Tak bertilas. Tak berbekas. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Lalu Ibu bercerita tentang jarum dan benang yang dimiliki tukang jahit itu. Kau tahu, Nak, Nabi Khidir muncul dalam mipinya suatu kali. Memberi tukang jahit itu segulung benang dan jarum. Benang itu tipis dan bening, seperti senar, tetapi lebih lembut dan halus. Kau bisa melihatnya, tetapi tak bisa menyentuhnya. Benang yang tak akan habis bila dipakai untuk menjahit seluruh pakaian yang ada di dunia ini. Dan jarum itu, Nak, kadang tampak memancarkan cahaya lembut ketika dipegangi tukang jahit itu. Dengan jarum dan benang itulah tukang jahit itu menjahit kembali kebahagiaan orang-orang… </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;">***</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Begitulah, dari tahun ke tahun, selalu kulihat tukang jahit itu muncul di kota ini setiap kali menjelang Lebaran. Cerita Ibu hanyalah salah satu cerita dari banyak cerita yang kudengar tentang tukang jahit itu. Ada yang mengatakan, ia sebenarnya tinggal di balik bukit itu. Tapi cerita lain membantahnya. Kisah tentang kampung para penjahit juga pernah aku dengar. Sebuah kampung, yang seluruh penghuninya adalah tukang jahit. Di kampung itulah ia tinggal. Namun sudah berpuluh tahun lalu kampung itu lenyap. Seluruh tukang jahit yang tinggal di kampung itu mati oleh wabah yang tak pernah diketahui apa. Hanya ia, tukang jahit itu, satu-satunya yang selamat. Itulah sebabnya, kini ia satu-satunya tukang jahit yang masih muncul ke kota ini. Yang lain bilang kalau ia memang sempat bertemu Nabi Khidir, dan menjadi muridnya. Ia tingal di sebalik cakrawala, di sebuah perbatasan antara hidup dan kematian. Ia tinggal di sana, sepanjang hari memintal benang kesabaran. Benang yang dipintal dari bulu-bulu sayap malaikat. Dengan benang itulah ia ditugaskan oleh Nabi Khidir untuk menjahit hati orang-orang yang sedih menjelang Lebaran. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Semua cerita itu sesungguhnya tak pernah menjelaskan tentang tukang jahit itu, malah makin menyelimutinya dengan misteri. Ia sendiri tak pernah mau bercerita tentang dirinya. Kemunculannya selalu dalam diam. Nyaris tanpa suara berkeliling memikul dua kotak kayu yang membuat jalanya jadi agak membungkuk. Aku ingat, sewaktu kanak, aku dan kawan-kawan sepermainan kerap mengikuti di belakangnya sambil berteriak-teriak, seakan meledek tukang topeng monyet keliling. Dan tukang jahit itu tetap saja diam. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Agak di pinggiran kota ada gang buntu kecil yang letaknya di tikungan jalan. Gang yang rindang dan lengang meski ada juga beberapa lapak penjual barang loakan. Di pojokan gang itulah tukang jahit itu selalu menggelar dasaran dan istirahat. Menjahit dan tidur di situ selama hari-hari menjelang Lebaran. Tak pernah bercakap ia dengan para penjual loakan disitu. Tak banyak juga orang yang mendatanginya. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Tapi dari Lebaran ke Lebaran semakin banyak saja orang-orang yang datang ke tukang jahit itu. Cerita tentang jarum dan benang ajaib itu mungkin membuat banyak orang penasaran. Tapi barangkali pula karena dari Lebaran ke Lebaran memang semakin banyak orang yang kian tenggelam dalam kekecewaan. Mereka ingin menjahitkan kekecewaan mereka pada tukang jahit itu. Mereka antri agar bisa menikmati kebahagiaan Lebaran.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><span style="font-size:x-small;">***</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Menjelang Lebaran ini, kulihat antrian itu sudah sedemikian mengular panjang memacetkan jalanan. Rasanya, inilah antrian terpanjang yang pernah kulihat di kota ini. Padahal tukang jahit itu belum lagi muncul! Mereka tampak sudah tak sabar menunggu kemunculan tukang jahit itu. Mereka sudah menunggu sejak dini hari, bahkan ada yang sudah menunggu berhari-hari.</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Saat melintas sepulang belanja kue penganan dan pakaian buat Lebaran, anakku memandang heran antrian itu. Karena banyaknya antrian yang meluber hingga ke tengah jalan, aku menjalankan mobil pelan-pelan. Dari radio terdengar nyanyian riang: <em>Lebaran sebentar lagi&#8230;</em></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Sedang antri apakah orang-orang itu, Ayah?” </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Mau menjahitkan…” </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Menjahitkan pakaian?”</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Bukan. Menjahitkan kebahagiaan.”</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kok kayak mau ngantri minyak tanah?”</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Barangkali, sekarang ini kebahagiaan memang seperti minyak tanah. Tidak semua orang dengan gampang mendapatkannya. Bahkan untuk sekadar bisa menikmati kebahagiaan di hari lebaran pun kini orang mesti antri berdesak-desakan. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Kenapa menjelang Lebaran begini mereka kok tidak bahagia, Ayah?”</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Mungkin mereka tak punya uang buat pulang kampung. Tak bisa membelikan baju baru. Bingung karena masih nganggur. Pusing karena semuanya makin mahal. Mungkin juga mereka hanya merasa makin sedih saja&#8230;”</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Lalu kuceritakan apa yang dulu pernah diceritakan Ibu padaku. Kuceritakan tentang tukang jahit itu. Tentang jarum dan benang yang bisa menjahit kesedihan. </span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Jadi mereka menunggu tukang jahit itu, Ayah?”</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Ya.”</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify">“<span style="font-size:x-small;">Bagaimana kalau tukang jahit itu tak muncul, Ayah?”</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;">Aku menatap matanya yang menunggu jawaban, kemudian memandang gamang  ke arah orang-orang yang antri itu. Kulihat antrian itu sudah sedemikian panjangnya, hingga menyentuh ujung terjauh cakrawala yang mulai menggelap.</span></p>
<p style="text-indent:0.5in;margin-bottom:0;" align="right"><span style="font-size:x-small;"><strong>Brisbane-Yogyakarta, 2007</strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[- PAROUSIA]]></title>
<link>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/01/15/parousia/</link>
<pubDate>Tue, 15 Jan 2008 13:56:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>agusnoorfiles</dc:creator>
<guid>http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/01/15/parousia/</guid>
<description><![CDATA[Selalu menyenangkan saat tulisan kita diapresiasi pembaca. Seorang penulis yang sinis sempat berkata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Selalu menyenangkan saat tulisan kita diapresiasi pembaca. Seorang penulis yang sinis sempat berkata, “Barangkali itulah kebahagiaan – satu-satunya kebahagiaan – buat penulis dinegeri ini!”. Adakah hal lain yang membahagiaan seorang penulis? Karenanya, email dari Pater Budi Kleden yang menanggapi cerpen saya “Parousia” yang muncul di <em>Kompas</em>, 23 Desember 2007 lalu, pun membuah saya bahagia. Ia menyebut antara lain, bahwa cerita itu “inspiratif dan jeli”, yang disusul dengan satu nada gundah menyangkut tema cerita itu, yang menggambarkan “dunia iman” di abad-abad depan. “Ya, menjadi pemikiran kita semua, apa jadinya dunia, masyarakat, juga dan terlebih dengan institusi-institusi keagamaan nanti. Namun tentu kita tidak hanya tenggelam dalam kecemasan, tetapi terus memanfaatkan semua peluang yang ada sekarang untuk melakukan seseatu yang baik”. Langkah indahnya: sesuatu yang baik. Bukankah itu, yang saat ini, sulit kita temui dalam kehidupan kita?</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Cerpen “Parousia” saya tulis ketika berada di Ledalero, ketika saya menghadiri Festival Ledalero. Sebuah kota sepi namun hangat, yang inspiratif, dan membuat saya ingin kembali lagi: untuk menulis. Inilah cerpen “Parousia” itu&#8230;</span></span><!--more--></p>
<p style="margin-bottom:0;"><a title="imagessalib-1.jpg" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/01/imagessalib-1.jpg"><img src="http://agusnoorfiles.wordpress.com/files/2008/01/imagessalib-1.jpg" alt="imagessalib-1.jpg" /></a></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-large;">PAROUSIA</span></span><br />
<strong>Cerpen Agus Noor</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span><span style="color:#000000;"><strong>PADA</strong> malam Natal tahun 3026, aku terlahir kembali ke dunia ini sebagai seekor ular. Aku keluar dari cangkang kesunyianku. Mendesis pelan dan muncul lewat gorong-gorong. Kusaksikan cahaya terang kota yang gemerlapan. Tak ada bintang, dan langit hanya basah. Di kulitku yang licin, udara terasa seperti permukaan piring keramik yang dingin. Sayup kudengar gemerincing lonceng mekanik <em>Jingle Bells</em> mengalun dari <em>juke box</em> di etalase hypermarket<em>, </em>seperti rintihan kesepian. Mobil-mobil silver metalik bertenaga magnetik mendesing lalu-lalang di jalanan. Orang-orang bergegas membawa keranjang belanjaan dan kado-kado Natal berbungkus kertas warna-warni. Seorang Sinterklas terkantuk-kantuk di trotoar. Aku benar-benar tak lagi mengenali kota ini. Kota dimana bertahun-tahun lampau, dalam kehidupanku yang lain, aku pernah begitu menyintainya.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;">Dulu aku memang berharap, aku ingin dilahirkan kembali di kota ini, tidak lagi sebagai bocah idiot yang sering diganggu dilempari kerikil atau tomat busuk. Aku tak pernah mengerti, kenapa dulu orang-orang di kota ini begitu senang menggangguku. Mungkin mereka hanya menggodaku. Mungkin mereka butuh hiburan. Mungkin mereka merasa bahagia bila bisa menggangguku. Apabila melihat aku lagi berjalan, orang-orang akan menghentikanku. Memberiku <em>moke</em>,</span></span></span><sup><span><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;"><a class="sdendnoteanc" title="sdendnote1anc" name="sdendnote1anc" href="#sdendnote1sym"><sup>i</sup></a></span></span></span></sup><span><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;"> yang membuat kepalaku berdenyut-denyut lembut. Lalu mereka menyuruhku menyanyi dan menari. Mereka tertawa-tawa melihat aku menari-nari. Pasti aku tampak lucu di mata mereka. Aku ikut tertawa saat mereka tertawa. Biasanya, mereka kemudian akan bertanya hal-hal yang terdengar aneh di telingaku.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Berapa dua ditambah dua?”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Tujuh” jawabku, sambil menunjukkan empat jariku.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Mereka tertawa.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Kalau tiga ditambah empat”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Tujuh” jawabku, sambil menunjukkan empat jariku.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Dan mereka kembali tertawa.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Dasar idiot!”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Aku tak pernah mengerti kenapa mereka mengatakan aku idiot. Mungkin karena mulutku yang peyot. Mungkin karena celanaku yang selalu melorot. Mungkin karena tampangku yang terlihat dungu dengan liur kental yang terus menetes. Mungkin karena itulah orang-orang melihatku dengan jijik. Aku ingat, bagaimana orang-orang selalu mengusirku bila melihatku memasuki halaman rumah mereka. Aku tak mengerti, kenapa orang-orang tak memperbolehkan aku masuk rumah mereka. Padahal, bila ada ular masuk ke pekarangan, mereka tak pernah mengusirnya. Mereka selalu membiarkan ular masuk ke rumah mereka. Bila ada ular masuk ke rumah, mereka selalu memberi telur  atau sejumput beras buat ular itu. Alangkah menyenangkan jadi ular. Begitu aku selalu merasa iri pada ular-ular yang banyak berkeliaran di kota ini. Aku sering bertemu ular-ular itu. Di ladang, di pinggir jalan, di pepohonan. Kadang kulihat seekor ular melintas menyeberang jalan, dan semua kendaraan yang lewat berhenti. Kurasakan, betapa orang-orang lebih menyukai ular ketimbang diriku.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;">Dari omongan orang-orang (yang kudengar sepotong-sepotong dan tak gampang aku fahami) aku mulai tahu kenapa orang-orang di kota ini suka pada ular. Mereka percaya: ular-ular itulah leluhur mereka. Ketika mula dunia tercipta, ketika bumi masih rapuh, kabut bagaikan putih telur, ketika batu masih berupa buah muda, saat tanah masih serupa kuntum yang ranum, ular-ular itulah muasal leluhur yang mendiami pulau.</span></span></span><sup><span><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;"><a class="sdendnoteanc" title="sdendnote2anc" name="sdendnote2anc" href="#sdendnote2sym"><sup>ii</sup></a></span></span></span></sup><span><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;"> Leluhur yang selalu membawa rezeki dan nasib baik bagi siapa pun yang didatanginya. Sejak itulah aku mulai berkhayal, betapa enaknya jadi ular. Aku ingin suatu hari nanti bisa berubah menjadi ular. Aku ingin Tuhan akan melahirkanku kembali ke kota ini sebagai seekor ular.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Aku mendesis, takjub sekaligus merasa asing memandangi kota yang gemerlapan. Kerlap-kerlip pohon Natal menjulang di tengat-tengah plaza. Lampu-lampu aneka warna menerangi pertokoan yang berderet sepanjang jalan. Aku benar-benar bingung dengan kota ini. Seingatku, sepanjang jalan ini hanya berderet pepohonan, juga beberapa rumah kayu sederhana. Dulu, setiap hari, aku selalu berjalan sepanjang jalanan ini, yang berkelok turun menuju bukit kecil. Kini terentang jalan layang, dan jembatan penyeberangan yang bagai digantungkan begitu saja di udara. Mestinya, di pojokan itu ada sebuah gereja. Tapi di situ, kini aku melihat sebuah mal yang megah. Gerbangnya yang menjulang bagai mulut raksasa menganga menghisap orang-orang yang lalu-lalang. Cahaya seperti telah menyihir kota ini dan membuatku tak mengenalinya lagi. </span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Kudengar lonceng gereja. Seperti sayup ingatan yang membuatku merasa tak tersesat. Bunyi lonceng seperti itulah yang dulu selalu menuntun perjalananku. Aku suka berjalan mengililingi kota, karena aku suka mendengarkan lonceng gereja. Aku tiba-tiba terkenang pada gereja-gereja yang dulu sering aku singgahi. Aku senang dan merasa tenang bila mendengar suara lonceng gereja yang mengapung mengetarkan udara senja. Dulu, kota ini penuh dengan gereja. Kota dengan seribu gereja. Kudengar kembali gema lonceng itu, seperti memanggilku. Aku merayap menyebangi jalan. Tiba-tiba kudengar suara jeritan.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Ular! Ular!”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Kulihat orang-orang beringsut ketakutan, menatapku yang mendesis merayap pelan menyeberangi trotoar. Meski terkejut dengan reaksi mereka, aku mencoba tak panik. Aku teringat bagaimana dulu orang-orang memberi makanan menyambut kedatangan ular leluhur mereka. Tapi kudengar seseorang berteriak, “Cepat bunuh ular itu! Usir! Pukul” Dan dengan gerakan cepat seseorang mengacungkan tongkat.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Instingku merasakan bahaya, dan dengan cepat aku melesat menyelusup tumpukan tong sampah. Kenapa mereka ingin membunuhku? Kudengar teriakan-teriakan mengejarku. Terdengar suara-suara tong ditendang. Aku begitu ketakutan, menghilang dalam kegelapan. Saat itulah kudengar suara mendesis pelan.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Ssttt… Cepat sini…” Kulihat gadis cilik meringkuk di pojok gelap. “Cepat sembunyi sini…”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Aku memandanginya ragu. Sepasang matanya yang bening membuatku pelan-pelan merasa tenang. Ia mengulurkan tangan, memberiku cuilan roti yang dipungutnya dari tumpukan sampah. “Kamu bandel sekali berani keluar gorong-gorong…” Ia berkata sambil mengelus kepalaku.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Kupandangi mata gadis itu, seperti kupandangi sepasang bintang yang menandai kelahiranku kembali ke dunia ini.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Dengan tangannya yang mungil, gadis itu memungutku. Aku merasa nyaman dalam dekapannya. Kemudian ia berjalan mengendap-endap, menjauhkan aku dari orang-orang yang kudengar masih memburuku. Suara-suara itu perlahan lenyap dalam gelap. Di belakangku, cahaya kota yang gemerlapan kulihat meredup perlahan ketika gadis ini terus memasuki lorong kelam.  Ketika gelap dan sepi terasa lengket seperti ampas kopi, kulihat gadis cilik yang mendekapku ini mengeluarkan rosario dari kantung roknya. Kulihat rosario itu menyala kemerahan, memancarkan sulfur cahaya. Di tentengnya rosario itu seperti ia menenteng lentera. Cahaya pucat kemerahan menerangi lorong yang kami lalui – lorong yang berkelok-kelok, membuatku merasa seperti menyusuri labirin kesunyian yang pastilah akan membuatku tersesat bila sendirian.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Sampai kemudian aku melihat bayangan deretan rumah yang rapuh, berdesakan dan bau tengik.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Kita sampai,” kata gadis cilik, sambil menurunkanku dari dekapannya. Saat itulah kudengar suara-suara mendesis pelan keluar dari reruntuhan tembok dan tumpukan kayu lapuk. Kulihat puluhan ular, ratusan ular, mendesis-desis menatapku.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">KUDENGAR lonceng gereja yang layu dari kejauhan. Aku diam melingkar di pojokan, menyaksikan bayangan rumah-rumah kumuh yang bagai mengapung dalam kegelapan. Sungguh kota ganjil yang serba temaram. Aku merasa asing, meski aku bisa segera mengenali jajaran pepohonan di sepanjang jalan kota ini. Aku langsung teringat pada kelokan jalan itu, reruntuhan gereja yang kini hanya terlihat sebagai tetumpukan batu bata, juga bayangan bukit-bukit di kejauhan, dimana matahari terlihat menyandarkan cahayanya. Inilah kota yang pada kehidupanku yang dulu selalu kususuri jalan-jalannya. Aku merasa ini tak lebih dari kota lama yang ingin dikekalkan dalam ingatan.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Dan seperti menyusuri ingatan, aku merayapi jalanan kota ini, belajar memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Aku kemudian tahu, bahwa kota ini sesungguhnya tak terlalu jauh jaraknya dengan kota yang kulihat saat malam Natal sebulan lalu. Kota ini terletak di pinggiran kota yang gemerlapan itu, hanya dipisahkan oleh kenangan. Lorong dimana dulu gadis cilik itu membawaku, adalah jalan menuju ke kota yang penuh cahaya itu. Tapi ular-ular yang kutemui selalu mengingatkan, agar aku jangan pernah berani-berani lagi muncul di kota itu. Cara mereka mengingatkanku, seperti tengah meyakinkan betapa tempat terbaik bagi ular macam kami adalah di kota ini </span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;">Di kota ini, kami – ular-ular – memang dibiarkan berkeliaran. Para penduduk memberi kami sisa makanan mereka, meski kadang busuk dan berjamur. Sering kami duduk-duduk dekat anak-anak, saat mereka berkumpul mendengarkan orang tua mereka mendongeng. Aku sangat senang mendengarkan dongeng-dongeng itu dituturkan, terdengar seperti tengah menyanyikan kesedihan. Dongeng tentang kehidupan mereka yang perlahan-lahan terpinggirkan dari kota. Ketika kota mempercantik diri. Ketika bangunan-bangunan bertingkat mulai dibangun. Ketika banyak gereja diruntuhkan, untuk diganti dengan mal-mal. Pada saat itulah, sebagian orang yang mencoba bertahan memunguti sisa bangunan gereja itu, membawannya masuk ke dalam kabut kesunyian. Berusaha membangunnya kembali sebagai tumpukan-tumpukan kenangan. Mereka memunguti puing kota lama yang dihancurkan kemajuan. Pelan-pelan mereka kembali membangun kota mereka, dengan nyanyian dan upacara yang penuh ratapan pada leluhur. Dan ular-ular mengikuti mereka, karena di kota yang baru mereka diburu dan tak lagi dituahkan. Di kota yang remang dalam ingatan inilah para ibu mencoba bertahan hidup dengan memetik embun di daun-daun, menampungnya dalam gelas, dan menghidangkannya buat sarapan pagi anak-anak mereka. Dan pada malam hari mereka memeras airmata, menyimpannya dalam botol, dan meminumkannya saat anak-anak mereka sakit.</span></span></span><sup><span><span style="font-size:x-small;"><span style="color:#000000;"><a class="sdendnoteanc" title="sdendnote3anc" name="sdendnote3anc" href="#sdendnote3sym"><sup>iii</sup></a></span></span></span></sup></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Aku belajar menyintai kota ini. Apalagi gadis cilik itu selalu mengajakku jalan-jalan, seakan-akan ia ingin agar aku mengenal setiap cuil kota ini. Kami belajar saling mengerti kesepian masing-masing. Kami bercaka-kacap dengan bahasa leluhur yang hanya bisa kami mengerti. Ia bercerita, bahwa sebenarnya ada jalan tembus melalui gorong-gorong untuk mencapai kota di seberang sana. Aku menemukannya tak sengaja, katanya. Dulu aku sering pergi lewat jalan itu, kalau aku mau menjual rosario. Dulu, bila menjelang Natal, kami memang sering berjualan rosario. Kami mesti menjualnya diam-diam. Sebab bila ketahuan, kami bisa ditangkap petugas keamanan. Dulu banyak warga kota ini yang setiap hari pergi ke kota itu, berjualan biji-biji embun dan bermacam daun, rempah-rempah dan artefak kenangan, menjualnya di lapak trotoar, tetapi selalu diusir. Ia kemudian mengatakan, kalau sekarang ia makin sulit menjual rosario. Tak hanya karena dikejar-kejar petugas, tetapi karena sekarang ini sudah jarang yang mau membeli rosario. Sudah lama, anak-anak di kota itu lebih suka dapat hadiah Natal boneka Barbie atau nitendo daripada rosario. Padahal rosario buatan kami luar biasa. Kamu sudah melihatnya, kan?</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Aku mendesis mengangguk. Kuingat rosario yang memancarkan cahaya itu. Aku pernah melihat, bagaimana rosario itu dibuat. Ada salib di tengah reruntuhan gereja di kota ini. Salib itu menjulang, tapi terlihat rapuh, dan Kristus tampak murung dan sengsara dalam lindap cahaya. Pada tubuh Kristus terlilit selang kecil, dengan mangkuk perak berbentuk piala di ujung selang itu. Itulah selang yang dipakai untuk menampung airmata Kristus. Dalam keremangan, salib itu seperti pokok pohon karet yang tengah disadap. Para penduduk di kota ini menampung airmata Kristus, yang mereka percaya, pada waktu-waktu tertentu akan mengalir. Kadang airmata itu menetes bening. Kadang merah serupa darah. Butiran airmata itulah yang kemudian mereka kumpulkan, untuk diuntai jadi rosario. Kemudian di jual. Aku ingat, gadis cilik itu pernah berkata padaku. “Begitulah, dulu kami bertahan: dengan menyadap airmata Tuhan…”</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Kepada gadis cilik itu pun aku bercerita tenang kehidupanku dulu. Ia begitu senang saat mendengar kalau pada kehidupanku yang dulu, aku juga penduduk kota ini. </span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span><em>Wow</em>, siapa tahu aku ini salah satu keturunanmu,” teriaknya riang.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span><span style="color:#000000;"><em>Tidak. Aku tidak menikah</em>, kataku.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Kamu Pater?”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span><span style="color:#000000;">Aku mendesis tersenyum. <em>Dulu aku idiot.</em> <em>Tak ada seorang pun perempuan suka dengan orang idiot.</em></span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Tapi aku suka kamu!”</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Aku menggeliat-geliat dalam dekapannya. Ia menyimak ceritaku dengan mata berkejap-kejap. Ia mendadak terbelalak saat aku bercerita tentang Gereja St. Paulus yang sering kudatangi dulu.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-size:x-small;"><span>Kau tahu,” katanya, “itu satu-satunya gereja yang masih berdiri!” Mungkin tepatnya: itulah satu-satunya gereja yang sengaja dibiarkan berdiri, boleh jadi sebagai tugu kenangan.</span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Ada perasaan sendu ketika kudengar itu. Kukatakan betapa aku ingin melihat gereja itu. Ah, ia memang gadis yang usil dan nakal, tapi setidaknya ia memahami kerinduanku. Kita bisa diam-diam ke sana, katanya.</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;">Maka pada malam Natal beberapa bulan kemudian, gadis itu memasukkanku ke dalam keranjang kecil. Ia hendak membawaku mendatangi gereja yang kurindukan itu. Jangan sampai orang-orang di kota itu melihatmu, katanya. Ketika ia berjalan, ia seperti tengah membawa keranjang makanan dan hendak pergi tamasya. Aku melingkar tenang dalam keranjang. Kenangan-kenangan dalam kehidupanku yang dulu seperti bermunculan menentramkanku. Kami menuju kota itu melalui gorong-gorong rahasia. Kami keluar dari gorong-gorong, tepat di belakang gereja. Dari dalam keranjang anyaman, samar-samar bisa kurasakan cahaya kota yang gemerlapan. Aku takut ada penduduk yang memergoki gadis cilik ini. Pasti mereka mengusir kami…</span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span><span style="color:#000000;">Puji Tuhan, kudengar gadis itu berbisik pelan mengatakan kalau kami sudah sampai dalam gereja. Pelan aku dikeluarkan dari dalam keranjang. Kusaksikan ruangan yang remang, seperti rongga semesta. Kudengar koor <em>Malam Kudus</em> dinyanyikan. Terdengar syahdu dan megah. Cahaya terasa ultim, dan kusaksikan fresko katakombe di atas altar itu bagai bergetar. </span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:x-small;"><span><span style="color:#000000;">Sampai kemudian aku menyadari, betapa sunyi gereja ini. Tak ada seorang pun mengikuti misa Natal, tenyata. Di dekat altar, kulihat <em>stereo set</em> diputar untuk mengumandangkan nyanyian puji-pujian. Kulihat gadis kecil di sampingku yang hanya menunduk. Mataku nanar melihat tubuh Kristus yang tersalib memandangi bangku-bangku kosong. </span></span></span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" lang="en-US" align="justify">
<div><span style="color:#000000;"><span style="font-size:x-small;"><strong>Ledalero, 2006.</strong></span></span></div>
<p class="sdendnote"><strong>Catatan:</strong></p>
<div>
<p class="sdendnote"><a class="sdendnotesym" title="sdendnote1sym" name="sdendnote1sym" href="#sdendnote1anc">i</a>Nama tuak/minuman keras lokal di Maumere, Nusa Tenggara Timur.</p>
</div>
<div>
<p class="sdendnote"><a class="sdendnotesym" title="sdendnote2sym" name="sdendnote2sym" href="#sdendnote2anc">ii</a> Disitir, dan ditulis ulang, dari syair tradisi yang mengisahkan 	penciptaan alam semesta, versi Krowe-Sika.</p>
</div>
<div>
<p class="sdendnote"><a class="sdendnotesym" title="sdendnote3sym" name="sdendnote3sym" href="#sdendnote3anc">iii</a> Dikutip, dan ditulis ulang, dari puisi “Ibu yang Tabah” karya 	Joko Pinurbo.</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
