<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>cerpen &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/cerpen/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "cerpen"</description>
	<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 21:39:07 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[PUDARNYA PESONA CLEOPATRA]]></title>
<link>http://nuraniami.wordpress.com/2009/12/24/pudarnya-pesona-cleopatra/</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 20:18:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>nuraniami</dc:creator>
<guid>http://nuraniami.wordpress.com/2009/12/24/pudarnya-pesona-cleopatra/</guid>
<description><![CDATA[Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan deng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.&#8221; Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu&#8221;</p>
<p>kata ibu.</p>
<p>&#8220;Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu&#8221; , ucap beliau dengan nada mengiba.</p>
<p>Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.</p>
<p>Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.</p>
<p>Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.</p>
<p>Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, &#8220;cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.</p>
<p>Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.</p>
<p>Rabbighfir li wa liwalidayya!</p>
<p>Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.</p>
<p>Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.</p>
<p>Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.</p>
<p>Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.</p>
<p>Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab &#8221; tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga&#8221; Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil &#8216;mbak&#8217;, &#8221; kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku&#8221; tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. &#8220;wallahu a&#8217;lam&#8221; jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, &#8220;Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?</p>
<p>Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini&#8221;. Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.</p>
<p>Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. &#8220;Mas tidak apa-apa&#8221; tanyanya dengan perasaan kuatir. &#8220;Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih&#8221; lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. &#8220;Mas airnya sudah siap&#8221; kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. &#8220;Mas aku buatkan wedang jahe&#8221; Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.</p>
<p>Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. &#8221; Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?&#8221; Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. &#8220;Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas&#8221;. &#8221; Biasanya dikerokin&#8221; jawabku lirih. &#8221; Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin&#8221; sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.</p>
<p>Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.&#8221; Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu&#8221; kata Ratu Cleopatra. &#8221; Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu&#8221;. Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.</p>
<p>Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba &#8221; Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya&#8221; kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. &#8221; Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya&#8221; lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.</p>
<p>Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.</p>
<p>&#8221; Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang&#8221; Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.</p>
<p>Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. &#8221; Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana,&#8221; lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. &#8221; Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. &#8221; Ya Mas!&#8221;</p>
<p>sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil &#8220;dinda&#8221;. &#8221; Matanya sedikit berbinar. &#8220;Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,&#8221; ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.</p>
<p>Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. &#8221; Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?&#8221;.</p>
<p>Hana begitu bahagia.</p>
<p>Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.</p>
<p>Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. &#8220;</p>
<p>Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.</p>
<p>Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.</p>
<p>Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.</p>
<p>Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. &#8221; Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu&#8221; kata ibuku. &#8221; Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?&#8221; sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.</p>
<p>Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.</p>
<p>Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya&#8221; Mana tanggung jawabmu!&#8221; Aku hanya diam dan mendesah sedih. &#8221; Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta&#8221; gumamku.</p>
<p>Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, &#8221; Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita&#8221;.</p>
<p>Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.</p>
<p>Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.</p>
<p>Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.</p>
<p>Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. &#8220;Apakah kamu sudah menikah?&#8221; kata Pak Qalyubi. &#8220;Alhamdulillah, sudah&#8221; jawabku. &#8221; Dengan orang mana?. &#8221; Orang Jawa&#8221;. &#8221; Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?&#8221;. &#8220;Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran&#8221;. &#8221; Kau sangat beruntung, tidak sepertiku&#8221;. &#8221; Kenapa dengan Bapak?&#8221; &#8221; Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang&#8221;. &#8221; Bagaimana itu bisa terjadi?&#8221;. &#8220;</p>
<p>Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.</p>
<p>Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.</p>
<p>Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.</p>
<p>Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.</p>
<p>Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.</p>
<p>Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.</p>
<p>Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.</p>
<p>Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.</p>
<p>Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.</p>
<p>Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. &#8221; Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir&#8221;.</p>
<p>Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.</p>
<p>Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.</p>
<p>Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong.</p>
<p>Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang&#8221;.</p>
<p>Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.</p>
<p>Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan Rabbiï¿½?ï¿½ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.</p>
<p>Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.</p>
<p>&#8220;Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba&#8221; tulis Raihana.</p>
<p>Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa&#8221; Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.</p>
<p>Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya.</p>
<p>Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau&#8221;.</p>
<p>Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.</p>
<p>Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. &#8221; Mana Raihana Bu?&#8221;. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.</p>
<p>&#8221; Raihanaï&#8230;istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya&#8221; . &#8221; Ada apa dengan dia&#8221;. &#8221; Dia telah tiada&#8221;. &#8221; Ibu berkata apa!&#8221;. &#8221; Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.</p>
<p>Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya&#8221; .</p>
<p>Hatiku bergetar hebat. &#8221; kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?&#8221;. &#8220;</p>
<p>Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami&#8221;.</p>
<p>Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.</p>
<p>Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua &#8230;&#8230;..</p>
<p>Sumber :</p>
<p>Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )</p>
<p>Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[cerita malam]]></title>
<link>http://strugglemoment.wordpress.com/2009/12/25/cerita-malam/</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 19:42:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>momentdesire</dc:creator>
<guid>http://strugglemoment.wordpress.com/2009/12/25/cerita-malam/</guid>
<description><![CDATA[Malam telah mengabu, desakan kerongkongan yang mengering makin menjadi-jadi. Sunyi&#8230;sunyi sekal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Malam telah mengabu, desakan kerongkongan yang mengering makin menjadi-jadi. Sunyi&#8230;sunyi sekali di kamar ini. terkadang getaran HP hanya mengagetkanku dalam kesunyian malam pekat yang tak berselimut bintang.</p>
<p>Dulu, bintang itu seakan turun dan menampakkan susunan indahnya menyerupai seorang wanita. Seakan mengikuti perasaanku ini. Bintang itu tak mampu memperlihatkan susunan magisnya lagi seakan-akan hendak menyerupai kekosongan hati ini sekarang.</p>
<p>deru batukku menjadi-jadi, setiap ketikkan terkadang terdengar tarikkan nafas yang tertahan kotoran yang ada pada batangnya. Semua menjadi-jadi, saat bisingan wanita itu mengantarkanku dalam kelemahanku, sebuah kepekaan yang sangat miskin.</p>
<p>Sebuha penekanan yang dibuat-buat oleh pembaca, memang tergantung pembacanya. Sedang dalam kondisi senang atau tidak senang. Tak bedanya dengan pemuja malam itu. Yang mempertanyakan sebuah hal yang belum sempat ia ungkapkan. &#8220;ahhh&#8221; gumamnya, &#8220;inikah yang namanya dimainkan hatinya&#8221; terdengar bisik bisik <em>main hatinya Andra and The Backbone</em>.</p>
<p>Selaras senyum dahulu, perlahan menghilang, perasaan menyesal pun yang datang. Sebuah puisi pun datang melalui kesuntukkan malamnya yang beruraian tak karuan</p>
<p style="text-align:center;"><em>Bintang sudah menghilang</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Hubungan tak lagi datang</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Seloroh angin malam mentertawakan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>kenangan apa yang terkesan</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><em>Mentari sungguh lama bersinar</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>seiring dengan kegalauan nasib perasaan</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>lama&#8230;lama&#8230;</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>terlalu malam untuk menyiangkan</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><em>Ahh, manusia memang gombal</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>manusia tak lagi memandang</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>manusia sudah menjadi jalang</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>untuk mereka yang menggonggong tak karuan<br />
</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><em>Sungguh berbeda kita, sungguh</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Tidak ada bedanya, Iya</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Laksana sebuah konsep moderat</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Mudah Tumbuh, Cepat Mati<br />
</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[[cerpen] Senpai, ai shiteru! [15]]]></title>
<link>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/24/cerpen-senpai-ai-shiteru-15/</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 14:49:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>zkai alia</dc:creator>
<guid>http://zkaicerita.wordpress.com/2009/12/24/cerpen-senpai-ai-shiteru-15/</guid>
<description><![CDATA[“Umi, petang ni Iman nak keluar dengan Yaya, boleh tak?” ujar Iman pada Puan Amni yang sedang menont]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Umi, petang ni Iman nak keluar dengan Yaya, boleh tak?” ujar Iman pada Puan Amni yang sedang menont]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ayumi ataukah Leni]]></title>
<link>http://katrokboy.wordpress.com/2009/12/24/ayumi-ataukah-leni/</link>
<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 00:06:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>katrokboy</dc:creator>
<guid>http://katrokboy.wordpress.com/2009/12/24/ayumi-ataukah-leni/</guid>
<description><![CDATA[Hujan masih mengguyur kota jogja malam itu. Pukul 8 malam lewat aku masih belajar di kamar. Uuuhh, s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hujan masih mengguyur kota jogja malam itu. Pukul 8 malam lewat aku masih belajar di kamar. Uuuhh, susah banget sih ngapalinnya, ada huruf  hiragana, katakana, apalagi kanji, gerutuku. Padahal  besok ada ekskul lagi. Ngapain dulu aku ikut ekstrakurikuler bahasa Jepang?pikirku Aku jadi ingat seseorang. Ya… Leni namanya,  cewek yang menarik perhatianku waktu itu. Cewek yang rambutnya mengikuti trend harajuku style, seandainya tidak ada aturan yang melarang siswa untuk menyemir rambutnya, ia akan lebih cantik jika rambutnya disemir warna coklat. Waktu itu dibuka pendaftaran ekskul baru di sekolahku yaitu bahasa Jepang. Sebenarnya aku nggak tertarik sih, tapi karena Leni-lah aku ikut, siapa tahu aku akan lebih mengenalnya. Ekskul itu sendiri  tidak banyak diikuti siswa, mungkin masih baru. Yang cowok hanya 5 orang, termasuk aku. Dari kelasku, 8E hanya akulah yang mengikuti ekskul bahasa jepang yang sering disebut J-class. Di J-class itu sendiri aku memakai nama Raito, sedang Leni pake nama Ayumi karena tiap anak harus memakai nama bahasa Jepang untuk saling menyapa.</p>
<p>Tok…..tok….tok…..Edyyy.. bangun Nak, udah siang. Uhhh, kepalaku terasa berat, aku berjalan sempoyongan membuka pintu. Lho Ed, kmu sakit ya, badanmu panas? Tanya ibuku. Iya Bu, mungkin karna kemarin pulang kehujanan, jawabku. Ya, udah kamu istirahat aja, nggak usah berangkat sekolah. Aku pun segera berbaring dan ingin tidur lagi. Tetapi aku tidak bisa tidur, aku malah memikirkan Leni. Apa aku sedang jatuh cinta?.</p>
<p>Dua hari kemudian</p>
<p>Aku berangkat lebih pagi hari ini, sekalian mau tanya apakah ada PR selama aku tidak masuk sekolah. Ketika di depan gerbang, kulihat Leni juga baru datang. Sepertinya ia melihatku dan menghampiriku. Eh kamu Raito kan? maksudku Edy, yang ikut J-class. kata Leni. “Iya, emang kenapa?” tanyaku. Kemarin Sabtu kamu nggak berangkat ya, kemarin ditanyain tuh ma <em>sensei</em> Sakura, yang anak pendek hitam biasa duduk di depan dimana yak kok nggak kelihatan? “Emang sensei tanya gitu ?” tanya Edy. “Nggak kok,aku hanya bercanda,” jawab Ayumi sambil tersenyum. Kami pun menuju kelas yang berbeda tapi tidak jauh. Kuajak dia ngobrol tentang materi J-class kemarin. Len, aku pinjam catatan J-class-mu yang kemarin ya? pintaku. “Besok aja, aku nggak bawa hari ini”,jawab Leni</p>
<p>Keesokan harinya ketika jam istirahat di perpustakaan..</p>
<p>Aku mencari sebuah buku. “Nah, ini dia buku yang aku cari,”kataku dalam hati. Sebuah buku dengan sampul hijau dengan judul “Belajar Kebudayaan Jepang”. Tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang. “Hey, Raito, sedang nyari buku apa?”tanya Leni. Eh, Len, panggil aku Edy aja kalo diluar J-class, ini aku baru mau pinjem buku ini. “Ah, gakpapalah. Aku lebih suka manggil kamu Raito dan aku lebih suka dipanggil Ayumi. Eh, ngomong-ngomong aku udah pernah pinjem lho buku ini,” kata Leni. “Ah, yang bener? (aku pura-pura tidak tahu padahal dulu aku melihat dia pinjem buku ini) Bagus nggak?” tanyaku. “Bagus kok, malah aku bacanya cuma sehari langsung selesai. Eh, ini buku yang mau kamu pinjem, tapi besok balikin ya. Rencananya habis dari perpus aku mau mampir ke kelasmu, eh kebetulan malah ketemu di perpus” kata Ayumi. “Ya, bukunya tak pinjem dulu, <em>arigatoo</em>”kataku. Kemudian kami mengobrol tentang isi buku tersebut sampai bel masuk berdering.</p>
<p>Malamnya, aku ingin menyalin catatan dari buku Ayumi dan membaca buku yang aku pinjem. Sebenarnya catatannya nggak terlalu banyak, cuma 3 halaman. Tapi tak terasa sudah 2 jam lebih aku mencatat. Akupun langsung tertidur.</p>
<p>Siang harinya, ketika pulang sekolah aku menunggu di gerbang, menunggu Ayumi untuk kembalikan buku. Kulihat dia menuju keluar. “Ayumii..”kupanggil dia. “Eh Raito, mau pulang?”tanya Ayumi “Iya, aku baru menunggumu, ini bukumu ku kembalikan, makasih ya”.kataku. “Ya sama-sama” jawab Ayumi. “Eh, kmu mau pulang naik apa”tanyaku. “Naik bus di perempatan jalan besar itu”jawab Ayumi.”Gimana klo kita jalan bareng kesana”.ajakku “Ayo”kata Ayumi.Kami pun saling mengobrol sambil berjalan menuju jalan besar.”Raito, besok kita nonton Japan Festival yuk?”ajak Ayumi.</p>
<p>“Kita…berdua….?”tanyaku dalam hati. “Iya, japan festival, disana nanti ada J-art Performance, J-band, pemutaran film anime, workshop menggambar manga, dan banyak lomba-lomba seperti cosplay, igo dan lain-lain.”Ayumi menjelaskan. “Iya, aku mau. Tapi teman-teman J-class diajak nggak?”tanyaku “Ya iyaLah masa iya dong Mulan aja jami-Lah bukan jami-Dong, hehe bercanda. Kita mau kesana bareng-bareng besok Sabtu setelah pulang sekolah ”kata Ayumi sambil tersenyum. “Ayumi terlihat semakin cantik jika tersenyum”batinku. Tak terasa kami sudah sampai tempat pemberhentian bus. “Lho, Raito, itu kan jalur 7, kenapa nggak kamu stop, kamu kan naik jalur 7 ?”tanya Ayumi.”Biarlah, entar aja, aku mau nemenin kamu, ntar kalau kamu udah dapat bus baru aku pulang ”jawabku. “O.. gitu makasih”kata Leni. Setelah 3 buah bus jalur 7 lewat barulah bus yang dinaiki Ayumi lewat. “Raito aku pulang duluan ya”, kata Ayumi sambil meninggalkanku. Tak berapa lama akupun pulang setelah bus jalur 7 lewat..</p>
<p>Siang itu sekolah mulai tampak sepi setelah jam pelajaran selesai, hanya beberapa siswa saja yang di sekitar sekolah karena ada jadwal ekstrakurikuler. “Raito, temen-temen dimana yak ok nggak pada kliatan, jadi nggak kita nonton japan festival?”Tanya Ayumi. “Ya jadi, kalo nggak ada temen2, gimana klo kita berdua aja kesana sekalian aku mau ngomong sesuatu”kataku. “Ngomong apa kok kayaknya penting banget” tanya Ayumi penasaran. “Maukah kamu…. mmm”.tanyaku agak gugup “Mau apa?tanya Ayumi. “Leni, I love….”. “Tok..tok..tok..” Edy, bangun, ini udah siang kamu mau berangkat sekolah nggak? teriak ibuku. Aku terbangun.“Oh.. ternyata cuma mimpi, kataku dalam hati. Iya buk, aku udah bangun kok”jawabku. Aku merenung, huff kapan ya aku dapat mengungkapkan perasaanku pada Leni. Ya, pasti suatu saat aku akan mengatakannya, Ayumi,<em> aishiteru</em>( I love u). kataku dalam hati.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesetiaan]]></title>
<link>http://anggrainie.wordpress.com/2009/12/23/kesetiaan/</link>
<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 04:29:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>anggrainie</dc:creator>
<guid>http://anggrainie.wordpress.com/2009/12/23/kesetiaan/</guid>
<description><![CDATA[Saya membaca kisah yang menarik untuk dibagi dengan teman-teman sekalian. Kisah ini dari buku berjud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Saya membaca kisah yang menarik untuk dibagi dengan teman-teman sekalian. Kisah ini dari buku berjudul Membangun Ruh Baru oleh Musyaffa Abdurrahim Lc.  Tentang kesetian,&#8230; bukan hal yang melankolis tapi hal ini  bisa menjadi referensi agar kita memiliki hubungan yang kokoh/kuat(quwwa-tush-shilah) dengan pasangan/keluarga(xixixi&#8230; bukan promosi) dan Allah Swt tentunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat membaca!</p>
<p style="text-align:justify;">)&#124;(</p>
<p style="text-align:justify;">Hari itu Rasulullah saw kembali ke rumah dengan tidak seperti biasanya. Saat itu mukanya pucat, tubuhnya gemetar dan raut mukanya yang menyiratkan rasa ketakutan yang sangat dalam. Beliau baru saja mengalami satu peristiwa yang belum pernah beliau temui sebelumnya, yaitu turunnya wahyu Allah Swt untuk perama kali. Wahyu yang sekiranya diturunkan kepada gunung sekalipun, niscaya gunung itu akan tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah Swt.</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Swt berfirman:<br />
&#8220;<em>Kau sekiranya Kami menurunkan Al Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kemu akan meliharnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.</em>&#8220;[Al Hasyr:21]</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat suaminya dalam keadaan seperti itu, Khadijah r.a. segera mengambil tindakan. Dia selimuti suaminya dan dia dekap erat-erat. Dan yang lebih penting dari semua itu, dia katakan dengan penuh keyakinan, ketulusan dan kejujuran:<!--more--><br />
&#8220;<em>Tidak, bergembiralah, maka demi Allah, Allah tidak akan menginakanmu selamnya, demi Allah, sungguh engkau telah menyambung persaudaraaan (silaturahim), benar dalam berbicara, memikul beban orang yang  kepayahan ,  membantu orang yang tidak mempu, menyuguhkan hidangan kepada tamu dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah&#8230;</em>&#8220;[Muttafaqun 'alaih]</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah sembuah ucapan yang menunjukan sifat wafa&#8217; yang luar biasa. Coba bayangkan, buakankah pernikahan antara Rauslullah saw. dengan Khadijah telah berjalan lima belas tahun! Meskipun yang keluar dari lisan Khadijah dengan fasih adalah ingatannya terhadap berbagai kebaikan Rasulullah saw., itu adalah pengakuan atas kebaikan dan jasa yang diingatkan oleh orang lain yang luar biasa. Mengapa pada saat-saat genting seperti itu yang diingat oleh Khadijah adalah kebaikan Rasulullah saw.?</p>
<p style="text-align:justify;">Khadijah segera membawa Nabi Muhammad saw. untuk menemui pamannya, Waraqah bin Naufal. Dari pertemuan tersebut, Nabi Muhammad saw. semakin yakin, bahwa dirinya benar-benar telah dipilih oleh Allah Swt. untuk menjadi nabi dan rasul.</p>
<p style="text-align:justify;">Bukan hanya itu, Khadijah adalah orang pertama yang menyatakan beriman kepada kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw.,  sembuah keimanan yang membuat hati Rasulullah saw. semakin kuat, tegar dan mantap.</p>
<p style="text-align:justify;">Khadijah r.a. adalah seorang wanita yang membela Rasulullah saw. saat didustakan oleh kaumnya. Ia membela dengan kedudukannya, dengan hartanya, dan dengan segala yang dimilikinya. Pada pihak yang sebaliknya, Rasulullah saw. adalah seorang yang sangat wafa&#8217; kepada istrinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepeninggal Khadijah r.a., Rasulullah saw. sering menyebut-nyebut Khadijah r.a. Bila menyembelih kambing atau semacamnya, beliau bersabda &#8220;<em>Tolong antarkan ini kepada si fulanah dan yang ini kepada si fulanah.&#8221; Saat ditanyakan kepada beliau, kenapa harus mereka? Beliau menjawab, &#8220;Mereka adalah teman-teman Khadijah.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Terkait dengan hal ini, ummul mukminin &#8216;Aisyah r.a. menceritakan:<br />
&#8220;Dari &#8216;Aisyah r.a. ia berkata,<em> &#8216;Saya tidak cemburu kepada seseorang dari pada istri Nabi saw. seperti cemburuku kepada Khadijah r.a., padahal saya belum pernah melihatnya sama sekali.&#8217;</em> Nabi saw. sering sekali menyebutnya. Terkadang beliau saw. menyembelih seekor kambing, lalu memotong-motongnya menjadi beberapa potong, kemudian mengirimkannya kepada teman-teman Khadijah r.a. Maka terkadang saya berkata kepada Nabi saw.,&#8217;<em>Seakan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah r.a.&#8217;</em> Beliau saw. menjawab, <em>&#8216;Sesungguhnya Khadijah r.a. dulu begini dan begini, dan darinya saya mendapatkan anak&#8217;</em>&#8220;[Muttafaqun 'alaih]</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu hari datang kepada Rasulullah saw. seorang wanita yang bernama Halah. Ia adalah saudari Khadijah. Suaranya, postur tubuhnya dan beberapa hal lainnya mirip dengan Khadijah. Begitu Rasulullah saw. mendengar salam Halah, beliau langsung terperanjat. Mengetahui yang datang adalah Halah, beliau bersabda,&#8221;<em>Allahuma, Hallah</em>&#8221; (Ya Allah, ternyata Halah). [Muttafaqun 'alaih]</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh, sebuah sikap wafa&#8217; Rasulullah saw. yang membuat Ummul Mukminin &#8216;Aisyah r.a. cemburu berat Sampai-sampai pada suatu waktu &#8216;Aisyah berkata, &#8220;<em>Apa yang bisa aku perbuat dengan wanita yang sudah tua renta, yang Allah Swt. telah menggantikannya dengan yang lebih baik darinya</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Maka Rasulullah saw. menjawab, &#8220;<em>Demi Allah, Dia belum memberikan ganti untukku dengan yang lebgih baik darinya&#8230;</em>&#8221; [H.R. Bukhari]</p>
<p style="text-align:justify;">Sikap kesetiaan yang luar biasa, yang membuat kita bertanya-tanya, &#8220;<em>Adakah Rasulullah saw. mengambil hati seseorang yang telah meninggal dunia dan menyebabkan yang masih hidup marah-marah kepadanya?</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang hal ini ada baiknya kita simak penuturan seorang Nasrani, DR. Fahmi Lucas, yang mengakui sifat keteladanan Nabi saw.:</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;&#8216;<em>Aisyah r.a. seorang istri yang masih muda, mempunyai kedudukan terpandang tersendiri di hati suaminya, tidak berani lagi menyinggung-nyinggung Khadijah r.a. setelah kejadian itu.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang membuat Muhammad saw. berbuat seperti itu adalah kesetiaan yang begitu indah yang memberikannya kepada Khadijah r.a.. Kesetiaan yang menjadi pusat keteladanan bagi seluruh suami dan istri. Adakah Muhammad saw. mencari hari dari seorang wanita yang telah meninggal dengan resiko dimarahi oleh istrinya yang masih hidup bersamanya?</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Apa kata yang bisa diungkapkan untuk menggambarkan kesetiaan yang penuh mukjizat ini, sementara dunia penuh oleh penyelewengan, perselingkuhan, lupa dan penghianatan?</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Dari &#8220;Membangun Ruh Baru&#8221;, dikarang  oleh Musyaffa Abdurrahim Lc., penerbit Harakatuna Publishing, Bandung</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bebek]]></title>
<link>http://yusrinlie.wordpress.com/2009/12/22/bebek/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 17:14:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusrinlie</dc:creator>
<guid>http://yusrinlie.wordpress.com/2009/12/22/bebek/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen : Afrizal Koto Sepasang bebek dititip Ragil kepadaku dengan pesan,” Belajarlah kau pada bebek]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Cerpen : Afrizal Koto</strong></p>
<p>Sepasang bebek dititip Ragil kepadaku dengan pesan,” Belajarlah kau pada bebek, binatang unggas yang dapat hidup pada dua dunia.” Bebek adalah binatang amphibi yang dapat hidup di darat dan di air. Tentu saja aku sudah mengerti itu, karena aku sudah mempelajari di sekolah. Pada mulanya, aku menolak permintaan Ragil dengan halus, tetapi dia memaksa. Kemudian, terpaksa kutolak dengan cara kasar. Lagi-lagi dia memaksa.</p>
<p>“Memang betul kau lebih memahami ilmu biologi dari padaku . Jadi, soal anatomi bebek dan segala tetek bengeknya kau lebih jago. Namun, ada rahasia tertentu dari bebek yang belum kau pahami, meskipun kau sudah makan sekolah sampai stratra dua. Dan aku cuma menamatkan stratra satu. Itu pun dengan hasil pas-pasan. Dan barangkali kamu juga belum lupa, bahwa skripsiku untuk maju ke sidang meja hijau, juga adalah buatanmu. Pokoknya kau pelihara dulu barang  sebulan dan amatilah perkembangan kehidupan bebek. Kalau kau sudah memahami sifat dan perilakunya, maka beritahulah aku.”</p>
<p>Bagiku, memelihara bebek di rumah RSS dengan ukuran 4&#215;10m tanpa tanah kosong di halaman belakang adalah sesuatu yang sangat menjijikkan. Di samping,  bebek ini memproduksi telur, ia juga menghasilkan kotoran yang sangat tidak bersahabat dengan indera penciuman.</p>
<p>Aku membayangkan reaksi penolakan yang sangat keras dari isteriku disertai kuliah gratis yang panjang lebar seperti musik rock n roll. Memang, aku agak anti dengan musik cadas ini. Di luar dugaanku, isteriku justru menerima bebek titipan Ragil dengan senang hati.</p>
<p>“Biarlah untuk sementara aku mengurus bebek-bebek titipan Ragil. Barangkali dari dua ekor bebek nanti kita akan menjadi milyuner. Bebek-bebek itu akan bertelur. Telur-telur bebek sebahagian kita eram dan sebahagian kita jual. Uang hasil penjualan telur bebek kita belikan makanan bebek. Sedangkan hasil eraman telur bebek akan menghasilkan anak-anak bebek. Anak-anak bebek itu kita pelihara, lama-lama….”</p>
<p>“Kau menjadi peternak bebek,” potongku ketus.</p>
<p>“…bebek-bebek kita akan menjadi banyak. Kalau bebek-bebek itu sudah banyak kita jual dan lama-lama kita akan menjadi….,” sambungnya tanpa mempedulikan sindiranku.</p>
<p>“Bebek.”</p>
<p>“Biar, asal kita bisa menjadi kaya. Kukira, itu lebih baik daripada mengharapkan gajimu yang seumur hidup tak akan membuat kita menjadi kaya.”</p>
<p>Oho, kurasa ada sesuatu yang kurang beres dari isteriku hari ini. Kuraba keningnya dan hendak kuelus pipinya, namun ia menepis tanganku.</p>
<p>“Kalau itu sudah menjadi tekadmu, abang merelakan kau menjadi peternak bebek. Abang akan berhenti bekerja dan membantu mewujudkan tekadmu menjadi Ibu Bebek dan abang akan menjadi Bapak bebek,” kataku mencoba mengusir kegundahan hatinya. Tapi isteriku tidak menanggapi selorohku, ia malah meninggalkanku sendirian.</p>
<p>Kupikir setelah seminggu ia pasti akan menyerah dan mengembalikan bebek-bebek itu kepada Ragil disertai sumpah serapah. Tapi, ia sangat telaten merawat bebek-bebek Ragil. Bebek-bebek itu diberi makan jagung, dedak dan terkadang nasi sisa makanan kami. Terkadang aku merasa iri melihat perlakuannya yang manis terhadap bebek-bebek Ragil. Perhatiannya lebih banyak tercurah mengurus bebek-bebeknya ketimbang aku.. Perhatiannya yang manis diberikan kepada bebek-bebeknya dan perhatiannya yang pahit diberikan kepadaku. Aku merasa disaingi oleh bebek-bebeknya. Kejengkelanku bertambah dengan suara bebek yang parau dan sengau itu.</p>
<p>“Kwek, kweek, kweeeek.”</p>
<p>Itu masih belum seberapa, ketika kami sedang ‘mendayung sampan’ rumah tangga dan telah hampir mencapai pulau impian, tiba-tiba, tanpa permisi, bebek-bebek itu bersuara; kwek kweek kweeek. Mengakibatkan pulau impian yang kami impikan tak kesampaian. Namun, ia tidak pernah mengindahkan masalah itu. Katanya,”Bebek kok dimarahi. Bebek kan binatang. Binatang kan tak berbudaya maka biarkan saja, kalau kita ambil pusing dengan tingkah laku bebek, justru kita derajatnya lebih rendah dari bebek”.</p>
<p>Perkataan istriku terdengar sarkartis  dan membuatku ingin menyingkirkan musuh bebuyutanku. Cuma menunggu tempo yang tepat. Dan tempo yang kunanti-nantikan akhirnya datang juga. Ketika pada suatu ahad, mantan teman kuliah isteriku datang dan mengajaknya keluar untuk melepas rindu. Kesempatan itulah yang kugunakan untuk menyingkirkan bebek-bebeknya. Bebek-bebek itu kujual ke pasar yang tidak jauh dari rumahku. Lumayan, uang hasil penjualan bebek-bebek itu bisa sebagai kompensasi kekesalan dan kesabaranku selama ini. Hatiku menjadi lapang dan lega. Aku bersiul-siul gembira, rasanya baru lepas dari suatu masalah yang sangat pelik.</p>
<p>Petangnya, ketika isteriku pulang ia menemukan aku terbaring santai sambil menonton televisi.</p>
<p>“Tumben, tidak keluar,” sapanya ramah. Ia berjalan ke belakang, ke dapur, di sanalah isteriku memelihara bebek-bebek. Hatiku berdebar, timbul sedikit kecut. Bagaimana reaksi isteriku kalau melihat binatang peliharannya telah hilang.</p>
<p>Dan yang kutakutkan menjadi kenyataan. Isteriku meradang, marah dan menangis sejadi-jadinya.</p>
<p>“Abang kamu kemanakan bebek-bebekku?” teriaknya, memekakkan telinga.</p>
<p>Aku pura-pura tidak mendengarnya, serius melihat acara televisi. Padahal, aku ingin sekali melihat reaksi isteriku berikutnya. Apakah ia bertambah marah atau menganggap urusan bebek-bebek itu tidak perlu diperpanjang lagi?</p>
<p>“Abang di mana bebek-bebekku?” Teriaknya lebih keras lagi. Kali ini aku jatuh kasihan dan menghampirinya.</p>
<p>“Ada apa sih?” tanyaku pura-pura.</p>
<p>“Bebek-bebek kita hilang. Abang ini bagaimana sih, masak bebek kita hilang saja tidak tahu. Baru satu hari saja saya tinggalkan sudah hilang.”</p>
<p>“Sudahlah,” hiburku,” nanti kita beli yang baru lagi,” sambungku pura-pura menghiburnya. Isterinya tidak memperdulikan perkataaanku. Ia terus menangis dan meraung-raung seperti anak kecil. Kemudian ia berlari menuju kamar dan menumpahkan kesedihannya. Ia mengunci kamar dan tidak memperbolehkan aku masuk. Setelah kubujuk-bujuk, akhirnya ia mau juga membiarkan aku masuk. Tetapi menjelang makan malam, ia tidak mau menyentuh martabak telur, makanan kesukaannya, yang dibawanya  pulang petang tadi.</p>
<p>Aku tak berhasil membujuknya untuk menelan sedikit makanan pun. Lewat tengah malam, kulihat isteriku mengigau. Entah apa igauannya, tak jelas kudengar. Kuraba dahinya, terasa panas. Cepat-cepat kuambil obat penurun panas dan segelas air putih. Kubujuk lagi ia menelan sedikit makanan sebelum memakan obat. Ia mengalah dan menuruti permintaanku.</p>
<p>“Bang, kembalikan bebek-bebekku,” suaranya lemah. Aku mengelus dahinya dan menghiburnya. Di dalam hati aku menyesali perbuatanku. Tak kusangka perbuatanku akan berakibat sedemikian buruk terhadap isteriku.</p>
<p>“Ya, ya, nanti abang beli yang baru lagi.” Kueelus lagi rambutnya. Barangkali, karena lelah ia tertidur lagi. Aku menatap wajahnya yang manis dan seperti bayi tak berdosa.</p>
<p>Lamat-lamat, terngiang lagi ucapan Ragil,”Belajarlah pada bebek. Binatang yang hidup pada dunia di daratan dan di air.” Aku merasa bodoh sekali tidak dapat menafsirkan apa arti dari perkataan Ragil tersebut. Aku pun tertidur karena kelelahan.</p>
<p>Di dalam tidurku aku bermimpi, kulihat bebek-bebek Ragil terus bertambah dan bertambah.  Dua belas, dua puluh, empat puluh dan tak terhitung olehku. Bebek-bebek itu mulai memenuhi ruang dapurku, terus ke kamar mandi dan menjalar ke ruang tamu dan bahkan sekarang ia mulai memasuki kamar tidurku. Aku semakin terjepit di antara bebek-bebek yang terus membiak. Aku ingin bergerak tapi tidak mampu. Aku maju tak ada ruang kosong. Aku ingin mundur, tapi ada yang mendorongku.</p>
<p>Di tengah keputusasaan aku terbangun dan terbebas dari kepungan bebek. Dan cepat-cepat kuraih telepon genggam dan segera kutelepon Ragil, meskipun sekarang ini baru dini hari. Aku sudah mengerti dan memahami sifat dan perilaku bebek. Dan rasanya aku sudah mengerti apa yang hendak diajarkan Ragil kepadaku.</p>
<p>***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kafe Oriental]]></title>
<link>http://yusrinlie.wordpress.com/2009/12/22/kafe-oriental/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 17:13:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusrinlie</dc:creator>
<guid>http://yusrinlie.wordpress.com/2009/12/22/kafe-oriental/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen : Afrizal Koto Ia tidak menyadari ketika  pagi tadi di beranda rumahnya, ia menikmati secangk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Cerpen : Afrizal Koto</strong></p>
<p>Ia tidak menyadari ketika  pagi tadi di beranda rumahnya, ia menikmati secangkir kopi dan sebatang kretek. Ketika pikirannya melayang bersama asap tembakau, tangannya tak sengaja meraba dadanya, Ia melompat terkejut, ternyata sebahagian hatinya telah hilang.</p>
<p>Istrinya keluar dari rumah dan menemaninya duduk. Cepat-cepat kedua tanganya secara refleks menyilang di dadanya, menutupi sesuatu yang dirasakan telah hilang. Istrinya heran dan bertanya,” Bang, ada apa dengan dadamu, sesak lagi kan. Sudah kukatakan berulang-ulang, jangan terlalu banyak mengisap rokok. Sebaiknya besok kau berkonsultasi dengan dokter. Atau perlu aku telepon dokter untuk appointment dengannnya?”</p>
<p>Belum sempat ia menjawab, istrinya sudah kembali ke dalam rumah dan menelepon dokter kenalan mereka dan membuat jadwal pertemuan dengan dokter itu.</p>
<p>***</p>
<p>Ia mencoba mereview pikirannya, sejak kapan sebahagian hatinya telah hilang. Selama ini ia tidak pernah menyadari bahwa sebahagian hatinya telah hilang. Karena hatinya masih berfungsi dan bekerja sebagaimana mestinya. Pagi-pagi ia berangkat ke kantor, bekerja, istrinya juga bekerja. Mereka berpisah di garasi mobil. Istrinya akan memberikan ciuman jauh dan ia akan membalasnya.</p>
<p>Terkadang, isterinya terlebih dahulu meninggalkannya ke kantor. Tapi, selalu ia menuliskan secarik kertas berisi pesan-pesan. Atau kalaupun istrinya keburu, ia pasti tidak akan lupa mengirim sms kepadanya. Sarapan sudah disediakan Bi Ina.</p>
<p>Menjelang sore ia pulang, terkadang tidak pulang kalau istrinya mengirimkan sms; menyatakan ia akan menemui dan menemani klien sampai jauh malam. Terkadang itu sejak dua tahun terakhir dari lima tahun perkawinannya berubah sering. Karena sering ia mencoba mencari kesibukan sepulang kantor. Bermula, ia mengikuti kawannya bermain badminton. Di klub badminton ia bertemu kawan lama.</p>
<p>Pertemuan atau reuni berdua di kafe itu menjadi pertemuan bertiga karena secara tak sengaja kawan lamanya itu bertemu kawan lamanya di kafe itu. Dan ‘kawan lamanya’ kawan lamanya itu adalah pemilik kafe yang dikunjungi mereka.</p>
<p>“Di dunia ini memang semuanya serba kebetulan, dalam sehari saya menemukan dua kebetulan. Kebetulan pertama, saya bertemu kawan lama di klub badminton. Dan kebetulan kedua saya bertemu pemilik kafe oriental yang ternyata kebetulan adalah kawan lama saya juga. Padahal, hampir setahun terakhir saya menjadi pelanggan di kafe ini, tapi saya tak pernah bertemu dengan pemiliknya,” kata kawan lamanya.</p>
<p>“Dan karena kebetulan bertemu kawan lama, saya mendapat kawan baru,” sela Lidya, pemilik kafe dan ‘kawan lamanya’ kawannya. Pernyataan itu membuat mereka terbahak dan mencairkan suasana.</p>
<p>Itu pertemuan pertama mereka bertiga sekaligus adalah pertemuan terakhir. Dan pertemuan berikutnya adalah pertemuan berdua; bukan pertemuan antara kawan lama dengan kawan lama, tetapi pertemuan antara kawan baru dengan kawan baru. Pertemuan itu berlanjut dengan pertemuan kedua, ketiga, keseratusdua dan pertemuan berikutnya.</p>
<p>***                                                                              Kemarin, ketika ia sedang menyeruput secangkir café latte  di kafe kawan barunya, sellularnya berdenyar,” Bang, aku pikir sebaiknya aku mengambil cuti kira-kira setahun dua tahun. Aku mulai memikirkan untuk mengisi rumah kita yang sepi dengan kehadiran seorang anak,” begitu isi pesan singkat tersebut.</p>
<p>“Pada puncak karirmu,” ia membalas pesan itu dengan pesan pula</p>
<p>“Ya.”</p>
<p>“Ada apa denganmu?”</p>
<p>“Aku jenuh.”</p>
<p>“Hanya jenuh.”</p>
<p>“Lebih dari itu.”</p>
<p>“Nanti kau berubah pikiran lagi.”</p>
<p>“Kali ini tidak akan.”</p>
<p>“ up to u,” tulisnya mengakhiri hubungan sms dengan isterinya.</p>
<p>“Dari siapa?” Tanya Lidya, ketika ia hadir kembali ke mejanya. Tadi, ia meninggalkannya dan berbisik sesuatu kepada waitres.</p>
<p>“Isteriku,” jawabnya.</p>
<p>“O,” mulut Lidya membulat,” aku mainkan kau sebuah lagu kesayanganku pada piano ya,” tawarnya.</p>
<p>“Julio Iglesias, Nathalia.”</p>
<p>“Jangan, aku tidak begitu mahir bermain piano. Cuma kadang-kadang tangan saya gatal ingin menyentuh tuts piano. Lagu yang pokoknya kamu akan terkenang-kenang pada seseorang.”</p>
<p>“Lagu apa sih?”                                                                                                           “Rahasia deh,” Lidya tersenyum manja. Ia berjalan meninggalkan meja lelaki itu dan berjalan ke arah piano. Ia duduk merapikan jeansnya dan bagaikan pianis ulung tangan menari-nari pada tuts piano.</p>
<p><strong><em>Shie shang zhi you ma ma hao / You ma di hai zi xiang ge bao / Tou jin ma ma di huai bao / Xing fu xing bu hao….-Hanya ibu yang terbaik di dunia / Bersyukurlah anak yang memiliki seorang ibu / Alangkah bahagianya hidup dalam kasih sayang i</em>bu…..</strong></p>
<p>Lelaki itu bertepuk tangan dan diikuti pengunjung kafe lainnya. Setelah membungkuk memberi hormat kepada tamu ia kembali ke meja lelaki itu.</p>
<p>“Kenapa lagu kanak-kanak,” Tanya lelaki itu.</p>
<p>Lidya tercenung sejenak. “Kau tak suka lagu itu,” tanyanya ragu</p>
<p>“O, tentu tidak. Justru saya sangat mengagumi lagu itu. Tapi, kenapa justru lagu itu yang menjadi lagu favoritmu?”                                                                             “Pernahkah kau membayangkan lagu itu dari sisi paradoksnya, maksud saya lirik lagu tidak menggambarkan kenyataan yang saya alami. Malah kebalikan dari lirik lagu itu yang saya alami.”</p>
<p>“Maksudmu?”</p>
<p>“Pernahkah kau pikirkan, ada seorang anak yang sangat membenci ibunya dan ingin melenyapkannya secepat mungkin dari hadapannya dan muka bumi ini.”</p>
<p>“Saya semakin bingung,” lelaki itu menyentuh pipi Lidya, yang mulai berairmata.</p>
<p>“Saya membenci mami saya.”</p>
<p>“Why?</p>
<p>“Bolehkah saya tidak menjawabnya sekarang,” isaknya menaik.</p>
<p>“Tentu. That’s your privacy. I’m sorry,’ lelaki itu menyentuh pundak Lidya.</p>
<p>***</p>
<p>Ia, lelaki itu, kini menyadari, sebahagian dari hatinya bukan hilang atau menghilang. Namun, sebahagian hatinya telah tertinggal pada kafe itu. Tertinggal pada pemilik kafe itu dan sepersebahagiannya terserap oleh lagu kanak-kanak itu.</p>
<p>“Bang, kau gembira sekarang aku lebih banyak di rumah,” Tanya isterinya. Ia masih menyeruput kopi ‘made in Bi Ina’ dan asap tembakau masih mengepul-ngepul dari mulutnya. Tetapi dalam pikirannya, ia menyeruput cold frappe. Dan perempuan yang duduk di sampingnya, ia bayangkan Lidya. Ia membayangkan ia berada di kafe dan bukan di teras rumahnya.</p>
<p>“Hmm,” ia menyahut malas.</p>
<p>“kok gitu sih, apa kau tak setuju dengan perubahan rencanaku,” suara istrinya meninggi.                                                                                                                            Ia bangkit dengan malas dan meninggalkan isterinya. Dari jauh terdengar suaranya menyahut,” Saya lupa ada janji dengan kawan.” Tak lama kemudian ia keluar lagi dan sudah bersalin pakaian dan berjalan ke garasi, menstarter jazznya dan pergi.</p>
<p>Isterinya juga masuk ke kamar dan bersalin pakaian. Berjalan ke garasi dan menstarter mobilnya. Sebelum ke garasi ia membanting pintu dengan keras. Bi Ina mengurut dadanya yang kerempeng karena di makan usia.</p>
<p>***</p>
<p>Ia, lelaki itu, melangkah masuk ke kafe Oriental dengan gontai. Di pintu masuk ia hampir bertabrakan dengan lidya, pemilik kafe yang kebetulan  akan keluar.</p>
<p>“Asiong…,” sapanya terkejut dan buru-buru masuk ke kafe lagi</p>
<p>“Mainkan aku lagu kesukaanmu, Lidya.”</p>
<p>“Kenapa kau tiba-tiba menyukai lagu itu,” Tanya perempuan itu. Tangan lelaki itu menutup bibir perempuan itu. Pertanda ia ingin dihargai privacynya. Lidya berjalan kearah piano dan jari-jarinya menari di atas tuts piano.</p>
<p>Bayangan itu kembali lagi dan kembali lagi. Menghantui sukma Lidya dan merasuk sukma lelaki itu. Bayangan tentang perempuan yang judes, galak dan tangannnya menghunjami tubuh perempuan kecil, ketika perempuan judes itu kalah berjudi.</p>
<p>Bayangan itu datang menerpa lelaki itu, bayangan itu datang menerpa perempuan itu. Kemudian bayangan itu kabur, berganti bayangan mamanya yang bertengkar hebat dengan papanya. Dan kemudian perempuan itu lari meninggalkan anak perempuan itu. Dan kemudian perempuan itu lari meninggalkan anak laki-laki itu .Lelaki itu, telah berusaha menghapus kenangan itu pada memori otaknya ketika ia memutuskan untuk menikah. Tetapi, isterinya tidak membantunya dan malah menolongnya untuk kembali pada kenangan itu, manakala keputusannya untuk menunda punya anak.</p>
<p>Perempuan itu, tenggelam pada kesendirian, tenggelam pada lagu kanak-kanak. Sewaktu-waktu ia akan memainkan lagu  kanak-kanak itu seharian.</p>
<p>Tiba-tiba telepon genggam lelaki itu berdering. “Bang, saya kira saya akan menyingkatkan masa cuti dari setahun menjadi dua minggu.”</p>
<p>“Itu yang saya harapkan,” jawabnya, entah gembira atau bersedih.</p>
<p>***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Perempuan itu datang di tengah malam]]></title>
<link>http://yusrinlie.wordpress.com/2009/12/22/perempuan-itu-datang-di-tengah-malam/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 16:56:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusrinlie</dc:creator>
<guid>http://yusrinlie.wordpress.com/2009/12/22/perempuan-itu-datang-di-tengah-malam/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen : Afrizal Koto Malam kembali mempertemukan mereka.  Perempuan itu datang agak terlambat. Meng]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Cerpen : Afrizal Koto</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Malam kembali mempertemukan mereka.  Perempuan itu datang agak terlambat. Mengenakan blus hitam dan celana hitam. Rambut lurus bercat pirang. Tinggi semampai.</p>
<p>Lelaki itu hapal dengan kebiasaan perempuan itu. Ia duduk di sudut pub, menunggu perempuan itu, sambil meneguk wisky. Menikmati seteguk demi seteguk aroma wine ditemani berbatang-batang kretek.  Asap tembakau yang keluar dari mulutnya, membaurkan ruangan pub, menghipnotis dirinya.</p>
<p>Perempuan itu hadir manakala kreteknya telah tinggal setengah batang. Kehadiran perempuan itu selalu tidak disadarinya. Alih-alih, perempuan berbaju hitam itu telah duduk di sampingnya, menyembulkan asap rokok ke wajahnya. Laki-laki itu tidak marah. Semburan asap nikotin membuat ia tersadar dari semacam hipnotis..</p>
<p>Lelaki itu mencoba  menyelidiki dari arah mana datangnya perempuan itu.  Tetapi ia selalu gagal. Ada semacam misteri yang disembunyikan perempuan itu, batinnya.</p>
<p>***</p>
<p>“Amei,” sebut perempuan berbaju hitam itu.</p>
<p>“Asiong, “ jabat lelaki itu pada tangan perempuan itu. “Kita dipertemukan lagi . Aku sempat berandai-andai untuk memasang iklan di surat kabar seandainya kau tidak datang lagi. Isinya begini: Di cari seorang perempuan Chinese, suka berbaju hitam dan bercelana hitam , berambut pirang, tubuh tinggi ramping, berkulit kuning langsat dan bermata sipit. Umur sekitar dua puluh lima tahun. Kalau anda merasa memiliki ciri-ciri seperti di atas. Harap menghubungi aku di nomor handphone 0812605xxx.”</p>
<p>“Gila kau,” pekik perempuan itu manja.</p>
<p>“Ah, aku cuma bercanda. Yang ini serius, aku sering melihatmu duduk di sudut pub  beberapa bulan belakangan ini. Ingin aku mendekatimu tapi aku merasa sungkan, takut disangka laki-laki iseng yang suka mengganggu perempuan kesepian.”</p>
<p>Perempuan itu tertawa kecil, memamerkan sederetan giginya yang putih. Diantara giginya, ada satu buah yang berbandel seperti bintang film Hongkong Chang Man Ie.</p>
<p>“Tapi, akhirnya toh kau menjadi salah satu lelaki iseng itu,” ujar perempuan itu . Tangannya meraih segelas wisky dan diteguknya dua teguk.</p>
<p>Lelaki itu menghela nafas, mendengut ludah. “Kadang-kadang aku berangan-angan, ada seorang gadis yang mau menemaniku menghabiskan malam-malam yang panjang.  Dan perempuan itu adalah kau. Kelihatannnya kau perempuan baik-baik yang kesepian.”</p>
<p>“O….ya, betapa tingginya kau menghargai diriku,” senyum perempuan itu, kecut, tapi boleh jadi nanti kau akan merasa sangat  kecewa memberi nilai yang tinggi kepada diriku.”</p>
<p>“Ah, aku sudah terlalu akrab dengan rasa kecewa. Maka kuberanikan diriku untuk berteman dengan rasa kecewa. Barangkali di antara kecewa dan diriku akan terjalin sesuatu yang manis di kemudian hari.”</p>
<p>“Ucapanmu terlalu puitis. Kalau aku boleh tahu, mengapa menghabiskan malam-malam sendirian di pub,” tanya perempuan itu.</p>
<p>“Aku ingin melupakan sesuatu,” jawab lelaki itu.</p>
<p>“Melupakan sesuatu? Ini menarik. Jangan menjawab. Biar kuterka. Coba ulurkan tanganmu, biarkan kubaca rajah di tanganmu,” perempuan itu meraih telapak tangan lelaki itu tanpa persetujuan lelaki itu. Diperhatikan rajah-rajah di tangan laki-laki itu . Wajahnya  perempuan itu tampak serius membaca.</p>
<p>“Bagaimana hasil penglihatanmu” kejar lelaki itu tak sabar.</p>
<p>Perempuan itu menghela nafas panjang. “Anda mempunyai kenangan masa lalu yang suram sekali. Peristiwa itu telah merengut nyawa istrimu dan anakmu. Tapi, kau lihat,” katanya menunjuk ke salah satu garis di rajah tangan lelaki itu,” tapi, kau akan mendapatkan seorang pengganti istrimu, yang wajahnya, sifatnya dan tingkah lakunya persis seperti almarhum istrimu. Namun sebelum kau menemukan jodohmu, kau akan mendapatkan beberapa rintangan  dalam kehidupanmu.”</p>
<p>“Boleh kutahu rintangan apa yang akan kuhadapi kelak?” lelaki  itu mencoba serius.</p>
<p>“Itu rahasia alam, aku tidak memiliki wewenang untuk membeberkan rahasia Thien Kung,” ujar perempuan itu, menghentikan aksi meramalnya.</p>
<p>Malam telah semakin matang. Dini hari menjelang. Irama musik semakin menghentak. Perempuan itu berdiri buru-buru dan bergegas meninggalkan lelaki itu.</p>
<p>“Aku harus segera pergi, sampai ketemu lagi. Bye-bye,” tanpa menghiraukan keberatan lelaki itu.</p>
<p>***</p>
<p>Pada malam-malam yang lain, mereka semakin sering bertemu di sudut pub ditemani secangkir wisky dan berbungkus  nikotin. Berhari-hari, berminggu, bahkan berbulan-bulan mereka mengadakan pertemuan.  Mereka tidak pernah berjanji akan bertemu lagi di malam-malam yang lain, di pub yang sama. Karena perempuan itu tidak pernah mau memberikan nomor telepon selulamya.</p>
<p>Lelaki itu seperti biasanya, ketika dilihatnya matahari telah tenggelam. Dan malam mulai datang, ia memacu mobilnya membelah malam  dan masuk ke pub yang sama dengan harapan akan bertemu dengan perempuan itu. Dan memang dalam bulan-bulan terakhir ini, harapannya selalu terkabulkan.</p>
<p>Pada  malam berikutnya, mereka kembali dipertemukan dalam ruangan pub yang sama. Wajah perempuan itu kelihatan agak pucat malam itu. Bibirnya kendati ditutupi oleh lipstik, tidak mampu menyembunyikan warna pucatnya. Lelaki itu memperhatikan perempuan itu dengan serius. Ditatapnya wajah perempuan itu dengan teliti, dari rambutnya, matanya, bentuk bibirnya, bentuk wajahnya dan sebuah tahi lalat di atas mata kanan perempuan itu.</p>
<p>Serta merta lelaki itu terkejut. Ia tidak pernah menyadari selama ini, bahwa perempuan itu memiliki sebuah tahi lalat di atas mata kanannya, persis seperti…ah, kenangan itu semakin membuatnya sedih.</p>
<p>“Ada sesuatu di wajahku yang membuatmu terkejut,” sentuh perempuan itu pada tangan lelaki itu</p>
<p>“Tahi lalatmu itu.”</p>
<p>“Kenapa dengan tahi lalatku itu,” Tanya perempuan itu.</p>
<p>Lelaki itu menelan ludah sebelum menjawab. “Kata orang ah….sebaiknya aku tidak berkomentar.”</p>
<p>“Aku sudah pernah bereinkarnasi, maksudmu begitu.” Lelaki tidak terkejut lagi. Ia tampak lega.</p>
<p>“Menurut kepercayaan orang tionghoa memang begitu, tetapi aku tidak tahu apakah itu takhyul atau bukan. Tetapi memang  tahi lalatmu itu persis dengan tahi lalat kepunyaan almarhum isteriku, mei ling.”</p>
<p>“ Barangkali kau terlalu banyak menonton film sejenis itu,” tawa perempuan itu misterius. Ah, malam sudah semakin larut, aku harus segera pulang.” Tangan lelaki itu gesit kali ini, ia segera mencengkram lengan perempuan itu.</p>
<p>“Please,  kuantar kau pulang malam ini,” pintanya.</p>
<p>“Please, biarkan aku pulang sendiri, sudah hampir pagi,”tolak  perempuan itu .</p>
<p>“Please,” berharap  lelaki itu.</p>
<p>“Please..,” memelas perempuan itu . Tangan lelaki itu mengendur, kesempatan ini dimanfaafkan perempuan itu untuk melepaskan cengkraman lelaki itu dan ia pun bergegas pergi.</p>
<p>***</p>
<p>Pada malam yang lain disudut pub yang sama. Lelaki itu duduk sendirian menantikan kehadiran perempuan itu. Sejam dua jam, sehari dua hari, sebulan dua bulan, ia tak pernah  menemukan kehadiran perempuan itu lagi..</p>
<p>Di Koran, di tabloid dan di majalah-majalah ia mencari gambar-gambar bayi-bayi yang  memiliki tahi lalat di atas mata kanan. Pada sebuah majalah ibu dan anak, ia menemukan bayi itu. Dan ia yakin bayi itu adalah reinkarnasi dari perempuan itu, amei.</p>
<p>***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Angpao ]]></title>
<link>http://yusrinlie.wordpress.com/2009/12/22/angpao/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 16:48:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>yusrinlie</dc:creator>
<guid>http://yusrinlie.wordpress.com/2009/12/22/angpao/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen: Afrizal Koto Angpao, amplop merah berisi uang, sebuah tradisi Tionghua yang diwariskan dan m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Cerpen: Afrizal Koto</p>
<p>Angpao, amplop merah berisi uang, sebuah tradisi Tionghua yang diwariskan dan masih dilaksanakan oleh kami, peranakan.Tionghua, sampai hari ini. Dalam acara pernikahan,ulang tahun, mengayunkan bayi satu bulan , perayaaan Imlek dan acara-acara lainnya semuanya memerlukan angpao.</p>
<p>Angpao merupakan primadona yang harus di bawa dalam setiap perhelatan-perhelatan ini. Pernah suatu kali, Keluargaku bersama keluarga kakakku pergi ke suatu undangan ulang tahun kerabat dekat dari pihak ibu. Kakakku lupa membawa angpao, lupa membawa amplop yang berwarna merah, kami terpaksa mencarinya di sepanjang perjalanan menuju rumah yang mengundang kami. Kebetulan, rumah kerabat yang menyelenggarakan pesta tersebut bukan di daerah pecinan. Kami pontang-panting kesulitan untuk mendapatkan amplop berwarna merah itu. Untunglah, setelah mencari-cari masih ada sebuah angpao lusuh yang tercecer di dashboard mobil.</p>
<p>***</p>
<p>Imlek sudah diambang pintu. Keluarga kami sibuk sekali menjelang perayaan Imlek tahun ini.  Terutama istriku sibuk membersihkan rumah, menjolok sarang laba-laba yang tergantung di atas langit-langit . Mengecat ruang tamu agar kelihatan lebih baru. Segala yang bersih melambangkan kesucian dan kemurnian hati menyambut Imlek. Seperti kebaikan yang selalu mengalahkan kejahatan. Seperti Tuhan Kristus yang mengalahkan tipu daya Iblis yang mencobainya. Aku meyakini falsafah bersih-bersih dari nenek moyang kami dulu di Tiongkok adalah tidak bertentangan dengan Iman Kristen.</p>
<p>Anakku, Christopher adalah orang paling sibuk dalam menyambut tahun baru imlek kali ini. Dia bukan sibuk ikut membersihkan rumah. Dia bukan sibuk menanyakan dari mana asal muasalnya datangnya Imlek. Atau mengapa tahun baru Imlek hanya dirayakan oleh peranakan Tionghua. Ia juga tidak menanyakan Imlek itu sebenarnya hari perayaan apa. Semua tetek bengek sejarah tahun baru Imlek cukup di simpan di rak buku saja baginya.</p>
<p>Ia sibuk menghitung berapa jumlah baju baru yang telah dibeli Mamanya. Dan sesuatu yang membuatku terhenyak adalah ia mulai menghitung berapa jumlah angpao yang akan diperoleh dari paman-bibi, pakcik-tante, kakek-nenek dan kerabat-kerabat lainnya. Dan yang satu ini adalah hal yang paling sensitif dan peka. Angpao!”</p>
<p>“Pa, kupikir tahun ini, Jumlah angpaoku akan bertambah dua,” katanya ketika kami sibuk mengecat pekarangan rumah pada hari minggu, setelah pulang dari kebaktian di gereja.</p>
<p>“Hmm,” aku mendehem, tidak begitu memperhatikan ucapan anakku, karena tanganku masih belepotan cat.</p>
<p>“Pa, Angpaoku akan bertambah dua, Pa?”</p>
<p>“Imlek belum tiba kok sudah menghitung angpao, Nak,” sahutku tersenyum, seraya menghentikan aktivitas tanganku.</p>
<p>“Dari Tante Ah Mei, yang baru menikah tiga bulan yang lalu. Aku akan mendapat tambahan satu angpao. Kemudian dari Paman Ah Siong yang baru beristri, aku juga akan menerima satu angpao. Eh, eh, salah mungkin aku akan mendapat tambahan tiga.”</p>
<p>“Kok tiga, dari mana satu lagi?” tanyaku ingin tahu.</p>
<p>“Papa ini bagaimana sih, Bibi Ah Ling, istri Pakcik Ah siong, pasti akan memberikan aku bonus satu angpao lagi. Aku yakin, Bibi Ah ling suka sama aku kok,” katanya bangga.</p>
<p>“Maunya, kenyataannya…. Belum tahu, he he,” kataku mengejeknya.</p>
<p>“ Papa payah, Papa payah, pokoknya tiga..,” teriaknya kurang senang.</p>
<p>Aku meneruskan kegiatanku mengecat pekarangan yang tinggal sedikit lagi.</p>
<p>***</p>
<p>Berawal dari keinginan anakku, Chritopher, diisengi oleh Papanya dan diamini oleh Mamanya maka kami bertiga ingin menghitung jumlah “hasil perburuan” angpao pada tahun Imlek kali ini. Kami sudah mengunjungi rumah kakek-nenek, Pakcik pertama dan pakcik kedua. Bibi pertama, kedua dan ketiga dari pihakku.. Aku memiliki enam bersaudara. Tiga orang saudara laki-laki dan dua orang saudara perempuan.</p>
<p>“Pa, aku ingin menghitung jumlah angpao yang kuterima? Berapa jumlah uang yang kuperoleh? Apakah cukup untuk membeli sebuah Play Station? Tanya anakku, Christopher.</p>
<p>Pertanyaan itulah yang memicu kami mengadakan hitung-menghitung laba rugi. Kebetulan, dalam urusan hitung-menghitung istriku adalah pakarnya. Karena dia adalah lulusan sarjana ekonomi. Maka kuserahkan urusan hitung-menghitung kepadanya.</p>
<p>Kami memberikan angpao kepada Ah kong-Ah ma sebesar delapan ratus ribu rupiah. Ah kong-Ah ma memberikan angpao kepada anakku, Christopher sebanyak satu juta rupiah. Dengan demikian satu juta rupiah dikurangi delapan ratus rupiah sama dengan dua ratus ribu rupiah. Kami untung dua ratus ribu rupiah.</p>
<p>“Ini pertanda baik, Pa,” kata istriku gembira. Aku ikut mengamini. Tahun Imlek yang lalu Ah kong-Ah ma memberikan angpao kepada anakku sebesar jumlah angpao yang kami berikan kepadanya. Impas!” Tahun ini laba dua ratus ribu rupiah. He he.</p>
<p>Pakcik pertama, Pakcik Ah Seng seorang pedagang sembako, yang terkenal agak pelit. Mudah-mudahan tahun ini ia akan bermurah hati. Ia mempunyai dua orang anak. Kami memberinya masing-masing seratus ribu rupiah. Jadi dua orang anak, jumlahnya dua ratus ribu rupiah.</p>
<p>“Ayo dibuka angpao dari Pakcik Ah Seng,”desak istriku.</p>
<p>Aku dan Christopher buru-buru membuka bungkusan merah itu. Dengan hati berdebar-debar kami ingin mengetahui berapa isi angpao tersebut.”</p>
<p>“Ya….Cuma seratus ribu rupiah,”seru anakku kecewa.</p>
<p>“Berarti rugi seratus ribu rupiah. Dari Ah kong-Ah ma kita untung dua ratus ribu rupiah. Dari Pakcik Ah Seng rugi seratus ribu rupiah. Jadi dua ratus ribu rupiah dikurangi seratus ribu rupiah sama dengan seratus ribu rupiah. Kita masih untung seratus ribu rupiah. Lumayan,” otak kalkulator istriku bekerja.</p>
<p>Pakcik kedua, Pakcik Ah Siong, seorang dokter, yang satu ini orangnya agak royal Anaknya satu orang. Kami membungkus sebesar dua ratus ribu rupiah. Dan ia memberikan angpao kepada Christopher sebesar dua ratus delapan puluh ribu rupiah. Dengan demikian laba delapan puluh ribu rupiah. Seratus ribu rupiah ditambah delapan puluh ribu rupiah sama dengan dua ratus delapan puluh ribu rupiah. Dan istrinya, bibi Ah Ling memberikan seratus ribu rupiah. Bertambah laba sebesar  tiga ratus delapan puluh ribu rupiah.</p>
<p>Dari bibi pertama  perhitungan untung rugi adalah kami rugi empat ratus ribu rupiah. Karena bibi pertama, bibi Ah phin, anaknya ada lima orang. Dan suaminya bukan orang kaya. Berati empat ratus ribu rupiah dikurangi tiga ratus delapan puluh ribu rupiah sama dengan dua puluh ribu rupiah. Dari bibi ketiga, bibi Ah mei, Christopher mendapat seratus ribu rupiah lagi. Masih untung seratus dua puluh ribu rupiah.</p>
<p>Dan yang paling menegangkan adalah dari bibi kedua, bibi Ah Fen. Beliau adalah kakakku yang paling kaya. Anaknya ada empat orang. Satu orang masing-masing kami memberikan dua ratus ribu rupiah. Empat orang berarti delapan ratus ribu rupiah .</p>
<p>Sekarang posisinya adalah delapan ratu ribu rupiah dikurangi seratus dua puluh ribu rupiah sama dengan enam ratus delapan puluh ribu rupiah. Bagaimana nasib angpao anakku, ini semua tergantung dari angpao terakhir yang akan kami buka sebentar lagi.</p>
<p>Bungkusannya tipis, sepertinya kami akan mengalami kerugian tahun ini. Perasaan kami berdebar-debar. Berawal dari iseng-iseng, tetapi sekarang menjadi menegangkan. Harapan kami pesimis sekali.</p>
<p>“Pa, kayaknya kita rugi, tahun depan kita jangan pergi ke rumah  pakcik dan bibi lagi. Ke rumah Ah kong, biar kita untung saja,”kata anakku kecewa.</p>
<p>“Hus…,”Aku dan istriku menyahut hampir berbarengan.</p>
<p>“Oh Bapa, Oh Yesus, tolonglah kami,dengarkanlah doa kami.”</p>
<p>Amplop ini kami buka dengan perlahan. Uff, tidak ada uangnya. Oh…..hanya secarik kertas. Kami tarik perlahan kertas tersebut. Di sana ada tulisan.</p>
<p>Gong Xi Fa Cai!” Tidak ada tulisan apa-apa lagi.</p>
<p>“Aduh, bagaimana ini Tuhan Yesus,”pekik kami hampir berbarengan.</p>
<p>“Pa, dibelakang ada tulisan lagi,” teriak Christopher.</p>
<p>Kami tergesa-gesa membacanya, bibi hadiahkan sebuah Play station buat Christopher. Hadiahnya dapat diambil di toko Ah Sin, teman Bibi.</p>
<p>“Terima Kasih, Yesus!” seru istriku.</p>
<p>“Thanks Jesus!”sahut anakku.</p>
<p>“Kamsia Yaso,” teriakku.</p>
<p>***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Emak, Seorang Perempuan Perkasa]]></title>
<link>http://rosit.wordpress.com/2009/12/22/emak-seorang-perepuan-perkasa/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 12:30:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>rosit</dc:creator>
<guid>http://rosit.wordpress.com/2009/12/22/emak-seorang-perepuan-perkasa/</guid>
<description><![CDATA[Emak, begitulah Daoed Joesoef dan kakak-kakaknya memanggil ibunya setia harinya. Mereka begitu bangg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://rosit.wordpress.com/files/2009/12/1910364.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-492" title="1910364" src="http://rosit.wordpress.com/files/2009/12/1910364.jpg" alt="" width="163" height="168" /></a>Emak, begitulah Daoed Joesoef dan kakak-kakaknya memanggil ibunya setia harinya. Mereka begitu bangga dengan emak yang selalu memberikan kasih sayang, motivasi, filosodi kehidupan dan suri tauladan kepada anak-anaknya. Di tengah-tengah suasana kolonialisasi pemerintahan Hindia Belanda mayoritas penduduk pada umumnya pada terbakar kebencian tehadap imperialis, mengakibatkan penduduk pribumi tadak mau bersekolah milik orang-orang Belanda bahkan meniru-niru kebiasaan kaum imperialis pun diharamkan oleh mayoritas penduduk pribumi pada umumnya.</p>
<p>Meskipun demikian, emak tidak terjebak ke dalam gerbong fanatisme buta yang dialami oleh yang lainnya. Emak, sosok ibu yang sangat dinamis, dan mengerti apa yang harus diperbuat di tengah-tengah kesulitan imperialisasi terutama dalam memberikan petunjuk pada anak-anaknya. Hal itu terbukti misalnya emak dengan percaya diri mau belajar menaiki “kereta angin” di mana pada saat itu kendaraan yang beroda dua itu diharamkan oleh penduduk pribumi pada umumnya. Mengingat kereta angin merupakan kendaraan untuk nona-nona Belanda. Meskipun emak mendapat gunjingan dan gosip di sekitar warga kampung, namun usaha agar bisa menaiki kereta angin tetap dijalankan dengan tekun tanpa peduli sedikitpun segala gunjingan warga sekitar rumah,  alhasil emak adalah orang pertama kali yang bisa menaiki kereta angin di kampung itu.</p>
<p>Di lain kasus, emak juga sosok perempuan yang sangat peduli terhadap pendidikan khususnya buat anak-anaknya. Emak berpendapat bahwa kalau ingin keluar dari imperialisasi maka penddikan harus dicapai setinggi tingginya tanpa membedakan warna kulit bahkan kita harus belajar dari mereka. Bahkan emak dengan tegas membantah persepsi masyarakat pada umumnya yang mengharamkan melanjutkan pendidikannya ke sekolah Belanda. Kata emak, “ bukankah saat Rosullullah mau membebaskan para tawanan perang badar dengan syarat mereka harus mengajari baca tulis kepada kaum muslimin pada saat itu. Padahal pembebasan tawanan yan berlaku ketika itu di antara kelompok-kelompok yang berperang adalah tebusan berupa 100 ekor Unta atau uang sebanyak 400 Dirham, yaitu sepadan untuk biaya makan seorang selama 30 tahun.” Begitulah argumen emak.</p>
<p>Tak hanya seorang ibu yang keras usaha dan menjunjung pendidikan. Daeod Joesoef juga memaparkan bahwa emak ternyata memahami ide-ede kemerdekaan dan kenegaraan di tengah-tengah kebodohan masyarakat. Hal itu dibuktikan dalam sebuah diskusi dengan sosok pemuda yang indekos di rumahnya yang akrab dipanggil dengan mas Singgih. Mas Singgih merupakan seorang pemuda dari keturunan bangsawan Jawa yang berpetualang di pulau Sumatera untuk berjuang menyebarkan ide-ide kemerdekaan di tengah-tengah ketidaksadaran dan ketidakberdayaan masyarakat pribumi. Di setiap diskusi bersama dengan mas singgih, emak selalu memperhatikan baik-baik dan tak mau ketinggalan dengan yang lainnya dari setiap gagasan perjuangan yang dipaparkan oleh mas singgih. Emak begitu larut dalam suasana diskusi dan ia sesekali bertanya kritis gagasan-gagasan kebangsaan dan kemerdekaan baik dari mas singgih sendiri maupun dari tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan lainnya melalui penjelasannya. Misalnya dalam sebuah diskusi tentang peran agama dalam perjuangan. Emak berpendapat bahwa semua agama, tanpa kecuali, mengajarkan yang serba baik bagi kehiduan ini. Bahkan tidak hanya terbatas pada hubungan antara sesama manusia, tetapi meliputi perlakuan khalifah Tuhan ini terhadap makhluk binatang  dan sikapnya terhadap alam sebagai keseluruhan. Maka alih-alih saling berebut menonjol-nonjolkan simbol agama masing-masing, saling menyombongkan kelebihan agama masing-masing, saling memamerkan bentuk-bentuk keimanan  masing-masing, para penganut agama lebh baik membuat agamanya seperti garam saja, lebur dalam makanan, dapat dirasakan kebaikan manfaatnya  serta ketepatan pemerataannya tanpa kelihatan sedikitpun kehadirannya. Bukankah setiap agama seharusnya menjadi rahmat bagi kita semua. Jadi kalau Islam mau dibuat maslahat bagi manusia, janganlah ia disendirikan bagai garam dalam botol Arab yang pantang disentuh, namun dibiarkan lebur menyatu dengan semua bahan yang membuat makanan sempurna lezat. Begitulah gagasan emak tentang peran agama memaknai sebuah perjuangan.</p>
<p><strong>Perempuan mewarnai rumah tangga</strong></p>
<p>Sekali lagi, Daoed Joesoef mengangkat keperkasaan seorang perempuan (emaknya) yang digambarkannya. Begitu ikut andil khususnya dalam mewarnai kehidupan keluarga. Apalagi untuk kontek kekinian, dalam kehidupan rumah tangga sosok ibu memberikan warna tersendiri dalam kehidupan rumah tangga. Realitas mengatakan, bahwa seorang ibu jauh lebih dekat dengan anak-anaknya, dari lahir anak diasuh, dididik dan dibesarkan di atas pangkuan ibu. Oleh karena itu, ibulah yang membentuk kepribadian seorang anak.  Ibu juga mempunyai peran yang besar untuk mengarahkan anaknya sesuai dengan kehendaknya. Maka untuk sepanjang zaman, dibutuhkan seorang ibu yang cerdas, dinamis, dan komunikatif dalam mewarnai kehidupan sebuah keluarga khususnya membentuk anaknya menjadi generasi yang unggul. Salah besar kalau menjadi ibu rumah tangga mudah dan tak harus berpendidikan.</p>
<p>Untuk kontek kekinian, nyatanya mayoritas seorang perempuan mengabaikan nilai-nilai yang harus dipenuhi sebagai seorang ibu rumah tangga. Bahkan ibu rumah tangga itu identik kurang cerdas, tak bisa bersaing di luar rumah dan malas bekerja.  Sedangkan mereka lebih dominan untuk berkarir di luar rumah tanpa peduli kehidupan rumah tangganya.</p>
<p>Meskipun tampak terdengar sederhana menjadi seorang ibu rumah tangga yang siaga,  namun untuk mencapai tingkat kepuasan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik diperlukan pengalaman, kecerdasan, dan bertanggung jawab. Saya begitu kagum saat membaca tulisan-tulisan Ade (seorang mahasiswi) yang penuh imajinasi dan hikmah dari setiap coretan di blog pribadinya (<a href="http://www.rinduku.wordpress.com/">www.rinduku.wordpress.com</a>) bahkan setiap tulisan yang dimuat di blog probadinya berbagai kalangan merespon dan berkomentar tak kurang dari ratusan komentar. Lantas apa keterkaitannya dengan Ade, seorang perempuan yang lihai menulis itu? Ternyata impiannya bukan menjadi wanita karir, artis ngetop namun ia menginginkan menjadi seorang ibu rumah tangga yang akan melahirkan anak-anak yang cerdas tangkas dan unggul.</p>
<p>Begitu juga dengan emak, ia telah sukses mendidik anak-anaknya “Daoed Joesoef telah berhasil meraih gelar doktor di sorbonne dan menjadi seorang menteri pendidikan di era pembangunan VIII di pemerintahan Orde Baru. Ia pun selalu mengingat nasehat-nasehat maupun petuah petuah bijak emak dalam setiap langkahnya.  Karena didikan emaklah ia menjadi orang yang sukses.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[umbrella]]></title>
<link>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/umbrella/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 00:33:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>pandu1031</dc:creator>
<guid>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/umbrella/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Hai, sudah lama menunggu?&#8221;, suaranya yang lembut menyapaku dibalik derasnya hujan di ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Hai, sudah lama menunggu?&#8221;, suaranya yang lembut menyapaku dibalik derasnya hujan di malam hari itu.</p>
<p>&#8220;Memangnya kau peduli? Ayo.&#8221;</p>
<p>Ia tersenyum. Lalu akhirnya kami berjalan menembus hujan dengan hanya menggunakan satu payung yang ia bawa.</p>
<p>&#8220;Sepi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah tidak juga, masih banyak mobil yang lewat. Di pinggir jalan juga banyak orang yang berteduh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudku trotoarnya sepi. Tidak ada pejalan kaki lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh..&#8221;</p>
<p>&#8220;Padahal pemandangan para pejalan kaki yang menggunakan payung di tengah hujan deras pasti terlihat indah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sok romantis,&#8221; ujarnya dengan nada mengejek. Aku tidak menanggapinya, hanya tersenyum.</p>
<p>&#8220;Apa sekarang payung menjadi tidak begitu populer?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Tidak tahu.&#8221; jawabnya malas.</p>
<p>&#8220;Hehehe. Kita berjalan berdua dan menjadi satu-satunya pengguna payung malam ini, dan kita sedang membicarakan tentang payung juga. Rasanya aneh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu sendiri yang membicarakan tentang payung, bukan aku. Gantian pegang payungnya, aku pegal.&#8221; ujarnya sambil menyerahkan payungnya padaku. Payungnya sangat sederhana, berwarna hitam dan berujung bengkok, sangat klasik.</p>
<p>&#8220;Ini payung siapa sih, rasanya tidak seperti payung perempuan. Apa kamu mencurinya dari sebuah pemakaman sore tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sembarangan, itu payung kesukaan aku. Memang terlihat seperti payung untuk pemakaman. Tapi aku suka warna hitam, jadi cuek saja. Lagian memangnya perempuan harus memakai payung yang bermotif bunga-bunga?&#8221;</p>
<p>Aku tak menjawab pertanyaannya dan malah balik bertanya, &#8220;Siapa saja yang pernah berada di bawah payung ini bersamamu sebelum aku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ada, baru kamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah? Dengan pacarmu pasti pernah kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia tidak suka. Dia lebih memilih berteduh menunggu hujan reda.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sepertinya payung memang benar-benar menjadi semakin tidak populer.&#8221;</p>
<p>Setelah itu kami terdiam beberapa saat. Aku mulai memikirkan keadaanku sekarang. Berjalan di tengah hujan di malam hari bersama seorang wanita di bawah satu payung bukanlah hal yang jelek. Sama sekali tidak jelek. Wajahnya yang sesekali terlihat jelas karena sorot lampu mobil terlihat indah. Dia terlihat cantik, padahal sebetulnya wajahnya biasa-biasa saja.</p>
<p>Lalu aku menyenandungkan sebuah lagu. Sebetulnya aku tidak memiliki maksud apa-apa. Hanya iseng saja.</p>
<p>&#8220;Hihihi. Kalau lagi hujan begini suara kamu terdengar lebih enak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya. Kalau hujan, bau parfum kamu yang membosankan itu juga jadi enak karena bercampur dengan bau tanah yang terkena hujan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jahat!&#8221; katanya sembari memukul lenganku. Aku hanya tertawa.</p>
<p>Setelah itu kami kembali terdiam. Kali ini dia yang mulai bersenandung. Tetapi sebentar kemudian dia berhenti, &#8220;Tuh kan, aku jadi ketularan kamu.&#8221;</p>
<p>Aku malah meneruskan lagu yang ia nyanyikan. Aku lihat wajahnya sambil terus bernyanyi. Ia tersenyum, senyumnya seolah mengatakan &#8220;oh, well&#8230;&#8221;. Lalu kami berdua bersenandung bersama.</p>
<p>Ketika itu hujan sepertinya sudah berhenti. Terlihat beberapa orang pejalan kaki mulai berjalan di trotoar. Kami masih menggunakan payung.</p>
<p>&#8220;Payungnya mau diturunkan?&#8221;, tanyaku.</p>
<p>&#8220;Jangan dulu. Aku masih suka begini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak masalah dilihat oleh orang-orang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarkan mereka iri melihat kita. Kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan oleh kita yang menggunakan payung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sok romantis. Hehe.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarin!&#8221;</p>
<p>Seperti biasa, ia terlihat sangat cantik di saat-saat begini.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Gigolo, aku?]]></title>
<link>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/gigolo-aku/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 00:26:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>pandu1031</dc:creator>
<guid>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/gigolo-aku/</guid>
<description><![CDATA[Lalu ia mengerang dengan pilu setelah meneriakkan nama seorang laki-laki berkali-kali. Bukan namaku,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Lalu ia mengerang dengan pilu setelah meneriakkan nama seorang laki-laki berkali-kali. Bukan namaku, sebuah nama yang tidak pernah kudengar. Setelah ia mengeluarkan semuanya ia terkulai lemas di sebelahku. Matanya menerawang, entah apa yang ia lihat atau pikirkan. Lalu ia mulai mengeluarkan air mata. Tak berapa lama matanya terpejam. Lalu terdengar napasnya mulai teratur, ia tertidur.</p>
<p>Aku bangkit dari tempat tidur. Duduk sejenak di pinggir tempat tidur. Aku belum mencapai klimaks, tapi aku tak peduli. Setelah menyeka keringat di dahi aku berdiri. Kupandangi sejenak tubuh yang ada di depanku, tubuh yang sedang terkulai tak bergerak di tempat tidur. Tubuhnya di keremangan kamar hotel itu terlihat begitu sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Dan aku jadi merasa berdosa karena baru saja memasukinya. Wajahnya terlihat lebih cantik dalam kegelapan seperti ini, seperti wajah seorang anak gadis berusia 13 tahun yang belum pernah terluka.</p>
<p>Kemudian aku berjalan ke arah sofa dan duduk di situ. Masih dalam keadaan telanjang aku meneguk sisa wiski yang ia taruh di meja, langsung dari botol. Wiski tersebut tidak kuhabiskan, aku menumpahkan sisanya yang tinggal sedikit di karpet. &#8220;Ups,&#8221; kataku dalam hati. Entah kenapa aku melakukannya, hanya saja rasanya aku harus melakukannya. Aku termenung sejenak memejamkan mata dan menyandarkan kepalaku di sofa tersebut. Aku seorang gigolo, diriku membatin. Aku tidak peduli apa yang terjadi sebelumnya atau apa masalahnya. Ia datang kepadaku  dan ia  membutuhkanku, lalu aku memberi apa yang ia inginkan. Hanya itu saja. Sejak semula tidak ada yang namanya cinta. Apa yang ia cari tidak benar-benar ada dalam tubuhku.</p>
<p>Seharusnya begitu. Seharusnya aku hanyalah seorang gigolo untuknya. Seharusnya aku tidak pernah bersentuhan dengan hal bernama cinta. Semula aku begitu yakin, cinta hanya akan menghalangi hubunganku dengan wanita. Oleh karena itu aku tidak pernah mengikutkan cinta dalam hubunganku dengan wanita, tidak pernah. Hal bernama cinta sudah kubuang jauh-jauh dalam kehidupanku. Semuanya hanya permainan. Peraturannya sederhana, tidak ada yang terluka ataupun tersakiti, semuanya senang. Tidak ada sesuatupun yang membelenggu, seperti hal menggelikan bernama cinta.</p>
<p>Tetapi hari ini aku begitu bingung. Aku sudah lupa seperti apa cinta. Sehingga aku tidak mengerti sesuatu yang kini menggelantung di dadaku, terasa sesak. Aku seperti benci akan sesuatu, sebegitu bencinya sampai aku menumpahkan wiski ke atas karpet. Aku dapat langsung pergi dari sini, meninggalkannya. Tetapi rasanya sungguh berat, bahkan seperti ada rantai tidak terlihat yang mengikatku di sofa ini. Aku tak bisa pergi, sesuatu menghalangiku. Ya, itu adalah kehadirannya. Kehadirannya di kamar ini terasa begitu menekanku sekarang. Menekan dengan suatu perasaan yang asing. Aku seperti berada dalam suatu medan magnet yang kuat yang dapat menarikku menuju suatu inti yang tidak terbayangkan. Aku takut. Aku seperti bertemu musuh bebuyutan yang kemunculannya tiba-tiba dan sangat tidak kuinginkan. Cinta kembali menusukku. Kali ini lebih dalam. Karena aku tidak pernah menduga kemunculannya. Aku sudah kalah. Betul-betul telak. Jangan wanita ini. Mungkin apabila dengan wanita yang lain tidak akan terasa begini sakit. Tetapi tidak dengan wanita yang sewaktu bersetubuh denganku kemudian meneriakkan nama seorang laki-laki lain berkali-kali kemudian mencapai klimaks lalu menangis, tidak dengan wanita ini. Aku tidak ingin meninggalkannya di sini sendirian.</p>
<p>Lalu bagaimana sekarang? Cinta selalu membuatmu bingung. Begitulah. Kemudian aku berdiri mengambil rokok dan geretan di saku celanaku. Karena merasa sedikit kedinginan aku memakai kimono hotel yang kuambil dari kamar mandi. Kemudian aku berjalan ke arah jendela, membuka sedikit celah lalu mulai merokok.</p>
<p>Ia bukanlah wanita yang paling cantik. Sebelum berhubungan dengan dia aku sudah pernah berhubungan dan tidur dengan wanita yang lebih cantik, bahkan mungkin ialah yang paling tidak cantik dibandingkan dengan wanita-wanita yang pernah tidur denganku. Aku selalu melihat mereka dari wajah, kemudian bentuk tubuh. Lalu setelah tidur dengan mereka beberapa kali sampai aku bosan dengan mereka, maka game over, permainan selesai. Karena sejak semula aku sudah mengatakan kalau ini hanya permainan, mereka tidak mempermasalahkannya. Tetapi ia berbeda. Wajahnya biasa saja lalu tubuhnya sedikit terlalu kurus dibandingkan dengan bentuk tubuh ideal dalam bayanganku. Hanya saja yang menarik perhatianku adalah matanya yang bening, tajam, dan seperti banyak mengandung unsur kehidupan. Membuat orang yang menatapnya akan sulit untuk memalingkan pandangannya dari matanya. Tidak pernah terbayangkan untuk tidur dengannya. Kami berkenalan secara tidak sengaja di sebuah toko buku tempat aku biasa membeli buku. Ia mengatakan kalau ia sering melihatku di toko ini, dan setelah mengobrol panjang lebar tentang berbagai macam buku, kami jadi akrab. Setelah itu aku sempat beberapa kali jalan dengannya. Ia mengatakan kalau ia sudah mempunyai kekasih. Aku tidak begitu peduli, setahuku itu bukan masalahku, ingat, tidak ada cinta. Lagipula ia mau saja jalan denganku walau sudah memiliki kekasihku. Kalaupun kekasihnya datang untuk memukuliku sekalipun, maka saat itu juga aku akan pergi. Sampai saat itu tidak terpikir olehku untuk tidur dengannya, aneh. Biasanya setelah dua tiga kali jalan dengan seorang wanita maka saat itu juga aku akan menjalankan rencana untuk tidur dengan mereka. Aku merasa cocok dengannya, dan aku begitu menyukai  bercakap-cakap dengannya, seolah aku tidak akan pernah bosan. Sehingga saat itu timbul perasaan kalau wanita ini terlalu berharga untuk kutiduri. Tetapi tiba-tiba pada malam hari ini ia mengajakku jalan. Ia mengajakku pergi ke bar untuk minum. Aku tidak tahu kalau ia merupakan peminum yang cukup parah. Lalu setelah itu ia mengajakku ke hotel, ia tidak mau pulang katanya. Sialnya pola ini terlalu sering kujalani, sehingga membuat instingku tumpul. Seharusnya aku sudah tahu ada yang aneh dengannya malam itu. Lalu segala sesuatunya terjadi seperti sesuatu yang alami dan harus terjadi.</p>
<p>Aku matikan rokok tersebut di asbak yang ada di atas meja. Aku akhirnya memutuskan untuk tinggal di sini menemaninya. Entah apa yang akan terjadi nanti. Kemudian aku menutup tubuhnya dengan selimut agar ia tidak kedinginan. Aku akan tidur di sofa.</p>
<p>Saat aku terbangun ia sudah tidak ada. Rasanya aku sudah tahu kalau akan berakhir begini. Ia tidak meninggalkan suatu catatan apapun, hanya sejumlah uang di atas meja. Mungkin untuk membayar biaya hotel, meskipun sepertinya terlalu banyak. Tetapi cukup bagiku untuk menyadarkan kalau diriku ini benar-benar hanya seorang gigolo. Lalu apakah sekarang aku harus memanggil seorang pelacur untuk kemudian meneriakkan nama wanita itu berkali-kali sebelum aku orgasme? Tidak, ini tidak akan terjadi lagi. Aku&#8230; tidak ingin menjadi gigolo. Kemudian sejenak aku pandangi tempat tidur. Terlihat kalau ia telah merapikannya sehingga seolah ia tidak pernah berada di situ. Di kamar ini sekarang hanya ada aku dan bekas wiski yang tumpah&#8230;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[dua detik]]></title>
<link>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/dua-detik/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 00:24:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>pandu1031</dc:creator>
<guid>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/dua-detik/</guid>
<description><![CDATA[Sudah tiga buah puntung rokok berada di bawah kakiku. Sembari menghisap yang keempat, aku mulai geli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sudah tiga buah puntung rokok berada di bawah kakiku. Sembari menghisap yang keempat, aku mulai gelisah. Sudah lewat hampir lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Di sebuah perempatan jalan raya itu aku berdiri, menunggu. Menunggu membuat seluruh inderaku menjadi aktif untuk mencari sesuatu yang menarik untuk keluar dari kebosanan ini. Sementara inderaku aktif mencari, tidak terbayangkan olehku ada sebuah momen dua detik yang berhasil menarik indera penglihatanku untuk kemudian menarikku keluar dari kebosanan. Hanya dua detik.</p>
<p>Tangan tersebut diangkatnya, sebuah gerakan yang penuh dengan isyarat dan makna. Cukup untuk membuat seorang bocah pergi meninggalkannya dengan raut kecewa. Itulah momen dua detik tersebut. Seorang gadis di dalam mobilnya yang mewah menolak memberikan uang kepada seorang bocah pengamen yang bahkan belum sempat mengamenkan dirinya. Terjadi dua detik di depan mataku. Lalu kenapa momen tersebut menjadi begitu menarik? Bahkan momen tersebut hampir selalu terjadi di sebuah perempatan dengan pengamen di sana.</p>
<p>Seorang gadis, terlihat glamor di dalam mobilnya yang berwarna merah. Meskipun ia memakai kacamata hitam, aku tahu kalau ia tetap menatap ke depan sewaktu mengangkat tangannya untuk menolak pengamen tersebut. Tangannya terlihat menarik dengan jari-jari yang lentik dan sebuah jam tangan kecil yang menghiasi tangan tersebut. Wajahnya tidak begitu jelas, tetapi terlihat rambutnya sebahu dengan poni yang menutupi keningnya. Hanya sebatas itu profil yang kulihat secara inderawi. Tetapi sedikitnya data yang dihimpun oleh instrumen yang disebut alat indera membuat instrumen lain bernama imajinasi bangkit dari penjara rasionalitas untuk mengembangkan profil dari gadis tersebut. Spontan, aku mulai berkhayal.</p>
<p>Pastinya seorang gadis cantik. Ya, aku tidak ingin membayangkan seorang wanita jelek dan memiliki masalah bau badan untuk memenuhi khayalanku, membuatku mual. Aku membayangkan seorang gadis jaman sekarang. Tipe yang selalu berusaha menjaga image cantiknya dengan segala daya dan upaya. Berhasil atau tidak yang penting ia merasa cantik, dan akan ada satu atau dua lelaki yang mengatakan kalau dirinya cantik, tidak peduli bohong atau tidak. Gadis tersebut masih muda, mungkin seorang mahasiswi. Seorang yang cerdas, tetapi memilih untuk tidak menggali potensinya tersebut dan lebih memilih berusaha untuk menggali potensinya untuk memiliki tiga selingkuhan atau lebih. Sebuah prestasi besar menurutnya, tetapi kemudian akan disesalinya karena ia tidak berhasil mendapatkan yang keempat ketika pacarnya ternyata sudah mempunyai empat wanita lain. Lalu terbayang di kursi sebelahnya ada tasnya yang penuh dengan buku-buku perkuliahan yang bersanding dengan alat-alat kosmetik yang akan membuatnya merasa cantik, dan buku-buku tersebut bisa berfungsi sebagai aksesoris tambahan yang akan menambah titelnya &#8220;si cantik yang intelek&#8221;.</p>
<p>Sementara itu, sepertinya kontras sekali dengan lawan interaksi dua detiknya, seorang bocah pengamen yang lusuh dan berkeringat. Kutaksir usianya sekitar 12 tahun kurang sedikit. Fisik khas pengamen, tidak perlu disebutkan. Tetapi untuk seorang pengamen, bajunya terlihat cukup bersih, baju baru mungkin? Tetapi celananya mungkin sudah tiga bulan tidak dicuci––ternyata bocah ini tidak terlalu fashionable. Ada yang aneh, ia tidak membawa alat musik. Mungkin ia hanya bernyanyi saja. Apakah suaranya bagus? Tidak, aku yakin anak yang dipaksa bernyanyi oleh teman-temannya di suatu pesta ulang tahun akan bersuara lebih bagus ketimbang dia. Aku membayangkan suara serak dengan volume naik turun dan nada tidak jelas akan keluar dari mulutnya, dan sambil bernyanyi ia akan mengeluarkan pandangan memelas. Terlihat jelas kombinasi keduanya akan menghasilkan kesimpulan kalau pikirannya hanya berorientasi pada apakah ia akan cukup beruntung untuk mendapatkan sekeping koin logam atau bahkan secarik kertas yang disebut uang.</p>
<p>Sewaktu memikirkan uang, jadi terbersit olehku siapa pencipta uang, kalau bisa bertemu aku akan meminta agar uang yang ia ciptakan merupakan sesuatu yang organik, jadi uang akan memiliki waktu kadaluarsa dan dapat menjadi busuk. Pasti saat ini dompet akan dilengkapi mesin pendingin dan sulit dibawa-bawa.</p>
<p>Kembali pada si bocah, aku yakin kalau tipe anak seperti ini tidak akan mengucapkan terima kasih meski diberi uang. Dengan wajah pura-pura datar, hatinya berdansa memikirkan bodohnya orang yang memberinya uang. Terlebih ketika tidak diberi uang, masih dengan wajah pura-pura datar ia akan menyumpahi orang tersebut dalam hatinya dan menjadikannya musuh seumur hidup. Dan saat itu mungkin ia sudah menyumpahi agar wanita tersebut tidak akan hamil oleh suami sahnya kelak. Kejam memang, tetapi dirinya sudah merasa kalau orang lainlah yang paling kejam pada dirinya dengan tidak memberinya uang.</p>
<p>Tak terasa batang rokokku yang keempat sudah mendekati akhir masa hisapnya, kubuang lalu kukeluarkan batang yang kelima. Sambil berusaha menyalakannya di tengah terpaan angin, aku berpikir. Siapa sebenarnya yang beruntung di antara kedua manusia yang terlibat interaksi dua detik tersebut?</p>
<p>Aku yakin jika aku bertanya kepada orang-orang yang berpikir menggunakan logika ditambah dengan perasaan sok nasionalis mereka akan menjawab: “Ya cewek itulah, dia sudah beruntung dengan tidak memberikan uangnya kepada pengamen, karena tindakan itu merupakan tindakan tidak mendidik yang membuat generasi muda bangsa kita menjadi&#8230; bla bla bla&#8230;” Begitu kira-kira kata mereka, yang pasti diujung pendapatnya dia akan berkata kalau wanita itu beruntung karena ia juga cantik dan kaya. Tetapi apa yang terjadi kalau aku bertanya kepada orang yang sok pintar dan sok spiritualis, mereka pasti akan menjawab: “Ya bocah itulah, dia sudah beruntung, karena mungkin saja harta si wanita tidak halal karena berasal dari bapaknya yang korupsi, dan beruntunglah bocah tersebut karena ia&#8230; bla bla bla&#8230;” Dilanjutkan dengan sebuah omong kosong filsafat yang panjang yang diujung omongannya dia akan berkata: “Eh, bener ga sih, kata-kata gua?”</p>
<p>Aku jadi tersenyum sendiri. Tak pernah terbayangkan olehku sebuah momen dua detik akan menghasilkan pemikiran yang sedemikian rupa, bahkan sebuah ambivalensi dalam pikiranku mengenai siapa yang paling beruntung di antara dua manusia tadi. Tetapi bila semuanya menjadi relatif, pasti itu adalah masalah nilai. Nilai apa yang digunakan untuk memaknakan interaksi tersebut. Bila nilai diabaikan akan terjadi situasi relatif, tidak ada yang beruntung dan tidak beruntung. Mereka berdua adalah manusia, manusia selalu punya masalahnya sendiri dan selalu memiliki alasan untuk iri kepada keadaan orang lain.</p>
<p>Bisa saja wanita tersebut sedang terjebak suatu masalah, dirinya tengah hamil di luar nikah. Beritanya sudah menyebar di antara teman-temannya dan ia merasa malu sampai ingin mati. Dan saat itu ia sedang dalam perjalanan untuk mengaborsi bayinya, dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang bengkak oleh air mata. Pada momen dua detik itu dalam hatinya ia berkata betapa beruntungnya menjadi pengamen, seperti hidup tanpa beban, hanya dengan bernyanyi seadanya sudah mendapatkan penghasilan. Lain dengan pengamen tersebut, bisa saja pada momen dua detik itu ia berpikir betapa beruntungnya wanita itu, punya banyak uang, dan pastinya mampu untuk membeli segalon lem aibon, ia lagi butuh lem agar bisa teler, dan ia merasa kalau ia akan mati kalau tidak segera mendapatkan lem tersebut. Dan percayalah kalau tingkatan beban masalah yang mereka rasakan itu sama.</p>
<p>Sementara aku jadi asyik memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain pada hidup mereka, abu rokokku sudah menjadi panjang, menunggu adanya gaya dari luar untuk kemudian menghambur ke udara bebas dan meninggalkan ujung rokok yang merah membara. Kuhentak dengan jari tengahku dan berterbanganlah mereka. Sesaat kemudian datanglah seorang yang kutunggu tersebut. Wajahnya terlihat tegang karena mengira aku akan marah-marah karena ia terlambat. Tetapi aku hanya berkata singkat, “Kok udah dateng lagi sih? Cepet Banget.” Wajahnya bingung, ekspresinya membuatku ingin tertawa. Lalu ia bertanya padaku, “Kamu nyindir aku ya? Maaf deh, emang kamu udah nunggu aku berapa lama?”. Aku menjawab singkat dengan pasti, “Cuma dua detik kok.”</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[mac-man]]></title>
<link>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/mac-man/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 00:21:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>pandu1031</dc:creator>
<guid>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/mac-man/</guid>
<description><![CDATA[“Man, ayo bangun!!! Sudah siang nih!”, aku mendengar Mac sedang berteriak-teriak sambil menggedor pi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>“Man, ayo bangun!!! Sudah siang nih!”, aku mendengar Mac sedang berteriak-teriak sambil menggedor pintu rumahku.<br />
“Dasar sial, kenapa kamu selalu berpikir aku sedang tidur sih? Pintu rumahku bisa rusak kalau kamu gedor seperti itu”, aku berbicara seakan menggerutu karena ia sudah tidak peduli apa yang kukatakan.<br />
“Ayo cepat, hari ini aku akan memainkannya, katanya kamu ingin nonton?”, ujarnya seraya mengambil tanganku dan menariknya.<br />
Aku bergerak malas, “Sebentar, aku kunci dulu rumahku.”<br />
“Hahaha, ngapain juga benda yang kau sebut rumah itu dikunci? Memangnya ada barang berharga? Siapa yang mau merampok gubukmu itu?”, ucapan peremehan Mac yang sudah biasa kudengar.<br />
Aku tidak peduli dan tetap mengunci rumahku dengan gembok yang baru-baru ini kutemukan, ”Entahlah Mac, aku hanya merasa kalau rumah itu seharusnya dikunci kalau kita pergi.” Rumah yang kumaksud disini hanyalah sebuah gubuk kecil dari seng dan triplek yang kubuat di bawah kolong jembatan yang masih sepi dari gubuk lain. Sangat nyaman buatku.<br />
Lalu setelah itu kami pun berjalan menyusuri sungai yang pinggirnya sudah mengering tersebut menuju cinta Mac yang tidak pasti.</p>
<p>***</p>
<p>Mac sedang jatuh cinta. Aku masih ingat ketika minggu lalu dia menggedor rumahku seperti pagi ini dan mengatakan dengan antusias kalau ia jatuh cinta pada seorang gadis yang ia lihat di bus sewaktu Mac mengamen di bus tersebut. Aku tidak mengerti kenapa Mac bisa jatuh cinta pada seseorang yang jelas-jelas tidak akan bisa ia dapatkan. Aku selalu menasehati Mac untuk melupakannya.<br />
”Ayolah Mac, kita ini hanya pengamen jalanan yang tetap akan menjadi seorang pengamen, dan mungkin ia adalah seorang mahasiswi terpelajar yang kelak mungkin dapat menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan. Dunianya terlalu berbeda, Mac!” ujarku mencoba meyakinkan Mac yang malah tampak tersenyum meremehkanku.<br />
”Kau salah Man, cintaku tulus, aku tidak berharap apa-apa padanya. Mengamen di bus yang ia tumpangi dan membuatnya menikmati suaraku saja sudah cukup.” ujar Mac sambil menyetem gitarnya. ”Dan aku bukan sekedar pengamen biasa, aku menyanyikan Queen, Rolling Stone, The Beatles dan band-band luar negeri lainnya. Berbeda dengan pengamen kebanyakan yang bisanya lagu Indonesia, jelas aku lebih unggul.” usaha Mac meninggikan statusnya malah membuatku semakin sedih.<br />
”Aku jadi penasaran, sebetulnya kenapa kau bisa jatuh cinta padanya?”<br />
”Itu cinta pada pandangan pertama, Man. Romantis kan? Seperti sosok sebuah bidadari dalam impianku yang menjelma dan hadir begitu saja di depanku, seakan takdir telah mempertemukan kami.” ujar Mac menerawang.<br />
“Kau kebanyakan nonton film percintaan.” ujarku sedikit geli mendengar kata-kata Mac.<br />
”Ah, sudahlah. Kau tak akan mengerti Man. Kau tak akan mengerti sampai kau merasakan cinta yang sebenarnya. Cinta yang hadir memenuhi relung-relung hati ini, dan&#8230;” belum sempat Mac menyelesaikan kata-katanya ia seperti terkejut.<br />
”Kenapa kau, Mac?” ia seakan tidak menggubris pertanyaanku dan seperti tergesa-gesa mengambil gitarnya lalu mulai memainkannya. ”Kau kesambet ya?” aku semakin heran pada tingkah lakunya.<br />
”Lagu. Aku akan memberikannya sebuah lagu khusus ciptaanku. Hanya ini yang bisa kuberikan untuknya, dan barusan aku mendapatkan ilham. Jadi pergilah dulu kau, Man. Jangan ganggu aku.” tampak mimiknya yang serius. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Iri juga aku melihat Mac begitu serius, sementara aku bukan orang seperti itu. Aku selalu merasa diriku sebagai pengamen tidak mempunyai arti apa-apa di dunia. Cukup berusaha bertahan hidup, itu saja. Aku tidak pernah serius mengerjakan suatu hal, bahkan sewaktu mengamen sekalipun.<br />
Hampir tiap hari aku mendengar Mac berusaha menyempurnakan lagunya, bahkan aku turut menyumbang sedikit-sedikit untuk aransemennya. Sementara untuk liriknya Mac bersikeras menggunakan bahasa Inggris. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana dia bisa mengerti lirik-lirik tersebut.<br />
”Kenapa harus bahasa Inggris sih?” aku bertanya iseng pada Mac.<br />
”Wajahnya mirip Cinta Laura, jadi kukira ia akan menyukai lirik berbahasa Inggris.” jawab Mac singkat. Cinta benar-benar membuatnya gila.<br />
Setelah sempurna, ia menyanyikan lagu itu setiap hari sampai aku bosan mendengarnya. Tetapi bagai kutukan, aku jadi mengerti memainkannya dan sedikit hafal dengan liriknya meski aku tidak mengerti sama sekali artinya. Ia sangat bangga dan mengatakan kalau lagu ini bisa menjadi hits sepanjang masa.<br />
”Tunggu dulu, sepertinya kau belum memberinya judul?” aku sendiri baru sadar ketika menanyakan itu. ”Hahaha, masalah itu jangan kau khawatirkan. Aku akan memberi lagu itu judul sesuai dengan nama gadis itu, cukup namanya saja.” Mac seakan bangga sekali dengan idenya ini. Yah, kupikir tidak jelek juga. Toh aku tidak mengerti isi lagunya.<br />
”Lalu apa rencanamu?”<br />
”Aku akan menyanyikan lagu ini, lalu mengatakan kalau lagu ini kupersembahkan untuknya sekaligus menanyakan namanya. Romantis kan?” ekspresi muka Mac membuatnya tampak seperti bintang film semi-porno. ”Setiap hari aku selalu melihatnya, jadi aku sudah hafal kapan ia akan berada di bus. Akan mudah menemukannya.” ujarnya yakin.</p>
<p>***</p>
<p>Kami terus berjalan, menuju tempat bus tersebut biasa mengetem. Inilah hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh Mac. Aku kagum padanya karena ia tidak gugup dan sangat yakin kalau akan berhasil. Aku sebagai temannya tentu menginginkan ia berhasil juga. Aku tahu bagaimana Mac dengan tekun menyempurnakan lagunya, lalu menunggui bus yang biasa ditumpangi gadis tersebut setiap hari. Aku tidak ingin jerih payahnya sia-sia.<br />
Mac benar-benar sudah hafal betul. Benar saja, beberapa saat kemudian ia berkata dengan penuh semangat, “Itu dia! gadis yang memakai sweater hijau itu.” tunjuk Mac. Gadis tersebut terlihat masuk ke dalam bus tersebut. Dan jujur aku tidak melihat ada kemiripan dengan Cinta Laura. Kami pun naik ke dalam bus tersebut.<br />
Di dalam, aku melihat gadis tersebut duduk di dekat jendela di barisan agak belakang sebelah kiri. Sejenak aku berpikir dia sendirian, tetapi ia terlihat mulai mengobrol dengan seorang lelaki disebelahnya. Firasat buruk pikirku. Bagaimana jika ternyata itu kekasih gadis tersebut dan Mac lepas kendali? Ah tidak mungkin pikirku.<br />
Begitulah, Mac mulai memainkan gitarnya dengan mantap dan bernyanyi sepenuh hati dengan pengucapan bahasa Inggrisnya yang aneh. Aku tidak menampik kalau suaranya cukup lumayan, ia selalu mengatakan kalau suaranya mirip dengan Bob Dylan. Selesai bernyanyi Mac menjalankan rencananya. Dan hal yang kutakutkan terjadi. Aku heran mengapa firasat burukku lebih sering terjadi daripada firasat baikku.<br />
Gadis tersebut tampak ketakutan, ia memegang bahu lelaki di sebelahnya dengan erat dan menatap curiga pada Mac. ”Maaf mas, kayaknya pacar saya takut dengan mas, kalau tidak keberatan&#8230;” belum selesai lelaki tersebut berbicara, Mac sudah pergi meninggalkan bus. Aku bersyukur Mac tidak lepas kendali. Lalu akupun pergi menyusul Mac.<br />
Sejenak aku melirik ke arah jendela bus tempat gadis tersebut duduk. Terlihat gadis tersebut tengah menengok ke arah Mac. Ekspresinya heran tetapi menyimpan tatapan kagum sekaligus senang pada matanya. Dan hanya sekejap aku melihat bibir gadis tersebut tampak tersenyum sebelum ia memalingkan wajahnya.<br />
“Mac, sumpah, aku melihatnya tersenyum! Setidaknya kau berhasil membuatnya terkesan!” aku berkata padanya benar-benar dengan maksud menghibur.<br />
“Sudahlah, Man. Aku mengerti.” terlihat ekspresi kecewa di wajahnya. “Aku mengerti. Benar katamu, kita hanya pengamen. Kita tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Bahkan sebuah lagu sekalipun.” ujarnya lirih.<br />
“Itu tidak benar, kau sudah berhasil dengan baik, Mac.” sepertinya ia mengerti kalau aku berusaha menghiburnya. “Terima kasih, Man.”</p>
<p>Kami berdua pun berjalan pulang ke rumahku, rumahku tercinta. Kami pulang tidak membawa apa-apa. Bahkan lagu Mac tidak jadi memiliki judul. Ia mengatakan sambil berusaha tegar kalau lagu yang tidak memiliki judul juga tetap dapat menjadi hits.<br />
Aku merogoh sakuku dan tidak menemukan kunci gembok tersebut. “Mac, sepertinya aku sudah menjatuhkan kunci rumahku, kuncinya hilang! Kita tidak bisa masuk ke rumah!” ujarku panik.<br />
Tetapi bukannya panik Mac malah tertawa, “Hahaha, Tuhan benar-benar sayang pada kita.”<br />
“He? Apa maksudmu Mac?” kali ini aku benar-benar tidak mengerti maksud Mac.<br />
“Ketika kau tidak bisa masuk ke rumah itu, kau akan merasa kalau rumah itu benar-benar berharga kan? Kau merasa kalau kau benar-benar memiliki rumah itu. Tuhan sedang menjelaskan kepada kita kalau kita masih memiliki sesuatu yang berharga.”<br />
Sekonyong-konyong kami pun tertawa. Entah apa yang kami tertawakan. Kami hanya ingin tertawa, membuat malam menjadi berisik dengan tawa kami. Aku tidak habis pikir pada Mac, ia dapat bangkit dengan cepat dari keterpurukannya dan menemukan hikmah di balik semua ini, lalu dengan bebas menertawakannya. Apa salahnya mencintai seseorang? Apa salahnya membuatkan lagu untuk seseorang dan memberikannya? Apa salahnya menjadi pengamen? Apa salahnya mengunci rumah yang tidak berisi? APA salahnya?<br />
Akhirnya kami duduk di tepi sungai. Ditemani pantulan rembulan di sungai yang mengalir tenang, kami memainkan lagu tak berjudul tersebut berulang-ulang.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[a date with miss valentine]]></title>
<link>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/a-date-with-miss-valentine/</link>
<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 00:16:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>pandu1031</dc:creator>
<guid>http://jellyandbanana.wordpress.com/2009/12/22/a-date-with-miss-valentine/</guid>
<description><![CDATA[Bukanlah suatu dosa jika seorang lelaki berada di dalam sebuah kereta dan bertemu dengan seorang wan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bukanlah suatu dosa jika seorang lelaki berada di dalam sebuah kereta dan bertemu dengan seorang wanita lalu mendatanginya untuk sekedar mengobrol.</p>
<p>Sore itu aku mengalaminya. Tidak terlalu banyak penumpang di dalam kereta dan kau harus berpegangan jika tidak mau terjatuh karena guncangan di dalam kereta. Tetapi hal itu menjadi berbeda ketika aku melihat seorang wanita yang tidak jatuh meskipun ia tidak berpegangan pada apapun. Ia hanya membawa payung yang ia peluk di dadanya dengan menggunakan kedua tangannya. Ia memandang ke luar jendela, entah apa yang dilihatnya di luar sana. Wanita yang tidak terpengaruh goncangan kereta meski tidak berpegangan pada apapun bukanlah hal yang aneh, karena aku tahu kalau ia adalah Miss Valentine.</p>
<p>Sore hari adalah saat dimana kita akan sedikit terdiam, mengistirahatkan diri dari segala bentuk kegiatan yang telah dilakukan. Tidak heran kereta menjadi tempat yang sunyi ketika semua orang hanya terdiam menatap pemandangan yang berkelebat cepat di luar jendela. Berbeda denganku, rasanya aku ingin memecah keheningan dengan berbicara dengan seseorang. Aku ingin mengobrol, tentang apa saja, menumpahkan apa yang ada di dalam otak ini kepada seseorang dalam bentuk verbal.</p>
<p>Maka aku mendatangi Miss Valentine. &#8220;Hai, namaku Remy Martin, boleh berkenalan?&#8221; tanyaku dengan singkat.</p>
<p>&#8220;Miss Valentine,&#8221; ujarnya tak kalah singkat.</p>
<p>&#8220;Miss Valentine? Aku kira Baroque Works sudah bubar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang sudah bubar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan kau tetap menggunakan nama Miss Valentine? tidakkah itu berisiko?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, angkatan laut sepertinya sudah tidak berminat. Apalagi Crocodile masih dipenjara di Impel Down.&#8221;</p>
<p>Saat itu guncangan kereta membuatku sedikit hilang keseimbangan sehingga aku hampir jatuh. Tetapi aku perhatikan Miss Valentine tidak bergerak sedikitpun. &#8220;Sekarang berapa kilogram? Sepertinya enak sekali tidak perlu khawatir jatuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak sopan menanyakan berat badan seorang wanita,&#8221; ujarnya diikuti senyum yang menantang.</p>
<p>&#8220;Oh, maaf. Pastinya beratmu sekarang tidak jauh beda dengan beratmu yang sebenarnya,&#8221; aku berusaha menggodanya.</p>
<p>&#8220;Dasar kurang ajar,&#8221; ujarnya sambil tersenyum. Lalu setelah itu kami mengobrol dan akhirnya memutuskan untuk bertemu di sebuah kafe di keesokan harinya. Itu adalah sebuah kencan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Aku sampai duluan di kafe tersebut. Sebuah kafe biasa di tengah kota. Nyala lampu yang temaram dipadukan dengan warna dinding yang lembut membuatku merasa nyaman. Belum lagi aroma kopi dan vanilla yang membuatku merasa berada di tempat yang tidak asing, meski aku baru pertama kali datang ke kafe ini. Aku duduk dekat jendela agar bisa melihat jika Miss Valentine sudah datang. Tidak berapa lama ia pun tiba.</p>
<p>Lalu ia memesan lemon tea dan blackforest. Sedangkan aku hanya memesan segelas kopi.</p>
<p>&#8220;Bagaimana keadaan Spiders Cafe sekarang?&#8221; tanyaku membuka obrolan.</p>
<p>&#8220;Semuanya berjalan dengan baik. Usaha kami bisa dibilang sukses kali ini. Paula terlihat sangat bahagia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana dengan kamu sendiri?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku menikmati pekerjaanku sekarang. Malahan aku merasa kalau aku benar-benar cocok dengan pekerjaanku sekarang dibandingkan ketika masih menjadi agen di Baroque Works. Ternyata aku lebih suka menuangkan krim kocok dibandingkan menumpahkan darah. Padahal semula aku menganggap pekerjaan menumpahkan darah sangat menyenangkan.&#8221;</p>
<p>Lalu pesanan kamipun diantarkan oleh pelayan. Miss Valentine langsung mencoba blackforest pesanannya, dan seolah memakan sesuatu yang sangat liat, Miss Valentine mengunyah blackforest tersebut dengan perlahan. &#8220;Lumayan, meskipun tidak lebih baik dari blackforest kami,&#8221; ujarnya pelan.</p>
<p>Setelah itu kamipun membicarakan banyak hal, mulai dari penggunaan jumlah gula yang tepat pada sebuah kue hingga jumlah populasi kucing laut di Arabasta. Hingga akhirnya ia bertanya mengenai pekerjaanku sekarang.</p>
<p>&#8220;Kau bekerja di angkatan laut kan, bagaimana keadaanmu sekarang?&#8221; tanyanya padaku.</p>
<p>&#8220;Keadaan di angkatan laut sekarang sangat tidak menentu. Entah apa yang dipikirkan para petinggi saat ini. Sepertinya arti dari keadilan dan kebenaran menjadi tidak jelas. Aku merasa kalau hukum yang dibuat angkatan laut terdengar tidak masuk akal. Malahan kadang aku merasa tindakan bajak laut merupakan sesuatu yang benar, kau tahu kan aksi kelompok bajak laut Luffy si topi jerami di Arabasta?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana mungkin aku tidak tahu, ia yang membuat kami seperti sekarang. Mungkin aku harus berterimakasih padanya sekarang, hihi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu aku menjadi tidak yakin dengan angkatan laut, sehingga saat ini aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Sebenarnya seperti apakah itu keadilan.&#8221;</p>
<p>Miss Valentine menatapku cukup lama. &#8220;Memang manusia tidak berhak membuat hukum. Karena mereka tidak akan bisa adil secara menyeluruh, setiap orang memiliki keadilannya sendiri. Yang harus kau lakukan adalah yakin dengan keadilanmu sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mudah bagimu berbicara begitu Miss Valentine. Tetapi kau tidak tahu keadaan di angkatan laut saat ini. Saat korupsi dan bajak laut meraja lela. Aku tidak tahu seperti apa keadilanku dan bagaimana mewujudkannya. Aku sepertinya hanya akan menyerah pada keadaan, aku tidak ingin dipecat dari angkatan laut.&#8221;</p>
<p>Saat itu Miss Valentine tertawa kecil. &#8220;Sepertinya kau harus berhadapan dengan Monkey D. Luffy sekali-sekali. Kau akan melihat bagaimana mengerikannya seseorang yang yakin akan impian dan keadilannya. Meski ia bodoh sekalipun. Aku benci melihat pengecut lemah seperti dirimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, terserah apa katamu. Mungkin aku memang lemah. Tetapi tahu apa kau tentang diriku? bahkan kita baru bertemu saat ini.&#8221; Ujarku sedikit mulai emosi.</p>
<p>&#8220;Kita belum tahu kalau belum dicoba. Bagaimana kalau kau adu panco denganku untuk membuktikan apakah kau lemah atau tidak?&#8221; ujar Miss Valentine sembari menaruh tangannya di atas meja dengan posisi panco.</p>
<p>Aku tahu aku tidak akan menang melawannya. &#8220;Aku menolak, bagaimana mungkin aku menang melawanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sudah bilang, kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya. Atau kau mau terus terpuruk di dalam kepengecutanmu?&#8221; tanyanya dengan senyum yang memprovokasi.</p>
<p>Akhirnya aku mau juga beradu panco dengannya. Aku sudah tidak mau tahu apa yang terjadi. Ada sesuatu hal di dalam diriku yang membuatku merasa kalau aku harus melakukannya.</p>
<p>Maka aku menggenggam tangannya dalam posisi panco. &#8220;Siap?&#8221; tanyanya. Aku mengangguk, siap atau tidak. &#8220;Mulai!&#8221;</p>
<p>Tangannya terasa sangat berat. Aku tidak bisa menggerakkannya satu sentimeter pun. Miss Valentine masih tetap tersenyum, sepertinya ini bukan apa-apa untuk dia. Setelah tidak bergerak selama beberapa menit ia mulai menyerangku. Tangannya yang sangat berat itu mulai bergerak mendorong tanganku. Tetapi aku tidak mau kalah begitu saja. Aku mencoba bertahan.</p>
<p>Rasanya sudah lama aku tidak mengeluarkan tenaga sebesar ini. Mengeluarkan seluruh tenaga yang ada di dalam diri. Rasanya sungguh aneh, seperti ada suatu gelombang yang mengalir keluar dari dalam tubuhku. Segala hal yang selama ini tertahan dalam hati rasanya seperti menguap. Segalanya terasa ringan sementara diriku mengeluarkan semua tenaga yang tersisa.</p>
<p>Saat itu entah sudah berapa kilogram berat tubuh Miss Valentine. Tetapi aku tidak peduli, aku tidak mau kalah. Lalu yang terjadi berikutnya adalah meja kafe tersebut sudah tidak dapat menahan beban lagi. Meja itu terbelah dua dan kami terjatuh. Karena Miss Valentine hanya mengandalkan berat tubuhnya, maka sewaktu tangan kami berdua di udara adalah saat tangannya tidak memiliki tumpuan. Lalu tanganku dapat mendorong tangannya sehingga sewaktu berada di lantai tanganku berada di atas tangannya. Tangan kanan Miss Valentine menghujam lantai hingga lantai tersebut retak. Aku menang.</p>
<p>&#8220;Lihat, tidak ada yang tidak mungkin,&#8221; ujar Miss Valentine. Saat itu aku langsung terbaring. Seluruh tubuhku berkeringat. Perasaanku saat itu sungguh ringan, seakan semua beban lepas bersamaan dengan hancurnya lantai kafe.</p>
<p>Saat aku akan berdiri Miss Valentine manahanku dengan tangannya, seketika itu juga ia mencium bibirku. Sebuah ciuman yang dalam, meski hanya sekitar dua detik. Lalu ia pergi meninggalkanku yang masih terbaring. Setelah ia membayar semua kerugian ia pun keluar dari kafe dan pergi entah ke mana.</p>
<p>Aku bersyukur kencan dengan Miss Valentine.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>keterangan: Miss Valentine memiliki kekuatan buah iblis, yaitu buah kilo-kilo (atau kiro-kiro) yang dapat membuat ia mengatur berat badannya sesuka hati.</p>
<p>karena ini adalah spin-off dari kisah One Piece, maka tentu saja temanya adalah meraih mimpi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DISLEKSIA LOVEA]]></title>
<link>http://keepfight.wordpress.com/2009/12/21/disleksia-lovea/</link>
<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 07:37:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>keepfight</dc:creator>
<guid>http://keepfight.wordpress.com/2009/12/21/disleksia-lovea/</guid>
<description><![CDATA[“Disleksia Lovea. Terdiri dari dua kata. Disleksia berarti gangguan bahasa, Lovea berarti cinta. Jad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>“Disleksia Lovea. </strong>Terdiri dari dua kata. Disleksia berarti gangguan bahasa, Lovea berarti cinta. Jadi Disleksia Lovea adalah gangguan komunikasi yang gejalanya berupa kesulitan untuk mengungkapkan cinta,” Dikha membaca perlahan kata demi kata dalam kamus cinta yang baru saja dibelinya.<br />
<!--more--><br />
“Termasuk gangguan yang paling sering menimpa orang-orang yang sedang jatuh cinta dan memendam rindu,” lanjutnya. “Penyebabnya. 80 % orang yang mengidap gangguan ini diakibatkan oleh trauma masa lalu. Patah hati atau pernah dikecewakan merupakan penyebab yang sering muncul&#8230;” Dikha menghentikan bacaannya.</p>
<p>“Aaah b*lsh*t!” dilemparkannya begitu saja kamus cinta. Direbahkan tubuhnya diatas pembaringan, menatap langit-langit kamar yang bolong disana sini.</p>
<p>“Cinta&#8230; kenapa kata itu sulit sekali terucap dihadapannya.” Ia membatin, dicobanya memejamkan mata, namun bayangan itu semakin jelas terlihat tatkala terpejam.</p>
<p>“Uuh&#8230;ini ga boleh dibiarkan terus, lama-lama aku bisa gila dibuatnya.” Dikha yang tampak gelisah bangkit dari pembaringannya. Dibukanya kembali kamus cinta yang tadi dicampakkan.</p>
<p>“Solusi. Ada 1001 cara untuk mengatasi disleksia lovea. Pertama, temukan dulu penyebab timbulnya gejala tersebut, lalu atasilah.” Dikha tampak serius mencerna kata-kata terakhir yang dibacanya itu. Ini terlihat dari kerutan di dahinya.</p>
<p>“Temukan penyebab&#8230;atasi&#8230;.,” begitu kira-kira yang ada di kepalanya saat ini,</p>
<p>Demikianlah, keadaan Dikha beberapa malam belakangan, gelisah dan gelisah. Semua itu gara-gara Annisa, demikian kembang dakwah kampus itu biasa disapa. Padahal, awalnya sich Cuma mo nanya.</p>
<p>“Kalo gue bisa dapet tuch cewe, berarti gue layak dapet gelar playboy sejati,” demikian sesumbarnya waktu itu. Walhasil, sejak saat itulah doi sibuk PDKT sama yang bersangkutan. Namun entah kenapa, moment yang direkayasa untuk nembak selalu gagal.</p>
<p>Akhirnya, yang awalnya cuma iseng berubah jadi penasaran. Dan terakhir Dikha malah jatuh cinta beneran sama yang bersangkutan.</p>
<p>Sebenarnya, jatuh cinta adalah hal biasa buatnya. Namun yang ini terasa sangat berbeda. Sampai-sampai, Dikha yang dikenal Fasih dan Fakih Fillove pun merasa harus membuka buku-buku referensi dokter Cinta segala. Padahal selama ini keahliannya dalam masalah cinta didapat secara otodidak, berkat aksi ‘Trial N Error’. Putus, nemabak, putus lagi, nembak lagi he.. he.. he&#8230;</p>
<p>“Entah apa yang membedakannya dengan Wilma, Siva, Dhita dan Sarah.” Dikha ngabsen sebagian mantannya. “Apakah karena ia aktifis, berjilbab dan&#8230;alim? Tunggu&#8230; tunggu, itu dia, aku ga bisa mengucapkan kata cinta, karena dia beda dengan sasaran tembakku selama ini. Itu yang membuatku tak cukup pede untuk mendekatinya.” Sekelumit senyum tampak mengembang di wajahnya. “Lalu, bagaimana aku harus mengatasinya?” Kembali ia merenung, namun hingga malam semakin larut, jawaban tak jua didapat.</p>
<p>*****</p>
<p>Esok pagi, di kampus..</p>
<p>“Assalamu’alaikum,” Dikha mengucap salam seraya duduk di bangku pojok paling belakang.</p>
<p>“Wa’alaikumsalam,” seisi ruang kelas menjawab kompak. Namun dari ekspresi wajah mereka, jelas terlihat rona ketidaksukaan atas kehadirannya di ruang itu. Diperhatikan seisi ruangan, Dikha salting juga. Apalagi Nisa yang saat itu duduk di depan ikut-ikutan melototi dirinya.</p>
<p>“OMG, doi nyamperin,” Dikha histeris dalam hati.</p>
<p>“E&#8230;ehm, afwan akhi. Kajian ini khusus akhwat.”</p>
<p>“A&#8230; akhwat?”</p>
<p>“Ya, akhwat, perempuan, cewek.” Nisa menyebut beberapa kata sinonim.</p>
<p>Wackks. Bagai kesamber petir, Dikha segera ngacir tanpa diminta dua kali. “Bodoh, biar rambut gue panjang dan beranting, tapi gue khan masih pejantan tangguh,” katanya mendongkol dalam hati.</p>
<p>*****</p>
<p>“Hua ha ha ha. Jadi loe salah masuk ke pengajian ibu-ibu?” tanya Andi.</p>
<p>“Iya. Sumpeh, gue ga tau kalo tuch pengajian khusus buat anak-anak cewek. Soalnya yang gue baca di pamflet, tuch acara namanya Fikih Nisa. Gue pikir, kajian fikih, dan pembicaranya si Nisa,” kata Dikha polos. “Apa boleh buat, maksud hati PDKT eeh malah bikin malu,” lanjutnya.</p>
<p>“Assalamu’alaikum,” suara salam sejenak menghentikan rumpian khas anak cowok di rental siang itu.</p>
<p>“Waalaikumsalam,” jawab keduanya seraya melirik pemilik suara.</p>
<p>“Upss she’s here,” Dikha histeris setengah berbisik. Hatinya girang bukan main, apalagi ketika Nisa memilih komputer disebelahnya.</p>
<p>“E&#8230;ehm.” dimulainya aksi tebar pesona. “Nis, aku mo minta maaf kejadian tadi pagi. Aku ga tau kalo itu kajian khusus buat anak-anak cewek,” katanya memulai pembicaraan. Sementara itu yang diajak bicara hanya membalas dengan sedikit senyum, namun cukup membuat siapapun geer dibuatnya, tak terkecuali Dikha tentu saja.</p>
<p>“Nis, lucu juga yach kedengarannya. Kita dah empat semester satu fakultas, tapi baru belakangan ini kita bisa deket kayak gini,” lanjutnya. Lagi-lagi yang diajak bicara hanya tersenyum. Sementara jari-jarinya tetap asyik memainkan keyboard komputer.</p>
<p>“Eh Nis, aku mo ngomong serius neh,” Dikha berkata sedikit ragu. Kali ini Anisa sedikit respon. Dihentikannya sejenak pekerjaannya.</p>
<p>“Aku tuch sebenarnya c&#8230;c&#8230;,” Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Sementara Nisa tampak bingung. Sejak kapan ada playboy gagap, demikian mungkin dalam hatinya.</p>
<p>“Sorry sorry, aku c&#8230;c&#8230;Cuma mo tanya, kalo pengajian buat anak cowoknya kapan?” Lho koq jadi kesitu, gerutu Dikha dalam hati.</p>
<p>“Ooh.” Annisa tersenyum renyah. “Datang aja besok, ba’da zhuhur di mesjid,” jawabnya singkat tapi ramah. Sementara Dikha nampak sedikit kecewa. Disleksia Lovea-nya ternyata benar-benar mengganggu. Bukan Cuma gagal menyatakan cinta, tapi mau ga mau besok ia harus ngaji. Uuuh, apa kata dunia nanti. Begitu pikirnya.</p>
<p>*****</p>
<p>Malam itu&#8230;</p>
<p>Hanya satu kata, Tiada<br />
sempat terucap<br />
Walau sering berjumpa, dan<br />
saling menyapa<br />
Hanya satu kata, Kembali<br />
karam di hati<br />
Walau sering bicara, Hingga<br />
lupa waktu</p>
<p>Tembang lawas kang Hari Moekti mengalun pelan dari radio merah dua band kesayangannya.</p>
<p>Sementara itu, Dikha terlihat asyik mematut diri di depan cermin, memandangi penampilan barunya. Rambut gondrongnya kini entah kemana. Emas putih yang sudah dua tahun nangkring di kuping kanan pun ikut raib. Apalagi baju koko yang baru sekali dipake pas lebaran, menambah pangling penampilannya. Beberapa kali ia terlihat senyum sendiri.</p>
<p>Apa kata teman-teman gue nanti, Ia bertanya dalam hati. “Culun juga kelihatannya, tapi&#8230; karena cinta, semua karena cinta,” lanjutnya sambil bersenandung. “Nisa gue jamin loe bakal jatuh cinta dengan penampilan baru gue besok,” katanya full confiedence.</p>
<p>Sejurus kemudian ia sudah membantingkan tubuhnya keatas ranjang. Ia tampak tak sabar menjemput hari esok, memamerkan penampilan barunya pada dunia. Khususon Anisa tentu saja.<br />
“Met bobo Nisa,” ucapnya menjelang tidur. He he he, namamu yang kusebut terakhir menjelang terlelap, dan wajahmu yang pertama terbayang saat ku terjaga. Uuuh, gombal ga seh.</p>
<p>*****</p>
<p>“hadirin ikhwan wa akhwat fillah. Pertama-tama, marilah kita luruskan terlebih dahulu niat kita hadir di pengajian ini. Jangan sampai AADC alias Aku Aktif Demi Cinta.” Pak ustadz mulai ceramah siang itu.</p>
<p>“Ha.. ha.. ha..,” forum tertawa heboh, minus Dikha tentu saja yang ngerasa dengan pernyataan tersebut.</p>
<p>“Tapi, kalo karena cinta Allah dan Rasul-Nya. Itu justru yang dianjurkan,” lanjut pak ustadz. Dikha tampak mulai asyik menyimak ceramah pak ustadz siang itu.</p>
<p>“Cinta itu ibarat bunga. Merekah tak bisa dicegah. Mewangi tak bisa ditutupi. Ada cinta sejati, yang bersemi mekar abadi. Ada cinta palsu, yang berkembang kemudian layu. Namun hati-hati dengan mawar berduri, karena bisa melukai hati.” Pak ustadz coba berfilsafat cinta. Siang itu tema diangkat memang seputar cinta. Yaitu, Cinta Bersemi Sesama Aktifis (CBSA). Absah atau Masalah? Jadi wajar bila jamaah menyimak antusias, karena ceramah siang itu memang terasa, cintaaa banget.</p>
<p>“Cinta itu anugerah, oleh karena itu jangan jadikan ia musibah karena hawa nafsu. Cinta itu rahmat, oleh karena itu jangan jadikan ia laknat karena penyimpanganmu.” Dikha tergetar mendengar kata-kata tersebut. Terutama bila mengingat kelakuannya selama ini, yang begitu murah mengobral kata cinta.</p>
<p>“Subhanallah, betapa indahnya cinta menurut Islam.” Begitu hati kecilnya berkata.</p>
<p>“Rasulullah Saw pernah bersabda: ‘Kecintaanmu pada sesuatu bisa membuatmu buta dan tuli.’. oleh karena itu, sisakan sedikit curiga agar cintamu tak jadi buta.” Pak ustadz mengakhiri sesi pemaparan.</p>
<p>“Pak ustadz, apa sih tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta?” Dikha segera mengajukan pertanyaan setelah sesi tersebut dibuka.</p>
<p>“Waduh tanda-tanda orang yang jatuh cinta itu banyak, dan bisa berbeda-beda pada setiap orang. Tapi biasanya ada lima yang disingkat dengan kata C.I.N.T.A. yaitu Cemburu, Ingin tau, Nerveous, Taat” kata pak ustadz rada-rada maksain.</p>
<p>“A&#8230;nya apa donk pak ustadz?” jamaah kompak bersuara.</p>
<p>“A&#8230;nya bisa macam-macam. Misalnya A..duh romantis banget. A..duh puitis banget. A..duh klimis banget. De el el,” jawab pak ustadz yang disambut gerr hadirin. He.. he.. he.., lagian, ustadz koq ditanya gituan.</p>
<p>“Pak ustadz, apakah mungkin seorang aktifis dakwah berjodoh dengan seorang playboy?” Giliran seorang akhwat terdengar bertanya. Walau terdengar hijab, namun Dikha mengenal siapa pemilik suara lembut tersebut.</p>
<p>“Jadi..jadi selama ini ..dia..” Dikha tak meneruskan spekulasinya, ia penasaran dengan jawaban pak ustadz.</p>
<p>‘Yup pertanyaan yang bagus. Begini, Allah Swt telah menciptakan semua berpasang-pasangan. Termasuk bagi aktifis dakwah, Allah telah mempersiapkan jodoh bagi mereka. Dalam hal ini Allah Swt berfirman &#8230;”merdu sekali pak ustadz melantunkan ayat suci Al-Qur’an. “..Yang artinya:’Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik bagi laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)’. Walaupun ayat ini ..”</p>
<p>Dikha tak lagi konsen mendengar jawaban pak ustadz. Dadanya terasa sesak. Akhirnya dia tahu kenapa tak pernah bisa menyatakan cinta pada Annisa. Itu karena ia memang tak pantas mendapatkan wanita baik-baik seperti Annisa.</p>
<p>“Yaa Allah, beri kesempatan pada hambamu untuk memperbaiki diri. Aku tak ingin mendapatkan jodoh wanita yang keji.” Dikha berazzam dalam hati.</p>
<p>Braak, Dikha terjatuh dari tempat tidurnya.” Masya Allah . Just a dream. It was just a dream. Ya Allah, terima kasih telah memberiku petunjuk” Dikha sujud, bersyukur. Bukan saja karena mengetahui penyebab disleksia lovea-nya, tapi yang terpenting, ia tersadarkan bahwa selama ini telah banyak berbuat keji dan dosa.</p>
<p>“Terima kasih ya Allah, terima kasih Nisa” Katanya beberapa kali. Selamat tinggal masa lalu.</p>
<p>sumber: majalah Permata edisi&#8230; eumm lupa, pengarang menyusul</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Aku Akan Mati Hari ini ...]]></title>
<link>http://4rdysama.wordpress.com/2009/12/21/aku-akan-mati-hari-ini/</link>
<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 02:51:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>pake_y</dc:creator>
<guid>http://4rdysama.wordpress.com/2009/12/21/aku-akan-mati-hari-ini/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen ini sederhana. Alurnya cukup fokus dan pendek. Dari awal cerita hingga akhir, cerpen ini menc]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Cerpen ini sederhana. Alurnya cukup fokus dan pendek. Dari awal cerita hingga akhir, cerpen ini menc]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Misteri Gunung Kawi - Cerpen]]></title>
<link>http://lighttravern.wordpress.com/2009/12/21/12/</link>
<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 02:51:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>lighttravern</dc:creator>
<guid>http://lighttravern.wordpress.com/2009/12/21/12/</guid>
<description><![CDATA[Kegiatan kampus yang tadinya baik &#8211; baik saja berubah menjadi mencekam ketika ada kejadian yan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kegiatan kampus yang tadinya baik &#8211; baik saja berubah menjadi mencekam ketika ada kejadian yang sangat tidak diinginkan. Pembunuhan demi pembunuhan pun terjadi seperti hanya sebuah kecelakaan belaka. </p>
<p>Check kejadian apa itu dengan download ebook gratis di bawah ini. </p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/7827368/BumiPerkemahanGunungKawi.pdf.html" target="_blank">Download Via <br /><img src="http://www.ziddu.com/images/log-ziddu.gif"></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menunggu Ibu]]></title>
<link>http://surgakata.wordpress.com/2009/12/20/menunggu-ibu/</link>
<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 13:21:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>surgakata</dc:creator>
<guid>http://surgakata.wordpress.com/2009/12/20/menunggu-ibu/</guid>
<description><![CDATA[(radar banyuwangi, 20 desember 2009) &#8220;Ibu kemana, ya?&#8221; Gadis kecil itu bergumam. Ia baru]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>(radar banyuwangi, 20 desember 2009)</p>
<p>&#8220;Ibu kemana, ya?&#8221;</p>
<p>Gadis kecil itu bergumam. Ia baru saja pulang sekolah. Ia heran mengapa ibunya tak menjemput. Padahal biasanya, ibunya sudah duduk di bawah pohon rindang ketika bel sekolah berbunyi. Lantas dengan sepeda tua, gadis kecil itu akan diboncengnya. Tetapi tidak untuk siang ini. Ia lama menunggu di bawah pohon dekat pagar sekolah. Ibunya tak datang juga. Akhirnya gadis kecil itu berjalan kaki dari sekolah ke rumah. Untung ada beberapa temannya yang juga berjalan kaki, jadi ia tak kesepian di jalan. Apalagi, akhir-akhir ini sering ada berita penculikan anak. Gadis kecil itu sangat waspada, kalau-kalau ada orang mencurigakan yang mendekatinya. Ia memilih jalan yang ramai, padahal bisa saja ia melewati pematang agar lebih cepat sampai ke rumah. Tetapi gadis itu terlalu takut, dan semakin takut ketika kawan-kawannya mulai berpencar ke rumah masing-masing. Ia tahu rumahnya paling jauh, dan sebenarnya tak layak untuk berjalan kaki.</p>
<p>Setelah satu jam berjalan, akhirnya gadis kecil itu sampai di rumah, namun ia belum juga bertemu ibunya. Ia sudah mengelilingi seluruh bagian rumah, dari pekarangan tempat ibunya biasa menyapu, lalu masuk ke dalam kamar yang rupanya tak terkunci, hingga ke halaman belakang. Di sana ada sumur dan kamar mandi. Hasilnya nihil. Bahkan tak ada siapa-siapa. Ayahnya juga tak ada. Sebab, pasti sedang ada di pabrik dan pulangnya selalu petang hari.</p>
<p>Gadis kecil itu kembali ke halaman rumah, ia berdiam di sana sambil berdoa, hatinya semakin tidak tenang, seringkali ia menoleh tak tentu arah. Ia ingin cepat-cepat menemukan ibunya, &#8220;Mungkin ibu dalam perjalanan pulang.&#8221; Gumamnya. Wajahnya tampak kusut, sepertinya kelelahan. Rambutnya sedikit acak-acakan. Sepasang pita rambutnya dilepas, ia biarkan rambutnya ditiup angin. Gadis itu duduk di sebongkah batu yang cukup besar, termenung, menyaksikan orang-orang yang lewat, sebagian menyapanya. Sebagian lewat begitu saja. Ia pun sesekali bertanya pada mereka yang lewat, apakah di jalan bertemu ibunya. Tetapi, jawabannya sama, tidak ada yang tahu.</p>
<p>&#8220;Ibu kemana sih? Rumahnya nggak dikunci.&#8221;</p>
<p>Hawa angin menjelang sore cukup dingin, langit memang tak begitu cerah. Ada mendung tipis yang bergelayut. Terkadang angin menghempas cukup keras, menggoyangkan pohon mangga dan pohon kelapa di sekelilingnya. Ada kawanan burung parkit terbang berkeliling. Ada juga layang-layang di langit, entah siapa yang menaikkannya, mungkin di lapangan dekat belokan di ujung itu. Gadis kecil itu tak berani menatap layang-layang. Ia terus menunggu ibunya, baru saja perutnya berbunyi <em>kemrucuk</em>.</p>
<p>&#8220;Mungkin ke supermarket, beli mie rebus.&#8221;</p>
<p>Gadis kecil itu menghibur dirinya. Tetapi, ibunya jarang pergi tidak bilang-bilang, biasanya ada pesan tertulis di pintu agar anak gadisnya itu tak khawatir. Namun, kali ini ibunya tak meninggalkan pesan, bahkan pintu pun tak terkunci.</p>
<p>Ia melihat sekitarnya. Belum tampak juga wujud ibunya. Ia mulai resah, &#8220;Ibu kok lama, sih? Supermarketnya kan dekat.&#8221; Tak jelas ia bicara dengan siapa. Hanya suara burung. Hanya suara angin menghempas daun-daun. Tak terasa sudah satu jam lebih ia duduk di halaman rumahnya. Gadis itu tak mau pergi kemana-mana, meski kerongkongannya haus. Meski perutnya berbunyi lagi, ia enggan masuk ke rumah yang kosong. Ia lebih suka menunggu ibunya di depan rumah untuk menyambutnya. &#8220;Siapa tahu ibu bawa oleh-oleh.&#8221;</p>
<p>Terlalu lama menunggu, tiba-tiba ia merasa takut. Ia takut dengan suara angin yang seolah berbisik di telinganya. Ia takut dengan suara sepeda motor yang sesekali melintas di jalanan depan. Kebanyakan orang tak memedulikannya. Tentu orang-orang tak tahu bahwa gadis kecil itu sudah lama berada di situ untuk menunggu ibunya. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari ibunya di supermarket.</p>
<p>Cukup berjalan kaki kurang dari sepuluh menit. Ia sudah tiba, lalu masuk untuk menyusuri ruangan supermarket, melewati deretan makanan ringan yang biasa ia beli kalau ikut ibunya belanja. Namun hasilnya nihil. Ada banyak orang di sana, tetapi bukan ibunya.</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan ibu sudah pulang ke rumah. Aduh, pintunya lupa dikunci.&#8221;</p>
<p>Ia pun menghambur ke luar supermarket, menyeberang jalan, lalu sedikit berlari untuk kembali ke rumahnya. Sekali lagi ia mencari di sekeliling rumah, dari depan hingga belakang, &#8220;Ternyata ibu belum pulang juga.&#8221;</p>
<p>Dengan wajah lesu, ia kembali ke halaman depan, duduk di batu besar yang tadi. Ia menunggu lagi. Matahari sudah sedikit miring, sore hampir tiba. Perutnya tak henti-hentinya berbunyi. Ia menyesal tak sempat jajan di sekolah. Sebab, biasanya sang ibu sudah menyiapkan makanan sepulang sekolah. Jadi, uang sakunya ditabung. Dan ketika di rumah ternyata tidak ada makanan, ia hanya bisa memegang perutnya.</p>
<p>Akhirnya, setelah beberapa puluh menit menunggu. Dari kejauhan, gadis kecil itu melihat iring-iringan manusia sedang berjalan perlahan-lahan. &#8220;Mungkin di situ ada ibu!&#8221; Gumamnya sambil terus berharap. Wajahnya sedikit ceria kini. Ia melihat belasan orang. Beberapa saat kemudian, iring-iringan manusia itu semakin dekat, &#8220;Lho, itu malah Ayah&#8221; Katanya heran. Dalam sekelompok manusia itu, laki-laki yang berjalan paling depan dengan seragam pabrik jelas ayahnya. Semakin dekat, laki-laki itu justru berjalan lebih cepat dari yang lain, dan akhirnya tiba lebih dulu.</p>
<p>&#8220;Ayah kok sudah pulang? Ibu ke mana? Intan lapar.&#8221; Ia bertanya tidak sabar.</p>
<p>Laki-laki itu tak menjawab. Segera dipeluk erat tubuh anak gadisnya itu. Sementara wajahnya masih basah oleh air mata.</p>
<p>(Situbondo, 2009)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[mimpi wina]]></title>
<link>http://galuhsakti.wordpress.com/2009/12/20/dunia-impian-wina/</link>
<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 10:12:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>galuhsakti</dc:creator>
<guid>http://galuhsakti.wordpress.com/2009/12/20/dunia-impian-wina/</guid>
<description><![CDATA[gadis itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya, padahal mentari belum lagi muncul menunjukan kegaran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>gadis itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya, padahal mentari belum lagi muncul menunjukan kegarangannya, dan ayam tidak juga berkokok, mungkin ia lelah berkokok kemarin pagi.<br />
bangun pagi adalah rutinitas kesehariannya, ia senang bangun pagi, karena ia suka melihat proses pertukaran tugas rembulan dan mentari. langit itu kadang kelabu, kadang merona kemerahan, kadang juga biru tanpa awan. ia mempersiapkan semuanya sendiri. dari sarapan, buku, PR, dan segalanya. orang tuanya masih tertidur dengan lelapnya dikamar mereka. dia tak berniat sekalipun membangunkan orang tuanya.<br />
gadis itu bernama wina. wina, siswi SMP yang mandiri. yang selalu mengalah untuk orang tuanya.<br />
wina bukanlah dari keluarga yang berada, namun ia juga tak kekurangan. ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. ayahnya juga hanya pegawai sebuah perusahaan swasta. dia mempunyai adik yang pintar dan lucu, toro namanya.<br />
pagi itu ia ingin segera pergi sekolah, dia tak ingin bertatap muka dulu dengan orangtuanya. dia kesal, semalam merka bertengkar lagi. jadilah dia berangkat sekolah pagi-pagi. ternyata dia adalah murid pertama yang sampai. daripada dia duduk sendirian dikelas, dia memilih duduk di kursi didepan kelasnya, sambil melihat para penjaga sekolah yang membersihkan sekolah.<br />
&#8220;pagi-pagi amat neng datengnya!&#8221; teriak penjaga itu dari seberang lapangan. mungkin ia penasaran ada murid yang datang pagi-pagi sekali kesekolah, padahal biasanya siswa datang terlambat. tapi wina sedang tidak  mood untuk menjawab, ia hanya membalas dengan senyuman.<br />
penjaga sekolah itu bernama pak ujang, ia tinggal dirumah yang satu komplek dengan sekolah bersama keluarganya dan beberapa penjaga sekolah yang lain. memang, seperti keluarga yang lain, pagi-pagi adalah waktu untuk sarapan, istri pak ujang memanggil pak ujang untuk sarapan.<br />
&#8220;paaak, saran dulu! ini udah siap!&#8221;<br />
&#8220;iya buu!&#8221; jawab pak ujang.<br />
sebetulnya wina sedikit iri dengan keluarga pak ujang. istri pak ujang setia dan rela hidup dengan pak ujang, ia terlihat tak pernah mengeluh walau suaminya hanya seorang penjaga sekolah. tidak seperti mamanya. mamanya sering kesal apabila bapak pulang malam. bapak disambut dengan raut muka kesal mama, bukan dengan segelas teh hangat dan makanan yang sudah tersaji di meja makan bersama senyuman manis mama. kenapa mamanya tidak pernah memikirkan bapak? mungkin bapak punya banyak masalah di kantor. bapak juga salah, kenapa tidak menelpon mama, dan memberi kabar? &#8220;harus selalu aku yang menelpon&#8221; batinnya.</p>
<p>satu persatu temannya datang, dan ia pun melupakan masalahnya untuk sejenak. saat ia tertawa lepas bersama para teman-temannya, seakan semua masalah mengenai mama dan bapak pun ikut lepas.</p>
<p>***</p>
<p>&#8220;kakak, jangan nyetel tipi!&#8221; ujar toro.<br />
&#8220;ahh, jangan gitu dong! kakak kan lagi nonton tipi! pilemnya bagus tuh!&#8221;<br />
&#8220;gak boleh, kita maen kartu aja!&#8221;<br />
walau kesal, wina tetap menemani adiknya bermain kartu. ia sangat sayang pada adiknya. dia memang kadang bandel, tapi dia sering kali membuat ia tertawa. mama sebenarnya adalah orang yang lucu, tapi jika sudah keluar egonya sungguh mengesalkan! jika sudah begita wina hanya bisa diam, mamanya tak mau disalahkan.<br />
&#8220;ma, sini napa ma! rengek wina. ia ingin bermain bersama mamanya juga.<br />
&#8220;iya, bentar. mama lagi gosok. na, tolong telpon bapak gih na. lagi ngapain?&#8221;<br />
&#8220;ah, mama aja ah yang nelpon. aku kan lagi maenan. lagian mama kan deket sama telpon&#8221;<br />
&#8220;mama lagi repot nih! disuruh mamanya kok gak mau!&#8221;<br />
lagi-lagi wina yang disuruh menelpon bapak, padahal seharusnya mama dan bapak bisa ngobrol. wina tidak habis pikir kenapa mamanya enggan untuk sekedar menelpon bapak, padahalkan mereka suami istri?<br />
&#8220;ma, kata bapak dia hari ini pulang malem. pengen ke rumah pak nofal, mau benerin mesin&#8221;<br />
&#8220;ohhh,&#8221;<br />
&#8216;oh&#8217;? mamanya hanya menjawab &#8216;oh&#8217;?? tidak adakah kata lain yang bisa mama ucapkan? wina sebenarnya kesal, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. lalu kenapa bapak harus pulang malam lagi? ia rindu bercanda dengan bapak. ia rindu saat dimana seluruh anggota keluarga berkumpul dan bercanda. toro tertawa riang, mama tersenyum, bapak bermain gitar, dan wina sendiri akan menemani toro tertawa.</p>
<p>***</p>
<p>malam itu wina tidak bisa tidur, mama dan bapak bertengkar hebat! mama kesal karena bapak pulang malam terus, mama langsung memasang wajah cemberut dan mereka berbicara di luar. wina tidak bisa mendengar mereka berbicara apa. tapi entah kenapa mama langsung lari keluar, entah kemana. bapak dan toro mencari mama dengan motor. perasaan wina mengatakan bahwa mama hanya bersembunyi disamping rumahnya. mama pasti melihat toro dan bapak mencarinya malam-malam. tapi kenapa mama tidak memberhentikan mereka? wina tidak ingin mempersalahkan mama, bagaimanapun bapak juga salah karena tidak mempunyai waktu untuk keluarga. wina sendiri di kamar, bingung harus berbuat apa.<br />
akhirnya mama masuk ke rumah, dia sholat. entah saking khusuknya atau dia sedang tak ingin di ganggu, panggilan wina tak ia jawab. padahal wina hanya ingin mengetahui apakah mamanya baik-baik saja? dan malam itu, tepat jam 3 pagi mama mengatakan bahwa ia akan pulang kampung besok pagi untuk mencari ketenangan. mama hanya mengatakan dan tidak menanyakan persetujuan wina. wina hanya bisa mengangguk.</p>
<p>***</p>
<p>kemarin mama pergi, kata mama dia ingin menenangkan diri.</p>
<p><em>to:wina<br />
from: mama<br />
nak, mama sudah sampai. mama belum tahu kapan mama bakal balik lagi kesana. wina lagi ngapain? lagi sama siapa?&#8221;<br />
</em></p>
<p>wina sebenarnya senang mengetahui mamanya telah sampai dengan selamat. namun dia sedih, mengapa mama tidak memberitahukan kapan dia akan pulang? wina takut mamanya tak akan pulang. namun dia yakin mamanya pasti akan pulang. sebentar lagi liburan akan tiba, wina akan menyusul mama dan mengajaknya pulang.</p>
<p>***</p>
<p>sudah 3 hari, mamanya tidak bisa dihubungi. tapi mama mengatakan ia akan berada di rumah uwak sampai hari kamis, itu berarti 5 hari mama akan berada di sana. wina sangat kangen dengan mama dan toro. dia tidak mau tinggal berdua dengan bapak. karena kalau siang dia harus tinggal sendiri.</p>
<p>malam itu, dengan hati yang sedih wina menulis di diary-nya.<br />
<em>&#8220;malem ini aku nulis khusus untuk mama. ma, mama tau gak kalo aku kangen banget sama mama? mama tau gak? kemarin ulangan aku dapet 9! tapi aku bingung mau kasih tau siapa? mama gak ada, toro gak ada, bapak juga gak ada. tadinya kau mau kasih tau bapak, tapi kasian, bapak capek. habis pulang trus langsung tidur.<br />
mama lagi ngapain di sana? mama udah tenang? ma, sekarang gantian aku yang gak tenang. aku juga mau pergi kayak mama, tapi aku harus pergi ke mana? mama bisa pergi ke rumah mamanya mama. tapi kalo aku? mama kan lagi pergi. aku juga gak tega mau ninggalin bapak. kasian bapak pulang kerja enggak ada yang ngurusin nanti.<br />
mama kenapa harus pergi sih? kenapa mama gak nyari ketenangan dengan banyak doa aja sama Tuhan? wina bingung harus cerita sama siapa kalo pas di sekolah tadi ada kejadian lucu. wina harus cerita sama siapa kalo sekarang wina lagi sedih banget. wina tau Tuhan selalu ngedengerin wina dan Dia selalu ada buat wina. dan wina selalu berdoa sama Tuhan semoga Tuhan juga selalu ada buat mama dan gak pernah ninggalin mama sendirian.<br />
wina bingung harus ngomong apa. yang jelas wina kangen banget sama mama. wina mau mama cepet pulang dan mama sama bapak juga bakalan baik-baik aja. ma, aku boleh nanya sesuatu? kenapa waktu mama pergi mama gak mikirin perasaan wina? kenapa mama gak ngomong sama wina dulu? kita kan bisa ngomong baik-baik. kenapa mama mau cari ketenangan sendiri? kenapa mama gak bagi-bagi ketenangan sama wina?<br />
wina tau mama kesel gara-gara bapak pulang malem lagi, atau ada masalah lain yang wina gak tau. tapi kenapa mama pergi? kenapa gak kita bicarain dulu? kenapa mama perginya jauh sih ma? kenapa gak yang deket aja biar wina bisa nyusul? maap ya ma, wina banyak nanya. tapi wina emang beneran pengen tau.<br />
ma, seandainya wina gak bisa ketemu sama hari esok, lewat tulisan ini wina mau ngasih tau kalo wina sayang banget sama mama, bapak, sama toro juga. wina gak mau kalo kita berantem. wina mau kalo keluarga wina bahagia sampai nanti, kayak cerita princess yang selalu happy ending bahagia selamanya. selamat malam mama. semoga mama udah tenang dan semoga bapak bisa punya cukup waktu buat kita ya ma . .</p>
<p>NB : besok aku mau jemput mama! mama jangan kemana-mana. besok kita pulang bareng. bapak yang nganterin aku&#8221;</em></p>
<p>wina terlelap sambil memeluk diary-nya. dia bermimpi terbang ke arah mama bersama bapak juga toro. dia siap menghadapi hari esok. sementara bapak yang baru pulang kerja membaca diary malaikat kecilnya itu dengan mata berair.<br />
&#8221; bapak janji,na. bapak akan jadi bapak yang baik buat kalian.&#8221; ucap bapak lirih.</p>
<p>***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerpen ecek-ecek]]></title>
<link>http://neldendjakababa.wordpress.com/2009/12/19/cerpen-ecek-ecek/</link>
<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 08:35:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>neldendjakababa</dc:creator>
<guid>http://neldendjakababa.wordpress.com/2009/12/19/cerpen-ecek-ecek/</guid>
<description><![CDATA[Tadi pagi, karena masih terus batuk-batuk, di tempat tidur saya menyelesaikan sebuah cerpen yang mul]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Tadi pagi, karena masih terus batuk-batuk, di tempat tidur saya menyelesaikan sebuah cerpen yang mulai saya tulis pada malam sebelumnya, juga lantaran sulit tidur akibat terus diganggu oleh batuk-batuk tenggorokan gatal ini. </p>
<p>Cerpen yang masih berbentuk draf ini saya anggap cukup ringan saja, tidak harus membuat alis mengernyit. Meskipun bisa dikategorikan ecek-ecek, saya cukup senang juga menulisnya. Rupanya saya perlu juga untuk sesekali menulis sesuatu yang ecek-ecek. Rasanya membebaskan. </p>
<p>Meskipun ini cerpen iseng, tetap saja saya belum ingin membocorkan isinya sebelum rampung betul. Intinya, cerita ini adalah tentang sebuah keluhan yang belum tentu disampaikan. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Antara Cinta Dan Sahabat]]></title>
<link>http://accan.wordpress.com/2009/12/19/antara-cinta-dan-sahabat/</link>
<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 04:26:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>accan</dc:creator>
<guid>http://accan.wordpress.com/2009/12/19/antara-cinta-dan-sahabat/</guid>
<description><![CDATA[Antara Cinta Dan Sahabat Cindy, itulah wanita yang selalu ada dalam pikiran Sandy, karena setiap saa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><strong>Antara Cinta Dan Sahabat</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Cindy, itulah wanita yang selalu ada dalam pikiran Sandy, karena setiap saat dan setiap detik Sandy selalu memikirkannya karena Sandy merasakan perasaan yang berbeda dari wanita manapun. Ketika ia  bertatap muka hatinya selalu bergetar. Cindy merupakan gadis yang cantik, cerdas, pintar, lugu dan pendiam, sedangkan Sandy seorang laki-laki yang cerdas, walaupun ia nakal di sekolahnya. Suatu hari ketika di sekolah Sandy sedang berada didepan pintu sambil berbicara dengan temannya, tiba-tiba Cindy lewat hati Sandy pun tidak karuan dan dengan berani ia memberikan ucapan salam kepada Cindy.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Selamat pagi Cindy”. Tetapi Cindy tidak membalas ucapan Sandy dan ia terus berjalan tanpa melihat wajah Sandy, itu malah membuat Sandy semakin tertarik dengan Cindy. Esoknya lagi Sandy melakukan hal yang sama, tetapi Cindy masih mengabaikannya. Dan saat yang ketiga kalinya, alangkah terkejutnya Sandy, ketika Cindy memberikan senyuman kepada Sandy dan senyuman itu menjadi kenangan dalam hati Sandy. Saat istirahat, Sandy menuju kelas Cindy dan secara diam-diam Sandy meminta bantuan kepada teman ceweknya untuk memintakan no. hpnya Cindy.</p>
<p style="text-align:justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">“ Hai Rin, “ aku boleh minta bantuan ke kamu gak??.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Hai juga San, boleh aja, emang bantuan apa cie?</p>
<p style="text-align:justify;">“ Gini Rin, aku minta tolong aku kasih no.hpnya Cindy, karena aku ingin berkenalan dengan dia.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Oh, Cindy. aku punya, tapi kan dia orangnya pendiam.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Iya sih, aku tahu. tapi gak tahu hatiku selalu bergetar saat aku melihat dia, aku juga gak tahu perasaanku ini.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Jangan-jangan kamu ada rasa ya sama dia.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku juga gak tahu Rin, mana no.hpnya aku minta”.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Sabar dong San, nie aku kasih no. hpnya Cindy, moga sukses ya kamu!”.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Thanks ya”.</p>
<p style="text-align:justify;">Malamnya Sandy mencoba miscall Cindy, hp Cindy pun bunyi dan bergetar sebentar saja. Akhirnya Sandy menelpon Cindy, ketika diangkat Cindy berkata “ Maaf ini siapa ya”, tapi Sandy langsung mematikan hpnya dengan hati yang senang. Karena ia mendengar sendiri suara Cindy yang begitu halus dan sopan sehingga membuat hati Sandy semakin tambah bergetar. Lalu ia mulai sms Cindy dengan menanyakan kabarnya, kemudian Cindy pun membalas sms. Sandy pun semakin tertarik dengan Cindy walaupun ia tidak bisa tidur karena memikirkan Cindy. Esoknya Sandy bertemu lagi di sekolah dengan Cindy dan menyapanya “ pagi, Cindy”. dan alangkah terkejutnya ketika Cindy membalas sapaan Sandy dengan senyum manisnya itu. Malamnya Sandy pun sms Cindy untuk berkenalan dan berteman. Pertamanya sich Sandy belum mengaku, karena ia takut ketika ia jujur, ia tidak bisa berteman dengan Cindy. Dan dengan hati Cindy yang baik ia mau berteman dengan Sandy dengan nama samaran lain yaitu Toni. Pertemanan itu menjadi pertemanan yang sangat akrab walau hanya lewat sms dan Sandy mulai mengenal Cindy lebih dalam lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat di sekolah, Dani sahabat Sandy tiba-tiba menceritakan perasaannya, bahwa selama ini ia menyukai Cindy. Alangkah terkejutnya ketika Sandy mendengar perkataan Dani yang ternyata diam-diam juga mencintai Cindy dan minta agar Sandy membantu untuk mendapatkannya. Dengan perasaan dilema Sandy bingung siapa yang akan dipilih, apakah sahabat atau gadis yang dicintainya. Ia melamun dan terus memikirkannya, tiba-tiba Dani menepuk bahunya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ow San, kenapa kamu melamun. Bantuin aku ya, please kamu kan sahabatku, tolong ya”.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Oke deh. Aku mau bantuin kamu.” Jawab Sandy, wajah yang dilema.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena Sandy sudah mengenal Cindy lebih dalam, baik apa yang di sukai dan yang tidak di sukai. Jadi, dengan terpaksa ia memberikan semuanya kepada Dani, karena Dani merupakan sahabat yang begitu akrab bagi Sandy dan sudah sepantasnya sebagai sahabat ia juga membantu, walaupun kedua-keduanya sama-sama mencintai seorang gadis yang sama. Keesokannya Dani melakukan apa yang di suruh Sandy. Pertama-tama Cindy menghiraukannya, tapi dengan semangat Dani terus berusaha. Malamnya Cindy pun curhat kepada Toni, bahwa ia di dekati Dani, salah seorang temannya di srol dan meminta saran kepada Toni apa yang harus ia lakukan. Dengan perasaan sedih Toni atau Sandy menyarankan agar ia dekat dengan Dani, tapi harus perhatikan dulu apakah ia orang baik atau bukan. Cindy pun juga mengikuti sarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah satu bulan lamanya, akhirnya hati Sandy pun mulai luluh terhadap Dani, sehingga Dani bahagia karena Cindy mau berteman dan usahanya tidak sia-sia. Dani pun menceritakan semuanya kepada sahabatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Hai San, akhirnya Cindy mau berteman dengan aku”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Apa benar Dan”.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Iya. Semua itu berkat kamu San. Kalau gak ada kamu pasti aku gak bisa sedekat ini dengan Cindy.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ah kamu bisa aja. aku kan sahabat kamu. jadi tidak ada salahnya seorang sahabat membantu sahabatnya juga.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Thanks ya. kamu emang sahabat aku. Tapi aku boleh tanya gak?.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Boleh aja, emang mau tanya apa.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kenapa kamu kok tahu sich tentang Cindy, mulai dari yang disukai atau pun yang gak disukai, pokoknya segalanya deh”.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Owh itu semua kebetulan kok, gak tahu kok bisa pas ya” Jawab Sandy dengan wajah kebingungan.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tapi menurutku gak begitu deh,” balas Dani dengan sedikit mencurigai Sandy.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Alah gak usah dibahas lagi, yang penting kamu dah bisa dekat dengan Cindy kan,” Jawab Sandy dengan mengalihkan pembicaraan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua Minggu kemudian Dani dan Cindy jadian, mereka jadian tanpa sepengetahuan Sandy kalau mereka berkencan di suatu tempat.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Cin, Apakah benar kamu mencintaiku?”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku memang mencintaimu Dan. Apakah kamu meragukan cintaku.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Nggak, bukannya begitu, tapi apakah kamu benar-benar tulus “ tanya Dani “ dengan perasaan ragu.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku memang tulus mencintaimu atau kamu yang tidak tulus mencintaiku.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku sangat mencintaimu Cindy,” Jawab Dany dengan meyakinkan Cindy.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku senang bisa mendapatkan kamu, karena itu semua berkat sahabatku Sandy,” dia yang membantuku mulai dari yang kamu suka dan yang tidak kamu suka.</p>
<p style="text-align:justify;">Cindy terkejut dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah Toni itu sebenarnya Sandy.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Cin, kamu kenapa kok bengong.” tanya Dani.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ah gak apa-apa.” Cindy menjawab dengan nada lirih.</p>
<p style="text-align:justify;">Cindy masih berfikir apakah benar bahwa selama ini Toni adalah Sandy.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Dan, emang dah berapa lama U sahabatan ma Sandy.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku sudah 6 tahun bersahabat dengan dia,” emang kenapa? Jawab Dani dengan bertanya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ah gak pa pa, berarti kalian dah akrab banget ya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Ya bisa di bilang begitu”</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokannya Cindy menemui Sandy sepulang sekolah tanpa sepengetahuan Dani.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Sandy, tunggu.” Sandy menoleh dan terkejut ketika yang memanggil adalah Cindy, tapi Sandy malah mempercepat langkah kakinya dan tiba-tiba Cindy menarik tas Sandy.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Sandy, tunggu.”kenapa kamu lari aku.” tanya Cindy dengan nada tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku harus pergi karena urusan mendadak.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ San, kenapa kamu harus berbohong?</p>
<p style="text-align:justify;">“ Apa maksud kamu Cindy.” Jawab Sandy dengan wajah heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kenapa kamu gak ngaku kalau kamu adalah Toni dan sampai sekarang kamu diam saja, kenapa!.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Apa maksudmu Cin?”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Aku tahu sekarang kalau kamu adalah Toni. Sandy pun terdiam saja.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kenapa San, kamu gak bisa jawab kan, berarti benar kalau kamu adalah Toni.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Kenapa kamu selama ini diam San, kenapa.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Karena aku mencintaimu Cin”. Bentak Sandy. Cindy pun kaget mendengar kata-kata Sandy.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tapi kenapa kamu bilang sekarang,” tanya Cindy sambil menangis.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Karena aku gak mau menyakiti perasaanmu dan sahabatku. Jadi inilah yang bisa aku lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">“ San. sebenarnya dari dulu aku juga cinta kamu, tapi aku takut mengatakannya.” Sandy pun kaget kalau selama ini Cindy juga mencintainya.</p>
<p style="text-align:justify;">“ Tapi inilah cara yang baik bagi kita, karena aku gak mau menyakiti sahabatku. Jadi tolong bahagiakan sahabatku, lagipula bagiku cinta tak harus memiliki.”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Baiklah kalau itu yang kamu mau, aku harap ini akan menjadi rahasia kita berdua.” jawab Cindy sambil meneteskan air mata.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya mereka pulang dengan air mata yang menetes bercampur dengan perasaan yang sedih.</p>
<p style="text-align:justify;">Esoknya Dany mengenalkan Cindy kepada Sandy, mereka berdua berkenalan tanpa ada rasa curiga dari Dany. Karena sebelumnya Sandy berpesan agar Cindy bisa mencintai Dany dengan tulus. Dan Cindy pun mencoba mencintai Dany dengan tulus, karena menurut Sandy cinta tak harus memiliki.</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga mereka bertiga menjadi berteman baik. Dany dan Cindy pacaran dan bersahabat baik dengan Sandy tanpa memberitahukan masalah yang sebenarnya kepada Dany, bahwa sebenarnya Sandy dan Cindy saling mencintai dulunya.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cerpen sedih...]]></title>
<link>http://payaredan.wordpress.com/2009/12/19/cerpen-sedih/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 17:21:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>payaredan</dc:creator>
<guid>http://payaredan.wordpress.com/2009/12/19/cerpen-sedih/</guid>
<description><![CDATA[Dicopy paste dari emial oleh sahabat untuk tatapan dan renungan bersama&#8230;. Sesetengah nikmat it]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div>Dicopy paste dari  emial oleh sahabat untuk tatapan dan renungan bersama&#8230;.</div>
<div>Sesetengah nikmat itu hanya  datang sekali, tetapi bersyukur kena selalu. Marilah kita hayati kisah dibawah ini. Mudah-mudahan ada iktibar yang  boleh kita ambil hasil dari kisah tersebut.</div>
<div>Ada sepasang suami  isteri yang hidup bahagia. Tidak ada kurangnya bagi pasangan yang dilimpahi  dengan kemewahan ini kecuali satu, mereka tidak punya anak walaupun telah  lama berumah tangga. Sering mereka bercerita tentang betapa indahnya hidup  sekiranya punya seorang anak penyejuk mata. Rasa ini bergolak hebat apabila  melihat kepada jiran sekeliling yang sentiasa riuh rendah dengan bunyi hilai  ketawa anak-anak,kadang-kadang tangisan nyaring.</div>
<div><strong>Apa yang menarik tentang pasangan Mr. &#38; Mrs. Perfect  ini:</strong></div>
<div>Susun atur dalaman rumah mereka yang rapi,  kekemasan sentiasa pada tahap maksimum dan semua benda mesti berjalan  seperti yang dirancang dan dijadualkan. Rutin hidup mereka semuanya berjalan  seperti dalam catatan diari dalam kerapian tahap tinggi. Nota semakan kerja  rumah tergantung pada peti ais, pada white board pula senarai semakan  keberkesanan, perancangan pula dalam buku management tersendiri. Dengan  tekun semua ini diulang-ulang saban hari, minggu dan tahun.</div>
<div>Pada satu hari yang indah, si isteri bergegas memberitahu jiran  tetangga berita gembira yang dikongsi bersama dengan sambutan syukur hampir  seluruh kawasan kejiranan berhampiran. Menurut doktor, dia<br />
bakal  menimang cahaya mata. Kegembiraan jelas terpancar pada pasangan ini, ucapan  tahniah datang mencurah-curah.</div>
<div>Begitu pantas masa  berlalu. Akhirnya sampailah saat yang mendebarkan, anak yang ditunggu  dilahirkan dengan selamat. Bayi lelaki comel ini benar-benar memberi sinar  pelengkap kasih sayang di dalam rumah itu.</div>
<div>Tiga tahun berlalu, anak lelaki ini membesar dengan sihat dan subur,  sesubur perhatian dan belaian daripada ayah dan ibu. Namun berlaku sesuatu  yang tidak diduga oleh ibunya selama ini. Anak lelaki ini mempunyai perangai  yang seratus peratus berbeza dengan sikap ibunya. Kalau ibunya sangat kemas,  anak lelaki ini akan mengeromot segalanya. Rumah yang selama ini kemas  teratur sering kali bertukar wajah menjadi seperti lepas perang, kena  penangan anak ini. Keadaan tidak terkawal, anak ini mungkin telah dimanjakan  berlebihan.</div>
<div>Si ibu merintih derita. Apa yang berlaku  ini bertentangan sama sekali dengan kanun dirinya. Semua mesti sempurna!  Sampai pada tahap ini si ibu selalu terlanjur cakap bahawa mempunyai anak  sebenarnya satu kesilapan. Anak bukan penyejuk mata sebaliknya peragut  ketenangan.</div>
<div>Bagi mendidik si anak, si ibu terpaksa  menggunakan sedikit kekerasan, cubit, rotan dan meminta dia berikrar untuk  tidak mengulanginya kembali.</div>
<div>“Mama, abang minta maaf  … Abang tak akan ulang lagi.” Itulah ungkapan yang diajar setiap kali  kesalahan dibuat.</div>
<div>Satu lagi tabiat yang  pelik bagi anak ini ialah dia akan mengoyak kertas yang dijumpainya dan  dibiarkan bersepah merata-rata. Cubitan dan kemarahan tidak berjaya mengubah  tingkah lakunya, dia masih dengan tabiat menyepah-nyepah, kemudian rumah  jadi bingit dengan leteran dan bahang kemarahan ibu. Begitulah yang sering  berlaku. Pada suatu hari si ibu bergegas mengemaskan rumah kerana kawan  lamanya bakal datang melawat. Dia ke dapur memasak hidangan kepada tetamu  yang bakal datang.</div>
<div>Bila dia membawa makanan  untuk dihidangkan, alangkah terkejutnya apabila dia melihat ruang tamu  bersepah, sofa tunggang langgang dan koyakan kertas bertabur di  mana-mana.</div>
<div>“Abang … mari sini!!” Jerit si ibu  memanggil anaknya lebih kuat daripada biasa. Kemarahannya mencecah siling  kesabaran dan membakar rentung ladang hemahnya. Si anak ketakutan lalu lari  meluru ke arah pintu. Si ibu mengejar dari belakang. Nafasnya tertahan-tahan  menahan marah.. Kaki anak melangkah keluar dari rumah dengan larian deras.  Sesaat dia telah berada di hadapan pagar.</div>
<div>Tiba-tiba  terdengar satu bunyi hentaman keras. Larian ibu terhenti. Wajah terasa basah  terpercik sesuatu.</div>
<div>Dia terpaku . Alangkah terkejutnya apabila melihat anaknya menggelupur  kesakitan berhampiran longkang besar di tepi rumahnya. Basah di muka tadi  rupanya adalah darah anaknya. Dia tidak mempedulikan lagi pada kereta yang  melanggar, dia meluru mendapatkan anak dan merangkulnya.</div>
<div>Darah merah ada di mana-mana, dada anak  berombak-ombak, tubuh kekejangan, terdengar bunyi rengekan menahan sembilu  kesakitan yang amat. Tanpa berlengah dia terus memandu keretanya, anak  diletakkan ke atas ribanya, tubuhnya kini dibasahi darah merah segar  anaknya, dia terus memecut laju ke hospital.</div>
<div>“Ya Allah … tolonglah selamatkan anakku ini.” Doanya dalam  raungan kuat sambil memandu laju. Hon dibunyikan bertalu-talu minta laluan  daripada pemandu lain.</div>
<div>“Ya Allah … aku tahu  aku gagal menjadi seorang ibu yang baik tetapi aku memohon sekali ini … Ya  Allah selamatkanlah anakku ini.”</div>
<div>Air matanya bercucuran dengan deras menitis, tumpah dan bergaul dengan  darah merah anaknya. Perjalanan terasa begitu jauh dalam keadaan begini.  Nafas anak tercungap-cungap. Dari mulut, hidung juga telinga darah terus  mengalir begitu deras. Si anak bergelut dengan kesakitan, dada berombak  kuat, setiap kali dia membuka mulutnya darah bercucuran keluar.</div>
<div>Anak seperti ingin menuturkan sesuatu, ibu menangis  semahunya.</div>
<div>“Mama maafkan abang …” Ungkapannya  sukar … tersekat-sekat kerana kesakitan itu.</div>
<div>“… Abang janji tak akan buat lagi.”</div>
<div>Itulah ucapan yang selalu dituturkan apabila ibunya marah. Ibu memegang  mulut anak, hatinya menangis. Bukan ini yang ibu mahu dengar.</div>
<div>Sebaik sampai di hospital, anak dikejarkan ke bahagian kecemasan.  Ibu menunggu di luar, dia membuat panggilan kepada suami dan mengurus segala  prosedur yang patut. Dengan baju dipenuhi darah tanpa merasa malu pada orang  sekeliling yang melihatnya, dia menangis sekuat hati, rasa sesal mengasak  kuat segenap ruang hatinya.</div>
<div>“Ya Allah berilah aku  peluang kedua untuk menjadi seorang ibu yang baik, aku sedar akan  kesalahanku …”</div>
<div>“Ya Allah selamatkanlah  anakku hari ini …” Doa tidak pernah putus dari bibirnya dengan  permohonan setulus-tulusnya kepada tuhan.</div>
<div>Setelah lama  menunggu, tiba-tiba doktor keluar. Bebola matanya merenung penuh pengharapan  pada doktor.</div>
<div>“Puan, maafkan … Kami telah cuba  melakukan yang terbaik.” Patah bicara doktor satu-satu menyusun  kalimah.</div>
<div>“Anak puan … Telah meninggal  dunia.”</div>
<div>Hanya itu yang mampu dituturkan, walaupun  selalu tetapi tetap sukar untuk menjelaskannya kepada ibu ini.</div>
<div>Dunia terasa seperti pasir jerlus yang menyedut dengan deras ke  dalam, kepingan langit sekeping-sekeping menghempas ubun-ubun kepalanya.  Alangkah sakitnya hakikat ini. Dalam tangisan berderai, dia meluru dan  merangkul sekujur tubuh anaknya dengan mata tertutup rapat, kesakitan telah  tiada bersama nafasnya yang berangkat pergi buat selama-lamanya.</div>
<div>“Anak … Kamu tidak mendapat apa yang sepatutnya ibu  berikan di sepanjang perjalanan pendekmu ini …”</div>
<div>Ibu mencium semahu-mahunya. Namun wajah itu hanya kaku, dingin  sekali.</div>
<div>Jenazahnya kemudian diuruskan sehingga  selesai sempurna. Malam itu apabila lampu tidur dimatikan dan kawasan  kejiranan sunyi, ibu keluar ke kawasan tong sampah di hadapan rumah. Dia  menyelongkar sampah semalam mencari koyakan kertas anaknya. Malam itu di  ruang tamu rumahnya penuh koyakan kertas yang ditaburkan.</div>
<div>Dengan nada lemah sekali bersama lelehan air mata hangat ibu berkata,  “Alangkah indah andainya ini yang ibu lihat pada setiap hari di sepanjang  hidup ini.”</div>
<div>“Ibu rindu kepadamu …  Ibu rindu kepada nakalmu … Ibu rindu pada koyakan kertas ini, tetapi  kenapa ibu buta tentangnya selama ini?”</div>
<div>Tangisan  hanya saksi bisu dengan irama tersendiri, namun hakikat yang terpaksa  direngguk ialah semua itu tidak boleh diulang lagi. Anak comel itu tidak  akan pulang lagi ke rumah sampai bila-bila.</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AGHNI ]]></title>
<link>http://arrusyda.wordpress.com/2009/12/18/aghni/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 13:22:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>arrusyda</dc:creator>
<guid>http://arrusyda.wordpress.com/2009/12/18/aghni/</guid>
<description><![CDATA[Cerpen I’anah Mahfudz (Santri pada sebuah Pesantren di Kudus) Aku bersyukur, kini aku telah menemuka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://arrusyda.wordpress.com/files/2009/12/penampakan1341.jpg"><img src="http://arrusyda.wordpress.com/files/2009/12/penampakan1341.jpg?w=225" alt="" title="Penampakan1341" width="225" height="300" class="alignright size-medium wp-image-404" /></a>Cerpen I’anah Mahfudz<br />
(Santri pada sebuah Pesantren di Kudus) </p>
<p>     Aku bersyukur, kini aku telah menemukan siapa sebenarnya aku, berkat kakakku; Aghni.<br />
     Teringat aku pada delapan tahun silam, saat Aghni, kakakku, masih duduk di bangku SMA. Ibu sering bercerita tentang anak yang dibanggakannya itu. Tak jarang, mata ibu sampai berkaca-kaca saat bercerita, bahkan menitikkan air mata.<br />
     Setiap pagi, kakakku harus pergi ke sekolah. Sementara siang, sepulangnya dari belajar, ia berjualan Koran. Dari Koran-koran itu, ia mendapatkan penghasilan tambahan untuk uang saku dan membayar uang sekolahnya. </p>
<p>                                              ***<br />
     Selepas SMA, Aghni mempunyai keinginan kuat untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Tetapi keinginnya itu hanya menjadi impian yang tak kunjung dating, lantaran Bapakku, tidak sependapat dengannya.<br />
     Bapak lebih menginginkan ia mondok di pesantren. Menurutnya, mereka yang di pesantren lebih baik. “Lihatlah, mereka yang dulunya kuliah, paling-paling pulang juga merawat tambak,” kata Bapakku.<br />
     Alhasil, keputusan Bapak tak bisa diganggu gugat. Dan keinginan Aghni, kakakku itu, harus tetap menjadi pungguk yang merindukan bulan. Impian yang tidak kesampaian.<br />
     Kecewa. Ya. Kekecewaan Aghni, tak terbendung. Wajah murungnya, tak bisa memungkiri suasana hati yang sedang dirasakannya. Untuk mengobati kekecewaannya, ia pun meinta restu pada ibuku untuk merantau. “Biar saya mengadu nasib. Do’akan anakmu, ibu,” kata Aghni, waktu itu.<br />
     Ibu, perempuan yang menjadi tumpuan kasih sayang kami itu, menatap lekat-lekat anaknya. Diusapnya dahinya. Dipandanginya lekat-lekat. Seakan mengingat, waktu dia masih kecil. Saat Aghni, sebelum aku lahir, digendongnya. Diajaknya jalan-jalan. Untuk kemudian membelikan mainan, karena rengekannya.<br />
     “Pergilah, nak. Do’a ibu menyertaimu. Semoga Allah senantiasa melindungimu.”<br />
     Aku tak hanya diam. Meski tak bisa berbuat apa-apa, tetapi aku ada sedikit uang yang bisa aku berikan pada kakakku itu. Kebetulan, ia memang bilang mau meminjamnya. Tetapi tanpa ia mengatakannya untuk meminjam pun, aku akan memberikannya.<br />
     Rp.300.000. ya. Hanya itu uangku. Aku berikan uang itu, untuk bekal perjalanan kakakku. Dan dengan uang itu, ibu, aku, dan juga adikku, yang  waktu itu masih kecil, melepas kepergian kakakku. Bersama dengan tas ransel warna kuning yang cukup besar, yang hanya berisi beberapa potong pakaian dan sedikit bekal yang dibawakan ibu.</p>
<p>                                              ***<br />
     Lama tak terdengar kabar kakakku. Seminggu. Dua minggu. Sebulan. Setahun. …<br />
     Ya. Tak ada kabar berita, bagaimana nasib kakakku itu. Hanya selentingan-selentingan dari satu dua tetangga, yang katanya pernah ketemu dengannya. “Saya pernah melihatnya di Jogja,” kata salah seorang tetangga. Sementara tetangga yang lain bilang, “belum lama ini saya ketemu dia di Jakarta.”<br />
     Tidak pasti. Ketidakpastian itulah yang pasti dari kabar tentang kakakku. Tetapi dari kabar-kabar yang hanya selentingan-selentingan itu, aku sedikit tahu apa yang dikerjakan kakakku. Dia berjualan kaos dari kota ke kota. Dia mengambil kaos dagangannya di Jogja, lalu menjualnya keliling ke luar kota.<br />
     Aghni. Kangen juga aku sama kakakku yang satu ini. Apalagi si Yuni, adikku yang paling bungsu. Dia selalu bertanya padaku tentang kakaknya itu. Seringkali, usai shalat malam, aku berdo’a agar bisa ketemu kakakku, meski cuma dalam mimpi. Tetapi ternyata, do’aku itu tak kunjung kesampaian.<br />
     Sampai akhirnya, suatu hari, masih dalam suasana idul fitri, 5 tahun lalu, aku benar-benar dikejutkan oleh kedatangan seorang laki-laki yang sangat aku kenal wajahnya. “Assalamu ‘alaikum,” sapa lelaki itu dari luar rumah.<br />
     “Walaikum salam,” jawabku, sembari beranjak menuju pintu, lalu membukanya.<br />
     Hampir tak percaya aku dengan pandangan mataku kali ini. Sesosok lelaki dengan kulit yang kelihatan lebih gelap dari yang aku kenal. “Mas Aghni,” kataku sambil merangkulnya. Kudekap erat dia, sembari beringsut ke dalam rumah dalam rangkulannya. Tak terasa, buliran bening menetes dari kelopak mataku. Buliran bening yang kemudian jatuh satu satu ke pipiku.<br />
     Sambil tetap dalam pelukannya, kami langkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Seakan tak mau lagi kulepaskan kakakku itu. Ku tak ingin lagi melihatnya melangkahkan kaki, meninggalkan rumah ini.<br />
Kepulangan kakakku itu adalah untuk bersimpuh kepada ibu yang telah melahirkan dan menyusuinya dengan kasih sayang. Juga kepada Bapakku, meski dulu, beliau adalah orang yang dengan keras menentangnya kuliah. Tetapi Aghni, kakakku, tetap bersimpuh di hadapan Bapakku untuk memohon ampun. Seakan ia ingin mengajari adik-adiknya agar tak membenci suami dari ibu yang dikasihinya, meski tak jarang, membuat luka dan kecewa hati anak-anaknya.<br />
     Ada yang membuatku geli dan terharu. Kepulangan kakakku itu, disertai pula oleh-oleh untuk ibu dan adik-adiknya. Geli karena tak biasanya, kakakku, sebagai laki-laki, membawa oleh-oleh ketika pulang dari bepergian. Terharu, karena ia bela-belain membawa oleh-oleh itu untuk adik-adiknya. Aku, kakak laki-lakiku yang lain, juga adik bungsuku.<br />
     Tetapi kegembiraan itu, ternyata tak berlangsung lama. Karena tak sampai dua jam, kakakku itu meminta izin lagi untuk segera pergi lagi. Kali ini ia mengatakan ingin ke Jakarta. Ia ingin berusaha mengadu nasib di sana.<br />
     Dan seperti pertama kali ia pergi merantau, kali ini, ibu, aku, dan juga adikku, tak bisa mencegahnya. Kami pun melepasnya dengan berat, serta do’a.  Sejak kepergiannya yang pertama kali, aku tahu, bahwa ia ingin sekali membiayai ketiga adiknya; aku, kakak laki-lakiku dan adik perempuanku, untuk belajar. </p>
<p>                                                ***</p>
<p>     Bertahun-tahun, Aghni, kakakku, merantau. Dari pertama kali pergi dari rumah, sudah sekitar delapan tahun, ternyata. Dari tahun ke tahun, ia hanya pulang setahun sekali; saat idul fitri. Ia selalu diantar oleh tukang ojek, hingga halaman rumah. Itu pun tidak lama. Hanya satu dua jam dia di rumah. Setelah itu, ia pergi lagi.<br />
     Tak tahu aku apa yang dilakukannya di Jakarta. Tapi pada tahun ke delapan dari kepergiannya itu, suatu hari, aku dikejutkan oleh kedatangan sebuah mobil yang cukup bagus, berhenti di halaman rumah. Sedikit demi sedikit, pintu mobil terbuka. Lalu keluarlah sesosok laki-laki yang tak asing. Dia adalah kakakku sendiri; Aghni.<br />
     Aku pun menyambutnya. Dan seperti biasa, senyumnya selalu mengembang saat ketemu dengan siapa pun, terlebih kepada orang tua dan adik-adiknya.<br />
     Setelah masuk rumah, aku pun membuatkan teh untuk kakakku itu. Kami berbincang ke sana-kemari, tanpa ujung. Tapi dari berbagai pembicaraan yang kami lakukan, lambat laun terbukalah bahwa kakakku kini, sudah lumayan sukses di ibukota. Dia menjadi pedagang buah di tanah rantau itu.<br />
     Kedatangannya kali ini, untuk menepati janjinya, membiayai ketiga adiknya belajar. Aku belajar al-Qur’an di Kudus. Adik laki-lakinya di pesantren di Sarang, Rembang. Sementara adikku yang paling bungsu, di sekolahkan hingga lulus SMA. Setelah itu, ia bahkan memasukkannya ke perguruan tinggi. Barangkali untuk menebus harapannya, karena ia tidak pernah bisa mengenyam bangku kuliah.<br />
     Tapi lebih dari itu, keikhlasan kakakku itu, menjadi sesuatu yang sangat membanggakan bagiku, adiknya. Padahal dulu, ia tak pernah merasa risih mengatakan dirinya gembel. Tetapi berkat perjuangannya melawan kerasnya hidup, ia berhasil mewujudkan impiannya menjadi orang sukses, dan menepati janjinya untuk membiayai adik-adiknya.<br />
     Dan satu hal yang membuatku selalu senang, karena dia masih tetap memanggilku “Nduk” meski ia kini telah menjadi pengusaha di I bukota. “Ingat, Nduk. Dulu aku cuma seorang gembel yang bermimpi menjadi orang sukses. Maka aku melihat adik-adik belajar, dan menjadi orang yang cerdas dan sukses pula. Jangan merasa kasihan dengan apa yang telah aku alami. Tetapi bersyukurlah, karena Allah telah memberikan yang terbaik untukku setelah sekian lama aku berjuang di tanah rantau. Ingat itu Nduk,” pesannya.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Buat Mas Ircham “Aghni”<br />
Kutulis ini untuk ketulusan hatimu selama ini<br />
Salam takdzim!!!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
