<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>chairil-anwar &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/chairil-anwar/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "chairil-anwar"</description>
	<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 16:33:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Bersatulah Kaum Demonstran!]]></title>
<link>http://moendg07.wordpress.com/2009/11/24/bersatulah-kaum-demonstran/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 04:41:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Vara</dc:creator>
<guid>http://moendg07.wordpress.com/2009/11/24/bersatulah-kaum-demonstran/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Indra J Piliang Seruling waktu telah ditiup. Malaekat sejarah bangun. Tan Malaka tidak lagi be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Indra J Piliang Seruling waktu telah ditiup. Malaekat sejarah bangun. Tan Malaka tidak lagi be]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pahlawan Sosial (Media) Budaya]]></title>
<link>http://kopidangdut.wordpress.com/2009/11/09/pahlawan/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 16:30:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Mas Kopdang</dc:creator>
<guid>http://kopidangdut.wordpress.com/2009/11/09/pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[&nbsp; Sudah saatnya kita luruskan arti pahlawan. Bukan lagi kaum ksatria pembela negeri yang memang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#160;</p>
<p><a href="http://fc06.deviantart.net/fs50/f/2009/290/8/2/Romo_Mangun_by_lasigared.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1864" title="Romo_Mangun_by_lasigared" src="http://kopidangdut.wordpress.com/files/2009/11/romo_mangun_by_lasigared.jpg" alt="Romo_Mangun_by_lasigared" width="248" height="320" /></a></p>
<p>Sudah saatnya kita luruskan arti pahlawan. Bukan lagi kaum ksatria pembela negeri yang memanggul senjata, berlumuran darah, dan berbau milterisme. Ya, memang bukan berarti jajaran &#8220;pahlawan&#8221; Indonesia melulu dipersepsikan dengan kaum militer, namun setidaknya dominasi dan yang terngiang di benak kita arti kata pahlawan adalah pria berani mati yang bertempur dan menyusun strategi dalam perlawanan fisik.</p>
<p>Pahlawan lahir juga dari kaum sipil. Diplomasi tiada henti, mendidik anak negeri, pemrakarsa cipta rasa karsa dalam budaya yang mengisi kemerdekaan, juga dapat dikatakan pahlawan. <!--more--></p>
<p>Mari kita ingat-ingat siapa sajakah pahlawan dari latar belakang sosial budaya ini? WR Supratman? Ismail Marzuki, lantas siapa lagi..?</p>
<p>Susah ya untuk menemukan pahlawan yang tak berkaitan dengan dunia perlawanan fisik? Karena memang alur pikir kita sengaja dibentuk oleh dominasi kaum militer jaman dulu untuk mengiyakan militerisasi kepahlawanan.</p>
<p>Bagi saya &#8220;Manusia Pelaku&#8221; seperti Tan Malaka, Chairil Anwar, Affandi, Sudjojono, Basoeki Abdullah, Raden Saleh, Ismail Marzuki, Soedjatmoko, Sumitro Djojohadikusumo, Nurcholis Madjid, Romo Mangun, Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer, Budi Darma, Toto Sudarto Bachtiar, bahkan Gombloh pun dapat dikatakan sebagai pahlawan. tentunya dengan caranya yang berbeda-beda.</p>
<p>Pengertian pahlawan perlu diperluas dalam hal memperkaya batiniyah rakyat Indonesia. Mengagungkan jiwa, menambah kepercayaan diri, meningkatkan martabat bangsa dan menciptakan keselarasan hidup bagi kebanyakan orang, juga disebut &#8220;berjasa kepada negara&#8221;.</p>
<p>Mereka membawa pengaruh yang luar biasa!</p>
<p>Pengaruh patriarki yang melebih-lebihkan gaya heroisme dalam persepsi yang &#8220;jantan-maskulin-berotot-dan berjuang secara fisik&#8221; bukan berarti dihilangkan, namun ada baiknya upaya-upaya yang telah dilakukan orang-orang &#8220;besar&#8221; sebagaimana yang saya sebutkan di atas juga memiliki &#8220;pengaruh&#8221; kebangsaan, membangun karakter, dan mengutuhkan jiwa raga dan tumpah darah rakyat Indonesia, sehingga rasa nasionalisme, rasa patriotisme dan rasa altruisme menjadi makin kokoh dan diamalkan dalam keseharian kita.</p>
<p>Selamat hari pahlawan.</p>
<p> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AKU]]></title>
<link>http://bahau2009.wordpress.com/2009/10/16/aku/</link>
<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 14:33:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>bahau2009</dc:creator>
<guid>http://bahau2009.wordpress.com/2009/10/16/aku/</guid>
<description><![CDATA[Kalau sampai waktuku Ku mau tak seorang &#8216;kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kalau sampai waktuku<br /> Ku mau tak seorang &#8216;kan merayu<br /> Tidak juga kau</p>
<p> Tak perlu sedu sedan itu</p>
<p> Aku ini binatang jalang<br /> dari kumpulannya terbuang</p>
<p> Biar peluru menembus kulitku<br /> Aku tetap meradang menerjang</p>
<p> Luka dan bisa kubawa berlari<br /> Berlari<br /> Hingga hilang pedih perih</p>
<p> Dan aku akan lebih tidak peduli</p>
<p> Aku mahu hidup seribu tahun lagi</p>
<p> March 1943</p>
<p><!-- AddThis Button BEGIN --></p>
<div><a href="http://www.addthis.com/bookmark.php?v=250&#38;pub=xa-4ad8af96781f6c66" title="Bookmark and Share" target="_blank"><img src="http://s7.addthis.com/static/btn/v2/lg-share-en.gif" width="125" height="16" alt="Bookmark and Share"/></a></div>
<p><!-- AddThis Button END --></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengenang Pahlawan]]></title>
<link>http://suksesuntuksemuaorang.wordpress.com/2009/10/12/mengenang-pahlawan/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 03:56:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Spyant</dc:creator>
<guid>http://suksesuntuksemuaorang.wordpress.com/2009/10/12/mengenang-pahlawan/</guid>
<description><![CDATA[Puisi: Kerawang-Bekasi (Chairil Anwar) Kami yang kini terbaring antara Kerawang-Bekasi tidak bisa be]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Puisi: Kerawang-Bekasi (Chairil Anwar) Kami yang kini terbaring antara Kerawang-Bekasi tidak bisa be]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PRAJURIT JAGA MALAM ]]></title>
<link>http://rheeantz.wordpress.com/2009/10/06/prajurit-jaga-malam/</link>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 17:08:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>rheeantz</dc:creator>
<guid>http://rheeantz.wordpress.com/2009/10/06/prajurit-jaga-malam/</guid>
<description><![CDATA[PRAJURIT JAGA MALAM Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ? Pemuda-pemuda yang lincah yang tua]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>PRAJURIT JAGA MALAM </p>
<p>Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?<br />
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,<br />
bermata tajam<br />
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya<br />
kepastian <!--more--><br />
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini<br />
Aku suka pada mereka yang berani hidup<br />
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam<br />
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu&#8230;&#8230;<br />
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SAJAK PUTIH ]]></title>
<link>http://rheeantz.wordpress.com/2009/10/05/sajak-putih/</link>
<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 17:15:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>rheeantz</dc:creator>
<guid>http://rheeantz.wordpress.com/2009/10/05/sajak-putih/</guid>
<description><![CDATA[SAJAK PUTIH Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kemb]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>SAJAK PUTIH </strong></p>
<p>Bersandar pada tari warna pelangi<br />
Kau depanku bertudung sutra senja<br />
Di hitam matamu kembang mawar dan melati<br />
Harum rambutmu mengalun bergelut senda<br />
<!--more--><br />
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba<br />
Meriak muka air kolam jiwa<br />
Dan dalam dadaku memerdu lagu<br />
Menarik menari seluruh aku </p>
<p>Hidup dari hidupku, pintu terbuka<br />
Selama matamu bagiku menengadah<br />
Selama kau darah mengalir dari luka<br />
Antara kita Mati datang tidak membelah&#8230; </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[DERAI DERAI CEMARA ]]></title>
<link>http://rheeantz.wordpress.com/2009/10/02/derai-derai-cemara/</link>
<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 03:52:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>rheeantz</dc:creator>
<guid>http://rheeantz.wordpress.com/2009/10/02/derai-derai-cemara/</guid>
<description><![CDATA[DERAI DERAI CEMARA cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>DERAI DERAI CEMARA </p>
<p>cemara menderai sampai jauh<br />
terasa hari akan jadi malam<br />
ada beberapa dahan di tingkap merapuh<br />
dipukul angin yang terpendam </p>
<p>aku sekarang orangnya bisa tahan<br />
sudah berapa waktu bukan kanak lagi<br />
tapi dulu memang ada suatu bahan<br />
yang bukan dasar perhitungan kini </p>
<p>hidup hanya menunda kekalahan<br />
tambah terasing dari cinta sekolah rendah<br />
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan<br />
sebelum pada akhirnya kita menyerah </p>
<p>1949 </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENERIMAAN ]]></title>
<link>http://rheeantz.wordpress.com/2009/10/01/penerimaan/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 16:00:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>rheeantz</dc:creator>
<guid>http://rheeantz.wordpress.com/2009/10/01/penerimaan/</guid>
<description><![CDATA[PENERIMAAN Kalau kau mau kuterima kau kembali Dengan sepenuh hati Aku masih tetap sendiri Kutahu kau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>PENERIMAAN </p>
<p>Kalau kau mau kuterima kau kembali<br />
Dengan sepenuh hati </p>
<p>Aku masih tetap sendiri </p>
<p>Kutahu kau bukan yang dulu lagi<br />
Bak kembang sari sudah terbagi<br />
<!--more--><br />
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani </p>
<p>Kalau kau mau kuterima kembali<br />
Untukku sendiri tapi </p>
<p>Sedang dengan cermin aku enggan berbagi. </p>
<p>Chairil Anwar Maret 1943 </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ratapan &amp; Rintihan : Itu Nyata!]]></title>
<link>http://siandiandi.wordpress.com/2009/09/29/ratapan-rintihan-itu-nyata/</link>
<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 15:11:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>Penulis</dc:creator>
<guid>http://siandiandi.wordpress.com/2009/09/29/ratapan-rintihan-itu-nyata/</guid>
<description><![CDATA[Gadisku itu minta tolong kepada gua untuk yang kedua kalinya. &#8220;Tolong, mereka bertengkar lagi.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Gadisku itu minta tolong kepada gua untuk yang kedua kalinya. &#8220;Tolong, mereka bertengkar lagi.]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pemberian Tahu, Chairil Anwar]]></title>
<link>http://rheeantz.wordpress.com/2009/09/28/pemberian-tahu-chairil-anwar/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 03:24:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>rheeantz</dc:creator>
<guid>http://rheeantz.wordpress.com/2009/09/28/pemberian-tahu-chairil-anwar/</guid>
<description><![CDATA[Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing. Kupilih kau dari yang banyak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bukan maksudku mau berbagi nasib,<br />
nasib adalah kesunyian masing-masing.<br />
Kupilih kau dari yang banyak,<br />
<!--more--><br />
tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.<br />
Aku pernah ingin benar padamu,<br />
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,</p>
<p>Kita berpeluk ciuman tidak jemu,<br />
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.<br />
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,<br />
Aku memang tidak bisa lama bersama<br />
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!</p>
<p>Chairil Anwar<br />
1946</p>
<p>Puisi berjudul Pemberian Tahu karya Chairil Anwar ini adalah termasuk salah satu puisi yang pang paling saya sukai, gak tahu atas alasan apa,mungkin anda sendiri bisa membaca dan mengetahui untuk memutuskan menyukai puisi ini atau tidak</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Puisi Untuk Ibu.........]]></title>
<link>http://myimajination.wordpress.com/2009/09/28/puisi-untuk-ibu/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 01:30:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>myimajination</dc:creator>
<guid>http://myimajination.wordpress.com/2009/09/28/puisi-untuk-ibu/</guid>
<description><![CDATA[Ibu&#8230;&#8230;&#8230;.. Engkaulah wanita terhebat Engkau rela bersimbah darah demi aku Engkau rel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">Ibu&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
Engkaulah wanita terhebat<br />
Engkau rela bersimbah darah demi aku<br />
Engkau rela bergelut dengan maut<br />
Demi melahirkanku kedunia ini<br />
Perjuanganmu&#8230;&#8230;<br />
Pengorbananmu&#8230;&#8230;.<br />
Membuatku mengucurkan airmata<br />
Aku bangga&#8230;&#8230;.<br />
Dan&#8230;&#8230;..<br />
Semakin kagum padamu&#8230;&#8230;.<br />
Ibu&#8230;&#8230;..dengan rintihan jiwa kugoreskan bait-bait kata ini<br />
Sungguh&#8230;&#8230;..<br />
Aku membayangkan perjuanganmu<br />
Betapa berat jalan hidup yang kau alami<br />
Tapi&#8230;&#8230;.<br />
Kau seolah tak peduli dengan kelelahanmu<br />
Harapanmu hanya satu<br />
&#8220;Yang penting anak-anakmu hidup layak dan berkecukupan dan berbakti&#8221;<br />
Ibu&#8230;&#8230;&#8230;<br />
Maafkan anakmu ini<br />
Jika sampai Saat ini aku belum memberimu kebahagiaan<br />
Hanya senandung lirih doa dalam sujudku<br />
Yang tak pernah luput untukmu<br />
Semoga&#8230;..<br />
Kebaktianku selalu membuatmu tersenyum bahagia<br />
Ibu&#8230;&#8230;<br />
Siapalah aku tanpa ada jasamu<br />
Kadangkala bibir ini khilaf<br />
Sehingga melukai hatimu<br />
Apa yang bisa kulihat?<br />
Engkau hanya bisa menghela nafas dan mengelus dada<br />
Engkau tak  pernah marah<br />
Seandainya marah,itupun untuk kebaikanku dan simbol kasihmu<br />
Engkau selalu memaafkan setiap tingkahku<br />
Yang mungkin membuatmu jengkel dan meneteskan airmata<br />
Tapi&#8230;&#8230;<br />
Engkau tetap tersenyum untukku<br />
Ibu&#8230;&#8230;.<br />
Alangkah durhakanya aku<br />
jika aku menyia-nyiakanmu<br />
Alangkah durhakanya aku<br />
Jika aku sampai membuatmu menangis dan terluka<br />
Ibu&#8230;&#8230;.<br />
Sungguh benar kasihmu sepanjang masa<br />
Sementara&#8230;&#8230;.<br />
Kasih seorang anak sepanjang jalan<br />
Tapi&#8230;&#8230;.<br />
Harapku&#8230;&#8230;.<br />
Semoga akupun mengasihimu sepanjang masa pula<br />
Aku ingin memperlihatkan kebaktianku sepanjang usiamu<br />
Ibu&#8230;&#8230;.<br />
Do&#8217;amu adalah penguat duka laraku<br />
Kasihmu adalah penyejuk kalbuku<br />
Petuahmu adalah motivasiku<br />
Semoga&#8230;&#8230;<br />
Anakmu ini selalu mendapatkan keridhoanmu<br />
Sebab&#8230;&#8230;.<br />
Tuhan akan ridha jika engkaupun ridha<br />
Oh ibu&#8230;&#8230;&#8230;<br />
Aku takan pernah berhenti mendoakanmu<br />
Sebagaimana engkaupun tak henti-hentinya mendoakan anak-anakmu<br />
Semoga&#8230;&#8230;<br />
Kelak,kita dipertemukan kembali dengan keluarga utuh yang di ridhai<br />
amin&#8230;&#8230;&#8230;.^_^</p>
<p><strong>=&#62;3 simbol kasih sayang</strong></p>
<p>*Sayangi keluarga<br />
*sayangi guru<br />
*dan sayangi sahabat-sahabatmu&#8230;&#8230;..<br />
Maka dengan begitu,merekapun akan senantiasa menyayangimu karna hidup ini berlaku HUKUM TIMBAL BALIK&#8221;<strong>apa yang kita berikan pada orang lain,maka orang lain pun akan memberikan respon yang sama terhadap apa yang kita berikan&#8221;</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KRAWANG-BEKASI ]]></title>
<link>http://rheeantz.wordpress.com/2009/09/27/krawang-bekasi/</link>
<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 16:05:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>rheeantz</dc:creator>
<guid>http://rheeantz.wordpress.com/2009/09/27/krawang-bekasi/</guid>
<description><![CDATA[KRAWANG-BEKASI Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak &#8220;Merdeka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>KRAWANG-BEKASI </p>
<p>Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi<br />
tidak bisa teriak &#8220;Merdeka&#8221; dan angkat senjata lagi.<br />
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,<br />
terbayang kami maju dan mendegap hati ?<br />
<!--more--><br />
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br />
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak<br />
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.<br />
Kenang, kenanglah kami. </p>
<p>Kami sudah coba apa yang kami bisa<br />
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa </p>
<p>Kami cuma tulang-tulang berserakan<br />
Tapi adalah kepunyaanmu<br />
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan </p>
<p>Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan<br />
atau tidak untuk apa-apa,<br />
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata<br />
Kaulah sekarang yang berkata </p>
<p>Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br />
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak </p>
<p>Kenang, kenanglah kami<br />
Teruskan, teruskan jiwa kami<br />
Menjaga Bung Karno<br />
menjaga Bung Hatta<br />
menjaga Bung Sjahrir </p>
<p>Kami sekarang mayat<br />
Berikan kami arti<br />
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian </p>
<p>Kenang, kenanglah kami<br />
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu<br />
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi </p>
<p>(1948) </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fiksi Tanggung]]></title>
<link>http://arsuka.wordpress.com/2009/09/21/fiksi-labirin/</link>
<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 07:28:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>Daeng</dc:creator>
<guid>http://arsuka.wordpress.com/2009/09/21/fiksi-labirin/</guid>
<description><![CDATA[Labirin Berujung Tunggal Kelak ketika ia sepenuhnya sadar, bahwa nanti akan lahir seorang manusia da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!--[if gte mso 9]&#62;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &#60;![endif]--><!--[if !mso]&#62;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;margin:6pt 0;" align="center"><span style="font-size:20pt;line-height:150%;">Labirin Berujung Tunggal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kelak ketika ia sepenuhnya sadar, bahwa nanti akan lahir seorang manusia dari tubuhnya, ia tercekam lagi oleh sebuah rasa longsor yang menggigilkan, yang diperparah oleh penalaran dan dibikin kekal oleh ingatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terakhir kali rasa longsor itu menyeretnya, adalah saat ia melalui puncak dari percintaannya yang sudah berlangsung bertahun-tahun dengan hujan; hujan yang dengan lembut mengunjungi senja dan mengubahnya dari merah lembayung menjadi kelabu, dan akhirnya melulur batas antara langit dan bumi. Gerimis yang gugur bersama angin yang mendengkur, adalah ketulusan langit pada hijau daratan dan biru lautan. Ia ingat rasa sakit itu bermula sebagai rasa cinta diam-diam, dan tumbuh dengan kerinduan langit yang memeluk seluruh bintang; rasa sakit yang konon mencintai mereka yang banyak tidur dan bermimpi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://arsuka.wordpress.com/files/2009/09/spies-iseh-im-morgenlicht-1938.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2016" title="Iseh im Morgenlicht. Walter Spies. 1938. Sumber: Geff Green." src="http://arsuka.wordpress.com/files/2009/09/spies-iseh-im-morgenlicht-1938.jpg" alt="Spies Iseh im Morgenlicht (1938)" width="353" height="430" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--more-->Dulu selalu ia kira gerimis adalah anugerah yang elemental, tak mengandung apa-apa kecuali kebahagiaan, mungkin lebih tepat: kehidupan. Ia merasakannya di antara rinai yang turun saat ia beristirahat dari alat tenun warisan neneknya, saat ia berjalan menyusuri jalan aspal kecil yang melewati kecamatan tempat kelahirannya,  dengan pokok-pokok lontar agak di kejauhan yang menjulang ke langit. Sebagian besar kenangan masa kanaknya, berkait dengan hujan, atau dengan perwujudannya yang lain: ricik air kali, awan yang berarak, uap tanah yang mekar naik meliput seluruh cakrawala.  Koor katak yang bersahut-sahutan di malam musim hujan adalah gelombang yang selalu mendebur di kesadarannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Itu adalah kurun ketika ia masih asyik pada dirinya sendiri, seperti siput kecil yang damai dalam cangkang berulirnya sendiri. Percintaan itu terus ia bawa sampai ia pindah ke ibu kota. Ia pun kian tenggelam mengaji jantung materi, rasi bintang, dan berbagai hal tentang alam.  Sampai pada suatu hari, ia sadar bahwa percintaan indahnya dengan hujan adalah pengalaman standar yang ditemui di semua tukang lamun. Kau tanyakan pada mereka apa arti hujan, dan mereka akan memberimu puisi yang berlarat-larat. Ia pun merasa dirinya mulai tercabik. Sebentuk penghianatan dan ketaksetiaan kekasih yang membagi-bagi cintanya ke milyaran kebun, seolah membokongnya, tentu saja dari belakang. Setelah puas menyumpahi seluruh hujan ― seluruh salju dan bintang jatuh yang pernah terlihat di Bumi juga ikut kena ― ia  kembali meraih kejernihannya. Dan ia mengejek dirinya, mencemooh ketamakannya memonopoli kekasih yang bisa membahagiakan serempak begitu banyak manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Yang pasti, sejak saat itu, tiap kali gerimis turun, dan waktu serasa melambat, dan rona ungu menjalar tumbuh di jutaan hati manusia, ia mulai bertanya untuk apa ini semua. Mungkin memang agar manusia kian menghargai kehidupan, dan cinta mereka pada sesama, pada kedegilan dan ketakterdugaan mereka, pulih kembali. Dan kehidupan pun bisa terus berlangsung, selama mungkin. Tapi untuk apa? Agar hujan, dan langit, dan jagat raya bisa terus menerus memamerkan ketulusan dan kebesarannya? Hujan ternyata bukanlah ketulusan, tapi semacam muslihat yang dirancang sangat baik untuk membuat manusia meneruskan hidupnya, sebagai bidak, dan budak, yang setelah melamunkan hujan, akan seterusnya melamunkan langit, menyelidiki alam semesta dan segala rahasianya. Kian dahsyat lamunan dan penyelidikan itu, akan kian bagus bagi hujan dan langit, sebab itu memberi mereka pentas yang kian luas untuk membentangkan diri. Sejak itu, seakan sebusur halilintar meledak di kepalnya, ia melihat kehidupan di Bumi dengan lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tiap kali lamunan dahsyat terbit, tiap kali pemikiran brillian mekar, tiap kali masterpiece lahir, maka pada saat itu, satu bola cahaya terlontar ke luar dari Bumi. Sebagian besar  di antara bola cahaya imajinasi dan pemikiran itu, karena terlalu membumi dan terlalu memanusia, terlempar lalu membentuk busur dan  dengan terhuyung-hunyung balik lagi menabrak paras Bumi. Tapi banyak juga di antara bola cahaya itu yang mengorbit, menempuh lingkar imajiner dan menarik jarak dengan gravitasi Bumi, dengan “sejarah” umat manusia. Sementara sejumlah yang lain, meluncur keluar dan memancar ke segala arah, menerobos masuk jauh ke kedalaman langit, dan mungkin muncul di ruang waktu yang lain. Imajinasi dan pemikiran yang sangat kuat melambung dan sanggup melepaskan diri dari ikatan primordial dengan Bumi dan manusia ini, biasanya lahir dari orang-orang yang tak begitu dipedulikan oleh sesamanya makhluk. Seperti matahari, Bumi juga punya <em>blank spot: </em>kawasan yang penghuninya mengidap kelumpuhan imajinasi ― penduduk yang bercinta seperti manusia dan berhayal seperti kadal. Sebagian besar cahaya imajinasi manusia itu sungguh berkelap-kelip redup. Tapi mereka yang redup ini memberi latar pada sejumlah cahaya yang sangat mencorong dan bertahan melintasi abad demi abad.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dilihat dengan sensor panas imajinasi, maka yang tampak bercahaya di Tatasurya ini bukan Matahari, tapi Bumi. Di seluruh Bimasakti, hanya ada satu titik yang selama sekian ribu tahun terakhir mulai bersinar, dan dengan belahan yang tertentu jadi lebih terang ketika hujan dan malam mulai turun. Cahaya-cahaya itu adalah buah dari “algoritme” yang dikonstitusikan dalam kode genetik manusia untuk merealisasi diri setinggi-tingginya lewat alam, dan lewat realisasi diri manusia itu, alam justeru menghamparkan kebesarannya. Dengan cahaya-cahaya itu, semesta raya ― teks maha besar itu ― akan menuliskan dirinya sendiri. Ia pun melihat busur-busur cahaya pemikiran itu seperti materi pembawa informasi genetik yang meluncur ke angkasa. Ia melihat Bumi, bongkahan planet yang dulu disebut Ibu Pertiwi atau Dewi Gaia, tak lain dari testikel tunggal yang akan terus menembakkan milyaran sperma ke dalam keluasan rahim alam semesta. Sperma-sperma itu, <em>masterpiece-masterpiece</em> itu, saling memperkuat dan saling dorong, untuk membuahi semesta dan membuatnya melahirkan diri sendiri.</p>
<p align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Lewat otaknya yang diberikan alam, manusia  menumpuk pengetahuan ilmiah yang luar biasa. Tetapi penumpukan yang dahsyat itu, senantiasa dihantui rasa gamang akan kebenaran, konsistensi dan kelengkapan pengetahuan itu sendiri.  Bersama dengan penegasannya bahwa semesta dunia Platonik matematika tak dapat direduksi menjadi suatu aksara berhingga simbol-simbol, dan satu gugusan terbatas aksioma dan kaidah-kaidah inferensi, teorema Gödel menunjukkan bahwa pengetahuan yang konsisten tak lengkap, dan pengetahuan yang lengkap tak konsisten.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Bagaimana pula manusia yakin pada pengetahuannya yang ia timbun tentang kelahiran alam semesta, padahal jarak ruang dan waktu yang luar biasa besarnya membuatnya mustahil menyaksikan jagat raya dilahirkan? Mana mungkin manusia bisa menuntaskan pengetahuannya tentang alam semesta dan segenap isinya, padahal ia tahu mustahil mengetahui sesuatu jika ia terperangkap dalam obyek itu, sementara manusia takkan mungkin berada di luar alam semesta yang dihidupinya ini? Dan kalaupun kelak benar-benar ditemukan sebuah Teori Mahasemesta tentang genealogi jagat raya dan semua hal yang terjadi di dalamnya, yang dengan segala macam abstraksi matematis dan eksperimen imajiner superumit disimpulkan punya kemampuan pengorganisasian data, penjelasan gejala dan peramalan kebolehjadian peristiwa yang benar-benar hebat dan belum pernah dimiliki dunia, teori seperti ini toh tetap bukan apa-apa: ia hanya sebuah teori.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Dan andaipun revolusi ilmu dan teknologi memberi manusia instrumen dengan kecerdasan mengerikan yang bisa mensimulasi alam semesta seisinya, menjadi semacam artificial universe, itu juga tetap bukan apa-apa kecuali hanya simulakrum yang diturunkan dari rasio dan prasangka manusia, bukan semesta pada dirinya sendiri. Dan kenyataan yang fiksius ― belum cukupkah peringatan yang diuarkan sejarah ilmu, untuk curiga betapa kenyataan semesta dengan segenap watak fantastik dan surealistiknya, bisa saja selama ini mengecoh manusia yang dibikin sangat terbatas itu, dengan memberinya sejumput revelasi semu agar manusia berpikir bahwa mereka mengerti kenyataan padahal tak?</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Cara paling logis menyelesaikan kontradiksi pengetahuan tentatif manusia tentang semesta seisinya dengan watak fantastik</em><em> realitas kosmos hanyalah sebuah “tindak ilahiah”: mencipta sendiri alam semesta. </em></p>
<p align="center">***</p>
<p align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bayangan tentang kemungkinan hari depan manusia dan pengetahuannya, sering melintas bersama bayangan tentang masa silamnya. Ia pun ingat  kalimat Stephen Jay Gould bahwa manusia bukanlah hasil akhir dari sebuah proses evolisioner yang bergerak maju dan dapat diramalkan, tapi lebih merupakan sebuah aftertthought kosmik yang kebetulan saja, sebuah ranting halus mungil dari belukar kehidupan yang menjelujur sangat panjang, yang jika ditanam ulang dari benihnya, hampir bisa dipastikan tak akan menumbuhkan lagi ranting kemanusiaan tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dulu ketika ia diberitahu oleh biologi evolusioner bahwa ia, sebagai manusia, punya akar yang meski jelas namun sangat rapuh, dalam riwayat alam semesta, ia juga dilanda rasa longsor. Ia memang sulit membantah para ilmuwan jujur yang datang dengan sebuah penjelasan bagus dan sejenis statistik. Mereka bilang, hidup ini cuma aksiden (<em>dan barangkali memang cukup untuk sekedar mampir minum, sukur-sukur sempat mabuk</em>). Kemungkinan munculnya kehidupan cerdas di bumi ini sungguh bukan main kecil, nyaris nol besar. Atau setidaknya, sangat tidak istimewa: sama sepelenya dengan gerak hujan dan comberan yang, tanpa diintervensi, selalu mencari tempat yang lebih rendah. Tapi bahkan sejak tahun-tahun yang sudah lama lewat, di hati kecilnya ia sudah bilang, hidup ini bukanlah hal yang tak berharga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Fakta statistik kecilnya kemungkinan manusia muncul di Tatasurya, dengan kepiawaian seorang pengacara atau politisi tangguh, ia pelintir jadi penopang betapa kehadiran manusia itu memang bukan kebetulan. Karena kalau hanya kebolehjadian statistik yang diandalkan, mustahil sungguh manusia muncul. Dengan kalimat lain, ada sesuatu yang sedang bekerja di alam semesta ini yang betul merencanakan munculnya kecerdasan. Di hati kecilnya ia akui, ia memang lebih suka jika ia ada dalam sebuah rencana besar (kelak, preferensi subyektif ini ia murnikan dengan nalar ilmiah). Bahwa manusia adalah ranting yang begitu rapuh dan sepele dalam belukar rambat evolusi, tapi sekaligus bisa jadi perantara bagi reproduksi kosmos, membuat ia berpikir bahwa jika “<em>Manusia berpikir, Tuhan deg-degan</em>”: mungkinkah makhluk yang begitu rapuh, rentan dan suka merusak diri sendiri ini, akan cukup kuat jadi perantara reproduksi kosmos?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kelak ia tahu, bahwa kebetulan atau tidak, semua itu tak lagi penting bagi kehidupan manusia, dan ia pun sadar bahwa perdebatan antara kaum kreasionis dan kaum evolusionis adalah perdebatan paling tak berguna yang pernah ditemukan ummat manusia. Makna kehidupan sungguh tak ditentukan oleh masa silamnya, tapi oleh masa kini dan masa depannya. Kendati ranting kecil kemanusiaan itu muncul dengan kebetulan, yang jelas adalah bahwa untuk membuat kehidupan itu bisa ditanggungkan, manusia harus membuatnya jadi bermakna. Itu artinya, memuaskan rasa ingin tahu dan menuntaskan hasrat untuk mengendalikan lingkungan, yang ujung-ujungnya adalah membangun kebudayaan dan peradaban, menguji terus pengetahuan tentang alam semesta, dan pada akhirnya berkongsi dalam pelahiran diri kosmos.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pemahaman ini memberinya sejenis rasa riang yang baru.  Ia pun membayangkan hubungan dirinya dengan alam semesta, serupa hubungan sebuah titik dengan geometri. Dan dalam proses menjadi geometri itu, ia rasakan dirinya seolah-olah berada di antara berjuta-juta burung putih yang terbang membubung dalam sebuah elevasi ke puncak langit.  Tapi ia sadar, rasa riang itu mirip rasa melambung seorang anggota siaga mungil yang ikut dalam sebuah jambore besar: perasaan lugu dan mungkin naif dari seorang bocah yang gambaran dunianya sangat terbatas. Seperti siaga culun dalam jambore tadi, ia hanya unsur sepele dalam perhelatan besar ini, dan ia bisa diganti oleh siapapun dan dilupakan begitu saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam riwayat alam semesta, seluruh tokoh besar sejarah juga tak penting. Einstein juga hanya bidak. Jika tak ada Einstein, akan ada orang lain yang akan merumuskan Teori Relativitas. Jika tak ada Newton yang menemukan kalkulus, Leibniz toh akan menuntaskan kerja itu. Jika tak ada Darwin, ada Wallace. Adapun Beethoven, Picasso, seniman-seniman besar itu – mereka itu bisa saja memberi sentuhan individual dalam karya-karyanya. Tanpa Beethoven, takkan manusia mengenal <em>Simfoni Kesembilan</em>. Tanpa Picasso, tak akan ada <em>Guernica</em>; tanpa Chairil Anwar, pembaca di tanah airnya tak akan menemukan sajak tentang senja dan kematian dengan lirik yang begitu menyentuh. Mereka ini memang tak tergantikan dalam sejarah seni manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi, dilihat dengan skala yang lebih besar, para seniman akbar itu juga tetap bidak, yang setiap saat bisa diganti. Tanpa mereka, akan ada orang lain yang terus berkarya dan mencipta, membuka lukanya sendiri untuk menutup luka sesama manusia. Khazanah dan keanekaragaman kegilaan, ketakterdugaan dan penderitaan ummat manusia adalah sedemikian kaya, dan belum akan punah di Bumi, sehingga akan sangat mengherankan jika karya seni agung tak akan pernah lahir lagi lahir di dunia. Dengan menggali endapan menyejarah penderitaan manusia, para seniman besar, seperti juga para nabi agung, mengabdikan hidupnya untuk kelangsungan hidup dunia, yang tak lain adalah kelangsungan hidup semesta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Semua manusia, segala bentuk kehidupan dan kecerdasan, sejak awal sudah berada dalam sebuah labirin besar yang dibangun dengan lorong-lorong yang sangat rumit, dengan ujung yang hanya satu: realisasi diri kosmos. Ada kemungkinan bahwa di tempat lain di ruang kosmos raya ini, sedang ditandur mangsa lain, kecerdasan lain, yang juga untuk pembiakan diri kosmos. Alam semesta adalah organisme maha besar yang butuhkan banyak sumber nutrisi, bukan hanya ranting kecil manusia Bumi yang rapuh dan gampang punah itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Perasaan bahwa ia di-<em>fait-accompli</em> dalam sebuah permainan yang telah ditentukan akhirnya, bahwa sejenis determinisme kosmis sedang mengerangkengnya dalam sebuah jalur yang tak terseberangi, semua ini menimbulkan sejenis pemberontakan rahasia. Bagai kecambah yang tumbuh di tempat gelap, rasa marah itu berkembang cepat jadi tekad untuk melancarkan perongrongan bahkan penghancuran atas permainan agung kosmos yang sudah berlangsung milyaran tahun.  Lagi pula, hidup yang terhampar di dunia ini, yang dijalani oleh sebagian besar manusia, tampak lebih berupa laknat ketimbang rahmat. Hidup yang rekah dari rancangan agung dan determinisme kosmis seperti ini, bukanlah hidup yang layak diteruskan. Yang tak kalah penting adalah, upaya pembongkaran labirin kosmos tak menguras isi saku, salah satu soal kronis dalam hidupnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sejak awal, bunuh diri atau mogok makan untuk berkata “tidak!” pada permainan besar itu, sudah ia anggap sebagai opsi yang memalukan. Ia ingat, sejak itu ia mulai memanjangkan lagi rambutnya sembari melamunkan cara yang lebih pantas baginya. Ia memang tak terlalu tertarik lagi pada kerja yang hanya cocok untuk para jenius raksasa dan nabi-nabi agung, yang sebagian besar berkelamin lelaki itu. Para jenius raksasa menghabiskan hidupnya untuk mencari tahu bagaimana jalannya permainan, bagaimana rincian prosesnya, dan hukum-hukum apa yang mendasarinya. Adapun para nabi dan wali besar berjuang dan berkorban untuk menunjukkan bahwa walau manusia ini mungkin cuma debu, tapi mereka bisa jadi wadah bagi penyelenggaraan langit. Orang-orang suci ini sungguh menerima beban dosa dan luka dunia, menjadi “pertolongan agung” dan penghibur ummatnya. Keberadaan mereka memang menghina para penindas, kematiannya menggetarkan hati para penghukumnya, dan pengukuhannya jadi makhluk kudus merupakan kejayaan iman, cinta dan harapan. Orang-orang suci ini hadir untuk menunjukkan bahwa permainan di dunia ini layak dipertahankan, menjadikan manusia wahana replikasi kosmos yang tulus dan patuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terdorong oleh kecenderungan malasnya, ia ingin menerobos jalan pintas, yang sekali ditempuh akan menghancurkan seluruh permainan. Tadinya ia punya niat menulis ulang seluruh kitab suci dan kanon sekuler yang mengatur hidup manusia. Tapi ia tahu, kerja ini akan benar-benar jadi kerja raksasa yang sangat menyita waktu, dan karena itu tak lagi ia pertimbangkan serius. Lagi pula, ketimbang menulis ulang seluruh kitab suci yang menjadi jiwa peradaban itu, jauh lebih mudah menuliskan yang baru. Tapi ini pun ia kesampingkan, karena menulis sebuah kanon baru yang mengoreksi, memperkaya dan melampaui seluruh kanon yang pernah ada ― ini adalah juga kerjaan seumur hidup, dan belum tentu rampung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Misal pun kanon baru itu tuntas, dan dipercaya mengandung kekuatan besar untuk memberi arah baru pada sejarah, untuk membuat kaum tertindas tampil sebagai pemimpin dunia, untuk mengilhami kehidupan dan membentuk riwayat semesta peradaban di Bumi. Semua ini tetap saja memungkinkan orang-orang yang lahir belakangan, dengan selera humor yang buruk, memiuh dan membelokkan kanon tersebut, dan kemudian baku ejek, bahkan baku tumpas selama berabad-abad, atas nama kemurnian dan kebebasan tafsir. Lebih buruk lagi, kanon itu tak akan cukup kuat mencegah manusia jadi mangsa di taring semesta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ia sudah punya beberapa rencana lain untuk meluluh-lantak permainan itu, tapi ia urungkan juga. Bukan karena ia insyat, ia belum sampai pada kemampuan itu, tapi karena ia memergoki sejumlah hal yang bisa bikin risih. Tadinya Ia ingin membangun sebuah peradaban, lebih tepatnya kehidupan, yang sama sekali tidak berkaitan dengan kenyataan kosmos yang dibentangkan oleh ilmu pengetahuan. Makhluk cerdasnya mungkin bernafas dengan Helium, dan sejak lahir sudah menganggap bahwa dunia lahiriah hanyalah suatu bangunan yang dibentuk oleh intelek. Dan bahwa ada tingkat-tingkat lain dari pengalaman <em>intelligent</em> yang dapat diatur oleh susunan-susunan lain ruang dan waktu, yakni tingkat-tingkat di mana konsepsi analisis tidak memainkan peranan yang sama seperti yang dipunya oleh makhluk cerdas yang berkembang di Bumi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi  sebagaimana laiknya serumpun <em>dendrobium</em> butuh hutannya sendiri, dan sekelompok paus pembunuh butuh samuderanya sendiri, sebuah kehidupan cerdas pun menuntut kosmosnya sendiri, untuk hidup lestari dan berkembang optimal. Akhirnya ia berencana menciptakan sendiri semesta raya, sebuah semesta tandingan yang bahkan lebih baik dari yang sudah ada. Rencana ini juga ia batalkan di tengah jalan, karena persoalan etik: meski ia berhasil menciptakan alam semesta, pencapaian itu hanya membuatnya jadi seorang epigon. Lebih buruk lagi, aib kotor epigon itu malah membuat permainan berjalan seperti yang dirancang dari awal. Bagai Oedipus si raja pincang yang hendak lari dari takdirnya, perlawanan itu bukannya mengelakkan takdir, tapi justeru menjemputnya.</p>
<p align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Dengan apa alam semesta buatan akan dibenihkan? Mungkin betul dengan kehampaan. Dengan fluktuasi kuantum, atau jika kita melihat semesta raya sebagai makhluk hidup, mungkin ia bisa diklon, direkayasa, dari struktur dasarnya yang terkecil yang kita tahu menyimpan segenap sejarah semesta. Memang, dari benih semesta ini masih ada sejumlah masalah antara lain inflasi kosmik pascapenciptaan yang tumbuh melampaui cahaya. Tetapi, selama waktu dan imajinasi bersetubuh, penciptaan akan menemukan jalannya. Penciptaan ― pelahiran diri ― semesta adalah hal yang tak terelakkan, wajar, mungkin sudah terjadi ― akibat  ketakpastian dan keacakan yang meraja di struktur dasar materi ― dan  selalu akan menjadi tiap kali hidup dan kognisi berdenyut, tiap kali metafor mekar dan teori rekah, tiap kali pengetahuan kembali sadar diri dan berkata ‘tidak’ terhadap pengidentikan dengan kenyataan.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>… Kecerdasan tampaknya takkan berhenti pada tingkat peradaban kosmik yang memungkinkan mereka menguak dan merentang lubang cacing mikroskopik yang menghubungkan berbagai alam semesta, dan dengan itu memungkinkan mereka bermigrasi dari satu semesta ke semesta yang lain. Peradaban tipe IV seperti ini </em>(mengembangkan klasifikasi Nikolai Kardashev dan Freeman Dyson)<em> mungkin saja sanggup membangun jalan ke semesta lain, dan lari meninggalkan alam semesta kelahiran yang tengah sekarat menuju kiamat. Tapi mereka takkan sanggup lari dari penderitaan ilmiah berupa mustahilnya memperoleh pengetahuan lengkap tentang multi-kosmos dan seisinya selama mereka tetap berada dalam multi kosmos tersebut.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>Pada saat keturunan intelektual manusia berhasil mencipta megasemesta, kenyataan fiksius yang melatari megasemesta itu niscaya akan kembali menghamparkan berkahnya dengan menampakkan jejak sebagai sesuatu yang kedahsyatannya meledak di luar jangkauan imajinasi paling liar para pencipta itu. Karenanya, alangkah menakjubkan bahwa penciptaan megasemesta raya seisinya, betapapun tampak agung dan akbarnya, bukanlah keharusan terakhir dalam sejarah makhluk berakal.</em></p>
<p style="text-align:center;">****</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk apa sebenarnya desain berupa labirin rumit yang ujungnya hanya satu itu diciptakan? Ia pernah membayangkan Pencipta labirin ini adalah sosok sangat cerdas, tapi yang begitu kesepian dan terasing, sehingga ketika ia mencari jalan untuk meringankan kesepian dan keterasingannya, ia menciptakan kehidupan. Terikat oleh diri-Nya sendiri, dirancangnya kosmos dan kehidupan begitu indah dan penuh kejutan sehingga permenungan atas keindahan itu senantiasa memanggil-manggil bagai sebuah pembebasan. Entah kesepian dan luka macam apa yang Dia ditanggung sehingga Dia begitu ingin berbagi dengan manusia nikmat penciptaan, khususnya penciptaan alam semesta seisinya. Jika ada yang disebut sebagai Jalan Keselamatan, maka jalan itu pasti terletak dalam kegiatan mencipta, dan mencinta ― mencipta sepenuh cinta. Penciptaan itulah yang akan membuat manusia tak lagi perlu Jalan Keselamatan, karena mereka sudah mendapatkannya di sana, dan dengan itu mereka sanggup menanggung luka dan duka dunia seberat apapun. Penciptaan itu bahkan membuat manusia tak lagi “butuh” Tuhan, karena sudah “menjadi”, atau karena Tuhan sudah “menumpahkan” diri ke dalam mereka. Dengan Tuhan, mereka tentu tak setara, tapi sejajar: sesama pencipta; sama-sama menumpahkan diri untuk sesuatu yang, paling tidak untuk para manusia pencipta, lebih besar dari kehidupannya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi ia tahu, spekulasi ini hanyalah refleksi dari dirinya sendiri. Seperti sebuah keadaan kuantum, Pencipta seperti itu sungguh hanya representasi dari pengetahuan si pengamat, dan akan berubah jika posisinya berganti. Dan mengingat betapa sedikitnya apa yang manusia baru tahu, dengan damai ia terima bahwa Kawan yang pernah hendak ia “psikoanalisa” itu, memang akan selalu lebih lebih dahsyat dari apa yang bisa ia bayangkan, dan ia menertawai dirinya. (Pernah ia, dengan blo’on, menduga bahwa luka abadi yang membuat-Nya begitu ingin berbagi nikmat penciptaan, adalah karena Dia juga sebenarnya ciptaan. Dengan melahirkan kecerdasan yang akan berkembang lebih hebat dari yang menciptakan-Nya, Dia sekaligus menyembuhkan diri-Nya dan memberkahi manusia. Hipotesis  ini sepintas lalu tampak terlalu “manusiawi” untuk dikembangkan). Alangkah menakjubkan bahwa di awal alaf ketiga ini, teologi belum juga sepenuhnya susut jadi ranting kecil dari, atau bahkan lebur ke dalam, sastra atau ilmu “jiwa” manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ia hanya ingin tak diseret dalam sebuah permainan yang akhirnya sudah ditentukan. Seperti para pendahulu yang dihormatinya, yang mencoba mengubah dunia untuk membebaskan manusia, ia pun ingin, jika perlu, merombak desain maha besar itu, agar kelak ketika ia memilih untuk melahirkan keturunan, ia tahu, mereka semua tak jadi budak di alam semesta. Hasrat itu muncul berpilin-pilin dengan kesadaran bahwa keinginan itu adalah juga bagian dari desain besar: dorongan dasar yang telah ditanam evolusi ― yang tak terbantah ― sejak  jaman yang sudah hilang dari ingatan manusia, bahkan mungkin dari ingatan bintang-bintang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tindasan pikiran akan keterjebakan dalam permainan besar itu, hanya akan bisa ia hadapi jika ia bisa melupakannya, membelokkan pikirannya ke hal lain yang lebih menarik. Tapi apakah yang lebih menarik dari memikirkan alam semesta, lalu menciptakan karakter yang lebih cerdas dan lebih ajaib dari pencipta si pencipta si pencipta alam semesta?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mungkin ia bisa menyelamatkan pikirannya jika ia mengubah kandungan kimiawi otak dan tubuhnya. Ia bisa meneggelamkan dirinya dalam hidup yang dipacu adrenalin, hidup yang tak punya masa silam dan masa depan, bertahan hidup dari momen ke momen seperti para rafter yang terseret arus deras yang harus selalu merespon kejutan permanen setiap detik jika ia tidak ingin cacat atau bahkan tewas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ia bisa menyelamatkan pikirannya jika ia berhasil menemukan cinta sejatinya, belahan jiwanya, cinta yang lebih berhaga dari apa pun yang ada di dunia ini. Cinta yang bisa membuatnya menyerahkan penuh jiwa raganya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tapi ia tahu, semua ini tak akan melepaskannya dari jerat permainan besar itu. Apa pun yang dijalaninya, bertahan hidup dari momen ke momen yang memompakan adrenalin, atau bertaut dengan cinta yang lebih berharga dari seluruh dunia, semuanya tetap akan berujung sama: melanjutkan hidup dan meneruskan keturunan. Buah cinta yang lahir dari dirnya kelak akan terlibat juga, langsung atau tidak, dalam pelahiran alam semesta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kemarin ia tiba di kampung halamannya, yang telah ditinggalkannya selama bertahun-tahun. Inilah pertama kali ia pulang kampung memanfaatkan masa libur kampusnya. Sore itu ia punya janji bertemu dengan lelaki kawan masa kecilnya dulu yang juga sedang berlibur, satu-satunya remaja yang pernah menciumnya dan membuatnya jantungnya dulu berdebar-debar tak keruan. Sampai sekarang pun kadang ia masih gemetar dan tak dapat tidur nyenyak jika mengingat kelakuan bocah bengal itu. Sambil berjalan menuju halaman sekolah masa kanak-kanak tempat mereka berjanji untuk berjumpa, dengan perasaan yang membadai dan bisu, ia dan dirinya, melihat lagi di antara kabut waktu yang mengambang, milyaran benang cahaya kunang-kunang yang saling tenun dan bertarung untuk terbang menelan matahari, lalu menelan jagat raya dan menelurkan berbagai semesta dalam jumlah tak terhingga.***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><em>Nirwan Ahmad Arsuka</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">Versi awal dimuat di Bentara–Kompas, September 2002</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Allah]]></title>
<link>http://islamabangan.wordpress.com/2009/09/20/allah/</link>
<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 12:11:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>Lambang</dc:creator>
<guid>http://islamabangan.wordpress.com/2009/09/20/allah/</guid>
<description><![CDATA[ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Maka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbata]]></description>
<content:encoded><![CDATA[ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Maka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbata]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[AKU]]></title>
<link>http://storitie.wordpress.com/2009/09/19/aku/</link>
<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 19:13:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>storitie</dc:creator>
<guid>http://storitie.wordpress.com/2009/09/19/aku/</guid>
<description><![CDATA[TIba2 keingetan puisi yang gw kenal waktu kecil,,dan mnurut gw waktu itu, ni puisi sedddddiiiiiiihh ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center">TIba2 keingetan puisi yang gw kenal waktu kecil,,dan mnurut gw waktu itu, ni puisi sedddddiiiiiiihh bangettt,,</p>
<p align="center">
<p align="center">AKU</p>
<p align="center">
<p align="center">Kalau sampai waktuku</p>
<p align="center">‘Ku mau tak seorang kan merayu</p>
<p align="center">Tidak juga kau</p>
<p align="center"><!--more--></p>
<p align="center">Tak perlu sedu sedan itu</p>
<p align="center">
<p align="center">Aku ini binatang jalang</p>
<p align="center">Dari kumpulannya terbuang</p>
<p align="center">
<p align="center">Biar peluru menembus kulitku</p>
<p align="center">Aku tetap meradang menerjang</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Luka dan bisa kubawa berlari</strong></p>
<p align="center"><strong>Berlari</strong></p>
<p align="center"><strong>Hingga hilang pedih perih</strong></p>
<p align="center">
<p align="center">Dan aku akan lebih tidak perduli</p>
<p align="center">
<p align="center">Aku mau hidup seribu tahun lagi</p>
<p align="center">
<p align="center">Chairil Anwar</p>
<p align="center">Maret 1943</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beberapa Puisi Chairil Anwar]]></title>
<link>http://clincingboy.wordpress.com/2009/09/12/beberapa-puisi-chairil-anwar/</link>
<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 08:21:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>clincingboy</dc:creator>
<guid>http://clincingboy.wordpress.com/2009/09/12/beberapa-puisi-chairil-anwar/</guid>
<description><![CDATA[Chairil Anwar (26 Juli 1922 &#8211; 28 April 1949) AKU Kalau sampai waktuku &#8216;Ku mau tak seoran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="color:red;">Chairil Anwar (26 Juli 1922 &#8211; 28 April 1949)<br />
AKU</p>
<p>Kalau sampai waktuku<br />
&#8216;Ku mau tak seorang kan merayu<br />
Tidak juga kau</p>
<p>Tak perlu sedu sedan itu</p>
<p>Aku ini binatang jalang<br />
Dari kumpulannya terbuang</p>
<p>Biar peluru menembus kulitku<br />
Aku tetap meradang menerjang</p>
<p>Luka dan bisa kubawa berlari<br />
Berlari<br />
Hingga hilang pedih peri</p>
<p>Dan aku akan lebih tidak perduli</p>
<p>Aku mau hidup seribu tahun lagi<!--more--></p>
<p>Maret 1943</p>
<p>Kategori: Puisi &#124; Chairil Anwar</p>
<p>Aku berada kembali. Banyak yang asing:<br />
air mengalir tukar warna,kapal kapal,<br />
elang-elang<br />
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;</p>
<p>rasa laut telah berubah dan kupunya wajah<br />
juga disinari matari lain.</p>
<p>Hanya<br />
Kelengangan tinggal tetap saja.<br />
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;<br />
lebih lengang pula ketika berada antara<br />
yang mengharap dan yang melepas.</p>
<p>Telinga kiri masih terpaling<br />
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar<br />
seterang<br />
guruh</p>
<p>1949<br />
Cintaku Jauh Di Pulau</p>
<p>Chairil Anwar</p>
<p>Cintaku jauh di pulau,<br />
gadis manis, sekarang iseng sendiri</p>
<p>Perahu melancar, bulan memancar,<br />
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.<br />
angin membantu, laut terang, tapi terasa<br />
aku tidak &#8216;kan sampai padanya.</p>
<p>Di air yang tenang, di angin mendayu,<br />
di perasaan penghabisan segala melaju<br />
Ajal bertakhta, sambil berkata:<br />
&#8220;Tujukan perahu ke pangkuanku saja,&#8221;</p>
<p>Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!<br />
Perahu yang bersama &#8216;kan merapuh!<br />
Mengapa Ajal memanggil dulu<br />
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!</p>
<p>Manisku jauh di pulau,<br />
kalau &#8216;ku mati, dia mati iseng sendiri.<br />
1946</p>
<p>Dengan Mirat<br />
Dari Wikisource Indonesia, sumber teks bebas berbahasa Indonesia</p>
<p>Chairil Anwar</p>
<p>Kamar ini jadi sarang penghabisan<br />
di malam yang hilang batas</p>
<p>Aku dan engkau hanya menjengkau<br />
rakit hitam</p>
<p>&#8216;Kan terdamparkah<br />
atau terserah<br />
pada putaran hitam?</p>
<p>Matamu ungu membatu</p>
<p>Masih berdekapankah kami atau<br />
mengikut juga bayangan itu<br />
1946</p>
<p>Derai Derai Cemara<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Cemara menderai sampai jauh<br />
terasa hari akan jadi malam<br />
ada beberapa dahan di tingkap merapuh<br />
dipukul angin yang terpendam</p>
<p>Aku sekarang orangnya bisa tahan<br />
sudah berapa waktu bukan kanak lagi<br />
tapi dulu memang ada suatu bahan<br />
yang bukan dasar perhitungan kini</p>
<p>Hidup hanya menunda kekalahan<br />
tambah terasing dari cinta sekolah rendah<br />
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan<br />
sebelum pada akhirnya kita menyerah<br />
1949</p>
<p>Di Masjid<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Kuseru saja Dia<br />
sehingga datang juga<br />
Kamipun bermuka-muka</p>
<p>seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada<br />
Segala daya memadamkannya</p>
<p>Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda</p>
<p>Ini ruang<br />
gelanggang kami berperang</p>
<p>Binasa membinasa<br />
satu menista lain gila<br />
Diponegoro<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Di masa pembangunan ini<br />
tuan hidup kembali<br />
Dan bara kagum menjadi api</p>
<p>Di depan sekali tuan menanti<br />
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.<br />
Pedang di kanan, keris di kiri<br />
Berselempang semangat yang tak bisa mati.<br />
Hampa<br />
Chairil Anwar</p>
<p>kepada sri</p>
<p>Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.<br />
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak<br />
Sampai ke puncak. Sepi memagut,<br />
Tak satu kuasa melepas-renggut<br />
Segala menanti. Menanti. Menanti.<br />
Sepi.<br />
Tambah ini menanti jadi mencekik<br />
Memberat-mencekung punda<br />
Sampai binasa segala. Belum apa-apa<br />
Udara bertuba. Setan bertempik<br />
Ini sepi terus ada. Dan menanti.</p>
<p>Karawang Bekasi<br />
Dari Wikisource Indonesia, sumber teks bebas berbahasa Indonesia</p>
<p>Chairil Anwar</p>
<p>Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi<br />
Tidak bisa teriak &#8220;Merdeka&#8221; dan angkat senjata lagi<br />
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami<br />
Terbayang kami maju dan berdegap hati?<br />
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br />
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak<br />
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu<br />
Kenang, kenanglah kami<br />
Kami sudah coba apa yang kami bisa<br />
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa<br />
Kami sudah beri kami punya jiwa<br />
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa<br />
Kami cuma tulang-tulang berserakan<br />
Tapi adalah kepunyaanmu<br />
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan<br />
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan<br />
Atau tidak untuk apa-apa<br />
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata<br />
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi<br />
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak<br />
Kenang-kenanglah kami<br />
Menjaga Bung Karno<br />
Menjaga Bung Hatta<br />
Menjaga Bung Syahrir<br />
Kami sekarang mayat<br />
Berilah kami arti<br />
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian<br />
Kenang-kenanglah kami<br />
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu<br />
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi</p>
<p>Maju<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Ini barisan tak bergenderang-berpalu<br />
Kepercayaan tanda menyerbu.</p>
<p>Sekali berarti<br />
Sudah itu mati.</p>
<p>MAJU</p>
<p>Bagimu Negeri<br />
Menyediakan api.</p>
<p>Punah di atas menghamba<br />
Binasa di atas ditindas<br />
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai<br />
Jika hidup harus merasai</p>
<p>Maju<br />
Serbu<br />
Serang<br />
Terjang</p>
<p>Februari 1943</p>
<p>Malam<br />
Dari Wikisource Indonesia, sumber teks bebas berbahasa Indonesia<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Mulai kelam<br />
belum buntu malam<br />
kami masih berjaga<br />
&#8211;Thermopylae?-<br />
- jagal tidak dikenal ? -<br />
tapi nanti<br />
sebelum siang membentang<br />
kami sudah tenggelam hilang<br />
Malam Di Pegunungan<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,<br />
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?<br />
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:<br />
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!<br />
1947</p>
<p>Mirat Muda, Chairil Muda<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,<br />
menatap lama ke dalam pandangnya<br />
coba memisah mata yang menantang<br />
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.</p>
<p>Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;<br />
dan bertanya: Adakah, adakah<br />
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?<br />
Mirat raba urut Chairil, raba dada<br />
Dan tahulah dia kini, bisa katakan<br />
dan tunjukkan dengan pasti di mana<br />
menghidup jiwa, menghembus nyawa<br />
Liang jiwa-nyawa saling berganti.<br />
Dia rapatkan</p>
<p>Dirinya pada Chairil makin sehati;<br />
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas<br />
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,<br />
menuntut tinggi tidak setapak berjarak<br />
dengan mati</p>
<p>di pegunungan 1943, ditulis 1949</p>
<p>Nisan<br />
Dari Wikisource Indonesia, sumber teks bebas berbahasa Indonesia<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Bukan kematian benar menusuk kalbu<br />
Keridhaanmu menerima segala tiba<br />
Tak kutahu setinggi itu di atas debu<br />
Dan duka maha tuan tak bertahta.</p>
<p>Penerimaan<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Kalau kau mau kuterima kau kembali<br />
Dengan sepenuh hati</p>
<p>Aku masih tetap sendiri</p>
<p>Kutahu kau bukan yang dulu lagi<br />
Bak kembang sari sudah terbagi</p>
<p>Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani</p>
<p>Kalau kau mau kuterima kembali<br />
Untukku sendiri tapi</p>
<p>Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.<br />
Maret 1943</p>
<p>Kategori: Puisi &#124; Chairil Anwar</p>
<p>Persetujuan Dengan Bung Karno<br />
Dari Wikisource Indonesia, sumber teks bebas berbahasa Indonesia<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji<br />
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu<br />
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu<br />
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945<br />
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu<br />
Aku sekarang api aku sekarang laut</p>
<p>Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat<br />
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar<br />
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &#38; berlabuh<br />
1948</p>
<p>Prajurit Jaga Malam<br />
Dari Wikisource Indonesia, sumber teks bebas berbahasa Indonesia<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?<br />
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,<br />
bermata tajam<br />
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya<br />
kepastian<br />
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini<br />
Aku suka pada mereka yang berani hidup<br />
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam<br />
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu&#8230;&#8230;<br />
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !<br />
1948</p>
<p>Rumahku<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Rumahku dari unggun-unggun sajak<br />
Kaca jernih dari segala nampak</p>
<p>Kulari dari gedung lebar halaman<br />
Aku tersesat tak dapat jalan</p>
<p>Kemah kudirikan ketika senjakala<br />
Dipagi terbang entah kemana</p>
<p>Rumahku dari unggun-unggun sajak<br />
Disini aku berbini dan beranak</p>
<p>Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang<br />
Aku tidak lagi meraih petang<br />
Biar berleleran kata manis madu<br />
jika menagih yang satu<br />
April 1943</p>
<p>Sajak Putih<br />
Chairil Anwar</p>
<p>buat tunanganku Mirat</p>
<p>Bersandar pada tari warna pelangi<br />
kau depanku bertudung sutra senja<br />
di hitam matamu kembang mawar dan melati<br />
harum rambutmu mengalun bergelut senda</p>
<p>Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba<br />
meriak muka air kolam jiwa<br />
dan dalam dadaku memerdu lagu<br />
menarik menari seluruh aku</p>
<p>hidup dari hidupku, pintu terbuka<br />
selama matamu bagiku menengadah<br />
selama kau darah mengalir dari luka<br />
antara kita Mati datang tidak membelah&#8230;</p>
<p>Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,<br />
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!<br />
Kucuplah aku terus, kucuplah<br />
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku&#8230;<br />
1944</p>
<p>Senja Di Pelabuhan Kecil<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Ini kali tidak ada yang mencari cinta<br />
di antara gudang, rumah tua, pada cerita<br />
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut<br />
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut</p>
<p>Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang<br />
menyinggung muram, desir hari lari berenang<br />
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak<br />
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.</p>
<p>Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan<br />
menyisir semenanjung, masih pengap harap<br />
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan<br />
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap</p>
<p>1946</p>
<p>Tjerita Buat Dien Tamaela<br />
Dari Wikisource Indonesia, sumber teks bebas berbahasa Indonesia<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Beta Pattiradjawane<br />
jang didjaga datu datu<br />
Tjuma satu</p>
<p>Beta Pattiradjawane<br />
kikisan laut<br />
berdarah laut</p>
<p>beta pattiradjawane<br />
ketika lahir dibawakan<br />
datu dajung sampan</p>
<p>beta pattiradjawane pendjaga hutan pala<br />
beta api dipantai,siapa mendekat<br />
tiga kali menjebut beta punja nama</p>
<p>dalam sunyi malam ganggang menari<br />
menurut beta punya tifa<br />
pohon pala, badan perawan djadi<br />
hidup sampai pagi tiba</p>
<p>mari menari !<br />
mari beria !<br />
mari berlupa !</p>
<p>awas ! djangan bikin bea marah<br />
beta bikin pala mati, gadis kaku<br />
beta kirim datu-datu !</p>
<p>beta ada dimalam, ada disiang<br />
irama ganggang dan api membakar pulau &#8230;&#8230;.</p>
<p>beta pattiradjawane<br />
jang didjaga datu-datu<br />
tjuma satu</p>
<p>Yang Terampas Dan Yang Putus<br />
Dari Wikisource Indonesia, sumber teks bebas berbahasa Indonesia<br />
Chairil Anwar</p>
<p>Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,<br />
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,<br />
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu</p>
<p>Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin</p>
<p>Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang<br />
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;<br />
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang</p>
<p>Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku<br />
1949</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tujuh Hakikat Chairil]]></title>
<link>http://fairy2785.wordpress.com/2009/09/08/tujuh-hakikat-chairil/</link>
<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:33:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>fairy2785</dc:creator>
<guid>http://fairy2785.wordpress.com/2009/09/08/tujuh-hakikat-chairil/</guid>
<description><![CDATA[BAGAIMANAKAH seorang penyair mengolah kehidupannya sebagai bahan sajak-sajaknya? Ini pertanyaan mend]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>BAGAIMANAKAH seorang penyair mengolah kehidupannya sebagai bahan sajak-sajaknya? Ini pertanyaan mendasar dan abadi. Tugas menyair adalah menjawab pertanyaan itu terus-menerus.</p>
<p>1.	<del datetime="2009-09-08T08:22:02+00:00"><em>HAKIKAT POKOK &#38; BAHAN.</em></del><br />
Yang penting adalah hasil sajak yang dicapai, bukan bahan yang dipakai untuk membuat dan mencapai hasil sajak itu. Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung dan sebagainya. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan menganggap kwalitet cat dan kain atau batu pualam sebagai soal yang penting, soal yang pokok. Bukanlah bahan-bahan yang dipakai yang penting; yang penting adalah hasil yang tercapai.</p>
<p>2.	<em><del datetime="2009-09-08T08:22:02+00:00">HAKIKAT BENTUK &#38; ISI.</del></em><br />
Hasil sajak bisa dinilai dari bentuk dan isi, tetapi kedua hal itu tidak bisa dipisahkan, keduanya bisa dilihat satu per satu tapi keduanya juga bisa dipandang sebagai satu hal yang padu. &#8220;Hasil&#8221; ini pada umumnya &#8220;terbagi&#8221; dalam bentuk dan isi. Tetapi &#8220;pembatasan&#8221; yang sangat nyata dan terang antara bentuk dan isi tidak pula bisa dikemukakan, sebab dalam kesenian, bentuk dan isi ini tidak hanya rapat berjalan sama.</p>
<p>3.	<del datetime="2009-09-08T08:22:02+00:00"><em>HAKIKAT 1 POKOK &#38; 2 CARA MENYATAKAN.</em></del><br />
 Satu pokok yang sama bisa menghasilkan dua sajak yang berbeda, sebab dua penyair yang berbeda memandang pokok yang sama tadi dengan perasaan yang berbeda, dan menyatakan perasaan tadi juga dengan perasaan yang berbeda.<br />
Jika dua orang pelukis sama-sama melukiskan suatu bagian dari kota, bisa jadi kejadian yang lukisan satu mengagumkan kita, sedangkan lukisan yang lain jelek. Perbedaan bukankah jadinya terletak pada &#8220;pokok&#8221;, karena di sini pokok adalah sama. Perbedaan terletak dalam perasaan-perasaan yang mengiringi pemandangan di kota tadi, dan dalam cara bagaimana perasaan-perasaan itu mencapai pernyataannya.</p>
<p>4.	<del datetime="2009-09-08T08:22:02+00:00"><em>HAKIKAT POKOK-POKOK &#38; SATU SENIMAN</em></del>.<br />
 Penyair tidak bergantung pada satu pokok saja. Dari pokok-pokok yang berbeda jauh, seorang penyair bisa menghasilkan sajak yang sama mengharukan perasaan pembaca.<br />
Sebagaimana suatu pokok bisa mengesankan pada dua orang pelukis, begitu juga sebaliknya, dua pokok bisa meninggalkan keterharuan yang sama pada seorang pelukis. Lukisan yang sederhana dari sepasang sepatu tua bisa &#8220;sebagus&#8221; lukisan satu pot kembang yang berbagai warna. Karena yang tampak oleh kita bukanlah semata-mata sepatu tua itu, tapi adalah sepatu tua yang &#8220;terasa bagus&#8221; &#8211; dan karena si seniman sanggup menyatakan sepenuhnya dengan garis dan bentuk, karena itu pula maka bisa dia memaksa kita mengakui hasil keseniannya.</p>
<p>5.	<del datetime="2009-09-08T08:22:02+00:00"><em>HAKIKAT TENAGA PERASAAN &#38; PERKAKAS SAJAK</em>.</del><br />
 Bahasa menyediakan perkakas sajak bagi penyair. Perkakas itu hanya alat bantu yang berguna bila si penyair punya tenaga perasaan untuk mencipta pokok sajak menjadi sajak.<br />
Jadi yang penting ialah: si seniman dengan caranya menyatakan harus memastikan tentang tenaga perasaan-perasaannya. Perkakas-perkakas yang bisa dipakai oleh si penyair untuk menyatakan adalah bahan-bahan bahasa, yang dipakainya dengan cara intuitif. Dengan &#8220;memakaikan&#8221; tinggi-rendah dia bisa mencapai suatu keteraturan, dan dalam keteraturan ini diusahakannya variasi: irama dari sajaknya dipakainya sebagai perkakas untuk menyatakan. Lagu dari kata-katanya bisa pula dibentuknya sehingga bahasanya menjadi berat dan lamban atau menjadi cepat dan ringan. Dia bisa memilih kata-kata dan hubungan-kata yang tersendiri, ditimbang dengan saksama atau kata-kata itu menyatakan apa yang dimaksudnya. Bentuk kalimatnya bisa dibikinnya menyimpang dari biasa, dengan begitu mengemukakan dengan lebih halus, lebih pelik apa yang hidup dalam jiwanya. </p>
<p>6.	<del datetime="2009-09-08T08:22:02+00:00"><em>HAKIKAT KETERHUBUNGAN PEMBACA &#38; POKOK SAJAK.</em></del><br />
 Jika sajak yang istimewa sudah selesai, maka pembaca berhak menikmati keistimewaan itu. Kenikmatan yang diperoleh pembaca sajak tidak lagi ditentukan oleh hanya oleh perkakas yang dipakai oleh penyair, tetapi oleh kesamaan pautan perasaannya pada pokok sajak.<br />
Dengan irama dan lagu, dengan kalimat dan pilihan kata yang tersendiri dan dengan perbandingan-perbandingan si penyair menciptakan sajaknya dan hanya jika si pembaca sanggup memperhatikan dengan teliti &#8220;keistimewaan&#8221; yang tercapai oleh si penyair, bisalah si pembaca mengertikan dan merasakan sesuatu sajak dengan sepenuhnya. Merasa sebuah sajak bagus tidaklah harus didasarkan atas suatu atau beberapa dari &#8220;perkakas&#8221; bahasa yang disebut tadi, tapi harus didasarkan atas kerja sama dan perhubungannya yang sama dengan &#8220;pokok&#8221;.</p>
<p>7.	<del datetime="2009-09-08T08:22:02+00:00"><em>HAKIKAT MEMILIH POKOK &#38; KETERHARUAN YANG BERULANG. </em></del><br />
Penyair memilih &#8211; dengan sadar atau dengan tidak sadar &#8211; pokok-pokok mana yang ia ambil untuk ia sajakkan. Ia juga bisa digerakkan oleh satu pokok yang sama, lalu menyajakkannya berulang-ulang.<br />
Bahwasanya pokok tidak menentukan nilai hasil kesenian, bukanlah berarti bahwa semua pokok bisa membawa keterharuan yang sama pada penyair. Sebaliknya malahan: sudah tentu saja bahwa berbagai peristiwa dalam alam dan dalam kehidupan manusia tidak kita hiraukan, karena dia tidak menduduki tempat yang &#8220;penting&#8221; dalam kehidupan kita. Percintaan, kelahiran, kematian, kesepian, matahari dan bulan, ketuhanan &#8211; inilah pokok-pokok yang berulang-ulang telah mengharukan si seniman.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Menyambut Dirgahayu Republik Indonesia ke-64]]></title>
<link>http://plentiswae.wordpress.com/2009/08/16/krawang-bekasi-puisi-chairil-anwar/</link>
<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 10:32:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>plentiswae</dc:creator>
<guid>http://plentiswae.wordpress.com/2009/08/16/krawang-bekasi-puisi-chairil-anwar/</guid>
<description><![CDATA[KRAWANG &#8211; BEKASI Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak &#8220;Merde]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KRAWANG &#8211; BEKASI Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi tidak bisa teriak &#8220;Merde]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Persetujuan Dengan Bung Karno]]></title>
<link>http://rotyyu.wordpress.com/2009/08/14/persetujuan-dengan-bung-karno/</link>
<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 14:47:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>rotyyu</dc:creator>
<guid>http://rotyyu.wordpress.com/2009/08/14/persetujuan-dengan-bung-karno/</guid>
<description><![CDATA[Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji Aku sudah cukup lama dengan bicaramu dipanggang d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji<br />
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu<br />
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu<br />
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945<br />
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu<br />
Aku sekarang api aku sekarang laut</p>
<p>Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat<br />
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar<br />
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak &#38; berlabuh</p>
<p>Chairil Anwar</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Patriotisme]]></title>
<link>http://erikasmak1.wordpress.com/2009/08/13/patriotisme/</link>
<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 01:48:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>erikasmak1</dc:creator>
<guid>http://erikasmak1.wordpress.com/2009/08/13/patriotisme/</guid>
<description><![CDATA[puisi patriotik berjudul &#8220;Diponegoro&#8221; (Chairil Anwar): Di masa pembangunan ini Tuan hidu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>puisi patriotik berjudul &#8220;Diponegoro&#8221; (Chairil Anwar):</p>
<p>Di masa pembangunan ini<br />
Tuan hidup kembali<br />
Dan bara kagum menjadi api<br />
Di depan sekali tuan menanti<br />
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali<br />
Pedang di kanan, keris di kiri<br />
Berselubung semangat yang tak bisa mati</p>
<p>Maju<br />
lni barisan tak bergenderang-berpalu<br />
Kepercayaan tanda menyerbu<br />
Sekali berarti.<br />
Sudah itu mati</p>
<p>Maju<br />
Bagimu negeri Menyediakan api<br />
Punah di atas menghamba<br />
Binasa di atas ditinda<br />
Sungguhpun dalam ajal baru tercapai<br />
Jika hidup harus merasai<br />
Maju<br />
Serbu<br />
Serang<br />
Terjang<br />
(Kerikil Tajam, 1978)</p>
<p>Masih adakah generasi yang memiliki semangat &#8220;Diponegora&#8221; di jaman kemerdekaan ini?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ian Kasela Kuatir Popularitas Anjlok Karena Tak Kenal Rendra]]></title>
<link>http://temperamen.wordpress.com/2009/08/07/ian-kasela-kuatir-popularitas-anjlo-karena-tak-kenal-rendra/</link>
<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 17:46:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>Fritzter</dc:creator>
<guid>http://temperamen.wordpress.com/2009/08/07/ian-kasela-kuatir-popularitas-anjlo-karena-tak-kenal-rendra/</guid>
<description><![CDATA[JAKARTA &#8211; Vokalis band Radja, Ian Kasela, mengaku sangat kuatir popularitas band-nya bakal dro]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p></br></p>
<div align="justify">
JAKARTA &#8211; Vokalis band Radja, Ian Kasela, mengaku sangat kuatir popularitas band-nya bakal drop lantaran tak satupun personil band itu yang pernah mengenal almarhum W.S. Rendra.<br />
Ini disampaikan kepada TempeRamen saat ditemui di bunker persembunyiannya di daerah Lubang Buaya. Ia mengaku sedang bersembunyi dari media. &#8220;Takut diwawancara soal almarhum Rendra,&#8221; katanya cemas.</p>
<p>Diutarakan pula, pihaknya sudah mulai panik saat begitu banyak selebriti yang mengaku kenal dekat dengan W.S. Rendra semasa hidupnya. Ia khawatir akan didatangi wartawan dan ditanyai tentang Rendra juga, padahal ia dan personil Radja lainnya sama sekali tidak pernah mendengar nama penyair besar itu. &#8220;Saya menyesal sering bolos sekolah dulu,&#8221; keluhnya. </p>
<p>Lebih lanjut dikatakan, mimpi terburuknya saat ini ialah dicegat wartawan infotainment dan disodori pertanyaan kenal-tidaknya ia dengan Rendra. Kalau itu sampai terjadi, ia sadar dirinya mau tidak mau akan menjawab &#8216;tidak&#8217;.<br />
Ian yakin itu akan berakibat fatal terhadap popularitas dirinya dan Radja, dan apapun yang dilakukannya tidak akan bisa memperbaiki kondisi itu.  Bahkan mega-project perilisan album musik anak-anak balita personil Radja pun tidak akan mampu mendongkrak popularitas mereka. </p>
<p>Maka, tidak ada jalan lain selain bersembunyi dari media sampai ada penyair besar lain &#8211; yang paling tidak pernah ia dengar namanya &#8211; meninggal.<br />
&#8220;Pokoknya saya dan Radja akan terus menghilang dari media sampai Chairil Anwar meninggal,&#8221; tegasnya.</p>
<p>&#8220;Itu satu-satunya nama penyair yang saya tahu.&#8221;
</p></div>
<p><img src="http://temperamen.wordpress.com/files/2009/08/ian_kasela_044.jpg" alt="ian_kasela_044" title="ian_kasela_044" width="450" height="656" class="aligncenter size-full wp-image-108" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[siapakah pahlawan itu]]></title>
<link>http://menulisaja.wordpress.com/2009/07/30/siapakah-pahlawan-itu/</link>
<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 01:05:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aldo Al Fakhr</dc:creator>
<guid>http://menulisaja.wordpress.com/2009/07/30/siapakah-pahlawan-itu/</guid>
<description><![CDATA[Siapakah Pahlawan Itu? Pahlawan adalah seseorang dari rakyat biasa yang mengerjakan pekerjaan-pekerj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Siapakah Pahlawan Itu? Pahlawan adalah seseorang dari rakyat biasa yang mengerjakan pekerjaan-pekerj]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MALAM DI PEGUNUNGAN ]]></title>
<link>http://binatangdjalang.wordpress.com/2009/07/28/malam-di-pegunungan/</link>
<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 01:40:43 +0000</pubDate>
<dc:creator>binatangdjalang</dc:creator>
<guid>http://binatangdjalang.wordpress.com/2009/07/28/malam-di-pegunungan/</guid>
<description><![CDATA[Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin, Jadi pucat rumah dan kaku pohonan? Sekali ini aku t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,<br />
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?<br />
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:<br />
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!<br />
(1947)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syair-Syair Chairil Anwar]]></title>
<link>http://pernyairgila.wordpress.com/2009/07/15/syair-syair-chairil-anwar/</link>
<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 07:26:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>arichrista</dc:creator>
<guid>http://pernyairgila.wordpress.com/2009/07/15/syair-syair-chairil-anwar/</guid>
<description><![CDATA[Chairil Anwar adalah seorang penyair legendaris. Puisi syair-syairnya mampu menembus batas-batas sej]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://pernyairgila.wordpress.com/"><strong>Chairil Anwar</strong></a> adalah seorang penyair legendaris. <del datetime="2009-07-15T07:14:30+00:00">Puisi</del> syair-syairnya mampu menembus batas-batas sejarah. Seperti tak pernah lekang oleh waktu. Emosi-emosinya tampaknya tertuang dengan sempurna dalam setiap pilihan kata yang terangkai dalam sebuah komposisi puisi. Jiwa pemberontakan dan anti kemapanan tampak nyata bukan hanya dari rangkaian kata-kata yang ia lahirkan, tetapi juga dalam sejarah hidupnya. Aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.</p>
<p><strong>Chairil Anwar</strong> memang telah menjadi ikon dalam dunia sastra Indonesia, khususnya puisi. Tetapi bagaimana mungkin saya yang mengaku sebagai seorang penyair gila sampai tidak mempunyai <a href="http://pernyairgila.wordpress.com/">kumpulan syair-syairnya? </a>Waduh, bisa dipecat saya nanti dari dunia kepenyairan. Hayo&#8230; siapa mau bantuin saya ngasih syair-syair Bang Chairil? Atau kalo gak punya syair-syair Bang Chairil, dikasih link untuk <a href="http://www.pijarbintang.com/2009/07/stop-dreaming-start-action.html">Stop Dreaming Start Action</a> juga boleh kok. He he he he.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
