<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>didache &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/didache/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "didache"</description>
	<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 19:53:49 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Ephesians 4-6 and Colossians 3-4: An Apostolic Didache?]]></title>
<link>http://readingacts.wordpress.com/2009/11/19/ephesians-4-6-and-colossians-3-4-an-apostolic-didache/</link>
<pubDate>Fri, 20 Nov 2009 03:54:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Phillip J. Long</dc:creator>
<guid>http://readingacts.wordpress.com/2009/11/19/ephesians-4-6-and-colossians-3-4-an-apostolic-didache/</guid>
<description><![CDATA[It can be argued that the material in Ephesians 4-6 and Colossians 3-4 reflect an early form of apos]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>It can be argued that the material in Ephesians 4-6 and Colossians 3-4 reflect an early form of apostolic teaching or catechism material. The terms <em>kerygma</em> and <em>didache</em> are used to distinguish between two types of apostolic message.  Kerygma is the “preaching” material of the gospel for sinners (Christ’s death and resurrection), while didache is the teaching material aimed at the person that has already accepted this message and is concerned with the living out of that message in terms of ethical behavior.</p>
<p>This may imply some pre-existing documents that eventually are used in the production of the New Testament books, although these types of materials also circulated orally.  The <em>kerygma </em>material, for example, may include 1 Corinthians 15:3-5 or Phil 2:5-11.  But this is not to say that there was any single document called “kerygma” – the word simply refers to the material that was used in evangelism by various preachers in the early church.</p>
<p>The same applies to the term <em>didache</em>.  There would have been a core of teaching that Paul used in establishing churches and training leaders.  That material would have been generally the same in every church (i.e. qualifications for elders and deacons) but flexible enough to adapt to a slightly different cultural situation (the difference between the qualifications list in 1 Timothy and Titus, for example, show some adaptation for the situation on Crete where Titus was to appoint elders).</p>
<p>This core of teaching is found as early as Acts 2:42, where we are told that the new converts were devoted to the daily instruction of the apostles.  Since all of these converts in the early part of Acts are Jews, and likely observant Jews in Acts 2, the need for ethical instruction would have been less of a priority than instruction in the teachings of Jesus (i.e. doctrine – Christology (who was Jesus, what did he teach) and Eschatology (the Christ is returning very soon).  It is not unlikely that at this stage that the stories of Jesus’ acts and his teachings began to be passed from the Apostles to their disciples.</p>
<p><strong>Some bibliography: </strong>E.  G.  Selwyn, The First Epistle of St.  Peter, 363-466; Philip Carrington, The Primitive Christian Catechism; A. M. Hunter, Paul and his Predecessors; C. H. Dodd,  The Apostolic Preaching and its Developments;  Everett F.  Harrison, “Some Patterns of the New Testament Didache” BSac V119 #474 (Apr 62) 118-129; V. P. Furnish, Theology and Ethics in Paul, 68-111.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Injil Didache]]></title>
<link>http://portalislam.wordpress.com/2009/11/04/injil-didache/</link>
<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 04:07:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>abie1102</dc:creator>
<guid>http://portalislam.wordpress.com/2009/11/04/injil-didache/</guid>
<description><![CDATA[INJIL DIDACHE Injil Prespektif Baru Yang Terungkap di Yerusalem, Memuat 20 Butir Kabar Gembira Tenta]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>INJIL DIDACHE</strong><br />
Injil Prespektif Baru Yang Terungkap di Yerusalem,<br />
Memuat 20 Butir Kabar Gembira Tentang Nabi Muhammad.</p>
<p><strong>PENGANTAR PENERBIT</strong> </p>
<p>NABI Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala sebagai penyempurna akhlak (etika), rahmat bagi alam semesta serta penutup para Nabi dan Rasul. Hal ini tentu mempunyai indikasi yang kuat; baik tentang kabar gembira mengenai kedatangannya yang telah disampaikan oleh Nabi-nabi terdahulu, maupun bukti-bukti kebenarannya. Bumi berputar, waktu bergulir dan zaman telah berubah, namun bukti-bukti yang sangat menakjubkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah surut, bahkan semakin kuat.</p>
<p>Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihissalam selalu menekankan tentang akan datangnya Nabi yang diimpi­impikan untuk membebaskan dunia dan bangsa-bangsa dari penindasan dan kezhaliman. Di dalam lima Kitab Taurat yang menyebutkan tentang nubuat-nubuat, semuanya menunjuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi, Nabi yang dinanti-nanti itu bukan Nabi Isa Alaihissalam, melainkan beliau adalah Nabi yang agung yang diutus oleh Tuhan pada waktunya untuk menyampaikan kabar gembira tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia dan Yahya-yang terkenal di kalangan Kristen dengan nama Yohanes Pembaptis &#8211; Alaihissallam, bukan Al-Masih Pemimpin. Keduanya adalah AI-Masih biasa.</p>
<p>Berangkat dari sinilah DR. Ahmad Hijazi As-Saqa terpanggil untuk mengangkat dan membahas tentang Injil Didache. fa menjelaskan keshahihan Injil Didache seperti sebelumnya, menjelaskan keshahihan Injil Barnabas. Pertanyaannya kemudian, kenapa harus INJIL DIDACHE? Apa urgensinya membahas Injil ini dan di mana letak relevansinya dengan bukti kebenaran Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam?</p>
<p>Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dimuat dalam majalah &#8220;Al-Muqtathaf&#8221; ini, memuat tentang &#8220;Dua Puluh Butir Kabar Gembira&#8221; tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Baik penulis INJIL DIDACHE maupun pengkaji Injil tersebut mempunyai keyakinan seperti itu bukannya tanpa bukti, karena mereka mempunyai beberapa data yang valid tentang kabar gembira itu. Mulai dari pembahasan kabar gembira pertama tentang kerajaan surga sampai kabar gembira kedua puluh tentang permohonan kepada Tuhan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya, semuanya menguatkan eksistensi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p>Selain itu penuLis juga memaparkan bukti-bukti kongkrit tentang validitas kabar gembira itu, di antaranya: </p>
<p>Pertama, semua kitab samawi (baik Taurat maupun Injil) menyebutkan bahwa Al-Masih Pemimpin adalah sosok yang mampu meruntuhkan Kekaisaran Romawi. Sedangkan tidak ada di antara Nabi Musa dan Isa Alaihissalam yang mengalahkan Kekaisaran Romawi, melainkan keruntuhannya pada zaman Nabi Muhammad.</p>
<p>Kedua, Injil Didache tidak menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah Nabi yang akan diutus di akhir zaman. la justru menyebutkan bahwa penganut Kristen yang tidak mengimani Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam akan dikutuk, sedangkan penganut Kristen yang mengimaninya akan menjadi orang kudus (suci).</p>
<p>Ketiga, Sebutan orang Kristen (AI-Masihi) baru diberikan kepada murid-murid Yesus (An-Nashara) setelah AI-Kitab diubah pada Konsili Niqiyyah tahun 325 M. Sebab, berdasarkan bahasa mereka, Al-Masih adalah julukan bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta di dalam Injil Matius: 23 dan seterusnya, Isa Alaihissalam juga mengabarkannya dengan julukan AI-Masih. Pada waktu itu, para pengikut Yesus disebut orang-orang Nasrani (Nashraniyyun), bukan orang-orang Kristen (Masihiyyun). Setelah AI-Kitab diubah, barulah mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Kristen. Dengan demikian, tidak disebutkannya kata `orang Kristen&#8217; di dalam DIDACHE menunjukkan bahwa ia ditulis sebelum terjadi pengubahan terhadap AI-Kitab.</p>
<p>Keempat, orang-orang Yahudi memberikan sebutan `Mesias&#8217; atau `AI­Masih Pemimpin&#8217; kepada Nabi yang ditunggu-tunggu yang akan datang seperti Musa. Mereka mengatakan bahwa julukan &#8220;Anak Tuhan&#8221; dan julukan `Tuhan&#8217; di dalam Mazmur adalah julukan-julukan Nabi itu. Julukan &#8220;Anak Manusia&#8221; di dalam Kitab Daniel pun merupakan julukannya. Ingatah akan hal ini, dan ingatlah bahwa murid-murid Yesus sepakat akan hal ini. Kemudian, ingatlah bahwa Isa Alaihissalam di dalam Injil-injil Kanonik menolak julukan AI-Masih Pemimpin bagi dirinya, bahkan ia menafikan kedatangan AI-Masih Pemimpin dari kalangan orang-orang Yahudi. Dia menjelaskan bahwa Al-Masih Pemimpin itu akan datang dari Bani Ismail.</p>
<p>Masih banyak bukti-bukti dan fenomena yang menunjukkan bahwa Nabi terakhir yang ditunggu-tunggu dan pemimpin para rasul adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang dieksplorasi dalam buku ini.</p>
<p>Pembaca budiman, buku ini sangat bermanfaat bagi kita umat manusia untuk melacak otentisitas ajaran dan kebenaran tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Semoga kehadiran buku ini semakin menambah khasanah intelektual kita. Amin.</p>
<p><strong>Pustaka Al-Kautsar</strong></p>
<p><strong> Download <a href="http://www.ziddu.com/download/6564652/injil_didache.rar.html">disini</a></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Didache on being τέλειος (perfect)]]></title>
<link>http://mwhitenton.wordpress.com/2009/11/01/didache-on-being-%cf%84%ce%ad%ce%bb%ce%b5%ce%b9%ce%bf%cf%82-teleios/</link>
<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 20:05:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Michael</dc:creator>
<guid>http://mwhitenton.wordpress.com/2009/11/01/didache-on-being-%cf%84%ce%ad%ce%bb%ce%b5%ce%b9%ce%bf%cf%82-teleios/</guid>
<description><![CDATA[Interestingly, the Gospel of Matthew is not the only place where the command to τέλειος shows up. In]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Interestingly, the Gospel of Matthew is not the only place where the command to τέλειος shows up. In Matthew, the idea (in the Sermon on the Mount) would seem that since God is &#8220;perfect&#8221; (in the context, he shows love to everyone), those who are part of the Jesus movement should do likewise (Matt 5.48). This idea shows up again in Matt 19.21 with the rich young ruler.</p>
<p>The Didache also touches on the idea of perfection as the ideal for members of the community of faith. In Did. 6.2, we read:</p>
<p style="padding-left:30px;">εἰ μὲν γὰρ δύνασαι βαστάσαι ὅλον τὸν ζυγὸν τοῦ κυρίου, τέλειος ἔσῃ· εἰ δ᾿ οὐ δύνασαι, ὃ δύνῃ, τοῦτο ποίει.</p>
<p style="padding-left:30px;">&#8220;For if (on the one hand) you are able to bear the whole yoke of the Lord, you will be perfect (<em>teleios</em>). If (on the other hand) you are not able, whatever you are able, do this.&#8221;</p>
<p>Those who are able to keep the whole teaching of Jesus are considered to be &#8220;perfect,&#8221; (note the similarity with the Sermon on the Mount as the pith of Jesus&#8217; teaching), but everyone else should just do their best. An interesting (and very early) perspective on a core teaching of Jesus&#8217; teaching as Matthew has it.</p>
<p>Thoughts?</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[From the Didache: Prayer for after the Eucharist]]></title>
<link>http://temporachristiana.wordpress.com/2009/10/31/from-the-didache-prayer-for-after-the-eucharist/</link>
<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 17:56:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Scott Kistler</dc:creator>
<guid>http://temporachristiana.wordpress.com/2009/10/31/from-the-didache-prayer-for-after-the-eucharist/</guid>
<description><![CDATA[The Didache (The Teaching of the Lord to the Gentiles by the Twelve Apostles), Chapter 10: And after]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The <em>Didache</em> (<em>The Teaching of the Lord to the Gentiles by the Twelve Apostles</em>), Chapter 10:</p>
<blockquote><p>And after you have had enough, give thanks as follows:</p>
<p>We give you thanks, Holy Father,</p>
<p>for your holy name, which you have caused to dwell in our hearts,</p>
<p>and for the knowledge and faith and immortality that you have made known to us through Jesus your servant;</p>
<p>to you be the glory forever.</p>
<p>You, almighty Master, created all things for your name&#8217;s sake,</p>
<p>and gave food and drink to humans to enjoy, so that they might give you thanks;</p>
<p>but to us you have graciously given spiritual food and drink,</p>
<p>and eternal life through your servant.</p>
<p>Above all we give thanks to you because you are mighty;</p>
<p>to you be the glory forever.</p>
<p>Remember your church, Lord, to deliver it from all evil and to make it perfect in your love;</p>
<p>and from the four winds gather the church that has been sanctified into your kingdom,</p>
<p>which you have prepared for it;</p>
<p>for yours is the power and the glory forever.</p>
<p>May grace come, and may this world pass away.</p>
<p>Hosanna to the God of David.</p>
<p>If anyone is holy, let him come;</p>
<p>if anyone is not, let him repent.</p>
<p>Maranatha!  Amen.</p>
<p>But permit the prophets to give thanks however they wish.</p></blockquote>
<p>Source: <a href="http://www.amazon.com/Apostolic-Fathers-English-Michael-Holmes/dp/0801031087/ref=sr_1_1?ie=UTF8&#38;s=books&#38;qid=1251425172&#38;sr=8-1" target="_blank">Michael Holmes, <em>The Apostolic Fathers in English</em></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Injil Didache]]></title>
<link>http://starawaji.wordpress.com/2009/08/30/injil-didache/</link>
<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 07:39:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>starawaji</dc:creator>
<guid>http://starawaji.wordpress.com/2009/08/30/injil-didache/</guid>
<description><![CDATA[INJIL PERSEPEKTIF BARU YANG TERUNGKAP DI YERUSALEM, MEMUAT 20 BUTIR KABAR GEMBIRA TENTANG NABI MUHAM]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>INJIL PERSEPEKTIF BARU YANG TERUNGKAP DI YERUSALEM, MEMUAT 20 BUTIR KABAR GEMBIRA TENTANG NABI MUHAMMAD</p>
<p> </p>
<p>A.PENGANTAR PENERBIT</p>
<p>             NABI Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala sebagai penyempurna akhlak (etika), rahmat bagi alam semesta serta penutup para Nabi dan Rasul. Hal ini tentu mempunyai indikasi yang kuat; baik tentang kabar gembira mengenai kedatangannya yang telah disampaikan oleh Nabi-nabi terdahulu, maupun bukti-bukti kebenarannya. Bumi berputar, waktu bergulir dan zaman telah berubah, namun bukti-bukti yang sangat menakjubkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah surut, bahkan semakin kuat.   Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihissalam selalu menekankan tentang akan datangnya Nabi yang diimpi­impikan untuk membebaskan dunia dan bangsa-bangsa dari penindasan dan kezhaliman. <!--more-->Di dalam lima Kitab Taurat yang menyebutkan tentang nubuat-nubuat, semuanya menunjuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi, Nabi yang dinanti-nanti itu bukan Nabi Isa Alaihissalam, melainkan beliau adalah Nabi yang agung yang diutus oleh Tuhan pada waktunya untuk menyampaikan kabar gembira tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia dan Yahya-yang terkenal di kalangan Kristen dengan nama Yohanes Pembaptis &#8211; Alaihissallam, bukan Al-Masih Pemimpin. Keduanya adalah AI-Masih biasa.   Berangkat dari sinilah DR. Ahmad Hijazi As-Saqa terpanggil untuk mengangkat dan membahas tentang Injil Didache. fa menjelaskan keshahihan Injil Didache seperti sebelumnya, menjelaskan keshahihan Injil Barnabas. Pertanyaannya kemudian, kenapa harus INJIL DIDACHE? Apa urgensinya membahas Injil ini dan di mana letak relevansinya dengan bukti kebenaran Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam?   Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dimuat dalam majalah &#8220;Al-Muqtathaf&#8221; ini, memuat tentang &#8220;Dua Puluh Butir Kabar Gembira&#8221; tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Baik penulis INJIL DIDACHE maupun pengkaji Injil tersebut mempunyai keyakinan seperti itu bukannya tanpa bukti, karena mereka mempunyai beberapa data yang valid tentang kabar gembira itu. Mulai dari pembahasan kabar gembira pertama tentang kerajaan surga sampai kabar gembira kedua puluh tentang permohonan kepada Tuhan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya, semuanya menguatkan eksistensi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Selain itu penuLis juga memaparkan bukti-bukti kongkrit tentang validitas kabar gembira itu, di antaranya:   Pertama, semua kitab samawi (baik Taurat maupun Injil) menyebutkan bahwa Al-Masih Pemimpin adalah sosok yang mampu meruntuhkan Kekaisaran Romawi. Sedangkan tidak ada di antara Nabi Musa dan Isa Alaihissalam yang mengalahkan Kekaisaran Romawi, melainkan keruntuhannya pada zaman Nabi Muhammad.   Kedua, Injil Didache tidak menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah Nabi yang akan diutus di akhir zaman. la justru menyebutkan bahwa penganut Kristen yang tidak mengimani Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam akan dikutuk, sedangkan penganut Kristen yang mengimaninya akan menjadi orang kudus (suci).   Ketiga, Sebutan orang Kristen (AI-Masihi) baru diberikan kepada murid-murid Yesus (An-Nashara) setelah AI-Kitab diubah pada Konsili Niqiyyah tahun 325 M. Sebab, berdasarkan bahasa mereka, Al-Masih adalah julukan bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta di dalam Injil Matius: 23 dan seterusnya, Isa Alaihissalam juga mengabarkannya dengan julukan AI-Masih. Pada waktu itu, para pengikut Yesus disebut orang-orang Nasrani (Nashraniyyun), bukan orang-orang Kristen (Masihiyyun). Setelah AI-Kitab diubah, barulah mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Kristen. Dengan demikian, tidak disebutkannya kata `orang Kristen&#8217; di dalam DIDACHE menunjukkan bahwa ia ditulis sebelum terjadi pengubahan terhadap AI-Kitab. Keempat, orang-orang Yahudi memberikan sebutan `Mesias&#8217; atau `AI­Masih Pemimpin&#8217; kepada Nabi yang ditunggu-tunggu yang akan datang seperti Musa. Mereka mengatakan bahwa julukan &#8220;Anak Tuhan&#8221; dan julukan `Tuhan&#8217; di dalam Mazmur adalah julukan-julukan Nabi itu. Julukan &#8220;Anak Manusia&#8221; di dalam Kitab Daniel pun merupakan julukannya. Ingatah akan hal ini, dan ingatlah bahwa murid-murid Yesus sepakat akan hal ini. Kemudian, ingatlah bahwa Isa Alaihissalam di dalam Injil-injil Kanonik menolak julukan AI-Masih Pemimpin bagi dirinya, bahkan ia menafikan kedatangan AI-Masih Pemimpin dari kalangan orang-orang Yahudi. Dia menjelaskan bahwa Al-Masih Pemimpin itu akan datang dari Bani Ismail. Masih banyakbukti-bukti dan fenomena yang menunjukkan bahwa Nabi terakhir yang ditunggu-tunggu dan pemimpin para rasul adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang dieksplorasi dalam buku ini. Pembaca budiman, buku ini sangat bermanfaat bagi kita umat manusia untuk melacak otentisitas ajaran dan kebenaran tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Semoga kehadiran buku ini semakin menambah khasanah intelektual kita. Amin. Pustaka Al-Kautsar B.KATA PENGANTAR Prof. DR. Abdul Qadir Sayyid Ahmad   Penulis Buku &#8220;Afalaa Yatadabbaruuna Al-Qur&#8217;an&#8221; dan Mantan Dekan FakuItas Farmasi Universitas Kairo     SEGALA puji bagi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala yang berfirman,   &#8220;Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan di dalam diri mereka sendiri.&#8221; (Fushahilat: 53)   Allah juga berfirman, &#8220;Katakanlah, Al-Qur&#8217;an itu diturunkan oleh Allah yang mengetahui rahasia di langit &#38; di bumi.&#8221; (Al-Furqan: 6)   Shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan orang-orang yang mengambil petunjuk dari ajarannya sampai Hari Kebangkitan.   Risalah AI-Masih Alaihissalam adalah kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang disebarkannya kepada orang-orang Yahudi. Dia memilih Rasul-rasul di antara para pengikutnya untuk menyampaikan kabar itu ke pefbagai kota di Kerajaan Romawi dan sekitarnya.1 Pada saat itu, masyarakat­masyarakatYahudi di kota-kota Kerajaan Romawi dan sekitarnya memiliki rumah-rumah ibadah khusus. Di sanalah para orang-orang tua.2 Yahudi mengajarkan Perjanjian Lama &#8212; yang mereka anggap Taurat &#8212; dan melaksanakan ritual-ritual doa mereka. Di kota-kota itu juga ada para penyembah berhala.3 Karena itulah, AI-Masih melarang keras para utusannya memakan daging binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Tuhan.   Ketika memasuki suatu desa, para utusan itu segera menanyakan rumah-rumah ibadah orang-orang Yahudi, mencari ahli-ahli agamanya untuk berdiskusi tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan mendebat dengan sengit orang-orang yang menentang mereka. Penguasa dan penduduk setempat pun mengetahui perdebatan dan pertentangan di antara mereka itu, lalu meminta mereka semua datang untuk menjelaskan duduk perkaranya. Perdebatan itu dapat berlangsung selama berhari-hari, sampai semua orang mengetahui dakwah mereka. Jika para orang tua Yahudi setempat menerima dakwah mereka, maka mereka mendirikan perkumpulan gereja (majma&#8217;: synod) di sana. Sedangkan jika para orang tua itu menolak, mereka keluar dari kota tersebut dengan keyakinan telah menyampaikan risalah AI-Masih seperti yang mereka ketahui.   Saya bertanya, apakah kitab-kitab Injil yang dipegang orang-orang Kristen ditulis pada masa hidupnya Al-Masih? Menurut mereka, Injil-injil itu ditulis setelah perang antara Titus dari Romawi dengan bangsa Yahudi pada tahun 70 Masehi. INJIL DIDACHE, yaitu ajaran AI-Masih Isa Alaihissalam kepada bangsa-bangsa4 tentang dakwahnya melalui para utusan, juga ditulis pada periode itu. Seperti yang mereka katakan, dan saya sepakat dengan mereka, Injil Matius yang asli telah hilang. Tetapi, INJIL DIDACHE yang asli tidak hilang, sehingga dari perspektif ini, ia dapat dianggap sebagai naskah yang sangat penting dan belum mengalami perubahan.   Ahli-ahli agama Kristen di pelbagai negara telah mengkaji INJIL DIDACHE, namun belum ada seorang pun penulis muslim yang mengkajinya. Apabila kami membandingkan seorang penganut Kristen yang telah menulis kajian terhadap Injil ini dengan DR. Asy-Syaikh Ahmad Hijazi As­Saqa, catatan pertama yang dapat kami berikan adalah: kedua-duanya meyakini bahwa naskah ini membuktikan kebenaran pendapat mereka masing-masing, dan untuk itu keduanya telah memperlihatkan pengetahuan yang sangat luas. Di manakah posisi kaum muslimin saat Injil Bamabas dulu ditemukan? Zaman jelas telah berubah, dan zaman pun akan memperlihatkan bukti-bukti yang sangat menakjubkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.   INJIL DIDACHE tidak menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah tuhan, selain Allah. Ia juga tidak menyatakan bahwa Isa Alaihissalam adalah Nabi yang akan diutus di akhir zaman. Doktrin inti ajaran Kristen, yaitu penebusan dosa manusia dengan darah AI-Masih, juga tidak disebutkan di dalam Injil ini. Ia justru menyebutkan kebalikannya, yaitu penganut Kristen yang tidak mengimani Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam akan dikutuk, sedangkan penganut Kristen yang mengimaninya akan menjadi orang kudus (suci).   INJIL DIDACHE tidak terhindar dari pemotongan. Di dalam bagian yang berisi nubuat tentang akhir masa berlakunya syariat Yahudi, AI-Masih Alaihissalam menyebutkan nubuat-nubuat dari Perjanjian Lama tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun, naskah tersebut telah dipotong. Orang yang cerdas tentu paham, pemotongan keterangan tentang nubuat-nubuat itu demi tujuan-tujuan keagamaan tertentu.   Injil ini membuktikan bahwa Injil Al-Masih yang dikutip oleh para penulis Injil telah hilang. la merujuk Injil AI-Masih dengan frase &#8220;Berdasarkan Injil.&#8221; Tapi, orang-orang Kristen menafsirkan frase tersebut &#8211; yang membuktikan AI-Kitab yang mereka yakini sebagai referensi agama itu telah hilang &#8211; sebagai perujukan kepada Injil Matius. Jika benar demikian, siapa sih sebenamya yang ada terlebih dahulu dan siapa yang belakangan? Apa mungkin Matius menjadi bukti bagi kebenaran AI-Masih? Seharusnya, Matiuslah yang meminta bukti kebenaran dirinya kepada AI­Masih. Penafsiran mereka tersebut membuat murid menjadi guru dan guru menjadi murid. Itu tidak berguna di dalam debat, sehingga dakwaan &#8211; Injil AI-Masih telah hilang &#8211; tetap tak terbantah.   INJIL DIDACHE menjelaskan bahwa gereja-gereja didirikan untuk mengingatkan tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan perang yang akan dia lakukan dalam membinasakan orang-orang Yahudi yang mengingkarinya, dan para pendeta muncul untuk menyerukan keimanan kepadanya.   Klaim orang-orang Kristen bahwa misi para pendeta itu adalah menyerukan kedatangan kembali Al-Masih, tidak dapat dibenarkan orang yang berakal. Sebab, kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam terjadi pada waktu runtuhnya kekuasaan Romawi di Palestina. Al­Masih tidak muncul pada saat kekaisaran Romawi itu runtuh, dan bukan dia yang meruntuhkannya, sementara di dalam kitab-kitab suci mereka disebutkan, berdirinya kerajaan Yahudi di Palestina tidak sah kecuali setelah Al-Masih muncul, dan hal itu terjadi setelah kekaisaran Romawi runtuh.   INJIL DIDACHE sesuai dengan Keempat Injil  &#8211; di samping dalam nubuat-nubuatnya tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ­ juga dalam seruan terhadap akhlakyang mulia, dan Al-Masih Alaihissalam adalah pembenar kitab suci yang telah ada. INJIL DIDACHE juga mempunyai kesesuaian dengan Injil Bamabas dalam hal-hal tersebut.   Yang menarik, Barnabas meriwayatkan dari AI-Masih pengharaman makanan-makanan yang dipersembahkan bagi berhala. INJIL DIDACHE pun meriwayatkan demikian. Kedua Injil itu ditulis sebelum Paulus menghalalkan para pengikutnya untuk memakan daging persembahan bagi berhala. Hal ini membuktikan kebenaran dan ketuaan keduanya.   Orang-orang Nasrani harus menerima kebenaran Injil Didache ini, lalu menyerahkan diri mereka kepada Tuhan semesta alam. Kita, kaum muslimin, menyeru mereka kepada agama Islam, agar kita mendapatkan pahala dua kali. Sekiranya kita tidak suka jika mereka mendapatkan kebaikan, maka klta akan membiarkan mereka dan tidak akan berdakwah kepada mereka.   Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman,   &#8220;Demikianlah kamu, menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab suci semuanya. Apabila mereka menjumpaimu, mereka berkata: Kami beriman, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadapmu.&#8221; (Ali Imran: 119 118)   DR. Ahmad Hijazi As-Saqa tidak menyimpan-nyimpan tenaga dalam menetapkan kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dari dalam kitab-kitab suci para Ahlul Kitab. Beliau menjelaskan keshahihan INJIL DIDACHE seperti sebelumnya, menjelaskan keshahihan Injil Bamabas. Kami berdoa semoga Allah  Subhanahu wa Ta&#8217;ala membalas upaya beliau tersebut. INJIL DIDACHE diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dimuat dalam majalah &#8220;AI-Muqtathaf,&#8221; dan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah mengilhami beliau untuk mengetahui Injil ini dikarenakan hikmah yang diketahui oleh-Nya saja.   Akhirnya, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala atas nikmat iman dan Islam. Semoga Allah membimbing dan meluruskan kita dan kaum muslimin semuanya.   &#8220;Saya hanya menginginkan usaha perbaikan selama saya masih berkesanggupan. Tidak ada bimbingan bagi saya melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah saya bertawakkal dan kepada­Nyalah saya kembali.&#8221; (Hud:88)   Prof. DR. Abdul Qadir Sayyid Ahmad Mantan Dekan Fakultas Farmasi Universitas Kairo C. PENDAHULUAN Bismillahirrohmanirrahim   Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, Tuhan alam semesta. Shalawat dan salam kepada &#8220;Sang Penutup&#8221; para Nabi, keluarganya dan semua sahabatnya.   Injil-injil Muqaddas menurut orang-orang Kristen ada empat, yaitu Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Pernah muncul sebuah Injil yang mereka tolak, yaitu Injil Bamabas, karena di dalamnya disebutkan bahwa &#8220;Nabi Muhammad adalah Rasulullah (utusan Tuhan).&#8221;   Sekarang muncul Injil baru, serupa dan setua Injil Bamabas, yaitu INJIL DIDACHE. Kami memandang perlu memunculkannya di perpustakaan­perpustakaan Islam, karena orang-orang Kristen telah memunculkannya di perpustakaan-perpustakaan mereka. Mereka mengatakan, di akhir Injil ini terdapat kekurangan -dan kekurangan itu disengaja- tepatnya pada pembicaraan Al-Masih Alaihissalam tentang &#8220;Nabi yang akan datang setelah dirinya&#8221; untuk mendirikan Kerajaan Surga. Mereka menafsirkan bahwa Nabi yang akan datang itu adalah AI-Masih Isa bin Maryam pada kedatangannya di akhir zaman.   Siapa yang akan percaya bahwa Isa akan turun di akhir zaman, sementara ia membaca di dalam Injil Yohanes, &#8220;Saya tidak akan kekal di dunia, sedangkan mereka akan tetap ada di dunia. Saya akan datang kepada Bapa, dan kalian tidak akan melihat saya.&#8221; Di dalam terjemahan­nya yang lain, &#8220;Saya tidak ada lagi di dalam dunia, sedangkan mereka masih ada di dalam dunia.&#8221; (Yohanes 17: 11) &#8220;Saya pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat saya lagi.&#8221; (Yohanes 16:10)   Di dalam Taurat, Kerajaan Surga berdiri setelah kekuasaan Kekaisaran Romawi di Tanah Palestina runtuh. Ia runtuh pada Yaum Ar­Rabb (Hari Tuhan) di tangan kaum muslimin pada zaman Umar bin Al­Khathab Radhiyallahu Anhu pada Perang Armagedon yang dikenal juga dengan Perang Yarmuk.   Nabi Isa Alaihissalam berpesan kepada orang-orang yang hendak berdoa untuk membaca, &#8220;Bapa kami yang ada di surga. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu&#8230;&#8221; Demikian di dalam INJIL DIDACHE.   &#8220;Wahai Bapa, Tuhan kami. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu pada kami&#8230;&#8221; Demikian di dalam Injil Barnabas.   &#8220;Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan­Mu &#8230;.&#8221; Demikian di dalam Injil Lukas.   &#8220;Bapa kami di surga. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan­Mu &#8230;.&#8221; Demikian di dalam Injil Matius.   Jadi, INJIL DIDACHE, Bamabas, Lukas, dan Matius sepakat bahwa Kerajaan Surga datang setelah Nabi Isa Alaihissalam. Waktu kedatang­annya pun ditentukan, yaitu di akhir masa Kekaisaran Romawi. Kaum muslimin telah meruntuhkan kekaisaran itu. Jadi, mengapa orang-orang Yahudi dan Kristen beromong kosong dengan mengatakan bahwa Kerajaan Surga belum datang?!   Hari Tuhan   Di dalam Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi dijelaskan bahwa Nabi yang ummi (tidak bisa baca-tulis), yang datang setelah Musa, akan melancarkan perang terhadap orang-orang Yahudi yang mengingkarinya, dan membinasakan mereka pada hari-hari pertama kemunculannya. AI­Masih Isa Alaihissalam memerintahkan para pengikutnya untuk berjaga­jaga dan bersiap-siap demi hari tersebut, supaya mereka tidak binasa. la pun membuat peringatan agar mereka tidak melupakan hari itu, yaitu dengan mengadakan perkumpulan secara teratur, sambil membawa roti dan mengucapkan doa-doa bagi Tuhan, lalu memotong-motong dan membagi-bagikannya, membawa anggur serta mengucapkan doa-doa bagi Tuhan, lalu membagi-bagikannya, sebagaimana dilakukan para sufi muslim pada saat berkumpul untuk berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Doa-doa tersebut menunjukkan bahwa AI-Masih adalah perantara untuk mengenalkan Kerajaan Tuhan, bukan pemilik kerajaan itu.   Perhatikan perkataannya, &#8220;Ketika kalian berkumpul pada Hari Tuhan,&#8221; atau demi Hari Tuhan. (Hari Tuhan adalah kebinasaan orang­orang Yahudi yang mengingkari Nabi Muhammad ShaIlallahu Alaihi wa Sallam, bukan hari Sabtu ataupun hari Minggu &#8211; Penj.) Itu dikarenakan hari Sabat adalah hari untuk berdoa, sehingga pada hari itu mereka akan berkumpul, baik diperintahkan atau tidak, karena hari itu adalah hari pertemuan kudus, hari doa bersama, dan Nabi Isa diutus tidak untuk membatalkan hukum tersebut. Tapi, orang-orang Kristen beromong kosong dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Hari Tuhan adalah hari Minggu. Bukti bahwa maksud AI-Masih adalah berjaga-jaga dan bersiap-siap demi Hari Tuhan adalah ia berdalil dengan nubuat Malakhi, yaitu nubuat tentang Hari Tuhan di dalam Taurat.   Di antara penjelasan IsaAlaihissalam tentang Hari Tuhan adalah, &#8220;Berjaga-jagalah demi hidup kamu. Janganlah kamu memadamkan pelita­pelita dan janganlah kamu melonggarkan ikat pinggang. Tetapi bersiap-­siaplah, karena kamu tidak mengetahui waktu tuhan kita datang.&#8221; Ia menasehati orang-orang Yahudi agar menerima Nabi selain dirinya. Alasannya, ia mengatakan, &#8220;Karena kamu tidak tahu saat tuhan kita datang.&#8221; Yang ia maksud dengan tuhan kita (rabbuna) adalah tuan kita (sayyiduna), yaitu Nabi yang akan datang. Jika yang ia maksud adalah dirinya sendiri, ia tentu akan mengatakan, &#8220;Waktu saya datang.&#8221;   Penjelasan AI-Masih yang lain, &#8220;Iman kamu pada setiap zaman tidak akan berguna, jika pada waktu terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempurna.&#8221; Waktu terakhir adalah penghujung kenabian dan kerajaan Bani Israel, dan permulaan kenabian dan kerajaan Bani Ismail, karena kedua hal itu; yaitu kenabian dan kerajaan, adalah `berkat&#8217; bagi Nabi Ibrahim Alaihissalam, pertama bagi Ishaq, lalu bagi Ismail.   Penjelasan Al-Masih yang lain, &#8220;Orang-orang yang sabar dalam keimanan, akan terbebas dari kutukan ini.&#8221; Kutukan adalah sifat khusus bagi Yahudi, sebagaimana terdapat dalam Mazmur:119.   Penjelasan AI-Masih yang lain, &#8220;Fada saat itu muncullah tanda-tanda kebenaran.&#8221; Kebenaran adalah salah satu gelar Nabi yang ummi yang akan datang ke dunia, yang disebut di dalam Manuskrip Gua Qumran (Dead Sea Scrolls). Manuskrip ini menyebutkan tiga nubuat tentang kebinasaan orang­orang Yahudi yang mengingkari Nabi yang ummi itu pada Hari Tuhan, pada hari-hari pertama kemunculannya, yaitu:   1. Nubuat terbukanya langit. 2. Nubuat suara sangkakala. 3. Nubuat bangkitnya orang-orang mati.   Orang-orang Kristen mengatakan, mereka tidak mengerti makna nubuat terbukanya langit. Mereka berdusta saat mengatakan hal itu, karena nubuat-nubuat tersebut terdapat di dalam Kitab Yesaya untuk menunjukkan binasanya orang-orang Yahudi yang mengingkari Nabi Muhammad pada Hari Tuhan. Mereka juga bingung dalam menafsirkan kebebasan dari kutukan. Mereka mengatakan, yang terkutuk di atas salib adalah AI-Masih. Perkataan itu salah, karena orang yang beriman kepada Nabi yang akan datang itu tidak akan terkutuk, sedangkan orang yang tidak beriman kepadanya akan terkutuk. Di dalam Zabur (Mazmur-Penj.) disebutkan, &#8220;Engkau menghardik orang-orang yang sombong, yang terkutuk, yang menyimpang dari wasiat-wasiat-Mu.&#8221; (Mazmur, 119: 21) Hardikan itu hanya bagi orang yang tidak beriman dan yang terkutuk. Kemudian, AI­Masih Isa Alaihissalam mengatakan bahwa kebanyakan orang Yahudi tidak bebas dari kutukan, karena kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Nabi tersebut. Tetapi, sebagian akan beriman, dan mereka inilah orang­orang terpilih, sebagaimana dikatakan Zakaria, &#8220;Tuhanku akan datang, dan semua orang kudus bersama-Mu.&#8221; Maksudnya Nabi Tuhan akan datang, diiringi orang-orang yang terpilih.   Al-Masih mengatakan, &#8220;Pada saat itu, alam memandang Tuhan datang di atas awan-awan di langit,&#8221; sebagaimana dikatakan Nabi Daniel di dalam ayat: 7.   Kami akan menjelaskan nubuat-nubuat tersebut di dalam komentar­komentar terhadap teks INJIL DIDACHE, dan merujukkan masing-masing nubuat kepada asalnya di dalam Taurat.   Pendeta Koptik yang telah menyunting INJIL DIDACHE, yang namanya tidak disebutkan, namun karyanya menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan yang luas, mengatakan sebagai berikut, &#8220;Baris-baris terakhir DIDACHE di dalam Manuskrip Yerusalem tidak lengkap.&#8221; Apa penyebab tidak lengkapnya pasal nubuat Nabi yang ditunggu-tunggu, padahal tujuan dakwah AI-Masih adalah memunculkan dan menerangkan nubuat-nubuat itu, dan untuk menunjukkan orang yang dimaksudkannya?! Mengapa ketidak sempurnaan itu justru ada pada bagian tersebut?!   Pendeta ini menjawab, &#8220;Kitab Al-Marasim Ar-Rasuliyah (Apostolic Constitutions) menyatakan bahwa bagian yang hilang adalah: Pada saat itu, tuhan datang dan orang-orang kudus bersama-nya, disertai gempa, di atas awan, dengan kekuatan malaikat-malaikatnya, di atas singgasana kerajaannya &#8230;&#8221; juga bagian-bagian lain yang senada dengan hal itu.   Yang dimaksud dengan tuhan (ar-rabb) adalah tuan (as-sayyid), yaitu Nabi yang ditunggu-tunggu, sedangkan orang-orang kudus adalah peng­ikutnya yang terpilih. Gempa adalah kiasan bagi sengifiya peperangan pada Hari Tuhan. Di atas awan adalah kiasan bagi keluhuran dan keagungan Nabi itu, dan malaikat adalah kiasan bagi sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya.   Hal ini akan saya jelaskan lebih lanjut.   Dari pembahasan kami tersebut jelas bahwa DIDACHE menunjukkan kedatangan Nabi Muhammad ShaIlallahu Alaihi wa Sallam dengan beberapa alasan:   Pertama, Taurat berbicara tentang Nabi yang akan muncul setelah Nabi Musa Alaihissalam di dalam Kitab Ulangan: 18, yaitu: &#8220;Tuhan, Tuhanmu, akan membangkitkan seorang Nabi dari kalanganmu, dari saudara-saudaramu, seperti saya. Oleh karena itu kamu harus mendengarkannya.&#8221;   Kedua, Injil Yohanes ayat pertama menjelaskan bahwa Nabi itu belum muncul pada masa Yahya Al-Ma&#8217;madan (John the Baptist: Yohanes Pembaptis) dan Isa Alaihissalam, sebab mereka (orang-orang Lewi­penj. ) bertanya kepada Yohanes Pembaptis, &#8220;Apakah engkau Nabi yang akan datang?&#8221; lalu ia menjawab, &#8220;Bukan.&#8221;   Ketiga, Yohanes Pembaptis dan Nabi Isa Alaihissalam, seperti yang disebutkan oleh semua Injil, menyerukan dekatnya Kerajaan Surga, yang oleh Taurat dikatakan akan berdiri setelah Kerajaan Romawi.   Keempat, Nabi Isa Alaihissalam berkata kepada para pengikutnya, &#8220;Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan!&#8221; la tidak memerangi Kekaisaran Romawi, tidak menaklukkan satu pun negeri yang dikuasai Romawi, tidak merebut sejengkal pun tanah Romawi, dan Kekaisaran Romawi tetap berdiri setelah kematiannya sampai diperangi oleh kaum muslimin.   Di dalam Taurat disebutkan, Nabi yang akan datang akan melancarkan perang yang sengit kepada orang-orang yang menentangnya untuk membinasakan mereka dan membersihkan bumi dari mereka, sebagai­mana bumi telah dibersihkan dengan banjir Nabi Nuh Alaihissalam. Yang membersihkan bumi pada Hari Tuhan adalah kaum muslimin.   Kelima, tanda-tanda Hari Tuhan telah disebutkan oleh pengarang DIDACHE, seperti disebutkan oleh Injil-Injil lain.   Demikian. Tuhan-lah Pemberi bimbingan.   DR. Ahmad Hijazi As-Saqa Mayt Tharif, Daqhaliyah 26-8-1423 H/1-11-2002 M D.NASKAH DARI ISI INJIL DIDACHE INJIL DIDACHE ATAU AJARAN RASUL RASUL hal. 7-8-9-10-11 NASKAH Injil Didache, atau Ajaran AI-Masih kepada bangsa bangsa melalui Dua Belas Rasul, ditemukan di dalam manuskrip berbahasa Yunani satu-satunya pada tahun 1871 M. Waktu penulisannya berkisar pada akhir abad pertama atau awal abad kedua Masehi, dan ia diperkirakan lebih tua daripada Injil Yohanes.   Isi Injil Didache   Injil Didache berisi 16 pasal, yaitu: 1.Pasal 1-6: perilaku orang Kristen (dua jalan). 2.Pasal 7-10: bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran tentang pembaptisan (pasal 7), puasa dan shalat (pasal 8), perjamuan Ekaristi dan memotong-­motong roti (pasal 9dan 10 ). 3.Pasal 10 dan 11: hirarki gereja. 4.Pasa 16: menunggu kedatangan Tuhan. Kami akan memaparkan teks Injil Didache5 selengkapnya terlebih dulu, agar pembaca rnemiliki pijakan untuk melanjutkan kajian terhadap naskah ini.   Teks Injil Didache: (Ajaran AI-Masih kepada Bangsa-bangsa Melalui Dua Belas Rasul) pasal: 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11, 12, 13, 14, 15, 16     Didache pasal 1:   1.1 Ada dua jalan, yaitu jalan kehidupan dan jalan kematian. Perbedaan antara kedua jalan itu sangat besar.   1.2 Jalan kehidupan adalah berikut ini: Pertoma, kasihilah Tuhan, Pt?nciptamu. Kedua, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri, dan segala sesuatu yang kamu tidak inginkan dilakukan terhadap kamu, janganlah kamu melakukannya terhadap sesamamu.   1.3 Pengajaran dari kata-kata itu adalah berikut ini: berkatilah orang-orang yang mengutukmu, berdoalah demi musuh-musuhmu, berpuasalah demi orang-orang yang menindasmu. Karena apa upahnya apabila kamu mengasihi orang yang mengasihimu? Bukankah bangsa­bangsa melakukan seperti itu? Tetapi kamu, kasihilah orang-orang yang membencimu, maka kamu tidak mempunyai musuh.   1.4 Hindarilah nafsu-nafsu jasadi dan ragawi. Siapa yang menampar pipi kananmu, berikanlah kepadanya pipi kirimu. Maka, kamu menjadi orang yang sempuma. Siapa yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh dua mil. Apabila seseorang mengambiljubahmu, berikanlah juga mantelmu kepadanya. Apabila dia mengambil apa yang kamu punyai, janganlah kamu menuntutnya, karena kamu tidak mampu.   1.5 Kepada setiap orang yang meminta kepadamu, berikanlah. Janganlah kamu menuntutnya, karena Tuhan Bapa berkehendak memberi nikmat-nikmatNya kepada semua orang. Beruntunglah orang yang memberi sesuai perintah ini, karena dia akan menjadi orang yang tidak tercela. Celakalah orang yang mengambil, karena bila dia memiliki kebutuhan, maka dia tidak bersalah. Tetapi, orang yang tidak memiliki kebutuhan, dia akan diberi dengan penghitungan, apakah sebabnya dia mengambil dan apakah tujuannya, sehingga dia berada dalam kesempitan dan terluka disebabkan perbuatannya, dan dia tidak akan keluar dari keadaan itu sampai dia membayar peser terakhir.   1.6 Berkenaan dengan hal ini, dikatakan juga: Biarlah shadaqahmu berkeringat di tanganmu, sampai kamu mengetahui kepada siapa kamu memberikannya.   Didache pasal 2:   2.1 Berikut perintah kedua dalam pengajaran ini.   2.2 Janganlah kamu membunuh, je.nganlah kamu berzina, janganlah kamu merusak anak-anak, janganlah kamu melacur, janganlah kamu mencuri, janganlah kamu melakukan sihir, janganlah kamu meracun orang, janganlah kamu membunuh janin di dalam perut dan janganlah juga membunuh anak yang sudah lahir, serta janganlah kamu menginginkan apa yang dipunyai sesamamu.   2.3 Janganlah kamu mengucapkan sumpah palsu, janganlah kamu mengucapkan kesaksian dusta, janganlah kamu menggunjing, dan janganlah kamu mengingat-ingat hinaan yang kamu terima.   2.4 Janganlah kamu menjadi orang yang bercabang pikiran dan bercabang lidah, karena lidah yang bercabang adalah perangkap kematian.   2.5 Jangan sampai kata-katamu menjadi omong kosong dan kepalsuan, tetapi harus dipenuhi perbuatan.   2.6 Janganlah kamu tamak terhadap harta, jangan merampok, jangan munafik, jangan membanggakan diri, dan jangan sombong. Di samping itu, janganlah kamu bemiat jahat terhadap sesamamu.   2.7 Janganlah kamu membenci seseorang, tetapi insafkanlah sebagian orang, dan berdoalah untuk sebagian yang lain, dan kasihilah sebagian yang lain itu melebihi dirimu sendiri.   Didache pasal 3:   3.1 Anakku, menjauhlah dari semua kejahatan dan dari semua yang menyerupainya.   3.2 Janganlah kamu menjadi pemarah, karena kemarahan membawa kepada pembunuhan. Janganfah kamu menjadi pencemburu, gemar permusuhan, dan lekas marah, karena semua itu menyebabkan pembunuhan.   3.3 Anakku, janganlah kamu mengikuti nafsu, karena nafsu membawa kepada perzinaan, dan janganlah kamu berkata-kata cabul dan bermata jalang, karena dari semua itulah terlahir rupa-rupa perzinaan.   3.4 Anakku, janganlah kamu mengambil pertanda baik dari burung, karena hal itu membawa kepada penyembahan berhala. Janganlah kamu menjadi peramal dan tukang tenung, janganlah kamu melakukan kebiasaan bersuci para penyembah berhala, dan janganlah kamu ingin melihat atau mendengarnya, karena dari semua itulah muncul penyembahan terhadap berhala.   3.5 Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian, dan janganlah kamu menjadi pencinta harta dan kehormatan yang semu, karena dari semua itulah muncul banyak pencurian.   3.6 Anakku, janganlah kamu berkeluh kesah, karena keluh kesah membawa kepada sumpah serapah, dan janganlah kamu lancang dan berburuk sangka, karena dari semua itulah muncul banyak sumpah serapah.   3.7 Jadilah kamu orang yang lembut hati, karena orang-orang yang lembut hati akan mewarisi bumi. 3.8 Jadilah kamu orang yang sangat penyabar, penuh kasih sayang, suka berdamai, tenang, saleh, dan selalu gemetar karena kata-kata yang kamu dengar.   3.9 Janganlah kamu mengagungkan dan membanggakan diri sendiri, dan janganlah kamubergauldengan orang orang yang sombong, melainkan bergaullah dengan orang-orang yang baik dan rendah hati.   3.10 Kamu harus menerima apapun yang terjadi pada dirimu sebagai kebaikan, karena mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi bukan karena Tuhan.   Didache pasal 4:   4.1 Anakku, kamu harus mengingat orang yang menyampaikan firman Tuhan pada siang dan malam hari, muliakan dia sebagai tuhan, karena di mana saja diucapkan kata-kata Tuhan, di sana ada Tuhan.   4.2 Kamu harus berusaha setiap hari untuk bertemu dengan orang­orang kudus, supaya kamu terhibur oleh kata-kata mereka.   4.3 Janganlah kamu menyebabkan perpecahan, tetapi kamu harus menanamkan perdamaian di antara orang-orang yang bermusuhan. Kamu harus memutuskan dengan adil dan janganlah kamu menahan diri dari beberapa orang dalam menginsafkan kesalahan.   4.4 Janganlah kamu menjadi orang yang bimbang, apakah sesuatu akan terjadi atau tidak?   4.5 Janganlah kamu membuka lebar-lebar tanganmu pada saat mengambil dan merapatkan genggaman tanganm u pada saat memberi.   4.6 Kamu harus memberikan sebagian harta yang kamu miliki dari usaha tanganmu sebagai penebus kesalahan-kesalahanmu.   4.7 Janganlah kamu ragu-ragu untuk memberi. Jika kamu memberi, janganlah kamu berkeluh kesah, karena kamu akan mengetahui siapakah Dia Sang Pemberi balasan yang baik.   4.8 Janganlah kamu menolak orang yang membutuhkan, ajaklah saudaramu dalam segala sesuatu yang kamu miliki, dan janganlah kamu mengatakan bahwa suatu barang adalah milikmu sendiri, karena jika kamu bersekutu pada apa yang abadi, maka lebih pantas jika kamu bersekutu pada apa yang fana.   4.9 Janganlah kamu mengangkat tangan untuk memukul anakmu; laki-laki ataupun perempuan, tetapi kamu harus mengajarkan mereka sejak dini rasa takut kepada Tuhan.   4.10 Janganlah kamu menghardik dengan keras budak laki-laki ataupun budak perempuanmu yang berharap-harap kepada Tuhan yang sama, agar mereka tidak kehilangan rasa takut kepada Tuhan, karena Dia datang bukan untuk disembah orang-orang terhormat saja, tapi oleh siapa saja yang disiapkan oleh Roh.   4.11 Adapun kamu, para budak sahaya, kamu harus tunduk kepada tuan-tuanmu seperti kepada Tuhan, yaitu dengan penuh penghormatan dan rasa takut.   4.12  Kamu harus membenci semua kemunafikan dan segala sesuatu yang tidak disukai Tuhan.   4.13 Janganlah kamu melalaikan perintah-perintah Tuhan, tetapi kamu harus menjaga apa yang kamu terima tanpa penambahan dan Pengurangan.   4.14 Kamu harus mengakui kesalahan-kesalahanmu di hadapan gereja, janganlah kamu membaca doa-doa dengan hati yang jahat. Demikianlah jalan kehidupan.   Didache pasal 5:   5.1 Inilah jalan kematian. Pertama-tama; la sangat jahat, penuh kutukan, bermacam-macam pembunuhan, perzinaan, nafsu, per­selingkuhan, pencurian, penyembahan berhala, sihir, meracun orang, perampokan, kesaksian palsu, kepura-puraan, kemunafikan, kecurangan, kebencian, pengkhianatan, sikap keras kepala, ketamakan, kata-kata yang salah, kecemburuan, kelancangan, mengagungkan diri sendiri, membang­gakan diri sendiri, dan membual.   5.2 Orang-orang yang menindas orang-orang yang saleh: membenci kebenaran, mencintai kebohongan, tidak mengetahui cara membalas kebaikan, tidak mendekati kebaikan dan keputusan yang adil, begadang bukan untuk kebaikan tapi untuk kejahatan, menjauhi kerendahhatian dan kesabaran, mencintai kebatilan, menindas tindakan membalas budi, tidak mengasihi orang-orang miskin, yang tidak merasa terluka bersama orang­orang yang terluka, tidak mengetahui pencipta mereka, membunuh anak­anak, merusak ciptaan Tuhan, berpaling dari orang-orang yang membutuh­kan, membuat cemas orang-orang yang dalam kesusahan, membela orang-orang kaya, memutuskan kezaliman bagi orang-orang sengsara, melakukan pelbagai kesalahan; semoga kamu dan anak-anakku selamat dari sifat-sifat itu semuanya.   Didache pasal 6:   6.1 Waspadalah kamu, jangan sampai ada orang yang menyesatkan­mu dari pengajaran ini, karena dengan begitu ia mengajarkan apa yang tidakberhubungan dengan Tuhan.   6.2 Jika kamu sanggup membawa semua beban Tuhan, maka kamu akan menjadi orang yang sempuma. Sedangkan jika kamu tidak sanggup, maka lakukanlah apa yang kamu mampu.   6.3 Berkenaan dengan makanan, tanggunglah puasa semampumu, hindarilah dengan sungguh-sungguh daging persembahan untukberhala, karena itu merupakan persembahan terhadap tuhan-tuhan yang mati.   Didache pasal 7:   7.1 Berkenaan dengan pembaptisan, baptislah dengan cara seperti ini: setelah apa-apa yang kami katakan terdahulu, baptislah dengan nama Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus, dengan air yang mengalir.   7.2 Apabila kamu tidak mendapatkan air yang mengalir, baptislah dengan air yang lain. Bila memungkinkan, dengan air dingin, jika tidak, dengan air panas.   7.3 Jika keduanya tidak kamu dapati, maka kucurkanlah air ke kepala tiga kali dengan menyebut nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.   7.4 Sebelum pembaptisan, orang yang akan membaptis hendaknya berpuasa, juga orang yang akan dibaptis, dan orang-orang lain yang mampu melakukannya, dan saya memerintahkan kepada orang yang akan membaptis, hendaknya dia berpuasa selama satu atau dua hari sebelum pembaptisan.   Didache 8:   8.1 Jangan kamu berpuasa bersama orang-orang yang munafik, karena mereka berpuasa pada hari kedua dan kelima setiap minggu. Adapun kamu, berpuasalah pada hari keempat dan hari persiapan (Hari persiapan adalah hari sebelum hari Sabat, jadi Jumat.-Penj.)   8.2 Janganlah kamu membaca doa-doa seperti orang-orang munafik, tapi seperti yang diperintahkan tuan di dalam Injilnya. Maka, berdoalah demikian: &#8220;Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, terjadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kepada kam i makanan kami pada hari ini untuk persiapan esok hari. Ampunilah kesalahan kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan janganlah Engkau membawa kami ke dalam percobaan, tapi bebaskanlah kami dari orang yang jahat, karena Engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama­lamanya.&#8221;   8.3 Seperti itulah kamu berdoa tiga kali sehari.   Didache 9:   9.1 Berkenaan dengan makanan pada Jamuan Ekaristi, berkatilah seperti demikian (9.2):   9.2 Pertama, sebagai pujian saat memegang cawan, &#8220;Kami bersyukur kepada-Mu, wahai Tuhan Bapa kami, demi pohon anggur Dawud, putra-Mu yang kudus, yang Engkau perkenalkan kepada kami melalui Yesus, putra-Mu. Engkaulah yang memiliki kemuliaan sampai selama-lamanya.&#8221;   9.3 Sebagai pujian saat memotong-motong roti, &#8220;Kami bersyukur kepada-Mu, Tuhan Bapa kami, demi kehidupan dan pengetahuan yang Engkau beritakan kepada kami melalui Yesus, putra-Mu. Engkaulah yang memiliki kemuliaan sampai selama-lamanya.   9.4 Sebagaimana roti yang dipotong-potong disebar di atas gunung, kemudian dikumpulkan sehingga menjadi satu, demikianlah disatukan gereja-Mu dari ujung bumi sampai kerajaan-Mu, karena Engkaufah yang memiliki kemuliaan dan kekuasaan melalui Yesus Kristus sampai selama­lamanya.&#8221;   9.5 Tidak seorang pun di antara kamu boleh memakan atau meminum Jamuan Ekaristi, kecuali orang-orang yang telah dibaptis dengan nama Tuhan, karena tentang hal ini Tuhan telah berkata, &#8220;Janganlah kamu memberikan makanan yang suci kepada anjing.&#8221;   Didache pasal 10:   10.1 Setelah kenyang, ucapkanlah syukur demikian:   10.2 Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa Yang Kudus, demi nama­Mu Yang Kudus, yang Engkau tempatkan di dalam hati kami, dan demi pengetahuan, keimanan, dan keabadian yang Engkau perkenalkan kepada kami melalui putra-Mu, Yesus. Engkaulah pemilik kemuliaan sampai selama-lamanya.   10.3 Wahai Tuhan yang sangat berkuasa, segala sesuatu Engkau ciptakan demi nama-Mu. Engkau memberikan makanan dan minuman kepada manusia, agar mereka nikmati, dan agar mereka bersyukur kepada-Mu. Sedangkan kepada kami, Kau berikan makanan dan minuman rohani, dan kehidupan abadi melalui putra-Mu.   10.4 Kami bersyukur kepada-Mu, pertama-tama, karena Engkau berkuasa. Engkaulah pemilik kemuliaan sampai selama-lamanya.   10. 5 Ingatlah gerejamu wahai Tuhan, agar engkau menyelamatkan­nya dari segala keburukan dan menyempumakannya dalam kasih kepada­Mu. Kumpulkan tempat yang kudus itu dari empat mata angin hingga kerajaanmu yang engkau persiapkan. Karena Engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama-lamanya.   10.6 Datanglah nikmat, pergilah dunia ini, Hosanna demi tuhan Dawud: siapa yang suci, hendaklah maju, dan siapa yang tidak demikian, hendaklah bertaubat. Maranatha. Amin.&#8221;   10. 7 Adapun Nabi-nabi, biarkanlah mereka mengucapkan doa pujian sebagaimana mereka kehendaki.   Didache pasal 11:   11.1 Karena itu, siapapun yang datang dan mengajarkan kalian ajaran-ajaran tersebut, katakanlah, &#8220;Terimalah ia.&#8221;   11.2 Apabila guru mengubah pengajaran ini dengan pengajaran lain untuk merusak, makajanganlah kamu mendengarkannya. Sedangkan bila ia mengajar agar kebaikan dan pengetahuanmu tentang Tuhan bertambah, maka terimalah ia sebagai Tuhan.   11.3 Adapun berkenaan dengan Rasul-rasul dan Nabi-nabi, maka ketahuilah bahwa berdasarkan pengajaran Injil, maka perintah Tuhan adalah demikian:   11.4 Semua Rasul yang datang kepadamu, terimalah sebagai tuhan.   11. 5 Dia tidak tinggal di rumahmu lebih dari satu hari, atau dua hari jika terpaksa. Apabila dia tinggal selama tiga hari, dia adalah Nabi palsu.   11.6 Jika Rasul Ifu pergi, maka dia hanya mengambil roti sebagai bekal sampai dia menemukan tempat menginap yang lain. Sedangkan jika dia meminta uang, maka dia adalah Nabi palsu.   11.7 Janganlah kamu membawa setiap Nabi yang berbicara atas nama Roh ke dalam percobaan dan janganlah kamu mengutuknya. Dosa­dosa itu tidak terampuni.   11.8 Tidak semua Nabi yang berbicara atas nama Roh adalah Nabi, tetapi Nabi adalah orang yang memiliki perilaku Tuhan. Dari perilakulah diketahui Nabi yang palsu dan Nabi yang benar.   11.9 Nabi-nabi yang memerintahkan atas nama Roh untuk disiapkan makanan, dia tidak memakan makanan itu. Jika dia makan, dia adalah Nabi palsu.   11.10 Setiap Nabi mengajarkan kebenaran. Jika dia mengajarkan, tapi tidak melaksanakan, dia adalah Nabi palsu.   11.11 Setiap Nabi yang benar telah diuji dan melaksanakan rahasia gereja di dunia. Dia tidak mengajarkan agar semua orang berbuat seperti dirinya. Maka,janganlah kamu menghakiminya. Karena penghakimannya hanya dilakukan oleh Tuhan, karena Nabi-nabi terdahulu berbuat seperti itu juga.   11.12 Setiap orang yang berkata atas nama Roh: berilah saya perak atau benda-benda lain, janganlah kamu mendengarkannya. Tetapi jika dia berkata berikan kepada sesamamu yang membutuhkan, makajanganlah kamu menghakiminya.   Didache pasal 12:   12.1 Setiap orang yang datang dengan nama tuhan, terimalah ia. , Setelah mengujinya, kamu akan mengenalnya, karena kamu akan memiliki pembeda antara yang kanan dengan yang kiri.   12.2 Tetapi jika yang datang adalah pengembara, tolonglah se­mampu kamu, dan hendaknye dia tidak menginap di rumahmu kecuali dua hari atau tiga hari jika terpaksa.   12.3 Jika dia ingin menetap di rumahmu, dan dia memiliki keahlian, maka hendaknya diabekerja untuk mendapatkan makanan.   12.4 Jika dia tidak memiliki keahlian, maka latihlah dia dengan ke­ahlianmu, karena bagaimana seorang Masehi hidup di antara kamu tanpa pekerjaan?   12.5 Jika dia tidak ingin bekerja, dia adalah orang yang memper­dagangkan Kristus. Waspadailah orang-orang seperti itu.   Didache pasal 13:   13.1 Setiap Nabi yang benar, yang ingin menetap di tengah-tengah kamu, berhak mendapatkan makanannya.   13.2 Begitu juga guru yang benar. Dia juga berha:: mendapatkan makanan seperti orang yang bekerja. 13.3 Untuk itu, kamu mengambil hasil pertama dari panen buah­buahan dan tanaman, juga hasil pertama dari perasan susu sapi dan susu kambing, dan kamu berikan hasil pertama itu kepada Nabi-nabi, karena mereka adalah pimpinan pendetamu.   13.4 Jika di antara kamu tidak ada Nabi, berikanlah kepada kaum miskin.   13.5 Jika kamu membuat roti, ambillah hasil pertamanya dan beri­kanlah kepadanya sesuai perintah.   13.6 Begitu juga jika kamu membuka tempayan anggur atau zaitun, ambillah sendokan pertamanya dan berikanlah kepada Nabi-nabi.   13.7 Ambillah hasil pertama dari perak dan baju, dan apapun yang kamu miliki, sesuai kemampuanmu, dan berikanlah sesuai perintah.   Didache pasal 14:   14.1 Ketika kamu berkumpul pada Hari Tuhan, potong-potonglah roti dan ucapkanlah syukur setelah kamu mengakui kesalahan-kesalahan­mu, agar daging sembelihanmu menjadi suci.   14.2 Jangan orang yang bersengketa dengan saudaranya berkumpul bersamamu sampai mereka berdamai, agar daging sembelihan kamu tidak terkena najis.   14.3 Karena Tuhan berkata: di setiap tempat dan zaman diberikan kepada-Ku daging sembelihan yang suci, karena saya adalah Raja yang agung, kata Tuhan, dan nama-Ku dihormati semua manusia.   Didache pasal 15:   15.1 Karena itu, angkatlah di tengah-tengah kamu uskup-uskup dan diakon-diakon yang pantas bagi Tuhan, orang-orang yang lembut hati, bukan para pencinta harta, orang-orang yang jujur, yang telah diuji, karena mereka mengabdi kepadamu seperti pengabdian Nabi-nabi dan guru-guru.   15.2 Janganlah kamu mengejek mereka, karena mereka adalah orang-orang yang mulia di antara kamu bersama Nabi-nabi dan guru-guru   15.3 Insafkanlah antara sesamamu, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kasih sayang, berdasarkan Injil. Jika seorang menghina sesamanya, janganlah kamu berbicara dengannya, atau mendengarkan­nya, sampai dia bertaubat.   15.4 Ucapkanlah doa-doamu dan keluarkanlah shadaqah­shadaqahmu serta lakukanlah semua perbuatanmu sesuai Injil Tuhan kita.   Didache pasal 16:   16.1 Berjaga-jagalah untuk hidupmu, jangan kamu memadamkan lampu-lampu dan janganlah kalian melonggarkan ikatpinggang. Melainkan bersiap-siaplah, karena kamu tidak mengetahui waktu Tuhan kita datang.   16.2 Berkumpullah kamu secara teratur untuk mempelajari hal-hal yang pantas bagi jiwa-jiwamu, karena imanmu pada setiap zaman tidak ekan berguna, jika pada saat yang terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempuma.   16.3 Karena pada hari-hari terakhir akan banyak Nabi pendusta dan perusak. Domba-domba akan berubah menjadi serigala-serigala dan rasa kasih akan berubah menjadi kebencian.   16.4 Jika dosa bertambah, mereka akan membenci, menindas, dan menyerahkan sesamanya. Pada saat itulah muncul seorang penyesat seakan-akan ia Anak Tuhan. Dia membuat ayat-ayat dan keajaiban­keajaiban, bumi diserahlcan ke tangannya, dan dia melakukan penyimpang­an-penyimpangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.   16.5 Pada saat itu, manusia dibawa kepada fitnah percobaan. Banyak orang akan ragu-ragu dan binasa, tetapi orang-orang yang sabar dalam keimanan, akan terbebas dari kutukan ini.   16.6 Pada saat itu, muncul tanda-tanda kebenaran. Pertama; Tanda terbukanya langit. Kemudian; Tanda suara sangkakala. Dan ketiga; Bangkit­nya orang-orang mati.   16.7 Akan tetapi tidak semua orang, sebagaimana dikatakan: Tuhan datang diiringi orang-orang suci.   16.8 Pada saat itu, manusia melihat Tuhan yang datang di atas awan­awan di langit.   Demikianlah isi Injil Didache yang memuat beberapa pasal tentang seruan kepada umat manusia. E.RAHASIA PENEMUAN MANUSKRIP INJIL DIDACHE OLEH: PENDETA KOPTIK     DIDACHE, atau Ajaran Rasul-rasul, adalah peraturan gereja (church polity) pertama yang sampai kepada kita6, dan merupakan salah satu naskah yang terpenting dan tertua tentang ajaran agama dan hukum gereja, karena ia memuat teks-teks liturgis yang tertua setelah Perjanjian Lama. Posisinya ada di tengah-tengah antara Perjanjian Baru dengan tulisan-tulisan bapa-bapa apostolik (apostolic fathers). Penemuan naskah ini pada akhir abad 19 menimbulkan gema yang hebat di kalangan ilmiah gereja, sebab sarjana-sarjana patristik telah mengetahui keberadaan apa yang disebut &#8220;Ajaran Rasul-rasul&#8221;, namun mereka tidak pernah menemukan satu pun petunjuk tentangnya sampai penemuan tersebut.   Penemuan Naskah yang Memuat Didache   Pada tahun 1873, Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel, yang kemudian menjadi Metropolit kota Nikomedia, menemukan sebuah manuskrip di perpustakaan DiyorAl-Qabr AI-Muqaddas (Monasteryof theMostHolySepulchre) di Konstantinopel (Istambul), yang berada dalam pengawasan Patriarkhal Yerusalem Bizantium Ortodoks, yang berisi beberapa naskah klasik yang sangat penting. Manuskrip itu lalu dipindahkan dari Yerusalem ke Istambul pada tahun 1680, lalu dipindahkan lagi ke Perpustakaan Patriarkhal Romawi Ortodoks, dan diberi nomor 54. Karena itu, di kalangan ilmiah, manuskrip, tersebut populer dengan nama &#8220;ManuskripYerusalem&#8221; (Jerusalem Codex) dan dalam bahasa Latin disebut Hierosolymitanus: 54.   Manuskrip yang baru ditemukan itu mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kalangan ilmiah. Ia menjelaskan banyak segi yang samar samar tentang sejarah awal kehidupan gereja, sehingga ia pantas di perhatikan sedemikian rupa oleh para ahli liturgis dan para bapa Manuskrip ini disalin satu orang penyalin saja, yang bernama Leon An­Nasikh AI-Khati&#8217; (the notary and sinner: si penyalin yang banyak dosa), tertanggal dengan kalenderYunani tahun 6564, sama dengan 1056 Masehi, atau kurang lebih pertengahan abad 11.   Isi Manuskrip Yerusalem   Manuskrip ini terdiri dari 120 lembar (240 halaman), terbagi-bagi sebagai berikut:   1. Lembar 1-32: Sinopsis Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru oleh St. Yohanes Dzahabi AI-Famm (Synopsis of the Old and New Testaments, by St. Chrysostom). Bagian ini memberikan kita bagian­bagian Sinopsis yang belum pernah dipublikasikan dan materi kesusastraan untuk kajian kritis terhadap teks-teks perkataan-perkataan para bapa.   2. Lembar 33-51a: Surat Bamabas (The Epistle of Bamabas). Bagian ini memberikan kita teks Yunani Surat Barnabas, dan memungkinkan kita mengkaji kembali teks Surat tersebut secara lebih teliti.   3. Lembar 51 a-76a: Dua Surat St. Clement dari Romawi kepada Jemaat di Korintus (The two Epistles of Clement to the Corinthians). Kedua surat ini sangat penting, karena ia menggenapi teks kedua surat tersebut, karena seperlima surat kedua sebelumnya tidak diketahui, selain ia juga dapat menguatkan nilai kajian kritis terhadap teks tersebut.   4. Lembar 766-80: Ajaran 12 Rasul (The Teaching of the Twelve Apostles). Inilah bagian yang telah kami paparkan.   5. Lembar 81-82a: Surat Maryam Cassoboli kepada Ignatius (The Epistle of Mary of Cassoboli to Ignatius).   6. Lembar 826-120a: Dua belas risalah karya St. Ignatius Sang Martir (Twelve Epistles of Ignatius).   Dua bagian terakhir (bagian 5 dan 6) berkaitan dengan Literatur Ignatius, yang memungkinkan kita untuk membaca kembali sebuah karya yang telah dihasilkan oleh peneliti Jerman, Funk7, pada tahun 1881, dan oleh peneliti Inggris, Father Lightfoot, di London, pada tahun 1885.8 Publikasi Manuskrip yang Ditemukan   Pada tahun 1876, atau dua tahun setelah ditemukannya Manuskrip Yerusalem, yang disebut oleh Bryennios dengan &#8220;Jerosalem Codex&#8221;, Metropolit Philotheos Bryennios mempublikasikan Dua Surat Clement dengan disertai pengantar dan catatan-catatan, di Jerman, ketika ia berada di Institut Katolik yang lama di kota Bonn. Para sarjana patristik menyambut baik karya tersebut, yang menunjukkan ketelitian dan keahliannya yang tinggi dalam penyuntingan teks, berkat studinya pada para tetua ahli di Madrasah Jerman.   Metropolit Bryennios menyebutkan bagian-bagian lain dari manuskrip itu di dalam karyanya tersebut, dan apa yang disinggungnya tentang Ajaran Dua Belas Rasul segera memicu perhatian para peneliti, di antaranya Lightfoot dan lain-lain.   Lihat halaman : 325-326-327 hal. 328-329-330-331-332 Bryennios juga menerbitkan bagian-bagian lain dari manuskrip yang ditemukan itu bagi para peneliti Jerman   Pada akhir tahun 1883, para archbishop (uskup besar) telah mempublikasikan di Konstantinopel leks &#8220;Ajaran Dua Belas Rasul&#8221; (Didache), disertai dengan pendahuluan dan catatan-catatan kaki.   Pada pendahuluan buku baru itu Bryennios menyebutkan bahwa Ajaran Dua Belas Rasul itu baru pertama kalinya diterbitkan, bersama dengan beberapa pendahuluan dan analisa terhadap Ringkasan Perjanjian Lama karya St. Yohanes Si Mulut Emas, di samping bagian lain manuskrip itu yang belum pemah diterbitkan.   Tak lama setelah publikasi Manuskrip tersebut, pada bulan Januan 1884, satu buah naskah Didache yang dipublikasikan oleh Bryennios sampai ke Jerman, lalu segera diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan dipublikasikan pada tanggal3 Februari pada tahun yang sama. Setelah itu, naskah itu segera diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Inggris, dan dipublikasikan di Amerika pada tangga128 Februari 1884, atau pada bulan dan tahun yang sama dengan munculnya terjemahan dalam bahasaJerman. Pada bulan Mei 1884, sebelum berakhimya tahun tersebut, dipublikasikan teks Didache dalam bahasa [nggris terjemahan langsung dari bahasa Yunani oleh pimpinan para diakon (archdiacon) yang bernama Farrar. Sepanjang tahun itu, Didache telah menjadi buah bibir dan dibahas dalam pelbagai artikel. Tak kurang dari lima puluh judul di dalam pelbagai koran dan majalah di Eropa Barat dan Amerika membahas kejadian terpenting tahun itu, yaitu ditemukannya "Ajaran Dua Belas Rasul". Shaff menyebutkan judul-judul artikel tersebut dalam karyanya Tarikh AI-Kanisah AI-Mosihiyyah (Sejarah Gereja Masehi).   Judul Manuskrip   Manuskrip Yerusalem memiliki beberapa judul. Judul pertama ringkas, dan judul kedua lebih panjang. Judul pertama adalah "Ajaran Dua Belas Rasul", sedangkan judul yang lebih panjang yang terletak segera setelahnya adalah "Ajaran Tuhan Kepada Bangsa-bangsa melalui Dua Belas Rasul."   Bryennios dan Harnak, dua orang yano pertama kali mempublikasikan teks Didache, berpendapat bahwa judul pertama yang ringkas tak lain dari ringkasan judul kedua yang panjang. Tapi mereka berbeda pendapat dalam masalah substansi judul yang panjang. Bryennios, diikuti oleh Schaff, berpendapat bahwa judul itu hanya berlaku pada lima bagian pertama Didache, yaitu bagian-bagian yang dikirimkan kepada bangsa­bangsa yang menerima Risalah Injil. Sedangkan Hamack berpendapat, judul yang panjang.9 adalah judul yang berlaku pada seluruh kitab Didache, karena seluruh teks buku ini merupakan ajaran bagi orang-orang yang menerima Tuhan.10 Meskipun mereka tidak sepakat tentang kandungan makna judul yang panjang tersebut, tetapi Jean-Paul Audet.11 berpendapat bahwa judul "Ajaran-ajaran Para Rasul" adalahjudul asli teks Didache, yaitu teks yang sampai kepada kita dari Manuskrip Yerusalem. Dalam hal ini, mungkin Audet bersandar kepada judul yang sama yang disebutkan oleh Eusebius dari Caesarea dalam karyanya TorikhAl-Konisah. Tetapi, kita tidak boleh mengabaikan analisa lain, bahwa judul ringkas Didache muncul dalam terjemahan Latin dalam bentuk tunggal, yaitu "Ajaran Para Rasul" (Doctrina Apostolorum), bukan dalam bentuk jamak, sebagaimana yang dikatakan oleh Audet.   Judul yang panjang itu tampaknya muncul sebagai pengagungan dan penjelasan tambahan bagi judul yang ringkas. Tapi perlu diperhatikan bahwa keberadaan kata "Tuhan" di dalam judul yang panjang itu mem­buktikan bahwa ia merupakan penambahan terhadapjudul tersebut yang masuk belakangan, dan pada waktu yang sama sesuai dengan bagian Evangelis yang terdapat dalam bagian pertama teks Didache, yaitu bagian yang menjelaskan tentang "DuaJalan", (1:3-2:1) di samping isyarattentang "Injil Tuhan" (lihat 8:2,15:4, 9:3,11:3,15:3), yaitu pada bagian liturgis dan pengajaran di dalam Didache. tampaknya tambahan itu muncul pada periode belakangan dalam penulisan karya sastra tersebut, sehingga jelaslah bahwa judul yang panjang mengiringi penambahan-penambahan terhadap teks asli yang terjadi belakangan.   Dari sisi yang lain, judul yang penjang tak ubahnye resonerui derl ajaran AI-Masih kepada para Rasul yang kudus pada akhir Injil St. Matius (28: 19), "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid saya." Analisa ini menjelaskan mengapa judul tersebut muncul belakangan daripada teks Didache dalam bentuk asli, yang boleh jadi belum mengetahui keberadaan St. Matius.   Sementara itu, Riddle.12 berpendapat bahwa judul yang panjang adalah judul asli Didache, sedangkan judul yang pendek merupakan ringkasan yang sering digunakan untuk menyebut Didache, dan tidak memiliki kaitan dengan apa yang ada dalam Kisah Para Rasul (2:42) dalam istilah "Pengajaran para rasul", yaitu, "Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul, dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa."   Sedangkan kata "bangsa-bangsa" yang terdapat di dalam judul yang panjang, menurut banyak peneliti, seperti Bryennios, menunjukkan bahwa pengarang Didache adalah seorang Masehi keturunan Yahudi. Akan tetapl, penelifi-peneliti lain, seperti Brown, menolak hal itu.   Karakter Bahasa Didache   Bahasa Didache menunjukkan pada periode peralihan dari safar safar Perjanjian Baru kepada bahasa gereja Yunani yang langsung mengikuti safar-safar kanonik. Kutipan-kutipan dari safar-safar tersebut menyerupai kutipan-kutipan yang ada di dalam surat-surat para rasul, Didache mengutip kebanyakan materinya dari Injil St. Matius daripada Injil lain, khususnya pada pasal-pasal 5-8, yaitu khutbah AI-Masih di bukit. Meskipun demikian, materi khutbah AI-Masih di bukit yang terdapat dl dalam lnjil tetap lebih banyak daripada yang terdapat didalam Didache.   Beberapa bagian Didache menunjukkan bahwa pengarang cukup mengetahui Injil St. Lukas. Selain itu, di dalam Didache terdapat beberapa istilah dan konsep yang memiliki bandingannya di dalam Injil Yohanes. Bahkan, di dalam Didache terdapat beberapa hal yang mendorong kami unluk menylmpulkan bahwa pengarangnya mengetahui sejumlah surat Rasul Paulus, terutama Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dan kepada Jemaat di Korintus, juga Dua Surat St. Petrus.13 Kecuali pada bagian tersebut, pengarang Didache jarang mengisyaratkan kepada safar-safar yang lain di dalam Perjanjian Baru. Dan jelas sekali, pengarang Didache tidak mengetahui kitab-kitab hukum kita.   Otentisitas Teks Didache   Yang kami maksud dengan otentisitas adalah kajian tentang kesesuaian substansial (substantial identity) antara Manuskrip Yerusalem yang ditemukan baru-baru ini dengan karya yang dikenal dan disebut oleh para penulis Kristen awal sebagai "Ajaran Rasul-rasul" (De Doctrino Apostolorum: Teachings of the Apostles), atau judul lain yang serupa.   Tak dapat diragukan, teks itu berasal dari zaman Apostolik. Bukti­bukti internal teks tersebut menegaskan hal itu. Pada sisi lain, tidak ada alasan untuk meragukan umur naskah itu, atau kesesuaiannya dengan edisi yang diterbitkan oleh Bryennios.   Clement dari Aleksandaria (M. 216 M. ) menegaskan keberadaan naskah tersebut, bukan saja karena dia banyak mengutipnya, tetapi juga karena dia menyebutkan di dalam bukunya Stromata teks yang terdapat di dalam Didache, 3: 5 secara harfiah, yaitu, "Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian," dan menisbahkan teks tersebut kepada Al-Kitab Al-Muqaddas.   Eusebius dari Caesarea (M. 340 M. ), pada paragrafnya yang terkenal di dalam bukunya Tarikh Al-Kanisah, yang mengkaji kitab-kitab Perjanjian Baru yang kanonik, menyebut Ajaran-ajaran Rasul-rasul sebagai salah satu karya yang tidak legal (spurious works). Bentuk jamak (Ajaran-ajaran) yang dipakai oleh Eusebius dalam menyebut judul karya ini, tidak mengalihkan perujukannya dari naskah yang sedang kita bicarakan, karena Athanasius (M. 373 M.) dengan jelas mengisyaratkan kepada naskah ini dengan menggunakan bentuk tunggal (Ajaran), dalam perkataannya, "Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul." Setelah menyebutkan kitab-kltab suci yang diakui oleh gereja sebagel kitab-kitab kanonik, Athanasius mengatakan, "Selain kitab-kitab tersebut, ada kitab-kitab lain yang tidak diakui sebagai kitab kanonik (tidak diakui sebagai kitab-kitab suci). Para bapa berpendapat bahwa kitab-kitab itu dapat dibaca oleh orang-orang yang ingin mencari pengetahuan dan ketakwaan. Kitab-kitab itu adalah, Hikmah Sulaiman, Hikmah Ibn Sirach, Ester, Yehodit, Thopia, dan Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul dan Gembala." Sebab, hingga zaman Paus Athanasius Apostolis, gereja belum mengakui kekanonan kitab-kitab tersebut, dan baru diakui belakangan, serta disebut sebagai kitab-kitab kanonik kedua.   Rufinus (M. 410 M. ), di dalam karyanya, Tarikh Al-Kanisah, mengulas sebuah karya yang ringkas, yang disebut `Dua Jalan'. Uraiannya memberikan kita data yang sangat penting untuk kajian kritis terhadap Didache.   Peneliti lain yang telah mengulas Didache adalah Nicephorus (M. 828 M.), atau dua ratus tahun setelah Leon the Notary and Sinner menulis naskah yang diketemukan itu.   St. Irenaeus (M. 202 M. ) dan St. Clement dari Aleksandria (M. 216 M.) melontarkan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan mereka berdua mengetahui Didache.   Dengan demikian, kami menyimpulkan manuskrip yang ditemukan ini sebenarnya merupakan karya yang diulas baik oleh Eusebius dari Caesarea maupun Athanasius Apostolis. hal. 332-333-334-335 Waktu dan Tempat Penulisan Didache   Melalui kajian yang mendalam terhadap teks-teks Didache untuk mengetahui waktu penulisannya, peneliti-peneliti modem memastikan bahwa Didache ditulis pada abad pertama Masehi.14 Berdasarkan apa yang telah kami paparkan pada bagian otentisitas teks Didache, menurut kami, waktu penulisannya tidak mungkin melewati seperempat pertama abad k¢dua Masehi, dan apabila telah terbukti bahwa Didache lebih tua daripada Surat Bamabas, maka ia tidak mungkin ditulis setelah tahun 120 M.   Teks-teks Didache secara intemal menunjukkan waktu penulisannya.   1. Struktur bahasanya yang sederhana menunjukkan waktu penulisannya, yaitu periode yang langsung mengikuti masa Rasul-rasul, atau yang sekarang disebut sebagai periode apostolis. Sesungguhnya, kesederhanaan struktur bahasa juga merupakan fakta yang sangat penting dalam mengkaji legalitas kitab-kitab Perjanjian Baru.   2. Belum berkembangnya konsep agama Kristen di dalam teks Didache merupakan akibat yang wajar dari belum berkembangnya heretisme pada masa itu. Itulah yang ditegaskan oleh gaya bahasa naskah Didache. Agama Kristen pada awalnya adalah pandangan hidup yang menjadi dasar bagi ajaran-ajaran para rasul, dan semakin luas agama Kristen itu berkembang, semakin besar pula perjuangan orang-orang Kristen melawan heretisme yang mereka hadapi.   3. Aturan gereja yang dikemukakan oleh Didache belum serumit yang dikemukakan oleh Surat-surat St. Ignatius, karena di dalam Didache disebutkan guru-guru yang berkeliling, yang disebut Didache sebagai Rasul-rasul dan Nabi-nabi (pasal 10), dan keberadaan mereka tidak diakui lagi oleh gereja setelah pertengahan kedua abad kedua Masehi, atau bahkan setelah seperempat pertama kedua Masehi.   Dengan demikian jelas bahwa sejarah Didache lebih tua daripada sejarah Surat-surat Ignatius.   Didache ditulis untuk jemaat Kristen yang tumbuh di beberapa perkumpulan lokal yang sekarang tidak dapat kita ketahui lagi. Belum berkembangnya format ajaran-ajaran yang ada di dalam naskah ini membuat kami yakin bahwa karya sastra ini, dalam bentuknya yang terakhir, telah ditulis pada akhir-akhir abad pertama Masehi. Naskah ini tidak mungkin ditulis pada masa hidup Rasul-rasul yang kudus. Selain itu, di dalam pasa116 naskah ini tidak ada petunjuk apa pun tentang peristiwa hancurnya Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Karena itu, jika ia ditulis seorang Kristen Yahudi, seperti dikatakan FX. Funk, sebagai kemungkinan yang paling mendekati kenyataan, maka tidak disebutkannya peristiwa tersebut berimplikasi adanya interval satu generasi, sehingga kita dapat membatasi periode penulisannya antara tahun 80-100 Masehi.   Posisi naskah ini di dalam Manuskrip Yerusalem adalah setelah Surat­surat Clementdari Romawi (The two Epistles of Clement to the Corinthians) dan sebelum Surat-surat Ignatius (Twelue Epistles of Ignatius). Itu boleh jadi menandai urutan kronologis karya-karya tersebut. Selain itu, gaya bahasanya yang sangat sederhana nyaris memastikan pendapat bahwa masa hidup penulisnya sangatberdekatan dengan masa hidup Rasul-rasul.   Bryennios dan Harnack menentukan waktu penulisan Didache antara tahun 120 sampai 160 Masehi. Mereka mengatakan bahwa Surat Barnabas dan "Kitab Ar-Ra'i" karya Hermas ( "Shepherd of Hermas" ) lebih dulu ditulis daripada Didache. Tetapi Funk, Schaff, Light foot, dan Don Capoli menyatakan bahwa yang ditulis lebih dahulu adalah Didache, yaitu pada akhir-akhir abad pertama Masehi, atau antara tahun 70-90 Masehi. Mereka membuktikan pendapat itu dengan kandungan pasal 7, 8, 10:1, dan 11: 3. Sedangkan Hilgenfeld menyatakan, waktu penulisan Didache adalah antara tahun 160-190 Masehi. Para peneliti Inggris dan Amerika pada umumnya menyatakan waktu penulisan Didache antara tahun 80­120 Masehi. Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa Didache ditulis pada akhir abad pertama Masehi atau awal abad kedua Masehi.   Para peneliti berbeda pendapat tentang tempat penulisan Didache. Kecenderungan untuk menyatakan bahwa penulisnya adalah seorang Kristen Yahudi tidak cukup untuk menunjukkan tempat penulisannya, apakah di Aleksandria, Antiokhia, Yerusalem, atau tempat-tempat lain. Kesesuaiannya dengan Surat Bamabas menguatkan pendapat bahwa ia ditulis di Mesir. Sebab doa penutup jamuan Ekaristi yang disebut Didache, "Karena engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama­lamanya," hanya menyebut kata `kekuatan' dan `kemuliaan', dan doa yang seperti itu lebih populer di Mesir daripada di tempat-tempat lain.15   Harnack, R. Glover, R.A. Kraft, dan Voobus dengan jelas menyata­kan bahwa Didache ditulis di Mesir.16 Kajian-kajian mereka menyatakan, berbeda dengan teks-teks Didache yang berbahasa Latin ("Doctrina Apostolorum"), Jerussalem Codex, Apostolic Constitutions, banyak bukti­bukti klasik di dalam kitab Didache memiliki akar Koptik atau Etiopia.   Tentang hal tersebut, kami menambahkan, doa penutup jamuan (Didache, 8: 2) sesuai dengan doa penutup jamuan yang terdapat di dalam terjemahan-terjemahan Koptik yang sangat klasik terhadap Injil Matius. Dari sisi lain, St. Clement dari Aleksandria.17 menganggap Didache sebagai salah satu teks kanon. Hal ini menunjukkan bahwa karya ini telah beredar di Mesir di gereja-gereja klasiknya (Lihat juga Ar-Risalah AI-Fashihah: 29 karya Paus Athanasius Apostolis), selain Eusebius dari Caesarea menukil berita-berita Didache dengan bersandar kepada ajaran bapa-bapa gereja Aleksandria.   Akan tetapi, dari sisi lain, para peneliti seperti Adam, J.P Audet, Diet, Knopf, daa lain-lain menyatakan bahwa tempat penulisan Didache adalah Siria, dengan alasan kesesuaiannya dengan "Apostolic Constitutions". Selain itu, kata `masehi' yang terdapatpada pasal 4: 2 digunakan pertama kali di Antiokhia. Mereka mengatakan, pasal 11-13 juga menegaskan bahwa Didache ditulis di Siria, lebih khusus lagi di Siria Barat, di mana bahasa Yunani, yaitu bahasa yang digunakan untuk menulis Didache, dominan. Alasannya, perbuatan-perbuatan buruk yang disebutkan dalam bagian `dua jalan' (Didache, 2: 2 dan 3: 4) dengan jelas menunjuk kepada masyarakat yang bercorak Hellenistik atau Yunani (Didache, 4:1). Dengan demikian, pertama-tama, Didache ditujukan kepada masyarakat pedesaan dari kalangan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan yang masuk ke dalam ajaran Kristen. Pasal 13 Didache juga menegaskan hal ini.   Tetapi, kita tidak dapat memastikan bahwa Didache berasal dari Antiokhia, atau ditulis di kota Antiokhia. Sebab, adat istiadat yang berasal dari St. Paulus dan St. Lukas - yang populer di Antiokhia - adalah adat istiadat yang berbeda dengan Didache. Hal ini menegaskan bahwa ia tidak berasal dari Antiokhia. Selain itu, St. lgnatius dari Antiokhia tidak mengenal Didache, karena ia tidak mengutip Didache sedikit pun di dalam surat­suratnya, yaitu surat-surat yang memperlihatkan aturan-aturan yang sangat berbeda dengan Didache. hal. 336-337-338   Adam, pada saat membuktikan bahwa Didache berasal dad Suria, mengatakan bahwa terjemahan Didache yang berbahasa Koptik berasal dari naskah berbahasa Suryani yang sudah hilang. Dia menambahkan, Didache beredar dan populer dengan cepat di Mesir seperti halnya banyak karya sastra lain di gereja Kristen pertama, seperti Injil St. Lukas, setelah teks Didache dalam bentuknya yang terakhir diubah agar sesuai dengan terjemahan Koptik dan Etiopia. Pengubahan itu dapat kita lihat dengan jelas pada pasal 9: 4, "Sebagaimana roti yang dipecah-pecah disebarkan di atas gunung, kemudian dikumpulkan sehingga menjadi satu, demikianlah disatukan gereja-Mu dari ujung bumi hingga Kerajaan-Mu." Lafal 'di atas gunung' adalah pengubahan dan penambahan terhadap teks asli Didache.   Demikianlah, Didache menjadi objek pertentangan para peneliti, sebagian menyatakan ia ditulis di Mesir, sebagian lain menyatakan ia ditulis di Siria. Di atas tumpukan kajian yang sangat banyak tersebut, yang dapat kita lakukan hanyalah membaca teks Didache secara cermat, untuk menangkap keindahan gereja pertama sebagai kelompok yang sederhana yang diikat oleh rasa kasih, sayang, dan harmoni, baik di Mesir maupun di Siria. Gereja pertama itu adalah sebuah gereja kudus apostolis, disatukan oleh satu ekaristi, tubuh AI-Masih bagi kehidupan abadi.   Sedangkan pendapat bahwa Didache ditulis di Palestina, ditolak oleh orang-orang menggarisbawahi tiadanya ajaran-ajaran St. Paulus di dalam Didache. Tetapi, jika benar Didache merupakan karya yang ditujukan kepada orang-orang yang belum dibaptis, maka itu cukup untuk menjelaskan tiadanya ajaran-ajaran St. Paulus di dalamnya.   Identitas Penulis   Semua usaha untuk menemukan identitas penulis Didache tidak berhasil, terutama karena kurangnya data tentang hal ini yang kita milikl sekarang. Asumsi yang paling mendekati kenyataan adalah ia ditulis oleh seorang Kristen Yahudi (Jewish Christian), atau paling tidak oleh orang Kristen yang berasal dari penganut agama Yahudi, karena ia menyebutkan makanan yang diharamkan Perjanjian Lama, yang tidak berubah sampai sekarang kecuali tentang keharaman makanan persembahan bagi berhala; Dan, karena ia mencela kemunafikan orang-orang Farisi, seolah-olah ia bergaul dan mengenal mereka.   Penulis mengarahkan bukunya kepada orang yang dia sebut anaknya, karena ia sering mengulang kata 'Wahai anakku.' Dia juga menerangkan beberapa aktifitas gereja pertama yang didirikan orang­orang Kristen yang hidup pada awal abad kedua Masehi, terutama tata cara ibadah mereka. Karena itu, kita tidak dapat memandang naskah ini sebagai bukti yang pasti tentang iman gereja secara umum pada masa itu, apalagi Didache segera menghilang dari peredaran.   J.P Audet berpendapat bahwa penulis ini mungkin sama dengan penulis L.e Vademacum bagi salah seorang Rasul yang berkeliling di gereja pertama.18   Bagaimanapun keadaannya, Rasul yang berkeliling ini telah melakukan dengan cermat ajaran tentang Rasul-rasul yang berkeliling yang terdapat di dalam Didache pasal l l : 3-6.   Akan tetapi, kajian-kajian modem tidak menyetujui pendapat Audet.   Bahwa penulis Didache adalah lebih dari satu orang, atau lebih dari satu penulis yang menulis buku itu dalam dua periode: Pertama, menulis pasal 1: 1 sampai pasal 11: 2; Kedua, menulis pasal 11: 3 sampai 16: 8. Alasannya, Didache pasal l 1-13 tidak mungkin ditulis orang yang menulis pasal 1415. Dengan demikian, kita tidak dapat menisbahkan semua pasal Didache pada satu orang penulis.   Penerima Didache   Bagian pertama teks Didache - yaitu bagian tentang akhlak - mengisyaratkan pada seorang guru yang memberikan nasehat kepada anak atau muridnya. Sementara bab 4: 2 yang menyatakan, "Berusahalah setiap hari untuk bertemu dengan orang-orang kudus supaya kamu terhibur oleh kata-kata mereka," menunjukkan adanya jemaat Kristen yang di dalamnya terdapat orang-orang kudus yang ketakwaannya populer di kalangan mereka. Selain membedakan antara guru yang memberi nasehat dengan murid yang mendengarkannya, bagian ini juga menunjukkan adanya jemaat Kristen yang berdomisili pada satu tempat dalam waktu yang cukup lama yang memungkinkan munculnya generasi orang tua dan generasi anak-anak. Tetapi, awal pasal 7 memperlihatkan bahwa kitab Didache adalah Surat yang ditujukan kepada sekelompok jemaat yang pada awalnya belum memiliki aturan gereja tertentu. Fungsi-fungsi liturgis jemaat itu belum dilakukan oleh abdi-abdi gereja yang tetap. Itulah yang kita lihat pada pasal 15, di mana untuk pertama kali muncul tingkatan uskup dan diakon, yang secara perlahan-lahan menempati posisi Rasul-rasul, pengabar-pengabar gembira, dan Nabi-nabi yang berpindah-pindah dan tidak menetap di satu tempat; untuk memikui tugas-tugas tersebut pada periode awal sejarah gereja.   Jika bagian pertama Didache sangat terpengaruh oleh ajaran Yahudi, maka istilah `uskup' dan `diakon' (pasal 15:1) menegaskan bahwa jemaat yang dikirimi karya sastra ini adalah orang-orang mukmin yang sebelumnya tidak mengenal Tuhan, sebab jika kita menemukan istilah uskup dan diakon pada masa apostolis - tanpa menyebut istilah tetua - maka itu menunjukkan kita sedang berhadapan dengan jemaat Masehi yang terbentuk dari bangsa-bangsa non-Yahudi atau bangsa yang tidak mengenal Tuhan.   Dengan demikian, jelas bahwa Didache dikirimkan kepada jemaat Kristen yang berasal dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Hal ini tidak menghalangi kemungkinan pasal 7-16 mengisyaratkan kepada penulis Kristen Yahudi, sebab terlalu berlebihan bila kita mengatakan bahwa awal pasal 8:1 dan 2 memperlihatkan karakter yang tidak dimiliki oleh penulis Kristen Yahudi.   Selain itu, kami nyatakan di sini bahwa pasa116 yang menjelaskan penantian terhadap kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya di kalangan jemaat yang dikirimi Didache itu, mengungkapkan adat istiadat Yahudi yang telah baku dan tertanam di dalam gereja Kristen pertama.   Ringkasnya, menurut kami, Didache adalah teks yang menghimpun adat istiadat yang saling bertentangan yang diberikan formula baru pada masa tertentu oleh penulis yang tidak kita ketahui yang sulit kita tentukan, tetapi memiliki kekuasaan yang kuat terhadap sekelompok jemaat Kristen yang mungkin berasal dari kalangan bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Karena itu, judul panjang Didache, yaitu "Ajaran Tuhan kepada Bangsa­bangsa.", dengan tegas menjelaskan asumsi tersebut.   Andresen, seorang sarjana Jerman,19 membandingkan teks Didache 14: 3, "Karena Aku adalah raja yang agung, kata Tuhan, dan nama-Ku dihormati semua manusia," dengan nubuat Malakhi 1: 11, "Sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman Tuhan semesta alam," untuk menjelaskan judul panjang Didache seperti ini, "Ajaran Tuhan Melalui Dua Belas Rasul kepada Gereja Bangsa-bangsa." hal. 340-337-338   Tema-tema Utama Teks Didache   Didache tetap bukan merupakan teks karya sastra yang utuh dan lengkap sampai dia muncul di dalam Manuskrip Yerusalem. Sebagaimana telah kami sebutkan, teks ini memiliki beberapa bagian yang tidak sama panjangnya.   1. Bagian pengajaran dan akhlak yang menjadi pendahuluan buku, pada intinya adalah ajaran-ajaran tentang 'dua jalan', jalan kehidupan dan jalan kematian. Bagian ini dimuat dalam 6 pasal pertama, dimulai tanpa pendahuluan, dengan ungkapan berikut, "Terdapatduajalan, yaitu Jalan Kehidupan dan Jalan Kematian." Jalan kehidupan dimuat dalam 4 pasal pertama di dalam karya sastra ini dalam bentuk terakhimya, sedangkan pasal 5 memuat pembicaraan tentang jalan kematian, dan pasal 6 kesimpulan ajaran tentang dua jalan itu, disertai peringatan, "Hati­hatilah kamu, jangan sampai ada orang yang menyesatkanmu dari ajaran ini, karena dengan begitu ia mengajarkan apa yang tidak berhubungan dengan Tuhan."   `Dua jalari ini menunjukkan kesatuan enam pasal pertama Didache. Akan tetapi, sebenarnya, keenam pasal itu memuat unsur-unsur yang sangat bertentangan satu sama lain. Meskipun demikian, kita dapat mengatakan bahwa ajaran ini pada umumnya berkarakter sangat serupa, bahkan mungkin sangat sesuai, dengan ajaran sastra dan akhlak gereja pada periode-periode awalnya.   2. Bagian liturgis; Dimuat pada empat pasal berikutnya, dari pasal 7 sampai pasal 10. Bagian ini, dengan bahasa yang lebih pasti, berbicara tentang pembaptisan, puasa, doa harian, dan jamuan ekaristi. Dari kandungan bagian ini, jelas bahwa keutuhan penulisannya tidak dapat dipastikan.   3. Setelah peralihan yang tampak sebagai sinopsis awal bagi apa yang telah disebutkan (pasal l l : 1 dan 2), bagian aturan dimuat dalam lima pasal, dari pasal 11 sampai pasal 15. Di dalam pasal-pasal itu teks Didache menetapkan jenis penerimaan terhadap Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan pengganti-pengganti mereka, juga terhadap orang-orang Kristen yang datang dari luar kalangan jemaat. Bagian ini secara umum terlihat sebagai karya sastra yang struktur asasinya tidak utuh.   4. Di bagian terakhir, bagian eskatologi (tentang Akhirat), yang menutup buku dan dimuat pada pasal 16, terdapat bagian yang hilang dari Manuskrip Yerusalem, yang menyulitkan kita untuk memberikan konsep yang teliti tentang teks asli.   ***   Didache 16: 2 menyatakan, "Sering-seringlah kamu berkumpul untuk mempelajari hal-hal yang pantas bagi jiwa-jiwa kamu, karena iman kamu pada setiap zaman tidak akan berguna, jika pada saat yang terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempuma." sesuai dengan Surat Bamabas 4: 9 dan 10, yaitu, "Waspadalah kamu pada hari-hari terakhir. Semua hari hidup kita dan iman kita tidak berguna sedikit pun, jika kita tidak melawan sebagai anak-anakTuhan, dengan perlawanan yang aktif, melawan zaman dosa dan rintangan yang menghadang ini, karena takut kegelapan merasuk ke dalam diri kita. Hendaknya kita menjauhi kebatilan-kebatilan, dan membenci secara total perbuatan-perbuatan jalan yang jahat. Janganlah kamu memakai pakaian kesatuan, dan janganlah kamu menganggap diri-­dirimu terbebas, tetapi berkumpullah bersama-sama untuk mempelajari yang berguna bagi orang banyak."   St. Ignatius dari Antiokhia berkata, "Jika kamu memiliki iman yang sempuma dan kasih yang sempuma, maka kamu tidak akan tertipu oleh siapapun. Kedua kebajikan itu adalah awal dan akhir kehidupan. Iman adalah awal, dan kasih adalah akhir. Kesatuan dari keduanya adalah Tuhan. Semua kebajikan lain mengiringi manusia untuk mengantarkannya kepada Tuhan." (Suratnya kepada jemaat di Efesos 14: 1)   Gambaran eskatologis tentang akhir dunia seperti terdapat dalam Didache 16: 3-8 pada umumnya memiliki corak materi tersendiri, yang lebih dalam daripada ajaran-ajaran terdahulu. Ajaran tentang akhir dunia, yang muncul sebagai pasal terakhir dalam Didache itu, sebagaimana di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, sangat menarik perhatian kita, kaitannya dengan penulis Didache yang ingin menutup bukunya dengan bagian eskatologis yang dasar-dasamya berasal dari unsur-unsur yang bercorak Perjanjian baru.   Prigent, B.C. Butler, dan Giet menetapkan bahwa pasa116 Didache ini secara langsung bersandar kepada pasal 24 Injil Matius. Sebaliknya, setelah kajian yang luas yang tidak meyakinkan kami, Willy Rordrop dan Andre Tuilier --penulis kajian tentang Didache di dalam Sources Chretiennes, 248 mengatakan, "Kami sepakatdengan G. Gloverbahwa Didache tidak mengambil teks apa pun dari Perjanjian Baru.20 Demikian juga halnya teks doa (resension) yang terdapat di dalam Didache 8: 2, yang oleh kedua sarjana tersebut dikatakan sangat mirip dengan teks Injil Matius 6: 9-13. Teks doa di dalam Didache berbeda dengan teks doa yang terdapat di dalam Injil.   Sampai di sini selesailah tulisan Pendeta Koptik. Kami telah menjelaskan di dalam bagian komentar bahwa Didache mirip dengan Injil Bamabas.   Sampai di sini selesailah buku ini. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat, salam, dan berkat bagi tuan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, bagi keluarganya dan semua sahabatnya.   Buku ini selesai ditulis pada tanggal 15 Ramadhan 1423 di Kairo. Dan, buku ini selesai diterjemahkan pada malam Rabu tanggal 31 Juni 2004 M. bertepatan dengan 12 Jumadil Ula 1425 H. di Ciracas Serang Banten.[*]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Big Brown Truck Brings Didache]]></title>
<link>http://goulablogger.wordpress.com/2009/07/25/the-big-brown-truck-brings-didache/</link>
<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 19:18:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>Chuck Grantham</dc:creator>
<guid>http://goulablogger.wordpress.com/2009/07/25/the-big-brown-truck-brings-didache/</guid>
<description><![CDATA[The latest UPS delivery was a mere two books, but there was nothing mere about the titles: The Didac]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The latest UPS delivery was a mere two books, but there was nothing mere about the titles:</p>
<p>The Didache, Hermeneia Commentary, by <a href="http://www.amazon.com/Didache-Commentary-Hermeneia-Critical-Historical/dp/0800660277/ref=sr_1_19?ie=UTF8&#38;s=books&#38;qid=1247188425&#38;sr=1-19">Kurt Niederwimmer</a></p>
<p>The Didache: Faith, Hope, and Life of the Earliest Christian Communities, 50-70 C.E., by <a href="http://www.amazon.com/Didache-Faith-Earliest-Christian-Communities/dp/0809105373/ref=sr_1_1?ie=UTF8&#38;s=books&#38;qid=1248548772&#38;sr=1-1">Aaron Milavec</a>.</p>
<p>Niederwimmer is a traditional sort of commentary, and for many the leading commentary on this part of the Apostolic Fathers. Though with the mass of work going on in researching the Didache, it&#8217;s 1993 date is making it seem dated already.</p>
<p>Milavec&#8217;s book gives the impression of needing to reverse the parts of it&#8217;s long title for strict accuracy.  It is also considered THE book on the Didache by many&#8211; not the least because of its nine hundred plus page length!&#8211;  but it is made up of commentary sections and &#8220;excurses&#8221; in greyed blocks. It also spends no little time speaking of modern day issues along with interpretation of the text, which annoyed a few reviewers.</p>
<p>Next up for me will be Psalms commentaries for the next quarter&#8217;s Sunday School lessons.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Didakhé]]></title>
<link>http://reglasdevida.wordpress.com/2009/07/20/didakhe/</link>
<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 04:38:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hesiquia</dc:creator>
<guid>http://reglasdevida.wordpress.com/2009/07/20/didakhe/</guid>
<description><![CDATA[Enseñanza de los Doce Apóstoles («Didaché» o «Didajé» o «Didakhé») TEXTOS 1. Instrucción moral. Hay ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Enseñanza de los Doce Apóstoles («Didaché» o «Didajé» o «Didakhé») TEXTOS 1. Instrucción moral. Hay ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rev. E.W. Bullinger, D.D.-- The Cause of The "Present Distress"]]></title>
<link>http://antipreterist.wordpress.com/2009/07/15/rev-e-w-bullinger-d-d-the-cause-of-the-present-distress/</link>
<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 19:08:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>Brian Simmons</dc:creator>
<guid>http://antipreterist.wordpress.com/2009/07/15/rev-e-w-bullinger-d-d-the-cause-of-the-present-distress/</guid>
<description><![CDATA[      Departure from the teaching of the Pauline epistles was the beginning of apostasy in the churc]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">  <span style="color:#000000;"><img class="alignleft" src="http://www.companionbiblecondensed.com/Bullinger/BS_files/Bullinger2.jpg" alt="" width="127" height="174" />    </span><span style="color:#000000;">Departure from the teaching of the Pauline epistles was the beginning of apostasy in the church &#8212; the commencement of the dark ages.  The Reformation was an awakening to a sense of this disobedience, but it was only &#8220;<em>in part</em>,&#8221; and the condition of the Protestant Evangelical Churches today exhibits as sad a condition, from another point of view, as the church before the Reformation, and needs another Reformation, as great, though of another kind and in a different direction.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">   To see the root causes of this confusion we shall have to go back to the beginning, and see what Paul&#8217;s ministry really was, and was intended to be.  It is recorded in <strong>Acts 13-28</strong>.  It is not taken up until after the record of Peter&#8217;s ministry is closed.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  Paul (<strong>Acts 13-28</strong>) proclaims to Jews and Gentiles alike, perfection, <em>apart from all ordinances</em>, in union with Christ, in Whom dwells all the fullness of the Godhead bodily.  He preaches Christ as Head of the body, the church.  He declares &#8220;<em>all the counsel of God</em>&#8221; (<strong>Acts 20: 27</strong>).  He &#8220;<strong>fully preaches the word of God</strong>&#8221; (<strong>Col. 1: 25</strong>, margin).  Paul&#8217;s ministry completes the testimony which thus, in connection with the parable of the great supper, ends in <em>grace</em>; while the ministry of Peter and the twelve, in connection with the parable of the dinner, ends in <em>judgment</em>; see <strong>Matt. 22: 7</strong>, where we have these significant words: &#8220;<strong>He sent forth His armies, and destroyed those murderers, and burned up their city</strong>.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  This refers to the destruction of Jerusalem, while the third ministry (begun by Paul) to the Gentiles is carried on after that destruction, during the National rejection, and while Jerusalem lies desolate.  No words could more distinctly express the present Dispensation of Grace to the Gentiles given to the apostle Paul.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  After speaking of the Parable of the Great Supper, the Lord first lays down the great truth that those who receive Him must be prepared to give up all connected with Judaism (<strong>Luke 14: 26-27</strong>), as exemplified by Paul in <strong>Phil. 3</strong>, where all that he once counted as &#8220;gain,&#8221; he counted as dross and loss for Christ&#8217;s sake.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">   This is followed by three solemn illustrations as to this coming change in the dispensation, ending with the words (v. 35), &#8220;<strong>he that hath ears to hear, let him hear</strong>.&#8221;  They are the &#8220;<em>Tower</em>,&#8221; the &#8220;<em>King</em>,&#8221; and the &#8220;<em>Salt</em>.&#8221;  These are given after the rejection of Israel had been spoken of in verse 24.  Three solemn warnings are conveyed by these as to the folly of claiming apostolic commission and <em>authority</em> when not possessing apostolic <em>power</em>: the warning which Christendom did not heed, and the error into which it has fallen.</span></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#000000;">THE BUILDING OF THE TOWER (Luke 14: 28-30)</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>  </strong>The Lord gave <em>authority</em> and <em>power</em> to His apostles to gather a people to His great supper (<strong>Luke 9: 1</strong>; <strong>Mark 16: 15-18</strong>;<strong> Luke 24: 47-49</strong>; <strong>Acts 2: 38</strong> &#38; <strong>15: 14</strong>).  This was connected first of all with Jerusalem (<strong>Acts 1: 4</strong>) and with Himself as King of Israel and Lord of all.  <em>This authority and power ceased with the apostles to whom they were given, and they never were and never could be transmitted by them to others.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>  </em>The apostles exercised this authority and power.  They baptized; and, by laying on of hands, they conferred miraculous gifts; <em>but they could not transmit to those recipients the authority and power to give those gifts and signs to others.</em>  And when the ministry of the kingdom ended, Paul&#8217;s ministry of the &#8220;gospel of the grace of God&#8221; was to be continued and carried on among Jews and Gentiles alike, calling out the members of Christ&#8217;s spiritual Body until that body should be complete.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  By this illustration of the &#8220;Tower&#8221; the Lord warns us not to claim this apostolic <em>authority</em>, unless we have the <em>power</em> to complete the work by the laying on of hands, and the bestowal of miraculous gifts, which were the insuperable signs of that power and that authority.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">   In other words, we are not to begin to &#8220;build,&#8221; unless we are able to finish.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  Instead of this, men soon began to <em>build the church upon the foundation of the kingdom</em>; they began to build this tower, and they went to war with the great enemy.  They assumed to act in &#8220;<em>apostolic succession</em>,&#8221; but were destitute of its authority and power.  The result of the attempt to build this tower is another Babel (<strong>Gen. 11</strong>), and it will soon end in another Babylon (<strong>Rev. 17</strong>).  That which claims to be the continuation of the ministry committed to the twelve apostles becomes &#8220;<em>Babylon, the mother of harlots and abominations of the earth</em>.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  The Lord Jesus sent forth His apostles to proclaim the Kingdom of God, with power and authority over all devils (<strong>Luke 9: 1</strong>).  This was the proof that the kingdom of God was come to Israel (<strong>Luke 11: 20</strong>).  The Lord warns men not to proclaim the King and the kingdom unless they have the power to cast out Satan, the great king who is opposed to them.  If they have not this power, their true course is to act as ambassadors, seeking the peace of those who are afar off.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  The parable teaches plainly the change in the character of the gospel as sent to the Gentiles by Paul from its character as addressed by Peter and the Twelve to Israel.  To Israel it proclaimed the Lord Jesus as the King, by His apostles as the heralds of His authority and power; but now to the Gentiles, afar off, the ministers of the Gospel are ambassadors of Christ, desiring His enemies to be reconciled to God.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  Those, therefore, who <em>in any sense</em> lay claim to the figment of &#8220;<em>Apostolic Succession</em>,&#8221; and those also who, while they reject it, yet ignorantly assume the continuation of the apostolic ministry (after the authority, and power, and sign-gifts have alike ceased), are trying to build this Tower, but are unable to finish it.  Nay, worse, far worse than this, this building results in another tower of Babel &#8211;  for<em> confusion</em> is the meaning of its name, and confusion is what we see everywhere around us.  They are unable to cope with the great king with whom they contend: they &#8220;forsake&#8221; not those things that they have (<strong>v. 33</strong>), and they cannot be, the Lord Jesus Christ says, &#8220;<em>My disciples</em>.&#8221;  They may pretend to be the Apostles&#8217; successors, but are not Christ&#8217;s disciples.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">   The great lesson for us lies in the fact that the apostasy of Christendom began in the departure from the teaching committed to Paul concerning &#8220;<em>The Mystery</em>,&#8221; or the great secret concerning the Church of God as Body of Christ, &#8220;<em>the pillar and ground</em>&#8221; of all Church truth.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"> <strong>ORDINANCES ARE THE TEST!</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>  </strong>Paul&#8217;s &#8220;teaching&#8221; declares that Christ is made the Head of the Church, which is His Body, and that true believers are the &#8220;<em>members</em>&#8221; of Christ,&#8221; indwelt by &#8220;<em>one Spirit</em>,&#8221; wherewith, by the &#8220;<em>one baptism</em>,&#8221; they have been baptized by the &#8220;<em>one Lord</em>&#8221; in to the &#8220;<em>one Body</em>&#8221; (<strong>Eph. 4</strong>); and that these members of Christ are sanctified in Christ; and are called by God into fellowship with His Son; that they are one Spirit with Him, and are &#8220;<em>the temple of the living God</em>.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  For these, &#8220;<em>Christ hath abolished in His flesh, the law of commandments contained in ordinances</em>.&#8221;  <strong>Col. 2</strong> gives us their true standing.  They are &#8220;<em>complete in Him</em>&#8221; (v. 10).  hence, their circumcision is that which is &#8220;<em>made without hands</em>,&#8221; being &#8220;<em>the circumcision of Christ</em>&#8221; (v. 11); and if their circumcision is effected without hands, then, of necessity their baptism must be of the same character.  Their baptism is Christ&#8217;s burial (v. 12): for them, ordinances are &#8220;<em>blotted out</em>&#8221; and &#8220;<em>taken out of the way</em>&#8221; (v. 14), and they are asked Why, if they died with Christ from the rudiments (i.e., religious ordinances) of the world, Why are they &#8220;<em>subject to ordinances after the commandments and doctrines of men</em>?&#8221; (v. 20, 21).  Thank God, there are those who thus know <em>their completeness and perfection</em> in Christ.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>  </strong>But there are thousands who have not this wondrous knowledge.  The eyes of their understanding are not enlightened (<strong>Eph. 1: 8</strong>).  They are led by those who claim to be successors of the Apostles, and who claim to continue  &#8212; not Paul&#8217;s ministry, but that of the Twelve!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"> And what was</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><strong>&#8220;THE TEACHING OF THE TWELVE APOSTLES?&#8221;</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  In 1883 there was published, under this title, a MS., then recently discovered in the library of the Patriarch of Jerusalem, at Constantinople.  The date of the MS. was June 13th, 1056: but all scholars are agreed that it is a copy of a work which was originally written in the last quarter of the first century.  Its existence had long been known, for it had been quoted by the Sub-Apostolic Fathers, <strong>Barnabas</strong> (A.D. 71), and <strong>Hermas</strong> (A.D. 100), and by <strong>Clement of Alexandria</strong> (A.D. 192). <strong> Eusebius</strong> (H.E. iii. 2), A.D. 330-340, mentions it as well known in his day, and classes it among the &#8220;<em>controverted books</em>&#8221; of the Canon.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">   The work consists entirely of moral precepts, and rules as to prayer, fasting, baptism, and the Eucharist, and ends with a solemn reference to the coming of the Lord and the resurrection of the dead.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">    We cannot, of course, believe that this was the <em>actual</em> teaching of the Twelve.   But this is what it had degenerated into before the close of the first century.  We can well understand why all Sacramentarians should hail the appearance of this ancient writing: and, instead of seeing in it the corruption of Christianity, and the commencement of the Apostasy, should welcome it, and make it the ground of their &#8220;teaching.&#8221;  But it shows a lack of discernment indeed for others to speak of this <em>Didache</em>, or &#8220;<em>Teaching of the Twelve</em>,&#8221; with approbation, and to see in it a model for the present day, instead of a departure from Primitive Christianity.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">    Alas!  The teaching of Paul was soon apostasized from! and even the teaching of the Twelve &#8220;<em>was corrupted</em>&#8220;!  That corrupted teaching may be summed up in two words,</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="color:#000000;">MORALITY AND ORDINANCES.</span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">  Is not this exactly what we see around us on every hand today?  Holding fast to these two, the other two have been abandoned and practically lost, viz.,<strong> (1)</strong> the coming of the Lord, and <strong>(2)</strong> resurrection as the hope of the church!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">   This was the cause, the beginning, of the apostasy of Christendom: this it was that led up to and brought on &#8220;<em>the dark ages</em>:&#8221; and this is the secret cause of &#8220;<em>the present distress of the churches</em>.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">   The ministry of Paul is rejected, and the<em> ministry of the Twelve</em> is still carried on by those who, though destitute of the Apostles&#8217; <em>authority</em> and<em> power</em>, impose on their hearers &#8220;<em>the commandments and doctrines of men</em>,&#8221; and put them in subjection to &#8220;<em>ordinances</em>:&#8221; and, worse than that, they add &#8220;<em>commandments&#8230; touch not, taste not, handle not</em>&#8220;!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">   Christianity, today, has woefully degenerated.  <em>Ordinances</em> have become more and more positive in their character; <em>preaching</em> is being everywhere set aside, while even <em>morality</em> itself is becoming more and more negative.  For the most part it consists in abstinence from this or that; and in vows and pledges and badges.  It is &#8220;touch <em>NOT, taste NOT, handle NOT</em>:&#8221; but &#8220;<em>all are to perish with the using</em>&#8220;; and all are characteristic of the ministry which is now being everywhere exercised.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Heaven to Earth: The Christian Hope in the Resurrection, Part III]]></title>
<link>http://ddflowers.wordpress.com/2009/07/01/heaven-to-earth-the-christian-hope-in-the-resurrection-part-iii/</link>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 00:02:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>David D. Flowers</dc:creator>
<guid>http://ddflowers.wordpress.com/2009/07/01/heaven-to-earth-the-christian-hope-in-the-resurrection-part-iii/</guid>
<description><![CDATA[Heaven to Earth: The Christian Hope in the Resurrection, Part III by David D. Flowers, free-lance wr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Heaven to Earth: The Christian Hope in the Resurrection, Part III by David D. Flowers, free-lance wr]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[For the sins the Bible doesn't cover, there's the Didache]]></title>
<link>http://churchmousec.wordpress.com/2009/06/20/for-the-sins-the-bible-doesnt-cover-theres-the-didache/</link>
<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 01:05:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>churchmouse</dc:creator>
<guid>http://churchmousec.wordpress.com/2009/06/20/for-the-sins-the-bible-doesnt-cover-theres-the-didache/</guid>
<description><![CDATA[At left is a confessional.  When I was at Catholic high school, my friends and I would debate sins w]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-1755" title="Confessional wdtprscom" src="http://churchmousec.wordpress.com/files/2009/06/confessional-wdtprscom.jpg" alt="Confessional wdtprscom" width="127" height="95" />At left is a confessional.  When I was at Catholic high school, my friends and I would debate sins which we didn&#8217;t see in the Bible.  This was when Edgar Cayce, Aleister Crowley and Hal Lindsey paperbacks were all the rage.  Many upperclassmen were reading them and bringing them into school.  Was that a sin?</p>
<p>What about seances?  Were they a sin?  What about when we had sleepovers and tried to levitate one another?  What about bigger things like abortion?  Surely, there&#8217;s Biblical proof for that.</p>
<p>Our discussions often turned into a slanging match of &#8216;It is <em>too</em> a sin!&#8217;  &#8216;No, it&#8217;s <em>not</em>.  Point the verse out to me in the Bible.  Show me. Go on.  See, you can&#8217;t!&#8217;  Then, the bell would ring and we would be off for English Lit or Trigonometry.</p>
<p>Admittedly, being Catholic, our knowledge of the Bible was pretty ropey.  The students dating Protestants sometimes had a better grip on Scripture.</p>
<p>Now, some years later, I have been reading about a document called <a href="http://ministries.tliquest.net/theology/apocryphas/nt/didache.htm" target="_blank">the Didache</a>, which I see more mention of on Protestant sites than on Catholic ones, although here is a recent <a href="http://www.dioceseofscranton.org/Bishop's%20Pastoral%20Letters/Bishop'sLetteronChastity.asp" target="_blank">one from the Diocese of Scranton</a>, Pennsylvania.  The Didache was written by some of the Apostles (unclear as to whom) in the 1st century using Scriptural references where possible to help those spreading the word in the Mediterranean.  It recaps the Ten Commandments, includes parts of the New Testament relating to sin and gives instruction on good Christian behaviour.</p>
<p>The Bible did not cover sins like abortion or paedophilia specifically, because these were unknown to the Jews and their neighbours.  However, societies in other lands engaged in these activities and new Christian converts had to be instructed against them, clearly and simply.</p>
<p>Although it was never accepted into the canon of the New Testament, the Catholic Church includes the Didache in its collection of the Apostolic Fathers.  It is thought that some early Doctors of the Church have referred to it in their own writings.  The document was then lost until it <a href="http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Didache" target="_blank">resurfaced again in 1873</a>.  Ten years later, a Greek Orthodox metropolitan bishop, Philotheos Bryennios, published it.  Afterward, a noted scholar of the time, Otto von Gebhardt, identified a Latin document in an Austrian monastery as being a translation of the first part of the Didache.  It was not long before the Didache was translated in its entirety into English by <a href="http://www.newadvent.org/fathers/0714.htm" target="_blank">Catholic</a> and <a href="http://ministries.tliquest.net/theology/apocryphas/nt/didache.htm" target="_blank">Protestant</a> scholars.</p>
<p>The Didache is divided into four categories and 16 chapters, highlights of which follow:</p>
<ul>
<li><span style="color:#008080;"><strong>The Teaching of the Two Ways, or the First Commandment (Chapter 1)</strong></span>: We must fast and pray not only for the good of our souls but in order to show a good Christian example to others.  This section borrows principal Jewish teachings.</li>
<li><span style="color:#008080;"><strong>The Teaching of the Two Ways continued, or the Second Commandment (Chapter 2)</strong></span>: Serious sin, such as abortion, paedophilia, witchcraft, stealing and murder are included.  It also discusses envy, greed, hypocrisy and pride. </li>
<li><span style="color:#008080;"><strong>Other sins forbidden &#8212; lust, anger, pagan magic (Chapter 3)</strong></span>: This section briefly explains how each less grievous sin can lead to more serious ones. Anger can lead to murder.  Omens, astrology and magic can lead to idolatry.  Lust can lead to fornication and adultery.</li>
<li><span style="color:#008080;"><strong>Rituals (Chapters 7 &#8211; 10)</strong></span>: Here we find the form and prayers for performing Baptism and dispensing Holy Eucharist.  The Lord&#8217;s Prayer is to be said three times daily.  Fasting on Wednesdays and Fridays is also important.      </li>
<li><span style="color:#008080;"><strong>Ministry (Chapters 11 &#8211; 16)</strong></span>: This section discusses the identification of false prophets, how Christians should assemble on the Sabbath and preparation for the Second Coming.  </li>
</ul>
<p>The translations cited above do not take long to read and are well worth bearing in mind as far as personal conduct is concerned.  The Didache also helps answer some of the &#8216;why&#8217; or &#8216;what if&#8217; questions your children might have. </p>
<p><span style="color:#008080;"><strong> </strong></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Didache on Baptism]]></title>
<link>http://standingonshoulders.net/2009/06/01/the-didache-on-baptism/</link>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 15:30:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Joseph Gould</dc:creator>
<guid>http://standingonshoulders.net/2009/06/01/the-didache-on-baptism/</guid>
<description><![CDATA[The Didache (short for &#8220;The Teaching&#8221;) is an anonymous document of the early church and ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>The Didache (short for &#8220;The Teaching&#8221;) is an anonymous document of the early church and generally dated during the late first or second century AD.  One of the major sections of the work (6.3-15.4) deals with issues of local church government and practices.  Chapter 7 of the document pertains to baptism:</p>
<p style="padding-left:30px;">Now concerning baptism, baptize as follows: after you have reviewed all these things, baptize in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit in running water.  But if you have no running water, then baptize in some other water; and if you are not able to baptize in cold water, then do so in warm.  But if you have neither, then pour water on the head three times in the name of the Father and Son and Holy Spirit.  And before the baptism let the one baptizing and the one who is to be baptized fast, as well as any others who are able.  Also, you must instruct the one who is to be baptized to fast for one or two days beforehand. [7.1-4]</p>
<p style="padding-left:30px;">[<em>The Apostolic Fathers: Greek Texts and English Translations</em>, 3rd edition, Grand Rapids: Baker, 2007]</p>
<p>I don&#8217;t have much to say about this passage, other than to say that it is much more consistent with credobaptism as opposed to paedobaptism.  Do you know what happens when you don&#8217;t feed an infant?  Intolerable screaming.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Denominations &amp; Ordination: A Crock of Baloney?]]></title>
<link>http://zoecarnate.wordpress.com/2009/05/16/denominations-ordination-a-crock-of-baloney/</link>
<pubDate>Sat, 16 May 2009 17:35:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>zoecarnate</dc:creator>
<guid>http://zoecarnate.wordpress.com/2009/05/16/denominations-ordination-a-crock-of-baloney/</guid>
<description><![CDATA[Tony Jones has been shocking the ministerial and denominational blogosphere this week by suggesting ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-794" title="Priest Collars 1" src="http://zoecarnate.wordpress.com/files/2009/05/priest-collars-1.jpg" alt="Priest Collars 1" width="247" height="247" />Tony Jones has been shocking the ministerial and denominational blogosphere this week by suggesting that our contemporary denominational ordination systems are <em>sinful</em> and obstruct the flow of the Spirit&#8217;s activity in our time.</p>
<p>His entire series on this is worth reading:</p>
<h3 class="entry-title"><a href="http://blog.beliefnet.com/tonyjones/2009/05/lets-ordain-adam.html" target="_blank">Let&#8217;s Ordain Adam</a></h3>
<h3 class="entry-title"><a href="http://blog.beliefnet.com/tonyjones/2009/05/reconsider-ordination-now.html" target="_blank">Reconsider Ordination. Now.</a></h3>
<h3 class="entry-title"><a href="http://blog.beliefnet.com/tonyjones/2009/05/reconsider-ordination-now-cont.html" target="_blank">Reconsider Ordination. Now. (Continued)</a></h3>
<h3 class="entry-title"><a href="http://blog.beliefnet.com/tonyjones/2009/05/an-anti--ordination-sermon.html" target="_blank">My (Anti-) Ordination Sermon</a></h3>
<h3 class="entry-title"><a href="http://blog.beliefnet.com/tonyjones/2009/05/ordination-housekeeping.html" target="_blank">Ordination: Housekeeping</a></h3>
<h3 class="entry-title"><a href="http://blog.beliefnet.com/tonyjones/2009/05/is-there-ordination-in-the-did.html" target="_blank">Is There Ordination in the Didache?</a></h3>
<p>I have some thoughts on this as you might imagine. Here&#8217;s a lightly-edited version of what I commented on Tony&#8217;s blog during the series&#8230;</p>
<p>Thanks for having the guts to have this conversation, Tony. As I think you know, for the past decade I&#8217;ve been part of a stream of <a href="http://zoecarnate.com/#relational" target="_blank">house churches</a> where we emphatically believe (and on our better days practice) &#8216;the priesthood of every believer.&#8217; This means that we all have the dignity, worth, responsibility and empowerment to be ministers of reconciliation, demonstrating God&#8217;s shalom here on terra firma. It also means, practically speaking, that we&#8217;re all expected to share in our gatherings, at least occasionally and hopefully more. Not like a bacchanalian Pentecostal service gone awry (though that can be fun too), but like preparing something or being open to share &#8211; you know, a psalm, hymn, a spiritual song; or perhaps a teaching, prophecy, or exhortation. : )</p>
<p>That said, for the past two or three years, I&#8217;ve been increasingly influenced by mainline and Catholic spirituality &#8211; liturgy, mystical theology, and commitments to justice in particular. And, like these churches would be quick to tell you, you can&#8217;t just cherry-pick the &#8217;spirituality&#8217; and theology you like from them while discounting the ecclesiology it&#8217;s been shaped by and comes wrapped in. So, I haven&#8217;t. Though I remain opposed to an ordained caste of Christians that stands over and above the mere &#8216;laity&#8217; (yep, I&#8217;m also an egalitarian when it comes to gender issues and I think the mutual-subordination model of the Trinity articulated by the Cappadocian mothers &#38; fathers, and by the author of <em>The Shack</em>, makes good sense), I respect the coherence &#38; elegance of the liturgy and the priesthood that&#8217;s evolved to support it.</p>
<p>Here&#8217;s where an <a title="Watch this video - it's amazing" href="http://video.google.com/videoplay?docid=-8201186130545666528" target="_blank">&#8216;emergence&#8217; orientation</a> has personally helped me, Tony: A decade ago, I would have had to keep on embracing house churching and slam mainline &#38; Catholic spirituality; alternately, I could have &#8216;converted&#8217; to (say) the <a href="http://anglimergent.ning.com/" target="_blank">Episcopal Church</a> and recanted my house church &#8216;heresy.&#8217; Now, I can transcend &#38; include. I can embrace a both/and perspective on this.</p>
<p>My both/and happens to be what you all practice at <a href="http://www.solomonsporch.com/" target="_blank">Solomon&#8217;s Porch</a>. I first encountered the idea from a friend of mine (I&#8217;ll protect his identity) who&#8217;s a progressive catholic type who&#8217;s flirted with the idea of being ordained as a priest in the <a href="http://tinyurl.com/qf9xc2" target="_blank">Celtic Catholic Church</a>, an independent Catholic church in the &#8216;ol apostolic succession. If he pursued this path, he told me, he&#8217;d pursue becoming a bishop. Once a bishop, he&#8217;d have the official authority to ordain anyone he wished &#8211; thus, he&#8217;d ordain any baptized Christian who understood the glory and duty of being a priest on earth.</p>
<p>I like this approach. I think that one way mainline churches can infuse new life into them would be take this subversive and experimental approach &#8211; perhaps with a few test dioceses at first, since I&#8217;m sure it would be scary. But take the Episcopalians for instance, who wish to be the best of Catholics meet Protestants. Why not take the pomp &#38; circumstance (what Bono called the &#8216;glam rock of the church&#8217;) of formal priesthood and make it available even to the plebs? I know institutions rarely undertake prophetic acts, but it seems like a Jesus thing to do. And way sexier than what we dour-faced house churchers do, poo-poohing the whole ordination &#8216;thang.&#8217; <img class="alignright size-medium wp-image-795" title="Priest Collars 2" src="http://zoecarnate.wordpress.com/files/2009/05/priest-collars-2.jpg?w=300" alt="Priest Collars 2" width="300" height="120" /></p>
<p>This need not be overly disruptive to the highest ideals of ordination. It could draw from the best of the 2nd-5th century <a href="http://savingparadise.net" target="_blank">cathecumen process</a>, where becoming baptized happened after much study, prayer, and service, carrying with it great weight and dignity. Make the ordinations gift-specific if need be, and certainly be clear that ordination doesn&#8217;t mean you&#8217;ll be making a full-time living or drawing a full-time paycheck from this vocation. For an era, I imagine there will still be full-time priests in this setting, but perhaps their role could evolve to being coordinators of church full of priests. After awhile, inspiration or necessity might give birth to an all-volunteer driven church, volunteers who nonetheless are completely serious about their great &#38; glorious vocation.</p>
<p>[After sharing this, there were some other comments. Here's my response...]</p>
<p>Thank you for your thoughts &#38; experience sharing, Rev. Joey.</p>
<p><em>&#8220;If everyone is &#8220;set apart,&#8221; for ministry then no one is set apart.&#8221;</em></p>
<p>Well, isn&#8217;t church &#8216;eclessia,&#8217; that is called-out ones? It seems that everyone is set apart for <em>something</em>.</p>
<p><em>&#8220;I don&#8217;t think that Tony&#8217;s comments point us to &#8220;no ordinations.&#8221;</em></p>
<p>Me neither.</p>
<p><em>&#8220;But I also have a hard time reconciling ordaining everyone to be the leader.&#8221;</em></p>
<p>Hmm. I suppose if everyone tried to be <em>the</em> leader at the same time, in the same space, and in the same way, one might have confusion like there was in Corinth circa century one. But if we see a diversity of ways leadership can function and is manifested, I think it makes sense to refer to a church of leaders (which isn&#8217;t the same thing as saying a church of pastors or church of elders &#8211; though I would also assume that both of these can and perhaps should be plural in a healthy gathering; ie, more than one).</p>
<p>Wow. Let me just say it feels weird discussing church polity like this in an &#8216;emerging&#8217; context. It brings me back to house church vs. conservative Calvinist debates I was having on email <a href="http://zoecarnate.com/#msgbrd" target="_blank">listservs</a> 11 years ago! In that spirit, I&#8217;ll close with a quotation from Holy Writ:</p>
<p>&#8220;You also, like living stones, are being built into a spiritual house to be a holy priesthood, offering spiritual sacrifices acceptable to God through Jesus Christ.&#8221; (I Peter 2:15-16, echoing Exodus 19:6, &#8220;You will be my kingdom of priests and my holy nation.&#8217; These are the words you must speak to the Israelites.&#8221;)</p>
<p>These texts in their context might not mean <em>everything</em> I want &#8216;em to mean, but they&#8217;ve gotta mean <em>something</em>.</p>
<p>[Someone then told Tony that if he's decrying a corrupt denominational system paying minister, then he needs to stop writing books for a corrupt publishing industry. Naturally, I took great umbrage. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />   Here's my reply...]</p>
<p>The difference between regularly-paid ministry/denominational apparati and Christian publishing is significant: If Tony&#8217;s a compelling writer, people will buy his books and in effect choose to be ministered unto by him on a per-book basis. Any monetary compensation he receives from this is per book sold, unless he &#38; the publisher negotiate an advance royalty &#8211; which still isn&#8217;t the same as a salary with benefits. A paid denominational minister, on the other hand, can and often does coast for years on mediocre material at best, continuing to draw salary and benefits. Even when local congregations oust the so-so minister, they can go from church to church and build a career out of it. I&#8217;m not suggesting that most have this outlook; I am suggesting, though, that publishing is way more merit-based than most bureaucratic ministry. Two mediocre books and you&#8217;re finished in publishing &#8211; if that. Bureaucratic ministry procedures hurt the &#8216;clergy&#8217; as well as the &#8216;laity;&#8217; the whoredom of Christian publishing produces Christian best-sellers, which are their own form of calumny. But that&#8217;s another conversation&#8230;</p>
<p>And I&#8217;ll admit, people had some great pushback to my publishing-as-meritocracy comment. The posts are well-worth reading.</p>
<p>Thanks again, Tony, for these provocations!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A New Old Grace]]></title>
<link>http://goulablogger.wordpress.com/2009/04/17/a-new-old-grace/</link>
<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 06:00:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Chuck Grantham</dc:creator>
<guid>http://goulablogger.wordpress.com/2009/04/17/a-new-old-grace/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Almighty Master, You created all things for your name&#8217;s sake, and gave food and drink t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Almighty Master, You created all things for your name&#8217;s sake, and gave food and drink to men to enjoy, so that they might give you thanks. To you be the glory forever.</p>
<p>Above all we we give thanks that you have graciously given us spiritual food and drink and eternal life through your Servant Jesus. Yours be the power and glory forever.</p>
<p>May grace come, and may this world pass away. Marantha! Amen.&#8221;</p>
<p>This is in fact but a slight condensation and reworking of one of the prayers in the <a href="http://www.earlychristianwritings.com/didache.html">Didache</a>, section 10, from Michael Holmes&#8217; <a href="http://www.amazon.com/Apostolic-Fathers-English-Michael-Holmes/dp/0801031087/ref=sr_1_2?ie=UTF8&#38;s=books&#38;qid=1239947679&#38;sr=1-2">Apostolic Fathers</a>, <a href="http://www.amazon.com/Apostolic-Fathers-Greek-English-Translations/dp/080103468X/ref=pd_sim_b_4">Third Edition</a>. But that makes the original one of the oldest Christian prayers we know. Using it, and variations of it, lately, makes me feel more in touch with the long line of Christians blessing their meals before me.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Different Views on Baptism, Part Eight: Trine Baptism]]></title>
<link>http://drtimwhite.com/2009/03/24/the-different-views-on-baptism-part-eight-trine-baptism/</link>
<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 18:03:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>whitet</dc:creator>
<guid>http://drtimwhite.com/2009/03/24/the-different-views-on-baptism-part-eight-trine-baptism/</guid>
<description><![CDATA[The Church of the Brethren actually have six ordinances which include the love feast, the anointing ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[The Church of the Brethren actually have six ordinances which include the love feast, the anointing ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Didache a.d. 80-120]]></title>
<link>http://loveyourenemies.wordpress.com/2009/03/07/didache-ad-80-120/</link>
<pubDate>Sun, 08 Mar 2009 02:03:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>sean</dc:creator>
<guid>http://loveyourenemies.wordpress.com/2009/03/07/didache-ad-80-120/</guid>
<description><![CDATA[Didache 1.1-6, perhaps the earliest post-biblical Christian teaching: The Lord&#8217;s Teaching to t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Didache 1.1-6, perhaps the earliest post-biblical Christian teaching:</p>
<blockquote><p>The Lord&#8217;s Teaching to the Heathen by the Twelve Apostles:</p>
<p>1 There are two ways, one of life and one of death; and between the two ways there is a great difference.</p>
<p>2 Now, this is the way of life: &#8220;First, you must love God who made you, and second, your neighbor as yourself.&#8221;  And whatever you want people to refrain from doing to you, you must not do to them.</p>
<p>3 What these maxims teach is this: &#8220;<strong>Bless those who curse you,&#8221; and &#8220;pray for your enemies.&#8221; Moreover, fast &#8220;for those who persecute you.&#8221; For &#8220;what credit is it to you if you love those who love you? Is that not the way the heathen act?&#8221; But &#8220;you must love those who hate you,&#8221; and then you will make no enemies. 4 &#8220;Abstain from carnal passions.&#8221; If someone strikes you &#8220;on the right cheek, turn to him the other too, and you will be perfect.&#8221;</strong> If someone &#8220;forces you to go one mile with him, go along with him for two&#8221;; if someone robs you &#8220;of your overcoat, give him your suit as well.&#8221;  If someone deprives you of &#8220;your property, do not ask for it back.&#8221;  (You could not get it back anyway!)  5 &#8220;Give to everybody who begs from you, and ask for no return.&#8221;  For the Father wants his own gifts to be universally shared. Happy is the man who gives as the commandment bids him, for he is guiltless! But alas for the man who receives! If he receives because he is in need, he will be guiltless. But if he is not in need he will have to stand trial why he received and for what purpose. He will be thrown into prison and have his action investigated; and &#8220;he will not get out until he has paid back the last cent.&#8221; 6 Indeed, there is a further saying that relates to this: &#8220;Let your donation sweat in your hands until you know to whom to give it.&#8221;</p></blockquote>
<p><a href="http://www.ccel.org/ccel/richardson/fathers.viii.i.iii.html" target="_blank">read the rest of the Didache</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lenten Plan - Day 1 - Ash Wednesday]]></title>
<link>http://lionslair.wordpress.com/2009/02/24/lenten-plan-day-1-ash-wednesday/</link>
<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 02:03:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>The Lioness</dc:creator>
<guid>http://lionslair.wordpress.com/2009/02/24/lenten-plan-day-1-ash-wednesday/</guid>
<description><![CDATA[Day 1 Lenten Reading Plan here. The Lite version of the Plan Compiled by Church Year. Net 2009 Date ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Day 1 Lenten Reading Plan here. The Lite version of the Plan Compiled by Church Year. Net 2009 Date ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The Many and the One]]></title>
<link>http://ineedanswers.wordpress.com/2009/02/15/the-many-and-the-one/</link>
<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 00:46:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>ineedanswers</dc:creator>
<guid>http://ineedanswers.wordpress.com/2009/02/15/the-many-and-the-one/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Just tell me what you believe so I can tell you why you&#8217;re wrong!&#8221; You may not ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>&#8220;Just tell me what you believe so I can tell you why you&#8217;re wrong!&#8221; You may not have heard these precise words, but I can bet you&#8217;ve run into this attitude at some point in your life.  Our faith is distinct it is who and what we are. What we live and die for and what we know our ultimate destiny will be if we live in faith to Yeshua (Christ) our Messiah.</p>
<p><a href="http://yeshuans.org/main/yeshuans-message-many-and-the-one.php">Read more&#8230;</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A Choice Must Be Made]]></title>
<link>http://ineedanswers.wordpress.com/2009/01/08/a-choice-must-be-made/</link>
<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 14:05:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>ineedanswers</dc:creator>
<guid>http://ineedanswers.wordpress.com/2009/01/08/a-choice-must-be-made/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;There are two ways, one of life and one of death; but there is certainly a great difference b]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em>&#8220;There are two ways, one of life and one of death; but there is certainly a  great difference between these two ways.&#8221; </em></p>
<p>This is pretty  straightforward: Each person in life has a choice to make, a journey to the  Eternal Light of God, or away from that light. No one is static. They are either  heading in one direction or the other.</p>
<p>The text makes it clear that you  cannot be going to both locations simultaneously. There is a choice each person  makes and the evidence of this choice is manifested in the lives of the seeker:  a way of light is comprised of one type of conduct and nature, the way of death  is comprised of an opposing type of conduct and nature.</p>
<p><a href="http://www.yeshuans.org/didache/section2.php" target="_blank">Continue reading&#8230;</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[A Spiritual Survival Guide ]]></title>
<link>http://ineedanswers.wordpress.com/2008/12/29/a-spiritual-survival-guide/</link>
<pubDate>Mon, 29 Dec 2008 15:55:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>ineedanswers</dc:creator>
<guid>http://ineedanswers.wordpress.com/2008/12/29/a-spiritual-survival-guide/</guid>
<description><![CDATA[There is a great deal riding the capacity of Believers to be following the Narrow Path by the time o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>There is a great deal riding the capacity of Believers to be following the  Narrow Path by the time of the return of Messiah.</p>
<p>The greatest travesty  for the greater percentage of this world, is that most people believe, who even  concede a Supreme Being, themselves to somehow be in these good graces just by  virtue of the fact that they acknowledge the Creator at all.</p>
<p>This is a  first step but it is far from the full journey.</p>
<p>For those born into the  Jewish Faith, the path spelled out in the Gospels, teaches a Torah Observant  life. But more than this, a life devoted to the heart of Torah. This is the  Torah of Moses, sealed in the Blood of the Lamb.</p>
<p>While this is a valid  path for many in the world, considering the greater percentage of people do not  come from a Jewish background, a path was required that could take any person,  no matter who they were or where they were from and bring them into the fold of  Messiah and prepare them for His return.</p>
<p>St. James, the Teacher of  Righteousness and leader of the Apostolic community penned a letter, the  official Letter of St. James to the Gentiles. In this letter, James lays out  what every person, no matter what their background, must do in order to have a  place with Yeshua upon His return.</p>
<p><a href="http://www.yeshuans.org/didache/introduction.php" target="_blank">Continue reading</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Casual Apologetics]]></title>
<link>http://discoverthefaith.com/2008/12/16/casual-apologetics/</link>
<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 00:12:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>cd</dc:creator>
<guid>http://discoverthefaith.com/2008/12/16/casual-apologetics/</guid>
<description><![CDATA[Today at work some coworkers were joking around about Catholic baptism. One lady made some innocent ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Today at work some coworkers were joking around about Catholic baptism. One lady made some innocent jokes regarding baptism by pouring or sprinkling which is done at many Catholic churches throughout the world. From her background, she is used to baptized by submersion. I took this opportunity to clarify the background regarding the different ways that are acceptable to baptize using excerpts from the Didache. The Didache is an ancient Christian document dating from the first century that describes many of the practices of the early Church.</p>
<p>Before I did this she mentioned that she was baptized in a pond and jokingly I told her that it was not valid since it was not done in running(living) water such as in a river. (I told her I was kidding (which I was)but I did say it to make a point.)</p>
<p>Then I proceeded to show her portions of the Didache that describe the various ways to perform water baptism and why they are legitimate. Here is the passage.</p>
<p style="padding-left:30px;"> <span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:x-small;"><strong>After the foregoing instructions, baptize in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, in living [running] water. If you have no living water, then baptize in other water, and if you are not able in cold, then in warm. If you have neither, pour water three times on the head, in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit.</strong></span></span></span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;">What is amazing is she questioned where I got this information and then proclaimed in amazement something to the effect&#8212;&#8221;This is where you Catholics got this from&#8221;.</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;">The point of this is that I took this opportunity to explain the practice of the Church and showed how this practice has been done since the beginning of the Church. She probably won&#8217;t become Catholic but I did educate her on why we do this practice as Catholics. We didn&#8217;t get a chance to explain infant baptism&#8230;.maybe next time!</span></p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-size:x-small;font-family:Arial;">This was a friendly conversation as most of my coworkers like to occasionally rib me about my Catholicism but are good natured about it and they do know that I am fairly well versed in defending it. This to me was casual apologetics. Nothing deep and short and simple.</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[November 27, 2008    34 Thursday of Ordinary Time]]></title>
<link>http://livingscripture.wordpress.com/2008/11/27/november-27-2008-34-thursday-of-ordinary-time/</link>
<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 01:10:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>livingscripture</dc:creator>
<guid>http://livingscripture.wordpress.com/2008/11/27/november-27-2008-34-thursday-of-ordinary-time/</guid>
<description><![CDATA[From the Word of the Day   When these things begin to take place, look up and raise your heads, beca]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h2 style="margin:0;"><span style="color:windowtext;font-family:&#34;" lang="EN-US"><span style="font-size:x-large;">From the Word of the Day</span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span lang="EN-US"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-family:Times New Roman;"><strong><em><span style="font-size:14pt;" lang="EN-GB">When these things begin to take place, look up and raise your heads, because your redemption is drawing near.</span></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:14pt;font-family:Rockwell;" lang="EN-GB"><span> </span><span> </span></span><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-GB">(Luke 21, 28) </span><strong><em></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;text-shadow:auto;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;text-shadow:auto;" lang="EN-US"><a href="http://livingscripture.wordpress.com/files/2008/11/sermon_on_the_mount_hat1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-275" src="http://livingscripture.wordpress.com/files/2008/11/sermon_on_the_mount_hat1.jpg" alt="" width="153" height="115" /></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&#34;text-shadow:auto;" lang="EN-US">               How should we live this Word</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US">Jesus</span><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"> speaks to us of what will happen when our history ends and He Himself, the Son of man, will come again among us ‘with power and great glory’.<span>  </span>When will all this happen?<span>  </span>We cannot yet experience the conclusive act in our ‘today’, but it merits our consideration.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;">Above all, that which is not happening here and now, can well happen in a day, in a moment.<span>  </span>Our existence is a beautiful adventure but ever so fleeting!<span>  </span>By the grace of God and our good fortune, all is going toward an end, the beginning of great freedom.<span>  </span>Suffering, sickness, death will end.<span>  </span>An eternity of beauty, freedom will begin in pure Goodness, the Goodness that is the God who, in the Risen Christ, will come to meet us, the principle and cause of our resurrection.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;">This can happen at any moment.<span>  </span>Yet, there is nothing to fear!<span>  </span>However, my life with all its lights and shadows, must be a constant raising of my head in a love-filled vigilance and in a gaze that continually seeks God.<span>  </span>Now I meet Him in the peace that is the fulfillment of His will.<span>  </span>Yes, today it is within a deep peace in a process of liberation.<span>  </span>Tomorrow it will be in the house of the Father with a happiness that endures forever.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;">Today in my pause for silent contemplation, I will move away from laziness, accommodations, idolizing what I like.<span>  </span>I will pray:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;">Yes, Lord, my liberation from all that keeps me glued to the earth is already happening.<span>  </span>You are my fullness, You who come and are near me.<span>  </span>I raise my eyes to You.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="font-size:11pt;" lang="EN-US"><span style="font-family:Times New Roman;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><em><span style="font-size:16pt;font-family:&#34;" lang="EN-US">The Voice of the Didaché, a text of the first centuries of Christianity</span></em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;"> </span></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><em><span style="font-family:&#34;" lang="EN-US"><span style="font-size:small;">Keep watch on your life.<span>  </span>Keep your lamps lit and your limbs gird.<span>  </span>Be ready.<span>  </span>You do not know the hour in which Our Lord will come (Mt. 24, 42-44).<span>  </span>Gather together often, seeking what is good for your souls.<span>  </span>A lifetime of faith will do you no good, if you are not perfect at the end.</span></span></em></strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
