<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>dimanjakan &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/dimanjakan/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "dimanjakan"</description>
	<pubDate>Thu, 23 May 2013 23:47:11 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[WJR ; Dah ada yang merisik-risik !!!!]]></title>
<link>http://bujang3.wordpress.com/2011/04/20/wjr-dah-ada-yang-merisik-risik/</link>
<pubDate>Wed, 20 Apr 2011 15:38:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>bujang3</dc:creator>
<guid>http://bujang3.wordpress.com/2011/04/20/wjr-dah-ada-yang-merisik-risik/</guid>
<description><![CDATA[Dah hampir 3 bulan WJR aku tak ber&#8221;layan&#8220;&#8230; Almaklum ajer lah&#8230; dah ada pengga]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dah hampir 3 bulan WJR aku tak ber&#8221;layan&#8220;&#8230; Almaklum ajer lah&#8230; dah ada pengga]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Para Ilmuwan yang Minggat]]></title>
<link>http://adyahningtyas.wordpress.com/2010/05/09/para-ilmuwan-yang-minggat/</link>
<pubDate>Sun, 09 May 2010 03:41:53 +0000</pubDate>
<dc:creator>adyahningtyas</dc:creator>
<guid>http://adyahningtyas.wordpress.com/2010/05/09/para-ilmuwan-yang-minggat/</guid>
<description><![CDATA[Saat ini banyak sekali cendekia lebih memilih tinggal di luar negeri ketimbang kembali pulang ke Ind]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini banyak sekali cendekia lebih memilih tinggal di luar negeri ketimbang kembali pulang ke Indonesia. Banyak sekali alasan yang melatarbelakangi keputusan mereka untuk tidak berkarya di Indonesia.<br />
Reaksi yang ditimbulkan publik di Tanah Air pun bermacam-macam. Ada yang beranggapan mereka tidak nasionalis, tidak mau membangun bangsanya, sampai ada juga yang menganggap mereka materialis, karena seperti kita tahu, para kaum cendekia itu digaji lebih tinggi di luar negeri dibandingkan dengan di sini. Padahal, tinggal di luar negeri dan berkarya di luar negeri bukan pilihan yang “mengkhianati” bangsa Indonesia.<br />
<!--more-->Saya melihat tayangan di salah satu televisi yang bercerita tentang para scholars yang lebih memilih untuk meningkatkan karier mereka dan tinggal di luar negeri, terutama di Amerika Serikat. Kebanyakan dari mereka berkecimpung di bidang sains dan teknologi, namun tak sedikit juga yang menekuni bidang kebudayaan dan sastra. Mereka biasanya mendapatkan gelar dari salah satu universitas di negara tersebut. Ada yang awalnya mendapatkan beasiswa dari pemerintah negara yang bersangkutan, ada juga yang memang sejak kecil tidak tinggal di Indonesia. Setelah menyelesaikan studi mereka di perguruan tinggi, mereka terjun ke dunia kerja di negara tempat mereka menyelesaikan pendidikan.<br />
Banyak dari mereka merasa bahwa kesempatan untuk mengembangkan ilmu yang mereka dapat lebih terbuka dengan tetap tinggal di luar negeri. Banyak ilmuwan Indonesia dimanjakan dengan fasilitas laboratorium yang canggih dan modal finansial untuk mengembangkan penelitian. Di Indonesia, mereka tidak mudah mengadakan penelitian karena terbentur fasilitas dan modal. Begitu juga dengan orang-orang yang menekuni bidang sastra dan kebudayaan. Melimpah ruahnya literatur dan objek pembelajaran membuat mereka betah tinggal di luar negeri. Satu hal yang menarik bagi saya dari setiap profil yang diwawancarai adalah saat mereka menyatakan latar belakang yang sama mengapa meninggalkan Indonesia dan berkarya di luar negeri. Menurut mereka, ini karena karya yang mereka kerjakan didedikasikan untuk Indonesia.<br />
Banyak orang menganggap itu semua hanya omong kosong yang diucapkan untuk menghilangkan kesalahpahaman dan agar para scholars tersebut tetap dapat bersenang-senang di luar negeri sementara dunia pendidikan, sains, kebudayaan, dan sastra di negeri ini kacau-balau. Mereka terlihat mencari untung sendiri karena suasana yang demikian terlihat sangat tidak menguntungkan bagi mereka. Di Indonesia masih butuh banyak dosen yang berkualitas kok malah ngajar di Amerika? Di Indonesia butuh lebih banyak sosialisasi gamelan kok malah ngajar seni karawitan di Amerika? Mungkin begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran sebagian besar masyarakat Indonesia yang merasa “dikhianati”.<br />
Saya rasa kecenderungan memilih berkarya di luar negeri erat kaitannya dengan usaha keterwakilan Indonesia di kancah global dalam ilmu pengetahuan. Terlepas dari apakah para ilmuwan itu mengatakan yang sebenarnya atau tidak, keberadaan mereka di ranah ilmu pengetahuan global tidak hanya menguntungkan diri mereka, tetapi juga bagi Indonesia yang secara tidak langsung memiliki diplomat-diplomat yang mewakili Indonesia.<br />
(tulisan ini juga dimuat di Harian SURYA, RABU, 14 APRIL 2010)</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
