<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>dokumenter &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/dokumenter/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "dokumenter"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:05:46 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Round The World Connected]]></title>
<link>http://sabai95.wordpress.com/2010/01/28/round-the-world-connected/</link>
<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 04:09:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>sabai95</dc:creator>
<guid>http://sabai95.wordpress.com/2010/01/28/round-the-world-connected/</guid>
<description><![CDATA[I was working with MovingBrands, a branding and digital agency based in London, making this short fi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[I was working with MovingBrands, a branding and digital agency based in London, making this short fi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[the age of stupid]]></title>
<link>http://mayakho.wordpress.com/2010/01/20/the-age-of-stupid/</link>
<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 13:53:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>mayakho</dc:creator>
<guid>http://mayakho.wordpress.com/2010/01/20/the-age-of-stupid/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;Why didn&#8217;t we stop climate change when we had the chance?&#8221;, Inilah sepenggal tany]]></description>
<content:encoded><![CDATA[&#8220;Why didn&#8217;t we stop climate change when we had the chance?&#8221;, Inilah sepenggal tany]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Earth: Sebuah Keajaiban]]></title>
<link>http://sabai95.wordpress.com/2009/12/20/earth-sebuah-keajaiban/</link>
<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 17:51:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>sabai95</dc:creator>
<guid>http://sabai95.wordpress.com/2009/12/20/earth-sebuah-keajaiban/</guid>
<description><![CDATA[Ini film yang semua aktor dan aktrisnya nggak bisa ngomong tapi filmnya sangat dramatis dan luar bia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ini film yang semua aktor dan aktrisnya nggak bisa ngomong tapi filmnya sangat dramatis dan luar bia]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Review Indonesia Bukan Negara Islam]]></title>
<link>http://movboo.wordpress.com/2009/11/24/review-indonesia-bukan-negara-islam/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 06:18:32 +0000</pubDate>
<dc:creator>theviewers</dc:creator>
<guid>http://movboo.wordpress.com/2009/11/24/review-indonesia-bukan-negara-islam/</guid>
<description><![CDATA[Setelah misuh-misuh browsing mencari film dokumenter Indonesia Bukan Negara islam, akhirnya saya dap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/jssm9TbGnu4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/jssm9TbGnu4&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah misuh-misuh browsing mencari film dokumenter Indonesia Bukan Negara islam, akhirnya saya dapet juga. Sebernya untuk mengakses film ini sangat gampang, search aja di youtube. kemarin sih emang saya nya yang ribet. hehehe.</p>
<p style="text-align:justify;">Okay, sekarang reviewnya. Film yang berdurasi kurang dari 10 menit ini bikin saya tergugah. Padahal dari segi sinematografinya biasanya aja, hanya potongan-potongan foto yang diedit menjadi satu. Tapi film ini sangat spesial. apa yang membuat spesial? Tema yang diusungnya sangat berani. bagaimana sudut pandang dari kaum minoritas tentang kekuasaan islam di Indonesia. Bagaimana Indonesia yang notabene negara yang memperbolehkan warganya menganut 5 agama yang diakui, akhirnya hanya dikuasai oleh satu agama.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya seorang muslim, tidak berjilbab, dan kadang orang mengira saya Non-Islam karena nama saya yang tidak islami. Dengan identitas saya sebagai muslim saja, kadang jika saya melewati daerah-daerah yang religusitasnya tinggi, saya seperti dilihat sebagai pendosa besar yang tidak menutup auratnya. Dasar saya nya cuek, peduli amat mau diliatin juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah saya menganut islam apa, tapi saya tetap berpegang teguh pada al-qur&#8217;an dan hadits, serta sunnah nabi. Agama merupakan HAM, jadi tidak bisa diganggu gugat. Gambaran kampus saya mungkin cerminan dari Indonesia dalam skala kecil. Kampus saya bukan kampus islam seperti IAIN, tapi hampir semua kegiatan mahasiswa baru berbau islami. Bahkan sampai pengkaderan mahasiswa baru pun sangat islami. Setiap kegiatan selalu dibuka dengan bacaan ayat sudi al-qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini membuat saya gerah sendiri, ingin rasanya saya berteriak &#8220;HEY, EMANGNYA KITA IAIN? MANA PERHATIAN TERHADAP AGAMA LAIN?&#8221; Yah, tapi sekali nya saya protes, saya disebut sebagai kafir lah, musyrik lah. Saya bukannya tidak senang islam diakui di Indonesia, tapi toh jangan terlalu arogan. Islam juga mengajarkan toleransi beragama bukan? Saya yakin, pada dasarnya semua agama mengajarkan kebaika, tetapi dengan cara yang berbeda. Marilah kita saling menghargai satu sama lain. Jangan karena perbedaan sedikit, langsung main bacok, main pukul, main bunuh. Kenapa tidak duduk bersama memecahkan masalah?</p>
<p style="text-align:justify;">Highly recommended to watch! please be more open minded.</p>
<p style="text-align:justify;">regards,</p>
<p style="text-align:justify;">The Viewers</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[This is it]]></title>
<link>http://storitie.wordpress.com/2009/11/19/this-is-it/</link>
<pubDate>Wed, 18 Nov 2009 19:48:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>storitie</dc:creator>
<guid>http://storitie.wordpress.com/2009/11/19/this-is-it/</guid>
<description><![CDATA[yuuppp Michael Jackson,,!! gw suka cover filmnya de,, jd ini isinya lebih banyak tentang rehearsal n]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><a href="http://storitie.wordpress.com/files/2009/11/this-is-it.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-1555" title="this is it" src="http://storitie.wordpress.com/files/2009/11/this-is-it.jpg" alt="" width="240" height="358" /></a>yuuppp <strong>Michael Jackson</strong>,,!!</p>
<p style="text-align:center;">gw suka cover filmnya de,,</p>
<p style="text-align:center;">jd ini isinya lebih banyak tentang rehearsal nya si MJ dalam rangka show nya yang ternyata ngga pernah bisa terwujud,,</p>
<p style="text-align:center;">cerita tentang begimana pemilihan dancer2nya,,begimana dia nyamain tangga nada smua pendukung konsernya,,begimana dance2nya yang smuanya fully energy,,totally cool,,</p>
<p style="text-align:center;">dan terlihat bahwa,<!--more--> smua orang yang ikut berpartisipasi sangat sangat senang bisa berlatih bareng sang MJ,,</p>
<p style="text-align:center;">jd sedih juga sih,,ngliat segimana latihan2 yang uda dia lakuin,,persiapan2 nya,,rencana2nya,,dan pesan2 yang mau dia sampein,,</p>
<p style="text-align:center;">tapi, untunglah ada film dokumenter ini,,it was nice to know his greatness,, (walo AC blitz teras kota nya dingin ga ketulungan bikin nontonnya jd aga ga konsen)</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;">Michael Jackson takes a final bow in this theatrical concert film featuring rehearsal footage of the late mega star as he practiced for the 100 shows in London that never came to be.</p>
<p style="text-align:center;">(::mengutip dr previewnya blitz megaplex::)</p>
</blockquote>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Film Dokumenter "Pertaruhan" Disambut Hangat Warga Makassar]]></title>
<link>http://wisatasejarah.wordpress.com/2009/11/16/film-dokumenter-pertaruhan-disambut-hangat-warga-makassar/</link>
<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 01:51:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>susantorahmat</dc:creator>
<guid>http://wisatasejarah.wordpress.com/2009/11/16/film-dokumenter-pertaruhan-disambut-hangat-warga-makassar/</guid>
<description><![CDATA[TEMPO Interaktif, Makassar -Pemutaran film dokumenter secara cuma-cuma bertajuk &#8216;Pertaruhan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[TEMPO Interaktif, Makassar -Pemutaran film dokumenter secara cuma-cuma bertajuk &#8216;Pertaruhan]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Vedtekter for studentrådet for bibliotek- og informasjonsvitenskap]]></title>
<link>http://bibinstudentrad.wordpress.com/2009/10/27/vedtekter-for-studentradet-for-bibliotek-og-informasjonsvitenskap/</link>
<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 13:06:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>bibinstudentrad</dc:creator>
<guid>http://bibinstudentrad.wordpress.com/2009/10/27/vedtekter-for-studentradet-for-bibliotek-og-informasjonsvitenskap/</guid>
<description><![CDATA[Innhold: § 1. Styringsorganer § 2. Allmøtet § 3. Studentrådet § 4. Endringer av vedtektene § 1. Styr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;"><strong>Innhold:<br />
</strong></p>
<p style="text-align:left;">§ 1. Styringsorganer<br />
§ 2. Allmøtet<br />
§ 3. Studentrådet<br />
§ 4. Endringer av vedtektene</p>
<p style="text-align:left;"><strong>§ 1. Styringsorganer</strong></p>
<p style="text-align:left;">Studentene ved nibliotek- og informasjonsutdanningen (BIBIN) ved Høgskolen i Oslo organiserer seg som gruppe med følgende styringsorganer:<br />
a) Allmøtet<br />
b) Studentrådet</p>
<p style="text-align:left;"><strong>§ 2. Allmøtet</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>2.1 Arbeidsområde:</strong><br />
Allmøtet er studentene ved BIBINs høyeste styringsorgan. Allmøtet bør avholdes minst en gang i semesteret.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>2.2 Sammensetning.</strong><br />
Alle studenter ved BIBIN har møte-, tale- og stemmerett. Andre kan møte etter anmodning fra studentrådet.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>2.3 Innkalling: </strong><br />
Studentrådet innkaller til allmøte når studentrådet ønsker å legge fram saker for alle studentene. Studentrådet innkaller til allmøte senest en uke før møtet, og skal da fremlegge forslag til dagsorden, samt alle saksdokumenter til møtet. Dersom minst 50 av studentene ønsker det, skal studentrådet innkalle til allmøte innen 72 timer. Innkalling til møtet samt alle saksdokumenter skal foreligge senest 48 timer før møtet finner sted.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>2.4 Vedtak</strong><br />
Vedtak fattes med simpelt flertall. Dersom minst en av de studentene krever det, skal avstemningen gjøres skriftlig.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>2.5 Referat</strong><br />
Studentrådet skriver referat fra allmøtet og distribuerer dette til alle studentene pr. epost.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>§ 3. Studentrådet</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong>3.1 Valg av tillitsvalgte</strong></p>
<p style="text-align:left;">a) <em>Studentrådet velger studentrepresentanter til avdelingsstyret.</em></p>
<p style="text-align:left;">Studentrådets leder skal være representant i avdelingsstyret, nestleder skal være vara. Hvis dette ikke er mulig velger Studentrådets andre representanter. Representanter sitter 1 år.</p>
<p style="text-align:left;">b) <em>Arbeidsutvalget </em><br />
Studentrådet velger tre studenter til studentrådets styre, henholdsvis leder, nestleder og kasserer. Deres funksjonstid er ett år.</p>
<p>c) <em>Faglige kontaktutvalg</em><br />
Tillitsvalgtene i hver klasse opptrer som representanter til de tre faglige kontaktutvalgene</p>
<p style="text-align:left;"><strong>3.2 Arbeidsområder</strong><br />
Studentrådet er bindeleddet mellom studenter, klasser, allmøtet, BIBIN sine styringsorganer og andre studentaktiviteter. For å fylle denne oppgaven skal studentutvalget:</p>
<p style="text-align:left;">a) Holde regelmessig kontakt med avdelingsstyret.</p>
<p style="text-align:left;">b) Informere studentene om vedtak gjort i avdelingsstyret, studentutvalget og andre organer/ organisasjoner som BIBIN er medlem av.</p>
<p style="text-align:left;">c) Iverksette allmøtets vedtak og ta beslutninger på vegne av studentene innenfor rammen av disse vedtakene.<br />
<strong><br />
3.3 Sammensetning</strong><br />
Studentrådet består av styret og en tillitsvalgt fra hver klasse. Styret konstituerer seg selv før første møte i studentrådet.</p>
<p style="text-align:left;">Hver klasse velger en tillitsvalgt og en varatillitsvalgt med simpelt flertall. Valget skal skje senest fire uker etter semesterets begynnelse. Tillitsvalgt og vara velges for ett år av gangen.</p>
<p style="text-align:left;">Styret v/leder forbereder og sammenkaller til studentrådsmøtene. Forslag til dagsorden legges frem senest en uke før møtet.</p>
<p style="text-align:left;">Allmøtet behandler regnskap og budsjett på årets første allmøte. Studentrådet kan omdisponerer sine midler innenfor budsjettrammen gitt av allmøtet.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>3.4. Møte-, tale- og stemmerett</strong><br />
Alle registrerte studenter ved BIBIN har møte- og talerett. Bare tillitsvalgte fra klassene eller allmøtet har stemmerett.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>3.5 Vedtak</strong><br />
Vedtak i studentrådet gjøres med simpelt flertall. Ved stemmelikhet voteres det på nytt. Ved fortsatt stemmelikhet avgjør leder sin dobbeltstemme.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>3.6 Referat</strong><br />
En i studenttrådet skriver referat som skal inneholde alle forslag, vedtak og dissenser. Referatet skal være klart senest en uke etter møtet.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>3.7 Komiteer</strong><br />
Studentutrådet kan nedsette midlertidige komiteer til hjelp for eget arbeid. Forslag om nedsettelse av permanente utvalg og komiteer skal godkjennes av allmøtet.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>3.8 Utskiftning av representanter</strong><br />
Ved langvarig fravær blant medlemmer i styret oppnevnes midlertidige representanter av studentrådet blant de tillitsvalgte. Dersom ett medlem av styret må trekke seg i løpet av perioden, skal studentrådet velge nytt medlem til styret</p>
<p style="text-align:left;"><strong>3.9 Mistillit</strong><br />
Dersom det blir stilt mistillit mot en eller flere medlemmer av styret, skal dette behandles av allmøtet.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>§ 4 Endringer av vedtektene</strong></p>
<p style="text-align:left;">Vedtektene behandles årlig av allmøtet. Innkalling og sakspapirer sendes senest to uker før allmøtet. Studentutvalget innstiller overfor allmøtet. Vedtektene endres med kvalifisert flertall, 2/3.</p>
<p style="text-align:left;">Vedtektene ble sist endret på allmøtet 10. oktober 2007.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Press Conference Soraya Abdullah Balvas, Menanggapi Tuduhan Aparat Negeri Ini]]></title>
<link>http://denfatur.wordpress.com/2009/09/10/press-conference-soraya-abdullah-balvas-menanggapi-tuduhan-aparat-negeri-ini/</link>
<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 23:02:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>denfatur</dc:creator>
<guid>http://denfatur.wordpress.com/2009/09/10/press-conference-soraya-abdullah-balvas-menanggapi-tuduhan-aparat-negeri-ini/</guid>
<description><![CDATA[Begitu maraknya pemberitaan media massa tentang terorisme yang semakin menjadi-jadi dan dikait-kaitk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Begitu maraknya pemberitaan media massa tentang terorisme yang semakin menjadi-jadi dan dikait-kaitk]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kearifan (Tidak Lagi) Lokal : Catatan Film Rumeh (Empang Breuh)]]></title>
<link>http://teukukemalfasya.wordpress.com/2009/08/30/kearifan-tidak-lagi-lokal-catatan-film-rumeh-empang-breuh/</link>
<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 22:50:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>teukukemalfasya</dc:creator>
<guid>http://teukukemalfasya.wordpress.com/2009/08/30/kearifan-tidak-lagi-lokal-catatan-film-rumeh-empang-breuh/</guid>
<description><![CDATA[Dok. Acehkita Harian Aceh, 30 Agustus 2009 Tak ada tujuan yang lebih pertama ketika orang menikmati ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Dok. Acehkita Harian Aceh, 30 Agustus 2009 Tak ada tujuan yang lebih pertama ketika orang menikmati ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[3. Buat Script atau Skenario!]]></title>
<link>http://videotahunan.wordpress.com/2009/08/29/3-buat-script-atau-skenario/</link>
<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 10:32:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>Penulis</dc:creator>
<guid>http://videotahunan.wordpress.com/2009/08/29/3-buat-script-atau-skenario/</guid>
<description><![CDATA[KESALAHAN yang selalu terjadi ketika pembuatan video tahunan adalah hal fatal yang sebetulnya merusa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[KESALAHAN yang selalu terjadi ketika pembuatan video tahunan adalah hal fatal yang sebetulnya merusa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[1. Cari, Kumpulkan &amp; Data Semua Dokumentasi Video!]]></title>
<link>http://videotahunan.wordpress.com/2009/08/28/1-cari-kumpulkan-data-semua-dokumentasi-video/</link>
<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 19:47:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>Penulis</dc:creator>
<guid>http://videotahunan.wordpress.com/2009/08/28/1-cari-kumpulkan-data-semua-dokumentasi-video/</guid>
<description><![CDATA[Ya, banyak sumber. Disinilah kalian mulai menjalani profesi sebagai seorang jurnalis video. Mungkin ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ya, banyak sumber. Disinilah kalian mulai menjalani profesi sebagai seorang jurnalis video. Mungkin ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Planet Earth - Film Dokumenter Terbaik]]></title>
<link>http://asfarian.wordpress.com/2009/07/31/planet-earth-film-dokumenter-terbaik-yang-saya-tonton/</link>
<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 00:36:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>a3u5z1i</dc:creator>
<guid>http://asfarian.wordpress.com/2009/07/31/planet-earth-film-dokumenter-terbaik-yang-saya-tonton/</guid>
<description><![CDATA[&#8220;A hundred years ago, there were one and a half billion people on Earth. Now, over six billion]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><em>&#8220;A hundred years ago, there were one and a half billion people on Earth. Now, over six billion crowd our fragile planet. But even so, there are still places barely touched by humanity. This series will take you to the last wildernesses and show you the planet and its wildlife as you hace never seen them before.&#8221;<br />
<strong>(Planet Earth Opening Narration)</strong></em></p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/t9hr9Ucyftg&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/t9hr9Ucyftg&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>Tak terhitung banyaknya film dokumenter tentang bumi yang telah dibuat. Tapi, dari sekian banyak itu, menurut saya <a href="http://dsc.discovery.com/convergence/planet-earth/planet-earth.html" target="_blank">Planet Earth</a> adalah yang terbaik.</p>
<p>Pertama kali ditayangkan pada tahun 2006, Planet Earth telah membuat banyak kejutan di dunia perfilman. Planet Earth adalah film dokumenter termahal yang pernah dibuat (16 juta poundsterling), film dokumenter pertama yang dibuat dalam format High Definition, dan langsung mendapatkan banyak penghargaan lainnya. Pada tahun 2007, Planet Earth telah ditayangkan di 130 negara.</p>
<div id="attachment_948" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://asfarian.wordpress.com/files/2009/07/planet-earth.jpg"><img class="size-medium wp-image-948" title="planet Earth" src="http://asfarian.wordpress.com/files/2009/07/planet-earth.jpg?w=300" alt="Planet Earth" width="300" height="174" /></a><p class="wp-caption-text">Planet Earth</p></div>
<p><!--more--></p>
<p>Planet Earth terdiri dari sebelas episode berdurasi satu jam. Setiap episode mengangkat tema khusus yang berhubungan dengan habitat di planet bumi. Mulai dari dinginnya kutub utara, sampai dalamnya samudera. Di kesebelas episode tersebut, kita akan menyaksikan berbagai rekaman yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Sebuah gambaran tentang bagian lain dari bumi kita. Kehidupan alam liar dengan keindahan yang menakjubkan, sekaligus sebuah drama kehidupakn yang terjadi di dalamnya. Gambaran planet bumi, yang belum pernah kita lihat sebelumnya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:center;"> <em><strong>Planet Earth: As You&#8217;ve Never Seen It Before</strong></em></p>
</blockquote>
<p> Karena dibuat dalam format High Definiton, kedalaman dan ketajaman gambar film ini jauh dibandingkan film pada umumnya. Tapi, hal ini bukanlah faktor utama yang membuat film ini menjadi bagus. Hal terbaik yang dimiliki Planet Earth adalah kontennya, terutama dari segi penggambarannya.</p>
<div id="attachment_956" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://asfarian.wordpress.com/files/2009/07/planet-earth31.jpg"><img class="size-medium wp-image-956" title="planet Earth3" src="http://asfarian.wordpress.com/files/2009/07/planet-earth31.jpg?w=300" alt="Puma" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Puma</p></div>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:left;"> Rekaman yang ditampilkan dalam film ini adalah rekaman dengan kualitas yang sangat baik. Gambarnya tajam dan cerah (ciri-ciri format HD), sudut pengambilan gambarnya baik, dan momen yang ditampilkan pun adalah momen-momen yang sangat menarik. Saat-saat ketika pinguin jantan menjaga telurnya di tengah badai salju, panda yang sedang menjaga anaknya, migrasi besar-besaran burung bangau, dan masih banyak lagi hal menarik yang dapat disaksikan di sebelas episode ini. Dan tentu saja, sesuai dengan moto Planet Earth : <em>As you have never seen it before</em>. Ada yang sudah pernah melihat adegan kawanan singa memangsa gajah?</div>
<div class="mceTemp mceIEcenter" style="text-align:left;">
<div id="attachment_959" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://asfarian.wordpress.com/files/2009/07/planet-earth51.jpg"><img class="size-medium wp-image-959" title="planet Earth5" src="http://asfarian.wordpress.com/files/2009/07/planet-earth51.jpg?w=300" alt="Gurun" width="300" height="208" /></a><p class="wp-caption-text">Gurun</p></div>
</div>
<p> Berikut adalah daftar kesebelas episode Planet Earth :</p>
<p>1. From Pole to Pole<br />
2. Mountains<br />
3. Fresh Waters<br />
4.Caves<br />
5.Deserts<br />
6.Ice Worlds<br />
7.Great Plains<br />
8.Jungles<br />
9.Shallow Seas<br />
10.Seasonal Forest<br />
11.Ocean Deep</p>
<p>Ulasan masing-masing episode bisa dilihat di <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Planet_Earth_(TV_series)#Episodes" target="_blank">wikipedia</a>. Siap-siaplah bertasbih saat menonton film ini (banyak adegan yang menakjubkan soalnya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Daripada menonton sinetron yang tidak jelas, lebih baik kita menyaksikan keindahan planet bumi karya Yang Maha Kuasa, walaupun hanya melalui media film. Semoga berguna.</p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>&#8220;Open you eyes, to the power of the Majesty and the wonder of planet earth.&#8221;</strong></em></p>
<p><strong>For the downloader :</strong><br />
Link untuk mengunduh seri ini ada di <a href="http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=15417" target="_blank">forum indowebster</a>. Tapi sepertinya harus registrasi dulu untuk melihat linknya (ga nyampe 3 menit <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ). Setiap episode memiliki ukuran 800MB. Total ada sebelas episode, jadi ukuran totalnya sekitar 8,8 GB <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> . Di tautan di atas juga tersedia gambar dari masing-masing episode yang tidak ditampilkan disini (karena terlalu banyak).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Film Dokumenter Pemimpin Besar di Abad Modern, Pemimpin Sejati Umat Manusia ]]></title>
<link>http://ressay.wordpress.com/2009/07/22/film-dokumenter-pemimpin-besar-di-abad-modern-pemimpin-sejati-umat-manusia/</link>
<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 04:35:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>ressay</dc:creator>
<guid>http://ressay.wordpress.com/2009/07/22/film-dokumenter-pemimpin-besar-di-abad-modern-pemimpin-sejati-umat-manusia/</guid>
<description><![CDATA[Tak seorangpun manusia, nuraninya yang tidak mendambakan sosok pemimpin yang sejati. Seperti apakah ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Tak seorangpun manusia, nuraninya yang tidak mendambakan sosok pemimpin yang sejati. Seperti apakah ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[APA ITU DOKUMENTER?]]></title>
<link>http://asiaaudiovisualra09hizkiaadiputra.wordpress.com/2009/06/19/apa-itu-dokumenter/</link>
<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 11:34:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>hizkiaadiputra</dc:creator>
<guid>http://asiaaudiovisualra09hizkiaadiputra.wordpress.com/2009/06/19/apa-itu-dokumenter/</guid>
<description><![CDATA[Dokumenter sering dianggap sebagai rekaman dari ‘aktualitas’—potongan rekaman sewaktu kejadian seben]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dokumenter sering dianggap sebagai rekaman dari ‘aktualitas’—potongan rekaman sewaktu kejadian sebenarnya berlangsung, saat orang yang terlibat di dalamnya berbicara, kehidupan nyata seperti apa adanya, spontan, dan tanpa media perantara. Walaupun kadang menjadi bahan ramuan utama dalam pembuatan dokumenter, unsur-unsur itu jarang menjadi bagian dari keseluruhan film dokumenter itu sendiri, karena semua bahan tersebut harus diatur, diolah kembali, dan ditata struktur penyajiannya. Terkadang, bahkan dalam pengambilan gambar sebelumnya, berbagai pilihan harus diambil oleh para pembuat film dokumenter untuk menentukan sudut pandang, ukuran shot (type of shot), pencahayaan, dan lain-lain, agar dapat mencapai hasil akhir yang mereka inginkan.</p>
<p>John Grierson pertama-tama menemukan istilah ‘dokumenter’ dalam suatu pembahasan mengenai film karya Robert Flaherty, Moana (1925). Dia mengacu pada kemampuan suatu media untuk menghasilkan dokumen visual tentang suatu kejadian tertentu. Dia sangat percaya bahwa “&#8230;sinema bukanlah seni atau hiburan, melainkan suatu bentuk publikasi dan dapat dipublikasikan dengan 100 cara berbeda untuk 100 penonton yang berbeda pula.” Oleh karena itu, dokumenter pun termasuk di dalamnya sebagai suatu metode publikasi sinematik yang, dalam istilah Grierson sendiri, disebut ‘perlakuan kreatif atas keaktualitasan’ (creative treatment of actuality). Karena ada perlakuan kreatif, sama seperti dalam film fiksi lainnya, dokumenter dibangun dan bisa dilihat bukan sebagai suatu rekaman realitas, tetapi sebagai jenis ‘representasi lain’ dari realitas itu sendiri.</p>
<p>Kebanyakan penonton film/ video dokumenter di layar kaca sudah begitu terbiasa dengan berbagai cara, gaya, dan bentuk-bentuk penyajian yang selama ini palaing banyak dan umum digunakan dalam berbagai acara siaran televisi. Sehingga, mereka tak lagi mempertanyakan lebih jauh tentang isi dari dokumenter tersebut. Misalnya, penonton sering menyaksikan dokumenter yang dipandu oleh suara (voice over) seorang penutur cerita (narator), wawancara dari para pakar, saksi-mata atas suatu kejadian, rekaman pendapat anggota masyarakat, Demikian pula dengan suasana tempat kejadian yang terlihat nyata, potongan-potongan gambar kejadiannya langsung, dan bahan-bahan yang berasal dari arsip yang ditemukan. Semua unsur khas tersebut memiliki sejarah dan tempat tertentu dalam perkembangan dan perluasan dokumenter sebagai suatu bentuk sinematik.</p>
<p>Ini penting ditekankan, karena &#8211;dalam berbagai hal&#8211; bentuk dokumenter sering diabaikan dan kurang dianggap di kalangan film seni, seakan-akan dokumenter cenderung menjadi bersifat ‘pemberitaan’ (jurnalistik) dalam dunia pertelevisian. Bukti-bukti menunjukkan bahwa, bagaimanapun, dengan pesatnya perkembangan film/ video dokumenter dalam bentuk pemberitaan, ada kecenderungan kuat di kalangan para pembuat film dokumenter akhir-akhir ini untuk mengarah kembali ke arah pendekatan yang lebih sinematik. Dan, kini, perdebatannya berpindah pada segi estetik. Pengertian tentang ‘kebenaran’ dan ‘keaslian’ suatu film dokumenter mulai dipertanyakan, diputarbalikkan, dan diubah, mengacu pada pendekatan segi estetik film dokumenter dan film-film non-fiksi lainnya.</p>
<p>Satu titik awal yang berguna adalah daftar kategori Richard Barsam tentang apa yang dia sebut sebagai ‘film non-fiksi’. Daftar ini secara efektif menunjukkan jenis-jenis film yang dipandang sebagai dokumenter, dan dengan jelas memiliki ide dan kode etik tentang dokumenter yang sama. Kategori-kategori tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>film faktual</li>
<li>film etnografik</li>
<li>film eksplorasi</li>
<li>film propaganda</li>
<li>cinéma-vérité</li>
<li>direct cinema</li>
<li>dokumenter</li>
</ul>
<p>Pada dasarnya, Barsam menempatkan dokumenter sebagai suatu kategori tersendiri, karena ia mengatakan bahwa peran si pembuat film dalam menentukan interpretasi materi dalam jenis-jenis film tersebut jauh lebih khas.<br />
Perkembangan dokumenter dan genre-nya saat ini sudah sangat pesat dan beragam, tetapi ada beberapa unsur yang tetap dan penggunaannya; yakni unsur-unsur visual dan verbal yang biasa digunakan dalam dokumenter.</p>
<p><strong>Unsur Visual:</strong></p>
<ul>
<li>Observasionalisme reaktif; pembuatan film dokumenter dengan bahan yang sebisa mungkin diambil langsung dari subyek yang difilmkan. Hal ini berhubungan dengan ketepatan pengamatan oleh pengarah kamera atau sutradara.</li>
<li>Observasionalisme proaktif; pembuatan film dokumenter dengan memilih materi film secara khusus sehubungan dengan pengamatan sebelumnya oleh pengarah kamera atau sutradara.</li>
<li>Mode ilustratif; pendekatan terhadap dokumenter yang berusaha menggambarkan secara langsung tentang apa yang dikatakan oleh narator (yang direkam suaranya sebagai voice over).</li>
<li>Mode asosiatif; pendekatan dalam film dokumenter yang berusaha menggunakan potongan-potongan gambar dengan berbagai cara. Dengan demikian, diharapkan arti metafora dan simbolis yang ada pada informasi harafiah dalam film itu, dapat terwakili.</li>
</ul>
<p><strong>Unsur Verbal:</strong></p>
<ul>
<li>Overheard exchange; rekaman pembicaraan antara dua sumber atau lebih yang terkesan direkam secara tidak sengaja dan secara langsung.</li>
<li>Kesaksian; rekaman pengamatan, pendapat atau informasi, yang diungkapkan secara jujur oleh saksi mata, pakar, dan sumber lain yang berhubungan dengan subyek dokumenter. Hal ini merupakan tujuan utama dari wawancara.</li>
<li>Eksposisi; penggunaan voice over atau orang yang langsung berhadapan dengan kamera, secara khusus mengarahkan penonton yang menerima informasi dan argumen-argumennya.</li>
</ul>
<p><a href="http://www.kawanusa.co.id/news-detail.php?id=15" target="_blank">http://www.kawanusa.co.id/news-detail.php?id=15</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dokumenter Part 10]]></title>
<link>http://dikiumbara.wordpress.com/2009/06/19/dokumenter-part-10/</link>
<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 09:06:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Diki Umbara</dc:creator>
<guid>http://dikiumbara.wordpress.com/2009/06/19/dokumenter-part-10/</guid>
<description><![CDATA[Editing Dokumenter Oleh Diki Umbara Ketika proses shooting selesai, maka tahap selanjutnya yakni edi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><strong>Editing Dokumenter</strong><strong> </strong></p>
<p align="center">Oleh Diki Umbara</p>
<p align="center">
<p align="center"><em>Ketika proses shooting selesai, maka tahap selanjutnya yakni editing sebagai bagian dari proses paska produksi, merupakan tahapan yang sangat menarik dalam pembuatan dokumenter. Kolaborasi atau kerjasama antar sutradara dengan editor sudah dimulai. Seperti halnya dalam editing feature film, editing dokumenter melalui berbagai tahapan. Dan saat ini saya akan mencoba sharing tentang apa dan bagaimana tahapan editing dokumenter. </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Preview Hasil Shooting</strong></p>
<p>Ratusan atau bisa jadi ribuan shot yang sudah dihasilkan oleh sutradara dan cameraman, namun shot-shot tersebut tidak akan memiliki makna apa-apa ketika belum disusun oleh editor menjadi satu kesatuan cerita. Karena itu peran seorang editor sangatlah penting. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, preview hasil shooting. Semua materi shot harus dilihat oleh editor. Dan kalau memungkinkan ada baiknya pada proses melihat hasil shooting ini, sutrdara menemani editor. Dengan demikian sutradara bisa berdiskusi dengan editor mengenai shot-shot yang sudah dihasilkannya itu.</p>
<p><strong>Logging</strong></p>
<p>Terkadang buat sebagian editor ini merupakan proses yang membosankan. Logging secara sederhana berarti pencatatan time code seluruh shot hasil shooting. Time code merupakan kode waktu yang terdapat pada materi shot. Pencatatan time code awal serta akhir shot. Jadi logging merupakan manajemen file, yang berfungsi untuk memudahkan ketika melakukan penyuntingan gambar nantinya. Catatan logging tersebut dibuat ke dalam logging list atau <em>logging sheet</em>. Logging sheet merupakan panduan untuk capture atau pemindahan materi tape ke dalam komputer editing.</p>
<p><strong>Paper Edit</strong></p>
<p>Ada dua naskah dalam dokumenter, yang pertama adalah pre-shot script yakni script yang dibuat oleh penulis naskah sebagai panduan dokumentator di lapangan. Dan yang ke dua, dinamakan pro-shot script, yakni naskah yang dibuat setelah shooting selesai. Pro-shot script dinamakan juga paper edit. Kenapa paper edit ini diperlukan oleh editor dokumenter? Ini salah satu yang membedakan antara feature film dengan dokumenter. Ketika editor merasa bahwa pekerjaan editing dokumenter terasa berat, maka transcript wawancara dituangkan ke dalam paper edit. Makanya tidak heran, akan ditemukan banyak kertas coretan di meja editing dokumenter. Kertas ini sangat membantu editor untuk membuat struktur cerita yang akan direkontruksi. Tidak ada aturan baku dalam format paper edit, yang paling penting.</p>
<p><strong>Editing Assembly</strong></p>
<p>Tahap ini merupakan  tahapan setelah logging dan capturing. Editing Assembly dilakukan untuk melihat gambaran secara umum dokumenter tersebut. Untuk dokumenter berdurasi satu jam, biasanya assembly edit sekitar 140 menit, atau empat puluh persen lebih banyak. Ini bukan rumusan umum, tapi menurut pengalaman pribadi serta sharing dengan editor dokumenter lainnya estimasi durasi di atas umum dilakukan. Dalam editing assembly, belum ada musik serta voice over serta efek. Yang jelas, dalam assembly edit sudah terlihat cerita di dalamnya. Pada hasil assembly edit memang belum bisa untuk presentasi, tapi sutrdara sudah bisa melihat gambaran umumnya. Editor sudah bisa membayangkan tema apa yang bisa dibuang atau tidak terpakai,</p>
<p><strong>Rough Cut</strong></p>
<p>Namanya simpel, <em>rough cut</em> alias motong kasar tapi ini merupakan <em>tahapan sebenarnya</em> dalam editing. Editor sudah membuat kontruksi cerita sesuai dengan post-script yang sudah dibuat sebelumnya. Penambahan draft narasi atau voice over (kalau pendekatannya essay) sudah bisa dilakukan. Durasi hasil editing rough cut biasanya tidak lebih dari sepuluh persen dari durasi film dokumenter yang sudah jadi nantinya. Hasil rough cut sudah bisa dipresentasikan pada klien atau investor. Untuk menjajaki apakah film dokumenter tersebut sudah bagus secara editingnya, ada baiknya film tersebut dipertontonkan pada penonton awam, atau bisa saja minta komentar dari kawan anda.</p>
<p><strong>Fine Cut</strong></p>
<p>Ini merupakan proses editing akhir sebelum film dokumenter tersebut benar-benar akan direlease. Pada tahapan ini editor sudah membuat struktur final dengan durasi hampir persis pada durasi sebenarnya, menambahkan musik ilustrasi, serta efek.  Pada tahap ini, hasil editing fine cut sudah bisa dipresentasikan kembali. Untuk beberapa dokumenter terkadang harus mempresentasikan di hadapan <em>advisor</em>. Ini biasanya menyangkut konten atau isi, misalnya seperti dokumenter intruksional.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-581" title="Editor" src="http://dikiumbara.wordpress.com/files/2009/06/editor.jpg" alt="Editor" width="408" height="323" /></p>
<p><strong>Picture Locked!</strong></p>
<p>Tidak ada yang paling membahagiakan seorang editor ketika, semua pekerjaan sudah selesai, dan ini yang namnaya <em>picture lock</em>. Tidak ada perubahan sama sekali dalam editing, karena begitu gambar/video sudah dilock berarti selanjutnya adalah finalisasi graphik serta musik. Dan tentu selanjutnya adalah mastering dan membuat <em>copy release</em>.</p>
<p><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/mM8l2gc0oJQ&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/mM8l2gc0oJQ&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
<p>Penjelasan tahapan editing dokumenter di atas mungkin masih terlalu simpel, kalau ada waktu senggang nanti saya akan edit serta tambahkan lagi. <em>Jadi…tulisan ini masih bersambung….</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Orang Indonesia Itu Nrimo, Islam Itu juga Nrimo, Tapi KITA BISA dan PASTI BISA]]></title>
<link>http://mtsox.wordpress.com/2009/06/18/orang-indonesia-itu-nrimo-islam-itu-juga-nrimo-tapi-kita-bisa-dan-pasti-bisa/</link>
<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 12:29:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>RIEFHID</dc:creator>
<guid>http://mtsox.wordpress.com/2009/06/18/orang-indonesia-itu-nrimo-islam-itu-juga-nrimo-tapi-kita-bisa-dan-pasti-bisa/</guid>
<description><![CDATA[“Sebuah pohon mawar akan punya satu bunga disetiap tangkainya, tapi bunga itu pasti akan dipetik, da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Sebuah pohon mawar akan punya satu bunga disetiap tangkainya, tapi bunga itu pasti akan dipetik, da]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dokumenter Part 9]]></title>
<link>http://dikiumbara.wordpress.com/2009/06/13/dokumenter-part-9/</link>
<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 04:33:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Diki Umbara</dc:creator>
<guid>http://dikiumbara.wordpress.com/2009/06/13/dokumenter-part-9/</guid>
<description><![CDATA[Narasumber dalam Dokumenter Oleh Diki Umbara Narasumber dalam dokumenter adalah hal yang sangat pent]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p align="center"><strong>Narasumber dalam Dokumenter</strong><strong> </strong></p>
<p align="center">Oleh Diki Umbara</p>
<p align="center">
<p align="center"><em>Narasumber dalam dokumenter adalah hal yang sangat penting, narasumber sebagai subyek bukan sebagai obyek. Itulah uniknya dokumenter, memperlakukan manusia sebagai subyek. Narasumber memiliki karakter yang berbeda, artinya lebih baik menggunakan pendekatan subyektif ketimbang generalisasi. Ribet? Gak ah.  Mari kita diskusikan……</em></p>
<p><strong>Mengenali  Narasumber</strong></p>
<p><em>Tak kenal maka tak sayang</em>, sebuah adagium klasik sederhana tapi masih relevan sampai saat ini. Narasumber dalam dokumenter adalah hal terpenting setelah ide/gagasan serta bagaimana story telling sang dokumentator. Banyak cara bagaimana menginisiasi calon narasumber kita, dan riset merupakan langkah awal. Kenali calon narasumber dengan berbagai referensi. Jika narasumber merupakan orang terkenal pasti tidak aka nada kesulitan untuk bahan referensi, tapi bagaimana kalau narasumber kita adalah orang biasa-biasa saja?</p>
<p><strong>Prepare Interview vs Casual Interview</strong></p>
<p>Wawancara yang baik seharusnya dilakukan persiapan yang matang, di antaranya dengan menginisiasi calon narasumber kita. Dan yang paling penting lagi adalah goal apa yang ingin dicapai oleh dokumentator atas narasumber tersebut. Ketika goalnya sudah jelas, maka buatlah list pertanyaan, buatlah pertanyaan yang mudah di urutan pertama. Hal ini dilakukan agar narasumber “tidak kaget”, dan dengan demikian dokumentator bisa menginisiasi narasumber ketika di lapangan. Bebrapa praktisi menyarankan untuk membuat semacam <em>pre arrange question</em>, yakni pertanyaan pembuka yang bisa jadi nantinya tidak dipakai ketika proses editing berjalan.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-571" title="web aceh 1" src="http://dikiumbara.wordpress.com/files/2009/06/web-aceh-1.jpg" alt="web aceh 1" width="565" height="379" /></p>
<p>Berbeda dengan tehnik <em>prepare interview,</em> tehnik lainnya yakni <em>casual interview</em> memiliki pendekatan agak sedikit berbeda. Ketika  narsumber ditemui secara <em>on the spot</em> alias langsung di lapangan, maka dokumentator harus memiliki kejelian. Pada waktu pembuatan dokumenter bulan lalu di Aceh, penulis beberapa kali menemui narasumber <em>on the spot</em>. Aceh sebelum paska tsunami dan perjanjian damai Henlinski memang sudah berbeda, namun bukan berarti trauma pada masa Gerakan Aceh Merdeka/GAM serta pemberlakuan Daerah Operasi Militer/DOM sirna begitu saja, traumatik itu masih ada. Ini tentu menyulitkan saya dan tim ketika mewawancarai narasumber, apalagi yang ditanyakan seputar politik. Tanpa kehadiran kamera masih banyak informasi yang bisa penulis eksplorasi, tapi ketika kamera dihadapkan pada mereka, freezeee….. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh penulis dan tim? Pendekatan personal. Teori-teori dalam buku jurnalistik investigasi yang sangat Amerika itu tidak berlaku, ini Aceh kawan! Banyak kejadian unik di lapangan, jangankan rakyat biasa, untuk mewancarai mahasiswa yang notabene sangat kritis saja diperlukan pendekatan khusus.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-572" title="web aceh 2" src="http://dikiumbara.wordpress.com/files/2009/06/web-aceh-2.jpg" alt="web aceh 2" width="565" height="389" /></p>
<p><em>Don’t stretch to the point</em>, ini salah satu kuncinya. Saya ngobrol dengan mereka dari hal-hal yang ringan sampai pada hal yang menarik buat <em>mereka</em>. Dan <em>mereka</em> itu saya jadikan <em>kita</em>, berarti kami dan mereka. Setelah semuanya sudah terasa nyaman barulah kamera saya <em>on</em> kan,<em>bla…bla…bla….</em>ngalor-ngidul sudah menghabiskan hampir setengah kaset,narasumber bercerita panjang lebar tentang hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi dokumenter, barulah pada poin yang ingin digali oleh penulis.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-576" title="Selat Malaka 1" src="http://dikiumbara.wordpress.com/files/2009/06/selat-malaka-11.jpg" alt="Selat Malaka 1" width="565" height="499" /></p>
<p><em>Gotcha!</em> Penulis dapat semua informasi yang diperlukan. Juga demikian, ketika penulis berhasil ngobrol dengan seorang petani di salah satu daerah di Aceh Besar. Bicara tentang bagaimana dia bertani, darimana benih dia dapat, hingga pada poin utama bagaimana keadaan eks kombatan GAM saat ini dan bagaimana politik mutakhir di Aceh saat ini.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-573" title="Selat Malaka 3" src="http://dikiumbara.wordpress.com/files/2009/06/selat-malaka-3.jpg" alt="Selat Malaka 3" width="565" height="379" /></p>
<p>Dalam teori memang banyak dibahas bagaimana menggali narasumber agar bisa menyampaikan informasi selengkap mungkin, tapi tidak dibicarakan bagaimana membuat narasumber nyaman. Nyaman dalam arti personal, dan ini bukan generik.  Secara umum ada dua kriteria interview yang baik: yakni riset yang baik serta kemampuan mendengarkan yang baik. Butuh kesabaran yang ekstra ketika kita menjadi pendengar, dengan demikian kita akan peka terhadap apa yang disampaikan oleh narasumber. Tidak sedikit informasi baru akan kita gali ketika kita mendapat tuturan sang narasumber, pertanyaan ke dua, ke tiga, atau bahkan ke empat atas jawaban pertama tadi. Secara psikologis jelas bahwa lawn bicara kita akan merasa nyaman, merasa punya teman, ketika mereka kita dengarkan dengan baik.</p>
<p><em>Bersambung……</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HOME : Melihat lebih jauh "Rumah" kita..]]></title>
<link>http://whateverisaid.wordpress.com/2009/06/08/home-melihat-lebih-jauh-rumah-kita/</link>
<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 06:08:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>emier2308</dc:creator>
<guid>http://whateverisaid.wordpress.com/2009/06/08/home-melihat-lebih-jauh-rumah-kita/</guid>
<description><![CDATA[Udah pada tau film yang berjudul HOME belum? Film dokumenter ini sejenis film dokumenter Earth. Beda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Udah pada tau film yang berjudul HOME belum? Film dokumenter ini sejenis film dokumenter Earth. Beda]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PENGELUARANKU DIBULAN MEI 2009]]></title>
<link>http://mtsox.wordpress.com/2009/06/05/pengeluaranku-dibulan-mei-2009/</link>
<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 10:27:28 +0000</pubDate>
<dc:creator>RIEFHID</dc:creator>
<guid>http://mtsox.wordpress.com/2009/06/05/pengeluaranku-dibulan-mei-2009/</guid>
<description><![CDATA[PENGELUARANKU DIBULAN APRIL 2009 2009 30-Apr-2009 Tuesday 1 7:00 Makan IDR 3,000 IDR    3,000 2 7:30]]></description>
<content:encoded><![CDATA[PENGELUARANKU DIBULAN APRIL 2009 2009 30-Apr-2009 Tuesday 1 7:00 Makan IDR 3,000 IDR    3,000 2 7:30]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cowboys in Paradise - Dokumenter Pemuda-pemuda (Gigolo?) Bali]]></title>
<link>http://adit20m.wordpress.com/2010/01/27/21/</link>
<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 14:57:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>adit20m</dc:creator>
<guid>http://adit20m.wordpress.com/2010/01/27/21/</guid>
<description><![CDATA[Film dokumenter &#8216;Cowboys in Paradise&#8217; yang digarap oleh Amit Virani, seorang turis manca]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">Film dokumenter &#8216;Cowboys in Paradise&#8217; yang digarap oleh Amit Virani, seorang turis mancanegara, menggambarkan Bali sebagai Sex Tourism. Dari trailer yang bisa ditonton di </span><a href="http://www.cowboysinparadise.com/" target="_blank"><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;"><span style="color:#000000;">websitenya</span></span></a><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;"> Amit jelas-jelas menunjukkan sisi lain dari keindahan tropis Indonesia. Ternyata pemuda-pemuda Bali, dimata Amit, memang dengan sengaja mencoba memanfaatkan turis wanita dari luar negeri. mereka bahkan dikotakkan dengan kata-kata prostitusi, gigolo, flesh trader atau kata-kata lain yang rasanya kurang pantas. Yang lebih mengejutkan lagi film ini meraih 3 nominasi di </span><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">Asian Festival of First Films, dua diantaranya adalah Film Dokumenter Terbaik dan Sutradara Terbaik. </span></p>
<p><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">Film ini tentu saja mengundang protes dari pihak yang tertuduh. </span><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">Arno Suwarno, salah seorang instruktur selancar Bali, mengaku bahwa ia bukan seorang gigolo. Pria yang menikahi salah seorang </span><em><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">bule</span></em><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;"> ini juga mendapat dukungan dari teman-temannya dari mancanegara. Hal ini ditunjukkan dari </span><a href="http://www.facebook.com/pages/Cowboys-in-Paradise-Movie-is-Media-raping-Bali-and-exploiting-Kutas-People/252962578498#/pages/Cowboys-in-Paradise-Movie-is-Media-raping-Bali-and-exploiting-Kutas-People/252962578498?v=wall" target="_blank"><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;"><span style="color:#000000;">laman</span></span></a><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;"> facebook </span><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">&#8216;Cowboys in Paradise Movie is Media raping Bali and exploiting Kuta&#8217;s People.&#8217; Mereka menegaskan bahwa Arno telah dimanipulasi untuk masuk dalam film ini. </span></p>
<p><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">Berikut sinopsis &#8216;Cowboys in Paradise&#8217;:</span></p>
<p><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;"><span style="font-family:arial, helvetica, sans-serif;">Each year, thousands of women travel to Bali in search of paradise. And many find it in the arms of Kuta Cowboys. Masters at peddling holiday romance, these bronzed beach ambassadors have made Bali one of the world’s leading destinations for female sex tourists.</span></span></p>
<p><strong>COWBOYS IN PARADISE</strong> is an independent feature documentary that gets between the sheets of Bali’s male sex trade. Using a series of startling, and often hilarious confessions, the film reveals some of the island’s most closely-guarded secrets. Why don’t the boys charge for sex? How then do women compensate them? Where do time management skills fit into all this? And how does a Cowboy’s family feel about his errant ways?</p>
<p>The film also charts the typical trajectory of a Cowboy’s life, from entry into beach life to his reign at the top of the tourist-industry chain, before following his heartbreaking descent into obsolescence. By the end, the myth of paradise is shattered and the viewer is presented with a more realistic proposition: Paradise is always elsewhere.</p>
<p><span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:small;"><strong>Director&#8217;s Statement:</strong></span></p>
<p>It all began with the little boy.</p>
<p>Holidaying in Bali some years ago, I met a twelve-year-old Indonesian boy who insisted on speaking to me in Japanese. My grasp of the language is limited to what you’d find on a sushi menu, but he couldn’t have cared less. It didn’t even matter that I spoke Indonesian fairly well. He had made his decision and until a Japanese person showed up, I’d have to do.</p>
<p>When amusement finally gave way to annoyance, I asked him what the deal was. “I’m practicing,” he said. “When I grow up I want to sex-service Japanese girls.”</p>
<p>His reply was gleeful, and all the embarrassment was mine. Here was someone with a career goal most wouldn’t admit to, at an age when most don’t even have career goals!</p>
<p>Now, the fact that women pay for sex hardly fascinates me as a subject. Prostitution &#8211; in any variation &#8211; is not new ground for a filmmaker. Also, female sex tourism is common in poor countries and popular beach destinations, and Southeast Asia, where I’ve lived most of my life, has plenty of both.</p>
<p>But this was something else. Why was this boy so eager to get started in the flesh trade? Why was he taking pride in his perceived, future sexual prowess? And what does it say about Paradise, a term I’ve always eyed with suspicion anyway, when it can only offer its children such limited dreams of the future?</p>
<p>I had to find out. And when I did, I had to make this film.</p>
<p><span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:small;">Blog Pembuat Film:</span></p>
<p><a href="http://cowboysinparadise.blogspot.com/" target="_blank">http://cowboysinparadise.blogspot.com/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
