<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>dongeng &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/dongeng/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "dongeng"</description>
	<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 07:29:16 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Asal Mula Tanduk Kambing]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/asal-mula-tanduk-kambing/</link>
<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 05:17:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/asal-mula-tanduk-kambing/</guid>
<description><![CDATA[Dahulu di daerah Danau Batur, Kintamani, ada seekor anjing, yang berkawan kental dengan seekor kambi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dahulu di daerah Danau Batur, Kintamani, ada seekor anjing, yang berkawan kental dengan seekor kambing. Pada masa itu binatang yang mempu¬nyai tanduk bukan kambing, melainkan anjing. Hal ini membuat si Kambing sangat iri hati. Pada suatu hari untuk pergi ke pesta kawannya, si Kambing telah meminjam tanduk si Anjing untuk memamerkan diri di pesta itu nanti. Oleh karena mereka memang sahabat karib, maka permintaan itu segera diluluskan tanpa syak wasangka sedikit pun. Namun rupanya kepercayaan yang diberikan si Anjing telah disalahgunakan si Kambing, terbukti tanduk itu tidak dikembalikan oleh si Kambing walaupun pesta telah lama usai dan si Kambing pun terus-menerus menghindari si Anjing.<br />
Pada suatu kesempatan yang tidak terduga, si Kambing bertemu muka dengan si Anjing, sehingga ia segera ditegur si Anjing untuk mengembalikan tanduknya. Bukannya segera mengembalikannya, bahkan si Kambing segera melarikan diri dari si Anjing. Ketidakjujuran itu menjadikan si Anjing naik pitam dan mengejarnya. Si Kambing terus dikejarnya, walaupun ia menyeberangi Danau Batur. Ternyata si Kambing bukan saja pandai berlari tetapi juga berenang. Namun si Anjing adalah tandingannya, sehingga sewaktu ia tiba di pantai, si Anjing berhasil mendekatinya, dan dapat menggigit ekornya dengan kencang. Namun si Kambing terus berontak dan akhirnya berhasil melepaskan diri, walaupun harus kehilangan ekornya karena putus. Setelah berhasil melepaskan diri, si Kambing segera menghilang di antara semak-semak, sehingga tidak dapat dikejar lagi oleh si Anjing. Demikianlah sejak itu keturunan si Anjing tidak mempunyai tanduk lagi, tetapi memiliki ekor yang panjang.</p>
<p>* Dongeng etiologis yang berasal dari petani Desa Trunyan, Bali</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Atu Belah]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/atu-belah/</link>
<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 05:16:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/atu-belah/</guid>
<description><![CDATA[[Legenda, suku bangsa Gayo, Sumatera] Pada masa dahulu di desa Penerun di Gayo hidup satu keluarga m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>[Legenda, suku bangsa <strong>Gayo, Sumatera</strong>]</p>
<p>Pada masa dahulu di desa <strong>Penerun </strong>di <strong>Gayo </strong>hidup satu keluarga miskin. Keluarga itu mempunyai dua orang anak, yang tua berusia tujuh tahun dan yang kecil masih menetek. Ayah kedua anak itu hidup sebagai petani. Pada waktu senggangnya ia selalu berburu rusa di hutan. Di samping itu, ia juga banyak menangkap belalang di sawah, untuk dimakan apabila tidak berhasil memperoleh binatang buruan. Belalang itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit di dalam lumbung padinya yang sedang kosong karena sedang musim paceklik.<br />
<strong> </strong><br />
Pada suatu hari ia pergi ke hutan untuk berburu rusa. Di rumah tinggal istri dan kedua anaknya. Pada waktu makan, anak yang sulung merajuk, karena di meja tidak ada daging sebagai teman nasinya. Karena di rumah memang tidak ada persediaan lagi, maka kejadian ini membuat ibunya bingung memikirkan bagaimana dapat memenuhi keinginan anaknya, yang sangat dimanjakannya itu.<br />
<strong> </strong><br />
Akhirnya si ibu mengizinkan putranya untuk mengambil sendiri belalang yang berada di dalam lumbung. Ketika si anak membuka tutup lumbung, rupanya ia kurang berhati-hati, sehingga menyebabkan semua serangga itu habis berterbangan ke luar.<br />
<strong></strong><br />
Sementara itu ayahnya pulang dari berburu. Ia kelihatannya sedang kesal, karena tidak berhasil memperoleh seekor rusa pun. Pantaslah jika ia sangat marah sewaktu mengetahui bahwa semua persediaan belalang, yang telah ia kumpulkan dengan susah payah, telah habis terlepas semuanya. Dalam keadaan lupa diri si ayah telah memotong kedua payudara istrinya, dan memanggangnya dengan gemas di atas tungku, untuk dijadikan teman nasinya.<br />
<strong></strong><br />
Wanita malang yang berlumuran darah dan dalam kesakitan itu segera meninggalkan rumahnya. Dalam keputusasaan, ia menuju ke <strong>Atu Belah</strong>.</p>
<p>Batu besar yang terkenal dapat menelan siapa saja, yang bersedia untuk dijadikan korban. Siapa saja dapat menjadi korban batu ajaib ini, apabila ia menjangin, yakni menyanyikan kata-kata:</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Atu belah, atu bertangkupnge sawah pejaying te masa dahulu,</em></p>
<p>yang berarti:</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>“Batu Belah, batu bertangkup, sudah tiba janji kita masa yang lalu. </em></p>
<p>“Kata-kata” itu dinyanyikan berkali-kali secara lirih sekali oleh ibu yang malang itu.<br />
Sementara si ibu menuju ke Atu Belah, kedua putranya terus menguntitnya dari kejauhan sambil menangis. Si kakak menggendong adiknya yang masih kecil itu.<br />
Akhirnya bagian batu yang terbelah itu terbuka dengan perlahan-lahan dan tanpa ragu lagi si ibu yang sedang penasaran itu segera masuk ke dalamnya. Sedikit demi sedikit tubuhnya ditelan Batu Belah, setelah ia menyanyikan kalimat bertuah itu berulang kali.<br />
Ketika kedua kakak beradik itu tiba di sana, keadaan alam sedang buruk-buruknya, hujan disertai badai sedang mengamuk. Bumi terasa bergetar karena sedang menyaksikan Atu Belah menelan manusia.</p>
<p>Setelah semua reda, kedua anak itu dengan hati yang luluh hanya dapat melihat rambut ibunya, yang masih tersisa tidak tertelan habis batu ajaib. Kemudian anak yang sulung mencabut tujuh helai rambut ibunva untuk dijadikan jimat pelindung mereka berdua.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bangau dengan Anjing ]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/bangau-dengan-anjing/</link>
<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 04:52:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/bangau-dengan-anjing/</guid>
<description><![CDATA[Bangau dengan Anjing * [Dongeng bertipe Fox and crane invite each other dari Poso, Sulawesi Tengah] ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bangau dengan Anjing *<br />
[Dongeng bertipe Fox and crane invite each other dari Poso, Sulawesi Tengah]</p>
<p>Ada seekor burung bangau yang bersahabat dengan seekor anjing. Pada suatu hari sang Anjing mengundang sahabatnya ke rumahnya untuk makan. Di rumah anjing itu telah tersedia makanan yang dihidangkan dalam dua buah piring ceper. Dan makanannya adalah bubur yang encer sekali.<br />
Si anjing mempersilakan sang Bangau makan, namun hingga tuan rumah selesai makan, sang Bangau tidak dapat mencicipi makanan yang berada di dalam piling ceper itu, apalagi buburnya encer. Hal itu dikarenakan dengan paruhnya yang panjang tak mungkin ia dapat mematuk bubur encer yang diletakkan di piring yang ceper. Oleh karenanya dengan menahan lapar dan sakit hati, ia pulang ke rumahnya.<br />
Beberapa hari kemudian tibalah giliran sang Bangau untuk menjamu sang Anjing di rumahnya. Pada waktu sang Anjing tiba di rumah sang Bangau, makanannya sudah tersedia di dalam dua buah tabling, yang sangat sempit mulutnya, yang hanya sesuai untuk paruh si bangau, tetapi tidak untuk moncong sang Anjing yang lebar itu. Sudah tentu sang Anjing merasa sangat mendongkol, namun ia tidak dapat mengutarakannya, karena ia tahu bahwa ialah yang menjadi biang keladinya, sehingga kini dibalas oleh sang Bangau.</p>
<p>*Dongeng ini bertipe cerita universal AaTh. No. 60, atau motif No. J156 5.1 Fox and crane invite each other (rubah dan seriap menjamu satu sama lain).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pangeran Katak (World)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/pangeran-katak-world/</link>
<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 04:41:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/pangeran-katak-world/</guid>
<description><![CDATA[Pada suatu waktu, hidup seorang raja yang mempunyai beberapa anak gadis yang cantik, tetapi anak gad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada suatu waktu, hidup seorang raja yang mempunyai beberapa anak gadis yang cantik, tetapi anak gadisnya yang paling bungsulah  yang paling cantik. Ia memiliki wajah yang sangat cantik dan selalu terlihat bercahaya. Ia bernama Mary. Di dekat istana raja terdapat hutan yang luas serta lebat dan di bawah satu pohon limau yang sudah tua ada sebuah sumur. Suatu hari yang panas, Putri Mary pergi bermain menuju hutan dan duduk di tepi pancuran yang airnya sangat dingin. Ketika sudah bosan sang Putri mengambil sebuah bola emas kemudian melemparkannya tinggi-tinggi lalu ia tangkap kembali. Bermain lempar bola adalah mainan kegemarannya.</p>
<p>Namun, suatu ketika bola emas sang putri tidak bisa ditangkapnya. Bola itu kemudian jatuh ke tanah dan menggelinding ke arah telaga, mata sang putri terus melihat arah bola emasnya, bola terus bergulir hingga akhirnya lenyap di telaga yang dalam,  sampai dasar telaga itu pun tak terlihat. Sang Putri pun mulai menangis. Semakin lama tangisannya makin keras. Ketika ia masih menangis, terdengar suara seseorang berbicara padanya,”Apa yang membuatmu bersedih tuan putri? Tangisan tuan Putri sangat membuat saya terharu… Sang Putri melihat ke sekeliling mencari darimana arah suara tersebut, ia hanya melihat seekor katak besar dengan muka yang jelek di permukaan air. “Oh… apakah engkau yang tadi berbicara katak? Aku menangis karena bola emasku jatuh ke dalam telaga”. “Berhentilah menangis”, kata sang katak. Aku bisa membantumu mengambil bola emasmu, tapi apakah yang akan kau berikan padaku nanti?”, lanjut sang katak.</p>
<p>“Apapun yang kau minta akan ku berikan, perhiasan dan mutiaraku, bahkan aku akan berikan mahkota emas yang aku pakai ini”, kata sang putri. Sang katak menjawab, “aku tidak mau perhiasan, mutiara bahkan mahkota emasmu, tapi aku ingin kau mau menjadi teman pasanganku dan mendampingimu makan, minum dan menemanimu tidur. Jika kau berjanji memenuhi semua keinginanku, aku akan mengambilkan bola emasmu kembali”, kata sang katak. “Baik, aku janji akan memenuhi semua keinginanmu jika kau berhasil membawa bola emasku kembali.” Sang putri berpikir, bagaimana mungkin seekor katak yang bisa berbicara dapat hidup di darat dalam waktu yang lama. Ia hanya bisa bermain di air bersama katak lainnya sambil bernyanyi. Setelah sang putri berjanji, sang katak segera menyelam ke dalam telaga dan dalam waktu singkat ia kembali ke permukaan sambil membawa bola emas di mulutnya kemudian melemparkannya ke tanah.</p>
<p>Sang Putri merasa sangat senang karena bola emasnya ia dapatkan kembali. Sang Putri menangkap bola emasnya dan kemudian berlari pulang. “Tunggu… tunggu,” kata sang katak. “Bawa aku bersamamu, aku tidak dapat berlari secepat dirimu”. Tapi percuma saja sang katak berteriak memanggil sang putri, ia tetap berlari meninggalkan sang katak. Sang katak merasa sangat sedih dan kembal ke telaga kembali. Keesokan harinya, ketika sang Putri sedang duduk bersama ayahnya sambil makan siang, terdengar suara lompatan ditangga marmer. Sesampainya di tangga paling atas, terdengar ketukan pintu dan tangisan,”Putri, putri… bukakan pintu untukku”. Sang putri bergegas menuju pintu. Tapi ketika ia membuka pintu, ternyata di hadapannya sudah ada sang katak. Karena kaget ia segera menutup pintu keras-keras. Ia kembali duduk di meja makan dan kelihatan ketakutan. Sang Raja yang melihat anaknya ketakutan bertanya pada putrinya,”Apa yang engkau takutkan putriku? Apakah ada raksasa yang akan membawamu pergi? “Bukan ayah, bukan seorang raksasa tapi seekor katak yang menjijikkan”, kata sang putri. “Apa yang ia inginkan dari?” tanya sang raja pada putrinya.</p>
<p>Kemudian sang putri bercerita kembali kejadian yang menimpanya kemarin. “Aku tidak pernah berpikir ia akan datang ke istana ini..”, kata sang Putri. Tidak berapa lama, terdengar ketukan di pintu lagi. “Putri…, putri, bukakan pintu untukku.  Apakah kau lupa dengan ucapan mu di telaga kemarin?” Akhirnya sang Raja berkata pada putrinya,”apa saja yang telah engkau janjikan haruslah ditepati. Ayo, bukakan pintu untuknya”. Dengan langkah yang berat, sang putri bungsu membuka pintu, lalu sang katak segera masuk dang mengikuti sang putri sampai ke meja makan. “Angkat aku dan biarkan duduk di sebelahmu”, kata sang katak. Atas perintah Raja, pengawal menyiapkan piring untuk katak di samping Putri Mary. Sang katak segera menyantap makanan di piring itu dengan menjulurkan lidahnya yang panjang. “Wah, benar-benar tidak punya aturan. Melihatnya saja membuat perasaanku tidak enak,” kata Putri Mary.</p>
<p>Sang Putri bergegas lari ke kamarnya. Kini ia merasa lega bisa melepaskan diri dari sang katak. Namun, tiba-tiba, ketika hendak  membaringkan diri di tempat tidur…. “Kwoook!” ternyata sang katak sudah berada di atas tempat tidurnya. “Cukup katak! Meskipun aku sudah mengucapkan janji, tapi ini sudah keterlaluan!” Putri Mary sangat marah, lalu ia melemparkan katak itu ke lantai. Bruuk! Ajaib, tiba-tiba asap keluar dari tubuh katak. Dari dalam asap muncul seorang pangeran yang gagah. “Terima kasih Putri Mary… kau telah menyelamatkanku dari sihir seorang penyihir yang jahat. Karena kau telah melemparku, sihirnya lenyap dan aku kembali ke wujud semula.” Kata sang pangeran. “Maafkan aku karena telah mengingkari janji,” kata sang putri dengan penuh sesal. “Aku juga minta maaf. Aku sengaja membuatmu marah agar kau melemparkanku,” sahut sang Pangeran. Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya sang Pangeran dan Putri Mary mengikat janji setia dengan menikah dan merekapun hidup bahagia.</p>
<p>Pesan moral : Jangan pernah mempermainkan sebuah janji dan pikirkanlah dahulu janji-janji yang akan kita buat.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Pangeran Katak (Bali)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/pangeran-katak-bali/</link>
<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 04:40:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/28/pangeran-katak-bali/</guid>
<description><![CDATA[Pangeran Katak* [Dongeng bertipe The Frog King dari Karangasem, Bali] Dahulu ada seorang raja besar ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pangeran Katak*<br />
[Dongeng bertipe The Frog King dari Karangasem, Bali]</p>
<p>Dahulu ada seorang raja besar di negeri Daha, yang mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Nama putri itu adalah Kencana. Ia sangat disayang karena merupakan anak tunggal. Oleh karenanya ia dilarang bermain jauh-jauh. Di dalam hati ingin benar putri Kencana melihat-lihat daerah di luar istana.<br />
Pada suatu malam Tuan Putri bermimpi bertemu dengan seorang panger¬an, yang tampan mukanya dan kekar tubuhnya. Sejak itu hati Tuan Putri sangat rindu hendak bertemu dengan pangeran dalam mimpinya itu.<br />
Oleh karena sudah tak tahan lagi, maka mohonlah ia izin kepada ayahnya untuk berjalan-jalan di luar istana. Permohonannya sekali ini diluluskan ayahnya, asalkan ia diiringi oleh para dayang dan pengawal istana.<br />
Sambil diiringi para pengawalnya, tibalah ia di suatu tempat yang sangat indah, bersih, dan sejuk udaranya. Dan di sana pun terdapat sebuah kolam yang ditumbuhi dengan bunga teratai. Anehnya tempat yang seindah itu tidak ada penghuninya. Di sana Tuan Putri dengan para dayangnya bercengkerama seolah-olah tidak ingin kembali lagi ke istana.<br />
Dalam bermain-main itu, selendang sang Putri diterbangkan angin dan jatuh ke dalam kolam itu. Para pengiringnya berusaha untuk mencarinya, namun hasilnya nihil. Tuan Putri terus menangis tidak mau pulang, sebelum benda itu dapat ditemukan kembali.<br />
Dalam keadaan hiruk pikuk itu, lompatlah keluar seekor katak besar dari dalam kolam. Lalu bercakap seperti manusia saja. “Mengapa Tuan Putri menangis?” tanyanya. Jawab Tuan Putri, “Selendangku jatuh ke dalam kolam itu, lalu hilang. Tolonglah, Katak, untuk menemukannya kembali.’” “Baiklah, Tuan Putri. Apakah upahku jika berhasil menemukannya kembali?” tanya sang Katak. “Akan kuberi engkau emas intan sebagai upahnya,” janji Tuan Putri. Namun sang Katak tidak mau dan berkata, “Bukan itu pintaku, yang kuingini adalah agar aku dapat selalu bersamamu.” Sambutan Tuan Putri dengan girang adalah, “Oh! kalau itu saja sih yang engkau ingini bolehlah, asalkan selendangku kembali!”<br />
“Bodoh amat binatang ini, mana dapat ia hidup tanpa air,” pikir Tuan Putri. Belum selesai ia berpikir, dilihatnya sang Katak sudah timbul kembali dari permukaan air dengan membawa selendangnya. Melihat itu Tuan Putri kegirangan, sehingga ia pun segera lari pulang, tidak ingat pada sang Katak. Melihat kelakuan Putri raja itu, sang Katak tercengang serta sangat kecewa, karena tidak disangka bahwa Tuan Putri akan melanggar janji, yang baru saja diucapkannya. Dengan berlompat-lompat disusulnya rombongan Tuan Putri, yang sudah pergi jauh sekali.<br />
Baru pada malam hari sang Katak dapat tiba di istana. Segera dicarinya kamar Tuan Putri. Di sana didapatinya Tuan Putri sedang bercakap-cakap dengan Baginda Raja. Sang Katak lalu mengetuk daun pintu. Yang membuka pintu adalah Tuan Putri sendiri. Setelah dibuka kiranya yang berada di hadapannya adalah katak yang telah menolong mengambilkan selendang¬nya tadi siang. Dengan jengkel Tuan Putri lalu menanyakan maksud kedatangannya. Jawab sang Katak adalah bahwa ia hendak menuntut janji untuk dapat selalu hidup bersama Tuan Putri. Karena malu diketahui ayahnya, maka Tuan Putri segera menutup pintunya kembali rapat-rapat. Namum sang Katak belum mau sudah dan diketuk lagi pintu itu, sehingga raja menanyakan hal itu kepada putrinya. Oleh karena terpaksa, maka Tuan Putri akhirnya menceritakan perihal janjinya kepada seekor katak yang tadi pagi menoiong mengambilkan selendang yang terjatuh ke dalam kolam.<br />
“Jika demikian janjimu, engkau harus menepati janjimu itu, dan apa salahnya membiarkan seekor katak mendampingimu?” demikianlah tanggapan sang Raja dan disuruhnya sang Katak itu masuk.<br />
Setelah itu Baginda pun meninggalkan putrinya dengan kataknya. Tuan Putri kemudian bersantap malam dengan kataknya. Pada waktu tidur, sang Katak ternyata juga menaiki peraduan Tuan Putri, sehingga Tuan Putri sangat marah. Lalu diambilnya Katak itu dan dilemparkannya ke luar kamar, sambil berseru. “Di sanalah tempat tidurmu tahu!” Namun baru saja Tuan Putri hendak meletakkan kepalanya di atas bantal, dilihatnya bahwa sang Katak sudah terlentang di sisinya. Dengan jengkelnya ia pun bertanya, “Hai Katak mengapa engkau terus mengikuti aku saja?” Jawab sang Katak, “Ijinkanlah aku bercerita, agar Tuan Putri maklum akan keadaanku yang sebenarnya.”<br />
Katak itu pun segera bercerita sejak awal sampai akhir mengenai pengalamannya menjelma menjadi seekor katak. Ternyata ia adalah seorang pangeran yang telah disihir menjadi seekor katak. Ia baru dapat bebas dari pengaruh sihirnya itu, apabila ada seorang putri yang mengizinkan ia selalu berada di sampingnya. Setelah habis bercerita, sang Katak segera membuka baju kataknya, dan menjelmalah menjadi manusia kembali. Melihat itu, Tuan Putri menjadi sangat bahagia karena yang berada disampingnya adalah pangeran yang pernah ia jumpai di dalam mimpinya. Tanpa ragu-ragu lagi Tuan Putri segera memeluk kecintaannya, yang ternyata mempunyai bentuk tubuh yang sangat bagus dan roman muka yang teramat tampan. Dan demikianlah, semalaman itu mereka lewatkan dengan bercumbuan sampai pagi.<br />
Keesokan harinya, pangeran itu diajak Tuan Putri untuk menghadap ayahanda. Raja sangat gembira setelah mendengar kisah sang Pangeran, karena ternyata ia adalah putra raja Kuripan, yang telah menjadi katak. Tuan Putri dan sang Pangeran ternyata masih bersaudara karena mereka berdua adalah saudara misan.<br />
Kejadian ini segera dilaporkan kepada raja Kuripan dan tidak lama berlangsunglah perkawinan antara dua insan yang saling bercinta itu, dengan satu pesta yang berlangsung selama tujuh hari dan tujuh malam.</p>
<p>* Cerita universal ini bertipe AaTh No. 440.11 &#38; III The Frog King (Raja Katak). Cerita semacam ini merupakan salah satu dongeng koleksi Grimm bersaudara yang terkenal. Dongeng ini yang dahulunya adalah Legenda merupakan bagian dari kisah legenda “Galuh Daha” (Putri Daha) dengan “Mantri Kuripan” (Putra Mahkota Kuripan), yang sangat populer di Bali. Walaupun isinya berlainan, namun jika diabstraksikan adalah sama, yaitu bertemakan perpisahan di antara dua tokoh yang pada akhirnya pasti akan bertemu pula. Di Jawa Timur dan Jawa Tengah legenda ini terkenal dengan nama siklus legenda mengenai Panji.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dongeng : Sisir Emas Si Pendayung Gondola]]></title>
<link>http://aldialdialdi.wordpress.com/2009/12/27/dongeng-sisir-emas-si-pendayung-gondola/</link>
<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 11:13:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>muhammad aldi</dc:creator>
<guid>http://aldialdialdi.wordpress.com/2009/12/27/dongeng-sisir-emas-si-pendayung-gondola/</guid>
<description><![CDATA[Venezia abad ke-14. Grande Pazzo, mengabdikan hidupnya sebagai pendayung gondola pada umur 24 tahun.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Venezia abad ke-14.<br />
Grande Pazzo, mengabdikan hidupnya sebagai pendayung gondola pada umur 24 tahun. Setelah ayahnya, Tomas Pazzo, meninggal dunia Grande Pazzo diwarisi sebuah gondola dan sisir emas. Gondolanya sangat terkenal di seluruh penjuru Venezia karena keanggunan gondola tersebut. Gondola tersebut dilapisi emas 24k dan berukiran ular. Grande menjulukinya Serpente Oro. Tapi dia belum punya pikiran tentang sisir emas.</p>
<p>Di hari pertamanya mendayung gondola, dia merasakan ada hal aneh. Tak ada satu orang pun yang berniat menaiki gondolanya. Grande menghilirkan gondolanya pulang ke rumah. Di tempat tidur dia berpikir keras tentang kejadian tadi. Keesokan harinya, <!--more-->Grande bercermin memperhatikan penampilannya dan mendapati rambutnya tidak tertata rapi. Dia teringat akan sisir emas peninggalan ayahnya. Ada sedikit perasaan aneh ketika dia menyisir. Rambutnya disisir rapi ke belakang (konon ini asal-usul mafia italia menyisir rambut ke belakang). Lalu dia berangkat mendayung gondola lagi.</p>
<p>Satu hari penuh gondolanya laku dinaiki penumpang. Hingga satu minggu lebih Grande mendayung gondola. Sampai akhirnya dia kehilangan sisir emas tersebut dan gondolanya tidak laku lagi. Grande berusaha mati-matian mencari sisir emas tersebut. &#8220;Aku akan mencari sisir ayah sampai ke penjuru dunia&#8221; tekadnya. 1 tahun 1 bulan 1 hari dia mendayung gondola hingga akhirnya sampai di Cina dan mengakhiri riwayatnya di sana tanpa menemukan sisir emasnya.</p>
<p>N.B : Konon dongeng ini diklaim Cina sebagai cerita rakyat mereka. Dan Grande Puzzo dimakamkan di tepi Sungai Kuning, Cina dengan nama di nisannya, Huang Ho Minh dan Serpente Oro dikirim lagi ke Italia.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Dongeng : Mathiaas Yang Tangguh]]></title>
<link>http://aldialdialdi.wordpress.com/2009/12/25/dongeng-mathiaas-yang-tangguh/</link>
<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 17:37:35 +0000</pubDate>
<dc:creator>muhammad aldi</dc:creator>
<guid>http://aldialdialdi.wordpress.com/2009/12/25/dongeng-mathiaas-yang-tangguh/</guid>
<description><![CDATA[Alkisah Mathiaas, seorang pemuda tangguh Finlandia yang lahir di kota Helsinki ingin menegakkan kead]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Alkisah Mathiaas, seorang pemuda tangguh Finlandia yang lahir di kota Helsinki ingin menegakkan keadilan atas hukum yang berlaku. Helsinki diperintah oleh Ratu Klaar III yang menganut politik Mtrel (menghentikan aliran air ke seluruh kota untuk hemat energi). Rakyat hanya boleh minum air hujan dan air sungai atau air lainnya yang berasal dari alam. Sementara di kerajaan boleh menimun apa saja.<br />
<!--more--><br />
Rakyat merasa politik ini sungguh tidak adil. Maka dari itu, Mathiaas Yang Tangguh tidak tinggal diam melihat rakyat tertindas (bak aktivis kampus yang peka terhadap pemerintahan). Sontak Mathiaas Yang Tangguh bersorak menyerukan ketertindasan rakyat. Mathiaas Yang Tangguh bersama 3 orang teman akrabnya, Clerk, Bruut, dan Chiki, berkonvoi dengan kuda menuju istana Helsinki.</p>
<p>Mathiaas Yang Tangguh dkk. mendobrak pintu gerbang istana dan berhasil menerobos masuk. Para prajurit kerajaan menghadang 4 sekawan tersebut. Tapi naas, Clerk dan Bruut berhasil dilumpuhkan dengan sekali pukulan (mereka berdua tidak dibekali ilmu bela diri). Tinggal Mathiaas Yang Tangguh dan Chiki yang berhasil masuk ke jantung istana. Di sana mereka berhadapan dengan Ratu Klaar III. Tanpa basa basi Mathiaas Yang Tangguh menyabetkan Pedang Pembunuh Naganya ke bagian pinggang Ratu hingga tubuh bagian atas dan bawah dari Ratu terpisah.</p>
<p>Mathiaas Yang Tangguh melihat ada secarik kertas yang digenggam oleh Ratu. Isinya menyiratkan bahwa Ratu Klaar akan menghentikan politik Mrtel pada jam 12 malam nanti. Mathiaas Yang Tangguh tertegun sembari Chiki mengarahkan revolvernya ke kepala Mathiaas Yang Tangguh. “Bodoh!” ucap Chiki dengan nada kesal. Lalu Chiki pulang ke rumahnya.</p>
<p>N.B : Hey, mahasiswa kuliahlah dengan benar.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ASAL MULA PULAU KEMBANG]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/18/asal-mula-pulau-kembang/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 00:46:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/18/asal-mula-pulau-kembang/</guid>
<description><![CDATA[Konon, pada zaman dahulu kala, di Muara Sungai Barito berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Konon, pada zaman dahulu kala, di Muara Sungai Barito berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kuin. Letaknya yang strategis menjadikan kerajaan tersebut sangat ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai negeri. Selain letaknya yang strategis, kerajaan ini mempunyai seorang patih yang sangat sakti, berani dan gagah perkasa. Namanya Datu Pujung. Ia merupakan andalan dan benteng pertahanan Kerajaan Kuin untuk menghalau segala ancaman yang datang dari luar.<br />
Suatu hari, sebuah jung besar berasal dari negeri Cina berlabuh di Sungai Barito. Meskipun di dalam jung itu terlihat kesibukan yang luar biasa, tidak seorang penduduk negeri yang mengetahui apa sebenarnya yang mereka kerjakan dalam jung itu. Penduduk negeri juga tidak tahu maksud kedatangan mereka. Layaknya tamu, semestinya mereka mengirim utusan menghadap kepada penguasa negeri. Lama ditunggu, tak seorang pun yang keluar dari jung itu untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Sikap yang demikian itu membuat penguasa negeri menjadi lebih berhati-hati. Seluruh pengawal pelabuhan dipersiapkan untuk berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.<br />
Keesokan harinya, sebuah perahu yang sarat serdadu berseragam dan bersenjata lengkap merapat di tepian sungai. Seorang di antaranya melompat ke darat sambil menambatkan seutas tali di kayu ulin yang sengaja dijadikan titian. “Wahai, anak negeri! Sebelum pertumpahan darah terjadi, kalian semua disarankan untuk menyerah. Jika tidak, negeri ini akan kami musnahkan. Siapapun yang berani melawan akan kami bunuh, dan yang tidak melawan kami jadikan sebagai budak tawanan!” ujar seorang utusan. Datu Pujung menjawab ancaman itu dengan kata-kata yang halus, “Musuh bagi kami tidak dicari. Bila datang, pantang bagi kami untuk menghindarinya.” Lalu, Datu Pujung balik bertanya, “Apakah kalian mampu mengalahkan kami?” Ucapan Datu Pujung membuat utusan itu geram. “Hai, orang tua! Berani sekali kamu berkata begitu. Apakah kamu minta bukti keperkasaan kami?” balas utusan itu. “Ya, begitulah,” jawab Datu Pujung dengan penuh wibawa.<br />
“Hai, prajurit! Kepung dan tangkap mereka!” perintah sang Kepala Utusan. Namun, sebelum serdadu-serdadu tersebut bergerak, Datu Pujung melompat ke arah sang Kepala Utusan dan menorehkan sebilah pisau ke leher orang yang mengancam tadi. “Tidak bijaksana. Sama sekali tidak bijaksana. Sama dengan tidak bijaksananya pisauku ini. Ia akan menoreh dan membuat lehermu berlubang bila anak buahmu meneruskan langkahnya,” gertak Datu Pujung sambil menggores-goreskan pisaunya di leher sang Kepala Utusan.<br />
Melihat keselamatan pemimpinnya terancam, para serdadu mengurungkan niatnya. Mereka tidak berani bergerak sedikit pun. Datu Pujung mundur selangkah. Sambil berbalik ia menawarkan sebuah taruhan. “Hai, Kepala Utusan! Di antara kita tidak perlu ada pertumpahan darah jika tawaranku ini kamu terima secara kesatria!” ujar Datu Pujung.<br />
“Apa itu?” balas si Kepala Utusan penasaran. “Tariklah pohon ulin yang kalian jadikan titian itu sampai ke sini. Dengan senjata yang kalian miliki, penggal pohon itu menjadi dua potong. Jika kalian sanggup melakukannya, seluruh daerah ini akan menjadi milik kalian. Tapi sebaliknya, jika tidak mampu, dengan penuh hormat kami persilahkan kalian meninggalkan daerah ini sebelum kami berubah pikiran,” ancam Datu Pujung sambil menunjuk tebangan pohon ulin sebesar drum yang panjangnya tidak kurang dari sembilan depa.<br />
“Tawaranmu kami terima, orang tua!” sambut Kepala Utusan dengan jumawa. “Kalau begitu. Bersiaplah untuk menarik kayu ulin itu,” ujar Datu Pujung. Mendengar ujaran itu, si Kepala Utusan terdiam. Sepertinya ia mulai ragu pada kemampuannya. Bagaimana mungkin ia bisa mengangkat kayu sebesar drum dan panjang itu. Datu Pujung sudah tidak sabar menunggu si Kepala Utusan melaksanakan kesanggupannya. “Tunggu apalagi, Kepala Utusan?” desak Datu Pujung. Perlahan-lahan si Kepala Utusan mencoba untuk mengangkat pohon ulin itu, namun tidak bergerak sedikit pun. Melihat ketidakmampuan komandannya, seluruh anggota pasukan ikut membantu menarik tebangan pohon ulin. Tapi, usaha mereka tetap saja sia-sia. Jangankan pohon ulin itu bergeser, bergerak pun tidak. Kemudian senjata mereka mereka tebaskan ke batang tersebut, tetapi jangankan pohon itu terbelah, tebasan mereka membekas pun tidak padanya.<br />
Datu Pujung hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Sambil mengawasi gerak-gerik lawannya, ia pun segera mendekati pohon itu. Dengan sebelah tangannya, ia menarik kayu ulin itu. Sebilah parang bungkulnya yang terhunus kemudian menebas kayu ulin itu hingga terpotong menjadi dua. Salah satu potongan sengaja ia lemparkan ke arah seluruh pasukan tersebut. Mereka pun lari terbirit-birit ke arah perahu. “Tunggu pembalasan kami sebentar lagi!” ujar mereka mengumbar ancaman. Perahu mereka dayung dengan sekuat tenaga menuju ke jung di tengah sungai.<br />
Datu Pujung tidak menghiraukan ancaman itu. Dengan potongan kayu ulin yang lain, Datu Pujung meluncur ke sungai mengejar mereka. Dalam kejar-kejaran tersebut, Datu Pujung berhasil mendahului mereka tiba di atas jung. Pasukan naik di bagian depan jung, sedangkan Datu Pujung naik di buritan. “Kalian semua memang tidak bisa diberi hati!”, seru Datu Pujung penuh amarah. Ia mengambil pisau kecil dari balik bajunya, lalu mencungkil lambung jung itu. Dalam sekejap, air pun menggenangi jung. Sebuah hentakan kaki Datu Pujung membuat perahu bocor. Air memenuhi seluruh jung hingga tenggelam. Seluruh pasukan dan isi jung pun ikut tenggelam.<br />
Sejak itu, endapan lumpur dan batang-batang kayu yang hanyut di Sungai Barito selanjutnya menimbun jung itu hingga membentuk delta atau pulau.<br />
Konon, Putri Bungsu, permaisuri di Kerajaan Palinggam Cahaya sudah bertahun-tahun belum dikaruniai anak. Sesuai dengan ramalan para ahli nujum, Putri Bungsu harus dibadudus di Pulau Kambang. Ramalan dan nasihat ahli nujum itu disambut baik oleh kerabat kerajaan. Beberapa hari setelah diadakannya upacara adat ba-dudus di salah satu tempat di Pulau Kambang, sang Permaisuri pun hamil dan selanjutnya melahirkan seorang putra yang nantinya akan mewarisi mahkota Kerajaan Palinggam Cahaya. Kemudian Baginda Raja memerintahkan agar tempat tersebut dijaga dan dipelihara keasriannya. Untuk itu, Baginda Raja mengirim dua orang pengawal untuk menjaga Pulau Kambang. Namun, karena pulau itu selalu terendam banjir, maka penjagaannya tidak semudah yang diperkirakan. Akhirnya, Baginda Raja mengirim sepasang warik untuk membantu kedua pengawal tersebut. Warik betina bernama si Anggur, sedangkan warik jantan bernama si Anggar. Kedua warik tersebut mengelilingi dan mengintai kalau-kalau ada gangguan yang datang dari luar, dengan cara bergelantungan dari pohon satu ke pohon lainnya.<br />
Konon ceritanya, kedua orang pengawal yang ditugaskan menjaga pulau itu, dikabarkan menghilang entah ke mana. Sementara sepasang warik yang mereka tinggalkan beranak-pinak dan menjadi penghuni Pulau Kambang. Ketika para orang tua dahulu mengunjungi Pulau Kambang, mereka masih bisa melihat si Anggur dan si Anggar yang memang berbeda dari warik biasa. Tubuhnya sama besarnya dengan tubuh manusia.<br />
Hingga kini, keberadaan warik-warik tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang berkunjung ke Pulau Kambang. Beberapa ahli pernah melakukan pengamatan mengenai komunitas warik tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan mereka, di pulau itu terdapat dua kumpulan warik yang keluar dari persembunyiannya secara bergantian. Rombongan warik pertama, biasanya keluar pukul 05.00 – 13.00. Setelah itu dilanjutkan oleh rombongan warik kedua. Saat rombongan kedua ini keluar, biasanya bertepatan dengan saat pengunjung sedang ramai. Hasil pengamatan mereka juga menunjukkan bahwa jika rombongan warik “sift” pertama tidak menaati ketentuan (dalam hal ini melewati batas waktunya), maka mereka akan diburu oleh rombongan warik “sift” kedua. Mengenai tepatnya waktu pergantian itu, hanya sesama warik yang tahu.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ASAL MULA BURUNG PUNAI (Kalimantan Selatan)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/18/asal-mula-burung-punai-kalimantan-selatan/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 00:42:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/18/asal-mula-burung-punai-kalimantan-selatan/</guid>
<description><![CDATA[Konon, di daerah Kalimantan Selatan, tersebutlah seorang pemuda pengembara yang bernama Andin. Ia ad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" src="http://i526.photobucket.com/albums/cc341/idanradzi/punai1a.jpg" alt="punai1a.jpg image by idanradzi" width="381" height="270" />Konon, di daerah Kalimantan Selatan, tersebutlah seorang pemuda pengembara yang bernama Andin. Ia adalah anak sebatang kara, tidak punya Abah dan Uma. Ia juga tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Ia mengembara dari satu desa ke desa lain, menjelajahi hutan belantara dan melewati berbagai negeri seorang diri.<br />
Suatu hari, tibalah Andin di Desa Pakan Dalam yang berawa-rawa dan bersungai. Di permukaan rawa-rawa itu terlihat pemandangan yang sangat indah. Beraneka ragam bunga yang tumbuh mekar dan harum, sehingga burung yang senang mengunjungi daerah itu. Karena banyak burung yang cantik dan merdu di desa itu, banyak penduduk yang bekerja mamulut burung. Melihat kehidupan masyarakat di daerah itu makmur, maka Andin pun memutuskan menetap di sana. “Ah, lebih baik aku menetap di sini saja. Aku tidak akan kesulitan menghidupi diriku,” gumam Andin. Meskipun tidak memiliki lahan untuk bertani atau beternak hewan, ia masih memiliki sebuah harapan yaitu mamulut burung. Dari situlah ia bisa menghidupi dirinya.<br />
Hari dan bulan telah berganti. Tak terasa, sudah satu tahun Andin menetap di Pakan Dalam. Penduduk setempat sangat menyukai Andin, karena perangainya baik dan santun. Setiap hari Andin pergi mamulut burung. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat, dan kembali setelah hari mulai senja. Karena setiap hari pergi mamulut burung, penduduk desa memanggil Andin dengan sebutan Andin Pulut. Karena keahlian Andin mamulut burung tidak ada yang menandingi di desa itu, maka sebagian besar penduduk memanggilnya Datu Pulut. Artinya, orang yang sangat pandai dan berpengalaman mamulut burung.<br />
Seperti biasa, pagi itu Datu Pulut bersiap-siap berangkat mamulut. Tak berapa lama kemudian, ia sudah terlihat di atas jukungnya menuju hilir. Ia terus mengayuh jukungnya menyusuri sungai. Setelah menemukan tempat yang cocok, ia pun turun dari jukungnya. Lalu, ia memasang pulut di sejumlah pohon di pinggir sungai. Setelah itu, ia kembali ke jukungnya menunggu pulutnya terkena burung sambil tiduran . Tengah asyik tiduran, tiba-tiba hujan turun. Ia pun cepat-cepat naik ke daratan. Tak jauh dari tempatnya memasang pulut, ditemu¬kannya beberapa pohon yang besar lagi rindang. Di bawah pepohonan itu terdapat sebuah telaga yang cukup luas dan berair jernih. Ia sangat senang menemukan tempat berteduh yang nyaman. “Aha…, aku dapat berteduh di sini sambil menunggu hujan reda,” gumam Datu Pulut. Beberapa saat kemudian, hujan pun mulai reda. Datu Pulut kemudian manukui jebakan pulutnya. Namun, saat akan beranjak dari tempatnya, tiba-tiba ia mendengar suara perempuan yang sedang bergembira. Tanpa pikir panjang, ia cepat-cepat bersem¬bunyi di balik pohon seraya mengintip.<br />
Kini suara itu semakin jelas dan semakin dekat. Tiba-tiba ia tersentak ketika melihat tujuh bidadari melayang-layang turun dari langit menuju telaga. Ketujuh bidadari tersebut mengenakan selendang berwarna pelangi. Dari ketujuh bidadari tersebut, bidadari yang berselendang warna jinggalah yang paling cantik. Datu Pulut sangat terpesona melihatnya. “Aduhai, cantik sekali bidadari yang berselendang jingga itu,” gumam Datu Pulut takjub. Para bidadari itu turun dan meletakkan selendangnya di atas bebatuan. Mereka mandi sambil bercengkerama dan bersuka ria. Pada saat itulah, Datu Pulut memanfaatkan kesempatan. Dengan hati-hati, ia mengambil selendang yang berwarna jingga itu, lalu dimasukkannya ke dalam butahnya. Kemudian, ia cepat-cepat kembali bersembunyi di balik pohon.<br />
Tak terasa, hari mulai senja. Saatnya bidadari tersebut kembali ke Kahyangan. Satu per satu mereka mengenakan kembali selendangnya. Tetapi bidadari yang tercantik itu tidak menemukan selendangnya. Saudara-saudaranya turut membantu mencari ke sana ke mari. Namun tak kunjung mereka temukan. Hari pun semakin senja. Keenam bidadari tersebut terpaksa meninggalkan bidadari cantik yang malang itu seorang diri. Bidadari yang cantik itu sangat sedih ditinggal oleh saudara-saudaranya. “Abah, Uma, tolong ananda. Ananda takut sendirian di bumi ini. Kenapa nasib ananda begini malangnya?” Bidadari itu terus menangis meratapi nasibnya.<br />
Datu Pulut merasa iba melihat bidadari itu. Ia pun segera keluar dari tempatnya bersembunyi, lalu menghampirinya. “Apa yang telah terjadi, Adingku? Mengapa berada di tepi telaga seorang diri?” sapa Datu Pulut pura-pura tidak tahu kejadian yang menimpa sang Bidadari. “Selendang saya hilang, tuan! Tahukah tuan dimana selendang saya?” bertanya pula bidadari itu. Datu Pulut tidak menjawab pertanyaan itu, ia tidak ingin sang Bidadari kembali ke Kahyangan. Lalu diajaknya sang Bidadari pulang bersamanya. Setelah sampai di gubuk reyotnya, Datu Pulut bercerita kepada sang Bidadari bahwa ia belum berkeluarga dan berniat untuk memperistrinya. “Wahai, Adingku! Bersediakah kamu menjadi istriku?” tanya Datu Pulut kepada bidadari. Mendengar pertanyaan itu, sang Bidadari pun bersedia menikah dengan Datu Pulut, karena ia tidak mungkin kembali ke Kahyangan tanpa selendangnya. Setelah itu, mereka hidup bahagia dan saling menyayangi.<br />
Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik jelita. Maka semakin lengkaplah kebahagiaan keluarga itu. Datu Pulut semakin rajin dan bersemangat bekerja. Ia sering pergi mamulut hingga petang. Sementara, bidadari menyiapkan berbagai masakan yang lezat untuk suaminya.<br />
Pada suatu hari, sang Bidadari hendak menanak nasi. Namun, persediaan beras di padaringan habis. “Tidak biasanya Kaka lupa mengisi beras di padaringan. Ini kok habis?” kata sang Bidadari dalam hati. Kemudian, ia masuk ke dalam kindai untuk mengambil padi. Sejak menikah dengan Datu Pulut, ia tidak pernah mengambil padi di tempat itu. Baru mengambil padi beberapa takaran, sang Bidadari terpana melihat sebuah butah tergeletak di sela-sela timbunan biji padi. Ia penasaran ingin mengetahui isi butah itu. Maka dibukanya tutup butah itu. Tanpa diduga-duga, dilihatnya selendang kahyangannya. Kini, sang Bidadari tersadar, ternyata suaminyalah yang telah mengambil seledangnya beberapa tahun yang lalu. Ia pun Kahimungan, dan segera menyimpan selendang itu baik-baik.<br />
Menjelang senja, Datu Pulut pun datang membawa hasil pulutannya. Sang Bidadari menyambutnya seperti biasanya, sehingga Datu Pulut tidak curiga sedikit pun, jika istrinya telah menemukan selendang kahyangannya. Malam semakin larut, Datu Pulut sudah tertidur pulas di samping anaknya, karena letih mamulut sepanjang hari. Sang Bidadari masih belum juga dapat memejamkan matanya. Pikirannya melayang-layang, teringat orang tua dan saudara-saudaranya di negeri Kahyangan. Perasaannya bercampur baur, sedih dan bimbang. Ia ingin kembali ke negeri asalnya, tetapi tidak tega meninggalkan suami dan anaknya. “Oh… Abah, Umah! Aku sangat merindukan kalian. Tapi bagaimana dengan nasib anak dan suamiku jika aku meninggalkan mereka?” keluh sang Bidadari kebingungan. Namun, sang Bidadari harus mengambil keputusan antara kembali ke kahyangan atau tinggal di bumi. Akhirnya, setelah dipikir-pikir ia pun memutuskan meninggalkan bumi. “Aku harus kembali ke Kahyangan,” tegas sang Bidadari dalam hati.<br />
Keesokan harinya, Datu Pulut pulang dari mamalut. Ia tersentak kaget ketika melihat istrinya sudah berpakaian lengkap dengan selendang warna jingganya sambil mendekap anak mereka. Belum sempat Datu Pulut berkata-kata, sang Bidadari langsung berpesan kepadanya, “Maafkan Ading, Kaka! Ading harus kembali ke Kahyangan. Peliharalah putri kita baik-baik. Jika ia menangis, buatkanlah ayunan di pohon berunai. Saat itu Ading akan datang menyusuinya, dengan syarat Kaka tidak boleh mendekat.” Mendengar pesan istrinya, Datu Pulut pun berjanji untuk selalu mengingat pesan itu. Sesaat kemudian, tiba-tiba sang Bidadari terbang melayang ke angkasa meninggalkan suami dan putri tercintanya.<br />
Sejak saat itu, jika putrinya menangis, Datu Pulut segera membuatkan ayunan di pohon berunai yang tak jauh gubuknya. Tak lama setelah itu, datanglah istrinya untuk menyusui anaknya dengan dikawal oleh saudara-saudaranya. Datu Pulut hanya bisa melihat dari arah jauh dengan penuh kesabaran. Meskipun sebenarnya ia sangat merindukan istrinya, perasaan itu terpaksa ia pendam dalam hati. Tanpa terasa, beberapa bulan telah berlalu. Setiap manusia memiliki batas kesabaran. Datu Pulut tidak bisa lagi menahan rasa rindunya kepada istrinya.<br />
Pada suatu hari, saat istrinya sedang menyusui anaknya, secara diam-diam Datu Pulut mendekat. Rupanya ia lupa pada pesan istrinya. Pada saat ia akan menyentuh istrinya, tiba-tiba terjadi keajaiban yang sangat luar biasa. Sang Bidadari dan saudara-saudaranya berubah menjadi tujuh ekor burung punai. Ketujuh burung itu pun terbang ke alam bebas dan meninggalkan Datu Pulut beserta putrinya. Datu Pulut hanya mampu menyesali dirinya. Namun apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Setiap kali putrinya menangis, ia membawanya ke bawah pohon berunai. Namun, istrinya yang telah menjadi burung punai tak pernah datang lagi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Burung Tempua dan Burung Puyuh (RIAU)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/18/burung-tempua-dan-burung-puyuh/</link>
<pubDate>Fri, 18 Dec 2009 00:33:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/18/burung-tempua-dan-burung-puyuh/</guid>
<description><![CDATA[Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor burung Tempua (Manyar) dan burung Puyuh di daratan Tanah Mel]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada zaman dahulu kala, hiduplah seekor <strong>burung Tempua (Manyar) </strong>dan <strong>burung Puyuh</strong> di daratan Tanah Melayu. Keduanya sangat akrab dan bersahabat sejak lama. Mereka saling menolong dan menyayangi. Pada siang hari, mereka sehilir semudik mencari makan bersama-sama. Suka-duka mereka jalani bersama. Kalau hujan sama berteduh, dan kalau panas sama bernaung. Namun, pada malam hari, mereka selalu berpisah. Mereka tidur di sarangnya masing-masing.</p>
<p><img class="alignleft" src="http://farm4.static.flickr.com/3193/2752227214_a1cde017f5.jpg" alt="Burung Tempua @  Baya Weaver  by laloq3." width="302" height="400" />Suatu hari, Tempua dan Puyuh berselisih pendapat tentang sarang yang baik menurut mereka. Pertama-tama Tempua menceritakan sarangnya yang aman dan nyaman kepada Puyuh. “Aku memiliki sarang yang indah. Sarangku terbuat dari helaian alan-alang dan rumput kering. Helaian itu dijalin dengan rapi, sehingga aku tidak akan basah saat hujan, dan tidak kepanasan di kala terik. Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuatnya,” kata Tempua menjelaskan pada Puyuh.</p>
<p>Setelah Tempua menceritakan kondisi sarangnya panjang lebar, sekarang giliran Puyuh menceritakan sarangnya yang praktis. “Aku memiliki sarang yang lebih praktis. Aku tidak perlu menghabiskan waktu untuk membuat sarang. Cukup dengan mencari batang pohon yang tumbang dan berlindung di bawahnya. Besok, aku akan pindah bersarang di tempat lain, agar musuh tidak tahu keberadaanku pada malam hari,” cerita Puyuh tak mau kalah.</p>
<p>Perdebatan mereka terus berlangsung. Setiap ada kesempatan di sela-sela mencari makan, mereka kembali berdebat tentang sarang. Karena perdebatan tidak ada habisnya, mereka kemudian sepakat untuk mencoba sarang masing-masing.</p>
<p>Pada malam pertama, Puyuh mencoba sarang Tempua. Karena tidak bisa terbang tinggi seperti Tempua, makan dengan susah payah Puyuh memanjat pohon tempat sarang Tempua tergantung. Sesampai di sarang Tempua, Puyuh terkagum-kagum melihat sarang Tempua. “Amboi….nyaman sekali sarangmu, Kawan! Kering dan bersih, juga rapi,” kata Puyuh kagum. “Aku yakin, kamu pasti akan tidur pulas,” sahut Tempua dengan bangganya.</p>
<p>Tak terasa malam telah larut. Puyuh merasa haus dan meminta minum pada Tempua. “Maaf, Kawan. Aku haus nih! Tapi, tidak mungkin aku turun mencari air dalam keadaan gelap gulita begini,” keluh Puyuh pada Tempua. Tempua hanya terdiam mendengar keluhan Puyuh. Merasa keluhannya tidak dihiraukan oleh Tempua, terpaksa Puyuh menahan rasa hausnya. Karena kelelahan seharian mencari makan, maka Puyuh pun akhirnya tertidur juga.</p>
<p>Tengah malam saat Puyuh dan Tempua tidur pulas, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Pohon tempat arang Tempua bergoyang hebat, seakan-akan mau tumbang. Sarang Tempua pun terayun ke sana kemari. Puyuh menangis ketakutan. Ia juga muntah-muntah karena terombang-ambing bagaikan perahu di tengah laut dihempas oleh gelombang besar. Melihat kawannya ketakutan dan muntah-muntah, Tempua berusaha menenangkan hati Puyuh. “Tenanglah, Puyuh. Kita tidak akan jatuh. Sebentar lagi anginnya berhenti,” sahut Tempua menghibur Puyuh. Tak lama kemudian angin berhenti, mereka pun tidur kembali.</p>
<p>Keesokan harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali. Sebelum keluar dari sarang, Puyuh berkata, “Kawan, aku tidak mau lagi tidur di sarangmu. Aku takut jatuh. Lagipula aku tidak bisa menahan haus.” Tempua diam saja. Ia memaklumi alasan Puyuh. Ia menyadari bahwa Puyuh tidak terbiasa tidur di tempat yang tinggi. Mereka kemudian mencari makan seperti biasanya. Mereka juga bermain bersama.</p>
<p>Setelah hari mulai gelap, Puyuh mengajak Tempua mencari pohon yang tumbang untuk dijadikan tempat bermalam. Setelah mencari ke sana kemari, akhirnya Puyuh menemukan sebuah pohon yang menurutnya cocok untuk tidur di bawahnya. Di dekat tempat itu mengalir parit yang dapat diambil airnya bila merasa haus. Suasana semakin gelap. Tempua pun mulai bingung. Dari tadi ia memerhatikan di sekitar tempat itu, ia tidak melihat sarang kawannya. Karena penasaran, Tempua pun bertanya kepada Puyuh, “Puyuh, dimana kita akan tidur malam ini?” Puyuh menjawab, “Di sini. Kita akan berlindung di bawah pohon ini,” jawab Puyuh sambil menunjuk tempat itu. Tempua semakin bingung, karena tempat yang ditunjuk Puyuh itu tidak terlihat ada sarang. “Di sini?” tanya Tempua dengan bingung. “Iya, di sini. Kita tidur di bawah pohon ini,” jawab Puyuh menegaskan. Tempua merasa tidak nyaman, tetapi ia harus mengikuti apa yang dilakukan oleh Puyuh untuk menghargainya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, Puyuh sudah tertidur pulas. Tetapi Tempua masih gelisah dan tidak bisa tidur. Ia hanya mondar-mandir di samping Puyuh. Namun karena kelelahan seharian mencari makan, Tempua pun tertidur. Baru saja ia memejamkan matanya, tiba-tiba hujan turun disertai petir yang menyambar-nyambar. Hujan itu membasahi tanah tempat Puyuh dan Tempua tidur. Keduanya pun terbangun. Tempua yang sudah basah kuyup itu mulai kedinginan. “Puyuh, aku kedinginan,” kata Tempua yang mulai menggigil. “Tidak apa-apa, kalau hujan reda tentu kamu tidak akan kedinginan lagi. Ayo tidur, besok kita harus bangun pagi-pagi mencari makan,” hibur Puyuh. Tak lama kemudian, hujan pun reda. Tempua kembali tidur di samping Puyuh yang sudah tidur pulas.</p>
<p>Keesokan harinya, Tempua mengeluh pada Puyuh bahwa ia tidak mau tidur lagi di sarang Puyuh. Demikian sebaliknya, Puyuh pun mengeluh. Ia berjanji tidak akan tidur lagi di sarang Tempua. Masing-masing merasa tidak cocok dengan sarang kawannya. Mereka kemudian memahami bahwa setiap makhluk mempunyai kesukaan dan kebiasaan yang tidak bisa dipaksakan. Walaupun berbeda, namun mereka tetap saling menghargai, karena mereka menganggap bahwa perbedaan itu adalah hal yang wajar. Keduanya juga tetap bersahabat. Setiap hari mencari makan bersama-sama dan saling tolong-menolong.</p>
<p>Teks cerita diambil dari ceritarakyatnusantara.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lutung Kasarung (Jawa Barat)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/lutung-kasarung-jawa-barat/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 20:21:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/lutung-kasarung-jawa-barat/</guid>
<description><![CDATA[Pada zaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bija]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs011.snc3/11841_180869621159_180851206159_3385534_604457_n.jpg" alt="" width="400" height="283" /></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Pada zaman dahulu kala di tatar pasundan ada sebuah kerajaan yang pimpin oleh seorang raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung.</p>
<p>Prabu Tapa Agung mempunyai dua orang putri cantik yaitu Purbararang dan adiknya Purbasari.<br />
Pada saat mendekati akhir hayatnya Prabu Tapak Agung menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai pengganti. “Aku sudah terlalu tua, saatnya aku turun tahta,” kata Prabu Tapa.</p>
<p>Purbasari memiliki kakak yang bernama Purbararang. Ia tidak setuju adiknya diangkat menggantikan Ayah mereka. &#8220;Aku putri Sulung, seharusnya ayahanda memilih aku sebagai penggantinya,&#8221; gerutu Purbararang pada tunangannya yang bernama Indrajaya. Kegeramannya yang sudah memuncak membuatnya mempunyai niat mencelakakan adiknya. Ia menemui seorang nenek sihir untuk memanterai Purbasari. Nenek sihir itu memanterai Purbasari sehingga saat itu juga tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bertotol-totol hitam. Purbararang jadi punya alasan untuk mengusir adiknya tersebut. &#8220;Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang Ratu !&#8221; ujar Purbararang.</p>
<p>Kemudian ia menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Sesampai di hutan patih tersebut masih berbaik hati dengan membuatkan sebuah pondok untuk Purbasari. Ia pun menasehati Purbasari, &#8220;Tabahlah Tuan Putri. Cobaan ini pasti akan berakhir, Yang Maha Kuasa pasti akan selalu bersama Putri&#8221;. &#8220;Terima kasih paman&#8221;, ujar Purbasari.</p>
<p style="text-align:center;"><img src="http://hphotos-snc3.fbcdn.net/hs011.snc3/11841_180869721159_180851206159_3385535_3695904_n.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">Selama di hutan ia mempunyai banyak teman yaitu hewan-hewan yang selalu baik kepadanya. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung selalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.</p>
<p>Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Ini membuktikan bahwa Lutung Kasarung bukan makhluk biasa. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum.</p>
<p>Keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut. &#8220;Apa manfaatnya bagiku ?&#8221;, pikir Purbasari. Tapi ia mau menurutinya. Tak lama setelah ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.</p>
<p>Di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan para pengawal. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang tidak mau kehilangan muka, ia mengajak Purbasari adu panjang rambut. &#8220;Siapa yang paling panjang rambutnya dialah yang menang !&#8221;, kata Purbararang. Awalnya Purbasari tidak mau, tetapi karena terus didesak ia meladeni kakaknya. Ternyata rambut Purbasari lebih panjang.</p>
<p>&#8220;Baiklah aku kalah, tapi sekarang ayo kita adu tampan tunangan kita, Ini tunanganku&#8221;, kata Purbararang sambil mendekat kepada Indrajaya. Purbasari mulai gelisah dan kebingungan. Akhirnya ia melirik serta menarik tangan Lutung Kasarung. Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari. Purbararang tertawa terbahak-bahak, &#8220;Jadi monyet itu tunanganmu ?&#8221;.</p>
<p>Pada saat itu juga Lutung Kasarung segera bersemedi. Tiba-tiba terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang Pemuda gagah berwajah sangat tampan, lebih dari Indrajaya. Semua terkejut melihat kejadian itu seraya bersorak gembira. Purbararang akhirnya mengakui kekalahannya dan kesalahannya selama ini. Ia memohon maaf kepada adiknya dan memohon untuk tidak dihukum. Purbasari yang baik hati memaafkan mereka. Setelah kejadian itu akhirnya mereka semua kembali ke Istana.</p>
<p>Purbasari menjadi seorang ratu, didampingi oleh seorang pemuda idamannya. Pemuda yang ternyata selama ini selalu mendampinginya dihutan dalam wujud seekor lutung.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:center;"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs011.snc3/11841_180869791159_180851206159_3385536_4155361_n.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align:center;">
Sumber naskah: www.e-smartschool.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Malin Kundang (Sumatera)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/malin-kundang-sumatera-2/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 20:10:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/malin-kundang-sumatera-2/</guid>
<description><![CDATA[Long time ago, in a small village near the beach in West Sumatera, lived a woman and her son, Malin ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Long time ago, in a small village near the beach in West Sumatera, lived a woman and her son, Malin Kundang. Malin Kundang&#8217;s father had passed away when he was a baby, and he had to live hard with his mother.</p>
<p>Malin Kundang was a healthy, dilligent, and strong child. He usually went to the sea to catch fish, and brought it to his mother, or sold it in the town.<br />
One day, when Malin Kundang was sailing as usual, he saw a merchant&#8217;s ship which was being raided by a small band of pirates. With his brave and power, Malin Kundang defeated the pirates. The merchant was so happy and asked Malin Kundang to sail with him. Malin Kundang agreed.</p>
<p>Many years later, Malin Kundang became a wealthty merchant, with a huge ship, loads of trading goods, many ship crews, and a beautiful wife. In his journey, his ship landed on a beach. The villagers reconigzed him, and the news ran fast in the town: Malin Kundang became a rich man and now he is here. His mother, in deepful sadnees after years of loneliness, ran to the beach to meet her beloved son again.</p>
<p>When the mother came, Malin Kundang, in front of his well dressed wife, his crews and his own gloriness, denied to meet that old, poor and dirty woman. For three times she begged Malin Kundang and for three times yelled at him. At last Malin Kundang said to her &#8220;Enough, old woman! I have never had a mother like you, a dirty and ugly peasant!&#8221; Then he ordered his crews to set sail.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/_oOIGPYssTlo/SiZe7UrD4LI/AAAAAAAAAhY/N_mG38MEzz8/s400/malin+kundang2.jpg" alt="malin kundang stone" width="320" height="240" /></p>
<p>Enraged, she cursed Malin Kundang that he would turn into a stone if he didn&#8217;t apologize. Malin Kundang just laughed and set sail.<br />
In the quiet sea, suddenly a thunderstorm came. His huge ship was wrecked and it was too late for Malin Kundang to apologized. He was thrown by the wave out of his ship, fell on a small island, and suddenly turned into stone.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Malin Kundang (SUMATERA)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/malin-kundang-sumatera/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 20:08:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/malin-kundang-sumatera/</guid>
<description><![CDATA[Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.<br />
Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.</p>
<p>Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.</p>
<p>Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.</p>
<p>Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.</p>
<p>Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.</p>
<p>Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.</p>
<p>Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. &#8220;Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?&#8221;, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. &#8220;Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku&#8221;, kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. &#8220;Wanita itu ibumu?&#8221;, Tanya istri Malin Kundang. &#8220;Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku&#8221;, sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata &#8220;Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu&#8221;. Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.<br />
<img src="http://3.bp.blogspot.com/_oOIGPYssTlo/SiZesBouM_I/AAAAAAAAAhI/4XwzS77PZPM/s400/malin+kundang.jpg" alt="malin kundang stone" /><br />
Cerita Rakyat “Malin Kundang” ini diceritakan kembali oleh Kak Ghulam Pramudiana</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sangkuriang (West Java)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/sangkuriang-west-java/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 20:03:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/sangkuriang-west-java/</guid>
<description><![CDATA[A very long time ago in West Java, there lived a king, named Raden Sungging Pebangkara. He was a goo]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>A very long time ago in West Java, there lived a king, named <strong>Raden Sungging Pebangkara</strong>. He was a good ruler. He liked hunting in the forest very much. In the forest, there lived a she-pig, actually a cursed goddess. One day, she came out of her hiding place looking for water. There, she saw a coconut shell lled with water. Expecting it to be a fresh water, she drank it, having no suspicious that it was the king’s urine left there the day before when he went hunting. The consequence was very strange. She became pregnant. A few months later she gave birth to a very pretty girl. When the king was hunting again in the forest, he saw the girl and was attracted by her beauty. He took her to his palace, then he called her <strong>Dayang Sumbi</strong> and treated her as his own daughter.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 438px"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs031.snc3/11841_180865321159_180851206159_3385530_5142946_n.jpg" alt="" width="428" height="604" /><p class="wp-caption-text">http://darth-iskander.deviantart.com/art/sangkuriang-40750078</p></div>
<p>Time passed and Dayang Sumbi grew up into a beautiful girl. She was fond of weaving.<br />
One morning as she was weaving, her weaving spool flew out of the window to the 􀃀 eld. Because she was very tired, she mumbled, “Whoever is willing to help me pick up the spool, I’ll treat her as my sister if she is a girl. If he is a man, I’ll treat him as my husband”. These words were heard by a dog, called <strong>Tumang</strong>, actually a cursed god too. He immediately picked up the spool and gave it to Dayang Sumbi. Seeing the dog had helped her, she fainted. The god had decided for her to undergo the fate. She became pregnant and a short time afterwards she gave birth to a healthy strong son whom she called <strong>Sangkuriang</strong>.</p>
<p>Sangkuriang became a handsome young man, as time went by. Like his grandfather, he was fond of hunting in the forest and Tumang was his faithful friend when roaming the woods. He didn’t realize that Tumang was actually his father. One day, when the dog didn&#8217;t obey him to chase the pig, Sangkuriang was very angry and killed the dog and cut up his esh into pieces and took it home to his mother. For a moment Dayang Sumbi was speechless and took a spool and ung it at him. This left a scar on the spot. Then Dayang Sumbi sent him away.</p>
<p>Sangkuriang left and wandered through the woods. He walked for years. Finally he returned to his nativeplace, but did not recognise it any longer. At the end of a vast rice 􀃀 eld, he noticed a house and saw a young girl sitting at her weaving-loom. Heapproached her and was charmed by her beauty. He was unaware that she was his own mother. Dayang Sumbi had been given eternal beauty by the gods which was why she looked young forever. She looked at him and noticing his good looks, she promised to marry him. They made plans for their wedding day, but one day she discovered the scar on his forehead. She knew that he was her own son who had come back to his village. She made an effort to make him understand that marriage between them was impossible, but Sangkuriang refused to accept it. She had an idea and said to him “All right, you shall marry me if only you can dam up the Citarum river and build a big vessel all in one night”. Sangkuriang agreed and started to work by using his magic powers and his praying to the gods for help. To prevent the marriage, before Sangkuriang finished his work, she stretched the red veil which covered her head over the eastern side of the plain. Through her magic powers, the red light spread over the landscape, giving the impression that the sun was rising and that the time was up. Angrily, Sangkuriang kicked the vessel which was almost finished, upside down. Some times later the vessel became the mountain of<strong> Tangkuban Perahu</strong> on the northern side of Bandung.<br />
Adapted from Folk Tales from Indonesia., 1999</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sangkuriang (Jawa Barat)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/sangkuriang-jawa-barat/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 19:59:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/sangkuriang-jawa-barat/</guid>
<description><![CDATA[Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada jaman dahulu, di Jawa Barat hiduplah seorang putri raja yang bernama Dayang Sumbi. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu di dalam hutan. Setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang, tetapi Sangkuriang tidak tahu hal itu dan ibunya memang sengaja merahasiakannya.</p>
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 438px"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs031.snc3/11841_180865321159_180851206159_3385530_5142946_n.jpg" alt="" width="428" height="604" /><p class="wp-caption-text">http://darth-iskander.deviantart.com/art/sangkuriang-40750078</p></div>
<p>Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Setelah sesampainya di hutan, Sangkuriang mulai mencari buruan. Dia melihat ada seekor burung yang sedang bertengger di dahan, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. Sangkuriang lalu memerintah Tumang untuk mengejar buruannya tadi, tetapi si Tumang diam saja dan tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Karena sangat jengkel pada Tumang, maka Sangkuriang lalu mengusir Tumang dan tidak diijinkan pulang ke rumah bersamanya lagi.</p>
<p>Sesampainya di rumah, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Begitu mendengar cerita dari anaknya, Dayang Sumbi sangat marah. Diambilnya sendok nasi, dan dipukulkan ke kepala Sangkuriang. Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya.<br />
Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali perbuatannya. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. Karena kesungguhan dari doa Dayang Sumbi tersebut, maka Dewa memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi dan usia muda selamanya.</p>
<p>Setelah bertahun-tahun lamanya Sangkuriang mengembara, akhirnya ia berniat untuk pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat terkejut sekali, karena kampung halamannya sudah berubah total. Rasa senang Sangkuriang tersebut bertambah ketika saat di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. Akhirnya lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat.</p>
<p>Pada suatu hari, Sangkuriang meminta ijin calon istrinya untuk berburu di hatan. Sebelum berangkat, ia meminta Dayang Sumbi untuk mengencangkan dan merapikan ikat kapalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi, karena pada saat dia merapikan ikat kepala Sangkuriang, Ia melihat ada bekas luka. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri.</p>
<p>Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi mencoba berbicara kepada Sangkuriang, supaya Sangkuriang membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak disetujui Sangkuriang, dan hanya dianggap angin lalu saja.</p>
<p>Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan cara terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Apabila Sangkuriang dapat memenuhi kedua syarat tersebut, maka Dayang Sumbi mau dijadikan istri, tetapi sebaliknya jika gagal maka pernikahan itu akan dibatalkan. Syarat yang pertama Dayang Sumbi ingin supaya sungai Citarum dibendung. Dan yang kedua adalah, meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing.</p>
<p>Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Sangkuriang lalu mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar.</p>
<p>Dayang Sumbi lalu meminta bantuan masyarakat sekitar untuk menggelar kain sutera berwarna merah di sebelah timur kota. Ketika melihat warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira kalau hari sudah menjelang pagi. Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi.</p>
<p>Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena jebolnya bendungan itu, maka terjadilah banjir dan seluruh kota terendam air. Sangkuriang juga menendang sampan besar yang telah dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.</p>
<p>Cerita Rakyat “Sangkuriang” ini diceritakan kembali oleh Kak Ghulam Pramudiana</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[White Onion and Red Onion (Central Java)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/white-onion-and-red-onion-central-java/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 19:43:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/white-onion-and-red-onion-central-java/</guid>
<description><![CDATA[Once time ago in at old village lived a family consisting of father, mother and a beautiful teenage ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" src="http://2.bp.blogspot.com/_gmhPaStd280/SgeQ6S6DwDI/AAAAAAAAAAU/IOdsmwI-W9U/s320/bawangputih.JPG" alt="" width="269" height="167" />Once time ago in at old village lived a family consisting of father, mother and a beautiful teenage girl named <strong>Bawang putih (White Onion)</strong>. They are a happy family. Although their father work as a traders only normal, but they are harmonious and peaceful living. But one day the mother of Bawang Putih got sick and eventually died. The familiy very similarly in his father&#8217;s sorrow.</p>
<p>Live in the village is also a widow who has a child named <strong>Bawang Merah (Red Onion)</strong>. Since the Bawang Putih mother&#8217;s died She often went to the her house. She often brings food for Bawang Putih and her father. Bawang Putih father eventually think that it may be best if he just married the mother Bawang merah and Bawang putih not so lonely anymore.</p>
<p>With consideration of Bawang Putih, then the father married with Bawang Merah mothers. Initially Bawang Merah and her mother were very good to their family. However, long run nature of the original seems they started. They often bristle Bawang Putih and gave her a job if the father are going to trade. She must do all homework, while the Bawang Putih and his mother sit only.</p>
<p>One day their father was sick and then died. Since that time her mother and her sister Bawang Merah more powerful and haphazardly against Bawang putih. She almost never rest and She should wake up before dawn, to prepare the water bath and breakfast for the family. Then she had to feed the livestock, the garden hose and wash the clothes to a river. But She still must tidy house, and many other jobs. But Bawang Putih always happy to work with, because she hopes one day her stepmother will love her as such as her own child.</p>
<p>This morning as usual to bring Bawang Putih basket containing the clothes in the river to wash it. She sang with the small paths in the forest edge of a small regular way. Today the weather was very bright, She immediately wash all the dirty clothes brought. Bawang Putih is not aware that one of the clothes have been brought out flow the river. Unfortunately the shirt is a shirt out her step mother. When the thing is, clothes her step mother was too far away. She try the river to search for it, but did not succeed to find it. With desperate she return to her home and told her mother.</p>
<p>&#8220;Your idiot!&#8221; say her step mother. &#8220;I did not want to know, the main thing you need to find the clothes! And do not dare going home if you have not found it. Understanding? &#8220;</p>
<p>Bawang Putih then forced to obey the wishes her step mother. She immediately place the river washed earlier. The sun has begun to escalate, but she haven&#8217;t find clothes for his mother. Se installed her eyes, thoroughly all to the root of the river, who knows clothes get caught in there. After a long trip and the sun is slanting to the west, she saw a old man with her buffalo taking a bath. Bawang putih then ask: &#8220;O my good uncle, Are you see if the red shirt who wander through here? Because I have to find and bring home. &#8220;&#8221; Yes I see the clothes but it flow to the river catch it, are you the owner? &#8220;said the uncle.</p>
<p>&#8220;Ok uncle, thank you!&#8221; She say and immediately ran back through. Day has begun dark, She have started despair. Soon night will arrive, and sudenly she saw from a distance appear to light the lamp that came from a hut in the river bank. She immediately about the house,<br />
&#8220;Excuse me &#8230;!&#8221; Said Bawang putih. An old woman opened the door.<br />
&#8220;Who are you girl?&#8221; Say a grandmother.</p>
<p>&#8220;I Bawang putih mom. Earlier I am looking for a dress that my mother away. And now benighted. Can I stay here tonight? &#8220;She ask.<br />
&#8220;Ofcourse Allow dear. Are you looking for a shirt red? &#8220;A grandmother.<br />
&#8220;Yes grandma&#8221;.</p>
<p>&#8220;Yes. Earlier clothes that get caught in front of the house. Unfortunately, when I dress like that, &#8220;said the grandmother. &#8220;Okay I will return it, but you must first sleep here for a week. I do not have long conversation with anyone, how? &#8221; say grandmother. Bawang Putih white thinking. It seems lonely grandmother and she also felt compassion. &#8220;Okay grandma, I will accompany a grandmother for a week, the grandmother is not bored with it,&#8221; said Bawang Putih smile.</p>
<p>Bawang white for a week to stay with the grandmother. every day she help clean and working grandmother&#8217;s house. Of course, the grandmother felt happy. Until eventually even have a week, a grandmother also called her.<br />
&#8220;Dear Bawng Putih, you have a week to stay here. And I am happy because you&#8217;re a studious child and kind. According to my promised you can bring your mother home shirt. And one more, you can choose one of two this pumpkin as a gift! &#8220;Said the grandmother.<br />
Initially Bawang Putih was reject were given a gift, but still force. Bawang putih finally choose the most small pumpkin. &#8220;I&#8217;m not afraid to bring a big strong,&#8221; he said. Grandmother was smiling and deliver Bawang white house to the front.</p>
<p>At home, Bawang Puith tell her stepmother owned a red shirt while she went to the kitchen to chop pumpkin. Their suprise when it split, there appeared to contain a gold jewel is very large. She cried cause she have a wonderful things to this her stepmother and Bawang Merah. But with a greedy seize gold and jewel is. They force they Bawang Putih how she can get these gifts. Bawang Putih is also told with honest.</p>
<p>Hear the story of Bawang Putih, Bawang Merah and her mother plan to do the same thing but this time she will do. In short she came in the house until the old geezer in the river&#8217;s edge. Such as Bawang Putih, she is also requested to acompanied for a week. But she daoing nothing in grandmother house only sit and sleepy for a week. Even if there is then the result is never good because it always works with the origin-derived. Finally after a week a grandmother is to allow the onion away. &#8220;The grandmother should be given as gifts because accompanied for a week?&#8221; A red onion. Grandmother had told the onion choose one of two pumpkin offered. Quickly take the red onion and a large pumpkin without thanked her swing away.</p>
<p>In a home Bawang Merah immediately to meet her mother and happy with the show that brought pumpkin. And their told Bawang Putih to go to the rivers. Then with the patient, they do not split the pumpkin. But gold was not the jewel that is out of the pumpkin, but animals such as venomous snakes, scorpions, and others. Animals that directly attack and onion until his mother died. That is the reward for people who are greedy.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bawang Merah dan Bawang Putih (Jawa Tengah)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/bawang-merah-bawang-putih/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 19:38:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/bawang-merah-bawang-putih/</guid>
<description><![CDATA[Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" src="http://2.bp.blogspot.com/_gmhPaStd280/SgeQ6S6DwDI/AAAAAAAAAAU/IOdsmwI-W9U/s320/bawangputih.JPG" alt="" width="269" height="167" />Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama <strong>bawang putih</strong>. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.</p>
<p>Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama <strong>Bawang Merah</strong>. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikahi saja ibu Bawang merah supaya Bawang putih tidak kesepian lagi. Maka ayah Bawang putih kemudian menikah dengan ibu Bawang merah. Mulanya ibu Bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada Bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.</p>
<p>Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.</p>
<p>Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.<br />
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”</p>
<p>Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.”<br />
“Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.<br />
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri tepi sungai.<br />
Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.<br />
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.<br />
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.<br />
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.<br />
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.<br />
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.<br />
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.<br />
Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba.<br />
“Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.</p>
<p>Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.<br />
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.<br />
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.</p>
<p>Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.</p>
<p>Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.</p>
<p>Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Raja dan Mangkok Tak Beralas (China)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/raja-dan-mangkok/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 19:25:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/raja-dan-mangkok/</guid>
<description><![CDATA[Diceritakan, di jaman Tiongkok kuno, disebuah kerajaan yang sangat megah, tinggallah seorang Raja ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Diceritakan, di jaman <strong>Tiongkok </strong>kuno, disebuah kerajaan yang sangat megah, tinggallah seorang Raja yang sangat angkuh dan sombong. Dia sangat menginginkan dapat menguasai seluruh permukaan Tiongkok, sehingga tidak ada kepuasan didalam dirinya. Pada suatu pagi yang cerah, Raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis.</p>
<p>Sang raja menyapa pengemis ini:<br />
“Apa yang engkau inginkan dari dariku, wahai rakyat ku”<br />
Si pengemis itu tersenyum dan berkata:<br />
“Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba”<br />
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang:<br />
“Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!”<br />
Maka sang pengemis pun berkata:<br />
“Hamba menyarankan agar Tuanku berpikir 2 kali, sebelum memenuhi keinginan hamba”</p>
<p>Ternyata Pengemis itu bukanlah pengemis sembarang, dia adalah dewa yang menjelma menjadi pengemis untuk menguji sang Raja, namun raja tidak menyadari hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasehat dari seorang pengemis.</p>
<p>“Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. apapun juga! Aku adalah Raja yang paling berkuasa dan kaya-raya”</p>
<p>Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengeluarkan mangkuk sedekahnya sambil berkata:</p>
<p>“Tuanku, hamba hanya minta tuanku mengisi mangkok ini dengan benda yang paling berharga yang pernah dimiliki raja”</p>
<p>Bukan main! Raja menjadi geram mendengar ‘<em>tantangan</em>’ pengemis dihadapannya. Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk si pengemis tersebut dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah tersebut.</p>
<p>Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan emas, intan berlian, telah habis dilahap mangkuk sedekah itu.Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.</p>
<p>Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis , si pengemis pun akhirnya menampakkan wujud aslinya. Begitu terkejutnya Raja melihat sesosok dewa dihadapannya.</p>
<p>“Wahai Raja yang serakah, dengarkanlah kesombongan dan keserakahan duniawi tidak akan habisnya, seperti mangkuk tidak beralas tersebut, berapapun besar harta yang kamu masukkan, akan tertelan didalamnya. Maka jadikanlah kebaikan dan kesahajaan sebagai alas dari mangkuk hidupmu”</p>
<p>Begitu mendengar kata-kata dari sang dewa, sang Raja pun tersadarkan dan berjanji akan menjadi raja yang penuh kebaikan dan kesahajaan.</p>
<p>Kesombongan dan keserakahan merupakan akar yang harus kita cabut, lubang yang harus ditutupi, karena seperti sumur yang dalam, kesombongan dan keserakahan tidaklah memiliki dasar, seperti mangkok yang tak beralas. Keinginan membuat manusia terlena dalam keduniawian. Kikis dan tanamlah semua itu dengan sifat murah hati, dan bersyukur terhadap apa yang kita miliki sekarang ini, serta memperbanyak perbuatan baik setiap hari nya.</p>
<p><em>By Bodhi Taruna</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Legenda Ikan Patin (RIAU)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/legenda-ikan-patin-riau/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 19:00:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/legenda-ikan-patin-riau/</guid>
<description><![CDATA[Pada zaman dahulu, di Tanah Melayu hidup seorang nelayan tua bernama Awang Gading. Dia tinggal sendi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pada zaman dahulu, di Tanah Melayu hidup seorang nelayan tua bernama Awang Gading. Dia tinggal sendirian di tepi sebuah sungai yang luas dan jernih. Walaupun hidup seorang diri, Awang Gading selalu berbahagia. Dia mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Tuhan. Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja mencari ikan dan mencari kayu di hutan.</p>
<p>Suatu hari, Awang Gading mengail di sungai. Sambil berdendang riang, dia menunggui kailnya. Burung-burung turut berkicau menambah kegembiraan Awang Gading. Sudah berkali-kali umpannya dimakan ikan, namun saat kailnya ditarik, ikannya terlepas lagi.</p>
<p>“Air pasang telan ke insang, air surut telan ke perut, renggutlah &#8230;! Biar putus jangan rabut,” terdengar dendang Awang Gading sambil melempar pancingnya kembali.<br />
Perlahan hari beranjak petang, namun tak seekor ikan pun diperolehnya. “Alangkah tidak beruntungnya diriku hari ini,” keluh Awang Gading. Ia bergegas membereskan peralatan pancingnya dan berniat pulang. Tiba-tiba terdengar tangisan bayi. Dengan penasaran, Awang Gading mencari asal suara tersebut. Tak lama kemudian, Awang Gading melihat bayi perempuan tergolek di atas batu. Rupanya dia baru saja dilahirkan oleh ibunya.</p>
<p>“Anak siapa gerangan? Kasihan, ditinggal seorang diri di tepi sungai,” gumam Awang Gading kemudian membawa pulang bayi perempuan tersebut. Malam itu juga Awang Gading menghadap tetua kampungnya untuk memperlihatkan bayi yang ditemukannya.<br />
“Berbahagialah Awang, karena kamu dipercaya raja penghuni sungai untuk memelihara anaknya. Rawatlah dia dengan baik,” pesan Tetua Kampung.</p>
<p>Keesokan harinya, Awang Gading mengadakan tasyakuran atas hadirnya bayi di tengah kehidupannya. Awang mengundang seluruh tetangganya. Awang Gading memberi nama bayi tersebut Dayang Kumunah.</p>
<p>“Dayang sayang, anakku seorang &#8230;. Cepatlah besar menjadi gadis dambaan,” dendang Awang Gading saat menimang-nimang Dayang Kumunah.<br />
Sejak kehadiran Dayang, Awang bertambah rajin bekerja. Awang memberikan kasih sayang dan perhatian yang melimpah untuk Dayang. Berbagai pengetahuan yang dimiliki ditularkannya kepada Dayang. Tak lupa pelajaran budi pekerti juga diberikannya. Kadang diajaknya Dayang mencari kayu atau mengail untuk mengenal alam secara lebih dekat.</p>
<p>Dayang Kumunah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi. Dia juga rajin membantu bapaknya. Sayang, Dayang Kumunah tidak pernah tertawa.<br />
Suatu hari, seorang pemuda kaya bernama Awangku Usop singgah di rumah Awang Gading. Dia terpesona saat melihat kecantikan Dayang Kumunah. Tak lama kemudian Awangku Usop melamar Dayang pada Awang Gading. Lamaran Awangku Usop diterima, tetapi Dayang Kumunah mengajukan syarat.</p>
<p>“Kanda Usop, sebenarnya kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Saya berasal dari sungai dan mempunyai kebiasaan yang berlainan dengan manusia. Saya akan menjadi seorang istri yang baik, tetapi jangan minta saya untuk tertawa,” pinta Dayang Kumunah.<br />
Awangku Usop menyetujui syarat tersebut.</p>
<p>Pernikahan mereka diadakan dengan pesta yang sangat meriah. Semua tetangga dan kerabat kedua mempelai diundang. Aneka hidangan tersedia dengan melimpah. Seluruh undangan gembira menyaksikan pasangan pengantin itu. Dayang Kumunah gadis yang sangat cantik dan Awangku Usop seorang pemuda yang sangat tampan. Sungguh pasangan yang serasi.</p>
<p>Awangku Usop dan Dayang Kumunah hidup berbahagia. Namun, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Beberapa minggu setelah pernikahan, Awang Gading meninggal dunia. Hingga berbulan-bulan Dayang Kumunah bersedih meskipun Awang Usop selalu berusaha membahagiakan hati istrinya tersebut. Untunglah, kesedihan Dayang Kumunah segera terobati dengan kelahiran anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Meskipun kini telah memiliki lima orang anak, Awangku Usop merasa kebahagiaannya belum lengkap sebelum melihat Dayang Kumunah tertawa.</p>
<p>Suatu hari, anak bungsu mereka mulai dapat berjalan dengan tertatih-tatih. Semua anggota keluarga tertawa bahagia melihatnya, kecuali Dayang Kumunah. Awangku Usop meminta Dayang Kumunah untuk tertawa. Dayang Kumunah menolaknya, namun suaminya terus mendesak. Akhirnya, Dayang pun tertawa. Saat tertawa itu, tampaklah insang ikan di mulut Dayang Kumunah yang menandakan ia keturunan ikan. Setelah itu, Dayang segera berlari ke sungai. Awangku Usop beserta anak-anaknya heran dan mengikutinya. Perlahan-lahan tubuh Dayang berubah menjadi ikan. Awangku Usop dan anak-anaknya ditinggalkannya. Awangku Usop telah mengingkari janjinya dengan meminta Dayang Kumunah tertawa.</p>
<p>Awangku Usop segera menyadari kekhilafannya dan meminta maaf. Dia meminta Dayang Kumunah kembali ke rumah mereka. Namun, semua sudah terlambat. Dayang telah terjun ke sungai. Dia telah menjadi ikan dengan bentuk badan cantik dan kulit mengilat tanpa sisik. Mukanya menyerupai raut manusia. Ekornya seolah-olah sepasang kaki yang bersilang. Orang-orang menyebutnya ikan patin.</p>
<p>Awangku Usop dan anak-anaknya sangat bersedih. Mereka berjanji tidak akan makan ikan patin karena dianggap sebagai keluarga mereka. Itulah sebabnya ada sebagian orang Melayu yang tidak makan ikan patin.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs063.snc3/13033_183159611159_180851206159_3399863_7840866_n.jpg" alt="" width="483" height="362" /></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mundinglaya Dikusumah (Sunda)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/mundinglaya-dikusumah-sunda/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 16:11:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/mundinglaya-dikusumah-sunda/</guid>
<description><![CDATA[Prabu Silihwangi memiliki dua orang istri yaitu Nyimas Tejamantri dan Nyimas Padmawati yang menjadi ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Prabu Silihwangi</strong> memiliki dua orang istri yaitu <strong>Nyimas Tejamantri </strong>dan <strong>Nyimas Padmawati</strong> yang menjadi permaisuri. Dari Nyimas Tejamantri, Prabu Silihwangi mendapat seorang anak yaitu pangeran <strong>Guru Gantangan</strong>. Sedangkan dari permaisuri Nyimas Padmawati, raja memperoleh anak yang diberi nama <strong>Mundinglaya</strong>. Beda umur antara pangeran Guru Gantangan dan pangeran Mundinglaya sangat jauh. Saat pangeran Guru Gantangan ditunjuk jadi bupati di Kutabarang dan sudah menikah, Mundinglaya masih anak-anak.</p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 228px"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_wOhCwI8jhIA/SuxubMLvE3I/AAAAAAAAACw/q_Ni5fkct3A/s320/MUNDINGLAYA+DIKUSUMAH+KARYA+RA+KOSASIH.JPG" alt="" width="218" height="320" /><p class="wp-caption-text">MUNDINGLAYA DIKUSUMAH KARYA RA KOSASIH</p></div>
<p>Karena tidak mempunyai anak, pangeran Guru Gantangan memungut anak dan diberi nama <strong>Sunten Jaya</strong>. Guru Gantangan juga tertarik untuk merawat Mundinglaya sebagai anaknya. Saat pangeran Guru Gantangan meminta Mundinglaya dari permaisuri Nyimas Padmawati, permaisuri memberikannya karena mengetahui bahwa pangeran Guru Gantangan sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.<br />
Saat pangeran Mundinglaya dewasa, pangeran Guru Gantangan lebih menyayangi pangeran Mundinglaya daripada pangeran Sunten Jaya. Hal ini disebabkan <em>perbedaan karakter</em> yang sangat jauh antara pangeran Mundinglaya dan pangeran Sunten Jaya. <strong>Pangeran Mundinglaya</strong> selain <em>rupawan juga baik budi pekertinya</em> sedangkan <em>keponakannya sifatnya angkuh dan manja</em>. Hal ini sangat membuat iri pangeran Sunten Jaya. Terlebih lagi ibunya juga sangat menyayangi pangeran Mundinglaya.<br />
Hanya saja perhatian istri pangeran Guru Gantangan kepada pangeran Mundinglaya sangat berlebihan sehingga membuat pangeran Guru Gantangan cemburu. Akhirnya pangeran Mundinglaya dijebloskan kedalam penjara oleh saudara tirinya itu dengan alasan bahwa pangeran Mundinglaya mengganggu kehormatan wanita. Keputusan ini menjadikan mayarakat dan bangsawan Pajajaran terpecah dua, ada yang menyetujui dan ada yang menentang keputusan tersebut sehingga mengancam ketentraman kerajaan kearah permusuhan antar saudara.<br />
Pada saat yang gawat ini, terjadi sesuatu yang aneh. Pada suatu malam, permaisuri Nyimas Padmawati bermimpi aneh. Dalam tidurnya, permaisuri melihat tujuh guriang, yaitu mahluk yang tinggal di puncak gunung. Diantara mereka ada yang membawa jimat yang disebut <strong>Layang Salaka Domas</strong>. Permaisuri mendengar perkataan guriang yang membawa jimat tersebut: <em>“Pajajaran akan tenteram hanya jika seorang kesatria dapat mengambilnya dari Jabaning Langit.</em><em>”</em></p>
<p>Segera setelah bangun pada pagi harinya, permaisuri menceritakan mimpi itu kepada raja. Prabu Silihwangi sangat tertarik oleh mimpi permaisuri dan segera meminta seluruh rakyat juga bangsawan, termasuk pangeran Guru Gantangan dan pangeran Sunten Jaya, untuk berkumpul di depan halaman istana untuk membahas mimpinya permaisuri. Setelah seluruhnya berkumpul, raja berkata: <em>“Adakah seorang kesatria yang berani pergi ke Jabaning Langit untuk mengambil jimat Layang salaka domas?”</em><br />
Senyap! Tidak ada suara yang terdengar. Pangeran Sunten Jaya pun tidak mengeluarkan suaranya. Dia takut akan barhadapan dengan <strong>Jonggrang Kalapitung</strong>, seorang raksasa berbahaya yang selalu menghalangi jalan ke puncak gunung.</p>
<p>Setelah beberapa saat, patih Lengser angkat bicara: <em>“Paduka,”</em> dia berkata, <em>“setiap orang telah mendengarkan apa yang disampaikan paduka, kecuali masih ada satu orang yang belum mendengarkannya. Dia berada dalam penjara. Paduka belum menanyainya. Dia adalah pangeran Mundinglaya.” </em></p>
<p>Mendengar ini, raja memerintahkan agar pangeran Mundinglaya dibawa menghadap. Patih Lengser kemudian meminta izin pangeran guru Gantangan untuk melepaskan pangeran Mundinglaya.<br />
Saat pangeran Mundinglaya sudah berada di hadapannya, raja berkata: <em>“Mundinglaya, maukah ananda mengambil jimat layang salaka domas, yang diperlukan untuk mencegah negara dari kehancuran akibat malapetaka?” </em></p>
<p><em>&#8220;Karena layang salaka domas penting bagi keselamatan negara, ananda akan pergi mencarinya, ayahanda,</em>” kata pangeran Mundinglaya.<br />
Prabu Silihwangi sangat senang mendengar jawaban ini. Demikian juga masyarakat dan para bangsawan. Bagi pangeran Mundinglaya, tugas ini juga berarti kebebasan jika dia berhasil mendapatkan layang salaka domas.</p>
<p>Sementara bagi pangeran Sunten Jaya ini berarti menyingkirkan musuhnya, karena dia yakin bahwa pamannya akan dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung.</p>
<p><em>“Kakek,”</em> kata pangeran Sunten Jaya, <em>“dia adalah seorang tahanan, jika kakek membiarkannya pergi sekarang, tidak akan ada jaminan bahwa dia akan kembali.”<br />
</em></p>
<p><em>“Apa yang cucunda usulkan, Sunten Jaya?”</em><br />
<em>“Jika dia tidak kembali setelah sebulan, penjarakan kanjeng ibu Padmawati dalam istana.”</em></p>
<p>Masyarakat dan bangsawan kaget mendengar permintaan ini. Prabu Silihwangi berbalik kepada pangeran Mundinglaya: <em>“Bagaimana menurutmu?”</em></p>
<p><em> </em><br />
<em>”Ananda akan kembali dalam sebulan dan setuju dengan usulan Sunten Jaya.”</em><br />
Dalam beberapa minggu, pangeran Mundinglaya diajari oleh patih Lengser ilmu perang dan cara menggunakan berbagai senjata sebagai bersiapan untuk menghadapi rintangan yang akan ditemui selama perjalanan ke Jabaning Langit. Kemudian pangeran Mundinglaya meninggalkan Pajajaran. Karena dia tidak pernah keluar dari ibukota tersebut, pangeran Mundinglaya tidak mengetahui jalan ke Jabaning Langit. Dengan berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa, sang pangeran pergi melewati berbagai hutan lebat untuk menemukan Jabaning Langit dan bertemu dengan para guriang.<br />
Dalam perjalanan, pangeran Mundinglaya melewati kerajaan kecil Muara Beres (atau Tanjung Barat) yang merupakan bawahan dari Pajajaran. Di sana pangeran Mundinglaya bertemu dan jatuh hati dengan putri kerajaan yang bernama <strong>Dewi Kania </strong>atau <strong>Dewi Kinawati.</strong> Mereka saling berjanji akan bertemu lagi setelah pangeran Mundinglaya berhasil menjalankan tugas dari Prabu silihwangi untuk memperoleh jimat layang salaka domas.<br />
Pangeran Mundinglaya meneruskan perjalanannya.</p>
<p>Tiba-tiba di tengah perjalanan dia dicegat oleh raksasa Janggrang Kalapitung yang berdiri di depannya.<em> “Mengapa kamu memasuki wilayahku? Apakah kamu menyerahkan diri sebagai santapanku?”</em><br />
<em>“Coba saja kalau bisa!” j</em>awab pangeran Mundinglaya dengan tenang. Jonggrang Kalapitung menubruknya tapi pangeran Mundinglaya berkelit.<br />
Berkali-kali si raksasa menyerang pangeran Mundinlaya, tapi lagi dan lagi jatuh ke tanah sampai akhirnya kehabisan nafas. Dengan kerisnya, pangeran Mundinglaya mengancam musuhnya:<br />
<em>“Katakan dimana Jabaning Langit?”</em></p>
<p><em>“Di dalam dirimu.”</em></p>
<p>Berpikiran bahwa si raksasa berbohong, pangeran Mundinglaya menekankan keris lebih dalam ke leher si raksasa. <em>“Jangan berbohong! Di manakah Jabaning Langit?”</em></p>
<p><em> </em><br />
<em>“Di dalam hatimu.”</em> Setelah itu, pangeran Mundinglaya melepaskan raksasa tersebut, sambil berkata:<em> “Aku membebaskanmu, tapi jangan ganggu rakyat Pajajaran lagi.”</em> Jonggrang Kalapitung menuruti dan berterima kasih kepada pangeran Mundinglaya dan meninggalkan Pajajaran selamanya.<br />
Ketika dia pergi, pangeran Mundinglaya menemukan suatu tempat untuk beristirahat dan berdoa meminta tolong kepada tuhan yang Maha Esa untuk diberikan jalan. Suatu hari dia merasakan seolah-olah terangkat dari tempatnya dan terbang ke suatu tempat yang sangat terang. Di sana dia diterima oleh tujuh guriang, mahluk-mahluk supranatural yang menjaga Layang Salaka Domas.<br />
Mereka bertanya kepada pangeran Mundinglaya mengapa berani datang ke Jabaning Langit. <em>“Tujuanku datang ke sini adalah untuk mengambil Layang Salaka Domas yang diperlukan oleh negaraku sebagai obat untuk mencegah permusuhan antar saudara. Akan banyak orang menderita dan mati memperebutkan yang tidak jelas.” </em></p>
<p><em>“Kami menghargaimu, pangeran Mundinglaya, tapi kami tidak dapat memberimu Layang Salaka Domas karena ini bukan untuk manusia. Bagaimana kalau pemberian lain sebagai hadiah untukmu? Misalnya seorang putri cantik atau kesejahteraan, atau kami dapat menjadikanmu manusia tersuci di dunia?”</em></p>
<p><em> </em><br />
<em>“Aku tidak memerlukan semua itu, jika rakyat Pajajaran terlibat dalam perang.”</em></p>
<p><em><br />
“Kalau begitu, kamu harus merebutnya setelah mengalahkan kami.” </em></p>
<p>Maka terjadilah perkelahian. Karena para guriang sangat kuat, pangeran Mundinglaya terjatuh dan meninggal.</p>
<p>Segera setelah itu, muncul mahluk supranatural lainnya, yaitu <strong>Nyi Pohaci </strong>yang menampakkan diri dan menghidupkan kembali pangeran Mundinglaya. Pangeran Munding Laya bersiap kembali untuk bertempur dengan para guriang.<br />
<em>“Tida perlu ada lagi pertempuran, karena engkau telah menunjukkan sifatmu yang sebenarnya,”</em> kata salah satu dari tujuh guriang, <em>“jujur, tidak tamak. Engkau mempunyai hak untuk membawa Layang Salaka Domas.” </em></p>
<p>Dan dia kemudian memberikannya kepada pangeran Mundinglaya. Pangeran Mundinglaya sangat bergembira dan mengucapkan terima kasih. Dia juga berterima kasih kepada Nyi Pohaci atas bantuannya. Dengan dipandu oleh tujuh guriang yang kemudian menyebut diri mereka sebagai <strong>Gumarang Tunggal</strong>, pangeran Mundinglaya pergi pulang ke Pajajaran.</p>
<p>Di Pajajaran, pangeran Sunten Jaya mengganggu ketentraman permaisuri. Kepada Prabu Silihwangi, pangeran Sunten Jaya mengatakan bahwa permaisuri sebenarnya tidak bermimpi, bahwa dia berdusta untuk membebaskan putranya dari penjara. Dengan demikian, dia membujuk Prabu Silihwangi untuk menghukum mati permaisuri.<br />
Pangeran Sunten Jaya bahkan lebih jauh berniat untuk mengganggu ketentraman Dewi Kinawati di Muara Beres dengan menceritakan bahwa pangeran Mundinglaya telah dibunuh oleh Jonggrang Kalapitung. Tentara digelar untuk mendatangi kerajaan itu.</p>
<p>Pada saat yang gawat tersebut, pangeran Mundinglaya beserta ajudannya telah sampai ke Pajajaran. Mereka senang dan berteriak kegirangan. Pangeran Sunten Jaya dan pengikutnya diusir.<br />
Setelah itu. Prabu Silihwangi menobatkan pangeran Mundinglaya sebagai raja Pajajaran menggantikannya dengan gelar Mundinglaya Dikusumah.<br />
Tidak lama setelah itu, Mundinglaya Dikusumah menikahi Dewi Kinawati dan menjadikannya sebagai permaisuri dan Pajajaran menjadi negara yang adil makmur dan aman.</p>
<p>**********************</p>
<p><strong>CATATAN TAMBAHAN</strong> <em>(Terima kasih Kang Sam)</em></p>
<p>Dikutip dari <strong>KHAZANAH PANTUN SUNDA &#8211; SEBUAH INTERPRETASI : Prof.Jakob Sumardjo , KELIR/2006</strong></p>
<blockquote><p><strong> </strong><br />
<strong> CERITA PANTUN</strong> berisi mitologi masyarakat Sunda dengan tokoh-tokoh apa yang disebut pahlawan budaya Sunda. Dalam hal ini pantun adalah model budaya untuk budaya Sunda dan sebaliknya pantun adalah model yang berasal dari budaya sunda itu sendiri.<br />
Pantun adalah model ideal-rasional masyarakat Sunda. Pantun mengandung nilai-nilai yang seharusnya untuk budaya Sunda.<br />
Tokoh-tokoh pantun seperti <strong>Purbasari, Nyi Sumur Bandung, Panggung Karaton, Siliwangi, Lutung leutik, Raden Tanjung, Mundinglaya diKusumah, Demung Kalagan</strong> dan masih banyak lagi, adalah tokoh teladan masyarakatnya karena merupakan simbol-simbol yang menetapkan suasana hati dan motivasi kuat, yang meresapi, yang tahan lama dalam diri manusia sunda.</p>
<p>Puisi-puisi itu kemungkinan dikarang oleh para juru-pantun yang kurang pendidikan modernnya atau sekurang-kurangnya bukan golongan literer. Juga penggambaran kehidupan istana mengesankan suatu deskripsi atas dasar pengalaman otentik. Kraton Pakuan atau kraton-kraton lain selalu digambarkan dalam gambaran <em>&#8220;masuk tujuh pintu keluar sembilan pintu&#8221;</em> yang hanya diketahui oleh orang-rang yang pernah berkenalan dengan istana.</p>
<p>Simbol-simbol filsafatnya juga masih bisa ditelacak dari sumber-sumbernya di India di masa lampau.</p>
<p><strong>JURU PANTUN</strong> merupakan sosok seniman tradisi sunda yang unik.Seorang jurupantun mampu semalam suntuk membawakan sebuah cerita pantun dengan iringan kacapinya. Sebuah cerita yang kalau ditranskripsi dan dibukukan, ada yang mencapai 250 halaman.Bagaimana seorang jrupantun mampu menghafal begitu panjang?<br />
Seorang jurupantun biasanya menguasai 7 cerita pantun, yang kalau dibukukan mencapai 1500 halaman, Adakah aktor modern yang mampu menguasai sebuah monolg sekitar 250 halaman?<br />
Jurupantun membawakan ceritanya dengan menyanyikan dan menarasikannya.<br />
Jurupantun tidak dapat dinilai dari pandangan manusia modern yang memisahkan karagori profan dan sakral, sekuler dan religius. Pantun adalah produk budaya spiritual Pantun adalah bagian dari suatu ritual.</p>
<p><strong>JURU PANTUN BARU BERSEDIA MEMANTUN KALAU ADA ALASAN RITUAL</strong>, misalnya <em>ruwatan, khitanan, syukuran, tolak bala</em> atau &#8220;<em>pembersihan</em>&#8221; misalnya orang sakit yang tak sembuh-sembuh, orang sakit ingatan.<br />
Semua itu berhubungan dengan dunia tak tampak.Dunia tak tampak dipercayai hadir dalam dunia empirik nampak ini.<br />
Pertunjukan pantun ini harus diawali dengan<em> penyajian sajen, pengucapan mantra &#8220;diam&#8221;(tak boleh terdengar orang lain), pembakaran kemenyan. </em></p>
<p><em> </em><br />
Penuturan kisahnya diawali dengan pengucapan dan <strong>nyanyian &#8220;rajah&#8221;</strong>, yakni doa dan mantra untuk mohon ampun kepada setiap roh-roh nenek moyang penguasa wilayah, mohon ampun karena telah berani &#8220;<em>mengusik dan mengganggu</em>&#8221; para roh pahlawan budaya sunda yang tengah &#8220;duduk bertapa&#8221; di kahyangan, mendatangkan daya-daya tak tampak di tempat berpantun.</p>
<p>Selama pertunjukan, terutama untuk ruwatan, para penonton dan pendengarnya <em>tidak boleh meninggalkan ruang pertunjukan sampai selesai</em>. Jadi pertunjukan pantun adalah semacam &#8220;<strong>ibadah</strong>&#8221; bersama dalam kepercayaan religi tua Indonesia. Dalam ibadah selalu ada <strong>keharusan </strong>dan <strong>pantangan</strong>. Norma-norma semacam ini telah diketahui oleh semua anggota masyarakat suku itu. Dengan demikian seorang juru pantun adalah seorang &#8220;<strong>imam</strong>&#8221; pada kebudayaan kemudian. Dialah seorang &#8220;<strong>intelektual</strong>&#8221; dalam sebuah sistem kepercayaan.<br />
Sifat esoterik pendidikan Jurupantun ini berhubungan dengan aspek &#8220;laku&#8217;. Yang disebut aspek laku adalah pembentukan keterampilan dan kemampuanspiritualnya. Jurupantun bukan semata-mata &#8220;intelektual&#8221; pengetahuan, tetapi juga &#8220;<strong>intelektual</strong>&#8221; secara pengalaman kerohanian. Mungkin di sinilah &#8220;<strong>rahasia</strong>&#8221; kemampuan jurupantun untuk hafal cerita yang 250 halaman itu. Untuk itu pula diperlukan &#8220;laku-laku&#8221; tertentu pula, seperti <em>puasa, berpantang, doa, meditasi </em>mencari berkah di kuburan nenek moyang. Juru pantun adalah seorang medium. Kemampuannya bukan hanya soal ilmu pantun, tetapi juga &#8220;<strong>ngelmu</strong>&#8221; pantun. Seorang seniman modern paling hanya menguasi ilmu-ilmu seni modern, tetapi tidak pernah menjalani &#8220;ngelmu&#8221; atau &#8220;laku&#8221; ini.</p>
<p>Seni pantun adalah seni pragmatik, dalam arti langsung dirasakan manfaatnya dalam pengalaman hidup leawt jalan rohani. Untuk itu , setiap pantun harus sesuai dengan konteks kepercayaan masyarakat setempat. Apa yang dipercayai pantun itulah yang dipercayai masyarakatnya. <strong>Pantun mengandung nilai etik sosial.</strong></p></blockquote>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Suri Ikun dan Dua Burung (Nusa Tenggara Timur)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/suri-ikun-dan-dua-burung-nusa-tenggara-timur/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 15:01:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/suri-ikun-dan-dua-burung-nusa-tenggara-timur/</guid>
<description><![CDATA[Alkisah, di sebuah kampung di daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia, ada sebuah keluarga petani yang]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Alkisah, di sebuah kampung di daerah <strong>Nusa Tenggara Timur, Indonesia</strong>, ada sebuah keluarga petani yang mempunyai empat belas orang anak. Tujuh orang lelaki dan tujuh orang perempuan. Anak lelakinya yang paling muda bernama <strong>Suri Ikun</strong>. Ia seorang pemberani dan suka menolong. Berbeda dengan keenam kakak lelakinya, selain pendengki mereka juga penakut. Mendengar dengusan babi hutan saja mereka lari tunggang langgang.</p>
<p>Untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan keempat belas anaknya, sang Suami sebagai kepala keluarga menanam umbi-umbian dan sayur-sayuran di kebunnya. Meskipun kebunnya cukup luas, hasilnya terkadang tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, karena tanamannya sering dirusak oleh kawanan babi hutan.</p>
<p>Pada suatu malam, sang Suami mengajak istri dan ketujuh anak lelakinya bermusyawarah untuk mengatasi permasalahan tersebut.</p>
<p>“Wahai, Anak-anakku! Tentu kalian semua tahu bahwa kita hidup dari hasil berkebun. Untuk itu kita harus menjaga semua tanaman yang ada di kebun,” ungkap sang Ayah.</p>
<p>“Apa yang harus kami lakukan, Ayah?” tanya si Sulung.</p>
<p>“Begini, Anakku! Ayah akan menugaskan kalian secara bergiliran meronda di kebun untuk mengusir babi hutan,” kata sang Ayah.</p>
<p>Mendengar perkataan itu, ketujuh orang lelaki bersaudara tersebut terkejut.</p>
<p>“Aduh, adakah cara lain yang dapat kami lakukan selain meronda, Ayah?” keluh si Sulung.</p>
<p>“Apa maksudmu, Anakku!” tanya sang Ayah.</p>
<p>“Maaf, Ayah! Saya sangat takut pada babi hutan,” jawab si Sulung.</p>
<p>“Iya, Ayah! Kami juga takut,” sambung lima orang anaknya yang lain serentak.</p>
<p>Sang Ayah menjadi bingung mendengar keluhan keenam anaknya tersebut. Sejenak, ia berpikir untuk mencari cara lain untuk mengusir babi hutan dari kebunnya. Suasana musyawarah keluarga pun menjadi hening. Dalam suasana hening itu, tiba-tiba Suri Ikun angkat bicara.</p>
<p>“Maaf, Ayah! Jika Ayah mengizinkan, biarlah saya sendiri yang meronda di kebun,” pinta Suri Ikun.</p>
<p>“Benarkah kamu sanggup meronda seorang diri, Anakku?” tanya sang Ayah.</p>
<p>“Benar, Ayah! Saya akan menangkap babi-babi hutan itu dengan panahku,” jawab Suri Ikun dengan penuh semangat.</p>
<p>Alangkah senangnya hati keenam kakak lelaki Suri Ikun, karena mereka terbebas dari sebuah tugas yang sangat berat.</p>
<p>Keesokan harinya, setelah mempersiapkan busur dan anak panahnya, berangkatlah Suri Ikun ke kebun seorang diri untuk meronda. Sesampainya di kebun, ia langsung berkeliling melihat keadaan kalau-kalau ada kawanan babi hutan yang sedang merusak tanamannya. Setelah beberapa saat berkeliling dan tidak menemukan seekor babi hutan pun, Suri Ikun beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Ketika sedang asyik duduk bersandar sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi, tiba-tiba tiga ekor babi hutan sedang melintas tidak jauh dari depannya. Ia pun segera bersembunyi di balik pohon tempatnya bersandar seraya menyiapkan anak panahnya. Pada saat ketiga kawanan babi hutan itu akan memakan tanamannya, ia pun segera menarik anak panahnya dari busurnya dan melepaskannya ke arah babi yang paling besar.</p>
<p>“Siuuut&#8230;. deg&#8230;!!!”</p>
<p>Anak panahnya tepat mengenai lambung kanan babi itu dan langsung terkapar di tanah. Sementara dua babi hutan lainnya langsung melarikan diri ke balik semak belukar. Suri Ikun segera menghampiri babi hutan yang sudah tidak bergerak itu.</p>
<p>“Wah besar sekali babi hutan ini. Pasti dagingnya sangat lezat,” gumam Suri Ikun.</p>
<p>Dengan perasaan senang dan gembira, Suri Ikun pun segera membawa pulang babi hutan itu ke rumahnya. Oleh karena babi hutan itu sangat berat, sampai-sampai ia harus beberapa kali berhenti beristirahat dalam perjalanan. Sesampainya di rumah, ia pun disambut gembira oleh kedua orangtua dan saudara-saudaranya yang sudah lama menunggu.</p>
<p>“Wah, kamu hebat sekali, Suri Ikun!” ucap si Sulung memuji.</p>
<p>Kemudian mereka pun segera memotong-motong dan memasak daging babi hutan itu. Setelah matang, si Sulung bertugas membagi-bagikan daging babi tersebut kepada saudara-saudaranya. Oleh karena sifatnya yang dengki, ia hanya memberi Suri Ikun bagian kepala babi itu, yang sudah tentu tidak banyak dagingnya. Begitulah seterusnya, setiap kali membawa seekor babi hutan hasil buruannya, Suri Ikun selalu saja mendapat bagian kepala. Meski demikian, Suri Ikun tetap merasa senang, karena hasil keringatnya dapat dinikmati oleh seluruh keluarganya.</p>
<p>Pada suatu sore, ayah mereka baru saja pulang dari mencari kayu bakar di sebuah hutan lebat yang letaknya cukup jauh.</p>
<p>“Anak-anakku! Maukah kalian membantu, Ayah!”</p>
<p>“Apa yang dapat kami bantu, Ayah?” tanya si Sulung penasaran.</p>
<p>“Gerinda Ayah tertinggal di tengah hutan. Maukah kalian pergi mengambilnya?” pinta sang Ayah.</p>
<p>Akhirnya, si Sulung pun mengajak keenam saudara lelakinya pergi ke hutan lebat itu. Pada saat sampai di hutan, hari sudah mulai gelap. Menurut cerita, hutan tersebut dihuni oleh para hantu rimba yang terkenal jahat. Suri Ikun berjalan mengikuti kakaknya menyusuri hutan lebat itu sambil menggendong busur dan anak panahnya. Oleh karena gelapnya malam, Suri Ikun tidak menyadari jika keenam saudaranya mengambil jalan lain yang menuju ke rumah. Sementara ia terus berjalan menyusuri hutan. Semakin lama ia pun semakin jauh masuk ke tengah hutan. Setelah menyadari ia ditinggal sendirian, ia pun berteriak-teriak memanggil keenam kakaknya.</p>
<p>“Kakak&#8230; di mana kalian?”</p>
<p>Berkali-kali Suri Ikun memanggil nama keenam kakaknya, tetapi tetap tidak mendapat jawaban. Namun, beberapa saat berselang, tiba-tiba terdengar suara aneh menegurnya.</p>
<p>“Hei, Anak Manusia! Kini kamu tinggal sendirian. Tidak seorang pun yang bisa menolongmu, karena saudara-saudaramu telah meninggalkanmu.”</p>
<p>“Kamu siapa? Tampakkanlah wujudmu!” seru Suri Ikun sambil menyiapkan anak panah dan busurnya.</p>
<p>“Ha&#8230; ha&#8230; ha&#8230;!!! terdengar suara itu tertawa berbahak-bahak.</p>
<p>“Ketahuilah, Anak Manusia! Kami adalah hantu rimba penghuni hutan ini,” ujar suara itu.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, tiba-tiba beberapa sosok bertubuh besar dan berwajah seram berdiri di sekelilingnya. Baru saja Suri Ikun hendak menarik anak panahnya, para hantu tersebut segera menangkapnya. Namun, mereka tidak langsung memakannya, karena ia masih terlalu kurus.</p>
<p>“Sebaiknya kita kurung dulu anak manusia ini,” ujar pemimpin hantu rimba itu.</p>
<p>Akrhinya Suri Ikun dikurung di dalam sebuah gua. Setiap hari ia diberi makan secara teratur agar menjadi gemuk. Untungnya ada celah sehingga sinar matahari dapat memancar masuk ke dalam gua. Dari celah itu ia bisa melihat keluar.</p>
<p>Pada suatu hari, Suri Ikun melihat dua ekor anak burung di celah gua yang kepalaran. Oleh karena merasa iba, ia pun memberIkun sebagian makanannya kepada kedua anak burung itu.</p>
<p>“Waaah, kasihan sekali anak burung ini ditinggal induknya,” iba Suri Ikun seraya menyuapi kedua anak burung itu.</p>
<p>Begitulah seterusnya, setiap melihat kedua anak burung itu kelaparan, Suri Ikun senantiasa membagikan makanan kepada mereka. Beberapa bulan kemudian, kedua burung itu pun tumbuh menjadi besar dan kuat. Ajaibnya, kedua burung itu dapat berbicara seperti manusia.</p>
<p>“Terima kasih Tuan karena telah menolong kami,” ucap seekor burung.</p>
<p>“Ampun, Tuan! Jika kami boleh tahu, Tuan siapa dan kenapa dikurung dalam gua ini?” tanya seekor burung yang satunya lagi.</p>
<p>“Saya Suri Ikun, Sobat!” jawab Suri Ikun.</p>
<p>Setelah itu, Suri Ikun pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya sampai ia bisa berada di dalam gua itu.</p>
<p>“Baiklah, Tuan! Kami akan membebaskan Tuan dari gua ini,” kata seekor burung.</p>
<p>Alangkah senangnya hati Suri Ikun mendengar perkataan burung itu. Namun, hatinya masih diselimuti oleh rasa bimbang.</p>
<p>“Wahai, Sobat! Bukankah hantu rimba itu berjumlah banyak dan sangat kuat? Bagaimana cara kalian menolongku?” tanya Suri Ikun ingin tahu.</p>
<p>“Tenang, Tuan! Kami pasti bisa mengalahkan mereka,” ujar seekor burung.</p>
<p>“Begini, Tuan! Kami akan menyerang dan mencakar-cakar seluruh tubuh hantu-hantu itu,” jelas seekor burung yang satunya.</p>
<p>Mendengar penjelasan itu, Suri Ikun terdiam sejenak. Ia pun berpikir mencari cara agar bisa membantu kedua burung itu mengalahkan hantu-hantu tersebut.</p>
<p>“Baiklah kalau begitu! Aku akan membantu kalian dengan senjataku ini,” kata Suri Ikun sambil menunjukkan panahnya.</p>
<p>Keesokan harinya, hantu-hantu tersebut datang mengantarkan makanan untuk Suri Ikun. Pada saat mereka membuka pintu gua, dengan secepat kilat kedua burung itu langsung menyerang dan mencakar-cakar seluruh tubuh mereka. Suri Ikun pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera meluncurkan anak panahnya ke arah hantu-hantu tersebut. Maka tak ayal lagi, para hantu itu pun terluka dan langsung kabur melarikan diri.</p>
<p>Setelah itu, kedua burung tersebut segera membawa terbang Suri Ikun menuju ke puncak sebuah bukit yang tinggi. Sesampainya di sana, dengan kekuatan gaibnya, kedua burung tersebut menciptakan sebuah istana megah untuk Suri Ikun lengkap dengan pengawal dan dayang-dayangnya. Di sanalah untuk selanjutnya Suri Ikun tinggal dan hidup berbahagia.</p>
<p>Sementara itu, nun jauh di kampung, keluarga Suri Ikun hidup menderita. Sejak kepergian Suri Ikun seluruh tanaman ayahnya habis dimakan dan dirusak kawanan babi hutan. Sebab, tidak seorang pun saudara lelakinya yang berani mengusir kawanan babi hutan tersebut dari kebun mereka.</p>
<p>* * *</p>
<p>Demikian cerita Suri Ikun dari daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik, yaitu keutamaan sifat saling tolong-menolong terhadap sesama makhluk dan akibat buruk dari sikap penakut.</p>
<p><em><strong>Pertama</strong></em>, keutamaan sifat saling tolong-menolong. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Suri Ikun dan dua ekor burung. Suri Ikun menolong kedua ekor burung tersebut dengan memberinya makan, sedangkan kedua ekor burung tersebut menyelamatkan Suri Ikun dari ancaman para hantu rimba. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat ini sangatlah dianjurkan, karena dapat menimbulkan rasa saling menghormati dan mengasihi serta saling menyayangi antara sesama makhluk, sehingga terbina kehidupan yang aman, damai, sejahtera dan harmonis.</p>
<p>Dikatakan dalam untaian syair Melayu:</p>
<blockquote><p>
<em>wahai ananda dengarlah manat,<br />
tulus dan ikhlas jadIkun azimat<br />
berkorban menolong sesama umat<br />
semoga hidupmu beroleh rahmat</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>Kedua</strong></em>, akibat buruk dari sifat penakut. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku keenam saudara lelaki Suri Ikun yang tidak berani meronda di kebun ayahnya, karena takut kepada babi hutan. Akibatnya, mereka pun hidup melarat, karena seluruh tanaman di kebun ayahnya dirusak dan dimakan babi hutan.</p>
<p>Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:</p>
<blockquote><p>
<em>takut ke laut, mati hanyut,<br />
takut ke hutan, mati tak makan<br />
siapa penakut, makan kentut<br />
siapa pengecut, besarlah burut.</em></p></blockquote>
<p><em></em></p>
<p>(Samsuni /sas/111/11-08)</p>
<p>Sumber:<br />
Isi cerita diadaptasi dari “Cerita Rakyat”, <a rel="nofollow" href="http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/default.htm" target="_blank">http://www.seasite.niu.edu/indonesian/Budaya_Bangsa/Cerita_Rakyat/default.htm</a>, diakses tanggal 18 November 2008.<br />
Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.<br />
&#8212;&#8212;-. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian<br />
melayuonline</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Legenda Gunung Pinang (Banten)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/legenda-gunung-pinang-banten/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 14:55:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/legenda-gunung-pinang-banten/</guid>
<description><![CDATA[SEMILIR angin senja pantai teluk Banten mempermainkan rambut Dampu Awang yang tengah bersender di ba]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>SEMILIR angin senja pantai teluk <strong>Banten </strong>mempermainkan rambut <strong>Dampu Awang </strong>yang tengah bersender di bawah pohon nyiur. Pandangannya menembus batas kaki langit teluk Banten. Pikirannya terbang jauh. Jauh sekali. Meninggalkan segala kepenatan hidup dan mengenyahkan kekecewaan atas ibunya. Menuju suatu dunia pribadi dimana hanya ada dirinya sendiri. Ya, hanya dirinya.</p>
<p>&#8220;Ibu tidak akan izinkan kamu pergi, Dampu.&#8221; Dia teringat kata-kata Ibunya tadi pagi.</p>
<p>&#8220;Tapi, Bu&#8230;&#8221; sergah Dampu Awang.</p>
<p>&#8220;Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!&#8221; Wajah ibunya mulai memerah. &#8220;Ibu tahu, nong. Kamu pergi supaya kita tidak sengsara terus. Tapi ibu sudah cukup dengan keadaan kita seperti ini,&#8221; lanjut ibunya sambil terus menginang.</p>
<p>&#8220;Ibu, Dampu janji. Kalau Dampu pulang nanti, Dampu akan membahagiakan ibu. Dampu akan menuruti segala perintah ibu. Coba ibu bayangkan, nanti kita akan kaya, Bu. Kita akan bangun rumah yang besar seperti rumah para bangsawan.&#8221; Dampu Awang merayu ibunya.</p>
<p>&#8220;Dampu &#8230; Ibu lelah,&#8221; ujar ibunya. &#8220;Ibu sudah bosan mendengar ocehanmu tentang harta kekayaan. Setiap hari kamu selalu saja melamun ingin cepat kaya&#8221;</p>
<p>Perkataan itu betul-betul menohok tepat di ulu hati Dampu.</p>
<p>&#8220;Kamu tahu nong,&#8221; Ibu melanjutkan ceramahnya. &#8220;Ibu masih kuat sampai sekarang, itu karena kamu. Karena masih ada kamu, Dampu. Nanti kalau kamu pergi, siapa yang menemani ibu? Sudahlah, Dampu&#8230; Ibu sudah lelah&#8221;</p>
<p>Selepas shalat maghrib Dampu Awang kembali menemani laut dari beranda rumah. Wajahnya masih menyisakan harapan sekaligus kekecewaan yang teramat sangat mendalam. Batinnya terus menerus bergejolak. la masih kesal dengan ucapan ibunya.</p>
<p>Apakah ibu tidak tahu di Malaka sana banyak sekali pekerjaan yang akan membuat aku kaya? ujar Dampu dalam hati. Dan kalau aku kaya, tentu ibu akan turut kaya raya. Seharusnya ibu melihat jauh ke masa depan, kita tidak akan kaya kalau kita selamanya hidup di kampung nelayan miskin ini terus.</p>
<p>Kesempatan ini telah lama aku nantikan. Seorang saudagar asal Samudera Pasai datang berdagang ke Banten. Setelah satu bulan lamanya menetap di Banten, kini saatnya saudagar itu angkat sauh dan kembali berlayar ke negeri asal. Tinggal satu minggu lagi, kapal itu akan berlabuh. Namun, ibu belum juga memberikan izin.</p>
<p>&#8220;Dampu&#8230;&#8221; ucap ibunya lembut, khawatir mengagetkan anaknya.</p>
<p>Dampu melihat ibunya tersenyum. Di matanya ada kehangatan cinta yang mendalam. Batin Dampu kembali terguncang. Hatinya terus bertanya-tanya.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Ibu?&#8221; tanya Dampu.</p>
<p>Ibu hanya tersenyum. Matanya meneravvang mencari bintang di langit cerah kemudian memandang&#8217; deburan ombak di lautan yang bersinar karena ditimpa sinar gemerlap rembulan.</p>
<p>Betapa bahagia hati Dampu Awang mendengar ibunva memberi izin. la merasakan dadanya menghangat. seolah diselimuti pusaran energi yang dahsyat. Matanya mulai berembun. Dampu Awang pun membentuk sebuah lengkungan manis di bibirnya.</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Ibu&#8230;&#8221;</p>
<p>Deburan ombak, semilir angin laut, bau asin pantai, kepak sayap burung-burung camar, lambaian orang-orang kampung, mengiringi kepergian rombongan saudagar dari pelabuhan. Dampu Awang melihat ibunya meratapi kepergiannya. Sebening embun menggenang di pelupuk mata. Masih terngiang di telinganya petuah-petuah yang diberikan ibunya sesaat sebelum ia pergi.</p>
<p>&#8220;Dampu&#8230;&#8221; ujar ibunya, &#8220;Ibu titip si Ketut. Kamu harus merawat si Ketut baik-baik, ya nong. Si Ketut ini dulunya peliharaan bapakmu. Bapakmu dulu sangat menyayangi si Ketut. la sangat mahir sebagai burung pengirim pesan. Kamu harus rutin mengirimi ibu kabar. Jaga baik-baik si Ketut seperti kamu menjaga ibu, ya nong,&#8221; Ibu melanjutkan petuah-petuahnya. Air matanya sudah tidak mampu dibendung lagi.</p>
<p>&#8220;Enggih, Bu.&#8221; Hanya itu yang mampu Dampu ucapkan saat ibunya memberikan puluhan petuah sebelum Dampu berlayar. Tapi ia berjanji akan mengirimi Surat untuk Ibunya tercinta setiap awal purnama.</p>
<p>Setiap hari, saat bola api langit masih malu-malu menyembulkan jidatnya di permukaan bumi, Dampu Awang bekerja membersilikan seluruh galangan kapal dan merapihkan barang-barang di kapal saudagar Teuku Abu Matsyah.</p>
<p>Hari berganti, bulan bergulir, tahun bertambah. Dampu Awang kini terkenal sebagai pekerja yang rajin. Tak aneh, jika Teuku Abu Matsyah begitu perhatian padanya. Bahkan Siti Nurhasanah, putri Teuku Abu Matsyah, diam-diam menaruh hati padanya. Hingga suatu hari Teuku Abu Matsyah memanggil Dampu Awang untuk berbicara empat mata.</p>
<p>&#8220;Dampu&#8230;&#8221; Ujar Abu Matsyah mengawali pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Saya, Juragan&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita Sudah saling kenal lebih dari lima tahun. Itu bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal,&#8221; suara Abu Matsyah terdengar berat. -Saya kagum dengan kerajinanmu, Dampu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Juragan&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena itu, saya berniat untuk menjodohkan kamu dengan putriku. Siti Nurhasanah,&#8221; kata Abu Matsyah seraya menyisir-nyisir janggut putihnya.</p>
<p>Dampu Awang terkejut bukan main. la tak menyangka Teuku Abu Matsyah berbuat sejauh ini. Diam-diam ia memang mencintai Siti Nurhasanah, tapi apa pastas? Lantas bagaimana dengan restu ibunya di Banten&#8217;? Apakah ia marnpu membahagiakan Siti? Berpuluh-puluh pertanyaan bersarang di kepala Dampu Awang.</p>
<p>&#8220;Bagaimana, Dampu?&#8221; Pertanyaan Abu Matsyah membawa Dampu Awang kembali ke alam nyata.</p>
<p>&#8220;Maaf, Juragan. Saya bukan rnenolak niat baik juragan.&#8221; Dampu menanti saat yang tepat. &#8220;Tetapi apakah saya pastas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi kamu menolak niat baik saya, Dampu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maaf. Juragan. saya tidak berani menolak niat baik juragan. Tapi &#8230;&#8221;</p>
<p>Sudah satu dasawarsa Dampu Awang meninggalkan tanah kelahirannya. la hanya mengirimkan empat kali surat kepada ibunva di Banten. Hingga suatu hari, tersiarlah kabar akan ada saudagar besar dari Malaka. Kabar itu merembet dengan cepat seperti kecepatan awan yang ditiup angin. Setiap orang ramai membicarakan kekayaan saudagar itu.</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan Dampu Awang pulang,&#8221; ujar ibunya sumringah. &#8220;Dampu Awang, putraku, akhirnya pulang.&#8221; Ujar ibunya lagi. Dari suaranya tercermin jelas keharuan dan kegembiraan yang tiada terkira. Yang tidak akan mampu terangkum dalam rangkaian kata atau terlalu besar untuk disimpan di dalam gubuk reotnya.</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah, hatur nuhun Gusti Allah. Alhamdulillah&#8230; Alhamdulillah&#8230; Alhamdulillah,&#8221; berkali-kali wanita itu berucap syukur.</p>
<p>&#8220;Woi! Kapalnya sudah datang!&#8221; seseorang berseru dari arah pantai</p>
<p>&#8220;Hei lihat! Kapalnya besar sekali!&#8221; sahut orang yang lain.</p>
<p>Kapalnya luar biasa besar dan megah. Sampai-sampai membentuk bayangan di pantai. Kayunya dari bahan kayu pilihan. Layarnya luas terbentang. Para awak kapal yang gagah tengah sibuk menurunkan barang bawaan.</p>
<p>Penduduk Banten semakin lama semakin banyak yang merubungi pantai. Mereka penasaran siapa yang datang berkunjung. Ibu Dampu Awang adalah salah satu diantara lautan manusia yang semakin membludak saja itu. Tampang Ibu Dampu Awang lusuh bukan main, bahkan pakaiannya lebih kumal dibanding bendera kapal megah itu.</p>
<p>Sementara itu, di dalam kapal Dampu Awang gelisah. la sekarang sudah menjadi pewaris kekayaan tunggal dari Teuku Abu Matsyah. Sejak Dampu menikah dengan Siti Nurhasanah, mertuanya itu mempercayakan seluruh harta kekayaannya kepada Dampu. Selang beberapa lama Teuku Abu Matsyah meninggal dunia. Dan kini, namanya sudah tersohor menjadi pedagang yang kaya raya dari Malaka.</p>
<p>Sengaja ia singgah di kampung halamannya, ingin melihat apakah ibunya masih hidup. Hanya untuk sekadar melihat saja. Ratusan pasang tatap mata mengiringi seorang lelaki tampan nan gagah yang keluar dari ruangan kapal. Bajunya terbuat dari kain emas dan pecinya sangat indah sekali. Di pinggangnya terselip golok sakti yang menjadi idaman setiap pendekar. Di pundaknya bertengger seekor burung perkutut yang terlihat sangat sehat.</p>
<p>Di samping lelaki itu terdapat seorang perempuan cantik yang digapitnya mesra. Dia pasti istrinya. Wajahnya putih bersih dan bercahaya. Sedangkan rambutnya hitam legam seperti langit malam. Suatu kombinasi yang sempurna. Cantik sekali!</p>
<p>&#8220;Dampuuuuuu! Dampu Awaaaaaang! Ini Ibu. Di sini. Sebelah sini!&#8221; teriak Ibu Dampu Awang sambil melambai-lambaikan tangan. Mendadak wanita tua itu kembali mendapatkan tenaganya kembali. Gairah yang ia rasakan seperti dulu sebelum Dampu Awang, putranya, pergi.</p>
<p>&#8220;Dampu Awaaaaaang!&#8221; teriak sang ibu sekali lagi.</p>
<p>Semua perhatian terpusat pada Ibu Dampu Awang yang dari tadi berteriak-teriak. Semua heran, apa betul wanita tua dekil ini adalah ibu dari saudagar yang kaya raya itu.</p>
<p>&#8220;Kang Mas, apa betul dia ibumu?&#8221; tanya istri Dampu Awang. &#8220;Mengapa Kang Mas tidak pernah cerita, kalau orang tua Kang Mas masih hidup&#8217;?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak! Wanita tua itu bukan ibuku!&#8221; tampik Dampu Awang dengan cepat. &#8220;Dia hanya seorang wanita gila yang sedang meracau!&#8221;</p>
<p>Dari atas kapal Dampu Awang menatap kerumunan penduduk yang wajahnya tampak kebingungan.</p>
<p>&#8220;Wahai penduduk Banten!&#8221; seru Dampu Awang. &#8220;Tidak usah bingung. Dia bukan ibuku. Kedua orang tuaku sudah mati. Mereka adalah manusia terhormat yang kaya raya. Bukan seperti wanita tua itu yang berpakaian compang camping dan miskin sengsara!&#8221;</p>
<p>Perkataan Dampu Awang tadi bagai petir di siang bolong. Seperti ada godam besar yang menghujam berkali-kali ke sanubari Ibu Dampu Awang. Perasaannya lebih sakit dibanding saat kematian suaminya atau saat melepas putranya berlayar.</p>
<p>&#8220;Hei, wanita tua gila!&#8221; Dampu Awang menunjuk ibunya. &#8220;Aku tidak pernah mempunyai ibu sepertimu. Demi Allah, ibuku adalah seorang yang kaya raya, bukan seorang wanita miskin yang hina sepertimu!&#8221;</p>
<p>Luka yang ditorehkan oleh ucapan Dampu Awang itu semakin membesar. Menganga di dalam hati sang ibu. Sang ibu tertunduk lesu. la bersimpuh di atas kedua lutut keriputnya.</p>
<p>&#8220;Nakhoda, cepat kita pergi dari sini. Batalkan janji bertemu dengan Sultan. Kita akan lanjutkan perjalanan!&#8221; Dampu Awang memerintah. la harus lekas pergi sebelum orang-orang tahu kalau wanita tua yang dekil itu adalah ibu kandungnya. Mau ditaruh di mana mukaku, ujarnya dalam hati.</p>
<p>Sang ibu tertunduk lesu. Air matanya semakin tidak terbendung. Harapan, kebahagian, kegembiraan, suka cita, yang telah dihimpunnya selama puluhan tahun, kini seolah semuanya telah menguap tanpa bekas. Penantiannya selama puluhan tahun harus berakhir dalam kesakithatian yang semakin mendalam.</p>
<p>&#8220;Duhai, Gusti. Hampura dosa,&#8221; Ibu Dampu awang berdoa. &#8220;Kalau memang benar dia bukan anakku, biarkan ia pergi. Tapi kalau dia adalah putraku, hukumlah ia karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri.&#8221; Ibu Dampu Awang khusyuk berdoa. Khidmat.</p>
<p>Tiba-tiba langit gelap. Awan-awan hitam datang tanpa diundang. Berkumpul menjadi satu kesatuan. Hitam dan besar. Hingga sinar matahari pun tidak mampu lagi terlihat. Siang hari yang cerah mendadak seperti malam yang gelap gulita. Petir. Kilat. Guntur. Saling sambar menyambar. Hujan deras.</p>
<p>&#8220;Ada badai. Cepat berlindung!&#8221; teriak seorang warga.</p>
<p>Langit muntah. Langit muntah. Muntah besar. la menumpahkan segala yang dikandungnya. Dunia serasa kiamat. Dampu Awang beserta kapalnya terombang-ambing di lautan. Dipermainkan oleh alam. Allah telah menjawab rintihan seorang hamba yang didzalimi. Para awak kapal ketakutan, mereka ramai-ramai menerjunkan diri ke laut. Petir menyambar galangan kapal dan layar. Tiang-tiang kapal tumbang.</p>
<p>Tiba-tiba keajaiban terjadi. Si Ketut bisa bicara. &#8220;Akuilah&#8230;.Akuilah&#8230; Akuilah ibumu, Dampu Awang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak! Dia bukan ibuku! Dia bukan ibuku. Ibuku telah mati!&#8221; sergah Dampu Awang.</p>
<p>&#8220;Akuilah&#8230;.Akuilah&#8230; Akuilah ibumu, Dampu Awang&#8221; si Ketut mengulangi ucapannya.</p>
<p>&#8220;Ya Allah, berilah pelajaran yang setimpal sebagaimana yang ia lakukan padaku,&#8221; Ibu Dampu Awang kembali berdoa.</p>
<p>Angin puyuh besar pun datang. Meliuk-liuk ganas di atas laut. Menyedot dan terus berputar. Kapal Dampu Awang ikut tersedot. Kapal Dampu Awang terbang masuk ke dalam pusaran angin puyuh. Berputar-putar. Terus berputar dalam pusaran angin puyuh.</p>
<p>&#8220;lbuuuuuu, tolong aku! Ini anakmu Dampu Awang!&#8221; Dampu Awang berteriak ketakutan.</p>
<p>Sang Ibu tetap tidak bergeming.</p>
<p>Kapal yang berisi segala macam harta kekayaan itu dipermainkan oleh angin. Berputar-putar. Dan akhirnya terlempar jauh ke selatan. Jatuh terbalik.</p>
<p>Menurut penuturan masyarakat, kapal Dampu Awang yang karam berubah menjadi <strong>Gunung Pinang</strong>.  Gunung itu terletak tepat di samping jalur lalu lintas <strong>Serang &#8211; Cilegon</strong>, kecamatan <strong>Kramat Watu, kabupaten Serang, propinsi Banten</strong>. Hingga kini, setiap orang dengan mudah dapat menyaksikan simbol kedurhakaan anak pada ibunya itu.</p>
<p>Diceritakan kembali oleh : Adkhilni MS<br />
folktalesnusantara.blogspot.com</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Asal Usul Pohon Sagu dan Palem (Sulawesi Tengah)]]></title>
<link>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/asal-usul-pohon-sagu-dan-palem-sulawesi-tengah/</link>
<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 14:52:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rachel</dc:creator>
<guid>http://rhutami.wordpress.com/2009/12/15/asal-usul-pohon-sagu-dan-palem-sulawesi-tengah/</guid>
<description><![CDATA[Alkisah, di daerah Donggala, Sulawesi Tengah, hidup sepasang suami-istri bersama seorang anak lelaki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Alkisah, di daerah Donggala, Sulawesi Tengah, hidup sepasang suami-istri bersama seorang anak lelakinya. Mereka tinggal di sebuah rumah tua yang terletak di pinggir hutan Dolo. Hidup mereka sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka mencari buah-buahan dan hasil hutan lainnya yang tersedia di sekitar mereka.</p>
<p>Semakin lama sang Suami pun merasa bosan hidup dengan keadaan seperti itu. Akhirnya, timbullah niatnya ingin membuka lahan perkebunan yang akan ditanami dengan berbagai jenis tanaman palawija dan sayur-sayuran. Suatu hari, ia pun menyampaikan niat baiknya tersebut kepada istrinya.</p>
<p>“Dik! Bagaimana kalau kita berkebun saja? Aku sudah bosan hidup seperti ini terus,” ungkap sang Suami.</p>
<p>Alangkah senang hati sang Istri mendengar rencana suaminya. Ia merasa bahwa suaminya akan berubah untuk tidak bermalas-malasan bekerja.</p>
<p>“Bang, kita mau berkebun di mana? Bukankah kita tidak mempunyai lahan untuk berkebun?” tanya sang Istri.</p>
<p>“Tenang, Dik! Besok Abang akan membuka hutan untuk dijadikan lahan perkebunan,” jawab sang Suami.</p>
<p>“Baiklah kalau begitu, aku setuju,” kata sang Istri.</p>
<p>Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan Dolo. Setelah beberapa lama menyusuri hutan, ia pun menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan. Sementara itu, sang Istri bersama anaknya menunggu di rumah sambil menyiangi rerumputan yang tumbuh di pekarangan rumah agar ular tidak mengganggu mereka.</p>
<p>Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan sambil membawa buah-buahan untuk persiapan makan malam mereka. Istrinya pun menyambutnya dengan penuh harapan. Usai menyuguhkan minuman, sang Istri bertanya kepada suaminya.</p>
<p>“Bang, bagaimana hasilnya? Apakah Abang sudah menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan lahan perkebunan?”</p>
<p>“Iya, Dik! Abang sudah menemukan sebidang tanah yang subur,” jawab sang Suami.</p>
<p>Mendengar jawaban suaminya, sang Istri merasa gembira. Ia berharap dengan adanya pekerjaan baru tersebut kehidupan keluarga mereka akan menjadi lebih baik suatu hari kelak.</p>
<p>“O iya, Bang! Kalau Adik boleh tahu, di mana letak lahan itu?” sang Istri kembali bertanya.</p>
<p>“Letaknya tidak jauh dari rumah kita,” jawab sang Suami.</p>
<p>“Syukurlah kalau begitu, Bang! Kita tidak perlu berjalan jauh untuk mencapainya. Lalu, kapan Abang akan memulai membuka lahan?” tanya sang Istri.</p>
<p>“Kalau tidak ada aral melintang, besok Abang akan memulainya,” jawab sang Suami dengan penuh keyakinan.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, hari sudah mulai gelap. Sang Istri pun menyiapkan makan malam seadanya. Usai makan malam, keluarga miskin tersebut beristirahat setelah hampir seharian bekerja.</p>
<p>Keesokan harinya, pagi-pagi sekali sang Suami berangkat ke hutan sambil membawa parang dan cangkul. Sesampainya di tempat yang akan dijadikan lahan perkebunan, tiba-tiba muncul sifat malasnya. Ia bukannya membabat hutan, melainkan duduk termenung sambil memerhatikan pepohanan yang tumbuh besar dan hijau di hadapannya. Sementara itu, istri dan anaknya sedang menunggu di rumah dengan penuh harapan. Sang Istri mengharapkan agar suaminya segera membuka lahan perkebunan.</p>
<p>“Anakku! Jika Ayahmu telah selesai membuka lahan perkebunan, kita bisa membantunya menanam sayur-sayuran dan umbi-umbian di kebun,” ujar sang Ibu kepada anaknya.</p>
<p>“Bolehkah aku ikut membantu, Ibu?” tanya anaknya.</p>
<p>“Tentu, Anakku! Ayahmu pasti sangat senang jika kamu juga ikut membantunya,” jawab sang Ibu sambil tersenyum.</p>
<p>Menjelang sore hari, sang Suami pulang dari hutan. Ia pun disambut oleh istrinya dengan suguhan air minum. Setelah suaminya selesai minum dan rasa capeknya hilang, sang Istri pun kembali menanyakan tentang hasil pekerjaannya hari itu.</p>
<p>“Bagaimana hasilnya hari ini, Bang?”</p>
<p>“Belum selesai, Dik!” jawab sang Suami.</p>
<p>Keesokan harinya, sang Suami kembali ke hutan. Setiba di sana, ia pun kembali hanya duduk termenung. Begitulah pekerjaannya setiap hari. Begitupula jika ditanyai oleh istrinya tentang hasil pekerjaannya, ia selalu menjawab “belum selesai”.</p>
<p>Oleh karena penasaran ingin melihat hasil pekerjaan suaminya, suatu siang sang Istri menyusulnya ke hutan tempatnya bekerja. Sesampainya di tempat itu, ia mendapati suaminya duduk termenung sambil bersandar di bawah sebuah pohon. Alangkah kecewanya sang Istri, karena lahan perkebunan yang diharapkannya tidak terwujud.</p>
<p>“Bang! Mana lahan perkebunan itu?” tanya sang Istri.</p>
<p>Mendengar pertanyaan istrinya itu, sang Suami bukannya menjawabnya. Akan tetapi, ia segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian langsung pulang dengan perasaan marah. Rupanya, ia merasa tersinggung karena istrinya menyusul ke hutan. Mengetahui suaminya marah, sang Istri pun mengikutinya dari belakang.</p>
<p>Sesampai di rumah, kemarahan sang Suami semakin memuncak. Ia melampiaskan kemarahannya dengan membanting barang-barang yang ada di dalam rumahnya. Sang Istri yang tidak menerima kelakuan suaminya itu langsung berlari menuju ke hutan sambil menangis. Sesampainya di tengah hutan, ia langsung menceburkan diri ke dalam sebuah telaga.</p>
<p>Sementara itu, sang Suami yang baru menyadari akibat dari kelakuannya segera mengajak anaknya untuk menyusul istrinya ke tengah hutan.</p>
<p>“Ayo Anakku, kita susul Ibumu ke hutan!” ajak sang Ayah sambil menarik tangan anaknya.</p>
<p>“Baik, Ayah!” jawab anaknya.</p>
<p>Sesampainya di tengah hutan, tidak jauh dari hadapan mereka terlihatlah sang Istri berada di tengah telaga. Tubuhnya sedikit demi sedikit menjelma menjadi pohon sagu. Melihat peristiwa itu, ayah dan anak itu pun segera berlari mendekati telaga.</p>
<p>“Maafkan aku, Dik! Kembalilah!” teriak sang Suami.</p>
<p>“Ibu&#8230;, Ibu&#8230;. Aku ikut!” teriak anaknya sambil menangis.</p>
<p>“Kamu di sini saja, Anakku! Tidak usah ikut ibumu, sebentar lagi dia kembali,” bujuk sang Ayah.</p>
<p>“Tidak Ayah! Aku mau ikut Ibu,” kata anaknya meronta-ronta.</p>
<p>Sang Ayah terus berusaha membujuk anaknya agar berhenti menangis. Namun, sang Anak tetap menangis dan bersikeras ingin ikut ibunya. Saat sang Ayah lengah, si anak pun berlari dan terjun masuk ke dalam telaga. Maka seketika itu pula, ia menjelma menjadi sebatang pohon sagu seperti ibunya.</p>
<p>Setelah melihat peristiwa itu, barulah sang Suami sadar dan menyesali semua perbuatannya.</p>
<p>“Maafkan aku, Istriku! Maafkan aku, Anakku! Aku sangat menyesal atas semua perbuatanku kepada kalian,” ucapnya sambil menangis berderai air mata.</p>
<p>Berulang kali sang Suami meminta maaf kepada istri maupun kepada anaknya. Namun, apa hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal kemudian tiadalah guna. Istri dan anaknya telah menjelma menjadi pohon sagu. Ia pun tidak ingin hidup sendirian tanpa istri dan anaknya. Akhirnya, ia pun ikut terjun ke dalam telaga itu. Ketika itu pula ia pun menjelma menjadi sebatang pohon palem.</p>
<p>* * *</p>
<p>Demikian cerita Asal Usul Pohon Sagu dan Palem dari daerah Donggala, Sulawesi Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat buruk sifat malas bekerja dan sifat kasar langgar.</p>
<p>Pertama, akibat buruk dari sifat malas bekerja. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku sang Suami yang suka menunda-nunda melakukan pekerjaannya. Akibatnya, dia dan keluarganya senantiasa hidup miskin. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:</p>
<blockquote><p><em>berkayuh berat pengayuh,<br />
berladang berat parang<br />
bekerja mengeluh,<br />
makan berpeluh</em></p></blockquote>
<p>Kedua, akibat buruk sifat kasar langgar. Sifat ini tercermin pula pada sikap dan perilaku sang Suami yang berlaku kasar terhadap istrinya. Akibat perbuatannya tersebut, istri dan anaknya bahkan dirinya sendiri menjelma menjadi pohon sagu dan palem. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:</p>
<blockquote><p><em>apa tanda kasar langgar,<br />
lidah tajam mulut pun kasar<br />
binasa diri kasar langgar,<br />
binasa badan kurang ajar</em></p></blockquote>
<p>(Samsuni/sas/104/12-08)</p>
<p>Sumber:<br />
Isi cerita diadaptasi dari Muhammad Jaruki, Atisah.2001. Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah. Jakarta: Grasindo.<br />
Anonim. “Sulawesi Tengah,” (<a rel="nofollow" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Tengah" target="_blank">http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Tengah</a>, dikases tanggal 04 Desember 2008).<br />
Tenas Effendy. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bapedda Tingkat I Riau.<br />
&#8212;&#8212;&#8211;. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
