<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>dua-indonesia &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/dua-indonesia/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "dua-indonesia"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 08:44:45 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Dua Dunia: Dunia Pemimpin dan Dunia Rakyat]]></title>
<link>http://presidenkita.wordpress.com/2008/01/26/dua-dunia-dunia-pemimpin-dan-dunia-rakyat/</link>
<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 06:41:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>sroestam</dc:creator>
<guid>http://presidenkita.wordpress.com/2008/01/26/dua-dunia-dunia-pemimpin-dan-dunia-rakyat/</guid>
<description><![CDATA[Berikut ini adalah sebuah tulisan menarik tentang kondisi yang sedang dialami oleh masyarakat Indone]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Berikut ini adalah sebuah tulisan menarik tentang kondisi yang sedang dialami oleh masyarakat Indonesia, yang perlu kita ketahui menjelang Pemilu 2009 yang makin mendekat:<br />
&#8220;<b>Dua Indonesia</b>&#8221; Sabtu, 26 januari 2008 oleh  <i><b>BUDIARTO SHAMBAZY<br />
</b></i><br />
Idealnya jangan ada yang putus asa. Sayangnya, banyak yang merasa hidup makin susah.<br />
Dunia menghadapi ancaman resesi global dan melangitnya harga minyak dunia.<br />
Stok bahan pokok suka menghilang dan harganya sudah naik semua.<br />
Kondisi politik mulai ”suam- suam kuku” karena persiapan 2009 yang akan diramaikan pesta kaus, bahan pokok, dan rupiah. Masih akan berlangsung lebih dari 100 pilkada yang bukan tak mungkin menimbulkan huru-hara.<br />
Korupsi masih merajalela dan pemberantasannya tetap begitu-begitu saja.<br />
Penyidikan, pemberitaan, dan jalan ceritanya masih naik-turun seperti ingus di hidung anak balita Anda.<br />
Jangan lupa, negeri yang suka memegang rekor dunia korupsi terbesar ini sebentar lagi menjadi tuan rumah konferensi antikorupsi internasional di Pulau Dewata. Ha-ha-ha&#8230;.<br />
Tak pelak lagi, saat ini yang menjadi lingua franca adalah si rupiah.<br />
Pejabat, tokoh, dan parpol sedang rajin-rajinnya mengumpulkan rupiah sebanyak-banyaknya.<br />
DPR dan KPU meminta tambahan tunjangan yang mengada-ada. Bintang-bintang sinetron berwajah ganteng saja rela banting setir menjadi politisi supaya enggak jauh-jauh dari kuasa dan rupiah.<br />
Nah, Anda yang berusia separuh abad pasti ingat zaman antrean minyak tanah di rumah ketua RT atau kantor lurah. Setelah 60 tahun kok antrean rakyat masih saja ada?<br />
Di Bundaran HI (Hotel Indonesia) ada kampanye ”<b><i>Visit Indonesia Year 2008</i></b>” yang terpampang di billboard raksasa. Ada wajah-wajah Menbudpar Jero Wacik, Gubernur DKI Fauzi Bowo, dan juga presiden serta wapres kita.<br />
Jika billboard itu terpasang di Times Square (New York), Piccadilly (London), atau Ginza (Tokyo) untuk menjaring turis, itu oke-oke saja. Tetapi, kebanyakan orang yang lewat Bundaran HI toh kita-kita juga.<br />
Gambar gadis penari pendet, pantai Pulau Nias, atau ikan- ikan di Bunaken pasti lebih memesona. Lagi pula turis bule enggak nyandak slogan<br />
”<b><i>Celebrating 100 Years of Nation’s Awakening</i></b>” alias Perayaan 100 Tahun Kebangkitan Nasional yang amat bersejarah.<br />
Malaysia, Singapura, dan Thailand dikunjungi rata-rata lebih dari 15 juta turis asing per tahunnya. Target Depbudpar tahun 2008 tak sampai 7 juta turis dari mancanegara.<br />
Oh ya, semua sempat menjadikan berita sakitnya Pak Harto sebagai tontonan belaka. Inilah sirkus yang diembel-embeli pula dengan penampilan badut-badut yang kayak kurang kerjaan aja.<br />
Lemhannas pada akhir 1970-an mau memvonis Bung Karno yang sedang sakit keras: ia pahlawan atau pengkhianat bangsa? Dan 60 tahun kemudian Pak Harto juga mengalami hal serupa.<br />
Bung Karno terkenal dengan slogan ”<b><i>Jas Merah</i></b>”. Itu singkatan ”Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”.<br />
Foto utama harian ini beberapa hari lalu menampilkan koboi sedang mencabut senjata dalam pertandingan sepak bola. Itulah cerminan dari kondisi bangsa ini yang bagai penderita gangguan jiwa.<br />
Bayangkan saja, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid memimpin rapat dari balik penjara. Pemain-pemain asing pun meniru ulah pemain-pemain lokal yang suka bergaya seperti karateka.<br />
Nah, dalam situasi tak menentu ini pemimpin mestinya tampil di depan kita. Namun, yang terjadi justru sebaliknya karena mereka ibarat ”<b><i>ada namun tiada</i></b>”.<br />
Rakyat sih merasa enggak apa-apa karena toh sudah terlalu lama kecewa. Rakyat sudah sering bilang kepada pemimpin, ”<b><i>Kita hidup sendiri-sendiri saja ya?</i></b>”<br />
Apa lacur, mau hidup berpisah pun sudah susah. Pemimpin tiap hari kerjanya hanya mengganggu hidup rakyat saja.</p>
<p>Saking gemasnya, rakyat bertanya, ”<b><i>Gimana kalau kita tukar tempat saja?</i></b>” Eh, ia malah buang muka.<br />
Pemimpin memang manja. Sudah dapat gaji, rumah, mobil, patwal, bahkan ajudan yang membawakan tas ke mana-mana, tetapi masih mengeluh kurang tidur, enggak sempat ngopi, suka dizalimi, dan gampang bertelinga merah. Ih, kayak pemain sinetron saja!<br />
Inilah bukti tentang kisah ”<b><i>Dua Indonesia</i></b>” yang berbeda. Ada Indonesia versi pemimpin yang hidup di awang-awang, ada versi rakyat yang terlalu nyata.<br />
Rakyat butuh kedelai, bukan keledai yang masih saudaranya kuda. Rakyat ingin punya istana, pemimpin tak berhenti main kayak anak balita di Istana Mainan Hoya.<br />
Rakyat rindu prestasi sepak bola untuk mengharumkan nama bangsa di mancanegara. Pemimpin rindu piknik ke mancanegara beli parfum untuk mengharumkan badan mereka.<br />
Itulah kisah tentang ”Dua Indonesia”. Pemimpin telah menarik garis yang berseberangan dan nekat bertentangan dengan rakyatnya.<br />
Padahal, dua adalah angka genap yang—tak seperti angka ganjil—enak dilihat, diucapkan, dan penuh berkah. Mana ada orang pacaran atau kawin bertiga?<br />
Padahal, dua angka kodrati bagi kehidupan alam dan manusia. Lubang hidung, mata, telinga, tangan, dan kaki, jumlahnya pasti bukan lima.<br />
Dan selalu ada kanan dan kiri, atas dan bawah. Manusia lahir dan mati, lalu masuk surga atau neraka.<br />
Bendera kita dwiwarna, proklamator kita Soekarno-Hatta. Tak ada gunanya rakyat dan pemimpin terpisah kayak durian terbelah dua.<br />
Rakyat ingin pemimpin yang mau menyingsingkan lengan bajunya. Rakyat butuh pemimpin yang berbicara apa adanya.</p>
<p>Waktu tinggal sedikit, terlalu banyak tabungan yang terbuang begitu saja. Jangan tunggu rakyat putus asa, lalu marah.<br />
==============================================================================</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
