<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>ensiklopedi-al-quran &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/ensiklopedi-al-quran/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "ensiklopedi-al-quran"</description>
	<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 05:30:59 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Software Al-Qur'an Tajwid Digital, untuk windows dan linux, aplikasi flash player gratis]]></title>
<link>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/11/10/software-al-quran-tajwid-digital-flash-player-gratis/</link>
<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:15:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ensiklopedihadits</dc:creator>
<guid>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/11/10/software-al-quran-tajwid-digital-flash-player-gratis/</guid>
<description><![CDATA[Software Al-Qur&#8217;an Tajwid Digital, gratis Klik gambar untuk tampilan penuh Mungkin anda pernah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Software Al-Qur&#8217;an Tajwid Digital, gratis Klik gambar untuk tampilan penuh Mungkin anda pernah]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Software Qur'an for Windows plus Audio]]></title>
<link>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/11/08/software-quran-for-windows-plus-audio/</link>
<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 08:55:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>ensiklopedihadits</dc:creator>
<guid>http://ensiklopedihadits.wordpress.com/2009/11/08/software-quran-for-windows-plus-audio/</guid>
<description><![CDATA[Software Qur&#8217;an for Windows plus Audio Klik gambar untuk memperbesar Software Al-Qur&#8217;an ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Software Qur&#8217;an for Windows plus Audio Klik gambar untuk memperbesar Software Al-Qur&#8217;an ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Seseorang Terjangkit AIDS dan Perempuan Haid Bisa Memperoleh Lailatulkadar?]]></title>
<link>http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/09/06/apakah-seseorang-terjangkit-aids-dan-perempuan-haid-bisa-memperoleh-lailatulkadar/</link>
<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 21:03:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Dwiki Setiyawan</dc:creator>
<guid>http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/09/06/apakah-seseorang-terjangkit-aids-dan-perempuan-haid-bisa-memperoleh-lailatulkadar/</guid>
<description><![CDATA[Kaligrafi Lailatulkadar (Ensiklopedi Al-Qur&#39;an Jilid 2) BANYAK keutamaan ibadah puasa di bulan R]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Kaligrafi Lailatulkadar (Ensiklopedi Al-Qur&#39;an Jilid 2) BANYAK keutamaan ibadah puasa di bulan R]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ensiklopedi al-Quran]]></title>
<link>http://bukubukumuslim.wordpress.com/2009/07/29/ensiklopedi-al-quran/</link>
<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 10:39:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>bukubarokah</dc:creator>
<guid>http://bukubukumuslim.wordpress.com/2009/07/29/ensiklopedi-al-quran/</guid>
<description><![CDATA[Harga: Rp 300.000,- Pengarang: Prof. Wahbah Zuhaili Penerbit: GEMA INSANI PRESS Deskripsi: Prof. Wah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3><img class="alignnone size-full wp-image-27" title="Ensiklopedi al-Quran" src="http://bukubukumuslim.wordpress.com/files/2009/07/ensiklopedi-al-quran.jpg" alt="Ensiklopedi al-Quran" width="147" height="206" /></h3>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &#34;Ensiklopedi al-Quran&#34;" href="http://bukuislamonline.wordpress.com/2009/02/19/ensiklopedi-al-quran/"></a></h3>
<p>Harga: <strong>Rp 300.000,-</strong><br />
Pengarang: <strong>Prof. Wahbah Zuhaili</strong><br />
Penerbit: GEMA INSANI PRESS</p>
<p><strong>Deskripsi:</strong><br />
Prof. Wahbah Zuhaili adalah penulis yang tidak asing di kalangan dunia Islam. Karya-karya keilmuannya banyak jadi rujukan baik dalam bidang fiqh, tafsir dan lainnya. Ensiklopedia al-Quran, yang berisi mushaf al-Quran, terjemah, tafsir ringkas, asbabun nuzul dan indeks makna al-Quran ini, akan banyak bermanfaat bagi umat. Buku ini patut disimak umat Islam Indonesia. Bahasanya yang lugas, ringkas, dan menyentuh ini bisa menjadi rujukan umat Islam dalam mendalami al-Quran sehari-hari. Cerdas, ringkas, dan menyejukkan. Karya ulama besar Timur Tengah ini patut menjadi rujukan bagi pembaca yang ingin menggali Al-Quran. Dengan tafsir ringkas ini umat menjadi mudah untuk menengok, mencermati, dan menjiwai Al-Qur’an. Saat ini waktunya bagi umat Islam Indonesia untuk lebih mendalami Al-Qur’an. Tidak cukup bagi kita hanya membacanya saja, tanpa paham maknanya. Jadi buku ini, sangat membantu umat untuk lebih memahami dan mengenal lebih jauh tentang kandungan, keindahan, dan kehebatan Al-Quran. Sebuah karya yang layak dikoleksi oleh keluarga-keluarga Muslim.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ensiklopedi al-Quran]]></title>
<link>http://griyabukuislam.wordpress.com/2009/07/29/ensiklopedi-al-quran/</link>
<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 10:37:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>bukubarokah</dc:creator>
<guid>http://griyabukuislam.wordpress.com/2009/07/29/ensiklopedi-al-quran/</guid>
<description><![CDATA[Harga: Rp 300.000,- Pengarang: Prof. Wahbah Zuhaili Penerbit: GEMA INSANI PRESS Deskripsi: Prof. Wah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><h3><img class="alignnone size-full wp-image-21" title="Ensiklopedi al-Quran" src="http://griyabukuislam.wordpress.com/files/2009/07/ensiklopedi-al-quran.jpg" alt="Ensiklopedi al-Quran" width="147" height="206" /></h3>
<h3><a title="Tautan Tetap ke &#34;Ensiklopedi al-Quran&#34;" href="http://bukuislamonline.wordpress.com/2009/02/19/ensiklopedi-al-quran/"></a></h3>
<p>Harga: <strong>Rp 300.000,-</strong><br />
Pengarang: <strong>Prof. Wahbah Zuhaili</strong><br />
Penerbit: GEMA INSANI PRESS</p>
<p><strong>Deskripsi:</strong><br />
Prof. Wahbah Zuhaili adalah penulis yang tidak asing di kalangan dunia Islam. Karya-karya keilmuannya banyak jadi rujukan baik dalam bidang fiqh, tafsir dan lainnya. Ensiklopedia al-Quran, yang berisi mushaf al-Quran, terjemah, tafsir ringkas, asbabun nuzul dan indeks makna al-Quran ini, akan banyak bermanfaat bagi umat. Buku ini patut disimak umat Islam Indonesia. Bahasanya yang lugas, ringkas, dan menyentuh ini bisa menjadi rujukan umat Islam dalam mendalami al-Quran sehari-hari. Cerdas, ringkas, dan menyejukkan. Karya ulama besar Timur Tengah ini patut menjadi rujukan bagi pembaca yang ingin menggali Al-Quran. Dengan tafsir ringkas ini umat menjadi mudah untuk menengok, mencermati, dan menjiwai Al-Qur’an. Saat ini waktunya bagi umat Islam Indonesia untuk lebih mendalami Al-Qur’an. Tidak cukup bagi kita hanya membacanya saja, tanpa paham maknanya. Jadi buku ini, sangat membantu umat untuk lebih memahami dan mengenal lebih jauh tentang kandungan, keindahan, dan kehebatan Al-Quran. Sebuah karya yang layak dikoleksi oleh keluarga-keluarga Muslim.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ensiklopedi al-Quran]]></title>
<link>http://bukuislamonline.wordpress.com/2009/04/07/ensiklopedi-al-quran-2/</link>
<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 09:54:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>buku islam online</dc:creator>
<guid>http://bukuislamonline.wordpress.com/2009/04/07/ensiklopedi-al-quran-2/</guid>
<description><![CDATA[Harga: Rp 300.000,- Pengarang: Prof. Wahbah Zuhaili Penerbit: GEMA INSANI PRESS Deskripsi: Prof. Wah]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" src="http://www.sarana-hidayah.com/images/products/966_1.jpg" alt="" width="147" height="206" />Harga: <strong>Rp 300.000,-</strong><br />
Pengarang: <strong>Prof. Wahbah Zuhaili</strong><br />
Penerbit: GEMA INSANI PRESS</p>
<p><strong>Deskripsi:</strong><br />
Prof. Wahbah Zuhaili adalah penulis yang tidak asing di kalangan dunia Islam. Karya-karya keilmuannya banyak jadi rujukan baik dalam bidang fiqh, tafsir dan lainnya. Ensiklopedia al-Quran, yang berisi mushaf al-Quran, terjemah, tafsir ringkas, asbabun nuzul dan indeks makna al-Quran ini, akan banyak bermanfaat bagi umat. Buku ini patut disimak umat Islam Indonesia. Bahasanya yang lugas, ringkas, dan menyentuh ini bisa menjadi rujukan umat Islam dalam mendalami al-Quran sehari-hari. Cerdas, ringkas, dan menyejukkan. Karya ulama besar Timur Tengah ini patut menjadi rujukan bagi pembaca yang ingin menggali Al-Quran. Dengan tafsir ringkas ini umat menjadi mudah untuk menengok, mencermati, dan menjiwai Al-Qur&#8217;an. Saat ini waktunya bagi umat Islam Indonesia untuk lebih mendalami Al-Qur&#8217;an. Tidak cukup bagi kita hanya membacanya saja, tanpa paham maknanya. Jadi buku ini, sangat membantu umat untuk lebih memahami dan mengenal lebih jauh tentang kandungan, keindahan, dan kehebatan Al-Quran. Sebuah karya yang layak dikoleksi oleh keluarga-keluarga Muslim</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[..::ILMU DAN TEKNOLOGI ::..]]></title>
<link>http://fdmnurulhuda.wordpress.com/2007/12/06/ilmu-dan-teknologi/</link>
<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 13:02:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>FDM Nurul Huda</dc:creator>
<guid>http://fdmnurulhuda.wordpress.com/2007/12/06/ilmu-dan-teknologi/</guid>
<description><![CDATA[Pandangan Al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><font color="#999999">Pandangan Al-Quran tentang ilmu dan teknologi dapat  diketahui<br />
prinsip-prinsipnya  dari  analisis wahyu pertama yang diterima<br />
oleh Nabi Muhammad Saw.</font></p>
<p><font color="#999999">Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang<br />
menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari<br />
&#8216;alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.<br />
Yang mengajar manusia dengan pena, mengajar manusia<br />
apa yang tidak diketahuinya (QS Al-&#8217;Alaq [96]: 1-5).<br />
</font><!--more--><br />
<font color="#999999">Iqra&#8217; terambil dari akar kata yang  berarti  menghimpun.  Dari<br />
menghimpun  lahir  aneka makna seperti menyampaikan, menelaah,<br />
mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik<br />
teks tertulis maupun tidak.</font></p>
<p><font color="#999999">Wahyu  pertama  itu  tidak  menjelaskan apa yang harus dibaca,<br />
karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca  apa  saja  selama<br />
bacaan  tersebut  bismi  Rabbik,  dalam  arti bermanfaat untuk<br />
kemanusiaan.  Iqra&#8217;  berarti  bacalah,  telitilah,  dalamilah,<br />
ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman,<br />
sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak.<br />
Alhasil,  objek  perintah  iqra&#8217;  mencakup segala sesuatu yang<br />
dapat dijangkaunya.</font></p>
<p><font color="#999999">Pengulangan perintah membaca dalam  wahyu  pertama  ini  bukan<br />
sekadar   menunjukkan   bahwa  kecakapan  membaca  tidak  akan<br />
diperoleh  kecuali   mengulang-ulang   bacaan   atau   membaca<br />
hendaknya  dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan.<br />
Tetapi hal  itu  untuk  mengisyaratkan  bahwa  mengulang-ulang<br />
bacaan bismi Rabbik (demi Allah] akan menghasilkan pengetahuan<br />
dan wawasan baru, walaupun yang  dibaca  masih  itu-itu  juga.<br />
Demikian pesan yang dikandung Iqra&#8217; wa rabbukal akram (Bacalah<br />
dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah).</font></p>
<p><font color="#999999">Selanjutnya, dari wahyu  pertama  Al-Quran  diperoleh  isyarat<br />
bahwa  ada  dua  cara  perolehan  dan pengembangan ilmu, yaitu<br />
Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui  manusia  lain<br />
sebelumnya,  dan  mengajar  manusia  (tanpa  pena)  yang belum<br />
diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar  dengan  alat  atau<br />
atas  dasar  usaha  manusia.  Cara kedua dengan mengajar tanpa<br />
alat dan  tanpa  usaha  manusia.  Walaupun  berbeda,  keduanya<br />
berasal dari satu sumber, yaitu Allah Swt.</font></p>
<p><font color="#999999">Setiap  pengetahuan  memiliki  subjek  dan  objek. Secara umum<br />
subjek  dituntut  peranannya  untuk  memahami   objek.   Namun<br />
pengalaman    ilmiah   menunjukkan   bahwa   objek   terkadang<br />
memperkenalkan diri kepada subjek  tanpa  usaha  sang  subjek.<br />
Misalnya  komet  Halley  yang memasuki cakrawala hanya sejenak<br />
setiap 76  tahun.  Pada  kasus  ini,  walaupun  para  astronom<br />
menyiapkan  diri  dengan peralatan mutakhirnya untuk mengamati<br />
dan  mengenalnya,  sesungguhnya  yang  lebih  berperan  adalah<br />
kehadiran komet itu dalam memperkenalkan diri.</font></p>
<p><font color="#999999">Wahyu,  ilham,  intuisi,  firasat  yang diperoleh manusia yang<br />
siap  dan  suci  jiwanya,  atau  apa   yang   diduga   sebagai<br />
&#8220;kebetulan&#8221;  yang  dialami  oleh  ilmuwan yang tekun, semuanya<br />
tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah  yang  dapat<br />
dianalogikan  dengan  kasus  komet  di atas. Itulah pengajaran<br />
tanpa  qalam  yang  ditegaskan  oleh  wahyu  pertama  Al-Quran<br />
tersebut.</font></p>
<p><font color="#999999">ILMU</font></p>
<p><font color="#999999">Kata  ilmu  dengan  berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam<br />
Al-Quran. Kata ini  digunakan  dalam  arti  proses  pencapaian<br />
pengetahuan  dan  objek  pengetahuan.  &#8216;Ilm  dari  segi bahasa<br />
berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari  akar<br />
katanya  mempunyai  ciri  kejelasan.  Perhatikan misalnya kata<br />
&#8216;alam    (bendera),    &#8216;ulmat    (bibir    sumbing),    &#8216;a&#8217;lam<br />
(gunung-gunung), &#8216;alamat (alamat), dan sebagainya. Ilmu adalah<br />
pengetahuan yang jelas tentang  sesuatu.  Sekalipun  demikian,<br />
kata  ini  berbeda  dengan  &#8216;arafa  (mengetahui)&#8217;  a&#8217;rif (yang<br />
mengetahui), dan ma&#8217;rifah (pengetahuan).</font></p>
<p><font color="#999999">Allah Swt. tidak dinamakan a&#8217;rif&#8217; tetapi &#8216;alim,  yang  berkata<br />
kerja   ya&#8217;lam   (Dia   mengetahui),   dan  biasanya  Al-Quran<br />
menggunakan  kata  itu  &#8211;untuk  Allah&#8211;  dalam  hal-hal  yang<br />
diketahuinya,  walaupun  gaib, tersembunyi, atau dirahasiakan.<br />
Perhatikan objek-objek pengetahuan  berikut  yang  dinisbahkan<br />
kepada  Allah:  ya&#8217;lamu ma yusirrun (Allah mengetahui apa yang<br />
mereka rahasiakan), ya&#8217;lamu ma fi al-arham  (Allah  mengetahui<br />
sesuatu  yang  berada  di  dalam rahim), ma tahmil kullu untsa<br />
(apa yang  dikandung  oleh  setiap  betina/perempuan),  ma  fi<br />
anfusikum (yang di dalam dirimu), ma fissamawat wa ma fil ardh<br />
(yang ada di langit dan  di  bumi),  khainat  al-&#8217;ayun  wa  ma<br />
tukhfiy  ash-shudur (kedipan mata dan yang disembunyikan dalam<br />
dada). Demikian juga &#8216;ilm  yang  disandarkan  kepada  manusia,<br />
semuanya mengandung makna kejelasan.</font></p>
<p><font color="#999999">Dalam   pandangan  Al-Quran,  ilmu  adalah  keistimewaan  yang<br />
menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk  lain  guna<br />
menjalankan  fungsi  kekhalifahan.  Ini  tercermin  dari kisah<br />
kejadian manusia pertama yang dijelaskan Al-Quran  pada  surat<br />
Al-Baqarah (2) 31 dan 32:</font></p>
<p><font color="#999999">Dan dia (Allah) mengajarkan kepada Adam, nama-nama<br />
(benda-benda) semuanya. Kemudian Dia mengemukakannya<br />
kepada para malaikat seraya berfirman, &#8220;Sebutkanlah<br />
kepada-Ku nama-nama benda-benda itu jika kamu memang<br />
orang-orang yang benar (menurut dugaanmu).&#8221; Mereka<br />
(para malaikat) menjawab, &#8220;Mahasuci Engkau tiada<br />
pengetahuan kecuali yang telah engkau ajarkan.<br />
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi<br />
Mahabijaksana.&#8221;</font></p>
<p><font color="#999999">Manusia, menurut Al-Quran, memiliki potensi untuk meraih  ilmu<br />
dan   mengembangkannya   dengan   seizin  Allah.  Karena  itu,<br />
bertebaran ayat yang memerintahkan manusia  menempuh  berbagai<br />
cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula Al-Quran<br />
menunjukkan   betapa   tinggi   kedudukan   orang-orang   yang<br />
berpengetahuan.</font></p>
<p><font color="#999999">Menurut  pandangan  Al-Quran &#8211;seperti diisyaratkan oleh wahyu<br />
pertama&#8211; ilmu terdiri dari  dua  macam.  Pertama,  ilmu  yang<br />
diperoleh  tanpa  upaya manusia, dinamai &#8216;ilm ladunni, seperti<br />
diinformasikan antara lain oleh Al-Quran surat Al-Kahfi  (18):<br />
65.</font></p>
<p><font color="#999999">Lalu mereka (Musa dan muridnya) bertemu dengan<br />
seorang hamba dan hamba-hamba Kami, yang telah Kami<br />
anugerahkan kepadanya rahmat dari sisi Kami dan telah<br />
Kami ajarkan kepadanya ilmu dan sisi Kami.</font></p>
<p><font color="#999999">Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, dinamai  &#8216;ilm<br />
kasbi.  Ayat-ayat  &#8216;ilm  kasbi jauh lebih banyak daripada yang<br />
berbicara tentang &#8216;ilm laduni.</font></p>
<p><font color="#999999">Pembagian  ini  disebabkan  karena  dalam  pandangan  Al-Quran<br />
terdapat  hal-hal  yang  &#8220;ada&#8221;  tetapi  tidak  dapat diketahui<br />
melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud  yang  tidak  tampak,<br />
sebagaimana ditegaskan berkali-kali oleh Al-Quran, antara lain<br />
dalam firman-Nya:</font></p>
<p><font color="#999999">Aku bersumpah dengan yang kamu lihat dan yang kamu<br />
tidak lihat (QS Al-Haqqah [69]: 38-39).</font></p>
<p><font color="#999999">Dengan demikian, objek ilmu meliputi  materi  dan  non-materi.<br />
fenomena  dan  non-fenomena,  bahkan  ada wujud yang jangankan<br />
dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak.</font></p>
<p><font color="#999999">Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui (QS<br />
Al-Nahl [16]: <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </font></p>
<p><font color="#999999">Dari  sini  jelas  pula  bahwa  pengetahuan  manusia   amatlah<br />
terbatas, karena itu wajar sekali Allah menegaskan.</font></p>
<p><font color="#999999">Kamu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS<br />
Al-lsra&#8217;[17]: 85).</font></p>
<p><font color="#999999">OBJEK ILMU DAN CARA MEMPEROLEHNYA</font></p>
<p><font color="#999999">Berdasarkan pembagian ilmu yang disebutkan  terdahulu,  secara<br />
garis  besar  objek  ilmu dapat dibagi dalam dua bagian pokok,<br />
yaitu alam materi dan alam  non-materi.  Sains  mutakhir  yang<br />
mengarahkan  pandangan kepada alam materi, menyebabkan manusia<br />
membatasi ilmunya pada bidang tersebut. Bahkan sebagian mereka<br />
tidak  mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan di<br />
alam materi. Karena  itu.  objek  ilmu  menurut  mereka  hanya<br />
mencakup  sains  kealaman dan terapannya yang dapat berkembang<br />
secara  kualitatif  dan  penggandaan,  variasi  terbatas,  dan<br />
pengalihan antarbudaya.</font></p>
<p><font color="#999999">Objek  ilmu  menurut  ilmuwan  Muslim mencakup alam materi dan<br />
non-materi. Karena itu,  sebagai  ilmuwan  Muslim  &#8211;khususnya<br />
kaum  sufi  melalui  ayat-ayat  Al-Quran&#8211; memperkenalkan ilmu<br />
yang  mereka  sebut  al-hadharat  Al-Ilahiyah  al-khams  (lima<br />
kehadiran  Ilahi)  untuk  menggambarkan  hierarki  keseluruhan<br />
realitas wujud. Kelima hal tersebut  adalah:  (l)  alam  nasut<br />
(alam  materi),  (2)  alam  malakut  (alam kejiwaan), (3) alam<br />
jabarut (alam ruh), (4) alam lahut (sifat-sifat Ilahiyah), dan<br />
(5) alam hahut (Wujud Zat Ilahi).</font></p>
<p><font color="#999999">Tentu  ada  tata  cara  dan  sarana yang harus digunakan untuk<br />
meraih pengetahuan tentang kelima hal tersebut.</font></p>
<p><font color="#999999">Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam<br />
keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. dan Dia memberi<br />
kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu<br />
bersyukur (menggunakannya sesuai petunjuk Ilahi untuk<br />
memperoleh pengetahuan) (QS Al-Nahl [16]: 78).</font></p>
<p><font color="#999999">Ayat  ini  mengisyaratkan  penggunaan  empat   sarana   yaitu,<br />
pendengaran, mata (penglihatan) dan akal, serta hati.</font></p>
<p><font color="#999999">Trial   and  error  (coba-coba),  pengamatan,  percobaan,  dan<br />
tes-tes kemungkinan  (probability)  merupakan  cara-cara  yang<br />
digunakan ilmuwan untuk meraih pengetahuan. Hal itu disinggung<br />
juga oleh Al-Quran, seperti dalam ayat-ayat yang memerintahkan<br />
manusia   untuk   berpikir   tentang   alam   raya,  melakukan<br />
perjalanan, dan sebagainya, kendatipun hanya berkaitan  dengan<br />
upaya mengetahui alam materi.</font></p>
<p><font color="#999999">Perhatikanlah apa yang terdapat di langit dan di bumi<br />
&#8230; (QS Yunus [10]: 101).</font></p>
<p><font color="#999999">Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta<br />
diciptakan, bagaimana langit ditinggikan, bagaimana<br />
gunung ditancapkan dan bagaimana bumi dihamparkan?<br />
(QS Al-Ghasyiyah [88]: 17-20).</font></p>
<p><font color="#999999">Apakah mereka tidak memperhatikan bumi? Berapa banyak<br />
Kami tumbuhkan di bumi itu aneka ragam tumbuhan yang<br />
baik? (QS Al-Syu&#8217;ara&#8217; [26]: 7)</font></p>
<p><font color="#999999">Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di bumi &#8230;<br />
(QS 12: 109; 22: 46; 35: 44; dan lain-lain).</font></p>
<p><font color="#999999">Di samping mata, telinga, dan pikiran  sebagai  sarana  meraih<br />
pengetahuan,  Al-Quran  pun menggarisbawahi pentingnya peranan<br />
kesucian hati.</font></p>
<p><font color="#999999">Wahyu  dianugerahkan  atas  kehendak  Allah  dan   berdasarkan<br />
kebijaksanaan-Nya  tanpa  usaha  dan  campur  tangan  manusia.<br />
Sementara  firasat,  intuisi,  dan  semacamnya,  dapat  diraih<br />
melalui   penyucian   hati.  Dari  sini  para  ilmuwan  Muslim<br />
menekankan pentingnya tazkiyah an-nafs (penyucian  jiwa)  guna<br />
memperoleh  hidayat (petunjuk/pengajaran Allah), karena mereka<br />
sadar terhadap kebenaran firman Allah:</font></p>
<p><font color="#999999">Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan<br />
diri di muka bumi &#8211;tanpa alasan yang benar&#8211; dari<br />
ayat-ayat Ku &#8230; (QS Al-A&#8217;raf [7]: 146).</font></p>
<p><font color="#999999">Berkali-kali pula Al-Quran  menegaskan  bahwa  inna  Allah  la<br />
yahdi,  sesungguhnya  Allah tidak akan memberi petunjuk kepada<br />
al-zhalimin  (orang-orang  yang  berlaku  aniaya),  al-kafirin<br />
(orang-orang yang kafir), al-fasiqin (orang-orang yang fasik),<br />
man yudhil (orang yang disesatkan), man huwa  kadzibun  kaffar<br />
(pembohong  lagi  amat  inkar), musrifun kazzab (pemboros lagi<br />
pembohong), dan lain-lain.</font></p>
<p><font color="#999999">Memang, mereka yang durhaka  dapat  saja  memperoleh  secercah<br />
ilmu Tuhan yang bersifat kasbi, tetapi yang mereka peroleh itu<br />
terbatas pada sebagian fenomena alam, bukan hakikat  (nomena).<br />
Bukan pula yang berkaitan dengan realitas di 1uar alam materi.<br />
Dalam konteks ini Al-Quran menegaskan:</font></p>
<p><font color="#999999">&#8230; Tetapi banyak manusia yang tidak mengetahui.<br />
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari<br />
kehidupan dunia sedangkan tentang akhirat mereka<br />
lalai (QS Al-Rum [30]: 6-7).</font></p>
<p><font color="#999999">Para   ilmuwan   Muslim   juga   menggarisbawahi    pentingnya<br />
mengamalkan  ilmu.  Dalam konteks ini, ditemukan ungkapan yang<br />
dinilai oleh sementara pakar sebagai hadis Nabi Saw.:</font></p>
<p><font color="#999999">Barangsiapa mengamalkan yang diketahuinya maka Allah<br />
menganugerahkan kepadanya ilmu yang belum<br />
diketahuinya.</font></p>
<p><font color="#999999">Sebagian ulama merujuk kepada Al-Quran surat  Al-Baqarah  ayat<br />
282 untuk memperkuat kandungan hadis tersebut.</font></p>
<p><font color="#999999">Bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia mengajar kamu.<br />
Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.</font></p>
<p><font color="#999999">Atas dasar itu semua, Al-Quran memandang bahwa seseorang  yang<br />
memiliki  ilmu  harus  memiliki  sifat dan ciri tertentu pula,<br />
antara lain yang paling menonjol adalah sifat  khasyat  (takut<br />
dan   kagum   kepada   Allah)   sebagaimana  ditegaskan  dalam<br />
firman-Nya,</font></p>
<p><font color="#999999">Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara<br />
hamba-hamba-Nya adalah ulama (QS Fathir [35]: 28).</font></p>
<p><font color="#999999">Dalam konteks ayat ini,  ulama  adalah  mereka  yang  memiliki<br />
pengetahuan tentang fenomena alam.</font></p>
<p><font color="#999999">Rasulullah Saw. menegaskan bahwa:</font></p>
<p><font color="#999999">Ilmu itu ada dua macam, ilmu di dalam dada, itulah<br />
yang bermanfaat, dan ilmu sekadar di ujung lidah,<br />
maka itu akan menjadi saksi yang memberatkan manusia.</font></p>
<p><font color="#999999">MANFAAT ILMU</font></p>
<p><font color="#999999">Dari  wahyu   pertama,   juga   ditemukan   petunjuk   tentang<br />
pemanfaatan  ilmu.  Melalui  Iqra&#8217;  bismi  Rabbika, digariskan<br />
bahwa titik tolak atau motivasi pencarian ilmu, demikian  juga<br />
tujuan akhirnya, haruslah karena Allah.</font></p>
<p><font color="#999999">Syaikh Abdul Halim Mahmud, mantan pemimpin tertinggi Al-Azhar,<br />
memahami Bacalah demi Allah  dengan  arti  untuk  kemaslahatan<br />
makhluknya.  Bukankah  Allah  tidak  membutuhkan  sesuatu, dan<br />
justru makhluk yang membutuhkan Allah Swt.?</font></p>
<p><font color="#999999">Semboyan &#8220;ilmu untuk ilmu&#8221; tidak dikenal dan tidak  dibenarkan<br />
oleh  Islam. Apa pun ilmunya, materi pembahasannya harus bismi<br />
Rabbik, atau dengan kata lain harus bernilai Rabbani. Sehingga<br />
ilmu  yang  &#8211;dalam kenyataannya dewasa ini mengikuti pendapat<br />
scbagian ahli&#8211; &#8220;bebas nilai&#8221;, harus diberi nilai Rabbani oleh<br />
ilmuwan Muslim.</font></p>
<p><font color="#999999">Kaum   Muslim   harus   menghindari   cara   berpikir  tentang<br />
bidang-bidang yang tidak menghasilkan manfaat,  apalagi  tidak<br />
memberikan  hasil kecuali menghabiskan energi. Rasulullah Saw.<br />
sering berdoa,</font></p>
<p><font color="#999999">Wahai Tuhan, Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang<br />
tidak bermanfaat.</font></p>
<p><font color="#999999">Atas dasar ini  pula  berpikir  atau  menggunakan  akal  untuk<br />
mengungkap  rahasia  alam  metafisika,  tidak boleh dilakukan.<br />
Artinya,  hati  mesti  dipergunakan  untuk  menjelajahi   alam<br />
metafisika.</font></p>
<p><font color="#999999">Menarik   untuk  dikemukakan  bahwa  ayat-ayat  Al-Quran  vang<br />
berbicara  tentang  alam  raya,   menggunakan   redaksi   yang<br />
berlainan  ketika  menunjukkan manfaat yang diperoleh dan alam<br />
raya, walaupun objek atau bagian alam yang diuraikan sama.</font></p>
<p><font color="#999999">Perhatikan misalnya  ketika  Al-Quran  menguraikan  as-samawat<br />
wal-ardh. Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 164, penjelasan<br />
ditutup  dengan  menyatakan,  la  ayatin  liqaum(in)  ya&#8217;qilun<br />
(sungguh   terdapat  tanda-tanda  bagi  orang  yang  berakal).<br />
Sedangkan dalam Al-Quran  surat  Ali-&#8217;Imran  ayat  90,  ketika<br />
menguraikan  persoalan  yang  sama  diakhiri  dengan la ayatin<br />
li-ulil albab (pada yang  demikian  itu  terdapat  tanda-tanda<br />
bagi  Ulil  Albab  [orang-orang  yang memiliki saripati segala<br />
sesuatu].</font></p>
<p><font color="#999999">Inilah antara lain fashilat {penutup) ayat-ayat yang berbicara<br />
tentang  alam  raya,  yang  darinya dapat ditarik kesan adanya<br />
beragam tingkat dan manfaat yang seharusnya dapat diraih  oleh<br />
mereka  yang  mempelajari  fenomena  alam:  yatafakkarun (yang<br />
berpikir) (QS 10: 24) ya&#8217;lamun (yang mengetahui) (QS  10:  5),<br />
yatazakkarun  (yang mengambil pelajaran) (QS 16: 13), ya&#8217;qilun<br />
(yang memahami) (QS 16: 12), yasma&#8217;un (yang mendengarkan)  (QS<br />
30:  23),  yuqinun  (yang  meyakini)  (QS  45: 4), al-mu&#8217;minin<br />
(orang-orang yang beriman) (QS 45: 3), al-&#8217;alimin (orang-orang<br />
yang mengetahui) (QS 30: 22).</font></p>
<p><font color="#999999">TEKNOLOGI</font></p>
<p><font color="#999999">Dalam   Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia,  teknologi  diartikan<br />
sebagai &#8220;kemampuan teknik yang berlandaskan  pengetahuan  ilmu<br />
eksakta  dan berdasarkan proses teknis.&#8221; Teknologi adalah ilmu<br />
tentang cara menerapkan sains  untuk  memanfaatkan  alam  bagi<br />
kesejahteraan dan kenyamanan manusia.</font></p>
<p><font color="#999999">Kalau  demikian,  mesin  atau  alat  canggih yang dipergunakan<br />
manusia bukanlah teknologi,  walaupun  secara  umum  alat-alat<br />
tersebut  sering  diasosiasikan sebagai teknologi. Mesin telah<br />
dipergunakan oleh manusia sejak berabad yang lalu, namun  abad<br />
tersebut belum dinamakan era teknologi.</font></p>
<p><font color="#999999">Menelusuri  pandangan  Al-Quran  tentang teknologi, mengundang<br />
kita menengok  sekian  banyak  ayat  Al-Quran  yang  berbicara<br />
tentang  alam  raya.  Menurut sebagian ulama, terdapat sekitar<br />
750 ayat Al-Quran  yang  berbicara  tentang  alam  materi  dan<br />
fenomenanya,  dan  yang memerintahkan manusia untuk mengetahui<br />
dan memanfaatkan alam ini.  Secara  tegas  dan  berulang-ulang<br />
Al-Quran menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan<br />
Allah untuk manusia.</font></p>
<p><font color="#999999">Dan dia menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit<br />
dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai anugerah)<br />
dari-Nya (QS Al-Jatsiyah [45]: 13).</font></p>
<p><font color="#999999">Penundukan tersebut &#8211;secara  potensial&#8211;  terlaksana  melalui<br />
hukum-hukum  alam  yang  ditetapkan  Allah  dan kemampuan yang<br />
dianugerahkan-Nya   kepada   manusia.   Al-Quran   menjelaskan<br />
sebagian dari ciri tersebut, antara lain:</font></p>
<p><font color="#999999">(a)  Segala  sesuatu  di  alam  raya  ini  memiliki  ciri  dan<br />
hukum-hukumnya.</font></p>
<p><font color="#999999">Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ukuran (QS<br />
Al-Ra&#8217;d [13]: <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </font></p>
<p><font color="#999999">Matahari dan bulan yang beredar dan memancarkan sinar,  hingga<br />
rumput  yang  hijau subur atau layu dan kering, semuanya telah<br />
ditetapkan  oleh  Allah  sesuai  ukuran  dan   hukum-hukumnya.<br />
Demikian  antara  lain  dijelaskan  oleh Al-Quran surat Ya Sin<br />
ayat 38 dan Sabihisma ayat 2-3</font></p>
<p><font color="#999999">(b) Semua yang berada di alam raya ini tunduk kepada-Nya:</font></p>
<p><font color="#999999">Hanya kepada Allah-lah tunduk segala yang di 1angit<br />
dan di bumi secara sukarela atau terpaksa (QS Al-Ra&#8217;d<br />
[13]: 15).</font></p>
<p><font color="#999999">(c) Benda-benda alam &#8211;apalagi  yang  tidak  bernyawa&#8211;  tidak<br />
diberi  kemampuan  memilih,  tetapi  sepenuhnya  tunduk kepada<br />
Allah melalui hukum-hukum-Nya.</font></p>
<p><font color="#999999">Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan<br />
langit yang ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia<br />
(Allah) berkata kepada-Nya, &#8220;Datanglah (Tunduklah)<br />
kamu berdua (langit dan bumi) menurut perintah-Ku<br />
suka atau tidak suka!&#8221; Mereka berdua berkata, &#8220;Kami<br />
datang dengan suka hati&#8221; (QS Fushshilat: ll).</font></p>
<p><font color="#999999">Di sisi lain, manusia diberi kemampuan untuk  mengetahui  ciri<br />
dan  hukum-hukum  yang berkaitan dengan alam raya, sebagaõmana<br />
diinformasikan oleh firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Baqarah<br />
ayat 31,</font></p>
<p><font color="#999999">Allah mengajarkan Adam nama-nama semuanya</font></p>
<p><font color="#999999">Yang dimaksud nama-nama pada ayat tersebut adalah sifat, ciri,<br />
dan  hukum  sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui<br />
rahasia alam raya.</font></p>
<p><font color="#999999">Adanya potensi itu,  dan  tersedianya  lahan  yang  diciptakan<br />
Allah,  serta  ketidakmampuan  alam  raya membangkang terhadap<br />
perintah  dan  hukum-hukum  Tuhan,  menjadikan  ilmuwan  dapat<br />
memperoleh  kepastian  mengenai  hukum-hukum  alam. Karenanya,<br />
semua itu mengantarkan manusia berpotensi  untuk  memanfaatkan<br />
alam  yang  telah  ditundukkan Tuhan. Keberhasilan memanfatkan<br />
alam itu merupakan buah teknologi.</font></p>
<p><font color="#999999">Al-Quran memuji sekelompok manusia yang dinamainya ulil albab.<br />
Ciri  mereka antara lain disebutkan dalam surat Ali-&#8217;Imran (3)<br />
190-191:</font></p>
<p><font color="#999999">Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan<br />
silih bergantinya malam dan siang terdapat<br />
tanda-tanda bagi ulil albab. Yaitu mereka yang<br />
berzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk<br />
atau berbaring, dan mereka yang berpikir tentang<br />
kejadian langit dan bumi &#8230;</font></p>
<p><font color="#999999">Dalam ayat-ayat di atas tergambar dua ciri pokok  ulil  albab,<br />
yaitu  tafakkur  dan  dzikir.  Kemudian  keduanya menghasilkan<br />
natijah yang diuraikan pada ayat 195:</font></p>
<p><font color="#999999">Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka<br />
dengan berfirman, &#8220;Sesungguhnya Aku tidak<br />
menyia-nyiakan amal yang beramal di antara kamu, baik<br />
lelaki maupun perempuan &#8230;&#8221;</font></p>
<p><font color="#999999">Natijah bukanlah sekadar ide-ide yang  tersusun  dalam  benak,<br />
melainkan    melampauinya   sampai   kepada   pengamalan   dan<br />
pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.</font></p>
<p><font color="#999999">Muhammad Quthb dalam bukunya Manhaj  At-Tarbiyah  Al-Islamiyah<br />
mengomentari ayat Ali &#8216;Imran tadi sebagai berikut:</font></p>
<p><font color="#999999">[tulisan Arab]</font></p>
<p><font color="#999999">Maksudnya adalah bahwa  ayat-ayat  tersebut  merupakan  metode<br />
yang  sempurna  bagi  penalaran  dan pengamatan Islam terhadap<br />
alam. Ayat-ayat itu mengarahkan  akal  manusia  kepada  fungsi<br />
pertama  di  antara sekian banyak fungsinya, yakni mempelajari<br />
ayat-ayat Tuhan yang  tersaji  di  alam  raya  ini.  Ayat-ayat<br />
tersebut bermula dengan tafakur dan berakhir dengan ama1</font></p>
<p><font color="#999999">Lebih jauh dapat ditambahkan bahwa &#8220;Khalq As-samawat wal Ardh&#8221;<br />
di samping berarti membuka tabir sejarah penciptaan langit dan<br />
bumi, juga bermakna &#8220;memikirkan tentang sistem tata kerja alam<br />
semesta&#8221;. Karena kata khalq selain berarti &#8220;penciptaan&#8221;,  juga<br />
berarti  &#8220;pengaturan  dan pengukuran yang cermat&#8221;. Pengetahuan<br />
tentang  hal  terakhir   ini   mengantarkan   ilmuwan   kepada<br />
rahasia-rahasia  alam, dan pada gilirannya mengantarkan kepada<br />
penciptaan teknologi yang menghasilkan kemudahan  dan  manfaat<br />
bagi umat manusia.</font></p>
<p><font color="#999999">Jadi,  dapatkah  dikatakan  bahwa  teknologi merupakan sesuatu<br />
yang dianjurkan oleh Al-Quran?</font></p>
<p><font color="#999999">Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada dua  catatan  yang  perlu<br />
diperhatikan.</font></p>
<p><font color="#999999">Pertama,  ketika  Al-Quran  berbicara  tentang  alam  raya dan<br />
fenomenanya, terlihat secara jelas bahwa pembicaraannya selalu<br />
dikaitkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.</font></p>
<p><font color="#999999">Perhatikan misalnya uraian Al-Quran tentang kejadian alam:</font></p>
<p><font color="#999999">Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa<br />
langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu yang<br />
padu, kemudian Kami (Allah) pisahkan keduanya, dan<br />
dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka<br />
mengapa mereka tidak juga beriman? (QS Al-Anbiya&#8217;<br />
[21]: 30).</font></p>
<p><font color="#999999">Ayat  ini  dipahami  oleh  banyak  ulama  kontemporer  sebagai<br />
isyarat tentang teori Big Bang (Ledakan Besar), yang mengawali<br />
terciptanya langit dan bumi. Para  pakar  boleh  saja  berbeda<br />
pendapat  tentang  makna  ayat  tersebut, atau mengenai proses<br />
terjadinya pemisahan  langit  dan  bumi.  Yang  pasti,  ketika<br />
Al-Quran   berbicara  tentang  hal  itu,  dikaitkannya  dengan<br />
kekuasaan  dan  kebesaran  Allah;  serta   keharusan   beriman<br />
pada-Nya.</font></p>
<p><font color="#999999">Pada   saat   mengisyaratkan   pergeseran  gunung-gunung  dari<br />
posisinya,  sebagaimana  kemudian  dibuktikan   para   ilmuwan<br />
informasi itu dikaitkan dengan Kemahahebatan Allah Swt.: ~</font></p>
<p><font color="#999999">Kamu lihat gunung-gunung, yang kamu sangka tetap di<br />
tempatnya, padahal berjalan sebagaimana halnya awan.<br />
Begitulah perbuatan Allah, yang membuat dengan kokoh<br />
tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa<br />
yang kamu kerjakan (QS Al-Naml [27]: 88).</font></p>
<p><font color="#999999">Ini  berarti  bahwa  sains  dan  hasil-hasilnya  harus  selalu<br />
mengingatkan  manusia  terhadap  Kehadiran  dan  Kemahakuasaan<br />
Allah  Swt.,  selain   juga   harus   memberi   manfaat   bagi<br />
kemanusiaan, sesuai dengan prinsip bismi Rabbik.</font></p>
<p><font color="#999999">Kedua,  Al-Quran  sejak  dini memperkenalkan istilah sakhkhara<br />
yang maknanya bermuara kepada &#8220;kemampuan meraih &#8211;dengan mudah<br />
dan  sebanyak  yang  dibutuhkan&#8211;  segala  sesuatu  yang dapat<br />
dimanfaatkan  dari  alam  raya  melalui  keahlian  di   bidang<br />
teknik&#8221;.</font></p>
<p><font color="#999999">Ketika  Al-Quran  memilih  kata  sakhhara yang arti harfiahnya<br />
menundukkan atau merendahkan, maksudnya adalah agar alam  raya<br />
dengan  segala  manfaat yang dapat diraih darinya harus tunduk<br />
dan dianggap sebagai sesuatu yang posisinya  berada  di  bawah<br />
manusia.  Bukankah  manusia  diciptakcan  oleh  Allah  sebagai<br />
khalifah?  Tidaklah  wajar   seorang   khalifah   tunduk   dan<br />
merendahkan  diri  kepada sesuatu yang telah ditundukkan Allah<br />
kepadanya. Jika khalifah tunduk atau  ditundukkan  oleh  alam.<br />
maka ketundukan itu tidak sejalan dengan maksud Allah Swt.</font></p>
<p><font color="#999999">Di atas telah dikemukakan bahwa penundukan Allah terhadap alam<br />
raya bersama potensi yang dimiliki  manusia  &#8211;bila  digunakan<br />
secara baik&#8211; akan membuahkan teknologi.</font></p>
<p><font color="#999999">Dari  kedua catatan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan<br />
bahwa  teknologi   dan   hasil-hasilnya   di   samping   harus<br />
mengingatkan  manusia  kepada  Allah,  juga harus mengingatkan<br />
bahwa manusia adalah khalifah  yang  kepadanya  tunduk  segala<br />
yang berada di alam raya ini.</font></p>
<p><font color="#999999">Kalaulah  alat  atau  mesin dijadikan sebagai gambaran konkret<br />
teknologi,  dapat  dikatakan  bahwa  pada  mulanya   teknologi<br />
merupakan   perpanjangan   organ   manusia.   Ketika   manusia<br />
menciptakan pisau sebagai  alat  pemotong,  alat  ini  menjadi<br />
perpanjangan   tangannya.  Alat  tersebut  disesuaikan  dengan<br />
kebutuhan dan organ manusia. Alat itu sepenuhnya tunduk kepada<br />
si   Pemakai,   melebihi   tunduknya  budak  belian.  Kemudian<br />
teknologi berkembang,  dengan  memadukan  sekian  banyak  alat<br />
sehingga  menjadi mesin. Kereta, mesin giling, dan sebagainya,<br />
semuanya  berkembang,  khususnya  ketika  mesin   tidak   lagi<br />
menggunakan  sumber  energi  manusia  atau binatang, melainkan<br />
air, uap, api, angin, dan sebagainya. Pesawat udara, misalnya,<br />
adalah   mesin.   Kini,   pesawat  udara  tidak  lagi  menjadi<br />
Perpanjangan organ manusia, tetapi perluasan  atau  penciptaan<br />
organ  dan manusia. Bukankah manusia tidak memiliki sayap yang<br />
memungkinkannya  mampu  terbang?  Tetapi  dengan  pesawat,  ia<br />
bagaikan  memiliki  sayap.  Alat atau mesin tidak lagi menjadi<br />
budak, tetapi telah menjadi kawan manusia.</font></p>
<p><font color="#999999">Dari  hari  ke  hari  tercipta  mesin-mesin  semakin  canggih.<br />
Mesin-mesin     tersebut    melalui    daya    akal    manusia<br />
&#8211;digabung-gabungkan dengan  yang  lainnya,  sehingga  semakin<br />
kompleks,  serta  tidak  bisa  lagi dikendalikan oleh seorang.<br />
Tetapi akhirnya mesin dapat mengerjakan tugas yang dulu  mesti<br />
dilakukan  oleh  banyak  orang.  Pada  tahap  ini, mesin telah<br />
menjadi  semacam  &#8220;seteru&#8221;  manusia,  atau  lawan  yang  harus<br />
disiasati agar mau mengikuti kehendak manusia.</font></p>
<p><font color="#999999">Dewasa   ini  telah  lahir  teknologi  &#8211;khususnya  di  bidang<br />
rekayasa genetika&#8211; yang dikhawatirkan dapat  menjadikan  alat<br />
sebagai   majikan.   Bahkan   mampu   menciptakan  bakal-bakal<br />
&#8220;majikan&#8221; yang akan diperbudak dan ditundukkan oleh alat. Jika<br />
begitu,  ini  jelas  bertentangan  dengan  kedua  catatan yang<br />
disebutkan di terdahulu.</font></p>
<p><font color="#999999">Berdasarkan  petunjuk  kitab  sucinya,  seorang  Muslim  dapat<br />
menerima  hasil-hasil  teknologi  yang  sumbernya  netral, dan<br />
tidak menyebabkan maksiat, serta bermanfaat bagi manusia, baik<br />
mengenai  hal-hal  yang  berkaitan  dengan  unsur &#8220;debu tanah&#8221;<br />
manusia maupun unsur &#8220;ruh Ilahi&#8221; manusia.</font></p>
<p><font color="#999999">Seandainya penggunaan satu hasil  teknologi  telah  melalaikan<br />
seseorang dari zikir dan tafakur, serta mengantarkannya kepada<br />
keruntuhan nilai-nilai  kemanusiaan,  maka  ketika  itu  bukan<br />
hasil  teknologinya  yang  mesti ditolak, melainkan kita harus<br />
memperingatkan  dan  mengarahkan  manusia   yang   menggunakan<br />
teknologi  itu. Jika hasil teknologi sejak semula diduga dapat<br />
mengalihkan manusia darl jati  diri  dari  tujuan  penciptaan,<br />
sejak  dini  pula kehadirannya ditolak oleh Islam. Karena itu,<br />
menjadi suatu persoalan besar bagi martabat  manusia  mengenai<br />
cara  memadukan  kemampuan  mekanik demi penciptaan teknologi,<br />
dengan   pemeliharaan   nilai-nilai    fitrahnya.    Bagaimana<br />
mengarahkan  teknologi  yang  dapat  berjalan  seiring  dengan<br />
nilai-nilai Rabbani, atau dengan kata lain bagaimana memadukan<br />
pikir dan zikir, ilmu dan iman?</font></p>
<p><font color="#999999">***</font></p>
<p><font color="#999999">Al-Quran    memerintahkan   manusia   untuk   terus   berupaya<br />
meningkatkan kemampuan  ilmiahnya.  Jangankan  manusia  biasa,<br />
Rasul  Allah Muhammad Saw. pun diperintahkan agar berusaha dan<br />
berdoa agar selalu ditambah  pengetahuannya  Qul  Rabbi  zidni<br />
&#8216;ilma  (Berdoalah  [hai  Muhammad],  &#8220;Wahai Tuhanku, tambahlah<br />
untukmu ilmu&#8221;) (QS Thaha [20]: 114),  karena  fauqa  kullu  zi<br />
&#8216;ilm  (in)  &#8216;alim (Di atas setiap pemilik pengethuan, ada yang<br />
amat mengetahui (QS Yusuf [12]: 72).</font></p>
<p><font color="#999999">Manusia  memiliki  naluri  selalu   haus   akan   pengetahuan.<br />
Rasulullah Saw. bersabda:</font></p>
<p><font color="#999999">Dua keinginan yang tidak pernah puas, keinginan<br />
menuntut ilmu dan keinginan menuntut harta.</font></p>
<p><font color="#999999">Hal ini dapat menjadi pemicu manusia untuk terus mengembangkan<br />
teknologi  dengan memanfaatkan anugerah Allah yang dilimpahkan<br />
kepadanya. Karena  itu,  laju  teknologi  memang  tidak  dapat<br />
dibendung.  Hanya saja manusia dapat berusaha mengarahkan diri<br />
agar tidak memperturutkan nafsunya  untuk  mengumpulkan  harta<br />
dan  ilmu/teknologi  yang  dapat  membahayakan dinnya. Agar ia<br />
tidak menjadi  seperti  kepompong  yang  membahayakan  dirinya<br />
sendiri karena kepandaiannya.</font></p>
<p><font color="#999999">Al-Quran menegaskan:</font></p>
<p><font color="#999999">Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah<br />
seperti (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu<br />
tumbuhlah dengan suburnya &#8211;karena air itu&#8211;<br />
tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan<br />
manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu<br />
telah sempurna keindahannya dan memakai (pula)<br />
perhiasannya dan penghuni-penghuninya telah menduga<br />
bahwa mereka mampu menguasainya (melakukan segala<br />
sesuatu), tiba-tiba datanglah kepadanya azab kami di<br />
waktu malam atau siang, maka kami jadikan<br />
(tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang<br />
sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh<br />
kemarin. Demikianlah kami menjelaskan tanda-tanda<br />
kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir (QS<br />
Yunus [10]: 24).</font></p>
<p><font color="#999999">oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A. </font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[..:: MASJID ::..]]></title>
<link>http://fdmnurulhuda.wordpress.com/2007/12/06/masjid/</link>
<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 12:59:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>FDM Nurul Huda</dc:creator>
<guid>http://fdmnurulhuda.wordpress.com/2007/12/06/masjid/</guid>
<description><![CDATA[Kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali di dalam Al-Quran. Dari segi bahasa, kata terse]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><font color="#999999">Kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali di  dalam<br />
Al-Quran.  Dari  segi bahasa, kata tersebut terambil dari akar<br />
kata sajada-sujud, yang  berarti  patuh,  taat,  serta  tunduk<br />
dengan penuh hormat dan takzim.<br />
<!--more--><br />
Meletakkan  dahi,  kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang<br />
kemudian dinamai sujud oleh syariat,  adalah  bentuk  lahiriah<br />
yang  paling  nyata  dari makna-makna di atas. itulah sebabnya<br />
mengapa bangunan yang dikhususkan  untuk  melaksanakan  shalat<br />
dinamakan masjid, yang artinya &#8220;tempat bersujud.&#8221;</font></p>
<p><font color="#999999">Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat<br />
shalat kaum Muslim. Tetapi,  karena  akar  katanya  mengandung<br />
makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan<br />
segala  aktivitas  yang  mengandung  kepatuhan  kepada   Allah<br />
semata.  Karena  itu Al-Quran sural Al-Jin (72): 18, misalnya,<br />
menegaskan bahwa,</font></p>
<p><font color="#999999">Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah,<br />
karena janganlah menyembah selain Allah sesuatu pun.</font></p>
<p><font color="#999999">Rasul Saw. bersabda,</font></p>
<p><font color="#999999">Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi<br />
sebagai masjid dan sarana penyucian diri (HR Bukhari<br />
dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah).</font></p>
<p><font color="#999999">Jika dikaitkan dengan bumi ini,  masjid  bukan  hanya  sekadar<br />
tempat  sujud  dan  sarana penyucian. Di sini kata masjid juga<br />
tidak lagi hanya berarti bangunan tempat shalat,  atau  bahkan<br />
bertayamum  sebagai  cara  bersuci  pengganti wudu tetapi kata<br />
masjid  di  sini  berarti  juga  tempat  melaksanakan   segala<br />
aktivitas  manusia  yang  mencerminkan  kepatuhan kepada Allah<br />
Swt.</font></p>
<p><font color="#999999">Dengan  demikian,  masjid  menjadi   pangkal   tempat   Muslim<br />
bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya bersauh.</font></p>
<p><font color="#999999">SUJUD DAN FUNGSI MASJID</font></p>
<p><font color="#999999">Al-Quran  menggunakan  kata  sujud untuk berbagai arti. Sekali<br />
diartikan sebagai penghormatan dan  pengakuan  akan  kelebihan<br />
pihak   lain,  seperti  sujudnya  malaikat  kepada  Adam  pada<br />
Al-Quran surat Al-Baqarah (2): 34.</font></p>
<p><font color="#999999">Di waktu lain  sujud  berarti  kesadaran  terhadap  kekhilafan<br />
serta  pengakuan kebenaran yang disampaikan pihak lain, itulah<br />
arti sujud di dalam firman-Nya,</font></p>
<p><font color="#999999">Lalu para penyihir itu tersungkur dengan bersujud (QS<br />
Thaha [20]: 70).</font></p>
<p><font color="#999999">Yang ketiga sujud berarti mengikuti maupun  menyesuaikan  diri<br />
dengan  ketetapan  Allah  yang berkaitan dengan alam raya ini,<br />
yang secara salah kaprah dan populer sering dinama hukum-hukum<br />
alam.</font></p>
<p><font color="#999999">Bintang dan pohon keduanya bersujud (QS Al-Rahman<br />
[55]: 6).</font></p>
<p><font color="#999999">Dari sunnatullah diketahui  bahwa  kemenangan  hanya  tercapai<br />
dengan  kesungguhan  dan perjuangan. Kekalahan diderita karena<br />
kelengahan dan pengabaian disiplin, dan sukses  diraih  dengan<br />
perencanaan   dan   kerja   keras,  dan  sebagainya,  sehingga<br />
seseorang tidak disebut bersujud, apabila  tidak  mengindahkan<br />
hal-hal tersebut.</font></p>
<p><font color="#999999">Al-Quran  menyebutkan  fungsi  masjid  antara  lain  di  dalam<br />
firman-Nya:</font></p>
<p><font color="#999999">Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah<br />
diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di<br />
dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang<br />
tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula)<br />
oleh jual-beli, atau aktivitas apa pun dan mengingat<br />
Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan<br />
zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari<br />
itu) hati dan penglihatan menjadi guncang (QS An-Nur<br />
[24]: 36-37).</font></p>
<p><font color="#999999">Tasbih bukan hanya berarti mengucapkan Subhanallah,  melainkan<br />
lebih  luas  lagi,  sesuai dengan makna yang dicakup oleh kata<br />
tersebut    beserta    konteksnya.    Sedangkan    arti    dan<br />
konteks-konteks tersebut dapat disimpulkan dengan kata taqwa.</font></p>
<p><font color="#999999">MASJID PADA MASA RASULULLAH SAW.</font></p>
<p><font color="#999999">Ketika  Rasulullah  Saw. berhijrah ke Madinah, langkah pertama<br />
yang  beliau  lakukan  adalah  membangun  masjid  kecil   yang<br />
berlantaikan  tanah,  dan  beratapkan pelepah kurma. Dari sana<br />
beliau membangun  masjid  yang  besar,  membangun  dunia  ini,<br />
sehingga  kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi<br />
Madinah, (seperti namanya) yang arti harfiahnya adalah &#8216;tempat<br />
peradaban&#8217;,  atau  paling  tidak,  dari  tempat tersebut lahir<br />
benih peradaban baru umat manusia.</font></p>
<p><font color="#999999">Masjid pertama  yang  dibangun  oleh  Rasulullah  Saw.  adalah<br />
Masjid   Quba&#8217;,  kemudian  disusul  dengan  Masjid  Nabawi  di<br />
Madinah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang masjid<br />
yang  dijuluki  Allah  sebagai masjid yang dibangun atas dasar<br />
takwa (QS Al-Tawbah  [9]:  108),  yang  jelas  bahwa  keduanya<br />
&#8211;Masjid   Quba   dan  Masjid  Nabawi&#8211;  dibangun  atas  dasar<br />
ketakwaan, dan setiap masjid seharusnya memiliki landasan  dan<br />
fungsi  seperti  itu.  Itulah  sebabnya mengapa Rasulullah Saw<br />
meruntuhkan bangunan  kaum  munafik  yang  juga  mereka  sebut<br />
masjid,  dan menjadikan lokasi itu tempat pembuangan samph dan<br />
bangkai binatang, karena di bangunan tersebut tidak dijalankan<br />
fungsi  masjid  yang  sebenarnya,  yakni  ketakwaan.  Al-Quran<br />
melukiskan bangunan kaum munafik itu sebagai berikut,</font></p>
<p><font color="#999999">Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada<br />
orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan<br />
kemudharatan (pada orang Mukmin) dan karena<br />
kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara<br />
orang-orang Mukmin, serta menunggu/mengamat-amati<br />
kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan<br />
Rasul-Nya sejak dahulu (QS Al-Tawbah [9]: 107).</font></p>
<p><font color="#999999">Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya  sehingga<br />
lahir  peranan  masjid  yang  beraneka ragam. Sejarah mencatat<br />
tidak kurang dari sepuluh  peranan  yang  telah  diemban  oleh<br />
Masjid Nabawi, yaitu sebagai:</font></p>
<p><font color="#999999">1. Tempat ibadah (shalat, zikir).<br />
2. Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah<br />
ekonomi-sosial budaya).<br />
3. Tempat pendidikan.<br />
4. Tempat santunan sosial.<br />
5. Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.<br />
6. Tempat pengobatan para korban perang.<br />
7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.<br />
8. Aula dan tempat menerima tamu.<br />
9. Tempat menawan tahanan, dan<br />
10. Pusat penerangan atau pembelaan agama.</font></p>
<p><font color="#999999">Agaknya masjid pada masa silam mampu berperan sedemikian luas,<br />
disebabkan antara lain oleh:</font></p>
<p><font color="#999999">1. Keadaan masyarakat yang masih sangat berpegang teguh kepada<br />
nilai, norma, dan jiwa agama.</font></p>
<p><font color="#999999">2.  Kemampuan  pembina-pembina  masjid  menghubungkan  kondisi<br />
sosial  dan  kebutuhan  masyarakat  dengan uraian dan kegiatan<br />
masjid.</font></p>
<p><font color="#999999">Manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid, baik pada<br />
pribadi-pribadi pemimpin pemerintahan yang menjadi imam/khatib<br />
maupun  di  dalam  ruangan-ruangan   masjid   yang   dijadikan<br />
tempat-tempat kegiatan pemerintahan dan syura (musyawarah).</font></p>
<p><font color="#999999">Keadaan   itu   kini   telah   berubah,   sehingga   timbullah<br />
lembaga-lembaga  baru  yang  mengambil-alih  sebagian  peranan<br />
masjid  di  masa  lalu,  yaitu organisasi-organisasi keagamaan<br />
swasta  dan  lembaga-lembaga  pemerintah,   sebagai   pengarah<br />
kehidupan  duniawi  dan ukhrawi umat beragama. Lembaga-lembaga<br />
itu memiliki kemampuan material dan teknis melebihi masjid.</font></p>
<p><font color="#999999">Fungsi dan peranan masjid besar seperti yang  disebutkan  pada<br />
masa  keemasan  Islam  itu tentunya sulit diwujudkan pada masa<br />
kini. Namun,  ini  tidak  berarti  bahwa  masjid  tidak  dapat<br />
berperan di dalam hal-hal tersebut.</font></p>
<p><font color="#999999">Masjid,   khususnya   masjid   besar,  harus  mampu  melakukan<br />
kesepuluh  peran  tadi.  Paling  tidak  melalui  uraian   para<br />
pembinanya  guna  mengarahkan  umat pada kehidupan duniawi dan<br />
ukhrawi yang lebih berkualitas.</font></p>
<p><font color="#999999">Apabila masjid dituntut berfungsi membina umat,  tentu  sarana<br />
yang  dimilikinya  harus tepat, menyenangkan dan menarik semua<br />
umat, baik dewasa, kanak-kanak, tua, muda, pria, wanita,  yang<br />
terpelajar  maupun  tidak,  sehat  atau  sakit, serta kaya dan<br />
miskin.</font></p>
<p><font color="#999999">Di dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah  pada  1975,  hal<br />
ini telah didiskusikan dan disepakati, bahwa suatu masjid baru<br />
dapat dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan,<br />
dan peralatan yang memadai untuk:</font></p>
<p><font color="#999999">a. Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.</font></p>
<p><font color="#999999">b.  Ruang-ruang  khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar<br />
masuk tanpa bercampur dengan pria baik digunakan untuk shalat,<br />
maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK).</font></p>
<p><font color="#999999">c. Ruang pertemuan dan perpustakaan.</font></p>
<p><font color="#999999">d.   Ruang   poliklinik,   dan   ruang  untuk  memandikan  dan<br />
mengkafankan mayat.</font></p>
<p><font color="#999999">e. Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.</font></p>
<p><font color="#999999">Semua hal di atas  harus  diwarnai  oleh  kesederhanaan  fisik<br />
bangunan,  namun  harus  tetap  menunjang peranan masjid ideal<br />
termaktub.</font></p>
<p><font color="#999999">Hal terakhir ini  perlu  mendapat  perhatian,  karena  menurut<br />
pengamatan  sementara  pakar,  sejarah kaum Muslim menunjukkan<br />
bahwa   perhatian   yang   berlebihan   terhadap   nilai-nilai<br />
arsitektur  dan  estetika  suatu masjid sering ditandai dengan<br />
kedangkalan, kekurangan, bahkan kelumpuhannya dalam  pemenuhan<br />
fungsi-fungsinya.  Seakan-akan  nilai  arsitektur dan estetika<br />
dijadikan  kompensasi  untuk  menutup-nutupi  kekurangan  atau<br />
kelumpuhan tersebut.</font></p>
<p><font color="#999999">YANG BOLEH DILAKUKAN DAN YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN DI DALAM<br />
MASJID</font></p>
<p><font color="#999999">Masjid  adalah  milik  Allah,  karena  itu  kesuciannya  harus<br />
dipelihara.  Segala  sesuatu  yang  diduga mengurangi kesucian<br />
masjid  atau  dapat  mengesankan  hal  tersebut,  tidak  boleh<br />
dilakukan di dalam masjid maupun diperlakukan terhadap masjid.</font></p>
<p><font color="#999999">Salah satu yang ditekankan oleh sebagian ulama sebagai sesuatu<br />
yang tidak wajar terlihat pada masjid (dan sekitarnya)  adalah<br />
kehadiran para pengemis,</font></p>
<p><font color="#999999">Untuk  memelihara  kesucian  masjid, Allah Swt. berfirman agar<br />
para pengunjungnya memakai hiasan  ketika  mengunjungi  masjid<br />
sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-A&#8217;raf (7): 31:</font></p>
<p><font color="#999999">Hai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah<br />
setiap (memasuki) masjid.</font></p>
<p><font color="#999999">Rasulullah Saw. menganjurkan agar memakai  wangi-wangian  saat<br />
berkunjung  ke  masjid,  dan  melarang  mereka  yang baru saja<br />
memakan bawang memasukinya.</font></p>
<p><font color="#999999">Siapa yang makan bawang putih atau merah hendaklah<br />
menghindar dan masjid kita.</font></p>
<p><font color="#999999">Masjid harus mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman pada<br />
pengunjung  dan  lingkungannya,  karena  itu  Rasulullah  Saw.<br />
melarang  adanya   benih-benih   pertengkaran   di   dalamnya,<br />
sampai-sampai beliau bersabda,</font></p>
<p><font color="#999999">Jika engkau mendapati seseorang menjual atau membell<br />
di dalam masjid, katakanlah kepadanya, &#8220;Semoga Allah<br />
tidak memberi keuntungan bagi perdaganganmu,&#8221; dan bila<br />
engkau mendapati seseorang mencari barangnya yang<br />
hilang di da1am masjid, maka katakanlah, &#8220;Semoga Allah<br />
tidak mengembalikannya kepadamu (semoga engkau tidak<br />
menemukannya).&#8221;</font></p>
<p><font color="#999999">Kedua teks yang disebutkan  di  atas  tidak  berarti  larangan<br />
berbicara tentang perniagaan yang sifatnya mendidik umat, atau<br />
melarang para pembina dan pengelola masjid berniaga, melainkan<br />
yang  dimaksud  adalah larangan melakukan transaksi perniagaan<br />
di dalam masjid.</font></p>
<p><font color="#999999">Fungsi masjid paling tidak dinyatakan  oleh  hadis  Rasulullah<br />
Saw.  ketika  menegur  seseorang  yang  membuang air kecil (di<br />
samping) masjid:</font></p>
<p><font color="#999999">Masjid-masjid tidak wajar untuk tempat kencing atau<br />
(membuang sampah). Ia hanya untuk (dijadikan tempat)<br />
berzikir kepada Allah Ta&#8217;ala, dan membaca (belajar)<br />
Al-Quran (HR Muslim).</font></p>
<p><font color="#999999">Dengan kata lain, masjid adalah tempat ibadah  dan  pendidikan<br />
dalam  pengertiannya  yang  luas.  Bukankah Al-Quran berbicara<br />
tentang segala aspek kehidupan manusia?</font></p>
<p><font color="#999999">oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.</font></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
