<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>epistemologi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/epistemologi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "epistemologi"</description>
	<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 02:25:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Demokritos (d. ca. 370 f.Kr.):]]></title>
<link>http://begrundarn.wordpress.com/2009/11/17/demokritos-d-ca-370-f-kr-32/</link>
<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 03:29:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>begrundarn</dc:creator>
<guid>http://begrundarn.wordpress.com/2009/11/17/demokritos-d-ca-370-f-kr-32/</guid>
<description><![CDATA[»Försök inte begripa allt på det att du inte må bli okunnig om allt.» (Göran Ogén fritt efter Demokr]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>»Försök inte begripa allt på det att du inte må bli okunnig om allt.»<br />
(Göran Ogén fritt efter Demokritos fragment nr. 169 μὴ πάντα ἐπίστασθαι προθυμέο, μὴ πάντων ἀμαθὴς γένηι.)<span id="_marker"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Demokritos (d. ca. 370 f.Kr.):]]></title>
<link>http://begrundarn.wordpress.com/2009/11/14/demokritos-d-ca-370-f-kr-29/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 04:27:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>begrundarn</dc:creator>
<guid>http://begrundarn.wordpress.com/2009/11/14/demokritos-d-ca-370-f-kr-29/</guid>
<description><![CDATA[»I själva verket vet vi ingenting; ty långt ner på djupet ligger sanningen.» (Göran Ogén fritt efter]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>»I själva verket vet vi ingenting; ty långt ner på djupet ligger sanningen.»<br />
(Göran Ogén fritt efter Demokritos fragment nr. 117 ἐτεῆι δὲ οὐδὲν ἴδμεν· ἐν βυθῶι γὰρ ἡ ἀλήθεια.)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Demokritos (d. ca. 370 f.Kr.):]]></title>
<link>http://begrundarn.wordpress.com/2009/10/18/demokritos-d-ca-370-f-kr-2/</link>
<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 06:34:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>begrundarn</dc:creator>
<guid>http://begrundarn.wordpress.com/2009/10/18/demokritos-d-ca-370-f-kr-2/</guid>
<description><![CDATA[»Vi uppfattar i verkligheten ingenting exakt, utan &lt;bara&gt; hur det förändras i förhållande till]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>»Vi uppfattar i verkligheten ingenting exakt, utan &#60;bara&#62; hur det förändras i förhållande till en kropps tillstånd och i förhållande till de &#60;atomer&#62; som attackerar &#60;den&#62; och de som står emot.»<br />
(Göran Ogén fritt efter Demokritos fragment nr. 9 ἡμεῖς δὲ τῶι μὲν ἐόντι οὐδὲν ἀτρεκὲς συνίεμεν, μεταπῖπτον δὲ κατά τε σώματος διαθήκην καὶ τῶν ἐπεισιόντων καὶ τῶν ἀντιστηριζόντων.)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Demokritos (d. ca. 370 f.Kr.):]]></title>
<link>http://begrundarn.wordpress.com/2009/10/17/demokritos-d-370-f-kr/</link>
<pubDate>Sat, 17 Oct 2009 05:36:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>begrundarn</dc:creator>
<guid>http://begrundarn.wordpress.com/2009/10/17/demokritos-d-370-f-kr/</guid>
<description><![CDATA[»… och det kommer att visa sig, att det är en oåtkomlig uppgift att veta hur varje enskilt ting verk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>»… och det kommer att visa sig, att det är en oåtkomlig uppgift att veta hur varje enskilt ting verkligen är [i sig självt].»<br />
(Göran Ogén fritt efter Demokritos fragment nr. 8 καὶτοι δῆλον ἒσται, ὅτι ἐτεῆι οἷον ἓκαστον γιγνώσκειν ἐν ἀπόρωι ἐστί.)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KOMUNIKASI-ILMU KOMUNIKASI]]></title>
<link>http://3senyuman.wordpress.com/2009/10/09/komunikasi-ilmu-komunikasi/</link>
<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 02:26:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>3senyuman</dc:creator>
<guid>http://3senyuman.wordpress.com/2009/10/09/komunikasi-ilmu-komunikasi/</guid>
<description><![CDATA[Definisi, Ruang Lingkup, Disiplin Dalam pengertian  awam (umum) semua gejala interaksi yang melibatk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong>Definisi, Ruang Lingkup</strong>, <strong>Disiplin</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pengertian  awam (umum) semua gejala interaksi yang melibatkan lambang-lambang (bahkan bermakna atau pun tidak) adalah komunikasi. Siapa pun, bahkan apa pun, yang terlibat itu adalah komunikasi. Dengan demikian, karakter komunikasi ibarat darah kehidupan, bahkan melintasinya: berada di mana pun, dilakukan siapa (apa) pun, dan dimensi apa pun. Orang berdoa kepada Tuhan adalah komunikasi.  Pelatih lumba-lumba melatih lumba-lumba adalah komunikasi. Si Neng <em>Geulis</em> bersimpuh di atas tanah merah, meratapi Mas Jokomono yang baru saja mati tertembak polisi karena demonstrasi adalah komunikasi. Dan&#8230; banyak lagi!</p>
<p><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Keluasan itu memang tak terhingga (sebuah isyarat kebesaran Tuhan juga), sehingga tak mungkin terjangkau oleh kita, terutama saya. Seraya mengundang anda untuk mendiskusikan lebih lanjut paparan saya tentang komunikasi, saya pun akan berusaha membatasi diri pada disiplin ilmu sesuai dengan kemampuan saya yang terbatas: ilmuwan (bukan usahawan, rohaniawan, negarawan, dan wan-wan&#8230; yang lain!). Jadi, saya akan fokus ke bahasan ilmiah; Ilmu Komunikasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilmu sering disebut sebuah disiplin. Demikian juga Ilmu Komunikasi. Suatu kajian yang tidak berdisiplin maka tidaklah dapat dikatakan sebagai ilmu. Ilmu selalu membatasi diri dalam hal objek kajian. Dia fokus, <em>obedience</em>, tidak <em>chaos</em>. Maka, selalu muncul definisi. Definisi adalah batasan pengertian. Definisi adalah “pagar” ruang lingkup ilmu. Definisi adalah objek (materia maupun forma) ilmu. Jadi, meskipun Ilmu Komunikasi sering disebut sebagai ilmu yang <em>“multydiscipliner approach</em>”, tetap saja dia punya definisi, punya batasan, punya ruang lingkup! Sehingga, dia menjadi sebuah disiplin yang mandiri. Pendekantan multidisiplin tidak bisa ditafsirkan sebagai “tidak punya disiplin” atau “tak jelas disiplinnya” atau “boleh <em>ngawur</em> ke sana-kemari” melainkan terletak pada pijakannya saja.  Dia berpijak pada banyak disiplin/ilmu lain dalam <em>epistemologi</em>-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Harapan saya, dengan batasan yang jelas, kita dapat memahami Ilmu Komunikasi sebagai ilmu yang mandiri sekaligus mendisiplinkan diri untuk tidak <em>ngawur</em> ke sana-ke mari. Sehingga, tidak mengaburkan Ilmu Komunikasi sebagai sebuah ilmu. Secara objektif pun kita dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang sesungguhnya terbukti tidak dikaji fakultas/jurusan komunikasi di perguruan tinggi di mana pun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Definisi Komunikasi dan Ilmu Komunikasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ada 126 definisi komunikasi yang dapat dikumpulkan oleh Frank Ex. Dance (1976) kemudian dikelompokkannya menjadi 15 ketegori komponen konseptual pokok. Dari semua (15) komponen pokok itu hanya beda titik tekan saja, kesemuanya mengisyaratkan komunikasi antar manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk keperluan diskusi kita ini &#8211;dari sudut (disiplin) ilmu tentunya&#8211;  komunikasi dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain. Atau, proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari pihak satu kepada pihak lain (dengan catatan, dua pihak itu manusia). Jadi, ilmu komunikasi adalah ilmu yang mempelajari proses penyampaian lambang-lambang yang bermakna dari manusia satu kepada manusia lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila definisi itu diformulasikan ke dalam <em>definition by negation</em> menjadi sebagai berikut: Komunikasi sebuah proses peyampaian lambang-lambang yang bermakna <strong><span style="text-decoration:underline;">bukan </span></strong>penyampain kado, kue, dan rumah; kecuali kado, kue, dan rumah itu dianggap sebagai lambang yang bermakna (lain). Dari manusia, <strong><span style="text-decoration:underline;">bukan</span></strong> dari Tuhan, tumbuhan, atau hewan. Kepada manusia lain; <strong><span style="text-decoration:underline;">bukan</span></strong> kepada kura-kura, eceng gondok, atau rumput yang bergoyang. Dari manusia kepada manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian (dari sudut disiplin ilmu), pelatih lumba-lumba melatih lumba-lumba, bukanlah komunikasi. Seorang gadis <em>jomblo</em> berdoa di malam sunyi-sepi, seorang diri, meminta jodoh kepada Tuhan; bukanlah komunikasi. Si Neng <em>Geulis</em> yang bersimpuh di atas kuburan, meratapi dan “bicara pada” kekasihnya yang mati tertembak polisi ketika demonstrasi, bukan pula komunikasi. Apabila kita memasukkan hal tersebut ke dalam komunikasi, berarti kita tidak disiplin!  <em>Dus</em>, kita tidak lagi bicara ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenyataannya, di fakultas atau jurusan (ilmu) komunikasi di seluruh perguruan tinggi di dunia ini tidak pernah dikaji/diajarkan hal-hal tersebut. Di UIN atau di Al-Azhar sekalipun, dalam hal disiplin ilmu komunikasi, tidak diajarkan “doa-doa yang efektif”.  Dari Masrik sampai ke Maghrib, dari ujung dunia satu ke ujung dunia lain, dalam hal kajian ilmu komunikasi, tidak pernah dijarkan/dikaji “cara melatih lumba-lumba” atau cara bicara kepada khewan! Dari <em>Chicago School</em> sampai <em>Frankfurter Skule,</em> tidak ada dikaji/dipelajari cara “meratap di kuburan” atau cara bicara kepada orang meninggal/makhluk ghaib. Ada pun orang yang hanya bersandar pada Tuhan (taqwa), dalam perilaku komunikasinya berpengaruh, ya! Dia lebih santun, rendah hati, berahlak ketika berkomunikasi dengan orang lain. Jadi, bukan berarti, karena Psikologi, Sosiologi, dan Antropologi sebagai salahtiga (<em>multydiscipliner approach</em>) dari Ilmu Komunikasi lantas objek kajiannya juga merupakan objek kajian Ilmu Komunikasi. Bukan karena di tiap Fakultas/Jurusan Ilmu Komunikasi ada Matakuliah Agama, kemudian objek kajian agama menjadi objek kajian ilmu komunikasi pula! Cermati pula, Ilmu Komunikasi merupakan bagian dari ilmu-ilmu sosial. Ingat, <strong><span style="text-decoration:underline;">sosial</span></strong> : masalah interaksi manusia dengan manusia lain. Ilmu-ilmu sosial mengkaji (objek formanya) manusia dalam rangka hubungannya dengan manusia lain. Demikian juga Ilmu komunikasi sebagai bagian dari ilmu sosial mengkaji (objek materianya) manusia dalam rangka hubungannya dengan manusia lain. Jadi bukan hubungannya dengan mahkluk lain atau Tuhan. Lalu bagaimana dengan istilah <strong><em>“komunikasi transendental”</em></strong> yang marak akhir-akhir ini? Apakah masuk ke dalam Ilmu Komunikasi? Takarlah dengan definisi dan disiplin Ilmu Komunikasi. <strong>Wallahualam bishawab! </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Aa Bambang A.S.<br />
</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Den intrakraniala kunskapens kris ]]></title>
<link>http://slowfox.wordpress.com/2009/10/01/den-intrakraniala-kunskapens-kris/</link>
<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 12:08:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Karl-Erik Tallmo</dc:creator>
<guid>http://slowfox.wordpress.com/2009/10/01/den-intrakraniala-kunskapens-kris/</guid>
<description><![CDATA[Jan Söderqvist diskuterar i en understreckare den 27/9 utifrån en bok och en tidskriftsartikel något]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Jan Söderqvist diskuterar i en <a href="http://www.svd.se/kulturnoje/understrecket/artikel_3577475.svd">understreckare den 27/9</a>  utifrån en bok och en tidskriftsartikel något mycket viktigt: frågan om kunskapens <em>topos</em>. Måste vi &#8211; för att det ens ska kunna kallas kunskap &#8211; ha en rad fakta inlärda i minnet, eller räcker det med att all världens kunskap finns på nätet?</p>
<p>Jag skrev om det här fenomenet i en artikel om Nationalencyklopedin på CD 1998 (för övrigt en artikel som från början var beställd av DN:s kulturredaktion men som refuserades vid leverans):</p>
<blockquote><p>Vi står med säkerhet inför ett skifte mellan vad man skulle kunna kalla <em>intrakranial</em> och <em>extrakranial</em> kunskap. Enligt detta synsätt behöver vi i huvudet egentligen bara ha metakunskaper, vi behöver veta hur man söker och finner fakta ute på Internet och i andra dataminnen. Men kan kunskap egentligen finnas utanför människohjärnan &#8211; i en bokhylla eller på en hårddisk? Måste det inte finnas ett kunnande subjekt? Detta är den ena aspekten av frågan om kunskapens plats, dess <em>topos</em>.</p>
<p>Finns detta kunnande subjekt, så bör det tidigare också ha funnits ett värderande subjekt. Det är ju av avgörande betydelse att kunna bedöma den information vi finner innan vi tillägnar oss den, dess relevans, dess sammanhang och sanningshalt. Dessa metakunskaper skulle kunna vara den intrakraniala kunskapens sista utpost i dessa dagar. Det pågår nämligen också forskning för att förlägga mycket av detta värderande arbete till maskinella processer. </p></blockquote>
<p>Hela artikeln finns på <a href="http://art-bin.com/art/ane-cd.html">http://art-bin.com/art/ane-cd.html</a>.</p>
<p>Idag Googlar de flesta, och det verkar bli allt vanligare att människor ser egen kunskap som onödig, eftersom nätet och Google finns. </p>
<p>Även vid sökning i extrakraniala källor är det förstås &#8211; åtminstone i dag under vad som kanske är en övergångsperiod &#8211; oerhört viktigt att ha intrakraniala nyckelord och mentala taggar som hjälper en att kunna överblicka det område man vill söka i. Det är viktigt att veta vad som kan vara relevant av det man hittar, och att ha en aning om vad som behöver granskas lite extra kritiskt &#8211; ungefär som man behöver ha ett hum om huvudräkning för att inte automatiskt godta resultatet när datorn, miniräknaren eller mobiltelefonen tycks föreslå att 32,5 x 64,7 är 21027,5.</p>
<p>Att föreställa sig framtiden i vårt s.k. kunskapssamhälle får det att svindla en aning. Kanske står vi inför ett rejält paradigmbyte, där individen vet väldigt lite, men där färdigheter betonas mera, där i så fall skickligheten i informationssökning kommer att vara en beståndsdel. Eller också slår den nuvarande politiken bakut &#8211; det tillstånd där det upplevs som ett demokratiskt egenvärde att alla bör veta lika lite &#8211; och istället återgår man till ett äldre bildningsideal igen, men med helt nya möjligheter, helt nya mentala hävstänger ute på de informationsstinna nätverken.</p>
<p>Jag skrev också en artikel om kunskap i skolan, &#8220;Snart vet alla hur – men inte varför&#8221; (SvD 6/5 2000):</p>
<blockquote><p> Om vi ständigt bara skummade av ytan på den brygd av referenser som ryms på våra datamedier i jakten på det akut behövliga vetandet, vad skulle hända då? Skulle vi ens kunna ställa de adekvata frågorna? Det enklaste svaret med dagens mått vore förstås att säga att vår kunskap skulle förflackas, den skulle sakna djup, förankring och överblick &#8211; och verklig förståelse.</p>
<p>Man kan dock naturligtvis på längre sikt föreställa sig att hela kunskapsbegreppet förändras, till en sorts &#8220;knowledge-on-demand&#8221;-tänkande. Men utan kunskap &#8211; utan att vare sig &#8220;veta att&#8221; eller &#8220;veta hur&#8221; &#8211; förvisas vi strängt taget till att leva i ett här och ett nu. </p></blockquote>
<p>Hela artikeln finns på <a href="http://www.nisus.se/archive/000506.html">http://www.nisus.se/archive/000506.html</a>.</p>
<p>Om vi förändras som vetande varelser, kommer vi troligen också att förändras som känslovarelser. Nya personlighetstyper kommer kanske att uppstå. Frågan är om detta är på gott eller ont. Det kan man givetvis inte veta &#8211; och vilken måttstock använder man för att bedöma detta? På kort sikt kan det vara enkelt att streta emot förflackning av olika slag, men vem vet hur kulturen och människorna i den ser ut om 500 år? Utifrån vad ska man bedöma mänsklig utveckling? Mätt mot evolutionistisk effektivitet eller mot en sorts mer eller mindre utopisk dröm om kunniga, medvetna, deltagande och empatiska medmänniskor?</p>
<p>
<div style="font-size:10px;"><strong>Google automatic translation: <a href="http://translate.google.com/translate?hl=en&#38;sl=sv&#38;u=http://slowfox.wordpress.com/2009/10/01/den-intrakraniala-kunskapens-kris/">in English</a>, <a href="http://translate.google.com/translate?hl=fr&#38;sl=sv&#38;u=http://slowfox.wordpress.com/2009/10/01/den-intrakraniala-kunskapens-kris/">en français </a>, <a href="http://translate.google.com/translate?hl=de&#38;sl=sv&#38;u=http://slowfox.wordpress.com/2009/10/01/den-intrakraniala-kunskapens-kris/">auf Deutsch</a>.</strong></div>
</p>
<p>
<div style="font-size:10px;">Pingad på <a href="http://intressant.se/intressant">Intressant</a>.</div></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Poststrukturalismen och världen-i-sig]]></title>
<link>http://bjornaxen.wordpress.com/2009/09/28/poststrukturalismen-och-varlden-i-sig/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 21:28:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Björn Axén</dc:creator>
<guid>http://bjornaxen.wordpress.com/2009/09/28/poststrukturalismen-och-varlden-i-sig/</guid>
<description><![CDATA[Likt Lucifer kommer poststrukuralismen och avslöjar människans komplexa situation och begränsningar ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Likt Lucifer kommer poststrukuralismen och avslöjar människans komplexa situation och begränsningar att nå kunskap om världen-i-sig. Men riktigt så omöjligt som det verkar enligt detta avslöjande tror jag inte riktigt att det är.</p>
<p style="text-align:justify;">Diskursteorin är inte idealistisk utan går med på att det finns en värld-i-sig som påverkar oss. Problemet är snarare att vi inte kan veta något om världen-i-sig utan alltid är fångade i vår mänskliga tolkning av världen. Denna tolkning är alltid beroende av det språksystem vi använder för att förstå världen. Utan detta system kan vi inte meningssätta de fenomen vi observerar (som dessutom är förmedlade genom vissa sinnen eller instrument). Jag håller nog med om detta men anser att strävan efter att förstå världen-i-sig inte omöjliggörs av detta.</p>
<p style="text-align:justify;">Poststrukturalister, som Laclau och Mouffe, menar att de tecken som används för att beskriva världen är helt godtyckliga vilket innebär att mening, som vad som är sant eller falsk etc. endast kan förstås genom inom en diskurs och det är inte säkert att detta överensstämmer i en annan diskurs. Även om relativism anses undvikas genom att praktisk tillhör vi alltid en diskurs utifrån vilken vi värderar utsagor; dessutom underkänns själva relativismen genom att t.ex. definitionen om sanning som korresponderande till en värld-i-sig underkänns. Själva termerna &#8220;sant&#8221; och &#8220;falsk&#8221; anses diskursivt givna. Vad vi betraktar som sant handlar då snarare om hur det passar in med övriga föreställningar (denna koherensteori är en bra beskrivning av hur människor kommer fram till sanning men passar sämre med den betydelse som den västerländska diskursen lägger in i orden &#8220;sant&#8221; respektive &#8220;falskt&#8221;). Men faktum kvarstår att det endast är inom en diskurs det kan avgöras om något är fel eller inte. Mellan diskurser verkar detta inte kunna avgöras annat än om diskurserna delvis överlappar varandra och vid denna överlappning skulle då vissa värderingar kunna avgöras (men det är alltså inom en gemensam deldiskurs). I alla fall så menar jag att även om själva tecknen för att peka ut något är i grunden godtyckliga så är inte språket som sådant det, och inte heller diskurserna det. Utanför diskurserna finns alltid världen-i-sig som påverkar oss även om meningssättningen skiljer sig. Att meningssättningen varierar innebär att reaktionen på de olika fenomenen blir olika men det betyder inte att själva grunden i sig är annorlunda. Detta öppnar för något utanför diskursen som meningen kan fästa på. Man kan se det som att världen-i-sig är ett inslaget paket där omslagspappret är diskursen. Olika inslagstekniker avslöjar olika mycket av vad som döljer sig bakom förpackningen. Från den helt genomskinliga som avslöjar det mesta till en rikt utsmyckad sarkofag som inte har något alls med innehållet att göra.</p>
<p style="text-align:justify;">Min tes är att vad som kan uttryckas i språket och därmed även diskurserna hela tiden anpassas efter vår upplevelse av världen. Språket och diskurserna utvecklas i en evolutionär process där de som bäst kan användas vinner över andra (survival of the fittest dscourses). Vad som dock är en &#8220;bra&#8221; diskurs bestäms visserligen även det i diskursen, och den diskurs med mest makt bakom sig har störst möjlighet att hävda sig. Men detta betyder t.ex. att om man har en diskurs som säger att det är bra att försöka förstå världen för vad den är i sig (upplysningen typ) så kommer det språk (här förstått som ett system för kommunikation) som bäst beskriver detta konkurrera ut andra språk (den förpackning som avslöjar mest om innehållet). Om en diskurs om att försöka nå kunskap om världen-i-sig är dominerande så kommer då människan genom denna strävan bli allt bättre på att förstå världen-i-sig allt eftersom språket blir bättre anpassat för att beskriva det. Detta innebär så klart inte att vi på detta sätt säkert kan nå kunskap om världen-i-sig eller att vi kan komma ur den mänskliga begränsningen. (Det senare skulle innebära att vi transcenderat bortom mänsklighet, vad det nu är.) Det avgörande här är att världen-i-sig faktiskt påverkar oss, vilket även diskursteoretikerna håller med om, vilket möjliggör att faktiskt jämföra de olika sätten att beskriva verkligheten. Detta sätter även diskurser som eftersträvar en korresponderande sanningsbeskrivning isär från andra diskurser just genom att man jämför med något faktiskt externt. Detta till skillnad från andra diskurser som endast kan jämföra till olika diskurser och därför aldrig har något annat än en relativ referenspunkt. I det förra fallet söker man en förpackning som är genomskinlig (helst få bort förpackningen helt), medan i de senare så jämför man så att säga bara olika förpackningar utan att bry sig om innehållet.</p>
<p style="text-align:justify;">Problemet som dock uppstår med diskursteorin (eller kanske är det inte teorin utan kanske de (vissa?) som använder sig av den) är att den hävdar just att försöket att förstå och beskriva världen-i-sig är meningslös hotar att skapa en diskurs där kunskapen om världen-i-sig anses meningslös. Det som då återstår är endast att undersöka det mellanmänskliga, strävan att nå utanför människan skulle då försvinna. Detta samtidigt som världen-i-sig faktiskt påverkar människan och torde vara relevant.</p>
<p style="text-align:justify;">Ytterst handlar det om vi ska undersöka hur fenomen påverkar oss, oavsett vad vi kallar dessa fenomen, eller hur vi meningssätter dem; eller om vi ska undersöka endast hur vi meningssätter och talar om det vi upplever. Att försöka dela upp detta i &#8220;naturvetenskap&#8221; och &#8220;humanvetenskap&#8221; tror jag visserligen är praktiskt lämpligt men jag tror inte att det i grunden finns vare sig en ontologisk eller epistemologisk skillnad mellan dessa två. Problemet är så klart att vi kan helt säkert avgöra om det vi kommer fram till är sant (som korresponderat till världen-i-sig) men faktum är att detta inte spelar någon roll. Vetenskapen är aldrig säker på sin sak och ändå kan den förklara världen. Den kräver en ständig revidering, detta är lika sant för &#8220;naturvetenskap&#8221; som &#8220;humanvetenskap&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Om det är så att vi kan förstå världen-i-sig bättre och bättre om vi försöker, även om vi faktiskt inte kan veta det säkert och hela tiden måste anpassa språket och ändra våra uppfattningar, så finns det ingen anledning att inte försöka.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Filolaos från Tarentum (fl. 440 f.Kr.):]]></title>
<link>http://begrundarn.wordpress.com/2009/09/28/filolaos-fran-tarentum-fl-440-f-kr/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 08:25:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>begrundarn</dc:creator>
<guid>http://begrundarn.wordpress.com/2009/09/28/filolaos-fran-tarentum-fl-440-f-kr/</guid>
<description><![CDATA[»Alla ting som det går att få kännedom om har ett tal, ty vi kan varken tänka på eller få kännedom o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>»Alla ting som det går att få kännedom om har ett tal, ty vi kan varken tänka på eller få kännedom om någonting utan detta &#60;tal&#62;.»<br />
(Göran Ogén fritt efter Filolaos fragment nr. 4: καὶ πάντα γα μὰν τὰ γιγνωσκόμενα ἀριθμὸν ἔχοντι· οὐ γὰρ οἷόν τε οὐδὲν οὔτε νοηθῆμεν οὔτε γνωσθῆμεν ἂνευ τούτου.)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Etika dan Filsafat]]></title>
<link>http://dossuwanda.wordpress.com/2009/09/16/etika-dan-filsafat/</link>
<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 18:29:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>dossuwanda</dc:creator>
<guid>http://dossuwanda.wordpress.com/2009/09/16/etika-dan-filsafat/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Herry Erlangga, S.Sos, M.Pd. Dosen Stikom WJB Serang Banten PEMIKIRAN-PEMIKIRAN FILSAFAT KOMUNI]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh Herry Erlangga, S.Sos, M.Pd. Dosen Stikom WJB Serang Banten PEMIKIRAN-PEMIKIRAN FILSAFAT KOMUNI]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Definisi Epistemologi Dasar]]></title>
<link>http://filsafatsederhana.wordpress.com/2009/09/03/definisi-epistemologi-dasar/</link>
<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 14:08:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>praptinfilsafat</dc:creator>
<guid>http://filsafatsederhana.wordpress.com/2009/09/03/definisi-epistemologi-dasar/</guid>
<description><![CDATA[      Mengetahui segalanya Belum tentu dia mengerti yang dia ketahui         Kata Epistemologi  bera]]></description>
<content:encoded><![CDATA[      Mengetahui segalanya Belum tentu dia mengerti yang dia ketahui         Kata Epistemologi  bera]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kant : "Sang Pemutarbalikan Copernican" (Kopernikanische Wende)]]></title>
<link>http://artnur.wordpress.com/2009/08/21/kant-sang-pemutarbalikan-copernican-kopernikanische-wende/</link>
<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 06:17:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>arinto nurcahyono</dc:creator>
<guid>http://artnur.wordpress.com/2009/08/21/kant-sang-pemutarbalikan-copernican-kopernikanische-wende/</guid>
<description><![CDATA[Oleh:  Arinto Nurcahyono Memasuki abad 18 dikenallah apa yang disebut dengan “zaman Pencerahan” (bhs]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh:  Arinto Nurcahyono Memasuki abad 18 dikenallah apa yang disebut dengan “zaman Pencerahan” (bhs]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Descartes: Epistemologi Clear and Distinguish]]></title>
<link>http://artnur.wordpress.com/2009/08/21/descartes-epistemologi-clear-and-distinguish/</link>
<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 05:56:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>arinto nurcahyono</dc:creator>
<guid>http://artnur.wordpress.com/2009/08/21/descartes-epistemologi-clear-and-distinguish/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : Arinto Nurcahyono René  Descartes (1598 &#8211; 1650), merupakan wakil yang sempurna dari fil]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : Arinto Nurcahyono René  Descartes (1598 &#8211; 1650), merupakan wakil yang sempurna dari fil]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Historisitas Filsafat Ilmu: Jejak Langkah Pemikiran  Dari Era Plato Hingga Immanuel Kant]]></title>
<link>http://artnur.wordpress.com/2009/08/21/historisitas-filsafat-ilmu-jejak-langkah-pemikiran-dari-era-plato-hingga-immanuel-kant/</link>
<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 02:16:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>arinto nurcahyono</dc:creator>
<guid>http://artnur.wordpress.com/2009/08/21/historisitas-filsafat-ilmu-jejak-langkah-pemikiran-dari-era-plato-hingga-immanuel-kant/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Arinto Nurcahyono A. Pendahuluan Ilmu adalah fenomena terbesar yang paling mewakili wujud kema]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Arinto Nurcahyono A. Pendahuluan Ilmu adalah fenomena terbesar yang paling mewakili wujud kema]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Filosofins uppdrag]]></title>
<link>http://selahblogg.wordpress.com/2009/08/09/filosofins-uppdrag/</link>
<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 15:25:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>Daniel Blomqvist</dc:creator>
<guid>http://selahblogg.wordpress.com/2009/08/09/filosofins-uppdrag/</guid>
<description><![CDATA[Filosofin ska ge en djupgående analys av det intellektuella tillståndet. Genom att redogöra för den ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Filosofin ska ge en djupgående analys av det intellektuella tillståndet. Genom att redogöra för den ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENYAMBUT KEMATIAN (KONYOL)]]></title>
<link>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/05/menyambut-kematian-konyol/</link>
<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 03:02:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>hagemman</dc:creator>
<guid>http://hagemman.wordpress.com/2009/08/05/menyambut-kematian-konyol/</guid>
<description><![CDATA[Jika sosok penenteng tas seperti terekam kamera CCTV benar pelaku bom bunuh diri di Mega Kuningan, 1]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1811" title="MENYAMBUT KEMATIAN KONYOL" src="http://hagemman.wordpress.com/files/2009/08/menyambut-kematian-konyol.jpg?w=150" alt="MENYAMBUT KEMATIAN KONYOL" width="150" height="150" />Jika sosok penenteng tas seperti terekam kamera CCTV benar pelaku bom bunuh diri di Mega Kuningan, 17 Juli lalu, kita sedang menyaksikan bagaimana para  teroris dengan dingin menyambut kematiannya.</p>
<p>Sikap itu tampak dalam pengakuan para pelaku bom Bali II yang yakin, jiwa mereka langsung menikmati kebahagiaan duniawi.</p>
<p>Sukacitakah mereka menyongsong kematian ? Apakah mereka telah menghayati seluruh perjalanan hidup sebagai “mengada menuju kematian” (being towards death) ?</p>
<p>Pertanyaan terakhir ini pernah menjadi preokupasi pemikiran Martin heidegger (1889-1976). Menurut Heidegger, ada dua cara menghayati hidup di dunia, secara otentik dan tidak otentik. Manusia hidup di dunia (umwelt) melalui tiga cara. Manusia tidak hanya hidup dengan sesama (being-with-others), tetapi juga berdampingan dengan benda (being-alongside-things), bereksistensi pada dirinya (Selbstein).<br />
<strong><!--more-->Lenyapnya individu</strong></p>
<p>Ketidakotentikan penghayatan hidup terjadi saat pertama, manusia hanyut dalam dunia benda-benda dan dikuasai sepenuhnya oleh alat yang diciptakan sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memosisikan manusia hanya sebagai obyek menjadi salah satu bukti ketidakotentikan penghayatan hidup manusia. Manusia mengalienasikan diri dalam teknik atau alat buatannya sendiri. Sementara ketidakotentikan yang lain terletak bagaimana manusia membiarkan diri dikuasai massa. Moda Selbstein hilang dalam massa (das Man), individu ditelan kerumunan (the They).</p>
<p>Bagi Heidegger, lenyapnya individu dalam kerumunan (das Man) akan menyulitkan individu membebaskan diri darinya, persis saat perangai massa yang menenangkan (tranquillizing). Massa atau kerumunan dengan seluruh kekuatan ideologisnya tidak hanya membelenggu individu, tetapi sekaligus mengalienasi dan mendekap (self-entangling). Mengalienasi diri (individu) dalam kerumunan ibarat menikmati candu yang mengakibatkan ketagihan dan ketergantungan.</p>
<p>Tidak mudah membebaskan diri dari perangkap kerumunan dan ideologi yang membentengi. Dibutuhkannya usaha keras agar bisa sampai level menghayati keseharian sebagai kekhawatiran (angst/anciety), setidaknya tasa resah bahwa seseorang sedang terperangkap dan teralienasi, entah dalam dunia alat atau ideologi tertentu. Perasaan resah seperti inilah yang akan mendorong individu melakukan diskursus, dengan demikian membebaskan dirinya dari perangkap dunia benda maupun ideologi tertentu.</p>
<p><strong>Kematian</strong></p>
<p>Kematian merupakan keresahan terbesar yang terus mengusik individu saat menghayati kehidupannya. Kematian menampakkan diri sebagai faktisitas yang “memaksa” individu menghayati dan memaknakan hidupnya dalam diskursus serta perumusan aneka kepentingan bersama orang lain dengan memanfaatkan berbagai alat yang tersedia. Menghayati kehidupan sebagai eksistensi menuju kematian membangkitkan tanggung jawab individu guna memahami dirinya sebagai “ada” (being) tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bersama orang lain di dunia fisik.</p>
<p>Pertanyaannya, apakah para teroris menghayati kematian mereka sebagai puncak keotentikan penghayatan hidup tanpa mengobyekan atau mengorbankan orang lain ? Jika tidak mau disebut kekonyolan, kematian yang dihadapi para teroris tidak lebih dari rusak atau hancurnya sebuah benda. Kematian mereka justeru terjadi tanpa identitas persis saat individualitas mereka dikerangkeng ideologi radikal tententu yang mereka anut.</p>
<p>Kematian mereka hayati secara nihilistik sebagai sarana untuk menghancurkan sesama maupun dunia fisik itu sendiri.</p>
<p><strong>Alat membebaskan diri</strong></p>
<p>Di sini epistemologi penghayatan hidup dalam pemikiran Heidegger mengingatkan kematian dihayati kaum teroris hanya sebagai alat untuk membebaskan diri dari ketidaksanggupan “mengada bersama orang lain”. Ideologi yang mereka anut adalah candu yang memberangus nalar (diskursus atau logos), dan karena itu memutus jembatan penghubung dengan sesama.</p>
<p>Ketidaksanggupan membuka ruang dialog “nazar” untuk memperjuangkan ideologi radikal sebagai satu-satunya jalan dan kebenaran. Padahal, kebenaran yang dimaksud tidak pernah difalsifikasi persis saat ruang diskursus telah lebih dulu diberangus.</p>
<p>Karena itu, langkah meyakinkan dari para teroris menyambut kematian sambil menenteng tas berisi bom adalah langkah kelompok yang gagal berelasi dengan diri sendiri. Mereka tidak lebih dari sekelompok benda atau alat tanpa rasa, tanpa kekhawatiran. Kematian mereka pun ibarat membuang kerikil di lautan lepas, hilang tak berbekas. Mereka mati tanpa meninggalkan jejak individualitas.</p>
<p>Sumber  :  Menyambut Kematian (Konyol) – Jeremias Jena, Kompas – 30.07.2009</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimana Belajar Filsafat..?!]]></title>
<link>http://annandy.wordpress.com/2009/07/30/bagaimanabelajarfilsafat/</link>
<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 00:10:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>andy</dc:creator>
<guid>http://annandy.wordpress.com/2009/07/30/bagaimanabelajarfilsafat/</guid>
<description><![CDATA[Seorang murid mengelub kepada gurunya “bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img src="http://annandy.wordpress.com/files/2009/07/philosophy.jpg" alt="" title="" width="234" height="299" class="alignright size-full wp-image-128" /></p>
<p>Seorang murid mengelub kepada gurunya “bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami. Jawab sang guru, Bagaimana pendapatmu, Nak, Andaikata seseorang menawarkan Buah padamu, apakah ia mengunyahkannya dahulu bagimu? (Anthony de Mello, Burung Berkicau)</p>
<p>FILOSOFISTIK atau pengetahuan megenai filsafat belumlah berarti berfilsafat. Belajar filsafat bukan hendak menjadi “ahli waris” seluruh pemikiran yang telah tertulis. Bukan pengulangan kembali, melainkan pengambilan kembali untuk penciptaaan ulang. Berfilsafat merupakan suatu cara berpikir yang tidak bersumber pada suatu  rangkaian kepercayaan, akan tetapi yang hanya berdasarkan pada pengalaman dan pemikiran dari pemikir sendiri. “Filsafat bukanlah suatu pemujaan terhadap sesuatu yang suci, akan tetapi suatu usaha untuk memperoleh pengertian sendiri”[1]</p>
<p>Belajar filsafat sebagai ikhtiar menemukan pemahaman yang jernih tentang segala sesuatu (terutama perihal dirinya sendiri) merupakan makna dari filsafat sendiri. Filosophia adalah “keinginan menjadi arif”, dan kegiatan belajar tentu saja berada dalam keinginan yang sama. Seorang pembelajar seharusnya terus-menerus menegaskan pada dirinya bahwa ia bukanlah “orang-orang yang arif” (sofis) walaupun telah menemukan banyak informasi dan wawasan, pembelajar yang baik adalah yang terus menerus penasaran pada soal bagaimana menjadi arif itu.</p>
<p>Ada perbedaan antara kepandaian dan kearifan. Kepandaian adalah kemampuan untuk menunjukkan semata-mata secara rasional apa yang dapat kita wujudkan dari data-data melalui bertukar pikiran secara logis. Kearifan adalah sikap untuk mengambil suatu pendirian tertentu dalam kehidupan kita berdasarkan hasil kepandaian tadi. Untuk dapat benar-benar hidup, kita harus mempunyai perspektif (cara memandang) atas kehidupan ini dan dengan itu atas kenyataan hidup yang dialami. Kearifan akan membawa seseorang ke dalam suatu kenyataan tertentu sedemikian jauh, sehingga ia mengerti tentang apa yang dipermasalahkannya. Seseorang bisa saja terlihat pandai, namun ia hanya mengkatakan perspektif orang lain bukan perspektif dirinya, bukan hasil olahan dari apa yang benar-benar dialaminya secara mendalam. Sebaliknya, seorang bijak adalah yang tak menunjukkan kepandaiannya namun dapat menunjukkan cara pandang baru yang menyelamatkan kediriannya.</p>
<p>Belajar filsafat berarti belajar untuk berhasrat pada kearifan atau belajar untuk mencintai kearifan. Kearifan bukan sejenis benda yang bisa diambil dari luar diri untuk dimiliki, kearifan dihasilkan dari penyadaran akan diri pribadi. Kearifan secara demikian tak bisa dipelajar dan tak ada satupun yang bisa mengajarkannya. Ia hasil dari mengalami  kehidupan pribadi dengan cara bercermin kepada pengalaman hidup orang lain. Belajar sejarah filafat yang dipenuhi oleh kisah filsuf, kegelisahannya, pertanyaan yang diajukannya, dan upaya untuk mencar jawabannya hanya berarti jika kita menganggapnya sebagai sebuah cermin. Cermin itu memantulkan manusia yang wajahnya sama dengan diri kita, ia bukan dewa-dewa yang teramat suci. Penganggapan bahwa mereka juga manusia akan memudahkan kita untuk membandingkan kedirian kita dengan mereka. Hal ini dapat membebaskan kita dari rasa takut untuk berbeda dengan mereka, filsuf-filsuf itu.</p>
<p>Keterbebasan dari rasa takut ini penting bagi proses pembelajaran. Kita yang selama ini dididik dalam rasa takut dan rasa malu telah merasakan penderitaan terkekang di bawah bayangan yang tak menentu. Semenjak sekolah dasar kita belajar untuk takut dan malu pada guru, takut dan malu membuat kesalahan, takut dan malu untuk berbeda. Barangkali ini berasal dari pola pendidikan yang menekankan pada kemampuan untuk menjawab segala persoalan dan mengharuskan kesamaan dalam menjawab segala sesuatu. Untuk itu, banyak rumah di negeri ini pernah merasa penting untuk memiliki Buku Pintar yang berisi seluruh pengetahuan yang bisa menjawab soal-soal secara tepat dan sama. Rasa takut itu kemudian menekan seluruh keinginan untuk menyatakan kesadaran kita yang sejati dan perasaan yang sebenarnya akan sesuatu. Rasa takut dan malu itu  membuat kita tidak memiliki keyakinan bahwa kita bisa memberikan cara pandang yang berbeda dengan orang lain, akhirnya membuat kita tidak pernah merasa yakin pada diri sendiri.</p>
<p>Dalam rasa takut dan rasa malu kita menjadi pecundang dalam segala hal. Situasi reformasi mementaskan kepecundangan kita. Begitu kebebasan dikumandangkan, kita menemukan diri kita kebingungan untuk melakukan pembentukan formasi baru bagi kehidupan bernegara. Kebebasan dirayakan, namun dalam kerangka rasa takut dan rasa malu. Karena kita takut disalahkan, kebebasan digunakan untuk menyalahkan institusi, untuk menunjuk hidung orang lain. Karena kita malu akan kelemahan yang dimiliki, kita segera menunjukkan kelemahan orang lain. Pada sisi yang lain, ada banyak orang yang menentang proses pembukaan sejarah hitam negeri ini atas dasar rasa malu. Korupsi, Kulusi dan Nepotisme yang hendak dibersihkan tak selesai-selesai karena rasa malu dan rasa takut itu begitu menguat. Alhasil, kita malu dan takut untuk secara terus terang mengakui kesalahan diri kita masing-masing; persis seperti dulu di bangku sekolahan ketika kita malu dan takut untuk bertanya pada guru/dosen di depan kelas.</p>
<p>Filsafat adalah cara untuk menemukan keberanian dalam merumuskan diri sendiri. Dalam filsafat kita menemukan kegelisahan yang tak kunjung habis, pertanyaan-pertanyaan yang terus tidak menemukan kepastian jawaban, dan jawaban-jawaban yang semula dianggap final namun kemudian ditemukan celanya. Kesemuanya ditemukan dalam formasi yang wajar, maksudnya kesalahan dalam filsafat tampak sebagai suatu kemestian manusiawi dan karena itu tak perlu ada rasa takut dan malu terhadap kesalahan. Dalam filsafat kita menemukan banyak cara pandang yang berbeda terhadap satu soal, dan semuanya begitu tak menjadi soal bahkan kemudian menghasilkan kesadaran-kesadaran yang luar bisa. Cara pandang yang berbeda sangat penting bagi kita saat ini, terutama karena kita telah disadarkan oleh proses perubahan sosial bahwa kesamaan cara pandang alih-alih menyelesaikan masalah malah mengekalkan masalah. Dalam dapat belajar bagaimana merumuskan masalah dari apa yang semula dianggap tidak ada masalah. Melalui cara ini kita jadi terpancing untuk mulai lagi merumuskan diri dan kehidupan kita secara baru, bukan dari hal besar dari apa yang menjadi basis dari kehidupan kita: yang remeh dan tak diperdulikan.</p>
<p>Filsafat yang kerap didefinisikan sebagai “hasrat akan kearifan” membuat siapapun yang bersentuhan dengannya tersedot pada hasrat itu. Dalam hasrat terhadap kearifan, kita akan malu ketika merasa diri sebagai sang arif, yang telah arif dan tak mungkin melakukan kesalahan. Terlebih pengakuan diri sebagai sang arif dalam sejarah filsafat ditulis dalam nada miring, yaitu sebagai kaum sofis yang menjajakan kepandaiannya untuk memanipulasi orang lain dengan bayaran tertentu.</p>
<p>Dalam kancah seperti ini, guru/dosen dan murid/mahasiswa tidak berbeda: semuanya memiliki posisi yang sama sebagai pencari yang berhasrat akan kearifan. Murid/mahasiswa yang sering dianggap sebagai orang-orang yang belum tahu, karena itu ia bersedia mencari untuk mendengar dan memperhatikan; dan guru/dosen  yang kerap mereka yang tahu dan telah belajar, pandai, dan yang menyampaikan pengetahuan dan pandangan mereka; tidak ditemukan lagi ketika kita belajar filsafat. Dalam berfilsafat tak ada seorangpun yang “telah tahu” atau telah menemukan kepastian kebenaran. Bukankah filsafat berarti “hasrat menemukan kebenaran”, selagi definisi ini digunakan tak ada satu orangpun yang merasa telah sampai, karena itu tak ada yang bisa menjadi guru dalam arti “telah tahu”. Guru-murid berada dalam relasi mencari kebenaran dengan hasrat yang dalam. Perbedaannya terletak pada cara, guru mencari kearifan dengan cara menceritakan apa yang sudah ia alami (dari kehidupan dan buku-buku yang telah dibacanya) sedangkan murid mengemukakan hasratnya dengan secara tulus mendengarkan dan membaca uraian filsafat sambil menerapkan dalam pengalaman kehidupannya.</p>
<p>Dalam belajar filsafat ada aturan yang disarankan untuk diterapkan sejak awal, hukum itu berbunyi:</p>
<p>“…apa arti gagasan-gagasan mereka untuk para filsuf itu sendiri, apa nilai gagasan-gagasan itu dalam diri sendiri dan apa nilainya bagi kita: itulah ketiga pertanyaaan yang senantiasa harus diajukan orang dalam menyelidiki sejarah filsafat, meskipun secara didaktis atau eksplisit tidak selalu mungkin atau tidak selalu perlu diajukan secara terpisah…”[2]</p>
<p>Lewat cara ini, semua murid dianjurkan secara bebas untuk mengaitkan seluruh pemikiran dengan kondisi dirinya, dengan kesadaran dan hasratnya yang murni. Pada titik ini, ungkapan Wittgenstein, “Filsafat bukan ajaran melainkan suatu usaha” menjadi terasa. Filsafat bukan ajaran karena itu kita tak langsung harus percaya dan membelanya mati-matian, filsafat adalah usaha untuk menemukan kebenaran berdasarkan diri sendiri setalah bercermin dari kebenaran yang telah teruji.</p>
<p>Ketiadaan rasa malu dan takut, kepercayaan pada perbedaan, keyakinan bahwa diri sendiri mampu memecahkan pemecahan akan soal-soal kehidupan menjadi hasil lanjutan dari belajar filsafat. Hal ini mungkin kedengarannya agak berlebihan, untuk itu kisah Sophie dalam novel Jostein Gaardner, Sophies World bisa dikemukakan. Sophie, pada suatu pagi menemukan pertanyaan-pertanyaan aneh: siapakah kamu? Darimanakah datangnya Dunia? Dua pertanyaan itu membuatnya kebingungan, kenapa ada pertanyaan seperti itu? Untuk apa merumuskan pertanyaan sekonyol itu? Bukankah semuanya sudah tergelar dan begitu saja ada?</p>
<p>Lalu ditemani Albert Knox, lelaki misteriur, ia mengembara dari satu pemikiran filsuf ke pemikiran filsuf yang lain: dari Thales sampai Sartre. Dari banyak filsuf itu ia belajar merumuskan jawaban atas masalah kehidupannya. Dari Filsuf Yunani awal Sophie menemukan keajaiban berpikir dari hal-hal yang kecil dan remah seperti air, api atau lainnya; dari filsuf modern ia mendapatkan cara menganalisa kenyataan-kenyataan yang semula dianggap telah lazim; kemudian dari Sartre ia mendapatkan kesimpulan bahwa manusia tidak memiliki sifat untuk bergantung, manusia menciptakan dirinya sendiri. Seluruh penjelajahannya itu dirumuskan ulang untuk menjadi bekal perumusan situasi hidupnya, lalu Sophie menyatakan:</p>
<p>“Setelah melakukan telaah filsafat yang mendalam –yang dimulai dari Filosof Yunani awal hingga zaman sekarang—kami mendapati bahwa kami menjalani kehidupan kami dalam pikiran seorang mayor PBB di Lebanon….Eksistensi kita karenanya tidak lebih atau kurang dari semacam hiburan ulang tahun bagi Hilde Moller Knag (anak mayor tersebut). Kita semua telah diciptakan sebagai suatu kerangka bagi pendidikan filsafat untuk putri sang mayor. Ini berarti, misalnya, bahwa Mercedes putih di  gerbang itu tidak berharga satu sen pun. Itu hanya barang sepele. Nilainya tak lebih dari Mercedes putih yang melaju berputar-putar di kepala seorang mayor PBB yang malang…”[3]</p>
<p>Sophie dan Albert Knox kemudian merealisasikan kegelisahan dan rumusan baru atas kehidupan yang mereka alami. Mereka berdua meninggalkan handai tolannya, keluar dari cerita novel dan berniat mendatangi Hilde dan Mayor. Handai tolannya, tentu merasa aneh dan menganggap semua keputusan Sophie sebagai tindakan sinting. Namun Sophie menjawab, “…Anda dan siapapun yang lain di sini tidak akan merindukan kami karena alasan yang sederhana, yaitu kalian tidak ada, kalian tak lebih dari bayang-bayang.”[4] Lalu Sophie dan Albert Knox mendatangi danau peristirahatan Hide dan Mayor dan melepaskan dayung perahu. Hanya itu yang mereka bisa lakukan setelah berfilsafat? Ya, tetapi itu masih lebih baik karena sudah merumuskan dirinya sebagai tidak sekadar tokoh novel dan menunjukkan daya kreasi di luar kehendak pengarangnya.</p>
<p>Kita mungkin juga tengah menjalani “kehidupan dalam pikiran seorang”, namun tidak pernah menyadarinya. Sophie dan Alberto Knox, lewat penjelajahan di dunia filsafat, bisa melakukan itu, yaitu menemukan simpulan yang menggerakkan kesadaran bahwa menjadi manusia berarti tak bergantung pada siapapun, menjadi manusia berarti merumuskan dirinya sen`diri. Situasi inilah yang barangkali ingin dicapai oleh Andreas Harefa ketika mengutip Peter Sange:</p>
<p>“Pembelajaran sebenarnya mendapatkan inti artinya untuk menjadi sangat manusiawi. Melalui pembelajaran kita menciptakan kembali diri kita. Melalui pembelajaran kita dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dapat kita lakukan sebemulnya. Melalui pembelajaran kita merasakan kembali dunia dan hubungan kita dengan dunia tersebut. Melalui pembelajaran kita memperluas kapasitas kita untuk menciptakan, menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan”.[5]</p>
<p>Harefa memilih kata pembelajaran untuk proses belajar, dan kata pembelajar untuk aktivitas pelaksanaan hasrat akan kebenaran. Saya pikir kita akan juga setuju dengan kriteria ini, karena dalam belajar filsafat yang terutama memang bukan menemukan informasi mengenai segala hal, namun menemukan diri kita sejati di tengah pergulatan kebenaran-kebenaran.</p>
<p>Filsafat sekali lagi adalah ikhtiar mencintai kearifan. Jadi hubungan guru-murid tidak berjalan dalam hubungan pewaris dan ahli waris. Jikapun ada warisan itu sekadar pemicu agar ahli waris melakukan petualangan untuk memasuki dirinya sendiri. Guru dan murid dalam proses belajar filsafat sama-sama berposisi sebagai thulab (penghasrat), seperti kata-kata Nabi Muhammad, “Jadilah thulab (penghsrat kebenaran) semenjak engaku lahir, sampai ke liang akhir”.</p>
<p>Kembali pada soal pembelajaran filsafat, bagaimana cara hubungan guru-murid? Socrates barangkali tipe ideal bagi guru filsafat, dan Plato adalah tipe murid yang menarik. Socrates menyatakan “saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa” dan ia menyatakan bahwa ia tidak akan menyampaikan kesimpulan-kesimpulan pasti. Socrates hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada diri dan orang lain, sehingga secara bersama-sama mencari jawabannya. Ia seorang arif karena ia dapat meletakkan pengetahuannya dalam kalimat: “Kita sudah sepakat bahwa…tetapi jika anda berkeberatan mengenai satu hal, katakanlah pada saya. Kemudian akan kita pikirkan lagi.”[6] Sementara Plato dengan setia mendengarkan serentak ikut terlibat mengajukan pertanyaan dan jawaban, kemudian menuliskannya dengan perspektif dirinya.</p>
<p>Di samping Socrates, apa yang dikemukakan Imanueal Kant dan Wittgenstein barangkali juga bisa diingat-ingat oleh pengajar filsafat.</p>
<p>“Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat bukan pemikiran-pemikiran untuk ditiru, melainkan bagaimana caranya untuk berpikir sendiri”. (Imanuel Kant,)</p>
<p>“Saya tidak boleh mencegah orang-orang lain untuk berpikir, melainkan –apabila itu mungkin—mendorong seseorang untuk berpikir sendiri”. (Wittgenstein)</p>
<p>Kesemuanya dikemukakan agar proses pembelajaran filsafat dapat tetap menjaga energi kreatif dan kritis semua unsur yang terlibat.</p>
<p>“Berfilsafat semenjak taraf yang paling awal anti otoriter. Ia menjauhkan diri dari dogma-dogma, indoktrinasi, sensor dan perintah-perintah untuk pengumuman atau penarikan kembali. Salah satu yang pertama dan uatama dipelajari dalam filsafat adalah keberanian untuk menantang setiap bentuk paksaan dan tidak pernah mengakui suatu kebenaran atas dasar argumentasi-argumentasi otoriter, ancaman atau propaganda yang menggiurkan, melainkan semata-mata atas dasar penertian yang bebas dan alasan-alasan yang lugas. (Paperzak)</p>
<p>Belajar Filsafat; Belajar Mengajukan Pertanyaan</p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan anda lebih penting daripada jawaban-jawaban anda dan setiap jawaban menyebabkan terjadinya pertanyaan-pertanyaan baru” Karl Jaspers.</p>
<p>Pertanyaan dan rasa heran adalah muasal filsafat atau berfilsafat. Kemajuan filsafat diukur dari pertanyaan yang diajukan bukan dari jawaban yang diberikan. Berfilsafat berkenaan dengan kemampuan memberikan pertanyaan terhadap sesuatu rumusan yang telah dianggap final. Dalam filsafat, setiap data dan setiap pengalaman sedapat mungkin ditinjau dengan tidak berprasangka dan dengan perhatian yang mendalam.</p>
<p>Jika kita ingin belajar filsafat, fokuskanlah pada pertanyaannya. Jika kita terfokus pada jawaban yang diberikan oleh para tokoh, kita akan terjebak pada pelbagai teori yang membingungkan (banyak tokoh, banyak jawaban untuk satu soal yang sama).  Fokus pada jawaban saja akan membuang-buang waktu percuma. Untuk itu jangan membiasakan diri menghafal ungkapan-ungkapan tokoh-tokoh filsafat, namun kemukakanlah: apakah pertanyaannya?</p>
<p>Alasannya begini dapat bermula dari kata-kata Bertrand Russel berikut ini:</p>
<p>“…para filsuf sekaligus merupakan akibat dan sebab: akibat dari keadaan masyarakatnya dan hubungan-hubungan politik dan sosial dari zamannya; sebab- sepanjang mereka berhasil – dari anggapan-anggapan yang meninggalkan bekasnya pada hubungan-hubungan politik dan sosial dari kurun waktu kemudian.”</p>
<p>setiap filsuf hidup dalam ruang waktunya masing-masing. Ia berada dalam kehidupan, masalah dan teka-tekinya. Ia mengajukan pertanyaan sebagai upaya untuk memahaminya, lalu ditemukanlah sehimpun jawaban. Namun jawaban itu harus diletakkan dalam konteks kehidupannya yang tentu saja berbeda dengan kehidupan kita hari ini. Ungkapan Thales bahwa dunia ini berasal dari air, tentu begitu luar biasa untuk saat itu. Namun untuk saat ini, pada saat ilmu pengetahuan alam telah menunjukkan temuan-temuan yang lebih teruji, jawaban Thales menjadi tidak berarti. Berbeda jika kita berfokus pada pertanyaannya (apakah asal-muasal segala sesuatu?), Thales akan terus bisa digunakan karena pertanyannya masih bisa relevan untuk hari ini.</p>
<p>Jadi, mengutip Hector Hawton[7], cara yang lebih bermanfaat dalam belajar filsafat adalah dengan memperhatikan bagaimanakah setiap filsuf mengajukan beberapa pertanyaan baru, yang teranyam dengan argumen yang segar, dan kemudian mengajukan jawaban namun dimentahkan lagi oleh  pertanyaan baru yang lebih segar dari filsuf kemudian. Begitu selanjutnya. Dengan cara ini, “kita tinggal menyaring pengalaman selama berabad-abad. Kita tidak saja mengetahui, misalnya, hal-hal yang ditanyakan oleh Locke, tetapi juga hal-hal yang dipikirkan oleh Berkeley mengenai pertanyaan itu, dan bagaimana kelanjutan pertanyaan tersebut ketika hinggal di berbagai pikiran Hume dan Kant.</p>
<p>Sekali lagi belajar filsafat berarti menelusuri pertanyaannya bukan jawabannya. Jika kita terpaku pada jawaban akan menjebak kita pada kesia-siaan. Di kancah filsafat yang satu soal terus-menerus menjadi masalah dari zaman ke zaman, memungkinkan satu argumen tidak memiliki umur yang panjang: ia bisa saja telah dikritik dan direvisi oleh pemikiran selanjutnya. Terpaku pada satu argumen saja, tanpa melihat nasib argumen itu pada lipatan sejarah berikutnya,  akan membuat kita membicarakan botol kosong. Kita bersikutat pada argumen yang pada zamannya terbukti sebagai argumen yang salah; atau mengajukan pertanyaan yang pada masa lampau pernah diperbaiki dengan perbaikan yang hati-hati.</p>
<p>Jadi, sebagai langkah, salah satu cara terbaik untuk belajar filsafat adalah 1) carilah pertanyaannya, 2) temukan bagaimana pertanyaan itu dijawab, 3) bagaimana jawaban itu digugat dan diperbaiki; atau bagaimana pertanyaan itu diperbaiki atau digugat dari masa ke masa.</p>
<p>Membaca buku filsafat merupakan kegiatan memperhatikan secara mendalam terhadap segala yang telah dipikirkan orang lain (filsuf-filsuf), menyiapkan rasa heran dan siap mengajukan segala pertanyaan pada mereka. Tokoh yang kita baca barangkali seorang filsuf besar, namun belum tentu ia telah begitu sempurna tanpa kesalahan yang bisa dipertanyakan. Kalaupun ada yang sempurna, kesempurnaan itu untuk zamannya yang belum tentu pas untuk zaman kita.</p>
<p>“Ciri khas dari seorang filsuf yang baik bukanlah bahwa dia harus dapat memecahkan segala persoalan…Seringkali yang paling baik yang dapat dikerjakannya adalah menunjukkan masalah-masalahnya, melukiskannya dengan kata-kata, sekalian dengan segala sesuatu yang mungkin tidak dapat dihindari, dan menerangkan akibat-akibat yang disebabkan oleh keadaan persoalan yang bersangkutan atas penyelidikan-penyelidikan yang lain” (Xenophone)[8]</p>
<p>Hal ini akan bisa dibuktikan jika kita membaca tokoh lain yang muncul setelah tokoh yang kita baca. Kita akan menemukan gugatan atau revisi atas pertanyaan yang menjadi dasar tokoh yang sedang kita baca.</p>
<p>Jadi, bagaimana cara kita belajar filsafat?</p>
<p>    * Anggaplah filsafat bukan barang suci yang disakralkan. Ia hanya pemikiran biasa dari orang biasa yang bisa kita gugat, dipertanyakan ulang.</p>
<p>“Jika  orang menginginkan suatu filsaat sebagai suatu sistem prinsip-prinsip yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang kebenarannya sangat pasti, maka hal itu adalah sesuatu yang mustahil” (Ubbink).[9]</p>
<p>Filsafat bukan pemikiran yang selesai, ia bahkan selalu menyisakan pertanyaan baru yang membuat kita dipaksa terlibat, yakinlah bahwa di dalam filsafat, kita –jarang atau– tidak pernah mendapatkan pemecahan-pemecahan yang tuntas atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.</p>
<p>   1. Filsafat adalah pemikiran yang mengundang kita untuk selalu terlibat langsung. Banyak sekali filsafat yang maksudnya agar kita meneruskan apa yang telah dimulainya. Dengan demikian jangan sungkan-sungkan untuk tidak sependapat, tuliskan pendapat dan sanggahan anda, ujilah kebenaran yang dikemukakan oleh filsuf-filsuf itu. Alfred Ayer pernah menyarankan untuk menjadikan pemikiran seseorang sebagai bahan latihan berfilsafat. Ayer menyatakan, “…..ajukan pendapat-pendapat yang sudah tetap itu, sebagai bahan diskusi; mencari standar-standar dan menguji nilai-nilainya; apa asumsi-asumsi itu masih berlaku.” Dengan cara ini kita terlibat, juga kehidupan nyata kita.<br />
   2. Agar bisa menguji dengan baik, kita juga jika perlu harus menunda apa yang semula kita yakini. Dengan cara ini, kita tidak berperang sendirian. Jika dalam pikiran kita masih ada keyakinan lama dan itu dijadikan ukuran, kita tak akan menemukan mutiara yang ditawarkan orang lain. Rasakan dulu tanpa prasangka, baru setelah itu dibandingkan. Serentak dalam perbandingan itu, kita telah melakukan pengujian secara tidak langsung.<br />
   3. Seorang pembelajar filsafat tidak pernah merasa benar sendiri, telah benar dan tak mungkin salah.</p>
<p>“Tidak ada yang kurang pantas bagi seorang filsuf selain daripada mau benar sendiri dalam diskusi dan dalam berargumentasi. Mereka benar sendiri –sampai bentuk refleksi logisnya yang paling halus—adalah pengungkapan “jiwa mempertahankan diri”, yang justru menjadi tujuan seorang filsuf untuk menghapuskannya…” (Theodor W. Adorno)</p>
<p>Artikel ini mencoba menawarkan uraian sejarah filsafat dalam kaitan sebab-akibat, menekankan bahwa inti berfilsafat adalah pertanyaan, dan terakhir memberi peluang bagi kita semua untuk terlibat. Maksudnya,</p>
<p>   1. Satu pemikiran akan diletakkan dalam kaitannya dengan situasi yang menyebabkannya (pemikiran dan situasi zaman sebelumnya) dan situasi yang diakibatkannya (pemikiran dan situasi zaman yang muncul sesudahnya).<br />
   2. Setiap pemikir diletakkan dalam drama pencarian jawaban-jawaban atas pertanyaan pemikir sebelumnya. Ikhtiar yang bermula dari pertanyaan lain (yang mempertegas atau menambahkan pertanyaan utama) lalu merumuskan dengan cara baru, namun rumusan itu akan juga dikritisi dan direvisi oleh pemikir sesudahnya. Dengan cara ini kita akan menemukan kehebatan seorang filsuf (yaitu ketika kita membandingkan dengan filsuf sebelumnya) sekaligus kelemahan seorang filsuf  (yaitu ketika kita membandingkan dengan filsuf sesudahnya).<br />
   3. Setiap pemikir, diupayakan, dikaitkan dengan situasi zamannya serta kemungkinannya bagi aplikasi di zaman ini.<br />
   4. Dalam kaitan sejarah inilah ungkapan Neil Postman dapat dikemukakan, bahwa setiap tokoh dalam sejarah pemikiran ditampilkan sebagai pembuat kesalahan yang besar (the great error maker) sekaligus juga pengoreksi-pengoreksi kesalahan yang besar (the great error-corrector). Karena itu bagi Postman Bagi Postamn, proses belajar selayaknya sanggup memperlihatkan pada peserta belajar bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang memalukan, karena justru melalui kesalahan kita dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap sesuatu.</p>
<p>“Karena kita adalah jiwa yang tidak sempurna, maka pengetahuan kita juga tidak sempurna. Sejarah tentang proses belajar adalah sebuah petualangan untuk mengatasi kesalahan-kesalahan kita. Tidak ada dosda bagi orang yang berbuat salah. Dosa itu ada pada ketidakmauan kita menguji kepercayaan-kepercayaan, dan mempercayai bahwa kemampuan-kemampuan kita tidak bisa salah”.[10]<br />
[1] F. Elders, dikutip dari Geerard Beekman, Filsafat para Filusf Berfilsafat h. 51</p>
<p>[2] Ravel, Geschiendenis van de westerse Filosofie, dikutip dari Beekman, Filsafat para Filsuf Berfilsafat, Erlangga, hal. 56</p>
<p>[3] Jostein Gaardner, Dunia Sophie, Mizan, Bandung, hal. 517</p>
<p>[4] Jostein Gaardner, hal. 519</p>
<p>[5] Peter Seneg, Fifth Dicipline, dikutip dari Andreas Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar, Gramedia, Jakarta, hal.139</p>
<p>[6] Dikutip dari Crito</p>
<p>[7] Hector Hawton, Filsafat yang Menghibur, Ikon, Jogjakarta, 2003, ha. 7</p>
<p>[8] Geraard Beekman, h. 125</p>
<p>[9] Geraard Beekman, h. 119</p>
<p>[10] Neil Postman, Matinya Pendidikan, hal. 210</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apakah Filsafat Itu..?]]></title>
<link>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/25/apakah-filsafat-itu/</link>
<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 14:52:04 +0000</pubDate>
<dc:creator>nemuriuta</dc:creator>
<guid>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/25/apakah-filsafat-itu/</guid>
<description><![CDATA[Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat. Bukan pemikiran-pem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:left;"><em><img class="alignleft size-medium wp-image-45" title="philosophy1" src="http://nemuriuta.wordpress.com/files/2009/07/philosophy1.jpg?w=267" alt="philosophy1" width="267" height="300" />Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat. Bukan pemikiran-pemikiran untuk ditiru, akan tetapi bagaimana caranya berfikir sendiri</em>” (Imanuel Kant)</p>
<p>Apakah Filsafat itu? Banyak ragam jawaban yang bisa diajukan untuk menjawab pertanyaan ini.</p>
<p style="padding-left:30px;">“…filsafat adalah tidak lebih dari suatu usaha untuk…menjawab pertanyaan-pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan pada kehidupan sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan. Akan tetapi secara kritis, dalam arti: setelah segala sesuatunya diselidiki problem-problem apa yang dapat ditimbulkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang demikian itu dan setelah kita menjadi sadar dari segala kekaburan dan kebingungan, yang menjadi dasar bagi pengertian kita sehari-hari…” (Bertrand Russel)<!--more--></p>
<p style="padding-left:30px;">“Filsafat adalah pencarian akan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang sudah semenjak zaman Yunani dalam hal-hal pokok yang tetap sama saja. Pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang dapat kita ketahui dan bagaimana kita dapat mengetahuinya; hal-hal apa yang ada dan bagaimana hubungannya satu sama lain. Selanjutnya mempermasalahkan pendapat-pendapat yang telah diterima, mencari ukuran-ukuran dan menguji nilainya; apakah asumsi-asumsi dari pemikiran ini dan selanjutnya memeriksa apakah hal-hal itu berlaku. (Alfred Ayer)</p>
<p style="padding-left:30px;">“Filsafat adalah perang sabil terhadap pesona dengan apa bahasa mengikat pemikiran saya” (Wittgenstein)</p>
<p>Wah, jawaban-jawaban di atas begitu mewah dan dalam beberapa hal susah untuk dimengerti. Marilah kita mencoba mencari gambaran lain yang lebih renyah dari Van Peursen:</p>
<p style="padding-left:30px;">“Peristiwa-peristiwa dalam hidup keseharian sering kita tanggapi sebagai sesuatu yang serba biasa, yang tidak menimbulkan rasa heran atau kagum. Berulangkali telah kita lihat bagaimana bunga pohon jambu berguguran sebelum menghasilkan buahnya. Sampai pada suatu ketika sekuntum saja yang dengan perlahan-lahan melayang ke bawah menimbulkan semacam rasa heran dalam hati kita. Apa artinya gejala ini, apa maknanya pohon jambu sebelm berbuah menaburkan bunga-bunganya? Adakah semuanya ini terjadi dalam kerangka yang lebih luas [tidak hanya pada pohon jambu, namun juga pada manusia]…Dan terpaparlah refleksi menusawi, ia mulai termenung. Dengan bercermin pada peristiwa pada peristiwa biasa (bunga jambu berguguran) ia menemukan introspeksi atau mawas diri dan dalam bungan bunga gugur itu ia menemukan jejak perjalanan dirinya sendiri, ia seperti melihat perjalanan dirinya yang demikian tidak menentu. Termenung. Saat itulah, ia mulai menjadi seorang filsuf!”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Peursen mengaitkan filsafat dengan rasa heran. Filsafat sebagai hasrat akan kebijaksanaan akan tumbuh dalam diri manusia ketika manusia dihinggapi oleh rasa kagum dan rasa heran. Rasa heranlah yang membuat manusia berbeda dengan binatang atau tumbuhan. Binatang secara umum menganggap dunia kehidupannya sebagai biasa-biasa saja, tetapi manusia seharusnya tidak. Rasa biasa hanya pada permulaannya saja, terutama ketika kehidupan sudah demikian mekanis. Maksudnya, ketika seluruh kegiatan kita dilakukan secara begitu saja: bangun pagi, shalat subuh, pergi ke kampus/kantor, siangnya pulang, istirahat, menonton TV, lalu tidur dan bangun esok harinya dengan cara sama. Namun selalu ada saat istimewa yang membuat kita terhenyak dan membuat kita keheranan, seperti gugurnya bunga jambu itu. Rasa heran muncul pada saat membayangkan gugur pohon jambu itu adalah saya, yang juga gugur beru1langkali tanpa menghasilkan buahnya. Saat itulah saya menanyakan makna dan sebab. Apakah saya tak lebih dari bunga jambu? Apakah saya rela terus mengalami keguguran sebelum menghasilkan buah? Rasa heran mematahkan belenggu rasa biasa sekaligus menyadarkan bahwa manusia harus lebih dari sekadar pohon jambu.</p>
<p>Hidup manusia tak boleh sekadar mengulangi kegiatan yang sama. Ada banyak kegiatan yang kita anggap biasa-biasa, membuat kita enggan mengubahnya. Kita terkurung di dalamnya yang akhirnya kita tak pernah menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Kita menjadi tawanan dari kebiasaan kita. Situasi ini sangat menyedihkan, karena sebagai manusia kita tak sekadar menempati ruang kehidupan. Lebih dari itu, kita berkewajiban untuk berkarya, memberi warna pada dunia.</p>
<p>Bila kita mulai menyadari inti kemanusiaan sebagai pemberi warna kehidupan, kita akan mengambil jarak terhadap hal ihwal sehari-hari. Dengan memperhatikan secara seksama, kita mengamati tindakan-tindakan yang telah dianggap: biasa saja, sudah seharusnya begitu, dan begitulah yang sebenarnya.</p>
<p>Istilah filsafat berkaitan dengan rasa heran itu, Aristoteles menyatakan bahwa rasa heran merupakan nenek moyang (<em>arkhe</em>) dari “hasrat akan kebijaksanaan” (<em>philosophia</em>). Istilah filsafat dalam khazanah kesusasteraan Yunani lama juga berkaitan dengan kegiatan manusia yang “melihat segala sesuatu dengan <em>perhatian </em>dan <em>minat</em>”; atau “berpikir tentang segala sesuatu dan menyadarinya”.  Kemudian istilah ini berkembang bahwa manusia mulai bermenuh mengenai hal-hal biasa dan kemudian mengenai hal-hal yang lebih luhur lagi. Filsuf Heraclitos, orang yang pertama kali menggunakan istilah “filsuf” menyatakan bahwa Tuhanlah yang dapat disebut kebijaksanaan. Namun Plato menegaskan kebalikannya,</p>
<p style="padding-left:30px;">“Para dewa tidak dapat disebut sebagai filsuf, mereka sudah memiliki kebijaksanaan, segala kebijaksanaan; hanya manusialah yang mendambakan kebijaksanaan karena ia tidak pernah dapat meraih kebijaksanaan dengan sepenuhnya”.</p>
<p>Kembali lagi pada pertanyaan Apa itu Filsafat? Kembali dikutipkan Van Peursen:</p>
<p style="padding-left:30px;">“Saya kira bahwa filsafat atau lebih tepatnya berfilsafat, pertama-tama adalah penjelasan dari pandangan kita sendiri. Kedua adalah suatu ikhtiar untuk dapat melakukan komunikasi secara dalam dengan kenyataan. Yaitu suatu komunikasi yang sanggup merelatifkan pandangan-pandangan dasar kita mendasar atau pandangan kita sendiri, serentak menempatkan tanda tanya di belakangnya. Lewat berfilsafat kita berusaha untuk meneruskan komunikasi keseharian yang telah lama terputus oleh perasaan biasa saja. Berfilsafat adalah suatu komunikasi yang menghapuskan kesalahpahaman dan yang berusaha untuk menghilangkan hal-hal yang sudah semestinya, yang terlalu emosional. Dan ketiga, adalah integrasi dari pemikiran-pemikiran yang terlalu teoritis dan tindakan-tindakan yang lebih praktis  …filsafat mempunyai tugas menyumbang untuk menjelaskan sikap manusia yang menyeluruh, di antaranya sikap keagamaannya, etikanya, sosialnya dan semacam itu…Filsafat bukanlah hanya integrasi dan komunikasi, akan tetapi pembentangan asumsi-asumsi sendiri dan kesediaan untuk dikritik. Soalnya adalah memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mencantumkan tanda tanya di belakangnya…”</p>
<p>Mencantumkan tanda tanya di belakang segala hal-hal yang kita anggap sudah semestinya, yang terlalu emosional kita terima sebagai benar tak terbantahkan. Itulah Filsafat, lebih tepatnya berfilsafat.</p>
<p align="center">***</p>
<p style="padding-left:30px;">“…saya dianggap seorang filsuf. Itu adalah semacam seorang udik yang cerdas, yang dengan mulut menganga dan mata terbelalak melihat barang-barang yang oleh orang-orang “bijaksana” dianggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya; seorang udik yang selalu berperasaan bahwa fakta-fakta yang paling nyata dari kehidupan keseharian sebenarnya sangat aneh…&#8221;</p>
<p>Tulisan itu dikutip dari Alan Watts, filsuf Amerika, yang mengemukakan suatu mentalitas berpikir. Menjadi filsuf berarti tidak sok tahu, atau merelakan diri sebagai “selalu orang baru”. Tak ada yang biasa-biasa. Semua kejadian, benda-benda, orang-orang yang ditemui selalu khas, unik dan membawa kabar akan kearifan. Filsafat yang sering didefinisikan sebagai “cinta akan kearifan” menceritakan suatu kegiatan seorang kekasih yang mabuk cinta. Seperti dalam kisah <em>Layla Majenun, </em> Qays si penggila Layla pada puncak kangennya selalu curiga bahwa di segala tempat bahkan pada angin yang menghembus ada jejak dan pesan dari Layla. Qays menemukan Layla di mana-mana, demikianpun dengan filsuf: ia menganggap di segala hal ada kearifan dan tidak percaya bahwa semuanya berlangsung begitu saja.</p>
<p>Kenyataan keseharian bukan berlangsung begitu saja, namun memiliki pesan dan jejak dari kebenaran/kearifan yang kita kangeni. Rasa kangen dan hasrat untuk bertatap muka membuat kita selalu memperhatikan dengan perasaan heran dan kritis: mengapa benda-benda itu ada dan mengapa benda-benda itu demikian? Apakah tujuan, arti, maksud, serta nilai benda itu? Hasrat untuk menemui kebenaran membuat kita mau menghubungkan semua kenyataan yang kita temui.</p>
<p>Mengajukan pertanyaan itulah cara awal dari berfilsafat. Hanya saja pertanyaan yang diajukan, bukan interogasi macam penyidikan polisi atau pemeriksaan jaksa di pengadilan. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan orang udik atau pertanyaan kanak-kanak balita.</p>
<p style="padding-left:30px;">“Para filsuf seperti anak-anak di bawah usia lima tahun…”Di samping segala perbedaan di antara mereka, para filsuf memiliki suatu ciri khas yang sama, yang barangkali sekaligus dapat berfungsi sebagai kriteria yang menentukan untuk pertanyaan: apakah ia akan kita namakan seorang filsuf? Ciri khas itu berupa kebiasaan untuk terus bertanya: mengapa sesuatu itu demikian atau mengapa sesuatu itu dianggap saling bertentangan. Pokoknya pertanyaan sebagaimana ulahnya anak-anak…”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Pertanyaan kanak-kanak, menurut Edward de Bono, bermula dari kata: <em>mengapa?</em> Kemudian berkembang menjadi <em>mengapa tidak begini, mengapa tidak begitu</em>. Lalu setelah dewasa berkembang menjadi perumusan kenyataan dalam bentuk jawaban <em>oleh karena itu</em>, suatu jawaban yang mewarnai kehidupan manusia dewasa yang melulu menyatakan bahwa semuanya <em>biasa saja dan sudah semestinya demikian.</em></p>
<p>Segalanya telah disusun, diatur dan disimpan, dilengkapi dengan etiket dan merek-merek. Hampir tak ada, atau sama sekali tidak ada masalah lagi. Maka tak ada lagi tempat bagi rasa heran dan takjub, orang dewas sudah tahu semuanya. Tapi tidak bagi kanak-kanak. Kanak-kanak melihat kehidupan dengan mata bening, suatu kualitas cara memandang yang kemudian disadari oleh para filsuf. Kesadaran yang mendorong semua filsuf untuk membersihkan cara pandang dewasanya, “…apabila kita membersihkan jendela-jendela pengamatan kita, maka setiap hal akan muncul kembali di hadapan kita sebagai keadaan sebenarnya”.<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Kanak-kanak dapat melihat kenyataan sebagai keadaan sebenarnya, inilah yang ingin dicapai para filsuf. Sebagai ilustrasi berikut dikutipkan cerita yang menunjukkan perbedaan prang dewasa dan kanak-kanak.</p>
<p>Seorang anak bertanya, “Papa kenapa anak-anak itu bekerja di kebun dan aku tidak?”.</p>
<p>Anak itu berumur 6 tahun. Ayahnya punya perkebunan luas di daerah Florida, Amerika Serikat. Di kebun itu banyak buruh dipekerjakan, juga anak-anaknya. Anak 6 tahun ini tentu tidak dipekerjakan, tapi ia  menyaksikan dan membandingkan untuk kemudian bertanya, “mengapa?”.</p>
<p>Pertanyaan itu tak berhenti di situ.</p>
<p>Di umurnya yang ke-12 si anak menulis dalam pelajaran mengarang di sekolahnya:</p>
<p style="padding-left:30px;">“Aku sebenarnya ingin, orang-orang yang bekerja untuk kami sekeluarga bersikap berteman kepada kami. Sekarang, mereka takut pada ayah. Mereka takut kepada para mandor… Harus kuakui: aku kira mereka juga takut kepadaku. Bila aku datang ke dekat mereka dengan sepedaku, mereka pun berhenti berbicara, dan mereka bekerja sangat keras dan mereka berkali-kali memandang ke arahku, melihat apakah aku masih tetap di situ”.</p>
<p>Suatu hari yang lain, anak itu menggambar langit, sebuah lanskap dan sebuah matahari. Matahari itu amat besar. Di bawah bola yang menyala-nyala itu dilukiskannya para buruh bekerja memetik di kebun. Melihat itu, ayahnya merengut, “Matahari itu terlalu dibesar-besarkan,” gerutunya. Papa itu memang merasa anaknya kian kritis kepada keadaan di sekitarnya.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Anak-anak dalam cerita itu bertanya “kenapa” dan bapaknya menjadi gusar. Orang dewasa menyebutnya “terlalu dibesar-besarkan”. Dan semua anak-anak, kaya dan miskin, seperti itu rupanya. Pada kisah yang lain yang disusun Coles, seorang Ibu Chicano di Texas mengemukakan, “Ketika anak-anak, saya masih kecil saya mencoba sedapat saya membuat mereka senang. Terkadang, sementara saya memeluk mereka, saya berkata kepada diri saya sendiri: tak lama lagi si kecil ini akan tahu tentang Texas…Yang paling celaka ialah bila anak-anak itu mulai bertanya: mengapa. Saya mencoba mencegahnya. Saya katakan kepada mereka, sudah, jangan bertanya-tanya begitu. Saya tak tahu kenapa orang-orang itu berada di atas dan kita berada di bawah…”<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Aih, betapa lalimnya menjadi orang dewasa, betapa pengecutnya. Kesadaran akan kebebalan orang dewasa dan penyesalan terhadapnya merupakan awal dari perbaikan kemanusiaan. Namun kembali menjadi kanak-kanak tentu saja tidak mungkin, terlebih kanak-kanak juga memiliki kelemahan: tidak konsisten dan kurang berpikir sistematis. Maka menjadi filsuf (atau berpikir seperti filsuf) adalah jawabannya.</p>
<p>Menjadi seperti kanak-kanak adalah ikhtiar untuk kembali menemukan kebeningan kita, tapi itu tak gampang dan mungkin saja tidak bisa dilakukan. Yang paling bisa dilakukan adalah pencapaian <em>keheningan</em> dari kesibukan kita yang bertubi-tubi. Menjadi filsuf, sebagai kesadaran bahwa kita tak lagi sebening kanak-kanak, berarti mengikhtiarkan suatu keheningan dan menganggap hiruk pikuk sebagai kerangkeng yang membuat kita tidak manusiawi. Keheningan menjadi barang langka, dan harus diupayakan agar kita bisa menemukan dunia kehidupan kanak-kanak. Jadi hal pertama yang harus dimiliki seorang filsuf adalah <em>takjub berkeheningan</em>.</p>
<p>Menjadi filsuf, sebagai ikhtiar membeningkan cara pandang,  dimulai dengan <em>pengakuan akan kebebalan</em>, seperti dikemukakan Socrates <em>saya tahu bahwa saya tak tahu apa-apa</em>. Lewat kesadaran inilah kemudian kita berusaha untuk <em>memahami kata-kata</em>, memahami kembali peristiwa-peristiwa dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah dianggap lazim. <em>Pengakuan akan kebebalan</em> secara otomatis akan menggiring kita pada kesadaran <em>cinta pada kearifan, pada kebenaran</em>. Suatu kecintaan yang akan mengarahkan kita untuk tidak sekadar menjadi kanak-kanak yang terus bertanya dengan sedikit rasa tanggung jawab.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Kaitan antara keempat sikap dan tujuan berfilsafat ini (takjub berkeheningan, pemahaman kata-kata, pengakuan kebebalan, dan cinta kealiman) berhubungan dengan empat unsur utama dalam filsafat. Dua unsur pertama bersifat <em>teoretis, </em> yaitu metafisika dan logika. Sedang dua unsur lainnya bersifat praktis, yaitu ontologi dan Ilmu. Berfilsafat adalah mengajukan pertanyaan, dan pertanyaan menjadi dasar dari keempat unsur filsafat ini:</p>
<ul>
<li>Metafisika       : <em>Apa yang merupakan realitas puncak</em>?</li>
<li>Logika             : <em>Bagaimana kita memahami makna kata-kata?</em></li>
<li>Ontologi          : <em>Apa Makna ada?</em></li>
<li>Ilmu                 : <em>Di mana garis batas pengetahuan?</em><em> </em></li>
</ul>
<p>Wilayah Metafisika merupakan cara untuk menghasilkan <em>pengakuan kebebalan,</em> Ilmu untuk<em> cinta kealiman,</em> Ontologi untuk <em>takjub keheningan,</em> dan Logika untuk <em>pemahaman kata-kata.</em></p>
<p style="text-align:left;">Mari kita buat pembagiannya yang saling berkaitan:</p>
<ul>
<li> Takjub berkeinginan (Ontologi: Apa maknanya ada?)</li>
<li>Cinta Kealiman (Ilmu: Di mana garis batas pengetahuan?)</li>
<li>Pengakuan Kebebalan (Metafisika: Apa itu realitas puncak?)</li>
<li>Pemahaman kata-kata (Logika: Bagaimana memahami kata-kata?)</li>
</ul>
<p align="center"><em>***</em>.</p>
<p>DARI manakah pertanyaan-pertanyaan dapat muncul? Dari rasa heran.</p>
<p>Siapapun yang dengan perhatian secara terbuka tanpa prasangka dalam melihat segala sesuatunya, akan mengalami kemunculan rasa heran. Belajar berfilsafat pada taraf tertinggi adalah: belajar merasa heran. Rasa heran menyebabkan orang tersentak bangun dan mulai memeriksa kembali apa yang sebelumnya dianggap biasa-biasa saja. Rasa heran berarti suatu keterbukaan ketika menemukan bahwa apa yang sebelumnya dianggap lumrah ternyata menunjukkan hal-hal di luar dugaan. Pada saat ini, muncullah pertanyaan-pertanyaan terhadap keyakinan lama.</p>
<p>Rasa heran adalah nama lama untuk perhatian yang menakjubkan, yang menyebabkan seseorang melihat sesuatu di dunia sebagai suatu pertanyaan yang mengasyikkan. Pada rasa heran ini dapat dibedakan unsur-unsur berikut ini: 1) Obyek yang menyebabkan keheranan saya itu berhadapan dengan saya sebagai sesuatu yang sama sekali tidak dapat saya pahami; sesuatu yang asing; sesuatu yang secara menakjubkan atau menakutkan memaksa saya untuk bertanya-tanya. Sesuatu yang semula biasa-biasa saja menjadi tampak misterius, sehingga pengetahuan sebelumnya menjadi tidak bisa digunakan lagi. 2) Perbedaan antara rasa tahu dan rasa aneh merupakan suatu keasyikan tersendiri. Realitas yang tiba-tiba saja tidak lagi bisa dikenali menghidupkan semangat untuk dapat mengetahuinya lagi dan lagi.</p>
<p>Rasa heran kemudian melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan kehidupan manusia, si penanya.Dengan pertanyaan itu terbukalah deretan yang menjuruskan rasa heran itu ke arah mengetahuinya, memahaminya. Apakah setelah itu rasa heran jadi punah. Mengetahui dan memahamin belum berarti memusnahkan rasa heran. Dalam kegiatan bertanya-tanya, rasa heran terus memuncak-muncak. Setiap dapat satu jawaban, jawaban itu harus menjadi obyek dari perhatian yang mendalam dan terkonsentrasi. Jadi dalam rasa heran dan dunia pertanyaan, setiap jawaban selalu memberi peluang untuk ditanyakan lagi. R. Beerling menyatakan kait kelindan ini dalam ungkapan,</p>
<p>“Jawaban yang sebenarnya atas pertanyaan-pertanyaan <em>mengapa</em> selalu terbuka lagi untuk ditinjau kembali.., jawaban itu selalu bergeser lagi ke arah kaki langit. Apabila kita menemukan sesuatu yang dahulu tidak dikenal, maka akan timbul lagi hal-hal tak dikenal yang baru”.<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p align="center">***</p>
<p>APAKAH rasa heran muncul begitu saja? Tidak, rasa heran akan muncul begitu kita mau memberikan perhatian terkonsentrasi pada segala hal.</p>
<p>Seorang pelaut yang sudah tak memiliki kapal, terdampar di sebuah pulau asing. Setelah lelah dipermainkan ombak dan badai, terpaksan terbangun karena jeritan seekor bung Beo. Bukan karena kerasnya suara burung itu, tapi karena kalimat yang diulang-ulangnya, “<em>perhatian-perhatian, di sini dan sekarang…di sini dan sekarang</em>!” Pelaut itu takjub, dan bertanya pada pemiliknya, mengapa burung Beo diajar kalimat seperti itu, bukan kalimat lainnya seperti salam. Sang Pemilik menjawab, “Itulah yang selalu Anda lupakan bukan? Anda lupa untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi.”</p>
<p>Demikian Aldous Huxley, dalam novel Pala Island menyindir kebiasaan kita yang sering melupakan apa yang seharusnya diingat: di sini dan sekarang. Manusia memang sering merasa betah pada satu hal, walaupun hal itu semula ia benci dengan kesumat. Misalnya, ada sebagian yang mengangankan masa lalu yang begitu gemilang untuk kembali mewujud pada hari ini. Keinginan ini membuat masa kini dan masa depan jadi tak ada, yang ada melulu masa lalu. Romantisme berlebih, demikian orang menyebutnya. Ada juga orang yang menganggap masa depan sebagai segalanya, saat ini hanyalah bangkai yang harus dihindari; masa lalu adalah bangkainya bangkai. Padahal hidup adalah hari ini, karena manusia sebenarnya tidak pernah mengalami hidup pada hari esok atau hari kemarin.</p>
<p>Filsafat adalah ikhtiar untuk mengembalikan manusia pada situasi <em>di sini dan sekarang.</em> Filsafat mengajak manusia untuk keluar dari rutinias yang membosankan menuju kebenaran yang mengasykkan. Rutinitas itu, kalaupun kita lakukan hari ini, sebenarnya berasal dari masa lalu atau untuk masa depan. Rutinitas adalah jebakan kebiasaan, karena kemarin begini maka besok juga begini, dan seterusnya. Di tengah rutinitas itu, tentu saja, kita jadi bagian dari kehendak bukan kita. Seruan burung Beo untuk memperhatikan <em>di sini dan sekarang</em> merupakan ajakan untuk keluar dari rutinitas, dan filsafat salah satu jalannya.</p>
<p>Kesadaran akan pentingnya memperhatikan secara terkonsentrasi pada kenyataan yang sedang dialami akan menerbitkan rasa heran. Tanpa perhatian yang terkonsentrasi, segala yang lewat dianggap biasa-biasa saja, tak ada yang aneh. Namun begitu kita mau berhenti sejenak untuk memperhatikan gejala-gejala (benda-benda, diri atau orang lain) kita akan menemukan sesuatu yang aneh, pada saat itulah muncul rasa heran dan serentak pula terbit pertanyaan.</p>
<p>Untuk ilustrasi rasa heran ini ada salah satu film Jim Carey yang menarik untuk diungkap. Hiduplah seorang pemuda yang cukup sukses dan bahagia di sebuah kota yang sangat menyenangkan. Semua tetangga menyapanya dengan senyum yang sangat tulus, semua orang di pasar, di jalan-jalan, di tempat ibadah begitu gemar tersenyum. Pemuda ini tentu saja merasa betah, kota itu surga baginya. Apalagi karir dan kehidupan ekonominya begitu luar biasa. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, dan karenanya tak ada satupun hasrat untuk mencari kota lain; pertanyaan sudah tak bisa diucapkan dari mulutnya. Namun suatu ketika ia jatuh cinta, dan kekasihnya hilang entah ke mana. Ia kangen dan ingin bertemu, tapi kemana? Tak ada kota lain yang ia kenal, sejak kecil ia hidup di kota bahagia tersebut. Ia berusaha mencari dan bertanya-tanya, namun setiap kali ia mau keluar dari kota ada banyak orang yang mencegahnya, bahkan memukulinya. Pemuda ini mulai curiga. Apalagi ketika ia mulai memperhatikan secara serius gejala-gejala di sekitarnya. Saat itu ia menemukan hal-hal yang berulang-ulang sama. Tetangganya keluar dari rumah pada jam yang sama setiap harinya, menyapa dengan cara yang sama; anjing melintas di depan rumahnya dengan cara dan jam yang sama; semuanya begitu sama bahkan ia bisa menebak apa yang terjadi setelah satu peristiwa. Pada saat itulah terbit rasa heran dan pertanyaan-pertanyaan. Kenapa semuanya selalu sama setiap hari? Kenapa kekasihnya pergi? Kenapa ia tak diizinkan ke kota lain?</p>
<p>Pemuda itu kemudian mencoba melarikan diri, ia berlayar menjauhi pantai yang semula dipujanya sebagai pantai bahagia. Ia dihalang-halangi dan dikejar, namun rasa heran dan penasarannya (karena tak menemukan jawaban) membuat ia tak perduli bahaya. Ia terus berlayar, mengayuh perahunya menuju ujung langit yang jauh. Tapi ternyata ujung langit itu berbatas, perahunya menabrak langit yang semula dianggap begitu tinggi dan tak terbatas. Pemuda itu kemudian tersadar bahwa dunia yang dihidupinya adalah dunia bualan, kota yang ditinggalinya adalah studio stasiun TV komersial dan dirinya adalah aktor televisi, juga semua orang di kota itu. Ia ternyata seorang manusia yang sejak lahir telah dijadikan aktor yang seluruh hidupnya diatur oleh skenario produser sinetron. Di ujung langit buatan itu, ia berdiri ragu. “Keluarlah dari kota ini, kau tak akan menemukan kebahagiaan. Di luar sana tak ada kota sesurga di sini..” teriak salah seorang produser sinetron itu. Tapi pemuda itu mau cinta dan kebahagiaan sejati, ia tetap keluar dan memeluk kekasihnya yang telah menunggu di luar kota buatan.</p>
<p>Perhatian yang terkonsentrasi dalam kisah di atas adalah pembebasan, terlebih jika diteruskan dengan menuruti rasa heran dan pertanyaan yang tak kunjung henti.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Di sebuah pasar. Seorang tukang sulap memamerkan kemampuannya dalam memukau penonton, ia bisa mengubah batu menjadi emas. Semua penonton bersorak takjub. Kecuali satu orang lelaki: tua, lusuh seperti tampang rakyat kebanyakan. Dari mulutnya keluar kata-kata yang menghentikan keriuhan tepuk tangan penonton, “<em>babari, </em>membuat batu jadi emas, <em>mah</em>. Coba jadikan hatimu beersinar-sinar dan mulia, alangkah sulit!”. Kalimat ini persis seperti ungkapan Yunani Kuno, “Kenalilah dirimu sendiri!” yang kemudian menjadi tema utama dalam banyak perbincangan filosofis. <em> </em></p>
<p>Filsafat konon harus dimulai dari diri, seperti dikemukakan Heraclitos, <em>Aku Mencari diriku sendiri</em>. Pastikan dulu diri dapat dikenali, baru melangkah ke wilayah lain. Dan mengenali diri, alangkah sulit. Kita sering secara tak sadar mengalami situasi <em>tenggelam-dalam-kerumunan</em>. Tindakan, pikiran, atau kehendak dibentuk oleh kerumunan itu, sehingga kedirian tidak terumuskan. Jikapun ada rumusan itu berasal dari pemberian kerumunan itu. Derek Walcott, penyair dari Trinidad, pernah membuat sajak yang menceritakan situasi tenggelam-dalam-kerumunan itu. Alkisah di sebuah pulau diramaikan oleh banyak hal ada seorang anak yang didatangi nenek moyangnya, dari berabad-abad silam. Anak itu ditanya, “Siapa namamu?” Lalu menjawab sebuah nama dari bahasa luar pulau itu, serentak sang nenek moyang bertanya, “apa arti dari nama itu?” Namun sang anak bisa menjawab:</p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Aku tak tahu apa arti nama itu. Ada juga artinya, </em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Barangkali. Tetapi, apa bedanya? Di dunia tempat tinggalku itu</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Kami menerima saja bunyi-bunyi yang diberikan:</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><em>Manusia, pepohonan, dan air. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kami menerima saja bunyi-bunyi yang diberikan,</em> itulah situasi tenggelam-dalam-kerumunan. Kerumunan itu memberikan banyak kata-kata yang menyihir kita menjadi penurut terhadap segala apa yang mereka katakan. Dalam kondisi seperti itu, filsafat dibutuhkan, “Filsafat adalah perang sabil terhadap pesona dengan apa bahasa mengikat pemikiran kita”, demikian ujar Wittgenstein. Bahasa dari kerumunan itu memasung pemikiran kita, dan pada saat itu dibutuhkan <em>penjernihan konsep,</em> suatu fungsi dari Filsafat analitik (salah satu tipe filsafat). <em>Penjernihan konsep </em>ini penting agar jerat-jerat bahasa kerumunan terungkap, yang dengan cara ini kita bisa melepaskan diri dan menjadi diri sendiri. Filsafat yang mengarahkan  ke jalan hidup yang manusiawi disebut Filsafat eksistensialisme. <em> </em></p>
<p>Dua tipe filsafat itu menunjukkan bahwa filsafat bukan perkara yang jauh dari kehidupan kita. Filsafat adalah menjernihkan konsep, menjernihkan bahasa agar kita bisa mengerti; filsafat adalah menemukan jalan hidup agar kita lebih manusiawi.</p>
<p style="padding-left:30px;">“Berfilsafat adalah sauatu cara berpikir yang tidak berdasarkan atas apapun juga selain daripada pengalaman dan cara berpikir sendiri. Yang dimaksud dengan cara berpikir adalah berpikir sendiri mengenai pengalaman yang dialaminya sendiri atau sekurang-kurangnya pengalaman yang disbebakan oleh inspirasi atau khayalannya. Oleh karena itu, berfilsafat tidak mengizinkan masuknya setiap kekuasaan (pengaruh) dari orang lain, yang untuk saya, mengalami dan berpikir atas nama saya, lalu mengatakan kepada saya apa yang harus saya terima saja.” (Paperzak)</p>
<p style="padding-left:30px;">“Setiap orang yang bersedia dan cenderung bertanya kepada dirinya sendiri mengapa dia melakukan ini atau itu, dia sedang berfilsafat. Berfilsafat bukan pekerjaan kaum elit saja”<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Manakah yang lebih baik dari keduanya? Adakah filsafat yang baik? Tentang filsafat yang baik dan yang tidak baik, Plato pernah menyatakan “…bahwa yang pertama membuat orang menjadi lebih baik dan yang terakhir tidak” Dikaitkan dengan dua tipe filsafat di atas, filsafat yang baik adalah gabungan (sintesa) antara keduanya. Jadi Analitik yang mengarah pada eksistensi, dan atau eksistensialisme yang memperhatikan analisa. Jadi filsuf eksistensialis yang baik ialah yang dapat mengarahkjan perhatian kita ke bidikan puncak kemanusiaan tanpa penggunaan bahasa yang ruwet dan menyesatkan (yang mengaburkan kebenaran); sedang filsafat analitik yang baik adalah yang bisa berbahasa dengan gamblang tanpa kehilangan wawasan-wawasan terhadap bidikan-bidikan pembelajaran (untuk hidup yang lebih baik).<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> C,A Van Peursen, <em>Orientasi di Alam Filsafat</em>,<em> </em>PT. Gramedia, Jakarta, 1980, h.2</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Geraard Beekman, <em>Filsafat Para Filsuf Berfilsafat</em>, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1984, h. 23<em></em></p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Blake, W., <em>The Mariage of Heaven and Hell</em>, 1872 dikutip dari Geraard Beekman hal. 40</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Dikutip dari Gunawan Muhammad, “pertantaan anak anak”, dalam <em>Catatan Pinggir </em>1, hal. 530. Konon  ini adalah cuplikan kisah nyata dari <em>Priveleged Ones </em>hasil penelitian Rovert Coles terhadap anak-anak orang kaya di Amerika.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> <em>Ibid</em>., hal. 531</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Stephen Palmquis,<em> The Tree of Philosophy,</em> Philosopgy Press, Hong Kong, 2000,</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> R. Beerling, dikutip dar iGeraard Beekman, hal. 49</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Ortega y Gasset, J., <em>Wat is Filosofie</em>,<em> </em>1960, h. 14 <em></em></p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Palmquis, <em>The Tree of  Philosphie</em>, 2000, hal. 10</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bagaimana Belajar Filsafat..?]]></title>
<link>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/25/bagaimana-belajar-filsafat/</link>
<pubDate>Sat, 25 Jul 2009 14:52:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>nemuriuta</dc:creator>
<guid>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/25/bagaimana-belajar-filsafat/</guid>
<description><![CDATA[Seorang murid mengelub kepada gurunya “bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-46" title="philosophy" src="http://nemuriuta.wordpress.com/files/2009/07/philosophy.jpg?w=234" alt="philosophy" width="234" height="300" /></p>
<p><em>Seorang murid menge</em><em>lu</em><em>b kepada gurunya “bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami. Jawab sang guru, Bagaimana pendapatmu, Nak, Andaikata seseorang menawarkan Buah padamu, apakah ia mengunyahkannya </em><em>dahulu bagimu? </em>(Anthony de Mello, <em>Burung Berkicau</em>)</p>
<p><em> </em></p>
<p>FILOSOFISTIK atau pengetahuan megenai filsafat belumlah berarti berfilsafat. Belajar filsafat bukan hendak menjadi “ahli waris” seluruh pemikiran yang telah tertulis. Bukan pengulangan kembali, melainkan pengambilan kembali untuk penciptaaan ulang. Berfilsafat merupakan suatu cara berpikir yang tidak bersumber pada suatu  rangkaian kepercayaan, akan tetapi yang hanya berdasarkan pada pengalaman dan pemikiran dari pemikir sendiri. “Filsafat bukanlah suatu pemujaan terhadap sesuatu yang suci, akan tetapi suatu usaha untuk memperoleh pengertian sendiri”<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Belajar filsafat sebagai ikhtiar menemukan pemahaman yang jernih tentang segala sesuatu (terutama perihal dirinya sendiri) merupakan makna dari filsafat sendiri. <em>Filosophia</em> adalah “keinginan menjadi arif”, dan kegiatan belajar tentu saja berada dalam keinginan yang sama. Seorang pembelajar seharusnya terus-menerus menegaskan pada dirinya bahwa ia bukanlah “orang-orang yang arif” (<em>sofis</em>) walaupun telah menemukan banyak informasi dan wawasan, pembelajar yang baik adalah yang terus menerus penasaran pada soal bagaimana menjadi arif itu.<!--more--></p>
<p>Ada perbedaan antara kepandaian dan kearifan. Kepandaian adalah kemampuan untuk menunjukkan semata-mata secara rasional apa yang dapat kita wujudkan dari data-data melalui bertukar pikiran secara logis. Kearifan adalah sikap untuk mengambil suatu pendirian tertentu dalam kehidupan kita berdasarkan hasil kepandaian tadi. Untuk dapat benar-benar hidup, kita harus mempunyai perspektif (cara memandang) atas kehidupan ini dan dengan itu atas kenyataan hidup yang dialami. Kearifan akan membawa seseorang ke dalam suatu kenyataan tertentu sedemikian jauh, sehingga ia mengerti tentang apa yang dipermasalahkannya. Seseorang bisa saja terlihat pandai, namun ia hanya mengkatakan perspektif orang lain bukan perspektif dirinya, bukan hasil olahan dari apa yang benar-benar dialaminya secara mendalam. Sebaliknya, seorang bijak adalah yang tak menunjukkan kepandaiannya namun dapat menunjukkan cara pandang baru yang menyelamatkan kediriannya.</p>
<p>Belajar filsafat berarti belajar untuk berhasrat pada kearifan atau belajar untuk mencintai kearifan. Kearifan bukan sejenis benda yang bisa diambil dari luar diri untuk dimiliki, kearifan dihasilkan dari penyadaran akan diri pribadi. Kearifan secara demikian tak bisa dipelajar dan tak ada satupun yang bisa mengajarkannya. Ia hasil dari mengalami  kehidupan pribadi dengan cara bercermin kepada pengalaman hidup orang lain. Belajar sejarah filafat yang dipenuhi oleh kisah filsuf, kegelisahannya, pertanyaan yang diajukannya, dan upaya untuk mencar jawabannya hanya berarti jika kita menganggapnya sebagai sebuah cermin. Cermin itu memantulkan manusia yang wajahnya sama dengan diri kita, ia bukan dewa-dewa yang teramat suci. Penganggapan bahwa mereka juga manusia akan memudahkan kita untuk membandingkan kedirian kita dengan mereka. Hal ini dapat membebaskan kita dari rasa takut untuk berbeda dengan mereka, filsuf-filsuf itu.</p>
<p>Keterbebasan dari rasa takut ini penting bagi proses pembelajaran. Kita yang selama ini dididik dalam rasa takut dan rasa malu telah merasakan penderitaan terkekang di bawah bayangan yang tak menentu. Semenjak sekolah dasar kita belajar untuk takut dan malu pada guru, takut dan malu membuat kesalahan, takut dan malu untuk berbeda. Barangkali ini berasal dari pola pendidikan yang menekankan pada kemampuan untuk menjawab segala persoalan dan mengharuskan kesamaan dalam menjawab segala sesuatu. Untuk itu, banyak rumah di negeri ini pernah merasa penting untuk memiliki <em>Buku Pintar</em> yang berisi seluruh pengetahuan yang bisa menjawab soal-soal secara tepat dan sama. Rasa takut itu kemudian menekan seluruh keinginan untuk menyatakan kesadaran kita yang sejati dan perasaan yang sebenarnya akan sesuatu. Rasa takut dan malu itu  membuat kita tidak memiliki keyakinan bahwa kita bisa memberikan cara pandang yang berbeda dengan orang lain, akhirnya membuat kita tidak pernah merasa yakin pada diri sendiri.</p>
<p>Dalam rasa takut dan rasa malu kita menjadi pecundang dalam segala hal. Situasi reformasi mementaskan kepecundangan kita. Begitu kebebasan dikumandangkan, kita menemukan diri kita kebingungan untuk melakukan pembentukan formasi baru bagi kehidupan bernegara. Kebebasan dirayakan, namun dalam kerangka rasa takut dan rasa malu. Karena kita takut disalahkan, kebebasan digunakan untuk menyalahkan institusi, untuk menunjuk hidung orang lain. Karena kita malu akan kelemahan yang dimiliki, kita segera menunjukkan kelemahan orang lain. Pada sisi yang lain, ada banyak orang yang menentang proses pembukaan sejarah hitam negeri ini atas dasar rasa malu. Korupsi, Kulusi dan Nepotisme yang hendak dibersihkan tak selesai-selesai karena rasa malu dan rasa takut itu begitu menguat. Alhasil, kita malu dan takut untuk secara terus terang mengakui kesalahan diri kita masing-masing; persis seperti dulu di bangku sekolahan ketika kita malu dan takut untuk bertanya pada guru/dosen di depan kelas.</p>
<p>Filsafat adalah cara untuk menemukan keberanian dalam merumuskan diri sendiri. Dalam filsafat kita menemukan kegelisahan yang tak kunjung habis, pertanyaan-pertanyaan yang terus tidak menemukan kepastian jawaban, dan jawaban-jawaban yang semula dianggap final namun kemudian ditemukan celanya. Kesemuanya ditemukan dalam formasi yang wajar, maksudnya kesalahan dalam filsafat tampak sebagai suatu kemestian manusiawi dan karena itu tak perlu ada rasa takut dan malu terhadap kesalahan. Dalam filsafat kita menemukan banyak cara pandang yang berbeda terhadap satu soal, dan semuanya begitu tak menjadi soal bahkan kemudian menghasilkan kesadaran-kesadaran yang luar bisa. Cara pandang yang berbeda sangat penting bagi kita saat ini, terutama karena kita telah disadarkan oleh proses perubahan sosial bahwa kesamaan cara pandang alih-alih menyelesaikan masalah malah mengekalkan masalah. Dalam dapat belajar bagaimana merumuskan masalah dari apa yang semula dianggap tidak ada masalah. Melalui cara ini kita jadi terpancing untuk mulai lagi merumuskan diri dan kehidupan kita secara baru, bukan dari hal besar dari apa yang menjadi basis dari kehidupan kita: yang remeh dan tak diperdulikan.</p>
<p>Filsafat yang kerap didefinisikan sebagai “hasrat akan kearifan” membuat siapapun yang bersentuhan dengannya tersedot pada hasrat itu. Dalam hasrat terhadap kearifan, kita akan malu ketika merasa diri sebagai sang arif, yang telah arif dan tak mungkin melakukan kesalahan. Terlebih pengakuan diri sebagai sang arif dalam sejarah filsafat ditulis dalam nada miring, yaitu sebagai kaum <em>sofis</em> yang menjajakan kepandaiannya untuk memanipulasi orang lain dengan bayaran tertentu.</p>
<p>Dalam kancah seperti ini, guru/dosen dan murid/mahasiswa tidak berbeda: semuanya memiliki posisi yang sama sebagai pencari yang berhasrat akan kearifan. Murid/mahasiswa yang sering dianggap sebagai orang-orang yang belum tahu, karena itu ia bersedia mencari untuk mendengar dan memperhatikan; dan guru/dosen  yang kerap mereka yang tahu dan telah belajar, pandai, dan yang menyampaikan pengetahuan dan pandangan mereka; tidak ditemukan lagi ketika kita belajar filsafat. Dalam berfilsafat tak ada seorangpun yang “telah tahu” atau telah menemukan kepastian kebenaran. Bukankah filsafat berarti “hasrat menemukan kebenaran”, selagi definisi ini digunakan tak ada satu orangpun yang merasa telah sampai, karena itu tak ada yang bisa menjadi guru dalam arti “telah tahu”. Guru-murid berada dalam relasi mencari kebenaran dengan hasrat yang dalam. Perbedaannya terletak pada cara, guru mencari kearifan dengan cara menceritakan apa yang sudah ia alami (dari kehidupan dan buku-buku yang telah dibacanya) sedangkan murid mengemukakan hasratnya dengan secara tulus mendengarkan dan membaca uraian filsafat sambil menerapkan dalam pengalaman kehidupannya.</p>
<p>Dalam belajar filsafat ada aturan yang disarankan untuk diterapkan sejak awal, hukum itu berbunyi:</p>
<p style="padding-left:30px;">“…<em>apa arti gagasan-gagasan mereka </em>untuk para filsuf itu sendiri, <em>apa nilai gagasan-gagasan itu </em>dalam diri sendiri dan <em>apa nilainya bagi kita</em>: itulah ketiga pertanyaaan yang senantiasa harus diajukan orang dalam menyelidiki sejarah filsafat, meskipun secara didaktis atau eksplisit tidak selalu mungkin atau tidak selalu perlu diajukan secara terpisah…”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Lewat cara ini, semua murid dianjurkan secara bebas untuk mengaitkan seluruh pemikiran dengan kondisi dirinya, dengan kesadaran dan hasratnya yang murni. Pada titik ini, ungkapan Wittgenstein, “Filsafat bukan ajaran melainkan suatu usaha” menjadi terasa. Filsafat bukan ajaran karena itu kita tak langsung harus percaya dan membelanya mati-matian, filsafat adalah usaha untuk menemukan kebenaran berdasarkan diri sendiri setalah bercermin dari kebenaran yang telah teruji.</p>
<p>Ketiadaan rasa malu dan takut, kepercayaan pada perbedaan, keyakinan bahwa diri sendiri mampu memecahkan pemecahan akan soal-soal kehidupan menjadi hasil lanjutan dari belajar filsafat. Hal ini mungkin kedengarannya agak berlebihan, untuk itu kisah Sophie dalam novel Jostein Gaardner, <em>Sophies World</em> bisa dikemukakan. Sophie, pada suatu pagi menemukan pertanyaan-pertanyaan aneh: <em>siapakah kamu? Darimanakah datangnya Dunia? </em> Dua pertanyaan itu membuatnya kebingungan, kenapa ada pertanyaan seperti itu? Untuk apa merumuskan pertanyaan sekonyol itu? Bukankah semuanya sudah tergelar dan begitu saja ada?</p>
<p>Lalu ditemani Albert Knox, lelaki misteriur, ia mengembara dari satu pemikiran filsuf ke pemikiran filsuf yang lain: dari Thales sampai Sartre. Dari banyak filsuf itu ia belajar merumuskan jawaban atas masalah kehidupannya. Dari Filsuf Yunani awal Sophie menemukan keajaiban berpikir dari hal-hal yang kecil dan remah seperti air, api atau lainnya; dari filsuf modern ia mendapatkan cara menganalisa kenyataan-kenyataan yang semula dianggap telah lazim; kemudian dari Sartre ia mendapatkan kesimpulan bahwa manusia tidak memiliki sifat untuk bergantung, manusia menciptakan dirinya sendiri. Seluruh penjelajahannya itu dirumuskan ulang untuk menjadi bekal perumusan situasi hidupnya, lalu Sophie menyatakan:</p>
<p style="padding-left:30px;">“Setelah melakukan telaah filsafat yang mendalam –yang dimulai dari Filosof Yunani awal hingga zaman sekarang—kami mendapati bahwa kami menjalani kehidupan kami dalam pikiran seorang mayor PBB di Lebanon….Eksistensi kita karenanya tidak lebih atau kurang dari semacam hiburan ulang tahun bagi Hilde Moller Knag (anak mayor tersebut). Kita semua telah diciptakan sebagai suatu kerangka bagi pendidikan filsafat untuk putri sang mayor. Ini berarti, misalnya, bahwa Mercedes putih di  gerbang itu tidak berharga satu sen pun. Itu hanya barang sepele. Nilainya tak lebih dari Mercedes putih yang melaju berputar-putar di kepala seorang mayor PBB yang malang…”<a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Sophie dan Albert Knox kemudian merealisasikan kegelisahan dan rumusan baru atas kehidupan yang mereka alami. Mereka berdua meninggalkan handai tolannya, keluar dari cerita novel dan berniat mendatangi Hilde dan Mayor. Handai tolannya, tentu merasa aneh dan menganggap semua keputusan Sophie sebagai tindakan sinting. Namun Sophie menjawab, “…Anda dan siapapun yang lain di sini tidak akan merindukan kami karena alasan yang sederhana, yaitu kalian tidak ada, kalian tak lebih dari bayang-bayang.”<a href="#_ftn4">[4]</a> Lalu Sophie dan Albert Knox mendatangi danau peristirahatan Hide dan Mayor dan melepaskan dayung perahu. Hanya itu yang mereka bisa lakukan setelah berfilsafat? Ya, tetapi itu masih lebih baik karena sudah merumuskan dirinya sebagai tidak sekadar tokoh novel dan menunjukkan daya kreasi di luar kehendak pengarangnya.</p>
<p>Kita mungkin juga tengah menjalani “kehidupan dalam pikiran seorang”, namun tidak pernah menyadarinya. Sophie dan Alberto Knox, lewat penjelajahan di dunia filsafat, bisa melakukan itu, yaitu menemukan simpulan yang menggerakkan kesadaran bahwa menjadi manusia berarti tak bergantung pada siapapun, menjadi manusia berarti merumuskan dirinya sen`diri. Situasi inilah yang barangkali ingin dicapai oleh Andreas Harefa ketika mengutip Peter Sange:</p>
<p style="padding-left:30px;">“Pembelajaran sebenarnya mendapatkan inti artinya untuk menjadi sangat manusiawi. Melalui pembelajaran kita menciptakan kembali diri kita. Melalui pembelajaran kita dapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dapat kita lakukan sebemulnya. Melalui pembelajaran kita merasakan kembali dunia dan hubungan kita dengan dunia tersebut. Melalui pembelajaran kita memperluas kapasitas kita untuk menciptakan, menjadi bagian dari proses pembentukan kehidupan”.<a href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Harefa memilih kata pembelajaran untuk proses belajar, dan kata pembelajar untuk aktivitas pelaksanaan hasrat akan kebenaran. Saya pikir kita akan juga setuju dengan kriteria ini, karena dalam belajar filsafat yang terutama memang bukan menemukan informasi mengenai segala hal, namun menemukan diri kita sejati di tengah pergulatan kebenaran-kebenaran.</p>
<p>Filsafat sekali lagi adalah ikhtiar mencintai kearifan. Jadi hubungan guru-murid tidak berjalan dalam hubungan pewaris dan ahli waris. Jikapun ada warisan itu sekadar pemicu agar ahli waris melakukan petualangan untuk memasuki dirinya sendiri. Guru dan murid dalam proses belajar filsafat sama-sama berposisi sebagai <em>thulab</em> (penghasrat), seperti kata-kata Nabi Muhammad, “Jadilah <em>thulab </em>(penghsrat kebenaran) semenjak engaku lahir, sampai ke liang akhir”.</p>
<p>Kembali pada soal pembelajaran filsafat, bagaimana cara hubungan guru-murid? Socrates barangkali tipe ideal bagi guru filsafat, dan Plato adalah tipe murid yang menarik. Socrates menyatakan “saya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa” dan ia menyatakan bahwa ia tidak akan menyampaikan kesimpulan-kesimpulan pasti. Socrates hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada diri dan orang lain, sehingga secara bersama-sama mencari jawabannya. Ia seorang arif karena ia dapat meletakkan pengetahuannya dalam kalimat: “<em>Kita sudah sepakat bahwa…tetapi jika anda berkeberatan mengenai satu hal, katakanlah pada saya. Kemudian akan kita pikirkan lagi</em>.”<a href="#_ftn6">[6]</a> Sementara Plato dengan setia mendengarkan serentak ikut terlibat mengajukan pertanyaan dan jawaban, kemudian menuliskannya dengan perspektif dirinya.</p>
<p>Di samping Socrates, apa yang dikemukakan Imanueal Kant dan Wittgenstein barangkali juga bisa diingat-ingat oleh pengajar filsafat.</p>
<p style="padding-left:30px;">“Dari saya, kalian tidak akan belajar filsafat. Saya mengajar kalian berfilsafat bukan pemikiran-pemikiran untuk ditiru, melainkan bagaimana caranya untuk berpikir sendiri”. (Imanuel Kant,)</p>
<p style="padding-left:30px;">“Saya tidak boleh mencegah orang-orang lain untuk berpikir, melainkan –apabila itu mungkin—mendorong seseorang untuk berpikir sendiri”. (Wittgenstein)</p>
<p>Kesemuanya dikemukakan agar proses pembelajaran filsafat dapat tetap menjaga energi kreatif dan kritis semua unsur yang terlibat.</p>
<p style="padding-left:30px;">“Berfilsafat semenjak taraf yang paling awal anti otoriter. Ia menjauhkan diri dari dogma-dogma, indoktrinasi, sensor dan perintah-perintah untuk pengumuman atau penarikan kembali. Salah satu yang pertama dan uatama dipelajari dalam filsafat adalah keberanian untuk menantang setiap bentuk paksaan dan tidak pernah mengakui suatu kebenaran atas dasar argumentasi-argumentasi otoriter, ancaman atau propaganda yang menggiurkan, melainkan semata-mata atas dasar penertian yang bebas dan alasan-alasan yang lugas. (Paperzak)</p>
<p><strong>Belajar Filsafat; Belajar Mengajukan Pertanyaan<br />
</strong></p>
<p><em>Pertanyaan-pertanyaan anda lebih penting daripada jawaban-jawaban anda dan setiap jawaban menyebabkan terjadinya pertanyaan-pertanyaan baru</em>” Karl Jaspers.</p>
<p><em> </em></p>
<p>Pertanyaan dan rasa heran adalah muasal filsafat atau berfilsafat. Kemajuan filsafat diukur dari pertanyaan yang diajukan bukan dari jawaban yang diberikan. Berfilsafat berkenaan dengan kemampuan memberikan pertanyaan terhadap sesuatu rumusan yang telah dianggap final. Dalam filsafat, setiap data dan setiap pengalaman sedapat mungkin ditinjau dengan tidak berprasangka dan dengan perhatian yang mendalam.</p>
<p>Jika kita ingin belajar filsafat, fokuskanlah pada pertanyaannya. Jika kita terfokus pada jawaban yang diberikan oleh para tokoh, kita akan terjebak pada pelbagai teori yang membingungkan (banyak tokoh, banyak jawaban untuk satu soal yang sama).  Fokus pada jawaban saja akan membuang-buang waktu percuma. Untuk itu jangan membiasakan diri menghafal ungkapan-ungkapan tokoh-tokoh filsafat, namun kemukakanlah: <em>apakah pertanyaannya?</em></p>
<p>Alasannya begini dapat bermula dari kata-kata Bertrand Russel berikut ini:</p>
<p style="padding-left:30px;">“…para filsuf sekaligus merupakan akibat dan sebab: akibat dari keadaan masyarakatnya dan hubungan-hubungan politik dan sosial dari zamannya; sebab- sepanjang mereka berhasil – dari anggapan-anggapan yang meninggalkan bekasnya pada hubungan-hubungan politik dan sosial dari kurun waktu kemudian.”</p>
<p>setiap filsuf hidup dalam ruang waktunya masing-masing. Ia berada dalam kehidupan, masalah dan teka-tekinya. Ia mengajukan pertanyaan sebagai upaya untuk memahaminya, lalu ditemukanlah sehimpun jawaban. Namun jawaban itu harus diletakkan dalam konteks kehidupannya yang tentu saja berbeda dengan kehidupan kita hari ini. Ungkapan Thales bahwa dunia ini berasal dari air, tentu begitu luar biasa untuk saat itu. Namun untuk saat ini, pada saat ilmu pengetahuan alam telah menunjukkan temuan-temuan yang lebih teruji, jawaban Thales menjadi tidak berarti. Berbeda jika kita berfokus pada pertanyaannya (apakah asal-muasal segala sesuatu?), Thales akan terus bisa digunakan karena pertanyannya masih bisa relevan untuk hari ini.</p>
<p>Jadi, mengutip Hector Hawton<a href="#_ftn7">[7]</a>, cara yang lebih bermanfaat dalam belajar filsafat adalah dengan memperhatikan bagaimanakah setiap filsuf mengajukan beberapa pertanyaan baru, yang teranyam dengan argumen yang segar, dan kemudian mengajukan jawaban namun dimentahkan lagi oleh  pertanyaan baru yang lebih segar dari filsuf kemudian. Begitu selanjutnya. Dengan cara ini, “kita tinggal menyaring pengalaman selama berabad-abad. Kita tidak saja mengetahui, misalnya, hal-hal yang ditanyakan oleh Locke, tetapi juga hal-hal yang dipikirkan oleh Berkeley mengenai pertanyaan itu, dan bagaimana kelanjutan pertanyaan tersebut ketika hinggal di berbagai pikiran Hume dan Kant.</p>
<p>Sekali lagi belajar filsafat berarti menelusuri pertanyaannya bukan jawabannya. Jika kita terpaku pada jawaban akan menjebak kita pada kesia-siaan. Di kancah filsafat yang satu soal terus-menerus menjadi masalah dari zaman ke zaman, memungkinkan satu argumen tidak memiliki umur yang panjang: ia bisa saja telah dikritik dan direvisi oleh pemikiran selanjutnya. Terpaku pada satu argumen saja, tanpa melihat nasib argumen itu pada lipatan sejarah berikutnya,  akan membuat kita membicarakan botol kosong. Kita bersikutat pada argumen yang pada zamannya terbukti sebagai argumen yang salah; atau mengajukan pertanyaan yang pada masa lampau pernah diperbaiki dengan perbaikan yang hati-hati.</p>
<p>Jadi, sebagai langkah, salah satu cara terbaik untuk belajar filsafat adalah 1) carilah pertanyaannya, 2) temukan bagaimana pertanyaan itu dijawab, 3) bagaimana jawaban itu digugat dan diperbaiki; atau bagaimana pertanyaan itu diperbaiki atau digugat dari masa ke masa.</p>
<p>Membaca buku filsafat merupakan kegiatan memperhatikan secara mendalam terhadap segala yang telah dipikirkan orang lain (filsuf-filsuf), menyiapkan rasa heran dan siap mengajukan segala pertanyaan pada mereka. Tokoh yang kita baca barangkali seorang filsuf besar, namun belum tentu ia telah begitu sempurna tanpa kesalahan yang bisa dipertanyakan. Kalaupun ada yang sempurna, kesempurnaan itu untuk zamannya yang belum tentu pas untuk zaman kita.</p>
<p>“Ciri khas dari seorang filsuf yang baik bukanlah bahwa dia harus dapat memecahkan segala persoalan…Seringkali yang paling baik yang dapat dikerjakannya adalah menunjukkan masalah-masalahnya, melukiskannya dengan kata-kata, sekalian dengan segala sesuatu yang mungkin tidak dapat dihindari, dan menerangkan akibat-akibat yang disebabkan oleh keadaan persoalan yang bersangkutan atas penyelidikan-penyelidikan yang lain” (Xenophone)<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Hal ini akan bisa dibuktikan jika kita membaca tokoh lain yang muncul setelah tokoh yang kita baca. Kita akan menemukan gugatan atau revisi atas pertanyaan yang menjadi dasar tokoh yang sedang kita baca.</p>
<p>Jadi, bagaimana cara kita belajar filsafat?</p>
<ul>
<li>Anggaplah filsafat bukan barang suci yang disakralkan. Ia hanya pemikiran biasa dari orang biasa yang bisa kita gugat, dipertanyakan ulang.</li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">“Jika  orang menginginkan suatu filsaat sebagai suatu sistem prinsip-prinsip yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang kebenarannya sangat pasti, maka hal itu adalah sesuatu yang mustahil” (Ubbink).<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Filsafat bukan pemikiran yang selesai, ia bahkan selalu menyisakan pertanyaan baru yang membuat kita dipaksa terlibat, yakinlah bahwa di dalam filsafat, kita &#8211;jarang atau&#8211; tidak pernah mendapatkan pemecahan-pemecahan yang tuntas atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.</p>
<ol>
<li>Filsafat adalah pemikiran yang mengundang kita untuk selalu terlibat langsung. Banyak sekali filsafat yang maksudnya agar kita meneruskan apa yang telah dimulainya. Dengan demikian jangan sungkan-sungkan untuk tidak sependapat, tuliskan pendapat dan sanggahan anda, ujilah kebenaran yang dikemukakan oleh filsuf-filsuf itu. Alfred Ayer pernah menyarankan untuk menjadikan pemikiran seseorang sebagai bahan latihan berfilsafat. Ayer menyatakan, “…..ajukan pendapat-pendapat yang sudah tetap itu, sebagai bahan diskusi; mencari standar-standar dan menguji nilai-nilainya; apa asumsi-asumsi itu masih berlaku.” Dengan cara ini kita terlibat, juga kehidupan nyata kita.</li>
<li>Agar bisa menguji dengan baik, kita juga jika perlu harus menunda apa yang semula kita yakini. Dengan cara ini, kita tidak berperang sendirian. Jika dalam pikiran kita masih ada keyakinan lama dan itu dijadikan ukuran, kita tak akan menemukan mutiara yang ditawarkan orang lain. Rasakan dulu tanpa prasangka, baru setelah itu dibandingkan. Serentak dalam perbandingan itu, kita telah melakukan pengujian secara tidak langsung.</li>
<li>Seorang pembelajar filsafat tidak pernah merasa benar sendiri, telah benar dan tak mungkin salah.</li>
</ol>
<p>“Tidak ada yang kurang pantas bagi seorang filsuf selain daripada mau benar sendiri dalam diskusi dan dalam berargumentasi. Mereka benar sendiri –sampai bentuk refleksi logisnya yang paling halus—adalah pengungkapan “jiwa mempertahankan diri”, yang justru menjadi tujuan seorang filsuf untuk menghapuskannya…” (Theodor W. Adorno)</p>
<p>Artikel ini mencoba menawarkan uraian sejarah filsafat dalam kaitan sebab-akibat, menekankan bahwa inti berfilsafat adalah pertanyaan, dan terakhir memberi peluang bagi kita semua untuk terlibat. Maksudnya,</p>
<ol>
<li>Satu pemikiran akan diletakkan dalam kaitannya dengan situasi yang menyebabkannya (pemikiran dan situasi zaman sebelumnya) dan situasi yang diakibatkannya (pemikiran dan situasi zaman yang muncul sesudahnya).</li>
<li>Setiap pemikir diletakkan dalam drama pencarian jawaban-jawaban atas pertanyaan pemikir sebelumnya. Ikhtiar yang bermula dari pertanyaan lain (yang mempertegas atau menambahkan pertanyaan utama) lalu merumuskan dengan cara baru, namun rumusan itu akan juga dikritisi dan direvisi oleh pemikir sesudahnya. Dengan cara ini kita akan menemukan kehebatan seorang filsuf (yaitu ketika kita membandingkan dengan filsuf sebelumnya) sekaligus kelemahan seorang filsuf  (yaitu ketika kita membandingkan dengan filsuf sesudahnya).</li>
<li>Setiap pemikir, diupayakan, dikaitkan dengan situasi zamannya serta kemungkinannya bagi aplikasi di zaman ini.</li>
<li>Dalam kaitan sejarah inilah ungkapan Neil Postman dapat dikemukakan, bahwa setiap tokoh dalam sejarah pemikiran ditampilkan sebagai pembuat kesalahan yang besar (<em>the great error maker</em>) sekaligus juga pengoreksi-pengoreksi kesalahan yang besar (<em>the great error-corrector</em>). Karena itu bagi Postman Bagi Postamn, proses belajar selayaknya sanggup memperlihatkan pada peserta belajar bahwa kesalahan bukanlah sesuatu yang memalukan, karena justru melalui kesalahan kita dapat meningkatkan pemahaman kita terhadap sesuatu.</li>
</ol>
<p style="padding-left:30px;">“Karena kita adalah jiwa yang tidak sempurna, maka pengetahuan kita juga tidak sempurna. Sejarah tentang proses belajar adalah sebuah petualangan untuk mengatasi kesalahan-kesalahan kita. Tidak ada dosda bagi orang yang berbuat salah. Dosa itu ada pada ketidakmauan kita menguji kepercayaan-kepercayaan, dan mempercayai bahwa kemampuan-kemampuan kita tidak bisa salah”.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> F. Elders, dikutip dari Geerard Beekman, Filsafat para Filusf Berfilsafat h. 51</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Ravel, <em>Geschiendenis van de westerse Filosofie</em>, dikutip dari Beekman, <em>Filsafat para Filsuf Berfilsafat</em>, Erlangga, hal. 56</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Jostein Gaardner, <em>Dunia Sophie</em>, Mizan, Bandung, hal. 517</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Jostein Gaardner, hal. 519</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Peter Seneg, Fifth Dicipline, dikutip dari Andreas Harefa, <em>Menjadi Manusia Pembelajar</em>, Gramedia, Jakarta, hal.139</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Dikutip dari <em>Crito</em></p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Hector Hawton, <em>Filsafat yang Menghibur, </em> Ikon, Jogjakarta, 2003, ha. 7</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Geraard Beekman, h. 125</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Geraard Beekman, h. 119</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> Neil Postman, <em>Matinya Pendidikan</em>, hal. 210</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Falsafah Bahasa dalam Tradisi Barat]]></title>
<link>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/23/falsafah-bahasa-dalam-tradisi-barat/</link>
<pubDate>Thu, 23 Jul 2009 15:08:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>nemuriuta</dc:creator>
<guid>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/23/falsafah-bahasa-dalam-tradisi-barat/</guid>
<description><![CDATA[Pendahuluan Sejarah falsafah bahasa dalam tradisi Barat dimulakan oleh ahli-ahli falsafah Yunani sej]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-26" title="ludwig-wittgenstein" src="http://nemuriuta.wordpress.com/files/2009/07/ludwig-wittgenstein.jpg?w=300" alt="ludwig-wittgenstein" width="300" height="225" />Pendahuluan</strong></p>
<p>Sejarah falsafah bahasa dalam tradisi Barat dimulakan oleh ahli-ahli falsafah Yunani sejak abad ke-6 S.M. dengan Heraclitus sebagai pelopornya (Borgmann 1974: 7). Sesudah itu, muncul golongan sofis yang memperteguh uraian Heraclitus tentang kesatuan antara bahasa dengan realiti. Zaman Heraclitus dan golongan sofis itu dianggap sebagai zaman permulaan tumbuhnya pemikiran tentang falsafah bahasa. Bidang falsafah bahasa baru menjadi suatu kajian ilmiah pada abad ke-5 S.M. Tokoh penting yang menyemarakkan perkembangan falsafah bahasa sebagai kajian ilmiah ialah Plato, Aristoteles, dan kumpulan Stoik. Penerokaan bidang falsafah bahasa menjadi kian luas dan mendalam di tangan ahli-ahli falsafah Zaman Pertengahan. Tokoh-tokoh utamanya, antara lain, ialah John Buridan, Thomas Erfurt, dan Thomas Aquinas. Dalam rencana ini, dibincangkan pula perkembangan falsafah bahasa dalam tradisi Barat pada zaman moden.</p>
<p><strong>Tahap Kebangkitan Era Modern<br />
</strong></p>
<p>Pada pengkaji falsafah Barat sependapat bahwa era falsafah moden Barat bermula dengan Rene Descartes (1596-1650) yang terkenal dengan kaedah &#8220;Kesangsian Cartesian&#8221; dalam menjawab persoalan epistemologi tentang kebenaran ilmu (Lihat misalnya Bertrand Russell 1993: 666, Wolff (1992: 194), dan Borgmann 1974: 68). <!--more-->Secara ringkas, kebenaran sesuatu ilmu, menurut Descartes, tidak bergantung pada kehebatan, kegunaan, atau kelamaannya, tetapi bergantung pada kemampuan ilmu itu membenarkan hakikat dirinya tanpa sebarang keraguan. Kebenaran tanpa keraguan itu bermaksud bahwa ilmu itu sah secara sejagat untuk sesuatu bidang entiti yang tertentu. Asasnya ialah penjelasan saintifik yang memuaskan akal dan inilah asas tumbuhnya rasionalisme secara jelas dalam sejarah falsafah Barat. Descartes sebenarnya tidak menumpukan perhatian kepada falsafah bahasa atau bidang linguistik, tetapi beberapa penyataannya yang ringkas dan umum tentang bahasa memperjelas falsafahnya (Borgmann 1974: 69). Dalam karyanya <em>Meditations on First Philosophy</em> (1641), Descartes meragui kebenaran kesan pancaindera sebagai asas bahasa. Namun ia tidak membincangkan bagaimana kata-kata yang merujuk kepada kesan pancaindera, misalnya kata nama am dan kata kerja, tidak dapat dipercayai sebagai bukti adanya kesan pancaindera. Dalam karyanya yang lebih awal, yaitu <em>Discourse on Method</em> (1637), Descartes dengan tegas mengatakan bahwa bahasa bukan penyataan realiti yang khusus dan asas, sebaliknya hanya sebagai alat komunikasi atau alat untuk menyatakan sesuatu yang wujud. Oleh itu cereka dan historiografi tidak dapat dianggap sebagai karya bahasa, tetapi hanya penting daripada segi ketepatan laporannya saja. Pandangan Descartes ini sebenarnya memperteguh pandangan Plato tentang terpisahnya realiti daripada bahasa.</p>
<p>Gagasan Descartes yang lebih penting dalam konteks pembinaan teori bahasa pada zaman selanjutnya ialah keunggulan dan autonomi bahasa (Borgmann 1974: 70-72). Pada pendapatnya, bahasa manusia tidak tertakluk kepada fakta atau peraturan alam, sebagaimana manusia itu sendiri pun tidak tertakluk kepada alam. Ia berusaha membuktikan gagasan keunggulan dan autonomi bahasa dengan menonjolkan dua ciri penting bahasa manusia. Pertama, bahasa manusia bermula pada diri penuturnya, dan mempunyai fungsi yang unik dalam menyampaikan fikiran. Hal ini berbeda daripada ujaran &#8220;seakan-akan bahasa&#8221; yang dikeluarkan oleh mesin atau hewan yang tidak merupakan hasil penyataan diri pengujarnya, tetapi sebaliknya sebagai hasil atau gerak balas terhadap rangsangan tertentu (khususnya dalam kes &#8220;bahasa hewan&#8221;). Kedua, bahasa manusia dapat berfungsi dengan meluas dalam pelbagai situasi. Kedua-dua pandangan falsafah ini menjadi asas penting bagi Descartes untuk akhirnya menyimpulkan bahwa bahasa tidaklah lain daripada aktiviti akal, sesuai dengan falsafah rasionalisme yang diasaskannya. Pandangan Descartes, sebagaimana yang disebut di atas tadi, dalam pertengahan abad ke-20 telah mencetuskan kebangkitan teori bahasa yang revolusioner, dengan Noam A. Chomsky sebagai pelopornya. Teori bahasanya yang dikenal sebagai Transformasi-generatif dihubungkan dengan falsafah Descartes melalui istilah <em>Cartesian Linguistics</em> yang diciptakan oleh Chomsky sendiri. Bahkan salah sebuah buku chomsky yang penting berjudul <em>Cartesian Linguistics</em> (1966). Gagasan Descartes demikian berpengaruhnya kepada chomsky sehingga kemudian dapat digariskannya ciri-ciri penting <em>Cartesian Linguistics</em>, yaitu: Bahasa manusia bebas daripada kawalan rangsangan dan tidak semata-mata untuk fungsi komunikatif, tetapi lebih sebagai alat penyataan pemikiran dan sebagai gerak balas yang tepat kepada situasi baru. b. Bahasa memiliki dua aspek, yaitu aspek dalaman dan aspek luaran. c. Pengolahan rumus-rumus tata bahasa tidak tertakluk kepada data empiris. d. Yang penting dalam tata bahasa dan logika ialah bagaimana bahasa menampilkan dan menggabungkan idea-idea, bukan soal kaitan bahasa dengan realiti.</p>
<p>Sesudah Descartes, era kebangkitan zaman moden ditandai oleh kemunculan Giambattista Vico (1668-1744) yang berlainan pandangan daripada Descartes. Sementara Descartes menolak cereka, historiografi, retorika, dan filologi, Vico menganggap semua itu merupakan sumber makna dan gambaran &#8220;kuasa&#8221; bahasa. Sumber dan kaedah tradisional dalam pengajian bahasa itu dianggapnya lebih tinggi nilainya daripada teori saintifik dan uji kaji yang diketengahkan oleh Descartes sebagai asas kebenaran ilmu. Ia menolak pendapat bahwa hujah akal atau rasionalisme sebagai keseluruhan kaedah dalam epistemologi. Ia turut menolak pendapat bahwa realiti itu setakat apa-apa yang dapat diperhatikan, yang berlaku, dan apa-apa yang diuji kaji oleh manusia. Sebagai alternatif, ia menyarankan teori alam kemungkinan (<em>the realm of the probable</em>), untuk menjelaskan satu lagi realiti yang berkaitan dengan hal-hal dalam fikiran manusia, dalam akal penyajak, penulis, dan manusia lain yang mengungkapkan sesuatu kebijaksanaan di luar realiti fizikal. Domain tersebut berkaitan dengan sesuatu idea yang tidak dapat dipersoalkan ketentutan dan uraiannya secara objektif dan rasional (Lihat Borgmann 1974: 73-74 dan Hashim Musa 1994: 110-111). Berkaitan dengan hakikat dan asal-usul bahasa, Vico memperkenalkan <em>Sains Baru</em> yang bertujuan mengkaji kebenaran (yang teoretis dan sejagat) dan ketentuan (yang bersifat fakta dan sejarah). Asas sains baru Vico ialah prinsip bahwa ilmu sepenuh-penuhnya hanya dapat diperoleh melalui apa-apa yang dapat dilakukan oleh manusia. Ia menolak andaian adanya ilmu yang terpendam, seperti yang diandaikan oleh Socrates dan Plato tentang ilmu etika. Untuk mengetahui sesuatu, tidak diperlukan keseluruhan proposisi yang benar dalam fikiran seseorang; sebaliknya yang diperlukan hanya sebagian realiti. Bahasa, menurutnya, tidaklah lain daripada gerak balas terhadap apa-apa yang disingkap oleh bahasa, atau dengan kata-kata lain, bahasa dan dunia adalah seasal. Tentang perkembangan bahasa, Vico percaya adanya tahap bahasa yang wujud primordialnya bersama Tuhan dan pada tahap ini bentuk bahasa masih dalam keadaan mentah, yaitu belum terjelma dalam bentuk sistem bunyi dan tata bahasa yang nyata. Tahap selanjutnya ialah apabila makna disampaikan melalui isyarat yang menjadi asas bentuk bahasa yang lebih eksplisit dan cekap. Tahap akhir ialah permulaan bahasa ucapan yang berasaskan onomatopeia dan seruan.</p>
<p>Vico terkenal juga dengan gagasan Kamus Akal (<em>Mental Dictionary</em>) yang berkaitan dengan kemampuan bahasa mencerminkan kesinambungan kata-kata dalam konteks sejarah dan kesejagatan manusia. Gagasan kamus akal ini memberikan asas dan tujuan baru dalam kajian etimologi. Jean Jacques Rosseau (1712-1778) dan Johann Gottfried Herder (1744-1803) melanjutkan kajian Vico tentang asal-usul bahasa. Teori asal-usul bahasa Rosseau mengaitkan permulaan bahasa sebagai gerak isyarat deiktek dan peniruan serta laungan semula jadi; tetapi oleh sebab kurang cekapnya mekanisme itu sebagai alat perhubungan, unsur fonis kemudian menjadi dominan dalam bahasa manusia (Robbins 1993: 184). Kemurnian bahasa pada peringkat awal yang dianggap Rosseau bersamaan dengan muzik kemudian menghilang dalam proses bahasa memperoleh ciri kejelasan dan keobjektifan. Teori asal-usul bahasa Herder pula bertitik tolak daripada kepercayaan bahwa bahasa berpunca daripada manusia sendiri, bukan pemberian Tuhan, dengan alasan bahwa banyak unsur bahasa yang tidak selaras dengan logika (Wojowasito 1961: 56). Bagaimanapun, Herder menyangkal pendapat bahwa manusia mula berbahasa dengan membuat teriakan-teriakan emosi, sebagaimana yang dikemukakan oleh Condillac, tokoh yang seiring pendapatnya dengan Rosseau. Herder setuju dengan Descartes bahwa bahasa manusia tidak lahir berdasarkan naluri sebagaimana halnya dengan &#8220;bahasa&#8221; hewan. Pada pendapatnya, kecerdasan manusialah, bukan onomatopeia, yang menimbulkan bahasa. Dengan kata-kata lain, Herder berpendapat bahwa bahasa merupakan bagian diri manusia secara tabii. Di England pada abad ke-18 muncul ahli falsafah tata bahasa sejagat yang bernama James Harris. Falsafah bahasanya terkandung dalam karyanya <em>Hermes or Philosophical Enquiry Concerning Language and Universal Grammar</em> (1751). Pada asasnya ia mendasarkan falsafahnya pada falsafah Aristotle, tetapi menekankan adanya perbedaan lahiriah pada pelbagai bahasa. Kemampuan manusia merangka idea-idea umum yang sejagat yang dilambangkan melalui kata-kata, menurut Harris, merupakan kurniaan Tuhan. Perhatiannya tentang fungsi bahasa berkaitan dengan fungsi penyampaian proposisi logis (Robins 1993: 189).</p>
<p>Sifat kesejagatan bahasa dan gagasan bahasa sebagai kurniaan Tuhan yang diyakini oleh Harris mendapat sokongan seorang lagi ahli bahasa Inggris yang sezaman dengannya, yaitu James Burnet atau Lord Monboddo. Bagaimanapun perhatiannya lebih tertumpu pada perkembangan sejarah sesuatu bahasa yang dipercayainya bermula dengan tahap primitifnya sebelum berkembang menjadi bahasa yang abstrak kosa katanya dan yang lengkap susunan tata bahasanya. Gagasan Monboddo yang penting ialah bahwa biarpun pada tahap primitif, idea sejagat tentang sesuatu telah ada sebelum kata untuk benda itu diciptakan. Perkembangan falsafah bahasa dalam kebangkitan zaman moden selanjutnya dikaitkan dengan kemunculan sarjana Jerman Wihelm Von Humboldt (1767-1835). Tema pokok tulisan-tulisannya berpaksi pada sifat kekreatifan bahasa, baik daripada segi tata bahasa mahupun daripada segi leksikalnya. Dengan adanya sifat kreatif pada bahasa, manusia dapat melahirkan sejumlah bentuk bahasa (misalnya ayat) yang tidak terbatas dengan berdasarkan sumber (rumus) yang terbatas. Gagasan inilah yang memberikan inspirasi kepada Chomsky satu abad kemudian apabila ia menakrifkan bahasa sebagai sehimpunan ayat (yang terbatas atau tak terbatas jumlahnya tetapi terbatas penjangnya) yang dihasilkan daripada unsur-unsur yang terbatas (Lihat Chomsky 1957: 13). Humboldt menegaskan bahwa kemampuan berbahasa yang kreatif ini merupakan suatu fitrah yang ada dalam akal setiap manusia. Gagasan ini dalam perkembangan falsafah bahasa selanjutnya dapat pula dikaitkan dengan hipotesis kenuranian bahasa (<em>innateness hypothesis</em>) yang mengandaikan bahwa setiap manusia sejak lahir telah dipersiapkan dengan alat pemerolehan bahasa (<em>language acquisition device &#8211; LAD</em>) yang memungkinkan ia menguasai sistem bahasa ibundanya. Sifat kreatif bahasa dan kemampuan setiap manusia memanfaatkan sumber bahasa (rumus) yang terhad inilah yang memungkinkan manusia senantiasa melahirkan ayat baru dan menyesuaikan bahasanya dalam pelbagai situasi yang berlainan. Berkaitan dengan itu, istilah <em>bahasa</em> bagi Humboldt merujuk kepada keupayaan penutur dan pendengar (<em>energeia</em>), bukan uraian yang tetap dan kaku yang dihasilkan oleh ahli bahasa (<em>ergon</em>). Gagasan ini dapat dikaitkan dengan penekanan Chomsky terhadap keupayaan berbahasa (<em>competence</em>) sebagai lawan pelaksanaan bahasa (<em>performance</em>). Humboldt terkenal juga dengan dikotomi bahasa dalam bentuk struktur semantiknya (<em>innere sprachform</em>) dan dalam bentuk lahirnya (<em>Lautform</em>). Struktur semantik ini pada dasarnya bersifat sejagat untuk semua bahasa, tetapi berbeda pada bentuk lahirnya (Lihat Wojowasito 1961: 76-80). Sekali lagi jelas pada kita bagaimana Chomsky memperkukuh gagasan Humboldt tentang hal ini melalui idea <em>struktur dalaman</em> dan <em>struktur luaran</em>. Dengan kuatnya dasar-dasar bahasa yang diketengahkannya serta pengaruhnya dalam pembinaan teori linguistik sesudahnya, maka tepat sekali penghargaan R.H. Robins (1993: 215) kepada Humboldt sebagai ahli fikir yang paling teliti tentang soal-soal linguistik am dalam abad ke-19. Bahkan A. Borgmann (1974: 84) dengan murah hati mengungkapkan bahwa pemikiran orang Barat tentang bahasa yang dimulakan oleh Heraclitus pada zaman pra-Socrates memuncak dan memperoleh fokusnya dengan penelitian bahasa oleh Wilhelm Von Humboldt pada abad ke-19.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tahap Perkembangan di Abad ke-20</strong></p>
<p>Kajian dalam bidang falsafah bahasa kemudian mendapat tempat yang utama dalam perkembangan falsafah analitis pada abad ke-20, malah ada sarjana yang meletakkan falsafah bahasa di tempat yang paling utama dalam keseluruhan kegiatan kajian falsafah (Lihat J.R. Searle 1990: 2). Hujah Searle mengapa dunia falsafah abad ke-20 didominasi oleh falsafah bahasa ialah bahwa kebanyakan ahli falsafah terkemuka pada abad ini, misalnya Russell, Wittgenstein, Carnap, Quine, Austin, dan Strawson pada dasarnya ialah ahli falsafah bahasa. Richard Rorty (1967) mengungkapkan dominasi falsafah bahasa pada abad ke-20 sebagai &#8220;giliran linguistik&#8221; (<em>linguistic turn)</em>, dengan pengertian bahwa pada umumnya falsafah pada abad ke-20 telah menjadi falsafah bahasa. Secara lebih khusus, persoalan bahwa realiti itu sesuatu yang mungkin hanya bererti jika kita pertama-tamanya menitikberatkan bahasa, yang melaluinya realiti dapat sampai kepada kita (Borgmann 1974: 91). Seorang ahli falsafah berbangsa Jerman, Ludwing Wittgenstein (1889-1951) yang terkenal dengan karyanya <em>Tractatus Logico-Philosophicus</em> (1921) dianggap sebagai pelopor &#8220;giliran linguistik&#8221; (lihat Borgmann 1974: 91). Walau bagaimanapun, Searle (1990: 2) berpendapat bahwa seorang ahli falsafah dan ahli matematik Jerman yang bernama Gottlob Frege merupakan ahli falsafah bahasa abad ke-20 yang mempelopori falsafah bahasa moden pada abad ini. Penemuan Frege yang utama dan terpenting dalam falsafah bahasa ialah perbedaan antara maksud (<em>sense</em>) dan rujukan (<em>reference</em>). Ia menjelaskannya dengan membincangkan penyataan persamaan &#8220;Bagaimanakah sesuatu penyataan yang benar yang berbentuk <em>a sama dengan b</em> dapat dikatakan mempunyai maklumat yang lebih daripada penyataan yang berbentuk <em>a sama dengan a</em>?&#8221; (Frege, 1952). Dalam bentuk ayat, dikatakannya bahwa penyataan <em>The Evening Star is the Morning Star</em> lebih bermaklumat daripada penyataan <em>The Evening Star is the Evening Star</em>, dengan penyataan yang pertama mewakili penyataan <em>a sama dengan b</em> dan penyataan yang kedua mewakili penyataan <em>a sama dengan a</em>.</p>
<p>Menurut Frege, hakikat adanya penyataan yang lebih bermaklumat daripada penyataan lain berkaitan dengan adanya unsur ketiga, selain <em>nama </em>dan <em>rujukan</em>, yaitu <em>maksud</em> nama itu yang secara khusus dan hanya secara khusus ini sahajalah merujuk kepada rujukannya. Maksudlah yang membekalkan wadah pemaparan (<em>mode of presentation</em>) sesuatu bentuk dan usaha merujuk kepada sesuatu rujukan selalunya tercapai melalui maksud. Dalam kes dua penyataan tadi, sebab mengapa penyataan yang pertama (<em>The Evening Star is the Morning Star</em>) lebih bermaklumat daripada penyataan yang kedua (<em>The Evening Star is the Evening Star</em>), walaupun kedua-duanya mempunyai rujukan yang sama ialah bahwa maksud <em>the Evening Star</em> berlainan daripada maksud <em>the Morning Star</em>. Sesudah Frege, perkembangan falsafah bahasa Barat ditandai oleh kemunculan Betrand Russell dan muridnya Ludwig Wittgenstein. Kedua-duanya menolak teori perbedaan antara maksud dengan rujukan yang dikemukakan oleh Frege. Pada mereka, teori tersebut sesuai hanya untuk kes yang sederhana dan tidak dapat memberikan gambaran hakiki tentang pertalian antara kata dengan dunia. Teori Russell tentang pertalian antara kata dengan dunia bertitik tolak daripada masalah ayat yang memiliki uraian pasti (<em>definite descriptions</em>) tanpa objek yang berkaitan. Ayat contoh yang dibincangkannya ialah <em>Raja Perancis botak</em> (Searle 1990: 6). Menurut Russell, ayat ini merupakan ayat yang bermakna tetapi bagaimanakah dapat dipastikan kebermaknaan ayat tersebut jika Raja Perancis tidak ada. Dengan demikian ayat itu tidak memerikan proposisi apa pun, dan selanjutnya tidak dapat disahkan benar tidaknya predikat ayat itu. Bagi Frege, sesuatu ayat mempunyai maksud walaupun subjeknya tidak ada rujukan. Sesuatu ayat mungkin tidak ada nilai kebenarannya, tetapi hal itu tidak menjadikannya ayat yang tidak bermakna. Hujah Frege ini berasas pada perbedaan maksud dengan rujukan yang telah dibincangkan sebelum ini. Bagi Russell, uraian pasti dan bahkan nama khas pun tidak merujuk kepada apa-apa. Katanya, secara bersendirian uraian pasti dan nama khas tidak bermakna. Soalan yang berbangkit ialah bagaimanakah kata berkaitan dengan dunia jika uraian pasti dan nama khas tidak merujuk kepada apa-apa pun. Jawab Russell ialah bahwa ada segolongan ungkapan yang sederhana sifatnya yang tidak dapat dianalisis lagi, yang secara logis mrupakan nama khas. Setiap ungkapan ini mewakili sesuatu benda tanpa mempunyai maksud atau makna apa pun selain mewakili benda saja (Searle 1990: 7-8).</p>
<p>Persoalan hubungan antara bahasa dengan realiti dihalusi oleh Wittgenstein melalui &#8220;teori gambar tentang bahasa&#8221; dalam karyanya <em>Tractatus</em>. Menurut sistem ontologi pegangan Wittgenstein, juzuk-juzuk asas alam ini ialah fakta-fakta, bukan objek-objek, kerana objek merupakan unsur fakta. Objek-objek memperoleh realiti melalui kombinasinya dalam fakta. Demikianlah, bahasa pada pandangan Wittgenstein selari dengan realiti. Nama berkaitan dan mempunyai makna dalam hubungannya dengan objek. Bagaimanapun, nama menjadi tidak bererti apabila wujud secara terasing, sebagaimana objek tidak bererti apa-apa jika tidak berpadu dengan objek lain dalam fakta (Borgmann 1974: 91-92). Nama mempunyai rujukan hanya dalam konteks proposisi, sebagaimana objek dalam konteks fakta. Proposisi berkaitan dengan fakta dan sesuatu proposisi mempunyai maksud apabila merujuk kepada sesuatu fakta. Nama dikaitkan dengan objek melalui konvensi. Proposisi dan fakta dikatakan berkaitan kerana memiliki persamaan logika, dengan logika difahami sebagai struktur atau susunan. Maksud Wittgenstein ialah bahwa sesuatu proposisi hanya terdiri daripada nama-nama, sedang logika atau susunannya tidak dapat dinamai atau dinyatakan, tetapi dapat dilihat kewujudannya. Demikianlah logika tentang alam ini pun terhad oleh sesuatu yang dapat difikirkan. Wittgenstein terkenal juga dengan gagasan &#8220;bahasa sempurna&#8221; (<em>perpicuous or ideal language</em>), yaitu bahasa yang sempurna daripada segi logikanya dan sempurna daripada segi pemeriannya (Borgmann 1974: 97-99 dan Hashim Musa 1994: 116). Gagasan ini terbit daripada pegangan Wittgenstein bahwa bahasa dan realiti adalah sejajar, sama seperti pegangan Heraclitus pada zaman pra-Socrates. Hakikat bahwa kata-kata dalam ayat disusun dengan cara tertentu menggambarkan hakikat bahwa objek-objek dalam alam diatur dengan cara tertentu juga (Searle 1990: 9). Bahasa yang sempurna dapat diperoleh melalui pembentukan spesifikasi yang menyeluruh ke atas item-item dan ciri-ciri bahasa itu. Proses spesifikasi ini dilaksanakan berdasarkan sintaksis dan semantik. Sintaksis terdiri daripada empat bagian, yaitu kosa kata yang menyenaraikan semua unit tata bahasa yang terkecil; pembentukan rumus-rumus yang menentukan cara unit-unit tata bahasa yang terkecil itu digabungkan; sehimpunan unsur gabungan yang disebut aksiom; dan akhirnya rumus-rumus yang menukarkan sesuatu bentuk gabungan kepada bentuk gabungan yang lain. Rumus-rumus ini disebut rumus-rumus taakulan (<em>rules of inference</em>). Proses sintaksis pada keempat-empat bagian ini menimbulkan konsep kalkulus, yaitu suatu sistem formal yang ketat yang dapat diterapkan, dengan pengertian dapat ditafsirkan. Kalkulus itu sendiri tidak mempunyai makna kerana tidak ada rujukannya kepada alam empiris atau alam nyata. Rujukan itu terbentuk melalui bagian kedua, yaitu semantik. Wittgenstein, kemudian, melalui karyanya <em>Philosophical Investigations</em> (1953) menyanggah gagasannya tentang logika dan kejelasan bahasa. Ia sedar bahwa bahasa memaparkan aspek-aspek yang lebih halus, bervariasi, dan terikat oleh konteks daripada yang dapat dilihat pada struktur formalnya. Percubaan Wittgenstein untuk menggambarkan wawasan yang luas tentang bahasa diungkapkannya melalui istilah &#8220;permainan bahasa&#8221; (<em>language-game</em>) dan &#8220;bahasa sebagai suatu bentuk kehidupan&#8221; (Borgmann 1974: 114). Rumusan tentang sikap Wittgenstein terhadap pentingnya bahasa biasa sebagai lawan bahasa falsafah ialah bahwa ragam bahasa tersebut merupakan sfera yang pokok dan unsur penyatu dalam kewujudan manusia (Borgmann 1974: 125). Perkembangan falsafah bahasa pada abad ke-20 kemudian mencakup senario yang lebih meluas apabila aspek keluhuran bahasa dibincangkan. Aspek keluhuran bahasa yang dimaksudkan itu ialah penampilan bahasa dalam kesusasteraan seperti drama dan puisi atau secara lebih luas dalam pidato politik, wacana falsafah, keagamaan, dan karya saintifik. Perbincangan tentang bahasa dalam konteks tersebut memperluas pandangan terhadap bahasa sekadar sebagai suatu sistem formal. Malahan karya sastera yang agung sebenarnya ialah perwakilan realiti bahasa. Antara tokoh yang membincangkan kesusasteraan sebagai bentuk keluhuran bahasa termasuklah Rene Wellek dan Austin Warren melalui buku mereka <em>Theory of Literature</em> (1949), Northrop Frye melalui bukunya <em>Anatomy of Criticism</em> (1957), serta Emil Staiger melalui bukunya <em>Basic Concepts of Poetics</em> (1946). Sebenarnya penekanan terhadap sastera sebagai suatu bentuk penampilan bahasa itu bukan fenomena baru kerana para sarjana sejak zaman Yunani telah mempelopori kajian retorik dan puisi sebagai sebagian kajian bahasa.</p>
<p>Perbincangan tentang falsafah bahasa pada abad ke-20 tidak sempurna jika tidak disebut perkembangan analisis terhadap struktur bahasa, atau lebih tepat lagi hakikat bahasa sebagai suatu sistem. Kecenderungan para sarjana linguistik pada abad ke-19 menumpukan minat dan perhatian terhadap linguistik sejarah dan perbandingan menyebabkan terabainya kajian terhadap struktur sesuatu bahasa tertentu yang amat penting bagi pengguna bahasa. Sejarah bahasa hanya memerikan evolusi bahasa tetapi tidak memerikan binaan bahasa yang perlu dikuasai oleh penggunanya. Inilah yang menyebabkan sarjana berbangsa Swiss, yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913) mengemukakan pandangan tentang pentingnya melihat bahasa sebagai sistem yang wujud pada sesuatu waktu atau zaman tertentu (Nik Safiah Karim 1985: 109).</p>
<p>Premis de Saussure yang paling penting ialah perhatian terhadap linguistik sinkronis sebagai lawan linguistik diakronis. Dengan penekanan terhadap linguistik sinkronis, ia berpendapat bahwa bahasa dapat dilihat dan dapat berfungsi sebagai suatu sistem komunikasi yang cukup lengkap untuk sesuatu masa tertentu (Robins 1993: 246). Kedua, de Saussure menegaskan perbedaan-perbedaan antara keupayaan berbahasa seseorang dengan fenomena atau data linguistik yang sebenarnya (ujaran). Hakikat bahasa yang pertama dan yang menjadi tunjang bahasa menurut pandangan de Saussure diistilahkannya sebagai <em>langue</em>, sementara manifestasi bahasa dalam bentuk ujaran disebutnya <em>parole</em>. Gagasan de Saussure tentang <em>langue</em> dan <em>parole</em> ini kuat pengaruhnya kepada ahli-ahli linguistik transformasi-generatif yang muncul kemudian. Apabila Noam A. Chomsky, yaitu pelopor aliran linguistik tersebut membicarakan peri pentingnya dibedakan kemampuan berbahasa (<em>linguistic competence</em>) daripada pelaksanaan bahasa (<em>linguistic performance</em>), maka dapat dikesan dengan jelas pengaruh pemikiran de Saussure dalam perkembangan linguistik sesudahnya. Ketiga, apa-apa <em>langue</em> hendaklah digambarkan dan diuraikan secara sinkronik sebagai sistem unsur yang saling berkaitan – leksis, tata bahasa, dan fonologinya. Bagi de Saussure, <em>langue</em> atau bahasa ialah bentuk, bukan isinya, sebagaimana permainan catur dilihat pada sistemnya. Dua dimensi yang disarankannya dalam meneliti sistem bahasa ialah dimensi sintagmatik (selaras dengan urutan ujaran) dan dimensi paradigmatik (dalam sistem unsur atau kategori kontrastif) (Robins 1993: 247). Konsep asas bahasa yang dikemukakan oleh Saussure yang kemudian dipegang oleh sekian banyak ahli bahasa sehingga kini ialah &#8220;bahasa sebagai sistem tanda-tanda atau lambang-lambang yang arbitrari dan digunakan untuk menyatakan idea-idea dan mempunyai aturan-aturannya sendiri&#8221; (Mangantar Simanjuntak 1987: 37). Takrif bahasa yang seumpama itu jelas digunakan dalam kebanyakan kamus linguistik dan menjadi asas pegangan sejumlah besar ahli bahasa sedunia, khususnya yang terpengaruh oleh linguistik struktur. Penekanan Saussure terhadap tanda-tanda ini berasaskan tanggapan beliau bahwa bahasa tidaklah lain daripada suatu cabang semiologi, yaitu sains tentang isyarat atau tanda yang mengkaji pelbagai sistem konvensi yang memungkinkan pelakuan manusia (termasuk bahasa) mempunyai makna dan dengan itu menjadi isyarat (de Saussure 1993: xiv). Dalam konteks inilah ia memprkenalkan istilah <em>signe</em> (tanda/lambang) yang terhasil daripada <em>signifie</em> (konsep) dan <em>signifiant</em> (penanda/bayangan bunyi). (Lihat Saussure 1993: 131-135 dan Mangantar Simanjuntak 1987: 37-40).</p>
<p>Demikianlah, Ferdinand de Saussure melalui buah fikirannya dalam <em>Course in General Linguistic</em> telah meletakkan asas linguistik struktur yang kemudian menimbulkan aliran pemikiran yang cukup dominan dalam linguistik moden. Oleh para sarjana yang setuju dengan penekanan kajian bahasa terhadap struktur bahasa, digelarlah de Saussure sebagai Bapa Linguistik Moden. &#8220;Linguistik Moden&#8221; yang dimaksudkan oleh pengikut-pengikut de Saussure ialah aliran linguistik yang bebas daripada kecenderungan sejarah dan yang menumpukan perhatian kepada struktur atau binaan bahasa semasa, serta bebas daripada keterikatan terhadap kesusasteraan dan pemikiran subjektif terhadap linguistik. Sebaliknya yang ditekankan ialah uraian bahasa sebagaimana adanya. Pendekatan linguistik yang menekankan uraian struktur bahasa inilah yang menyebabkan de Saussure dikatakan membawa aliran linguistik baru yang dikenal sebagai <em>linguistik struktur</em> atau <em>linguistik deskriptif</em> (Borgmann 1974: 144). Pendekatan ini diterima dengan meluas di Amerika Syarikat dan mengalami pengubahsuaian sehingga lahir linguistik struktur versi Amerika yang menampilkan ciri-ciri tersendiri, dengan Leonard Bloomfield (1887-1949) sebagai pelopornya. Yang paling ketara ialah pengabaian terhadap perbedaan antara pertuturan (yang bersifat empiris) dengan bahasa (yang sistematis dan abstrak) dan perhatian yang berat sebelah kepada pertuturan, atau lebih tepat lagi anggapan bahwa pertuturan itulah bahasa. Dalam Bagian 3.5 kelak akan dibincangkan bagaimana linguistik struktur ini memberikan kesan terhadap teori pendidikan bahasa. Tidak lama sesudah terbitnya <em>Course de Linguistique Generale </em>karya de Saussure, terbitlah beberapa buah buku lain yang mewakili linguistik sinkronis, misalnya <em>Language</em> oleh Otto Jerspersen, <em>Theory of Speech and Language </em>oleh A. Gardiner, <em>Sprachtheorie</em> oleh K. Buhler, dan dua buah buku oleh Hjelmslev (pemuka teori glosematik), yaitu <em>Principes de Grammaire Generale</em> dan <em>La Categorie des Cas</em> (Robins 1993: 258). Kesan dan pengaruh teori bahasa de Saussure yang cukup nyata dalam bidang fonologi telah menyemarakkan kajian terhadap bidang tersebut sehingga muncul nama-nama besar seperti A.J. Ellis, Sir Isaac Pitman (yang mengendalikan pembaruan abjad bahasa Inggris), C.R. Lepsius, Henry Sweet (ahli kajian fonetik bahasa Inggris lama, pertengahan, dan moden), dan Daniel Jones (yang terkenal dengan bukunya <em>Outline of English Phonetics</em>). Perkembangan yang dianggap paling menonjol dalam evolusi teori fonem berlaku dalam tahun 1920-an dan 1930-an sebagai kesan usaha ahli-ahli linguistik Praha seperti Roman Jacobson dan Trubetzkoy. Selain terkenal kerana teori fonologinya, aliran linguistik ini turut menggarap bidang lain seperti stilistik, sintaksis, dan morfologi (Robins 1993: 248-253). Paksi dunia linguistik kemudian beralih ke Amerika dengan Franz Boas, Edward Sapir, dan Leonard Bloomfield sebagai tokoh-tokoh awal dan utama yang menentukan aliran linguistik di benua tersebut. Di satu pihak, Boas dan Sapir melanjutkan gagasan Humboldt tentang eratnya kaitan antara bahasa dengan cara berfikir dan cara hidup masyarakat. Kedua-duanya menggabungkan disiplin linguistik dengan disiplin antropologi untuk menguraikan bahasa-bahasa orang Asli Amerika. Sapir pula mengkaji bahasa dalam hubungannya dengan kesusasteraan, muzik, antropologi, dan psikologi. Gagasan Sapir yang kemudian dikembangkan oleh muridnya Benjamin Whorf telah melahirkan hipotesis yang cukup terkenal, yaitu Hipotesis Sapir-Whorf. Secara ringkas, hipotesis tersebut menyarankan pengaruh dominan bahasa dalam menentukan pandangan hidup, pemikiran, dan kebudayaan sesuatu bangsa atau masyarakat. Hipotesis Sapir-Whorf ini kemudian menimbulkan kontroversi apabila dikritik oleh sebilangan ahli falsafah, ahli linguistik, ahli psikologi, ahli sosiologi, dan ahli antropologi. Antara tokoh yang menentangnya termasuklah Carroll, Farb, Brown, Lenneberg, dan Hall (Mangantar Simanjuntak 1987: 251-255). Bagaimanapun, tampaknya penentangan tersebut banyak berpunca daripada salah faham tentang konsep bahasa yang dihadkan pada pertuturan atau bahasa luaran, sesuai dengan pemahaman dan tanggapan kebanyakan ahli linguistik Barat tentang hakikat bahasa.</p>
<p>Di pihak yang berlainan pendekatan dengan Boas, Sapir, dan Whorf, Bloomfield menggunakan pendekatan deskriptif yang radikal kerana terpengaruh oleh fahaman positivisme daripada golongan behavioris atau ahli psikologi mekanis (Robins 1993: 259). Pada peringkat awal, Bloomfield menganalisis bahasa menurut prinsip-prinsip mentalisme yang selaras dengan teori psikologi Wundt. Ketika itu ia mengaitkan pelahiran bahasa sebagai pelahiran pengalaman yang luar biasa, terutama sebagai penjelmaan tekanan emosi yang sangat kuat (Mangantar Simanjuntak 1987: 17). Namun semenjak tahun 1925, Bloomfield telah meninggalkan psikologi mentalisme Wundt dan menganut teori psikologi behaviorisme Watson dan Weiss serta menerapkannya ke dalam teori bahasanya yang dikenal sebagai <em>linguistik struktur</em> atau linguistik taksonomik. Istilah linguistik struktur mengingatkan kita akan pengaruh de Saussure yang mengemukakan anjuran bahwa bahasa hendaklah dikaji daripada segi strukturnya. Istilah <em>taksonomik</em> pula menjelaskan cara Bloomfield melihat bahasa sebagai binaan yang terbentuk daripada unsur terkecil (fonem) hingga ke unsur yang terbesar (ayat). Pemikiran dan pendekatan Bloomfield terhadap bahasa tercantum dalam bukunya yang masyhur, yaitu <em>Language</em> (1935).</p>
<p>Sebagai behavioris dan mekanis, Bloomfield menekankan analisis formal melalui operasi dan konsep yang diuraikan secara objektif. Dia amat menekankan pengolahan bahasa secara saintifik yang ketat. Konsep sains yang dianutnya berasas pada empirisisme-reduksionisme yang menegaskan bahwa &#8220;sains hanya menangani peristiwa yang dapat dilihat pada zaman dan masa seseorang pemerhati atau dan semua pemerhati atau hanya untuk peristiwa yang ditempatkan dalam kordinat masa dan ruang&#8221; (Robins 1993: 265). Dengan kata-katanya sendiri, &#8220;ahli mekanis menuntut supaya fakta dikemukakan tanpa membuat andaian tentang fakta tambahan… saya percaya bahwa mekanisme ialah bentuk wacana saintifik yang perlu…&#8221; (Bloomfield 1993: x). Selaras dengan falsafahnya tentang bahasa sebagai &#8220;penggunaan yang sebenarnya&#8221; (Lihat Bloomfield 1993: 5), maka kajian terhadap bahasa tertumpu pada fonetik, analisis fonologi, dan tata bahasa formal yang berfokus pada morfologi. Kesemua aspek tersebut merupakan data bahasa yang dapat dilihat atau dicerap untuk tujuan analisis berdasarkan prosedur penemuan (<em>discovery procedure</em>) (Robins 1993: 265). Semantik, pada pandangan Bloomfield, merupakan bidang yang paling sukar untuk dikaji dengan berdasarkan kaedah saintifik. Tidak seperti fonem dan morfem, unsur-unsur semantik bukanlah sesuatu yang dapat diperhatikan dan tidak dapat juga dianalisis secara pembedahan formal untuk menunjukkan unsur yang dikatakan bahasa (sebagaimana halnya dengan fonem dan morfem). Makna sesuatu kata dan ayat, katanya, hanya dapat dianalisis dengan pelibatan pengetahuan di luar bahasa yang terlalu banyak, seperti persepsi, perasaan, penilaian, harapan, dan sebagainya. Keseluruhan Bab 9 bukunya <em>Language</em> (1935 dan 1992) berisi percubaan untuk menyakinkan pembaca bahwa makna merupakan sesuatu yang di luar kajian linguistik. Segala hujahnya itu tersimpul dengan kata-katanya bahwa &#8220;…penyataan tentang makna merupakan perkara yang lemah dalam kajian bahasa…&#8221; (Bloomfield 1992: 160). Pengisytiharan Bloomfield tentang sulitnya semantik dikaji secara saintifik dan empiris mengakibatkan hampir satu generasi ahli linguistik mengabaikan kajian semantik secara mendalam dan malah mengeluarkannya daripada kajian linguistik (Robins 1993: 266). Antara yang begitu patuh kepada dasar empirisisme Bloomfield itu termasuklah Bloch, Trager, dan Fries.</p>
<p>Teori bahasa Bloomfield yang berasaskan empirisisme-behaviorisme dan fisiologi serta menolak mentalisme-rasionalisme dan psikologi dapat difahami dengan lebih jelas jika kita mengikuti anekdotnya yang terkenal tentang &#8220;Jack dan Jill&#8221; (Bloomfield 1992: 24-29). Kelahiran bahasa, pada Bloomfield, merupakan hasil jaringan atau hubungan antara rangsangan dengan gerak balas, yaitu asas segala tingkah laku menurut behaviorisme. Dalam anekdot itu, Bloomfield menggambarkan Jack dan Jill yang sedang berjalan-jalan. Jill ternampak akan epal yang masak ranum pada pohon lalu berkata kepada Jack bahwa ia lapar dan ingin memakan epal itu. Jack pun memanjat pohon epal, memetik buahnya, dan memberikannya kepada Jill. Begitulah kira-kira gambaran Bloomfield, tentang bagaimana lahirnya pertuturan, bermula dengan suatu rangsangan dan berakhir dengan gerak balas. Dalam kisah Jack dan Jill, kata Bloomfield ada tiga bagian penting, yaitu peristiwa-peristiwa yang mendahului tindakan bertutur, pertuturan, dan peristiwa-peristiwa yang menyusuli tindakan bertutur. Peristiwa-peristiwa dalam bagian pertama berkaitan dengan penutur, yaitu Jill. Dia berasa lapar, beberapa ototnya sedang mengecut, ada cecair yang sedang dirembeskan, gelombang cahaya yang terpantul daripada epal yang merah menyambar pandangannya, dan dia nampak Jack ada di sisinya. Kesemua ini ialah <em>rangsangan penutur</em>. Bagian ketiga pula berkaitan dengan pendengar pertuturan Jill, yaitu Jack. Peristiwa Jack memanjat pohon, memetik epal, dan memberikannya kepada Jill ialah <em>gerak balas pendengar</em>. Yang menjadi perhatian Bloomfield ialah bagian kedua, yaitu pertuturan yang terdiri pula daripada tiga bagian. Pertama, penutur (Jill) menggerakkan pita suaranya, rahang bawah, lidah, dan lain-lain sehingga memaksa udara membentuk gelombang bunyi. Gerakan ini merupakan gerak balas penutur terhadap rangsangan dalam bagian prapertuturan tadi. Kedua, gelombang bunyi dalam udara di dalam mulut Jill menggerakkan udara di sekelilingnya menjadikannya gerakan gelombang yang serupa. Ketiga, gelombang bunyi dalam udara itu memukul gegendang telinga Jack dan menyebabkannya bergetar, lalu mendatangkan kesan kepada urat saraf Jack (Jack mendengar pertuturan Jill). Suara yang didengar itu menjadi rangsangan kepada Jack untuk menghasilkan gerak balas mengambilkan Jill epal.</p>
<p>Di Eropa, perkembangan linguistik deskriptif ditandai oleh kemunculan Mazhab linguistik London dengan John Rupert Firth (1890-1960) sebagai pengasasnya. Mazhab ini terkenal dengan gagasan bahasa sebagai susunan konteks-konteks. Bahasa dilihat sebagai terdiri daripada konteks fonologi, konteks morfologi, konteks leksikon, dan konteks situasi (Mangantar Simanjuntak 1987: 45). Gagasan konteks sebagai asas kajian linguistik yang diketengahkan oleh Firth ini terhasil daripada pengaruh ahli antropologi B. Malinowski yang mengajukan teori keperihalan keadaan (<em>context of situation</em>). Firth menekankan bahwa makna merupakan pokok kajian bahasa. Makna menghubungkan sesuatu unsur bahasa dengan konteks unsur itu. Pada tahap fonologi, makna sesuatu ayat dijelaskan oleh hubungan fonem-fonem dalam kata. Pada tahap leksikon, terdapat hubungan antara kata-kata dalam ayat.</p>
<p>Pada tahap morfologi, makna ayat dijelaskan oleh hubungan morfem dalam satu kata dengan morfem yang sama dalam kata lain dan hubungannya dengan kata itu. Pada tahap sintaksis, makna ayat ditentukan oleh jenis ayat yang digunakan. Akhirnya pada tahap konteks, makna ayat ditentukan oleh konteks situasi. Gagasan linguistik Firth kemudian dilanjutkan oleh M.A.K. Halliday yang terkenal dengan tata bahasa sistemik. Pengkaji-pengkaji sejarah linguistik Barat sebilangan besarnya mencapai kata sepakat bahwa suatu babak baru dalam disiplin linguistik atau suatu revolusi linguistik, menurut istilah Lyons (1970), telah berlaku dengan kemunculan teori linguistik transformasi-generatif yang dipelopori oleh Noam A. Chomsky pada tahun 1957, dengan monografnya <em>Syntactic Structures</em> dan diikuti oleh satu siri karya-karyanya yang lain. Secara khusus, teori Chomsky telah mendobrak teori Bloomfield yang cukup berpengaruh ketika itu. Dalam hubungannya dengan perkembangan falsafah bahasa Barat, teori Chomsky menandai suatu aliran pemikiran yang signifikan, kerana menampilkan sejumlah gagasan yang menentukan sikap dan tanggapan sejumlah besar ahli-ahli bahasa di seluruh dunia, termasuk di Malaysia, khususnya tentang hakikat bahasa sebagai aspek akal.</p>
<p>Menurut Robins (1993: 267-269), ada dua asas falsafah yang memperlihatkan pertentangan antara Chomsky dengan Bloomfield. Pertama, Chomsky (dan pengikut-pengikutnya juga) melihat bahasa &#8220;dari dalam&#8221;, yaitu berasaskan keupayaan penutur jati sesuatu bahasa untuk menggunakan dan memahami bahasanya sendiri. Hal ini berbeda daripada ahli empiris, sebagaimana yang diwakili oleh Bloomfield, yang melihat bahasa &#8220;dari luar&#8221;, yaitu berasaskan fenomena bahasa yang diperhatikan daripada penutur-penutur bahasa itu. Dalam konteks melihat bahasa sebagai keupayaan pengguna bahasa, Chomsky mengaitkan bahasa dengan akal dan menempatkan bahasa sebagai cabang psikologi kognitif. Asas kedua yang memperlihatkan kelainan teori Chomsky daripada teori Bloomfield ialah bahwa akal manusia bukan tabula rasa atau wadah kosong yang menunggu data dari luar. Sebagai rasionalis, ia menganggap bahwa akal telah dipersiapkan dengan program yang kaya dan agak terperinci untuk menerima, menafsirkan, menyimpan, dan menggunakan maklumat yang ditanggap oleh deria. Gagasan inilah yang mendasari konsep kenuranian bahasa yang dikembangkan dengan menyakinkan oleh Chomsky, walaupun gagasan tersebut telah dibincangkan sejak zaman Plato dan dibayangkan juga oleh Descartes pada abad ke-17. Berkaitan dengan gagasan ini, proses mental yang khusus yang berkaitan dengan keupayaan, tidak seperti bentuk pemelajaran yang lain, yaitu yang berkaitan dengan pelaziman tingkah laku. Sehubungan dengan itu, Chomsky percaya bahwa dalam akal manusia yang normal terdapat suatu alat pemerolehan bahasa yang sejagat sifatnya, yang diistilahkannya sebagai <em>Language Acquisition Device</em> atau singkatannya LAD. Untuk bahasa Melayu, dapat kita gunakan padanannya APB (Alat Pemerolehan Bahasa). Alat inilah yang memungkinkan semua kanak-kanak normal memperoleh bahasa pertamanya di luar kesedarannya dan tanpa pengajaran formal. Dalam hal ini, pendidikan formal yang diterima, seperti di sekolah, merupakan pengukuhan dan pengembangan potensi yang sedia ada pada kanak-kanak. Pegangan ini memperlihatkan pertentangan dengan pegangan empiris dan behavioris yang menganggap pemelajaran bahasa pertama menyamai bentuk pemelajaran yang lain (penguasaan kemahiran tingkah laku) dan berasaskan pengenalan pola melalui latih tubi.</p>
<p>Empat aspek teori Chomsky yang disebut oleh Oller dan Richards (1973: 32), sebagaimana yang dilanjutkan uraiannya oleh Mangantar Simanjuntak (1987: 52-59), yang begitu penting dalam perkembangan teori linguistik dan juga psikologi, khususnya dalam pendidikan bahasa ialah: a. Aspek kreatif penggunaan bahasa; b. Keabstrakan lambang-lambang linguistik; c. Kesejagatan struktur linguistik dasar; d. Peranan organisasi intelek nurani dalam proses kognitif atau mental. Berkaitan dengan aspek yang pertama, yang dimaksudkan ialah bahwa bahasa bebas daripada ikatan hukum rangsangan dan gerak balas sebagaimana yang diyakini oleh behavioris dan empiris. Sebaliknya bahasa bersifat kreatif dan inovatif. Setiap ayat dianggap bentuk bahasa yang baru dihasilkan oleh kecekapan penutur, bukan sebagai hasil rangsangan tertentu (sebagaimana yang berlaku dalam kisah Jack dan Jill dalam buku <em>Language </em>karya Bloomfield). Bahkan bentuk-bentuk tertentu yang dianggap pengulangan bentuk yang sedia ada seperti ucapan &#8220;Selamat pagi&#8221; tidak dianggap sebagai pengulangan mekanis, tetapi secara kebetulan sama dan oleh itu tetap dianggap hasil baru daripada keupayaan penutur. Hal ini, dapat dijelaskan dengan membandingkan pengungkapan &#8220;ucapan&#8221; oleh manusia dengan pengungkapkan ucapan oleh hewan yang telah dilatih mengajuk ucapan tertentu. Hewan mengeluarkan bunyi yang menyamai ucapan itu secara mekanis, dan besar sekali kemungkinannya bahwa ucapan &#8220;Selamat pagi&#8221; itu diucapkannya juga pada waktu-waktu lain yang menunjukkan ketiadaan sifat akal pada hewan. Chomsky percaya bahwa seseorang penutur ibunda sesuatu bahasa telah menuranikan tata bahasa generatif secara tidak sedar dan tanpa disedarinya juga ia telah menguasai segala milik tata bahasa tersebut. Tugas ahli bahasa ialah menemukan dan menerangkan milik-milik tata bahasa yang merupakan keupayaan linguistik nurani itu. Bahasa sebagai hasil fenomena rangsangan dan gerak balas ditolak sama sekali oleh Chomsky kerana bertentangan dengan gagasan kenuranian bahasa yang memungkinkan timbulnya ciri kreatif pada bahasa. Katanya:</p>
<p><em>&#8220;The notion that linguistic behavior consists of ‘response’ to ‘stimuli’ is as much a myth as the idea that it is a matter of habit and generalization.… This property of being innovative and stimulus free is what I refer to by the term ‘creative aspect of language use’ &#8221; (Chomsky 1966: 32). </em></p>
<p>Tentang keabstrakan lambang-lambang linguistik pula, yang dimaksudkan Chomsky ialah bahwa rumus-rumus bahasa yang menentukan bentuk-bentuk ayat dan penafsiran maknanya adalah rumit dan amat abstrak. Hal ini berkaitan rapat dengan pegangan Chomsky bahwa tata bahasa merupakan suatu konsep psikologi dan mental, dan lebih luas lagi bahasa ialah suatu proses akal. Oleh itu, penghasilan bahasa luaran (dalam bentuk pertuturan dan tulisan) yang berasaskan rumus-rumus bahasa yang ada dalam akal manusia tidak ada kaitannya dengan fenomena pancaindera yang menjadi pegangan ahli-ahli psikologi empirisisme atau behaviorisme. Adanya rumus-rumus abstrak yang memungkinkan pelahiran bahasa ini memperkukuh teori Chomsky bahwa bahasa merupakan bagian dalaman diri, bukan sesuatu yang datang dari luar oleh sebab adanya rangsangan tertentu. Selanjutnya, gagasan &#8220;kesejagatan linguistik dasar&#8221; menegaskan bahwa prinsip-prinsip abstrak yang mendasari tata bahasa generatif tidak dapat diperoleh daripada pengalaman dan latihan, melainkan daripada organisasi akal atau intelek. Adanya kesejagatan linguistik dasar inilah yang memungkinkan semua manusia yang normal memperoleh bahasa. Dengan kata-kata lain, setiap bahasa manusia diprcayai memiliki kesejagatan linguistik dasar ini, sehingga dalam masyarakat manapun seseorang itu lahir atau hidup, ia dapat menguasai bahasa masyarakat tersebut.</p>
<p>Kewujudan pelbagai bahasa manusia sebagai kenyataan logis daripada wujudnya pelbagai bangsa dan keturunan, menurut teori kesejagatan bahasa ini, rupa-rupanya kepelbagaian yang berteraskan suatu persamaan, bukan semestinya pada struktur luarannya, tetapi pada asas-asas yang menerbitkan bahasa manusia. Malahan kata Chomsky (1967: 6), sebagaimana yang dipetik oleh Steinberg (1990: 133), struktur dalaman sesuatu bahasa sama sahaja dengan struktur dalaman bahasa lain. Gagasan ini, sebagaimana yang telah dibincangkan sebelum ini, telah dikemukakan lebih awal oleh Humboldt pada abad 18/19. Aspek kesejagatan struktur linguistik dasar itu berkaitan rapat pula dengan peranan organisasi intelek nurani dalam proses kognitif. Seperti yang telah disebut, tata bahasa merupakan suatu sistem dalam organisasi intelek nurani manusia. Organisasi intelek nurani ini menjadi penggerak proses kognitif secara umum, dan menjadi asas pemerolehan bahasa secara khusus (Mangantar Simanjuntak 1987: 54). Dalam organisasi tersebut terdapat jagat-jagat linguistik (<em>linguistic universals</em>) yang dinamai Chomsky <em>tata bahasa sejagat</em>, yaitu milik sejagat bahasa manusia.</p>
<p>Sebagaimana roman Jakobson, Chomsky percaya bahwa wujud kesejagatan tertentu dalam hal fonologi, sintaksis, dan semantik bagi bahasa manusia, dengan pengertian unit-unit bahasa tersebut dapat ditakrifkan kewujudannya dalam mana-mana bahasa berdasarkan suatu teori linguistik yang umum (John Lyons 1970: 111). Contohnya, terdapat sehimpunan 20 fitur distingtif bagi fonologi bahasa manusia sedunia (misanya fitur penyuaraan yang membedakan <em>p</em> daripada <em>b</em> atau <em>t</em> daripada <em>d</em>, atau fitur kesengauan yang membedakan <em>b</em> daripada <em>m</em> dalam <em>bad</em> dan <em>mad</em>, dan <em>d</em> daripada <em>n</em> dalam <em>pad</em> dan <em>pan</em>). Kesejagatan fonologi, sintaksis, dan semantik ini (yang lebih sesuai disebut kesejagatan dasar, bukan kesejagatan khusus tentang unsur tertentu dalam bahasa) diistilahkan Chomsky sebagai <em>kesejagatan substantif</em>.</p>
<p>Suatu aspek lain yang penting dalam teori Chomsky ialah hakikat bahasa yang diwakili oleh struktur dalaman dan struktur luaran. Secara ringkas, struktur dalaman ialah struktur bahasa yang berada jauh dalam fikiran dan tidak dapat ditanggap oleh pancaindera, sedang struktur luaran ialah struktur yang dapat diamati atau diperhatikan. Pembedaan dua struktur ini dilakukan oleh Chomsky berdasarkan teori Descartes dan Port Royal yang juga tergolong sebagai mentalis. Penelitian terhadap dua aspek bahasa ini penting dalam konteks memahami bahasa sebagai wahana pelahiran atau penyataan makna (struktur dalaman) dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa yang tersusun menjadi ayat (struktur luaran). Mekanisme yang menghubungkan kedua-dua struktur, atau lebih tepat lagi yang menzahirkan struktur dalaman (proposisi, makna, dan fikiran) menjadi struktur luaran (ayat-ayat yang terdiri daripada frasa-frasa yang diwakili oleh representasi fonetik) ialah tata bahasa. Tata bahasa ini disebut tata bahasa transformasi-generatif, yaitu tata bahasa yang mentransformasikan dan menjana makna menjadi ayat. Walau bagaimanapun, dalam versi-versi tata bahasa generatif sesudah <em>Syntactic Structures</em> (1957), peranan transformasi tidak lagi merupakan mekanisme yang dititikberatkan. Bahkan versi tata bahasa generatif yang dikenal sebagai Tata Bahasa Frasa Struktur Umum (<em>Generalised Phrase Structure Grammar</em>) dan Tata Bahasa Fungsian Leksikal (<em>Lexical Functional Grammar</em>) sama sekali tidak membincangkan mekanisme transformasi (Robins 1993: 282). Namun, yang lebih penting dalam perkembangan falsafah bahasa ialah keutuhan teori Chomsky dalam menjelaskan persoalan-persoalan tersembunyi tentang hakikat bahasa.</p>
<p>Paksi falsafah bahasa dalam tradisi Barat, kemudian ditandai oleh kemunculan fungsionalisme yang berkembang daripada gagasan Firth seperti yang telah dibincangkan sebelum ini. Pemikiran tentang fungsionalisme sebagai reaksi terhadap rasionalisme-generatifisme secara nyata mula berkembang pada akhir tahun 1960-an (Brown 1987: 22) dengan berasaskan upaya untuk menyelami hakikat bahasa yang lebih mendalam. Golongan rasionalis-generatif dianggap oleh golongan fungsionalis baru mencecah aspek bentuk bahasa dan belum sampai di peringkat bahasa yang paling dalam, yaitu aspek makna dalam konteks fungsi bahasa. Linguistik generatif dikatakan tidak berhasil menangani aspek fungsi bahasa dan terbatas pada rumus-rumus yang mengawal bentuk bahasa semata-mata. Dell Hymes yang merupakan salah seorang pemuka pendekatan ini sepanjang tahun 1960-an menyelidik cara bagaimana ujaran-ujaran dapat ditakrifkan untuk menepati konteks sosial yang khusus. Ia menganalisis komponen-komponen khusus &#8220;peristiwa-peristiwa pertuturan&#8221; (1967) untuk menunjukkan bagaimana faktor seperti peserta (<em>participant</em>), latar (<em>setting</em>), babak (<em>scene</em>), bentuk mesej, topik, tujuan, dan pemilihan kod saling berinteraksi dalam pelahiran pertuturan.</p>
<p>Pendekatan analisis bahasa yang berasaskan etnografi ini kemudian menimbulkan gagasan <em>keupayaan komunikatif (communicative competence)</em> yang dianggap oleh golongan fungsionalis sebagai jauh lebih penting dan bermakna daripada gagasan <em>keupayaan linguistik </em>yang dicetuskan oleh Chomsky (Brumfit 1994: 25). Hal ini demikian, kerana di sisi meliputi keupayaan formal tentang bentuk bahasa, keupayaan komunikatif menjangkau pengetahuan tentang rumus-rumus penggunaan bahasa yang tanpanya rumus-rumus tata bahasa dianggap tidak ada gunanya sama sekali (Hymes 1971: 15). Seorang lagi tokoh yang senantiasa dikaitkan dengan fungsionalisme ialah M.A.K. Halliday. Di samping menolak dikotomi keupayaan berbahasa dan pelaksanaan bahasa yang digagaskan oleh Chomsky, Halliday berpendapat bahwa isu pokok dalam kajian bahasa perlu tertumpu pada situasi-situasi penggunaan bahasa (Halliday 1970: 145) yang dengan perkataan lain merujuk kepada fungsi bahasa dalam penggunaan. Pada hemat golongan fungsionalis hakikat bahasa yang sesungguhnya tidak lain daripada fungsi komunikatifnya, dengan segala variabilitinya (Brown 1987: 24). Bahasa tidak boleh dianggap sebagai hanya suatu sistem unsur-unsur formal yang bebas daripada fungsi-fungsi khususnya. Halliday (1973) menggariskan tujuh fungsi bahasa yang berlainan dalam memenuhi keperluan hidup manusia, yaitu:</p>
<p>a.<em> fungsi instrumental</em> yang digunakan untuk memanipulasi persekitaran bagi menyebabkan peristiwa-peristiwa berlaku. Ayat seperti &#8220;<em>Mahkamah mendapati kamu bersalah</em>&#8220;, &#8220;<em>Di atas garisan, sedia, mula</em>&#8220;, atau &#8220;<em>Jangan sentuh dapur itu</em>&#8221; dikatakan berfungsi instrumental. Ayat-ayat itu merupakan lakuan komunikatif yang menyatakan sesuatu keadaan tertentu. b.<em> Fungsi pengaturan (regulatory function)</em> yang merupakan kawalan peristiwa, boleh jadi dalam bentuk pengesahan, penolakan, kawalan tingkah laku, atau penyataan aturan dan undang-undang. Jika ayat &#8220;<em>Saya dapati kamu bersalah dan kamu dijatuhi hukuman penjara tiga tahun</em>&#8221; termasuk dalam fungsi instrumental, maka ayat &#8220;<em>Oleh sebab berkelakuan baik, kamu akan dibebaskan sesudah menjalani hukuman penjara sepuluh bulan</em>&#8221; tergolong dalam fungsi pengaturan. c.<em> Fungsi perwakilan (representational function)</em> yang merupakan penyataan fakta dan maklumat yang mewakili sesuatu hakikat atau realiti, seperti &#8220;<em>Bumi bulat</em>&#8221; dan &#8220;<em>Perdana Menteri berucap dalam majlis itu</em>&#8220;. d.<em> Fungsi interaksi (interactional function)</em> yang berperanan memastikan pengekalan masyarakat. Fungsi ini terlaksana jika pengguna bahasa menguasai pengetahuan tentang slanga, jargon, jenaka, cerita rakyat, kesantunan, dan unsur-unsur sosial lain dalam bahasa masyarakatnya atau dalam bahasa yang digunakannya. e.<em> Fungsi persendirian (personal function)</em> yang memungkinkan seseorang melahirkan perasaan dan reaksi. f.<em> Fungsi heuristik</em> yang berkaitan dengan penggunaan bahasa untuk pemerolehan ilmu, khususnya yang melibatkan jenis ayat tanya. g.<em> Fungsi imaginatif </em>yang memungkinkan bahasa digunakan untuk seseorang menghasilkan puisi, cereka, jenaka, ramalan, dan sebagainya.</p>
<p>Sebagai kesimpulannya, golongan fungsionalis menolak pendekatan melihat bahasa hanya sebagai sistem yang membayangkan keupayaan bahasa penutur unggul sesuatu bahasa yang menjadi tumpuan perhatian golongan rasionalis, dan sebaliknya menekankan aspek makna dan fungsi bahasa dalam penggunaan menurut situasi dan konteks.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Demikianlah perkembangan falsafah bahasa dalam tradisi Barat pada zaman moden yang diasaskan oleh Rene Descartes. Sebagaimana perkembangan falsafah bahasa dalam zaman-zaman sebelumnya, yaitu zaman awal pertumbuhan falsafah bahasa, zaman pengasasan kajian falsafah bahasa, dan zaman pertengahan, perkembangan falsafah bahasa dalam zaman moden tetap ditandai oleh sisi kontroversi antara pelbagai aliran pemikiran yang didukung oleh tokoh-tokoh tertentu. Biar apa pun tema yang dibincangkan, hal yang nyata ialah bahwa kesemua tema tentang falsafah bahasa yang dibincangkan itu berpusat pada persoalan hakikat bahasa.</p>
<p><strong>Bibliografi</strong></p>
<p>Alston, W.P. 1964. <em>Philosophy of Language</em>. New Jersey: Prentice Hall, Inc.</p>
<p>Awang Sariyan 1997. &#8220;Falsafah Pendidikan Bahasa: Kajian tentang Konsep dan Pelaksanaannya di Malaysia dengan Rujukan Khusus kepada Pendidikan Bahasa Melayu di Sekolah Menengah&#8221;. Disertasi Doktor Falsafah, Jabatan Pengajian Melayu, Universiti Malaya.</p>
<p>Bloomfield, L. 1933. <em>Language</em>. New York: Holt. Borgmann, A. 1974. <em>The Philosophy of Language</em>. The Hague: Martinus Nijhoff.</p>
<p>Brown, H.D. 1987. <em>Principles of Language Learning and Teaching</em>. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.</p>
<p>Chomsky, N. 1955. <em>The Logical Structure of Linguistic Theory</em>. Massachusetts: MIT Press.</p>
<p>Chomsky, N. 1957. <em>Syntactic Structures</em>. The Hague: Mouton.</p>
<p>Chomsky, N. 1959. &#8220;A Review of B.F. Skinner’s <em>Verbal Behavior</em>&#8221; dlm. <em>Language</em>, 35, No. 1 (26-58). Terdapat juga dalam Fodor, J.A. Dan Katz, J. (Ed.) (1964).</p>
<p>Chomsky, N. 1964. &#8220;Current Issues in Linguistic Theory&#8221; dlm. Fodor, J. A Dan Katrz, J.J. (Ed.) (1964).</p>
<p>Chomsky, N. 1965. <em>Aspects of the Theory of Syntax</em>. Massachussetts: MIT Press. Chomsky, N. 1966 (a). <em>Topics in the Theory of Generative Grammar</em>. The Hague: Mouton.</p>
<p>Chomsky, N. 1966 (b). <em>Cartesian Linguistics</em>. New York: Harper and Row.</p>
<p>Chomsky, N. 1967. &#8220;Recent contributions to the theory of innate ideas&#8221; dlm. <em>Synthese</em>, 17 (2-11).</p>
<p>Chomsky, N. 1968. <em>Language and Mind</em>. New York: Harcourt, Brace and World (edisi yang diperluas, 1972).</p>
<p>Chomsky, N. 1975 (a). <em>Reflections on Language</em>. New York: Pantheon.</p>
<p>Chomsky, N. 1975 (b). <em>The Logical Structure of Linguistic Theory</em>. New York: Plenum. Chomsky, N. 1979. <em>Language and Responsibility</em>. Sussex: The Harvester Press Ltd.</p>
<p>Frege, G. 1952. &#8220;Sense and Reference&#8221; dlm. <em>Philosophical Writing</em> (terj. P.T. Geach dan M. Black). Oxford: Blackwell.</p>
<p>Halliday, M.A.K. 1973. <em>Explorations in the Functions of Language</em>. London: Edward Arnold.</p>
<p>Halliday, M.A.K. 1975. <em>Learning How to Mean</em>. London: Edward Arnold.</p>
<p>Halliday, M.A.K. 1985. <em>Seminar on Language Across the Curriculum</em>. Singapore: Regional English Language Centre (RELC).</p>
<p>Hashim Musa 1994. <em>Pengantar Falsafah Bahasa</em>. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Hymes, D. 1964. &#8220;Directions in (etho-) Linguistic Theory, <em>American Anthropologist</em>, 66, 3 Part 2: 6-56.</p>
<p>Hymes, D. 1967. &#8220;Models of Interaction of Language and Social Setting&#8221; dlm. <em>Journal of Social Issues</em>, 23, 2: 8-28.</p>
<p>Hymes, D. 1971. <em>On Communicative Competence</em>. Philadelphia: University of Pennsylvenia Press.</p>
<p>Mangantar Simanjuntak 1987. <em>Pengantar Psikolinguistik Moden</em>. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Oller, C.K. dan J. Richards (Ed.) 1973. <em>Focus on the Learner: Pragmatic Perspectives for the Language Teacher</em>. Massachussetts: Newbury House.</p>
<p>Robins, R. H. 1993. <em>Sejarah Ringkas Linguistik</em> (terj. Noor Ein Mohd. Noor). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Russell, Bertrand 1912. <em>The Problems of Philosophy</em>. Oxford: Oxford University Press. Russell, Bertrand. 1993. <em>An Outline of Philosophy</em>. London: Routledge.</p>
<p>Russell, Bertrand. 1993. <em>Sejarah Falsafah Barat</em>. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Saussure, F. De. 1993. <em>Pengantar Linguistik Umum</em> (terj. Ajid Che Kob). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Searle, J.R. 1990. <em>Falsafah Bahasa</em>. (terj. Azhar M. Simin daripada <em>The Philosophy of Language</em> [1974]). Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.</p>
<p>Steinberg, D.D. 1990. <em>Psikolinguistik, Bahasa, Akal Budi dan Dunia</em> (terj. Azhar M. Simin daripada <em>Psycholinguistics, Language, Mind and World</em> [1982]). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.</p>
<p>Wolff, R.P. 1992. <em>About Philosophy</em>. Belmont, CA: Wadsworth.</p>
<p>Wojowasito, S. 1961. <em>Linguistik: Sejarah Ilmu (Perbandingan) Bahasa</em>. Jakarta: Penerbit Gunung Agung.</p>
<p style="padding-left:30px;">&#8212;&#8212;&#8212;- *Makalah yang cukup panjang ini disadur dari tulisan Awang Sariyan*</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Filsafat Yang Diam]]></title>
<link>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/21/filsafat-yang-diam/</link>
<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 15:19:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>nemuriuta</dc:creator>
<guid>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/21/filsafat-yang-diam/</guid>
<description><![CDATA[“. . . Pergolakan arus dunia, pasang-surut ilmu pengetahuan, mungkin pada akhirnya hanyalah sebuah l]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!-- by kenz --></p>
<div>
<p style="text-align:left;"><em><img class="alignleft" title="philosophy_discussion" src="http://i299.photobucket.com/albums/mm298/bangqonol/philosophy_discussion.gif" alt="" width="301" height="205" />“. . . Pergolakan arus dunia, pasang-surut ilmu pengetahuan, mungkin pada akhirnya hanyalah sebuah lingkaran literacy yang akan mengurung benak setiap generasi. Lingkaran itu bak gerbang panopticon yang terus menerus mengalpa-ingatkan bahwa semesta bukanlah ‘roti tawar’. Ia mungkin lezat, namun toh tetap merangsang kita untuk senantiasa mengolesnya dengan perihal yang lain.<br />
</em>
</p>
<p style="text-align:left;"><em>Sementara, di samping segala stimulus itu, ribuan tahun lamanya sejarah telah menularkan apa yang mesti dikenal sebagai silabus quantum dialektika. Sesuatu yang takkan mudah untuk dipahami. Apalagi untuk diwarisi. Sejenis anak kehidupan yang begitu dekat namun belum jua tersentuh adanya. Sedangkan kita di sini, melanggengkan kesetiaan pada ‘ia’ yang sehadir-lewat, kemanakah kita akan berpaling..? begitu tolol.”</em></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Berabad lamanya manusia menyertai evolusi semesta. Menitiskan usaha pencarian akan kepelikan yang tak kunjung terungkap. Diilhami kesadaran yang menghunjam, nalar yang menghantam, alih-alih rahasia terbungkam, manusia justru hanya bisa menjahit waham: ia telah merangkum segalanya.<!--more--> Ekspansi jagad rupanya ditakdirkan untuk menaungi perjalanan tiap generasi dengan rahasia yang terus berlipat. Selalu saja ada kemungkinan bagi kebaruan yang menyanggah setiap penemuan. Kebenaran tak pernah bertahan. Perenunganlah yang menyua kemapanan. Dan . . . . . . .</p>
<p style="text-align:left;">Pada perkiraan akan hari-hari akhir semesta, entah filsafat, sains, juga agama (buah usaha panjang rasionalitas) tetap saja bergesekan dalam kebisuan. Menghayati jejak-jejak keruntuhan yang tercermin di biasnya pemahaman. Namun, belum pun kegelisahan padam, tiba-tiba semuanya tercekat dalam krisis yang muram. Tanah harapan yang dijanjikan oleh semangat penuntasan, ternyata hadir dalam bentuk hancurnya peradaban. Logos menuai kasus, eudamonia menghantarkan nista, bahasa menorehkan dilema. Lalu, kita pun harus terdampar di keasingan. Siapakah diri? dimanakah lampiran asal? Adakah kebebasan juga kebahagiaan? Kemanakah kita akan berpulang? dan setumpuk pertanyaan lainnya kembali menjejaki benak, meski tak setiap saat menyeruak.</p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<p style="text-align:left;">Sekadar membaca filsafat, mengarungi antartika pikir, pernah kita temukan sebentuk benak yang berusaha untuk bertanya perihal semesta. Nalar itu mengatakan bahwa tak ada sesuatu yang tak berawal. Semuanya bermula dari nihiltas (creatio ex nihilo) yang terkesan taksa. Sebongkah ketiadaan yang harus bersandar pada ‘ke-ada-an’. Tuhan ad infinitum. Dzat ab aeterno yang sengaja mengosongkan sebagian diri-Nya agar tersembul hierarki manifestatif yang mengesankan kebesaran-Nya (untuk hal ini, iman kita bermula. Mengalahkan nalar lewat proses ekslusi yang sederhana. Bahwa ada yang mesti dipotong setelah renungan tentang rangkaian tak terbatas dari muasal keterciptaan itu. Dan konon, untuk mengerti kita hanya butuh intuisi yang pasrah, bukan rasio yang gelisah)</p>
<p style="text-align:left;">Sebab keraguan, kedahagaan atas pengajaran dan kebernilaian arti ‘mengetahui’, kita terus berlari. Mengejar bayang dan jejak mereka yang telah memuaskan kelana ‘kebijaksanaan’ ini; Plato, Aristoteles, Empedocles, Heraklitos, Plotinus, Thales dan lainnya. Sungguh mengejutkan, alih-alih mendewasakan, kita di baynyak masa hanya menemukan celah perbedaan kalam (begitu tolol…). Dalam Plato kita disuramkan oleh catatan tentang eksterioritas tubuh. Fisik ragawi hanyalah sampah pembungkus yang mesti dilenyapkan. Sebab, kita sebenarnya adalah reretan eidos yang abadi. Yang sejatinya spiritualis, namun tersungkur oleh goresan dualistik yang mesti ditebus dengan kejatuhan pada alam materialis. Dan segala yang harus diusahakan hanyalah anamnesi suci untuk merebut eudaimonia diri. Begitulah arti memahami. Pada Aristoteles pikiran kita ditulisi catatan substansial yang diselaputi titik-titik aksidental. Manusia dan alam, dalam proses panjang melarutkan berbagai kategori causa pada evolusi telelogis menuju ‘arsy Ia yang ‘diam’ (unmoved mover), harus bergembira bahwa mereka tak musnah sejatinya. Dibalik semua perubahan, ada yang tetap kekal. Inilah linieritas keberadaan, akan terus ada hukum yang mengawasi setiap delik irreversibilitas unifikasi form dan matter. Persis hikayat kanonik yang menolak chaositas semesta, pikiran kita disemayamkan dalam ketenangan matematis yang menghubungkan dua dunia. Tatanan tanpa kerusakan, kecuali sebagai anugerah kemustian gerak.</p>
<p style="text-align:left;">Menjaring Plotinus, dan mereka yang mewarisi hikayatnya; (para filosof muslim yang kini generasi penerusnya disibukkan oleh jejalan upaya mengembangkan ide bagaimana mensejajarkan identitas mereka dengan menshalatkan ‘barat’ daripada mengenali ulang rupa ‘Tuhan’ dan kiblat mereka yang sedikit usang dihadapan hantaman arus informasi quantum), kita direhatkan dalam tetirah emanasi. Ada hierarki yang menyusun rentetan ‘Ada’. Tak perlu ditanyakan adakah keadilan bagi mereka yang sedari awal hanya mendapat jatah sedikit cahaya, sebab selalu tersisa ruang untuk berbenah. Melegamkan dosa, mengangkat jiwa, lalu meraih cinta-Nya. Di sana pula kita dijejali asumsi yang telah tertanam secara sporadis-kultural tentang harga ontologis ‘ada’ kita, sebagai mikrokosmis yang berbeda sebab pikir dan dzikir. Itupun selewat bertahun kita diajarkan perihal latar diskursus teologi mereka yang saling hantam.</p>
<p style="text-align:left;">Pernah juga perhelatan tarung argumen antara Averroes dan Ghazali mengasingkan benak dari telunjuk yang bisa kita arahkan bagi keraguan. Siapakah yang melenceng? Tak jadi soal setelah kita berhenti di regukan bahwa yang melenceng adalah yang tak lagi merenung. Mungkin itu tatkala Shadra dan Iqbal membuat kita menyadari arti lain sebuah gerak. Mengingatkan kita tentang makna substansial ‘proses’ yang menelikung kategori logis Aristotelian. Dan menempatkan akal kita dalam pembacaan ontologis yang sedikit lebih bergairah. Sebab di situ kita mendapati sedikit bisikan yang merombak paham teologis kita.</p>
<p style="text-align:left;">Dengannya hasrat pun kembali meletup. Menari dalam kerinduan yang entah pada pelajaran tentang ‘filsafat proses’ Whitehead dan ‘renungan durasi’ Bergson. Manusia, mikro-ontis adalah gumpalan pemadatan peristiwa yang disusupi objek-objek abadi melalui prehensi. Ia bukan sebatas substansi diam tanpa perubahan, melainkan sebuah satuan aktualitas dan masih merahimkan aneka potensialitas. Ia menangkap segala jenis informasi yang dibutuhkan untuk keberlangsungan ‘satisfaksinya’. Mungkin didalamnya ada proses inklusi dan eksklusi yang sedikit naif, namun mampu melegakan percaya kita bahwa tetap ada sisi otonom dalam kesadaran seorang insan. “kita” tidak hanya sekadar tumpukan ‘sampah’ ideologi yang beronani dengan fantasi tentang revolusi. Dari keduanya pula kita mengenal suara lain yang mengabarkan bahwa setiap entitas (manusia, alam bahkan Tuhan) berada pada lintang yang sebujur. Meski sepintas hal itu kita temukan pula kemudian hari di sistematika hierarki holon (holarki) yang disusun oleh Ken Wilber, setidaknya jenis pemikiran ini telah memberikan kesan yang mendalam tentang makna lain realitas.</p>
<p style="text-align:left;">Lalu, kita pun sempat menyeberang ke tepian paradigma sainifik. Menjerat simpul-simpul kompleksitas konklusi dari fisika quantum, biologi molekular, bahkan neurosains. Ringkasan imajinatif tentang big bang adalah hal pertama yang kita serap perihal ontologi awal semesta. Titik singularitas tanpa hukum, kategori, tujuan bahkan bahasa penjelasan, yang meledak (dan konon) membawa benih-benih dasar informasi kejeniusan sang perancang. Ambang penyelidikan yang menjadi titik nol bagi pemahaman para ilmuwan. Uniknya, di ranah ini tidak kutemukan Tuhan sebagai creator integral penjelasan teori itu, kecuali gumaman kusut bahwa hal itu di luar grammatologi ilmiah. Meski kemudian tak sedikit keriuhan yang menyuarakan kekaguman sekaligus keheranan atas proto-fenomena itu, perihal misalnya adakah penjelasan bagi keterbentukan hidup yang jenius dari sistematika kejadian yang selalu dianggap kesunyataan itu, atau barangkali bagaimana matriks evolusi setelah peristiwa itu yang mengarah meraih kedetailan spiritual, entah mengapa ranah ini masih enggan beringsut dari sebagian paham tentang ketakperlu-adaan sang ‘Mana’. Kita pun berulangkali tertegun mendengar sabda kaum ‘orc’, penjaga materialitas laboratorium ini, bahwa yang diperlukan dalam sains hanyalah hukum dan kebetulan (<em>law and chance, un-teleologic cause and effect</em>). Dalam evolusi yang dibutuhkan hanya swa-order (pengaturan diri, self-order), ke-boleh-jadian (<em>necessity of chance</em>), dan seleksi natural (<em>natural selection</em>). Semesta secara ontologis berdiri di atas rangkaian acak evolusi yang mengandung berbagai kemungkinan. Toh’ ada tatanan hukum yang membatasi. Sekalipun ada pengalaman yang lebih mengisyaratkan <em>byte-byte </em>altruisme daripada <em>‘The survival of the fittest’,</em> ia hanya dianggap sebagai bagian kecil pergolakan evolusi yang dapat dijelaskan berdasarkan kontribusinya terhadap daya hidup dan suaka genetikal.</p>
<p><strong>Hari ini . . .</strong></p>
<p style="text-align:left;">Kita masih bersandar pada dinding kontribusi kalam yang sedikit lapuk. Dan kecemburuan pada mereka yang terekam dalam sejarah belum berakhir. Pencerahan, aukflarung, sudah lama berlalu. Perhelatan zaman yang desas-desus usainya belum juga mereda kini terdengar juntrungnya telah tersesat di sebuah kota. Entah di mana. Postmodernisme yang sayu, religiusitas yang berdebu, namun lirih bisiknya tetap mengganggu:<br />
<em><br />
benak retak pecah<br />
jenazah century terbujur gulana<br />
detik-detik yang mengabarkan umur dunia<br />
keranda neksus, peradaban yang terluka<br />
tidak lagi mengerti kemana perginya masa</em></p>
<p><em>segala bersua, berdesakan bak elegi Himura<br />
diri, batu, ranting, dan neraka<br />
padamu, desing Phoenik yang membawa sunyata<br />
tiupkan angin Timur pada kami yang lalai<br />
tak perlu bincang ini digelar<br />
atau sekadar percaya bahwa tak ada yang berbeda<br />
kita hanya disisakan ruang sempit untuk percaya;<br />
siapapun boleh bersuara.! </em>
</p>
<p style="text-align:left;">Belumlah pernah kita layaknya Descartes, membuang segala iman dan menyuguhkan seonggok keraguan metodisnya pada semua hal. Tidak juga kita membentuk diri seperti halnya Ghazali yang begitu kukuh dengan kepercayaannya hingga ia tak akan mengubah ia, meski ada fakta ganjil yang berlangsung di depan matanya. Bahkan sebagian kita tak pula sempat mengarungi semedi moksa, menenggelamkan diri dalam ritus furgatorio, dibakar oleh api hidayah seperti halnya para filosof yang terdahulu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita hanya ingin mengartikan hidup, walau tidak mampu ‘membunuh’ Tuhan. Kita hanya ingin menerjemahkan ada kita, meski iman kita tak sanggup melompati kenyataan. Kita hanya berharap percaya bahwa realitas sungguh ada. Bukan sekadar bahasa, noumena, apalagi kuasa. Bahwa manusia tidak lagi sebatas komoditas ekonomi dan kerja, atau ode keterlemparan yang musti dicela.</p>
<p style="text-align:left;">Hari ini, untuk mereka yang tinggal lembaran dan jejak-jejak kata, kita tetapkan sebaris do’a. Malam boleh menghilang, kenangan biarkan ia melepuh, namun semangat ini akan terus tertempa. Tidak peduli bagaimana mata yang lain menyapa-cela, tidak juga kita peduli pada lidah yang lain menatap-hina. kita hanya menyalin entah pada lembaran hidup yang selewat-tiba. Dan kita berdiri di sana. Menyanjung kesendirian sebagai batas raihan jiwa. Sebab kita tersesat di antara kelopak senja riuh orang-orang atas perihal dunia. Namun sembari menampik puja. Sebab kita tergelincir di tengah duka mereka yang terkuras air matanya. Namun sembari melipat daya.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Kita Tidak Peduli.!!<br />
</strong><br />
Oleh kesementaraan kita mampu menghitung renung. Mencoba mendangkalkan makna pada apa yang asing. Pada apa yang sering menghardik kealpaan diri mengingat ia. Sejengkal tempaan, sejuta harapan. Dan itulah hidup. Mungkin nyinyir, saat segala asa terus tertunda, tapi di noktah itu, yang kita sadari adalah ia tetap sebuah anugerah untuk mendewasakan, mengasah kesederhanaan. Adalah pada telunjuk angin yang menyisir lembah, dedaun yang menampung sejuk embun, rembulan yang menyebrangi lautan bintang, kita merapatkan kegilaan ini. Meski terkadang merindu pada tanah di mana sempat kita titipkan bahagia. Meski terkadang meratap di tepian hasrat yang terus tertolak.
</p>
<p style="text-align:left;">Kita selundupkan kecemasan pada jeratan keangkuhan akan dunia yang kita tidak pahami dimanakah batas. Karena bagi kita ia adalah ruakan cahaya dalam hamparan gulita ketidakjelasan menjadi manusia. Menjelma ada. Saat semuanya hanya bisa menerjemahkan arus, merunduk takluk pada hasrat sewaktu. Karena bagi kita ia adalah luruhan senyap, agar ribut petala kan usai menerpa. Remuk, luluh, redam, dan filsafat kita pun diam.</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Ambang Sunyi Hermeneutik]]></title>
<link>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/21/ambang-sunyi-hermeneutik/</link>
<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 15:15:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>nemuriuta</dc:creator>
<guid>http://nemuriuta.wordpress.com/2009/07/21/ambang-sunyi-hermeneutik/</guid>
<description><![CDATA[Prolog. . . Perenungan atas kompleksitas para-semesta belum jua berakhir. Upaya manusia dalam memakn]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong><img class="alignleft" title="hermes" src="http://i299.photobucket.com/albums/mm298/bangqonol/HermesLysippos-l.jpg" alt="" width="254" height="343" />Prolog. . .</strong></p>
<p style="text-align:left;">Perenungan atas kompleksitas para-semesta belum jua berakhir. Upaya manusia dalam memaknai dan menelikung kepelikan tersebut sampai sekarang pun urung menyua ujung. Alih-alih menguasai, memahami, untuk menemukan secercah kepastian tentang realitas, manusia hanya harus bercanda dengan temporalitas putusan. Sesaat jawaban. Namun, toh’ ia tak pernah puas. Sebagai manifestasi kosmos yang dianugerahi kemampuan untuk merelung dan menilik, manusia rupanya harus hidup, berjalan dalam aras takdir mitis kejatuhan Adam oleh buah pengetahuan. Hasrat untuk melahap nikmatnya hafalan akan ‘nama-nama’ mengusai pada kegamangan. Ia hanya mampu meleburkan “baham” telah merangkum semua dalam ungkapan: “tebas dulu lehernya, baru beri dia kesempatan untuk berbangga”.</p>
<p style="text-align:left;">Sejarah pengetahuan, nalar, filsafat, sains bahkan agama adalah tamsil retak atas kebuntungan tersebut. Bagaimana kedigjayaan pikir bisa merengkuh keangkuhan, yang dulu sempat terenyak dalam kebodohan. Nafas peradaban, kentut teknologi, peluh kuantum, hingga airmata kemajuan merupakan isyarat jauh akan lebatnya semangat manusia mengartikan hadirnya. Akan tetapi, lagi-lagi semua itu hanya sekejap. Sekilas pandang yang kembali mererehkan benak kita dalam kesunyian. <!--more-->Segalanya gagu. Apa yang dulu terpahat di atas terangnya rumusan, tiba-tiba berbalik dalam kenyataan. Pelbagai penyakit pun datang; nihilisme, sophisme, ambiguitas, yang dengan senyap melunturkan kepercayaan. Manusia: hidup memang hanya mesti percaya, hanya entah pada ayat yang mana.</p>
<p style="text-align:left;">Inilah senjakala rasionalitas manusia. Sejak para dewa dihancurkan dalam kurusetra akal dan iman, dan manusia menobatkan keberadaannya sebagai satu-satunya pelita, kini segalanya melapuk. Statistika menuai bencana. Kuadrat mekanika dalam limbungnya ekologi realita. Adalah suatu kebahagiaan bagi mereka yang kemudian bisa mengingat apa-apa yang terlupa. Sebab, harapan dan kemungkinan seringkali bersembunyi di sana.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesunyian Hermes</strong></p>
<p style="text-align:left;">Berkelindannya kegagalan dan kegagahan dalam keras-lunak tarikan persediaan kemungkinan untuk memahami itu tidak hanya dihuni oleh manusia. Ketika ia pecah dalam kebingungan, dia yang berada di langit pun ‘terkesiap’, tak ingin menyaksikan kejatuhan kedua kalinya. Lalu, rahasia uraian dibuat, dan Hermes sebagai kuanta penjelasan sabda langit berangkat menuju takdirnya. Ia, dengan gigih mencoba merasuki waham manusia dan menyentil kedalaman renung agar arah bacaan tidak melenceng, apalagi berbalik jalan. Begitulah, geneaologi ‘kebenaran’ menyeruak di antara kelamnya penafsiran.</p>
<p style="text-align:left;">Namun, kegigihan, lindapnya keterangan, jelasnya pesan yang mengiringi Hermes terkadang dibarengi justru oleh bahasa yang ‘melalaikan’. Manusia; hasrat dan kegamangan, seringkali rapuh untuk menerjemahkan. Luhurnya firman jauh berbanding dengan kemampuan pencerapan. Jangankan untuk dimaknai, dalam mengucapkan kembali semua kesampaian tersebut pun, manusia butuh dimensi ekstra kesabaran dan pembelajaran. Ruang, waktu, kanvas hamparan eksistensi manusia terlampau menjerat kesucian dalam kubang kotor hasrat bumi. Padahal agar firman terdedahi, manusia semestinya butuh kejernihan benak dan hati.</p>
<p style="text-align:left;">Apalah daya, sang Hermes harus menyandarkan ‘titah’ dalam ketidakjelasan ‘entah’. Manusia; di yakin Hermes, sebenarnya bukanlah sebongkah ketololan, hanya saja ia kadang terlalu angkuh menerima pemberian. Terlalu miskin untuk melihat kekayaan. Dan ia, pada akhirnya terdiam. Mengukur lorong-lorong sunyi yang hanya sejengkal dari intuisi manusia. Hermes; raut kegelisahan do’a orang-orang setiap usai peristiwa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Riuhnya Hermeneutik </strong></p>
<p style="text-align:left;">Berakhirkah hikayat tersebut? Tidak. Oleh sisa-sisa kepercayaan pada akal dan warisan semangat tualang atas semesta, manusia terus melaju meski tanpa dewa. Logos ditetapkan, bahasa dimapankan, interpretasi diluaskan dan segala anasir yang menyokongnya untuk memperoleh makna (meluruhkan cara ber-ada) pun dituliskan. Berabad kemudian menjelmalah literatur, peristiwa, fenomena, dan pelbagai tanda yang tidak hanya menjejali benak kita lewat selubung tafsir dan rumusan masa lampau (para pendahulu), namun juga dengan ‘langue’, world view, dan kata-kata yang melarang kita untuk mengindahkan beda.</p>
<p style="text-align:left;">Inilah hermeneutik. Lukisan upaya manusia memahami apa yang bisa terbaca (teks). Di antara riuhnya makna dan keragaman tanda, hermeneutika menggiring manusia melabuhi samudera pencarian akan pulau pemahaman. Sebuah samudera yang dihiasi terjal karang historiografi sang pengarang, besarnya gelombang tuntutan akan kejelasan konteks, dan sempit-luasnya batas cakrawala Ia, karang dan samudera (teks).</p>
<p style="text-align:left;">Untungnya, manusia bukanlah tanpa bekal dalam upaya pelayaran tersebut. Ia berangkat dengan segudang anggapan, pengalaman, simbol, bahasa dan horison fikir yang menjauhkannya dari kekosongan. Bahkan adakalanya menjerumuskan dirinya dalam satu kriteria yang melarang lain putusan. Ia adalah sejenis tualang yang menyapa setiap kota dan pulau literatur dengan salam yang sarat akan hasrat penguasaan dan horison pemahaman. Pelayatannya juga adalah ziarah kerinduan akan batas dimana ia bisa memahat keberadaannya. Ini belum ditambah intensionalitas kesadaran yang mengungkung keterlepasan pandangan. Sangat riskan . . .</p>
<p style="text-align:left;">Lantas bagaimana dengan samudera teks yang dilabuhinya? Tenangkah ia? Jawabnya juga tidak. Samudera tersebut penuh ketidaksederhanaan aral tanda-tanda, interpretasi, horison sang pencipta, dan konteks (ke-masa-an) bahasa (yang memuat juga wawasan, tradisi, budaya, kultur, norma sosial, kuasa, pola tindak dan fikir dll). Yang secara pasti memaksa manusia mengalihkan acuhnya dan senantiasa ricuh dalam kecermatan untuk membabatnya. Tentu dalam beranda upaya untuk menepiskan keragaman beda, melilitkan ambang ber-ada, dan meraih makna. Ia, dalam kemasan kala, adalah samudera yang berhasil mewujudkan cakrawalanya sendiri. Dan gemilang merehatkan sang pengarang dalam teras panggilan yang jauh. Bahkan, secara ironis-periodik percumbuannya dengan manusia (sang pembaca) menyebabkan sang pengarang harus terbujur kaku dalam lilipan kafan kematian. Kematian tanpa perayaan. Sunyi . . .</p>
<p style="text-align:left;">Namun, sebuah proses pelayaran, percumbuan antara manusia yang ingin mereguk lezatnya makna dan samudera teks yang kadang selalu mengelak untuk menyampaikan manusia pada asanya, bukanlah sesuatu yang gampang digambarkan. Manusia (sang pembaca) bukan saja mesti melakukan prosa perceraian dengan realitas teks (distansiasi), menyisakan dasar-dasar pegangan hasil pemilahan pelbagai simbol, ia juga wajib menahan jengahnya untuk dapat menoleh pada kemungkinan terjadinya peleburan antara ia, teks, bahkan dalam sedikit hal dengan horison sang pengarang (kunjungi nisannya, kalau perlu gali kuburannya dan kenali setiap irisan daging dan tulang yang tersisa. Jangan lupa singkirkan belatung, cacing dan kotoran lainnya, serta indahkan aroma busuk yang menyengat ingin kita). Begitulah adanya, konon, merujuk pada keterangan orang-orang terdahulu, ia juga diperumit dengan spesifika tafsir yang segala tahapannya ‘kudu’ runut, selain melalap ‘kebebasan’ atas nama sistematika kebenaran.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Rentan . . .<br />
</strong><br />
Apa yang terhikayatkan bukanlah akhir. Sebab, meskipun setelah sukses menjajaki pelayaran dan menemukan pulau idaman, manusia kemudian dalam perjalanan pulangnya, mau tidak mau kembali bertatapan dengan persoalan yang tidak sedikit. Temporalitas tafsir, rapuhnya makna, dan pertanggungjawaban atas kebebasan untuk mengimani jawaban.
</p>
<p style="text-align:left;">Persoalan-persoalan itu entah mengapa, tak pernah lelah mengawini keseluruhan perjalanan hermeneutik. Tafsir datang, mapan, bimbang dan menghilang. Ia, sebagai sebentuk metodologi bagi ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan dan kebenaran yang dihasilkannya, sejak dulu juga selalu berada dalam kesetaraan yang ‘tak jelas’ dengan saudaranya yang lain (ilmu-ilmu alam). Adakah hal itu dikarenakan hermeneutik adalah puisi pemahaman (verstehen), dan positivisme-ilmiah adalah penjelasan (erklaren). Di mana yang satu bermain dalam wilayah mewujubjan kedalaman, sementara yang lain bersenandung dalam wilayah yang memastikan garis sempit pembatas nyanyian? Atau jangan-jangan hal tersebut lahir akibat angkuh anggapan manusia sendiri? Kita tak pernah tahu . .</p>
<p style="text-align:justify;">Sejatinya, proses penafsiran mengandaikan kesungguhan dan kesediaan untuk mengalah. Sebab, sekali menyisipkan pada hasil tafsiran (hermeneutik) pongahnya suatu kebenaran, maka pada noktah itulah sebuah tafsiran telah memaklumatkan kematiannya (untuk proses hermeneutik seperti ini, kita bisa menyebutnya ‘hermenazi’).</p>
<p style="text-align:left;">Telas sapa: ‘solilokui’ ini, dalam kerancuannya hanya ingin menegaskan bahwa suatu upaya penafsiran adalah keriuhan yang selalu berujung pada kesunyian, kejelasan yang berakhir pada ketidakjelasan (dalam ketidakjelasan, konon kita lebih memerlukan kesendirian, ‘solitude’). Ia juga merupakan sebongkah upaya yang membenamkan pelakunya dalam keyakinan: kelak ia kan retak, dan apa yang tertinggal hanyalah apa yang kita sematkan padanya memori benak.*</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
