<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>esei &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/esei/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "esei"</description>
	<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 01:39:07 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[kesimpulan dunia 'hiburan' sekarang 1]]></title>
<link>http://rawkcarpark.wordpress.com/2009/12/30/kesimpulan-dunia-hiburan-sekarang-1/</link>
<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 04:16:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>rawkcarpark</dc:creator>
<guid>http://rawkcarpark.wordpress.com/2009/12/30/kesimpulan-dunia-hiburan-sekarang-1/</guid>
<description><![CDATA[Dah lama aku tak tulis di sini. Tajuk di atas cuba dicipta ringkas, padat dan kompak konklusinya. KE]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dah lama aku tak tulis di sini. Tajuk di atas cuba dicipta ringkas, padat dan kompak konklusinya.</p>
<p>KESIMPULAN 1:</p>
<p><strong>DUNIA ARTIS-MARTIS MALAYSIA = SKIM CEPAT KAYA</strong></p>
<p>SEIR</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Catatan tentang Film '2012']]></title>
<link>http://gusulil.wordpress.com/2009/11/23/catatan-tentang-film-2012/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 09:32:44 +0000</pubDate>
<dc:creator>saidiman</dc:creator>
<guid>http://gusulil.wordpress.com/2009/11/23/catatan-tentang-film-2012/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Ulil Abshar-Abdalla FILM 2012 yang digarap oleh sutradara Jerman Roland Emmerich itu sekarang m]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://gusulil.wordpress.com/files/2009/11/12640_331235645532_762930532_9937824_4514094_a.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-38" title="12640_331235645532_762930532_9937824_4514094_a" src="http://gusulil.wordpress.com/files/2009/11/12640_331235645532_762930532_9937824_4514094_a.jpg" alt="" width="180" height="267" /></a>Oleh Ulil Abshar-Abdalla</p>
<p>FILM 2012 yang digarap oleh sutradara Jerman Roland Emmerich itu sekarang menjadi kegemparan di sejumlah kota di Indonesia. Ribuan orang berduyun-duyun ke gedung bioskop untuk menyaksikannya. Pertama kali pergi bersama isteri ke gedung bioskop Cineplex 21 di Setiabudi Building, saya tidak mendapatkan tiket. Semua tiket ludes, bahkan hingga pertunjukan paling akhir selepas tengah malam. Kebetulan saat itu adalah malam Minggu.</p>
<p>Seminggu kemudian, saya datang kembali, tetap bersama isteri, untuk menonton film itu. Kali ini lumayan beruntung, karena akhirnya kami mendapatkan tiket. Tetapi, kami harus sedikit memendam rasa kecewa, karena mendapatkan tempat duduk persis satu baris sebelum deretan kursi yang paling depan, hanya beberapa meter saja dari layar. Selama film itu diputar, saya harus menonton film itu dengan sedikit mendongak. Usai menonton, leher saya terasa pegal-pegal.</p>
<p>Kenapa film ini mendadak menjadi kegemparan? Pertama, karena judulnya sendiri, 2012. Konon, itulah tahun yang diramalkan sebagai akhir dunia atau kiamat. Publik tentu penasaran, seperti apakah dunia kalau kiamat nanti datang. Kedua, ada komentar dari salah satu petinggi MUI, yaitu H. Amidhan, bahwa film ini mengandung propaganda &#8216;agama&#8217; tertentu. Maksudnya mungkin agama Kristen (saya tidak tahu, dari sudut mana film ini mengandung unsur propaganda Kristen; Roland Emmerich jelas seorang agnostik, dan tidak peduli dengan soal kekristenan).</p>
<p>Bahkan ada rumor bahwa film ini akan dilarang beredar, karena dianggap tidak &#8216;Islami&#8217;. Khawatir film ini tidak lagi beredar di pasaran, publik tak sabar untuk segera menontonnya. Sebuah media bahkan memberitakan bahwa di Bali, sejumlah penonton rela membeli tiket dengan harga dua kali lipat dari seorang calo.</p>
<p>Suatu kejadian yang menarik saya alami ketika saya menonton film ini Sabtu kemaren, 21/11/09, di teater Hollywood Kartika Chandra. Saya menyaksikan ibu-ibu berjilbab yang ikut antri menonton film ini. Saya mempunyai kesan, mereka ini tampaknya bukanlah ibu-ibu yang masuk dalam kategori &#8220;movie goers&#8221; atau penggemar film, tetapi ibu-ibu majlis ta&#8217;lim yang mungkin baru seumur-umur menonton film. Mungkin karena mendapat kabar &#8216;burung&#8217; bahwa film ini berkenaan tentang hari kiamat, mereka tergerak untuk menonton. Mungkin juga karena film ini dipersoalkan oleh seorang petinggi MUI, sehingga mereka jadi penasaran untuk melihatnya langsung.</p>
<p>Ala kulli hal, komentar &#8220;miring&#8221; H. Amidhan dari MUI itu justru menjadi &#8220;iklan gratis&#8221; bagi film tersebut. Mestinya, produser film 2012 harus memberikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Bapak Amidhan karena telah menjadi &#8220;juru iklan gratis&#8221; bagi film itu.</p>
<p>Apakah benar ini adalah film tentang hari kiamat? Jawaban saya dengan tegas: Tidak. Ini bukanlah film tentang &#8220;doomsday,&#8221; atau yaum al-qiyamah, dalam istilah Islamnya. Ini adalah film tentang bencana alam, natural disaster, dalam skala yang kolosal. Kalau mau pakai idiomnya Bung Karno, ini adalah tentang embahnya bencana alam.</p>
<p>Selama ini, sutradara Roland Emmerich memang dikenal sebagai spesialis di bidang film-film bencana alam. Salah satu filmnya yang sering saya tonton dan tak bosan-bosan adalah &#8220;Independence Day&#8221;. Fantasi Emmerich dalam film ini sungguh memukau: tentang serangan makhluk &#8220;asing&#8221; dari luar angkasa yang hendak menjajah bumi dan menghancurkan peradaban manusia. Digambarkan dalam film itu sebuah piring raksasa yang menggantung di atas sejumlah kota besar di seluruh dunia.</p>
<p>Film Emmerich yang lain dan sangat laris adalah &#8220;The Day After Tomorrow&#8221;, tentang &#8220;pendinginan global&#8221; (bukan pemanasan global) di masa yang akan datang dan kembalinya Zaman Es (Ice Age).</p>
<p>Sebagaimana film-film Emmerich yang lain, film 2012 mempunyai ciri khas yang sama: yaitu fantasi yang liar tentang adanya bencana alam yang maha hebat, dan usaha manusia untuk &#8220;survive&#8221; atau selamat dari bencana itu. Film 2012 berbicara tentang dislokasi atau pergeseran lempeng bumi secara global yang menimbulkan tanah longsor dan gempa bumi di sekujur bumi. Bayangkan, gempa bumi di seluruh bumi! Gempa itu berkekuatan rata-rata di atas 9 dalam skala richter. Karena dislokasi itu, hampir sebagian besar kota-kota besar dunia ambles. Akibatnya, terjadilah tsunami global berupa ombak laut yang tingginya kira-kira 1500 meter. Tak ada satupun permukaan bumi yang selamat dari hempasan tsunami ini, kecuali pucuk tertinggi Gunung Himalaya.</p>
<p>Apakah manusia musnah karena terjangan tsunami raksasa ini? Di sinilah seluruh kisah film 2012 berpusat. Film ini, sebagaimana film-film Emmerich yang lain, berkisah tentang &#8220;ikhtiar&#8221; manusia untuk selamat dari hempasan tsunami gigantik ini. Manusia tidaklah obyek pasif berhadapan dengan alam yang sedang &#8220;mengamuk&#8221;. Manusia memiliki kemampuan untuk &#8220;mengatasi&#8221; musibah alam dengan skala global itu.</p>
<p>Dalam film itu, digambarkan bahwa datangnya bencana geologi global tersebut sebenarnya sudah diprediksi oleh sejumlah ilmuwan. Suatu proyek rahasia dengan skala global yang melibatkan sebagian besar pemerintahan negara-negara besar dunia diam-diam dimulai. Yaitu membangun enam atau tujuh kapal besar yang mampu bertahan menghadapi hempasan tsunami raksasa. Kapal itu dibangun di sebuah tempat yang rahasia sekali di daratan Cina. Tentu saja, keseluruhan proyek ini adalah rahasia kelas wahid. Prediksi tentang bencana global yang mengerikan itu juga sama sekali tak diberitahukan ke publik, sampai detik-detik terakhir, khawatir akan menimbulkan kekacauan global.</p>
<p>Di lain pihak, film ini juga menggambarkan tentang perjuangan hidup-mati seorang penulis dari Los Angeles, Jackson Curtis (diperankan oleh John Cusack), pengarang novel yang sama sekali tak laku (hanya terbit 500 eksemplar) berjudul &#8220;Farewel Atlantis&#8221; yang juga berbicara tentang semacam bencana hebat. Perjuangan Curtis untuk selamat dari gempa dahsyat dan longsor bumi yang menghempas Los Angeles digambarkan dengan dramatis dalam film ini.</p>
<p>Salah satu daya tarik film ini adalah penggambaran tentang usaha untuk selamat dari situasi maut dalam hitungan detik. Siapapun tahu inilah &#8220;bumbu&#8221; dalam film-film laga Hollywood yang menjadikannya laris-manis seperti kacang goreng. Salah satu adegan dalam film ini yang membuat penonton menghela nafas adalah saat kapal induk raksasa John F. Kennedy menerjang Gedung Putih bersamaan dengan tsunami raksasa yang menghempas kota itu. Walaupun kita semua tahu ini adalah efek yang diciptakan melalui manipulasi komputer, tetapi adegan itu sendiri tetaplah memukau.</p>
<p>Ujung film itu jelas: Curtis, mantan isterinya beserta kedua anaknya yang berjuang hidup mati untuk mencapai daratan Cina untuk naik kapal induk akhirnya berhasil. Peradaban manusia tidak musnah di tengah banjir global yang melanda seluruh permukaan bumi. Kapal induk itu membawa manusia dan sejumlah binatang untuk melanjutkan kehidupan baru paska-banjir. Misi kapal itu memang jelas: menyelamatkan spesies manusia dan peradabannya dari kepunahan.</p>
<p>Barangsiapa pernah membaca kisah tentang Nabi Nuh, sebetulnya akan segara tahu bahwa kerangka film ini memang diambil dari kisah itu. Mungkin kebetulan, atau mungkin juga disengaja oleh Emmerich atau penulis skenario, bahwa anak laki-laki Jackson Curtis, salah satu tokoh utama dalam film itu, bernama Noah (versi Inggris dari nama Nuh dalam bahasa Arab).</p>
<p>DALAM sebuah wawancara di TV, H. Amidhan dari MUI berkata bahwa film itu tidak sesuai dengan semangat Islam. Alasannya, antara lain, bahwa hari kiamat termasuk barang gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Tuhan. Oleh karena itu visualisasi hari kiamat tidak diperbolehkan.</p>
<p>Saya sebetulnya tidak ingin menganggap serius pernyataan &#8220;ngawur&#8221; tokoh MUI ini. Tetapi kalau sekedar mau &#8220;uji argumen&#8221;, maka saya bisa menjawabnya sebagai berikut. Pertama, ini jelas bukanlah film tentang hari kiamat. Ini adalah film tentang bencana alam global yang dahsyat. Bencana ini tidak membuat dunia musnah dan manusia hilang dari pemukaan bumi. Kalau kita merujuk pengertian &#8220;hari kiamat&#8221; dalam nomenklatur Islam, jelas apa yang disebut kiamat di sana dipahami sebagai momen berakhirnya dunia tempat manusia hidup. Kehidupan dunia, setelah itu, berakhir, digantikan dengan kehidupan lain yang sering disebut &#8220;akhirat&#8221;, atau &#8220;hereafter&#8221; dalam istilah Inggris.</p>
<p>Dalam film ini, dunia digambarkan tidak berakhir. Dunia masih terus ada setelah bencana besar itu, dan manusia selamat dari hempasan tsunami global untuk akhirnya menemukan kembali &#8220;dunia dan kehidupan baru&#8221; di Afrika, tepatnya di Semenanjung Harapan (Cape of Good Hope di Afrika Selatan). Jadi keliru sama sekali manakala H. Amidhan dari MUI menganggap bahwa film ini adalah tentang hari kiamat.</p>
<p>Kedua, apakah betul visualisasi tentang hal yang gaib tidak diperbolehkan dalam Islam? Dari mana hukum itu dipeorleh oleh H. Amidhan? Dalam Quran sendiri kita jumpai banyak visualisasi yang memikat tentang hari kiamat. Salah satu penggambaran hari kiamat yang agak-agak mendekati film Emmerich ini ada dalam Surah al-Takwir (surah no. 81). Ayat ketiga dalam Surah itu berbunyi &#8220;wa idza &#8216;l-jibalu suyyirat&#8221;, ketika gunung berjalan. Dalam film Emmerich itu, digambarkan suatu proses dislokasi geologis yang dahsyat sehingga lanskap bumi berubah total. Gunung-gunung pindah lokasi, dan peta dunia seperti disusun kembali.</p>
<p>Sekali lagi, tak ada larangan apapun dalam Islam untuk memvisualisasi semua hal yang gaib, terutama hari kiamat.</p>
<p>Ketiga, film ini, dalam pandangan saya, justru sesuai dengan semangat Islam. Film ini &#8220;mengajarkan&#8221; (tentu ini istilah yang terlalu &#8220;dramatis&#8221; untuk sebuah film yang tidak diniatkan sebagai sebuah &#8220;ajaran agama&#8221;) tentang pentingnya ikhtiar dan optimisme walaupun manusia sedang dilanda bencana dahsyat yang seolah-olah di luar kekuasaan mereka. Manusia bukanlah makhluk yang tunduk saja pada &#8220;nasib&#8221;, tetapi mampu berikhitiar. Dalam keadaan yang sesulit apapun, manusia tetap harus berusaha dan memiliki harapan. Bukankah ini adalah &#8220;nilai&#8221; yang justru sesuai dengan semangat &#8220;Islam&#8221;, Bapak Amidhan?</p>
<p>Sebagai penutup, film ini sebetulnya tidak menarik dari segi cerita. Kalau anda mengharapkan plot cerita yang penuh nuansa dan menarik dari film ini, maka siap-siaplah untuk kecewa. Film ini menarik bukan dari segi plot ceritanya, tetapi dari sudut efek-efek visual yang sangat mengagumkan. Fantasi tentang bencana alam yang tak pernah terpikirkan oleh kita dan efek-efek visual yang dengan cerdik dimanipulasi oleh Emmerich untuk menggambarkannya adalah salah satu daya tarik film ini.</p>
<p>Ala kulli hal, saya terhibur sekali dengan film ini.[]</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[CERITA DARI KARTUNET]]></title>
<link>http://rafikakbar.wordpress.com/2009/11/14/cerita-dari-kartunet/</link>
<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 08:39:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Rafik</dc:creator>
<guid>http://rafikakbar.wordpress.com/2009/11/14/cerita-dari-kartunet/</guid>
<description><![CDATA[Duniaku tidak seperti yang kalian bayangkan. Segala sesuatu yang dapat disentuh, dan memiliki bentuk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Duniaku tidak seperti yang kalian bayangkan. Segala sesuatu yang dapat disentuh, dan memiliki bentuk konkrit. Di sana-sini hanya materi imaginer yang tak<br />
terbatas. Tak pula tersekat oleh ruang dan waktu. Hanya satu hal yang tak berbeda dengan duniamu, adanya harapan. Harapan selalu ada di mana kita berada.<br />
Selama kita masih memiliki hasrat untuk mewujudkan harapan itu. </p>
<p>Ini tempat dimana semua dapat diwujudkan. Kreativitas dan kerja keras adalah kunci untuk membuka duniaku. Ya, aku hidup di belantara internet. Suatu media<br />
tumbuh kembang yang tak ada parameter khusus untuk mendeskripsikannya. Semua bisa hidup di sini, tak peduli daerah, jender, usia, atau keadaan fisik. Siapa<br />
yang mau bermimpi, di sinilah tempatnya. </p>
<p>Sedari tadi aku belum memperkenalkan diriku sendiri. Namaku<br />
kartunet.com<br />
. Pembuatku, mengatakan bahwa aku adalah singkatan dari Karya Tunanetra. Walaupun<br />
namanya seperti itu, tapi prinsip bertahan hidup dalam belantara internet masih tetap ku jaga. Tak ada batasan daerah, kelas, jender, usia, atau keadaan<br />
fisik. Semua bisa berteman denganku. Menyapaku, dan memanfaatkan apa saja yang dapat kuberikan untuk kalian. </p>
<p>Untuk sekedar informasi, aku pandai mengolah makanan lho. Masakan utama yang dapat kubuat adalah karya sastra dan artikel berita. Aku menyajikan kedua hal<br />
tersebut setiap hari. Kalian bisa mencicipi, memakannya sampai habis, atau bahkan membawanya untuk keluarga di rumah. Semuanya sehat dan tidak melanggar<br />
unsur SARA dan Pornografi. Yang jelas, kita di sini tetap menghindahkan kaidah yang ada. Tak pakai formalin, atau MSG. Oia, kalian juga bisa lho masak<br />
bareng di dapurku. Masakan yang aku buat, tidak ku masak sendiri, tapi juga berasal dari kalian. Jika kalian memiliki karya sastra atau artikel, silakan<br />
di bawa ke sini. Nanti kita akan masak itu bersama dan disajikan lagi kepada pencicip yang lain. Selain dua menu utama itu, aku juga masak menu-menu tambahan<br />
lain. Seperti ada halaman curhat untuk makanan pembuka, Ramalan bintang untuk makanan penutup, halaman suka-suka untuk cemilan, dan tutorial computer serta<br />
bahasa untuk suguhan jika ada tamu. </p>
<p>Pada awalnya, aku belum mampu untuk masak sebanyak ini. Dibuat resmi pada tanggal 19 Januari 2006 oleh empat orang yang sangat menyayangiku : Irawan Mulyanto,<br />
Aris Yohanes, M Ikhwan Toriqo, dan Dimas Prasetyo Muharam. Mereka ini adalah empat orang tunanetra yang memiliki visi yang sama yaitu mengusahakan masa<br />
depan yang lebih baik untuk penyandang cacat dan tunanetra pada khususnya. Bermodalkan sangat terbatas, mereka patungan untuk menyewa sebuah space hosting<br />
dan alamat domain yang kemudian jadi namaku ini; Kartunet.com. Bertumpu pada sedikit ilmu tentang web programming yang didapat autodidak dari tutorial<br />
internet, Aris, Riqo, dan Dimas membangun system dasar situs kartunet. Mas Iwa yang berperan sebagai ketua, memberikan banyak saran yang sangat bermanfaat<br />
bagi tumbuh kembang diriku ini. Mereka semua sangat bersemangat dalam membangun diriku. Harapan digantungkan tinggi pada diriku ini yang akan menjadi media<br />
sosialisasi eksistensi tunanetra. Semuanya dilakukan secara mandiri, tanpa ada aviliasi dengan lembaga atau institusi apapun. Toh nanti jika pun ada, itu<br />
hanya berupa kerjasama dalam keadaan yang sejajar. </p>
<p>Waktu terus berjalan dan aku tumbuh semakin besar. Tanggapan pengunjung internet akan diriku semakin bertambah. Dari statistic yang dipasangkan pada diriku,<br />
terlihat ada lebih dari 500 orang pengunjung setiap harinya. Para pendiriku yang baik hati juga terus mengajarkanku keahilan-keahlian baru. Sehingga aku<br />
lebih pintar dan handal dalam fasilitas dan system operasi yang mudah. Kecepatan akses diriku juga diperhitungkan. Banyak script yang tidak terlalu penting<br />
dikurangi demi menjaga kecepatan akses. Hingga pada tahun 2008 ini, Aku sudah dilengkapi dengan forum diskusi dan mailing list. Tidak mau berhenti disitu<br />
saja, para pembuatku terus bekerja keras. Mereka berencana untuk mengadakan foto galeri kegiatan-kegiatan kami, download area, dan radio on-line yang bisa<br />
didengarkan seluruh warga dunia lewat Internet. </p>
<p>Menu yang aku miliki juga semakin beragam. Terdapat banyak topic menu seperti cerpen, puisi, esei, cerita lucu, dan cerita bersambung. Untuk menu artikel<br />
juga ada banyak topic. Seperti politik, social dan ekonomi, sastra dan bahasa, budaya, olahraga, dan lain-lain. Semua ini berkat partisipasi dari pengunjung<br />
pula. Karya dan artikel yang masuk untuk memperkaya masakanku juga semakin hari terus bertambah. Terbilang Aku sekarang dapat menerbitkan 20 karya dalam<br />
waktu satu minggu. </p>
<p>Pembuatku yang baik itu ternyata setelah 3 tahun berjalan tidak hanya terdiri dari empat orang. Sudah bertambah lagi beberapa seperti Mbak Vina sebagai<br />
bendahara, Tika sebagai sekertaris, Rafik dan Satrio sebagai editor, dan tak lupa Wijaya yang juga turut sebagai tim editor. Kontribusi mereka terhadap<br />
perkembangan diriku tidak bisa diremehkan daripada pendiriku yang empat orang itu. Tanpa adanya mereka, aku tidak ada yang terlihat saat ini. </p>
<p>Teman, boleh narsis dikit tidak? Aku ini sudah lumayan terkenal lho baik di dunia internet atau media televis dan radio. Pada tahunku yang ketiga ini, tercatat<br />
sudah lebih dari 800.000 pengunjung yang sudah pernah mencicipi salah satu atau semua dari menu masakanku. Dalam sekali waktu, terlihat minimal 10 sampai<br />
20 orang yang on-line untuk melihat diriku. Di televisi, aku pernah lho masuk ke acara talk show Kick Andy di MetroTV. Saat itu awal tahun 2008, aku diundang<br />
untuk ditampilkan dalam satu sesi di acara talk show tersebut. Dalam kesempatan yang memiliki tema ?melihat dunia dengan hati? itu, aku beserta teman-teman<br />
tunanetra lainnya menjadi narasumber diwawancarai oleh Bang Andy Noya. Wah pengalaman pertama nih masuk di acara talk show. Selain itu, disekitar bulan<br />
April, aku juga pernah masuk di acara Utak-Atik program di I Radio 89,6 FM Jakarta . Walaupun saat itu para pembuatku datang agak terlambat, tapi mereka<br />
berhasil qo untuk memperkenalkan diriku pada khalayak pencinta Radio. </p>
<p>Aku merasa beruntung bisa hidup dan dibuat oleh orang-orang baik yang amat sayang padaku. Selain itu, tak terkira bahagianya mendapat banyak teman yang<br />
tiap hari bersedia untuk menengokku di alamat </p>
<p>http://www.kartunet.com</p>
<p>. Tak peduli mereka itu siapa dan apa, aku selalu bahagia ketika memiliki teman-teman<br />
baru. Apalagi ketika mereka turut berpartisipasi untuk mengembangkan diriku. Tak cukup seribu terima kasih yang aku haturkan kepada kalian. Selamat menikmati<br />
semua menu yang aku sediakan, dan jangan bosan melihatku di sini ok. </p>
<p>Ingin mengenal lebih jauh lagi, silakan kunjungi http://www.kartunet.com </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[<strong>Anakku Yang Autis, Anakku Yang Beruntung</strong>]]></title>
<link>http://mustafit.wordpress.com/2009/11/11/anakku-yang-autis-anakku-yang-beruntung/</link>
<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 07:26:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>mustafit</dc:creator>
<guid>http://mustafit.wordpress.com/2009/11/11/anakku-yang-autis-anakku-yang-beruntung/</guid>
<description><![CDATA[Pertama kali mendengar bahwa anakku, Mohammad Jevera Lateef (lahir tahun 2005), autis aku dan isteri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Pertama kali mendengar bahwa anakku, Mohammad Jevera Lateef (lahir tahun 2005), autis aku dan isteri begitu panik. Hampir seluruh tempat therapy sudah kami datangi. Juga, tidak sedikit dokter ahli autisme atau psycholog yang kami kunjungi. Bahkan, kami pernah pergi ke Hypnotherapy dengan harapan bahwa dengan menghipnotisnya, kami dapat mengontrol prilaku tak biasa pada anak kami. </p>
<p>Dari kecil, memang, kami melihat ada yang tak biasa pada J (nama panggilan Jevera). Energi yang serasa tiada pernah habis, tidak pernah bisa diam, selalu membuat gaduh, susah dipeluk, serasa tidak merasa sakit kalau jatuh, suka berteriak-teriak tanpa sebab biasa, dan seterusnya. Tapi kami tidak menyangka bahwa itu adalah sedikit dari tanda autisme. Saat kami mendaftar ke TKAI (Taman Kreativitas Nak Indonesia binaan mbak Romi), kami baru mengetahui dari mbak Romi bahwa ada kemungkinan J mengidap autisme.<!--more-lihat naskah lanjutannya&#62;-->  </p>
<p>Dari sanalah kepanikan itu berawal. Isteriku yang awalnya seorang pekerja, mengundurkan diri dari pekerjaannya hanya untuk mengurus J. Aku yang biasa bekerja pagi, juga sebisa mungkin untuk dapat mengantar J sekolah dan melakukan therapy journey. Ya, aku namakan perjalanan terapi karena memang selama melakukan terapi kami tidak menemukan yang kami cari: perkembangan J kearah kesembuhan. Kebanyakan dokter mendiagnosa J mengidap PDD NOS (pervasive developmental disorder not otherwise specified), yaitu jenis autisme yang hanya berada pada spectrum autis, tapi belum pada taraf autisme yang berat. Seringan apapun, yang namanya autis ya autis, itu kata istri dan aku. </p>
<p>Kembali lagi ke tadi, kami tidak menemukan yang kami cari, yaitu perkembangan J kearah kesembuhan. Yang ada hanyalah spending more money, spending a lot of useless time, dan ya selain menambah kenalan orang tua yang sama-sama mempunyai anak autis, hehe. Tapi, akhirnya kami menemukan seorang terapis, namanya mbak Rini (aku lupa nama lengkapnya, yang tau itu isteriku). Dari dialah aku mengetahui sebenarnya bagaimana dan apa autisme (terutama PDD NOS) itu. Dia tidak lebih suatu penyakit yang mencederai keseimbangan anak (Sensory Integration). Jika gangguan keseimbangan ini dapat disembuhkan, maka sembuhlah si penderita autisme (terutama PDD NOS) ini. Begitulah kesimpulan yang kami dapat. Dan ya, betullah, setelah mengikuti terapi SI selama beberapa bulan, J terlihat perkembangannya. Dari yang awalnya tidak bisa menggoes sepeda, kini dia bisa menggoesnya. Dan dengan terapi gosok badan, J juga lebih tenang. </p>
<p>Sepengetahuan kami, anak yang mengidap autis itu arousal-nya tidak normal, bisa lebih tinggi (emosional) atau lebih rendah (kelemak-kelemek). Nah, pada J, dia cenderung pada high arousal atau emosional. Nah, setelah melakukan terapi gosok badan dengan menggunakan sikat khusus, kini dia lebih tenang. </p>
<p>Yang lebih menyenangkan lagi, kami menemukan bahwa autisme itu ujung-ujungnya system organ tubuh juga. Jadi, pada anak autisme biasanya ditemukan ada system organ tubuh yang tidak normal. Misalnya tulang tengkorak yang twisted, tulang punggung yang keluar, seperti yang terjadi pada J (biasanya orang normal tulang punggungnya kedalam), tangan yang tidak bisa memegang dengan sempurna karena ada tulang yang tidak proporsional, dan banyak lagi. Kebetulan, kami sedang mau mencoba terapi The Masgutova Method of Neuro-sensory-motor Reflex Integration – MNRI, yaitu pelatihan yang ditujukan untuk mengembalikan pertumbuhan saraf dan integrasi dari gerakan-gerakan utama, refleks, system koordinasi anggota tubuh, skill untuk memungsikan, mengembangkan dan melatih anggota tubuh secara optimal. Metode Masgutova ditujukan untuk menstimulasi model-model refleks yang berguna untuk membangunkan koherensi sensory motoric yang natural, sumber motori secara genetic, pengembalian secara mandiri kekuatan dari memory motoric.  Latihan-latihan ini berguna untuk membangunkan potensi-potensi dengan kemampuan gerak dan skill yang dipelajari. </p>
<p>Andai tahu? Sebelum menjalani proses ini, kami menemukan sesuatu, bahwa pijatan-pijatan kecil yang diajarkan oleh terapisnya J, mbak Rini dari Liliput, sangat-sangat berguna bagi J. Saya sangat meyakini bahwa MNRI akan lebih berguna bagi kesembuhan J selanjutnya. </p>
<p>Inti dari tulisan ini adalah bukan pada proses yang kami jalani, tetapi bahwa yang terpenting bagi orang tua yang anaknya mengidap autisme adalah: 1. harus bersabar menghadapi tingkah anak yang tidak biasa itu; 2. jangan biarkan terbuai oleh terapi-terapi yang mendahulukan hal lain selain SI (sensory integration), karena hanya dengan SI (sebagai langkah awal, baru kemudian setelah SI bisa dilakukan okupasi dst); 3. stay away from giving our autism children drugs, karena hanya akan merusak otaknya. </p>
<p>Anda tahu kenapa saya memberikan judul anakku yang autis anakku yang beruntung? Tidak lain adalah karena otaknya yang luar biasa. Dia dapat mengenali karakter suara dengan sangat detail. Dengan kemampuannya ini maka kemampuan musikalitasnya begitu menakjubkan. Sekali mendengar sebuah lagu, maka dia dapat mengetahui kekurangan dari lagu tersebut atau kelebihannya. Dia sangat tidak suka lagu yang dinamikanya sangat rendah. Dia pun sudah mahir memainkan piano atau keyboard, minus chord (karena jari-jemarinya belum nyampek). Salah satu lagu kegemarannya adalah Fur Ellis tanpa ada yang mengejari. Pada pengetahuannya tentang piano atau keyboard ini, dia bisa mengetahui jika ada orang  yang memainkan kunci yang salah tekan. Biasanya, kalau saya yang salah, J langsung mematikan keyboard yang saya mainkan. Sebaliknya, kalau saya sempurna memainkannya, dia mendengarkan atau malah diiringi permainan drums oleh J. </p>
<p>Dia pun sangat pandai memainkan alat musik drums. Herannya, lagu apa pun, asal dia familiar, dia bisa menirukannya walau lagu itu baru saja dia dengar. Ya, meskipun beat-nya seringkali dia tinggal, entah apa maksudnya. Hafalannya pun begitu kuat dan cepat. 2-3 kali mendengar, dia sudah bisa menghafalnya dan tidak akan lupa. Kami sudah mencobanya, yaitu dengan memberikan hafalan al-Quran surat-surat pendek. Kemudian, 1 tahun kemudian kami mengujinya dan dia masih hafal, padahal hafalan itu tidak pernah diulang-ulang. </p>
<p>Para orang tua, so, berhentilah khawatir mempunyai anak yang autis. Sesungguhnya dalam diri anak-anak itu ada banyak tersimpan potensi. Ada yang cepat diidentifikasi oleh orang-tua atau guru, ada juga yang lambat. Tapi, semakin kita intens dengan mereka, maka saya yakin, kita akan semakin cepat mengungkap kelebihan-kelebihan anak-anak autis kita. Selamat berjuang!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Membunuh "Tersangka" Terorisme?]]></title>
<link>http://gusulil.wordpress.com/2009/10/10/membunuh-tersangka-terorisme/</link>
<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 15:58:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>saidiman</dc:creator>
<guid>http://gusulil.wordpress.com/2009/10/10/membunuh-tersangka-terorisme/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ulil Abshar-Abdalla Dengan ramainya berita para teoris yang berhasil ditembak dan ditewaskan o]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div><big>Oleh: <strong>Ulil Abshar-Abdalla</strong><br />
</big></div>
<div><big>Dengan ramainya berita para teoris yang berhasil ditembak dan ditewaskan oleh Densus 88 dan aparat kepolisian, banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa kaum teroris itu mesti dibunuh? Bukankah mereka belum tentu sunguh-sungguh teroris? Bukankah keputusan mereka sebagai teroris haruslah ditentukan oleh pengadilan? Sebelum ada ketuk palu Pak Hakim yang memutuskan bahwa Saifuddin Jaelani, &#8220;tersangka&#8221; terorisme yang tewas Jumat (9/10) yang lalu di Ciputat, bukankah dia tak bisa disebut sebagai teroris? Paling jauh dia hanya bisa disebut sebagai &#8220;tersangka.&#8221;<!--more--></big></p>
<p><big>Bukankah dalam dunia hukum kita kenal asas praduga tak bersalah yang beraku universal? Apakah polisi tidak melanggar ini saat membunuh tersangka terorisme?</big></p>
<p><big>Pertanyaan-pertanyaan ini sebetulnya dengan sembunyi-sembunyi sudah mengarahkan kita kepada kesimpulan tertentu: seseorang yang masih dalam status &#8220;tersangka teroris&#8221; belum atau tidak boleh dibunuh. Karena itu, tindakan Densus 88 membunuh Saifuddin Jaelani dan Syahrir salah sama sekali dari segi hukum.</big></p>
<p><big>Saudara-saudara sekalian yang disayangi Tuhan, kalau dibaca secara sekilas, logika atau cara berpikir di atas seolah-olah benar dan masuk akal. Mereka yang tak berpikir kritis, akan langsung &#8220;manggut-manggut&#8221; meng-iya-kan cara berpikir seperti itu. Tetapi, kalau kita mau berpikir sedikit lebih jauh, maka akan terlihat sejumlah bolong-bolong di dalamnya. Marilah kita lihat di mana-mana bolong-bolongnya itu. Saya berharap anda sabar membaca tulisan saya ini hingga tuntas.</big></p>
<p><big>Marilah kita ambil contoh yang sekarang sedang populer di masyarakat, yaitu pengadilan mantan Ketua KPK, Antasari Azhar. Sebelum ada keputusan dari pengadilan yang bersifat definitif (maksudnya sampai ke tingkat terakhir, yaitu pengadilan tingkat kasasi), maka Antasari belumlah bisa disebut bersalah melakukan tindakan melawan hukum atau kejahatan (dhi. pembunuhan). Saat polisi menangkap Antasari, itu bukanlah pertanda bahwa yang bersangkutan sudah pasti bersalah. Dia ditangkap oleh pihak aparat penegak hukum bukan karena sudah pasti bersalah, tetapi semata-mata karena akan disidik guna diajukan ke pengadilan. Asas praduga tak bersalah tak dilanggar di sini.</big></p>
<p><big>Keputusan salah-tidaknya yang bersangkutan akan ditentukan di Pengadilan Negeri. Jika dia tak puas dengan keputusan di tingkat pengadilan pertama, ada hak pada dia untuk mengajukan banding ke pengadilan tingkat kedua. Kalau masih tak puas, dia bisa mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Di sanalah keputusan hukum terakhir ditentukan.</big></p>
<p><big>Andaikan saja Antasari melawan saat hendak ditangkap oleh pihak kepolisian untuk tindakan penyidikan, entah dengan cara lari atau bahkan mengancam nyawa aparat, maka menurut prosedur hukum yang berlaku, pihak aparat diberikan otoritas untuk melumpuhkannya. Jika saja Antasari mengancam akan menembak polisi saat hendak ditangkap, maka polisi boleh membela diri dengan cara melumpuhkan atau &#8211;dalam situasi terdesak&#8211; membunuh yang bersangkutan. Walaupun Antasari masih berstatus &#8220;tersangka&#8221;, tetapi dia boleh ditembak, karena mengancam dan melawan aparat hukum. Ini andaian saja.</big></p>
<p><big>Tindakan polisi, dalam hal ini, sah secara hukum. Polisi tidak bisa disebut sebagai &#8220;membunuh&#8221; orang yang sedang dalam status &#8220;tersangka&#8221;. Tujuan polisi bukanlah hendak membunuh yang bersangkutan, tetapi menangkap si tersangka untuk disidik dan diajukan ke pengadilan. Pengadilan bisa saja menganggap bahwa data yang diajukan polisi dan selanjutnya jaksa untuk mendukung tuduhan atas si tersangka lemah sama sekali, sehingga yang terakhir itu dinyatakan tak bersalah.</big></p>
<p><big>Tentu saja istilah &#8220;tersangka&#8221; di sini tidak bisa kita maknai dalam pengertian sehari-hari kata itu. Kata &#8220;tersangka&#8221; di sini tak sama kedudukannya dengan, misalnya, sangkaan saya bahwa tetangga saya di sebelah rumah adalah maling. Seorang polisi tidak bisa sembarangan melakukan &#8220;sangkaan&#8221; dan menangkap seseorang.</big></p>
<p><big>Saat polisi menyangka seseorang berbuat kejahatan, dia haruslah memiliki data yang cukup, dan kemudian setelah itu dia menangkap. Seseorang juga tidak bisa ditangkap dan disidik dalam waktu yang tak terbatas. Polisi hanya memiliki waktu yang terbatas untuk menyidik. Setelah lewat batas waktu itu, si tersangka haruslah dilepaskan. Mereka yang belajar hukum acara pidana, tentu paham mengenai soal ini.</big></p>
<p><big>Apa relevansi semua ini dengan soal pembunuhan &#8220;tersangka&#8221; teroris Saifuddin Jaelani dan Syahrir di Ciputat kemaren?</big></p>
<p><big>Saat menggrebek dua tersangka teroris, jelas pihak kepolisian sudah memiliki data yang cukup untuk menyangka dua orang itu sebagai teroris. Tujuan pertama polisi adalah menangkap keduanya untuk disidik dan kemudian diajukan ke pengadilan. Keputusan terakhir apakah Saifuddin Jaelani dan Syahrir benar-benar teroris atau tidak tentu ada di pengadilan.</big></p>
<p><big>Jika dua orang itu tak melawan saat hendak ditangkap oleh Densus 88, sudah pasti keduanya akan selamat, hidup, dan tidak dibunuh. Mereka dibunuh karena melawan aparat. Jika mereka bertindak &#8220;kooperatif&#8221; seperti dalam kasus Antasari Azhar, sudah pasti polisi tak akan membunuh mereka berdua. Membunuh bagi polisi adalah tindakan &#8220;<em>the last resort</em>&#8220;, alternatif terakhir setelah alternatif yang lain buntu.</big></p>
<p><big>Dalam kasus pembunuhan dua tersangka teroris yang terakhir kemaren, kita mendapatkan informasi dari pihak Kadiv Humas Polri Irjen Pol Nanan Sukarna, bahwa dua orang itu mengancam polisi dengan cara melemparkan bom. Sesuai dengan prosedur yang berlaku, polisi berhak untuk melumpuhkan dan membunuh yang bersangkutan.</big></p>
<p><big>Kasus para teroris yang melawan dengan cara menyerang polisi saat mau ditangkap sudah sering kita dengar. Pertanyaan saya adalah: jika Saifuddin Jaelani, Syahrir, atau Ibrohim (aka Boim) dalam kasus penyergapan di Temanggung dulu, benar-benar merasa tidak bersalah, kenapa mereka tak menyerah saja? Kenapa mereka melawan?</big></p>
<p><big>Banyak teroris lain yang langsung menyerah saat ditangkap polisi, dan karena itu mereka tidak ditembak. Contoh yang baik adalah Mukhlas, Imam Samudra dan Amrozi &#8212; para pelaku bom Bali pertama. Ketiganya tidak dibunuh oleh polisi, karena saat ditangkap tidak melawan dengan cara menembak balik aparat hukum. Akhirnya ketiganya dihukum mati, tetapi setelah melalui proses pengadilan.</big></p>
<p><big>Oleh karena itu, cara berpikir yang terselip dalam pertanyaan-pertanyaan di awal tulisan ini tidak bisa dibenarkan. Saat membunuh Saifuddin Jaelani, Syahrir, Ibrohim, Nurdin M Top dll, polisi telah melakukan langkah yang benar. Polisi tidak melakukan tindakan yang melawan hukum.</big></p>
<p><big>Pertanyaan berikutnya: apakah informasi polisi bahwa tersangka teroris itu melawan saat mau ditangkap, benar? Apakah polisi tidak berbohong dalam hal ini?</big></p>
<p><big>Sangkaan bahwa polisi berbohong bisa saja benar. Tetapi mereka yang meragukan informasi polisi, haruslah menunjukkan bukti yang kuat. Berdasarkan itu, mereka bisa menuntut polisi ke PTUN, misalnya.</big></p>
<p><big>Dalam pandangan saya, informasi polisi itu benar adanya. Pertama, setiap tersangka teroris dibunuh di sebuah tempat, selalu ditemukan senjata, bom, dan amunisi lain yang siap diolah menjadi bom. Artinya, mereka memang sudah mempunyai &#8220;niat jahat&#8221; sejak awal. Kedua, dalam beberapa kasus penangkapan tersangka teroris, seperti di Temanggung, beberapa media elektronik melaporkan langsung dari lapangan, dan kita bisa melihat sendiri terjadinya baku-tembak antara polisi dan tersangka terorisme.</big></p>
<p><big>Ketiga, taruhlah laporan media itu kita ragukan kebenarannya. Pertanyaannya: kasus perlawanan terhadap polisi tidak hanya berlangsung di Temanggung saja, tetapi juka di Jatiasih, di Solo saat penangkapan Noordin M Top, di Batu (Malang) saat penangkapan Dr. Azahari, dan terakhir di Ciputat kemaren. Ratusan (kalau malah tak ribuan) orang di sekitar perumahan Dr. Azahari di Batu menyaksikan terjadinya baku-tembak antara dia dan polisi, sebab penangkanpan ketika itu berangsung pada waktu siang hari, dan karena itu banyak yang menonton.</big></p>
<p><big>Dengan kata lain, ada pola yang berlangsung dengan konsisten di sini: tersangka terorisme itu membawa senjata saat mau ditangkap dan melawan. Sekali lagi, tidak semua tersangka terorisme melawan saat ditangkap. Tetapi yang melawan jelas ada, dan kasusnya berlangsung berkali-kali. Artinya, hal itu bukan merupakan sesuatu yang tanpa bukti empiris.</big></p>
<p><big>Memang banyak yang tak suka pada Densus 88 karena mereka bertindak tegas dan keras pada pelaku terorisme. Mereka yang tak suka ini bisa digolongkan ke dalam dua kategori.</big></p>
<p><big>Pertama, mereka yang memang memiliki &#8220;<em>concern</em> atau perhatian besar pada isu kebebasan sipil dan hak asasi-manusia, sehingga mereka was-was kalau-kalau tindakan Densus 88 dalam menangani isu terorisme itu melanggar HAM dan kebebasan sipil. Saya tidak punya keberatan apapun terhadap kelompok pertama ini. Kritik-kritik mereka dalam soal penanganan terorisme perlu didengar oleh pemerintah.</big></p>
<p><big>Kedua, mereka yang sebetunya dari awal setuju dengan ideologi, doktrin, dan ajaran para pelaku terorisme itu, atau lebih spesifik ajaran jihad ala Abu Bakar Ba&#8217;asyir. Mereka ini menunggangi isu HAM untuk menyembunyikan simpati dan dukungan mereka terhadap ideologi terorisme. Inilah &#8220;musang berbulu ayam&#8221; yang harus diwaspadai!</big></p>
<p><big>Semoga tulisan ini bermanfaat. <em>In uridu illa &#8216;l-islah wa taufiqi illa bi l-Lah</em>.</big></p>
<p><big></big></p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Nu Daragang Kasenian]]></title>
<link>http://kilangbara.wordpress.com/2009/09/02/nu-daragang-kasenian/</link>
<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 06:34:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>nazaruddin azhar</dc:creator>
<guid>http://kilangbara.wordpress.com/2009/09/02/nu-daragang-kasenian/</guid>
<description><![CDATA[Poé kacida panasna. Sanggeus mapayan proposal di sababaraha perusahaan, nu lapur taya nu daék nyepon]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Poé kacida panasna. Sanggeus mapayan proposal di sababaraha perusahaan, nu lapur taya nu daék nyepon]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Minimal State Ibn Khaldun]]></title>
<link>http://saidiman.wordpress.com/2009/08/23/minimal-state-ibn-khaldun/</link>
<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 12:21:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>saidiman</dc:creator>
<guid>http://saidiman.wordpress.com/2009/08/23/minimal-state-ibn-khaldun/</guid>
<description><![CDATA[http://islamlib.com/id/artikel/minimal/ Sejak mula berdiri, 2001, Jaringan Islam Liberal (JIL) mengg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://islamlib.com/id/artikel/minimal/" target="_blank">http://islamlib.com/id/artikel/minimal/</a></p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-276" src="http://saidiman.wordpress.com/files/2009/08/poster-ramadan-jil-2009.jpg?w=212" alt="" width="212" height="300" />Sejak mula berdiri, 2001, Jaringan Islam Liberal (JIL) menggalakkan tradisi tahunan mengkaji pemikiran Islam klasik. Tradisi ini diadakan setiap bulan Ramadan dan disebut Tadarrus Ramadan. Pada tahun ini, Tadarrus Ramadan JIL mengkaji pemikiran Ibn Khaldun. Ibn Khaldun dikenal sebagai perintis ilmu sosial. Tadarrus Ramadan kali ini akan diadakan di Teater Utan Kayu, tanggal 24 Agustus, 28 Agustus, dan 3 September 2009.</p>
<p>Kajian Abdurrahman Ibn Khaldun (1332-1406) mengenai masyarakat dan politik yang tertuang dalam buku <em>Muqaddimah</em> boleh jadi adalah jejak penelitian sosial ilmiah yang paling awal. Ibn Khaldun secara tegas menolak jalan tradisional yang ditempuh para pemikir sebelumnya untuk menjelaskan fenomena dan sejarah sosial dan politik. Menurut Ibn Khaldun, para pemikir sebelum dia cenderung tidak sistematis dalam mengemukakan analisis sejarah. Kebanyakan dari mereka bahkan tidak menggunakan analisis, melainkan deskripsi semata. Pendekatan semacam itu sangat berbahaya karena akan mereduksi realitas sebenarnya menjadi hanya yang tampak di permukaan. Para peneliti sebelum Ibn Khaldun bahkan tidak mampu membedakan antara asumsi dan fakta sejarah. Hal itu bisa terlihat dalam fakta-fakta sejarah yang dikemukakan acapkali tidak masuk di akal. Logis tidaknya sebuah peristiwa yang diceritakan menjadi salah satu parameter kunci untuk memastikan apakah peristiwa itu memang benar terjadi atau sekedar asumsi dan dongeng belaka.<!--more--></p>
<p>Kekurangan utama peneliti sebelum Ibn Khaldun juga adalah ketiadaan penjelasan mengenai sebuah peristiwa atau fenomena yang ada dalam karya-karya mereka. Sehingga pembaca tidak bisa mengetahui kenapa sebuah peristiwa terjadi. Dari keberatan-keberatan itulah Ibn Khaldun kemudian menekankan pentingnya metodologi dalam historiografi. Ibn Khaldun mengklaim bahwa dialah ilmuan sejarah pertama yang mengemukakan fakta sejarah dengan pendekatan metodologi ilmiah yang bertanggungjawab.</p>
<p><strong>Sentimen Primordial</strong></p>
<p>Ibn Khaldun meneliti fakta-fakta sejarah yang terjadi di masyarakat Asia Barat, Asia Tengah Afrika, dan Eropa. Dia menemukan sebuah pola di mana pembentukan masyarakat sangat ditentukan oleh adanya sentimen primordial atau solidaritas sosial. Dia menyebutnya <em>Ashabiyah</em>. Adanya perasaan senasib sepenanggungan menyebabkan sentimen primordial itu menjadi demikian kuat. Masyarakat nomaden memiliki sentimen primordial jauh lebih kuat daripada masyarakat kota yang tinggal menetap.</p>
<p>Sesungguhnya dunia Islam tidak terlalu banyak mengenal konsep tentang negara. Ibn Khaldun adalah satu pengecualian. Ibn Khaldun mencoba menganalisis proses pembentukan negara dari solidaritas sosial. Menurut Ibn Khaldun, puncak dari <em>ashabiyyah</em> adalah terbentuknya otoritas politik (<em>dawlah</em>). Dari penjelasan ini, ditemukan bahwa Ibn Khaldun sesungguhnya mengeksplisitkan sesuatu yang selalu ingin dilampaui oleh negara modern, namun dalam praktiknya masih tampak penting, yaitu sentimen primordial. Sentimen primordial bahkan semakin menemukan signifikansinya dalam realitas gerakan sosial dan politik belakangan ini. Menurut Ibn Khaldun, bertahan tidaknya sebuah negara tergantung kepada sejauh mana solidaritas primordial itu tetap terjaga. Malangnya, pembentukan <em>dawlah</em> justru menjadi pintu masuk kepada rusaknya sentimen primordial. Karena pembentukan <em>dawlah</em> berarti mengakhiri masa-masa sulit dan dimulainya hidup menetap di kota. Itu artinya kemewahan menjadi realitas yang dinikmati.</p>
<p><strong>Logika Kekuasaan</strong></p>
<p>Ibn Khaldun menemukan bahwa semua otoritas politik memiliki karakter utama yang sama, yakni keinginan untuk mempertahankan kekuasaan selama-lamanya. Itulah sebabnya, ketika kekuasaan politik diraih, maka yang terjadi adalah kecenderungan memusatkan kekuasaan pada satu orang. Seorang penguasa tidak ingin membagi kekuasaannya sedikitpun kepada orang lain. Pada mulanya, sang penguasa akan mengambil orang-orang terdekat yang memiliki sentimen primordial yang sama untuk dijadikan teman dan pembantu utama. Tapi rasa curiga yang muncul kemudian akan mengalihkan perhatian penguasa kepada orang-orang luar. Pada akhirnya, sentimen primordial semakin merenggang dan akan membuka pintu masuk orang-orang luar untuk mengambil kekuasaan. Hasrat untuk mempertahankan kekuasaan a la Ibn Khaldun itu mengingatkan kita kepada nasihat-nasihat politik Niccolo Machiavelli (1469-1527) dalam <em>Il Principe.</em></p>
<p>Sepintas memang akan tampak bahwa Ibn Khaldun berbeda cukup jauh dengan Machiavelli. Jika Ibn Khaldun menganggap agama memiliki peran vital dalam mempertahankan <em>dawlah</em>, hubungannya dengan solidaritas, maka Machiavelli justru cenderung curiga pada agama. Sebagian ajaran agama, menurut Machiavelli, justru adalah penghambat kekuasaan politik.</p>
<p>Tetapi mari kita perhatikan logika yang dibangun oleh Ibn Khaldun. Karena penguasa cenderung otoriter, menurut Ibn Khaldun, maka diperlukan penegakan hukum agama. Kekuasaan akan bisa diselamatkan dari tangan penguasa yang otoriter jika negara itu bersandar kepada hukum agama. Harus diketahui bahwa agama pada masa itu sesungguhnya adalah peradaban dan budaya yang berkembang di dalam masyarakat. Menyandarkan diri pada hukum Islam artinya adalah berpedoman kepada tata nilai yang tumbuh di masyarakat itu sendiri. Hal itu tidak berbeda dari sistem hukum yang berlaku di Inggris yang mendasari apa yang Friedrich August Hayek (1899 – 1992) sebut liberalisme evolusionis empirisis Inggris. Para pemikir Yunani hampir sepakat bahwa kekuasaan politik (negara) tidak berdasar kepada otoritas orang per orang, melainkan kepada apa yang disebut <em>isonomia</em>. Konsep <em>isonomia </em>inilah yang di zaman modern disebut sebagai <em>rule of law</em> (hukum). Inggris modern adalah contoh terbaik di mana negara berdiri di atas <em>rule of law.</em></p>
<p>Menurut Ibn Khaldun, ada empat tipe kekusaan yang mungkin muncul. <em>Pertama, siyaasah thaabi’iyyah</em>, kedaulatan alami yang muncul dalam komunitas. <em>Kedua</em>, <em>siyaasah ‘aqliyyah</em>, kekuasaan yang dirancang oleh para cerdik pandai. <em>Ketiga</em>, <em>madiinah al-fadlilah</em>, negara utopis a la Plato dan al-Farabi. Dan <em>Keempat</em>, <em>siyaasah diniyyah</em>, negara yang berdasarkan kepada hukum agama.</p>
<p><strong>Minimal State</strong></p>
<p>Jika logika Ibn Khaldun ini terus ditelusuri secara konsisten, maka sesungguhnya dia mengidealkan sebuah tata pemerintahan <em>minimal state</em>. Negara harus berdasar kepada hukum. Dan hukum adalah apa yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, masyarakat atau rakyat memiliki posisi yang sangat vital dalam teori negara Ibn Khaldun. Negara tidak berpusat pada otoritas kekuasaan melainkan pada rakyat.</p>
<p>Apa yang diungkap oleh Ibn Khaldun ini sebenarnya cenderung mirip dengan konsepsi negara modern, terutama dalam teori-teori kontrak sosial yang digagas oleh Thomas Hobbes (1588 -1679) dalam <em>Leviathan </em>(1651), John Locke (1632-1704) dalam <em>Second Treatise on Government </em>(1680), dan Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) dalam <em>The Social Contract </em>( 1761). Melalui teori kontrak sosial, ketiga pemikir Pencerahan itu sepakat pada satu hal bahwa pada mulanya ada kesepakatan di antara masyarakat untuk membentuk komunitas politik, dengan tujuan yang hampir sama, yakni menciptakan kehidupan sosial yang harmonis. Thomas Hobbes menyatakan bahwa pada mulanya kehidupan penuh dengan kekacauan, oleh karenanya dibutuhkan negara untuk sebuah keteraturan. John Locke berangkat dari pengandaian bahwa pada mulanya kehidupan manusia justru adalah damai, negara dibentuk untuk menjaga kedamaian itu. Sementara J. Rousseau menyatakan bahwa pengandaian tentang <em>state of nature </em>adalah klaim moral tentang absennya subordinasi alami di antara sesama manusia.</p>
<p>Akan lebih jelas jika kita melihat tipe ideal pemegang tampuk kekuasaan. Menurut Ibn Khaldun, penguasa tidak mesti adalah yang paling cerdas dan pintar, bahkan sebaiknya tidak terlalu pintar dan cerdas. Penguasa yang terlalu pintar dan cerdas cenderung akan melakukan kekangan terhadap kebebasan masyarakat, sebab dia mendaku mengetahui semua hal. Sementara pemimpin yang kurang cerdas akan cenderung membuka ruang bagi masyarakat untuk berkreasi dan menentukan nasibnya sendiri. Pemimpin yang terlalu cerdas akan mendesakkan bentuk negara di mana satu orang bisa mendesain segala hal. Dan itu ujungnya adalah otoritarianisme. Sementara negara dengan pemimpin yang kurang cerdas akan memungkinkan tumbuhnya <em>spontanious order</em> (meminjam istilah Friedrich Hayek dalam <em>The Constitution of Liberty </em>(1961).</p>
<p><em>Spontanious order</em> mengandaikan sebuah bentuk kedaulatan politik yang tidak berpusat pada satu tangan. Sebab tidak ada manusia yang bisa menentukan baik buruknya masa depan manusia yang lain. Dengan demikian, ruang kebebasan yang seluas-luasnya menjadi sangat penting dalam pembangunan peradaban. Angan-angan Ibn Khaldun itu tampak mulai muncul dalam bentuk negara modern yang meminimalkan peran penguasa dan memberi kekuasaan yang luas kepada rakyat.</p>
<p><em>Wa Allah A’lam</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Esei! Aiseyman]]></title>
<link>http://cikgubad.wordpress.com/2009/07/30/tanda-ilmiah-pada-esei/</link>
<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 02:10:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>cikgubad</dc:creator>
<guid>http://cikgubad.wordpress.com/2009/07/30/tanda-ilmiah-pada-esei/</guid>
<description><![CDATA[Jika adalah satu saat yang paling sukar dan mencabar bagi pelajar, saat itu ialah apabila menerima s]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Jika adalah satu saat yang paling sukar dan mencabar bagi pelajar, saat itu ialah apabila menerima s]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The New Yorker: Thirty years of Sonic Youth]]></title>
<link>http://rawkcarpark.wordpress.com/2009/06/17/the-new-yorker-thirty-years-of-sonic-youth/</link>
<pubDate>Wed, 17 Jun 2009 09:11:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>rawkcarpark</dc:creator>
<guid>http://rawkcarpark.wordpress.com/2009/06/17/the-new-yorker-thirty-years-of-sonic-youth/</guid>
<description><![CDATA[                    Sonic Youth: Thurston Moore, Steve Shelley, Kim Gordon, Mark Ibold, and Lee Rana]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft size-full wp-image-365" title="sonicyouth" src="http://rawkcarpark.wordpress.com/files/2009/06/sonicyouth.jpg" alt="sonicyouth" width="233" height="350" /></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><em>Sonic Youth: Thurston Moore, Steve Shelley, Kim Gordon, Mark Ibold, and Lee Ranaldo. Photograph by Max Vadukul.</em></p>
<p>by <strong>Sasha Frere-Jones</strong></p>
<p>During the nineteen-eighties, there was a sort of competition among certain members of the American independent-rock scene to make the most hideous noise possible. Guitars were rebuilt to produce wild and staticky new sounds, then played painfully loudly; lyrics and stage antics were often gruesome and intimidating. Butthole Surfers, a psychedelic-punk band from Texas, projected graphic footage of penis-reconstruction surgery on a wall behind them while they performed, and a woman danced around the stage wearing only a loincloth. Steve Albini and Santiago Durango, members of the band Big Black, made their guitars screech at frequencies that seemed designed to give listeners tinnitus. Michael Gira, the lead singer of the almost comically misanthropic band Swans, sang about rape and ritual physical humiliation, and on more than one occasion leaped into the crowd to assault an audience member.</p>
<p>Though Sonic Youth have always been a sober, hardworking bunch, they began their career as an arty, hardcore-influenced band, as partial to abrasive racket as some of their noise-rock peers. Their music was often accompanied by lurid images: the video for their 1985 song “Death Valley ’69” reënacts the Manson murders, complete with fake blood and spilled intestines and the bassist, Kim Gordon, sporting dark hair and wielding a shotgun.</p>
<p>One summer night in 1986, I saw Sonic Youth play at CBGB. The club was oppressively hot. Thurston Moore, six feet six and sandy-haired, originally from Bethel, Connecticut, looked slightly distracted at first, like a surfer who’d wandered indoors. He opened the set by pressing a button on a large boom box; Madonna’s “Into the Groove” began to play while he fiddled, slowly, with his gear. I loved Madonna, and I was a little afraid that the band was making fun of her. But they let her song finish without comment, and then launched into “Tom Violence,” a dirgelike piece that drones and whines. If the bright, square notes of “Into the Groove” came from a world of easy round numbers, Sonic Youth’s music was made of intricate fractions. Each song was crammed with information. Moore swayed as if the stage were heaving, and he sang as though he were trying to calm himself down. Lee Ranaldo, a rugged kid from Long Island with a shaggy hair style, stood stage right, whipping his guitar through the air, now and then crouching to get a better purchase on it. Kim Gordon was center stage, bass in hand; she was the least seasoned musician onstage, and her playing was simple and relentless. Cool, blond, serene, she was like the lead in a movie who refuses to read from the script, more Marina Vlady than Brigitte Bardot.</p>
<p>I stood close to the stage, crushed in a group of people who had probably been pogoing or moshing to any number of bands that week. As loud and powerful as Sonic Youth were, the music was not straight punk, or even modified punk. I had no idea what kind of music it was. “White Kross”—which would soon make its way onto their 1987 album, “Sister”—was fast, straightforward rock, except that every guitar was strangely tuned, moaning and howling instead of crunching in satisfying consonance. The song that stood out that night was one of the quietest, “Shadow of a Doubt,” from the band’s fourth album, “Evol.” Moore and Ranaldo played a series of lightly fretted harmonics that, just as they were on the brink of becoming actual chords, dissolved in a series of electric pops. Gordon whispered the lyrics: “Met a stranger on a train,” and then, later, “Swear it wasn’t meant to be.” The guitars opened for a surge of ringing chords in the middle of the song, but it was determined to remain unresolved. The feeling was a little like being held hostage in a room with someone who refuses to turn on the lights.</p>
<p>When Moore and Ranaldo first got together, they were playing what Ranaldo calls “a serious guitar and an O.K. one”—a Fender Telecaster Deluxe and a mid-sixties Harmony. Sonic Youth’s 1982 début EP was recorded and written in standard tuning, a first and a last for the band. After that, Moore and Ranaldo began restringing and retuning those guitars and a couple of “cheap Japanese no-names.” (At the beginning of shows, while the crowd waited, they would spend close to half an hour tinkering with the many guitars stacked on either side of the stage.) Because open tunings sometimes allow a guitarist to play parts without having to fret any notes at all, Sonic Youth’s music gained a resonance that’s simply not possible when you have to touch the strings with both hands. (“Death Valley ’69” is a good example: Ranaldo plays a guitar tuned—bottom to top—to two low F-sharps, two medium F-sharps, and an E and a B. Much of his playing involves no fretting at all.) Take these tunings, play them with nontraditional items like screwdrivers, run the signal through a variety of effects pedals, and you’ve got a pretty big palette. More like conductors than like typical players, these guitarists managed to turn their instruments into a kind of choir. The band’s latest release, “The Eternal,” is its sixteenth full-length effort, and my favorite Sonic Youth album in a long time, though I’ve liked plenty of them. The members of Sonic Youth are in their forties and fifties now, and their recording technique has changed very little since their first sessions. “We’re still playing old analog boxes and electric guitars with guitar amps, recording on tape, mixing on tape,” Ranaldo says. “We haven’t gotten any more professional, thank God.” Songs are communally written, and developed over long periods of improvising. Mark Ibold (who was once the bassist for Pavement) recorded and wrote with the band this time around, making it a five-piece again. (Steve Shelley, the drummer, has been with Sonic Youth since 1985. The multi-instrumentalist Jim O’Rourke joined the band in the late nineties but left in 2005.)</p>
<p>On this record, they’ve focussed on crafting songs rather than open-ended compositions. Moore told me recently, “I remember being on tour in the nineties, when we started releasing more kind of lengthy, experimental stuff on our own label, and Malkmus”—the Pavement songwriter Stephen Malkmus—“was driving us somewhere. We were playing it in his rental car, and he said, ‘I hope you guys don’t leave the power of the song behind.’ He liked Sonic Youth as a songwriting band—he had a sort of charming concern about it.” One of “The Eternal” ’s dreamiest tracks, “Antenna,” begins with a simple guitar figure plucked over a brief wash of white noise and thumping tomtoms. Moore sings, in a gentle, conversational way, “My darling cruises the streets for pleasure, skyscrapers in the dead love dawn.” The lyric might be a rueful nod to the chorus of “The Wonder,” from the 1988 release “Daydream Nation”: “I’m just walking around, your city is a wonder town.”</p>
<p>Much of the pleasure here is in the sound. The producer and engineer John Agnello has captured all sides of the band’s multipurpose guitars. I worried that the album didn’t have one of those lengthy, broken-open garbage bags of noise, a song like “Expressway to Yr. Skull,” from 1986, in which all the dragons and feathers and firecrackers and water pistols get to run free. But “Calming the Snake,” though it’s only three and a half minutes long, comes amazingly close. It compresses the push-me-pull-you rhythm of soft lulls and big buildups into pop-song length without sacrificing any heat or unruly noise, and it features Gordon on vocals, doing the kind of punk yowling that the band hasn’t tried in a while. “Come on down, down to the river, come on down, I want to feel you shiver,” she hisses.</p>
<p>Gordon does the screaming on “The Eternal” while the boys do the nice singing. Several songs feature one or more of them singing in unison, an arrangement trick that Sonic Youth has so far largely avoided. Moore told me that the band was purposefully exploring more conventional vocal techniques, such as “getting Lee to harmonize with my non-singing.” Nonetheless, as has always been the group’s way, the vocals come only after the music for each piece is recorded. At that point, Moore, Gordon, and Ranaldo divvy up the songs, and each tries singing on a different one, sometimes trading after a week or so if someone is stuck, sometimes adding a track on top of someone else’s. The fact that the music is finished first is a point of pride, and is perhaps the best testament to the band’s career-long loyalty to the possibilities of sound. “For us, songs get born out of a guitar’s tonality as much as they get born out of chords and structures,” Ranaldo says. “We’re creating pieces of music as pieces of music. That’s all we’re thinking about. ‘Does this piece of music sound good?’ ”</p>
<p>By the early nineties, dozens of bands had picked up the Sonic Youth habit, developing their own proprietary tunings and making waves of noise. This year, Fender will issue the Thurston Moore and Lee Ranaldo signature Jazzmasters, each kitted out according to the players’ preferences for things like finish, pickup, headstock, and width of frets. The band that once specialized in manhandling pawnshop guitars has become an institution.</p>
<p><strong>* Dipetik dari The New Yorker, 22 Jun 2009.</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[<em><strong>Negara Ketoprak Humor</strong></em>]]></title>
<link>http://mustafit.wordpress.com/2009/05/31/negara-ketoprak-humor/</link>
<pubDate>Sun, 31 May 2009 01:06:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>mustafit</dc:creator>
<guid>http://mustafit.wordpress.com/2009/05/31/negara-ketoprak-humor/</guid>
<description><![CDATA[Saat aku pusing, aku selalu menyempatkan diri pergi menemui guruku, mas Tarjo Urip Karto. Karena dia]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Saat aku pusing, aku selalu menyempatkan diri pergi menemui guruku, mas Tarjo Urip Karto. Karena dia selalu memberikanku obat penghilang pusing, baik fisik maupun psychis. Ya, ya… lumayan kan, punya guru tombo pusing. Aku pusing banget-banget ini, mikirin Indonesia yang nggak punya harga diri. Moso negoro diopyak-opyak orang kok diem saja. Aku saja, kalau rumahku dimasukin orang tanpa izin, ndak usah sampai 5 kali enam kali, sekali saja, sudah aku obrak-abrik tuh orang. Bukannya emossional, tapi kan memang begitu peraturannya. Rumah kita adalah istana kebesaran kita. Tidak boleh ada satu orang pun yang mengganggu kedaulatan itu. Ngono toh kang Tarjo?<br />
“Eyalah tole tole… Awakmu pusing toh sekarang? Lagi-lagi kok mikirin masalah negoro, apa ndak ada urusan lain?”<!--more-lihat naskah lanjutannya&#62;--><br />
“Kang, kita ini hidup kan di negara kita. Kalau kita ndak mikirin negara kita, lalu siapa yang mikirin?”<br />
“Lah, kan ada pemerintah, ya mereka dong yang ngurusin negara dan kita. Kok repot-repot,” jawab kang Tarjo sambil walang kerik.<br />
“Piye toh kang Tarjo ini, opo ndak denger bahwa sebenarnya di antara aparat pemerintah kita itu, paling-paling hanya 10% yang bener-bener berbakti untuk rakyat. Selebihnya, ya memperkaya diri sendiri dengan mengutak-atik anggaran yang tidak sedikit nilainya.”<br />
“Berapa banyak?” Tanya kang Tarjo pura-pura bego.<br />
“Lah, ya banyak Kang. Ada yang sekali tilep bisa dapat milyaran, ada juga yang sampai puluhan atau ratusan milyar. Tergantung peluangnya. kalau peluangnya memungkinkan mereka untuk jual ini negara, ya mereka jual.”<br />
“Ah, moso begitu sih?” Tanya kang Tarjo pura-pura bego lagi. </p>
<p>”Lah kang Tarjo ini gimana sih. Opo kang Tarjo pikir menjual Indosat dulu itu atau mengundang investor asing seperti Freeport, Newmont, Exxon Mobil dan yang lain lain itu pejabatnya ndak dapat apa-apa? Lah wong cuma ngangkat direksi atau pejabat saja pejabat yang berwenang memungut uang yang tidak sedikit jumlahnya apalagi menjual asset pwih..”<br />
“Oh ngono toh?”<br />
“Nah sekarang ini, aku tambah bingung lagi, ini Tentara Diraja Malaysia kembali memprovokasi TNI Angkatan Laut yang ada di Ambalat dengan KD Baung-3509n-nya. Tapi Pemerintah kok tampak tenang-tenang saja.”<br />
“Tenang-tenang saja gimana toh? Lah emang mesti gimana mereka menurutmu?”<br />
“Yo mesti berti bertindak toh Kang. Jangan tinggal diem.”<br />
“Pemerintah kita itu ndak tinggal diem tole, mereka itu justru takut melawan Malaysia.” Jawab kang Tarjo mengagetkanku.<br />
“Takut? Bukankah kita ini bangsa yang besar, Kang?”<br />
“Besar opone? Besar utange, besar cacate, besar opone? Kalau kita bicara Indonesia, kita ini sesungguhnya bicara masalah bangsa yang serba aneh.”<br />
“Aneh gimana, Kang?”<br />
“Ya aneh. Moso ada bangsa yang ndak punya senjata?”<br />
“Ndak punya? Ah masa? Lah yang dipegang polisi dan TNI itu apa bukan senjata?”<br />
“Lah kalau untuk membunuh rakyat sendiri sih ada senjatanya. Atau membunuh tikus di sawah ada senjatanya. Tapi kalau untuk perang? Kamu tanyakan saja itu sama tentara-tentara yang menjaga perbatasan. Mereka sering miris sendiri karena senjata yang mereka pake itu cuma  hiasan saja.”<br />
“Lah terus, jadi memang begitu ya, Kang?”<br />
“Sini aku ceritain masalah Ambalat. Tapi ini agak panjang. Kamu jangan menyela sedikit pun yo.”<br />
“Inggih Kang.”<br />
“Berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional (1982) atau UNCLOS (The United Nations Convention on the Law of the Sea), Malaysia tidak termasuk kriteria negara kepulauan dan Indonesia adalah sepenuhnya negara kepulauan (the archipelagic state). Dalam menetapkan garis batas laut dengan wilayah Indonesia, Malaysia tidak mengikuti ketentuan UNCLOS 1982, namun berdasarkan Peta 1979. Pada saat Malaysia menerbitkan Peta 1979, langsung diprotes oleh Indonesia, Filipina, Singapura dan beberapa negara lainnya. Dengan adanya protes atas peta tersebut, sesungguhnya Peta 1979 tidak mempunyai kekuatan berlaku secara internasional. Sejak tahun 1967 Indonesia telah membuka peluang bisnis kepada beberapa perusahaan minyak seperti Total Indonesie, British Petroleum, Hadson Bunyu BV, ENI Bukat Ltd., dan Unocal. Hingga Malaysia mengeluarkan Peta 1979, pihaknya tidak memberikan reaksi apapaun terhadap pengelolaan Indonesia di wilayah perairan Ambalat tersebut.<br />
Blok Ambalat dan Ambalat Timur di klaim oleh Malaysia sebagai wilayahnya dengan nama Blok ND 6 (Y) dan ND 7 (Z). Awakmu ngerti, pada 16 Februari 2005 Petronas nekat memberikan konsesi minyak di Blok Ambalat dan Ambalat Timur kepada Shell, perusahaan minyak Belanda. Kontan saja Departemen Luar Negeri RI (Deplu) mengeluarkan siaran pers bahwa Pemerintah Indonesia memprotes pemberian konsesi minyak di Blok Ambalat dan Ambalat Timur kepada Shell oleh Petronas. Protes tersebut dijawab oleh Malaysia pada 25 Februari 2005 dengan menegaskan bahwa Blok Ambalat dan Ambalat Timur adalah perairan Malaysia.<br />
Pada tanggal 8 Maret 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meninjau langsung ke perairan Ambalat di Laut Sulawesi. Dalam komunikasi langsung antara Presiden SBY dan PM Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi dinyatakan bahwa kedua pemimpin sependapat untuk menyelesaikan sengketa di Ambalat dengan cara damai. Kedua pemimpin menugaskan Menteri Luar Negeri (Menlu) masing-masing agar segera bertemu untuk berembuk: Menlu Hassan Wirajuda dan Menlu Syed Hamid Albar. Kedua pejabat bersepakat untuk segera menyelesaikan perbatasan laut kedua negara, khususnya di Laut Sulawesi, melalui penyelesaian damai. Upaya penyelesaian damai tersebut akan dilakukan dengan berpedoman kepada prinsip-prinsip hukum internasional, khususnya Konvensi Hukum Laut Internasional tahun 1982. Pertemuan juga sepakat untuk memulai pembicaraan tim teknis kedua negara. Tanggal 10 Maret 2005 Menlu Malaysia Syed Hamid Albar menyatakan ingin menghindarkan konfrontasi dengan Indonesia, namun tidak akan berkompromi soal kepentingan teritorial dan kedaulatan menurut kehendak mereka sendiri.<br />
Tanggal 14 Maret 2005 PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi mengemukakan bahwa Pemerintah Malaysia sedikitpun tidak akan mengklaim atau bahkan mengambil alih suatu kawasaan yang menjadi milik Indonesia. Namun, Malaysia tetap akan mempertahankaan suatu kawasan yang memang menjadi haknya (seperti yang tertera dalam peta yang melanggar UNCLOS).<br />
Pada saat ini Blok Ambalat dikelola oleh perusahaan minyak ENI (Italia) sejak tahun 1999 dan Ambalat Timur oleh Unocal (AS) tahun 2004. Sebagai tindak lanjut UNCLOS 1982, telah dibuat UU No.6/1996 tentang Perairan Indonesia untuk menggantikan UU Prp No.4/1960. Untuk keperluan penetapan batas-batas wilayah perairan Inddonesia, telah diundangkan Peraturan Pemerintah (PP) No.38/2002 tentang Daftar Kordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia. Pemerintah Indonesia dan Malaysia telah mendiskusikan masalah perbatasan laut dalam beberapa pertemuan. Diantaranya adalah pertemuan Komisi Bersama untuk Kerjasama Bilateral pada tahun 2002 dan 2004. Juga pertemuan Delimitasi Batas Maritim antara Indonesia dan Malaysia di Kualalumpur bulan Juli 2004. Sebelum muncul kasus Ambalat, Indonesia beranggapan bahwa dalam keadaan status quo masalah perbatasan wilayah perairan kedua negara di Laut Sulawesi akan dibahas dalam pertemuan bilateral bulan Mei 2005. Ternyata pada 16 Februari 2005 secara sepihak Malaysia memberikan konsesi minyak di Blok Ambalat dan Ambalat Timur kepada Shell. Terdapat dua hal rancu di pihak Malaysia. Pertama, setelah ada UNCLOS maka Malaysia seharusnya tidak menggunakan lagi Peta 1979 tetapi sepatutnya merubah peta tersebut. Kedua, meskipun sudah memiliki Sipadan dan Ligitan, seharusnya perairan Malaysia yang berbatasan dengan Indonesia tidak dihitung berdasarkan UNCLOS, namun hanya sejauh 12 mil dari garis pantai Sipadan dan Ligitan. Melalui tindakan sepihak dan mengklaim Ambalat sebagai wilayahnya dengan kurang didukung oleh dasar yang kuat, dapat diartikan bahwa Malaysia memang bermaksud menguasai/merebut teritorial Indonesia.”<br />
“Oh jadi gitu kejadiannya. Kalau begitu bener sampeyan Kang. Indonesia ini negoro aneh. Ini namanya Indonesia sudah diacak-acak. Bukannya kita suka berperang. Tapi kalau ada musuh yang menginjak-injak harga diri kita, masa kita diem saja sih?”<br />
“Lah iya, tapi bukan perang yang mesti dilakukan. Kalau menurutku ya, negara-negara semacam Malaysia dan Singapura yang berani belagu di depan kita itu karena mereka mendengar bahwa Indonesia tidak punya alutsista yang bener. Yang perlu dilakukan oleh Indonesia hanyalah satu, yaitu belanja alutsista besar-besaran yang memang layak dilakukan. Masa negara semacam Singapura yang besarnya tidak lebih dari Jakarta saja menganggarkan 30an trilyun terus kita juga sama. Apalagi yang untuk membeli sistem persenjataan cuma ratusan milyar. Ini kan koyok njogo kampung pake kentongan saja yang berfungsi hanya untuk menakut-nakuti musuh.”<br />
“Jadi gimana nih, Kang?”<br />
“Ya gimana lagi. Kita aja susah. Sudah, kamu pulang sono, bikin pusing saja kamu ini. Negara kita ini, jangankan alutsista, untuk makan kita aja gak ngerti harus gimana, apalagi untuk alutsista, gak ngerti lagi aku. Negoro kok padha bodoh kabeh gini.”<br />
“Koyok ketoprak humor saja ya, Kang?”<br />
“Lah iya, wong negoro iki memang negoro ketoprak humor, dimana penyelesaian masalah-masalah pelik hanya dilakukan tanpa mikir panjang. Yang penting kan enak dilihat dan lucu,” jawab kang Tarjo tenang.<br />
Setelah bertanya sana-sini, ternyata kali ini aku tambah pusing mengetahui kenyataan bahwa negara ini sangat kacau. []</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[<em><strong>Boediono Itu Neolib Apa Bukan Sih?</strong></em>]]></title>
<link>http://mustafit.wordpress.com/2009/05/30/boediono-kuwi-neolib-opo-dhudu-sih/</link>
<pubDate>Sat, 30 May 2009 15:37:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>mustafit</dc:creator>
<guid>http://mustafit.wordpress.com/2009/05/30/boediono-kuwi-neolib-opo-dhudu-sih/</guid>
<description><![CDATA[SEORANG anak kecil bertanya kepada bapknya, “Pak, boleh tidak kalau saya mencuri?” anak itu bertanya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>SEORANG anak kecil bertanya kepada bapknya, “Pak, boleh tidak kalau saya mencuri?” anak itu bertanya sambil garuk-garuk kepala. “Ya tentu tidak boleh toh,” bapaknya menjawab dengan yakinnya, sok pintar. </p>
<p>Si anak tidak mau ngalah, dia melanjutkan pertanyaannya, “Lah, kenapa kok nggak boleh? Bukankah mencuri itu juga pekerjaan, dan bukankah pekerjaan itu hal yang baik-baik saja?” </p>
<p>“Dibilangin kok ngeyel kamu ini,” si Bapak berkata sambil mendorong kepala anaknya itu. “Bapak ini sudah merasakan asam garam hidup, jadi kalau cuma mencuri saja, lah bapak tahu toh hukumnya, itu tidak boleh, haram,” jelas sang Bapak sambil menunjuk-nunjuk muka anaknya.</p>
<p>Si anak tetap saja merasa janggal dengan jawaban Bapaknya. Sambil berdiri anak itu berkacak pinggang sambil berkata, “Lah, kalau memang ndak boleh, kalau memang mencuri itu haram, kenapa maling-maling itu tidak ditangkap?” Tanya anak itu songong. </p>
<p>“Ah, sok tahu kamu. Lah itu kang Tarjo kemarin nyolong ayam udah ketangkap. Lek Selamet juga begitu, habis nyolong beras satu liter juga ditangkap, sampai sekarang ndak ketahuan rimbanya. Kemarin juga ada janda nyolong cawat tetangganya yang sudah bolong-bolong juga ditangkap. Lalu apanya yang nggak ditangkap?” bapak itu berkata sambil menyemprotkan nasi yang masih belum selesai dia kunyah. </p>
<p>“Lah, Pak.. Pak.. mbok jadi orang yang melek dikit, ndak usah banyak-banyak. Lah kalau maling-maling itu ya iyalah ditangkap dan untuk apa juga aku nanyain mereka, ndak ada untungnya.” Jawab sang Anak. “Itu lho, Pak, pejabat-pejabat yang mencuri uang rakyatnya kok ndak ditangkap?” Tanya anak itu.<!--more-lihat naskah lanjutannya&#62;--></p>
<p>“lah, lah lah, jangan ngawur kamu. Jangan sal tuduh. Kalau ndak ada bukti ndak usah ngomong ngawur,” si Bapak seperti ketakutan. </p>
<p>“Lah bukti opo toh Pak? Kan sudah jelas. Coba saja, negara yang begini kaya, sumber minyak ada di mana-mana. Tambang emas juga ndak terhitung jumlahnya. Tambang batu bara. Tambang timah. Tambang biji besi. Sawit yang melimpah ruah. Beras yang kwalitasnya ndak ada tandingannya dan melimpah juga. Tanaman penghasil gula, kertas, biofuel dan seterusnya dan seterusnya juga tak terhitung jumlahnya. Laut yang kaya ikan. Tambak-tambak yang produktif. Hewan sembelihan seperti sapi, kambing dan kuda yang searat-arat. Pada dikemanain semua itu? Kalau tidak dicuri, masa iya kita masih begini-begini saja? Yang mikir dong, Pak.. mikir!,” sang anak marah-marah ndak karuan.</p>
<p>Tentu saja, mendengar semua itu, Bapaknya kaget. Anak umur 5 tahun sudah bisa ngomong bagus dan benar. celakanya, bapak tersebut baru menyadari kebenaran ucapan anaknya. Dia lalu berpikir, “Oh iya ya.. bener juga ini bocah. Pada dikemanain itu sumber daya alam? Apakah ini yang dinamakan neoliberalisme? Atau ini yang dinamakan ekonomi kerakyatan? Bingung aku..” </p>
<p>Tiba-tiba sang anak berkata kepada Bapaknya, “Bapak ndak usah bingung apakah ini adalah ekonomi kerakyatan ataukah neoliberalisme.” </p>
<p>“Lah, ndak bingung gimana, nyata-nyata negara kita ini memang dicuri habis-habisan oleh pemerintah, gimana bapak ndak bingung…?” Tanya sang bapak kepada anaknya. </p>
<p>“Lah kok balik takok toh Pak? Kan aku duluan yang Tanya?” protes sang anak.</p>
<p>“Wis toh, ora usah mikirin itu, yang penting kamu jawab dulu… apakah ini ulah ekonomi neoliberalisme atau ekonomi kerakyatan?” Tanya sang bapak.</p>
<p>Melihat Bapaknya yang balik membutuhkan jawaban darinya, sang anak mulai belagu. Dia mencari jawaban sekenanya, “Pak, caranya gampang kok membedakan antara ekonomi kerakyatan dan ekonomi neoliberalisme.” Jawab sang anak. </p>
<p>“Caranya gimana?” Tanya sang bapak lagi.</p>
<p>“Sabar toh, Pak.. Semua hal yang berkwalitas itu membutuhkan kesabaran untuk diraih,” jawab sang anak somse alias sombong sekali.</p>
<p>“Begini, Pak. Coba ingat-ingat apakah negara-negara semacam Amerika Serikat itu pencuri menurut Bapak?” Tanya sang anak.</p>
<p>“Hmmmm, sepertinya sih iya. Ya ya, ini bukan sepertinya, ya mereka memang pencuri sejati. Di Irak mereka mencuri kemerdekaan rakyat dan sekaligus kilang minyaknya. Di Kwait juga begitu. Di Afrika juga. Di Indonesia? ya, di Indonesia juga banyak sumber-sumber daya alam yang sangat menguasai hajat hidup orang banyak dicurinya oleh Amerika Serikat. Bener, bener.”</p>
<p>“Nah, sekarang pertanyaannya, Bapak yakin tidak kalau Amerika Serikat itu negara neoliberalisme?” Tanya sang anak sambil memanggut-manggutkan kepalanya.</p>
<p>“Ya yakin, kan mereka yang menggagasnya, iya kan?” </p>
<p>“Yo mboh toh pak, kok takok maneh..” si anak bercanda kepada bapaknya.</p>
<p>“Iyo iyo, Pak… lah memang Amerikalah yang menerapkan ekonomi kapitalistik dan neoliberalistik.”</p>
<p>“Jadi jawabannya mudah kan, Pak.. Amerika itu neolib.” Jawab sang anak dengan pasti. </p>
<p>“Terus, apakah SBY-Boediono itu neolib juga ikut-ikutan Amerika Serikat begitu?” Tanya sang ayah penasaran. </p>
<p>“Ikut-ikutan kan cirikhas orang Indonesia, Pak.. hehe… GIni, Pak. Boediono itu kan belajar ilmu ekonomi dari Amerika dan negara-negara kapitalis, lah lantas apakah mungkin dia menerapkan ekonomi Islam atau kerakyatan yang tidak dipelajarinya?”</p>
<p>“Hmmmm bener juga ya. Ah, tapi tetep, itu ndak menjamin toh nak..” sanggah sang Bapak. </p>
<p>“Hehe… memang, Pak, itu tidak menjamin. Tapi, jika yang diagung-agungkan oleh Boediono dan rekan-rekannya itu ekonomi gaya Amerika apakah mungkin dia penganut faham Ekonomi kerakyatan, Pak? Kan ndak mungkin toh, Pak..” Jawab sang anak. </p>
<p>“Iya juga sih. Tapi, Boediono kan pernah bersama-sama Mubyarto nulis msalah ekonomi Pancasila?” Tanya sang bapak sambil menjelaskan duduk permasalahannya. </p>
<p>“Halah, Pak… Apa orang Australia kalau dapat pekerjaan menulis buku tentang Indonesia lantas sekonyong-konyong merubah dia menjadi orang Indonesia, Pak? Lah kan ya ndak toh, Pak… itu kan pekerjaan biasa yang dibayar. Seperti kang Diman kalau disuruh nulis khutbah jumat untuk pak Ustadz Ali… kan sah sah saja toh, Pak.. kan Diman sendiri ndak pernah shalat lima waktu apalagi shalat Jumat. Bagi kang Diman, yang penting kan setelah menulis dia dibayar.. yo toh?”</p>
<p>“Oh, ngono toh leh..?” </p>
<p>“Lah yo yes..”</p>
<p>&#8220;Terus, opo Boediono juga mencuri?&#8221; Tanya sang Bapak bingung.</p>
<p>&#8220;Lah, Bapak iki piye toh? Ngene lho, Pak&#8230; Kalau memang kekayaan alam kita ini gak ikut-ikutan ditilep oleh ekonomi neolib ini, kita pasti ndak hidup kayak sekarang ini, Pak.. miskin, pengangguran, cari makan susah, harga-harga mahal.. padahal, pada saat yang sama, kita ini sebenarnya punya kekayaan alam yang ndak ternilai banyaknya. Mestinya kan kita sebagai yang punya ini kan kaya, Pak&#8230;. Lah apakah kita sekarang sugeh? Kan ya nggak&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh ngono toh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lah iyo, Pak..&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Di Bawah Kuasa Orde Baru]]></title>
<link>http://saidiman.wordpress.com/2009/05/14/di-bawah-kuasa-orde-baru/</link>
<pubDate>Thu, 14 May 2009 08:01:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>saidiman</dc:creator>
<guid>http://saidiman.wordpress.com/2009/05/14/di-bawah-kuasa-orde-baru/</guid>
<description><![CDATA[Sinar Harapan, 13 Mei 2009 Robert A. Dahl, ilmuan politik terkemuka, pernah mengemukakan bahwa demok]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0905/13/opi01.html" target="_blank">Sinar Harapan, 13 Mei 2009</a></p>
<p style="text-align:justify;">Robert A. Dahl, ilmuan politik terkemuka, pernah mengemukakan bahwa demokrasi yang selama ini kita saksikan bukanlah praktik demokrasi yang sebenarnya seperti yang selalu dibicarakan para pemikir dan filsuf. Praktik demokrasi yang ada saat ini, di manapun, hanyalah poliarki. Poliarki, dalam definisi Dahl, adalah sebentuk sistem di mana kekuasaan publik selalu berputar di kalangan elit saja, tidak pernah benar-benar memberi kesempatan kepada semua orang untuk juga berkompetisi dalam perebutan kekuasaan bersama para elit. Sirkulasi kekuasaan yang hanya ada pada para elit itu disebabkan terutama karena hanya para elitlah yang memiliki sumber daya.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">Ralitas politik yang terjadi di Indonesia sekarang ini kembali membuktikan teori Dahl tersebut. Wacana mengenai calon presiden dan wakil presiden tidak keluar dari lingkaran elit yang memang sejak awal dekat atau berada pada lingkaran kekuasaan. Bahkan kandidat-kandidat presiden dan wakil presiden terkuat adalah anak-anak langsung dari para mantan penguasa. Megawati Soekarno-Putri adalah anak mantan penguasa nomor satu negeri ini, Soekarno. Susilo Bambang Yudhoyono adalah anak dan menantu petinggi militer dan jenderal yang juga sangat berkuasa pada masa Orde Baru. Yusuf Kalla adalah anak juragan terkemuka yang mendominasi perniagaan di Indonesia Timur, Haji Kalla. Sultan Hamengkubuwono X adalah anak dari Raja Jawa Sultan Hamengkubuwono IX yang juga mantan Wakil Presiden. Prabowo Subianto adalah anak arsitek ekonomi Orde Baru, Sumitro Joyohadikusumo, dan mantan menantu Jenderal Besar Soeharto. Wiranto adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hampir tidak ada nama baru dalam perebutan kursi nomor satu dan dua politik Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Andi Faisal Bakti di kabupaten Sengkang Sulawesi Selatan, <em>Kekuasaan Keluarga di Wajo, Sulawesi Selatan </em>(2007), menemukan bahwa perubahan sistem politik masyarakat Sengkang tidak mengubah struktur kekuasaan. Para raja dan keluarganya yang berkuasa pada masa kerajaan terus mewariskan kekuasaan itu di dalam masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi. Sistem memang terus berubah, namun kekuasaan terus berputar di kalangan elit keluarga raja yang sejak dulu memang berkuasa. Penelitian itu memperlihatkan bahwa mulai dari Bupati, Ketua DPRD, ketua-ketua instansi pemerintah, sampai para camat dan desa/kelurahan hampir semuanya adalah keluarga raja atau paling tidak mereka yang loyal terhadap struktur kekuasaan politik keturunan raja.</p>
<p style="text-align:justify;">Fakta ini menjelaskan bahwa sesungguhnya pengaruh kekuasaan para raja dan keturunannya di pelbagai wilayah di Indonesia masih sangat dominan. Dominasi kekuasaan para raja itu dibaca dengan baik oleh elit semacam Susilo Bambang Yudhoyono yang mengumpulkan para raja Nusantara beberapa saat sebelum Pemilu legislatif. Pencalonan diri Sultan Hamengkubuwono sebagai presiden sampai saat ini adalah salah satu ancaman serius SBY pada perebutan kursi nomor satu pada Pemilihan Umum Presiden 2009.</p>
<p style="text-align:justify;">Penjelasan utama yang bisa diberikan adalah bahwa penguasaan sumber daya menjadikan para elit terlalu susah untuk ditumbangkan. Yang paling mungkin dilakukan adalah pergantian sistem. Tetapi kekuasaan akan tetap dan selalu berputar di lingkungan elit yang sebelumnya memang merupakan penguasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak aktivis yang menyesalkan capaian reformasi di mana para aktor kekuasaan Orde Baru kembali menjadi pemain-pemain utama dalam kancah politik nasional. Hampir tidak ada celah bagi kekuatan lain di luar kekuatan mantan pendukung Orde Baru yang sekarang bersaing memperebutkan kursi-kursi kekuasaan. Sejumlah mantan jenderal, yang pada masa Orde Baru merupakan pendukung utama jalannya kekuasaan tangan besi pemerintah, sekarang bersaing ketat memperebutkan posisi presiden dan wakil presiden. Tidak heran jika kemudian muncul sejumlah kesimpulan dengan nada menyesal bahwa reformasi bukan hanya mengembalikan kedaulatan rakyat, melainkan menciptakan arena bagi para mantan penguasa di masa Orde Baru untuk bersaing sendiri atas nama kedaulatan rakyat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, yang paling mungkin menjelaskan fenomena ini adalah pada penguasaan sumber daya yang begitu besar dan tak mampu ditandingi sedikitpun oleh kekuatan politik alternatif di luar gerbong Orde Baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaannya, dimana kekuatan reformasi yang dulu demikian gegap gempita menuntut perubahan? Amin Rais, yang disebut-sebut sebagai tokoh reformasi, tanpa tedeng aling-aling memberikan dukungan kepada Susilo Bambang Yudhoyono, salah satu jenderal Orde Baru. Amin Rais bahkan mendorong partainya, Partai Amanat Nasional (PAN), untuk bersekutu dengan partai besutan SBY, Demokrat. Anehnya, PAN adalah partai yang dilahirkan oleh para intelektual pro-reformasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tokoh gerakan pro-demokrasi di masa Orde Baru, KH Abdurrahman Wahid, tanpa sungkan memberi dukungan kepada Prabowo Subianto dan partai Gerindra. Prabowo Subianto adalah mantan jenderal yang disebut-sebut berada di balik aksi penculikan dan penghilangan para aktivis di akhir kekuasaan Orde Baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua fakta ini mengarah kepada satu kesimpulan bahwa Orde Baru telah kembali. Kekuatan itu tidak hanya dominan, melainkan juga begitu hegemonik. Rakyat seolah tidak diberi pilihan lain di luar kekuatan yang dulu menjadi penyangga utama kekuasaan Orde Baru. Ketidakberdayaan menghadapi kembalinya kekuatan Orde Baru bahkan memaksa kekuatan yang awalnya pro-demokrasi dan gerakan reformasi kini bahkan secara terang benderang tunduk di bawah sihir Orde Baru.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu kita harus terus berharap ada perubahan. Melihat realitas politik yang ada, tidak ada lain selain berharap kepada kekuatan-kekuatan yang dulu penyangga Orde Baru tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. Semoga orde yang akan datang adalah orde baru dalam pengertian yang sebenarnya, orde yang akan membawa pembaharuan.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[The True Position of Islam in Politics]]></title>
<link>http://saidiman.wordpress.com/2009/05/01/the-true-position-of-islam-in-politics/</link>
<pubDate>Fri, 01 May 2009 05:22:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>saidiman</dc:creator>
<guid>http://saidiman.wordpress.com/2009/05/01/the-true-position-of-islam-in-politics/</guid>
<description><![CDATA[The Jakarta Post, May 1, 2009 If quick count results by many survey institutes are accurate, General]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.thejakartapost.com/news/2009/05/01/the-true-position-islam-politics.html" target="_blank"><span style="color:#ff0000;">The Jakarta Post, May 1, 2009</span></a></p>
<p>If quick count results by many survey institutes are accurate, General Election 2009 will place the Islamic political parties as the second or third political parties in this country.</p>
<p>Based on the result of quick count, only two Islamic political parties can place their representative in parliament: Prosperous Justice Party (PKS) and United Development Party (PPP). The two parties’ votes have reduced while support for nationalist-secularist parties is increasing.<!--more--></p>
<p>This data shows us that the parties with nationalism-secularism ideology are still very dominant. The unthinkable is that this happened even though religious fundamentalism has increased in public sphere. At the same time, violent, radical actions have also become more familiar in many places.</p>
<p>The government and legislative councils have responded positively to the rise of fundamentalism, through law and bylaw like the anti-Pornography law. In several schools in the region, boys and girls are separated in classrooms, and given instructions to eat with their right hands, among other things.</p>
<p>More political elites now wear turbans. They also frequently schedule press conferences after Friday prayers. Many celebrities announce their wedding plans after returning from Mecca pilgrimage (hajj and umrah).</p>
<p>There is not problem in showing act of devotion or displaying religious symbols. The problem is that the public interest for religious practices is not only through personal rituals, but also thought the act of exclusion for the minority groups or others.</p>
<p>There is a lot of violence in the name of religion, like violence against Ahmadiyah. And the fanaticism not only comes from the ordinary people but also from the elites. The desire of political elite’s sectarian fanaticism is seen in their behavior to ignore the violence cases. There is not maximal response to the many violence cases. Only few political elites who tried to speak about the cases of violence against Ahmadiyah existence, Eden Community existence, Al-Qiyadah existence, etc. Ironically, the government made a response to this issues through the drawing up a regulation abandoning Ahmadiyah’s activities. The regulation has signed up by three ministries.</p>
<p>The others elites tried to exploit the violation to get public sympathy. Many leaders of Development and Unity Party (PPP) make political decision to break up Ahmadiyah community in Indonesia. The leader of Prosperous and Justice Party (PKS) repeatedly made statement that Ahmadiyah have been Muslim deviation. So, they must come back to pure Islam. Many PPP’s flag also hang up in the demonstration anti-Ahmadiyah just a moment before the Legislative Election 2009 done. The parties with the sectarian political agendas and try to exclude the minority groups like this should be prohibited in the democratic system. Unfortunately, until now there is not one political parties or member of parliament try to speak about the democratic violation have been done by PPP and PKS.</p>
<p>Yes, for a moment the President and the Vice President make a statement against what para-military troops of Islam Defender (LPI) did attacking a group who were celebrating the anniversary of Pancasila at the National Monument (Monas), June 1, 2008. But both of the national leaders never doing some serious decision to stop what Indonesia Ulema Council (MUI) who always make discriminative fatwas again and again. Some fatwas really challenge against our solidity in the United Nations of Indonesian Republic (NKRI). A lot of violence in the name of religion in Indonesia was done after MUI made fatwas like fatwas said that pluralism, liberalism, secularism, Ahmadiyah, Al-Qiyadah, Eden Community are deviation from Islamic faith. Most of the violence was done in the name of the fatwas. In many time, both national leaders was seen attended meeting held by MUI. Both Susilo Bambang Yudhoyono and Jusuf Kalla explicitly decided the council that built by the authoritarian regime (New Order) as a moral keeper. The government also regularly gives big fund from people tax to the council. Unfortunately, the council is a closed organization and very difficult to make openly transparency.</p>
<p>The main question is why most political elites do not have positively response to the voters behaviors whose still support the nationalist-secular parties? As if the nationalist-secular do not have capability to propose their ideological ideas. The incapability shows us the real power in this political arena is not the nationalist-secularist, but the Islamic ones. PKS and PPP are not the majority of the political force in the term of representative members in legislative. But, their ideology political agendas seem like very dominant. We can see in case of Pornography Regulation that got majority supporters in legislative. Only Indonesian Democratic Party of Struggle (PDIP) and Prosperous and Peace Party (PDS) have different opinion about the regulation.</p>
<p>That the nationalist-secular parties do not pay attention to their voters actions shows us that the parties failed in self reformation project. This is not good, because if they usually fail concluding the behavioral voters it is same as open for neglecting the people aspirations. Become more conservative and fundamentalist, when the people more rational, is a part of violations.</p>
<p><em>The Writer is the program officer of Jaringan Islam Liberal (JIL)</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Upaya Mendeligitimasi Pemilu]]></title>
<link>http://saidiman.wordpress.com/2009/04/20/harapan-dalam-pemilu-2009/</link>
<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 08:01:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>saidiman</dc:creator>
<guid>http://saidiman.wordpress.com/2009/04/20/harapan-dalam-pemilu-2009/</guid>
<description><![CDATA[Sinar Harapan, 25 April 2009 Pemilihan Umum Legislatif 2009 usai sudah. Meski menyisakan sejumlah pe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.sinarharapan.co.id/berita/0904/25/opi01.html" target="_blank">Sinar Harapan, 25 April 2009 </a></p>
<p>Pemilihan Umum Legislatif 2009 usai sudah. Meski menyisakan sejumlah persoalan, namun Pemilu kali ini memberi harapan besar bagi konsolidasi demokrasi di masa depan. Sejumlah fakta lapangan membuktikan bahwa proses demokratisasi benar-benar berjalan. Pemilu ini menunjukkan bahwa nalar berpolitik masyarakat Indonesia semakin berjalan baik.</p>
<p>Banyak kalangan menilai bahwa Pemilu kali ini menyimpan sejumlah masalah besar. Tak tanggung-tanggung Pemilu ini dianggap sebagai Pemilu terburuk pasca keruntuhan Orde Baru. Ada beberapa persoalan yang menjadi sorotan: daftar pemilih tetap (DPT) yang tidak tepat, kelambanan penghitungan suara, dan indikasi kecurangan di sejumlah tempat.<!--more--></p>
<p>Daftar pemilih tetap (DPT) mungkin adalah persoalan yang paling besar dalam Pemilu kali ini. Diperkirakan sekitar 10 juta warga wajib pilih tidak bisa menggunakan hak pilihnya karena persoalan administratif ini. Namun jika dibandingkan dengan Pemilu 2004, jumlah DPT 2009 justru bertambah 23.265.401 orang: dari 148.000.041 pada 2004 menjadi 171.265.442 orang pada 2009.</p>
<p>Namun begitu, persoalan daftar pemilih tidak serta merta harus terkait dengan buruknya penyelenggaraan Pemilu secara umum. Sebab pangkal persoalannya terletak pada pendataan kependudukan yang memang tidak ideal di negara ini. Daftar pemilih tetap sudah menjadi persoalan sejak Pemilu 1999 dan 2004. Persoalan data kependudukan juga santer terdengar ketika pemerintah membagikan dana bantuan langsung tunai (BLT) yang dianggap didasarkan kepada data penduduk miskin yang tidak akurat. Dengan demikian, kekacauan daftar pemilih tetap adalah rangkaian semata dari kekacauan data penduduk itu sendiri.</p>
<p>Kesadaran warga untuk menuntut hak memilih menjadi poin yang sangat penting. Aparat pendata bisa dengan cepat merespon tuntutan daftar pemilih tersebut. Kuat kemungkinan tuntutan warga inilah yang menyebabkan persoalan DPT tidak terlalu berpengaruh terhadap proses Pemilu secara umum. Hanya ada sejumlah kecil masyarakat yang mengemukakan ketidakpuasan terhadap DPT.Suara lantang muncul dari partai-partai (terutama partai-partai yang diprediksi oleh sejumlah lembaga survei tidak akan memperoleh suara di atas 2,5%), itupun lebih banyak dilakukan pasca Pemilu. Tampak bahwa DPT lebih banyak dipolitisir oleh kekuatan-kekuatan politik yang kecewa ketimbang fokus kepada persoalan itu sendiri secara objektif.</p>
<p>Kelambanan penghitungan suara dinilai keterlaluan oleh banyak orang, mengingat jaringan informasi yang semakin canggih yang digunakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sampai pada hari ke-delapan pasca pemungutan suara, KPU baru berhasil menghitung sekitar 7 juta suara. Pada titik ini memang tampak bahwa KPU harus lebih berbenah. Karena kelambanan rekapitulasi suara akan membuka peluang kepada praktik-praktik manipulasi dan ketidakpuasan masyarakat. Dalam hal ini, jaringan birokrasi pemerintah, secara umum, yang terlibat dalam proses Pemilu ini memang tampak masih sangat lamban. Ini persoalan besar yang seharusnya memang sudah bisa ditangani.</p>
<p>Indikasi kecurangan di sejumlah tempat, oleh sejumlah kekuatan politik, telah dijadikan alasan untuk menggugat Pemilu secara umum. Ini berlebihan, karena secara keseluruhan indikasi kecurangan itu justru sangat minim. Beberapa gugatan dari para kandidat bahkan tidak terbukti secara empiris. Di beberapa tempat lain kandidat menggugat panitia pemilihan hanya karena suaranya berkurang 4 suara ketika direkapitulasi di tingkat kecamatan. Selebihnya adalah gugatan karena ketidakpuasan yang tidak berdasar.</p>
<p>Minimnya kecurangan Pemilu kali ini bukan berarti semata-mata keberhasilan penyelenggara Pemilu, melainkan karena adanya mekanisme kontrol dari pengawas, pemantau, pers, partai, dan masyarakat itu sendiri. Dengan semakin terbukanya Pemilu, di mana setiap orang bisa melakukan pemantauan, baik langsung maupun tidak langsung, membuat upaya untuk melakukan kecurangan akan semakin sulit. Jaringan informasi media setiap detik menyiarkan hampir semua gerak gerik Pemilu. Betapa sulit melakukan kecurangan ketika semua orang melakukan kontrol.</p>
<p>Menganggap Pemilu 2009 sebagai Pemilu terburuk memiliki cacat berpikir yang cukup parah. Capaian fundamental dari Pemilu 2009 adalah mekanisme memilih calon dengan sistem suara terbanyak. Sistem ini telah memberi peluang bagi masyarakat untuk tidak lagi melakukan praktik politik membeli kucing dalam karung. Semua pemilih berhak menentukan calon wakilnya sendiri secara langsung. Tentu saja masih ada kendala dalam hal sosialisasi, sehingga banyak keluhan bahwa para pemilih masih kebingungan menentukan pilihan karena minimnya informasi yang mereka terima mengenai para calon legislatif tersebut. Tetapi sistem ini telah membuka peluang bagi perbaikan kualitas Pemilu.</p>
<p>Kualitas sistem yang berbeda inilah yang tidak memungkin Pemilu 2009 dibandingkan dengan Pemilu-pemilu sebelumnya. Ketiga Pemilu di masa demokrasi ini adalah incomparable (tidak bisa dibandingkan) incommensurable (tidak sepadan) karena memang sesuatu yang berbeda. Kekacauan proses pemungutan suara terjadi justru karena adanya mekanisme yang berbeda. Masyarakat Indonesia tampak selalu belajar dari pengalaman.</p>
<p>Indikasi bahwa Pemilu 2009 akan menyulut kerusuhan sosial tidak terbukti. Memang ada beberapa wilayah yang agak tegang, seperti di Papua, tetapi itu bukan karena kekacauan penyelenggaraan Pemilu. Bom yang meledak di Papua terjadi justru pada saat pemilihan. Dengan mudah diketahui bahwa kekacauan di Papua dilakukan oleh pihak yang secara sadar menginginkan kekacauan, bukan karena ketidakpuasan terhadap penyelenggaraan Pemilu. Sikap tegas aparat kepolisian dengan mengirimkan tambahan personil ke Papua adalah upaya nyata untuk meredam gejolak sosial tersebut. Di Madura, Maluku, Sulawesi Tenggara, dan Jawa Timur, aparat kepolisian tidak segan-segan meringkus calon legislatif yang mencoba mengganggu jalannya penghitungan suara. Sikap tegas aparat yang tidak pandang bulu ini adalah harapan besar bahwa proses Pemilu ini berjalan relatif aman.</p>
<p>Dengan demikian, sejumlah kalangan yang mencoba mendeligitimasi Pemilu 2009 tampak akan sia-sia. Betapapun Pemilu 2009 masih memiliki cacat, tetapi ini adalah rangkaian proses konsolidasi demokrasi yang patut dihormati.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Feeling Too Down to Rise Up]]></title>
<link>http://rikowski.wordpress.com/2009/03/30/feeling-too-down-to-rise-up/</link>
<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 07:05:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>rikowski</dc:creator>
<guid>http://rikowski.wordpress.com/2009/03/30/feeling-too-down-to-rise-up/</guid>
<description><![CDATA[Feeling Too Down to Rise Up   http://www.nytimes.com/2009/03/29/opinion/29venkatesh.html The New Yor]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:Verdana;"><strong><span style="font-size:18pt;color:red;">Feeling Too Down to Rise Up</span></strong><strong><span style="font-size:18pt;"></span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:9pt;color:black;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="color:#ccffcc;"><a href="http://www.nytimes.com/2009/03/29/opinion/29venkatesh.html"><span style="color:#ccffcc;"><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">http://www.nytimes.com/2009/03/29/opinion/29venkatesh.html</span></span></a><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="color:#ccffcc;"><br />
<span style="font-size:small;"><span style="font-family:Verdana;"><em>The New York Times</em>, 28<sup>th</sup> March 2009</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ccffcc;"><span style="font-size:small;font-family:Verdana;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:14pt;color:#ccffcc;"><span style="font-family:Verdana;">Feeling Too Down to Rise Up</span></span></strong><span style="font-size:14pt;color:#ccffcc;"><br />
<span style="font-family:Verdana;">By SUDHIR VENKATESH</span></span><span style="color:#ccffcc;"></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">IN Chicago, during the summer of 1992, I watched a rally explode into a riot. Unruly public housing tenants were protesting high prices at local grocery stores. A request to speak with a manager turned into shouts and screams when the proprietor was spotted scurrying out the back door. In minutes, bottles flew overhead, gangs began shooting indiscriminately, people shouted for the heads of the management, and mothers scrambled to shelter infants from flying glass and bullets. In the eyes of the rioters, I could see both anger and euphoria.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">These days, we are hearing a lot about “populist rage,” but so far no riots have broken out in front of the Treasury Department or the A.I.G. headquarters. The pundits assure us that Americans are furious, disgusted, mad as hell, but cabinet officials and chief executives haven’t been confronted by throngs of angry citizens. In fact, the only mass disturbance to make news lately was at an “America’s Next Top Model” audition, where three people were arrested on charges of “inciting a riot” — the cause of that uprising, for the record, was not the financial crisis.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">The texture of discontent (or lack thereof) can say a lot about a nation, and that Americans today are less likely to rebel may not be an entirely positive sign.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">It certainly doesn’t mean we have more love, patience or tolerance for one another. Indeed, it may mean just the opposite, that we tend not to trust one another and that we are more alienated from our neighbors than ever before. The lack of direct action could signal the weakening of a social contract that keeps people meaningfully invested in the fate of our country — which may, in turn, be hindering our ability to resolve this crisis.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">Before blogs and radio call-in shows, people joined forces and turned to the streets as their most effective means of expression; a unified, angry crowd was often sufficient to win concessions from employers and governments. And so most rebellions of the 20th century were over bread-and-butter issues like unsafe work conditions, wages and high prices for basic commodities. Even “race riots” were usually motivated by competition between ethnic groups over access to jobs and housing subsidies.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">But some outbreaks of lawlessness were also indicators of strong, shared sentiments and were driven by a sense of higher purpose. For example, in 1919 Chicago, black soldiers returned home from World War I to find segregated ghettos, white-dominated unions and racist government practices. Many joined their neighbors who battled white youth and police officers in the streets. They had fought an enemy overseas; now it was their moral duty to fight injustice at home.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">Today widespread anger and collective passivity exist side by side. To explain this seeming contradiction, we might look for clues — as so many are doing — in 1930s America. Then, as now, the citizenry reacted angrily to high unemployment, mass layoffs and a crippled banking system.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">But it was only several years after the stock market crash that large-scale protests, bread riots and street rebellions began to occur in small towns and big cities. That’s the most pertinent lesson of the Great Depression: people waited, with relative patience, for years for some government response before anyone looted a grocery store or fought off police officers who were evicting families. So it’s possible that if our economic hardships endure, civil unrest could follow.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">But if American anger remains corralled on the Internet, into e-mail messages to Congress and in sporadic small-group protests, it is unlikely that the Obama administration will do much to assuage the anger of taxpayers. Administration officials certainly don’t seem concerned that rage will heat up and overflow; after all, anticipating unrest would mean a broad and intensive campaign to shore up housing, food and welfare safety nets. The proposed budget contains a few such line items, but a comprehensive, coordinated program to prevent violence and defuse anger would need sustained commitments from mayors, service providers and civic leaders.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">Perhaps the lack of concern is warranted, as several factors make widespread revolt less likely today. Our cities are no longer dense, overcrowded industrial centers where unionized laborers and disgruntled strikers might take a public stand. Concentrated inner-city poverty has declined, too, so don’t expect 1960s-style ghetto unrest.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">Our urban centers are instead corporate hubs and the victims of this recession include hundreds of thousands of white-collar workers. For obvious reasons, these folks tend not to have the particular sense of grievance — that a select few are receiving preferential treatment, that they’re on the losing end of a rigged game — that usually sets off a conflagration.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">And in today’s cities, even when we share intimate spaces, we tend to be quite distant from one another. Mass disturbances are not highly orchestrated ballets. They require spontaneous interaction, a call and response among unidentified cries of rage, the possibility for a unified mass to form from a gathering of loosely connected individuals.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">But these days, technology separates us and makes more of our communication indirect, impersonal and emotionally flat. With headsets on and our hands busily texting, we are less aware of one another’s behavior in public space. Count the number of people with cellphones and personal entertainment devices when you walk down a street. Self-involved bloggers, readers of niche news, all of us listening to our personal playlists: we narrowly miss each other. Effective rebellions require that we sing in unison.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">We may also have anger fatigue. Each day brings more layoffs and more news of taxpayer-financed corporate office renovations. Add to this the Iraq war, which is six years old this month, and a national debt that will likely rise by trillions. Such reports provoke fury but after some time, even the righteously indignant can tire and accept the outrageous as status quo.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">Ultimately, however, what could keep the lid on unrest is the very issue that has pushed us toward the cliff: our high levels of personal and household debt. The average American owes about $9,000 on credit cards alone. Indebtedness redirects an individual’s energies inward: failing to pay the mortgage and college tuition can bring up feelings of anxiety, shame and a sense of personal failure.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">It’s easy to feel that one isn’t working hard enough, that one should try harder to save money or take on additional work. To rebel publicly, even to engage politically, would mean exposing your own inadequacies, so most people just hunker down and keep plugging away at those monthly payments.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">As our shame grows, we shutter ourselves inside. Afraid of acknowledging our anger and unable to join those similarly suffering, we grow distant. Worse, we judge quickly and harshly the actions of others; we devolve into snark, which will never lead to meaningful change.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">To restore our social bonds, each one of us must overcome our isolating feelings of embarrassment and humiliation and understand that this is a shared plight. We’ll also have to accept that anger, real anger, has a role to play in producing collective catharsis and fostering healing.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><span style="font-size:small;font-family:Verdana;">Fury, after all, can manifest itself in more productive ways than urban rioting or cable-TV ranting. Fury can inspire real protest, nonviolent civil disobedience, even good old-fashioned, town-hall meetings. That’s how we’ll recover our public life and perhaps help one another through this crisis — storming angrily into the streets and then, once we’re out there, actually talking to one another.</span><span style="display:none;"><br />
</span></p>
<p><em><br />
<span style="font-size:small;font-family:Verdana;">Sudhir Venkatesh, a professor of sociology at Columbia, is the author of “Gang Leader for a Day: A Rogue Sociologist Takes to the Streets.</span><span style="display:none;"><br />
</span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Verdana;">”</span></span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="color:#ccffcc;"><span style="font-size:small;font-family:Verdana;"> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ccffcc;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Verdana;">Imported from BlueGreenEarth / ESEI, at: <strong><a href="http://www.myspace.com/socialecologyinstituteeu"><span style="color:#ccffcc;">http://www.myspace.com/socialecologyinstituteeu</span></a> </strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ccffcc;"><span style="font-size:small;font-family:Verdana;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><em><span style="color:#ccffcc;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Verdana;">Posted here by Glenn Rikowski</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ccffcc;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Verdana;">The Flow of Ideas: <strong><a href="http://www.flowideas.co.uk/"><span style="color:#ccffcc;">http://www.flowideas.co.uk</span></a></strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="color:#ccffcc;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Verdana;">MySpace Profile:<strong> <a href="http://www.myspace.com/glennrikowski"><span style="color:#ccffcc;">http://www.myspace.com/glennrikowski</span></a> </strong><span> </span></span></span></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Internet, Plagiarisme dan Pelajar]]></title>
<link>http://uniti.wordpress.com/2009/03/25/internet-plagiarisme-dan-pelajar/</link>
<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 22:04:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>cikgubad</dc:creator>
<guid>http://uniti.wordpress.com/2009/03/25/internet-plagiarisme-dan-pelajar/</guid>
<description><![CDATA[Ditulis oleh : cikgubad Ketika ini pelajar-pelajar saya sedang bertungkus lumus mempersiapkan bahan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal">Ditulis oleh : cikgubad</p>
<p class="MsoNormal">Ketika ini pelajar-pelajar saya sedang bertungkus lumus mempersiapkan bahan untuk pembentangan tugasan atau kajian mini Pengajian Malaysia. Setelah kira-kira 2 bulan lebih soalan diberi, masanya hampir tiba untuk saya melihat hasilnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Walaubagaimanapun sepanjang masa ini,<span> </span>hanya beberapa kerat sahaja kumpulan pelajar yang menemui saya untuk berbincang mengenai tajuk tugasan mereka. Saya mengharapkan lebih ramai lagi yang mencari suluhan atau petunjuk tentang proses memula, mencari dan menyudahkan tugasan kursus yang berat ini. Tapi ini tidak berlaku sebagaimana diharapkan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Yang berjumpa saya pula dengan kerenah dan ragam masing-masing. Misalnya ada yang merungut &#8216;&#8230;tajuknya tidak ada dalam internet cikgu.&#8217; Jelas nada kehampaan mereka kerana setelah lama meng&#8217;<em>goggle</em>&#8216; bahan-bahan internet masih juga gagal ditemui. Internet seperti &#8216;tidak mesra-pelajar&#8217; yang begitu beria-ia ini.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Kelihatannya internet telah manjadi sumber primer untuk pelajar mendapatkan maklumat dan data kajian. Buku atau artikel majalah ilmiah tidak lagi menjadi rujukan utama.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh internet dalam kehidupan pelajar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Namun &#8211; di samping kebaikan kecanggihan ICT &#8211; saya tetap runsing kerana &#8211; sejak bertahun lalu &#8211; bahan internet telah diambil secara tidak bertanggungjawab hingga berlaku fenomena penciplakan atau dalam bahasa akademik disebut <em>plagiarisme</em>.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Budaya negatif ini telah disinggung oleh<span> </span>Ketua Pengarah Jabatan Pengajian Tinggi Datuk Dr Radin Umar Radin Sohadi ketika berucap pada majlis perasmian 1 Megalab, di Perpustakaan Universiti Malaysia Sabah (UMS), Likas pada 23 Mac 2009.</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal">&#8220;Beliau berkata penggunaan komputer dan internet untuk mendapatkan maklumat yang diperlukan telah mencetuskan budaya kerja &#8220;<em>cut and paste</em>&#8221; dan sehingga mengabaikan proses penyelidikan untuk maju ke hadapan.&#8221;</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">Namun malangnya pelajar tidak menyedari bahawa perbuatan &#8216;<em>cut and paste&#8217;</em> adalah satu jenayah akademik. Mereka tidak tahu ia adalah plagiat &#8211; suatu kesalahan akademik yang serius.</p>
<p class="MsoNormal">Besarnya kesalahan memplagiat digambarkan oleh laporan BERNAMA berikut yang bertajuk ’Ijazah Pelajar UM dilucut Akibat Ciplak Tesis’, bertarikh 20 Jun 2007:</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Pengarah Perhubungan Korporat dan Antarabangsa Universiti Malaya (UM) Profesor Madya Khoo Boo Teong berkata setiap universiti mempunyai perlembangaan sendiri untuk melucutkan kelayakan mana-mana pelajar yang didapati menipu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">&#8220;Di Universiti Malaya kita ada Seksyen 56, Perlembagaan Universiti Malaya untuk menghadapi sebarang kes plagiat, meniru dan penipuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">&#8220;Hari Isnin lepas, kita baru mengeluarkan notis pelucutan di akhbar tempatan terhadap seorang pelajar dari Fakulti Pengajian Melayu,&#8221; katanya ketika dihubungi Bernama, hari ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Beliau menjelaskan bahawa pelajar itu dilucutkan ijazah Sarjana Pengajian Bahasa Melayu yang dianugerahkan pada Istiadat Konvokesyen UM pada 4 Ogos 2004 kerana plagiat dalam penulisan tesis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&#34;color:black;" lang="EN-US">Khoo berkata melalui pengalamannya kebanyakan kes penipuan dikenal pasti oleh pihak ketiga yang menggunakan kajian terdahulu sebagai rujukan.</span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">Kita perlu fahami maksud plagiat secara akademik. Menurut Faculty Council Indiana University plagiarisma ialah :</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal">“…as presenting someone else’s work, including the work of other students as one’s own. Any ideas or materials taken from another source for either written or oral use must be fully acknowledged, unless the information is common knowledge. What is considered “common knowledge may differ from course to course.”</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">Menginsafi fenomena yang tidak sihat ini, Andrew Keen dalam bukunya ‘The Cult of Amateur: How Today’s Internet is Killing Our Culture and Assaulting Our Economy’ menyatakan :</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal">“The fact is that co-opting other people’s creative work – from music file sharing, to downloading movies and videos, to passing off others’ writing as one’s own – is not only illegal, in most cases, but immoral. Yet the widespread acceptance of such behaviour threatens to undermine a society that has been built on hard work, innovation, and the intelectual achievement of our writers, scientists, artists, composers, musicians, journalists, pundits and moviemakers.”</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">Mengenai amalan plagiarisme melalui bahan-bahan di internet, dalam satu kajian ke atas 50,000 siswa oleh Center for Academic Integrity pada Jun 2005 di kalangan mahasiswa di Amerika Syarikat mendapati :</p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal">“.. 70% of college students admitted to engaging in some form of cheating; worse still, 77% of college students didn’t think that Internet plagiarism was a “serious” issue. This disturbing finding gets at a grave problem in terms of Internet and culture : The digital revolution is creating a generation of cut-and-paste burglars who view all content on the Internet as common property.”</p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">Fenomena ini tidak mustahil juga sedang merebak di kalangan mahasiswa di negara kita. Ia berlaku sama ada disengajakan atau secara tidak sengaja.</p>
<p class="MsoNormal">Ada beberapa sebab mengapa fenomena plagiat terjadi.</p>
<p class="MsoNormal">Pertama, pelajar sendiri tidak didedahkan dengan kemahiran mencari maklumat atau membuat &#8216;kajian kepustakaan&#8217;. Sepanjang pengetahuan saya kursus Penulisan Ilmiah memang tiada dalam senarai kursus wajib kolej yang perlu ditawarkan kepada pelajar. Kursus ini sebagaimana kursus pengajian umum sepatutnya diajar merentasi program atau kurikulum. Ia memberikan kemahiran menyelidik dan melatih minda menjadi objektif, kritis dalam mencari fakta dan akhirnya menemukan kebenaran perkara yang dikaji. Kualiti ini jarang ditekankan dalam program akademik.</p>
<p class="MsoNormal">Kedua, &#8216;<em>cut and paste</em>&#8216; adalah kaedah mudah dan cepat untuk menyelesaikan tugasan. Asalkan dapat bahan yang difikirkan sesuai, salin sahaja bulat-bulat dan adunkan dengan bahan-bahan lain maka siaplah tugasan. Mudahkan begitu!</p>
<p class="MsoNormal">Ketiga, pelajar memplagiat kerana kesuntukan masa dan bersikap ambil mudah (<em>take things for granted</em>).</p>
<p class="MsoNormal">Namun hakikat sebenar ialah sikap (<em>attitude</em>) pelajar terhadap budaya ilmu itu sendiri. Mereka melakukan semua aktiviti akademik asalkan siap dan tidak mempunyai sasaran pencapaian yang tinggi dan berkualiti.</p>
<p class="MsoNormal">Mereka turut beranggapan kerja plagiat ini tidak akan dapat dikesan pensyarah. Namun anggapan ini ternyata silap kerana pensyarah masih boleh mengesan ciri-ciri tulisan yang diplagiat pelajar. Bak kata pepatah ‘ibarat sekilas ikan di air, dah tau jantan betinanya’.</p>
<p class="MsoNormal">Kepada pelajar saya anda harus banyak belajar lagi untuk menghasilkan satu naskah akademik. Ia suatu yang sukar tetapi tidak pula mustahil. Asalkan &#8216;di mana ada kemahuan di situ ada jalan&#8217;.</p>
<p class="MsoNormal">Sikap yang anda tunjukkan sekarang tidak akan banyak membantu. Ini kerana ilmu tidak akan dikuasai tanpa didahului kerja kuat, penelitian, penekunan, kesabaran dan pengorbanan.</p>
<p class="MsoNormal">Seperkara lagi ialah pra-syarat paling asas iaitu dengan mempunyai sikap yang betul. Bagi sesetengah mazhab perubahan, ia adalah penentu kepada setiap perubahan.</p>
<p class="MsoNormal">Maka, sebagai pelajar bukankah ini tanggungjawab yang anda perlu laksanakan!</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Internet, Plagiarisme dan Pelajar]]></title>
<link>http://cikgubad.wordpress.com/2009/03/25/internet-plagiarisme-dan-pelajar/</link>
<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 10:04:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>cikgubad</dc:creator>
<guid>http://cikgubad.wordpress.com/2009/03/25/internet-plagiarisme-dan-pelajar/</guid>
<description><![CDATA[Ketika ini pelajar-pelajar saya sedang bertungkus lumus mempersiapkan bahan untuk pembentangan tugas]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ketika ini pelajar-pelajar saya sedang bertungkus lumus mempersiapkan bahan untuk pembentangan tugas]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Demokrasi Indonesia - Riwayatmu Kini]]></title>
<link>http://rickyhariady.wordpress.com/2009/02/05/demokrasi-indonesia-riwayatmu-kini/</link>
<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 03:52:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ricky Hariady</dc:creator>
<guid>http://rickyhariady.wordpress.com/2009/02/05/demokrasi-indonesia-riwayatmu-kini/</guid>
<description><![CDATA[Ada 3 jenis pemerintahan didunia menurut pemikiran Machiavelli : Monarki, Aristokrasi, dan Demokrasi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ada 3 jenis pemerintahan didunia menurut pemikiran Machiavelli : Monarki, Aristokrasi, dan Demokrasi]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[KEMPEN : SATU MALAYSIA SATU SUARA]]></title>
<link>http://cikgupa.wordpress.com/2009/02/04/kempen-satu-malaysia-satu-suara/</link>
<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 03:45:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Cikgu Awang</dc:creator>
<guid>http://cikgupa.wordpress.com/2009/02/04/kempen-satu-malaysia-satu-suara/</guid>
<description><![CDATA[Kementerian lancar kempen Satu Malaysia Satu Suara KEMENTERIAN Pelajaran melancarkan kempen Satu Mal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Kementerian lancar kempen Satu Malaysia Satu Suara</p>
<p>KEMENTERIAN Pelajaran melancarkan kempen Satu Malaysia Satu Suara sebagai saluran bagi warga pendidikan terutama pelajar di seluruh negara menunjukkan keprihatinan terhadap penderitaan rakyat Palestin akibat pencerobohan Israel di Semenanjung Gaza. </p>
<p>Ketua Pengarah Pelajaran, Datuk Alimuddin Mohd Dom, berkata lima kegiatan dilaksanakan sebagai pengisian sepanjang kempen yang bermula dari 20 Januari hingga 20 Februari ini. </p>
<p>Katanya, aktiviti itu ialah pertandingan mewarna dan melukis poster, menulis esei, puisi dan deklamasi sajak, menulis surat kepada pemimpin dunia, menganjurkan seminar, forum, ceramah dan dialog serta pengisian Tabung Kemanusiaan Rakyat Palestin Kementerian Pelajaran.<br />
Katanya, kempen yang dilaksana serentak di peringkat sekolah itu bukan saja menggalakkan pelajar meluahkan rasa simpati dan memberi kata-kata motivasi kepada mangsa kekejaman Israel di Palestin malah mengingatkan mereka supaya bersyukur dengan keamanan dinikmati negara. </p>
<p>“Pelajar digalak melukis poster bertema anti keganasan dan anti peperangan bagi melahirkan rasa simpati serta meluahkan suara hati mereka mengenai kekejaman dan ketidakadilan yang berlaku di Semenanjung Gaza menerusi esei serta sajak. </p>
<p>“Mereka juga diminta menulis surat kepada pemimpin dunia supaya menghentikan keganasan demi masa depan kanak-kanak dan karya berkenaan akan diserahkan kepada Wisma Putra sebelum dihantar kepada pihak terbabit.<br />
“Saya bagi pihak kementerian memohon supaya kita bersama-sama dengan pelajar menerusi kempen ini menyuarakan suara hati mengenai keamanan dan keharmonian dunia serta menghulur bantuan kepada rakyat Palestin,” katanya dalam kenyataan media, baru-baru ini. </p>
<p>Sementara itu, Alimuddin berkata, hasil kutipan Tabung Kemanusiaan Rakyat Palestin Kementerian Pelajaran peringkat Kementerian, Institut Pendidikan Guru dan Matrikulasi perlu diserahkan kepada Bahagian Pengurusan Sekolah Harian. </p>
<p>“Kutipan derma peringkat sekolah pula dihantar ke Pejabat Pelajaran Daerah sebelum dihantar kepada Jabatan Pelajaran Negeri yang akan menyerahkannya kepada Bahagian Pengurusan Sekolah Harian,” katanya. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Contoh Karangan Pelajar : Isu Pengangkutan Awam]]></title>
<link>http://mindabahasa.wordpress.com/2009/01/24/contoh-karangan-isu-pengangkutan-awam/</link>
<pubDate>Sat, 24 Jan 2009 04:36:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>mindabahasa</dc:creator>
<guid>http://mindabahasa.wordpress.com/2009/01/24/contoh-karangan-isu-pengangkutan-awam/</guid>
<description><![CDATA[Rangkaian pengangkutan awam di negara kita meliputi pengangkutan bas, teksi, Sistem Transit Tren Rin]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Rangkaian pengangkutan awam di negara kita meliputi pengangkutan bas, teksi, Sistem Transit Tren Ringan (LRT) dan monorel. Memang sudah ada banyak usaha yang dilakukan untuk menyatukan semua perkhidmatan ini tetapi kejayaannya masih jauh lagi. Oleh itu, pelbagai kemelut yang melanda sistem pengangkutan awam negara kita harus difahami untuk menangani masalah yang sudah berlanjutan agak lama ini.</p>
<p>Sudah pasti dilema utama yang dihadapi oleh masyarakat terhadap sistem pengangkutan awam kita ialah harganya yang mahal. Kadar tambang terutama teksi dan LRT dianggap oleh masyarakat sebagai agak mahal untuk mereka gunakan dengan kerap sistem pengangkutan itu. Kadaan ini menyebabkan jumlah pengguna pengangkutan awam terutama LRT agak kurang dan tidak menyeluruh seperti mereka hanya menggunakan pengangkutan awam hanya untuk ke pejabat sahaja. Jadi, kemelut utama ini harus diselesaikan oleh kerajaan jika mereka mahu melihat rakyat negara ini berduyun-duyun menggunakan LRT.</p>
<p>Selain itu, kemelut pengangkutan awam ini turut dikaitkan sistem pengangkutan awam yang tidak cekap. Masyarakat menganggap sistem pengangkutan awam terutama bas tidak boleh diharap terutama jadual perjalanannya yang menyebabkan masyarakat sukar untuk merancang dan menjangka tempoh perjalanan yang bakal mereka hadapi. Masalah penjagaan bas, LRT dan teksi turut dikatakan termasuk dalam kategori ini kerana penyelenggaraan yang tidak menyeluruh. Oleh itu, masyarakat bukan sahaja menyampah melihat kegagalan pengangkutan awam mematuhi jadualnya tetapi juga kegagalan mereka untuk menjaga tahap kualiti perkhidmatan pengangkutan awam mereka.</p>
<p>Kalau anda sering menggunakan pengangkutan awam sudah pasti anda akan menghadapi masalah untuk menukar sistem pengangkutan. Contohnya, antara monorel dengan LRT atau antara bas dengan monorel. Keadaan ini menyebabkan penjalanan penumpang terganggu kerana terpaksa beratur untuk membeli tiket sebelum menaiki pengangkutan awam yang lain pula.<br />
Dalam era globalisasi yang mengutamakan kepantasan, sudah pasti keadaan ini dianggap merumitkan kehidupan masyarakat. Maka, satu sistem tiket yang bersepadu harus dihasilkan oleh kerajaan dengan segera sebelum kemelut ini menjadi semakin rumit untuk diselesaikan.<br />
Malah, pengangkutan awam turut terjejas akibat tindakan segelintir pekerja mereka seperti pemandu teksi dan pemandu bas yang tidak sopan ketika memandu. Sering kali masyarakat mengadu kerakusan pemandu pengangkutan awam di jalan raya yang dibuktikan oleh meningkatkan kemalangan yang melibatkan pengangkutan awam ini. Sikap tidak prihatin mereka ini telah memberi satu imej negatif kepada semua pekerja yang bekerja dalam sistem pengangkutan awam negara. Sesungguhnya, semua pekerja pengangkutan awam harus diberi satu kursus untuk memastikan mereka lebih mesra pelanggan dan bukannya dibenci oleh pelanggan.<br />
Kesimpulannya, masalah pengangkutan awam ini memang banyak tetapi rumit untuk diselesaikan. Ketika masyarakat semakin gusar dengan mutu perkhidmatan pengangkutan awam, pihak kerajaan harus membuat tindakan drastik menangani isu ini. Mungkin sudah sampai masanya kerajaan bertindak tegas bagi mengatasi kemelut ini.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Contoh Karangan Pelajar : Kewajaran Larangan Penggunaan Telefon Bimbit di Sekolah]]></title>
<link>http://mindabahasa.wordpress.com/2009/01/23/esei-kewajaran-larangan-penggunaan-telefon-bimbit-di-sekolah/</link>
<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 21:54:09 +0000</pubDate>
<dc:creator>mindabahasa</dc:creator>
<guid>http://mindabahasa.wordpress.com/2009/01/23/esei-kewajaran-larangan-penggunaan-telefon-bimbit-di-sekolah/</guid>
<description><![CDATA[Teknologi yang canggih telah membantu manusia untuk melaksanakan pelbagai urusan dan menjadikan nega]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Teknologi yang canggih telah membantu manusia untuk melaksanakan pelbagai  urusan dan menjadikan negara kita  semakin maju. Ringkasnya, peralatan teknologi yang canggih dapat membantu manusia membuat sesuatu kerja yang tidak termampu dilakukan oleh manusia. Sehubungan itu, pelbagai alat teknologi seperti komputer, telefon bimbit, satelit dan sebagainya telah dicipta dari semasa ke semasa untuk kemudahan kita.</p>
<p>Antara alat  canggih yang telah dicipta oleh manusia, telefon bimbitlah yang paling biasa digunakan. Dengan adanya telefon bimbit, kita dapat menghubungi sesiapa sahaja walau di mana-mana pun hatta berada di tempat yang sangat jauh. Selain itu, pengendali telefon bimbit juga memperkenalkan perkhidmatan mesej pendek. Oleh itu, kita dapat menghantar berita dengan telefon bimbit, bukan lagi menggunakan  perkhidmatan pos yang lambat dan berkos tinggi. Perkhidmatan ini lebih menjimatkan masa dan wang. Oleh itu, banyak orang menggunakan telefon untuk perkhidmatan ini. Selain itu, kamera serta pemain muzik juga telah dipasangkan pada telefon bimbit. Telefon bimbit juga semakin canggih hingga boleh melayari laman web dan juga menggunakan perkhidmatan 3G.</p>
<p>Kebanyakan ibu bapa membeli telefon bimbit untuk anak-anak mereka kerana mudah dihubungi. Oleh itu, kita dapat melihat banyak murid yang mempunyai telefon bimbit termasuklah murid-murid sekolah rendah. Setelah mempunyai telefon bimbit, mereka dapat membuat apa-apa sahaja serta dapat pergi ke mana-mana sahaja kerana dengan kemudahan telefon bimbit, mudah sahaja hendak menghubungi mereka. Sebagai akibatnya, banyak murid akan membawa telefon bimbit ke sekolah walaupun tidak dibenarkan.</p>
<p>Langkah kerajaan melarang penggunaan telefon bimbit dalam kalangan pelajar di sekolah memang tepat. Apabila pelajar membawa telefon bimbit ke sekolah, mereka akan mengakibatkan banyak masalah disiplin. Mereka akan menunjuk-nunjukkan telefon yang dibelikan oleh ibu bapa mereka. Maka, sikap materialistik wujud dalam diri  pelajar yang masih berusia muda itu. Pelajar yang tidak mempunyai telefon bimbit juga akan berasa tersisih kerana tidak ada teman berbual seperti kawan lain yang mempunyai telefon bimbit. Mereka berasa rendah diri dan tidak puas hati dan akhirnya mereka mungkin mencuri telefon bimbit orang lain. Kesannya, pihak sekolah pula terpaksa menguruskan kes kecurian sehingga menyebabkan proses pembelajaran terganggu. Soalnya, adakah patut kita membebankan guru dengan beban baharu, iaitu menjadi  pegawai penyiasat kecurian telefon bimbit?</p>
<p>Selain itu, pelajar tidak dapat menumpukan perhatian semasa guru sedang mengajar kerana mereka akan bermain dengan telefon bimbit. Seterusnya, apabila terdapat deringan telefon bimbit, proses pembelajaran dan pengajaran akan mengalami gangguan. Semasa ujian, pelajar juga boleh menggunakan telefon bimbit untuk menghantar mesej berbentuk jawapan kepada rakan yang lain. Perkara ini adalah amat tidak berakhlak dan tidak adil terhadap pelajar lain.  	Dengan telefon bimbit yang canggih, mereka dapat mengambil gambar serta mendengar lagu kegemaran mereka. Gejala seperti ini tidak patut berlaku di sesebuah sekolah. Selain itu, dengan menggunakan telefon bimbit, pelajar-pelajar dapat memuat turun gambar-gambar atau  klip-klip video yang tidak senonoh. Mereka akan berkongsi gambar atau  klip video tersebut dengan rakan. Maka, pelajar akan mudah tepengaruh dengan gejala tidak sihat.</p>
<p>Mengikut kajian, telefon bimbit akan mengeluarkan sejenis gelombang bunyi yang akan menjejaskan kesihatan. Tambahan pula, kini para pelajar masih dalam proses tumbesaran. Telefon bimbit tidak sesuai digunakan oleh murid-murid  yang berusia muda kerana akan menjejaskan kesihatan mereka. Hakikat ini haruslah diberikan perhatian oleh setiap pihak. Mencegah itu lebih daripada merawat. Janganlah apabila kesihatan sudah terjejas, pihak lain pula dipersalahkan sedangkan mereka sudah diingatkan berkali-kali tentang kesan gelombang telefon itu.</p>
<p>Tuntasnya, langkah kerajaan melarang penggunaan telefon bimbit dalam kalangan pelajar di sekolah sememangnya merupakan langkah yang bijak. Melalui perbincangan saya di atas, kita dapat mengetahui impak penggunaan sebuah alat yang canggih ini terhadap para pelajar. Bagi mengelakkan perkara-perkara tersebut berlaku, adalah lebih baik para pelajar menggunakan telefon bimbit apabila dewasa nanti kerana telefon bimbit memerlukan kos penggunaan yang tinggi.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kontra-Terorisme Raja Abdullah]]></title>
<link>http://saidiman.wordpress.com/2009/01/23/kontra-terorisme-raja-abdullah/</link>
<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 07:09:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>saidiman</dc:creator>
<guid>http://saidiman.wordpress.com/2009/01/23/kontra-terorisme-raja-abdullah/</guid>
<description><![CDATA[Sinar Harapan, 28 Januari 2008 Himbauan Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz bin Saud, untuk mem]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><a href="http://sinarharapan.co.id/berita/0901/28/opi01.html" target="_blank">Sinar Harapan, 28 Januari 2008</a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Himbauan Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz bin Saud, untuk memerangi terorisme dan diskriminasi agama patut diberi apresiasi. Pada pertemuan antar-iman Perserikatan Bangsa-bangsa, 13 November 2008, Raja Abdullah menyatakan bahwa terorisme adalah musuh semua agama, oleh karena itu semua pihak harus mengumandangkan perang terhadapnya dan menyebarkan toleransi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="FI">Pernyataan ini sangat penting karena keluar dari penguasa sebuah negara yang hampir identik dengan ideologi garis keras yang sekarang menjadi inspirasi hampir semua kelompok garis keras di seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, secara sistematis Kerajaan Arab Saudi mengekspor idelogi Wahhabi ke seluruh dunia melalui pendidikan dan gerakan sosial lainnya. </span><span lang="SV">Dukungan dana yang seolah tanpa batas menyebabkan ideologi ini berkembang pesat. Di Indonesia, mula-mula ia muncul dalam gerakan salafi yang bergerak secara kultural dengan menggunakan kata kunci <em>dakwah</em>. Tetapi di akhir tahun 1990-an, gerakan dakwah ini mulai muncul dalam bentuk yang lebih politis bahkan secara langsung berani menantang otoritas negara dengan gerakan-gerakan destruktif berupa penyerbuan dan perang di sejumlah wilayah Republik Indonesia. Pada titik yang paling ekstrim, mereka merancang teror bom di sejumlah tempat strategis. Meski sebagian pengikut ideologi ini masih mau berkompromi dengan sistem demokrasi dengan turut serta dalam proses Pemilihan Umum, namun sebagian lainnya, yang tidak bisa dibilang sedikit, memilih jalur yang berhadap-hadapan langsung dengan sistem. Mereka menolak demokrasi dan melancarkan kampanye anti Negara Kesatuan Republik Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Tetapi apakah ini berarti bahwa Arab Saudi sudah berubah? Yang lebih penting adalah apa yang membuat perubahan itu terjadi? Secara umum, Arab Saudi memang adalah negara yang selalu berada dalam ketegangan. Negara ini terbangun atas koalisi rezim Saud dan otoritas agama, Wahhabisme. Dengan menjadikan Wahhabisme sebagai ideologi negara, Arab Saudi dituntut untuk tetap berada pada garis iman Wahhabi. Tetapi karena ideologi ini muncul dengan corak yang keras dan kaku, maka rezim sesungguhnya menghadapi tantangan paling keras dari penganut Wahhabi itu sendiri. Dua pemberontakan yang paling berdarah sepanjang kekuasaan rezim keluarga ini datang dari kekuatan inti Wahhabi itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Tahun 1927, tentara Wahhabi, Ikhwan, melakukan pemberontakan berdarah. Kudeta Ikhwan dilatarbelakangi ketidakpuasan mereka terhadap pemerintahan Abdul Aziz bin Saud yang tidak lagi mengedepankan semangat penaklukan, bahkan mulai mencoba bersikap lunak kepada kelompok Syi’ah. Dan yang lebih penting adalah Saudi membangun aliansi dengan Barat yang mereka anggap sebagai musuh. Mereka berhasil ditumpas dengan bantuan tentara-tentara Inggris. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Tahun 1979, sekelompok Wahhabi pimpinan Juhayman al-Utaybi (pengikut ulama terkemuka Wahhabi, Abdul Aziz bin Baz) juga mencoba melakukan kudeta dengan menyandera ribuan jemaah haji di Masjid Haram, Mekkah, tempat tersuci ummat Islam sedunia. Pemberontakan ini didasarkan pada ketidakpuasan atas perilaku para elit Saudi yang dianggap telah melenceng dari iman Wahhabi. Rezim tidak saja menjalin kerjasama dengan Amerika tetapi juga mengizinkan ratusan warga Amerika tinggal di Arab Saudi. Mereka juga mengutuk produk-produk tehnologi berupa televisi dan radio sebagai sebuah <em>bid’ah</em> atau inovasi sesat. Drama penyanderaan ini berakhir dua minggu kemudian ketika pasukan Prancis membantu Arab Saudi menggempur para pemberontak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Pasca pemberontakan 1979, setelah mengeksekusi mati semua pelaku yang berumur di atas 16 tahun, rezim Saudi kemudian mengawasi secara ketat semua gerakan masyarakat Islam Arab Saudi. Represi terhadap gejala oposisi semakin ketat. Secara sadar rezim menekan semangat gerakan politis masyarakat Saudi. Itulah yang menyebabkan gerakan yang sebelumnya memiliki potensi politis kemudian berubah menjadi gerakan dakwah. Harus diingat bahwa sebelum 1979, rezim Arab Saudi menampung ribuan anggota Ikhwan al-Muslimun (organisasi Islam Mesir yang memperjuangkan gerakan politik). Rezim Saudi berusaha keras meredam semangat politis kelompok-kelompok Wahhabi-Ikhwani. Tetapi, ternyata rezim tidak sepenuhnya berhasil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Gerakan Juhayman kemudian menginspirasi ribuan pemuda Arab Saudi untuk melakukan gerakan serupa. Karena besarnya tekanan kerajaan di dalam negeri, mereka kemudian menumpahkan energi kekerasannya pada Perang Afganistan. Pasca perang Afganistan, pemuda-pemuda inilah yang kemudian membentuk jaringan teroris internasional yang dikenal dengan nama al-Qaedah. Organisasi mematikan itu dipimpin oleh Osama bin Laden, anak pengusaha yang menjadi sahabat kerajaan Arab Saudi sendiri, Muhammad bin Laden. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Kondisi sosial Arab Saudi seperti inilah yang tidak memungkinkan rezim mendukung gerakan revolusioner apalagi terorisme. Bahkan ketika terjadi kerusuhan di Maluku, para ulama senior Arab Saudi bahkan enggan memberi restu terhadap sekelompok Muslim yang hendak melakukan ”jihad” ke daerah konflik tersebut. Baru ketika kalangan Salafi radikal yang dipimpin oleh Ja’far Umar Thalib dan Muhammad Umar As-Sewed melakukan pendekatan intensif, beberapa ulama itu kemudian mengeluarkan fatwa jihad. Meski begitu, fatwa yang dikeluarkan oleh beberapa ulama ini tetap menekankan jihad dalam bentuk defensif atau pembelaan diri. Abd al-Razzaq ibn Abd al-Muhsin al-Abbad, misalnya, menyatakan: ”Pergi ke medan tempur di Maluku untuk membela umat Islam adalah perkara yang disyariatkan, dengan syarat kepergian kalian ke sana tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar kepada kaum muslimin dan kaum muslimin bukan sebagai pihak yang memulai tindakan permusuhan, tetapi sebagai pihak yang diserang” (Noorhaedi Hasan, 2008).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Dengan fatwa semacam itulah Laskar Jihad berangkat ke Maluku untuk terlibat dalam perang melawan kelompok Kristen. Tetapi tampak jelas bahwa para ulama Arab Saudi sendiri sangat menghindari sikap revolusioner, di mana ummat Islam sebagai pengambil inisiatif perang. Di Indonesia, Laskar Jihad menjadi organisasi marjinal di kalangan Salafi lain yang menyerukan jihad di Maluku. Abu Nida, tokoh Salafi lain, mengkritik keras sikap Ja’far Umar Thalib dan para pengikutnya. Abu Nida bersikukuh bahwa Salafi adalah gerakan dakwah, bukan gerakan politik apalagi mengebarkan perang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="SV">Apa yang diungkap oleh Raja Abdullah sesungguhnya sudah bisa ditebak. Jika semangat revolusioner dan terorisme itu semakin besar, maka yang akan dirugikan bukan hanya target-target teroris di luar Arab Saudi, melainkan juga adalah Arab Saudi sendiri. </span><span lang="IT">Saat ini, Arab Saudi, selain Israel, adalah sekutu utama negara-negara Barat di Timur Tengah. Amerika Serikat bahkan menempatkan pangkalan militernya di Arab Saudi, ini pulalah yang memicu gerakan protes masyarakat Islam Wahhabi Saudi sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span lang="IT">Saat ini, Arab Saudi membutuhkan dukungan internasional untuk menanggunalangi potensi terorisme yang juga sangat mengancam eksistensi rezim Saudi itu sendiri. Jika para teroris keturunan Arab Saudi bisa meledakkan menara kembar WTC, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk meledakkan sentra-sentra ekonomi Dinasti Saud. </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[MENGAKRABI KATA-KATA]]></title>
<link>http://contek.wordpress.com/2009/01/14/mengakrabi-kata-kata/</link>
<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 18:54:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>sinubaras</dc:creator>
<guid>http://contek.wordpress.com/2009/01/14/mengakrabi-kata-kata/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Sarabunis Mubarok /1. Apa itu sajak atau puisi? Dari begitu banyak orang menerangkan sajak atau]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh Sarabunis Mubarok</p>
<p>/1.</p>
<p>Apa itu sajak atau puisi? Dari begitu banyak orang menerangkan sajak atau puisi &#8211;mulai yang paling sederhana sampai yang paling rumit&#8211; kiranya yang paling menarik adalah apa yang disampaikan oleh Sutardji Calzoum Bachri: “Niatmu adalah sajakmu. Apapun yang kau niatkan sajak, itulah sajakmu.”</p>
<p>Pengertian ini,  bisa didedahkan untuk membuka sebuah optimisme akan kegairahan menulis dan mengapresiasi puisi, sesuatu yang selama ini sering dianggap sebagai hal yang pekat dan sulit dijangkau masyarakat.</p>
<p>Bahwa niat penyair sangat penting bagi puisi, nafas intuisi yang akan membawa kata-kata pada kehidupan, menjemputnya, dan dengan sendirinya akan menyampaikan niatnya (niat kata) untuk sampai pada niat sang penyair. Untuk menuju puisi, kata-kata tidak hanya bergerak dalam tabiat dengan niatnya sendiri-sendiri, ia akan berkembang dengan menyusuri berbagai lembah dengan cara dan jalannya yang kreatif bersama peta dalam niat penyair.</p>
<p>Kata-kata akan menemukan kreatifitas, keindahan dan kecerdasannya dari berbagai alam yang ia masuki. Masa lalu dan masa kini, kesedihan dan kegembiraan, mimpi dan kenyataan, ketakutan dan keinginan, angan-angan dan masa depan, dan segala rasa yang menyertai tubuh daging manusia dalam kehidupan.</p>
<p>Dalam lorong kehidupan masa kini yang serba instan, kekuatan niat penyair menjadikan kata-kata tak boleh lagi hanya bergerak di jalur-jalur yang sudah usang, ia mempelajari dirinya sendiri dari sudut-sudut lain, lalu ia memilih jalur dengan teliti, menghirup aura-aura kegelisahan yang bertenaga, bergerak dalam kombinasi daya bunyi dan nilai rasa yang tak sekedar spontan, namun menjiwainya sebagai perpaduan dari makna dan nilai yang menyegarkan kehidupan. Lalu diam-diam kata-kata akan tumbuh sebagai puisi, kelahiran yang menyihir penyairnya sendiri.</p>
<p>Demikianlah, dalam kekuatan niat penyair, puisi terus terlahir. Di sini, kata-kata tak lagi berputar dalam lingkaran dirinya yang menjemukan. Seperti Chairil, kata-kata ingin hidup seribu tahun lagi, melewati berbagi zaman dengan tak sekedar mengikuti arus, tapi ia meneratas pembaruan dalam berbagai perubahan zaman. Arus pembaruan untuk menghindari jebakan-jebakan yang melulu menawarkan kepastian dan kesempurnaan, sementara sejatinya kepastian dan kesempurnaan adalah juga lingkaran yang menjemukan.</p>
<p>/2.</p>
<p>Seperti juga dorongan melepaskan nafsu sexsual atau libido, pengulangan yang konvensional akan sampai pada lingkaran yang menjemukan. Disinilah tubuh-jiwa perlu pelepasan dengan cara-cara lain yang tak sekedar berhubungan badan, atau berfantasi sexsual dengan gambar-gambar film biru. Sigmund Freud, dengan psikoanalisanya menemukan bahwa cara lain pelepasan tenaga libido adalah melalui kesenian.  Melalui puisi, si penyair menggunakan tenaga dalam dirinya untuk melepaskan diri dari berbagai hal kompleks. Dalam puisinya diletakkan kemauan-kemauan dan keinginan-keinginannya sendiri.</p>
<p>Dengan mengutip apa yang diungkapkan Freud, penulis tak hendak membahas pengaruh psikoanalisa dalam karya sastra. Yang hendak dikemukakan adalah bahwa memilih melepaskan lingkaran menjemukan melalui menulis puisi, akan menguatkan niat penyair. Kesungguhan niat ini akan melepaskan lingkaran menjemukan yang mengurung kata-kata, menuju puisi yang dibangun dari pemilihan kata yang kreatif untuk memperoleh kesegaran baru dalam puisi. Dan pada maqam ini, sang penyair pun akan disadarkan bahwa begitu banyak sampah yang telah ditulis, dan dibacakannya dalam riuh tepuk tangan para pemulungnya.</p>
<p>Bagaimana dengan orang yang baru akan menulis puisi Indonesia? Tentu syarat utamanya harus bisa berbahasa Indonesia. Lalu mulailah menulis. Lupakanlah keinginan untuk menjadi Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam noor, Godi Suwarna, atau para penyair manapun. Karena puisi akan menyerap sari kehidupan, dan kehidupan setiap orang berbeda-beda. Puisi menginginkan gairah-gairah baru untuk melepaskan dirinya dari kejemuan, seperti libido yang menginginkan pelepasan dengan proses kreatif yang penuh ketegangan namun sangat mengesankan.</p>
<p>/3.</p>
<p>“Aku tak bisa mengajarimu, dan tak mungkin bisa mengajarimu menulis puisi.”<br />
“Lalu kepada siapa saya harus belajar menulis puisi?”<br />
“Hidupmu adalah mata air puisimu, dan hanya kaulah yang bisa mengalirkannya ke sungai-sungai kegelisahan menuju muara puisimu.”<br />
“Aku tak mengerti?”<br />
“Ingatlah, bahwa kata-kata ada di mana-mana, ada sebelum engkau ada. Bisakah kau menghitung berapa banyak kata yang sedang bergerak saat ini? Pada detik ini saja semua manusia di seluruh dunia tengah mengucap kata, di hati dan pikiran, di mulut dan tulisan, di buku-buku, di ilmu pengetahuan, di televisi, di radio, telepon, komputer dan internet, di mana-mana. Satu detik berapa kata yang tengah bergerak? Bermilyar-milyar? Betapa riuhnya jika semua kata-kata itu dikumpulkan. Setiap detik kata-kata bergerak dalam lingkarannya yang begitu-begitu saja berulang-ulang.”<br />
“Lalu bagaimana aku harus menulis?”<br />
“Baiklah, saat ini berapa kata yang keluar masuk ke perpustakaan kehidupanmu? Berapa kata dari masa lalumu, berapa kata dari suka-dukamu, dari mimpi dan kenyataanmu, dari hati dan mulutmu, dari tangkapan mata dan telingamu, dari setiap detik denyut nadi, hingga kini, setelah lebih dari satu milyar detik usiamu. Berapa kata? Lalu mengapa kata-kata itu sulit sekali memasuki pintu-pintu puisimu? Ini karena kau membunuh niat penyairmu.”<br />
“Tidak, kini aku berniat menulis puisi, lalu bagaimana dengan teori-teorinya?”<br />
“Kata-kata adalah segala-galanya bagi puisi. Ia yang menyertai perjalanan kehidupanmu. Akrabilah ia, lalu tulislah! Tulislah apa yang paling dekat denganmu! Tulislah terus hingga menjelma puisi! Lalu bacalah! Kenalilah puisimu! Dan kenalilah teori-teori itu dari puisimu?”</p>
<p>/4.</p>
<p>Membicarakan teori puisi, tentu saja akan sangat panjang dan rumit. Ini bukan saja karena teori puisi yang terus berkembang, tapi juga penuh perdebatan seiring dengan saling berdebatnya pendekatan kritik yang satu dengan yang lainnya. Sementara puisi bukan sekedar kerja intelektual, tapi merupakan kerja seni yang memerlukan proses kreatif, sebuah kesungguh-sungguhan dalam mengakrabi kata-kata.</p>
<p>Untuk memulai menulis sebuah puisi, kita simpan dulu sejenak teori-teori. Sebagai kerja seni, puisi berangkat dari intuisi. Ia memasuki ruang-ruang imajinasi untuk mendedahkan pengalaman puitik sang penyair. Kata-kata tak hanya harus diserap dari sumur-sumur kehidupan, tetapi juga harus diakrabi dengan sabar dalam upaya membangkitkan kreativitas untuk melahirkan berbagai makna. Dengan mengakrabi kata-kata, ruang-ruang imajinasi akan menghembuskan berbagai gagasan kreatif, kiasan-kiasan, simbol-simbol, pencitraan dan nilai rasa.</p>
<p>Memasuki ruang imajinasi harus terbebas dari teori-teori. Pembebasan ini penting untuk mencongkel kreativitas dalam mengkomunikasikan pikiran dan perasaan. Kata-kata diserap dan diakrabi dari segala sisi. Keinginan, ketakutan, kegembiraan, alam, mimpi, kegilaan, fantasi tak masuk akal, menjelma hewan, menjelma benda, melintasi ruang dan waktu. Dengan pengakraban seperti ini, akan menajamkan kepekaan penyair dalam menaklukkan kata-kata sehingga menjadi lebih lentur dan segar, tidak terbatas pada makna leksikon yang sudah umum.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan teori? Tentu saja teori perlu dipahami dan dikuasai. Tapi teori tidak membentuk puisi dan puisi tidak dibentuk dari teori-teori. Puisilah yang membentuk teori-teori. Secara kreatif ia akan membentuk pararelitas atau benang merah dalam dirinya, mengalir ke dalam bentuk-bentuk tipografi, pemilihan diksi, metafor-metafor, irama, intonasi, enjambemen, repetisi dan berbagai perangkat stilistika lainnya seiring dengan mengalirnya berbagai gagasan, kiasan-kiasan, simbol-simbol, pencitraan, sugesti, sensitifitas dan nilai rasa yang mengandung kejujuran dan keindahan.</p>
<p>Jadi mulailah menulis puisi, mulailah mencari jalan sendiri! Seperti apa yang dikatakan Jakob Sumardjo, “Menulislah seperti berenang. Dalam berenang kita tak mengingat aturan atau teori dalam buku.”</p>
<p>***</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
