<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>etos &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/etos/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "etos"</description>
	<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 14:51:59 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Sikap Optimis dapat Meningkatkan Kesehatan]]></title>
<link>http://ronimunawar.wordpress.com/2009/11/23/sikap-optimis-dapat-meningkatkan-kesehatan/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 08:53:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ronimunawar</dc:creator>
<guid>http://ronimunawar.wordpress.com/2009/11/23/sikap-optimis-dapat-meningkatkan-kesehatan/</guid>
<description><![CDATA[Optimisme Apa yang dimaksud dengan optimisme atau bersikap optimis? Optimisme merupakan sikap selalu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://ronimunawar.wordpress.com/files/2009/11/optimisreal.jpg"><img src="http://ronimunawar.wordpress.com/files/2009/11/optimisreal.jpg?w=289" alt="" border="0" /></a><span style="font-weight:bold;">Optimisme</span>
<div style="text-align:justify;">Apa yang dimaksud dengan optimisme atau bersikap optimis? Optimisme merupakan sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal serta kecenderungan untuk mengharapkan hasil yang menyenangkan. Optimisme dapat juga diartikan berpikir positif. Jadi optimisme lebih merupakan paradigma atau cara berpikir.
<div class="fullpost">Sewaktu mengalami kegagalan atau tekanan hidup, bagaimana perasaan seorang optimis? Seorang yang berpikiran positif atau berpikir secara optimis tidak menganggap kegagalan itu bersifat permanen. Hal ini bukan berarti bahwa ia enggan menerima kenyataan. Sebaliknya, ia menerima dan memeriksa masalahnya. Lalu, sejauh keadaan memungkinkan, ia bertindak untuk mengubah atau memperbaiki situasi.<br />Bertolak belakang dengan optimisme, pandangan pesimistis akan menganggap kegagalan dari sisi yang buruk. Umumnya seorang pesimis sering kali menyalahkan diri sendiri atas kesengsaraannya. Ia menganggap bahwa kemalangan bersifat permanen dan hal itu terjadi karena sudah nasib, kebodohan, ketidakmampuan, atau kejelekannya. Akibatnya, ia pasrah dan tidak mau berupaya.<br />Berpikir positif juga menjadi kunci sukses untuk mengelola stres. Optimisme akan membuat seseorang menghadapi situasi tidak menyenangkan dengan cara positif dan produktif.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Manfaat Berpikir Positif</span><br />Para ilmuwan telah membuat kesimpulan atas riset selama puluhan tahun tentang manfaat berpikir positif dan optimisme bagi kesehatan. Hasil riset menunjukkan bahwa seorang optimis lebih sehat dan lebih panjang umur dibanding orang lain apalagi dibanding dengan orang pesimis. Para peneliti juga memperhatikan bahwa orang yang optimistis lebih sanggup menghadapi stres dan lebih kecil kemungkinannya mengalami depresi. Berikut ini beberapa manfaat bersikap optimis dan sering berpikir positif.<br />• Lebih panjang umur<br />• Lebih jarang mengalami depresi<br />• Tingkat stres yang lebih kecil<br />• Memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap penyakit<br />• Lebih baik secara fisik dan mental<br />• Mengurangi risiko terkena penyakit jantung<br />• Mampu mengatasi kesulitan dan menghadapi stres<br />Mengapa manfaat ini bisa diperoleh bagi orang yang optimis dan berpikiran positif? Karena biasanya orang yang optimis akan menghindari kegiatan yang dilakukan orang yang pesimis dalam menghadapi stres dan tekanan hidup. Orang pesimis ketika menghadapi stres akan mengalihkan perhatian dengan kegiatan seperti merokok, konsumsi alkohol, dan menikmati makanan tanpa terkendali. Sedangkan seorang optimis akan melakukan lebih banyak aktivitas fisik, mengikuti diet sehat, serta mengurangi rokok dan alkohol.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Cara untuk Bersikap Lebih Optimistis</span><br />Jika Anda sering berpikir secara negatif terhadap orang lain ataupun terhadap situasi yang berat, bukan berarti Anda tidak dapat berpikir positif. Anda dapat mengubah cara berpikir negatif menjadi positif. Tidaklah sulit untuk melakukannya, namun membutuhkan waktu dan latihan untuk membuat kebiasaan baru ini. Berikut ini beberapa cara untuk lebih optimistis dan memiliki pikiran dan sikap yang positif.<br /><span style="font-style:italic;font-weight:bold;">• Periksa diri Anda</span><br />Sewaktu Anda berpikir bahwa Anda tidak akan bisa menikmati suatu peristiwa buruk atau tidak akan sukses melakukan suatu tugas, segera singkirkan pikiran itu. Berfokuslah pada hal positif yang akan dihasilkan.</p>
<p>Lakukan pemeriksaan secara berulang. Jika pikiran negatif lebih banyak, maka segera alihkan dengan pikiran positif.<br /><span style="font-style:italic;font-weight:bold;">• Ikuti gaya hidup sehat</span><br />Berolahraga tiga kali sehari dapat mengubah suasana hati menjadi positif dan mengurangi stres. Pola makan yang sehat juga mempengaruhi pikiran dan tubuh. Serta coba mengelola stres Anda.<br /><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">• Nikmati pekerjaan</span><br />Berupayalah menikmati pekerjaan Anda. Tidak soal pekerjaan Anda, carilah aspek-aspek yang menyenangkan Anda.<br /><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">• Cari teman yang positif</span><br />Carilah teman-teman yang memandang kehidupan dengan positif. Orang-orang demikian adalah orang yang optimis dan selalu mendukung Anda dengan memberi saran yang baik.</p>
<p>Sebaliknya jika Anda dikelilingi oleh orang-orang pesimis, akan meningkatkan stres Anda bahkan membuat Anda ragu untuk mengelola stres dengan cara yang sehat.<br /><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">• Hadapi dan terima</span><br />Hadapilah situasi yang dapat Anda kendalikan; berupayalah menerima situasi yang tidak dapat Anda kendalikan.<br /><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">• Miliki rasa humor</span><br />Cobalah untuk tersenyum dan tertawa khususnya saat menghadapi saat yang sangat sulit. Carilah kejadian yang mengundang tawa dalam kegiatan sehari-hari. Rasa humor yang baik membantu seseorang memiliki pikiran, emosi, dan perilaku yang lebih positif.<br /><span style="font-style:italic;font-weight:bold;">• Catat hal baik</span><br />Setiap hari, catatlah tiga hal baik yang Anda alami.<br /><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">• Aturan sederhana</span><br />Jangan katakan apapun kepada diri Anda sesuatu yang tidak ingin Anda katakan ke orang lain.<br />Memang untuk bersikap optimistis sangatlah tidak mudah. Bencana alam, beban hidup, dan juga musibah bisa terjadi yang membuat banyak orang merasa sulit untuk berpikiran positif. Namun dengan berupaya bersikap optimis dan berpikir positif akan menghasilkan kehidupan yang lebih sehat dan lebih memuaskan. Jangan menyerah!</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Cara Mengatasi Emosi]]></title>
<link>http://ronimunawar.wordpress.com/2009/11/22/cara-mengatasi-emosi/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 00:49:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ronimunawar</dc:creator>
<guid>http://ronimunawar.wordpress.com/2009/11/22/cara-mengatasi-emosi/</guid>
<description><![CDATA[Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita akan sulit dikenda]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://ronimunawar.wordpress.com/files/2009/11/angry.gif"><img src="http://ronimunawar.wordpress.com/files/2009/11/angry.gif?w=300" alt="" border="0" /></a>
<div style="text-align:justify;">Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita akan sulit dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dll di sekitarnya.</div>
<div style="text-align:justify;" class="fullpost">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Banyak orang bilang kalau menyimpan emosi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat pecah sewaktu-waktu dan bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari orang yang rutin emosian. Oleh sebab itu sebaiknya bila ada rasa marah atau emosi sebaiknya segera dihilangkan atau disalurkan pada hal-hal yang tidak melanggar hukum dan tidak merugikan manusia lain.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Beberapa ciri-ciri orang yang tidak mampu mengandalikan emosinya :</p>
<p class="MsoNormal">1. Berkata keras dan kasar pada orang lain.</p>
<p class="MsoNormal">2. Marah dengan merusak atau melempar barang-barang di sekitarnya.</p>
<p class="MsoNormal">3. Ringan tangan pada orang lain di sekitarnya.</p>
<p class="MsoNormal">4. Melakukan tindak kriminal / tindak kejahatan.</p>
<p class="MsoNormal">5. Melarikan diri dengan narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, dsb.</p>
<p class="MsoNormal">6. Menangis dan larut dalam kekesalan yang mendalam.</p>
<p class="MsoNormal">7. Dendam dan merencanakan rencana jahat pada orang lain. dsb…</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Cara lainnya :</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>1. Rasakan Yang Orang Lain Rasakan</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Cobalah bayangkan apabila kita marah kepada orang lain. Nah, sekarang tukar posisi di mana anda menjadi korban yang dimarahi. Bagaimana kira-kira rasanya dimarahi. Kalau kemarahan sifatnya mendidik dan membangun mungkin ada manfaatnya, namun jika marah membabi buta tentu jelas anda akan cengar-cengir sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>2. Tenangkan Hati Di Tempat Yang Nyaman</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Jika sedang marah alihkan perhatian anda pada sesuatu yang anda sukai dan lupakan segala yang terjadi. Tempat yang sunyi dan asri seperti taman, pantai, kebun, ruang santai, dan lain sebagainya mungkin tempat yang cocok bagi anda. Jika emosi agak memuncak mingkin rekreasi untuk penyegaran diri sangat dibutuhkan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>3. Mencari Kesibukan Yang Disukai</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Untuk melupakan kejadian atau sesuatu yang membuat emosi kemarahan kita memuncak kita butuh sesuatu yang mengalihkan amarah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan dapat membuat kita lupa akan masalah yang dihadapi. Contoh seperti mendengarkan musik, main ps2 winning eleven, bermain gitar atau alat musik lainnya, membaca buku, chating, chayang-chayangan dengan kekasih pujaan hati, menulis artikel, nonton film box office, dan lain sebagainya. Hindari perbuatan bodoh seperti merokok, make narkoba, dan lain sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>4. Curahan Hati / Curhat Pada Orang Lain Yang Bisa Dipercaya</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita mungkin dapat sedikit banyak membantu mengurangi beban yang ada di hati. Jangan curhat pada orang yang tidak kita percayai untuk mencegah curhatan pribadi kita disebar kepada orang lain yang tidak kita inginkan. Bercurhatlah pada sahabat, pacar / kekasih, isteri, orang tua, saudara, kakek nenek, paman bibi, dan lain sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>5. Mencari Penyebab Dan Mencari Solusi</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Ketika pikiran anda mulai tenang, cobalah untuk mencari sumber permasalahan dan bagaimana untuk menyelesaikannya dengan cara terbaik. Untuk memudahkan gunakan secarik kertas kosong dan sebatang pulpen untuk menulis daftar masalah yang anda hadapi dan apa saja kira-kira jalan keluar atau solusi masalah tersebut. Pilih jalan keluar terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada. Mungkin itu semua akan secara signifikan mengurangi beban pikiran anda.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>6. Ingin Menjadi Orang Baik</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Orang baik yang sering anda lihat di layar televisi biasanya adalah orang yang kalau marah tetap tenang, langsung ke pokok permsalahan, tidak bermaksud menyakiti orang lain dan selalu mengusahakan jalan terbaik. Pasti anda ingin dipandang orang sebagai orang yang baik. Kalau ingin jadi penjahat, ya terserah anda.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>7. Cuek Dan Melupakan Masalah Yang </i></b><b><i>Ada</i></b><b><i></i></b></p>
<p class="MsoNormal">Ketika rasa marah menyelimuti diri dan kita sadar sedang diliputi amarah maka bersikaplah masa bodoh dengan kemarahan anda. Ubah rasa marah menjadi sesuatu yang tidak penting. Misalnya dalam hati berkata : ya ampun…. sama yang kayak begini aja kok bisa marah, nggak penting banget sich…</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>8. Berpikir Rasional Sebelum Bertindak</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Sebelum marah kepada orang lain cobalah anda memikirkan dulu apakah dengan masalah tersebut anda layak marah pada suatu tingkat kemarahan. Terkadang ada orang yang karena diliatin sama orang lain jadi marah dan langsung menegur dengan kasar mengajak ribut / berantem. Masalah sepele jangan dibesar-besarkan dan masalah yang besar jangan disepelekan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>9. Diversifikasi Tujuan, Cita-Cita Dan Impian Hidup</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Semakin banyak cita-cita dan impian hidup anda maka semakin banyak hal yang perlu anda raih dan kejar mulai saat ini. Tetapkan impian dan angan hidup anda setinggi mungkin namun dapat dicapai apabila dilakukan dengan serius dan kerja keras. Hal tersebut akan membuat hal-hal sepele tidak akan menjadi penting karena anda terlalu sibuk dengan rajutan benang masa depan anda. Mengikuti nafsu marah berarti membuang-buang waktu anda yang berharga.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><b><i>10. Kendalikan Emosi Dan Jangan Mau Diperbudak Amarah</i></b></p>
<p class="MsoNormal">Orang yang mudah marah dan cukup membuat orang di sekitarnya tidak nyaman sudah barang tentu sangat tidak baik. Kehidupan sosial orang tersebut akan buruk. Ikrarkan dalam diri untuk tidak mudah marah. Santai saja dan cuek terhadap sesuatu yang tidak penting. Tujuan hidup anda adalah yang paling penting. Anggap kemarahan yang tidak terkendali adalah musuh besar anda dan jika perlu mintalah bantuan orang lain untuk mengatasinya.<b><i> </i></b>untuk meredam amarah orang lain sebaiknya kita tidak ikut emosi ketika menghadapi orang yang sedang dilanda amarah agar masalah tidak menjadi semakin rumit. Cukup dengarkan apa yang ingin ia sampaikan dan jangan banyak merespon. Tenang dan jangan banyak hiraukan dan dimasukkan dalam hati apa pun yang orang marah katakan. Cukup ambil intinya dan buang sisanya agar kita tidak ikut emosi atau menambah beban pikiran kita. Jika marahnya karena sesuatu yang kita perbuat maka kalau bukan kesalahan kita jelaskanlah dengan baik, tapi kalau karena kesalahan kita minta maaf saja dan selesaikanlah dengan baik penuh ketenangan batin dan kesabaran dalam mengatasi semua kemarahannya. Lawan api dengan air, jangan lawan api dengan api. Semoga berhasil menjinakkan emosi rasa marah anda.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p></div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[fantasy + music at its finest...Empire of the Sun.]]></title>
<link>http://fangirlatic.com/2009/11/12/empire-of-the-sun/</link>
<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 08:18:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>essassin</dc:creator>
<guid>http://fangirlatic.com/2009/11/12/empire-of-the-sun/</guid>
<description><![CDATA[all hail Luke Steele and Nick Littlemore reigning from the Empire of the Sun.  With their debut sing]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a style="text-decoration:none;" href="http://www.walkingonadream.com/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-24" title="Empire of the Sun" src="http://fangirlatic.wordpress.com/files/2009/11/l_19ceac883dee462cae1fcaf00d46cb50.jpg?w=295" alt="Empire of the Sun" width="295" height="300" /></a></p>
<p>all hail Luke Steele and Nick Littlemore reigning from the <a href="http://www.walkingonadream.com/" target="_blank">Empire of the Sun</a>.  With their debut single, <a href="http://www.emi.com/page/emi/Biography_US/0,,12641~909719,00.html" target="_blank">“Walking on a Dream,” (EMI Music-Australia)</a> this electronic duo from Perth, Australia have taken their homeland and the UK by storm.  In the US, they have been featured in Jay-Z&#8217;s latest album, The Blueprint 3 -&#8221;What We Talkin&#8217; About,&#8221; and on an episode of HBO&#8217;s Entourage.</p>
<p>EOTS is a visual music duo and they can paint as well as they can compose.  When i was finally exposed to their entirety - something completely amazing happened … i found a force that exploded into something wonderful and unexpected which found a way into every pore of my being.</p>
<p>the Walking On a Dream album is very raw.  raw in the sense where its like throwing a helicopter, sea shells, swordfish, grass, reindeer, a beat machine, tigers, windmills, a guitar, environmentalism, and pure emotions in a blender and ending up with something unique.  keeping true to their electronic sound, the songs vary from these crazy choppy/loud beats to this mystical ebb and flow or sometimes a little of both.  ah, as well as some dancy rock throwbacks.</p>
<p>their posters are these 80s inspired fantasy throwbacks, but its really great how their visions and music come full circle.   it is amazing to be able to imagine all of the things they conjure up and to be able to share their visions with others.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.myspace.com/empireofthesunsound" target="_blank">listen in with Empire of the Sun on MySpace!</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/yMJjF4LHOkY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/yMJjF4LHOkY&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kalimat Motivasi untuk bangun dan bangkit]]></title>
<link>http://ronimunawar.wordpress.com/2009/11/09/kalimat-motivasi-untuk-bangun-dan-bangkit/</link>
<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 09:00:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>ronimunawar</dc:creator>
<guid>http://ronimunawar.wordpress.com/2009/11/09/kalimat-motivasi-untuk-bangun-dan-bangkit/</guid>
<description><![CDATA[1. Aku dilahirkan untuk menjadi PEMENANG. Keyakinan pertama yang harus aku miliki sebagai anak manus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><strong>1. Aku dilahirkan untuk menjadi PEMENANG.</strong></p>
<div style="text-align:justify;"> </div>
<p style="text-align:justify;">Keyakinan pertama yang harus aku miliki sebagai anak manusia adalah keyakinan bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang.Aku percaya bahwa tidak mungkin Allah menciptakan aku ke dunia ini, tanpa alasan apapun. Tidak mungkin! Pasti ada alasannya, bukan? tarik nafas perlahan sebentar)</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;" class="fullpost">
<p>Nah, jika aku berani lahir, maka aku juga haruslah berani mati (karena aku pasti mati, bukan? He..he..) Lalu, sekarang mati seperti apa yang aku inginkan? (tarik dan tahan nafas yang lama…) Duh, sereeem banget sih pertanyaannya. Iya dong, sekali-sekali serius ah! Baiklah, sekarang pilihan aku sebagai manusia yang hidup, yang masih bernafas, yang masih beredetak jantungnya, hanya tersisa satu pilihan saja, bukan? Yakni aku ingin mati sebagai apa? Ingin dikenang sebagai siapa?</p>
<p>Karena aku yakin bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang, sudah sebaiknya pula aku memilih mati minimal sebagai pemenang. Pemenang seperti apa, itu persoalan lain. Yang penting pilihannya adalah kembali ke Sang Khalik sebagai seorang pemenang. Gak malu-maluin yang “nyiptain”, gitu lho! Orang Sunda bilang: “Tong Ngerakeun”.</p>
<p>Lalu, setelah sadar bahwa aku dilahirkan untuk menjadi Pemenang, berarti aku sekarang harus bangun dari biusnya si tidur. Oke, setelah bangun bukankah diperlukan kekuatan, diperlukan keberanian, diperlukan…? Ya,…</p>
<p><strong>2. Memang diperlukan keberanian untuk melangkah maju ke depan. Namun, bagaimana berani (tahan nafas sebentar) kalau aku tetap diam di tempat?<br /></strong><br />Betul juga ya. Baiklah aku segera berdiri dan mulai melangkah. Langkah pertama, langkah kedua dan langkah ketiga, tapi oh..oh.. lihat apa yang ada di</p>
<p>depan jalan. Ah, kayaknya agak mendung, agak redup, agak berkelok, agak licin. Ehm, bisa-bisa terpeleset, tergelincir, bahkan terpental saat di</p>
<p>perjalanan? Ya, bisa saja. Namun, aku yakin akan pesan nenekku…</p>
<p><strong>3. Daripada hanya berdiam diri… Melangkah dan mungkin tergelincir (tahan nafas sebentar) adalah pilihan yang jauh lebih baik! (tahan nafas sebentar) Ada banyak pelajaran di sana…</strong></p>
<p>Masak sih? Apakah benar dengan tergelincir aku malahan belajar? Betul, bila aku bisa merasakan sakitnya tergelincir, maka pasti aku akan menghindari</p>
<p>berbuat kesalahan yang sama. Akupun akan mencari ide-ide lain yang lebih baik, lebih tepat guna, lebih kreatif, lebih produktif dan sebagainya.</p>
<p>Kesalahan yang terbesar adalah aku tidak pernah melakukan sesuatu, bahkan mencobanyapun “gak” pernah, malah pikiran aku sering “merancang” imajinasi rasa sakit yang belum tentu terjadi dari sebuah kesalahan atau kekeliruan di masa mendatang. Astaga, ngeri sekali bukan? Karena aku merancang ketakutan, maka seringkali aku hanya berdiam diri. Namun aku sebenarnya percaya bahwa… (baca kalimat berikut ini dengan sangat keras!!!)</p>
<p><strong>4. Orang yang berani bangkit dan belajar dari kegagalan adalah PEMENANG SEJATI!</strong></p>
<p>Huh, lumayan kalimat motivasi ini ya. Cukup kuat dampaknya untuk membangkitkan semangat paling dalam dari diriku. Di dunia ini banyak sekali cerita orang yang pernah mengalami kegagalan dan setelah itu tidak ada lagi ceritanya. Apakah aku mau seperti mereka? Habis terbit, kena awan gelap dan menghilang tanpa bekas? Gone with the wind…</p>
<p>Ah, aku kan bisa punya pilihan lain. Aku ingin jadi pemenang atas diriku sendiri. Cerita kehidupan yang hanya bisa dibagikan adalah cerita</p>
<p>kebangkitan, bukan cerita kegagalan. Wah, jika aku tidak pernah bangkit, maka habislah pula cerita hidupku. Percuma dong aku dilahirkan. Baik,</p>
<p>baiklah dan baiklah! (silahkan teriak dalam hati he..he..) Sekarang aku tanamkan dalam benak aku bahwa aku HARUS bangkit, kapanpun saat aku mengalami apa yang disebut orang lain adalah kegagalan. Karena aku yakin dan percaya bahwa…</p>
<p><strong>5. Apa pun SAYA BISA jika saya mau!</strong></p>
<p>Kuncinya adalah kemauan, bukan kemampuan. Orang yang memiliki kemampuan, jika tidak ada kemauan, bagaikan mayat hidup yang tidak tahu mau kemana. Gak bedanya dengan hidup luntang lantung, gak ada tenaga, gak ada semangat, gak ada spirit, gak nafsu deh hidup kayak gitu. Hidup ini adalah pilihan, kok. Aku bisa memilih sedih (hening 3 detik) , aku bisa memilih senang (hening 2 detik). Aku bisa memilih marah (hening 1 detik) dan aku bisa memilih tenaaang. Nah, jika…</p>
<p><strong>6. Hidup ini adalah pilihan. Aku memilih menjadi orang yang bahagia ….</strong></p>
<p>Aku tahu memang sebuah pilihan yang tidaklah mudah, namun aku harus mulai belajar berani memilih dan memutuskan kemana arah hidupku. Apa pilihan</p>
<p>hidupku? Akulah yang harus menentukan arah jalan hidupku. Akulah yang menentukan titiknya… Besar titiknya… Warna titiknya… Bunyi titiknya… Rasa titiknya… Sinar titiknya… Sinar biasa atau sinar sebuah BERLIAN? Kecil bentuknya (tahan nafas sebentar, lalu katakan dengan keyakinan kuat), namun silau sinarnya. Kekuatan silau sinar berlianlah yang membuat aku tidak mungkin kehilangan arah. Walau disekitarku kadang mendung, kadang redup, kadang gelap. Karena…</p>
<p><strong>7. Semakin aku fokus pada impianku. Semakin cepat aku mencapai impianku.</strong></p>
<p>Fokus menghasilkan energi yang besar, bahkan semakin lama semakin dahsyat. Fokus membuatku bersemangat, berenergi, berkeringat, tetap panas karena membantu aku untuk selalu bergerak. Bergerak melangkah, bergerak lari, bergerak ke arah silau sinar berlian yang memimpinku. Karena fokus, maka apapun situasi disekitarku, tidak akan membuatku terganggu. Jalan yang berkelokpun, kujalani…. Jalan macetpun, kunikmati… Jalan berbatupun, kelewati… Jalan terhalangpun, kulampaui… Karena arah fokusku jelas, arah menuju sinar berlian, sinar tujuan hidupku… Silau namun indah. Maka, aku tidak akan pernah menunggu situasi. Dan sebaiknya…<br /><strong><br />8. Berhentilah menunggu kondisi membaik. LAKUKAN SESUATU agar kondisi membaik.</strong></p>
<p>Itulah motto hidupku. Banyak hal diluar jangkauan kemampuanku, keadaan alam semesta, keadaan negara, keadaan masyarakat dimana aku berada. Buat apa aku fokus pada sesuatu diluar kendaliku. Lebih baik aku fokus pada sesuatu yang bisa aku kendalikan, bukan? Sesuatu yang bisa aku jangkau, sesuatu yang bisa aku buat lebih baik. Jadi aku pikir, sebaiknya aku fokus saja pada karya. Ya, berkarya, berkarya dan berkarya…</p>
<p>Sekarang setelah aku sadar, aku bangun, aku bangkit dan aku berkarya, aku fokus pada karyaku, maka selanjutnya…</p>
<p><strong>9. Aku bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh.</strong></p>
<p>Selanjutnya, biarlah Tuhan yang menentukan. (Florence Griffit Joyner)</p>
<p>(Sekarang katakan dalam hati dengan rasa keyakinan yang kuat) BENDERA SUDAH DIKIBARKAN.</p>
<p>(lebih perkuat lagi rasa keyakinan Anda) MAKA KIBARKANLAH SETINGGI MUNGKIN.</p>
<p>(tingkatkan rasa keyakinan Anda sekuat-kuatnya) KIBARKANLAH BENDERA KEMENANGAN KEPADA KEHIDUPAN.</p>
<p>KEHIDUPAN YANG BERHIKMAH.</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Beni, Perajin "Tulang" dari Tlatar]]></title>
<link>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/beni-perajin-tulang-dari-tlatar/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 10:25:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
<guid>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/beni-perajin-tulang-dari-tlatar/</guid>
<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Dua tahun lalu Beni menjadi korban pemutusan hubungan kerja massal. Ia lalu mencoba ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/07/03330583/beni.perajin.tulang.dari.tlatar">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Dua tahun lalu Beni menjadi korban pemutusan hubungan kerja massal. Ia lalu mencoba beternak lele. Ketika tengah menguras kolam untuk panen, Beni dan rekannya menemukan tumpukan tulang ikan dan ayam, sisa pakan lele, tiba-tiba muncul ide di kepalanya. Tulang belulang yang sering kali dianggap orang tak berharga itu, mereka ubah menjadi ”sepeda onthel”, ”naga”, ”motor besar”, sampai ”becak”.</p>
<p>Kerajinan dengan bahan baku tulang belulang pula yang membuat laki-laki bernama lengkap Beni Tri Bawono ini mengikuti berbagai pameran kerajinan, di antaranya di Yogyakarta dan Jakarta.</p>
<p>Dalam berbagai pameran itu, miniatur sepeda onthel, monster, sepeda motor gede atau moge seperti Harley Davidson, becak, dan kapal layar diberi harga sekitar Rp 1 juta. Adapun kerajinan berbentuk naga yang panjangnya lebih dari satu meter ditawarkan sekitar Rp 10 juta. Harga yang relatif tinggi, menurut Beni, merupakan bagian dari penghargaan atas kreativitas mencipta. <!--more--></p>
<p>Bahan baku utama kerajinan itu dari tulang belulang ”gratisan” yang sebagian merupakan limbah warung makan di sekitar rumahnya. Bahan baku kerajinan itu tak hanya tulang ayam, tetapi juga tulang ikan dan tulang bebek. Sebagian besar tulang itu tidak dibentuk sesuai kebutuhan, tetapi kreativitaslah yang disesuaikan dengan bentuk tulang-tulang yang tersedia.</p>
<p>Sadel untuk sepeda onthel, misalnya, dibuat dari potongan punggung ayam, ban sepeda dari leher ayam yang dibentuk melingkar. Jeruji dibuat dari patahan tulang sayap, sedangkan kemudi sepeda dari tulang bebek. Ini yang menyebabkan pembuatan kerajinan seperti sepeda onthel bisa memakan waktu 10-15 hari, sementara untuk membuat naga yang lebih rumit diperlukan waktu hampir empat bulan.</p>
<p>Proses pembuatan kerajinan itu diawali dengan membersihkan tulang dari sisa-sisa daging. Untuk menghemat tenaga, hasil berburu tulang pada malam hari di warung-warung makan itu dia lemparkan ke kolam lele di belakang rumahnya. Setelah tiga hari, tulang itu diangkat dan direndam dalam air berformalin selama sehari semalam. Tulang-tulang itu kemudian dijemur hingga berwarna putih kering sambil sesekali disemprot formalin.</p>
<p>Tulang yang sudah benar-benar kering lalu mulai direkatkan dengan lem, sesuai dengan ide bentuk benda yang muncul. Setelah jadi, sebagai sentuhan akhir, rangkaian itu disemprot dengan cairan pembersih dan disapu dengan pewarna mutiara. Untuk memberi nilai tambah pada produknya, kerajinan itu dimasukkan ke dalam bingkai kaca.</p>
<p>”Kaca bingkainya juga kami potong sendiri dan sengaja dibentuk agar bisa dibuka. Ini supaya orang mudah membersihkannya, cukup disemprot cairan pembersih supaya awet. Asal tidak berada di tempat lembab, kerajinan ini bisa tahan lama,” kata Beni yang tinggal di Kelurahan Kebonbimo, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.</p>
<p><strong>Andil rekan</strong></p>
<p>Kreativitas membuat kerajinan tulang yang diberi label nama Boneart-Tlatar itu tak terlepas dari andil teman mainnya sejak kecil, Parmono atau Mono (27), panggilannya. Tentang nama merek produknya itu, kata Beni, ”boneart” untuk menggambarkan kerajinan ini terbuat dari tulang belulang. Adapun ”Tlatar” adalah tempat kelahirannya.</p>
<p>Mono membantu Beni mengurus 13 kolam lele di belakang rumahnya. Memelihara lele adalah usaha yang dijalani Beni untuk menyambung hidup setelah terkena PHK massal dari pabrik tekstil di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, akhir tahun 2007.</p>
<p>Pada awal tahun 2008, Beni dan Mono mulai memanen lele. Setelah menguras habis air kolam, di tepian kolam teronggok tumpukan tulang-tulang sisa pakan tambahan lele. Mono melihat kepala ayam yang sudah menjadi kerangka. Entah mengapa, ketika itu imajinasinya melayang, membayangkan kepala ayam itu seperti kepala monster. Hari itu juga Mono dibantu Beni mencoba membentuk sosok monster yang tergambar dalam benak mereka.</p>
<p>Hasilnya ternyata lumayan unik meski masih sederhana. ”Monster” itu lalu dipajang di ruang tamu rumah Beni. Beberapa kenalannya yang melihat ”monster” berbahan tulang sisa pakan lele itu tertarik dan memesan produk serupa.</p>
<p>Merasa ada peluang, jiwa bisnis Beni muncul. Dia mengajak Mono membuat lebih banyak kreasi hingga kemudian hasil karya mereka juga diketahui dinas usaha kecil dan menengah setempat. Mereka kemudian diajak ikut pameran ke berbagai tempat dan kota.</p>
<p>”Sewaktu pameran di Yogyakarta, kami sudah mendapat pesanan meski jumlahnya relatif kecil. Namun, karena ini produk kerajinan tangan, memang tak bisa langsung dikerjakan dalam waktu cepat,” katanya.</p>
<p>Duet Beni dan Mono lalu mencoba mengembangkan bentuk selain sosok monster. Mereka mencoba membuat sesuatu yang lebih menantang. Namun, Mono memutuskan untuk berhenti dua bulan lalu. Maka, Beni bekerja sendiri meneruskan usaha kerajinan berbahan baku tulang belulang itu.</p>
<p><strong>Tawaran lewat ”blog”</strong></p>
<p>Meski bisa dikatakan unik, kata Beni, pemasaran produk kerajinan tulang ini masih tertatih-tatih. Ia baru bisa berharap dari pameran ke pameran. Dia masih enggan menawarkan kerajinan tulang itu melalui galeri seni.</p>
<p>”Saya berencana membuat galeri sendiri di rumah, tetapi masih belum terwujud karena terkendala modal. Untuk membuat karya yang dipamerkan di Jakarta saja, saya sudah habis-habisan. Uang dari hasil menjual lele nyaris semuanya dipakai untuk modal membuat kerajinan,” tuturnya sambil menunjukkan belasan kerajinan tulang.</p>
<p>Untuk mengatasi masalah pemasaran, sekitar sebulan lalu Beni dibantu sepupunya mencoba menggunakan jejaring internet. Dia membuat blog yang berisi foto-foto dan narasi singkat tentang kerajinan tulang produknya dalam www.boneart-tlatar.blogspot.com. Namun, media ini masih sangat sederhana, baik tampilan maupun isinya.</p>
<p>”Saya tetap merasa kerajinan ini unik dan bernilai tinggi. Saya berharap setelah pemasarannya bisa lebih luas, saya bisa mengajak orang-orang di kampung untuk ikut membuatnya. Sepanjang ada kreativitas, pasti ada jalan,” ungkapnya optimistis. <strong>[]</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Moelyono, Seni untuk Rakyat]]></title>
<link>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/moelyono-seni-untuk-rakyat/</link>
<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 08:01:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
<guid>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/moelyono-seni-untuk-rakyat/</guid>
<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir da]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/18/02560733/moelyono.seni.untuk.rakyat">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas desanya.</p>
<p>Dialah Moelyono (52), seniman yang memilih tinggal di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Dia bergabung dalam kehidupan masyarakat desa, mengajak mereka berkesenian, dan mengungkapkan masalahnya lewat bahasa rupa. Bersama komunitas itu, kemudian dia berusaha mendorong penyadaran, kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian. <!--more--></p>
<p>Gerakan semacam itu membuat sosok ini lekat dengan gagasan  ”seni rupa penyadaran”. Dalam pemahamannya, para seniman seyogianya masuk dalam geliat kehidupan nyata rakyat bawah. Lewat kesenian, seniman dan rakyat bersama-sama melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik.</p>
<p>Dia percaya, seni bisa jadi cara yang dipelajari dan ditularkan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Seni bisa menjadi media untuk mengungkapkan berbagai masalah sosial dan mendialogkannya demi mencari jalan keluar. Rakyat dan seniman sama-sama jadi subyek yang aktif memperjuangkan perubahan hidup lebih baik. Gagasan ini dipraktikkan Moelyono lebih dari 20 tahun, sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Berawal dari pergumulan bersama nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung selatan, dia lantas berkeliling menjelajah pelosok Nusantara: mulai dari Pacitan, Surabaya, Lombok, Kupang, Aceh, sampai Papua dan Wamena. Gerakan ini berhasil merekam dan menyuarakan berbagai persoalan mendasar di masyarakat bawah lewat bahasa seni rupa.</p>
<p>”Dalam estetika Jawa, seni itu disebut kagunan. Artinya, seni itu harus berguna. Apa pun yang dilakukan seniman seharusnya punya manfaat bagi seniman sendiri dan masyarakat,” kata Moelyono di Jakarta beberapa waktu lalu.</p>
<p>Kami berbincang saat penyelenggaraan pameran ”Topografi Ingatan: Fragmen Kesaksian Moelyono/Guru Gambar” di Koong Gallery, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta, September. Dalam pameran dengan kurator Hendro Wiyanto itu, seniman ini menampilkan beberapa instalasi, lukisan, dan drawing. Sejumlah instalasi dilapisi lumpur tanah.</p>
<p>Karya-karya itu merekam sosok seniman dan wong cilik di Tulungagung, Pacitan, dan Blitar. Ada pemain ludruk, penari, pemain wayang, penjual nasi bungkus, dan petani. Orang-orang yang sebagian tersangkut dalam kasus G30S tahun 1965 itu diabadikan lewat drawing, instalasi yang dibungkus lumpur, lukisan potret, dan video.</p>
<p>”Kesenian itu membuat mereka bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Seni juga jadi media rekonsiliasi dan penyembuhan diri,” kata Moelyono.</p>
<p><strong>Guru gambar</strong></p>
<p>Moelyono tertarik dengan gerakan seni rupa di akar rumput saat bergabung dengan masyarakat nelayan pantai selatan di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dia mengajar anak-anak di kawasan terpencil itu untuk menggambar.</p>
<p>”Saya ke sana setiap Sabtu-Minggu. Saya naik sepeda, lalu jalan kaki di atas jalan setapak selama satu jam,” katanya.</p>
<p>Kemiskinan membuat para nelayan tak mampu menyediakan alat dan buku gambar. Anak-anak menggambar dengan pakai kaki, ranting, atau apa saja di atas pasir pantai. Lewat bahasa gambar, anak-anak itu mengeluarkan unek-unek soal kehidupan sehari-hari, mulai dari gambar nyamuk malaria, sakit malaria, atau orang bertengkar karena selang air.</p>
<p>Dua tahun kemudian, hasil karya anak-anak dipamerkan di gedung Arena Remaja di Tulungagung. Melihat berbagai persoalan sosial-ekonomi dalam gambar anak-anak itu, Bupati Tulungagung bersama jajaran pejabat daerah mengunjungi Brumbun. Mereka melihat sendiri kemiskinan dan ketertinggalan kawasan itu.</p>
<p>Setelah itu, dibuat jalan beraspal menuju Brumbun. Pantainya dijadikan daerah wisata. Orang-orang dari sana akhirnya bisa jualan ikan dan lobster ke pasar sehingga ekonomi meningkat</p>
<p>”Ternyata, gambar seni rupa anak-anak itu bisa mendorong perubahan sosial.”</p>
<p>Pengalaman itu mengantarkan Moelyono memperoleh semacam beasiswa Ashoka Fellowships Inovator for the Public dari Yayasan Ashoka Indonesia tahun 1989-1992. Dia berkenalan dengan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), membaca teori dan referensi pendidikan masyarakat tertinggal, terutama dari gagasan Paulo Freire. Dan seniman bisa menjadi salah satu pendorong perubahan.</p>
<p>Bagaimana posisi seniman dalam masyarakat?</p>
<p>Seniman menguasai media, seperti gambar. Media itu bisa ditularkan kepada anak-anak dan masyarakat untuk dijadikan sarana mengungkapkan berbagai persoalan. Persoalan itu memancing dialog dan akhirnya mendorong perubahan.</p>
<p>Untuk menguatkan kepercayaan diri dan masyarakat serta menguasai media kesenian, seniman harus menjadi guru dan fasilitator. Untuk membangun kebersamaan di antara komunitas, seniman perlu menjadi organisator. Dalam semua proses itu, seniman juga seorang peneliti. Jadi, seniman itu haruslah seorang pekerja seni, guru, organisatoris, sekaligus peneliti.</p>
<p><strong>Pendidikan anak</strong></p>
<p>Moelyono lantas berusaha memperkuat metode untuk pemberdayaan masyarakat lewat seni. Metode itu diformulasikan dalam konsep early childhood care for development (ECCD) atau pendidikan anak-anak usia dini untuk pengembangan. Artinya, membangun masyarakat baru harus dimulai dari pendidikan anak pada saat usia emas (1-5 tahun).</p>
<p>Usaha Moelyono mendapat dukungan dari banyak pihak. Dia diundang mengikuti pelatihan, forum dan pameran di berbagai tempat sampai luar negeri. Dia bekerja sama dengan sejumlah aktivis, seperti Wiji Tukhul, Halim HD, dan Semsar Siahaan.</p>
<p>Dia semakin mantap dengan metode seni sebagai media penyadaran. Pengalaman di Brumbun dan metode itu ditularkan kepada masyarakat di berbagai tempat. Ketika mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Desain Grafis Universitas Petra, Moelyono memilih tinggal di Rungkut, kawasan tempat kost para buruh.</p>
<p>Di sana, dia mengajar anak-anak buruh untuk menggambar. Saat Marsinah terbunuh tahun 1993, dia mengajak para buruh membuat pameran Marsinah. Meski ditutup militer, pameran ini dicatat sebagai salah satu ekspresi perlawanan lewat media seni.</p>
<p>Moelyono bergerak ke Ponorogo dan Pacitan, Jawa Timur. Bersama beberapa LSM, dia mengembangkan child center community development (CCCD). Dia mendidik anak untuk mengembangkan potensi seni budaya lokal yang lebih luas, tak hanya seni rupa.</p>
<p>Bersama para aktivis LSM, Moelyono mendirikan sekolah informal bagi anak-anak dan ibu-ibu. Mereka diajari kembali mengenal lagu-lagu lokal, menguasai seni tari kampung. Seni itu mengajarkan kembali kebijakan pertanian bagaimana menanam padi, menjaga ekosistem persawahan, dan menjaga kebersamaan.</p>
<p>”Kami membantu membangun desa dengan basis potensi lokal,” katanya.</p>
<p><strong>Titik nol</strong></p>
<p>Semua pencapaian Moelyono itu diraih dengan penuh keprihatinan. Masa-masa susah itu mendera pada awal hingga pertengahan perjalanan keseniannya. Saat itu, tak mudah menaklukkan godaan meninggalkan idealisme pengembangan seni rakyat demi masuk dalam jalur lebih praktis.</p>
<p>Pada awal menjadi guru gambar anak-anak di Brumbun, misalnya, dia sempat diinterogasi militer. ”Saya ditanya, nama, pekerjaan, orangtua, partainya apa, mengapa sarjana masuk daerah miskin? Brumbun ini kan daerah pelarian PKI. Kegiatan saya dinilai mirip gerakan PKI.”</p>
<p>Seluruh kegiatan mengajar dihentikan. Moelyono baru bisa masuk lagi setelah mendapat surat izin dari Kodim, polres, dan diknas di Tulungagung. Saya mencari surat itu. ”Waktu masuk mengajar kembali, saya dikawal militer.”</p>
<p>Pengalaman lain terjadi di Surabaya. Gaji mengajar di STKW dan Desain Grafis Universitas Petra saat itu hanya Rp 250.000 per bulan. Pameran Marsinah yang diusahakannya ditutup polisi.</p>
<p>”Saat itu, saya jatuh di titik nol. Rumah kontrakan dipinjami mahasiswa. Untuk menghidupi anak-istri, saya jadi kuli bangunan untuk patung,” katanya.</p>
<p>Apakah keluarga bisa menerima kondisi sulit itu?</p>
<p>Keluarga kalang kabut. Mau hari raya, tak punya uang. Dapat sedikit uang, saya pakai untuk beli baju. Baju tadi dicantolkan di sepeda motor orang lain. Eh, ternyata terbawa orang itu. Sampai di rumah, baju yang dicari tak ada. Rasanya frustrasi sekali.</p>
<p>Istri saya stres. Dia meminta saya tidak usah berkesenian lagi. Untung datang kurator dari Australia. Kurator itu yang mengingatkan istri saya agar tetap mendukung pilihan kesenian saya.</p>
<p>Moelyono juga diselamatkan beberapa kawan dan donatur. Selain itu, dia menambah penghasilan dengan menulis di koran, yang kemudian dibukukan menjadi Seni Rupa Penyadaran (tahun 1997). <strong>[]</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[ETOS, Pencetak Generasi Mandiri]]></title>
<link>http://abdulbasyir.wordpress.com/2009/10/22/etos-pencetak-generasi-mandiri/</link>
<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 14:23:05 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abdul Basyir</dc:creator>
<guid>http://abdulbasyir.wordpress.com/2009/10/22/etos-pencetak-generasi-mandiri/</guid>
<description><![CDATA[“Jangan biarkan bunga layu sebelum berkembang”, kalimat tersebut yang selalu terngiang saat melihat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[“Jangan biarkan bunga layu sebelum berkembang”, kalimat tersebut yang selalu terngiang saat melihat ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Andaikan Abang Jadi Bupati Dairi ]]></title>
<link>http://semende.wordpress.com/2009/10/12/andaikan-abang-jadi-bupati-dairi/</link>
<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 13:23:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>bataksemende</dc:creator>
<guid>http://semende.wordpress.com/2009/10/12/andaikan-abang-jadi-bupati-dairi/</guid>
<description><![CDATA[Sebuah Obrolan Singkat Batak Post dengan Seorang Guru Etos (Jansen Sinamo) Keynote: Cari ilmu meski ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Sebuah Obrolan Singkat Batak Post dengan Seorang Guru Etos (Jansen Sinamo) Keynote: Cari ilmu meski ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Empat Kriteria Etoser Ideal]]></title>
<link>http://morningsam.wordpress.com/2009/09/28/empat-kriteria-etoser-ideal/</link>
<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 23:29:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>morningsam</dc:creator>
<guid>http://morningsam.wordpress.com/2009/09/28/empat-kriteria-etoser-ideal/</guid>
<description><![CDATA[Iklim kompetisi di etos harus tetap hidup. Siapa pun berhak untuk menjadi yang terbaik. Meskipun, se]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY">Iklim kompetisi di etos harus tetap hidup. Siapa pun berhak untuk menjadi yang terbaik. Meskipun, seseungguhnya ukurannya tentu berpulang lagi kepada masing-masing etoser. Setiap etoser tidak ada yang sama. Itu yang harus diperhatikan. Ada prestasi tertentu yang tidak dimiliki oleh semua etoser karena menyangkut bidang spesialisasi atau kompetensi masing-masing etoser. Menyeragamkan semua etoser tidaklah bijak, bisa jadi justru akan mematikan potensi dan kreatifitasnya.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY">Oleh karenanya silahkan, jika ada etoser yang menonjol misalnya dalam bidang entrepreneur, organisasi, dakwah, keilmiahan, di samping bidang jurusan (akademik) masing-masing. Setiap etoser pasti mempunyai paling tidak satu bidang menonjol itu.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY">Secara umum ada empat kriteria etoser ideal &#8211; untuk menyederhanakan &#8211; yaitu Berbudi/Islami, Berprestasi, Peduli dan Mandiri.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY"><strong>Berbudi/Islami </strong>Istilah lainnya adalah sholeh dan sholehah. Baik sholeh secara pribadi maupun sosial. Inilah bagian pondasinya. Tercermin dalam aqidah, ibadah maupun muamalahnya.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Pembinaan secara kelompok berbasis angkatan pun sebenarnya diarahkan ke sana. Oleh karena itu mutabaah amal yaumi menjadi penting. Sholat berjama’ahnya, tilawahnya, sholat sunnahnya, puasa sunnah, d’a pagi dan petang dan amalan lain. Amalan inilah yang akan membentuk karakter muslim yang kuat.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY">Dengan Al-Qur’an, etoser harus akrab. Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Tak cukup sekedar membacanya, perlu ditekankan juga untuk menghafalnya. Dengan mempelajarinya setiap etoser diharapkan mempunyai pemahaman dan pengamalan Islam yang baik. Termasuk akhlaq dan nilai-nilai seperti kejujuran, salam, menutup aurat, menjaga adab pergaulan, sopan santun, rendah hati, penuh semangat, tidak putus asa dan lain-lain.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Kekuatan yang tak terbatas adalah kekuatan Allah SWT. Dengan dekat dan dicintai-Nya insyaAllah etoser akan sukses dunia akhirat.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY"><strong>Berprestasi</strong><strong>. </strong>Etoser termotivasi untuk bekerja keras, membentuk diri menjadi pribadi-pribadi berprestasi. Etoser yang tidak disibukkan oleh urusan-urusan kesenangan semata (nonton TV dan main game berlebihan, tidur-tiduran dll). Etoser berprestasi adalah etoser yang berusaha melakukan yang terbaik apa yang sudah menjadi tugas dan perannya. IPK di atas 3 adalah standard minimal. Tak cukup, etoser juga giat mengikuti seminar dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuannya. Etoser tak canggung untuk mengikuti lomba dan berusaha untuk menjadi juaranya.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY"><strong>Peduli. </strong>Hal ini dibuktikan dengan partisipasi etoser dalam organisasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus, BEM, LDK, LDJ, Himpunan, UKM dan lain-lain. Berorganisasi mengajarkan secara praktek bagaimana berhubungan dengan orang lain, berkomunikasi, kerja tim, memecahkan masalah, manajemen, leadership. Semua itu tidak dapat diperoleh lewat teori-teori di kelas. Dengan berorganisasi etoser akan semakin matang dalam bersikap.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY"><strong>Mandiri</strong><strong>. </strong>Minimal pada pola pikir. Bahwa etoser sudah besar, sudah harus berfikir untuk melepaskan diri dari ketergantungan orang tua. Etoser lebih dewasa dan berani mengambil keputusan sendiri.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" lang="sv-SE" align="JUSTIFY">Tataran berikutnya adalah mandiri secara finansial. Berarti etoser tidak sepenuhnya dibiayai orang tua. Pilihan bijak yang dapat diambil adalah part timer, ngelesi, entrepreneur atau dengan menjuarai lomba.</p>
<p style="margin-top:.19in;margin-bottom:.19in;" align="JUSTIFY">Inilah empat kriteria etoser ideal. Menjadi etoser berarti tak cukup menjadi mahasiswa biasa. Kita yakin setiap orang mempunyai potensi yang dapat dioptimalkan. Ada peran yang dapat dikontribusikan. Berarti juga ada manfaat lebih yang dapat diberikan. Etoser tidak layak menjadi rata-rata. Seperti ungkapan, ”If the best is excellent, good is not enough”. <strong>(sam)</strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Etos Kerja]]></title>
<link>http://bahankuliah.wordpress.com/2009/09/24/etos-kerja/</link>
<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 06:08:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>bahankuliah</dc:creator>
<guid>http://bahankuliah.wordpress.com/2009/09/24/etos-kerja/</guid>
<description><![CDATA[Etos Kerja Arif Mulyadi Dan katakanlah : &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta oran]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Etos Kerja</p>
<p>Arif Mulyadi</p>
<p>Dan katakanlah : &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan&#8221; (QS At-Taubah, 9 : 105)</p>
<p>Seburuk-buruk tempat adalah pasar, sebaik-baik tempat adalah masjid (Nabi Muhammad Saww.)</p>
<p>Secara sekilas membaca hadis tersebut, kita seolah-olah masuk pada suatu dikotomi atau pertentangan yang ekstrem antara kedua tempat tersebut yakni pasar versus masjid. Namun tulisan ini tidak berupaya untuk menajamkan perbedaan pada kedua kutub tersebut Alih-alih untuk memisahkan keduanya, penulis mencoba memadukannya dengan meminjam pandangan dunia Muslim tradisional, sebuah tawaran pandangan yang acapkali digagas oleh Seyyed Hossein Nasr dalam karya-karyanya..</p>
<p>Mengomentari hadis tersebut, Kuntowijoyo, dalam karyanya Dinamika Perjuangan Umat Islam Indonesia, menyebutkan bahwa kedua tempat itu sebetulnya merupakan suatu simbol aktivitas dalam dunia kehidupan Muslim. &#8220;Penafsiran&#8221; Kunto yang didasarkan pada pendekatan sosiologis memaknai &#8220;pasar&#8221; sebagai simbol aktivitas kerja secara khusus, sedangkan &#8220;masjid&#8221; dimaknai sebagai wilayah beribadah atau belajar (ta&#8217;lim) secara khusus pula.</p>
<p>Memang, bila &#8220;kerja&#8221; dibatasi maknanya pada matra ekonomi dan sosial belaka, seakan-akan mengesankan adanya dikotomi antara yang profan-duniawi (pasar, kerja) dengan yang sakral-ukhrawi (masjid, belajar). Celakanya, kesan seperti itu tampak begitu kuat di kalangan Muslim sendiri.</p>
<p>Dalam realitanya, cakrawala pandang kaum Muslim modern atas dunia kehidupannya terbagi pada dua kelompok yakni, pertama, kelompok yang lebih terfokus pada urusan &#8220;pekerjaan&#8221;. Mereka sudah mencoba menampilkan kinerja yang profesional, tapi motivasi bekerjanya sangat rapuh, yakni sekadar mencari uang semata. Akibatnya, dari motivasi yang kurang lurus tersebut, keinginannya untuk berderma di jalan Allah amat minim. Ia merasa tidak pantas untuk mengeluarkan sedekah, infak, zakat ataupun khumus karena toh yang bekerja adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain. Ia merasa bahwa kekayaan yang ia raih bukanlah anugrah dari Allah, namun dari jerih payahnya sendiri. Jadi, dalam mencari nafkah, mereka begitu punya semangat yang tinggi dan etos yang kuat. Akan tetapi, untuk urusan ilmu atau belajar mereka mencukupkan diri dengan pengetahuan yang sudah terakumulasi sebelumnya.</p>
<p>Kelompok kedua adalah mereka yang memfokuskan diri pada urusan keilmuan/&#8221;ibadah&#8221;. Kelompok ini amat gandrung pada urusan yang sifatnya &#8220;intelektual-ritual&#8221;, namun kurang bisa menampilkan sikap yang profesional dalam bekerja. Artinya, pekerjaan yang mereka tunaikan kualitasnya amat rendah, tidak tepat waktu, dan kurang cita rasa seni. Yang penting, selesai bung ! adalah motto mereka. Dalam mengejar ilmu atau melakukan ibadah ritual, mereka memang &#8220;jago&#8221;-nya. Namun dalam urusan pekerjaan, mereka tidak punya sikap yang sama. Itu kan duniawi, kilah mereka.</p>
<p>Tafsir sosiologis dari Kunto tentang &#8220;pasar&#8221; dan &#8220;masjid&#8221; tampaknya mendekati kenyataan yang menimpa pada kaum Muslimin sendiri. Ideologi &#8220;kaum pasar&#8221; semakin diperkuat dengan serbuan pandangan materialisme Barat yang sangat memuja benda atau materi. Materilah yang menjadi standar apakah orang ini pantas atau tidak untuk dihormati, dihargai, atau diakrabi. Bahkan dikawini. Andil budaya massa seperti televisi, majalah, koran, ataupun radio semakin memperteguh lagi akan pandangan dunia yang sebetulnya asing, dan tidak berakar pada nadi kehidupan kaum Muslim.</p>
<p>Sedangkan &#8220;kaum masjid&#8221; seolah-olah muncul di atas ketidakberdayaan dalam menghadapi arus zaman. &#8220;Sufisme&#8221; menjadi suatu lahan eskapis bagi mereka untuk menghindari kenyataan. Dan, mereka berlindung di bawah istilah-istilah &#8220;sabar&#8221;, &#8220;zuhud&#8221;, &#8220;doa&#8221;, &#8220;ziarah&#8221;, dan sebagainya.</p>
<p>Etos Kerja dalam Islam</p>
<p>Sesungguhnya dikotomi antara &#8220;kerja&#8221; dengan &#8220;belajar&#8221; tidak perlu terjadi. Karena, apabila kita menghayati ikrar kita secara mendalam pada proposisi &#8220;Iyyaka na&#8217;budu wa iyyaka nasta&#8217;in&#8221; dalam surat Al-Fatihah, maka dunia kehidupan kaum Muslimin bernuansa ibadah yang sangat kental. Dalam firman-Nya yang lain, Allah mengatakan, &#8220;Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah,&#8221; (QS Adz-Dzariyat, 51 : 56). Sehingga, jelas-jelas tidak ada pemisahan antara yang sakral dengan yang profan, yang duniawi dengan yang ukhrawi.</p>
<p>Ketika mengomentari ayat, &#8220;Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad (perjanjian) itu&#8221; (QS Al-Ma&#8217;idah, 5 :1), Raghib Isfahani, sebagaimana dikutip Seyyed Hossein Nasr (1994) mengatakan bahwa perjanjian-perjanjian itu meliputi perjanjian-perjanjian antara Tuhan dan manusia, yakni kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan; [perjanjian antara manusia dan dirinya sendiri; dan [perjanjian] antara individu dan sesamanya.</p>
<p>Dengan demikian, perjanjian (uqud) yang dirujuk pada ayat tersebut berkisar antara pelaksanaan shalat sehari-hari sampai menjual barang dagangan di bazaar, dari sembah sujud hingga kerja mencari penghidupan.</p>
<p>Berangkat dari pandangan dunia tradisional tersebut yang tidak mendikotomikan antara yang sakral dan yang profan, maka etos kerja kaum Muslim selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Ini artinya, dalam bekerja karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara yakni pekerjaan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p>Tanggung jawab terhadap kerja berarti kesiapan untuk bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua tindakan manusia. Dalam ushuluddin disebut-sebut perihal konsep ma&#8217;ad atau qiyamah yang bila diterjemahkan dalam keseharian akan sangat mendukung sekali terhadap profesionalisme dalam bekerja. Di sini konsep ma&#8217;ad atau qiyamah bukanlah suatu konsep di langit-langit Platonik melainkan sesuatu yang hidup, membumi.</p>
<p>Penghayatan yang mendalam terhadap prinsip ma&#8217;ad akan berimplikasi positif dan konstruktif terhadap perkembangan kepribadian kaum Muslim. Setidaknya dengan menghayati prinsip tersebut, pemuda Muslim tidak mengenal istilah pengangguran.</p>
<p>Konon, praktik shalat wajib di kalangan Syi&#8217;ah yang mencakup shalat fajr, shalat siang hari (Zhuhur dan &#8216;Ashar), dan shalat malam hari (Maghrib dan &#8216;Isya), merupakan refleksi etos kerja mereka yang begitu tinggi dan manifestasi produktivitas dalam berkarya. Artinya, bila kaum Syi&#8217;ah selesai melaksanakan shalat siang hari, maka setelah selesai shalat dan zikir, mereka akan kembali bekerja dengan semangat yang tetap terjaga. Bukan meneruskannya dengan aktivitas yang kurang produktif dan tidak bermanfaat.</p>
<p>&#8220;Kerja berkaitan erat dengan doa dan hidayah bagi semua masyarakat tradisional dan kaitan ini dirasakan dan diaksentuasikan dalam Islam,&#8221; tulis Nasr (1994). Dengan mengamati lafaz adzan Syi&#8217;ah, dengan formulasi hayya &#8216;ala al-shalah, hayya &#8216;ala al-falah, dan hayya &#8216;ala khair al-&#8217;amal, Nasr menyimpulkan bahwa shalat dan kerja memiliki keterkaitan yang prinsipal. &#8220;Di sana hubungan antara shalat, kerja, dan amal saleh selalu ditekankan,&#8221; lanjutnya.</p>
<p>Perspektif Islam yang padu, menolak membedakan antara yang sakral dan yang profan, yang ukhrawi dan yang duniawi, yang religius dan yang sekular atau, secara lebih spesifik, antara shalat dan kerja. Implikasi praktisnya adalah bahwa sebagaimana kita mencoba khusyu dalam shalat, maka begitu pula dalam bekerja kita mencoba untuk meng-khusyu&#8217;-kan diri. Dalam bahasa bisnisnya, berusaha bersikap lebih profesional.</p>
<p>Lebih jauh, sebagaimana ketakutan pada Tuhan dan tanggung jawab kepada-Nya dalam ekspresi shalat kita, maka demikian pula kita dalam pekerjaan kita. Karena, &#8220;Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.&#8221;</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kesadaran Berzakat dan Etos Kerja ]]></title>
<link>http://aespee.wordpress.com/2009/09/14/kesadaran-berzakat-dan-etos-kerja/</link>
<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 04:20:33 +0000</pubDate>
<dc:creator>aespee</dc:creator>
<guid>http://aespee.wordpress.com/2009/09/14/kesadaran-berzakat-dan-etos-kerja/</guid>
<description><![CDATA[Allah SWT berfirman, &#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang−orang yang beriman, (yaitu) orang−orang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Allah SWT berfirman, &#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang−orang yang beriman, (yaitu) orang−orang ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Obama taler i Kongressen og NYT forkæler retorikerne]]></title>
<link>http://taletank.wordpress.com/2009/09/10/obama-taler-i-kongressen-og-nyt-fork%c3%a6ler-retorikerne/</link>
<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 11:00:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>katrine</dc:creator>
<guid>http://taletank.wordpress.com/2009/09/10/obama-taler-i-kongressen-og-nyt-fork%c3%a6ler-retorikerne/</guid>
<description><![CDATA[New York Times online har en fantastisk feature for retorikere og andre tale-freaks. Se Obamas tale ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://www.nytimes.com/" target="_blank">New York Times online</a> har en fantastisk feature for retorikere og andre tale-freaks. Se <a href="http://www.nytimes.com/interactive/2009/09/10/us/politics/20090910-obama-health.html" target="_blank">Obamas tale til kongressen om reform af det amerikanske sundhedsvæsen</a>, holdt i går, d. 9. september 2009. Talen ligger som videoklip i sin fulde længde, og transskriptionen kører løbende ved siden af, inddelt i afsnit med tidsmarkeringer. Foroven kører en tidslinje over talens indholdselementer. Et faneblad ved transskriptionen med titlen Check Points rummer en kortfattet politisk analyse af talens temaer af en NYT-kommentator, herunder muligheden for at klikke direkte hen til det relevante sted i videooptagelsen, ligesom en søgefunktion gør det muligt at søge på ord og vendinger brugt i talen og klikke hen til videooptagelsen. Nice.</p>
<p>Et referat af talen og dens baggrund ligger <a href="http://www.nytimes.com/2009/09/10/us/politics/10obama.html?hp" target="_blank">her</a>; og debatten kører fx <a href="http://prescriptions.blogs.nytimes.com/2009/09/09/live-blogging-the-presidents-speech/?apage=1#comments" target="_blank">her</a>. Og så kan man jo selv more sig ved at lede efter redaktionelt stof om &#8217;skandalen&#8217; med <a href="http://politiken.dk/udland/article785511.ece" target="_blank">republikaneren Joe Wilson der råbte &#8220;You lie&#8221; midt i Obamas tale</a>.</p>
<p> </p>
<p>Og så må jeg bare sige at selv om jeg ikke har en fetisch for taler (lidt underligt når man er retoriker, men altså, det er bare ikke lige mig), så kan jeg anbefale den her! Det er virkelig et smukt stykke arbejde. Derudover er det rasende interessant at følge dækningen omkring den foreslåede sundhedsreform, for hvis man går og tror at amerikansk og europæisk mentalitet er lidt det samme, bare med et par finjusteringer, er det her et område hvor forskellene i vores grundlæggende værdier og samfundsopfattelser træder skarpt frem. At et offentligt sundhedsvæsen skulle være socialistisk, ja, nærmest betonkommunistisk, er oprivende tanke for en dansk skabssocialdemokrat uanset partifarve. USA er virkelig et af de mest fremmedartede &#8211; og fantastiske &#8211; lande jeg nogensinde har rejst i. Den her debat er et vidunderligt eksempel.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Its been a year since we left Holland.. ]]></title>
<link>http://arthyvijayaraghavan.wordpress.com/2009/08/13/its-been-a-year-since-we-left-holland/</link>
<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 08:35:47 +0000</pubDate>
<dc:creator>Arthy Vijayaraghavan</dc:creator>
<guid>http://arthyvijayaraghavan.wordpress.com/2009/08/13/its-been-a-year-since-we-left-holland/</guid>
<description><![CDATA[Last year, this same date we arrived to India in the mid-night.. We left the beautiful Holland and r]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Last year, this same date we arrived to India in the mid-night.. We left the beautiful Holland and r]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[PERILAKU KERJA PRESTATIF – Selalu Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja dan Tanggung Jawab]]></title>
<link>http://teddywirawan.wordpress.com/2009/08/13/perilaku-kerja-prestatif-%e2%80%93-selalu-komitmen-dalam-pekerjaan-memiliki-etos-kerja-dan-tanggung-jawab/</link>
<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 07:29:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>Teddy Wirawan Trunodipo</dc:creator>
<guid>http://teddywirawan.wordpress.com/2009/08/13/perilaku-kerja-prestatif-%e2%80%93-selalu-komitmen-dalam-pekerjaan-memiliki-etos-kerja-dan-tanggung-jawab/</guid>
<description><![CDATA[Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahkan semua perhatianya pada usaha yang akan digelutinya, didalam menjalankan usaha tersebut seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad yang mengebu-gebu dan menyala-nyala (semangat tinggi) dalam mengembangkan usahanya, ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, bekerja keras, dan tidak takut menghadapi peluang peluang yang ada dipasar. <!--more--></p>
<p>Tanpa usaha yang sungguh-sunguh terhadap pekerjaan yang digelutinya maka wirausaha sehebat apapun pasti menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu penting sekali bagi seorang wirausaha untuk komit terhadap usaha dan pekerjaannya. Salah satu sumber bala yang menimbulkan bencana nasional akhir-akhir ini adalah karena tidak dimilikinya etos kerja yang memadai bagi bangsa kita.</p>
<p>Belajar dari negara lain, Jerman dan Jepang yang luluh lantak di PD II. Tetapi kini, lima puluh tahun kemudian, mereka menjadi bangsa termaju di Eropa dan Asia. Mengapa? Karena etos kerja mereka tidak ikut hancur. Yang hancur hanya gedung-gedung, jalan, dan infrastruktur fisik.</p>
<p>Max Weber menyatakan intisari etos kerja orang Jerman adalah : rasional, disiplin tinggi, kerja keras, berorientasi pada kesuksesan material, hemat dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan, menabung dan investasi. Di Timur, orang Jepang menghayati “bushido” (etos para samurai) perpaduan Shintoisme dan Zen Budhism. Inilah yang disebut oleh Jansen H. Sinamo (1999) sebagai “karakter dasar budaya kerja bangsa Jepang”.</p>
<p>Ada 7 prinsip dalam bushido, ialah :<br />
1.	Gi : keputusan benar diambil dengan sikap benar berdasarkan kebenaran, jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, terhormat,<br />
2.	Yu : berani, ksatria,<br />
3.	Jin : murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama,<br />
4.	Re : bersikap santun, bertindak benar,<br />
5.	Makoto : tulus setulus-tulusnya, sungguh-sesungguh-sungguhnya, tanpa pamrih,<br />
6.	Melyo : menjaga kehormatan martabat, kemuliaan,<br />
7.	Chugo : mengabdi, loyal. Jelas bahwa kemajuan Jepang karena mereka komit dalam penerapan bushido, konsisten, inten dan berkualitas.</p>
<p>Begley &#38; Cjazka, (1993) menggolongkan faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi tersebut dalam 4 kategori, yaitu :<br />
1.	Karakteristik individu (usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, status perkawinan)<br />
2.	Karakteristik yang berhubungan dengan pekerjaan<br />
3.	Karakteristik struktural (formalitas, desentralisasi<br />
4.	Pengalaman dalam kerja.<br />
Dessler, (1994), membagi komitmen organisasi dalam 3 (tiga) faktor, yaitu :<br />
1.	Kepercayaan dan penerimaan yang penuh atas nilai-nilai dan tujuan organisasi<br />
2.	Keinginan bekerja keras demi kepentingan organisasi<br />
3.	Keinginan untuk mempertahankan diri agar tetap menjadi anggota organisasi</p>
<p>Meyer dan Allen (1991) merumuskan suatu definisi mengenai komitmen dalam berorganisasi yaitu sebagai suatu konstruksi psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi. Berdasarkan definisi tersebut anggota yang memiliki komitmen terhadap organisasinya akan lebih dapat bertahan sebagai bagian dari organisasi dibandingkan anggota yang tidak memiliki komitmen terhadap organisasi.</p>
<p>Penelitian dari Baron dan Greenberg (1990) menyatakan bahwa komitmen memiliki arti penerimaan yang kuat individu terhadap tujuan dan nilai-nilai perusahaan di mana individu akan berusaha dan berkarya serta memiliki hasrat yang kuat untuk tetap bertahan di perusahaan tersebut.</p>
<p>Tiga dimensi utama dalam komitmen menurut Meyer &#38; Allen (1997) adalah,<br />
1.	Affective commitment  &#8211; Komitmen dipandang merefleksikan orientasi afektif terhadap organisasi; Affective commitment berkaitan dengan hubungan emosional anggota terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi, dan keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi. Anggota organisasi dengan affective commitment  yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena memang memiliki keinginan untuk selalu afektif terhadap organisasi (Allen &#38; Meyer, 1997).</p>
<p>2.	Continuance commitment – Pertimbangan kerugian jika meninggalkan organisasi; Continuance commitment berkaitan dengan kesadaran anggota organisasi akan mengalami kerugian jika meninggalkan organisasi. Anggota organisasi dengan continuance commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena mereka memiliki kebutuhan untuk menjadi anggota organisasi tersebut untuk seterusnya bahkan selamanya (Allen &#38; Meyer, 1997).</p>
<p>3.	Normative commitment – Beban moral untuk terus berada dalam organisasi;  Normative commitment menggambarkan perasaan keterikatan untuk terus berada dalam organisasi. Anggota organisasi dengan normative commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena merasa dirinya harus berada dalam organisasi tersebut dengan satu maupun berbagai alasan atau motivasi pribadi (Allen &#38; Meyer, 1997).</p>
<p>Sumber :<br />
Modul Kewirausahaan SMK ditulis oleh Dr. Suryana, M.Si<br />
http://rumahbelajarpsikologi.com/komitmen-organisasi/oleh Karina, SPsi.<br />
http://wangmuba.com/2009/03/05/faktor-faktor-komitmen-organisasi/Oleh WangMuba<br />
http://www.psikomedia.com/Author : Ryan/Published : 2009/03/14</p>
<p><a href="http://www.ziddu.com/download/6244239/MATRIAJARPerilakuKerjaPrestatif-KomitmenTinggi.rtf.html"><br />
</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.ziddu.com/download/6244239/MATRIAJARPerilakuKerjaPrestatif-KomitmenTinggi.rtf.html"><strong>DOWNLOAD MATERI</strong></a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SELAMAT BERJUANG ETOSER 08]]></title>
<link>http://rangtalu.wordpress.com/2009/08/04/selamat-berjuang-etoser-08/</link>
<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 16:35:58 +0000</pubDate>
<dc:creator>rangtalu</dc:creator>
<guid>http://rangtalu.wordpress.com/2009/08/04/selamat-berjuang-etoser-08/</guid>
<description><![CDATA[Untuk ETOSER 2008 yang tengah membuktikan kapasistas diri mereka. ETOS PADANG Angkatan 2008 baru saj]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Untuk ETOSER 2008 yang tengah membuktikan kapasistas diri mereka</strong>.</p>
<p>ETOS PADANG Angkatan 2008 baru saja berangkat ke Bogor siang tadi (senin 3 agustus) untuk mengikuti TENS (Temu Etos Nasional). Saya tidak sempat melihat mereka berangkat, karena ada beberapa hal harus diselesaikan di kampus. Tapi saya sungguh tahu betapa besar semangat yang mereka bawa kesana. Entah semangat itu timbul karena mereka akan merasakan terbang bersama pesawat untuk pertama kalinya, atau semangat yang timbul karena mereka akan berangkat ke daerah baru; Bogor. Samalah seperti kami ETOSER 2004 beberapa tahun lalu dengan beragam motivasi lain yang melekat dimasing-masing Individu. Tapi satu yang pasti mereka, ETOSER 2008 datang ke Bogor dengan sebuah semangat besar untuk menunjukkan kepada semua bahwa ETOS PADANG sungguh luar biasa. Sebuah semangat pembuktian kepada yang lain bahwa ETOS PADANG patut untuk diperhitungkan.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-343" title="ADRIAN FETRISKHA" src="http://rangtalu.wordpress.com/files/2009/08/etos-cool.jpg?w=300" alt="ADRIAN FETRISKHA" width="417" height="169" /><!--more--></p>
<p>Persiapan yang dilakukan adik-adik ETOSER 2008 sungguh luar biasa. Saya memang tidak melihat persiapan yang dilakukan seluruh ETOSER tapi cukuplah melihat persiapan yang dilakukan Epo Yuliadi sebagai sampel. Beliau adalah satu-satunya laki-laki di etos angkatan 2008, sembilan orang temannya yang lain adalah perempuan. Banyak persiapan yang dilakukannya mulai dari membuat artikel yang harus di kirim ke Koran, menulis rancangan masa depan. Menghafal surah as shaff, terlebih menjelang keberangkatan, ia tidak terpisahan dari Alquran. Latihan drama yang dilakukan setiap hari dan mengadakan acara Kampung Cerdas dll.. Saya rasa ETOSER 2008 yang lain pun melakukan hal yang sama.</p>
<p>Setiap kali moment seperti ini saya selalu ingat tahun 2005. Saat kami ETOSER angkatan 2004 berangkat TENS ke Bogor. Cukup banyak juga tugas-tugas yang harus diselesaikan sebelum berangkat kesana. Membuat makalah tentang BHP dan menyiapkan penampilan daerah. Setiap kali saya dengar adik-adik 2008 mau latihan drama, sekilas memori saya berputar ke 4 tahun silam. Asrama ETOS di Jl. Azizi Komplek Cendana Andalas kembali hadir diingatan. Berkelabat bayangan saat kami juga melakukan hal yang sama, latihan untuk penampilan di acara TENS.</p>
<p>Setiap malam menjelang keberangkatan itu, kami etoser laki-laki latihan randai di belakang Mushalla Sakinah, Mushala yang tepat berada di belakang asrama, hingga larut malam. Kami terpaksa menahan-nahan suara agar tidak terlalu keras karena bisa saja mengganggu masyarakat yang sedang tidur. Karena lapangan mushalla tidak terlalu luas, sementara gerakan randai membutuhkan medan gerak yang luas maka terkadang kami pindah latihannya di jalanan komplek. Kalau malam kan jalanan sudah mulai sepi. Sulit sekali menyamakan gerakan randai itu. Ada yang terlalu cepat, ada yang terlalu lambat, ada yang lupa gerakannya. Hingga menjelang keberangkatan penampilan kami belum bisa dikatakan sempurna. Tapi karena besok mau berangkat, tidak ada lagi waktu untuk latihan. Ya sudah, dicukupkan saja latihan randainya.</p>
<p>Kalau hari ini adik-adik berangkat dengan pesawat terbang, kami dulu lebih memilih naik bis. Karena jika naik bis, kami bisa melihat perjalanan yang mengasikkan, daerah-daerah yang baru, melihat matahari terbit dan terbenam. Kami sampai di Merak malam hari. Ketika berada di kapal saat menyeberangi selat sunda, sungguh menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Kami naik ke bagian atas kapal, dan kembali mengulang latihan randai disini. Latihan randai di atas selat sunda, di antara sumatera dan jawa. Semua mata melirik, kami hanya tersenyum, pertunjukan berlanjut, kemudian tertawa lepas di kelam malam. Tidak hanya bintang, lampu kapal dan mercusuar yang bersinar. Dada kamipun menyala penuh semangat. Bogor tunggu kami.</p>
<p>Dan sungguh..</p>
<p>Ketika sampai di acara TENS, disaat sesi pertunjukan penampilan daerah. Randai dari padang ini menjadi yang paling fenomenal, paling menarik mata. Hahaa bukannya sombong. Ya.. begitulah.. Saat kami pertama kali masuk dan memulai gerakan randai bagian awal. Semua berdiri, semua terkesima, semua mengambil kamera untuk memotret, semua bertepuk tangan, semua ingin berfoto dengan ETOSER Padang. Bukankah begitu Buk Nuk? Mbak Yanti?? Mas Bambang ?? Subhanallah. Sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Bangga sekali rasanya hari itu, lelah dan letih ketika latihan beberapa hari lalu rasanya hilang begitu saja..</p>
<p>Kesuksesan dalam sesi penampilan randai akhirnya meningkatkan percaya diri seluruh ETOSER. Sehingga di dalam rangkaian acara yang lainpun ETOS PADANG terlihat mencolok, terlebih diskusi BHP malam itu..</p>
<p>…</p>
<p>Hari ini, itu semua telah menjadi masa lalu, tapi bukan berarti telah habis, karena ada generasi baru yang kembali datang ke Bogor untuk membuat harum nama ETOS PADANG, dan itu adalah kalian adik-adik ETOS PADANG angkatan 2008.</p>
<p>SELAMAT BERJUANG.. kami tunggu cerita akan hebatmu disini, kami tunggu kabar kemenanganmu</p>
<p>buatlah semua kagum dan berbangga akan kalian</p>
<p>Yakinlah kalian adalah orang-orang terbaik. Seperti yang kalian sampaikan dan seperti apa yang kalian minta untuk saya tulsikan di X-banner kita, seperti itulah kalian selayaknya “<em>kami bisa, kami luar biasa</em>”</p>
<p>:::</p>
<p><strong>Mengenang Semangat ETOSER 2004</strong></p>
<p>adriyan, adrian fetriskha, aarafi dian, dapit riyadi, firdaus, fauzi amri, sanisol musafil, ramadhan hamzah, willi septiawan, zenius madi</p>
<p>devi, neri, inggrit, reni, iimelda, elfiyanti, dona, ruri</p>
<p><strong>Pemompa Semangat ETOSER 2008</strong></p>
<p>Epo yuliadi, raihana sabathani, atna dewi, halimatun syakdiah, susan gustina, fadhila rahma, retno ayu purnama sari, melia afnida santi, osri putri dan parasmika.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Medan Rasa]]></title>
<link>http://garaside.wordpress.com/2009/07/07/medan-rasa/</link>
<pubDate>Tue, 07 Jul 2009 05:09:26 +0000</pubDate>
<dc:creator>Slamet Santoso</dc:creator>
<guid>http://garaside.wordpress.com/2009/07/07/medan-rasa/</guid>
<description><![CDATA[Bisa dikata, benci dan cinta bercampur menjadi satu, ketika aku mendengar Teori Medan. Ini teori pal]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bisa dikata, benci dan cinta bercampur menjadi satu, ketika aku mendengar Teori Medan. Ini teori pal]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kerja keras]]></title>
<link>http://halamanlepas.wordpress.com/2009/07/05/kerja-keras/</link>
<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 04:39:49 +0000</pubDate>
<dc:creator>Aku Sendiri</dc:creator>
<guid>http://halamanlepas.wordpress.com/2009/07/05/kerja-keras/</guid>
<description><![CDATA[Semua ini pencapaian dengan kerja keras. Kantor baru milik sendiri akhirnya aku punya. Rumah sendiri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Semua ini pencapaian dengan kerja keras. Kantor baru milik sendiri akhirnya aku punya. Rumah sendiri aku juga punya, untuk kedua kalinya. Tidak ada santai malas-malasan. Sejak kecil aku dilatih kerja keras secara smart. Mungkin ada hubungannya mungkin tidak dengan latar belakangku sebagai pendatang. Papa malah kelahiran mainland, datang ke sini dengan kerja keras. Dan kamu tahu kan Mas, waktu SMP aku harus naik sepeda ke pasar untuk menagih utang dari para pedagang yang ambil dagangan dari Mama. Telepon saja dulu kami tidak punya sehingga waktu kerusuhan 1980 di Solo itu kami sekeluarga hanya tegang mendengarkan BBC dan Radio Australia.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[RSUD BIMA GELAR LOMBA PELAYANAN ANTAR RUANGAN]]></title>
<link>http://rsudbima.wordpress.com/2009/06/03/rsud-bima-gelar-lomba-pelayanan-antar-ruangan/</link>
<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 05:54:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>buletinrsudbima</dc:creator>
<guid>http://rsudbima.wordpress.com/2009/06/03/rsud-bima-gelar-lomba-pelayanan-antar-ruangan/</guid>
<description><![CDATA[Terinspirasi Kegiatan 5 R HMT dan HUT Bima Untuk meningkatkan mutu dan kesan umum yang baik terhadap]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Terinspirasi Kegiatan 5 R HMT dan HUT Bima</strong> Untuk meningkatkan mutu dan kesan umum yang baik terhadap RSUD Bima maka pada awal Juni 2009 ini digelar lomba pelayanan antar ruangan/unit dan instalasi se-RSUD Bima. <img class="size-medium wp-image-168" title="Salah satu bagian RS sebelum lomba" src="http://rsudbima.wordpress.com/files/2009/06/lab-lam.jpg?w=300" alt="Salah satu bagian RS sebelum lomba" width="300" height="149" />Salah satu bagian RS sebelum lomba</p>
<p>Sebanyak 13 instalasi, 7 ruang rawat inap, seluruh poliklinik ikut serta dalam lomba ini. Pemenang lomba ini dibagi dalam beberapa kategori. Kategori pertama antar instalasi, kedua antar poliklinik dan ketiga antar ruang rawat inap. Kepada pemenang disamping hadiah juga piagam pengharagaan dari direktur RSUD Bima. Untuk menyukseskannya, direktur RSUD Bima sejak 1 bulan lalu membentuk panitia penilai yang meliputi seluruh unsure terkait di RSUD Bima. Tim penilai ini di Pimpin oleh H. Nasrullah, S.Sos (kabid Pelayanan) dengan sekretaris sekaligus anggota Rosdiyana, SKM (kasubid Bimb Askep), anggota tim lainnya adalah Nurdin, S. Adm. (Kasubid Diklat), Syahmir, SKM (Kasi Program), Hayatun Arsyad (Kasubid Kepegawaian), dr. Muhamad Ali, Sp.PD (Ketua Komite Medik), dan Firman, SE, S.Kep. (ketua Komite Perawat).</p>
<p><img class="size-medium wp-image-170" title="Salah satu bagian RS setelah lomba" src="http://rsudbima.wordpress.com/files/2009/06/lab-bar.jpg?w=300" alt="Salah satu bagian RS setelah lomba" width="300" height="150" />Salah satu bagian RS setelah lomba</p>
<p>Tim yang dibentuk telah merumuskan berbagai indicator obyektif penilaian. Hasilnya banyak parameter yang akan dipergunakan. “Kita tidak hanya menilai kebersihan”, ujar H. Nasrullah, S.Sos., selaku Ketua Tim penilai. “Unsur kebersihan itu hanya salah satu unsur  5 R dan 5 R ini hanya salah satu parameter dari 14 parameter penilaian yang kita pakai”, lanjut nya. Menyukseskan kegiatan ini RSUD Bima melalui direktur jauh-jauh hari telah mengumumkan kepada seluruh instalasi, ruangan/unit yang ada. Bahkan direktur meminta bagian dikumentasi agar mengambil gambar di ruangan/instalasi pada saat yang tidak diduga-duga oleh pemilik ruangan. “Sehingga hasilnya lebih obyektif dan sebagai bahan instrospeksi”, ujar direktur kepada warta RSUD yang kebetulan jadi petugas dokumentasi.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-175" title="Tim Penilai bersama staf ruang bersalin" src="http://rsudbima.wordpress.com/files/2009/06/tim-penilai.jpg?w=300" alt="Tim Penilai bersama staf ruang bersalin" width="300" height="128" />Tim Penilai bersama staf ruang bersalin</p>
<p>Hasilnya, saat penilaian resmi dilakukan pada 1 Juni 2009, kata pertama yang terucap dari seluruh tim penilai adalah LUAR BIASA !. bahkan dr. Muhamad Ali, Sp.PD benar-benar merekomendasikan kegiatan ini diadakan secara rutin. “Dari unsure kebersihan, saya pikir semuanya tidak ada masalah. Tinggal beberapa hal seperti ketersediaan dan kepatuhan terhadap protap, pemahaman visi misi rumah sakit dan ruangan masing-masing”, ujar nya. Pantauan warta RSUD Bima yang ikut bersama tim penilai juga melihat hal yang sama. Ruangan-ruangan telah ditata sedemikian bersih dan rapi. <strong> </strong></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Prawo patologiczne niczym nauka w Polsce]]></title>
<link>http://nfapat.wordpress.com/2009/05/21/prawo-patologiczne-niczym-nauka-w-polsce/</link>
<pubDate>Thu, 21 May 2009 11:39:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>nfajw</dc:creator>
<guid>http://nfapat.wordpress.com/2009/05/21/prawo-patologiczne-niczym-nauka-w-polsce/</guid>
<description><![CDATA[Bronisław Wildstein przedstawia &#8211; Państwo praw&#8230; ników, 20.05.2009 Dobre prawo jest ramą ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Bronisław Wildstein przedstawia &#8211; Państwo praw&#8230; ników, 20.05.2009 Dobre prawo jest ramą ]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Turnieje rycerskie]]></title>
<link>http://bibliotekaswiatow.wordpress.com/2009/05/05/turnieje-rycerskie/</link>
<pubDate>Tue, 05 May 2009 13:57:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>chmuriat</dc:creator>
<guid>http://bibliotekaswiatow.wordpress.com/2009/05/05/turnieje-rycerskie/</guid>
<description><![CDATA[Gry wojenne były uprawiane przez człowieka od czasów starożytnych we wszystkich niemal kulturach. Ni]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Gry wojenne były uprawiane przez człowieka od czasów starożytnych we wszystkich niemal kulturach. Niewątpliwie, turniej rycerski czerpał pełną garścią z tego dziedzictwa przeszłości. Nadał im jednak własną, niepowtarzalna jakość i podniósł do rangi porównywalnej może jedynie z cyrkiem rzymskim i Olimpiadą grecką. Turniej był wielkim konglomeratem cech wywodzących się tyleż z wojennych zabaw, co z samego etosu rycerskiego. O tym właśnie oraz o rozwoju turniejów i ich późniejszym przeobrażeniu się w czysty spektakl mówi niniejszy cykl.</p>
<h1>Nazwy i początki</h1>
<p>Turniej, jako zawody stricte wojskowe, miał być elementem treningu, przygotowaniem do prawdziwej walki na placu boju. Jednak rycerz, chcący stanąć z innymi mężami w szrankach, długo przygotowywał się szlifując własne umiejętności. Jednym ze sposobów takiego przysposobienia był behourd (bohort, buhurt). Kiedy patrzymy na turnieje współczesnych pasjonatów rycerstwa powiązanych w bractwa, to ich zawody można właśnie określić, jako behourd. Składały się na nie ćwiczenia typu trafienie w wieniec, czy przebicie &#8220;Saracena&#8221;. &#8220;Saracen&#8221; miał postać słupa, na którym znajdowała się ruchoma poprzeczna belka z tarczą. Odpowiednie trafienie kopią powodowało, ze belka z tarczą obracała się dając szarżującemu wolny przejazd. Do behourd jednak włączano coraz więcej rozmaitych konkurencji, w tym również walki toczone na stępione ostrza lub kopie bez ostrego grotu. Wszystko to powodowało, że ostatecznie behourd stał się nieodróżnialny od turnieju, a samo słowo, poza Włochami, zaczęło wychodzić z użycia. Ostatecznie zastąpiło je francuskie &#8220;turnier&#8221;, którym odtąd określano walki rycerskie.</p>
<p>Należy przy tym zauważyć, ze oprócz Włoch, gdzie obowiązywała nazwa behourd, zawody rycerskie nie miały, na początku drugiego tysiąclecia naszej ery, jakiegoś odrębnego określenia. Sobory w Clermont i Reims z lat 1130 &#8211; 1131 nie znają słowa &#8220;turniej&#8221;. Podobnie dzieje się na soborze w Lateranie w 1139 roku. Użyte zostają określenia: &#8220;ćwiczenia i zabawy, na których rycerze (milites) mają zwyczaj zbierać się i lekkomyślnie walczyć ze sobą.&#8221; Dopiero kanon 20 późniejszego o kilkadziesiąt lat soboru laterańskiego z 1179 roku zawiera wyraz &#8220;torneamenta&#8221;, dodając, że tak właśnie pospolicie określa się &#8220;obrzydliwe ćwiczenia i zabawy&#8221; rycerzy. Zresztą jeszcze w XIII wieku kronikarz angielski Mateusz Paryski używał słów &#8220;conflictus gallicum&#8221; na określenie turniejów, co zresztą wskazuje na miejsce narodzin tej rozrywki. Natomiast &#8220;torneamentum&#8221;, to według niego spotkania z użyciem lekkiej broni, zasadniczo tylko dla rozrywki. Czyli &#8220;torneamentum&#8221; kronikarza Mateusza bardziej przypominało behourd niż turniej par excellence.</p>
<p>Jednak owo słowo nie było zarezerwowane wyłącznie dla samych zawodów rycerskich. Łączone je także z prawdziwą wojną, zwłaszcza w Hiszpanii. Występuje tam termin &#8220;torneo&#8221;, który, według kodeksu praw kastylijskiego króla Alfonsa X Mądrego, oznaczał wypad jednej ze stron konfliktu, podczas oblegania zamku. Przy czym istotą torneo było to, że po walce rycerze wracali do swoich obozowisk. Torneo zostało tam nazywane manewrem wojskowym i twórca kodeksu zaznaczył, że nie należy go mylić z pojęciem &#8220;torneamenientos&#8221;, czyli turniejami rycerskimi, organizowanymi w innych państwach.</p>
<p>Poczatku turniejów, w rozumieniu rycerskich zabaw, można się dopatrywać w IX wieku n.e. Podczas spotkania dwóch władców karolińskich: Ludwika Niemieckiego i Karola Łysego w 842 roku zostały przeprowadzone gry wojenne. Było to symulowane starcie dwóch drużyn konnych wojowników, przypominające nieco wojskowe manewry. Czy był to turniej? Zapewne jeszcze nie, ale niektóre cechy owego widowiska: spektakl, udział wojowników, pokaz sprawności, odnajdujemy również w turniejach par excellence. Jednakże w całej tej imprezie nikt ani razu nie użył broni. Dwa oddziały konnych wojowników stanęły naprzeciwko siebie i wykonując różnorakie manewry niby się nawzajem zaatakowały, a potem zasymulowały odwrót na widok obydwu królów, którzy z włóczniami w rękach galopowali w ich kierunku.</p>
<p>Dokumenty, które mówią o turniejach, jako o czymś jako tako pewnym, odnoszą się do wieku XI. Pierwszym z nich jest kronika Geoffreya Maslaterry z 1110 roku, która opisującą losy Normanów we Włoszech i na Sycylii. Między innymi jest tam wspomniane, że przy oblężeniu jednej z twierdz toczono pojedynki, w których walczyli mężni wojownicy obydwu stron. Działo się to w roku 1062. Drugim natomiast źródłem, częściej wspominanym w opracowaniach o średniowieczu, są &#8220;Kroniki Tours&#8221;. W jednej z nich zapisano:</p>
<p>&#8220;W siódmym roku panowania cesarza Henryka i w trzecim roku panowania króla Filipa (1063 rok) zdarzył się zdradziecki spisek w Angers. W rezultacie został zabity Geoffe de Preuilly i inni baronowie. To właśnie Geoffe de Preuilly zaczął urządzać turnieje rycerskie.&#8221;</p>
<p>akże i tutaj jednak istnieją wątpliwości. Bowiem nie wiemy, czy Maslaterry opisuje osobne starcia, zorganizowane pomiędzy obrońcami, a napastnikami podczas przerwy w walce, czy też wspomina o pojedynku bodącym częścią normalnej bitwy. Natomiast &#8220;Koniki Tours&#8221;, w których napisano ww. notkę, pochodzą z początku XIII wieku. Tymczasem &#8220;Kronika hrabiów Andegawenii&#8221; z pierwszej połowy XII wieku, datująca śmierć Geoffe de Preuilly na rok 1066, nie wspomina, że był on pierwszym organizatorem turniejów na tym obszarze. Możliwe więc, że kronikarz miasta Tours chcąc podnieść rangę danego turnieju, po prostu przypisał mu długą tradycję. Jakkolwiek było, z pewnością ani pan de Preuilly, ani normandzcy Hautevillovie, którzy zrobili wielką karierę w Italii i Lewancie, nie wymyślili turniejów. Była to prawdopodobnie idea, która narodziła się z potrzeby chwili. Wojownicy często w przeszłości wyzywali się na ubitą ziemię, aby dowieść swojej odwagi. Ba, czasem nawet, wzorem paladynów Okrągłego Stołu, stawali określonym miejscu składając propozycję stoczenia pojedynku każdemu napotkanemu rycerzowi. Wspomina o tym, między innymi, księżniczka bizantyjska Anna Komnena w swej słynnej &#8220;Aleksjadzie&#8221;. Dlaczegóż więc owych wyzwań i walk nie nagromadzić w jednym miejscu, ku chwale rycerzy i uciesze widzów? Pomysł był zaiste świetny, stąd od XII można datować gwałtowny rozkwit turniejów. Niewątpliwie łatwo dostrzec zbieżność okresu świetności turniejów z epoką gwałtownego rozwoju rycerskiej pieśni i poematu. Jest to całkowita prawda, bowiem obydwa elementy były związane z faktem zaistnienia nowego zjawiska, zwanego rycerskością. Młodzi, szlachetnie urodzeni wojownicy zjeżdżali się w jedno, wyznaczone miejsce, tam w dzień ćwiczyli i porównywali swe umiejętności bojowe, a wieczorami udawali się na ucztę, by przy winie słuchać pieśni trubadurów o wyczynach dawnych bohaterów: groźnych dla wrogów i wielbiących swe damy. Ów, nieco romantyczny styl życia, znalazł rychło możnych protektorów. Należeli do nich władcy Flandrii, Szampanii, Bretanii, Akwitanii, królowie Anglii, również później panowie burgundzcy i możnowładcy innych krajów.</p>
<p>Europa wschodnia była nieco opóźniona na tym polu. Pierwszym znanym turniejem na ziemiach polskich, a dokładniej śląskich, były zawody z 1243 roku zorganizowane przez awanturniczego księcia Bolesława Rogatkę wspomniane w &#8220;Księdze henrykowskiej&#8221;. Wiemy także, że znakomity władca i pretendent do tronu z XIII wieku Henryk Probus lubował się w tego typu rozrywkach. Polacy brali w nich udział również poza granicami kraju i choć byli tam cenieni, jako tędzy zawodnicy, to mimo wszystko należeli jedynie do odbiorców kultury, której źródło tkwiło na zachodzie Europy. Król Anglii Henryk, Henryk, hrabia Szampanii i Filip, hrabia Flandrii dali w XII wieku potężny impuls w rozwoju turniejów. Wszyscy zafascynowani kulturą rycerską, uwielbiający chansons de geste i powiązani rodzinnie osobą słynnej z romansów i lubieżności Eleonory Akwitańskiej, tak upodobali sobie turnieje, że były one w tym okresie organizowane niemal co dwa tygodnie, oczywiście o ile wierzyć dawnym kronikarzom.</p>
<p>Rycerze byli zachwyceni. Mogli pokazać swa dzielność, popisać się przed damami, zdobyć bogactwo i chwałę. Mniej zachwycony natomiast był kościół. Dziewiąty kanon soboru w owernijskim mieście Clermont z 1130 roku stanowił:<br />
&#8220;Z całą siłą zakazujemy tych obrzydliwych i próżnych ćwiczeń i zabaw, które miejsce mają (nundinas vel ferias), gdzie rycerze zbierają się, aby okazać swoja silę i odwagę. Często bowiem tam i przypadki śmierci tam się zdarzają. Niebezpieczeństwo jest i dla duszy. Jeżeli ktoś w ich czasie polegnie, nawet gdy zażąda i dostanie pokutę oraz viaticum, nie może być przez księdza pochowany w poświęconej ziemi&#8221;.</p>
<p>Trzeba bowiem powiedzieć, że śmierć zbierała wtedy obfite żniwo. Podczas pierwszego oficjalnie zanotowanego turnieju we Flandrii 1095 roku zginął hrabia Henryk de Lowen. Ginęli i zostawali kalekami królowie i książęta, lordowie i prości rycerze. Aż 23-ech zginęło ich w 1406 roku w Darmstadt, w 1241 roku aż 80-iu w Neuss. Sama tylko niewielka Saksonia utraciła w 1175 roku aż 16-u rycerzy walczących w szrankach. W 1194 roku Gratz był świadkiem śmierci Leopolda V, władcy Austrii. W roku 1559 turniej pozbawił Francję osobę monarchy, Henryka II Walezjusza. Natomiast na turnieju zorganizowanym z okazji wesela saksońskiej księżniczki Kunegundy, panna młoda oglądała pojedynek, w którym poległ jej brat. Dla porównania, we francusko &#8211; angielskiej bitwie pod Bremules w 1119 roku zginęło zaledwie trzech rycerzy na dziewięciuset.</p>
<p>Możni uwielbiali walczyć w szrankach tak samo, jak i prości wojownicy i tak samo w nich ginęli. Jednak nie wszyscy pochwalali udział w turniejach szlachty wysokiego pochodzenia. Książę Bolesław Wysoki, syn Władysława Wygnańca, wyzwał podczas kampanii włoskiej prowadzonej przez cesarza Fryderyka Barbarossę rycerza wielkiej postury. Pokonał go wprawdzie, ale musiał się nasłuchać wielu wymówek od swojego cesarskiego kuzyna, który tłumaczył mu, że książę nie powinien narażać się w tego typu walkach. Natomiast, gdy na podparyskim turnieju w 1186 roku zginął syn angielskiego króla Henryka II Geoffroy, książę Bretanii, król Francji Filip August wymógł na własnym synu Ludwiku przysięgę, ze nigdy nie będzie walczył w turnieju. Również na turnieju w Dunstable w 1309 roku książęta i lordowie wystawili jedynie swoje drużyny, sami zaś, ze względu na powagę swoich urzędów, wstrzymali się od osobistego uczestnictwa. Zaś francuskiemu Karolowi VI Szalonemu papież Klemens VI wyrzucał, że bierze udział w turniejach nie zachowując właściwej powagi przystającej panującemu.</p>
<p>Widać, że turnieje nie mniej niż wojny, przerzedzały szeregi wojowniczej szlachty. Jednakoż, mimo rozsądnego tonu Kościoła, dosyć zgodnego z obecnym pojęciem sportu i rywalizacji, nie pasował ów głos do tamtej epoki. Chociaż zapewne osłabił pęd brania udziału w turniejach, to go całkowicie nie zahamował.</p>
<p>Można jednak przypuszczać, że niekiedy zdarzało się duchowieństwu przymykać oczy na turnieje. Pisarz z połowy XIV wieku Jan de Beca, opisując ceremonię pasowania Wilhelma, hrabiego Holandii w 1247 roku, zamieścił w kronikach biskupstwa utrechckiego następujące słowa:<br />
&#8220;Po dokonaniu tego [przysięga i trzykrotne uderzenie mieczem w ramię] w tak uroczysty sposób, nowy rycerz po mszy, przy dźwięku trąb, przy huku bębnów i biciu cymbałów, stoczył z synem króla czeskiego trzykrotną walkę na włócznie, a po zakończeniu turnieju walką na nagie miecze, urządził wielkimi kosztami trzydniowe uroczystości &#8230;&#8221;</p>
<p>Mamy więc połączenie elementów świeckich i religijnych mimo, iż w XIII wieku turnieje były jeszcze zabronione. Inna rzecz, że w &#8220;Kronice hrabiów Andegawenii&#8221; opisana jest ceremonia pasowania Godfryda, hrabiego d?Anjou, z 1128 roku, a więc jeszcze z okresu przed soborem w Clermont, kiedy to turnieje zostały zakazane. Opis uroczystości obejmuje wspomnienie o wielkim turnieju, który trwał cały tydzień, natomiast nie ma żadnych odniesień religijnych. Jeżeli uogólnilibyśmy wnioski płynące z tych dwóch kronik, rozumowanie mogłoby wyglądać tak:<br />
- rycerstwo staje się powoli czymś więcej niż tylko klasą konnych wojowników, rycerz, to ktoś, kto zostaje powołany do pełnienia swojej służby, także w sensie religijnym,<br />
- turniej staje się coraz powszechniejszą rozrywką wśród rycerzy. Kościół, związany ze stanem rycerskim, siłą rzeczy wiąże się także z aspektami rycerskiego życia. Zjawisko takie występuje nawet w przypadku elementów uznawanych za grzeszne.</p>
<p>Dodajmy do tego zmniejszanie się liczebności wypadków na skutek wprowadzania specjalnych zabezpieczeń i ustalania przepisów zwiększających bezpieczeństwo. Wyżej wymienione elementy są częścią procesu łagodzenia stanowiska duchowieństwa, który w końcu doprowadził do zniesienia zakazu organizowania turniejów.</p>
<p>Należy jednak zaznaczyć, że choć głównym powodem niechęci kościoła do tej formy rozrywki, był wysoki wskaźnik wypadków, to przecież wskazywano i na inne problemy. Jakub de Vitry wymienił w jednym z kazań siedem grzechów popełnianych przez uczestników turniejów:<br />
- duma,<br />
- zazdrość,<br />
- nienawiść,<br />
- gniew,<br />
- chciwość,<br />
- ostentacja,<br />
- rozpusta.</p>
<p>Niewątpliwie, na turniejach działo się niejedno, lecz ich powszechność świadczy o tym, że przestrogi duchownych puszczano często mimo uszu. Niejeden rycerz opamiętywał się dopiero na łożu śmierci, jak to działo się przypadku opisanym przez kronikarza Mateusza Paryskiego. Wspomina on o rycerzu, który w ostatniej chwili krzyczał: &#8220;Biada mi, bo nazbyt lubiłem turnieje!&#8221;</p>
<p>Królowie Francji do połowy XIV wieku zazwyczaj nie byli zwolennikami turniejów. Tu rolę mecenasów spełniali prowincjonalni hrabiowie i książęta, jak wspomniani Henryk i Filip. Natomiast zdecydowanie turnieje popierali władcy Anglii, którzy wpadli na genialny pomysł wykorzystania ich, jako własnej tuby propagandowej. Na turnieje wszak przybywali najlepsi wojownicy, zamożni i ambitni, bądź biedni, ale żądni chwały. W rękach zręcznego monarchy, który umiałby zdobyć ich poparcie, mogli stanowić niezwykle groźną broń. By to osiągnąć, wtłoczono turnieje w pewien system. Ryszard Lwie Serce w roku 1194 wydał dekret, w którym ustanowił pięć oficjalnych miejsc turniejowych w hrabstwach Wilt, Warwick, Suffolk, Northampton i Nottingham (dwa miejsca). Patronował im sam władca, który potrafił niekiedy nawet wystarać się od papieża oficjalną zgodę i dyspensę dla uczestników takich turniejów. Przy czym rycerze byli obowiązani wpłacać 10 marek srebrem za uzyskanie pozwolenia na uczestnictwo, plus dodatkową sumę zależną od majątku.</p>
<p>Niemniej, nie wszystkim odpowiadały te sztywne reguły. Dlatego też rycerze angielscy często uczestniczyli w turniejach na kontynencie. Wprawdzie królowie Francji wydawali dekrety zakazujące organizowania turniejów, ale wielcy panowie niewiele z tego sobie robili. Stąd północ Francji, a także Niderlandy, to centrum turniejowe Europy XII i XIII wieku.</p>
<p>Jednak nie tylko tam rycerze stawali w szranki. Wspomnieliśmy o turniejach w Polsce, a wiemy także o turniejach niemieckich. Magdeburg był na przykład świadkiem niezwykłego zakończenia turnieju. Oto organizatorzy, jako nagrodę dla zwycięzcy przeznaczyli najpiękniejszą z miejscowych prostytutek. Rozesłali listy zaproszeniowe po okolicznych ziemiach. Nim jednak doszło co do czego, jeden z zamożnych kupców przekonał ową dziewczynę do zmiany stylu życia, dał jej posag i wydał za mąż. Nagroda więc zniknęła całkiem niespodziewanie, a ową opowieść zanotował w latach 1281-1282 kronikarz Magdeburga Bruno von Schonebeck. Inny turniej w Norymberdze z 1290 roku był znany z tego, że zginał na nim książę Ludwik, syn władcy Bawarii. Od drugiej połowy XIV wieku turnieje odbywały się niemal rokrocznie we Frankfurcie, Kolonii, Monachium i w wielu innych miastach.</p>
<p>Polsce rycerskie starcia zorganizowano między innymi z okazji uroczystości koronacyjnych Elżbiety w 1303 roku i Kazimierza Wielkiego w 1333 roku. Specjalny turniej przygotowano również na wielki zjazd monarchów w Krakowie w 1364 roku. Oprócz króla Polski, byli tam również obecni: cesarz Karol, władcy Danii, Cypru, Węgier, a ponadto dziewięciu książąt, elita panów świeckich i duchownych. Nie zostawali w tyle Włosi, Hiszpanie, a nawet Skandynawowie. Stopniowo gorączka turniejowa zaczęła opanowywać cała Europę. W XIV wieku w zasadzie turnieje są wszędzie. Organizowano je z okazji wesel, zaręczyn, narodzin, zwycięstw, koronacji, zjazdów etc. Każda okazja zdawała się dobra do rycerskiej zabawy w szrankach. Przyczyniło się do tego z pewnością zniesienie w 1316 oku przez papieża Jana XXII ekskomuniki na biorących udział w turniejach. Przy całej niechęci do tej instytucji, Kościół zdał sobie sprawę z trudności walki z czymś, co stanowiło element kultury danej epoki. Z drugiej strony również owo zniesienie było spowodowane zdecydowanym spadkiem śmiertelności uczestników. Zaczęto bowiem stosować odmienne, niż na wojnie, wyposażenie. Włócznie i miecze miały być stępione, reguły fair play zachowane, wzrosła liczba sędziów. Ponadto samym celem pojedynczego starcia nie było już zwalenie przeciwnika z rumaka, ale strzaskanie kopii na jego tarczy. To wszystko powodowało, ze potyczki rycerskie nabrały bardziej charakteru gry, niż rzeczywistego starcia. Rzecz jasna, wypadki się dalej zdarzały, ale stanowczo rzadziej niż jeszcze sto lat wcześniej. Złota era turniejów nadchodziła.</p>
<h1>Rozwój turniejów</h1>
<p>Początkowo turnieje bywały prostymi starciami rycerzy. Polegały one na wyzwaniach i pojedynkach jeden na jednego, bądź na walkach grup rycerzy. Na owym etapie potyczki te w zasadzie niemal niczym nie różniły się od wojny. Prosto, kupa rycerzy zbierała się w określonym miejscu i umawiała się, iż podzielą się na drużyny i urządzą tu sobie dla przyjemności bitwę. Zasad nie ustalano, a jeżeli nawet, to brak było sędziów czuwających nad tym, by były przestrzegane. Bywało niejednokrotnie, że kilku rycerzy zbierało się w grupę, atakując pojedynczego przeciwnika. Nie przejmowano się również tym, ze ktoś stracił jakąś część zbroi, a zdarzały się przypadki użycia łuku i kuszy. Trudno więc nazwać to sportem, choć istniała zasada azylu dla wycofujących się z walki i zasadniczo starano się pamiętać, że celem turnieju jest pojmanie przeciwnika i nałożenie na niego okupu, a nie zabicie. Zdarzały się wprawdzie sytuacje, że przegranego w turnieju rycerza więziono, dopóki nie spłaci w całości okupu, jednakże śmierć była wypadkiem, nad którym bolały obydwie walczące strony. Jak widać, ograniczenia nie były specjalnie wielkie, zwłaszcza, że dotyczyły one ogólnego podejścia do walk turniejowych, natomiast niejednokrotnie zdarzało się, że szranki były miejscem rozstrzygnięcia osobistych sporów i animozji. Zasady, bywało, szły wtedy w kąt.</p>
<p>Powoli jednak dokonywano zmian w tym zakresie. Na turnieju w Anglii w 1216 roku używano lekkich kopii i skórzanych nabijanych zbroi. Podobnie, jak na innym turnieju w 1258 roku w Blyth. W 1278 roku w Windsorze król Edward zorganizował turniej, w którym wykorzystywano zbroje zwane cuir bouli. Składały się one ze skórzanych płatów, które wygotowywano tak długo, aż nabrały odpowiedniej twardości. Używano również drewnianych tarcz i mieczy z wielorybich fiszbinów. Nie zawsze stosowano wprawdzie fiszbiny, ale lance z kulką zamiast ostrego grotu, stępione miecze i lżejsze pancerze zaczęły stawać się regułą.</p>
<p>Turnieje organizowali nie tylko królowie i możni panowie, ale także wielkie miasta oraz zakony rycerskie. Nie były one również rozrywką zastrzeżoną wyłącznie dla szlachty. W latach 1330 &#8211; 1331 w Tournai stanęło w szranki miedzy innymi trzydziestu jeden mieszczan pochodzących z Paryża, Brugii, Valenciennes, Amiens i Sluys. Podobnie było na turniejach &#8220;Roys de l&#8217;Spinette&#8221; (&#8220;Królowie cierni&#8221;) i &#8220;L&#8217;Epevier d&#8217;Or&#8221; (&#8220;Złoty krogulec&#8221;) w Lille odbywających się rokrocznie przynajmniej od roku 1278. Bardzo mocno angażowały się w organizowanie turniejów bogate miasta Flandrii, Brabancji i Hainault oraz miejskie republiki włoskie. Cechą charakterystyczną turniejów miejskich była ich regularność. Finansowały je same miasta przy wsparciu najzamożniejszych obywateli. Należy jednak pamiętać, że wspomniane kraje charakteryzowało zjawisko osiedlania się szlachty w miastach. Toteż przenoszenie zwyczajów rycerskich na grunt miejski było łatwiejsze niż gdziekolwiek indziej. Turnieje od XIV wieku organizowali również członkowie zakonów świeckich. Reguły kastylijskiego zakonu Banda założonego w 1330 roku przez króla Alfonsa XI wręcz nakazywały udział w rycerskich grach. Zdążało się, że sam zakon był głównym organizatorem. Znamy, w przypadku Bandy, dwa takie turnieje: z 1332 w Santiago de Compostella i z 1334 w Valladolid.</p>
<p>Postęp do pierwszych turniejów z XI i XII wieku był praktycznie ograniczony jedynie posiadaniem odpowiedniego wyposażenia. Jak zostało wspomniane wyżej, brali w nich udział bogatsi przedstawiciele społeczeństwa, nawet, jeżeli ich przodkowie nie należeli do klasy wojowników. Jednakże z biegiem lat, turnieje stawały się rozrywką elitarną. Zaczęto ograniczać liczbę uczestników dopuszczając wyłącznie szlachetnie urodzonych, a i to nie wszystkich. Często stawiano wymagania dotyczące liczby pokoleń w herbie, niekiedy dopuszczano jedynie tych, których pradziadowie stawali w turniejach, a czasami wręcz wprowadzano zaproszenia. Była to odpowiedź rycerstwa na coraz powszechniejszą ideę turnieju w klasie mieszczańskiej. Turniej, w opinii rycerzy, miał być czymś, co ich wyróżnia, co podkreśla przynależność do elity. Ściśle badano więc, kim jest kandydat na uczestnika turnieju. Musiał udowodnić on swoje szlachectwo zarówno po mieczu, jak i po kądzieli. Była to forma przeciwstawienia się mezaliansom (syn szlachcica plus córka kupca), często zdarzającym się w tamtej epoce. Odpowiedni przodkowie byli jednak tylko jednym z wielu warunków dopuszczenia do turnieju. Przykładowo, statuty turnieju w Wurzburgu z 1479 roku wymieniały aż czternaście przyczyn, dla których rycerz mógł nie dostać zgody na uczestnictwo. Między innymi, były to: krzywoprzysięstwo, oszczerstwo, oszustwo, handlowanie, tchórzostwo, cudzołóstwo, niszczenie kościołów i, oczywiście, niemożność wykazania się przodkami, którzy uczestniczyli w turniejach przez co najmniej pięćdziesiąt lat.</p>
<p>Szczegółowe zasady funkcjonowania turniejów przyjęte zostały w 1481 roku w Heilbronn. Ustalenia z Wurzburga uszczegółowiono i poszerzono. Tak rozumiany turniej stał się nie tylko rycerskim show, ale jednocześnie był instytucją wydającą werdykty, oceny moralne. Hiszpański polityk Pero Tafura tak opisywał turniej w Schaffhausen:<br />
&#8220;Gdy się wszyscy już zebrali, starsi radzili z niektórymi szacownymi damami. Pytali, czy któryś ze szlachty uczynił coś niestosownego, czy uszczknął honoru jakiejś damy lub panny, czy nie zawłaszczył własności tego, kogo nikt bronić nie mógł, czy nie poślubił dla pieniędzy kobiety niższego stanu lub w czym innym nie uchybił rycerskiemu honorowi. Gdy takie czyny wychodziły na ja i gdy oskarżony okazywał się winny, postępowano z nim w sposób następujący. Wzywano innych rycerzy i gdy w szrankach pojawiał się oskarżony, oni wkraczali, bili go kijami i wypędzali. Gdy to zostało dokonane, starsi i damy zbliżali się do ukaranego i mówili mu, dlaczego tak z nim postąpiono. Prowadzono go wtedy z powrotem i pozwalano zająć miejsce z innymi, gdy wyraził skruchę i odbył pokutę. Jeśli ktoś tego odmawiał, skazywano go na podwójną karę, a gdy po trzecim wyzwaniu pozostawał dalej zatwardziały, nie uważano go już za szlachcica, ponieważ odmawiał w ten sposób stawania do walki z równymi sobie.&#8221;</p>
<p>Uczestnik takiego turnieju mógł się naprawdę poczuć, jak ktoś nieskazitelny i wyjątkowy, tym bardziej, że mógł zostać członkiem specjalnego stowarzyszenia. Zostało wspomniane, że zakony świeckie były mocno zaangażowane w życie turniejowe Europy. Jednakże tylko w Niemczech pojawiła się instytucja towarzystw turniejowych. Były to organizacje stawiające sobie niekiedy ogólne cele, typu propagowanie wzorców moralnych i wzajemną pomoc, a niekiedy dążące do realizacji konkretnych celów politycznych. Pierwszym z nich było ponoć stowarzyszenie szlachty bawarskiej z 1361 roku chcącej przejąć kontrolę nad młodym władcą księciem Meinhardem. Zebrane rycerstwo ustaliło wtedy, że powołane stowarzyszenie raz do roku będzie organizować turniej, na którym mają obowiązek się stawić wszyscy jego członkowie wraz z towarzyszącymi damami. W przypadku niemożności wzięcia udziału, członek stowarzyszenia powinien wnieść opłatę w takiej wysokości, jakby naprawdę brał udział w turnieju. Stowarzyszenia owe były niezwykle ciekawe z tej przyczyny, że stanowiły oddolny ruch szlachecki nieinspirowany przez możnowładców. Wielcy baronowie czy książęta rzadko byli członkami stowarzyszeń turniejowych. Należało do nich przede wszystkim średniozamożne rycerstwo dumne z przynależności do stanu szlacheckiego i starożytności swojego rodu. Kiedy indziej, oni musieli się dopraszać łaski u książąt i pielęgnować kontakty z wielkimi kupcami i bankierami. Turniej stanowił miejsce chwały, próbujące udowodnić, że pieniądze i wpływy mało się liczą w porównaniu z prawdziwą odwagą, męstwem oraz szlachetnością pochodzenia.</p>
<h1>Ku widowisku</h1>
<p>Pierwsze dwieście pięćdziesiąt lat turniejów w Europie to zazwyczaj zwykłe potyczki rycerskie na ograniczonym terenie. W 1285 roku Ludwik de Looz, hrabia de Chiny zorganizował turniej trwający cały tydzień. W poniedziałek i wtorek odbywały się pojedynki indywidualne. Środa, na skutek zranienia jednego z uczestników, była dniem przerwy. Natomiast od czwartku rozpoczęły się potyczki drużyn: francuskiej i flandryjskiej. Mimo długości trwania, turniej był pozbawiony elementów widowiska. Uczestnicy i widzowie skupiali się na czystej walce pozbawionej elementów teatru. Takie turnieje dominowały w XIII wieku, jednakże już wtedy niektórzy z organizatorów wprowadzali drobne elementy przedstawienia. W 1278 roku w Le Hem odbył się turniej oparty na wątkach arturiańskich. Uroczystości otwarła &#8220;królowa Ginewra&#8221; i jej &#8220;damy dworu&#8221;. Pań zresztą było w ogóle wiele, gdyż, podobnie, jak to miało miejsce w romansach rycerskich, każdy z uczestników musiał przyprowadzić damę. Pojawił się również wielki wojownik &#8220;Chevalier au Lyon&#8221;, który wcześniej &#8220;pokonał siedmiu rycerzy&#8221;. Owa siódemka zresztą przybyła również przyznając się do porażki i poddając &#8220;królowej&#8221;. Głównym powodem zjazdu rycerstwa było twierdzenie pewnej damy, która nie uważała rycerzy &#8220;królowej Ginewry&#8221; za najlepszych na świecie. Honor &#8220;władczyni&#8221; i &#8220;jej rycerzy&#8221; mogło oczyścić tylko pokonanie w pojedynku kawalera owej kłamliwej damy. Przedstawienie angażowało niemal wszystkich uczestników i ich towarzyszki. Każdy miał konkretnie wyznaczoną rolę.</p>
<p>Tego typu widowiska z II połowy XIII wieku zapowiadały kierunek, w którym będą rozwijać się turnieje. Z czystego starcia turniej powoli przeobrażał się w teatr. Coraz więcej było wspaniałych strojów i dekoracji. Coraz częściej układano cały spektakl według założonej fabuły, zazwyczaj nawiązującej do jakiegoś znanego romansu. Już nie chodziło o to, by wyłącznie błysnąć umiejętnością władania bronią, lecz by olśnić widzów. Szczególnie dotyczyło to organizatora imprezy. Zaczęła się niezwykle liczyć koncepcja fabuły. Dobry pomysł potrafił nawet zatuszować braki finansowe. Bardzo długo wspominano na przykład turnieje organizowane w połowie XV wieku przez Rene, tytularnego króla Neapolu, księcia d&#8217;Anjou i Lotaryngii. Książę Rene, mimo, iż niezbyt zamożny (jak na księcia, oczywiście) słynął ze swojego gustu, wyobraźni i umiejętności organizacyjnych, a jego sława znawcy spraw turniejowych przyciągała rycerstwo. Rene zresztą dał się poznać również na niwie literackiej, jako autor szeregu dzieł, w tym &#8220;Traktatu o organizacji i przygotowaniu turniejów&#8221; i &#8220;Le Livre du Cuers d&#8217;Amours Espris&#8221; (&#8220;Księga o sercu przez miłość pochwyconym&#8221;) ukazujących bogactwo rycerskiego życia, którego nieodłączną częścią były turnieje.</p>
<p>Fantazję z przepychem, jak nikt inny potrafili połączyć ze sobą książęta książęta kwiatu lilii linii burgundzkiej. Popatrzmy na jeden z organizowanych przez nich turniejów. Odbył się on 3 lipca 1468 roku w Brugii z okazji ślubu władcy Burgundii Karola Zuchwałego z angielską księżniczką Małgorzatą z Yorku. Zaślubiny miały wzmocnić sojusz angielsko &#8211; burgundzki skierowany przeciwko Ludwikowi XI z Francji. Znaczącym elementem uroczystości weselnych był wielki turniej, o którym sir John Paston pisał w liście do matki:<br />
&#8220;Ci, co z nim (przyp. z księciem) do pojedynków rycerskich stawali, aż po dzień dzisiejszy pięknie byli odziani i wyposażeni (jak też sam książę). Ubiór z jedwabiu wszystkim był strojny. Było i złoto, i srebro, i wszystko, co jubiler jest w stanie uczynić. Nikomu na dworze księcia niczego nie brakowało, ani damom szlachetnym, ani panom dostojnym. Było i złoto, i perły, były ii drogie kamienie. Tak, jakby dostawali to wszystko na życzenie. Nigdy nie słyszałem, że tak tego wszystkiego tu wiele &#8230; A co do dworu książęcego, panów szlachetnych, dam, i pań znamienitych, rycerzy, giermków i szlachty, to o podobnych cnotach, bogactwie i sile nie słyszałem nigdy, chyba tylko na dworze króla Artura.&#8221;</p>
<p>Książę Burgundii, któż wie, czy nie najbogatszy monarcha (choć bez korony) owego czasu w Europie, chciał olśnić swojego sojusznika i można przypuszczać, że mu się to udało. Fabuła całego turnieju opierała się na opowieści o panu Florimoncie, zwanym Rycerzem Złotego Drzewa, służącym swym zbrojnym ramieniem Pani Sekretnej Wyspy. Pan Florimont ogłosił, że po długich podróżach dotarł do miejskiego rynku w Brugii i jest gotów bronić przez osiem dni złotego drzewa (specjalnie na tą okazję przygotowanego przez książęcą służbę). Rycerz, który chciał podjąć wyzwanie, podjeżdżał do drzewa, przy którym stali karzeł i olbrzym, po czym był zobowiązany trzykrotnie zastukać w specjalną barierkę. Wtedy ze znajdującego się obok namiotu wychodził herold pytający przybyłego, czego ów żąda. Rycerz się przedstawiał, deklarował chęć stoczenia pojedynku, po czym objeżdżał całe szranki. W tym czasie karzeł dął w róg, co było znakiem dla sir Florimonta, ze znalazł się chętny do skrzyżowania oręża. Obydwaj zawodnicy mieli walczyć, jak długo będą sobie życzyć damy, aczkolwiek nie dłużej niż pół godziny. Zwycięzcą miał być ten, kto skruszy więcej kopii.</p>
<p>Okazało się, że wstępne ceremonie turniejowe, pierwszego dnia po ślubie, przedłużyły się ponad planowany czas. Dlatego też owego dnia tylko jednemu rycerzowi, Adolfowi z Cleves, udało się rzucić wyzwanie. Po potyczce, wieczorem, przedstawiono widowisko stanowiące połączenie sztuki teatralnej i żywych obrazów. Między innymi zaprezentowano na nim zwierzęta egzotyczne: wielbłąda, leoparda i lwa. Szczególne miejsce zajmował leopard, jako symbol angielskiego państwa. Drugiego dnia sir Florimont pokonał trzech wyzywających go rycerzy, aczkolwiek dobre wrażenie na widzach zrobił również pan de Chateuguyon, któremu udało się skruszyć aż dziewięć kopii w osiemnastu najazdach. Wieczorne przedstawienie nawiązywało do mitów o pracach Heraklesa. Trzeciego dnia sir Florimont został pokonany przez Anthoine de Hellewin. Swoich sił chciał spróbować również Jean de Louxembourg, hrabia na St. Pol. Jednakże okazało się, że część jego zbroi uległa przed starciem uszkodzeniu i nie mógł stanąć do walki. Podczas wieczornej uczty książę Karol prezentował model swojego nowego zamku, a biesiadującym przygrywali trubadurzy przebrani za zwierzęta. Czwartego dnia w szrankach zjawił się Niewolny Rycerz, który opowiedział o swojej niespełnionej miłości do pewnej damy. Okazało się jednak, ze jego pancerz nie spełnia wymogów turnieju, toteż nie mógł w nim wziąć udziału. Znakomicie się sprawił tego dnia natomiast Jaques de Louxembourg, który pokonał Rycerza Złotego Drzewa o jedną skruszoną kopię. W kolejnym dniu sir Florimont jeden pojedynek wygrał, jeden przegrał i jeden zremisował. Jednak atrakcja dnia były wieczorne pokazy teatralne, podczas których zaprezentowane walkę Hareklesa i Tezeusza z dwiema Amazonkami.</p>
<p>Szósty dzień był najobfitszy w wydarzenia. Wyzwanie synowi księcia Burgundii rzucił lord Scales. Obydwa panowie stawali już naprzeciwko siebie w szrankach rok wcześniej w Londynie. Po tamtym pojedynku jednak złożyli ślubowanie braterstwa, toteż wyzwanie podjął za księcia Adolf de Cleves. Udało mu się wygrać przewagą siedemnastu skruszonych kopii do jedenastu. Podobno sam pojedynek należał do najlepszych w turnieju, a obaj zawodnicy pokazali wielkie umiejętności. Niestety, jak wspomina w swoich &#8220;Memoires&#8221; Olivier de la Marche, tego dnia zdarzył się bardzo niefortunny i dość prozaiczny wypadek. Syn księcia Burgundii został kopnięty przez konia tak mocno, ze przez jakiś czas obawiano się, czy przeżyje. Nie przeszkodziło to jednak dalszym walkom, a i sam ranny nalegał na kontynuowanie turnieju.</p>
<p>Następnie widzowie ujrzeli kolejny z żywych obrazów. Wcześniej przygotowano na polu turniejowym kilkumetrowy model zamku z czterema wieżyczkami. W pewnej chwili wrota zamku się otwarły i widzom ukazał się konny rycerz w pełnej zbroi. Był nim hrabia Roussy, a sam zamek symbolizował Niebezpieczeństwo i Beznadzieję otaczające rycerza. Żeby uwolnić się od nich musiał on stanąć do pojedynku, co też się stało. Przez resztę dnia wyzwania przyjmował inny rycerz, Karol de Visan. Stoczył dwa pojedynki, ale obydwa starcia, przeciwko: hrabiemu Roussy i Jeanowi de Rochefey, przegrał.</p>
<p>Kolejnego dnia, w postny piątek, powstrzymano się od walk, jednak w sobotę starcia wznowiono. Wyzwania podejmował Filip de Poitiers, który spośród pięciu walk wygrał trzy. De Poitiers staną w szranki również w niedzielę, ale odniósł ranę już w pierwszej walce z panem de Contay. Dlatego też jego miejsce miał zająć markiz Ferrara. Niestety, markizowi rumak odmówił posłuszeństwa. Ostatecznie więc, jako przyjmujący wyzwania, w szranki wszedł ponownie de Contay. Przeciwko niemu stanął jeden z angielskich rycerzy, ale przegrał bardzo szybko. Tak mijała sobota, a tematem wieczornej zabawy był znów Herakles i jego prace.</p>
<p>Kolejnego dnia sam książę Karol Burgundzki rzucał wyzwania. Podjął je Adolf de Cleves, który zwyciężył w stosunku: jedenaście skruszonych kopii, do ośmiu. Po tej walce rozebrano barierki na środku turniejowego pola i rozpoczęło się starcie dwóch drużyn rycerskich składających się z dwudziestu pięciu wojowników każda. Najpierw zaszarżowano kopiami, a potem poszły w ruch miecze. Podobno rycerze tak się zapamiętali w boju, ze walczących musiał osobiście rozdzielać sam książę.</p>
<p>Kolejne wydarzenie nawiązywało znów do przygód sir Florimonta. Była to kolejna inscenizacja. Przygotowano na brugiijskim rynku trzydzieści ogrodów otoczonych złoconymi płotkami. W centrum każdego ogrodu rosło pozłacane drzewko. Opodal nich zbudowano makietę wieloryba, przy którym panie przebrane za syreny śpiewały pieśń. Dekoracje te stanowiły tło do zaprezentowania walki pomiędzy rycerzami, a olbrzymami.</p>
<p>Po zakończeniu pokazu przydzielono nagrody. Pana na Argel wyróżniono za stoczoną walkę, natomiast księcia Karola zza cały turniej. Władca Burgundii jednak nagrody nie przyjął, przypadła więc ona bratu królowej Anglii Johnowi Woodville?owi. Poniedziałek miał być dniem kończącym turniej, jednakże ze względu na wielki zapał uczestników zawody przedłużono. Niestety, nie mamy relacji z owej nadprogramowej części.</p>
<p>Burgundczykom starali się dorównać arcyzamożni książęta włoscy. Wspaniałe widowiska urządzali w latach 1460-1480 florenccy Medyceusze zwracający jednak chyba bardziej uwagę na olśnienie widzów przedstawieniem, niż samą walką. Wiadomo z opisów, że niektórzy uczestnicy turnieju w 1475 roku mieli na sobie po kilka kilogramów pereł, przy czym nigdzie nie jest napisane, że stawali w jakiekolwiek szranki. Bogactwo strojów zresztą w ogóle wyróżniało turnieje południa Europy. Popatrzmy na przykład na turniej z 1469 roku zorganizowany przez Wawrzyńca Wspaniałego (Lorenzo Medyceusza). Uroczystości owe odbywały się z powodu ślubu Wawrzyńca z Rzymianką Clarice Orsini. Panna młoda była całkiem niebrzydka i pochodziła ze znakomitego rodu. Jej rodzina posiadała wielkie majątki w Królestwie Neapolu. Jednakże we Florencji istniał zwyczaj, iż przedstawiciele arystokracji żenili się wyłącznie z córkami miejscowych rodów toskańskich. Orsini byli dla cudzoziemcami i ślub Clarice bardzo oburzał Florentyjczyków. Wawrzyniec doskonale wiedział, co to znaczy zwrócić przeciwko sobie obywateli. Wszak jego rodzina wielokrotnie wcześniej bywała skazywana na wyganiane lub więziona mocą uchwały rządzącej Signorii. Wprawdzie Wawrzyniec teoretycznie sprawował nad nią kontrolę, zdawał sobie jednak sprawę, że posiada wielu wpływowych wrogów, którzy wykorzystają przeciwko niemu niezadowolenie prostych mieszczan. Wspomniany turniej był swoistym rodzajem przekupstwa, gdyż Włosi tej epoki uwielbiali wszelkie widowiska. By uczynić go jak najwspanialszym, jak najbardziej niezapomnianym w pamięci widzów i uczestników Wawrzyniec wydał na koszty organizacyjne aż 10000 dukatów, sumę naówczas zawrotną. Turniej Wawrzyńca, zasadniczo, jak każdy włoski, miał być z założenia widowiskiem i choć zdarzały się wypadki, jak ten, w którym Federigo de Montefeltro stracił oko, ogólnie przypominał współczesne parady. Wspaniały strój miała Lukrecja Donati, królowa omawianego turnieju. W znakomite ubiory i paradne stroje ubranych zostało osiemnastu młodzieńców z świetnych rodów florenckich odgrywających rolę rycerzy. Jednakże wszystkich przyćmił sam organizator. Sięgnijmy w tym miejscu do biografii autorstwa Christophera Hibberta &#8220;The Rise and Fall of the House of Medici&#8221;:<br />
&#8220;Miał na sobie (Wawrzyniec) tunikę z białego jedwabiu obszytego purpurą, na niej aksamitną opończę I jedwabną szarfę, usiana haftowanymi różami, niektóre z lekka wyblakłe, inne w pełnym rozkwicie, z rzucającym się w oczy mottem wyszytym perłami: LE TEMPS REVIENT. Perły lśniły też na czapce z czarnego aksamitu obok rubinów i dużego diamentu okolonego piórem ze złotych nici. Biały rumak Lorenza, w czapraku z czerwonobiałego aksamitu obszytego perłami, był darem od króla Neapolu. Miał tez drugiego konia, bitewnego, którego podarował mu książę Borso d?Este z Ferrary. Książę Mediolanu sprezentował mu zbroję. Na środku tarczy błyszczał duży diament. Hełm wieńczyły trzy długie, niebieskie pióra. Na sztandarze widniała dewiza w postaci wawrzynu &#8211; część gałązek przywiędłych, a część olśniewająco zielonych, z mottem wyszytym perłami, tym samym, które widniało na szarfie.&#8221;</p>
<p>Tak wspaniały pokaz olśnił kochających przepych Florentyjczyków i wybaczyli Medyceuszowi ożenek z cudzoziemką. Jednakże nie tylko władcy ubierali barwne stroje. Także arystokracja, a nawet ubożsi mieszczanie zakładali barwne kostiumy. Popularne były ubiory z innych kultur np. tureckiej. Często posługiwano się również strojami zakonników i zakonnic. Niektóre z kolei przypominały współczesną sztukę awangardową typu: nagi człowiek owinięty zwojem papieru z księgą nad głową. Do ich projektowania przyczyniali się najwybitniejsi artyści włoscy. Nawet Leonardo da Vinci miał swój udział w ubiorach dziesięciu dzikusów, za których byli przebrani podwładni Galezzo Sanseverino podczas imprez towarzyszących podwójnemu ślubowi Beatrice d&#8217;Este i Anny Sforzy w Mediolanie 1491 roku.</p>
<p>Na widowiskowość zwracano uwagę również w Hiszpanii. Popatrzmy na przykład na turniej zorganizowany w 1428 roku przez księcia Henryka w Valladolid. Książę kazał zbudować na placu cała fortecę z ostrokołem i czterema basztami. Ostrokół z kolei otaczała mniejsza palisada z dwunastoma wieżyczkami. Z ich okien wyglądały bogato wystrojone damy. Z kolei wewnątrz ostrokołu zbudowano fortecę z pięcioma wysokimi wieżami: jedną w centrum, a pozostałymi po bokach. Przed fortecą wzniesiono dzwonnicę i kolumnę, na której stał wyrzeźbiony gryf dzierżący sztandar. Do fortecy droga prowadziła pomiędzy dwiema wieżyczkami, przy których wzniesiono łuk z napisem: &#8220;To jest brama do niebezpiecznej i wielkiej przygody.&#8221; Jeżeli rycerz chciał podjąć wyzwanie musiał przybyć pod fortecę. Wtedy pojawiała się jedna z dam wyjaśniając mu, że nie może pójść dalej, chyba, że zgodzi się stoczyć walkę z jednym z obrońców fortecy. Oczywiście przyjezdny rycerz odpowiadał, iż jest gotów, a wtedy następował pojedynek. W turnieju tym brał udział król Nawarry i wielu rycerzy. Król, na wspaniałym koniu, którego rząd był zdobiony metalami szlachetnymi, skruszył nawet kilka kopii. Tudzież książę Henryk, główny organizator. Jednakże podczas jednego z najazdów książę został poturbowany i ogłuszony, a jeden z jego giermków został nawet tak mocno ranny, że wyzionął ducha kilka godzin później.</p>
<p>Nie tylko sam turniej umożliwiał pokazanie się z jak najlepszej strony. Również wyjazd czy szczęśliwy powrót stanowiły okazję, do zaprezentowania swojego szyku i bogactwa. Marcelin Deforurneaux w dziele &#8220;Życie codzienne w czasach Joanny d&#8217;Arc&#8221; tak opisuje wyjazd możnego rycerza na turniej:<br />
&#8220;Gdy Saintree po raz pierwszy opuszcza Paryż, aby stoczyć walkę, przeciąga ulicami stołecznego miasta we wspaniałym orszaku. Poprzedzane przez czterech trębaczy i dwóch doboszów idą cztery wielce piękne i bardzo potężne rumaki bojowe, a każdego wiedzie dwóch konnych pachołków. Następnie jadą trzej rycerze z czternastoma końmi, dziewięciu giermków z dwudziestoma końmi, starszy herold z dwoma końmi oraz heroldzi Turenii i Luzytanu z czterema końmi. W orszaku rycerza znajdują się również: kwatermistrz, kowal i płatnerz, dalej osiem koni jucznych, cztery dla Jeana i cztery dla jego towarzyszów, a ponadto jeszcze dwunastu sług na koniach. Zarówno ludzie, jak i konie noszą barwy Saintrego i jego dewizę.&#8221;</p>
<p>Musiało to wyglądać pięknie i podniośle. Zaznaczmy przy tym, że grupa przybocznych Jeana Saintree wcale nie była nadzwyczajnie liczna. Wiemy z zapisków Gilberta z Brugii, że drużyna hrabiego Flandrii na jednym z turniejów w 1125 roku liczyła 200-u rycerzy. Przewyższały ją drużyny księcia Austrii i margrabiego Istrii w 1224 roku w Friesach. Obydwie liczyły po 300-u rycerzy. Czy to możliwe? Kronikarze podają nieraz kosmiczne liczby uczestników. Podobno na turniej w 1184 roku w Sangi-sur-Marne przybyło aż trzy tysiące uczestników, a w innych potyczkach, organizowanych z okazji pasowania synów cesarskich w 1184 roku wzięło udział dwadzieścia tysięcy rycerzy. Zapewne ta ostatnia liczba jest przesadzona, lecz pozostałe leżą całkowicie w granicach możliwości. Wyjazd na turniej takiej grupy rycerstwa, której towarzyszyło mrowie giermków i sług, musiał wyglądać niezwykle imponująco i wspaniale. Zapewne działał na wyobraźnię ludzi, napawał ich dumą i szacunkiem, przypominając jednocześnie siłę, którą dysponował suzeren.</p>
<p>XV wiek można uznać za okres największego rozkwitu turniejów. Rycerze dalej odgrywali decydującą rolę na polach bitew i mogli na turniejach ukazywać swoją sprawność we władaniu tradycyjna bronią, a jednocześnie istniały już wspaniałe oprawa tworzące z turniejów niezapomniane widowiska. Schyłek XV wieku to bujny rozwój nowych sztuk prowadzenia wojny, w których ani kopia, ani ciężka zbroja nie były już przydatne. Turnieje, jako element kształtowania umiejętności bojowych, stopniowo zanikały. Jeszcze niektórzy władcy, jak angielski Henryk VIII, francuski Franciszek I, czy cesarz Maksymilian podtrzymywali zwyczaje turniejowe. Jednakże były to wyjątki. Turniej powoli pozbył się elementu rycerskiej walki i stopniowo przeobraził w pełne przepychu widowisko nie mające nic wspólnego z dawnymi pojedynkami w szrankach.</p>
<p>Kelly</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Husk at præcisere hvem du egentlig tror du er]]></title>
<link>http://taletank.wordpress.com/2009/03/14/husk-at-pr%c3%a6cisere-hvem-du-egentlig-tror-du-er/</link>
<pubDate>Sat, 14 Mar 2009 09:36:08 +0000</pubDate>
<dc:creator>christinei</dc:creator>
<guid>http://taletank.wordpress.com/2009/03/14/husk-at-pr%c3%a6cisere-hvem-du-egentlig-tror-du-er/</guid>
<description><![CDATA[God ide at have dækning af debatmøder på en fast plads i avisen. Rigtig god ide at lave informative,]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>God ide at have dækning af debatmøder på en fast plads i avisen. Rigtig god ide at lave informative, stemningsmættede reportager derfra. Dejligt for i hvert fald udvalgte deltagere at blive citeret og få luftet deres ideer og holdninger i et landsdækkende dagblad.</p>
<p>Men dækning af den slags er en svær kunst. Der synes nemlig at være noget komisk ved folk uden en etableret offentlig talerposition, der ikke desto mindre lufter deres holdninger offentligt, (ligesom der fx også kan være det ved nn læserbrevskribent fra nn vej i nn provinsby). Og denne komiske dimension ved ukendte tilstedeværende, der tager ordet, er fristende for en journalist med veletableret retorisk handlekraft at fremhæve.</p>
<p>Det er Kasper Ly Netterstrøm, der på bagsiden af Politikens Debatsektion i dag dækker et debatmøde hos Internationale Socialister, hvor der er sat fokus på, &#8220;hvordan man som socialist forholder sig til skyderierne på Nørrebro.&#8221; Aftenens oplægholder Charlie Lywood synes at få fint loyal dækning af sit oplæg, hvor han bl.a. fremhæver uddannelse som &#8220;den stærkeste faktor for, om folk bliver kriminelle&#8221;; taler om at &#8220;ændre den sprogbrug, som fastholder diskriminationen af invandrere&#8221; og lufter tanken om at &#8220;eksperimentere med demokratiske valg af betjente for at sikre lokalforankring.&#8221; Lywood præsenteres indledningsvis ved navn og titel: kriminolog og <a href="http://www.politi.dk/da/ompolitiet/sspsamarbejde/">SSP</a>-konsulent.</p>
<p>Da Lywood sætter sig, begynder den lettere underholdning, hvor spørgsmål fra salen bliver gengivet. Det bliver de også og i flere tilfælde ved direkte citat, men det bliver i mine øjne fatalt, at spørgerne ikke selv sørger for at præsentere sig ved navn og/eller som fx lokal beboer, aktivist, politiker, studerende, sygeplejerske, et eller andet.</p>
<p>For i stedet bliver det til: </p>
<blockquote><p>&#8220;En mand med hestehale og piercing i læben spørger&#8230;&#8221; / &#8220;En fyr med grønne briller og nasal stemmeføring vil vide&#8230;&#8221; / &#8220;En lyshåret pige i sort netundertrøje er chokeret&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Faktisk var det det med den &#8220;nasale stemmeføring&#8221;, der fik mig op på mærkerne. Hvad tjener den detalje - i tilfældig kombination med &#8221;grønne briller&#8221; - til at markere andet end journalistens mildt ironiske distance, som læseren antages at dele, og som tager brodden af den ytring, der citeres?</p>
<p>Det er vigtigt at præsentere sig! Dels for at hævde den autoritet, man har som medborger, og som er langt mere værd end rollen som en-eller-anden tilfældig type med aparte briller, dels for også at <em>afgrænse</em> den autoritet og afværge evt. ironisk hovedrysten ved at understrege, at <a href="http://taletank.wordpress.com/2008/12/31/det-er-lidt-latterligt-opstyltet-og-ufrivilligt-komisk-at-man-puster-sig-op-pa-den-made/"><em>nej, jeg tror faktisk ikke jeg er statsminister</em></a><em>! bare fordi jeg tager ordet og deltager i en offentlig debat</em>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Weryfikacja w okresie stalinowskim i dziś]]></title>
<link>http://lustronauki.wordpress.com/2009/03/12/weryfikacja-w-okresie-stalinowskim-i-dzis/</link>
<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 10:21:34 +0000</pubDate>
<dc:creator>nfajw</dc:creator>
<guid>http://lustronauki.wordpress.com/2009/03/12/weryfikacja-w-okresie-stalinowskim-i-dzis/</guid>
<description><![CDATA[Leopold Infeld &#8211; Szkice z przeszłości. PIW Poniższy fragment dotyczy okresu stalinowskiego i p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Leopold Infeld &#8211; Szkice z przeszłości. PIW Poniższy fragment dotyczy okresu stalinowskiego i p]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Etos Kerja Menurut Pandangan Kaum Muslimin]]></title>
<link>http://renunganislam.wordpress.com/2009/03/05/etos-kerja-menurut-pandangan-kaum-muslimin/</link>
<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 01:43:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>admins123</dc:creator>
<guid>http://renunganislam.wordpress.com/2009/03/05/etos-kerja-menurut-pandangan-kaum-muslimin/</guid>
<description><![CDATA[Dan katakanlah : &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan meli]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Dan katakanlah : &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah SWT) yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan&#8221; (QS At-Taubah, 9 : 105).</p>
<p>Seburuk-buruk tempat adalah pasar, sebaik-baik tempat adalah masjid (Nabi Muhammad SAW). Secara sekilas membaca hadis tersebut, kita seolah-olah masuk pada suatu dikotomi atau pertentangan yang ekstrem antara kedua tempat tersebut yakni pasar versus masjid. Namun tulisan ini tidak berupaya untuk menajamkan perbedaan pada kedua kutub tersebut Alih-alih untuk memisahkan keduanya, penulis mencoba memadukannya dengan meminjam pandangan menyebutkan bahwa kedua tempat itu sebetulnya merupakan suatu simbol aktivitas dalam dunia kehidupan Muslim. Penafsiran yang didasarkan pada pendekatan sosiologis memaknai &#8220;pasar&#8221; sebagai simbol aktivitas kerja secara khusus, sedangkan &#8220;masjid&#8221; dimaknai sebagai wilayah beribadah atau belajar (ta&#8217;lim) secara khusus pula.</p>
<p>Memang, bila &#8220;kerja&#8221; dibatasi maknanya pada matra ekonomi dan sosial belaka, seakan-akan mengesankan adanya dikotomi antara yang profan-duniawi (pasar, kerja) dengan yang sakral-ukhrawi (masjid, belajar). Celakanya, kesan seperti itu tampak begitu kuat di kalangan Muslim sendiri.</p>
<p>Dalam realitanya, cakrawala pandang kaum Muslim modern atas dunia kehidupannya terbagi pada dua kelompok yakni, pertama, kelompok yang lebih terfokus pada urusan &#8220;pekerjaan&#8221;. Mereka sudah mencoba menampilkan kinerja yang profesional, tapi motivasi bekerjanya sangat rapuh, yakni sekadar mencari uang semata. Akibatnya, dari motivasi yang kurang lurus tersebut, keinginannya untuk berderma di jalan Allah amat minim. Ia merasa tidak pantas untuk mengeluarkan sedekah, infak, zakat ataupun khumus karena toh yang bekerja adalah dirinya sendiri. Bukan orang lain. Ia merasa bahwa kekayaan yang ia raih bukanlah anugrah dari Allah, namun dari jerih payahnya sendiri. Jadi, dalam mencari nafkah, mereka begitu punya semangat yang tinggi dan etos yang kuat. Akan tetapi, untuk urusan ilmu atau belajar mereka mencukupkan diri dengan pengetahuan yang sudah terakumulasi sebelumnya.</p>
<p>Kelompok kedua adalah mereka yang memfokuskan diri pada urusan keilmuan/&#8221;ibadah&#8221;. Kelompok ini amat gandrung pada urusan yang sifatnya &#8220;intelektual-ritual&#8221;, namun kurang bisa menampilkan sikap yang profesional dalam bekerja. Artinya, pekerjaan yang mereka tunaikan kualitasnya amat rendah, tidak tepat waktu, dan kurang cita rasa seni. Yang penting, selesai bung ! adalah motto mereka. Dalam mengejar ilmu atau melakukan ibadah ritual, mereka memang &#8220;jago&#8221;-nya. Namun dalam urusan pekerjaan, mereka tidak punya sikap yang sama. Itu kan duniawi, kilah mereka. Tafsir sosiologis tentang &#8220;pasar&#8221; dan &#8220;masjid&#8221; tampaknya mendekati kenyataan yang menimpa pada kaum Muslimin sendiri. Ideologi &#8220;kaum pasar&#8221; semakin diperkuat dengan serbuan pandangan materialisme Barat yang sangat memuja benda atau materi. Materilah yang menjadi standar apakah orang ini pantas atau tidak untuk dihormati, dihargai, atau diakrabi. Bahkan dikawini. Andil budaya massa seperti televisi, majalah, koran, ataupun radio semakin memperteguh lagi akan pandangan dunia yang sebetulnya asing, dan tidak berakar pada nadi kehidupan kaum Muslim.</p>
<p><a href="http://warnetgue.com">Ingin tambah sukses ?? Ayo gabung peluang usaha warnet, balik modal dalam satu tahun,  garansi modal kembali !!!</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
