Tags » Filosofi

Indahnya Jam Session

Kulo nuwon, hai, halo, mukadimah, atau ketuk pintu dulu sebelum masuk dan buka sepatumu. Ungkapan-ungkapan seperti itu sering sekali kita dengar dan praktekkan. Nah kalau di dunia musik, saya menganalogikan seperti Jam sessions. 200 more words

Suka-Suka Lo

My Street Photography

My Street Photography

(You’ll find Sample-images with comments  after this introduction.)

The term
I consider myself a Street Photographer – in a somewhat extended understanding of the term. 243 more words

My Pictures

‘Platonism good, Aristotelianism bad’?

As a Lutheran, I often hear that Transubstantiation should be rejected because it’s ‘only philosophy’ and/or because it’s an ‘unbiblical term.’ The word ‘philosophising’ is also thrown around, together with claims that the categories of substance and accident aren’t helpful and that we should embrace ‘mystery.’ But the same arguments are completely forgotten the second they defend the Nicene Creed. 98 more words

Teologi & Religion

inntrykk

Jeg har alltid blitt forvirret av dette fenomenet at ting som har skjedd i fortiden later til å bli forbedret med tiden. Dette er ikke noe man merker, ved mindre man møter fortiden i direkte konfrontasjon. 685 more words

Dedaunan yang Jatuh, Bau Harum Setelah Hujan, dan Sore Hari yang Kuning: Kupanggil Musim

Namanya Musim. Tidak mempunyai nama marga atau nama ibu dibelakangnya. Karena ia tidak mempunyai sejarah. Ingatannya bertumpu pada dedaunan yang jatuh, bau harum setelah hujan, dan sore hari yang kuning. 468 more words

Ruang Refleksi

nesia putri amarasthi reblogged this on ROEANG FIKSI and commented:

Namanya Musim. Tidak mempunyai nama marga atau nama ibu dibelakangnya. Karena ia tidak mempunyai sejarah. Ingatannya bertumpu pada dedaunan yang jatuh, bau harum setelah hujan, dan sore hari yang kuning. Mungkin saja ketiga penanda tersebut adalah orang tuanya. Ia juga penyebab datangnya mara bahaya. Ketika terik dan hujan melahirkan kilat, ingin melalap semua yang berenergi listrik.

Enam bulan pertama di tahun 1997. Dia berbentuk angin kering dan udara tipis. Itu membuatku susah bernapas. Membuatku berhrnti memikirkan menjadi apa jika aku besar nanti. Aku seperti hidup pada hari itu saja. Tidak bertambah usia, tidak menjadi dewasa dan matang. Aku tidak mengenal budaya. Aku hanya menggambar, menari dan membaca. Itu pertama kali aku mengenal Musim. Dia memperkenalkan dirinya sebagai ‘sesuatu dari luar dirimu yang membentuk perasaanmu’. Panjang. Itu seperti ia sedang mendefinisikan namanya.

Enam bulan kedua di tahun yang sama. Aku kehilangan dia. Aku terjatuh dalam gua-gua kesedihan yang tak berwujud. Seperti kehilangan bagian dari tubuhku namun aku tidak kehilangan apapun dari bagian tubuhku. Sesungguhnya aku kehilangan satu sel pembentuk diriku. Wujudnya begitu kecil jika diperbandingkan dengan waktu setelahnya yang harus aku isi dengan menggambar –lagi- dengan peristiwa. Aku berkenalan dengan rasa kehilangan. Dengan kehidupan kedua, yaitu kenyataan. Kenyataan bahwa aku kehilangan Bapak. Rasanya seperti masa kecilku berakhir. Aku terlempar menuju kedewasaan yang belum waktunya. Aku harus merasakan makanan yang kusuka tak terbeli. Buku yang kubaca adalah masa lalu. Gambar yang aku warnai dengan pena hitam dan putih. Kertas yang tidak lagi kosong. Dan rumah yang ramai dengan orang-orang yang menyimpan hutang budi, pelayat. Lalu aku bertanya, dimana Bapakku akan mengahbiskan masa depannya? Ibuku menjawab ‘di penyemaian do’a’.

Pada tahun-tahun berikutnya, aku suka mengayuh sepeda. Jarak terjauh hanya berjarak 12 km dari rumah. Aku mencari bekas-bekas Musim pernah bersinggah. Aku mencari sisa-sisa budi Bapak yang telah gagal tumbuh. Aku lelah, dan aku kembali kerumah.

Aku menjahit cuaca yang robek. Aku menambal kenangan yang hilang. Pacar pertamaku, Krizaldiar. Mungkin dia lahir dari game-game superhero atau film-film fiksi. Sementara dia menggantikan jarum dan benang. Kemudian menyisakan bekas-bekas jahitan yang tidak bisa terhapus. Pacar keduaku, Rio. Tak beda jauh. Dia membuatku seperti pilar-pilar tempat bertumpunya atap. Dia merumah dibawahnya. Dan pulang kerumahnya setelah bosan atau jengah.

Musim. Aku merasakan kehadirannya setiap aku melewati banyak peristiwa. Ia hadir begitu saja. Membisu dan tidak suka menampakkan dirinya dengan lugas. Hanya sebatas penanda-penanda. Kedua kalinya kami berkenalan. Ia memperkenalkan diri sebagai ‘seseorang yang tak tampak’. Kali ini aku kebingungan dengan definisi namanya saat berkenalan. Kemudian aku memanggilnya Musim. Penandanya masih sama, dedaunan yang jatuh, bau harum setelah hujan, dan sore yang kuning.

Musim menyusup kedalam tubuh pacar ketigaku.

Dia tak bernama.

Hanya penanda-penanda.

Dan setelah yang ketiga aku kehilangan Musim. Ia menyelinap pergi untuk mencari waktunya yang tidak merata. Ia meninggalkan selembar daun akasia yang menguning, kulit jeruk yang mengering, dan sepotong matahari di dalam dompet. Aku limbung menyusun penanda yang ditinggalkannya. Membolak-balik huruf. Menyusun kata-kata. Menjahit kalimat-kalimat. Menghitung jumlah-jumlah paragraf. Mencari makna.

Aku habis. Dan aku harus kembali pada tugas menulis Filsafat Proses.

Yogyakarta, Bambu Asri 2

Oslo, og forbi

Etter blogginnlegget fra skyene (lagret i skyen?) og flyet hadde landet trygt og ikke forsvunnet sporløst på mystisk vis som visse andre fly (*host* Malaysia Airlines), bar det videre mot det som på fint heter Oslo sentrum, eller “bygda” som Vålerenga-supportere liker å kalle sin lille “storby”. 455 more words

Philomena: Ketika Seorang Ibu Pasti Tahu Kalau Anaknya Gay


“Philomena, Marcia has just told us that Anthony was gay.”

“Well I always knew that but I just wondered if he might be bi-curious.”

Bicara film “Philomena”, berarti bicara tentang banyak hal dalam kehidupan yang biasanya sulit untuk dilafalkan. 365 more words

Resensi