Tags » Filsafat

Kant and Empirical Realism

Over at Cogburn’s blog I noted that there’s a debate brewing over whether or not Kant advocates the thesis that we can know things-in-themselves. Of course, Kant’s thesis is that things-in-themselves exist, but that we can never have knowledge of them. 487 more words

Object-Oriented Philosophy

sainsfilteknologi reblogged this on sainsfilteknologi and commented:

Empirical Realism

Dedaunan yang Jatuh, Bau Harum Setelah Hujan, dan Sore Hari yang Kuning: Kupanggil Musim

Namanya Musim. Tidak mempunyai nama marga atau nama ibu dibelakangnya. Karena ia tidak mempunyai sejarah. Ingatannya bertumpu pada dedaunan yang jatuh, bau harum setelah hujan, dan sore hari yang kuning. 468 more words

Ruang Refleksi

nesia putri amarasthi reblogged this on ROEANG FIKSI and commented:

Namanya Musim. Tidak mempunyai nama marga atau nama ibu dibelakangnya. Karena ia tidak mempunyai sejarah. Ingatannya bertumpu pada dedaunan yang jatuh, bau harum setelah hujan, dan sore hari yang kuning. Mungkin saja ketiga penanda tersebut adalah orang tuanya. Ia juga penyebab datangnya mara bahaya. Ketika terik dan hujan melahirkan kilat, ingin melalap semua yang berenergi listrik.

Enam bulan pertama di tahun 1997. Dia berbentuk angin kering dan udara tipis. Itu membuatku susah bernapas. Membuatku berhrnti memikirkan menjadi apa jika aku besar nanti. Aku seperti hidup pada hari itu saja. Tidak bertambah usia, tidak menjadi dewasa dan matang. Aku tidak mengenal budaya. Aku hanya menggambar, menari dan membaca. Itu pertama kali aku mengenal Musim. Dia memperkenalkan dirinya sebagai ‘sesuatu dari luar dirimu yang membentuk perasaanmu’. Panjang. Itu seperti ia sedang mendefinisikan namanya.

Enam bulan kedua di tahun yang sama. Aku kehilangan dia. Aku terjatuh dalam gua-gua kesedihan yang tak berwujud. Seperti kehilangan bagian dari tubuhku namun aku tidak kehilangan apapun dari bagian tubuhku. Sesungguhnya aku kehilangan satu sel pembentuk diriku. Wujudnya begitu kecil jika diperbandingkan dengan waktu setelahnya yang harus aku isi dengan menggambar –lagi- dengan peristiwa. Aku berkenalan dengan rasa kehilangan. Dengan kehidupan kedua, yaitu kenyataan. Kenyataan bahwa aku kehilangan Bapak. Rasanya seperti masa kecilku berakhir. Aku terlempar menuju kedewasaan yang belum waktunya. Aku harus merasakan makanan yang kusuka tak terbeli. Buku yang kubaca adalah masa lalu. Gambar yang aku warnai dengan pena hitam dan putih. Kertas yang tidak lagi kosong. Dan rumah yang ramai dengan orang-orang yang menyimpan hutang budi, pelayat. Lalu aku bertanya, dimana Bapakku akan mengahbiskan masa depannya? Ibuku menjawab ‘di penyemaian do’a’.

Pada tahun-tahun berikutnya, aku suka mengayuh sepeda. Jarak terjauh hanya berjarak 12 km dari rumah. Aku mencari bekas-bekas Musim pernah bersinggah. Aku mencari sisa-sisa budi Bapak yang telah gagal tumbuh. Aku lelah, dan aku kembali kerumah.

Aku menjahit cuaca yang robek. Aku menambal kenangan yang hilang. Pacar pertamaku, Krizaldiar. Mungkin dia lahir dari game-game superhero atau film-film fiksi. Sementara dia menggantikan jarum dan benang. Kemudian menyisakan bekas-bekas jahitan yang tidak bisa terhapus. Pacar keduaku, Rio. Tak beda jauh. Dia membuatku seperti pilar-pilar tempat bertumpunya atap. Dia merumah dibawahnya. Dan pulang kerumahnya setelah bosan atau jengah.

Musim. Aku merasakan kehadirannya setiap aku melewati banyak peristiwa. Ia hadir begitu saja. Membisu dan tidak suka menampakkan dirinya dengan lugas. Hanya sebatas penanda-penanda. Kedua kalinya kami berkenalan. Ia memperkenalkan diri sebagai ‘seseorang yang tak tampak’. Kali ini aku kebingungan dengan definisi namanya saat berkenalan. Kemudian aku memanggilnya Musim. Penandanya masih sama, dedaunan yang jatuh, bau harum setelah hujan, dan sore yang kuning.

Musim menyusup kedalam tubuh pacar ketigaku.

Dia tak bernama.

Hanya penanda-penanda.

Dan setelah yang ketiga aku kehilangan Musim. Ia menyelinap pergi untuk mencari waktunya yang tidak merata. Ia meninggalkan selembar daun akasia yang menguning, kulit jeruk yang mengering, dan sepotong matahari di dalam dompet. Aku limbung menyusun penanda yang ditinggalkannya. Membolak-balik huruf. Menyusun kata-kata. Menjahit kalimat-kalimat. Menghitung jumlah-jumlah paragraf. Mencari makna.

Aku habis. Dan aku harus kembali pada tugas menulis Filsafat Proses.

Yogyakarta, Bambu Asri 2

Filsafat Hukum, Moral dan Etika

Dalam metafisika kesusilaan Kant (1979) ditemukan perbedaan antara legalitas dan moralitas. Legalitas menurut Kant dipahami sebagai kesesuaian atau ketidaksesuaian semata-mata suatu tindakan dengan hukum atau norma lahiriah belaka. 1,155 more words

ILMU HUKUM

Pengertian Filsafat Hukum

Filsafat hukum adalah cabang dari filsafat yaitu filsafat etika atau tingkah laku yang mempelajari hakikat hukum. Filsafat hukum memiliki objek yaitu hukum yang dibahas dan dikaji secara mendalam sampai pada inti atau hakikatnya. 272 more words

ILMU HUKUM

FILSAFAT: Positivisme

Positivisme

Positisme merupakan perkembangan lebih lanjut dari empirisme Inggris. Inspirasi filosofis empirisme terhadap positisme dapat terlihat terutama pada prinsip objektivitas ilmu pengetahuan. Empirisme, sebagaimana sudah dijelaskan, yakin bahwa semesta adalah segala sesuatu yang hadir melalui data inderawi.

1,787 more words
Empirisme

Resep mumet dan lemot: Syakawtu ila Waki` su’a hifdzi...

Resep #mumet dan #lemot, jadi ingat syair curhatan Imam as-Syafi’i:

‘…Syakawtu ila Waki` su’a hifdzi, fa arsyada-ni an tarki al-ma`ash… 
wa akhbara-ni bi anna al-ilma nur, wa nur Allah la yu`tha al-`aash…’ 194 more words

Hidup Dan Kehidupan

Agama dan esensi: Allahumma faqqihna fi al-Din wa 'allimna al-Ta'wil

Saya sangat terpikat dengan doa ini: “Allahumma faqqihna fi al-Din wa ‘allimna al-Ta’wil”. Ya Allah anugerahi kami pengetahuan dalam agama dan ajari kami cara memahami esensinya. 93 more words

Hidup Dan Kehidupan