<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>fiqh &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/fiqh/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "fiqh"</description>
	<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 12:19:14 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Puasa Sepuluh Hari Dzul Hijjah dan Arafah]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/puasa-sepuluh-hari-dzul-hijjah-dan-arafah/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:58:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/puasa-sepuluh-hari-dzul-hijjah-dan-arafah/</guid>
<description><![CDATA[Ikhwati fillah, bulan Dzul Hijjah merupakan bulan yang mulia, didalamnya terdapat hari Arafah yaitu ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div><img src="http://www.voa-islam.net/timthumb.php?src=/photos/arafah02.jpg&#38;h=235&#38;w=355&#38;zc=1" alt="" /></div>
<p>Ikhwati fillah, bulan Dzul Hijjah merupakan bulan yang mulia, didalamnya terdapat hari Arafah yaitu hari Haji Akbar dimana para jamaah haji dari seluruh penjuru dunia wukuf disana, begitu juga Hari Raya Idul Adha yang merupakan salah satu hari raya kaum muslimin, dimana Allah Taalaa Mensyariatkan bagi yang mampu untuk berkurban mencontoh Nabi Ibrahim alaihi salam ketika mentaati perintah Allah Taalaa untuk menyembelih putranya Ismail yang tercinta.</p>
<p>Oleh karenanya beribadah pada sepuluh hari pertama dibulan Dzul Hijjah sangat dianjurkan sebagaimana sabda Rasulullah shallawahu alaihi wasallam :<br />
عن ابن عباس – رضي الله عنهما- قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر )) ، فقالوا : يا رسول الله ! ولا الجهاد في سبيل الله ؟ . فقال رسول صلى الله عليه وسلم : (( و لا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجل خرج بنفسه وماله ، فلم يرجع من ذلك بشيء ))</p>
<p><!--more--></p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata : Rasulullah shallawahu alaihi wasallam bersabda : (( tidak ada satu haripun amal shalih diwaktu itu lebih dicintai Allah dari sepuluh hari ini )), lalu mereka berkata : Ya Rasulullah ! walaupun jihad di jalan Allah sekalipun ? Maka Rasulullah shallawahu alaihi wasallam : (( walaupun jihad dijalan Allah , kecuali seorang yang keluar dengan diri dan hartanya, lalu tidak kembali lagi dengan semua itu ))HR Imam Bukhari (2/382-383-Fath ) Abu Dawud (2438) dan Turmudzi (1/145)</p>
<p><strong>Puasa sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah :</strong></p>
<p>Dan termasuk ibadah yang disyariatkan dalam sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah adalah puasa sebagaimana sabda Rasulullah shallawahu alaihi wasallam :<br />
عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ</p>
<p>Dari Hunaidah bin Khalid dari istrinya dari sebagian istri Nabi shallawahu alaihi wasallam : ((bahwa Rasulullah shallawahu alaihi wasallam dahulu berpuasa Sembilan hari bulan Dzul Hijjah dan hari Asyura dan tiga hari pada setiap bulan senin pertama dan khamis pertama dari bulan itu ))HR Abu Dawud Dishahihkan Syaikh Albani.</p>
<p>Hukumnya sunah sebagaimana dikatakan Imam Nawawi : ( dia sangat mustahab )[ Syarh Shahih Muslim (8/102)].</p>
<p>Dan ini merupakan pendapat Jumhur Ulama tanpa diperselisihkan dan mereka sepakat atas keutamaannya [Hasyiah Arraudhul Murabba (3/452)].</p>
<p>Adapun yang diriwayatkan dalam hadits Aisyah radhiallahu anha :</p>
<p>عن عائشة  رضي الله عنها  قالت : (( ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم صائماً في العشر قط ))</p>
<p>Dari Aisyah radhiallahu anha berkata : (( Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallawahu alaihi wasallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzul Hijjah sama sekali )) HR Muslim (2/833 no: 1176) dan Ahmad dalam sunannya (6/42).</p>
<p><strong>Hadits diatas tidak menunjukkan makruhnya puasa sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah.</strong></p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah berkata : (Barangkali maksud perkataan Aisyah radhiallahu anha : Beliau shallawahu alaihi wasallam tidak pernah berpuasa pada sepuluh hari tersebut, yaitu tidak pernah berpuasa karena sakit atau safar atau yang lainnya, atau bahwa Aisyah tidak melihat Beliau berpusa, dan itu tidak mesti bermakna beliau tidak berpuasa sama sekali)[ Syarah Shahih Muslim (4/209)]</p>
<p><strong>Puasa Hari Arafah :<br />
</strong><br />
Dan lebih ditekankan lagi adalah puasa hari kesembilan bulan Dzul Hijjah yaitu hari Arafah bagi yang tidak melaksanakan haji sebagaimana dalam hadits :</p>
<p>عن أبي قتادة – رضي الله عنه &#8211; : أن رجلاً أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : كيف تصوم ؟ فغضب رسول الله صلى الله عليه وسلم &#8230;. ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( ثلاث من كل شهر ، ورمضان إلى رمضان ، فهذا صيام الدهر كله ، صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفّر السنة التي قبله ، والسنة التي بعده ، وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفِّر السنة التي قبله))</p>
<p>Dari Abu Qatadah radhiallahu anhu : Bahwa seorang laki mendatangi Nabi shallawahu alaihi wasallam lalu berkata : Bagaimana anda berpuasa ? lalu Rasulullah shallawahu alaihi wasallam pun marah… kemudian Rasulullah shallawahu alaihi wasallam bersabda : (( tiga hari dari setiap bulan, dari Ramadhan ke Ramadhan lagi, maka ini seperti puasa setahun penuh, puasa hari Arafah aku mengharap dari Allah untuk menggugurkan dosa tahun lalu, dan tahun yang akan datang, dan puasa hari Asyura aku mengharap dari Allah dapat menggugurkan dosa setahun yang lalu )) HR Muslim (6/55 no: 1976)Sunan Turmudzi (3/210 no: 680).</p>
<p>Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Uqbah bin Amir radhiallahu anhu :</p>
<p>عن عقبة بن عامر – رضي الله عنه – قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (( يوم عرفة ، ويوم النحر ، وأيام التشريق ، عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل وشرب ))[17] .</p>
<p>Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu berkata : Rasulullah shallawahu alaihi wasallam bersabda : (( hari Arafah, dan hari Idul Adha, dan hari tasyrik, hari raya kita kaum muslimin, yaitu hari-hari makan dan minum )) Abu Dawud (2419) dan Turmudzi (1/148) dan beliau berkata : Hadits Hasan Shahih,dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Irwaul Gholil (4/130-131).</p>
<p>Telah berkata penulis Tuhfatul Ahwadzi :  ( dalam hadits tersebut ada dalil bahwa hari Arafah dan Tasyrik merupakan hari-hari raya sebagaimana hari kurban hari raya, dan semua hari yang lima ini hari makan dan minum) (2/316 no: 704)</p>
<p><strong>Hadits diatas tidak menunjukkan larangan berpuasa pada hari Arafah berdasarkan hadits keutamaan puasa Arafah dalam haditsnya Abu Qatadah diatas.</strong></p>
<p><strong>Puasa Hari Arafah bagi jamaah haji :</strong><br />
Adapun puasa Arafah bagi jamaah haji maka ulama berbeda pendapat : diriwayatkan dari Utsman bin Abi Ash dan Ibnu Zubair bahwa keduanya berpuasa, dan Imam Ahmad berkata : jika mampu, maka berpuasa, dan jika berbuka maka itu adalah hari yang memerlukan kekuatan. Dan Ishaq menganggap mustahab puasa bagi jamaah haji. Dan Atha mengatakan : aku berpuasa dimusim dingin dan tidak berpuasa dimusim panas. Dan Malik dan Sufyan Attsauri memilih berbuka bagi jamaah haji demikian juga Syafiie</p>
<p>Dan Yahya bin Said Al Anshari berkata : wajib untuk berbuka bagi jamaah haji pada hari itu.</p>
<p>Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radhiallahu anhu :<br />
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : { نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ } .رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ ) .</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata : (( Rasulullah shallawahu alaihi wasallam melarang puasa hari Arafah di Arafah ))HR Abu Dawud (1/382)  dan Ibnu Majah (1/528).</p>
<p><strong>Namun hadits diatas lemah</strong>, karena dalam sanadnya ada Mahdi Al Hajari tidak dikenal, sebagaimana dikatakan Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhisul Habir (6/649)demikian juga diriwayatkan oleh Al Uqaili dalam kitab Adhuafa (para perawi lemah)(106).</p>
<p>Dan dilemahkan juga oleh Ibnu Qayyim dalam Zaadul Maadz (1/16 dan 237) dan Syaikh Albani dalam Tamamul Minnah (410).</p>
<p>Namun yang paling afdhol adalah berbuka pada hari ini bagi jamaah haji sebagaimana perbuatan Nabi shallawahu alaihi wasallam yang disebutkan dalam hadits :<br />
عن ميمونة- رضي الله عنها-:(( أن الناس شكوا في صيام النبي صلى الله عليه وسلم يوم عرفة ،فأرسلتُ إليه بحلاب وهو واقف في الموقف ،فشرب منه والناس ينظرون )) متفق عليه</p>
<p>Dari Maimunah radhiallahu anha : (( Bahwa orang-orang ragu-ragu mengenai puasa Nabi shallawahu alaihi wasallam pada hari Arafah, lalu dikirim kepada beliau susu ketika beliau wukuf di Arafah, lalu beliau meminumnya dan orang-orang melihatnya )) Muttafaqun alaihi. HR Bukhari (4/237 no :1989) dan Muslim (2/791 no: 1124).</p>
<p>Imam Syaukani berkata dalam Nailul Authar : (hadits Abu Qatadah yang marfu yang diriwayatkan Jamaah kecuali Bukhari dan Turmudzi secara dhahirnya menunjukkan sunahnya puasa Arafah secara mutlak, sedang hadits Uqbah bin Amir diatas secara dhahirnya menunjukkan makruhnya puasa Arafah secara mutlak, … maka untuk menyatukan hadits-hadits ini bahwa puasa hari Arafah mustahab bagi setiap orang makruh bagi yang haji di Arafah. Dan hikmahnya barangkali puasa dapat menyebabkan lemah sehingga tidak dapat banyak berdoa dan berdzikir pada hari Arafah disana dan melaksanakan manasik haji. Katanya hikmah lainnya adalah karena hari itu adalah hari raya bagi yang wukuf disana karena mereka berkumpul disana).[ Nailul Authar 7/136].</p>
<p><strong>Kesimpulan :<br />
</strong><br />
1-    Puasa sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah hukumnya sunah.</p>
<p>2-    Puasa Hari Arafah hukumnya sunah bagi yang tidak berhaji.</p>
<p>3-    Adapun yang berhaji maka boleh berpuasa jika mampu, kalau dapat mengakibatkan lemah sehingga tidak dapat bersungguh-sungguh dalam berdoa, berdzikir, serta melaksanakan manasik haji di Arafah maka hukumnya makruh.</p>
<p>Wallahu Alam Bishowab</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HUKUM MENGAMINI DO'A KHATIB SAAT KHUTBAH JUM'AT]]></title>
<link>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/hukum-mengamini-doa-khatib-saat-khutbah-jumat/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 03:30:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>hajimiskin</dc:creator>
<guid>http://hajimiskin.wordpress.com/2009/11/25/hukum-mengamini-doa-khatib-saat-khutbah-jumat/</guid>
<description><![CDATA[Sebagaimana juga terjadi pada pembahasan masalah-masalah fiqhiyyah yang lain terjadinya pebedaan pen]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Sebagaimana juga terjadi pada pembahasan masalah-masalah fiqhiyyah yang lain terjadinya pebedaan pendapat diantara para ulama fiqih yang mana hal itu adalah merupakan suatu kelaziman. Demikian juga dalam masalah <strong><em>&#8220;<br />
</em></strong></p>
<p><em> </em>Ada beberapa perbedaan pendapat diantara para ulama dalam menetapkan hukum mengamini do&#8217;a khatib saat khutbah jum&#8217;at. Hal ini disebabkan oleh perbedaan mereka dalam menetapkan rukun-rukun khutbah jum&#8217;at, yaitu apakah do&#8217;a itu termasuk dalam rukun khutbah atau merupakan sesuatu yang ada diluar khutbah. Akhirnya terjadilah perbedaan pendapat dalam menghukuminya dengan hadits Rasulullah shallallahu alahi wasallam :</p>
<p dir="rtl">عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إذا قلت لصاحبك يوم الجمعة أنصت والإمام يخطب فقد لغوت &#8211; رواه ابن ماجه -<!--more--></p>
<p>&#8221; Dari  Abu Hurairah radliyallahuanhu bahwasanya Nabi sallallahu alaihi wasallam bersabda : Jika kamu mengatakan kepada temanmu <em>&#8221; diamlah &#8220;</em> pada hari Jum&#8217;at maka sesungguhnya kamu telah berbuat sia-sia. ( HR. Ibnu Majah )</p>
<p>Berikut akan kami paparkan beberapa pendapat ulama dalam masalah ini ;</p>
<ul>
<li><strong>Pendapat yang membolehkan :</strong></li>
</ul>
<p>Al Malikiyah berpendapat bahwasanya diperbolehkan mengucapkan <em>alhamdulillah </em>bagi orang yang bersin akan tetapi dengan suara pelan. Demikian juga <em>disunnahkan untuk mengamini khatib saat berdo&#8217;a akan tetapi dengan suara pelan juga,</em> dan jika dikeraskan maka hukumnya makruh dan jadi haram jika hal itu dilakukan berkali-kali<em>. ( Kitabul Fiqh &#8216;Ala Madzahibil Arba&#8217;ah, Abdurrahman Al Jaziri I, hal : 360 )</em></p>
<p>Al Hanabilah juga memperbolehkan mengamini do&#8217;a khatib ketika khutbah, dengan tanpa meninggikan suara, karena do&#8217;a menurut mereka adalah bukan termasuk dalam rukun khutbah. <em>( Kitabul Fiqh &#8216;Ala Madzahibil Arba&#8217;ah, Abdurrrahman Al Jaziri I, hal : 362 )</em></p>
<p>Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Ibni Shalih Ali Bassam juga menerangkan dalam kitabnya <em>&#8221; Taisirul &#8216;Allam Syarh &#8216;Umdatul Ahkam &#8220;</em> bahwasanya mengamini do&#8217;a khatib itu diperbolehkan. <em>( Taisirul &#8216;Allam II hal : 323, Darul Fikr 1407 / 1987 M )</em></p>
<p>Demikian juga dijelaskan dalam buku Al Mughni libni Qudamah bahwa mengamini do&#8217;a khatib itu diperbolehkan bagi mereka yang berpendapat bahwa do&#8217;a tidak termasuk rukun dari khutbah, dan mereka yang berpendapat bahwasanya do&#8217;a termasuk bagian dari khutbah tidak memperbolehkannya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li><strong>Pendapat yang tidak memperbolehkan ;</strong></li>
</ul>
<p>Mengangkat tangan dan mengamini do&#8217;a khatib saat khutbah jum&#8217;at adalah merupakan kesalahan bagi jama&#8217;ah shalat jum&#8217;at yang melakukannya, sebagaimana juga kesalahan bagi khatib dalam mengangkat tangan ketika berdo&#8217;a saat khutbah. Demikian yang dijelaskan oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Ibni Hasan Ibni Mahmud Ibnu Salman dalam kitabnya &#8221; <em>Al Qaulul Mubin fie Akhthail Mushallin hal ; 380 &#8220;.</em></p>
<p>Demikian juga Mahmud &#8216;Ied Al Abbasiy mentahqiq pendapat Syaikh Ibrahim bin Muhammad Salim bin Dawayyan, yang memperbolehkan berbicara termasuk juga mengamini do&#8217;a khatib, bahwasanya tidak ada dalil syar&#8217;ie yang menjelaskan tentang hal itu dan bahwa setiap perkataan khatib diatas mimbar adalah khutbah dan wajib atasnya diam.</p>
<p>Secara umum kesimpulannya adalah bahwa ulama yang berpendapat bahwasanya do&#8217;a termasuk bagian dari khutbah tidak memperbolehkan mengamini do&#8217;a khatib, dan yang berpendapat bahwa do&#8217;a tidak termasuk bagian dari khutbah, memperbolehkan mengamininya.</p>
<p>Demikianlah tulisan yang sedikit ini kami susun, dan jika didalamnya terdapat kesalahan itu adalah merupakan kebodohan dan kekurangan kami. Kami memohon kepada Allah agar memberikan pahala yang berlimpah bagi yang bersedia mengishlahnya. Wallahu a&#8217;lam.                                     by ;  Abdul Fattah</p>
<ul>
<li><strong>Referensi ;</strong></li>
</ul>
<p>1. Kitabul Fiqh &#8216;Ala Madzahibil &#8216;Arba&#8217;ah, Abdurrahman Al Jaziriy</p>
<p>2. Manarus Sabil fie Syarhid Dalil, Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Salim bin     Dawayyan.</p>
<p>3. Al Mughni, Ibnu Qudamah.</p>
<p>4. Taisirul &#8216;Allam Syarh &#8216;Umdatul Ahkam, Abdullah Ibni Shalih Ali Bassam</p>
<p>5. Nailul Authar, Muhammad &#8216;Ali bin Muhammad Asy Syaukani.</p>
<p>6. Al Qaulul Mubin fie Akhthail Mushallin, Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan bin                Mahmud bin Salman.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[‘Allamah Anwar Shah Kashmiri on Mawlana Khalil Ahmad Saharanpuri (rahimahumallah)]]></title>
<link>http://zakariyya.wordpress.com/2009/11/24/%e2%80%98allamah-anwar-shah-kashmiri-on-mawlana-khalil-ahmad-saharanpuri-rahimahumallah/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 21:42:15 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Unaysah</dc:creator>
<guid>http://zakariyya.wordpress.com/2009/11/24/%e2%80%98allamah-anwar-shah-kashmiri-on-mawlana-khalil-ahmad-saharanpuri-rahimahumallah/</guid>
<description><![CDATA[[…] ‘Allamah Anwar Shah Kashmiri (may Allah shower His mercy upon him) would say, ‘‘there are many t]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">[…] ‘Allamah Anwar Shah Kashmiri (may Allah shower His mercy upon him) would say, ‘‘there are many teachers [of the Islamic sciences] in this era, however, there is only one personality who is a <em>faqih</em>. He is Mawlana Khalil Ahmad Saharanpuri.’’ </p>
<p style="text-align:justify;"> <em><strong>Malfuzat-e-Faqih al-Ummat: </strong></em><strong>p. 177, Vol 3 (Karachi: Dar al-Huda, September 2005 ed.) by Mufti Muhammad Faruq Mirathi</strong>.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Huge List of Hanafi Fiqh Manuscripts from the Saudi University of King Sa'ud University]]></title>
<link>http://attahawi.com/2009/11/24/huge-list-of-hanafi-fiqh-manuscripts-from-the-saudi-university-of-king-saud-university/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 18:47:52 +0000</pubDate>
<dc:creator>at-Tahawi</dc:creator>
<guid>http://attahawi.com/2009/11/24/huge-list-of-hanafi-fiqh-manuscripts-from-the-saudi-university-of-king-saud-university/</guid>
<description><![CDATA[Thanks to the wonderful Aslein web forum, one can conveniently find a very large list of Hanafi fiqh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Thanks to the wonderful Aslein web forum, one can conveniently find a very large list of Hanafi fiqh books in manuscript form that can be found at the King Sa&#8217;ud University of Jeddah. The University has done the ummah a great service by having them scanned and made available online for free. May Allah reward them immensely and allow sound students of knowledge the opportunity to publish these works and utilize them for the good of Islam.</p>
<p><a href="http://www.aslein.net/showthread.php?t=11341">List of Hanafi Fiqh Manuscripts</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Al Istinja']]></title>
<link>http://abumusabimjemen.wordpress.com/2009/11/24/al-istinja/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 18:21:10 +0000</pubDate>
<dc:creator>abumusabimjemen</dc:creator>
<guid>http://abumusabimjemen.wordpress.com/2009/11/24/al-istinja/</guid>
<description><![CDATA[الاستنجاء والاستنجاء واجب من البول والغائط ، والأفضل أن يستنجي بالأحجار ثم يتبعها بالماء ، ويجوز أن ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><span style="text-decoration:underline;">الاستنجاء</span></strong><strong></strong></p>
<p>والاستنجاء واجب من البول والغائط ، والأفضل أن يستنجي بالأحجار ثم يتبعها بالماء ، ويجوز أن يقتصر على الماء أو على ثلاثة أحجار ينقِي بهن المحل ، فإذا أراد الاقتصار على أحدهما فالماء أفضل.</p>
<p>ويجتنب استقبال القبلة واستدبارها في الصحراء ، ويجتنب البول والغائط في الماء الرَّاكد ، وتحت الشجرة المثمرة ، وفي الطريق ، والظِّل ، والثُّقب.</p>
<p>ولا يتكلم على البول والغائط ، ولا يستقبل الشمس والقمر ولا يستدبرهما, ولا يستنجي بيمينه.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Waschung nach dem Toilettengang (al Istinja’)</span></p>
<p>Al Istinja‘ ist Pflicht (Wajib) nach dem urinieren und dem Stuhlgang.  Es ist besser Istinja‘ mit Steinen zu machen und darauf folgend Wasser (Diese Meinung ist nach Imam An Nawawi  aberkannt, im Sharh Mazhab), es ist erlaubt Wasser zu reduzieren oder mit wenigstens drei Steine sich zu säubern, wenn man von den beiden (Steine oder Wasser) reduzieren möchte dann ist Wasser besser.</p>
<p>Es ist in der Wüste (also jeder offener Platz) zu vermeiden sich der Qiblah von vorne oder von hinten zustellen (seitlich ist erwünscht). Es ist zu vermeiden in stilles Wasser zu urinieren oder den Stuhlgang darin zu verrichten, sowie unter einen Baum der Früchte trägt, oder auf einem Weg, unter einen Schatten und in ein Loch.</p>
<p>Das Gespräch ist untersagt während des Toilettengangs. Es ist nicht erlaubt sich der Sonne und dem Mond von vorne und hinten zu stellen (Imam An Nawawi sagt es gibt keine Basis dafür und es ist erlaubt im Sharh Al Wasit). Es ist nicht erlaubt mit der rechten (Hand) sich zu waschen.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FACEBOOK AND MUSLIMS]]></title>
<link>http://alfaida.wordpress.com/2009/11/24/facebook-and-muslims/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 16:33:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>alfaida</dc:creator>
<guid>http://alfaida.wordpress.com/2009/11/24/facebook-and-muslims/</guid>
<description><![CDATA[Question: Please advice me regarding facebook. What about the husband who allows his wife to do this]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Question:</p>
<p>Please advice me regarding facebook. What about the husband who allows his wife to do this? What about women in purdah on facebook?</p>
<p>Answer:</p>
<p>For a female to indulge in any activity that promotes her to outsiders is not allowed. This is proven from many Verses of Quran and Ahadeeth of our Rasool (sallallahu alayhi wasallam).<br />
For this reason a woman does not give athaan, khutba or lectures; she does not lead the salaah. Going onto facebook entails publicizing oneself and interacting with other people. For a woman to do so, or for the husband to allow his wife to do this, is not permissible in Islam. Even a man who chats and communicates with females over facebook is committing a major sin. Posting photographs of oneself on facebook is also not permissible.<br />
We need to abstain from these indulgences that make our imaan weak.</p>
<p>Please pass this message on to our brothers and sisters and make them aware of the wrong in face book and similar programs.</p>
<p>Mufti Siraj Desai</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[At-Tâ'ifah Al-Mansûrah]]></title>
<link>http://ummusama.wordpress.com/2009/11/24/at-taifah-al-mansurah/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 16:33:36 +0000</pubDate>
<dc:creator>ummusama</dc:creator>
<guid>http://ummusama.wordpress.com/2009/11/24/at-taifah-al-mansurah/</guid>
<description><![CDATA[بسم الله الرحمان الرحيم Nel Nome di Allah, il sommamente Misericordioso, il Clementissimo &nbsp; At-]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="color:#008000;">بسم الله الرحمان الرحيم</span></strong><span style="color:#008000;"><strong> </strong></span></p>
<p><strong><span style="color:#008000;">Nel Nome di Allah, il sommamente Misericordioso, il Clementissimo</span></strong></p>
<p>&#160;</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansûrah (Il Gruppo Vittorioso)</span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;"> </span></strong></p>
<p><em>Estratti dal libro &#8220;refutazione dei dubbi concernenti i dirigenti&#8221;, dello shaykh &#8216;Abdul Qadir Ibn &#8216;Abdul &#8216;Azîz. Tradotto in francese da Al-Mourabitoune</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Chi sono At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Il Messaggero di Allah (sallAllahu &#8216;alayhi waSallam) disse: <strong>&#8220;Questa religione continuerà ad esistere e un gruppo (Tâ&#8217;ifah) della mia Comunità (Ummah) continuerà a combattere per la sua protezione fino all&#8217;arrivo dell&#8217;Ora. Questo gruppo della mia comunità resterà sempre trionfante sulla retta via, e continuerà ad esserlo contro coloro che si opporranno loro. Coloro che li tradiranno saranno incapaci di causare loro il minimo torto. Questi musulmani resteranno su queste posizioni finché gli ordini di Allah saranno eseguiti </strong>(la fine del mondo)<strong>&#8220;</strong> (riportato da Bukhârî e Muslim).</p>
<p>&#160;</p>
<p>La maggior parte dei pii predecessori (as-Salaf) furono dell&#8217;opinione che &#8220;l&#8217;Assemblea Vittoriosa&#8221; (At-Tâ&#8217;ifah al-Mansurah) fosse costituita dai sapienti (Ulamâ&#8217;) e dalla gente dell&#8217;Hadîth (Ahl al-Hadith), così come enunciarono Al-Bukhârî e Ahmad ibnu Hanbal.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ma la sua (sallAllahu &#8216;alayhi waSallam) enunciazione secondo cui <strong>&#8220;&#8230;un gruppo continuerà a combattere per questa religione&#8230;&#8221;</strong> è un problema per essi, così come gli altri racconti, in cui il combattimento (Al-Qital) è chiaramente menzionato. E ciò è basato sulle specificità uniche di questa Assemblea (Tâ&#8217;ifah), come questi racconti che ci provengono da Jabir ibn &#8216;Abdullah e &#8216;Imran Ibn Husayn e Yazid ibn Al-Aslam e Mu&#8217;awiyah e &#8216;Uqbah ibnu &#8216;Amr, che Allah sia soddisfatto di tutti loro.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Così, non è possibile limitare la Tâ&#8217;ifah agli Ulamâ&#8217; soltanto. Piuttosto, essi (i componenti della Tâ&#8217;ifah) sono la gente della conoscenza e la gente del Jihâd. Ed è questa la ragione per cui l&#8217;Imâm an-Nawawi ha menzionato gli ahadîth di Al-Bukhârî, di Ahmad ed altri, poi ha detto: &#8220;E potrebbe darsi che questa Tâ&#8217;ifah sia ripartita tra i diversi tipi di credenti. Tra essi vi sono i combattenti forti (Muqatilûn) e tra essi vi sono dei giuristi (Fuqahâ) e tra essi vi sono degli specialisti in (scienza degli) Hadîth (Muhadithûn), e tra essi vi sono quelli che si allontanano dalle preoccupazioni di questa vita terrestre mediante un culto intenso (Zuhâd) e coloro che ordinano il bene e proibiscono il male. E tra essi vi sono persone che compiono il bene in altra forma, e non è necessario che siano tutti insieme, potrebbero essere piuttosto ripartiti nelle diverse regioni del mondo&#8221;<a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p>&#160;</p>
<p>E allo stesso modo, shaykh al-Islâm ibn Taymiyyah, che Allah abbia misericordia di lui, indicava in una delle sue Fatawâ – riguardante la rivolta contro i Tartari, che avevano aderito alle due testimonianze di fede (Ash-Shahâdatayn), ma che governavano mediante leggi diverse dalla Shari&#8217;ah Islamiyyah – che le genti del Jihâd sono tra coloro che meritano più di ogni altro di essere incluse in At-Tâifah Al-Mansurah, poiché disse: &#8220;In ciò che concerne la Tâ&#8217;ifah nel Shâm (Siria/Damasco) e in Egitto e (in altri luoghi) equivalenti; essi sono, in questo momento, i combattenti (Muqatilûn) per la religione (Dîn) dell&#8217;Islâm. E sono coloro che meritano maggiormente di far parte di At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah, di cui il Profeta (sallAllahu &#8216;alayhi waSallam) disse, secondo ciò che è autentico e frequentemente riportato da lui: <strong>&#8220;Una parte (Tâ&#8217;ifah) della mia Comunità (Ummah) rimarrà sempre fedele alla verità. Coloro che li abbandoneranno non porteranno loro pregiudizio, finché l&#8217;ordine di Allah, Lodato ed Esaltato, sia decretato&#8221;</strong>, e in un&#8217;altra versione di Muslim: <strong>&#8220;&#8230;La gente dell&#8217;Ovest non cesserà&#8230;&#8221;</strong>.&#8221;<a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftn2">[2]</a></p>
<p>&#160;</p>
<p>E non vi è alcun dubbio che gli Ulamâ&#8217; (Sapienti) che agiscono, sono le prime persone ad entrare in questa Tâ&#8217;ifah, e poi il resto della gente tra i Mujahidîn e coloro che li seguono.</p>
<p>&#160;</p>
<p>E ciò che spinse i predecessori (As-Salaf) a dire che la Tâ&#8217;ifah era costituita dagli Ulamâ&#8217;, è il fatto che il Jihâd era qualcosa riguardo cui non vi era alcun disaccordo tra i musulmani dell&#8217;epoca, e le frontiere erano interamente provviste di soldati e di eserciti, facenti fronte alle posizioni nemiche (Diyat Al-Harb) e le insufficienze più significative riguardanti la religione, alla loro epoca, erano le innovazioni e i grandi traviamenti. E i cavalieri di questa arena di battaglia sono gli Ulamâ&#8217;. Ma oggi noi abbiamo bisogno degli Ulamâ&#8217; e dei Mujahidîn; ciascuno nella sua arena di battaglia rispettiva, poiché la religione non può essere stabilita né con la sola conoscenza né col solo Jihâd, ma con ciascuno dei due, uniti.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Così come Egli (SubhanaHu waTa&#8217;ala) dice nel Sublime Corano:</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="color:#008000;">Invero inviammo i Nostri Messaggeri con prove inequivocabili, e facemmo scendere con loro la Scrittura e la Bilancia, affinché gli uomini osservassero l&#8217;equità. Facemmo scendere il ferro, strumento terribile e utile per gli uomini, affinché Allah riconosca chi sostiene Lui e i Suoi Messaggeri in cio che è invisibile. Allah è forte, eccelso </span></strong><span style="color:#008000;">(Corano LVII. Al-Hadîd, 25)</span><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Lo Shaykh al-Islâm Ibn Taymiyyah commentò: &#8220;E la religione non sarà stabilita eccetto che mediante il Libro, la Bilancia e il Ferro. Il Libro deve guidare e il Ferro deve sostenerlo. Così come Egli (SWT) dice:<strong> </strong><strong>Invero inviammo i Nostri Messaggeri</strong>… Ed è tramite il Libro che la conoscenza e la religione sono stabilite. Ed è con la Bilancia che i diritti dei contratti, del denaro e della riscossione delle imposte sono stabiliti. In quanto al Ferro, è con esso che si stabiliscono le sanzioni della Legge (Al-Hudûd)&#8221;<a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftn3">[3]</a></p>
<p>E disse anche: &#8220;E le spade dei Musulmani garantiscono la vittoria a questa legislazione (Shari&#8217;ah), così come riportò Jabir ibn &#8216;Abdullah (radiAllahu &#8216;anhu): &#8220;Il Messaggero di Allah (sallAllahu &#8216;alayhi waSallam) ci ordinò di combattere con questa – mostrando la spada – a chiunque si allontani da questo – mostrando il Mus&#8217;haf (il Corano)&#8221;<a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>&#160;</p>
<p>E – che Allah abbia misericordia di lui – disse anche: &#8220;Poiché, certamente, ciò che stabilisce la religione è il Libro che guida e il Ferro che dona la vittoria, così come Allah (SubhanaHu waTa&#8217;ala) ha menzionato&#8221;<a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftn5">[5]</a>, oltre a tutto ciò che si trova nei diversi capitoli delle sue Fatawâ.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Io (l&#8217;autore) dico: E dunque è possibile dire che At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah è il gruppo (Tâ&#8217;ifah) che esegue il Jihâd secondo la metodologia (Manhaj) retta e basata sulla Shari&#8217;ah; la metodologia di Ahlu-s-Sunnah wa&#8217;l-Jama&#8217;ah. E menzionerò le grandi linee di questa metodologia, con il permesso di Allah (&#8216;azza waJalla), nel quadro dell&#8217;argomento &#8220;riguardo al principio di tenersi fermamente al Libro e alla Sunnah&#8221;<a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftn6">[6]</a></p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>La &#8220;Setta Salvata&#8221; (Al-Firqat an-Nâjiyah) è la stessa &#8220;Assemblea Vittoriosa&#8221; (At-Tâ&#8217;ifah al-Mansurah)?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Il Messaggero di Allah (sallAllahu &#8216;alayhi waSallam) disse: <strong>&#8220;In verità la gente del Libro si divise in 72 sette, e questa Ummah si dividerà in 73 sette. 72 per il fuoco dell&#8217;Inferno e una per il Paradiso, e si tratta di Al-Jamâ&#8217;ah (il gruppo)&#8221;</strong><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftn7">[7]</a></p>
<p>E in un altro hadîth: <strong>&#8220;Essi sono (coloro che seguono) ciò su cui siamo io e i miei Compagni&#8221;<a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftn8"><strong>[8]</strong></a></strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>E&#8217; riportato nella maggior parte dei libri di fede (&#8216;Aqidah), che &#8220;la setta salvata&#8221; (Al-Firqat An-Najiyah) è identica all&#8217; &#8220;Assemblea vittoriosa&#8221; (At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah). Per esempio, consultate l&#8217;ultimo capitolo di &#8220;Al-&#8217;Aqidah Al-Wasitiyyah&#8221; di Ibn Taymiyyah, oppure l&#8217;introduzione al libro &#8220;Ma&#8217;arij Al-Qabul&#8221; di Al-Hafidh Al-Hakami, e altri.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Ma ciò che sembra essere l&#8217;opinione più corretta, secondo me, è che Al-Firqah e At-Tâ&#8217;ifah non sono equivalenti, e che At-Tâ&#8217;ifah non è che una parte di Al-Firqah. Così, At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah è questa parte, o questi singoli, che si incaricano di apportare la vittoria alla religione, mediante la conoscenza e il Jihâd di Al-Firqat An-Najiyah, che è basato sulla metodologia e la fede corrette (Manhaj Sahîh wa&#8217;Aqidah Sahîha). E partendo da ciò, possiamo ugualmente affermare che il Mujaddid (riformatore, rivivificatore, ecc.) è un membro di At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah, che onora gli impegni più importanti della religione durante la sua vita, secondo l&#8217;opinione maggioritaria che il Mujaddid sia una persona.</p>
<p>&#160;</p>
<p>E la mia prova per (quanto sostengo) è la seguente:</p>
<p>&#160;</p>
<p>1)     La Parola di Allah (SubhanaHu waTa&#8217;ala):</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="color:#008000;">&#8230;Perché mai un gruppo (Tâ&#8217;ifah) per ogni tribù (Firqah) non va ad istruirsi nella religione, per informarne il loro popolo quando saranno rientrati&#8230;</span></strong><span style="color:#008000;"> (Corano IX. At-Tawba, 122)</span></p>
<p><span style="color:#008000;"> </span></p>
<p>Così, questo versetto ha fatto una differenza tra la Firqah e la Tâ&#8217;ifah, e ha dimostrato che la Tâ&#8217;ifah è una parte della Firqah, e che è questa parte della Firqah che stabilisce la conoscenza e il Jihâd, come hanno spiegato i Sapienti a proposito di questo versetto (cfr. Tafsîr Ibn Kathîr).</p>
<p>&#160;</p>
<p>2)     La conoscenza e il Jihâd sono tra le descrizioni più importanti di At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah. E la base (Usul) della loro legislamzione è che essi sono un obbligo collettivo &#8220;Fard Kifayah&#8221; [in opposizione all'obbligo individuale, "Fard 'Ayn"] e ciò significa che questo dovere deve essere compiuto da alcuni ma non da tutti i figli della nazione (Ummah). E i membri della nazione che si sono assunti il compito di raggiungere la conoscenza e di praticare il Jihâd, sono dunque At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah.</p>
<p>&#160;</p>
<p>3)     E la dichiarazione degli Imam degli Ahadîth, come Bukhârî e Ahmad, che: &#8220;At-Tâ&#8217;ifah sono le genti dell&#8217;Hadîth (Ahl al-Hadîth) o le genti del Sapere&#8221;, come Bukhârî intitolò un capitolo del &#8220;Kitâb Al-&#8217;Itisam&#8221; del suo Sahîh, dà questa impressione, poiché tra la gente di Ahlu-s-Sunnah (Al-Firqat An-Najiyah) non tutti sono gente degli ahadîth (Ahl al-Hadîth). Ma riguardo a ciò che An-Nawawi riportò, sull&#8217;argomento della Tâ&#8217;ifah: &#8220;Ahmad ibn Hanbal disse: &#8220;Se non sono le genti dell&#8217;Hadîth (Ahl al-Hadîth), allora non so chi siano&#8221;. E al-Qâdhi &#8216;Iyâdh indicò che l&#8217;Imâm Ahmad designò con questo termine Ahlu-s-Sunnah wa-l-Jama&#8217;ah e coloro che seguono la scuola di pensiero (madhhab) della gente dell&#8217;Hadîth (Ahl al-Hadîth)&#8221;. Così l&#8217;enunciazione di Al-Qâdhi &#8216;Iyâdh che essi siano la gente dell&#8217;Hadîth – in altri termini tutti coloro che appartengono ad Ahlu-s-Sunnah – non è corretta, a meno che non precisiamo che egli abbia voluto dire quelli che li seguono. Ed è ciò che indicò dicendo: &#8220;&#8230; e coloro che seguono la scuola di pensiero (Madhhab) della gente dell&#8217;Hadîth (Ahl al-Hadîth)&#8221;. Poiché la gente comune segue i propri Ulamâ&#8217;, e gli Ulamâ&#8217; sono i custodi dell&#8217;ordine, che sono stati menzionati nella dichiarazione di Allah (Gloria a Lui, l&#8217;Altissimo):</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="color:#008000;">&#8230; obbedite ad Allah e obbedite al Messaggero e a coloro di voi che hanno l&#8217;autorità&#8230;</span></strong><span style="color:#008000;"> (Corano IV. An-Nisâ&#8217;, 59)</span></p>
<p><span style="color:#008000;"> </span></p>
<p>E ciò che è ancora più chiaro è la dichiarazione di Allah (SubhanaHu waTa&#8217;ala):</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="color:#008000;">&#8230; Se la riferissero al Messaggero o a coloro che hanno l&#8217;autorità, certamente la comprenderebbero coloro che hanno la capacità di farlo&#8230;</span></strong><span style="color:#008000;"> (Corano IV. An-Nisâ&#8217;, 83)</span></p>
<p><span style="color:#008000;"> </span></p>
<p>Così in questo versetto, Allah (SubhanaHu waTa&#8217;ala) ha designato gli Ulamâ&#8217; come coloro che &#8220;comprenderebbero&#8221;. Li ha definiti i detentori del comando (dell&#8217;autorità) ed è un testo che dimostra che gli Ulamâ&#8217; sono i custodi dell&#8217;ordine. E questo testo comprende (anche) un&#8217;indicazione della necessità del loro aumento, e questa indicazione è riportataanche nell&#8217;Hadîth della sottrazione della conoscenza. Così la gente comune segue gli Ulamâ&#8217;.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Egli (subhanaHu waTa&#8217;ala) dice:</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="color:#008000;">Nel Giorno in cui ogni comunità sarà chiamata assieme alla loro guida…</span></strong><span style="color:#008000;"> (Corano XVII. Al-Isrâ&#8217;, 71)</span></p>
<p>&#160;</p>
<p>E Ahlu-s-Sunnah wa&#8217;l-Jama&#8217;ah seguono gli Ulamâ&#8217;, che sono la Tâ&#8217;ifah che rappresenta il Profeta (sallAllahu &#8216;alayhi waSallam) nella nazione (Ummah). Così, se si dice che Ahlu-s-Sunnah (Al Firqât An-Najiyah) è Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah, in altri termini, attraverso coloro che li seguono, è accettabile. Altrimenti, At-Tâ&#8217;ifah è più specifica di Al-Firqah, e Allah è il Più Sapiente.</p>
<p>&#160;</p>
<p>E l&#8217;interesse in tutto questo è per ogni musulmano di far parte di At-Tâ&#8217;ifah Al-Mansurah, che assume l&#8217;onere di donare la vittoria alla religione attraverso la conoscenza, l&#8217;appello (Da&#8217;wah) e il Jihâd. Ed Egli (subhanaHu waTa&#8217;la) dice:</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><span style="color:#008000;">&#8230; che vi aspirino coloro che ne sono degni </span></strong><span style="color:#008000;">(Corano LXXXIII. Al-Mutaffifîn, 26)</span></p>
<p>&#160;</p>
<p>Io (l&#8217;autore) dico: E nonostante ciò, la Tâ&#8217;ifah potrebbe essere la Firqah, assolutamente, ma ciò avverrà alla fine dei tempi, quando i credenti saranno a Shâm, e discenderà tra loro &#8216;Îsâ ibnu Maryam (Gesù figlio di Maria, pace su entrambi) per combattere il Dajjal (anticristo), così come è riportato in un Hadîth autentico. E riguardo a questo avvenimento, gli ahadîth menzionano che At-Tâ&#8217;ifah sarà a Shâm (in Siria) o a Baytu-l-Maqdis (Palestina). Ed è ciò che riguarda la fine totale di questa Tâ&#8217;ifah. Tuttavia, prima di ciò, nelle diverse epoche, la Tâ&#8217;ifah potrà trovarsi sia a Shâm che altrove.</p>
<p>&#160;</p>
<p>E Allah è il Più Sapiente (waAllahu A&#8217;alam).</p>
<p>&#160;</p>
<p>&#160;</p>
<hr size="1" /><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftnref1">[1]</a> Sahîh Muslim biSharh An-Nawawi, vol. 13/67</p>
<p><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftnref2">[2]</a> Majmu&#8217; Al-Fatawâ, vol. 28/531</p>
<p><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftnref3">[3]</a> Majmu&#8217; Al-Fatawâ, vol. 35/36</p>
<p><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftnref4">[4]</a> Majmu&#8217; Al-Fatawâ, vol. 35/365</p>
<p><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftnref5">[5]</a> Majmu&#8217; Al-Fatawâ, vol. 28/396</p>
<p><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftnref6">[6]</a> cfr. Il libro dello shaykh sull&#8217;argomento</p>
<p><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftnref7">[7]</a> Questo hadîth è autentico, cfr. Al-Amru bi-l-Ittibâ&#8217; con il Tahqiq di Mashur Hasan, pag. 47</p>
<p><a href="/SITO%20DA%20SISTEMARE/taifahmansurah.doc#_ftnref8">[8]</a> Questo hadîth è hasan (affidabile, buono), per via dei numerosi testimoni, ccfr. A&#8217;lâm as-Sunnah al-Manshurah min Ta&#8217;liq di ash-Shalabi, pag. 195</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fiqh Qurban]]></title>
<link>http://dinoyudha.wordpress.com/2009/11/24/fiqh-qurban/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 07:28:13 +0000</pubDate>
<dc:creator>dinoyudha</dc:creator>
<guid>http://dinoyudha.wordpress.com/2009/11/24/fiqh-qurban/</guid>
<description><![CDATA[Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[HUKUM KHITAN PEREMPUAN]]></title>
<link>http://keepfight.wordpress.com/2009/11/24/hukum-khitan-perempuan/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 06:54:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>keepfight</dc:creator>
<guid>http://keepfight.wordpress.com/2009/11/24/hukum-khitan-perempuan/</guid>
<description><![CDATA[Tanya : Ustadz, bagaimana hukum khitan anak perempuan? Jawab : Para fuqaha berbeda pendapat mengenai]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Tanya : </strong></p>
<p><em>Ustadz, bagaimana hukum khitan anak perempuan? </em></p>
<p><strong>Jawab : </strong></p>
<p>Para fuqaha berbeda pendapat mengenai hukum khitan menjadi tiga versi pendapat, sebagaimana diuraikan oleh Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithi dalam kitabnya Ahkamul Jirahah Ath-Thibbiyah wa Al-Atsar al-Mutarabbatu &#8216;Alaiha, h. 161-162. Ringkasnya sebagai berikut :<br />
<!--more--><br />
<em><strong>Pertama,</strong></em> khitan hukumnya <strong>wajib atas laki-laki dan perempuan</strong>. Ini pendapat ulama Syafi&#8217;iyah, Hanabilah, dan sebagian Malikiyah. (Imam Nawawi, Al-Majmu&#8217;, 1/300; Ibnu Muflih, Al-Mubdi&#8217;, 1/103; Ibnu Juzzai, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, h.167).<br />
<strong><em>Kedua,</em></strong> khitan hukumnya<strong> sunnah (tidak wajib)</strong> atas laki-laki dan juga perempuan. Ini pendapat ulama Hanafiyah, Imam Malik, Imam Ahmad dalam satu riwayat, dan Imam Syaukani. (Imam Sarakhsi, Al-Mabsuth, 1/156; Ibnu Juzzai, Al-Qawanin Al-Fiqhiyah, h.167; Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/85; Imam Syaukani, Nailul Authar, 1/294).</p>
<p><strong><em>Ketiga,</em></strong> khitan <strong>wajib atas laki-laki, tapi sunnah (tidak wajib) atas perempuan</strong>. Ini pendapat Imam Ahmad dalam riwayat lain, sebagian ulama Malikiyah, dan ulama Zhahiriyah. (Ibnu Muflih, Al-Mubdi&#8217;, 1/104; An-Nafrawi, Al-Fawakih Ad-Dawani, 1/461, Ibnu Hazm, Al-Muhalla, 2/217).</p>
<p>Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa para fuqaha sepakat khitan bagi perempuan disyariatkan (masyru&#8217;) dalam Islam.<strong> (Ibnu Hazm, Maratibul Ijma&#8217;, 1/157)</strong>. Memang ada perbedaan pendapat mengenai hukumnya berkisar antara wajib dan sunnah. Tapi tidak ada satu pun fuqaha yang berpendapat hukumnya makruh atau haram, atau dianggap tindakan kriminal yang harus diperangi, seperti klaim kaum kafir dan kaum liberal dewasa ini. (Nida Abu Ahmad, Hukm Al-Islam fi Khitan Al-Banin wa Al-Banat, h. 57; Abu Muhammad, Al-Khitan Syariah Ar-Rahman, h. 16).</p>
<p>Setelah meneliti dalil-dalilnya, yang kuat (rajih) menurut kami adalah <strong>pendapat ketiga</strong>, yaitu khitan wajib atas laki-laki, tapi sunnah (tidak wajib) atas perempuan. Imam Ibnu Qudamah menyatakan,&#8221;Adapun hukum khitan, hukumnya wajib atas laki-laki dan suatu kemuliaan (makrumah) atas perempuan, tidak wajib atas mereka.&#8221;<strong> (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/141). </strong></p>
<p><strong>Dalil wajibnya khitan laki-laki</strong>, antara lain sabda Nabi SAW kepada seorang laki-laki yang masuk Islam,</p>
<p>&#8220;Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah.&#8221; (alqi &#8216;anka sya&#8217;ra al-kufr wa [i]khtatin) (HR Abu Dawud. Hadis hasan. Syaikh Al-Albani, Irwa&#8217;ul Ghalil, 1/120). Redaksi hadis &#8220;berkhitanlah&#8221; (ikhtatin) menunjukkan hukum wajib, dengan qarinah (indikasi) kalau laki-laki tidak berkhitan, tak akan sempurna thaharah-nya ketika dia kencing. Padahal thaharah adalah wajib. Imam Ahmad berkata,&#8221;Jika seorang laki-laki tidak berkhitan, maka kulit akan menutupi ujung zakar dan tidak bisa bersih apa yang ada di sana.&#8221; (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, 1/141).</p>
<p>Mengenai <strong>pensyariatan khitan perempuan</strong>, dalilnya antara lain, Nabi SAW pernah bersabda kepada para perempuan Anshar,</p>
<p>&#8220;Hai para perempuan Anshar&#8230;hendaklah kamu berkhitan dan janganlah kamu berlebihan dalam memotong.&#8221; (HR Al-Bazzar. Hadis sahih. Syaikh Al-Albani, Silsilah Ash-Shahihah, 2/221). Nabi SAW juga pernah bersabda kepada perempuan tukang khitan,&#8221;Jika kamu mengkhitan [perempuan], maka hendaklah kamu sisakan dan janganlah kamu berlebihan dalam memotong.&#8221; (idza khafadhti fa-asymiy wa laa tanhakiy). (HR Abu Dawud. Hadis sahih. Syaikh Al-Albani, Silsilah Ash-Shahihah, 2/344).</p>
<p>Bagi yang mewajibkan khitan perempuan, kedua hadis di atas dianggap dalil wajibnya khitan atas perempuan, karena kaidah ushuliyah menetapkan redaksi perintah (amr) menunjukkan hukum wajib (al-ashlu fi al-amr lil al-wujub). (Maryam Hindi, Khitan Al-Inats Baina Ulama Asy-Syariah wa Al-Uthaba, h. 59).</p>
<p>Namun, kaidah ushuliyah yang lebih sahih, redaksi perintah (amr) hanya menunjukkan tuntutan melakukan perbuatan (al-ashlu fi al-amr li ath-thalab), tidak otomatis menunjukkan hukum wajib. Yang menentukan amr itu menunjukkan wajib atau mandub, adalah qarinah yang menyertai amr tersebut. (Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah, 3/212).</p>
<p>Maka dari itu, hadis di atas hanya menunjukkan khitan perempuan adalah sunnah, bukan wajib. Sebab tidak terdapat qarinah yang menunjukkan keharusan melaksanakan perintah (amr) dalam hadis di atas. Tidak adanya qarinah yang menyertai suatu perintah, adalah qarinah bahwa perintah yang ada menunjukkan hukum sunnah (mandub). (Atha bin Khalil, Taisir Al-Wushul ila Al-Ushul, h. 25; M. Husain Abdullah, Al-Wadhih fi Ushul Al-Fiqh, h. 340).</p>
<p><strong><em>Kesimpulannya, khitan bagi perempuan hukumnya sunnah, tidak wajib</em></strong>. Wallahu a&#8217;lam.<br />
<strong><br />
Yogyakarta, 11 April 2009</p>
<p>Muhammad Shiddiq Al-Jawi </strong></p>
<p>sumber: <a rel="nofollow" href="http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=572&#38;Itemid=33" target="_blank">http://khilafah1924.org/index.php?option=com_content&#38;task=view&#38;id=572&#38;Itemid=33</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Transplatasi Organ Tubuh Menurut Islam]]></title>
<link>http://tekashichu.wordpress.com/2009/11/24/hukum-transplatasi-organ-tubuh-menurut-islam/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 03:06:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>tekashichu</dc:creator>
<guid>http://tekashichu.wordpress.com/2009/11/24/hukum-transplatasi-organ-tubuh-menurut-islam/</guid>
<description><![CDATA[Islam memerintahkan jika seseorang sakit, maka harus diobati. Membiarkan penyakit bersarang dalam tu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Islam memerintahkan jika seseorang sakit, maka harus diobati. Membiarkan penyakit bersarang dalam tu]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sunnah des Wudo]]></title>
<link>http://abumusabimjemen.wordpress.com/2009/11/23/sunnah-des-wudo/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 17:16:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>abumusabimjemen</dc:creator>
<guid>http://abumusabimjemen.wordpress.com/2009/11/23/sunnah-des-wudo/</guid>
<description><![CDATA[سنن الوضوء وسننه عشرة أشياء: التسمية ، وغسل الكفين قبل إدخالهما الإناء ، والمضمضة ، والاستنشاق ، ومس]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong><span style="text-decoration:underline;">سنن الوضوء</span></strong><strong></strong></p>
<p>وسننه عشرة أشياء:</p>
<p>التسمية ، وغسل الكفين قبل إدخالهما الإناء ، والمضمضة ، والاستنشاق ، ومسح جميع الرأس ، ومسح الأذنين ظاهرهما وباطنهما بماء جديد ، وتخليل اللحية الكَثَّة ، وتخليل أصابع اليدين والرجلين ، وتقديم اليمنى على اليسرى ، والطهارة ثلاثا ثلاثا، والموالاة</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong>Die Sunnan (Plural von Sunnah) des Wudo</strong></p>
<p>Die Sunnah vom Wudo besteht aus zehn Dingen:  Den Namen Allahs anrufen (Bismillah), die Hände waschen bevor man die Hände in ein Gefäss eintaucht, den Mund auswaschen (al Madmada), das Wasser durch die Nase hochziehen und wieder rauslassen (al  Istinschaq), den ganzen Kopf bestreichen, mit neuem Wasser die Ohren innen und aussen bestreichen, mit den Fingern (von unten) durch den Bart streichen, die Finger-und Zehenzwischenräume wischen, mit rechts anfangen danach links, die Säuberung (Tahara) ist dreimalig und die Ablauffolge.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad]]></title>
<link>http://alfalimbany.wordpress.com/2009/11/23/takbir-muthlaq-dan-takbir-muqayyad/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 16:46:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>Abu Muslim Al Falimbany</dc:creator>
<guid>http://alfalimbany.wordpress.com/2009/11/23/takbir-muthlaq-dan-takbir-muqayyad/</guid>
<description><![CDATA[Takbir Muthlaq (Tidak Terikat) dan Takbir Muqayyad (Terikat) Pada Bulan Dzulhijjah Samahatusy Syaikh]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><strong>Takbir <em>Muthlaq</em> (Tidak Terikat) dan Takbir <em>Muqayyad </em>(Terikat) Pada Bulan Dzulhijjah</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah </em>‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>rahimahullah </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Kepada <em>Fadhilatusy Syaikh Al-Mukarram </em>‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz <em>hafizhahullah</em> setelah penghormatan dan pemuliaan :</p>
<p style="text-align:justify;">السلام عليكم ورحمة الله وبركاته</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah senantiasa menjaga kami dan anda di atas nikmat Islam. Diiringi dengan pertanyaan tentang kondisi kesehatan anda … semoga Allah tetap menjaga anda terus berada di atas ketaatan kepada-Nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami memohon fatwa tentang <em>Takbir Muthlaq </em>pada hari Raya ‘Idul ‘Adh-ha. Apakah takbir setiap selesai shalat lima waktu termasuk <em>Takbir Muthlaq </em>ataukah tidak? Apakah itu sunnah, <em>mustahab</em> (dianjurkan), ataukah bid’ah? Karena telah terjadi banyak perdebatan dalam masalah ini.<!--more--></p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz kepada Saudara yang Mulia M-‘A-M <em>waffaqahullah &#8211; amin</em></p>
<p style="text-align:justify;">سلام عليكم ورحمة الله وبركاته</p>
<p style="text-align:justify;">Surat anda tertanggal 24/2/1387 H telah sampai, <em>washshalakumullah bihudahu, </em>isi kandungannya berupa pertanyaan adalah telah diketahui.</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban atas pertanyaan anda adalah sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:right;">الحمد لله وصلى الله وسلم على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه</p>
<p style="text-align:justify;">Takbir pada ‘Idul ‘Adh-ha merupakan ibadah yang disyariatkan <strong>sejak awal bulan  sampai akhir hari ke-13 bulan Dzulhijjah. </strong>Berdasarkan firman Allah  :</p>
<p style="text-align:right;">وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>dan supaya mereka menyebut nama Allah <strong>pada hari-hari yang telah ditentukan</strong> </em><strong>(Al-Hajj : 28)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">yaitu <strong>10 hari pertama Dzulhijjah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">dan firman Allah <em>Ta’ala </em>:</p>
<p style="text-align:right;">وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan sebutlah nama Allah <strong>pada hari-hari yang tertentu</strong>. </em><strong>(Al-Baqarah : 203)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yaitu <strong>hari-hari <em>Tasyriq</em></strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Juga berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>:</p>
<p style="text-align:right;">« أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله عز وجل »</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk menikmati makan dan minum, serta hari-hari untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. </em><strong>Diriwayatkan oleh Muslim </strong>dalam kitab <em>Shahih</em>-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Bukhari menyebutkan dalam kitab <em>Shahih</em>-nya secara <em>mu’allaq </em>dari shahabat Ibnu ‘Umar dan shahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhum</em>,</p>
<p style="text-align:right;">« أنهما كانا يخرجان إلى السوق أيام العشر فيكبران ويكبر الناس بتكبيرهما »</p>
<p style="text-align:justify;">“Bahwa keduanya dulu keluar ke pasar pada 10 hari pertama (Dzulhijjah) dan bertakbir. Maka umat pun bertakbir dengan takbir kedua shahabat tersebut.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dulu ‘Umar bin Al-Khaththab dan anaknya, ‘Abdullah <em>radhiyallahu ‘anhuma </em>bertakbir di hari-hari Mina di masjid maupun di kemah, keduanya mengeraskan suaranya sehingga Mina bergetar dengan takbir.</p>
<p style="text-align:justify;">Diriwayatkan juga dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan sejumlah shahabat <em>radhiyallahu ‘anhum </em>takbir setiap selesai shalat lima waktu mulai sejak shalat Shubuh hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat ‘Ashr hari ke-13 bulan Dzulhijjah. Ini berlaku bagi orang yang tidak sedang berhaji.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun orang yang sedang berhaji maka dalam kondisi ihramnya dia menyibukkan diri dengan mengucapkan <em>talbiyah </em>sampai melempar jumrah ‘aqabah pada hari <em>Nahr</em> (hari ke-10 Dzulhijjah). Adapun setelah itu, dia menyibukkan diri dengan takbir. Ia bertakbir pada lemparan pertama ketika melempar jumrah. Jika bertakbir sambir ber<em>talbiyah</em> maka tidak mengapa. Berdasarkan perkataan Anas bin Malik <em>radhiyallahu ‘anhu </em>:</p>
<p style="text-align:right;">« كان يلبي الملبي يوم عرفة فلا ينكر عليه، ويكبر المكبر فلا ينكر عليه »</p>
<p style="text-align:justify;">“Dulu seorang ber<em>talbiyah </em>pada hari ‘Arafah, tidak ada yang mengingkarinya. Dan seorang bertakbir, tidak ada yang mengingkarinya.” <strong>(HR. Al-Bukhari </strong>970)</p>
<p style="text-align:justify;">Namun yang <em>afdhal </em>(utama) bagi seorang yang berihram adalah mengucapkan <em>talbiyah</em>. Adapun bagi seorang yang tidak berihram yang <em>afdhal </em>adalah bertakbir pada hari-hari tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, kita tahu bahwa Takbir <em>Muthlaq </em>dan Takbir <em>Muqayyad</em> &#8211; menurut pendapat ‘ulama yang paling benar &#8211; bertemu pada lima hari, yaitu : Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), Hari <em>Nahr </em>(10 Dzulhijjah), dan hari-hari <em>Tasyriq </em>(11,12,13 Dzulhijjah).</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun hari ke-8 dan sebelumnya hingga awal bulan, takbir padanya adalah Takbir <em>Muthlaq</em>, tidak ada <em>muqayyad </em>padanya berdasarkan ayat-ayat dan riwayat-riwayat di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Musnad</em>, dari shahabat Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bahwa beliau bersabda :</p>
<p style="text-align:right;">« ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد »</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tidak ada hari yang lebih mulia di sisi Allah dan tidak ada amalan yang lebih dicintai oleh-Nya pada hari-hari tersebut, dibanding 10 hari pertama (Dzulhijjah) tersebut. Maka perbanyaklah padanya tahlil, takbir, dan tahmid. </em><strong>(HR. Ahmad)</strong></p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Fadhilatusy Syaikh <em>Al-‘Allamah </em>Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </strong><em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>1.</strong> <strong>Takbir <em>Muthlaq </em>terdapat pada dua tempat :</strong></p>
<p><strong>Pertama    : </strong>Malam ‘Idul Fithri, sejak terbenam Matahari sampai selesainya shalat ‘Id</p>
<p><strong>Kedua       : </strong>10 Dzulhijjah, sejak masuk bulan Dzulhijjah sampai waktu fajar Hari ‘Arafah, dan pendapat yang benar masih terus berlanjut hingga hari terakhir hari-hari <em>Tasyriq </em>(yakni hari ke-13). [1]</p>
<p><strong>2. Takbir <em>Muqayyad</em> </strong>sejak selesai shalat ‘Idul Adh-ha sampai waktu ‘Ashr hari <em>Tasyriq </em>yang terakhir (hari ke-13)</p>
<p><strong>3. Takbir Gabungan, antara <em>Muthlaq </em>dan <em>Muqayyad, </em></strong>sejak terbit fajar (waktu Shubuh) hari ‘Arafah sampai selesai shalat ‘Idul Adh-ha, dan pendapat yang benar terus berlanjut sampai terbenam Matahari hari <em>Tasyriq </em>paling terakhir. [2]</p>
<p>Perbedaan antara Takbir <em>Muthlaq </em>dan Takbir <em>Muqayyad</em> (terikat) :</p>
<p>Takbir <em>Muthlaq</em> disyari’atkan setiap waktu tidak hanya setiap selesai shalat fardhu. Jadi pensyari’atannya bersifat mutlak, oleh karena itu dinamakan Takbir <em>Muthlaq</em>.</p>
<p>Adapun Takbir <em>Muqayyad</em>, disyari’atkan hanya setiap selesai shalat fardhu, (dengan catatan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama tentang jenis shalat yang disyari’atkan setelahnya takbir). Jadi pensyari’atannya terikat dengan shalat, oleh karena itu dinamakan dengan Takbir <em>Muqayyad </em>(terikat).</p>
<p><em>Wallahu a’lam</em>,</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>FOOTNOTE:</p>
<hr size="1" />[1] Yakni terdapat perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama tentang batas akhir Takbir <em>Muthlaq</em>. Sebagian ‘ulama menyatakan berakhir sampai waktu fajar hari ‘Arafah. Sebagian yang lain berpendapat masih terus berlanjut, baru berakhir pada akhir hari ke-13. Pendapat kedua inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em>. (pent)</p>
<p>&#160;</p>
<p>[2] Yakni terdapat perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama tentang batas akhir Takbir Gabungan antara <em>Muthlaq </em>dan <em>Muqayyad</em>. Sebagian ‘ulama menyatakan berakhir sampai selesainya shalat ‘Idul Adh-ha. Sebagian yang lain berpendapat masih terus berlanjut, baru berakhir pada akhir hari ke-13. Pendapat kedua inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin <em>rahimahullah</em>. (pent)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Risalah Udhiyah (Kurban)]]></title>
<link>http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/11/23/risalah-udhiyah-kurban/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 16:26:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>abifasya</dc:creator>
<guid>http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/11/23/risalah-udhiyah-kurban/</guid>
<description><![CDATA[Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh Al hamdulillah, washalatu wasalaamu ‘ala Rasulillah wa ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Al hamdulillah, washalatu wasalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wahohbihi wa man waalah, amma ba’du.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Dihadapan anda saat ini kami sajikan Risalah Kurban atau Udhiyah, sebuah risalah singkat yang mudah-mudahan saja terkandung manfaat yang sangat dalam sehingga bisa dijadikan pedoman bagi para pembaca untuk menghadapi qurban tahun ini, Risalah ini adalah kiriman dari seorang sahabat yang sangat peduli terhadap urusan kaum muslimin, seorang sahabat yang sangat bersahaja rendah hati dan berilmu tinggi semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan kepadanya. Berikut ini Risalah Udhiyah kiriman dari seorang sahabat semoga bermanfaat, Amiin.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Masyru’iyah Udhiyah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta’ala telah mensyareatkan kepada para hambanya untuk berqurban sebagai suatu ibadah dan juga bernilai muttaba’ah, Allah berfirman dalam surat Al-Kautsar : 2</p>
<div>
<p style="font-size:24pt;font-family:’traditional;text-align:right;"><span style="color:#339966;">فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</span></p>
</div>
<p style="text-align:justify;">“ Maka dirikanlah Sholat karena Robbmu dan sembelihlah hewan kurban”<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Hukum Udhiyah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ada tiga pendapat mengenai hukum udhiyah :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Sunnah dan bukan wajib</em></strong>: Ini merupakan pendapat Imam An-nawawi, Ibnu Hajar, mereka berhujh dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Syafi’I dan bBaihaqi dari hadits Abu Suraihah Al-Ghifari berkata:</p>
<div>
<p style="font-size:22pt;font-family:’traditional;text-align:right;"><span style="color:#339966;">عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَ عُمَرٍ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا لاَ يَضْحَيَانِ مَخَافَةً أَنْ يُرَى ذَلِكَ وَاجِبًا</span></p>
</div>
<p style="text-align:justify;">“ Dari  Abu Bakar dan Umar tidak berqurban karena merasa benci kalau-kalau dilihat sebagai kewajiban”.<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Sunnah Muakkadah</em></strong> : Merupakan pendapat imam Rafi’I, pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar, Umar bin Khottob, Abu Mas’ud Albadri, Said bin Musayyib, Atho’,Alqomah, Malik, Ahmad, dan masih banyak lagi para ulama’ yang berpendapat akan sunnah muakkadnya menyembelih binatang kurban, dan kurban juga  meru[pakan syiar islam yang tidak boleh dilupakan dan ditinggalkan bagi yang mampu.<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Wajib bagi yang mampu</em></strong> dan mukim: diantara ulama’ yang berpendapat akan wajibnya ibadah kurban bagi yang mampu dan bermukim adalah Imam Abu Hanifah. Ulama’ yang menhukumi wajibnya berkurban mereka berdalil dengan hadits berikut ini</p>
<p style="text-align:justify;">“Siapa yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati masjidku” ( HR. Ahmad dan Ibnu majah ).</p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi hadits ini derajatnya dho’if karena di dalamnya ada rowi yang dho’if yaitu Abdullah bin Iyasy, maka hukum yang rojih adalah sunnah muakkadah.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Syafi’I berkata : “Andaikan berkurban itu wajib tidaklah cukup bagi satu rumah kecuali mengurbankan untuk setiap orang satu kambing atau  untuk tujuh orang satu sapi……”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Kriteria Hewan kurban</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Umur : binatang yang akan dikurbankan hendaklah telah berumur : Unta 5 tahun,  Sapi 2 tahun, kambing 1 tahun.</li>
<li>Binatang yang dikurbankan adalah  Onta, Sapi dan Kambing. Baik Jantan atau batina</li>
<li>Binatang yang dikurbankan harus sehat, dan tidak cacat matanya, patah tanduknya, atau terpotong telinganya atau ekornya. Rosululloh Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda:</li>
</ol>
<div>
<p style="font-size:20pt;font-family:’traditional;text-align:right;"><span style="color:#339966;">أَرْبَعَةٌ لاَ تُجْزِئُ فِي اْلأَضَاحِي : اَلْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوْرَهَا ، وَ الْمَرِيْضُ الْبَيِّنُ مَرْضَهَا ، وَ الْعِرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعَهَا ، وَ الْعَجْفَاءُ الَّتِي لاَ تُنْقِى</span></p>
</div>
<p style="text-align:justify;">“ Empat yang tidak mencukupi syarat dalam berkurban : Buta yang jelas, sakit yang nyata, pincang yang sampai kelihatan tulang rusuknya, dan limpuh/ kurus tidak kunjung sembuh”</p>
<p style="text-align:justify;">(HR. Tirmidzi 1504) .</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Waktu penyembelihan</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Penyembelihan hewan baru diizinkan oleh Rosulullah Shalallahu Alaihi Wasalam setelah sholat Iedul Adha usai sampai tenggelamnya matahari pada hari tasyri’ yang terakhir (13 Dzulhijjah ). Pendapat inilah yang paling rojih menurut kebanyakan ulama’termasuk Ibnu katsir, Ibnu Qoyyim,  berdasarkan hadis yang disepakati oleh bukhori 5560,dan muslim1961:</p>
<div>
<p style="font-size:22pt;font-family:’traditional;text-align:right;">مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ وَ مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَ الْخُطْبَتَيْنِ فَقَدْ أَتَمَّ نَسْكَهُ وَ أَصَابَ السُّنَّـَة</p>
</div>
<p style="text-align:justify;">“ Siapa yang menyembelih sebelum sholat  ied maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah sholat dan dua khutbah maka sungguh ia telah menyempurnakan kurbannya dan sesuai dengan sunnah”</p>
<div>
<p style="font-size:22pt;font-family:’traditional;text-align:right;">كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ ذَبْحٌ</p>
</div>
<p style="text-align:justify;">“ Setiap hari tasyriq adalah hari untuk menyembelih”( Ahmad 4/82)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Adab menyembelih dan sunnah-sunnahnya</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<ol style="text-align:justify;">
<li>Penyembelihan hanya dipersembahkan untuk Allah Ta`ala bukan   untuk selainya. Sebagaimana  firman Allah dalam  surah Al Bayinah ayat: 5 .</li>
<li>Penuh kasih sayang terhadap binatang. Sebagaimana dalam sebuah riwayat : Dari Qurrah bin Iyyas al Muzani, bahwasanya seseorang  bertanya:”Wahai Rasulullah sesungguhnya aku sangat menyayangi kambing untuk menyembelihnya,” maka Rasulullah bersabda:” Jika engkau menyayanginya niscaya Allah menyayangimu. “(  HR Al   Hakim : 3\586 ).</li>
<li>Penyembelihan disunnahkan dilakukan di tempat sholat (lapangan), berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah menyembelih di tempat beliau sholat idul adha.</li>
<li>Menajamkan pisau</li>
<li>Menyembunyikan pisau dari pandangan binatang</li>
<li>Binatang udhiyah dibawa menuju tempat penyembelihan dengan cara yang baik.</li>
<li>Menjauhkan binatang yang belum disembelih dari hewan yang sudah mati.</li>
<li>Hendaknya tidak mencukur atau memotong rambut dan kuku sebelum disembelih.</li>
<li>Disunatkan bagi yang bisa menyembelih agar menyembelih sendiri hewan kurbannya</li>
<li>Mengucapkan basmalah dan takbir (بسم الله و الله أكبر ) (HR Muslim  3\1557, Abu Daud 2810, Ahmad 6/8,291). Adapun doa ketika menyembelih hewan Udhiyah adalah :</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><strong> </strong></p>
<div>
<p style="font-size:22pt;font-family:’traditional;text-align:right;">بسم الله  و الله أكبر , اللهم منك  ولك  اللهم تقبل مني</p>
</div>
<p style="text-align:justify;">“Dengan nama Allah, (aku menyembelih), Allah maha besar, ya Allah ! (ternak ini) dari-Mu ( nikmat yamg engkau berilan ) dan kami sembelih untukmu, ya Allah terimalah Udhiyahku ini ”. (ini kalau yang menyembelih dirinya sendiri, bila orang laian maka sebut saja namanya min……)</p>
<p style="text-align:justify;">11.  Hewan kurban dihadapkan kiblat ( sesuai hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi 9/285 )</p>
<p style="text-align:justify;">12.  Membaringkan sembelihan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalilnya adalah dari Aisyah bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam memerintakan mengambil seekor domba… lalu beliau mengambil domba tersebut dan membaringkanya kemudian menyembelihnya. ( HR Muslim, Bisyarh Nawawi : 13\130 )</p>
<p style="text-align:justify;">13.  Letak bagian yang disembelih</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu Abbas berkata :” Penyembelihan di kerongkongan dan bagian bawah leher. Allabah adalah lekuk yang ada dibagian atas dada dan padanyalah disembelih unta. (HR Abdurazzaq :8215 ).</p>
<p style="text-align:justify;">14.  Meletakan kaki diatas bagian dekat dengan leher.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari Anas bin Malik berkata:” Rasulullah menyembelih Udhiyah dua ekor domba yang gemuk dan bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan mengucapkan bismillah dan Allahu akbar, dan meletakan kakinya di atas shafah keduanya, dan shafah adalah bagian dekat leher. ( HR Bukhari, fathul Bari :10\18)</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Pembagian daging kurban</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Allah Ta`ala berfirman :</p>
<div>
<p style="font-size:22pt;font-family:’traditional;text-align:right;">فَكُلُوا مِنْهَا وَ أَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْر</p>
</div>
<p style="text-align:justify;">“Maka makanlah  sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-haj:28)</p>
<p style="text-align:justify;">dan Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;">“maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta”(Qs Al-haj:36)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian para salaf lebih menyukai membagi daging kurban menjadi tiga bagian: sebagian untuk diri sendiri, sepertiga untuk hadiah orang-orang mampu, dan sepertiga lagi shadaqah untuk fuqoro’.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Bazz Rohimahulloh membolehkan dikirimnya hewan dan daging-daging kurban ke daerah daerah jihad dan daerah yang kelaparan.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu  kambing cukup untuk satu orang dan keluarganya</p>
<div>
<p style="font-size:22pt;font-family:’traditional;text-align:right;">روى ابن ماجه والترمذي وصححه أن أبا أيوب قال: &#8221; كان الرجل في عهد رسول الله، صلى الله عليه وسلم، يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته فيأكلون ويطعمون حتى تباهى الناس فصار كما ترى</p>
</div>
<p style="text-align:justify;">“Adalah seseorang dizaman Rosulullah SAW. Berkurban dengan satu kambing untuknya dan keluarga rumahnya, lalu mereka makan dan dibagikan kepada orang lain hingga orang orang senang dan bangga dan menjadi sebagaimana yang kamu lihat”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Hikmah   Disyariatkannya Udhiyah</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diantara hlikmah disyariatkan Udhiyah diantaranya adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">1. mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala,sebagaimana firman Allah<em> : </em></p>
<p style="text-align:justify;">“ Maka dirikanlah Sholat karena Robbmu dan sembelihlah hewan    kurban”, (surat Al-Kautsar : 2 )  dan  firman Allah :</p>
<div>
<p style="font-size:22pt;font-family:’traditional;text-align:right;">قل إن صلاتي ونسكي ومَحياي ومماتي لله رب العالمين لاشريك له</p>
</div>
<p style="text-align:justify;">Katakanlah:&#8221;Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; (QS. Al Anam : 163).</p>
<p style="text-align:justify;">2. Menghidupakan sunnah Imamul Muwahidin Nabi Ibrahim Alaihi Salam, ketika Allah mewahyukan kepadanya agar menyembelih putranya yang bernama Ismail, kemudian Allah menebusnya dengan seekor domba.: : “Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar.”</p>
<p style="text-align:justify;">3. Memberi kelapangan kepada keluarga pada hari raya, dan  menyebarkan kasih sayang kepada faqir dan miskin.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah  menundukan kepada kita dari bintang-binatang ternak. Sebagai firman Allah:” Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya .(Al Hajj : 36-37).</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Wallahu &#8216;Alam Bishawab</span></em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keliru Mengucapkan Takbir]]></title>
<link>http://islammurni.wordpress.com/2009/11/23/keliru-mengucapkan-takbir/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 15:21:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>islam murni</dc:creator>
<guid>http://islammurni.wordpress.com/2009/11/23/keliru-mengucapkan-takbir/</guid>
<description><![CDATA[Oleh : al Lajnah ad Da&#8217;imah lil buhuts &#8216;ilmiyah wal ifta&#8217; (soal pertama dari fatwa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh : al Lajnah ad Da&#8217;imah lil buhuts &#8216;ilmiyah wal ifta&#8217; (soal pertama dari fatwa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fiqih Qurban]]></title>
<link>http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/11/23/fiqih-qurban/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:50:06 +0000</pubDate>
<dc:creator>fery achmad</dc:creator>
<guid>http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/11/23/fiqih-qurban/</guid>
<description><![CDATA[Fiqih Qurban Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: . Artinya, &#8220;Maka shalatlah untuk Rabbmu dan ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;"><strong>Fiqih Qurban</strong></span></p>
<div id="post-446"><!-- img blog--><span style="color:#000000;"><img class="size-full wp-image-579 alignright" title="http://moslemsunnah.wordpress.com/" src="http://problemamuslim.files.wordpress.com/2009/03/sunshine_6.jpg?w=214&#038;h=162#38;h=341" alt="sunshine_6" width="214" height="162" />Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman:</span></div>
<div><span style="color:#000000;">.</span></div>
<div><span style="color:#000000;"><em>Artinya</em>,<em> &#8220;Maka shalatlah  untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.”</em> (QS. Al Kautsar: 2).</span></div>
<div><span style="color:#000000;">.<br />
</span></div>
<div><span style="color:#000000;">Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; Yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukilkan dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (<em>Taisirul  ‘Allaam</em>, 534 <em>Taudhihul Ahkaam</em>, IV/450. Lihat juga <em>Shahih Fiqih  Sunnah</em> II/366). </span></div>
<div><span style="color:#000000;">.</span></div>
<div><span style="color:#000000;">Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan  nama <em>Al Udh-hiyah</em> yang bentuk jamaknya <em>Al Adhaahi</em><em>ha’</em> tipis) (dengan  huruf<em> ha’</em><!--more--></span> tipis)</div>
<div id="post-446">
<p><span style="color:#000000;"><strong>Pengertian Udh-hiyah</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat <em>Al Wajiz</em>, 405 dan <em>Shahih Fiqih Sunnah</em> II/366)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Keutamaan Qurban</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama.</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Ibunda ‘Aisyah  <em>radhiyallahu’anha</em> menceritakan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.”</em> (HR. Tirmidzi,  Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat <em>Taudhihul Ahkam</em>,  IV/450)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Hadis di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (<em>dhaif Ibn Majah</em>,  671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan  <a title="Fiqih Qurban" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-qurban.html">berqurban</a>. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah. (lih. <em>Shahih Fiqh Sunnah</em> 2/379 &#38; <em>Syarhul Mumthi’</em> 7/521)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Hukum Qurban</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Pertama</strong>, wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad serta sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin <em>rahimahumullah</em>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: <em>“Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…”</em> (lih.  <em>Syarhul Mumti’</em>, III/408)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah  yang menyatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em> </em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>&#8220;Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban  maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” </em>(HR. Ibnu Majah  3123, Al Hakim 7672 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Pendapat kedua</strong> menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Beliau mengatakan,  <em> </em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.”</em> (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad  shahih). Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, <em>“Aku melihat Abu Bakar  dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.”</em> (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih) Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat <em>Shahih  Fiqih Sunnah</em>, II/367-368, <em>Taudhihul Ahkaam</em>, IV/454)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama kuat. Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam.”</em> (<em>Tafsir Adwa’ul Bayan</em>, 1120)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Yakinlah…! bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">“<em>Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang  berinfaq</em>.” Dan yang kedua berdo’a: “<em>Yaa Allah, berikanlah kehancuran  bagi orang yang menahan hartanya (pelit).</em>” (HR. Al Bukhari 1374 &#38;  Muslim 1010).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Hewan yang Boleh Digunakan Untuk Qurban</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hewan qurban hanya boleh dari kalangan <em>Bahiimatul Al An’aam</em> (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat <em>Shahih Fiqih  Sunnah</em>, II/369 dan <em>Al Wajiz</em> 406) Dalilnya adalah firman Allah yang  artinya,</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).”</em> (QS. Al Hajj: 34) Syaikh Ibnu  ‘Utsaimin mengatakan, <em>“Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…”</em> (<em>Syarhul Mumti’</em>,  III/409)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Seekor Kambing Untuk Satu Keluarga</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak atau bahkan yang sudah meninggal dunia. Sebagaimana hadits Abu Ayyub <em>radhiyallahu’anhu</em></span> yang  mengatakan,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.”</em> (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, lihat  <em>Minhaajul Muslim</em>, 264 dan 266).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya kambing 1 untuk anak si A, kambing 2 untuk anak si B, karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Bahkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berqurban untuk seluruh dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban. Sebelum menyembelih beliau mengatakan:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">”<em>Yaa Allah ini – qurban –  dariku dan dari umatku yang tidak berqurban</em>.” (HR. Abu Daud 2810 &#38; Al  Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam <em>Al Irwa’</em> 4/349).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Berdasarkan hadis ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan: “<em>Kaum  muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang  berqurban dari umat Nabi</em> <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Adapun yang dimaksud: <em>“…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk  tujuh orang, dan onta 10 orang…”</em> adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dst.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Namun seandainya ada orang yang hendak membantu shohibul qurban yang kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status qurbannya. Dan status bantuan di sini adalah hadiah bagi shohibul qurban. <strong>Apakah harus izin </strong>terlebih dahulu kepada pemilik hewan?</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Jawab</strong>: Tidak harus, karena dalam transaksi hadiah tidak  dipersyaratkan memberitahukan kepada orang yang diberi sedekah.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Ketentuan Untuk Sapi &#38; Onta</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Seekor Sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10  orang. Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu’anhu</em> beliau mengatakan, <em> </em></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.”</em> (<em>Shahih Sunan Ibnu Majah</em> 2536, <em>Al Wajiz</em>, hal.  406)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Arisan Qurban Kambing?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Mengadakan arisan dalam rangka berqurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk qurban. Karena hakekat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At Tsauri (<em>Tafsir Ibn  Katsir</em>, surat Al Hajj:36)(*) Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah. Beliau menyarankan agar orang yang tidak memiliki biaya aqiqah agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">(*) Sufyan At Tsauri <em>rahimahullah</em> mengatakan: Dulu Abu Hatim pernah  berhutang untuk membeli unta qurban. Beliau ditanya:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Kamu berhutang untuk  beli unta qurban?”</em> beliau jawab: <em>“Saya mendengar Allah berfirman: لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ (kamu memperoleh kebaikan yang banyak pada unta-unta qurban tersebut) (QS: Al Hajj:36).”</em> (lih. <em>Tafsir Ibn Katsir</em>, surat Al  Hajj: 36).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama tim fatwa islamweb.net di bawah pengawasan Dr. Abdullah Al Faqih (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 &#38; 28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan:</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">“<em>Jika orang  punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada  berqurban</em>.” (<em>Syarhul Mumti’</em></span> 7/455). Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi qurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">“<em>Jika di hadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunaskan hutang orang faqir maka lebih utama melunasi hutang, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat</em>.” (lih. <em>Majmu’ Fatawa &#38; Risalah Ibn  Utsaimin</em> 18/144).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Namun pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika qurban dipahami untuk kasus orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau kasus hutang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada qurban dipahami untuk kasus orang yang kesulitan melunasi hutang atau hutang yang menuntut segera dilunasi. Dengan demikian, jika arisan qurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berqurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. <em>Wallahu a’lam. </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Qurban Kerbau?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya  disikapi sebagai satu jenis (<em>Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah</em><em>Hasyiyah Al Bajirami</em>) maupun dari Hanafiyah  (lih. <em>Al ‘Inayah Syarh Hidayah</em> 14/192 dan <em>Fathul Qodir</em> 2/2975). Ada  beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau, dari  kalangan Syafi’iyah (lih.  22/106). Mereka menganggap keduanya satu jenis.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Syaikh Ibn Al Utasimin pernah ditanya tentang hukum qurban dengan kerbau.</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Kerbau dan sapi memiliki perbedaan dalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al An’am 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?” </em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>Beliau menjawab:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Jika hakekat kerbau termasuk sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam alqur’an adalah jenis hewan yang dikenal orang arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang arab.”</em> (<em>Liqa’ Babil Maftuh</em> 200/27)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Jika pernyataan Syaikh Ibn Utsaimin kita bawa pada penjelasan ulama di atas maka bisa disimpulkan bahwa qurban kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi. <em>Wallahu a’lam.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Urunan Qurban Satu Sekolahan</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Terdapat satu tradisi di lembaga pendidikan di daerah kita, ketika iedul adha tiba sebagian sekolahan menggalakkan kegiatan latihan qurban bagi siswa. Masing-masing siswa dibebani iuran sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari qurban.<strong> Apakah ini  bisa dinilai sebagai ibadah qurban?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Perlu dipahami bahwa qurban adalah salah satu ibadah dalam islam yang memiliki aturan tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syari’at. Keluar dari aturan ini maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah qurban alias qurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan. Sebagaimana dipahami di muka, biaya pengadaan untuk seekor kambing hanya boleh diambilkan dari satu orang. <strong>Oleh karena itu kasus tradisi ‘qurban’ seperti di atas tidak  dapat dinilai sebagai qurban</strong>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci menjadi tiga  bentuk:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya sementara ada di antara keluarganya yang telah meninggal. Berqurban jenis ini dibolehkan dan pahala qurbannya meliputi dirinya dan keluarganya meskipun ada yang sudah meninggal.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Berqurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit. Sebagian ulama madzhab hambali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit (lih. <em>Fatwa Majlis Ulama Saudi</em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Tidak ada riwayat bahwasanya beliau berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang mendahului beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>. no. 1474 &#38; 1765). Namun sebagian ulama’ bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak ada tuntunan dari Nabi</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Berqurban khusus untuk orang yang meninggal karena mayit pernah mewasiatkan agar keluarganya berqurban untuknya jika dia meninggal. Berqurban untuk mayit untuk kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si mayit. (Dinukil dari catatan kaki <em>Syarhul Mumti’</em> yang diambil dari <em>Risalah  Udl-hiyah Syaikh Ibn Utsaimin</em> 51.</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Umur Hewan Qurban</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Untuk onta dan sapi: Jabir meriwayatkan Rasulullah<em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>bersabda, </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelihdomba jadza’ah.”</em> (Muttafaq ‘alaih)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, dengan rincian:</span></p>
<div>
<table border="1" align="center">
<tbody>
<tr>
<td width="40" valign="top"><span style="color:#000000;"><strong>No.</strong></span></td>
<td width="187" valign="top"><span style="color:#000000;"><strong>Hewan</strong></span></td>
<td width="156" valign="top"><span style="color:#000000;"><strong>Umur minimal</strong></span></td>
</tr>
<tr>
<td width="40" valign="top"><span style="color:#000000;">1.</span></td>
<td width="187" valign="top"><span style="color:#000000;">Onta</span></td>
<td width="156" valign="top"><span style="color:#000000;">5 tahun</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="40" valign="top"><span style="color:#000000;">2.</span></td>
<td width="187" valign="top"><span style="color:#000000;">Sapi</span></td>
<td width="156" valign="top"><span style="color:#000000;">2 tahun</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="40" valign="top"><span style="color:#000000;">3.</span></td>
<td width="187" valign="top"><span style="color:#000000;">Kambing jawa</span></td>
<td width="156" valign="top"><span style="color:#000000;">1 tahun</span></td>
</tr>
<tr>
<td width="40" valign="top"><span style="color:#000000;">4.</span></td>
<td width="187" valign="top"><span style="color:#000000;">Domba/ kambing gembel</span></td>
<td width="156" valign="top"><span style="color:#000000;">6 bulan<br />
(domba  <em>Jadza’ah</em>)</span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p><span style="color:#000000;">(lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, II/371-372, <em>Syarhul Mumti’</em>,  III/410, <em>Taudhihul Ahkaam</em>, IV/461)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Cacat Hewan Qurban</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Cacat hewan qurban dibagi menjadi 3:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban</strong>, ada 4  (**):</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya: Jika butanya belum jelas – orang yang melihatnya menilai belum buta – meskipun pada hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. ulama’ madzhab syafi’iyah menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Sakit dan tampak sekali sakitnya.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Pincang dan tampak jelas pincangnya: Artinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Akan tetapi jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan qurban.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;">Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas maka lebih tidak boleh untuk digunakan berqurban. (lih. <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>,  II/373 &#38; <em>Syarhul Mumti’</em> 3/294).</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban</strong>, ada 2  (***):</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Tanduknya pecah atau patah (lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, II/373)</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;">Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban)  namun kurang sempurna.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. <em>Wallahu a’lam</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">(lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, II/373)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">(**) Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ditanya tentang cacat hewan  apa yang harus dihindari ketika berqurban. Beliau menjawab: </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Ada empat  cacat… dan beliau berisyarat dengan tangannya.”</em></span> (HR. Ahmad 4/300 &#38; Abu  Daud 2802, dinyatakan Hasan-Shahih oleh Turmudzi).</p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Sebagian ulama menjelaskan  bahwa isyarat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan tangannya  ketika menyebutkan empat cacat tersebut menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadis boleh digunakan sebagai qurban. (<em>Syarhul Mumthi’</em></span> 7/464)</p>
<p><span style="color:#000000;">(***) Terdapat hadis yang menyatakan larangan berqurban dengan hewan yang memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk pecah. Namun hadisnya dlo’if, sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh dipakai untuk qurban. (<em>Syarhul Mumthi’</em></span> 7/470)</p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Hewan yang Disukai dan Lebih Utama untuk Diqurbankan</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hendaknya hewan yang diqurbankan adalah hewan yang gemuk dan sempurna.  Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya,</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“…barangsiapa yang  mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dari  ketakwaan hati.”</em> (QS. Al Hajj: 32).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i  <em>rahimahullah</em> menyatakan bahwa orang yang berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk. Abu Umamah bin Sahl mengatakan, <em>“Dahulu kami di Madinah biasa memilih hewan yang gemuk dalam berqurban. Dan memang kebiasaan kaum muslimin ketika itu adalah berqurban dengan hewan yang gemuk-gemuk.”</em> (HR. Bukhari secara mu’allaq namun secara tegas dan  dimaushulkan oleh Abu Nu’aim dalam <em>Al Mustakhraj</em>, sanadnya hasan)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Diantara ketiga jenis hewan qurban maka menurut mayoritas ulama yang paling utama adalah berqurban dengan onta, kemudian sapi kemudian kambing, jika biaya pengadaan masing-masing ditanggung satu orang (bukan urunan). Dalilnya adalah jawaban Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika ditanya oleh Abu Dzar  <em>radhiallahu ‘anhu</em> tentang budak yang lebih utama. Beliau bersabda,  <em>“Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih bernilai dalam pandangan  pemiliknya”</em> (HR. Bukhari dan Muslim). (lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>,  II/374)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Manakah yang Lebih Baik, Ikut Urunan Sapi atau Qurban Satu  Kambing?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sebagian ulama menjelaskan qurban satu kambing lebih baik dari pada ikut urunan sapi atau onta, karena tujuh kambing manfaatnya lebih banyak dari pada seekor sapi (lih. <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 2/375, <em>Fatwa</em><em> Lajnah  Daimah</em> no. 1149 &#38; <em>Syarhul Mumthi’</em> 7/458). Disamping itu,  terdapat alasan lain diantaranya:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Qurban yang sering dilakukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></span> adalah utuh satu ekor, baik kambing, sapi, maupun onta, bukan 1/7 sapi atau 1/10  onta.</li>
<li><span style="color:#000000;">Kegiatan menyembelihnya lebih banyak. Lebih-lebih jika hadis yang menyebutkan keutamaan qurban di atas statusnya shahih. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh penulis kitab <em>Al Muhadzab Al Fairuz Abadzi  As Syafi’i</em>. (lih. <em>Al Muhadzab</em> 1/74)</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Terdapat sebagian ulama yang melarang urunan dalam berqurban, diantaranya adalah Mufti Negri Saudi Syaikh Muhammad bin Ibrahim (lih. <em>Fatwa Lajnah</em> 11/453). Namun pelarangan ini didasari dengan qiyas (analogi) yang bertolak belakang dengan dalil sunnah, sehingga jelas salahnya.</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Apakah Harus Jantan? </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tidak ada ketentuan jenis kelamin hewan qurban. Boleh jantan maupun betina.  Dari Umu Kurzin <em>radliallahu ‘anha, </em>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> bersabda: <em>“Aqiqah untuk anal laki-laki dua kambing dan anak  perempuan satu kambing. Tidak jadi masalah jantan maupun betina.”</em> (HR. Ahmad 27900 &#38; An Nasa’i 4218 dan dishahihkan Syaikh Al Albani). Berdasarkan hadis ini, Al Fairuz Abadzi As Syafi’i mengatakan: </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Jika dibolehkan menggunakan hewan betina ketika aqiqah berdasarkan hadis ini, menunjukkan bahwa hal ini juga boleh untuk berqurban.”</em> (<em>Al Muhadzab</em> 1/74)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Namun umumnya hewan jantan itu lebih baik dan lebih mahal dibandingkan hewan betina. Oleh karena itu, tidak harus hewan jantan namun diutamakan jantan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Larangan Bagi yang Hendak Berqurban</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Orang yang hendak berqurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya (yaitu orang yang hendak qurban bukan hewan qurbannya). Dari Ummu Salamah dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> beliau bersabda, </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.”</em> (HR. Muslim).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian manapun, mencakup larangan mencukur gundul atau sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, II/376).</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Apakah larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga</strong> ataukah berlaku juga untuk anggota keluarga shohibul qurban?</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Jawab:</strong> Larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga (shohibul qurban) dan tidak berlaku bagi anggota keluarganya. Karena 2 alasan:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Dlahir hadis menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang mau  berqurban.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sering berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Namun belum ditemukan riwayat bahwasanya beliau menyuruh anggota keluarganya untuk tidak memotong kuku maupun rambutnya. (<em>Syarhul  Mumti’</em> 7/529)</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Waktu Penyembelihan </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Waktu penyembelihan qurban adalah pada hari Iedul Adha dan 3 hari sesudahnya  (hari tasyriq). Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,  <em>“Setiap hari taysriq adalah (hari) untuk menyembelih (qurban).”</em> (HR. Ahmad dan Baihaqi) Tidak ada perbedaan waktu siang ataupun malam. Baik siang maupun malam sama-sama dibolehkan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Namun menurut Syaikh Al Utsaimin, melakukan penyembelihan di waktu siang itu lebih baik. (<em>Tata Cara Qurban Tuntunan  Nabi</em>, hal. 33). Para ulama sepakat bahwa penyembelihan qurban tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya fajar di hari Iedul Adha. Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em></span> bersabda,</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan qurban). Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum muslimin.”</em> (HR. Bukhari dan  Muslim) (lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, II/377)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Tempat Penyembelihan</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tempat yang disunnahkan untuk menyembelih adalah tanah lapangan tempat shalat ‘ied diselenggarakan. Terutama bagi imam/penguasa/tokoh masyarakat, dianjurkan untuk menyembelih qurbannya di lapangan dalam rangka memberitahukan kepada kaum muslimin bahwa qurban sudah boleh dilakukan dan mengajari tata cara qurban yang baik. Ibnu ‘Umar mengatakan,</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam biasa menyembelih kambing dan onta (qurban) di lapangan tempat  shalat.”</em> (HR. Bukhari 5552).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Dan dibolehkan untuk menyembelih qurban di tempat manapun yang disukai, baik  di rumah sendiri ataupun di tempat lain. (Lihat <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>,  II/378)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Penyembelih Qurban</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Disunnahkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Syaikh Ali bin Hasan mengatakan: <em>“Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama’ dalam  masalah ini.”</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu  ‘anhu</em> di dalam <em>Shahih Muslim </em>yang menceritakan bahwa pada saat  qurban Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah menyembelih beberapa onta qurbannya dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhu</em> untuk disembelih. (lih.  <em>Ahkaamul Idain</em>, 32)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Tata Cara Penyembelihan</strong></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Sebaiknya pemilik qurban menyembelih hewan qurbannya sendiri.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia  ikut datang menyaksikan penyembelihannya.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Hendaknya memakai alat yang tajam untuk menyembelih.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Hewan yang disembelih dibaringkan di atas lambung kirinya dan dihadapkan ke kiblat. Kemudian pisau ditekan kuat-kuat supaya cepat putus.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Ketika akan menyembelih disyari’akan membaca “<em>Bismillaahi wallaahu  akbar</em>” ketika menyembelih. Untuk bacaan <em>bismillah</em> (tidak perlu ditambahi Ar Rahman dan Ar Rahiim) hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir – <em>Allahu akbar</em> – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir  ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib. Kemudian diikuti bacaan: </span>
<ul>
<li><span style="color:#000000;"><em>hadza minka wa laka.”</em> (HR. Abu Dawud 2795) Atau</span></li>
<li><span style="color:#000000;"><em>hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan nama shahibul  qurban).”</em> atau</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, <em>“Allahumma taqabbal  minni atau min fulan</em> (disebutkan nama shahibul qurban)” (lih. <em>Tata Cara  Qurban Tuntunan Nabi</em>, hal. 92)<strong>Catatan</strong>: Tidak terdapat do’a  khusus yang panjang bagi shohibul qurban ketika hendak menyembelih. <em>Wallahu  a’lam. </em></span></li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Bolehkah Mengucapkan Shalawat Ketika Menyembelih?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tidak boleh mengucapkan shalawat ketika hendak menyembelih, karena 2  alasan:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Tidak terdapat dalil bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></span> mengucapkan shalawat ketika menyembelih. Sementara beribadah tanpa dalil adalah  perbuatan bid’ah.</li>
<li><span style="color:#000000;">Bisa jadi orang akan menjadikan nama Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> sebagai wasilah ketika qurban. Atau bahkan bisa jadi seseorang  membayangkan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ketika menyembelih,  sehingga sembelihannya tidak murni untuk Allah. (lih. <em>Syarhul Mumti’</em> 7/492)</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Pemanfaatan Hasil Sembelihan</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Bagi pemilik hewan qurban dibolehkan memanfaatkan daging qurbannya,  melalui:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Dimakan sendiri dan keluarganya, bahkan sebagian ulama menyatakan shohibul qurban wajib makan bagian hewan qurbannya. Termasuk dalam hal ini adalah berqurban karena nadzar menurut pendapat yang benar.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Disedekahkan kepada orang yang membutuhkan</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Dihadiahkan kepada orang yang kaya</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Disimpan untuk bahan makanan di lain hari. Namun penyimpanan ini hanya dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;">Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda,</span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Barangsiapa diantara kalian yang berqurban maka jangan sampai dia menjumpai subuh hari ketiga sesudah Ied sedangkan dagingnya masih tersisa walaupun sedikit.”</em> Ketika datang tahun berikutnya maka para  sahabat mengatakan, <em>“Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan  sebagaimana tahun lalu ?”</em> Maka beliau menjawab, <em>“(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Menurut mayoritas ulama perintah yang terdapat dalam hadits ini menunjukkan hukum sunnah, bukan wajib (lihat <em>Shahih Fiqih  Sunnah</em>, II/378) Oleh sebab itu, boleh mensedekahkan semua hasil sembelihan qurban. Sebagaimana diperbolehkan untuk tidak menghadiahkannya (kepada orang kaya, ed.) sama sekali kepada orang lain (<em>Minhaajul Muslim</em>, 266).  (artinya hanya untuk shohibul qurban dan sedekah pada orang miskin, ed.)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Bolehkah Memberikan Daging Qurban Kepada Orang Kafir?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ulama madzhab Malikiyah berpendapat makruhnya memberikan daging qurban kepada  orang kafir, sebagaimana kata Imam Malik: <em>“(diberikan) kepada selain mereka  (orang kafir) lebih aku sukai.”</em> Sedangkan syafi’iyah berpendapat haramnya memberikan daging qurban kepada orang kafir untuk qurban yang wajib (misalnya qurban nadzar, pen.) dan makruh untuk qurban yang sunnah. (lih. <em>Fatwa  Syabakah Islamiyah</em> no. 29843). Al Baijuri As Syafi’I mengatakan<em>: “Dalam Al Majmu’ (Syarhul Muhadzab) disebutkan, boleh memberikan sebagian qurban sunnah kepada kafir dzimmi yang faqir. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk qurban yang wajib.”</em> (<em>Hasyiyah Al Baijuri</em> 2/310)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Lajnah Daimah (Majlis Ulama’ saudi Arabia) ditanya tentang bolehkah  memberikan daging qurban kepada orang kafir.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Jawaban Lajnah:</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Kita dibolehkan memberi daging qurban kepada orang kafir Mu’ahid (****) baik karena statusnya sebagai orang miskin, kerabat, tetangga, atau karena dalam rangka menarik simpati mereka… namun tidak dibolehkan memberikan daging qurban kepada orang kafir Harby, karena kewajiban kita kepada kafir harby adalah merendahkan mereka dan melemahkan kekuatan mereka. Hukum ini juga berlaku untuk pemberian sedekah. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah:</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">“<em>Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil</em>.” (QS.  Al Mumtahanah 08)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan Asma’ binti Abu Bakr radhiallahu ‘anhu untuk menemui ibunya dengan membawa harta padahal ibunya masih musyrik.”</em> (<em>Fatwa Lajnah Daimah</em></span> no. 1997).</p>
<p><span style="color:#000000;">Kesimpulannya, memberikan bagian hewan qurban kepada orang kafir dibolehkan karena status hewan qurban sama dengan sedekah atau hadiah, dan diperbolehkan memberikan sedekah maupun hadiah kepada orang kafir. Sedangkan pendapat yang melarang adalah pendapat yang tidak kuat karena tidak berdalil.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>(****) </strong><strong>Kafir Mu’ahid</strong>: Orang kafir yang mengikat perjanjian damai dengan kaum muslimin. Termasuk orang kafir mu’ahid adalah orang kafir yang masuk ke negeri islam dengan izin resmi dari pemerintah. <strong>Kafir Harby</strong>: Orang kafir yang memerangi kaum muslimin.  <strong>Kafir Dzimmi</strong>: Orang kafir yang hidup di bawah kekuasaan kaum  muslimin.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Larangan Memperjual-Belikan Hasil Sembelihan</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan sembelihan, baik daging, kulit, kepala, teklek, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengatakan, </span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.”</em></span> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Bahkan terdapat  ancaman keras dalam masalah ini, sebagaimana hadis berikut:</span></p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">من باع جلد أضحيته فلا أضحية له</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dari Abu Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Barang siapa yang menjual kulit hewan  qurbannya maka <strong>ibadah qurbannya tidak</strong> <strong>ada  nilainya</strong>.”</em> (HR. Al Hakim 2/390 &#38; Al Baihaqi. Syaikh Al Albani  mengatakan: Hasan)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Tetang haramnya pemilik hewan menjual kulit qurban merupakan pendapat mayoritas ulama, meskipun Imam Abu Hanifah menyelisihi mereka. Namun mengingat dalil yang sangat tegas dan jelas maka pendapat siapapun harus disingkirkan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Catatan</strong>:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Termasuk memperjual-belikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing. Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikan adalah transaksi yang tidak sah. Artinya penjual tidak boleh menerima uang hasil penjualan kulit dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli. Hal ini sebagaimana perkataan Al Baijuri: <em>“Tidak sah jual beli (bagian dari hewan qurban)  disamping transaksi ini adalah haram.”</em><em>“Jual  beli kulit hewan qurban juga tidak sah karena hadis yang diriwayatkan Hakim  (baca: hadis di atas).”</em> (<em>Fiqh Syafi’i</em> 2/311).</span> Beliau juga mengatakan:</li>
<li><span style="color:#000000;">Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjual kulit sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun shohibul qurban.</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Larangan Mengupah Jagal Dengan Bagian Hewan Sembelihan</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Dari Ali bin Abi Thalib <em>radhiallahu ‘anhu</em> <em>bahwa “Beliau pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan ontanya dan agar membagikan seluruh bagian dari sembelihan onta tersebut, baik yang berupa daging, kulit tubuh maupun pelana. Dan dia tidak boleh memberikannya kepada jagal barang sedikitpun.”</em> (HR. Bukhari dan Muslim) dan dalam lafaz  lainnya beliau berkata, <em>“Kami mengupahnya dari uang kami pribadi.”</em> (HR.  Muslim)<strong>. </strong></span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama (lihat  <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, II/379)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Syaikh Abdullah Al Bassaam mengatakan, <em>“Tukang jagal tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika dia termasuk orang kaya atau sebagai sedekah jika ternyata dia adalah miskin…..”</em> (<em>Taudhihul Ahkaam</em>, IV/464).</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pernyataan beliau  semakna dengan pernyataan Ibn Qosim yang mengatakan: <em>“Haram menjadikan  bagian hewan qurban sebagai upah bagi jagal.”</em><em>“Karena hal itu (mengupah jagal) semakna dengan jual beli. Namun jika jagal diberi bagian dari qurban dengan status sedekah bukan upah maka tidak haram.”</em> (<em>Hasyiyah Al Baijuri As Syafi’i</em> 2/311). Perkataan beliau ini  dikomentari oleh Al Baijuri:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Adapun bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging qurban diperbolehkan memanfaatkannya sekehendaknya, bisa dimakan, dijual atau yang lainnya. Akan tetapi tidak diperkenankan menjualnya kembali kepada orang yang memberi hadiah atau sedekah kepadanya (<em>Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi</em>,  69)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Menyembelih Satu Kambing Untuk Makan-Makan Panitia? Atau Panitia  Dapat Jatah Khusus?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Status panitia maupun jagal dalam pengurusan hewan qurban adalah sebagai wakil dari shohibul qurban dan bukan amil (*****). Karena statusnya hanya sebagai wakil maka panitia qurban tidak diperkenankan mengambil bagian dari hewan qurban <strong>sebagai ganti dari jasa dalam mengurusi hewan  qurban.</strong> Untuk lebih memudahkan bisa diperhatikan ilustrasi kasus  berikut:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Adi ingin mengirim uang Rp 1 juta kepada Budi. Karena tidak bisa ketemu langsung maka Adi mengutus Rudi untuk mengantarkan uang tersebut kepada Budi. Karena harus ada biaya transport dan biaya lainnya maka Adi memberikan sejumlah uang kepada Rudi. Bolehkah uang ini diambilkan dari uang Rp 1 juta yang akan dikirimkan kepada Budi?? Semua orang akan menjawab: “TIDAK BOLEH KARENA BERARTI MENGURANGI UANGNYA BUDI.”</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Status Rudi pada kasus di atas hanyalah sebagai wakil Adi. Demikian pula qurban. Status panitia hanya sebagai wakil pemilik hewan, sehingga dia tidak boleh mengambil bagian qurban sebagai ganti dari jasanya. Oleh karena itu, jika menyembelih satu kambing untuk makan-makan panitia, atau panitia dapat jatah khusus sebagai ganti jasa dari kerja yang dilakukan panitia maka ini tidak diperbolehkan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">(*****) Sebagian orang menyamakan status panitia qurban sebagaimana status amil dalam zakat. Bahkan mereka meyebut panitia qurban dengan ‘amil qurban’. Akibatnya mereka beranggapan panitia memiliki jatah khusus dari hewan qurban sebagaimana amil zakat memiliki jatah khusus dari harta zakat. Yang benar, amil zakat tidaklah sama dengan panitia pengurus qurban. Karena untuk bisa disebut amil, harus memenuhi beberapa persyaratan. Sementara pengurus qurban hanya sebatas wakil dari shohibul qurban, sebagaimana status sahabat Ali <em>radhiallahu ‘anhu</em> dalam mengurusi qurban Nabi <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em>. Dan tidak ada riwayat Ali <em>radhiallahu ‘anhu</em> mendapat  jatah khusus dari qurbannya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Nasehat &#38; Solusi Untuk Masalah Kulit</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Satu penyakit kronis yang menimpa ibadah qurban kaum muslimin bangsa kita, mereka tidak bisa lepas dari ‘fiqh praktis’ menjual kulit atau menggaji jagal dengan kulit. Memang kita akui ini adalah jalan pintas yang paling cepat untuk melepaskan diri dari tanggungan mengurusi kulit. Namun apakah jalan pintas cepat ini menjamin keselamatan???</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Bertaqwalah kepada Allah wahai kaum muslimin… sesungguhnya ibadah qurban telah diatur dengan indah dan rapi oleh Sang Peletak Syari’ah. Jangan coba-coba untuk keluar dari aturan ini karena bisa jadi qurban kita tidak sah. Berusahalah untuk senantiasa berjalan sesuai syari’at meskipun jalurnya ‘kelihatannya’ lebih panjang dan sedikit menyibukkan. Jangan pula terkecoh dengan pendapat sebagian orang, baik ulama maupun yang <em>ngaku-ngaku</em><em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Maka  semua pendapat yang bertentangan dengan hadis beliau harus dibuang  jauh-jauh. ulama, karena orang yang berhak untuk ditaati secara mutlak  hanya satu yaitu Nabi kita Muhammad</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Tidak perlu bingung dan merasa repot. Bukankah Ali bin Abi Thalib  <em>radhiallahu ‘anhu</em> pernah mengurusi qurbannya Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> yang jumlahnya 100 ekor onta?! Tapi tidak ada dalam  catatan sejarah Ali bin Abi thalib <em>radhiallahu ‘anhu</em> bingung ngurusi kulit dan kepala. Demikianlah kemudahan yang Allah berikan bagi orang yang 100% mengikuti aturan syari’at. Namun bagi mereka (baca: panitia) yang masih merasa bingung ngurusi kulit, bisa dilakukan beberapa solusi berikut:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Kumpulkan semua kulit, kepala, dan kaki hewan qurban. Tunjuk sejumlah orang miskin sebagai sasaran penerima kulit. Tidak perlu diantar ke rumahnya, tapi cukup hubungi mereka dan sampaikan bahwa panitia siap menjualkan kulit yang sudah menjadi hak mereka. Dengan demikian, status panitia dalam hal ini adalah sebagai wakil bagi pemilik kulit untuk menjualkan kulit, bukan wakil dari shohibul qurban dalam menjual kulit.</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Serahkan semua atau sebagian kulit kepada yayasan islam sosial (misalnya panti asuhan atau pondok pesantren). (Terdapat Fatwa Lajnah yang membolehkan menyerahkan bagian hewan qurban kepada yayasan).</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Mengirim sejumlah uang untuk dibelikan hewan qurban di tempat tujuan (di luar daerah pemilik hewan) dan disembelih di tempat tersebut? atau mengirimkan hewan hidup ke tempat lain untuk di sembelih di sana?</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Pada asalnya tempat menyembelih qurban adalah daerah orang yang berqurban. Karena orang-orang yang miskin di daerahnya itulah yang lebih berhak untuk disantuni. Sebagian syafi’iyah mengharamkan mengirim hewan qurban atau uang untuk membeli hewan qurban ke tempat lain – di luar tempat tinggal shohibul qurban – selama tidak ada maslahat yang menuntut hal itu, seperti penduduk tempat shohibul qurban yang sudah kaya sementara penduduk tempat lain sangat membutuhkan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sebagian ulama membolehkan secara mutlak (meskipun tidak ada tuntutan maslahat). Sebagai jalan keluar dari perbedaan pendapat, sebagian ulama menasehatkan agar tidak mengirim hewan qurban ke selain tempat tinggalnya. Artinya tetap disembelih di daerah shohibul qurban dan yang dikirim keluar adalah dagingnya. (lih. <em>Fatwa Syabakah Islamiyah</em> no. 2997, 29048, dan  29843 &#38; <em>Shahih Fiqih Sunnah</em>, II/380</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kesimpulannya, berqurban dengan model seperti ini (mengirim hewan atau uang dan bukan daging) termasuk qurban yang sah namun menyelisihi sunnah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> karena tiga hal:</span></p>
<ul>
<li><span style="color:#000000;">Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat <em>radiallahu  ‘anhum</em> tidak pernah mengajarkannya</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Hilangnya sunnah anjuran untuk disembelih sendiri oleh shohibul qurban</span></li>
<li><span style="color:#000000;">Hilangnya sunnah anjuran untuk makan bagian dari hewan qurban.</span></li>
</ul>
<p><span style="color:#000000;"><em>Wallaahu waliyut taufiq.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Bagi para pembaca yang ingin membaca penjelasan yang lebih lengkap dan  memuaskan silakan baca buku <strong>Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi  <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em></strong> yang diterjemahkan Ustadz Aris  Munandar <em>hafizhahullah</em> dari <em>Talkhish Kitab Ahkaam Udh-hiyah wadz  Dzakaah</em> karya Syaikh Al Utsaimin <em>rahimahullah</em>, penerbit Media  Hidayah. Semoga risalah yang ringkas sebagai pelengkap untuk tulisan saudaraku  Abu Muslih <em>hafizhahullah</em> ini bermanfaat dan menjadi amal yang diterima oleh Allah ta’ala, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em>, serta seluruh pengikut beliau yang setia. <em>Alhamdulillaahi  Rabbil ‘aalamiin.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Yogyakarta, 1 Dzul hijjah 1428</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Keutamaan Tanggal 1 Sampai 10 Dzul Hijjah</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dari Ibn Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em></span> bersabda:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;"><span style="color:#000000;">ما من أيّام العمل الصّالح فيها أحبّ إلى اللّه من هذه الأيّام – يعني أيّام العشر – قالوا : يا رسول اللّه ولا الجهاد في سبيل اللّه ؟ قال : ولا الجهاد في سبيل اللّه ، إلاّ رجل خرج بنفسه وماله ، فلم يرجع من ذلك بشيء.</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">“<em>Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan selama 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah.” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun</em>.” (HR. Abu Daud &#38; dishahihkan  Syaikh Al Albani)</span></p>
</blockquote>
<p><span style="color:#000000;">Berdasarkan hadis tersebut, ulama’ sepakat dianjurkannya berpuasa selama 8 hari pertama bulan Dzul hijjah. Dan lebih ditekankan lagi pada tanggal 9 Dzul Hijjah (Hari ‘Arafah)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Diceritakan oleh Al Mundziri dalam At Targhib (2/150) bahwa Sa’id bin Jubair (Murid terbaik Ibn Abbas) ketika memasuki tanggal satu Dzul Hijjah, beliau sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah sampai hampir tidak bisa mampu melakukannya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Bagaimana dengan Puasa Hari Tarwiyah (8 Dzul Hijjah) Secara Khusus? </strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Terdapat hadis yang menyatakan: <em>“Orang yang berpuasa pada hari tarwiyah  maka baginya pahala puasa satu tahun.”</em> <strong>Namun hadis ini hadits  palsu</strong> sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Zauzy (<em>Al Maudhu’at</em><em>Al Masnu’</em> 2/107), As Syaukani (<em>Al Fawaidul  Majmu’ah</em>). 2/198), As Suyuthi (<em>Al Fawaidul  Majmu’ah</em>).</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzul Hijjah karena hadisnya dhaif. Namun jika berpuasa karena mengamalkan keumuman hadis shahih di atas maka diperbolehkan. (disarikan dari <em>Fatwa  Yas-aluunaka</em>, Syaikh Hissamuddin ‘Affaanah). <em>Wallaahu a’lam.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">***</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Penulis: Ammi Nur Baits<br />
Artikel <a title="Fiqih Qurban" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-qurban.html">www.muslim.or.id</a><br />
Artikel ini merupakan tulisan yang melengkapi artikel tentang <em>Fiqh Qurban</em></span> yang ditulis Al Akh Al Fadhil Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah dan Amalan-Amalan yang Disyari’atkan]]></title>
<link>http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/11/23/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah-dan-amalan-amalan-yang-disyari%e2%80%99atkan/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:39:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>fery achmad</dc:creator>
<guid>http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/11/23/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah-dan-amalan-amalan-yang-disyari%e2%80%99atkan/</guid>
<description><![CDATA[فضل أيام عشر ذي الحجة والأعمال الواردة فيها Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin Segala puji ha]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:16pt;">فضل أيام عشر ذي الحجة والأعمال الواردة فيها</span></strong><strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;font-weight:normal;">Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin</span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Segala puji hanya milik Allah ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada utusan Allah, Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, keluarga dan sahabat-sahabatnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Keutamaan Sepuluh Hari Dzul Hijjah</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah bersabda:<span id="more-1426"> </span></span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> { مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أََحَبُّ إِلَىاللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنيِ أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ }</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Tiada hari yang lebih di cintai Allah ta’ala untuk berbuat suatu amalan yang baik dari pada hari-hari ini yaitu sepuluh hari Dzul Hijjah, para sahabat bertanya,” wahai Rasulullah, tidak pula dengan jihad fii sabilillah? Rasulullah menjawab,” tidak, tidak pula jihad fii sabilillah, kecuali jika ia keluar dengan jiwa dan hartanya, kemudian ia tak kembali lagi”.</span></em></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><!--more-->Dan Imam Ahmad <em><span style="font-family:Tahoma;">rahimahullah</span></em> meriwayatkan dari Ibnu Umar <em><span style="font-family:Tahoma;">radhiyallahu ‘anhuma</span></em>, bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> ِ}</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta’ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzul Hijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)”.</span></em></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Begitu pula Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah bersabda:</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:center;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> { </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">أَفْضَلُ الأَيَّامِ يَوْمُ عَرَفَةَ</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> }</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Hari yang paling utama adalah hari Arafah”</span></em></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-family:Arial;"> </span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-family:Arial;">Amalan-Amalan Yang Disyari’atkan Pada Sepuluh Hari Dzul Hijjah</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">*</span> <span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan ini adalah amalan yang paling utama. Banyak sekali hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan keutamaan haji dan umrah, di antaranya:</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">اَلْعُمْرَةُ إِلىَ الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ اْلمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةَ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">}</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Dari umrah yang satu ke umrah yang lain sebagai penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya, kecuali surga”</span></em></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dan banyak lagi hadits-hadits yang lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">* Puasa dengan sempurna (penuh) pada sepuluh hari Dzul Hijjah atau semampunya, terutama pada hari Arafah (9 Dzul Hijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji. Tidak diragukan bahwa ibadah puasa merupakan bentuk amalan yang utama dan ia merupakan amalan yang di pilih oleh Allah ta’ala untuk diri-Nya. Sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits Qudsy:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">اَلصَّوْمُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ إِنَّهُ تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> }</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya, dia (hamba yang berpuasa) meninggalkan syahwat, makan dan minumnya demi Aku”</span></em></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudry  berkata, Rasulullah bersabda:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> }</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Tidaklah ada seorang hamba yang berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka selama tujuh puluh tahun (jarak tempuh perjalanan selama tujuh puluh tahun) karena puasanya”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> (Muttafaq Alaih).</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah bersabda:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> } </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya”</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">* Membaca takbir (<em><span style="font-family:Tahoma;">Allahu Akbar</span></em>) dan memperbanyak dzikir pada hari-hari ini, Allah ta’ala berfirman:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> َ} (27) سورة الحـج</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari –hari yang telah ditentukan”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> (QS. Al Hajj: 28).</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hari-hari yang telah di tentukan dalam ayat ini ditafsirkan dengan sepuluh hari Dzul Hijjah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> ulama berpendapat bahwa disunahkan pada hari-hari ini untuk memperbanyak dzikir, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar <em><span style="font-family:Tahoma;">radhiyallahu ‘anhuma</span></em>, termaktub dalam musnad Imam Ahmad:</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> { </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> }</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Maka perbanyaklah pada hari-hari ini tahlil, takbir dan tahmid”</span></em></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imam Bukhari <em><span style="font-family:Tahoma;">rahimahullah</span></em> menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah <em><span style="font-family:Tahoma;">radhiyallahu ‘anhuma</span></em>, mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzul Hijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang  mengikuti takbir mereka berdua.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi’in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzul Hijjah:</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">اَللَّهُ أَكْبَرُ الَّلهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالَّلهُ أَكْبَرُ اَلَّلهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, AllAh Maha besar dan bagi Allah segala pujian”</span></em></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti: di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Allah berfirman:</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> } (185) سورة البقرة</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu”.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> (QS. Al Baqarah: 185).</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Tidak diperbolehkan melantunkan takbir secara jama’i (bersama-sama dengan satu suara), karena hal itu tidak pernah dicontohkan oleh para ulama salaf, karena yang sesuai dengan sunah Nabi adalah bertakbir sendiri-sendiri tidak bersama-sama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dan inilah cara yang disyari’atkan pada setiap dzikir dan do’a, terkecuali bila ada seseorang yang tidak mengetahui maka boleh dibaca bersama-sama dengan tujuan untuk mengajarkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dan dibolehkan berdzikir dengan semampunya dari berbagai macam takbir, tahmid, tasbih dan do’a-do’a lain yang disyari’atkan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">*        Bertaubat dan menutup setiap pintu maksiat dan dosa, hingga ia meraih ampunan dan rahmat Allah, karena maksiat dapat menjauhkan seseorang dari rahmat-Nya, sedangkan keta’atan dapat mendekatkan seseorang kepada Allah dan meraih cinta-Nya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r bersabda:</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:16pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">إِنَّ اللهَ يُغَارُ وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ اْلَمْرءُ مَا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ</span><span style="font-size:16pt;" lang="AR-SA"> }</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:center;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Sesungguhnya Allah cemburu dan cemburunya Allah adalah terhadap hamba-Nya yang melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">( Muttafaq ‘alaih).</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">* Memperbanyak amal shaleh dan ibadah-ibadah yang di sunnahkan, seperti; shalat, jihad, membaca Al quran, dan beramar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain, karena sesungguhnya ibadah-ibadah semacam ini dilipatgandakan pahalanya, bahkan amalan-amalan yang biasa lebih utama dan dicintai Allah dari pada amalan yang utama pada waktu yang lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">*</span> <span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Disyari’atkan untuk melantunkan takbir di sepanjang malam dan siang hingga shalat Ied (ini dinamakan takbir <em><span style="font-family:Tahoma;">mutlak</span></em>), begitu pula takbir <em><span style="font-family:Tahoma;">muqayyad</span></em> yaitu takbir yang dilakukan setelah shalat jama’ah fardhu. Bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji, waktu takbir di mulai sejak fajar hari Arafah, sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, waktunya di mulai dari Zhuhur hari qurban hingga Ashar hari tasyriq yang terakhir.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">*</span> <span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Disyari’atkan pula qurban pada hari raya Iedul-Adha dan hari-hari tasyriq. Sunnah ini sejak nabi Ibrahim <em><span style="font-family:Tahoma;">‘alaihissalam</span></em>, di saat Allah menebus Ismail <em><span style="font-family:Tahoma;">‘alaihissalam</span></em> (putera Ibrahim) dengan seekor hewan sembelihan yang besar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 4.5pt 18pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Terdapat dalam hadits shahih bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> <em><span style="font-family:Tahoma;">berqurban dengan dua ekor kambing yang gemuk, beliau  menyembelihnya dengan tangan sendiri, dengan cara: membaca bismillah dan bertakbir seraya meletakkan kakinya pada kedua leher kambing</span></em>. (Muttafaq ‘alaihi ).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 4.5pt 18pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ummu Salamah <em><span style="font-family:Tahoma;">radhiyallahu ‘anha</span></em> bahwa Nabi r bersabda,</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">« </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ ».وفي رواية (فَلَا يَأْخُذْ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> )</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 4.5pt 18pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“<em><span style="font-family:Tahoma;">Bila kalian melihat hilal (bulan sabit) Dzul Hijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkorban maka hendaknya ia tidak memotong rambut dan kukunya</span></em>“. Dan dalam riwayat yang lain dijelaskan,” <em><span style="font-family:Tahoma;">Maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya hingga ia menyembelih qurbannya</span></em>“.</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Barang kali hal tersebut diserupakan dengan seseorang yang menggiring sembelihannya, Allah Ta’ala berfirman:</span></span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;text-align:justify;" dir="rtl"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">{ </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">وَلاَ تَحْلِقُواْ رُؤُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُِ</span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA">} (196) سورة البقرة</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">“Dan janganlah kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya”.</span></em><span style="font-size:8pt;font-family:Tahoma;"> (QS. Al Baqarah: 196).</span></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Teks larangan di atas khusus untuk  pemilik hadyu (hewan sembelihan yang dibawa dari negri seseorang yang melakukan haji) tidak termasuk istri dan anak, kecuali jika salah satu dari mereka memiliki kurban khusus, dan tidak mengapa membasuh kepala dan menggaruknya meskipun hal itu menyebabkan beberapa helai rambut tercabut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">*</span> <span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh melaksanakan shalat Ied, mendengarkan khutbah, mendapat pencerahan ilmu, dan mengetahui hikmah disyari’atkannya shalat Ied, yaitu: hari untuk menggemakan kesyukuran dan beramal kebajikan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Bukan menodai hari ini dengan kebanggaan dan kesombongan, serta tidak menghabiskan waktu untuk hura-hura dan terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan, semisal; dansa, ke diskotik, mabuk-mabukan dan lain sebagainya yang akan menghapuskan segala pahala amal shaleh di sepuluh hari Dzul Hijjah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">* Akhirnya hendaknya setiap muslim dan muslimah memanfaatkan semaksimal mungkin hari-hari ini untuk ketaatan kepada Allah, dzikir dan syukur kepada-Nya serta memenuhi semua kewajiban dan menjauhi setiap larangan begitu pula meraih karunia-karunia Allah untuk mendapatkan ridha-Nya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dan hanya Allah pemberi taufiq dan hidayah kejalan yang lurus, mudah-mudahan Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kesejahteraan-Nya kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">izin cetak  No: 1218/5 tanggal 1/1/1409 H.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Diterbitkan oleh Biro Percetakan Dirjen Penelitian Fatwa, Dakwah dan Bimbingan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Di tulis oleh hamba yang membutuhkan ampunan Rabbnya:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin.</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">(Anggota Badan Fatwa)</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:4.5pt;"><span style="color:#000000;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Sumber: <a href="http://www.nahimunkar.com/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah-dan-amalan-amalan-yang-disyariatkan/">nahimunkar.com</a></em></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Audio: "Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah &amp; Hukum-hukum Seputar Qurban"]]></title>
<link>http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/11/23/download-audio-keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah-hukum-hukum-seputar-qurban/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 10:32:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>fery achmad</dc:creator>
<guid>http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/11/23/download-audio-keutamaan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah-hukum-hukum-seputar-qurban/</guid>
<description><![CDATA[Dzulhijjah Tema : Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Hukum-hukum Seputar Qurban Pemateri]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div class="wp-caption alignright" style="width: 149px"><img style="border:1px solid;vertical-align:bottom;" title="http://moslemsunnah.wordpress.com/" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:8WnapaLIIjSqMM:http://www.muslimdaily.net/berita/bulan.jpg" alt="" width="139" height="121" /><p class="wp-caption-text">Dzulhijjah</p></div>
<p><span style="color:#000000;"><strong>Tema           :</strong> Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Hukum-hukum  Seputar Qurban<br />
<strong>Pemateri       :</strong> Syaikh Abdur rozzaq Bin Abdul Muhsin Al Badr Hafidzhumallah<br />
<strong>Penerjemah   :</strong> Ustadz Muhammad Nur Ihsan<br />
<strong>Download:</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><a href="http://www.radiorodja.com/podpress_trac/web/1601/0/042_syaikhAbdurRozzaqBinAbdulMuhsinAlBadr_keutamaan10HariBulanDzulhijjah.mp3" target="new">01. Keutamaan 10 Hari Dzulhijjah. mp3</a><br />
<a href="http://www.radiorodja.com/podpress_trac/web/1601/1/043_syaikhAbdurRozzaqBinAbdulMuhsinAlBadr_hukum2SeputarQurban.mp3" target="new">02. Hukum &#8211; Hukum Seputar Qurban. mp3</a></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Sumber: Radio Rodja.com</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Jumatan di Hari Raya]]></title>
<link>http://irfanantono.wordpress.com/2009/11/23/jumatan-di-hari-raya/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 06:15:46 +0000</pubDate>
<dc:creator>irfanantono</dc:creator>
<guid>http://irfanantono.wordpress.com/2009/11/23/jumatan-di-hari-raya/</guid>
<description><![CDATA[Seorang teman yang baik bertanya kepada Kang Ja&#8217;far, &#8220;Kang, gimana hukumnya shalat Jumat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p dir="ltr">Seorang teman yang baik bertanya kepada Kang Ja&#8217;far, &#8220;Kang, gimana hukumnya shalat Jumat jika bersamaan dengan hari ied? Dengar-dengar, katanya shalat jumat boleh ditinggal jika kita udah shalat ied. Malah, ada yang bilang gak wajib shalat jumat, dan juga gak perlu shalat dzuhur. Gimana Kang ?&#8221;</p>
<p dir="ltr">Kang Ja&#8217;far bertanya, &#8220;Siapa yang bilang seperti itu? Dia sampaikan landasannya gak? Jangan asal ceplos, alias waton muni.&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya, saya juga nuntut dalilnya, Kang. Saya kan juga ingin tahu. Karena itu, saya tanya ama sampean.&#8221; Balas si teman.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Kamu benar, karena kamu mencoba untuk mengklarifikasi dalil hukumnya. Itu namanya kamu berusaha naik tingkat dari seorang muqallid, yang hanya taklid alias ikut pendapat tanpa tahu dalil, lalu naik menjadi muttabi&#8217;. Ittiba&#8217; itu ikut pendapat dalam satu masalah hukum diikuti dengan pengetahuan akan dalil yang digunakan. Beda dengan seorang mujtahid yang mampu menyimpulkan suatu hukum dari dalil-dalilnya&#8221;<!--more--></p>
<p dir="ltr">&#8220;Katanya ada haditsnya, Kang. Aku juga gak tahu benar atau tidak.&#8221; Ujar si teman tadi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Nah, jangan cuma melihat hadits kemudian gegabah langsung dipahami begitu saja. Hadits pun perlu diteliti lagi benar atau tidak. Maksudnya, hadits itu juga bertingkat, ada yang kuat ada yang lemah. Nah, hadits temanmu itu shahih alias kuat gak ?&#8221;, Kang Ja&#8217;far menimpali.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Waduh Kang, repot sekali. Akang ini sebenarnya mau jawab pertanyaan tadi gak sih ? Kok malah aku diceramahi macam-macam. Aku kan juga belajar ilmu hadits Kang, juga ushul fiqih, juga fiqih, dan macam-macam.&#8221;, balas temanku sedikit emosi.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Hehe, aku takutnya kalau jawab asal seingat saya, nanti ente gak percaya dan ragu. Jadi, mendingan ambil dan buka kitab fiqih saja.&#8221;, balas Kang Ja&#8217;far.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Wah, katanya biar tahu dalil, kok bukanya kitab fiqih !&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ya gak apa-apa kan ?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Fiqih kan produk jadi Kang, bukan dalil !&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Ohh gitu, ya kalau kamu mau nuntut ada dalil, kitabnya pakai Majmu&#8217; saja.  Di sana kan juga diutarakan dalil-dalilnya. Biar kamu puas sekalian. Mau ? Sana ambil kitabnya ! Pinjam di ndalem Abah Yai !&#8221;, ujar Kang Ja&#8217;far berusaha arif dan sabar.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Wah Kang, pakai software maktabah Syamilah saja Kang. Sekarang kan zaman laptop. Kan tinggal klak-klik klak-klik, Kang. Gak perlu buka kitab dan bingung cari-cari ibarot, gak ngerti halaman berapa. Gimana, Kang ?&#8221;</p>
<p dir="ltr">&#8220;Itu sekalian buat latihan kamu Bul, Kamu itu kitabnya saja gak punya, laptop juga gak punya. Sekarang itu yang mungkin dan enak itu minjam kitab ndalem yai, dah, cepat sana !&#8221;, Perintah Kang Ja&#8217;far.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Waduh Kang, majmu&#8217; kan ada dua puluhan jilid. Aku minjam yang jilid berapa ? Wah, repot Kang !&#8221;, Kabul mengeluh.</p>
<p dir="ltr">&#8220;Hahahah. Benar juga ente Bul. Ya udah, kita ke kantor saja pake maktabah syamilah.&#8221;</p>
<p dir="ltr"><strong>Ulasan :</strong></p>
<p dir="ltr">Ulama Syafi&#8217;iyyah menyatakan bahwa jika hari raya jatuh pada hari Jumat, maka Shalat Jumat tetap wajib dilaksanakan. Shalat Ied tidak kemudian menjadi pe-rukhshah alias alasan diringankannya hukum shalat Jumat. Pendapat ini dikuatkan oleh riwayat dari Utsman bin Affan <em>ra </em>dan juga Umar bin Abdul Aziz. Artinya, wajib bagi mereka yang telah melaksanakan shalat ied untuk tetap melaksanakan shalat Jumat.</p>
<p dir="ltr">Hadits, atau lebih tepatnya atsar, yang menjadi sumber hukum shalat jumat di hari raya adalah khutbah Khalifah Utsman pada saat shalat Ied, sebagai berikut:</p>
<p dir="rtl"><strong>&#8221; أيها الناس قد اجتمع عيدان في يومكم فمن أراد من أهل العالية أن يصلي معنا الجمعة فليصل ومن أراد أن ينصرف فلينصرف &#8220;</strong></p>
<p dir="ltr">&#8220;Wahai orang-orang, dua hari raya (ied) telah jadi satu pada hari ini. Bagi penduduk &#8216;Aliyah yang ingin shalat jumat bersama, maka shalatlah nanti, dan barang siapa yang ingin pulang, maka silahkan pulang.&#8221;</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Hadits tersebut terdapat dalam <em>Shahih Bukhari</em> pada bab <em>al-Adhahi</em> nomer 5572 dengan sedikit redaksi yang berbeda. Kemudian, juga terdapat dalam <em>Al-Umm</em> Imam Syafi&#8217;i pada bab <em>ijtima&#8217; al-&#8217;idain</em>, <em>Al-Muwaththo&#8217; </em>Imam Malik dalam bab <em>al-Amru bi ash-Shalat Qabla al-Khutbah fi al-&#8217;Idain, Shahih Muslim </em>pada bab <em>Shaum </em>nomer 1137<em>, Abi Dawud </em>nomer 2416, dan <em>At-Tirmidzi</em> nomer 771.</p>
<p dir="ltr">Yang dimaksud &#8216;Aliyah dalam hadits adalah sebuah desa di sebelah timur Madinah. Penduduk desa tersebut adalah orang-orang yang wajib menghadiri shalat Jumat di kota karena panggilan shalat samapai kepada mereka.</p>
<p dir="ltr">Dalam permasalahan hukum shalat Jumat di hari raya ini memang terdapat beberapa pendapat. Madzhab Syafi&#8217;iyah jelas menyatakan bahwa shalat Jumat tetap wajib dilaksanakan. Adapun konteks hadits di atas adalah orang-orang yang berasal dari luar kota yang akan kerepotan (masyaqqoh) jika harus pulang setelah shalat ied lalu kembali lagi untuk shalat Jumat.</p>
<p dir="ltr">Pendapat lainnya adalah sebagai berikut :</p>
<ol>
<li>Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa hukum      shalat Jumat tidak lagi wajib bagi mereka yang melaksanakan shalat ied,      tetapi wajib dilaksanakan shalat Dzuhur. Landasan yang dipakai dalam      pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, yang      terdapat dalam <em>Abi Dawud </em>1070, <em>An-Nasa&#8217;i</em> 3/193, <em>Ibnu      Majah</em> 1310.</li>
<li>Imam Abu Hanifah menyatakan  bahwa shalat Jumat mutlak wajib      sebagaimana pada selain hari raya dengan landasan lemahnya hadits-hadits      yang ada sehingga hukum shalat Jumat dikembalikan sesuai asalnya, yaitu      wajib.</li>
<li>Imam Atho&#8217; bin Abi Rabah menyatakan bahwa      shalat Jumat menjadi gugur dan tidak digantikan dengan shalat Dzuhur.      Beliau mengambil landasan dari atsar yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu      az-Zubair yang dicatat dalam <em>Abu Dawud </em>1071 dan 1072, dan <em>An-Nasa&#8217;i</em> 3/194.</li>
</ol>
<p dir="ltr">Perbedaan pendapat semacam ini bukanlah hal yang aneh dalam permasalahan hukum Islam. Perbedaan bisa terjadi karena perbedaan pandangan dalam menilai derajat hadits, atau bisa karena perbedaan penafsiran. Hal semacam ini bukan sesuatu yang mengurangi nilai hukum Islam.</p>
<p dir="ltr">Adanya perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan kenapa seseorang harus bermadzhab, mengikuti satu madzhab tertentu. Jelas, mereka yang tidak mampu menyimpulkan hukum langsung dari dalilnya maka wajib mengikuti pendapat seorang mujtahid. Dalam hal ibadah, seseorang juga tidak boleh seenaknya mengambil pendapat-pendapat yang ringan saja dari madzhab yang berbeda karena hal ini bisa menyebabkan perbuatannya bisa saling dibatalkan oleh madzhab lainnya.</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Sumber Tulisan : An-Nawawi, Abu Zakariya Muhyiddin bin Syaraf, <em>Al-Majmu&#8217; Syarh al-Muhadzdzb</em>, juz 4, (Beirut : Dar al-Fikr, 2000), halaman 411-413</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Berikut adalah redaksi lengkap dari <em>Al-Majmu&#8217;</em>, di-<em>copy</em>-kan dari software Maktabah Syamilah dengan sedikit perbaikan disesuaikan dengan apa yang terdapat dalam kitab terkai cetakan Darul Fikri :</p>
<p dir="ltr">
<p dir="rtl"><strong>عبارة المهذّب :</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>وإن اتفق يوم عيد ويوم جمعة فحضر أهل السواد فصلوا العيد جاز أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة لما روى عن عثمان رضي الله عنه أنه قال في خطبته &#8221; أيها الناس قد اجتمع عيدان في يومكم فمن أراد من أهل العالية أن يصلي معنا الجمعة فليصل ومن أراد أن ينصرف فلينصرف &#8221; ولم ينكر عليه أحد. ولأنهم إذا قعدوا في البلد لم يتهيؤا بالعيد فإن خرجوا ثم رجعوا للجمعة كان عليهم في ذلك مشقة والجمعة تسقط بالمشقة ومن أصحابنا من قال تجب عليهم الجمعة لأن من لزمته الجمعة في غير يوم العيد وجبت عليه في يوم العيد كأهل البلد والمنصوص في الأم هو الاول</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>عبارة المجموع شرح المهذّب :</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>(الشرح) هذا الأثر عن عثمان رضى الله عنه رواه البخاري في صحيحه والعالية بالعين المهملة هي قرية بالمدينة من جهة الشرق وأهل السواد هم أهل القرى والمراد هنا أهل القرى الذين يبلغهم النداء ويلزمهم حضور الجمعة في البلد في غير العيد وينكر علي المصنف قوله روى عن عثمان بصيغة التمريض مع أنه حديث صحيح وقد سبق التنبيه على نظائره وقوله يتهيأ مهموز.</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>أما الأحكام فقال الشافعي والأصحاب <span style="text-decoration:underline;">إذا اتفق يوم جمعة يوم عيد وحضر أهل القرى الذين تلزمهم الجمعة لبلوغ نداء البلد فصلوا العيد لم تسقط الجمعة بلا خلاف عن أهل البلد</span> وفي أهل القرى وجهان الصحيح المنصوص للشافعي في الأم والقديم أنها تسقط والثانى لا تسقط ودليلها في الكتاب وأجاب هذا الثاني عن قول عثمان ونص الشافعي فحملهما علي من لا يبلغه النداء (فإن قيل) هذا التأويل باطل لأن من لا يبلغه النداء لا جمعة عليه في غير يوم العيد ففيه أولي فلا فائدة في هذا القول له (فالجواب) إن هؤلاء إذا حضروا البلد يوم الجمعة غير يوم العيد يكره لهم الخروج قبل أن يصلوا الجمعة صرح بهذا كله المحاملي والشيخ أبو حامد في التجريد وغيرهما من الأصحاب قالوا فإذا كان يوم عيد زالت تلك الكراهة فبين عثمان والشافعي زوالها والمذهب ما سبق وهو سقوطها عن أهل القرى الذين يبلغهم النداء</strong></p>
<p dir="rtl"><strong>(فرع) في مذاهب العلماء في ذلك : قد ذكرنا <span style="text-decoration:underline;">أن مذهبنا وجوب الجمعة علي أهل البلد وسقوطها عن أهل القرى</span> وبه قال عثمان ابن عفان وعمر بن عبد العزيز وجمهور العلماء <span style="text-decoration:underline;">وقال عطاء بن أبي رباح إذا صلوا العيد لم تجب بعده في هذا اليوم صلاة الجمعة ولا الظهر ولا غيرهما إلا العصر لا علي أهل القرى ولا أهل البلد</span> قال ابن المنذر وروينا نحوه عن علي بن أبى طالب وابن الزبير رضي الله عنهم <span style="text-decoration:underline;">وقال أحمد تسقط الجمعة عن أهل القرى وأهل البلد ولكن يجب الظهر</span> <span style="text-decoration:underline;">وقال أبو حنيفة لا تسقط الجمعة عن أهل البلد ولا أهل القرى</span> واحتج الذين أسقطوا الجمعة عن الجميع بحديث زيد بن أرقم وقال &#8221; شهدت مع النبي صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا فصلى العيد ثم رخص في الجمعة وقال من شاء أن يصلي فليصلّ &#8221; رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه باسناد جيد ولم يضعفه أبو داود وعن أبى هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال &#8221; قد اجتمع في يومكم هذا عيدان فمن شاء أخّر أمر الجمعة وإنا مجتمعون &#8221; رواه أبو داود وابن ماجه باسناد ضعيف واحتج لابي حنيفة بأن الأصل الوجوب واحتج عطاء بما رواه هو قال &#8221; اجتمع يوم جمعة ويوم عيد علي عهد ابن الزبير فقال عيدان اجتمعا فجمعهما جميعا فصلاهما ركعتين بكرة لم يزد عليهما حتى صلى العصر &#8221; رواه أبو داود بإسناد صحيح على شرط مسلم وعن عطاء قال &#8220;صلى ابن الزبير في يوم عيد يوم جمعة أول النهار ثم رحنا إلي الجمعة فلم يخرج إلينا </strong>فصلينا<strong> وحدانا وكان ابن عباس بالطائف فلما قدم ذكرنا ذلك له فقال أصاب السنة &#8221; رواه أبو داود بإسناد حسن أو صحيح علي شرط مسلم واحتج أصحابنا بحديث عثمان وتأولوا الباقي علي أهل القرى لكن قول ابن عباس من السنة مرفوع وتأويله أضعف.</strong></p>
<p dir="ltr">
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BerQurban Bersama Rasululloh (2-habis)]]></title>
<link>http://lensacembung.wordpress.com/2009/11/23/berqurban-bersama-rasululloh-2-habis/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 01:02:16 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hasan</dc:creator>
<guid>http://lensacembung.wordpress.com/2009/11/23/berqurban-bersama-rasululloh-2-habis/</guid>
<description><![CDATA[Ketentuan jumlah orang untuk seekor hewan qurban Sudah menjadi  kebiasaan para sahabat dan para Sala]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Ketentuan jumlah orang untuk seekor hewan qurban Sudah menjadi  kebiasaan para sahabat dan para Sala]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BerQurban Bersama Rasululloh (1)]]></title>
<link>http://lensacembung.wordpress.com/2009/11/23/berqurban-bersama-rasululloh-1/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 00:57:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>Hasan</dc:creator>
<guid>http://lensacembung.wordpress.com/2009/11/23/berqurban-bersama-rasululloh-1/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah bulan Dzulhijah telah kita temui. Pada bulan ini selain diwajibkan ibadah haji bagi ka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Alhamdulillah bulan Dzulhijah telah kita temui. Pada bulan ini selain diwajibkan ibadah haji bagi ka]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Levels of Salah!]]></title>
<link>http://alhudalahore.wordpress.com/2009/11/23/levels-of-salah/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 19:16:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>virtualmaryam</dc:creator>
<guid>http://alhudalahore.wordpress.com/2009/11/23/levels-of-salah/</guid>
<description><![CDATA[Ibn al-Qayyim (may Allah have mercy on him) said, &#8220;And mankind, with regard to their performan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div style="text-align:justify;">
<div>
<div>
<div>
<div>
<div><span style="color:#808000;"><span style='text-align:center; display: block;'><object width='425' height='350'><param name='movie' value='http://www.youtube.com/v/2sW7r2C5-zw&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' /><param name='allowfullscreen' value='true' /><param name='wmode' value='transparent' /><embed src='http://www.youtube.com/v/2sW7r2C5-zw&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;showsearch=0&#038;hd=0' type='application/x-shockwave-flash' allowfullscreen='true' width='425' height='350' wmode='transparent'></embed></object></span><br />
<span style="color:#808000;"><br />
Ibn al-Qayyim (may Allah have mercy on him) said,</span></div>
<div><em><span style="color:#808000;">&#8220;And mankind, with regard to their performance of prayer are in five levels.&#8221;</span></em></div>
<p><span style="color:#808000;"> <strong>The First:</strong><br />
The level of the one who is negligent and wrongs his soul. He is the one who falls short in performing ablution properly, performing the prayer upon its time and within its specified limits, and in fulfilling its essential pillars.</span></p>
<p><span style="color:#808000;"><strong>The Second:</strong><br />
The one who guards his prayers upon their proper times and within their specified limits, fulfils their essential pillars and performs his ablution with care. However, his striving is wasted due to whisperings in his prayer so he is taken away by thoughts and ideas.</span></p>
<p><span style="color:#808000;"><strong>The Third:</strong><br />
The one who guards his prayers within the specified limits, fulfils their essential pillars and strives with himself to repel the whisperings, thoughts and ideas. He is busy struggling against his enemy (Shaitan) so that he does not steal from the prayer. On account of this he is engaged in (both) prayer and jihad.</span></p>
<p><span style="color:#808000;"><strong>The Fourth:</strong><br />
The one who stands for the prayer, completes and perfects its due rights, its essential pillars, performs it within its specified limits and his heart becomes engrossed in safeguarding its rights and specified limits, so that nothing is wasted from it. His whole concern is directed towards its establishment, its completion and its perfection, as it should be. His heart is immersed in the prayer and in enslavement to his Lord, the Exalted.</span></p>
<p><span style="color:#808000;"><strong>The Fifth:</strong><br />
The one who stands for the prayer like the one mentioned above. However, on top of this, he has taken and placed his heart in front of his Lord, the Mighty and Majestic, looking towards Him with his heart with anticipation, (his heart) filled with His love and His might, as if he sees and witnesses Allah. The whisperings, thoughts and ideas have vanished and the coverings which are between him and his Lord are raised. What is between this person and others with respect to the prayer, is superior and greater than what is between the heavens and the earth. This person is busy with his Lord, the Mighty and Majestic, delighted with Him.</span></p>
<p><span style="color:#808000;">The first type will be punished, the second type will be held to account, the third will have his sins and shortcomings expiated, the fourth will be rewarded and the fifth will be close to his Lord, because he will receive the portion of the one who makes his prayer the delight and pleasure of his eye. Whoever makes his prayer the delight and pleasure of his eye, will have the nearness to his Lord, the Mighty and Majestic, made the delight and pleasure of his eye in the hereafter. He will also be made a pleasure to the eye in this world since whoever makes Allah the pleasure of his eye in this world, every other eye will become delighted and pleased with him.</span></p>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Peran Deisme,-]]></title>
<link>http://nguts.wordpress.com/2009/11/22/peran-deisme/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 17:27:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ngut's</dc:creator>
<guid>http://nguts.wordpress.com/2009/11/22/peran-deisme/</guid>
<description><![CDATA[PERAN DEISME TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA ZAMAN MODERN A.  PENDAHULUAN Manusia mengaku sebagai makhluk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><strong>PERAN DEISME TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA ZAMAN MODERN</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>A.  PENDAHULUAN</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Manusia mengaku sebagai makhluk yang paling beradab bila dibandingkan dengan yang lainnya, terutama binatang misalnya. Pasalnya, disamping ia memiliki panca indera, insting dan keinginan seperti binatang, ia memiliki sesuatu yang binatang tak memilikinya; akal dan hati. Dengan berbagai komponen itulah, mausia hidup dan membangun budaya, membangun peradabannya. Salah satu hasil dari peradaban manusia adalah agama. Agama merupakan suatu tata aturan moralitas yang disepakati oleh sekelompok manusia (masyarakat). Setiap masyarakat yang mendiami suatu daerah tertentu memiliki budaya yang berbeda dari masyarakat di daerah lain. Oleh karena itu pulalah, agama baik doktrin maupun ritualnya selalu berbeda-beda. Emile Durkheim mengatakan bahwa agama hanyalah suatu produk budaya masyarakat yang mendiami daerah tertentu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Namun begitu, sebagian orang ada yang mengatakan bahwa agama bukan sebuah produk budaya semata tetapi datang dari langit, dari Dzat yang maha gaib, maha segalanya. Oleh karena itu, agama adalah sakral dan tidak boleh dipertanyakan kebenarannya. Sebab akal manusia tidak akan pernah tahu kebenaran yang sesungguhnya. Manusia harus taklid terhadap wahyu yang telah diturunkan. Dengan demikian agama menjadi dwi-polar, di satu sisi imanen (membumi) dan di sisi yang lain transenden (melangit).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dari unsurnya yang transenden (baca; doktrin), kemudian manusia menerjemahkannya menjadi imanen (baca; ritual) dan termenifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, dalam beberapa agama (Kristen dan Islam, misalnya) unsur transendentalitasnya selalu terlihat lebih kental dari pada imanentalitasnya. Hal tersebut diperparah lagi dengan dilegitimasikannya suatu agama dalam suatu wilayah tertentu, akibatnya agama menjadi suatu doktrin jumud dan tertutup.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dengan demikan, “para pemberontak” kerap kali muncul karena menginginkan adanya sirkulasi udara yang lebih segar dalam beragama. Paham Deisme adalah salah satu contohnya, munculnya paham ini merupakan suatu reaksi terhadap dominasi gereja yang begitu membatasi ruang gerak para penganutnya. Tetapi apakah deisme, sebagi konsep yang betul-betul baru mampu melontarkan kritiknya terhadap gereja yang begitu berkuasa?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Itulah tema yang akan menjadi fokus dalam pembahasan makalah ini. Deisme yang awalnya merupakan sebuah konsep teologi, ternyata membawa dampaknya terhadap aspek-aspek kehidupan yang lain. Akan tetapi dampak yang ditimbulkan dari deisme tidak selalu positif, bahkan kadang terlalu negatif.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>B.  PEMBAHASAN </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Istilah Deisme berasal dari bahasa Latin: <em>deus</em> yang berarti Tuhan. Paham ini meyakini bahwa Tuhan adalah <em>first cause, </em>yang menciptakan alam semesta ini dengan penuh perancangan rumit.<a href="#_ftn1">[1]</a> Oleh karena itu, setelah alam ini terbentuk Tuhan sudah tidak perlu lagi ikut campur memeliharanya. Cukup hanya diatur oleh hukum alam <em>(sunatullah)</em> alam ini sudah bisa dengan mandiri melanjutkan kehidupannya. Bahkan karena Tuhan telah menetapkan hukum alam itu, akhirnya Tuhan pun tak lagi kuasa untuk mengubahnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Menurut faham deisme Tuhan berada jauh di luar alam <em>(transenden), </em>yaitu tidak berada dalam alam<em> (immanen).</em> Tuhan menciptakan alam dan sesudah menciptakannya, Ia sudah tidak memperhatikannya lagi. Alam berjalan dengan peraturan-peraturan yang sesempurna-sempurnanya. Dan karena demikian, Tuhan tak perlu lagi mencampuri urusan alam, termasuk juga urusan manusia. Singkatnya, alam semesta ini tidak berhajat kepada Tuhan dan Tuhan pun tak perlu mengurus alam lagi….<a href="#_ftn2">[2]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Tuhan dalam hal ini bukanlah Tuhan yang sebagaimana dikenal oleh kaum agamawan: Tuhan yang harus disembah, yang memberi rizki ataupun yang menentukan takdir. Melainkan sesuatu yang menjadi sebab pertama <em>(first cause)</em><a href="#_ftn3">[3]</a> Alam semesta yang menakjubkan ini adalah Tuhan sang penciptanya.</span> dalam rangkaian kausalitas terbentuknya alam semesta ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Paham deisme pertama kali muncul di Inggris sekitar akhir abad XVI, yang digagas oleh para pemikir seperti; John Toland (1670-1722) dan Metthew Tindal (1656-1733) yang menulis buku “Cristianity as old as creation”, Giordano Bruno (1548-1600), Lucilio Vanini (1584-1619), Barukh Spinoza (1632-1677), Hermann Samuel Reimarus (1694-1768), Gotthold Ephraim Lessing (1729-1781) dan Moses Mendelssohn (1729-1786). Aufklarung berkembang di seluruh Eropa, tak terkecuali di Perancis dengan tokohnya Francois-Marie Arouet (Voltaire; 1694-1788) dan Jean-Jacques Rousseau (1724-1781). Tersebar pula ke Jerman oleh Immanuel Kant (1724-1781),<a href="#_ftn4">[4]</a> Kemudian tersebar juga di Amerika, yang dibawa oleh para founding fathernya, antara lain; Benjamin Franklin (1706-1790), Thomas Paine (1737-1809) dan Thomas Jefferson (1743-1826).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Pada waktu itu, deisme menjadi suatu fenomena baru dan penting  dengan gagasannya yang sangat rasilonal. Deisme adalah sebuah agama yang menolak agama, tepatnya menolak semua doktrin agama (doktrin gereja pada saat itu) terutama yang berkaitan dengan wahyu dan kehidupan akhirat. Karena alasannya sederhana: tidak rasional. Sumber kebenaran adalah akal manusia, bukan wahyu. Namun mereka tetap meyakini akan keberadaan Tuhan. Tiga kebenaran utama dari &#8220;teologi natural&#8221; yang ditegakkan dengan akal manusia itu adalah keberadaan Tuhan, nilai-nilai moral, dan kekekalan jiwa.<a href="#_ftn5">[5]</a> Dalam sejarahnya, mereka mengembangkan argumen-argumen deisme dalam rangka mengkritik gereja. Karena menurut mereka gereja telah mengajarkan hal-hal yang aneh dan bahkan mengerikan.<a href="#_ftn6">[6]</a> Oleh karena itu, ajaran gereja harus digantikan. Karena itulah gagasan deisme dimunculkan sebagai muara dari kritik mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Deisme adalah bentuk monoteisme yang meyakini bahwa Tuhan itu ada, Maha Esa, Maha Baik (God is Good), Tuhan selalu dilekati dengan sifat yang baik-baik. Namun demikian, seorang deis menolak gagasan bahwa Tuhan ikut campur di dalam dunia dikarenakan jika Tuhan ikut campur terhadap urusan duniawi, sebagaimana yang dikenal dalam ajaran gereja, berarti Tuhan tidak lagi baik. Tuhan telah berbuat otoriter karena membelenggu kebebasan manusia dalam berkarya. Sifat ke-baik-an Tuhan ini hanya dapat dikenal melalui nalar dan pengamatan terhadap alam. Karena itu, seorang deis menolak hal-hal yang ajaib (wahyu) dan klaim bahwa suatu agama atau kitab suci memiliki pengenalan akan Tuhan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dhammawan mengungkapkan bahwa kita dapat melihat bahwa antara pantheisme dan deisme terdapat dua kunci konsep mengenai Tuhan yang berbeda, yaitu immanental dan transendental. Tuhan yang immanental adalah Tuhan yang mempunyai sifat sebagai penghibur, penasehat, dan penggugah. Sedangkan Tuhan yang transendental adalah Tuhan yang merupakan objek yang dihormati dan dipuja oleh manusia karena manusia tidak seberdaya Tuhan. Pantheisme melihat keberadaan Tuhan di dunia ini ada dalam berbagai kehidupan manusia, sedangkan deisme melihat status Tuhan di atas dan di luar kehidupan yang diciptakanNya, tidak berubah-rubah diantara berbagai perubahan dan kemusnahan.<a href="#_ftn7">[7]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Tuhan harus dipahami sebagai sesuatu yang sangat transenden. Sebab jika tidak, justeru akan menodai ketuhanan-Nya. Menurut mereka, gereja telah melecehkan Tuhan karena turut campur tangan dalam kehidupan manusia. Tuhan sudah bukan Tuhan lagi, tapi sudah menjadi manusia. Bagi para deis tidak mungkin jika Tuhan yang maha baik membatasi kebebasan manusia untuk berkarya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Sebetulnya, jika tanpa manyebut-nyebut Tuhan akal manusia sudah dapat mengetahui asal-usul alam semesta dan seluruh misterinya, maka gagasan tentang Tuhan tak perlu ada. Hal inilah yang menunjukkan bahwasanya akal pun tidak bisa berdiri sendiri. Akan tetapi manusia modern sudah terlanjur mempertuhankan akal sehingga biar bagaimanapun Tuhan pun harus tunduk di bawah akal. Dan itulah yang Tuhan kehendaki.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>Akal is Replacement The God</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Berangkat dari pemahamannya akan Tuhan yang maha suci dan transenden, kemudian mereka sampai pada pengertian bahwa manusialah yang seharusnya mengurus dan mengembangkan dirinya sendiri. Karena itu Tuhan telah menganugrahkan akal untuk berpikir dan menentukan pilihan. Sementara itu di alam semesta, Tuhan telah menganugrahkan hukum alam yang sempurna. Perpaduan antara hukum alam dan akal manusia adalah suatu bukti bahwa Tuhan ada dan manusia merdeka.<a href="#_ftn8">[8]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Meski dalam suatu kasus tertentu, kadang akal manusia tidak cukup mampu untuk menerjemahkan fenomena alam yang tiba-tiba saja terjadi. Namun demikian bukan berarti manusia harus menyerah dan akhirnya pasrah terhadap takdir. Memang mereka (para deis) juga menyadari bahwa akal dengan berbagai argumennya sangatlah terbatas untuk memahami alam secara komprehensif dan kerap akhirnya manusia pasrah terhadap Tuhannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Realitas memang demikian, namun bukan semangat kepasrahan yang diinginkan oleh para deis. Akan tetapi sebaliknya, semangat yang diajarkan deisme adalah semangat hidup yang menyala-nyala. Dengan modal akal yang dimiliki, manusia sebetulnya mampu untuk menghadapi hidup ini sekaligus mampu mengungkap semua rahasia alam, tanpa harus tunduk pada aturan gereja. Dan sebetulnya dengan akalnya manusia mampu membuat peraturannya sendiri, menentukan moralitasnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Kant menambahkan bahwa konsep moralitas adalah untuk ide kebebasan. Meski sebetulnya seseorang tidak bisa membuktikan bahwa kebebasan itu aktual di dalam dirinya. Hanya saja ketika seseorang menganggap dirinya rasional dan memiliki suara hati, hal tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kehendak, kehendak dari kebebasan manusia.<a href="#_ftn9">[9]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dari semangat deisme yang menyala-nyala, kemudian banyak yang tertarik konsep deisme meski sebetulnya, banyak pula yang mengkritiknya. Namun dalam sejarahnya, deisme berhasil dalam mencerahkan (Aufklarung) manusia dari zaman kegelapan di Eropa. Zaman di mana nasib kehidupan manusia ditentukan oleh gereja.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>Deisme dan Ilmu Pengetahuan</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dengan munculnya aufklarung, di sisi lain, runtuhnya dominasi gereja, ilmu pengetahuan menjadi berkembang pesat. Teori Galilei Galileo tentang Heliosentris misalnya, menjadi diakui dalam ranah ilmiah meski ia sendiri telah menjadi korbannya. Warga eropa betul-betul mengalami zaman modern, semua sektor kehidupan manusia sampai  sektor keagamaan pun berubah. Orang-orang Eropa yang tadinya rajin ke gereja, dan punya banyak waktu luang, kini telah disibukkan oleh berbagai yang rasional dan realistis; ilmu pengetahuan dan tekhnologi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Lambat laun, agama kristen dengan ritual-ritualnya sudah mulai ditinggalkan. Setelah kecenderungan orang berubah menjadi rasional dan empiris, gagasan-gagasan tentang deisme mulai dilirik dan hangat dibicarakan. Disamping gagasannya yang rasional, deisme merupakan agama yang tidak memerlukan ritual dan karena itulah deisme hadir memberikan sebuah alternatif bagi orang modern.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Standar validitas keilmuan yang awalnya dipegang gereja kemudian diganti dengan konsep yang positivistik. Gereja sudah tidak memiliki wewenangnya kembali untuk menentukan sah dan tidaknya suatu penemuan ilmu. Orang eropa sudah memiliki kesepakatan umum bahwa penemuan ilmiah adalah yang logis dan empiris.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Berawal pada abad ke-18, dimulainya zaman baru yang memang berakar dari renaisance, yang disebut sebagai Pencerahan (Aufklarung), semboyannya adalah “Beranilah Berpikir”. Sikap pencerahan terhadap agama pada umumnya memusuhi atau sekurang-kurangnya mencurugai. Salah satu alirannya adalah Deisme di Inggris yang menentang kepercayaan berdasarkan agama. Deisme memberikan kritik akal dan menjabarkan ilmu pengetahuan bebas dari segala ajaran gereja.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Abad ke-19 merupakan abad yang sangat dipengaruhi oleh filsafat Positivisme, terutama di bidang ilmu pengetahuan. Abad positivisme ditandai oleh peranan yang menentukan dari pikiran-pikiran ilmiah. Tokohnya adalah August Comte (1798-1857) yang terkenal dengan hukum tiga tahap pemikiran manusia: Teologis, Metafisik, dan Positivisme yang bermakna real dan ilmiah. Positivisme memberikan inspirasi yang luar biasa bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi abad ke-19 hingga abad ke-20.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Namun pada awal abd ke-20, berkembang aliran-aliran pragmatisme, dengan tokohnya William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952) di Amerika Serikat. Fenomenologi dengan tokohnya Edmund Husserl (1859-1938) dan kemudian Eksistensialisme yang dibintangi oleh Soren Kierkegard, Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Karl Jasper dan Gabriel Marcel yang menekankan pada eksistensi manusia dengan seluruh otonaminya yang tak terbatas. Aliran-aliran pemikir ini kemudian dikenal dengan Post-modernisme. Inti dari pemikiran abad Post-Modernisme adalah kritik terhadap pemikiran abad modern yang memposisikan rasionalitas di atas segala-galanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Oleh karena itu, paska runtuhnya pemikiran modern dan bergantinya kecenderungan post-modern, hal-hal yang berbau irrasional dan eksistensial dimunculkan. Gagasan eksistensialisme misalnya, yang pada masa modern dianggap tidak mungkin karena bertentangan dengan objektivisme lalu dapat diterima. Seorang eksistensialis kerap mengemukakan bahwa pengalaman kebertuhanan manusia adalah pengalaman yang sangat individual dan tak mungkin untuk diatur sedemikian rupa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dan seseorang menganggap Tuhannya dengan anggapan apapun, bukanlah suatu masalah karena itu hak dia. Ataupun seseorang mau bertuhan atau tidak, itu juga hak azazi manusia. Hanya sayangnya, manusia selalu tidak mungkin untuk berpikir mandiri, manusia dalam berpikirnya selalu mengikuti para pendahulunya. Dan karena itulah dibutuhkan suatu metode kritis dalam berpikir. <a href="#_ftn10">[10]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dengan kata lain dapat kita simpulkan bahwa hubungan antara deisme dengan perkembangan ilmu pengetahuan sangat erat. Deisme telah mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas, tidak dibatasi oleh agama maupun Tuhan. Adanya kebebasan manusia dibuktikan dengan akal yang menusia miliki. Dengan akal itulah, manusia harus menggunakan pikirannya dalam menyikapi hidup ini. Dan hasil dari bauh karya pikiran manusia adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus bebas, tidak boleh dibatasi oleh nilai-nilai tertentu (bebas nilai).<a href="#_ftn11">[11]</a> Meski kemudian filsafat abad modern mendapat kritik tajam dari para pemikir aliran Post-Modernisme.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>Deisme dalam Analisis Kritis</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Sadar ataupun tidak, manusia modern jelas telah melestarikan gagasan deisme. Bibit-bibit paham ini telah berhasil ditanamkan dan ternyata banyak yang memetiknya. Jelas karena paham ini dipandang pro humanistik (semangat aufklarung). Apalagi dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, peran agama dan Tuhan memang sudah tidak diperlukan lagi. Adalah Sigmund Frued (1856-1939) yang mengatakan bahwa Agama dan Tuhan hanyalah ilusi. Dan nyatanya agama telah menyebabkan manusia menjadi kerdil dan tak percaya terhadap dirinya sendiri. Sementara Karl Marx menyebutkan bahwa agama sebenarnya hanyalah alat politik yang diciptakan oleh kaum borjuis untuk menentramkan hati orang-orang proletariat. Bahkan filsuf kenamaan Jerman, Friedrich Nietzsche meyakinkan bahwa Tuhan telah mati <em>(Got ist tott)</em>, manusia sendiri yang telah membunuhnya. Bagi orang modern, Tuhan merupakan suatu penghambat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sehingga sudah selayaknya Tuhan harus disingkirkan.<a href="#_ftn12">[12]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Memang benar, dengan upaya membunuh Tuhan ilmu pengetahuan dapat tumbuh sedemikian pesatnya. Hal ini dapat diketahuai terutama setelah kita memperbandingkan antara capaian ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh orang-orang sekular dengan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh orang-orang agamis. Tentu kita akan mendapatkan sesuatu yang aneh tapi mengagumkan. Bahkan kini ilmu pengetahuan telah menjadi Tuhan baru bagi manusia modern.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Namun tidak terlepas dari kemegahan itu semua, ternyata deisme telah menyesatkan manusia modern ke lembah kehampaan. Di atas puncak perkembangan ilmu pengetahuan modern manusia semakin kehilangan arah pijakannya, mereka bertanya-tanya, <em>“Setelah ini kita akan ke mana?”</em> Dengan demikian zaman kegagahan umat manusia (selama abad modern) pun seolah menemui ajalnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Lalu bagaimana mungkin jika manusia mati sementara kehidupan ini masih berlanjut? Jika benar bahwa Tuhan telah pensiun dari jabatannya setelah alam raya ini terbentuk, manusia harus bagaimana? Apakah harus mengulang dari nol lagi, tapi nol yang mana? Di samping juga banyak fenomena alam yang manusia dengan akalnya belum mampu menerjemahkan. Sampai akhirnya mau tidak mau mausia harus mengakui bahwa Tuhan pun turut campur dalam kehidupan ini. Kadang Tuhan terasa begitu dekat dengan manusia tetapi kadang pula menjauh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dari kajian filsafat barat, kita dapat menemukan bahwa peradaban barat telah menemukan ”kemajuan” ilmu pengetahuan sejak menolak hegemoni gereja pada abad tengah. Keadaan ini menumbuhkan suatu bayangan kosong dalam hati manusia bahwa agama merupakan penghambat kemajuan dan mengekan otonami manusia. Mereka lupa bahwa agama sebenarnya bukanlah suatu kekuatan yang menghambat kemajuan, akan tetapi hal itu terjadi karena penefsiran agama yang terlalu eksklusif yang terjadi pada abad tengah.<a href="#_ftn13">[13]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Manusia modern produk renaisance juga melupakan satu hal penting, yakni kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dicapai bukanlah satu-satunya unsur terpenting dalam membangun kehidupan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tanpa memperhatikan unsur-unsur lain dalam kehidupan manusia, spiritualitas misalnya, sama artinya dengan mengingkari hakikat kemanusiaan itu sendiri.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Satu warisan kultural renaisance adalah sikap mendewa-dewakan rasionalitas secara berlebihan. Kenyataan ini mengakibatkan adanya kecenderungan untuk menyisihkan seluruh nilai dan moral yang berdasarkan agama. Hal ini cenderung membuat adanya penolakan terhadap keterkaitan antara jasmani dan rohani. Akibatnya, manusia menjadi terasing tanpa batas dan sebagai konsekuensinya, lahirlah suatu trauma kejiwaan dan ketidakstabilan hidup.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Meletakkan otoritas ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyerahkan manusia kepada alat yang diciptakannya sendiri. Berarti pula akan menyeret manusia menjadi semata-mata teknokratis. Umat manusi telah terbentuk sebagaimana produk industri itu sendiri, tak ada lagi keunikan kecuali kekuatan yang seragam. Sehingga tanpa sadar ataupun tidak, manusia akan kehilangan kemerdekaannya sendiri. Padahal itikad awal dari dikembangkannya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebagai pembebasan keterbatasan manusia.<a href="#_ftn14">[14]</a> Dengan kata lain, manusia telah terpacu oleh situasi mekanistik yang telah diciptakannya sendiri sehingga kehilangan kontak secara manusiawi dalam tata hubungan antar manusia dan alam sekitar. Oleh karena itu, kerusakan alam menjadi masalah yang sangat serius dalam abad modern.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Ternyata akal semata tidaklah cukup untuk menerjemahkan kehidupan ini. Ilmu pengetahuan yang diharapkan mampu menjadi sang juru selamat ternyata malah membawa permasalahan baru. Ancaman global warming misalnya, isu yang sedang hangat belakangan ini ternyata disebabkan oleh ulah manusia sendiri karena terlalu berlebihan dalam mengeksploitasi alam. Akibatnya alam menjadi kehilangan keseimbangan, kemudian kelangsungan hidup manusia sendiri yang terancam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>C.  PENUTUP </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Setiap komunitas dalam setiap zaman memang memiliki kekhasannya masing-masing dalam pemikirannya. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika pada saat yang lain suatu pemikiran produk masa lalu dinilai salah dan harus disingkirkan. Setiap pemikiran memang memiliki kebenarannya sendiri yang bersifat parsial dan tentatif. Bahkan, konon kebenaran yang sifatnya objektif dan universal tidak akan pernah ada, kecuali hanya kesepakatan-kesepakatan umum semata. Tak terkecuali juga dengan deisme, yang memiliki kebenarannya sendiri dan di saat yang lain harus disalahkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Sehebat apapun produk pemikiran manusia, tidak mengkin semata-mata bebas dari nilai tetapi malah sebaliknya. Sifat produk pemikiran senantiasa dwipolar,  di satu sisi baik (membawa dampak positif) dan di sisi lain menjadi buruk (menimbulkan dampak negatif). Namun baik dan buruk pun merupakan produk pemikiran manusia. Dari proses dialektika yang terus-menerus inilah kemudian lahir konsep deisme, lalu konsep deisme pun menuai kritik dan lahirlah konsep-konsep pemikiran yang lain. Namun yang perlu digaris bawahi bahwa dengan pemikiran sejarah menjadi berkembang, manusia menjadi berkembang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dalam faktanya, paham deisme (bukan sebagai sebutan) senantiasa hidup sampai saat ini, hidup dalam setiap kemunitas keberagamaan yang mendambakan ide-ide segar dalam beragama. Selama para pemikir masih ada, paham deisme tak akan pernah mati dan bahkan akan selalu tampil segar dan meyakinkan meskipun pro dan kontra selalu menyertainya. Dan justeru dengan begitu berarti manusia hidup.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Kita akui bahwa paham ini telah membawa perubahan yang begitu besar terhadap pemikiran dunia, terutama terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Karena pemikiran, manusia menjadi berubah dan berkembang meski sebetulnya, manusia tidak bisa melepaskan agama begitu saja. Dan hadirnya gagasan deisme, dalam hal ini, telah membawa angin segar bagi para penganut agama yang sudah terlalu bosan dengan kejumudan doktrin-doktrin agama. Dalam konteksnya deisme adalah pahlawan yang membebaskan umat manusia dari penjara penjajahan halus yang dimunculkan oleh komunitas agama.[]</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong> </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Feri Susanto, <em>Thomas S. Kuhn: Reletivis Epistemologis?</em>, Makalah Seksi Publikasi Senat Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Francisco Budi Hardiman, <em>Kritik Idiologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen Habermas</em>, Yogyakarta, Buku Baik Press, 2004</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Haedar Nashir,<em> Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern,</em> Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1997</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Immanuel Kant,<em> Dasar-Dasar Metafisika Moral</em>, terj. Robby H. Abror, Yogyakarta, Insight Reference, 2004</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">John Hick,<em> Philosophy of Religion,</em> New Jersey, Mentice Hall, 1990</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Musthafa Kamal Pasha dkk, <em>Pancasila Dalam Tinjauan Historis, Yuridis dan Filosofi.</em> Yogyakarta, Citra Karsa Mandiri, 2003</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Muhammad Nur Abdurrahman, <em>Pemanfaatan Sains</em>, HMNA online, 24 November 1991</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Anthony A. Hoekema, <em>Konsep al-Kitab Tentang Kekekalan Jiwa,</em> Pustaloka Biblika online, <a href="http://www.sarapanpagi.org/post2060.html#2060">http://www.sarapanpagi.org/post2060.html.2060</a>, 17 Agustus 2007</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Bambang<em> </em>Soebiawak, <em>Deisme</em>, <a href="http://www.rosenqueencompany.com/">http://www.rosenqueencompany.com</a>, 3 Oktober 2007</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Bustanuddin Agus, <em>Bahaya Sekularisasi Pancasila,</em> Republika online,  <a href="http://www.republika.co.id/">http://www.republika.co.id</a>, 28 Juni 2006</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dhammawan, <em>Konsep Tuhan dalam TAO</em>, <a href="http://www.siutao.com/">http://www.siutao.com</a>, 3 Februari 2003</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Voltaire, Ensiklopedi online Wikipedia, <a href="http://www.wikipedia.com/">http://www.wikipedia.com</a>, 26 September 2007</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><br />
</span></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref1">[1]</a>Bambang Soebiawak, <em>Deisme</em>, <a href="http://www.rosenqueencompany.com/">http://www.rosenqueencompany.com</a>, 3 Oktober 2007</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref2">[2]</a>Lihat. Musthafa Kamal Pasha dkk, <em>Pancasila Dalam Tinjauan Historis, Yuridis dan Filosofis,</em> (Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri, 2003), hlm. 163</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref3">[3]</a>Beberapa lainnya menerima konsep ketuhanan Yang Maha Kuasa dimana hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat keduniawian. Demikian juga ada yang mempercayai adanya kehidupan sesudah kematian (tetapi kepercayaan ini sempat juga banyak ditolak oleh pengikut deisme saat itu). Dhammawan, <em>Konsep…</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref4"><sup><sup>[4]</sup></sup></a>Voltaire dan Immanuel Kant, meskipun keduanya kerap dijuluki sebagai seorang deis akan tetapi mereka menyangkal dan malah mengatakan bahwa dirinya seorang theis (kristiani). Karena biar bagaimanapun, pada saat itu Deisme merupakan suatu ajaran yang menurut gereja, dianggap sesat. Dikutip dari Mircea Eliade dkk. (ed.), <em>The Encyclopedia of Religion,</em> Vol. 3, (London New York: Collier Macmillan Piblishers, 1993), hlm. 263</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref5">[5]</a>Anthony A Hoekema,<em> Konsep al-Kitab Tentang Kekekalan Jiwa,</em> Pustaloka Biblika online, <a href="http://www.sarapanpagi.org/post2060.html#2060">http://www.sarapanpagi.org/post2060.html.2060</a>, 17 Agustus 2007</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref6">[6]</a>Musthafa Kamal  Pasha dkk, <em>Pancasila Dalam… </em>hlm. 164</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref7">[7]</a>Dhammawan, <em>Konsep Tuhan dalam TAO</em>, <a href="http://www.siutao.com/">http://www.siutao.com</a>, 3 Februari 2003</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref8">[8]</a>Immanuel Kant mengatakan, “<em>Saya menyatakan argumen ini sebagai tujuan kita: kebebasan adalah ide yang ditempatkan oleh semua makhluk rasional sebagai dasar bagi tindakan manusia&#8230;” </em>Lihat. Immanuel Kant, <em>Dasar-Dasar Metafisika Moral</em>, Robby H. Abror (terj.), (Yogyakarta: Insight Reference, 2004), hlm. 110</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref9">[9]</a><em>Ibid, </em>hlm. 111</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref10"><sup><sup>[10]</sup></sup></a>Lihat. Francisco Budi Hardiman, Kritik Idiologi: <em>Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen Haberma</em>s, (Yogyakarta: Buku Baik, 2004), hal. 100</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref11">[11]</a>Ilmu pengetahuan bebas nilai berarti bahwa ilmu pengetahuan terlepas dari campur tangan kekuasaan ekonomi, sosial, politik, agama maupun nilai-nilai lainnya. Kepentingan ilmu pengetahuan hanyalah <em>de-facto, </em>nyata-nyata untuk kepentingan objektif dan tidak memihak dalam menilai. Meskipun banyak filsuf kontemporer yang mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya tidak bisa bebas nilai. Karena si ilmuwan adalah manusia historis yang tidak bisa melepaskan diri dari berbagai nilai yang membentuk pikirannya. Dikutip dari Feri Susanto, <em>Thomas S. Kuhn: Reletivis Epistemologis?, </em>Makalah Seksi Publikasi Senat Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref12">[12]</a>Lihat. John Hick,<em> Philosophy of Religion, </em>(New Jersey: Mentice Hall, 1990), hlm. 106</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref13">[13]</a>Achmad Charris Zubair (suatu pengantar), <em>Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern,</em> (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm. vii</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref14">[14]</a>Apabila sains didefinisikan atau diartikan di atas paradigma filsafat positivisme (menurut pandangan deisme, agnostisisme dan atheisme), maka gunanya sains itu hanya satu, yakni untuk mensejahterakan ummat manusia, memelihara binatang dan tumbuh-tumbuhan, lingkungan hidup pada umumnya. Dikutip dari Muhammad Nur Abdurrahman, <em>Pemanfaatan Sains</em><em>, </em>HMNA online, 24 November 1991</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Memantau Aksi Massa]]></title>
<link>http://nguts.wordpress.com/2009/11/22/memantau-aksi-massa/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 17:18:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ngut's</dc:creator>
<guid>http://nguts.wordpress.com/2009/11/22/memantau-aksi-massa/</guid>
<description><![CDATA[MEMANTAU AKSI MASSA FPI (Sebuah Refleksi) PENDAHULUAN Front Pembela Islam atau yang sering disebut d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:center;"><strong>MEMANTAU AKSI MASSA FPI</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>(Sebuah Refleksi)</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>PENDAHULUAN</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="http://nguts.wordpress.com/files/2009/11/2266067983_44bbd0369a_m.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-192" title="2266067983_44bbd0369a_m" src="http://nguts.wordpress.com/files/2009/11/2266067983_44bbd0369a_m.jpg" alt="" width="240" height="238" /></a>Front Pembela Islam atau yang sering disebut dengan FPI merupakan sekelompok aksi massa yang mengatasnamakan Islam. Organisasi masa yang dipimpin oleh Habib Rizieq Syihab tersebut didirikan pada tanggal 17 Agustus 1998 di Ponpes al-Umm Cempaka Putih, Ciputat. Seperti diketahui, bahwa tujuan FPI menjadi wadah kerja sama antara ulama dan umat dalam menegakkan <em>Amar Ma’ruf</em> dan <em>Nahi Munkar</em> di setiap aspek kehidupan.<a href="#_ftn1">[1]</a> Dalam sebuah blog yang mengklaim diri milik FPI juga tertulis jelas bahwa FPI hadir untuk menegakkan kebenaran dan keadilan demi terwujudnya Syari’at Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Secara sosiologis, anggota FPI dapat dipilah menjadi empat kategori (h. 104-106). <em>Pertama</em>, masyarakat awam, yaitu masyarakat biasa yang ikut aktif dalam pengajian yang diselenggarakan FPI. <em>Kedua</em>, kelompok intelektual dan akademisi, yaitu para mahasiswa, dosen, dan peneliti. Umumnya, mereka mayoritas berasal dari perguruan tinggi umum. Lebih spesifik lagi dari fakultas eksak. Walau ada juga yang dari perguruan tinggi agama. Namun, umumnya mereka tidak memiliki basis pendidikan agama kuat. <em>Ketiga</em>, kelompok preman dan anak jalanan. Kelompok ini direkrut FPI tidak melalui jalur formal pendaftaran, tetapi melalui pendekatan personal. Mereka lebih banyak dididik latihan fisik untuk melakukan <em>sweeping</em>, penggerebekan, dan demonstrasi, tanpa dibekali pendidikan agama. <em>Keempat</em>, golongan haba&#8217;ib dan alim ulama. Ini merupakan kelompok elit yang menduduki posisi penting dan penentu kebijakan dalam FPI.<a href="#_ftn2">[2]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Perilaku kelompok Front Pembela Islam (FPI) yang melakukan swipping dan tindakan kekerasan ke berbagai sarang publik seperti panti pijat, diskotek, tempat-tempat biliar dan lain-lain yang dianggap sebagai tempat-tempat maksiat. Tidak hanya sweepping, mereka juga menganiaya beberapa orang yang ditemukan di tempat-tempat tersebut bahkan menghancurkan bangunan-bangunan dan isinya. Karena itu banyak ulama mengecamnya dan menilai sebagai kontra produktif yang malah akan menghancurkan Islam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Kecaman kalangan ulama dan tokoh masyarakat Indonesia terhadap Kebringasan FPI yang terus berlanjut sejak awal era reformasi itu dapat kita maklumi. Apalagi jika menyaksikan tayangan berbagai stasiun televisi sejak tanggal 4 Oktober 2002 sungguh menyedihkan. Massa FPI dengan beringas merusak sarana-sarana publik dan memukuli beberapa orang yang sudah tak berdaya. Kita juga bisa memahami statemen, bahkan perilaku FPI justru malah akan menghancurkan Islam. Betapa tidak? Dari tayangan itu banyak orang yang notabene sebagai muslim yang taat saja langsung berkomentar cara-cara FPI bukan hanya contoh perbuatan main hakim sendiri yang sangat memalukan tetapi juga contoh perbuatan yang sangat tidak simpatik yang justru merusak Islam dari dalam Islam sendiri. Apakah seperti itu cara-cara Islam? Apakah Islam membolehkan anarkhis dan memaksakan kehendak?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dari berbagai rangkuman tanggapan di atas sangatlah bijaksana jika kita coba analisis secara jernih dan cermat masalah perilaku FPI tersebut baik dari kaca mata etis, hukum Islam, hukum negara dan bagaimana kita semestinya mentaati sistem bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di alam kerangka sistem demokrasi yang telah kita sepakati karena roh demokrasi adalah kepatuhan semua pihak dan semua komponen bangsa terhadap hukum dan sistem negara yang kita bangun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>PEMBAHASAN</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>Etika</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Menurut Plato, salah seorang filsuf klasik Yunani, manusia ialah hewan yang berpikir. Asalnya manusia adalah hewan, hanya saja manusia diberi kelebihan yaitu berupa akal. Di samping ia memiliki akal yang bisa digunakan untuk berpikir, manusia juga memiliki hati nurani yang mampu menangkap gelegat baik dan buruknya suatu tindakan. Dengan kata lain, manusia mampu menilai secara etis bahwa tindakan yang dilakukannya itu baik ataukah buruk. Hal inilah yang kerap dinamai dengan moralitas. Sementara Immanuel Kant menambahkan, bahwasanya dalam hati nurani manusia ada sesuatu yang disebut <em>immperatif kategoris.</em> Sebuah pertimbangan moral yang akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa suatu tindakan harus dilakukan ataukah harus ditinggalkan.<a href="#_ftn3">[3]</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Etika merupakan merupakan ilmu tentang moralitas. Etika sebagai ilmu melanjutkan kecenderungan kita dlam hidup sehari-hari. Etika dimulai, bila kita merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi tersebut sangat kita butuhkan karena tidak jarang pendapat kita banyak kesamaannya dengan pendapat orang lain. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Apakah moralitas itu bersifat subjektif murni ataukah objektif? Pada dasarnya moralitas memang subjektif, tanpa adanya subjek moral, norma moral tak akan berarti apapun. Setiap tindakan baik atau buruknya penilainya adalah subjek yang bersangkutan. Meski demikian, bukan berarti kita bebas untuk melakukan apapun seenaknya sendiri. Bukan manusia yang menentukan nilai moralitasnya, melainkan norma moral telah mewajibkan kita untuk menaatinya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Memang, seseorang bebas mengikuti ataupun mengingkari pertimbagan moralnya, hanya sayang, manusia hidup di dunia tidaklah sendiri dan mandiri. Sadar ataupun tidak, ada hukum moralitas yang mengatur hubungan sosial manusia. Seseorang boleh saja menuntut orang lain untuk ini dan itu, asalkan tidak melanggar batas-batas moralitas tidaklah bermasalah. Namun dalam kasus <em>sweeping</em> yang dilakukan oleh FPI beberapa waktu lalu misalnya, menurut hemat kami, bertentangan dengan nilai moral manusia. Ada hukum moral yang mengatakan bahwa sesama manusia harus saling menghormati, tidak boleh melukan kekerasan, dilarang saling membunuh dan sebagainya. Dan sebagai sanksinya, jika FPI tetap melakukan pelanggaran terhadap hukum moral, ia akan mendapat kecaman sebagai yang tak bermoral.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> <strong>Hukum Positif</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Salah satu difinisi berdemokrasi adalah “kepatuhan setiap warga negara kepada rambu-rambu hukum negara dan kemampuan mengendalikan diri bermutu tinggi dari setiap warga negara demi terwujudnya ketertiban dan keteraturan”. Dari difinisi itu ada dua kalimat kunci kepatuhan pada rambu-rambu hukum negara dan mutu pengendalian diri namun menuju satu muara yang sama yaitu terwujudnya keteraturan dan ketertiban umum.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dari sini akhirnya bisa mudah kita pahami mengapa para ahli hukum Memberi batas-batas pemahaman hukum dengan 3 asas yaitu asas monopoli paksa (zwangzmonopol), asas persetujuan hukum (popul), dan asas persekutuan hukum (rechsgement schaap). Para ahli hukum menerjemahkan dalam satu persepsi. Asas monopoli paksa hanya boleh dilakukan oleh institusi negara (polisi) yang dibentuk oleh negara berdasarkan UU. Asas persetujuan hukum berarti hukum melalui wakil-wakil rakyat dan pemerintah (legeslas delegatif). Asas persekutuan hukum adalah bahwa hukum itu benar-benar aspirasi rakyat dengan proses sosialisasi yang jelas sehingga unsure sosiologis, filosofis dan yuridis terpenuhi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Jika pemahaman hukum membutuhkan kearifan dengan mempedomani kaidah dan asas-asas secara ketat pada rambu-rambu yang baku. Demikian pula memahami dalil-dalil dalam agama sangat membutuhkan kearifan secara simultan mematuhi rambu-rambu Kitab Suci. Dalam Islam rambu-rambu itu adalah Alquran dan Sunnah (Hadits) juga harus secara simultan tidak sepotong-sepotong.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Kita tahu ada sebuah ajaran yang masyhur dalam Kitab Suci yang menyuruh umat untuk menegakkan amar ma&#8217;ruf dan nahi munkar. Mengajak ke kebajikan dan mencegah kemunkaran (kejahatan). Puluhan firman Tuhan tentang hal ini ada di Kitab Suci. Dan diterjemahkan oleh Nabi Muhammad dengan salah satu sabdanya adalah Siapapun yang tahu ada kemunkaran maka ubahlah dengan kekuasaan/kekuatan (biyadih). Jika tak mampu, ubahlah dengan lisan/tulisan (bilisanih). Dan jika juga tak mampu, ubahlah dengan doa (bikolbih). Saya kira saudara-saudara kita dari FPI juga termotifasi oleh sabda ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="http://nguts.wordpress.com/files/2009/11/2072512680_063fb07613_m1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-193" title="2072512680_063fb07613_m" src="http://nguts.wordpress.com/files/2009/11/2072512680_063fb07613_m1.jpg" alt="" width="240" height="235" /></a>Tetapi Kitab Suci juga mengajarkan tentang hidup bermasyarakat, Berbangsa dan bernegara dengan konsepnya yang membumi (global) yaitu: <em>hablum minallah wa hablum minannas.</em> Dengan diperkuat firman dalam QS. al-Taghobun ayat 16 yang menyatakan patuhlah pada Allah sebatas kemampuanmu. Sehingga Islam akan benar-benar menjadi rahmatan lil&#8217;alamin. Kita tidak bisa bayangkan jika tidak ada dalil itu, alangkah beratnya menjalankan agama Islam itu di tengah-tengah peradaban modern yang sangat dinamis. Pastilah peperangan dan kekacauan akan terjadi sepanjang masa. Ajaran Islam sangat komplit menyeluruh, tepat di segala zaman karena Islam bukan hanya sekadar agama terakhir tetapi sebuah peradaban baru yang rasional.<a href="#_ftn4">[4]</a> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Sebab itu pula banyak negara yang mengklaim secara konstitusi sebagai negara Islam namun peraturannya disesuaikan alam demokrasi negara yang bersangkutan. Kita tahu di negara-negara Jazirah Arab sekalipun hanya Mekah dan Madinah yang menerapkan hukum Islam persis yang ada dalam Kitab Suci Qur&#8217;an dan Hadits. Ambil contoh negara Islam terdekat kita, Malaysia dan Brunei Darussalam, misalnya, disana pencuri tak serta merta dipotong tangan tetapi kurungan penjara dan hukum cambuk. Demikian pula tentang hukum Qishos yang membunuh harus dibunuh tidak dilaksanakan tetapi dengan hukum penjara dan denda.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Di negara-negara yang mengklaim sebagai negara Islam masih saja mentolerir dengan cara-cara sangat ketat dan terbatas. Apalagi negara kita, Indonesia yang secara politik konstitusionalnya bukanlah negara Islam tetapi negara hukum yang demokrasi. Maka hal-hal seperti itu pasatilah sangat sulit untuk dibasmi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Dalam beberapa hal, ada kebijaksanaan khusus dan pengaturan terbatas, misalnya pembatasan tentang minuman keras dengan persen maximal kadar alkoholnya yang diatur undang-undang. Demikian pula masalah prostitusi sudah secara jelas diatur dalam KUHP dan sesuai norma-norma demokrasi. Undang-undang adalah hukum positif yang harus dipatuhi dan dijadikan koridor oleh kepolisian (satu-satunya institusi negara yang berwenang melakukan upaya paksa) untuk bertindak. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Mengapa upaya paksa hanya boleh dilakukan oleh lembaga negara yaitu kepolisian sesuai dengan kaidah asas monopoli paksa (zwangs monopoli)? Itu demi ketertiban umum. Kita tak bisa bayangkan jika setiap orang atau kelompok diperbolehkan melakukan upaya paksa pasti sebuah negara akan chaos dan kacau balau. Dengan kesepakatan secara global dalam peradaban baru, upaya tersebut hanya boleh dilakukan oleh sebuah institusi negara yaitu kepolisian. Kenapa tidak boleh ada lebih dari satu institusi negara yang berwenang melakukan upaya paksa? Supaya ada ketertiban dan kepastian hukum yang mudah dikontrol dan diawasi. Jika pelaku upaya paksa lebih dari satu institusi negara maka bukan saja kepastian hukum sulit dikontrol tetapi juga kepastian hukum akan menjadi sangat sulit karena terjadinya overlapping kewenangan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Sweeping apalagi dengan pengrusakan secara jelas adalah upaya paksa. Hal itu sudah menyalahi hukum dunia maupun kaidah agama Islam yang semestinya rahmatan lil&#8217;alamin. Yang perlu kita sikapi adalah mengontrol kinerja aparat hukum dari polisi, jaksa, hakim dan aparat pemerintah termasuk pemerintah daerah dan pusat. Jika kinerja mereka kurang maksimal apalagi berkolusi dan berkolaborasi dengan kejahatan, maka harus terus kita kontrol kalau perlu merekalah yang kita demo karena di tangan mereka mestinya hukum dan Undang-undang ini harus tegak. Bukan mengeksekusi langsung pada perorangan, masyarakat atau komunitas tertentu yang kita anggap telah melanggar Undang-undang.</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>PENUTUP</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong> </strong>FPI selama ini memang lebih dikenal dengan aksi kekerasannya, seperti aksi pembubaran tempat maksiat secara paksa, penggerebekan tempat-tempat perjudian, perusakan warung penjual minuman keras, penghancuran lokalisasi-lokalisasi tempat praktek perbuatan terkutuk, sampai kasus kekerasan di monas yang terjadi pada 1 Juni 2008. Akan tetapi apabila kita cermati, akan kita dapatkan bahwa aksi-aksi FPI tersebut merupakan reaksi real FPI dalam menyikapi kamandulan aparat kepolisian. Polisi yang seharusnya menangani tugas pemberantasan maksiat, yaitu tindakan-tindakan melanggar hukum di negeri tercinta ini, malah nyaris tidak berbuat apapun. FPI sebagai organisasi Islam hanya mewakili keseluruhan umat Islam menjalankan seruan amar makruf nahi mungkar dalam agama demi mempertahankan kemakmuran negeri ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Selain itu, gerakan ini seolah didorong oleh motif suci untuk kepentingan agama, namun menurut pengamatan Al-Zastrouw Ng, kalaupun ada dorongan dan pertimbangan agama sejatinya sangat minim. Akan tetapi diri mereka lebih didominasi oleh dorongan ekonomi-politik. Bahkan, buku yang semula sebagai tesis di PPS Universitas Indonesia ini memberi kesimpulan penting dan amat mengejutkan, bahwa FPI bukanlah termasuk gerakan Islam-radikal-fundamentalis yang memiliki komitmen tinggi untuk memperjuangkan Islam dan mencita-citakan berdirinya negara Islam. Tetapi, ia merupakan gerakan Islam radikal-politik, yang menjadikan agama hanya sebagai kedok untuk menutupi kepentingan politik dan ekonomi para pemimpinnya.<a href="#_ftn5">[5]</a> Wa  Allah ‘alam.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Abdulah, Amin. <em>Falsafah Kalam di Era Postmodernisme. </em>Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Bertens, K. <em>Etika.</em> Jakrta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Kant, Immanuel. <em>Dasar-Dasar Metafisika Moral.</em> Terj. Robby H. Abror. Jakarta: Insight Reference, 2005.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Mubarak, Zaki. <em>Genealogi Islam Radikal di Indonesia.</em> Jakarta: LP3ES, 2007.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Ridwan, Nur Khalid. <em>Regenerasi NII Membedah Jaringan Islam Jihadi di Indonesia</em>. Jakrta: Erlangga, 2007.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>Munjid,</strong><em> </em>Achmad<strong>. “</strong>Hentikan Vigilantisme FPI,” Wahid Institute Online, <a href="http://www.wahidinstitute.org/">http://www.wahidinstitute.org</a>, diakses tanggal 15 Oktober 2008.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Fatkhurrahman, Wiwit Rizka. “FPI dan Infiltrasi AS,” <a href="http://www.wiwitfatur.wordpress.com/">http://www.wiwitfatur.wordpress.com</a>, diakses tanggal 15 Oktober 2008.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Victoria, Adi. “Insiden Monas, Waspadai Adu-Domba Umat Islam!,” KAMMI Online, <a href="http://www.kammi.or.id/">http://www.kammi.or.id</a></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;">Tabah, Anton. “FPI dan Nahi Munkar”, dalam http://www.gigihnusantaraid@yahoo.com, diakses tanggal 5 Nopember 2008.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><br />
</span></p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref1">[1]</a> M. Zaki Mubarak, <em>Genealogi Islam Radikal di Indonesia </em>(Jakarta: LP3S, 2007), hlm. 116.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref2">[2]</a> Al-Zastrouw Ng. <em>Gerakan Islam Simbolik; Politik Kepentingan FPI</em><em> (Yogyakarta: LkiS, 2006), hlm. 104-106.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref3">[3]</a> K. Berteens, <em>Etika</em> (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 11-14.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref4">[4]</a> Anton Tabah. “FPI dan Nahi Munkar”, dalam http://www.gigihnusantaraid@yahoo.com, diakses tanggal 5 Nopember 2008.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><a href="#_ftnref5">[5]</a> Al-Zastrouw Ng. <em>Gerakan Islam Simbolik,</em><em> hlm. 187</em></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Sikap Kita Terhadap Pluralitas Agama]]></title>
<link>http://nguts.wordpress.com/2009/11/22/sikap-kita-terhadap-pluralitas-agama/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 17:11:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ngut's</dc:creator>
<guid>http://nguts.wordpress.com/2009/11/22/sikap-kita-terhadap-pluralitas-agama/</guid>
<description><![CDATA[Pola hubungan antar agama di Indonesia di beberapa tempat masih terlihat beragam. Di beberapa pusat ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><a href="http://nguts.wordpress.com/files/2009/11/3895140157_77ff042f09_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-109" title="3895140157_77ff042f09_m" src="http://nguts.wordpress.com/files/2009/11/3895140157_77ff042f09_m.jpg" alt="" width="240" height="240" /></a>Pola hubungan antar agama di Indonesia di beberapa tempat masih terlihat beragam. Di beberapa pusat kota seperti Jakarta dan Jogjakarta pluralitas keagamaan sudah berjalan dengan dialog. Artinya ketegangan/konflik yang timbul karena gesekan antar agama sudah bisa diminimalisir. Namun di beberapa tempat pelosok desa yang arus informasi dunia luar masih jarang (seperti yang terekam dalam film tersebut), pola hubungan antar agama masih diwarnai dengan konflik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Katakanlah, dari model pendidikan kultural-keagamaan anak yang dijejali dengan slogan “Islam yes, kafir no!” merupakan pertanda bahwa bibit konflik sedang disemaikan. Pendidikan eksklusivitas keagamaan yang diajarkan terhadap anak pada usia dini adalah cermin masa depan bahwa ketegangan antar umat beragama masih akan membudaya. Sementara di tempat lain, pendidikan akan pentingnya dialog antar agama sudah diupayakan. Misalnya, dengan mengajak anak-anak untuk berkunjung ke tempat ibadah agama lain.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Pola keberagamaan yang beragam seperti itu menandakan bahwa bangsa Indonesia masih setengah-setengah dalam menjunjung tinggi kebhinekaan. Peralihan dari sikap umat yang kekanak-kanakkan menuju kedewasaan dalam menyikapi pluralitas agama merupakan sebuah proses. Dengan kata lain, upaya dialog untuk pluralitas agama masih mungkin untuk diupayakan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Peran pendidikan dalam hal ini sangat menentukan. Jika pendidikan kita saat ini mampu menghadirkan adanya dialog antar agama, maka nasib baik kebhinekaan bangsa kita akan dapat terwujud. Namun sebaliknya, jika pendidikan kita masih mengajarkan akan pentingnya sikap eksklusif terhadap agama, maka gesekan antar agama-agama masih kerap terjadi di hari-hari mendatang. Peranan informasi yang jujur dan tidak profokatif juga tidak kalah pentingnya dalam pendidikan kita saat ini.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Upaya keras untuk mendialogkan agama-agama khususnya dalam konteks Indonesia bukan merupakan suatu tindakan kosong belaka, namun sangat beralasan. Secara teologis misalnya, kita dapat melihat adanya kesamaan nilai yang hendak diraih oleh setiap agama. Setiap agama selalu menekankan adanya hubungan intim antara seorang individu dengan Tuhannya, meski konsep tentang Tuhan kerap berbeda dalam setiap agama. Secara fungsional semua agama adalah sama, yaitu mengupayakan adanya kesejahteraan hidup manusia di dunia bahkan sampai akherat. Dan secara struktural pun begitu, setiap agama adalah kendaraan untuk mengarungi hidup dan dari situ lalu muncullah berbagai struktur dalam pengamalan keagamaan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Namun ketegangan antar agama-agama kerap terjadi bila sikap fanatisme (eksklusivitas) muncul dalam diri penganutnya. Dan hal seperti ini dialami oleh penganut setiap agama. Dengan demikian kita dapat menarik kesimpulan bahwa permasalahan yang sedang kita hadapi adalah permasalahan sikap penganut (umat) agama, bukan agama itu sendiri. Dan inilah yang menjadi PR (baca: peer) kita bersama; bagaimana agar sikap eksklusivitas agama tidak dimunculkan ke publik. []</span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hijrah: Should I stay or Should I Go? - Sh Haytham al-Haddad]]></title>
<link>http://maqasid.wordpress.com/2009/11/22/hijrah-should-i-stay-or-should-i-go-sh-haytham-al-haddad/</link>
<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 12:44:45 +0000</pubDate>
<dc:creator>maqasid</dc:creator>
<guid>http://maqasid.wordpress.com/2009/11/22/hijrah-should-i-stay-or-should-i-go-sh-haytham-al-haddad/</guid>
<description><![CDATA[Part 1: Part 2: Part 3: Part 4: Part 5: Part 6: Part 7: Prat 8: Part 9: Part 10: Part 11:]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Part 1: Part 2: Part 3: Part 4: Part 5: Part 6: Part 7: Prat 8: Part 9: Part 10: Part 11:]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
