<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>fiqih &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://en.wordpress.com/tag/fiqih/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "fiqih"</description>
	<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 09:46:21 +0000</pubDate>

	<generator>http://en.wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[Kiat-Kiat Menggapai Khusyuk Dalam Sholat]]></title>
<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/30/kiat-kiat-menggapai-khusyuk-dalam-sholat/</link>
<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 02:36:54 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafiyunpad</dc:creator>
<guid>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/30/kiat-kiat-menggapai-khusyuk-dalam-sholat/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Ust. Abu Abdillah Syahrul Fatwa as-Salim Sesungguhnya sholat adalah ibadah badani yang paling a]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><div>
<div id="attachment_1636"><img class="alignright" src="http://maramissetiawan.files.wordpress.com/2009/11/sabar-dan-sholat.jpg?w=219&#038;h=164#38;h=164" alt="" width="219" height="164" />Oleh Ust. Abu Abdillah Syahrul Fatwa as-Salim</div>
<p>Sesungguhnya sholat adalah ibadah badani yang paling agung dalam agama ini. Dia adalah rukun Islam setelah syahadat. Kewajiban sholat telah tetap berdasarkan al-Qur’an, hadits, ijma’ kaum muslimin. Khusyuk dalam sholat adalah hal yang sangat penting, sudah barang tentu kita dituntut untuk berusaha dan selalu melatih diri dapat menunaikan sholat dengan khusyuk.</p>
<p><strong>Memahami Khusyuk</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Imam Roghib al-Ashfahani <em>rahimahullah</em> berkata: “Khusyuk adalah merendahkan diri. Umumnya kalimat khusyuk digunakan untuk istilah pada anggota badan. Adapun tunduk dan merendahkan diri umumnya untuk menggambarkan sesuatu yang ada di dalam hati. Oleh karena itu dikatakan, jika hatinya telah tunduk maka akan khusyuk pula anggota badannya.[1]<!--more--></p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata: ”Khusyuk adalah sebuah makna yang tersusun dari pengagungan, kecintaan, perendahan dan perasaan butuh”.[2]</p>
<p>Al Hafizh Ibnu Rojab <em>rahimahullah</em> berkata: ”Asalnya khusyuk adalah lembutnya hati, tenang, tunduk dan perasaan butuh kepada-Nya. Apabila hati telah khusuk maka seluruh anggota badan akan mengikutinya, karena anggota badan mengikuti hati.”[3]</p>
<p>Jadi khusyuk bukan hanya tergambar dari anggota badan, bukan sekedar tenang dan diam yang dibuat-buat !!! Atau tingkah laku seperti orang yang khusyuk namun hatinya kosong dan tidak tunduk kepada Allah<em> azza wa jalla</em>.</p>
<p><strong>Kiat Menggapai Khusyuk Dalam Sholat</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>1. Persiapan Sebelum Sholat</strong></p>
<p>Hal ini dimulai saat adzan dikumandangkan, dengan segera mengambil wudlu, membersihkan mulut dan badan kemudian memakai pakaian yang bersih dan bagus untuk sholat. Allah ta’ala berfirman:</p>
<h3>يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَتُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</h3>
<p>”Hai anak Adam, kenakanlah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” <strong>(QS. Al-A’rof: 31)</strong></p>
<p>Setelah itu berjalanlah menuju masjid dengan tenang, tidak tergesa-gesa, bacalah doa keluar rumah dan menuju masjid. Apabila telah sampai di depan pintu masjid bacalah doa masuk masjid kemudian sholat lah dua rakaat.</p>
<p><strong>2. Tuma’ninah di dalam sholat</strong></p>
<p>Adalah Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> sholat dalam keadaan tuma’ninah yang paling sempurna hingga setiap persendian kembali ke tempatnya. Dan beliau <em>shallallahu’alaihi wa sallam </em>juga memerintahkan orang yang jelek sholatnya untuk mengulangi kembali. Adapun sholat dengan tergesa-gesa, tidak tenang saat ruku’ dan sujud adalah sholatnya orang yang paling jelek.</p>
<p>Dari Abu Qotadah<em> radliyallahu’anhu</em> bahwasanya Nabi <em>shallallahu’alaihi wa sallam </em>bersabda:</p>
<p>”Orang yang paling jelek dalam mencuri adalah orang yang mencuri dalam sholatnya”. Para shahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, bagaimaa dia mencuri dalam sholatnya ? Nabi menjawab: ”Yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya ketika sholat”. <strong>(HR. Ahmad: 24/378, al-Hakim 1/229, Shohih Jami’:997)</strong></p>
<p>Dan orang yang cepat dalam sholatnya, tidak tuma’ninah dan tergesa-gesa tidak mungkin bisa khusyuk karena cepat itu menghilangkan kekhusyukan dalam sholat.</p>
<p><strong>3. Ingat mati ketika sholat</strong></p>
<p>Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:</p>
<p>”Ingatlah kematian di dalam sholatmu. Karena seseorang bila ingat mati di dalam sholat, dia akan memperbagus sholatnya. Sholatlah seperti sholatnya seorang laki-laki yang tidak menyangka bahwa dia akan sholat lagi di lain waktu” <strong>(Hasan. Lihat takhrij lengkapnya dalam as-Shohihah: 1421)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4. Pahamilah apa yang engkau baca</strong></p>
<p>Yaitu berusaha memahami ayat dan doa yang kita baca. Karena ayat al-Qur’an diturunkan agar dipahami dan direnungi maknanya. Allah azza wa jalla berfirman:</p>
<h3>كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا اْلأَلْبَابِ</h3>
<p>”Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” <strong>(QS. Shood: 29)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Demikian pula termasuk sebab yang dapat membantu dalam merasakan kelezatan bacaan al-Qur’an atau doa adalah dengan memahami dan kandungan ayat dan doa yang dibaca. Imam Ibnu Jarir at-Thobari rahimahullah berkata: ”Sungguh aku heran kepada orang yang membaca al-Qur’an akan tetapi dia tidak memahami makna dan tafsiran ayatnya, bagaimana mungkin dia bisa merasakan lezatnya bacaannya?!”[4]</p>
<p><strong>5. Tinggalkan dosa dan maksiat</strong></p>
<p>Allah azza wa jalla berfirman:</p>
<h3>إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَابِأَنفُسِهِمْ</h3>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubahkeadaan yang ada pada diri mereka sendiri”<strong> (Ar-Ro’d: 11)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Maksiat adalah penghalang khusyuk. Cukuplah pikirannya akan senantiasa teringat kemaksiatan yang ia lakukan sebagai pelajaran bahwa khusyuk tidak mungkin tercapai dengan tetap bermaksiat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>6. Pilihlah pekerjaan yang sesuai</strong></p>
<p>Maksudnya adalah memilih jenis pekerjaan yng tidak berbenturan dengan waktu sholat dan tidak membebankan pikiran. Karena bila pekerjaan itu berat, secara otomatis pikiran akan senantiasa teringat dengan pekerjaan, sehingga rasa sholat khusyuk menjadi hilang. Demikian pula jika pekerjaan berbenturan dengan waktu sholat, akan menyebabkan sholat tertunda, atau mengerjakan sholat super kilat !!. Dan semua ini menghilangkan khusyuk dalam sholat.</p>
<p><strong>7. Tidak menambah kesibukan dunia</strong></p>
<p>Jika Allah <em>azza wa jalla</em> telah memberimu kecukupan rezeki dalam bekerja di pagi hari, maka jadikanlah waktu sore untuk beramal akhirat. Merasa cukuplah dengan pemberian Allah ta’ala, jangan engkau habiskan waktumu seharian penuh hanya mengejar urusan dunia yang tidak ada habisnya!!. Karena jika jiwa ini merasa cukup, hati akan lapang, tentram dan pikiran tidak akan bercabang kemana-mana memikirkan bisnis atau pekerjaan!. Dia akan mendatangi sholat dengan hati yang tenang, siap bermunajat kepada Allah ta’ala dan pikirannya tertuju pada sholat. Renungkanlah hal ini wahai saudaraku.</p>
<p><strong>8. Mengambil Sutroh Sholat</strong></p>
<p>Termasuk perkara yang bisa mendatangkan rasa khusyuk dalam sholat adalah menjadikan sholat kita menghadap sutroh. Karena hal itu lebih menjaga pandangan, menjaga dari setan dan menjaga agar  tidak dilalui orang. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>”Apabila salah seorang diantara kalian sholat, maka sholatlah dengan menghadap sutroh dan mendekatlah.” <strong>(HR. Abu Dawud: 698, dihasankan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami’: 651)</strong></p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah</em> berkata: ”Hikmah anjuran mengambil sutroh adalah menjaga pandangan dari perkara yang ada di depannya, menghalangi orang yang lewat didekatnya dan mencegah lewatnya setan yang dapat menggoda untuk membatalkan sholatnya”.[5]</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>9. Pusatkan hati dan pikiran</strong></p>
<p>Perkara ini memang berat dan tidak mudah, terkadang ketika kita sholat perkara yang tadinya tidak teringat akan menjadi ingat ketika kita sudah masuk sholat. Akan tetapi, tetaplah berusaha untuk memusatkan hati kepada Allah ta’ala, ingat bahwa kita sedang berdiri di hadapan Rabb semesta alam, penguasa langit dan bumi.</p>
<p>Adalah Dzun Nun menceritakan bagaimana sholatnya para ahli ibadah: ”Bila engkau melihat mereka sholat, tatkala sudah berdiri di tempat khusus sholat mereka, kemudian mereka membuka sholat dengan takbir, akan terlintas dalam hati mereka bahwa tempat yang mereka berdiri sekarang adalah seperti tempat berdirinya para manusia kepada Allah”.[6]</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rojab al-Hambali <em>rahimahullah</em> berkata: ”Menghadap kepada Allah dengan hati dan pikiran, tidak menoleh kepada selain-Nya, ada dua bentuk: Pertama, hatinya tidak berpaling kepada perkara yang mudah, hanya terpusat kepada Allah azza wa jalla. Kedua, pandangannya tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, hanya tertuju ke tempat sujudnya, inilah keharusan khusyuk bagi hati, tidak menoleh kepada selainnya.”[7]</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>10. Berdoa dan mohonlah perlindungan dari godaan setan</strong></p>
<p>Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Permusuhan ini akan senantiasa berlangsung hingga hari kiamat. Apalagi dalam perkara sholat, jika seorang hamba berdiri untuk sholat setan akan cemburu karena dengan demikian manusia sedang berada dalam keadaan yang paling dekat kepada Allah ta’ala. Setan akan benci dan akan berusaha kuat untuk menggoda dan membatalkan sholatnya.</p>
<p>Bahkan akan terus memberi janji-janji muluk, memberi angan-angan kepada manusia, hingga manusia terjerat dan lupa akan perkara sholat!!![8]</p>
<p>Setan itu diibaratkan seperti perampok jalanan, acapkali seorang hamba ingin berjalan menuju Allah azza wa jalla, dia akan berusaha untuk memutus jalannya.</p>
<p>Diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah <em>shallallahu’alaihi wa sallam</em> untuk berlindung dari ketidakkhusyukan adalah:</p>
<h3>اَللَّهُمَّ إِنِّى أُعُوذُبِكَ مِنْ عِلْمٍِ لاَيَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍِ لاَيَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍِ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍِ لاَ يُسْتَچَابُ لَهَا</h3>
<p>”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak bermanfaat, <strong>dari hati yang tidak khusyuk,</strong> dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan” (HR. Muslim: 2722)</p>
<p>–</p>
<p>Dinukil dari artikel yang berjudul <strong>Khusyuk Dalam Sholat</strong> oleh Ust. Abu Abdillah Syahrul Fatwa as-Salim hal. 51-55, Majalah al-Furqon Edisi 4 tahun kesembilan/ Dzulqo’dah 1430 (Okt/Nop 2009). Silahkan untuk merujuk ke majalah tersebut untuk pembahasan yang lengkap.</p>
<hr size="1" />[1] Al-Mufrodaat fi Ghorib al-Qur’an hal. 154-155[2] Madarijus shalikin: 2/10</p>
<p>[3] Al-Khusyuk fis Sholat hal.10, Ibnu Rojab</p>
<p>[4] Muqoddimah Tafsir at-Thobari: 1/10, Mahmud Syakir</p>
<p>[5] Syarah Shohih Muslim: 4/216</p>
<p>[6] Al-Khusyuk fis Sholat hal. 19</p>
<p>[7] Idem. Hal. 19</p>
<p>[8] Al-Wabilus Shoib hal. 36</p>
</div>
<blockquote><p>Sumber: http://maramissetiawan.wordpress.com/2009/11/20/kiat-menggapai-khusyuk-dalam-sholat/</p></blockquote>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[FIqih Kurban (2): Penyembelihan Yang Sah]]></title>
<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2009/11/28/fiqih-kurban-2-penyembelihan-yang-sah/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 16:33:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ummu  Fathimah</dc:creator>
<guid>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2009/11/28/fiqih-kurban-2-penyembelihan-yang-sah/</guid>
<description><![CDATA[Terdahulu disampaikan tentang pengertian sembelihan, hukum dan hikmahnya. Maka berikut ini dipaparka]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Terdahulu disampaikan tentang pengertian sembelihan, hukum dan hikmahnya. Maka berikut ini dipaparkan tentang syarat sembelihan yang sesuai dengan syariat Islam.</p>
<p>Sembelihan yang sesuai syariat Islam memiliki syarat-syarat, sebagian syarat berhubungan dengan penyembelihnya dan sebagian lainnya berhubungan dengan hewan sembelihan dan alat sembelihnya.</p>
<h3>Syarat Pertama: Syarat yang berhubungan dengan penyembelih<!--moreBaca Selanjutnya...--></h3>
<p>Syarat-syarat yang berhubungan dengan penyembelih adalah:</p>
<p><strong>1. Penyembelih harus berakal baik laki-laki atau perempuan, sudah baligh atau belum asalkan sudah <em>mumayyiz</em>.</strong> Sehingga tidak sah sembelihan orang gila, anak kecil yang belum berakal dan orang mabuk, karena mereka dianggap tidak berakal dalam syariat. Inilah pendapat mayoritas ulama Islam.</p>
<p>Imam Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> menyatakan: “Tidak sah sembelihan orang yang tidak berakal seperti orang gila dan orang mabuk, karena mereka tidak dibebani beban syariat dalam firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>إِلاَّ مَاذَكَّيْتُمْ</strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>“Kecuali yang sempat kamu menyembelihnya</em><strong><em>.”</em></strong><em> (QS. </em><em>a</em><em>l Maidah </em><em>[</em><em>5</em><em>]</em><em>:</em><em> </em><em>3)</em><em>.</em> Karena mereka tidak mukallaf.<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Sedangkan Syaikh DR. Shalih Al Fauzan menyatakan: “Yang rajih disyaratkan akal dan <em>mumayyiz</em> dalam penyembelih, karena menyembelih adalah satu jenis ibadah dan disebutkan padanya nama Allah. Sedangkan ibadah harus dengan niat dan niat tidak akan diakui kecuali penyembelih tersebut berakal dan <em>mumayyiz</em>. Demikian juga penyembelihan memiliki syarat-syarat yang tidak akan diperhatikan dan dilaksanakan kecuali berakal dan <em>mumayyiz</em>.<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>2. Penyembelih harus muslim atau ahlu kitab</strong>. Sembelihan orang musyrikin dan Majusi tidak sah menurut syariat dan ini merupakan ijma’ kesepakatan ulama islam. Hal ini karena orang musyrik tidak akan ikhlas menyebut nama Allah dan menyembelih untuk berhala mereka hingga Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَآأُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآأَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَاذَكَّيْتُمْ وَمَاذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِاْلأَزْلاَمِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن دِينِكُمْ</strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) <strong>yang disembelih untuk berhala</strong>. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk ( mengalahkan) agamamu. </em>(QS. al Maidah [5]: 3)<em> </em></p>
<p style="text-align:left;">Adapun sembelihan ahlu kitab dihalalkan karena dasar firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلُُّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلُُّ لَّهُمْ</strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang</em><em> </em><em>diberikan Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka</em><em>. (QS. 5:5)</em></p>
<p style="text-align:left;">Sahabat yang mulia Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menafsirkan kata <strong>طَعَامُ</strong> dalam ayat di atas dengan sembelihan.  Seandainya yang dimaksud dengan kata <strong>طَعَامُ</strong> dalam ayat di atas bukan sembelihan, maka pengkhususan terhadap ahlu kitab sia-sia, sebab makanan seluruh orang kafir selain sembelihan halal dimakan. Demikian juga kata<strong> طَعَامُ</strong> adalah sesuatu yang dimakan dan sembelihanpun masuk dalam pengertian yang dimakan.<a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>3. </strong><strong>Penyembelih tidak dalam keadaan berihram baik untuk umroh atau haji</strong>, apabila menyembelih hewan buruan darat. Seorang yang berihram dilarang secara syariat ikut campur tangan terhadap hewan buruan darat baik dengan berburu, menyembelih atau membunuhnya. Bahkan juga diharamkan menunjukkan hewan buruan kepada pemburu atau memberi isyarat. Sehingga hewan buruan darat yang disembelih seseorang yang sedang berihram adalah bangkai. Hal ini didasarkan firman Allah <em>Subhanhu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنتُمْ حُرُمُُ وَمَن قَتَلَهُ مِنكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآءُُ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةُ طَعَامِ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِّيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ عَفَا اللهُ عَمَّا سَلَفَ وَمَنْ عَادَ فَيَنتَقِمُ اللهُ مِنْهُ وَاللهُ عَزِيزُُ ذُو انْتِقَامٍ</strong></p>
<p><em>“</em><em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa diantara kamu membunuhan.</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-2-penyembelih-yang-sah/">UstadzKholid.com</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syarh Kitab Mawaqit Shalah Shahih Bukhari]]></title>
<link>http://kajianulama.wordpress.com/2009/11/28/syarh-kitab-mawaqit-shalah-shahih-bukhari/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 13:50:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>kajianulama</dc:creator>
<guid>http://kajianulama.wordpress.com/2009/11/28/syarh-kitab-mawaqit-shalah-shahih-bukhari/</guid>
<description><![CDATA[Bismillah, berikut ini link download kajian Syarh Kitab Mawaqit Shalah Shahih Bukhari yang disampaik]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bismillah, berikut ini link download kajian <em>Syarh Kitab Mawaqit Shalah Shahih Bukhari</em> yang disampaikan oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad <em>hafizhahullah</em>. Semoga bermanfaat.</p>
<p><!--more--><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/1.mp3" target="_blank">Bagian 1</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/2.mp3" target="_blank">Bagian 2</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/3.mp3" target="_blank">Bagian 3</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/4.mp3" target="_blank">Bagian 4</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/5.mp3" target="_blank">Bagian 5</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/6.mp3" target="_blank">Bagian 6</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/7.mp3" target="_blank">Bagian 7</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/8.mp3" target="_blank">Bagian 8</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/mawaqit/mp3/9.mp3" target="_blank">Bagian 9</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syarh Kitab Wudhu Shahih Bukhari]]></title>
<link>http://kajianulama.wordpress.com/2009/11/28/syarh-kitab-wudhu-shahih-bukhari/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 13:41:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>kajianulama</dc:creator>
<guid>http://kajianulama.wordpress.com/2009/11/28/syarh-kitab-wudhu-shahih-bukhari/</guid>
<description><![CDATA[Bimsillah, berikut ini link download kajian Syarh Kitab Wudhu Shahih Bukhari yang dibawakan oleh Sya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Bimsillah, berikut ini link download kajian <em>Syarh Kitab Wudhu Shahih Bukhari</em> yang dibawakan oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad <em>hafizhahullah</em> (ahli hadits Madinah). Semoga bermanfaat.</p>
<p><!--more--><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/1.mp3" target="_blank">Bagian 1</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/2.mp3" target="_blank">Bagian 2</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/3.mp3" target="_blank">Bagian 3</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/4.mp3" target="_blank">Bagian 4</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/5.mp3" target="_blank">Bagian 5</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/6.mp3" target="_self">Bagian 6</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/7.mp3" target="_blank">Bagian 7</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/8.mp3" target="_blank">Bagian 8</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/9.mp3" target="_blank">Bagian 9</a></p>
<p><a href="http://www.rayatalislah.com/Sounds/dorous/Abbad/boukhari/woudu/mp3/10.mp3" target="_blank">Bagian 10</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tentang Tonjolan Rambut Wanita Yang Terlihat Dari Balik Jilbab]]></title>
<link>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/28/tentang-tonjolan-rambut-wanita-yang-terlihat-dari-balik-jilbab/</link>
<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 12:36:01 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ummu Kautsar</dc:creator>
<guid>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/28/tentang-tonjolan-rambut-wanita-yang-terlihat-dari-balik-jilbab/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan : Apa hukum seorang wanita mengumpulkan (menggelung/sanggul) rambutnya di atas lehernya d]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan :</strong></span></p>
<p><em>Apa hukum seorang wanita mengumpulkan (menggelung/sanggul) rambutnya di atas lehernya dan di belakang kepalanya yang membentuk benjolan sehingga ketika wanita itu memakai hijab, terlihat bentuk rambutnya dari belakang hijabnya?</em></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahulloh menjawab sebagai berikut :</strong></span></p>
<p><!--more-->Ini adalah kesalahan yang terjadi pada banyak wanita yang memakai jilbab, dimana mereka mengumpulkan rambut-rambut mereka di belakang kepala mereka sehingga menonjol dari belakang kepalanya seandainya mereka memakai jilbab di atasnya. Sesungguhnya hal ini menyelisihi syarat hijab yang telah kukumpulkan dalam kitabku “Hijab al-Mar’ah al-Muslimah minal Kitab was Sunnah”.</p>
<p>Dan di antara syarat-syarat tersebut adalah pakaian mereka tidak membentuk bagian tubuh atau sesuatu dari tubuh wanita tersebut, oleh karena itu tidak boleh bagi seorang wanita menggelung rambutnya dibelakang kepalanya atau disampingnya yang akan menonjol seperti itu, sehingga tampaklah bagi penglihatan orang walaupun tanpa sengaja bahwa itu adalah rambut yang lebat atau pendek. Maka wajib untuk mengurainya dan tidak menumpuknya.</p>
<p>***</p>
<p>Sumber :<strong> Silsilatul Huda wan Nur</strong></p>
<p>diterjemahkan dari : <a href="http://www.baiyt-essalafyat.com/vb/showthread.php?t=10647" target="_blank">http://www.baiyt-essalafyat.com/vb/showthread.php?t=10647</a></p>
<p>حكم جمع المرأة لشعرها خلف رأسها بحيث يعطي شكلاً مكوراً يظهر خلف الحجاب</p>
<p>السلام عليكم ورحمة الله وبركاته</p>
<p>السائل: ما حكم جمع المرأة لشعرها فوق رَقَبَتِهَا وخلف رأسها بحيث يعطي شكلاً مكوراً مع العلم بأن المرأة حين تتحجب يظهر شكل الشعر من خلف الحجاب ؟.</p>
<p>الشيخ: هذه خطيئة يقع فيها كثير من المتحجبات حيث يجْمَعْن شعورهن خلف رؤوسهن فَيَنْتُؤُ من خلفهن ولو وضعن الحجاب من فوق ذلك، فإن هذا يخالف شرطا من شروط الحجاب التي كنت جمعتها في كتابي حجاب المرأة المسلمة من الكتاب والسنة ومن هذه الشروط ألا يحجم الثوب عضوا أو شيئا من بدن المرأة، فلذلك فلا يجوز للمرأة أن تكور خلف رأسها أو في جانب من رأسها شعر الرأس بحيث أنه يَنْتُؤُ هكذا فيظهر للرأي ولو بدون قَصْدٍ أنها مشعرانية أو أنها خفيفة الشعر يجب أن تسدله ولا تُكَوِمَهُ .</p>
<p>سلسلة الهدى والنور</p>
<p>الشيخ ناصر الألباني رحمه الله</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Syarat udhhiyah]]></title>
<link>http://adekunya.wordpress.com/2009/11/27/syarat-udhhiyah/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 16:22:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>tedisobandi</dc:creator>
<guid>http://adekunya.wordpress.com/2009/11/27/syarat-udhhiyah/</guid>
<description><![CDATA[Syarat udhhiyah terbagi kepada dua bagian : 1. syarat disunahkanya udhhiyah 2. syarat syahnya udhhiy]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Syarat udhhiyah terbagi kepada dua bagian :<br />
1.	syarat <span style="text-decoration:underline;">disunahkanya udhhiyah</span></p>
<p style="text-align:justify;">2.	syarat <span style="text-decoration:underline;">syahnya udhhiyah</span></p>
<p style="text-align:justify;">maka di antara syarat disunanahkanya udhhiyah diantaranya :</p>
<p><!--more--></p>
<p style="text-align:justify;">1.	mampu untuk melaksanakan udhhiyah, maka tidak di sunnahkan bagi yang tidak mampu.</p>
<p style="text-align:justify;">2.	merdeka  maka tidak di sunnahkan bagi hamba cahaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk penjelasan orang mampu itu, tafsil diantara para ulama. Diantaranya :</p>
<p style="text-align:justify;">1.	<span style="text-decoration:underline;">madzhab mhanafiyah berpendapat</span> : orang yang mampu untuk melaksanakan udhhiyah itu ialah orang yang memiliki 200 dirham, atau mempunyai harta benda yang menyamai 200 dirham, di tambah dengan tempat tinggalnya, pakiyan yang di pakainya, dan harta benda yang di butuhkanya,</p>
<p style="text-align:justify;">2.	<span style="text-decoration:underline;">madzhab hanabilah berpendapat</span> : orang yang mampu untuk melaksanakan udhhiyah itu ialah orang yang memungkinkan mencapai harganya walau dengan uang pijaman, apabila  dia mampu untuk membayarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">3.	<span style="text-decoration:underline;">madzhab malikiah berpendapat</span> : orang yang mampu untuk melaksanakan udhhiyah itu ialah orang yang tidak bersusah payah pada hartanya untuk membelinya</p>
<p style="text-align:justify;">4.	<span style="text-decoration:underline;">madzhab syafi’iah berpendapat</span> : orang yang mampu untuk melaksanakan udhhiyah itu ialah orang mempunyai harta untuk membelinya lebih dari harta untuk kebutuhanya dan harta untuk mencukupi pada hari raya itu sendiri dan hari tasyriknya yang di maksud kebutuhan disini ialah yang seperti biasanya orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan menambahkan <span style="text-decoration:underline;">madzhab hanafiah</span>, pada syaratnya ke 3 ialah dengan muqim (orang yang tinggal) dan bukan orang lagi berpergian.</p>
<p style="text-align:justify;">Wallaahu’Alam</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[BERKURBAN]]></title>
<link>http://buletintashfiyah.wordpress.com/2009/11/27/berkurban/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 13:43:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>buletintashfiyah</dc:creator>
<guid>http://buletintashfiyah.wordpress.com/2009/11/27/berkurban/</guid>
<description><![CDATA[BERKURBAN Oleh: Muhammad Himawan A. I. Hukum Berkurban Hukum berkurban -menurut pendapat yang kuat- ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">BERKURBAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Oleh: Muhammad Himawan A.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>I.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Hukum Berkurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Hukum berkurban -menurut pendapat yang kuat- adalah wajib setiap tahun bagi orang yang baligh, mukim (tidak mengadakan perjalanan jauh), serta memiliki keluasan dan kelebihan dari kebutuhan pokoknya. Namun bilamana dia merupakan anggota keluarga, maka satu hewan kurban sudah mencukupi satu keluarga. Di antara dalil yang menunjukkan wajibnya hal tersebut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Perintah Allah dalam surat Al-Kautsar 2 (artinya),</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> “<em>Maka dirikanlah sholat untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan kurban!”</em> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Asal dari perintah Allah adalah menunjukkan wajibnya perkara yang diperintahkan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Hadits dari sahabat Mikhnaf bin Sulaim (artinya), </span><span style="font-size:11pt;">“</span><em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Wahai manusia! Sesungguhnya wajib bagi tiap keluarga penghuni rumah untuk menyembelih hewan kurban setiap tahun.’</span></em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">”<em> </em></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">(H.R. Ahmad dan Abu Dawud, dihasankan oleh Al-Albani). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda (artinya),</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>“Barang siapa memiliki keluasan (harta) lantas tidak berkurban, maka janganlah mendekati tempat shalat kami.” </em></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">(H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"><span> </span>Adapun orang yang mengatakan kurban adalah</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>sunnah muakkad</em> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">(sunnah yang sangat dianjurkan), maka ini adalah pendapat yang lemah</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> -<em>Allahu a’lam</em>-. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Dalil mereka adalah sebuah hadits yang mengaitkan kurban dengan kehendak seseorang. Karena hadits tersebut masih global dan begitu banyak kewajiban pada agama ini yang dikaitkan dengan kehendak seseorang, seperti firman Allah (artinya), </span><em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">“Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) silakan ia kafir.” </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">[Al-Kahfi: 29] Sedangkan iman itu adalah suatu kewajiban dan kekafiran adalah haram. Meski demikian, kurban hanya</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>diwajibkan bagi orang yang memiliki kemampuan dan keluasan</strong> <strong>harta</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>II.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Ciri-Ciri Binatang Kurban Yang Diperbolehkan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Binatang kurban harus berupa hewan ternak berupa unta, sapi, dan kambing. Sehingga, tidak sah berkurban dengan rusa, kuda, jenis burung, sapi liar atau binatang halal lainnya. Hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah dalam surat Al Hajj:34 (artinya)</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> “<em>Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Mengenai umurnya, untuk kambing domba (kambing gembel) minimalnya </span><em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">jadza’ah</span></em><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> . </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Jika berupa kambing kacang (kambing jawa), sapi, atau onta maka harus </span><em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">musinnah</span></em><span style="font-size:11pt;" lang="IN">. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Menurut mayoritas ulama</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN">, <em>jadza’ah</em> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">yang dimaksud adalah umur genap</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>1 <span>tahun untuk kambing domba</span></strong>, </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">sedangkan</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>musinnah</em> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">adalah umur genap</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>2 tahun masuk tahun ketiga untuk kambing kacang serta sapi</strong>; </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">atau umur</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>5 tahun masuk tahun keenam untuk onta</strong>. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Jika belum terpenuhi syarat umur ini, maka hewan sembelihan tersebut</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>tidak sah</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span><strong>Syarat sah</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">hewan kurban yang lain adalah tidak adanya cacat pada hewan tersebut. Sebagiannya disepakati para ulama, sebagiannya lagi masih diperselisihkan. Adapun yang disepakati, di antaranya adalah: rusak matanya dengan kerusakan yang jelas atau memutih; nampak jelas sakitnya, seperti kudis, terjangkiti wabah; kehilangan nafsu makan; cepat lelah dan yang semisalnya; hewan yang pincang dan nampak kepincangannya (dengan patokan, hewan ini selalu tertinggal dari temannya, adapun jika masih bisa berjalan normal bersama temannya maka tidak mengapa); yang sudah terlalu tua, kurus, dan tidak memiliki sumsum. (berdasarkan H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh An-Nawawi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"><span> </span>Adapun cacat yang diperselisihkan para ulama antara lain; hewan yang buta kedua matanya namun tidak jelas kebutaannya; hewan yang pingsan -hewan ini tidak sah selama masih pingsan karena termasuk yang jelas sakitnya-; kambing yang membesar perutnya dan tidak bisa buang angin -hewan ini termasuk yang jelas sakitnya sebelum dia buang air besar-. Penyakit-penyakit ini -menurut pendapat yang kuat- adalah termasuk dari cacat yang menghalangi keabsahan hewan kurban.</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>Allahu a’lam.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"><span> </span>Adapun cacat yang tidak berpengaruh pada keabsahan hewan kurban adalah: hewan yang ompong giginya; hewan yang kering kantong susunya (tidak bisa mengeluarkan air susu); hewan yang tidak berekor baik sejak lahir atau dipotong; hewan yang tidak bertanduk; dan hewan yang dikebiri. Cacat tersebut di atas tidak berpengaruh pada keabsahan karena tidak ada dalil yang melarang. Walaupun ada dalilnya, maka dalilnya</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>dho&#8217;if</em> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">(lemah).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Diperbolehkan pula berkurban dengan yang betina. Rasulullah telah bersabda (artinya),</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>“&#8230;tidak apa-apa bagi kalian yang jantan atau betina</em></span><em><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">.” </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">(H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa`i. Dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani). Walaupun sabda Nabi ini berkaitan dengan masalah aqiqah, tetapi mayoritas hukum kurban sama dengan hukum aqiqah. Karena, keduanya sama-sama ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan ini merupakan kesepakatan para ulama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"><span> </span>Urutan binatang kurban yang paling utama adalah kambing domba, kambing jawa, sepertujuh sapi, lalu sepersepuluh atau sepertujuh onta (terdapat silang pendapat di antara para ulama mengenai onta cukup untuk tujuh orang atau sepuluh orang). Hewan jantan lebih utama dari yang betina karena daging yang jantan lebih bagus. Hal ini didasarkan pada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi menyembelih 2 ekor domba (H.R. Al-Bukhari dan Muslim). Adapun sapi, karena beliau berkurban untuk istri-istri beliau pada Haji Wada’ dengan sapi (H.R. Al-Bukhari dan Muslim). Bagi para jama&#8217;ah haji, maka yang utama berkurban dengan onta, sebagaimana Nabi telah berkurban untuk diri beliau sendiri pada haji Wada&#8217; 33 onta (H.R. Muslim). Akan tetapi, jika tidak mampu maka dengan sapi atau kambing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>III.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Jumlah Binatang Untuk Kurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Mengenai jumlah binatang untuk kurban, maka 1 ekor kambing mencukupi</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>satu keluarga</strong>, </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">walaupun beranggotakan banyak orang. Namun, jumlah ini</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>tidak mencukupi beberapa keluarga</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">yang berbeda rumah walaupun jumlah mereka sedikit. Akan tetapi, apabila seseorang atau sebuah keluarga menginginkan untuk menyembelih lebih dari satu, maka ini diperbolehkan, bahkan dianjurkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"><span> </span>Diperbolehkan pula untuk berserikat dalam onta atau sapi. 1 onta untuk 10 orang (ini adalah pendapat terkuat</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> -<em>Allahu a’lam</em>- </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">ulama yang lain berpendapat bahwa onta cukup untuk 7 orang saja); dan 1 sapi untuk 7 orang. (berdasarkan H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi dari Ibnu &#8216;Abbas; dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani). Baik semuanya berniat untuk kurban atau sebagiannya hanya meniatkan untuk sedekah fakir miskin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>IV.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Waktu Berkurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Waktu berkurban dimulai sejak pagi hari ‘Idul Adha setelah selesai sholat ‘Id dan khutbahnya. Barang siapa menyembelih sebelumnya, maka sembelihannya batal dan diperintahkan untuk mengulanginya dengan hewan yang lain. (berdasarkan H.R. Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"><span> </span>Waktu menyembelih ini berakhir hingga berakhirnya hari <em>tasyriq</em> (13 Dzulhijjah) baik pada siang hari atau malam harinya, dengan dasar hadits Nabi</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> “<em>Setiap hari tasyriq adalah waktu untuk menyembelih<span>.” </span></em></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">(H.R. Abu Dawud).</span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>V.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Tempat Berkurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span><strong>Disunnahkan</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">untuk menyembelih di tempat sholat ‘Id (tanah lapang) (berdasarkan H.R. Al-Bukhari).</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>Diperbolehkan</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">pula menyembelih di tempat tinggal masing-masing atau di tempat yang lain sebagaimana dalam hadits ‘A`isyah riwayat Muslim. Adapun bagi para haji yang sedang berada di Mina atau Mekah, maka</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>boleh menyembelih di mana saja dari wilayah Mekah dan Mina. </strong></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">(berdasarkan H.R. Muslim dan Ahmad). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>VI.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Mewakilkan Dalam Menyembelih Kurban<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk menyembelih hewan kurban dengan tangannya sendiri (berdasarkan H.R. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas). Tapi, diperbolehkan juga untuk mewakilkan kepada orang lain untuk menyembelihnya (berdasarkan H.R. Muslim dari sahabat Jabir). Dengan catatan, seyogyanya dia memilih orang yang fakih dan berilmu, sehingga orang tersebut menyembelihnya dengan benar dan terpenuhi syarat-syarat serta sunnah-sunnahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Dimakruhkan untuk mewakilkannya kepada orang kafir ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), meski hal itu tetap sah. Karena, kurban adalah</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>qurbah</em> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">(mendekatkan diri) sedangkan orang kafir bukanlah orang yang pantas untuk mendekatkan diri kepada Allah.</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>VII.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Adab-Adab Menyembelih Hewan Kurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Hewan kurban dinyatakan sah dan halal dimakan bila terpenuhi syarat-syarat berikut:</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>membaca <em>basmalah</em></strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">tatkala hendak menyembelih hewan; orang yang menyembelih adalah</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>orang yang berakal</strong>, </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">orang gila tidak sah sembelihannya karena tidak memiliki niat pada dirinya; orang yang menyembelih harus</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>seorang muslim atau ahli kitab</strong> (</span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">dengan syarat tetap dibacakan</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>basmalah</em>); </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">terpancarnya darah dengan</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>menggunakan alat yang tajam</strong>, </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">sehingga dilarang menyembelih dengan kuku, gigi, kayu, tulang, dll; penyembelihan harus</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>memutus dua urat tebal</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">yang meliputi tenggorokan -ini batas minimalnya, akan lebih utama lagi jika keempat saluran (2 urat darah tebal, 1 saluran makan dan minum, 1 saluran pernafasan) yang ada di tenggorokan terputus semua-.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Berbuat baik terhadap hewan kurban. Yaitu, dengan memilih alat yang tajam, jangan mengasah dan memperlihatkan pisau di depan hewan kurban; jangan menyembelihnya di hadapan hewan yang lain; serta menggiringnya dengan lembut dan tidak kasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Menghadap kiblat seraya merebahkan hewan tersebut dengan lembut pada sisi kirinya dan meletakkan kaki kanan pada rusuk leher sebelah kanannya agar memudahkan yang menyembelih untuk memegang pisau dengan tangan kanan dan memegang kepala atau lehernya dengan tangan kirinya. Juga, supaya hewan lebih tenang dan tidak meronta hebat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Adapun dalam menyembelih onta, maka yang paling utama dengan cara</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>nahr</em>. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Yaitu, onta diberdirikan dan diikat kaki depan sebelah kiri, lalu ditusuk bagian</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <em>wahdah</em> (</span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">urat) antara pangkal leher dan dada. Akan tetapi, disembelih juga tetap sah. Dimakruhkan untuk memotong lehernya sebelum nyawanya hilang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Disunahkan untuk bertakbir dan berdoa ketika menyembelih. Misalnya, dengan mengucapkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;" lang="AR-SA">بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّيْ</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;" lang="IN">atau </span><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&#34;" lang="AR-SA">اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ&#8230;وَمِنْ آلِ&#8230;</span></strong><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;" lang="AR-SA"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN">(<em>Bismillah allahu akbar, ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu, ya Allah terimalah dariku, </em><span style="text-decoration:underline;">atau</span> <em>Ya Allah terimalah dari…-menyebutkan namanya- dan dari keluarga…-menyebutkan namanya)</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:0;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:Symbol;" lang="IN"><span>·<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Mengucapkan niat secara keras, membaca sholawat Nabi ketika menyembelih, berwudhu sebelum menyembelih, dan melumuri kening dengan darah hewan kurban setelah selesai penyembelihan adalah suatu kebid&#8217;ahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>VIII.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Bagaimana Seorang Muslim Memanfaatkan Sembelihannya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Orang yang berkurban</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>disunahkan</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">untuk makan dari sebagian daging kurbannya, menyedekahkannya untuk fakir miskin dan orang yang memintanya. <strong>Diperbolehkan</strong> pula untuk menyimpan atau menghadiahkannya untuk teman, saudara walaupun kaya. Dan</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>diperbolehkan</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">untuk membagikannya dalam keadaan matang atau mentah.</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>Dilarang</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">baginya untuk memberikannya kepada tukang jagalnya</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>sebagai upah</strong>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Tidak diperbolehkan menjual kulit hewan tersebut atau apapun yang ada padanya, namun boleh untuk disedekahkan atau dimanfaatkan. Adapun jika kulit tersebut disedekahkan kepada seseorang, kemudian orang tersebut menjualnya,</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>maka tidak mengapa</strong>. </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Begitu pula jika orang yang berkurban tersebut memanfaatkan kulit untuk selain dijual, seperti disamak untuk alas, dibuat sepatu atau sandal dll.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.5in;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span>IX.<span style="font:7pt &#34;"> </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:11pt;" lang="IN">Hukum Seputar Orang Yang Berkurban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">Disyari&#8217;atkan bagi orang yang berkurban untuk</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>tidak memotong dan mencukur rambut, kulit, dan kukunya sedikit pun</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">sejak masuk bulan Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih. (H.R. Muslim dari Ummu Salamah). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"><span> </span>Namun, apabila dia memotong kuku, kulit, atau rambutnya, kurbannya tetap sah. Jika disebabkan karena lupa dan tidak sengaja, maka dia tidak berdosa. Tetapi, jika dilakukan dengan sengaja, maka dia berdosa,</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN"> <strong>kecuali</strong> </span><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN">tatkala terjadi sesuatu yang mengharuskannya untuk mengambil kulit, kuku, atau rambutnya, seperti luka di kepala yang mengharuskan untuk mencukur rambut dan seterusnya. Adapun keluarga dan orang yang mewakili penyembelihan hewan kurban, mereka tidak terkena larangan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span style="font-size:11pt;font-family:&#34;" lang="IN"><span> </span>Diperbolehkan memanfaatkan hewan kurban sebelum disembelih selama tidak menyakitinya, seperti; menunggangi, meminum susunya, mencukur bulunya jika terlalu tebal atau di badannya ada luka dll</span><span style="font-size:11pt;" lang="IN">. <em>Allahu a&#8217;lam.</em></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fiqih Kurban (1) : Cara Penyembelihan Hewan Kurban]]></title>
<link>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2009/11/27/fiqih-kurban-1-cara-penyembelihan-hewan-kurban/</link>
<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 09:07:40 +0000</pubDate>
<dc:creator>Ummu  Fathimah</dc:creator>
<guid>http://sudahtahukahanda.wordpress.com/2009/11/27/fiqih-kurban-1-cara-penyembelihan-hewan-kurban/</guid>
<description><![CDATA[Hewan yang boleh dimakan tidak lepas dari dua keadaan: Pertama. Hewan jinak yang berada di tangan ki]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Hewan yang boleh dimakan tidak lepas dari dua keadaan:</p>
<p><strong>Pertama</strong><strong>.</strong> Hewan jinak yang berada di tangan kita. Hewan yang dapat kita kurung, lepas, kendarai atau tunggangi, sebagaimana difirmankan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:<strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَالَّذِي خَلَقَ اْلأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْفُلْكِ وَاْلأَنعَامِ مَاتَرْكَبُونَ  لِتَسْتَوُا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَاكُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّآ إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ</strong></p>
<p><em>“</em><em>Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Rabbmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan:”Maha Suci Dia yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya,dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami”. </em>(QS. al Zukhruf [43]: 12-14)<!--moreBaca Selanjutnya...--><em> </em></p>
<p><strong>Kedu</strong><strong>a</strong>. Hewan yang berada di luar jangkauan kita, menjauh dari kita dan sulit menangkapnya dan ini ada dua jenis:</p>
<ol>
<li>Jenis hewan yang terpisah dari manusia, seperti  di hutan, padang pasir, gunung dan sebagainya. Jenis ini dinamakan hewan liar.</li>
<li>Jenis hewan yang jinak dan tidak liar namun terjadi keadaan kabur dan jauh dari jangkauan kita dan dianggap liar. Jenis ini dalam bahasa Arab dinamakan <em>a</em><em>l Na’am </em><em>a</em><em>l Mutawahisy</em>.</li>
</ol>
<p>Jenis-jenis ini semua memiliki tata cara penyembelihan yang berbeda-beda sesuai keadaannya.</p>
<p>Oleh karena itu perlu sekali diketahui pengertian sembelihan (<em>a</em><em>l Dza</em><em>k</em><em>ah</em>) dan tata caranya agar dapat memilah-milah cara penyembelihan yang sesuai syari’at.</p>
<h2><strong>Pengertian penyembelihan (</strong><strong>a</strong><strong>l Dza</strong><strong>k</strong><strong>ah)</strong><strong> </strong></h2>
<p>Kata<em> </em><em>a</em><em>l Dza</em><em>k</em><em>ah</em> dalam etimologi bahasa Arab bermakna sembelihan. Sedangkan dalam istilah syariat <em>a</em><em>l Dza</em><em>k</em><em>ah</em> (sembelihan) ini memiliki pengertian sebab yang menjadikan halnya memakan daging hewan darat secara ikhtiyari.</p>
<p>Dengan demikian maka sembelihan itu ada dua jenis:</p>
<ol>
<li>Sembelihan dengan digorok atau dalam bahasa Arabnya <em>a</em><em>l Dzabhu</em>.</li>
<li>Sembelihan dengan ditusuk atau dalam bahasa Arabnya <em>a</em><em>l Nahru</em>.</li>
</ol>
<p><em>Al Dzabhu</em> adalah menyembelih dengan cara memutus tenggorokan dari badan pada persendian antara kepala dengan leher di bawah dagu. Inilah yang sudah dikenal banyak dalam menyembelih sembelihan selain unta.</p>
<p>Sedangkan <em>a</em><em>l Nahru</em> adalah menyembelih hewan dengan cara menusukkan pisau atau sejenisnya di bagian <em>Lubbah</em> (bagian bawah leher tempat kalung), dan ini khusus untuk unta saja.</p>
<p>Pengkhususan a<em>l Nahru</em> pada unta dan <em>a</em><em>l Dzabhu</em> pada selainnya adalah sunnah, karena Allah menyebutkan kata <em>a</em><em>l Nahru</em> pada penyembelihan onta dan <em>a</em><em>l Dzabhu</em> pada selainnya, seperti firmanNya:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</strong></p>
<p><em>“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan naharlah (berkorbanlah)”. </em>(QS. al Kautsar [108]: 2)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan firmanNya:<strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَهِلِينَ</strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata:”Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?”. Musa menjawab:”Aku berlindung kepada Allah sekiranya menjadi seorang dari orang-orang yang jahil”. </em>(QS. al Baqarah [2]: 67)<em> </em></p>
<p style="text-align:left;">Serta firmanNya:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ</strong></p>
<p><em>Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar. </em>(QS. al Shaffat [37]: 107)<em> </em></p>
<h2>Hukum Penyembelihan</h2>
<p>Para ulama Islam telah bersepakat ketidakhalalan hewan yang dimakan dagingnya kecuali ikan-ikanan dan belalang tanpa disembelih atau yang semakna dengannya.</p>
<p>Dasar kesepakatan ini adalah firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ وَمَآأُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَآأَكَلَ السَّبُعُ إِلاَّ مَاذَكَّيْتُمْ</strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>“</em><em>Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, <strong>kecuali yang sempat kamu menyembelihnya</strong></em><strong><em>.</em></strong><em>”</em><em> (QS. </em><em>a</em><em>l Maidah </em><em>[</em><em>5</em><em>]</em><em>:</em><em> </em><em>3)</em></p>
<p style="text-align:left;">Dan sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>:<strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ</strong></p>
<p><em>“</em><em>Semua yang ditumpahkan darahnya dan disebut nama Allah atasnya maka makanlah!</em><em>”</em><em> (Muttafaqun ‘Alaihi).</em></p>
<p>Dalam hadits ini ada petunjuk bahwa sembelihan dan menyebut nama Allah adalah syarat kehalalan hewan tersebut.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<h2><strong>Hikmahnya</strong><strong> </strong></h2>
<p>Diantara hikmah penyembelihan yang disampaikan para ulama adalah:</p>
<ol>
<li>Keharaman dalam hewan yang dimakan adalah pada darah yang tertupah (a<em>l Dam </em><em>a</em><em>l Masfuh</em>) dan ini akan hilang hanya dengan penyembelihan. Padahal Allah telah berfirman:
<p style="text-align:right;"><strong>يَسْئَلُونَكَ مَاذَآأُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ</strong></p>
<p><em>“</em><em>Mereka menanyakan kepadamu:”Apakah yang dihalalkan bagi mereka”. Katakanlah:”Dihalalkan bagimu yang baik-baik”. </em>(QS. al Maidah [5]: 4).</p>
<p>Sedangkan hewan tersebut tidak baik kecuali dengan ditumpahkan darahnya dengan disembelih. Oleh karena itu, diharamkan bangkai karena masih ada <em>al dam al masfuh</em>-nya.</li>
<li>Pembeda antara hewan yang dimakan manusia dengan binatang buas.</li>
<li>Pengingat manusia tentang kemurahan Allah kepadanya dengan diperbolehkannya menghilangkan nyawa hewan tersebut dan memanfaatkannya setelah hewan tersebut mati.</li>
</ol>
<p>Demikianlah sebagian hikmah penyembelihan dan juga pengantar pembahasan tata cara dan syarat penyembelihan yang akan dibahas dalam edisi berikutnya.</p>
<p>Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Sumber: <a title="Ustadz Kholid" href="http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/">http://ustadzkholid.com/fiqih/fiqih-qurban-1-cara-penyembelihan/</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[]]></title>
<link>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/26/466/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 09:26:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>abualbinjy</dc:creator>
<guid>http://abualbinjy.wordpress.com/2009/11/26/466/</guid>
<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Hukum Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah <span style="text-decoration:underline;">wajib bagi setiap muslim</span>, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn1">[1]</a>. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">أَمَرَنَا &#8211; تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- &#8211; أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn3">[3]<!--more--></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terus menerus melakukannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).</em>” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat</strong>: Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari ‘ied. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat ‘ied. –Demikian penjelasan Shidiq Hasan Khon yang kami sarikan-.</p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah <span style="text-decoration:underline;">pendapat yang lemah</span>. Karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan shalat ‘ied. Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat ‘ied. Shalat ‘ied adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. &#8230; Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan shalat ‘ied, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut mayoritas ulama –ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali-, waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn5">[5]</a> sampai waktu <em>zawal</em> (matahari bergeser ke barat).<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam biasa</em> mengakhirkan shalat &#8216;Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat &#8216;Idul Adha. Ibnu ‘Umar  yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan mengapa shalat ‘Idul Adha dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih qurbannya. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur bertujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fithri.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn8">[8]</a><span style="text-decoration:underline;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tempat Pelaksanaan Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">An Nawawi mengatakan, “Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn10">[10]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tuntunan Ketika Hendak Keluar Melaksanakan Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn11">[11]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>: Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn12">[12]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>: Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn13">[13]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn14">[14]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat</strong>: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn15">[15]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn16">[16]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tata cara takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan:</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">[1] Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn17">[17]</a></p>
<p style="text-align:justify;">[2] Di antara lafazh takbir adalah,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn18">[18]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “<em>Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar</em>”, itu juga diperbolehkan.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn19">[19]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelima</strong>: Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?” Ia menjawab,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya</em>.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn20">[20]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keenam</strong>: Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ النَّبِىُّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn21">[21]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketujuh</strong>: Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا.</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn22">[22]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.</em>”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn23">[23]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn24">[24]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “<em>Ash Sholaatul Jaam’iah</em>.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn25">[25]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Tata Cara Shalat ‘Ied</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn26">[26]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama</strong>: Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua</strong>: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn27">[27]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga</strong>: Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn28">[28]</a> Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي</span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Subhanallah wal hamdulillah wa  laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii </em>(Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).” Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat</strong>: Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Ia pun menjawab,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa membaca “<em>Qaaf, wal qur’anil majiid</em>” (surat Qaaf) dan “<em>Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar</em>” (surat Al Qomar).”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn29">[29]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat ‘ied maupun shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “<em>Sabbihisma robbikal a’la” </em>(surat Al A’laa)<em> </em>dan<em> “Hal ataka haditsul ghosiyah” </em>(surat Al Ghosiyah).” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn30">[30]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelima</strong>: Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keenam</strong>: Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketujuh</strong>: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedelapan</strong>: Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesembilan</strong>: Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Khutbah Setelah Shalat ‘Ied </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ &#8211; رضى الله عنهما &#8211; يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn31">[31]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at).<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn32">[32]</a> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn33">[33]</a> Beliau pun memulai khutbah dengan “<em>hamdalah</em>” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibnul Qayyim mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em>membuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir. … Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn34">[34]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;">إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ</span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.”</em><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn35">[35]</a><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Ucapan Selamat Hari Raya</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (<em>tah-niah</em>) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “<em>Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika</em>” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “<em>Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya</em>”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin  mengucapkan selamat, maka ia memiliki <em>qudwah</em> (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki <em>qudwah</em> (contoh).”</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bila hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum’at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari hal ini adalah:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Pertama</span>: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,</p>
<p style="text-align:justify;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».</span></p>
<p style="text-align:justify;">“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan melaksanakannya.”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn36">[36]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Kedua</span>: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [<em>ashobas sunnah</em>].”<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn37">[37]</a> Jika sahabat mengatakan <em>ashobas sunnah</em>(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn38">[38]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn39">[39]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca dalam shalat ‘ied dan shalat Jum’at “<em>sabbihisma robbikal a’la” </em>dan<em> “hal ataka haditsul ghosiyah”</em>.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn40">[40]</a> Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum’at yang bertepatan dengan hari ‘ied, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid.</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka’at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum’at.<a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftn41">[41]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Demikian beberapa penjelasan ringkas mengenai panduan shalat Idul Fithri dan Idul Adha. Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Diselesaikan di Pangukan, Sleman, di hari yang baik untuk beramal sholih, 7 Dzulhijah 1430 H.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel <a href="http://www.muslim.or.id/">www.muslim.or.id</a>, dipublish ulang oleh http://rumaysho.com</p>
<p style="text-align:justify;">
<hr />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref1">[1]</a> Lihat <em>Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’</em>, Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmoul, hal. 109-110, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1427 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref2">[2]</a> HR. Muslim  no. 890, dari Muhammad, dari Ummu ‘Athiyah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref3">[3]</a> Kami sarikan dari <em>Ar Roudhotun Nadiyah Syarh Ad Durorul Bahiyyah</em>, 1/202, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1422 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref4">[4]</a> <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/183, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref5">[5]</a> Yang dimaksud, kira-kira 2o menit setelah matahari terbit sebagaimana keterangan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam <em>Syarh Hadits Al Arba’in An Nawawiyah</em> yang pernah kami peroleh ketika beliau membahas hadits no. 26.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/599 dan <em>Ar Roudhotun Nadiyah,</em> 1/206-207.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref7">[7]</a> <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/425, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, tahun 1407 H [Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth dan ‘Abdul Qadir Al Arnauth]</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref8">[8]</a> Lihat <em>Minhajul Muslim</em>,  Abu Bakr Jabir Al Jaza-iri, hal. 201, Darus Salam, cetakan keempat.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref9">[9]</a> HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref10">[10]</a> <em>Syarh Muslim</em>, An Nawawi, 3/280, Mawqi’ Al Islam.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref11">[11]</a> <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, 1/425.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref12">[12]</a> <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, 1/425.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref13">[13]</a> HR. Ahmad 5/352.Syaikh Syu’aib  Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref14">[14]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/602.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref15">[15]</a> Dikeluarkan dalam As Silsilahh Ash Shahihah no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini <em>shahih</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref16">[16]</a> Dikeluarkan oleh Al Baihaqi (3/279). Hadits ini hasan. Lihat <em>Al Irwa’ </em>(3/123)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref17">[17]</a> Lihat <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/220, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref18">[18]</a> Idem</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref19">[19]</a> Idem</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref20">[20]</a> HR. Bukhari no. 977.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref21">[21]</a> HR. Bukhari no. 986.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref22">[22]</a> HR. Ibnu Majah no. 1295. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref23">[23]</a> HR. Bukhari no. 964 dan Muslim no. 884.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref24">[24]</a> HR. Muslim no. 887.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref25">[25]</a> <em>Zaadul Ma’ad</em>, 1/425.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref26">[26]</a> Kami sarikan dari <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/607.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref27">[27]</a> Idem</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref28">[28]</a> Dikeluarkan oleh Al Baihaqi (3/291). Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>qowiy </em>(kuat). Lihat <em>Ahkamul ‘Idain, </em>Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid, hal. 21, Al Maktabah Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1405 H.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref29">[29]</a> HR. Muslim no. 891</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref30">[30]</a> HR. Muslim no. 878.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref31">[31]</a> HR. Bukhari no. 963 dan Muslim no. 888.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref32">[32]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/607.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref33">[33]</a> Lihat keterangan dari Ibnul Qayyim dalam <em>Zaadul Ma’ad</em>, 1/425. Yang pertama kali mengeluarkan mimbar dari masjid ketika shalat ‘ied adalah Marwan bin Al Hakam.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref34">[34]</a> Idem</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref35">[35]</a> HR. Abu Daud no. 1155 dan Ibnu Majah no. 1290. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref36">[36]</a> HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310. Asy Syaukani dalam <em>As Sailul Jaror</em> (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam <em>Al Majmu’</em> (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam <em>Al Ahkam Ash Shugro</em> (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam <em>Al Istidzkar</em> (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam <em>Al Ajwibah An Nafi’ah</em> (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.  Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref37">[37]</a> HR. Abu Daud no. 1071. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref38">[38]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/596.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref39">[39]</a> Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, Syaikh Abu Malik, 1/596, Al Maktabah At Taufiqiyah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref40">[40]</a> HR. Muslim no. 878.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2798-panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html#_ftnref41">[41]</a> Lihat <em>Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’</em>, 8/182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al Ifta.</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Idul Adha dan Ibadah Qurban]]></title>
<link>http://asysyifausakti.wordpress.com/2009/11/26/idul-adha-dan-ibadah-qurban/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 04:04:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>asysyifausakti</dc:creator>
<guid>http://asysyifausakti.wordpress.com/2009/11/26/idul-adha-dan-ibadah-qurban/</guid>
<description><![CDATA[dakwatuna.com Kata Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>dakwatuna.com<br />
<a href="http://asysyifausakti.wordpress.com/files/2009/11/idul-adha.jpeg"><img src="http://asysyifausakti.wordpress.com/files/2009/11/idul-adha.jpeg" alt="" title="idul adha" width="113" height="119" class="aligncenter size-full wp-image-1252" /></a><br />
Kata Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah. Bila Idul Fitri berkaitan dengan ibadah Ramadhan, di mana setiap hamba Allah selama Ramadhan benar-benar disucikan sehingga mencapai titik fitrah yang suci, tetapi dalam Idul Adha tidak demikian. Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai nabi Ibrahim dan nabi Ismail alaihimus salam. Karenanya di hari tersebut ibadah yang paling utama adalah menyembelih kurban sebagai bantuan terhadap orang-orang miskin.</p>
<p>Dalam surah Ash Shaffat 100-111, Allah swt. menggambarkan kejujuran nabi Ibrahim dalam melaksanakan ibadah kurban. Indikatornya dua hal:</p>
<p>Pertama, al istijabah al fauriyah yakni kesigapannya dalam melaksanakan perintah Allah sampai pun harus menyembelih putra kesayangannya.<!--more--></p>
<p>Ini nampak ketika nabi Ibrahim langsung menemui putranya Ismail begitu mendapatkan perintah untuk menyembelihnya. Di saat yang sama ia langsung menawarkan perintah tersebut kepadanya. Allah berfirman:</p>
<p>“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”</p>
<p>Dan ternyata al istijabah al fauriyah ini nampak juga pada diri Ismail ketika menjawab:</p>
<p>“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”</p>
<p>Kedua, shidqul istislam yakni kejujuran dalam melaksanakan perintah.</p>
<p>Allah berfirman: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).”</p>
<p>Inilah pemandangan yang sangat menegangkan. Bayangkan seorang ayah dengan jujur sedang siap-siap melakukan penyembelihan. Tanpa sedikitpun ragu. Kata aslamaa yang artinya keduanya berserah diri menunjukkan makna bahwa penyerahan diri tersebut tidak hanya terjadi sepihak, melainkan kedua belah pihak baik dari Ibrahim maupun Ismail. Di sanalah hakikat kehambaan benar-benar nampak. Bahwa sang hamba tidak ada pilihan kecuali patuh secara tulus kepada Tuhannya. Suatu teladan kehambaan yang harus ditiru setiap orang beriman yang berjuang menuju derajat kehambaan. Karenanya pada ayat 100 seteleh itu, Allah menegaskan bahwa keduanya benar-benar hamba-Nya, Allah berfirman: “Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”</p>
<p>Dari sini nampak bahwa untuk mencapai derajat kehambaan sejati, tidak ada lain kecuali dengan membuktikan al istijabah al fauriyyah dan shidqul istislam. Nabi Ibrahim dan nabi Ismail telah membuktikan kedua hal tersebut. Allah swt. yang Maha Mengetahui telah merekamnya. Bila Allah yang mendeklarasikannya maka itu persaksian yang paling akurat. Tidak perlu diperbincangkan lagi. Bahkan Allah swt. mengabadikannya dengan menjadikan hari raya Idul Adha. Supaya semua hamba Allah setiap tahun selalu bercermin kepada nabi Ibrahim dan nabi Ismail.</p>
<p>Dengan demikian, esensi Idul Adha bukan semata ritual penyembelihan kurban, melainkan lebih dari itu, membangun semangat kehambaan nabi Ibrahim dan nabi Islamil dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Yang perlu dikritisi dalam hal ini, adalah bahwa banyak orang Islam masih mengambil sisi ritualnya saja, sementara esensi kehambaanya dilupakan. Sehingga setiap tahun umat Islam merayakan Idul Adha, tetapi prilaku kesehariannya menginjak-injak ajaran Allah swt. Apa-apa yang Allah haramkan dengan mudah dilanggar. Dan apa-apa yang Allah perintahkan diabaikan. Bukankah Allah berfirman udkhuluu fissilmi kaafaah? Tapi di manakah makna kaffah itu dalam dataran kehidupan umat Islam? Karena itu, setiap kita memasuki hari raya Idul Adha, yang pertama kali harus kita gelar adalah semangat kehambaan yang kaffah kepada Allah. Bukan kehambaan sepenggal-sepenggal, atau kehambaan musiman.</p>
<p>Berapa banyak orang Islam yang rajin mentaati Allah di bulan Ramadhan saja, sementara di luar Ramadhan tidak demikian.</p>
<p>Berapa banyak orang Islam yang rajin ke masjid selama di Makkah saja, sementara setelah kembali ke negerinya, mereka kembali berani berbuat dosa tanpa merasa takut sedikitpun. Wallahu a’lam bishshawab. </p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Tatacara Berqurban]]></title>
<link>http://asysyifausakti.wordpress.com/2009/11/26/tatacara-berqurban/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 03:32:41 +0000</pubDate>
<dc:creator>asysyifausakti</dc:creator>
<guid>http://asysyifausakti.wordpress.com/2009/11/26/tatacara-berqurban/</guid>
<description><![CDATA[assalamu&#8217;alaikum yaa ustadz,,saya ingin tahu lebih jelas dengan seluk beluk kurban..pengertian]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://asysyifausakti.wordpress.com/files/2009/11/qurban.jpeg"><img src="http://asysyifausakti.wordpress.com/files/2009/11/qurban.jpeg" alt="" title="qurban" width="150" height="145" class="alignleft size-full wp-image-1242" /></a>assalamu&#8217;alaikum yaa ustadz,,saya ingin tahu lebih jelas dengan seluk beluk kurban..pengertian, hukum, siapa saja yang bs/boleh berkurban, cara memotong, waktu memotong, orang yg berhak mendapat bagian hewan kurban beserta dalil-dalil al Qur&#8217;an atau hadits Nabi yang shahih? mohon ustadz berikan pencerahan pada hati dan pengerahuan saya yang dangkal ini. wasalam<!--more--></p>
<p>helmy_807</p>
<p>JAWABAN</p>
<p>Waalaikumussalam Wr Wb</p>
<p>Saudara Helmi yang dimuliakan Allah swt</p>
<p>Pengertian Kurban</p>
<p>Kurban berarti segala sesuatu yang mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya baik berupa sembelihan atau yang lainnya.</p>
<p>Namun demikian kata kurban ini menjadi identik dengan sembelihan hewan udhiyah, seperti : onta, sapi dan kambing yang dilakukan pada hari raya kurban dan tasyrik sebagai bentuk taqorrub (pendekatan diri) kepada Allah swt. Meskipun kata kurban sendiri lebih umum daripada udhiyah.</p>
<p>Dasar Hukum Kurban</p>
<p>Firman Allah swt :</p>
<p>إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ﴿١﴾<br />
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ﴿٢﴾<br />
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ﴿٣﴾</p>
<p>Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (QS. Al Kautsar : 1- 3)</p>
<p>وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ</p>
<p>Artinya : “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi&#8217;ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). “ (QS. Al Hajj : 36)</p>
<p>Hukum Berkurban</p>
<p>Hukum ibadah penyembelihan hewan kurban adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu melakukannya. Meninggalkan ibadah ini menjadi makruh, berdasarkan riwayat Bukhori dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing gibasy yang berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut dan membacakan nama Allah serta bertakbir pada saat memotongnya.</p>
<p>Waktu Penyembelihan Kurban</p>
<p>Disyaratkan bahwa hewan kurban tidaklah disembelih kecuali setelah terbit matahari pada hari raya idul adha hingga saat-saat pelaksanaan shalat id. Setelah itu dibolehkan menyembelihnya kapan pun di hari yang tiga (tasyrik) baik malam maupun siang.</p>
<p>Setelah tiga hari itu, maka tidak dibenarkan penyembelihan hewan kurban, sebagaimana riwayat al Barro’ dari Nabi saw bahwa beliau saw bersabda,”Sesungguhnya hal pertama yang kita lakukan pada hari ini dalah shalat, kemudian kembali dan menyembelih kurban. Barangsiapa yang melakukan itu berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu maka daging sembelihannya untuk keluarganya dan tidak dinilai sebagai ibadah kurban sama sekali.”</p>
<p>Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa menyembelih kurban sebelum shalat sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khutbah sungguh ibadah idul adhanya sempurna dan melaksanakan sunnah kaum muslimin.”</p>
<p>Orang Yang Menyembelih Kurban</p>
<p>Jika seorang yang berkurban memiliki kepandaian dalam menyembelih hewan maka disunnahkan melakukannya sendiri untuknya. Ia disunnahkan membaca : bismillah wallahu akbar. Allahumma hadza an fulan… (Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Wahai Allah hewan kurban ini dari si fulan (sebutkan nama orang yang berkurban)</p>
<p>Adapun cara menyembelih hewan tersebut adalah dengan memutuskan tenggorokan dan saluran (nadi) makanan.</p>
<p>Pembagian Daging Kurban</p>
<p>Orang yang berkurban disunnahkan untuk memakan dagingnya, membagikannya kepada karib kerabat, serta menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Makanlah oleh kalian, bagikanlah dan simpanlah..” (HR. Tirmidzi)</p>
<p>Para ulama mengatakan bahwa yang paling afdhal adalah memakan sepertiga, bersedekah sepertiga dan menyimpan sepertiga. Daging kurban ini boleh dibawa ke negara lain akan tetapi tidak boleh dijual walaupun kulitnya.</p>
<p>Tidak dibolehkan memberikan dagingnya kepada tukang potong sebagai upah karena ia berhak menerima upah lain sebagai imbalan kerja. Orang yang berkurban boleh bersedekah dengan daging tersebut dan juga boleh mengambil dagingnya untuk dimanfaatkannya.</p>
<p>Sementara itu Abu Hanifah berpendapat bahwa mereka boleh menjual kulitnya dan menyedekahkan hasilnya atau membelikan barang yang bermanfaat untuk keluarga di rumahnya.</p>
<p>Disarikan dari kitab “Fiqhus Sunnah”</p>
<p>Baca juga : “Hukum Daging Kurban”</p>
<p>Wallahu A’lam</p>
<p>http://eramuslim.com/ustadz-menjawab/ta-rif-kurban.htm</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[SHALAT JENAZAH]]></title>
<link>http://paismpn4skh.wordpress.com/2009/11/26/shalat-jenazah/</link>
<pubDate>Thu, 26 Nov 2009 02:45:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>Waluyo Al-Fadhil</dc:creator>
<guid>http://paismpn4skh.wordpress.com/2009/11/26/shalat-jenazah/</guid>
<description><![CDATA[Shalat jenazah adalah shalat yang dikerjakan sebanyak 4 kali takbir dalam rangka mendoakan orang mus]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><a href="http://paismpn4skh.files.wordpress.com/2009/11/image8.png"><img title="image" style="border-right:0;border-top:0;display:block;float:none;margin-left:auto;border-left:0;margin-right:auto;border-bottom:0;" height="74" alt="image" src="http://paismpn4skh.files.wordpress.com/2009/11/image_thumb9.png?w=214&#038;h=74" width="214" border="0" /></a> Shalat jenazah adalah shalat yang dikerjakan sebanyak 4 kali takbir dalam rangka mendoakan orang muslim yang sudah meninggal. Jenazah yang disholatkan adalah jenazah yang telah dimandikan dan dikafankan.     <br />Hukum melaksanakan sholat jenazah adalah fardhu kifayah (kewajiban yang ditujukan kepada orang banyak, tetapi apabila sebagian dari mereka telah mengengrjakannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain). Jika tidak ada seorang pun yang mengerjakan kewajiban itu maka mereka berdosa semua.     <br />Rasulullah SAW bersabda : &#34;Shalatkanlah mayat-mayatmu!&#34; (HR. Ibnu Majah).     <br />&#34;Shalatkanlah olehmu orang-orang yamg sudah meninggal yang sebelumnya mengucapkan Laa ilaaha illallaah.&#34; (HR. Ad-Daruruquthni).     <br />Keutamaan orang yang menshalatkan jenazah dijelaskan dalam hadits berikut :     <br />Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda : &#34; Siapa yang mengiringi jenazah dan turut menshalatkannya maka ia memperoleh pahal sebesar satu qirath (pahala sebesar satu gunung), dan siapa yang mengiringinya sampai selesai penyelenggaraannya, ia akan mamperoleh dua qirath.&#34; (HR. Jama&#8217;ah dan Muslim). <!--more-->    <br /><b></b></p>
<p><b>Syarat Shalat Jenazah</b>     <br />1. Menutup aurat, suci dari hadats besar dan kecil, bersih badan, pakaian dan tempat dari najis serta menghadap kiblat. Hal ini sama seperti sholat biasa.     <br />2. Jenazah telah dimandikan dan dikafankan.     <br />3. Letak jenazah di sebelah kiblat orang yang menshalatkan kecuali shalat ghoib.     <br /><b></b></p>
<p><b>Rukun Shalat Jenazah</b>     <br />1. Niat     <br />2. Berdiri bagi yang mampu.     <br />3. Takbir empat kali.     <br />4. Membaca surat Al-Fatihah.     <br />5. Membaca sholawat atas Nabi.     <br />6. Mendoakan mayat.     <br />7. Memberi salam.     <br /><b></b></p>
<p><b>Sunnat Shalat Jenazah</b>     <br />1. Mengangkat tangan pada tiap-tiap takbir (empat takbir)     <br />2. Merendahkan suara bacaan (sirr)     <br />3. Membaca ta&#8217;awuz     <br />4. Disunnahkan banyak pengikutnya     <br />5. Memperbanyak shaf     <br />&#34;Setiap orang mu&#8217;min yang meninggal, lalu dishalatkan oleh umat Islam yang banyaknya sampai tiga shaf akan diampuni dosanya. Oleh sebab itu Malik bin Hubairah selalu berusaha membentuk tiga shaf, jika jumlah orang yang shalat jenazah tidak banyak. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).     <br /><b></b></p>
<p><b>Shalat Gahaib</b>     <br />Shalat ghaib adalah shalat atas jenazah yang tidak bersama-sama dengan orang yang menshalatkan, meskipun jenazah itu sudah dikuburkan. Demikian juga sholat di atas kubur, sebagaimana hadits berikut :     <br />Dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : &#34;Telah meninggal hari ini seorang laki-laki yang shaleh di negeri Habsyi. Maka berkumpullah dan shalatlah kamu untuk dia.&#34; Lalu kami membuat shaf di belakang beliau, lalu sholat untuk mayat itu sedangkan kami bershaf-shaf. (HR. Al-Bukhori dan Muslim).     <br />Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Nabi SAW telah shalat di atas sebuah kubur setelah sebulan lamanya (dari kematian orang itu. (Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni).</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hukum Menggunakan Obat Penumbuh Jenggot]]></title>
<link>http://widikurn.wordpress.com/2009/11/25/hukum-menggunakan-obat-penumbuh-jenggot/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 23:47:39 +0000</pubDate>
<dc:creator>widi kurn</dc:creator>
<guid>http://widikurn.wordpress.com/2009/11/25/hukum-menggunakan-obat-penumbuh-jenggot/</guid>
<description><![CDATA[jenggot Sebagian orang demikian semangat ingin mengamalkan sebuah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[jenggot Sebagian orang demikian semangat ingin mengamalkan sebuah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Road to Zawaj ]]></title>
<link>http://badriclcp.wordpress.com/2009/11/25/road-to-zawaj/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 20:01:30 +0000</pubDate>
<dc:creator>badriclcp</dc:creator>
<guid>http://badriclcp.wordpress.com/2009/11/25/road-to-zawaj/</guid>
<description><![CDATA[Road to Zawaj Perjalanan Menuju Pernikahan Oleh : Abdurrahman Misno Pendahuluan إن الحمد لله نحمد ه ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><span style="font-size:large;"><em><strong>Road to Zawaj </strong></em></span></p>
<p><em>Perjalanan Menuju Pernikahan</em></p>
<p>Oleh : Abdurrahman Misno</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">إن الحمد لله نحمد ه و نستعنه و نستغفره و نعوذ بلله من شرور انفسنا  و سيآت اعمآ لنا من يهده الله فلا مضل له و من يضلل فلاهادي أ شهد ان لا اله الا الله  وأ شهد ان محمد عبده و رسو له    أ ما بعد</span></p>
<p>Segala puji hanya milik Allah <em>ta’ala</em> yang tidak ada sekutu bagi-Nya, kami memuji-Nya kami memohon pertolongan hanya kepada-Nya dan kami memohon ampunan kepada-Nya, kami berlindung dari kejelekan diri-diri kami serta kejelekan amal-amal kami, barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya maka tidak ada satu orangpun yang dapat memberikan petunjuk.</p>
<p>Shalawat serta salam semoga tercurah kepada suri tauladan terbaik kita Nabi akhir zaman Muhammad <em>Shalallahu ‘alahi wa salam</em>, ahli baitnya, shahabatnya dan seluruh kaum mu’minin yang mengikuti sunnahnya sampai akhir zaman.</p>
<p>Amma ba’du.</p>
<p>Syukur kepada Ilahi yang telah memberikan kesempatan berharga untuk saya menyusun tulisan ini, mudah-mudahan apa yang di bahas dalam buku ini akan bermanfaat, khususnya bagi remaja muslim dan kaum muslimin pada umumnya.</p>
<p>Dalam buku ini sengaja saya gunakan bahasa yang sederhane dan “renyah“ tentunya mengingat bahwa tulisan ini memang dikhususkan buat kamu yang masih remaja, dan ini tentunya tidak menutup kemungkinan bagi yang sudah dewasa untuk membacanya, barangkali sekadar iseng-iseng dapat ilmu deh.</p>
<p>Buku ini akan ngebahas secara tuntas…tas&#8230;.tas….tentang sebuah perjalanen menuju pernikahan, wow keren khan ? So…. Buat kamu yang masih ngebayang-bayangin pernikahan atawa yang akan menuju pernikahan atau yang sudah menikah ga’ ada salahnya kalau kamu ngebaca tulisan ini.</p>
<p>Dengan tetap berpegang kepada nash-nash yang shahih dan pendapat yang <em>rajih</em> dari kalangan Ulama yang mu’tabar ditambah dengan bahasa yang sederhane moga-moga kamu bisa menikmati perjalanen ini…… sudah siap melakukan perjalanen ? oke, come on friends ……………</p>
<p><!--more--></p>
<p><strong>Menikah ? Indah, ni&#8217;mah and sunnah </strong></p>
<p>Pernah kepikir ngga ada sebuah amalan ibadah yang mudah, murah indah and sssttt… ni&#8217;mah (nikmat maksudnya) ? yup… tul, seratus buat kamu, buat ane seribu, jadi kamu utang sembilan ratus. Benar sekali, menikah adalah jawabannya, sudah mudah, murah (tergantung sih…), indah dan ni&#8217;mah lagi. Menikah adalah ibadah yang kebanyakan menganggapnya sebagai sesuatu yang hanya kesenangan duniawi. Nggak salah sih memang, cumin nilai ibadahnya jadi kurang, padahal menikah itu adalah bagian dari ibadah lho, bhkan ia adalah salah satu dari sunnah Nabi Muhammad Shalallahu &#8216;Alaihi Wa Salam, nggak percaya ? nih buktinya :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي</span></p>
<p>…. Dan aku juga menikahi wanita, maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka dia bukan termasuk kaumku. HR. Bukhary dan Muslim</p>
<p>Bahkan di dalam Al-Qur&#8217;an sendiri udah jelas bahwa menikah adalah bagian dari tanda-tanda kebesaranNya, kamu udah sering baca ayat ini di undangan-undangan pernikahan khan ? :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</span></p>
<p>Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. QS Rum ayat 21.</p>
<p>Perintah menikah bertebaran di berbagai ayat dalam Al-Qur&#8217;an dan sunnah Nabi, jadi kamu jangan khawatir kalau kamu merasa itu hanya urusan dunia saja. Justru kalau kamu berpendapat bahwa menikah adalah cuman masalah dunia berarti kamu kerasukan gaya hidup sekulerisme, jangan sampai yah…</p>
<p>Kalau udah tahu bahwa menikah itu emang bagian dari ibadah, sekarang kamu tinggal jalanin dan siap-siap aja terusin baca buku ini sampai kelar, dijamin nggak nyesel deh.</p>
<p><strong>Siapkan diri ……. Menikah Ji ! </strong></p>
<p>Assalamu’alaikum, mudah-mudahan kamu yang lagi ngebaca tulisan ini sehat-wal afiat dan keselamatan ini semoga selalu tercurah buat kamu any where and any time (kapan saja dan di mane saja) tentunya. Nah… salam ini berarti khan… ga kaya’ orang di luar Islam yang cuman ngucapin selamat pagi, selamat siang, selamat sore or selamat malam padahal sesudah itu ga didoain lagi and nggak mau peduli mau sehat atau mau sakit sesudah di selamatin.</p>
<p>Lho… ko’ ngomongin orang sih , (awas yah… <em>ghibah</em> !). afwan (maaf) ya jadi ngelantur, habis sudah tradisi sih di mane-mane kalau ketemu pasti deh ngucapin selamat pagi, siang de el el, de es be, de es te.</p>
<p>Udah yah… mendingan ngomongin  tentang Dia, tentang kamu pokoknya tentang kita deh….</p>
<p>Tadi itu kita udah salam khan ? sekarang ane pengin ngajak kamu untuk meneruskan membaca buku ini, mau nggak ? kalau nggak mau yang terserah tapi ane mau terusin pembahasan ini.</p>
<p>Ane pengin ngajak kamu untuk Road to Zawaj (Apaan tuh ….?) sorry kita pakai dua bahasa, yang belum tahu buruan ambil kamus, kalau ngga ada ane kasih tahu deh, road to zawaj itu artinya perjalanan menuju pernikahan (wow nikah…ngga&#8217; kuku deh) karena itu singkatnya ane akan mengajak kamu menempuh sebuah perjalanan yang ujung-ujungnya ya…… nikah bo’.</p>
<p>Kenapa sih pakai perjalanan segala ? ya…iyalah masa&#8217; ya iya dong ! Soalnya biar kita tahu langkah-langkah apa saja yang harus kita tempuh ketika menuju pernikahan, dengan mengikuti langkah-langkah ini juga biar kamu tidak tersesat di rimba kejahiliyahan (ih seraaaam….) emang seram itu baru di dunia bagaimana kalau di akhirat ? tau khan yang namanya jahiliyah ?</p>
<p>Dari sini kita kudu ngerti apa yang namanya pernikahan dan jalan-jalan yang harus ditempuh. Makanya dari sekarang siapin diri untuk menmpuh perjalanan ini, dan kita akan memulai perjalanen ini, siapkan dirimu, siapkan dirimu, siap ilmu, siap iman siaaaaap……….!!! (Tahun 2000 kalee)</p>
<p>Are you ready ? kalau belum mendingan dari sekarang nyiapin diri dulu, kalau udah sekarang kita akan memulai di langkah pertama yaitu :</p>
<ol>
<li><strong>Siapkan 	fisik dan mental. </strong></li>
</ol>
<p>Kalau urusan fisik mah… insya Allah siap-siap aja, tapi kayaknya perlu juga diperhatikan, jangan sampai deh mental udah siap eh.. fisiknya memble atawa sakit khan berarbe… . Cara menyiapkan biar fisik kamu udah siap nikah ya lihat aja diri kamu, apa udah pernah  “Mimpi  basah“ atau <em>ihtilam</em>, tau khan ? kalau belum itu berarti kamu masih anak-anak (kacian deh kamu). Nah… yang namanya anak-anak ya ga&#8217; usah mikirin nikah, mendingan belajar dulu ( yang rajin dik.. ya… ) dan ngga usah dulu baca tulisan ini. Stop sampai di sini !</p>
<p>Tapi, buat kamu yang sudah pernah mimpi basah (ehm….) ya terusin deh baca buku ini, karena itu berarti kamu udah dewasa dan udah siap untuk menikah.</p>
<p>Sebenarnya sih urusan fisik ga cuman itu aja, soalnya ada masalah yang lebih besar dari itu (Hayo apaan ? ), coba deh baca sabda Nabi :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ</span></p>
<p>“Wahai para pemuda barang siapa diantara kalian yang telah siap <strong>Ba’ah</strong> maka segeralah menikah karena hal itu lebih menundukan pandangan dan lebih baik pada <em>farji</em> barang siapa yang belum mampu maka hendaklah ia berpuasa karena hal itu bisa dijadikan sebagai tameng.” HR Bukhary dan Muslim.</p>
<p>Nah kata <em>ba’ah</em> di hadits tersebut merupakan tanda-tanda fisik yang sudah siap untuk menikah saudara-saudara ! <em>ba’ah</em> sendiri menurut ulama berarti telah mampu untuk melakukan hubungan …… (Sensor yah.. ).</p>
<p>Jadi kalau kamu sudah mampu untuk “itu“ berarti kamu udah siap untuk nikah. Dan buat yang belum mampu maka kayaknya perlu diperiksakan ke dokter spesialis tuh…..jangan-jangan ada kelainan.</p>
<p>Sebenarnya makna <em>ba&#8217;ah </em> sendiri juga mencakup kemampuan untuk memberikan nafkah lho, tapi biasanya kalau hal ini dibicarakan kebanyaka ngeper duluan alias ga&#8217; mampu, &#8220;Kecil-kecil jadi manten&#8221; udah bisa ngasih makan anak orang belon (baca belum). Kalau dari segi finansial emang bener-bener belum mampu yah&#8230;. terusin baca haditsnya, yaitu hendaknya kamu kudu banyak-banyak puasa deh biar dorongan syahwat itu terkurangi, bukan dihilangkan yah.</p>
<p>Nah itu tadi kesiapan fisik, sekarang kesiapan mental, bagaimana mengetahuinya ? jawabnya ya… terusin baca buku ini.</p>
<p>Yang namanya kesiapan mental biasanya berhubungan dengan ruh atau jiwa kita yang terbentuk dari beberapa elemen seperti akal, perasaan, hati dan emosi. Semua itu harus kita siapkan. Misalnya akal, ngga’ mungkinkan orang yang akalnya kurang mau menikah, lagian siapa yang mau ?</p>
<p>Kesiapan akal berarti akal kamu sudah siap dengan segala konsekuensi setelah menikah demikian juga hati emosi dan perasaan, semuanya sudah siap dan memahami segala perbedaan antara sebelum menikah dan sesudah menikah, beda sekali lagi ….dua kali lagi….</p>
<p>Kesiapan perasaan biasanya berkaitan dengan perasaan kamu sebagai calon abi….. Abi&#8230;&#8230; enak gak rasanya ? nah ini tugas kamu untuk sharing dengan abi-abi yang sudah pengalaman, cari tahu bagaimana perasaannya menjadi abi or ayah. Kalau udah begitu bisa dibandingkan dengan perasaan kita, apa kita udah siap kalau nanti malam-malam ada yang menangis minta digendong ?</p>
<p>Yang urgen banget nih, hati. Ngomongion masalahan hati kayaknya gak bakalan ada habisnya, biasanya ia berkaitan dengan emosi kamu, kalau dulu waktu kamu masih sendiri biasanya ke mana aja bebas (XL kaleee), sekarang kalau udah menikah beda bro….. udah ada yang nyuciin baju, udah ada yang nungguin di rumah dan kadang-kadang nih udah ada ngomelin segala tingkah laku kita, jangan takut itu adalah bentuk perhatian die…… he…he….</p>
<p>Eh… ada yang lupa neh, bialng sama ortu, kudu itu, masak mau merit ortu aja gak tahu , nggak mungkin lah. Makanya kamu kudu bisa ngambil hati orang tua kamu, kalau perlu ambil jantungnya (hah… jantungnya ? wafat dong ?) maksudnya nggak begitu lah, kamu harus pedekate sama ortu kamu, jelasin segala hal yang menyangkut masalahnya. Dengan perkataan yang <em>layyinah </em> insya Allah ortu mah… oke aja deh. Apalagi kalau dari awalnya kamu udah nge-fren sama papa and mama, dijamin beliau mempersilahkan dengan senang hati. Masak mau jadi kakae-nenek kok keberatan. Nggak mungkin kan ?</p>
<p>Cumin kalau emang ada masalah dengan orang tau yah… kamu selesaikan dulu masalahnya, mungkin masalah pilihan kamu yang nggak ccocok dengan beliau, atau kamunya yang belum menyebutkan alas an-alasn kamu kenapa harus segera menikah.</p>
<p>Kalau fisik dan mental kamu udah siap dan orang tua juga udah ngasih lampau hijau, sekarang kita akan melanjutkan langkah berikutnya yaitu cari cari carilah….. pasangan hidup betul-betul oh kawan….. (ngambil nasyednya Rabbani yah..).</p>
<ol>
<li><strong>Mencari 	Informasi </strong></li>
</ol>
<p>“Tak kenal makanya tak sayang “ peribahasa ini kayaknya cocok banget buat ngehubungin langkah kita saat ini, asal jangan salah tafsir aja…. Nah… semakin banyak informasi semakin bagus, itu berarti semakin banyak peluang untuk mencari calon pasangan yang sesuai dengan kriteria kita.</p>
<p>Ngomong-ngomong soal semen eh…. kriteria pasangan, kayaknya kamu kudu punya syarat-syarat yang sesuai dengan Dien kita ini, nah mengenai criteria seseorang layak menjadi pasangan kita, harus dong kalau kita mengambilnya dari Nabi coba baca deh sabda beliau :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ</span></p>
<p>“Seorang perempuan itu dinikahi karena empat perkara : agamanya, hartanya, keturunannya dan kecantikannya, maka pilihlah yang baik agamanya maka keberkahan akan selalu bersamamu“ HR. Bukhary dan Muslim.</p>
<p>Hadits ini jelas dong buat yang ikhwan (cowok githu lho…). Sebenarnya sih kalau dianalogikan yah sama aja sama yang akhwat, paling ya&#8230; diganti dari kecantikan ke kegantengan atawa kegagahan, yang lainnya sama aja. Iya khan ?</p>
<p>Persyaratan tersebut adalah sebagai kriteria dasar, kalau mau mengembangkan nggak <em>bid’ah</em> ko’ boleh-boleh saja.</p>
<p>Kalau buat akhwat emang kudu lebih hati-hati nih, jangan asal <em>nrimo</em> aja. Jadi gimana dong kalau mau jadi akhwat yang smart dalam memilih pasangan ? ya sama, coba deh denger sabda Nabi yang lain :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ</span></p>
<p>“Apabila datang kepada kalian  (untuk melamar) seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia, jika tidak engkau lakukan niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang nyata “ HR. Thirmidzi.</p>
<p>Teks hadits ini emang ditujukan untuk para wali (bukan wali kelas yah…) yang mempunyai anak perempuan agar jika anak perempuannya dipinang oleh seorang laki-laki yang shalih maka hendaklah ia menerimanya, karena jika ditolak bisa jadi akan terjadi fitnah dan kerusakan. Tapi hadits ini juga kudu kamu pahami, bahwa ternayat seorang akhwat, kalau emang udah ada yang ngelamar neeh, kalo kira-kira emang ikhwan itu shaleh ya terima aja, khan syaratnya jelas, shaleh titik.</p>
<p>Lengkap to ? kriteria buat yang ikhwan sudah ada, juga buat yang akhwat. Biar kamu nggak ngulang lagi bacanya, neh ane kasih ringkasannya :</p>
<p>Syarat-syarat standar calon pasangan :</p>
<ol>
<li>Bagus 	agamanya (shaleh dan shalehah githu…)</li>
<li>Kalau 	cantik dan ganteng boleh juga tuh&#8230;</li>
<li>
<p lang="es-AR">Kaya. (ya ngga apa-apa)</p>
</li>
<li>
<p lang="es-AR">Keturunannya. (boleh juga lha&#8230;)</p>
</li>
</ol>
<p>Perlu diingat yah, pilihan yang kudu dan wajib aja yaitu nomor satu, bagus agamanya, kalau syarat yang laen sih sunnah aja deh, gak harus ada. Kamu tahu khan, no body perfect. Manusia nggak ada yang sempurna, jadi pesan dari sponsor sih bila pilih pasangan jangan berlebihan idealnya, bisa-bisa gak dapet karena nyarinya yang sempurna banget.</p>
<p>Kalo sudah punya kriteria sekarang kita bisa mencari informasi. Caranya adalah mencari orang-orang yang amanah untuk memberikan informasi yang shahih tentang seseorang, atau bisa juga “langsung“ (biasanya sih.. khusus ikhwan) tapi akhwat juga ga apa-apa ko bukan aib lagi.</p>
<p>Tapi bukan langsung ke orangnya yah, kalau mau to the point cari walinya.  Contohnya nih kamu yang ikhwan udah ada &#8220;rasa&#8221; dengan seorang akhwat udah tahu rumahnya, bapaknya, dan keluarganya sekarang buktiin bahwa niat kamu itu sungguh-sungguh dan Gentlemen dong !!! Dengan datang ke rumahnya dan menanyakan langsung kepada bapaknya. Atawa walinya.</p>
<p>Kalo caranya kaya’ gini kamu lebih puas, soalnya informasi langsung dari yang punya, information from the owner gitu….(berani ga’ ?).</p>
<p>Buat yang akhwat ya bisa aja memberikan informasi kepada seorang ikhwan bahwa dirinya siap dinikahi dan ini bukan aib yah, soalnya hal ini juga terjadi di zaman Nabi :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ</span></p>
<p>…dan perempuan mu&#8217;min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya&#8230;.QS Al-Ahzab ayat 50.</p>
<p>Ayat ini ngomongin tentang seorang perempuan yang menyerahkan diri kepada Nabi agar beliau menikahinya, jadi kamu yang akhwat ga&#8217; usah gengsi deh kalau mau &#8220;menawarkan diri&#8221; pokoke maju tak gentar membela yang benar (bukan kampanye yah&#8230;).</p>
<p lang="es-AR">Masih malu juga ? Khadijah (kenal nggak ?) juga &#8220;melamar&#8221; Nabi untuk menjadi suaminya, demikian pula Umar bin Khatab menawarkan anaknya, Said Bin Al-Musayyab juga sama. Apalagi kalau ini memang lebih menjaga kesucian, kenapa ga&#8217;.</p>
<p lang="es-AR">* * *</p>
<p>Kalau cara pertama belum mampu, pakai aja cara kedua pakai Pak Comblang (buat akhwat mak comblang) aja !!! lebih mudah dan dijamin tentunya. Tapi sebelum menentukan pak or mak comblangnya kamu harus paham bener siapa dia sebenarnya, soalnya jangan sampai gara-gara pak comblang nggak jujur akhirnya bubaran khan ga seru…. Biasanya sih kalau remaja kaya’ kamu pak comblangnya <em>murrabi</em> kalau ngga yah kaka senior walaupun adik yunior juga ngga papa, itu juga ngga ada yang larang cuman ya harus lihat-lihat.</p>
<p>Nah kalau udah nemuin pak comblang yang <em>tsiqoh</em> (terpercaya) kita perlu menggali sebanyak-banyaknya informasi tentang calon kita, umur, tanggal lahir (bukan untuk ulang tahun yah… ) alamat, bapaknya, pribadinya de es be, de el el de es te.</p>
<p>Yang paling penting jelas agamanya dong, udah berapa lama dia mengaji terus <em>iltizam</em> ga&#8217; dengan Islam, kalau ada tambahan juga boleh misalnya cakep ga’ anak semata wayang, semata sapi atau semata-mata (alias banyak saudaranya), apa perlu ?  Saudara ? perlu itu, soalnya kalo saudaranya banyak berarti kemungkinan dia subur dan banyak anak semakin banyak (ih… ko’ banyak anak sih ?) lha… emangnya kenapa Nabi aja pernah bilang :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ <span style="color:#000000;">الْوَلُود</span>َ إِنِّي مُكَاثِرٌ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</span></p>
<p>“Nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang penuh kasih sayang dan banyak anaknya, karena aku akan berbangga dengan banyaknya jumlah umatku pada hari kiamat&#8221;. HRAhmad.</p>
<p>Tapi syarat ini ga wajib, jadi jangan terlalu jadi prioritas. Apalagi kudu nyari yang saudaranya banyak, kasihan dong kalau yang anak semata wayang, atawa yang emang saudaranya cuman satu atau dua. Sebenarnya sih gak hanya kuantitas yang menjadi tujuan dari hadits ini, tentu kualitas lebih menjadi tujuan.</p>
<p>Kalau udah dapat data-data dari perantara tersebut secara lengakap mengenai dia, maka jangan lupa kita juga harus memberikan data diri kepada perantara tersebut secara jujur, jangan orang lain suruh jujur kita malah ngumpetin aib kita. Buat yang akhwat juga kalau mau memberikan data dirinya yang jujur ga’ usah dibikin-bikin soalnya kalo disimpan-simpan nanti juga ketahuan dan akibatnya kan lebih dahsyat (lebih dahsyat dari booom lagi ) kalo umpama kita punya kekurangan yang katakan  sejujurnya, juga kalau kita umpamanya ga’ suka sama perempuan yang cerewet, atau buat yang akhwat tidak suka laki-laki yang terlalu kemayu, jujur aja soalnya kejujuran akan membawa ke surga :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ <span style="color:#000000;">يَهْدِي إِلَى الْجَنَّة</span>ِ</span></p>
<p>Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke surga. HR Bukhary.</p>
<p>Jadi jelas banget khan kalau diawali dari kejujuran ini insya Allah keluarga yang akan kita bina akan mendapat rahmatNya. Itu khan tujuan kita menikah, you agree with me ?</p>
<p>Nah…. Kalau nama, umur, tanggal lahir alamat, nama orang tua, kesukaan, ketidak sukaan etc. semua itu harus kamu dapatkan dengan lengkap dan udah di tangan maka kita tinggal timbang-timbang, boleh juga tuh shalat <em>istikharah</em>, kalau sudah mantap yah….. ya..ya..ya. Sesudah itu kita akan menuju langkah selanjutnya yaitu Khitbah alias ngelamar, wuih….makin seru aja nih …….</p>
<ol>
<li><strong>Khitbah 	(Peminangan)</strong></li>
</ol>
<p>Singkat amat sih, masak belum-apa-apa udah ngelamar ngga keren tuh ….. ma’af yah, justru ini yang namanya keren, ( kalah ANTEVE ) kenapa ? karena kamu ngga perlu lagi mengoleksi dosa dengan berpacaran ya khan? Harus iya !! emang sih mungkin kita terlalu biasa dengan budaya yang ada di sekitar kita sehingga ngga afdhol kalau menuju pernikahan ini tanpa pacaran, udah tau khan kalau pacaran sebelum nikah itu tidak ada dalam Islam ? kalau belum baca lagi deh masalah pacaran dalam Islam, tapi yang pasti bahwa berduaan dengan lawan jenis tanpa adanya mahram itu namanya khalwat dan berdosa, nggak percaya ? simak deh sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">لَا يَخْلُوَن</span></span></span><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">َّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ</span></span></span></p>
<p>Janganlah seorang laki-laki berduaan (khalwat) dengan seorang perempuan kecuali perempuan tersebut bersama mahramnya. HR Bukhary</p>
<p>Jadi pacaran itu ya mengoleksi dosa, soalnya siapa yang menjamin kalo pasa lagi pacaran nggak ada hal-hal yang tidak baik, <em>na&#8217;udzubillah</em> khan. Nah biar kamu bisa meminimalisasi dosa ini makanya langsung aja <em>khitbah</em>.</p>
<p lang="es-AR">
<p lang="es-AR"><strong>Ini (nadhar) dulu baru itu (khitbah)</strong></p>
<p><strong> </strong><em><strong>Ups.. </strong></em>sebenarnya sebelum proses khitbah bisa aja kamu nadzar (melihat) dulu, sama aja ikhawan atau akhwatnya. Walaupun yang biasanya pengin ngelihat sih  ikhwan (hayoo ngaku). Namun hal ini juga nggak menutup kemungkinan akhwatnya juga melihat si ikhwan (ehm&#8230;). masalah melihat or nadhar itu syar&#8217;i lho, coba deh perhatikan sabda Nabi lagi :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا</span></span></span></p>
<p>Lihatlah dia (calonmu) lebih dahulu agar nantinya kamu bisa hidup bersama lebih langgeng. HR Nasa&#8217;i.</p>
<p>Dalam riwayat yang lain Nabi memerintahkan kepada shahabatnya dengan ucapan :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">فَاذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّ فِي أَعْيُنِ الْأَنْصَارِ شَيْئًا</span></span></span></p>
<p lang="es-AR">Pergi dan lihatlah kepadanya, sesungguhnya pada mata perempuan Anshar itu ada sesuatu. HR Muslim.</p>
<p>Jadi nggak perlu malu kalau minta izin untuk melihatnya, dari pada menyesal di belakang. Lagian kamu nggak mau khan kalau menikah seperti beli kucing dalam karung ? (eh… jual beli  kucing boleh nggak yah…). Thayyib, kita ganti aja, kamu ngga mau khan kalau beli bunga dalam karung ? pasti dong nggak mau, udah ngga kelihatan bunganya harganya mahal lagi, kalaupun murha juga mikir-mikir dulu, jangan-jangan bunga bangkai yang di karung atau bunga kucubung.</p>
<p>Nah nadhar ini emang didesain buat calon-calon pengantin yang ingin melihat pasangannya.</p>
<p>Kira-kira apa sih manfaatnya nadhar ? ya banyaklah. Dengan nadhar minimal kamu tahu seperti apa orang yang akan kita jadikan pasangan. Dan pasangan kamu juga tahu siapa kita, jadi berlaku buat ikhwan dan akhwatnya.</p>
<p lang="es-AR">Terus nadhar itu kayak gimana sih, apa aja batasannya ? nah untuk masalah ini kita kembalikan kepada pendapat para ulama yang kompeten dengan masalah ini. Mereka berbeda pendapat tentang batasan nadhar, secara umum ada tiga pendapat :</p>
<ol>
<li>Melihat 	muka dan telapak tangan.</li>
<li>Melihat 	leher, betis dan kepala (termasuk rambut dong)</li>
<li>Melihat 	seluruh bagian tubuh (wuih , hati-hati nih)</li>
</ol>
<p>Nah dari semua pendapat tersebut emang yang lebih <em>rajih</em> (kuat) ya… pendapat pertama dan kedua. Maksudnya adalah kalau ada ikhwan yang pengin lihat akhwat, lalu dia sudah merasa puas dengan hanya melihat muka dan telapak tangannya saja maka gak apa-apa, cuman kalo pengin lihat leher, kepala dan betisnya juga ngga apa-apa. Kalau mau lihat semuanya ? kayaknya nggak kudu deh, soalnya ini adalah pendapat dari madzhab Dzahiri yang banyak dilemahkan oleh para ulama. Tapi&#8230;&#8230; tapi apa coba ? kalau ada ikhwan yang maksa banget, dalam tataran masih tertutup dan sopan ya nggak apa-apa, bukan berarti ngga pakai pakaian sama sekali, biasanya sih ikhwan pengin lihat tingginya bodinya (sssstttt&#8230;. hati-hati nih) dan penampilannya.</p>
<p lang="es-AR">Cuman kalau hati ikhlas mah&#8230; insya Allah melihat muka, telapak tangan, leher dan rambutnya kayaknya udah cukup deh, bukankah itu cuman penampilan fisik ? yang lebih penting hati dan agamanya dong. Setuju gak ? wajib setuju (kok maksa sih&#8230;)</p>
<p>Sikap akhwatnya gimana nih menghadapi ikhwan yang mau nadhar ? biasa aja girls. Please be calm ! nggak usah grogi (kalau dikit masih ditolerir ). Soalnya ini juga kesempatan kamu buat melihat sang calon. Kalau kamu sebelum ini harus menundukan pandangan, maka saat nadhar adalah pengecualian. Sama kayak ikhwannya, kamu juga boleh melihat si dia dan melihat apa kira-kira yang menyenangkan darinya.</p>
<p>Ingat akhwat juga punya hak untuk menerima atau menolak lamaran kalau dirasa tidak cocok di hati. Jadi &#8230; &#8220;Apa ya menariknya ikhwan itu ?&#8221; cari deh&#8230; tapi ya jaga lah kesopanan, jangan sampai jelalatan. Tapi kalau masalahan beginian biasanya sih akhwat (cewek) lebih tahu diri, jadi nggak usah diajari lagi. Tapi nggak semua kalee yah, ada juga akhwat yang suka lirik-lirik (yang baca buku ini sih dijamin enggak ).</p>
<p>Lima kali lagi nih, pokoknya masalah nadhar jangan terlalu menjadi ukuran standar deh, berapa banyak orang-orang yang tersesat dalam penmpilan, kalau kata ane sih &#8220;Jangan terjebak oleh penampilan&#8221; berapa banyak musang berbulu ayam atawa srigala berbulu kuda. Kalau perempuan apa yah&#8230;.., saya jadi ingat syair seorang teman dulu judulnya &#8220;Buaya betina&#8221; ups&#8230;. ini sih dunia luar bro and sis (maksudnya brother and sister) kalau dunia kita beda. (dunia ghaib kalee).</p>
<p>Kalau sudah <em>nadhar</em> dan ternyata ada semacam ketertarikan baik lahir ataupun batin maka kita lanjutkan perjalanan kita ke tahapan berikutnya, apa itu ? ya khitbah lah, masa ya batal dong.</p>
<p>Terus gimana sih caranya khitbah ? is easy man !!! gampang aja kamu tinggal datang ke orang tuanya, bisa langsung atau pakai basa-basi dikit (tergantung suasana dan kepribadianmu). Sendiri oke, dengan ikhwan juga boleh yang pasti satu tujuan harus tercapai. Pagi jadi, siang menantang dan malam menyenagkan, pokoknya any time deh. Kalau ane sih dulu emang sama teman biar ada yang bisa diajak ngobrol. Kalau sama ortu gimana ? wah bagus itu, itu tandanya orang tua memperhatikan kita. Dan perlu diingat yah, yang namanya menikah memang gak cuman ikatan antara seorang laki-laki dengan perempuan, tapi juga menggabungkan antara dua keluarga besar yang berbeda. Jadi oke banget  kalau waktu melamar orang tua datang, jadi lebih resmi, lebih sopan dan moga-moga lebih mudah untuk diterima, amin.</p>
<p>Islam sendiri tidak mendikte kita bagaimana cara ngelamar dan thethek bengeknya pokoke’ ngga rumit-rumit amat Islam itu mudah ngga usah deh dipersulit. Jadi ngga kayak melamar gaya Indonesia khan yang harus ada manyam-manyamnya, semua itu akan memberatkan orang yang akan menikah dan tentunya ini akan menghalangi mereka untuk segera beribadah (beribadah plus hadiah berkah).</p>
<p>Kamu kudu ingat…ingat tujuan dari khitbah adalah menanyakan kepada wali  apakah perempuan yang akan dikhitbah udah ada yang punya apa belum, terus langsung deh utarakan niat kamu kalau ingin mengambilnya sebagai pendamping hidup ( cieh …). Soal gaya bahasa sih up to you ! itu kalau kamu sendiri yang datang tapi kalau sama orang yang lebih tua atau orang tua sendiri misalnya abi (ayah, papa, bokap, papi, bapak and other) ya tinggal pasang muka manis saja di depan calon mertua. Dan biarkan semua berjalan apa adanya …..</p>
<p>Nah…. Dalam khitbah ini ada satu kesempatan yang harus benar-benar kamu manfaatkan semaksimal mungkin yaitu Nadzor (melihat) dan menanyakan secara langsung kepada calon kita itu. Cuman karena kondisi masyarakat kita yang sudah terlalu biasa dengan memandang wanita <em>ajnabi</em> belum lagi berduaannya mereka sehingga syariat yang mulia ini terasa hampa dan sedikit sekali yang melaksanakannya, tapi don’t be sad !! tenang insya Allah kamu bukan dari mereka, karena itu manfaatkanlah kesempatan emas ini dengan :</p>
<ol>
<li>Melihat 	hal-hal yang memang di bolehkan syari’at untuk di lihat sebagai 	sesuatu yang menarik bagi kita. Para Ulama memang berbeda pendapat 	tentang bagian tubuh mane saja yang boleh di lihat, tapi kamu tahu 	dong kesopanan itu khan, ya yang biasa dilihat saja jangan yang 	dalam-dalam. Misalnya wajah, telapak tangan betis, kepala dan 	rambutnya.</li>
<li>Menanyakan 	secara langsung hal-hal yang menyangkut wawasannya tentang Islam, 	rumah tangga beserta kelebihannya dan kekurangannya dsb. Hal ini 	tentu akan sangat bermanfaat di hari nanti. Kalau malu bisa 	ditanyakan kepada walinya atau orang-orang yang dekat dengannya.</li>
<li>Kalau 	kamu ditanya sesuatu hal oleh si calon, kamu juga harus jujur, 	jangan suruh orang lain jujur eh… sendiri malah bo’ong, nggak 	fear khan.</li>
</ol>
<p>Buat akhwatnya ya jangan <em>nerimo</em> aja, kamu juga harus cerdas, jangan sampai yang datang ke rumahmu domba berbulu serigala (ada ngga ya…) tapi yang pasti kamu kudu bener-bener cerdas dalam memilih walau jangan pilih-pilih. Artinya begini kamu sebagai perempuan harus bisa melihat mana lelaki yang memang sungguh-sungguh ingin melamar dan mana yang cuman ingin melihat saja (biasanya dikenal dengan ahli nadhar).</p>
<p>Sebagai akhwat kamu kudu smart, emang sah-sah saja jika kamu mengajukan berbagai pertanyaan kepada sang <em>Khatib</em> (orang yang melamar maksudnya) tentang wawasannya, agamanya dan gajinya, ups… (kalau ngga malu) biar kamu juga puas tidak menerima paket berisi boom (soalnya sewaktu-waktu bisa meledak).</p>
<p>Awas yah jangan terlalu lama dalam nadzor bisa bahayyya !!! sewajarnya saja, dan ingat harus ada mahramnya. Setelah semua selesai tinggal mentapkan hari untuk akad nikahnya. Hal ini bisa langsung atau bisa ditunda beberapa hari (ini juga jangan lama-lama) karena amal baik itu semakin cepat semakin baik. Dan ini termausk berlomba-lomba dalam kebaikan lho, coba deh simak ayat yang mulia ini :</p>
<p lang="es-AR"><span style="font-family:Tahoma;">أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ</span>(61)</p>
<p>…mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. QS Al-Mu&#8217;minun ayat 61.</p>
<p>Jadi kalau sudah ada kecocokan, kamu udah ngelihat dia dan dia pun sudah melihat kamu, kedua orang tua sudah setuju, tunggu apa lagi tinggal tetapkan tanggal mainnya dan hari &#8220;H&#8221; nya.</p>
<p>Dalam melamar ini biasanya di masyarakat kita berkembang berbagai adapt istiadat yang sedikit banyak perlu kita perhatikan, teliti dan dipertimbangkan (ribet amat yah…). Singkatnya sih.. di masayarakat kita kalau melamar biasanya ada beberapa &#8220;ritual&#8221; yang harus dilakukan. Makanya kamu kudu hati-hati melihat hal ini.</p>
<p lang="es-AR">Misalnya nih, kalau ngelamar biasanya ada acara tukar cincin segala, apa itu boleh ? pada asalnya sih yang namanya memberikan hadiah buat calon kita nggak ada masalah. Misalnya kamu memberikan sejumlah uang atau benda-benda beharga sebagai tanda jadi atau untuk persiapan mengadakan walimah, jelas hal ini boleh sekaleee (yang akhwat tentu akan menjawab of course, bahkan kudu lagi, masa mau walimahan gak ada bantuannya sama sekali.</p>
<p lang="es-AR">Dibeberapa daerah bisanya sewaktu melamar sekalian memberikan semacam &#8220;seserahan&#8221; yaitu hadiah untuk calon mempelai perempuan, bentuknya bisa uang, peralatan rumah tangga dan lain-lain.</p>
<p>Back to before it, sebenarnya sih boleh-boleh aja, namun kalau samapai memberatkan pihak calon pengantin laki-laki yah… kasihan lah. Apalagi sampai menjadi sebuah tradisi yang mengakibatkan pada ikhwan-ikhwan yang terlambat menikah gara-gara harus mengumpulkan &#8220;modal&#8221; sekian juta misalnya, jadi mendatangkan mudzarat khan ?</p>
<p>Keimpulannya adalah bahwa hadiah tersebut boleh-boleh saja, tapi kalau tukar cincin para ulama mengatakan tidak boleh karena hal tersebut adalah bentuk dari sikap tsyabuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir. Kita khan nggak boleh menyerupai orang kafir, coba deh baca sabda Nabi :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">من تشبح بقوم فهو منهم </span></p>
<p>Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut. HR. Ahmad.</p>
<p>Kamu tahu khan sejarahnya tukar cincin dalam acara melamar ? kalau belum tahu yah saya kasih tahu deh. Sebenarnya tukar cincin itu berawal budaya gereja yang sangat terkait erat dengan peribadahan mereka, langkah-langkahnya semacam upacara pembaptisan dan persaksian doktrin trinitas. Jadi hati-hati dengan masalah ini. Kalau mau selamat yang mending gak usah dari pada sama kayak mereka.</p>
<p>Oh…. Ya…. Perlu diingat nih, kalau acara pelamaran sudah usia bukan berarti kamu sudah boleh secara bebas berduaan dengan si dia, yang namanya melamar itu hanya batasan kita mengikat dia agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Paham khan kalau seorang ikhwan nggak boleh melamar seorang perempuan yang sudah di lamar oleh orang lain :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">وَلَا يَخْطُب</span></span></span><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">ُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ</span></span></span></p>
<p>Dan janganlah seseorang melamar seorang perempuan yang telah dilamar oleh saudaranya sesama muslim. HR Bukhary.</p>
<p>Yang akhwat juga sama, mentang-mentang laku diterima aja ada orang lain yang melamarnya. Ketika dia sudah dilamar oleh orang lain dan belum memberikan jawabannya maka akhwat itu nggak boleh menerima lamaran dari orang lain. Kecuali nih, mislanya kamu (yang akhwat) dilamar oleh ikhwan, cuman belum ada kepastian hingga waktunya begitu panjang, maka kamu boleh &#8220;ijtihad&#8221; untuk menerima lamaran orang lain dengan syarat ada indikasi bahwa ikhwan yang pertama melamar memang tidak ada niat untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.</p>
<p>Ada batasan ga&#8217; lamanya menunggu jawaban ? ukuran lamanya sih ngga ada, cuman kalau di emang sudah tidak mau lagi ata, kita cari yang lain, gitu aja kok repot.</p>
<p>Kembali ke masa-masa peminangan, walaupun kamu berdua sudah resmi dalam ikatan peminangan cuman belum resmi dalam ikatan pernikahan, jadi hal-hal yang tidak diperbolekan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tetap berlaku, kamu nggak boleh jalan berduaan, duduk berduaan, berdiri berduaan apalagi ……. berduaan. Haram hukumnya. Karena kamu emang belum resmi menjadi suami istri.</p>
<p>Pada asalnya masa peminangan ini juga sebagai waktu tenggang buat kamu untuk memilih apakah akan meneruskan atau tidak. Nah… di sni disyariatkan kamu untuk shalat istikharah buat memilih mana yang terbaik.</p>
<p>Oke deh, sudah tahu semuanya siap-siap lagi melangkah ke perjalanan selanjutnya ? kalau sudah siap kita lanjutkan perjalanan ini, tapi kalau belum ane tunggu sampai siap.</p>
<p><strong>Walimah, Sungguh Indah di lidah</strong></p>
<p>Kita telah sampai ke harai &#8220;H&#8221; yang telah disepakati bersama. Hari ini kamu akan melakukan ritual suci sunnah para nabi hi&#8230;.hi&#8230;..tapi sebelum melangkah ke acara tersebut kamu kudu puny aperisapan lagi nih. Persiapan lagi ? apa yang harus disiapkan lagi ?</p>
<p>Sabar, orang sabar disayang Al-Jabbar (Allah ta&#8217;ala maksudnya). Dulu sewaktu melamar sudah ditanyakan belum tentang mahar ? oh iyya, lupa ding belum nanya ? kalau belum berarti kamu masih ada waktu untuk menanyakannya, bisa pakai hp, telf atau email. Kalau sudah yan syukur berarti kita emang tinggal melangkah saja. Cuman sebelum lebih jauh kita bahs dulu sedikit yah, sekali lagi sabar.</p>
<p lang="es-AR">Mahar emang bukanlah salah satu dari rukun atau syarat dalam sebuah pernikahan, ia adalah sebuah penghargaan dari seorang suami kepada istrinya, coba deh baca ayat di bawah ini :</p>
<p lang="es-AR"><span style="font-family:Tahoma;">لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً</span></p>
<p>Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. QS Al-Baqarah ayat 236.</p>
<p>Dalam ayat yang lain disebutkan secara gambalng mengenai hokum mahar atau di Indonesia di kenal dengan maskawin :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">وَءَاتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا</span>(4)</p>
<p>Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. QS An-Nisaa ayat 4.</p>
<p>Jumlah beasr kecilny amahar biasanya disesuaikan dengan adat istiadat daerah setempat, atau dapat pula diserahkan kepada akhwatnya, berpa dia minta maharnya. Para ulama juga membatas tentang batasan minimal danmaksimal, namun semua itu hanya sebatas hokum-hukum yang sangat fleksible, apalagi telah dating kepada kita riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa mahar tersebut bisa berupa cicncin yang terbuat dari besi, yang penting ada nilainya.</p>
<p>Urusan mahar memang diserahkan sepenuhnya buat kamu yang akhwat, artinya kamu punya kekuasaan untuk menentukan. Perlu diingat yah, ini bukan berarti nilai atau harga jual kamu, namun mahar lebih bermakna dari itu semua. Mengenai hal ini Rasulullah membimbing buat kamu yang akhwat untuk mmepringan kadar mahar dengan sabdaNya :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">خَيْرُ الصَّدَاق</span></span></span><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">ِ أَيْسَرَهُ</span></span></span><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">. </span></span><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Simplified Arabic;"><span style="font-size:medium;">رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ</span></span></span></p>
<p>Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan.  HR Abu Daud dan Al-Baihaqi.</p>
<p>Inti dari sebuah mahar adalah nilai yang ada di dalamnya, sehingga pada zaman Nabi, mahar itu bisa hanya berupa cincin besi, mengajarkan Al-Qur&#8217;an atau memrdekakn seorang budak. Hal itu terjadi karena mengandung nilai materi.</p>
<p>Kalau kamu yang ikhwan) ingin menambahi dengan yang lainnya sih boleh saja, monggo aja mas. Hal itu tentu akan meperingan &#8220;beban&#8221; pihak akhwat.</p>
<p lang="es-AR">
<p>* * *</p>
<p>Thayyib, sekarang perjalanan ini kit alanjutkan. Saatnya kamu siapin diri untuk menuju detik-detik bersejarah dalam hidupmu. Sama aja mau yang ikhwan atau yang akhwat tentu deg-degan. Yup, hari ini adalah hari &#8220;H&#8221; yaitu hari di mana akad nikah akan segera dilaksanakan. Mahar sudah disipakan, badan sudah dimandikan (bukan mandi kembang ya&#8230;), tetangga sudah diundang, keluarga sudah pada datang tinggal berangkat ke pelaminan.</p>
<p>Yang akhwatnya sudah siap belum ? kalau akhwat biasanya persiapannya lebih rumit nih, dari mulai menyiapkan wali nikah, saksi, tempat akd sampai yang mesti ada dan biasanya dipersiapkan jauh-jauh hari yaitu hidangan pesta walimah. Wuih… pokoknya bpaling ribet deh, pesan kue, bikin dodol, membuat ketan, pesan tenda sampai segala hal yang berbau pengantin. Apalagi kalau acara walimahnya dibikin gede-gedean, aduh pasti deh harus pakai kebaya segala, didandanin and more.</p>
<p>Makanya jauh-jauh hari kamu kudu &#8220;dakwah&#8221;ke orang tua, mengenai acara walimah kayak gini. Peran ikhwan juga turut menentukan lho, acara walimah yang syar&#8217;i. Pokoknya jangansamapi deh diawali dengan maksiat diakhiri dengan laknat. <em>Na&#8217;udzubillah min dzalika.</em></p>
<p lang="es-AR">Sebelum kita ngomongin tentang walimah, kita ngmongin akad nikah dulu yah, soalnya khan emang akad dulu baru walimah. Setuju ? kudu !!!</p>
<p lang="es-AR">Tadi itu dari ikhwannya sudah siap semuanya, dari akhwat juga sudah tinggal ketemu deh di depan pak Penghulu. Ini ciri khas Indonesia, jadi jangan di anggap kalau nggak ada pak Penghulu nggak sah nikahnya.kamu tahu khan yang namanya syarat syah nikah itu ngga bikin repot, nah biar lebih jelas sah tidaknya sebuah akad maka rukun-rukun ini harus ada :</p>
<ol>
<li>
<p lang="es-AR">Mempelai laki-laki dan perempuan. Kalo laki-laki dengan laki-laki 	itu bukan nikah namanya, tapi hombreng, ih&#8230;&#8230;. amit-amit. Kok 	ngomongin mereka sih ? keceplosan aja, lagian sekarang banyak 	orang-orang yang memperjuangkan pernikahan model begitu. Jadi kamu 	juga kudu tahu bahwa hal itu jelas zina. Dan dosa besaaaaaaaaar.</p>
</li>
<li>Wali 	nikah dari pihak perempuan. Ini yang &#8220;punya&#8221; akhwat bisa 	ayah, paman, kakek saudara laki-laki dan kerabat dekat dari pihak 	ayah lainnya. Kalo gak ada bisa digantikan dengan 	wali hakim yaitu perwakilan dari pemerintah.</li>
<li>Dua 	orang saksi. Ini sih gambpang dicari tinggal comot aja hadirin yang 	datang, tapi kudu selektif juga jangan smebarangan. Nanti saksinya 	orang tua yang udah <em>ohir </em>lagi. 	Nanti kalau ada apa-apa nggak bisa jadi saksi deh. Tapi ya 	jangansamapilah ada apa-apa.</li>
<li>
<p lang="es-AR">Ijab dan Qabul. Ini nih yang bikin sesuatu yang haram menjadi halal. 	Sesuatu yang tadinya dilarang menjadi wajib.</p>
</li>
</ol>
<p>Itu tadi rukun-rukun nikah, tahu kagak maksudnye ? rukun itu artinye kalau salah satunya tidak ada maka pernikahan tersebut batal dan tidak sah, makanya kudu ada dan lengkap semua rukun itu. Kalau sudah terpenuhi baru ngomongin tentang syarat-syaratnya. Yang namanya syarat sebenarnya cuman penjabaran dari rukun tadi, misalnya nih :</p>
<ol>
<li>Mempelai 	laki-laki dan perempuan. Syarat-syarat yang harus ada padanya 	biasanya bukan mahram, kemudian sehat jasmani dan rohani alias tidak 	gila (siapa yang mau nikah sama orang gila ?). terus yang penting 	banget nih, kedua mempelai kudu orang islam, jadi kalau ada 	pernikahan beda agama itu tidak sah terutama kalau laki-lakinya yang 	orang kafir. Kalau perempuannya yang kafir sih masih ada sedikit 	kompromi.</li>
<li>Wali 	nikah dari pihak perempuan. Mereka yang berhak menjadi wali adalah 	kerabat dekat dari si mempelai perempuan, mislanya ayah and other.</li>
<li>Dua 	orang saksi. Persyaratan yang ada pada 	saksi hampir sama dengan yang ada pada pengantin, misalnya nih, 	mereka harus dua orang laki-laki kalau perempuan yang dua orang 	sebanding dengan satu orang laki-laki, terus mereka nggak gila, 	baligh (bukan anak-anak), merdeka beragama Islam pokoknya sehat 	jasmani dan rohani deh.</li>
<li>
<p lang="es-AR">Ijab dan Qabul. Syaratnya gampang banget yang penting lafadh atau 	ucapan akad yang berupa ijab dan kabul diengerti oleh pihak-pihak 	yang berakad, jadi mau pake bahsa Arab, Indonesia, Sunda, Jawa, 	Batak, papua semuanya sah.</p>
</li>
</ol>
<p lang="es-AR">
<p lang="es-AR">Kalau semua sudah siap tinggal laksanakan akad nikah itu. Caranya gimana nih ? ya gampang aja tinggal salaman dengan wali perempuan kemudian sang wali mengucapakan ijab. Misalnya begini &#8220;Saya nikahkan putri saya yang bernama &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..binti &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..(nama akhwatnya dan nama orang tauanya) dengan Al-Akh &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.bin &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. (nama kamu orang tua kamu) dengan maskawin lima gram emas tunai.</p>
<p lang="es-AR">Kamu sebagai mempelai laki-laki tinggal mengucapkan qabul deh, contohnya begini  &#8220;Saya terima nikahnya &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..binti &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..(nama akhwatnya dan nama orang tauanya) dengan maskawin lima gram emas dibayar tunai.</p>
<p>Kalau sudah begitu tinggal ditanyakan pada para saksi &#8220;Apakah akad ini sah?&#8221; jika mereka menjawab sah, ya berarti sudah sah. Dan jadi akad pernikahan kamu. Oh ya&#8230; kalau maharnya dibayarnya nanti alias ngutang or <em>nganjuk </em>maka tinggal diganti aja ucapan &#8220;&#8230;.. dengan maskawin lima gram emas dibayar hutang / cicilan&#8221;. Gampang juga khan. Namanya juga zaman sekarang semua serba dikreditin.</p>
<p>Walaupun dalam masalah akad nikah seperti ini biasanya jarang banget yah&#8230;. mungkin pada <em>jaim</em> kali.</p>
<p lang="es-AR">Sudah selesai semua akad nikah tinggal, para hadirin mengucapkan do&#8217;a buat kedua mempelai. Begini do&#8217;anya :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">بارك الله لك</span>, <span style="font-family:Tahoma;">و بارك عليك وجمع بينكما في خير </span></p>
<p>Semoga Allah ta&#8217;ala memberkahimu, dan keberkahannya senantiasa atas kamu dan menjadikan antara kamu berdua dalam segala kebaikan.</p>
<p>Eh… pas akad nikah berlangsung pengantin perempuan posisinya di mana nih ? apa duduk berdua dan ditaruh slendang di atasnya ? atau duduk berhadapan ? engga lah…. Semua itu gak ada contohnya. Kalau kamu mau yang sesuai Islam, dalam akad nikah tersebut yang wajib hadir adalah pengantin laki-laki dan wali dari pengantin perempuan, serta dua orang saksi. Pengantin perempuan boleh saja menyaksikan tapi bukan di dekat calon suaminya karena belum sah. Namanya dosa ya tetap dosa.</p>
<p>Jadi sewaktu akad nikah berlangsung pengantin perempuan ya tetap aja ngga harus di majlis tersebut. Kamu tahu khan tetap aja ngga boleh ada <em>ikhtilath </em>(campur baur antara laki-laki dan perempuan) makanya pengantin perempuan tetap berada di majlisnya perempuan.</p>
<p>Kalau di Indonesia biasanya akad ini dihadiri oleh petugas KUA. Ia sebagai wakil pemerintah untuk mencatat setiap pernikahan yang berlangsung di seluruh wilayah Indonesia, ga&#8217; jadi masalah khan, ia sebagai tertib administrasi biar orang yang udah pernah nikah nggak bohong nagku belum pernah menikah.</p>
<p>Trus dalam akad nikah di Indonesia juga biasanya pihak mempelai laki-laki disuruh membaca <em>sighat ta&#8217;liq </em>mirip-mirip &#8220;Janji pengantin&#8221; barangkali. Hal ini dibuat untuk melindungi perempuan biar ngga disembarangin sama laki-laki. Kamu setuju khan ? cuman perlu diingat itu bukan bagian dari sah tidaknya pernikahan. Jadi kalau ngga dibaca juga ga apa-apa.</p>
<p>Satu lagi hampir lupa, dalam akad nikah biasanya sebelum dilaksanakan ijab qabul biasanya petugas dari KUA memerintahkan untuk membaca syahadat. Lagi-lagi ini juga sebagai bentuk antisipasi aja, biar yang menikah itu bener-bener orang Islam. Makanya kalau kita yakin udah Islam yang ngga usahlah baca syahadat segala. Lagian khan kita udah syahadat dari dulu dan setiap kali shalat.</p>
<p lang="es-AR">Selain itu juga ada sunnah lain nih yang emang ada contohnya yaitu, Khutbah Nikah, semacam nasehat buat kedua mempelai yang sudah berakad agar dapat membina kehidupan rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah. Udah beres semuanya khan ?</p>
<p><strong>Walimah, Sunnah and Meriah </strong></p>
<p>Kalau akad nikah sudah selesai tinggal dilanjutkan dengan walimah atawa pesta pernikahan, bahasa nggak kerennya sih &#8220;Wedding party&#8221;. Pesta kayak gini emang diperintahkan Nabi :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">اولم ولو بشاة </span></p>
<p>Rayakanlah pesta pernikahan itu walaupun hanya dengan seekor kambing. HR. Muslim</p>
<p>Bro and Sis (masih ingat khan ?) kamu kudu ati-ati dengan acara kayak gini, soalnya biasanya acara beginian yang sering mendatangkan kemurkaan Ar-Rahman. Bagaimana tidak ? sebuah akad suci yang begitu Dia ridhai harus dilumuri dengan <em>ma&#8217;ashi </em>(kemaksiatan) berjama&#8217;ah lagi, apa gak ngeri ?</p>
<p>Ini bukan nakut-nakutin kamu, justru istilahnya mengajak kamu untuk kembali muhasabah diri. Jangan sampai pernikahan suci ini dikotori oleh segala bentuk kemaksiatan yang mandatangkan laknat Ar-Rahman.</p>
<p>Aduh gimana dong ini ? eh ngomong-ngomong kamu tahu gak kemaksiatan yang ada dalam walimah ? tahu sih dikit-dikit. Ok deh kita inventarisir (itung-itung) yah kemaksiatan di walimah itu :</p>
<ol>
<li>Adanya 	musik jahiliyah (kalo nasyeed sih…. Ada toleransi lah )</li>
<li>Penyanyi 	yang bergoyang ria (kayak gini nih… yang bikin pernikahan gak 	berkah)</li>
<li>Nyanyian 	yang mengajak kepada perzinahan, (tahu sendiri khan syair-syair 	nyanyian sekarang, kalau ngga memuja perempuan, cinta atau 	kesenangan dunia saja)</li>
<li>Campur 	baurnya laki-laki dan perempuan. (kamu 	tahu dong ini akan membawa kepada jenis kemaksiatan lainnya)</li>
<li>Pakaian 	pengantin yang membuka aurat (penginnya sih tampil anggun di hari 	pernikahan tapi kalau sampai membuka aurat itu bukan anggun tapi 	ancur)</li>
<li>Dipotongnya 	jenggot pengantin pria (kalau yang punya)</li>
<li>Dihidangkannya 	makanan dan minuman yang subhat or haram misalnya rokok.</li>
<li>Tradisi 	para tamu yang tidak menghabiskan makanannya (katanya sih jaga 	gengsi padahal tabdzir).</li>
<li>Pengantin 	perempuan yang bertabaruj di depan laki-laki <em>ajnabi.</em> (harusnya pengantin perempuan mikir yah, khan kecantikannya untuk 	suaminya saja bukan untuk dinikmati orang lain, ini malah udah 	<em>tabaruj</em> sambil senyum lagi, kalau boleh agak tegas sih udah maksiat senang 	lagi)</li>
<li>Cara 	berpakaian yang tasyabuh dengan pakaian 	orang kafir. (biasanya sih nyari model yang lagi trend, ada yang 	kepanjangan sampai di seret atau kependekan hanya beberapa senti 	dari pinggang, ada yang panjang kelihatnnya sopan, eh&#8230; belahannya 	mengguncang iman, plus bagian dada yang terbuka dan sengaja 	dipamerkan pokoknya ancur deh)</li>
</ol>
<p>Itu baru sebagian dari kemaksiatan yang ada, apa kamu harus menanggung semua dosa itu ? tentu gak mau khan ? makanya kalau mau ngadain walimah harus pinter-pinter ngelobi ortu. Soalnya nih&#8230; biasanya dalam masalah kayak gini ortu yang pegang setir.</p>
<p lang="es-AR">
<p lang="es-AR">* * *</p>
<p>Kalau emang nggak bisa banget sesuai dengan Islam setelah usaha maksimal, ya kompromi dengan orang tua bagaimana agar kemaksiatan itu bisa diminimalisir, caranya ? buat walimah yang tidak melanggar syariah. Misalnya nih, antara tamu laki-laki dan tamu perempuan dipisah tempatnya. Terus jangan ada musik-musik jahiliyah and pakaian pengantin gak usah yang macam-macam kalau bisa, desain sendiri dan yang pasti harus menutup aurat dong, Itu kudu.</p>
<p>Kalau lagi walimah begini sih boleh aja menabuh rebana, biar rame githu&#8230;.. bisanya sih emang perempuan-perempuan muda yang mendendangkan lagu-lagu, tapi bukan lagu-lagu membawa kepada perbuatan nisat. Ia hanya sebagai hiburan bagi kedua pengantin agar bergembira. Karena itu emang hari bergembira buat keduanya.</p>
<p>Mengenai hidangan walimah gak ada batasannya, kalau di Arab sih emang biasanya pakai kambing seperti ucapan nabi pada seorang shahabatnya yang menjadi pengantin  :</p>
<p lang="es-AR"><span style="font-family:Tahoma;">فباركالله لك</span>, <span style="font-family:Tahoma;">اولم ولو بشاة </span></p>
<p>Semoga Allah memberkahimu, buatkanlah walimah walaupun dengan seekor kambing. HR. Muslim.</p>
<p>Walaupun begitu Nabi sendiri pernah mengadakan walimah hanya dengan korma dan minyak samin tidak ada roti dan tidak ada daging padanya :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">أَوْلَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ بِمُدَّيْنِ </span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">مِنْ شَعِير</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">ٍ</span></span></span></p>
<p>Nabi Muhammad <em>Shalallahu Alaihi Wa Salam</em> melaksanakan walimah dengan salah satu dari istrinya dengan dua <em>mudz sya&#8217;ir</em>. HR Bukhary.</p>
<p>Dalam riwayat yang lain disebutkan :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُولِمُ بِالْوَلِيمَةِ مَا فِيهَا خُبْزٌ </span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">وَلَا لَحْم</span></span></span><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:medium;">ٌ</span></span></span></p>
<p>Bahwasanya Rasulullah <em>Shalallahu Alaihi Wa Salam </em>mengadakan walimah untuk dirinya tanpa hidangan roti maupun daging. HR Bukhary.</p>
<p>Intinya ya… namanya walimah hidangkan apa saja yang kita mampu  ya&#8230; kita hidangkan, kalau nggak ya masa mau maksa sih.</p>
<p>Kebiasaan yang harus dihindari adalah jangan berlebihan dalam hal makanan, karena berlebih-lebihan itu adalah teman-temannya syetan :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا</span>(27)</p>
<p>Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. QS Al-Isra ayat 27.</p>
<p>Sebenarnya kalau secara ilmu ekonomi perbuatan mubadzir akan merugikan kita sendiri, masak kita sudah capek-capek mengeluarkan uang untuk membeli makanan tersebut eh… malah dibuang. Harusny akita marah loh dengan hal ini. Makanya kalau perlu tulis deh bacaan &#8220;Jangan berbuat mubadzir&#8221; biar para tamu juga paham dan dapat mengamalkannya.</p>
<p>Terakhir dalam rangkaian acara walimah ini kamu kudu mengundang siapa saja yang kamu kenal, artinya tidak hanya orang kaya saja, namun juga orang-orang miskinpun harus diundang untuk mengikuti pesta itu. Jangan pilih kasih, mentang-mentang pengin kelihatan wah…. Tamu-tamu yang diundang cuman yang bawa kendaraan. Ingat deh sabda Nabi :</p>
<p><span style="font-family:Tahoma;"><span style="color:#000000;">شَرُّ الطَّعَام</span>ِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الْأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</span></p>
<p>Sejelek-jelek makanan adalah makanan dalam walimah (pesta pernikahan) yang hanya mengundang orang-orang kaya saja dan tidak mengundang orang-orang miskin, barang siapa yang tidak hadir ketika diundang maka ia telah durhaka kepada Allah dan RasulNya. HR Bukhary, Muslim dan Malik.</p>
<p>Ah…. Akhirnya walimah kelar juga. Para tamu undangan sudah pada kembali, malam pun kian menjelang. Saatnya kamu bertemtu dengan si dia. Ups&#8230;. jangan berfikir macam-macam dulu yah&#8230;&#8230; jangan lupa siapkan diri lahir dan batin untuk berhadapan dengan si dia pertama kali.</p>
<p>Ketika pertama kali mengetuk pintu jangan lupa ucapkan salam dan masuklah perlahan. Lalu kecuplah keningnya, ih&#8230; tambah deg-degan nih&#8230;&#8230; disunnahkan meminum minuman yang manis semisal susu satu gelas untuk berdua, biar romantis yah. Setelah itu laksanakan shalat sunnah dua rakaat secara berjama&#8217;ah. Bolehlah bercakap-cakap sejenak, namun karena hari makin larut nggak baik terlalu lama ngobrol. Selanjutnya terserah kamu berdua. Buku ini Cuma ngajak kamu samapi di sini, mengenai kelanjutannya tunggu buku selanjutnya yang membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan mahligai rumah tangga.</p>
<p lang="es-AR">Kita khan sudah sampai di akhir perjalanan jadi saya ucapkan :</p>
<p lang="es-AR"><span style="font-family:Tahoma;">بارك الله لك</span>, <span style="font-family:Tahoma;">و بارك عليك وجمع بينكما في خير </span></p>
<p>Semoga Allah ta&#8217;ala memberkahimu, dan keberkahannya senantiasa atas kamu dan menjadikan antara kamu berdua dalam segala kebaikan.</p>
<p>Bogor, 21 Juni 2008.</p>
<p><strong>Referensi </strong></p>
<ol>
<li>
<p lang="es-AR">Al-Quran Al-Karim dan terjemahnya</p>
</li>
<li>Hadits 	Shahih Bukhary</li>
<li>
<p lang="es-AR">Hadits Shahih Muslim</p>
</li>
<li>
<p lang="es-AR">Musnad Imam Ahmad</p>
</li>
<li>
<p lang="es-AR">Jami&#8217; Sunan Thirmidzi</p>
</li>
<li>
<p lang="es-AR">Tarjamah Bulugh Al-Maram, A. Hasan.</p>
</li>
<li>Mahar 	dan Walimah, DR. Shaleh bin Ghanim As-Sadlan</li>
<li>Silsilah 	Hadits Ash-Shahihah, Syaikh Muhammad Al-Albani.</li>
<li>Fiqih 	Munakahat, Drs. Slamet Abidin dan Drs. H. Aminudin</li>
<li>Hukum 	perkawinan Islam, KH. Ahmad Azhar Basyir.</li>
<li>Hadits 	Shahih Al-kjamius Shahih Bukhary-Muslim, Hussein Bahreisj.</li>
</ol>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Bisakah Shalat Idul Adha Menggugurkan Shalat Jumat?]]></title>
<link>http://harakatuna.wordpress.com/2009/11/25/bisakah-shalat-idul-adha-menggugurkan-shalat-jumat/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 15:18:37 +0000</pubDate>
<dc:creator>harakatuna</dc:creator>
<guid>http://harakatuna.wordpress.com/2009/11/25/bisakah-shalat-idul-adha-menggugurkan-shalat-jumat/</guid>
<description><![CDATA[Oleh: Ahmad Sarwat, Lc warnaislam.com &#8211; Masalah ini memang sering ditanyakan ke saya, yaitu ma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Oleh: Ahmad Sarwat, Lc warnaislam.com &#8211; Masalah ini memang sering ditanyakan ke saya, yaitu ma]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Rukun qurban]]></title>
<link>http://adekunya.wordpress.com/2009/11/25/rukun-qurban/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 15:03:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>tedisobandi</dc:creator>
<guid>http://adekunya.wordpress.com/2009/11/25/rukun-qurban/</guid>
<description><![CDATA[Al-alim Al-amah imam gozali dalam kitabnya al waziz telah menjelaskan akan rukun udhhiyah, yaitu : ا]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;">Al-alim Al-amah imam gozali dalam kitabnya al waziz telah menjelaskan akan rukun udhhiyah, yaitu :</p>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الذبيح</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الوقت</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;"><strong>الذابح</strong></h2>
<h2 style="text-align:right;">الذبح</h2>
<p style="text-align:justify;">1. Addzabiihu 		: sesuatu yang di sembelih<br />
2. Al-waqtu 		: waktu menyembelih<br />
3. Addzaabihu      	: orang yang memotong<br />
4. Addzbhu 		: penyembelihan / menyembelihnya</p>
<p style="text-align:justify;">Karena rukun itu sesuatu yang mesti ada dan tidak boleh <!--more-->di hilangkan, karena bila kita menghilangkan suatu rukun berarti ibadah kita tidak akan berdiri dan tidak akan jadi, karena rukun itu adalah tiang. bagaimana bisa berdiri suatu bangunan bila tiang itu tidak ada atau di robohkan.<br />
Begitu juga suatu ibadah, bagaimana bisa syah suatu ibadah bila rukun-rukunya itu di hilangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh dalam masalah qurban, rukun-rukun itu harus ada, mulai dari 1.sesuatu yang di sembelihnya (hewan-hewan ternak yang telah di tentukan), 2.waktu penyembelihanya (iedul adha dan hari tasyrik), 3.orang yang memotongnya, dan 4.menyembelihnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Coba kita hilangkan salah satu dari rukun itu, maka bukan di katagorikan qurban. Umpamanya kit hilangkan yang no 1, (hewanya). Maka mau menyembelih apa kita kalo hewnya gak ada.? Gak mungkin kan menyembelih batu..! kan batu gak bisa di sembelih, paling batu mah bisanya di martil atau di dagorin,</p>
<p style="text-align:justify;">Kita coba tuk menghilangkan no 2.(waktu menyembelih), maka namanya bukan qurban atuh, masa qurban di bulan romadhon, kan kita udah tau kalo qurban itu tanggal berapa pada bulan berapa.!ayo coba tebak..? masa gak tau.?</p>
<p style="text-align:justify;">Di coba lagi kita hilangkan yang no 3.(orang yang memotong/pemotongnya), alangkah uniknya bila hewan telah ada, dan waktunya tepat, tetapi yang mau memotongnya gak ada..aduh mau di apakan atuh hewanya,?mau di ternak aja,?kenapa gak di sembelih-sembelih atuh.?</p>
<p style="text-align:justify;">Di coba lagi kia hilangkan no 4.(menyembelihya), ini lebih aneh lagi. bila hewan telah ada di hadapan, waktunya telah tepat, orang yang mau memotongnya telah ada, tetapi semuanya cuman diam aja, tukang jagalnya juga malah melamun (mikiran nasib),,,kapan mau di sembelihya atuh mang.?ih gak di sembelih-sembelih ya hewanya tetap hidup atuh, jadi itu mah, bukan kurban namanya atuh……(ANEH atuh euy)</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Panduan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha]]></title>
<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/25/panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 10:28:56 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafiyunpad</dc:creator>
<guid>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/25/panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam ke]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<p><em>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang meniti jalan mereka hingga akhir zaman. </em></p>
<p>Berikut adalah panduan ringkas dalam shalat ‘ied, baik shalat ‘Idul Fithri atau pun ‘Idul Adha. Yang kami sarikan dari beberapa penjelasan ulama. Semoga bermanfaat.<br />
<strong>Hukum Shalat ‘Ied</strong><br />
Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah <strong>wajib bagi setiap muslim</strong>, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim[1]. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,<br />
أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.</em>“[2]</p>
<p>Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).[3]<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terus menerus melakukannya.<!--more--><br />
<strong> </strong></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,<br />
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</p>
<p>“<em>Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).</em>” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Keempat</strong>: Shalat jum’at menjadi gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied jika kedua shalat tersebut bertemu pada hari ‘ied. Padahal sesuatu yang wajib hanya boleh digugurkan dengan yang wajib pula. Jika shalat jum’at itu wajib, demikian halnya dengan shalat ‘ied. –Demikian penjelasan Shidiq Hasan Khon yang kami sarikan-.<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Pendapat yang menyatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim lebih kuat daripada yang menyatakan bahwa hukumnya adalah fardhu kifayah (wajib bagi sebagian orang saja). Adapun pendapat yang mengatakan bahwa hukum shalat ‘ied adalah sunnah (dianjurkan, bukan wajib), ini adalah pendapat yang lemah. Karena Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sendiri memerintahkan untuk melakukan shalat ini. Lalu beliau sendiri dan para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali, -pen), begitu pula kaum muslimin setelah mereka terus menerus melakukan shalat ‘ied. Dan tidak dikenal sama sekali kalau ada di satu negeri Islam ada yang meninggalkan shalat ‘ied. Shalat ‘ied adalah salah satu syi’ar Islam yang terbesar. … Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidak memberi keringanan bagi wanita untuk meninggalkan shalat ‘ied, lantas bagaimana lagi dengan kaum pria?”[4]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Waktu Pelaksanaan Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Menurut mayoritas ulama –ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali-, waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak[5] sampai waktu <em>zawal</em> (matahari bergeser ke barat).[6]</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa</em> mengakhirkan shalat ‘Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha. Ibnu ‘Umar yang sangat dikenal mencontoh ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>tidaklah keluar menuju lapangan kecuali hingga matahari meninggi.”[7]</p>
<p>Tujuan mengapa shalat ‘Idul Adha dikerjakan lebih awal adalah agar orang-orang dapat segera menyembelih qurbannya. Sedangkan shalat ‘Idul Fitri agak diundur bertujuan agar kaum muslimin masih punya kesempatan untuk menunaikan zakat fithri.[8]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Tempat Pelaksanaan Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Tempat pelaksanaan shalat ‘ied lebih utama (lebih afdhol) dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada udzur seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri mengatakan,<br />
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى</p>
<p>“<em>Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.</em>“[9]</p>
<p>An Nawawi mengatakan, “Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”[10]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Tuntunan Ketika Hendak Keluar Melaksanakan Shalat ‘Ied</strong><br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat. Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat riwayat yang shahih yang menceritakan bahwa Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat mencontoh ajaran Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mandi pada hari ‘ied sebelum berangkat shalat.”[11]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Berhias diri dan memakai pakaian yang terbaik. Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa keluar ketika shalat ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik.”[12]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Makan sebelum keluar menuju shalat ‘ied khusus untuk shalat ‘Idul Fithri.</p>
<p>Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,<br />
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”[13]</p>
<p>Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied.[14]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Keempat</strong>: Bertakbir ketika keluar hendak shalat ‘ied. Dalam suatu riwayat disebutkan,<br />
كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”[15]</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah berangkat shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Al Fadhl bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin’Abbas, ‘Ali, Ja’far, Al Hasan, Al Husain, Usamah bin Zaid, Zaid bin Haritsah, dan Ayman bin Ummi Ayman, mereka mengangkat suara membaca tahlil (laa ilaha illallah) dan takbir (Allahu Akbar).”[16]<br />
<strong><em></em></strong></p>
<p><strong>Tata cara takbir ketika berangkat shalat ‘ied ke lapangan:</strong></p>
<p>[1] Disyari’atkan dilakukan oleh setiap orang dengan menjahrkan (mengeraskan) bacaan takbir. Ini berdasarkan kesepakatan empat ulama madzhab.[17]</p>
<p>[2] Di antara lafazh takbir adalah,<br />
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ</p>
<p>“Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya)” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa lafazh ini dinukil dari banyak sahabat, bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa lafazh ini marfu’ yaitu sampai pada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.[18]</p>
<p>Syaikhul Islam juga menerangkan bahwa jika seseorang mengucapkan “<em>Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar</em>“, itu juga diperbolehkan.[19]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kelima</strong>: Menyuruh wanita dan anak kecil untuk berangkat shalat ‘ied. Dalilnya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu ‘Athiyah yang pernah kami sebutkan. Namun wanita tetap harus memperhatikan adab-adab ketika keluar rumah, yaitu tidak berhias diri dan tidak memakai harum-haruman.</p>
<p>Sedangkan dalil mengenai anak kecil, Ibnu ‘Abbas –yang ketika itu masih kecil- pernah ditanya, “Apakah engkau pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>?” Ia menjawab,<br />
نَعَمْ ، وَلَوْلاَ مَكَانِى مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ</p>
<p>“<em>Iya, aku menghadirinya. Seandainya bukan karena kedudukanku yang termasuk sahabat-sahabat junior, tentu aku tidak akan menghadirinya</em>.”[20]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Keenam</strong>: Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda. Dari Jabir, beliau mengatakan,<br />
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.</em>“[21]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Ketujuh</strong>: Dianjurkan berjalan kaki sampai ke tempat shalat dan tidak memakai kendaraan kecuali jika ada hajat. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,<br />
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا.</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki.</em>“[22]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Tidak Ada Shalat Sunnah Qobliyah ‘Ied dan Ba’diyah ‘Ied</strong></p>
<p>Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,<br />
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا</p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada hari Idul Adha atau Idul Fithri, lalu beliau mengerjakan shalat ‘ied dua raka’at, namun beliau tidak mengerjakan shalat qobliyah maupun ba’diyah ‘ied.</em>“[23]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Tidak Ada Adzan dan Iqomah Ketika Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Dari Jabir bin Samuroh, ia berkata,<br />
صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ.</p>
<p>“Aku pernah melaksanakan shalat ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqomah.”[24]</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sampai ke tempat shalat, beliau pun mengerjakan shalat ‘ied tanpa ada adzan dan iqomah. Juga ketika itu untuk menyeru jama’ah tidak ada ucapan “<em>Ash Sholaatul Jaam’iah</em>.” Yang termasuk ajaran Nabi adalah tidak melakukan hal-hal semacam tadi.”[25]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Tata Cara Shalat ‘Ied</strong></p>
<p>Jumlah raka’at shalat Idul Fithri dan Idul Adha adalah dua raka’at. Adapun tata caranya adalah sebagai berikut.[26]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Pertama</strong>: Memulai dengan takbiratul ihrom, sebagaimana shalat-shalat lainnya.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kedua</strong>: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- sebelum memulai membaca Al Fatihah. Boleh mengangkat tangan ketika takbir-takbir tersebut sebagaimana yang dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar. Ibnul Qayyim mengatakan, “Ibnu ‘Umar yang dikenal sangat meneladani Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa mengangkat tangannya dalam setiap takbir.”[27]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Di antara takbir-takbir (takbir zawa-id) yang ada tadi tidak ada bacaan dzikir tertentu. Namun ada sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia mengatakan, “Di antara tiap takbir, hendaklah menyanjung dan memuji Allah.”[28] Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian salaf di antara tiap takbir membaca bacaan,<br />
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي</p>
<p>“<em>Subhanallah wal hamdulillah wa  laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii </em>(Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku).” Namun ingat sekali lagi, bacaannya tidak dibatasi dengan bacaan ini saja. Boleh juga membaca bacaan lainnya asalkan di dalamnya berisi pujian pada Allah <em>Ta’ala</em>.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Keempat</strong>: Kemudian membaca Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri. Ia pun menjawab,<br />
كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ)</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa membaca “<em>Qaaf, wal qur’anil majiid</em>” (surat Qaaf) dan “<em>Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar</em>” (surat Al Qomar).”[29]</p>
<p>Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dan jika hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, dianjurkan pula membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua, pada shalat ‘ied maupun shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda,<br />
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “<em>Sabbihisma robbikal a’la” </em>(surat Al A’laa)<em> </em>dan<em> “Hal ataka haditsul ghosiyah” </em>(surat Al Ghosiyah).” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[30]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kelima</strong>: Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst).<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Keenam</strong>: Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Ketujuh</strong>: Kemudian bertakbir (takbir zawa-id/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kedelapan</strong>: Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Kesembilan</strong>: Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Khutbah Setelah Shalat ‘Ied </strong></p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,<br />
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ – رضى الله عنهما – يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ</p>
<p>“Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.”[31]</p>
<p>Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at).[32] Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar.[33] Beliau pun memulai khutbah dengan “<em>hamdalah</em>” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.</p>
<p>Ibnul Qayyim mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em><em> </em>membuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir. … Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.”[34]</p>
<p>Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,<br />
إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ<br />
<em></em></p>
<p><em>“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.”</em>[35]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Ucapan Selamat Hari Raya</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (<em>tah-niah</em>) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “<em>Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika</em>” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “<em>Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya</em>“. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia memiliki <em>qudwah</em> (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki <em>qudwah</em> (contoh).”<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Bila Hari ‘Ied Jatuh pada Hari Jum’at</strong></p>
<p>Bila hari ‘ied jatuh pada hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan <a title="panduan shalat ied" href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-shalat-idul-fithri-dan-idul-adha.html">shalat ‘ied</a>, ia punya pilihan untuk menghadiri shalat Jum’at atau tidak. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair.</p>
<p>Dalil dari hal ini adalah:</p>
<p>Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,<br />
أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».</p>
<p>“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan melaksanakannya.”[36]</p>
<p>Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [<em>ashobas sunnah</em>].”[37] Jika sahabat mengatakan <em>ashobas sunnah</em>(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.[38]</p>
<p>Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[39]<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> biasa membaca dalam shalat ‘ied dan shalat Jum’at “<em>sabbihisma robbikal a’la” </em>dan<em> “hal ataka haditsul ghosiyah”</em>.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[40] Karena imam dianjurkan membaca dua surat tersebut pada shalat Jum’at yang bertepatan dengan hari ‘ied, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at dianjurkan untuk dilaksanakan oleh imam masjid.</p>
<p>Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied –baik pria maupun wanita- maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur (4 raka’at) sebagai ganti karena tidak menghadiri shalat Jum’at.[41]<br />
Demikian beberapa penjelasan ringkas mengenai panduan shalat Idul Fithri dan Idul Adha. Semoga bermanfaat.<br />
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.</p>
<p>Diselesaikan di Pangukan, Sleman, di hari yang baik untuk beramal sholih, 7 Dzulhijah 1430 H.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br />
Artikel www.muslim.or.id<br />
<strong> </strong></p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">[1] Lihat <em>Bughyatul Mutathowwi’ fii Sholatit Tathowwu’</em>, Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmoul, hal. 109-110, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, tahun 1427 H.</div>
<div id="ftn2">[2] HR. Muslim  no. 890, dari Muhammad, dari Ummu ‘Athiyah.</div>
<div id="ftn3">[3] Kami sarikan dari <em>Ar Roudhotun Nadiyah Syarh Ad Durorul Bahiyyah</em>, 1/202, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1422 H.</div>
<div id="ftn4">[4] <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/183, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.</div>
<div id="ftn5">[5] Yang dimaksud, kira-kira 2o menit setelah matahari terbit sebagaimana keterangan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam <em>Syarh Hadits Al Arba’in An Nawawiyah</em> yang pernah kami peroleh ketika beliau membahas hadits no. 26.</div>
<div id="ftn6">[6] Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/599 dan <em>Ar Roudhotun Nadiyah,</em> 1/206-207.</div>
<div id="ftn7">[7] <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/425, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, tahun 1407 H [Tahqiq: Syu'aib Al Arnauth dan 'Abdul Qadir Al Arnauth]</div>
<div id="ftn8">[8] Lihat <em>Minhajul Muslim</em>,  Abu Bakr Jabir Al Jaza-iri, hal. 201, Darus Salam, cetakan keempat.</div>
<div id="ftn9">[9] HR. Bukhari no. 956 dan Muslim no. 889.</div>
<div id="ftn10">[10] <em>Syarh Muslim</em>, An Nawawi, 3/280, Mawqi’ Al Islam.</div>
<div id="ftn11">[11] <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, 1/425.</div>
<div id="ftn12">[12] <em>Zaadul Ma’ad fii Hadyi Khoiril ‘Ibad</em>, 1/425.</div>
<div id="ftn13">[13] HR. Ahmad 5/352.Syaikh Syu’aib  Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>.</div>
<div id="ftn14">[14] Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/602.</div>
<div id="ftn15">[15] Dikeluarkan dalam As Silsilahh Ash Shahihah no. 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini <em>shahih</em>.</div>
<div id="ftn16">[16] Dikeluarkan oleh Al Baihaqi (3/279). Hadits ini hasan. Lihat <em>Al Irwa’ </em>(3/123)</div>
<div id="ftn17">[17] Lihat <em>Majmu’ Al Fatawa</em>, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 24/220, Darul Wafa’, cetakan ketiga, tahun 1426 H.</div>
<div id="ftn18">[18] Idem</div>
<div id="ftn19">[19] Idem</div>
<div id="ftn20">[20] HR. Bukhari no. 977.</div>
<div id="ftn21">[21] HR. Bukhari no. 986.</div>
<div id="ftn22">[22] HR. Ibnu Majah no. 1295. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>hasan</em>.</div>
<div id="ftn23">[23] HR. Bukhari no. 964 dan Muslim no. 884.</div>
<div id="ftn24">[24] HR. Muslim no. 887.</div>
<div id="ftn25">[25] <em>Zaadul Ma’ad</em>, 1/425.</div>
<div id="ftn26">[26] Kami sarikan dari <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/607.</div>
<div id="ftn27">[27] Idem</div>
<div id="ftn28">[28] Dikeluarkan oleh Al Baihaqi (3/291). Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid mengatakan bahwa sanad hadits ini <em>qowiy </em>(kuat). Lihat <em>Ahkamul ‘Idain, </em>Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid, hal. 21, Al Maktabah Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1405 H.</div>
<div id="ftn29">[29] HR. Muslim no. 891</div>
<div id="ftn30">[30] HR. Muslim no. 878.</div>
<div id="ftn31">[31] HR. Bukhari no. 963 dan Muslim no. 888.</div>
<div id="ftn32">[32] Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/607.</div>
<div id="ftn33">[33] Lihat keterangan dari Ibnul Qayyim dalam <em>Zaadul Ma’ad</em>, 1/425. Yang pertama kali mengeluarkan mimbar dari masjid ketika shalat ‘ied adalah Marwan bin Al Hakam.</div>
<div id="ftn34">[34] Idem</div>
<div id="ftn35">[35] HR. Abu Daud no. 1155 dan Ibnu Majah no. 1290. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></div>
<div id="ftn36">[36] HR. Abu Daud no. 1070, Ibnu Majah no. 1310. Asy Syaukani dalam <em>As Sailul Jaror</em> (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam <em>Al Majmu’</em> (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam <em>Al Ahkam Ash Shugro</em> (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam <em>Al Istidzkar</em> (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam <em>Al Ajwibah An Nafi’ah</em> (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.  Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.</div>
<div id="ftn37">[37] HR. Abu Daud no. 1071. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini <em>shahih.</em></div>
<div id="ftn38">[38] Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, 1/596.</div>
<div id="ftn39">[39] Lihat <em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, Syaikh Abu Malik, 1/596, Al Maktabah At Taufiqiyah.</div>
<div id="ftn40">[40] HR. Muslim no. 878.</div>
<div id="ftn41">[41] Lihat <em>Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyah wal Ifta’</em>, 8/182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi’ Al Ifta.</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mengusap Khuf]]></title>
<link>http://demakislam.wordpress.com/2009/11/25/mengusap-khuf/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:55:20 +0000</pubDate>
<dc:creator>demakislam</dc:creator>
<guid>http://demakislam.wordpress.com/2009/11/25/mengusap-khuf/</guid>
<description><![CDATA[Penulis : Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari Pengertian khuf Khuf adalah sesuatu yang dikenakan pa]]></description>
<content:encoded><![CDATA[Penulis : Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari Pengertian khuf Khuf adalah sesuatu yang dikenakan pa]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Audio: Tanya Jawab Seputar Nazhor (Melihat Calon Istri/ Suami) [Ust. Abdul Barr]]]></title>
<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/25/download-audio-tanya-jawab-seputar-nazhor-melihat-calon-istri-suami-ust-abdul-barr/</link>
<pubDate>Wed, 25 Nov 2009 01:38:17 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafiyunpad</dc:creator>
<guid>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/25/download-audio-tanya-jawab-seputar-nazhor-melihat-calon-istri-suami-ust-abdul-barr/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah, saudaraku sekalian silakan download rekaman tanya jawab tentang masalah nazhor (melih]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignleft" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:20bsxGv5aGs1EM:http://2.bp.blogspot.com/_5OdI5RAi-yo/STvueFG8arI/AAAAAAAAASw/RGhDdVu3SbU/s320/kaca%2Bpembesar%2B2.jpg" alt="" width="116" height="87" />Alhamdulillah, saudaraku sekalian silakan download rekaman tanya jawab tentang masalah nazhor (melihat calon istri atau suami) . Kajian ini disampaikan oleh Al Ustadz Al Fadhil Abdul Barr. Semoga rekaman kajian ini bermanfaat khususnya bagi mereka yang ingin menikah. Silakan download pada link berikut:<!--more--></p>
<blockquote><p><a href="http://statics.ilmoe.com/kajian/users/problemamuslim/Audio/Kitab%20Nikah/TanyaJawabNadzor_UstadzAbdulBarr.mp3">Download Tanya Jawab Seputar Nazhor</a></p></blockquote>
<p>Sumber: <em>problemamuslim.wordpress.com</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apabila Hari Raya ‘Ied Bertepatan dengan Hari Jum’at]]></title>
<link>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/24/apabila-hari-raya-%e2%80%98ied-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 08:53:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>Admin</dc:creator>
<guid>http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/24/apabila-hari-raya-%e2%80%98ied-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</guid>
<description><![CDATA[oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pad]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya</em>?<!--more--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab :</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em><span style="text-decoration:underline;">Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jum’at</span></em> maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur. Ini berlaku bagi selain imam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jum’at dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jum’at pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` Fatwa no. 2358</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu : Hari Jum’at dan ‘Idul Adh-ha. Manakah yang benar : Kita tetap melaksanakan shalat zhuhur jika kita tidak shalat Jum’at, ataukah kewajiban shalat zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jum’at?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab :</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jum’at bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jum’at, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jum’at darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(Para ‘ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">« شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال: أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل، »</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua ‘Id bertepatan pada satu hari?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau mengerjakan shalat ‘Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jum’at. Beliau mengatakan, Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jum’at), maka silakan mengerjakan shalat (Jum’at).”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> [1]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">« قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون »</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Telah terkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jum’at. Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> [2]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘Id pada hari tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, “Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat </em>(”Id dan Jum’at).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at bagi yang telah menunaikan shalat ‘Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jum’at.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`,Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, Wakil Ketua: ‘Abdurrazzaq ‘Afifi, Anggota: ‘Abdullah bin Ghudayyan, Anggota: ‘Abdullah bin Qu’ud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Adapun dalam fatwo 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apabila ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang telah menunaikan shalat ‘Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jum’at tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jum’at.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam An-Nakha’i, Al-Imam Al-Auza’i. Ini adalah madzhab shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhum dan para ‘ulama yang sependapat dengan mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertanyaan :</span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> <em>Apa hukum shalat Jum’at jika bertepatan dengan hari ‘Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at berarti tidak ada shalat shalat Jum’at.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jawab :</span></span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jum’at untuk menegakkan shalat Jum’at, hadir ke masjid, dan shalat berjama’ah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan shalat Jum’at pada hari ‘Id, beliau ‘alahish shalatu was salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jum’at. Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjama’ah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apabila dia melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jum’at, karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjama’ah. Wallahu Waliyyut Taufiq</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">(Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/341-342)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jum’at adalah kewajiban shalat Jum’at. Hari ‘Id apabila bertepatan dengan hari Jum’at termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat ‘Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syar’i, serta ijma’ (kaum muslimin) atas kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melaksanakan shalat Jum’at pada (hari yang bertepatan dengan) hari ‘Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits</span></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Nu’man bin Basyir :</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">“<em>Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).</em>”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jum’at maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jum’at, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat ‘Id dan shalat Zhuhur. Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya. Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jum’at dan Zhuhur yang sudah shalat ‘Id maka keumuman dalil-dalil syar’i, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma’ yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapayang tidak shalat Jum’at dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu. … .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XXX/261-262)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;">Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ‘ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa ….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kita katakan, Apabila hari Jum’at bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> B<em><span style="text-decoration:underline;">arangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jum’at bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua</span></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, tetap wajib mengadakan shalat Jum’at di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jum’at, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketiga</span></span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jum’at, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah. (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb &#8211; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[1] HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud &#8211; Al-Umm no. 981. (pent)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;">[2] HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud &#8211; Al-Umm no. 983.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial;color:#333399;">Dikutip dari : http://www.assalafy.org/mahad/?p=402#more-402 Penulis : Maha’d As-Salafy Jember Judul: Apabila Hari Raya (’Id) Bertepatan dengan Hari Jum’at</span></p>
<p>Baca Risalah terkait ini :<br />
0. <a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/09/14/7-tujuh-hal-yang-dikerjakan-di-hari-raya-iedul-fitri/" target="_blank">7 (Tujuh) HAL YANG DIKERJAKAN DI HARI RAYA ‘IEDUL FITRI</a><br />
1. <a title="Taut Tetap ke 28 (Duapuluh Delapan) Tuntunan Dalam Manasik Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/28-duapuluh-delapan-tuntunan-dalam-manasik-haji/">28 (Duapuluh Delapan) TUNTUNAN MANASIK HAJI</a><br />
2. <a title="Taut Tetap ke Mengenal 3 (Tiga)Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/21/mengenal-3-tigajenis-haji-dan-2-dua-macam-miqat-haji/">Mengenal 3 Jenis Haji dan 2 (Dua) Macam Miqat Haji</a><br />
3. <a title="Taut Tetap ke 15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/15-lima-belas-hal-yang-berkaitan-dalam-penyembelih-hewan-kurban/">15 (Lima Belas) Hal Yang Berkaitan Dalam Penyembelih Hewan Kurban</a><br />
4.<a title="Taut Tetap ke Tata Cara Menyembelih Hewan Kurban" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/tata-cara-menyembelih-hewan-kurban/">TATA CARA MENYEMBELIH HEWAN KURBAN</a><br />
5. <a title="Taut Tetap ke 10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/22/10-sepuluh-adab-dalam-merayakan-iedhul-adha/">10 (Sepuluh) Adab Dalam Merayakan Iedhul Adha</a><br />
6.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/04/23/beberapa-kesalahan-yang-sering-terjadi-di-musim-haji/" target="_blank">Beberapa Kesalahan yang Sering Terjadi di Musim Haji</a><br />
7.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/05/03/hadits-hadits-dha%E2%80%99if-seputar-ibadah-haji/" target="_blank">Hadits-hadits Dha’if Seputar Ibadah Haji</a><br />
8.<a title="klick" rel="bookmark" href="http://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/08/haji-ke-baitullah-bukan-untuk-mencari-gelar-atau-menaikkan-status-sosial/" target="_blank">Haji ke Baitullah Bukan Untuk Mencari Gelar atau Menaikkan Status Sosial</a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:9pt;color:black;">Diarsipkan pada: <a href="http://qurandansunnah.wordpress.com/"><span style="text-decoration:none;">http://qurandansunnah.wordpress.com/</span></a></span></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[download kitab Al-hawi Al-kabir]]></title>
<link>http://adekunya.wordpress.com/2009/11/24/download-kitab-al-hawi-al-kabir/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 08:35:23 +0000</pubDate>
<dc:creator>tedisobandi</dc:creator>
<guid>http://adekunya.wordpress.com/2009/11/24/download-kitab-al-hawi-al-kabir/</guid>
<description><![CDATA[kitab Al-hawi Al-kabir adalah salah satu kitab induk dan kitab rujukan ulama-ulama madzhab syafi]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>kitab Al-hawi Al-kabir </strong></span>adalah salah satu kitab induk dan kitab rujukan ulama-ulama madzhab syafi&#8217;i yang di karang oleh Al-alamah syaih mawardi. disamping penjelasan yang luas dengan dalil-dalil yang lengkap dan gampang di mengerti, kitab Al-hawi Al-kabir ini adalah penjelasan dari kitab muhtasor mozani, yang mana imam mozani ini ulama besar syafi&#8217;iyah yang mengarang kitab bernama muhtasor mozani yang di ambil dari kitab Al-umm karangan imam syafi&#8217;i RDA.</p>
<p style="text-align:justify;">disini anda bisa mendownload kitab karya imam mawardi dengan nama Al-hawi Al-kabir. mudah-mudahan bermanfa&#8217;at dan semoga Allah meridhoi dan memberikan rahmat kepada imam-imam dan ulama-ulama yang telah mengarang kitab, yang menjadi petunjuk dan lentera bagi orang-orng yang mencari kebenaran dan ridho ilahi..dan semoga kita diberikan ilmu yang bermanfa&#8217;at..Amiin <!--more--></p>
<p><span class="postbody"> </span></p>
<ul>
<li> <a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_00.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد المقدمة</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_01.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 1</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_02.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 2</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_03.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 3</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_04.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 4</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_05.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 5</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_06.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 6</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_07.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 7</span></a></li>
<li> <a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_08.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 8</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_09.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 9</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_10.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 10</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_11.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 11</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_12.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 12</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_13.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 13</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_14.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 14</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_15.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 15</span></a></li>
<li> <a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_16.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 16</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_17.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 17</span></a></li>
<li><a title="اضغط على الرابط وانتظر قليلاً لحين الاتصال بالسيرفر" href="http://s203995553.onlinehome.us/waqfeya/books/11/1051/1051_18.rar"><span style="text-decoration:underline;">مجلد 18</span></a></li>
</ul>
<p>&#160;</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="40" align="right" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kapan Puasa Arafah]]></title>
<link>http://baysabat.wordpress.com/2009/11/24/kapan-puasa-arafah/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 05:43:02 +0000</pubDate>
<dc:creator>baysabat</dc:creator>
<guid>http://baysabat.wordpress.com/2009/11/24/kapan-puasa-arafah/</guid>
<description><![CDATA[Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya, “Apabila hari Arafah berbeda karena perbe]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p>Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya,</p>
<p>“Apabila hari Arafah berbeda karena perbedaan masing-masing wilayah di dalam mathla’ (tempat terbit) hilal, maka apakah kita berpuasa mengikuti ru’yah negeri tempat kita berada ataukah kita berpuasa mengikuti ru’yah Al-Haramain (Makkah dan Madinah –pent)?</p>
<p>Maka beliau menjawab,</p>
<p>Perkara ini dibangun di atas ikhtilaf para ulama, apakah hilal itu satu saja untuk seluruh dunia atau berbeda sesuai mathla’nya (tempat terbit bulan). Dan yang benar bahwa penampakan hilal berbeda sesuai dengan perbedaan mathla’.</p>
<p>Sebagai contoh: Apabila hilal telah nampak di Kota Makkah, dan sekarang adalah hari ke sembilan (di Makkah), hilal juga terlihat di negeri yang lain satu hari lebih cepat daripada Makkah sehingga hari Arafah (di Makkah) adalah hari kesepuluh bagi mereka. Maka mereka tidak boleh berpuasa karena hari tersebut adalah hari raya.</p>
<p>Demikian pula sebaliknya, jika di suatu negeri ru’yahnya lebih lambat daripada Makkah maka tanggal sembilan di Makkah merupakan tanggal delapan bagi mereka. Maka mereka berpuasa pada hari ke sembilan (menurut negeri mereka) bersamaan dengan tanggal sepuluh di Makkah. Ini merupakan pendapat yang kuat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>اذا رايتموه فصوموا و اذا رايتموه فافطروا</p>
<p>“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah”</p>
<p>(Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari Kitab Ash-Shaum, Bab Hal Yuqal Ramadhan (1900) dan Muslim di Kitab Ash-Shiyam, Bab Wujubus Shaum (20)(1081)).</p>
<p>Orang-orang yang hilal itu tidak nampak dari arah (daerah) mereka berarti mereka tidaklah melihat hilal tersebut. Begitu juga manusia telah sepakat bahwa mereka menganggap terbitnya fajar dan terbenamnya matahari pada setiap wilayah disesuaikan dengan wilayah masing-masing. Maka demikian pulalah penetapan waktu bulan seperti penetapan waktu harian.</p>
<p>(Fatawa Ahkamis Shiam no. 405. Diterjemahkan oleh Abu Umar Al-Bankawy, muraja&#8217;ah Al-Ustadz Abdul Mu&#8217;thi Al-Maidani)</p>
<p>Sumber : http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1232</p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Download Audio: MARI BERHARI RAYA SESUAI SUNNAH (Ust. Mahful, Lc.)]]></title>
<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/24/download-audio-mari-berhari-raya-sesuai-sunnah-ust-mahful-lc/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 01:46:14 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafiyunpad</dc:creator>
<guid>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/24/download-audio-mari-berhari-raya-sesuai-sunnah-ust-mahful-lc/</guid>
<description><![CDATA[Alhamdulillah, wahai saudaraku rahimakumullah, silakan download rekaman kajian bersama Al Ustadz Al ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><img class="alignright" src="http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:VGCmK-Qysaym1M:http://1.bp.blogspot.com/_bIyHsUliIoE/SWBH788_fGI/AAAAAAAAAI4/tOzr2w_8W5A/s400/tawaf.JPG" alt="" width="124" height="93" />Alhamdulillah, wahai saudaraku rahimakumullah, silakan download rekaman kajian bersama Al Ustadz Al Fadhil Mahful Safruddin Abu Umair, Lc. hafizhahullah dengan tema MARI BERHARI RAYA SESUAI SUNNAH yang disampaikan di SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen. Semoga kajian ini bermanfaat bagi kita. Silakan download pada link berikut. <!--more--></p>
<p><a href="http://www.mediafire.com/?yomx2dlzjul" target="_blank">MARI BERHARI RAYA SESUAI SUNNAH 1</a></p>
<p><a href="http://www.mediafire.com/?zniq2gyoyzm" target="_blank">MARI BERHARI RAYA SESUAI SUNNAH 2</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Fatwa Ulama: Apabila Hari Raya (’Id) Bertepatan dengan Hari Jum’at]]></title>
<link>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/24/fatwa-ulama-apabila-hari-raya-%e2%80%99id-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</link>
<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 01:30:03 +0000</pubDate>
<dc:creator>salafiyunpad</dc:creator>
<guid>http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/11/24/fatwa-ulama-apabila-hari-raya-%e2%80%99id-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</guid>
<description><![CDATA[Oleh Para Ulama Islam Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah Pertanyaan : Jika datang ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p><strong>Oleh Para Ulama Islam </strong></p>
<ul>
<li><strong>Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah</strong></li>
</ul>
<p>Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya?<!--more--></p>
<p>Jawab : Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jum’at maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur. Ini berlaku bagi selain imam.</p>
<p>Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jum’at dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jum’at pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali.</p>
<p>(Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)</p>
<p>* * *</p>
<ul>
<li><strong>Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`</strong></li>
</ul>
<p>Fatwa no. 2358</p>
<p>Pertanyaan : Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu : Hari Jum’at dan ‘Idul Adh-ha. Manakah yang benar : Kita tetap melaksanakan shalat zhuhur jika kita tidak shalat Jum’at, ataukah kewajiban shalat zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jum’at?</p>
<p>Jawab : Barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jum’at bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jum’at, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jum’at darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur.</p>
<p>(Para ‘ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata :</p>
<p>« شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال: أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل، »</p>
<p>Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua ‘Id bertepatan pada satu hari?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau mengerjakan shalat ‘Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jum’at. Beliau mengatakan, Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jum’at), maka silakan mengerjakan shalat (Jum’at).” [1]</p>
<p>Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :</p>
<p>« قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون »</p>
<p>Telah terkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jum’at. Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id). [2]</p>
<p>Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘Id pada hari tersebut.</p>
<p>Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, “Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma :</p>
<p>« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »</p>
<p>“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”</p>
<p>Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at bagi yang telah menunaikan shalat ‘Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jum’at.</p>
<p>وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.</p>
<p>Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`</p>
<p>Ketua               : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz</p>
<p>Wakil Ketua     : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi</p>
<p>Anggota           : ‘Abdullah bin Ghudayyan</p>
<p>Anggota           : ‘Abdullah bin Qu’ud.</p>
<p>* * *</p>
<p>Adapun dalam fatwo 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut :</p>
<p>Apabila ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang telah menunaikan shalat ‘Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jum’at tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jum’at.</p>
<p>Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam An-Nakha’i, Al-Imam Al-Auza’i. Ini adalah madzhab shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhum dan para ‘ulama yang sependapat dengan mereka. … .</p>
<p>* * *</p>
<ul>
<li><strong>Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah</strong></li>
</ul>
<p>Pertanyaan : Apa hukum shalat Jum’at jika bertepatan dengan hari ‘Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at berarti tidak ada shalat shalat Jum’at.</p>
<p>Jawab : Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jum’at untuk menegakkan shalat Jum’at, hadir ke masjid, dan shalat berjama’ah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan shalat Jum’at pada hari ‘Id, beliau ‘alahish  shalatu was salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jum’at. Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).</p>
<p>Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjama’ah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.</p>
<p>Apabila dia melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jum’at, karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjama’ah.</p>
<p>Wallahu Waliyyut Taufiq</p>
<p>(Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/341-342)</p>
<p>* * *</p>
<p>Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :</p>
<p>“Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya  shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jum’at adalah kewajiban shalat Jum’at. Hari ‘Id apabila bertepatan dengan hari Jum’at termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat ‘Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syar’i, serta ijma’ (kaum muslimin) atas kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.</p>
<p>Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melaksanakan shalat Jum’at pada (hari yang bertepatan dengan) hari ‘Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Nu’man bin Basyir :</p>
<p>« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »</p>
<p>“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”</p>
<p>Adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jum’at maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jum’at, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat ‘Id dan shalat Zhuhur. Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya. Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jum’at dan Zhuhur yang sudah shalat ‘Id maka keumuman dalil-dalil syar’i, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma’ yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapayang tidak shalat Jum’at dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu. … .</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XXX/261-262)</p>
<p>* * *</p>
<ul>
<li><strong>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :</strong></li>
</ul>
<p>Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ‘ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa ….</p>
<p>Kita katakan, Apabila hari Jum’at bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id. Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jum’at bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p>Kedua, tetap wajib mengadakan shalat Jum’at di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jum’at, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p>Ketiga, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jum’at, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).</p>
<p>Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah.</p>
<p>(Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb &#8211; Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)</p>
<p>* * *</p>
<p>[1] HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud &#8211; Al-Umm no. 981. (pent)</p>
<p>[2] HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud &#8211; Al-Umm no. 983.</p>
<p>Sumber:<em> http://www.assalafy.org/mahad/?p=402</em></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Apabila Hari Raya (’Id) Bertepatan dengan Hari Jum’at]]></title>
<link>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/23/apabila-hari-raya-%e2%80%99id-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</link>
<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 07:58:48 +0000</pubDate>
<dc:creator>abukautsar</dc:creator>
<guid>http://kautsarku.wordpress.com/2009/11/23/apabila-hari-raya-%e2%80%99id-bertepatan-dengan-hari-jum%e2%80%99at/</guid>
<description><![CDATA[Pertanyaan : Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun ak]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan : </strong></span></p>
<p>Jika datang ‘Idul Fithri pada hari Jum’at apakah boleh bagiku untuk shalat ‘Id namun aku tidak shalat Jum’at, atau sebaliknya?</p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Dijawab oleh Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah: </strong></span></p>
<p><!--more-->Apabila Hari Raya bertepatan dengan hari Jum’at maka barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘id berjama’ah bersama imam gugur darinya kewajiban menghadiri shalat Jum’at, dan hukumnya bagi dia menjadi sunnah saja. Apabila dia tidak menghadiri shalat Jum’at maka tetap wajib atasnya shalat zhuhur. Ini berlaku bagi selain imam.</p>
<p>Adapun imam, tetap wajib atasnya untuk menghadiri Jum’at dan melaksanakannya bersama kaum muslimin yang hadir. Shalat Jum’at pada hari tersebut tidak ditinggalkan sama sekali.</p>
<p>(Al-Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan VIII/44)</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` (Fatwa no. 2358)</strong></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan : </strong></span></p>
<p>Pada tahun ini bertemu dalam sehari dua hari raya, yaitu : Hari Jum’at dan ‘Idul Adh-ha. Manakah yang benar : Kita tetap melaksanakan shalat zhuhur jika kita tidak shalat Jum’at, ataukah kewajiban shalat zhuhur gugur apabila kita tidak shalat Jum’at?</p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Jawab : </strong></span></p>
<p>Barangsiapa yang melaksanakan shalat ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka dia diberi rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at pada hari tersebut, kecuali imam. Adapun imam, tetap wajib atasnya menegakkan shalat Jum’at bersama kaum muslimin yang hadir shalat Jum’at, baik yang sudah shalat ‘Id maupun tidak shalat ‘Id. Apabila tidak ada seorang pun yang hadir, maka gugurlah kewajiban Jum’at darinya, dan dia melaksanakan shalat Zhuhur.</p>
<p>(Para ‘ulama yang berpendapat demikian) berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami berkata :<br />
<strong>« شهدت معاوية بن أبي سفيان وهو يسأل زيد بن أرقم قال: أشهدت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم عيدين اجتمعا في يوم؟ قال: نعم، قال: فكيف صنع؟ قال: صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل</strong>،»<br />
<em>“Aku menyaksikan Mu’awiyah bin Abi Sufyan sedang bertanya kepada Zaid bin Arqam, “Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua ‘Id bertepatan pada satu hari?” Zaid menjawab, “Ya.” Mu’awiyah bertanya lagi, “Bagaimana yang beliau lakukan?” Zaid menjawab, “Beliau mengerjakan shalat ‘Id kemudian memberikan rukhshah (keringanan) untuk shalat Jum’at. Beliau mengatakan, Barangsiapa yang hendak mengerjakan shalat (Jum’at), maka silakan mengerjakan shalat (Jum’at).”</em> [1]</p>
<p>Juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya juga dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :<br />
<strong>« قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون »</strong><br />
<em>“Telah terkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau maka itu sudah mencukupinya dari shalat Jum’at. Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” </em>[2]</p>
<p>Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa rukhshah (keringanan) tersebut untuk shalat Jum’at bagi barangsiapa yang telah menunaikan shalat ‘Id pada hari tersebut.</p>
<p>Sekaligus diketahui bahwa tidak berlaku rukhshah bagi imam, karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut, “Sesungguhnya kita memadukan (dua ‘id).” Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma :<br />
<strong>« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما </strong>»<br />
<em>“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”<br />
</em><br />
Barangsiapa yang tidak menghadiri shalat Jum’at bagi yang telah menunaikan shalat ‘Id, maka tetap wajib atasnya untuk shalat Zhuhur, berdasarkan keumuman dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban shalat Zhuhur bagi yang tidak shalat Jum’at.<br />
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.</p>
<p>Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta`<br />
Ketua               : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz<br />
Wakil Ketua     : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi<br />
Anggota           : ‘Abdullah bin Ghudayyan<br />
Anggota           : ‘Abdullah bin Qu’ud.</p>
<p>* * *</p>
<p>Adapun dalam fatwo 2140, Al-Lajnah menyatakan sebagai berikut :</p>
<p>Apabila ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka gugur kewajiban menghadiri shalat Jum’at bagi orang yang telah menunaikan shalat ‘Id. Kecuali bagi imam, kewajiban shalat Jum’at tidak gugur darinya. Terkecuali apabila memang tidak ada orang yang berkumpul/hadir (ke masjid) untuk shalat Jum’at.</p>
<p>Di antara yang berpendapat demikian adalah adalah : Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam An-Nakha’i, Al-Imam Al-Auza’i. Ini adalah madzhab shahabat ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Sa’id, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhum dan para ‘ulama yang sependapat dengan mereka. … .</p>
<p>* * *</p>
<p><strong>Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah</strong></p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaan : </strong></span></p>
<p>Apa hukum shalat Jum’at jika bertepatan dengan hari ‘Id, apakah wajib menegakkannya atas seluruh kaum muslimin, ataukah hanya wajib atas sekelompok tertentu saja? Karena sebagian orang berkeyakinan bahwa apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at berarti tidak ada shalat shalat Jum’at.</p>
<p style="padding-left:30px;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Jawab : </strong></span></p>
<p>Tetap wajib atas imam dan khathib shalat Jum’at untuk menegakkan shalat Jum’at, hadir ke masjid, dan shalat berjama’ah mengimami orang-orang yang hadir di masjid. Karena dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan shalat Jum’at pada hari ‘Id, beliau ‘alahish  shalatu was salam melaksanakan shalat ‘Id dan shalat Jum’at. Terkadang beliau dalam shalat ‘Id dan shalat Jum’at sama-sama membaca surat Sabbihisma dan surat Al-Ghasyiyah, sebagaimana dikatakan oleh shahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat yang shahih dari beliau dalam kitab Shahih (Muslim).</p>
<p>Namun bagi orang yang yang telah melaksanakan shalat ‘Id, boleh baginya untuk meninggalkan shalat Jum’at dan hanya melaksanakan shalat Zhuhur di rumahnya atau berjama’ah dengan beberapa orang saudaranya, apabila mereka semua telah melaksanakan shalat ‘Id.</p>
<p>Apabila dia melaksanakan shalat Jum’at berjama’ah maka itu afdhal (lebih utama) dan akmal (lebih sempurna). Namun apabila ia meninggalkan shalat Jum’at, karena ia telah melaksanakan shalat ‘Id, maka tidak mengapa, namun tetap wajib atasnya melaksanakan shalat Zhuhur, baik sendirian ataupun berjama’ah.</p>
<p>Wallahu Waliyyut Taufiq</p>
<p>(Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XII/341-342)</p>
<p>* * *</p>
<p>Dalam fatwanya yang lain, ketika beliau mengingkari pendapat yang menyatakan bahwa jika ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id gugur kewajiban shalat Jum’at dan shalat Zhuhur sekaligus, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan :</p>
<p>“Ini juga merupakan kesalahan yang sangat jelas. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan atas hamba-hamba-Nya  shalat 5 waktu dalam sehari semalam, dan kaum muslimin telah berijma’ atas kewajiban tersebut. Yang kelima pada hari Jum’at adalah kewajiban shalat Jum’at. Hari ‘Id apabila bertepatan dengan hari Jum’at termasuk dalam kewajiban tersebut. Kalau seandainya kewajiban shalat Zhuhur gugur dari orang yang telah melaksanakan shalat ‘Id niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkan hal tersebut. Karena ini merupakan permasalahan yang tidak diketahui oleh umat. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah (keringanan) untuk meninggalkan shalat Jum’at bagi orang yang sudah melaksanakan shalat ‘Id dan tidak menyebutkan gugurnya kewajiban shalat Zhuhur, maka diketahui bahwa kewajiban (shalat Zhuhur) tersebut masih tetap berlaku. Berdasarkan hukum asal dan dalil-dalil syar’i, serta ijma’ (kaum muslimin) atas kewajiban shalat 5 waktu dalam sehari semalam.</p>
<p>Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melaksanakan shalat Jum’at pada (hari yang bertepatan dengan) hari ‘Id, sebagaimana terdapat dalam hadits-hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dari shahabat An-Nu’man bin Basyir :<br />
<strong>« أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقرأ في صلاة الجمعة والعيد بسبح والغاشية، وربما اجتمعا في يوم فقرأ بهما فيهما »</strong><br />
<em>“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu membaca dalam shalat Jum’at dan shalat ‘Id surat Sabbihis dan surat Al-Ghasyiyah. Terkadang dua ‘Id tersebut bertemu/bertepatan dalam satu hari, maka beliau membaca dua surat tersebut dalam dua shalat (”Id dan Jum’at).”<br />
</em><br />
Adapun apa yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin Az-Zubair bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id kemudian tidak keluar lagi baik untuk shalat Jum’at maupun shalat Zhuhur, maka itu dibawa pada kemungkinan bahwa beliau memajukan shalat Jum’at, dan mencukupkan dengan itu dari mengerjakan shalat ‘Id dan shalat Zhuhur. Atau pada kemungkinan bahwa beliau berkeyakinan bahwa imam pada hari tersebut memiliki hukum yang sama dengan yang lainnya, yaitu tidak wajib keluar untuk melaksanakan shalat Jum’at, namun beliau tetap shalat Zhuhur di rumahnya. Kemungkinan mana pun yang benar, kalau pun taruhlah yang benar dari perbuatan beliau bahwa beliau berpendapat gugurnya kewajiban shalat Jum’at dan Zhuhur yang sudah shalat ‘Id maka keumuman dalil-dalil syar’i, prinsip-prinsip yang diikuti, dan ijma’ yang ada bahwa wajib shalat Zhuhur atas siapayang tidak shalat Jum’at dari kalangan para mukallaf, itu semua lebih dikedepankan daripada apa yang diamalkan oleh Ibnu Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu. … .</p>
<p>(Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah XXX/261-262)</p>
<p>* * *</p>
<p>Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah :</p>
<p>Kenyataannya masalah ini terdapat perbedaan di kalangan ‘ulama rahimahumullah. Pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh As-Sunnah, bahwa ….</p>
<p>Kita katakan, Apabila hari Jum’at bertepatan dengan ‘Id maka engkau wajib shalat ‘Id. Barangsiapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka bagi dia bebas memilih apakah dia mau hadir shalat Jum’at bersama imam, ataukah ia shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p>Kedua, tetap wajib mengadakan shalat Jum’at di suatu negeri/daerah. Barangsiapa yang hadir maka dia shalat Jum’at, barangsiapa yang tidak hadir maka dia shalat Zhuhur di rumahnya.</p>
<p>Ketiga, pada hari itu shalat Zhuhur tidak dilaksanakan di masjid, karena yang wajib dilaksanakan adalah shalat Jum’at, sehingga tidak dilakukan shalat Zhuhur (di masjid).</p>
<p>Inilah pendapat yang kuat, yang ditunjukkan oleh dalil-dalil As-Sunnah.</p>
<p>(Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb – Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)</p>
<p>* * *</p>
<p>[1] HR. Ahmad (IV/372), Abu Dawud 1070, An-Nasa`i 1591, Ibnu Majah 1310. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Madini, Al-Hakim, dan Adz-Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 981. (pent)</p>
<p>[2] HR. Abu Dawud 1073, Ibnu Majah 1311. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud – Al-Umm no. 983.</p>
<p>Sumber: <a href="http://www.assalafy.org/mahad/?p=402" target="_blank">http://www.assalafy.org/mahad/?p=402</a></p>
</div>]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
